Kenapa Shalat Tanpa Wudhu Harus Diulang, Tapi Shalat dengan Najis Tidak? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ

Kenapa Shalat Tanpa Wudhu Harus Diulang, Tapi Shalat dengan Najis Tidak? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ
Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ


Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ

Kaidah Al-Qur’an Tentang Seni Berdamai

Daftar Isi ToggleSumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianJadilah juru damaiSepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiBoleh berbohong untuk mendamaikanHidup di dunia ini bukanlah jalan yang selalu rata dan lapang. Ada kalanya kita melangkah di atas jalur yang landai, namun tidak jarang pula kaki kita tersandung oleh batu, atau terhalang oleh dahan yang jatuh melintang. Begitulah kehidupan yang penuh warna dan penuh ujian.Dan di antara ujian yang kita alami dalam hidup adalah pertengkaran atau perselisihan. Ia bisa hadir di dalam rumah, di antara suami dan istri. Ia bisa tumbuh di lingkungan kerabat atau tetangga, merenggangkan silaturahmi. Bahkan ia dapat menyelinap dalam persahabatan dan hubungan kerja, mengeruhkan yang semula jernih.Karena itulah, Allah Ta‘ala, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menurunkan sebuah kaidah agung dalam Al-Qur’an, sebuah prinsip yang menjadi penawar luka sosial dan pengikat hubungan yang retak,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (QS. An-Nisa: 128)Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi dalam membangun dan merawat hubungan. Ia menjadi alas kokoh untuk memperbaiki yang retak, mendekatkan yang menjauh, serta menyatukan kembali hati-hati yang tercerai.Secara konteks, ayat ini berbicara tentang kehidupan rumah tangga. Ketika seorang istri merasa suaminya mulai berkurang perhatiannya atau kurang menunaikan hak-haknya, Islam tidak mendorong api pertikaian. Justru syariat mengajarkan jalan yang lebih lembut: ishlah (perdamaian).Di antaranya dengan sikap lapang dada, ketika istri merelakan sebagian haknya demi menjaga keutuhan rumah tangga.Begitu pula sebaliknya, jika suami merasa istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan atau bersikap tak acuh, maka mengupayakan perdamaian tetaplah pilihan terbaik. Bukan dengan meninggikan ego, tetapi dengan merendah demi kedamaian bersama.Allah Ta‘ala menegaskan lanjutan dari kaidah ini,وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Perdamaian tidak akan lahir tanpa pengorbanan. Ia menuntut menurunkan ego, melunakkan hati, dan merelakan sebagian hak. Namun dari pengorbanan itulah, Allah menjanjikan kebaikan dan keberkahanKaedah ini “wa shulhu khair” tidak hanya berlaku di ruang rumah tangga. Ia adalah prinsip hidup yang luas, mencakup hubungan dengan tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Sebagaimana dijelaskan para ulama, kaidah ini menjadi pedoman umum dalam menyikapi perselisihan manusia. (Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz, 2: 141)Sumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianTidak semua pertengkaran bermula dari masalah besar. Banyak konflik justru lahir dari emosi yang tak sempat ditenangkan, dari sumbu yang terlalu pendek, sehingga api amarah mudah menyala.Sumbu pendek membuat seseorang cepat tersulut, mudah tersinggung, dan tergesa dalam bereaksi. Kalimat yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang berubah menjadi tuduhan. Nasihat yang mestinya meluruskan, justru terasa sebagai serangan. Akhirnya, damai pun menjauh, bukan karena tak mungkin, tetapi karena hati terlalu panas untuk mendekat.Islam mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan kelapangan dada dan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk menyegerakan damai, bukan memelihara marah. Sebab marah yang dibiarkan hanya akan menambah luka, sementara menahan diri (meskipun berat), sering kali menjadi awal turunnya rahmat Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10)Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari solusi, panjangkan sumbu hati kita. Tunda reaksi, lembutkan ucapan, dan jernihkan niat. Karena damai tidak lahir dari suara yang meninggi, melainkan dari hati yang bersedia merendah.Jadilah juru damaiTidak semua orang diberi kemampuan untuk menyatukan yang retak. Tidak semua hati mampu hadir di tengah konflik dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Padahal, di saat hubungan berada di ujung perselisihan, satu niat baik saja bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjauhi pertengkaran, tetapi juga mendorong umatnya menjadi juru damai yang hadir sebagai penyejuk ketika emosi memanas, dan sebagai penghubung ketika hati saling menjauh.Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah proyek bersama, bukan urusan dua orang saja. Ketika konflik tak lagi mampu diselesaikan oleh pihak yang berselisih, Islam membuka ruang bagi hadirnya pihak ketiga, ia bukan sebagai hakim yang memvonis, tetapi sebagai hakam, juru damai yang memperbaiki.Perhatikan satu syarat penting yang Allah sebutkan: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan.”Artinya, keberhasilan ishlah sangat bergantung pada niat yang lurus. Jika yang dibawa adalah keinginan untuk menang, membela ego, atau mempermalukan salah satu pihak, maka perdamaian akan sulit tercapai. Namun jika niatnya tulus, Allah sendiri yang menjanjikan taufik-Nya.Ketika seseorang dikaruniai akhlak yang mulia ini (senang berdamai), ia akan merasa ringan untuk melakukan ishlah (perdamaian dan perbaikan). Ia tidak berat untuk mengalah, tidak sibuk menghitung hak, dan tidak terpenjara oleh gengsi. Berbeda dengan orang yang kikir jiwanya; ia sulit menerima perdamaian karena merasa selalu ada yang dikurangi, selalu ada yang tidak terpenuhi. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 207)Tidak heran jika Allah Ta‘ala memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mengupayakan perdamaian. Dalam firman-Nya disebutkan,لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)Boleh jadi, melalui satu langkah kecil kita dalam ishlah, Allah menurunkan rahmat-Nya, menyatukan kembali hati yang hampir hancur, dan menuliskan bagi kita pahala yang besar.Sepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiPerdamaian bukan sekadar teori dalam Islam. Ia hidup, bergerak, dan nyata dalam teladan Rasulullah. Dalam keseharian beliau, kita dapati contoh-contoh indah bagaimana damai lebih diutamakan daripada mempertahankan ego, dan bagaimana keutuhan hubungan dijaga dengan kebijaksanaan dan kelapangan dada.Pertama, kisah istri beliau Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah yang sudah semakin tua dan ia khawatir bilamana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Ia bercerita dan berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tetap dijadikan istrinya dan berdamai dengan memberikan jatah hariannya kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Akhirnya, ia tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.Kedua, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui penduduk Quba. Beliau mendapatkan kabar bahwa di antara mereka ada yang sedang bertikai, bahkan ada yang saling melemparkan batu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya,اذْهَبُوا بنَا نُصْلِحُ بيْنَهُمْ“Mari kita pergi untuk mendamaikan di antara mereka.” (HR. Bukhari)Jika kita membuka lembaran sejarah, maka kita akan dapati banyak sekali kisah dan contoh teladan bagaimana kegigihan orang terdahulu untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.Semua itu mengajarkan kepada kita satu hal: berdamai adalah jalan orang-orang mulia.Boleh berbohong untuk mendamaikanUmmu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara,الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا“Peperangan, mendamaikan orang yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Muslim)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Fathul Bari, 5: 300)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan melangkah menuju damai, sebagaimana perintah Allah Ta’ala dan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syaikh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Kaidah Al-Qur’an Tentang Seni Berdamai

Daftar Isi ToggleSumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianJadilah juru damaiSepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiBoleh berbohong untuk mendamaikanHidup di dunia ini bukanlah jalan yang selalu rata dan lapang. Ada kalanya kita melangkah di atas jalur yang landai, namun tidak jarang pula kaki kita tersandung oleh batu, atau terhalang oleh dahan yang jatuh melintang. Begitulah kehidupan yang penuh warna dan penuh ujian.Dan di antara ujian yang kita alami dalam hidup adalah pertengkaran atau perselisihan. Ia bisa hadir di dalam rumah, di antara suami dan istri. Ia bisa tumbuh di lingkungan kerabat atau tetangga, merenggangkan silaturahmi. Bahkan ia dapat menyelinap dalam persahabatan dan hubungan kerja, mengeruhkan yang semula jernih.Karena itulah, Allah Ta‘ala, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menurunkan sebuah kaidah agung dalam Al-Qur’an, sebuah prinsip yang menjadi penawar luka sosial dan pengikat hubungan yang retak,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (QS. An-Nisa: 128)Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi dalam membangun dan merawat hubungan. Ia menjadi alas kokoh untuk memperbaiki yang retak, mendekatkan yang menjauh, serta menyatukan kembali hati-hati yang tercerai.Secara konteks, ayat ini berbicara tentang kehidupan rumah tangga. Ketika seorang istri merasa suaminya mulai berkurang perhatiannya atau kurang menunaikan hak-haknya, Islam tidak mendorong api pertikaian. Justru syariat mengajarkan jalan yang lebih lembut: ishlah (perdamaian).Di antaranya dengan sikap lapang dada, ketika istri merelakan sebagian haknya demi menjaga keutuhan rumah tangga.Begitu pula sebaliknya, jika suami merasa istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan atau bersikap tak acuh, maka mengupayakan perdamaian tetaplah pilihan terbaik. Bukan dengan meninggikan ego, tetapi dengan merendah demi kedamaian bersama.Allah Ta‘ala menegaskan lanjutan dari kaidah ini,وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Perdamaian tidak akan lahir tanpa pengorbanan. Ia menuntut menurunkan ego, melunakkan hati, dan merelakan sebagian hak. Namun dari pengorbanan itulah, Allah menjanjikan kebaikan dan keberkahanKaedah ini “wa shulhu khair” tidak hanya berlaku di ruang rumah tangga. Ia adalah prinsip hidup yang luas, mencakup hubungan dengan tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Sebagaimana dijelaskan para ulama, kaidah ini menjadi pedoman umum dalam menyikapi perselisihan manusia. (Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz, 2: 141)Sumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianTidak semua pertengkaran bermula dari masalah besar. Banyak konflik justru lahir dari emosi yang tak sempat ditenangkan, dari sumbu yang terlalu pendek, sehingga api amarah mudah menyala.Sumbu pendek membuat seseorang cepat tersulut, mudah tersinggung, dan tergesa dalam bereaksi. Kalimat yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang berubah menjadi tuduhan. Nasihat yang mestinya meluruskan, justru terasa sebagai serangan. Akhirnya, damai pun menjauh, bukan karena tak mungkin, tetapi karena hati terlalu panas untuk mendekat.Islam mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan kelapangan dada dan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk menyegerakan damai, bukan memelihara marah. Sebab marah yang dibiarkan hanya akan menambah luka, sementara menahan diri (meskipun berat), sering kali menjadi awal turunnya rahmat Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10)Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari solusi, panjangkan sumbu hati kita. Tunda reaksi, lembutkan ucapan, dan jernihkan niat. Karena damai tidak lahir dari suara yang meninggi, melainkan dari hati yang bersedia merendah.Jadilah juru damaiTidak semua orang diberi kemampuan untuk menyatukan yang retak. Tidak semua hati mampu hadir di tengah konflik dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Padahal, di saat hubungan berada di ujung perselisihan, satu niat baik saja bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjauhi pertengkaran, tetapi juga mendorong umatnya menjadi juru damai yang hadir sebagai penyejuk ketika emosi memanas, dan sebagai penghubung ketika hati saling menjauh.Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah proyek bersama, bukan urusan dua orang saja. Ketika konflik tak lagi mampu diselesaikan oleh pihak yang berselisih, Islam membuka ruang bagi hadirnya pihak ketiga, ia bukan sebagai hakim yang memvonis, tetapi sebagai hakam, juru damai yang memperbaiki.Perhatikan satu syarat penting yang Allah sebutkan: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan.”Artinya, keberhasilan ishlah sangat bergantung pada niat yang lurus. Jika yang dibawa adalah keinginan untuk menang, membela ego, atau mempermalukan salah satu pihak, maka perdamaian akan sulit tercapai. Namun jika niatnya tulus, Allah sendiri yang menjanjikan taufik-Nya.Ketika seseorang dikaruniai akhlak yang mulia ini (senang berdamai), ia akan merasa ringan untuk melakukan ishlah (perdamaian dan perbaikan). Ia tidak berat untuk mengalah, tidak sibuk menghitung hak, dan tidak terpenjara oleh gengsi. Berbeda dengan orang yang kikir jiwanya; ia sulit menerima perdamaian karena merasa selalu ada yang dikurangi, selalu ada yang tidak terpenuhi. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 207)Tidak heran jika Allah Ta‘ala memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mengupayakan perdamaian. Dalam firman-Nya disebutkan,لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)Boleh jadi, melalui satu langkah kecil kita dalam ishlah, Allah menurunkan rahmat-Nya, menyatukan kembali hati yang hampir hancur, dan menuliskan bagi kita pahala yang besar.Sepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiPerdamaian bukan sekadar teori dalam Islam. Ia hidup, bergerak, dan nyata dalam teladan Rasulullah. Dalam keseharian beliau, kita dapati contoh-contoh indah bagaimana damai lebih diutamakan daripada mempertahankan ego, dan bagaimana keutuhan hubungan dijaga dengan kebijaksanaan dan kelapangan dada.Pertama, kisah istri beliau Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah yang sudah semakin tua dan ia khawatir bilamana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Ia bercerita dan berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tetap dijadikan istrinya dan berdamai dengan memberikan jatah hariannya kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Akhirnya, ia tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.Kedua, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui penduduk Quba. Beliau mendapatkan kabar bahwa di antara mereka ada yang sedang bertikai, bahkan ada yang saling melemparkan batu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya,اذْهَبُوا بنَا نُصْلِحُ بيْنَهُمْ“Mari kita pergi untuk mendamaikan di antara mereka.” (HR. Bukhari)Jika kita membuka lembaran sejarah, maka kita akan dapati banyak sekali kisah dan contoh teladan bagaimana kegigihan orang terdahulu untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.Semua itu mengajarkan kepada kita satu hal: berdamai adalah jalan orang-orang mulia.Boleh berbohong untuk mendamaikanUmmu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara,الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا“Peperangan, mendamaikan orang yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Muslim)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Fathul Bari, 5: 300)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan melangkah menuju damai, sebagaimana perintah Allah Ta’ala dan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syaikh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi ToggleSumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianJadilah juru damaiSepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiBoleh berbohong untuk mendamaikanHidup di dunia ini bukanlah jalan yang selalu rata dan lapang. Ada kalanya kita melangkah di atas jalur yang landai, namun tidak jarang pula kaki kita tersandung oleh batu, atau terhalang oleh dahan yang jatuh melintang. Begitulah kehidupan yang penuh warna dan penuh ujian.Dan di antara ujian yang kita alami dalam hidup adalah pertengkaran atau perselisihan. Ia bisa hadir di dalam rumah, di antara suami dan istri. Ia bisa tumbuh di lingkungan kerabat atau tetangga, merenggangkan silaturahmi. Bahkan ia dapat menyelinap dalam persahabatan dan hubungan kerja, mengeruhkan yang semula jernih.Karena itulah, Allah Ta‘ala, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menurunkan sebuah kaidah agung dalam Al-Qur’an, sebuah prinsip yang menjadi penawar luka sosial dan pengikat hubungan yang retak,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (QS. An-Nisa: 128)Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi dalam membangun dan merawat hubungan. Ia menjadi alas kokoh untuk memperbaiki yang retak, mendekatkan yang menjauh, serta menyatukan kembali hati-hati yang tercerai.Secara konteks, ayat ini berbicara tentang kehidupan rumah tangga. Ketika seorang istri merasa suaminya mulai berkurang perhatiannya atau kurang menunaikan hak-haknya, Islam tidak mendorong api pertikaian. Justru syariat mengajarkan jalan yang lebih lembut: ishlah (perdamaian).Di antaranya dengan sikap lapang dada, ketika istri merelakan sebagian haknya demi menjaga keutuhan rumah tangga.Begitu pula sebaliknya, jika suami merasa istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan atau bersikap tak acuh, maka mengupayakan perdamaian tetaplah pilihan terbaik. Bukan dengan meninggikan ego, tetapi dengan merendah demi kedamaian bersama.Allah Ta‘ala menegaskan lanjutan dari kaidah ini,وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Perdamaian tidak akan lahir tanpa pengorbanan. Ia menuntut menurunkan ego, melunakkan hati, dan merelakan sebagian hak. Namun dari pengorbanan itulah, Allah menjanjikan kebaikan dan keberkahanKaedah ini “wa shulhu khair” tidak hanya berlaku di ruang rumah tangga. Ia adalah prinsip hidup yang luas, mencakup hubungan dengan tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Sebagaimana dijelaskan para ulama, kaidah ini menjadi pedoman umum dalam menyikapi perselisihan manusia. (Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz, 2: 141)Sumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianTidak semua pertengkaran bermula dari masalah besar. Banyak konflik justru lahir dari emosi yang tak sempat ditenangkan, dari sumbu yang terlalu pendek, sehingga api amarah mudah menyala.Sumbu pendek membuat seseorang cepat tersulut, mudah tersinggung, dan tergesa dalam bereaksi. Kalimat yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang berubah menjadi tuduhan. Nasihat yang mestinya meluruskan, justru terasa sebagai serangan. Akhirnya, damai pun menjauh, bukan karena tak mungkin, tetapi karena hati terlalu panas untuk mendekat.Islam mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan kelapangan dada dan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk menyegerakan damai, bukan memelihara marah. Sebab marah yang dibiarkan hanya akan menambah luka, sementara menahan diri (meskipun berat), sering kali menjadi awal turunnya rahmat Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10)Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari solusi, panjangkan sumbu hati kita. Tunda reaksi, lembutkan ucapan, dan jernihkan niat. Karena damai tidak lahir dari suara yang meninggi, melainkan dari hati yang bersedia merendah.Jadilah juru damaiTidak semua orang diberi kemampuan untuk menyatukan yang retak. Tidak semua hati mampu hadir di tengah konflik dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Padahal, di saat hubungan berada di ujung perselisihan, satu niat baik saja bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjauhi pertengkaran, tetapi juga mendorong umatnya menjadi juru damai yang hadir sebagai penyejuk ketika emosi memanas, dan sebagai penghubung ketika hati saling menjauh.Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah proyek bersama, bukan urusan dua orang saja. Ketika konflik tak lagi mampu diselesaikan oleh pihak yang berselisih, Islam membuka ruang bagi hadirnya pihak ketiga, ia bukan sebagai hakim yang memvonis, tetapi sebagai hakam, juru damai yang memperbaiki.Perhatikan satu syarat penting yang Allah sebutkan: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan.”Artinya, keberhasilan ishlah sangat bergantung pada niat yang lurus. Jika yang dibawa adalah keinginan untuk menang, membela ego, atau mempermalukan salah satu pihak, maka perdamaian akan sulit tercapai. Namun jika niatnya tulus, Allah sendiri yang menjanjikan taufik-Nya.Ketika seseorang dikaruniai akhlak yang mulia ini (senang berdamai), ia akan merasa ringan untuk melakukan ishlah (perdamaian dan perbaikan). Ia tidak berat untuk mengalah, tidak sibuk menghitung hak, dan tidak terpenjara oleh gengsi. Berbeda dengan orang yang kikir jiwanya; ia sulit menerima perdamaian karena merasa selalu ada yang dikurangi, selalu ada yang tidak terpenuhi. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 207)Tidak heran jika Allah Ta‘ala memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mengupayakan perdamaian. Dalam firman-Nya disebutkan,لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)Boleh jadi, melalui satu langkah kecil kita dalam ishlah, Allah menurunkan rahmat-Nya, menyatukan kembali hati yang hampir hancur, dan menuliskan bagi kita pahala yang besar.Sepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiPerdamaian bukan sekadar teori dalam Islam. Ia hidup, bergerak, dan nyata dalam teladan Rasulullah. Dalam keseharian beliau, kita dapati contoh-contoh indah bagaimana damai lebih diutamakan daripada mempertahankan ego, dan bagaimana keutuhan hubungan dijaga dengan kebijaksanaan dan kelapangan dada.Pertama, kisah istri beliau Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah yang sudah semakin tua dan ia khawatir bilamana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Ia bercerita dan berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tetap dijadikan istrinya dan berdamai dengan memberikan jatah hariannya kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Akhirnya, ia tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.Kedua, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui penduduk Quba. Beliau mendapatkan kabar bahwa di antara mereka ada yang sedang bertikai, bahkan ada yang saling melemparkan batu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya,اذْهَبُوا بنَا نُصْلِحُ بيْنَهُمْ“Mari kita pergi untuk mendamaikan di antara mereka.” (HR. Bukhari)Jika kita membuka lembaran sejarah, maka kita akan dapati banyak sekali kisah dan contoh teladan bagaimana kegigihan orang terdahulu untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.Semua itu mengajarkan kepada kita satu hal: berdamai adalah jalan orang-orang mulia.Boleh berbohong untuk mendamaikanUmmu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara,الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا“Peperangan, mendamaikan orang yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Muslim)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Fathul Bari, 5: 300)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan melangkah menuju damai, sebagaimana perintah Allah Ta’ala dan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syaikh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi ToggleSumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianJadilah juru damaiSepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiBoleh berbohong untuk mendamaikanHidup di dunia ini bukanlah jalan yang selalu rata dan lapang. Ada kalanya kita melangkah di atas jalur yang landai, namun tidak jarang pula kaki kita tersandung oleh batu, atau terhalang oleh dahan yang jatuh melintang. Begitulah kehidupan yang penuh warna dan penuh ujian.Dan di antara ujian yang kita alami dalam hidup adalah pertengkaran atau perselisihan. Ia bisa hadir di dalam rumah, di antara suami dan istri. Ia bisa tumbuh di lingkungan kerabat atau tetangga, merenggangkan silaturahmi. Bahkan ia dapat menyelinap dalam persahabatan dan hubungan kerja, mengeruhkan yang semula jernih.Karena itulah, Allah Ta‘ala, dengan rahmat dan hikmah-Nya, menurunkan sebuah kaidah agung dalam Al-Qur’an, sebuah prinsip yang menjadi penawar luka sosial dan pengikat hubungan yang retak,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (QS. An-Nisa: 128)Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi dalam membangun dan merawat hubungan. Ia menjadi alas kokoh untuk memperbaiki yang retak, mendekatkan yang menjauh, serta menyatukan kembali hati-hati yang tercerai.Secara konteks, ayat ini berbicara tentang kehidupan rumah tangga. Ketika seorang istri merasa suaminya mulai berkurang perhatiannya atau kurang menunaikan hak-haknya, Islam tidak mendorong api pertikaian. Justru syariat mengajarkan jalan yang lebih lembut: ishlah (perdamaian).Di antaranya dengan sikap lapang dada, ketika istri merelakan sebagian haknya demi menjaga keutuhan rumah tangga.Begitu pula sebaliknya, jika suami merasa istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan atau bersikap tak acuh, maka mengupayakan perdamaian tetaplah pilihan terbaik. Bukan dengan meninggikan ego, tetapi dengan merendah demi kedamaian bersama.Allah Ta‘ala menegaskan lanjutan dari kaidah ini,وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Perdamaian tidak akan lahir tanpa pengorbanan. Ia menuntut menurunkan ego, melunakkan hati, dan merelakan sebagian hak. Namun dari pengorbanan itulah, Allah menjanjikan kebaikan dan keberkahanKaedah ini “wa shulhu khair” tidak hanya berlaku di ruang rumah tangga. Ia adalah prinsip hidup yang luas, mencakup hubungan dengan tetangga, sahabat, dan rekan kerja. Sebagaimana dijelaskan para ulama, kaidah ini menjadi pedoman umum dalam menyikapi perselisihan manusia. (Lihat Al-Muharrar Al-Wajiz, 2: 141)Sumbu pendek: Api yang memadamkan perdamaianTidak semua pertengkaran bermula dari masalah besar. Banyak konflik justru lahir dari emosi yang tak sempat ditenangkan, dari sumbu yang terlalu pendek, sehingga api amarah mudah menyala.Sumbu pendek membuat seseorang cepat tersulut, mudah tersinggung, dan tergesa dalam bereaksi. Kalimat yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang berubah menjadi tuduhan. Nasihat yang mestinya meluruskan, justru terasa sebagai serangan. Akhirnya, damai pun menjauh, bukan karena tak mungkin, tetapi karena hati terlalu panas untuk mendekat.Islam mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan kelapangan dada dan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk menyegerakan damai, bukan memelihara marah. Sebab marah yang dibiarkan hanya akan menambah luka, sementara menahan diri (meskipun berat), sering kali menjadi awal turunnya rahmat Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10)Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari solusi, panjangkan sumbu hati kita. Tunda reaksi, lembutkan ucapan, dan jernihkan niat. Karena damai tidak lahir dari suara yang meninggi, melainkan dari hati yang bersedia merendah.Jadilah juru damaiTidak semua orang diberi kemampuan untuk menyatukan yang retak. Tidak semua hati mampu hadir di tengah konflik dengan niat memperbaiki, bukan memperkeruh. Padahal, di saat hubungan berada di ujung perselisihan, satu niat baik saja bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjauhi pertengkaran, tetapi juga mendorong umatnya menjadi juru damai yang hadir sebagai penyejuk ketika emosi memanas, dan sebagai penghubung ketika hati saling menjauh.Allah Ta’ala berfirman,وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian adalah proyek bersama, bukan urusan dua orang saja. Ketika konflik tak lagi mampu diselesaikan oleh pihak yang berselisih, Islam membuka ruang bagi hadirnya pihak ketiga, ia bukan sebagai hakim yang memvonis, tetapi sebagai hakam, juru damai yang memperbaiki.Perhatikan satu syarat penting yang Allah sebutkan: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan.”Artinya, keberhasilan ishlah sangat bergantung pada niat yang lurus. Jika yang dibawa adalah keinginan untuk menang, membela ego, atau mempermalukan salah satu pihak, maka perdamaian akan sulit tercapai. Namun jika niatnya tulus, Allah sendiri yang menjanjikan taufik-Nya.Ketika seseorang dikaruniai akhlak yang mulia ini (senang berdamai), ia akan merasa ringan untuk melakukan ishlah (perdamaian dan perbaikan). Ia tidak berat untuk mengalah, tidak sibuk menghitung hak, dan tidak terpenjara oleh gengsi. Berbeda dengan orang yang kikir jiwanya; ia sulit menerima perdamaian karena merasa selalu ada yang dikurangi, selalu ada yang tidak terpenuhi. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 207)Tidak heran jika Allah Ta‘ala memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mengupayakan perdamaian. Dalam firman-Nya disebutkan,لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114)Boleh jadi, melalui satu langkah kecil kita dalam ishlah, Allah menurunkan rahmat-Nya, menyatukan kembali hati yang hampir hancur, dan menuliskan bagi kita pahala yang besar.Sepenggal kisah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdamaiPerdamaian bukan sekadar teori dalam Islam. Ia hidup, bergerak, dan nyata dalam teladan Rasulullah. Dalam keseharian beliau, kita dapati contoh-contoh indah bagaimana damai lebih diutamakan daripada mempertahankan ego, dan bagaimana keutuhan hubungan dijaga dengan kebijaksanaan dan kelapangan dada.Pertama, kisah istri beliau Ummul Mukminin Saudah bintu Zam’ah yang sudah semakin tua dan ia khawatir bilamana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Ia bercerita dan berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia tetap dijadikan istrinya dan berdamai dengan memberikan jatah hariannya kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Akhirnya, ia tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.Kedua, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui penduduk Quba. Beliau mendapatkan kabar bahwa di antara mereka ada yang sedang bertikai, bahkan ada yang saling melemparkan batu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya,اذْهَبُوا بنَا نُصْلِحُ بيْنَهُمْ“Mari kita pergi untuk mendamaikan di antara mereka.” (HR. Bukhari)Jika kita membuka lembaran sejarah, maka kita akan dapati banyak sekali kisah dan contoh teladan bagaimana kegigihan orang terdahulu untuk mendamaikan orang yang sedang bertikai.Semua itu mengajarkan kepada kita satu hal: berdamai adalah jalan orang-orang mulia.Boleh berbohong untuk mendamaikanUmmu Kultsum binti ‘Uqbah bin ‘Abi Mu’aythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا “Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan di antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen).” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara,الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا“Peperangan, mendamaikan orang yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Muslim)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Fathul Bari, 5: 300)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan melangkah menuju damai, sebagaimana perintah Allah Ta’ala dan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syaikh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Fatwa Ulama: Pahala (Keutamaan) Mendidik Tiga Anak Perempuan

