-VIRUS PEMBIARAN-

VIRUS PEMBIARANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MABanyak orang mengeluhkan rusaknya kondisi akhlak masyarakat di zaman ini. Korupsi merebak di segala lini. Perselingkuhan sudah teramat biasa terjadi. Pergaulan bebas di antara remaja yang sulit terkendali. Dan masih banyak lagi potret parahnya kondisi memprihatinkan perilaku para manusia belakangan ini.Namun, tahukah Anda, bahwa sekedar banyak mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah? Justru seharusnya kita berusaha menemukan sumber masalah, lalu mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Berhentilah mencaci kegelapan. Lalu bersegeralah menyalakan lentera, walaupun kecil.Semua Berawal dari Virus PembiaranParahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan. Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran. Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama. Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.Fenomena sikap cuek dan kekurangpedulian inilah awal dari bencana besar yang kita rasakan saat ini. Wajarlah bilamana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان”“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah tingkat keimanan terlemah”. HR. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu.Pembedaan cara pengingkaran mulai dari tangan, lisan, hingga hati ini, dikembalikan kepada kemampuan dan kapasitas masing-masing kita.Tidak membiarkan kemungkaran yang terjadi di depan mata kita, adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, pembiaran kemungkaran adalah sebab kesengsaraan dunia dan akhirat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Siapapun yang mendapatkan amanah dari Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia meninggal dalam keadaan khianat terhadap rakyat, pasti Allah akan haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Beliau juga bersabda,” ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ”“Tiga jenis manusia yang diharamkan Allah masuk surga. (1). Pecandu minuman keras. (2). Orang yang durhaka (kepada orang tuanya). (3). Orang tua dayyuts. Yakni yang membiarkan perbuatan dosa dilakukan oleh anggota keluarganya”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.Marilah kita mulai perbaikan dari orang-orang terdekat di dalam rumah kita. Semoga embrio kebaikan ini akan terus menyebar ke seantero negeri tercinta. Amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 4 Muharram 1439 / 24 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”Next ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

-VIRUS PEMBIARAN-

VIRUS PEMBIARANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MABanyak orang mengeluhkan rusaknya kondisi akhlak masyarakat di zaman ini. Korupsi merebak di segala lini. Perselingkuhan sudah teramat biasa terjadi. Pergaulan bebas di antara remaja yang sulit terkendali. Dan masih banyak lagi potret parahnya kondisi memprihatinkan perilaku para manusia belakangan ini.Namun, tahukah Anda, bahwa sekedar banyak mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah? Justru seharusnya kita berusaha menemukan sumber masalah, lalu mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Berhentilah mencaci kegelapan. Lalu bersegeralah menyalakan lentera, walaupun kecil.Semua Berawal dari Virus PembiaranParahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan. Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran. Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama. Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.Fenomena sikap cuek dan kekurangpedulian inilah awal dari bencana besar yang kita rasakan saat ini. Wajarlah bilamana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان”“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah tingkat keimanan terlemah”. HR. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu.Pembedaan cara pengingkaran mulai dari tangan, lisan, hingga hati ini, dikembalikan kepada kemampuan dan kapasitas masing-masing kita.Tidak membiarkan kemungkaran yang terjadi di depan mata kita, adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, pembiaran kemungkaran adalah sebab kesengsaraan dunia dan akhirat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Siapapun yang mendapatkan amanah dari Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia meninggal dalam keadaan khianat terhadap rakyat, pasti Allah akan haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Beliau juga bersabda,” ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ”“Tiga jenis manusia yang diharamkan Allah masuk surga. (1). Pecandu minuman keras. (2). Orang yang durhaka (kepada orang tuanya). (3). Orang tua dayyuts. Yakni yang membiarkan perbuatan dosa dilakukan oleh anggota keluarganya”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.Marilah kita mulai perbaikan dari orang-orang terdekat di dalam rumah kita. Semoga embrio kebaikan ini akan terus menyebar ke seantero negeri tercinta. Amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 4 Muharram 1439 / 24 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”Next ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
VIRUS PEMBIARANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MABanyak orang mengeluhkan rusaknya kondisi akhlak masyarakat di zaman ini. Korupsi merebak di segala lini. Perselingkuhan sudah teramat biasa terjadi. Pergaulan bebas di antara remaja yang sulit terkendali. Dan masih banyak lagi potret parahnya kondisi memprihatinkan perilaku para manusia belakangan ini.Namun, tahukah Anda, bahwa sekedar banyak mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah? Justru seharusnya kita berusaha menemukan sumber masalah, lalu mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Berhentilah mencaci kegelapan. Lalu bersegeralah menyalakan lentera, walaupun kecil.Semua Berawal dari Virus PembiaranParahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan. Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran. Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama. Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.Fenomena sikap cuek dan kekurangpedulian inilah awal dari bencana besar yang kita rasakan saat ini. Wajarlah bilamana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان”“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah tingkat keimanan terlemah”. HR. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu.Pembedaan cara pengingkaran mulai dari tangan, lisan, hingga hati ini, dikembalikan kepada kemampuan dan kapasitas masing-masing kita.Tidak membiarkan kemungkaran yang terjadi di depan mata kita, adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, pembiaran kemungkaran adalah sebab kesengsaraan dunia dan akhirat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Siapapun yang mendapatkan amanah dari Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia meninggal dalam keadaan khianat terhadap rakyat, pasti Allah akan haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Beliau juga bersabda,” ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ”“Tiga jenis manusia yang diharamkan Allah masuk surga. (1). Pecandu minuman keras. (2). Orang yang durhaka (kepada orang tuanya). (3). Orang tua dayyuts. Yakni yang membiarkan perbuatan dosa dilakukan oleh anggota keluarganya”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.Marilah kita mulai perbaikan dari orang-orang terdekat di dalam rumah kita. Semoga embrio kebaikan ini akan terus menyebar ke seantero negeri tercinta. Amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 4 Muharram 1439 / 24 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”Next ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


