Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 28): I‘rab Taqdiri

Daftar Isi TogglePembagian tanda i‘rabDefinisi i‘rab taqdiriMacam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimKedua, isim maqsurKetiga, isim manqushKeempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifKelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’KesimpulanIbnu Hisyam rahimahullah mengatakan,فَصْلٌ تُقَدَّرُ جَمِيعُ الْحَرَكَاتِ فِي نَحْوِ: غُلَامِي وَالْفَتَى، وَيُسَمَّى الثَّانِي مَقْصُورًا“Semua harakat yang merupakan tanda i’rab disembunyikan atau dilesapkan seperti pada kata,غُلَامِي“Anak laki-lakiku.” الْفَتَى“Pemuda.”Kata kedua dinamakan isim maqsur.Pembagian tanda i‘rabTelah berlalu pembahasan bahwa tanda-tanda i‘rab terbagi menjadi dua macam:Pertama: Tanda zahir, yaitu tanda i‘rab utama yang tampak pada akhir kata.Kedua: Tanda muqaddarah, yaitu tanda i‘rab yang disembunyikan atau dilesapkan.Perkataan Ibnu Hisyam di atas disampaikan untuk menjelaskan tanda muqaddarah ini.Definisi i‘rab taqdiriYang dimaksud dengan i‘rab taqdiri adalah tanda-tanda i‘rab berupa dhammah, fathah, atau kasrah yang tidak tampak pada huruf terakhir lafaz yang mu‘rab, karena adanya penghalang tertentu.Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz yang tanda i‘rab-nya disembunyikan terbagi menjadi lima jenis.Macam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimApabila sebuah isim di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim, maka seluruh tanda i‘rab pada isim tersebut menjadi muqaddarah. Disembunyikannya tanda i‘rab bukan karena huruf terakhir tidak bisa menerima harakat, tetapi karena bersambung dengan yaa’ mutakallim.Contoh marfu‘:كِتَابِي جَدِيدٌ“Bukuku baru.”Kata كِتَابِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena ia mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim.Contoh manshub:حَفِظْتُ كِتَابِي مِنَ الضِّيَاعِ“Aku menjaga bukuku agar tidak rusak.”Kata كِتَابِي adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur:نَقَلْتُ مِنْ كِتَابِي“Aku menukil dari bukuku.”Kata كِتَابِي  adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Sebagian ulama menyatakan kasrah tersebut zahir, namun ulama lain berpendapat bahwa kasrah itu muqaddarah, karena kasrah tersebut bukan tanda asli, melainkan penyesuaian dengan huruf mad setelahnya. Pendapat ini dimaksudkan agar seluruh isim yang mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim memiliki tanda i‘rab muqaddarah secara konsisten.Kedua, isim maqsurIsim maqsur adalah isim mu‘rab yang berakhir dengan alif lazimah. Seluruh tanda i‘rab pada isim ini bersifat muqaddarah, karena alif merupakan huruf mad dan tidak dapat menerima harakat (at-ta‘adzdzur).Contoh marfu‘ adalah: رِضَا الْوَالِدَيْنِ سَعَادَةٌ لِلْوَلَد“Keridaan kedua orang tua merupakan kebahagiaan bagi seorang anak.”Kata رِضَا adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh manshub:لَا تَتَّبِعِ الْهَوَى “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”Kata الْهَوَى adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur: الْحِمْيَةُ نَافِعَةٌ لِلْمَرْضَى“Diet bermanfaat bagi orang sakit.”Kata مَرْضَى adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Semua isim maqsur, baik marfu‘, manshub, maupun majrur, selalu bertanda muqaddarah.Ketiga, isim manqushIsim manqush adalah isim mu‘rab yang diakhiri huruf yaa’ asli tanpa tasydid, dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah, seperti: القاضي“Hakim”  الساعي“Orang yang berjalan”  الداني“Yang dekat”Pada isim manqush, dhammah dan kasrah dilesapkan karena ats-tsiql (beratnya pengucapan).Contoh marfu‘:السَّاعِي لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Orang yang berusaha berbuat kebaikan seperti orang yang telah melakukannya.”Kata السَّاعِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh majrur: عَلَى الْبَاغِي تَدُورُ الدَّوَائِرُKata الْبَاغِي adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah, karena ats-tsiql.Keempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifFi‘il mudhari’ yang berakhir dengan alif memiliki tanda dhammah dan fathah muqaddarah, karena alif tidak dapat menerima harakat.Contoh marfu’-nya adalah:الْمُتَّقِي يَخْشَى رَبَّهُKata يَخْشَى adalah fi‘il mudhari’ yang marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena at-ta‘adzdzur.Contoh manshub: لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ الْأَذَىKata يَرْضَى adalah fi‘il mudhari’ yang manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Kelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’Fi‘il mudhari’ yang berakhir dengan waw atau yaa’ memiliki tanda dhammah muqaddarah, karena ats-tsiql.Contohnya adalah:الْمُوَحِّدُ لَا يَدْعُو إِلَّا اللّٰهَKata يَدْعُو marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.أَنْتَ تُرَبِّي أَوْلَادَكَ عَلَى الْفَضِيلَةِKata تُرَبِّي marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.Namun, fathah ditampakkan, karena ringan diucapkan. Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,  إِنَّ الْقَاضِيَ لَنْ يَقْضِيَ وَلَنْ يَدْعُوَ“Sesungguhnya hakim itu tidak akan memutuskan dan tidak akan berdoa.”Contoh: لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَKata الرَّاشِيَ dan الْمُرْتَشِي manshub dengan fathah zahirah.لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيرَ شَيْئًا إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهِKata تُعْطِيَ manshub dengan fathah zahirah.KesimpulanI‘rab taqdiri adalah i‘rab yang tanda-tandanya tidak tampak pada akhir kata karena adanya penghalang, baik berupa at-ta‘adzdzur maupun ats-tsiql.Lafaz yang bertanda i‘rab taqdiri terbagi menjadi lima jenis:1) Isim mudhaf kepada yaa’ mutakallim;2) Isim maqsur;3) Isim manqush;4) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif;5) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan tanda sangat dipengaruhi oleh bentuk huruf terakhir dan kedudukan gramatikalnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 27***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 28): I‘rab Taqdiri

Daftar Isi TogglePembagian tanda i‘rabDefinisi i‘rab taqdiriMacam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimKedua, isim maqsurKetiga, isim manqushKeempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifKelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’KesimpulanIbnu Hisyam rahimahullah mengatakan,فَصْلٌ تُقَدَّرُ جَمِيعُ الْحَرَكَاتِ فِي نَحْوِ: غُلَامِي وَالْفَتَى، وَيُسَمَّى الثَّانِي مَقْصُورًا“Semua harakat yang merupakan tanda i’rab disembunyikan atau dilesapkan seperti pada kata,غُلَامِي“Anak laki-lakiku.” الْفَتَى“Pemuda.”Kata kedua dinamakan isim maqsur.Pembagian tanda i‘rabTelah berlalu pembahasan bahwa tanda-tanda i‘rab terbagi menjadi dua macam:Pertama: Tanda zahir, yaitu tanda i‘rab utama yang tampak pada akhir kata.Kedua: Tanda muqaddarah, yaitu tanda i‘rab yang disembunyikan atau dilesapkan.Perkataan Ibnu Hisyam di atas disampaikan untuk menjelaskan tanda muqaddarah ini.Definisi i‘rab taqdiriYang dimaksud dengan i‘rab taqdiri adalah tanda-tanda i‘rab berupa dhammah, fathah, atau kasrah yang tidak tampak pada huruf terakhir lafaz yang mu‘rab, karena adanya penghalang tertentu.Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz yang tanda i‘rab-nya disembunyikan terbagi menjadi lima jenis.Macam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimApabila sebuah isim di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim, maka seluruh tanda i‘rab pada isim tersebut menjadi muqaddarah. Disembunyikannya tanda i‘rab bukan karena huruf terakhir tidak bisa menerima harakat, tetapi karena bersambung dengan yaa’ mutakallim.Contoh marfu‘:كِتَابِي جَدِيدٌ“Bukuku baru.”Kata كِتَابِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena ia mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim.Contoh manshub:حَفِظْتُ كِتَابِي مِنَ الضِّيَاعِ“Aku menjaga bukuku agar tidak rusak.”Kata كِتَابِي adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur:نَقَلْتُ مِنْ كِتَابِي“Aku menukil dari bukuku.”Kata كِتَابِي  adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Sebagian ulama menyatakan kasrah tersebut zahir, namun ulama lain berpendapat bahwa kasrah itu muqaddarah, karena kasrah tersebut bukan tanda asli, melainkan penyesuaian dengan huruf mad setelahnya. Pendapat ini dimaksudkan agar seluruh isim yang mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim memiliki tanda i‘rab muqaddarah secara konsisten.Kedua, isim maqsurIsim maqsur adalah isim mu‘rab yang berakhir dengan alif lazimah. Seluruh tanda i‘rab pada isim ini bersifat muqaddarah, karena alif merupakan huruf mad dan tidak dapat menerima harakat (at-ta‘adzdzur).Contoh marfu‘ adalah: رِضَا الْوَالِدَيْنِ سَعَادَةٌ لِلْوَلَد“Keridaan kedua orang tua merupakan kebahagiaan bagi seorang anak.”Kata رِضَا adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh manshub:لَا تَتَّبِعِ الْهَوَى “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”Kata الْهَوَى adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur: الْحِمْيَةُ نَافِعَةٌ لِلْمَرْضَى“Diet bermanfaat bagi orang sakit.”Kata مَرْضَى adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Semua isim maqsur, baik marfu‘, manshub, maupun majrur, selalu bertanda muqaddarah.Ketiga, isim manqushIsim manqush adalah isim mu‘rab yang diakhiri huruf yaa’ asli tanpa tasydid, dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah, seperti: القاضي“Hakim”  الساعي“Orang yang berjalan”  الداني“Yang dekat”Pada isim manqush, dhammah dan kasrah dilesapkan karena ats-tsiql (beratnya pengucapan).Contoh marfu‘:السَّاعِي لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Orang yang berusaha berbuat kebaikan seperti orang yang telah melakukannya.”Kata السَّاعِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh majrur: عَلَى الْبَاغِي تَدُورُ الدَّوَائِرُKata الْبَاغِي adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah, karena ats-tsiql.Keempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifFi‘il mudhari’ yang berakhir dengan alif memiliki tanda dhammah dan fathah muqaddarah, karena alif tidak dapat menerima harakat.Contoh marfu’-nya adalah:الْمُتَّقِي يَخْشَى رَبَّهُKata يَخْشَى adalah fi‘il mudhari’ yang marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena at-ta‘adzdzur.Contoh manshub: لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ الْأَذَىKata يَرْضَى adalah fi‘il mudhari’ yang manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Kelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’Fi‘il mudhari’ yang berakhir dengan waw atau yaa’ memiliki tanda dhammah muqaddarah, karena ats-tsiql.Contohnya adalah:الْمُوَحِّدُ لَا يَدْعُو إِلَّا اللّٰهَKata يَدْعُو marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.أَنْتَ تُرَبِّي أَوْلَادَكَ عَلَى الْفَضِيلَةِKata تُرَبِّي marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.Namun, fathah ditampakkan, karena ringan diucapkan. Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,  إِنَّ الْقَاضِيَ لَنْ يَقْضِيَ وَلَنْ يَدْعُوَ“Sesungguhnya hakim itu tidak akan memutuskan dan tidak akan berdoa.”Contoh: لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَKata الرَّاشِيَ dan الْمُرْتَشِي manshub dengan fathah zahirah.لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيرَ شَيْئًا إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهِKata تُعْطِيَ manshub dengan fathah zahirah.KesimpulanI‘rab taqdiri adalah i‘rab yang tanda-tandanya tidak tampak pada akhir kata karena adanya penghalang, baik berupa at-ta‘adzdzur maupun ats-tsiql.Lafaz yang bertanda i‘rab taqdiri terbagi menjadi lima jenis:1) Isim mudhaf kepada yaa’ mutakallim;2) Isim maqsur;3) Isim manqush;4) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif;5) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan tanda sangat dipengaruhi oleh bentuk huruf terakhir dan kedudukan gramatikalnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 27***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePembagian tanda i‘rabDefinisi i‘rab taqdiriMacam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimKedua, isim maqsurKetiga, isim manqushKeempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifKelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’KesimpulanIbnu Hisyam rahimahullah mengatakan,فَصْلٌ تُقَدَّرُ جَمِيعُ الْحَرَكَاتِ فِي نَحْوِ: غُلَامِي وَالْفَتَى، وَيُسَمَّى الثَّانِي مَقْصُورًا“Semua harakat yang merupakan tanda i’rab disembunyikan atau dilesapkan seperti pada kata,غُلَامِي“Anak laki-lakiku.” الْفَتَى“Pemuda.”Kata kedua dinamakan isim maqsur.Pembagian tanda i‘rabTelah berlalu pembahasan bahwa tanda-tanda i‘rab terbagi menjadi dua macam:Pertama: Tanda zahir, yaitu tanda i‘rab utama yang tampak pada akhir kata.Kedua: Tanda muqaddarah, yaitu tanda i‘rab yang disembunyikan atau dilesapkan.Perkataan Ibnu Hisyam di atas disampaikan untuk menjelaskan tanda muqaddarah ini.Definisi i‘rab taqdiriYang dimaksud dengan i‘rab taqdiri adalah tanda-tanda i‘rab berupa dhammah, fathah, atau kasrah yang tidak tampak pada huruf terakhir lafaz yang mu‘rab, karena adanya penghalang tertentu.Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz yang tanda i‘rab-nya disembunyikan terbagi menjadi lima jenis.Macam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimApabila sebuah isim di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim, maka seluruh tanda i‘rab pada isim tersebut menjadi muqaddarah. Disembunyikannya tanda i‘rab bukan karena huruf terakhir tidak bisa menerima harakat, tetapi karena bersambung dengan yaa’ mutakallim.Contoh marfu‘:كِتَابِي جَدِيدٌ“Bukuku baru.”Kata كِتَابِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena ia mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim.Contoh manshub:حَفِظْتُ كِتَابِي مِنَ الضِّيَاعِ“Aku menjaga bukuku agar tidak rusak.”Kata كِتَابِي adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur:نَقَلْتُ مِنْ كِتَابِي“Aku menukil dari bukuku.”Kata كِتَابِي  adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Sebagian ulama menyatakan kasrah tersebut zahir, namun ulama lain berpendapat bahwa kasrah itu muqaddarah, karena kasrah tersebut bukan tanda asli, melainkan penyesuaian dengan huruf mad setelahnya. Pendapat ini dimaksudkan agar seluruh isim yang mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim memiliki tanda i‘rab muqaddarah secara konsisten.Kedua, isim maqsurIsim maqsur adalah isim mu‘rab yang berakhir dengan alif lazimah. Seluruh tanda i‘rab pada isim ini bersifat muqaddarah, karena alif merupakan huruf mad dan tidak dapat menerima harakat (at-ta‘adzdzur).Contoh marfu‘ adalah: رِضَا الْوَالِدَيْنِ سَعَادَةٌ لِلْوَلَد“Keridaan kedua orang tua merupakan kebahagiaan bagi seorang anak.”Kata رِضَا adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh manshub:لَا تَتَّبِعِ الْهَوَى “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”Kata الْهَوَى adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur: الْحِمْيَةُ نَافِعَةٌ لِلْمَرْضَى“Diet bermanfaat bagi orang sakit.”Kata مَرْضَى adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Semua isim maqsur, baik marfu‘, manshub, maupun majrur, selalu bertanda muqaddarah.Ketiga, isim manqushIsim manqush adalah isim mu‘rab yang diakhiri huruf yaa’ asli tanpa tasydid, dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah, seperti: القاضي“Hakim”  الساعي“Orang yang berjalan”  الداني“Yang dekat”Pada isim manqush, dhammah dan kasrah dilesapkan karena ats-tsiql (beratnya pengucapan).Contoh marfu‘:السَّاعِي لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Orang yang berusaha berbuat kebaikan seperti orang yang telah melakukannya.”Kata السَّاعِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh majrur: عَلَى الْبَاغِي تَدُورُ الدَّوَائِرُKata الْبَاغِي adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah, karena ats-tsiql.Keempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifFi‘il mudhari’ yang berakhir dengan alif memiliki tanda dhammah dan fathah muqaddarah, karena alif tidak dapat menerima harakat.Contoh marfu’-nya adalah:الْمُتَّقِي يَخْشَى رَبَّهُKata يَخْشَى adalah fi‘il mudhari’ yang marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena at-ta‘adzdzur.Contoh manshub: لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ الْأَذَىKata يَرْضَى adalah fi‘il mudhari’ yang manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Kelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’Fi‘il mudhari’ yang berakhir dengan waw atau yaa’ memiliki tanda dhammah muqaddarah, karena ats-tsiql.Contohnya adalah:الْمُوَحِّدُ لَا يَدْعُو إِلَّا اللّٰهَKata يَدْعُو marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.أَنْتَ تُرَبِّي أَوْلَادَكَ عَلَى الْفَضِيلَةِKata تُرَبِّي marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.Namun, fathah ditampakkan, karena ringan diucapkan. Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,  إِنَّ الْقَاضِيَ لَنْ يَقْضِيَ وَلَنْ يَدْعُوَ“Sesungguhnya hakim itu tidak akan memutuskan dan tidak akan berdoa.”Contoh: لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَKata الرَّاشِيَ dan الْمُرْتَشِي manshub dengan fathah zahirah.لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيرَ شَيْئًا إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهِKata تُعْطِيَ manshub dengan fathah zahirah.KesimpulanI‘rab taqdiri adalah i‘rab yang tanda-tandanya tidak tampak pada akhir kata karena adanya penghalang, baik berupa at-ta‘adzdzur maupun ats-tsiql.Lafaz yang bertanda i‘rab taqdiri terbagi menjadi lima jenis:1) Isim mudhaf kepada yaa’ mutakallim;2) Isim maqsur;3) Isim manqush;4) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif;5) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan tanda sangat dipengaruhi oleh bentuk huruf terakhir dan kedudukan gramatikalnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 27***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePembagian tanda i‘rabDefinisi i‘rab taqdiriMacam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimKedua, isim maqsurKetiga, isim manqushKeempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifKelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’KesimpulanIbnu Hisyam rahimahullah mengatakan,فَصْلٌ تُقَدَّرُ جَمِيعُ الْحَرَكَاتِ فِي نَحْوِ: غُلَامِي وَالْفَتَى، وَيُسَمَّى الثَّانِي مَقْصُورًا“Semua harakat yang merupakan tanda i’rab disembunyikan atau dilesapkan seperti pada kata,غُلَامِي“Anak laki-lakiku.” الْفَتَى“Pemuda.”Kata kedua dinamakan isim maqsur.Pembagian tanda i‘rabTelah berlalu pembahasan bahwa tanda-tanda i‘rab terbagi menjadi dua macam:Pertama: Tanda zahir, yaitu tanda i‘rab utama yang tampak pada akhir kata.Kedua: Tanda muqaddarah, yaitu tanda i‘rab yang disembunyikan atau dilesapkan.Perkataan Ibnu Hisyam di atas disampaikan untuk menjelaskan tanda muqaddarah ini.Definisi i‘rab taqdiriYang dimaksud dengan i‘rab taqdiri adalah tanda-tanda i‘rab berupa dhammah, fathah, atau kasrah yang tidak tampak pada huruf terakhir lafaz yang mu‘rab, karena adanya penghalang tertentu.Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz yang tanda i‘rab-nya disembunyikan terbagi menjadi lima jenis.Macam-macam i‘rab taqdiriPertama, isim yang di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallimApabila sebuah isim di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim, maka seluruh tanda i‘rab pada isim tersebut menjadi muqaddarah. Disembunyikannya tanda i‘rab bukan karena huruf terakhir tidak bisa menerima harakat, tetapi karena bersambung dengan yaa’ mutakallim.Contoh marfu‘:كِتَابِي جَدِيدٌ“Bukuku baru.”Kata كِتَابِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena ia mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim.Contoh manshub:حَفِظْتُ كِتَابِي مِنَ الضِّيَاعِ“Aku menjaga bukuku agar tidak rusak.”Kata كِتَابِي adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur:نَقَلْتُ مِنْ كِتَابِي“Aku menukil dari bukuku.”Kata كِتَابِي  adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Sebagian ulama menyatakan kasrah tersebut zahir, namun ulama lain berpendapat bahwa kasrah itu muqaddarah, karena kasrah tersebut bukan tanda asli, melainkan penyesuaian dengan huruf mad setelahnya. Pendapat ini dimaksudkan agar seluruh isim yang mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim memiliki tanda i‘rab muqaddarah secara konsisten.Kedua, isim maqsurIsim maqsur adalah isim mu‘rab yang berakhir dengan alif lazimah. Seluruh tanda i‘rab pada isim ini bersifat muqaddarah, karena alif merupakan huruf mad dan tidak dapat menerima harakat (at-ta‘adzdzur).Contoh marfu‘ adalah: رِضَا الْوَالِدَيْنِ سَعَادَةٌ لِلْوَلَد“Keridaan kedua orang tua merupakan kebahagiaan bagi seorang anak.”Kata رِضَا adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh manshub:لَا تَتَّبِعِ الْهَوَى “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”Kata الْهَوَى adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Contoh majrur: الْحِمْيَةُ نَافِعَةٌ لِلْمَرْضَى“Diet bermanfaat bagi orang sakit.”Kata مَرْضَى adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.Semua isim maqsur, baik marfu‘, manshub, maupun majrur, selalu bertanda muqaddarah.Ketiga, isim manqushIsim manqush adalah isim mu‘rab yang diakhiri huruf yaa’ asli tanpa tasydid, dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah, seperti: القاضي“Hakim”  الساعي“Orang yang berjalan”  الداني“Yang dekat”Pada isim manqush, dhammah dan kasrah dilesapkan karena ats-tsiql (beratnya pengucapan).Contoh marfu‘:السَّاعِي لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Orang yang berusaha berbuat kebaikan seperti orang yang telah melakukannya.”Kata السَّاعِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.Contoh majrur: عَلَى الْبَاغِي تَدُورُ الدَّوَائِرُKata الْبَاغِي adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah, karena ats-tsiql.Keempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alifFi‘il mudhari’ yang berakhir dengan alif memiliki tanda dhammah dan fathah muqaddarah, karena alif tidak dapat menerima harakat.Contoh marfu’-nya adalah:الْمُتَّقِي يَخْشَى رَبَّهُKata يَخْشَى adalah fi‘il mudhari’ yang marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, karena at-ta‘adzdzur.Contoh manshub: لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ الْأَذَىKata يَرْضَى adalah fi‘il mudhari’ yang manshub dengan tanda fathah muqaddarah.Kelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’Fi‘il mudhari’ yang berakhir dengan waw atau yaa’ memiliki tanda dhammah muqaddarah, karena ats-tsiql.Contohnya adalah:الْمُوَحِّدُ لَا يَدْعُو إِلَّا اللّٰهَKata يَدْعُو marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.أَنْتَ تُرَبِّي أَوْلَادَكَ عَلَى الْفَضِيلَةِKata تُرَبِّي marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.Namun, fathah ditampakkan, karena ringan diucapkan. Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,  إِنَّ الْقَاضِيَ لَنْ يَقْضِيَ وَلَنْ يَدْعُوَ“Sesungguhnya hakim itu tidak akan memutuskan dan tidak akan berdoa.”Contoh: لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَKata الرَّاشِيَ dan الْمُرْتَشِي manshub dengan fathah zahirah.لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيرَ شَيْئًا إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهِKata تُعْطِيَ manshub dengan fathah zahirah.KesimpulanI‘rab taqdiri adalah i‘rab yang tanda-tandanya tidak tampak pada akhir kata karena adanya penghalang, baik berupa at-ta‘adzdzur maupun ats-tsiql.Lafaz yang bertanda i‘rab taqdiri terbagi menjadi lima jenis:1) Isim mudhaf kepada yaa’ mutakallim;2) Isim maqsur;3) Isim manqush;4) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif;5) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw atau yaa’.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan tanda sangat dipengaruhi oleh bentuk huruf terakhir dan kedudukan gramatikalnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 27***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Nasihat Ini Penting untuk Penuntut Ilmu: Siswa, Santri, Mahasiswa S1, S2 dan S3

Benar. Wahai saudara-saudara! Buah dari ilmu, dan manfaat dari ilmu, hanya dapat dipetik oleh orang yang mengamalkan ilmunya. Orang berilmu yang fakih itu adalah orang yang mengetahui ilmu dan mengamalkannya. Orang berilmu bukanlah sekadar orang yang mengumpulkan pengetahuan, atau menghafal kitab-kitab. Orang berilmu yang sejati itu adalah orang yang mengetahui ilmu, lalu mengamalkannya. Barang siapa ingin memperoleh manfaat dari ilmunya, dan memetik buah dari ilmu, maka selain melakukan hal-hal yang telah disebutkan tadi, ia harus berlepas diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatannya sendiri, kecuali kepada Allah. Demi Allah, siapa yang bergantung pada hafalannya, niscaya ia akan gagal. Siapa yang bergantung pada kecerdasannya, niscaya ia akan gagal. Bergantunglah hanya kepada Allah. Berlepas dirilah dari kemampuan dan kekuatanmu, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dalam menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Niatkanlah ketika menuntut ilmu, agar kamu sendiri memperoleh manfaat darinya, bukan agar mendapat kedudukan (di hadapan manusia). Niatkanlah saat menuntut ilmu untuk memperoleh manfaat, bukan untuk meninggikan diri. Sebab, jika niatmu benar dan kamu memperoleh manfaat dari ilmu itu, niscaya kedudukanmu akan terangkat dengan sendirinya. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju ketenaran. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga agar kamu lebih diutamakan daripada orang lain. Jangan mempelajari ilmu agar kamu disebut sebagai orang berilmu. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dijunjung di majelis-majelis. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dipersilakan berbicara. Tuntutlah ilmu agar kamu memperoleh manfaat darinya. Jika kamu menuntut ilmu untuk memperoleh manfaatnya, demi Allah, Allah akan mengangkat derajatmu. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu di telingamu dan di relung hatimu, “Pelajarilah ilmu agar memperoleh manfaatnya, bukan untuk meninggikan diri.” Jadikan tujuan utamamu agar kamu menjadi orang pertama yang merasakan manfaat ilmu tersebut. Setelah itu, barulah sebarkan ilmu dan manfaatnya kepada orang lain. Dan termasuk manfaat ilmu bagimu adalah ketika kamu mampu memberi manfaat kepada orang lain dengannya. Maka kesimpulannya adalah: keikhlasan dan ketulusan, serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri, kecuali dengan pertolongan Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu serta mengamalkannya, juga meniatkan untuk memperoleh manfaat dari ilmu dan mengamalkannya. Inilah jalan yang benar dalam menuntut ilmu. Barang siapa menempuh jalan ini, demi Allah, ia tidak akan gagal. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, ia tidak akan gagal. Dengan penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== نَعَمْ يَا إِخْوَةُ ثِمَارُ الْعِلْمِ وَالِانْتِفَاعُ بِالْعِلْمِ إِنَّمَا يَكُونُ أَوْ تَكُونُ لِمَنْ عَمِلَ بِالْعِلْمِ وَالْعَالِمُ الْفَقِيهُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمَعْلُومَاتِ أَوْ يَحْفَظُ الْمُصَنَّفَاتِ الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَمَنْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِالْعِلْمِ وَأَنْ يَكْتَسِبَ ثِمَارَ الْعِلْمِ فَعَلَيْهِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ أَنْ يَبْرَأَ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ إِلاَّ بِاللَّهِ وَاللَّهِ مَنِ اعْتَمَدَ عَلَى حِفْظِهِ خُذِلَ مَنْ اعْتَمَدَ عَلَى ذَكَائِهِ خُذِلَ اعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ اِبْرَأْ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَّا بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَفِي الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَانْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ بِالْعِلْمِ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ بِهِ انْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ فَإِذَا نَوَيْتَ فَانْتَفَعْتَ ارْتَفَعْتَ لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِلشُّهْرَةِ لَا تَجْعَلْ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِتُقَدَّمَ عَلَى غَيْرِكَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَتَخَيَّرَ الْمَجَالِسَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتُقَدَّمَ فِي الْكَلَامِ تَعَلَّم الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ فَإِذَا تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ رَفَعَكَ اللَّهُ وَاللَّهِ وَلِذَلِكَ ضَعْهَا فِي أُذُنِكَ دَائِمًا وَفِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِكَ تَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ لَا لِتَرْتَفِعَ وَلْيَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ ثُمَّ أَفِضْ بِالْعِلْمِ عَلَى النَّاسِ وَهَذَا مِنْ انْتِفَاعِكَ بِالْعِلْمِ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ النَّاسَ إِذًا إِخْلَاصٌ وَصِدْقٌ وَتَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ إِلَّا بِاللَّهِ وَاسْتِعَانَةٌ بِاللَّهِ عَلَى تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَعَلَى الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَقَصْدُ الِانْتِفَاعِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ طَرِيقُ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ الصَّحِيحِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ وَاللَّهِ لَا يُخْذَلُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَا يُخْذَلُ قَةً بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Nasihat Ini Penting untuk Penuntut Ilmu: Siswa, Santri, Mahasiswa S1, S2 dan S3

