Keutamaan Dzikir

Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan, namun menyimpan keutamaan yang sangat besar. Ia adalah makanan hati, penyejuk jiwa, dan penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya. Para ulama menjelaskan bahwa dalam dzikir terkandung ratusan manfaat yang mampu mengangkat derajat seorang muslim. Karena itu, siapa saja yang ingin hatinya hidup dan dekat dengan Allah ﷻ, hendaknya senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir.  Daftar Isi tutup 1. Lebih dari Seratus Faedah Dzikir 2. Dzikir itu Menenangkan Hati 3. Hadirkan Hati Ketika Berdzikir 4. Makna Dzikir 4.1. a) Makna umum 4.2. b) Makna khusus 5. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan Muqayyad Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:وَفِي الذِّكْرِ أَكْثَرُ مِنْ مِائَةِ فَائِدَةٍLebih dari Seratus Faedah DzikirDi antara faedah dzikir yang sangat banyak itu adalah: (إِحْدَاهَا) أَنَّهُ يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ وَيَقْمَعُهُ وَيَكْسِرُهُ.Pertama, dzikir dapat mengusir setan, melemahkan, dan menghancurkan kekuatannya.  [الثَّانِيَةُ]أَنَّهُ يُرْضِي الرَّحْمٰنَ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua, dzikir mendatangkan keridaan Allah ﷻ. [الثَّالِثَةُ]أَنَّهُ يُزِيلُ الهَمَّ وَالغَمَّ عَنِ القَلْبِ.Ketiga, dzikir mampu menghilangkan kekhawatiran pada masa akan datang (hamm) dan kesedihan saat ini (ghamm) dari hati. [الرَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ لِلْقَلْبِ الفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالبَسْطَ.Keempat, dzikir membawa kegembiraan, kebahagiaan, dan kelapangan bagi hati. [الخَامِسَةُ]أَنَّهُ يُقَوِّي القَلْبَ وَالبَدَنَ.Kelima, dzikir menguatkan hati dan tubuh. [السَّادِسَةُ] يُنَوِّرُ الوَجْهَ وَالقَلْبَ.Keenam, dzikir menjadikan wajah dan hati bercahaya. [السَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ الرِّزْقَ.Ketujuh, dzikir mendatangkan rezeki. [الثَّامِنَةُ]أَنَّهُ يَكْسُو الذَّاكِرَ المَهَابَةَ وَالحَلَاوَةَ وَالنُضْرَةَ.Kedelapan, dzikir membuat orang yang melakukannya memiliki wibawa, pesona, dan keteduhan. [التَّاسِعَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المَحَبَّةَ الَّتِي هِيَ رُوحُ الإِسْلَامِ، وَقُطْبُ رَحَى الدِّينِ، وَمدَارُ السَّعَادَةِ.قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا، وَجَعَلَ سَبَبَ المَحَبَّةِ دَوَامَ الذِّكْرِ.فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَالَ مَحَبَّةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَلْهَجْ بِذِكْرِهِ، فَإِنَّهُ الدَّرْسُ وَالمُذَاكَرَةُ كَمَا أَنَّهُ بَابُ العِلْمِ، فَالذِّكْرُ بَابُ المَحَبَّةِ وَشَارِعُهَا الأَعْظَمُ وَصِرَاطُهَا الأَقْوَمُ.Kesembilan, dzikir menumbuhkan rasa cinta, yang merupakan ruh Islam, poros agama, dan inti kebahagiaan. Allah menjadikan segala sesuatu memiliki sebab, dan sebab tumbuhnya cinta kepada-Nya adalah dengan terus berdzikir.Siapa saja yang ingin meraih cinta Allah ﷻ, hendaklah ia senantiasa basah lisannya dengan dzikir. Sebagaimana pengulangan pelajaran adalah kunci ilmu, maka dzikir adalah kunci cinta, jalan besarnya, dan jalan lurus menuju-Nya.Baca juga: Tanda Allah Mencintai Seseorang: Dicintai Penduduk Langit dan Diterima di Bumi [العَاشِرَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المُرَاقَبَةَ حَتَّى يُدْخِلَهُ فِي بَابِ الإِحْسَانِ، فَيَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّهُ يَرَاهُ، وَلا سَبِيلَ لِلْغَافِلِ عَنِ الذِّكْرِ إِلَى مَقَامِ الإِحْسَانِ، كَمَا لا سَبِيلَ لِلْقَاعِدِ إِلَى الوُصُولِ إِلَى البَيْتِ.Kesepuluh, dzikir melahirkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah) hingga mengantarkan seseorang ke pintu ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Orang yang lalai dari dzikir tidak akan mungkin sampai pada derajat ihsan, sebagaimana orang yang hanya duduk tidak akan pernah sampai ke rumah tujuan.Baca juga: Penjelasan Ringkas tentang Ihsan [الحَادِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الإِنَابَةَ، وَهِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَمَتَى أَكْثَرَ الرُّجُوعَ إِلَيْهِ بِذِكْرِهِ أَوْرَثَهُ ذٰلِكَ رُجُوعَهُ بِقَلْبِهِ إِلَيْهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ، فَيَبْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَفْزَعَهُ وَمَلْجَأَهُ، وَمَلَاذَهُ وَمَعَاذَهُ، وَقِبْلَةَ قَلْبِهِ وَمَهْرَبَهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ وَالبَلَايَا.Kesebelas, dzikir menumbuhkan sikap inābah, yaitu kembali kepada Allah ﷻ. Semakin banyak seseorang kembali kepada-Nya melalui dzikir, semakin membuatnya terbiasa menjadikan Allah sebagai tempat kembali hatinya dalam setiap keadaan. Allah menjadi pelindung, sandaran, tujuan, dan tempat ia mengadu di saat datangnya musibah dan ujian. [الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ القُرْبَ مِنْهُ، فَعَلَى قَدْرِ ذِكْرِهِ للهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ قُرْبُهُ مِنْهُ، وَعَلَى قَدْرِ غَفْلَتِهِ يَكُونُ بُعْدُهُ مِنْهُ.Kedua belas, dzikir mendekatkan hamba kepada Allah ﷻ. Sejauh mana ia berdzikir, sejauh itu pula kedekatannya. Sebaliknya, sejauh mana ia lalai (ghaflah), sejauh itu pula jaraknya dari Allah. [الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ المَعْرِفَةِ، وَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنَ الذِّكْرِ ازْدَادَ مِنَ المَعْرِفَةِ.Ketiga belas, dzikir membuka pintu besar menuju ma‘rifah (pengenalan yang mendalam terhadap Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah pula ma‘rifah. [الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الهَيْبَةَ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِجْلَالَهُ، لِشِدَّةِ اسْتِيلَائِهِ عَلَى قَلْبِهِ وَحُضُورِهِ مَعَ اللهِ تَعَالَى. بِخِلافِ الغَافِلِ فَإِنَّ حِجَابَ الهَيْبَةِ رَقِيقٌ فِي قَلْبِهِ.Keempat belas, dzikir menumbuhkan rasa haibah (kewibawaan batin) dan pengagungan terhadap Allah ﷻ, karena dzikir memenuhi hati dengan kehadiran-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai tidak memiliki haibah dalam hatinya, bahkan tirai pengagungan terhadap Allah sangat tipis. [الخَامِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى لَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ﴾ [البقرة: ١٥٢]Kelima belas, dzikir mendatangkan balasan berupa Allah mengingat hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman:فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الذِّكْرِ إِلَّا هٰذِهِ وَحْدَهَا لَكَفَتْ فَضْلًا وَشَرَفًا.وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ».Seandainya tidak ada keutamaan dzikir kecuali ini saja, tentu sudah cukup sebagai kemuliaan dan keutamaan yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi dari Allah Ta‘ala:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»“Siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan siapa yang mengingat-Ku di tengah sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhārī dan Muslim) [السَّادِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ حَيَاةَ القَلْبِ. وَسَمِعْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى رُوحَهُ يَقُولُ:Keenam belas, dzikir menghidupkan hati. Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruhnya – berkata:«الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ المَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ المَاءَ؟».“Dzikir bagi hati itu laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari airnya?” [السَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ قُوتُ القَلْبِ وَالرُّوحِ، فَإِذَا فَقَدَهُ العَبْدُ صَارَ بِمَنْزِلَةِ الجِسْمِ إِذَا حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قُوتِهِ.Ketujuh belas, dzikir adalah makanan hati dan ruh. Jika hamba kehilangan dzikir, maka ia bagaikan tubuh yang kehilangan makanannya.وَحَضَرْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ مَرَّةً، صَلَّى الفَجْرَ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى قَرِيبٍ مِنِ انْتِصَافِ النَّهَارِ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ:«هٰذِهِ غَدْوَتِي، وَلَوْ لَمْ أَتَغَدَّ الغَدَاءَ سَقَطَتْ قُوَّتِي».أَوْ كَلَامًا قَرِيبًا مِنْ هٰذَا.Aku pernah hadir bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Suatu hari setelah salat Subuh, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga mendekati pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: “Inilah sarapan pagiku. Seandainya aku tidak sarapan seperti ini, pasti tenagaku melemah.”وَقَالَ لِي مَرَّةً:«لَا أَتْرُكُ الذِّكْرَ إِلَّا بِنِيَّةِ إِجْمَامِ نَفْسِي وَإِرَاحَتِهَا، لِأَسْتَعِدَّ بِتِلْكَ الرَّاحَةِ لِذِكْرٍ آخَرَ».أَوْ كَلَامًا هٰذَا مَعْنَاهُ.Beliau juga pernah berkata kepadaku: “Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat memberi jeda dan istirahat pada diriku, agar dengan istirahat itu aku bisa lebih kuat untuk berdzikir kembali.” Atau ungkapan dengan makna yang serupa. [الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ جَلَاءَ القَلْبِ مِنْ صَدَائِهِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي الحَدِيثِ، وَكُلُّ شَيْءٍ لَهُ صَدَأٌ، وَصَدَأُ القَلْبِ الغَفْلَةُ وَالهَوَى، وَجَلَاؤُهُ الذِّكْرُ وَالتَّوْبَةُ وَالاسْتِغْفَارُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا المَعْنَى.Kedelapan belas, dzikir menjadikan hati bersih dari karatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Setiap sesuatu pasti ada karatnya, dan karat hati adalah kelalaian (ghaflah) serta hawa nafsu. Pembersihnya adalah dzikir, taubat, dan istighfar. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya. [التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَحُطُّ الخَطَايَا وَيُذْهِبُهَا، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الحَسَنَاتِ، وَالحَسَنَاتُ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.Kesembilan belas, dzikir menggugurkan dosa-dosa dan menghapusnya. Sebab, dzikir termasuk amalan paling agung, sementara Allah ﷻ berfirman:إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS. Hūd [11]: 114) [العِشْرُونَ]أَنَّهُ يُزِيلُ الوَحْشَةَ بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَإِنَّ الغَافِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْشَةٌ لَا تَزُولُ إِلَّا بِالذِّكْرِ.Kedua puluh, dzikir menghilangkan rasa asing dan jauh antara hamba dengan Rabb-nya ﷻ. Orang yang lalai (ghaflah) dari dzikir, antara dirinya dengan Allah terdapat jurang keterasingan yang tidak akan hilang kecuali dengan dzikir.Catatan: Apa itu al-wahsyah?Dalam Kamus Al-Ma’ani disebutkan bahwa wahsyah itu berarti tanah tandus yang sunyi dan menakutkan.Maknanya juga: terputusnya hubungan dan jauhnya hati dari kasih sayang. Ia juga bisa bermakna rasa takut ketika sendirian.Orang arab menyebut aw-hasyal manzil, maksudnya rumah itu menjadi sepi dan ditinggalkan manusia.Maka jika engkau ingin mendoakan seseorang yang engkau cintai, baik saat ia jauh maupun dekat, ucapkanlah:لَا أَوْحَشَ اللّٰهُ لَكَ قَلْبًا وَلَا رُوحًا وَلَا جَسَدًاSemoga Allah tidak menjadikan hatimu, jiwamu, dan tubuhmu merasa sunyi dan sepi. [الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّ مَا يَذْكُرُ بِهِ العَبْدُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَلَالِهِ وَتَسْبِيحِهِ وَتَحْمِيدِهِ يُذْكَرُ بِصَاحِبِهِ عِنْدَ الشِّدَّةِ.فَقَدْ رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي المُسْنَدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ العَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ. أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟»هٰذَا الحَدِيثُ أَوْ مَعْنَاهُ.Kedua puluh satu, segala tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang diucapkan hamba dalam menyebut nama Allah ﷻ akan menjadi penyelamatnya di saat sulit.Imam Aḥmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ، أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟“Sesungguhnya apa yang kalian sebut dari keagungan Allah ﷻ, berupa tahlil, takbir, dan tahmid, semuanya akan berputar di sekitar ‘Arsy, suaranya berdengung seperti dengungan lebah. Ia akan disebut-sebut bersama pelakunya. Maka tidakkah salah seorang dari kalian suka jika ia memiliki amal yang bisa membuatnya disebut-sebut (di sisi Allah)?” (HR. Aḥmad, atau semakna dengannya). [الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِذِكْرِهِ فِي الرَّخَاءِ عَرَفَهُ فِي الشِّدَّةِ، وَقَدْ جَاءَ أَثَرٌ مَعْنَاهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْمُطِيعَ الذَّاكِرَ لِلَّهِ تَعَالَى إِذَا أَصَابَتْهُ شِدَّةٌ أَوْ سَأَلَ اللهَ تَعَالَى حَاجَةً قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ صَوْتٌ مَعْرُوفٌ، مِنْ عَبْدٍ مَعْرُوفٍ، وَالْغَافِلُ الْمُعْرِضُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا دَعَاهُ وَسَأَلَهُ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، صَوْتٌ مُنْكَرٌ، مِنْ عَبْدٍ مُنْكَرٍ.Kedua puluh dua, seorang hamba yang membiasakan diri mengenal Allah Ta‘ālā dengan banyak berdzikir di waktu lapang, maka Allah akan mengenalnya di waktu sempit. Ada sebuah atsar yang menjelaskan bahwa seorang hamba yang taat dan banyak berdzikir, ketika ia tertimpa kesulitan atau memohon kepada Allah, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang dikenal, dari hamba yang dikenal.” Sebaliknya, orang yang lalai dan berpaling dari Allah, jika suatu saat ia berdoa dan memohon, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang asing, dari hamba yang asing.” [الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُنَجِّي مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى، كَمَا قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَيُرْوَى مَرْفُوعًا:«مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى».Kedua puluh tiga, dzikir dapat menyelamatkan dari azab Allah Ta‘ālā. Sebagaimana perkataan Mu‘ādz radhiyallāhu ‘anhu—dan diriwayatkan pula secara marfū‘—:مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى“Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dari azab Allah ‘Azza wa Jalla melebihi dzikir kepada Allah Ta‘ālā.” [الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ تَنْزِيلِ السَّكِينَةِ، وَغَشْيَانِ الرَّحْمَةِ، وَحُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ بِالذَّاكِرِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Kedua puluh empat, dzikir menjadi sebab turunnya sakīnah (ketenangan jiwa), turunnya rahmat, serta dikelilinginya para ahli dzikir oleh malaikat, sebagaimana diberitakan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.[الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ اشْتِغَالِ اللِّسَانِ عَنِ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْبَاطِلِ.فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ.فَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ تَكَلَّمَ بِهَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ أَوْ بَعْضِهَا، وَلَا سَبِيلَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنْهَا الْبَتَّةَ إِلَّا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى.وَالْمُشَاهَدَةُ وَالتَّجْرِبَةُ شَاهِدَانِ بِذَلِكَ، فَمَنْ عَوَّدَ لِسَانَهُ ذِكْرَ اللهِ صَانَ لِسَانَهُ عَنِ الْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ، وَمَنْ يَبِسَ لِسَانُهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى تَرَطَّبَ بِكُلِّ بَاطِلٍ وَلَغْوٍ وَفُحْشٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.Kedua puluh lima, dzikir menjadi sebab terjaganya lisan dari ghibah, namimah, dusta, kata-kata keji, dan ucapan batil.Sebab, manusia pasti berbicara. Jika ia tidak mengisi lisannya dengan dzikir kepada Allah dan menyebut perintah-perintah-Nya, maka lisannya akan terisi dengan kata-kata haram atau sebagian darinya. Tidak ada jalan selamat dari semua itu kecuali dengan dzikir kepada Allah.Pengalaman nyata menjadi saksi: siapa yang membiasakan lisannya dengan dzikir, Allah akan memelihara lisannya dari ucapan batil dan sia-sia. Sebaliknya, siapa yang lisannya kering dari dzikir, maka lisannya akan basah dengan ucapan batil, sia-sia, dan kotor. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. [السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ مَجَالِسَ الذِّكْرِ مَجَالِسُ الْمَلَائِكَةِ، وَمَجَالِسَ اللَّغْوِ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسُ الشَّيَاطِينِ.فَلْيَتَخَيَّرِ الْعَبْدُ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْهِ وَأَوْلَاهُمَا بِهِ، فَهُوَ مَعَ أَهْلِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.Kedua puluh enam, majelis dzikir adalah majelis para malaikat. Sedangkan majelis sia-sia dan lalai adalah majelis para setan. Maka hendaknya seorang hamba memilih: majelis manakah yang lebih ia sukai dan lebih layak baginya. Karena di dunia ia akan bersama mereka, dan di akhirat pun ia akan dikumpulkan bersama mereka. [السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُسْعِدُ الذَّاكِرَ بِذِكْرِهِ وَيُسْعِدُ بِهِ جَلِيسَهُ، وَهٰذَا هُوَ المُبَارَكُ أَيْنَ مَا كَانَ.وَالغَافِلُ وَاللَّاغِي يَشْقَى بِلَغْوِهِ وَغَفْلَتِهِ، وَيَشْقَى بِهِ مُجَالِسُهُ.Kedua puluh tujuh, dzikir membahagiakan orang yang berdzikir dengan lisannya, dan kebahagiaan itu juga menular kepada orang yang duduk bersamanya. Inilah hakikat keberkahan; di mana pun ia berada, selalu membawa kebaikan. Sebaliknya, orang yang lalai dan suka berbicara sia-sia akan menjerumuskan dirinya dalam kesengsaraan karena kelalaiannya, dan orang yang duduk bersamanya pun ikut celaka karenanya. [الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُؤمِّنُ العَبْدَ مِنَ الحَسْرَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.فَإِنَّ كُلَّ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُ العَبْدُ فِيهِ رَبَّهُ تَعَالَى كَانَ عَلَيْهِ حَسْرَةً وَتْرَةً يَوْمَ القِيَامَةِ.Kedua puluh delapan, dzikir menyelamatkan seorang hamba dari penyesalan di Hari Kiamat. Sebab, setiap majelis yang kosong dari dzikir akan menjadi penyesalan bagi pelakunya di hari akhir. [التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ مَعَ البُكَاءِ فِي الخَلْوَةِ سَبَبٌ لِإِظْلَالِ اللهِ تَعَالَى العَبْدَ يَوْمَ الحَرِّ الأَكْبَرِ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ، وَالنَّاسُ فِي حَرِّ الشَّمْسِ قَدْ صَهَرَتْهُم فِي المَوْقِفِ.وَهٰذَا الذَّاكِرُ مُسْتَظِلٌّ بِظِلِّ عَرْشِ الرَّحْمٰنِ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua puluh sembilan, dzikir yang disertai tangisan dalam kesendirian menjadi sebab Allah menaungi seorang hamba di bawah naungan ‘Arsy pada hari panas yang dahsyat. Saat manusia lainnya tersengat terik matahari yang membakar, orang yang berdzikir itu berada dalam naungan penuh rahmat. [الثَّلَاثُونَ]أَنَّ الاشْتِغَالَ بِهِ سَبَبٌ لِعَطَاءِ اللهِ لِلذَّاكِرِ أَفْضَلَ مَا يُعْطِي السَّائِلِينَ، فَفِي الحَدِيثِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ».Ketiga puluh, orang yang sibuk dengan dzikir akan diberi oleh Allah karunia terbaik, lebih daripada apa yang Dia berikan kepada para peminta. Rasulullah ﷺ bersabda, meriwayatkan dari Rabb-nya: “Allah Ta‘ala berfirman: Barang siapa yang disibukkan dengan mengingat-Ku hingga lupa meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya yang terbaik, lebih baik daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” [الحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ أَيْسَرُ العِبَادَاتِ، وَهُوَ مِنْ أَجَلِّهَا وَأَفْضَلِهَا، فَإِنَّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ أَخَفُّ حَرَكَاتِ الجَوَارِحِ وَأَيْسَرُهَا، وَلَوْ تَحَرَّكَ عُضْوٌ مِنَ الإِنسَانِ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ بِقَدْرِ حَرَكَةِ لِسَانِهِ لَشَقَّ عَلَيْهِ غَايَةَ المَشَقَّةِ، بَلْ لَا يُمْكِنُهُ ذٰلِكَ.Ketiga puluh satu, dzikir adalah ibadah yang paling mudah, tetapi termasuk yang paling agung dan utama. Gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan. Seandainya ada satu anggota tubuh manusia yang bergerak sebanyak gerakan lisannya dalam sehari semalam, tentu ia akan merasa sangat berat, bahkan tidak mungkin sanggup melakukannya. [الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ غِرَاسُ الجَنَّةِ. فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَقِيتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِبْرَاهِيمَ الخَلِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ.وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.Ketiga puluh dua, dzikir adalah tanaman surga. Dalam riwayat Tirmiżī, dari Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada malam Isra’, aku bertemu dengan Ibrāhīm al-Khalīl ‘alaihis-salām. Ia berkata: Wahai Muhammad, sampaikan salam kepada umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia masih berupa tanah lapang. Tanaman surga adalah bacaan: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.” (HR. Tirmidzi, hasan gharib)Juga dalam riwayat at-Tirmiżī dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: Subḥānallāhi wa biḥamdih, maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). [الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ العَطَاءَ وَالفَضْلَ الَّذِي رُتِّبَ عَلَيْهِ لَمْ يُرَتَّبْ عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الأَعْمَالِ.Ketiga puluh tiga, keutamaan dan pahala yang Allah tetapkan bagi dzikir tidak diberikan kepada amal lainnya.فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذٰلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.وَمَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ».Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh budak. Dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan itu menjadi benteng dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada yang membawa amal lebih baik darinya kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak. Dan siapa yang mengucapkan: subḥānallāhi wa biḥamdih seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ».Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat: subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar lebih aku cintai daripada seluruh yang disinari matahari.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ يُمْسِي: اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، أَعْتَقَ اللهُ رُبُعَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللهُ نِصْفَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ النَّارِ».Dalam riwayat at-Tirmiżī dari Anas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika pagi atau sore membaca doa: Allāhumma innī aṣbaḥtu usy’hiduka wa usy’hidu ḥamalata ‘arsyika wa malāikataka wa jamī‘a khalqika, annaka anta Allāh, lā ilāha illā anta, wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluka, maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari api neraka. Jika membacanya dua kali, Allah membebaskan separuh dirinya dari neraka. Jika membacanya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka. Jika membacanya empat kali, Allah membebaskannya seluruhnya dari api neraka.”وَفِيهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي وَإِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ».Dalam riwayat Tirmiżī dari Tsaubān, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika sore atau pagi membaca doa: raḍītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama rasūlā, maka Allah benar-benar menjadikan keridaan baginya.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ:«مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ».Dan dalam riwayat Tirmiżī pula: “Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa ḥayyullā yamūtu, biyadihi al-khayru wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta dosa, dan mengangkatnya seribu ribu derajat.” [الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ دَوَامَ ذِكْرِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُوجِبُ الأَمَانَ مِنْ نِسْيَانِهِ الَّذِي هُوَ سَبَبُ شَقَاءِ العَبْدِ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، فَإِنَّ نِسْيَانَ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُوجِبُ نِسْيَانَ نَفْسِهِ وَمَصَالِحِهَا.قَالَ تَعَالَى:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: ١٩].Ketiga puluh empat, dzikir yang terus-menerus menjadikan seorang hamba aman dari kelalaian kepada Allah. Padahal, melupakan Allah adalah sebab utama kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat.Allah ﷻ berfirman:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Ḥashr [59]: 19)وَإِذَا نَسِيَ العَبْدُ نَفْسَهُ أَعْرَضَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْهَا فَهَلَكَتْ وَفَسَدَتْ وَلَا بُدَّ، كَمَنْ لَهُ زَرْعٌ أَوْ بُسْتَانٌ أَوْ مَاشِيَةٌ أَوْ غَيْرُ ذٰلِكَ مِمَّا صَلَاحُهُ وَفَلَاحُهُ بِتَعَاهُدِهِ وَالقِيَامِ عَلَيْهِ، فَأَهْمَلَهُ وَنَسِيَهُ وَاشْتَغَلَ عَنْهُ بِغَيْرِهِ وَضَيَّعَ مَصَالِحَهُ، فَإِنَّهُ يُفْسِدُ وَلَا بُدَّ.Apabila seorang hamba melupakan dirinya sendiri, ia akan berpaling dari hal-hal yang menjadi maslahat dan kebaikannya. Ia sibuk dengan perkara lain, meninggalkan apa yang seharusnya ia jaga, hingga dirinya rusak dan binasa.Keadaannya bagaikan orang yang memiliki ladang, kebun, atau ternak, yang keberlangsungan hidupnya bergantung pada perawatan dan pemeliharaan. Namun, jika ia mengabaikan dan melupakannya, sibuk dengan urusan lain, serta meninggalkan kewajiban menjaganya, niscaya semuanya akan rusak dan hancur tanpa bisa dihindari.هٰذَا مَعَ إِمْكَانِ قِيَامِ غَيْرِهِ مَقَامَهُ فِيهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِفَسَادِ نَفْسِهِ وَهَلَاكِهَا وَشَقَائِهَا إِذَا أَهْمَلَهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَعَطَّلَ مُرَاعَاتَهَا وَتَرَكَ القِيَامَ عَلَيْهَا بِمَا يُصْلِحُهَا؟ فَمَا شِئْتَ مِنْ فَسَادٍ وَهَلَاكٍ وَخَيْبَةٍ وَحِرْمَانٍ. وَهٰذَا هُوَ الَّذِي صَارَ أَمْرُهُ كُلُّهُ فَرَطًا، فَانْفَرَطَ عَلَيْهِ أَمْرُهُ وَضَاعَتْ مَصَالِحُهُ، وَأَحَاطَتْ بِهِ أَسْبَابُ القُطُوعِ وَالخَيْبَةِ وَالهَلَاكِ.Padahal, untuk urusan kebun, ladang, atau ternak, masih mungkin orang lain menggantikannya merawat dan memperbaikinya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Jika ia mengabaikan jiwanya, melupakannya, sibuk dengan urusan lain, meninggalkan pemeliharaan hati, dan tidak menegakkan hal-hal yang bisa memperbaikinya, maka kehancuran, kesengsaraan, dan kerugian pasti menimpanya.Inilah orang yang seluruh urusannya berantakan. Hidupnya tercerai-berai, maslahatnya hilang, dan berbagai sebab kehancuran, kebinasaan, serta kegagalan mengelilinginya dari segala sisi.وَلَا سَبِيلَ إِلَى الأَمَانِ مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاللَّهْجِ بِهِ، وَأَنْ لَا يَزَالَ اللِّسَانُ رَطْبًا بِهِ، وَأَنْ يَتَوَلَّى مَنْزِلَةَ حَيَاتِهِ الَّتِي لَا غِنَى لَهُ عَنْهَا، وَمَنْزِلَةَ غِذَائِهِ الَّذِي إِذَا فَقَدَهُ فَسَدَ جِسْمُهُ وَهَلَكَ، وَبِمَنْزِلَةِ المَاءِ عِنْدَ شِدَّةِ العَطَشِ، وَبِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ فِي الحَرِّ وَالبَرْدِ، وَبِمَنْزِلَةِ الكِنِّ فِي شِدَّةِ الشِّتَاءِ وَالسَّمُومِ.Tidak ada jalan keselamatan dari kerusakan itu kecuali dengan terus-menerus berdzikir kepada Allah dan membasahi lisan dengan menyebut nama-Nya. Dzikir harus ditempatkan pada posisi yang sangat penting—seperti kehidupan yang tak mungkin ditinggalkan, seperti makanan yang jika hilang membuat tubuh rusak dan binasa, seperti air bagi orang yang sangat haus, seperti pakaian di tengah panas dan dingin, serta seperti tempat berlindung saat musim dingin yang menusuk atau angin panas yang menyengat.فَحَقِيقٌ بِالعَبْدِ أَنْ يُنَزِّلَ ذِكْرَ اللهِ مِنْهُ بِهَذِهِ المَنْزِلَةِ وَأَعْظَمَ. فَأَيْنَ هَلَاكُ الرُّوحِ وَالقَلْبِ وَفَسَادُهُمَا مِنْ هَلَاكِ البَدَنِ وَفَسَادِهِ؟ هٰذَا هَلَاكٌ لَا بُدَّ مِنْهُ وَقَدْ يَعْقُبُهُ صَلَاحٌ لَا بُدَّ. وَأَمَّا هَلَاكُ القَلْبِ وَالرُّوحِ فَهَلَاكٌ لَا يُرْجَى مَعَهُ صَلَاحٌ وَلَا فَلَاحٌ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ.فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ وَإِدَامَتِهِ: لَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا هٰذِهِ الفَائِدَةُ وَحْدَهَا لَكَفَتْ. فَمَنْ نَسِيَ اللهَ تَعَالَى أَنْسَاهُ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَنَسِيَهُ فِي العَذَابِ يَوْمَ القِيَامَةِ.قَالَ تَعَالَى:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى * قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا * قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾ [طه: ١٢٤-١٢٦].أَيْ: تُنْسَى فِي العَذَابِ كَمَا نَسِيتَ آيَاتِي فَلَمْ تَذْكُرْهَا وَلَمْ تَعْمَلْ بِهَا.Maka sudah sepantasnya seorang hamba menempatkan dzikir pada posisi yang sangat penting, bahkan lebih tinggi lagi. Sebab, kerusakan hati dan ruh jauh lebih berbahaya dibanding kerusakan tubuh. Rusaknya tubuh adalah sesuatu yang pasti, namun sering kali setelah itu datang perbaikan. Adapun rusaknya hati dan ruh, itu adalah kerusakan yang tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki dan tidak membawa keberuntungan sedikit pun. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.Dalam faedah dzikir yang terus-menerus, seandainya hanya ada satu manfaat ini saja, sebenarnya sudah cukup: barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri di dunia, dan pada Hari Kiamat Allah pun akan melupakannya di dalam azab.Allah ﷻ berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى ۝ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ۝ قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu dapat melihat? Allah berfirman: Demikianlah, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu, lalu kamu melupakannya; maka pada hari ini kamu pun dilupakan (diabaikan dalam azab).” (QS. Ṭāhā [20]: 124–126). Yakni, seseorang akan ditinggalkan di dalam azab, sebagaimana dahulu ia melupakan ayat-ayat Allah, tidak mengingatnya, dan tidak mengamalkannya.وَإِعْرَاضُهُ عَنْ ذِكْرِهِ يَتَنَاوَلُ إِعْرَاضَهُ عَنِ الذِّكْرِ الَّذِي أَنْزَلَهُ، وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ الَّذِي أَنْزَلَهُ فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ المُرَادُ بِتَنَاوُلِ إِعْرَاضِهِ عَنْ أَنْ يَذْكُرَ رَبَّهُ بِكِتَابِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَوَامِرِهِ وَآلَائِهِ وَنِعَمِهِ. فَإِنَّ هٰذِهِ كُلَّهَا تَوَابِعُ إِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِ رَبِّهِ تَعَالَى.فَإِنَّ الذِّكْرَ فِي الآيَةِ إِمَّا مَصْدَرٌ مُضَافٌ إِلَى الفَاعِلِ، أَوْ مُضَافٌ إِضَافَةَ الأَسْمَاءِ المَحْضَةِ. أَعْرَضَ عَنْ كِتَابِي وَلَمْ يَتْلُهُ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ وَلَا فَهِمَهُ، فَإِنَّ حَيَاتَهُ وَمَعِيشَتَهُ لَا تَكُونُ إِلَّا مُضَيَّقَةً عَلَيْهِ مُنَكَّدَةً مُعَذَّبًا فِيهَا.Berpaling dari dzikir mencakup juga berpaling dari dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Qur’an. Maksudnya, ia berpaling dari mengingat Allah dengan Kitab-Nya, dengan nama-nama dan sifat-Nya, dengan perintah-perintah-Nya, serta dengan nikmat dan karunia-Nya. Semua itu pada hakikatnya kembali kepada sikap berpaling dari Kitab Allah ﷻ.Kata dzikir dalam ayat bisa dipahami sebagai mashdar yang disandarkan kepada pelakunya, atau sebagai isim yang bermakna Kitab (Al-Qur’an). Artinya, ia berpaling dari Kitab-Ku: tidak membacanya, tidak mentadabburinya, tidak mengamalkannya, dan tidak berusaha memahaminya. Maka kehidupannya pun tidak akan pernah lapang; justru sempit, penuh kesulitan, dan sengsara.وَالدُّنْكُ: الضِّيقُ وَالشِّدَّةُ وَالبَلَاءُ.وَوَصْفُ المَعِيشَةِ نَفْسِهَا بِالدُّنْكِ مُبَالَغَةٌ. وَفُسِّرَتْ هٰذِهِ المَعِيشَةُ بِعَذَابِ البَرْزَخِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تَتَنَاوَلُ مَعِيشَتَهُ فِي الدُّنْيَا وَحَالَهُ فِي البَرْزَخِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي دُنْكٍ فِي الدَّارَيْنِ، وَهُوَ شِدَّةٌ وَجَهْدٌ وَضِيقٌ.وَفِي الآخِرَةِ تُنْسَى فِي العَذَابِ.Kata “dhanka” dalam ayat berarti kesempitan, kesulitan, dan ujian yang berat. Allah bahkan menyifati kehidupan itu sendiri sebagai ḍank, sebuah bentuk penekanan yang kuat. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai azab kubur, namun pendapat yang benar: ia mencakup kehidupan di dunia sekaligus di alam barzakh. Hidupnya akan sempit di dua alam tersebut—penuh dengan kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Sedangkan di akhirat, ia akan dibiarkan (dilupakan) di dalam azab.وَهٰذَا عَكْسُ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالفَلَاحِ، فَإِنَّ حَيَاتَهُمْ فِي الدُّنْيَا أَطْيَبُ الحَيَاةِ، وَلَهُمْ فِي البَرْزَخِ وَفِي الآخِرَةِ أَفْضَلُ الثَّوَابِ.قَالَ تَعَالَى:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾ فَهٰذَا فِي الدُّنْيَا.ثُمَّ قَالَ: ﴿وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ فَهٰذَا فِي البَرْزَخِ وَالآخِرَةِ.Keadaan ini berbanding terbalik dengan nasib orang-orang yang berbahagia. Hidup mereka di dunia adalah kehidupan yang paling baik, kemudian di alam barzakh dan akhirat kelak mereka mendapatkan pahala terbaik. Allah ﷻ berfirman:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini berbicara tentang kehidupan di dunia. Kemudian Allah berfirman:وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini mencakup pahala di alam barzakh dan di akhirat.وَقَالَ تَعَالَى:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ تَعَالَى:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}فَهَذَا فِي الْآخِرَةِ.وَقَالَ تَعَالَى:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَوَاضِعَ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا أَنَّهُ يُجْزِي الْمُحْسِنَ بِإِحْسَانِهِ جَزَاءَيْنِ: جَزَاءً فِي الدُّنْيَا، وَجَزَاءً فِي الْآخِرَةِ.فَالْإِحْسَانُ لَهُ جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ، وَالْإِسَاءَةُ لَهَا جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ.وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَا يُجَازِي بِهِ الْمُحْسِنَ مِنِ انْشِرَاحِ صَدْرِهِ وَانْفِسَاحِ قَلْبِهِ وَسُرُورِهِ وَلَذَّتِهِ بِمُعَامَلَةِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَطَاعَتِهِ وَذِكْرِهِ وَنَعِيمِ رُوحِهِ بِمَحَبَّتِهِ وَذِكْرِهِ وَفَرَحِهِ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْظَمُ مِمَّا يَفْرَحُ الْقَرِيبُ مِنَ السُّلْطَانِ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ بِسُلْطَانِهِ.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ وَتَشَتُّتِهِ وَظُلْمَتِهِ وَحَزَازَاتِهِ وَغَمِّهِ وَهَمِّهِ وَحُزْنِهِ وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ.Allah Ta‘ālā berfirman:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami tempatkan mereka di dunia ini pada tempat yang baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 41)Dan Allah Ta‘ālā juga berfirman:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada setiap orang yang memiliki keutamaan, keutamaannya (balasan yang layak baginya).” (QS. Hūd [11]: 3)Kemudian Allah berfirman lagi:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (akan mendapat) kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)Dalam empat ayat ini, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjelaskan bahwa setiap kebaikan (iḥsān) akan dibalas dua kali:1. Balasan di dunia, berupa kemuliaan, kelapangan hidup, dan ketenangan jiwa.2. Balasan di akhirat, berupa pahala yang jauh lebih besar dan kekal.Maka, kebaikan pasti memiliki ganjaran yang segera, sebagaimana keburukan pun pasti menimbulkan akibat buruk yang cepat pula.Kalaupun tidak tampak secara lahiriah, balasan bagi orang yang berbuat baik sudah hadir dalam kelapangan dadanya, ketenangan hatinya, kegembiraan dan kenikmatan ruhnya saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, menaati perintah-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya. Nikmat ruhani semacam ini jauh lebih agung daripada kegembiraan seorang pejabat yang dekat dengan penguasa.Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat akan merasakan penyempitan dada, kekerasan hati, kebingungan, kegelapan batin, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup pasti menyadari hal ini. Sesungguhnya, berbagai kesedihan, kecemasan, dan kegelisahan itu merupakan bentuk hukuman (ʿuqūbah) yang Allah timpakan di dunia sebelum azab di akhirat.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ، وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ، وَتَشَتُّتِهِ، وَظُلْمَتِهِ، وَحَزَازَاتِهِ، وَغَمِّهِ، وَهَمِّهِ، وَحُزْنِهِ، وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ عَاجِلَةٌ، وَنَارٌ دُنْيَوِيَّةٌ، وَجَهَنَّمُ حَاضِرَةٌ.Balasan yang diterima oleh orang yang berbuat dosa adalah penyempitan dada, kekerasan hati, kegelapan jiwa, kebingungan, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup dan nurani yang peka tentu tidak akan meragukan hal ini. Sesungguhnya rasa gelisah, gundah, sedih, dan sempit dada merupakan hukuman yang datang lebih cepat, semacam api neraka duniawi dan Jahannam yang hadir di hati sebelum azab akhirat menimpa.وَالْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَالرِّضَا بِهِ وَعَنْهُ، وَامْتِلَاءُ الْقَلْبِ مِنْ مَحَبَّتِهِ، وَاللَّهْجُ بِذِكْرِهِ، وَالْفَرَحُ وَالسُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ، ثَوَابٌ عَاجِلٌ، وَجَنَّةٌ، وَعَيْشٌ لَا نِسْبَةَ لِعَيْشِ الْمُلُوكِ إِلَيْهِ الْبَتَّةَ.Sebaliknya, menghadap kepada Allah, kembali bertobat kepada-Nya, merasa ridha dengan-Nya dan terhadap takdir-Nya, penuh cinta kepada-Nya, senang berdzikir mengingat-Nya, serta bergembira karena mengenal-Nya, semuanya merupakan balasan langsung di dunia, surga yang hadir di hati, dan kenikmatan hidup yang tiada bandingnya dibanding kehidupan para raja sekalipun.وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ:إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ.وَقَالَ لِي مَرَّةً:مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، إِنْ رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، إِنْ حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata: Aku pernah mendengar Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata:“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”Beliau juga pernah berkata kepadaku:“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku? Surga dan taman hatiku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surga itu selalu bersamaku, tidak akan meninggalkanku. Jika aku dipenjara, maka itu adalah kesempatan untuk menyendiri bersama Allah. Jika aku dibunuh, maka itu adalah syahid. Jika aku diusir dari negeriku, maka itu adalah perjalanan spiritual (siyāḥah).”وَكَانَ يَقُولُ فِي مَحْبَسِهِ فِي الْقَلْعَةِ:لَوْ بُذِلَ مِلْءُ هَذِهِ الْقَاعَةِ ذَهَبًا مَا عَدَلَ عِنْدِي شُكْرَ هَذِهِ النِّعْمَةِ.أَوْ قَالَ: مَا جَزَيْتُهُمْ عَلَى مَا تَسَبَّبُوا لِي فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ، وَنَحْوَ هَذَا.Ketika beliau berada di dalam penjara benteng (Qal‘ah Dimasyq), beliau sering berkata:“Seandainya memenuhi seluruh ruangan ini dengan emas, itu belum cukup untuk menandingi rasa syukurku atas nikmat ini.”Atau beliau berkata,“Aku belum mampu membalas mereka yang telah menyebabkan kebaikan besar bagiku melalui peristiwa ini.”وَكَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ مَحْبُوسٌ:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.مَا شَاءَ اللَّهُ، وَقَالَ لِي مَرَّةً:الْمَحْبُوسُ مَنْ حَبَسَ قَلْبَهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى، وَالْمَأْسُورُ مَنْ أَسَرَهُ هَوَاهُ.Beliau juga biasa berdoa dalam sujudnya saat di penjara:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”Lalu beliau berkata kepadaku:“Orang yang benar-benar terpenjara adalah siapa pun yang hatinya terhalang dari Rabb-nya. Dan orang yang sesungguhnya menjadi tawanan adalah yang diperbudak oleh hawa nafsunya.”وَلَمَّا دَخَلَ إِلَى الْقَلْعَةِ، وَصَارَ دَاخِلَ سُورِهَا، نَظَرَ إِلَيْهَا وَقَالَ:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}وَعَلِمَ اللَّهُ، مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَطْيَبَ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ، مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ، وَخِلَافِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ، بَلْ ضِدِّهَا، وَمَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْحَبْسِ، وَالتَّهْدِيدِ، وَالْإِرْهَاقِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ مِنْ أَطْيَبِ النَّاسِ عَيْشًا، وَأَشْرَحِهِمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا، وَأَسَرِّهِمْ نَفْسًا، تَلُوحُ نَضْرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ.Ketika Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah memasuki benteng penjara (Qal‘ah Dimasyq) dan berada di dalam temboknya, beliau memandang ke sekeliling lalu membaca firman Allah:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}“Lalu diletakkanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di bagian dalamnya ada rahmat, sedangkan di bagian luarnya dari arah mereka ada azab.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 13)Aku bersaksi kepada Allah, aku belum pernah melihat seseorang yang kehidupannya lebih bahagia daripada beliau — padahal secara lahir beliau hidup dalam kesempitan, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan berada dalam kondisi berlawanan: terpenjara, diancam, dan disiksa. Namun, beliau termasuk manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling tenang jiwanya. Wajahnya memancarkan nadhrah an-na‘īm (cahaya kenikmatan).وَكُنَّا إِذَا اشْتَدَّ بِنَا الْخَوْفُ، وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ، وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ، أَتَيْنَاهُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ، فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ، وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا، وَقُوَّةً، وَيَقِينًا، وَطُمَأْنِينَةً.فَسُبْحَانَ مَنْ أَشْهَدَ عِبَادَهُ جَنَّتَهُ قَبْلَ لِقَائِهِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَهَا فِي دَارِ الْعَمَلِ، فَآتَاهُمْ مِنْ رُوحِهَا وَنَسِيمِهَا وَطِيبِهَا مَا اسْتَفْرَغَ قُوَاهُمْ لِطَلَبِهَا وَالْمُسَابَقَةِ إِلَيْهَا.Setiap kali kami diliputi ketakutan, buruk sangka, dan sempit dada, kami mendatangi beliau. Begitu melihat wajahnya dan mendengar ucapannya, semua kegelisahan itu sirna — berganti dengan kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.Maha Suci Allah yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya sebagian surga-Nya sebelum perjumpaan dengan-Nya. Dia telah membuka bagi mereka pintu-pintu surga itu di dunia tempat beramal, lalu menghembuskan kepada mereka sebagian dari ruh, semerbak, dan keharumannya, hingga seluruh tenaga mereka tercurahkan untuk mencarinya dan berlomba meraihnya.وَكَانَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ يَقُولُ:لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ، لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ.Sebagian orang ‘arif berkata:“Seandainya para raja dan putra mahkota mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memeranginya dengan pedang.”وَقَالَ آخَرُ:مَسَاكِينُ أَهْلِ الدُّنْيَا، خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا.قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟قَالَ: مَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَذِكْرُهُ.أَوْ نَحْوُ هَذَا.Yang lain berkata:“Kasihan orang-orang dunia! Mereka keluar dari dunia tanpa sempat merasakan hal paling lezat di dalamnya.” Ditanya kepadanya, “Apa yang paling lezat di dunia?”Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, mengenal-Nya, dan berdzikir kepada-Nya.”وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِالْقَلْبِ أَوْقَاتٌ يَرْقُصُ فِيهَا طَرَبًا.وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِي أَوْقَاتٌ، أَقُولُ: إِنْ كَانَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا، إِنَّهُمْ لَفِي عَيْشٍ طَيِّبٍ.Yang lain berkata:“Terkadang hati ini melewati saat-saat di mana ia menari karena bahagia.”Yang lain lagi berkata:“Ada waktu-waktu tertentu ketika aku berkata: jika penghuni surga merasakan kenikmatan seperti ini, maka sungguh mereka berada dalam kehidupan yang sangat baik.”فَمَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَدَوَامُ ذِكْرِهِ، وَالسُّكُونُ إِلَيْهِ، وَالطُّمَأْنِينَةُ بِهِ، وَإِفْرَادُهُ بِالْحُبِّ، وَالْخَوْفِ، وَالرَّجَاءِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالْمُعَامَلَةِ، بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ وَحْدَهُ الْمُسْتَوْلِي عَلَى هُمُومِ الْعَبْدِ وَعَزِيمَاتِهِ وَإِرَادَاتِهِ، هِيَ جَنَّةُ الدُّنْيَا، وَالنَّعِيمُ الَّذِي لَا يُشْبِهُهُ نَعِيمٌ، وَهِيَ قُرَّةُ عُيُونِ الْمُحِبِّينَ، وَحَيَاةُ الْعَارِفِينَ.Maka cinta kepada Allah, mengenal-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, bersandar dan merasa tenang bersama-Nya, hanya berharap kepada-Nya, serta menjadikan-Nya satu-satunya tujuan cinta, takut, harap, dan tawakal — inilah surga dunia yang tidak bisa ditandingi oleh kenikmatan apa pun. Inilah penyejuk mata para pecinta dan kehidupan sejati bagi orang-orang yang mengenal Allah.وَإِنَّمَا تَقَرُّ عُيُونُ النَّاسِ بِهِ عَلَى حَسَبِ قُرَّةِ أَعْيُنِهِمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنْ قَرَّتْ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، قَرَّتْ بِهِ كُلُّ عَيْنٍ، وَمَنْ لَمْ تَقَرَّ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، تَقَطَّعَتْ نَفْسُهُ عَلَى الدُّنْيَا حَسَرَاتٍ.Ketenangan manusia tergantung pada sejauh mana matanya terpuaskan dengan Allah. Siapa yang hatinya tenteram bersama Allah, maka ia akan tenteram dalam segala hal. Namun, siapa yang tidak tenang bersama Allah, hidupnya akan terpecah oleh penyesalan dunia yang tiada akhir.وَإِنَّمَا يَصْدُقُ هَذَا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَأَمَّا مَيِّتُ الْقَلْبِ، فَيُوحِشُكَ مَا لَهُ ثَمَّ، فَاسْتَأْنِسْ بِغَيْبَتِهِ مَا أَمْكَنَكَ، فَإِنَّكَ لَا يُوحِشُكَ إِلَّا حُضُورُهُ عِنْدَكَ.Yang memahami makna ini hanyalah orang yang hatinya hidup. Adapun hati yang mati, ia akan merasa asing dari kebenaran dan tenang dengan kebatilan. Maka berusahalah merasa nyaman saat jauh dari orang yang demikian, karena sesungguhnya yang membuatmu gelisah hanyalah kehadirannya di dekatmu.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهِ، فَأَعْطِهِ ظَاهِرَكَ، وَتَرَحَّلْ عَنْهُ بِقَلْبِكَ، وَفَارِقْهُ بِسِرِّكَ، وَلَا تُشْغَلْ بِهِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى بِكَ.Jika engkau diuji dengan pergaulan seperti itu, berikanlah padanya bagian lahirmu, namun pisahkan hatimu dan rahasiamu darinya. Jangan biarkan dia menghalangimu dari urusan yang lebih utama.وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَسْرَةَ كُلَّ الْحَسْرَةِ، الِاشْتِغَالُ بِمَنْ لَا يَجُرُّ عَلَيْكَ الِاشْتِغَالُ بِهِ إِلَّا فَوْتَ نَصِيبِكَ وَحَظِّكَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَانْقِطَاعَكَ عَنْهُ، وَضَيَاعَ وَقْتِكَ، وَضَعْفَ عَزِيمَتِكَ، وَتَفَرُّقَ هَمِّكَ.Ketahuilah, penyesalan yang paling dalam adalah ketika seseorang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan apa pun selain kehilangan bagian dirinya dari Allah, terputus dari-Nya, terbuang waktunya, lemah tekadnya, dan tercerai pikirannya.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهَذَا ـ وَلَا بُدَّ لَكَ مِنْهُ ـ فَعَامِلِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ، وَاحْتَسِبْ عَلَيْهِ مَا أَمْكَنَكَ، وَتَقَرَّبْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمَرْضَاتِهِ فِيهِ، وَاجْعَلِ اجْتِمَاعَكَ بِهِ مَتْجَرًا لَكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ خَسَارَةً، وَكُنْ مَعَهُ كَرَجُلٍ سَائِرٍ فِي طَرِيقِهِ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ وَقَفَهُ عَنْ سَيْرِهِ، فَاجْتَهِدْ أَنْ تَأْخُذَهُ مَعَكَ وَتَسِيرَ بِهِ، فَتَحْمِلَهُ وَلَا يَحْمِلُكَ، فَإِنْ أَبَى، وَلَمْ يَكُنْ فِي سَيْرِهِ مَطْمَعٌ، فَلَا تَقِفْ مَعَهُ، بَلِ ارْكَبِ الدَّرْبَ وَدَعْهُ، وَلَا تَلْتَفِتْ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَاطِعُ الطَّرِيقِ، وَلَوْ كَانَ مَنْ كَانَ، فَانْجُ بِقَلْبِكَ، وَاضْنَنْ بِيَوْمِكَ وَلَيْلَتِكَ، لَا تَغْرُبْ عَلَيْكَ الشَّمْسُ قَبْلَ وُصُولِ الْمَنْزِلَةِ، فَتُؤْخَذَ، أَوْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ أَنَّى لَكَ بِلِقَائِهِمْ.Apabila engkau harus berinteraksi dengan orang semacam itu, maka niatkan karena Allah. Bersabarlah dan jadikan interaksi itu sebagai ladang pahala, bukan kerugian.Bersikaplah seperti seorang musafir yang dalam perjalanan bertemu seseorang yang mencoba menghentikannya. Usahakan untuk mengajaknya berjalan bersama, bukan sebaliknya. Jika ia menolak, jangan berhenti bersamanya — teruslah berjalan di jalanmu, jangan menoleh ke belakang. Ia hanyalah perampok jalanmu, siapa pun dia.Selamatkan hatimu, jagalah waktu siang dan malammu. Jangan biarkan matahari terbenam sebelum engkau mencapai tujuan, atau fajar menyingsing sementara engkau masih tertahan — karena entah kapan lagi engkau akan bertemu dengan orang-orang yang telah sampai ke sana. [الخامسة والثلاثون]أَنَّ الذِّكْرَ يَسِيرُ العَبْدُ وَهُوَ فِي فِرَاشِهِ، وَفِي سُوقِهِ، وَفِي حَالِ صِحَّتِهِ وَسَقَمِهِ، وَفِي حَالِ نَعِيمِهِ وَلَذَّتِهِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يَعُمُّ الأَوْقَاتَ وَالأَحْوَالَ مِثْلَهُ، حَتَّى يَسِيرَ العَبْدُ وَهُوَ نَائِمٌ عَلَى فِرَاشِهِ فَيَسْبِقَ القَائِمَ مَعَ الغَفْلَةِ، فَيُصْبِحَ هَذَا وَقَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَيُصْبِحَ ذَاكَ الغَافِلُ فِي سَاقَةِ الرَّكْبِ، وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.وَحُكِيَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ العُبَّادِ أَنَّهُ نَزَلَ بِرَجُلٍ ضَيْفًا، فَقَامَ العَابِدُ لَيْلَهُ يُصَلِّي، وَذَلِكَ الرَّجُلُ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَا قَالَ لَهُ العَابِدُ: سَبَقَكَ الرَّكْبُ، أَوْ كَمَا قَالَ.فَقَالَ: لَيْسَ الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ مُسَافِرًا وَأَصْبَحَ مَعَ الرَّكْبِ، الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَأَصْبَحَ قَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ.Ketiga puluh lima, dzikir membuat seorang hamba tetap berjalan menuju Allah meskipun ia berada di atas tempat tidurnya, di pasar, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kondisi menikmati nikmat atau kesenangan. Tidak ada amalan yang bisa mencakup seluruh waktu dan keadaan seperti dzikir.Bahkan, terkadang seorang hamba yang sedang berbaring di tempat tidurnya tetap melangkah maju dengan dzikirnya, melewati orang yang sedang berdiri dalam keadaan lalai. Maka ketika pagi datang, yang berzikir itu telah menempuh perjalanan jauh (menuju Allah) sementara ia masih berbaring, sedangkan yang lalai itu tertinggal jauh di belakang rombongan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.Dikisahkan dari seorang ahli ibadah bahwa ia singgah di rumah seorang lelaki sebagai tamu. Pada malam harinya, si ahli ibadah bangun untuk salat malam, sementara tuan rumahnya tetap berbaring di tempat tidurnya. Ketika pagi tiba, sang ahli ibadah berkata kepadanya,“Rombongan telah mendahuluimu (dalam perjalanan menuju Allah).”Namun si tuan rumah menjawab,“Bukan itu persoalannya. Bukan tentang siapa yang bermalam dalam perjalanan lalu pagi hari sudah bersama rombongan. Yang penting adalah siapa yang bermalam di tempat tidurnya, namun ketika pagi telah melampaui rombongan.”وَهَذَا وَنَحْوُهُ لَهُ مَحْمَلٌ صَحِيحٌ وَمَحْمَلٌ فَاسِدٌ، فَمَنْ حَكَمَ عَلَى أَنَّ الرَّاقِدَ المُضْطَجِعَ عَلَى فِرَاشِهِ يَسْبِقُ القَائِمَ القَانِتَ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنَّمَا مَحْمَلُهُ أَنَّ هَذَا المُسْتَلْقِيَ عَلَى فِرَاشِهِ عَلِقَ بِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَلْصَقَ حَبَّ قَلْبِهِ بِالعَرْشِ، وَبَاتَ قَلْبُهُ يَطُوفُ حَوْلَ العَرْشِ مَعَ المَلَائِكَةِ، قَدْ غَابَ عَنِ الدُّنْيَا وَمَنْ فِيهَا، وَقَدْ عَاقَهُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ عَائِقٌ مِنْ وَجَعٍ أَوْ بَرْدٍ يَمْنَعُهُ القِيَامَ، أَوْ خَوْفٌ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ رُؤْيَةِ عَدُوٍّ يَطْلُبُهُ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الأَعْذَارِ، فَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي قَلْبِهِ مَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلِيمٌ.وَآخَرُ قَائِمٌ يُصَلِّي وَيَتْلُو، وَفِي قَلْبِهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالعُجْبِ وَطَلَبِ الجَاهِ وَالمَحْمَدَةِ عِنْدَ النَّاسِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ، أَوْ قَلْبُهُ فِي وَادٍ وَجِسْمُهُ فِي وَادٍ.فَلَا رَيْبَ أَنَّ ذَلِكَ الرَّاقِدَ يُصْبِحُ وَقَدْ سَبَقَ هَذَا القَائِمَ بِمَرَاحِلَ كَثِيرَةٍ، فَالعَمَلُ عَلَى القُلُوبِ لَا عَلَى الأَبْدَانِ، وَالمُعَوَّلُ عَلَى السَّاكِنِ، وَيُهَيِّجُ الحُبَّ المُتَوَارِيَ، وَيَبْعَثُ الطَّلَبَ المَيِّتَ.Perkataan seperti ini memiliki dua kemungkinan makna: makna yang benar dan makna yang keliru.Jika seseorang memahami bahwa orang yang berbaring di tempat tidurnya bisa mengalahkan orang yang bangun untuk beribadah dan salat malam tanpa alasan apa pun, maka pemahaman itu batil (keliru).Namun, makna yang benar adalah bahwa orang yang sedang berbaring itu hatinya terikat kuat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, ia menempelkan cinta hatinya kepada ‘Arsy, dan hatinya berkeliling di sekitar ‘Arsy bersama para malaikat, sementara dirinya telah terlupa dari dunia dan segala isinya.Ia tertahan untuk bangun malam bukan karena malas, melainkan karena ada penghalang seperti sakit, cuaca dingin yang berat, rasa takut dari musuh yang mengincar, atau uzur lain yang benar-benar menghalanginya. Maka ia tetap berbaring di atas tempat tidurnya, namun hatinya dalam keadaan yang hanya Allah Ta‘ala yang mengetahuinya.Sedangkan orang lain berdiri salat dan membaca Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya terdapat riya’, rasa bangga diri, mencari kedudukan, atau ingin dipuji manusia. Bisa jadi pula hatinya berada di satu tempat, sementara tubuhnya di tempat lain.Maka tidak diragukan lagi, orang yang berbaring namun hatinya hidup bersama Allah akan mendahului orang yang bangun malam dengan hati yang lalai dalam banyak tingkatan.Sebab, amal dinilai dari hati, bukan dari gerak tubuh. Yang menjadi ukuran adalah kehidupan batin yang diam namun menyala oleh cinta dan keikhlasan, karena ia mampu membangkitkan kembali cinta yang tersembunyi dan menghidupkan semangat ibadah yang hampir mati.[الذِّكْرُ وَحَقِيقَةُ النُّورِ الإِلَهِيِّ] (السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ) أَنَّ الذِّكْرَ نُورٌ لِلذَّاكِرِ فِي الدُّنْيَا، وَنُورٌ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنُورٌ لَهُ فِي مَعَادِهِ يَسْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ، فَمَا اسْتَنَارَتِ القُلُوبُ وَالقُبُورُ بِمِثْلِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}. فَالأَوَّلُ هُوَ المُؤْمِنُ، اسْتَنَارَ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَمَعْرِفَتِهِ وَذِكْرِهِ، وَالآخَرُ هُوَ الغَافِلُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، المُعْرِضُ عَنْ ذِكْرِهِ وَمَحَبَّتِهِ. وَالشَّأْنُ كُلُّ الشَّأْنِ، وَالفَلَاحُ كُلُّ الفَلَاحِ فِي النُّورِ، وَالشَّقَاءُ كُلُّ الشَّقَاءِ فِي فَوَاتِهِ. وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَالِغُ فِي سُؤَالِ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حِينَ يَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي لَحْمِهِ وَعِظَامِهِ وَعَصَبِهِ وَشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ وَسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ، وَمِنْ فَوْقِهِ وَمِنْ تَحْتِهِ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَخَلْفِهِ وَأَمَامِهِ، حَتَّى يَقُولَ: وَاجْعَلْنِي نُورًا. فَسَأَلَ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ النُّورَ فِي ذَرَّاتِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَهُ مُحِيطًا بِهِ مِنْ جَمِيعِ جِهَاتِهِ، وَأَنْ يَجْعَلَ ذَاتَهُ وَجُمْلَتَهُ نُورًا. فَدِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نُورٌ، وَكِتَابُهُ نُورٌ، وَرَسُولُهُ نُورٌ، وَدَارُهُ الَّتِي أَعَدَّهَا لِأَوْلِيَائِهِ نُورٌ يَتَلَأْلَأُ، وَهُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمِنْ أَسْمَائِهِ النُّورُ، وَأَشْرَقَتِ الظُّلُمَاتُ لِنُورِ وَجْهِهِ.Ketiga puluh enam, [Dzikir dan Hakikat Cahaya Ilahi]Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir — cahaya baginya di dunia, cahaya baginya di dalam kuburnya, dan cahaya baginya di akhirat yang berjalan di hadapannya di atas shirath (jembatan akhirat).Tidak ada sesuatu pun yang mampu menerangi hati dan kubur sebagaimana zikir kepada Allah Ta‘ala.Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah orang yang sebelumnya mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An‘ām: 122)Yang pertama adalah seorang mukmin, yang dihidupkan dan diterangi oleh iman kepada Allah, cinta kepada-Nya, pengetahuan tentang-Nya, serta zikir kepada-Nya.Adapun yang kedua adalah orang yang lalai dari Allah Ta‘ala, berpaling dari zikir dan cinta kepada-Nya.Maka, seluruh keberuntungan bergantung pada cahaya itu, dan segala bentuk kesengsaraan bersumber dari hilangnya cahaya tersebut.Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Rabbnya — Tabāraka wa Ta‘ālā — memohon agar Allah menjadikan cahaya itu menyatu dalam seluruh bagian tubuhnya: dalam daging, tulang, urat, rambut, kulit, pendengaran, dan penglihatannya, dari atas dan bawah, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang; hingga beliau berdoa:“Dan jadikanlah aku cahaya.”Beliau memohon agar cahaya itu memenuhi seluruh zarrah (bagian kecil) dalam dirinya, baik yang lahir maupun batin, mengelilinginya dari segala arah, bahkan menjadikan seluruh dirinya cahaya.Sebab, agama Allah adalah cahaya, Kitab-Nya adalah cahaya, Rasul-Nya adalah cahaya, dan surga-Nya — tempat yang disiapkan untuk para kekasih-Nya — adalah cahaya yang berkilauan.Sedangkan Dia sendiri, Tabāraka wa Ta‘ālā, adalah Cahaya langit dan bumi.Salah satu nama-Nya adalah An-Nūr (Yang Maha Cahaya), dan seluruh kegelapan akan sirna oleh pancaran cahaya wajah-Nya.[السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ رَأْسُ الْأُصُولِ، وَطَرِيقُ عَامَّةِ الطَّائِفَةِ، وَمَنْشُورُ الْوِلَايَةِ، فَمَنْ فُتِحَ لَهُ فِيهِ، فَقَدْ فُتِحَ لَهُ بَابُ الدُّخُولِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَتَطَهَّرْ وَلْيَدْخُلْ عَلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَجِدْ عِنْدَهُ كُلَّ مَا يُرِيدُ، فَإِنْ وَجَدَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَجَدَ كُلَّ شَيْءٍ، وَإِنْ فَاتَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَهُ كُلُّ شَيْءٍ. Ketiga puluh tujuh,Dzikir merupakan pokok dari segala pokok, jalan utama bagi kebanyakan orang yang menempuh perjalanan menuju Allah, dan merupakan tanda (pengumuman) kedekatan seorang hamba dengan-Nya.Barang siapa dibukakan hatinya untuk istiqamah dalam dzikir, maka sesungguhnya telah dibukakan baginya pintu untuk masuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hendaklah ia mensucikan diri—lahir dan batin—lalu masuk menghadap Rabb-nya. Di sisi Allah, ia akan mendapati segala yang diinginkan.Sebab, siapa yang menemukan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, berarti ia telah mendapatkan segalanya. Namun siapa yang kehilangan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, sungguh ia telah kehilangan segalanya.[الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ] فِي الْقَلْبِ خَلَّةٌ وَفَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا صَارَ شِعَارَ الْقَلْبِ بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ الذَّاكِرَ بِطَرِيقِ الْأَصَالَةِ، وَاللِّسَانُ تَابِعٌ لَهُ، فَهَذَا هُوَ الذِّكْرُ الَّذِي يَسُدُّ الْخَلَّةَ وَيُفْنِي الْفَاقَةَ، فَيَكُونُ صَاحِبُهُ غَنِيًّا بِلَا مَالٍ، عَزِيزًا بِلَا عَشِيرَةٍ، مَهِيبًا بِلَا سُلْطَانٍ. فَإِذَا كَانَ غَافِلًا عَنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ بِضِدِّ ذَلِكَ: فَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ جِدَّتِهِ، ذَلِيلٌ مَعَ سُلْطَانِهِ، حَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ عَشِيرَتِهِ.Ketiga puluh delapan,Dalam hati manusia terdapat kekosongan dan kebutuhan mendalam yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh apa pun selain dengan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Apabila dzikir telah menjadi kebiasaan hati—hingga hati itu sendiri yang benar-benar berdzikir secara hakiki, sementara lisan hanya menjadi pengikutnya—maka inilah dzikir yang mampu mengisi kekosongan itu dan menghapus segala rasa kekurangan.Orang yang demikian akan merasa kaya tanpa harta, mulia tanpa keluarga besar, dan disegani tanpa kekuasaan.Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan merasakan kebalikannya: miskin meski banyak hartanya, hina meski memiliki kekuasaan, dan rendah meski memiliki banyak pengikut dan kerabat.[التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَ، وَيُفَرِّقُ الْمُجْتَمِعَ، وَيُقَرِّبُ الْبَعِيدَ، وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ. فَيَجْمَعُ مَا تَفَرَّقَ عَلَى الْعَبْدِ مِنْ قَلْبِهِ وَإِرَادَتِهِ وَهُمُومِهِ وَعَزَائِمِهِ، وَالْعَذَابُ كُلُّ الْعَذَابِ فِي تَفَرُّقِهَا وَتَشَتُّتِهَا عَلَيْهِ وَانْفِرَاطِهَا لَهُ، وَالْحَيَاةُ وَالنَّعِيمُ فِي اجْتِمَاعِ قَلْبِهِ وَهَمِّهِ وَعَزْمِهِ وَإِرَادَتِهِ. وَيُفَرِّقُ مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْحَسَرَاتِ عَلَى فَوْتِ حُظُوظِهِ وَمَطَالِبِهِ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنْ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ وَأَوْزَارِهِ، حَتَّى تَتَسَاقَطَ عَنْهُ وَتَتَلَاشَى وَتَضْمَحِلَّ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَى حَرْبِهِ مِنْ جُنْدِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ إِبْلِيسَ لَا يَزَالُ يَبْعَثُ لَهُ سَرِيَّةً، وَكُلَّمَا كَانَ أَقْوَى طَلَبًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَمْثَلَ تَعَلُّقًا بِهِ وَإِرَادَةً لَهُ، كَانَتِ السَّرِيَّةُ أَكْثَفَ وَأَكْثَرَ وَأَعْظَمَ شَوْكَةً، بِحَسَبِ مَا عِنْدَ الْعَبْدِ مِنْ مَوَادِّ الْخَيْرِ وَالْإِرَادَةِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَى تَفْرِيقِ هَذَا الْجَمْعِ إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ. وَأَمَّا تَقْرِيبُهُ الْبَعِيدَ فَإِنَّهُ يُقَرِّبُ إِلَيْهِ الْآخِرَةَ الَّتِي يُبْعِدُهَا مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَالْأَمَلُ، فَلَا يَزَالُ يَلْهَجُ بِالذِّكْرِ حَتَّى كَأَنَّهُ قَدْ دَخَلَهَا وَحَضَرَهَا، فَحِينَئِذٍ تَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ الدُّنْيَا، وَتَعْظُمُ فِي قَلْبِهِ الْآخِرَةُ. وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ إِلَيْهِ، وَهِيَ الدُّنْيَا الَّتِي هِيَ أَدْنَى إِلَيْهِ مِنَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ الْآخِرَةَ مَتَى قَرُبَتْ مِنْ قَلْبِهِ بَعُدَتْ مِنْهُ الدُّنْيَا، كُلَّمَا قَرُبَتْ مِنْهُ هَذِهِ مَرْحَلَةً بَعُدَتْ مِنْهُ تِلْكَ مَرْحَلَةً، وَلَا سَبِيلَ إِلَى هَذَا إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ.Ketiga puluh sembilan,Dzikir memiliki kekuatan yang menakjubkan: ia mengumpulkan yang tercerai-berai dan memisahkan yang berhimpun; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.Dzikir mengumpulkan kembali apa pun yang tercerai dalam diri seseorang—hatinya, kehendaknya, pikirannya, dan tekadnya.Sungguh, penderitaan terbesar adalah ketika semua itu tercerai dan tidak terarah; sedangkan kebahagiaan sejati terletak pada bersatunya hati, kehendak, niat, dan tekad seseorang dalam satu tujuan, yaitu menuju Allah.Dzikir juga memisahkan apa yang berkumpul dari tumpukan kesedihan, kegelisahan, dan penyesalan atas hilangnya berbagai keinginan dan kesenangan dunia.Ia memisahkan pula dosa-dosa, kesalahan, dan beban maksiat yang menumpuk di diri seseorang—hingga dosa-dosa itu berjatuhan, lenyap, dan sirna.Dzikir juga memecah barisan pasukan setan yang bersatu untuk memerangi seorang hamba.Setan tak henti mengirimkan bala tentaranya untuk menggoda, dan semakin kuat keinginan seorang hamba untuk mencari Allah, semakin banyak dan besar pula serangan pasukan setan terhadapnya—sesuai dengan kadar kebaikan dan tekad yang ada pada dirinya.Dan tidak ada cara untuk memecah barisan pasukan itu kecuali dengan zikir yang terus-menerus.Adapun dzikir disebut “mendekatkan yang jauh”, karena ia mendekatkan akhirat yang berusaha dijauhkan dari hati oleh setan dan angan-angan duniawi.Ketika lidah seseorang terus melantunkan dzikir, seolah-olah ia sudah berada di negeri akhirat dan menyaksikannya secara langsung. Saat itulah dunia terasa kecil di matanya, sedangkan akhirat menjadi agung dalam hatinya.Dzikir juga disebut “menjauhkan yang dekat”, yakni dunia yang selalu berada di hadapan manusia dan menggoda hatinya.Ketika akhirat semakin dekat di hati, dunia pun semakin jauh darinya.Setiap langkah hati yang mendekat kepada akhirat adalah langkah menjauh dari dunia — dan semua itu hanya mungkin terwujud dengan zikir yang terus-menerus.[الأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يُنَبِّهُ الْقَلْبَ مِنْ نَوْمِهِ، وَيُوقِظُهُ مِنْ سِنَتِهِ، وَالْقَلْبُ إِذَا كَانَ نَائِمًا فَاتَتْهُ الْأَرْبَاحُ وَالْمَتَاجِرُ، وَكَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ الْخُسْرَانُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ وَعَلِمَ مَا فَاتَهُ فِي نَوْمَتِهِ، شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا بَقِيَّةَ عُمْرِهِ، وَاسْتَدْرَكَ مَا فَاتَهُ، وَلَا تَحْصُلُ يَقَظَتُهُ إِلَّا بِالذِّكْرِ، فَإِنَّ الْغَفْلَةَ نَوْمٌ ثَقِيلٌ.Keempat puluh,Dzikir adalah pembangun hati yang tertidur dan penggugah dari kelalaiannya.Ketika hati berada dalam keadaan tidur (lalai), ia kehilangan berbagai keuntungan dan kesempatan berharga dalam hidupnya. Sebaliknya, yang mendominasi adalah kerugian dan kehampaan.Namun saat hati itu terjaga dan menyadari apa yang telah ia lewatkan selama dalam kelalaian, ia pun akan segera bersemangat, mengencangkan ikat pinggangnya, memanfaatkan sisa umurnya, dan berusaha menebus apa yang telah terlewat.Kesadaran dan kebangkitan hati semacam ini tidak akan terjadi kecuali dengan dzikir, sebab kelalaian (ghaflah) adalah tidur yang sangat berat bagi hati.[الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ شَجَرَةٌ تُثْمِرُ الْمَعَارِفَ وَالْأَحْوَالَ الَّتِي شَمَّرَ إِلَيْهَا السَّالِكُونَ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى نَيْلِ ثِمَارِهَا إِلَّا مِنْ شَجَرَةِ الذِّكْرِ، وَكُلَّمَا عَظُمَتْ تِلْكَ الشَّجَرَةُ وَرَسَخَ أَصْلُهَا كَانَ أَعْظَمَ لِثَمَرَتِهَا، فَالذِّكْرُ يُثْمِرُ الْمَقَامَاتِ كُلَّهَا مِنَ الْيَقَظَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ، وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ مَقَامٍ وَقَاعِدَتُهُ الَّتِي يُنْبَنِي ذَلِكَ الْمَقَامُ عَلَيْهَا، كَمَا يُبْنَى الْحَائِطُ عَلَى رَأْسِهِ، وَكَمَا يَقُومُ السَّقْفُ عَلَى حَائِطِهِ. وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ إِنْ لَمْ يَسْتَيْقِظْ لَمْ يُمْكِنْهُ قَطْعُ مَنَازِلِ السَّيْرِ، وَلَا يَسْتَيْقِظُ إِلَّا بِالذِّكْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَالْغَفْلَةُ نَوْمُ الْقَلْبِ أَوْ مَوْتُهُ.Keempat puluh satu,Sesungguhnya dzikir itu bagaikan sebuah pohon yang menghasilkan buah berupa ma‘rifat dan berbagai keadaan hati yang selalu diupayakan oleh para penempuh jalan menuju Allah. Tidak ada jalan untuk meraih buah-buah tersebut kecuali dari pohon dzikir itu sendiri. Semakin besar pohon tersebut dan semakin kuat akarnya menghujam, maka semakin besar pula buah yang dihasilkannya.Dzikir melahirkan seluruh maqam (tingkatan spiritual), mulai dari kesadaran hati hingga tauhid yang sempurna. Dzikir adalah dasar setiap maqam dan fondasi tempat seluruh maqam itu dibangun, sebagaimana dinding dibangun di atas pondasinya, dan sebagaimana atap dapat berdiri karena ditopang oleh dindingnya.Hal ini karena seorang hamba, jika tidak terjaga dari kelalaiannya, tidak akan mampu menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah. Dan seseorang tidak akan terjaga kecuali dengan dzikir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sebab, kelalaian itu adalah tidurnya hati, bahkan bisa menjadi kematiannya.[الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ قَرِيبٌ مِنْ مَذْكُورِهِ، وَمَذْكُورُهُ مَعَهُ. وَهَذِهِ الْمَعِيَّةُ مَعِيَّةٌ خَاصَّةٌ، غَيْرَ مَعِيَّةِ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ الْعَامَّةِ، فَهِيَ مَعِيَّةٌ بِالْقُرْبِ، وَالْوِلَايَةِ، وَالْمَحَبَّةِ، وَالنُّصْرَةِ، وَالتَّوْفِيقِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا﴾ ﴿وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾ ﴿وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾ ﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ وَلِلذَّاكِرِ مِنْ هَذِهِ الْمَعِيَّةِ نَصِيبٌ وَافِرٌ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْإِلَهِيِّ: «أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ». وَفِي أَثَرٍ آخَرَ: وَأَهْلُ ذِكْرِي أَهْلُ مُجَالَسَتِي، وَأَهْلُ شُكْرِي أَهْلُ زِيَارَتِي، وَأَهْلُ طَاعَتِي أَهْلُ كَرَامَتِي، وَأَهْلُ مَعْصِيَتِي لَا أُقَنِّطُهُمْ مِنْ رَحْمَتِي؛ إِنْ تَابُوا فَأَنَا حَبِيبُهُمْ، فَإِنِّي أُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَأُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ. وَإِنْ لَمْ يَتُوبُوا فَأَنَا طَبِيبُهُمْ، أَبْتَلِيهِمْ بِالْمَصَائِبِ، لِأُطَهِّرَهُمْ مِنَ الْمَعَايِبِ. وَالْمَعِيَّةُ الْحَاصِلَةُ لِلذَّاكِرِ مَعِيَّةٌ لَا يُشْبِهُهَا شَيْءٌ، وَهِيَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعِيَّةِ الْحَاصِلَةِ لِلْمُحْسِنِ وَالْمُتَّقِي، وَهِيَ مَعِيَّةٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعِبَارَةُ، وَلَا تَنَالُهَا الصِّفَةُ، وَإِنَّمَا تُعْلَمُ بِالذَّوْقِ. وَهِيَ مَزَلَّةُ أَقْدَامٍ إِنْ لَمْ يَصْحَبِ الْعَبْدَ فِيهَا تَمْيِيزٌ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْمُحْدَثِ، بَيْنَ الرَّبِّ وَالْعَبْدِ، بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ، بَيْنَ الْعَابِدِ وَالْمَعْبُودِ، وَإِلَّا وَقَعَ فِي حُلُولٍ يُضَاهِي بِهِ النَّصَارَى، أَوِ اتِّحَادٍ يُضَاهِي بِهِ الْقَائِلِينَ بِوَحْدَةِ الْوُجُودِ، وَأَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ عَيْنُ وُجُودِ هَذِهِ الْمَوْجُودَاتِ. بَلْ لَيْسَ عِنْدَهُمْ رَبٌّ وَعَبْدٌ، وَلَا خَلْقٌ وَحَقٌّ، بَلِ الرَّبُّ هُوَ الْعَبْدُ، وَالْعَبْدُ هُوَ الرَّبُّ، وَالْخَلْقُ الْمُشَبَّهُ هُوَ الْحَقُّ الْمُنَزَّهُ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ وَالْجَاحِدُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ الْعَبْدِ عَقِيدَةٌ صَحِيحَةٌ، فَإِذَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ سُلْطَانُ الذِّكْرِ، وَغَابَ بِمَذْكُورِهِ عَنْ ذِكْرِهِ وَعَنْ نَفْسِهِ، وَلَجَ بَابَ الْحُلُولِ وَالِاتِّحَادِ وَلَا بُدَّ.Keempat puluh dua,Dzikir memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Zat yang diingat, bahkan Zat yang diingat itu senantiasa bersama orang yang berdzikir.Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, bukan sekadar kebersamaan berupa ilmu dan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh makhluk. Ia adalah kebersamaan dalam makna kedekatan, perlindungan, kecintaan, pertolongan, dan taufik. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Juga firman-Nya, “Allah bersama orang-orang yang sabar.” Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” Serta firman-Nya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”Orang yang berdzikir mendapatkan bagian yang sangat besar dari kebersamaan khusus ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits ilahi, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.”Dalam atsar yang lain disebutkan, “Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku temani duduk bersama-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku kunjungi. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku muliakan. Adapun orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, Aku tidak memutus harapan mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat, maka Aku menjadi kekasih mereka, karena Aku mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”Namun jika mereka belum bertaubat, maka Aku menjadi tabib mereka, yakni Dokter Yang Maha Mengetahui penyakit hamba-Nya. Aku timpakan kepada mereka berbagai musibah sebagai terapi dan pengobatan, agar Aku bersihkan mereka dari aib dan noda dosa.Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berdzikir adalah kebersamaan yang tidak ada bandingannya. Ia bahkan lebih khusus dibandingkan kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat ihsan dan orang yang bertakwa. Kebersamaan ini tidak mampu dijangkau oleh ungkapan kata dan tidak bisa dilukiskan dengan deskripsi bahasa. Ia hanya dapat dipahami melalui rasa dan pengalaman batin.Namun kebersamaan ini juga merupakan tempat yang sangat rawan tergelincirnya langkah, jika seorang hamba tidak disertai kemampuan membedakan antara Yang Qadim dan yang baru, antara Rabb dan hamba, antara Sang Pencipta dan makhluk, antara yang beribadah dan yang disembah. Jika tidak, ia akan terjatuh pada keyakinan hulul seperti kaum Nasrani, atau keyakinan ittihad seperti orang-orang yang mengusung wahdatul wujud, yang menyatakan bahwa keberadaan Rabb adalah sama dengan keberadaan seluruh makhluk.Bahkan menurut mereka, tidak ada lagi perbedaan antara Rabb dan hamba, antara Pencipta dan ciptaan, antara kebenaran dan makhluk. Rabb adalah hamba, dan hamba adalah Rabb. Maha Tinggi Allah dari ucapan orang-orang zalim dan pengingkar kebenaran, setinggi-tingginya.Intinya, apabila seorang hamba tidak dibekali dengan akidah yang benar, maka ketika kekuatan dzikir telah menguasainya, lalu ia tenggelam bersama Zat yang diingat hingga lupa terhadap dzikirnya sendiri dan lupa terhadap dirinya, niscaya ia akan memasuki pintu hulul dan ittihad, dan hal itu hampir pasti terjadi.— Dzikir itu Menenangkan HatiDi antara faedah besar dari dzikir adalah menenangkan hati. Allah Ta‘ālā berfirman:أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)Dzikir juga menjadi tanda hidupnya hati seseorang. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, bagaikan orang hidup dengan orang mati.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)Dzikir juga merupakan sarana membersihkan hati. Dalam hadits disebutkan:إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat ketika terkena air.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah penghapus karatnya?” Beliau menjawab, “Banyak mengingat mati dan membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqī) Hadirkan Hati Ketika BerdzikirPara ulama menegaskan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir dengan lisan yang disertai hadirnya hati. Jika hanya lisan yang bergerak sementara hati lalai, maka itu berada pada tingkatan dzikir paling rendah.An-Nafrawī menukil dari al-Qāḍī ‘Iyāḍ bahwa dzikir ada dua macam: dzikir dengan hati saja, dan dzikir dengan lisan bersama hati. Dzikir dengan hati terbagi dua:Dzikir berupa tadabbur dan tafakkur terhadap kebesaran Allah, keagungan-Nya, tanda-tanda-Nya, dan ciptaan-Nya yang ada di langit maupun bumi. Inilah dzikir yang paling tinggi dan paling agung.Mengingat Allah dengan cara menghadirkan-Nya dalam hati ketika berhadapan dengan perintah dan larangan-Nya.Yang pertama lebih utama daripada yang kedua. Sedangkan yang kedua lebih utama dibandingkan dzikir dengan lisan yang disertai hati. Adapun dzikir dengan lisan saja tanpa hati, itu adalah tingkatan paling rendah, meskipun tetap ada pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits.Dari sini jelas, wahai saudaraku, bahwa dzikir dengan lisan saja sementara hati sibuk dengan hal lain—seperti membicarakan obrolan teman atau berita dunia—maka pelakunya tetap mendapat pahala karena lisannya dipenuhi dzikir kepada Allah Ta‘ālā, tetapi tidak akan menyamai derajat orang yang menggabungkan antara dzikir lisan dan hati sekaligus.Adapun terkait melanjutkan dzikir setelah ada pemutus (terhenti sejenak), hal ini dirinci. Jika dzikir tersebut telah ditentukan jumlahnya dalam syariat, seperti dzikir setelah shalat fardhu, maka tidak mengapa melanjutkannya dari hitungan sebelumnya. Namun jika syariat tidak menentukan jumlahnya, maka menetapkan bilangan tertentu tidak dianjurkan, karena dapat mengarah pada bid‘ah dan membuat-buat dalam agama yang tidak ada tuntunannya. Makna DzikirDzikir memiliki makna yang luas, mencakup dua sisi:a) Makna umumDzikir dalam makna umum meliputi seluruh bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, bertasbih, bertahmid, mengagungkan Allah, dan berbagai ketaatan lainnya. Semua ibadah itu pada hakikatnya ditegakkan untuk mengingat Allah, menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata:كُلُّ مَا تَكَلَّمَ بِهِ اللِّسَانُ، وَتَصَوَّرَهُ الْقَلْبُ مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمٍ، وَتَعْلِيمِهِ، وَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ، فَهُوَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Segala sesuatu yang diucapkan oleh lisan dan dihadirkan oleh hati yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti belajar ilmu, mengajarkannya, amar ma‘ruf, dan nahi munkar, maka itu termasuk dzikir kepada Allah.”b) Makna khususDzikir dalam makna khusus adalah menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan lafaz yang bersumber dari Allah—seperti membaca Al-Qur’an—atau lafaz yang datang melalui lisan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang di dalamnya terdapat pengagungan, penyucian, pemuliaan, dan peneguhan tauhid kepada Allah. Makna inilah yang dimaksud dalam sunnah ketika berbicara tentang dzikir.Dzikir yang paling agung adalah membaca Kitab Allah Ta‘ālā. Beribadah dengan membaca Al-Qur’an telah membuat mata para salaf sulit terpejam dan membuat mereka rela meninggalkan tidur nyenyak. Allah berfirman:وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Dan pada waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. adz-Dzāriyāt: 18)Para salaf mengisi malam mereka dengan membaca Kitab Allah Ta‘ālā dan melantunkan dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka sungguh, alangkah mulianya malam yang dihidupkan oleh mereka dengan ibadah. Sementara kita, betapa besar kerugian kita, betapa banyak kelalaian kita, dan betapa besar keteledoran kita dalam memanfaatkan malam dan waktu sahur! Semoga malam-malam kita selamat dari maksiat kepada Rabb kita, kecuali bagi yang dirahmati Allah Ta‘ālā. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan MuqayyadSeorang hamba hendaknya bersemangat berdzikir kepada Allah Ta‘ālā dengan hati dan lisannya sekaligus. Inilah keadaan yang paling sempurna. Adapun dzikir hanya dengan lisan saja tanpa kehadiran hati, maka itu termasuk keadaan yang kurang. Sebab, ada sebagian orang yang ketika berdzikir tidak merasakan apa yang ia ucapkan. Lisannya memang bergerak, tetapi hatinya tidak ikut hidup. Seandainya hatinya ikut berdzikir, merenungi maknanya, tentu imannya akan bertambah dan hatinya akan lebih lembut.Wahai saudaraku yang diberkahi Allah, ketahuilah juga bahwa dzikir ditinjau dari tempat atau waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua: dzikir muqayyad dan dzikir mutlak.Dzikir muqayyad adalah dzikir yang dibatasi oleh tempat, waktu, atau keadaan tertentu.Dzikir mutlak adalah dzikir yang tidak dibatasi oleh salah satu dari hal tersebut, melainkan bisa dilakukan kapan saja sepanjang hari.Contohnya, dzikir setelah shalat fardhu, dzikir setelah adzan, atau dzikir lain yang diajarkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada waktu dan tempat tertentu. Semua dzikir muqayyad ini lebih utama dibandingkan dzikir mutlak, karena di dalamnya ada unsur mengikuti sunnah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Maka jika seseorang selesai dari shalat wajib, dzikir yang paling utama baginya adalah membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat. Ia tidak menggantinya dengan dzikir lain, meskipun dzikir itu juga utama, seperti membaca Al-Qur’an. Sebab, demikianlah yang dilakukan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan kebaikan yang sempurna adalah dengan meneladani beliau.Baca juga: Kumpulan Hadits Kitab Al-Adzkar dari Riyadhus Sholihin Pembahasan Tuntas Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. —Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (20/03/2011), direvisi 12 September 2025 di GunungkidulDr. Muhammad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com Baca Juga:Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adahYang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang[1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691[2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih[3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-198. Tagsdoa dan dzikir Dzikir dzikir pagi dzikir petang keutamaan dzikir