VIRUS PEMBIARANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MABanyak orang mengeluhkan rusaknya kondisi akhlak masyarakat di zaman ini. Korupsi merebak di segala lini. Perselingkuhan sudah teramat biasa terjadi. Pergaulan bebas di antara remaja yang sulit terkendali. Dan masih banyak lagi potret parahnya kondisi memprihatinkan perilaku para manusia belakangan ini.Namun, tahukah Anda, bahwa sekedar banyak mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah? Justru seharusnya kita berusaha menemukan sumber masalah, lalu mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Berhentilah mencaci kegelapan. Lalu bersegeralah menyalakan lentera, walaupun kecil.Semua Berawal dari Virus PembiaranParahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan. Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran. Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama. Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.Fenomena sikap cuek dan kekurangpedulian inilah awal dari bencana besar yang kita rasakan saat ini. Wajarlah bilamana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان”“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah tingkat keimanan terlemah”. HR. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu.Pembedaan cara pengingkaran mulai dari tangan, lisan, hingga hati ini, dikembalikan kepada kemampuan dan kapasitas masing-masing kita.Tidak membiarkan kemungkaran yang terjadi di depan mata kita, adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, pembiaran kemungkaran adalah sebab kesengsaraan dunia dan akhirat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”“Siapapun yang mendapatkan amanah dari Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia meninggal dalam keadaan khianat terhadap rakyat, pasti Allah akan haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.Beliau juga bersabda,” ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ”“Tiga jenis manusia yang diharamkan Allah masuk surga. (1). Pecandu minuman keras. (2). Orang yang durhaka (kepada orang tuanya). (3). Orang tua dayyuts. Yakni yang membiarkan perbuatan dosa dilakukan oleh anggota keluarganya”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.Marilah kita mulai perbaikan dari orang-orang terdekat di dalam rumah kita. Semoga embrio kebaikan ini akan terus menyebar ke seantero negeri tercinta. Amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Ahad, 4 Muharram 1439 / 24 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”Next ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”

 Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim yang berdoa, tentu menginginkan permintaannya terkabul. Namun perlu diketahui bahwa agar doa yang kita panjatkan itu dikabulkan, ada syarat-syarat dan etika-etika yang harus kita penuhi. Semua syarat dan etika itu penting. Namun levelnya tidak sama. Ada yang primer dan ada yang sekunder. Ada yang wajib dan ada yang sunnah.Di antara syarat utama yang wajib dipenuhi, adalah doa tersebut harus ikhlas karena Allah. Yakni doa itu tertuju hanya kepada Allah saja.Allah ta’ala berfirman,.”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berpesan, “إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan takdir telah kering”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Suatu hari kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami Sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepada beliau. Maka kami pun menjawab, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah? Kami membaiatmu dalam hal apa?”. Beliau menjawab, “عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”“Kalian harus beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Tunaikan shalat lima waktu. Patuhlah”. Lalu beliau membisikkan sebuah kata. “Jangan kalian meminta apapun kepada orang lain”. Sungguh aku menyaksikan komitmen orang-orang tersebut dalam menunaikan baiat janji setia mereka kepada Rasulullah. Ada di antara mereka yang cemetinya terjatuh saat naik tunggangan. Ia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya”. HR. Muslim.Maka, berlatihlah untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Muharram 1439 / 25 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3Next -VIRUS PEMBIARAN- Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!”

 Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim yang berdoa, tentu menginginkan permintaannya terkabul. Namun perlu diketahui bahwa agar doa yang kita panjatkan itu dikabulkan, ada syarat-syarat dan etika-etika yang harus kita penuhi. Semua syarat dan etika itu penting. Namun levelnya tidak sama. Ada yang primer dan ada yang sekunder. Ada yang wajib dan ada yang sunnah.Di antara syarat utama yang wajib dipenuhi, adalah doa tersebut harus ikhlas karena Allah. Yakni doa itu tertuju hanya kepada Allah saja.Allah ta’ala berfirman,.”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berpesan, “إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan takdir telah kering”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Suatu hari kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami Sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepada beliau. Maka kami pun menjawab, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah? Kami membaiatmu dalam hal apa?”. Beliau menjawab, “عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”“Kalian harus beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Tunaikan shalat lima waktu. Patuhlah”. Lalu beliau membisikkan sebuah kata. “Jangan kalian meminta apapun kepada orang lain”. Sungguh aku menyaksikan komitmen orang-orang tersebut dalam menunaikan baiat janji setia mereka kepada Rasulullah. Ada di antara mereka yang cemetinya terjatuh saat naik tunggangan. Ia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya”. HR. Muslim.Maka, berlatihlah untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Muharram 1439 / 25 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3Next -VIRUS PEMBIARAN- Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
 Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim yang berdoa, tentu menginginkan permintaannya terkabul. Namun perlu diketahui bahwa agar doa yang kita panjatkan itu dikabulkan, ada syarat-syarat dan etika-etika yang harus kita penuhi. Semua syarat dan etika itu penting. Namun levelnya tidak sama. Ada yang primer dan ada yang sekunder. Ada yang wajib dan ada yang sunnah.Di antara syarat utama yang wajib dipenuhi, adalah doa tersebut harus ikhlas karena Allah. Yakni doa itu tertuju hanya kepada Allah saja.Allah ta’ala berfirman,.”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berpesan, “إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan takdir telah kering”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Suatu hari kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami Sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepada beliau. Maka kami pun menjawab, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah? Kami membaiatmu dalam hal apa?”. Beliau menjawab, “عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”“Kalian harus beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Tunaikan shalat lima waktu. Patuhlah”. Lalu beliau membisikkan sebuah kata. “Jangan kalian meminta apapun kepada orang lain”. Sungguh aku menyaksikan komitmen orang-orang tersebut dalam menunaikan baiat janji setia mereka kepada Rasulullah. Ada di antara mereka yang cemetinya terjatuh saat naik tunggangan. Ia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya”. HR. Muslim.Maka, berlatihlah untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Muharram 1439 / 25 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3Next -VIRUS PEMBIARAN- Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


 Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim yang berdoa, tentu menginginkan permintaannya terkabul. Namun perlu diketahui bahwa agar doa yang kita panjatkan itu dikabulkan, ada syarat-syarat dan etika-etika yang harus kita penuhi. Semua syarat dan etika itu penting. Namun levelnya tidak sama. Ada yang primer dan ada yang sekunder. Ada yang wajib dan ada yang sunnah.Di antara syarat utama yang wajib dipenuhi, adalah doa tersebut harus ikhlas karena Allah. Yakni doa itu tertuju hanya kepada Allah saja.Allah ta’ala berfirman,.”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berpesan, “إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan takdir telah kering”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Suatu hari kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami Sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepada beliau. Maka kami pun menjawab, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah?”. Beliau kembali bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami menjawab lagi, “Bukankah kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah? Kami membaiatmu dalam hal apa?”. Beliau menjawab, “عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”“Kalian harus beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun. Tunaikan shalat lima waktu. Patuhlah”. Lalu beliau membisikkan sebuah kata. “Jangan kalian meminta apapun kepada orang lain”. Sungguh aku menyaksikan komitmen orang-orang tersebut dalam menunaikan baiat janji setia mereka kepada Rasulullah. Ada di antara mereka yang cemetinya terjatuh saat naik tunggangan. Ia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya”. HR. Muslim.Maka, berlatihlah untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Muharram 1439 / 25 September 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3Next -VIRUS PEMBIARAN- Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3

Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa arahan global untuk membantu orang tua melakukan edukasi yang benar kepada anak tentang masalah pendidikan seksual. Berikut kelanjutannya:Keempat: Memisahkan tempat tidur anakMembaca berbagai berita yang dipaparkan di media saat ini seringkali membuat kita sangat prihatin. Salah satunya adalah terjadinya hubungan seks dengan saudara-saudari kandung. Na’udzu billah min dzalik… Perilaku menjijikkan tersebut, bisa jadi pemicunya adalah karena tidak diperhatikannya adab tidur yang telah diajarkan dalam Islam. Di antara etika tersebut adalah memisahkan tempat tidur anak. Yakni ketika usianya sudah menginjak tujuh tahun. Apalagi bila telah berusia sepuluh tahun. Dipisahkan dengan saudara sesama laki-laki, dengan saudari sesama perempuan, apalagi antara laki-laki dan perempuan. Termasuk dipisahkan dari ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ”“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (bila tidak mau shalat) saat berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka di tidur”. HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh an-Nawawiy juga al-Albaniy.Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy berkata, “Dengan hadits ini, para imam kita menjelaskan: wajib memisahkan antara lelaki dan perempuan. Maka dengan ini tidak dibolehkan anak laki dan anak perempuan berkumpul di satu tempat tidur”.Teknis PemisahanBila memungkinkan untuk melakukan pemisahan kamar, maka ini lebih baik. Sebab lebih aman dari fitnah. Jika tidak, maka dipisahkan ranjangnya. Masing-masing memakai kasur yang terpisah. “إِذَا بَلَغَ أَوْلَادُكُمْ سَبْعَ سِنِينَ فَفَرِّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ”“Bila anak-anak kalian telah sampai usia tujuh tahun, maka pisahkanlah kasur mereka”. HR. Ad-Daraquthniy dan dinilai sahih oleh adz-Dzahabiy juga al-Albaniy.Bila tidak memungkinkan juga, maka tidak mengapa tidur satu kasur. Namun aurat harus ditutup dan dipisahkan dengan cara setiap anak memakai selimut sendiri-sendiri. Juga harus aman dari fitnah. Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga anak-anak kita dari hal negatif. Sebab pada umur-umur ini ‘ketertarikan’ laki-laki terhadap perempuan mulai muncul. Begitu juga ‘ketertarikan’ perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal pemahaman mereka masih dangkal. Maka hal tersebut bisa menjadi alat setan untuk menyeret mereka pada perbuatan haram. Bersambung…===================== @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulhijjah 1438 / 18 September 2017 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.-Periksa Al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Ibn Muflih (III/538).-Baca: Radd al-Muhtâr karya Ibn ‘Abidin (VI/382).-Mirqat al-Mafâtîh karya Abul Hasan al-Harawiy (II/512).https://islamqa.info/ar/78833– Lihat: Asnâ al-Mathâlib karya Zakariya al-Anshariy (III/113).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada TuntunannyaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3

Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa arahan global untuk membantu orang tua melakukan edukasi yang benar kepada anak tentang masalah pendidikan seksual. Berikut kelanjutannya:Keempat: Memisahkan tempat tidur anakMembaca berbagai berita yang dipaparkan di media saat ini seringkali membuat kita sangat prihatin. Salah satunya adalah terjadinya hubungan seks dengan saudara-saudari kandung. Na’udzu billah min dzalik… Perilaku menjijikkan tersebut, bisa jadi pemicunya adalah karena tidak diperhatikannya adab tidur yang telah diajarkan dalam Islam. Di antara etika tersebut adalah memisahkan tempat tidur anak. Yakni ketika usianya sudah menginjak tujuh tahun. Apalagi bila telah berusia sepuluh tahun. Dipisahkan dengan saudara sesama laki-laki, dengan saudari sesama perempuan, apalagi antara laki-laki dan perempuan. Termasuk dipisahkan dari ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ”“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (bila tidak mau shalat) saat berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka di tidur”. HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh an-Nawawiy juga al-Albaniy.Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy berkata, “Dengan hadits ini, para imam kita menjelaskan: wajib memisahkan antara lelaki dan perempuan. Maka dengan ini tidak dibolehkan anak laki dan anak perempuan berkumpul di satu tempat tidur”.Teknis PemisahanBila memungkinkan untuk melakukan pemisahan kamar, maka ini lebih baik. Sebab lebih aman dari fitnah. Jika tidak, maka dipisahkan ranjangnya. Masing-masing memakai kasur yang terpisah. “إِذَا بَلَغَ أَوْلَادُكُمْ سَبْعَ سِنِينَ فَفَرِّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ”“Bila anak-anak kalian telah sampai usia tujuh tahun, maka pisahkanlah kasur mereka”. HR. Ad-Daraquthniy dan dinilai sahih oleh adz-Dzahabiy juga al-Albaniy.Bila tidak memungkinkan juga, maka tidak mengapa tidur satu kasur. Namun aurat harus ditutup dan dipisahkan dengan cara setiap anak memakai selimut sendiri-sendiri. Juga harus aman dari fitnah. Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga anak-anak kita dari hal negatif. Sebab pada umur-umur ini ‘ketertarikan’ laki-laki terhadap perempuan mulai muncul. Begitu juga ‘ketertarikan’ perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal pemahaman mereka masih dangkal. Maka hal tersebut bisa menjadi alat setan untuk menyeret mereka pada perbuatan haram. Bersambung…===================== @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulhijjah 1438 / 18 September 2017 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.-Periksa Al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Ibn Muflih (III/538).-Baca: Radd al-Muhtâr karya Ibn ‘Abidin (VI/382).-Mirqat al-Mafâtîh karya Abul Hasan al-Harawiy (II/512).https://islamqa.info/ar/78833– Lihat: Asnâ al-Mathâlib karya Zakariya al-Anshariy (III/113).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada TuntunannyaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa arahan global untuk membantu orang tua melakukan edukasi yang benar kepada anak tentang masalah pendidikan seksual. Berikut kelanjutannya:Keempat: Memisahkan tempat tidur anakMembaca berbagai berita yang dipaparkan di media saat ini seringkali membuat kita sangat prihatin. Salah satunya adalah terjadinya hubungan seks dengan saudara-saudari kandung. Na’udzu billah min dzalik… Perilaku menjijikkan tersebut, bisa jadi pemicunya adalah karena tidak diperhatikannya adab tidur yang telah diajarkan dalam Islam. Di antara etika tersebut adalah memisahkan tempat tidur anak. Yakni ketika usianya sudah menginjak tujuh tahun. Apalagi bila telah berusia sepuluh tahun. Dipisahkan dengan saudara sesama laki-laki, dengan saudari sesama perempuan, apalagi antara laki-laki dan perempuan. Termasuk dipisahkan dari ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ”“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (bila tidak mau shalat) saat berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka di tidur”. HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh an-Nawawiy juga al-Albaniy.Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy berkata, “Dengan hadits ini, para imam kita menjelaskan: wajib memisahkan antara lelaki dan perempuan. Maka dengan ini tidak dibolehkan anak laki dan anak perempuan berkumpul di satu tempat tidur”.Teknis PemisahanBila memungkinkan untuk melakukan pemisahan kamar, maka ini lebih baik. Sebab lebih aman dari fitnah. Jika tidak, maka dipisahkan ranjangnya. Masing-masing memakai kasur yang terpisah. “إِذَا بَلَغَ أَوْلَادُكُمْ سَبْعَ سِنِينَ فَفَرِّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ”“Bila anak-anak kalian telah sampai usia tujuh tahun, maka pisahkanlah kasur mereka”. HR. Ad-Daraquthniy dan dinilai sahih oleh adz-Dzahabiy juga al-Albaniy.Bila tidak memungkinkan juga, maka tidak mengapa tidur satu kasur. Namun aurat harus ditutup dan dipisahkan dengan cara setiap anak memakai selimut sendiri-sendiri. Juga harus aman dari fitnah. Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga anak-anak kita dari hal negatif. Sebab pada umur-umur ini ‘ketertarikan’ laki-laki terhadap perempuan mulai muncul. Begitu juga ‘ketertarikan’ perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal pemahaman mereka masih dangkal. Maka hal tersebut bisa menjadi alat setan untuk menyeret mereka pada perbuatan haram. Bersambung…===================== @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulhijjah 1438 / 18 September 2017 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.-Periksa Al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Ibn Muflih (III/538).-Baca: Radd al-Muhtâr karya Ibn ‘Abidin (VI/382).-Mirqat al-Mafâtîh karya Abul Hasan al-Harawiy (II/512).https://islamqa.info/ar/78833– Lihat: Asnâ al-Mathâlib karya Zakariya al-Anshariy (III/113).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada TuntunannyaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa arahan global untuk membantu orang tua melakukan edukasi yang benar kepada anak tentang masalah pendidikan seksual. Berikut kelanjutannya:Keempat: Memisahkan tempat tidur anakMembaca berbagai berita yang dipaparkan di media saat ini seringkali membuat kita sangat prihatin. Salah satunya adalah terjadinya hubungan seks dengan saudara-saudari kandung. Na’udzu billah min dzalik… Perilaku menjijikkan tersebut, bisa jadi pemicunya adalah karena tidak diperhatikannya adab tidur yang telah diajarkan dalam Islam. Di antara etika tersebut adalah memisahkan tempat tidur anak. Yakni ketika usianya sudah menginjak tujuh tahun. Apalagi bila telah berusia sepuluh tahun. Dipisahkan dengan saudara sesama laki-laki, dengan saudari sesama perempuan, apalagi antara laki-laki dan perempuan. Termasuk dipisahkan dari ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ”“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (bila tidak mau shalat) saat berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka di tidur”. HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh an-Nawawiy juga al-Albaniy.Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy berkata, “Dengan hadits ini, para imam kita menjelaskan: wajib memisahkan antara lelaki dan perempuan. Maka dengan ini tidak dibolehkan anak laki dan anak perempuan berkumpul di satu tempat tidur”.Teknis PemisahanBila memungkinkan untuk melakukan pemisahan kamar, maka ini lebih baik. Sebab lebih aman dari fitnah. Jika tidak, maka dipisahkan ranjangnya. Masing-masing memakai kasur yang terpisah. “إِذَا بَلَغَ أَوْلَادُكُمْ سَبْعَ سِنِينَ فَفَرِّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ”“Bila anak-anak kalian telah sampai usia tujuh tahun, maka pisahkanlah kasur mereka”. HR. Ad-Daraquthniy dan dinilai sahih oleh adz-Dzahabiy juga al-Albaniy.Bila tidak memungkinkan juga, maka tidak mengapa tidur satu kasur. Namun aurat harus ditutup dan dipisahkan dengan cara setiap anak memakai selimut sendiri-sendiri. Juga harus aman dari fitnah. Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga anak-anak kita dari hal negatif. Sebab pada umur-umur ini ‘ketertarikan’ laki-laki terhadap perempuan mulai muncul. Begitu juga ‘ketertarikan’ perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal pemahaman mereka masih dangkal. Maka hal tersebut bisa menjadi alat setan untuk menyeret mereka pada perbuatan haram. Bersambung…===================== @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulhijjah 1438 / 18 September 2017 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.-Periksa Al-Âdâb asy-Syar’iyyah karya Ibn Muflih (III/538).-Baca: Radd al-Muhtâr karya Ibn ‘Abidin (VI/382).-Mirqat al-Mafâtîh karya Abul Hasan al-Harawiy (II/512).https://islamqa.info/ar/78833– Lihat: Asnâ al-Mathâlib karya Zakariya al-Anshariy (III/113).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada TuntunannyaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 123- “BERDOALAH HANYA KEPADA ALLAH!” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya

Doa adalah salah satu ibadah mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sehingga kewajiban setiap muslim adalah mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengamalkannya. Sebab tuntunan beliau adalah yang terbaik, tersempurna dan terbenar.Beliau telah menerangkan sejelas-jelasnya segala hal yang berkaitan dengan doa. Kapan waktu mustajabnya? Di mana tempat yang mustajab? Kondisi seperti apa yang mustajab? Siapa orang-orang yang doanya mustajab? Dan lain sebagainya.Doa untuk segala kondisi yang dibutuhkan setiap insan, juga sudah dijelaskan doanya. Saat dia sedih atau senang, sakit atau sehat, mendapat nikmat atau ditimpa musibah, bepergian atau menetap dan berbagai kondisi lainnya. Saat akan tidur atau bangun tidur, ketika memasuki kamar mandi atau keluar darinya, saat mengenakan pakaian atau melepaskannya, ketika memasuki masjid atau keluar darinya dan masih banyak lagi yang lainnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ…”.“Tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan wajib mengajarkan kebaikan yang ia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui…”. HR. Muslim (no. 1844) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.Maka sungguh amat memprihatinkan keadaan sebagian orang yang disibukkan dengan doa-doa yang tidak ada tuntunannya. Di waktu yang sama, doa-doa yang ada tuntunannya malah ia tinggalkan.Imam ath-Tharthusyiy (w. 520 H) berkata, “Di antara perilaku yang paling aneh, adalah meninggalkan doa-doa yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an. Doa yang dipanjatkan para nabi, para wali, para manusia pilihan, dan doa tersebut telah terjamin mustajab. Kemudian memilih berdoa dengan doa-doa para penyair dan penulis biasa. Seakan telah mengamalkan seluruh doa para nabi, lalu merasa perlu untuk menambahinya dengan doa dari selain mereka”.[1]Yang lebih parah lagi, seringkali doa-doa bikinan sendiri itu mengandung kata-kata kufur dan permohonan bantuan kepada selain Allah ta’ala.Setelah menjelaskan tentang pentingnya mencukupkan diri dengan doa-doa yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah, Imam al-Qarafiy (w. 684 H) mengingatkan dari doa-doa yang menyimpang.Kata beliau, “Wajib menjauhi doa-doa yang mengandung kekufuran dan yang semisalnya. Sebab akan mendatangkan kemurkaan Allah dan mengakibatkan kekal di neraka”.[2]Adapun doa yang bersifat umum, tidak terbatas waktu atau tempat, yang tidak ditentukan syariat redaksi doanya, maka tidak mengapa bagi seorang muslim untuk menggunakan redaksi sendiri. Namun dengan syarat, redaksi tersebut tidak mengandung unsur penyimpangan, tidak diyakini memiliki keistimewaan khusus, dan tidak dirutinkan pengamalannya.[3]Akan tetapi dengan tetap memprioritaskan doa yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulhijjah 1438 / 28 Agustus 2017[1] Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah karya Ibn ‘Allan (I/17).[2] Al-Furûq (IV/264-265).[3] https://islamqa.info/ar/131985 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya

Doa adalah salah satu ibadah mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sehingga kewajiban setiap muslim adalah mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengamalkannya. Sebab tuntunan beliau adalah yang terbaik, tersempurna dan terbenar.Beliau telah menerangkan sejelas-jelasnya segala hal yang berkaitan dengan doa. Kapan waktu mustajabnya? Di mana tempat yang mustajab? Kondisi seperti apa yang mustajab? Siapa orang-orang yang doanya mustajab? Dan lain sebagainya.Doa untuk segala kondisi yang dibutuhkan setiap insan, juga sudah dijelaskan doanya. Saat dia sedih atau senang, sakit atau sehat, mendapat nikmat atau ditimpa musibah, bepergian atau menetap dan berbagai kondisi lainnya. Saat akan tidur atau bangun tidur, ketika memasuki kamar mandi atau keluar darinya, saat mengenakan pakaian atau melepaskannya, ketika memasuki masjid atau keluar darinya dan masih banyak lagi yang lainnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ…”.“Tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan wajib mengajarkan kebaikan yang ia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui…”. HR. Muslim (no. 1844) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.Maka sungguh amat memprihatinkan keadaan sebagian orang yang disibukkan dengan doa-doa yang tidak ada tuntunannya. Di waktu yang sama, doa-doa yang ada tuntunannya malah ia tinggalkan.Imam ath-Tharthusyiy (w. 520 H) berkata, “Di antara perilaku yang paling aneh, adalah meninggalkan doa-doa yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an. Doa yang dipanjatkan para nabi, para wali, para manusia pilihan, dan doa tersebut telah terjamin mustajab. Kemudian memilih berdoa dengan doa-doa para penyair dan penulis biasa. Seakan telah mengamalkan seluruh doa para nabi, lalu merasa perlu untuk menambahinya dengan doa dari selain mereka”.[1]Yang lebih parah lagi, seringkali doa-doa bikinan sendiri itu mengandung kata-kata kufur dan permohonan bantuan kepada selain Allah ta’ala.Setelah menjelaskan tentang pentingnya mencukupkan diri dengan doa-doa yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah, Imam al-Qarafiy (w. 684 H) mengingatkan dari doa-doa yang menyimpang.Kata beliau, “Wajib menjauhi doa-doa yang mengandung kekufuran dan yang semisalnya. Sebab akan mendatangkan kemurkaan Allah dan mengakibatkan kekal di neraka”.[2]Adapun doa yang bersifat umum, tidak terbatas waktu atau tempat, yang tidak ditentukan syariat redaksi doanya, maka tidak mengapa bagi seorang muslim untuk menggunakan redaksi sendiri. Namun dengan syarat, redaksi tersebut tidak mengandung unsur penyimpangan, tidak diyakini memiliki keistimewaan khusus, dan tidak dirutinkan pengamalannya.[3]Akan tetapi dengan tetap memprioritaskan doa yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulhijjah 1438 / 28 Agustus 2017[1] Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah karya Ibn ‘Allan (I/17).[2] Al-Furûq (IV/264-265).[3] https://islamqa.info/ar/131985 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Doa adalah salah satu ibadah mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sehingga kewajiban setiap muslim adalah mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengamalkannya. Sebab tuntunan beliau adalah yang terbaik, tersempurna dan terbenar.Beliau telah menerangkan sejelas-jelasnya segala hal yang berkaitan dengan doa. Kapan waktu mustajabnya? Di mana tempat yang mustajab? Kondisi seperti apa yang mustajab? Siapa orang-orang yang doanya mustajab? Dan lain sebagainya.Doa untuk segala kondisi yang dibutuhkan setiap insan, juga sudah dijelaskan doanya. Saat dia sedih atau senang, sakit atau sehat, mendapat nikmat atau ditimpa musibah, bepergian atau menetap dan berbagai kondisi lainnya. Saat akan tidur atau bangun tidur, ketika memasuki kamar mandi atau keluar darinya, saat mengenakan pakaian atau melepaskannya, ketika memasuki masjid atau keluar darinya dan masih banyak lagi yang lainnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ…”.“Tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan wajib mengajarkan kebaikan yang ia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui…”. HR. Muslim (no. 1844) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.Maka sungguh amat memprihatinkan keadaan sebagian orang yang disibukkan dengan doa-doa yang tidak ada tuntunannya. Di waktu yang sama, doa-doa yang ada tuntunannya malah ia tinggalkan.Imam ath-Tharthusyiy (w. 520 H) berkata, “Di antara perilaku yang paling aneh, adalah meninggalkan doa-doa yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an. Doa yang dipanjatkan para nabi, para wali, para manusia pilihan, dan doa tersebut telah terjamin mustajab. Kemudian memilih berdoa dengan doa-doa para penyair dan penulis biasa. Seakan telah mengamalkan seluruh doa para nabi, lalu merasa perlu untuk menambahinya dengan doa dari selain mereka”.[1]Yang lebih parah lagi, seringkali doa-doa bikinan sendiri itu mengandung kata-kata kufur dan permohonan bantuan kepada selain Allah ta’ala.Setelah menjelaskan tentang pentingnya mencukupkan diri dengan doa-doa yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah, Imam al-Qarafiy (w. 684 H) mengingatkan dari doa-doa yang menyimpang.Kata beliau, “Wajib menjauhi doa-doa yang mengandung kekufuran dan yang semisalnya. Sebab akan mendatangkan kemurkaan Allah dan mengakibatkan kekal di neraka”.[2]Adapun doa yang bersifat umum, tidak terbatas waktu atau tempat, yang tidak ditentukan syariat redaksi doanya, maka tidak mengapa bagi seorang muslim untuk menggunakan redaksi sendiri. Namun dengan syarat, redaksi tersebut tidak mengandung unsur penyimpangan, tidak diyakini memiliki keistimewaan khusus, dan tidak dirutinkan pengamalannya.[3]Akan tetapi dengan tetap memprioritaskan doa yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulhijjah 1438 / 28 Agustus 2017[1] Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah karya Ibn ‘Allan (I/17).[2] Al-Furûq (IV/264-265).[3] https://islamqa.info/ar/131985 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Doa adalah salah satu ibadah mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sehingga kewajiban setiap muslim adalah mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengamalkannya. Sebab tuntunan beliau adalah yang terbaik, tersempurna dan terbenar.Beliau telah menerangkan sejelas-jelasnya segala hal yang berkaitan dengan doa. Kapan waktu mustajabnya? Di mana tempat yang mustajab? Kondisi seperti apa yang mustajab? Siapa orang-orang yang doanya mustajab? Dan lain sebagainya.Doa untuk segala kondisi yang dibutuhkan setiap insan, juga sudah dijelaskan doanya. Saat dia sedih atau senang, sakit atau sehat, mendapat nikmat atau ditimpa musibah, bepergian atau menetap dan berbagai kondisi lainnya. Saat akan tidur atau bangun tidur, ketika memasuki kamar mandi atau keluar darinya, saat mengenakan pakaian atau melepaskannya, ketika memasuki masjid atau keluar darinya dan masih banyak lagi yang lainnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ…”.“Tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan wajib mengajarkan kebaikan yang ia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui…”. HR. Muslim (no. 1844) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.Maka sungguh amat memprihatinkan keadaan sebagian orang yang disibukkan dengan doa-doa yang tidak ada tuntunannya. Di waktu yang sama, doa-doa yang ada tuntunannya malah ia tinggalkan.Imam ath-Tharthusyiy (w. 520 H) berkata, “Di antara perilaku yang paling aneh, adalah meninggalkan doa-doa yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an. Doa yang dipanjatkan para nabi, para wali, para manusia pilihan, dan doa tersebut telah terjamin mustajab. Kemudian memilih berdoa dengan doa-doa para penyair dan penulis biasa. Seakan telah mengamalkan seluruh doa para nabi, lalu merasa perlu untuk menambahinya dengan doa dari selain mereka”.[1]Yang lebih parah lagi, seringkali doa-doa bikinan sendiri itu mengandung kata-kata kufur dan permohonan bantuan kepada selain Allah ta’ala.Setelah menjelaskan tentang pentingnya mencukupkan diri dengan doa-doa yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah, Imam al-Qarafiy (w. 684 H) mengingatkan dari doa-doa yang menyimpang.Kata beliau, “Wajib menjauhi doa-doa yang mengandung kekufuran dan yang semisalnya. Sebab akan mendatangkan kemurkaan Allah dan mengakibatkan kekal di neraka”.[2]Adapun doa yang bersifat umum, tidak terbatas waktu atau tempat, yang tidak ditentukan syariat redaksi doanya, maka tidak mengapa bagi seorang muslim untuk menggunakan redaksi sendiri. Namun dengan syarat, redaksi tersebut tidak mengandung unsur penyimpangan, tidak diyakini memiliki keistimewaan khusus, dan tidak dirutinkan pengamalannya.[3]Akan tetapi dengan tetap memprioritaskan doa yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulhijjah 1438 / 28 Agustus 2017[1] Al-Futûhât ar-Rabbâniyyah karya Ibn ‘Allan (I/17).[2] Al-Furûq (IV/264-265).