Kewajiban Melestarikan Lingkungan

Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.

Kewajiban Melestarikan Lingkungan

Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.
Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.


Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.

Ketika Akhlak Diuji

Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 439 times, 1 visit(s) today Post Views: 709

Ketika Akhlak Diuji

Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 439 times, 1 visit(s) today Post Views: 709
Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 439 times, 1 visit(s) today Post Views: 709


Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 439 times, 1 visit(s) today Post Views: 709

Sejenak di Dunia, Selamanya di Akhirat

Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Sejenak di Dunia, Selamanya di Akhirat

Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Rahasia Zikir yang Pahalanya Berlipat Tanpa Harus Panjang! – Syaikh Sa’ad Asy -Syatsri #NasehatUlama

Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Rahasia Zikir yang Pahalanya Berlipat Tanpa Harus Panjang! – Syaikh Sa’ad Asy -Syatsri #NasehatUlama

Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ


Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Fatwa Ulama: Syarat Khatib Salat Jumat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa

Fatwa Ulama: Syarat Khatib Salat Jumat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa

Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!

Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 458

Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!

Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 458
Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 458


Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 69 times, 1 visit(s) today Post Views: 458

Bersabar Saat Mendapat Nikmat, Bersyukur Saat Mendapat Musibah

Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Bersabar Saat Mendapat Nikmat, Bersyukur Saat Mendapat Musibah

Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Apakah Hatimu Merasakan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Oleh: Lubna Syaraf Manusia dengan fitrahnya mencintai dirinya sendiri, eksistensinya, dan kesempurnaannya, dan sesuai tabiatnya menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Hal ini seharusnya menjadi sebab kecintaannya yang tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai dirinya sendiri, tapi justru tidak mencintai Tuhannya yang menjadi sumber eksistensinya, keberadaannya, kelangsungannya, dan kesempurnaannya?. Bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai manusia lain yang telah berbuat baik kepadanya, tapi tidak mencintai Zat yang telah melimpahkan segala bentuk kebaikan tanpa batas kepadanya?. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka (semuanya) adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Imam Al-Ghazali berkata: “Penjelasannya, kita misalkan ada orang yang memberimu seluruh harta dan kekayaannya, dan memberimu izin untuk membelanjakannya sesuka hatimu, kamu pasti mengira itu adalah kebaikan dari dirinya, padahal itu keliru. Sebenarnya, kebaikan orang itu hanya melalui hartanya, penguasaannya terhadap harta itu, dan dorongan hatinya untuk memberikannya kepadamu. Namun, siapa sebenarnya yang telah menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, dan menciptakan keinginan dan dorongan hatinya untuk memberi?. Dan sebenarnya siapa yang membuatmu mencintainya, menjadikanmu condong kepadanya, dan menanamkan dalam dirinya bahwa suatu kebaikan dunia dan agama jika dia berbuat kebaikan kepadamu?. Yang kalaulah bukan karena dorongan itu, dia tidak akan memberi harta itu kepadamu, sehingga (karena dorongan itu) seakan-akan dia terpaksa untuk menyerahkan harta itu kepadamu tanpa mampu melawannya. Dengan demikian, yang berbuat kebaikan sesungguhnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memaksanya (dengan dorongan hati itu) dan menundukkannya untukmu.” Lalu apakah hatimu telah merasakan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan kuat dalam hati seseorang kecuali dia mengosongkannya dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutus segala hubungan dengan dunia dan para makhluk. Karena bagaimana mungkin cintamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kuat, sedangkan hatimu masih tergantung pada dunia dan isinya, atau tergantung kepada makhluk-Nya?. Bagaimana mungkin kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hatimu sejajar dengan kecintaan kepada para makhluk?. Padahal jika kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia mengabulkanmu, jika kamu meminta kepada-Nya, Dia memberimu. Sedangkan jika kamu meminta sesuatu kepada manusia, ia justru marah, membuang muka darimu, dan berpaling darimu seakan-akan ia tidak pernah mengenalmu! Allahlah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Pengasih. Bahkan Dia sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: هُوَ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhari. Hadis shahih, disebutkan dalam Al-Jami ash-Shahih No. 5999). Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni, Memaafkan, Menghapus dosa, dan Menutupi aib. Namun manusia seandainya kuasa ada di tangannya, niscaya tidak sudi memasukkan saudaranya ke dalam surga, karena manusia itu pelit, bahkan dalam memberi kasih sayang. Ini sudah menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا “Dan manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100). Dan ayat ini disebutkan dalam konteks pembahasan tentang rahmat. Oleh sebab itu, orang yang hendak menunaikan haji harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena hak-hak manusia terbangun di atas kekikiran. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Maha Pengampun, Maha Luas ampunan-Nya, Maha Penerima taubat, melipatgandakan amal kebaikan, dan memaafkan kekeliruan. Dialah yang menyingkap musibah setelah menimpa kita, Dialah asa dan harapan kita. Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi Engkau, pujian yang layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kuasa-Mu, pujian yang melimpah, baik, dan penuh berkah. يَا مَنْ إِذَا قُلْتُ يَا مَوْلاَيَ لَبَّانِي يَا وَاحِدًا مَا لَهُ فِي مُلْكِهِ ثَانِي Wahai Zat yang jika aku berseru, “Ya Tuhanku!”, Dia menjawabku. Wahai Yang Maha Esa, tidak punya di kerajaan-Nya sekutu أَعْصِي وَتَسْتُرُنِي أَنْسَى وَتَذْكُرُنِي فَكَيْفَ أَنْسَاكَ يَا مَنْ لَسْتَ تَنْسَانِي Aku bermaksiat, tapi Engkau menutupi aibku, aku lupa, tapi Engkau mengingatku. Bagaimana aku bisa melupakan Engkau, wahai Dzat yang tak pernah melupakanku Setelah semua ini, apakah hatimu belum juga dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan kuat kecuali dengan mengenal-Nya, karena kenikmatan dalam hati tidak akan muncul kecuali melalui pengetahuan tentang-Nya. Lalu tidak ada yang dapat mengantarkan seorang hamba pada pengetahuan ini kecuali – seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali –: “Pikiran yang jernih, zikir yang konsisten, kesungguhan dalam mencari-Nya, dan mencari petunjuk-petunjuknya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya yang paling sederhana adalah bumi dan seisinya, dan kerajaan langit. Keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya yang lain telah disaksikan secara pasti oleh segala sesuatu yang kita lihat, batu, pohon, tanah, tumbuhan, hewan, bumi, langit, bintang-bintang, daratan, dan lautan, bahkan saksi pertama kita adalah jiwa dan raga kita, pergantian keadaan kita, perubahan kondisi hati kita, dan seluruh gerak-gerik kita.” Apabila pengetahuan telah tercapai, maka akan diikuti dengan kecintaan. Andai saja aku tahu, apakah di alam semesta ini ada yang lebih agung, tinggi, mulia, sempurna, dan besar daripada Yang Menciptakan, Menghadirkan, Menampakkan, Mengulangi penciptaan, dan Mengatur alam semesta ini?. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang yang mengetahui Tuhannya pasti mencintai-Nya, dan orang yang mengetahui hakikat dunia pasti bersikap zuhud terhadapnya.”  Beliau juga berkata: “Orang yang mengenal Tuhannya pasti mencintai-Nya. Adapun orang yang mencintai selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan atas dasar kecintaan kepada-Nya, maka itu karena kejahilan dan kerendahan pengetahuannya tentang-Nya. Sedangkan kecintaan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam, itu tidak akan terwujud kecuali atas dasar kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga kecintaan kepada para ulama dan orang-orang bertakwa. Karena orang yang dicintai kekasih adalah orang yang kita cintai juga, dan ini semua kembali ke cinta yang utama, dan pada hakikatnya tidak ada kekasih bagi orang-orang yang berakal kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak ada yang berhak mendapat cinta kecuali Dia.” Orang yang mencintai Penciptanya, pasti akan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, ibadah, dan pendekatan diri kepada-Nya, tanpa lelah dan bosan. Mungkin badan bisa lelah, tapi hati tidak ada lelahnya.  Farqad As-Sabakhi berkata: “Saya pernah membaca dalam salah satu buku: Siapa yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada apa yang diinginkan-Nya. Dan siapa yang mencintai dunia, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Orang yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pemimpin yang dipatuhi para pemimpin, golongannya akan menjadi golongan pertama pada Hari Kiamat, dan majelisnya adalah majelis yang paling dekat di sana. Kecintaan merupakan puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pencinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada bosan-bosannya untuk terus beramal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mencintai-Nya, suka menyebut-Nya, berusaha membuat orang lain mencintai-Nya, senantiasa menebar nasihat bagi para hamba-Nya, dan mengkhawatirkan nasib mereka atas amalan mereka pada Hari Kiamat, hari tersingkapnya segala keburukan. Merekalah para wali, kekasih, dan orang-orang pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang tidak merasa tenang kecuali dengan berjumpa dengan-Nya.” Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa manusia paling bahagia dan paling bagus keadaannya di akhirat adalah orang yang paling kuat rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena akhirat artinya datang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meraih bahagianya perjumpaan dengan-Nya. Betapa besar kenikmatan pencinta ketika ia datang menemui kekasihnya setelah kerinduan yang panjang! Ia dapat memandangnya tanpa gangguan dan halangan! Hanya saja, besarnya kenikmatan ini sesuai kadar cintanya, semakin besar cintanya, semakin bertambah kenikmatannya.” Di antara buah dari rasa cinta adalah mendapatkan kedamaian hati saat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, munajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memanfaatkan ketenangan malam tanpa gangguan untuk menghadap kepada-Nya, karena tingkat terendah rasa cinta adalah merasakan kenikmatan saat berdua-duaan dengan kekasih dan menyukai obrolan dengannya. يَا غَافِلاً وَالجَلِيلُ يَحْرُسُهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ يَدِبُّ فِي الظُّلَمِ Wahai orang yang lalai, ketika Sang Kuasa menjaganya. Dari segala keburukan yang merayap dalam kegelapan كَيْفَ تَنَامُ العُيُونُ عَنْ مَلِكٍ تَأْتِيهِ مِنْهُ فَوَائِدُ النِّعَمِ Bagaimana mata dapat terpejam dari Sang Maha Raja. Yang dari-Nya segala bentuk kenikmatan Al-Hasan berkata: “Siapa yang ridha dengan rezeki yang diberikan kepadanya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan dan memberkahi rezeki itu untuknya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melapangkan dan memberkahinya.” Makhul berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ada orang yang beristikharah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan untuknya, tapi kemudian ia justru tidak puas dengan pilihan itu. Tidak lama setelah itu ia melihat hasil dari urusan tersebut, dan ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihkan yang terbaik baginya.” Ini memang nyata terjadi, seandainya kita memahami Allah Subhanahu Wa Ta’ala, betapa banyak urusan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan yang sebenarnya mengandung kelembutan, rahmat, dan segala kebaikan bagi kita! Betapa banyak ujian dan musibah yang di baliknya terkandung karunia dan keuntungan! Betapa banyak cobaan yang mengandung peningkatan derajat! Ya Allah, betapa mulianya Engkau, betapa lembutnya Engkau, dan betapa luas karunia Engkau! Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Dzat yang lebih penyayang daripada ibu yang telah melahirkan kami! Wahai Zat yang apabila cara telah habis, jalan telah buntu, harapan telah pupus, pertolongan telah terputus, dada menjadi begitu sempit, urusan menjadi amat sulit, dan pintu-pintu di tutup di hadapan kita, lalu kami berseru, “Ya Allah!” maka turunlah kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, kecintaan, dan kebaikan dari-Mu.  Kepada Allah dibentangkan telapak tangan di akhir-akhir malam, dijulurkan tangan-tangan di saat kebutuhan menghujam, ditundukkan mata-mata saat dalam kesulitan, dan dihaturkan doa-doa ketika musibah datang. Dengan nama-Nya tiada henti diucapkan lisan, dimintai pertolongan, disebut dan diseru. Dengan menyebut-Nya hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, perasaan menjadi damai, dan urat saraf menjadi renggang, lalu keyakinan semakin teguh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Lembut kepada para hamba-Nya. Apakah setelah ini semua, hatimu belum juga merasakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Dikisahkan oleh beberapa orang yang mendapat siksaan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa mereka berkata: “Seandainya kami dimutilasi potongan demi potongan, niscaya tidak ada yang bertambah dalam diri kami kecuali rasa cinta kepada-Nya.”  Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keridhaan setelah turun ketetapan-Mu, kedamaian hidup setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/5589/هل-استشعر-قلبك-حب-الله؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 326 times, 1 visit(s) today Post Views: 764

Apakah Hatimu Merasakan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Oleh: Lubna Syaraf Manusia dengan fitrahnya mencintai dirinya sendiri, eksistensinya, dan kesempurnaannya, dan sesuai tabiatnya menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Hal ini seharusnya menjadi sebab kecintaannya yang tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai dirinya sendiri, tapi justru tidak mencintai Tuhannya yang menjadi sumber eksistensinya, keberadaannya, kelangsungannya, dan kesempurnaannya?. Bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai manusia lain yang telah berbuat baik kepadanya, tapi tidak mencintai Zat yang telah melimpahkan segala bentuk kebaikan tanpa batas kepadanya?. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka (semuanya) adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Imam Al-Ghazali berkata: “Penjelasannya, kita misalkan ada orang yang memberimu seluruh harta dan kekayaannya, dan memberimu izin untuk membelanjakannya sesuka hatimu, kamu pasti mengira itu adalah kebaikan dari dirinya, padahal itu keliru. Sebenarnya, kebaikan orang itu hanya melalui hartanya, penguasaannya terhadap harta itu, dan dorongan hatinya untuk memberikannya kepadamu. Namun, siapa sebenarnya yang telah menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, dan menciptakan keinginan dan dorongan hatinya untuk memberi?. Dan sebenarnya siapa yang membuatmu mencintainya, menjadikanmu condong kepadanya, dan menanamkan dalam dirinya bahwa suatu kebaikan dunia dan agama jika dia berbuat kebaikan kepadamu?. Yang kalaulah bukan karena dorongan itu, dia tidak akan memberi harta itu kepadamu, sehingga (karena dorongan itu) seakan-akan dia terpaksa untuk menyerahkan harta itu kepadamu tanpa mampu melawannya. Dengan demikian, yang berbuat kebaikan sesungguhnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memaksanya (dengan dorongan hati itu) dan menundukkannya untukmu.” Lalu apakah hatimu telah merasakan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan kuat dalam hati seseorang kecuali dia mengosongkannya dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutus segala hubungan dengan dunia dan para makhluk. Karena bagaimana mungkin cintamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kuat, sedangkan hatimu masih tergantung pada dunia dan isinya, atau tergantung kepada makhluk-Nya?. Bagaimana mungkin kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hatimu sejajar dengan kecintaan kepada para makhluk?. Padahal jika kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia mengabulkanmu, jika kamu meminta kepada-Nya, Dia memberimu. Sedangkan jika kamu meminta sesuatu kepada manusia, ia justru marah, membuang muka darimu, dan berpaling darimu seakan-akan ia tidak pernah mengenalmu! Allahlah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Pengasih. Bahkan Dia sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: هُوَ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhari. Hadis shahih, disebutkan dalam Al-Jami ash-Shahih No. 5999). Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni, Memaafkan, Menghapus dosa, dan Menutupi aib. Namun manusia seandainya kuasa ada di tangannya, niscaya tidak sudi memasukkan saudaranya ke dalam surga, karena manusia itu pelit, bahkan dalam memberi kasih sayang. Ini sudah menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا “Dan manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100). Dan ayat ini disebutkan dalam konteks pembahasan tentang rahmat. Oleh sebab itu, orang yang hendak menunaikan haji harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena hak-hak manusia terbangun di atas kekikiran. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Maha Pengampun, Maha Luas ampunan-Nya, Maha Penerima taubat, melipatgandakan amal kebaikan, dan memaafkan kekeliruan. Dialah yang menyingkap musibah setelah menimpa kita, Dialah asa dan harapan kita. Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi Engkau, pujian yang layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kuasa-Mu, pujian yang melimpah, baik, dan penuh berkah. يَا مَنْ إِذَا قُلْتُ يَا مَوْلاَيَ لَبَّانِي يَا وَاحِدًا مَا لَهُ فِي مُلْكِهِ ثَانِي Wahai Zat yang jika aku berseru, “Ya Tuhanku!”, Dia menjawabku. Wahai Yang Maha Esa, tidak punya di kerajaan-Nya sekutu أَعْصِي وَتَسْتُرُنِي أَنْسَى وَتَذْكُرُنِي فَكَيْفَ أَنْسَاكَ يَا مَنْ لَسْتَ تَنْسَانِي Aku bermaksiat, tapi Engkau menutupi aibku, aku lupa, tapi Engkau mengingatku. Bagaimana aku bisa melupakan Engkau, wahai Dzat yang tak pernah melupakanku Setelah semua ini, apakah hatimu belum juga dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan kuat kecuali dengan mengenal-Nya, karena kenikmatan dalam hati tidak akan muncul kecuali melalui pengetahuan tentang-Nya. Lalu tidak ada yang dapat mengantarkan seorang hamba pada pengetahuan ini kecuali – seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali –: “Pikiran yang jernih, zikir yang konsisten, kesungguhan dalam mencari-Nya, dan mencari petunjuk-petunjuknya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya yang paling sederhana adalah bumi dan seisinya, dan kerajaan langit. Keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya yang lain telah disaksikan secara pasti oleh segala sesuatu yang kita lihat, batu, pohon, tanah, tumbuhan, hewan, bumi, langit, bintang-bintang, daratan, dan lautan, bahkan saksi pertama kita adalah jiwa dan raga kita, pergantian keadaan kita, perubahan kondisi hati kita, dan seluruh gerak-gerik kita.” Apabila pengetahuan telah tercapai, maka akan diikuti dengan kecintaan. Andai saja aku tahu, apakah di alam semesta ini ada yang lebih agung, tinggi, mulia, sempurna, dan besar daripada Yang Menciptakan, Menghadirkan, Menampakkan, Mengulangi penciptaan, dan Mengatur alam semesta ini?. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang yang mengetahui Tuhannya pasti mencintai-Nya, dan orang yang mengetahui hakikat dunia pasti bersikap zuhud terhadapnya.”  Beliau juga berkata: “Orang yang mengenal Tuhannya pasti mencintai-Nya. Adapun orang yang mencintai selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan atas dasar kecintaan kepada-Nya, maka itu karena kejahilan dan kerendahan pengetahuannya tentang-Nya. Sedangkan kecintaan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam, itu tidak akan terwujud kecuali atas dasar kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga kecintaan kepada para ulama dan orang-orang bertakwa. Karena orang yang dicintai kekasih adalah orang yang kita cintai juga, dan ini semua kembali ke cinta yang utama, dan pada hakikatnya tidak ada kekasih bagi orang-orang yang berakal kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak ada yang berhak mendapat cinta kecuali Dia.” Orang yang mencintai Penciptanya, pasti akan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, ibadah, dan pendekatan diri kepada-Nya, tanpa lelah dan bosan. Mungkin badan bisa lelah, tapi hati tidak ada lelahnya.  Farqad As-Sabakhi berkata: “Saya pernah membaca dalam salah satu buku: Siapa yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada apa yang diinginkan-Nya. Dan siapa yang mencintai dunia, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Orang yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pemimpin yang dipatuhi para pemimpin, golongannya akan menjadi golongan pertama pada Hari Kiamat, dan majelisnya adalah majelis yang paling dekat di sana. Kecintaan merupakan puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pencinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada bosan-bosannya untuk terus beramal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mencintai-Nya, suka menyebut-Nya, berusaha membuat orang lain mencintai-Nya, senantiasa menebar nasihat bagi para hamba-Nya, dan mengkhawatirkan nasib mereka atas amalan mereka pada Hari Kiamat, hari tersingkapnya segala keburukan. Merekalah para wali, kekasih, dan orang-orang pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang tidak merasa tenang kecuali dengan berjumpa dengan-Nya.” Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa manusia paling bahagia dan paling bagus keadaannya di akhirat adalah orang yang paling kuat rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena akhirat artinya datang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meraih bahagianya perjumpaan dengan-Nya. Betapa besar kenikmatan pencinta ketika ia datang menemui kekasihnya setelah kerinduan yang panjang! Ia dapat memandangnya tanpa gangguan dan halangan! Hanya saja, besarnya kenikmatan ini sesuai kadar cintanya, semakin besar cintanya, semakin bertambah kenikmatannya.” Di antara buah dari rasa cinta adalah mendapatkan kedamaian hati saat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, munajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memanfaatkan ketenangan malam tanpa gangguan untuk menghadap kepada-Nya, karena tingkat terendah rasa cinta adalah merasakan kenikmatan saat berdua-duaan dengan kekasih dan menyukai obrolan dengannya. يَا غَافِلاً وَالجَلِيلُ يَحْرُسُهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ يَدِبُّ فِي الظُّلَمِ Wahai orang yang lalai, ketika Sang Kuasa menjaganya. Dari segala keburukan yang merayap dalam kegelapan كَيْفَ تَنَامُ العُيُونُ عَنْ مَلِكٍ تَأْتِيهِ مِنْهُ فَوَائِدُ النِّعَمِ Bagaimana mata dapat terpejam dari Sang Maha Raja. Yang dari-Nya segala bentuk kenikmatan Al-Hasan berkata: “Siapa yang ridha dengan rezeki yang diberikan kepadanya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan dan memberkahi rezeki itu untuknya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melapangkan dan memberkahinya.” Makhul berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ada orang yang beristikharah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan untuknya, tapi kemudian ia justru tidak puas dengan pilihan itu. Tidak lama setelah itu ia melihat hasil dari urusan tersebut, dan ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihkan yang terbaik baginya.” Ini memang nyata terjadi, seandainya kita memahami Allah Subhanahu Wa Ta’ala, betapa banyak urusan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan yang sebenarnya mengandung kelembutan, rahmat, dan segala kebaikan bagi kita! Betapa banyak ujian dan musibah yang di baliknya terkandung karunia dan keuntungan! Betapa banyak cobaan yang mengandung peningkatan derajat! Ya Allah, betapa mulianya Engkau, betapa lembutnya Engkau, dan betapa luas karunia Engkau! Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Dzat yang lebih penyayang daripada ibu yang telah melahirkan kami! Wahai Zat yang apabila cara telah habis, jalan telah buntu, harapan telah pupus, pertolongan telah terputus, dada menjadi begitu sempit, urusan menjadi amat sulit, dan pintu-pintu di tutup di hadapan kita, lalu kami berseru, “Ya Allah!” maka turunlah kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, kecintaan, dan kebaikan dari-Mu.  Kepada Allah dibentangkan telapak tangan di akhir-akhir malam, dijulurkan tangan-tangan di saat kebutuhan menghujam, ditundukkan mata-mata saat dalam kesulitan, dan dihaturkan doa-doa ketika musibah datang. Dengan nama-Nya tiada henti diucapkan lisan, dimintai pertolongan, disebut dan diseru. Dengan menyebut-Nya hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, perasaan menjadi damai, dan urat saraf menjadi renggang, lalu keyakinan semakin teguh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Lembut kepada para hamba-Nya. Apakah setelah ini semua, hatimu belum juga merasakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Dikisahkan oleh beberapa orang yang mendapat siksaan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa mereka berkata: “Seandainya kami dimutilasi potongan demi potongan, niscaya tidak ada yang bertambah dalam diri kami kecuali rasa cinta kepada-Nya.”  Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keridhaan setelah turun ketetapan-Mu, kedamaian hidup setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/5589/هل-استشعر-قلبك-حب-الله؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 326 times, 1 visit(s) today Post Views: 764
Oleh: Lubna Syaraf Manusia dengan fitrahnya mencintai dirinya sendiri, eksistensinya, dan kesempurnaannya, dan sesuai tabiatnya menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Hal ini seharusnya menjadi sebab kecintaannya yang tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai dirinya sendiri, tapi justru tidak mencintai Tuhannya yang menjadi sumber eksistensinya, keberadaannya, kelangsungannya, dan kesempurnaannya?. Bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai manusia lain yang telah berbuat baik kepadanya, tapi tidak mencintai Zat yang telah melimpahkan segala bentuk kebaikan tanpa batas kepadanya?. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka (semuanya) adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Imam Al-Ghazali berkata: “Penjelasannya, kita misalkan ada orang yang memberimu seluruh harta dan kekayaannya, dan memberimu izin untuk membelanjakannya sesuka hatimu, kamu pasti mengira itu adalah kebaikan dari dirinya, padahal itu keliru. Sebenarnya, kebaikan orang itu hanya melalui hartanya, penguasaannya terhadap harta itu, dan dorongan hatinya untuk memberikannya kepadamu. Namun, siapa sebenarnya yang telah menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, dan menciptakan keinginan dan dorongan hatinya untuk memberi?. Dan sebenarnya siapa yang membuatmu mencintainya, menjadikanmu condong kepadanya, dan menanamkan dalam dirinya bahwa suatu kebaikan dunia dan agama jika dia berbuat kebaikan kepadamu?. Yang kalaulah bukan karena dorongan itu, dia tidak akan memberi harta itu kepadamu, sehingga (karena dorongan itu) seakan-akan dia terpaksa untuk menyerahkan harta itu kepadamu tanpa mampu melawannya. Dengan demikian, yang berbuat kebaikan sesungguhnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memaksanya (dengan dorongan hati itu) dan menundukkannya untukmu.” Lalu apakah hatimu telah merasakan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan kuat dalam hati seseorang kecuali dia mengosongkannya dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutus segala hubungan dengan dunia dan para makhluk. Karena bagaimana mungkin cintamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kuat, sedangkan hatimu masih tergantung pada dunia dan isinya, atau tergantung kepada makhluk-Nya?. Bagaimana mungkin kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hatimu sejajar dengan kecintaan kepada para makhluk?. Padahal jika kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia mengabulkanmu, jika kamu meminta kepada-Nya, Dia memberimu. Sedangkan jika kamu meminta sesuatu kepada manusia, ia justru marah, membuang muka darimu, dan berpaling darimu seakan-akan ia tidak pernah mengenalmu! Allahlah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Pengasih. Bahkan Dia sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: هُوَ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhari. Hadis shahih, disebutkan dalam Al-Jami ash-Shahih No. 5999). Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni, Memaafkan, Menghapus dosa, dan Menutupi aib. Namun manusia seandainya kuasa ada di tangannya, niscaya tidak sudi memasukkan saudaranya ke dalam surga, karena manusia itu pelit, bahkan dalam memberi kasih sayang. Ini sudah menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا “Dan manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100). Dan ayat ini disebutkan dalam konteks pembahasan tentang rahmat. Oleh sebab itu, orang yang hendak menunaikan haji harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena hak-hak manusia terbangun di atas kekikiran. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Maha Pengampun, Maha Luas ampunan-Nya, Maha Penerima taubat, melipatgandakan amal kebaikan, dan memaafkan kekeliruan. Dialah yang menyingkap musibah setelah menimpa kita, Dialah asa dan harapan kita. Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi Engkau, pujian yang layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kuasa-Mu, pujian yang melimpah, baik, dan penuh berkah. يَا مَنْ إِذَا قُلْتُ يَا مَوْلاَيَ لَبَّانِي يَا وَاحِدًا مَا لَهُ فِي مُلْكِهِ ثَانِي Wahai Zat yang jika aku berseru, “Ya Tuhanku!”, Dia menjawabku. Wahai Yang Maha Esa, tidak punya di kerajaan-Nya sekutu أَعْصِي وَتَسْتُرُنِي أَنْسَى وَتَذْكُرُنِي فَكَيْفَ أَنْسَاكَ يَا مَنْ لَسْتَ تَنْسَانِي Aku bermaksiat, tapi Engkau menutupi aibku, aku lupa, tapi Engkau mengingatku. Bagaimana aku bisa melupakan Engkau, wahai Dzat yang tak pernah melupakanku Setelah semua ini, apakah hatimu belum juga dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan kuat kecuali dengan mengenal-Nya, karena kenikmatan dalam hati tidak akan muncul kecuali melalui pengetahuan tentang-Nya. Lalu tidak ada yang dapat mengantarkan seorang hamba pada pengetahuan ini kecuali – seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali –: “Pikiran yang jernih, zikir yang konsisten, kesungguhan dalam mencari-Nya, dan mencari petunjuk-petunjuknya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya yang paling sederhana adalah bumi dan seisinya, dan kerajaan langit. Keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya yang lain telah disaksikan secara pasti oleh segala sesuatu yang kita lihat, batu, pohon, tanah, tumbuhan, hewan, bumi, langit, bintang-bintang, daratan, dan lautan, bahkan saksi pertama kita adalah jiwa dan raga kita, pergantian keadaan kita, perubahan kondisi hati kita, dan seluruh gerak-gerik kita.” Apabila pengetahuan telah tercapai, maka akan diikuti dengan kecintaan. Andai saja aku tahu, apakah di alam semesta ini ada yang lebih agung, tinggi, mulia, sempurna, dan besar daripada Yang Menciptakan, Menghadirkan, Menampakkan, Mengulangi penciptaan, dan Mengatur alam semesta ini?. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang yang mengetahui Tuhannya pasti mencintai-Nya, dan orang yang mengetahui hakikat dunia pasti bersikap zuhud terhadapnya.”  Beliau juga berkata: “Orang yang mengenal Tuhannya pasti mencintai-Nya. Adapun orang yang mencintai selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan atas dasar kecintaan kepada-Nya, maka itu karena kejahilan dan kerendahan pengetahuannya tentang-Nya. Sedangkan kecintaan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam, itu tidak akan terwujud kecuali atas dasar kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga kecintaan kepada para ulama dan orang-orang bertakwa. Karena orang yang dicintai kekasih adalah orang yang kita cintai juga, dan ini semua kembali ke cinta yang utama, dan pada hakikatnya tidak ada kekasih bagi orang-orang yang berakal kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak ada yang berhak mendapat cinta kecuali Dia.” Orang yang mencintai Penciptanya, pasti akan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, ibadah, dan pendekatan diri kepada-Nya, tanpa lelah dan bosan. Mungkin badan bisa lelah, tapi hati tidak ada lelahnya.  Farqad As-Sabakhi berkata: “Saya pernah membaca dalam salah satu buku: Siapa yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada apa yang diinginkan-Nya. Dan siapa yang mencintai dunia, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Orang yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pemimpin yang dipatuhi para pemimpin, golongannya akan menjadi golongan pertama pada Hari Kiamat, dan majelisnya adalah majelis yang paling dekat di sana. Kecintaan merupakan puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pencinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada bosan-bosannya untuk terus beramal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mencintai-Nya, suka menyebut-Nya, berusaha membuat orang lain mencintai-Nya, senantiasa menebar nasihat bagi para hamba-Nya, dan mengkhawatirkan nasib mereka atas amalan mereka pada Hari Kiamat, hari tersingkapnya segala keburukan. Merekalah para wali, kekasih, dan orang-orang pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang tidak merasa tenang kecuali dengan berjumpa dengan-Nya.” Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa manusia paling bahagia dan paling bagus keadaannya di akhirat adalah orang yang paling kuat rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena akhirat artinya datang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meraih bahagianya perjumpaan dengan-Nya. Betapa besar kenikmatan pencinta ketika ia datang menemui kekasihnya setelah kerinduan yang panjang! Ia dapat memandangnya tanpa gangguan dan halangan! Hanya saja, besarnya kenikmatan ini sesuai kadar cintanya, semakin besar cintanya, semakin bertambah kenikmatannya.” Di antara buah dari rasa cinta adalah mendapatkan kedamaian hati saat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, munajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memanfaatkan ketenangan malam tanpa gangguan untuk menghadap kepada-Nya, karena tingkat terendah rasa cinta adalah merasakan kenikmatan saat berdua-duaan dengan kekasih dan menyukai obrolan dengannya. يَا غَافِلاً وَالجَلِيلُ يَحْرُسُهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ يَدِبُّ فِي الظُّلَمِ Wahai orang yang lalai, ketika Sang Kuasa menjaganya. Dari segala keburukan yang merayap dalam kegelapan كَيْفَ تَنَامُ العُيُونُ عَنْ مَلِكٍ تَأْتِيهِ مِنْهُ فَوَائِدُ النِّعَمِ Bagaimana mata dapat terpejam dari Sang Maha Raja. Yang dari-Nya segala bentuk kenikmatan Al-Hasan berkata: “Siapa yang ridha dengan rezeki yang diberikan kepadanya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan dan memberkahi rezeki itu untuknya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melapangkan dan memberkahinya.” Makhul berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ada orang yang beristikharah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan untuknya, tapi kemudian ia justru tidak puas dengan pilihan itu. Tidak lama setelah itu ia melihat hasil dari urusan tersebut, dan ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihkan yang terbaik baginya.” Ini memang nyata terjadi, seandainya kita memahami Allah Subhanahu Wa Ta’ala, betapa banyak urusan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan yang sebenarnya mengandung kelembutan, rahmat, dan segala kebaikan bagi kita! Betapa banyak ujian dan musibah yang di baliknya terkandung karunia dan keuntungan! Betapa banyak cobaan yang mengandung peningkatan derajat! Ya Allah, betapa mulianya Engkau, betapa lembutnya Engkau, dan betapa luas karunia Engkau! Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Dzat yang lebih penyayang daripada ibu yang telah melahirkan kami! Wahai Zat yang apabila cara telah habis, jalan telah buntu, harapan telah pupus, pertolongan telah terputus, dada menjadi begitu sempit, urusan menjadi amat sulit, dan pintu-pintu di tutup di hadapan kita, lalu kami berseru, “Ya Allah!” maka turunlah kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, kecintaan, dan kebaikan dari-Mu.  Kepada Allah dibentangkan telapak tangan di akhir-akhir malam, dijulurkan tangan-tangan di saat kebutuhan menghujam, ditundukkan mata-mata saat dalam kesulitan, dan dihaturkan doa-doa ketika musibah datang. Dengan nama-Nya tiada henti diucapkan lisan, dimintai pertolongan, disebut dan diseru. Dengan menyebut-Nya hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, perasaan menjadi damai, dan urat saraf menjadi renggang, lalu keyakinan semakin teguh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Lembut kepada para hamba-Nya. Apakah setelah ini semua, hatimu belum juga merasakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Dikisahkan oleh beberapa orang yang mendapat siksaan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa mereka berkata: “Seandainya kami dimutilasi potongan demi potongan, niscaya tidak ada yang bertambah dalam diri kami kecuali rasa cinta kepada-Nya.”  Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keridhaan setelah turun ketetapan-Mu, kedamaian hidup setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/5589/هل-استشعر-قلبك-حب-الله؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 326 times, 1 visit(s) today Post Views: 764