Keutamaan Dzikir

Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan, namun menyimpan keutamaan yang sangat besar. Ia adalah makanan hati, penyejuk jiwa, dan penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya. Para ulama menjelaskan bahwa dalam dzikir terkandung ratusan manfaat yang mampu mengangkat derajat seorang muslim. Karena itu, siapa saja yang ingin hatinya hidup dan dekat dengan Allah ﷻ, hendaknya senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir.  Daftar Isi tutup 1. Lebih dari Seratus Faedah Dzikir 2. Dzikir itu Menenangkan Hati 3. Hadirkan Hati Ketika Berdzikir 4. Makna Dzikir 4.1. a) Makna umum 4.2. b) Makna khusus 5. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan Muqayyad Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:وَفِي الذِّكْرِ أَكْثَرُ مِنْ مِائَةِ فَائِدَةٍLebih dari Seratus Faedah DzikirDi antara faedah dzikir yang sangat banyak itu adalah: (إِحْدَاهَا) أَنَّهُ يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ وَيَقْمَعُهُ وَيَكْسِرُهُ.Pertama, dzikir dapat mengusir setan, melemahkan, dan menghancurkan kekuatannya.  [الثَّانِيَةُ]أَنَّهُ يُرْضِي الرَّحْمٰنَ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua, dzikir mendatangkan keridaan Allah ﷻ. [الثَّالِثَةُ]أَنَّهُ يُزِيلُ الهَمَّ وَالغَمَّ عَنِ القَلْبِ.Ketiga, dzikir mampu menghilangkan kekhawatiran pada masa akan datang (hamm) dan kesedihan saat ini (ghamm) dari hati. [الرَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ لِلْقَلْبِ الفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالبَسْطَ.Keempat, dzikir membawa kegembiraan, kebahagiaan, dan kelapangan bagi hati. [الخَامِسَةُ]أَنَّهُ يُقَوِّي القَلْبَ وَالبَدَنَ.Kelima, dzikir menguatkan hati dan tubuh. [السَّادِسَةُ] يُنَوِّرُ الوَجْهَ وَالقَلْبَ.Keenam, dzikir menjadikan wajah dan hati bercahaya. [السَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ الرِّزْقَ.Ketujuh, dzikir mendatangkan rezeki. [الثَّامِنَةُ]أَنَّهُ يَكْسُو الذَّاكِرَ المَهَابَةَ وَالحَلَاوَةَ وَالنُضْرَةَ.Kedelapan, dzikir membuat orang yang melakukannya memiliki wibawa, pesona, dan keteduhan. [التَّاسِعَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المَحَبَّةَ الَّتِي هِيَ رُوحُ الإِسْلَامِ، وَقُطْبُ رَحَى الدِّينِ، وَمدَارُ السَّعَادَةِ.قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا، وَجَعَلَ سَبَبَ المَحَبَّةِ دَوَامَ الذِّكْرِ.فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَالَ مَحَبَّةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَلْهَجْ بِذِكْرِهِ، فَإِنَّهُ الدَّرْسُ وَالمُذَاكَرَةُ كَمَا أَنَّهُ بَابُ العِلْمِ، فَالذِّكْرُ بَابُ المَحَبَّةِ وَشَارِعُهَا الأَعْظَمُ وَصِرَاطُهَا الأَقْوَمُ.Kesembilan, dzikir menumbuhkan rasa cinta, yang merupakan ruh Islam, poros agama, dan inti kebahagiaan. Allah menjadikan segala sesuatu memiliki sebab, dan sebab tumbuhnya cinta kepada-Nya adalah dengan terus berdzikir.Siapa saja yang ingin meraih cinta Allah ﷻ, hendaklah ia senantiasa basah lisannya dengan dzikir. Sebagaimana pengulangan pelajaran adalah kunci ilmu, maka dzikir adalah kunci cinta, jalan besarnya, dan jalan lurus menuju-Nya.Baca juga: Tanda Allah Mencintai Seseorang: Dicintai Penduduk Langit dan Diterima di Bumi [العَاشِرَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المُرَاقَبَةَ حَتَّى يُدْخِلَهُ فِي بَابِ الإِحْسَانِ، فَيَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّهُ يَرَاهُ، وَلا سَبِيلَ لِلْغَافِلِ عَنِ الذِّكْرِ إِلَى مَقَامِ الإِحْسَانِ، كَمَا لا سَبِيلَ لِلْقَاعِدِ إِلَى الوُصُولِ إِلَى البَيْتِ.Kesepuluh, dzikir melahirkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah) hingga mengantarkan seseorang ke pintu ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Orang yang lalai dari dzikir tidak akan mungkin sampai pada derajat ihsan, sebagaimana orang yang hanya duduk tidak akan pernah sampai ke rumah tujuan.Baca juga: Penjelasan Ringkas tentang Ihsan [الحَادِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الإِنَابَةَ، وَهِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَمَتَى أَكْثَرَ الرُّجُوعَ إِلَيْهِ بِذِكْرِهِ أَوْرَثَهُ ذٰلِكَ رُجُوعَهُ بِقَلْبِهِ إِلَيْهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ، فَيَبْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَفْزَعَهُ وَمَلْجَأَهُ، وَمَلَاذَهُ وَمَعَاذَهُ، وَقِبْلَةَ قَلْبِهِ وَمَهْرَبَهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ وَالبَلَايَا.Kesebelas, dzikir menumbuhkan sikap inābah, yaitu kembali kepada Allah ﷻ. Semakin banyak seseorang kembali kepada-Nya melalui dzikir, semakin membuatnya terbiasa menjadikan Allah sebagai tempat kembali hatinya dalam setiap keadaan. Allah menjadi pelindung, sandaran, tujuan, dan tempat ia mengadu di saat datangnya musibah dan ujian. [الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ القُرْبَ مِنْهُ، فَعَلَى قَدْرِ ذِكْرِهِ للهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ قُرْبُهُ مِنْهُ، وَعَلَى قَدْرِ غَفْلَتِهِ يَكُونُ بُعْدُهُ مِنْهُ.Kedua belas, dzikir mendekatkan hamba kepada Allah ﷻ. Sejauh mana ia berdzikir, sejauh itu pula kedekatannya. Sebaliknya, sejauh mana ia lalai (ghaflah), sejauh itu pula jaraknya dari Allah. [الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ المَعْرِفَةِ، وَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنَ الذِّكْرِ ازْدَادَ مِنَ المَعْرِفَةِ.Ketiga belas, dzikir membuka pintu besar menuju ma‘rifah (pengenalan yang mendalam terhadap Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah pula ma‘rifah. [الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الهَيْبَةَ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِجْلَالَهُ، لِشِدَّةِ اسْتِيلَائِهِ عَلَى قَلْبِهِ وَحُضُورِهِ مَعَ اللهِ تَعَالَى. بِخِلافِ الغَافِلِ فَإِنَّ حِجَابَ الهَيْبَةِ رَقِيقٌ فِي قَلْبِهِ.Keempat belas, dzikir menumbuhkan rasa haibah (kewibawaan batin) dan pengagungan terhadap Allah ﷻ, karena dzikir memenuhi hati dengan kehadiran-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai tidak memiliki haibah dalam hatinya, bahkan tirai pengagungan terhadap Allah sangat tipis. [الخَامِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى لَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ﴾ [البقرة: ١٥٢]Kelima belas, dzikir mendatangkan balasan berupa Allah mengingat hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman:فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الذِّكْرِ إِلَّا هٰذِهِ وَحْدَهَا لَكَفَتْ فَضْلًا وَشَرَفًا.وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ».Seandainya tidak ada keutamaan dzikir kecuali ini saja, tentu sudah cukup sebagai kemuliaan dan keutamaan yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi dari Allah Ta‘ala:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»“Siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan siapa yang mengingat-Ku di tengah sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhārī dan Muslim) [السَّادِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ حَيَاةَ القَلْبِ. وَسَمِعْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى رُوحَهُ يَقُولُ:Keenam belas, dzikir menghidupkan hati. Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruhnya – berkata:«الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ المَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ المَاءَ؟».“Dzikir bagi hati itu laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari airnya?” [السَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ قُوتُ القَلْبِ وَالرُّوحِ، فَإِذَا فَقَدَهُ العَبْدُ صَارَ بِمَنْزِلَةِ الجِسْمِ إِذَا حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قُوتِهِ.Ketujuh belas, dzikir adalah makanan hati dan ruh. Jika hamba kehilangan dzikir, maka ia bagaikan tubuh yang kehilangan makanannya.وَحَضَرْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ مَرَّةً، صَلَّى الفَجْرَ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى قَرِيبٍ مِنِ انْتِصَافِ النَّهَارِ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ:«هٰذِهِ غَدْوَتِي، وَلَوْ لَمْ أَتَغَدَّ الغَدَاءَ سَقَطَتْ قُوَّتِي».أَوْ كَلَامًا قَرِيبًا مِنْ هٰذَا.Aku pernah hadir bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Suatu hari setelah salat Subuh, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga mendekati pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: “Inilah sarapan pagiku. Seandainya aku tidak sarapan seperti ini, pasti tenagaku melemah.”وَقَالَ لِي مَرَّةً:«لَا أَتْرُكُ الذِّكْرَ إِلَّا بِنِيَّةِ إِجْمَامِ نَفْسِي وَإِرَاحَتِهَا، لِأَسْتَعِدَّ بِتِلْكَ الرَّاحَةِ لِذِكْرٍ آخَرَ».أَوْ كَلَامًا هٰذَا مَعْنَاهُ.Beliau juga pernah berkata kepadaku: “Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat memberi jeda dan istirahat pada diriku, agar dengan istirahat itu aku bisa lebih kuat untuk berdzikir kembali.” Atau ungkapan dengan makna yang serupa. [الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ جَلَاءَ القَلْبِ مِنْ صَدَائِهِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي الحَدِيثِ، وَكُلُّ شَيْءٍ لَهُ صَدَأٌ، وَصَدَأُ القَلْبِ الغَفْلَةُ وَالهَوَى، وَجَلَاؤُهُ الذِّكْرُ وَالتَّوْبَةُ وَالاسْتِغْفَارُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا المَعْنَى.Kedelapan belas, dzikir menjadikan hati bersih dari karatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Setiap sesuatu pasti ada karatnya, dan karat hati adalah kelalaian (ghaflah) serta hawa nafsu. Pembersihnya adalah dzikir, taubat, dan istighfar. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya. [التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَحُطُّ الخَطَايَا وَيُذْهِبُهَا، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الحَسَنَاتِ، وَالحَسَنَاتُ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.Kesembilan belas, dzikir menggugurkan dosa-dosa dan menghapusnya. Sebab, dzikir termasuk amalan paling agung, sementara Allah ﷻ berfirman:إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS. Hūd [11]: 114) [العِشْرُونَ]أَنَّهُ يُزِيلُ الوَحْشَةَ بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَإِنَّ الغَافِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْشَةٌ لَا تَزُولُ إِلَّا بِالذِّكْرِ.Kedua puluh, dzikir menghilangkan rasa asing dan jauh antara hamba dengan Rabb-nya ﷻ. Orang yang lalai (ghaflah) dari dzikir, antara dirinya dengan Allah terdapat jurang keterasingan yang tidak akan hilang kecuali dengan dzikir.Catatan: Apa itu al-wahsyah?Dalam Kamus Al-Ma’ani disebutkan bahwa wahsyah itu berarti tanah tandus yang sunyi dan menakutkan.Maknanya juga: terputusnya hubungan dan jauhnya hati dari kasih sayang. Ia juga bisa bermakna rasa takut ketika sendirian.Orang arab menyebut aw-hasyal manzil, maksudnya rumah itu menjadi sepi dan ditinggalkan manusia.Maka jika engkau ingin mendoakan seseorang yang engkau cintai, baik saat ia jauh maupun dekat, ucapkanlah:لَا أَوْحَشَ اللّٰهُ لَكَ قَلْبًا وَلَا رُوحًا وَلَا جَسَدًاSemoga Allah tidak menjadikan hatimu, jiwamu, dan tubuhmu merasa sunyi dan sepi. [الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّ مَا يَذْكُرُ بِهِ العَبْدُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَلَالِهِ وَتَسْبِيحِهِ وَتَحْمِيدِهِ يُذْكَرُ بِصَاحِبِهِ عِنْدَ الشِّدَّةِ.فَقَدْ رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي المُسْنَدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ العَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ. أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟»هٰذَا الحَدِيثُ أَوْ مَعْنَاهُ.Kedua puluh satu, segala tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang diucapkan hamba dalam menyebut nama Allah ﷻ akan menjadi penyelamatnya di saat sulit.Imam Aḥmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ، أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟“Sesungguhnya apa yang kalian sebut dari keagungan Allah ﷻ, berupa tahlil, takbir, dan tahmid, semuanya akan berputar di sekitar ‘Arsy, suaranya berdengung seperti dengungan lebah. Ia akan disebut-sebut bersama pelakunya. Maka tidakkah salah seorang dari kalian suka jika ia memiliki amal yang bisa membuatnya disebut-sebut (di sisi Allah)?” (HR. Aḥmad, atau semakna dengannya). [الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِذِكْرِهِ فِي الرَّخَاءِ عَرَفَهُ فِي الشِّدَّةِ، وَقَدْ جَاءَ أَثَرٌ مَعْنَاهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْمُطِيعَ الذَّاكِرَ لِلَّهِ تَعَالَى إِذَا أَصَابَتْهُ شِدَّةٌ أَوْ سَأَلَ اللهَ تَعَالَى حَاجَةً قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ صَوْتٌ مَعْرُوفٌ، مِنْ عَبْدٍ مَعْرُوفٍ، وَالْغَافِلُ الْمُعْرِضُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا دَعَاهُ وَسَأَلَهُ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، صَوْتٌ مُنْكَرٌ، مِنْ عَبْدٍ مُنْكَرٍ.Kedua puluh dua, seorang hamba yang membiasakan diri mengenal Allah Ta‘ālā dengan banyak berdzikir di waktu lapang, maka Allah akan mengenalnya di waktu sempit. Ada sebuah atsar yang menjelaskan bahwa seorang hamba yang taat dan banyak berdzikir, ketika ia tertimpa kesulitan atau memohon kepada Allah, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang dikenal, dari hamba yang dikenal.” Sebaliknya, orang yang lalai dan berpaling dari Allah, jika suatu saat ia berdoa dan memohon, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang asing, dari hamba yang asing.” [الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُنَجِّي مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى، كَمَا قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَيُرْوَى مَرْفُوعًا:«مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى».Kedua puluh tiga, dzikir dapat menyelamatkan dari azab Allah Ta‘ālā. Sebagaimana perkataan Mu‘ādz radhiyallāhu ‘anhu—dan diriwayatkan pula secara marfū‘—:مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى“Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dari azab Allah ‘Azza wa Jalla melebihi dzikir kepada Allah Ta‘ālā.” [الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ تَنْزِيلِ السَّكِينَةِ، وَغَشْيَانِ الرَّحْمَةِ، وَحُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ بِالذَّاكِرِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Kedua puluh empat, dzikir menjadi sebab turunnya sakīnah (ketenangan jiwa), turunnya rahmat, serta dikelilinginya para ahli dzikir oleh malaikat, sebagaimana diberitakan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.[الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ اشْتِغَالِ اللِّسَانِ عَنِ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْبَاطِلِ.فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ.فَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ تَكَلَّمَ بِهَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ أَوْ بَعْضِهَا، وَلَا سَبِيلَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنْهَا الْبَتَّةَ إِلَّا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى.وَالْمُشَاهَدَةُ وَالتَّجْرِبَةُ شَاهِدَانِ بِذَلِكَ، فَمَنْ عَوَّدَ لِسَانَهُ ذِكْرَ اللهِ صَانَ لِسَانَهُ عَنِ الْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ، وَمَنْ يَبِسَ لِسَانُهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى تَرَطَّبَ بِكُلِّ بَاطِلٍ وَلَغْوٍ وَفُحْشٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.Kedua puluh lima, dzikir menjadi sebab terjaganya lisan dari ghibah, namimah, dusta, kata-kata keji, dan ucapan batil.Sebab, manusia pasti berbicara. Jika ia tidak mengisi lisannya dengan dzikir kepada Allah dan menyebut perintah-perintah-Nya, maka lisannya akan terisi dengan kata-kata haram atau sebagian darinya. Tidak ada jalan selamat dari semua itu kecuali dengan dzikir kepada Allah.Pengalaman nyata menjadi saksi: siapa yang membiasakan lisannya dengan dzikir, Allah akan memelihara lisannya dari ucapan batil dan sia-sia. Sebaliknya, siapa yang lisannya kering dari dzikir, maka lisannya akan basah dengan ucapan batil, sia-sia, dan kotor. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. [السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ مَجَالِسَ الذِّكْرِ مَجَالِسُ الْمَلَائِكَةِ، وَمَجَالِسَ اللَّغْوِ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسُ الشَّيَاطِينِ.فَلْيَتَخَيَّرِ الْعَبْدُ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْهِ وَأَوْلَاهُمَا بِهِ، فَهُوَ مَعَ أَهْلِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.Kedua puluh enam, majelis dzikir adalah majelis para malaikat. Sedangkan majelis sia-sia dan lalai adalah majelis para setan. Maka hendaknya seorang hamba memilih: majelis manakah yang lebih ia sukai dan lebih layak baginya. Karena di dunia ia akan bersama mereka, dan di akhirat pun ia akan dikumpulkan bersama mereka. [السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُسْعِدُ الذَّاكِرَ بِذِكْرِهِ وَيُسْعِدُ بِهِ جَلِيسَهُ، وَهٰذَا هُوَ المُبَارَكُ أَيْنَ مَا كَانَ.وَالغَافِلُ وَاللَّاغِي يَشْقَى بِلَغْوِهِ وَغَفْلَتِهِ، وَيَشْقَى بِهِ مُجَالِسُهُ.Kedua puluh tujuh, dzikir membahagiakan orang yang berdzikir dengan lisannya, dan kebahagiaan itu juga menular kepada orang yang duduk bersamanya. Inilah hakikat keberkahan; di mana pun ia berada, selalu membawa kebaikan. Sebaliknya, orang yang lalai dan suka berbicara sia-sia akan menjerumuskan dirinya dalam kesengsaraan karena kelalaiannya, dan orang yang duduk bersamanya pun ikut celaka karenanya. [الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُؤمِّنُ العَبْدَ مِنَ الحَسْرَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.فَإِنَّ كُلَّ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُ العَبْدُ فِيهِ رَبَّهُ تَعَالَى كَانَ عَلَيْهِ حَسْرَةً وَتْرَةً يَوْمَ القِيَامَةِ.Kedua puluh delapan, dzikir menyelamatkan seorang hamba dari penyesalan di Hari Kiamat. Sebab, setiap majelis yang kosong dari dzikir akan menjadi penyesalan bagi pelakunya di hari akhir. [التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ مَعَ البُكَاءِ فِي الخَلْوَةِ سَبَبٌ لِإِظْلَالِ اللهِ تَعَالَى العَبْدَ يَوْمَ الحَرِّ الأَكْبَرِ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ، وَالنَّاسُ فِي حَرِّ الشَّمْسِ قَدْ صَهَرَتْهُم فِي المَوْقِفِ.وَهٰذَا الذَّاكِرُ مُسْتَظِلٌّ بِظِلِّ عَرْشِ الرَّحْمٰنِ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua puluh sembilan, dzikir yang disertai tangisan dalam kesendirian menjadi sebab Allah menaungi seorang hamba di bawah naungan ‘Arsy pada hari panas yang dahsyat. Saat manusia lainnya tersengat terik matahari yang membakar, orang yang berdzikir itu berada dalam naungan penuh rahmat. [الثَّلَاثُونَ]أَنَّ الاشْتِغَالَ بِهِ سَبَبٌ لِعَطَاءِ اللهِ لِلذَّاكِرِ أَفْضَلَ مَا يُعْطِي السَّائِلِينَ، فَفِي الحَدِيثِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ».Ketiga puluh, orang yang sibuk dengan dzikir akan diberi oleh Allah karunia terbaik, lebih daripada apa yang Dia berikan kepada para peminta. Rasulullah ﷺ bersabda, meriwayatkan dari Rabb-nya: “Allah Ta‘ala berfirman: Barang siapa yang disibukkan dengan mengingat-Ku hingga lupa meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya yang terbaik, lebih baik daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” [الحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ أَيْسَرُ العِبَادَاتِ، وَهُوَ مِنْ أَجَلِّهَا وَأَفْضَلِهَا، فَإِنَّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ أَخَفُّ حَرَكَاتِ الجَوَارِحِ وَأَيْسَرُهَا، وَلَوْ تَحَرَّكَ عُضْوٌ مِنَ الإِنسَانِ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ بِقَدْرِ حَرَكَةِ لِسَانِهِ لَشَقَّ عَلَيْهِ غَايَةَ المَشَقَّةِ، بَلْ لَا يُمْكِنُهُ ذٰلِكَ.Ketiga puluh satu, dzikir adalah ibadah yang paling mudah, tetapi termasuk yang paling agung dan utama. Gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan. Seandainya ada satu anggota tubuh manusia yang bergerak sebanyak gerakan lisannya dalam sehari semalam, tentu ia akan merasa sangat berat, bahkan tidak mungkin sanggup melakukannya. [الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ غِرَاسُ الجَنَّةِ. فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَقِيتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِبْرَاهِيمَ الخَلِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ.وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.Ketiga puluh dua, dzikir adalah tanaman surga. Dalam riwayat Tirmiżī, dari Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada malam Isra’, aku bertemu dengan Ibrāhīm al-Khalīl ‘alaihis-salām. Ia berkata: Wahai Muhammad, sampaikan salam kepada umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia masih berupa tanah lapang. Tanaman surga adalah bacaan: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.” (HR. Tirmidzi, hasan gharib)Juga dalam riwayat at-Tirmiżī dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: Subḥānallāhi wa biḥamdih, maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). [الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ العَطَاءَ وَالفَضْلَ الَّذِي رُتِّبَ عَلَيْهِ لَمْ يُرَتَّبْ عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الأَعْمَالِ.Ketiga puluh tiga, keutamaan dan pahala yang Allah tetapkan bagi dzikir tidak diberikan kepada amal lainnya.فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذٰلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.وَمَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ».Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh budak. Dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan itu menjadi benteng dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada yang membawa amal lebih baik darinya kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak. Dan siapa yang mengucapkan: subḥānallāhi wa biḥamdih seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ».Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat: subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar lebih aku cintai daripada seluruh yang disinari matahari.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ يُمْسِي: اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، أَعْتَقَ اللهُ رُبُعَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللهُ نِصْفَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ النَّارِ».Dalam riwayat at-Tirmiżī dari Anas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika pagi atau sore membaca doa: Allāhumma innī aṣbaḥtu usy’hiduka wa usy’hidu ḥamalata ‘arsyika wa malāikataka wa jamī‘a khalqika, annaka anta Allāh, lā ilāha illā anta, wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluka, maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari api neraka. Jika membacanya dua kali, Allah membebaskan separuh dirinya dari neraka. Jika membacanya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka. Jika membacanya empat kali, Allah membebaskannya seluruhnya dari api neraka.”وَفِيهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي وَإِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ».Dalam riwayat Tirmiżī dari Tsaubān, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika sore atau pagi membaca doa: raḍītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama rasūlā, maka Allah benar-benar menjadikan keridaan baginya.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ:«مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ».Dan dalam riwayat Tirmiżī pula: “Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa ḥayyullā yamūtu, biyadihi al-khayru wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta dosa, dan mengangkatnya seribu ribu derajat.” [الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ دَوَامَ ذِكْرِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُوجِبُ الأَمَانَ مِنْ نِسْيَانِهِ الَّذِي هُوَ سَبَبُ شَقَاءِ العَبْدِ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، فَإِنَّ نِسْيَانَ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُوجِبُ نِسْيَانَ نَفْسِهِ وَمَصَالِحِهَا.قَالَ تَعَالَى:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: ١٩].Ketiga puluh empat, dzikir yang terus-menerus menjadikan seorang hamba aman dari kelalaian kepada Allah. Padahal, melupakan Allah adalah sebab utama kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat.Allah ﷻ berfirman:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Ḥashr [59]: 19)وَإِذَا نَسِيَ العَبْدُ نَفْسَهُ أَعْرَضَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْهَا فَهَلَكَتْ وَفَسَدَتْ وَلَا بُدَّ، كَمَنْ لَهُ زَرْعٌ أَوْ بُسْتَانٌ أَوْ مَاشِيَةٌ أَوْ غَيْرُ ذٰلِكَ مِمَّا صَلَاحُهُ وَفَلَاحُهُ بِتَعَاهُدِهِ وَالقِيَامِ عَلَيْهِ، فَأَهْمَلَهُ وَنَسِيَهُ وَاشْتَغَلَ عَنْهُ بِغَيْرِهِ وَضَيَّعَ مَصَالِحَهُ، فَإِنَّهُ يُفْسِدُ وَلَا بُدَّ.Apabila seorang hamba melupakan dirinya sendiri, ia akan berpaling dari hal-hal yang menjadi maslahat dan kebaikannya. Ia sibuk dengan perkara lain, meninggalkan apa yang seharusnya ia jaga, hingga dirinya rusak dan binasa.Keadaannya bagaikan orang yang memiliki ladang, kebun, atau ternak, yang keberlangsungan hidupnya bergantung pada perawatan dan pemeliharaan. Namun, jika ia mengabaikan dan melupakannya, sibuk dengan urusan lain, serta meninggalkan kewajiban menjaganya, niscaya semuanya akan rusak dan hancur tanpa bisa dihindari.هٰذَا مَعَ إِمْكَانِ قِيَامِ غَيْرِهِ مَقَامَهُ فِيهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِفَسَادِ نَفْسِهِ وَهَلَاكِهَا وَشَقَائِهَا إِذَا أَهْمَلَهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَعَطَّلَ مُرَاعَاتَهَا وَتَرَكَ القِيَامَ عَلَيْهَا بِمَا يُصْلِحُهَا؟ فَمَا شِئْتَ مِنْ فَسَادٍ وَهَلَاكٍ وَخَيْبَةٍ وَحِرْمَانٍ. وَهٰذَا هُوَ الَّذِي صَارَ أَمْرُهُ كُلُّهُ فَرَطًا، فَانْفَرَطَ عَلَيْهِ أَمْرُهُ وَضَاعَتْ مَصَالِحُهُ، وَأَحَاطَتْ بِهِ أَسْبَابُ القُطُوعِ وَالخَيْبَةِ وَالهَلَاكِ.Padahal, untuk urusan kebun, ladang, atau ternak, masih mungkin orang lain menggantikannya merawat dan memperbaikinya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Jika ia mengabaikan jiwanya, melupakannya, sibuk dengan urusan lain, meninggalkan pemeliharaan hati, dan tidak menegakkan hal-hal yang bisa memperbaikinya, maka kehancuran, kesengsaraan, dan kerugian pasti menimpanya.Inilah orang yang seluruh urusannya berantakan. Hidupnya tercerai-berai, maslahatnya hilang, dan berbagai sebab kehancuran, kebinasaan, serta kegagalan mengelilinginya dari segala sisi.وَلَا سَبِيلَ إِلَى الأَمَانِ مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاللَّهْجِ بِهِ، وَأَنْ لَا يَزَالَ اللِّسَانُ رَطْبًا بِهِ، وَأَنْ يَتَوَلَّى مَنْزِلَةَ حَيَاتِهِ الَّتِي لَا غِنَى لَهُ عَنْهَا، وَمَنْزِلَةَ غِذَائِهِ الَّذِي إِذَا فَقَدَهُ فَسَدَ جِسْمُهُ وَهَلَكَ، وَبِمَنْزِلَةِ المَاءِ عِنْدَ شِدَّةِ العَطَشِ، وَبِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ فِي الحَرِّ وَالبَرْدِ، وَبِمَنْزِلَةِ الكِنِّ فِي شِدَّةِ الشِّتَاءِ وَالسَّمُومِ.Tidak ada jalan keselamatan dari kerusakan itu kecuali dengan terus-menerus berdzikir kepada Allah dan membasahi lisan dengan menyebut nama-Nya. Dzikir harus ditempatkan pada posisi yang sangat penting—seperti kehidupan yang tak mungkin ditinggalkan, seperti makanan yang jika hilang membuat tubuh rusak dan binasa, seperti air bagi orang yang sangat haus, seperti pakaian di tengah panas dan dingin, serta seperti tempat berlindung saat musim dingin yang menusuk atau angin panas yang menyengat.فَحَقِيقٌ بِالعَبْدِ أَنْ يُنَزِّلَ ذِكْرَ اللهِ مِنْهُ بِهَذِهِ المَنْزِلَةِ وَأَعْظَمَ. فَأَيْنَ هَلَاكُ الرُّوحِ وَالقَلْبِ وَفَسَادُهُمَا مِنْ هَلَاكِ البَدَنِ وَفَسَادِهِ؟ هٰذَا هَلَاكٌ لَا بُدَّ مِنْهُ وَقَدْ يَعْقُبُهُ صَلَاحٌ لَا بُدَّ. وَأَمَّا هَلَاكُ القَلْبِ وَالرُّوحِ فَهَلَاكٌ لَا يُرْجَى مَعَهُ صَلَاحٌ وَلَا فَلَاحٌ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ.فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ وَإِدَامَتِهِ: لَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا هٰذِهِ الفَائِدَةُ وَحْدَهَا لَكَفَتْ. فَمَنْ نَسِيَ اللهَ تَعَالَى أَنْسَاهُ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَنَسِيَهُ فِي العَذَابِ يَوْمَ القِيَامَةِ.قَالَ تَعَالَى:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى * قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا * قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾ [طه: ١٢٤-١٢٦].أَيْ: تُنْسَى فِي العَذَابِ كَمَا نَسِيتَ آيَاتِي فَلَمْ تَذْكُرْهَا وَلَمْ تَعْمَلْ بِهَا.Maka sudah sepantasnya seorang hamba menempatkan dzikir pada posisi yang sangat penting, bahkan lebih tinggi lagi. Sebab, kerusakan hati dan ruh jauh lebih berbahaya dibanding kerusakan tubuh. Rusaknya tubuh adalah sesuatu yang pasti, namun sering kali setelah itu datang perbaikan. Adapun rusaknya hati dan ruh, itu adalah kerusakan yang tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki dan tidak membawa keberuntungan sedikit pun. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.Dalam faedah dzikir yang terus-menerus, seandainya hanya ada satu manfaat ini saja, sebenarnya sudah cukup: barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri di dunia, dan pada Hari Kiamat Allah pun akan melupakannya di dalam azab.Allah ﷻ berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى ۝ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ۝ قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu dapat melihat? Allah berfirman: Demikianlah, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu, lalu kamu melupakannya; maka pada hari ini kamu pun dilupakan (diabaikan dalam azab).” (QS. Ṭāhā [20]: 124–126). Yakni, seseorang akan ditinggalkan di dalam azab, sebagaimana dahulu ia melupakan ayat-ayat Allah, tidak mengingatnya, dan tidak mengamalkannya.وَإِعْرَاضُهُ عَنْ ذِكْرِهِ يَتَنَاوَلُ إِعْرَاضَهُ عَنِ الذِّكْرِ الَّذِي أَنْزَلَهُ، وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ الَّذِي أَنْزَلَهُ فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ المُرَادُ بِتَنَاوُلِ إِعْرَاضِهِ عَنْ أَنْ يَذْكُرَ رَبَّهُ بِكِتَابِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَوَامِرِهِ وَآلَائِهِ وَنِعَمِهِ. فَإِنَّ هٰذِهِ كُلَّهَا تَوَابِعُ إِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِ رَبِّهِ تَعَالَى.فَإِنَّ الذِّكْرَ فِي الآيَةِ إِمَّا مَصْدَرٌ مُضَافٌ إِلَى الفَاعِلِ، أَوْ مُضَافٌ إِضَافَةَ الأَسْمَاءِ المَحْضَةِ. أَعْرَضَ عَنْ كِتَابِي وَلَمْ يَتْلُهُ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ وَلَا فَهِمَهُ، فَإِنَّ حَيَاتَهُ وَمَعِيشَتَهُ لَا تَكُونُ إِلَّا مُضَيَّقَةً عَلَيْهِ مُنَكَّدَةً مُعَذَّبًا فِيهَا.Berpaling dari dzikir mencakup juga berpaling dari dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Qur’an. Maksudnya, ia berpaling dari mengingat Allah dengan Kitab-Nya, dengan nama-nama dan sifat-Nya, dengan perintah-perintah-Nya, serta dengan nikmat dan karunia-Nya. Semua itu pada hakikatnya kembali kepada sikap berpaling dari Kitab Allah ﷻ.Kata dzikir dalam ayat bisa dipahami sebagai mashdar yang disandarkan kepada pelakunya, atau sebagai isim yang bermakna Kitab (Al-Qur’an). Artinya, ia berpaling dari Kitab-Ku: tidak membacanya, tidak mentadabburinya, tidak mengamalkannya, dan tidak berusaha memahaminya. Maka kehidupannya pun tidak akan pernah lapang; justru sempit, penuh kesulitan, dan sengsara.وَالدُّنْكُ: الضِّيقُ وَالشِّدَّةُ وَالبَلَاءُ.وَوَصْفُ المَعِيشَةِ نَفْسِهَا بِالدُّنْكِ مُبَالَغَةٌ. وَفُسِّرَتْ هٰذِهِ المَعِيشَةُ بِعَذَابِ البَرْزَخِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تَتَنَاوَلُ مَعِيشَتَهُ فِي الدُّنْيَا وَحَالَهُ فِي البَرْزَخِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي دُنْكٍ فِي الدَّارَيْنِ، وَهُوَ شِدَّةٌ وَجَهْدٌ وَضِيقٌ.وَفِي الآخِرَةِ تُنْسَى فِي العَذَابِ.Kata “dhanka” dalam ayat berarti kesempitan, kesulitan, dan ujian yang berat. Allah bahkan menyifati kehidupan itu sendiri sebagai ḍank, sebuah bentuk penekanan yang kuat. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai azab kubur, namun pendapat yang benar: ia mencakup kehidupan di dunia sekaligus di alam barzakh. Hidupnya akan sempit di dua alam tersebut—penuh dengan kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Sedangkan di akhirat, ia akan dibiarkan (dilupakan) di dalam azab.وَهٰذَا عَكْسُ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالفَلَاحِ، فَإِنَّ حَيَاتَهُمْ فِي الدُّنْيَا أَطْيَبُ الحَيَاةِ، وَلَهُمْ فِي البَرْزَخِ وَفِي الآخِرَةِ أَفْضَلُ الثَّوَابِ.قَالَ تَعَالَى:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾ فَهٰذَا فِي الدُّنْيَا.ثُمَّ قَالَ: ﴿وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ فَهٰذَا فِي البَرْزَخِ وَالآخِرَةِ.Keadaan ini berbanding terbalik dengan nasib orang-orang yang berbahagia. Hidup mereka di dunia adalah kehidupan yang paling baik, kemudian di alam barzakh dan akhirat kelak mereka mendapatkan pahala terbaik. Allah ﷻ berfirman:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini berbicara tentang kehidupan di dunia. Kemudian Allah berfirman:وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini mencakup pahala di alam barzakh dan di akhirat.وَقَالَ تَعَالَى:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ تَعَالَى:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}فَهَذَا فِي الْآخِرَةِ.وَقَالَ تَعَالَى:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَوَاضِعَ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا أَنَّهُ يُجْزِي الْمُحْسِنَ بِإِحْسَانِهِ جَزَاءَيْنِ: جَزَاءً فِي الدُّنْيَا، وَجَزَاءً فِي الْآخِرَةِ.فَالْإِحْسَانُ لَهُ جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ، وَالْإِسَاءَةُ لَهَا جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ.وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَا يُجَازِي بِهِ الْمُحْسِنَ مِنِ انْشِرَاحِ صَدْرِهِ وَانْفِسَاحِ قَلْبِهِ وَسُرُورِهِ وَلَذَّتِهِ بِمُعَامَلَةِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَطَاعَتِهِ وَذِكْرِهِ وَنَعِيمِ رُوحِهِ بِمَحَبَّتِهِ وَذِكْرِهِ وَفَرَحِهِ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْظَمُ مِمَّا يَفْرَحُ الْقَرِيبُ مِنَ السُّلْطَانِ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ بِسُلْطَانِهِ.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ وَتَشَتُّتِهِ وَظُلْمَتِهِ وَحَزَازَاتِهِ وَغَمِّهِ وَهَمِّهِ وَحُزْنِهِ وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ.Allah Ta‘ālā berfirman:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami tempatkan mereka di dunia ini pada tempat yang baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 41)Dan Allah Ta‘ālā juga berfirman:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada setiap orang yang memiliki keutamaan, keutamaannya (balasan yang layak baginya).” (QS. Hūd [11]: 3)Kemudian Allah berfirman lagi:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (akan mendapat) kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)Dalam empat ayat ini, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjelaskan bahwa setiap kebaikan (iḥsān) akan dibalas dua kali:1. Balasan di dunia, berupa kemuliaan, kelapangan hidup, dan ketenangan jiwa.2. Balasan di akhirat, berupa pahala yang jauh lebih besar dan kekal.Maka, kebaikan pasti memiliki ganjaran yang segera, sebagaimana keburukan pun pasti menimbulkan akibat buruk yang cepat pula.Kalaupun tidak tampak secara lahiriah, balasan bagi orang yang berbuat baik sudah hadir dalam kelapangan dadanya, ketenangan hatinya, kegembiraan dan kenikmatan ruhnya saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, menaati perintah-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya. Nikmat ruhani semacam ini jauh lebih agung daripada kegembiraan seorang pejabat yang dekat dengan penguasa.Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat akan merasakan penyempitan dada, kekerasan hati, kebingungan, kegelapan batin, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup pasti menyadari hal ini. Sesungguhnya, berbagai kesedihan, kecemasan, dan kegelisahan itu merupakan bentuk hukuman (ʿuqūbah) yang Allah timpakan di dunia sebelum azab di akhirat.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ، وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ، وَتَشَتُّتِهِ، وَظُلْمَتِهِ، وَحَزَازَاتِهِ، وَغَمِّهِ، وَهَمِّهِ، وَحُزْنِهِ، وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ عَاجِلَةٌ، وَنَارٌ دُنْيَوِيَّةٌ، وَجَهَنَّمُ حَاضِرَةٌ.Balasan yang diterima oleh orang yang berbuat dosa adalah penyempitan dada, kekerasan hati, kegelapan jiwa, kebingungan, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup dan nurani yang peka tentu tidak akan meragukan hal ini. Sesungguhnya rasa gelisah, gundah, sedih, dan sempit dada merupakan hukuman yang datang lebih cepat, semacam api neraka duniawi dan Jahannam yang hadir di hati sebelum azab akhirat menimpa.وَالْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَالرِّضَا بِهِ وَعَنْهُ، وَامْتِلَاءُ الْقَلْبِ مِنْ مَحَبَّتِهِ، وَاللَّهْجُ بِذِكْرِهِ، وَالْفَرَحُ وَالسُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ، ثَوَابٌ عَاجِلٌ، وَجَنَّةٌ، وَعَيْشٌ لَا نِسْبَةَ لِعَيْشِ الْمُلُوكِ إِلَيْهِ الْبَتَّةَ.Sebaliknya, menghadap kepada Allah, kembali bertobat kepada-Nya, merasa ridha dengan-Nya dan terhadap takdir-Nya, penuh cinta kepada-Nya, senang berdzikir mengingat-Nya, serta bergembira karena mengenal-Nya, semuanya merupakan balasan langsung di dunia, surga yang hadir di hati, dan kenikmatan hidup yang tiada bandingnya dibanding kehidupan para raja sekalipun.وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ:إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ.وَقَالَ لِي مَرَّةً:مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، إِنْ رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، إِنْ حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata: Aku pernah mendengar Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata:“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”Beliau juga pernah berkata kepadaku:“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku? Surga dan taman hatiku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surga itu selalu bersamaku, tidak akan meninggalkanku. Jika aku dipenjara, maka itu adalah kesempatan untuk menyendiri bersama Allah. Jika aku dibunuh, maka itu adalah syahid. Jika aku diusir dari negeriku, maka itu adalah perjalanan spiritual (siyāḥah).”وَكَانَ يَقُولُ فِي مَحْبَسِهِ فِي الْقَلْعَةِ:لَوْ بُذِلَ مِلْءُ هَذِهِ الْقَاعَةِ ذَهَبًا مَا عَدَلَ عِنْدِي شُكْرَ هَذِهِ النِّعْمَةِ.أَوْ قَالَ: مَا جَزَيْتُهُمْ عَلَى مَا تَسَبَّبُوا لِي فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ، وَنَحْوَ هَذَا.Ketika beliau berada di dalam penjara benteng (Qal‘ah Dimasyq), beliau sering berkata:“Seandainya memenuhi seluruh ruangan ini dengan emas, itu belum cukup untuk menandingi rasa syukurku atas nikmat ini.”Atau beliau berkata,“Aku belum mampu membalas mereka yang telah menyebabkan kebaikan besar bagiku melalui peristiwa ini.”وَكَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ مَحْبُوسٌ:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.مَا شَاءَ اللَّهُ، وَقَالَ لِي مَرَّةً:الْمَحْبُوسُ مَنْ حَبَسَ قَلْبَهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى، وَالْمَأْسُورُ مَنْ أَسَرَهُ هَوَاهُ.Beliau juga biasa berdoa dalam sujudnya saat di penjara:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”Lalu beliau berkata kepadaku:“Orang yang benar-benar terpenjara adalah siapa pun yang hatinya terhalang dari Rabb-nya. Dan orang yang sesungguhnya menjadi tawanan adalah yang diperbudak oleh hawa nafsunya.”وَلَمَّا دَخَلَ إِلَى الْقَلْعَةِ، وَصَارَ دَاخِلَ سُورِهَا، نَظَرَ إِلَيْهَا وَقَالَ:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}وَعَلِمَ اللَّهُ، مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَطْيَبَ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ، مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ، وَخِلَافِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ، بَلْ ضِدِّهَا، وَمَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْحَبْسِ، وَالتَّهْدِيدِ، وَالْإِرْهَاقِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ مِنْ أَطْيَبِ النَّاسِ عَيْشًا، وَأَشْرَحِهِمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا، وَأَسَرِّهِمْ نَفْسًا، تَلُوحُ نَضْرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ.Ketika Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah memasuki benteng penjara (Qal‘ah Dimasyq) dan berada di dalam temboknya, beliau memandang ke sekeliling lalu membaca firman Allah:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}“Lalu diletakkanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di bagian dalamnya ada rahmat, sedangkan di bagian luarnya dari arah mereka ada azab.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 13)Aku bersaksi kepada Allah, aku belum pernah melihat seseorang yang kehidupannya lebih bahagia daripada beliau — padahal secara lahir beliau hidup dalam kesempitan, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan berada dalam kondisi berlawanan: terpenjara, diancam, dan disiksa. Namun, beliau termasuk manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling tenang jiwanya. Wajahnya memancarkan nadhrah an-na‘īm (cahaya kenikmatan).وَكُنَّا إِذَا اشْتَدَّ بِنَا الْخَوْفُ، وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ، وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ، أَتَيْنَاهُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ، فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ، وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا، وَقُوَّةً، وَيَقِينًا، وَطُمَأْنِينَةً.فَسُبْحَانَ مَنْ أَشْهَدَ عِبَادَهُ جَنَّتَهُ قَبْلَ لِقَائِهِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَهَا فِي دَارِ الْعَمَلِ، فَآتَاهُمْ مِنْ رُوحِهَا وَنَسِيمِهَا وَطِيبِهَا مَا اسْتَفْرَغَ قُوَاهُمْ لِطَلَبِهَا وَالْمُسَابَقَةِ إِلَيْهَا.Setiap kali kami diliputi ketakutan, buruk sangka, dan sempit dada, kami mendatangi beliau. Begitu melihat wajahnya dan mendengar ucapannya, semua kegelisahan itu sirna — berganti dengan kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.Maha Suci Allah yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya sebagian surga-Nya sebelum perjumpaan dengan-Nya. Dia telah membuka bagi mereka pintu-pintu surga itu di dunia tempat beramal, lalu menghembuskan kepada mereka sebagian dari ruh, semerbak, dan keharumannya, hingga seluruh tenaga mereka tercurahkan untuk mencarinya dan berlomba meraihnya.وَكَانَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ يَقُولُ:لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ، لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ.Sebagian orang ‘arif berkata:“Seandainya para raja dan putra mahkota mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memeranginya dengan pedang.”وَقَالَ آخَرُ:مَسَاكِينُ أَهْلِ الدُّنْيَا، خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا.قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟قَالَ: مَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَذِكْرُهُ.أَوْ نَحْوُ هَذَا.Yang lain berkata:“Kasihan orang-orang dunia! Mereka keluar dari dunia tanpa sempat merasakan hal paling lezat di dalamnya.” Ditanya kepadanya, “Apa yang paling lezat di dunia?”Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, mengenal-Nya, dan berdzikir kepada-Nya.”وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِالْقَلْبِ أَوْقَاتٌ يَرْقُصُ فِيهَا طَرَبًا.وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِي أَوْقَاتٌ، أَقُولُ: إِنْ كَانَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا، إِنَّهُمْ لَفِي عَيْشٍ طَيِّبٍ.Yang lain berkata:“Terkadang hati ini melewati saat-saat di mana ia menari karena bahagia.”Yang lain lagi berkata:“Ada waktu-waktu tertentu ketika aku berkata: jika penghuni surga merasakan kenikmatan seperti ini, maka sungguh mereka berada dalam kehidupan yang sangat baik.”فَمَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَدَوَامُ ذِكْرِهِ، وَالسُّكُونُ إِلَيْهِ، وَالطُّمَأْنِينَةُ بِهِ، وَإِفْرَادُهُ بِالْحُبِّ، وَالْخَوْفِ، وَالرَّجَاءِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالْمُعَامَلَةِ، بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ وَحْدَهُ الْمُسْتَوْلِي عَلَى هُمُومِ الْعَبْدِ وَعَزِيمَاتِهِ وَإِرَادَاتِهِ، هِيَ جَنَّةُ الدُّنْيَا، وَالنَّعِيمُ الَّذِي لَا يُشْبِهُهُ نَعِيمٌ، وَهِيَ قُرَّةُ عُيُونِ الْمُحِبِّينَ، وَحَيَاةُ الْعَارِفِينَ.Maka cinta kepada Allah, mengenal-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, bersandar dan merasa tenang bersama-Nya, hanya berharap kepada-Nya, serta menjadikan-Nya satu-satunya tujuan cinta, takut, harap, dan tawakal — inilah surga dunia yang tidak bisa ditandingi oleh kenikmatan apa pun. Inilah penyejuk mata para pecinta dan kehidupan sejati bagi orang-orang yang mengenal Allah.وَإِنَّمَا تَقَرُّ عُيُونُ النَّاسِ بِهِ عَلَى حَسَبِ قُرَّةِ أَعْيُنِهِمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنْ قَرَّتْ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، قَرَّتْ بِهِ كُلُّ عَيْنٍ، وَمَنْ لَمْ تَقَرَّ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، تَقَطَّعَتْ نَفْسُهُ عَلَى الدُّنْيَا حَسَرَاتٍ.Ketenangan manusia tergantung pada sejauh mana matanya terpuaskan dengan Allah. Siapa yang hatinya tenteram bersama Allah, maka ia akan tenteram dalam segala hal. Namun, siapa yang tidak tenang bersama Allah, hidupnya akan terpecah oleh penyesalan dunia yang tiada akhir.وَإِنَّمَا يَصْدُقُ هَذَا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَأَمَّا مَيِّتُ الْقَلْبِ، فَيُوحِشُكَ مَا لَهُ ثَمَّ، فَاسْتَأْنِسْ بِغَيْبَتِهِ مَا أَمْكَنَكَ، فَإِنَّكَ لَا يُوحِشُكَ إِلَّا حُضُورُهُ عِنْدَكَ.Yang memahami makna ini hanyalah orang yang hatinya hidup. Adapun hati yang mati, ia akan merasa asing dari kebenaran dan tenang dengan kebatilan. Maka berusahalah merasa nyaman saat jauh dari orang yang demikian, karena sesungguhnya yang membuatmu gelisah hanyalah kehadirannya di dekatmu.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهِ، فَأَعْطِهِ ظَاهِرَكَ، وَتَرَحَّلْ عَنْهُ بِقَلْبِكَ، وَفَارِقْهُ بِسِرِّكَ، وَلَا تُشْغَلْ بِهِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى بِكَ.Jika engkau diuji dengan pergaulan seperti itu, berikanlah padanya bagian lahirmu, namun pisahkan hatimu dan rahasiamu darinya. Jangan biarkan dia menghalangimu dari urusan yang lebih utama.وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَسْرَةَ كُلَّ الْحَسْرَةِ، الِاشْتِغَالُ بِمَنْ لَا يَجُرُّ عَلَيْكَ الِاشْتِغَالُ بِهِ إِلَّا فَوْتَ نَصِيبِكَ وَحَظِّكَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَانْقِطَاعَكَ عَنْهُ، وَضَيَاعَ وَقْتِكَ، وَضَعْفَ عَزِيمَتِكَ، وَتَفَرُّقَ هَمِّكَ.Ketahuilah, penyesalan yang paling dalam adalah ketika seseorang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan apa pun selain kehilangan bagian dirinya dari Allah, terputus dari-Nya, terbuang waktunya, lemah tekadnya, dan tercerai pikirannya.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهَذَا ـ وَلَا بُدَّ لَكَ مِنْهُ ـ فَعَامِلِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ، وَاحْتَسِبْ عَلَيْهِ مَا أَمْكَنَكَ، وَتَقَرَّبْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمَرْضَاتِهِ فِيهِ، وَاجْعَلِ اجْتِمَاعَكَ بِهِ مَتْجَرًا لَكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ خَسَارَةً، وَكُنْ مَعَهُ كَرَجُلٍ سَائِرٍ فِي طَرِيقِهِ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ وَقَفَهُ عَنْ سَيْرِهِ، فَاجْتَهِدْ أَنْ تَأْخُذَهُ مَعَكَ وَتَسِيرَ بِهِ، فَتَحْمِلَهُ وَلَا يَحْمِلُكَ، فَإِنْ أَبَى، وَلَمْ يَكُنْ فِي سَيْرِهِ مَطْمَعٌ، فَلَا تَقِفْ مَعَهُ، بَلِ ارْكَبِ الدَّرْبَ وَدَعْهُ، وَلَا تَلْتَفِتْ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَاطِعُ الطَّرِيقِ، وَلَوْ كَانَ مَنْ كَانَ، فَانْجُ بِقَلْبِكَ، وَاضْنَنْ بِيَوْمِكَ وَلَيْلَتِكَ، لَا تَغْرُبْ عَلَيْكَ الشَّمْسُ قَبْلَ وُصُولِ الْمَنْزِلَةِ، فَتُؤْخَذَ، أَوْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ أَنَّى لَكَ بِلِقَائِهِمْ.Apabila engkau harus berinteraksi dengan orang semacam itu, maka niatkan karena Allah. Bersabarlah dan jadikan interaksi itu sebagai ladang pahala, bukan kerugian.Bersikaplah seperti seorang musafir yang dalam perjalanan bertemu seseorang yang mencoba menghentikannya. Usahakan untuk mengajaknya berjalan bersama, bukan sebaliknya. Jika ia menolak, jangan berhenti bersamanya — teruslah berjalan di jalanmu, jangan menoleh ke belakang. Ia hanyalah perampok jalanmu, siapa pun dia.Selamatkan hatimu, jagalah waktu siang dan malammu. Jangan biarkan matahari terbenam sebelum engkau mencapai tujuan, atau fajar menyingsing sementara engkau masih tertahan — karena entah kapan lagi engkau akan bertemu dengan orang-orang yang telah sampai ke sana. [الخامسة والثلاثون]أَنَّ الذِّكْرَ يَسِيرُ العَبْدُ وَهُوَ فِي فِرَاشِهِ، وَفِي سُوقِهِ، وَفِي حَالِ صِحَّتِهِ وَسَقَمِهِ، وَفِي حَالِ نَعِيمِهِ وَلَذَّتِهِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يَعُمُّ الأَوْقَاتَ وَالأَحْوَالَ مِثْلَهُ، حَتَّى يَسِيرَ العَبْدُ وَهُوَ نَائِمٌ عَلَى فِرَاشِهِ فَيَسْبِقَ القَائِمَ مَعَ الغَفْلَةِ، فَيُصْبِحَ هَذَا وَقَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَيُصْبِحَ ذَاكَ الغَافِلُ فِي سَاقَةِ الرَّكْبِ، وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.وَحُكِيَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ العُبَّادِ أَنَّهُ نَزَلَ بِرَجُلٍ ضَيْفًا، فَقَامَ العَابِدُ لَيْلَهُ يُصَلِّي، وَذَلِكَ الرَّجُلُ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَا قَالَ لَهُ العَابِدُ: سَبَقَكَ الرَّكْبُ، أَوْ كَمَا قَالَ.فَقَالَ: لَيْسَ الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ مُسَافِرًا وَأَصْبَحَ مَعَ الرَّكْبِ، الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَأَصْبَحَ قَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ.Ketiga puluh lima, dzikir membuat seorang hamba tetap berjalan menuju Allah meskipun ia berada di atas tempat tidurnya, di pasar, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kondisi menikmati nikmat atau kesenangan. Tidak ada amalan yang bisa mencakup seluruh waktu dan keadaan seperti dzikir.Bahkan, terkadang seorang hamba yang sedang berbaring di tempat tidurnya tetap melangkah maju dengan dzikirnya, melewati orang yang sedang berdiri dalam keadaan lalai. Maka ketika pagi datang, yang berzikir itu telah menempuh perjalanan jauh (menuju Allah) sementara ia masih berbaring, sedangkan yang lalai itu tertinggal jauh di belakang rombongan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.Dikisahkan dari seorang ahli ibadah bahwa ia singgah di rumah seorang lelaki sebagai tamu. Pada malam harinya, si ahli ibadah bangun untuk salat malam, sementara tuan rumahnya tetap berbaring di tempat tidurnya. Ketika pagi tiba, sang ahli ibadah berkata kepadanya,“Rombongan telah mendahuluimu (dalam perjalanan menuju Allah).”Namun si tuan rumah menjawab,“Bukan itu persoalannya. Bukan tentang siapa yang bermalam dalam perjalanan lalu pagi hari sudah bersama rombongan. Yang penting adalah siapa yang bermalam di tempat tidurnya, namun ketika pagi telah melampaui rombongan.”وَهَذَا وَنَحْوُهُ لَهُ مَحْمَلٌ صَحِيحٌ وَمَحْمَلٌ فَاسِدٌ، فَمَنْ حَكَمَ عَلَى أَنَّ الرَّاقِدَ المُضْطَجِعَ عَلَى فِرَاشِهِ يَسْبِقُ القَائِمَ القَانِتَ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنَّمَا مَحْمَلُهُ أَنَّ هَذَا المُسْتَلْقِيَ عَلَى فِرَاشِهِ عَلِقَ بِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَلْصَقَ حَبَّ قَلْبِهِ بِالعَرْشِ، وَبَاتَ قَلْبُهُ يَطُوفُ حَوْلَ العَرْشِ مَعَ المَلَائِكَةِ، قَدْ غَابَ عَنِ الدُّنْيَا وَمَنْ فِيهَا، وَقَدْ عَاقَهُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ عَائِقٌ مِنْ وَجَعٍ أَوْ بَرْدٍ يَمْنَعُهُ القِيَامَ، أَوْ خَوْفٌ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ رُؤْيَةِ عَدُوٍّ يَطْلُبُهُ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الأَعْذَارِ، فَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي قَلْبِهِ مَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلِيمٌ.وَآخَرُ قَائِمٌ يُصَلِّي وَيَتْلُو، وَفِي قَلْبِهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالعُجْبِ وَطَلَبِ الجَاهِ وَالمَحْمَدَةِ عِنْدَ النَّاسِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ، أَوْ قَلْبُهُ فِي وَادٍ وَجِسْمُهُ فِي وَادٍ.فَلَا رَيْبَ أَنَّ ذَلِكَ الرَّاقِدَ يُصْبِحُ وَقَدْ سَبَقَ هَذَا القَائِمَ بِمَرَاحِلَ كَثِيرَةٍ، فَالعَمَلُ عَلَى القُلُوبِ لَا عَلَى الأَبْدَانِ، وَالمُعَوَّلُ عَلَى السَّاكِنِ، وَيُهَيِّجُ الحُبَّ المُتَوَارِيَ، وَيَبْعَثُ الطَّلَبَ المَيِّتَ.Perkataan seperti ini memiliki dua kemungkinan makna: makna yang benar dan makna yang keliru.Jika seseorang memahami bahwa orang yang berbaring di tempat tidurnya bisa mengalahkan orang yang bangun untuk beribadah dan salat malam tanpa alasan apa pun, maka pemahaman itu batil (keliru).Namun, makna yang benar adalah bahwa orang yang sedang berbaring itu hatinya terikat kuat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, ia menempelkan cinta hatinya kepada ‘Arsy, dan hatinya berkeliling di sekitar ‘Arsy bersama para malaikat, sementara dirinya telah terlupa dari dunia dan segala isinya.Ia tertahan untuk bangun malam bukan karena malas, melainkan karena ada penghalang seperti sakit, cuaca dingin yang berat, rasa takut dari musuh yang mengincar, atau uzur lain yang benar-benar menghalanginya. Maka ia tetap berbaring di atas tempat tidurnya, namun hatinya dalam keadaan yang hanya Allah Ta‘ala yang mengetahuinya.Sedangkan orang lain berdiri salat dan membaca Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya terdapat riya’, rasa bangga diri, mencari kedudukan, atau ingin dipuji manusia. Bisa jadi pula hatinya berada di satu tempat, sementara tubuhnya di tempat lain.Maka tidak diragukan lagi, orang yang berbaring namun hatinya hidup bersama Allah akan mendahului orang yang bangun malam dengan hati yang lalai dalam banyak tingkatan.Sebab, amal dinilai dari hati, bukan dari gerak tubuh. Yang menjadi ukuran adalah kehidupan batin yang diam namun menyala oleh cinta dan keikhlasan, karena ia mampu membangkitkan kembali cinta yang tersembunyi dan menghidupkan semangat ibadah yang hampir mati.