[3] https://islamqa.info/ar/131985 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 100 ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas dalil larangan melampaui batas dalam berdoa. Juga beberapa contohnya. Berikut pembahasan tentang contoh lain dari praktek melampaui batas:Keempat: Meminta sesuatu yang tidak boleh dimintaHal ini termasuk melampaui batas dalam berdoa, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H). Sebab salah satu syarat berdoa adalah bahwa isi permintaan yang kita panjatkan harus sesuatu yang boleh untuk diminta.Contoh sesuatu yang tidak boleh diminta:Berdoa meminta agar menjadi malaikat atau memohon agar menyamai kedudukan para nabi dan rasul. Sebab setekun dan sebesar apapun hamba beramal, ia tidak akan mungkin sampai derajat malaikat dan rasul.Berdoa meminta agar dimudahkan Allah untuk berbuat dosa dan maksiat. Sebab itu semua dibenci oleh-Nya. Sehingga tidak pantas bila seorang hamba meminta sesuatu yang dibenci dan diharamkan oleh Rabbnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لا يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطيعَةِ رحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ”“Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan, asalkan dia tidak berdoa meminta dosa atau memutus silaturrahim, selama ia tidak tergesa-gesa”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Berdoa meminta agar rahmat dan kasih sayang Allah terlimpah hanya untuk dirinya sendiri saja, tidak untuk muslim lainnya. Ini tidak diperbolehkan. Sebab mempersempit rahmat Allah yang aslinya amat luas.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ: “اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا“. فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ: “لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا“ يُرِيدُ رَحْمَةَ اللهِ “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat. Di tengah-tengah shalat ada seorang arab badui berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Jangan Engkau rahmati seorangpun selain kami berdua”. Selepas salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang arab tadi, “Engkau sudah mempersempit rahmat Allah yang luas”. HR. Bukhari.Berdoa memintakan ampunan untuk orang kafir yang telah meninggal. Allahberfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim”. QS. At-Taubah (10) Bersambung… Post navigation Previous Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas dalil larangan melampaui batas dalam berdoa. Juga beberapa contohnya. Berikut pembahasan tentang contoh lain dari praktek melampaui batas:Keempat: Meminta sesuatu yang tidak boleh dimintaHal ini termasuk melampaui batas dalam berdoa, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H). Sebab salah satu syarat berdoa adalah bahwa isi permintaan yang kita panjatkan harus sesuatu yang boleh untuk diminta.Contoh sesuatu yang tidak boleh diminta:Berdoa meminta agar menjadi malaikat atau memohon agar menyamai kedudukan para nabi dan rasul. Sebab setekun dan sebesar apapun hamba beramal, ia tidak akan mungkin sampai derajat malaikat dan rasul.Berdoa meminta agar dimudahkan Allah untuk berbuat dosa dan maksiat. Sebab itu semua dibenci oleh-Nya. Sehingga tidak pantas bila seorang hamba meminta sesuatu yang dibenci dan diharamkan oleh Rabbnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لا يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطيعَةِ رحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ”“Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan, asalkan dia tidak berdoa meminta dosa atau memutus silaturrahim, selama ia tidak tergesa-gesa”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Berdoa meminta agar rahmat dan kasih sayang Allah terlimpah hanya untuk dirinya sendiri saja, tidak untuk muslim lainnya. Ini tidak diperbolehkan. Sebab mempersempit rahmat Allah yang aslinya amat luas.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ: “اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا“. فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ: “لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا“ يُرِيدُ رَحْمَةَ اللهِ “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat. Di tengah-tengah shalat ada seorang arab badui berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Jangan Engkau rahmati seorangpun selain kami berdua”. Selepas salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang arab tadi, “Engkau sudah mempersempit rahmat Allah yang luas”. HR. Bukhari.Berdoa memintakan ampunan untuk orang kafir yang telah meninggal. Allahberfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim”. QS. At-Taubah (10) Bersambung… Post navigation Previous Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas dalil larangan melampaui batas dalam berdoa. Juga beberapa contohnya. Berikut pembahasan tentang contoh lain dari praktek melampaui batas:Keempat: Meminta sesuatu yang tidak boleh dimintaHal ini termasuk melampaui batas dalam berdoa, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H). Sebab salah satu syarat berdoa adalah bahwa isi permintaan yang kita panjatkan harus sesuatu yang boleh untuk diminta.Contoh sesuatu yang tidak boleh diminta:Berdoa meminta agar menjadi malaikat atau memohon agar menyamai kedudukan para nabi dan rasul. Sebab setekun dan sebesar apapun hamba beramal, ia tidak akan mungkin sampai derajat malaikat dan rasul.Berdoa meminta agar dimudahkan Allah untuk berbuat dosa dan maksiat. Sebab itu semua dibenci oleh-Nya. Sehingga tidak pantas bila seorang hamba meminta sesuatu yang dibenci dan diharamkan oleh Rabbnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لا يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطيعَةِ رحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ”“Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan, asalkan dia tidak berdoa meminta dosa atau memutus silaturrahim, selama ia tidak tergesa-gesa”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Berdoa meminta agar rahmat dan kasih sayang Allah terlimpah hanya untuk dirinya sendiri saja, tidak untuk muslim lainnya. Ini tidak diperbolehkan. Sebab mempersempit rahmat Allah yang aslinya amat luas.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ: “اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا“. فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ: “لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا“ يُرِيدُ رَحْمَةَ اللهِ “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat. Di tengah-tengah shalat ada seorang arab badui berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Jangan Engkau rahmati seorangpun selain kami berdua”. Selepas salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang arab tadi, “Engkau sudah mempersempit rahmat Allah yang luas”. HR. Bukhari.Berdoa memintakan ampunan untuk orang kafir yang telah meninggal. Allahberfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim”. QS. At-Taubah (10) Bersambung… Post navigation Previous Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas dalil larangan melampaui batas dalam berdoa. Juga beberapa contohnya. Berikut pembahasan tentang contoh lain dari praktek melampaui batas:Keempat: Meminta sesuatu yang tidak boleh dimintaHal ini termasuk melampaui batas dalam berdoa, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H). Sebab salah satu syarat berdoa adalah bahwa isi permintaan yang kita panjatkan harus sesuatu yang boleh untuk diminta.Contoh sesuatu yang tidak boleh diminta:Berdoa meminta agar menjadi malaikat atau memohon agar menyamai kedudukan para nabi dan rasul. Sebab setekun dan sebesar apapun hamba beramal, ia tidak akan mungkin sampai derajat malaikat dan rasul.Berdoa meminta agar dimudahkan Allah untuk berbuat dosa dan maksiat. Sebab itu semua dibenci oleh-Nya. Sehingga tidak pantas bila seorang hamba meminta sesuatu yang dibenci dan diharamkan oleh Rabbnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لا يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطيعَةِ رحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ”“Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan, asalkan dia tidak berdoa meminta dosa atau memutus silaturrahim, selama ia tidak tergesa-gesa”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Berdoa meminta agar rahmat dan kasih sayang Allah terlimpah hanya untuk dirinya sendiri saja, tidak untuk muslim lainnya. Ini tidak diperbolehkan. Sebab mempersempit rahmat Allah yang aslinya amat luas.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ: “اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا“. فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ: “لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا“ يُرِيدُ رَحْمَةَ اللهِ “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat. Di tengah-tengah shalat ada seorang arab badui berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Jangan Engkau rahmati seorangpun selain kami berdua”. Selepas salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada orang arab tadi, “Engkau sudah mempersempit rahmat Allah yang luas”. HR. Bukhari.Berdoa memintakan ampunan untuk orang kafir yang telah meninggal. Allahberfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim”. QS. At-Taubah (10) Bersambung… Post navigation Previous Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112-Mewaspadai Doa-Doa Yang Tidak Ada Tuntunannya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017