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin BaazPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Pertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”Apakah mereka menjadi penghalang dari neraka bagi ayah saja, ataukah ibu juga ikut mendapatkan keutamaan tersebut? Saya, alhamdulillah, memiliki tiga anak perempuan.Jawaban:Hadis ini bersifat umum, (berlaku) baik untuk ayah maupun ibu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ لَهُ ابْنَتَانِ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِمَا كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki dua anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka.”Demikian juga jika seseorang memiliki saudara perempuan, bibi, atau semacamnya, lalu berbuat baik kepada mereka, maka kita berharap hal itu membawanya ke surga. Karena ketika seseorang berbuat baik kepada mereka, ia berhak memperoleh pahala yang besar, terhalang dan dijauhkan dari neraka karena amal baiknya. Hal ini khusus bagi orang Muslim. Seorang Muslim yang melakukan kebaikan ini semata-mata karena mencari keridaan Allah, berarti ia telah menyiapkan sebab keselamatan dari neraka.Keselamatan dari neraka dan masuk surga memiliki banyak sebab, sehingga seorang mukmin dianjurkan untuk memperbanyak sebab tersebut. Islam itu sendiri adalah pokok dan sebab utama untuk masuk surga serta selamat dari neraka.Terdapat amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, akan membawanya ke surga dan menyelamatkannya dari neraka. Misalnya, barang siapa yang dikaruniai anak perempuan atau saudara perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka. Demikian pula, barang siapa memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai baligh (tidak sampai melakukan dosa besar), mereka menjadi pelindung dari api neraka.Mereka berkata,يَا رَسُولَ اللهِ، وَاثْنَانِ؟“Ya Rasulullah, bagaimana jika dua?”Beliau menjawab,وَاثْنَانِ“Dan dua.”Mereka tidak menanyakan tentang satu anak. Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ جَزَاءٌ إِذَا أَخَذْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا فَاحْتَسَبَ إِلَّا الْجَنَّةَ“Apa balasan bagi hamba-Ku yang mukmin jika hamba-Ku itu mengambil orang yang dicintainya dari dunia dan bersabar serta ikhlas mengharap pahala-Ku selain surga?”Maksudnya, tidak ada balasan bagi seorang hamba mukmin jika Allah mengambil orang yang dicintainya dari dunia, dan ia bersabar serta ikhlas mengharap pahala, kecuali surga.Satu anak pun termasuk dalam hadis ini; jika Allah mengambilnya dan memanggilnya kembali kepada-Nya, lalu ayah atau ibu, atau keduanya, bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka bagi mereka surga. Ini adalah karunia yang besar dari Allah. Demikian juga bagi suami, istri, serta kerabat dan teman-teman; jika mereka bersabar dan mengharap pahala, mereka termasuk dalam hadis ini, dengan catatan mereka selamat dari hal-hal yang bisa menghalangi, seperti meninggal dalam keadaan melakukan dosa besar. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Baca juga: Pendidikan Anak adalah Amanah Allah***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Majmu’ Fataawa wa Maqalaat Asy-Syaikh Ibnu Baaz, 4: 372.

Fatwa Ulama: Pahala (Keutamaan) Mendidik Tiga Anak Perempuan

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin BaazPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Pertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”Apakah mereka menjadi penghalang dari neraka bagi ayah saja, ataukah ibu juga ikut mendapatkan keutamaan tersebut? Saya, alhamdulillah, memiliki tiga anak perempuan.Jawaban:Hadis ini bersifat umum, (berlaku) baik untuk ayah maupun ibu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ لَهُ ابْنَتَانِ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِمَا كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki dua anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka.”Demikian juga jika seseorang memiliki saudara perempuan, bibi, atau semacamnya, lalu berbuat baik kepada mereka, maka kita berharap hal itu membawanya ke surga. Karena ketika seseorang berbuat baik kepada mereka, ia berhak memperoleh pahala yang besar, terhalang dan dijauhkan dari neraka karena amal baiknya. Hal ini khusus bagi orang Muslim. Seorang Muslim yang melakukan kebaikan ini semata-mata karena mencari keridaan Allah, berarti ia telah menyiapkan sebab keselamatan dari neraka.Keselamatan dari neraka dan masuk surga memiliki banyak sebab, sehingga seorang mukmin dianjurkan untuk memperbanyak sebab tersebut. Islam itu sendiri adalah pokok dan sebab utama untuk masuk surga serta selamat dari neraka.Terdapat amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, akan membawanya ke surga dan menyelamatkannya dari neraka. Misalnya, barang siapa yang dikaruniai anak perempuan atau saudara perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka. Demikian pula, barang siapa memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai baligh (tidak sampai melakukan dosa besar), mereka menjadi pelindung dari api neraka.Mereka berkata,يَا رَسُولَ اللهِ، وَاثْنَانِ؟“Ya Rasulullah, bagaimana jika dua?”Beliau menjawab,وَاثْنَانِ“Dan dua.”Mereka tidak menanyakan tentang satu anak. Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ جَزَاءٌ إِذَا أَخَذْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا فَاحْتَسَبَ إِلَّا الْجَنَّةَ“Apa balasan bagi hamba-Ku yang mukmin jika hamba-Ku itu mengambil orang yang dicintainya dari dunia dan bersabar serta ikhlas mengharap pahala-Ku selain surga?”Maksudnya, tidak ada balasan bagi seorang hamba mukmin jika Allah mengambil orang yang dicintainya dari dunia, dan ia bersabar serta ikhlas mengharap pahala, kecuali surga.Satu anak pun termasuk dalam hadis ini; jika Allah mengambilnya dan memanggilnya kembali kepada-Nya, lalu ayah atau ibu, atau keduanya, bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka bagi mereka surga. Ini adalah karunia yang besar dari Allah. Demikian juga bagi suami, istri, serta kerabat dan teman-teman; jika mereka bersabar dan mengharap pahala, mereka termasuk dalam hadis ini, dengan catatan mereka selamat dari hal-hal yang bisa menghalangi, seperti meninggal dalam keadaan melakukan dosa besar. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Baca juga: Pendidikan Anak adalah Amanah Allah***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Majmu’ Fataawa wa Maqalaat Asy-Syaikh Ibnu Baaz, 4: 372.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin BaazPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Pertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”Apakah mereka menjadi penghalang dari neraka bagi ayah saja, ataukah ibu juga ikut mendapatkan keutamaan tersebut? Saya, alhamdulillah, memiliki tiga anak perempuan.Jawaban:Hadis ini bersifat umum, (berlaku) baik untuk ayah maupun ibu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ لَهُ ابْنَتَانِ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِمَا كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki dua anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka.”Demikian juga jika seseorang memiliki saudara perempuan, bibi, atau semacamnya, lalu berbuat baik kepada mereka, maka kita berharap hal itu membawanya ke surga. Karena ketika seseorang berbuat baik kepada mereka, ia berhak memperoleh pahala yang besar, terhalang dan dijauhkan dari neraka karena amal baiknya. Hal ini khusus bagi orang Muslim. Seorang Muslim yang melakukan kebaikan ini semata-mata karena mencari keridaan Allah, berarti ia telah menyiapkan sebab keselamatan dari neraka.Keselamatan dari neraka dan masuk surga memiliki banyak sebab, sehingga seorang mukmin dianjurkan untuk memperbanyak sebab tersebut. Islam itu sendiri adalah pokok dan sebab utama untuk masuk surga serta selamat dari neraka.Terdapat amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, akan membawanya ke surga dan menyelamatkannya dari neraka. Misalnya, barang siapa yang dikaruniai anak perempuan atau saudara perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka. Demikian pula, barang siapa memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai baligh (tidak sampai melakukan dosa besar), mereka menjadi pelindung dari api neraka.Mereka berkata,يَا رَسُولَ اللهِ، وَاثْنَانِ؟“Ya Rasulullah, bagaimana jika dua?”Beliau menjawab,وَاثْنَانِ“Dan dua.”Mereka tidak menanyakan tentang satu anak. Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ جَزَاءٌ إِذَا أَخَذْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا فَاحْتَسَبَ إِلَّا الْجَنَّةَ“Apa balasan bagi hamba-Ku yang mukmin jika hamba-Ku itu mengambil orang yang dicintainya dari dunia dan bersabar serta ikhlas mengharap pahala-Ku selain surga?”Maksudnya, tidak ada balasan bagi seorang hamba mukmin jika Allah mengambil orang yang dicintainya dari dunia, dan ia bersabar serta ikhlas mengharap pahala, kecuali surga.Satu anak pun termasuk dalam hadis ini; jika Allah mengambilnya dan memanggilnya kembali kepada-Nya, lalu ayah atau ibu, atau keduanya, bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka bagi mereka surga. Ini adalah karunia yang besar dari Allah. Demikian juga bagi suami, istri, serta kerabat dan teman-teman; jika mereka bersabar dan mengharap pahala, mereka termasuk dalam hadis ini, dengan catatan mereka selamat dari hal-hal yang bisa menghalangi, seperti meninggal dalam keadaan melakukan dosa besar. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Baca juga: Pendidikan Anak adalah Amanah Allah***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Majmu’ Fataawa wa Maqalaat Asy-Syaikh Ibnu Baaz, 4: 372.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin BaazPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Pertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتْ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”Apakah mereka menjadi penghalang dari neraka bagi ayah saja, ataukah ibu juga ikut mendapatkan keutamaan tersebut? Saya, alhamdulillah, memiliki tiga anak perempuan.Jawaban:Hadis ini bersifat umum, (berlaku) baik untuk ayah maupun ibu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ كَانَ لَهُ ابْنَتَانِ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِمَا كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ“Barang siapa memiliki dua anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka.”Demikian juga jika seseorang memiliki saudara perempuan, bibi, atau semacamnya, lalu berbuat baik kepada mereka, maka kita berharap hal itu membawanya ke surga. Karena ketika seseorang berbuat baik kepada mereka, ia berhak memperoleh pahala yang besar, terhalang dan dijauhkan dari neraka karena amal baiknya. Hal ini khusus bagi orang Muslim. Seorang Muslim yang melakukan kebaikan ini semata-mata karena mencari keridaan Allah, berarti ia telah menyiapkan sebab keselamatan dari neraka.Keselamatan dari neraka dan masuk surga memiliki banyak sebab, sehingga seorang mukmin dianjurkan untuk memperbanyak sebab tersebut. Islam itu sendiri adalah pokok dan sebab utama untuk masuk surga serta selamat dari neraka.Terdapat amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, akan membawanya ke surga dan menyelamatkannya dari neraka. Misalnya, barang siapa yang dikaruniai anak perempuan atau saudara perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka menjadi pelindung baginya dari api neraka. Demikian pula, barang siapa memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai baligh (tidak sampai melakukan dosa besar), mereka menjadi pelindung dari api neraka.Mereka berkata,يَا رَسُولَ اللهِ، وَاثْنَانِ؟“Ya Rasulullah, bagaimana jika dua?”Beliau menjawab,وَاثْنَانِ“Dan dua.”Mereka tidak menanyakan tentang satu anak. Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ جَزَاءٌ إِذَا أَخَذْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا فَاحْتَسَبَ إِلَّا الْجَنَّةَ“Apa balasan bagi hamba-Ku yang mukmin jika hamba-Ku itu mengambil orang yang dicintainya dari dunia dan bersabar serta ikhlas mengharap pahala-Ku selain surga?”Maksudnya, tidak ada balasan bagi seorang hamba mukmin jika Allah mengambil orang yang dicintainya dari dunia, dan ia bersabar serta ikhlas mengharap pahala, kecuali surga.Satu anak pun termasuk dalam hadis ini; jika Allah mengambilnya dan memanggilnya kembali kepada-Nya, lalu ayah atau ibu, atau keduanya, bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka bagi mereka surga. Ini adalah karunia yang besar dari Allah. Demikian juga bagi suami, istri, serta kerabat dan teman-teman; jika mereka bersabar dan mengharap pahala, mereka termasuk dalam hadis ini, dengan catatan mereka selamat dari hal-hal yang bisa menghalangi, seperti meninggal dalam keadaan melakukan dosa besar. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Baca juga: Pendidikan Anak adalah Amanah Allah***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Majmu’ Fataawa wa Maqalaat Asy-Syaikh Ibnu Baaz, 4: 372.