Benar. Wahai saudara-saudara! Buah dari ilmu, dan manfaat dari ilmu, hanya dapat dipetik oleh orang yang mengamalkan ilmunya. Orang berilmu yang fakih itu adalah orang yang mengetahui ilmu dan mengamalkannya. Orang berilmu bukanlah sekadar orang yang mengumpulkan pengetahuan, atau menghafal kitab-kitab. Orang berilmu yang sejati itu adalah orang yang mengetahui ilmu, lalu mengamalkannya. Barang siapa ingin memperoleh manfaat dari ilmunya, dan memetik buah dari ilmu, maka selain melakukan hal-hal yang telah disebutkan tadi, ia harus berlepas diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatannya sendiri, kecuali kepada Allah. Demi Allah, siapa yang bergantung pada hafalannya, niscaya ia akan gagal. Siapa yang bergantung pada kecerdasannya, niscaya ia akan gagal. Bergantunglah hanya kepada Allah. Berlepas dirilah dari kemampuan dan kekuatanmu, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dalam menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Niatkanlah ketika menuntut ilmu, agar kamu sendiri memperoleh manfaat darinya, bukan agar mendapat kedudukan (di hadapan manusia). Niatkanlah saat menuntut ilmu untuk memperoleh manfaat, bukan untuk meninggikan diri. Sebab, jika niatmu benar dan kamu memperoleh manfaat dari ilmu itu, niscaya kedudukanmu akan terangkat dengan sendirinya. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju ketenaran. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga agar kamu lebih diutamakan daripada orang lain. Jangan mempelajari ilmu agar kamu disebut sebagai orang berilmu. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dijunjung di majelis-majelis. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dipersilakan berbicara. Tuntutlah ilmu agar kamu memperoleh manfaat darinya. Jika kamu menuntut ilmu untuk memperoleh manfaatnya, demi Allah, Allah akan mengangkat derajatmu. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu di telingamu dan di relung hatimu, “Pelajarilah ilmu agar memperoleh manfaatnya, bukan untuk meninggikan diri.” Jadikan tujuan utamamu agar kamu menjadi orang pertama yang merasakan manfaat ilmu tersebut. Setelah itu, barulah sebarkan ilmu dan manfaatnya kepada orang lain. Dan termasuk manfaat ilmu bagimu adalah ketika kamu mampu memberi manfaat kepada orang lain dengannya. Maka kesimpulannya adalah: keikhlasan dan ketulusan, serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri, kecuali dengan pertolongan Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu serta mengamalkannya, juga meniatkan untuk memperoleh manfaat dari ilmu dan mengamalkannya. Inilah jalan yang benar dalam menuntut ilmu. Barang siapa menempuh jalan ini, demi Allah, ia tidak akan gagal. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, ia tidak akan gagal. Dengan penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== نَعَمْ يَا إِخْوَةُ ثِمَارُ الْعِلْمِ وَالِانْتِفَاعُ بِالْعِلْمِ إِنَّمَا يَكُونُ أَوْ تَكُونُ لِمَنْ عَمِلَ بِالْعِلْمِ وَالْعَالِمُ الْفَقِيهُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمَعْلُومَاتِ أَوْ يَحْفَظُ الْمُصَنَّفَاتِ الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَمَنْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِالْعِلْمِ وَأَنْ يَكْتَسِبَ ثِمَارَ الْعِلْمِ فَعَلَيْهِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ أَنْ يَبْرَأَ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ إِلاَّ بِاللَّهِ وَاللَّهِ مَنِ اعْتَمَدَ عَلَى حِفْظِهِ خُذِلَ مَنْ اعْتَمَدَ عَلَى ذَكَائِهِ خُذِلَ اعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ اِبْرَأْ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَّا بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَفِي الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَانْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ بِالْعِلْمِ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ بِهِ انْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ فَإِذَا نَوَيْتَ فَانْتَفَعْتَ ارْتَفَعْتَ لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِلشُّهْرَةِ لَا تَجْعَلْ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِتُقَدَّمَ عَلَى غَيْرِكَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَتَخَيَّرَ الْمَجَالِسَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتُقَدَّمَ فِي الْكَلَامِ تَعَلَّم الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ فَإِذَا تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ رَفَعَكَ اللَّهُ وَاللَّهِ وَلِذَلِكَ ضَعْهَا فِي أُذُنِكَ دَائِمًا وَفِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِكَ تَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ لَا لِتَرْتَفِعَ وَلْيَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ ثُمَّ أَفِضْ بِالْعِلْمِ عَلَى النَّاسِ وَهَذَا مِنْ انْتِفَاعِكَ بِالْعِلْمِ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ النَّاسَ إِذًا إِخْلَاصٌ وَصِدْقٌ وَتَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ إِلَّا بِاللَّهِ وَاسْتِعَانَةٌ بِاللَّهِ عَلَى تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَعَلَى الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَقَصْدُ الِانْتِفَاعِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ طَرِيقُ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ الصَّحِيحِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ وَاللَّهِ لَا يُخْذَلُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَا يُخْذَلُ قَةً بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Benar. Wahai saudara-saudara! Buah dari ilmu, dan manfaat dari ilmu, hanya dapat dipetik oleh orang yang mengamalkan ilmunya. Orang berilmu yang fakih itu adalah orang yang mengetahui ilmu dan mengamalkannya. Orang berilmu bukanlah sekadar orang yang mengumpulkan pengetahuan, atau menghafal kitab-kitab. Orang berilmu yang sejati itu adalah orang yang mengetahui ilmu, lalu mengamalkannya. Barang siapa ingin memperoleh manfaat dari ilmunya, dan memetik buah dari ilmu, maka selain melakukan hal-hal yang telah disebutkan tadi, ia harus berlepas diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatannya sendiri, kecuali kepada Allah. Demi Allah, siapa yang bergantung pada hafalannya, niscaya ia akan gagal. Siapa yang bergantung pada kecerdasannya, niscaya ia akan gagal. Bergantunglah hanya kepada Allah. Berlepas dirilah dari kemampuan dan kekuatanmu, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dalam menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Niatkanlah ketika menuntut ilmu, agar kamu sendiri memperoleh manfaat darinya, bukan agar mendapat kedudukan (di hadapan manusia). Niatkanlah saat menuntut ilmu untuk memperoleh manfaat, bukan untuk meninggikan diri. Sebab, jika niatmu benar dan kamu memperoleh manfaat dari ilmu itu, niscaya kedudukanmu akan terangkat dengan sendirinya. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju ketenaran. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga agar kamu lebih diutamakan daripada orang lain. Jangan mempelajari ilmu agar kamu disebut sebagai orang berilmu. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dijunjung di majelis-majelis. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dipersilakan berbicara. Tuntutlah ilmu agar kamu memperoleh manfaat darinya. Jika kamu menuntut ilmu untuk memperoleh manfaatnya, demi Allah, Allah akan mengangkat derajatmu. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu di telingamu dan di relung hatimu, “Pelajarilah ilmu agar memperoleh manfaatnya, bukan untuk meninggikan diri.” Jadikan tujuan utamamu agar kamu menjadi orang pertama yang merasakan manfaat ilmu tersebut. Setelah itu, barulah sebarkan ilmu dan manfaatnya kepada orang lain. Dan termasuk manfaat ilmu bagimu adalah ketika kamu mampu memberi manfaat kepada orang lain dengannya. Maka kesimpulannya adalah: keikhlasan dan ketulusan, serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri, kecuali dengan pertolongan Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu serta mengamalkannya, juga meniatkan untuk memperoleh manfaat dari ilmu dan mengamalkannya. Inilah jalan yang benar dalam menuntut ilmu. Barang siapa menempuh jalan ini, demi Allah, ia tidak akan gagal. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, ia tidak akan gagal. Dengan penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== نَعَمْ يَا إِخْوَةُ ثِمَارُ الْعِلْمِ وَالِانْتِفَاعُ بِالْعِلْمِ إِنَّمَا يَكُونُ أَوْ تَكُونُ لِمَنْ عَمِلَ بِالْعِلْمِ وَالْعَالِمُ الْفَقِيهُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمَعْلُومَاتِ أَوْ يَحْفَظُ الْمُصَنَّفَاتِ الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَمَنْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِالْعِلْمِ وَأَنْ يَكْتَسِبَ ثِمَارَ الْعِلْمِ فَعَلَيْهِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ أَنْ يَبْرَأَ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ إِلاَّ بِاللَّهِ وَاللَّهِ مَنِ اعْتَمَدَ عَلَى حِفْظِهِ خُذِلَ مَنْ اعْتَمَدَ عَلَى ذَكَائِهِ خُذِلَ اعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ اِبْرَأْ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَّا بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَفِي الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَانْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ بِالْعِلْمِ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ بِهِ انْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ فَإِذَا نَوَيْتَ فَانْتَفَعْتَ ارْتَفَعْتَ لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِلشُّهْرَةِ لَا تَجْعَلْ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِتُقَدَّمَ عَلَى غَيْرِكَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَتَخَيَّرَ الْمَجَالِسَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتُقَدَّمَ فِي الْكَلَامِ تَعَلَّم الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ فَإِذَا تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ رَفَعَكَ اللَّهُ وَاللَّهِ وَلِذَلِكَ ضَعْهَا فِي أُذُنِكَ دَائِمًا وَفِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِكَ تَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ لَا لِتَرْتَفِعَ وَلْيَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ ثُمَّ أَفِضْ بِالْعِلْمِ عَلَى النَّاسِ وَهَذَا مِنْ انْتِفَاعِكَ بِالْعِلْمِ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ النَّاسَ إِذًا إِخْلَاصٌ وَصِدْقٌ وَتَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ إِلَّا بِاللَّهِ وَاسْتِعَانَةٌ بِاللَّهِ عَلَى تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَعَلَى الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَقَصْدُ الِانْتِفَاعِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ طَرِيقُ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ الصَّحِيحِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ وَاللَّهِ لَا يُخْذَلُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَا يُخْذَلُ قَةً بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Benar. Wahai saudara-saudara! Buah dari ilmu, dan manfaat dari ilmu, hanya dapat dipetik oleh orang yang mengamalkan ilmunya. Orang berilmu yang fakih itu adalah orang yang mengetahui ilmu dan mengamalkannya. Orang berilmu bukanlah sekadar orang yang mengumpulkan pengetahuan, atau menghafal kitab-kitab. Orang berilmu yang sejati itu adalah orang yang mengetahui ilmu, lalu mengamalkannya. Barang siapa ingin memperoleh manfaat dari ilmunya, dan memetik buah dari ilmu, maka selain melakukan hal-hal yang telah disebutkan tadi, ia harus berlepas diri dari ketergantungan pada kemampuan dan kekuatannya sendiri, kecuali kepada Allah. Demi Allah, siapa yang bergantung pada hafalannya, niscaya ia akan gagal. Siapa yang bergantung pada kecerdasannya, niscaya ia akan gagal. Bergantunglah hanya kepada Allah. Berlepas dirilah dari kemampuan dan kekuatanmu, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dalam menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Niatkanlah ketika menuntut ilmu, agar kamu sendiri memperoleh manfaat darinya, bukan agar mendapat kedudukan (di hadapan manusia). Niatkanlah saat menuntut ilmu untuk memperoleh manfaat, bukan untuk meninggikan diri. Sebab, jika niatmu benar dan kamu memperoleh manfaat dari ilmu itu, niscaya kedudukanmu akan terangkat dengan sendirinya. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju ketenaran. Jangan jadikan ilmu sebagai tangga agar kamu lebih diutamakan daripada orang lain. Jangan mempelajari ilmu agar kamu disebut sebagai orang berilmu. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dijunjung di majelis-majelis. Jangan mempelajari ilmu agar kamu dipersilakan berbicara. Tuntutlah ilmu agar kamu memperoleh manfaat darinya. Jika kamu menuntut ilmu untuk memperoleh manfaatnya, demi Allah, Allah akan mengangkat derajatmu. Oleh karena itu, tanamkanlah selalu di telingamu dan di relung hatimu, “Pelajarilah ilmu agar memperoleh manfaatnya, bukan untuk meninggikan diri.” Jadikan tujuan utamamu agar kamu menjadi orang pertama yang merasakan manfaat ilmu tersebut. Setelah itu, barulah sebarkan ilmu dan manfaatnya kepada orang lain. Dan termasuk manfaat ilmu bagimu adalah ketika kamu mampu memberi manfaat kepada orang lain dengannya. Maka kesimpulannya adalah: keikhlasan dan ketulusan, serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri, kecuali dengan pertolongan Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu serta mengamalkannya, juga meniatkan untuk memperoleh manfaat dari ilmu dan mengamalkannya. Inilah jalan yang benar dalam menuntut ilmu. Barang siapa menempuh jalan ini, demi Allah, ia tidak akan gagal. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, ia tidak akan gagal. Dengan penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== نَعَمْ يَا إِخْوَةُ ثِمَارُ الْعِلْمِ وَالِانْتِفَاعُ بِالْعِلْمِ إِنَّمَا يَكُونُ أَوْ تَكُونُ لِمَنْ عَمِلَ بِالْعِلْمِ وَالْعَالِمُ الْفَقِيهُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمَعْلُومَاتِ أَوْ يَحْفَظُ الْمُصَنَّفَاتِ الْعَالِمُ مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَمَنْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِالْعِلْمِ وَأَنْ يَكْتَسِبَ ثِمَارَ الْعِلْمِ فَعَلَيْهِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ أَنْ يَبْرَأَ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ إِلاَّ بِاللَّهِ وَاللَّهِ مَنِ اعْتَمَدَ عَلَى حِفْظِهِ خُذِلَ مَنْ اعْتَمَدَ عَلَى ذَكَائِهِ خُذِلَ اعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ اِبْرَأْ مِنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَّا بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَفِي الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَانْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ بِالْعِلْمِ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ بِهِ انْوِ عِنْدَ التَّحْصِيلِ أَنْ تَنْتَفِعَ لَا أَنْ تَرْتَفِعَ فَإِذَا نَوَيْتَ فَانْتَفَعْتَ ارْتَفَعْتَ لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِلشُّهْرَةِ لَا تَجْعَلْ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِتُقَدَّمَ عَلَى غَيْرِكَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَتَخَيَّرَ الْمَجَالِسَ لَا تَتَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتُقَدَّمَ فِي الْكَلَامِ تَعَلَّم الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ فَإِذَا تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ رَفَعَكَ اللَّهُ وَاللَّهِ وَلِذَلِكَ ضَعْهَا فِي أُذُنِكَ دَائِمًا وَفِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِكَ تَعَلَّمِ الْعِلْمَ لِتَنْتَفِعَ لَا لِتَرْتَفِعَ وَلْيَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تَنْتَفِعَ أَنْتَ ثُمَّ أَفِضْ بِالْعِلْمِ عَلَى النَّاسِ وَهَذَا مِنْ انْتِفَاعِكَ بِالْعِلْمِ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ النَّاسَ إِذًا إِخْلَاصٌ وَصِدْقٌ وَتَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ إِلَّا بِاللَّهِ وَاسْتِعَانَةٌ بِاللَّهِ عَلَى تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَعَلَى الْعَمَلِ بِالْعِلْمِ وَقَصْدُ الِانْتِفَاعِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ طَرِيقُ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ الصَّحِيحِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ وَاللَّهِ لَا يُخْذَلُ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَا يُخْذَلُ قَةً بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleManusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiBumi sebagai tempat mencari rezekiSikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaBaca bagian sebelumnya: Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)Islam menempatkan hubungan manusia dan alam dalam sebuah amanah besar. Pemanfaatan bumi, pemeliharaannya, serta dampak dari aktivitas manusia atasnya bukanlah persoalan teknis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang melekat pada penciptaan manusia itu sendiri.Manusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiManusia, yang Allah ciptakan sebagai khalifah di muka bumi, menggantikan bangsa jin dalam mengemban amanah kuasa pengelolaan bumi. Manusia juga saling berganti-gantian dalam berkuasa di bumi satu generasi ke generasi lainnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً“Ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan menjadikan khalifah (pengganti) di bumi’” (QS. al-Baqarah: 30)Ibnu katsir dan para ahli tafsir klasik rahimahumullah menjelaskan bahwa di antara maksud ayat di atas adalah,قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن وجيلا بعد جيل“Satu kaum dengan kaum yang lain akan saling menggantikan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.” [12]Para ahli tafsir klasik, di antaranya Imam at-Thabari rahimahullah juga menjelaskan bahwa khalifah (pengganti) pada ayat tersebut juga berarti bahwa manusia yang mengganti bangsa jin. Beliau  rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya,عن ابن عباس قال : أول من سكن الأرض الجن فأفسدوا فيها وسفكوا فيها الدماء وقتل بعضهم بعضا . فبعث الله إليهم إبليس في جند من الملائكة ، فقتلهم إبليس ومن معه حتى ألحقهم بجزائر البحور وأطراف الجبال . ثم خلق آدم فأسكنه إياها“Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makhluk yang pertama menghuni bumi adalah bangsa jin, kemudian mereka merusak bumi, menumpahkan darah, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Maka, Allah utus mereka Iblis (yang bergabung) dengan pasukan malaikat. Ia dan pasukannya memerangi para jin (ke seluruh penjuru bumi) sampai lautan dan gunung-gunung. Kemudian Allah menciptakan Adam dan Ia jadikan Adam penghuni bumi (menggantikan bangsa jin).” [13]Allah menempatkan mereka di bumi dan memberi mereka amanah untuk berkuasa atas bumi dengan melakukan pemakmuran, perbaikan, serta pelestarian bumi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia-lah yang menciptakan kalian dari bumi dan meminta kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)Maka dari itu, setelah kita mengetahui bahwa memakmurkan bumi dan kelestariannya menjadi salah satu tugas utama manusia, manusia yang beriman kepada Allah haruslah menjadi garda terdepan dalam menyuarakan serta mengusahakan kemakmuran dan kelestarian bumi. Ketika orang-orang yang beriman berhasil mempunyai kuasa atas kemakmuran bumi, maka lingkungan akan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah, bahwa kaum perbaikan-lah yang Allah tugaskan mereka untuk mengganti kaum perusak. Allah Ta‘ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.” (QS. an-Nur: 55)Allah menginginkan orang-orang beriman yang membawa perbaikan dan kemakmuran di dunia mengganti orang-orang yang membawa kerusakan agar keamanan itu benar-benar dirasakan oleh setiap makhluk tanpa adanya ketakutan kerusakan yang diakibatkan oleh diri-diri mereka. Sudah menjadi keharusan, bagi setiap orang-orang yang beriman untuk memperhatikan kemakmuran bumi dan kelestarian alam. Syekh Mahmud Ahmad Syauq rahimahullah dalam kitabnya, al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, menjelaskan hal ini,واستخلاف الله -سبحانه وتعالى- للمسلم في عمارة الأرض يجعل العلم فريضة عليه. فعمارة الأرض لا يقف مداها عند حدود زمنية أو مكانية. بل هي ممتدة بامتداد الأزمنة كلها، منتشرة بانتشار الأمكنة كلها، بمعنى أن المسلم مطالب بعمارة الأرض حيثما يكون ووقتما يكون“Penetapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā terhadap kaum muslimin sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi mereka. Sebab, pemakmuran bumi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Ia terus berlangsung sepanjang seluruh zaman dan tersebar di seluruh tempat. Artinya, seorang muslim dituntut untuk memakmurkan bumi di manapun ia berada dan kapanpun ia berada.” [14]Dengan kemakmuran bumi dan kelestarian alam seluruh makhluk hidup yang bergantung dengannya akan mendapat kebaikan darinya, sehingga manfaat yang didapatkan darinya tidak hanya dirasakan oleh manusia pada zaman, tempat, ataupun strata tertentu, melainkan seluruh makhluk.Bumi sebagai tempat mencari rezekiAllah menyiapkan bumi sebagai sarana untuk mencari rezeki. Selain beribadah, manusia juga diperbolehkan mencari rezeki di dunia agar dapat menyuplai kegiatan peribadatan mereka kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memberi penjelasan untuk firman-Nya, فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ “Bertebaranlah kamu di muka bumi” dalam kitabnya,لطلب المكاسب والتجارات“Untuk mencari pencaharian dan perdagangan.” [15]Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan ayat tersebut,أذن لهم بعد الفراغ في الانتشار في الأرض والابتغاء من فضل الله. كما كان عراك بن مالك رضي الله عنه إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، فقال : اللهم إني أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك، وأنت خير الرازقين“Diizinkan bagi mereka (umat Islam) setelah selesai untuk bertebaran di permukaan bumi dan untuk mencari keutamaan Allah (rezeki) sebagaimana yang dilakukan Irak bin Malik radhiyallahu `anhu setelah salat Jumat ia berdiri di depan pintu masjid lalu berkata, ‘Ya Allah telah kupenuhi panggilanmu, telah kutuntaskan salat wajib, dan aku telah bertebaran di muka bumi sebagaimana Engkau perintahkan diriku, maka berilah aku rezeki. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki’.” [16]Pada ayat tersebut, para ulama menjelaskan hukum bertebaran mencari rezeki setelah salat dilaksanakan menjadi mubah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah,الأمر في قوله: {فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ} ليس للوجوب ولا للاستحباب، ولكنه للإباحة“Adapun perintah pada firman-Nya, ‘maka bertebaranlah di muka bumi’ tidak berarti wajib maupun sunah, tetapi mubah.” [17]Hukum mubah pada asalnya adalah hukum yang fleksibel dan bergantung pada hukum lainnya, karena hukum ini dapat berubah mengikuti tujuan, akibat, dan konteks perbuatannya. Syekh Dr. ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad Miṣilḥī rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣi, إنه ليس لذاته، ولكن لتعلقه أحيانًا بأمور خارجية تغير حكمه إلى واجب أو مندوب أو محرم أو مكروه، فليس التكليف في المباح، وإنما فيما يتعلق به.“Sesungguhnya (hukum mubah) itu bukan karena zat perbuatannya sendiri, tetapi karena terkadang ia berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengubah hukumnya menjadi wajib, sunah, haram, atau makruh. Maka taklif (pembebanan hukum) bukan terletak pada perkara mubah itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang melekat dan berkaitan dengannya.” [18]Maka dari itu, bertebaran di bumi untuk mencari rezeki pada asalnya berhukum mubah, dan hukumnya berubah sesuai dengan tujuan pelakunya. Apabila aktivitas tersebut diniatkan sebagai sarana untuk menunaikan kewajiban ibadah kepada Allah, maka hukumnya dapat menjadi wajib, karena ibadah itu sendiri wajib. Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan kaidah,مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Apa yang kewajiban menjadi tidak sempurna dengannya, maka hukumnya juga menjadi wajib.” [19]Dengan demikian, mencari rezeki di berbagai penjuru bumi dapat berhukum wajib ketika ia menjadi sarana yang niscaya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah. Bumi telah Allah siapkan sebagai medan ikhtiar manusia agar kebutuhan dunianya terpenuhi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah untuk kalian, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya (yang kamu dapat).” (QS. al-Mulk: 15)Allah-lah yang memudahkan bumi ini untuk diambil rezekinya, maka kita ditugaskan untuk berikhtiar untuk mencari dan mengambil rezeki-Nya. Syekh as-Sa’di rahimahullah mengatakan,هو الذي سخر لكم الأرض وذللها، لتدركوا منها كل ما تعلقت به حاجتكم، من غرس وبناء وحرث، وطرق يتوصل بها إلى الأقطار النائية والبلدان الشاسعة،  فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا) أي: لطلب الرزق والمكاسب“Dialah (Allah) yang menundukkan bumi untuk kalian dan memudahkannya, agar kalian dapat meraih darinya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kalian, seperti bercocok tanam, membangun, bertani, serta jalan-jalan yang mengantarkan ke berbagai penjuru dan negeri-negeri yang jauh. (Firman-Nya), ‘Maka berjalanlah di segala penjurunya’, artinya, untuk mencari rezeki dan berbagai bentuk penghasilan.” [20]Penjelasan-penjelasan menunjukkan bahwa sejatinya manusia diberi akses oleh Allah untuk memanfaatkan sumber daya alam di bumi ini dan mereka diminta untuk mencari rezeki darinya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Karena ketika seseorang mendapatkan kehidupan dunia yang baik, hal itu dapat memudahkannya mencari akhirat dengan baik. Seorang manusia hendaklah mencari rezeki dari bumi yang telah Allah siapkan dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Namun, kebolehan tersebut tidak bersifat mutlak dan tidak lepas ataupun liar dari batasan syariat. Setiap pemanfaatan selalu disertai amanah dan tanggung jawab, sehingga di sinilah sikap tawasuth menjadi penentu arah pemanfaatan bumi.Sikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaIslam tidak melarang pemanfaatan lingkungan, bahkan manusia diizinkan untuk mengelola sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, Islam juga  memerintahkan kita untuk memakmurkannya dan melarang berlebihan memanfaatkannya tanpa mempertimbangkan hal lain,وَهُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَ جَنّٰتٍ مَّعۡرُوۡشٰتٍ وَّغَيۡرَ مَعۡرُوۡشٰتٍ وَّالنَّخۡلَ وَالزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيۡرَ مُتَشَابِهٍ ​ؕ كُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِهٖۤ اِذَاۤ اَثۡمَرَ وَاٰتُوۡا حَقَّهٗ يَوۡمَ حَصَادِهٖ​ ​ۖ وَلَا تُسۡرِفُوۡا​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ‏“‏Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An`am: 141)Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diberi izin untuk memanfaatkan bumi dan mencari rezeki darinya, namun izin itu dibatasi oleh larangan isrāf (berlebihan). Karena ketika sikap berlebihan menguasai diri, ia akan melahirkan kerusakan dan menghilangkan semangat perbaikan, sebagaimana disebutkan,أن الإسراف إذا استمكن في النفس ترتب عليه ذلك الفساد وعدم الإصلاح“Bahwa isrāf (berlebihan) jika ada pada jiwa seorang, maka hal tersebut akan berkonsekuensi kepada kerusakan dan tidak adanya perbaikan.” [21]Dari prinsip inilah Islam kemudian menegaskan kewajiban agar tidak melakukan isrāf (berlebihan) dalam memberdayakan sumber daya alam, karena berlebihan akan berdampak kerusakan. Mengambil sumber daya alam secara berlebih akan berpengaruh pada makhluk lain. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang memperjuangkan ishlah (perbaikan) dan menolak fasad (kerusakan).Berbagai penelitian ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa eksploitasi alam oleh manusia menjadi penyebab utama rusaknya keanekaragaman hayati. Sebuah studi global berskala besar yang diterbitkan dalam Science Advances, Jauregui Berry dkk (2022) menegaskan bahwa deforestasi, konversi habitat, serta eksploitasi langsung seperti penebangan, perburuan, dan penangkapan ikan berlebihan merupakan faktor dominan menurunnya populasi spesies di seluruh dunia. Temuan ini memperlihatkan bahwa kerusakan biodiversitas bukan proses alamiah, melainkan akibat langsung dari aktivitas manusia yang memanfaatkan bumi tanpa kendali dan keseimbangan. [22]Eksploitasi alam yang dilakukan manusia secara berlebihan tidak hanya berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perubahan pola cuaca dan meningkatnya risiko bencana alam. Sebagaimana yang dikemukakan Lamichhane dkk (2025) bahwa deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan tata guna lahan mengganggu keseimbangan sistem iklim lokal dan regional, seperti siklus hidrologi, distribusi curah hujan, serta stabilitas suhu permukaan. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi kemampuan bumi dalam menyerap air dan panas, sehingga meningkatkan frekuensi kejadian banjir, kekeringan, longsor, dan pemanasan global. [23]Jangankan menyebabkan kerusakan alam yang berpengaruh pada kelangsungan hidup biodiversitas dan lingkungan, menyiksa kucing saja Islam haramkan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ في هِرَّةٍ سَجَنَتْها حتَّى ماتَتْ، فَدَخَلَتْ فيها النَّارَ، لا هي أطْعَمَتْها ولا سَقَتْها، إذْ حَبَسَتْها، ولا هي تَرَكَتْها تَأْكُلُ مِن خَشاشِ الأرْضِ (رواه البخاري ومسلم)“Seorang wanita disiksa lantaran seekor kucing yang mati karena ia kurung, maka karenanya ia pun masuk neraka. Sebab ia tidak memberinya makan atau minum ketika ia mengurungnya dan juga tidak melepasnya sehingga kucing itu mencari makan dari hewan-hewan kecil.” (Muttafaq ‘alaih) [24]Berbuat buruk kepada satu makhluk saja dapat menyebabkan manusia disiksa, apalagi perbuatan buruk yang bersifat eksplosif dan berdampak buruk kepada banyak makhluk, maka keharamannya akan lebih besar. Manusia memang dihalalkan untuk mencari rezeki dari bumi Allah, namun jika aktivitas tersebut malah dapat menyebabkan kemudaratan yang lebih besar, maka hukumnya dapat berubah menjadi haram karena mencegah kemudaratan lebih diutamakan dari mengambil kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih yang cukup lumrah disebutkan para ulama,إِذا دَار الْأَمر بَين دَرْء مفْسدَة وجلب مصلحَة، كَانَ دَرْء الْمفْسدَة أولى من جلب الْمصلحَة“Apabila suatu perkara berada di antara menolak kemudaratan dan mengambil kemaslahatan, maka menolak kemudaratan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” [25]Oleh karena itu, manakala eksploitasi alam menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada kemaslahatan, maka menurut kaidah درء المفاسد مقدم على جلب المصالح, tindakan tersebut dapat berubah dari mubah menjadi haram.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[12] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[13] ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.[14] Syeikh Maḥmūd Aḥmad. (2001). al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, hal. 133.[15] as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī.[16] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[17] Ibnu ‘Utsaimin. Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Surah An-Nisa’, 2: 155.[18] ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid, 1: 318.[19] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. (2004). Majmū‘ al-Fatāwā, 20: 159.[20] as-Sa‘dī, ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir. Tafsīr as-Sa‘dī QS. al-Mulk: 15.[21] Zahrah at-Tafāsīr, 10: 5393.[22] Pedro Jaureguiberry dkk. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 8(45): eabm9982.[23] Lamichhane, K dkk. (2025). Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 5(4): 875-897.[24] HR. al-Bukhāri dalam Ṣhaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3482 dan Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim, no. 2242.[25] ‘Imam al-Mardawi al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh, 8: 3851. Daftar PustakaAbū Zahrah, Muḥammad bin Aḥmad bin Muṣṭafā. Zahrah at-Tafāsīr. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ad-Daylamī, ‘Abd al-Wahhāb bin Luṭf. Subul al-Istifādah min an-Nawāzil (al-Fatāwā wa al-‘Amal al-Fiqhī fī at-Taṭbīqāt al-Mu‘āṣirah): Ḍawābiṭ al-Fatwā fī Ḍaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah wa Manhaj as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ. Majallat Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī at-Tābi‘ li Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Jeddah: Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Ahdal, ‘Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl. Riyadh: Kementerian Wakaf Arab Saudi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Aql, Nāṣir ibn ‘Abd al-Karīm. Islāmiyyah lā Wahhābiyyah. Riyadh: Dār Kunūz Isybīliyyā li an-Nasyr, 1425 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Maḥallī, Jalāl ad-Dīn Muḥammad bin Aḥmad. Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq dan taqdīm: Ḥusām ad-Dīn bin Mūsā ‘Affānah. Palestina: Jāmi‘at al-Quds, 1999. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Mardāwī, ‘Alā’ ad-Dīn Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Sulaymān ad-Dimashqī aṣ-Ṣāliḥī al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq: ‘Abd ar-Raḥmān al-Jibrīn, ‘Awaḍ al-Qarnī, Aḥmad as-Sarrāḥ. Riyadh: Maktabat ar-Rushd, 2000. Diakses melalui Maktabah Syamilah.as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī. Penjelasan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Penjelasan Q.S. al-Baqarah ayat 30. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu Jibrīn, ‘Abdullāh bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Penjelasan Q.S. Hūd ayat 117 dan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu ‘Utsaimin, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Nisā’. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 2009. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abdul Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Madinah: Mujamma‘ Malik Fahd li Ṭibā‘at al-Muṣḥaf asy-Syarīf, 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Jaureguiberry, P., Titeux, N., Wiemers, M., Bowler, D. E., Coscieme, L., Golden, A. S., Guerra, C. A., Jacob, U., Takahashi, Y., Settele, J., Díaz, S., Molnár, Z., dan Purvis, A. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 2022; 8(45): eabm9982. https://doi.org/10.1126/sciadv.abm9982Lamichhane, K., Karki, S., Sharma, K., Khadka, B., Acharya, B., Biswakarma, K., Adhikari, S., Kc, R., Danegulu, A., Bhattarai, S., Regmi, A., Subedi, M., dan Bhattarai, P. K. Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 2025; 5(4): 875-897. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2025.04.001Majmū‘ah min al-Mu’allifīn. Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah. ar-Ri’āsah al-‘Āmmah li Idārāt al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’ wa ad-Da‘wah wa al-Irsyād. Riyadh. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Miṣilḥī, ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Mesir: Dār al-Lu’lu’ah li an-Nashr wa at-Tawzī‘, 2022.Syawq, Maḥmūd Aḥmad. al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 2001.

Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleManusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiBumi sebagai tempat mencari rezekiSikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaBaca bagian sebelumnya: Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)Islam menempatkan hubungan manusia dan alam dalam sebuah amanah besar. Pemanfaatan bumi, pemeliharaannya, serta dampak dari aktivitas manusia atasnya bukanlah persoalan teknis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang melekat pada penciptaan manusia itu sendiri.Manusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiManusia, yang Allah ciptakan sebagai khalifah di muka bumi, menggantikan bangsa jin dalam mengemban amanah kuasa pengelolaan bumi. Manusia juga saling berganti-gantian dalam berkuasa di bumi satu generasi ke generasi lainnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً“Ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan menjadikan khalifah (pengganti) di bumi’” (QS. al-Baqarah: 30)Ibnu katsir dan para ahli tafsir klasik rahimahumullah menjelaskan bahwa di antara maksud ayat di atas adalah,قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن وجيلا بعد جيل“Satu kaum dengan kaum yang lain akan saling menggantikan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.” [12]Para ahli tafsir klasik, di antaranya Imam at-Thabari rahimahullah juga menjelaskan bahwa khalifah (pengganti) pada ayat tersebut juga berarti bahwa manusia yang mengganti bangsa jin. Beliau  rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya,عن ابن عباس قال : أول من سكن الأرض الجن فأفسدوا فيها وسفكوا فيها الدماء وقتل بعضهم بعضا . فبعث الله إليهم إبليس في جند من الملائكة ، فقتلهم إبليس ومن معه حتى ألحقهم بجزائر البحور وأطراف الجبال . ثم خلق آدم فأسكنه إياها“Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makhluk yang pertama menghuni bumi adalah bangsa jin, kemudian mereka merusak bumi, menumpahkan darah, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Maka, Allah utus mereka Iblis (yang bergabung) dengan pasukan malaikat. Ia dan pasukannya memerangi para jin (ke seluruh penjuru bumi) sampai lautan dan gunung-gunung. Kemudian Allah menciptakan Adam dan Ia jadikan Adam penghuni bumi (menggantikan bangsa jin).” [13]Allah menempatkan mereka di bumi dan memberi mereka amanah untuk berkuasa atas bumi dengan melakukan pemakmuran, perbaikan, serta pelestarian bumi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia-lah yang menciptakan kalian dari bumi dan meminta kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)Maka dari itu, setelah kita mengetahui bahwa memakmurkan bumi dan kelestariannya menjadi salah satu tugas utama manusia, manusia yang beriman kepada Allah haruslah menjadi garda terdepan dalam menyuarakan serta mengusahakan kemakmuran dan kelestarian bumi. Ketika orang-orang yang beriman berhasil mempunyai kuasa atas kemakmuran bumi, maka lingkungan akan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah, bahwa kaum perbaikan-lah yang Allah tugaskan mereka untuk mengganti kaum perusak. Allah Ta‘ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.” (QS. an-Nur: 55)Allah menginginkan orang-orang beriman yang membawa perbaikan dan kemakmuran di dunia mengganti orang-orang yang membawa kerusakan agar keamanan itu benar-benar dirasakan oleh setiap makhluk tanpa adanya ketakutan kerusakan yang diakibatkan oleh diri-diri mereka. Sudah menjadi keharusan, bagi setiap orang-orang yang beriman untuk memperhatikan kemakmuran bumi dan kelestarian alam. Syekh Mahmud Ahmad Syauq rahimahullah dalam kitabnya, al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, menjelaskan hal ini,واستخلاف الله -سبحانه وتعالى- للمسلم في عمارة الأرض يجعل العلم فريضة عليه. فعمارة الأرض لا يقف مداها عند حدود زمنية أو مكانية. بل هي ممتدة بامتداد الأزمنة كلها، منتشرة بانتشار الأمكنة كلها، بمعنى أن المسلم مطالب بعمارة الأرض حيثما يكون ووقتما يكون“Penetapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā terhadap kaum muslimin sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi mereka. Sebab, pemakmuran bumi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Ia terus berlangsung sepanjang seluruh zaman dan tersebar di seluruh tempat. Artinya, seorang muslim dituntut untuk memakmurkan bumi di manapun ia berada dan kapanpun ia berada.” [14]Dengan kemakmuran bumi dan kelestarian alam seluruh makhluk hidup yang bergantung dengannya akan mendapat kebaikan darinya, sehingga manfaat yang didapatkan darinya tidak hanya dirasakan oleh manusia pada zaman, tempat, ataupun strata tertentu, melainkan seluruh makhluk.Bumi sebagai tempat mencari rezekiAllah menyiapkan bumi sebagai sarana untuk mencari rezeki. Selain beribadah, manusia juga diperbolehkan mencari rezeki di dunia agar dapat menyuplai kegiatan peribadatan mereka kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memberi penjelasan untuk firman-Nya, فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ “Bertebaranlah kamu di muka bumi” dalam kitabnya,لطلب المكاسب والتجارات“Untuk mencari pencaharian dan perdagangan.” [15]Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan ayat tersebut,أذن لهم بعد الفراغ في الانتشار في الأرض والابتغاء من فضل الله. كما كان عراك بن مالك رضي الله عنه إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، فقال : اللهم إني أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك، وأنت خير الرازقين“Diizinkan bagi mereka (umat Islam) setelah selesai untuk bertebaran di permukaan bumi dan untuk mencari keutamaan Allah (rezeki) sebagaimana yang dilakukan Irak bin Malik radhiyallahu `anhu setelah salat Jumat ia berdiri di depan pintu masjid lalu berkata, ‘Ya Allah telah kupenuhi panggilanmu, telah kutuntaskan salat wajib, dan aku telah bertebaran di muka bumi sebagaimana Engkau perintahkan diriku, maka berilah aku rezeki. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki’.” [16]Pada ayat tersebut, para ulama menjelaskan hukum bertebaran mencari rezeki setelah salat dilaksanakan menjadi mubah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah,الأمر في قوله: {فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ} ليس للوجوب ولا للاستحباب، ولكنه للإباحة“Adapun perintah pada firman-Nya, ‘maka bertebaranlah di muka bumi’ tidak berarti wajib maupun sunah, tetapi mubah.” [17]Hukum mubah pada asalnya adalah hukum yang fleksibel dan bergantung pada hukum lainnya, karena hukum ini dapat berubah mengikuti tujuan, akibat, dan konteks perbuatannya. Syekh Dr. ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad Miṣilḥī rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣi, إنه ليس لذاته، ولكن لتعلقه أحيانًا بأمور خارجية تغير حكمه إلى واجب أو مندوب أو محرم أو مكروه، فليس التكليف في المباح، وإنما فيما يتعلق به.“Sesungguhnya (hukum mubah) itu bukan karena zat perbuatannya sendiri, tetapi karena terkadang ia berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengubah hukumnya menjadi wajib, sunah, haram, atau makruh. Maka taklif (pembebanan hukum) bukan terletak pada perkara mubah itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang melekat dan berkaitan dengannya.” [18]Maka dari itu, bertebaran di bumi untuk mencari rezeki pada asalnya berhukum mubah, dan hukumnya berubah sesuai dengan tujuan pelakunya. Apabila aktivitas tersebut diniatkan sebagai sarana untuk menunaikan kewajiban ibadah kepada Allah, maka hukumnya dapat menjadi wajib, karena ibadah itu sendiri wajib. Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan kaidah,مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Apa yang kewajiban menjadi tidak sempurna dengannya, maka hukumnya juga menjadi wajib.” [19]Dengan demikian, mencari rezeki di berbagai penjuru bumi dapat berhukum wajib ketika ia menjadi sarana yang niscaya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah. Bumi telah Allah siapkan sebagai medan ikhtiar manusia agar kebutuhan dunianya terpenuhi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah untuk kalian, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya (yang kamu dapat).” (QS. al-Mulk: 15)Allah-lah yang memudahkan bumi ini untuk diambil rezekinya, maka kita ditugaskan untuk berikhtiar untuk mencari dan mengambil rezeki-Nya. Syekh as-Sa’di rahimahullah mengatakan,هو الذي سخر لكم الأرض وذللها، لتدركوا منها كل ما تعلقت به حاجتكم، من غرس وبناء وحرث، وطرق يتوصل بها إلى الأقطار النائية والبلدان الشاسعة،  فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا) أي: لطلب الرزق والمكاسب“Dialah (Allah) yang menundukkan bumi untuk kalian dan memudahkannya, agar kalian dapat meraih darinya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kalian, seperti bercocok tanam, membangun, bertani, serta jalan-jalan yang mengantarkan ke berbagai penjuru dan negeri-negeri yang jauh. (Firman-Nya), ‘Maka berjalanlah di segala penjurunya’, artinya, untuk mencari rezeki dan berbagai bentuk penghasilan.” [20]Penjelasan-penjelasan menunjukkan bahwa sejatinya manusia diberi akses oleh Allah untuk memanfaatkan sumber daya alam di bumi ini dan mereka diminta untuk mencari rezeki darinya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Karena ketika seseorang mendapatkan kehidupan dunia yang baik, hal itu dapat memudahkannya mencari akhirat dengan baik. Seorang manusia hendaklah mencari rezeki dari bumi yang telah Allah siapkan dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Namun, kebolehan tersebut tidak bersifat mutlak dan tidak lepas ataupun liar dari batasan syariat. Setiap pemanfaatan selalu disertai amanah dan tanggung jawab, sehingga di sinilah sikap tawasuth menjadi penentu arah pemanfaatan bumi.Sikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaIslam tidak melarang pemanfaatan lingkungan, bahkan manusia diizinkan untuk mengelola sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, Islam juga  memerintahkan kita untuk memakmurkannya dan melarang berlebihan memanfaatkannya tanpa mempertimbangkan hal lain,وَهُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَ جَنّٰتٍ مَّعۡرُوۡشٰتٍ وَّغَيۡرَ مَعۡرُوۡشٰتٍ وَّالنَّخۡلَ وَالزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيۡرَ مُتَشَابِهٍ ​ؕ كُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِهٖۤ اِذَاۤ اَثۡمَرَ وَاٰتُوۡا حَقَّهٗ يَوۡمَ حَصَادِهٖ​ ​ۖ وَلَا تُسۡرِفُوۡا​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ‏“‏Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An`am: 141)Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diberi izin untuk memanfaatkan bumi dan mencari rezeki darinya, namun izin itu dibatasi oleh larangan isrāf (berlebihan). Karena ketika sikap berlebihan menguasai diri, ia akan melahirkan kerusakan dan menghilangkan semangat perbaikan, sebagaimana disebutkan,أن الإسراف إذا استمكن في النفس ترتب عليه ذلك الفساد وعدم الإصلاح“Bahwa isrāf (berlebihan) jika ada pada jiwa seorang, maka hal tersebut akan berkonsekuensi kepada kerusakan dan tidak adanya perbaikan.” [21]Dari prinsip inilah Islam kemudian menegaskan kewajiban agar tidak melakukan isrāf (berlebihan) dalam memberdayakan sumber daya alam, karena berlebihan akan berdampak kerusakan. Mengambil sumber daya alam secara berlebih akan berpengaruh pada makhluk lain. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang memperjuangkan ishlah (perbaikan) dan menolak fasad (kerusakan).Berbagai penelitian ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa eksploitasi alam oleh manusia menjadi penyebab utama rusaknya keanekaragaman hayati. Sebuah studi global berskala besar yang diterbitkan dalam Science Advances, Jauregui Berry dkk (2022) menegaskan bahwa deforestasi, konversi habitat, serta eksploitasi langsung seperti penebangan, perburuan, dan penangkapan ikan berlebihan merupakan faktor dominan menurunnya populasi spesies di seluruh dunia. Temuan ini memperlihatkan bahwa kerusakan biodiversitas bukan proses alamiah, melainkan akibat langsung dari aktivitas manusia yang memanfaatkan bumi tanpa kendali dan keseimbangan. [22]Eksploitasi alam yang dilakukan manusia secara berlebihan tidak hanya berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perubahan pola cuaca dan meningkatnya risiko bencana alam. Sebagaimana yang dikemukakan Lamichhane dkk (2025) bahwa deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan tata guna lahan mengganggu keseimbangan sistem iklim lokal dan regional, seperti siklus hidrologi, distribusi curah hujan, serta stabilitas suhu permukaan. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi kemampuan bumi dalam menyerap air dan panas, sehingga meningkatkan frekuensi kejadian banjir, kekeringan, longsor, dan pemanasan global. [23]Jangankan menyebabkan kerusakan alam yang berpengaruh pada kelangsungan hidup biodiversitas dan lingkungan, menyiksa kucing saja Islam haramkan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ في هِرَّةٍ سَجَنَتْها حتَّى ماتَتْ، فَدَخَلَتْ فيها النَّارَ، لا هي أطْعَمَتْها ولا سَقَتْها، إذْ حَبَسَتْها، ولا هي تَرَكَتْها تَأْكُلُ مِن خَشاشِ الأرْضِ (رواه البخاري ومسلم)“Seorang wanita disiksa lantaran seekor kucing yang mati karena ia kurung, maka karenanya ia pun masuk neraka. Sebab ia tidak memberinya makan atau minum ketika ia mengurungnya dan juga tidak melepasnya sehingga kucing itu mencari makan dari hewan-hewan kecil.” (Muttafaq ‘alaih) [24]Berbuat buruk kepada satu makhluk saja dapat menyebabkan manusia disiksa, apalagi perbuatan buruk yang bersifat eksplosif dan berdampak buruk kepada banyak makhluk, maka keharamannya akan lebih besar. Manusia memang dihalalkan untuk mencari rezeki dari bumi Allah, namun jika aktivitas tersebut malah dapat menyebabkan kemudaratan yang lebih besar, maka hukumnya dapat berubah menjadi haram karena mencegah kemudaratan lebih diutamakan dari mengambil kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih yang cukup lumrah disebutkan para ulama,إِذا دَار الْأَمر بَين دَرْء مفْسدَة وجلب مصلحَة، كَانَ دَرْء الْمفْسدَة أولى من جلب الْمصلحَة“Apabila suatu perkara berada di antara menolak kemudaratan dan mengambil kemaslahatan, maka menolak kemudaratan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” [25]Oleh karena itu, manakala eksploitasi alam menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada kemaslahatan, maka menurut kaidah درء المفاسد مقدم على جلب المصالح, tindakan tersebut dapat berubah dari mubah menjadi haram.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[12] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[13] ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.[14] Syeikh Maḥmūd Aḥmad. (2001). al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, hal. 133.[15] as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī.[16] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[17] Ibnu ‘Utsaimin. Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Surah An-Nisa’, 2: 155.[18] ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid, 1: 318.[19] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. (2004). Majmū‘ al-Fatāwā, 20: 159.[20] as-Sa‘dī, ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir. Tafsīr as-Sa‘dī QS. al-Mulk: 15.[21] Zahrah at-Tafāsīr, 10: 5393.[22] Pedro Jaureguiberry dkk. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 8(45): eabm9982.[23] Lamichhane, K dkk. (2025). Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 5(4): 875-897.[24] HR. al-Bukhāri dalam Ṣhaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3482 dan Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim, no. 2242.[25] ‘Imam al-Mardawi al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh, 8: 3851. Daftar PustakaAbū Zahrah, Muḥammad bin Aḥmad bin Muṣṭafā. Zahrah at-Tafāsīr. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ad-Daylamī, ‘Abd al-Wahhāb bin Luṭf. Subul al-Istifādah min an-Nawāzil (al-Fatāwā wa al-‘Amal al-Fiqhī fī at-Taṭbīqāt al-Mu‘āṣirah): Ḍawābiṭ al-Fatwā fī Ḍaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah wa Manhaj as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ. Majallat Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī at-Tābi‘ li Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Jeddah: Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Ahdal, ‘Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl. Riyadh: Kementerian Wakaf Arab Saudi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Aql, Nāṣir ibn ‘Abd al-Karīm. Islāmiyyah lā Wahhābiyyah. Riyadh: Dār Kunūz Isybīliyyā li an-Nasyr, 1425 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Maḥallī, Jalāl ad-Dīn Muḥammad bin Aḥmad. Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq dan taqdīm: Ḥusām ad-Dīn bin Mūsā ‘Affānah. Palestina: Jāmi‘at al-Quds, 1999. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Mardāwī, ‘Alā’ ad-Dīn Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Sulaymān ad-Dimashqī aṣ-Ṣāliḥī al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq: ‘Abd ar-Raḥmān al-Jibrīn, ‘Awaḍ al-Qarnī, Aḥmad as-Sarrāḥ. Riyadh: Maktabat ar-Rushd, 2000. Diakses melalui Maktabah Syamilah.as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī. Penjelasan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Penjelasan Q.S. al-Baqarah ayat 30. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu Jibrīn, ‘Abdullāh bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Penjelasan Q.S. Hūd ayat 117 dan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu ‘Utsaimin, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Nisā’. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 2009. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abdul Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Madinah: Mujamma‘ Malik Fahd li Ṭibā‘at al-Muṣḥaf asy-Syarīf, 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Jaureguiberry, P., Titeux, N., Wiemers, M., Bowler, D. E., Coscieme, L., Golden, A. S., Guerra, C. A., Jacob, U., Takahashi, Y., Settele, J., Díaz, S., Molnár, Z., dan Purvis, A. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 2022; 8(45): eabm9982. https://doi.org/10.1126/sciadv.abm9982Lamichhane, K., Karki, S., Sharma, K., Khadka, B., Acharya, B., Biswakarma, K., Adhikari, S., Kc, R., Danegulu, A., Bhattarai, S., Regmi, A., Subedi, M., dan Bhattarai, P. K. Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 2025; 5(4): 875-897. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2025.04.001Majmū‘ah min al-Mu’allifīn. Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah. ar-Ri’āsah al-‘Āmmah li Idārāt al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’ wa ad-Da‘wah wa al-Irsyād. Riyadh. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Miṣilḥī, ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Mesir: Dār al-Lu’lu’ah li an-Nashr wa at-Tawzī‘, 2022.Syawq, Maḥmūd Aḥmad. al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 2001.
Daftar Isi ToggleManusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiBumi sebagai tempat mencari rezekiSikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaBaca bagian sebelumnya: Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)Islam menempatkan hubungan manusia dan alam dalam sebuah amanah besar. Pemanfaatan bumi, pemeliharaannya, serta dampak dari aktivitas manusia atasnya bukanlah persoalan teknis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang melekat pada penciptaan manusia itu sendiri.Manusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiManusia, yang Allah ciptakan sebagai khalifah di muka bumi, menggantikan bangsa jin dalam mengemban amanah kuasa pengelolaan bumi. Manusia juga saling berganti-gantian dalam berkuasa di bumi satu generasi ke generasi lainnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً“Ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan menjadikan khalifah (pengganti) di bumi’” (QS. al-Baqarah: 30)Ibnu katsir dan para ahli tafsir klasik rahimahumullah menjelaskan bahwa di antara maksud ayat di atas adalah,قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن وجيلا بعد جيل“Satu kaum dengan kaum yang lain akan saling menggantikan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.” [12]Para ahli tafsir klasik, di antaranya Imam at-Thabari rahimahullah juga menjelaskan bahwa khalifah (pengganti) pada ayat tersebut juga berarti bahwa manusia yang mengganti bangsa jin. Beliau  rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya,عن ابن عباس قال : أول من سكن الأرض الجن فأفسدوا فيها وسفكوا فيها الدماء وقتل بعضهم بعضا . فبعث الله إليهم إبليس في جند من الملائكة ، فقتلهم إبليس ومن معه حتى ألحقهم بجزائر البحور وأطراف الجبال . ثم خلق آدم فأسكنه إياها“Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makhluk yang pertama menghuni bumi adalah bangsa jin, kemudian mereka merusak bumi, menumpahkan darah, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Maka, Allah utus mereka Iblis (yang bergabung) dengan pasukan malaikat. Ia dan pasukannya memerangi para jin (ke seluruh penjuru bumi) sampai lautan dan gunung-gunung. Kemudian Allah menciptakan Adam dan Ia jadikan Adam penghuni bumi (menggantikan bangsa jin).” [13]Allah menempatkan mereka di bumi dan memberi mereka amanah untuk berkuasa atas bumi dengan melakukan pemakmuran, perbaikan, serta pelestarian bumi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia-lah yang menciptakan kalian dari bumi dan meminta kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)Maka dari itu, setelah kita mengetahui bahwa memakmurkan bumi dan kelestariannya menjadi salah satu tugas utama manusia, manusia yang beriman kepada Allah haruslah menjadi garda terdepan dalam menyuarakan serta mengusahakan kemakmuran dan kelestarian bumi. Ketika orang-orang yang beriman berhasil mempunyai kuasa atas kemakmuran bumi, maka lingkungan akan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah, bahwa kaum perbaikan-lah yang Allah tugaskan mereka untuk mengganti kaum perusak. Allah Ta‘ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.” (QS. an-Nur: 55)Allah menginginkan orang-orang beriman yang membawa perbaikan dan kemakmuran di dunia mengganti orang-orang yang membawa kerusakan agar keamanan itu benar-benar dirasakan oleh setiap makhluk tanpa adanya ketakutan kerusakan yang diakibatkan oleh diri-diri mereka. Sudah menjadi keharusan, bagi setiap orang-orang yang beriman untuk memperhatikan kemakmuran bumi dan kelestarian alam. Syekh Mahmud Ahmad Syauq rahimahullah dalam kitabnya, al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, menjelaskan hal ini,واستخلاف الله -سبحانه وتعالى- للمسلم في عمارة الأرض يجعل العلم فريضة عليه. فعمارة الأرض لا يقف مداها عند حدود زمنية أو مكانية. بل هي ممتدة بامتداد الأزمنة كلها، منتشرة بانتشار الأمكنة كلها، بمعنى أن المسلم مطالب بعمارة الأرض حيثما يكون ووقتما يكون“Penetapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā terhadap kaum muslimin sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi mereka. Sebab, pemakmuran bumi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Ia terus berlangsung sepanjang seluruh zaman dan tersebar di seluruh tempat. Artinya, seorang muslim dituntut untuk memakmurkan bumi di manapun ia berada dan kapanpun ia berada.” [14]Dengan kemakmuran bumi dan kelestarian alam seluruh makhluk hidup yang bergantung dengannya akan mendapat kebaikan darinya, sehingga manfaat yang didapatkan darinya tidak hanya dirasakan oleh manusia pada zaman, tempat, ataupun strata tertentu, melainkan seluruh makhluk.Bumi sebagai tempat mencari rezekiAllah menyiapkan bumi sebagai sarana untuk mencari rezeki. Selain beribadah, manusia juga diperbolehkan mencari rezeki di dunia agar dapat menyuplai kegiatan peribadatan mereka kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memberi penjelasan untuk firman-Nya, فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ “Bertebaranlah kamu di muka bumi” dalam kitabnya,لطلب المكاسب والتجارات“Untuk mencari pencaharian dan perdagangan.” [15]Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan ayat tersebut,أذن لهم بعد الفراغ في الانتشار في الأرض والابتغاء من فضل الله. كما كان عراك بن مالك رضي الله عنه إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، فقال : اللهم إني أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك، وأنت خير الرازقين“Diizinkan bagi mereka (umat Islam) setelah selesai untuk bertebaran di permukaan bumi dan untuk mencari keutamaan Allah (rezeki) sebagaimana yang dilakukan Irak bin Malik radhiyallahu `anhu setelah salat Jumat ia berdiri di depan pintu masjid lalu berkata, ‘Ya Allah telah kupenuhi panggilanmu, telah kutuntaskan salat wajib, dan aku telah bertebaran di muka bumi sebagaimana Engkau perintahkan diriku, maka berilah aku rezeki. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki’.” [16]Pada ayat tersebut, para ulama menjelaskan hukum bertebaran mencari rezeki setelah salat dilaksanakan menjadi mubah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah,الأمر في قوله: {فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ} ليس للوجوب ولا للاستحباب، ولكنه للإباحة“Adapun perintah pada firman-Nya, ‘maka bertebaranlah di muka bumi’ tidak berarti wajib maupun sunah, tetapi mubah.” [17]Hukum mubah pada asalnya adalah hukum yang fleksibel dan bergantung pada hukum lainnya, karena hukum ini dapat berubah mengikuti tujuan, akibat, dan konteks perbuatannya. Syekh Dr. ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad Miṣilḥī rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣi, إنه ليس لذاته، ولكن لتعلقه أحيانًا بأمور خارجية تغير حكمه إلى واجب أو مندوب أو محرم أو مكروه، فليس التكليف في المباح، وإنما فيما يتعلق به.“Sesungguhnya (hukum mubah) itu bukan karena zat perbuatannya sendiri, tetapi karena terkadang ia berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengubah hukumnya menjadi wajib, sunah, haram, atau makruh. Maka taklif (pembebanan hukum) bukan terletak pada perkara mubah itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang melekat dan berkaitan dengannya.” [18]Maka dari itu, bertebaran di bumi untuk mencari rezeki pada asalnya berhukum mubah, dan hukumnya berubah sesuai dengan tujuan pelakunya. Apabila aktivitas tersebut diniatkan sebagai sarana untuk menunaikan kewajiban ibadah kepada Allah, maka hukumnya dapat menjadi wajib, karena ibadah itu sendiri wajib. Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan kaidah,مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Apa yang kewajiban menjadi tidak sempurna dengannya, maka hukumnya juga menjadi wajib.” [19]Dengan demikian, mencari rezeki di berbagai penjuru bumi dapat berhukum wajib ketika ia menjadi sarana yang niscaya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah. Bumi telah Allah siapkan sebagai medan ikhtiar manusia agar kebutuhan dunianya terpenuhi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah untuk kalian, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya (yang kamu dapat).” (QS. al-Mulk: 15)Allah-lah yang memudahkan bumi ini untuk diambil rezekinya, maka kita ditugaskan untuk berikhtiar untuk mencari dan mengambil rezeki-Nya. Syekh as-Sa’di rahimahullah mengatakan,هو الذي سخر لكم الأرض وذللها، لتدركوا منها كل ما تعلقت به حاجتكم، من غرس وبناء وحرث، وطرق يتوصل بها إلى الأقطار النائية والبلدان الشاسعة،  فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا) أي: لطلب الرزق والمكاسب“Dialah (Allah) yang menundukkan bumi untuk kalian dan memudahkannya, agar kalian dapat meraih darinya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kalian, seperti bercocok tanam, membangun, bertani, serta jalan-jalan yang mengantarkan ke berbagai penjuru dan negeri-negeri yang jauh. (Firman-Nya), ‘Maka berjalanlah di segala penjurunya’, artinya, untuk mencari rezeki dan berbagai bentuk penghasilan.” [20]Penjelasan-penjelasan menunjukkan bahwa sejatinya manusia diberi akses oleh Allah untuk memanfaatkan sumber daya alam di bumi ini dan mereka diminta untuk mencari rezeki darinya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Karena ketika seseorang mendapatkan kehidupan dunia yang baik, hal itu dapat memudahkannya mencari akhirat dengan baik. Seorang manusia hendaklah mencari rezeki dari bumi yang telah Allah siapkan dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Namun, kebolehan tersebut tidak bersifat mutlak dan tidak lepas ataupun liar dari batasan syariat. Setiap pemanfaatan selalu disertai amanah dan tanggung jawab, sehingga di sinilah sikap tawasuth menjadi penentu arah pemanfaatan bumi.Sikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaIslam tidak melarang pemanfaatan lingkungan, bahkan manusia diizinkan untuk mengelola sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, Islam juga  memerintahkan kita untuk memakmurkannya dan melarang berlebihan memanfaatkannya tanpa mempertimbangkan hal lain,وَهُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَ جَنّٰتٍ مَّعۡرُوۡشٰتٍ وَّغَيۡرَ مَعۡرُوۡشٰتٍ وَّالنَّخۡلَ وَالزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيۡرَ مُتَشَابِهٍ ​ؕ كُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِهٖۤ اِذَاۤ اَثۡمَرَ وَاٰتُوۡا حَقَّهٗ يَوۡمَ حَصَادِهٖ​ ​ۖ وَلَا تُسۡرِفُوۡا​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ‏“‏Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An`am: 141)Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diberi izin untuk memanfaatkan bumi dan mencari rezeki darinya, namun izin itu dibatasi oleh larangan isrāf (berlebihan). Karena ketika sikap berlebihan menguasai diri, ia akan melahirkan kerusakan dan menghilangkan semangat perbaikan, sebagaimana disebutkan,أن الإسراف إذا استمكن في النفس ترتب عليه ذلك الفساد وعدم الإصلاح“Bahwa isrāf (berlebihan) jika ada pada jiwa seorang, maka hal tersebut akan berkonsekuensi kepada kerusakan dan tidak adanya perbaikan.” [21]Dari prinsip inilah Islam kemudian menegaskan kewajiban agar tidak melakukan isrāf (berlebihan) dalam memberdayakan sumber daya alam, karena berlebihan akan berdampak kerusakan. Mengambil sumber daya alam secara berlebih akan berpengaruh pada makhluk lain. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang memperjuangkan ishlah (perbaikan) dan menolak fasad (kerusakan).Berbagai penelitian ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa eksploitasi alam oleh manusia menjadi penyebab utama rusaknya keanekaragaman hayati. Sebuah studi global berskala besar yang diterbitkan dalam Science Advances, Jauregui Berry dkk (2022) menegaskan bahwa deforestasi, konversi habitat, serta eksploitasi langsung seperti penebangan, perburuan, dan penangkapan ikan berlebihan merupakan faktor dominan menurunnya populasi spesies di seluruh dunia. Temuan ini memperlihatkan bahwa kerusakan biodiversitas bukan proses alamiah, melainkan akibat langsung dari aktivitas manusia yang memanfaatkan bumi tanpa kendali dan keseimbangan. [22]Eksploitasi alam yang dilakukan manusia secara berlebihan tidak hanya berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perubahan pola cuaca dan meningkatnya risiko bencana alam. Sebagaimana yang dikemukakan Lamichhane dkk (2025) bahwa deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan tata guna lahan mengganggu keseimbangan sistem iklim lokal dan regional, seperti siklus hidrologi, distribusi curah hujan, serta stabilitas suhu permukaan. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi kemampuan bumi dalam menyerap air dan panas, sehingga meningkatkan frekuensi kejadian banjir, kekeringan, longsor, dan pemanasan global. [23]Jangankan menyebabkan kerusakan alam yang berpengaruh pada kelangsungan hidup biodiversitas dan lingkungan, menyiksa kucing saja Islam haramkan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ في هِرَّةٍ سَجَنَتْها حتَّى ماتَتْ، فَدَخَلَتْ فيها النَّارَ، لا هي أطْعَمَتْها ولا سَقَتْها، إذْ حَبَسَتْها، ولا هي تَرَكَتْها تَأْكُلُ مِن خَشاشِ الأرْضِ (رواه البخاري ومسلم)“Seorang wanita disiksa lantaran seekor kucing yang mati karena ia kurung, maka karenanya ia pun masuk neraka. Sebab ia tidak memberinya makan atau minum ketika ia mengurungnya dan juga tidak melepasnya sehingga kucing itu mencari makan dari hewan-hewan kecil.” (Muttafaq ‘alaih) [24]Berbuat buruk kepada satu makhluk saja dapat menyebabkan manusia disiksa, apalagi perbuatan buruk yang bersifat eksplosif dan berdampak buruk kepada banyak makhluk, maka keharamannya akan lebih besar. Manusia memang dihalalkan untuk mencari rezeki dari bumi Allah, namun jika aktivitas tersebut malah dapat menyebabkan kemudaratan yang lebih besar, maka hukumnya dapat berubah menjadi haram karena mencegah kemudaratan lebih diutamakan dari mengambil kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih yang cukup lumrah disebutkan para ulama,إِذا دَار الْأَمر بَين دَرْء مفْسدَة وجلب مصلحَة، كَانَ دَرْء الْمفْسدَة أولى من جلب الْمصلحَة“Apabila suatu perkara berada di antara menolak kemudaratan dan mengambil kemaslahatan, maka menolak kemudaratan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” [25]Oleh karena itu, manakala eksploitasi alam menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada kemaslahatan, maka menurut kaidah درء المفاسد مقدم على جلب المصالح, tindakan tersebut dapat berubah dari mubah menjadi haram.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[12] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[13] ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.[14] Syeikh Maḥmūd Aḥmad. (2001). al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, hal. 133.[15] as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī.[16] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[17] Ibnu ‘Utsaimin. Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Surah An-Nisa’, 2: 155.[18] ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid, 1: 318.[19] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. (2004). Majmū‘ al-Fatāwā, 20: 159.[20] as-Sa‘dī, ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir. Tafsīr as-Sa‘dī QS. al-Mulk: 15.[21] Zahrah at-Tafāsīr, 10: 5393.[22] Pedro Jaureguiberry dkk. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 8(45): eabm9982.[23] Lamichhane, K dkk. (2025). Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 5(4): 875-897.[24] HR. al-Bukhāri dalam Ṣhaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3482 dan Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim, no. 2242.[25] ‘Imam al-Mardawi al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh, 8: 3851. Daftar PustakaAbū Zahrah, Muḥammad bin Aḥmad bin Muṣṭafā. Zahrah at-Tafāsīr. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ad-Daylamī, ‘Abd al-Wahhāb bin Luṭf. Subul al-Istifādah min an-Nawāzil (al-Fatāwā wa al-‘Amal al-Fiqhī fī at-Taṭbīqāt al-Mu‘āṣirah): Ḍawābiṭ al-Fatwā fī Ḍaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah wa Manhaj as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ. Majallat Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī at-Tābi‘ li Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Jeddah: Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Ahdal, ‘Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl. Riyadh: Kementerian Wakaf Arab Saudi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Aql, Nāṣir ibn ‘Abd al-Karīm. Islāmiyyah lā Wahhābiyyah. Riyadh: Dār Kunūz Isybīliyyā li an-Nasyr, 1425 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Maḥallī, Jalāl ad-Dīn Muḥammad bin Aḥmad. Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq dan taqdīm: Ḥusām ad-Dīn bin Mūsā ‘Affānah. Palestina: Jāmi‘at al-Quds, 1999. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Mardāwī, ‘Alā’ ad-Dīn Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Sulaymān ad-Dimashqī aṣ-Ṣāliḥī al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq: ‘Abd ar-Raḥmān al-Jibrīn, ‘Awaḍ al-Qarnī, Aḥmad as-Sarrāḥ. Riyadh: Maktabat ar-Rushd, 2000. Diakses melalui Maktabah Syamilah.as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī. Penjelasan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Penjelasan Q.S. al-Baqarah ayat 30. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu Jibrīn, ‘Abdullāh bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Penjelasan Q.S. Hūd ayat 117 dan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu ‘Utsaimin, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Nisā’. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 2009. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abdul Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Madinah: Mujamma‘ Malik Fahd li Ṭibā‘at al-Muṣḥaf asy-Syarīf, 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Jaureguiberry, P., Titeux, N., Wiemers, M., Bowler, D. E., Coscieme, L., Golden, A. S., Guerra, C. A., Jacob, U., Takahashi, Y., Settele, J., Díaz, S., Molnár, Z., dan Purvis, A. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 2022; 8(45): eabm9982. https://doi.org/10.1126/sciadv.abm9982Lamichhane, K., Karki, S., Sharma, K., Khadka, B., Acharya, B., Biswakarma, K., Adhikari, S., Kc, R., Danegulu, A., Bhattarai, S., Regmi, A., Subedi, M., dan Bhattarai, P. K. Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 2025; 5(4): 875-897. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2025.04.001Majmū‘ah min al-Mu’allifīn. Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah. ar-Ri’āsah al-‘Āmmah li Idārāt al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’ wa ad-Da‘wah wa al-Irsyād. Riyadh. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Miṣilḥī, ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Mesir: Dār al-Lu’lu’ah li an-Nashr wa at-Tawzī‘, 2022.Syawq, Maḥmūd Aḥmad. al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 2001.