Oleh: Lubna Syaraf Manusia dengan fitrahnya mencintai dirinya sendiri, eksistensinya, dan kesempurnaannya, dan sesuai tabiatnya menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Hal ini seharusnya menjadi sebab kecintaannya yang tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai dirinya sendiri, tapi justru tidak mencintai Tuhannya yang menjadi sumber eksistensinya, keberadaannya, kelangsungannya, dan kesempurnaannya?. Bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai manusia lain yang telah berbuat baik kepadanya, tapi tidak mencintai Zat yang telah melimpahkan segala bentuk kebaikan tanpa batas kepadanya?. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka (semuanya) adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Imam Al-Ghazali berkata: “Penjelasannya, kita misalkan ada orang yang memberimu seluruh harta dan kekayaannya, dan memberimu izin untuk membelanjakannya sesuka hatimu, kamu pasti mengira itu adalah kebaikan dari dirinya, padahal itu keliru. Sebenarnya, kebaikan orang itu hanya melalui hartanya, penguasaannya terhadap harta itu, dan dorongan hatinya untuk memberikannya kepadamu. Namun, siapa sebenarnya yang telah menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, dan menciptakan keinginan dan dorongan hatinya untuk memberi?. Dan sebenarnya siapa yang membuatmu mencintainya, menjadikanmu condong kepadanya, dan menanamkan dalam dirinya bahwa suatu kebaikan dunia dan agama jika dia berbuat kebaikan kepadamu?. Yang kalaulah bukan karena dorongan itu, dia tidak akan memberi harta itu kepadamu, sehingga (karena dorongan itu) seakan-akan dia terpaksa untuk menyerahkan harta itu kepadamu tanpa mampu melawannya. Dengan demikian, yang berbuat kebaikan sesungguhnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memaksanya (dengan dorongan hati itu) dan menundukkannya untukmu.” Lalu apakah hatimu telah merasakan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan kuat dalam hati seseorang kecuali dia mengosongkannya dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutus segala hubungan dengan dunia dan para makhluk. Karena bagaimana mungkin cintamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kuat, sedangkan hatimu masih tergantung pada dunia dan isinya, atau tergantung kepada makhluk-Nya?. Bagaimana mungkin kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hatimu sejajar dengan kecintaan kepada para makhluk?. Padahal jika kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia mengabulkanmu, jika kamu meminta kepada-Nya, Dia memberimu. Sedangkan jika kamu meminta sesuatu kepada manusia, ia justru marah, membuang muka darimu, dan berpaling darimu seakan-akan ia tidak pernah mengenalmu! Allahlah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Pengasih. Bahkan Dia sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: هُوَ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا “Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhari. Hadis shahih, disebutkan dalam Al-Jami ash-Shahih No. 5999). Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni, Memaafkan, Menghapus dosa, dan Menutupi aib. Namun manusia seandainya kuasa ada di tangannya, niscaya tidak sudi memasukkan saudaranya ke dalam surga, karena manusia itu pelit, bahkan dalam memberi kasih sayang. Ini sudah menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا “Dan manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100). Dan ayat ini disebutkan dalam konteks pembahasan tentang rahmat. Oleh sebab itu, orang yang hendak menunaikan haji harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena hak-hak manusia terbangun di atas kekikiran. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Maha Pengampun, Maha Luas ampunan-Nya, Maha Penerima taubat, melipatgandakan amal kebaikan, dan memaafkan kekeliruan. Dialah yang menyingkap musibah setelah menimpa kita, Dialah asa dan harapan kita. Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi Engkau, pujian yang layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kuasa-Mu, pujian yang melimpah, baik, dan penuh berkah. يَا مَنْ إِذَا قُلْتُ يَا مَوْلاَيَ لَبَّانِي يَا وَاحِدًا مَا لَهُ فِي مُلْكِهِ ثَانِي Wahai Zat yang jika aku berseru, “Ya Tuhanku!”, Dia menjawabku. Wahai Yang Maha Esa, tidak punya di kerajaan-Nya sekutu أَعْصِي وَتَسْتُرُنِي أَنْسَى وَتَذْكُرُنِي فَكَيْفَ أَنْسَاكَ يَا مَنْ لَسْتَ تَنْسَانِي Aku bermaksiat, tapi Engkau menutupi aibku, aku lupa, tapi Engkau mengingatku. Bagaimana aku bisa melupakan Engkau, wahai Dzat yang tak pernah melupakanku Setelah semua ini, apakah hatimu belum juga dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan kuat kecuali dengan mengenal-Nya, karena kenikmatan dalam hati tidak akan muncul kecuali melalui pengetahuan tentang-Nya. Lalu tidak ada yang dapat mengantarkan seorang hamba pada pengetahuan ini kecuali – seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali –: “Pikiran yang jernih, zikir yang konsisten, kesungguhan dalam mencari-Nya, dan mencari petunjuk-petunjuknya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya yang paling sederhana adalah bumi dan seisinya, dan kerajaan langit. Keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya yang lain telah disaksikan secara pasti oleh segala sesuatu yang kita lihat, batu, pohon, tanah, tumbuhan, hewan, bumi, langit, bintang-bintang, daratan, dan lautan, bahkan saksi pertama kita adalah jiwa dan raga kita, pergantian keadaan kita, perubahan kondisi hati kita, dan seluruh gerak-gerik kita.” Apabila pengetahuan telah tercapai, maka akan diikuti dengan kecintaan. Andai saja aku tahu, apakah di alam semesta ini ada yang lebih agung, tinggi, mulia, sempurna, dan besar daripada Yang Menciptakan, Menghadirkan, Menampakkan, Mengulangi penciptaan, dan Mengatur alam semesta ini?. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang yang mengetahui Tuhannya pasti mencintai-Nya, dan orang yang mengetahui hakikat dunia pasti bersikap zuhud terhadapnya.”  Beliau juga berkata: “Orang yang mengenal Tuhannya pasti mencintai-Nya. Adapun orang yang mencintai selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan atas dasar kecintaan kepada-Nya, maka itu karena kejahilan dan kerendahan pengetahuannya tentang-Nya. Sedangkan kecintaan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam, itu tidak akan terwujud kecuali atas dasar kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga kecintaan kepada para ulama dan orang-orang bertakwa. Karena orang yang dicintai kekasih adalah orang yang kita cintai juga, dan ini semua kembali ke cinta yang utama, dan pada hakikatnya tidak ada kekasih bagi orang-orang yang berakal kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak ada yang berhak mendapat cinta kecuali Dia.” Orang yang mencintai Penciptanya, pasti akan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, ibadah, dan pendekatan diri kepada-Nya, tanpa lelah dan bosan. Mungkin badan bisa lelah, tapi hati tidak ada lelahnya.  Farqad As-Sabakhi berkata: “Saya pernah membaca dalam salah satu buku: Siapa yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada apa yang diinginkan-Nya. Dan siapa yang mencintai dunia, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Orang yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pemimpin yang dipatuhi para pemimpin, golongannya akan menjadi golongan pertama pada Hari Kiamat, dan majelisnya adalah majelis yang paling dekat di sana. Kecintaan merupakan puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pencinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada bosan-bosannya untuk terus beramal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mencintai-Nya, suka menyebut-Nya, berusaha membuat orang lain mencintai-Nya, senantiasa menebar nasihat bagi para hamba-Nya, dan mengkhawatirkan nasib mereka atas amalan mereka pada Hari Kiamat, hari tersingkapnya segala keburukan. Merekalah para wali, kekasih, dan orang-orang pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang tidak merasa tenang kecuali dengan berjumpa dengan-Nya.” Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa manusia paling bahagia dan paling bagus keadaannya di akhirat adalah orang yang paling kuat rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena akhirat artinya datang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meraih bahagianya perjumpaan dengan-Nya. Betapa besar kenikmatan pencinta ketika ia datang menemui kekasihnya setelah kerinduan yang panjang! Ia dapat memandangnya tanpa gangguan dan halangan! Hanya saja, besarnya kenikmatan ini sesuai kadar cintanya, semakin besar cintanya, semakin bertambah kenikmatannya.” Di antara buah dari rasa cinta adalah mendapatkan kedamaian hati saat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, munajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memanfaatkan ketenangan malam tanpa gangguan untuk menghadap kepada-Nya, karena tingkat terendah rasa cinta adalah merasakan kenikmatan saat berdua-duaan dengan kekasih dan menyukai obrolan dengannya. يَا غَافِلاً وَالجَلِيلُ يَحْرُسُهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ يَدِبُّ فِي الظُّلَمِ Wahai orang yang lalai, ketika Sang Kuasa menjaganya. Dari segala keburukan yang merayap dalam kegelapan كَيْفَ تَنَامُ العُيُونُ عَنْ مَلِكٍ تَأْتِيهِ مِنْهُ فَوَائِدُ النِّعَمِ Bagaimana mata dapat terpejam dari Sang Maha Raja. Yang dari-Nya segala bentuk kenikmatan Al-Hasan berkata: “Siapa yang ridha dengan rezeki yang diberikan kepadanya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan dan memberkahi rezeki itu untuknya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melapangkan dan memberkahinya.” Makhul berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ada orang yang beristikharah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan untuknya, tapi kemudian ia justru tidak puas dengan pilihan itu. Tidak lama setelah itu ia melihat hasil dari urusan tersebut, dan ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihkan yang terbaik baginya.” Ini memang nyata terjadi, seandainya kita memahami Allah Subhanahu Wa Ta’ala, betapa banyak urusan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan yang sebenarnya mengandung kelembutan, rahmat, dan segala kebaikan bagi kita! Betapa banyak ujian dan musibah yang di baliknya terkandung karunia dan keuntungan! Betapa banyak cobaan yang mengandung peningkatan derajat! Ya Allah, betapa mulianya Engkau, betapa lembutnya Engkau, dan betapa luas karunia Engkau! Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Dzat yang lebih penyayang daripada ibu yang telah melahirkan kami! Wahai Zat yang apabila cara telah habis, jalan telah buntu, harapan telah pupus, pertolongan telah terputus, dada menjadi begitu sempit, urusan menjadi amat sulit, dan pintu-pintu di tutup di hadapan kita, lalu kami berseru, “Ya Allah!” maka turunlah kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, kecintaan, dan kebaikan dari-Mu.  Kepada Allah dibentangkan telapak tangan di akhir-akhir malam, dijulurkan tangan-tangan di saat kebutuhan menghujam, ditundukkan mata-mata saat dalam kesulitan, dan dihaturkan doa-doa ketika musibah datang. Dengan nama-Nya tiada henti diucapkan lisan, dimintai pertolongan, disebut dan diseru. Dengan menyebut-Nya hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, perasaan menjadi damai, dan urat saraf menjadi renggang, lalu keyakinan semakin teguh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Lembut kepada para hamba-Nya. Apakah setelah ini semua, hatimu belum juga merasakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?. Dikisahkan oleh beberapa orang yang mendapat siksaan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa mereka berkata: “Seandainya kami dimutilasi potongan demi potongan, niscaya tidak ada yang bertambah dalam diri kami kecuali rasa cinta kepada-Nya.”  Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keridhaan setelah turun ketetapan-Mu, kedamaian hidup setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/5589/هل-استشعر-قلبك-حب-الله؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 326 times, 1 visit(s) today Post Views: 764

Keharaman Merusak Lingkungan

Daftar Isi TogglePerbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahMerusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaPerusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiIslam mencegah kerusakan sekecil apapunBelakangan ini, hati kita sering terasa tersayat melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kepala tertunduk, nafas terasa berat, tubuh seakan melemas ketika bencana alam datang silih berganti tanpa memberi jeda. Banjir bandang yang menyapu pemukiman, cuaca ekstrem yang tak menentu, tanah longsor yang menimbun harta -bahkan jiwa-, kekeringan yang melanda di mana-mana, semua itu menjadi bagian dari ujian yang tengah kita hadapi. Tidak sedikit dari kita, keluarga kita, atau saudara-saudara kita yang merasakan langsung dampaknya. Tentu sebagai seorang yang beriman, kita yakini semua itu adalah kuasa Allah, sebagaimana firman-Nya,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)Perbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahAllah-lah yang mentakdirkan semua yang musibah/bencana yang terjadi di muka bumi. Namun sebagai hamba-Nya, kita juga wajib mengintrospeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga musibah itu menimpa kita? Musibah ditakdirkan oleh Allah, di saat yang bersamaan ia juga datang sebagai akibat dari perbuatan buruk manusia. Allah berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Apa saja musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” (QS. asy-Syura: 30)Setelah meyakini bahwa Allah yang menentukan musibah yang turun, kita juga meyakini penyebab turunnya musibah adalah keburukan yang kita perbuat, padahal Allah memaafkan banyak dari keburukan itu. Perbuatan buruk manusia itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan musibah tersebut. Penegasan bahwa Allah mengirimkan musibah kepada manusia tidak lain karena kerusakan yang ia buat sendiri, Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm: 41)Bencana alam yang terjadi sekarang ini juga merupakan akibat perbuatan manusia yang kerap melakukan keburukan dengan merusak alam itu sendiri. Syekh Muhammad Fāruq Fāris menyebutkan dalam kitabnya, Bayan an-Nazhm fi al-Qur’an al-Karim, ketika menjelaskan ayat ini, “Ketamakan manusia akan harta dengan cara yang haram menyebabkan kehancuran lingkungan alam di banyak negara: udara menjadi tercemar, sungai dan laut tercemar, tanah tercemar, meningkatnya polusi nuklir, berulangnya bencana lingkungan, menyusutnya luas hutan dunia secara mengerikan, punahnya banyak spesies makhluk hidup yang penting bagi keberlangsungan manusia, serta spesies lain yang hampir punah.” [1]Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa apa yang Allah timpakan kepada manusia ini, tidak lain tidak bukan agar manusia mengintrospeksi diri mereka dan berbenah untuk kembali ke jalan yang benar dari apa yang mereka perbuat.Merusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaIslam sangat mengecam perbuatan merusak lingkungan. Allah ciptakan alam semesta sebagai fasilitas manusia beribadah agar manusia dapat mempersiapkan diri menuju akhirat-Nya. Maka berulang kali Allah menegaskan keharaman merusak lingkungan. Allah berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A‘rāf: 56)Syekh Muhammad Al-Qar‘awi menjelaskan ayat ini dalam kitabnya, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, bahwa,نهى في هذه الآية عن إفساد الأرض وتخريبها بأي نوع من أنواع التخريب حسيا أو معنويا بعدما أصلحها الله“Dalam ayat ini, Allah melarang perbuatan yang sifatnya merusak di muka bumi, dengan perbuatan merusak apapun -baik perusakan fisik maupun perusakan non-fisik- setelah Allah perbaiki muka bumi ini.”Kemudian beliau menjelaskan maksud dari perusakan fisik dan non-fisik adalah,لا تفسدوا الأرض فسادا حسيا بتقطيع أشجارها وتخريب ديارها، ولا تفسدوا فيها فسادا معنويا بنشر الكفر والمعاصي“Janganlah kalian merusak bumi dengan kerusakan secara fisik seperti menebangi pepohonannya dan merusak bangunannya, dan jangan pula merusaknya dengan kerusakan secara maknawi dengan menyebarkan kekufuran dan kemaksiatan.” [2]Perusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiAllah juga mensifati orang-orang munafik dengan ‘perusak di muka bumi’, Allah berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِنْ لَا يَشْعُرُون (١٢)“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah bahwa mereka itulah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah: 11-12)Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa sifat orang munafik (yang berpura-pura beriman padahal tidak beriman) adalah perusak di muka bumi. Mereka senantiasa merusak lingkungan mereka, namun mereka mengaku sebagai pembawa perdamaian dan pemberi kemaslahatan.Merusak bumi juga menjadi sebab akhir zaman bagi bangsa jin yang dibumihanguskan oleh Allah. Disebutkan di dalam Tafsir al-Qurthubi dan beberapa kitab tafsir klasik lain ketika menjelaskan surah al-Baqarah ayat 30,قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ“Mereka (para malaikat) berkata apakah engkau menjadikan di muka bumi yang merusak bumi dan menumpahkan darah”, bahwa dahulu bangsa jin sebelum diciptakannya manusia, mereka adalah penghuni yang menguasai bumi. Namun, Allah hancurkan mereka karena mereka merusak di bumi (merusak lingkungan) dan saling menumpahkan darah (saling membunuh). [3] Merusak lingkungan dan saling membunuh adalah sebab dihancurkannya bangsa jin kala itu, karena mereka membangkang dari apa yang Allah perintahkan.Islam mencegah kerusakan sekecil apapunKonsentrasi Islam dalam memperhatikan kerusakan di muka bumi bukan hanya skala makro, seperti merusak lingkungan, namun juga skala mikro seperti mengambil gangguan dari jalan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ؛ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ“Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki hewannya atau mengangkatkan barangnya ke atas hewan itu adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaihi)Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam تُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ “menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” adalah sebuah isyarat bahwa menghilangkan hal yang dapat merusak termasuk dari amal kebaikan. Jika menyingkirkan gangguan saja dinilai sebagai sedekah, maka menimbulkan gangguan tentu lebih layak lagi dihukumi sebagai perbuatan terlarang, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh memberi bahaya bagi diri dan juga untuk orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad) [4]Hadis adalah rujukan para ulama dalam memberikan hukum. Para ulama menjadikannya sebagai kaidah agung dalam syariat, yaitu salah satu kaidah kubrā (kaidah besar), الضَّرَر يُزَال “Mudarat harus dihilangkan” [5], yang darinya lahir berbagai kaidah turunan, di antaranya,درءُ المفاسدِ مُقَدَّمٌ على جلبِ المصالح“Mencegah keburukan lebih diutamakan dibanding mendapatkan sebuah maslahat.”Maksudnya, apabila dalam suatu perbuatan terkandung antara manfaat dan kerusakan, maka yang wajib diutamakan adalah mencegah kerusakannya [6]. Oleh karena itu, menjaga dan melindungi lingkungan bukan sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban syar’i untuk menolak perusakan yang lebih didahulukan daripada membenarkan keuntungan yang mendatangkan kerusakan. Sehingga setiap tindakan yang berpotensi merusak bumi, betapapun dibungkus dengan alasan manfaat, tidak dapat diterima dalam bingkai syariat.Wallahu a`lam.Baca juga: Menanam Pohon, Memanen Pahala***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Muhammad az-Zayn, Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm, 3: 312.[2] Syekh Muhammad al-Qar`awi, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, 1: 342.[3] Imam al-Qurthubi, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān, 1: 261.[4] HR. Ibnu Majah no. 2341 dan Aḥmad no. 2865.[5] as-Suyuthi, Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah, hal. 7.[6] asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, 3: 465. Referensi:al-Qar‘awi, Muhammad bin Abdul Aziz bin Sulaiman. (2003). Al-Jadīd fī Syarḥ Kitāb at-Tauḥīd (Ed. Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad, Cet. 5). Jeddah: Maktabah as-Suwadi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Diakses melalui Islamweb.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah (Hadis ke-32). Beirut: Dār al-Minhāj.as-Suyūṭī, Jalāluddīn ‘Abdurraḥmān. (1983). Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah (Cet. 1). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Hal. sesuai edisi cetak. Diakses melalui Maktabah Syamilah.asy-Syāṭibī, Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Mūsā. (1997). Al-Muwāfaqāt (Tahqīq: Abū ‘Ubaydah Mashhūr bin Ḥasan Āl Salmān; Pengantar: Bakr bin ‘Abdillāh Abū Zayd), Cet. 1. Dammam: Dār Ibn ‘Affān. Diakses melalui Maktabah Syamilah.az-Zayn, Muhammad Fāruq Fāris. (2004). Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm (Cet. 1). Damaskus: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Keharaman Merusak Lingkungan