Fatwa Ulama: Kapan Mahar Mitsl (Mahar Standar) Dijadikan Sebagai Acuan?

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘AdawiPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi Pertanyaan:Kapan mahar mitsl (mahar standar) dijadikan sebagai acuan (patokan)? Apa dalil adanya mahar mitsl?Jawaban:Mahar mitsl dijadikan sebagai standar (acuan) dalam sebagian kondisi ketika terjadi perselisihan dalam menentukan jenis mahar antara suami dan istri, sedangkan akad nikah telah berlangsung tanpa menentukan jenis mahar yang diserahkan, misalnya.Dalil adanya mahar mitsl adalah hadis riwayat Ahmad dan selainnya dengan sanad yang sahih dari Alqamah, beliau berkata,أُتِيَ عَبْدُ اللهِ فِي امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، قَالَ: فَاخْتَلَفُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَى لَهَا مِثْلَ صَدَاقِ نِسَائِهَا، وَلَهَا الْمِيرَاثُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَشَهِدَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ بِمِثْلِ مَا قَضَى“Abdullah (bin Mas‘ud) didatangi beberapa orang untuk dimintai pendapat (fatwa) tentang seorang wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki, lalu laki-laki itu meninggal dunia sebelum menentukan mahar untuknya dan sebelum menggaulinya. Ia (Alqamah) berkata, “Mereka pun berbeda pendapat (dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud).”Beliau (Abdullah bin Mas‘ud) berkata, “Menurutku, ia (wanita itu) berhak mendapatkan mahar seperti mahar perempuan-perempuan yang sepadan (mahr mitsl), ia juga berhak mendapatkan warisan, dan ia wajib menjalani masa iddah.”Lalu, Ma‘qil bin Sinan al-Asyja‘i memberikan kesaksian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan perkara Birwa‘ binti Wāshiq dengan keputusan yang sama seperti itu.”Dalil lain tentang mempertimbangkan mahar mitsl: Seorang lelaki yang memiliki seorang anak yatim perempuan yang berada dalam pengasuhannya (bukan anak kandungnya sendiri) dan ia ingin menikahinya (menjadikannya sebagai istri). Maka, wajib baginya memberikan mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan lain yang sepadan dengannya.Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala,وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى“Jika kalian takut tidak berlaku adil terhadap anak-anak yatim …” dan seterusnya.Artinya, apabila dikhawatirkan ia tidak memberikan kepada yatim tersebut mahar yang adil seperti mahar perempuan-perempuan di lingkungannya, maka ditetapkan baginya mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan yang sepadan. Wallahu Ta‘ala a’lam.Baca juga: Mahar, Hak Siapa?***@Unayzah, KSA; 20 Jumadil akhir 1447/ 10 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 153-154.

Fatwa Ulama: Kapan Mahar Mitsl (Mahar Standar) Dijadikan Sebagai Acuan?

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘AdawiPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi Pertanyaan:Kapan mahar mitsl (mahar standar) dijadikan sebagai acuan (patokan)? Apa dalil adanya mahar mitsl?Jawaban:Mahar mitsl dijadikan sebagai standar (acuan) dalam sebagian kondisi ketika terjadi perselisihan dalam menentukan jenis mahar antara suami dan istri, sedangkan akad nikah telah berlangsung tanpa menentukan jenis mahar yang diserahkan, misalnya.Dalil adanya mahar mitsl adalah hadis riwayat Ahmad dan selainnya dengan sanad yang sahih dari Alqamah, beliau berkata,أُتِيَ عَبْدُ اللهِ فِي امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، قَالَ: فَاخْتَلَفُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَى لَهَا مِثْلَ صَدَاقِ نِسَائِهَا، وَلَهَا الْمِيرَاثُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَشَهِدَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ بِمِثْلِ مَا قَضَى“Abdullah (bin Mas‘ud) didatangi beberapa orang untuk dimintai pendapat (fatwa) tentang seorang wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki, lalu laki-laki itu meninggal dunia sebelum menentukan mahar untuknya dan sebelum menggaulinya. Ia (Alqamah) berkata, “Mereka pun berbeda pendapat (dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud).”Beliau (Abdullah bin Mas‘ud) berkata, “Menurutku, ia (wanita itu) berhak mendapatkan mahar seperti mahar perempuan-perempuan yang sepadan (mahr mitsl), ia juga berhak mendapatkan warisan, dan ia wajib menjalani masa iddah.”Lalu, Ma‘qil bin Sinan al-Asyja‘i memberikan kesaksian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan perkara Birwa‘ binti Wāshiq dengan keputusan yang sama seperti itu.”Dalil lain tentang mempertimbangkan mahar mitsl: Seorang lelaki yang memiliki seorang anak yatim perempuan yang berada dalam pengasuhannya (bukan anak kandungnya sendiri) dan ia ingin menikahinya (menjadikannya sebagai istri). Maka, wajib baginya memberikan mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan lain yang sepadan dengannya.Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala,وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى“Jika kalian takut tidak berlaku adil terhadap anak-anak yatim …” dan seterusnya.Artinya, apabila dikhawatirkan ia tidak memberikan kepada yatim tersebut mahar yang adil seperti mahar perempuan-perempuan di lingkungannya, maka ditetapkan baginya mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan yang sepadan. Wallahu Ta‘ala a’lam.Baca juga: Mahar, Hak Siapa?***@Unayzah, KSA; 20 Jumadil akhir 1447/ 10 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 153-154.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘AdawiPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi Pertanyaan:Kapan mahar mitsl (mahar standar) dijadikan sebagai acuan (patokan)? Apa dalil adanya mahar mitsl?Jawaban:Mahar mitsl dijadikan sebagai standar (acuan) dalam sebagian kondisi ketika terjadi perselisihan dalam menentukan jenis mahar antara suami dan istri, sedangkan akad nikah telah berlangsung tanpa menentukan jenis mahar yang diserahkan, misalnya.Dalil adanya mahar mitsl adalah hadis riwayat Ahmad dan selainnya dengan sanad yang sahih dari Alqamah, beliau berkata,أُتِيَ عَبْدُ اللهِ فِي امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، قَالَ: فَاخْتَلَفُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَى لَهَا مِثْلَ صَدَاقِ نِسَائِهَا، وَلَهَا الْمِيرَاثُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَشَهِدَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ بِمِثْلِ مَا قَضَى“Abdullah (bin Mas‘ud) didatangi beberapa orang untuk dimintai pendapat (fatwa) tentang seorang wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki, lalu laki-laki itu meninggal dunia sebelum menentukan mahar untuknya dan sebelum menggaulinya. Ia (Alqamah) berkata, “Mereka pun berbeda pendapat (dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud).”Beliau (Abdullah bin Mas‘ud) berkata, “Menurutku, ia (wanita itu) berhak mendapatkan mahar seperti mahar perempuan-perempuan yang sepadan (mahr mitsl), ia juga berhak mendapatkan warisan, dan ia wajib menjalani masa iddah.”Lalu, Ma‘qil bin Sinan al-Asyja‘i memberikan kesaksian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan perkara Birwa‘ binti Wāshiq dengan keputusan yang sama seperti itu.”Dalil lain tentang mempertimbangkan mahar mitsl: Seorang lelaki yang memiliki seorang anak yatim perempuan yang berada dalam pengasuhannya (bukan anak kandungnya sendiri) dan ia ingin menikahinya (menjadikannya sebagai istri). Maka, wajib baginya memberikan mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan lain yang sepadan dengannya.Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala,وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى“Jika kalian takut tidak berlaku adil terhadap anak-anak yatim …” dan seterusnya.Artinya, apabila dikhawatirkan ia tidak memberikan kepada yatim tersebut mahar yang adil seperti mahar perempuan-perempuan di lingkungannya, maka ditetapkan baginya mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan yang sepadan. Wallahu Ta‘ala a’lam.Baca juga: Mahar, Hak Siapa?***@Unayzah, KSA; 20 Jumadil akhir 1447/ 10 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 153-154.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘AdawiPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi Pertanyaan:Kapan mahar mitsl (mahar standar) dijadikan sebagai acuan (patokan)? Apa dalil adanya mahar mitsl?Jawaban:Mahar mitsl dijadikan sebagai standar (acuan) dalam sebagian kondisi ketika terjadi perselisihan dalam menentukan jenis mahar antara suami dan istri, sedangkan akad nikah telah berlangsung tanpa menentukan jenis mahar yang diserahkan, misalnya.Dalil adanya mahar mitsl adalah hadis riwayat Ahmad dan selainnya dengan sanad yang sahih dari Alqamah, beliau berkata,أُتِيَ عَبْدُ اللهِ فِي امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا رَجُلٌ، ثُمَّ مَاتَ عَنْهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، قَالَ: فَاخْتَلَفُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَى لَهَا مِثْلَ صَدَاقِ نِسَائِهَا، وَلَهَا الْمِيرَاثُ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَشَهِدَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ بِمِثْلِ مَا قَضَى“Abdullah (bin Mas‘ud) didatangi beberapa orang untuk dimintai pendapat (fatwa) tentang seorang wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki, lalu laki-laki itu meninggal dunia sebelum menentukan mahar untuknya dan sebelum menggaulinya. Ia (Alqamah) berkata, “Mereka pun berbeda pendapat (dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud).”Beliau (Abdullah bin Mas‘ud) berkata, “Menurutku, ia (wanita itu) berhak mendapatkan mahar seperti mahar perempuan-perempuan yang sepadan (mahr mitsl), ia juga berhak mendapatkan warisan, dan ia wajib menjalani masa iddah.”Lalu, Ma‘qil bin Sinan al-Asyja‘i memberikan kesaksian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan perkara Birwa‘ binti Wāshiq dengan keputusan yang sama seperti itu.”Dalil lain tentang mempertimbangkan mahar mitsl: Seorang lelaki yang memiliki seorang anak yatim perempuan yang berada dalam pengasuhannya (bukan anak kandungnya sendiri) dan ia ingin menikahinya (menjadikannya sebagai istri). Maka, wajib baginya memberikan mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan lain yang sepadan dengannya.Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala,وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى“Jika kalian takut tidak berlaku adil terhadap anak-anak yatim …” dan seterusnya.Artinya, apabila dikhawatirkan ia tidak memberikan kepada yatim tersebut mahar yang adil seperti mahar perempuan-perempuan di lingkungannya, maka ditetapkan baginya mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan yang sepadan. Wallahu Ta‘ala a’lam.Baca juga: Mahar, Hak Siapa?***@Unayzah, KSA; 20 Jumadil akhir 1447/ 10 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 153-154.