[الذِّكْرُ وَحَقِيقَةُ النُّورِ الإِلَهِيِّ] (السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ) أَنَّ الذِّكْرَ نُورٌ لِلذَّاكِرِ فِي الدُّنْيَا، وَنُورٌ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنُورٌ لَهُ فِي مَعَادِهِ يَسْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ، فَمَا اسْتَنَارَتِ القُلُوبُ وَالقُبُورُ بِمِثْلِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}. فَالأَوَّلُ هُوَ المُؤْمِنُ، اسْتَنَارَ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَمَعْرِفَتِهِ وَذِكْرِهِ، وَالآخَرُ هُوَ الغَافِلُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، المُعْرِضُ عَنْ ذِكْرِهِ وَمَحَبَّتِهِ. وَالشَّأْنُ كُلُّ الشَّأْنِ، وَالفَلَاحُ كُلُّ الفَلَاحِ فِي النُّورِ، وَالشَّقَاءُ كُلُّ الشَّقَاءِ فِي فَوَاتِهِ. وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَالِغُ فِي سُؤَالِ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حِينَ يَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي لَحْمِهِ وَعِظَامِهِ وَعَصَبِهِ وَشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ وَسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ، وَمِنْ فَوْقِهِ وَمِنْ تَحْتِهِ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَخَلْفِهِ وَأَمَامِهِ، حَتَّى يَقُولَ: وَاجْعَلْنِي نُورًا. فَسَأَلَ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ النُّورَ فِي ذَرَّاتِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَهُ مُحِيطًا بِهِ مِنْ جَمِيعِ جِهَاتِهِ، وَأَنْ يَجْعَلَ ذَاتَهُ وَجُمْلَتَهُ نُورًا. فَدِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نُورٌ، وَكِتَابُهُ نُورٌ، وَرَسُولُهُ نُورٌ، وَدَارُهُ الَّتِي أَعَدَّهَا لِأَوْلِيَائِهِ نُورٌ يَتَلَأْلَأُ، وَهُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمِنْ أَسْمَائِهِ النُّورُ، وَأَشْرَقَتِ الظُّلُمَاتُ لِنُورِ وَجْهِهِ.Ketiga puluh enam, [Dzikir dan Hakikat Cahaya Ilahi]Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir — cahaya baginya di dunia, cahaya baginya di dalam kuburnya, dan cahaya baginya di akhirat yang berjalan di hadapannya di atas shirath (jembatan akhirat).Tidak ada sesuatu pun yang mampu menerangi hati dan kubur sebagaimana zikir kepada Allah Ta‘ala.Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah orang yang sebelumnya mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An‘ām: 122)Yang pertama adalah seorang mukmin, yang dihidupkan dan diterangi oleh iman kepada Allah, cinta kepada-Nya, pengetahuan tentang-Nya, serta zikir kepada-Nya.Adapun yang kedua adalah orang yang lalai dari Allah Ta‘ala, berpaling dari zikir dan cinta kepada-Nya.Maka, seluruh keberuntungan bergantung pada cahaya itu, dan segala bentuk kesengsaraan bersumber dari hilangnya cahaya tersebut.Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Rabbnya — Tabāraka wa Ta‘ālā — memohon agar Allah menjadikan cahaya itu menyatu dalam seluruh bagian tubuhnya: dalam daging, tulang, urat, rambut, kulit, pendengaran, dan penglihatannya, dari atas dan bawah, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang; hingga beliau berdoa:“Dan jadikanlah aku cahaya.”Beliau memohon agar cahaya itu memenuhi seluruh zarrah (bagian kecil) dalam dirinya, baik yang lahir maupun batin, mengelilinginya dari segala arah, bahkan menjadikan seluruh dirinya cahaya.Sebab, agama Allah adalah cahaya, Kitab-Nya adalah cahaya, Rasul-Nya adalah cahaya, dan surga-Nya — tempat yang disiapkan untuk para kekasih-Nya — adalah cahaya yang berkilauan.Sedangkan Dia sendiri, Tabāraka wa Ta‘ālā, adalah Cahaya langit dan bumi.Salah satu nama-Nya adalah An-Nūr (Yang Maha Cahaya), dan seluruh kegelapan akan sirna oleh pancaran cahaya wajah-Nya.[السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ رَأْسُ الْأُصُولِ، وَطَرِيقُ عَامَّةِ الطَّائِفَةِ، وَمَنْشُورُ الْوِلَايَةِ، فَمَنْ فُتِحَ لَهُ فِيهِ، فَقَدْ فُتِحَ لَهُ بَابُ الدُّخُولِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَتَطَهَّرْ وَلْيَدْخُلْ عَلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَجِدْ عِنْدَهُ كُلَّ مَا يُرِيدُ، فَإِنْ وَجَدَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَجَدَ كُلَّ شَيْءٍ، وَإِنْ فَاتَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَهُ كُلُّ شَيْءٍ. Ketiga puluh tujuh,Dzikir merupakan pokok dari segala pokok, jalan utama bagi kebanyakan orang yang menempuh perjalanan menuju Allah, dan merupakan tanda (pengumuman) kedekatan seorang hamba dengan-Nya.Barang siapa dibukakan hatinya untuk istiqamah dalam dzikir, maka sesungguhnya telah dibukakan baginya pintu untuk masuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hendaklah ia mensucikan diri—lahir dan batin—lalu masuk menghadap Rabb-nya. Di sisi Allah, ia akan mendapati segala yang diinginkan.Sebab, siapa yang menemukan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, berarti ia telah mendapatkan segalanya. Namun siapa yang kehilangan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, sungguh ia telah kehilangan segalanya.[الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ] فِي الْقَلْبِ خَلَّةٌ وَفَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا صَارَ شِعَارَ الْقَلْبِ بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ الذَّاكِرَ بِطَرِيقِ الْأَصَالَةِ، وَاللِّسَانُ تَابِعٌ لَهُ، فَهَذَا هُوَ الذِّكْرُ الَّذِي يَسُدُّ الْخَلَّةَ وَيُفْنِي الْفَاقَةَ، فَيَكُونُ صَاحِبُهُ غَنِيًّا بِلَا مَالٍ، عَزِيزًا بِلَا عَشِيرَةٍ، مَهِيبًا بِلَا سُلْطَانٍ. فَإِذَا كَانَ غَافِلًا عَنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ بِضِدِّ ذَلِكَ: فَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ جِدَّتِهِ، ذَلِيلٌ مَعَ سُلْطَانِهِ، حَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ عَشِيرَتِهِ.Ketiga puluh delapan,Dalam hati manusia terdapat kekosongan dan kebutuhan mendalam yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh apa pun selain dengan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Apabila dzikir telah menjadi kebiasaan hati—hingga hati itu sendiri yang benar-benar berdzikir secara hakiki, sementara lisan hanya menjadi pengikutnya—maka inilah dzikir yang mampu mengisi kekosongan itu dan menghapus segala rasa kekurangan.Orang yang demikian akan merasa kaya tanpa harta, mulia tanpa keluarga besar, dan disegani tanpa kekuasaan.Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan merasakan kebalikannya: miskin meski banyak hartanya, hina meski memiliki kekuasaan, dan rendah meski memiliki banyak pengikut dan kerabat.[التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَ، وَيُفَرِّقُ الْمُجْتَمِعَ، وَيُقَرِّبُ الْبَعِيدَ، وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ. فَيَجْمَعُ مَا تَفَرَّقَ عَلَى الْعَبْدِ مِنْ قَلْبِهِ وَإِرَادَتِهِ وَهُمُومِهِ وَعَزَائِمِهِ، وَالْعَذَابُ كُلُّ الْعَذَابِ فِي تَفَرُّقِهَا وَتَشَتُّتِهَا عَلَيْهِ وَانْفِرَاطِهَا لَهُ، وَالْحَيَاةُ وَالنَّعِيمُ فِي اجْتِمَاعِ قَلْبِهِ وَهَمِّهِ وَعَزْمِهِ وَإِرَادَتِهِ. وَيُفَرِّقُ مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْحَسَرَاتِ عَلَى فَوْتِ حُظُوظِهِ وَمَطَالِبِهِ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنْ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ وَأَوْزَارِهِ، حَتَّى تَتَسَاقَطَ عَنْهُ وَتَتَلَاشَى وَتَضْمَحِلَّ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَى حَرْبِهِ مِنْ جُنْدِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ إِبْلِيسَ لَا يَزَالُ يَبْعَثُ لَهُ سَرِيَّةً، وَكُلَّمَا كَانَ أَقْوَى طَلَبًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَمْثَلَ تَعَلُّقًا بِهِ وَإِرَادَةً لَهُ، كَانَتِ السَّرِيَّةُ أَكْثَفَ وَأَكْثَرَ وَأَعْظَمَ شَوْكَةً، بِحَسَبِ مَا عِنْدَ الْعَبْدِ مِنْ مَوَادِّ الْخَيْرِ وَالْإِرَادَةِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَى تَفْرِيقِ هَذَا الْجَمْعِ إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ. وَأَمَّا تَقْرِيبُهُ الْبَعِيدَ فَإِنَّهُ يُقَرِّبُ إِلَيْهِ الْآخِرَةَ الَّتِي يُبْعِدُهَا مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَالْأَمَلُ، فَلَا يَزَالُ يَلْهَجُ بِالذِّكْرِ حَتَّى كَأَنَّهُ قَدْ دَخَلَهَا وَحَضَرَهَا، فَحِينَئِذٍ تَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ الدُّنْيَا، وَتَعْظُمُ فِي قَلْبِهِ الْآخِرَةُ. وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ إِلَيْهِ، وَهِيَ الدُّنْيَا الَّتِي هِيَ أَدْنَى إِلَيْهِ مِنَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ الْآخِرَةَ مَتَى قَرُبَتْ مِنْ قَلْبِهِ بَعُدَتْ مِنْهُ الدُّنْيَا، كُلَّمَا قَرُبَتْ مِنْهُ هَذِهِ مَرْحَلَةً بَعُدَتْ مِنْهُ تِلْكَ مَرْحَلَةً، وَلَا سَبِيلَ إِلَى هَذَا إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ.Ketiga puluh sembilan,Dzikir memiliki kekuatan yang menakjubkan: ia mengumpulkan yang tercerai-berai dan memisahkan yang berhimpun; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.Dzikir mengumpulkan kembali apa pun yang tercerai dalam diri seseorang—hatinya, kehendaknya, pikirannya, dan tekadnya.Sungguh, penderitaan terbesar adalah ketika semua itu tercerai dan tidak terarah; sedangkan kebahagiaan sejati terletak pada bersatunya hati, kehendak, niat, dan tekad seseorang dalam satu tujuan, yaitu menuju Allah.Dzikir juga memisahkan apa yang berkumpul dari tumpukan kesedihan, kegelisahan, dan penyesalan atas hilangnya berbagai keinginan dan kesenangan dunia.Ia memisahkan pula dosa-dosa, kesalahan, dan beban maksiat yang menumpuk di diri seseorang—hingga dosa-dosa itu berjatuhan, lenyap, dan sirna.Dzikir juga memecah barisan pasukan setan yang bersatu untuk memerangi seorang hamba.Setan tak henti mengirimkan bala tentaranya untuk menggoda, dan semakin kuat keinginan seorang hamba untuk mencari Allah, semakin banyak dan besar pula serangan pasukan setan terhadapnya—sesuai dengan kadar kebaikan dan tekad yang ada pada dirinya.Dan tidak ada cara untuk memecah barisan pasukan itu kecuali dengan zikir yang terus-menerus.Adapun dzikir disebut “mendekatkan yang jauh”, karena ia mendekatkan akhirat yang berusaha dijauhkan dari hati oleh setan dan angan-angan duniawi.Ketika lidah seseorang terus melantunkan dzikir, seolah-olah ia sudah berada di negeri akhirat dan menyaksikannya secara langsung. Saat itulah dunia terasa kecil di matanya, sedangkan akhirat menjadi agung dalam hatinya.Dzikir juga disebut “menjauhkan yang dekat”, yakni dunia yang selalu berada di hadapan manusia dan menggoda hatinya.Ketika akhirat semakin dekat di hati, dunia pun semakin jauh darinya.Setiap langkah hati yang mendekat kepada akhirat adalah langkah menjauh dari dunia — dan semua itu hanya mungkin terwujud dengan zikir yang terus-menerus.[الأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يُنَبِّهُ الْقَلْبَ مِنْ نَوْمِهِ، وَيُوقِظُهُ مِنْ سِنَتِهِ، وَالْقَلْبُ إِذَا كَانَ نَائِمًا فَاتَتْهُ الْأَرْبَاحُ وَالْمَتَاجِرُ، وَكَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ الْخُسْرَانُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ وَعَلِمَ مَا فَاتَهُ فِي نَوْمَتِهِ، شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا بَقِيَّةَ عُمْرِهِ، وَاسْتَدْرَكَ مَا فَاتَهُ، وَلَا تَحْصُلُ يَقَظَتُهُ إِلَّا بِالذِّكْرِ، فَإِنَّ الْغَفْلَةَ نَوْمٌ ثَقِيلٌ.Keempat puluh,Dzikir adalah pembangun hati yang tertidur dan penggugah dari kelalaiannya.Ketika hati berada dalam keadaan tidur (lalai), ia kehilangan berbagai keuntungan dan kesempatan berharga dalam hidupnya. Sebaliknya, yang mendominasi adalah kerugian dan kehampaan.Namun saat hati itu terjaga dan menyadari apa yang telah ia lewatkan selama dalam kelalaian, ia pun akan segera bersemangat, mengencangkan ikat pinggangnya, memanfaatkan sisa umurnya, dan berusaha menebus apa yang telah terlewat.Kesadaran dan kebangkitan hati semacam ini tidak akan terjadi kecuali dengan dzikir, sebab kelalaian (ghaflah) adalah tidur yang sangat berat bagi hati.[الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ شَجَرَةٌ تُثْمِرُ الْمَعَارِفَ وَالْأَحْوَالَ الَّتِي شَمَّرَ إِلَيْهَا السَّالِكُونَ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى نَيْلِ ثِمَارِهَا إِلَّا مِنْ شَجَرَةِ الذِّكْرِ، وَكُلَّمَا عَظُمَتْ تِلْكَ الشَّجَرَةُ وَرَسَخَ أَصْلُهَا كَانَ أَعْظَمَ لِثَمَرَتِهَا، فَالذِّكْرُ يُثْمِرُ الْمَقَامَاتِ كُلَّهَا مِنَ الْيَقَظَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ، وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ مَقَامٍ وَقَاعِدَتُهُ الَّتِي يُنْبَنِي ذَلِكَ الْمَقَامُ عَلَيْهَا، كَمَا يُبْنَى الْحَائِطُ عَلَى رَأْسِهِ، وَكَمَا يَقُومُ السَّقْفُ عَلَى حَائِطِهِ. وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ إِنْ لَمْ يَسْتَيْقِظْ لَمْ يُمْكِنْهُ قَطْعُ مَنَازِلِ السَّيْرِ، وَلَا يَسْتَيْقِظُ إِلَّا بِالذِّكْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَالْغَفْلَةُ نَوْمُ الْقَلْبِ أَوْ مَوْتُهُ.Keempat puluh satu,Sesungguhnya dzikir itu bagaikan sebuah pohon yang menghasilkan buah berupa ma‘rifat dan berbagai keadaan hati yang selalu diupayakan oleh para penempuh jalan menuju Allah. Tidak ada jalan untuk meraih buah-buah tersebut kecuali dari pohon dzikir itu sendiri. Semakin besar pohon tersebut dan semakin kuat akarnya menghujam, maka semakin besar pula buah yang dihasilkannya.Dzikir melahirkan seluruh maqam (tingkatan spiritual), mulai dari kesadaran hati hingga tauhid yang sempurna. Dzikir adalah dasar setiap maqam dan fondasi tempat seluruh maqam itu dibangun, sebagaimana dinding dibangun di atas pondasinya, dan sebagaimana atap dapat berdiri karena ditopang oleh dindingnya.Hal ini karena seorang hamba, jika tidak terjaga dari kelalaiannya, tidak akan mampu menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah. Dan seseorang tidak akan terjaga kecuali dengan dzikir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sebab, kelalaian itu adalah tidurnya hati, bahkan bisa menjadi kematiannya.[الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ قَرِيبٌ مِنْ مَذْكُورِهِ، وَمَذْكُورُهُ مَعَهُ. وَهَذِهِ الْمَعِيَّةُ مَعِيَّةٌ خَاصَّةٌ، غَيْرَ مَعِيَّةِ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ الْعَامَّةِ، فَهِيَ مَعِيَّةٌ بِالْقُرْبِ، وَالْوِلَايَةِ، وَالْمَحَبَّةِ، وَالنُّصْرَةِ، وَالتَّوْفِيقِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا﴾ ﴿وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾ ﴿وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾ ﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ وَلِلذَّاكِرِ مِنْ هَذِهِ الْمَعِيَّةِ نَصِيبٌ وَافِرٌ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْإِلَهِيِّ: «أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ». وَفِي أَثَرٍ آخَرَ: وَأَهْلُ ذِكْرِي أَهْلُ مُجَالَسَتِي، وَأَهْلُ شُكْرِي أَهْلُ زِيَارَتِي، وَأَهْلُ طَاعَتِي أَهْلُ كَرَامَتِي، وَأَهْلُ مَعْصِيَتِي لَا أُقَنِّطُهُمْ مِنْ رَحْمَتِي؛ إِنْ تَابُوا فَأَنَا حَبِيبُهُمْ، فَإِنِّي أُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَأُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ. وَإِنْ لَمْ يَتُوبُوا فَأَنَا طَبِيبُهُمْ، أَبْتَلِيهِمْ بِالْمَصَائِبِ، لِأُطَهِّرَهُمْ مِنَ الْمَعَايِبِ. وَالْمَعِيَّةُ الْحَاصِلَةُ لِلذَّاكِرِ مَعِيَّةٌ لَا يُشْبِهُهَا شَيْءٌ، وَهِيَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعِيَّةِ الْحَاصِلَةِ لِلْمُحْسِنِ وَالْمُتَّقِي، وَهِيَ مَعِيَّةٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعِبَارَةُ، وَلَا تَنَالُهَا الصِّفَةُ، وَإِنَّمَا تُعْلَمُ بِالذَّوْقِ. وَهِيَ مَزَلَّةُ أَقْدَامٍ إِنْ لَمْ يَصْحَبِ الْعَبْدَ فِيهَا تَمْيِيزٌ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْمُحْدَثِ، بَيْنَ الرَّبِّ وَالْعَبْدِ، بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ، بَيْنَ الْعَابِدِ وَالْمَعْبُودِ، وَإِلَّا وَقَعَ فِي حُلُولٍ يُضَاهِي بِهِ النَّصَارَى، أَوِ اتِّحَادٍ يُضَاهِي بِهِ الْقَائِلِينَ بِوَحْدَةِ الْوُجُودِ، وَأَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ عَيْنُ وُجُودِ هَذِهِ الْمَوْجُودَاتِ. بَلْ لَيْسَ عِنْدَهُمْ رَبٌّ وَعَبْدٌ، وَلَا خَلْقٌ وَحَقٌّ، بَلِ الرَّبُّ هُوَ الْعَبْدُ، وَالْعَبْدُ هُوَ الرَّبُّ، وَالْخَلْقُ الْمُشَبَّهُ هُوَ الْحَقُّ الْمُنَزَّهُ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ وَالْجَاحِدُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ الْعَبْدِ عَقِيدَةٌ صَحِيحَةٌ، فَإِذَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ سُلْطَانُ الذِّكْرِ، وَغَابَ بِمَذْكُورِهِ عَنْ ذِكْرِهِ وَعَنْ نَفْسِهِ، وَلَجَ بَابَ الْحُلُولِ وَالِاتِّحَادِ وَلَا بُدَّ.Keempat puluh dua,Dzikir memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Zat yang diingat, bahkan Zat yang diingat itu senantiasa bersama orang yang berdzikir.Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, bukan sekadar kebersamaan berupa ilmu dan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh makhluk. Ia adalah kebersamaan dalam makna kedekatan, perlindungan, kecintaan, pertolongan, dan taufik. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Juga firman-Nya, “Allah bersama orang-orang yang sabar.” Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” Serta firman-Nya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”Orang yang berdzikir mendapatkan bagian yang sangat besar dari kebersamaan khusus ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits ilahi, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.”Dalam atsar yang lain disebutkan, “Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku temani duduk bersama-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku kunjungi. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku muliakan. Adapun orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, Aku tidak memutus harapan mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat, maka Aku menjadi kekasih mereka, karena Aku mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”Namun jika mereka belum bertaubat, maka Aku menjadi tabib mereka, yakni Dokter Yang Maha Mengetahui penyakit hamba-Nya. Aku timpakan kepada mereka berbagai musibah sebagai terapi dan pengobatan, agar Aku bersihkan mereka dari aib dan noda dosa.Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berdzikir adalah kebersamaan yang tidak ada bandingannya. Ia bahkan lebih khusus dibandingkan kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat ihsan dan orang yang bertakwa. Kebersamaan ini tidak mampu dijangkau oleh ungkapan kata dan tidak bisa dilukiskan dengan deskripsi bahasa. Ia hanya dapat dipahami melalui rasa dan pengalaman batin.Namun kebersamaan ini juga merupakan tempat yang sangat rawan tergelincirnya langkah, jika seorang hamba tidak disertai kemampuan membedakan antara Yang Qadim dan yang baru, antara Rabb dan hamba, antara Sang Pencipta dan makhluk, antara yang beribadah dan yang disembah. Jika tidak, ia akan terjatuh pada keyakinan hulul seperti kaum Nasrani, atau keyakinan ittihad seperti orang-orang yang mengusung wahdatul wujud, yang menyatakan bahwa keberadaan Rabb adalah sama dengan keberadaan seluruh makhluk.Bahkan menurut mereka, tidak ada lagi perbedaan antara Rabb dan hamba, antara Pencipta dan ciptaan, antara kebenaran dan makhluk. Rabb adalah hamba, dan hamba adalah Rabb. Maha Tinggi Allah dari ucapan orang-orang zalim dan pengingkar kebenaran, setinggi-tingginya.Intinya, apabila seorang hamba tidak dibekali dengan akidah yang benar, maka ketika kekuatan dzikir telah menguasainya, lalu ia tenggelam bersama Zat yang diingat hingga lupa terhadap dzikirnya sendiri dan lupa terhadap dirinya, niscaya ia akan memasuki pintu hulul dan ittihad, dan hal itu hampir pasti terjadi.— Dzikir itu Menenangkan HatiDi antara faedah besar dari dzikir adalah menenangkan hati. Allah Ta‘ālā berfirman:أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)Dzikir juga menjadi tanda hidupnya hati seseorang. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, bagaikan orang hidup dengan orang mati.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)Dzikir juga merupakan sarana membersihkan hati. Dalam hadits disebutkan:إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat ketika terkena air.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah penghapus karatnya?” Beliau menjawab, “Banyak mengingat mati dan membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqī) Hadirkan Hati Ketika BerdzikirPara ulama menegaskan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir dengan lisan yang disertai hadirnya hati. Jika hanya lisan yang bergerak sementara hati lalai, maka itu berada pada tingkatan dzikir paling rendah.An-Nafrawī menukil dari al-Qāḍī ‘Iyāḍ bahwa dzikir ada dua macam: dzikir dengan hati saja, dan dzikir dengan lisan bersama hati. Dzikir dengan hati terbagi dua:Dzikir berupa tadabbur dan tafakkur terhadap kebesaran Allah, keagungan-Nya, tanda-tanda-Nya, dan ciptaan-Nya yang ada di langit maupun bumi. Inilah dzikir yang paling tinggi dan paling agung.Mengingat Allah dengan cara menghadirkan-Nya dalam hati ketika berhadapan dengan perintah dan larangan-Nya.Yang pertama lebih utama daripada yang kedua. Sedangkan yang kedua lebih utama dibandingkan dzikir dengan lisan yang disertai hati. Adapun dzikir dengan lisan saja tanpa hati, itu adalah tingkatan paling rendah, meskipun tetap ada pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits.Dari sini jelas, wahai saudaraku, bahwa dzikir dengan lisan saja sementara hati sibuk dengan hal lain—seperti membicarakan obrolan teman atau berita dunia—maka pelakunya tetap mendapat pahala karena lisannya dipenuhi dzikir kepada Allah Ta‘ālā, tetapi tidak akan menyamai derajat orang yang menggabungkan antara dzikir lisan dan hati sekaligus.Adapun terkait melanjutkan dzikir setelah ada pemutus (terhenti sejenak), hal ini dirinci. Jika dzikir tersebut telah ditentukan jumlahnya dalam syariat, seperti dzikir setelah shalat fardhu, maka tidak mengapa melanjutkannya dari hitungan sebelumnya. Namun jika syariat tidak menentukan jumlahnya, maka menetapkan bilangan tertentu tidak dianjurkan, karena dapat mengarah pada bid‘ah dan membuat-buat dalam agama yang tidak ada tuntunannya. Makna DzikirDzikir memiliki makna yang luas, mencakup dua sisi:a) Makna umumDzikir dalam makna umum meliputi seluruh bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, bertasbih, bertahmid, mengagungkan Allah, dan berbagai ketaatan lainnya. Semua ibadah itu pada hakikatnya ditegakkan untuk mengingat Allah, menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata:كُلُّ مَا تَكَلَّمَ بِهِ اللِّسَانُ، وَتَصَوَّرَهُ الْقَلْبُ مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمٍ، وَتَعْلِيمِهِ، وَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ، فَهُوَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Segala sesuatu yang diucapkan oleh lisan dan dihadirkan oleh hati yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti belajar ilmu, mengajarkannya, amar ma‘ruf, dan nahi munkar, maka itu termasuk dzikir kepada Allah.”b) Makna khususDzikir dalam makna khusus adalah menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan lafaz yang bersumber dari Allah—seperti membaca Al-Qur’an—atau lafaz yang datang melalui lisan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang di dalamnya terdapat pengagungan, penyucian, pemuliaan, dan peneguhan tauhid kepada Allah. Makna inilah yang dimaksud dalam sunnah ketika berbicara tentang dzikir.Dzikir yang paling agung adalah membaca Kitab Allah Ta‘ālā. Beribadah dengan membaca Al-Qur’an telah membuat mata para salaf sulit terpejam dan membuat mereka rela meninggalkan tidur nyenyak. Allah berfirman:وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Dan pada waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. adz-Dzāriyāt: 18)Para salaf mengisi malam mereka dengan membaca Kitab Allah Ta‘ālā dan melantunkan dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka sungguh, alangkah mulianya malam yang dihidupkan oleh mereka dengan ibadah. Sementara kita, betapa besar kerugian kita, betapa banyak kelalaian kita, dan betapa besar keteledoran kita dalam memanfaatkan malam dan waktu sahur! Semoga malam-malam kita selamat dari maksiat kepada Rabb kita, kecuali bagi yang dirahmati Allah Ta‘ālā. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan MuqayyadSeorang hamba hendaknya bersemangat berdzikir kepada Allah Ta‘ālā dengan hati dan lisannya sekaligus. Inilah keadaan yang paling sempurna. Adapun dzikir hanya dengan lisan saja tanpa kehadiran hati, maka itu termasuk keadaan yang kurang. Sebab, ada sebagian orang yang ketika berdzikir tidak merasakan apa yang ia ucapkan. Lisannya memang bergerak, tetapi hatinya tidak ikut hidup. Seandainya hatinya ikut berdzikir, merenungi maknanya, tentu imannya akan bertambah dan hatinya akan lebih lembut.Wahai saudaraku yang diberkahi Allah, ketahuilah juga bahwa dzikir ditinjau dari tempat atau waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua: dzikir muqayyad dan dzikir mutlak.Dzikir muqayyad adalah dzikir yang dibatasi oleh tempat, waktu, atau keadaan tertentu.Dzikir mutlak adalah dzikir yang tidak dibatasi oleh salah satu dari hal tersebut, melainkan bisa dilakukan kapan saja sepanjang hari.Contohnya, dzikir setelah shalat fardhu, dzikir setelah adzan, atau dzikir lain yang diajarkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada waktu dan tempat tertentu. Semua dzikir muqayyad ini lebih utama dibandingkan dzikir mutlak, karena di dalamnya ada unsur mengikuti sunnah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Maka jika seseorang selesai dari shalat wajib, dzikir yang paling utama baginya adalah membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat. Ia tidak menggantinya dengan dzikir lain, meskipun dzikir itu juga utama, seperti membaca Al-Qur’an. Sebab, demikianlah yang dilakukan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan kebaikan yang sempurna adalah dengan meneladani beliau.Baca juga: Kumpulan Hadits Kitab Al-Adzkar dari Riyadhus Sholihin Pembahasan Tuntas Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. —Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (20/03/2011), direvisi 12 September 2025 di GunungkidulDr. Muhammad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com Baca Juga:Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adahYang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang[1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691[2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih[3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-198. Tagsdoa dan dzikir Dzikir dzikir pagi dzikir petang keutamaan dzikir
Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan, namun menyimpan keutamaan yang sangat besar. Ia adalah makanan hati, penyejuk jiwa, dan penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya. Para ulama menjelaskan bahwa dalam dzikir terkandung ratusan manfaat yang mampu mengangkat derajat seorang muslim. Karena itu, siapa saja yang ingin hatinya hidup dan dekat dengan Allah ﷻ, hendaknya senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir.  Daftar Isi tutup 1. Lebih dari Seratus Faedah Dzikir 2. Dzikir itu Menenangkan Hati 3. Hadirkan Hati Ketika Berdzikir 4. Makna Dzikir 4.1. a) Makna umum 4.2. b) Makna khusus 5. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan Muqayyad Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:وَفِي الذِّكْرِ أَكْثَرُ مِنْ مِائَةِ فَائِدَةٍLebih dari Seratus Faedah DzikirDi antara faedah dzikir yang sangat banyak itu adalah: (إِحْدَاهَا) أَنَّهُ يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ وَيَقْمَعُهُ وَيَكْسِرُهُ.Pertama, dzikir dapat mengusir setan, melemahkan, dan menghancurkan kekuatannya.  [الثَّانِيَةُ]أَنَّهُ يُرْضِي الرَّحْمٰنَ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua, dzikir mendatangkan keridaan Allah ﷻ. [الثَّالِثَةُ]أَنَّهُ يُزِيلُ الهَمَّ وَالغَمَّ عَنِ القَلْبِ.Ketiga, dzikir mampu menghilangkan kekhawatiran pada masa akan datang (hamm) dan kesedihan saat ini (ghamm) dari hati. [الرَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ لِلْقَلْبِ الفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالبَسْطَ.Keempat, dzikir membawa kegembiraan, kebahagiaan, dan kelapangan bagi hati. [الخَامِسَةُ]أَنَّهُ يُقَوِّي القَلْبَ وَالبَدَنَ.Kelima, dzikir menguatkan hati dan tubuh. [السَّادِسَةُ] يُنَوِّرُ الوَجْهَ وَالقَلْبَ.Keenam, dzikir menjadikan wajah dan hati bercahaya. [السَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ الرِّزْقَ.Ketujuh, dzikir mendatangkan rezeki. [الثَّامِنَةُ]أَنَّهُ يَكْسُو الذَّاكِرَ المَهَابَةَ وَالحَلَاوَةَ وَالنُضْرَةَ.Kedelapan, dzikir membuat orang yang melakukannya memiliki wibawa, pesona, dan keteduhan. [التَّاسِعَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المَحَبَّةَ الَّتِي هِيَ رُوحُ الإِسْلَامِ، وَقُطْبُ رَحَى الدِّينِ، وَمدَارُ السَّعَادَةِ.قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا، وَجَعَلَ سَبَبَ المَحَبَّةِ دَوَامَ الذِّكْرِ.فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَالَ مَحَبَّةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَلْهَجْ بِذِكْرِهِ، فَإِنَّهُ الدَّرْسُ وَالمُذَاكَرَةُ كَمَا أَنَّهُ بَابُ العِلْمِ، فَالذِّكْرُ بَابُ المَحَبَّةِ وَشَارِعُهَا الأَعْظَمُ وَصِرَاطُهَا الأَقْوَمُ.Kesembilan, dzikir menumbuhkan rasa cinta, yang merupakan ruh Islam, poros agama, dan inti kebahagiaan. Allah menjadikan segala sesuatu memiliki sebab, dan sebab tumbuhnya cinta kepada-Nya adalah dengan terus berdzikir.Siapa saja yang ingin meraih cinta Allah ﷻ, hendaklah ia senantiasa basah lisannya dengan dzikir. Sebagaimana pengulangan pelajaran adalah kunci ilmu, maka dzikir adalah kunci cinta, jalan besarnya, dan jalan lurus menuju-Nya.Baca juga: Tanda Allah Mencintai Seseorang: Dicintai Penduduk Langit dan Diterima di Bumi [العَاشِرَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المُرَاقَبَةَ حَتَّى يُدْخِلَهُ فِي بَابِ الإِحْسَانِ، فَيَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّهُ يَرَاهُ، وَلا سَبِيلَ لِلْغَافِلِ عَنِ الذِّكْرِ إِلَى مَقَامِ الإِحْسَانِ، كَمَا لا سَبِيلَ لِلْقَاعِدِ إِلَى الوُصُولِ إِلَى البَيْتِ.Kesepuluh, dzikir melahirkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah) hingga mengantarkan seseorang ke pintu ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Orang yang lalai dari dzikir tidak akan mungkin sampai pada derajat ihsan, sebagaimana orang yang hanya duduk tidak akan pernah sampai ke rumah tujuan.Baca juga: Penjelasan Ringkas tentang Ihsan [الحَادِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الإِنَابَةَ، وَهِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَمَتَى أَكْثَرَ الرُّجُوعَ إِلَيْهِ بِذِكْرِهِ أَوْرَثَهُ ذٰلِكَ رُجُوعَهُ بِقَلْبِهِ إِلَيْهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ، فَيَبْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَفْزَعَهُ وَمَلْجَأَهُ، وَمَلَاذَهُ وَمَعَاذَهُ، وَقِبْلَةَ قَلْبِهِ وَمَهْرَبَهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ وَالبَلَايَا.Kesebelas, dzikir menumbuhkan sikap inābah, yaitu kembali kepada Allah ﷻ. Semakin banyak seseorang kembali kepada-Nya melalui dzikir, semakin membuatnya terbiasa menjadikan Allah sebagai tempat kembali hatinya dalam setiap keadaan. Allah menjadi pelindung, sandaran, tujuan, dan tempat ia mengadu di saat datangnya musibah dan ujian. [الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ القُرْبَ مِنْهُ، فَعَلَى قَدْرِ ذِكْرِهِ للهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ قُرْبُهُ مِنْهُ، وَعَلَى قَدْرِ غَفْلَتِهِ يَكُونُ بُعْدُهُ مِنْهُ.Kedua belas, dzikir mendekatkan hamba kepada Allah ﷻ. Sejauh mana ia berdzikir, sejauh itu pula kedekatannya. Sebaliknya, sejauh mana ia lalai (ghaflah), sejauh itu pula jaraknya dari Allah. [الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ المَعْرِفَةِ، وَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنَ الذِّكْرِ ازْدَادَ مِنَ المَعْرِفَةِ.Ketiga belas, dzikir membuka pintu besar menuju ma‘rifah (pengenalan yang mendalam terhadap Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah pula ma‘rifah. [الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الهَيْبَةَ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِجْلَالَهُ، لِشِدَّةِ اسْتِيلَائِهِ عَلَى قَلْبِهِ وَحُضُورِهِ مَعَ اللهِ تَعَالَى. بِخِلافِ الغَافِلِ فَإِنَّ حِجَابَ الهَيْبَةِ رَقِيقٌ فِي قَلْبِهِ.Keempat belas, dzikir menumbuhkan rasa haibah (kewibawaan batin) dan pengagungan terhadap Allah ﷻ, karena dzikir memenuhi hati dengan kehadiran-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai tidak memiliki haibah dalam hatinya, bahkan tirai pengagungan terhadap Allah sangat tipis. [الخَامِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى لَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ﴾ [البقرة: ١٥٢]Kelima belas, dzikir mendatangkan balasan berupa Allah mengingat hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman:فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الذِّكْرِ إِلَّا هٰذِهِ وَحْدَهَا لَكَفَتْ فَضْلًا وَشَرَفًا.وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ».Seandainya tidak ada keutamaan dzikir kecuali ini saja, tentu sudah cukup sebagai kemuliaan dan keutamaan yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi dari Allah Ta‘ala:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»“Siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan siapa yang mengingat-Ku di tengah sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhārī dan Muslim) [السَّادِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ حَيَاةَ القَلْبِ. وَسَمِعْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى رُوحَهُ يَقُولُ:Keenam belas, dzikir menghidupkan hati. Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruhnya – berkata:«الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ المَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ المَاءَ؟».“Dzikir bagi hati itu laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari airnya?” [السَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ قُوتُ القَلْبِ وَالرُّوحِ، فَإِذَا فَقَدَهُ العَبْدُ صَارَ بِمَنْزِلَةِ الجِسْمِ إِذَا حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قُوتِهِ.Ketujuh belas, dzikir adalah makanan hati dan ruh. Jika hamba kehilangan dzikir, maka ia bagaikan tubuh yang kehilangan makanannya.وَحَضَرْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ مَرَّةً، صَلَّى الفَجْرَ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى قَرِيبٍ مِنِ انْتِصَافِ النَّهَارِ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ:«هٰذِهِ غَدْوَتِي، وَلَوْ لَمْ أَتَغَدَّ الغَدَاءَ سَقَطَتْ قُوَّتِي».أَوْ كَلَامًا قَرِيبًا مِنْ هٰذَا.Aku pernah hadir bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Suatu hari setelah salat Subuh, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga mendekati pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: “Inilah sarapan pagiku. Seandainya aku tidak sarapan seperti ini, pasti tenagaku melemah.”وَقَالَ لِي مَرَّةً:«لَا أَتْرُكُ الذِّكْرَ إِلَّا بِنِيَّةِ إِجْمَامِ نَفْسِي وَإِرَاحَتِهَا، لِأَسْتَعِدَّ بِتِلْكَ الرَّاحَةِ لِذِكْرٍ آخَرَ».أَوْ كَلَامًا هٰذَا مَعْنَاهُ.Beliau juga pernah berkata kepadaku: “Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat memberi jeda dan istirahat pada diriku, agar dengan istirahat itu aku bisa lebih kuat untuk berdzikir kembali.” Atau ungkapan dengan makna yang serupa. [الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ جَلَاءَ القَلْبِ مِنْ صَدَائِهِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي الحَدِيثِ، وَكُلُّ شَيْءٍ لَهُ صَدَأٌ، وَصَدَأُ القَلْبِ الغَفْلَةُ وَالهَوَى، وَجَلَاؤُهُ الذِّكْرُ وَالتَّوْبَةُ وَالاسْتِغْفَارُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا المَعْنَى.Kedelapan belas, dzikir menjadikan hati bersih dari karatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Setiap sesuatu pasti ada karatnya, dan karat hati adalah kelalaian (ghaflah) serta hawa nafsu. Pembersihnya adalah dzikir, taubat, dan istighfar. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya. [التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَحُطُّ الخَطَايَا وَيُذْهِبُهَا، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الحَسَنَاتِ، وَالحَسَنَاتُ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.Kesembilan belas, dzikir menggugurkan dosa-dosa dan menghapusnya. Sebab, dzikir termasuk amalan paling agung, sementara Allah ﷻ berfirman:إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS. Hūd [11]: 114) [العِشْرُونَ]أَنَّهُ يُزِيلُ الوَحْشَةَ بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَإِنَّ الغَافِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْشَةٌ لَا تَزُولُ إِلَّا بِالذِّكْرِ.Kedua puluh, dzikir menghilangkan rasa asing dan jauh antara hamba dengan Rabb-nya ﷻ. Orang yang lalai (ghaflah) dari dzikir, antara dirinya dengan Allah terdapat jurang keterasingan yang tidak akan hilang kecuali dengan dzikir.Catatan: Apa itu al-wahsyah?Dalam Kamus Al-Ma’ani disebutkan bahwa wahsyah itu berarti tanah tandus yang sunyi dan menakutkan.Maknanya juga: terputusnya hubungan dan jauhnya hati dari kasih sayang. Ia juga bisa bermakna rasa takut ketika sendirian.Orang arab menyebut aw-hasyal manzil, maksudnya rumah itu menjadi sepi dan ditinggalkan manusia.Maka jika engkau ingin mendoakan seseorang yang engkau cintai, baik saat ia jauh maupun dekat, ucapkanlah:لَا أَوْحَشَ اللّٰهُ لَكَ قَلْبًا وَلَا رُوحًا وَلَا جَسَدًاSemoga Allah tidak menjadikan hatimu, jiwamu, dan tubuhmu merasa sunyi dan sepi. [الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّ مَا يَذْكُرُ بِهِ العَبْدُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَلَالِهِ وَتَسْبِيحِهِ وَتَحْمِيدِهِ يُذْكَرُ بِصَاحِبِهِ عِنْدَ الشِّدَّةِ.فَقَدْ رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي المُسْنَدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ العَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ. أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟»هٰذَا الحَدِيثُ أَوْ مَعْنَاهُ.Kedua puluh satu, segala tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang diucapkan hamba dalam menyebut nama Allah ﷻ akan menjadi penyelamatnya di saat sulit.Imam Aḥmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ، أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟“Sesungguhnya apa yang kalian sebut dari keagungan Allah ﷻ, berupa tahlil, takbir, dan tahmid, semuanya akan berputar di sekitar ‘Arsy, suaranya berdengung seperti dengungan lebah. Ia akan disebut-sebut bersama pelakunya. Maka tidakkah salah seorang dari kalian suka jika ia memiliki amal yang bisa membuatnya disebut-sebut (di sisi Allah)?” (HR. Aḥmad, atau semakna dengannya). [الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِذِكْرِهِ فِي الرَّخَاءِ عَرَفَهُ فِي الشِّدَّةِ، وَقَدْ جَاءَ أَثَرٌ مَعْنَاهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْمُطِيعَ الذَّاكِرَ لِلَّهِ تَعَالَى إِذَا أَصَابَتْهُ شِدَّةٌ أَوْ سَأَلَ اللهَ تَعَالَى حَاجَةً قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ صَوْتٌ مَعْرُوفٌ، مِنْ عَبْدٍ مَعْرُوفٍ، وَالْغَافِلُ الْمُعْرِضُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا دَعَاهُ وَسَأَلَهُ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، صَوْتٌ مُنْكَرٌ، مِنْ عَبْدٍ مُنْكَرٍ.Kedua puluh dua, seorang hamba yang membiasakan diri mengenal Allah Ta‘ālā dengan banyak berdzikir di waktu lapang, maka Allah akan mengenalnya di waktu sempit. Ada sebuah atsar yang menjelaskan bahwa seorang hamba yang taat dan banyak berdzikir, ketika ia tertimpa kesulitan atau memohon kepada Allah, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang dikenal, dari hamba yang dikenal.” Sebaliknya, orang yang lalai dan berpaling dari Allah, jika suatu saat ia berdoa dan memohon, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang asing, dari hamba yang asing.” [الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُنَجِّي مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى، كَمَا قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَيُرْوَى مَرْفُوعًا:«مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى».Kedua puluh tiga, dzikir dapat menyelamatkan dari azab Allah Ta‘ālā. Sebagaimana perkataan Mu‘ādz radhiyallāhu ‘anhu—dan diriwayatkan pula secara marfū‘—:مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى“Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dari azab Allah ‘Azza wa Jalla melebihi dzikir kepada Allah Ta‘ālā.” [الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ تَنْزِيلِ السَّكِينَةِ، وَغَشْيَانِ الرَّحْمَةِ، وَحُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ بِالذَّاكِرِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Kedua puluh empat, dzikir menjadi sebab turunnya sakīnah (ketenangan jiwa), turunnya rahmat, serta dikelilinginya para ahli dzikir oleh malaikat, sebagaimana diberitakan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.[الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ اشْتِغَالِ اللِّسَانِ عَنِ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْبَاطِلِ.فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ.فَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ تَكَلَّمَ بِهَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ أَوْ بَعْضِهَا، وَلَا سَبِيلَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنْهَا الْبَتَّةَ إِلَّا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى.وَالْمُشَاهَدَةُ وَالتَّجْرِبَةُ شَاهِدَانِ بِذَلِكَ، فَمَنْ عَوَّدَ لِسَانَهُ ذِكْرَ اللهِ صَانَ لِسَانَهُ عَنِ الْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ، وَمَنْ يَبِسَ لِسَانُهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى تَرَطَّبَ بِكُلِّ بَاطِلٍ وَلَغْوٍ وَفُحْشٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.Kedua puluh lima, dzikir menjadi sebab terjaganya lisan dari ghibah, namimah, dusta, kata-kata keji, dan ucapan batil.Sebab, manusia pasti berbicara. Jika ia tidak mengisi lisannya dengan dzikir kepada Allah dan menyebut perintah-perintah-Nya, maka lisannya akan terisi dengan kata-kata haram atau sebagian darinya. Tidak ada jalan selamat dari semua itu kecuali dengan dzikir kepada Allah.Pengalaman nyata menjadi saksi: siapa yang membiasakan lisannya dengan dzikir, Allah akan memelihara lisannya dari ucapan batil dan sia-sia. Sebaliknya, siapa yang lisannya kering dari dzikir, maka lisannya akan basah dengan ucapan batil, sia-sia, dan kotor. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. [السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ مَجَالِسَ الذِّكْرِ مَجَالِسُ الْمَلَائِكَةِ، وَمَجَالِسَ اللَّغْوِ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسُ الشَّيَاطِينِ.فَلْيَتَخَيَّرِ الْعَبْدُ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْهِ وَأَوْلَاهُمَا بِهِ، فَهُوَ مَعَ أَهْلِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.Kedua puluh enam, majelis dzikir adalah majelis para malaikat. Sedangkan majelis sia-sia dan lalai adalah majelis para setan. Maka hendaknya seorang hamba memilih: majelis manakah yang lebih ia sukai dan lebih layak baginya. Karena di dunia ia akan bersama mereka, dan di akhirat pun ia akan dikumpulkan bersama mereka. [السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُسْعِدُ الذَّاكِرَ بِذِكْرِهِ وَيُسْعِدُ بِهِ جَلِيسَهُ، وَهٰذَا هُوَ المُبَارَكُ أَيْنَ مَا كَانَ.وَالغَافِلُ وَاللَّاغِي يَشْقَى بِلَغْوِهِ وَغَفْلَتِهِ، وَيَشْقَى بِهِ مُجَالِسُهُ.Kedua puluh tujuh, dzikir membahagiakan orang yang berdzikir dengan lisannya, dan kebahagiaan itu juga menular kepada orang yang duduk bersamanya. Inilah hakikat keberkahan; di mana pun ia berada, selalu membawa kebaikan. Sebaliknya, orang yang lalai dan suka berbicara sia-sia akan menjerumuskan dirinya dalam kesengsaraan karena kelalaiannya, dan orang yang duduk bersamanya pun ikut celaka karenanya. [الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُؤمِّنُ العَبْدَ مِنَ الحَسْرَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.فَإِنَّ كُلَّ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُ العَبْدُ فِيهِ رَبَّهُ تَعَالَى كَانَ عَلَيْهِ حَسْرَةً وَتْرَةً يَوْمَ القِيَامَةِ.Kedua puluh delapan, dzikir menyelamatkan seorang hamba dari penyesalan di Hari Kiamat. Sebab, setiap majelis yang kosong dari dzikir akan menjadi penyesalan bagi pelakunya di hari akhir. [التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ مَعَ البُكَاءِ فِي الخَلْوَةِ سَبَبٌ لِإِظْلَالِ اللهِ تَعَالَى العَبْدَ يَوْمَ الحَرِّ الأَكْبَرِ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ، وَالنَّاسُ فِي حَرِّ الشَّمْسِ قَدْ صَهَرَتْهُم فِي المَوْقِفِ.وَهٰذَا الذَّاكِرُ مُسْتَظِلٌّ بِظِلِّ عَرْشِ الرَّحْمٰنِ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua puluh sembilan, dzikir yang disertai tangisan dalam kesendirian menjadi sebab Allah menaungi seorang hamba di bawah naungan ‘Arsy pada hari panas yang dahsyat. Saat manusia lainnya tersengat terik matahari yang membakar, orang yang berdzikir itu berada dalam naungan penuh rahmat. [الثَّلَاثُونَ]أَنَّ الاشْتِغَالَ بِهِ سَبَبٌ لِعَطَاءِ اللهِ لِلذَّاكِرِ أَفْضَلَ مَا يُعْطِي السَّائِلِينَ، فَفِي الحَدِيثِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ».Ketiga puluh, orang yang sibuk dengan dzikir akan diberi oleh Allah karunia terbaik, lebih daripada apa yang Dia berikan kepada para peminta. Rasulullah ﷺ bersabda, meriwayatkan dari Rabb-nya: “Allah Ta‘ala berfirman: Barang siapa yang disibukkan dengan mengingat-Ku hingga lupa meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya yang terbaik, lebih baik daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” [الحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ أَيْسَرُ العِبَادَاتِ، وَهُوَ مِنْ أَجَلِّهَا وَأَفْضَلِهَا، فَإِنَّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ أَخَفُّ حَرَكَاتِ الجَوَارِحِ وَأَيْسَرُهَا، وَلَوْ تَحَرَّكَ عُضْوٌ مِنَ الإِنسَانِ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ بِقَدْرِ حَرَكَةِ لِسَانِهِ لَشَقَّ عَلَيْهِ غَايَةَ المَشَقَّةِ، بَلْ لَا يُمْكِنُهُ ذٰلِكَ.Ketiga puluh satu, dzikir adalah ibadah yang paling mudah, tetapi termasuk yang paling agung dan utama. Gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan. Seandainya ada satu anggota tubuh manusia yang bergerak sebanyak gerakan lisannya dalam sehari semalam, tentu ia akan merasa sangat berat, bahkan tidak mungkin sanggup melakukannya. [الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ غِرَاسُ الجَنَّةِ. فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَقِيتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِبْرَاهِيمَ الخَلِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ.وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.Ketiga puluh dua, dzikir adalah tanaman surga. Dalam riwayat Tirmiżī, dari Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada malam Isra’, aku bertemu dengan Ibrāhīm al-Khalīl ‘alaihis-salām. Ia berkata: Wahai Muhammad, sampaikan salam kepada umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia masih berupa tanah lapang. Tanaman surga adalah bacaan: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.” (HR. Tirmidzi, hasan gharib)Juga dalam riwayat at-Tirmiżī dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: Subḥānallāhi wa biḥamdih, maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). [الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ العَطَاءَ وَالفَضْلَ الَّذِي رُتِّبَ عَلَيْهِ لَمْ يُرَتَّبْ عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الأَعْمَالِ.Ketiga puluh tiga, keutamaan dan pahala yang Allah tetapkan bagi dzikir tidak diberikan kepada amal lainnya.فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذٰلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.وَمَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ».Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh budak. Dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan itu menjadi benteng dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada yang membawa amal lebih baik darinya kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak. Dan siapa yang mengucapkan: subḥānallāhi wa biḥamdih seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ».Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat: subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar lebih aku cintai daripada seluruh yang disinari matahari.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ يُمْسِي: اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، أَعْتَقَ اللهُ رُبُعَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللهُ نِصْفَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ النَّارِ».Dalam riwayat at-Tirmiżī dari Anas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika pagi atau sore membaca doa: Allāhumma innī aṣbaḥtu usy’hiduka wa usy’hidu ḥamalata ‘arsyika wa malāikataka wa jamī‘a khalqika, annaka anta Allāh, lā ilāha illā anta, wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluka, maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari api neraka. Jika membacanya dua kali, Allah membebaskan separuh dirinya dari neraka. Jika membacanya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka. Jika membacanya empat kali, Allah membebaskannya seluruhnya dari api neraka.”وَفِيهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي وَإِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ».Dalam riwayat Tirmiżī dari Tsaubān, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika sore atau pagi membaca doa: raḍītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama rasūlā, maka Allah benar-benar menjadikan keridaan baginya.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ:«مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ».Dan dalam riwayat Tirmiżī pula: “Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa ḥayyullā yamūtu, biyadihi al-khayru wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta dosa, dan mengangkatnya seribu ribu derajat.” [الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ دَوَامَ ذِكْرِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُوجِبُ الأَمَانَ مِنْ نِسْيَانِهِ الَّذِي هُوَ سَبَبُ شَقَاءِ العَبْدِ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، فَإِنَّ نِسْيَانَ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُوجِبُ نِسْيَانَ نَفْسِهِ وَمَصَالِحِهَا.قَالَ تَعَالَى:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: ١٩].Ketiga puluh empat, dzikir yang terus-menerus menjadikan seorang hamba aman dari kelalaian kepada Allah. Padahal, melupakan Allah adalah sebab utama kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat.Allah ﷻ berfirman:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Ḥashr [59]: 19)وَإِذَا نَسِيَ العَبْدُ نَفْسَهُ أَعْرَضَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْهَا فَهَلَكَتْ وَفَسَدَتْ وَلَا بُدَّ، كَمَنْ لَهُ زَرْعٌ أَوْ بُسْتَانٌ أَوْ مَاشِيَةٌ أَوْ غَيْرُ ذٰلِكَ مِمَّا صَلَاحُهُ وَفَلَاحُهُ بِتَعَاهُدِهِ وَالقِيَامِ عَلَيْهِ، فَأَهْمَلَهُ وَنَسِيَهُ وَاشْتَغَلَ عَنْهُ بِغَيْرِهِ وَضَيَّعَ مَصَالِحَهُ، فَإِنَّهُ يُفْسِدُ وَلَا بُدَّ.Apabila seorang hamba melupakan dirinya sendiri, ia akan berpaling dari hal-hal yang menjadi maslahat dan kebaikannya. Ia sibuk dengan perkara lain, meninggalkan apa yang seharusnya ia jaga, hingga dirinya rusak dan binasa.Keadaannya bagaikan orang yang memiliki ladang, kebun, atau ternak, yang keberlangsungan hidupnya bergantung pada perawatan dan pemeliharaan. Namun, jika ia mengabaikan dan melupakannya, sibuk dengan urusan lain, serta meninggalkan kewajiban menjaganya, niscaya semuanya akan rusak dan hancur tanpa bisa dihindari.هٰذَا مَعَ إِمْكَانِ قِيَامِ غَيْرِهِ مَقَامَهُ فِيهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِفَسَادِ نَفْسِهِ وَهَلَاكِهَا وَشَقَائِهَا إِذَا أَهْمَلَهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَعَطَّلَ مُرَاعَاتَهَا وَتَرَكَ القِيَامَ عَلَيْهَا بِمَا يُصْلِحُهَا؟ فَمَا شِئْتَ مِنْ فَسَادٍ وَهَلَاكٍ وَخَيْبَةٍ وَحِرْمَانٍ. وَهٰذَا هُوَ الَّذِي صَارَ أَمْرُهُ كُلُّهُ فَرَطًا، فَانْفَرَطَ عَلَيْهِ أَمْرُهُ وَضَاعَتْ مَصَالِحُهُ، وَأَحَاطَتْ بِهِ أَسْبَابُ القُطُوعِ وَالخَيْبَةِ وَالهَلَاكِ.Padahal, untuk urusan kebun, ladang, atau ternak, masih mungkin orang lain menggantikannya merawat dan memperbaikinya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Jika ia mengabaikan jiwanya, melupakannya, sibuk dengan urusan lain, meninggalkan pemeliharaan hati, dan tidak menegakkan hal-hal yang bisa memperbaikinya, maka kehancuran, kesengsaraan, dan kerugian pasti menimpanya.Inilah orang yang seluruh urusannya berantakan. Hidupnya tercerai-berai, maslahatnya hilang, dan berbagai sebab kehancuran, kebinasaan, serta kegagalan mengelilinginya dari segala sisi.وَلَا سَبِيلَ إِلَى الأَمَانِ مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاللَّهْجِ بِهِ، وَأَنْ لَا يَزَالَ اللِّسَانُ رَطْبًا بِهِ، وَأَنْ يَتَوَلَّى مَنْزِلَةَ حَيَاتِهِ الَّتِي لَا غِنَى لَهُ عَنْهَا، وَمَنْزِلَةَ غِذَائِهِ الَّذِي إِذَا فَقَدَهُ فَسَدَ جِسْمُهُ وَهَلَكَ، وَبِمَنْزِلَةِ المَاءِ عِنْدَ شِدَّةِ العَطَشِ، وَبِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ فِي الحَرِّ وَالبَرْدِ، وَبِمَنْزِلَةِ الكِنِّ فِي شِدَّةِ الشِّتَاءِ وَالسَّمُومِ.Tidak ada jalan keselamatan dari kerusakan itu kecuali dengan terus-menerus berdzikir kepada Allah dan membasahi lisan dengan menyebut nama-Nya. Dzikir harus ditempatkan pada posisi yang sangat penting—seperti kehidupan yang tak mungkin ditinggalkan, seperti makanan yang jika hilang membuat tubuh rusak dan binasa, seperti air bagi orang yang sangat haus, seperti pakaian di tengah panas dan dingin, serta seperti tempat berlindung saat musim dingin yang menusuk atau angin panas yang menyengat.