Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram

Tentang shalat sunnah dua raka’at ihram, para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya shalat tersebut. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dianjurkannya (baca: sunnah) shalat dua rakaat ihram sebelum memulai talbiyah sebagai tanda memulai rangkaian manasik haji atau umrah. Di antara dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,َسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَادِي العَقِيقِ يَقُولُ: أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الوَادِي المُبَارَكِ ، وَقُلْ: عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di lembah Al-‘Aqiq, beliau berkata, “Malaikat yag diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini dan katakanlah, “Aku berniat melaksanakan ‘umrah dalam ibadah haji ini.” (HR. Bukhari no. 1534)Baca Juga: Inilah Ucapan Syarat Ketika Khawatir Tidak Bisa Menyempurnakan Haji Atau UmrahJumhur ulama mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, dianjurkan untuk shalat sunnah (khusus) dua raka’at sebelum memulai ihram. (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 68-69)Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat sunnah dua rakaat ihram, yaitu shalat sunnah khusus dua raka’at yang dikerjakan oleh jamaah haji atau umrah sebelum memasuki rangkaian manasik haji atau umrah. Yang terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau memulai ihram setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur) di Dzul Hulaifah (sekarang disebut Bir ‘Ali), kemudian beliau mulai berihram. Dzul Hulaifah adalah miqat jamaah haji yang datang dari arah Madinah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memulai ihram setelah melaksanakan shalat fardhu, jika hal itu memungkinkan (mudah) baginya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata,َينلأمته صلاة للإحرام لا بقوله ولا بفعله ولا بإقربغي أن نعلم أن الإحرام ليس له صلاة فإنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه شرع اره.“Hendaknya diketahui bahwa ihram itu tidak memiliki shalat tertentu (yang dikerjakan sebelum ihram, pent.). Karena tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mensyariatkan untuk umatnya shalat ihram, baik dengan perkataan, perbuatan, atau dengan persetujuannya.” (60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidh wan Nifaas, hal. 43)Baca Juga: Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan UmrahBeliau rahimahullahu Ta’ala juga menjelaskan,َوذهب شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ إلى أن ركعتي الإحرام لا أصل لمشروعيتهما، وأنه ليس للإحرام صلاة تخصه لكن إن كان في الضحى، فيمكن أن يصلي صلاة الضحى ويحرم بعدها، وإن كان في وقت الظهر، نقول: الأفضل أن تمسك حتى تصلي الظهر، ثم تحرم بعد الصلاة، وكذلك صلاة العصر. وأما صلاة مستحبة بعينها للإحرام، فهذا لم يرد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم وهذا هو الصحيح.“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala berpendapat bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat dua raka’at ihram. Ihram tidak memiliki shalat khusus sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang berada di waktu dhuha, dan memungkinkan baginya untuk shalat dhuha dan memulai ihram setelahnya, meskipun dia ihram di waktu dhuhur, maka kami katakan bahwa yang lebih baik adalah menunggu sampai tiba waktu dhuhur, kemudian memulai ihram setelah shalat dzuhur. Demikian pula untuk shalat ashar. Adapun shalat sunnah khusus untuk memulai ihram, maka tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang shahih.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Adapun shalat sebelum ihram, maka pendapat yang benar adalah ihram itu tidak memiliki shalat khusus. Akan tetapi, jika bertepatan dengan waktu shalat fardhu, maka dia ihram setelah shalat fardhu tersebut. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai talbiyah pertama setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur, pent.).” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, hal. 198)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,َولم ينقل عنه أنه صلى للإحرام ركعتين غير فرض الظهر.“Tidaklah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat dua raka’at untuk ihram, kecuali shalat dzuhur.” (Zaadul Ma’aad, 2: 101)Baca Juga: Fatwa Ulama: Bolehkah Pelemparan Jumrah Diwakilkan?Adapun sebagai sanggahan terhadap hadits yang dipakai sebagai dalil oleh jumhur ulama, perkataan malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini” tidaklah menunjukkan diperintahkannya shalat sunnah dua raka’at ihram. Karena kalimat ini mengandung kemungkinan yang lain, yaitu melaksanakan shalat wajib (shalat fardhu) yang lima, dan bukan shalat sunnah dua raka’at ihram. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala berkata,َوكونه أحرم بعد الفريضة لا يدل على شرعية ركعتين خاصة بالإحرام وإنما يدل على أنه إذا أحرم بالعمرة أو بالحج بعد صلاة ، يكون أفضل إذا تيسر ذلك .“Adapun yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berihram setelah shalat wajib, hal ini tidak menunjukkan disyariatkannya dua raka’at khusus sebelum ihram. Hal tersebut hanyalah menunjukkan bahwa jika seseorang berihram untuk umrah atau haji setelah shalat wajib, itulah yang lebih baik (lebih afdhal) ketika mudah (memungkinkan) baginya untuk mengerjakannya.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 69)Baca Juga: Meninggal Ketika Ibadah Haji dan UmrahBagaimana jika diniatkan sebagai shalat sunnah setelah wudhu’?Terdapat pertanyaan yang ditujukkan kepada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, “Jika seseorang berwudhu dan kemudian shalat dua raka’at setelah wudhu, bukankah hal ini disyariatkan?”Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,َنعم مشروعة، وعلى هذا فنقول: أنت إذا اغتسلت وتوضأت فصلِّ ركعتين سنة الوضوء، ولكن يبقى النظر إذا كان ليس من عادته في غير هذا المكان أن يصلي ركعتي الوضوء، فأراد أن يصلي هنا، أليس سوف يشعر في نفسه أن هذه الصلاة من أجل الإحرام؟ أو على الأقل من أجل الاشتراك بين الإحرام والوضوء؟ الجواب: هذا هو الظاهر، ولذلك نقول: إذا كان سيبقى الإنسان في الميقات حتى يأتي وقت الفريضة، فالأفضل أن يهل بعد الفريضة.“Betul bahwa ini perkara yang disyariatkan. Oleh karena itu kami katakan, jika Engkau mandi dan berwudhu, shalatlah sunnah dua raka’at wudhu’. Akan tetapi, terdapat ganjalan bagi mereka yang tidak memiliki kebiasaan untuk shalat sunnah wudhu selain di tempat ini (yaitu miqat jama’ah haji dan umrah, pent.), kemudian ingin shalat sunnah wudhu di tempat (miqat) tersebut. Tidakkah akan muncul dalam dirinya bahwa shalat ini dia kerjakan dalam rangka ihram? Atau minimal karena adanya irisan (pertemuan) antara ihram dan wudhu’? Jawabannya, inilah yang lebih tampak (dzahir). Oleh karena itu kami katakan, jika seseorang berada di miqat sampai tiba waktu shalat wajib, maka yang lebih afdhal adalah memulai ihram setelah shalat fardhu.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Baca Juga: Hikmah Melempar Jumrah adalah Melempar Setan? Lebih Utama Umrah Di Bulan Ramadhan Atau Dzulqa’dah? [Selesai]***@Puri Gardenia, 26 Jumadil akhir 1440/ 3 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Foto, Uban Di Usia Muda Menurut Islam, Biawak Halal, Cara Menjadi Wanita Sholehah Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat

Hukum Shalat Sunnah Dua Raka’at Ihram

Tentang shalat sunnah dua raka’at ihram, para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya shalat tersebut. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dianjurkannya (baca: sunnah) shalat dua rakaat ihram sebelum memulai talbiyah sebagai tanda memulai rangkaian manasik haji atau umrah. Di antara dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,َسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَادِي العَقِيقِ يَقُولُ: أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الوَادِي المُبَارَكِ ، وَقُلْ: عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di lembah Al-‘Aqiq, beliau berkata, “Malaikat yag diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini dan katakanlah, “Aku berniat melaksanakan ‘umrah dalam ibadah haji ini.” (HR. Bukhari no. 1534)Baca Juga: Inilah Ucapan Syarat Ketika Khawatir Tidak Bisa Menyempurnakan Haji Atau UmrahJumhur ulama mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, dianjurkan untuk shalat sunnah (khusus) dua raka’at sebelum memulai ihram. (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 68-69)Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat sunnah dua rakaat ihram, yaitu shalat sunnah khusus dua raka’at yang dikerjakan oleh jamaah haji atau umrah sebelum memasuki rangkaian manasik haji atau umrah. Yang terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau memulai ihram setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur) di Dzul Hulaifah (sekarang disebut Bir ‘Ali), kemudian beliau mulai berihram. Dzul Hulaifah adalah miqat jamaah haji yang datang dari arah Madinah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memulai ihram setelah melaksanakan shalat fardhu, jika hal itu memungkinkan (mudah) baginya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata,َينلأمته صلاة للإحرام لا بقوله ولا بفعله ولا بإقربغي أن نعلم أن الإحرام ليس له صلاة فإنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه شرع اره.“Hendaknya diketahui bahwa ihram itu tidak memiliki shalat tertentu (yang dikerjakan sebelum ihram, pent.). Karena tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mensyariatkan untuk umatnya shalat ihram, baik dengan perkataan, perbuatan, atau dengan persetujuannya.” (60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidh wan Nifaas, hal. 43)Baca Juga: Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan UmrahBeliau rahimahullahu Ta’ala juga menjelaskan,َوذهب شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ إلى أن ركعتي الإحرام لا أصل لمشروعيتهما، وأنه ليس للإحرام صلاة تخصه لكن إن كان في الضحى، فيمكن أن يصلي صلاة الضحى ويحرم بعدها، وإن كان في وقت الظهر، نقول: الأفضل أن تمسك حتى تصلي الظهر، ثم تحرم بعد الصلاة، وكذلك صلاة العصر. وأما صلاة مستحبة بعينها للإحرام، فهذا لم يرد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم وهذا هو الصحيح.“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala berpendapat bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat dua raka’at ihram. Ihram tidak memiliki shalat khusus sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang berada di waktu dhuha, dan memungkinkan baginya untuk shalat dhuha dan memulai ihram setelahnya, meskipun dia ihram di waktu dhuhur, maka kami katakan bahwa yang lebih baik adalah menunggu sampai tiba waktu dhuhur, kemudian memulai ihram setelah shalat dzuhur. Demikian pula untuk shalat ashar. Adapun shalat sunnah khusus untuk memulai ihram, maka tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang shahih.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Adapun shalat sebelum ihram, maka pendapat yang benar adalah ihram itu tidak memiliki shalat khusus. Akan tetapi, jika bertepatan dengan waktu shalat fardhu, maka dia ihram setelah shalat fardhu tersebut. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai talbiyah pertama setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur, pent.).” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, hal. 198)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,َولم ينقل عنه أنه صلى للإحرام ركعتين غير فرض الظهر.“Tidaklah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat dua raka’at untuk ihram, kecuali shalat dzuhur.” (Zaadul Ma’aad, 2: 101)Baca Juga: Fatwa Ulama: Bolehkah Pelemparan Jumrah Diwakilkan?Adapun sebagai sanggahan terhadap hadits yang dipakai sebagai dalil oleh jumhur ulama, perkataan malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini” tidaklah menunjukkan diperintahkannya shalat sunnah dua raka’at ihram. Karena kalimat ini mengandung kemungkinan yang lain, yaitu melaksanakan shalat wajib (shalat fardhu) yang lima, dan bukan shalat sunnah dua raka’at ihram. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala berkata,َوكونه أحرم بعد الفريضة لا يدل على شرعية ركعتين خاصة بالإحرام وإنما يدل على أنه إذا أحرم بالعمرة أو بالحج بعد صلاة ، يكون أفضل إذا تيسر ذلك .“Adapun yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berihram setelah shalat wajib, hal ini tidak menunjukkan disyariatkannya dua raka’at khusus sebelum ihram. Hal tersebut hanyalah menunjukkan bahwa jika seseorang berihram untuk umrah atau haji setelah shalat wajib, itulah yang lebih baik (lebih afdhal) ketika mudah (memungkinkan) baginya untuk mengerjakannya.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 69)Baca Juga: Meninggal Ketika Ibadah Haji dan UmrahBagaimana jika diniatkan sebagai shalat sunnah setelah wudhu’?Terdapat pertanyaan yang ditujukkan kepada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, “Jika seseorang berwudhu dan kemudian shalat dua raka’at setelah wudhu, bukankah hal ini disyariatkan?”Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,َنعم مشروعة، وعلى هذا فنقول: أنت إذا اغتسلت وتوضأت فصلِّ ركعتين سنة الوضوء، ولكن يبقى النظر إذا كان ليس من عادته في غير هذا المكان أن يصلي ركعتي الوضوء، فأراد أن يصلي هنا، أليس سوف يشعر في نفسه أن هذه الصلاة من أجل الإحرام؟ أو على الأقل من أجل الاشتراك بين الإحرام والوضوء؟ الجواب: هذا هو الظاهر، ولذلك نقول: إذا كان سيبقى الإنسان في الميقات حتى يأتي وقت الفريضة، فالأفضل أن يهل بعد الفريضة.“Betul bahwa ini perkara yang disyariatkan. Oleh karena itu kami katakan, jika Engkau mandi dan berwudhu, shalatlah sunnah dua raka’at wudhu’. Akan tetapi, terdapat ganjalan bagi mereka yang tidak memiliki kebiasaan untuk shalat sunnah wudhu selain di tempat ini (yaitu miqat jama’ah haji dan umrah, pent.), kemudian ingin shalat sunnah wudhu di tempat (miqat) tersebut. Tidakkah akan muncul dalam dirinya bahwa shalat ini dia kerjakan dalam rangka ihram? Atau minimal karena adanya irisan (pertemuan) antara ihram dan wudhu’? Jawabannya, inilah yang lebih tampak (dzahir). Oleh karena itu kami katakan, jika seseorang berada di miqat sampai tiba waktu shalat wajib, maka yang lebih afdhal adalah memulai ihram setelah shalat fardhu.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Baca Juga: Hikmah Melempar Jumrah adalah Melempar Setan? Lebih Utama Umrah Di Bulan Ramadhan Atau Dzulqa’dah? [Selesai]***@Puri Gardenia, 26 Jumadil akhir 1440/ 3 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Foto, Uban Di Usia Muda Menurut Islam, Biawak Halal, Cara Menjadi Wanita Sholehah Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat
Tentang shalat sunnah dua raka’at ihram, para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya shalat tersebut. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dianjurkannya (baca: sunnah) shalat dua rakaat ihram sebelum memulai talbiyah sebagai tanda memulai rangkaian manasik haji atau umrah. Di antara dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,َسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَادِي العَقِيقِ يَقُولُ: أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الوَادِي المُبَارَكِ ، وَقُلْ: عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di lembah Al-‘Aqiq, beliau berkata, “Malaikat yag diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini dan katakanlah, “Aku berniat melaksanakan ‘umrah dalam ibadah haji ini.” (HR. Bukhari no. 1534)Baca Juga: Inilah Ucapan Syarat Ketika Khawatir Tidak Bisa Menyempurnakan Haji Atau UmrahJumhur ulama mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, dianjurkan untuk shalat sunnah (khusus) dua raka’at sebelum memulai ihram. (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 68-69)Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat sunnah dua rakaat ihram, yaitu shalat sunnah khusus dua raka’at yang dikerjakan oleh jamaah haji atau umrah sebelum memasuki rangkaian manasik haji atau umrah. Yang terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau memulai ihram setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur) di Dzul Hulaifah (sekarang disebut Bir ‘Ali), kemudian beliau mulai berihram. Dzul Hulaifah adalah miqat jamaah haji yang datang dari arah Madinah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memulai ihram setelah melaksanakan shalat fardhu, jika hal itu memungkinkan (mudah) baginya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata,َينلأمته صلاة للإحرام لا بقوله ولا بفعله ولا بإقربغي أن نعلم أن الإحرام ليس له صلاة فإنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه شرع اره.“Hendaknya diketahui bahwa ihram itu tidak memiliki shalat tertentu (yang dikerjakan sebelum ihram, pent.). Karena tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mensyariatkan untuk umatnya shalat ihram, baik dengan perkataan, perbuatan, atau dengan persetujuannya.” (60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidh wan Nifaas, hal. 43)Baca Juga: Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan UmrahBeliau rahimahullahu Ta’ala juga menjelaskan,َوذهب شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ إلى أن ركعتي الإحرام لا أصل لمشروعيتهما، وأنه ليس للإحرام صلاة تخصه لكن إن كان في الضحى، فيمكن أن يصلي صلاة الضحى ويحرم بعدها، وإن كان في وقت الظهر، نقول: الأفضل أن تمسك حتى تصلي الظهر، ثم تحرم بعد الصلاة، وكذلك صلاة العصر. وأما صلاة مستحبة بعينها للإحرام، فهذا لم يرد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم وهذا هو الصحيح.“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala berpendapat bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat dua raka’at ihram. Ihram tidak memiliki shalat khusus sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang berada di waktu dhuha, dan memungkinkan baginya untuk shalat dhuha dan memulai ihram setelahnya, meskipun dia ihram di waktu dhuhur, maka kami katakan bahwa yang lebih baik adalah menunggu sampai tiba waktu dhuhur, kemudian memulai ihram setelah shalat dzuhur. Demikian pula untuk shalat ashar. Adapun shalat sunnah khusus untuk memulai ihram, maka tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang shahih.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Adapun shalat sebelum ihram, maka pendapat yang benar adalah ihram itu tidak memiliki shalat khusus. Akan tetapi, jika bertepatan dengan waktu shalat fardhu, maka dia ihram setelah shalat fardhu tersebut. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai talbiyah pertama setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur, pent.).” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, hal. 198)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,َولم ينقل عنه أنه صلى للإحرام ركعتين غير فرض الظهر.“Tidaklah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat dua raka’at untuk ihram, kecuali shalat dzuhur.” (Zaadul Ma’aad, 2: 101)Baca Juga: Fatwa Ulama: Bolehkah Pelemparan Jumrah Diwakilkan?Adapun sebagai sanggahan terhadap hadits yang dipakai sebagai dalil oleh jumhur ulama, perkataan malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini” tidaklah menunjukkan diperintahkannya shalat sunnah dua raka’at ihram. Karena kalimat ini mengandung kemungkinan yang lain, yaitu melaksanakan shalat wajib (shalat fardhu) yang lima, dan bukan shalat sunnah dua raka’at ihram. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala berkata,َوكونه أحرم بعد الفريضة لا يدل على شرعية ركعتين خاصة بالإحرام وإنما يدل على أنه إذا أحرم بالعمرة أو بالحج بعد صلاة ، يكون أفضل إذا تيسر ذلك .“Adapun yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berihram setelah shalat wajib, hal ini tidak menunjukkan disyariatkannya dua raka’at khusus sebelum ihram. Hal tersebut hanyalah menunjukkan bahwa jika seseorang berihram untuk umrah atau haji setelah shalat wajib, itulah yang lebih baik (lebih afdhal) ketika mudah (memungkinkan) baginya untuk mengerjakannya.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 69)Baca Juga: Meninggal Ketika Ibadah Haji dan UmrahBagaimana jika diniatkan sebagai shalat sunnah setelah wudhu’?Terdapat pertanyaan yang ditujukkan kepada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, “Jika seseorang berwudhu dan kemudian shalat dua raka’at setelah wudhu, bukankah hal ini disyariatkan?”Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,َنعم مشروعة، وعلى هذا فنقول: أنت إذا اغتسلت وتوضأت فصلِّ ركعتين سنة الوضوء، ولكن يبقى النظر إذا كان ليس من عادته في غير هذا المكان أن يصلي ركعتي الوضوء، فأراد أن يصلي هنا، أليس سوف يشعر في نفسه أن هذه الصلاة من أجل الإحرام؟ أو على الأقل من أجل الاشتراك بين الإحرام والوضوء؟ الجواب: هذا هو الظاهر، ولذلك نقول: إذا كان سيبقى الإنسان في الميقات حتى يأتي وقت الفريضة، فالأفضل أن يهل بعد الفريضة.“Betul bahwa ini perkara yang disyariatkan. Oleh karena itu kami katakan, jika Engkau mandi dan berwudhu, shalatlah sunnah dua raka’at wudhu’. Akan tetapi, terdapat ganjalan bagi mereka yang tidak memiliki kebiasaan untuk shalat sunnah wudhu selain di tempat ini (yaitu miqat jama’ah haji dan umrah, pent.), kemudian ingin shalat sunnah wudhu di tempat (miqat) tersebut. Tidakkah akan muncul dalam dirinya bahwa shalat ini dia kerjakan dalam rangka ihram? Atau minimal karena adanya irisan (pertemuan) antara ihram dan wudhu’? Jawabannya, inilah yang lebih tampak (dzahir). Oleh karena itu kami katakan, jika seseorang berada di miqat sampai tiba waktu shalat wajib, maka yang lebih afdhal adalah memulai ihram setelah shalat fardhu.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Baca Juga: Hikmah Melempar Jumrah adalah Melempar Setan? Lebih Utama Umrah Di Bulan Ramadhan Atau Dzulqa’dah? [Selesai]***@Puri Gardenia, 26 Jumadil akhir 1440/ 3 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Foto, Uban Di Usia Muda Menurut Islam, Biawak Halal, Cara Menjadi Wanita Sholehah Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat


Tentang shalat sunnah dua raka’at ihram, para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya shalat tersebut. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dianjurkannya (baca: sunnah) shalat dua rakaat ihram sebelum memulai talbiyah sebagai tanda memulai rangkaian manasik haji atau umrah. Di antara dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,َسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَادِي العَقِيقِ يَقُولُ: أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الوَادِي المُبَارَكِ ، وَقُلْ: عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di lembah Al-‘Aqiq, beliau berkata, “Malaikat yag diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini dan katakanlah, “Aku berniat melaksanakan ‘umrah dalam ibadah haji ini.” (HR. Bukhari no. 1534)Baca Juga: Inilah Ucapan Syarat Ketika Khawatir Tidak Bisa Menyempurnakan Haji Atau UmrahJumhur ulama mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, dianjurkan untuk shalat sunnah (khusus) dua raka’at sebelum memulai ihram. (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 68-69)Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat sunnah dua rakaat ihram, yaitu shalat sunnah khusus dua raka’at yang dikerjakan oleh jamaah haji atau umrah sebelum memasuki rangkaian manasik haji atau umrah. Yang terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau memulai ihram setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur) di Dzul Hulaifah (sekarang disebut Bir ‘Ali), kemudian beliau mulai berihram. Dzul Hulaifah adalah miqat jamaah haji yang datang dari arah Madinah. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memulai ihram setelah melaksanakan shalat fardhu, jika hal itu memungkinkan (mudah) baginya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata,َينلأمته صلاة للإحرام لا بقوله ولا بفعله ولا بإقربغي أن نعلم أن الإحرام ليس له صلاة فإنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه شرع اره.“Hendaknya diketahui bahwa ihram itu tidak memiliki shalat tertentu (yang dikerjakan sebelum ihram, pent.). Karena tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mensyariatkan untuk umatnya shalat ihram, baik dengan perkataan, perbuatan, atau dengan persetujuannya.” (60 Su’aalan fi Ahkaamil Haidh wan Nifaas, hal. 43)Baca Juga: Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan UmrahBeliau rahimahullahu Ta’ala juga menjelaskan,َوذهب شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله ـ إلى أن ركعتي الإحرام لا أصل لمشروعيتهما، وأنه ليس للإحرام صلاة تخصه لكن إن كان في الضحى، فيمكن أن يصلي صلاة الضحى ويحرم بعدها، وإن كان في وقت الظهر، نقول: الأفضل أن تمسك حتى تصلي الظهر، ثم تحرم بعد الصلاة، وكذلك صلاة العصر. وأما صلاة مستحبة بعينها للإحرام، فهذا لم يرد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم وهذا هو الصحيح.“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala berpendapat bahwa tidak terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya shalat dua raka’at ihram. Ihram tidak memiliki shalat khusus sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang berada di waktu dhuha, dan memungkinkan baginya untuk shalat dhuha dan memulai ihram setelahnya, meskipun dia ihram di waktu dhuhur, maka kami katakan bahwa yang lebih baik adalah menunggu sampai tiba waktu dhuhur, kemudian memulai ihram setelah shalat dzuhur. Demikian pula untuk shalat ashar. Adapun shalat sunnah khusus untuk memulai ihram, maka tidak terdapat dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang shahih.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Adapun shalat sebelum ihram, maka pendapat yang benar adalah ihram itu tidak memiliki shalat khusus. Akan tetapi, jika bertepatan dengan waktu shalat fardhu, maka dia ihram setelah shalat fardhu tersebut. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai talbiyah pertama setelah shalat fardhu (yaitu shalat dzuhur, pent.).” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, hal. 198)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,َولم ينقل عنه أنه صلى للإحرام ركعتين غير فرض الظهر.“Tidaklah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat dua raka’at untuk ihram, kecuali shalat dzuhur.” (Zaadul Ma’aad, 2: 101)Baca Juga: Fatwa Ulama: Bolehkah Pelemparan Jumrah Diwakilkan?Adapun sebagai sanggahan terhadap hadits yang dipakai sebagai dalil oleh jumhur ulama, perkataan malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalatlah di lembah yang penuh berkah ini” tidaklah menunjukkan diperintahkannya shalat sunnah dua raka’at ihram. Karena kalimat ini mengandung kemungkinan yang lain, yaitu melaksanakan shalat wajib (shalat fardhu) yang lima, dan bukan shalat sunnah dua raka’at ihram. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala berkata,َوكونه أحرم بعد الفريضة لا يدل على شرعية ركعتين خاصة بالإحرام وإنما يدل على أنه إذا أحرم بالعمرة أو بالحج بعد صلاة ، يكون أفضل إذا تيسر ذلك .“Adapun yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berihram setelah shalat wajib, hal ini tidak menunjukkan disyariatkannya dua raka’at khusus sebelum ihram. Hal tersebut hanyalah menunjukkan bahwa jika seseorang berihram untuk umrah atau haji setelah shalat wajib, itulah yang lebih baik (lebih afdhal) ketika mudah (memungkinkan) baginya untuk mengerjakannya.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 17: 69)Baca Juga: Meninggal Ketika Ibadah Haji dan UmrahBagaimana jika diniatkan sebagai shalat sunnah setelah wudhu’?Terdapat pertanyaan yang ditujukkan kepada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, “Jika seseorang berwudhu dan kemudian shalat dua raka’at setelah wudhu, bukankah hal ini disyariatkan?”Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,َنعم مشروعة، وعلى هذا فنقول: أنت إذا اغتسلت وتوضأت فصلِّ ركعتين سنة الوضوء، ولكن يبقى النظر إذا كان ليس من عادته في غير هذا المكان أن يصلي ركعتي الوضوء، فأراد أن يصلي هنا، أليس سوف يشعر في نفسه أن هذه الصلاة من أجل الإحرام؟ أو على الأقل من أجل الاشتراك بين الإحرام والوضوء؟ الجواب: هذا هو الظاهر، ولذلك نقول: إذا كان سيبقى الإنسان في الميقات حتى يأتي وقت الفريضة، فالأفضل أن يهل بعد الفريضة.“Betul bahwa ini perkara yang disyariatkan. Oleh karena itu kami katakan, jika Engkau mandi dan berwudhu, shalatlah sunnah dua raka’at wudhu’. Akan tetapi, terdapat ganjalan bagi mereka yang tidak memiliki kebiasaan untuk shalat sunnah wudhu selain di tempat ini (yaitu miqat jama’ah haji dan umrah, pent.), kemudian ingin shalat sunnah wudhu di tempat (miqat) tersebut. Tidakkah akan muncul dalam dirinya bahwa shalat ini dia kerjakan dalam rangka ihram? Atau minimal karena adanya irisan (pertemuan) antara ihram dan wudhu’? Jawabannya, inilah yang lebih tampak (dzahir). Oleh karena itu kami katakan, jika seseorang berada di miqat sampai tiba waktu shalat wajib, maka yang lebih afdhal adalah memulai ihram setelah shalat fardhu.” (Asy-Syarhul Mumti’, 7: 69)Baca Juga: Hikmah Melempar Jumrah adalah Melempar Setan? Lebih Utama Umrah Di Bulan Ramadhan Atau Dzulqa’dah? [Selesai]***@Puri Gardenia, 26 Jumadil akhir 1440/ 3 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Foto, Uban Di Usia Muda Menurut Islam, Biawak Halal, Cara Menjadi Wanita Sholehah Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat

Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Part 1)

Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim

Mengerikan, Ternyata Ini Menu Makan Penduduk Neraka (Part 1)

Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim
Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim


Bismillah…Ketika mendengar kata “neraka”, yang tergambar dalam benak adalah kengerian dan siksaan yang teramat pedih. Tidak ada naluri manusia yang menerjemahkan kata ini dengan hal yang dicita-citakan atau diharapkan. Sebejat apapun orang, tak akan mau menjadi penghuni neraka. Bahkan orang yang tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya sekalipun.Neraka, dengan berbagai macam siksa di dalamnya semakin terbayang mengerikan ketika kita mengetahui menu makan yang disediakan untuk penghuninya adalah makanan dan minuman yang amat menjijikan dan semakin menambah pedihnya siksa.Lantas apa saja menu makan penghuni neraka? Mari simak penjelasan di bawah ini.Pertama, buah ZaqumAdalah buah dari pohon yang tertanam di dasar Jahanam. Buah ini akan membuat perut orang yang memakannya bergolak-golak, seperti air yang mendidih. Allah berfirman,إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ الْأَثِيمِ﴿٤٤﴾ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas” (QS. Ad-Dukhan: 43-46).Allah ‘azza wa jalla juga menerangkan,أذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ﴿٦٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ ﴿٦٣﴾إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ﴿٦٤﴾ طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ﴿٦٥﴾“Makanan surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin itu lebih baik ataukah pohon zaqqum yang disediakan untuk orang-orang kafir yang lebih baik?Kami telah menjadikan pohon Zaqum itu sebagai azab bagi orang-orang kafir dan musyrik dalam neraka. Pohon  zaqum itu adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka jahim. Buahnya seperti kepala setan yang menyeramkan” (QS. As-Shaffat: 62-65).Ini menunjukkan, di samping rasa buah ini yang begitu menjinjikkan, bentuknya juga mengerikan. Sampai digambarkan pada ayat ini, buahnya seperti kepala setan.Meski kita belum pernah melihat kepala setan, namun tergambarkan dalam jiwa kita, bahwa kepala setan itu sangat mengerikan dan menjijikkan (Lihat: tafsir Al-Qurtubi, tafsiran ayat 65, surat As-Shaffat).Allah ‘azza wa jalla juga menyebut pohon zaqum sebagai pohon yang terlaknat (syajarah mal’unah).وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ“Sebuah pohon yang terlaknat” (QS. Al-Isra’: 60).Syaikh Thahir bin ‘Asur rahimahullah menerangkan,وقيل معنى الملعونة : أنها موضوعة في مكان اللعنة ، وهي الإبعاد من الرحمة ; لأنها مخلوقة في موضع العذاب ، وفي الكشاف : قيل تقول العرب لكل طعام ضار : ملعون“Ada ulama yang menjelaskan terlaknat pada ayat ini maksudnya, pohon itu terletak di tempat yang terlaknat (neraka), artinya dijauhkan dari rahmat Allah, karena pohon itu diciptakan di tempat azab. Dalam kitab al-kassyaf dijelaskan, ada ulama yang menerangkan bahwa orang arab biasa menyebut pohon yang berbahaya dengan sebutan mal’un (pohon terlaknat) (At-Tahrir wa At-Tanwir, hal. 148).Namun mereka terpaksa memakannya, karena mereka merasakan lapar yang sangat dahsyat. Dan tak ada makanan, kecuali makanan menjijikkan dan mengerikan, seperti zaqum.Mereka berharap dengan makan, dapat beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu menjalani perihnya siksa. Ternyata, pada menu makan yang tersaji merupakan siksaan tersendiri yang semakin menambah sengsara.Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan ngerinya makanan penghuni neraka yang satu ini,لو أن قطرة من الزقوم قطرت في بحار الدنيا لأفسدت على أهل الدنيا معايشهم فكيف بمن يكون طعامه“Kalaulah saja setetes dari zaqum menetes di lautan yang ada di dunia, niscaya akan menimbulkan kerusakan terhadap penghidupan penduduk dunia” (HR. At-Tirmidzi, no. 2585). Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mana makanannya adalah zaqum?Tak terbayang, bagaimana ngerinya keadaan neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka, dan mengumpulkan kita di surga-Nya.Kedua, HamimSetelah mereka memakan buah zaqum, perut mereka mendidih seperti mendidihnya air. Merekapun mencari minuman untuk meredakan panas  dalam perutnya. Bukan air segar yang menyejukkan yang didapat, namun ternyata minuman yang justru semakin menambah panas, yaitu Hamim.Dalam ayat lanjutan dari ayat-ayat tentang zaqum di atas dijelaskan, فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ﴿٦٦﴾ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ ﴿٦٧﴾“Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas” (QS. As-Shaffat: 66-67).Hamim adalah, terang As-Suddi,الحميم الذي قد انتهى حره“Air yang mendidih sampai pada titik didih yang terakhir” (Tafsir At-Thabari, 21/227).Syaikh As-Sa’di menambahkan,ماء حار، قد اشتد حره، يشربونه فَيقَطعُ أمعاءهم“Hamim adalah air yang sangat panas, penduduk neraka meminum air ini sampai menyebabkan usus-usus mereka terputus” (Tafsir As-Sa’di, tafsiran ayat 57 surat Shad).Berlanjut insyaallah….Hamalatulquran DIY, 28 Muharam 1439 / 18 Okt 2017Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.or.id🔍 Kb Menurut Islam, Ayat Tentang Perempuan, Tentram Hati, Ayat Alquran Tentang Al Quran, Vektor Orang Muslim

Muslim Itu Punya Prinsip, Tidak Ikut-ikutan

Fenomena internet dan sosial media di zaman ini menyebabkan budaya, gaya, mode dan pemikiran menyebar begitu cepat dan diikuti oleh banyak orang dengan tersebarnya (viralnya) hal tersebut. Tidak luput juga kaum muslimin ikut-ikutan dengan budaya, gaya dan pemikiran tersebut. Apabila budaya dan pemikiran yang sesuai dengan ajaran Islam, maka tidak mengapa, seperti trend teknologi dan sains, akan tetapi yang menyebar cepat dan menjadi viral cukup banyak yang bertentangan dengan agama Islam.Baca Juga: Inilah Tips Memilih Teman Pergaulan saat KuliahSeorang muslim itu harus punya prinsip, yaitu bersumber dari Al-Quran dan sunnah berdasarkan pemahaman para salaf. Dikarenakan punya prinsip, seorang muslim tidak mudah ikut-ikutan begitu saja, akan tetapi kembali kepada prinsip dalam Al-Quran dan sunnah.Berikut beberapa gaya atau trend yang digandrungi oleh masyarakat khususnya pemuda bahkan dianggap biasa dan dianggap tidak melanggar syariat, padahal hal tersebut melanggar syariat.1. Tato2. Tindik/tepong/ piercing3. Berpakaian ketat bagi wanita4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyol 5. dan lain-lainnyaBerikut sedikit pembahasannya:1. TatoTato di zaman ini oleh sebagian orang mulai dianggap biasa saja, karena budaya dari luar dan bahkan pejabat pun ada yang memakai tato. Tato ini dilarang oleh Islam sebagaimana dalam hadits berikut.نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَثَمَنِ الدَّمِ وَنَهَى عَنْ الْوَاشِمَةِ وَالْمَوْشُومَةِ وَآكِلِ الرِّبَا وَمُوكِلِهِ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anjing dan jual beli darah , dan melarang orang yang mentato dan yang ditato dan pemakan riba, serta melaknat orang yang menggambar.” (HR. Al-Bukhari)Baca Juga: Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat2. Tindik/tepong/piercingMenindik telinga bagi wanita adalah hal yang wajar karena wanita berhias, akan tetapi menindik telinga bagi laki-laki adalah suatu hal yang aneh di zaman dahulu, karena berhias itu bukan sifat identik laki-laki, terlebih hal ini ditegaskan larangannya oleh ulama. Ibnu Abidin berkata,ثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور“Menindik telinga untuk tempat anting adalah perhiasan bagi wanita dan tidak halal bagi laki-laki.” [Raddul Muhtar, 27/81]Demikian juga gaya dan trend yang menyerupai orang fasik di zaman ini seperti melakukan piercing yang bukan pada tempat yang layak seperti di alis, di lidah, di pusar bahkan di daerah intim. Sangat tidak layak seorang muslim ikut-ikutan dalam hal ini.Baca Juga: Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat3. Berpakaian ketat bagi wanitaGaya dan trend ini mungkin sejak dahulu sudah ada dan semakin nampak di zaman ini. Sebagian wanita muslimah merasa biasa saja ketika tidak berjilbab atau mungkij berjilbab tetapi memakai pakaian ketat, padahal hal ini dilarang keras dalam Islam dan ancamannya cukup keras yaitu tidak mencium bau surga.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [HR. Muslim]Baca Juga: Inilah 8 Sifat Wanita Terbaik4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyolDi zaman ini terkenal istilah challenge (tantangan) yaitu tantangan melakukan sesuatu kemudian pelakunya meng-upload gambara atau video ia melakukan challenge (tantangan) tersebut. Hanya saja kebanyakan challenge (tantangan) tersebut adalah hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang bodoh atau terlihat konyol. Hanya saja karena hal tersebut sedang viral dan menjadi ajang pembuktian eksistensi diri, maka banyak yang ikut-ikutan padahal ia tahu itu hal yang terlihat konyol.Melakukan hal ini hanya buang-buang waktu saja dan tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya bahwa umat islam ada yang suka mengikuti orang non-muslim terutama Yahudi dan Nasrani, Allah Ta’ala berfirman,وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kelak bahwa akan ada dari umatnya yang mengikuti segala tindak tanduk orang yahudi dan nashrani, jika mereka masuk ke lubang dhab (semacam biawak gurun pasir), maka orang Islam akan mengikuti mereka.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ ه “Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah): “Siapa lagi?!” [HR. Bukhari & Muslim]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah

Muslim Itu Punya Prinsip, Tidak Ikut-ikutan

Fenomena internet dan sosial media di zaman ini menyebabkan budaya, gaya, mode dan pemikiran menyebar begitu cepat dan diikuti oleh banyak orang dengan tersebarnya (viralnya) hal tersebut. Tidak luput juga kaum muslimin ikut-ikutan dengan budaya, gaya dan pemikiran tersebut. Apabila budaya dan pemikiran yang sesuai dengan ajaran Islam, maka tidak mengapa, seperti trend teknologi dan sains, akan tetapi yang menyebar cepat dan menjadi viral cukup banyak yang bertentangan dengan agama Islam.Baca Juga: Inilah Tips Memilih Teman Pergaulan saat KuliahSeorang muslim itu harus punya prinsip, yaitu bersumber dari Al-Quran dan sunnah berdasarkan pemahaman para salaf. Dikarenakan punya prinsip, seorang muslim tidak mudah ikut-ikutan begitu saja, akan tetapi kembali kepada prinsip dalam Al-Quran dan sunnah.Berikut beberapa gaya atau trend yang digandrungi oleh masyarakat khususnya pemuda bahkan dianggap biasa dan dianggap tidak melanggar syariat, padahal hal tersebut melanggar syariat.1. Tato2. Tindik/tepong/ piercing3. Berpakaian ketat bagi wanita4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyol 5. dan lain-lainnyaBerikut sedikit pembahasannya:1. TatoTato di zaman ini oleh sebagian orang mulai dianggap biasa saja, karena budaya dari luar dan bahkan pejabat pun ada yang memakai tato. Tato ini dilarang oleh Islam sebagaimana dalam hadits berikut.نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَثَمَنِ الدَّمِ وَنَهَى عَنْ الْوَاشِمَةِ وَالْمَوْشُومَةِ وَآكِلِ الرِّبَا وَمُوكِلِهِ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anjing dan jual beli darah , dan melarang orang yang mentato dan yang ditato dan pemakan riba, serta melaknat orang yang menggambar.” (HR. Al-Bukhari)Baca Juga: Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat2. Tindik/tepong/piercingMenindik telinga bagi wanita adalah hal yang wajar karena wanita berhias, akan tetapi menindik telinga bagi laki-laki adalah suatu hal yang aneh di zaman dahulu, karena berhias itu bukan sifat identik laki-laki, terlebih hal ini ditegaskan larangannya oleh ulama. Ibnu Abidin berkata,ثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور“Menindik telinga untuk tempat anting adalah perhiasan bagi wanita dan tidak halal bagi laki-laki.” [Raddul Muhtar, 27/81]Demikian juga gaya dan trend yang menyerupai orang fasik di zaman ini seperti melakukan piercing yang bukan pada tempat yang layak seperti di alis, di lidah, di pusar bahkan di daerah intim. Sangat tidak layak seorang muslim ikut-ikutan dalam hal ini.Baca Juga: Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat3. Berpakaian ketat bagi wanitaGaya dan trend ini mungkin sejak dahulu sudah ada dan semakin nampak di zaman ini. Sebagian wanita muslimah merasa biasa saja ketika tidak berjilbab atau mungkij berjilbab tetapi memakai pakaian ketat, padahal hal ini dilarang keras dalam Islam dan ancamannya cukup keras yaitu tidak mencium bau surga.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [HR. Muslim]Baca Juga: Inilah 8 Sifat Wanita Terbaik4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyolDi zaman ini terkenal istilah challenge (tantangan) yaitu tantangan melakukan sesuatu kemudian pelakunya meng-upload gambara atau video ia melakukan challenge (tantangan) tersebut. Hanya saja kebanyakan challenge (tantangan) tersebut adalah hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang bodoh atau terlihat konyol. Hanya saja karena hal tersebut sedang viral dan menjadi ajang pembuktian eksistensi diri, maka banyak yang ikut-ikutan padahal ia tahu itu hal yang terlihat konyol.Melakukan hal ini hanya buang-buang waktu saja dan tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya bahwa umat islam ada yang suka mengikuti orang non-muslim terutama Yahudi dan Nasrani, Allah Ta’ala berfirman,وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kelak bahwa akan ada dari umatnya yang mengikuti segala tindak tanduk orang yahudi dan nashrani, jika mereka masuk ke lubang dhab (semacam biawak gurun pasir), maka orang Islam akan mengikuti mereka.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ ه “Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah): “Siapa lagi?!” [HR. Bukhari & Muslim]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah
Fenomena internet dan sosial media di zaman ini menyebabkan budaya, gaya, mode dan pemikiran menyebar begitu cepat dan diikuti oleh banyak orang dengan tersebarnya (viralnya) hal tersebut. Tidak luput juga kaum muslimin ikut-ikutan dengan budaya, gaya dan pemikiran tersebut. Apabila budaya dan pemikiran yang sesuai dengan ajaran Islam, maka tidak mengapa, seperti trend teknologi dan sains, akan tetapi yang menyebar cepat dan menjadi viral cukup banyak yang bertentangan dengan agama Islam.Baca Juga: Inilah Tips Memilih Teman Pergaulan saat KuliahSeorang muslim itu harus punya prinsip, yaitu bersumber dari Al-Quran dan sunnah berdasarkan pemahaman para salaf. Dikarenakan punya prinsip, seorang muslim tidak mudah ikut-ikutan begitu saja, akan tetapi kembali kepada prinsip dalam Al-Quran dan sunnah.Berikut beberapa gaya atau trend yang digandrungi oleh masyarakat khususnya pemuda bahkan dianggap biasa dan dianggap tidak melanggar syariat, padahal hal tersebut melanggar syariat.1. Tato2. Tindik/tepong/ piercing3. Berpakaian ketat bagi wanita4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyol 5. dan lain-lainnyaBerikut sedikit pembahasannya:1. TatoTato di zaman ini oleh sebagian orang mulai dianggap biasa saja, karena budaya dari luar dan bahkan pejabat pun ada yang memakai tato. Tato ini dilarang oleh Islam sebagaimana dalam hadits berikut.نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَثَمَنِ الدَّمِ وَنَهَى عَنْ الْوَاشِمَةِ وَالْمَوْشُومَةِ وَآكِلِ الرِّبَا وَمُوكِلِهِ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anjing dan jual beli darah , dan melarang orang yang mentato dan yang ditato dan pemakan riba, serta melaknat orang yang menggambar.” (HR. Al-Bukhari)Baca Juga: Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat2. Tindik/tepong/piercingMenindik telinga bagi wanita adalah hal yang wajar karena wanita berhias, akan tetapi menindik telinga bagi laki-laki adalah suatu hal yang aneh di zaman dahulu, karena berhias itu bukan sifat identik laki-laki, terlebih hal ini ditegaskan larangannya oleh ulama. Ibnu Abidin berkata,ثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور“Menindik telinga untuk tempat anting adalah perhiasan bagi wanita dan tidak halal bagi laki-laki.” [Raddul Muhtar, 27/81]Demikian juga gaya dan trend yang menyerupai orang fasik di zaman ini seperti melakukan piercing yang bukan pada tempat yang layak seperti di alis, di lidah, di pusar bahkan di daerah intim. Sangat tidak layak seorang muslim ikut-ikutan dalam hal ini.Baca Juga: Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat3. Berpakaian ketat bagi wanitaGaya dan trend ini mungkin sejak dahulu sudah ada dan semakin nampak di zaman ini. Sebagian wanita muslimah merasa biasa saja ketika tidak berjilbab atau mungkij berjilbab tetapi memakai pakaian ketat, padahal hal ini dilarang keras dalam Islam dan ancamannya cukup keras yaitu tidak mencium bau surga.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [HR. Muslim]Baca Juga: Inilah 8 Sifat Wanita Terbaik4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyolDi zaman ini terkenal istilah challenge (tantangan) yaitu tantangan melakukan sesuatu kemudian pelakunya meng-upload gambara atau video ia melakukan challenge (tantangan) tersebut. Hanya saja kebanyakan challenge (tantangan) tersebut adalah hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang bodoh atau terlihat konyol. Hanya saja karena hal tersebut sedang viral dan menjadi ajang pembuktian eksistensi diri, maka banyak yang ikut-ikutan padahal ia tahu itu hal yang terlihat konyol.Melakukan hal ini hanya buang-buang waktu saja dan tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya bahwa umat islam ada yang suka mengikuti orang non-muslim terutama Yahudi dan Nasrani, Allah Ta’ala berfirman,وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kelak bahwa akan ada dari umatnya yang mengikuti segala tindak tanduk orang yahudi dan nashrani, jika mereka masuk ke lubang dhab (semacam biawak gurun pasir), maka orang Islam akan mengikuti mereka.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ ه “Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah): “Siapa lagi?!” [HR. Bukhari & Muslim]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah


Fenomena internet dan sosial media di zaman ini menyebabkan budaya, gaya, mode dan pemikiran menyebar begitu cepat dan diikuti oleh banyak orang dengan tersebarnya (viralnya) hal tersebut. Tidak luput juga kaum muslimin ikut-ikutan dengan budaya, gaya dan pemikiran tersebut. Apabila budaya dan pemikiran yang sesuai dengan ajaran Islam, maka tidak mengapa, seperti trend teknologi dan sains, akan tetapi yang menyebar cepat dan menjadi viral cukup banyak yang bertentangan dengan agama Islam.Baca Juga: Inilah Tips Memilih Teman Pergaulan saat KuliahSeorang muslim itu harus punya prinsip, yaitu bersumber dari Al-Quran dan sunnah berdasarkan pemahaman para salaf. Dikarenakan punya prinsip, seorang muslim tidak mudah ikut-ikutan begitu saja, akan tetapi kembali kepada prinsip dalam Al-Quran dan sunnah.Berikut beberapa gaya atau trend yang digandrungi oleh masyarakat khususnya pemuda bahkan dianggap biasa dan dianggap tidak melanggar syariat, padahal hal tersebut melanggar syariat.1. Tato2. Tindik/tepong/ piercing3. Berpakaian ketat bagi wanita4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyol 5. dan lain-lainnyaBerikut sedikit pembahasannya:1. TatoTato di zaman ini oleh sebagian orang mulai dianggap biasa saja, karena budaya dari luar dan bahkan pejabat pun ada yang memakai tato. Tato ini dilarang oleh Islam sebagaimana dalam hadits berikut.نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَثَمَنِ الدَّمِ وَنَهَى عَنْ الْوَاشِمَةِ وَالْمَوْشُومَةِ وَآكِلِ الرِّبَا وَمُوكِلِهِ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anjing dan jual beli darah , dan melarang orang yang mentato dan yang ditato dan pemakan riba, serta melaknat orang yang menggambar.” (HR. Al-Bukhari)Baca Juga: Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat2. Tindik/tepong/piercingMenindik telinga bagi wanita adalah hal yang wajar karena wanita berhias, akan tetapi menindik telinga bagi laki-laki adalah suatu hal yang aneh di zaman dahulu, karena berhias itu bukan sifat identik laki-laki, terlebih hal ini ditegaskan larangannya oleh ulama. Ibnu Abidin berkata,ثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور“Menindik telinga untuk tempat anting adalah perhiasan bagi wanita dan tidak halal bagi laki-laki.” [Raddul Muhtar, 27/81]Demikian juga gaya dan trend yang menyerupai orang fasik di zaman ini seperti melakukan piercing yang bukan pada tempat yang layak seperti di alis, di lidah, di pusar bahkan di daerah intim. Sangat tidak layak seorang muslim ikut-ikutan dalam hal ini.Baca Juga: Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat3. Berpakaian ketat bagi wanitaGaya dan trend ini mungkin sejak dahulu sudah ada dan semakin nampak di zaman ini. Sebagian wanita muslimah merasa biasa saja ketika tidak berjilbab atau mungkij berjilbab tetapi memakai pakaian ketat, padahal hal ini dilarang keras dalam Islam dan ancamannya cukup keras yaitu tidak mencium bau surga.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [HR. Muslim]Baca Juga: Inilah 8 Sifat Wanita Terbaik4. Ikut-ikutan challenge yang tidak bermanfaat dan terlihat bodoh/konyolDi zaman ini terkenal istilah challenge (tantangan) yaitu tantangan melakukan sesuatu kemudian pelakunya meng-upload gambara atau video ia melakukan challenge (tantangan) tersebut. Hanya saja kebanyakan challenge (tantangan) tersebut adalah hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang bodoh atau terlihat konyol. Hanya saja karena hal tersebut sedang viral dan menjadi ajang pembuktian eksistensi diri, maka banyak yang ikut-ikutan padahal ia tahu itu hal yang terlihat konyol.Melakukan hal ini hanya buang-buang waktu saja dan tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” [HR. Tirmidzi, shahih]Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya bahwa umat islam ada yang suka mengikuti orang non-muslim terutama Yahudi dan Nasrani, Allah Ta’ala berfirman,وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kelak bahwa akan ada dari umatnya yang mengikuti segala tindak tanduk orang yahudi dan nashrani, jika mereka masuk ke lubang dhab (semacam biawak gurun pasir), maka orang Islam akan mengikuti mereka.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ ه “Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti,” maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” (Jawab Rasulullah): “Siapa lagi?!” [HR. Bukhari & Muslim]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah

Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca

Suatu kebiasaan dan budaya yang berkembangan di zaman internet dan sosmed ini adalah budaya berkomentar. Semua orang punya “panggung” untuk berbicara ke publik, komentar apa saja, tentang apa saja dan kapan saja. Dengan mudahnya orang banyak berkomentar sekarang, semua hal dan semua kejadian bisa dikomentari. Sebaliknya era internet dan sosmed bisa jadi mematikan budaya yang baik yaitu membaca, dalam artian membaca sebuah ilmu yang bermanfaat atau membaca dengan tujuan belajar, memahami dan menghasilkan perbaikan yang bermanfaat. Buku-buku bermanfaat ditinggalkan karena manusia lebih suka memegang gadget mereka.Agama Islam yang mulia ini telah mengarahkan kita pada kebiasaan yang sebaliknya yaitu sedikit berbicara/komentar dan banyak membaca. Ini adalah kebiasaan dan budaya yang baik dan ditekankan dalam agama Islam.Baca Juga: Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-QuranTidak banyak berkomentar bahkan diam jika tidak tahu/berilmuBanyak berkomentar dan berbicara membuat kita mudah tergelincir dalam berbagai kesalahan. Sangat bernar ungkapan bahwa “lidah tidak bertulang”. Agar selamat hendaknya kita mampu menahan diri agar tidak banyak berkomentar, terlebih kita tidak tahu atau berilmu mengenai hal tersebut.Ungakapan “diam itu emas” juga cukup tepat sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.” [HR. Bukhari dan Muslim]Perlu diingat pula, lidahlah yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke neraka. Luka karena pukulan tangan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu akan tetapi luka karena ungkapan lidah yang menusuk bisa jadi sulit atau susah sembuh. Sangat banyak “kejahatan” lidah jika tidak bisa dikendalikan.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم “Engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.” [HR.Tirmidzi]Baca Juga: Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat ResahBeliau juga bersabda,مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (maksudnya janggut dan kumis) dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” [HR. Al-Bukhari]Hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan kita pasti akan di catat, baik banyak maupun sedikit, banyak keluhan dengan teriakan atau sekedar mengeluh dengan ungkapan kecil. Karena akan ada malaikat yang mencatat segala amal kita.Allah Ta’ala berfirman, عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد “Seorang duduk disebelah kanan, dan yang lain duduk disebelah kiri. tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).Baca Juga: Hukum Berjualan Di Facebook Dan Beriklan Di Kolom KomentarRajin membaca dan belajarRajin membaca dan belajar adalah ciri dan kebiasaan baik seorang mukmin. Bukankah ayat pertama yang turun adalah “iqra’” yaitu perintah membaca? Orang yang paham akan pentingnya membaca akan merasakan lezatnya ilmu dan membaca adalah suatu kebutuhan primer baginya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,ولا ريب أن لذة العلم أعظم اللذات، و اللذة التي تبقى بعد الموت وتنفع في الآخرة هي لذة العلم بالله والعمل له وهو الإيمان به“Tidak diragukan lagi bahwasanya kelezatan ilmu itu adalah sebesar-besarnya kelezatan, dan kelezatan yang akan tetap ada setelah meninggal dan akan bermanfaat di akhirat ialah kelezatan ilmu kepada Allah dan beramal dengannya dan dia beriman kepadanya.” (Majmu’ Al-Fatawa 14/162)Di antara ulama yang terkenal rajin membaca di zaman ini adalah syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau membaca sehari bisa sampai 12 jam. Berikut kisah beliau membaca di atas tangga selama 6 jam karena sedang berlezat-lezat dengan ilmu. Berikut kisahnya,يقول أحد تلامذة الشيخ ويقول: ومما يدل على صبره وجلده في طلب العلم… أن الشيخ ناصر صعد على السلم في المكتبة الظاهرية ليأخذ كتابًا مخطوطًا، فتناول الكتاب وفتحه، فبقي واقفًا على السلم يقرأ في الكتاب لمدة تزيد على الست ساعات Salah satu murid syaikh Al-Albani berkata, “Di antara yang menunjukkan kesabaran dan kegigihan beliau (syaikh Al-Albani) dalam menuntu ilmu.. Syaikh naik ke tangga di perpustakaan Dzahiriyah untuk mengambil kitab manuskrip. Beliau mengambil kitab tersebut dan membukanya, beliau tetap berdiri di atas tangga membaca kitab tersebut lebih dari 6 jam” (Maqaalaat Al-Albani)Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah

Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca

Suatu kebiasaan dan budaya yang berkembangan di zaman internet dan sosmed ini adalah budaya berkomentar. Semua orang punya “panggung” untuk berbicara ke publik, komentar apa saja, tentang apa saja dan kapan saja. Dengan mudahnya orang banyak berkomentar sekarang, semua hal dan semua kejadian bisa dikomentari. Sebaliknya era internet dan sosmed bisa jadi mematikan budaya yang baik yaitu membaca, dalam artian membaca sebuah ilmu yang bermanfaat atau membaca dengan tujuan belajar, memahami dan menghasilkan perbaikan yang bermanfaat. Buku-buku bermanfaat ditinggalkan karena manusia lebih suka memegang gadget mereka.Agama Islam yang mulia ini telah mengarahkan kita pada kebiasaan yang sebaliknya yaitu sedikit berbicara/komentar dan banyak membaca. Ini adalah kebiasaan dan budaya yang baik dan ditekankan dalam agama Islam.Baca Juga: Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-QuranTidak banyak berkomentar bahkan diam jika tidak tahu/berilmuBanyak berkomentar dan berbicara membuat kita mudah tergelincir dalam berbagai kesalahan. Sangat bernar ungkapan bahwa “lidah tidak bertulang”. Agar selamat hendaknya kita mampu menahan diri agar tidak banyak berkomentar, terlebih kita tidak tahu atau berilmu mengenai hal tersebut.Ungakapan “diam itu emas” juga cukup tepat sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.” [HR. Bukhari dan Muslim]Perlu diingat pula, lidahlah yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke neraka. Luka karena pukulan tangan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu akan tetapi luka karena ungkapan lidah yang menusuk bisa jadi sulit atau susah sembuh. Sangat banyak “kejahatan” lidah jika tidak bisa dikendalikan.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم “Engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.” [HR.Tirmidzi]Baca Juga: Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat ResahBeliau juga bersabda,مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (maksudnya janggut dan kumis) dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” [HR. Al-Bukhari]Hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan kita pasti akan di catat, baik banyak maupun sedikit, banyak keluhan dengan teriakan atau sekedar mengeluh dengan ungkapan kecil. Karena akan ada malaikat yang mencatat segala amal kita.Allah Ta’ala berfirman, عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد “Seorang duduk disebelah kanan, dan yang lain duduk disebelah kiri. tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).Baca Juga: Hukum Berjualan Di Facebook Dan Beriklan Di Kolom KomentarRajin membaca dan belajarRajin membaca dan belajar adalah ciri dan kebiasaan baik seorang mukmin. Bukankah ayat pertama yang turun adalah “iqra’” yaitu perintah membaca? Orang yang paham akan pentingnya membaca akan merasakan lezatnya ilmu dan membaca adalah suatu kebutuhan primer baginya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,ولا ريب أن لذة العلم أعظم اللذات، و اللذة التي تبقى بعد الموت وتنفع في الآخرة هي لذة العلم بالله والعمل له وهو الإيمان به“Tidak diragukan lagi bahwasanya kelezatan ilmu itu adalah sebesar-besarnya kelezatan, dan kelezatan yang akan tetap ada setelah meninggal dan akan bermanfaat di akhirat ialah kelezatan ilmu kepada Allah dan beramal dengannya dan dia beriman kepadanya.” (Majmu’ Al-Fatawa 14/162)Di antara ulama yang terkenal rajin membaca di zaman ini adalah syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau membaca sehari bisa sampai 12 jam. Berikut kisah beliau membaca di atas tangga selama 6 jam karena sedang berlezat-lezat dengan ilmu. Berikut kisahnya,يقول أحد تلامذة الشيخ ويقول: ومما يدل على صبره وجلده في طلب العلم… أن الشيخ ناصر صعد على السلم في المكتبة الظاهرية ليأخذ كتابًا مخطوطًا، فتناول الكتاب وفتحه، فبقي واقفًا على السلم يقرأ في الكتاب لمدة تزيد على الست ساعات Salah satu murid syaikh Al-Albani berkata, “Di antara yang menunjukkan kesabaran dan kegigihan beliau (syaikh Al-Albani) dalam menuntu ilmu.. Syaikh naik ke tangga di perpustakaan Dzahiriyah untuk mengambil kitab manuskrip. Beliau mengambil kitab tersebut dan membukanya, beliau tetap berdiri di atas tangga membaca kitab tersebut lebih dari 6 jam” (Maqaalaat Al-Albani)Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah
Suatu kebiasaan dan budaya yang berkembangan di zaman internet dan sosmed ini adalah budaya berkomentar. Semua orang punya “panggung” untuk berbicara ke publik, komentar apa saja, tentang apa saja dan kapan saja. Dengan mudahnya orang banyak berkomentar sekarang, semua hal dan semua kejadian bisa dikomentari. Sebaliknya era internet dan sosmed bisa jadi mematikan budaya yang baik yaitu membaca, dalam artian membaca sebuah ilmu yang bermanfaat atau membaca dengan tujuan belajar, memahami dan menghasilkan perbaikan yang bermanfaat. Buku-buku bermanfaat ditinggalkan karena manusia lebih suka memegang gadget mereka.Agama Islam yang mulia ini telah mengarahkan kita pada kebiasaan yang sebaliknya yaitu sedikit berbicara/komentar dan banyak membaca. Ini adalah kebiasaan dan budaya yang baik dan ditekankan dalam agama Islam.Baca Juga: Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-QuranTidak banyak berkomentar bahkan diam jika tidak tahu/berilmuBanyak berkomentar dan berbicara membuat kita mudah tergelincir dalam berbagai kesalahan. Sangat bernar ungkapan bahwa “lidah tidak bertulang”. Agar selamat hendaknya kita mampu menahan diri agar tidak banyak berkomentar, terlebih kita tidak tahu atau berilmu mengenai hal tersebut.Ungakapan “diam itu emas” juga cukup tepat sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.” [HR. Bukhari dan Muslim]Perlu diingat pula, lidahlah yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke neraka. Luka karena pukulan tangan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu akan tetapi luka karena ungkapan lidah yang menusuk bisa jadi sulit atau susah sembuh. Sangat banyak “kejahatan” lidah jika tidak bisa dikendalikan.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم “Engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.” [HR.Tirmidzi]Baca Juga: Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat ResahBeliau juga bersabda,مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (maksudnya janggut dan kumis) dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” [HR. Al-Bukhari]Hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan kita pasti akan di catat, baik banyak maupun sedikit, banyak keluhan dengan teriakan atau sekedar mengeluh dengan ungkapan kecil. Karena akan ada malaikat yang mencatat segala amal kita.Allah Ta’ala berfirman, عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد “Seorang duduk disebelah kanan, dan yang lain duduk disebelah kiri. tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).Baca Juga: Hukum Berjualan Di Facebook Dan Beriklan Di Kolom KomentarRajin membaca dan belajarRajin membaca dan belajar adalah ciri dan kebiasaan baik seorang mukmin. Bukankah ayat pertama yang turun adalah “iqra’” yaitu perintah membaca? Orang yang paham akan pentingnya membaca akan merasakan lezatnya ilmu dan membaca adalah suatu kebutuhan primer baginya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,ولا ريب أن لذة العلم أعظم اللذات، و اللذة التي تبقى بعد الموت وتنفع في الآخرة هي لذة العلم بالله والعمل له وهو الإيمان به“Tidak diragukan lagi bahwasanya kelezatan ilmu itu adalah sebesar-besarnya kelezatan, dan kelezatan yang akan tetap ada setelah meninggal dan akan bermanfaat di akhirat ialah kelezatan ilmu kepada Allah dan beramal dengannya dan dia beriman kepadanya.” (Majmu’ Al-Fatawa 14/162)Di antara ulama yang terkenal rajin membaca di zaman ini adalah syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau membaca sehari bisa sampai 12 jam. Berikut kisah beliau membaca di atas tangga selama 6 jam karena sedang berlezat-lezat dengan ilmu. Berikut kisahnya,يقول أحد تلامذة الشيخ ويقول: ومما يدل على صبره وجلده في طلب العلم… أن الشيخ ناصر صعد على السلم في المكتبة الظاهرية ليأخذ كتابًا مخطوطًا، فتناول الكتاب وفتحه، فبقي واقفًا على السلم يقرأ في الكتاب لمدة تزيد على الست ساعات Salah satu murid syaikh Al-Albani berkata, “Di antara yang menunjukkan kesabaran dan kegigihan beliau (syaikh Al-Albani) dalam menuntu ilmu.. Syaikh naik ke tangga di perpustakaan Dzahiriyah untuk mengambil kitab manuskrip. Beliau mengambil kitab tersebut dan membukanya, beliau tetap berdiri di atas tangga membaca kitab tersebut lebih dari 6 jam” (Maqaalaat Al-Albani)Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah


Suatu kebiasaan dan budaya yang berkembangan di zaman internet dan sosmed ini adalah budaya berkomentar. Semua orang punya “panggung” untuk berbicara ke publik, komentar apa saja, tentang apa saja dan kapan saja. Dengan mudahnya orang banyak berkomentar sekarang, semua hal dan semua kejadian bisa dikomentari. Sebaliknya era internet dan sosmed bisa jadi mematikan budaya yang baik yaitu membaca, dalam artian membaca sebuah ilmu yang bermanfaat atau membaca dengan tujuan belajar, memahami dan menghasilkan perbaikan yang bermanfaat. Buku-buku bermanfaat ditinggalkan karena manusia lebih suka memegang gadget mereka.Agama Islam yang mulia ini telah mengarahkan kita pada kebiasaan yang sebaliknya yaitu sedikit berbicara/komentar dan banyak membaca. Ini adalah kebiasaan dan budaya yang baik dan ditekankan dalam agama Islam.Baca Juga: Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-QuranTidak banyak berkomentar bahkan diam jika tidak tahu/berilmuBanyak berkomentar dan berbicara membuat kita mudah tergelincir dalam berbagai kesalahan. Sangat bernar ungkapan bahwa “lidah tidak bertulang”. Agar selamat hendaknya kita mampu menahan diri agar tidak banyak berkomentar, terlebih kita tidak tahu atau berilmu mengenai hal tersebut.Ungakapan “diam itu emas” juga cukup tepat sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.” [HR. Bukhari dan Muslim]Perlu diingat pula, lidahlah yang banyak menyebabkan seseorang masuk ke neraka. Luka karena pukulan tangan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu akan tetapi luka karena ungkapan lidah yang menusuk bisa jadi sulit atau susah sembuh. Sangat banyak “kejahatan” lidah jika tidak bisa dikendalikan.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم “Engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka di atas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.” [HR.Tirmidzi]Baca Juga: Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat ResahBeliau juga bersabda,مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (maksudnya janggut dan kumis) dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” [HR. Al-Bukhari]Hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan kita pasti akan di catat, baik banyak maupun sedikit, banyak keluhan dengan teriakan atau sekedar mengeluh dengan ungkapan kecil. Karena akan ada malaikat yang mencatat segala amal kita.Allah Ta’ala berfirman, عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد “Seorang duduk disebelah kanan, dan yang lain duduk disebelah kiri. tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).Baca Juga: Hukum Berjualan Di Facebook Dan Beriklan Di Kolom KomentarRajin membaca dan belajarRajin membaca dan belajar adalah ciri dan kebiasaan baik seorang mukmin. Bukankah ayat pertama yang turun adalah “iqra’” yaitu perintah membaca? Orang yang paham akan pentingnya membaca akan merasakan lezatnya ilmu dan membaca adalah suatu kebutuhan primer baginya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,ولا ريب أن لذة العلم أعظم اللذات، و اللذة التي تبقى بعد الموت وتنفع في الآخرة هي لذة العلم بالله والعمل له وهو الإيمان به“Tidak diragukan lagi bahwasanya kelezatan ilmu itu adalah sebesar-besarnya kelezatan, dan kelezatan yang akan tetap ada setelah meninggal dan akan bermanfaat di akhirat ialah kelezatan ilmu kepada Allah dan beramal dengannya dan dia beriman kepadanya.” (Majmu’ Al-Fatawa 14/162)Di antara ulama yang terkenal rajin membaca di zaman ini adalah syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau membaca sehari bisa sampai 12 jam. Berikut kisah beliau membaca di atas tangga selama 6 jam karena sedang berlezat-lezat dengan ilmu. Berikut kisahnya,يقول أحد تلامذة الشيخ ويقول: ومما يدل على صبره وجلده في طلب العلم… أن الشيخ ناصر صعد على السلم في المكتبة الظاهرية ليأخذ كتابًا مخطوطًا، فتناول الكتاب وفتحه، فبقي واقفًا على السلم يقرأ في الكتاب لمدة تزيد على الست ساعات Salah satu murid syaikh Al-Albani berkata, “Di antara yang menunjukkan kesabaran dan kegigihan beliau (syaikh Al-Albani) dalam menuntu ilmu.. Syaikh naik ke tangga di perpustakaan Dzahiriyah untuk mengambil kitab manuskrip. Beliau mengambil kitab tersebut dan membukanya, beliau tetap berdiri di atas tangga membaca kitab tersebut lebih dari 6 jam” (Maqaalaat Al-Albani)Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Cadar Dalam Islam, Hadits Agama Adalah Nasihat, Cara Mencintai Rasulullah, Gambar Tentang Doa, Surat Al Jajalah

Antara Ikhlas dan Riya’

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Ada seseorang yang melakukan amal shalih, dia bersemangat untuk menyembunyikannya dari manusia karena takut terjatuh dalam riya’. Akan tetapi, dia dapati bahwa dirinya menjadi gembira dan senang ketika ada orang lain yang mengetahui amalnya tanpa dia sengaja. Apakah hal ini juga termasuk riya’? Lalu, apakah meninggalkan amal shalih di hadapan manusia juga termasuk riya’? Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasJawaban: Yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah Ta’ala. Bahkan, hal ini merupakan perkara yang wajib. Dia tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa dia melakukan karena riya’. Hal ini karena jika dia terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, dia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’). Seorang mukmin dan mukhlis (yang ikhlas dalam beramal, pent.) adalah mereka yang terkadang menampakkan amal dan terkadang menyembunyikan amal, sesuai dengan tuntutan maslahat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 274)Jadi, kebaikan itu terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan terkadang dilakukan secara terang-terangan. Maka Engkau, wahai saudaraku sesama muslim, lihatlah manakah yang lebih afdhal (lebih utama), kemudian kerjakanlah. Berhentilah dari riya’ dan jauhilah riya’. Dan janganlah Engkau membiasakan jiwamu selamanya untuk senang dilihat orang dan atau keinginan mendapatkan harta mereka karena amal yang Engkau lakukan.Adapun berkaitan dengan kegembiraan setelah melakukan suatu ibadah dan Engkau telah melakukan ibadah tersebut murni karena Allah Ta’ala, maka perkara ini tidaklah menjadi masalah. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan,أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ؛ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62-64)Maka bedakanlah antara: (1) orang yang melakukan suatu amal agar amal tersebut dilihat orang dan mendapatkan pujian dari mereka; dengan (2) orang yang melakukan suatu amal karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia gembira ketika manusia melihatnya (tanpa adanya kesengajaan dari pelaku amal). Hal ini karena dia bergembira karena nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan ini tidaklah membahayakan sedikit pun. Adapun seseorang terkadang meninggalkan suatu amal karena takut terhadap riya’, maka hal ini juga merupakan waswas yang setan masukkan ke dalam hati manusia. Maka tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa Engkau melakukannya karena riya’. Ucapkanlah,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”;kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kerjakanlah ibadah tersebut.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 108-109, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua, Siapa Luqman Al Hakim, Dzikir Dzikir, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Posisi Ciuman

Antara Ikhlas dan Riya’

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Ada seseorang yang melakukan amal shalih, dia bersemangat untuk menyembunyikannya dari manusia karena takut terjatuh dalam riya’. Akan tetapi, dia dapati bahwa dirinya menjadi gembira dan senang ketika ada orang lain yang mengetahui amalnya tanpa dia sengaja. Apakah hal ini juga termasuk riya’? Lalu, apakah meninggalkan amal shalih di hadapan manusia juga termasuk riya’? Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasJawaban: Yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah Ta’ala. Bahkan, hal ini merupakan perkara yang wajib. Dia tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa dia melakukan karena riya’. Hal ini karena jika dia terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, dia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’). Seorang mukmin dan mukhlis (yang ikhlas dalam beramal, pent.) adalah mereka yang terkadang menampakkan amal dan terkadang menyembunyikan amal, sesuai dengan tuntutan maslahat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 274)Jadi, kebaikan itu terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan terkadang dilakukan secara terang-terangan. Maka Engkau, wahai saudaraku sesama muslim, lihatlah manakah yang lebih afdhal (lebih utama), kemudian kerjakanlah. Berhentilah dari riya’ dan jauhilah riya’. Dan janganlah Engkau membiasakan jiwamu selamanya untuk senang dilihat orang dan atau keinginan mendapatkan harta mereka karena amal yang Engkau lakukan.Adapun berkaitan dengan kegembiraan setelah melakukan suatu ibadah dan Engkau telah melakukan ibadah tersebut murni karena Allah Ta’ala, maka perkara ini tidaklah menjadi masalah. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan,أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ؛ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62-64)Maka bedakanlah antara: (1) orang yang melakukan suatu amal agar amal tersebut dilihat orang dan mendapatkan pujian dari mereka; dengan (2) orang yang melakukan suatu amal karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia gembira ketika manusia melihatnya (tanpa adanya kesengajaan dari pelaku amal). Hal ini karena dia bergembira karena nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan ini tidaklah membahayakan sedikit pun. Adapun seseorang terkadang meninggalkan suatu amal karena takut terhadap riya’, maka hal ini juga merupakan waswas yang setan masukkan ke dalam hati manusia. Maka tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa Engkau melakukannya karena riya’. Ucapkanlah,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”;kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kerjakanlah ibadah tersebut.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 108-109, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua, Siapa Luqman Al Hakim, Dzikir Dzikir, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Posisi Ciuman
Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Ada seseorang yang melakukan amal shalih, dia bersemangat untuk menyembunyikannya dari manusia karena takut terjatuh dalam riya’. Akan tetapi, dia dapati bahwa dirinya menjadi gembira dan senang ketika ada orang lain yang mengetahui amalnya tanpa dia sengaja. Apakah hal ini juga termasuk riya’? Lalu, apakah meninggalkan amal shalih di hadapan manusia juga termasuk riya’? Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasJawaban: Yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah Ta’ala. Bahkan, hal ini merupakan perkara yang wajib. Dia tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa dia melakukan karena riya’. Hal ini karena jika dia terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, dia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’). Seorang mukmin dan mukhlis (yang ikhlas dalam beramal, pent.) adalah mereka yang terkadang menampakkan amal dan terkadang menyembunyikan amal, sesuai dengan tuntutan maslahat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 274)Jadi, kebaikan itu terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan terkadang dilakukan secara terang-terangan. Maka Engkau, wahai saudaraku sesama muslim, lihatlah manakah yang lebih afdhal (lebih utama), kemudian kerjakanlah. Berhentilah dari riya’ dan jauhilah riya’. Dan janganlah Engkau membiasakan jiwamu selamanya untuk senang dilihat orang dan atau keinginan mendapatkan harta mereka karena amal yang Engkau lakukan.Adapun berkaitan dengan kegembiraan setelah melakukan suatu ibadah dan Engkau telah melakukan ibadah tersebut murni karena Allah Ta’ala, maka perkara ini tidaklah menjadi masalah. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan,أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ؛ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62-64)Maka bedakanlah antara: (1) orang yang melakukan suatu amal agar amal tersebut dilihat orang dan mendapatkan pujian dari mereka; dengan (2) orang yang melakukan suatu amal karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia gembira ketika manusia melihatnya (tanpa adanya kesengajaan dari pelaku amal). Hal ini karena dia bergembira karena nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan ini tidaklah membahayakan sedikit pun. Adapun seseorang terkadang meninggalkan suatu amal karena takut terhadap riya’, maka hal ini juga merupakan waswas yang setan masukkan ke dalam hati manusia. Maka tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa Engkau melakukannya karena riya’. Ucapkanlah,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”;kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kerjakanlah ibadah tersebut.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 108-109, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua, Siapa Luqman Al Hakim, Dzikir Dzikir, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Posisi Ciuman


Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Ada seseorang yang melakukan amal shalih, dia bersemangat untuk menyembunyikannya dari manusia karena takut terjatuh dalam riya’. Akan tetapi, dia dapati bahwa dirinya menjadi gembira dan senang ketika ada orang lain yang mengetahui amalnya tanpa dia sengaja. Apakah hal ini juga termasuk riya’? Lalu, apakah meninggalkan amal shalih di hadapan manusia juga termasuk riya’? Baca Juga: Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang IkhlasJawaban: Yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah Ta’ala. Bahkan, hal ini merupakan perkara yang wajib. Dia tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa dia melakukan karena riya’. Hal ini karena jika dia terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, dia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’). Seorang mukmin dan mukhlis (yang ikhlas dalam beramal, pent.) adalah mereka yang terkadang menampakkan amal dan terkadang menyembunyikan amal, sesuai dengan tuntutan maslahat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 274)Jadi, kebaikan itu terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan terkadang dilakukan secara terang-terangan. Maka Engkau, wahai saudaraku sesama muslim, lihatlah manakah yang lebih afdhal (lebih utama), kemudian kerjakanlah. Berhentilah dari riya’ dan jauhilah riya’. Dan janganlah Engkau membiasakan jiwamu selamanya untuk senang dilihat orang dan atau keinginan mendapatkan harta mereka karena amal yang Engkau lakukan.Adapun berkaitan dengan kegembiraan setelah melakukan suatu ibadah dan Engkau telah melakukan ibadah tersebut murni karena Allah Ta’ala, maka perkara ini tidaklah menjadi masalah. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan,أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ؛ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62-64)Maka bedakanlah antara: (1) orang yang melakukan suatu amal agar amal tersebut dilihat orang dan mendapatkan pujian dari mereka; dengan (2) orang yang melakukan suatu amal karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia gembira ketika manusia melihatnya (tanpa adanya kesengajaan dari pelaku amal). Hal ini karena dia bergembira karena nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan ini tidaklah membahayakan sedikit pun. Adapun seseorang terkadang meninggalkan suatu amal karena takut terhadap riya’, maka hal ini juga merupakan waswas yang setan masukkan ke dalam hati manusia. Maka tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa Engkau melakukannya karena riya’. Ucapkanlah,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”;kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kerjakanlah ibadah tersebut.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 108-109, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua, Siapa Luqman Al Hakim, Dzikir Dzikir, Hal Hal Yang Diharamkan Dalam Islam, Posisi Ciuman

Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 1)Berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSetelah beribadah di raudhah, jika seseorang ingin berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya dia berdiri di depan makam beliau dengan penuh adab dan tenang, lalu mengucapkan doa,َالسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاته، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صَلَّيْت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما َباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. أشهدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ الله حَقاً، وأَنَّكَ قَدْ بَلَغْت َالرسالةَ، وأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، ونَصَحْتَ الْأُمَّةَ، وجَاهَدْتَ في اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فجزاك اللهُ عنْ أُمَّتِك أَفضلُ ما جزى نَبِيُّنَا عن أمته“Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid. Asyhadu annaka Rasulullahi haqgan, wa annaka qad ballaghtar risaalata, wa addaital amaanata, wa nashahtal ummata, wa jaahadta fil laahi haqqa jihaadihi, fajazaakallahu ‘ala ummatika afdhalu ma jaza nabiyyuna ‘an ummatihi.”Baca Juga: Jangan Jadikan Kubur Nabi Sebagai Sesembahan (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Aku bersaksi bahwa Engkau (Muhammad) adalah Rasulullah yang haq. [Aku bersaksi bahwa Engkau] (Muhammad) telah menyampaikan risalah kenabian, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat ini, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah membalasmu atas apa yang telah Engkau perbuat untuk umatmu, lebih dari balasan para Nabi atas apa yang telah mereka perbuat untuk umatnya.).”Setelah itu, dia bergeser ke arah kanan sedikit, dan mengucapkan salam kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bergeser lagi ke kanan sedikit dan mengucapkan salam kepada sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Jika setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan keduanya, itu juga baik. Selain itu, disunnahkan pula bagi peziarah kubur untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat pada saat hendak masuk ke pemakaman, yaitu mengucapkan:السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين, وإنا إن شاء الله بكم للاحقون؛ أسأل الله لنا ولكم العافية“Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniin wal muslimiina, wa innaa insyaa Allah bikum lalaahiquun. As’alullaaha lanaa wa lakum al-‘aafiyata.”Baca Juga: Ziarah Kubur, antara Sunnah dan Bid’ah“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni kubur yang mukmin dan muslim. Kami insyaa Allah akan menyusul kalian. Saya memohon ‘afiyah (keselamatan) kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 2257)Berkaitan dengan ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh bagi seseorang untuk: Berdoa meminta langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kebutuhannya dipenuhi atau agar dihilangkan kesusahan dari dirinya, atau doa-doa lainnya yang tidak selayaknya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Karena semua penghuni kubur (mayit) itu didoakan dengan doa kebaikan, bukan berdoa meminta kepada mereka. Meletakkan kedua tangannya di dada ketika menghadap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keadaan ketika shalat. Hal ini juga tidak diperbolehkan karena menunjukkan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah Ta’ala. Mengusap-usap dinding dan jendela makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau mencium dinding makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa. Perbuatan semacam ini merupakan perantara menuju kemusyrikan. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang beranggapan bahwa mengusap (dinding kubur Nabi) dengan tangan dapat mendatangkan keberkahan, maka hal ini merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu terdapat dalam hal yang sesuai (cocok) dengan syari’at. Bagaimana keutamaan bisa didapatkan dengan menyelisihi kebenaran?” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 8: 206)Baca Juga: Kafirkah Kedua Orang  Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan) Thawaf mengelilingi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara thawaf mengelilingi masjid Nabawi. Karena ibadah thawaf hanya dilakukan terhadap ka’bah di Masjidil Haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa thawaf tidak boleh dilakukan kecuali di sekitar Al-Baitul Ma’mur (Ka’bah). Tidak boleh thawaf mengelilingi Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha, pent.), tidak boleh juga mengelilingi kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak boleh mengelilingi kubah di atas bukit ‘Arafah, dan lain-lain.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 521) Meninggikan (mengeraskan) suara ketika berada di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak diperbolehkan karena Allah Ta’ala telah mengajarkan adab kepada orang-orang beriman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah mereka dengan mengatakan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ؛ إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Hujurat [49]: 2-3)Baca Juga: Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dihormati dan dimuliakan, baik ketika beliau masih hidup atau ketika sudah meninggal dunia.” (Fadhlul Madiinah, hal. 45) Bersengaja menghadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat yang jauh, baik ketika di dalam Masjid Nabawi atau di luar masjid, dan mengucapkan salam kepada beliau. Terlalu lama berdiri di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau memperbanyak ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bolak-balik berziarah). Karena perbuatan ini dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama yang terlarang. Semua ini adalah dalam rangka menjaga dan melindungi tauhid dari noda-noda kemusyrikan yang mengotorinya. Juga karena ibadah itu dilandasi dengan syariat Allah dan Rasul-Nya, dibangun di atas ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi), bukan di atas ibtida’ (berbuat bid’ah).Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 25 Jumadil akhir 1440/ 2 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Fadhlul Madiinah wa Adaabu Suknaaha wa Ziyaaratihaa, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbaad Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan ke-18 tahun 1439.Al-Manhaj li Muriidil ‘Umrah wal Hajj, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1429, penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Al-Khairiyyah.🔍 Tundukan Pandangan, Keikhlasan Hati Saat Tersakiti, Keutamaan Membaca Surah Al Mulk, Waktu Shalat Fajar Jam Berapa, Nabi Muhammad Wafat Karena Diracun

Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 1)Berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSetelah beribadah di raudhah, jika seseorang ingin berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya dia berdiri di depan makam beliau dengan penuh adab dan tenang, lalu mengucapkan doa,َالسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاته، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صَلَّيْت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما َباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. أشهدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ الله حَقاً، وأَنَّكَ قَدْ بَلَغْت َالرسالةَ، وأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، ونَصَحْتَ الْأُمَّةَ، وجَاهَدْتَ في اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فجزاك اللهُ عنْ أُمَّتِك أَفضلُ ما جزى نَبِيُّنَا عن أمته“Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid. Asyhadu annaka Rasulullahi haqgan, wa annaka qad ballaghtar risaalata, wa addaital amaanata, wa nashahtal ummata, wa jaahadta fil laahi haqqa jihaadihi, fajazaakallahu ‘ala ummatika afdhalu ma jaza nabiyyuna ‘an ummatihi.”Baca Juga: Jangan Jadikan Kubur Nabi Sebagai Sesembahan (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Aku bersaksi bahwa Engkau (Muhammad) adalah Rasulullah yang haq. [Aku bersaksi bahwa Engkau] (Muhammad) telah menyampaikan risalah kenabian, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat ini, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah membalasmu atas apa yang telah Engkau perbuat untuk umatmu, lebih dari balasan para Nabi atas apa yang telah mereka perbuat untuk umatnya.).”Setelah itu, dia bergeser ke arah kanan sedikit, dan mengucapkan salam kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bergeser lagi ke kanan sedikit dan mengucapkan salam kepada sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Jika setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan keduanya, itu juga baik. Selain itu, disunnahkan pula bagi peziarah kubur untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat pada saat hendak masuk ke pemakaman, yaitu mengucapkan:السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين, وإنا إن شاء الله بكم للاحقون؛ أسأل الله لنا ولكم العافية“Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniin wal muslimiina, wa innaa insyaa Allah bikum lalaahiquun. As’alullaaha lanaa wa lakum al-‘aafiyata.”Baca Juga: Ziarah Kubur, antara Sunnah dan Bid’ah“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni kubur yang mukmin dan muslim. Kami insyaa Allah akan menyusul kalian. Saya memohon ‘afiyah (keselamatan) kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 2257)Berkaitan dengan ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh bagi seseorang untuk: Berdoa meminta langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kebutuhannya dipenuhi atau agar dihilangkan kesusahan dari dirinya, atau doa-doa lainnya yang tidak selayaknya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Karena semua penghuni kubur (mayit) itu didoakan dengan doa kebaikan, bukan berdoa meminta kepada mereka. Meletakkan kedua tangannya di dada ketika menghadap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keadaan ketika shalat. Hal ini juga tidak diperbolehkan karena menunjukkan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah Ta’ala. Mengusap-usap dinding dan jendela makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau mencium dinding makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa. Perbuatan semacam ini merupakan perantara menuju kemusyrikan. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang beranggapan bahwa mengusap (dinding kubur Nabi) dengan tangan dapat mendatangkan keberkahan, maka hal ini merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu terdapat dalam hal yang sesuai (cocok) dengan syari’at. Bagaimana keutamaan bisa didapatkan dengan menyelisihi kebenaran?” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 8: 206)Baca Juga: Kafirkah Kedua Orang  Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan) Thawaf mengelilingi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara thawaf mengelilingi masjid Nabawi. Karena ibadah thawaf hanya dilakukan terhadap ka’bah di Masjidil Haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa thawaf tidak boleh dilakukan kecuali di sekitar Al-Baitul Ma’mur (Ka’bah). Tidak boleh thawaf mengelilingi Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha, pent.), tidak boleh juga mengelilingi kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak boleh mengelilingi kubah di atas bukit ‘Arafah, dan lain-lain.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 521) Meninggikan (mengeraskan) suara ketika berada di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak diperbolehkan karena Allah Ta’ala telah mengajarkan adab kepada orang-orang beriman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah mereka dengan mengatakan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ؛ إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Hujurat [49]: 2-3)Baca Juga: Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dihormati dan dimuliakan, baik ketika beliau masih hidup atau ketika sudah meninggal dunia.” (Fadhlul Madiinah, hal. 45) Bersengaja menghadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat yang jauh, baik ketika di dalam Masjid Nabawi atau di luar masjid, dan mengucapkan salam kepada beliau. Terlalu lama berdiri di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau memperbanyak ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bolak-balik berziarah). Karena perbuatan ini dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama yang terlarang. Semua ini adalah dalam rangka menjaga dan melindungi tauhid dari noda-noda kemusyrikan yang mengotorinya. Juga karena ibadah itu dilandasi dengan syariat Allah dan Rasul-Nya, dibangun di atas ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi), bukan di atas ibtida’ (berbuat bid’ah).Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 25 Jumadil akhir 1440/ 2 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Fadhlul Madiinah wa Adaabu Suknaaha wa Ziyaaratihaa, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbaad Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan ke-18 tahun 1439.Al-Manhaj li Muriidil ‘Umrah wal Hajj, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1429, penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Al-Khairiyyah.🔍 Tundukan Pandangan, Keikhlasan Hati Saat Tersakiti, Keutamaan Membaca Surah Al Mulk, Waktu Shalat Fajar Jam Berapa, Nabi Muhammad Wafat Karena Diracun
Baca pembahasan sebelumnya Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 1)Berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSetelah beribadah di raudhah, jika seseorang ingin berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya dia berdiri di depan makam beliau dengan penuh adab dan tenang, lalu mengucapkan doa,َالسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاته، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صَلَّيْت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما َباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. أشهدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ الله حَقاً، وأَنَّكَ قَدْ بَلَغْت َالرسالةَ، وأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، ونَصَحْتَ الْأُمَّةَ، وجَاهَدْتَ في اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فجزاك اللهُ عنْ أُمَّتِك أَفضلُ ما جزى نَبِيُّنَا عن أمته“Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid. Asyhadu annaka Rasulullahi haqgan, wa annaka qad ballaghtar risaalata, wa addaital amaanata, wa nashahtal ummata, wa jaahadta fil laahi haqqa jihaadihi, fajazaakallahu ‘ala ummatika afdhalu ma jaza nabiyyuna ‘an ummatihi.”Baca Juga: Jangan Jadikan Kubur Nabi Sebagai Sesembahan (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Aku bersaksi bahwa Engkau (Muhammad) adalah Rasulullah yang haq. [Aku bersaksi bahwa Engkau] (Muhammad) telah menyampaikan risalah kenabian, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat ini, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah membalasmu atas apa yang telah Engkau perbuat untuk umatmu, lebih dari balasan para Nabi atas apa yang telah mereka perbuat untuk umatnya.).”Setelah itu, dia bergeser ke arah kanan sedikit, dan mengucapkan salam kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bergeser lagi ke kanan sedikit dan mengucapkan salam kepada sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Jika setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan keduanya, itu juga baik. Selain itu, disunnahkan pula bagi peziarah kubur untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat pada saat hendak masuk ke pemakaman, yaitu mengucapkan:السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين, وإنا إن شاء الله بكم للاحقون؛ أسأل الله لنا ولكم العافية“Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniin wal muslimiina, wa innaa insyaa Allah bikum lalaahiquun. As’alullaaha lanaa wa lakum al-‘aafiyata.”Baca Juga: Ziarah Kubur, antara Sunnah dan Bid’ah“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni kubur yang mukmin dan muslim. Kami insyaa Allah akan menyusul kalian. Saya memohon ‘afiyah (keselamatan) kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 2257)Berkaitan dengan ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh bagi seseorang untuk: Berdoa meminta langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kebutuhannya dipenuhi atau agar dihilangkan kesusahan dari dirinya, atau doa-doa lainnya yang tidak selayaknya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Karena semua penghuni kubur (mayit) itu didoakan dengan doa kebaikan, bukan berdoa meminta kepada mereka. Meletakkan kedua tangannya di dada ketika menghadap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keadaan ketika shalat. Hal ini juga tidak diperbolehkan karena menunjukkan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah Ta’ala. Mengusap-usap dinding dan jendela makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau mencium dinding makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa. Perbuatan semacam ini merupakan perantara menuju kemusyrikan. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang beranggapan bahwa mengusap (dinding kubur Nabi) dengan tangan dapat mendatangkan keberkahan, maka hal ini merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu terdapat dalam hal yang sesuai (cocok) dengan syari’at. Bagaimana keutamaan bisa didapatkan dengan menyelisihi kebenaran?” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 8: 206)Baca Juga: Kafirkah Kedua Orang  Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan) Thawaf mengelilingi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara thawaf mengelilingi masjid Nabawi. Karena ibadah thawaf hanya dilakukan terhadap ka’bah di Masjidil Haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa thawaf tidak boleh dilakukan kecuali di sekitar Al-Baitul Ma’mur (Ka’bah). Tidak boleh thawaf mengelilingi Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha, pent.), tidak boleh juga mengelilingi kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak boleh mengelilingi kubah di atas bukit ‘Arafah, dan lain-lain.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 521) Meninggikan (mengeraskan) suara ketika berada di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak diperbolehkan karena Allah Ta’ala telah mengajarkan adab kepada orang-orang beriman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah mereka dengan mengatakan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ؛ إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Hujurat [49]: 2-3)Baca Juga: Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dihormati dan dimuliakan, baik ketika beliau masih hidup atau ketika sudah meninggal dunia.” (Fadhlul Madiinah, hal. 45) Bersengaja menghadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat yang jauh, baik ketika di dalam Masjid Nabawi atau di luar masjid, dan mengucapkan salam kepada beliau. Terlalu lama berdiri di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau memperbanyak ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bolak-balik berziarah). Karena perbuatan ini dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama yang terlarang. Semua ini adalah dalam rangka menjaga dan melindungi tauhid dari noda-noda kemusyrikan yang mengotorinya. Juga karena ibadah itu dilandasi dengan syariat Allah dan Rasul-Nya, dibangun di atas ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi), bukan di atas ibtida’ (berbuat bid’ah).Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 25 Jumadil akhir 1440/ 2 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Fadhlul Madiinah wa Adaabu Suknaaha wa Ziyaaratihaa, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbaad Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan ke-18 tahun 1439.Al-Manhaj li Muriidil ‘Umrah wal Hajj, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1429, penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Al-Khairiyyah.🔍 Tundukan Pandangan, Keikhlasan Hati Saat Tersakiti, Keutamaan Membaca Surah Al Mulk, Waktu Shalat Fajar Jam Berapa, Nabi Muhammad Wafat Karena Diracun


Baca pembahasan sebelumnya Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Bag. 1)Berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamSetelah beribadah di raudhah, jika seseorang ingin berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya dia berdiri di depan makam beliau dengan penuh adab dan tenang, lalu mengucapkan doa,َالسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاته، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صَلَّيْت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما َباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. أشهدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ الله حَقاً، وأَنَّكَ قَدْ بَلَغْت َالرسالةَ، وأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، ونَصَحْتَ الْأُمَّةَ، وجَاهَدْتَ في اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فجزاك اللهُ عنْ أُمَّتِك أَفضلُ ما جزى نَبِيُّنَا عن أمته“Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuhu. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid. Asyhadu annaka Rasulullahi haqgan, wa annaka qad ballaghtar risaalata, wa addaital amaanata, wa nashahtal ummata, wa jaahadta fil laahi haqqa jihaadihi, fajazaakallahu ‘ala ummatika afdhalu ma jaza nabiyyuna ‘an ummatihi.”Baca Juga: Jangan Jadikan Kubur Nabi Sebagai Sesembahan (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Aku bersaksi bahwa Engkau (Muhammad) adalah Rasulullah yang haq. [Aku bersaksi bahwa Engkau] (Muhammad) telah menyampaikan risalah kenabian, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat ini, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah membalasmu atas apa yang telah Engkau perbuat untuk umatmu, lebih dari balasan para Nabi atas apa yang telah mereka perbuat untuk umatnya.).”Setelah itu, dia bergeser ke arah kanan sedikit, dan mengucapkan salam kepada sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bergeser lagi ke kanan sedikit dan mengucapkan salam kepada sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Jika setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan keduanya, itu juga baik. Selain itu, disunnahkan pula bagi peziarah kubur untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat pada saat hendak masuk ke pemakaman, yaitu mengucapkan:السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين, وإنا إن شاء الله بكم للاحقون؛ أسأل الله لنا ولكم العافية“Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniin wal muslimiina, wa innaa insyaa Allah bikum lalaahiquun. As’alullaaha lanaa wa lakum al-‘aafiyata.”Baca Juga: Ziarah Kubur, antara Sunnah dan Bid’ah“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni kubur yang mukmin dan muslim. Kami insyaa Allah akan menyusul kalian. Saya memohon ‘afiyah (keselamatan) kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 2257)Berkaitan dengan ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh bagi seseorang untuk: Berdoa meminta langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kebutuhannya dipenuhi atau agar dihilangkan kesusahan dari dirinya, atau doa-doa lainnya yang tidak selayaknya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Karena semua penghuni kubur (mayit) itu didoakan dengan doa kebaikan, bukan berdoa meminta kepada mereka. Meletakkan kedua tangannya di dada ketika menghadap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keadaan ketika shalat. Hal ini juga tidak diperbolehkan karena menunjukkan ketundukan dan perendahan diri kepada selain Allah Ta’ala. Mengusap-usap dinding dan jendela makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau mencium dinding makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa. Perbuatan semacam ini merupakan perantara menuju kemusyrikan. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang beranggapan bahwa mengusap (dinding kubur Nabi) dengan tangan dapat mendatangkan keberkahan, maka hal ini merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu terdapat dalam hal yang sesuai (cocok) dengan syari’at. Bagaimana keutamaan bisa didapatkan dengan menyelisihi kebenaran?” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 8: 206)Baca Juga: Kafirkah Kedua Orang  Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan) Thawaf mengelilingi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara thawaf mengelilingi masjid Nabawi. Karena ibadah thawaf hanya dilakukan terhadap ka’bah di Masjidil Haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa thawaf tidak boleh dilakukan kecuali di sekitar Al-Baitul Ma’mur (Ka’bah). Tidak boleh thawaf mengelilingi Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha, pent.), tidak boleh juga mengelilingi kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak boleh mengelilingi kubah di atas bukit ‘Arafah, dan lain-lain.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 521) Meninggikan (mengeraskan) suara ketika berada di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak diperbolehkan karena Allah Ta’ala telah mengajarkan adab kepada orang-orang beriman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah mereka dengan mengatakan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ؛ إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Hujurat [49]: 2-3)Baca Juga: Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dihormati dan dimuliakan, baik ketika beliau masih hidup atau ketika sudah meninggal dunia.” (Fadhlul Madiinah, hal. 45) Bersengaja menghadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat yang jauh, baik ketika di dalam Masjid Nabawi atau di luar masjid, dan mengucapkan salam kepada beliau. Terlalu lama berdiri di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau memperbanyak ziarah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bolak-balik berziarah). Karena perbuatan ini dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama yang terlarang. Semua ini adalah dalam rangka menjaga dan melindungi tauhid dari noda-noda kemusyrikan yang mengotorinya. Juga karena ibadah itu dilandasi dengan syariat Allah dan Rasul-Nya, dibangun di atas ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi), bukan di atas ibtida’ (berbuat bid’ah).Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 25 Jumadil akhir 1440/ 2 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Fadhlul Madiinah wa Adaabu Suknaaha wa Ziyaaratihaa, karya Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbaad Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan ke-18 tahun 1439.Al-Manhaj li Muriidil ‘Umrah wal Hajj, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1429, penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Al-Khairiyyah.🔍 Tundukan Pandangan, Keikhlasan Hati Saat Tersakiti, Keutamaan Membaca Surah Al Mulk, Waktu Shalat Fajar Jam Berapa, Nabi Muhammad Wafat Karena Diracun

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (7)

Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (7)

Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal
Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal


Baca pembahasan Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6)Lafazh ketigaأعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi“Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah”Adapun makna al-hamzu, an-naftsu dan an-nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ ““Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdir Rahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al-hamzu, an naftsu, dan an-nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda, ‘al-hamzu maksudnya sejenis gila, al-nafats maksudnya sya’ir (tercela), an-nafakh maksudnya kesombongan.’”Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa,جاء في الحديث أن النبي – صلى الله عليه وسلم – فسر همزه بأنه …….. الصرع، ما يحصل من الصرع للناس من الشيطان ، ونفخه الكبر، ما يقع في نفوس الناس من الكبر، هو من الشيطان ينفخ في بعض الناس حتى يتكبر على عباد الله. ونفثه الشعر المذموم، الذي له شعر مذموم والقصائد المذمومة في ما حرم الله من تشبيه بالنساء ، والدعوة إلى الزنا أو إلى الخمر أو إلى غيره مما حرم الله عز وجل“Terdapat dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan “همزه” yaitu …..kesurupan. Kesurupan yang didapatkan pada manusia itu dari setan.Sedangkan “نفخه” adalah kesombongan (setan), kesombongan yang ada pada diri manusia itupun dari setan, (setanlah) yang membisiki kepada sebagian manusia hingga ia sombong terhadap hamba-hamba Allah.Adapun “نفثه” adalah syair yang tercela, yang memiliki syair yang tercela, dan nyanyian yang tercela berisikan lirik-lirik yang diharamkan oleh Allah, berupa pria menyerupai wanita, ajakan berzina atau ajakan minum minuman keras, atau selainnya yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla” (http://www.binbaz.org.sa/noor/9122).Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan hamazaat setan di dalam ayat ini,Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,نزعاتهم“(Hamazaat adalah) dorongan-dorongan mereka (setan).”Al-Hasan berkata,وساوسهم“(Hamazaat adalah) was-was dari mereka.”Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hamazaat setan adalah dorongan (serangan) was-was dari mereka, dan penyimpangan dalam hati” (Ighotsatul Lahfan, hal. 89).Dan bentuk jamak yang terdapat dalam hamazaat, hal ini menunjukkan banyaknya dan beranekaragamnya hamazaat setan tersebut.Adapun dalam hadits di atas ditafsirkan hamazaat setan dengan sejenis gila (kesurupan), maka hal ini tidaklah bertentangan dengan penjelasan para ahli tafsir di atas, karena itu Ibnul Qayyim menyatakan,وقد يقال – وهوالأظهر- : إن همزات الشياطين إذا أُفردت دخل فيها جميع إصابتهم لابن آدم، وإذا قُرنت بالنفخ والنفث كان نوعاً خاصاً“Bisa juga ditafsirkan -dan ini pendapat yang lebih nampak tepat- sesungguhnya hamazaat setan itu jika disebutkan sendirian, maka mencakup seluruh bentuk serangan mereka (setan) yang dilancarkan kepada keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam (manusia), namun apabila diiringkan penyebutannya dengan an-nafkh dan an–nafts, maka hamazah itu bermakna bentuk (serangan setan) yang khusus” (Ighatsatul Lahfan, hal. 89).KesimpulanSeseorang yang mengucapkan lafazh isti’adzah,أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِهA’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihiMaksudnya adalah ia mohon perlindungan kepada Allah agar Dia menjaganya dari serangan penyakit sejenis kegilaan (kesurupan), kesombongan, dan sya’ir atau nyanyian setan.Itulah kejahatan setan, sosok makhluk buruk yang selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan sosok makhluk yang dijauhkan dari rahmat Allah.”Referensi Dzauqush Shalah, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah. https://muslim.or.id/19086-istiadzah-dalam-shalat.html Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani. Syarhul Mumti’, Syaikh Al-‘Utsaimin Fiqhul Asma`il Husna, Sy. Abdur Razzaq.  Syarah Bulughul Maram, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin Al-Lubab fi tafsir Al-Isti’adzah, wal Basmalah, wal Fatihatil Kitab, DR. Sulaiman bin Ibrahim Al-Lahim fatwa.Islamweb.net/fatwa https:/Islamqa.info/ar/2506 http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26012 [http://www.binbaz.org.sa/noor/9122] dan referensi yang lainnya. [Selesai] Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Bahagia Dalam Islam, Ta Awuz, Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu Dengan Sengaja, Nisab Zakat Mal Uang, Bacaan Iqtidal

Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut-Ikutan Berkomentar dalam Perselisihan Ulama

Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi

Penuntut Ilmu dan Orang Awam Lebih Baik Tidak Ikut-Ikutan Berkomentar dalam Perselisihan Ulama

Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi
Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi


Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan di antara ulama mengenai suatu perkara. Terkait dengan saling kritik dan saling membantah, hal ini adalah hal yang lumrah dan telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu kala, akan tetapi kritik dan bantahan tersebut dilakukan secara ilmiah dan penuh adab serta tanpa merendahkan manusia sedikitpun.Para ulama telah menunjukkan adab dan akhlak yang mulia ketika mengkiritk dan membantah, misalnya mengkiritik pendapatnya tetapi tidak mengolok-ngolok, merendahkan atau mengejek orangnyaBetapa indahnya sebuah perkataan,انتقد القول ولكن احترم القائل فـإن مهنتنا أن تقضي على المرض وليس المريض“Kritiklah pendapatnya namun tetap hormati orangnya, karena tugas kita adalah menyingkirkan penyakit bukan menyingkirkan orangnya”[1] Mengejek dan merendahkan manusia adalah bentuk kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis dilaknat oleh Allah. Pengertian sombong yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”[2] Para ulama dan ustadz walaupun berselisih pendapat, akan tetapi mereka masih bersaudara dalam Islam. Janganlah kita mengira mereka itu sedang saling benci atau saling hasad.Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Abu Musa,يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”[3] Bagi para penuntut ilmu dan orang awam (termasuk kami pribadi), terlebih belum punya dasar ilmu agama seperti bahasa arab, ilmu ushul dan mengetahui metode istidlal (berdalil), lebih baik kita diam dan tidak ikut berkomentar, apalagi komentar pribadi atau komentar yang bisa memperkeruh suasana atau membuat panas di publik dan sosial media. Kita menunggu arahan para ulama dan ustadz mengenai hal ini, terutama para ulama dan ustadz senior. Para ulama telah menasehati kita,البركة معى الاكابر“Berkah itu bersama orang tua (ulama senior)”Hendaknya kita sebagai penuntut ilmu atau orang awam tidak ikut-ikutan berkomentar. Perhatikan kisah berikut, di mana seorang sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas menegur orang yang mencela Khalid bin Walid, ketika itu Khalid berselisih dengan Sa’ad bin Abi Waqqas. Kemudian orang tersebut ikut-ikutan berkomentar, lalu Sa’ad berkata pada orang itu,مه! إن ما بيننا لم يبلغ ديننا“Diamlah kamu, sesungguhnya permasalahan di antara kami tidak sampai pada taraf agama kami”.[4] Handaknya orang awam dan penuntut ilmu lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz bisa terjatuh pada kesalahan, kita lebih mudah lagi terjatuh, sehingga janganlah kita ikut-ikutan mengejek ulama atau ustadz pada kesalahannya tersebut. Bisa jadi kita juga akan terjatuh pada kesalahan tersebut.Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya di kemudian hari.” [5] Semoga Allah mengampuni kesalahan kita dan kaum muslimin@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Hukum Bom Bunuh Diri, Tips Sholat Khusuk, Hukum Melagukan Adzan, Dzikir Hari Jumat, Perhitungan Tahun Masehi

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5)

Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa

Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5)

Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa
Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa


Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4)As-Sami’ adalah Yang Maha Mendengar Seluruh Suaraالسَّمِيعِ“Yang Maha Mendengar (dan Mendengar doa).”As-Samii’ adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna).As-Samii’ adalah Yang Maha Mendengar seluruh suara dalam berbagai macam bahasa, dan suara (doa) yang terkait dengan berbagai macam urusan serta kebutuhan. Allah Maha Mendengar seluruh ucapan, baik ketika ucapan tersebut dilirihkan ataupun dikeraskan, baik ketika diucapkan sendirian ataupun bersama-sama dengan ucapan lainnya, tanpa sedikitpun kesamaran dalam pendengaran-Nya. Bahkan apabila seluruh jin dan manusia, dari pertama sampai akhir zaman, berkumpul di satu tempat yang sama, lalu mereka bersama-sama memohon kebutuhan mereka masing-masing kepada Allah, dengan bahasa dan dialek masing-masing pula, maka pastilah Allah Maha Mendengar dengan jelas tanpa kesamaran pendengaran sedikitpun.Allah Maha Mendengar segala macam suara, baik yang lirih, maupun dikeraskan, sebagaimana firman-Nya,سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kalian yang melirihkan ucapannya, dan siapa yang mengeraskannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”Oleh karena itu, ketika kita dalam shalat memohon perlindungan kepada-Nya dengan mengucapkan,أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar”tentulah Allah Maha Mendengar ucapan hamba-Nya dalam shalatnya tersebut. Maka seorang hamba yang mengucapkan isti’adzah dalam shalatnya, ia akan bersemangat dalam mengucapkannya, karena pastilah Allah mendengar doanya tersebut. Orang tersebut merasa hubungannya demikian dekat dengan-Nya, karena didengar oleh-Nya dan diketahui keadaannya oleh-Nya.As-Samii’ adalah Yang Maha Mengabulkan doa yang diucapkan hamba-NyaApalagi jika seorang hamba merenungi di antara makna pendengaran Allah terhadap sesuatu adalah mengabulkan suatu ucapan yang mengandung doa kepada-Nya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa).”Oleh karena itu di dalam Al-Qur`an, para nabi ‘alaihis salam banyak bertawassul dengan nama Allah “As-Samii’” dalam doa mereka, seperti doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam Al-Qur`an,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui’” (Q.S. Al-Baqarah: 127).هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar (dan Pengkabul doa)’” (Q.S. Ali ‘Imraan: 38).Juga sebagaimana doa istri Imran dalam Al-Qur`an,إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang berada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Maha Mendengar (dan Mengabulkan doa) lagi Maha Mengetahui”.Dengan demikian ketika seorang hamba membaca isti’adzah dalam sholatnya dengan ucapanأعوذُ باللهِ السَّمِيعِitu bermakna, “Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa (termasuk doa isti’adzah).”[Bersambung]Daftar Link Berseri Artikel Ini: Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (1) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (2) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (3) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (4) Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Bermaafan Sebelum Ramadhan, Ayat Tentang Ziarah Kubur, Keutamaan Shalat Di Masjidil Haram, Apa Itu Ahmadiyah, Doa Penyejuk Hati Penenang Jiwa

Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 3) 7. Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan tentang hukum seorang wanita yang pergi ke masjid  untuk menunaikan sholat, ia pergi berdua bersama dengan sopir laki-laki, beliau menjelaskan :“Pertama, saya ingatkan bahwa sholat seorang wanita di dalam rumahnya lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada sholatnya di masjid.Akan tetapi jika membutuhkan untuk melakukan sholat di masjid, karena ia tidak mampu sholat (dengan tenang, pent.)  di rumahnya, karena banyaknya anak yang menyibukkan (perhatian)nya, maka sholat di masjid terkadang lebih utama, jika ditinjau dari sisi ini, dengan syarat ada orang yang membantu mengurus anak-anaknya (di rumahnya, pent.). Adapun jika ia pergi ke masjid sedangkan ia meninggalkan anak-anaknya (begitu saja), maka ini berarti penelantaran amanah, dalam keadaan seperti ini, ia lebih dekat kepada dosa daripada kepada pahala.Dan (yang perlu diingat) jika memang keadaannya lebih utama sholat di masjid, maka ia tidak boleh pergi berdua bersama seorang sopir (pria), karena ini termasuk berdua-duaan (kholwah) yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini termasuk bentuk berdua-duan yang paling berbahaya, sebagaimana kami telah mendengar tentang beberapa fakta yang terjadi jika seorang sopir berdua-duaan dengan seorang wanita.Baca Juga:  Bagaimana Menyikapi Wanita Yang Enggan Berjilbab?Dan janganlah seorang wanita meremehkan perkara ini, janganlah ia mengatakan, misalnya: “Sopir ini adalah seorang pria yang baik, jadi saya merasa aman dari diganggu olehnya. Jangan (katakan demikian)!”. Setan bergerak dalam diri keturunan Nabi Adam (manusia) pada pembuluh darah, maka bisa jadi setan menghiasi keburukan pada diri kedua insan tersebut, sehingga terjatuhlah kedalam perkara yang terlarang.Yang penting (untuk diketahui) adalah seorang wanita diharamkan pergi hanya berdua bersama seorang sopir saja!Adapun jika ia pergi (ke masjid) bersama para wanita lainnya, maka ini tidak mengapa, karena hal ini bukanlah termasuk safar dan bukan pula kholwah”.Baca Juga: Inilah Mode Wanita Jahiliyah 8. Fatwa Syaikh Syaikh Bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:“Apakah keutamaan sholat wanita di rumahnya sebanding dengan keutamaan sholat pria di masjid?” Beliau menjawab“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”.Sholat seorang wanita di rumahnya, memiliki keutamaan yang besar, bisa jadi seperti keutamaan sholat di masjid, bahkan bisa lebih besar lagi, namun bisa pula lebih kecil (keutamaannya).Baca Juga: Hukum Memendekkan Rambut Bagi WanitaJadi intinya adalah sholat yang paling utama bagi wanita adalah di rumahnya. Apabila keutamaan sholat wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjid, maka ini mengandung makna bahwa  (pahala) sholat yang dilakukan wanita di rumah bisa sama dengan pahala jika ia sholat di masjid atau lebih banyak.Hal ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”, hal ini menunjukkan pahala yang didapatkan oleh seorang pria (yang sholat) di masjid juga bisa didapatkan oleh wanita pula (ketika ia sholat di rumahnya) atau bahkan bisa lebih besar, karena keta’atan wanita tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kedekatannya dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka iapun di atas kebaikan yang besar. Alasan berikutnya adalah karena rumahnya lebih menjaganya dan (berada di dalamnya) lebih jauh dari fitnah.Jadi, apabila ia mena’ati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia menunaikan sholat di dalam rumahnya, maka ia diharapkan mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan oleh pria yang sholat di masjid atau (bahkan) lebih besar lagi!”.Baca Juga:(Selesai)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Aqidah Asy'ari, Hadits I'tikaf, Keutamaan Sholat Berjamaah Di Masjid, Bacaan Sa I, Indahnya Surga Firdaus

Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 3) 7. Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan tentang hukum seorang wanita yang pergi ke masjid  untuk menunaikan sholat, ia pergi berdua bersama dengan sopir laki-laki, beliau menjelaskan :“Pertama, saya ingatkan bahwa sholat seorang wanita di dalam rumahnya lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada sholatnya di masjid.Akan tetapi jika membutuhkan untuk melakukan sholat di masjid, karena ia tidak mampu sholat (dengan tenang, pent.)  di rumahnya, karena banyaknya anak yang menyibukkan (perhatian)nya, maka sholat di masjid terkadang lebih utama, jika ditinjau dari sisi ini, dengan syarat ada orang yang membantu mengurus anak-anaknya (di rumahnya, pent.). Adapun jika ia pergi ke masjid sedangkan ia meninggalkan anak-anaknya (begitu saja), maka ini berarti penelantaran amanah, dalam keadaan seperti ini, ia lebih dekat kepada dosa daripada kepada pahala.Dan (yang perlu diingat) jika memang keadaannya lebih utama sholat di masjid, maka ia tidak boleh pergi berdua bersama seorang sopir (pria), karena ini termasuk berdua-duaan (kholwah) yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini termasuk bentuk berdua-duan yang paling berbahaya, sebagaimana kami telah mendengar tentang beberapa fakta yang terjadi jika seorang sopir berdua-duaan dengan seorang wanita.Baca Juga:  Bagaimana Menyikapi Wanita Yang Enggan Berjilbab?Dan janganlah seorang wanita meremehkan perkara ini, janganlah ia mengatakan, misalnya: “Sopir ini adalah seorang pria yang baik, jadi saya merasa aman dari diganggu olehnya. Jangan (katakan demikian)!”. Setan bergerak dalam diri keturunan Nabi Adam (manusia) pada pembuluh darah, maka bisa jadi setan menghiasi keburukan pada diri kedua insan tersebut, sehingga terjatuhlah kedalam perkara yang terlarang.Yang penting (untuk diketahui) adalah seorang wanita diharamkan pergi hanya berdua bersama seorang sopir saja!Adapun jika ia pergi (ke masjid) bersama para wanita lainnya, maka ini tidak mengapa, karena hal ini bukanlah termasuk safar dan bukan pula kholwah”.Baca Juga: Inilah Mode Wanita Jahiliyah 8. Fatwa Syaikh Syaikh Bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:“Apakah keutamaan sholat wanita di rumahnya sebanding dengan keutamaan sholat pria di masjid?” Beliau menjawab“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”.Sholat seorang wanita di rumahnya, memiliki keutamaan yang besar, bisa jadi seperti keutamaan sholat di masjid, bahkan bisa lebih besar lagi, namun bisa pula lebih kecil (keutamaannya).Baca Juga: Hukum Memendekkan Rambut Bagi WanitaJadi intinya adalah sholat yang paling utama bagi wanita adalah di rumahnya. Apabila keutamaan sholat wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjid, maka ini mengandung makna bahwa  (pahala) sholat yang dilakukan wanita di rumah bisa sama dengan pahala jika ia sholat di masjid atau lebih banyak.Hal ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”, hal ini menunjukkan pahala yang didapatkan oleh seorang pria (yang sholat) di masjid juga bisa didapatkan oleh wanita pula (ketika ia sholat di rumahnya) atau bahkan bisa lebih besar, karena keta’atan wanita tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kedekatannya dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka iapun di atas kebaikan yang besar. Alasan berikutnya adalah karena rumahnya lebih menjaganya dan (berada di dalamnya) lebih jauh dari fitnah.Jadi, apabila ia mena’ati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia menunaikan sholat di dalam rumahnya, maka ia diharapkan mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan oleh pria yang sholat di masjid atau (bahkan) lebih besar lagi!”.Baca Juga:(Selesai)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Aqidah Asy'ari, Hadits I'tikaf, Keutamaan Sholat Berjamaah Di Masjid, Bacaan Sa I, Indahnya Surga Firdaus
Baca pembahasan sebelumnya Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 3) 7. Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan tentang hukum seorang wanita yang pergi ke masjid  untuk menunaikan sholat, ia pergi berdua bersama dengan sopir laki-laki, beliau menjelaskan :“Pertama, saya ingatkan bahwa sholat seorang wanita di dalam rumahnya lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada sholatnya di masjid.Akan tetapi jika membutuhkan untuk melakukan sholat di masjid, karena ia tidak mampu sholat (dengan tenang, pent.)  di rumahnya, karena banyaknya anak yang menyibukkan (perhatian)nya, maka sholat di masjid terkadang lebih utama, jika ditinjau dari sisi ini, dengan syarat ada orang yang membantu mengurus anak-anaknya (di rumahnya, pent.). Adapun jika ia pergi ke masjid sedangkan ia meninggalkan anak-anaknya (begitu saja), maka ini berarti penelantaran amanah, dalam keadaan seperti ini, ia lebih dekat kepada dosa daripada kepada pahala.Dan (yang perlu diingat) jika memang keadaannya lebih utama sholat di masjid, maka ia tidak boleh pergi berdua bersama seorang sopir (pria), karena ini termasuk berdua-duaan (kholwah) yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini termasuk bentuk berdua-duan yang paling berbahaya, sebagaimana kami telah mendengar tentang beberapa fakta yang terjadi jika seorang sopir berdua-duaan dengan seorang wanita.Baca Juga:  Bagaimana Menyikapi Wanita Yang Enggan Berjilbab?Dan janganlah seorang wanita meremehkan perkara ini, janganlah ia mengatakan, misalnya: “Sopir ini adalah seorang pria yang baik, jadi saya merasa aman dari diganggu olehnya. Jangan (katakan demikian)!”. Setan bergerak dalam diri keturunan Nabi Adam (manusia) pada pembuluh darah, maka bisa jadi setan menghiasi keburukan pada diri kedua insan tersebut, sehingga terjatuhlah kedalam perkara yang terlarang.Yang penting (untuk diketahui) adalah seorang wanita diharamkan pergi hanya berdua bersama seorang sopir saja!Adapun jika ia pergi (ke masjid) bersama para wanita lainnya, maka ini tidak mengapa, karena hal ini bukanlah termasuk safar dan bukan pula kholwah”.Baca Juga: Inilah Mode Wanita Jahiliyah 8. Fatwa Syaikh Syaikh Bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:“Apakah keutamaan sholat wanita di rumahnya sebanding dengan keutamaan sholat pria di masjid?” Beliau menjawab“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”.Sholat seorang wanita di rumahnya, memiliki keutamaan yang besar, bisa jadi seperti keutamaan sholat di masjid, bahkan bisa lebih besar lagi, namun bisa pula lebih kecil (keutamaannya).Baca Juga: Hukum Memendekkan Rambut Bagi WanitaJadi intinya adalah sholat yang paling utama bagi wanita adalah di rumahnya. Apabila keutamaan sholat wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjid, maka ini mengandung makna bahwa  (pahala) sholat yang dilakukan wanita di rumah bisa sama dengan pahala jika ia sholat di masjid atau lebih banyak.Hal ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”, hal ini menunjukkan pahala yang didapatkan oleh seorang pria (yang sholat) di masjid juga bisa didapatkan oleh wanita pula (ketika ia sholat di rumahnya) atau bahkan bisa lebih besar, karena keta’atan wanita tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kedekatannya dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka iapun di atas kebaikan yang besar. Alasan berikutnya adalah karena rumahnya lebih menjaganya dan (berada di dalamnya) lebih jauh dari fitnah.Jadi, apabila ia mena’ati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia menunaikan sholat di dalam rumahnya, maka ia diharapkan mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan oleh pria yang sholat di masjid atau (bahkan) lebih besar lagi!”.Baca Juga:(Selesai)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Aqidah Asy'ari, Hadits I'tikaf, Keutamaan Sholat Berjamaah Di Masjid, Bacaan Sa I, Indahnya Surga Firdaus


Baca pembahasan sebelumnya Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid? (Bag. 3) 7. Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan tentang hukum seorang wanita yang pergi ke masjid  untuk menunaikan sholat, ia pergi berdua bersama dengan sopir laki-laki, beliau menjelaskan :“Pertama, saya ingatkan bahwa sholat seorang wanita di dalam rumahnya lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada sholatnya di masjid.Akan tetapi jika membutuhkan untuk melakukan sholat di masjid, karena ia tidak mampu sholat (dengan tenang, pent.)  di rumahnya, karena banyaknya anak yang menyibukkan (perhatian)nya, maka sholat di masjid terkadang lebih utama, jika ditinjau dari sisi ini, dengan syarat ada orang yang membantu mengurus anak-anaknya (di rumahnya, pent.). Adapun jika ia pergi ke masjid sedangkan ia meninggalkan anak-anaknya (begitu saja), maka ini berarti penelantaran amanah, dalam keadaan seperti ini, ia lebih dekat kepada dosa daripada kepada pahala.Dan (yang perlu diingat) jika memang keadaannya lebih utama sholat di masjid, maka ia tidak boleh pergi berdua bersama seorang sopir (pria), karena ini termasuk berdua-duaan (kholwah) yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini termasuk bentuk berdua-duan yang paling berbahaya, sebagaimana kami telah mendengar tentang beberapa fakta yang terjadi jika seorang sopir berdua-duaan dengan seorang wanita.Baca Juga:  Bagaimana Menyikapi Wanita Yang Enggan Berjilbab?Dan janganlah seorang wanita meremehkan perkara ini, janganlah ia mengatakan, misalnya: “Sopir ini adalah seorang pria yang baik, jadi saya merasa aman dari diganggu olehnya. Jangan (katakan demikian)!”. Setan bergerak dalam diri keturunan Nabi Adam (manusia) pada pembuluh darah, maka bisa jadi setan menghiasi keburukan pada diri kedua insan tersebut, sehingga terjatuhlah kedalam perkara yang terlarang.Yang penting (untuk diketahui) adalah seorang wanita diharamkan pergi hanya berdua bersama seorang sopir saja!Adapun jika ia pergi (ke masjid) bersama para wanita lainnya, maka ini tidak mengapa, karena hal ini bukanlah termasuk safar dan bukan pula kholwah”.Baca Juga: Inilah Mode Wanita Jahiliyah 8. Fatwa Syaikh Syaikh Bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:“Apakah keutamaan sholat wanita di rumahnya sebanding dengan keutamaan sholat pria di masjid?” Beliau menjawab“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”.Sholat seorang wanita di rumahnya, memiliki keutamaan yang besar, bisa jadi seperti keutamaan sholat di masjid, bahkan bisa lebih besar lagi, namun bisa pula lebih kecil (keutamaannya).Baca Juga: Hukum Memendekkan Rambut Bagi WanitaJadi intinya adalah sholat yang paling utama bagi wanita adalah di rumahnya. Apabila keutamaan sholat wanita di rumahnya lebih utama daripada sholatnya di masjid, maka ini mengandung makna bahwa  (pahala) sholat yang dilakukan wanita di rumah bisa sama dengan pahala jika ia sholat di masjid atau lebih banyak.Hal ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :(صلاة المرأة في بيتها أفضل)“Sholat seorang wanita di rumahnya lebih utama”, hal ini menunjukkan pahala yang didapatkan oleh seorang pria (yang sholat) di masjid juga bisa didapatkan oleh wanita pula (ketika ia sholat di rumahnya) atau bahkan bisa lebih besar, karena keta’atan wanita tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kedekatannya dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka iapun di atas kebaikan yang besar. Alasan berikutnya adalah karena rumahnya lebih menjaganya dan (berada di dalamnya) lebih jauh dari fitnah.Jadi, apabila ia mena’ati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia menunaikan sholat di dalam rumahnya, maka ia diharapkan mendapatkan pahala seperti pahala yang didapatkan oleh pria yang sholat di masjid atau (bahkan) lebih besar lagi!”.Baca Juga:(Selesai)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Aqidah Asy'ari, Hadits I'tikaf, Keutamaan Sholat Berjamaah Di Masjid, Bacaan Sa I, Indahnya Surga Firdaus

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 6)