Daftar Isi TogglePerbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahMerusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaPerusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiIslam mencegah kerusakan sekecil apapunBelakangan ini, hati kita sering terasa tersayat melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kepala tertunduk, nafas terasa berat, tubuh seakan melemas ketika bencana alam datang silih berganti tanpa memberi jeda. Banjir bandang yang menyapu pemukiman, cuaca ekstrem yang tak menentu, tanah longsor yang menimbun harta -bahkan jiwa-, kekeringan yang melanda di mana-mana, semua itu menjadi bagian dari ujian yang tengah kita hadapi. Tidak sedikit dari kita, keluarga kita, atau saudara-saudara kita yang merasakan langsung dampaknya. Tentu sebagai seorang yang beriman, kita yakini semua itu adalah kuasa Allah, sebagaimana firman-Nya,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)Perbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahAllah-lah yang mentakdirkan semua yang musibah/bencana yang terjadi di muka bumi. Namun sebagai hamba-Nya, kita juga wajib mengintrospeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga musibah itu menimpa kita? Musibah ditakdirkan oleh Allah, di saat yang bersamaan ia juga datang sebagai akibat dari perbuatan buruk manusia. Allah berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Apa saja musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” (QS. asy-Syura: 30)Setelah meyakini bahwa Allah yang menentukan musibah yang turun, kita juga meyakini penyebab turunnya musibah adalah keburukan yang kita perbuat, padahal Allah memaafkan banyak dari keburukan itu. Perbuatan buruk manusia itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan musibah tersebut. Penegasan bahwa Allah mengirimkan musibah kepada manusia tidak lain karena kerusakan yang ia buat sendiri, Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm: 41)Bencana alam yang terjadi sekarang ini juga merupakan akibat perbuatan manusia yang kerap melakukan keburukan dengan merusak alam itu sendiri. Syekh Muhammad Fāruq Fāris menyebutkan dalam kitabnya, Bayan an-Nazhm fi al-Qur’an al-Karim, ketika menjelaskan ayat ini, “Ketamakan manusia akan harta dengan cara yang haram menyebabkan kehancuran lingkungan alam di banyak negara: udara menjadi tercemar, sungai dan laut tercemar, tanah tercemar, meningkatnya polusi nuklir, berulangnya bencana lingkungan, menyusutnya luas hutan dunia secara mengerikan, punahnya banyak spesies makhluk hidup yang penting bagi keberlangsungan manusia, serta spesies lain yang hampir punah.” [1]Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa apa yang Allah timpakan kepada manusia ini, tidak lain tidak bukan agar manusia mengintrospeksi diri mereka dan berbenah untuk kembali ke jalan yang benar dari apa yang mereka perbuat.Merusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaIslam sangat mengecam perbuatan merusak lingkungan. Allah ciptakan alam semesta sebagai fasilitas manusia beribadah agar manusia dapat mempersiapkan diri menuju akhirat-Nya. Maka berulang kali Allah menegaskan keharaman merusak lingkungan. Allah berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A‘rāf: 56)Syekh Muhammad Al-Qar‘awi menjelaskan ayat ini dalam kitabnya, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, bahwa,نهى في هذه الآية عن إفساد الأرض وتخريبها بأي نوع من أنواع التخريب حسيا أو معنويا بعدما أصلحها الله“Dalam ayat ini, Allah melarang perbuatan yang sifatnya merusak di muka bumi, dengan perbuatan merusak apapun -baik perusakan fisik maupun perusakan non-fisik- setelah Allah perbaiki muka bumi ini.”Kemudian beliau menjelaskan maksud dari perusakan fisik dan non-fisik adalah,لا تفسدوا الأرض فسادا حسيا بتقطيع أشجارها وتخريب ديارها، ولا تفسدوا فيها فسادا معنويا بنشر الكفر والمعاصي“Janganlah kalian merusak bumi dengan kerusakan secara fisik seperti menebangi pepohonannya dan merusak bangunannya, dan jangan pula merusaknya dengan kerusakan secara maknawi dengan menyebarkan kekufuran dan kemaksiatan.” [2]Perusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiAllah juga mensifati orang-orang munafik dengan ‘perusak di muka bumi’, Allah berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِنْ لَا يَشْعُرُون (١٢)“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah bahwa mereka itulah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah: 11-12)Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa sifat orang munafik (yang berpura-pura beriman padahal tidak beriman) adalah perusak di muka bumi. Mereka senantiasa merusak lingkungan mereka, namun mereka mengaku sebagai pembawa perdamaian dan pemberi kemaslahatan.Merusak bumi juga menjadi sebab akhir zaman bagi bangsa jin yang dibumihanguskan oleh Allah. Disebutkan di dalam Tafsir al-Qurthubi dan beberapa kitab tafsir klasik lain ketika menjelaskan surah al-Baqarah ayat 30,قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ“Mereka (para malaikat) berkata apakah engkau menjadikan di muka bumi yang merusak bumi dan menumpahkan darah”, bahwa dahulu bangsa jin sebelum diciptakannya manusia, mereka adalah penghuni yang menguasai bumi. Namun, Allah hancurkan mereka karena mereka merusak di bumi (merusak lingkungan) dan saling menumpahkan darah (saling membunuh). [3] Merusak lingkungan dan saling membunuh adalah sebab dihancurkannya bangsa jin kala itu, karena mereka membangkang dari apa yang Allah perintahkan.Islam mencegah kerusakan sekecil apapunKonsentrasi Islam dalam memperhatikan kerusakan di muka bumi bukan hanya skala makro, seperti merusak lingkungan, namun juga skala mikro seperti mengambil gangguan dari jalan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ؛ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ“Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki hewannya atau mengangkatkan barangnya ke atas hewan itu adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaihi)Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam تُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ “menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” adalah sebuah isyarat bahwa menghilangkan hal yang dapat merusak termasuk dari amal kebaikan. Jika menyingkirkan gangguan saja dinilai sebagai sedekah, maka menimbulkan gangguan tentu lebih layak lagi dihukumi sebagai perbuatan terlarang, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh memberi bahaya bagi diri dan juga untuk orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad) [4]Hadis adalah rujukan para ulama dalam memberikan hukum. Para ulama menjadikannya sebagai kaidah agung dalam syariat, yaitu salah satu kaidah kubrā (kaidah besar), الضَّرَر يُزَال “Mudarat harus dihilangkan” [5], yang darinya lahir berbagai kaidah turunan, di antaranya,درءُ المفاسدِ مُقَدَّمٌ على جلبِ المصالح“Mencegah keburukan lebih diutamakan dibanding mendapatkan sebuah maslahat.”Maksudnya, apabila dalam suatu perbuatan terkandung antara manfaat dan kerusakan, maka yang wajib diutamakan adalah mencegah kerusakannya [6]. Oleh karena itu, menjaga dan melindungi lingkungan bukan sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban syar’i untuk menolak perusakan yang lebih didahulukan daripada membenarkan keuntungan yang mendatangkan kerusakan. Sehingga setiap tindakan yang berpotensi merusak bumi, betapapun dibungkus dengan alasan manfaat, tidak dapat diterima dalam bingkai syariat.Wallahu a`lam.Baca juga: Menanam Pohon, Memanen Pahala***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Muhammad az-Zayn, Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm, 3: 312.[2] Syekh Muhammad al-Qar`awi, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, 1: 342.[3] Imam al-Qurthubi, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān, 1: 261.[4] HR. Ibnu Majah no. 2341 dan Aḥmad no. 2865.[5] as-Suyuthi, Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah, hal. 7.[6] asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, 3: 465. Referensi:al-Qar‘awi, Muhammad bin Abdul Aziz bin Sulaiman. (2003). Al-Jadīd fī Syarḥ Kitāb at-Tauḥīd (Ed. Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad, Cet. 5). Jeddah: Maktabah as-Suwadi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Diakses melalui Islamweb.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah (Hadis ke-32). Beirut: Dār al-Minhāj.as-Suyūṭī, Jalāluddīn ‘Abdurraḥmān. (1983). Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah (Cet. 1). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Hal. sesuai edisi cetak. Diakses melalui Maktabah Syamilah.asy-Syāṭibī, Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Mūsā. (1997). Al-Muwāfaqāt (Tahqīq: Abū ‘Ubaydah Mashhūr bin Ḥasan Āl Salmān; Pengantar: Bakr bin ‘Abdillāh Abū Zayd), Cet. 1. Dammam: Dār Ibn ‘Affān. Diakses melalui Maktabah Syamilah.az-Zayn, Muhammad Fāruq Fāris. (2004). Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm (Cet. 1). Damaskus: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Daftar Isi TogglePerbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahMerusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaPerusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiIslam mencegah kerusakan sekecil apapunBelakangan ini, hati kita sering terasa tersayat melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kepala tertunduk, nafas terasa berat, tubuh seakan melemas ketika bencana alam datang silih berganti tanpa memberi jeda. Banjir bandang yang menyapu pemukiman, cuaca ekstrem yang tak menentu, tanah longsor yang menimbun harta -bahkan jiwa-, kekeringan yang melanda di mana-mana, semua itu menjadi bagian dari ujian yang tengah kita hadapi. Tidak sedikit dari kita, keluarga kita, atau saudara-saudara kita yang merasakan langsung dampaknya. Tentu sebagai seorang yang beriman, kita yakini semua itu adalah kuasa Allah, sebagaimana firman-Nya,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)Perbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahAllah-lah yang mentakdirkan semua yang musibah/bencana yang terjadi di muka bumi. Namun sebagai hamba-Nya, kita juga wajib mengintrospeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga musibah itu menimpa kita? Musibah ditakdirkan oleh Allah, di saat yang bersamaan ia juga datang sebagai akibat dari perbuatan buruk manusia. Allah berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Apa saja musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” (QS. asy-Syura: 30)Setelah meyakini bahwa Allah yang menentukan musibah yang turun, kita juga meyakini penyebab turunnya musibah adalah keburukan yang kita perbuat, padahal Allah memaafkan banyak dari keburukan itu. Perbuatan buruk manusia itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan musibah tersebut. Penegasan bahwa Allah mengirimkan musibah kepada manusia tidak lain karena kerusakan yang ia buat sendiri, Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm: 41)Bencana alam yang terjadi sekarang ini juga merupakan akibat perbuatan manusia yang kerap melakukan keburukan dengan merusak alam itu sendiri. Syekh Muhammad Fāruq Fāris menyebutkan dalam kitabnya, Bayan an-Nazhm fi al-Qur’an al-Karim, ketika menjelaskan ayat ini, “Ketamakan manusia akan harta dengan cara yang haram menyebabkan kehancuran lingkungan alam di banyak negara: udara menjadi tercemar, sungai dan laut tercemar, tanah tercemar, meningkatnya polusi nuklir, berulangnya bencana lingkungan, menyusutnya luas hutan dunia secara mengerikan, punahnya banyak spesies makhluk hidup yang penting bagi keberlangsungan manusia, serta spesies lain yang hampir punah.” [1]Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa apa yang Allah timpakan kepada manusia ini, tidak lain tidak bukan agar manusia mengintrospeksi diri mereka dan berbenah untuk kembali ke jalan yang benar dari apa yang mereka perbuat.Merusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaIslam sangat mengecam perbuatan merusak lingkungan. Allah ciptakan alam semesta sebagai fasilitas manusia beribadah agar manusia dapat mempersiapkan diri menuju akhirat-Nya. Maka berulang kali Allah menegaskan keharaman merusak lingkungan. Allah berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A‘rāf: 56)Syekh Muhammad Al-Qar‘awi menjelaskan ayat ini dalam kitabnya, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, bahwa,نهى في هذه الآية عن إفساد الأرض وتخريبها بأي نوع من أنواع التخريب حسيا أو معنويا بعدما أصلحها الله“Dalam ayat ini, Allah melarang perbuatan yang sifatnya merusak di muka bumi, dengan perbuatan merusak apapun -baik perusakan fisik maupun perusakan non-fisik- setelah Allah perbaiki muka bumi ini.”Kemudian beliau menjelaskan maksud dari perusakan fisik dan non-fisik adalah,لا تفسدوا الأرض فسادا حسيا بتقطيع أشجارها وتخريب ديارها، ولا تفسدوا فيها فسادا معنويا بنشر الكفر والمعاصي“Janganlah kalian merusak bumi dengan kerusakan secara fisik seperti menebangi pepohonannya dan merusak bangunannya, dan jangan pula merusaknya dengan kerusakan secara maknawi dengan menyebarkan kekufuran dan kemaksiatan.” [2]Perusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiAllah juga mensifati orang-orang munafik dengan ‘perusak di muka bumi’, Allah berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِنْ لَا يَشْعُرُون (١٢)“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah bahwa mereka itulah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah: 11-12)Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa sifat orang munafik (yang berpura-pura beriman padahal tidak beriman) adalah perusak di muka bumi. Mereka senantiasa merusak lingkungan mereka, namun mereka mengaku sebagai pembawa perdamaian dan pemberi kemaslahatan.Merusak bumi juga menjadi sebab akhir zaman bagi bangsa jin yang dibumihanguskan oleh Allah. Disebutkan di dalam Tafsir al-Qurthubi dan beberapa kitab tafsir klasik lain ketika menjelaskan surah al-Baqarah ayat 30,قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ“Mereka (para malaikat) berkata apakah engkau menjadikan di muka bumi yang merusak bumi dan menumpahkan darah”, bahwa dahulu bangsa jin sebelum diciptakannya manusia, mereka adalah penghuni yang menguasai bumi. Namun, Allah hancurkan mereka karena mereka merusak di bumi (merusak lingkungan) dan saling menumpahkan darah (saling membunuh). [3] Merusak lingkungan dan saling membunuh adalah sebab dihancurkannya bangsa jin kala itu, karena mereka membangkang dari apa yang Allah perintahkan.Islam mencegah kerusakan sekecil apapunKonsentrasi Islam dalam memperhatikan kerusakan di muka bumi bukan hanya skala makro, seperti merusak lingkungan, namun juga skala mikro seperti mengambil gangguan dari jalan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ؛ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ“Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki hewannya atau mengangkatkan barangnya ke atas hewan itu adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaihi)Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam تُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ “menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” adalah sebuah isyarat bahwa menghilangkan hal yang dapat merusak termasuk dari amal kebaikan. Jika menyingkirkan gangguan saja dinilai sebagai sedekah, maka menimbulkan gangguan tentu lebih layak lagi dihukumi sebagai perbuatan terlarang, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh memberi bahaya bagi diri dan juga untuk orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad) [4]Hadis adalah rujukan para ulama dalam memberikan hukum. Para ulama menjadikannya sebagai kaidah agung dalam syariat, yaitu salah satu kaidah kubrā (kaidah besar), الضَّرَر يُزَال “Mudarat harus dihilangkan” [5], yang darinya lahir berbagai kaidah turunan, di antaranya,درءُ المفاسدِ مُقَدَّمٌ على جلبِ المصالح“Mencegah keburukan lebih diutamakan dibanding mendapatkan sebuah maslahat.”Maksudnya, apabila dalam suatu perbuatan terkandung antara manfaat dan kerusakan, maka yang wajib diutamakan adalah mencegah kerusakannya [6]. Oleh karena itu, menjaga dan melindungi lingkungan bukan sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban syar’i untuk menolak perusakan yang lebih didahulukan daripada membenarkan keuntungan yang mendatangkan kerusakan. Sehingga setiap tindakan yang berpotensi merusak bumi, betapapun dibungkus dengan alasan manfaat, tidak dapat diterima dalam bingkai syariat.Wallahu a`lam.Baca juga: Menanam Pohon, Memanen Pahala***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Muhammad az-Zayn, Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm, 3: 312.[2] Syekh Muhammad al-Qar`awi, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, 1: 342.[3] Imam al-Qurthubi, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān, 1: 261.[4] HR. Ibnu Majah no. 2341 dan Aḥmad no. 2865.[5] as-Suyuthi, Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah, hal. 7.[6] asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, 3: 465. Referensi:al-Qar‘awi, Muhammad bin Abdul Aziz bin Sulaiman. (2003). Al-Jadīd fī Syarḥ Kitāb at-Tauḥīd (Ed. Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad, Cet. 5). Jeddah: Maktabah as-Suwadi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Diakses melalui Islamweb.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah (Hadis ke-32). Beirut: Dār al-Minhāj.as-Suyūṭī, Jalāluddīn ‘Abdurraḥmān. (1983). Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah (Cet. 1). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Hal. sesuai edisi cetak. Diakses melalui Maktabah Syamilah.asy-Syāṭibī, Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Mūsā. (1997). Al-Muwāfaqāt (Tahqīq: Abū ‘Ubaydah Mashhūr bin Ḥasan Āl Salmān; Pengantar: Bakr bin ‘Abdillāh Abū Zayd), Cet. 1. Dammam: Dār Ibn ‘Affān. Diakses melalui Maktabah Syamilah.az-Zayn, Muhammad Fāruq Fāris. (2004). Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm (Cet. 1). Damaskus: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.


Daftar Isi TogglePerbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahMerusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaPerusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiIslam mencegah kerusakan sekecil apapunBelakangan ini, hati kita sering terasa tersayat melihat berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kepala tertunduk, nafas terasa berat, tubuh seakan melemas ketika bencana alam datang silih berganti tanpa memberi jeda. Banjir bandang yang menyapu pemukiman, cuaca ekstrem yang tak menentu, tanah longsor yang menimbun harta -bahkan jiwa-, kekeringan yang melanda di mana-mana, semua itu menjadi bagian dari ujian yang tengah kita hadapi. Tidak sedikit dari kita, keluarga kita, atau saudara-saudara kita yang merasakan langsung dampaknya. Tentu sebagai seorang yang beriman, kita yakini semua itu adalah kuasa Allah, sebagaimana firman-Nya,مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)Perbuatan buruk manusia adalah sebab turunnya musibahAllah-lah yang mentakdirkan semua yang musibah/bencana yang terjadi di muka bumi. Namun sebagai hamba-Nya, kita juga wajib mengintrospeksi diri kita, apa yang telah kita perbuat sehingga musibah itu menimpa kita? Musibah ditakdirkan oleh Allah, di saat yang bersamaan ia juga datang sebagai akibat dari perbuatan buruk manusia. Allah berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Apa saja musibah yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” (QS. asy-Syura: 30)Setelah meyakini bahwa Allah yang menentukan musibah yang turun, kita juga meyakini penyebab turunnya musibah adalah keburukan yang kita perbuat, padahal Allah memaafkan banyak dari keburukan itu. Perbuatan buruk manusia itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan musibah tersebut. Penegasan bahwa Allah mengirimkan musibah kepada manusia tidak lain karena kerusakan yang ia buat sendiri, Allah berfirman,ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm: 41)Bencana alam yang terjadi sekarang ini juga merupakan akibat perbuatan manusia yang kerap melakukan keburukan dengan merusak alam itu sendiri. Syekh Muhammad Fāruq Fāris menyebutkan dalam kitabnya, Bayan an-Nazhm fi al-Qur’an al-Karim, ketika menjelaskan ayat ini, “Ketamakan manusia akan harta dengan cara yang haram menyebabkan kehancuran lingkungan alam di banyak negara: udara menjadi tercemar, sungai dan laut tercemar, tanah tercemar, meningkatnya polusi nuklir, berulangnya bencana lingkungan, menyusutnya luas hutan dunia secara mengerikan, punahnya banyak spesies makhluk hidup yang penting bagi keberlangsungan manusia, serta spesies lain yang hampir punah.” [1]Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa apa yang Allah timpakan kepada manusia ini, tidak lain tidak bukan agar manusia mengintrospeksi diri mereka dan berbenah untuk kembali ke jalan yang benar dari apa yang mereka perbuat.Merusak lingkungan merupakan perbuatan tercelaIslam sangat mengecam perbuatan merusak lingkungan. Allah ciptakan alam semesta sebagai fasilitas manusia beribadah agar manusia dapat mempersiapkan diri menuju akhirat-Nya. Maka berulang kali Allah menegaskan keharaman merusak lingkungan. Allah berfirman,وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A‘rāf: 56)Syekh Muhammad Al-Qar‘awi menjelaskan ayat ini dalam kitabnya, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, bahwa,نهى في هذه الآية عن إفساد الأرض وتخريبها بأي نوع من أنواع التخريب حسيا أو معنويا بعدما أصلحها الله“Dalam ayat ini, Allah melarang perbuatan yang sifatnya merusak di muka bumi, dengan perbuatan merusak apapun -baik perusakan fisik maupun perusakan non-fisik- setelah Allah perbaiki muka bumi ini.”Kemudian beliau menjelaskan maksud dari perusakan fisik dan non-fisik adalah,لا تفسدوا الأرض فسادا حسيا بتقطيع أشجارها وتخريب ديارها، ولا تفسدوا فيها فسادا معنويا بنشر الكفر والمعاصي“Janganlah kalian merusak bumi dengan kerusakan secara fisik seperti menebangi pepohonannya dan merusak bangunannya, dan jangan pula merusaknya dengan kerusakan secara maknawi dengan menyebarkan kekufuran dan kemaksiatan.” [2]Perusak merupakan sifat bagi mereka yang Allah murkaiAllah juga mensifati orang-orang munafik dengan ‘perusak di muka bumi’, Allah berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِنْ لَا يَشْعُرُون (١٢)“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah bahwa mereka itulah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah: 11-12)Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa sifat orang munafik (yang berpura-pura beriman padahal tidak beriman) adalah perusak di muka bumi. Mereka senantiasa merusak lingkungan mereka, namun mereka mengaku sebagai pembawa perdamaian dan pemberi kemaslahatan.Merusak bumi juga menjadi sebab akhir zaman bagi bangsa jin yang dibumihanguskan oleh Allah. Disebutkan di dalam Tafsir al-Qurthubi dan beberapa kitab tafsir klasik lain ketika menjelaskan surah al-Baqarah ayat 30,قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ“Mereka (para malaikat) berkata apakah engkau menjadikan di muka bumi yang merusak bumi dan menumpahkan darah”, bahwa dahulu bangsa jin sebelum diciptakannya manusia, mereka adalah penghuni yang menguasai bumi. Namun, Allah hancurkan mereka karena mereka merusak di bumi (merusak lingkungan) dan saling menumpahkan darah (saling membunuh). [3] Merusak lingkungan dan saling membunuh adalah sebab dihancurkannya bangsa jin kala itu, karena mereka membangkang dari apa yang Allah perintahkan.Islam mencegah kerusakan sekecil apapunKonsentrasi Islam dalam memperhatikan kerusakan di muka bumi bukan hanya skala makro, seperti merusak lingkungan, namun juga skala mikro seperti mengambil gangguan dari jalan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ؛ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ“Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki hewannya atau mengangkatkan barangnya ke atas hewan itu adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaihi)Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam تُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ “menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah” adalah sebuah isyarat bahwa menghilangkan hal yang dapat merusak termasuk dari amal kebaikan. Jika menyingkirkan gangguan saja dinilai sebagai sedekah, maka menimbulkan gangguan tentu lebih layak lagi dihukumi sebagai perbuatan terlarang, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh memberi bahaya bagi diri dan juga untuk orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad) [4]Hadis adalah rujukan para ulama dalam memberikan hukum. Para ulama menjadikannya sebagai kaidah agung dalam syariat, yaitu salah satu kaidah kubrā (kaidah besar), الضَّرَر يُزَال “Mudarat harus dihilangkan” [5], yang darinya lahir berbagai kaidah turunan, di antaranya,درءُ المفاسدِ مُقَدَّمٌ على جلبِ المصالح“Mencegah keburukan lebih diutamakan dibanding mendapatkan sebuah maslahat.”Maksudnya, apabila dalam suatu perbuatan terkandung antara manfaat dan kerusakan, maka yang wajib diutamakan adalah mencegah kerusakannya [6]. Oleh karena itu, menjaga dan melindungi lingkungan bukan sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban syar’i untuk menolak perusakan yang lebih didahulukan daripada membenarkan keuntungan yang mendatangkan kerusakan. Sehingga setiap tindakan yang berpotensi merusak bumi, betapapun dibungkus dengan alasan manfaat, tidak dapat diterima dalam bingkai syariat.Wallahu a`lam.Baca juga: Menanam Pohon, Memanen Pahala***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Muhammad az-Zayn, Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm, 3: 312.[2] Syekh Muhammad al-Qar`awi, Al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, 1: 342.[3] Imam al-Qurthubi, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān, 1: 261.[4] HR. Ibnu Majah no. 2341 dan Aḥmad no. 2865.[5] as-Suyuthi, Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah, hal. 7.[6] asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, 3: 465. Referensi:al-Qar‘awi, Muhammad bin Abdul Aziz bin Sulaiman. (2003). Al-Jadīd fī Syarḥ Kitāb at-Tauḥīd (Ed. Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad, Cet. 5). Jeddah: Maktabah as-Suwadi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Diakses melalui Islamweb.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah (Hadis ke-32). Beirut: Dār al-Minhāj.as-Suyūṭī, Jalāluddīn ‘Abdurraḥmān. (1983). Al-Asybāh wa an-Naẓā’ir fī Qawā‘id wa Furū‘ Fiqh asy-Syāfi‘iyyah (Cet. 1). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Hal. sesuai edisi cetak. Diakses melalui Maktabah Syamilah.asy-Syāṭibī, Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Mūsā. (1997). Al-Muwāfaqāt (Tahqīq: Abū ‘Ubaydah Mashhūr bin Ḥasan Āl Salmān; Pengantar: Bakr bin ‘Abdillāh Abū Zayd), Cet. 1. Dammam: Dār Ibn ‘Affān. Diakses melalui Maktabah Syamilah.az-Zayn, Muhammad Fāruq Fāris. (2004). Bayān an-Naẓm fī al-Qur’ān al-Karīm (Cet. 1). Damaskus: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Rahasia di Balik Larangan: Jangan Terlalu Sering Minta Doa Orang Lain – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