Daftar Isi ToggleManusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiBumi sebagai tempat mencari rezekiSikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaBaca bagian sebelumnya: Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)Islam menempatkan hubungan manusia dan alam dalam sebuah amanah besar. Pemanfaatan bumi, pemeliharaannya, serta dampak dari aktivitas manusia atasnya bukanlah persoalan teknis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang melekat pada penciptaan manusia itu sendiri.Manusia sebagai khalifah dan pemakmur bumiManusia, yang Allah ciptakan sebagai khalifah di muka bumi, menggantikan bangsa jin dalam mengemban amanah kuasa pengelolaan bumi. Manusia juga saling berganti-gantian dalam berkuasa di bumi satu generasi ke generasi lainnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً“Ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan menjadikan khalifah (pengganti) di bumi’” (QS. al-Baqarah: 30)Ibnu katsir dan para ahli tafsir klasik rahimahumullah menjelaskan bahwa di antara maksud ayat di atas adalah,قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن وجيلا بعد جيل“Satu kaum dengan kaum yang lain akan saling menggantikan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.” [12]Para ahli tafsir klasik, di antaranya Imam at-Thabari rahimahullah juga menjelaskan bahwa khalifah (pengganti) pada ayat tersebut juga berarti bahwa manusia yang mengganti bangsa jin. Beliau  rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya,عن ابن عباس قال : أول من سكن الأرض الجن فأفسدوا فيها وسفكوا فيها الدماء وقتل بعضهم بعضا . فبعث الله إليهم إبليس في جند من الملائكة ، فقتلهم إبليس ومن معه حتى ألحقهم بجزائر البحور وأطراف الجبال . ثم خلق آدم فأسكنه إياها“Ibnu Abbas mengatakan, ‘Makhluk yang pertama menghuni bumi adalah bangsa jin, kemudian mereka merusak bumi, menumpahkan darah, dan saling membunuh satu dengan yang lain. Maka, Allah utus mereka Iblis (yang bergabung) dengan pasukan malaikat. Ia dan pasukannya memerangi para jin (ke seluruh penjuru bumi) sampai lautan dan gunung-gunung. Kemudian Allah menciptakan Adam dan Ia jadikan Adam penghuni bumi (menggantikan bangsa jin).” [13]Allah menempatkan mereka di bumi dan memberi mereka amanah untuk berkuasa atas bumi dengan melakukan pemakmuran, perbaikan, serta pelestarian bumi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia-lah yang menciptakan kalian dari bumi dan meminta kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)Maka dari itu, setelah kita mengetahui bahwa memakmurkan bumi dan kelestariannya menjadi salah satu tugas utama manusia, manusia yang beriman kepada Allah haruslah menjadi garda terdepan dalam menyuarakan serta mengusahakan kemakmuran dan kelestarian bumi. Ketika orang-orang yang beriman berhasil mempunyai kuasa atas kemakmuran bumi, maka lingkungan akan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah, bahwa kaum perbaikan-lah yang Allah tugaskan mereka untuk mengganti kaum perusak. Allah Ta‘ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.” (QS. an-Nur: 55)Allah menginginkan orang-orang beriman yang membawa perbaikan dan kemakmuran di dunia mengganti orang-orang yang membawa kerusakan agar keamanan itu benar-benar dirasakan oleh setiap makhluk tanpa adanya ketakutan kerusakan yang diakibatkan oleh diri-diri mereka. Sudah menjadi keharusan, bagi setiap orang-orang yang beriman untuk memperhatikan kemakmuran bumi dan kelestarian alam. Syekh Mahmud Ahmad Syauq rahimahullah dalam kitabnya, al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, menjelaskan hal ini,واستخلاف الله -سبحانه وتعالى- للمسلم في عمارة الأرض يجعل العلم فريضة عليه. فعمارة الأرض لا يقف مداها عند حدود زمنية أو مكانية. بل هي ممتدة بامتداد الأزمنة كلها، منتشرة بانتشار الأمكنة كلها، بمعنى أن المسلم مطالب بعمارة الأرض حيثما يكون ووقتما يكون“Penetapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā terhadap kaum muslimin sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi mereka. Sebab, pemakmuran bumi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Ia terus berlangsung sepanjang seluruh zaman dan tersebar di seluruh tempat. Artinya, seorang muslim dituntut untuk memakmurkan bumi di manapun ia berada dan kapanpun ia berada.” [14]Dengan kemakmuran bumi dan kelestarian alam seluruh makhluk hidup yang bergantung dengannya akan mendapat kebaikan darinya, sehingga manfaat yang didapatkan darinya tidak hanya dirasakan oleh manusia pada zaman, tempat, ataupun strata tertentu, melainkan seluruh makhluk.Bumi sebagai tempat mencari rezekiAllah menyiapkan bumi sebagai sarana untuk mencari rezeki. Selain beribadah, manusia juga diperbolehkan mencari rezeki di dunia agar dapat menyuplai kegiatan peribadatan mereka kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memberi penjelasan untuk firman-Nya, فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ “Bertebaranlah kamu di muka bumi” dalam kitabnya,لطلب المكاسب والتجارات“Untuk mencari pencaharian dan perdagangan.” [15]Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan ayat tersebut,أذن لهم بعد الفراغ في الانتشار في الأرض والابتغاء من فضل الله. كما كان عراك بن مالك رضي الله عنه إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، فقال : اللهم إني أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك، وأنت خير الرازقين“Diizinkan bagi mereka (umat Islam) setelah selesai untuk bertebaran di permukaan bumi dan untuk mencari keutamaan Allah (rezeki) sebagaimana yang dilakukan Irak bin Malik radhiyallahu `anhu setelah salat Jumat ia berdiri di depan pintu masjid lalu berkata, ‘Ya Allah telah kupenuhi panggilanmu, telah kutuntaskan salat wajib, dan aku telah bertebaran di muka bumi sebagaimana Engkau perintahkan diriku, maka berilah aku rezeki. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki’.” [16]Pada ayat tersebut, para ulama menjelaskan hukum bertebaran mencari rezeki setelah salat dilaksanakan menjadi mubah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah,الأمر في قوله: {فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ} ليس للوجوب ولا للاستحباب، ولكنه للإباحة“Adapun perintah pada firman-Nya, ‘maka bertebaranlah di muka bumi’ tidak berarti wajib maupun sunah, tetapi mubah.” [17]Hukum mubah pada asalnya adalah hukum yang fleksibel dan bergantung pada hukum lainnya, karena hukum ini dapat berubah mengikuti tujuan, akibat, dan konteks perbuatannya. Syekh Dr. ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad Miṣilḥī rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣi, إنه ليس لذاته، ولكن لتعلقه أحيانًا بأمور خارجية تغير حكمه إلى واجب أو مندوب أو محرم أو مكروه، فليس التكليف في المباح، وإنما فيما يتعلق به.“Sesungguhnya (hukum mubah) itu bukan karena zat perbuatannya sendiri, tetapi karena terkadang ia berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengubah hukumnya menjadi wajib, sunah, haram, atau makruh. Maka taklif (pembebanan hukum) bukan terletak pada perkara mubah itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang melekat dan berkaitan dengannya.” [18]Maka dari itu, bertebaran di bumi untuk mencari rezeki pada asalnya berhukum mubah, dan hukumnya berubah sesuai dengan tujuan pelakunya. Apabila aktivitas tersebut diniatkan sebagai sarana untuk menunaikan kewajiban ibadah kepada Allah, maka hukumnya dapat menjadi wajib, karena ibadah itu sendiri wajib. Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan kaidah,مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.“Apa yang kewajiban menjadi tidak sempurna dengannya, maka hukumnya juga menjadi wajib.” [19]Dengan demikian, mencari rezeki di berbagai penjuru bumi dapat berhukum wajib ketika ia menjadi sarana yang niscaya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah. Bumi telah Allah siapkan sebagai medan ikhtiar manusia agar kebutuhan dunianya terpenuhi. Allah Ta‘ala berfirman,هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah untuk kalian, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya (yang kamu dapat).” (QS. al-Mulk: 15)Allah-lah yang memudahkan bumi ini untuk diambil rezekinya, maka kita ditugaskan untuk berikhtiar untuk mencari dan mengambil rezeki-Nya. Syekh as-Sa’di rahimahullah mengatakan,هو الذي سخر لكم الأرض وذللها، لتدركوا منها كل ما تعلقت به حاجتكم، من غرس وبناء وحرث، وطرق يتوصل بها إلى الأقطار النائية والبلدان الشاسعة،  فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا) أي: لطلب الرزق والمكاسب“Dialah (Allah) yang menundukkan bumi untuk kalian dan memudahkannya, agar kalian dapat meraih darinya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kalian, seperti bercocok tanam, membangun, bertani, serta jalan-jalan yang mengantarkan ke berbagai penjuru dan negeri-negeri yang jauh. (Firman-Nya), ‘Maka berjalanlah di segala penjurunya’, artinya, untuk mencari rezeki dan berbagai bentuk penghasilan.” [20]Penjelasan-penjelasan menunjukkan bahwa sejatinya manusia diberi akses oleh Allah untuk memanfaatkan sumber daya alam di bumi ini dan mereka diminta untuk mencari rezeki darinya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Karena ketika seseorang mendapatkan kehidupan dunia yang baik, hal itu dapat memudahkannya mencari akhirat dengan baik. Seorang manusia hendaklah mencari rezeki dari bumi yang telah Allah siapkan dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Namun, kebolehan tersebut tidak bersifat mutlak dan tidak lepas ataupun liar dari batasan syariat. Setiap pemanfaatan selalu disertai amanah dan tanggung jawab, sehingga di sinilah sikap tawasuth menjadi penentu arah pemanfaatan bumi.Sikap tawasuth (pertengahan) dalam mengelola sumber daya alam dan kelestariannyaIslam tidak melarang pemanfaatan lingkungan, bahkan manusia diizinkan untuk mengelola sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, Islam juga  memerintahkan kita untuk memakmurkannya dan melarang berlebihan memanfaatkannya tanpa mempertimbangkan hal lain,وَهُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَ جَنّٰتٍ مَّعۡرُوۡشٰتٍ وَّغَيۡرَ مَعۡرُوۡشٰتٍ وَّالنَّخۡلَ وَالزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيۡرَ مُتَشَابِهٍ ​ؕ كُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِهٖۤ اِذَاۤ اَثۡمَرَ وَاٰتُوۡا حَقَّهٗ يَوۡمَ حَصَادِهٖ​ ​ۖ وَلَا تُسۡرِفُوۡا​ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ‏“‏Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An`am: 141)Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diberi izin untuk memanfaatkan bumi dan mencari rezeki darinya, namun izin itu dibatasi oleh larangan isrāf (berlebihan). Karena ketika sikap berlebihan menguasai diri, ia akan melahirkan kerusakan dan menghilangkan semangat perbaikan, sebagaimana disebutkan,أن الإسراف إذا استمكن في النفس ترتب عليه ذلك الفساد وعدم الإصلاح“Bahwa isrāf (berlebihan) jika ada pada jiwa seorang, maka hal tersebut akan berkonsekuensi kepada kerusakan dan tidak adanya perbaikan.” [21]Dari prinsip inilah Islam kemudian menegaskan kewajiban agar tidak melakukan isrāf (berlebihan) dalam memberdayakan sumber daya alam, karena berlebihan akan berdampak kerusakan. Mengambil sumber daya alam secara berlebih akan berpengaruh pada makhluk lain. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang memperjuangkan ishlah (perbaikan) dan menolak fasad (kerusakan).Berbagai penelitian ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa eksploitasi alam oleh manusia menjadi penyebab utama rusaknya keanekaragaman hayati. Sebuah studi global berskala besar yang diterbitkan dalam Science Advances, Jauregui Berry dkk (2022) menegaskan bahwa deforestasi, konversi habitat, serta eksploitasi langsung seperti penebangan, perburuan, dan penangkapan ikan berlebihan merupakan faktor dominan menurunnya populasi spesies di seluruh dunia. Temuan ini memperlihatkan bahwa kerusakan biodiversitas bukan proses alamiah, melainkan akibat langsung dari aktivitas manusia yang memanfaatkan bumi tanpa kendali dan keseimbangan. [22]Eksploitasi alam yang dilakukan manusia secara berlebihan tidak hanya berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perubahan pola cuaca dan meningkatnya risiko bencana alam. Sebagaimana yang dikemukakan Lamichhane dkk (2025) bahwa deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan tata guna lahan mengganggu keseimbangan sistem iklim lokal dan regional, seperti siklus hidrologi, distribusi curah hujan, serta stabilitas suhu permukaan. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi kemampuan bumi dalam menyerap air dan panas, sehingga meningkatkan frekuensi kejadian banjir, kekeringan, longsor, dan pemanasan global. [23]Jangankan menyebabkan kerusakan alam yang berpengaruh pada kelangsungan hidup biodiversitas dan lingkungan, menyiksa kucing saja Islam haramkan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ في هِرَّةٍ سَجَنَتْها حتَّى ماتَتْ، فَدَخَلَتْ فيها النَّارَ، لا هي أطْعَمَتْها ولا سَقَتْها، إذْ حَبَسَتْها، ولا هي تَرَكَتْها تَأْكُلُ مِن خَشاشِ الأرْضِ (رواه البخاري ومسلم)“Seorang wanita disiksa lantaran seekor kucing yang mati karena ia kurung, maka karenanya ia pun masuk neraka. Sebab ia tidak memberinya makan atau minum ketika ia mengurungnya dan juga tidak melepasnya sehingga kucing itu mencari makan dari hewan-hewan kecil.” (Muttafaq ‘alaih) [24]Berbuat buruk kepada satu makhluk saja dapat menyebabkan manusia disiksa, apalagi perbuatan buruk yang bersifat eksplosif dan berdampak buruk kepada banyak makhluk, maka keharamannya akan lebih besar. Manusia memang dihalalkan untuk mencari rezeki dari bumi Allah, namun jika aktivitas tersebut malah dapat menyebabkan kemudaratan yang lebih besar, maka hukumnya dapat berubah menjadi haram karena mencegah kemudaratan lebih diutamakan dari mengambil kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih yang cukup lumrah disebutkan para ulama,إِذا دَار الْأَمر بَين دَرْء مفْسدَة وجلب مصلحَة، كَانَ دَرْء الْمفْسدَة أولى من جلب الْمصلحَة“Apabila suatu perkara berada di antara menolak kemudaratan dan mengambil kemaslahatan, maka menolak kemudaratan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” [25]Oleh karena itu, manakala eksploitasi alam menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada kemaslahatan, maka menurut kaidah درء المفاسد مقدم على جلب المصالح, tindakan tersebut dapat berubah dari mubah menjadi haram.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[12] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[13] ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān.[14] Syeikh Maḥmūd Aḥmad. (2001). al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah, hal. 133.[15] as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī.[16] Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[17] Ibnu ‘Utsaimin. Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Surah An-Nisa’, 2: 155.[18] ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid, 1: 318.[19] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. (2004). Majmū‘ al-Fatāwā, 20: 159.[20] as-Sa‘dī, ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir. Tafsīr as-Sa‘dī QS. al-Mulk: 15.[21] Zahrah at-Tafāsīr, 10: 5393.[22] Pedro Jaureguiberry dkk. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 8(45): eabm9982.[23] Lamichhane, K dkk. (2025). Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 5(4): 875-897.[24] HR. al-Bukhāri dalam Ṣhaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3482 dan Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim, no. 2242.[25] ‘Imam al-Mardawi al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh, 8: 3851. Daftar PustakaAbū Zahrah, Muḥammad bin Aḥmad bin Muṣṭafā. Zahrah at-Tafāsīr. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ad-Daylamī, ‘Abd al-Wahhāb bin Luṭf. Subul al-Istifādah min an-Nawāzil (al-Fatāwā wa al-‘Amal al-Fiqhī fī at-Taṭbīqāt al-Mu‘āṣirah): Ḍawābiṭ al-Fatwā fī Ḍaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah wa Manhaj as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ. Majallat Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī at-Tābi‘ li Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Jeddah: Munazzamat al-Mu’tamar al-Islāmī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Ahdal, ‘Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl. Riyadh: Kementerian Wakaf Arab Saudi. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Aql, Nāṣir ibn ‘Abd al-Karīm. Islāmiyyah lā Wahhābiyyah. Riyadh: Dār Kunūz Isybīliyyā li an-Nasyr, 1425 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Maḥallī, Jalāl ad-Dīn Muḥammad bin Aḥmad. Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq dan taqdīm: Ḥusām ad-Dīn bin Mūsā ‘Affānah. Palestina: Jāmi‘at al-Quds, 1999. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Mardāwī, ‘Alā’ ad-Dīn Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Sulaymān ad-Dimashqī aṣ-Ṣāliḥī al-Ḥanbalī. At-Taḥbīr Sharḥ at-Taḥrīr fī Uṣūl al-Fiqh. Tahqīq: ‘Abd ar-Raḥmān al-Jibrīn, ‘Awaḍ al-Qarnī, Aḥmad as-Sarrāḥ. Riyadh: Maktabat ar-Rushd, 2000. Diakses melalui Maktabah Syamilah.as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī. Tafsīr as-Sa‘dī. Penjelasan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.ath-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Penjelasan Q.S. al-Baqarah ayat 30. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu Jibrīn, ‘Abdullāh bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Kathīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Penjelasan Q.S. Hūd ayat 117 dan Q.S. al-Jumu‘ah ayat 10. Diakses melalui Quran.ksu.edu.sa.Ibnu ‘Utsaimin, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Nisā’. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzī, 2009. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abdul Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Madinah: Mujamma‘ Malik Fahd li Ṭibā‘at al-Muṣḥaf asy-Syarīf, 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Jaureguiberry, P., Titeux, N., Wiemers, M., Bowler, D. E., Coscieme, L., Golden, A. S., Guerra, C. A., Jacob, U., Takahashi, Y., Settele, J., Díaz, S., Molnár, Z., dan Purvis, A. The direct drivers of recent global anthropogenic biodiversity loss. Science Advances, 2022; 8(45): eabm9982. https://doi.org/10.1126/sciadv.abm9982Lamichhane, K., Karki, S., Sharma, K., Khadka, B., Acharya, B., Biswakarma, K., Adhikari, S., Kc, R., Danegulu, A., Bhattarai, S., Regmi, A., Subedi, M., dan Bhattarai, P. K. Unraveling the causes and impacts of increasing flood disasters in the Kathmandu Valley: Lessons from the unprecedented September 2024 floods. Natural Hazards Research, 2025; 5(4): 875-897. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2025.04.001Majmū‘ah min al-Mu’allifīn. Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah. ar-Ri’āsah al-‘Āmmah li Idārāt al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’ wa ad-Da‘wah wa al-Irsyād. Riyadh. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Miṣilḥī, ‘Abd al-Fattāḥ bin Muḥammad. Jāmi‘ al-Masā’il wa al-Qawā‘id fī ‘Ilm al-Uṣūl wa al-Maqāṣid. Mesir: Dār al-Lu’lu’ah li an-Nashr wa at-Tawzī‘, 2022.Syawq, Maḥmūd Aḥmad. al-Ittijāhāt al-Ḥadīthah fī Takhṭīṭ al-Manāhij ad-Dirāsiyyah fī Ḍaw’ at-Taujīhāt al-Islāmiyyah. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 2001.

Sebelum Bicara, Coba Timbang “Emas” Ini Dulu – Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al-Ma’yuf

Saudara-saudaraku, sangat ditekankan bagi penuntut ilmu untuk menimbang ucapannya, dan tidak membiarkan lisannya lepas tanpa kendali. Hendaklah ia menghadapkan ucapannya kepada akalnya terlebih dahulu sebelum diucapkan oleh lisannya. Jika akalnya membenarkannya, maka silakan ia berbicara. Namun, jika tidak, hendaklah ia menahan diri. Sebab, sebuah kata sebelum diucapkan masih berada dalam kendalimu. Akan tetapi, apabila telah diucapkan, kata itulah yang justru menguasaimu. Dikatakan dalam sebuah ungkapan, “Orang yang berakal adalah orang yang akalnya mendahului lisannya. Sedangkan orang bodoh itu adalah orang yang lisannya mendahului akalnya.” Ada orang yang berbicara, lalu setelah dipikir-pikir, ternyata ia telah salah ucap dan keliru. Ada pula ungkapan lain yang berbunyi, “Lisan adalah gayung hati.” Wahai saudara-saudaraku, lisan itu tidak menciduk kata-kata dari tenggorokan atau selainnya. Tidak! Ia menciduknya dari hati dan akal pemiliknya. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setiap orang harus memiliki timbangan dalam berbicara. Sebab, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (amal perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, duduk mengawasi.” “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 16-18). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 9-12). Para malaikat itu mengetahui segala perbuatan, juga mengetahui setiap ucapan. Dua malaikat itu duduk, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, mencatat setiap ucapan dan mengetahui segala perbuatan. Jika keadaannya demikian, maka wajib bagi setiap orang—wahai saudara-saudaraku—untuk menimbang ucapannya, dan tidak berbicara kecuali dengan ucapan yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Antara berkata baik, atau apa, saudara-saudara? Atau diam. Ucapan itu terbagi menjadi tiga: (1) Ucapan yang bermanfaat, maka ucapkanlah. (2) Ucapan yang membawa mudarat, maka tinggalkanlah. (3) Dan ucapan yang tidak membawa manfaat dan tidak pula membawa mudarat. Para ulama mengatakan tentang perkataan jenis ini: “Orang berakal tidak akan membuang waktu dengan ucapan seperti ini.” Allahu Akbar! Intinya, wahai saudara-saudaraku, seseorang tidak selayaknya mengucapkan setiap kata yang terlintas. Para ulama berkata, “Orang yang berakal akan menjaga waktunya dari ucapan yang tidak bermanfaat.” Allahu Akbar, wahai saudara-saudaraku. Perhatikanlah bagaimana para ulama memandang nilai waktu. Waktu mereka tidak disia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat. ===== يَتَأَكَدُّ يَا إِخْوَانِي عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يُطْلِقَ لِلِسَانِهِ الْعِنَانَ وَأَنْ يَعْرِضَ الْكَلَامَ عَلَى عَقْلِهِ قَبْلَ لِسَانِهِ فَإِنْ أَجَازَهُ الْعَقْلُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَإِلَّا فَلْيُمْسِكْ فَإِنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَإِذَا تَكَلَّمْتَ قَالُوا مَلَكَتْكَ وَقِيلَ الْعَاقِلُ هُوَ الَّذِي يَسْبِقُ عَقْلُهُ لِسَانَهُ وَالْجَاهِلُ هُوَ هَا يَا إِخْوَانُ؟ مَنْ يَسْبِقُ لِسَانُهُ عَقْلَهُ إِنْسَانٌ يَتَكَلَّمُ ثُمَّ إِذَا فَكَّرَ فِي كَلَامِهِ وَإِذَا هُوَ قَدْ زَلَّ وَأَخْطَأَ وَقِيلَ أَيْضًا الْأَلْسِنَةُ مَغَارِفُ الْقُلُوبِ اللِّسَانُ مَا هُوَ مَغَارِفُ يَا إِخْوَانِي مِنَ الْجَوْفِ وَلَا مِنْ لَا يَغْرِفُ مِنْ قَلْبِ وَعَقْلِ صَاحِبِهِ لِهَذَا يَتَأَكَّدُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي يَكُونَ عِنْدَهُ مِيزَانٌ فَإِنَّهُ وَكَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ هَؤُلَاءِ يَعْلَمُونَ الْأَفْعَالَ وَأُولَئِكَ الأَقْوَالَ كِلَاهُمَا قَاعِدٌ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ يَكْتُبُ الْأَقْوَالَ وَيَعْلَمُ بِالْأَفْعَالِ فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ الْحَالُ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يَتَكَلَّمَ إِلَّا بِمَا هُوَ مُفِيدٌ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ وَإِمَّا السُّكُوتُ وَالْكَلَامُ ثَلَاثَةٌ كَلَامٌ مُفِيدٌ تَكَلَّمْ بِهِ وَكَلَامٌ ضَارٌّ اُتْرُكْهُ وَكَلَامٌ لَا يُفِيدُ وَلَا يَضُرُّ قَالَ الْعُلَمَاءُ فَالْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْمَقْصُودُ يَا إِخْوَانُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَتَكَلَّمُ بِكُلِّ كَلَامٍ قَالُوا الْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ يَا إِخْوَانُ شُوْفُوا قِيمَةَ الْأَوْقَاتِ عِنْدَهُمْ لَا تَضِيعُ أَوْقَاتُهُمْ يَا إِخْوَانُ فِيمَا لَا يُفِيْدُ

Sebelum Bicara, Coba Timbang “Emas” Ini Dulu – Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al-Ma’yuf

