Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Salah Satu Tanda Anak Durhaka

Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat

Salah Satu Tanda Anak Durhaka

Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat
Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat


Ada sebuah perkataan hikmah yang banyak tersebar di internet,إذا بدأ والداك بمداراتك ، وانتقاء كلماتهم معك خوفًا من انزعاجك وغضبك فاعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu ber-mudarah terhadapmu, dan melembutkan perkataan di depanmu, karena khawatir engkau jengkel dan takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Mudarah artinya berlemah lembut.Atau, dalam redaksi yang lain disebutkan,إذا بدأ والديك بتليين الكلام معك في النقاش خوفاً من غضبك فأعلم أنك عاق“Jika kedua orang tuamu melembutkan perkataan di depanmu ketika berdiskusi denganmu, karena takut akan kemarahanmu, maka ketahuilah kamu adalah anak durhaka”.Sebagian orang menisbatkan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak Rahimahullah (wafat 181H). Namun, kami belum menemukan sumber referensinya. Bahkan banyak yang mengingkari penisbatan perkataan ini kepada Abdullah bin Mubarak.Adapun secara makna, perkataan di atas benar. Orang yang terpaksa disikapi dengan lembut dan baik, karena khawatir atau takut akan keburukan dirinya, justru dia adalah orang yang paling buruk.Sebagaimana hadis dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata,أنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ فِي الْقَوْلِ فَقَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ“Ada seorang lelaki yang ingin bertemu Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka Nabi bersabda (kepada Aisyah), ‘biarkan ia masuk, namun sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk anak teman kita atau seburuk-buruk teman’. Namun ketika lelaki tersebut masuk, Nabi ternyata berkata-kata dengan perkataan yang lembut kepadanya. Maka Aisyah bertanya, ‘wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan yang engkau katakan, namun mengapa engkau melembutkan perkataan kepadanya?’. Nabi bersabda, ‘wahai Aisyah, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah yang dijauhi orang-orang atau diwaspadai oleh orang-orang karena khawatir akan keburukan sikapnya’” (HR. Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591).Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berlemah lembut kepada seseorang karena khawatir akan keburukannya. Orang tersebut bukan menjadi orang yang mulia karena Nabi berlemah lembut kepadanya, justru ia menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah.Para salaf pun dahulu ber-mudarah (bersikap lembut) dalam rangka menghindarkan diri dari gangguan orang-orang yang buruk. Abud Darda’ Radhiallahu’anhu berkata,إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم، وإنَّ قلوبنا لتلعنهم“Sungguh kami pernah tersenyum dan tertawa bersama suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka” (Hilyatul Auliya, 1/222).Demikian juga dalam hadis dari Fadhalah bin Ubaid Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no.23958, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.549).Ketika ada orang yang orang lain tidak merasa aman dari gangguannya, bahkan merasa ketakutan dan khawatir, ini indikasi orang tersebut imannya bermasalah. Apalagi jika yang takut kepada dia itu adalah orang tuanya.Maka jelas, anak yang membuat orang tuanya takut akan keburukannya, takut ketika anaknya marah, ini adalah anak yang paling buruk dan anak durhaka.Semoga Allah jadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua.Baca Juga:***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Niat, Istri Yang Tidak Taat Pada Suami, Ilmu Malaikat Jibril, Islami Co, Syiah Yang Tidak Sesat

Jalan-Jalan Menuju Surga (02)

Baca pembahasan sebelumnya Jalan-Jalan Menuju Surga (01)Surga Memiliki Banyak TingkatanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ“Sesungguhnya surga memiliki seratus derajat (tingkatan ke atas, pen.) yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat itu sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari no. 7423)Dalam hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِي الجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ“Surga memiliki seratus tingkatan. Jarak antara dua tingkatan itu seratus tahun (perjalanan, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2529, shahih)  Surga, Tempat Tinggal dan Kedudukan Paling TinggiDari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ «بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ»“Sesungguhnya penghuni surga benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang terang lewat dari ufuk timur atau barat karena perbedaan keutamaan di antara mereka.”Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para Nabi yang tidak akan mungkin dicapai oleh selain mereka?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Muslim no. 2831)Dari  Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ: رَبِّ، فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ“Musa berkata, ‘(Bagaimana dengan nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya di surga?’ Rabb menjawab, ‘Mereka itu orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tanganku, dan Aku menutup (kemuliaan) itu. Ia belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Muslim no. 189)Kamar-Kamar di SurgaPenduduk surga memiliki kamar-kamar, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah Telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]: 20)Dari ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا  “Sesungguhnya surga itu memiliki kamar. Sisi luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga sisi dalamnya dapat dilihat dari luar.”Kemudian seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa, dan suka melakukan shalat karena Allah di waktu malam ketika manusia tidur terlelap.” (HR. Tirmidzi no. 1984, dinilai hasan oleh Al-Albani.) [Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Makan Sebelum Lapar Berhenti Sebelum Kenyang, Ketentuan Puasa Sunnah, Pengertian Iman Secara Bahasa Dan Istilah, Sejarah Abu Bakar Ash Shiddiq, Onani Menurut Islam

Jalan-Jalan Menuju Surga (02)

Baca pembahasan sebelumnya Jalan-Jalan Menuju Surga (01)Surga Memiliki Banyak TingkatanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ“Sesungguhnya surga memiliki seratus derajat (tingkatan ke atas, pen.) yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat itu sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari no. 7423)Dalam hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِي الجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ“Surga memiliki seratus tingkatan. Jarak antara dua tingkatan itu seratus tahun (perjalanan, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2529, shahih)  Surga, Tempat Tinggal dan Kedudukan Paling TinggiDari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ «بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ»“Sesungguhnya penghuni surga benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang terang lewat dari ufuk timur atau barat karena perbedaan keutamaan di antara mereka.”Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para Nabi yang tidak akan mungkin dicapai oleh selain mereka?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Muslim no. 2831)Dari  Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ: رَبِّ، فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ“Musa berkata, ‘(Bagaimana dengan nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya di surga?’ Rabb menjawab, ‘Mereka itu orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tanganku, dan Aku menutup (kemuliaan) itu. Ia belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Muslim no. 189)Kamar-Kamar di SurgaPenduduk surga memiliki kamar-kamar, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah Telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]: 20)Dari ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا  “Sesungguhnya surga itu memiliki kamar. Sisi luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga sisi dalamnya dapat dilihat dari luar.”Kemudian seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa, dan suka melakukan shalat karena Allah di waktu malam ketika manusia tidur terlelap.” (HR. Tirmidzi no. 1984, dinilai hasan oleh Al-Albani.) [Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Makan Sebelum Lapar Berhenti Sebelum Kenyang, Ketentuan Puasa Sunnah, Pengertian Iman Secara Bahasa Dan Istilah, Sejarah Abu Bakar Ash Shiddiq, Onani Menurut Islam
Baca pembahasan sebelumnya Jalan-Jalan Menuju Surga (01)Surga Memiliki Banyak TingkatanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ“Sesungguhnya surga memiliki seratus derajat (tingkatan ke atas, pen.) yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat itu sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari no. 7423)Dalam hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِي الجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ“Surga memiliki seratus tingkatan. Jarak antara dua tingkatan itu seratus tahun (perjalanan, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2529, shahih)  Surga, Tempat Tinggal dan Kedudukan Paling TinggiDari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ «بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ»“Sesungguhnya penghuni surga benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang terang lewat dari ufuk timur atau barat karena perbedaan keutamaan di antara mereka.”Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para Nabi yang tidak akan mungkin dicapai oleh selain mereka?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Muslim no. 2831)Dari  Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ: رَبِّ، فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ“Musa berkata, ‘(Bagaimana dengan nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya di surga?’ Rabb menjawab, ‘Mereka itu orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tanganku, dan Aku menutup (kemuliaan) itu. Ia belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Muslim no. 189)Kamar-Kamar di SurgaPenduduk surga memiliki kamar-kamar, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah Telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]: 20)Dari ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا  “Sesungguhnya surga itu memiliki kamar. Sisi luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga sisi dalamnya dapat dilihat dari luar.”Kemudian seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa, dan suka melakukan shalat karena Allah di waktu malam ketika manusia tidur terlelap.” (HR. Tirmidzi no. 1984, dinilai hasan oleh Al-Albani.) [Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Makan Sebelum Lapar Berhenti Sebelum Kenyang, Ketentuan Puasa Sunnah, Pengertian Iman Secara Bahasa Dan Istilah, Sejarah Abu Bakar Ash Shiddiq, Onani Menurut Islam


Baca pembahasan sebelumnya Jalan-Jalan Menuju Surga (01)Surga Memiliki Banyak TingkatanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ“Sesungguhnya surga memiliki seratus derajat (tingkatan ke atas, pen.) yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat itu sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari no. 7423)Dalam hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فِي الجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ“Surga memiliki seratus tingkatan. Jarak antara dua tingkatan itu seratus tahun (perjalanan, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2529, shahih)  Surga, Tempat Tinggal dan Kedudukan Paling TinggiDari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ «بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ»“Sesungguhnya penghuni surga benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang terang lewat dari ufuk timur atau barat karena perbedaan keutamaan di antara mereka.”Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para Nabi yang tidak akan mungkin dicapai oleh selain mereka?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Muslim no. 2831)Dari  Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَالَ: رَبِّ، فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ“Musa berkata, ‘(Bagaimana dengan nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya di surga?’ Rabb menjawab, ‘Mereka itu orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tanganku, dan Aku menutup (kemuliaan) itu. Ia belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Muslim no. 189)Kamar-Kamar di SurgaPenduduk surga memiliki kamar-kamar, sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah Telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]: 20)Dari ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا  “Sesungguhnya surga itu memiliki kamar. Sisi luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga sisi dalamnya dapat dilihat dari luar.”Kemudian seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ“Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa, dan suka melakukan shalat karena Allah di waktu malam ketika manusia tidur terlelap.” (HR. Tirmidzi no. 1984, dinilai hasan oleh Al-Albani.) [Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Makan Sebelum Lapar Berhenti Sebelum Kenyang, Ketentuan Puasa Sunnah, Pengertian Iman Secara Bahasa Dan Istilah, Sejarah Abu Bakar Ash Shiddiq, Onani Menurut Islam

Jalan-Jalan Menuju Surga (01)

Surga adalah tempat yang telah Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Setiap orang beriman pasti menginginkan agar dapat menuju surga-Nya kelak di hari kiamat. Kenikmatan yang Allah Ta’ala siapkan di surga sungguh tiada terkira. Syariat pun menyebutkan berbagai sifat atau kenikmatan yang akan didapatkan di surga sebagai motivasi bagi para hamba-Nya untuk bersemangat melaksanakan berbagai macam amal ketaatan.Dalam tulisan serial ini, akan kami sebutkan beberapa sifat atau gambaran surga yang telah dijelaskan dalam berbagai dalil syariat.Surga Tidak Hanya SatuSurga yang Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya tidak hanya satu, akan tetapi banyak. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu,أُصِيبَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلاَمٌ، فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي، فَإِنْ يَكُنْ فِي الجَنَّةِ أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ، وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ، فَقَالَ: «وَيْحَكِ، أَوَهَبِلْتِ، أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ، إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الفِرْدَوْسِ»“Pada saat perang Badar, Haritsah terluka padahal dia masih kecil. Datanglah ibunya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di sisiku. Seandainya dia di surga aku akan bersabar dan berharap memperoleh pahala. Namun kalau keadaannya lain, menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?’Rasulullah menjawab, ‘Janganlah begitu (tenanglah). Atau kamu merasa berat ditinggal anakmu atau kamu mengira bahwa surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, dan anakmu sekarang berada di surga Firdaus.’” (HR. Bukhari no. 3982 dan 6550)Surga Firdaus, Surga yang Paling Tinggi dan Paling TengahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 7423)Luasnya SurgaLuasnya surga adalah seluas langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala,سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid [57]: 21)Surga sangatlah luas, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} [الواقعة: 30]“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang seseorang berjalan (menyusuri) bayangan pohon tersebut selama seratus tahun (perjalanan). Jika kalian menghendaki, bacalah (firman Allah Ta’ala yang artinya), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (QS. Al-Waqi’ah [56]: 30).” (HR. Bukhari no. 3252)Jika demikian, mungkin muncul pertanyaan, lalu di manakah neraka?Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ جَنَّةً عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، فَأَيْنَ النَّارُ؟“Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang surga yang seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَرَأَيْتَ هَذَا اللَّيْلَ الَّذِي قَدْ كَانَ أَلْبَسَ عَلَيْكَ كُلَّ شَيْءٌ ، ثُمَّ لَيْسَ شَيْءٌ، أَيْنَ جُعِلَ؟“Apa pendapatmu tentang malam ini yang menutupi segala sesuatu dari pandanganmu, kemudian malam itu hilang. Di manakah malam itu pergi?”Laki-laki itu menjawab, “Allahu a’lam.”Rasulullah lalu bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 103) [1][Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2892. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” 🔍 Memakmurkan Masjid, Doa Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Doa Mendoakan Orang Sakit Dari Jauh, Fasilitas Pesantren Al Bayyinah Pekanbaru, Hadits Tentang Kesabaran