 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)Keutamaan tauhid yang berkaitan dengan negara dan masyarakatAdapun keutamaan tauhid ini, sebagaimana terkait dengan masing-masing orang yang beriman, juga terkait dengan negeri-negeri kaum muslimin yang bertauhid, masyarakat, dan pemerintahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”Dan janganlah kaum membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)Yang dimaksud dengan “membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya” adalah di dalamnya terjadi hal-hal yang merupakan lawan dari tauhid atau hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaannya, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Kerusakan ini adalah kerusakan terbesar di muka bumi.Baca Juga: Hukum Merokok dan Memperdagangkan RokokAllah Ta’ala juga berfirman dalam rangka menjelaskan hal ini, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (QS. An-Nuur : 55) Di dalam ayat ini terdapat sesuatu yang dijanjikan, orang yang mendapat janji, dan kondisi dimana janji tersebut akan dipenuhi. Adapun orang yang mendapat janji, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih.”Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaMereka ini adalah orang-orang yang mendapat janji.Adapun sesuatu yang dijanjikan adalah tiga hal:(Pertama), “Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”. Maksudnya, jika mereka tidak memiliki kekuasaan, maka dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, Allah Ta’ala akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.(Ke dua), kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang janji yang ke dua (yang artinya), “Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”. Masalah terbesar yang diusahakan dan diinginkan oleh orang-orang yang beriman adalah mereka dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keteguhan. Mereka tidak takut dan tidak merasa lemah di dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang dihormati. Itu semua sesuai dengan janji Allah Ta’ala.(Ke tiga), adapun janji yang ke tiga adalah firman-Nya (yang artinya), “Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa”. Setelah mereka merasakan sedikit ketakutan serta setelah Allah Ta’ala memenangkan dan meneguhkan agama mereka, maka setelah adanya ketakutan itu mereka menjadi aman sentosa. Mereka merasa aman terkait diri mereka sendiri, agamanya, anak-anak mereka, kehormatan mereka, dan terkait harta-harta mereka semua. Semua ini adalah karunia dan janji dari Allah Ta’ala.Sedangkan kondisi orang yang mendapat janji dijelaskan oleh kalimat berikutnya dalam firman Allah Ta’ala,يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا”Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” Maksudnya, ketika Allah menjadikan mereka berkuasa di bumi, meneguhkan bagi mereka agama mereka, dan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, bagaimanakah kondisi mereka ketika itu dan sebelumnya? Yaitu bahwa mereka tetap menyembah Allah dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah Ta’ala. Ini adalah pengaruh tauhid yang terbesar bagi manusia dalam konteks masyarakat dan negara. Yaitu kalau mereka menyembah Allah Ta’ala dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, meyakini kebenaran tauhid dan menjauhi kesyirikan, maka mereka dijanjikan akan dibukakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk mereka dengan ketiga hal ini. Demikian pula, akan dibukakan berkah untuk mereka dari langit dan dari bumi. Allah pun akan meluaskan rizki mereka. Sehingga mereka berada dalam kehidupan yang baik dan damai.Baca Juga: Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanPenutupSetelah penjelasan-penjelasan ini, menjadi jelaslah bagi kita semua bahwa keutamaan tauhid bagi tiap-tiap orang dan masyarakat serta negara secara umum sangatlah besar. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan tauhid dalam diri kita dan di sekitar kita jika kita menginginkan kebaikan yang besar ini. Jika tidak, maka tidaklah kita mendapatkan keutamaan ini. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan tauhid dan tidak menjauhi kesyirikan, maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ”Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga baginya, dan tempat kembalinya neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Maidah : 76)Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua termasuk di antara ahli tauhid, yang mengetahuinya, meyakininya, mempersaksikannya, mengamalkannya, dan berdakwah kepadanya. Sesungguhnya Allah adalah penolong bagi orang-orang yang shalih, yaitu orang yang memiliki keutamaan dan kebaikan.Sebagaimana kita juga meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mendapatkan keutamaan ini. Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan bagi kami untuk mendapatkan keutamaan-Mu karena dosa-dosa, kekurangan, dan kelancangan kami. Ya Allah, jadikanlah akhir dari urusan kami adalah kebaikan. Serta jadikanlah kebaikan sebagai pembuka dan penutup urusan-urusan kami. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.Kami juga meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pemimpin-pemimpin kami. Serta menjadikan kami dan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semoga shalawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga: [Selesai]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Korupsi Waktu, Bacaan I Tidal Dalam Sholat, Doa Menyembuhkan Penyakit Diri Sendiri, Dzikir Harian Rasulullah, Single Dalam Islam

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 6)

 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)Keutamaan tauhid yang berkaitan dengan negara dan masyarakatAdapun keutamaan tauhid ini, sebagaimana terkait dengan masing-masing orang yang beriman, juga terkait dengan negeri-negeri kaum muslimin yang bertauhid, masyarakat, dan pemerintahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”Dan janganlah kaum membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)Yang dimaksud dengan “membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya” adalah di dalamnya terjadi hal-hal yang merupakan lawan dari tauhid atau hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaannya, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Kerusakan ini adalah kerusakan terbesar di muka bumi.Baca Juga: Hukum Merokok dan Memperdagangkan RokokAllah Ta’ala juga berfirman dalam rangka menjelaskan hal ini, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (QS. An-Nuur : 55) Di dalam ayat ini terdapat sesuatu yang dijanjikan, orang yang mendapat janji, dan kondisi dimana janji tersebut akan dipenuhi. Adapun orang yang mendapat janji, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih.”Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaMereka ini adalah orang-orang yang mendapat janji.Adapun sesuatu yang dijanjikan adalah tiga hal:(Pertama), “Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”. Maksudnya, jika mereka tidak memiliki kekuasaan, maka dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, Allah Ta’ala akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.(Ke dua), kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang janji yang ke dua (yang artinya), “Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”. Masalah terbesar yang diusahakan dan diinginkan oleh orang-orang yang beriman adalah mereka dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keteguhan. Mereka tidak takut dan tidak merasa lemah di dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang dihormati. Itu semua sesuai dengan janji Allah Ta’ala.(Ke tiga), adapun janji yang ke tiga adalah firman-Nya (yang artinya), “Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa”. Setelah mereka merasakan sedikit ketakutan serta setelah Allah Ta’ala memenangkan dan meneguhkan agama mereka, maka setelah adanya ketakutan itu mereka menjadi aman sentosa. Mereka merasa aman terkait diri mereka sendiri, agamanya, anak-anak mereka, kehormatan mereka, dan terkait harta-harta mereka semua. Semua ini adalah karunia dan janji dari Allah Ta’ala.Sedangkan kondisi orang yang mendapat janji dijelaskan oleh kalimat berikutnya dalam firman Allah Ta’ala,يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا”Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” Maksudnya, ketika Allah menjadikan mereka berkuasa di bumi, meneguhkan bagi mereka agama mereka, dan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, bagaimanakah kondisi mereka ketika itu dan sebelumnya? Yaitu bahwa mereka tetap menyembah Allah dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah Ta’ala. Ini adalah pengaruh tauhid yang terbesar bagi manusia dalam konteks masyarakat dan negara. Yaitu kalau mereka menyembah Allah Ta’ala dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, meyakini kebenaran tauhid dan menjauhi kesyirikan, maka mereka dijanjikan akan dibukakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk mereka dengan ketiga hal ini. Demikian pula, akan dibukakan berkah untuk mereka dari langit dan dari bumi. Allah pun akan meluaskan rizki mereka. Sehingga mereka berada dalam kehidupan yang baik dan damai.Baca Juga: Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanPenutupSetelah penjelasan-penjelasan ini, menjadi jelaslah bagi kita semua bahwa keutamaan tauhid bagi tiap-tiap orang dan masyarakat serta negara secara umum sangatlah besar. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan tauhid dalam diri kita dan di sekitar kita jika kita menginginkan kebaikan yang besar ini. Jika tidak, maka tidaklah kita mendapatkan keutamaan ini. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan tauhid dan tidak menjauhi kesyirikan, maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ”Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga baginya, dan tempat kembalinya neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Maidah : 76)Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua termasuk di antara ahli tauhid, yang mengetahuinya, meyakininya, mempersaksikannya, mengamalkannya, dan berdakwah kepadanya. Sesungguhnya Allah adalah penolong bagi orang-orang yang shalih, yaitu orang yang memiliki keutamaan dan kebaikan.Sebagaimana kita juga meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mendapatkan keutamaan ini. Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan bagi kami untuk mendapatkan keutamaan-Mu karena dosa-dosa, kekurangan, dan kelancangan kami. Ya Allah, jadikanlah akhir dari urusan kami adalah kebaikan. Serta jadikanlah kebaikan sebagai pembuka dan penutup urusan-urusan kami. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.Kami juga meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pemimpin-pemimpin kami. Serta menjadikan kami dan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semoga shalawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga: [Selesai]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Korupsi Waktu, Bacaan I Tidal Dalam Sholat, Doa Menyembuhkan Penyakit Diri Sendiri, Dzikir Harian Rasulullah, Single Dalam Islam
 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)Keutamaan tauhid yang berkaitan dengan negara dan masyarakatAdapun keutamaan tauhid ini, sebagaimana terkait dengan masing-masing orang yang beriman, juga terkait dengan negeri-negeri kaum muslimin yang bertauhid, masyarakat, dan pemerintahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”Dan janganlah kaum membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)Yang dimaksud dengan “membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya” adalah di dalamnya terjadi hal-hal yang merupakan lawan dari tauhid atau hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaannya, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Kerusakan ini adalah kerusakan terbesar di muka bumi.Baca Juga: Hukum Merokok dan Memperdagangkan RokokAllah Ta’ala juga berfirman dalam rangka menjelaskan hal ini, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (QS. An-Nuur : 55) Di dalam ayat ini terdapat sesuatu yang dijanjikan, orang yang mendapat janji, dan kondisi dimana janji tersebut akan dipenuhi. Adapun orang yang mendapat janji, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih.”Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaMereka ini adalah orang-orang yang mendapat janji.Adapun sesuatu yang dijanjikan adalah tiga hal:(Pertama), “Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”. Maksudnya, jika mereka tidak memiliki kekuasaan, maka dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, Allah Ta’ala akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.(Ke dua), kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang janji yang ke dua (yang artinya), “Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”. Masalah terbesar yang diusahakan dan diinginkan oleh orang-orang yang beriman adalah mereka dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keteguhan. Mereka tidak takut dan tidak merasa lemah di dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang dihormati. Itu semua sesuai dengan janji Allah Ta’ala.(Ke tiga), adapun janji yang ke tiga adalah firman-Nya (yang artinya), “Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa”. Setelah mereka merasakan sedikit ketakutan serta setelah Allah Ta’ala memenangkan dan meneguhkan agama mereka, maka setelah adanya ketakutan itu mereka menjadi aman sentosa. Mereka merasa aman terkait diri mereka sendiri, agamanya, anak-anak mereka, kehormatan mereka, dan terkait harta-harta mereka semua. Semua ini adalah karunia dan janji dari Allah Ta’ala.Sedangkan kondisi orang yang mendapat janji dijelaskan oleh kalimat berikutnya dalam firman Allah Ta’ala,يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا”Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” Maksudnya, ketika Allah menjadikan mereka berkuasa di bumi, meneguhkan bagi mereka agama mereka, dan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, bagaimanakah kondisi mereka ketika itu dan sebelumnya? Yaitu bahwa mereka tetap menyembah Allah dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah Ta’ala. Ini adalah pengaruh tauhid yang terbesar bagi manusia dalam konteks masyarakat dan negara. Yaitu kalau mereka menyembah Allah Ta’ala dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, meyakini kebenaran tauhid dan menjauhi kesyirikan, maka mereka dijanjikan akan dibukakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk mereka dengan ketiga hal ini. Demikian pula, akan dibukakan berkah untuk mereka dari langit dan dari bumi. Allah pun akan meluaskan rizki mereka. Sehingga mereka berada dalam kehidupan yang baik dan damai.Baca Juga: Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanPenutupSetelah penjelasan-penjelasan ini, menjadi jelaslah bagi kita semua bahwa keutamaan tauhid bagi tiap-tiap orang dan masyarakat serta negara secara umum sangatlah besar. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan tauhid dalam diri kita dan di sekitar kita jika kita menginginkan kebaikan yang besar ini. Jika tidak, maka tidaklah kita mendapatkan keutamaan ini. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan tauhid dan tidak menjauhi kesyirikan, maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ”Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga baginya, dan tempat kembalinya neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Maidah : 76)Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua termasuk di antara ahli tauhid, yang mengetahuinya, meyakininya, mempersaksikannya, mengamalkannya, dan berdakwah kepadanya. Sesungguhnya Allah adalah penolong bagi orang-orang yang shalih, yaitu orang yang memiliki keutamaan dan kebaikan.Sebagaimana kita juga meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mendapatkan keutamaan ini. Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan bagi kami untuk mendapatkan keutamaan-Mu karena dosa-dosa, kekurangan, dan kelancangan kami. Ya Allah, jadikanlah akhir dari urusan kami adalah kebaikan. Serta jadikanlah kebaikan sebagai pembuka dan penutup urusan-urusan kami. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.Kami juga meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pemimpin-pemimpin kami. Serta menjadikan kami dan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semoga shalawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga: [Selesai]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Korupsi Waktu, Bacaan I Tidal Dalam Sholat, Doa Menyembuhkan Penyakit Diri Sendiri, Dzikir Harian Rasulullah, Single Dalam Islam


 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)Keutamaan tauhid yang berkaitan dengan negara dan masyarakatAdapun keutamaan tauhid ini, sebagaimana terkait dengan masing-masing orang yang beriman, juga terkait dengan negeri-negeri kaum muslimin yang bertauhid, masyarakat, dan pemerintahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”Dan janganlah kaum membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)Yang dimaksud dengan “membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya” adalah di dalamnya terjadi hal-hal yang merupakan lawan dari tauhid atau hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaannya, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Kerusakan ini adalah kerusakan terbesar di muka bumi.Baca Juga: Hukum Merokok dan Memperdagangkan RokokAllah Ta’ala juga berfirman dalam rangka menjelaskan hal ini, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (QS. An-Nuur : 55) Di dalam ayat ini terdapat sesuatu yang dijanjikan, orang yang mendapat janji, dan kondisi dimana janji tersebut akan dipenuhi. Adapun orang yang mendapat janji, mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih.”Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaMereka ini adalah orang-orang yang mendapat janji.Adapun sesuatu yang dijanjikan adalah tiga hal:(Pertama), “Sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”. Maksudnya, jika mereka tidak memiliki kekuasaan, maka dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, Allah Ta’ala akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.(Ke dua), kemudian Allah Ta’ala berfirman tentang janji yang ke dua (yang artinya), “Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”. Masalah terbesar yang diusahakan dan diinginkan oleh orang-orang yang beriman adalah mereka dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keteguhan. Mereka tidak takut dan tidak merasa lemah di dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah orang-orang yang dihormati. Itu semua sesuai dengan janji Allah Ta’ala.(Ke tiga), adapun janji yang ke tiga adalah firman-Nya (yang artinya), “Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa”. Setelah mereka merasakan sedikit ketakutan serta setelah Allah Ta’ala memenangkan dan meneguhkan agama mereka, maka setelah adanya ketakutan itu mereka menjadi aman sentosa. Mereka merasa aman terkait diri mereka sendiri, agamanya, anak-anak mereka, kehormatan mereka, dan terkait harta-harta mereka semua. Semua ini adalah karunia dan janji dari Allah Ta’ala.Sedangkan kondisi orang yang mendapat janji dijelaskan oleh kalimat berikutnya dalam firman Allah Ta’ala,يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا”Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” Maksudnya, ketika Allah menjadikan mereka berkuasa di bumi, meneguhkan bagi mereka agama mereka, dan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, bagaimanakah kondisi mereka ketika itu dan sebelumnya? Yaitu bahwa mereka tetap menyembah Allah dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah Ta’ala. Ini adalah pengaruh tauhid yang terbesar bagi manusia dalam konteks masyarakat dan negara. Yaitu kalau mereka menyembah Allah Ta’ala dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, meyakini kebenaran tauhid dan menjauhi kesyirikan, maka mereka dijanjikan akan dibukakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk mereka dengan ketiga hal ini. Demikian pula, akan dibukakan berkah untuk mereka dari langit dan dari bumi. Allah pun akan meluaskan rizki mereka. Sehingga mereka berada dalam kehidupan yang baik dan damai.Baca Juga: Mengenggam Dunia, Ketika Meninggal Hanya Membawa KafanPenutupSetelah penjelasan-penjelasan ini, menjadi jelaslah bagi kita semua bahwa keutamaan tauhid bagi tiap-tiap orang dan masyarakat serta negara secara umum sangatlah besar. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan tauhid dalam diri kita dan di sekitar kita jika kita menginginkan kebaikan yang besar ini. Jika tidak, maka tidaklah kita mendapatkan keutamaan ini. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan tauhid dan tidak menjauhi kesyirikan, maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ”Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga baginya, dan tempat kembalinya neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat dzalim.” (QS. Al-Maidah : 76)Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua termasuk di antara ahli tauhid, yang mengetahuinya, meyakininya, mempersaksikannya, mengamalkannya, dan berdakwah kepadanya. Sesungguhnya Allah adalah penolong bagi orang-orang yang shalih, yaitu orang yang memiliki keutamaan dan kebaikan.Sebagaimana kita juga meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mendapatkan keutamaan ini. Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan bagi kami untuk mendapatkan keutamaan-Mu karena dosa-dosa, kekurangan, dan kelancangan kami. Ya Allah, jadikanlah akhir dari urusan kami adalah kebaikan. Serta jadikanlah kebaikan sebagai pembuka dan penutup urusan-urusan kami. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.Kami juga meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pemimpin-pemimpin kami. Serta menjadikan kami dan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semoga shalawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga: [Selesai]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Korupsi Waktu, Bacaan I Tidal Dalam Sholat, Doa Menyembuhkan Penyakit Diri Sendiri, Dzikir Harian Rasulullah, Single Dalam Islam

Mendapati Rukuk Bersama Imam, Sudah Mendapati Rakaat

Orang yang masbuq, kemudian ketika masuk masjid mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka hendaknya takbiratul ihram lalu rukuk. Dan ia sudah dapat rakaat tersebut walau tidak baca Al Fatihah.Dalam hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits radhiallahu’anhu:أنَّهُ انْتَهَى إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أنْ يَصِلَ إلى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذلكَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ولَا تَعُدْ“Ia mendapati Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan rukuk, maka ia pun rukuk sebelum ia berjalan masuk ke shaf. Maka hal ini pun disampaikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: semoga Allah menambahkan semangat kepadamu wahai Abu Bakrah, namun shalatmu tidak perlu diulang” (HR. Bukhari no.783).Baca Juga: Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?Demikian juga Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:من لم يدرك الإمام راكعا لم يدرك تلك الركعة“Orang yang tidak mendapat rukuk bersama imam, maka ia tidak mendapati shalat” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/262).Demikian juga terdapat riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:من أدرك الإمام راكعا، فركع قبل أن يرفع الإمام رأسه، فقد أدرك تلك الركعة“Barangsiapa yang mendapati imam rukuk, maka rukuklah sebelum imam bangkit. Maka ia telah mendapati rakaat tersebut” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/263).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:وهذا الذي ذكرناه من إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي , وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء , وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس , وفيه وجه ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة“Inilah pendapat yang kami kuatkan, yaitu didapatkannya rakaat dengan mendapati rukuk. Inilah pendapat yang benar yang dinyatakan oleh Asy Syafi’i dan juga merupakan pendapat jumhur ulama Syafi’iyyah dan juga jumhur ulama. Banyak hadits-hadits yang mendasarinya dan ini yang diterapkan oleh para ulama. Memang ada pendapat yang lemah dan aneh yang menyatakan bahwa tidak didapatkan rakaat dengan didapatkannya rukuk” (Al Majmu’, 4/112).Baca Juga: Serba-Serbi Ramadhan: Qiyam RamadhanNamun al idrak (dapat rakaat) di sini ada 3 syarat. Disebutkan oleh Ibnu Badran rahimahullah:الإدراك له ثلاثة شروط: أن يكبر المأموم قائما, و أن يركع و الإمام راكع, و أن لا يشك في أن ركوعه كان في حال ركوع الإمام أو في حال رفعه من الركوع“Al idrak (dapat rakaat) ada 3 syarat: [1] makmum bertakbir dalam keadaan berdiri (sempurna), [2] dan dia rukuk ketika imam masih rukuk, [3] dan ia tidak ragu apakah rukuknya tersebut ketika imam masih rukuk juga ataukah ketika imam sudah mulai berdiri” (Hasyiyah ‘ala Akhsharil Mukhtasharat, 120).Jika syarat nomor 1 tidak terpenuhi, shalat tidak sah. Karena takbiratul ihram adalah rukun dan wajib dikerjakan dalam keadaan berdiri jika mampu. Jika syarat nomor 2 atau 3 tidak terpenuhi, maka belum dapat rakaat.Dan berdasarkan hadits-hadits di atas juga, makmum masbuq yang hanya mendapati rukuk bersama imam, ia mendapatkan rakaat walaupun tidak membaca Al Fatihah. Kewajiban membaca Al Fatihan gugur darinya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).Baca Juga: Demikian semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hakikat Tasawuf, Hadis Tentang Takwa, Arti Syukur Dalam Islam, Kaligrafi Lafal Allah Dan Muhammad, Pertanyaan Tentang Asmaul Husna

Mendapati Rukuk Bersama Imam, Sudah Mendapati Rakaat

Orang yang masbuq, kemudian ketika masuk masjid mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka hendaknya takbiratul ihram lalu rukuk. Dan ia sudah dapat rakaat tersebut walau tidak baca Al Fatihah.Dalam hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits radhiallahu’anhu:أنَّهُ انْتَهَى إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أنْ يَصِلَ إلى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذلكَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ولَا تَعُدْ“Ia mendapati Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan rukuk, maka ia pun rukuk sebelum ia berjalan masuk ke shaf. Maka hal ini pun disampaikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: semoga Allah menambahkan semangat kepadamu wahai Abu Bakrah, namun shalatmu tidak perlu diulang” (HR. Bukhari no.783).Baca Juga: Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?Demikian juga Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:من لم يدرك الإمام راكعا لم يدرك تلك الركعة“Orang yang tidak mendapat rukuk bersama imam, maka ia tidak mendapati shalat” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/262).Demikian juga terdapat riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:من أدرك الإمام راكعا، فركع قبل أن يرفع الإمام رأسه، فقد أدرك تلك الركعة“Barangsiapa yang mendapati imam rukuk, maka rukuklah sebelum imam bangkit. Maka ia telah mendapati rakaat tersebut” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/263).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:وهذا الذي ذكرناه من إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي , وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء , وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس , وفيه وجه ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة“Inilah pendapat yang kami kuatkan, yaitu didapatkannya rakaat dengan mendapati rukuk. Inilah pendapat yang benar yang dinyatakan oleh Asy Syafi’i dan juga merupakan pendapat jumhur ulama Syafi’iyyah dan juga jumhur ulama. Banyak hadits-hadits yang mendasarinya dan ini yang diterapkan oleh para ulama. Memang ada pendapat yang lemah dan aneh yang menyatakan bahwa tidak didapatkan rakaat dengan didapatkannya rukuk” (Al Majmu’, 4/112).Baca Juga: Serba-Serbi Ramadhan: Qiyam RamadhanNamun al idrak (dapat rakaat) di sini ada 3 syarat. Disebutkan oleh Ibnu Badran rahimahullah:الإدراك له ثلاثة شروط: أن يكبر المأموم قائما, و أن يركع و الإمام راكع, و أن لا يشك في أن ركوعه كان في حال ركوع الإمام أو في حال رفعه من الركوع“Al idrak (dapat rakaat) ada 3 syarat: [1] makmum bertakbir dalam keadaan berdiri (sempurna), [2] dan dia rukuk ketika imam masih rukuk, [3] dan ia tidak ragu apakah rukuknya tersebut ketika imam masih rukuk juga ataukah ketika imam sudah mulai berdiri” (Hasyiyah ‘ala Akhsharil Mukhtasharat, 120).Jika syarat nomor 1 tidak terpenuhi, shalat tidak sah. Karena takbiratul ihram adalah rukun dan wajib dikerjakan dalam keadaan berdiri jika mampu. Jika syarat nomor 2 atau 3 tidak terpenuhi, maka belum dapat rakaat.Dan berdasarkan hadits-hadits di atas juga, makmum masbuq yang hanya mendapati rukuk bersama imam, ia mendapatkan rakaat walaupun tidak membaca Al Fatihah. Kewajiban membaca Al Fatihan gugur darinya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).Baca Juga: Demikian semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hakikat Tasawuf, Hadis Tentang Takwa, Arti Syukur Dalam Islam, Kaligrafi Lafal Allah Dan Muhammad, Pertanyaan Tentang Asmaul Husna
Orang yang masbuq, kemudian ketika masuk masjid mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka hendaknya takbiratul ihram lalu rukuk. Dan ia sudah dapat rakaat tersebut walau tidak baca Al Fatihah.Dalam hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits radhiallahu’anhu:أنَّهُ انْتَهَى إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أنْ يَصِلَ إلى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذلكَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ولَا تَعُدْ“Ia mendapati Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan rukuk, maka ia pun rukuk sebelum ia berjalan masuk ke shaf. Maka hal ini pun disampaikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: semoga Allah menambahkan semangat kepadamu wahai Abu Bakrah, namun shalatmu tidak perlu diulang” (HR. Bukhari no.783).Baca Juga: Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?Demikian juga Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:من لم يدرك الإمام راكعا لم يدرك تلك الركعة“Orang yang tidak mendapat rukuk bersama imam, maka ia tidak mendapati shalat” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/262).Demikian juga terdapat riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:من أدرك الإمام راكعا، فركع قبل أن يرفع الإمام رأسه، فقد أدرك تلك الركعة“Barangsiapa yang mendapati imam rukuk, maka rukuklah sebelum imam bangkit. Maka ia telah mendapati rakaat tersebut” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/263).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:وهذا الذي ذكرناه من إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي , وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء , وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس , وفيه وجه ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة“Inilah pendapat yang kami kuatkan, yaitu didapatkannya rakaat dengan mendapati rukuk. Inilah pendapat yang benar yang dinyatakan oleh Asy Syafi’i dan juga merupakan pendapat jumhur ulama Syafi’iyyah dan juga jumhur ulama. Banyak hadits-hadits yang mendasarinya dan ini yang diterapkan oleh para ulama. Memang ada pendapat yang lemah dan aneh yang menyatakan bahwa tidak didapatkan rakaat dengan didapatkannya rukuk” (Al Majmu’, 4/112).Baca Juga: Serba-Serbi Ramadhan: Qiyam RamadhanNamun al idrak (dapat rakaat) di sini ada 3 syarat. Disebutkan oleh Ibnu Badran rahimahullah:الإدراك له ثلاثة شروط: أن يكبر المأموم قائما, و أن يركع و الإمام راكع, و أن لا يشك في أن ركوعه كان في حال ركوع الإمام أو في حال رفعه من الركوع“Al idrak (dapat rakaat) ada 3 syarat: [1] makmum bertakbir dalam keadaan berdiri (sempurna), [2] dan dia rukuk ketika imam masih rukuk, [3] dan ia tidak ragu apakah rukuknya tersebut ketika imam masih rukuk juga ataukah ketika imam sudah mulai berdiri” (Hasyiyah ‘ala Akhsharil Mukhtasharat, 120).Jika syarat nomor 1 tidak terpenuhi, shalat tidak sah. Karena takbiratul ihram adalah rukun dan wajib dikerjakan dalam keadaan berdiri jika mampu. Jika syarat nomor 2 atau 3 tidak terpenuhi, maka belum dapat rakaat.Dan berdasarkan hadits-hadits di atas juga, makmum masbuq yang hanya mendapati rukuk bersama imam, ia mendapatkan rakaat walaupun tidak membaca Al Fatihah. Kewajiban membaca Al Fatihan gugur darinya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).Baca Juga: Demikian semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hakikat Tasawuf, Hadis Tentang Takwa, Arti Syukur Dalam Islam, Kaligrafi Lafal Allah Dan Muhammad, Pertanyaan Tentang Asmaul Husna