Saudara-saudaraku, sangat ditekankan bagi penuntut ilmu untuk menimbang ucapannya, dan tidak membiarkan lisannya lepas tanpa kendali. Hendaklah ia menghadapkan ucapannya kepada akalnya terlebih dahulu sebelum diucapkan oleh lisannya. Jika akalnya membenarkannya, maka silakan ia berbicara. Namun, jika tidak, hendaklah ia menahan diri. Sebab, sebuah kata sebelum diucapkan masih berada dalam kendalimu. Akan tetapi, apabila telah diucapkan, kata itulah yang justru menguasaimu. Dikatakan dalam sebuah ungkapan, “Orang yang berakal adalah orang yang akalnya mendahului lisannya. Sedangkan orang bodoh itu adalah orang yang lisannya mendahului akalnya.” Ada orang yang berbicara, lalu setelah dipikir-pikir, ternyata ia telah salah ucap dan keliru. Ada pula ungkapan lain yang berbunyi, “Lisan adalah gayung hati.” Wahai saudara-saudaraku, lisan itu tidak menciduk kata-kata dari tenggorokan atau selainnya. Tidak! Ia menciduknya dari hati dan akal pemiliknya. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setiap orang harus memiliki timbangan dalam berbicara. Sebab, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (amal perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, duduk mengawasi.” “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 16-18). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 9-12). Para malaikat itu mengetahui segala perbuatan, juga mengetahui setiap ucapan. Dua malaikat itu duduk, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, mencatat setiap ucapan dan mengetahui segala perbuatan. Jika keadaannya demikian, maka wajib bagi setiap orang—wahai saudara-saudaraku—untuk menimbang ucapannya, dan tidak berbicara kecuali dengan ucapan yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Antara berkata baik, atau apa, saudara-saudara? Atau diam. Ucapan itu terbagi menjadi tiga: (1) Ucapan yang bermanfaat, maka ucapkanlah. (2) Ucapan yang membawa mudarat, maka tinggalkanlah. (3) Dan ucapan yang tidak membawa manfaat dan tidak pula membawa mudarat. Para ulama mengatakan tentang perkataan jenis ini: “Orang berakal tidak akan membuang waktu dengan ucapan seperti ini.” Allahu Akbar! Intinya, wahai saudara-saudaraku, seseorang tidak selayaknya mengucapkan setiap kata yang terlintas. Para ulama berkata, “Orang yang berakal akan menjaga waktunya dari ucapan yang tidak bermanfaat.” Allahu Akbar, wahai saudara-saudaraku. Perhatikanlah bagaimana para ulama memandang nilai waktu. Waktu mereka tidak disia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat. ===== يَتَأَكَدُّ يَا إِخْوَانِي عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يُطْلِقَ لِلِسَانِهِ الْعِنَانَ وَأَنْ يَعْرِضَ الْكَلَامَ عَلَى عَقْلِهِ قَبْلَ لِسَانِهِ فَإِنْ أَجَازَهُ الْعَقْلُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَإِلَّا فَلْيُمْسِكْ فَإِنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَإِذَا تَكَلَّمْتَ قَالُوا مَلَكَتْكَ وَقِيلَ الْعَاقِلُ هُوَ الَّذِي يَسْبِقُ عَقْلُهُ لِسَانَهُ وَالْجَاهِلُ هُوَ هَا يَا إِخْوَانُ؟ مَنْ يَسْبِقُ لِسَانُهُ عَقْلَهُ إِنْسَانٌ يَتَكَلَّمُ ثُمَّ إِذَا فَكَّرَ فِي كَلَامِهِ وَإِذَا هُوَ قَدْ زَلَّ وَأَخْطَأَ وَقِيلَ أَيْضًا الْأَلْسِنَةُ مَغَارِفُ الْقُلُوبِ اللِّسَانُ مَا هُوَ مَغَارِفُ يَا إِخْوَانِي مِنَ الْجَوْفِ وَلَا مِنْ لَا يَغْرِفُ مِنْ قَلْبِ وَعَقْلِ صَاحِبِهِ لِهَذَا يَتَأَكَّدُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي يَكُونَ عِنْدَهُ مِيزَانٌ فَإِنَّهُ وَكَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ هَؤُلَاءِ يَعْلَمُونَ الْأَفْعَالَ وَأُولَئِكَ الأَقْوَالَ كِلَاهُمَا قَاعِدٌ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ يَكْتُبُ الْأَقْوَالَ وَيَعْلَمُ بِالْأَفْعَالِ فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ الْحَالُ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يَتَكَلَّمَ إِلَّا بِمَا هُوَ مُفِيدٌ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ وَإِمَّا السُّكُوتُ وَالْكَلَامُ ثَلَاثَةٌ كَلَامٌ مُفِيدٌ تَكَلَّمْ بِهِ وَكَلَامٌ ضَارٌّ اُتْرُكْهُ وَكَلَامٌ لَا يُفِيدُ وَلَا يَضُرُّ قَالَ الْعُلَمَاءُ فَالْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْمَقْصُودُ يَا إِخْوَانُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَتَكَلَّمُ بِكُلِّ كَلَامٍ قَالُوا الْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ يَا إِخْوَانُ شُوْفُوا قِيمَةَ الْأَوْقَاتِ عِنْدَهُمْ لَا تَضِيعُ أَوْقَاتُهُمْ يَا إِخْوَانُ فِيمَا لَا يُفِيْدُ
Saudara-saudaraku, sangat ditekankan bagi penuntut ilmu untuk menimbang ucapannya, dan tidak membiarkan lisannya lepas tanpa kendali. Hendaklah ia menghadapkan ucapannya kepada akalnya terlebih dahulu sebelum diucapkan oleh lisannya. Jika akalnya membenarkannya, maka silakan ia berbicara. Namun, jika tidak, hendaklah ia menahan diri. Sebab, sebuah kata sebelum diucapkan masih berada dalam kendalimu. Akan tetapi, apabila telah diucapkan, kata itulah yang justru menguasaimu. Dikatakan dalam sebuah ungkapan, “Orang yang berakal adalah orang yang akalnya mendahului lisannya. Sedangkan orang bodoh itu adalah orang yang lisannya mendahului akalnya.” Ada orang yang berbicara, lalu setelah dipikir-pikir, ternyata ia telah salah ucap dan keliru. Ada pula ungkapan lain yang berbunyi, “Lisan adalah gayung hati.” Wahai saudara-saudaraku, lisan itu tidak menciduk kata-kata dari tenggorokan atau selainnya. Tidak! Ia menciduknya dari hati dan akal pemiliknya. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setiap orang harus memiliki timbangan dalam berbicara. Sebab, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (amal perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, duduk mengawasi.” “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 16-18). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 9-12). Para malaikat itu mengetahui segala perbuatan, juga mengetahui setiap ucapan. Dua malaikat itu duduk, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, mencatat setiap ucapan dan mengetahui segala perbuatan. Jika keadaannya demikian, maka wajib bagi setiap orang—wahai saudara-saudaraku—untuk menimbang ucapannya, dan tidak berbicara kecuali dengan ucapan yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Antara berkata baik, atau apa, saudara-saudara? Atau diam. Ucapan itu terbagi menjadi tiga: (1) Ucapan yang bermanfaat, maka ucapkanlah. (2) Ucapan yang membawa mudarat, maka tinggalkanlah. (3) Dan ucapan yang tidak membawa manfaat dan tidak pula membawa mudarat. Para ulama mengatakan tentang perkataan jenis ini: “Orang berakal tidak akan membuang waktu dengan ucapan seperti ini.” Allahu Akbar! Intinya, wahai saudara-saudaraku, seseorang tidak selayaknya mengucapkan setiap kata yang terlintas. Para ulama berkata, “Orang yang berakal akan menjaga waktunya dari ucapan yang tidak bermanfaat.” Allahu Akbar, wahai saudara-saudaraku. Perhatikanlah bagaimana para ulama memandang nilai waktu. Waktu mereka tidak disia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat. ===== يَتَأَكَدُّ يَا إِخْوَانِي عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يُطْلِقَ لِلِسَانِهِ الْعِنَانَ وَأَنْ يَعْرِضَ الْكَلَامَ عَلَى عَقْلِهِ قَبْلَ لِسَانِهِ فَإِنْ أَجَازَهُ الْعَقْلُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَإِلَّا فَلْيُمْسِكْ فَإِنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَإِذَا تَكَلَّمْتَ قَالُوا مَلَكَتْكَ وَقِيلَ الْعَاقِلُ هُوَ الَّذِي يَسْبِقُ عَقْلُهُ لِسَانَهُ وَالْجَاهِلُ هُوَ هَا يَا إِخْوَانُ؟ مَنْ يَسْبِقُ لِسَانُهُ عَقْلَهُ إِنْسَانٌ يَتَكَلَّمُ ثُمَّ إِذَا فَكَّرَ فِي كَلَامِهِ وَإِذَا هُوَ قَدْ زَلَّ وَأَخْطَأَ وَقِيلَ أَيْضًا الْأَلْسِنَةُ مَغَارِفُ الْقُلُوبِ اللِّسَانُ مَا هُوَ مَغَارِفُ يَا إِخْوَانِي مِنَ الْجَوْفِ وَلَا مِنْ لَا يَغْرِفُ مِنْ قَلْبِ وَعَقْلِ صَاحِبِهِ لِهَذَا يَتَأَكَّدُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي يَكُونَ عِنْدَهُ مِيزَانٌ فَإِنَّهُ وَكَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ هَؤُلَاءِ يَعْلَمُونَ الْأَفْعَالَ وَأُولَئِكَ الأَقْوَالَ كِلَاهُمَا قَاعِدٌ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ يَكْتُبُ الْأَقْوَالَ وَيَعْلَمُ بِالْأَفْعَالِ فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ الْحَالُ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يَتَكَلَّمَ إِلَّا بِمَا هُوَ مُفِيدٌ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ وَإِمَّا السُّكُوتُ وَالْكَلَامُ ثَلَاثَةٌ كَلَامٌ مُفِيدٌ تَكَلَّمْ بِهِ وَكَلَامٌ ضَارٌّ اُتْرُكْهُ وَكَلَامٌ لَا يُفِيدُ وَلَا يَضُرُّ قَالَ الْعُلَمَاءُ فَالْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْمَقْصُودُ يَا إِخْوَانُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَتَكَلَّمُ بِكُلِّ كَلَامٍ قَالُوا الْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ يَا إِخْوَانُ شُوْفُوا قِيمَةَ الْأَوْقَاتِ عِنْدَهُمْ لَا تَضِيعُ أَوْقَاتُهُمْ يَا إِخْوَانُ فِيمَا لَا يُفِيْدُ


Saudara-saudaraku, sangat ditekankan bagi penuntut ilmu untuk menimbang ucapannya, dan tidak membiarkan lisannya lepas tanpa kendali. Hendaklah ia menghadapkan ucapannya kepada akalnya terlebih dahulu sebelum diucapkan oleh lisannya. Jika akalnya membenarkannya, maka silakan ia berbicara. Namun, jika tidak, hendaklah ia menahan diri. Sebab, sebuah kata sebelum diucapkan masih berada dalam kendalimu. Akan tetapi, apabila telah diucapkan, kata itulah yang justru menguasaimu. Dikatakan dalam sebuah ungkapan, “Orang yang berakal adalah orang yang akalnya mendahului lisannya. Sedangkan orang bodoh itu adalah orang yang lisannya mendahului akalnya.” Ada orang yang berbicara, lalu setelah dipikir-pikir, ternyata ia telah salah ucap dan keliru. Ada pula ungkapan lain yang berbunyi, “Lisan adalah gayung hati.” Wahai saudara-saudaraku, lisan itu tidak menciduk kata-kata dari tenggorokan atau selainnya. Tidak! Ia menciduknya dari hati dan akal pemiliknya. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, setiap orang harus memiliki timbangan dalam berbicara. Sebab, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (amal perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, duduk mengawasi.” “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 16-18). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 9-12). Para malaikat itu mengetahui segala perbuatan, juga mengetahui setiap ucapan. Dua malaikat itu duduk, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri, mencatat setiap ucapan dan mengetahui segala perbuatan. Jika keadaannya demikian, maka wajib bagi setiap orang—wahai saudara-saudaraku—untuk menimbang ucapannya, dan tidak berbicara kecuali dengan ucapan yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Antara berkata baik, atau apa, saudara-saudara? Atau diam. Ucapan itu terbagi menjadi tiga: (1) Ucapan yang bermanfaat, maka ucapkanlah. (2) Ucapan yang membawa mudarat, maka tinggalkanlah. (3) Dan ucapan yang tidak membawa manfaat dan tidak pula membawa mudarat. Para ulama mengatakan tentang perkataan jenis ini: “Orang berakal tidak akan membuang waktu dengan ucapan seperti ini.” Allahu Akbar! Intinya, wahai saudara-saudaraku, seseorang tidak selayaknya mengucapkan setiap kata yang terlintas. Para ulama berkata, “Orang yang berakal akan menjaga waktunya dari ucapan yang tidak bermanfaat.” Allahu Akbar, wahai saudara-saudaraku. Perhatikanlah bagaimana para ulama memandang nilai waktu. Waktu mereka tidak disia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat. ===== يَتَأَكَدُّ يَا إِخْوَانِي عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يُطْلِقَ لِلِسَانِهِ الْعِنَانَ وَأَنْ يَعْرِضَ الْكَلَامَ عَلَى عَقْلِهِ قَبْلَ لِسَانِهِ فَإِنْ أَجَازَهُ الْعَقْلُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَإِلَّا فَلْيُمْسِكْ فَإِنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَإِذَا تَكَلَّمْتَ قَالُوا مَلَكَتْكَ وَقِيلَ الْعَاقِلُ هُوَ الَّذِي يَسْبِقُ عَقْلُهُ لِسَانَهُ وَالْجَاهِلُ هُوَ هَا يَا إِخْوَانُ؟ مَنْ يَسْبِقُ لِسَانُهُ عَقْلَهُ إِنْسَانٌ يَتَكَلَّمُ ثُمَّ إِذَا فَكَّرَ فِي كَلَامِهِ وَإِذَا هُوَ قَدْ زَلَّ وَأَخْطَأَ وَقِيلَ أَيْضًا الْأَلْسِنَةُ مَغَارِفُ الْقُلُوبِ اللِّسَانُ مَا هُوَ مَغَارِفُ يَا إِخْوَانِي مِنَ الْجَوْفِ وَلَا مِنْ لَا يَغْرِفُ مِنْ قَلْبِ وَعَقْلِ صَاحِبِهِ لِهَذَا يَتَأَكَّدُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانِي يَكُونَ عِنْدَهُ مِيزَانٌ فَإِنَّهُ وَكَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ وَقَالَ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ هَؤُلَاءِ يَعْلَمُونَ الْأَفْعَالَ وَأُولَئِكَ الأَقْوَالَ كِلَاهُمَا قَاعِدٌ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ يَكْتُبُ الْأَقْوَالَ وَيَعْلَمُ بِالْأَفْعَالِ فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ الْحَالُ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَزِنَ كَلَامَهُ وَأَلَّا يَتَكَلَّمَ إِلَّا بِمَا هُوَ مُفِيدٌ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ إِمَّا خَيْرٌ وَإِمَّا مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ وَإِمَّا السُّكُوتُ وَالْكَلَامُ ثَلَاثَةٌ كَلَامٌ مُفِيدٌ تَكَلَّمْ بِهِ وَكَلَامٌ ضَارٌّ اُتْرُكْهُ وَكَلَامٌ لَا يُفِيدُ وَلَا يَضُرُّ قَالَ الْعُلَمَاءُ فَالْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْمَقْصُودُ يَا إِخْوَانُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَتَكَلَّمُ بِكُلِّ كَلَامٍ قَالُوا الْعَاقِلُ يَشِحُّ بِوَقْتِهِ عَنْهُ اللَّهُ أَكْبَرُ يَا إِخْوَانُ شُوْفُوا قِيمَةَ الْأَوْقَاتِ عِنْدَهُمْ لَا تَضِيعُ أَوْقَاتُهُمْ يَا إِخْوَانُ فِيمَا لَا يُفِيْدُ

Cara Jitu Agar Lepas dari Jerat Ujub – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai saudara-saudaraku, sifat ujub itu bahayanya sangat besar. Seakan-akan seseorang hanya memandang dirinya sendiri atas kebaikan dan keistiqamahan yang ia peroleh, tanpa menoleh kepada Tuhannya, ‘Azza wa Jalla. Sebelumnya telah kita singgung ucapan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam, ketika beliau berdakwah, berjuang, dan bersungguh-sungguh menyeru kaumnya. Beliau berkata, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku…” Namun beliau kembali mengaitkan niat tersebut kepada apa? Kepada taufik dari Tuhannya. “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88). Pada pelajaran yang lalu telah disebutkan beberapa perkara yang membantu seseorang terbebas dari sifat ujub, sebab ujub adalah penyakit yang dapat menimpa manusia, bahkan menimpa orang-orang saleh dalam urusan agama mereka. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Terkadang seseorang merasa kagum dengan amal-amalnya, lalu timbul rasa bangga terhadap dirinya sendiri karena amal tersebut. Lalu apa cara yang dapat membebaskan kita dari sifat ujub ini? Menurut saya, jalannya adalah dengan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu menjadikan diri sebagai hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, ketika seseorang bersyukur kepada Allah, berarti ia mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada sedikit pun peran dirinya di dalamnya. Maka, barang siapa bersyukur kepada Tuhannya, ia tidak akan merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Cara yang kedua, adalah beriman kepada takdir. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan hal ini dalam firman-Nya, “Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu, dan agar kamu tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23). Maka, seseorang tidak patut bergembira dengan kegembiraan yang berlebihan, disertai keangkuhan dan merasa lebih tinggi dari orang lain, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan agama. Diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf sebuah ungkapan yang telah disebutkan pada pelajaran sebelumnya, wahai saudara-saudaraku: “Penyesalan pelaku maksiat lebih baik daripada keangkuhan pelaku ketaatan.” Penyesalan pelaku maksiat—perkara ini hendaknya benar-benar diperhatikan oleh setiap orang yang berdakwah kepada Allah, juga oleh siapa pun yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hendaklah ia mengajak dan menyeru dengan penuh kerendahan hati di hadapan Tuhannya. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa sikap para Salaf terhadap para pelaku maksiat, dan juga terhadap para pelaku bid’ah, adalah apabila mereka melihatnya, mereka memohon kepada Allah keselamatan untuk orang tersebut, serta memuji Allah karena telah melindungi diri mereka dari cobaan yang menimpa orang lain. Apabila seseorang melihat orang yang diuji dalam urusan agamanya, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepada kami.” Karena hati-hati kita berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah atas keselamatan itu, dan mendoakan saudaranya agar memperoleh hidayah. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberinya hidayah.” ===== وَالْعُجْبُ يَا إِخْوَانِي ضَرَرُهُ عَظِيمٌ وَكَأَنَّ الْإِنْسَانَ يَلْتَفِتُ إِلَى نَفْسِهِ فِيمَا حَصَلَ لَهُ مِنْ خَيْرٍ وَاسْتِقَامَةٍ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَرَّ بِنَا قَوْلُ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ يَدْعُو وَيُجَاهِدُ وَيَجْتَهِدُ فِي دَعْوَةِ قَوْمِهِ حِينَ يَقُولُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ لَكِنَّهُ عَادَ يَلْتَفِتُ عَنْ نِيَّتِهِ إِلَى مَاذَا؟ إِلَى تَوْفِيقِ رَبِّهِ وَمَا تَوْفِيقِيْ إِلَّا بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ذُكِرَ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي بَعْضُ الْأُمُورِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ الْعُجْبِ لِأَنَّ الْعُجْبَ دَاءٌ يَا إِخْوَانُ يُبْتَلَى بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُبْتَلَى بِهِ الصَّالِحُونَ فِي دِينِهِمْ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَدْ تُعْجِبُهُ أَعْمَالُهُ أَحْيَانًا وَيُعْجَبُ بِسَبَبِهَا بِنَفْسِهِ فَمَا الطَّرِيقُ الَّذِي يُخَلِّصُنَا مِنْ هَذَا الْعُجْبِ؟ أَنَا مَا أَشْعُرُ شُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَشْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا كَانَ يَشْكُرُ اللَّهَ فَهُوَ مُعْتَرِفٌ بِأَنَّ مَا هُوَ فِيهِ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ لَهُ فِيهِ أَيُّ شَيْءٍ فَمَنْ شَكَرَ رَبَّهُ يَا إِخْوَانُ مَا يَعْجَبُ بِنَفْسِهِ الثَّانِي الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ أَيْضًا وَقَدْ ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْلِهِ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ فَلَا يَفْرَحُ الْإِنْسَانُ فَرَحَ أَشَرٍّ وَبَطَرٍ وَتَعَالٍ عَلَى النَّاسِ سَوَاءٌ فِي أُمُورِ دُنْيَاهُ أَوْ حَتَّى فِي أُمُورِ دِينِهِ وَأُثِرَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ مَقَالَةٌ ذُكِرَتْ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي يَا إِخْوَانُ انْكِسَارُ الْعَاصِي خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيعِ انْكِسَارُ الْعَاصِي وَهَذِهِ المَسْأَلَةُ يَتَنَبَّهُ لَهَا يَا إِخْوَانُ كُلُّ مَنْ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ يَأْمُرُ وَيَدْعُو بِتَوَاضُعٍ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ وَلِهَذَا ذُكِرَ أَنَّ طَرِيقَةَ السَّلَفِ مَعَ الْعُصَاةِ وَمَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ أَيْضًا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا رَآهُمْ يَسْأَلُ اللَّهَ لَهُمْ الْعَافِيَةَ وَيَحْمَدُ اللَّهَ إِذْ عَافَاهُ مِمَّا ابْتَلاَهُمْ بِهِ الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى الْمبْتَلَى فِي دِينِهِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانَا قُلُوبَنَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَيَسْأَلُ لِأَخِيهِ مَاذَا يَسْأَلُ أَخِيهِ الْهِدَايَةَ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَهُ

Cara Jitu Agar Lepas dari Jerat Ujub – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Wahai saudara-saudaraku, sifat ujub itu bahayanya sangat besar. Seakan-akan seseorang hanya memandang dirinya sendiri atas kebaikan dan keistiqamahan yang ia peroleh, tanpa menoleh kepada Tuhannya, ‘Azza wa Jalla. Sebelumnya telah kita singgung ucapan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam, ketika beliau berdakwah, berjuang, dan bersungguh-sungguh menyeru kaumnya. Beliau berkata, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku…” Namun beliau kembali mengaitkan niat tersebut kepada apa? Kepada taufik dari Tuhannya. “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88). Pada pelajaran yang lalu telah disebutkan beberapa perkara yang membantu seseorang terbebas dari sifat ujub, sebab ujub adalah penyakit yang dapat menimpa manusia, bahkan menimpa orang-orang saleh dalam urusan agama mereka. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Terkadang seseorang merasa kagum dengan amal-amalnya, lalu timbul rasa bangga terhadap dirinya sendiri karena amal tersebut. Lalu apa cara yang dapat membebaskan kita dari sifat ujub ini? Menurut saya, jalannya adalah dengan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu menjadikan diri sebagai hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, ketika seseorang bersyukur kepada Allah, berarti ia mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada sedikit pun peran dirinya di dalamnya. Maka, barang siapa bersyukur kepada Tuhannya, ia tidak akan merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Cara yang kedua, adalah beriman kepada takdir. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan hal ini dalam firman-Nya, “Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu, dan agar kamu tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23). Maka, seseorang tidak patut bergembira dengan kegembiraan yang berlebihan, disertai keangkuhan dan merasa lebih tinggi dari orang lain, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan agama. Diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf sebuah ungkapan yang telah disebutkan pada pelajaran sebelumnya, wahai saudara-saudaraku: “Penyesalan pelaku maksiat lebih baik daripada keangkuhan pelaku ketaatan.” Penyesalan pelaku maksiat—perkara ini hendaknya benar-benar diperhatikan oleh setiap orang yang berdakwah kepada Allah, juga oleh siapa pun yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hendaklah ia mengajak dan menyeru dengan penuh kerendahan hati di hadapan Tuhannya. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa sikap para Salaf terhadap para pelaku maksiat, dan juga terhadap para pelaku bid’ah, adalah apabila mereka melihatnya, mereka memohon kepada Allah keselamatan untuk orang tersebut, serta memuji Allah karena telah melindungi diri mereka dari cobaan yang menimpa orang lain. Apabila seseorang melihat orang yang diuji dalam urusan agamanya, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepada kami.” Karena hati-hati kita berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah atas keselamatan itu, dan mendoakan saudaranya agar memperoleh hidayah. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberinya hidayah.” ===== وَالْعُجْبُ يَا إِخْوَانِي ضَرَرُهُ عَظِيمٌ وَكَأَنَّ الْإِنْسَانَ يَلْتَفِتُ إِلَى نَفْسِهِ فِيمَا حَصَلَ لَهُ مِنْ خَيْرٍ وَاسْتِقَامَةٍ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَرَّ بِنَا قَوْلُ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ يَدْعُو وَيُجَاهِدُ وَيَجْتَهِدُ فِي دَعْوَةِ قَوْمِهِ حِينَ يَقُولُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ لَكِنَّهُ عَادَ يَلْتَفِتُ عَنْ نِيَّتِهِ إِلَى مَاذَا؟ إِلَى تَوْفِيقِ رَبِّهِ وَمَا تَوْفِيقِيْ إِلَّا بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ذُكِرَ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي بَعْضُ الْأُمُورِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ الْعُجْبِ لِأَنَّ الْعُجْبَ دَاءٌ يَا إِخْوَانُ يُبْتَلَى بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُبْتَلَى بِهِ الصَّالِحُونَ فِي دِينِهِمْ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَدْ تُعْجِبُهُ أَعْمَالُهُ أَحْيَانًا وَيُعْجَبُ بِسَبَبِهَا بِنَفْسِهِ فَمَا الطَّرِيقُ الَّذِي يُخَلِّصُنَا مِنْ هَذَا الْعُجْبِ؟ أَنَا مَا أَشْعُرُ شُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَشْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا كَانَ يَشْكُرُ اللَّهَ فَهُوَ مُعْتَرِفٌ بِأَنَّ مَا هُوَ فِيهِ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ لَهُ فِيهِ أَيُّ شَيْءٍ فَمَنْ شَكَرَ رَبَّهُ يَا إِخْوَانُ مَا يَعْجَبُ بِنَفْسِهِ الثَّانِي الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ أَيْضًا وَقَدْ ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْلِهِ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ فَلَا يَفْرَحُ الْإِنْسَانُ فَرَحَ أَشَرٍّ وَبَطَرٍ وَتَعَالٍ عَلَى النَّاسِ سَوَاءٌ فِي أُمُورِ دُنْيَاهُ أَوْ حَتَّى فِي أُمُورِ دِينِهِ وَأُثِرَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ مَقَالَةٌ ذُكِرَتْ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي يَا إِخْوَانُ انْكِسَارُ الْعَاصِي خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيعِ انْكِسَارُ الْعَاصِي وَهَذِهِ المَسْأَلَةُ يَتَنَبَّهُ لَهَا يَا إِخْوَانُ كُلُّ مَنْ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ يَأْمُرُ وَيَدْعُو بِتَوَاضُعٍ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ وَلِهَذَا ذُكِرَ أَنَّ طَرِيقَةَ السَّلَفِ مَعَ الْعُصَاةِ وَمَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ أَيْضًا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا رَآهُمْ يَسْأَلُ اللَّهَ لَهُمْ الْعَافِيَةَ وَيَحْمَدُ اللَّهَ إِذْ عَافَاهُ مِمَّا ابْتَلاَهُمْ بِهِ الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى الْمبْتَلَى فِي دِينِهِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانَا قُلُوبَنَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَيَسْأَلُ لِأَخِيهِ مَاذَا يَسْأَلُ أَخِيهِ الْهِدَايَةَ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَهُ
Wahai saudara-saudaraku, sifat ujub itu bahayanya sangat besar. Seakan-akan seseorang hanya memandang dirinya sendiri atas kebaikan dan keistiqamahan yang ia peroleh, tanpa menoleh kepada Tuhannya, ‘Azza wa Jalla. Sebelumnya telah kita singgung ucapan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam, ketika beliau berdakwah, berjuang, dan bersungguh-sungguh menyeru kaumnya. Beliau berkata, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku…” Namun beliau kembali mengaitkan niat tersebut kepada apa? Kepada taufik dari Tuhannya. “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88). Pada pelajaran yang lalu telah disebutkan beberapa perkara yang membantu seseorang terbebas dari sifat ujub, sebab ujub adalah penyakit yang dapat menimpa manusia, bahkan menimpa orang-orang saleh dalam urusan agama mereka. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Terkadang seseorang merasa kagum dengan amal-amalnya, lalu timbul rasa bangga terhadap dirinya sendiri karena amal tersebut. Lalu apa cara yang dapat membebaskan kita dari sifat ujub ini? Menurut saya, jalannya adalah dengan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu menjadikan diri sebagai hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, ketika seseorang bersyukur kepada Allah, berarti ia mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada sedikit pun peran dirinya di dalamnya. Maka, barang siapa bersyukur kepada Tuhannya, ia tidak akan merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Cara yang kedua, adalah beriman kepada takdir. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan hal ini dalam firman-Nya, “Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu, dan agar kamu tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23). Maka, seseorang tidak patut bergembira dengan kegembiraan yang berlebihan, disertai keangkuhan dan merasa lebih tinggi dari orang lain, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan agama. Diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf sebuah ungkapan yang telah disebutkan pada pelajaran sebelumnya, wahai saudara-saudaraku: “Penyesalan pelaku maksiat lebih baik daripada keangkuhan pelaku ketaatan.” Penyesalan pelaku maksiat—perkara ini hendaknya benar-benar diperhatikan oleh setiap orang yang berdakwah kepada Allah, juga oleh siapa pun yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hendaklah ia mengajak dan menyeru dengan penuh kerendahan hati di hadapan Tuhannya. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa sikap para Salaf terhadap para pelaku maksiat, dan juga terhadap para pelaku bid’ah, adalah apabila mereka melihatnya, mereka memohon kepada Allah keselamatan untuk orang tersebut, serta memuji Allah karena telah melindungi diri mereka dari cobaan yang menimpa orang lain. Apabila seseorang melihat orang yang diuji dalam urusan agamanya, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepada kami.” Karena hati-hati kita berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah atas keselamatan itu, dan mendoakan saudaranya agar memperoleh hidayah. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberinya hidayah.” ===== وَالْعُجْبُ يَا إِخْوَانِي ضَرَرُهُ عَظِيمٌ وَكَأَنَّ الْإِنْسَانَ يَلْتَفِتُ إِلَى نَفْسِهِ فِيمَا حَصَلَ لَهُ مِنْ خَيْرٍ وَاسْتِقَامَةٍ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَرَّ بِنَا قَوْلُ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ يَدْعُو وَيُجَاهِدُ وَيَجْتَهِدُ فِي دَعْوَةِ قَوْمِهِ حِينَ يَقُولُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ لَكِنَّهُ عَادَ يَلْتَفِتُ عَنْ نِيَّتِهِ إِلَى مَاذَا؟ إِلَى تَوْفِيقِ رَبِّهِ وَمَا تَوْفِيقِيْ إِلَّا بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ذُكِرَ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي بَعْضُ الْأُمُورِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ الْعُجْبِ لِأَنَّ الْعُجْبَ دَاءٌ يَا إِخْوَانُ يُبْتَلَى بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُبْتَلَى بِهِ الصَّالِحُونَ فِي دِينِهِمْ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَدْ تُعْجِبُهُ أَعْمَالُهُ أَحْيَانًا وَيُعْجَبُ بِسَبَبِهَا بِنَفْسِهِ فَمَا الطَّرِيقُ الَّذِي يُخَلِّصُنَا مِنْ هَذَا الْعُجْبِ؟ أَنَا مَا أَشْعُرُ شُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَشْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا كَانَ يَشْكُرُ اللَّهَ فَهُوَ مُعْتَرِفٌ بِأَنَّ مَا هُوَ فِيهِ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ لَهُ فِيهِ أَيُّ شَيْءٍ فَمَنْ شَكَرَ رَبَّهُ يَا إِخْوَانُ مَا يَعْجَبُ بِنَفْسِهِ الثَّانِي الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ أَيْضًا وَقَدْ ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْلِهِ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ فَلَا يَفْرَحُ الْإِنْسَانُ فَرَحَ أَشَرٍّ وَبَطَرٍ وَتَعَالٍ عَلَى النَّاسِ سَوَاءٌ فِي أُمُورِ دُنْيَاهُ أَوْ حَتَّى فِي أُمُورِ دِينِهِ وَأُثِرَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ مَقَالَةٌ ذُكِرَتْ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي يَا إِخْوَانُ انْكِسَارُ الْعَاصِي خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيعِ انْكِسَارُ الْعَاصِي وَهَذِهِ المَسْأَلَةُ يَتَنَبَّهُ لَهَا يَا إِخْوَانُ كُلُّ مَنْ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ يَأْمُرُ وَيَدْعُو بِتَوَاضُعٍ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ وَلِهَذَا ذُكِرَ أَنَّ طَرِيقَةَ السَّلَفِ مَعَ الْعُصَاةِ وَمَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ أَيْضًا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا رَآهُمْ يَسْأَلُ اللَّهَ لَهُمْ الْعَافِيَةَ وَيَحْمَدُ اللَّهَ إِذْ عَافَاهُ مِمَّا ابْتَلاَهُمْ بِهِ الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى الْمبْتَلَى فِي دِينِهِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانَا قُلُوبَنَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَيَسْأَلُ لِأَخِيهِ مَاذَا يَسْأَلُ أَخِيهِ الْهِدَايَةَ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَهُ


Wahai saudara-saudaraku, sifat ujub itu bahayanya sangat besar. Seakan-akan seseorang hanya memandang dirinya sendiri atas kebaikan dan keistiqamahan yang ia peroleh, tanpa menoleh kepada Tuhannya, ‘Azza wa Jalla. Sebelumnya telah kita singgung ucapan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam, ketika beliau berdakwah, berjuang, dan bersungguh-sungguh menyeru kaumnya. Beliau berkata, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku…” Namun beliau kembali mengaitkan niat tersebut kepada apa? Kepada taufik dari Tuhannya. “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88). Pada pelajaran yang lalu telah disebutkan beberapa perkara yang membantu seseorang terbebas dari sifat ujub, sebab ujub adalah penyakit yang dapat menimpa manusia, bahkan menimpa orang-orang saleh dalam urusan agama mereka. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Terkadang seseorang merasa kagum dengan amal-amalnya, lalu timbul rasa bangga terhadap dirinya sendiri karena amal tersebut. Lalu apa cara yang dapat membebaskan kita dari sifat ujub ini? Menurut saya, jalannya adalah dengan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu menjadikan diri sebagai hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, ketika seseorang bersyukur kepada Allah, berarti ia mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada sedikit pun peran dirinya di dalamnya. Maka, barang siapa bersyukur kepada Tuhannya, ia tidak akan merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Cara yang kedua, adalah beriman kepada takdir. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan hal ini dalam firman-Nya, “Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu, dan agar kamu tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23). Maka, seseorang tidak patut bergembira dengan kegembiraan yang berlebihan, disertai keangkuhan dan merasa lebih tinggi dari orang lain, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan agama. Diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf sebuah ungkapan yang telah disebutkan pada pelajaran sebelumnya, wahai saudara-saudaraku: “Penyesalan pelaku maksiat lebih baik daripada keangkuhan pelaku ketaatan.” Penyesalan pelaku maksiat—perkara ini hendaknya benar-benar diperhatikan oleh setiap orang yang berdakwah kepada Allah, juga oleh siapa pun yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hendaklah ia mengajak dan menyeru dengan penuh kerendahan hati di hadapan Tuhannya. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa sikap para Salaf terhadap para pelaku maksiat, dan juga terhadap para pelaku bid’ah, adalah apabila mereka melihatnya, mereka memohon kepada Allah keselamatan untuk orang tersebut, serta memuji Allah karena telah melindungi diri mereka dari cobaan yang menimpa orang lain. Apabila seseorang melihat orang yang diuji dalam urusan agamanya, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepada kami.” Karena hati-hati kita berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah atas keselamatan itu, dan mendoakan saudaranya agar memperoleh hidayah. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberinya hidayah.” ===== وَالْعُجْبُ يَا إِخْوَانِي ضَرَرُهُ عَظِيمٌ وَكَأَنَّ الْإِنْسَانَ يَلْتَفِتُ إِلَى نَفْسِهِ فِيمَا حَصَلَ لَهُ مِنْ خَيْرٍ وَاسْتِقَامَةٍ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَرَّ بِنَا قَوْلُ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ يَدْعُو وَيُجَاهِدُ وَيَجْتَهِدُ فِي دَعْوَةِ قَوْمِهِ حِينَ يَقُولُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ لَكِنَّهُ عَادَ يَلْتَفِتُ عَنْ نِيَّتِهِ إِلَى مَاذَا؟ إِلَى تَوْفِيقِ رَبِّهِ وَمَا تَوْفِيقِيْ إِلَّا بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ذُكِرَ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي بَعْضُ الْأُمُورِ الْمُعِيْنَةِ عَلَى التَّخَلُّصِ مِنَ الْعُجْبِ لِأَنَّ الْعُجْبَ دَاءٌ يَا إِخْوَانُ يُبْتَلَى بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُبْتَلَى بِهِ الصَّالِحُونَ فِي دِينِهِمْ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَدْ تُعْجِبُهُ أَعْمَالُهُ أَحْيَانًا وَيُعْجَبُ بِسَبَبِهَا بِنَفْسِهِ فَمَا الطَّرِيقُ الَّذِي يُخَلِّصُنَا مِنْ هَذَا الْعُجْبِ؟ أَنَا مَا أَشْعُرُ شُكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَشْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا كَانَ يَشْكُرُ اللَّهَ فَهُوَ مُعْتَرِفٌ بِأَنَّ مَا هُوَ فِيهِ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ لَهُ فِيهِ أَيُّ شَيْءٍ فَمَنْ شَكَرَ رَبَّهُ يَا إِخْوَانُ مَا يَعْجَبُ بِنَفْسِهِ الثَّانِي الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ أَيْضًا وَقَدْ ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْلِهِ لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ فَلَا يَفْرَحُ الْإِنْسَانُ فَرَحَ أَشَرٍّ وَبَطَرٍ وَتَعَالٍ عَلَى النَّاسِ سَوَاءٌ فِي أُمُورِ دُنْيَاهُ أَوْ حَتَّى فِي أُمُورِ دِينِهِ وَأُثِرَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ مَقَالَةٌ ذُكِرَتْ فِي الدَّرْسِ الْمَاضِي يَا إِخْوَانُ انْكِسَارُ الْعَاصِي خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيعِ انْكِسَارُ الْعَاصِي وَهَذِهِ المَسْأَلَةُ يَتَنَبَّهُ لَهَا يَا إِخْوَانُ كُلُّ مَنْ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يَنْهَى عَنْ مُنْكَرٍ يَأْمُرُ وَيَدْعُو بِتَوَاضُعٍ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ وَلِهَذَا ذُكِرَ أَنَّ طَرِيقَةَ السَّلَفِ مَعَ الْعُصَاةِ وَمَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ أَيْضًا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا رَآهُمْ يَسْأَلُ اللَّهَ لَهُمْ الْعَافِيَةَ وَيَحْمَدُ اللَّهَ إِذْ عَافَاهُ مِمَّا ابْتَلاَهُمْ بِهِ الْإِنْسَانُ إِذَا رَأَى الْمبْتَلَى فِي دِينِهِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانَا قُلُوبَنَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَيَسْأَلُ لِأَخِيهِ مَاذَا يَسْأَلُ أَخِيهِ الْهِدَايَةَ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَهُ

Mengapa Hati Mudah Lelah Padahal Ilmu Bertambah?

Ada satu fase yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.Allah ﷻ  mengingatkan,فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” (QS. Al-Baqarah: 10)Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim no. 2722)Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” (Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:“Kenapa orang-orang kok begini?”Tapi:“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.Semoga bermanfaat….***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id   

Mengapa Hati Mudah Lelah Padahal Ilmu Bertambah?

Ada satu fase yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.Allah ﷻ  mengingatkan,فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” (QS. Al-Baqarah: 10)Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim no. 2722)Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” (Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:“Kenapa orang-orang kok begini?”Tapi:“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.Semoga bermanfaat….***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id   
Ada satu fase yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.Allah ﷻ  mengingatkan,فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” (QS. Al-Baqarah: 10)Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim no. 2722)Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” (Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:“Kenapa orang-orang kok begini?”Tapi:“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.Semoga bermanfaat….***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id   


Ada satu fase yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Allah ﷻ berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.Allah ﷻ  mengingatkan,فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” (QS. Al-Baqarah: 10)Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim no. 2722)Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” (Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:“Kenapa orang-orang kok begini?”Tapi:“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.Semoga bermanfaat….***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id   

Sikap Terbaik Saat Difitnah: Antara Sabar, Membela Diri, dan Memaafkan

Sikap Terbaik Saat Difitnah menjadi pembahasan penting karena fitnah dan tuduhan tidak benar adalah ujian yang hampir pasti dialami seorang muslim, terlebih ketika ia berusaha berada di jalan kebenaran. Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran saat dizalimi, tetapi juga memberikan tuntunan yang adil dan bijak: kapan bermuhasabah, kapan menasihati, kapan membela diri, dan kapan memilih diam demi maslahat. Tulisan ini membahas kiat-kiat menghadapi fitnah dengan iman, akhlak, dan pertimbangan maslahat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan nasihat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan 2. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah) 3. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan Ihsan 4. Keempat: Menasihati dengan Cara yang Bijak 5. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan Adil 6. Keenam: Memilih Diam Demi Maslahat Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.” Keyakinan ini penting agar seorang mukmin tidak gegabah dalam bersikap dan tetap tenang menghadapi badai fitnah. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah)1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah maka jangan malu dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran meskipun cara orang yang menasehati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik.2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalkan bendahara Masjid dituduh mencuri uang kas Masjid disebabkan tidak transparannya laporan keuangan maka hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seorang dituduh “nakal” karena sering bergaul dengan orang-orang “nakal” maka selektiflah dalam memilih sahabat.3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syaikh Salim Al Hilali berkata, ” Kalau anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini dimana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya…” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68)4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia ataupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertaubat kepada Allah.Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:“Hendaknya seorang mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah ia perbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala yang tidak menyenangkan yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Ia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.(Oleh karena itu), apabila seseorang melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang ia alami justru adalah musibah yang sebenarnya. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar, dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat”, maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi nikmat.Jika seseorang telah jujur bermuhasabah, ia akan lebih ringan memaafkan dan lebih bijak dalam menyikapi penuduhnya. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan IhsanDoakanlah si penuduh agar Allah beri petunjuk. Karena kejelekan tidak selamanya dibalas dengan yang jelek. Tindakan yang lebih bagus adalah bersifat muhsin, membalas kejelekan dengan kebaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)Para ulama menjelaskan bahwa sikap manusia dalam merespons kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan:Zalim, mengambil lebih dari haknya.Muqtashid, mengambil seukuran haknya.Muhsin, berbuat baik, itulah orang yang memaafkan dan merelakan haknya. Tingkatan ini adalah jalan orang-orang muqarrabin dan para muhsinin., orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan orang yang berbuat baik. Menjadi orang muhsin bisa didapati dengan meyakini adanya pahala yang besar di sisi Allah dan meyakini bahwa Allah itu menyukai orang-orang yang memberikan maaf. Keempat: Menasihati dengan Cara yang BijakNasihat ini bukan untuk memenangkan diri, tetapi agar keburukan berhenti dan pelakunya kembali kepada kebenaran.Ini mencegah salah paham bahwa menasihati = membalas dendam. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan AdilMaafkan dia tetapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. Jika diperlukan, boleh mendoakan keburukan yang bersifat mendidik dan menghentikan kezaliman, bukan kebinasaan.Renungkan ayat-ayat berikut ini.وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43) Keenam: Memilih Diam Demi MaslahatMeladeni dan membantah, terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.Imam Syafi’i rahimahullah berkata,ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْ ﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ“Mereka bertanya kepadaku, “Jika diajak bermusuhan, mengapa engkau diam?” Jawabku kepada mereka, “Sesungguhnya membantah itu membuka pintu keburukan.”ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌ ﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ“Sikap diam terhadap orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌوَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ“Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia diam? Sedangkan seekor anjing dihinakan -sungguh- karena ia suka menggonggong”Sikap diam yang dilandasi ilmu dan maslahat bukan kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman. Baca Juga:Faedah Sirah Nabi: Sikap Menghadapi Cemoohan dan HinaanKhutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media — Perjalanan Makkah – Madinah, 27 Desember 2025, 8 Rajab 1447 HDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbalas dendam memaafkan menghadapi fitnah

Sikap Terbaik Saat Difitnah: Antara Sabar, Membela Diri, dan Memaafkan

Sikap Terbaik Saat Difitnah menjadi pembahasan penting karena fitnah dan tuduhan tidak benar adalah ujian yang hampir pasti dialami seorang muslim, terlebih ketika ia berusaha berada di jalan kebenaran. Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran saat dizalimi, tetapi juga memberikan tuntunan yang adil dan bijak: kapan bermuhasabah, kapan menasihati, kapan membela diri, dan kapan memilih diam demi maslahat. Tulisan ini membahas kiat-kiat menghadapi fitnah dengan iman, akhlak, dan pertimbangan maslahat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan nasihat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan 2. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah) 3. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan Ihsan 4. Keempat: Menasihati dengan Cara yang Bijak 5. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan Adil 6. Keenam: Memilih Diam Demi Maslahat Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.” Keyakinan ini penting agar seorang mukmin tidak gegabah dalam bersikap dan tetap tenang menghadapi badai fitnah. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah)1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah maka jangan malu dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran meskipun cara orang yang menasehati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik.2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalkan bendahara Masjid dituduh mencuri uang kas Masjid disebabkan tidak transparannya laporan keuangan maka hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seorang dituduh “nakal” karena sering bergaul dengan orang-orang “nakal” maka selektiflah dalam memilih sahabat.3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syaikh Salim Al Hilali berkata, ” Kalau anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini dimana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya…” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68)4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia ataupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertaubat kepada Allah.Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:“Hendaknya seorang mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah ia perbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala yang tidak menyenangkan yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Ia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.(Oleh karena itu), apabila seseorang melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang ia alami justru adalah musibah yang sebenarnya. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar, dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat”, maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi nikmat.Jika seseorang telah jujur bermuhasabah, ia akan lebih ringan memaafkan dan lebih bijak dalam menyikapi penuduhnya. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan IhsanDoakanlah si penuduh agar Allah beri petunjuk. Karena kejelekan tidak selamanya dibalas dengan yang jelek. Tindakan yang lebih bagus adalah bersifat muhsin, membalas kejelekan dengan kebaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)Para ulama menjelaskan bahwa sikap manusia dalam merespons kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan:Zalim, mengambil lebih dari haknya.Muqtashid, mengambil seukuran haknya.Muhsin, berbuat baik, itulah orang yang memaafkan dan merelakan haknya. Tingkatan ini adalah jalan orang-orang muqarrabin dan para muhsinin., orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan orang yang berbuat baik. Menjadi orang muhsin bisa didapati dengan meyakini adanya pahala yang besar di sisi Allah dan meyakini bahwa Allah itu menyukai orang-orang yang memberikan maaf. Keempat: Menasihati dengan Cara yang BijakNasihat ini bukan untuk memenangkan diri, tetapi agar keburukan berhenti dan pelakunya kembali kepada kebenaran.Ini mencegah salah paham bahwa menasihati = membalas dendam. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan AdilMaafkan dia tetapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. Jika diperlukan, boleh mendoakan keburukan yang bersifat mendidik dan menghentikan kezaliman, bukan kebinasaan.Renungkan ayat-ayat berikut ini.وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43) Keenam: Memilih Diam Demi MaslahatMeladeni dan membantah, terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.Imam Syafi’i rahimahullah berkata,ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْ ﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ“Mereka bertanya kepadaku, “Jika diajak bermusuhan, mengapa engkau diam?” Jawabku kepada mereka, “Sesungguhnya membantah itu membuka pintu keburukan.”ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌ ﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ“Sikap diam terhadap orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌوَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ“Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia diam? Sedangkan seekor anjing dihinakan -sungguh- karena ia suka menggonggong”Sikap diam yang dilandasi ilmu dan maslahat bukan kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman. Baca Juga:Faedah Sirah Nabi: Sikap Menghadapi Cemoohan dan HinaanKhutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media — Perjalanan Makkah – Madinah, 27 Desember 2025, 8 Rajab 1447 HDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbalas dendam memaafkan menghadapi fitnah
Sikap Terbaik Saat Difitnah menjadi pembahasan penting karena fitnah dan tuduhan tidak benar adalah ujian yang hampir pasti dialami seorang muslim, terlebih ketika ia berusaha berada di jalan kebenaran. Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran saat dizalimi, tetapi juga memberikan tuntunan yang adil dan bijak: kapan bermuhasabah, kapan menasihati, kapan membela diri, dan kapan memilih diam demi maslahat. Tulisan ini membahas kiat-kiat menghadapi fitnah dengan iman, akhlak, dan pertimbangan maslahat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan nasihat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan 2. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah) 3. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan Ihsan 4. Keempat: Menasihati dengan Cara yang Bijak 5. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan Adil 6. Keenam: Memilih Diam Demi Maslahat Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.” Keyakinan ini penting agar seorang mukmin tidak gegabah dalam bersikap dan tetap tenang menghadapi badai fitnah. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah)1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah maka jangan malu dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran meskipun cara orang yang menasehati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik.2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalkan bendahara Masjid dituduh mencuri uang kas Masjid disebabkan tidak transparannya laporan keuangan maka hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seorang dituduh “nakal” karena sering bergaul dengan orang-orang “nakal” maka selektiflah dalam memilih sahabat.3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syaikh Salim Al Hilali berkata, ” Kalau anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini dimana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya…” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68)4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia ataupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertaubat kepada Allah.Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:“Hendaknya seorang mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah ia perbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala yang tidak menyenangkan yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Ia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.(Oleh karena itu), apabila seseorang melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang ia alami justru adalah musibah yang sebenarnya. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar, dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat”, maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi nikmat.Jika seseorang telah jujur bermuhasabah, ia akan lebih ringan memaafkan dan lebih bijak dalam menyikapi penuduhnya. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan IhsanDoakanlah si penuduh agar Allah beri petunjuk. Karena kejelekan tidak selamanya dibalas dengan yang jelek. Tindakan yang lebih bagus adalah bersifat muhsin, membalas kejelekan dengan kebaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)Para ulama menjelaskan bahwa sikap manusia dalam merespons kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan:Zalim, mengambil lebih dari haknya.Muqtashid, mengambil seukuran haknya.Muhsin, berbuat baik, itulah orang yang memaafkan dan merelakan haknya. Tingkatan ini adalah jalan orang-orang muqarrabin dan para muhsinin., orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan orang yang berbuat baik. Menjadi orang muhsin bisa didapati dengan meyakini adanya pahala yang besar di sisi Allah dan meyakini bahwa Allah itu menyukai orang-orang yang memberikan maaf. Keempat: Menasihati dengan Cara yang BijakNasihat ini bukan untuk memenangkan diri, tetapi agar keburukan berhenti dan pelakunya kembali kepada kebenaran.Ini mencegah salah paham bahwa menasihati = membalas dendam. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan AdilMaafkan dia tetapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. Jika diperlukan, boleh mendoakan keburukan yang bersifat mendidik dan menghentikan kezaliman, bukan kebinasaan.Renungkan ayat-ayat berikut ini.وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43) Keenam: Memilih Diam Demi MaslahatMeladeni dan membantah, terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.Imam Syafi’i rahimahullah berkata,ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْ ﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ“Mereka bertanya kepadaku, “Jika diajak bermusuhan, mengapa engkau diam?” Jawabku kepada mereka, “Sesungguhnya membantah itu membuka pintu keburukan.”ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌ ﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ“Sikap diam terhadap orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌوَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ“Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia diam? Sedangkan seekor anjing dihinakan -sungguh- karena ia suka menggonggong”Sikap diam yang dilandasi ilmu dan maslahat bukan kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman. Baca Juga:Faedah Sirah Nabi: Sikap Menghadapi Cemoohan dan HinaanKhutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media — Perjalanan Makkah – Madinah, 27 Desember 2025, 8 Rajab 1447 HDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbalas dendam memaafkan menghadapi fitnah


Sikap Terbaik Saat Difitnah menjadi pembahasan penting karena fitnah dan tuduhan tidak benar adalah ujian yang hampir pasti dialami seorang muslim, terlebih ketika ia berusaha berada di jalan kebenaran. Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran saat dizalimi, tetapi juga memberikan tuntunan yang adil dan bijak: kapan bermuhasabah, kapan menasihati, kapan membela diri, dan kapan memilih diam demi maslahat. Tulisan ini membahas kiat-kiat menghadapi fitnah dengan iman, akhlak, dan pertimbangan maslahat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan nasihat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan 2. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah) 3. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan Ihsan 4. Keempat: Menasihati dengan Cara yang Bijak 5. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan Adil 6. Keenam: Memilih Diam Demi Maslahat Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.” Keyakinan ini penting agar seorang mukmin tidak gegabah dalam bersikap dan tetap tenang menghadapi badai fitnah. Kedua: Introspeksi Diri (Muhasabah)1. Hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Jika ternyata kita salah maka jangan malu dan jangan gengsi untuk mengakui kesalahan dan mengikuti kebenaran meskipun cara orang yang menasehati kita kasar atau mungkin bermaksud tidak baik.2. Memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Misalkan bendahara Masjid dituduh mencuri uang kas Masjid disebabkan tidak transparannya laporan keuangan maka hendaknya dibuat laporan yang rapi dan jelas. Jika seorang dituduh “nakal” karena sering bergaul dengan orang-orang “nakal” maka selektiflah dalam memilih sahabat.3. Ingatlah akan aib dan dosa kita. Syaikh Salim Al Hilali berkata, ” Kalau anda bersih dari kesalahan yang dituduhkan itu, tapi sejatinya anda tidak selamat dari kesalahan-kesalahan lain karena sesungguhnya manusia itu memiliki banyak kesalahan. Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini dimana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya…” (Dinukil dari buku Ar Riyaa halaman 68)4. Hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita baik yang berhubungan dengan muamalah antara manusia ataupun dosa-dosa antara kita dengan Allah. Tuduhan dan fitnahan bisa jadi merupakan teguran agar kita kembali dan bertaubat kepada Allah.Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:“Hendaknya seorang mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah ia perbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala yang tidak menyenangkan yang menimpanya disebabkan oleh dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Ia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.(Oleh karena itu), apabila seseorang melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang ia alami justru adalah musibah yang sebenarnya. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar, dan mengucapkan, “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat”, maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi nikmat.Jika seseorang telah jujur bermuhasabah, ia akan lebih ringan memaafkan dan lebih bijak dalam menyikapi penuduhnya. Ketiga: Mendoakan dan Membalas dengan IhsanDoakanlah si penuduh agar Allah beri petunjuk. Karena kejelekan tidak selamanya dibalas dengan yang jelek. Tindakan yang lebih bagus adalah bersifat muhsin, membalas kejelekan dengan kebaikan.Allah Ta’ala berfirman,وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)Para ulama menjelaskan bahwa sikap manusia dalam merespons kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan:Zalim, mengambil lebih dari haknya.Muqtashid, mengambil seukuran haknya.Muhsin, berbuat baik, itulah orang yang memaafkan dan merelakan haknya. Tingkatan ini adalah jalan orang-orang muqarrabin dan para muhsinin., orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan orang yang berbuat baik. Menjadi orang muhsin bisa didapati dengan meyakini adanya pahala yang besar di sisi Allah dan meyakini bahwa Allah itu menyukai orang-orang yang memberikan maaf. Keempat: Menasihati dengan Cara yang BijakNasihat ini bukan untuk memenangkan diri, tetapi agar keburukan berhenti dan pelakunya kembali kepada kebenaran.Ini mencegah salah paham bahwa menasihati = membalas dendam. Kelima: Memaafkan, Namun Boleh Membela Diri dengan AdilMaafkan dia tetapi kita boleh membalas untuk suatu kemaslahatan asalkan tidak melampaui batas. Jika diperlukan, boleh mendoakan keburukan yang bersifat mendidik dan menghentikan kezaliman, bukan kebinasaan.Renungkan ayat-ayat berikut ini.وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43) Keenam: Memilih Diam Demi MaslahatMeladeni dan membantah, terkadang justru membuka pintu keburukan untuk kita. Bisa jadi klarifikasi tanpa menyebutkan tentang tuduhan mengenai dirinya dan tanpa menyebutkan nama penuduh akan banyak memberikan manfaat untuk umat.Imam Syafi’i rahimahullah berkata,ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْ ﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ“Mereka bertanya kepadaku, “Jika diajak bermusuhan, mengapa engkau diam?” Jawabku kepada mereka, “Sesungguhnya membantah itu membuka pintu keburukan.”ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌ ﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ“Sikap diam terhadap orang yang bodoh atau dungu adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”أَما تَرى الأُسدَ تُخشى وَهِيَ صامِتَةٌوَالكَلبُ يخسى لَعَمري وَهوَ نَبّاحُ“Apakah kamu tidak melihat seekor singa ditakuti lantaran ia diam? Sedangkan seekor anjing dihinakan -sungguh- karena ia suka menggonggong”Sikap diam yang dilandasi ilmu dan maslahat bukan kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman. Baca Juga:Faedah Sirah Nabi: Sikap Menghadapi Cemoohan dan HinaanKhutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media — Perjalanan Makkah – Madinah, 27 Desember 2025, 8 Rajab 1447 HDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbalas dendam memaafkan menghadapi fitnah

Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleAda apa dengan istilah Wahabi? Konservasi alam merupakan syariat IslamIslam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilAkhir-akhir ini, masyarakat disuguhkan perselisihan pandangan antara aktivis konservasi lingkungan yang memperjuangkan kelestarian alam dan kelompok pelaku eksploitasi alam dengan tujuan kesejahteraan. Dalam perselisihan ini, para pelaku eksploitasi alam memberikan lakab (sebutan) “Wahabi lingkungan” kepada aktivis konservasi lingkungan karena mereka dinilai sangat menentang pemanfaatan lingkungan yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan oleh para pelaku eksploitasi.Ada apa dengan istilah Wahabi?  Dalam asal penggunaannya, lakab “Wahabi” merupakan sebutan yang bersifat abusive untuk orang-orang yang melakukan purifikasi agama yang bersifat konservatif dan menolak kebid`ahan dalam praktik agama oleh para pelaku bid`ah. Di dalam kitab Islāmiyyah lā Wahhābiyyah, Syekh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah menyebutkan,فهذه الحركة المباركة لم تكن إلا معبرة عن الإسلام نفسه، مستهدفة إحياء ما اعترى تطبيقه من قبل كثير من المسلمين من غشاوة وجهل وإعراض وبدع. وحيث قد اشتهرت عند غير أهلها، وعند الجاهلين بحقيقتها باسم (الوهابية) فإن هذا الوصف انطلق أولًا من الخصوم، وكانوا يطلقونه على سبيل التنفير واللمز والتعيير“Adapun gerakan yang diberkahi ini (gerakan purifikasi Islam) pada hakikatnya tidak lain hanyalah gerakan yang representatif dari Islam itu sendiri, yang bertujuan menghidupkan kembali penerapan ajaran Islam yang pada praktiknya telah tertutupi oleh berbagai bentuk kekaburan, kebodohan, sikap berpaling, dan bid‘ah di kalangan banyak kaum Muslimin. Namun, gerakan ini dikenal di kalangan pihak-pihak tidak sejalan dengannya dan di kalangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya dengan sebutan “Wahabi”. Maka, penamaan tersebut pada awalnya muncul dari pihak-pihak yang memusuhinya. Mereka menggunakannya sebagai sarana untuk menimbulkan kebencian, merendahkan, dan mencela.” [1]Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa istilah “Wahabi” sejak awal bukanlah klasifikasi ilmiah, melainkan label abusive yang lahir dari perselisihan beragama antara pihak yang mengusung purifikasi agama serta konservasi nilai-nilai dasarnya, dengan pihak yang mengusung akomodasi agama dengan nilai budaya. Seiring berjalannya waktu, istilah “Wahabi” digunakan bukan hanya dalam konteks perbedaan pandang beragama saja, melainkan untuk melabeli kelompok yang terkesan kaku, konservatif, dan tidak akomodatif. Padahal, label dan laqab seharusnya tidak menjadi parameter kebenaran. Hal ini juga ditegaskan para ulama ketika meluruskan penamaan Wahabi yang tidak berdasar, sebagaimana disebutkan dalam jurnal ilmiah resmi dari Kerajaan Saudi, Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah, إن الشيخ محمد بن عبد الوهاب ليس له مذهب خاص به يدعى بالوهابية؛ لأنه في العقيدة على منهج السلف وفي الفروع على مذهب الإمام أحمد بن حنبل الذي كان عليه علماء نجد من قبله وفي عصره ومن بعده. وأتباعه لم يتسموا بالسلفية وإنما يدعون إلى التمسك بمذهب السلف ويسيرون عليه بدون تسمية“Sesungguhnya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (salah satu tokoh yang dikenal melakukan purifikasi ajaran Islam dan konservasi nilai-nilainya) tidak memiliki mazhab khusus yang disebut ‘Wahabiyah’, karena dalam akidah beliau berada di atas manhaj salaf dan dalam fikih mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, serta bahwa para pengikutnya tidak menamakan diri dengan sebutan tertentu.”Lalu, mereka menambahkan kaidah,لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء“Tolak ukur sesuatu adalah hakikat, bukan penamaan/label.” [2]Belakangan ini, muncul kembali sebutan “Wahabi lingkungan” yang digunakan untuk melabeli kelompok yang menyuarakan konservasi lingkungan serta purifikasi prinsip-prinsip pengelolaan dan penggunaan lingkungan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Islam melarang memberi lakab dan label yang tidak disukai kepada sesama. Allah Ta`ala Berfirman,وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kalian saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat: 11)Konservasi alam merupakan syariat IslamSetelah mengetahui ketidakberdasaran sebutan “Wahabi lingkungan” sebagai label bagi aktivis konservasi alam dan ketidaksyariahan label tersebut, kita harus mengetahui apakah konsep pelestarian lingkungan memang sejalan dengan ajaran Islam ataukah tidak. Nyatanya, Islam mengajarkan kita untuk melakukan ishlah (perbaikan) dan melarang kita berbuat ifsad/fasad (kerusakan). Allah Ta`ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersumpah atas nama Allah tentang apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling, ia berjalan di muka bumi untuk berbuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. al-Baqarah: 204-205)Ayat tersebut menceritakan bahwa di antara kebiasaan orang-orang munafik adalah mengklaim membawa (melakukan) perbaikan; namun kenyataannya, mereka adalah yang membawa kerusakan di muka bumi. Hal yang dilakukan orang-orang munafik merupakan hal yang dilarang. Sesuatu yang dilarang merupakan sebuah perintah (untuk melakukan sebaliknya), begitupun sebaliknya. Syekh Jalaludin al-Mahalli rahimahullah dalam Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh menjelaskan,الأمر بالشيء نهي عن ضده والنهي عن الشيء أمر بضده“Perintah melakukan sesuatu adalah sebuah larangan untuk melakukan sebaliknya. Adapun larangan melakukan sesuatu adalah sebuah perintah untuk melakukan sebaliknya.” [3]Ketika Islam mencela perbuatan orang munafik yang merusak dan tidak melakukan perbaikan, maka kita diperintahkan melakukan perbaikan dan dilarang melakukan kerusakan. Syekh Abdullah Qadiri rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, bahwa yang dimaksud الْفَسَادَ (fasad/kerusakan) adalah,يشمل ذلك الإفساد: النسل والنفس والعقل والمال، إضافة إلى إفساد الدين، يستغلون خيرات الأرض وبركات السماء، لنشر فسادهم وظلمهم، وإنزال الرعب على الآمنين“Kerusakan itu mencakup segala bentuk kerusakan, baik keturunan, jiwa, akal, dan harta, begitu pula kerusakan agama. Mereka mengeksploitasi alam dengan cara serampangan, baik di bumi dan langit. Mereka memberikan kerusakan mereka dan kezaliman mereka, serta memberi kekhawatiran kepada orang-orang yang dapat hidup tenang.” [4]Islam juga menjamin kebaikan orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) dengan keamanan, sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Perbuatan pelestarian alam merupakan bentuk dari ishlah,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan sebuah negeri dengan kezaliman sedangkan orang-orangnya merupakan orang pembawa perbaikan (di muka bumi).” (QS. Hud: 117)Ibnu katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,أخبر تعالى أنه لم يهلك قرية إلا وهي ظالمة [ لنفسها ] ولم يأت قرية مصلحة بأسه وعذابه قط حتى يكونوا هم الظالمين“Allah Ta`ala mengabarkan bahwa Ia tidak akan menghancurkan sebuah negeri kecuali karena kezaliman yang mereka perbuat. Allah juga tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada negeri yang melakukan perbaikan, sampai para penghuninya berubah menjadi zalim.” [5]Ayat ini dan tafsirnya menjelaskan bahwa sebuah takdir kauni yang Allah berikan memiliki sebab kauni-nya. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan sesuatu keburukan jika mereka tidak menjadi penyebab keburukan itu sendiri terjadi. Hal ini sejalan dengan kaidah akidah ahlussunnah wal jamaah,أن الله تعالى يجري الأمور بأسبابها“Bahwa Allah Ta`ala menetapkan segala perkara dengan (mengadakan) sebab-sebabnya.” [6]Syekh al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,يُقَدِّرُ الله تبَارَكَ وَتَعَالى الأُمُور بأَسْبابها“Allah Tabaraka wa Ta`ala menakdirkan sesuatu dengan (menetapkan) sebab-sebabnya.” [7]Maka, penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan pentingnya melestarikan alam, agar kebermanfaatannya itu menyebar kepada sesama kita dan kerusakannya tidak menyebabkan bencana bagi kita.Islam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilSemangat perbaikan dalam Islam juga diwujudkan melalui tindakan-tindakan ajarannya. Tidak hanya yang bersifat perbaikan besar seperti kelestarian alam, Islam juga mengajarkan perbaikan-perbaikan kecil, seperti menanam pohon. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إن قامتِ السَّاعةُ و في يدِ أحدِكم فسيلةٌ، فإن استطاعَ أن لا تقومَ حتَّى يغرِسَها فليغرِسْها. (رواه البخاري وأحمد بن حنبل)“Apabila kiamat hendak datang, sedangkan di tangan kalian terdapat bibit tanaman dan kalian mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaknya ia menanamnya.” [8]Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memperhatikan perbaikan dengan pelestarian alam walau dengan satu pohon, bahkan ketika kiamat akan benar terjadi. Kelestarian alam akan melahirkan kebaikan-kebaikan untuk makhluk lain. Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pelestarian alam yang seorang hamba lakukan akan terhitung sebuah catatan amal kebaikan di sisi Allah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أو يَزْرَعُ زَرْعًا فيَأْكُلُ منه طيرٌ ولا إنسانٌ إلا كان له به صدقةً (رواه البخاري ومسلم)“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau melakukan perkebunan, lalu ada hewan dan manusia yang memakan dari hasilnya, maka akan tercatat sebuah sedekah baginya.” [9]Setiap makhluk yang mengambil kebermanfaatan dari upaya pelestarian alam yang kita lakukan, maka hal itu akan terhitung sebagai sebuah pahala sedekah di sisi Allah. Pahala sedekah yang kita dapatkan akan terus mengalir selama masih ada yang mengambil kebermanfaatan dari perbuatan kita, bahkan walau kita telah mati. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له. (رواه مسلم)“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah catatan amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah (yang mengalir), ilmu bermanfaat, dan anak yang saleh.” [10]Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah dalam Syarḥ ‘Umdah al-Aḥkām menjelaskan maksud dari sedekah jariah,الأرض التي فيها شجرٌ أو لها أجرة أو فيها ثمرةٌ أو نحو ذلك، يتصدق بثمرها وغلتها؛ فهذه صدقة جارية“Tanah yang di sana terdapat pepohonan yang digunakan untuk pengupahan atau tumbuh darinya buah dan semisalnya, kemudian ia bersedekah dengan buah-buahan dan pendapatannya, ini semua adalah bentuk sedekah jariah.” [11]Allah akan mencatat pahala kebaikan dari upaya pelestarian alam kita selama ada yang mengambil kebermanfaatan di sana.Dengan demikian, pelestarian alam dalam Islam bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan sedekah jariyah. Namun, Islam juga tidak melarang manusia mengambil rezeki dari bumi. Pada bagian selanjutnya, akan dibahas bagaimana Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memakmurkan bumi, mengambil rezeki darinya, serta menjaga sikap tawasuth (pertengahan) agar tidak terjerumus dalam eksploitasi berlebihan.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Naaṣir ibn ‘Abd al-Kariim, Islāmiyyah laa Wahhabiyyah.[2] Jurnal Ilmiyah Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah.[3] Jalaluddin al-Mahali, Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh, hal. 115.[4] Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, 2: 56.[5] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[6] Universitas Madinah Internasional. Ittijāhāt Fikriyyah Mu‘āṣirah, hal. 205.[7] Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Naml hlm. 215.[8] HR. al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479, dan Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 12981.[9] HR. al-Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553 dengan sedikit perbedaan lafaz.[10] HR. Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim no. 1631.[11] Ibnu Jibrīn. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām, 53: 4. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Meninjau Istilah “Wahabi Lingkungan”: Tinjauan Islam tentang Konservasi Alam (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleAda apa dengan istilah Wahabi? Konservasi alam merupakan syariat IslamIslam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilAkhir-akhir ini, masyarakat disuguhkan perselisihan pandangan antara aktivis konservasi lingkungan yang memperjuangkan kelestarian alam dan kelompok pelaku eksploitasi alam dengan tujuan kesejahteraan. Dalam perselisihan ini, para pelaku eksploitasi alam memberikan lakab (sebutan) “Wahabi lingkungan” kepada aktivis konservasi lingkungan karena mereka dinilai sangat menentang pemanfaatan lingkungan yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan oleh para pelaku eksploitasi.Ada apa dengan istilah Wahabi?  Dalam asal penggunaannya, lakab “Wahabi” merupakan sebutan yang bersifat abusive untuk orang-orang yang melakukan purifikasi agama yang bersifat konservatif dan menolak kebid`ahan dalam praktik agama oleh para pelaku bid`ah. Di dalam kitab Islāmiyyah lā Wahhābiyyah, Syekh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah menyebutkan,فهذه الحركة المباركة لم تكن إلا معبرة عن الإسلام نفسه، مستهدفة إحياء ما اعترى تطبيقه من قبل كثير من المسلمين من غشاوة وجهل وإعراض وبدع. وحيث قد اشتهرت عند غير أهلها، وعند الجاهلين بحقيقتها باسم (الوهابية) فإن هذا الوصف انطلق أولًا من الخصوم، وكانوا يطلقونه على سبيل التنفير واللمز والتعيير“Adapun gerakan yang diberkahi ini (gerakan purifikasi Islam) pada hakikatnya tidak lain hanyalah gerakan yang representatif dari Islam itu sendiri, yang bertujuan menghidupkan kembali penerapan ajaran Islam yang pada praktiknya telah tertutupi oleh berbagai bentuk kekaburan, kebodohan, sikap berpaling, dan bid‘ah di kalangan banyak kaum Muslimin. Namun, gerakan ini dikenal di kalangan pihak-pihak tidak sejalan dengannya dan di kalangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya dengan sebutan “Wahabi”. Maka, penamaan tersebut pada awalnya muncul dari pihak-pihak yang memusuhinya. Mereka menggunakannya sebagai sarana untuk menimbulkan kebencian, merendahkan, dan mencela.” [1]Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa istilah “Wahabi” sejak awal bukanlah klasifikasi ilmiah, melainkan label abusive yang lahir dari perselisihan beragama antara pihak yang mengusung purifikasi agama serta konservasi nilai-nilai dasarnya, dengan pihak yang mengusung akomodasi agama dengan nilai budaya. Seiring berjalannya waktu, istilah “Wahabi” digunakan bukan hanya dalam konteks perbedaan pandang beragama saja, melainkan untuk melabeli kelompok yang terkesan kaku, konservatif, dan tidak akomodatif. Padahal, label dan laqab seharusnya tidak menjadi parameter kebenaran. Hal ini juga ditegaskan para ulama ketika meluruskan penamaan Wahabi yang tidak berdasar, sebagaimana disebutkan dalam jurnal ilmiah resmi dari Kerajaan Saudi, Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah, إن الشيخ محمد بن عبد الوهاب ليس له مذهب خاص به يدعى بالوهابية؛ لأنه في العقيدة على منهج السلف وفي الفروع على مذهب الإمام أحمد بن حنبل الذي كان عليه علماء نجد من قبله وفي عصره ومن بعده. وأتباعه لم يتسموا بالسلفية وإنما يدعون إلى التمسك بمذهب السلف ويسيرون عليه بدون تسمية“Sesungguhnya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (salah satu tokoh yang dikenal melakukan purifikasi ajaran Islam dan konservasi nilai-nilainya) tidak memiliki mazhab khusus yang disebut ‘Wahabiyah’, karena dalam akidah beliau berada di atas manhaj salaf dan dalam fikih mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, serta bahwa para pengikutnya tidak menamakan diri dengan sebutan tertentu.”Lalu, mereka menambahkan kaidah,لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء“Tolak ukur sesuatu adalah hakikat, bukan penamaan/label.” [2]Belakangan ini, muncul kembali sebutan “Wahabi lingkungan” yang digunakan untuk melabeli kelompok yang menyuarakan konservasi lingkungan serta purifikasi prinsip-prinsip pengelolaan dan penggunaan lingkungan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Islam melarang memberi lakab dan label yang tidak disukai kepada sesama. Allah Ta`ala Berfirman,وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kalian saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat: 11)Konservasi alam merupakan syariat IslamSetelah mengetahui ketidakberdasaran sebutan “Wahabi lingkungan” sebagai label bagi aktivis konservasi alam dan ketidaksyariahan label tersebut, kita harus mengetahui apakah konsep pelestarian lingkungan memang sejalan dengan ajaran Islam ataukah tidak. Nyatanya, Islam mengajarkan kita untuk melakukan ishlah (perbaikan) dan melarang kita berbuat ifsad/fasad (kerusakan). Allah Ta`ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersumpah atas nama Allah tentang apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling, ia berjalan di muka bumi untuk berbuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. al-Baqarah: 204-205)Ayat tersebut menceritakan bahwa di antara kebiasaan orang-orang munafik adalah mengklaim membawa (melakukan) perbaikan; namun kenyataannya, mereka adalah yang membawa kerusakan di muka bumi. Hal yang dilakukan orang-orang munafik merupakan hal yang dilarang. Sesuatu yang dilarang merupakan sebuah perintah (untuk melakukan sebaliknya), begitupun sebaliknya. Syekh Jalaludin al-Mahalli rahimahullah dalam Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh menjelaskan,الأمر بالشيء نهي عن ضده والنهي عن الشيء أمر بضده“Perintah melakukan sesuatu adalah sebuah larangan untuk melakukan sebaliknya. Adapun larangan melakukan sesuatu adalah sebuah perintah untuk melakukan sebaliknya.” [3]Ketika Islam mencela perbuatan orang munafik yang merusak dan tidak melakukan perbaikan, maka kita diperintahkan melakukan perbaikan dan dilarang melakukan kerusakan. Syekh Abdullah Qadiri rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, bahwa yang dimaksud الْفَسَادَ (fasad/kerusakan) adalah,يشمل ذلك الإفساد: النسل والنفس والعقل والمال، إضافة إلى إفساد الدين، يستغلون خيرات الأرض وبركات السماء، لنشر فسادهم وظلمهم، وإنزال الرعب على الآمنين“Kerusakan itu mencakup segala bentuk kerusakan, baik keturunan, jiwa, akal, dan harta, begitu pula kerusakan agama. Mereka mengeksploitasi alam dengan cara serampangan, baik di bumi dan langit. Mereka memberikan kerusakan mereka dan kezaliman mereka, serta memberi kekhawatiran kepada orang-orang yang dapat hidup tenang.” [4]Islam juga menjamin kebaikan orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) dengan keamanan, sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Perbuatan pelestarian alam merupakan bentuk dari ishlah,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan sebuah negeri dengan kezaliman sedangkan orang-orangnya merupakan orang pembawa perbaikan (di muka bumi).” (QS. Hud: 117)Ibnu katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,أخبر تعالى أنه لم يهلك قرية إلا وهي ظالمة [ لنفسها ] ولم يأت قرية مصلحة بأسه وعذابه قط حتى يكونوا هم الظالمين“Allah Ta`ala mengabarkan bahwa Ia tidak akan menghancurkan sebuah negeri kecuali karena kezaliman yang mereka perbuat. Allah juga tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada negeri yang melakukan perbaikan, sampai para penghuninya berubah menjadi zalim.” [5]Ayat ini dan tafsirnya menjelaskan bahwa sebuah takdir kauni yang Allah berikan memiliki sebab kauni-nya. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan sesuatu keburukan jika mereka tidak menjadi penyebab keburukan itu sendiri terjadi. Hal ini sejalan dengan kaidah akidah ahlussunnah wal jamaah,أن الله تعالى يجري الأمور بأسبابها“Bahwa Allah Ta`ala menetapkan segala perkara dengan (mengadakan) sebab-sebabnya.” [6]Syekh al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,يُقَدِّرُ الله تبَارَكَ وَتَعَالى الأُمُور بأَسْبابها“Allah Tabaraka wa Ta`ala menakdirkan sesuatu dengan (menetapkan) sebab-sebabnya.” [7]Maka, penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan pentingnya melestarikan alam, agar kebermanfaatannya itu menyebar kepada sesama kita dan kerusakannya tidak menyebabkan bencana bagi kita.Islam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilSemangat perbaikan dalam Islam juga diwujudkan melalui tindakan-tindakan ajarannya. Tidak hanya yang bersifat perbaikan besar seperti kelestarian alam, Islam juga mengajarkan perbaikan-perbaikan kecil, seperti menanam pohon. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إن قامتِ السَّاعةُ و في يدِ أحدِكم فسيلةٌ، فإن استطاعَ أن لا تقومَ حتَّى يغرِسَها فليغرِسْها. (رواه البخاري وأحمد بن حنبل)“Apabila kiamat hendak datang, sedangkan di tangan kalian terdapat bibit tanaman dan kalian mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaknya ia menanamnya.” [8]Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memperhatikan perbaikan dengan pelestarian alam walau dengan satu pohon, bahkan ketika kiamat akan benar terjadi. Kelestarian alam akan melahirkan kebaikan-kebaikan untuk makhluk lain. Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pelestarian alam yang seorang hamba lakukan akan terhitung sebuah catatan amal kebaikan di sisi Allah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أو يَزْرَعُ زَرْعًا فيَأْكُلُ منه طيرٌ ولا إنسانٌ إلا كان له به صدقةً (رواه البخاري ومسلم)“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau melakukan perkebunan, lalu ada hewan dan manusia yang memakan dari hasilnya, maka akan tercatat sebuah sedekah baginya.” [9]Setiap makhluk yang mengambil kebermanfaatan dari upaya pelestarian alam yang kita lakukan, maka hal itu akan terhitung sebagai sebuah pahala sedekah di sisi Allah. Pahala sedekah yang kita dapatkan akan terus mengalir selama masih ada yang mengambil kebermanfaatan dari perbuatan kita, bahkan walau kita telah mati. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له. (رواه مسلم)“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah catatan amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah (yang mengalir), ilmu bermanfaat, dan anak yang saleh.” [10]Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah dalam Syarḥ ‘Umdah al-Aḥkām menjelaskan maksud dari sedekah jariah,الأرض التي فيها شجرٌ أو لها أجرة أو فيها ثمرةٌ أو نحو ذلك، يتصدق بثمرها وغلتها؛ فهذه صدقة جارية“Tanah yang di sana terdapat pepohonan yang digunakan untuk pengupahan atau tumbuh darinya buah dan semisalnya, kemudian ia bersedekah dengan buah-buahan dan pendapatannya, ini semua adalah bentuk sedekah jariah.” [11]Allah akan mencatat pahala kebaikan dari upaya pelestarian alam kita selama ada yang mengambil kebermanfaatan di sana.Dengan demikian, pelestarian alam dalam Islam bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan sedekah jariyah. Namun, Islam juga tidak melarang manusia mengambil rezeki dari bumi. Pada bagian selanjutnya, akan dibahas bagaimana Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memakmurkan bumi, mengambil rezeki darinya, serta menjaga sikap tawasuth (pertengahan) agar tidak terjerumus dalam eksploitasi berlebihan.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Naaṣir ibn ‘Abd al-Kariim, Islāmiyyah laa Wahhabiyyah.[2] Jurnal Ilmiyah Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah.[3] Jalaluddin al-Mahali, Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh, hal. 115.[4] Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, 2: 56.[5] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[6] Universitas Madinah Internasional. Ittijāhāt Fikriyyah Mu‘āṣirah, hal. 205.[7] Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Naml hlm. 215.[8] HR. al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479, dan Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 12981.[9] HR. al-Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553 dengan sedikit perbedaan lafaz.[10] HR. Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim no. 1631.[11] Ibnu Jibrīn. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām, 53: 4. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Daftar Isi ToggleAda apa dengan istilah Wahabi? Konservasi alam merupakan syariat IslamIslam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilAkhir-akhir ini, masyarakat disuguhkan perselisihan pandangan antara aktivis konservasi lingkungan yang memperjuangkan kelestarian alam dan kelompok pelaku eksploitasi alam dengan tujuan kesejahteraan. Dalam perselisihan ini, para pelaku eksploitasi alam memberikan lakab (sebutan) “Wahabi lingkungan” kepada aktivis konservasi lingkungan karena mereka dinilai sangat menentang pemanfaatan lingkungan yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan oleh para pelaku eksploitasi.Ada apa dengan istilah Wahabi?  Dalam asal penggunaannya, lakab “Wahabi” merupakan sebutan yang bersifat abusive untuk orang-orang yang melakukan purifikasi agama yang bersifat konservatif dan menolak kebid`ahan dalam praktik agama oleh para pelaku bid`ah. Di dalam kitab Islāmiyyah lā Wahhābiyyah, Syekh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah menyebutkan,فهذه الحركة المباركة لم تكن إلا معبرة عن الإسلام نفسه، مستهدفة إحياء ما اعترى تطبيقه من قبل كثير من المسلمين من غشاوة وجهل وإعراض وبدع. وحيث قد اشتهرت عند غير أهلها، وعند الجاهلين بحقيقتها باسم (الوهابية) فإن هذا الوصف انطلق أولًا من الخصوم، وكانوا يطلقونه على سبيل التنفير واللمز والتعيير“Adapun gerakan yang diberkahi ini (gerakan purifikasi Islam) pada hakikatnya tidak lain hanyalah gerakan yang representatif dari Islam itu sendiri, yang bertujuan menghidupkan kembali penerapan ajaran Islam yang pada praktiknya telah tertutupi oleh berbagai bentuk kekaburan, kebodohan, sikap berpaling, dan bid‘ah di kalangan banyak kaum Muslimin. Namun, gerakan ini dikenal di kalangan pihak-pihak tidak sejalan dengannya dan di kalangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya dengan sebutan “Wahabi”. Maka, penamaan tersebut pada awalnya muncul dari pihak-pihak yang memusuhinya. Mereka menggunakannya sebagai sarana untuk menimbulkan kebencian, merendahkan, dan mencela.” [1]Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa istilah “Wahabi” sejak awal bukanlah klasifikasi ilmiah, melainkan label abusive yang lahir dari perselisihan beragama antara pihak yang mengusung purifikasi agama serta konservasi nilai-nilai dasarnya, dengan pihak yang mengusung akomodasi agama dengan nilai budaya. Seiring berjalannya waktu, istilah “Wahabi” digunakan bukan hanya dalam konteks perbedaan pandang beragama saja, melainkan untuk melabeli kelompok yang terkesan kaku, konservatif, dan tidak akomodatif. Padahal, label dan laqab seharusnya tidak menjadi parameter kebenaran. Hal ini juga ditegaskan para ulama ketika meluruskan penamaan Wahabi yang tidak berdasar, sebagaimana disebutkan dalam jurnal ilmiah resmi dari Kerajaan Saudi, Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah, إن الشيخ محمد بن عبد الوهاب ليس له مذهب خاص به يدعى بالوهابية؛ لأنه في العقيدة على منهج السلف وفي الفروع على مذهب الإمام أحمد بن حنبل الذي كان عليه علماء نجد من قبله وفي عصره ومن بعده. وأتباعه لم يتسموا بالسلفية وإنما يدعون إلى التمسك بمذهب السلف ويسيرون عليه بدون تسمية“Sesungguhnya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (salah satu tokoh yang dikenal melakukan purifikasi ajaran Islam dan konservasi nilai-nilainya) tidak memiliki mazhab khusus yang disebut ‘Wahabiyah’, karena dalam akidah beliau berada di atas manhaj salaf dan dalam fikih mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, serta bahwa para pengikutnya tidak menamakan diri dengan sebutan tertentu.”Lalu, mereka menambahkan kaidah,لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء“Tolak ukur sesuatu adalah hakikat, bukan penamaan/label.” [2]Belakangan ini, muncul kembali sebutan “Wahabi lingkungan” yang digunakan untuk melabeli kelompok yang menyuarakan konservasi lingkungan serta purifikasi prinsip-prinsip pengelolaan dan penggunaan lingkungan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Islam melarang memberi lakab dan label yang tidak disukai kepada sesama. Allah Ta`ala Berfirman,وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kalian saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat: 11)Konservasi alam merupakan syariat IslamSetelah mengetahui ketidakberdasaran sebutan “Wahabi lingkungan” sebagai label bagi aktivis konservasi alam dan ketidaksyariahan label tersebut, kita harus mengetahui apakah konsep pelestarian lingkungan memang sejalan dengan ajaran Islam ataukah tidak. Nyatanya, Islam mengajarkan kita untuk melakukan ishlah (perbaikan) dan melarang kita berbuat ifsad/fasad (kerusakan). Allah Ta`ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersumpah atas nama Allah tentang apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling, ia berjalan di muka bumi untuk berbuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. al-Baqarah: 204-205)Ayat tersebut menceritakan bahwa di antara kebiasaan orang-orang munafik adalah mengklaim membawa (melakukan) perbaikan; namun kenyataannya, mereka adalah yang membawa kerusakan di muka bumi. Hal yang dilakukan orang-orang munafik merupakan hal yang dilarang. Sesuatu yang dilarang merupakan sebuah perintah (untuk melakukan sebaliknya), begitupun sebaliknya. Syekh Jalaludin al-Mahalli rahimahullah dalam Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh menjelaskan,الأمر بالشيء نهي عن ضده والنهي عن الشيء أمر بضده“Perintah melakukan sesuatu adalah sebuah larangan untuk melakukan sebaliknya. Adapun larangan melakukan sesuatu adalah sebuah perintah untuk melakukan sebaliknya.” [3]Ketika Islam mencela perbuatan orang munafik yang merusak dan tidak melakukan perbaikan, maka kita diperintahkan melakukan perbaikan dan dilarang melakukan kerusakan. Syekh Abdullah Qadiri rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, bahwa yang dimaksud الْفَسَادَ (fasad/kerusakan) adalah,يشمل ذلك الإفساد: النسل والنفس والعقل والمال، إضافة إلى إفساد الدين، يستغلون خيرات الأرض وبركات السماء، لنشر فسادهم وظلمهم، وإنزال الرعب على الآمنين“Kerusakan itu mencakup segala bentuk kerusakan, baik keturunan, jiwa, akal, dan harta, begitu pula kerusakan agama. Mereka mengeksploitasi alam dengan cara serampangan, baik di bumi dan langit. Mereka memberikan kerusakan mereka dan kezaliman mereka, serta memberi kekhawatiran kepada orang-orang yang dapat hidup tenang.” [4]Islam juga menjamin kebaikan orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) dengan keamanan, sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Perbuatan pelestarian alam merupakan bentuk dari ishlah,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan sebuah negeri dengan kezaliman sedangkan orang-orangnya merupakan orang pembawa perbaikan (di muka bumi).” (QS. Hud: 117)Ibnu katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,أخبر تعالى أنه لم يهلك قرية إلا وهي ظالمة [ لنفسها ] ولم يأت قرية مصلحة بأسه وعذابه قط حتى يكونوا هم الظالمين“Allah Ta`ala mengabarkan bahwa Ia tidak akan menghancurkan sebuah negeri kecuali karena kezaliman yang mereka perbuat. Allah juga tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada negeri yang melakukan perbaikan, sampai para penghuninya berubah menjadi zalim.” [5]Ayat ini dan tafsirnya menjelaskan bahwa sebuah takdir kauni yang Allah berikan memiliki sebab kauni-nya. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan sesuatu keburukan jika mereka tidak menjadi penyebab keburukan itu sendiri terjadi. Hal ini sejalan dengan kaidah akidah ahlussunnah wal jamaah,أن الله تعالى يجري الأمور بأسبابها“Bahwa Allah Ta`ala menetapkan segala perkara dengan (mengadakan) sebab-sebabnya.” [6]Syekh al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,يُقَدِّرُ الله تبَارَكَ وَتَعَالى الأُمُور بأَسْبابها“Allah Tabaraka wa Ta`ala menakdirkan sesuatu dengan (menetapkan) sebab-sebabnya.” [7]Maka, penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan pentingnya melestarikan alam, agar kebermanfaatannya itu menyebar kepada sesama kita dan kerusakannya tidak menyebabkan bencana bagi kita.Islam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilSemangat perbaikan dalam Islam juga diwujudkan melalui tindakan-tindakan ajarannya. Tidak hanya yang bersifat perbaikan besar seperti kelestarian alam, Islam juga mengajarkan perbaikan-perbaikan kecil, seperti menanam pohon. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إن قامتِ السَّاعةُ و في يدِ أحدِكم فسيلةٌ، فإن استطاعَ أن لا تقومَ حتَّى يغرِسَها فليغرِسْها. (رواه البخاري وأحمد بن حنبل)“Apabila kiamat hendak datang, sedangkan di tangan kalian terdapat bibit tanaman dan kalian mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaknya ia menanamnya.” [8]Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memperhatikan perbaikan dengan pelestarian alam walau dengan satu pohon, bahkan ketika kiamat akan benar terjadi. Kelestarian alam akan melahirkan kebaikan-kebaikan untuk makhluk lain. Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pelestarian alam yang seorang hamba lakukan akan terhitung sebuah catatan amal kebaikan di sisi Allah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أو يَزْرَعُ زَرْعًا فيَأْكُلُ منه طيرٌ ولا إنسانٌ إلا كان له به صدقةً (رواه البخاري ومسلم)“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau melakukan perkebunan, lalu ada hewan dan manusia yang memakan dari hasilnya, maka akan tercatat sebuah sedekah baginya.” [9]Setiap makhluk yang mengambil kebermanfaatan dari upaya pelestarian alam yang kita lakukan, maka hal itu akan terhitung sebagai sebuah pahala sedekah di sisi Allah. Pahala sedekah yang kita dapatkan akan terus mengalir selama masih ada yang mengambil kebermanfaatan dari perbuatan kita, bahkan walau kita telah mati. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له. (رواه مسلم)“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah catatan amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah (yang mengalir), ilmu bermanfaat, dan anak yang saleh.” [10]Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah dalam Syarḥ ‘Umdah al-Aḥkām menjelaskan maksud dari sedekah jariah,الأرض التي فيها شجرٌ أو لها أجرة أو فيها ثمرةٌ أو نحو ذلك، يتصدق بثمرها وغلتها؛ فهذه صدقة جارية“Tanah yang di sana terdapat pepohonan yang digunakan untuk pengupahan atau tumbuh darinya buah dan semisalnya, kemudian ia bersedekah dengan buah-buahan dan pendapatannya, ini semua adalah bentuk sedekah jariah.” [11]Allah akan mencatat pahala kebaikan dari upaya pelestarian alam kita selama ada yang mengambil kebermanfaatan di sana.Dengan demikian, pelestarian alam dalam Islam bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan sedekah jariyah. Namun, Islam juga tidak melarang manusia mengambil rezeki dari bumi. Pada bagian selanjutnya, akan dibahas bagaimana Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memakmurkan bumi, mengambil rezeki darinya, serta menjaga sikap tawasuth (pertengahan) agar tidak terjerumus dalam eksploitasi berlebihan.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Naaṣir ibn ‘Abd al-Kariim, Islāmiyyah laa Wahhabiyyah.[2] Jurnal Ilmiyah Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah.[3] Jalaluddin al-Mahali, Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh, hal. 115.[4] Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, 2: 56.[5] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[6] Universitas Madinah Internasional. Ittijāhāt Fikriyyah Mu‘āṣirah, hal. 205.[7] Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Naml hlm. 215.[8] HR. al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479, dan Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 12981.[9] HR. al-Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553 dengan sedikit perbedaan lafaz.[10] HR. Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim no. 1631.[11] Ibnu Jibrīn. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām, 53: 4. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.