Mendoakan Kebaikan untuk Pemerintah

Daftar Isi ToggleDoa untuk pemimpin adalah perintah syariatMengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatMendoakan lebih baik daripada mencaciMenjaga persatuan dan menghindari kekacauanAdab dalam menasihati pemimpinMeneladani contoh terbaikManfaat Mendoakan PemimpinDi tengah dinamika sosial dan politik yang kompleks, banyak orang dengan mudah melontarkan kritik dan caci maki terhadap pemerintah. Banyak yang menganggap bahwa hal itu adalah suatu keberanian dan kebebasan berpendapat. Mereka lupa dan lalai bahwa cara seperti itu bisa memperburuk keadaan yang ada.Islam adalah agama yang menuntun pemeluknya untuk menegakkan keadilan, namun tetap menjaga persatuan dan ketertiban. Karena itu, nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara yang santun. Doa kebaikan untuk mereka menjadi salah satu tanda hati yang bersih dan cinta terhadap kemaslahatan umat.Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas yang dilantunkan dalam khotbah Jumat. Ia adalah bagian dari akhlak seorang mukmin, wujud cinta terhadap negeri, dan tanda keimanan kepada Allah yang Maha Mengatur. Sebab, jika pemimpin baik, maka rakyat akan merasakan dampaknya. Namun jika pemimpin rusak, maka kerusakan itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat.Doa untuk pemimpin adalah perintah syariatMendoakan pemerintah dan pemimpin bukanlah sekadar etika sosial, tetapi tuntunan agama yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan amalan para salafus shalih. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)Ayat ini menjadi pondasi hubungan antara rakyat dan pemimpin. “Ulil amri” yang dimaksud mencakup para penguasa, pemerintah, dan penegak hukum, mereka yang Allah amanahkan untuk mengatur urusan manusia.Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Maka, mendoakan kebaikan untuk mereka juga bagian dari ketaatan, karena dengan doa itu kita memohon kepada Allah agar mereka diberi petunjuk, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan akhlak mulia dalam menyikapi pemimpin, bahkan sekalipun mereka tidak sempurna dan bahkan berbuat kezaliman. Dalam sebuah hadis disebutkan,خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم وشرارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تبغَضونَهُم ويبغَضونَكُم وتَلعنونَهُم ويَلعنونَكُم قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ أفلا نُنابذُهُم ؟ قالَ : لا ما أقاموا فيكُمُ الصَّلاةَ ألا مَن وليَ علَيهِ والٍ فرآهُ يأتي شَيئًا مِن معصيةِ اللَّهِ فليَكْرَهْ ما يَأتي مِن معصيةِ اللَّهِ ولا ينزِعَنَّ يدًا مِن طاعةٍ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah boleh kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seorang penguasa lalu ia melihat penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci perbuatan maksiat itu, tetapi janganlah ia mencabut ketaatan dari penguasa tersebut.” (HR. Muslim)Mengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatPemimpin adalah cermin masyarakatnya. Jika pemimpin baik, maka kebijakan, keamanan, dan kesejahteraan akan ikut baik. Jika pemimpin rusak, maka rakyat pun ikut menderita. Oleh karena itu, mendoakan pemimpin berarti mendoakan diri kita sendiri.وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim berkuasa atas sebagian yang lain, disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An‘am: 129)Ayat ini menjadi pengingat bahwa pemimpin yang Allah berikan adalah cerminan kondisi rakyat. Jika kita ingin pemimpin yang lebih baik, maka mulailah dengan memperbaiki diri dan memperbanyak doa, bukan dengan mencaci.Mendoakan lebih baik daripada mencaciBanyak orang menghabiskan waktu di media sosial hanya untuk mencaci pemerintah, tanpa sadar bahwa kata-katanya bukan solusi, bahkan menjadi dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)Mendoakan pemimpin agar menjadi lebih baik itu jauh lebih bermanfaat daripada mencaci mereka. Karena doa adalah bentuk kontribusi nyata yang tidak hanya menjaga lisan, tapi juga menumbuhkan harapan akan perubahan.Menjaga persatuan dan menghindari kekacauanIslam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan larangan untuk memberontak kepada pemimpin Muslim selama mereka masih menegakkan salat dan tidak menampakkan kekufuran nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن رَأَى من أمِيرِهِ شيئًا يَكْرَهُهُ فلْيَصْبِرْ عليه ، فإِنَّهُ ليس أحدٌ يُفارِقُ الجَماعةَ شِبْرًا فيَموتُ ، إِلَّا ماتَ مِيتةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dengan mendoakan kebaikan bagi pemerintah, kita menjaga kestabilan, bukan menambah kekacauan. Doa dari rakyat yang tulus jauh lebih besar pengaruhnya daripada cercaan dari ribuan komentar di dunia maya ataupun dengan cara demo yang bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.Adab dalam menasihati pemimpinIslam memberi ruang bagi umat untuk menasihati pemimpin, tetapi dengan adab dan cara yang santun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن أرادَ أن ينصحَ لذي سلطانٍ في أمرٍ فلا يُبدِهِ عَلانيةً ولَكِن ليأخذْ بيدِهِ فيَخلوَ بهِ فإن قبِلَ منهُ فذاكَ وإلَّا كانَ قد أدَّى الَّذي علَيهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Tetapi hendaklah ia memegang tangan penguasa itu, lalu menyendiri dengannya (memberi nasihat secara sembunyi). Jika ia menerima nasihat tersebut, maka itulah yang diharapkan. Namun jika ia tidak menerimanya, maka orang itu telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, Hakim, dan Ath-Thabrani)Nasihat yang dilakukan dengan lembut lebih mudah diterima daripada caci maki di depan umum. Inilah adab yang diajarkan oleh para ulama salaf, menasihati tanpa mempermalukan, menegur tanpa menjatuhkan.Meneladani contoh terbaikPara ulama salaf adalah contoh terbaik dalam menyikapi penguasa. Mereka dikenal tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam ucapan. Mereka berani menasihati, tapi tidak suka mencaci.Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا لِلسُّلْطَانِ“Jika aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka aku akan tujukan doa itu untuk penguasa.” [1]Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ يَدْعُو عَلَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى“Jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia pengikut sunah; namun jika engkau melihatnya mendoakan keburukan, ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu.” [2]Imam Ahmad rahimahullah, meskipun hidup di masa penguasa zalim yang memaksakan paham sesat (fitnah “Al-Qur’an adalah makhluk”), tetap bersabar dan tidak pernah menghasut rakyat untuk memberontak.Sikap para ulama adalah pelajaran penting bahwa doa, kesabaran, dan nasihat yang lembut lebih bermanfaat daripada pemberontakan dan kebencian.Manfaat Mendoakan PemimpinPertama: Menumbuhkan cinta terhadap keadilan dan kebaikan. Dengan mendoakan, hati kita terlatih untuk berharap kebaikan, bukan keburukan bagi sesama.Kedua: Menjauhkan dari dosa gibah dan fitnah. Lisan yang sibuk berdoa tidak akan sibuk mencela.Ketiga: Mengundang keberkahan dan keamanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اثْنَتَانِ مَا ظَهَرَتَا فِي قَوْمٍ إِلَّا عُذِّبُوا: الْبَخْسُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَالْجَوْرُ مِنَ الْوُلَاةِ“Dua hal, jika muncul di suatu kaum, maka mereka akan diazab: curang dalam takaran dan timbangan, serta zalimnya para pemimpin.” (HR. Ahmad)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والأئمة لا يقاتلون بمجرد الفسق، وإن كان الواحد المقدور قد يقتل لبعض أنواع الفسق كالزنا وغيره، فليس كل ما جاز فيه القتل جاز أن يقاتل الأئمة لفعلهم إياه، إذ فساد القتال أعظم من فساد كبير يرتكبه ولي الأمر.“Para pemimpin (penguasa) tidak boleh diperangi hanya karena kemaksiatan (atau kefasikan) semata. Meskipun seseorang dari rakyat yang mampu ditindak, mungkin boleh dihukum mati karena sebagian jenis maksiat, seperti zina dan lainnya, namun tidak berarti setiap perkara yang mengandung hukuman mati boleh dijadikan alasan untuk memerangi para pemimpin. Sebab, kerusakan (dampak buruk) dari memerangi pemimpin itu jauh lebih besar daripada kerusakan maksiat besar yang dilakukan oleh seorang penguasa.” [3]Maka, ketika rakyat berdoa agar pemimpinnya adil, mereka sejatinya sedang memohon agar azab dijauhkan dari negeri mereka.Di zaman media sosial, banyak yang lebih mudah menekan tombol “komentar” daripada menengadahkan tangan untuk berdoa. Padahal, perubahan besar sering dimulai dari doa yang tulus.Kritik bisa membangun, tetapi jika tanpa adab, ia hanya menambah kebencian.Sebaliknya, doa yang tulus untuk pemimpin dapat mengetuk pintu langit dan mengubah keadaan yang tampaknya mustahil.Mendoakan pemimpin bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Namun, itu adalah bentuk kematangan iman. Karena orang yang mencintai kebaikan bagi pemimpin, sejatinya sedang mencintai kebaikan bagi umat.Maka, mari kita renungkan dari banyaknya kata yang keluar dari lisan dan jari kita setiap hari, berapa kali kita mendoakan pemerintah agar diberi hidayah dan taufik?Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin kita, menjadikan mereka adil, bijak, dan takut kepada-Nya; serta menjadikan rakyatnya sebagai penolong dalam kebaikan, bukan sumber fitnah dan kebencian.اللهم أصلح وُلاةَ أمورِنا، ووفّقهم لِما تُحبُّ وترضى، واجعلهم رحمةً على رعاياهم، وهيّئ لنا من أمرنا رشدًا“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, bimbing mereka kepada apa yang Engkau cintai dan ridai, jadikan mereka rahmat bagi rakyatnya, dan anugerahkan kepada kami jalan yang lurus dalam urusan kami.”Wallahu a‘lam bish shawab.Baca juga: Mencela dan Menjelek-Jelekkan Penguasa (Pemerintah)***Diselesaikan di Kupang, 1 Jumadil akhir 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Sunnah lil Barbahari, karya Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi, 14: 6; melalui Maktabah Syamilah.[2] Syarh as-Sunnah, hal. 113.[3] Op, Cit.

Mendoakan Kebaikan untuk Pemerintah

Daftar Isi ToggleDoa untuk pemimpin adalah perintah syariatMengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatMendoakan lebih baik daripada mencaciMenjaga persatuan dan menghindari kekacauanAdab dalam menasihati pemimpinMeneladani contoh terbaikManfaat Mendoakan PemimpinDi tengah dinamika sosial dan politik yang kompleks, banyak orang dengan mudah melontarkan kritik dan caci maki terhadap pemerintah. Banyak yang menganggap bahwa hal itu adalah suatu keberanian dan kebebasan berpendapat. Mereka lupa dan lalai bahwa cara seperti itu bisa memperburuk keadaan yang ada.Islam adalah agama yang menuntun pemeluknya untuk menegakkan keadilan, namun tetap menjaga persatuan dan ketertiban. Karena itu, nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara yang santun. Doa kebaikan untuk mereka menjadi salah satu tanda hati yang bersih dan cinta terhadap kemaslahatan umat.Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas yang dilantunkan dalam khotbah Jumat. Ia adalah bagian dari akhlak seorang mukmin, wujud cinta terhadap negeri, dan tanda keimanan kepada Allah yang Maha Mengatur. Sebab, jika pemimpin baik, maka rakyat akan merasakan dampaknya. Namun jika pemimpin rusak, maka kerusakan itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat.Doa untuk pemimpin adalah perintah syariatMendoakan pemerintah dan pemimpin bukanlah sekadar etika sosial, tetapi tuntunan agama yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan amalan para salafus shalih. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)Ayat ini menjadi pondasi hubungan antara rakyat dan pemimpin. “Ulil amri” yang dimaksud mencakup para penguasa, pemerintah, dan penegak hukum, mereka yang Allah amanahkan untuk mengatur urusan manusia.Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Maka, mendoakan kebaikan untuk mereka juga bagian dari ketaatan, karena dengan doa itu kita memohon kepada Allah agar mereka diberi petunjuk, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan akhlak mulia dalam menyikapi pemimpin, bahkan sekalipun mereka tidak sempurna dan bahkan berbuat kezaliman. Dalam sebuah hadis disebutkan,خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم وشرارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تبغَضونَهُم ويبغَضونَكُم وتَلعنونَهُم ويَلعنونَكُم قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ أفلا نُنابذُهُم ؟ قالَ : لا ما أقاموا فيكُمُ الصَّلاةَ ألا مَن وليَ علَيهِ والٍ فرآهُ يأتي شَيئًا مِن معصيةِ اللَّهِ فليَكْرَهْ ما يَأتي مِن معصيةِ اللَّهِ ولا ينزِعَنَّ يدًا مِن طاعةٍ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah boleh kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seorang penguasa lalu ia melihat penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci perbuatan maksiat itu, tetapi janganlah ia mencabut ketaatan dari penguasa tersebut.” (HR. Muslim)Mengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatPemimpin adalah cermin masyarakatnya. Jika pemimpin baik, maka kebijakan, keamanan, dan kesejahteraan akan ikut baik. Jika pemimpin rusak, maka rakyat pun ikut menderita. Oleh karena itu, mendoakan pemimpin berarti mendoakan diri kita sendiri.وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim berkuasa atas sebagian yang lain, disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An‘am: 129)Ayat ini menjadi pengingat bahwa pemimpin yang Allah berikan adalah cerminan kondisi rakyat. Jika kita ingin pemimpin yang lebih baik, maka mulailah dengan memperbaiki diri dan memperbanyak doa, bukan dengan mencaci.Mendoakan lebih baik daripada mencaciBanyak orang menghabiskan waktu di media sosial hanya untuk mencaci pemerintah, tanpa sadar bahwa kata-katanya bukan solusi, bahkan menjadi dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)Mendoakan pemimpin agar menjadi lebih baik itu jauh lebih bermanfaat daripada mencaci mereka. Karena doa adalah bentuk kontribusi nyata yang tidak hanya menjaga lisan, tapi juga menumbuhkan harapan akan perubahan.Menjaga persatuan dan menghindari kekacauanIslam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan larangan untuk memberontak kepada pemimpin Muslim selama mereka masih menegakkan salat dan tidak menampakkan kekufuran nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن رَأَى من أمِيرِهِ شيئًا يَكْرَهُهُ فلْيَصْبِرْ عليه ، فإِنَّهُ ليس أحدٌ يُفارِقُ الجَماعةَ شِبْرًا فيَموتُ ، إِلَّا ماتَ مِيتةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dengan mendoakan kebaikan bagi pemerintah, kita menjaga kestabilan, bukan menambah kekacauan. Doa dari rakyat yang tulus jauh lebih besar pengaruhnya daripada cercaan dari ribuan komentar di dunia maya ataupun dengan cara demo yang bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.Adab dalam menasihati pemimpinIslam memberi ruang bagi umat untuk menasihati pemimpin, tetapi dengan adab dan cara yang santun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن أرادَ أن ينصحَ لذي سلطانٍ في أمرٍ فلا يُبدِهِ عَلانيةً ولَكِن ليأخذْ بيدِهِ فيَخلوَ بهِ فإن قبِلَ منهُ فذاكَ وإلَّا كانَ قد أدَّى الَّذي علَيهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Tetapi hendaklah ia memegang tangan penguasa itu, lalu menyendiri dengannya (memberi nasihat secara sembunyi). Jika ia menerima nasihat tersebut, maka itulah yang diharapkan. Namun jika ia tidak menerimanya, maka orang itu telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, Hakim, dan Ath-Thabrani)Nasihat yang dilakukan dengan lembut lebih mudah diterima daripada caci maki di depan umum. Inilah adab yang diajarkan oleh para ulama salaf, menasihati tanpa mempermalukan, menegur tanpa menjatuhkan.Meneladani contoh terbaikPara ulama salaf adalah contoh terbaik dalam menyikapi penguasa. Mereka dikenal tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam ucapan. Mereka berani menasihati, tapi tidak suka mencaci.Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا لِلسُّلْطَانِ“Jika aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka aku akan tujukan doa itu untuk penguasa.” [1]Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ يَدْعُو عَلَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى“Jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia pengikut sunah; namun jika engkau melihatnya mendoakan keburukan, ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu.” [2]Imam Ahmad rahimahullah, meskipun hidup di masa penguasa zalim yang memaksakan paham sesat (fitnah “Al-Qur’an adalah makhluk”), tetap bersabar dan tidak pernah menghasut rakyat untuk memberontak.Sikap para ulama adalah pelajaran penting bahwa doa, kesabaran, dan nasihat yang lembut lebih bermanfaat daripada pemberontakan dan kebencian.Manfaat Mendoakan PemimpinPertama: Menumbuhkan cinta terhadap keadilan dan kebaikan. Dengan mendoakan, hati kita terlatih untuk berharap kebaikan, bukan keburukan bagi sesama.Kedua: Menjauhkan dari dosa gibah dan fitnah. Lisan yang sibuk berdoa tidak akan sibuk mencela.Ketiga: Mengundang keberkahan dan keamanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اثْنَتَانِ مَا ظَهَرَتَا فِي قَوْمٍ إِلَّا عُذِّبُوا: الْبَخْسُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَالْجَوْرُ مِنَ الْوُلَاةِ“Dua hal, jika muncul di suatu kaum, maka mereka akan diazab: curang dalam takaran dan timbangan, serta zalimnya para pemimpin.” (HR. Ahmad)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والأئمة لا يقاتلون بمجرد الفسق، وإن كان الواحد المقدور قد يقتل لبعض أنواع الفسق كالزنا وغيره، فليس كل ما جاز فيه القتل جاز أن يقاتل الأئمة لفعلهم إياه، إذ فساد القتال أعظم من فساد كبير يرتكبه ولي الأمر.“Para pemimpin (penguasa) tidak boleh diperangi hanya karena kemaksiatan (atau kefasikan) semata. Meskipun seseorang dari rakyat yang mampu ditindak, mungkin boleh dihukum mati karena sebagian jenis maksiat, seperti zina dan lainnya, namun tidak berarti setiap perkara yang mengandung hukuman mati boleh dijadikan alasan untuk memerangi para pemimpin. Sebab, kerusakan (dampak buruk) dari memerangi pemimpin itu jauh lebih besar daripada kerusakan maksiat besar yang dilakukan oleh seorang penguasa.” [3]Maka, ketika rakyat berdoa agar pemimpinnya adil, mereka sejatinya sedang memohon agar azab dijauhkan dari negeri mereka.Di zaman media sosial, banyak yang lebih mudah menekan tombol “komentar” daripada menengadahkan tangan untuk berdoa. Padahal, perubahan besar sering dimulai dari doa yang tulus.Kritik bisa membangun, tetapi jika tanpa adab, ia hanya menambah kebencian.Sebaliknya, doa yang tulus untuk pemimpin dapat mengetuk pintu langit dan mengubah keadaan yang tampaknya mustahil.Mendoakan pemimpin bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Namun, itu adalah bentuk kematangan iman. Karena orang yang mencintai kebaikan bagi pemimpin, sejatinya sedang mencintai kebaikan bagi umat.Maka, mari kita renungkan dari banyaknya kata yang keluar dari lisan dan jari kita setiap hari, berapa kali kita mendoakan pemerintah agar diberi hidayah dan taufik?Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin kita, menjadikan mereka adil, bijak, dan takut kepada-Nya; serta menjadikan rakyatnya sebagai penolong dalam kebaikan, bukan sumber fitnah dan kebencian.اللهم أصلح وُلاةَ أمورِنا، ووفّقهم لِما تُحبُّ وترضى، واجعلهم رحمةً على رعاياهم، وهيّئ لنا من أمرنا رشدًا“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, bimbing mereka kepada apa yang Engkau cintai dan ridai, jadikan mereka rahmat bagi rakyatnya, dan anugerahkan kepada kami jalan yang lurus dalam urusan kami.”Wallahu a‘lam bish shawab.Baca juga: Mencela dan Menjelek-Jelekkan Penguasa (Pemerintah)***Diselesaikan di Kupang, 1 Jumadil akhir 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Sunnah lil Barbahari, karya Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi, 14: 6; melalui Maktabah Syamilah.[2] Syarh as-Sunnah, hal. 113.[3] Op, Cit.
Daftar Isi ToggleDoa untuk pemimpin adalah perintah syariatMengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatMendoakan lebih baik daripada mencaciMenjaga persatuan dan menghindari kekacauanAdab dalam menasihati pemimpinMeneladani contoh terbaikManfaat Mendoakan PemimpinDi tengah dinamika sosial dan politik yang kompleks, banyak orang dengan mudah melontarkan kritik dan caci maki terhadap pemerintah. Banyak yang menganggap bahwa hal itu adalah suatu keberanian dan kebebasan berpendapat. Mereka lupa dan lalai bahwa cara seperti itu bisa memperburuk keadaan yang ada.Islam adalah agama yang menuntun pemeluknya untuk menegakkan keadilan, namun tetap menjaga persatuan dan ketertiban. Karena itu, nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara yang santun. Doa kebaikan untuk mereka menjadi salah satu tanda hati yang bersih dan cinta terhadap kemaslahatan umat.Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas yang dilantunkan dalam khotbah Jumat. Ia adalah bagian dari akhlak seorang mukmin, wujud cinta terhadap negeri, dan tanda keimanan kepada Allah yang Maha Mengatur. Sebab, jika pemimpin baik, maka rakyat akan merasakan dampaknya. Namun jika pemimpin rusak, maka kerusakan itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat.Doa untuk pemimpin adalah perintah syariatMendoakan pemerintah dan pemimpin bukanlah sekadar etika sosial, tetapi tuntunan agama yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan amalan para salafus shalih. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)Ayat ini menjadi pondasi hubungan antara rakyat dan pemimpin. “Ulil amri” yang dimaksud mencakup para penguasa, pemerintah, dan penegak hukum, mereka yang Allah amanahkan untuk mengatur urusan manusia.Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Maka, mendoakan kebaikan untuk mereka juga bagian dari ketaatan, karena dengan doa itu kita memohon kepada Allah agar mereka diberi petunjuk, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan akhlak mulia dalam menyikapi pemimpin, bahkan sekalipun mereka tidak sempurna dan bahkan berbuat kezaliman. Dalam sebuah hadis disebutkan,خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم وشرارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تبغَضونَهُم ويبغَضونَكُم وتَلعنونَهُم ويَلعنونَكُم قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ أفلا نُنابذُهُم ؟ قالَ : لا ما أقاموا فيكُمُ الصَّلاةَ ألا مَن وليَ علَيهِ والٍ فرآهُ يأتي شَيئًا مِن معصيةِ اللَّهِ فليَكْرَهْ ما يَأتي مِن معصيةِ اللَّهِ ولا ينزِعَنَّ يدًا مِن طاعةٍ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah boleh kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seorang penguasa lalu ia melihat penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci perbuatan maksiat itu, tetapi janganlah ia mencabut ketaatan dari penguasa tersebut.” (HR. Muslim)Mengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatPemimpin adalah cermin masyarakatnya. Jika pemimpin baik, maka kebijakan, keamanan, dan kesejahteraan akan ikut baik. Jika pemimpin rusak, maka rakyat pun ikut menderita. Oleh karena itu, mendoakan pemimpin berarti mendoakan diri kita sendiri.وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim berkuasa atas sebagian yang lain, disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An‘am: 129)Ayat ini menjadi pengingat bahwa pemimpin yang Allah berikan adalah cerminan kondisi rakyat. Jika kita ingin pemimpin yang lebih baik, maka mulailah dengan memperbaiki diri dan memperbanyak doa, bukan dengan mencaci.Mendoakan lebih baik daripada mencaciBanyak orang menghabiskan waktu di media sosial hanya untuk mencaci pemerintah, tanpa sadar bahwa kata-katanya bukan solusi, bahkan menjadi dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)Mendoakan pemimpin agar menjadi lebih baik itu jauh lebih bermanfaat daripada mencaci mereka. Karena doa adalah bentuk kontribusi nyata yang tidak hanya menjaga lisan, tapi juga menumbuhkan harapan akan perubahan.Menjaga persatuan dan menghindari kekacauanIslam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan larangan untuk memberontak kepada pemimpin Muslim selama mereka masih menegakkan salat dan tidak menampakkan kekufuran nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن رَأَى من أمِيرِهِ شيئًا يَكْرَهُهُ فلْيَصْبِرْ عليه ، فإِنَّهُ ليس أحدٌ يُفارِقُ الجَماعةَ شِبْرًا فيَموتُ ، إِلَّا ماتَ مِيتةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dengan mendoakan kebaikan bagi pemerintah, kita menjaga kestabilan, bukan menambah kekacauan. Doa dari rakyat yang tulus jauh lebih besar pengaruhnya daripada cercaan dari ribuan komentar di dunia maya ataupun dengan cara demo yang bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.Adab dalam menasihati pemimpinIslam memberi ruang bagi umat untuk menasihati pemimpin, tetapi dengan adab dan cara yang santun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن أرادَ أن ينصحَ لذي سلطانٍ في أمرٍ فلا يُبدِهِ عَلانيةً ولَكِن ليأخذْ بيدِهِ فيَخلوَ بهِ فإن قبِلَ منهُ فذاكَ وإلَّا كانَ قد أدَّى الَّذي علَيهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Tetapi hendaklah ia memegang tangan penguasa itu, lalu menyendiri dengannya (memberi nasihat secara sembunyi). Jika ia menerima nasihat tersebut, maka itulah yang diharapkan. Namun jika ia tidak menerimanya, maka orang itu telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, Hakim, dan Ath-Thabrani)Nasihat yang dilakukan dengan lembut lebih mudah diterima daripada caci maki di depan umum. Inilah adab yang diajarkan oleh para ulama salaf, menasihati tanpa mempermalukan, menegur tanpa menjatuhkan.Meneladani contoh terbaikPara ulama salaf adalah contoh terbaik dalam menyikapi penguasa. Mereka dikenal tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam ucapan. Mereka berani menasihati, tapi tidak suka mencaci.Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا لِلسُّلْطَانِ“Jika aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka aku akan tujukan doa itu untuk penguasa.” [1]Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ يَدْعُو عَلَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى“Jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia pengikut sunah; namun jika engkau melihatnya mendoakan keburukan, ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu.” [2]Imam Ahmad rahimahullah, meskipun hidup di masa penguasa zalim yang memaksakan paham sesat (fitnah “Al-Qur’an adalah makhluk”), tetap bersabar dan tidak pernah menghasut rakyat untuk memberontak.Sikap para ulama adalah pelajaran penting bahwa doa, kesabaran, dan nasihat yang lembut lebih bermanfaat daripada pemberontakan dan kebencian.Manfaat Mendoakan PemimpinPertama: Menumbuhkan cinta terhadap keadilan dan kebaikan. Dengan mendoakan, hati kita terlatih untuk berharap kebaikan, bukan keburukan bagi sesama.Kedua: Menjauhkan dari dosa gibah dan fitnah. Lisan yang sibuk berdoa tidak akan sibuk mencela.Ketiga: Mengundang keberkahan dan keamanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اثْنَتَانِ مَا ظَهَرَتَا فِي قَوْمٍ إِلَّا عُذِّبُوا: الْبَخْسُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَالْجَوْرُ مِنَ الْوُلَاةِ“Dua hal, jika muncul di suatu kaum, maka mereka akan diazab: curang dalam takaran dan timbangan, serta zalimnya para pemimpin.” (HR. Ahmad)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والأئمة لا يقاتلون بمجرد الفسق، وإن كان الواحد المقدور قد يقتل لبعض أنواع الفسق كالزنا وغيره، فليس كل ما جاز فيه القتل جاز أن يقاتل الأئمة لفعلهم إياه، إذ فساد القتال أعظم من فساد كبير يرتكبه ولي الأمر.“Para pemimpin (penguasa) tidak boleh diperangi hanya karena kemaksiatan (atau kefasikan) semata. Meskipun seseorang dari rakyat yang mampu ditindak, mungkin boleh dihukum mati karena sebagian jenis maksiat, seperti zina dan lainnya, namun tidak berarti setiap perkara yang mengandung hukuman mati boleh dijadikan alasan untuk memerangi para pemimpin. Sebab, kerusakan (dampak buruk) dari memerangi pemimpin itu jauh lebih besar daripada kerusakan maksiat besar yang dilakukan oleh seorang penguasa.” [3]Maka, ketika rakyat berdoa agar pemimpinnya adil, mereka sejatinya sedang memohon agar azab dijauhkan dari negeri mereka.Di zaman media sosial, banyak yang lebih mudah menekan tombol “komentar” daripada menengadahkan tangan untuk berdoa. Padahal, perubahan besar sering dimulai dari doa yang tulus.Kritik bisa membangun, tetapi jika tanpa adab, ia hanya menambah kebencian.Sebaliknya, doa yang tulus untuk pemimpin dapat mengetuk pintu langit dan mengubah keadaan yang tampaknya mustahil.Mendoakan pemimpin bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Namun, itu adalah bentuk kematangan iman. Karena orang yang mencintai kebaikan bagi pemimpin, sejatinya sedang mencintai kebaikan bagi umat.Maka, mari kita renungkan dari banyaknya kata yang keluar dari lisan dan jari kita setiap hari, berapa kali kita mendoakan pemerintah agar diberi hidayah dan taufik?Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin kita, menjadikan mereka adil, bijak, dan takut kepada-Nya; serta menjadikan rakyatnya sebagai penolong dalam kebaikan, bukan sumber fitnah dan kebencian.اللهم أصلح وُلاةَ أمورِنا، ووفّقهم لِما تُحبُّ وترضى، واجعلهم رحمةً على رعاياهم، وهيّئ لنا من أمرنا رشدًا“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, bimbing mereka kepada apa yang Engkau cintai dan ridai, jadikan mereka rahmat bagi rakyatnya, dan anugerahkan kepada kami jalan yang lurus dalam urusan kami.”Wallahu a‘lam bish shawab.Baca juga: Mencela dan Menjelek-Jelekkan Penguasa (Pemerintah)***Diselesaikan di Kupang, 1 Jumadil akhir 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Sunnah lil Barbahari, karya Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi, 14: 6; melalui Maktabah Syamilah.[2] Syarh as-Sunnah, hal. 113.[3] Op, Cit.