Para ulama rahimahumullah tidak menganjurkan seseorang terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Mereka menganggap hal itu termasuk bentuk meminta-minta. Dulu para Sahabat berjanji setia kepada Nabi untuk tidak meminta apa pun kepada orang lain. Oleh sebab itu, Syaikhul Islam berpandangan bahwa ketika seseorang meminta doa dari saudaranya, hendaklah ia menghadirkan niat untuk memberi manfaat kepada saudaranya itu. Bagaimana maksudnya? Karena malaikat akan berdoa untuk orang yang mendoakan saudaranya: “Dan semoga kamu memperoleh seperti yang kamu doakan itu.” Ketika kamu meminta doa dari orang lain, tidak diragukan bahwa kamu ingin agar ia mendoakanmu. Namun, kamu juga harus berharap agar ia memperoleh manfaat dari doa tersebut melalui doa malaikat untuknya. Pada dasarnya, meminta doa dari orang lain hukumnya boleh. Namun, jangan berlebihan, wahai saudara-saudara sekalian. Ketika seseorang berdoa kepada Tuhannya dengan penuh ketundukan dan suara lirih, berdoa dari lubuk hatinya ketika ia berada dalam keadaan yang sangat mendesak, maka tidak diragukan ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa daripada siapa pun yang sekadar ia minta agar mendoakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan penuh kerendahan dan lirih. Dan ketika seseorang tunduk serta ikhlas dalam doanya, maka Allah Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Allah mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya. Bahkan Allah juga mengabulkan doa orang kafir apabila ia ikhlas dalam berdoa. Apa dalilnya? “Maka apabila mereka berada di atas kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” “…maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke darat, mereka kembali menyekutukan-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 65) Adapun dalil dibolehkannya meminta doa dari orang lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Uwais Al-Qarni, orang terbaik dari generasi Tabi’in. Uwais dahulu memiliki penyakit bercak putih pada kulitnya, dan ia sangat berbakti kepada ibunya. “Apabila Uwais datang, maka mintalah agar ia mendoakan kalian.” Atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu Umar senantiasa menanyakan kafilah dari Yaman tentang Uwais ini. Hingga pada suatu hari ketika Uwais datang, Umar pun meminta agar ia mendoakannya. Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umar, ketika ia hendak pergi ke Mekkah untuk menunaikan umrah “Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku!” Namun, hadis ini diperselisihkan status keshahihannya. Pada intinya, hukum asalnya adalah dibolehkan. Namun, seseorang tidak sepatutnya terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Akan tetapi, hendaklah ia berdoa langsung kepada Tuhannya, dan tidak menjadikan perantara antara dirinya dengan Tuhannya dalam keadaan apa pun. ===== لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ لَا يُحَبِّذُونَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْآخَرِيْنَ وَيَعْتَبِرُونَهُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ وَالصَّحَابَةُ بَايَعُوا النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا أَحَدًا شَيْئًا وَلِهَذَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ يَرَى أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَمَا يَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَخِيهِ يَسْتَحْضِرُ أَنَّهُ يُرِيدُ نَفْعَ أَخِيهِ مَا وَجْهُ ذَلِكَ؟ بِقَوْلِ الْمَلَكِ لَهُ وَلَكَ بِمِثْلِهَا عِنْدَمَا تَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَحَدٍ أَنْتَ تُرِيدُهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ لَا شَكَّ وَتُرِيْدُ مِنْهُ أَيْضًا أَنْ يَنْتَفِعَ هُوَ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ بِدَعْوَةِ الْمَلَكِ لَهُ وَإِلَّا فَالْأَصْلُ أَنَّ طَلَبَ الدُّعَاءِ جَائِزٌ لَكِنْ لَا يُتَوَسَّعُ فِيهِ يَا إِخْوَانُ وَالْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَدْعُو رَبَّهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَيَدْعُو مِنْ قَلْبِهِ وَقَدْ مَسَّتْهُ الْحَاجَةُ فِيمَا دَعَاهُ إِلَيْهِ لَا شَكَّ سَيَكُونُ أَكْثَرَ إِلْحَاحًا مِنْ أَيِّ شَخْصٍ يَطْلُبُ مِنْهُ أَنْ يَدْعُو لَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَرَ عِبَادَهُ أَنْ يَدْعُوَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَإِذَا تَضَرَّعَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ وَأَخْلَصَ فِي دُعَائِهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَرِيبٌ مُجِيبٌ يُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَاهُ بَلْ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْكَافِرِ إِذَا أَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ الدَّلِيلُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ وَالْأَصْلُ فِي جَوَازِ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْغَيْرِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُوَيْسِ الْقَرنِيِّ خَيْرِ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ وَلَهُ أُمٌّ كَانَ بَارًّا بِهَا فَإِذَا جَاءَ فَمُرُوهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكُمْ أَوْ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْأَلُ أَمْدَادَ الْيَمَنِ إِذَا جَاؤُوْا عَنْهُ حَتَّى وَفَدَ يَوْمًا مِنَ الْأَيَّامِ فَطَلَبَ مِنْهُ عُمَرُ أَنْ يَدْعُوَ لَهُ وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ وَقَدْ ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ لِلْعُمْرَةِ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ لَكِنَّ الْحَدِيثَ فِيهِ مَقَالٌ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْأَصْلُ الْجَوَازُ لَكِنْ مَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْهُ بَلْ يَدْعُو رَبَّهُ وَلَا يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ يَا إِخْوَانِي وَاسِطَةً بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

Rahasia di Balik Larangan: Jangan Terlalu Sering Minta Doa Orang Lain – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

Para ulama rahimahumullah tidak menganjurkan seseorang terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Mereka menganggap hal itu termasuk bentuk meminta-minta. Dulu para Sahabat berjanji setia kepada Nabi untuk tidak meminta apa pun kepada orang lain. Oleh sebab itu, Syaikhul Islam berpandangan bahwa ketika seseorang meminta doa dari saudaranya, hendaklah ia menghadirkan niat untuk memberi manfaat kepada saudaranya itu. Bagaimana maksudnya? Karena malaikat akan berdoa untuk orang yang mendoakan saudaranya: “Dan semoga kamu memperoleh seperti yang kamu doakan itu.” Ketika kamu meminta doa dari orang lain, tidak diragukan bahwa kamu ingin agar ia mendoakanmu. Namun, kamu juga harus berharap agar ia memperoleh manfaat dari doa tersebut melalui doa malaikat untuknya. Pada dasarnya, meminta doa dari orang lain hukumnya boleh. Namun, jangan berlebihan, wahai saudara-saudara sekalian. Ketika seseorang berdoa kepada Tuhannya dengan penuh ketundukan dan suara lirih, berdoa dari lubuk hatinya ketika ia berada dalam keadaan yang sangat mendesak, maka tidak diragukan ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa daripada siapa pun yang sekadar ia minta agar mendoakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan penuh kerendahan dan lirih. Dan ketika seseorang tunduk serta ikhlas dalam doanya, maka Allah Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Allah mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya. Bahkan Allah juga mengabulkan doa orang kafir apabila ia ikhlas dalam berdoa. Apa dalilnya? “Maka apabila mereka berada di atas kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” “…maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke darat, mereka kembali menyekutukan-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 65) Adapun dalil dibolehkannya meminta doa dari orang lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Uwais Al-Qarni, orang terbaik dari generasi Tabi’in. Uwais dahulu memiliki penyakit bercak putih pada kulitnya, dan ia sangat berbakti kepada ibunya. “Apabila Uwais datang, maka mintalah agar ia mendoakan kalian.” Atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu Umar senantiasa menanyakan kafilah dari Yaman tentang Uwais ini. Hingga pada suatu hari ketika Uwais datang, Umar pun meminta agar ia mendoakannya. Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umar, ketika ia hendak pergi ke Mekkah untuk menunaikan umrah “Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku!” Namun, hadis ini diperselisihkan status keshahihannya. Pada intinya, hukum asalnya adalah dibolehkan. Namun, seseorang tidak sepatutnya terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Akan tetapi, hendaklah ia berdoa langsung kepada Tuhannya, dan tidak menjadikan perantara antara dirinya dengan Tuhannya dalam keadaan apa pun. ===== لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ لَا يُحَبِّذُونَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْآخَرِيْنَ وَيَعْتَبِرُونَهُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ وَالصَّحَابَةُ بَايَعُوا النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا أَحَدًا شَيْئًا وَلِهَذَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ يَرَى أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَمَا يَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَخِيهِ يَسْتَحْضِرُ أَنَّهُ يُرِيدُ نَفْعَ أَخِيهِ مَا وَجْهُ ذَلِكَ؟ بِقَوْلِ الْمَلَكِ لَهُ وَلَكَ بِمِثْلِهَا عِنْدَمَا تَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَحَدٍ أَنْتَ تُرِيدُهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ لَا شَكَّ وَتُرِيْدُ مِنْهُ أَيْضًا أَنْ يَنْتَفِعَ هُوَ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ بِدَعْوَةِ الْمَلَكِ لَهُ وَإِلَّا فَالْأَصْلُ أَنَّ طَلَبَ الدُّعَاءِ جَائِزٌ لَكِنْ لَا يُتَوَسَّعُ فِيهِ يَا إِخْوَانُ وَالْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَدْعُو رَبَّهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَيَدْعُو مِنْ قَلْبِهِ وَقَدْ مَسَّتْهُ الْحَاجَةُ فِيمَا دَعَاهُ إِلَيْهِ لَا شَكَّ سَيَكُونُ أَكْثَرَ إِلْحَاحًا مِنْ أَيِّ شَخْصٍ يَطْلُبُ مِنْهُ أَنْ يَدْعُو لَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَرَ عِبَادَهُ أَنْ يَدْعُوَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَإِذَا تَضَرَّعَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ وَأَخْلَصَ فِي دُعَائِهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَرِيبٌ مُجِيبٌ يُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَاهُ بَلْ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْكَافِرِ إِذَا أَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ الدَّلِيلُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ وَالْأَصْلُ فِي جَوَازِ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْغَيْرِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُوَيْسِ الْقَرنِيِّ خَيْرِ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ وَلَهُ أُمٌّ كَانَ بَارًّا بِهَا فَإِذَا جَاءَ فَمُرُوهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكُمْ أَوْ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْأَلُ أَمْدَادَ الْيَمَنِ إِذَا جَاؤُوْا عَنْهُ حَتَّى وَفَدَ يَوْمًا مِنَ الْأَيَّامِ فَطَلَبَ مِنْهُ عُمَرُ أَنْ يَدْعُوَ لَهُ وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ وَقَدْ ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ لِلْعُمْرَةِ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ لَكِنَّ الْحَدِيثَ فِيهِ مَقَالٌ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْأَصْلُ الْجَوَازُ لَكِنْ مَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْهُ بَلْ يَدْعُو رَبَّهُ وَلَا يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ يَا إِخْوَانِي وَاسِطَةً بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ
Para ulama rahimahumullah tidak menganjurkan seseorang terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Mereka menganggap hal itu termasuk bentuk meminta-minta. Dulu para Sahabat berjanji setia kepada Nabi untuk tidak meminta apa pun kepada orang lain. Oleh sebab itu, Syaikhul Islam berpandangan bahwa ketika seseorang meminta doa dari saudaranya, hendaklah ia menghadirkan niat untuk memberi manfaat kepada saudaranya itu. Bagaimana maksudnya? Karena malaikat akan berdoa untuk orang yang mendoakan saudaranya: “Dan semoga kamu memperoleh seperti yang kamu doakan itu.” Ketika kamu meminta doa dari orang lain, tidak diragukan bahwa kamu ingin agar ia mendoakanmu. Namun, kamu juga harus berharap agar ia memperoleh manfaat dari doa tersebut melalui doa malaikat untuknya. Pada dasarnya, meminta doa dari orang lain hukumnya boleh. Namun, jangan berlebihan, wahai saudara-saudara sekalian. Ketika seseorang berdoa kepada Tuhannya dengan penuh ketundukan dan suara lirih, berdoa dari lubuk hatinya ketika ia berada dalam keadaan yang sangat mendesak, maka tidak diragukan ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa daripada siapa pun yang sekadar ia minta agar mendoakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan penuh kerendahan dan lirih. Dan ketika seseorang tunduk serta ikhlas dalam doanya, maka Allah Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Allah mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya. Bahkan Allah juga mengabulkan doa orang kafir apabila ia ikhlas dalam berdoa. Apa dalilnya? “Maka apabila mereka berada di atas kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” “…maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke darat, mereka kembali menyekutukan-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 65) Adapun dalil dibolehkannya meminta doa dari orang lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Uwais Al-Qarni, orang terbaik dari generasi Tabi’in. Uwais dahulu memiliki penyakit bercak putih pada kulitnya, dan ia sangat berbakti kepada ibunya. “Apabila Uwais datang, maka mintalah agar ia mendoakan kalian.” Atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu Umar senantiasa menanyakan kafilah dari Yaman tentang Uwais ini. Hingga pada suatu hari ketika Uwais datang, Umar pun meminta agar ia mendoakannya. Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umar, ketika ia hendak pergi ke Mekkah untuk menunaikan umrah “Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku!” Namun, hadis ini diperselisihkan status keshahihannya. Pada intinya, hukum asalnya adalah dibolehkan. Namun, seseorang tidak sepatutnya terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Akan tetapi, hendaklah ia berdoa langsung kepada Tuhannya, dan tidak menjadikan perantara antara dirinya dengan Tuhannya dalam keadaan apa pun. ===== لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ لَا يُحَبِّذُونَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْآخَرِيْنَ وَيَعْتَبِرُونَهُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ وَالصَّحَابَةُ بَايَعُوا النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا أَحَدًا شَيْئًا وَلِهَذَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ يَرَى أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَمَا يَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَخِيهِ يَسْتَحْضِرُ أَنَّهُ يُرِيدُ نَفْعَ أَخِيهِ مَا وَجْهُ ذَلِكَ؟ بِقَوْلِ الْمَلَكِ لَهُ وَلَكَ بِمِثْلِهَا عِنْدَمَا تَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَحَدٍ أَنْتَ تُرِيدُهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ لَا شَكَّ وَتُرِيْدُ مِنْهُ أَيْضًا أَنْ يَنْتَفِعَ هُوَ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ بِدَعْوَةِ الْمَلَكِ لَهُ وَإِلَّا فَالْأَصْلُ أَنَّ طَلَبَ الدُّعَاءِ جَائِزٌ لَكِنْ لَا يُتَوَسَّعُ فِيهِ يَا إِخْوَانُ وَالْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَدْعُو رَبَّهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَيَدْعُو مِنْ قَلْبِهِ وَقَدْ مَسَّتْهُ الْحَاجَةُ فِيمَا دَعَاهُ إِلَيْهِ لَا شَكَّ سَيَكُونُ أَكْثَرَ إِلْحَاحًا مِنْ أَيِّ شَخْصٍ يَطْلُبُ مِنْهُ أَنْ يَدْعُو لَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَرَ عِبَادَهُ أَنْ يَدْعُوَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَإِذَا تَضَرَّعَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ وَأَخْلَصَ فِي دُعَائِهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَرِيبٌ مُجِيبٌ يُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَاهُ بَلْ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْكَافِرِ إِذَا أَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ الدَّلِيلُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ وَالْأَصْلُ فِي جَوَازِ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْغَيْرِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُوَيْسِ الْقَرنِيِّ خَيْرِ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ وَلَهُ أُمٌّ كَانَ بَارًّا بِهَا فَإِذَا جَاءَ فَمُرُوهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكُمْ أَوْ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْأَلُ أَمْدَادَ الْيَمَنِ إِذَا جَاؤُوْا عَنْهُ حَتَّى وَفَدَ يَوْمًا مِنَ الْأَيَّامِ فَطَلَبَ مِنْهُ عُمَرُ أَنْ يَدْعُوَ لَهُ وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ وَقَدْ ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ لِلْعُمْرَةِ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ لَكِنَّ الْحَدِيثَ فِيهِ مَقَالٌ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْأَصْلُ الْجَوَازُ لَكِنْ مَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْهُ بَلْ يَدْعُو رَبَّهُ وَلَا يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ يَا إِخْوَانِي وَاسِطَةً بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ


Para ulama rahimahumullah tidak menganjurkan seseorang terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Mereka menganggap hal itu termasuk bentuk meminta-minta. Dulu para Sahabat berjanji setia kepada Nabi untuk tidak meminta apa pun kepada orang lain. Oleh sebab itu, Syaikhul Islam berpandangan bahwa ketika seseorang meminta doa dari saudaranya, hendaklah ia menghadirkan niat untuk memberi manfaat kepada saudaranya itu. Bagaimana maksudnya? Karena malaikat akan berdoa untuk orang yang mendoakan saudaranya: “Dan semoga kamu memperoleh seperti yang kamu doakan itu.” Ketika kamu meminta doa dari orang lain, tidak diragukan bahwa kamu ingin agar ia mendoakanmu. Namun, kamu juga harus berharap agar ia memperoleh manfaat dari doa tersebut melalui doa malaikat untuknya. Pada dasarnya, meminta doa dari orang lain hukumnya boleh. Namun, jangan berlebihan, wahai saudara-saudara sekalian. Ketika seseorang berdoa kepada Tuhannya dengan penuh ketundukan dan suara lirih, berdoa dari lubuk hatinya ketika ia berada dalam keadaan yang sangat mendesak, maka tidak diragukan ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa daripada siapa pun yang sekadar ia minta agar mendoakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dengan penuh kerendahan dan lirih. Dan ketika seseorang tunduk serta ikhlas dalam doanya, maka Allah Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Allah mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya. Bahkan Allah juga mengabulkan doa orang kafir apabila ia ikhlas dalam berdoa. Apa dalilnya? “Maka apabila mereka berada di atas kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” “…maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke darat, mereka kembali menyekutukan-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 65) Adapun dalil dibolehkannya meminta doa dari orang lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Uwais Al-Qarni, orang terbaik dari generasi Tabi’in. Uwais dahulu memiliki penyakit bercak putih pada kulitnya, dan ia sangat berbakti kepada ibunya. “Apabila Uwais datang, maka mintalah agar ia mendoakan kalian.” Atau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu Umar senantiasa menanyakan kafilah dari Yaman tentang Uwais ini. Hingga pada suatu hari ketika Uwais datang, Umar pun meminta agar ia mendoakannya. Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umar, ketika ia hendak pergi ke Mekkah untuk menunaikan umrah “Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku!” Namun, hadis ini diperselisihkan status keshahihannya. Pada intinya, hukum asalnya adalah dibolehkan. Namun, seseorang tidak sepatutnya terlalu sering meminta doa kepada orang lain. Akan tetapi, hendaklah ia berdoa langsung kepada Tuhannya, dan tidak menjadikan perantara antara dirinya dengan Tuhannya dalam keadaan apa pun. ===== لَكِنَّ الْعُلَمَاءَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ لَا يُحَبِّذُونَ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْآخَرِيْنَ وَيَعْتَبِرُونَهُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ وَالصَّحَابَةُ بَايَعُوا النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا أَحَدًا شَيْئًا وَلِهَذَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ يَرَى أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَمَا يَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَخِيهِ يَسْتَحْضِرُ أَنَّهُ يُرِيدُ نَفْعَ أَخِيهِ مَا وَجْهُ ذَلِكَ؟ بِقَوْلِ الْمَلَكِ لَهُ وَلَكَ بِمِثْلِهَا عِنْدَمَا تَطْلُبُ الدُّعَاءَ مِنْ أَحَدٍ أَنْتَ تُرِيدُهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ لَا شَكَّ وَتُرِيْدُ مِنْهُ أَيْضًا أَنْ يَنْتَفِعَ هُوَ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ بِدَعْوَةِ الْمَلَكِ لَهُ وَإِلَّا فَالْأَصْلُ أَنَّ طَلَبَ الدُّعَاءِ جَائِزٌ لَكِنْ لَا يُتَوَسَّعُ فِيهِ يَا إِخْوَانُ وَالْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَدْعُو رَبَّهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَيَدْعُو مِنْ قَلْبِهِ وَقَدْ مَسَّتْهُ الْحَاجَةُ فِيمَا دَعَاهُ إِلَيْهِ لَا شَكَّ سَيَكُونُ أَكْثَرَ إِلْحَاحًا مِنْ أَيِّ شَخْصٍ يَطْلُبُ مِنْهُ أَنْ يَدْعُو لَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَرَ عِبَادَهُ أَنْ يَدْعُوَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَإِذَا تَضَرَّعَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ وَأَخْلَصَ فِي دُعَائِهِ فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَرِيبٌ مُجِيبٌ يُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَاهُ بَلْ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْكَافِرِ إِذَا أَخْلَصَ فِي دَعْوَتِهِ الدَّلِيلُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ وَالْأَصْلُ فِي جَوَازِ طَلَبِ الدُّعَاءِ مِنَ الْغَيْرِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُوَيْسِ الْقَرنِيِّ خَيْرِ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ وَلَهُ أُمٌّ كَانَ بَارًّا بِهَا فَإِذَا جَاءَ فَمُرُوهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكُمْ أَوْ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْأَلُ أَمْدَادَ الْيَمَنِ إِذَا جَاؤُوْا عَنْهُ حَتَّى وَفَدَ يَوْمًا مِنَ الْأَيَّامِ فَطَلَبَ مِنْهُ عُمَرُ أَنْ يَدْعُوَ لَهُ وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ وَقَدْ ذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ لِلْعُمْرَةِ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ لَكِنَّ الْحَدِيثَ فِيهِ مَقَالٌ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ فَالْأَصْلُ الْجَوَازُ لَكِنْ مَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْهُ بَلْ يَدْعُو رَبَّهُ وَلَا يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ يَا إِخْوَانِي وَاسِطَةً بِحَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

Mensyukuri Nikmat Pekerjaan

Daftar Isi TogglePekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiBekerja sebagai bentuk ibadahPara Nabi pun bekerjaBahaya melupakan nikmat pekerjaanMensyukuri pekerjaan di era modernPekerjaan adalah anugrah yang besarSetiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBanyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiSyukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.Bekerja sebagai bentuk ibadahIslam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis lain, beliau bersabda,إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.Para Nabi pun bekerjaSalah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.Nabi Adam عليه السلام  bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.Nabi Nuh عليه السلام  bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR.  Bukhari)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.Bahaya melupakan nikmat pekerjaanSayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!Mensyukuri pekerjaan di era modernDi era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)Pekerjaan adalah anugrah yang besarSaudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari. Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.Baca juga: Bagaimanakah agar Bekerja Berbuah Pahala?***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id

Mensyukuri Nikmat Pekerjaan

Daftar Isi TogglePekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiBekerja sebagai bentuk ibadahPara Nabi pun bekerjaBahaya melupakan nikmat pekerjaanMensyukuri pekerjaan di era modernPekerjaan adalah anugrah yang besarSetiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBanyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiSyukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.Bekerja sebagai bentuk ibadahIslam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis lain, beliau bersabda,إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.Para Nabi pun bekerjaSalah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.Nabi Adam عليه السلام  bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.Nabi Nuh عليه السلام  bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR.  Bukhari)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.Bahaya melupakan nikmat pekerjaanSayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!Mensyukuri pekerjaan di era modernDi era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)Pekerjaan adalah anugrah yang besarSaudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari. Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.Baca juga: Bagaimanakah agar Bekerja Berbuah Pahala?***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id
Daftar Isi TogglePekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiBekerja sebagai bentuk ibadahPara Nabi pun bekerjaBahaya melupakan nikmat pekerjaanMensyukuri pekerjaan di era modernPekerjaan adalah anugrah yang besarSetiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBanyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiSyukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.Bekerja sebagai bentuk ibadahIslam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis lain, beliau bersabda,إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.Para Nabi pun bekerjaSalah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.Nabi Adam عليه السلام  bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.Nabi Nuh عليه السلام  bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR.  Bukhari)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.Bahaya melupakan nikmat pekerjaanSayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!Mensyukuri pekerjaan di era modernDi era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)Pekerjaan adalah anugrah yang besarSaudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari. Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.Baca juga: Bagaimanakah agar Bekerja Berbuah Pahala?***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id