فَحَقِيقٌ بِالعَبْدِ أَنْ يُنَزِّلَ ذِكْرَ اللهِ مِنْهُ بِهَذِهِ المَنْزِلَةِ وَأَعْظَمَ. فَأَيْنَ هَلَاكُ الرُّوحِ وَالقَلْبِ وَفَسَادُهُمَا مِنْ هَلَاكِ البَدَنِ وَفَسَادِهِ؟ هٰذَا هَلَاكٌ لَا بُدَّ مِنْهُ وَقَدْ يَعْقُبُهُ صَلَاحٌ لَا بُدَّ. وَأَمَّا هَلَاكُ القَلْبِ وَالرُّوحِ فَهَلَاكٌ لَا يُرْجَى مَعَهُ صَلَاحٌ وَلَا فَلَاحٌ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ.فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ وَإِدَامَتِهِ: لَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا هٰذِهِ الفَائِدَةُ وَحْدَهَا لَكَفَتْ. فَمَنْ نَسِيَ اللهَ تَعَالَى أَنْسَاهُ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَنَسِيَهُ فِي العَذَابِ يَوْمَ القِيَامَةِ.قَالَ تَعَالَى:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى * قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا * قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾ [طه: ١٢٤-١٢٦].أَيْ: تُنْسَى فِي العَذَابِ كَمَا نَسِيتَ آيَاتِي فَلَمْ تَذْكُرْهَا وَلَمْ تَعْمَلْ بِهَا.Maka sudah sepantasnya seorang hamba menempatkan dzikir pada posisi yang sangat penting, bahkan lebih tinggi lagi. Sebab, kerusakan hati dan ruh jauh lebih berbahaya dibanding kerusakan tubuh. Rusaknya tubuh adalah sesuatu yang pasti, namun sering kali setelah itu datang perbaikan. Adapun rusaknya hati dan ruh, itu adalah kerusakan yang tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki dan tidak membawa keberuntungan sedikit pun. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.Dalam faedah dzikir yang terus-menerus, seandainya hanya ada satu manfaat ini saja, sebenarnya sudah cukup: barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri di dunia, dan pada Hari Kiamat Allah pun akan melupakannya di dalam azab.Allah ﷻ berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى ۝ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ۝ قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu dapat melihat? Allah berfirman: Demikianlah, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu, lalu kamu melupakannya; maka pada hari ini kamu pun dilupakan (diabaikan dalam azab).” (QS. Ṭāhā [20]: 124–126). Yakni, seseorang akan ditinggalkan di dalam azab, sebagaimana dahulu ia melupakan ayat-ayat Allah, tidak mengingatnya, dan tidak mengamalkannya.وَإِعْرَاضُهُ عَنْ ذِكْرِهِ يَتَنَاوَلُ إِعْرَاضَهُ عَنِ الذِّكْرِ الَّذِي أَنْزَلَهُ، وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ الَّذِي أَنْزَلَهُ فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ المُرَادُ بِتَنَاوُلِ إِعْرَاضِهِ عَنْ أَنْ يَذْكُرَ رَبَّهُ بِكِتَابِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَوَامِرِهِ وَآلَائِهِ وَنِعَمِهِ. فَإِنَّ هٰذِهِ كُلَّهَا تَوَابِعُ إِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِ رَبِّهِ تَعَالَى.فَإِنَّ الذِّكْرَ فِي الآيَةِ إِمَّا مَصْدَرٌ مُضَافٌ إِلَى الفَاعِلِ، أَوْ مُضَافٌ إِضَافَةَ الأَسْمَاءِ المَحْضَةِ. أَعْرَضَ عَنْ كِتَابِي وَلَمْ يَتْلُهُ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ وَلَا فَهِمَهُ، فَإِنَّ حَيَاتَهُ وَمَعِيشَتَهُ لَا تَكُونُ إِلَّا مُضَيَّقَةً عَلَيْهِ مُنَكَّدَةً مُعَذَّبًا فِيهَا.Berpaling dari dzikir mencakup juga berpaling dari dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Qur’an. Maksudnya, ia berpaling dari mengingat Allah dengan Kitab-Nya, dengan nama-nama dan sifat-Nya, dengan perintah-perintah-Nya, serta dengan nikmat dan karunia-Nya. Semua itu pada hakikatnya kembali kepada sikap berpaling dari Kitab Allah ﷻ.Kata dzikir dalam ayat bisa dipahami sebagai mashdar yang disandarkan kepada pelakunya, atau sebagai isim yang bermakna Kitab (Al-Qur’an). Artinya, ia berpaling dari Kitab-Ku: tidak membacanya, tidak mentadabburinya, tidak mengamalkannya, dan tidak berusaha memahaminya. Maka kehidupannya pun tidak akan pernah lapang; justru sempit, penuh kesulitan, dan sengsara.وَالدُّنْكُ: الضِّيقُ وَالشِّدَّةُ وَالبَلَاءُ.وَوَصْفُ المَعِيشَةِ نَفْسِهَا بِالدُّنْكِ مُبَالَغَةٌ. وَفُسِّرَتْ هٰذِهِ المَعِيشَةُ بِعَذَابِ البَرْزَخِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تَتَنَاوَلُ مَعِيشَتَهُ فِي الدُّنْيَا وَحَالَهُ فِي البَرْزَخِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي دُنْكٍ فِي الدَّارَيْنِ، وَهُوَ شِدَّةٌ وَجَهْدٌ وَضِيقٌ.وَفِي الآخِرَةِ تُنْسَى فِي العَذَابِ.Kata “dhanka” dalam ayat berarti kesempitan, kesulitan, dan ujian yang berat. Allah bahkan menyifati kehidupan itu sendiri sebagai ḍank, sebuah bentuk penekanan yang kuat. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai azab kubur, namun pendapat yang benar: ia mencakup kehidupan di dunia sekaligus di alam barzakh. Hidupnya akan sempit di dua alam tersebut—penuh dengan kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Sedangkan di akhirat, ia akan dibiarkan (dilupakan) di dalam azab.وَهٰذَا عَكْسُ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالفَلَاحِ، فَإِنَّ حَيَاتَهُمْ فِي الدُّنْيَا أَطْيَبُ الحَيَاةِ، وَلَهُمْ فِي البَرْزَخِ وَفِي الآخِرَةِ أَفْضَلُ الثَّوَابِ.قَالَ تَعَالَى:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾ فَهٰذَا فِي الدُّنْيَا.ثُمَّ قَالَ: ﴿وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ فَهٰذَا فِي البَرْزَخِ وَالآخِرَةِ.Keadaan ini berbanding terbalik dengan nasib orang-orang yang berbahagia. Hidup mereka di dunia adalah kehidupan yang paling baik, kemudian di alam barzakh dan akhirat kelak mereka mendapatkan pahala terbaik. Allah ﷻ berfirman:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini berbicara tentang kehidupan di dunia. Kemudian Allah berfirman:وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini mencakup pahala di alam barzakh dan di akhirat.وَقَالَ تَعَالَى:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ تَعَالَى:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}فَهَذَا فِي الْآخِرَةِ.وَقَالَ تَعَالَى:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَوَاضِعَ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا أَنَّهُ يُجْزِي الْمُحْسِنَ بِإِحْسَانِهِ جَزَاءَيْنِ: جَزَاءً فِي الدُّنْيَا، وَجَزَاءً فِي الْآخِرَةِ.فَالْإِحْسَانُ لَهُ جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ، وَالْإِسَاءَةُ لَهَا جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ.وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَا يُجَازِي بِهِ الْمُحْسِنَ مِنِ انْشِرَاحِ صَدْرِهِ وَانْفِسَاحِ قَلْبِهِ وَسُرُورِهِ وَلَذَّتِهِ بِمُعَامَلَةِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَطَاعَتِهِ وَذِكْرِهِ وَنَعِيمِ رُوحِهِ بِمَحَبَّتِهِ وَذِكْرِهِ وَفَرَحِهِ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْظَمُ مِمَّا يَفْرَحُ الْقَرِيبُ مِنَ السُّلْطَانِ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ بِسُلْطَانِهِ.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ وَتَشَتُّتِهِ وَظُلْمَتِهِ وَحَزَازَاتِهِ وَغَمِّهِ وَهَمِّهِ وَحُزْنِهِ وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ.Allah Ta‘ālā berfirman:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami tempatkan mereka di dunia ini pada tempat yang baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 41)Dan Allah Ta‘ālā juga berfirman:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada setiap orang yang memiliki keutamaan, keutamaannya (balasan yang layak baginya).” (QS. Hūd [11]: 3)Kemudian Allah berfirman lagi:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (akan mendapat) kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)Dalam empat ayat ini, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjelaskan bahwa setiap kebaikan (iḥsān) akan dibalas dua kali:1. Balasan di dunia, berupa kemuliaan, kelapangan hidup, dan ketenangan jiwa.2. Balasan di akhirat, berupa pahala yang jauh lebih besar dan kekal.Maka, kebaikan pasti memiliki ganjaran yang segera, sebagaimana keburukan pun pasti menimbulkan akibat buruk yang cepat pula.Kalaupun tidak tampak secara lahiriah, balasan bagi orang yang berbuat baik sudah hadir dalam kelapangan dadanya, ketenangan hatinya, kegembiraan dan kenikmatan ruhnya saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, menaati perintah-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya. Nikmat ruhani semacam ini jauh lebih agung daripada kegembiraan seorang pejabat yang dekat dengan penguasa.Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat akan merasakan penyempitan dada, kekerasan hati, kebingungan, kegelapan batin, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup pasti menyadari hal ini. Sesungguhnya, berbagai kesedihan, kecemasan, dan kegelisahan itu merupakan bentuk hukuman (ʿuqūbah) yang Allah timpakan di dunia sebelum azab di akhirat.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ، وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ، وَتَشَتُّتِهِ، وَظُلْمَتِهِ، وَحَزَازَاتِهِ، وَغَمِّهِ، وَهَمِّهِ، وَحُزْنِهِ، وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ عَاجِلَةٌ، وَنَارٌ دُنْيَوِيَّةٌ، وَجَهَنَّمُ حَاضِرَةٌ.Balasan yang diterima oleh orang yang berbuat dosa adalah penyempitan dada, kekerasan hati, kegelapan jiwa, kebingungan, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup dan nurani yang peka tentu tidak akan meragukan hal ini. Sesungguhnya rasa gelisah, gundah, sedih, dan sempit dada merupakan hukuman yang datang lebih cepat, semacam api neraka duniawi dan Jahannam yang hadir di hati sebelum azab akhirat menimpa.وَالْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَالرِّضَا بِهِ وَعَنْهُ، وَامْتِلَاءُ الْقَلْبِ مِنْ مَحَبَّتِهِ، وَاللَّهْجُ بِذِكْرِهِ، وَالْفَرَحُ وَالسُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ، ثَوَابٌ عَاجِلٌ، وَجَنَّةٌ، وَعَيْشٌ لَا نِسْبَةَ لِعَيْشِ الْمُلُوكِ إِلَيْهِ الْبَتَّةَ.Sebaliknya, menghadap kepada Allah, kembali bertobat kepada-Nya, merasa ridha dengan-Nya dan terhadap takdir-Nya, penuh cinta kepada-Nya, senang berdzikir mengingat-Nya, serta bergembira karena mengenal-Nya, semuanya merupakan balasan langsung di dunia, surga yang hadir di hati, dan kenikmatan hidup yang tiada bandingnya dibanding kehidupan para raja sekalipun.وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ:إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ.وَقَالَ لِي مَرَّةً:مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، إِنْ رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، إِنْ حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata: Aku pernah mendengar Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata:“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”Beliau juga pernah berkata kepadaku:“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku? Surga dan taman hatiku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surga itu selalu bersamaku, tidak akan meninggalkanku. Jika aku dipenjara, maka itu adalah kesempatan untuk menyendiri bersama Allah. Jika aku dibunuh, maka itu adalah syahid. Jika aku diusir dari negeriku, maka itu adalah perjalanan spiritual (siyāḥah).”وَكَانَ يَقُولُ فِي مَحْبَسِهِ فِي الْقَلْعَةِ:لَوْ بُذِلَ مِلْءُ هَذِهِ الْقَاعَةِ ذَهَبًا مَا عَدَلَ عِنْدِي شُكْرَ هَذِهِ النِّعْمَةِ.أَوْ قَالَ: مَا جَزَيْتُهُمْ عَلَى مَا تَسَبَّبُوا لِي فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ، وَنَحْوَ هَذَا.Ketika beliau berada di dalam penjara benteng (Qal‘ah Dimasyq), beliau sering berkata:“Seandainya memenuhi seluruh ruangan ini dengan emas, itu belum cukup untuk menandingi rasa syukurku atas nikmat ini.”Atau beliau berkata,“Aku belum mampu membalas mereka yang telah menyebabkan kebaikan besar bagiku melalui peristiwa ini.”وَكَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ مَحْبُوسٌ:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.مَا شَاءَ اللَّهُ، وَقَالَ لِي مَرَّةً:الْمَحْبُوسُ مَنْ حَبَسَ قَلْبَهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى، وَالْمَأْسُورُ مَنْ أَسَرَهُ هَوَاهُ.Beliau juga biasa berdoa dalam sujudnya saat di penjara:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”Lalu beliau berkata kepadaku:“Orang yang benar-benar terpenjara adalah siapa pun yang hatinya terhalang dari Rabb-nya. Dan orang yang sesungguhnya menjadi tawanan adalah yang diperbudak oleh hawa nafsunya.”وَلَمَّا دَخَلَ إِلَى الْقَلْعَةِ، وَصَارَ دَاخِلَ سُورِهَا، نَظَرَ إِلَيْهَا وَقَالَ:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}وَعَلِمَ اللَّهُ، مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَطْيَبَ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ، مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ، وَخِلَافِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ، بَلْ ضِدِّهَا، وَمَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْحَبْسِ، وَالتَّهْدِيدِ، وَالْإِرْهَاقِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ مِنْ أَطْيَبِ النَّاسِ عَيْشًا، وَأَشْرَحِهِمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا، وَأَسَرِّهِمْ نَفْسًا، تَلُوحُ نَضْرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ.Ketika Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah memasuki benteng penjara (Qal‘ah Dimasyq) dan berada di dalam temboknya, beliau memandang ke sekeliling lalu membaca firman Allah:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}“Lalu diletakkanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di bagian dalamnya ada rahmat, sedangkan di bagian luarnya dari arah mereka ada azab.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 13)Aku bersaksi kepada Allah, aku belum pernah melihat seseorang yang kehidupannya lebih bahagia daripada beliau — padahal secara lahir beliau hidup dalam kesempitan, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan berada dalam kondisi berlawanan: terpenjara, diancam, dan disiksa. Namun, beliau termasuk manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling tenang jiwanya. Wajahnya memancarkan nadhrah an-na‘īm (cahaya kenikmatan).وَكُنَّا إِذَا اشْتَدَّ بِنَا الْخَوْفُ، وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ، وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ، أَتَيْنَاهُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ، فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ، وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا، وَقُوَّةً، وَيَقِينًا، وَطُمَأْنِينَةً.فَسُبْحَانَ مَنْ أَشْهَدَ عِبَادَهُ جَنَّتَهُ قَبْلَ لِقَائِهِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَهَا فِي دَارِ الْعَمَلِ، فَآتَاهُمْ مِنْ رُوحِهَا وَنَسِيمِهَا وَطِيبِهَا مَا اسْتَفْرَغَ قُوَاهُمْ لِطَلَبِهَا وَالْمُسَابَقَةِ إِلَيْهَا.Setiap kali kami diliputi ketakutan, buruk sangka, dan sempit dada, kami mendatangi beliau. Begitu melihat wajahnya dan mendengar ucapannya, semua kegelisahan itu sirna — berganti dengan kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.Maha Suci Allah yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya sebagian surga-Nya sebelum perjumpaan dengan-Nya. Dia telah membuka bagi mereka pintu-pintu surga itu di dunia tempat beramal, lalu menghembuskan kepada mereka sebagian dari ruh, semerbak, dan keharumannya, hingga seluruh tenaga mereka tercurahkan untuk mencarinya dan berlomba meraihnya.وَكَانَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ يَقُولُ:لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ، لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ.Sebagian orang ‘arif berkata:“Seandainya para raja dan putra mahkota mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memeranginya dengan pedang.”وَقَالَ آخَرُ:مَسَاكِينُ أَهْلِ الدُّنْيَا، خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا.قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟قَالَ: مَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَذِكْرُهُ.أَوْ نَحْوُ هَذَا.Yang lain berkata:“Kasihan orang-orang dunia! Mereka keluar dari dunia tanpa sempat merasakan hal paling lezat di dalamnya.” Ditanya kepadanya, “Apa yang paling lezat di dunia?”Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, mengenal-Nya, dan berdzikir kepada-Nya.”وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِالْقَلْبِ أَوْقَاتٌ يَرْقُصُ فِيهَا طَرَبًا.وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِي أَوْقَاتٌ، أَقُولُ: إِنْ كَانَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا، إِنَّهُمْ لَفِي عَيْشٍ طَيِّبٍ.Yang lain berkata:“Terkadang hati ini melewati saat-saat di mana ia menari karena bahagia.”Yang lain lagi berkata:“Ada waktu-waktu tertentu ketika aku berkata: jika penghuni surga merasakan kenikmatan seperti ini, maka sungguh mereka berada dalam kehidupan yang sangat baik.”فَمَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَدَوَامُ ذِكْرِهِ، وَالسُّكُونُ إِلَيْهِ، وَالطُّمَأْنِينَةُ بِهِ، وَإِفْرَادُهُ بِالْحُبِّ، وَالْخَوْفِ، وَالرَّجَاءِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالْمُعَامَلَةِ، بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ وَحْدَهُ الْمُسْتَوْلِي عَلَى هُمُومِ الْعَبْدِ وَعَزِيمَاتِهِ وَإِرَادَاتِهِ، هِيَ جَنَّةُ الدُّنْيَا، وَالنَّعِيمُ الَّذِي لَا يُشْبِهُهُ نَعِيمٌ، وَهِيَ قُرَّةُ عُيُونِ الْمُحِبِّينَ، وَحَيَاةُ الْعَارِفِينَ.Maka cinta kepada Allah, mengenal-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, bersandar dan merasa tenang bersama-Nya, hanya berharap kepada-Nya, serta menjadikan-Nya satu-satunya tujuan cinta, takut, harap, dan tawakal — inilah surga dunia yang tidak bisa ditandingi oleh kenikmatan apa pun. Inilah penyejuk mata para pecinta dan kehidupan sejati bagi orang-orang yang mengenal Allah.وَإِنَّمَا تَقَرُّ عُيُونُ النَّاسِ بِهِ عَلَى حَسَبِ قُرَّةِ أَعْيُنِهِمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنْ قَرَّتْ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، قَرَّتْ بِهِ كُلُّ عَيْنٍ، وَمَنْ لَمْ تَقَرَّ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، تَقَطَّعَتْ نَفْسُهُ عَلَى الدُّنْيَا حَسَرَاتٍ.Ketenangan manusia tergantung pada sejauh mana matanya terpuaskan dengan Allah. Siapa yang hatinya tenteram bersama Allah, maka ia akan tenteram dalam segala hal. Namun, siapa yang tidak tenang bersama Allah, hidupnya akan terpecah oleh penyesalan dunia yang tiada akhir.وَإِنَّمَا يَصْدُقُ هَذَا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَأَمَّا مَيِّتُ الْقَلْبِ، فَيُوحِشُكَ مَا لَهُ ثَمَّ، فَاسْتَأْنِسْ بِغَيْبَتِهِ مَا أَمْكَنَكَ، فَإِنَّكَ لَا يُوحِشُكَ إِلَّا حُضُورُهُ عِنْدَكَ.Yang memahami makna ini hanyalah orang yang hatinya hidup. Adapun hati yang mati, ia akan merasa asing dari kebenaran dan tenang dengan kebatilan. Maka berusahalah merasa nyaman saat jauh dari orang yang demikian, karena sesungguhnya yang membuatmu gelisah hanyalah kehadirannya di dekatmu.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهِ، فَأَعْطِهِ ظَاهِرَكَ، وَتَرَحَّلْ عَنْهُ بِقَلْبِكَ، وَفَارِقْهُ بِسِرِّكَ، وَلَا تُشْغَلْ بِهِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى بِكَ.Jika engkau diuji dengan pergaulan seperti itu, berikanlah padanya bagian lahirmu, namun pisahkan hatimu dan rahasiamu darinya. Jangan biarkan dia menghalangimu dari urusan yang lebih utama.وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَسْرَةَ كُلَّ الْحَسْرَةِ، الِاشْتِغَالُ بِمَنْ لَا يَجُرُّ عَلَيْكَ الِاشْتِغَالُ بِهِ إِلَّا فَوْتَ نَصِيبِكَ وَحَظِّكَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَانْقِطَاعَكَ عَنْهُ، وَضَيَاعَ وَقْتِكَ، وَضَعْفَ عَزِيمَتِكَ، وَتَفَرُّقَ هَمِّكَ.Ketahuilah, penyesalan yang paling dalam adalah ketika seseorang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan apa pun selain kehilangan bagian dirinya dari Allah, terputus dari-Nya, terbuang waktunya, lemah tekadnya, dan tercerai pikirannya.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهَذَا ـ وَلَا بُدَّ لَكَ مِنْهُ ـ فَعَامِلِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ، وَاحْتَسِبْ عَلَيْهِ مَا أَمْكَنَكَ، وَتَقَرَّبْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمَرْضَاتِهِ فِيهِ، وَاجْعَلِ اجْتِمَاعَكَ بِهِ مَتْجَرًا لَكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ خَسَارَةً، وَكُنْ مَعَهُ كَرَجُلٍ سَائِرٍ فِي طَرِيقِهِ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ وَقَفَهُ عَنْ سَيْرِهِ، فَاجْتَهِدْ أَنْ تَأْخُذَهُ مَعَكَ وَتَسِيرَ بِهِ، فَتَحْمِلَهُ وَلَا يَحْمِلُكَ، فَإِنْ أَبَى، وَلَمْ يَكُنْ فِي سَيْرِهِ مَطْمَعٌ، فَلَا تَقِفْ مَعَهُ، بَلِ ارْكَبِ الدَّرْبَ وَدَعْهُ، وَلَا تَلْتَفِتْ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَاطِعُ الطَّرِيقِ، وَلَوْ كَانَ مَنْ كَانَ، فَانْجُ بِقَلْبِكَ، وَاضْنَنْ بِيَوْمِكَ وَلَيْلَتِكَ، لَا تَغْرُبْ عَلَيْكَ الشَّمْسُ قَبْلَ وُصُولِ الْمَنْزِلَةِ، فَتُؤْخَذَ، أَوْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ أَنَّى لَكَ بِلِقَائِهِمْ.Apabila engkau harus berinteraksi dengan orang semacam itu, maka niatkan karena Allah. Bersabarlah dan jadikan interaksi itu sebagai ladang pahala, bukan kerugian.Bersikaplah seperti seorang musafir yang dalam perjalanan bertemu seseorang yang mencoba menghentikannya. Usahakan untuk mengajaknya berjalan bersama, bukan sebaliknya. Jika ia menolak, jangan berhenti bersamanya — teruslah berjalan di jalanmu, jangan menoleh ke belakang. Ia hanyalah perampok jalanmu, siapa pun dia.Selamatkan hatimu, jagalah waktu siang dan malammu. Jangan biarkan matahari terbenam sebelum engkau mencapai tujuan, atau fajar menyingsing sementara engkau masih tertahan — karena entah kapan lagi engkau akan bertemu dengan orang-orang yang telah sampai ke sana. [الخامسة والثلاثون]أَنَّ الذِّكْرَ يَسِيرُ العَبْدُ وَهُوَ فِي فِرَاشِهِ، وَفِي سُوقِهِ، وَفِي حَالِ صِحَّتِهِ وَسَقَمِهِ، وَفِي حَالِ نَعِيمِهِ وَلَذَّتِهِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يَعُمُّ الأَوْقَاتَ وَالأَحْوَالَ مِثْلَهُ، حَتَّى يَسِيرَ العَبْدُ وَهُوَ نَائِمٌ عَلَى فِرَاشِهِ فَيَسْبِقَ القَائِمَ مَعَ الغَفْلَةِ، فَيُصْبِحَ هَذَا وَقَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَيُصْبِحَ ذَاكَ الغَافِلُ فِي سَاقَةِ الرَّكْبِ، وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.وَحُكِيَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ العُبَّادِ أَنَّهُ نَزَلَ بِرَجُلٍ ضَيْفًا، فَقَامَ العَابِدُ لَيْلَهُ يُصَلِّي، وَذَلِكَ الرَّجُلُ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَا قَالَ لَهُ العَابِدُ: سَبَقَكَ الرَّكْبُ، أَوْ كَمَا قَالَ.فَقَالَ: لَيْسَ الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ مُسَافِرًا وَأَصْبَحَ مَعَ الرَّكْبِ، الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَأَصْبَحَ قَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ.Ketiga puluh lima, dzikir membuat seorang hamba tetap berjalan menuju Allah meskipun ia berada di atas tempat tidurnya, di pasar, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kondisi menikmati nikmat atau kesenangan. Tidak ada amalan yang bisa mencakup seluruh waktu dan keadaan seperti dzikir.Bahkan, terkadang seorang hamba yang sedang berbaring di tempat tidurnya tetap melangkah maju dengan dzikirnya, melewati orang yang sedang berdiri dalam keadaan lalai. Maka ketika pagi datang, yang berzikir itu telah menempuh perjalanan jauh (menuju Allah) sementara ia masih berbaring, sedangkan yang lalai itu tertinggal jauh di belakang rombongan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.Dikisahkan dari seorang ahli ibadah bahwa ia singgah di rumah seorang lelaki sebagai tamu. Pada malam harinya, si ahli ibadah bangun untuk salat malam, sementara tuan rumahnya tetap berbaring di tempat tidurnya. Ketika pagi tiba, sang ahli ibadah berkata kepadanya,“Rombongan telah mendahuluimu (dalam perjalanan menuju Allah).”Namun si tuan rumah menjawab,“Bukan itu persoalannya. Bukan tentang siapa yang bermalam dalam perjalanan lalu pagi hari sudah bersama rombongan. Yang penting adalah siapa yang bermalam di tempat tidurnya, namun ketika pagi telah melampaui rombongan.”وَهَذَا وَنَحْوُهُ لَهُ مَحْمَلٌ صَحِيحٌ وَمَحْمَلٌ فَاسِدٌ، فَمَنْ حَكَمَ عَلَى أَنَّ الرَّاقِدَ المُضْطَجِعَ عَلَى فِرَاشِهِ يَسْبِقُ القَائِمَ القَانِتَ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنَّمَا مَحْمَلُهُ أَنَّ هَذَا المُسْتَلْقِيَ عَلَى فِرَاشِهِ عَلِقَ بِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَلْصَقَ حَبَّ قَلْبِهِ بِالعَرْشِ، وَبَاتَ قَلْبُهُ يَطُوفُ حَوْلَ العَرْشِ مَعَ المَلَائِكَةِ، قَدْ غَابَ عَنِ الدُّنْيَا وَمَنْ فِيهَا، وَقَدْ عَاقَهُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ عَائِقٌ مِنْ وَجَعٍ أَوْ بَرْدٍ يَمْنَعُهُ القِيَامَ، أَوْ خَوْفٌ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ رُؤْيَةِ عَدُوٍّ يَطْلُبُهُ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الأَعْذَارِ، فَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي قَلْبِهِ مَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلِيمٌ.وَآخَرُ قَائِمٌ يُصَلِّي وَيَتْلُو، وَفِي قَلْبِهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالعُجْبِ وَطَلَبِ الجَاهِ وَالمَحْمَدَةِ عِنْدَ النَّاسِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ، أَوْ قَلْبُهُ فِي وَادٍ وَجِسْمُهُ فِي وَادٍ.فَلَا رَيْبَ أَنَّ ذَلِكَ الرَّاقِدَ يُصْبِحُ وَقَدْ سَبَقَ هَذَا القَائِمَ بِمَرَاحِلَ كَثِيرَةٍ، فَالعَمَلُ عَلَى القُلُوبِ لَا عَلَى الأَبْدَانِ، وَالمُعَوَّلُ عَلَى السَّاكِنِ، وَيُهَيِّجُ الحُبَّ المُتَوَارِيَ، وَيَبْعَثُ الطَّلَبَ المَيِّتَ.Perkataan seperti ini memiliki dua kemungkinan makna: makna yang benar dan makna yang keliru.Jika seseorang memahami bahwa orang yang berbaring di tempat tidurnya bisa mengalahkan orang yang bangun untuk beribadah dan salat malam tanpa alasan apa pun, maka pemahaman itu batil (keliru).Namun, makna yang benar adalah bahwa orang yang sedang berbaring itu hatinya terikat kuat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, ia menempelkan cinta hatinya kepada ‘Arsy, dan hatinya berkeliling di sekitar ‘Arsy bersama para malaikat, sementara dirinya telah terlupa dari dunia dan segala isinya.Ia tertahan untuk bangun malam bukan karena malas, melainkan karena ada penghalang seperti sakit, cuaca dingin yang berat, rasa takut dari musuh yang mengincar, atau uzur lain yang benar-benar menghalanginya. Maka ia tetap berbaring di atas tempat tidurnya, namun hatinya dalam keadaan yang hanya Allah Ta‘ala yang mengetahuinya.Sedangkan orang lain berdiri salat dan membaca Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya terdapat riya’, rasa bangga diri, mencari kedudukan, atau ingin dipuji manusia. Bisa jadi pula hatinya berada di satu tempat, sementara tubuhnya di tempat lain.Maka tidak diragukan lagi, orang yang berbaring namun hatinya hidup bersama Allah akan mendahului orang yang bangun malam dengan hati yang lalai dalam banyak tingkatan.Sebab, amal dinilai dari hati, bukan dari gerak tubuh. Yang menjadi ukuran adalah kehidupan batin yang diam namun menyala oleh cinta dan keikhlasan, karena ia mampu membangkitkan kembali cinta yang tersembunyi dan menghidupkan semangat ibadah yang hampir mati.[الذِّكْرُ وَحَقِيقَةُ النُّورِ الإِلَهِيِّ] (السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ) أَنَّ الذِّكْرَ نُورٌ لِلذَّاكِرِ فِي الدُّنْيَا، وَنُورٌ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنُورٌ لَهُ فِي مَعَادِهِ يَسْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ، فَمَا اسْتَنَارَتِ القُلُوبُ وَالقُبُورُ بِمِثْلِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}. فَالأَوَّلُ هُوَ المُؤْمِنُ، اسْتَنَارَ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَمَعْرِفَتِهِ وَذِكْرِهِ، وَالآخَرُ هُوَ الغَافِلُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، المُعْرِضُ عَنْ ذِكْرِهِ وَمَحَبَّتِهِ. وَالشَّأْنُ كُلُّ الشَّأْنِ، وَالفَلَاحُ كُلُّ الفَلَاحِ فِي النُّورِ، وَالشَّقَاءُ كُلُّ الشَّقَاءِ فِي فَوَاتِهِ. وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَالِغُ فِي سُؤَالِ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حِينَ يَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي لَحْمِهِ وَعِظَامِهِ وَعَصَبِهِ وَشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ وَسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ، وَمِنْ فَوْقِهِ وَمِنْ تَحْتِهِ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَخَلْفِهِ وَأَمَامِهِ، حَتَّى يَقُولَ: وَاجْعَلْنِي نُورًا. فَسَأَلَ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ النُّورَ فِي ذَرَّاتِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَهُ مُحِيطًا بِهِ مِنْ جَمِيعِ جِهَاتِهِ، وَأَنْ يَجْعَلَ ذَاتَهُ وَجُمْلَتَهُ نُورًا. فَدِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نُورٌ، وَكِتَابُهُ نُورٌ، وَرَسُولُهُ نُورٌ، وَدَارُهُ الَّتِي أَعَدَّهَا لِأَوْلِيَائِهِ نُورٌ يَتَلَأْلَأُ، وَهُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمِنْ أَسْمَائِهِ النُّورُ، وَأَشْرَقَتِ الظُّلُمَاتُ لِنُورِ وَجْهِهِ.Ketiga puluh enam, [Dzikir dan Hakikat Cahaya Ilahi]Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir — cahaya baginya di dunia, cahaya baginya di dalam kuburnya, dan cahaya baginya di akhirat yang berjalan di hadapannya di atas shirath (jembatan akhirat).Tidak ada sesuatu pun yang mampu menerangi hati dan kubur sebagaimana zikir kepada Allah Ta‘ala.Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah orang yang sebelumnya mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An‘ām: 122)Yang pertama adalah seorang mukmin, yang dihidupkan dan diterangi oleh iman kepada Allah, cinta kepada-Nya, pengetahuan tentang-Nya, serta zikir kepada-Nya.Adapun yang kedua adalah orang yang lalai dari Allah Ta‘ala, berpaling dari zikir dan cinta kepada-Nya.Maka, seluruh keberuntungan bergantung pada cahaya itu, dan segala bentuk kesengsaraan bersumber dari hilangnya cahaya tersebut.Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Rabbnya — Tabāraka wa Ta‘ālā — memohon agar Allah menjadikan cahaya itu menyatu dalam seluruh bagian tubuhnya: dalam daging, tulang, urat, rambut, kulit, pendengaran, dan penglihatannya, dari atas dan bawah, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang; hingga beliau berdoa:“Dan jadikanlah aku cahaya.”Beliau memohon agar cahaya itu memenuhi seluruh zarrah (bagian kecil) dalam dirinya, baik yang lahir maupun batin, mengelilinginya dari segala arah, bahkan menjadikan seluruh dirinya cahaya.Sebab, agama Allah adalah cahaya, Kitab-Nya adalah cahaya, Rasul-Nya adalah cahaya, dan surga-Nya — tempat yang disiapkan untuk para kekasih-Nya — adalah cahaya yang berkilauan.Sedangkan Dia sendiri, Tabāraka wa Ta‘ālā, adalah Cahaya langit dan bumi.Salah satu nama-Nya adalah An-Nūr (Yang Maha Cahaya), dan seluruh kegelapan akan sirna oleh pancaran cahaya wajah-Nya.[السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ رَأْسُ الْأُصُولِ، وَطَرِيقُ عَامَّةِ الطَّائِفَةِ، وَمَنْشُورُ الْوِلَايَةِ، فَمَنْ فُتِحَ لَهُ فِيهِ، فَقَدْ فُتِحَ لَهُ بَابُ الدُّخُولِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَتَطَهَّرْ وَلْيَدْخُلْ عَلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَجِدْ عِنْدَهُ كُلَّ مَا يُرِيدُ، فَإِنْ وَجَدَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَجَدَ كُلَّ شَيْءٍ، وَإِنْ فَاتَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَهُ كُلُّ شَيْءٍ. Ketiga puluh tujuh,Dzikir merupakan pokok dari segala pokok, jalan utama bagi kebanyakan orang yang menempuh perjalanan menuju Allah, dan merupakan tanda (pengumuman) kedekatan seorang hamba dengan-Nya.Barang siapa dibukakan hatinya untuk istiqamah dalam dzikir, maka sesungguhnya telah dibukakan baginya pintu untuk masuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hendaklah ia mensucikan diri—lahir dan batin—lalu masuk menghadap Rabb-nya. Di sisi Allah, ia akan mendapati segala yang diinginkan.Sebab, siapa yang menemukan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, berarti ia telah mendapatkan segalanya. Namun siapa yang kehilangan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, sungguh ia telah kehilangan segalanya.[الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ] فِي الْقَلْبِ خَلَّةٌ وَفَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا صَارَ شِعَارَ الْقَلْبِ بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ الذَّاكِرَ بِطَرِيقِ الْأَصَالَةِ، وَاللِّسَانُ تَابِعٌ لَهُ، فَهَذَا هُوَ الذِّكْرُ الَّذِي يَسُدُّ الْخَلَّةَ وَيُفْنِي الْفَاقَةَ، فَيَكُونُ صَاحِبُهُ غَنِيًّا بِلَا مَالٍ، عَزِيزًا بِلَا عَشِيرَةٍ، مَهِيبًا بِلَا سُلْطَانٍ. فَإِذَا كَانَ غَافِلًا عَنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ بِضِدِّ ذَلِكَ: فَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ جِدَّتِهِ، ذَلِيلٌ مَعَ سُلْطَانِهِ، حَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ عَشِيرَتِهِ.Ketiga puluh delapan,Dalam hati manusia terdapat kekosongan dan kebutuhan mendalam yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh apa pun selain dengan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Apabila dzikir telah menjadi kebiasaan hati—hingga hati itu sendiri yang benar-benar berdzikir secara hakiki, sementara lisan hanya menjadi pengikutnya—maka inilah dzikir yang mampu mengisi kekosongan itu dan menghapus segala rasa kekurangan.Orang yang demikian akan merasa kaya tanpa harta, mulia tanpa keluarga besar, dan disegani tanpa kekuasaan.Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan merasakan kebalikannya: miskin meski banyak hartanya, hina meski memiliki kekuasaan, dan rendah meski memiliki banyak pengikut dan kerabat.[التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَ، وَيُفَرِّقُ الْمُجْتَمِعَ، وَيُقَرِّبُ الْبَعِيدَ، وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ. فَيَجْمَعُ مَا تَفَرَّقَ عَلَى الْعَبْدِ مِنْ قَلْبِهِ وَإِرَادَتِهِ وَهُمُومِهِ وَعَزَائِمِهِ، وَالْعَذَابُ كُلُّ الْعَذَابِ فِي تَفَرُّقِهَا وَتَشَتُّتِهَا عَلَيْهِ وَانْفِرَاطِهَا لَهُ، وَالْحَيَاةُ وَالنَّعِيمُ فِي اجْتِمَاعِ قَلْبِهِ وَهَمِّهِ وَعَزْمِهِ وَإِرَادَتِهِ. وَيُفَرِّقُ مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْحَسَرَاتِ عَلَى فَوْتِ حُظُوظِهِ وَمَطَالِبِهِ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنْ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ وَأَوْزَارِهِ، حَتَّى تَتَسَاقَطَ عَنْهُ وَتَتَلَاشَى وَتَضْمَحِلَّ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَى حَرْبِهِ مِنْ جُنْدِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ إِبْلِيسَ لَا يَزَالُ يَبْعَثُ لَهُ سَرِيَّةً، وَكُلَّمَا كَانَ أَقْوَى طَلَبًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَمْثَلَ تَعَلُّقًا بِهِ وَإِرَادَةً لَهُ، كَانَتِ السَّرِيَّةُ أَكْثَفَ وَأَكْثَرَ وَأَعْظَمَ شَوْكَةً، بِحَسَبِ مَا عِنْدَ الْعَبْدِ مِنْ مَوَادِّ الْخَيْرِ وَالْإِرَادَةِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَى تَفْرِيقِ هَذَا الْجَمْعِ إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ. وَأَمَّا تَقْرِيبُهُ الْبَعِيدَ فَإِنَّهُ يُقَرِّبُ إِلَيْهِ الْآخِرَةَ الَّتِي يُبْعِدُهَا مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَالْأَمَلُ، فَلَا يَزَالُ يَلْهَجُ بِالذِّكْرِ حَتَّى كَأَنَّهُ قَدْ دَخَلَهَا وَحَضَرَهَا، فَحِينَئِذٍ تَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ الدُّنْيَا، وَتَعْظُمُ فِي قَلْبِهِ الْآخِرَةُ. وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ إِلَيْهِ، وَهِيَ الدُّنْيَا الَّتِي هِيَ أَدْنَى إِلَيْهِ مِنَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ الْآخِرَةَ مَتَى قَرُبَتْ مِنْ قَلْبِهِ بَعُدَتْ مِنْهُ الدُّنْيَا، كُلَّمَا قَرُبَتْ مِنْهُ هَذِهِ مَرْحَلَةً بَعُدَتْ مِنْهُ تِلْكَ مَرْحَلَةً، وَلَا سَبِيلَ إِلَى هَذَا إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ.Ketiga puluh sembilan,Dzikir memiliki kekuatan yang menakjubkan: ia mengumpulkan yang tercerai-berai dan memisahkan yang berhimpun; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.Dzikir mengumpulkan kembali apa pun yang tercerai dalam diri seseorang—hatinya, kehendaknya, pikirannya, dan tekadnya.Sungguh, penderitaan terbesar adalah ketika semua itu tercerai dan tidak terarah; sedangkan kebahagiaan sejati terletak pada bersatunya hati, kehendak, niat, dan tekad seseorang dalam satu tujuan, yaitu menuju Allah.Dzikir juga memisahkan apa yang berkumpul dari tumpukan kesedihan, kegelisahan, dan penyesalan atas hilangnya berbagai keinginan dan kesenangan dunia.Ia memisahkan pula dosa-dosa, kesalahan, dan beban maksiat yang menumpuk di diri seseorang—hingga dosa-dosa itu berjatuhan, lenyap, dan sirna.Dzikir juga memecah barisan pasukan setan yang bersatu untuk memerangi seorang hamba.Setan tak henti mengirimkan bala tentaranya untuk menggoda, dan semakin kuat keinginan seorang hamba untuk mencari Allah, semakin banyak dan besar pula serangan pasukan setan terhadapnya—sesuai dengan kadar kebaikan dan tekad yang ada pada dirinya.Dan tidak ada cara untuk memecah barisan pasukan itu kecuali dengan zikir yang terus-menerus.Adapun dzikir disebut “mendekatkan yang jauh”, karena ia mendekatkan akhirat yang berusaha dijauhkan dari hati oleh setan dan angan-angan duniawi.Ketika lidah seseorang terus melantunkan dzikir, seolah-olah ia sudah berada di negeri akhirat dan menyaksikannya secara langsung. Saat itulah dunia terasa kecil di matanya, sedangkan akhirat menjadi agung dalam hatinya.Dzikir juga disebut “menjauhkan yang dekat”, yakni dunia yang selalu berada di hadapan manusia dan menggoda hatinya.Ketika akhirat semakin dekat di hati, dunia pun semakin jauh darinya.Setiap langkah hati yang mendekat kepada akhirat adalah langkah menjauh dari dunia — dan semua itu hanya mungkin terwujud dengan zikir yang terus-menerus.[الأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يُنَبِّهُ الْقَلْبَ مِنْ نَوْمِهِ، وَيُوقِظُهُ مِنْ سِنَتِهِ، وَالْقَلْبُ إِذَا كَانَ نَائِمًا فَاتَتْهُ الْأَرْبَاحُ وَالْمَتَاجِرُ، وَكَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ الْخُسْرَانُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ وَعَلِمَ مَا فَاتَهُ فِي نَوْمَتِهِ، شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا بَقِيَّةَ عُمْرِهِ، وَاسْتَدْرَكَ مَا فَاتَهُ، وَلَا تَحْصُلُ يَقَظَتُهُ إِلَّا بِالذِّكْرِ، فَإِنَّ الْغَفْلَةَ نَوْمٌ ثَقِيلٌ.Keempat puluh,Dzikir adalah pembangun hati yang tertidur dan penggugah dari kelalaiannya.Ketika hati berada dalam keadaan tidur (lalai), ia kehilangan berbagai keuntungan dan kesempatan berharga dalam hidupnya. Sebaliknya, yang mendominasi adalah kerugian dan kehampaan.Namun saat hati itu terjaga dan menyadari apa yang telah ia lewatkan selama dalam kelalaian, ia pun akan segera bersemangat, mengencangkan ikat pinggangnya, memanfaatkan sisa umurnya, dan berusaha menebus apa yang telah terlewat.Kesadaran dan kebangkitan hati semacam ini tidak akan terjadi kecuali dengan dzikir, sebab kelalaian (ghaflah) adalah tidur yang sangat berat bagi hati.[الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ شَجَرَةٌ تُثْمِرُ الْمَعَارِفَ وَالْأَحْوَالَ الَّتِي شَمَّرَ إِلَيْهَا السَّالِكُونَ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى نَيْلِ ثِمَارِهَا إِلَّا مِنْ شَجَرَةِ الذِّكْرِ، وَكُلَّمَا عَظُمَتْ تِلْكَ الشَّجَرَةُ وَرَسَخَ أَصْلُهَا كَانَ أَعْظَمَ لِثَمَرَتِهَا، فَالذِّكْرُ يُثْمِرُ الْمَقَامَاتِ كُلَّهَا مِنَ الْيَقَظَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ، وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ مَقَامٍ وَقَاعِدَتُهُ الَّتِي يُنْبَنِي ذَلِكَ الْمَقَامُ عَلَيْهَا، كَمَا يُبْنَى الْحَائِطُ عَلَى رَأْسِهِ، وَكَمَا يَقُومُ السَّقْفُ عَلَى حَائِطِهِ. وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ إِنْ لَمْ يَسْتَيْقِظْ لَمْ يُمْكِنْهُ قَطْعُ مَنَازِلِ السَّيْرِ، وَلَا يَسْتَيْقِظُ إِلَّا بِالذِّكْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَالْغَفْلَةُ نَوْمُ الْقَلْبِ أَوْ مَوْتُهُ.Keempat puluh satu,Sesungguhnya dzikir itu bagaikan sebuah pohon yang menghasilkan buah berupa ma‘rifat dan berbagai keadaan hati yang selalu diupayakan oleh para penempuh jalan menuju Allah. Tidak ada jalan untuk meraih buah-buah tersebut kecuali dari pohon dzikir itu sendiri. Semakin besar pohon tersebut dan semakin kuat akarnya menghujam, maka semakin besar pula buah yang dihasilkannya.Dzikir melahirkan seluruh maqam (tingkatan spiritual), mulai dari kesadaran hati hingga tauhid yang sempurna. Dzikir adalah dasar setiap maqam dan fondasi tempat seluruh maqam itu dibangun, sebagaimana dinding dibangun di atas pondasinya, dan sebagaimana atap dapat berdiri karena ditopang oleh dindingnya.Hal ini karena seorang hamba, jika tidak terjaga dari kelalaiannya, tidak akan mampu menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah. Dan seseorang tidak akan terjaga kecuali dengan dzikir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sebab, kelalaian itu adalah tidurnya hati, bahkan bisa menjadi kematiannya.[الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ قَرِيبٌ مِنْ مَذْكُورِهِ، وَمَذْكُورُهُ مَعَهُ. وَهَذِهِ الْمَعِيَّةُ مَعِيَّةٌ خَاصَّةٌ، غَيْرَ مَعِيَّةِ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ الْعَامَّةِ، فَهِيَ مَعِيَّةٌ بِالْقُرْبِ، وَالْوِلَايَةِ، وَالْمَحَبَّةِ، وَالنُّصْرَةِ، وَالتَّوْفِيقِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا﴾ ﴿وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾ ﴿وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾ ﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ وَلِلذَّاكِرِ مِنْ هَذِهِ الْمَعِيَّةِ نَصِيبٌ وَافِرٌ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْإِلَهِيِّ: «أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ». وَفِي أَثَرٍ آخَرَ: وَأَهْلُ ذِكْرِي أَهْلُ مُجَالَسَتِي، وَأَهْلُ شُكْرِي أَهْلُ زِيَارَتِي، وَأَهْلُ طَاعَتِي أَهْلُ كَرَامَتِي، وَأَهْلُ مَعْصِيَتِي لَا أُقَنِّطُهُمْ مِنْ رَحْمَتِي؛ إِنْ تَابُوا فَأَنَا حَبِيبُهُمْ، فَإِنِّي أُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَأُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ. وَإِنْ لَمْ يَتُوبُوا فَأَنَا طَبِيبُهُمْ، أَبْتَلِيهِمْ بِالْمَصَائِبِ، لِأُطَهِّرَهُمْ مِنَ الْمَعَايِبِ. وَالْمَعِيَّةُ الْحَاصِلَةُ لِلذَّاكِرِ مَعِيَّةٌ لَا يُشْبِهُهَا شَيْءٌ، وَهِيَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعِيَّةِ الْحَاصِلَةِ لِلْمُحْسِنِ وَالْمُتَّقِي، وَهِيَ مَعِيَّةٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعِبَارَةُ، وَلَا تَنَالُهَا الصِّفَةُ، وَإِنَّمَا تُعْلَمُ بِالذَّوْقِ. وَهِيَ مَزَلَّةُ أَقْدَامٍ إِنْ لَمْ يَصْحَبِ الْعَبْدَ فِيهَا تَمْيِيزٌ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْمُحْدَثِ، بَيْنَ الرَّبِّ وَالْعَبْدِ، بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ، بَيْنَ الْعَابِدِ وَالْمَعْبُودِ، وَإِلَّا وَقَعَ فِي حُلُولٍ يُضَاهِي بِهِ النَّصَارَى، أَوِ اتِّحَادٍ يُضَاهِي بِهِ الْقَائِلِينَ بِوَحْدَةِ الْوُجُودِ، وَأَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ عَيْنُ وُجُودِ هَذِهِ الْمَوْجُودَاتِ. بَلْ لَيْسَ عِنْدَهُمْ رَبٌّ وَعَبْدٌ، وَلَا خَلْقٌ وَحَقٌّ، بَلِ الرَّبُّ هُوَ الْعَبْدُ، وَالْعَبْدُ هُوَ الرَّبُّ، وَالْخَلْقُ الْمُشَبَّهُ هُوَ الْحَقُّ الْمُنَزَّهُ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ وَالْجَاحِدُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ الْعَبْدِ عَقِيدَةٌ صَحِيحَةٌ، فَإِذَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ سُلْطَانُ الذِّكْرِ، وَغَابَ بِمَذْكُورِهِ عَنْ ذِكْرِهِ وَعَنْ نَفْسِهِ، وَلَجَ بَابَ الْحُلُولِ وَالِاتِّحَادِ وَلَا بُدَّ.Keempat puluh dua,Dzikir memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Zat yang diingat, bahkan Zat yang diingat itu senantiasa bersama orang yang berdzikir.Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, bukan sekadar kebersamaan berupa ilmu dan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh makhluk. Ia adalah kebersamaan dalam makna kedekatan, perlindungan, kecintaan, pertolongan, dan taufik. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Juga firman-Nya, “Allah bersama orang-orang yang sabar.” Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” Serta firman-Nya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”Orang yang berdzikir mendapatkan bagian yang sangat besar dari kebersamaan khusus ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits ilahi, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.”Dalam atsar yang lain disebutkan, “Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku temani duduk bersama-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku kunjungi. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku muliakan. Adapun orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, Aku tidak memutus harapan mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat, maka Aku menjadi kekasih mereka, karena Aku mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”Namun jika mereka belum bertaubat, maka Aku menjadi tabib mereka, yakni Dokter Yang Maha Mengetahui penyakit hamba-Nya. Aku timpakan kepada mereka berbagai musibah sebagai terapi dan pengobatan, agar Aku bersihkan mereka dari aib dan noda dosa.Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berdzikir adalah kebersamaan yang tidak ada bandingannya. Ia bahkan lebih khusus dibandingkan kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat ihsan dan orang yang bertakwa. Kebersamaan ini tidak mampu dijangkau oleh ungkapan kata dan tidak bisa dilukiskan dengan deskripsi bahasa. Ia hanya dapat dipahami melalui rasa dan pengalaman batin.Namun kebersamaan ini juga merupakan tempat yang sangat rawan tergelincirnya langkah, jika seorang hamba tidak disertai kemampuan membedakan antara Yang Qadim dan yang baru, antara Rabb dan hamba, antara Sang Pencipta dan makhluk, antara yang beribadah dan yang disembah. Jika tidak, ia akan terjatuh pada keyakinan hulul seperti kaum Nasrani, atau keyakinan ittihad seperti orang-orang yang mengusung wahdatul wujud, yang menyatakan bahwa keberadaan Rabb adalah sama dengan keberadaan seluruh makhluk.Bahkan menurut mereka, tidak ada lagi perbedaan antara Rabb dan hamba, antara Pencipta dan ciptaan, antara kebenaran dan makhluk. Rabb adalah hamba, dan hamba adalah Rabb. Maha Tinggi Allah dari ucapan orang-orang zalim dan pengingkar kebenaran, setinggi-tingginya.Intinya, apabila seorang hamba tidak dibekali dengan akidah yang benar, maka ketika kekuatan dzikir telah menguasainya, lalu ia tenggelam bersama Zat yang diingat hingga lupa terhadap dzikirnya sendiri dan lupa terhadap dirinya, niscaya ia akan memasuki pintu hulul dan ittihad, dan hal itu hampir pasti terjadi.— Dzikir itu Menenangkan HatiDi antara faedah besar dari dzikir adalah menenangkan hati. Allah Ta‘ālā berfirman:أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)Dzikir juga menjadi tanda hidupnya hati seseorang. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, bagaikan orang hidup dengan orang mati.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)Dzikir juga merupakan sarana membersihkan hati. Dalam hadits disebutkan:إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat ketika terkena air.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah penghapus karatnya?” Beliau menjawab, “Banyak mengingat mati dan membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqī) Hadirkan Hati Ketika BerdzikirPara ulama menegaskan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir dengan lisan yang disertai hadirnya hati. Jika hanya lisan yang bergerak sementara hati lalai, maka itu berada pada tingkatan dzikir paling rendah.An-Nafrawī menukil dari al-Qāḍī ‘Iyāḍ bahwa dzikir ada dua macam: dzikir dengan hati saja, dan dzikir dengan lisan bersama hati. Dzikir dengan hati terbagi dua:Dzikir berupa tadabbur dan tafakkur terhadap kebesaran Allah, keagungan-Nya, tanda-tanda-Nya, dan ciptaan-Nya yang ada di langit maupun bumi. Inilah dzikir yang paling tinggi dan paling agung.Mengingat Allah dengan cara menghadirkan-Nya dalam hati ketika berhadapan dengan perintah dan larangan-Nya.Yang pertama lebih utama daripada yang kedua. Sedangkan yang kedua lebih utama dibandingkan dzikir dengan lisan yang disertai hati. Adapun dzikir dengan lisan saja tanpa hati, itu adalah tingkatan paling rendah, meskipun tetap ada pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits.Dari sini jelas, wahai saudaraku, bahwa dzikir dengan lisan saja sementara hati sibuk dengan hal lain—seperti membicarakan obrolan teman atau berita dunia—maka pelakunya tetap mendapat pahala karena lisannya dipenuhi dzikir kepada Allah Ta‘ālā, tetapi tidak akan menyamai derajat orang yang menggabungkan antara dzikir lisan dan hati sekaligus.Adapun terkait melanjutkan dzikir setelah ada pemutus (terhenti sejenak), hal ini dirinci. Jika dzikir tersebut telah ditentukan jumlahnya dalam syariat, seperti dzikir setelah shalat fardhu, maka tidak mengapa melanjutkannya dari hitungan sebelumnya. Namun jika syariat tidak menentukan jumlahnya, maka menetapkan bilangan tertentu tidak dianjurkan, karena dapat mengarah pada bid‘ah dan membuat-buat dalam agama yang tidak ada tuntunannya. Makna DzikirDzikir memiliki makna yang luas, mencakup dua sisi:a) Makna umumDzikir dalam makna umum meliputi seluruh bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, bertasbih, bertahmid, mengagungkan Allah, dan berbagai ketaatan lainnya. Semua ibadah itu pada hakikatnya ditegakkan untuk mengingat Allah, menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata:كُلُّ مَا تَكَلَّمَ بِهِ اللِّسَانُ، وَتَصَوَّرَهُ الْقَلْبُ مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمٍ، وَتَعْلِيمِهِ، وَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ، فَهُوَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Segala sesuatu yang diucapkan oleh lisan dan dihadirkan oleh hati yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti belajar ilmu, mengajarkannya, amar ma‘ruf, dan nahi munkar, maka itu termasuk dzikir kepada Allah.”b) Makna khususDzikir dalam makna khusus adalah menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan lafaz yang bersumber dari Allah—seperti membaca Al-Qur’an—atau lafaz yang datang melalui lisan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang di dalamnya terdapat pengagungan, penyucian, pemuliaan, dan peneguhan tauhid kepada Allah. Makna inilah yang dimaksud dalam sunnah ketika berbicara tentang dzikir.Dzikir yang paling agung adalah membaca Kitab Allah Ta‘ālā. Beribadah dengan membaca Al-Qur’an telah membuat mata para salaf sulit terpejam dan membuat mereka rela meninggalkan tidur nyenyak. Allah berfirman:وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Dan pada waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. adz-Dzāriyāt: 18)Para salaf mengisi malam mereka dengan membaca Kitab Allah Ta‘ālā dan melantunkan dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka sungguh, alangkah mulianya malam yang dihidupkan oleh mereka dengan ibadah. Sementara kita, betapa besar kerugian kita, betapa banyak kelalaian kita, dan betapa besar keteledoran kita dalam memanfaatkan malam dan waktu sahur! Semoga malam-malam kita selamat dari maksiat kepada Rabb kita, kecuali bagi yang dirahmati Allah Ta‘ālā. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan MuqayyadSeorang hamba hendaknya bersemangat berdzikir kepada Allah Ta‘ālā dengan hati dan lisannya sekaligus. Inilah keadaan yang paling sempurna. Adapun dzikir hanya dengan lisan saja tanpa kehadiran hati, maka itu termasuk keadaan yang kurang. Sebab, ada sebagian orang yang ketika berdzikir tidak merasakan apa yang ia ucapkan. Lisannya memang bergerak, tetapi hatinya tidak ikut hidup. Seandainya hatinya ikut berdzikir, merenungi maknanya, tentu imannya akan bertambah dan hatinya akan lebih lembut.Wahai saudaraku yang diberkahi Allah, ketahuilah juga bahwa dzikir ditinjau dari tempat atau waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua: dzikir muqayyad dan dzikir mutlak.Dzikir muqayyad adalah dzikir yang dibatasi oleh tempat, waktu, atau keadaan tertentu.Dzikir mutlak adalah dzikir yang tidak dibatasi oleh salah satu dari hal tersebut, melainkan bisa dilakukan kapan saja sepanjang hari.Contohnya, dzikir setelah shalat fardhu, dzikir setelah adzan, atau dzikir lain yang diajarkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada waktu dan tempat tertentu. Semua dzikir muqayyad ini lebih utama dibandingkan dzikir mutlak, karena di dalamnya ada unsur mengikuti sunnah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Maka jika seseorang selesai dari shalat wajib, dzikir yang paling utama baginya adalah membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat. Ia tidak menggantinya dengan dzikir lain, meskipun dzikir itu juga utama, seperti membaca Al-Qur’an. Sebab, demikianlah yang dilakukan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan kebaikan yang sempurna adalah dengan meneladani beliau.Baca juga: Kumpulan Hadits Kitab Al-Adzkar dari Riyadhus Sholihin Pembahasan Tuntas Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. —Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (20/03/2011), direvisi 12 September 2025 di GunungkidulDr. Muhammad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com Baca Juga:Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adahYang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang[1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691[2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih[3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-198. Tagsdoa dan dzikir Dzikir dzikir pagi dzikir petang keutamaan dzikir


Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan, namun menyimpan keutamaan yang sangat besar. Ia adalah makanan hati, penyejuk jiwa, dan penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya. Para ulama menjelaskan bahwa dalam dzikir terkandung ratusan manfaat yang mampu mengangkat derajat seorang muslim. Karena itu, siapa saja yang ingin hatinya hidup dan dekat dengan Allah ﷻ, hendaknya senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir.  Daftar Isi tutup 1. Lebih dari Seratus Faedah Dzikir 2. Dzikir itu Menenangkan Hati 3. Hadirkan Hati Ketika Berdzikir 4. Makna Dzikir 4.1. a) Makna umum 4.2. b) Makna khusus 5. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan Muqayyad Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:وَفِي الذِّكْرِ أَكْثَرُ مِنْ مِائَةِ فَائِدَةٍLebih dari Seratus Faedah DzikirDi antara faedah dzikir yang sangat banyak itu adalah: (إِحْدَاهَا) أَنَّهُ يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ وَيَقْمَعُهُ وَيَكْسِرُهُ.Pertama, dzikir dapat mengusir setan, melemahkan, dan menghancurkan kekuatannya.  [الثَّانِيَةُ]أَنَّهُ يُرْضِي الرَّحْمٰنَ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua, dzikir mendatangkan keridaan Allah ﷻ. [الثَّالِثَةُ]أَنَّهُ يُزِيلُ الهَمَّ وَالغَمَّ عَنِ القَلْبِ.Ketiga, dzikir mampu menghilangkan kekhawatiran pada masa akan datang (hamm) dan kesedihan saat ini (ghamm) dari hati. [الرَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ لِلْقَلْبِ الفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالبَسْطَ.Keempat, dzikir membawa kegembiraan, kebahagiaan, dan kelapangan bagi hati. [الخَامِسَةُ]أَنَّهُ يُقَوِّي القَلْبَ وَالبَدَنَ.Kelima, dzikir menguatkan hati dan tubuh. [السَّادِسَةُ] يُنَوِّرُ الوَجْهَ وَالقَلْبَ.Keenam, dzikir menjadikan wajah dan hati bercahaya. [السَّابِعَةُ]أَنَّهُ يَجْلِبُ الرِّزْقَ.Ketujuh, dzikir mendatangkan rezeki. [الثَّامِنَةُ]أَنَّهُ يَكْسُو الذَّاكِرَ المَهَابَةَ وَالحَلَاوَةَ وَالنُضْرَةَ.Kedelapan, dzikir membuat orang yang melakukannya memiliki wibawa, pesona, dan keteduhan. [التَّاسِعَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المَحَبَّةَ الَّتِي هِيَ رُوحُ الإِسْلَامِ، وَقُطْبُ رَحَى الدِّينِ، وَمدَارُ السَّعَادَةِ.قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا، وَجَعَلَ سَبَبَ المَحَبَّةِ دَوَامَ الذِّكْرِ.فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَالَ مَحَبَّةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَلْهَجْ بِذِكْرِهِ، فَإِنَّهُ الدَّرْسُ وَالمُذَاكَرَةُ كَمَا أَنَّهُ بَابُ العِلْمِ، فَالذِّكْرُ بَابُ المَحَبَّةِ وَشَارِعُهَا الأَعْظَمُ وَصِرَاطُهَا الأَقْوَمُ.Kesembilan, dzikir menumbuhkan rasa cinta, yang merupakan ruh Islam, poros agama, dan inti kebahagiaan. Allah menjadikan segala sesuatu memiliki sebab, dan sebab tumbuhnya cinta kepada-Nya adalah dengan terus berdzikir.Siapa saja yang ingin meraih cinta Allah ﷻ, hendaklah ia senantiasa basah lisannya dengan dzikir. Sebagaimana pengulangan pelajaran adalah kunci ilmu, maka dzikir adalah kunci cinta, jalan besarnya, dan jalan lurus menuju-Nya.Baca juga: Tanda Allah Mencintai Seseorang: Dicintai Penduduk Langit dan Diterima di Bumi [العَاشِرَةُ]أَنَّهُ يُورِثُهُ المُرَاقَبَةَ حَتَّى يُدْخِلَهُ فِي بَابِ الإِحْسَانِ، فَيَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّهُ يَرَاهُ، وَلا سَبِيلَ لِلْغَافِلِ عَنِ الذِّكْرِ إِلَى مَقَامِ الإِحْسَانِ، كَمَا لا سَبِيلَ لِلْقَاعِدِ إِلَى الوُصُولِ إِلَى البَيْتِ.Kesepuluh, dzikir melahirkan sikap muraqabah (merasa diawasi Allah) hingga mengantarkan seseorang ke pintu ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Orang yang lalai dari dzikir tidak akan mungkin sampai pada derajat ihsan, sebagaimana orang yang hanya duduk tidak akan pernah sampai ke rumah tujuan.Baca juga: Penjelasan Ringkas tentang Ihsan [الحَادِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الإِنَابَةَ، وَهِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَمَتَى أَكْثَرَ الرُّجُوعَ إِلَيْهِ بِذِكْرِهِ أَوْرَثَهُ ذٰلِكَ رُجُوعَهُ بِقَلْبِهِ إِلَيْهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ، فَيَبْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَفْزَعَهُ وَمَلْجَأَهُ، وَمَلَاذَهُ وَمَعَاذَهُ، وَقِبْلَةَ قَلْبِهِ وَمَهْرَبَهُ عِنْدَ النَّوَازِلِ وَالبَلَايَا.Kesebelas, dzikir menumbuhkan sikap inābah, yaitu kembali kepada Allah ﷻ. Semakin banyak seseorang kembali kepada-Nya melalui dzikir, semakin membuatnya terbiasa menjadikan Allah sebagai tempat kembali hatinya dalam setiap keadaan. Allah menjadi pelindung, sandaran, tujuan, dan tempat ia mengadu di saat datangnya musibah dan ujian. [الثَّانِيَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ القُرْبَ مِنْهُ، فَعَلَى قَدْرِ ذِكْرِهِ للهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ قُرْبُهُ مِنْهُ، وَعَلَى قَدْرِ غَفْلَتِهِ يَكُونُ بُعْدُهُ مِنْهُ.Kedua belas, dzikir mendekatkan hamba kepada Allah ﷻ. Sejauh mana ia berdzikir, sejauh itu pula kedekatannya. Sebaliknya, sejauh mana ia lalai (ghaflah), sejauh itu pula jaraknya dari Allah. [الثَّالِثَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ المَعْرِفَةِ، وَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنَ الذِّكْرِ ازْدَادَ مِنَ المَعْرِفَةِ.Ketiga belas, dzikir membuka pintu besar menuju ma‘rifah (pengenalan yang mendalam terhadap Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah pula ma‘rifah. [الرَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ الهَيْبَةَ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِجْلَالَهُ، لِشِدَّةِ اسْتِيلَائِهِ عَلَى قَلْبِهِ وَحُضُورِهِ مَعَ اللهِ تَعَالَى. بِخِلافِ الغَافِلِ فَإِنَّ حِجَابَ الهَيْبَةِ رَقِيقٌ فِي قَلْبِهِ.Keempat belas, dzikir menumbuhkan rasa haibah (kewibawaan batin) dan pengagungan terhadap Allah ﷻ, karena dzikir memenuhi hati dengan kehadiran-Nya. Sebaliknya, orang yang lalai tidak memiliki haibah dalam hatinya, bahkan tirai pengagungan terhadap Allah sangat tipis. [الخَامِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُهُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى لَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ﴾ [البقرة: ١٥٢]Kelima belas, dzikir mendatangkan balasan berupa Allah mengingat hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman:فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الذِّكْرِ إِلَّا هٰذِهِ وَحْدَهَا لَكَفَتْ فَضْلًا وَشَرَفًا.وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ».Seandainya tidak ada keutamaan dzikir kecuali ini saja, tentu sudah cukup sebagai kemuliaan dan keutamaan yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi dari Allah Ta‘ala:«مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»“Siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan siapa yang mengingat-Ku di tengah sebuah kelompok, maka Aku akan mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Bukhārī dan Muslim) [السَّادِسَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ حَيَاةَ القَلْبِ. وَسَمِعْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ تَعَالَى رُوحَهُ يَقُولُ:Keenam belas, dzikir menghidupkan hati. Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruhnya – berkata:«الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ المَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ المَاءَ؟».“Dzikir bagi hati itu laksana air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari airnya?” [السَّابِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ قُوتُ القَلْبِ وَالرُّوحِ، فَإِذَا فَقَدَهُ العَبْدُ صَارَ بِمَنْزِلَةِ الجِسْمِ إِذَا حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قُوتِهِ.Ketujuh belas, dzikir adalah makanan hati dan ruh. Jika hamba kehilangan dzikir, maka ia bagaikan tubuh yang kehilangan makanannya.وَحَضَرْتُ شَيْخَ الإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ مَرَّةً، صَلَّى الفَجْرَ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى قَرِيبٍ مِنِ انْتِصَافِ النَّهَارِ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ وَقَالَ:«هٰذِهِ غَدْوَتِي، وَلَوْ لَمْ أَتَغَدَّ الغَدَاءَ سَقَطَتْ قُوَّتِي».أَوْ كَلَامًا قَرِيبًا مِنْ هٰذَا.Aku pernah hadir bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Suatu hari setelah salat Subuh, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga mendekati pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: “Inilah sarapan pagiku. Seandainya aku tidak sarapan seperti ini, pasti tenagaku melemah.”وَقَالَ لِي مَرَّةً:«لَا أَتْرُكُ الذِّكْرَ إِلَّا بِنِيَّةِ إِجْمَامِ نَفْسِي وَإِرَاحَتِهَا، لِأَسْتَعِدَّ بِتِلْكَ الرَّاحَةِ لِذِكْرٍ آخَرَ».أَوْ كَلَامًا هٰذَا مَعْنَاهُ.Beliau juga pernah berkata kepadaku: “Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat memberi jeda dan istirahat pada diriku, agar dengan istirahat itu aku bisa lebih kuat untuk berdzikir kembali.” Atau ungkapan dengan makna yang serupa. [الثَّامِنَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يُورِثُ جَلَاءَ القَلْبِ مِنْ صَدَائِهِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي الحَدِيثِ، وَكُلُّ شَيْءٍ لَهُ صَدَأٌ، وَصَدَأُ القَلْبِ الغَفْلَةُ وَالهَوَى، وَجَلَاؤُهُ الذِّكْرُ وَالتَّوْبَةُ وَالاسْتِغْفَارُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا المَعْنَى.Kedelapan belas, dzikir menjadikan hati bersih dari karatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Setiap sesuatu pasti ada karatnya, dan karat hati adalah kelalaian (ghaflah) serta hawa nafsu. Pembersihnya adalah dzikir, taubat, dan istighfar. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya. [التَّاسِعَةُ عَشْرَةَ]أَنَّهُ يَحُطُّ الخَطَايَا وَيُذْهِبُهَا، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الحَسَنَاتِ، وَالحَسَنَاتُ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.Kesembilan belas, dzikir menggugurkan dosa-dosa dan menghapusnya. Sebab, dzikir termasuk amalan paling agung, sementara Allah ﷻ berfirman:إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS. Hūd [11]: 114) [العِشْرُونَ]أَنَّهُ يُزِيلُ الوَحْشَةَ بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَإِنَّ الغَافِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْشَةٌ لَا تَزُولُ إِلَّا بِالذِّكْرِ.Kedua puluh, dzikir menghilangkan rasa asing dan jauh antara hamba dengan Rabb-nya ﷻ. Orang yang lalai (ghaflah) dari dzikir, antara dirinya dengan Allah terdapat jurang keterasingan yang tidak akan hilang kecuali dengan dzikir.Catatan: Apa itu al-wahsyah?Dalam Kamus Al-Ma’ani disebutkan bahwa wahsyah itu berarti tanah tandus yang sunyi dan menakutkan.Maknanya juga: terputusnya hubungan dan jauhnya hati dari kasih sayang. Ia juga bisa bermakna rasa takut ketika sendirian.Orang arab menyebut aw-hasyal manzil, maksudnya rumah itu menjadi sepi dan ditinggalkan manusia.Maka jika engkau ingin mendoakan seseorang yang engkau cintai, baik saat ia jauh maupun dekat, ucapkanlah:لَا أَوْحَشَ اللّٰهُ لَكَ قَلْبًا وَلَا رُوحًا وَلَا جَسَدًاSemoga Allah tidak menjadikan hatimu, jiwamu, dan tubuhmu merasa sunyi dan sepi. [الحَادِيَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّ مَا يَذْكُرُ بِهِ العَبْدُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَلَالِهِ وَتَسْبِيحِهِ وَتَحْمِيدِهِ يُذْكَرُ بِصَاحِبِهِ عِنْدَ الشِّدَّةِ.فَقَدْ رَوَى الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي المُسْنَدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ العَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ. أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟»هٰذَا الحَدِيثُ أَوْ مَعْنَاهُ.Kedua puluh satu, segala tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang diucapkan hamba dalam menyebut nama Allah ﷻ akan menjadi penyelamatnya di saat sulit.Imam Aḥmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:إِنَّ مَا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ، يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، يُذْكَرْنَ بِصَاحِبِهِنَّ، أَفَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَا يُذْكَرُ بِهِ؟“Sesungguhnya apa yang kalian sebut dari keagungan Allah ﷻ, berupa tahlil, takbir, dan tahmid, semuanya akan berputar di sekitar ‘Arsy, suaranya berdengung seperti dengungan lebah. Ia akan disebut-sebut bersama pelakunya. Maka tidakkah salah seorang dari kalian suka jika ia memiliki amal yang bisa membuatnya disebut-sebut (di sisi Allah)?” (HR. Aḥmad, atau semakna dengannya). [الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِذِكْرِهِ فِي الرَّخَاءِ عَرَفَهُ فِي الشِّدَّةِ، وَقَدْ جَاءَ أَثَرٌ مَعْنَاهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْمُطِيعَ الذَّاكِرَ لِلَّهِ تَعَالَى إِذَا أَصَابَتْهُ شِدَّةٌ أَوْ سَأَلَ اللهَ تَعَالَى حَاجَةً قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ صَوْتٌ مَعْرُوفٌ، مِنْ عَبْدٍ مَعْرُوفٍ، وَالْغَافِلُ الْمُعْرِضُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا دَعَاهُ وَسَأَلَهُ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، صَوْتٌ مُنْكَرٌ، مِنْ عَبْدٍ مُنْكَرٍ.Kedua puluh dua, seorang hamba yang membiasakan diri mengenal Allah Ta‘ālā dengan banyak berdzikir di waktu lapang, maka Allah akan mengenalnya di waktu sempit. Ada sebuah atsar yang menjelaskan bahwa seorang hamba yang taat dan banyak berdzikir, ketika ia tertimpa kesulitan atau memohon kepada Allah, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang dikenal, dari hamba yang dikenal.” Sebaliknya, orang yang lalai dan berpaling dari Allah, jika suatu saat ia berdoa dan memohon, para malaikat berkata, “Ya Rabb, ini suara yang asing, dari hamba yang asing.” [الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُنَجِّي مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى، كَمَا قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَيُرْوَى مَرْفُوعًا:«مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى».Kedua puluh tiga, dzikir dapat menyelamatkan dari azab Allah Ta‘ālā. Sebagaimana perkataan Mu‘ādz radhiyallāhu ‘anhu—dan diriwayatkan pula secara marfū‘—:مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى“Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dari azab Allah ‘Azza wa Jalla melebihi dzikir kepada Allah Ta‘ālā.” [الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ تَنْزِيلِ السَّكِينَةِ، وَغَشْيَانِ الرَّحْمَةِ، وَحُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ بِالذَّاكِرِ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Kedua puluh empat, dzikir menjadi sebab turunnya sakīnah (ketenangan jiwa), turunnya rahmat, serta dikelilinginya para ahli dzikir oleh malaikat, sebagaimana diberitakan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.[الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّهُ سَبَبُ اشْتِغَالِ اللِّسَانِ عَنِ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْبَاطِلِ.فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ.فَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ تَكَلَّمَ بِهَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ أَوْ بَعْضِهَا، وَلَا سَبِيلَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنْهَا الْبَتَّةَ إِلَّا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى.وَالْمُشَاهَدَةُ وَالتَّجْرِبَةُ شَاهِدَانِ بِذَلِكَ، فَمَنْ عَوَّدَ لِسَانَهُ ذِكْرَ اللهِ صَانَ لِسَانَهُ عَنِ الْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ، وَمَنْ يَبِسَ لِسَانُهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى تَرَطَّبَ بِكُلِّ بَاطِلٍ وَلَغْوٍ وَفُحْشٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.Kedua puluh lima, dzikir menjadi sebab terjaganya lisan dari ghibah, namimah, dusta, kata-kata keji, dan ucapan batil.Sebab, manusia pasti berbicara. Jika ia tidak mengisi lisannya dengan dzikir kepada Allah dan menyebut perintah-perintah-Nya, maka lisannya akan terisi dengan kata-kata haram atau sebagian darinya. Tidak ada jalan selamat dari semua itu kecuali dengan dzikir kepada Allah.Pengalaman nyata menjadi saksi: siapa yang membiasakan lisannya dengan dzikir, Allah akan memelihara lisannya dari ucapan batil dan sia-sia. Sebaliknya, siapa yang lisannya kering dari dzikir, maka lisannya akan basah dengan ucapan batil, sia-sia, dan kotor. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. [السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ]أَنَّ مَجَالِسَ الذِّكْرِ مَجَالِسُ الْمَلَائِكَةِ، وَمَجَالِسَ اللَّغْوِ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسُ الشَّيَاطِينِ.فَلْيَتَخَيَّرِ الْعَبْدُ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْهِ وَأَوْلَاهُمَا بِهِ، فَهُوَ مَعَ أَهْلِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.Kedua puluh enam, majelis dzikir adalah majelis para malaikat. Sedangkan majelis sia-sia dan lalai adalah majelis para setan. Maka hendaknya seorang hamba memilih: majelis manakah yang lebih ia sukai dan lebih layak baginya. Karena di dunia ia akan bersama mereka, dan di akhirat pun ia akan dikumpulkan bersama mereka. [السَّابِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُسْعِدُ الذَّاكِرَ بِذِكْرِهِ وَيُسْعِدُ بِهِ جَلِيسَهُ، وَهٰذَا هُوَ المُبَارَكُ أَيْنَ مَا كَانَ.وَالغَافِلُ وَاللَّاغِي يَشْقَى بِلَغْوِهِ وَغَفْلَتِهِ، وَيَشْقَى بِهِ مُجَالِسُهُ.Kedua puluh tujuh, dzikir membahagiakan orang yang berdzikir dengan lisannya, dan kebahagiaan itu juga menular kepada orang yang duduk bersamanya. Inilah hakikat keberkahan; di mana pun ia berada, selalu membawa kebaikan. Sebaliknya, orang yang lalai dan suka berbicara sia-sia akan menjerumuskan dirinya dalam kesengsaraan karena kelalaiannya, dan orang yang duduk bersamanya pun ikut celaka karenanya. [الثَّامِنَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ يُؤمِّنُ العَبْدَ مِنَ الحَسْرَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ.فَإِنَّ كُلَّ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُ العَبْدُ فِيهِ رَبَّهُ تَعَالَى كَانَ عَلَيْهِ حَسْرَةً وَتْرَةً يَوْمَ القِيَامَةِ.Kedua puluh delapan, dzikir menyelamatkan seorang hamba dari penyesalan di Hari Kiamat. Sebab, setiap majelis yang kosong dari dzikir akan menjadi penyesalan bagi pelakunya di hari akhir. [التَّاسِعَةُ وَالعِشْرُونَ]أَنَّهُ مَعَ البُكَاءِ فِي الخَلْوَةِ سَبَبٌ لِإِظْلَالِ اللهِ تَعَالَى العَبْدَ يَوْمَ الحَرِّ الأَكْبَرِ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ، وَالنَّاسُ فِي حَرِّ الشَّمْسِ قَدْ صَهَرَتْهُم فِي المَوْقِفِ.وَهٰذَا الذَّاكِرُ مُسْتَظِلٌّ بِظِلِّ عَرْشِ الرَّحْمٰنِ عَزَّ وَجَلَّ.Kedua puluh sembilan, dzikir yang disertai tangisan dalam kesendirian menjadi sebab Allah menaungi seorang hamba di bawah naungan ‘Arsy pada hari panas yang dahsyat. Saat manusia lainnya tersengat terik matahari yang membakar, orang yang berdzikir itu berada dalam naungan penuh rahmat. [الثَّلَاثُونَ]أَنَّ الاشْتِغَالَ بِهِ سَبَبٌ لِعَطَاءِ اللهِ لِلذَّاكِرِ أَفْضَلَ مَا يُعْطِي السَّائِلِينَ، فَفِي الحَدِيثِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ».Ketiga puluh, orang yang sibuk dengan dzikir akan diberi oleh Allah karunia terbaik, lebih daripada apa yang Dia berikan kepada para peminta. Rasulullah ﷺ bersabda, meriwayatkan dari Rabb-nya: “Allah Ta‘ala berfirman: Barang siapa yang disibukkan dengan mengingat-Ku hingga lupa meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya yang terbaik, lebih baik daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” [الحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ أَيْسَرُ العِبَادَاتِ، وَهُوَ مِنْ أَجَلِّهَا وَأَفْضَلِهَا، فَإِنَّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ أَخَفُّ حَرَكَاتِ الجَوَارِحِ وَأَيْسَرُهَا، وَلَوْ تَحَرَّكَ عُضْوٌ مِنَ الإِنسَانِ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ بِقَدْرِ حَرَكَةِ لِسَانِهِ لَشَقَّ عَلَيْهِ غَايَةَ المَشَقَّةِ، بَلْ لَا يُمْكِنُهُ ذٰلِكَ.Ketiga puluh satu, dzikir adalah ibadah yang paling mudah, tetapi termasuk yang paling agung dan utama. Gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan. Seandainya ada satu anggota tubuh manusia yang bergerak sebanyak gerakan lisannya dalam sehari semalam, tentu ia akan merasa sangat berat, bahkan tidak mungkin sanggup melakukannya. [الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّهُ غِرَاسُ الجَنَّةِ. فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَقِيتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِبْرَاهِيمَ الخَلِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ.وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ».قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.Ketiga puluh dua, dzikir adalah tanaman surga. Dalam riwayat Tirmiżī, dari Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada malam Isra’, aku bertemu dengan Ibrāhīm al-Khalīl ‘alaihis-salām. Ia berkata: Wahai Muhammad, sampaikan salam kepada umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan ia masih berupa tanah lapang. Tanaman surga adalah bacaan: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.” (HR. Tirmidzi, hasan gharib)Juga dalam riwayat at-Tirmiżī dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: Subḥānallāhi wa biḥamdih, maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). [الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ العَطَاءَ وَالفَضْلَ الَّذِي رُتِّبَ عَلَيْهِ لَمْ يُرَتَّبْ عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الأَعْمَالِ.Ketiga puluh tiga, keutamaan dan pahala yang Allah tetapkan bagi dzikir tidak diberikan kepada amal lainnya.فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذٰلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.وَمَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ».Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh budak. Dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan, dan itu menjadi benteng dari setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada yang membawa amal lebih baik darinya kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak. Dan siapa yang mengucapkan: subḥānallāhi wa biḥamdih seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَأَنْ أَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ».Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat: subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar lebih aku cintai daripada seluruh yang disinari matahari.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ يُمْسِي: اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، أَعْتَقَ اللهُ رُبُعَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللهُ نِصْفَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ النَّارِ».Dalam riwayat at-Tirmiżī dari Anas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika pagi atau sore membaca doa: Allāhumma innī aṣbaḥtu usy’hiduka wa usy’hidu ḥamalata ‘arsyika wa malāikataka wa jamī‘a khalqika, annaka anta Allāh, lā ilāha illā anta, wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluka, maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari api neraka. Jika membacanya dua kali, Allah membebaskan separuh dirinya dari neraka. Jika membacanya tiga kali, Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka. Jika membacanya empat kali, Allah membebaskannya seluruhnya dari api neraka.”وَفِيهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي وَإِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ».Dalam riwayat Tirmiżī dari Tsaubān, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika sore atau pagi membaca doa: raḍītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi-Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama rasūlā, maka Allah benar-benar menjadikan keridaan baginya.”وَفِي التِّرْمِذِيِّ:«مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ».Dan dalam riwayat Tirmiżī pula: “Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahu al-mulku walahu al-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa ḥayyullā yamūtu, biyadihi al-khayru wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr, maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta dosa, dan mengangkatnya seribu ribu derajat.” [الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ]أَنَّ دَوَامَ ذِكْرِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُوجِبُ الأَمَانَ مِنْ نِسْيَانِهِ الَّذِي هُوَ سَبَبُ شَقَاءِ العَبْدِ فِي مَعَاشِهِ وَمَعَادِهِ، فَإِنَّ نِسْيَانَ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُوجِبُ نِسْيَانَ نَفْسِهِ وَمَصَالِحِهَا.قَالَ تَعَالَى:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: ١٩].Ketiga puluh empat, dzikir yang terus-menerus menjadikan seorang hamba aman dari kelalaian kepada Allah. Padahal, melupakan Allah adalah sebab utama kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat.Allah ﷻ berfirman:وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ، أُولٰئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. al-Ḥashr [59]: 19)وَإِذَا نَسِيَ العَبْدُ نَفْسَهُ أَعْرَضَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْهَا فَهَلَكَتْ وَفَسَدَتْ وَلَا بُدَّ، كَمَنْ لَهُ زَرْعٌ أَوْ بُسْتَانٌ أَوْ مَاشِيَةٌ أَوْ غَيْرُ ذٰلِكَ مِمَّا صَلَاحُهُ وَفَلَاحُهُ بِتَعَاهُدِهِ وَالقِيَامِ عَلَيْهِ، فَأَهْمَلَهُ وَنَسِيَهُ وَاشْتَغَلَ عَنْهُ بِغَيْرِهِ وَضَيَّعَ مَصَالِحَهُ، فَإِنَّهُ يُفْسِدُ وَلَا بُدَّ.Apabila seorang hamba melupakan dirinya sendiri, ia akan berpaling dari hal-hal yang menjadi maslahat dan kebaikannya. Ia sibuk dengan perkara lain, meninggalkan apa yang seharusnya ia jaga, hingga dirinya rusak dan binasa.Keadaannya bagaikan orang yang memiliki ladang, kebun, atau ternak, yang keberlangsungan hidupnya bergantung pada perawatan dan pemeliharaan. Namun, jika ia mengabaikan dan melupakannya, sibuk dengan urusan lain, serta meninggalkan kewajiban menjaganya, niscaya semuanya akan rusak dan hancur tanpa bisa dihindari.هٰذَا مَعَ إِمْكَانِ قِيَامِ غَيْرِهِ مَقَامَهُ فِيهِ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِفَسَادِ نَفْسِهِ وَهَلَاكِهَا وَشَقَائِهَا إِذَا أَهْمَلَهَا وَنَسِيَهَا وَاشْتَغَلَ عَنْ مَصَالِحِهَا وَعَطَّلَ مُرَاعَاتَهَا وَتَرَكَ القِيَامَ عَلَيْهَا بِمَا يُصْلِحُهَا؟ فَمَا شِئْتَ مِنْ فَسَادٍ وَهَلَاكٍ وَخَيْبَةٍ وَحِرْمَانٍ. وَهٰذَا هُوَ الَّذِي صَارَ أَمْرُهُ كُلُّهُ فَرَطًا، فَانْفَرَطَ عَلَيْهِ أَمْرُهُ وَضَاعَتْ مَصَالِحُهُ، وَأَحَاطَتْ بِهِ أَسْبَابُ القُطُوعِ وَالخَيْبَةِ وَالهَلَاكِ.Padahal, untuk urusan kebun, ladang, atau ternak, masih mungkin orang lain menggantikannya merawat dan memperbaikinya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Jika ia mengabaikan jiwanya, melupakannya, sibuk dengan urusan lain, meninggalkan pemeliharaan hati, dan tidak menegakkan hal-hal yang bisa memperbaikinya, maka kehancuran, kesengsaraan, dan kerugian pasti menimpanya.Inilah orang yang seluruh urusannya berantakan. Hidupnya tercerai-berai, maslahatnya hilang, dan berbagai sebab kehancuran, kebinasaan, serta kegagalan mengelilinginya dari segala sisi.وَلَا سَبِيلَ إِلَى الأَمَانِ مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَاللَّهْجِ بِهِ، وَأَنْ لَا يَزَالَ اللِّسَانُ رَطْبًا بِهِ، وَأَنْ يَتَوَلَّى مَنْزِلَةَ حَيَاتِهِ الَّتِي لَا غِنَى لَهُ عَنْهَا، وَمَنْزِلَةَ غِذَائِهِ الَّذِي إِذَا فَقَدَهُ فَسَدَ جِسْمُهُ وَهَلَكَ، وَبِمَنْزِلَةِ المَاءِ عِنْدَ شِدَّةِ العَطَشِ، وَبِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ فِي الحَرِّ وَالبَرْدِ، وَبِمَنْزِلَةِ الكِنِّ فِي شِدَّةِ الشِّتَاءِ وَالسَّمُومِ.Tidak ada jalan keselamatan dari kerusakan itu kecuali dengan terus-menerus berdzikir kepada Allah dan membasahi lisan dengan menyebut nama-Nya. Dzikir harus ditempatkan pada posisi yang sangat penting—seperti kehidupan yang tak mungkin ditinggalkan, seperti makanan yang jika hilang membuat tubuh rusak dan binasa, seperti air bagi orang yang sangat haus, seperti pakaian di tengah panas dan dingin, serta seperti tempat berlindung saat musim dingin yang menusuk atau angin panas yang menyengat.فَحَقِيقٌ بِالعَبْدِ أَنْ يُنَزِّلَ ذِكْرَ اللهِ مِنْهُ بِهَذِهِ المَنْزِلَةِ وَأَعْظَمَ. فَأَيْنَ هَلَاكُ الرُّوحِ وَالقَلْبِ وَفَسَادُهُمَا مِنْ هَلَاكِ البَدَنِ وَفَسَادِهِ؟ هٰذَا هَلَاكٌ لَا بُدَّ مِنْهُ وَقَدْ يَعْقُبُهُ صَلَاحٌ لَا بُدَّ. وَأَمَّا هَلَاكُ القَلْبِ وَالرُّوحِ فَهَلَاكٌ لَا يُرْجَى مَعَهُ صَلَاحٌ وَلَا فَلَاحٌ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ.فِي فَوَائِدِ الذِّكْرِ وَإِدَامَتِهِ: لَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا هٰذِهِ الفَائِدَةُ وَحْدَهَا لَكَفَتْ. فَمَنْ نَسِيَ اللهَ تَعَالَى أَنْسَاهُ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَنَسِيَهُ فِي العَذَابِ يَوْمَ القِيَامَةِ.قَالَ تَعَالَى:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى * قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا * قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾ [طه: ١٢٤-١٢٦].أَيْ: تُنْسَى فِي العَذَابِ كَمَا نَسِيتَ آيَاتِي فَلَمْ تَذْكُرْهَا وَلَمْ تَعْمَلْ بِهَا.Maka sudah sepantasnya seorang hamba menempatkan dzikir pada posisi yang sangat penting, bahkan lebih tinggi lagi. Sebab, kerusakan hati dan ruh jauh lebih berbahaya dibanding kerusakan tubuh. Rusaknya tubuh adalah sesuatu yang pasti, namun sering kali setelah itu datang perbaikan. Adapun rusaknya hati dan ruh, itu adalah kerusakan yang tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki dan tidak membawa keberuntungan sedikit pun. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.Dalam faedah dzikir yang terus-menerus, seandainya hanya ada satu manfaat ini saja, sebenarnya sudah cukup: barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri di dunia, dan pada Hari Kiamat Allah pun akan melupakannya di dalam azab.Allah ﷻ berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَعْمَى ۝ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا ۝ قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu dapat melihat? Allah berfirman: Demikianlah, ayat-ayat Kami telah datang kepadamu, lalu kamu melupakannya; maka pada hari ini kamu pun dilupakan (diabaikan dalam azab).” (QS. Ṭāhā [20]: 124–126). Yakni, seseorang akan ditinggalkan di dalam azab, sebagaimana dahulu ia melupakan ayat-ayat Allah, tidak mengingatnya, dan tidak mengamalkannya.وَإِعْرَاضُهُ عَنْ ذِكْرِهِ يَتَنَاوَلُ إِعْرَاضَهُ عَنِ الذِّكْرِ الَّذِي أَنْزَلَهُ، وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ الَّذِي أَنْزَلَهُ فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ المُرَادُ بِتَنَاوُلِ إِعْرَاضِهِ عَنْ أَنْ يَذْكُرَ رَبَّهُ بِكِتَابِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَوَامِرِهِ وَآلَائِهِ وَنِعَمِهِ. فَإِنَّ هٰذِهِ كُلَّهَا تَوَابِعُ إِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِ رَبِّهِ تَعَالَى.فَإِنَّ الذِّكْرَ فِي الآيَةِ إِمَّا مَصْدَرٌ مُضَافٌ إِلَى الفَاعِلِ، أَوْ مُضَافٌ إِضَافَةَ الأَسْمَاءِ المَحْضَةِ. أَعْرَضَ عَنْ كِتَابِي وَلَمْ يَتْلُهُ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ وَلَا فَهِمَهُ، فَإِنَّ حَيَاتَهُ وَمَعِيشَتَهُ لَا تَكُونُ إِلَّا مُضَيَّقَةً عَلَيْهِ مُنَكَّدَةً مُعَذَّبًا فِيهَا.Berpaling dari dzikir mencakup juga berpaling dari dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Qur’an. Maksudnya, ia berpaling dari mengingat Allah dengan Kitab-Nya, dengan nama-nama dan sifat-Nya, dengan perintah-perintah-Nya, serta dengan nikmat dan karunia-Nya. Semua itu pada hakikatnya kembali kepada sikap berpaling dari Kitab Allah ﷻ.Kata dzikir dalam ayat bisa dipahami sebagai mashdar yang disandarkan kepada pelakunya, atau sebagai isim yang bermakna Kitab (Al-Qur’an). Artinya, ia berpaling dari Kitab-Ku: tidak membacanya, tidak mentadabburinya, tidak mengamalkannya, dan tidak berusaha memahaminya. Maka kehidupannya pun tidak akan pernah lapang; justru sempit, penuh kesulitan, dan sengsara.وَالدُّنْكُ: الضِّيقُ وَالشِّدَّةُ وَالبَلَاءُ.وَوَصْفُ المَعِيشَةِ نَفْسِهَا بِالدُّنْكِ مُبَالَغَةٌ. وَفُسِّرَتْ هٰذِهِ المَعِيشَةُ بِعَذَابِ البَرْزَخِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تَتَنَاوَلُ مَعِيشَتَهُ فِي الدُّنْيَا وَحَالَهُ فِي البَرْزَخِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي دُنْكٍ فِي الدَّارَيْنِ، وَهُوَ شِدَّةٌ وَجَهْدٌ وَضِيقٌ.وَفِي الآخِرَةِ تُنْسَى فِي العَذَابِ.Kata “dhanka” dalam ayat berarti kesempitan, kesulitan, dan ujian yang berat. Allah bahkan menyifati kehidupan itu sendiri sebagai ḍank, sebuah bentuk penekanan yang kuat. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai azab kubur, namun pendapat yang benar: ia mencakup kehidupan di dunia sekaligus di alam barzakh. Hidupnya akan sempit di dua alam tersebut—penuh dengan kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Sedangkan di akhirat, ia akan dibiarkan (dilupakan) di dalam azab.وَهٰذَا عَكْسُ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالفَلَاحِ، فَإِنَّ حَيَاتَهُمْ فِي الدُّنْيَا أَطْيَبُ الحَيَاةِ، وَلَهُمْ فِي البَرْزَخِ وَفِي الآخِرَةِ أَفْضَلُ الثَّوَابِ.قَالَ تَعَالَى:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾ فَهٰذَا فِي الدُّنْيَا.ثُمَّ قَالَ: ﴿وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ فَهٰذَا فِي البَرْزَخِ وَالآخِرَةِ.Keadaan ini berbanding terbalik dengan nasib orang-orang yang berbahagia. Hidup mereka di dunia adalah kehidupan yang paling baik, kemudian di alam barzakh dan akhirat kelak mereka mendapatkan pahala terbaik. Allah ﷻ berfirman:مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini berbicara tentang kehidupan di dunia. Kemudian Allah berfirman:وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Naḥl [16]: 97)Ayat ini mencakup pahala di alam barzakh dan di akhirat.وَقَالَ تَعَالَى:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ تَعَالَى:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}فَهَذَا فِي الْآخِرَةِ.وَقَالَ تَعَالَى:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَوَاضِعَ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا أَنَّهُ يُجْزِي الْمُحْسِنَ بِإِحْسَانِهِ جَزَاءَيْنِ: جَزَاءً فِي الدُّنْيَا، وَجَزَاءً فِي الْآخِرَةِ.فَالْإِحْسَانُ لَهُ جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ، وَالْإِسَاءَةُ لَهَا جَزَاءٌ مُعَجَّلٌ وَلَا بُدَّ.وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَا يُجَازِي بِهِ الْمُحْسِنَ مِنِ انْشِرَاحِ صَدْرِهِ وَانْفِسَاحِ قَلْبِهِ وَسُرُورِهِ وَلَذَّتِهِ بِمُعَامَلَةِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَطَاعَتِهِ وَذِكْرِهِ وَنَعِيمِ رُوحِهِ بِمَحَبَّتِهِ وَذِكْرِهِ وَفَرَحِهِ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْظَمُ مِمَّا يَفْرَحُ الْقَرِيبُ مِنَ السُّلْطَانِ الْكَرِيمِ عَلَيْهِ بِسُلْطَانِهِ.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ وَتَشَتُّتِهِ وَظُلْمَتِهِ وَحَزَازَاتِهِ وَغَمِّهِ وَهَمِّهِ وَحُزْنِهِ وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ.Allah Ta‘ālā berfirman:{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami tempatkan mereka di dunia ini pada tempat yang baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 41)Dan Allah Ta‘ālā juga berfirman:{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}“Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada setiap orang yang memiliki keutamaan, keutamaannya (balasan yang layak baginya).” (QS. Hūd [11]: 3)Kemudian Allah berfirman lagi:{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ}“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (akan mendapat) kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)Dalam empat ayat ini, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjelaskan bahwa setiap kebaikan (iḥsān) akan dibalas dua kali:1. Balasan di dunia, berupa kemuliaan, kelapangan hidup, dan ketenangan jiwa.2. Balasan di akhirat, berupa pahala yang jauh lebih besar dan kekal.Maka, kebaikan pasti memiliki ganjaran yang segera, sebagaimana keburukan pun pasti menimbulkan akibat buruk yang cepat pula.Kalaupun tidak tampak secara lahiriah, balasan bagi orang yang berbuat baik sudah hadir dalam kelapangan dadanya, ketenangan hatinya, kegembiraan dan kenikmatan ruhnya saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, menaati perintah-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya. Nikmat ruhani semacam ini jauh lebih agung daripada kegembiraan seorang pejabat yang dekat dengan penguasa.Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat akan merasakan penyempitan dada, kekerasan hati, kebingungan, kegelapan batin, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup pasti menyadari hal ini. Sesungguhnya, berbagai kesedihan, kecemasan, dan kegelisahan itu merupakan bentuk hukuman (ʿuqūbah) yang Allah timpakan di dunia sebelum azab di akhirat.وَمَا يُجَازِي بِهِ الْمُسِيءَ مِنْ ضِيقِ الصَّدْرِ، وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ، وَتَشَتُّتِهِ، وَظُلْمَتِهِ، وَحَزَازَاتِهِ، وَغَمِّهِ، وَهَمِّهِ، وَحُزْنِهِ، وَخَوْفِهِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَكَادُ مَنْ لَهُ أَدْنَى حِسٍّ وَحَيَاةٍ يَرْتَابُ فِيهِ، بَلِ الْغُمُومُ وَالْهُمُومُ وَالْأَحْزَانُ وَالضِّيقُ عُقُوبَاتٌ عَاجِلَةٌ، وَنَارٌ دُنْيَوِيَّةٌ، وَجَهَنَّمُ حَاضِرَةٌ.Balasan yang diterima oleh orang yang berbuat dosa adalah penyempitan dada, kekerasan hati, kegelapan jiwa, kebingungan, keresahan, kesedihan, dan ketakutan. Siapa pun yang memiliki hati yang hidup dan nurani yang peka tentu tidak akan meragukan hal ini. Sesungguhnya rasa gelisah, gundah, sedih, dan sempit dada merupakan hukuman yang datang lebih cepat, semacam api neraka duniawi dan Jahannam yang hadir di hati sebelum azab akhirat menimpa.وَالْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ، وَالرِّضَا بِهِ وَعَنْهُ، وَامْتِلَاءُ الْقَلْبِ مِنْ مَحَبَّتِهِ، وَاللَّهْجُ بِذِكْرِهِ، وَالْفَرَحُ وَالسُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ، ثَوَابٌ عَاجِلٌ، وَجَنَّةٌ، وَعَيْشٌ لَا نِسْبَةَ لِعَيْشِ الْمُلُوكِ إِلَيْهِ الْبَتَّةَ.Sebaliknya, menghadap kepada Allah, kembali bertobat kepada-Nya, merasa ridha dengan-Nya dan terhadap takdir-Nya, penuh cinta kepada-Nya, senang berdzikir mengingat-Nya, serta bergembira karena mengenal-Nya, semuanya merupakan balasan langsung di dunia, surga yang hadir di hati, dan kenikmatan hidup yang tiada bandingnya dibanding kehidupan para raja sekalipun.وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ:إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَا يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ.وَقَالَ لِي مَرَّةً:مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، إِنْ رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، إِنْ حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata: Aku pernah mendengar Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – berkata:“Sesungguhnya di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”Beliau juga pernah berkata kepadaku:“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku? Surga dan taman hatiku ada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, surga itu selalu bersamaku, tidak akan meninggalkanku. Jika aku dipenjara, maka itu adalah kesempatan untuk menyendiri bersama Allah. Jika aku dibunuh, maka itu adalah syahid. Jika aku diusir dari negeriku, maka itu adalah perjalanan spiritual (siyāḥah).”وَكَانَ يَقُولُ فِي مَحْبَسِهِ فِي الْقَلْعَةِ:لَوْ بُذِلَ مِلْءُ هَذِهِ الْقَاعَةِ ذَهَبًا مَا عَدَلَ عِنْدِي شُكْرَ هَذِهِ النِّعْمَةِ.أَوْ قَالَ: مَا جَزَيْتُهُمْ عَلَى مَا تَسَبَّبُوا لِي فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ، وَنَحْوَ هَذَا.Ketika beliau berada di dalam penjara benteng (Qal‘ah Dimasyq), beliau sering berkata:“Seandainya memenuhi seluruh ruangan ini dengan emas, itu belum cukup untuk menandingi rasa syukurku atas nikmat ini.”Atau beliau berkata,“Aku belum mampu membalas mereka yang telah menyebabkan kebaikan besar bagiku melalui peristiwa ini.”وَكَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ مَحْبُوسٌ:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.مَا شَاءَ اللَّهُ، وَقَالَ لِي مَرَّةً:الْمَحْبُوسُ مَنْ حَبَسَ قَلْبَهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى، وَالْمَأْسُورُ مَنْ أَسَرَهُ هَوَاهُ.Beliau juga biasa berdoa dalam sujudnya saat di penjara:اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”Lalu beliau berkata kepadaku:“Orang yang benar-benar terpenjara adalah siapa pun yang hatinya terhalang dari Rabb-nya. Dan orang yang sesungguhnya menjadi tawanan adalah yang diperbudak oleh hawa nafsunya.”