Jalan-Jalan Menuju Surga (01)

Surga adalah tempat yang telah Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Setiap orang beriman pasti menginginkan agar dapat menuju surga-Nya kelak di hari kiamat. Kenikmatan yang Allah Ta’ala siapkan di surga sungguh tiada terkira. Syariat pun menyebutkan berbagai sifat atau kenikmatan yang akan didapatkan di surga sebagai motivasi bagi para hamba-Nya untuk bersemangat melaksanakan berbagai macam amal ketaatan.Dalam tulisan serial ini, akan kami sebutkan beberapa sifat atau gambaran surga yang telah dijelaskan dalam berbagai dalil syariat.Surga Tidak Hanya SatuSurga yang Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya tidak hanya satu, akan tetapi banyak. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu,أُصِيبَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلاَمٌ، فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي، فَإِنْ يَكُنْ فِي الجَنَّةِ أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ، وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ، فَقَالَ: «وَيْحَكِ، أَوَهَبِلْتِ، أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ، إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الفِرْدَوْسِ»“Pada saat perang Badar, Haritsah terluka padahal dia masih kecil. Datanglah ibunya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di sisiku. Seandainya dia di surga aku akan bersabar dan berharap memperoleh pahala. Namun kalau keadaannya lain, menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?’Rasulullah menjawab, ‘Janganlah begitu (tenanglah). Atau kamu merasa berat ditinggal anakmu atau kamu mengira bahwa surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, dan anakmu sekarang berada di surga Firdaus.’” (HR. Bukhari no. 3982 dan 6550)Surga Firdaus, Surga yang Paling Tinggi dan Paling TengahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 7423)Luasnya SurgaLuasnya surga adalah seluas langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala,سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid [57]: 21)Surga sangatlah luas, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} [الواقعة: 30]“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang seseorang berjalan (menyusuri) bayangan pohon tersebut selama seratus tahun (perjalanan). Jika kalian menghendaki, bacalah (firman Allah Ta’ala yang artinya), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (QS. Al-Waqi’ah [56]: 30).” (HR. Bukhari no. 3252)Jika demikian, mungkin muncul pertanyaan, lalu di manakah neraka?Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ جَنَّةً عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، فَأَيْنَ النَّارُ؟“Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang surga yang seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَرَأَيْتَ هَذَا اللَّيْلَ الَّذِي قَدْ كَانَ أَلْبَسَ عَلَيْكَ كُلَّ شَيْءٌ ، ثُمَّ لَيْسَ شَيْءٌ، أَيْنَ جُعِلَ؟“Apa pendapatmu tentang malam ini yang menutupi segala sesuatu dari pandanganmu, kemudian malam itu hilang. Di manakah malam itu pergi?”Laki-laki itu menjawab, “Allahu a’lam.”Rasulullah lalu bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 103) [1][Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2892. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” 🔍 Memakmurkan Masjid, Doa Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Doa Mendoakan Orang Sakit Dari Jauh, Fasilitas Pesantren Al Bayyinah Pekanbaru, Hadits Tentang Kesabaran
Surga adalah tempat yang telah Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Setiap orang beriman pasti menginginkan agar dapat menuju surga-Nya kelak di hari kiamat. Kenikmatan yang Allah Ta’ala siapkan di surga sungguh tiada terkira. Syariat pun menyebutkan berbagai sifat atau kenikmatan yang akan didapatkan di surga sebagai motivasi bagi para hamba-Nya untuk bersemangat melaksanakan berbagai macam amal ketaatan.Dalam tulisan serial ini, akan kami sebutkan beberapa sifat atau gambaran surga yang telah dijelaskan dalam berbagai dalil syariat.Surga Tidak Hanya SatuSurga yang Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya tidak hanya satu, akan tetapi banyak. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu,أُصِيبَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلاَمٌ، فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي، فَإِنْ يَكُنْ فِي الجَنَّةِ أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ، وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ، فَقَالَ: «وَيْحَكِ، أَوَهَبِلْتِ، أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ، إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الفِرْدَوْسِ»“Pada saat perang Badar, Haritsah terluka padahal dia masih kecil. Datanglah ibunya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di sisiku. Seandainya dia di surga aku akan bersabar dan berharap memperoleh pahala. Namun kalau keadaannya lain, menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?’Rasulullah menjawab, ‘Janganlah begitu (tenanglah). Atau kamu merasa berat ditinggal anakmu atau kamu mengira bahwa surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, dan anakmu sekarang berada di surga Firdaus.’” (HR. Bukhari no. 3982 dan 6550)Surga Firdaus, Surga yang Paling Tinggi dan Paling TengahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 7423)Luasnya SurgaLuasnya surga adalah seluas langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala,سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid [57]: 21)Surga sangatlah luas, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} [الواقعة: 30]“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang seseorang berjalan (menyusuri) bayangan pohon tersebut selama seratus tahun (perjalanan). Jika kalian menghendaki, bacalah (firman Allah Ta’ala yang artinya), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (QS. Al-Waqi’ah [56]: 30).” (HR. Bukhari no. 3252)Jika demikian, mungkin muncul pertanyaan, lalu di manakah neraka?Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ جَنَّةً عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، فَأَيْنَ النَّارُ؟“Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang surga yang seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَرَأَيْتَ هَذَا اللَّيْلَ الَّذِي قَدْ كَانَ أَلْبَسَ عَلَيْكَ كُلَّ شَيْءٌ ، ثُمَّ لَيْسَ شَيْءٌ، أَيْنَ جُعِلَ؟“Apa pendapatmu tentang malam ini yang menutupi segala sesuatu dari pandanganmu, kemudian malam itu hilang. Di manakah malam itu pergi?”Laki-laki itu menjawab, “Allahu a’lam.”Rasulullah lalu bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 103) [1][Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2892. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” 🔍 Memakmurkan Masjid, Doa Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Doa Mendoakan Orang Sakit Dari Jauh, Fasilitas Pesantren Al Bayyinah Pekanbaru, Hadits Tentang Kesabaran


Surga adalah tempat yang telah Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Setiap orang beriman pasti menginginkan agar dapat menuju surga-Nya kelak di hari kiamat. Kenikmatan yang Allah Ta’ala siapkan di surga sungguh tiada terkira. Syariat pun menyebutkan berbagai sifat atau kenikmatan yang akan didapatkan di surga sebagai motivasi bagi para hamba-Nya untuk bersemangat melaksanakan berbagai macam amal ketaatan.Dalam tulisan serial ini, akan kami sebutkan beberapa sifat atau gambaran surga yang telah dijelaskan dalam berbagai dalil syariat.Surga Tidak Hanya SatuSurga yang Allah Ta’ala siapkan untuk hamba-hambaNya tidak hanya satu, akan tetapi banyak. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu,أُصِيبَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ غُلاَمٌ، فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَرَفْتَ مَنْزِلَةَ حَارِثَةَ مِنِّي، فَإِنْ يَكُنْ فِي الجَنَّةِ أَصْبِرْ وَأَحْتَسِبْ، وَإِنْ تَكُ الأُخْرَى تَرَى مَا أَصْنَعُ، فَقَالَ: «وَيْحَكِ، أَوَهَبِلْتِ، أَوَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ، إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي جَنَّةِ الفِرْدَوْسِ»“Pada saat perang Badar, Haritsah terluka padahal dia masih kecil. Datanglah ibunya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di sisiku. Seandainya dia di surga aku akan bersabar dan berharap memperoleh pahala. Namun kalau keadaannya lain, menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?’Rasulullah menjawab, ‘Janganlah begitu (tenanglah). Atau kamu merasa berat ditinggal anakmu atau kamu mengira bahwa surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, dan anakmu sekarang berada di surga Firdaus.’” (HR. Bukhari no. 3982 dan 6550)Surga Firdaus, Surga yang Paling Tinggi dan Paling TengahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 7423)Luasnya SurgaLuasnya surga adalah seluas langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala,سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid [57]: 21)Surga sangatlah luas, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} [الواقعة: 30]“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang seseorang berjalan (menyusuri) bayangan pohon tersebut selama seratus tahun (perjalanan). Jika kalian menghendaki, bacalah (firman Allah Ta’ala yang artinya), ‘dan naungan yang terbentang luas’ (QS. Al-Waqi’ah [56]: 30).” (HR. Bukhari no. 3252)Jika demikian, mungkin muncul pertanyaan, lalu di manakah neraka?Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ جَنَّةً عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، فَأَيْنَ النَّارُ؟“Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa pendapatmu tentang surga yang seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَرَأَيْتَ هَذَا اللَّيْلَ الَّذِي قَدْ كَانَ أَلْبَسَ عَلَيْكَ كُلَّ شَيْءٌ ، ثُمَّ لَيْسَ شَيْءٌ، أَيْنَ جُعِلَ؟“Apa pendapatmu tentang malam ini yang menutupi segala sesuatu dari pandanganmu, kemudian malam itu hilang. Di manakah malam itu pergi?”Laki-laki itu menjawab, “Allahu a’lam.”Rasulullah lalu bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 103) [1][Bersambung]***Diselesaikan di tengah badai salju, Rotterdam NL 21 Rabi’ul awwal 1439/10 Desember 2017Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2892. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” 🔍 Memakmurkan Masjid, Doa Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Doa Mendoakan Orang Sakit Dari Jauh, Fasilitas Pesantren Al Bayyinah Pekanbaru, Hadits Tentang Kesabaran

Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Waktu Pelaksanaan UmrohSeseorang boleh melaksanakan umroh di seluruh hari dalam sepanjang tahun, inilah pendapat Jumhur Ulama rahimahumullah, hanya saja umroh yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan selainnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (1782) dan Imam Muslim (1256) dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada wanita dari kalangan Al-Anshor :(فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً ) وفي رواية لمسلم : ( حجة معي ) “Jika datang Ramadhan, maka tunaikan umroh, karena sesungguhnya umroh pada bulan Ramadhan sepadan dengan (pahala) haji”Dalam riwayat Imam Muslim : “(ٍٍSepadan) dengan (pahala) haji yang dilakukan bersamaku”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].Baca Juga: Mengenal ThawafBoleh Melaksanakan Umroh Sebelum BerhajiDari Ikrimah bin Khalid bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang menunaikan umroh sebelum menunaikan haji, lalu beliau menjawab : “Tidak mengapa”.Ikrimah mengatakan :“Ibnu Umar menuturkan : اعتمرالنبي ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قبل أن يحج“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menunaikan umroh sebelum beliau menunaikan haji.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].Apa Saja yang Dilakukan dalam Ibadah Umroh?Banyak ibadah-ibadah yang bisa dilakukan saat seseorang melakukan umroh, namun terdapat empat ibadah pokok yang terkandung dalam ibadah umroh, yaitu : Al-Ihram. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa. Menggundul atau memendekkan rambut kepala. Selanjutnya, para ulama mengklasifikasikan keempat ibadah pokok tersebut kedalam perkara-perkara: rukun, wajib dan sunnah umroh. Berikut ini perinciannya:Baca Juga: Fikih Haji (8): Kesalahan-Kesalahan Seputar Haji Rukun umrohRukun umroh ada tiga, yaitu: Ihram, yaitu: niat masuk kedalam ibadah umroh. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa Barangsiapa yang tidak mengerjakan rukun ihram, maka ia belumlah memasuki ibadah umroh sama sekali.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung kepada niatnya, dan seseorang hanyalah mendapatkan apa yang diniatkannya. [Muttafaqun ‘alaih].Adapun orang yang meninggalkan rukun lainnya selain ihram, (yaitu : thowaf atau sa’i), maka tidak batal umrohnya, hanya saja ia diharuskan melakukan thowaf atau sa’i yang ditinggalkannya.Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِDan tunaikanlah sampai selesai ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.  [Q.S. Al-Baqarah : 196].Baca Juga:(Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Waktu Pelaksanaan UmrohSeseorang boleh melaksanakan umroh di seluruh hari dalam sepanjang tahun, inilah pendapat Jumhur Ulama rahimahumullah, hanya saja umroh yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan selainnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (1782) dan Imam Muslim (1256) dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada wanita dari kalangan Al-Anshor :(فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً ) وفي رواية لمسلم : ( حجة معي ) “Jika datang Ramadhan, maka tunaikan umroh, karena sesungguhnya umroh pada bulan Ramadhan sepadan dengan (pahala) haji”Dalam riwayat Imam Muslim : “(ٍٍSepadan) dengan (pahala) haji yang dilakukan bersamaku”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].Baca Juga: Mengenal ThawafBoleh Melaksanakan Umroh Sebelum BerhajiDari Ikrimah bin Khalid bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang menunaikan umroh sebelum menunaikan haji, lalu beliau menjawab : “Tidak mengapa”.Ikrimah mengatakan :“Ibnu Umar menuturkan : اعتمرالنبي ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قبل أن يحج“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menunaikan umroh sebelum beliau menunaikan haji.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].Apa Saja yang Dilakukan dalam Ibadah Umroh?Banyak ibadah-ibadah yang bisa dilakukan saat seseorang melakukan umroh, namun terdapat empat ibadah pokok yang terkandung dalam ibadah umroh, yaitu : Al-Ihram. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa. Menggundul atau memendekkan rambut kepala. Selanjutnya, para ulama mengklasifikasikan keempat ibadah pokok tersebut kedalam perkara-perkara: rukun, wajib dan sunnah umroh. Berikut ini perinciannya:Baca Juga: Fikih Haji (8): Kesalahan-Kesalahan Seputar Haji Rukun umrohRukun umroh ada tiga, yaitu: Ihram, yaitu: niat masuk kedalam ibadah umroh. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa Barangsiapa yang tidak mengerjakan rukun ihram, maka ia belumlah memasuki ibadah umroh sama sekali.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung kepada niatnya, dan seseorang hanyalah mendapatkan apa yang diniatkannya. [Muttafaqun ‘alaih].Adapun orang yang meninggalkan rukun lainnya selain ihram, (yaitu : thowaf atau sa’i), maka tidak batal umrohnya, hanya saja ia diharuskan melakukan thowaf atau sa’i yang ditinggalkannya.Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِDan tunaikanlah sampai selesai ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.  [Q.S. Al-Baqarah : 196].Baca Juga:(Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Waktu Pelaksanaan UmrohSeseorang boleh melaksanakan umroh di seluruh hari dalam sepanjang tahun, inilah pendapat Jumhur Ulama rahimahumullah, hanya saja umroh yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan selainnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (1782) dan Imam Muslim (1256) dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada wanita dari kalangan Al-Anshor :(فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً ) وفي رواية لمسلم : ( حجة معي ) “Jika datang Ramadhan, maka tunaikan umroh, karena sesungguhnya umroh pada bulan Ramadhan sepadan dengan (pahala) haji”Dalam riwayat Imam Muslim : “(ٍٍSepadan) dengan (pahala) haji yang dilakukan bersamaku”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].Baca Juga: Mengenal ThawafBoleh Melaksanakan Umroh Sebelum BerhajiDari Ikrimah bin Khalid bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang menunaikan umroh sebelum menunaikan haji, lalu beliau menjawab : “Tidak mengapa”.Ikrimah mengatakan :“Ibnu Umar menuturkan : اعتمرالنبي ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قبل أن يحج“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menunaikan umroh sebelum beliau menunaikan haji.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].Apa Saja yang Dilakukan dalam Ibadah Umroh?Banyak ibadah-ibadah yang bisa dilakukan saat seseorang melakukan umroh, namun terdapat empat ibadah pokok yang terkandung dalam ibadah umroh, yaitu : Al-Ihram. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa. Menggundul atau memendekkan rambut kepala. Selanjutnya, para ulama mengklasifikasikan keempat ibadah pokok tersebut kedalam perkara-perkara: rukun, wajib dan sunnah umroh. Berikut ini perinciannya:Baca Juga: Fikih Haji (8): Kesalahan-Kesalahan Seputar Haji Rukun umrohRukun umroh ada tiga, yaitu: Ihram, yaitu: niat masuk kedalam ibadah umroh. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa Barangsiapa yang tidak mengerjakan rukun ihram, maka ia belumlah memasuki ibadah umroh sama sekali.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung kepada niatnya, dan seseorang hanyalah mendapatkan apa yang diniatkannya. [Muttafaqun ‘alaih].Adapun orang yang meninggalkan rukun lainnya selain ihram, (yaitu : thowaf atau sa’i), maka tidak batal umrohnya, hanya saja ia diharuskan melakukan thowaf atau sa’i yang ditinggalkannya.Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِDan tunaikanlah sampai selesai ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.  [Q.S. Al-Baqarah : 196].Baca Juga:(Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Bimbingan Praktis Umrah (Bag. 2)Waktu Pelaksanaan UmrohSeseorang boleh melaksanakan umroh di seluruh hari dalam sepanjang tahun, inilah pendapat Jumhur Ulama rahimahumullah, hanya saja umroh yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan selainnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (1782) dan Imam Muslim (1256) dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada wanita dari kalangan Al-Anshor :(فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً ) وفي رواية لمسلم : ( حجة معي ) “Jika datang Ramadhan, maka tunaikan umroh, karena sesungguhnya umroh pada bulan Ramadhan sepadan dengan (pahala) haji”Dalam riwayat Imam Muslim : “(ٍٍSepadan) dengan (pahala) haji yang dilakukan bersamaku”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].Baca Juga: Mengenal ThawafBoleh Melaksanakan Umroh Sebelum BerhajiDari Ikrimah bin Khalid bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang menunaikan umroh sebelum menunaikan haji, lalu beliau menjawab : “Tidak mengapa”.Ikrimah mengatakan :“Ibnu Umar menuturkan : اعتمرالنبي ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قبل أن يحج“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menunaikan umroh sebelum beliau menunaikan haji.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].Apa Saja yang Dilakukan dalam Ibadah Umroh?Banyak ibadah-ibadah yang bisa dilakukan saat seseorang melakukan umroh, namun terdapat empat ibadah pokok yang terkandung dalam ibadah umroh, yaitu : Al-Ihram. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa. Menggundul atau memendekkan rambut kepala. Selanjutnya, para ulama mengklasifikasikan keempat ibadah pokok tersebut kedalam perkara-perkara: rukun, wajib dan sunnah umroh. Berikut ini perinciannya:Baca Juga: Fikih Haji (8): Kesalahan-Kesalahan Seputar Haji Rukun umrohRukun umroh ada tiga, yaitu: Ihram, yaitu: niat masuk kedalam ibadah umroh. Thawaf mengelilingi Ka’bah di Al-Baitul Haram. Sa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwa Barangsiapa yang tidak mengerjakan rukun ihram, maka ia belumlah memasuki ibadah umroh sama sekali.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung kepada niatnya, dan seseorang hanyalah mendapatkan apa yang diniatkannya. [Muttafaqun ‘alaih].Adapun orang yang meninggalkan rukun lainnya selain ihram, (yaitu : thowaf atau sa’i), maka tidak batal umrohnya, hanya saja ia diharuskan melakukan thowaf atau sa’i yang ditinggalkannya.Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِDan tunaikanlah sampai selesai ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.  [Q.S. Al-Baqarah : 196].Baca Juga:(Bersambung, in sya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Memakmurkan Masjid Allah

Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).Masjid adalah rumah Allah. Allah Ta’ala sandingkan dengan diri-Nya sendiri, sebagaimana firman-Nya yang lain,وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah [2]: 114).Hal ini menunjukkan kemuliaan dan agungnya kedudukan masjid di sisi Allah Ta’ala.Ada dua pengertian memakmurkan masjid Allah Ta’ala. Pertama, membangun masjid, memperindah atau memperkokoh bangunannya, namun ini hanya sekedar sarana saja, bukan tujuan utama memakmurkan masjid.Kedua, memakmurkan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya di dalam masjid tersebut. Oleh karena itu, di dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala menegaskan,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat … ” (QS. At-Taubah [9]: 18).Allah Ta’ala mengkhususkan upaya memakmurkan masjid dalam bentuk amal-amal ibadah tersebut, karena itulah tujuan yang sebenarnya. Tidaklah maksud memakmurkan masjid hanya sekedar bermegah-megah dengan bangunan masjid atau meninggikan bangunannya. Perkara-perkara seperti ini tidak ada nilainya dan tidak teranggap.Meskipun demikian, siapa saja yang membangun masjid dengan menginfakkan hartanya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, juga diniatkan untuk membantu kaum muslimin dalam menegakkan (melaksanakan) ibadah kepada Allah Ta’ala, maka hal ini merupakan maksud atau niat yang baik dan termasuk amal shalih. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ“Barangsiapa membangun masjid karena Allah Ta’ala, Allah akan buatkan yang semisal untuknya di surga” (HR. Tirmidzi no. 318 dan Ibnu Majah no. 736, shahih).Perhatikanlah sabda Nabi “karena Allah”, maksudnya tujuan kita adalah meraih pahala dan ridha dari Allah Ta’ala, bukan karena ingin berbangga diri di hadapan manusia, mendapatkan pujian atau agar namanya selalu dikenang sebagai orang yang membangun masjid tersebut, ini semua adalah niat yang batil , walau sebanyak apapun harta yang dia keluarkan untuk membangun masjid tersebut.Barangsiapa membangun masjid dengan niat yang ikhlas, maka termasuk amal yang paling utama. Lihatlah masjid yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya terbuat dari batu dan pelepah kurma. Ketika hujan pun menjadi bocor. Akan tetapi masjid tersebut menjadi masjid yang mulia, karena memang dibangun di atas ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang dilihat bukanlah megah dan besarnya bangunan, namun niat dan tujuan dari pembangunan masjid tersebut. Akan tetapi, jika bisa digabungkan antara niat yang baik dan bangunan yang kokoh, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini tentu lebih baik. Wallahu a’lam.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 2 Muharram 1439/23 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 67-68 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422) .🔍 Albani, Hukum Berpakaian Dalam Islam, Manfaat Shalat Taubat, Pengertian Islam Kaffah, Bahaya Riba

Memakmurkan Masjid Allah

Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).Masjid adalah rumah Allah. Allah Ta’ala sandingkan dengan diri-Nya sendiri, sebagaimana firman-Nya yang lain,وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah [2]: 114).Hal ini menunjukkan kemuliaan dan agungnya kedudukan masjid di sisi Allah Ta’ala.Ada dua pengertian memakmurkan masjid Allah Ta’ala. Pertama, membangun masjid, memperindah atau memperkokoh bangunannya, namun ini hanya sekedar sarana saja, bukan tujuan utama memakmurkan masjid.Kedua, memakmurkan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya di dalam masjid tersebut. Oleh karena itu, di dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala menegaskan,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat … ” (QS. At-Taubah [9]: 18).Allah Ta’ala mengkhususkan upaya memakmurkan masjid dalam bentuk amal-amal ibadah tersebut, karena itulah tujuan yang sebenarnya. Tidaklah maksud memakmurkan masjid hanya sekedar bermegah-megah dengan bangunan masjid atau meninggikan bangunannya. Perkara-perkara seperti ini tidak ada nilainya dan tidak teranggap.Meskipun demikian, siapa saja yang membangun masjid dengan menginfakkan hartanya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, juga diniatkan untuk membantu kaum muslimin dalam menegakkan (melaksanakan) ibadah kepada Allah Ta’ala, maka hal ini merupakan maksud atau niat yang baik dan termasuk amal shalih. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ“Barangsiapa membangun masjid karena Allah Ta’ala, Allah akan buatkan yang semisal untuknya di surga” (HR. Tirmidzi no. 318 dan Ibnu Majah no. 736, shahih).Perhatikanlah sabda Nabi “karena Allah”, maksudnya tujuan kita adalah meraih pahala dan ridha dari Allah Ta’ala, bukan karena ingin berbangga diri di hadapan manusia, mendapatkan pujian atau agar namanya selalu dikenang sebagai orang yang membangun masjid tersebut, ini semua adalah niat yang batil , walau sebanyak apapun harta yang dia keluarkan untuk membangun masjid tersebut.Barangsiapa membangun masjid dengan niat yang ikhlas, maka termasuk amal yang paling utama. Lihatlah masjid yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya terbuat dari batu dan pelepah kurma. Ketika hujan pun menjadi bocor. Akan tetapi masjid tersebut menjadi masjid yang mulia, karena memang dibangun di atas ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang dilihat bukanlah megah dan besarnya bangunan, namun niat dan tujuan dari pembangunan masjid tersebut. Akan tetapi, jika bisa digabungkan antara niat yang baik dan bangunan yang kokoh, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini tentu lebih baik. Wallahu a’lam.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 2 Muharram 1439/23 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 67-68 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422) .🔍 Albani, Hukum Berpakaian Dalam Islam, Manfaat Shalat Taubat, Pengertian Islam Kaffah, Bahaya Riba
Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).Masjid adalah rumah Allah. Allah Ta’ala sandingkan dengan diri-Nya sendiri, sebagaimana firman-Nya yang lain,وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah [2]: 114).Hal ini menunjukkan kemuliaan dan agungnya kedudukan masjid di sisi Allah Ta’ala.Ada dua pengertian memakmurkan masjid Allah Ta’ala. Pertama, membangun masjid, memperindah atau memperkokoh bangunannya, namun ini hanya sekedar sarana saja, bukan tujuan utama memakmurkan masjid.Kedua, memakmurkan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya di dalam masjid tersebut. Oleh karena itu, di dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala menegaskan,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat … ” (QS. At-Taubah [9]: 18).Allah Ta’ala mengkhususkan upaya memakmurkan masjid dalam bentuk amal-amal ibadah tersebut, karena itulah tujuan yang sebenarnya. Tidaklah maksud memakmurkan masjid hanya sekedar bermegah-megah dengan bangunan masjid atau meninggikan bangunannya. Perkara-perkara seperti ini tidak ada nilainya dan tidak teranggap.Meskipun demikian, siapa saja yang membangun masjid dengan menginfakkan hartanya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, juga diniatkan untuk membantu kaum muslimin dalam menegakkan (melaksanakan) ibadah kepada Allah Ta’ala, maka hal ini merupakan maksud atau niat yang baik dan termasuk amal shalih. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ“Barangsiapa membangun masjid karena Allah Ta’ala, Allah akan buatkan yang semisal untuknya di surga” (HR. Tirmidzi no. 318 dan Ibnu Majah no. 736, shahih).Perhatikanlah sabda Nabi “karena Allah”, maksudnya tujuan kita adalah meraih pahala dan ridha dari Allah Ta’ala, bukan karena ingin berbangga diri di hadapan manusia, mendapatkan pujian atau agar namanya selalu dikenang sebagai orang yang membangun masjid tersebut, ini semua adalah niat yang batil , walau sebanyak apapun harta yang dia keluarkan untuk membangun masjid tersebut.Barangsiapa membangun masjid dengan niat yang ikhlas, maka termasuk amal yang paling utama. Lihatlah masjid yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya terbuat dari batu dan pelepah kurma. Ketika hujan pun menjadi bocor. Akan tetapi masjid tersebut menjadi masjid yang mulia, karena memang dibangun di atas ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang dilihat bukanlah megah dan besarnya bangunan, namun niat dan tujuan dari pembangunan masjid tersebut. Akan tetapi, jika bisa digabungkan antara niat yang baik dan bangunan yang kokoh, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini tentu lebih baik. Wallahu a’lam.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 2 Muharram 1439/23 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 67-68 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422) .🔍 Albani, Hukum Berpakaian Dalam Islam, Manfaat Shalat Taubat, Pengertian Islam Kaffah, Bahaya Riba


Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).Masjid adalah rumah Allah. Allah Ta’ala sandingkan dengan diri-Nya sendiri, sebagaimana firman-Nya yang lain,وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah [2]: 114).Hal ini menunjukkan kemuliaan dan agungnya kedudukan masjid di sisi Allah Ta’ala.Ada dua pengertian memakmurkan masjid Allah Ta’ala. Pertama, membangun masjid, memperindah atau memperkokoh bangunannya, namun ini hanya sekedar sarana saja, bukan tujuan utama memakmurkan masjid.Kedua, memakmurkan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya di dalam masjid tersebut. Oleh karena itu, di dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala menegaskan,إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat … ” (QS. At-Taubah [9]: 18).Allah Ta’ala mengkhususkan upaya memakmurkan masjid dalam bentuk amal-amal ibadah tersebut, karena itulah tujuan yang sebenarnya. Tidaklah maksud memakmurkan masjid hanya sekedar bermegah-megah dengan bangunan masjid atau meninggikan bangunannya. Perkara-perkara seperti ini tidak ada nilainya dan tidak teranggap.Meskipun demikian, siapa saja yang membangun masjid dengan menginfakkan hartanya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, juga diniatkan untuk membantu kaum muslimin dalam menegakkan (melaksanakan) ibadah kepada Allah Ta’ala, maka hal ini merupakan maksud atau niat yang baik dan termasuk amal shalih. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya,مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ“Barangsiapa membangun masjid karena Allah Ta’ala, Allah akan buatkan yang semisal untuknya di surga” (HR. Tirmidzi no. 318 dan Ibnu Majah no. 736, shahih).Perhatikanlah sabda Nabi “karena Allah”, maksudnya tujuan kita adalah meraih pahala dan ridha dari Allah Ta’ala, bukan karena ingin berbangga diri di hadapan manusia, mendapatkan pujian atau agar namanya selalu dikenang sebagai orang yang membangun masjid tersebut, ini semua adalah niat yang batil , walau sebanyak apapun harta yang dia keluarkan untuk membangun masjid tersebut.Barangsiapa membangun masjid dengan niat yang ikhlas, maka termasuk amal yang paling utama. Lihatlah masjid yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya terbuat dari batu dan pelepah kurma. Ketika hujan pun menjadi bocor. Akan tetapi masjid tersebut menjadi masjid yang mulia, karena memang dibangun di atas ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang dilihat bukanlah megah dan besarnya bangunan, namun niat dan tujuan dari pembangunan masjid tersebut. Akan tetapi, jika bisa digabungkan antara niat yang baik dan bangunan yang kokoh, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini tentu lebih baik. Wallahu a’lam.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 2 Muharram 1439/23 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 67-68 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422) .🔍 Albani, Hukum Berpakaian Dalam Islam, Manfaat Shalat Taubat, Pengertian Islam Kaffah, Bahaya Riba

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Terdapat banyak dalil yang berisi motivasi untuk membaca Al-Qur’an, merenungi makna dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).Bukanlah tujuan membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca dan melewati ayat-ayatnya saja serta mengkhatamakan bacaannya sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Bukan ini maksudnya.Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana. Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).Adapun orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, maka Al-Qur’an itu akan menuntutnya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu” (HR. Muslim no. 223).Al-Qur’an menjadi hujjah yang membela kita, jika kita mengamalkan kandungannya. Al-Qur’an akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkannya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya.Al-Qur’an bisa jadi berada di depan kita, menunjukkan kita kepada jalan kebaikan dan menuntun kita menuju surga. Al-Qur’an juga bisa jadi berada di belakang kita yang akan menarik kita ke dalam neraka.Allah Ta’ala berfirman,وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).Al-Qur’an adalah hujjah dan peringatan. Tidak ada alasan bagi seorang pun setelah Al-Qur’an diturunkan, karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang benar (haq) dan manakah yang salah (bathil). Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang merupakan petunjuk (hidayah) dan manakah kesesatan. Barangsiapa yang mengamalkannya, merekalah orang-orang yang berbahagia, namun barangsiapa yang menyelisihinya, merekalah orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha [20]: 124).***Diselesaikan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 12 Dzulhijjah 1438/03 September 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 32-33 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422).🔍 Bacaan Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Ketakutan Yahudi Terhadap Islam, Hadits Sakit Penggugur Dosa, Dosa Anak Durhaka, Jaga Lima Sebelum Datang Yang Lima

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Terdapat banyak dalil yang berisi motivasi untuk membaca Al-Qur’an, merenungi makna dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).Bukanlah tujuan membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca dan melewati ayat-ayatnya saja serta mengkhatamakan bacaannya sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Bukan ini maksudnya.Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana. Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).Adapun orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, maka Al-Qur’an itu akan menuntutnya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu” (HR. Muslim no. 223).Al-Qur’an menjadi hujjah yang membela kita, jika kita mengamalkan kandungannya. Al-Qur’an akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkannya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya.Al-Qur’an bisa jadi berada di depan kita, menunjukkan kita kepada jalan kebaikan dan menuntun kita menuju surga. Al-Qur’an juga bisa jadi berada di belakang kita yang akan menarik kita ke dalam neraka.Allah Ta’ala berfirman,وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).Al-Qur’an adalah hujjah dan peringatan. Tidak ada alasan bagi seorang pun setelah Al-Qur’an diturunkan, karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang benar (haq) dan manakah yang salah (bathil). Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang merupakan petunjuk (hidayah) dan manakah kesesatan. Barangsiapa yang mengamalkannya, merekalah orang-orang yang berbahagia, namun barangsiapa yang menyelisihinya, merekalah orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha [20]: 124).***Diselesaikan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 12 Dzulhijjah 1438/03 September 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 32-33 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422).🔍 Bacaan Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Ketakutan Yahudi Terhadap Islam, Hadits Sakit Penggugur Dosa, Dosa Anak Durhaka, Jaga Lima Sebelum Datang Yang Lima
Terdapat banyak dalil yang berisi motivasi untuk membaca Al-Qur’an, merenungi makna dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).Bukanlah tujuan membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca dan melewati ayat-ayatnya saja serta mengkhatamakan bacaannya sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Bukan ini maksudnya.Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana. Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).Adapun orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, maka Al-Qur’an itu akan menuntutnya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu” (HR. Muslim no. 223).Al-Qur’an menjadi hujjah yang membela kita, jika kita mengamalkan kandungannya. Al-Qur’an akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkannya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya.Al-Qur’an bisa jadi berada di depan kita, menunjukkan kita kepada jalan kebaikan dan menuntun kita menuju surga. Al-Qur’an juga bisa jadi berada di belakang kita yang akan menarik kita ke dalam neraka.Allah Ta’ala berfirman,وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).Al-Qur’an adalah hujjah dan peringatan. Tidak ada alasan bagi seorang pun setelah Al-Qur’an diturunkan, karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang benar (haq) dan manakah yang salah (bathil). Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang merupakan petunjuk (hidayah) dan manakah kesesatan. Barangsiapa yang mengamalkannya, merekalah orang-orang yang berbahagia, namun barangsiapa yang menyelisihinya, merekalah orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha [20]: 124).***Diselesaikan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 12 Dzulhijjah 1438/03 September 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 32-33 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422).🔍 Bacaan Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Ketakutan Yahudi Terhadap Islam, Hadits Sakit Penggugur Dosa, Dosa Anak Durhaka, Jaga Lima Sebelum Datang Yang Lima


Terdapat banyak dalil yang berisi motivasi untuk membaca Al-Qur’an, merenungi makna dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).Bukanlah tujuan membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca dan melewati ayat-ayatnya saja serta mengkhatamakan bacaannya sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Bukan ini maksudnya.Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana. Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).Adapun orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, maka Al-Qur’an itu akan menuntutnya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu” (HR. Muslim no. 223).Al-Qur’an menjadi hujjah yang membela kita, jika kita mengamalkan kandungannya. Al-Qur’an akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkannya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya.Al-Qur’an bisa jadi berada di depan kita, menunjukkan kita kepada jalan kebaikan dan menuntun kita menuju surga. Al-Qur’an juga bisa jadi berada di belakang kita yang akan menarik kita ke dalam neraka.Allah Ta’ala berfirman,وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).Al-Qur’an adalah hujjah dan peringatan. Tidak ada alasan bagi seorang pun setelah Al-Qur’an diturunkan, karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang benar (haq) dan manakah yang salah (bathil). Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang merupakan petunjuk (hidayah) dan manakah kesesatan. Barangsiapa yang mengamalkannya, merekalah orang-orang yang berbahagia, namun barangsiapa yang menyelisihinya, merekalah orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha [20]: 124).***Diselesaikan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 12 Dzulhijjah 1438/03 September 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]    Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 32-33 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422).🔍 Bacaan Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Ketakutan Yahudi Terhadap Islam, Hadits Sakit Penggugur Dosa, Dosa Anak Durhaka, Jaga Lima Sebelum Datang Yang Lima

Pujian Adalah Ujian

Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan.Allah berfirman,ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1] Kita lebih butuh doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.Sufyan bin Uyainah berkata,ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”[2] Larangan memuji berlebihanTerdapat perintah dari Nabi agar kita tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya.Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[3] Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”[4] Boleh sesekali memuji jika ada maslahatApakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,أن يكون في مدحه خير وتشجيع له على الأوصاف الحميدة والأخلاق الفاضلة، فهذا لا بأس به؛ لأنه تشجيع لصاحبه“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[5] Membaca doa ketika kita dipujiAgar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca doa berikut ini ketika dipuji.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.”[6] Demikian semoga bermanfaat.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Allah Ada Dimana, Hadits Tentang Bersalaman, Tafsir Surat Al Qodar, Allah Itu Seperti Apa, Surah Al Kahfi Ayat 110

Pujian Adalah Ujian

Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan.Allah berfirman,ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1] Kita lebih butuh doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.Sufyan bin Uyainah berkata,ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”[2] Larangan memuji berlebihanTerdapat perintah dari Nabi agar kita tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya.Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[3] Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”[4] Boleh sesekali memuji jika ada maslahatApakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,أن يكون في مدحه خير وتشجيع له على الأوصاف الحميدة والأخلاق الفاضلة، فهذا لا بأس به؛ لأنه تشجيع لصاحبه“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[5] Membaca doa ketika kita dipujiAgar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca doa berikut ini ketika dipuji.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.”[6] Demikian semoga bermanfaat.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Allah Ada Dimana, Hadits Tentang Bersalaman, Tafsir Surat Al Qodar, Allah Itu Seperti Apa, Surah Al Kahfi Ayat 110
Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan.Allah berfirman,ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1] Kita lebih butuh doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.Sufyan bin Uyainah berkata,ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”[2] Larangan memuji berlebihanTerdapat perintah dari Nabi agar kita tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya.Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[3] Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”[4] Boleh sesekali memuji jika ada maslahatApakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,أن يكون في مدحه خير وتشجيع له على الأوصاف الحميدة والأخلاق الفاضلة، فهذا لا بأس به؛ لأنه تشجيع لصاحبه“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[5] Membaca doa ketika kita dipujiAgar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca doa berikut ini ketika dipuji.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.”[6] Demikian semoga bermanfaat.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Allah Ada Dimana, Hadits Tentang Bersalaman, Tafsir Surat Al Qodar, Allah Itu Seperti Apa, Surah Al Kahfi Ayat 110


Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan.Allah berfirman,ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺛَﻠَﺎﺙٌ ﻣُﻬْﻠِﻜَﺎﺕٌ : ﺷُﺢٌّ ﻣُﻄَﺎﻉٌ ﻭَﻫَﻮًﻯ ﻣُﺘَّﺒَﻊٌ ﻭَﺇِﻋْﺠَﺎﺏُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).”[1] Kita lebih butuh doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.Sufyan bin Uyainah berkata,ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”[2] Larangan memuji berlebihanTerdapat perintah dari Nabi agar kita tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya.Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[3] Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”[4] Boleh sesekali memuji jika ada maslahatApakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,أن يكون في مدحه خير وتشجيع له على الأوصاف الحميدة والأخلاق الفاضلة، فهذا لا بأس به؛ لأنه تشجيع لصاحبه“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[5] Membaca doa ketika kita dipujiAgar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca doa berikut ini ketika dipuji.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.”[6] Demikian semoga bermanfaat.@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Allah Ada Dimana, Hadits Tentang Bersalaman, Tafsir Surat Al Qodar, Allah Itu Seperti Apa, Surah Al Kahfi Ayat 110

Benarkah Ada Larangan Memakan Hewan Darat dan Hewan Laut Secara Bersamaan?