Daftar Isi ToggleDoa untuk pemimpin adalah perintah syariatMengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatMendoakan lebih baik daripada mencaciMenjaga persatuan dan menghindari kekacauanAdab dalam menasihati pemimpinMeneladani contoh terbaikManfaat Mendoakan PemimpinDi tengah dinamika sosial dan politik yang kompleks, banyak orang dengan mudah melontarkan kritik dan caci maki terhadap pemerintah. Banyak yang menganggap bahwa hal itu adalah suatu keberanian dan kebebasan berpendapat. Mereka lupa dan lalai bahwa cara seperti itu bisa memperburuk keadaan yang ada.Islam adalah agama yang menuntun pemeluknya untuk menegakkan keadilan, namun tetap menjaga persatuan dan ketertiban. Karena itu, nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara yang santun. Doa kebaikan untuk mereka menjadi salah satu tanda hati yang bersih dan cinta terhadap kemaslahatan umat.Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas yang dilantunkan dalam khotbah Jumat. Ia adalah bagian dari akhlak seorang mukmin, wujud cinta terhadap negeri, dan tanda keimanan kepada Allah yang Maha Mengatur. Sebab, jika pemimpin baik, maka rakyat akan merasakan dampaknya. Namun jika pemimpin rusak, maka kerusakan itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat.Doa untuk pemimpin adalah perintah syariatMendoakan pemerintah dan pemimpin bukanlah sekadar etika sosial, tetapi tuntunan agama yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan amalan para salafus shalih. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)Ayat ini menjadi pondasi hubungan antara rakyat dan pemimpin. “Ulil amri” yang dimaksud mencakup para penguasa, pemerintah, dan penegak hukum, mereka yang Allah amanahkan untuk mengatur urusan manusia.Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Maka, mendoakan kebaikan untuk mereka juga bagian dari ketaatan, karena dengan doa itu kita memohon kepada Allah agar mereka diberi petunjuk, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan akhlak mulia dalam menyikapi pemimpin, bahkan sekalipun mereka tidak sempurna dan bahkan berbuat kezaliman. Dalam sebuah hadis disebutkan,خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم وشرارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تبغَضونَهُم ويبغَضونَكُم وتَلعنونَهُم ويَلعنونَكُم قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ أفلا نُنابذُهُم ؟ قالَ : لا ما أقاموا فيكُمُ الصَّلاةَ ألا مَن وليَ علَيهِ والٍ فرآهُ يأتي شَيئًا مِن معصيةِ اللَّهِ فليَكْرَهْ ما يَأتي مِن معصيةِ اللَّهِ ولا ينزِعَنَّ يدًا مِن طاعةٍ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah boleh kami memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seorang penguasa lalu ia melihat penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci perbuatan maksiat itu, tetapi janganlah ia mencabut ketaatan dari penguasa tersebut.” (HR. Muslim)Mengapa kita harus mendoakan pemerintah?Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyatPemimpin adalah cermin masyarakatnya. Jika pemimpin baik, maka kebijakan, keamanan, dan kesejahteraan akan ikut baik. Jika pemimpin rusak, maka rakyat pun ikut menderita. Oleh karena itu, mendoakan pemimpin berarti mendoakan diri kita sendiri.وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim berkuasa atas sebagian yang lain, disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan.” (QS. Al-An‘am: 129)Ayat ini menjadi pengingat bahwa pemimpin yang Allah berikan adalah cerminan kondisi rakyat. Jika kita ingin pemimpin yang lebih baik, maka mulailah dengan memperbaiki diri dan memperbanyak doa, bukan dengan mencaci.Mendoakan lebih baik daripada mencaciBanyak orang menghabiskan waktu di media sosial hanya untuk mencaci pemerintah, tanpa sadar bahwa kata-katanya bukan solusi, bahkan menjadi dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)Mendoakan pemimpin agar menjadi lebih baik itu jauh lebih bermanfaat daripada mencaci mereka. Karena doa adalah bentuk kontribusi nyata yang tidak hanya menjaga lisan, tapi juga menumbuhkan harapan akan perubahan.Menjaga persatuan dan menghindari kekacauanIslam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan larangan untuk memberontak kepada pemimpin Muslim selama mereka masih menegakkan salat dan tidak menampakkan kekufuran nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن رَأَى من أمِيرِهِ شيئًا يَكْرَهُهُ فلْيَصْبِرْ عليه ، فإِنَّهُ ليس أحدٌ يُفارِقُ الجَماعةَ شِبْرًا فيَموتُ ، إِلَّا ماتَ مِيتةً جَاهِلِيَّةً“Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dengan mendoakan kebaikan bagi pemerintah, kita menjaga kestabilan, bukan menambah kekacauan. Doa dari rakyat yang tulus jauh lebih besar pengaruhnya daripada cercaan dari ribuan komentar di dunia maya ataupun dengan cara demo yang bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.Adab dalam menasihati pemimpinIslam memberi ruang bagi umat untuk menasihati pemimpin, tetapi dengan adab dan cara yang santun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن أرادَ أن ينصحَ لذي سلطانٍ في أمرٍ فلا يُبدِهِ عَلانيةً ولَكِن ليأخذْ بيدِهِ فيَخلوَ بهِ فإن قبِلَ منهُ فذاكَ وإلَّا كانَ قد أدَّى الَّذي علَيهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Tetapi hendaklah ia memegang tangan penguasa itu, lalu menyendiri dengannya (memberi nasihat secara sembunyi). Jika ia menerima nasihat tersebut, maka itulah yang diharapkan. Namun jika ia tidak menerimanya, maka orang itu telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, Hakim, dan Ath-Thabrani)Nasihat yang dilakukan dengan lembut lebih mudah diterima daripada caci maki di depan umum. Inilah adab yang diajarkan oleh para ulama salaf, menasihati tanpa mempermalukan, menegur tanpa menjatuhkan.Meneladani contoh terbaikPara ulama salaf adalah contoh terbaik dalam menyikapi penguasa. Mereka dikenal tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam ucapan. Mereka berani menasihati, tapi tidak suka mencaci.Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا لِلسُّلْطَانِ“Jika aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, maka aku akan tujukan doa itu untuk penguasa.” [1]Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ يَدْعُو عَلَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى“Jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa ia pengikut sunah; namun jika engkau melihatnya mendoakan keburukan, ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu.” [2]Imam Ahmad rahimahullah, meskipun hidup di masa penguasa zalim yang memaksakan paham sesat (fitnah “Al-Qur’an adalah makhluk”), tetap bersabar dan tidak pernah menghasut rakyat untuk memberontak.Sikap para ulama adalah pelajaran penting bahwa doa, kesabaran, dan nasihat yang lembut lebih bermanfaat daripada pemberontakan dan kebencian.Manfaat Mendoakan PemimpinPertama: Menumbuhkan cinta terhadap keadilan dan kebaikan. Dengan mendoakan, hati kita terlatih untuk berharap kebaikan, bukan keburukan bagi sesama.Kedua: Menjauhkan dari dosa gibah dan fitnah. Lisan yang sibuk berdoa tidak akan sibuk mencela.Ketiga: Mengundang keberkahan dan keamanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اثْنَتَانِ مَا ظَهَرَتَا فِي قَوْمٍ إِلَّا عُذِّبُوا: الْبَخْسُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَالْجَوْرُ مِنَ الْوُلَاةِ“Dua hal, jika muncul di suatu kaum, maka mereka akan diazab: curang dalam takaran dan timbangan, serta zalimnya para pemimpin.” (HR. Ahmad)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,والأئمة لا يقاتلون بمجرد الفسق، وإن كان الواحد المقدور قد يقتل لبعض أنواع الفسق كالزنا وغيره، فليس كل ما جاز فيه القتل جاز أن يقاتل الأئمة لفعلهم إياه، إذ فساد القتال أعظم من فساد كبير يرتكبه ولي الأمر.“Para pemimpin (penguasa) tidak boleh diperangi hanya karena kemaksiatan (atau kefasikan) semata. Meskipun seseorang dari rakyat yang mampu ditindak, mungkin boleh dihukum mati karena sebagian jenis maksiat, seperti zina dan lainnya, namun tidak berarti setiap perkara yang mengandung hukuman mati boleh dijadikan alasan untuk memerangi para pemimpin. Sebab, kerusakan (dampak buruk) dari memerangi pemimpin itu jauh lebih besar daripada kerusakan maksiat besar yang dilakukan oleh seorang penguasa.” [3]Maka, ketika rakyat berdoa agar pemimpinnya adil, mereka sejatinya sedang memohon agar azab dijauhkan dari negeri mereka.Di zaman media sosial, banyak yang lebih mudah menekan tombol “komentar” daripada menengadahkan tangan untuk berdoa. Padahal, perubahan besar sering dimulai dari doa yang tulus.Kritik bisa membangun, tetapi jika tanpa adab, ia hanya menambah kebencian.Sebaliknya, doa yang tulus untuk pemimpin dapat mengetuk pintu langit dan mengubah keadaan yang tampaknya mustahil.Mendoakan pemimpin bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Namun, itu adalah bentuk kematangan iman. Karena orang yang mencintai kebaikan bagi pemimpin, sejatinya sedang mencintai kebaikan bagi umat.Maka, mari kita renungkan dari banyaknya kata yang keluar dari lisan dan jari kita setiap hari, berapa kali kita mendoakan pemerintah agar diberi hidayah dan taufik?Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin kita, menjadikan mereka adil, bijak, dan takut kepada-Nya; serta menjadikan rakyatnya sebagai penolong dalam kebaikan, bukan sumber fitnah dan kebencian.اللهم أصلح وُلاةَ أمورِنا، ووفّقهم لِما تُحبُّ وترضى، واجعلهم رحمةً على رعاياهم، وهيّئ لنا من أمرنا رشدًا“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, bimbing mereka kepada apa yang Engkau cintai dan ridai, jadikan mereka rahmat bagi rakyatnya, dan anugerahkan kepada kami jalan yang lurus dalam urusan kami.”Wallahu a‘lam bish shawab.Baca juga: Mencela dan Menjelek-Jelekkan Penguasa (Pemerintah)***Diselesaikan di Kupang, 1 Jumadil akhir 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Sunnah lil Barbahari, karya Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi, 14: 6; melalui Maktabah Syamilah.[2] Syarh as-Sunnah, hal. 113.[3] Op, Cit.