Daftar Isi TogglePekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiBekerja sebagai bentuk ibadahPara Nabi pun bekerjaBahaya melupakan nikmat pekerjaanMensyukuri pekerjaan di era modernPekerjaan adalah anugrah yang besarSetiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa JallaBanyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezekiSyukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.Bekerja sebagai bentuk ibadahIslam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis lain, beliau bersabda,إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.Para Nabi pun bekerjaSalah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.Nabi Adam عليه السلام  bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.Nabi Nuh عليه السلام  bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR.  Bukhari)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.Bahaya melupakan nikmat pekerjaanSayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!Mensyukuri pekerjaan di era modernDi era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)Pekerjaan adalah anugrah yang besarSaudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari. Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.Baca juga: Bagaimanakah agar Bekerja Berbuah Pahala?***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleBerbuat ihsan kepada yang menzaliminyaKetika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifSeseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaDalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalKeadaan dizalimi adalah potongan kehidupan yang teramat pahit dirasakan oleh setiap orang. Kondisi terzalimi bahkan dapat membuat orang futur dan menjauh dari manisnya iman. Padahal, orang yang terzalimi dapat meraup banyak keuntungan yang dapat melupakan kerugiannya di dunia. Namun, karena ketidaktahuan serta lemahnya jiwa, maka tak sedikit yang jatuh ke dalam jurang kekecewaan. Akhirnya dari korban kezaliman, justru berbalik menjadi pelaku kezaliman.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengilmui hal-hal yang bisa menjadi pengobat hati yang tersakiti karena dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki 11 perenungan yang dapat menjadi pengobat bagi orang yang dizalimi. Dalam artikel ini, akan dibahas lanjutan poin kelima yang dapat direnungkan.Berbuat ihsan kepada yang menzaliminyaLevel yang lebih tinggi dari rida ketika ditakdirkan dizalimi adalah membalas orang zalim dengan perbuatan ihsan. Ini levelnya Nabi Muhammad ﷺ ketika dizalimi. Nabi kita alayhi shalatu wa salam adalah teladan sikap rahmat yang luar biasa. Beliau ﷺ memiliki kecintaan dan kebijaksanaan yang luar biasa besar bahkan kepada para musuhnya.Ketika di Thaif, saat berusaha mendakwahkan kebenaran, Nabi ﷺ justru diusir dan dilempari batu. Padahal, Thaif adalah kampung ibunya, sehingga masih ada tutur keluarga yang terhubung kepada baginda Nabi. Keadaan ini membuat hati Nabi ﷺ sedih sekali, bahkan lebih pahit dibandingkan tragedi Uhud. Sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk membalaskan tindak zalim mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak sekadar menahan diri untuk membalaskan dendam, tetapi juga mendoakan kebaikan yang luar biasa buat mereka.بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)Jika kita menelaah, Nabi ﷺ dapat membalaskan dendam dengan sangat sempurna. Beliau memiliki alasan yang sangat jelas, logis, dan valid secara perasaan bahwa hal itu begitu menyakitkan. Tidak hanya itu, bahkan Nabi ﷺ tidak perlu berusaha keras untuk membalaskan dendamnya, cukup malaikat penjaga gunung membalikkan tanah atau gunung untuk penduduk negeri Thaif. Namun, Nabi ﷺ tidak memilih jalan itu. Justru beliau mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.Episode keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan kepada para penzalimnya tidak hanya sampai kisah Thaif. Ada banyak kisah, di antaranya adalah sikap Nabi ﷺ kepada Abu Sufyan ketika pembukaan kota Makkah, termasuk kepada Hindun yang telah memakan hati syuhada Uhud, yakni Hamzah Asadullah. Dan masih banyak lagi keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan tersebut, khususnya pada episode Fathu Makkah dimana Nabi ﷺ memaafkan seluruh penduduk Makkah khususnya yang pernah menzaliminya di kala mendakwahkan tauhid di sana.Bila Nabi ﷺ mengedepankan dendamnya, tentu Makkah akan banjir darah. Nabi ﷺ memiliki pasukan lengkap, sementara penduduk Makkah -khususnya para musuh dakwah- sudah tidak punya kuasa apa-apa. Namun, rahmat Nabi ﷺ kepada para musuhnya memustahilkan pertumpahan darah yang lebih banyak. Bahkan justru menjadi pintu hidayah bagi banyak sekali kaum muslimin.Hal yang hendak ingin penulis sampaikan adalah bahwasanya berbuat ihsan kepada orang yang menzalimi itu sangat memungkinkan. Ada banyak contohnya dan di antaranya dari Nabi ﷺ. Dan amalan ini adalah amalan berpahala besar dan berlevel tinggi. Jelas amalan sayyidul mursalin memiliki bobot yang luar biasa.Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan analogi yang membuat amalan membalas dengan ihsan kepada orang yang menzalimi kita menjadi logis. Orang yang berbuat zalim kepada kita ibaratkan orang miskin yang memberikan seluruh harta yang dimilikinya kepada kita. Orang zalim adalah orang yang merugi, ia tidak hanya mendapatkan dosa, tetapi ia memberikan pahalanya kepada orang yang dizaliminya. Maka, tentu sangat layak bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih dan timbal balik kepada orang yang memberikan pahalanya. Apalagi pahala adalah harta yang sangat berharga di hari di mana uang tidak lagi berlaku. Oleh karena itu, berbuat ihsan kepada mereka orang yang merugi dan mendonasikan kebaikannya kepada kita adalah hal yang sangat wajar.Terlebih lagi jika kita mengingat kaidah,الْجَزَاء مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.”Maka, kita akan sadari bahwa kezaliman akan dibalas kezaliman oleh Allah ﷻ langsung. Sedangkan kebaikan pun akan dibalas kebaikan pula oleh Allah ﷻ langsung. Inilah pilihan bagi yang dizalimi; maukah anda menjadi orang yang akan dibalas pula dengan berbuat zalim lagi, atau justru ingin mendapatkan balasan kebaikan dari Allah ﷻ Al-Muhsin?Ketika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifRenungan selanjutnya adalah alasan lain agar kita tidak perlu mendendam kepada orang yang menzalimi kita. Ketika sibuk memikirkan sakitnya hati dizalimi, maka itu akan mendorong pikiran untuk merencanakan balas dendam. Langkah itu akan memakan waktu produktif serta melemahkan jiwa yang berdampak kepada badan yang tidak berdaya. Ini adalah kerugian yang teramat besar. Sudahlah hati terluka dan hak kita terlalaikan, lebih lagi jika waktu dan potensi badan yang dikorbankan. Sungguh betapa besar kerugian dari hal ini.Para ulama salaf dulu mengingatkan [1],وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يا اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai Bani Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.”Nabi ﷺ pun pernah mengingatkan bahwa waktu dan kesempatan dengan fisik yang sehat adalah sebuah nikmat yang sering kita lupakan. Nabi ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 5933)Ketika badan sehat dan waktu luang justru dipakai untuk memikirkan rasa sakit hati dan dendam yang mengakar, maka ini adalah kerugian besar. Bagian diri kita akan hilang dan tak bisa kembali, sementara ini adalah kenikmatan yang teramat besar dan terbatas jumlahnya.Kesedihan yang berlarut akan membuat seseorang tidak bersemangat beramal dan membuka celah-celah keburukan. Inilah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kesedihan mukmin adalah hal yang dicintai setan karena daya rusaknya yang amat besar. Beliau berkata,الحُـزن يُضعف القَلب , ويُوهن العزم، ويَـضـر الإرادة ولا شَـيء أحَـب إلَـى الشيطَـان من حُـزن المُـؤمن“Kesedihan itu melemahkan hati, melemahkan tekad, dan merusak kehendak. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh setan daripada kesedihan seorang mukmin.” (Thariqatul Hijratain, hal. 279) [2]Dalam keterangan di Madarij, Ibnul Qayyim mengumpulkan keuntungan dari tidak memikirkan dendam sebagai berikut,وَيَرَى أَنَّ سَلَامَتَهُ وَبَرْدَهُ وَخُلُوَّهُ مِنْهُ أَنْفَعُ لَهُ وَأَلَذُّ وَأَطْيَبُ وَأَعْوَنُ عَلَى مَصَالِحِهِ“Dan seseorang yang memandang bahwa keselamatan, ketenangan, serta terbebas dari memikirkan dendam itu lebih bermanfaat baginya, lebih lezat, lebih baik, dan lebih membantu dalam mewujudkan maslahat-maslahatnya.” (Madarijus Salikin, 2: 304)Seseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaWahai orang yang berakal! Renungilah bahwa jika hati penuh dendam kepada penzalim, maka anda akan membalas tabuhan genderang perang. Sedangkan peperangan hanya akan menambah dan menguatkan posisi musuh, setidaknya dalam pikiran. Seorang yang berakal tidak akan pernah menganggap sepele para musuhnya. Sehingga hatinya penuh dengan kewaspadaan bahkan was-was.Sedangkan bila anda memaafkannya, maka hati anda lapang. Peperangan yang diserukan pun berakhir. Hati tidak tersibukkan untuk membalas serangan dan kembali kepada level produktif. Ingatlah firman Allah ﷻ berikut,قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raaf: 199)Berpaling dari orang bodoh dan yang berbuat bodoh adalah perintah Allah ﷻ yang bernilai pahala dan mengandung hikmah yang besar. Al-Qurthubi menjelaskan dengan baik sekali tentang hal ini agar kita tidak ikut berlaku bodoh. Karena menyikapi atau membalas orang bodoh–orang zalim adalah orang yang melakukan kebodohan–adalah sebuah perbuatan bodoh. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,وَفِي قَوْلِهِ (وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاهِلِينَ) الْحَضُّ عَلَى التَّعَلُّقِ بِالْعِلْمِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ الظُّلْمِ، وَالتَّنَزُّهُ عَنْ مُنَازَعَةِ السُّفَهَاءِ، وَمُسَاوَاةِ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالْأَفْعَالِ الرَّشِيدَةِ“Dan dalam firman-Nya, “Dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil”; terdapat anjuran untuk berpegang teguh kepada ilmu, berpaling dari orang-orang zalim, menjauhi diri dari berselisih dengan orang-orang bodoh lagi dungu dan menyerupai mereka, dan berbagai akhlak terpuji serta perbuatan yang bijak lainnya.”Renungan ketujuh ini sangat berhubungan erat dengan renungan kelima yang mendorong kita untuk berbuat ihsan. Tidaklah kita bisa membalas orang zalim dengan pemaafan ataupun dengan hal yang lebih baik kecuali kita mengetahui hakikat dari episode kezaliman itu. Dengan mengetahui bahwa episode kezaliman itu adalah ranah pertarungan yang penuh kebodohan dan kerugian, maka akan dengan senang hati bagi kita untuk keluar dari ranah tersebut dengan cara memaafkan atau berbuat ihsan. Dengan begitu, kita sadar bahwa keluar dari praktik saling balas dendam kezaliman adalah bentuk melahirkan keamanan dan kelapangan hati. Terlebih lagi, ganjarannya luar biasa besarnya sebagaimana firman Allah ﷻ,فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)Dalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalApabila kezaliman manusia kepadanya itu lahir dari jihadnya di jalan Allah, sebab amar ma‘ruf nahi munkar yang ia lakukan, serta karena upayanya menegakkan agama Allah, maka ini adalah kabar gembira. Karena para Nabi, Rasul, dan para ulama pasti akan menghadapinya. Allah ﷻ berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)Ketahuilah! Ini adalah bagian dari jihadnya seorang mujahid. Mereka yang dizalimi karena menegakkan agama Allah ﷻ sungguh telah menjual dirinya, hartanya, dan kehormatannya kepada Allah dengan harga yang paling agung. Harga itu digapai dengan merasa tidak punya hak menuntut orang yang menyakitinya, dan tidak punya tuntutan apa pun terhadap mereka. Karena sesungguhnya pahala baginya telah tetap di sisi Allah. Oleh karena inilah, Nabi ﷺ melarang kaum Muhajirin untuk berharap agar harta mereka yang telah dirampas oleh orang-orang kafir dapat kembali.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Nukilan ini banyak didapatkan dari Referensi: https://almanhaj.or.id/72081-renungan-tentang-waktu.html[2] Thariqatul Hijratain, hal. 279 cet. Darus Salafiyah via maktabah syamilah: https://shamela.ws/book/12029/294

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleBerbuat ihsan kepada yang menzaliminyaKetika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifSeseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaDalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalKeadaan dizalimi adalah potongan kehidupan yang teramat pahit dirasakan oleh setiap orang. Kondisi terzalimi bahkan dapat membuat orang futur dan menjauh dari manisnya iman. Padahal, orang yang terzalimi dapat meraup banyak keuntungan yang dapat melupakan kerugiannya di dunia. Namun, karena ketidaktahuan serta lemahnya jiwa, maka tak sedikit yang jatuh ke dalam jurang kekecewaan. Akhirnya dari korban kezaliman, justru berbalik menjadi pelaku kezaliman.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengilmui hal-hal yang bisa menjadi pengobat hati yang tersakiti karena dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki 11 perenungan yang dapat menjadi pengobat bagi orang yang dizalimi. Dalam artikel ini, akan dibahas lanjutan poin kelima yang dapat direnungkan.Berbuat ihsan kepada yang menzaliminyaLevel yang lebih tinggi dari rida ketika ditakdirkan dizalimi adalah membalas orang zalim dengan perbuatan ihsan. Ini levelnya Nabi Muhammad ﷺ ketika dizalimi. Nabi kita alayhi shalatu wa salam adalah teladan sikap rahmat yang luar biasa. Beliau ﷺ memiliki kecintaan dan kebijaksanaan yang luar biasa besar bahkan kepada para musuhnya.Ketika di Thaif, saat berusaha mendakwahkan kebenaran, Nabi ﷺ justru diusir dan dilempari batu. Padahal, Thaif adalah kampung ibunya, sehingga masih ada tutur keluarga yang terhubung kepada baginda Nabi. Keadaan ini membuat hati Nabi ﷺ sedih sekali, bahkan lebih pahit dibandingkan tragedi Uhud. Sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk membalaskan tindak zalim mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak sekadar menahan diri untuk membalaskan dendam, tetapi juga mendoakan kebaikan yang luar biasa buat mereka.بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)Jika kita menelaah, Nabi ﷺ dapat membalaskan dendam dengan sangat sempurna. Beliau memiliki alasan yang sangat jelas, logis, dan valid secara perasaan bahwa hal itu begitu menyakitkan. Tidak hanya itu, bahkan Nabi ﷺ tidak perlu berusaha keras untuk membalaskan dendamnya, cukup malaikat penjaga gunung membalikkan tanah atau gunung untuk penduduk negeri Thaif. Namun, Nabi ﷺ tidak memilih jalan itu. Justru beliau mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.Episode keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan kepada para penzalimnya tidak hanya sampai kisah Thaif. Ada banyak kisah, di antaranya adalah sikap Nabi ﷺ kepada Abu Sufyan ketika pembukaan kota Makkah, termasuk kepada Hindun yang telah memakan hati syuhada Uhud, yakni Hamzah Asadullah. Dan masih banyak lagi keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan tersebut, khususnya pada episode Fathu Makkah dimana Nabi ﷺ memaafkan seluruh penduduk Makkah khususnya yang pernah menzaliminya di kala mendakwahkan tauhid di sana.Bila Nabi ﷺ mengedepankan dendamnya, tentu Makkah akan banjir darah. Nabi ﷺ memiliki pasukan lengkap, sementara penduduk Makkah -khususnya para musuh dakwah- sudah tidak punya kuasa apa-apa. Namun, rahmat Nabi ﷺ kepada para musuhnya memustahilkan pertumpahan darah yang lebih banyak. Bahkan justru menjadi pintu hidayah bagi banyak sekali kaum muslimin.Hal yang hendak ingin penulis sampaikan adalah bahwasanya berbuat ihsan kepada orang yang menzalimi itu sangat memungkinkan. Ada banyak contohnya dan di antaranya dari Nabi ﷺ. Dan amalan ini adalah amalan berpahala besar dan berlevel tinggi. Jelas amalan sayyidul mursalin memiliki bobot yang luar biasa.Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan analogi yang membuat amalan membalas dengan ihsan kepada orang yang menzalimi kita menjadi logis. Orang yang berbuat zalim kepada kita ibaratkan orang miskin yang memberikan seluruh harta yang dimilikinya kepada kita. Orang zalim adalah orang yang merugi, ia tidak hanya mendapatkan dosa, tetapi ia memberikan pahalanya kepada orang yang dizaliminya. Maka, tentu sangat layak bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih dan timbal balik kepada orang yang memberikan pahalanya. Apalagi pahala adalah harta yang sangat berharga di hari di mana uang tidak lagi berlaku. Oleh karena itu, berbuat ihsan kepada mereka orang yang merugi dan mendonasikan kebaikannya kepada kita adalah hal yang sangat wajar.Terlebih lagi jika kita mengingat kaidah,الْجَزَاء مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.”Maka, kita akan sadari bahwa kezaliman akan dibalas kezaliman oleh Allah ﷻ langsung. Sedangkan kebaikan pun akan dibalas kebaikan pula oleh Allah ﷻ langsung. Inilah pilihan bagi yang dizalimi; maukah anda menjadi orang yang akan dibalas pula dengan berbuat zalim lagi, atau justru ingin mendapatkan balasan kebaikan dari Allah ﷻ Al-Muhsin?Ketika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifRenungan selanjutnya adalah alasan lain agar kita tidak perlu mendendam kepada orang yang menzalimi kita. Ketika sibuk memikirkan sakitnya hati dizalimi, maka itu akan mendorong pikiran untuk merencanakan balas dendam. Langkah itu akan memakan waktu produktif serta melemahkan jiwa yang berdampak kepada badan yang tidak berdaya. Ini adalah kerugian yang teramat besar. Sudahlah hati terluka dan hak kita terlalaikan, lebih lagi jika waktu dan potensi badan yang dikorbankan. Sungguh betapa besar kerugian dari hal ini.Para ulama salaf dulu mengingatkan [1],وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يا اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai Bani Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.”Nabi ﷺ pun pernah mengingatkan bahwa waktu dan kesempatan dengan fisik yang sehat adalah sebuah nikmat yang sering kita lupakan. Nabi ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 5933)Ketika badan sehat dan waktu luang justru dipakai untuk memikirkan rasa sakit hati dan dendam yang mengakar, maka ini adalah kerugian besar. Bagian diri kita akan hilang dan tak bisa kembali, sementara ini adalah kenikmatan yang teramat besar dan terbatas jumlahnya.Kesedihan yang berlarut akan membuat seseorang tidak bersemangat beramal dan membuka celah-celah keburukan. Inilah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kesedihan mukmin adalah hal yang dicintai setan karena daya rusaknya yang amat besar. Beliau berkata,الحُـزن يُضعف القَلب , ويُوهن العزم، ويَـضـر الإرادة ولا شَـيء أحَـب إلَـى الشيطَـان من حُـزن المُـؤمن“Kesedihan itu melemahkan hati, melemahkan tekad, dan merusak kehendak. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh setan daripada kesedihan seorang mukmin.” (Thariqatul Hijratain, hal. 279) [2]Dalam keterangan di Madarij, Ibnul Qayyim mengumpulkan keuntungan dari tidak memikirkan dendam sebagai berikut,وَيَرَى أَنَّ سَلَامَتَهُ وَبَرْدَهُ وَخُلُوَّهُ مِنْهُ أَنْفَعُ لَهُ وَأَلَذُّ وَأَطْيَبُ وَأَعْوَنُ عَلَى مَصَالِحِهِ“Dan seseorang yang memandang bahwa keselamatan, ketenangan, serta terbebas dari memikirkan dendam itu lebih bermanfaat baginya, lebih lezat, lebih baik, dan lebih membantu dalam mewujudkan maslahat-maslahatnya.” (Madarijus Salikin, 2: 304)Seseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaWahai orang yang berakal! Renungilah bahwa jika hati penuh dendam kepada penzalim, maka anda akan membalas tabuhan genderang perang. Sedangkan peperangan hanya akan menambah dan menguatkan posisi musuh, setidaknya dalam pikiran. Seorang yang berakal tidak akan pernah menganggap sepele para musuhnya. Sehingga hatinya penuh dengan kewaspadaan bahkan was-was.Sedangkan bila anda memaafkannya, maka hati anda lapang. Peperangan yang diserukan pun berakhir. Hati tidak tersibukkan untuk membalas serangan dan kembali kepada level produktif. Ingatlah firman Allah ﷻ berikut,قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raaf: 199)Berpaling dari orang bodoh dan yang berbuat bodoh adalah perintah Allah ﷻ yang bernilai pahala dan mengandung hikmah yang besar. Al-Qurthubi menjelaskan dengan baik sekali tentang hal ini agar kita tidak ikut berlaku bodoh. Karena menyikapi atau membalas orang bodoh–orang zalim adalah orang yang melakukan kebodohan–adalah sebuah perbuatan bodoh. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,وَفِي قَوْلِهِ (وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاهِلِينَ) الْحَضُّ عَلَى التَّعَلُّقِ بِالْعِلْمِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ الظُّلْمِ، وَالتَّنَزُّهُ عَنْ مُنَازَعَةِ السُّفَهَاءِ، وَمُسَاوَاةِ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالْأَفْعَالِ الرَّشِيدَةِ“Dan dalam firman-Nya, “Dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil”; terdapat anjuran untuk berpegang teguh kepada ilmu, berpaling dari orang-orang zalim, menjauhi diri dari berselisih dengan orang-orang bodoh lagi dungu dan menyerupai mereka, dan berbagai akhlak terpuji serta perbuatan yang bijak lainnya.”Renungan ketujuh ini sangat berhubungan erat dengan renungan kelima yang mendorong kita untuk berbuat ihsan. Tidaklah kita bisa membalas orang zalim dengan pemaafan ataupun dengan hal yang lebih baik kecuali kita mengetahui hakikat dari episode kezaliman itu. Dengan mengetahui bahwa episode kezaliman itu adalah ranah pertarungan yang penuh kebodohan dan kerugian, maka akan dengan senang hati bagi kita untuk keluar dari ranah tersebut dengan cara memaafkan atau berbuat ihsan. Dengan begitu, kita sadar bahwa keluar dari praktik saling balas dendam kezaliman adalah bentuk melahirkan keamanan dan kelapangan hati. Terlebih lagi, ganjarannya luar biasa besarnya sebagaimana firman Allah ﷻ,فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)Dalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalApabila kezaliman manusia kepadanya itu lahir dari jihadnya di jalan Allah, sebab amar ma‘ruf nahi munkar yang ia lakukan, serta karena upayanya menegakkan agama Allah, maka ini adalah kabar gembira. Karena para Nabi, Rasul, dan para ulama pasti akan menghadapinya. Allah ﷻ berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)Ketahuilah! Ini adalah bagian dari jihadnya seorang mujahid. Mereka yang dizalimi karena menegakkan agama Allah ﷻ sungguh telah menjual dirinya, hartanya, dan kehormatannya kepada Allah dengan harga yang paling agung. Harga itu digapai dengan merasa tidak punya hak menuntut orang yang menyakitinya, dan tidak punya tuntutan apa pun terhadap mereka. Karena sesungguhnya pahala baginya telah tetap di sisi Allah. Oleh karena inilah, Nabi ﷺ melarang kaum Muhajirin untuk berharap agar harta mereka yang telah dirampas oleh orang-orang kafir dapat kembali.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Nukilan ini banyak didapatkan dari Referensi: https://almanhaj.or.id/72081-renungan-tentang-waktu.html[2] Thariqatul Hijratain, hal. 279 cet. Darus Salafiyah via maktabah syamilah: https://shamela.ws/book/12029/294
Daftar Isi ToggleBerbuat ihsan kepada yang menzaliminyaKetika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifSeseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaDalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalKeadaan dizalimi adalah potongan kehidupan yang teramat pahit dirasakan oleh setiap orang. Kondisi terzalimi bahkan dapat membuat orang futur dan menjauh dari manisnya iman. Padahal, orang yang terzalimi dapat meraup banyak keuntungan yang dapat melupakan kerugiannya di dunia. Namun, karena ketidaktahuan serta lemahnya jiwa, maka tak sedikit yang jatuh ke dalam jurang kekecewaan. Akhirnya dari korban kezaliman, justru berbalik menjadi pelaku kezaliman.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengilmui hal-hal yang bisa menjadi pengobat hati yang tersakiti karena dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki 11 perenungan yang dapat menjadi pengobat bagi orang yang dizalimi. Dalam artikel ini, akan dibahas lanjutan poin kelima yang dapat direnungkan.Berbuat ihsan kepada yang menzaliminyaLevel yang lebih tinggi dari rida ketika ditakdirkan dizalimi adalah membalas orang zalim dengan perbuatan ihsan. Ini levelnya Nabi Muhammad ﷺ ketika dizalimi. Nabi kita alayhi shalatu wa salam adalah teladan sikap rahmat yang luar biasa. Beliau ﷺ memiliki kecintaan dan kebijaksanaan yang luar biasa besar bahkan kepada para musuhnya.Ketika di Thaif, saat berusaha mendakwahkan kebenaran, Nabi ﷺ justru diusir dan dilempari batu. Padahal, Thaif adalah kampung ibunya, sehingga masih ada tutur keluarga yang terhubung kepada baginda Nabi. Keadaan ini membuat hati Nabi ﷺ sedih sekali, bahkan lebih pahit dibandingkan tragedi Uhud. Sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk membalaskan tindak zalim mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak sekadar menahan diri untuk membalaskan dendam, tetapi juga mendoakan kebaikan yang luar biasa buat mereka.بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)Jika kita menelaah, Nabi ﷺ dapat membalaskan dendam dengan sangat sempurna. Beliau memiliki alasan yang sangat jelas, logis, dan valid secara perasaan bahwa hal itu begitu menyakitkan. Tidak hanya itu, bahkan Nabi ﷺ tidak perlu berusaha keras untuk membalaskan dendamnya, cukup malaikat penjaga gunung membalikkan tanah atau gunung untuk penduduk negeri Thaif. Namun, Nabi ﷺ tidak memilih jalan itu. Justru beliau mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.Episode keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan kepada para penzalimnya tidak hanya sampai kisah Thaif. Ada banyak kisah, di antaranya adalah sikap Nabi ﷺ kepada Abu Sufyan ketika pembukaan kota Makkah, termasuk kepada Hindun yang telah memakan hati syuhada Uhud, yakni Hamzah Asadullah. Dan masih banyak lagi keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan tersebut, khususnya pada episode Fathu Makkah dimana Nabi ﷺ memaafkan seluruh penduduk Makkah khususnya yang pernah menzaliminya di kala mendakwahkan tauhid di sana.Bila Nabi ﷺ mengedepankan dendamnya, tentu Makkah akan banjir darah. Nabi ﷺ memiliki pasukan lengkap, sementara penduduk Makkah -khususnya para musuh dakwah- sudah tidak punya kuasa apa-apa. Namun, rahmat Nabi ﷺ kepada para musuhnya memustahilkan pertumpahan darah yang lebih banyak. Bahkan justru menjadi pintu hidayah bagi banyak sekali kaum muslimin.Hal yang hendak ingin penulis sampaikan adalah bahwasanya berbuat ihsan kepada orang yang menzalimi itu sangat memungkinkan. Ada banyak contohnya dan di antaranya dari Nabi ﷺ. Dan amalan ini adalah amalan berpahala besar dan berlevel tinggi. Jelas amalan sayyidul mursalin memiliki bobot yang luar biasa.Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan analogi yang membuat amalan membalas dengan ihsan kepada orang yang menzalimi kita menjadi logis. Orang yang berbuat zalim kepada kita ibaratkan orang miskin yang memberikan seluruh harta yang dimilikinya kepada kita. Orang zalim adalah orang yang merugi, ia tidak hanya mendapatkan dosa, tetapi ia memberikan pahalanya kepada orang yang dizaliminya. Maka, tentu sangat layak bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih dan timbal balik kepada orang yang memberikan pahalanya. Apalagi pahala adalah harta yang sangat berharga di hari di mana uang tidak lagi berlaku. Oleh karena itu, berbuat ihsan kepada mereka orang yang merugi dan mendonasikan kebaikannya kepada kita adalah hal yang sangat wajar.Terlebih lagi jika kita mengingat kaidah,الْجَزَاء مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.”Maka, kita akan sadari bahwa kezaliman akan dibalas kezaliman oleh Allah ﷻ langsung. Sedangkan kebaikan pun akan dibalas kebaikan pula oleh Allah ﷻ langsung. Inilah pilihan bagi yang dizalimi; maukah anda menjadi orang yang akan dibalas pula dengan berbuat zalim lagi, atau justru ingin mendapatkan balasan kebaikan dari Allah ﷻ Al-Muhsin?Ketika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifRenungan selanjutnya adalah alasan lain agar kita tidak perlu mendendam kepada orang yang menzalimi kita. Ketika sibuk memikirkan sakitnya hati dizalimi, maka itu akan mendorong pikiran untuk merencanakan balas dendam. Langkah itu akan memakan waktu produktif serta melemahkan jiwa yang berdampak kepada badan yang tidak berdaya. Ini adalah kerugian yang teramat besar. Sudahlah hati terluka dan hak kita terlalaikan, lebih lagi jika waktu dan potensi badan yang dikorbankan. Sungguh betapa besar kerugian dari hal ini.Para ulama salaf dulu mengingatkan [1],وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يا اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai Bani Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.”Nabi ﷺ pun pernah mengingatkan bahwa waktu dan kesempatan dengan fisik yang sehat adalah sebuah nikmat yang sering kita lupakan. Nabi ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 5933)Ketika badan sehat dan waktu luang justru dipakai untuk memikirkan rasa sakit hati dan dendam yang mengakar, maka ini adalah kerugian besar. Bagian diri kita akan hilang dan tak bisa kembali, sementara ini adalah kenikmatan yang teramat besar dan terbatas jumlahnya.Kesedihan yang berlarut akan membuat seseorang tidak bersemangat beramal dan membuka celah-celah keburukan. Inilah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kesedihan mukmin adalah hal yang dicintai setan karena daya rusaknya yang amat besar. Beliau berkata,الحُـزن يُضعف القَلب , ويُوهن العزم، ويَـضـر الإرادة ولا شَـيء أحَـب إلَـى الشيطَـان من حُـزن المُـؤمن“Kesedihan itu melemahkan hati, melemahkan tekad, dan merusak kehendak. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh setan daripada kesedihan seorang mukmin.” (Thariqatul Hijratain, hal. 279) [2]Dalam keterangan di Madarij, Ibnul Qayyim mengumpulkan keuntungan dari tidak memikirkan dendam sebagai berikut,وَيَرَى أَنَّ سَلَامَتَهُ وَبَرْدَهُ وَخُلُوَّهُ مِنْهُ أَنْفَعُ لَهُ وَأَلَذُّ وَأَطْيَبُ وَأَعْوَنُ عَلَى مَصَالِحِهِ“Dan seseorang yang memandang bahwa keselamatan, ketenangan, serta terbebas dari memikirkan dendam itu lebih bermanfaat baginya, lebih lezat, lebih baik, dan lebih membantu dalam mewujudkan maslahat-maslahatnya.” (Madarijus Salikin, 2: 304)Seseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaWahai orang yang berakal! Renungilah bahwa jika hati penuh dendam kepada penzalim, maka anda akan membalas tabuhan genderang perang. Sedangkan peperangan hanya akan menambah dan menguatkan posisi musuh, setidaknya dalam pikiran. Seorang yang berakal tidak akan pernah menganggap sepele para musuhnya. Sehingga hatinya penuh dengan kewaspadaan bahkan was-was.Sedangkan bila anda memaafkannya, maka hati anda lapang. Peperangan yang diserukan pun berakhir. Hati tidak tersibukkan untuk membalas serangan dan kembali kepada level produktif. Ingatlah firman Allah ﷻ berikut,قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raaf: 199)Berpaling dari orang bodoh dan yang berbuat bodoh adalah perintah Allah ﷻ yang bernilai pahala dan mengandung hikmah yang besar. Al-Qurthubi menjelaskan dengan baik sekali tentang hal ini agar kita tidak ikut berlaku bodoh. Karena menyikapi atau membalas orang bodoh–orang zalim adalah orang yang melakukan kebodohan–adalah sebuah perbuatan bodoh. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,وَفِي قَوْلِهِ (وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاهِلِينَ) الْحَضُّ عَلَى التَّعَلُّقِ بِالْعِلْمِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ الظُّلْمِ، وَالتَّنَزُّهُ عَنْ مُنَازَعَةِ السُّفَهَاءِ، وَمُسَاوَاةِ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالْأَفْعَالِ الرَّشِيدَةِ“Dan dalam firman-Nya, “Dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil”; terdapat anjuran untuk berpegang teguh kepada ilmu, berpaling dari orang-orang zalim, menjauhi diri dari berselisih dengan orang-orang bodoh lagi dungu dan menyerupai mereka, dan berbagai akhlak terpuji serta perbuatan yang bijak lainnya.”Renungan ketujuh ini sangat berhubungan erat dengan renungan kelima yang mendorong kita untuk berbuat ihsan. Tidaklah kita bisa membalas orang zalim dengan pemaafan ataupun dengan hal yang lebih baik kecuali kita mengetahui hakikat dari episode kezaliman itu. Dengan mengetahui bahwa episode kezaliman itu adalah ranah pertarungan yang penuh kebodohan dan kerugian, maka akan dengan senang hati bagi kita untuk keluar dari ranah tersebut dengan cara memaafkan atau berbuat ihsan. Dengan begitu, kita sadar bahwa keluar dari praktik saling balas dendam kezaliman adalah bentuk melahirkan keamanan dan kelapangan hati. Terlebih lagi, ganjarannya luar biasa besarnya sebagaimana firman Allah ﷻ,فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)Dalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalApabila kezaliman manusia kepadanya itu lahir dari jihadnya di jalan Allah, sebab amar ma‘ruf nahi munkar yang ia lakukan, serta karena upayanya menegakkan agama Allah, maka ini adalah kabar gembira. Karena para Nabi, Rasul, dan para ulama pasti akan menghadapinya. Allah ﷻ berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)Ketahuilah! Ini adalah bagian dari jihadnya seorang mujahid. Mereka yang dizalimi karena menegakkan agama Allah ﷻ sungguh telah menjual dirinya, hartanya, dan kehormatannya kepada Allah dengan harga yang paling agung. Harga itu digapai dengan merasa tidak punya hak menuntut orang yang menyakitinya, dan tidak punya tuntutan apa pun terhadap mereka. Karena sesungguhnya pahala baginya telah tetap di sisi Allah. Oleh karena inilah, Nabi ﷺ melarang kaum Muhajirin untuk berharap agar harta mereka yang telah dirampas oleh orang-orang kafir dapat kembali.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Nukilan ini banyak didapatkan dari Referensi: https://almanhaj.or.id/72081-renungan-tentang-waktu.html[2] Thariqatul Hijratain, hal. 279 cet. Darus Salafiyah via maktabah syamilah: https://shamela.ws/book/12029/294