Terdapat artikel yang cukup tersebar dan banyak di copy-paste di berbagai blog dan sosial media. Artikel tersebut menisbatkan cara makan kepada cara makan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata artikel tersebut tidak lah benar, TIDAK ADA satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekalipun) mengenai hal ini. Berikut kami nukilkan artikel yang cukup viral tersebut:“Insya Allah kalau anda ikut diet Rasulullah ini, anda tidak akan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.Jangan makan SUSU bersama DAGING Jangan makan DAGING bersama IKAN Jangan makan IKAN bersama SUSU Jangan makan AYAM bersama SUSU Jangan makan IKAN bersama TELUR Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD Jangan makan SUSU bersama CUKA Jangan makan BUAK bersama SUSU; contoh COCTAILDalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.” [SELESAI NUKILAN] Tidak ada satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekali pun) mengenai hal ini, sehingga sangat tidak layak dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengatakan “ini pola makan sehat Nabi” tentu ini tidak layak.Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajiid, mengenai adanya larangan mengkonsumsi susu dan ikan bersamaan (sebagaimana pada artikel tersebut)Pertanyaan:ﻫﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻻ ﻳﺄﻛﻠﻮﺍ ﺍﻟﺴﻤﻚ ﻭﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻌﺎً ، ﺃﺑﺪﺍً ؟“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan manusia agar tidak memakan ikan dan susu secara bersamaan?”Jawab:ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻊ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﻤﺮﺟﻊ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻄﺐ“Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang minum susu dan makan ikan bersamaan. Jika tidak ada riwayatnya, maka dikembalikan masalah ini kepada ahli kedokteran/kesehatan.”[1] Sehingga tidak benar bahwa ada larangan makan hewan darat dan hewan laut atau mengatakan hukumnya haram atau makruh, karena tidak ada nash yang melarang. Kami berdoa dan berharap artikel dan tulisan yang “mengatasnamakan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agar BERHENTI disebar dan dicopy-paste.Mengenai alasan memakan “hewan darat dan hewat laut bersamaan” pada artikel tersebut ditulis dengan alasan yang cukup aneh yaitu “daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-“. Tentu ini tidak benar secara ilmu pengetahuan dan tidak ilmiah, karena semua dzat terdiri dari ion+ dan ion-.Dalam artikel tersebut ditulis juga larangan minum susu dan daging, susu dan ayam, susu dan ikan dan lain-lain. Perhatikan ayat berikut:Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl: 66)Dalam ayat tersebut disebutkan susu sebagai minuman, bahkan dalam hadits disebutkan susu sebagai obat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلا الْهَرَمَ ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa jalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia makan dari berbagai macam tumbuhan.”[2] Secara umum untuk makanan dan minuman hukum asalnya adalah halal. Apa yang telah Allah halalkan pasti bermanfaat dan tidak berbahaya.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,الدين مبني على المصالحفي جلبها و الدرء للقبائح“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”[3] Dalam fatawa syabakiyah (asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih) dijelaskan bahwa hukum asal makanan adalah tidak bertentangan satu sama lainnya (boleh dimakan secara bersamaan)ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ، ﻭﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﺑﻴﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ، ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ“Akan tetapi hukum asal makanan adalah tidak ada pertentangan, tidak ditemukan pertentangan secara mutlak antara minum susu dan makan ikan.”[4] Untuk mengatakan kombinasi susu dengan ikan, daging, ayam itu jika dimakan bersamaan akan menimbulkan bahaya, maka ini perlu bukti atau penelitian. Demikian juga jika ingin menyatakan bahwa mengkonsumsi hewan darat dan hewan laut bersamaan itu berbahaya, maka perlu bukti dan penelitian. Secara kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi secara bersamaan makanan dan minuman tersebut. Boleh mengkonsumsi makanan apapun bersamaan, selama belum ada bukti ilmiah dan penelitian yg menunjukkan bahayanya dan sampai sekarang belum ada bukti ini atau tidak ada teori sedikitpun tentang larangan mengkonsumsi makanan dan minumun tersebut secara bersamaan. Wallahu a’lamKesimpulan:1) Tidak ada satupun hadits (bahkan dhaif sekalipun) yang menyatakan larangan mengkonsumsi bersamaan hewan darat dan hewan laut2) Hukum asal makanan dan minuman adalah mubah dan hukum asalnya tidak ada pertentangan antara konsumsi jenis makanan secara bersamaan3) Hal ini dikembalikan kepada ahlinya yaitu ahli gizi dan ahli kesehatan4) Setahu kami, dalam ilmu kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi kombinasi makanan tersebutDemikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Bukti Kekuasaan Allah Swt, Ayat Hasbunallah Wanikmal Wakil, Doa Sebelum Salam Dalam Sholat, Jawaban Barakallahu Fiik Rumaysho, Kerudung Besar

Benarkah Ada Larangan Memakan Hewan Darat dan Hewan Laut Secara Bersamaan?

Terdapat artikel yang cukup tersebar dan banyak di copy-paste di berbagai blog dan sosial media. Artikel tersebut menisbatkan cara makan kepada cara makan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata artikel tersebut tidak lah benar, TIDAK ADA satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekalipun) mengenai hal ini. Berikut kami nukilkan artikel yang cukup viral tersebut:“Insya Allah kalau anda ikut diet Rasulullah ini, anda tidak akan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.Jangan makan SUSU bersama DAGING Jangan makan DAGING bersama IKAN Jangan makan IKAN bersama SUSU Jangan makan AYAM bersama SUSU Jangan makan IKAN bersama TELUR Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD Jangan makan SUSU bersama CUKA Jangan makan BUAK bersama SUSU; contoh COCTAILDalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.” [SELESAI NUKILAN] Tidak ada satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekali pun) mengenai hal ini, sehingga sangat tidak layak dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengatakan “ini pola makan sehat Nabi” tentu ini tidak layak.Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajiid, mengenai adanya larangan mengkonsumsi susu dan ikan bersamaan (sebagaimana pada artikel tersebut)Pertanyaan:ﻫﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻻ ﻳﺄﻛﻠﻮﺍ ﺍﻟﺴﻤﻚ ﻭﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻌﺎً ، ﺃﺑﺪﺍً ؟“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan manusia agar tidak memakan ikan dan susu secara bersamaan?”Jawab:ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻊ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﻤﺮﺟﻊ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻄﺐ“Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang minum susu dan makan ikan bersamaan. Jika tidak ada riwayatnya, maka dikembalikan masalah ini kepada ahli kedokteran/kesehatan.”[1] Sehingga tidak benar bahwa ada larangan makan hewan darat dan hewan laut atau mengatakan hukumnya haram atau makruh, karena tidak ada nash yang melarang. Kami berdoa dan berharap artikel dan tulisan yang “mengatasnamakan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agar BERHENTI disebar dan dicopy-paste.Mengenai alasan memakan “hewan darat dan hewat laut bersamaan” pada artikel tersebut ditulis dengan alasan yang cukup aneh yaitu “daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-“. Tentu ini tidak benar secara ilmu pengetahuan dan tidak ilmiah, karena semua dzat terdiri dari ion+ dan ion-.Dalam artikel tersebut ditulis juga larangan minum susu dan daging, susu dan ayam, susu dan ikan dan lain-lain. Perhatikan ayat berikut:Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl: 66)Dalam ayat tersebut disebutkan susu sebagai minuman, bahkan dalam hadits disebutkan susu sebagai obat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلا الْهَرَمَ ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa jalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia makan dari berbagai macam tumbuhan.”[2] Secara umum untuk makanan dan minuman hukum asalnya adalah halal. Apa yang telah Allah halalkan pasti bermanfaat dan tidak berbahaya.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,الدين مبني على المصالحفي جلبها و الدرء للقبائح“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”[3] Dalam fatawa syabakiyah (asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih) dijelaskan bahwa hukum asal makanan adalah tidak bertentangan satu sama lainnya (boleh dimakan secara bersamaan)ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ، ﻭﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﺑﻴﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ، ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ“Akan tetapi hukum asal makanan adalah tidak ada pertentangan, tidak ditemukan pertentangan secara mutlak antara minum susu dan makan ikan.”[4] Untuk mengatakan kombinasi susu dengan ikan, daging, ayam itu jika dimakan bersamaan akan menimbulkan bahaya, maka ini perlu bukti atau penelitian. Demikian juga jika ingin menyatakan bahwa mengkonsumsi hewan darat dan hewan laut bersamaan itu berbahaya, maka perlu bukti dan penelitian. Secara kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi secara bersamaan makanan dan minuman tersebut. Boleh mengkonsumsi makanan apapun bersamaan, selama belum ada bukti ilmiah dan penelitian yg menunjukkan bahayanya dan sampai sekarang belum ada bukti ini atau tidak ada teori sedikitpun tentang larangan mengkonsumsi makanan dan minumun tersebut secara bersamaan. Wallahu a’lamKesimpulan:1) Tidak ada satupun hadits (bahkan dhaif sekalipun) yang menyatakan larangan mengkonsumsi bersamaan hewan darat dan hewan laut2) Hukum asal makanan dan minuman adalah mubah dan hukum asalnya tidak ada pertentangan antara konsumsi jenis makanan secara bersamaan3) Hal ini dikembalikan kepada ahlinya yaitu ahli gizi dan ahli kesehatan4) Setahu kami, dalam ilmu kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi kombinasi makanan tersebutDemikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Bukti Kekuasaan Allah Swt, Ayat Hasbunallah Wanikmal Wakil, Doa Sebelum Salam Dalam Sholat, Jawaban Barakallahu Fiik Rumaysho, Kerudung Besar
Terdapat artikel yang cukup tersebar dan banyak di copy-paste di berbagai blog dan sosial media. Artikel tersebut menisbatkan cara makan kepada cara makan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata artikel tersebut tidak lah benar, TIDAK ADA satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekalipun) mengenai hal ini. Berikut kami nukilkan artikel yang cukup viral tersebut:“Insya Allah kalau anda ikut diet Rasulullah ini, anda tidak akan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.Jangan makan SUSU bersama DAGING Jangan makan DAGING bersama IKAN Jangan makan IKAN bersama SUSU Jangan makan AYAM bersama SUSU Jangan makan IKAN bersama TELUR Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD Jangan makan SUSU bersama CUKA Jangan makan BUAK bersama SUSU; contoh COCTAILDalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.” [SELESAI NUKILAN] Tidak ada satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekali pun) mengenai hal ini, sehingga sangat tidak layak dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengatakan “ini pola makan sehat Nabi” tentu ini tidak layak.Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajiid, mengenai adanya larangan mengkonsumsi susu dan ikan bersamaan (sebagaimana pada artikel tersebut)Pertanyaan:ﻫﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻻ ﻳﺄﻛﻠﻮﺍ ﺍﻟﺴﻤﻚ ﻭﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻌﺎً ، ﺃﺑﺪﺍً ؟“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan manusia agar tidak memakan ikan dan susu secara bersamaan?”Jawab:ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻊ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﻤﺮﺟﻊ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻄﺐ“Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang minum susu dan makan ikan bersamaan. Jika tidak ada riwayatnya, maka dikembalikan masalah ini kepada ahli kedokteran/kesehatan.”[1] Sehingga tidak benar bahwa ada larangan makan hewan darat dan hewan laut atau mengatakan hukumnya haram atau makruh, karena tidak ada nash yang melarang. Kami berdoa dan berharap artikel dan tulisan yang “mengatasnamakan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agar BERHENTI disebar dan dicopy-paste.Mengenai alasan memakan “hewan darat dan hewat laut bersamaan” pada artikel tersebut ditulis dengan alasan yang cukup aneh yaitu “daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-“. Tentu ini tidak benar secara ilmu pengetahuan dan tidak ilmiah, karena semua dzat terdiri dari ion+ dan ion-.Dalam artikel tersebut ditulis juga larangan minum susu dan daging, susu dan ayam, susu dan ikan dan lain-lain. Perhatikan ayat berikut:Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl: 66)Dalam ayat tersebut disebutkan susu sebagai minuman, bahkan dalam hadits disebutkan susu sebagai obat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلا الْهَرَمَ ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa jalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia makan dari berbagai macam tumbuhan.”[2] Secara umum untuk makanan dan minuman hukum asalnya adalah halal. Apa yang telah Allah halalkan pasti bermanfaat dan tidak berbahaya.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,الدين مبني على المصالحفي جلبها و الدرء للقبائح“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”[3] Dalam fatawa syabakiyah (asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih) dijelaskan bahwa hukum asal makanan adalah tidak bertentangan satu sama lainnya (boleh dimakan secara bersamaan)ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ، ﻭﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﺑﻴﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ، ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ“Akan tetapi hukum asal makanan adalah tidak ada pertentangan, tidak ditemukan pertentangan secara mutlak antara minum susu dan makan ikan.”[4] Untuk mengatakan kombinasi susu dengan ikan, daging, ayam itu jika dimakan bersamaan akan menimbulkan bahaya, maka ini perlu bukti atau penelitian. Demikian juga jika ingin menyatakan bahwa mengkonsumsi hewan darat dan hewan laut bersamaan itu berbahaya, maka perlu bukti dan penelitian. Secara kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi secara bersamaan makanan dan minuman tersebut. Boleh mengkonsumsi makanan apapun bersamaan, selama belum ada bukti ilmiah dan penelitian yg menunjukkan bahayanya dan sampai sekarang belum ada bukti ini atau tidak ada teori sedikitpun tentang larangan mengkonsumsi makanan dan minumun tersebut secara bersamaan. Wallahu a’lamKesimpulan:1) Tidak ada satupun hadits (bahkan dhaif sekalipun) yang menyatakan larangan mengkonsumsi bersamaan hewan darat dan hewan laut2) Hukum asal makanan dan minuman adalah mubah dan hukum asalnya tidak ada pertentangan antara konsumsi jenis makanan secara bersamaan3) Hal ini dikembalikan kepada ahlinya yaitu ahli gizi dan ahli kesehatan4) Setahu kami, dalam ilmu kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi kombinasi makanan tersebutDemikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Bukti Kekuasaan Allah Swt, Ayat Hasbunallah Wanikmal Wakil, Doa Sebelum Salam Dalam Sholat, Jawaban Barakallahu Fiik Rumaysho, Kerudung Besar