Khutbah Jumat: Ketika Anak Menjadi Jalan ke Surga

Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak

Khutbah Jumat: Ketika Anak Menjadi Jalan ke Surga

Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak
Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak


Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 2): Ketika Ilmu dan Ulama Ditinggalkan, Sedangkan Kebodohan Diangkat Menjadi Panutan

Di antara dampak dan akibat dari fitnah yang lainnya ialah manusia mulai enggan bermajelis ilmu, enggan belajar bersama para ulama, tidak mau mempelajari hukum-hukum Islam, dan tidak mengenal agama dengan benar. Hati mereka pun mulai sibuk dengan berbagai urusan duniawi, sementara di dalam fitnah itu terdapat api yang membakar dan membuat manusia tergesa-gesa dengan urusannya. Akhirnya, seseorang tidak lagi merasakan ketenangan ketika mencari ilmu, enggan duduk di majelis para ulama, bahkan menjauh dari semuanya.Yang paling berbahaya dari itu adalah fitnah ini dapat menyebabkan manusia meremehkan para ulama, merendahkan martabat mereka, tidak menghargai kedudukan mereka, dan bahkan berani menjelekkan nama baik mereka, baik itu secara terang-terangan maupun tanpa sepengetahuan mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam sebuah hadis,لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, dan mengetahui hak-hak ulama kami.” (HR. Ahmad no. 22755; Al-Hakim, 1: 211. Dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Al-Albani mengatakan hasan dalam Shahih Al-Jami‘ no. 3521)Pada masa fitnah itu, akan sangat banyak manusia yang terjerumus pada sikap meremehkan para ulama, merendahkan mereka, mencela dan menuduh mereka, merendahkan kedudukan mereka, bahkan menuduh mereka dengan sifat-sifat buruk, serta berani berbicara lancang terhadap kehormatan dan martabat mereka. Semua itu merupakan dampak buruk dari fitnah, dan kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.Di antara kisah dari sejarah yang menggambarkan kondisi ini adalah apa yang terjadi pada masa fitnah ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats. Ketika fitnah itu meledak, sejumlah ahli qira’ah Al-Qur’an dan banyak manusia turut terlibat. Pada masa kekacauan itu, tersebarlah kelompok-kelompok yang berusaha menghasut manusia. Lalu mereka datang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang imam besar dan ulama terhormat, beliau adalah salah satu ulama fikih terkemuka dalam Islam di masa itu.Mereka berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,ما تقول في هذا الطَّاغِيَة – أي الحَجّاج – الّذي سفك الدَّم الحرام، وأخذ المال الحرام، وترك الصَّلاة، وفعل وفعل..!؟“Bagaimana pendapatmu tentang seorang penguasa yang zalim ini, yakni Al-Hajjaj yang telah menumpahkan darah yang diharamkan, mengambil harta yang diharamkan, meninggalkan salat wajib, dan melakukan perbuatan buruk ini dan itu…?”Kemudian mereka terus-menerus menyebutkan berbagai perbuatan buruk Al-Hajjaj kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lalu beliau rahimahullah mengatakan,أرى ألّا تُقاتِلوه؛ فإنّها إن تَكُنْ عُقوبةً من الله – أي تَسليط الحَجّاج –، فأنتم بِرَاضِي عُقوبةِ الله بأسيافِكم، وإن يَكُنْ بَلاءً؛ فاصبِروا حتى يَحكُمَ الله، وهو خيرُ الحاكِمين“Menurutku, janganlah kalian memeranginya. Jika kondisi ini merupakan hukuman dari Allah, yakni Allah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian, maka kalian mustahil mampu menghilangkan hukuman Allah dengan pedang kalian. Dan jika ini adalah ujian dari Allah, maka bersabarlah di atasnya hingga Allah sendiri yang akan memberikan keputusan terbaik, dan Dialah sebaik-baik pemberi keputusan.”Maka mereka pun menyempal dari majelis beliau, sembari mengatakan,نطيعُ هذا العِلْج!؟“Orang tua ini lemah!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa‘ad, 7: 163–164; Al-Kuna wal-Asma’ karya Ad-Dulaibi, 3: 1035; dan Tarikh Dimasyq, 12: 178)Fitnah ini menyebabkan manusia mulai berani merendahkan kedudukan para ulama, meremehkan mereka, merendahkan martabat mereka, serta berani membicarakan hal-hal buruk berkaitan para ahli ilmu. Ini termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi manusia. Semoga Allah melindungi kita semua dari hal semacam itu.Kemudian orang-orang yang mendatangi Al-Hasan Al-Bashri itu, mereka enggan menerima nasihat beliau. Maka, keluarlah mereka bersama Ibnu Al-Asy‘ats untuk memerangi Al-Hajjaj. Celakanya, mereka semua terbunuh. Mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun dan tidak mendapatkan manfaat sedikit pun. Mengapa? Karena mereka sudah tidak menganggap penting nasihat ulama, ucapan para ulama tidak lagi bernilai dalam pandangan mereka, serta mereka tidak pula perhatian dengannya.Di antara dampak fitnah berikutnya adalah bermunculannya orang-orang dungu yang ditokohkan dan menjadi rujukan. Mereka yang tidak memiliki ilmu, tidak memahami agama, dan tidak mengerti hukum Allah, justru tampil di kalayak umum. Mereka berbicara hanya bermodalkan keberanian, tanpa ilmu, tanpa pemahaman, tanpa rasa kesabaran, dan tanpa kehati-hatian.Lalu, mereka tampil sebagai tokoh, mengeluarkan keputusan-keputusan yang serampangan, menetapkan hukum secara gegabah, lalu ikut campur dalam berbagai persoalan yang lainnya. Padahal mereka tidak memiliki ilmu tentangnya, tidak memahami permasalahannya dengan benar, tidak memiliki kesabaran, dan tidak memiliki pemikiran yang matang. Namun, semangat dan keberanian meraka yang terlalu membabi buta justru mendorong mereka semakin terjerumus ke dalam fitnah tersebut.Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,الفِتْنَة إذا وَقَعَت عَجَزَ العُقَلاءُ فيها عن دَفْعِ السُفَهَاء“Ketika fitnah itu muncul, orang-orang berakal akan menjadi lemah untuk mencegah orang-orang dungu.” (Minhaj As-Sunnah, 4: 187)Inilah hakikat fitnah itu, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً“Dan takutlah kalian terhadap suatu fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.” (QS. Al-Anfal: 25)Apabila fitnah itu telah terjadi, hampir-hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang-orang yang Allah berikan perlindungan dan penjagaan. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menyelamatkan kita semuanya dari gejolak fitnah ini.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 KEMBALI KE BAGIAN 3 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 21–26.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 2): Ketika Ilmu dan Ulama Ditinggalkan, Sedangkan Kebodohan Diangkat Menjadi Panutan

Di antara dampak dan akibat dari fitnah yang lainnya ialah manusia mulai enggan bermajelis ilmu, enggan belajar bersama para ulama, tidak mau mempelajari hukum-hukum Islam, dan tidak mengenal agama dengan benar. Hati mereka pun mulai sibuk dengan berbagai urusan duniawi, sementara di dalam fitnah itu terdapat api yang membakar dan membuat manusia tergesa-gesa dengan urusannya. Akhirnya, seseorang tidak lagi merasakan ketenangan ketika mencari ilmu, enggan duduk di majelis para ulama, bahkan menjauh dari semuanya.Yang paling berbahaya dari itu adalah fitnah ini dapat menyebabkan manusia meremehkan para ulama, merendahkan martabat mereka, tidak menghargai kedudukan mereka, dan bahkan berani menjelekkan nama baik mereka, baik itu secara terang-terangan maupun tanpa sepengetahuan mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam sebuah hadis,لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, dan mengetahui hak-hak ulama kami.” (HR. Ahmad no. 22755; Al-Hakim, 1: 211. Dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Al-Albani mengatakan hasan dalam Shahih Al-Jami‘ no. 3521)Pada masa fitnah itu, akan sangat banyak manusia yang terjerumus pada sikap meremehkan para ulama, merendahkan mereka, mencela dan menuduh mereka, merendahkan kedudukan mereka, bahkan menuduh mereka dengan sifat-sifat buruk, serta berani berbicara lancang terhadap kehormatan dan martabat mereka. Semua itu merupakan dampak buruk dari fitnah, dan kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.Di antara kisah dari sejarah yang menggambarkan kondisi ini adalah apa yang terjadi pada masa fitnah ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats. Ketika fitnah itu meledak, sejumlah ahli qira’ah Al-Qur’an dan banyak manusia turut terlibat. Pada masa kekacauan itu, tersebarlah kelompok-kelompok yang berusaha menghasut manusia. Lalu mereka datang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang imam besar dan ulama terhormat, beliau adalah salah satu ulama fikih terkemuka dalam Islam di masa itu.Mereka berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,ما تقول في هذا الطَّاغِيَة – أي الحَجّاج – الّذي سفك الدَّم الحرام، وأخذ المال الحرام، وترك الصَّلاة، وفعل وفعل..!؟“Bagaimana pendapatmu tentang seorang penguasa yang zalim ini, yakni Al-Hajjaj yang telah menumpahkan darah yang diharamkan, mengambil harta yang diharamkan, meninggalkan salat wajib, dan melakukan perbuatan buruk ini dan itu…?”Kemudian mereka terus-menerus menyebutkan berbagai perbuatan buruk Al-Hajjaj kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lalu beliau rahimahullah mengatakan,أرى ألّا تُقاتِلوه؛ فإنّها إن تَكُنْ عُقوبةً من الله – أي تَسليط الحَجّاج –، فأنتم بِرَاضِي عُقوبةِ الله بأسيافِكم، وإن يَكُنْ بَلاءً؛ فاصبِروا حتى يَحكُمَ الله، وهو خيرُ الحاكِمين“Menurutku, janganlah kalian memeranginya. Jika kondisi ini merupakan hukuman dari Allah, yakni Allah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian, maka kalian mustahil mampu menghilangkan hukuman Allah dengan pedang kalian. Dan jika ini adalah ujian dari Allah, maka bersabarlah di atasnya hingga Allah sendiri yang akan memberikan keputusan terbaik, dan Dialah sebaik-baik pemberi keputusan.”Maka mereka pun menyempal dari majelis beliau, sembari mengatakan,نطيعُ هذا العِلْج!؟“Orang tua ini lemah!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa‘ad, 7: 163–164; Al-Kuna wal-Asma’ karya Ad-Dulaibi, 3: 1035; dan Tarikh Dimasyq, 12: 178)Fitnah ini menyebabkan manusia mulai berani merendahkan kedudukan para ulama, meremehkan mereka, merendahkan martabat mereka, serta berani membicarakan hal-hal buruk berkaitan para ahli ilmu. Ini termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi manusia. Semoga Allah melindungi kita semua dari hal semacam itu.Kemudian orang-orang yang mendatangi Al-Hasan Al-Bashri itu, mereka enggan menerima nasihat beliau. Maka, keluarlah mereka bersama Ibnu Al-Asy‘ats untuk memerangi Al-Hajjaj. Celakanya, mereka semua terbunuh. Mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun dan tidak mendapatkan manfaat sedikit pun. Mengapa? Karena mereka sudah tidak menganggap penting nasihat ulama, ucapan para ulama tidak lagi bernilai dalam pandangan mereka, serta mereka tidak pula perhatian dengannya.Di antara dampak fitnah berikutnya adalah bermunculannya orang-orang dungu yang ditokohkan dan menjadi rujukan. Mereka yang tidak memiliki ilmu, tidak memahami agama, dan tidak mengerti hukum Allah, justru tampil di kalayak umum. Mereka berbicara hanya bermodalkan keberanian, tanpa ilmu, tanpa pemahaman, tanpa rasa kesabaran, dan tanpa kehati-hatian.Lalu, mereka tampil sebagai tokoh, mengeluarkan keputusan-keputusan yang serampangan, menetapkan hukum secara gegabah, lalu ikut campur dalam berbagai persoalan yang lainnya. Padahal mereka tidak memiliki ilmu tentangnya, tidak memahami permasalahannya dengan benar, tidak memiliki kesabaran, dan tidak memiliki pemikiran yang matang. Namun, semangat dan keberanian meraka yang terlalu membabi buta justru mendorong mereka semakin terjerumus ke dalam fitnah tersebut.Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,الفِتْنَة إذا وَقَعَت عَجَزَ العُقَلاءُ فيها عن دَفْعِ السُفَهَاء“Ketika fitnah itu muncul, orang-orang berakal akan menjadi lemah untuk mencegah orang-orang dungu.” (Minhaj As-Sunnah, 4: 187)Inilah hakikat fitnah itu, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً“Dan takutlah kalian terhadap suatu fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.” (QS. Al-Anfal: 25)Apabila fitnah itu telah terjadi, hampir-hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang-orang yang Allah berikan perlindungan dan penjagaan. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menyelamatkan kita semuanya dari gejolak fitnah ini.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 KEMBALI KE BAGIAN 3 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 21–26.
Di antara dampak dan akibat dari fitnah yang lainnya ialah manusia mulai enggan bermajelis ilmu, enggan belajar bersama para ulama, tidak mau mempelajari hukum-hukum Islam, dan tidak mengenal agama dengan benar. Hati mereka pun mulai sibuk dengan berbagai urusan duniawi, sementara di dalam fitnah itu terdapat api yang membakar dan membuat manusia tergesa-gesa dengan urusannya. Akhirnya, seseorang tidak lagi merasakan ketenangan ketika mencari ilmu, enggan duduk di majelis para ulama, bahkan menjauh dari semuanya.Yang paling berbahaya dari itu adalah fitnah ini dapat menyebabkan manusia meremehkan para ulama, merendahkan martabat mereka, tidak menghargai kedudukan mereka, dan bahkan berani menjelekkan nama baik mereka, baik itu secara terang-terangan maupun tanpa sepengetahuan mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam sebuah hadis,لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, dan mengetahui hak-hak ulama kami.” (HR. Ahmad no. 22755; Al-Hakim, 1: 211. Dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Al-Albani mengatakan hasan dalam Shahih Al-Jami‘ no. 3521)Pada masa fitnah itu, akan sangat banyak manusia yang terjerumus pada sikap meremehkan para ulama, merendahkan mereka, mencela dan menuduh mereka, merendahkan kedudukan mereka, bahkan menuduh mereka dengan sifat-sifat buruk, serta berani berbicara lancang terhadap kehormatan dan martabat mereka. Semua itu merupakan dampak buruk dari fitnah, dan kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.Di antara kisah dari sejarah yang menggambarkan kondisi ini adalah apa yang terjadi pada masa fitnah ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats. Ketika fitnah itu meledak, sejumlah ahli qira’ah Al-Qur’an dan banyak manusia turut terlibat. Pada masa kekacauan itu, tersebarlah kelompok-kelompok yang berusaha menghasut manusia. Lalu mereka datang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang imam besar dan ulama terhormat, beliau adalah salah satu ulama fikih terkemuka dalam Islam di masa itu.Mereka berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,ما تقول في هذا الطَّاغِيَة – أي الحَجّاج – الّذي سفك الدَّم الحرام، وأخذ المال الحرام، وترك الصَّلاة، وفعل وفعل..!؟“Bagaimana pendapatmu tentang seorang penguasa yang zalim ini, yakni Al-Hajjaj yang telah menumpahkan darah yang diharamkan, mengambil harta yang diharamkan, meninggalkan salat wajib, dan melakukan perbuatan buruk ini dan itu…?”Kemudian mereka terus-menerus menyebutkan berbagai perbuatan buruk Al-Hajjaj kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lalu beliau rahimahullah mengatakan,أرى ألّا تُقاتِلوه؛ فإنّها إن تَكُنْ عُقوبةً من الله – أي تَسليط الحَجّاج –، فأنتم بِرَاضِي عُقوبةِ الله بأسيافِكم، وإن يَكُنْ بَلاءً؛ فاصبِروا حتى يَحكُمَ الله، وهو خيرُ الحاكِمين“Menurutku, janganlah kalian memeranginya. Jika kondisi ini merupakan hukuman dari Allah, yakni Allah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian, maka kalian mustahil mampu menghilangkan hukuman Allah dengan pedang kalian. Dan jika ini adalah ujian dari Allah, maka bersabarlah di atasnya hingga Allah sendiri yang akan memberikan keputusan terbaik, dan Dialah sebaik-baik pemberi keputusan.”Maka mereka pun menyempal dari majelis beliau, sembari mengatakan,نطيعُ هذا العِلْج!؟“Orang tua ini lemah!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa‘ad, 7: 163–164; Al-Kuna wal-Asma’ karya Ad-Dulaibi, 3: 1035; dan Tarikh Dimasyq, 12: 178)Fitnah ini menyebabkan manusia mulai berani merendahkan kedudukan para ulama, meremehkan mereka, merendahkan martabat mereka, serta berani membicarakan hal-hal buruk berkaitan para ahli ilmu. Ini termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi manusia. Semoga Allah melindungi kita semua dari hal semacam itu.Kemudian orang-orang yang mendatangi Al-Hasan Al-Bashri itu, mereka enggan menerima nasihat beliau. Maka, keluarlah mereka bersama Ibnu Al-Asy‘ats untuk memerangi Al-Hajjaj. Celakanya, mereka semua terbunuh. Mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun dan tidak mendapatkan manfaat sedikit pun. Mengapa? Karena mereka sudah tidak menganggap penting nasihat ulama, ucapan para ulama tidak lagi bernilai dalam pandangan mereka, serta mereka tidak pula perhatian dengannya.Di antara dampak fitnah berikutnya adalah bermunculannya orang-orang dungu yang ditokohkan dan menjadi rujukan. Mereka yang tidak memiliki ilmu, tidak memahami agama, dan tidak mengerti hukum Allah, justru tampil di kalayak umum. Mereka berbicara hanya bermodalkan keberanian, tanpa ilmu, tanpa pemahaman, tanpa rasa kesabaran, dan tanpa kehati-hatian.Lalu, mereka tampil sebagai tokoh, mengeluarkan keputusan-keputusan yang serampangan, menetapkan hukum secara gegabah, lalu ikut campur dalam berbagai persoalan yang lainnya. Padahal mereka tidak memiliki ilmu tentangnya, tidak memahami permasalahannya dengan benar, tidak memiliki kesabaran, dan tidak memiliki pemikiran yang matang. Namun, semangat dan keberanian meraka yang terlalu membabi buta justru mendorong mereka semakin terjerumus ke dalam fitnah tersebut.Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,الفِتْنَة إذا وَقَعَت عَجَزَ العُقَلاءُ فيها عن دَفْعِ السُفَهَاء“Ketika fitnah itu muncul, orang-orang berakal akan menjadi lemah untuk mencegah orang-orang dungu.” (Minhaj As-Sunnah, 4: 187)Inilah hakikat fitnah itu, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً“Dan takutlah kalian terhadap suatu fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.” (QS. Al-Anfal: 25)Apabila fitnah itu telah terjadi, hampir-hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang-orang yang Allah berikan perlindungan dan penjagaan. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menyelamatkan kita semuanya dari gejolak fitnah ini.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 KEMBALI KE BAGIAN 3 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 21–26.