Daftar Isi ToggleBerbuat ihsan kepada yang menzaliminyaKetika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifSeseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaDalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalKeadaan dizalimi adalah potongan kehidupan yang teramat pahit dirasakan oleh setiap orang. Kondisi terzalimi bahkan dapat membuat orang futur dan menjauh dari manisnya iman. Padahal, orang yang terzalimi dapat meraup banyak keuntungan yang dapat melupakan kerugiannya di dunia. Namun, karena ketidaktahuan serta lemahnya jiwa, maka tak sedikit yang jatuh ke dalam jurang kekecewaan. Akhirnya dari korban kezaliman, justru berbalik menjadi pelaku kezaliman.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengilmui hal-hal yang bisa menjadi pengobat hati yang tersakiti karena dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki 11 perenungan yang dapat menjadi pengobat bagi orang yang dizalimi. Dalam artikel ini, akan dibahas lanjutan poin kelima yang dapat direnungkan.Berbuat ihsan kepada yang menzaliminyaLevel yang lebih tinggi dari rida ketika ditakdirkan dizalimi adalah membalas orang zalim dengan perbuatan ihsan. Ini levelnya Nabi Muhammad ﷺ ketika dizalimi. Nabi kita alayhi shalatu wa salam adalah teladan sikap rahmat yang luar biasa. Beliau ﷺ memiliki kecintaan dan kebijaksanaan yang luar biasa besar bahkan kepada para musuhnya.Ketika di Thaif, saat berusaha mendakwahkan kebenaran, Nabi ﷺ justru diusir dan dilempari batu. Padahal, Thaif adalah kampung ibunya, sehingga masih ada tutur keluarga yang terhubung kepada baginda Nabi. Keadaan ini membuat hati Nabi ﷺ sedih sekali, bahkan lebih pahit dibandingkan tragedi Uhud. Sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk membalaskan tindak zalim mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak sekadar menahan diri untuk membalaskan dendam, tetapi juga mendoakan kebaikan yang luar biasa buat mereka.بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)Jika kita menelaah, Nabi ﷺ dapat membalaskan dendam dengan sangat sempurna. Beliau memiliki alasan yang sangat jelas, logis, dan valid secara perasaan bahwa hal itu begitu menyakitkan. Tidak hanya itu, bahkan Nabi ﷺ tidak perlu berusaha keras untuk membalaskan dendamnya, cukup malaikat penjaga gunung membalikkan tanah atau gunung untuk penduduk negeri Thaif. Namun, Nabi ﷺ tidak memilih jalan itu. Justru beliau mendoakan kebaikan bagi penduduk Thaif.Episode keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan kepada para penzalimnya tidak hanya sampai kisah Thaif. Ada banyak kisah, di antaranya adalah sikap Nabi ﷺ kepada Abu Sufyan ketika pembukaan kota Makkah, termasuk kepada Hindun yang telah memakan hati syuhada Uhud, yakni Hamzah Asadullah. Dan masih banyak lagi keteladanan Nabi ﷺ dalam berbuat ihsan tersebut, khususnya pada episode Fathu Makkah dimana Nabi ﷺ memaafkan seluruh penduduk Makkah khususnya yang pernah menzaliminya di kala mendakwahkan tauhid di sana.Bila Nabi ﷺ mengedepankan dendamnya, tentu Makkah akan banjir darah. Nabi ﷺ memiliki pasukan lengkap, sementara penduduk Makkah -khususnya para musuh dakwah- sudah tidak punya kuasa apa-apa. Namun, rahmat Nabi ﷺ kepada para musuhnya memustahilkan pertumpahan darah yang lebih banyak. Bahkan justru menjadi pintu hidayah bagi banyak sekali kaum muslimin.Hal yang hendak ingin penulis sampaikan adalah bahwasanya berbuat ihsan kepada orang yang menzalimi itu sangat memungkinkan. Ada banyak contohnya dan di antaranya dari Nabi ﷺ. Dan amalan ini adalah amalan berpahala besar dan berlevel tinggi. Jelas amalan sayyidul mursalin memiliki bobot yang luar biasa.Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan analogi yang membuat amalan membalas dengan ihsan kepada orang yang menzalimi kita menjadi logis. Orang yang berbuat zalim kepada kita ibaratkan orang miskin yang memberikan seluruh harta yang dimilikinya kepada kita. Orang zalim adalah orang yang merugi, ia tidak hanya mendapatkan dosa, tetapi ia memberikan pahalanya kepada orang yang dizaliminya. Maka, tentu sangat layak bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih dan timbal balik kepada orang yang memberikan pahalanya. Apalagi pahala adalah harta yang sangat berharga di hari di mana uang tidak lagi berlaku. Oleh karena itu, berbuat ihsan kepada mereka orang yang merugi dan mendonasikan kebaikannya kepada kita adalah hal yang sangat wajar.Terlebih lagi jika kita mengingat kaidah,الْجَزَاء مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.”Maka, kita akan sadari bahwa kezaliman akan dibalas kezaliman oleh Allah ﷻ langsung. Sedangkan kebaikan pun akan dibalas kebaikan pula oleh Allah ﷻ langsung. Inilah pilihan bagi yang dizalimi; maukah anda menjadi orang yang akan dibalas pula dengan berbuat zalim lagi, atau justru ingin mendapatkan balasan kebaikan dari Allah ﷻ Al-Muhsin?Ketika hatinya disakiti, ia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktifRenungan selanjutnya adalah alasan lain agar kita tidak perlu mendendam kepada orang yang menzalimi kita. Ketika sibuk memikirkan sakitnya hati dizalimi, maka itu akan mendorong pikiran untuk merencanakan balas dendam. Langkah itu akan memakan waktu produktif serta melemahkan jiwa yang berdampak kepada badan yang tidak berdaya. Ini adalah kerugian yang teramat besar. Sudahlah hati terluka dan hak kita terlalaikan, lebih lagi jika waktu dan potensi badan yang dikorbankan. Sungguh betapa besar kerugian dari hal ini.Para ulama salaf dulu mengingatkan [1],وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يا اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai Bani Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.”Nabi ﷺ pun pernah mengingatkan bahwa waktu dan kesempatan dengan fisik yang sehat adalah sebuah nikmat yang sering kita lupakan. Nabi ﷺ bersabda,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 5933)Ketika badan sehat dan waktu luang justru dipakai untuk memikirkan rasa sakit hati dan dendam yang mengakar, maka ini adalah kerugian besar. Bagian diri kita akan hilang dan tak bisa kembali, sementara ini adalah kenikmatan yang teramat besar dan terbatas jumlahnya.Kesedihan yang berlarut akan membuat seseorang tidak bersemangat beramal dan membuka celah-celah keburukan. Inilah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kesedihan mukmin adalah hal yang dicintai setan karena daya rusaknya yang amat besar. Beliau berkata,الحُـزن يُضعف القَلب , ويُوهن العزم، ويَـضـر الإرادة ولا شَـيء أحَـب إلَـى الشيطَـان من حُـزن المُـؤمن“Kesedihan itu melemahkan hati, melemahkan tekad, dan merusak kehendak. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh setan daripada kesedihan seorang mukmin.” (Thariqatul Hijratain, hal. 279) [2]Dalam keterangan di Madarij, Ibnul Qayyim mengumpulkan keuntungan dari tidak memikirkan dendam sebagai berikut,وَيَرَى أَنَّ سَلَامَتَهُ وَبَرْدَهُ وَخُلُوَّهُ مِنْهُ أَنْفَعُ لَهُ وَأَلَذُّ وَأَطْيَبُ وَأَعْوَنُ عَلَى مَصَالِحِهِ“Dan seseorang yang memandang bahwa keselamatan, ketenangan, serta terbebas dari memikirkan dendam itu lebih bermanfaat baginya, lebih lezat, lebih baik, dan lebih membantu dalam mewujudkan maslahat-maslahatnya.” (Madarijus Salikin, 2: 304)Seseorang merasa aman ketika tidak mendendam dan berniat membalas orang yang menyakitinyaWahai orang yang berakal! Renungilah bahwa jika hati penuh dendam kepada penzalim, maka anda akan membalas tabuhan genderang perang. Sedangkan peperangan hanya akan menambah dan menguatkan posisi musuh, setidaknya dalam pikiran. Seorang yang berakal tidak akan pernah menganggap sepele para musuhnya. Sehingga hatinya penuh dengan kewaspadaan bahkan was-was.Sedangkan bila anda memaafkannya, maka hati anda lapang. Peperangan yang diserukan pun berakhir. Hati tidak tersibukkan untuk membalas serangan dan kembali kepada level produktif. Ingatlah firman Allah ﷻ berikut,قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raaf: 199)Berpaling dari orang bodoh dan yang berbuat bodoh adalah perintah Allah ﷻ yang bernilai pahala dan mengandung hikmah yang besar. Al-Qurthubi menjelaskan dengan baik sekali tentang hal ini agar kita tidak ikut berlaku bodoh. Karena menyikapi atau membalas orang bodoh–orang zalim adalah orang yang melakukan kebodohan–adalah sebuah perbuatan bodoh. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,وَفِي قَوْلِهِ (وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاهِلِينَ) الْحَضُّ عَلَى التَّعَلُّقِ بِالْعِلْمِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ الظُّلْمِ، وَالتَّنَزُّهُ عَنْ مُنَازَعَةِ السُّفَهَاءِ، وَمُسَاوَاةِ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالْأَفْعَالِ الرَّشِيدَةِ“Dan dalam firman-Nya, “Dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil”; terdapat anjuran untuk berpegang teguh kepada ilmu, berpaling dari orang-orang zalim, menjauhi diri dari berselisih dengan orang-orang bodoh lagi dungu dan menyerupai mereka, dan berbagai akhlak terpuji serta perbuatan yang bijak lainnya.”Renungan ketujuh ini sangat berhubungan erat dengan renungan kelima yang mendorong kita untuk berbuat ihsan. Tidaklah kita bisa membalas orang zalim dengan pemaafan ataupun dengan hal yang lebih baik kecuali kita mengetahui hakikat dari episode kezaliman itu. Dengan mengetahui bahwa episode kezaliman itu adalah ranah pertarungan yang penuh kebodohan dan kerugian, maka akan dengan senang hati bagi kita untuk keluar dari ranah tersebut dengan cara memaafkan atau berbuat ihsan. Dengan begitu, kita sadar bahwa keluar dari praktik saling balas dendam kezaliman adalah bentuk melahirkan keamanan dan kelapangan hati. Terlebih lagi, ganjarannya luar biasa besarnya sebagaimana firman Allah ﷻ,فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)Dalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan alasan jihad karena jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan harga mahalApabila kezaliman manusia kepadanya itu lahir dari jihadnya di jalan Allah, sebab amar ma‘ruf nahi munkar yang ia lakukan, serta karena upayanya menegakkan agama Allah, maka ini adalah kabar gembira. Karena para Nabi, Rasul, dan para ulama pasti akan menghadapinya. Allah ﷻ berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)Ketahuilah! Ini adalah bagian dari jihadnya seorang mujahid. Mereka yang dizalimi karena menegakkan agama Allah ﷻ sungguh telah menjual dirinya, hartanya, dan kehormatannya kepada Allah dengan harga yang paling agung. Harga itu digapai dengan merasa tidak punya hak menuntut orang yang menyakitinya, dan tidak punya tuntutan apa pun terhadap mereka. Karena sesungguhnya pahala baginya telah tetap di sisi Allah. Oleh karena inilah, Nabi ﷺ melarang kaum Muhajirin untuk berharap agar harta mereka yang telah dirampas oleh orang-orang kafir dapat kembali.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Nukilan ini banyak didapatkan dari Referensi: https://almanhaj.or.id/72081-renungan-tentang-waktu.html[2] Thariqatul Hijratain, hal. 279 cet. Darus Salafiyah via maktabah syamilah: https://shamela.ws/book/12029/294

Doa Paling Berhikmah di Usia 40: Begini Isinya! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

Allah Ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya berlangsung tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasa dan berumur empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Wahai Tuhanku, ilhamilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku melalui keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, (sebagai penghuni) surga—sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 15–16) Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan bahwa Dia telah menyampaikan perintah dan wasiat kepada setiap manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan berbakti kepada mereka, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Hal itu karena kedua orang tua memiliki jasa besar terhadap anak-anak mereka. Karena seorang ibu telah mengandung anaknya berbulan-bulan, lalu melahirkannya, dan saat melahirkan, ia merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, ia menyusuinya selama berbulan-bulan pula. Masa mengandung hingga menyapihnya—yakni masa penyusuan—bisa mencapai tiga puluh bulan. Hingga ketika seseorang itu mencapai usia dewasa, kekuatannya sempurna, dan ia berusia empat puluh tahun, ia pun menyadari nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya. Maka ia berdoa: “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku…” Sebab, nikmat untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah nikmat yang sangat agung. Saat itulah, dia memohon kepada Tuhannya agar dapat mengerjakan amal saleh yang mendatangkan keridhaan Tuhannya. Ia juga meminta agar Allah memperbaiki keturunannya. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah menerima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, sehingga Allah membalas mereka dengan balasan terbaik atas amalan baik yang telah mereka kerjakan, serta atas bakti mereka kepada kedua orang tua mereka. ===== يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ يُذَكِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ قَدْ وَجَّهَ الْخِطَابَ وَالْوَصِيَّةَ إِلَى أَفْرَادِ الْإِنْسَانِ بِأَنْ يُحْسِنُوا إِلَى وَالِدِيهِمْ وَأَنْ يَبِرُّوْهُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَذَلِكَ أَنَّ لِلْوَالِدَيْنِ فَضْلًا عَلَى أَوْلَادِهِمْ فَإِنَّ الْأُمَّ قَدْ حَمَلَتْ ابْنَهَا الشُّهُورَ الْعَدِيدَةَ ثُمَّ إِنَّهَا قَدْ وَلَدَتْهُ وَحَالَ الْوِلَادَةِ جَاءَهَا آلَامٌ شَدِيدَةٌ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ قَامَتْ بِأَرْضَاعِهِ الشُّهُورَ الْمُتَعَدِّدَةَ فَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ الَّذِي هُوَ إِرْضَاعُهُ قَدْ يَبْلُغُ ثَلَاثِيْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ هَذَا الْإِنْسَانُ أَشُدَّهُ وَاكْتَمَلَتْ قُوَاهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَصْبَحَ يَعْرِفُ فَضْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَيَقُولُ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَإِنَّ نِعْمَةَ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ وَحِينَئِذٍ طَلَبَ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يَعْمَلَ عَمَلًا صَالِحًا يَكُونُ مُرْضِيًا فِيهِ لِرَبِّهِ وَكَذَلِكَ سَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ ذُرِّيَّتَهُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ اتَّصَفُوا بِهَذِهِ الصِّفَاتِ وَقَامُوا بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا فَيُجَازِيْهِمْ أَحْسَنَ الْجَزَاءِ مُقَابِلَ إِحْسَانِهِمْ فِي الْعَمَلِ وَقِيَامِهِمْ بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ

Doa Paling Berhikmah di Usia 40: Begini Isinya! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