Berikut kami lampirkan Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 dalam format PDFLaporan Pengeluaran Masjid Post navigation Previous Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017

Berikut kami lampirkan Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 dalam format PDFLaporan Pengeluaran Masjid Post navigation Previous Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Berikut kami lampirkan Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 dalam format PDFLaporan Pengeluaran Masjid Post navigation Previous Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Berikut kami lampirkan Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 dalam format PDFLaporan Pengeluaran Masjid Post navigation Previous Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 112: Melampuai Batas Dalam Berdoa Bagian 4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017

MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany    Post navigation Previous Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017Next Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017

MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany    Post navigation Previous Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017Next Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany    Post navigation Previous Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017Next Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany    Post navigation Previous Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017Next Laporan Pengeluaran Infak Masjid 12 Des 2016 – 2 Sept 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017

MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany  Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6Next Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017

MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany  Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6Next Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany  Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6Next Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MAU ISTANA DI SURGA?Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan MASJID PONDOK PESANTREN TUNAS ILMU PURBALINGGA BANK MU’AMALAT INDONESIA No.Rek. 544 000 3080 Atas Nama: Yayasan Tunas Ilmu Purbalingga Konfirmasi: 0821 3802 2771Lokasi Pembangunan: Desa Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02, Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia“Barangsiapa membangun Masjid karena Allah, walau sebesar sarang Burung atau lebih kecil dari itu; maka Allah akan bangunkan untuknya Rumah di Surga“ Hr. Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibn Khuzaimah dan juga al-Albany  Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6Next Update Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Agustus 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet lalu handphone. Selanjutnya adalah:4. Majalah dan Cerpen AnakMajalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anak-anak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita.Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.Padahal Al-Qur`an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita. Seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi dan kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil. Kisah-kisah beberapa umat zaman dahulu yang diazab Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Di samping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as-Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,[arabic-font]”لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” QS. Yusuf (12): 111.Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak.Namun sayang, sebagian besar cerita yang disuguhkan di majalah umum kepada anak-anak adalah cerita fiksi. Dengan kata lain, menyuguhkan kedustaan dan khayalan. Ironisnya, cerita-cerita seperti inilah yang justru digemari oleh anak-anak, termasuk anak-anak kaum muslimin. Karakter-karakter khayal dan asing dengan alur cerita yang mengasyikkan membuat mereka menjadi pengkhayal; ingin menjadi seorang super power dan jagoan yang perkasa atau seorang putri yang lembut, jelita dan memiliki kekuatan supranatural.Isi cerita pun turut mendukung kerusakan yang ada. Cerita yang seram dan menakutkan membuat anak menjadi ciut nyali dan kehilangan keberaniannya. Bahkan banyak cerita yang nyaris meruntuhkan tauhid. Cerita tentang “kantong ajaib” sampai “peri yang baik” bisa membuat anak percaya, segala yang mereka inginkan bisa tercapai bukan melalui kekuasaan Allah. Na’udzu billah min dzalik..Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1438 / 10 Oktober 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5Next Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet lalu handphone. Selanjutnya adalah:4. Majalah dan Cerpen AnakMajalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anak-anak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita.Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.Padahal Al-Qur`an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita. Seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi dan kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil. Kisah-kisah beberapa umat zaman dahulu yang diazab Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Di samping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as-Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,[arabic-font]”لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” QS. Yusuf (12): 111.Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak.Namun sayang, sebagian besar cerita yang disuguhkan di majalah umum kepada anak-anak adalah cerita fiksi. Dengan kata lain, menyuguhkan kedustaan dan khayalan. Ironisnya, cerita-cerita seperti inilah yang justru digemari oleh anak-anak, termasuk anak-anak kaum muslimin. Karakter-karakter khayal dan asing dengan alur cerita yang mengasyikkan membuat mereka menjadi pengkhayal; ingin menjadi seorang super power dan jagoan yang perkasa atau seorang putri yang lembut, jelita dan memiliki kekuatan supranatural.Isi cerita pun turut mendukung kerusakan yang ada. Cerita yang seram dan menakutkan membuat anak menjadi ciut nyali dan kehilangan keberaniannya. Bahkan banyak cerita yang nyaris meruntuhkan tauhid. Cerita tentang “kantong ajaib” sampai “peri yang baik” bisa membuat anak percaya, segala yang mereka inginkan bisa tercapai bukan melalui kekuasaan Allah. Na’udzu billah min dzalik..Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1438 / 10 Oktober 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5Next Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet lalu handphone. Selanjutnya adalah:4. Majalah dan Cerpen AnakMajalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anak-anak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita.Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.Padahal Al-Qur`an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita. Seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi dan kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil. Kisah-kisah beberapa umat zaman dahulu yang diazab Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Di samping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as-Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,[arabic-font]”لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” QS. Yusuf (12): 111.Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak.Namun sayang, sebagian besar cerita yang disuguhkan di majalah umum kepada anak-anak adalah cerita fiksi. Dengan kata lain, menyuguhkan kedustaan dan khayalan. Ironisnya, cerita-cerita seperti inilah yang justru digemari oleh anak-anak, termasuk anak-anak kaum muslimin. Karakter-karakter khayal dan asing dengan alur cerita yang mengasyikkan membuat mereka menjadi pengkhayal; ingin menjadi seorang super power dan jagoan yang perkasa atau seorang putri yang lembut, jelita dan memiliki kekuatan supranatural.Isi cerita pun turut mendukung kerusakan yang ada. Cerita yang seram dan menakutkan membuat anak menjadi ciut nyali dan kehilangan keberaniannya. Bahkan banyak cerita yang nyaris meruntuhkan tauhid. Cerita tentang “kantong ajaib” sampai “peri yang baik” bisa membuat anak percaya, segala yang mereka inginkan bisa tercapai bukan melalui kekuasaan Allah. Na’udzu billah min dzalik..Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1438 / 10 Oktober 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5Next Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet lalu handphone. Selanjutnya adalah:4. Majalah dan Cerpen AnakMajalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anak-anak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita.Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.Padahal Al-Qur`an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita. Seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi dan kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil. Kisah-kisah beberapa umat zaman dahulu yang diazab Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Di samping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as-Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,[arabic-font]”لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” QS. Yusuf (12): 111.Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak.Namun sayang, sebagian besar cerita yang disuguhkan di majalah umum kepada anak-anak adalah cerita fiksi. Dengan kata lain, menyuguhkan kedustaan dan khayalan. Ironisnya, cerita-cerita seperti inilah yang justru digemari oleh anak-anak, termasuk anak-anak kaum muslimin. Karakter-karakter khayal dan asing dengan alur cerita yang mengasyikkan membuat mereka menjadi pengkhayal; ingin menjadi seorang super power dan jagoan yang perkasa atau seorang putri yang lembut, jelita dan memiliki kekuatan supranatural.Isi cerita pun turut mendukung kerusakan yang ada. Cerita yang seram dan menakutkan membuat anak menjadi ciut nyali dan kehilangan keberaniannya. Bahkan banyak cerita yang nyaris meruntuhkan tauhid. Cerita tentang “kantong ajaib” sampai “peri yang baik” bisa membuat anak percaya, segala yang mereka inginkan bisa tercapai bukan melalui kekuasaan Allah. Na’udzu billah min dzalik..Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1438 / 10 Oktober 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5Next Progres Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Juni 2017 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sudah Ditanggung Allah

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sudah Ditanggung Allah

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next