Di antara dampak dan akibat dari fitnah yang lainnya ialah manusia mulai enggan bermajelis ilmu, enggan belajar bersama para ulama, tidak mau mempelajari hukum-hukum Islam, dan tidak mengenal agama dengan benar. Hati mereka pun mulai sibuk dengan berbagai urusan duniawi, sementara di dalam fitnah itu terdapat api yang membakar dan membuat manusia tergesa-gesa dengan urusannya. Akhirnya, seseorang tidak lagi merasakan ketenangan ketika mencari ilmu, enggan duduk di majelis para ulama, bahkan menjauh dari semuanya.Yang paling berbahaya dari itu adalah fitnah ini dapat menyebabkan manusia meremehkan para ulama, merendahkan martabat mereka, tidak menghargai kedudukan mereka, dan bahkan berani menjelekkan nama baik mereka, baik itu secara terang-terangan maupun tanpa sepengetahuan mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam sebuah hadis,لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, dan mengetahui hak-hak ulama kami.” (HR. Ahmad no. 22755; Al-Hakim, 1: 211. Dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Al-Albani mengatakan hasan dalam Shahih Al-Jami‘ no. 3521)Pada masa fitnah itu, akan sangat banyak manusia yang terjerumus pada sikap meremehkan para ulama, merendahkan mereka, mencela dan menuduh mereka, merendahkan kedudukan mereka, bahkan menuduh mereka dengan sifat-sifat buruk, serta berani berbicara lancang terhadap kehormatan dan martabat mereka. Semua itu merupakan dampak buruk dari fitnah, dan kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.Di antara kisah dari sejarah yang menggambarkan kondisi ini adalah apa yang terjadi pada masa fitnah ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats. Ketika fitnah itu meledak, sejumlah ahli qira’ah Al-Qur’an dan banyak manusia turut terlibat. Pada masa kekacauan itu, tersebarlah kelompok-kelompok yang berusaha menghasut manusia. Lalu mereka datang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang imam besar dan ulama terhormat, beliau adalah salah satu ulama fikih terkemuka dalam Islam di masa itu.Mereka berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,ما تقول في هذا الطَّاغِيَة – أي الحَجّاج – الّذي سفك الدَّم الحرام، وأخذ المال الحرام، وترك الصَّلاة، وفعل وفعل..!؟“Bagaimana pendapatmu tentang seorang penguasa yang zalim ini, yakni Al-Hajjaj yang telah menumpahkan darah yang diharamkan, mengambil harta yang diharamkan, meninggalkan salat wajib, dan melakukan perbuatan buruk ini dan itu…?”Kemudian mereka terus-menerus menyebutkan berbagai perbuatan buruk Al-Hajjaj kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lalu beliau rahimahullah mengatakan,أرى ألّا تُقاتِلوه؛ فإنّها إن تَكُنْ عُقوبةً من الله – أي تَسليط الحَجّاج –، فأنتم بِرَاضِي عُقوبةِ الله بأسيافِكم، وإن يَكُنْ بَلاءً؛ فاصبِروا حتى يَحكُمَ الله، وهو خيرُ الحاكِمين“Menurutku, janganlah kalian memeranginya. Jika kondisi ini merupakan hukuman dari Allah, yakni Allah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian, maka kalian mustahil mampu menghilangkan hukuman Allah dengan pedang kalian. Dan jika ini adalah ujian dari Allah, maka bersabarlah di atasnya hingga Allah sendiri yang akan memberikan keputusan terbaik, dan Dialah sebaik-baik pemberi keputusan.”Maka mereka pun menyempal dari majelis beliau, sembari mengatakan,نطيعُ هذا العِلْج!؟“Orang tua ini lemah!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa‘ad, 7: 163–164; Al-Kuna wal-Asma’ karya Ad-Dulaibi, 3: 1035; dan Tarikh Dimasyq, 12: 178)Fitnah ini menyebabkan manusia mulai berani merendahkan kedudukan para ulama, meremehkan mereka, merendahkan martabat mereka, serta berani membicarakan hal-hal buruk berkaitan para ahli ilmu. Ini termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi manusia. Semoga Allah melindungi kita semua dari hal semacam itu.Kemudian orang-orang yang mendatangi Al-Hasan Al-Bashri itu, mereka enggan menerima nasihat beliau. Maka, keluarlah mereka bersama Ibnu Al-Asy‘ats untuk memerangi Al-Hajjaj. Celakanya, mereka semua terbunuh. Mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun dan tidak mendapatkan manfaat sedikit pun. Mengapa? Karena mereka sudah tidak menganggap penting nasihat ulama, ucapan para ulama tidak lagi bernilai dalam pandangan mereka, serta mereka tidak pula perhatian dengannya.Di antara dampak fitnah berikutnya adalah bermunculannya orang-orang dungu yang ditokohkan dan menjadi rujukan. Mereka yang tidak memiliki ilmu, tidak memahami agama, dan tidak mengerti hukum Allah, justru tampil di kalayak umum. Mereka berbicara hanya bermodalkan keberanian, tanpa ilmu, tanpa pemahaman, tanpa rasa kesabaran, dan tanpa kehati-hatian.Lalu, mereka tampil sebagai tokoh, mengeluarkan keputusan-keputusan yang serampangan, menetapkan hukum secara gegabah, lalu ikut campur dalam berbagai persoalan yang lainnya. Padahal mereka tidak memiliki ilmu tentangnya, tidak memahami permasalahannya dengan benar, tidak memiliki kesabaran, dan tidak memiliki pemikiran yang matang. Namun, semangat dan keberanian meraka yang terlalu membabi buta justru mendorong mereka semakin terjerumus ke dalam fitnah tersebut.Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,الفِتْنَة إذا وَقَعَت عَجَزَ العُقَلاءُ فيها عن دَفْعِ السُفَهَاء“Ketika fitnah itu muncul, orang-orang berakal akan menjadi lemah untuk mencegah orang-orang dungu.” (Minhaj As-Sunnah, 4: 187)Inilah hakikat fitnah itu, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً“Dan takutlah kalian terhadap suatu fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.” (QS. Al-Anfal: 25)Apabila fitnah itu telah terjadi, hampir-hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang-orang yang Allah berikan perlindungan dan penjagaan. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menyelamatkan kita semuanya dari gejolak fitnah ini.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 KEMBALI KE BAGIAN 3 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 21–26.

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleHukum niatTujuan dari niatTujuan pertamaTujuan keduaHasil dari kedua tujuan di atasMasih pada pembahasan kaidah,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kaidah ini sangat erat kaitannya dengan masalah niat, baik buruk dari sebuah amalan, perbuatan, muamalah, dan lain sebagainya. Itu semua berasal dari baik atau buruknya niat seseorang.Karenanya, mengetahui tentang masalah niat tidak kalah pentingnya dari mengetahui tentang amalan dan ganjaran dari mengerjakan amalan tersebut. Mengingat seseorang tidak akan sampai pada ganjaran itu kecuali dengan berdiri tegak di atas niat yang baik.Hukum niatPerlu diketahui bahwasanya niat adalah salah satu dari kategori ibadah yang disyariatkan. Namun, para ulama berselisih pendapat terkait dengan hukum niat. Berikut ini di antara pendapat para ulama tentang masalah niat,Niat merupakan syarat sah sebuah amalan.Niat merupakan rukun dalam seluruh amalan, karena niat termasuk dari bagian ibadah.Mengingat rukun adalah bagian dari ibadah, sedangkan syarat berada di luar ibadah. Sehingga para ulama yang berpendapat niat merupakan syarat sah salat, mereka menganggap bahwa niat berada di luar salat, bukan termasuk salat. Adapun para ulama yang berpendapat niat merupakan rukun salat, maka mereka  mengkategorikan niat termasuk bagian dalam salat.Sama halnya seperti membaca surah Al-Fatihah, membacanya adalah sebuah rukun karena berada di dalam ibadah salat. Adapun menghilangkan najis, maka ini adalah syarat sah salat karena berada di luar ibadah salat.Terdapat rincian yang bagus dari seorang ulama yang bernama Al-‘Alaaiy [1], beliau membagi menjadi dua bagian;Jika niat sangat erat kaitannya dengan keabsahan sebuah amalan atau ibadah, maka niat termasuk dari rukun amalan atau ibadah tersebut.Jika sebuah amalan atau ibadah tetap sah tanpa ada niat, artinya niat hanya sebagai “syarat” untuk mendapatkan sebuah pahala, maka niat termasuk dari syarat, bukan rukun dari amalan atau ibadah tersebut.Contohnya seperti mandi yang hukum asalnya adalah mubah. Namun, jika seseorang mandi dengan berniat ibadah, mensucikan diri dari hadas besar kemudian dengan itu ia melaksanakan salat, maka niatnya tersebut menjadi “syarat” untuk mendapatkan pahala.Tujuan dari niatSebagaimana yang telah diketahui, niat adalah salah satu ibadah yang disyariatkan. Namun perlu diketahui pula bahwa niat tidaklah disyariatkan kecuali dengan dua tujuan:Tujuan pertamaتَمْيِيِزُ العِبَادَاتِ عَنِ العَادَاتِ“Membedakan antara ibadah dengan adat (kebiasaan).” Ada di antara beberapa amalan yang bisa disebut sebagai ibadah dan bisa juga disebut sebagai adat (kebiasaan), dilihat dari tata caranya yang ternyata amalan tersebut sesuai dengan adat yang sudah biasa dikerjakan. Sehingga untuk membedakan antara ibadah dan adat, dibutuhkanlah niat dalam amalan tersebut.Sebagaimana yang telah disinggung pada contoh di atas. Mandi dengan menggunakan air bisa disebut dengan ibadah bisa juga disebut dengan adat, tergantung dari niatnya. Sama halnya dengan menahan diri dari makan dan minum, bisa disebut dengan puasa atau hanya memang menahan diri dari makan dan minum biasa seperti untuk diet, atau untuk terapi kesehatan, dan lain sebagainya. Dan sekali lagi, hal tersebut hanya bisa dibedakan dengan niatnya.Oleh karena itu, niat sangat penting dalam hal ini untuk bisa membedakan antara ibadah atau memang hanya kebiasaan semata.Tujuan keduaتَمْيِيْزُ رُتَبِ العِبَادَاتِ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضٍ“Membedakan antara tingkatan suatu ibadah dengan ibadah lainnya.” Dikarenakan ibadah memiliki tingkatan-tingkatan dan tidak hanya satu tingkatan saja. Sehingga untuk membedakannya, dibutuhkan niat. Terkadang ada ibadah yang sifatnya wajib atau sunah. Begitupula terkadang adapula ibadah yang sifatnya adalah nazar dari seseorang, atau terkadang ibadah tersebut merupakan pengulangan dari ibadah yang tidak sempurna, atau juga ibadah yang bersifat qadha, dan jenis-jenis ibadah lainnya.Keseluruhan ibadah di atas tidak dapat dibedakan kecuali dengan adanya niat dari yang mengamalkannya. Contoh sederhananya adalah puasa, beberapa orang misalnya ketika berpuasa di hari yang sama, di waktu yang sama, namun bisa berbeda puasanya. Bisa jadi orang pertama puasa nazar, orang kedua puasa sunah Senin dan Kamis, orang ketiga puasa qadha’, dan seterusnya.Oleh karenanya, pada ibadah-ibadah yang serupa dan hampir sama, disyaratkan untuk menentukan niatnya agar tidak tersarukan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya.Hasil dari kedua tujuan di atasKedua tujuan di atas melahirkan sebuah hasil dari disyariatkannya niat, yaitu:Ibadah yang sifatnya dapat terbedakan dengan sendirinya dan tidak tersarukan dengan adat atau ibadah yang lainnya, maka tidak butuh dengan niat. Seperti amalan-amalan hati berupa iman kepada Allah, atau takut dan berharap hanya kepada Allah. Amalan-amalan tersebut dapat terbedakan dengan sendirinya, sehingga tidak butuh niat.Jika seseorang keliru dalam niat sebuah ibadah yang disyaratkan untuk menentukan niatnya, maka ibadahnya batal. Seperti halnya seseorang yang ingin melaksanakan salat Zuhur di waktu zuhur, namun ia berniat untuk salat Ashar, maka salat Zuhurnya tidak sah; begitupun dengan salat Asharnya, karena berarti ia mendirikan salat Ashar sebelum masuk waktunya.Adakalanya adat (kebiasaan) masuk dalam kategori sebuah ibadah dengan sebab niat seseorang. Dengan niat tersebut, jadilah sebuah kebiasaan menjadi sebuah ibadah dan berpahala. Seperti halnya dalam hal-hal yang mubah, minum, makan, tidur, mencari nafkah, dan lain sebagainya. Jika ditujukan untuk menguatkan tubuh dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka akan bernilai pahala.Begitupula dengan menikah, jika bertujuan untuk menjaga diri, menghasilkan keturunan berupa anak-anak yang saleh dan salehah, memperbanyak umat, maka akan bernilai pahala. Dan niat-niat yang lainnya.Dari pembahasan ini, kesimpulan yang menarik adalah begitu pentingnya masalah niat dalam syariat Islam. Karena sebab niat, suatu kebiasaan menjadi sebuah ibadah yang mulia lagi berharga dan berpahala. Begitupula dengan sebab niat, ibadah yang kecil bisa berpahala besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak rahimahullah,رُبَّ ‌عملٍ ‌صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena sebab niat; dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena sebab niat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Depok, 20 Jumadal akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Mumti’ fil Qowa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.dan beberapa referensi lainnya