Orang yang masbuq, kemudian ketika masuk masjid mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka hendaknya takbiratul ihram lalu rukuk. Dan ia sudah dapat rakaat tersebut walau tidak baca Al Fatihah.Dalam hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits radhiallahu’anhu:أنَّهُ انْتَهَى إلى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أنْ يَصِلَ إلى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذلكَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقالَ: زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ولَا تَعُدْ“Ia mendapati Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan rukuk, maka ia pun rukuk sebelum ia berjalan masuk ke shaf. Maka hal ini pun disampaikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: semoga Allah menambahkan semangat kepadamu wahai Abu Bakrah, namun shalatmu tidak perlu diulang” (HR. Bukhari no.783).Baca Juga: Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?Demikian juga Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:من لم يدرك الإمام راكعا لم يدرك تلك الركعة“Orang yang tidak mendapat rukuk bersama imam, maka ia tidak mendapati shalat” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/262).Demikian juga terdapat riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:من أدرك الإمام راكعا، فركع قبل أن يرفع الإمام رأسه، فقد أدرك تلك الركعة“Barangsiapa yang mendapati imam rukuk, maka rukuklah sebelum imam bangkit. Maka ia telah mendapati rakaat tersebut” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/263).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:وهذا الذي ذكرناه من إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي , وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء , وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس , وفيه وجه ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة“Inilah pendapat yang kami kuatkan, yaitu didapatkannya rakaat dengan mendapati rukuk. Inilah pendapat yang benar yang dinyatakan oleh Asy Syafi’i dan juga merupakan pendapat jumhur ulama Syafi’iyyah dan juga jumhur ulama. Banyak hadits-hadits yang mendasarinya dan ini yang diterapkan oleh para ulama. Memang ada pendapat yang lemah dan aneh yang menyatakan bahwa tidak didapatkan rakaat dengan didapatkannya rukuk” (Al Majmu’, 4/112).Baca Juga: Serba-Serbi Ramadhan: Qiyam RamadhanNamun al idrak (dapat rakaat) di sini ada 3 syarat. Disebutkan oleh Ibnu Badran rahimahullah:الإدراك له ثلاثة شروط: أن يكبر المأموم قائما, و أن يركع و الإمام راكع, و أن لا يشك في أن ركوعه كان في حال ركوع الإمام أو في حال رفعه من الركوع“Al idrak (dapat rakaat) ada 3 syarat: [1] makmum bertakbir dalam keadaan berdiri (sempurna), [2] dan dia rukuk ketika imam masih rukuk, [3] dan ia tidak ragu apakah rukuknya tersebut ketika imam masih rukuk juga ataukah ketika imam sudah mulai berdiri” (Hasyiyah ‘ala Akhsharil Mukhtasharat, 120).Jika syarat nomor 1 tidak terpenuhi, shalat tidak sah. Karena takbiratul ihram adalah rukun dan wajib dikerjakan dalam keadaan berdiri jika mampu. Jika syarat nomor 2 atau 3 tidak terpenuhi, maka belum dapat rakaat.Dan berdasarkan hadits-hadits di atas juga, makmum masbuq yang hanya mendapati rukuk bersama imam, ia mendapatkan rakaat walaupun tidak membaca Al Fatihah. Kewajiban membaca Al Fatihan gugur darinya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).Baca Juga: Demikian semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hakikat Tasawuf, Hadis Tentang Takwa, Arti Syukur Dalam Islam, Kaligrafi Lafal Allah Dan Muhammad, Pertanyaan Tentang Asmaul Husna

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)

 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 4)Keutamaan-Keutamaan Tauhid (Lanjutan)Tauhid akan menuntun pemiliknya untuk mengerjakan amal shalih.Di antara keutamaan tauhid adalah jika tauhid tersebut kokoh, maka tauhid tersebut akan menuntunnya untuk mengerjakan amal shalih, baik dalam perkataan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin. Ini adalah keutamaan yang besar, karena seorang hamba tidak mungkin dapat terlepas dari: Bermuamalah dengan dirinya sendiri; Bermuamalah dengan orang lain; Atau bermuamalah dengan Rabb-nya. Sedangkan bermuamalah dengan Allah Ta’ala merupakan ibadah, yakni dengan melakukan berbagai macam peribadatan. Baca Juga: Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan RamadhanBermuamalah dengan dirinya sendiri yang memiliki hawa nafsu, dan apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh hawa nafsunya. Serta bagaimana dirinya sendiri dapat melaksanakan syariat. Adapun bermuamalah dengan orang lain yaitu dengan menunaikan hak-hak manusia. Dimulai dengan hak kedua orangtua, hak istri, hak anak, hak tetangga, hak teman dekat, hak para ulama, hak penguasa, dan hak para shahabat ridhwanallah ‘alaihim, demikian pula hak orang-orang yang beriman secara umum. Tauhid merupakan salah satu sarana yang dapat menuntun seseorang untuk dapat bermuamalah baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, atau dengan Rabb-nya.Adapun dalam muamalah dengan Rabb-nya, maka ahli tauhid mencintai beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka mencintai ikhlas, dan juga berbagai macam ibadah. Kita jumpai seorang ahli tauhid yang sebenar-benarnya, dia mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Setiap kali tauhid kokoh, maka akan kokoh pula ketergantungan hatinya terhadap shalat dan puasa, baik yang wajib maupun shalat sunnah. Demikianlah, muamalah dan ibadahnya terhadap Rabb-nya akan sepadan dengan kekokohan tauhidnya. Oleh karena itu, lihatlah dirimu sendiri dalam berbagai macam keadaan. Jika Engkau merasakan di dalam dirimu terdapat kekurangan di dalam melaksanakan kewajiban, atau bahkan di dalam melaksanakan yang sunnah, maka cermatilah dirimu, dan pasti Engkau dapati bahwa sebagian dunia telah menyaingi kecintaanmu terhadap Allah Ta’ala di dalam hatimu. Di dalam hatimu terkumpul dua keinginan, pertama yaitu keinginan mencintai Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Dan kedua yaitu keinginan mencintai dunia serta lebih mengutamakannya. Apabila tauhidnya yang kokoh, maka akan lemahlah yang lainnya. Dan sebaliknya, apabila keinginan dunia yang lebih kokoh, maka akan lemahlah tauhidnya. Oleh karena itu, mengajarkan dan menjelaskan ilmu tauhid kepada manusia merupakan kebaikan dan ihsan yang terbesar kepada sesama makhluk.Baca Juga: Yasinan: Bid’ah yang Dianggap SunnahAdapun dalam muamalah dengan dirinya sendiri, maka sesungguhnya seseorang itu memiliki hawa nafsu dan keinginan. Dia memiliki hawa nafsu untuk mengerjakan sebagian hal-hal yang diharamkan. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu. Demikian pula, dia memiliki hawa nafsu dan keinginan untuk meninggalkan sebagian kewajiban. Setiap kali tauhid di dalam hatinya kokoh, dan kokoh pula pengetahuan hamba terhadap Rabb-nya, terhadap rububiyyah-Nya, bahwasannya milik Allah-lah bumi ini seluruhnya, hati manusia seluruhnya berada di antara jari-jariNya, bumi berada di dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, bahwasannya dunia ini di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor lalat, Dia-lah yang mengatur alam semesta ini, Dia-lah yang memberi dan mencegah, Dia-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, Dia-lah yang merendahkan dan mengangkat, Dia-lah yang menggenggam dan membentangkan, Dia-lah yang menciptakan, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang menyehatkan dan membuat sakit, Dia-lah yang membuat menjadi kaya atau miskin, bahwa apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, maka pada saat itu akan kokohlah tawakkal dan kecintaannya kepada Allah. Selain itu, akan kokoh pula pengetahuan bahwasannya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi dan Dia-lah yang berhak terhadap berbagai jenis ibadah. Di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Allah dan tauhid, sehingga dorongan untuk berbuat kejelekan menjadi lemah. Adapun dalam muamalah dengan sesama makhluk, sesungguhnya ahli tauhid –jika kuat tauhidnya- tidak akan lupa bahwa kecintaannya kepada Allah berada di atas seluruh kecintaannya kepada yang lainnya. Dan sesungguhnya keridhaan Allah Ta’ala berada di atas keridhaan yang lainnya. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan sesuatu yang mendatangkan murka Allah, siapa pun manusianya, apakah pemimpin atau rakyat biasa, apakah raja atau budak, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia murka kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha Allah, tanpa peduli apakah manusia ridha atau murka kepadanya, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Hal ini adalah ujian bagi orang-orang yang berjalan di atas syariat Allah Ta’ala.Dalam bermuamalah kepada sesama manusia, apabila hatinya bergantung kepada Allah Ta’ala, maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Dia berharap kepada Allah, takut, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala. Dia takut kalau hatinya berubah dengan adanya kedzaliman seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, dia akan memperbaiki muamalahnya dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain.Baca Juga: Saudaraku, Inilah Keutamaan Puasa RamadhanTauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk.Di antara keutamaan tauhid adalah bahwa tauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk dan berlebih-lebihan dalam memandang mereka, menuju penghambaan yang paling mulia, yaitu penghambaan kepada Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha mendengar dan Maha melihat. Allah Ta’ala menguji hamba-hambaNya dan menjadikan sebagian di antara mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا”Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan : 20)Apakah makna,”Maukah kamu bersabar?” Allah Ta’ala menjadikan orang fakir sebagai cobaan bagi orang kaya, dan sebaliknya, orang kaya sebagai cobaan bagi orang fakir.Orang fakir adalah cobaan bagi orang kaya. Apakah si kaya menjadi sombong dan congkak? Jika dia mendapatkan uang seribu, dua ribu, seratus ribu, satu juta, sepuluh atau seratus juta, maka dia akan sombong dan merasa bahwa dirinya berada di atas makhluk lainnya. Dia diuji dengan orang fakir, apa yang telah didapatkan oleh si fakir? Apakah melebihi dirinya atau tidak? Oleh karena itu, apakah yang difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan di dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)Baca Juga: Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?Sampai-sampai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin meng-Islam-kan para pembesar dan orang-orang kaya serta meninggalkan orang fakir, -karena menurut pemikiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila orang kaya bisa masuk Islam, maka hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi Islam, sehingga beliau pun meninggalkan orang fakir- maka Allah Ta’ala mengingatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّى ؛ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى ؛ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى ؛ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى ؛ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى ؛ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى ؛ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى ؛ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى ؛ وَهُوَ يَخْشَى ؛ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى ؛ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ؛”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu member manfa’at kepadanya? Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihgkan diri (beriman). Dan adapun orang yang dating kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa : 1-11)Yaitu, peringatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada manusia secara umum.Baca Juga: Inilah Resep Hidup BahagiaAllah Ta’ala juga menjadikan orang kaya sebagai cobaan bagi orang miskin. Apakah orang fakir memiliki sifat hasad (dengki) kepada orang kaya, atau apakah orang fakir tersebut meminta keselamatan kepada Allah Ta’ala? Apakah dia memandang orang kaya dengan rasa marah dan dendam? Atau apakah dia meningkatkan harapannya kepada Allah Ta’ala? Demikian pula, orang sehat dan sakit, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Dan juga, pemerintah dan rakyatnya, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Demikianlah seluruhnya, barangsiapa yang mewujudkan tauhid dan mengamalkannya, maka dia akan memandang sesama makhluk dengan pandangan yang sesuai. Dia akan membersihkan dirinya dari penghambaan kepada sesama makhluk dan dari berlebih-lebihan dalam memandang mereka. Dia akan mengagungkan Allah Ta’ala di dalam hatinya, dan akan mensucikan nama-namaNya. Allah-lah satu-satunya Yang Maha mulia, Yang Maha tinggi, dan Maha agung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)Tafsir dari ayat, ”Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” adalah jika kalian dalam keadaan beriman, selama kalian tetap berada dalam keimanan, maka janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya.Jika demikian, maka di antara faidah tauhid di dalam hati bahwa tauhid tersebut akan membersihkan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk dan merendahkan diri kepadanya. Orang-orang yang bertauhid akan bermuamalah dengan sesama makhluk sebatas apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala serta tidak bersikap sombong atau bersikap lemah kepada mereka. Mereka bermuamalah dengan orang lain hanyalah karena mereka adalah orang beriman atau hanya sesuai dengan kebutuhan saja.Baca Juga:[Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 5)

 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 4)Keutamaan-Keutamaan Tauhid (Lanjutan)Tauhid akan menuntun pemiliknya untuk mengerjakan amal shalih.Di antara keutamaan tauhid adalah jika tauhid tersebut kokoh, maka tauhid tersebut akan menuntunnya untuk mengerjakan amal shalih, baik dalam perkataan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin. Ini adalah keutamaan yang besar, karena seorang hamba tidak mungkin dapat terlepas dari: Bermuamalah dengan dirinya sendiri; Bermuamalah dengan orang lain; Atau bermuamalah dengan Rabb-nya. Sedangkan bermuamalah dengan Allah Ta’ala merupakan ibadah, yakni dengan melakukan berbagai macam peribadatan. Baca Juga: Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan RamadhanBermuamalah dengan dirinya sendiri yang memiliki hawa nafsu, dan apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh hawa nafsunya. Serta bagaimana dirinya sendiri dapat melaksanakan syariat. Adapun bermuamalah dengan orang lain yaitu dengan menunaikan hak-hak manusia. Dimulai dengan hak kedua orangtua, hak istri, hak anak, hak tetangga, hak teman dekat, hak para ulama, hak penguasa, dan hak para shahabat ridhwanallah ‘alaihim, demikian pula hak orang-orang yang beriman secara umum. Tauhid merupakan salah satu sarana yang dapat menuntun seseorang untuk dapat bermuamalah baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, atau dengan Rabb-nya.Adapun dalam muamalah dengan Rabb-nya, maka ahli tauhid mencintai beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka mencintai ikhlas, dan juga berbagai macam ibadah. Kita jumpai seorang ahli tauhid yang sebenar-benarnya, dia mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Setiap kali tauhid kokoh, maka akan kokoh pula ketergantungan hatinya terhadap shalat dan puasa, baik yang wajib maupun shalat sunnah. Demikianlah, muamalah dan ibadahnya terhadap Rabb-nya akan sepadan dengan kekokohan tauhidnya. Oleh karena itu, lihatlah dirimu sendiri dalam berbagai macam keadaan. Jika Engkau merasakan di dalam dirimu terdapat kekurangan di dalam melaksanakan kewajiban, atau bahkan di dalam melaksanakan yang sunnah, maka cermatilah dirimu, dan pasti Engkau dapati bahwa sebagian dunia telah menyaingi kecintaanmu terhadap Allah Ta’ala di dalam hatimu. Di dalam hatimu terkumpul dua keinginan, pertama yaitu keinginan mencintai Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Dan kedua yaitu keinginan mencintai dunia serta lebih mengutamakannya. Apabila tauhidnya yang kokoh, maka akan lemahlah yang lainnya. Dan sebaliknya, apabila keinginan dunia yang lebih kokoh, maka akan lemahlah tauhidnya. Oleh karena itu, mengajarkan dan menjelaskan ilmu tauhid kepada manusia merupakan kebaikan dan ihsan yang terbesar kepada sesama makhluk.Baca Juga: Yasinan: Bid’ah yang Dianggap SunnahAdapun dalam muamalah dengan dirinya sendiri, maka sesungguhnya seseorang itu memiliki hawa nafsu dan keinginan. Dia memiliki hawa nafsu untuk mengerjakan sebagian hal-hal yang diharamkan. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu. Demikian pula, dia memiliki hawa nafsu dan keinginan untuk meninggalkan sebagian kewajiban. Setiap kali tauhid di dalam hatinya kokoh, dan kokoh pula pengetahuan hamba terhadap Rabb-nya, terhadap rububiyyah-Nya, bahwasannya milik Allah-lah bumi ini seluruhnya, hati manusia seluruhnya berada di antara jari-jariNya, bumi berada di dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, bahwasannya dunia ini di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor lalat, Dia-lah yang mengatur alam semesta ini, Dia-lah yang memberi dan mencegah, Dia-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, Dia-lah yang merendahkan dan mengangkat, Dia-lah yang menggenggam dan membentangkan, Dia-lah yang menciptakan, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang menyehatkan dan membuat sakit, Dia-lah yang membuat menjadi kaya atau miskin, bahwa apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, maka pada saat itu akan kokohlah tawakkal dan kecintaannya kepada Allah. Selain itu, akan kokoh pula pengetahuan bahwasannya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi dan Dia-lah yang berhak terhadap berbagai jenis ibadah. Di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Allah dan tauhid, sehingga dorongan untuk berbuat kejelekan menjadi lemah. Adapun dalam muamalah dengan sesama makhluk, sesungguhnya ahli tauhid –jika kuat tauhidnya- tidak akan lupa bahwa kecintaannya kepada Allah berada di atas seluruh kecintaannya kepada yang lainnya. Dan sesungguhnya keridhaan Allah Ta’ala berada di atas keridhaan yang lainnya. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan sesuatu yang mendatangkan murka Allah, siapa pun manusianya, apakah pemimpin atau rakyat biasa, apakah raja atau budak, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia murka kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha Allah, tanpa peduli apakah manusia ridha atau murka kepadanya, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Hal ini adalah ujian bagi orang-orang yang berjalan di atas syariat Allah Ta’ala.Dalam bermuamalah kepada sesama manusia, apabila hatinya bergantung kepada Allah Ta’ala, maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Dia berharap kepada Allah, takut, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala. Dia takut kalau hatinya berubah dengan adanya kedzaliman seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, dia akan memperbaiki muamalahnya dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain.Baca Juga: Saudaraku, Inilah Keutamaan Puasa RamadhanTauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk.Di antara keutamaan tauhid adalah bahwa tauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk dan berlebih-lebihan dalam memandang mereka, menuju penghambaan yang paling mulia, yaitu penghambaan kepada Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha mendengar dan Maha melihat. Allah Ta’ala menguji hamba-hambaNya dan menjadikan sebagian di antara mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا”Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan : 20)Apakah makna,”Maukah kamu bersabar?” Allah Ta’ala menjadikan orang fakir sebagai cobaan bagi orang kaya, dan sebaliknya, orang kaya sebagai cobaan bagi orang fakir.Orang fakir adalah cobaan bagi orang kaya. Apakah si kaya menjadi sombong dan congkak? Jika dia mendapatkan uang seribu, dua ribu, seratus ribu, satu juta, sepuluh atau seratus juta, maka dia akan sombong dan merasa bahwa dirinya berada di atas makhluk lainnya. Dia diuji dengan orang fakir, apa yang telah didapatkan oleh si fakir? Apakah melebihi dirinya atau tidak? Oleh karena itu, apakah yang difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan di dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)Baca Juga: Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?Sampai-sampai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin meng-Islam-kan para pembesar dan orang-orang kaya serta meninggalkan orang fakir, -karena menurut pemikiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila orang kaya bisa masuk Islam, maka hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi Islam, sehingga beliau pun meninggalkan orang fakir- maka Allah Ta’ala mengingatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّى ؛ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى ؛ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى ؛ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى ؛ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى ؛ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى ؛ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى ؛ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى ؛ وَهُوَ يَخْشَى ؛ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى ؛ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ؛”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu member manfa’at kepadanya? Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihgkan diri (beriman). Dan adapun orang yang dating kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa : 1-11)Yaitu, peringatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada manusia secara umum.Baca Juga: Inilah Resep Hidup BahagiaAllah Ta’ala juga menjadikan orang kaya sebagai cobaan bagi orang miskin. Apakah orang fakir memiliki sifat hasad (dengki) kepada orang kaya, atau apakah orang fakir tersebut meminta keselamatan kepada Allah Ta’ala? Apakah dia memandang orang kaya dengan rasa marah dan dendam? Atau apakah dia meningkatkan harapannya kepada Allah Ta’ala? Demikian pula, orang sehat dan sakit, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Dan juga, pemerintah dan rakyatnya, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Demikianlah seluruhnya, barangsiapa yang mewujudkan tauhid dan mengamalkannya, maka dia akan memandang sesama makhluk dengan pandangan yang sesuai. Dia akan membersihkan dirinya dari penghambaan kepada sesama makhluk dan dari berlebih-lebihan dalam memandang mereka. Dia akan mengagungkan Allah Ta’ala di dalam hatinya, dan akan mensucikan nama-namaNya. Allah-lah satu-satunya Yang Maha mulia, Yang Maha tinggi, dan Maha agung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)Tafsir dari ayat, ”Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” adalah jika kalian dalam keadaan beriman, selama kalian tetap berada dalam keimanan, maka janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya.Jika demikian, maka di antara faidah tauhid di dalam hati bahwa tauhid tersebut akan membersihkan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk dan merendahkan diri kepadanya. Orang-orang yang bertauhid akan bermuamalah dengan sesama makhluk sebatas apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala serta tidak bersikap sombong atau bersikap lemah kepada mereka. Mereka bermuamalah dengan orang lain hanyalah karena mereka adalah orang beriman atau hanya sesuai dengan kebutuhan saja.Baca Juga:[Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid
 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 4)Keutamaan-Keutamaan Tauhid (Lanjutan)Tauhid akan menuntun pemiliknya untuk mengerjakan amal shalih.Di antara keutamaan tauhid adalah jika tauhid tersebut kokoh, maka tauhid tersebut akan menuntunnya untuk mengerjakan amal shalih, baik dalam perkataan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin. Ini adalah keutamaan yang besar, karena seorang hamba tidak mungkin dapat terlepas dari: Bermuamalah dengan dirinya sendiri; Bermuamalah dengan orang lain; Atau bermuamalah dengan Rabb-nya. Sedangkan bermuamalah dengan Allah Ta’ala merupakan ibadah, yakni dengan melakukan berbagai macam peribadatan. Baca Juga: Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan RamadhanBermuamalah dengan dirinya sendiri yang memiliki hawa nafsu, dan apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh hawa nafsunya. Serta bagaimana dirinya sendiri dapat melaksanakan syariat. Adapun bermuamalah dengan orang lain yaitu dengan menunaikan hak-hak manusia. Dimulai dengan hak kedua orangtua, hak istri, hak anak, hak tetangga, hak teman dekat, hak para ulama, hak penguasa, dan hak para shahabat ridhwanallah ‘alaihim, demikian pula hak orang-orang yang beriman secara umum. Tauhid merupakan salah satu sarana yang dapat menuntun seseorang untuk dapat bermuamalah baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, atau dengan Rabb-nya.Adapun dalam muamalah dengan Rabb-nya, maka ahli tauhid mencintai beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka mencintai ikhlas, dan juga berbagai macam ibadah. Kita jumpai seorang ahli tauhid yang sebenar-benarnya, dia mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Setiap kali tauhid kokoh, maka akan kokoh pula ketergantungan hatinya terhadap shalat dan puasa, baik yang wajib maupun shalat sunnah. Demikianlah, muamalah dan ibadahnya terhadap Rabb-nya akan sepadan dengan kekokohan tauhidnya. Oleh karena itu, lihatlah dirimu sendiri dalam berbagai macam keadaan. Jika Engkau merasakan di dalam dirimu terdapat kekurangan di dalam melaksanakan kewajiban, atau bahkan di dalam melaksanakan yang sunnah, maka cermatilah dirimu, dan pasti Engkau dapati bahwa sebagian dunia telah menyaingi kecintaanmu terhadap Allah Ta’ala di dalam hatimu. Di dalam hatimu terkumpul dua keinginan, pertama yaitu keinginan mencintai Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Dan kedua yaitu keinginan mencintai dunia serta lebih mengutamakannya. Apabila tauhidnya yang kokoh, maka akan lemahlah yang lainnya. Dan sebaliknya, apabila keinginan dunia yang lebih kokoh, maka akan lemahlah tauhidnya. Oleh karena itu, mengajarkan dan menjelaskan ilmu tauhid kepada manusia merupakan kebaikan dan ihsan yang terbesar kepada sesama makhluk.Baca Juga: Yasinan: Bid’ah yang Dianggap SunnahAdapun dalam muamalah dengan dirinya sendiri, maka sesungguhnya seseorang itu memiliki hawa nafsu dan keinginan. Dia memiliki hawa nafsu untuk mengerjakan sebagian hal-hal yang diharamkan. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu. Demikian pula, dia memiliki hawa nafsu dan keinginan untuk meninggalkan sebagian kewajiban. Setiap kali tauhid di dalam hatinya kokoh, dan kokoh pula pengetahuan hamba terhadap Rabb-nya, terhadap rububiyyah-Nya, bahwasannya milik Allah-lah bumi ini seluruhnya, hati manusia seluruhnya berada di antara jari-jariNya, bumi berada di dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, bahwasannya dunia ini di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor lalat, Dia-lah yang mengatur alam semesta ini, Dia-lah yang memberi dan mencegah, Dia-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, Dia-lah yang merendahkan dan mengangkat, Dia-lah yang menggenggam dan membentangkan, Dia-lah yang menciptakan, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang menyehatkan dan membuat sakit, Dia-lah yang membuat menjadi kaya atau miskin, bahwa apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, maka pada saat itu akan kokohlah tawakkal dan kecintaannya kepada Allah. Selain itu, akan kokoh pula pengetahuan bahwasannya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi dan Dia-lah yang berhak terhadap berbagai jenis ibadah. Di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Allah dan tauhid, sehingga dorongan untuk berbuat kejelekan menjadi lemah. Adapun dalam muamalah dengan sesama makhluk, sesungguhnya ahli tauhid –jika kuat tauhidnya- tidak akan lupa bahwa kecintaannya kepada Allah berada di atas seluruh kecintaannya kepada yang lainnya. Dan sesungguhnya keridhaan Allah Ta’ala berada di atas keridhaan yang lainnya. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan sesuatu yang mendatangkan murka Allah, siapa pun manusianya, apakah pemimpin atau rakyat biasa, apakah raja atau budak, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia murka kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha Allah, tanpa peduli apakah manusia ridha atau murka kepadanya, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Hal ini adalah ujian bagi orang-orang yang berjalan di atas syariat Allah Ta’ala.Dalam bermuamalah kepada sesama manusia, apabila hatinya bergantung kepada Allah Ta’ala, maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Dia berharap kepada Allah, takut, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala. Dia takut kalau hatinya berubah dengan adanya kedzaliman seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, dia akan memperbaiki muamalahnya dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain.Baca Juga: Saudaraku, Inilah Keutamaan Puasa RamadhanTauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk.Di antara keutamaan tauhid adalah bahwa tauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk dan berlebih-lebihan dalam memandang mereka, menuju penghambaan yang paling mulia, yaitu penghambaan kepada Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha mendengar dan Maha melihat. Allah Ta’ala menguji hamba-hambaNya dan menjadikan sebagian di antara mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا”Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan : 20)Apakah makna,”Maukah kamu bersabar?” Allah Ta’ala menjadikan orang fakir sebagai cobaan bagi orang kaya, dan sebaliknya, orang kaya sebagai cobaan bagi orang fakir.Orang fakir adalah cobaan bagi orang kaya. Apakah si kaya menjadi sombong dan congkak? Jika dia mendapatkan uang seribu, dua ribu, seratus ribu, satu juta, sepuluh atau seratus juta, maka dia akan sombong dan merasa bahwa dirinya berada di atas makhluk lainnya. Dia diuji dengan orang fakir, apa yang telah didapatkan oleh si fakir? Apakah melebihi dirinya atau tidak? Oleh karena itu, apakah yang difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan di dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)Baca Juga: Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?Sampai-sampai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin meng-Islam-kan para pembesar dan orang-orang kaya serta meninggalkan orang fakir, -karena menurut pemikiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila orang kaya bisa masuk Islam, maka hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi Islam, sehingga beliau pun meninggalkan orang fakir- maka Allah Ta’ala mengingatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّى ؛ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى ؛ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى ؛ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى ؛ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى ؛ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى ؛ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى ؛ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى ؛ وَهُوَ يَخْشَى ؛ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى ؛ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ؛”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu member manfa’at kepadanya? Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihgkan diri (beriman). Dan adapun orang yang dating kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa : 1-11)Yaitu, peringatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada manusia secara umum.Baca Juga: Inilah Resep Hidup BahagiaAllah Ta’ala juga menjadikan orang kaya sebagai cobaan bagi orang miskin. Apakah orang fakir memiliki sifat hasad (dengki) kepada orang kaya, atau apakah orang fakir tersebut meminta keselamatan kepada Allah Ta’ala? Apakah dia memandang orang kaya dengan rasa marah dan dendam? Atau apakah dia meningkatkan harapannya kepada Allah Ta’ala? Demikian pula, orang sehat dan sakit, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Dan juga, pemerintah dan rakyatnya, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Demikianlah seluruhnya, barangsiapa yang mewujudkan tauhid dan mengamalkannya, maka dia akan memandang sesama makhluk dengan pandangan yang sesuai. Dia akan membersihkan dirinya dari penghambaan kepada sesama makhluk dan dari berlebih-lebihan dalam memandang mereka. Dia akan mengagungkan Allah Ta’ala di dalam hatinya, dan akan mensucikan nama-namaNya. Allah-lah satu-satunya Yang Maha mulia, Yang Maha tinggi, dan Maha agung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)Tafsir dari ayat, ”Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” adalah jika kalian dalam keadaan beriman, selama kalian tetap berada dalam keimanan, maka janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya.Jika demikian, maka di antara faidah tauhid di dalam hati bahwa tauhid tersebut akan membersihkan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk dan merendahkan diri kepadanya. Orang-orang yang bertauhid akan bermuamalah dengan sesama makhluk sebatas apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala serta tidak bersikap sombong atau bersikap lemah kepada mereka. Mereka bermuamalah dengan orang lain hanyalah karena mereka adalah orang beriman atau hanya sesuai dengan kebutuhan saja.Baca Juga:[Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid


 Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 4)Keutamaan-Keutamaan Tauhid (Lanjutan)Tauhid akan menuntun pemiliknya untuk mengerjakan amal shalih.Di antara keutamaan tauhid adalah jika tauhid tersebut kokoh, maka tauhid tersebut akan menuntunnya untuk mengerjakan amal shalih, baik dalam perkataan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin. Ini adalah keutamaan yang besar, karena seorang hamba tidak mungkin dapat terlepas dari: Bermuamalah dengan dirinya sendiri; Bermuamalah dengan orang lain; Atau bermuamalah dengan Rabb-nya. Sedangkan bermuamalah dengan Allah Ta’ala merupakan ibadah, yakni dengan melakukan berbagai macam peribadatan. Baca Juga: Fatwa Ramadhan: Hukum Bermain Musik di Bulan RamadhanBermuamalah dengan dirinya sendiri yang memiliki hawa nafsu, dan apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh hawa nafsunya. Serta bagaimana dirinya sendiri dapat melaksanakan syariat. Adapun bermuamalah dengan orang lain yaitu dengan menunaikan hak-hak manusia. Dimulai dengan hak kedua orangtua, hak istri, hak anak, hak tetangga, hak teman dekat, hak para ulama, hak penguasa, dan hak para shahabat ridhwanallah ‘alaihim, demikian pula hak orang-orang yang beriman secara umum. Tauhid merupakan salah satu sarana yang dapat menuntun seseorang untuk dapat bermuamalah baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, atau dengan Rabb-nya.Adapun dalam muamalah dengan Rabb-nya, maka ahli tauhid mencintai beribadah kepada Allah Ta’ala. Mereka mencintai ikhlas, dan juga berbagai macam ibadah. Kita jumpai seorang ahli tauhid yang sebenar-benarnya, dia mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Setiap kali tauhid kokoh, maka akan kokoh pula ketergantungan hatinya terhadap shalat dan puasa, baik yang wajib maupun shalat sunnah. Demikianlah, muamalah dan ibadahnya terhadap Rabb-nya akan sepadan dengan kekokohan tauhidnya. Oleh karena itu, lihatlah dirimu sendiri dalam berbagai macam keadaan. Jika Engkau merasakan di dalam dirimu terdapat kekurangan di dalam melaksanakan kewajiban, atau bahkan di dalam melaksanakan yang sunnah, maka cermatilah dirimu, dan pasti Engkau dapati bahwa sebagian dunia telah menyaingi kecintaanmu terhadap Allah Ta’ala di dalam hatimu. Di dalam hatimu terkumpul dua keinginan, pertama yaitu keinginan mencintai Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Dan kedua yaitu keinginan mencintai dunia serta lebih mengutamakannya. Apabila tauhidnya yang kokoh, maka akan lemahlah yang lainnya. Dan sebaliknya, apabila keinginan dunia yang lebih kokoh, maka akan lemahlah tauhidnya. Oleh karena itu, mengajarkan dan menjelaskan ilmu tauhid kepada manusia merupakan kebaikan dan ihsan yang terbesar kepada sesama makhluk.Baca Juga: Yasinan: Bid’ah yang Dianggap SunnahAdapun dalam muamalah dengan dirinya sendiri, maka sesungguhnya seseorang itu memiliki hawa nafsu dan keinginan. Dia memiliki hawa nafsu untuk mengerjakan sebagian hal-hal yang diharamkan. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu. Demikian pula, dia memiliki hawa nafsu dan keinginan untuk meninggalkan sebagian kewajiban. Setiap kali tauhid di dalam hatinya kokoh, dan kokoh pula pengetahuan hamba terhadap Rabb-nya, terhadap rububiyyah-Nya, bahwasannya milik Allah-lah bumi ini seluruhnya, hati manusia seluruhnya berada di antara jari-jariNya, bumi berada di dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, bahwasannya dunia ini di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor lalat, Dia-lah yang mengatur alam semesta ini, Dia-lah yang memberi dan mencegah, Dia-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, Dia-lah yang merendahkan dan mengangkat, Dia-lah yang menggenggam dan membentangkan, Dia-lah yang menciptakan, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang menyehatkan dan membuat sakit, Dia-lah yang membuat menjadi kaya atau miskin, bahwa apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, maka pada saat itu akan kokohlah tawakkal dan kecintaannya kepada Allah. Selain itu, akan kokoh pula pengetahuan bahwasannya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi dan Dia-lah yang berhak terhadap berbagai jenis ibadah. Di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Allah dan tauhid, sehingga dorongan untuk berbuat kejelekan menjadi lemah. Adapun dalam muamalah dengan sesama makhluk, sesungguhnya ahli tauhid –jika kuat tauhidnya- tidak akan lupa bahwa kecintaannya kepada Allah berada di atas seluruh kecintaannya kepada yang lainnya. Dan sesungguhnya keridhaan Allah Ta’ala berada di atas keridhaan yang lainnya. Barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan sesuatu yang mendatangkan murka Allah, siapa pun manusianya, apakah pemimpin atau rakyat biasa, apakah raja atau budak, maka Allah Ta’ala akan murka kepadanya dan akan menjadikan manusia murka kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha Allah, tanpa peduli apakah manusia ridha atau murka kepadanya, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Hal ini adalah ujian bagi orang-orang yang berjalan di atas syariat Allah Ta’ala.Dalam bermuamalah kepada sesama manusia, apabila hatinya bergantung kepada Allah Ta’ala, maka dia akan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Dia berharap kepada Allah, takut, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala. Dia takut kalau hatinya berubah dengan adanya kedzaliman seseorang kepada orang lain. Oleh karena itu, dia akan memperbaiki muamalahnya dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain.Baca Juga: Saudaraku, Inilah Keutamaan Puasa RamadhanTauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk.Di antara keutamaan tauhid adalah bahwa tauhid dapat membebaskan seseorang dari penghambaan terhadap sesama makhluk dan berlebih-lebihan dalam memandang mereka, menuju penghambaan yang paling mulia, yaitu penghambaan kepada Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha mendengar dan Maha melihat. Allah Ta’ala menguji hamba-hambaNya dan menjadikan sebagian di antara mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا”Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan : 20)Apakah makna,”Maukah kamu bersabar?” Allah Ta’ala menjadikan orang fakir sebagai cobaan bagi orang kaya, dan sebaliknya, orang kaya sebagai cobaan bagi orang fakir.Orang fakir adalah cobaan bagi orang kaya. Apakah si kaya menjadi sombong dan congkak? Jika dia mendapatkan uang seribu, dua ribu, seratus ribu, satu juta, sepuluh atau seratus juta, maka dia akan sombong dan merasa bahwa dirinya berada di atas makhluk lainnya. Dia diuji dengan orang fakir, apa yang telah didapatkan oleh si fakir? Apakah melebihi dirinya atau tidak? Oleh karena itu, apakah yang difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan di dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)Baca Juga: Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?Sampai-sampai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin meng-Islam-kan para pembesar dan orang-orang kaya serta meninggalkan orang fakir, -karena menurut pemikiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila orang kaya bisa masuk Islam, maka hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi Islam, sehingga beliau pun meninggalkan orang fakir- maka Allah Ta’ala mengingatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّى ؛ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى ؛ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى ؛ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى ؛ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى ؛ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى ؛ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى ؛ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى ؛ وَهُوَ يَخْشَى ؛ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى ؛ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ؛”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu member manfa’at kepadanya? Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihgkan diri (beriman). Dan adapun orang yang dating kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa : 1-11)Yaitu, peringatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada manusia secara umum.Baca Juga: Inilah Resep Hidup BahagiaAllah Ta’ala juga menjadikan orang kaya sebagai cobaan bagi orang miskin. Apakah orang fakir memiliki sifat hasad (dengki) kepada orang kaya, atau apakah orang fakir tersebut meminta keselamatan kepada Allah Ta’ala? Apakah dia memandang orang kaya dengan rasa marah dan dendam? Atau apakah dia meningkatkan harapannya kepada Allah Ta’ala? Demikian pula, orang sehat dan sakit, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Dan juga, pemerintah dan rakyatnya, Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai cobaan bagi sebagian yang lainnya. Demikianlah seluruhnya, barangsiapa yang mewujudkan tauhid dan mengamalkannya, maka dia akan memandang sesama makhluk dengan pandangan yang sesuai. Dia akan membersihkan dirinya dari penghambaan kepada sesama makhluk dan dari berlebih-lebihan dalam memandang mereka. Dia akan mengagungkan Allah Ta’ala di dalam hatinya, dan akan mensucikan nama-namaNya. Allah-lah satu-satunya Yang Maha mulia, Yang Maha tinggi, dan Maha agung. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)Tafsir dari ayat, ”Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” adalah jika kalian dalam keadaan beriman, selama kalian tetap berada dalam keimanan, maka janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati karena kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya.Jika demikian, maka di antara faidah tauhid di dalam hati bahwa tauhid tersebut akan membersihkan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk dan merendahkan diri kepadanya. Orang-orang yang bertauhid akan bermuamalah dengan sesama makhluk sebatas apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala serta tidak bersikap sombong atau bersikap lemah kepada mereka. Mereka bermuamalah dengan orang lain hanyalah karena mereka adalah orang beriman atau hanya sesuai dengan kebutuhan saja.Baca Juga:[Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid

Mengganggu Shalat Adalah Perbuatan Setan

Tidak boleh seseorang secara langsung atau secara tidak langsung menimbulkan gangguan pada orang-orang yang sedang shalat. Karena mengganggu orang yang shalat adalah diantara perbuatan setan. Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah: 91).Baca Juga: Setan Benci Adzan, Muslim Rindu dan Memenuhi Panggilan AdzanSetan mengganggu shalat seseorang sehingga bacaannya menjadi kacau. Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu’anhu ia berkata:يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّيWahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim no.2203).Setan mengganggu shalat seseorang dengan menimbulkan was-was pada dirinya sehingga seolah-olah dia telah batal wudhunya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يأتي الشيطانُ أحَدَكُم فَيَنْقُرًُ عِنْدَ عِجانِهِ ، فلا ينصرِفُ حتى يَسْمَعَ صوتاً أو يَجِدَ ريحاً“Setan mendatangi kalian lalu meniup-niup pada dubur kalian (sehingga muncul was-was). Maka janganlah membatalkan shalat kecuali mendengar suara atau merasakan angin” (HR. Thabrani no.11948, Al Baihaqi no.3509, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.3026).Baca Juga: Awas, Ada Setan Di Sisi Anda!Shaf shalat yang tidak lurus dan tidak rapat akan membuat celah bagi setan untuk Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ“Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Sejajarkan leher-leher. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat setan masuk dari celah shaf, seakan-akan setan itu anak-anak kambing” (HR. Abu Daud no. 667, An Nasa-i no. 815, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Orang yang lewat di depan orang yang shalat, dapat mengganggu orang yang shalat tersebut. Orang yang lewat ini disebut oleh Nabi sebagai setan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505).Baca Juga: Jangan Buat Setan TertawaDalil-dalil di atas menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan mengganggu shalat adalah perbuatan setan. Maka tidak boleh melakukan segala hal yang dapat mengganggu shalat orang lain dengan sengaja. Dan wajib menghilangkan semua hal yang bisa mengganggu shalat, baik berupa suara-suara yang bising, anak-anak kecil yang bermain-main ketika shalat, gambar-gambar yang mengganggu shalat, dan semisalnya.Shalat adalah ibadah yang agung, kita sedang menghadap Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, dalam shalat. Maka hendaknya jadikan shalat kita kekhidmat dan sekhusyuk mungkin.Baca Juga:Wallahu a’lam. Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid

Mengganggu Shalat Adalah Perbuatan Setan

Tidak boleh seseorang secara langsung atau secara tidak langsung menimbulkan gangguan pada orang-orang yang sedang shalat. Karena mengganggu orang yang shalat adalah diantara perbuatan setan. Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah: 91).Baca Juga: Setan Benci Adzan, Muslim Rindu dan Memenuhi Panggilan AdzanSetan mengganggu shalat seseorang sehingga bacaannya menjadi kacau. Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu’anhu ia berkata:يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّيWahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim no.2203).Setan mengganggu shalat seseorang dengan menimbulkan was-was pada dirinya sehingga seolah-olah dia telah batal wudhunya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يأتي الشيطانُ أحَدَكُم فَيَنْقُرًُ عِنْدَ عِجانِهِ ، فلا ينصرِفُ حتى يَسْمَعَ صوتاً أو يَجِدَ ريحاً“Setan mendatangi kalian lalu meniup-niup pada dubur kalian (sehingga muncul was-was). Maka janganlah membatalkan shalat kecuali mendengar suara atau merasakan angin” (HR. Thabrani no.11948, Al Baihaqi no.3509, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.3026).Baca Juga: Awas, Ada Setan Di Sisi Anda!Shaf shalat yang tidak lurus dan tidak rapat akan membuat celah bagi setan untuk Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ“Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Sejajarkan leher-leher. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat setan masuk dari celah shaf, seakan-akan setan itu anak-anak kambing” (HR. Abu Daud no. 667, An Nasa-i no. 815, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Orang yang lewat di depan orang yang shalat, dapat mengganggu orang yang shalat tersebut. Orang yang lewat ini disebut oleh Nabi sebagai setan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505).Baca Juga: Jangan Buat Setan TertawaDalil-dalil di atas menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan mengganggu shalat adalah perbuatan setan. Maka tidak boleh melakukan segala hal yang dapat mengganggu shalat orang lain dengan sengaja. Dan wajib menghilangkan semua hal yang bisa mengganggu shalat, baik berupa suara-suara yang bising, anak-anak kecil yang bermain-main ketika shalat, gambar-gambar yang mengganggu shalat, dan semisalnya.Shalat adalah ibadah yang agung, kita sedang menghadap Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, dalam shalat. Maka hendaknya jadikan shalat kita kekhidmat dan sekhusyuk mungkin.Baca Juga:Wallahu a’lam. Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid
Tidak boleh seseorang secara langsung atau secara tidak langsung menimbulkan gangguan pada orang-orang yang sedang shalat. Karena mengganggu orang yang shalat adalah diantara perbuatan setan. Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah: 91).Baca Juga: Setan Benci Adzan, Muslim Rindu dan Memenuhi Panggilan AdzanSetan mengganggu shalat seseorang sehingga bacaannya menjadi kacau. Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu’anhu ia berkata:يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّيWahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim no.2203).Setan mengganggu shalat seseorang dengan menimbulkan was-was pada dirinya sehingga seolah-olah dia telah batal wudhunya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يأتي الشيطانُ أحَدَكُم فَيَنْقُرًُ عِنْدَ عِجانِهِ ، فلا ينصرِفُ حتى يَسْمَعَ صوتاً أو يَجِدَ ريحاً“Setan mendatangi kalian lalu meniup-niup pada dubur kalian (sehingga muncul was-was). Maka janganlah membatalkan shalat kecuali mendengar suara atau merasakan angin” (HR. Thabrani no.11948, Al Baihaqi no.3509, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.3026).Baca Juga: Awas, Ada Setan Di Sisi Anda!Shaf shalat yang tidak lurus dan tidak rapat akan membuat celah bagi setan untuk Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ“Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Sejajarkan leher-leher. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat setan masuk dari celah shaf, seakan-akan setan itu anak-anak kambing” (HR. Abu Daud no. 667, An Nasa-i no. 815, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Orang yang lewat di depan orang yang shalat, dapat mengganggu orang yang shalat tersebut. Orang yang lewat ini disebut oleh Nabi sebagai setan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505).Baca Juga: Jangan Buat Setan TertawaDalil-dalil di atas menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan mengganggu shalat adalah perbuatan setan. Maka tidak boleh melakukan segala hal yang dapat mengganggu shalat orang lain dengan sengaja. Dan wajib menghilangkan semua hal yang bisa mengganggu shalat, baik berupa suara-suara yang bising, anak-anak kecil yang bermain-main ketika shalat, gambar-gambar yang mengganggu shalat, dan semisalnya.Shalat adalah ibadah yang agung, kita sedang menghadap Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, dalam shalat. Maka hendaknya jadikan shalat kita kekhidmat dan sekhusyuk mungkin.Baca Juga:Wallahu a’lam. Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid


Tidak boleh seseorang secara langsung atau secara tidak langsung menimbulkan gangguan pada orang-orang yang sedang shalat. Karena mengganggu orang yang shalat adalah diantara perbuatan setan. Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat” (QS. Al Maidah: 91).Baca Juga: Setan Benci Adzan, Muslim Rindu dan Memenuhi Panggilan AdzanSetan mengganggu shalat seseorang sehingga bacaannya menjadi kacau. Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu’anhu ia berkata:يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّيWahai Rasulullah, setan telah menghalangi antara aku dan shalatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim no.2203).Setan mengganggu shalat seseorang dengan menimbulkan was-was pada dirinya sehingga seolah-olah dia telah batal wudhunya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يأتي الشيطانُ أحَدَكُم فَيَنْقُرًُ عِنْدَ عِجانِهِ ، فلا ينصرِفُ حتى يَسْمَعَ صوتاً أو يَجِدَ ريحاً“Setan mendatangi kalian lalu meniup-niup pada dubur kalian (sehingga muncul was-was). Maka janganlah membatalkan shalat kecuali mendengar suara atau merasakan angin” (HR. Thabrani no.11948, Al Baihaqi no.3509, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.3026).Baca Juga: Awas, Ada Setan Di Sisi Anda!Shaf shalat yang tidak lurus dan tidak rapat akan membuat celah bagi setan untuk Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ“Rapatkanlah shaf-shaf kalian! Dekatkanlah di antara shaf-shaf tersebut! Sejajarkan leher-leher. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat setan masuk dari celah shaf, seakan-akan setan itu anak-anak kambing” (HR. Abu Daud no. 667, An Nasa-i no. 815, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Orang yang lewat di depan orang yang shalat, dapat mengganggu orang yang shalat tersebut. Orang yang lewat ini disebut oleh Nabi sebagai setan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509, Muslim 505).Baca Juga: Jangan Buat Setan TertawaDalil-dalil di atas menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan mengganggu shalat adalah perbuatan setan. Maka tidak boleh melakukan segala hal yang dapat mengganggu shalat orang lain dengan sengaja. Dan wajib menghilangkan semua hal yang bisa mengganggu shalat, baik berupa suara-suara yang bising, anak-anak kecil yang bermain-main ketika shalat, gambar-gambar yang mengganggu shalat, dan semisalnya.Shalat adalah ibadah yang agung, kita sedang menghadap Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, dalam shalat. Maka hendaknya jadikan shalat kita kekhidmat dan sekhusyuk mungkin.Baca Juga:Wallahu a’lam. Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Tata Cara Sholat Jenazah Rumaysho, Hadist Tentang Hutang Piutang, Pengertian Hadist Qudsi, Kenapa Aku Belum Hamil Ya Allah, Orang Ke Masjid
Prev     Next