وَلَمَّا دَخَلَ إِلَى الْقَلْعَةِ، وَصَارَ دَاخِلَ سُورِهَا، نَظَرَ إِلَيْهَا وَقَالَ:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}وَعَلِمَ اللَّهُ، مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَطْيَبَ عَيْشًا مِنْهُ قَطُّ، مَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ ضِيقِ الْعَيْشِ، وَخِلَافِ الرَّفَاهِيَةِ وَالنَّعِيمِ، بَلْ ضِدِّهَا، وَمَعَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْحَبْسِ، وَالتَّهْدِيدِ، وَالْإِرْهَاقِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ مِنْ أَطْيَبِ النَّاسِ عَيْشًا، وَأَشْرَحِهِمْ صَدْرًا، وَأَقْوَاهُمْ قَلْبًا، وَأَسَرِّهِمْ نَفْسًا، تَلُوحُ نَضْرَةُ النَّعِيمِ عَلَى وَجْهِهِ.Ketika Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah memasuki benteng penjara (Qal‘ah Dimasyq) dan berada di dalam temboknya, beliau memandang ke sekeliling lalu membaca firman Allah:{فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌۭۖ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحْمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلْعَذَابُ}“Lalu diletakkanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di bagian dalamnya ada rahmat, sedangkan di bagian luarnya dari arah mereka ada azab.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 13)Aku bersaksi kepada Allah, aku belum pernah melihat seseorang yang kehidupannya lebih bahagia daripada beliau — padahal secara lahir beliau hidup dalam kesempitan, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan berada dalam kondisi berlawanan: terpenjara, diancam, dan disiksa. Namun, beliau termasuk manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling tenang jiwanya. Wajahnya memancarkan nadhrah an-na‘īm (cahaya kenikmatan).وَكُنَّا إِذَا اشْتَدَّ بِنَا الْخَوْفُ، وَسَاءَتْ مِنَّا الظُّنُونُ، وَضَاقَتْ بِنَا الْأَرْضُ، أَتَيْنَاهُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ نَرَاهُ وَنَسْمَعَ كَلَامَهُ، فَيَذْهَبَ ذَلِكَ كُلُّهُ، وَيَنْقَلِبَ انْشِرَاحًا، وَقُوَّةً، وَيَقِينًا، وَطُمَأْنِينَةً.فَسُبْحَانَ مَنْ أَشْهَدَ عِبَادَهُ جَنَّتَهُ قَبْلَ لِقَائِهِ، وَفَتَحَ لَهُمْ أَبْوَابَهَا فِي دَارِ الْعَمَلِ، فَآتَاهُمْ مِنْ رُوحِهَا وَنَسِيمِهَا وَطِيبِهَا مَا اسْتَفْرَغَ قُوَاهُمْ لِطَلَبِهَا وَالْمُسَابَقَةِ إِلَيْهَا.Setiap kali kami diliputi ketakutan, buruk sangka, dan sempit dada, kami mendatangi beliau. Begitu melihat wajahnya dan mendengar ucapannya, semua kegelisahan itu sirna — berganti dengan kelapangan, kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.Maha Suci Allah yang memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya sebagian surga-Nya sebelum perjumpaan dengan-Nya. Dia telah membuka bagi mereka pintu-pintu surga itu di dunia tempat beramal, lalu menghembuskan kepada mereka sebagian dari ruh, semerbak, dan keharumannya, hingga seluruh tenaga mereka tercurahkan untuk mencarinya dan berlomba meraihnya.وَكَانَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ يَقُولُ:لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ، لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ.Sebagian orang ‘arif berkata:“Seandainya para raja dan putra mahkota mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memeranginya dengan pedang.”وَقَالَ آخَرُ:مَسَاكِينُ أَهْلِ الدُّنْيَا، خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا.قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟قَالَ: مَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَذِكْرُهُ.أَوْ نَحْوُ هَذَا.Yang lain berkata:“Kasihan orang-orang dunia! Mereka keluar dari dunia tanpa sempat merasakan hal paling lezat di dalamnya.” Ditanya kepadanya, “Apa yang paling lezat di dunia?”Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, mengenal-Nya, dan berdzikir kepada-Nya.”وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِالْقَلْبِ أَوْقَاتٌ يَرْقُصُ فِيهَا طَرَبًا.وَقَالَ آخَرُ:إِنَّهُ لَتَمُرُّ بِي أَوْقَاتٌ، أَقُولُ: إِنْ كَانَ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا، إِنَّهُمْ لَفِي عَيْشٍ طَيِّبٍ.Yang lain berkata:“Terkadang hati ini melewati saat-saat di mana ia menari karena bahagia.”Yang lain lagi berkata:“Ada waktu-waktu tertentu ketika aku berkata: jika penghuni surga merasakan kenikmatan seperti ini, maka sungguh mereka berada dalam kehidupan yang sangat baik.”فَمَحَبَّةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَتُهُ، وَدَوَامُ ذِكْرِهِ، وَالسُّكُونُ إِلَيْهِ، وَالطُّمَأْنِينَةُ بِهِ، وَإِفْرَادُهُ بِالْحُبِّ، وَالْخَوْفِ، وَالرَّجَاءِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالْمُعَامَلَةِ، بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ وَحْدَهُ الْمُسْتَوْلِي عَلَى هُمُومِ الْعَبْدِ وَعَزِيمَاتِهِ وَإِرَادَاتِهِ، هِيَ جَنَّةُ الدُّنْيَا، وَالنَّعِيمُ الَّذِي لَا يُشْبِهُهُ نَعِيمٌ، وَهِيَ قُرَّةُ عُيُونِ الْمُحِبِّينَ، وَحَيَاةُ الْعَارِفِينَ.Maka cinta kepada Allah, mengenal-Nya, terus berdzikir kepada-Nya, bersandar dan merasa tenang bersama-Nya, hanya berharap kepada-Nya, serta menjadikan-Nya satu-satunya tujuan cinta, takut, harap, dan tawakal — inilah surga dunia yang tidak bisa ditandingi oleh kenikmatan apa pun. Inilah penyejuk mata para pecinta dan kehidupan sejati bagi orang-orang yang mengenal Allah.وَإِنَّمَا تَقَرُّ عُيُونُ النَّاسِ بِهِ عَلَى حَسَبِ قُرَّةِ أَعْيُنِهِمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنْ قَرَّتْ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، قَرَّتْ بِهِ كُلُّ عَيْنٍ، وَمَنْ لَمْ تَقَرَّ عَيْنُهُ بِاللَّهِ، تَقَطَّعَتْ نَفْسُهُ عَلَى الدُّنْيَا حَسَرَاتٍ.Ketenangan manusia tergantung pada sejauh mana matanya terpuaskan dengan Allah. Siapa yang hatinya tenteram bersama Allah, maka ia akan tenteram dalam segala hal. Namun, siapa yang tidak tenang bersama Allah, hidupnya akan terpecah oleh penyesalan dunia yang tiada akhir.وَإِنَّمَا يَصْدُقُ هَذَا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَأَمَّا مَيِّتُ الْقَلْبِ، فَيُوحِشُكَ مَا لَهُ ثَمَّ، فَاسْتَأْنِسْ بِغَيْبَتِهِ مَا أَمْكَنَكَ، فَإِنَّكَ لَا يُوحِشُكَ إِلَّا حُضُورُهُ عِنْدَكَ.Yang memahami makna ini hanyalah orang yang hatinya hidup. Adapun hati yang mati, ia akan merasa asing dari kebenaran dan tenang dengan kebatilan. Maka berusahalah merasa nyaman saat jauh dari orang yang demikian, karena sesungguhnya yang membuatmu gelisah hanyalah kehadirannya di dekatmu.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهِ، فَأَعْطِهِ ظَاهِرَكَ، وَتَرَحَّلْ عَنْهُ بِقَلْبِكَ، وَفَارِقْهُ بِسِرِّكَ، وَلَا تُشْغَلْ بِهِ عَمَّا هُوَ أَوْلَى بِكَ.Jika engkau diuji dengan pergaulan seperti itu, berikanlah padanya bagian lahirmu, namun pisahkan hatimu dan rahasiamu darinya. Jangan biarkan dia menghalangimu dari urusan yang lebih utama.وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَسْرَةَ كُلَّ الْحَسْرَةِ، الِاشْتِغَالُ بِمَنْ لَا يَجُرُّ عَلَيْكَ الِاشْتِغَالُ بِهِ إِلَّا فَوْتَ نَصِيبِكَ وَحَظِّكَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَانْقِطَاعَكَ عَنْهُ، وَضَيَاعَ وَقْتِكَ، وَضَعْفَ عَزِيمَتِكَ، وَتَفَرُّقَ هَمِّكَ.Ketahuilah, penyesalan yang paling dalam adalah ketika seseorang sibuk dengan sesuatu yang tidak mendatangkan apa pun selain kehilangan bagian dirinya dari Allah, terputus dari-Nya, terbuang waktunya, lemah tekadnya, dan tercerai pikirannya.فَإِذَا ابْتُلِيتَ بِهَذَا ـ وَلَا بُدَّ لَكَ مِنْهُ ـ فَعَامِلِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ، وَاحْتَسِبْ عَلَيْهِ مَا أَمْكَنَكَ، وَتَقَرَّبْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمَرْضَاتِهِ فِيهِ، وَاجْعَلِ اجْتِمَاعَكَ بِهِ مَتْجَرًا لَكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ خَسَارَةً، وَكُنْ مَعَهُ كَرَجُلٍ سَائِرٍ فِي طَرِيقِهِ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ وَقَفَهُ عَنْ سَيْرِهِ، فَاجْتَهِدْ أَنْ تَأْخُذَهُ مَعَكَ وَتَسِيرَ بِهِ، فَتَحْمِلَهُ وَلَا يَحْمِلُكَ، فَإِنْ أَبَى، وَلَمْ يَكُنْ فِي سَيْرِهِ مَطْمَعٌ، فَلَا تَقِفْ مَعَهُ، بَلِ ارْكَبِ الدَّرْبَ وَدَعْهُ، وَلَا تَلْتَفِتْ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَاطِعُ الطَّرِيقِ، وَلَوْ كَانَ مَنْ كَانَ، فَانْجُ بِقَلْبِكَ، وَاضْنَنْ بِيَوْمِكَ وَلَيْلَتِكَ، لَا تَغْرُبْ عَلَيْكَ الشَّمْسُ قَبْلَ وُصُولِ الْمَنْزِلَةِ، فَتُؤْخَذَ، أَوْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ أَنَّى لَكَ بِلِقَائِهِمْ.Apabila engkau harus berinteraksi dengan orang semacam itu, maka niatkan karena Allah. Bersabarlah dan jadikan interaksi itu sebagai ladang pahala, bukan kerugian.Bersikaplah seperti seorang musafir yang dalam perjalanan bertemu seseorang yang mencoba menghentikannya. Usahakan untuk mengajaknya berjalan bersama, bukan sebaliknya. Jika ia menolak, jangan berhenti bersamanya — teruslah berjalan di jalanmu, jangan menoleh ke belakang. Ia hanyalah perampok jalanmu, siapa pun dia.Selamatkan hatimu, jagalah waktu siang dan malammu. Jangan biarkan matahari terbenam sebelum engkau mencapai tujuan, atau fajar menyingsing sementara engkau masih tertahan — karena entah kapan lagi engkau akan bertemu dengan orang-orang yang telah sampai ke sana. [الخامسة والثلاثون]أَنَّ الذِّكْرَ يَسِيرُ العَبْدُ وَهُوَ فِي فِرَاشِهِ، وَفِي سُوقِهِ، وَفِي حَالِ صِحَّتِهِ وَسَقَمِهِ، وَفِي حَالِ نَعِيمِهِ وَلَذَّتِهِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يَعُمُّ الأَوْقَاتَ وَالأَحْوَالَ مِثْلَهُ، حَتَّى يَسِيرَ العَبْدُ وَهُوَ نَائِمٌ عَلَى فِرَاشِهِ فَيَسْبِقَ القَائِمَ مَعَ الغَفْلَةِ، فَيُصْبِحَ هَذَا وَقَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَيُصْبِحَ ذَاكَ الغَافِلُ فِي سَاقَةِ الرَّكْبِ، وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ.وَحُكِيَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ العُبَّادِ أَنَّهُ نَزَلَ بِرَجُلٍ ضَيْفًا، فَقَامَ العَابِدُ لَيْلَهُ يُصَلِّي، وَذَلِكَ الرَّجُلُ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحَا قَالَ لَهُ العَابِدُ: سَبَقَكَ الرَّكْبُ، أَوْ كَمَا قَالَ.فَقَالَ: لَيْسَ الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ مُسَافِرًا وَأَصْبَحَ مَعَ الرَّكْبِ، الشَّأْنُ فِيمَنْ بَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَأَصْبَحَ قَدْ قَطَعَ الرَّكْبَ.Ketiga puluh lima, dzikir membuat seorang hamba tetap berjalan menuju Allah meskipun ia berada di atas tempat tidurnya, di pasar, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kondisi menikmati nikmat atau kesenangan. Tidak ada amalan yang bisa mencakup seluruh waktu dan keadaan seperti dzikir.Bahkan, terkadang seorang hamba yang sedang berbaring di tempat tidurnya tetap melangkah maju dengan dzikirnya, melewati orang yang sedang berdiri dalam keadaan lalai. Maka ketika pagi datang, yang berzikir itu telah menempuh perjalanan jauh (menuju Allah) sementara ia masih berbaring, sedangkan yang lalai itu tertinggal jauh di belakang rombongan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.Dikisahkan dari seorang ahli ibadah bahwa ia singgah di rumah seorang lelaki sebagai tamu. Pada malam harinya, si ahli ibadah bangun untuk salat malam, sementara tuan rumahnya tetap berbaring di tempat tidurnya. Ketika pagi tiba, sang ahli ibadah berkata kepadanya,“Rombongan telah mendahuluimu (dalam perjalanan menuju Allah).”Namun si tuan rumah menjawab,“Bukan itu persoalannya. Bukan tentang siapa yang bermalam dalam perjalanan lalu pagi hari sudah bersama rombongan. Yang penting adalah siapa yang bermalam di tempat tidurnya, namun ketika pagi telah melampaui rombongan.”وَهَذَا وَنَحْوُهُ لَهُ مَحْمَلٌ صَحِيحٌ وَمَحْمَلٌ فَاسِدٌ، فَمَنْ حَكَمَ عَلَى أَنَّ الرَّاقِدَ المُضْطَجِعَ عَلَى فِرَاشِهِ يَسْبِقُ القَائِمَ القَانِتَ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنَّمَا مَحْمَلُهُ أَنَّ هَذَا المُسْتَلْقِيَ عَلَى فِرَاشِهِ عَلِقَ بِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَلْصَقَ حَبَّ قَلْبِهِ بِالعَرْشِ، وَبَاتَ قَلْبُهُ يَطُوفُ حَوْلَ العَرْشِ مَعَ المَلَائِكَةِ، قَدْ غَابَ عَنِ الدُّنْيَا وَمَنْ فِيهَا، وَقَدْ عَاقَهُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ عَائِقٌ مِنْ وَجَعٍ أَوْ بَرْدٍ يَمْنَعُهُ القِيَامَ، أَوْ خَوْفٌ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ رُؤْيَةِ عَدُوٍّ يَطْلُبُهُ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الأَعْذَارِ، فَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى فِرَاشِهِ، وَفِي قَلْبِهِ مَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلِيمٌ.وَآخَرُ قَائِمٌ يُصَلِّي وَيَتْلُو، وَفِي قَلْبِهِ مِنَ الرِّيَاءِ وَالعُجْبِ وَطَلَبِ الجَاهِ وَالمَحْمَدَةِ عِنْدَ النَّاسِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ، أَوْ قَلْبُهُ فِي وَادٍ وَجِسْمُهُ فِي وَادٍ.فَلَا رَيْبَ أَنَّ ذَلِكَ الرَّاقِدَ يُصْبِحُ وَقَدْ سَبَقَ هَذَا القَائِمَ بِمَرَاحِلَ كَثِيرَةٍ، فَالعَمَلُ عَلَى القُلُوبِ لَا عَلَى الأَبْدَانِ، وَالمُعَوَّلُ عَلَى السَّاكِنِ، وَيُهَيِّجُ الحُبَّ المُتَوَارِيَ، وَيَبْعَثُ الطَّلَبَ المَيِّتَ.Perkataan seperti ini memiliki dua kemungkinan makna: makna yang benar dan makna yang keliru.Jika seseorang memahami bahwa orang yang berbaring di tempat tidurnya bisa mengalahkan orang yang bangun untuk beribadah dan salat malam tanpa alasan apa pun, maka pemahaman itu batil (keliru).Namun, makna yang benar adalah bahwa orang yang sedang berbaring itu hatinya terikat kuat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, ia menempelkan cinta hatinya kepada ‘Arsy, dan hatinya berkeliling di sekitar ‘Arsy bersama para malaikat, sementara dirinya telah terlupa dari dunia dan segala isinya.Ia tertahan untuk bangun malam bukan karena malas, melainkan karena ada penghalang seperti sakit, cuaca dingin yang berat, rasa takut dari musuh yang mengincar, atau uzur lain yang benar-benar menghalanginya. Maka ia tetap berbaring di atas tempat tidurnya, namun hatinya dalam keadaan yang hanya Allah Ta‘ala yang mengetahuinya.Sedangkan orang lain berdiri salat dan membaca Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya terdapat riya’, rasa bangga diri, mencari kedudukan, atau ingin dipuji manusia. Bisa jadi pula hatinya berada di satu tempat, sementara tubuhnya di tempat lain.Maka tidak diragukan lagi, orang yang berbaring namun hatinya hidup bersama Allah akan mendahului orang yang bangun malam dengan hati yang lalai dalam banyak tingkatan.Sebab, amal dinilai dari hati, bukan dari gerak tubuh. Yang menjadi ukuran adalah kehidupan batin yang diam namun menyala oleh cinta dan keikhlasan, karena ia mampu membangkitkan kembali cinta yang tersembunyi dan menghidupkan semangat ibadah yang hampir mati.[الذِّكْرُ وَحَقِيقَةُ النُّورِ الإِلَهِيِّ] (السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ) أَنَّ الذِّكْرَ نُورٌ لِلذَّاكِرِ فِي الدُّنْيَا، وَنُورٌ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنُورٌ لَهُ فِي مَعَادِهِ يَسْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الصِّرَاطِ، فَمَا اسْتَنَارَتِ القُلُوبُ وَالقُبُورُ بِمِثْلِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}. فَالأَوَّلُ هُوَ المُؤْمِنُ، اسْتَنَارَ بِالإِيمَانِ بِاللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَمَعْرِفَتِهِ وَذِكْرِهِ، وَالآخَرُ هُوَ الغَافِلُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، المُعْرِضُ عَنْ ذِكْرِهِ وَمَحَبَّتِهِ. وَالشَّأْنُ كُلُّ الشَّأْنِ، وَالفَلَاحُ كُلُّ الفَلَاحِ فِي النُّورِ، وَالشَّقَاءُ كُلُّ الشَّقَاءِ فِي فَوَاتِهِ. وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَالِغُ فِي سُؤَالِ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حِينَ يَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي لَحْمِهِ وَعِظَامِهِ وَعَصَبِهِ وَشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ وَسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ، وَمِنْ فَوْقِهِ وَمِنْ تَحْتِهِ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَخَلْفِهِ وَأَمَامِهِ، حَتَّى يَقُولَ: وَاجْعَلْنِي نُورًا. فَسَأَلَ رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ النُّورَ فِي ذَرَّاتِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَهُ مُحِيطًا بِهِ مِنْ جَمِيعِ جِهَاتِهِ، وَأَنْ يَجْعَلَ ذَاتَهُ وَجُمْلَتَهُ نُورًا. فَدِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نُورٌ، وَكِتَابُهُ نُورٌ، وَرَسُولُهُ نُورٌ، وَدَارُهُ الَّتِي أَعَدَّهَا لِأَوْلِيَائِهِ نُورٌ يَتَلَأْلَأُ، وَهُوَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمِنْ أَسْمَائِهِ النُّورُ، وَأَشْرَقَتِ الظُّلُمَاتُ لِنُورِ وَجْهِهِ.Ketiga puluh enam, [Dzikir dan Hakikat Cahaya Ilahi]Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir — cahaya baginya di dunia, cahaya baginya di dalam kuburnya, dan cahaya baginya di akhirat yang berjalan di hadapannya di atas shirath (jembatan akhirat).Tidak ada sesuatu pun yang mampu menerangi hati dan kubur sebagaimana zikir kepada Allah Ta‘ala.Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah orang yang sebelumnya mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An‘ām: 122)Yang pertama adalah seorang mukmin, yang dihidupkan dan diterangi oleh iman kepada Allah, cinta kepada-Nya, pengetahuan tentang-Nya, serta zikir kepada-Nya.Adapun yang kedua adalah orang yang lalai dari Allah Ta‘ala, berpaling dari zikir dan cinta kepada-Nya.Maka, seluruh keberuntungan bergantung pada cahaya itu, dan segala bentuk kesengsaraan bersumber dari hilangnya cahaya tersebut.Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Rabbnya — Tabāraka wa Ta‘ālā — memohon agar Allah menjadikan cahaya itu menyatu dalam seluruh bagian tubuhnya: dalam daging, tulang, urat, rambut, kulit, pendengaran, dan penglihatannya, dari atas dan bawah, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang; hingga beliau berdoa:“Dan jadikanlah aku cahaya.”Beliau memohon agar cahaya itu memenuhi seluruh zarrah (bagian kecil) dalam dirinya, baik yang lahir maupun batin, mengelilinginya dari segala arah, bahkan menjadikan seluruh dirinya cahaya.Sebab, agama Allah adalah cahaya, Kitab-Nya adalah cahaya, Rasul-Nya adalah cahaya, dan surga-Nya — tempat yang disiapkan untuk para kekasih-Nya — adalah cahaya yang berkilauan.Sedangkan Dia sendiri, Tabāraka wa Ta‘ālā, adalah Cahaya langit dan bumi.Salah satu nama-Nya adalah An-Nūr (Yang Maha Cahaya), dan seluruh kegelapan akan sirna oleh pancaran cahaya wajah-Nya.[السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ رَأْسُ الْأُصُولِ، وَطَرِيقُ عَامَّةِ الطَّائِفَةِ، وَمَنْشُورُ الْوِلَايَةِ، فَمَنْ فُتِحَ لَهُ فِيهِ، فَقَدْ فُتِحَ لَهُ بَابُ الدُّخُولِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَتَطَهَّرْ وَلْيَدْخُلْ عَلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَجِدْ عِنْدَهُ كُلَّ مَا يُرِيدُ، فَإِنْ وَجَدَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَجَدَ كُلَّ شَيْءٍ، وَإِنْ فَاتَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَهُ كُلُّ شَيْءٍ. Ketiga puluh tujuh,Dzikir merupakan pokok dari segala pokok, jalan utama bagi kebanyakan orang yang menempuh perjalanan menuju Allah, dan merupakan tanda (pengumuman) kedekatan seorang hamba dengan-Nya.Barang siapa dibukakan hatinya untuk istiqamah dalam dzikir, maka sesungguhnya telah dibukakan baginya pintu untuk masuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hendaklah ia mensucikan diri—lahir dan batin—lalu masuk menghadap Rabb-nya. Di sisi Allah, ia akan mendapati segala yang diinginkan.Sebab, siapa yang menemukan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, berarti ia telah mendapatkan segalanya. Namun siapa yang kehilangan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, sungguh ia telah kehilangan segalanya.[الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ] فِي الْقَلْبِ خَلَّةٌ وَفَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا صَارَ شِعَارَ الْقَلْبِ بِحَيْثُ يَكُونُ هُوَ الذَّاكِرَ بِطَرِيقِ الْأَصَالَةِ، وَاللِّسَانُ تَابِعٌ لَهُ، فَهَذَا هُوَ الذِّكْرُ الَّذِي يَسُدُّ الْخَلَّةَ وَيُفْنِي الْفَاقَةَ، فَيَكُونُ صَاحِبُهُ غَنِيًّا بِلَا مَالٍ، عَزِيزًا بِلَا عَشِيرَةٍ، مَهِيبًا بِلَا سُلْطَانٍ. فَإِذَا كَانَ غَافِلًا عَنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ بِضِدِّ ذَلِكَ: فَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ جِدَّتِهِ، ذَلِيلٌ مَعَ سُلْطَانِهِ، حَقِيرٌ مَعَ كَثْرَةِ عَشِيرَتِهِ.Ketiga puluh delapan,Dalam hati manusia terdapat kekosongan dan kebutuhan mendalam yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh apa pun selain dengan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Apabila dzikir telah menjadi kebiasaan hati—hingga hati itu sendiri yang benar-benar berdzikir secara hakiki, sementara lisan hanya menjadi pengikutnya—maka inilah dzikir yang mampu mengisi kekosongan itu dan menghapus segala rasa kekurangan.Orang yang demikian akan merasa kaya tanpa harta, mulia tanpa keluarga besar, dan disegani tanpa kekuasaan.Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan merasakan kebalikannya: miskin meski banyak hartanya, hina meski memiliki kekuasaan, dan rendah meski memiliki banyak pengikut dan kerabat.[التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يَجْمَعُ الْمُتَفَرِّقَ، وَيُفَرِّقُ الْمُجْتَمِعَ، وَيُقَرِّبُ الْبَعِيدَ، وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ. فَيَجْمَعُ مَا تَفَرَّقَ عَلَى الْعَبْدِ مِنْ قَلْبِهِ وَإِرَادَتِهِ وَهُمُومِهِ وَعَزَائِمِهِ، وَالْعَذَابُ كُلُّ الْعَذَابِ فِي تَفَرُّقِهَا وَتَشَتُّتِهَا عَلَيْهِ وَانْفِرَاطِهَا لَهُ، وَالْحَيَاةُ وَالنَّعِيمُ فِي اجْتِمَاعِ قَلْبِهِ وَهَمِّهِ وَعَزْمِهِ وَإِرَادَتِهِ. وَيُفَرِّقُ مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنَ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْحَسَرَاتِ عَلَى فَوْتِ حُظُوظِهِ وَمَطَالِبِهِ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ مِنْ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ وَأَوْزَارِهِ، حَتَّى تَتَسَاقَطَ عَنْهُ وَتَتَلَاشَى وَتَضْمَحِلَّ. وَيُفَرِّقُ أَيْضًا مَا اجْتَمَعَ عَلَى حَرْبِهِ مِنْ جُنْدِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ إِبْلِيسَ لَا يَزَالُ يَبْعَثُ لَهُ سَرِيَّةً، وَكُلَّمَا كَانَ أَقْوَى طَلَبًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَمْثَلَ تَعَلُّقًا بِهِ وَإِرَادَةً لَهُ، كَانَتِ السَّرِيَّةُ أَكْثَفَ وَأَكْثَرَ وَأَعْظَمَ شَوْكَةً، بِحَسَبِ مَا عِنْدَ الْعَبْدِ مِنْ مَوَادِّ الْخَيْرِ وَالْإِرَادَةِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَى تَفْرِيقِ هَذَا الْجَمْعِ إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ. وَأَمَّا تَقْرِيبُهُ الْبَعِيدَ فَإِنَّهُ يُقَرِّبُ إِلَيْهِ الْآخِرَةَ الَّتِي يُبْعِدُهَا مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَالْأَمَلُ، فَلَا يَزَالُ يَلْهَجُ بِالذِّكْرِ حَتَّى كَأَنَّهُ قَدْ دَخَلَهَا وَحَضَرَهَا، فَحِينَئِذٍ تَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ الدُّنْيَا، وَتَعْظُمُ فِي قَلْبِهِ الْآخِرَةُ. وَيُبْعِدُ الْقَرِيبَ إِلَيْهِ، وَهِيَ الدُّنْيَا الَّتِي هِيَ أَدْنَى إِلَيْهِ مِنَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ الْآخِرَةَ مَتَى قَرُبَتْ مِنْ قَلْبِهِ بَعُدَتْ مِنْهُ الدُّنْيَا، كُلَّمَا قَرُبَتْ مِنْهُ هَذِهِ مَرْحَلَةً بَعُدَتْ مِنْهُ تِلْكَ مَرْحَلَةً، وَلَا سَبِيلَ إِلَى هَذَا إِلَّا بِدَوَامِ الذِّكْرِ.Ketiga puluh sembilan,Dzikir memiliki kekuatan yang menakjubkan: ia mengumpulkan yang tercerai-berai dan memisahkan yang berhimpun; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.Dzikir mengumpulkan kembali apa pun yang tercerai dalam diri seseorang—hatinya, kehendaknya, pikirannya, dan tekadnya.Sungguh, penderitaan terbesar adalah ketika semua itu tercerai dan tidak terarah; sedangkan kebahagiaan sejati terletak pada bersatunya hati, kehendak, niat, dan tekad seseorang dalam satu tujuan, yaitu menuju Allah.Dzikir juga memisahkan apa yang berkumpul dari tumpukan kesedihan, kegelisahan, dan penyesalan atas hilangnya berbagai keinginan dan kesenangan dunia.Ia memisahkan pula dosa-dosa, kesalahan, dan beban maksiat yang menumpuk di diri seseorang—hingga dosa-dosa itu berjatuhan, lenyap, dan sirna.Dzikir juga memecah barisan pasukan setan yang bersatu untuk memerangi seorang hamba.Setan tak henti mengirimkan bala tentaranya untuk menggoda, dan semakin kuat keinginan seorang hamba untuk mencari Allah, semakin banyak dan besar pula serangan pasukan setan terhadapnya—sesuai dengan kadar kebaikan dan tekad yang ada pada dirinya.Dan tidak ada cara untuk memecah barisan pasukan itu kecuali dengan zikir yang terus-menerus.Adapun dzikir disebut “mendekatkan yang jauh”, karena ia mendekatkan akhirat yang berusaha dijauhkan dari hati oleh setan dan angan-angan duniawi.Ketika lidah seseorang terus melantunkan dzikir, seolah-olah ia sudah berada di negeri akhirat dan menyaksikannya secara langsung. Saat itulah dunia terasa kecil di matanya, sedangkan akhirat menjadi agung dalam hatinya.Dzikir juga disebut “menjauhkan yang dekat”, yakni dunia yang selalu berada di hadapan manusia dan menggoda hatinya.Ketika akhirat semakin dekat di hati, dunia pun semakin jauh darinya.Setiap langkah hati yang mendekat kepada akhirat adalah langkah menjauh dari dunia — dan semua itu hanya mungkin terwujud dengan zikir yang terus-menerus.[الأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ يُنَبِّهُ الْقَلْبَ مِنْ نَوْمِهِ، وَيُوقِظُهُ مِنْ سِنَتِهِ، وَالْقَلْبُ إِذَا كَانَ نَائِمًا فَاتَتْهُ الْأَرْبَاحُ وَالْمَتَاجِرُ، وَكَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ الْخُسْرَانُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ وَعَلِمَ مَا فَاتَهُ فِي نَوْمَتِهِ، شَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَحْيَا بَقِيَّةَ عُمْرِهِ، وَاسْتَدْرَكَ مَا فَاتَهُ، وَلَا تَحْصُلُ يَقَظَتُهُ إِلَّا بِالذِّكْرِ، فَإِنَّ الْغَفْلَةَ نَوْمٌ ثَقِيلٌ.Keempat puluh,Dzikir adalah pembangun hati yang tertidur dan penggugah dari kelalaiannya.Ketika hati berada dalam keadaan tidur (lalai), ia kehilangan berbagai keuntungan dan kesempatan berharga dalam hidupnya. Sebaliknya, yang mendominasi adalah kerugian dan kehampaan.Namun saat hati itu terjaga dan menyadari apa yang telah ia lewatkan selama dalam kelalaian, ia pun akan segera bersemangat, mengencangkan ikat pinggangnya, memanfaatkan sisa umurnya, dan berusaha menebus apa yang telah terlewat.Kesadaran dan kebangkitan hati semacam ini tidak akan terjadi kecuali dengan dzikir, sebab kelalaian (ghaflah) adalah tidur yang sangat berat bagi hati.[الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ شَجَرَةٌ تُثْمِرُ الْمَعَارِفَ وَالْأَحْوَالَ الَّتِي شَمَّرَ إِلَيْهَا السَّالِكُونَ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى نَيْلِ ثِمَارِهَا إِلَّا مِنْ شَجَرَةِ الذِّكْرِ، وَكُلَّمَا عَظُمَتْ تِلْكَ الشَّجَرَةُ وَرَسَخَ أَصْلُهَا كَانَ أَعْظَمَ لِثَمَرَتِهَا، فَالذِّكْرُ يُثْمِرُ الْمَقَامَاتِ كُلَّهَا مِنَ الْيَقَظَةِ إِلَى التَّوْحِيدِ، وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ مَقَامٍ وَقَاعِدَتُهُ الَّتِي يُنْبَنِي ذَلِكَ الْمَقَامُ عَلَيْهَا، كَمَا يُبْنَى الْحَائِطُ عَلَى رَأْسِهِ، وَكَمَا يَقُومُ السَّقْفُ عَلَى حَائِطِهِ. وَذَلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ إِنْ لَمْ يَسْتَيْقِظْ لَمْ يُمْكِنْهُ قَطْعُ مَنَازِلِ السَّيْرِ، وَلَا يَسْتَيْقِظُ إِلَّا بِالذِّكْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَالْغَفْلَةُ نَوْمُ الْقَلْبِ أَوْ مَوْتُهُ.Keempat puluh satu,Sesungguhnya dzikir itu bagaikan sebuah pohon yang menghasilkan buah berupa ma‘rifat dan berbagai keadaan hati yang selalu diupayakan oleh para penempuh jalan menuju Allah. Tidak ada jalan untuk meraih buah-buah tersebut kecuali dari pohon dzikir itu sendiri. Semakin besar pohon tersebut dan semakin kuat akarnya menghujam, maka semakin besar pula buah yang dihasilkannya.Dzikir melahirkan seluruh maqam (tingkatan spiritual), mulai dari kesadaran hati hingga tauhid yang sempurna. Dzikir adalah dasar setiap maqam dan fondasi tempat seluruh maqam itu dibangun, sebagaimana dinding dibangun di atas pondasinya, dan sebagaimana atap dapat berdiri karena ditopang oleh dindingnya.Hal ini karena seorang hamba, jika tidak terjaga dari kelalaiannya, tidak akan mampu menempuh tahapan-tahapan perjalanan menuju Allah. Dan seseorang tidak akan terjaga kecuali dengan dzikir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sebab, kelalaian itu adalah tidurnya hati, bahkan bisa menjadi kematiannya.[الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ] أَنَّ الذِّكْرَ قَرِيبٌ مِنْ مَذْكُورِهِ، وَمَذْكُورُهُ مَعَهُ. وَهَذِهِ الْمَعِيَّةُ مَعِيَّةٌ خَاصَّةٌ، غَيْرَ مَعِيَّةِ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ الْعَامَّةِ، فَهِيَ مَعِيَّةٌ بِالْقُرْبِ، وَالْوِلَايَةِ، وَالْمَحَبَّةِ، وَالنُّصْرَةِ، وَالتَّوْفِيقِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا﴾ ﴿وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾ ﴿وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾ ﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ وَلِلذَّاكِرِ مِنْ هَذِهِ الْمَعِيَّةِ نَصِيبٌ وَافِرٌ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْإِلَهِيِّ: «أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ». وَفِي أَثَرٍ آخَرَ: وَأَهْلُ ذِكْرِي أَهْلُ مُجَالَسَتِي، وَأَهْلُ شُكْرِي أَهْلُ زِيَارَتِي، وَأَهْلُ طَاعَتِي أَهْلُ كَرَامَتِي، وَأَهْلُ مَعْصِيَتِي لَا أُقَنِّطُهُمْ مِنْ رَحْمَتِي؛ إِنْ تَابُوا فَأَنَا حَبِيبُهُمْ، فَإِنِّي أُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَأُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ. وَإِنْ لَمْ يَتُوبُوا فَأَنَا طَبِيبُهُمْ، أَبْتَلِيهِمْ بِالْمَصَائِبِ، لِأُطَهِّرَهُمْ مِنَ الْمَعَايِبِ. وَالْمَعِيَّةُ الْحَاصِلَةُ لِلذَّاكِرِ مَعِيَّةٌ لَا يُشْبِهُهَا شَيْءٌ، وَهِيَ أَخَصُّ مِنَ الْمَعِيَّةِ الْحَاصِلَةِ لِلْمُحْسِنِ وَالْمُتَّقِي، وَهِيَ مَعِيَّةٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعِبَارَةُ، وَلَا تَنَالُهَا الصِّفَةُ، وَإِنَّمَا تُعْلَمُ بِالذَّوْقِ. وَهِيَ مَزَلَّةُ أَقْدَامٍ إِنْ لَمْ يَصْحَبِ الْعَبْدَ فِيهَا تَمْيِيزٌ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْمُحْدَثِ، بَيْنَ الرَّبِّ وَالْعَبْدِ، بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ، بَيْنَ الْعَابِدِ وَالْمَعْبُودِ، وَإِلَّا وَقَعَ فِي حُلُولٍ يُضَاهِي بِهِ النَّصَارَى، أَوِ اتِّحَادٍ يُضَاهِي بِهِ الْقَائِلِينَ بِوَحْدَةِ الْوُجُودِ، وَأَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ عَيْنُ وُجُودِ هَذِهِ الْمَوْجُودَاتِ. بَلْ لَيْسَ عِنْدَهُمْ رَبٌّ وَعَبْدٌ، وَلَا خَلْقٌ وَحَقٌّ، بَلِ الرَّبُّ هُوَ الْعَبْدُ، وَالْعَبْدُ هُوَ الرَّبُّ، وَالْخَلْقُ الْمُشَبَّهُ هُوَ الْحَقُّ الْمُنَزَّهُ، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ وَالْجَاحِدُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا. وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ الْعَبْدِ عَقِيدَةٌ صَحِيحَةٌ، فَإِذَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ سُلْطَانُ الذِّكْرِ، وَغَابَ بِمَذْكُورِهِ عَنْ ذِكْرِهِ وَعَنْ نَفْسِهِ، وَلَجَ بَابَ الْحُلُولِ وَالِاتِّحَادِ وَلَا بُدَّ.Keempat puluh dua,Dzikir memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Zat yang diingat, bahkan Zat yang diingat itu senantiasa bersama orang yang berdzikir.Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang bersifat khusus, bukan sekadar kebersamaan berupa ilmu dan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh makhluk. Ia adalah kebersamaan dalam makna kedekatan, perlindungan, kecintaan, pertolongan, dan taufik. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Juga firman-Nya, “Allah bersama orang-orang yang sabar.” Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” Serta firman-Nya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”Orang yang berdzikir mendapatkan bagian yang sangat besar dari kebersamaan khusus ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits ilahi, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.”Dalam atsar yang lain disebutkan, “Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku temani duduk bersama-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku kunjungi. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku muliakan. Adapun orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, Aku tidak memutus harapan mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat, maka Aku menjadi kekasih mereka, karena Aku mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”Namun jika mereka belum bertaubat, maka Aku menjadi tabib mereka, yakni Dokter Yang Maha Mengetahui penyakit hamba-Nya. Aku timpakan kepada mereka berbagai musibah sebagai terapi dan pengobatan, agar Aku bersihkan mereka dari aib dan noda dosa.Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berdzikir adalah kebersamaan yang tidak ada bandingannya. Ia bahkan lebih khusus dibandingkan kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat ihsan dan orang yang bertakwa. Kebersamaan ini tidak mampu dijangkau oleh ungkapan kata dan tidak bisa dilukiskan dengan deskripsi bahasa. Ia hanya dapat dipahami melalui rasa dan pengalaman batin.Namun kebersamaan ini juga merupakan tempat yang sangat rawan tergelincirnya langkah, jika seorang hamba tidak disertai kemampuan membedakan antara Yang Qadim dan yang baru, antara Rabb dan hamba, antara Sang Pencipta dan makhluk, antara yang beribadah dan yang disembah. Jika tidak, ia akan terjatuh pada keyakinan hulul seperti kaum Nasrani, atau keyakinan ittihad seperti orang-orang yang mengusung wahdatul wujud, yang menyatakan bahwa keberadaan Rabb adalah sama dengan keberadaan seluruh makhluk.Bahkan menurut mereka, tidak ada lagi perbedaan antara Rabb dan hamba, antara Pencipta dan ciptaan, antara kebenaran dan makhluk. Rabb adalah hamba, dan hamba adalah Rabb. Maha Tinggi Allah dari ucapan orang-orang zalim dan pengingkar kebenaran, setinggi-tingginya.Intinya, apabila seorang hamba tidak dibekali dengan akidah yang benar, maka ketika kekuatan dzikir telah menguasainya, lalu ia tenggelam bersama Zat yang diingat hingga lupa terhadap dzikirnya sendiri dan lupa terhadap dirinya, niscaya ia akan memasuki pintu hulul dan ittihad, dan hal itu hampir pasti terjadi.— Dzikir itu Menenangkan HatiDi antara faedah besar dari dzikir adalah menenangkan hati. Allah Ta‘ālā berfirman:أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)Dzikir juga menjadi tanda hidupnya hati seseorang. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Musa radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, bagaikan orang hidup dengan orang mati.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)Dzikir juga merupakan sarana membersihkan hati. Dalam hadits disebutkan:إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat ketika terkena air.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah penghapus karatnya?” Beliau menjawab, “Banyak mengingat mati dan membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqī) Hadirkan Hati Ketika BerdzikirPara ulama menegaskan bahwa dzikir terbaik adalah dzikir dengan lisan yang disertai hadirnya hati. Jika hanya lisan yang bergerak sementara hati lalai, maka itu berada pada tingkatan dzikir paling rendah.An-Nafrawī menukil dari al-Qāḍī ‘Iyāḍ bahwa dzikir ada dua macam: dzikir dengan hati saja, dan dzikir dengan lisan bersama hati. Dzikir dengan hati terbagi dua:Dzikir berupa tadabbur dan tafakkur terhadap kebesaran Allah, keagungan-Nya, tanda-tanda-Nya, dan ciptaan-Nya yang ada di langit maupun bumi. Inilah dzikir yang paling tinggi dan paling agung.Mengingat Allah dengan cara menghadirkan-Nya dalam hati ketika berhadapan dengan perintah dan larangan-Nya.Yang pertama lebih utama daripada yang kedua. Sedangkan yang kedua lebih utama dibandingkan dzikir dengan lisan yang disertai hati. Adapun dzikir dengan lisan saja tanpa hati, itu adalah tingkatan paling rendah, meskipun tetap ada pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits.Dari sini jelas, wahai saudaraku, bahwa dzikir dengan lisan saja sementara hati sibuk dengan hal lain—seperti membicarakan obrolan teman atau berita dunia—maka pelakunya tetap mendapat pahala karena lisannya dipenuhi dzikir kepada Allah Ta‘ālā, tetapi tidak akan menyamai derajat orang yang menggabungkan antara dzikir lisan dan hati sekaligus.Adapun terkait melanjutkan dzikir setelah ada pemutus (terhenti sejenak), hal ini dirinci. Jika dzikir tersebut telah ditentukan jumlahnya dalam syariat, seperti dzikir setelah shalat fardhu, maka tidak mengapa melanjutkannya dari hitungan sebelumnya. Namun jika syariat tidak menentukan jumlahnya, maka menetapkan bilangan tertentu tidak dianjurkan, karena dapat mengarah pada bid‘ah dan membuat-buat dalam agama yang tidak ada tuntunannya. Makna DzikirDzikir memiliki makna yang luas, mencakup dua sisi:a) Makna umumDzikir dalam makna umum meliputi seluruh bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, bertasbih, bertahmid, mengagungkan Allah, dan berbagai ketaatan lainnya. Semua ibadah itu pada hakikatnya ditegakkan untuk mengingat Allah, menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyah rahimahullāh berkata:كُلُّ مَا تَكَلَّمَ بِهِ اللِّسَانُ، وَتَصَوَّرَهُ الْقَلْبُ مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمٍ، وَتَعْلِيمِهِ، وَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ، فَهُوَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Segala sesuatu yang diucapkan oleh lisan dan dihadirkan oleh hati yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti belajar ilmu, mengajarkannya, amar ma‘ruf, dan nahi munkar, maka itu termasuk dzikir kepada Allah.”b) Makna khususDzikir dalam makna khusus adalah menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan lafaz yang bersumber dari Allah—seperti membaca Al-Qur’an—atau lafaz yang datang melalui lisan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang di dalamnya terdapat pengagungan, penyucian, pemuliaan, dan peneguhan tauhid kepada Allah. Makna inilah yang dimaksud dalam sunnah ketika berbicara tentang dzikir.Dzikir yang paling agung adalah membaca Kitab Allah Ta‘ālā. Beribadah dengan membaca Al-Qur’an telah membuat mata para salaf sulit terpejam dan membuat mereka rela meninggalkan tidur nyenyak. Allah berfirman:وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Dan pada waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. adz-Dzāriyāt: 18)Para salaf mengisi malam mereka dengan membaca Kitab Allah Ta‘ālā dan melantunkan dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka sungguh, alangkah mulianya malam yang dihidupkan oleh mereka dengan ibadah. Sementara kita, betapa besar kerugian kita, betapa banyak kelalaian kita, dan betapa besar keteledoran kita dalam memanfaatkan malam dan waktu sahur! Semoga malam-malam kita selamat dari maksiat kepada Rabb kita, kecuali bagi yang dirahmati Allah Ta‘ālā. Dzikir Ada Dua: Mutlak dan MuqayyadSeorang hamba hendaknya bersemangat berdzikir kepada Allah Ta‘ālā dengan hati dan lisannya sekaligus. Inilah keadaan yang paling sempurna. Adapun dzikir hanya dengan lisan saja tanpa kehadiran hati, maka itu termasuk keadaan yang kurang. Sebab, ada sebagian orang yang ketika berdzikir tidak merasakan apa yang ia ucapkan. Lisannya memang bergerak, tetapi hatinya tidak ikut hidup. Seandainya hatinya ikut berdzikir, merenungi maknanya, tentu imannya akan bertambah dan hatinya akan lebih lembut.Wahai saudaraku yang diberkahi Allah, ketahuilah juga bahwa dzikir ditinjau dari tempat atau waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua: dzikir muqayyad dan dzikir mutlak.Dzikir muqayyad adalah dzikir yang dibatasi oleh tempat, waktu, atau keadaan tertentu.Dzikir mutlak adalah dzikir yang tidak dibatasi oleh salah satu dari hal tersebut, melainkan bisa dilakukan kapan saja sepanjang hari.Contohnya, dzikir setelah shalat fardhu, dzikir setelah adzan, atau dzikir lain yang diajarkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada waktu dan tempat tertentu. Semua dzikir muqayyad ini lebih utama dibandingkan dzikir mutlak, karena di dalamnya ada unsur mengikuti sunnah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Maka jika seseorang selesai dari shalat wajib, dzikir yang paling utama baginya adalah membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat. Ia tidak menggantinya dengan dzikir lain, meskipun dzikir itu juga utama, seperti membaca Al-Qur’an. Sebab, demikianlah yang dilakukan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan kebaikan yang sempurna adalah dengan meneladani beliau.Baca juga: Kumpulan Hadits Kitab Al-Adzkar dari Riyadhus Sholihin Pembahasan Tuntas Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. —Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (20/03/2011), direvisi 12 September 2025 di GunungkidulDr. Muhammad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com Baca Juga:Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adahYang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang[1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691[2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih[3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-198. Tagsdoa dan dzikir Dzikir dzikir pagi dzikir petang keutamaan dzikir