Allah Ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya berlangsung tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasa dan berumur empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Wahai Tuhanku, ilhamilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku melalui keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, (sebagai penghuni) surga—sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 15–16) Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan bahwa Dia telah menyampaikan perintah dan wasiat kepada setiap manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan berbakti kepada mereka, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Hal itu karena kedua orang tua memiliki jasa besar terhadap anak-anak mereka. Karena seorang ibu telah mengandung anaknya berbulan-bulan, lalu melahirkannya, dan saat melahirkan, ia merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, ia menyusuinya selama berbulan-bulan pula. Masa mengandung hingga menyapihnya—yakni masa penyusuan—bisa mencapai tiga puluh bulan. Hingga ketika seseorang itu mencapai usia dewasa, kekuatannya sempurna, dan ia berusia empat puluh tahun, ia pun menyadari nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya. Maka ia berdoa: “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku…” Sebab, nikmat untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah nikmat yang sangat agung. Saat itulah, dia memohon kepada Tuhannya agar dapat mengerjakan amal saleh yang mendatangkan keridhaan Tuhannya. Ia juga meminta agar Allah memperbaiki keturunannya. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah menerima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, sehingga Allah membalas mereka dengan balasan terbaik atas amalan baik yang telah mereka kerjakan, serta atas bakti mereka kepada kedua orang tua mereka. ===== يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ يُذَكِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ قَدْ وَجَّهَ الْخِطَابَ وَالْوَصِيَّةَ إِلَى أَفْرَادِ الْإِنْسَانِ بِأَنْ يُحْسِنُوا إِلَى وَالِدِيهِمْ وَأَنْ يَبِرُّوْهُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَذَلِكَ أَنَّ لِلْوَالِدَيْنِ فَضْلًا عَلَى أَوْلَادِهِمْ فَإِنَّ الْأُمَّ قَدْ حَمَلَتْ ابْنَهَا الشُّهُورَ الْعَدِيدَةَ ثُمَّ إِنَّهَا قَدْ وَلَدَتْهُ وَحَالَ الْوِلَادَةِ جَاءَهَا آلَامٌ شَدِيدَةٌ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ قَامَتْ بِأَرْضَاعِهِ الشُّهُورَ الْمُتَعَدِّدَةَ فَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ الَّذِي هُوَ إِرْضَاعُهُ قَدْ يَبْلُغُ ثَلَاثِيْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ هَذَا الْإِنْسَانُ أَشُدَّهُ وَاكْتَمَلَتْ قُوَاهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَصْبَحَ يَعْرِفُ فَضْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَيَقُولُ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَإِنَّ نِعْمَةَ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ وَحِينَئِذٍ طَلَبَ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يَعْمَلَ عَمَلًا صَالِحًا يَكُونُ مُرْضِيًا فِيهِ لِرَبِّهِ وَكَذَلِكَ سَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ ذُرِّيَّتَهُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ اتَّصَفُوا بِهَذِهِ الصِّفَاتِ وَقَامُوا بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا فَيُجَازِيْهِمْ أَحْسَنَ الْجَزَاءِ مُقَابِلَ إِحْسَانِهِمْ فِي الْعَمَلِ وَقِيَامِهِمْ بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ
Allah Ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya berlangsung tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasa dan berumur empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Wahai Tuhanku, ilhamilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku melalui keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, (sebagai penghuni) surga—sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 15–16) Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan bahwa Dia telah menyampaikan perintah dan wasiat kepada setiap manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan berbakti kepada mereka, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Hal itu karena kedua orang tua memiliki jasa besar terhadap anak-anak mereka. Karena seorang ibu telah mengandung anaknya berbulan-bulan, lalu melahirkannya, dan saat melahirkan, ia merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, ia menyusuinya selama berbulan-bulan pula. Masa mengandung hingga menyapihnya—yakni masa penyusuan—bisa mencapai tiga puluh bulan. Hingga ketika seseorang itu mencapai usia dewasa, kekuatannya sempurna, dan ia berusia empat puluh tahun, ia pun menyadari nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya. Maka ia berdoa: “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku…” Sebab, nikmat untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah nikmat yang sangat agung. Saat itulah, dia memohon kepada Tuhannya agar dapat mengerjakan amal saleh yang mendatangkan keridhaan Tuhannya. Ia juga meminta agar Allah memperbaiki keturunannya. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah menerima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, sehingga Allah membalas mereka dengan balasan terbaik atas amalan baik yang telah mereka kerjakan, serta atas bakti mereka kepada kedua orang tua mereka. ===== يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ يُذَكِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ قَدْ وَجَّهَ الْخِطَابَ وَالْوَصِيَّةَ إِلَى أَفْرَادِ الْإِنْسَانِ بِأَنْ يُحْسِنُوا إِلَى وَالِدِيهِمْ وَأَنْ يَبِرُّوْهُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَذَلِكَ أَنَّ لِلْوَالِدَيْنِ فَضْلًا عَلَى أَوْلَادِهِمْ فَإِنَّ الْأُمَّ قَدْ حَمَلَتْ ابْنَهَا الشُّهُورَ الْعَدِيدَةَ ثُمَّ إِنَّهَا قَدْ وَلَدَتْهُ وَحَالَ الْوِلَادَةِ جَاءَهَا آلَامٌ شَدِيدَةٌ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ قَامَتْ بِأَرْضَاعِهِ الشُّهُورَ الْمُتَعَدِّدَةَ فَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ الَّذِي هُوَ إِرْضَاعُهُ قَدْ يَبْلُغُ ثَلَاثِيْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ هَذَا الْإِنْسَانُ أَشُدَّهُ وَاكْتَمَلَتْ قُوَاهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَصْبَحَ يَعْرِفُ فَضْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَيَقُولُ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَإِنَّ نِعْمَةَ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ وَحِينَئِذٍ طَلَبَ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يَعْمَلَ عَمَلًا صَالِحًا يَكُونُ مُرْضِيًا فِيهِ لِرَبِّهِ وَكَذَلِكَ سَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ ذُرِّيَّتَهُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ اتَّصَفُوا بِهَذِهِ الصِّفَاتِ وَقَامُوا بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا فَيُجَازِيْهِمْ أَحْسَنَ الْجَزَاءِ مُقَابِلَ إِحْسَانِهِمْ فِي الْعَمَلِ وَقِيَامِهِمْ بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ


Allah Ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya berlangsung tiga puluh bulan. Hingga apabila ia mencapai usia dewasa dan berumur empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Wahai Tuhanku, ilhamilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, serta berilah kebaikan kepadaku melalui keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, (sebagai penghuni) surga—sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 15–16) Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan bahwa Dia telah menyampaikan perintah dan wasiat kepada setiap manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan berbakti kepada mereka, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Hal itu karena kedua orang tua memiliki jasa besar terhadap anak-anak mereka. Karena seorang ibu telah mengandung anaknya berbulan-bulan, lalu melahirkannya, dan saat melahirkan, ia merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, ia menyusuinya selama berbulan-bulan pula. Masa mengandung hingga menyapihnya—yakni masa penyusuan—bisa mencapai tiga puluh bulan. Hingga ketika seseorang itu mencapai usia dewasa, kekuatannya sempurna, dan ia berusia empat puluh tahun, ia pun menyadari nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya. Maka ia berdoa: “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku…” Sebab, nikmat untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah nikmat yang sangat agung. Saat itulah, dia memohon kepada Tuhannya agar dapat mengerjakan amal saleh yang mendatangkan keridhaan Tuhannya. Ia juga meminta agar Allah memperbaiki keturunannya. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini dan berbakti kepada kedua orang tuanya, Allah menerima amal terbaik yang telah mereka kerjakan, sehingga Allah membalas mereka dengan balasan terbaik atas amalan baik yang telah mereka kerjakan, serta atas bakti mereka kepada kedua orang tua mereka. ===== يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ يُذَكِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ قَدْ وَجَّهَ الْخِطَابَ وَالْوَصِيَّةَ إِلَى أَفْرَادِ الْإِنْسَانِ بِأَنْ يُحْسِنُوا إِلَى وَالِدِيهِمْ وَأَنْ يَبِرُّوْهُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَذَلِكَ أَنَّ لِلْوَالِدَيْنِ فَضْلًا عَلَى أَوْلَادِهِمْ فَإِنَّ الْأُمَّ قَدْ حَمَلَتْ ابْنَهَا الشُّهُورَ الْعَدِيدَةَ ثُمَّ إِنَّهَا قَدْ وَلَدَتْهُ وَحَالَ الْوِلَادَةِ جَاءَهَا آلَامٌ شَدِيدَةٌ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ قَامَتْ بِأَرْضَاعِهِ الشُّهُورَ الْمُتَعَدِّدَةَ فَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ الَّذِي هُوَ إِرْضَاعُهُ قَدْ يَبْلُغُ ثَلَاثِيْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ هَذَا الْإِنْسَانُ أَشُدَّهُ وَاكْتَمَلَتْ قُوَاهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً أَصْبَحَ يَعْرِفُ فَضْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَيَقُولُ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَإِنَّ نِعْمَةَ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ وَحِينَئِذٍ طَلَبَ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يَعْمَلَ عَمَلًا صَالِحًا يَكُونُ مُرْضِيًا فِيهِ لِرَبِّهِ وَكَذَلِكَ سَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ ذُرِّيَّتَهُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ اتَّصَفُوا بِهَذِهِ الصِّفَاتِ وَقَامُوا بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا فَيُجَازِيْهِمْ أَحْسَنَ الْجَزَاءِ مُقَابِلَ إِحْسَانِهِمْ فِي الْعَمَلِ وَقِيَامِهِمْ بِبِرِّ وَالِدِيْهِمْ

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMeyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻKesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaAllah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniBerusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaRenungan tambahanAllah ﷻ menggulirkan lembaran kehidupan manusia dengan segala manis pahitnya. Umumnya manusia mendapatkan banyak kenikmatan Allah ﷻ, bahkan sampai mustahil untuk menghitung nikmat-Nya di kehidupan kita. Akan tetapi, Allah ﷻ memang menakdirkan kehidupan manusia dengan kesusahan. Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Allah ﷻ menakdirkan manusia pasti menempuh jalan kesulitan. Bolehlah kita mengibaratkan sedang berenang di kolam susu yang luas. Betapa nikmatnya berenang sembari meminum air susu yang melegakan. Namun, tentu berenang adalah sebuah usaha yang tak mudah untuk dijalankan.Termasuk kesulitan di dunia itu adalah bergulirnya episode kehidupan dimana diri kita dizalimi oleh orang lain. Ini adalah takdir Allah ﷻ yang mungkin pahit dan wajib kita mengimaninya serta bersabar dengannya. Tentu dizalimi adalah keadaan yang sangat berat. Sangat ingin rasanya membalaskan kezaliman itu dengan dalih meraih hak yang dirampas. Namun, terkadang, justru pahitnya kezaliman itu membutakan akal. Akibatnya, justru balasannya lebih buruk dari sekadar kezaliman sebelumnya. Padahal ini adalah peluang amal yang besar, meski memang berat dihadapi. Sehingga para ulama banyak membahas bab akhlak ketika dizalimi.Salah satu ulama yang memiliki risalah sangat indah dalam membekali orang-orang terzalimi adalah Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau memberikan 11 perenungan yang menjadi obat penyembuh seorang hamba atas luka hati akibat gangguan hamba lainnya kepada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan poin-poin ini di dalam Madarijus Salikin ketika membahas bab akhlak. [1] Nikmatilah obat hati berikut ini:Meyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻHal pertama yang seseorang perlu renungkan ketika dizalimi adalah bahwa episode dizalimi ini adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Ketika ia mengetahui bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ, maka ia akan merasa tenang dan tidak terlalu gundah. Karena ia mengetahui bahwa episode ini telah Allah ﷻ ridai untuk menjadi takdir bagi dirinya. Terlebih ia mengetahui bahwasanya Allah ﷻ adalah Zat Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui secara detail). Allah ﷻ berfirman,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin: 8)Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita semua bahwa ialah sebaik-baik penentu takdir dengan nama dan sifat-Nya yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Lantas, masihkah kita berani memprotes takdir Allah ﷻ?Sekiranya anda menghadapi seorang dokter berkapabilitas tinggi yang memutuskan amputasi atas kaki anda karena sebuah infeksi yang dapat mematikan anda, apakah anda masih berani memprotes? Sekarang bayangkan lagi dokter itu yang menjamin kehidupan anda dari kecil sampai besar, menanggung biaya amputasi, dan perawatan hidup anda setelah operasi. Dokter itu melakukannya karena kecintaan dan kasih-sayangnya kepada anda, tidak hanya sekadar berdasarkan ilmu pengetahuannya.Maka, lebih-lebih lagi Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menjelaskan sifat Allah ﷻ,ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kita ketahui bahwa kasih sayang Ibu kepada anaknya adalah kasih sayang terbesar di muka bumi ini. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayang seorang Ibu kepada buah hatinya.Sebagaimana asal orang mencinta, ia pasti berusaha melakukan hal semaksimal mungkin untuk kekasihnya. Ia selalu pilihkan hal terbaik untuknya, serta menentukan momen terindah untuknya. Meskipun terkadang itu tidak disukai kekasihnya pada saat itu. Maka, lebih-lebih lagi Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dia adalah Zat yang paling rahmat kepada hamba-Nya. Tidak mungkin Allah ﷻ menjadikan momen kepahitan hidup atas seseorang, termasuk kezaliman yang dirasakan hamba-Nya, kecuali bernilai manfaat bagi hamba tersebut. Apalagi Allah ﷻ Maha Mengetahui mana jalan yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka, argumen ini sudah cukup untuk menjadi perenungan berharga tatkala terpuruk dizalimi.Kesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaHal selanjutnya yang perlu direnungi adalah bahwa keadaan dizalimi itu justru adalah peluang untuk mendapatkan keuntungan besar di penghujungnya. Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Perniagaan apa yang bisa memberikan keuntungan unlimited?! Tidak ada bisnis yang selalu menguntungkan kecuali bertransaksi pahala sabar dengan Allah ﷻ. Tanyalah kepada pebisnis besar yang telah menjadi triliuner hari ini, apakah mereka menggapainya dengan langkah yang mudah? Apakah mereka tidak pernah merasakan ditipu, dizalimi, dan dikhianati oleh orang lain? Tentu kebanyakan mereka bahkan semuanya akan menjawab “iya” bahwa mereka menggapainya dengan mati-matian.Ketika ditanya lagi apakah pengorbanan itu worth-to-do atau pantas untuk dilakukan, tentu mereka akan menjawab sangat pantas. Maka, tentu seorang muslim akan dapat lebih bersabar dan rida atas takdirnya dizalimi, karena dalam pikirannya punya konsep bahwa orang yang bersabar akan mendapatkan profit tak terbatas!Tentu sangat logis sekali motivasi yang Nabi ﷺ sebutkan dalam sebuah hadis bahwa segala sengsara di dunia akan terhapus ketika sudah mendapatkan satu celupan surga. Dalam sebuah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bertutur yang artinya,“Didatangkan penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya.” (HR. Muslim no. 2807)Inilah keuntungan yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar menghadapi kesengsaraan hidup! Sebuah janji yang cukup membuat mata terbelalak sekaligus buta dari kesulitan kehidupan. Maukah anda mengganti keuntungan sebesar ini dengan pelampiasan dendam yang hanya melegakan hati sesaat? Tentu orang yang berakal sehat tidak akan memilih perniagaan semisal. Oleh karena itu, merenungi pahala yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar ketika terzalimi adalah bagian berharga dari perjalanan mengobati luka dizalimi.Allah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniSelain Allah ﷻ memberikan pahala tak terbatas kepada orang yang bersabar ketika dizalimi dan tidak mendendam, Allah ﷻ juga berikan tambahan ampunan jika orang tersebut memaafkan orang yang menzaliminya. Allah ﷻ menyerukan untuk bersikap pemaaf dengan janji akan dimaafkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah firman Allah ﷻ berkaitan kasus Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang marah ketika difitnah,وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)Ambillah faidah dari akhlak para salaf yang mulia! Putri kesayangannya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, yakni Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah oleh kerabatnya sendiri yang hidupnya ia nafkahi. Pantas sekali Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu marah dan memboikot orang ini. Akan tetapi, ketika Allah ﷻ perintahkan untuk memaafkan dengan janji Allah ﷻ akan mengampuni Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Ash-Shiddiq ini pun langsung memaafkan. Abu Bakr pun berkata, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami.” Beliau pun kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya tersebut.Oleh para ulama, potongan kisah ini menjadi alasan kongkrit mengapa Abu Bakr digelari Ash-Shiddiq. Inilah kemuliaan dari memaafkan orang yang menzalimi. Ia dapat menjadi saksi kebenaran iman seseorang. Inilah keteladanan dari orang terbaik setelah para Nabi dan Rasulnya dari umat ini.Keutamaan lain dari memaafkan adalah sebagaimana yang disebutkan Nabi ﷺ dalam hadis,مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim no. 4689)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ: مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ، وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ.“Dalam sifat pemaaf, mengampuni dan kelembutan (menahan diri), terdapat manisnya ketenangan dan kedamaian. Jiwa pun menjadi mulia, agung, serta tinggi. Terhadap keinginan membalas dendam, maka tidak ada dorongan untuk membalasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 303)Berusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaSetelah merenungi bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih baik daripada membalas dendam, ternyata masih ada level yang lebih tinggi lagi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa jika seorang yang dizalimi ingin mendapatkan pahala yang jauh lebih besar, maka ia perlu berusaha rida atas takdir yang ada.Pecinta sejati selalu rida dengan apa yang diberikan oleh kekasihnya. Berbagai kesulitan pun terasa lapang oleh pecinta ketika berkaitan dengan kekasihnya. Kalau dalam budaya Indonesia, sering diungkapkan, “Gunung manapun kan kudaki. Samudera manapun kan kuseberangi.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta membuat pemiliknya menjadi lapang dada dengan segala rintangan ujian dalam mendapatkan kekasihnya. Maka, rida atas takdir Allah ﷻ yang pahit ketika dizalimi adalah bagian dari kejujuran cinta seorang hamba.Jalan rida ini adalah levelnya para Nabi dan Rasul. Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul, khususnya para rasul ulul azmi. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” [2]Mereka tidak hanya sabar ketika dizalimi karena urusan dunia, melainkan mereka rida atas kezaliman orang lain tatkala mendakwahkan kalimat tauhid. Contohnya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau menghadapi ujian dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya kaumnya yang menolaknya, bahkan penolakan itu datang dari kalangan keluarga sendiri. Tentu ini adalah hal berat, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam bermain di level sangat tinggi. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam justru bersyukur dengan banyak berzikir, sehingga digelari sebagai ‘abdan syakura (hamba yang pandai bersyukur). [3]Inilah teladan keridaan dalam menghadapi kezaliman sesama makhluk. Siapa di antara kita yang pernah berdakwah selama 950 tahun dan mayoritas hasilnya adalah penolakan? Tentu tidak ditemukan lagi di zaman ini. Jelas tidak ada manusia di milenium ini yang lebih berat ujiannya secara hitungan dunia dibandingkan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun, Nabi Nuh‘alaihissalam berhasil melewatinya tidak hanya dengan nilai KKM, melainkan nilai cumlaude berpredikat abdan syakura.Renungan tambahanMasih ada 7 poin lagi yang dapat kita renungkan ketika hendak membalaskan dendam sakitnya dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah menghimpun obat hati ini dengan tingkatan level dosis yang berbeda sesuai dengan kapabilitas orangnya. Tidak hanya dosis yang meningkat, tetapi juga beragam pendekatan yang sekiranya dapat meredakan gejolak dendam ketika dizalimi.Wahai orang yang dizalimi! Jika engkau ingin membalaskan dendam itu, ingatlah wasiat Nabi ﷺ ini,فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)Ketahuilah! Inilah kabar gembira untuk siapapun yang terluka hatinya saat ditimpa musibah. Rantai musibah yang menimpa itu adalah indikator level agama anda. Semakin berat musibah yang dihadapi, maka semakin tinggi level agamanya. Bergembiralah! Dengan kabar inilah anda dapat membakar mesin hati untuk rida atas takdirnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Madarijus Salikin cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Jilid 2. Diakses via maktabah syamilah https://shamela.ws/book/8370/797Catatan kaki:[1] Terdapat dalam Madarijus Salikin (2: 303) cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Beirut via maktabah syamilah. Link: https://shamela.ws/book/8370/797[2] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, dan Ahmad, 1: 185.[3] Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, karya Dr. Firanda Andirja (1: 154).