Terdapat artikel yang cukup tersebar dan banyak di copy-paste di berbagai blog dan sosial media. Artikel tersebut menisbatkan cara makan kepada cara makan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata artikel tersebut tidak lah benar, TIDAK ADA satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekalipun) mengenai hal ini. Berikut kami nukilkan artikel yang cukup viral tersebut:“Insya Allah kalau anda ikut diet Rasulullah ini, anda tidak akan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.Jangan makan SUSU bersama DAGING Jangan makan DAGING bersama IKAN Jangan makan IKAN bersama SUSU Jangan makan AYAM bersama SUSU Jangan makan IKAN bersama TELUR Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD Jangan makan SUSU bersama CUKA Jangan makan BUAK bersama SUSU; contoh COCTAILDalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.” [SELESAI NUKILAN] Tidak ada satupun hadits (bahkan hadits dhaif sekali pun) mengenai hal ini, sehingga sangat tidak layak dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengatakan “ini pola makan sehat Nabi” tentu ini tidak layak.Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajiid, mengenai adanya larangan mengkonsumsi susu dan ikan bersamaan (sebagaimana pada artikel tersebut)Pertanyaan:ﻫﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻻ ﻳﺄﻛﻠﻮﺍ ﺍﻟﺴﻤﻚ ﻭﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻌﺎً ، ﺃﺑﺪﺍً ؟“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan manusia agar tidak memakan ikan dan susu secara bersamaan?”Jawab:ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻊ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﻤﺮﺟﻊ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻄﺐ“Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang minum susu dan makan ikan bersamaan. Jika tidak ada riwayatnya, maka dikembalikan masalah ini kepada ahli kedokteran/kesehatan.”[1] Sehingga tidak benar bahwa ada larangan makan hewan darat dan hewan laut atau mengatakan hukumnya haram atau makruh, karena tidak ada nash yang melarang. Kami berdoa dan berharap artikel dan tulisan yang “mengatasnamakan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agar BERHENTI disebar dan dicopy-paste.Mengenai alasan memakan “hewan darat dan hewat laut bersamaan” pada artikel tersebut ditulis dengan alasan yang cukup aneh yaitu “daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-“. Tentu ini tidak benar secara ilmu pengetahuan dan tidak ilmiah, karena semua dzat terdiri dari ion+ dan ion-.Dalam artikel tersebut ditulis juga larangan minum susu dan daging, susu dan ayam, susu dan ikan dan lain-lain. Perhatikan ayat berikut:Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl: 66)Dalam ayat tersebut disebutkan susu sebagai minuman, bahkan dalam hadits disebutkan susu sebagai obat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلا الْهَرَمَ ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa jalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia makan dari berbagai macam tumbuhan.”[2] Secara umum untuk makanan dan minuman hukum asalnya adalah halal. Apa yang telah Allah halalkan pasti bermanfaat dan tidak berbahaya.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,الدين مبني على المصالحفي جلبها و الدرء للقبائح“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”[3] Dalam fatawa syabakiyah (asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih) dijelaskan bahwa hukum asal makanan adalah tidak bertentangan satu sama lainnya (boleh dimakan secara bersamaan)ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ، ﻭﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﺑﻴﻦ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ، ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﺴﻤﻚ“Akan tetapi hukum asal makanan adalah tidak ada pertentangan, tidak ditemukan pertentangan secara mutlak antara minum susu dan makan ikan.”[4] Untuk mengatakan kombinasi susu dengan ikan, daging, ayam itu jika dimakan bersamaan akan menimbulkan bahaya, maka ini perlu bukti atau penelitian. Demikian juga jika ingin menyatakan bahwa mengkonsumsi hewan darat dan hewan laut bersamaan itu berbahaya, maka perlu bukti dan penelitian. Secara kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi secara bersamaan makanan dan minuman tersebut. Boleh mengkonsumsi makanan apapun bersamaan, selama belum ada bukti ilmiah dan penelitian yg menunjukkan bahayanya dan sampai sekarang belum ada bukti ini atau tidak ada teori sedikitpun tentang larangan mengkonsumsi makanan dan minumun tersebut secara bersamaan. Wallahu a’lamKesimpulan:1) Tidak ada satupun hadits (bahkan dhaif sekalipun) yang menyatakan larangan mengkonsumsi bersamaan hewan darat dan hewan laut2) Hukum asal makanan dan minuman adalah mubah dan hukum asalnya tidak ada pertentangan antara konsumsi jenis makanan secara bersamaan3) Hal ini dikembalikan kepada ahlinya yaitu ahli gizi dan ahli kesehatan4) Setahu kami, dalam ilmu kedokteran yang merupakan ilmu yang kami pelajari, sampai sekarang tidak ada ilmu atau teori serta penelitian yang menyatakan bahaya mengkonsumsi kombinasi makanan tersebutDemikian semoga bermanfaat@ Gemawang, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Bukti Kekuasaan Allah Swt, Ayat Hasbunallah Wanikmal Wakil, Doa Sebelum Salam Dalam Sholat, Jawaban Barakallahu Fiik Rumaysho, Kerudung Besar

Mendulang Faidah dari Hadits Perpecahan Umat

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umatPerpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Inilah Sebab Utama Perpecahan UmatDalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umatTerdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:Faidah pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah al-jama’ah.Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.Baca Juga: Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?Jadi, selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam al-jama’ah, meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك“Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)Pengertian ke dua dari al-jama’ah adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam al-jama’ah meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut. Al-jama’a dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)Baca Juga: Bid’ah dan Sumber PerpecahanFaidah ke dua, hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami perpecahan. Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)Faidah ke tiga, perpecahan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (pemahaman) agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits di atas,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ‘millah’ (golongan).” (HR. Tirmidzi no. 2641)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut masing-masing aliran dengan istilah “millah” (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuanFaidah ke empat, hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu “shirath”. Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu “as-subul”. Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah jalan Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.Faidah ke lima, sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan sesat, mereka itu masih menjadi bagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga berhak masuk surga, namun mereka terancam dengan neraka.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazaDalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي“Dan umatku akan terpecah … “Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama adalah “umat dakwah”, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. Ke dua adalah “umat ijabah”, yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin. Pengertian “umatku” dalam hadits di atas bermakna umat ijabah. Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang. Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.Berdasarkan penjelasan ini, maka tidak benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh ahlus sunnah wal jama’ah saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan yang menyebabkan kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.Baca Juga: Mari Mengenal Manhaj SalafFaidah ke enam, adanya tujuh puluh dua golongan kesesatan, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu, tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran. Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas ‘aqidah Asy’ariyyah. Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “ Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah menurut aqidah Asy’ariyyah.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 2 Ramadhan 1440/7 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Tulisan ini pada asalnya merupakan catatan penulis ketika menyimak kajian kitab Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, karya Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin (hal. 8-9), yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar, kemudian kami lengkapi dan kami tambahkan keterangan-keterangan yang diperlukan.🔍 Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hadist Jual Beli, Definisi Karma, Web Muslimah, Jaga Lisanmu

Mendulang Faidah dari Hadits Perpecahan Umat

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umatPerpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Inilah Sebab Utama Perpecahan UmatDalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umatTerdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:Faidah pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah al-jama’ah.Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.Baca Juga: Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?Jadi, selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam al-jama’ah, meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك“Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)Pengertian ke dua dari al-jama’ah adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam al-jama’ah meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut. Al-jama’a dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)Baca Juga: Bid’ah dan Sumber PerpecahanFaidah ke dua, hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami perpecahan. Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)Faidah ke tiga, perpecahan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (pemahaman) agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits di atas,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ‘millah’ (golongan).” (HR. Tirmidzi no. 2641)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut masing-masing aliran dengan istilah “millah” (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuanFaidah ke empat, hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu “shirath”. Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu “as-subul”. Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah jalan Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.Faidah ke lima, sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan sesat, mereka itu masih menjadi bagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga berhak masuk surga, namun mereka terancam dengan neraka.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazaDalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي“Dan umatku akan terpecah … “Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama adalah “umat dakwah”, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. Ke dua adalah “umat ijabah”, yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin. Pengertian “umatku” dalam hadits di atas bermakna umat ijabah. Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang. Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.Berdasarkan penjelasan ini, maka tidak benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh ahlus sunnah wal jama’ah saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan yang menyebabkan kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.Baca Juga: Mari Mengenal Manhaj SalafFaidah ke enam, adanya tujuh puluh dua golongan kesesatan, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu, tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran. Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas ‘aqidah Asy’ariyyah. Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “ Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah menurut aqidah Asy’ariyyah.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 2 Ramadhan 1440/7 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Tulisan ini pada asalnya merupakan catatan penulis ketika menyimak kajian kitab Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, karya Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin (hal. 8-9), yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar, kemudian kami lengkapi dan kami tambahkan keterangan-keterangan yang diperlukan.🔍 Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hadist Jual Beli, Definisi Karma, Web Muslimah, Jaga Lisanmu
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umatPerpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Inilah Sebab Utama Perpecahan UmatDalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umatTerdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:Faidah pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah al-jama’ah.Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.Baca Juga: Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?Jadi, selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam al-jama’ah, meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك“Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)Pengertian ke dua dari al-jama’ah adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam al-jama’ah meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut. Al-jama’a dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)Baca Juga: Bid’ah dan Sumber PerpecahanFaidah ke dua, hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami perpecahan. Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)Faidah ke tiga, perpecahan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (pemahaman) agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits di atas,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ‘millah’ (golongan).” (HR. Tirmidzi no. 2641)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut masing-masing aliran dengan istilah “millah” (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuanFaidah ke empat, hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu “shirath”. Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu “as-subul”. Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah jalan Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.Faidah ke lima, sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan sesat, mereka itu masih menjadi bagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga berhak masuk surga, namun mereka terancam dengan neraka.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazaDalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي“Dan umatku akan terpecah … “Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama adalah “umat dakwah”, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. Ke dua adalah “umat ijabah”, yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin. Pengertian “umatku” dalam hadits di atas bermakna umat ijabah. Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang. Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.Berdasarkan penjelasan ini, maka tidak benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh ahlus sunnah wal jama’ah saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan yang menyebabkan kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.Baca Juga: Mari Mengenal Manhaj SalafFaidah ke enam, adanya tujuh puluh dua golongan kesesatan, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu, tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran. Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas ‘aqidah Asy’ariyyah. Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “ Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah menurut aqidah Asy’ariyyah.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 2 Ramadhan 1440/7 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Tulisan ini pada asalnya merupakan catatan penulis ketika menyimak kajian kitab Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, karya Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin (hal. 8-9), yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar, kemudian kami lengkapi dan kami tambahkan keterangan-keterangan yang diperlukan.🔍 Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hadist Jual Beli, Definisi Karma, Web Muslimah, Jaga Lisanmu


Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umatPerpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Inilah Sebab Utama Perpecahan UmatDalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)Baca Juga: Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umatTerdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:Faidah pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah al-jama’ah.Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.Baca Juga: Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?Jadi, selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam al-jama’ah, meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك“Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)Pengertian ke dua dari al-jama’ah adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam al-jama’ah meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut. Al-jama’a dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari al-ghill (yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) komitmen dengan jamaah kaum muslimin (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” (HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)Baca Juga: Bid’ah dan Sumber PerpecahanFaidah ke dua, hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami perpecahan. Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)Faidah ke tiga, perpecahan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (pemahaman) agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadits di atas,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ‘millah’ (golongan).” (HR. Tirmidzi no. 2641)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut masing-masing aliran dengan istilah “millah” (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuanFaidah ke empat, hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu “shirath”. Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu “as-subul”. Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah jalan Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.Faidah ke lima, sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan sesat, mereka itu masih menjadi bagian umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga berhak masuk surga, namun mereka terancam dengan neraka.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazaDalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي“Dan umatku akan terpecah … “Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama adalah “umat dakwah”, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. Ke dua adalah “umat ijabah”, yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin. Pengertian “umatku” dalam hadits di atas bermakna umat ijabah. Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang. Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.Berdasarkan penjelasan ini, maka tidak benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh ahlus sunnah wal jama’ah saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan yang menyebabkan kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.Baca Juga: Mari Mengenal Manhaj SalafFaidah ke enam, adanya tujuh puluh dua golongan kesesatan, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu, tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran. Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas ‘aqidah Asy’ariyyah. Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “ Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah menurut aqidah Asy’ariyyah.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 2 Ramadhan 1440/7 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Tulisan ini pada asalnya merupakan catatan penulis ketika menyimak kajian kitab Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, karya Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin (hal. 8-9), yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar, kemudian kami lengkapi dan kami tambahkan keterangan-keterangan yang diperlukan.🔍 Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hadist Jual Beli, Definisi Karma, Web Muslimah, Jaga Lisanmu

Ilmu Waris, Ilmu yang Terlupakan

Di antara cabang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam agama adalah ilmu waris (ilmu faraidh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi umatnya untuk mempelajari dan memberikan perhatian terhadap ilmu tersebut.Baca Juga: Aplikasi Penghitung Waris At-Tashil OnlineNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي“Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu. Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR. Ibnu Majah no. 2719) [1]Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan tentang perkataan Nabi bahwa ilmu faraidh adalah setengah ilmu,“Sesungguhnya manusia itu berada dalam dua keadaan, yaitu hidup atau mati. Ilmu faraidh berkaitan dengan mayoritas hukum yang berkaitan dengan kematian. Sedangkan ilmu lainnya, berkaitan dengan hukum-hukum ketika masih hidup.” [2]Dan terjadilah apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Karena kita jumpai di jaman ini, ilmu faraidh adalah ilmu yang disepelekan dan dilupakan, bahkan di tengah-tengah para penuntut ilmu (thaalibul ‘ilmi) itu sendiri. Kita tidak dijumpai diajarkannya ilmu ini di masjid-masjid kaum muslimin, kecuali sedikit saja dan langka. Demikian juga, tidak kita jumpai diajarkannya ilmu ini di sekolah-sekolah kaum muslimin. Kalaupun ada, maka dengan metode seadanya dan sangat lemah, yang belum bisa menjamin eksistensi ilmu ini di tengah-tengah kaum muslimin. [2]Baca Juga: Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban ZakatOleh karena itu, menjadi kewajiban kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali ilmu ini di tengah-tengah mereka, dan juga menjaganya, dengan menyibukkan diri untuk mempelajarinya, baik di masjid, sekolah (madrasah), atau di masyarakat secara umum. Hal ini karena mereka sangat membutuhkan ilmu ini, dan pada saatnya nanti mereka akan bertanya ketika mereka membutuhkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، فَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ“Ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya hanyalah keutamaan, yaitu: ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan faraidh yang adil.” (HR. Abu Dawud no. 2885 dan Ibnu Majah no. 54) [3]Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau mengatakan,تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم“Belajarlah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian. Belajarlah ilmu waris, karena ilmu waris adalah bagian dari agama kalian.” [4]‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu mengatakan, من قَرَأَ مِنْكُم الْقُرْآن فليتعلم الْفَرَائِض“Siapa saja di antara kalian yang belajar (membaca) Al-Qur’an, maka belajarlah ilmu waris.” [5]Baca Juga: Inilah Keutamaan Ilmu dan AhlinyaDi dalam Shahih Muslim terdapat sebuah kisah yang menunjukkan kemuliaan seseorang karena orang tersebut memiliki ilmu yang terkait dengan hukum waris. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di ‘Usfan (nama suatu daerah, pen.). Ketika itu, ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar bertanya, ”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”Nafi’ menjawab, ”Ibnu Abza”. ‘Umar bertanya, ”Siapakah Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab, ”Salah seorang bekas budak kami.” ‘Umar kemudian mengatakan, ”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?” Nafi’ menjawab, ”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan dia juga ahli ilmu faraidh.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim no. 1934)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Sya’ban 1440/5 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[2] Lihat Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, hal. 334 (cet. Daar Ibnul Jauzi, KSA).[3] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[4] Al-Iqtidha’, 1: 527-528 karya Ibnu Taimiyyah.[5] Lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 2: 449.🔍 Dalil Tentang Shalat Berjamaah, Gambar Hewan Haram, Gelar Lc Ma, Bahaya Salafi, Kisah Abu Bakar As Siddiq Lengkap

Ilmu Waris, Ilmu yang Terlupakan

Di antara cabang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam agama adalah ilmu waris (ilmu faraidh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi umatnya untuk mempelajari dan memberikan perhatian terhadap ilmu tersebut.Baca Juga: Aplikasi Penghitung Waris At-Tashil OnlineNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي“Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu. Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR. Ibnu Majah no. 2719) [1]Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan tentang perkataan Nabi bahwa ilmu faraidh adalah setengah ilmu,“Sesungguhnya manusia itu berada dalam dua keadaan, yaitu hidup atau mati. Ilmu faraidh berkaitan dengan mayoritas hukum yang berkaitan dengan kematian. Sedangkan ilmu lainnya, berkaitan dengan hukum-hukum ketika masih hidup.” [2]Dan terjadilah apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Karena kita jumpai di jaman ini, ilmu faraidh adalah ilmu yang disepelekan dan dilupakan, bahkan di tengah-tengah para penuntut ilmu (thaalibul ‘ilmi) itu sendiri. Kita tidak dijumpai diajarkannya ilmu ini di masjid-masjid kaum muslimin, kecuali sedikit saja dan langka. Demikian juga, tidak kita jumpai diajarkannya ilmu ini di sekolah-sekolah kaum muslimin. Kalaupun ada, maka dengan metode seadanya dan sangat lemah, yang belum bisa menjamin eksistensi ilmu ini di tengah-tengah kaum muslimin. [2]Baca Juga: Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban ZakatOleh karena itu, menjadi kewajiban kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali ilmu ini di tengah-tengah mereka, dan juga menjaganya, dengan menyibukkan diri untuk mempelajarinya, baik di masjid, sekolah (madrasah), atau di masyarakat secara umum. Hal ini karena mereka sangat membutuhkan ilmu ini, dan pada saatnya nanti mereka akan bertanya ketika mereka membutuhkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، فَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ“Ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya hanyalah keutamaan, yaitu: ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan faraidh yang adil.” (HR. Abu Dawud no. 2885 dan Ibnu Majah no. 54) [3]Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau mengatakan,تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم“Belajarlah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian. Belajarlah ilmu waris, karena ilmu waris adalah bagian dari agama kalian.” [4]‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu mengatakan, من قَرَأَ مِنْكُم الْقُرْآن فليتعلم الْفَرَائِض“Siapa saja di antara kalian yang belajar (membaca) Al-Qur’an, maka belajarlah ilmu waris.” [5]Baca Juga: Inilah Keutamaan Ilmu dan AhlinyaDi dalam Shahih Muslim terdapat sebuah kisah yang menunjukkan kemuliaan seseorang karena orang tersebut memiliki ilmu yang terkait dengan hukum waris. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di ‘Usfan (nama suatu daerah, pen.). Ketika itu, ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar bertanya, ”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”Nafi’ menjawab, ”Ibnu Abza”. ‘Umar bertanya, ”Siapakah Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab, ”Salah seorang bekas budak kami.” ‘Umar kemudian mengatakan, ”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?” Nafi’ menjawab, ”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan dia juga ahli ilmu faraidh.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim no. 1934)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Sya’ban 1440/5 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[2] Lihat Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, hal. 334 (cet. Daar Ibnul Jauzi, KSA).[3] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[4] Al-Iqtidha’, 1: 527-528 karya Ibnu Taimiyyah.[5] Lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 2: 449.🔍 Dalil Tentang Shalat Berjamaah, Gambar Hewan Haram, Gelar Lc Ma, Bahaya Salafi, Kisah Abu Bakar As Siddiq Lengkap
Di antara cabang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam agama adalah ilmu waris (ilmu faraidh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi umatnya untuk mempelajari dan memberikan perhatian terhadap ilmu tersebut.Baca Juga: Aplikasi Penghitung Waris At-Tashil OnlineNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي“Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu. Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR. Ibnu Majah no. 2719) [1]Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan tentang perkataan Nabi bahwa ilmu faraidh adalah setengah ilmu,“Sesungguhnya manusia itu berada dalam dua keadaan, yaitu hidup atau mati. Ilmu faraidh berkaitan dengan mayoritas hukum yang berkaitan dengan kematian. Sedangkan ilmu lainnya, berkaitan dengan hukum-hukum ketika masih hidup.” [2]Dan terjadilah apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Karena kita jumpai di jaman ini, ilmu faraidh adalah ilmu yang disepelekan dan dilupakan, bahkan di tengah-tengah para penuntut ilmu (thaalibul ‘ilmi) itu sendiri. Kita tidak dijumpai diajarkannya ilmu ini di masjid-masjid kaum muslimin, kecuali sedikit saja dan langka. Demikian juga, tidak kita jumpai diajarkannya ilmu ini di sekolah-sekolah kaum muslimin. Kalaupun ada, maka dengan metode seadanya dan sangat lemah, yang belum bisa menjamin eksistensi ilmu ini di tengah-tengah kaum muslimin. [2]Baca Juga: Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban ZakatOleh karena itu, menjadi kewajiban kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali ilmu ini di tengah-tengah mereka, dan juga menjaganya, dengan menyibukkan diri untuk mempelajarinya, baik di masjid, sekolah (madrasah), atau di masyarakat secara umum. Hal ini karena mereka sangat membutuhkan ilmu ini, dan pada saatnya nanti mereka akan bertanya ketika mereka membutuhkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، فَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ“Ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya hanyalah keutamaan, yaitu: ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan faraidh yang adil.” (HR. Abu Dawud no. 2885 dan Ibnu Majah no. 54) [3]Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau mengatakan,تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم“Belajarlah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian. Belajarlah ilmu waris, karena ilmu waris adalah bagian dari agama kalian.” [4]‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu mengatakan, من قَرَأَ مِنْكُم الْقُرْآن فليتعلم الْفَرَائِض“Siapa saja di antara kalian yang belajar (membaca) Al-Qur’an, maka belajarlah ilmu waris.” [5]Baca Juga: Inilah Keutamaan Ilmu dan AhlinyaDi dalam Shahih Muslim terdapat sebuah kisah yang menunjukkan kemuliaan seseorang karena orang tersebut memiliki ilmu yang terkait dengan hukum waris. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di ‘Usfan (nama suatu daerah, pen.). Ketika itu, ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar bertanya, ”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”Nafi’ menjawab, ”Ibnu Abza”. ‘Umar bertanya, ”Siapakah Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab, ”Salah seorang bekas budak kami.” ‘Umar kemudian mengatakan, ”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?” Nafi’ menjawab, ”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan dia juga ahli ilmu faraidh.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim no. 1934)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Sya’ban 1440/5 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[2] Lihat Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, hal. 334 (cet. Daar Ibnul Jauzi, KSA).[3] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[4] Al-Iqtidha’, 1: 527-528 karya Ibnu Taimiyyah.[5] Lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 2: 449.🔍 Dalil Tentang Shalat Berjamaah, Gambar Hewan Haram, Gelar Lc Ma, Bahaya Salafi, Kisah Abu Bakar As Siddiq Lengkap