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleHukum niatTujuan dari niatTujuan pertamaTujuan keduaHasil dari kedua tujuan di atasMasih pada pembahasan kaidah,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kaidah ini sangat erat kaitannya dengan masalah niat, baik buruk dari sebuah amalan, perbuatan, muamalah, dan lain sebagainya. Itu semua berasal dari baik atau buruknya niat seseorang.Karenanya, mengetahui tentang masalah niat tidak kalah pentingnya dari mengetahui tentang amalan dan ganjaran dari mengerjakan amalan tersebut. Mengingat seseorang tidak akan sampai pada ganjaran itu kecuali dengan berdiri tegak di atas niat yang baik.Hukum niatPerlu diketahui bahwasanya niat adalah salah satu dari kategori ibadah yang disyariatkan. Namun, para ulama berselisih pendapat terkait dengan hukum niat. Berikut ini di antara pendapat para ulama tentang masalah niat,Niat merupakan syarat sah sebuah amalan.Niat merupakan rukun dalam seluruh amalan, karena niat termasuk dari bagian ibadah.Mengingat rukun adalah bagian dari ibadah, sedangkan syarat berada di luar ibadah. Sehingga para ulama yang berpendapat niat merupakan syarat sah salat, mereka menganggap bahwa niat berada di luar salat, bukan termasuk salat. Adapun para ulama yang berpendapat niat merupakan rukun salat, maka mereka  mengkategorikan niat termasuk bagian dalam salat.Sama halnya seperti membaca surah Al-Fatihah, membacanya adalah sebuah rukun karena berada di dalam ibadah salat. Adapun menghilangkan najis, maka ini adalah syarat sah salat karena berada di luar ibadah salat.Terdapat rincian yang bagus dari seorang ulama yang bernama Al-‘Alaaiy [1], beliau membagi menjadi dua bagian;Jika niat sangat erat kaitannya dengan keabsahan sebuah amalan atau ibadah, maka niat termasuk dari rukun amalan atau ibadah tersebut.Jika sebuah amalan atau ibadah tetap sah tanpa ada niat, artinya niat hanya sebagai “syarat” untuk mendapatkan sebuah pahala, maka niat termasuk dari syarat, bukan rukun dari amalan atau ibadah tersebut.Contohnya seperti mandi yang hukum asalnya adalah mubah. Namun, jika seseorang mandi dengan berniat ibadah, mensucikan diri dari hadas besar kemudian dengan itu ia melaksanakan salat, maka niatnya tersebut menjadi “syarat” untuk mendapatkan pahala.Tujuan dari niatSebagaimana yang telah diketahui, niat adalah salah satu ibadah yang disyariatkan. Namun perlu diketahui pula bahwa niat tidaklah disyariatkan kecuali dengan dua tujuan:Tujuan pertamaتَمْيِيِزُ العِبَادَاتِ عَنِ العَادَاتِ“Membedakan antara ibadah dengan adat (kebiasaan).” Ada di antara beberapa amalan yang bisa disebut sebagai ibadah dan bisa juga disebut sebagai adat (kebiasaan), dilihat dari tata caranya yang ternyata amalan tersebut sesuai dengan adat yang sudah biasa dikerjakan. Sehingga untuk membedakan antara ibadah dan adat, dibutuhkanlah niat dalam amalan tersebut.Sebagaimana yang telah disinggung pada contoh di atas. Mandi dengan menggunakan air bisa disebut dengan ibadah bisa juga disebut dengan adat, tergantung dari niatnya. Sama halnya dengan menahan diri dari makan dan minum, bisa disebut dengan puasa atau hanya memang menahan diri dari makan dan minum biasa seperti untuk diet, atau untuk terapi kesehatan, dan lain sebagainya. Dan sekali lagi, hal tersebut hanya bisa dibedakan dengan niatnya.Oleh karena itu, niat sangat penting dalam hal ini untuk bisa membedakan antara ibadah atau memang hanya kebiasaan semata.Tujuan keduaتَمْيِيْزُ رُتَبِ العِبَادَاتِ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضٍ“Membedakan antara tingkatan suatu ibadah dengan ibadah lainnya.” Dikarenakan ibadah memiliki tingkatan-tingkatan dan tidak hanya satu tingkatan saja. Sehingga untuk membedakannya, dibutuhkan niat. Terkadang ada ibadah yang sifatnya wajib atau sunah. Begitupula terkadang adapula ibadah yang sifatnya adalah nazar dari seseorang, atau terkadang ibadah tersebut merupakan pengulangan dari ibadah yang tidak sempurna, atau juga ibadah yang bersifat qadha, dan jenis-jenis ibadah lainnya.Keseluruhan ibadah di atas tidak dapat dibedakan kecuali dengan adanya niat dari yang mengamalkannya. Contoh sederhananya adalah puasa, beberapa orang misalnya ketika berpuasa di hari yang sama, di waktu yang sama, namun bisa berbeda puasanya. Bisa jadi orang pertama puasa nazar, orang kedua puasa sunah Senin dan Kamis, orang ketiga puasa qadha’, dan seterusnya.Oleh karenanya, pada ibadah-ibadah yang serupa dan hampir sama, disyaratkan untuk menentukan niatnya agar tidak tersarukan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya.Hasil dari kedua tujuan di atasKedua tujuan di atas melahirkan sebuah hasil dari disyariatkannya niat, yaitu:Ibadah yang sifatnya dapat terbedakan dengan sendirinya dan tidak tersarukan dengan adat atau ibadah yang lainnya, maka tidak butuh dengan niat. Seperti amalan-amalan hati berupa iman kepada Allah, atau takut dan berharap hanya kepada Allah. Amalan-amalan tersebut dapat terbedakan dengan sendirinya, sehingga tidak butuh niat.Jika seseorang keliru dalam niat sebuah ibadah yang disyaratkan untuk menentukan niatnya, maka ibadahnya batal. Seperti halnya seseorang yang ingin melaksanakan salat Zuhur di waktu zuhur, namun ia berniat untuk salat Ashar, maka salat Zuhurnya tidak sah; begitupun dengan salat Asharnya, karena berarti ia mendirikan salat Ashar sebelum masuk waktunya.Adakalanya adat (kebiasaan) masuk dalam kategori sebuah ibadah dengan sebab niat seseorang. Dengan niat tersebut, jadilah sebuah kebiasaan menjadi sebuah ibadah dan berpahala. Seperti halnya dalam hal-hal yang mubah, minum, makan, tidur, mencari nafkah, dan lain sebagainya. Jika ditujukan untuk menguatkan tubuh dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka akan bernilai pahala.Begitupula dengan menikah, jika bertujuan untuk menjaga diri, menghasilkan keturunan berupa anak-anak yang saleh dan salehah, memperbanyak umat, maka akan bernilai pahala. Dan niat-niat yang lainnya.Dari pembahasan ini, kesimpulan yang menarik adalah begitu pentingnya masalah niat dalam syariat Islam. Karena sebab niat, suatu kebiasaan menjadi sebuah ibadah yang mulia lagi berharga dan berpahala. Begitupula dengan sebab niat, ibadah yang kecil bisa berpahala besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak rahimahullah,رُبَّ ‌عملٍ ‌صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena sebab niat; dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena sebab niat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Depok, 20 Jumadal akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Mumti’ fil Qowa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.dan beberapa referensi lainnya
Daftar Isi ToggleHukum niatTujuan dari niatTujuan pertamaTujuan keduaHasil dari kedua tujuan di atasMasih pada pembahasan kaidah,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kaidah ini sangat erat kaitannya dengan masalah niat, baik buruk dari sebuah amalan, perbuatan, muamalah, dan lain sebagainya. Itu semua berasal dari baik atau buruknya niat seseorang.Karenanya, mengetahui tentang masalah niat tidak kalah pentingnya dari mengetahui tentang amalan dan ganjaran dari mengerjakan amalan tersebut. Mengingat seseorang tidak akan sampai pada ganjaran itu kecuali dengan berdiri tegak di atas niat yang baik.Hukum niatPerlu diketahui bahwasanya niat adalah salah satu dari kategori ibadah yang disyariatkan. Namun, para ulama berselisih pendapat terkait dengan hukum niat. Berikut ini di antara pendapat para ulama tentang masalah niat,Niat merupakan syarat sah sebuah amalan.Niat merupakan rukun dalam seluruh amalan, karena niat termasuk dari bagian ibadah.Mengingat rukun adalah bagian dari ibadah, sedangkan syarat berada di luar ibadah. Sehingga para ulama yang berpendapat niat merupakan syarat sah salat, mereka menganggap bahwa niat berada di luar salat, bukan termasuk salat. Adapun para ulama yang berpendapat niat merupakan rukun salat, maka mereka  mengkategorikan niat termasuk bagian dalam salat.Sama halnya seperti membaca surah Al-Fatihah, membacanya adalah sebuah rukun karena berada di dalam ibadah salat. Adapun menghilangkan najis, maka ini adalah syarat sah salat karena berada di luar ibadah salat.Terdapat rincian yang bagus dari seorang ulama yang bernama Al-‘Alaaiy [1], beliau membagi menjadi dua bagian;Jika niat sangat erat kaitannya dengan keabsahan sebuah amalan atau ibadah, maka niat termasuk dari rukun amalan atau ibadah tersebut.Jika sebuah amalan atau ibadah tetap sah tanpa ada niat, artinya niat hanya sebagai “syarat” untuk mendapatkan sebuah pahala, maka niat termasuk dari syarat, bukan rukun dari amalan atau ibadah tersebut.Contohnya seperti mandi yang hukum asalnya adalah mubah. Namun, jika seseorang mandi dengan berniat ibadah, mensucikan diri dari hadas besar kemudian dengan itu ia melaksanakan salat, maka niatnya tersebut menjadi “syarat” untuk mendapatkan pahala.Tujuan dari niatSebagaimana yang telah diketahui, niat adalah salah satu ibadah yang disyariatkan. Namun perlu diketahui pula bahwa niat tidaklah disyariatkan kecuali dengan dua tujuan:Tujuan pertamaتَمْيِيِزُ العِبَادَاتِ عَنِ العَادَاتِ“Membedakan antara ibadah dengan adat (kebiasaan).” Ada di antara beberapa amalan yang bisa disebut sebagai ibadah dan bisa juga disebut sebagai adat (kebiasaan), dilihat dari tata caranya yang ternyata amalan tersebut sesuai dengan adat yang sudah biasa dikerjakan. Sehingga untuk membedakan antara ibadah dan adat, dibutuhkanlah niat dalam amalan tersebut.Sebagaimana yang telah disinggung pada contoh di atas. Mandi dengan menggunakan air bisa disebut dengan ibadah bisa juga disebut dengan adat, tergantung dari niatnya. Sama halnya dengan menahan diri dari makan dan minum, bisa disebut dengan puasa atau hanya memang menahan diri dari makan dan minum biasa seperti untuk diet, atau untuk terapi kesehatan, dan lain sebagainya. Dan sekali lagi, hal tersebut hanya bisa dibedakan dengan niatnya.Oleh karena itu, niat sangat penting dalam hal ini untuk bisa membedakan antara ibadah atau memang hanya kebiasaan semata.Tujuan keduaتَمْيِيْزُ رُتَبِ العِبَادَاتِ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضٍ“Membedakan antara tingkatan suatu ibadah dengan ibadah lainnya.” Dikarenakan ibadah memiliki tingkatan-tingkatan dan tidak hanya satu tingkatan saja. Sehingga untuk membedakannya, dibutuhkan niat. Terkadang ada ibadah yang sifatnya wajib atau sunah. Begitupula terkadang adapula ibadah yang sifatnya adalah nazar dari seseorang, atau terkadang ibadah tersebut merupakan pengulangan dari ibadah yang tidak sempurna, atau juga ibadah yang bersifat qadha, dan jenis-jenis ibadah lainnya.Keseluruhan ibadah di atas tidak dapat dibedakan kecuali dengan adanya niat dari yang mengamalkannya. Contoh sederhananya adalah puasa, beberapa orang misalnya ketika berpuasa di hari yang sama, di waktu yang sama, namun bisa berbeda puasanya. Bisa jadi orang pertama puasa nazar, orang kedua puasa sunah Senin dan Kamis, orang ketiga puasa qadha’, dan seterusnya.Oleh karenanya, pada ibadah-ibadah yang serupa dan hampir sama, disyaratkan untuk menentukan niatnya agar tidak tersarukan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya.Hasil dari kedua tujuan di atasKedua tujuan di atas melahirkan sebuah hasil dari disyariatkannya niat, yaitu:Ibadah yang sifatnya dapat terbedakan dengan sendirinya dan tidak tersarukan dengan adat atau ibadah yang lainnya, maka tidak butuh dengan niat. Seperti amalan-amalan hati berupa iman kepada Allah, atau takut dan berharap hanya kepada Allah. Amalan-amalan tersebut dapat terbedakan dengan sendirinya, sehingga tidak butuh niat.Jika seseorang keliru dalam niat sebuah ibadah yang disyaratkan untuk menentukan niatnya, maka ibadahnya batal. Seperti halnya seseorang yang ingin melaksanakan salat Zuhur di waktu zuhur, namun ia berniat untuk salat Ashar, maka salat Zuhurnya tidak sah; begitupun dengan salat Asharnya, karena berarti ia mendirikan salat Ashar sebelum masuk waktunya.Adakalanya adat (kebiasaan) masuk dalam kategori sebuah ibadah dengan sebab niat seseorang. Dengan niat tersebut, jadilah sebuah kebiasaan menjadi sebuah ibadah dan berpahala. Seperti halnya dalam hal-hal yang mubah, minum, makan, tidur, mencari nafkah, dan lain sebagainya. Jika ditujukan untuk menguatkan tubuh dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka akan bernilai pahala.Begitupula dengan menikah, jika bertujuan untuk menjaga diri, menghasilkan keturunan berupa anak-anak yang saleh dan salehah, memperbanyak umat, maka akan bernilai pahala. Dan niat-niat yang lainnya.Dari pembahasan ini, kesimpulan yang menarik adalah begitu pentingnya masalah niat dalam syariat Islam. Karena sebab niat, suatu kebiasaan menjadi sebuah ibadah yang mulia lagi berharga dan berpahala. Begitupula dengan sebab niat, ibadah yang kecil bisa berpahala besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak rahimahullah,رُبَّ ‌عملٍ ‌صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena sebab niat; dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena sebab niat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Depok, 20 Jumadal akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Mumti’ fil Qowa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.dan beberapa referensi lainnya


Daftar Isi ToggleHukum niatTujuan dari niatTujuan pertamaTujuan keduaHasil dari kedua tujuan di atasMasih pada pembahasan kaidah,الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kaidah ini sangat erat kaitannya dengan masalah niat, baik buruk dari sebuah amalan, perbuatan, muamalah, dan lain sebagainya. Itu semua berasal dari baik atau buruknya niat seseorang.Karenanya, mengetahui tentang masalah niat tidak kalah pentingnya dari mengetahui tentang amalan dan ganjaran dari mengerjakan amalan tersebut. Mengingat seseorang tidak akan sampai pada ganjaran itu kecuali dengan berdiri tegak di atas niat yang baik.Hukum niatPerlu diketahui bahwasanya niat adalah salah satu dari kategori ibadah yang disyariatkan. Namun, para ulama berselisih pendapat terkait dengan hukum niat. Berikut ini di antara pendapat para ulama tentang masalah niat,Niat merupakan syarat sah sebuah amalan.Niat merupakan rukun dalam seluruh amalan, karena niat termasuk dari bagian ibadah.Mengingat rukun adalah bagian dari ibadah, sedangkan syarat berada di luar ibadah. Sehingga para ulama yang berpendapat niat merupakan syarat sah salat, mereka menganggap bahwa niat berada di luar salat, bukan termasuk salat. Adapun para ulama yang berpendapat niat merupakan rukun salat, maka mereka  mengkategorikan niat termasuk bagian dalam salat.Sama halnya seperti membaca surah Al-Fatihah, membacanya adalah sebuah rukun karena berada di dalam ibadah salat. Adapun menghilangkan najis, maka ini adalah syarat sah salat karena berada di luar ibadah salat.Terdapat rincian yang bagus dari seorang ulama yang bernama Al-‘Alaaiy [1], beliau membagi menjadi dua bagian;Jika niat sangat erat kaitannya dengan keabsahan sebuah amalan atau ibadah, maka niat termasuk dari rukun amalan atau ibadah tersebut.Jika sebuah amalan atau ibadah tetap sah tanpa ada niat, artinya niat hanya sebagai “syarat” untuk mendapatkan sebuah pahala, maka niat termasuk dari syarat, bukan rukun dari amalan atau ibadah tersebut.Contohnya seperti mandi yang hukum asalnya adalah mubah. Namun, jika seseorang mandi dengan berniat ibadah, mensucikan diri dari hadas besar kemudian dengan itu ia melaksanakan salat, maka niatnya tersebut menjadi “syarat” untuk mendapatkan pahala.Tujuan dari niatSebagaimana yang telah diketahui, niat adalah salah satu ibadah yang disyariatkan. Namun perlu diketahui pula bahwa niat tidaklah disyariatkan kecuali dengan dua tujuan:Tujuan pertamaتَمْيِيِزُ العِبَادَاتِ عَنِ العَادَاتِ“Membedakan antara ibadah dengan adat (kebiasaan).” Ada di antara beberapa amalan yang bisa disebut sebagai ibadah dan bisa juga disebut sebagai adat (kebiasaan), dilihat dari tata caranya yang ternyata amalan tersebut sesuai dengan adat yang sudah biasa dikerjakan. Sehingga untuk membedakan antara ibadah dan adat, dibutuhkanlah niat dalam amalan tersebut.Sebagaimana yang telah disinggung pada contoh di atas. Mandi dengan menggunakan air bisa disebut dengan ibadah bisa juga disebut dengan adat, tergantung dari niatnya. Sama halnya dengan menahan diri dari makan dan minum, bisa disebut dengan puasa atau hanya memang menahan diri dari makan dan minum biasa seperti untuk diet, atau untuk terapi kesehatan, dan lain sebagainya. Dan sekali lagi, hal tersebut hanya bisa dibedakan dengan niatnya.Oleh karena itu, niat sangat penting dalam hal ini untuk bisa membedakan antara ibadah atau memang hanya kebiasaan semata.Tujuan keduaتَمْيِيْزُ رُتَبِ العِبَادَاتِ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضٍ“Membedakan antara tingkatan suatu ibadah dengan ibadah lainnya.” Dikarenakan ibadah memiliki tingkatan-tingkatan dan tidak hanya satu tingkatan saja. Sehingga untuk membedakannya, dibutuhkan niat. Terkadang ada ibadah yang sifatnya wajib atau sunah. Begitupula terkadang adapula ibadah yang sifatnya adalah nazar dari seseorang, atau terkadang ibadah tersebut merupakan pengulangan dari ibadah yang tidak sempurna, atau juga ibadah yang bersifat qadha, dan jenis-jenis ibadah lainnya.Keseluruhan ibadah di atas tidak dapat dibedakan kecuali dengan adanya niat dari yang mengamalkannya. Contoh sederhananya adalah puasa, beberapa orang misalnya ketika berpuasa di hari yang sama, di waktu yang sama, namun bisa berbeda puasanya. Bisa jadi orang pertama puasa nazar, orang kedua puasa sunah Senin dan Kamis, orang ketiga puasa qadha’, dan seterusnya.Oleh karenanya, pada ibadah-ibadah yang serupa dan hampir sama, disyaratkan untuk menentukan niatnya agar tidak tersarukan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya.Hasil dari kedua tujuan di atasKedua tujuan di atas melahirkan sebuah hasil dari disyariatkannya niat, yaitu:Ibadah yang sifatnya dapat terbedakan dengan sendirinya dan tidak tersarukan dengan adat atau ibadah yang lainnya, maka tidak butuh dengan niat. Seperti amalan-amalan hati berupa iman kepada Allah, atau takut dan berharap hanya kepada Allah. Amalan-amalan tersebut dapat terbedakan dengan sendirinya, sehingga tidak butuh niat.Jika seseorang keliru dalam niat sebuah ibadah yang disyaratkan untuk menentukan niatnya, maka ibadahnya batal. Seperti halnya seseorang yang ingin melaksanakan salat Zuhur di waktu zuhur, namun ia berniat untuk salat Ashar, maka salat Zuhurnya tidak sah; begitupun dengan salat Asharnya, karena berarti ia mendirikan salat Ashar sebelum masuk waktunya.Adakalanya adat (kebiasaan) masuk dalam kategori sebuah ibadah dengan sebab niat seseorang. Dengan niat tersebut, jadilah sebuah kebiasaan menjadi sebuah ibadah dan berpahala. Seperti halnya dalam hal-hal yang mubah, minum, makan, tidur, mencari nafkah, dan lain sebagainya. Jika ditujukan untuk menguatkan tubuh dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka akan bernilai pahala.Begitupula dengan menikah, jika bertujuan untuk menjaga diri, menghasilkan keturunan berupa anak-anak yang saleh dan salehah, memperbanyak umat, maka akan bernilai pahala. Dan niat-niat yang lainnya.Dari pembahasan ini, kesimpulan yang menarik adalah begitu pentingnya masalah niat dalam syariat Islam. Karena sebab niat, suatu kebiasaan menjadi sebuah ibadah yang mulia lagi berharga dan berpahala. Begitupula dengan sebab niat, ibadah yang kecil bisa berpahala besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak rahimahullah,رُبَّ ‌عملٍ ‌صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena sebab niat; dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena sebab niat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Depok, 20 Jumadal akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Mumti’ fil Qowa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary.dan beberapa referensi lainnya

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 13): Bertakwa Kepada Allah dan Ikhlas

Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 13): Bertakwa Kepada Allah dan Ikhlas

Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.
Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.


Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs
Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs


Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ. Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Kaya Tapi Hidup Seperti Miskin – Syaikh Sa’ad Al Khotslan #nasehatulama

Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Kaya Tapi Hidup Seperti Miskin – Syaikh Sa’ad Al Khotslan #nasehatulama

Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ
Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ


Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Memperbaiki Hidup dengan Memperbaiki Salat

Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).

Memperbaiki Hidup dengan Memperbaiki Salat

Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).
Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).


Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).

Nabi dan Para Sahabatnya Kaya Raya, tapi Kenapa Mereka Sering Kelaparan dan Kesulitan?

Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 705 times, 1 visit(s) today Post Views: 596

Nabi dan Para Sahabatnya Kaya Raya, tapi Kenapa Mereka Sering Kelaparan dan Kesulitan?

Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 705 times, 1 visit(s) today Post Views: 596
Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 705 times, 1 visit(s) today Post Views: 596


Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 705 times, 1 visit(s) today Post Views: 596

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239
Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239


Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239
Prev     Next