Arti Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un: Kalimat yang Mengubah Cara Kita Memandang Musibah

Siapa orang-orang sabar yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, berkata: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (Sungguh kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Betapa agung kalimat ini, wahai saudara-saudara! Betapa agung keutamaannya! Betapa agung maknanya! “Kami milik Allah,” artinya: kami hamba-hamba-Nya. Kami milik-Nya, sedangkan Dia Tuhan kami, Pemilik kami, dan Raja kami, Subhanahu wa bihamdihi. Pemilik berhak memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya, maka tidak selayaknya kita untuk keberatan terhadap takdir-Nya Subhanahu wa bihamdihi. Tidak ada yang layak kita lakukan selain berserah diri, beriman, dan meridai segala yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala atur dan tetapkan. “Sungguh, kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” Apa makna “kepada-Nya kami kembali,” wahai saudara-saudara? Kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu, apa lagi maknanya? Pertama, kalimat ini menjelaskan kedudukan dunia, bahwa suatu hari nanti kita pasti kembali kepada Allah dan meninggalkan dunia ini seluruhnya. Jadi, dalam kalimat ini terkandung penggambaran betapa sempitnya dunia dan betapa singkat waktunya. Juga terdapat sikap menantikan dan mengharapkan, mengharapkan apa? Mengharapkan balasan yang agung dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bahwa jika kamu bersabar, maka kelak kamu akan kembali kepada Tuhanmu, dan kamu akan mendapatkan di sisi-Nya balasan terbesar. ===== مَنْ هُمُ الصَّابِرُونَ فِي الْآيَةِ؟ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا أَعْظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ يَا إِخْوَانُ مَا أَعْظَمَ فَضْلَهَا وَمَا أَعْظَمَ مَعْنَاهَا إِنَّا لِلَّهِ نَحْنُ عَبِيْدُهُ نَحْنُ مَمْلُوكُونَ لَهُ وَهُوَ رَبُّنَا مَالِكُنَا سَيِّدُنَا سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَالِكُ يَتَصَرَّفُ بِعَبِيْدِهِ كَمَا يَشَاءُ فَلَا اعْتِرَاضَ إِذًا عَلَى قَدَرِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَلَيْسَ لَنَا إِلَّا التَّسْلِيمُ وَالْإِيمَانُ وَالرِّضَا بِمَا دَبَّرَ وَقَضَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا مَعْنَى وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ يَا إِخْوَانُ الرَّاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَأَيْضًا ثُمَّ مَاذَا؟ أَوَّلًا فِيهِ بَيَانٌ لِقَدْرِ الدُّنْيَا وَأَنَّنَا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ رَاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ وَتَارِكُوْنَ هَذِهِ الدُّنْيَا بِأَكْمَلِهَا فِيْهِ تَقْلِيْلُ مِسَاحَةِ الدُّنْيَا وَمُدَّتِهَا وَأَيْضًا فِيهِ تَرَقُّبٌ وَتَوَقُّعٌ لِمَاذَا؟ لِعَظِيْمِ الْجَزَاءِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّكَ إِذْ صَبَرْتَ سَوْفَ تَرْجِعُ إِلَى رَبِّكَ وَسَوْفَ تَجِدُ عِنْدَهُ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ

Arti Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un: Kalimat yang Mengubah Cara Kita Memandang Musibah

Siapa orang-orang sabar yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, berkata: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (Sungguh kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Betapa agung kalimat ini, wahai saudara-saudara! Betapa agung keutamaannya! Betapa agung maknanya! “Kami milik Allah,” artinya: kami hamba-hamba-Nya. Kami milik-Nya, sedangkan Dia Tuhan kami, Pemilik kami, dan Raja kami, Subhanahu wa bihamdihi. Pemilik berhak memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya, maka tidak selayaknya kita untuk keberatan terhadap takdir-Nya Subhanahu wa bihamdihi. Tidak ada yang layak kita lakukan selain berserah diri, beriman, dan meridai segala yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala atur dan tetapkan. “Sungguh, kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” Apa makna “kepada-Nya kami kembali,” wahai saudara-saudara? Kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu, apa lagi maknanya? Pertama, kalimat ini menjelaskan kedudukan dunia, bahwa suatu hari nanti kita pasti kembali kepada Allah dan meninggalkan dunia ini seluruhnya. Jadi, dalam kalimat ini terkandung penggambaran betapa sempitnya dunia dan betapa singkat waktunya. Juga terdapat sikap menantikan dan mengharapkan, mengharapkan apa? Mengharapkan balasan yang agung dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bahwa jika kamu bersabar, maka kelak kamu akan kembali kepada Tuhanmu, dan kamu akan mendapatkan di sisi-Nya balasan terbesar. ===== مَنْ هُمُ الصَّابِرُونَ فِي الْآيَةِ؟ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا أَعْظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ يَا إِخْوَانُ مَا أَعْظَمَ فَضْلَهَا وَمَا أَعْظَمَ مَعْنَاهَا إِنَّا لِلَّهِ نَحْنُ عَبِيْدُهُ نَحْنُ مَمْلُوكُونَ لَهُ وَهُوَ رَبُّنَا مَالِكُنَا سَيِّدُنَا سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَالِكُ يَتَصَرَّفُ بِعَبِيْدِهِ كَمَا يَشَاءُ فَلَا اعْتِرَاضَ إِذًا عَلَى قَدَرِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَلَيْسَ لَنَا إِلَّا التَّسْلِيمُ وَالْإِيمَانُ وَالرِّضَا بِمَا دَبَّرَ وَقَضَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا مَعْنَى وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ يَا إِخْوَانُ الرَّاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَأَيْضًا ثُمَّ مَاذَا؟ أَوَّلًا فِيهِ بَيَانٌ لِقَدْرِ الدُّنْيَا وَأَنَّنَا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ رَاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ وَتَارِكُوْنَ هَذِهِ الدُّنْيَا بِأَكْمَلِهَا فِيْهِ تَقْلِيْلُ مِسَاحَةِ الدُّنْيَا وَمُدَّتِهَا وَأَيْضًا فِيهِ تَرَقُّبٌ وَتَوَقُّعٌ لِمَاذَا؟ لِعَظِيْمِ الْجَزَاءِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّكَ إِذْ صَبَرْتَ سَوْفَ تَرْجِعُ إِلَى رَبِّكَ وَسَوْفَ تَجِدُ عِنْدَهُ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ
Siapa orang-orang sabar yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, berkata: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (Sungguh kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Betapa agung kalimat ini, wahai saudara-saudara! Betapa agung keutamaannya! Betapa agung maknanya! “Kami milik Allah,” artinya: kami hamba-hamba-Nya. Kami milik-Nya, sedangkan Dia Tuhan kami, Pemilik kami, dan Raja kami, Subhanahu wa bihamdihi. Pemilik berhak memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya, maka tidak selayaknya kita untuk keberatan terhadap takdir-Nya Subhanahu wa bihamdihi. Tidak ada yang layak kita lakukan selain berserah diri, beriman, dan meridai segala yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala atur dan tetapkan. “Sungguh, kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” Apa makna “kepada-Nya kami kembali,” wahai saudara-saudara? Kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu, apa lagi maknanya? Pertama, kalimat ini menjelaskan kedudukan dunia, bahwa suatu hari nanti kita pasti kembali kepada Allah dan meninggalkan dunia ini seluruhnya. Jadi, dalam kalimat ini terkandung penggambaran betapa sempitnya dunia dan betapa singkat waktunya. Juga terdapat sikap menantikan dan mengharapkan, mengharapkan apa? Mengharapkan balasan yang agung dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bahwa jika kamu bersabar, maka kelak kamu akan kembali kepada Tuhanmu, dan kamu akan mendapatkan di sisi-Nya balasan terbesar. ===== مَنْ هُمُ الصَّابِرُونَ فِي الْآيَةِ؟ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا أَعْظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ يَا إِخْوَانُ مَا أَعْظَمَ فَضْلَهَا وَمَا أَعْظَمَ مَعْنَاهَا إِنَّا لِلَّهِ نَحْنُ عَبِيْدُهُ نَحْنُ مَمْلُوكُونَ لَهُ وَهُوَ رَبُّنَا مَالِكُنَا سَيِّدُنَا سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَالِكُ يَتَصَرَّفُ بِعَبِيْدِهِ كَمَا يَشَاءُ فَلَا اعْتِرَاضَ إِذًا عَلَى قَدَرِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَلَيْسَ لَنَا إِلَّا التَّسْلِيمُ وَالْإِيمَانُ وَالرِّضَا بِمَا دَبَّرَ وَقَضَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا مَعْنَى وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ يَا إِخْوَانُ الرَّاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَأَيْضًا ثُمَّ مَاذَا؟ أَوَّلًا فِيهِ بَيَانٌ لِقَدْرِ الدُّنْيَا وَأَنَّنَا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ رَاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ وَتَارِكُوْنَ هَذِهِ الدُّنْيَا بِأَكْمَلِهَا فِيْهِ تَقْلِيْلُ مِسَاحَةِ الدُّنْيَا وَمُدَّتِهَا وَأَيْضًا فِيهِ تَرَقُّبٌ وَتَوَقُّعٌ لِمَاذَا؟ لِعَظِيْمِ الْجَزَاءِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّكَ إِذْ صَبَرْتَ سَوْفَ تَرْجِعُ إِلَى رَبِّكَ وَسَوْفَ تَجِدُ عِنْدَهُ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ


Siapa orang-orang sabar yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, berkata: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (Sungguh kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Betapa agung kalimat ini, wahai saudara-saudara! Betapa agung keutamaannya! Betapa agung maknanya! “Kami milik Allah,” artinya: kami hamba-hamba-Nya. Kami milik-Nya, sedangkan Dia Tuhan kami, Pemilik kami, dan Raja kami, Subhanahu wa bihamdihi. Pemilik berhak memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya, maka tidak selayaknya kita untuk keberatan terhadap takdir-Nya Subhanahu wa bihamdihi. Tidak ada yang layak kita lakukan selain berserah diri, beriman, dan meridai segala yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala atur dan tetapkan. “Sungguh, kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” Apa makna “kepada-Nya kami kembali,” wahai saudara-saudara? Kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu, apa lagi maknanya? Pertama, kalimat ini menjelaskan kedudukan dunia, bahwa suatu hari nanti kita pasti kembali kepada Allah dan meninggalkan dunia ini seluruhnya. Jadi, dalam kalimat ini terkandung penggambaran betapa sempitnya dunia dan betapa singkat waktunya. Juga terdapat sikap menantikan dan mengharapkan, mengharapkan apa? Mengharapkan balasan yang agung dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bahwa jika kamu bersabar, maka kelak kamu akan kembali kepada Tuhanmu, dan kamu akan mendapatkan di sisi-Nya balasan terbesar. ===== مَنْ هُمُ الصَّابِرُونَ فِي الْآيَةِ؟ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا أَعْظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ يَا إِخْوَانُ مَا أَعْظَمَ فَضْلَهَا وَمَا أَعْظَمَ مَعْنَاهَا إِنَّا لِلَّهِ نَحْنُ عَبِيْدُهُ نَحْنُ مَمْلُوكُونَ لَهُ وَهُوَ رَبُّنَا مَالِكُنَا سَيِّدُنَا سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالْمَالِكُ يَتَصَرَّفُ بِعَبِيْدِهِ كَمَا يَشَاءُ فَلَا اعْتِرَاضَ إِذًا عَلَى قَدَرِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَلَيْسَ لَنَا إِلَّا التَّسْلِيمُ وَالْإِيمَانُ وَالرِّضَا بِمَا دَبَّرَ وَقَضَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ مَا مَعْنَى وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ يَا إِخْوَانُ الرَّاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَأَيْضًا ثُمَّ مَاذَا؟ أَوَّلًا فِيهِ بَيَانٌ لِقَدْرِ الدُّنْيَا وَأَنَّنَا فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ رَاجِعُونَ إِلَى اللَّهِ وَتَارِكُوْنَ هَذِهِ الدُّنْيَا بِأَكْمَلِهَا فِيْهِ تَقْلِيْلُ مِسَاحَةِ الدُّنْيَا وَمُدَّتِهَا وَأَيْضًا فِيهِ تَرَقُّبٌ وَتَوَقُّعٌ لِمَاذَا؟ لِعَظِيْمِ الْجَزَاءِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّكَ إِذْ صَبَرْتَ سَوْفَ تَرْجِعُ إِلَى رَبِّكَ وَسَوْفَ تَجِدُ عِنْدَهُ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa

Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa

Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.
Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.


Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.

Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka

Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat. Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka

Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat. Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf
Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat. Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf


Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat. Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Membaca atau Mendengar Al-Qur’an, Mana yang Lebih Banyak Pahalanya? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ

Membaca atau Mendengar Al-Qur’an, Mana yang Lebih Banyak Pahalanya? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ
Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ


Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ

Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang

Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.

Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang

Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.
Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.


Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.

Penjelasan Makna Kalimat: Laa ilaha illallah

(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Meniup Makanan, Arti Mimpi Memakai Mukena, Subliminal Message Adalah, Sarung Bolong, Dhoif Artinya Visited 555 times, 1 visit(s) today Post Views: 984 QRIS donasi Yufid

Penjelasan Makna Kalimat: Laa ilaha illallah

(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Meniup Makanan, Arti Mimpi Memakai Mukena, Subliminal Message Adalah, Sarung Bolong, Dhoif Artinya Visited 555 times, 1 visit(s) today Post Views: 984 QRIS donasi Yufid
(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Meniup Makanan, Arti Mimpi Memakai Mukena, Subliminal Message Adalah, Sarung Bolong, Dhoif Artinya Visited 555 times, 1 visit(s) today Post Views: 984 QRIS donasi Yufid


(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Meniup Makanan, Arti Mimpi Memakai Mukena, Subliminal Message Adalah, Sarung Bolong, Dhoif Artinya Visited 555 times, 1 visit(s) today Post Views: 984 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Imam Syafi’i Sakit, Muridnya Salah Ucap, Tapi Lihat Cara Beliau Menyikapinya! – Syaikh Utsman Khamis

Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Imam Syafi’i Sakit, Muridnya Salah Ucap, Tapi Lihat Cara Beliau Menyikapinya! – Syaikh Utsman Khamis

Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ


Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Mengenal Nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285

Mengenal Nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285

Mau Cita-Citamu Terwujud? Usaha + Amal + Harapan kepada Allah – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

Mau Cita-Citamu Terwujud? Usaha + Amal + Harapan kepada Allah – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ


“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

Sunnah saat Hujan Turun: Buka Kepala & Ucapkan Doa Ini – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

Sunnah saat Hujan Turun: Buka Kepala & Ucapkan Doa Ini – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ


Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia

Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia

Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar

Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar

Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.<img decoding="async" class="size-medium wp-image-110349 aligncenter" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-300x213.webp" alt="" width="300" height="213" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-300x213.webp 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-120x86.webp 120w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-350x250.webp 350w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1.webp 699w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.<img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-110350 aligncenter" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2-300x242.jpg" alt="" width="300" height="242" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2-300x242.jpg 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2.jpg 623w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.<img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-110351" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-300x300.webp" alt="" width="300" height="300" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-300x300.webp 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-150x150.webp 150w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-768x768.webp 768w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-75x75.webp 75w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-350x350.webp 350w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-750x750.webp 750w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba.webp 1024w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Akibat Lalai Terhadap Waktu

Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Akibat Lalai Terhadap Waktu

Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Prev     Next