Di antara cabang ilmu yang memiliki kedudukan penting dalam agama adalah ilmu waris (ilmu faraidh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memotivasi umatnya untuk mempelajari dan memberikan perhatian terhadap ilmu tersebut.Baca Juga: Aplikasi Penghitung Waris At-Tashil OnlineNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي“Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu. Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR. Ibnu Majah no. 2719) [1]Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan tentang perkataan Nabi bahwa ilmu faraidh adalah setengah ilmu,“Sesungguhnya manusia itu berada dalam dua keadaan, yaitu hidup atau mati. Ilmu faraidh berkaitan dengan mayoritas hukum yang berkaitan dengan kematian. Sedangkan ilmu lainnya, berkaitan dengan hukum-hukum ketika masih hidup.” [2]Dan terjadilah apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Karena kita jumpai di jaman ini, ilmu faraidh adalah ilmu yang disepelekan dan dilupakan, bahkan di tengah-tengah para penuntut ilmu (thaalibul ‘ilmi) itu sendiri. Kita tidak dijumpai diajarkannya ilmu ini di masjid-masjid kaum muslimin, kecuali sedikit saja dan langka. Demikian juga, tidak kita jumpai diajarkannya ilmu ini di sekolah-sekolah kaum muslimin. Kalaupun ada, maka dengan metode seadanya dan sangat lemah, yang belum bisa menjamin eksistensi ilmu ini di tengah-tengah kaum muslimin. [2]Baca Juga: Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban ZakatOleh karena itu, menjadi kewajiban kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali ilmu ini di tengah-tengah mereka, dan juga menjaganya, dengan menyibukkan diri untuk mempelajarinya, baik di masjid, sekolah (madrasah), atau di masyarakat secara umum. Hal ini karena mereka sangat membutuhkan ilmu ini, dan pada saatnya nanti mereka akan bertanya ketika mereka membutuhkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، فَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ“Ilmu itu ada tiga, sedangkan selebihnya hanyalah keutamaan, yaitu: ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan faraidh yang adil.” (HR. Abu Dawud no. 2885 dan Ibnu Majah no. 54) [3]Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau mengatakan,تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم“Belajarlah bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian. Belajarlah ilmu waris, karena ilmu waris adalah bagian dari agama kalian.” [4]‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu mengatakan, من قَرَأَ مِنْكُم الْقُرْآن فليتعلم الْفَرَائِض“Siapa saja di antara kalian yang belajar (membaca) Al-Qur’an, maka belajarlah ilmu waris.” [5]Baca Juga: Inilah Keutamaan Ilmu dan AhlinyaDi dalam Shahih Muslim terdapat sebuah kisah yang menunjukkan kemuliaan seseorang karena orang tersebut memiliki ilmu yang terkait dengan hukum waris. Diriwayatkan dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di ‘Usfan (nama suatu daerah, pen.). Ketika itu, ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar bertanya, ”Siapakah yang Engkau tunjuk untuk memimpin penduduk di lembah itu?”Nafi’ menjawab, ”Ibnu Abza”. ‘Umar bertanya, ”Siapakah Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab, ”Salah seorang bekas budak kami.” ‘Umar kemudian mengatakan, ”Apakah Engkau mengangkat seorang bekas budak?” Nafi’ menjawab, ”Sesungguhnya dia pandai memahami kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan dia juga ahli ilmu faraidh.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim no. 1934)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Sya’ban 1440/5 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[2] Lihat Al-Mulakhkhas Al-Fiqhy, hal. 334 (cet. Daar Ibnul Jauzi, KSA).[3] Dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.[4] Al-Iqtidha’, 1: 527-528 karya Ibnu Taimiyyah.[5] Lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 2: 449.🔍 Dalil Tentang Shalat Berjamaah, Gambar Hewan Haram, Gelar Lc Ma, Bahaya Salafi, Kisah Abu Bakar As Siddiq Lengkap

Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?

Kalau kita mau merenungkan dan menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala, siapa pun manusia di dunia tentu tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupBerbagai nikmat Allah Ta’ala itu seharusnya bisa kita manfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sedikit apa pun nikmat yang kita terima, seharusnya kita syukuri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barangsiapa yang tidak mensyukuri (nikmat) yang sedikit, maka dia sulit untuk mensyukuri (nikmat) yang banyak.” (HR. Ahmad 4: 278. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa terdapat dua nikmat yang mayoritas manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi mensyukurinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tidak bisa memanfaatkan dengan baik, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412).Baca Juga: Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang SantaiWaktu senggang (waktu luang) adalah di antara nikmat yang banyak dilalaikan dan disia-siakan.Padahal, setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur [102]: 8)Berkaitan dengan nikmat waktu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11832; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846; dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib.)Baca Juga: Karena Gadget, Jangan Sampai Mata Dan Hati Menjadi ButaDi antara metode dan kiat terbesar bagi kita agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia. Diriwayatkan dari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317; Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)Betapa sering kita melewatkan waktu hanya untuk aktivitas yang sia-sia. Di antaranya dengan menghabiskan waktu malam hanya untuk “ngobrol” yang tidak ada manfaatnya. Sehingga akibatnya, kita tidur larut malam sehingga terlambat bangun subuh.Padahal, perlu diketahui bahwa menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada urgensi dan kepentingan yang memang bermanfaat (baik manfaat duniawi maupun manfaat untuk agama) itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)Dan karena bangun kesiangan, kita pun akhirnya terlewat dari mendapatkan keberkahan waktu subuh. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud no. 2606; At-Tirmidzi no. 1212; Ibnu Majah no. 2236; dan dinilai shahih oleh Al-Albani)Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar di Ramadhan tahun ini, kita bisa dimudahkan untuk memanfaatkan setiap detik waktu kita untuk aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala untuk meraih derajat ketakwaan.Baca Juga:[Selesai]***@Bengkel AHASS Godean, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Beramal, Mengalah Dalam Islam, Dosa Kecil Adalah, Keutamaan Sholat 5 Waktu, Sholat Jenazah Berapa Takbir

Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?

Kalau kita mau merenungkan dan menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala, siapa pun manusia di dunia tentu tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupBerbagai nikmat Allah Ta’ala itu seharusnya bisa kita manfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sedikit apa pun nikmat yang kita terima, seharusnya kita syukuri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barangsiapa yang tidak mensyukuri (nikmat) yang sedikit, maka dia sulit untuk mensyukuri (nikmat) yang banyak.” (HR. Ahmad 4: 278. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa terdapat dua nikmat yang mayoritas manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi mensyukurinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tidak bisa memanfaatkan dengan baik, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412).Baca Juga: Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang SantaiWaktu senggang (waktu luang) adalah di antara nikmat yang banyak dilalaikan dan disia-siakan.Padahal, setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur [102]: 8)Berkaitan dengan nikmat waktu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11832; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846; dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib.)Baca Juga: Karena Gadget, Jangan Sampai Mata Dan Hati Menjadi ButaDi antara metode dan kiat terbesar bagi kita agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia. Diriwayatkan dari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317; Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)Betapa sering kita melewatkan waktu hanya untuk aktivitas yang sia-sia. Di antaranya dengan menghabiskan waktu malam hanya untuk “ngobrol” yang tidak ada manfaatnya. Sehingga akibatnya, kita tidur larut malam sehingga terlambat bangun subuh.Padahal, perlu diketahui bahwa menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada urgensi dan kepentingan yang memang bermanfaat (baik manfaat duniawi maupun manfaat untuk agama) itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)Dan karena bangun kesiangan, kita pun akhirnya terlewat dari mendapatkan keberkahan waktu subuh. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud no. 2606; At-Tirmidzi no. 1212; Ibnu Majah no. 2236; dan dinilai shahih oleh Al-Albani)Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar di Ramadhan tahun ini, kita bisa dimudahkan untuk memanfaatkan setiap detik waktu kita untuk aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala untuk meraih derajat ketakwaan.Baca Juga:[Selesai]***@Bengkel AHASS Godean, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Beramal, Mengalah Dalam Islam, Dosa Kecil Adalah, Keutamaan Sholat 5 Waktu, Sholat Jenazah Berapa Takbir
Kalau kita mau merenungkan dan menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala, siapa pun manusia di dunia tentu tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupBerbagai nikmat Allah Ta’ala itu seharusnya bisa kita manfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sedikit apa pun nikmat yang kita terima, seharusnya kita syukuri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barangsiapa yang tidak mensyukuri (nikmat) yang sedikit, maka dia sulit untuk mensyukuri (nikmat) yang banyak.” (HR. Ahmad 4: 278. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa terdapat dua nikmat yang mayoritas manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi mensyukurinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tidak bisa memanfaatkan dengan baik, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412).Baca Juga: Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang SantaiWaktu senggang (waktu luang) adalah di antara nikmat yang banyak dilalaikan dan disia-siakan.Padahal, setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur [102]: 8)Berkaitan dengan nikmat waktu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11832; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846; dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib.)Baca Juga: Karena Gadget, Jangan Sampai Mata Dan Hati Menjadi ButaDi antara metode dan kiat terbesar bagi kita agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia. Diriwayatkan dari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317; Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)Betapa sering kita melewatkan waktu hanya untuk aktivitas yang sia-sia. Di antaranya dengan menghabiskan waktu malam hanya untuk “ngobrol” yang tidak ada manfaatnya. Sehingga akibatnya, kita tidur larut malam sehingga terlambat bangun subuh.Padahal, perlu diketahui bahwa menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada urgensi dan kepentingan yang memang bermanfaat (baik manfaat duniawi maupun manfaat untuk agama) itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)Dan karena bangun kesiangan, kita pun akhirnya terlewat dari mendapatkan keberkahan waktu subuh. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud no. 2606; At-Tirmidzi no. 1212; Ibnu Majah no. 2236; dan dinilai shahih oleh Al-Albani)Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar di Ramadhan tahun ini, kita bisa dimudahkan untuk memanfaatkan setiap detik waktu kita untuk aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala untuk meraih derajat ketakwaan.Baca Juga:[Selesai]***@Bengkel AHASS Godean, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Beramal, Mengalah Dalam Islam, Dosa Kecil Adalah, Keutamaan Sholat 5 Waktu, Sholat Jenazah Berapa Takbir


Kalau kita mau merenungkan dan menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala, siapa pun manusia di dunia tentu tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupBerbagai nikmat Allah Ta’ala itu seharusnya bisa kita manfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sedikit apa pun nikmat yang kita terima, seharusnya kita syukuri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barangsiapa yang tidak mensyukuri (nikmat) yang sedikit, maka dia sulit untuk mensyukuri (nikmat) yang banyak.” (HR. Ahmad 4: 278. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa terdapat dua nikmat yang mayoritas manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi mensyukurinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang banyak manusia tidak bisa memanfaatkan dengan baik, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412).Baca Juga: Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang SantaiWaktu senggang (waktu luang) adalah di antara nikmat yang banyak dilalaikan dan disia-siakan.Padahal, setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur [102]: 8)Berkaitan dengan nikmat waktu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11832; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846; dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib.)Baca Juga: Karena Gadget, Jangan Sampai Mata Dan Hati Menjadi ButaDi antara metode dan kiat terbesar bagi kita agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia. Diriwayatkan dari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317; Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)Betapa sering kita melewatkan waktu hanya untuk aktivitas yang sia-sia. Di antaranya dengan menghabiskan waktu malam hanya untuk “ngobrol” yang tidak ada manfaatnya. Sehingga akibatnya, kita tidur larut malam sehingga terlambat bangun subuh.Padahal, perlu diketahui bahwa menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada urgensi dan kepentingan yang memang bermanfaat (baik manfaat duniawi maupun manfaat untuk agama) itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)Dan karena bangun kesiangan, kita pun akhirnya terlewat dari mendapatkan keberkahan waktu subuh. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud no. 2606; At-Tirmidzi no. 1212; Ibnu Majah no. 2236; dan dinilai shahih oleh Al-Albani)Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar di Ramadhan tahun ini, kita bisa dimudahkan untuk memanfaatkan setiap detik waktu kita untuk aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala untuk meraih derajat ketakwaan.Baca Juga:[Selesai]***@Bengkel AHASS Godean, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Beramal, Mengalah Dalam Islam, Dosa Kecil Adalah, Keutamaan Sholat 5 Waktu, Sholat Jenazah Berapa Takbir

10 Terapi Mabuk Cinta

Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat

10 Terapi Mabuk Cinta

Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat
Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat


Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.(1). Menikah Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِSaya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.(2). Meninggalkan Si DiaJika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :البعيد عن العين بعيد عن القلب“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan HatiDalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “(4). Meninggalkan KeharamanCinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘IsyqPenyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.(7). Banyak BerdoaBagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)Doa lain yang Nabi ajarkan :اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)(8). BersabarUntuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.(9). Bersungguh-Sungguh  Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘IsyqHendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Penulis: dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.idSumber bacaan : Al ’Isyq karya Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullahLink kitab : https://almunajjid.com/279🔍 Dosa Bunuh Diri, Lafadz Masya Allah, Mencari Istri Dalam Islam, Ciri Ciri Mati Syahid, Foto Akhwat
Prev     Next