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMeyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻKesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaAllah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniBerusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaRenungan tambahanAllah ﷻ menggulirkan lembaran kehidupan manusia dengan segala manis pahitnya. Umumnya manusia mendapatkan banyak kenikmatan Allah ﷻ, bahkan sampai mustahil untuk menghitung nikmat-Nya di kehidupan kita. Akan tetapi, Allah ﷻ memang menakdirkan kehidupan manusia dengan kesusahan. Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Allah ﷻ menakdirkan manusia pasti menempuh jalan kesulitan. Bolehlah kita mengibaratkan sedang berenang di kolam susu yang luas. Betapa nikmatnya berenang sembari meminum air susu yang melegakan. Namun, tentu berenang adalah sebuah usaha yang tak mudah untuk dijalankan.Termasuk kesulitan di dunia itu adalah bergulirnya episode kehidupan dimana diri kita dizalimi oleh orang lain. Ini adalah takdir Allah ﷻ yang mungkin pahit dan wajib kita mengimaninya serta bersabar dengannya. Tentu dizalimi adalah keadaan yang sangat berat. Sangat ingin rasanya membalaskan kezaliman itu dengan dalih meraih hak yang dirampas. Namun, terkadang, justru pahitnya kezaliman itu membutakan akal. Akibatnya, justru balasannya lebih buruk dari sekadar kezaliman sebelumnya. Padahal ini adalah peluang amal yang besar, meski memang berat dihadapi. Sehingga para ulama banyak membahas bab akhlak ketika dizalimi.Salah satu ulama yang memiliki risalah sangat indah dalam membekali orang-orang terzalimi adalah Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau memberikan 11 perenungan yang menjadi obat penyembuh seorang hamba atas luka hati akibat gangguan hamba lainnya kepada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan poin-poin ini di dalam Madarijus Salikin ketika membahas bab akhlak. [1] Nikmatilah obat hati berikut ini:Meyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻHal pertama yang seseorang perlu renungkan ketika dizalimi adalah bahwa episode dizalimi ini adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Ketika ia mengetahui bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ, maka ia akan merasa tenang dan tidak terlalu gundah. Karena ia mengetahui bahwa episode ini telah Allah ﷻ ridai untuk menjadi takdir bagi dirinya. Terlebih ia mengetahui bahwasanya Allah ﷻ adalah Zat Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui secara detail). Allah ﷻ berfirman,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin: 8)Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita semua bahwa ialah sebaik-baik penentu takdir dengan nama dan sifat-Nya yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Lantas, masihkah kita berani memprotes takdir Allah ﷻ?Sekiranya anda menghadapi seorang dokter berkapabilitas tinggi yang memutuskan amputasi atas kaki anda karena sebuah infeksi yang dapat mematikan anda, apakah anda masih berani memprotes? Sekarang bayangkan lagi dokter itu yang menjamin kehidupan anda dari kecil sampai besar, menanggung biaya amputasi, dan perawatan hidup anda setelah operasi. Dokter itu melakukannya karena kecintaan dan kasih-sayangnya kepada anda, tidak hanya sekadar berdasarkan ilmu pengetahuannya.Maka, lebih-lebih lagi Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menjelaskan sifat Allah ﷻ,ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kita ketahui bahwa kasih sayang Ibu kepada anaknya adalah kasih sayang terbesar di muka bumi ini. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayang seorang Ibu kepada buah hatinya.Sebagaimana asal orang mencinta, ia pasti berusaha melakukan hal semaksimal mungkin untuk kekasihnya. Ia selalu pilihkan hal terbaik untuknya, serta menentukan momen terindah untuknya. Meskipun terkadang itu tidak disukai kekasihnya pada saat itu. Maka, lebih-lebih lagi Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dia adalah Zat yang paling rahmat kepada hamba-Nya. Tidak mungkin Allah ﷻ menjadikan momen kepahitan hidup atas seseorang, termasuk kezaliman yang dirasakan hamba-Nya, kecuali bernilai manfaat bagi hamba tersebut. Apalagi Allah ﷻ Maha Mengetahui mana jalan yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka, argumen ini sudah cukup untuk menjadi perenungan berharga tatkala terpuruk dizalimi.Kesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaHal selanjutnya yang perlu direnungi adalah bahwa keadaan dizalimi itu justru adalah peluang untuk mendapatkan keuntungan besar di penghujungnya. Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Perniagaan apa yang bisa memberikan keuntungan unlimited?! Tidak ada bisnis yang selalu menguntungkan kecuali bertransaksi pahala sabar dengan Allah ﷻ. Tanyalah kepada pebisnis besar yang telah menjadi triliuner hari ini, apakah mereka menggapainya dengan langkah yang mudah? Apakah mereka tidak pernah merasakan ditipu, dizalimi, dan dikhianati oleh orang lain? Tentu kebanyakan mereka bahkan semuanya akan menjawab “iya” bahwa mereka menggapainya dengan mati-matian.Ketika ditanya lagi apakah pengorbanan itu worth-to-do atau pantas untuk dilakukan, tentu mereka akan menjawab sangat pantas. Maka, tentu seorang muslim akan dapat lebih bersabar dan rida atas takdirnya dizalimi, karena dalam pikirannya punya konsep bahwa orang yang bersabar akan mendapatkan profit tak terbatas!Tentu sangat logis sekali motivasi yang Nabi ﷺ sebutkan dalam sebuah hadis bahwa segala sengsara di dunia akan terhapus ketika sudah mendapatkan satu celupan surga. Dalam sebuah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bertutur yang artinya,“Didatangkan penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya.” (HR. Muslim no. 2807)Inilah keuntungan yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar menghadapi kesengsaraan hidup! Sebuah janji yang cukup membuat mata terbelalak sekaligus buta dari kesulitan kehidupan. Maukah anda mengganti keuntungan sebesar ini dengan pelampiasan dendam yang hanya melegakan hati sesaat? Tentu orang yang berakal sehat tidak akan memilih perniagaan semisal. Oleh karena itu, merenungi pahala yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar ketika terzalimi adalah bagian berharga dari perjalanan mengobati luka dizalimi.Allah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniSelain Allah ﷻ memberikan pahala tak terbatas kepada orang yang bersabar ketika dizalimi dan tidak mendendam, Allah ﷻ juga berikan tambahan ampunan jika orang tersebut memaafkan orang yang menzaliminya. Allah ﷻ menyerukan untuk bersikap pemaaf dengan janji akan dimaafkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah firman Allah ﷻ berkaitan kasus Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang marah ketika difitnah,وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)Ambillah faidah dari akhlak para salaf yang mulia! Putri kesayangannya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, yakni Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah oleh kerabatnya sendiri yang hidupnya ia nafkahi. Pantas sekali Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu marah dan memboikot orang ini. Akan tetapi, ketika Allah ﷻ perintahkan untuk memaafkan dengan janji Allah ﷻ akan mengampuni Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Ash-Shiddiq ini pun langsung memaafkan. Abu Bakr pun berkata, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami.” Beliau pun kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya tersebut.Oleh para ulama, potongan kisah ini menjadi alasan kongkrit mengapa Abu Bakr digelari Ash-Shiddiq. Inilah kemuliaan dari memaafkan orang yang menzalimi. Ia dapat menjadi saksi kebenaran iman seseorang. Inilah keteladanan dari orang terbaik setelah para Nabi dan Rasulnya dari umat ini.Keutamaan lain dari memaafkan adalah sebagaimana yang disebutkan Nabi ﷺ dalam hadis,مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim no. 4689)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ: مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ، وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ.“Dalam sifat pemaaf, mengampuni dan kelembutan (menahan diri), terdapat manisnya ketenangan dan kedamaian. Jiwa pun menjadi mulia, agung, serta tinggi. Terhadap keinginan membalas dendam, maka tidak ada dorongan untuk membalasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 303)Berusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaSetelah merenungi bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih baik daripada membalas dendam, ternyata masih ada level yang lebih tinggi lagi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa jika seorang yang dizalimi ingin mendapatkan pahala yang jauh lebih besar, maka ia perlu berusaha rida atas takdir yang ada.Pecinta sejati selalu rida dengan apa yang diberikan oleh kekasihnya. Berbagai kesulitan pun terasa lapang oleh pecinta ketika berkaitan dengan kekasihnya. Kalau dalam budaya Indonesia, sering diungkapkan, “Gunung manapun kan kudaki. Samudera manapun kan kuseberangi.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta membuat pemiliknya menjadi lapang dada dengan segala rintangan ujian dalam mendapatkan kekasihnya. Maka, rida atas takdir Allah ﷻ yang pahit ketika dizalimi adalah bagian dari kejujuran cinta seorang hamba.Jalan rida ini adalah levelnya para Nabi dan Rasul. Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul, khususnya para rasul ulul azmi. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” [2]Mereka tidak hanya sabar ketika dizalimi karena urusan dunia, melainkan mereka rida atas kezaliman orang lain tatkala mendakwahkan kalimat tauhid. Contohnya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau menghadapi ujian dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya kaumnya yang menolaknya, bahkan penolakan itu datang dari kalangan keluarga sendiri. Tentu ini adalah hal berat, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam bermain di level sangat tinggi. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam justru bersyukur dengan banyak berzikir, sehingga digelari sebagai ‘abdan syakura (hamba yang pandai bersyukur). [3]Inilah teladan keridaan dalam menghadapi kezaliman sesama makhluk. Siapa di antara kita yang pernah berdakwah selama 950 tahun dan mayoritas hasilnya adalah penolakan? Tentu tidak ditemukan lagi di zaman ini. Jelas tidak ada manusia di milenium ini yang lebih berat ujiannya secara hitungan dunia dibandingkan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun, Nabi Nuh‘alaihissalam berhasil melewatinya tidak hanya dengan nilai KKM, melainkan nilai cumlaude berpredikat abdan syakura.Renungan tambahanMasih ada 7 poin lagi yang dapat kita renungkan ketika hendak membalaskan dendam sakitnya dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah menghimpun obat hati ini dengan tingkatan level dosis yang berbeda sesuai dengan kapabilitas orangnya. Tidak hanya dosis yang meningkat, tetapi juga beragam pendekatan yang sekiranya dapat meredakan gejolak dendam ketika dizalimi.Wahai orang yang dizalimi! Jika engkau ingin membalaskan dendam itu, ingatlah wasiat Nabi ﷺ ini,فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)Ketahuilah! Inilah kabar gembira untuk siapapun yang terluka hatinya saat ditimpa musibah. Rantai musibah yang menimpa itu adalah indikator level agama anda. Semakin berat musibah yang dihadapi, maka semakin tinggi level agamanya. Bergembiralah! Dengan kabar inilah anda dapat membakar mesin hati untuk rida atas takdirnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Madarijus Salikin cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Jilid 2. Diakses via maktabah syamilah https://shamela.ws/book/8370/797Catatan kaki:[1] Terdapat dalam Madarijus Salikin (2: 303) cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Beirut via maktabah syamilah. Link: https://shamela.ws/book/8370/797[2] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, dan Ahmad, 1: 185.[3] Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, karya Dr. Firanda Andirja (1: 154).
Daftar Isi ToggleMeyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻKesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaAllah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniBerusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaRenungan tambahanAllah ﷻ menggulirkan lembaran kehidupan manusia dengan segala manis pahitnya. Umumnya manusia mendapatkan banyak kenikmatan Allah ﷻ, bahkan sampai mustahil untuk menghitung nikmat-Nya di kehidupan kita. Akan tetapi, Allah ﷻ memang menakdirkan kehidupan manusia dengan kesusahan. Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Allah ﷻ menakdirkan manusia pasti menempuh jalan kesulitan. Bolehlah kita mengibaratkan sedang berenang di kolam susu yang luas. Betapa nikmatnya berenang sembari meminum air susu yang melegakan. Namun, tentu berenang adalah sebuah usaha yang tak mudah untuk dijalankan.Termasuk kesulitan di dunia itu adalah bergulirnya episode kehidupan dimana diri kita dizalimi oleh orang lain. Ini adalah takdir Allah ﷻ yang mungkin pahit dan wajib kita mengimaninya serta bersabar dengannya. Tentu dizalimi adalah keadaan yang sangat berat. Sangat ingin rasanya membalaskan kezaliman itu dengan dalih meraih hak yang dirampas. Namun, terkadang, justru pahitnya kezaliman itu membutakan akal. Akibatnya, justru balasannya lebih buruk dari sekadar kezaliman sebelumnya. Padahal ini adalah peluang amal yang besar, meski memang berat dihadapi. Sehingga para ulama banyak membahas bab akhlak ketika dizalimi.Salah satu ulama yang memiliki risalah sangat indah dalam membekali orang-orang terzalimi adalah Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau memberikan 11 perenungan yang menjadi obat penyembuh seorang hamba atas luka hati akibat gangguan hamba lainnya kepada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan poin-poin ini di dalam Madarijus Salikin ketika membahas bab akhlak. [1] Nikmatilah obat hati berikut ini:Meyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻHal pertama yang seseorang perlu renungkan ketika dizalimi adalah bahwa episode dizalimi ini adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Ketika ia mengetahui bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ, maka ia akan merasa tenang dan tidak terlalu gundah. Karena ia mengetahui bahwa episode ini telah Allah ﷻ ridai untuk menjadi takdir bagi dirinya. Terlebih ia mengetahui bahwasanya Allah ﷻ adalah Zat Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui secara detail). Allah ﷻ berfirman,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin: 8)Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita semua bahwa ialah sebaik-baik penentu takdir dengan nama dan sifat-Nya yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Lantas, masihkah kita berani memprotes takdir Allah ﷻ?Sekiranya anda menghadapi seorang dokter berkapabilitas tinggi yang memutuskan amputasi atas kaki anda karena sebuah infeksi yang dapat mematikan anda, apakah anda masih berani memprotes? Sekarang bayangkan lagi dokter itu yang menjamin kehidupan anda dari kecil sampai besar, menanggung biaya amputasi, dan perawatan hidup anda setelah operasi. Dokter itu melakukannya karena kecintaan dan kasih-sayangnya kepada anda, tidak hanya sekadar berdasarkan ilmu pengetahuannya.Maka, lebih-lebih lagi Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menjelaskan sifat Allah ﷻ,ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kita ketahui bahwa kasih sayang Ibu kepada anaknya adalah kasih sayang terbesar di muka bumi ini. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayang seorang Ibu kepada buah hatinya.Sebagaimana asal orang mencinta, ia pasti berusaha melakukan hal semaksimal mungkin untuk kekasihnya. Ia selalu pilihkan hal terbaik untuknya, serta menentukan momen terindah untuknya. Meskipun terkadang itu tidak disukai kekasihnya pada saat itu. Maka, lebih-lebih lagi Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dia adalah Zat yang paling rahmat kepada hamba-Nya. Tidak mungkin Allah ﷻ menjadikan momen kepahitan hidup atas seseorang, termasuk kezaliman yang dirasakan hamba-Nya, kecuali bernilai manfaat bagi hamba tersebut. Apalagi Allah ﷻ Maha Mengetahui mana jalan yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka, argumen ini sudah cukup untuk menjadi perenungan berharga tatkala terpuruk dizalimi.Kesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaHal selanjutnya yang perlu direnungi adalah bahwa keadaan dizalimi itu justru adalah peluang untuk mendapatkan keuntungan besar di penghujungnya. Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Perniagaan apa yang bisa memberikan keuntungan unlimited?! Tidak ada bisnis yang selalu menguntungkan kecuali bertransaksi pahala sabar dengan Allah ﷻ. Tanyalah kepada pebisnis besar yang telah menjadi triliuner hari ini, apakah mereka menggapainya dengan langkah yang mudah? Apakah mereka tidak pernah merasakan ditipu, dizalimi, dan dikhianati oleh orang lain? Tentu kebanyakan mereka bahkan semuanya akan menjawab “iya” bahwa mereka menggapainya dengan mati-matian.Ketika ditanya lagi apakah pengorbanan itu worth-to-do atau pantas untuk dilakukan, tentu mereka akan menjawab sangat pantas. Maka, tentu seorang muslim akan dapat lebih bersabar dan rida atas takdirnya dizalimi, karena dalam pikirannya punya konsep bahwa orang yang bersabar akan mendapatkan profit tak terbatas!Tentu sangat logis sekali motivasi yang Nabi ﷺ sebutkan dalam sebuah hadis bahwa segala sengsara di dunia akan terhapus ketika sudah mendapatkan satu celupan surga. Dalam sebuah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bertutur yang artinya,“Didatangkan penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya.” (HR. Muslim no. 2807)Inilah keuntungan yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar menghadapi kesengsaraan hidup! Sebuah janji yang cukup membuat mata terbelalak sekaligus buta dari kesulitan kehidupan. Maukah anda mengganti keuntungan sebesar ini dengan pelampiasan dendam yang hanya melegakan hati sesaat? Tentu orang yang berakal sehat tidak akan memilih perniagaan semisal. Oleh karena itu, merenungi pahala yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar ketika terzalimi adalah bagian berharga dari perjalanan mengobati luka dizalimi.Allah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniSelain Allah ﷻ memberikan pahala tak terbatas kepada orang yang bersabar ketika dizalimi dan tidak mendendam, Allah ﷻ juga berikan tambahan ampunan jika orang tersebut memaafkan orang yang menzaliminya. Allah ﷻ menyerukan untuk bersikap pemaaf dengan janji akan dimaafkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah firman Allah ﷻ berkaitan kasus Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang marah ketika difitnah,وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)Ambillah faidah dari akhlak para salaf yang mulia! Putri kesayangannya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, yakni Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah oleh kerabatnya sendiri yang hidupnya ia nafkahi. Pantas sekali Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu marah dan memboikot orang ini. Akan tetapi, ketika Allah ﷻ perintahkan untuk memaafkan dengan janji Allah ﷻ akan mengampuni Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Ash-Shiddiq ini pun langsung memaafkan. Abu Bakr pun berkata, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami.” Beliau pun kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya tersebut.Oleh para ulama, potongan kisah ini menjadi alasan kongkrit mengapa Abu Bakr digelari Ash-Shiddiq. Inilah kemuliaan dari memaafkan orang yang menzalimi. Ia dapat menjadi saksi kebenaran iman seseorang. Inilah keteladanan dari orang terbaik setelah para Nabi dan Rasulnya dari umat ini.Keutamaan lain dari memaafkan adalah sebagaimana yang disebutkan Nabi ﷺ dalam hadis,مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim no. 4689)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ: مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ، وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ.“Dalam sifat pemaaf, mengampuni dan kelembutan (menahan diri), terdapat manisnya ketenangan dan kedamaian. Jiwa pun menjadi mulia, agung, serta tinggi. Terhadap keinginan membalas dendam, maka tidak ada dorongan untuk membalasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 303)Berusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaSetelah merenungi bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih baik daripada membalas dendam, ternyata masih ada level yang lebih tinggi lagi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa jika seorang yang dizalimi ingin mendapatkan pahala yang jauh lebih besar, maka ia perlu berusaha rida atas takdir yang ada.Pecinta sejati selalu rida dengan apa yang diberikan oleh kekasihnya. Berbagai kesulitan pun terasa lapang oleh pecinta ketika berkaitan dengan kekasihnya. Kalau dalam budaya Indonesia, sering diungkapkan, “Gunung manapun kan kudaki. Samudera manapun kan kuseberangi.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta membuat pemiliknya menjadi lapang dada dengan segala rintangan ujian dalam mendapatkan kekasihnya. Maka, rida atas takdir Allah ﷻ yang pahit ketika dizalimi adalah bagian dari kejujuran cinta seorang hamba.Jalan rida ini adalah levelnya para Nabi dan Rasul. Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul, khususnya para rasul ulul azmi. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” [2]Mereka tidak hanya sabar ketika dizalimi karena urusan dunia, melainkan mereka rida atas kezaliman orang lain tatkala mendakwahkan kalimat tauhid. Contohnya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau menghadapi ujian dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya kaumnya yang menolaknya, bahkan penolakan itu datang dari kalangan keluarga sendiri. Tentu ini adalah hal berat, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam bermain di level sangat tinggi. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam justru bersyukur dengan banyak berzikir, sehingga digelari sebagai ‘abdan syakura (hamba yang pandai bersyukur). [3]Inilah teladan keridaan dalam menghadapi kezaliman sesama makhluk. Siapa di antara kita yang pernah berdakwah selama 950 tahun dan mayoritas hasilnya adalah penolakan? Tentu tidak ditemukan lagi di zaman ini. Jelas tidak ada manusia di milenium ini yang lebih berat ujiannya secara hitungan dunia dibandingkan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun, Nabi Nuh‘alaihissalam berhasil melewatinya tidak hanya dengan nilai KKM, melainkan nilai cumlaude berpredikat abdan syakura.Renungan tambahanMasih ada 7 poin lagi yang dapat kita renungkan ketika hendak membalaskan dendam sakitnya dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah menghimpun obat hati ini dengan tingkatan level dosis yang berbeda sesuai dengan kapabilitas orangnya. Tidak hanya dosis yang meningkat, tetapi juga beragam pendekatan yang sekiranya dapat meredakan gejolak dendam ketika dizalimi.Wahai orang yang dizalimi! Jika engkau ingin membalaskan dendam itu, ingatlah wasiat Nabi ﷺ ini,فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)Ketahuilah! Inilah kabar gembira untuk siapapun yang terluka hatinya saat ditimpa musibah. Rantai musibah yang menimpa itu adalah indikator level agama anda. Semakin berat musibah yang dihadapi, maka semakin tinggi level agamanya. Bergembiralah! Dengan kabar inilah anda dapat membakar mesin hati untuk rida atas takdirnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Madarijus Salikin cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Jilid 2. Diakses via maktabah syamilah https://shamela.ws/book/8370/797Catatan kaki:[1] Terdapat dalam Madarijus Salikin (2: 303) cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Beirut via maktabah syamilah. Link: https://shamela.ws/book/8370/797[2] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, dan Ahmad, 1: 185.[3] Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, karya Dr. Firanda Andirja (1: 154).


Daftar Isi ToggleMeyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻKesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaAllah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniBerusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaRenungan tambahanAllah ﷻ menggulirkan lembaran kehidupan manusia dengan segala manis pahitnya. Umumnya manusia mendapatkan banyak kenikmatan Allah ﷻ, bahkan sampai mustahil untuk menghitung nikmat-Nya di kehidupan kita. Akan tetapi, Allah ﷻ memang menakdirkan kehidupan manusia dengan kesusahan. Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)Allah ﷻ menakdirkan manusia pasti menempuh jalan kesulitan. Bolehlah kita mengibaratkan sedang berenang di kolam susu yang luas. Betapa nikmatnya berenang sembari meminum air susu yang melegakan. Namun, tentu berenang adalah sebuah usaha yang tak mudah untuk dijalankan.Termasuk kesulitan di dunia itu adalah bergulirnya episode kehidupan dimana diri kita dizalimi oleh orang lain. Ini adalah takdir Allah ﷻ yang mungkin pahit dan wajib kita mengimaninya serta bersabar dengannya. Tentu dizalimi adalah keadaan yang sangat berat. Sangat ingin rasanya membalaskan kezaliman itu dengan dalih meraih hak yang dirampas. Namun, terkadang, justru pahitnya kezaliman itu membutakan akal. Akibatnya, justru balasannya lebih buruk dari sekadar kezaliman sebelumnya. Padahal ini adalah peluang amal yang besar, meski memang berat dihadapi. Sehingga para ulama banyak membahas bab akhlak ketika dizalimi.Salah satu ulama yang memiliki risalah sangat indah dalam membekali orang-orang terzalimi adalah Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau memberikan 11 perenungan yang menjadi obat penyembuh seorang hamba atas luka hati akibat gangguan hamba lainnya kepada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan poin-poin ini di dalam Madarijus Salikin ketika membahas bab akhlak. [1] Nikmatilah obat hati berikut ini:Meyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻHal pertama yang seseorang perlu renungkan ketika dizalimi adalah bahwa episode dizalimi ini adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Ketika ia mengetahui bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ, maka ia akan merasa tenang dan tidak terlalu gundah. Karena ia mengetahui bahwa episode ini telah Allah ﷻ ridai untuk menjadi takdir bagi dirinya. Terlebih ia mengetahui bahwasanya Allah ﷻ adalah Zat Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui secara detail). Allah ﷻ berfirman,وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin: 8)Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita semua bahwa ialah sebaik-baik penentu takdir dengan nama dan sifat-Nya yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Lantas, masihkah kita berani memprotes takdir Allah ﷻ?Sekiranya anda menghadapi seorang dokter berkapabilitas tinggi yang memutuskan amputasi atas kaki anda karena sebuah infeksi yang dapat mematikan anda, apakah anda masih berani memprotes? Sekarang bayangkan lagi dokter itu yang menjamin kehidupan anda dari kecil sampai besar, menanggung biaya amputasi, dan perawatan hidup anda setelah operasi. Dokter itu melakukannya karena kecintaan dan kasih-sayangnya kepada anda, tidak hanya sekadar berdasarkan ilmu pengetahuannya.Maka, lebih-lebih lagi Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menjelaskan sifat Allah ﷻ,ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kita ketahui bahwa kasih sayang Ibu kepada anaknya adalah kasih sayang terbesar di muka bumi ini. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayang seorang Ibu kepada buah hatinya.Sebagaimana asal orang mencinta, ia pasti berusaha melakukan hal semaksimal mungkin untuk kekasihnya. Ia selalu pilihkan hal terbaik untuknya, serta menentukan momen terindah untuknya. Meskipun terkadang itu tidak disukai kekasihnya pada saat itu. Maka, lebih-lebih lagi Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dia adalah Zat yang paling rahmat kepada hamba-Nya. Tidak mungkin Allah ﷻ menjadikan momen kepahitan hidup atas seseorang, termasuk kezaliman yang dirasakan hamba-Nya, kecuali bernilai manfaat bagi hamba tersebut. Apalagi Allah ﷻ Maha Mengetahui mana jalan yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka, argumen ini sudah cukup untuk menjadi perenungan berharga tatkala terpuruk dizalimi.Kesabaran akan melahirkan pahala yang besar dan kelapangan bagi dirinyaHal selanjutnya yang perlu direnungi adalah bahwa keadaan dizalimi itu justru adalah peluang untuk mendapatkan keuntungan besar di penghujungnya. Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Perniagaan apa yang bisa memberikan keuntungan unlimited?! Tidak ada bisnis yang selalu menguntungkan kecuali bertransaksi pahala sabar dengan Allah ﷻ. Tanyalah kepada pebisnis besar yang telah menjadi triliuner hari ini, apakah mereka menggapainya dengan langkah yang mudah? Apakah mereka tidak pernah merasakan ditipu, dizalimi, dan dikhianati oleh orang lain? Tentu kebanyakan mereka bahkan semuanya akan menjawab “iya” bahwa mereka menggapainya dengan mati-matian.Ketika ditanya lagi apakah pengorbanan itu worth-to-do atau pantas untuk dilakukan, tentu mereka akan menjawab sangat pantas. Maka, tentu seorang muslim akan dapat lebih bersabar dan rida atas takdirnya dizalimi, karena dalam pikirannya punya konsep bahwa orang yang bersabar akan mendapatkan profit tak terbatas!Tentu sangat logis sekali motivasi yang Nabi ﷺ sebutkan dalam sebuah hadis bahwa segala sengsara di dunia akan terhapus ketika sudah mendapatkan satu celupan surga. Dalam sebuah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bertutur yang artinya,“Didatangkan penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya.” (HR. Muslim no. 2807)Inilah keuntungan yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar menghadapi kesengsaraan hidup! Sebuah janji yang cukup membuat mata terbelalak sekaligus buta dari kesulitan kehidupan. Maukah anda mengganti keuntungan sebesar ini dengan pelampiasan dendam yang hanya melegakan hati sesaat? Tentu orang yang berakal sehat tidak akan memilih perniagaan semisal. Oleh karena itu, merenungi pahala yang Allah ﷻ janjikan bagi orang yang bersabar ketika terzalimi adalah bagian berharga dari perjalanan mengobati luka dizalimi.Allah ﷻ menambahkan ampunan bagi hamba yang mengampuniSelain Allah ﷻ memberikan pahala tak terbatas kepada orang yang bersabar ketika dizalimi dan tidak mendendam, Allah ﷻ juga berikan tambahan ampunan jika orang tersebut memaafkan orang yang menzaliminya. Allah ﷻ menyerukan untuk bersikap pemaaf dengan janji akan dimaafkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah firman Allah ﷻ berkaitan kasus Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang marah ketika difitnah,وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)Ambillah faidah dari akhlak para salaf yang mulia! Putri kesayangannya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, yakni Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah oleh kerabatnya sendiri yang hidupnya ia nafkahi. Pantas sekali Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu marah dan memboikot orang ini. Akan tetapi, ketika Allah ﷻ perintahkan untuk memaafkan dengan janji Allah ﷻ akan mengampuni Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Ash-Shiddiq ini pun langsung memaafkan. Abu Bakr pun berkata, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami.” Beliau pun kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya tersebut.Oleh para ulama, potongan kisah ini menjadi alasan kongkrit mengapa Abu Bakr digelari Ash-Shiddiq. Inilah kemuliaan dari memaafkan orang yang menzalimi. Ia dapat menjadi saksi kebenaran iman seseorang. Inilah keteladanan dari orang terbaik setelah para Nabi dan Rasulnya dari umat ini.Keutamaan lain dari memaafkan adalah sebagaimana yang disebutkan Nabi ﷺ dalam hadis,مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim no. 4689)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ: مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ، وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ.“Dalam sifat pemaaf, mengampuni dan kelembutan (menahan diri), terdapat manisnya ketenangan dan kedamaian. Jiwa pun menjadi mulia, agung, serta tinggi. Terhadap keinginan membalas dendam, maka tidak ada dorongan untuk membalasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 303)Berusaha rida sebagai bentuk amal dengan level yang lebih tinggi dan kejujuran cintaSetelah merenungi bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih baik daripada membalas dendam, ternyata masih ada level yang lebih tinggi lagi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa jika seorang yang dizalimi ingin mendapatkan pahala yang jauh lebih besar, maka ia perlu berusaha rida atas takdir yang ada.Pecinta sejati selalu rida dengan apa yang diberikan oleh kekasihnya. Berbagai kesulitan pun terasa lapang oleh pecinta ketika berkaitan dengan kekasihnya. Kalau dalam budaya Indonesia, sering diungkapkan, “Gunung manapun kan kudaki. Samudera manapun kan kuseberangi.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta membuat pemiliknya menjadi lapang dada dengan segala rintangan ujian dalam mendapatkan kekasihnya. Maka, rida atas takdir Allah ﷻ yang pahit ketika dizalimi adalah bagian dari kejujuran cinta seorang hamba.Jalan rida ini adalah levelnya para Nabi dan Rasul. Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul, khususnya para rasul ulul azmi. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” [2]Mereka tidak hanya sabar ketika dizalimi karena urusan dunia, melainkan mereka rida atas kezaliman orang lain tatkala mendakwahkan kalimat tauhid. Contohnya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau menghadapi ujian dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya kaumnya yang menolaknya, bahkan penolakan itu datang dari kalangan keluarga sendiri. Tentu ini adalah hal berat, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam bermain di level sangat tinggi. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam justru bersyukur dengan banyak berzikir, sehingga digelari sebagai ‘abdan syakura (hamba yang pandai bersyukur). [3]Inilah teladan keridaan dalam menghadapi kezaliman sesama makhluk. Siapa di antara kita yang pernah berdakwah selama 950 tahun dan mayoritas hasilnya adalah penolakan? Tentu tidak ditemukan lagi di zaman ini. Jelas tidak ada manusia di milenium ini yang lebih berat ujiannya secara hitungan dunia dibandingkan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun, Nabi Nuh‘alaihissalam berhasil melewatinya tidak hanya dengan nilai KKM, melainkan nilai cumlaude berpredikat abdan syakura.Renungan tambahanMasih ada 7 poin lagi yang dapat kita renungkan ketika hendak membalaskan dendam sakitnya dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah menghimpun obat hati ini dengan tingkatan level dosis yang berbeda sesuai dengan kapabilitas orangnya. Tidak hanya dosis yang meningkat, tetapi juga beragam pendekatan yang sekiranya dapat meredakan gejolak dendam ketika dizalimi.Wahai orang yang dizalimi! Jika engkau ingin membalaskan dendam itu, ingatlah wasiat Nabi ﷺ ini,فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)Ketahuilah! Inilah kabar gembira untuk siapapun yang terluka hatinya saat ditimpa musibah. Rantai musibah yang menimpa itu adalah indikator level agama anda. Semakin berat musibah yang dihadapi, maka semakin tinggi level agamanya. Bergembiralah! Dengan kabar inilah anda dapat membakar mesin hati untuk rida atas takdirnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Madarijus Salikin cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Jilid 2. Diakses via maktabah syamilah https://shamela.ws/book/8370/797Catatan kaki:[1] Terdapat dalam Madarijus Salikin (2: 303) cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Beirut via maktabah syamilah. Link: https://shamela.ws/book/8370/797[2] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, dan Ahmad, 1: 185.[3] Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, karya Dr. Firanda Andirja (1: 154).
Prev     Next