Daftar Isi ToggleAda apa dengan istilah Wahabi? Konservasi alam merupakan syariat IslamIslam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilAkhir-akhir ini, masyarakat disuguhkan perselisihan pandangan antara aktivis konservasi lingkungan yang memperjuangkan kelestarian alam dan kelompok pelaku eksploitasi alam dengan tujuan kesejahteraan. Dalam perselisihan ini, para pelaku eksploitasi alam memberikan lakab (sebutan) “Wahabi lingkungan” kepada aktivis konservasi lingkungan karena mereka dinilai sangat menentang pemanfaatan lingkungan yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan oleh para pelaku eksploitasi.Ada apa dengan istilah Wahabi?  Dalam asal penggunaannya, lakab “Wahabi” merupakan sebutan yang bersifat abusive untuk orang-orang yang melakukan purifikasi agama yang bersifat konservatif dan menolak kebid`ahan dalam praktik agama oleh para pelaku bid`ah. Di dalam kitab Islāmiyyah lā Wahhābiyyah, Syekh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah menyebutkan,فهذه الحركة المباركة لم تكن إلا معبرة عن الإسلام نفسه، مستهدفة إحياء ما اعترى تطبيقه من قبل كثير من المسلمين من غشاوة وجهل وإعراض وبدع. وحيث قد اشتهرت عند غير أهلها، وعند الجاهلين بحقيقتها باسم (الوهابية) فإن هذا الوصف انطلق أولًا من الخصوم، وكانوا يطلقونه على سبيل التنفير واللمز والتعيير“Adapun gerakan yang diberkahi ini (gerakan purifikasi Islam) pada hakikatnya tidak lain hanyalah gerakan yang representatif dari Islam itu sendiri, yang bertujuan menghidupkan kembali penerapan ajaran Islam yang pada praktiknya telah tertutupi oleh berbagai bentuk kekaburan, kebodohan, sikap berpaling, dan bid‘ah di kalangan banyak kaum Muslimin. Namun, gerakan ini dikenal di kalangan pihak-pihak tidak sejalan dengannya dan di kalangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya dengan sebutan “Wahabi”. Maka, penamaan tersebut pada awalnya muncul dari pihak-pihak yang memusuhinya. Mereka menggunakannya sebagai sarana untuk menimbulkan kebencian, merendahkan, dan mencela.” [1]Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa istilah “Wahabi” sejak awal bukanlah klasifikasi ilmiah, melainkan label abusive yang lahir dari perselisihan beragama antara pihak yang mengusung purifikasi agama serta konservasi nilai-nilai dasarnya, dengan pihak yang mengusung akomodasi agama dengan nilai budaya. Seiring berjalannya waktu, istilah “Wahabi” digunakan bukan hanya dalam konteks perbedaan pandang beragama saja, melainkan untuk melabeli kelompok yang terkesan kaku, konservatif, dan tidak akomodatif. Padahal, label dan laqab seharusnya tidak menjadi parameter kebenaran. Hal ini juga ditegaskan para ulama ketika meluruskan penamaan Wahabi yang tidak berdasar, sebagaimana disebutkan dalam jurnal ilmiah resmi dari Kerajaan Saudi, Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah, إن الشيخ محمد بن عبد الوهاب ليس له مذهب خاص به يدعى بالوهابية؛ لأنه في العقيدة على منهج السلف وفي الفروع على مذهب الإمام أحمد بن حنبل الذي كان عليه علماء نجد من قبله وفي عصره ومن بعده. وأتباعه لم يتسموا بالسلفية وإنما يدعون إلى التمسك بمذهب السلف ويسيرون عليه بدون تسمية“Sesungguhnya Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (salah satu tokoh yang dikenal melakukan purifikasi ajaran Islam dan konservasi nilai-nilainya) tidak memiliki mazhab khusus yang disebut ‘Wahabiyah’, karena dalam akidah beliau berada di atas manhaj salaf dan dalam fikih mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, serta bahwa para pengikutnya tidak menamakan diri dengan sebutan tertentu.”Lalu, mereka menambahkan kaidah,لأن العبرة بالحقائق لا بالأسماء“Tolak ukur sesuatu adalah hakikat, bukan penamaan/label.” [2]Belakangan ini, muncul kembali sebutan “Wahabi lingkungan” yang digunakan untuk melabeli kelompok yang menyuarakan konservasi lingkungan serta purifikasi prinsip-prinsip pengelolaan dan penggunaan lingkungan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Islam melarang memberi lakab dan label yang tidak disukai kepada sesama. Allah Ta`ala Berfirman,وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kalian saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat: 11)Konservasi alam merupakan syariat IslamSetelah mengetahui ketidakberdasaran sebutan “Wahabi lingkungan” sebagai label bagi aktivis konservasi alam dan ketidaksyariahan label tersebut, kita harus mengetahui apakah konsep pelestarian lingkungan memang sejalan dengan ajaran Islam ataukah tidak. Nyatanya, Islam mengajarkan kita untuk melakukan ishlah (perbaikan) dan melarang kita berbuat ifsad/fasad (kerusakan). Allah Ta`ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan ia bersumpah atas nama Allah tentang apa yang ada di dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling, ia berjalan di muka bumi untuk berbuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. al-Baqarah: 204-205)Ayat tersebut menceritakan bahwa di antara kebiasaan orang-orang munafik adalah mengklaim membawa (melakukan) perbaikan; namun kenyataannya, mereka adalah yang membawa kerusakan di muka bumi. Hal yang dilakukan orang-orang munafik merupakan hal yang dilarang. Sesuatu yang dilarang merupakan sebuah perintah (untuk melakukan sebaliknya), begitupun sebaliknya. Syekh Jalaludin al-Mahalli rahimahullah dalam Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh menjelaskan,الأمر بالشيء نهي عن ضده والنهي عن الشيء أمر بضده“Perintah melakukan sesuatu adalah sebuah larangan untuk melakukan sebaliknya. Adapun larangan melakukan sesuatu adalah sebuah perintah untuk melakukan sebaliknya.” [3]Ketika Islam mencela perbuatan orang munafik yang merusak dan tidak melakukan perbaikan, maka kita diperintahkan melakukan perbaikan dan dilarang melakukan kerusakan. Syekh Abdullah Qadiri rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya, as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, bahwa yang dimaksud الْفَسَادَ (fasad/kerusakan) adalah,يشمل ذلك الإفساد: النسل والنفس والعقل والمال، إضافة إلى إفساد الدين، يستغلون خيرات الأرض وبركات السماء، لنشر فسادهم وظلمهم، وإنزال الرعب على الآمنين“Kerusakan itu mencakup segala bentuk kerusakan, baik keturunan, jiwa, akal, dan harta, begitu pula kerusakan agama. Mereka mengeksploitasi alam dengan cara serampangan, baik di bumi dan langit. Mereka memberikan kerusakan mereka dan kezaliman mereka, serta memberi kekhawatiran kepada orang-orang yang dapat hidup tenang.” [4]Islam juga menjamin kebaikan orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) dengan keamanan, sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Perbuatan pelestarian alam merupakan bentuk dari ishlah,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan sebuah negeri dengan kezaliman sedangkan orang-orangnya merupakan orang pembawa perbaikan (di muka bumi).” (QS. Hud: 117)Ibnu katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,أخبر تعالى أنه لم يهلك قرية إلا وهي ظالمة [ لنفسها ] ولم يأت قرية مصلحة بأسه وعذابه قط حتى يكونوا هم الظالمين“Allah Ta`ala mengabarkan bahwa Ia tidak akan menghancurkan sebuah negeri kecuali karena kezaliman yang mereka perbuat. Allah juga tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada negeri yang melakukan perbaikan, sampai para penghuninya berubah menjadi zalim.” [5]Ayat ini dan tafsirnya menjelaskan bahwa sebuah takdir kauni yang Allah berikan memiliki sebab kauni-nya. Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan sesuatu keburukan jika mereka tidak menjadi penyebab keburukan itu sendiri terjadi. Hal ini sejalan dengan kaidah akidah ahlussunnah wal jamaah,أن الله تعالى يجري الأمور بأسبابها“Bahwa Allah Ta`ala menetapkan segala perkara dengan (mengadakan) sebab-sebabnya.” [6]Syekh al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,يُقَدِّرُ الله تبَارَكَ وَتَعَالى الأُمُور بأَسْبابها“Allah Tabaraka wa Ta`ala menakdirkan sesuatu dengan (menetapkan) sebab-sebabnya.” [7]Maka, penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan pentingnya melestarikan alam, agar kebermanfaatannya itu menyebar kepada sesama kita dan kerusakannya tidak menyebabkan bencana bagi kita.Islam mengajarkan perbaikan walau ternilai kecilSemangat perbaikan dalam Islam juga diwujudkan melalui tindakan-tindakan ajarannya. Tidak hanya yang bersifat perbaikan besar seperti kelestarian alam, Islam juga mengajarkan perbaikan-perbaikan kecil, seperti menanam pohon. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إن قامتِ السَّاعةُ و في يدِ أحدِكم فسيلةٌ، فإن استطاعَ أن لا تقومَ حتَّى يغرِسَها فليغرِسْها. (رواه البخاري وأحمد بن حنبل)“Apabila kiamat hendak datang, sedangkan di tangan kalian terdapat bibit tanaman dan kalian mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaknya ia menanamnya.” [8]Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memperhatikan perbaikan dengan pelestarian alam walau dengan satu pohon, bahkan ketika kiamat akan benar terjadi. Kelestarian alam akan melahirkan kebaikan-kebaikan untuk makhluk lain. Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pelestarian alam yang seorang hamba lakukan akan terhitung sebuah catatan amal kebaikan di sisi Allah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أو يَزْرَعُ زَرْعًا فيَأْكُلُ منه طيرٌ ولا إنسانٌ إلا كان له به صدقةً (رواه البخاري ومسلم)“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau melakukan perkebunan, lalu ada hewan dan manusia yang memakan dari hasilnya, maka akan tercatat sebuah sedekah baginya.” [9]Setiap makhluk yang mengambil kebermanfaatan dari upaya pelestarian alam yang kita lakukan, maka hal itu akan terhitung sebagai sebuah pahala sedekah di sisi Allah. Pahala sedekah yang kita dapatkan akan terus mengalir selama masih ada yang mengambil kebermanfaatan dari perbuatan kita, bahkan walau kita telah mati. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له. (رواه مسلم)“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah catatan amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah (yang mengalir), ilmu bermanfaat, dan anak yang saleh.” [10]Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah dalam Syarḥ ‘Umdah al-Aḥkām menjelaskan maksud dari sedekah jariah,الأرض التي فيها شجرٌ أو لها أجرة أو فيها ثمرةٌ أو نحو ذلك، يتصدق بثمرها وغلتها؛ فهذه صدقة جارية“Tanah yang di sana terdapat pepohonan yang digunakan untuk pengupahan atau tumbuh darinya buah dan semisalnya, kemudian ia bersedekah dengan buah-buahan dan pendapatannya, ini semua adalah bentuk sedekah jariah.” [11]Allah akan mencatat pahala kebaikan dari upaya pelestarian alam kita selama ada yang mengambil kebermanfaatan di sana.Dengan demikian, pelestarian alam dalam Islam bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan sedekah jariyah. Namun, Islam juga tidak melarang manusia mengambil rezeki dari bumi. Pada bagian selanjutnya, akan dibahas bagaimana Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memakmurkan bumi, mengambil rezeki darinya, serta menjaga sikap tawasuth (pertengahan) agar tidak terjerumus dalam eksploitasi berlebihan.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh Naaṣir ibn ‘Abd al-Kariim, Islāmiyyah laa Wahhabiyyah.[2] Jurnal Ilmiyah Majallat al-Buḥūth al-Islāmiyyah.[3] Jalaluddin al-Mahali, Syarḥ al-Waraqāt fī Uṣūl al-Fiqh, hal. 115.[4] Abdullāh Qādirī. as-Sibāq ilā al-‘Uqūl, 2: 56.[5] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.[6] Universitas Madinah Internasional. Ittijāhāt Fikriyyah Mu‘āṣirah, hal. 205.[7] Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm: Sūrat an-Naml hlm. 215.[8] HR. al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479, dan Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 12981.[9] HR. al-Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553 dengan sedikit perbedaan lafaz.[10] HR. Muslim dalam Ṣhaḥīḥ Muslim no. 1631.[11] Ibnu Jibrīn. Syarḥ ‘Umdat al-Aḥkām, 53: 4. Riyadh: Tafrịgh ad-Durūs aṣ-Ṣawtiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Mahar Digital: Transfer, E-Wallet, bahkan Crypto, Sahkah dalam Akad Nikah?

Daftar Isi ToggleHakikat mahar dalam fikihSyarat mahar menurut ulamaMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihKesimpulanDulu, mahar itu nyata di depan mata. Cincin emas diletakkan di telapak tangan, uang tunai dihitung di hadapan wali dan saksi. Hari ini? Mahar bisa berpindah lewat notifikasi, “Transfer berhasil.”Maka kemudian tak jarang muncul pertanyaan—terutama dari para perempuan:“Apakah mahar via transfer itu sah secara syariat?”“Bagaimana dengan e-wallet?”“Bahkan… bagaimana dengan crypto?”Pertanyaan ini bukan remeh, karena mahar bukan simbol romantis, tapi hak syar‘i seorang istri.Hakikat mahar dalam fikihSecara bahasa, mahar disebut ṣadāq (kejujuran atau ketulusan) atau ujrah (upah). Secara istilah, ia adalah pemberian wajib dari suami kepada istri sebagai konsekuensi akad nikah. Allah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisā’: 4)Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa mahar adalah kewajiban yang ditunaikan dengan kerelaan, bukan sekadar formalitas.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 237)Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah membatasi bentuk mahar. Yang ditekankan adalah hak, kerelaan, dan kepemilikan.Syarat mahar menurut ulamaMayoritas ulama fikih menyebutkan, mahar harus:Bernilai (māl);Halal dimanfaatkan;Jelas dan dapat dimiliki.An-Nawawī rahimahullāh berkata, “Segala sesuatu yang sah diperjualbelikan, maka sah pula dijadikan mahar.” (Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhadzdzab, 16: 357)Ini kaidah penting. Maka pertanyaannya bergeser: Apakah uang digital termasuk māl yang sah?Baca juga: MaharMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihUang dalam rekening bank atau e-wallet diakui secara ‘urf (kebiasaan umum) sebagai alat kepemilikan yang sah. Dalam kaidah fikih disebutkan,الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا“Sesuatu yang telah dikenal secara adat berlaku seperti syarat yang disebutkan.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 119)Hari ini, transfer dianggap sebagai serah-terima (qabḍ). Bahkan dalam banyak transaksi syar‘i, ini sudah diterima. Majma‘ Al-Fiqh Al-Islāmī (OKI) menyatakan, “Pemindahan saldo melalui sistem perbankan modern dihukumi sebagai qabḍ ḥukmī (kepemilikan hukum) yang sah.” (Qarārāt Majma‘ Al-Fiqh, keputusan no. 53, jilid 6)Maka mahar via transfer atau e-wallet hukumnya sah, selama:Nominal jelas;Disepakati saat akad;Benar-benar masuk ke kepemilikan istri.Lalu bagaimana dengan mahar crypto? Di sinilah fikih lebih berhati-hati. Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang status crypto sebagai māl: Ada yang membolehkan dengan syarat jelas dan stabil; dan ada pula yang melarang karena gharar dan volatilitas tinggi.Syekh ‘Abdullah Al-Manī‘ hafidzahullāh (anggota Hai’ah Kibar Ulama Saudi) menyatakan, “Jika suatu aset digital diakui nilainya, dimiliki, dan bisa diserahterimakan, maka secara prinsip ia masuk kategori māl, namun harus dilihat unsur gharar-nya.” (Baḥṡ Fiqhī Mu‘āṣir tentang Digital Assets, hal. 74)Maka secara kehati-hatian fikih: crypto belum ideal dijadikan sebagai mahar utama. Jika pun digunakan, harus jelas nilainya saat akad, dan tidak menzalimi pihak istri. Karena kaidahnya:الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ“Risiko sebanding dengan manfaat.”Dan dalam mahar, yang dilindungi adalah hak perempuan, bukan spekulasi.KesimpulanMahar tidak harus fisik, ia boleh digital (transfer, e-wallet). Adapun crypto masih khilaf dan rawan gharar. Dan yang terpenting: hak istri jelas dan aman; karena dalam Islam, mahar bukan sekadar “bukti cinta”, tapi simbol tanggung jawab dan penghormatan. Dan syariat—sekali lagi— tidak ketinggalan zaman, tapi menjaga agar keadilan tidak hilang di tengah kemajuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Bertransaksi Menggunakan Mata Uang Kripto (Cryptocurrency)***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id

Mahar Digital: Transfer, E-Wallet, bahkan Crypto, Sahkah dalam Akad Nikah?

Daftar Isi ToggleHakikat mahar dalam fikihSyarat mahar menurut ulamaMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihKesimpulanDulu, mahar itu nyata di depan mata. Cincin emas diletakkan di telapak tangan, uang tunai dihitung di hadapan wali dan saksi. Hari ini? Mahar bisa berpindah lewat notifikasi, “Transfer berhasil.”Maka kemudian tak jarang muncul pertanyaan—terutama dari para perempuan:“Apakah mahar via transfer itu sah secara syariat?”“Bagaimana dengan e-wallet?”“Bahkan… bagaimana dengan crypto?”Pertanyaan ini bukan remeh, karena mahar bukan simbol romantis, tapi hak syar‘i seorang istri.Hakikat mahar dalam fikihSecara bahasa, mahar disebut ṣadāq (kejujuran atau ketulusan) atau ujrah (upah). Secara istilah, ia adalah pemberian wajib dari suami kepada istri sebagai konsekuensi akad nikah. Allah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisā’: 4)Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa mahar adalah kewajiban yang ditunaikan dengan kerelaan, bukan sekadar formalitas.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 237)Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah membatasi bentuk mahar. Yang ditekankan adalah hak, kerelaan, dan kepemilikan.Syarat mahar menurut ulamaMayoritas ulama fikih menyebutkan, mahar harus:Bernilai (māl);Halal dimanfaatkan;Jelas dan dapat dimiliki.An-Nawawī rahimahullāh berkata, “Segala sesuatu yang sah diperjualbelikan, maka sah pula dijadikan mahar.” (Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhadzdzab, 16: 357)Ini kaidah penting. Maka pertanyaannya bergeser: Apakah uang digital termasuk māl yang sah?Baca juga: MaharMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihUang dalam rekening bank atau e-wallet diakui secara ‘urf (kebiasaan umum) sebagai alat kepemilikan yang sah. Dalam kaidah fikih disebutkan,الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا“Sesuatu yang telah dikenal secara adat berlaku seperti syarat yang disebutkan.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 119)Hari ini, transfer dianggap sebagai serah-terima (qabḍ). Bahkan dalam banyak transaksi syar‘i, ini sudah diterima. Majma‘ Al-Fiqh Al-Islāmī (OKI) menyatakan, “Pemindahan saldo melalui sistem perbankan modern dihukumi sebagai qabḍ ḥukmī (kepemilikan hukum) yang sah.” (Qarārāt Majma‘ Al-Fiqh, keputusan no. 53, jilid 6)Maka mahar via transfer atau e-wallet hukumnya sah, selama:Nominal jelas;Disepakati saat akad;Benar-benar masuk ke kepemilikan istri.Lalu bagaimana dengan mahar crypto? Di sinilah fikih lebih berhati-hati. Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang status crypto sebagai māl: Ada yang membolehkan dengan syarat jelas dan stabil; dan ada pula yang melarang karena gharar dan volatilitas tinggi.Syekh ‘Abdullah Al-Manī‘ hafidzahullāh (anggota Hai’ah Kibar Ulama Saudi) menyatakan, “Jika suatu aset digital diakui nilainya, dimiliki, dan bisa diserahterimakan, maka secara prinsip ia masuk kategori māl, namun harus dilihat unsur gharar-nya.” (Baḥṡ Fiqhī Mu‘āṣir tentang Digital Assets, hal. 74)Maka secara kehati-hatian fikih: crypto belum ideal dijadikan sebagai mahar utama. Jika pun digunakan, harus jelas nilainya saat akad, dan tidak menzalimi pihak istri. Karena kaidahnya:الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ“Risiko sebanding dengan manfaat.”Dan dalam mahar, yang dilindungi adalah hak perempuan, bukan spekulasi.KesimpulanMahar tidak harus fisik, ia boleh digital (transfer, e-wallet). Adapun crypto masih khilaf dan rawan gharar. Dan yang terpenting: hak istri jelas dan aman; karena dalam Islam, mahar bukan sekadar “bukti cinta”, tapi simbol tanggung jawab dan penghormatan. Dan syariat—sekali lagi— tidak ketinggalan zaman, tapi menjaga agar keadilan tidak hilang di tengah kemajuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Bertransaksi Menggunakan Mata Uang Kripto (Cryptocurrency)***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleHakikat mahar dalam fikihSyarat mahar menurut ulamaMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihKesimpulanDulu, mahar itu nyata di depan mata. Cincin emas diletakkan di telapak tangan, uang tunai dihitung di hadapan wali dan saksi. Hari ini? Mahar bisa berpindah lewat notifikasi, “Transfer berhasil.”Maka kemudian tak jarang muncul pertanyaan—terutama dari para perempuan:“Apakah mahar via transfer itu sah secara syariat?”“Bagaimana dengan e-wallet?”“Bahkan… bagaimana dengan crypto?”Pertanyaan ini bukan remeh, karena mahar bukan simbol romantis, tapi hak syar‘i seorang istri.Hakikat mahar dalam fikihSecara bahasa, mahar disebut ṣadāq (kejujuran atau ketulusan) atau ujrah (upah). Secara istilah, ia adalah pemberian wajib dari suami kepada istri sebagai konsekuensi akad nikah. Allah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisā’: 4)Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa mahar adalah kewajiban yang ditunaikan dengan kerelaan, bukan sekadar formalitas.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 237)Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah membatasi bentuk mahar. Yang ditekankan adalah hak, kerelaan, dan kepemilikan.Syarat mahar menurut ulamaMayoritas ulama fikih menyebutkan, mahar harus:Bernilai (māl);Halal dimanfaatkan;Jelas dan dapat dimiliki.An-Nawawī rahimahullāh berkata, “Segala sesuatu yang sah diperjualbelikan, maka sah pula dijadikan mahar.” (Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhadzdzab, 16: 357)Ini kaidah penting. Maka pertanyaannya bergeser: Apakah uang digital termasuk māl yang sah?Baca juga: MaharMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihUang dalam rekening bank atau e-wallet diakui secara ‘urf (kebiasaan umum) sebagai alat kepemilikan yang sah. Dalam kaidah fikih disebutkan,الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا“Sesuatu yang telah dikenal secara adat berlaku seperti syarat yang disebutkan.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 119)Hari ini, transfer dianggap sebagai serah-terima (qabḍ). Bahkan dalam banyak transaksi syar‘i, ini sudah diterima. Majma‘ Al-Fiqh Al-Islāmī (OKI) menyatakan, “Pemindahan saldo melalui sistem perbankan modern dihukumi sebagai qabḍ ḥukmī (kepemilikan hukum) yang sah.” (Qarārāt Majma‘ Al-Fiqh, keputusan no. 53, jilid 6)Maka mahar via transfer atau e-wallet hukumnya sah, selama:Nominal jelas;Disepakati saat akad;Benar-benar masuk ke kepemilikan istri.Lalu bagaimana dengan mahar crypto? Di sinilah fikih lebih berhati-hati. Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang status crypto sebagai māl: Ada yang membolehkan dengan syarat jelas dan stabil; dan ada pula yang melarang karena gharar dan volatilitas tinggi.Syekh ‘Abdullah Al-Manī‘ hafidzahullāh (anggota Hai’ah Kibar Ulama Saudi) menyatakan, “Jika suatu aset digital diakui nilainya, dimiliki, dan bisa diserahterimakan, maka secara prinsip ia masuk kategori māl, namun harus dilihat unsur gharar-nya.” (Baḥṡ Fiqhī Mu‘āṣir tentang Digital Assets, hal. 74)Maka secara kehati-hatian fikih: crypto belum ideal dijadikan sebagai mahar utama. Jika pun digunakan, harus jelas nilainya saat akad, dan tidak menzalimi pihak istri. Karena kaidahnya:الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ“Risiko sebanding dengan manfaat.”Dan dalam mahar, yang dilindungi adalah hak perempuan, bukan spekulasi.KesimpulanMahar tidak harus fisik, ia boleh digital (transfer, e-wallet). Adapun crypto masih khilaf dan rawan gharar. Dan yang terpenting: hak istri jelas dan aman; karena dalam Islam, mahar bukan sekadar “bukti cinta”, tapi simbol tanggung jawab dan penghormatan. Dan syariat—sekali lagi— tidak ketinggalan zaman, tapi menjaga agar keadilan tidak hilang di tengah kemajuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Bertransaksi Menggunakan Mata Uang Kripto (Cryptocurrency)***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleHakikat mahar dalam fikihSyarat mahar menurut ulamaMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihKesimpulanDulu, mahar itu nyata di depan mata. Cincin emas diletakkan di telapak tangan, uang tunai dihitung di hadapan wali dan saksi. Hari ini? Mahar bisa berpindah lewat notifikasi, “Transfer berhasil.”Maka kemudian tak jarang muncul pertanyaan—terutama dari para perempuan:“Apakah mahar via transfer itu sah secara syariat?”“Bagaimana dengan e-wallet?”“Bahkan… bagaimana dengan crypto?”Pertanyaan ini bukan remeh, karena mahar bukan simbol romantis, tapi hak syar‘i seorang istri.Hakikat mahar dalam fikihSecara bahasa, mahar disebut ṣadāq (kejujuran atau ketulusan) atau ujrah (upah). Secara istilah, ia adalah pemberian wajib dari suami kepada istri sebagai konsekuensi akad nikah. Allah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisā’: 4)Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa mahar adalah kewajiban yang ditunaikan dengan kerelaan, bukan sekadar formalitas.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 237)Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah membatasi bentuk mahar. Yang ditekankan adalah hak, kerelaan, dan kepemilikan.Syarat mahar menurut ulamaMayoritas ulama fikih menyebutkan, mahar harus:Bernilai (māl);Halal dimanfaatkan;Jelas dan dapat dimiliki.An-Nawawī rahimahullāh berkata, “Segala sesuatu yang sah diperjualbelikan, maka sah pula dijadikan mahar.” (Al-Majmū‘ Syarḥ Al-Muhadzdzab, 16: 357)Ini kaidah penting. Maka pertanyaannya bergeser: Apakah uang digital termasuk māl yang sah?Baca juga: MaharMahar transfer dan e-wallet: Tinjauan fikihUang dalam rekening bank atau e-wallet diakui secara ‘urf (kebiasaan umum) sebagai alat kepemilikan yang sah. Dalam kaidah fikih disebutkan,الْمَعْرُوفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوطِ شَرْطًا“Sesuatu yang telah dikenal secara adat berlaku seperti syarat yang disebutkan.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 119)Hari ini, transfer dianggap sebagai serah-terima (qabḍ). Bahkan dalam banyak transaksi syar‘i, ini sudah diterima. Majma‘ Al-Fiqh Al-Islāmī (OKI) menyatakan, “Pemindahan saldo melalui sistem perbankan modern dihukumi sebagai qabḍ ḥukmī (kepemilikan hukum) yang sah.” (Qarārāt Majma‘ Al-Fiqh, keputusan no. 53, jilid 6)Maka mahar via transfer atau e-wallet hukumnya sah, selama:Nominal jelas;Disepakati saat akad;Benar-benar masuk ke kepemilikan istri.Lalu bagaimana dengan mahar crypto? Di sinilah fikih lebih berhati-hati. Ulama kontemporer berbeda pendapat tentang status crypto sebagai māl: Ada yang membolehkan dengan syarat jelas dan stabil; dan ada pula yang melarang karena gharar dan volatilitas tinggi.Syekh ‘Abdullah Al-Manī‘ hafidzahullāh (anggota Hai’ah Kibar Ulama Saudi) menyatakan, “Jika suatu aset digital diakui nilainya, dimiliki, dan bisa diserahterimakan, maka secara prinsip ia masuk kategori māl, namun harus dilihat unsur gharar-nya.” (Baḥṡ Fiqhī Mu‘āṣir tentang Digital Assets, hal. 74)Maka secara kehati-hatian fikih: crypto belum ideal dijadikan sebagai mahar utama. Jika pun digunakan, harus jelas nilainya saat akad, dan tidak menzalimi pihak istri. Karena kaidahnya:الْغُرْمُ بِالْغُنْمِ“Risiko sebanding dengan manfaat.”Dan dalam mahar, yang dilindungi adalah hak perempuan, bukan spekulasi.KesimpulanMahar tidak harus fisik, ia boleh digital (transfer, e-wallet). Adapun crypto masih khilaf dan rawan gharar. Dan yang terpenting: hak istri jelas dan aman; karena dalam Islam, mahar bukan sekadar “bukti cinta”, tapi simbol tanggung jawab dan penghormatan. Dan syariat—sekali lagi— tidak ketinggalan zaman, tapi menjaga agar keadilan tidak hilang di tengah kemajuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Hukum Bertransaksi Menggunakan Mata Uang Kripto (Cryptocurrency)***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id

Rahasia Agar Bangun Pagi dengan Segar dan Semangat Menurut Hadis Nabi – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, sambil membisikkan, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah kembali.’Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan lainnya. Dan apabila ia mendirikan shalat, terlepas ikatan yang terakhir. Sehingga ia bangun dengan segar dan jiwa yang bersemangat. Namun jika tidak demikian, ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas.” Ini adalah kabar dari Nabi yang jujur dan terpercaya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika seseorang tidur, setan mengikatnya dengan tiga ikatan tersebut. Ikatan itu berada di tengkuknya, yakni di bagian belakang kepala, sebanyak tiga ikatan. Ikatan ini tidak kita ketahui hakikatnya seperti apa, tapi kita mengimaninya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya. Ucapan, “Malam masih panjang, maka tidurlah kembali,” bermakna bahwa setan membuat shalat terasa berat bagi manusia, baik Shalat malam maupun Shalat Subuh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan cara melepaskan ketiga ikatan tersebut. Beliau bersabda, “Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan.” Yakni ketika seseorang terbangun dari tidurnya dan berzikir, ikatan yang pertama terlepas. Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa terbangun di malam hari,” yakni terjaga dari tidurnya, lalu ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir, alhamdulillaah, wasubhanallaah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula wa laa quwwata illaa billaah, lalu jika ia berdoa, niscaya doanya dikabulkan. Dan jika ia mendirikan shalat, shalatnya diterima.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa waktu itu merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Dengan demikian, inilah cara pertama untuk melepaskan ikatan yang pertama, yaitu berzikir kepada Allah. Cara kedua, beliau bersabda, “Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan.” Jika ia bangun tidur dan berwudhu, maka terlepas ikatan yang kedua. Cara ketiga, “Apabila ia mendirikan shalat,” yaitu melaksanakan shalat apa pun, meskipun hanya dua rakaat, maka ikatan yang ketiga pun terlepas. Sehingga ia bangun dalam keadaan segar dan jiwanya bersemangat. Pada dirinya tampak rasa bahagia, gembira, dan penuh optimisme, karena ikatan-ikatan tersebut telah terlepas darinya. Namun jika ia kembali tidur, maka ia akan bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Yakni apabila ia tidak berzikir kepada Allah, tidak berwudhu, dan tidak mendirikan shalat, maka ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Padanya tampak tanda-tanda futur, malas, berat, dan kurang bersemangat, akibat ikatan-ikatan yang dipasang setan tersebut. Ini merupakan kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, bahwa setan mengikat manusia dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi tuntunan untuk mengurainya dengan perkara-perkara yang mudah, yaitu berzikir kepada Allah, berwudhu, dan mendirikan shalat sesuai kemampuan. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ هُوَ قَامَ وَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ هَذَا خَبَرٌ مِنَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا نَامَ يَعْقِدُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ عَلَى قَافِيَتِهِ يَعْنِي مُؤَخِّرَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ هَذِهِ الْعُقَدُ لَا نَعْلَمُ حَقِيقَتَهَا لَكِنْ نُؤْمِنُ بِذَلِكَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ بِهَذَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يُثَقِّلُ الصَّلَاةَ عَلَى الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ صَلَاةَ اللَّيْلِ أَوْ حَتَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَا تُحَلُّ بِهِ هَذِهِ الْعُقَدُ الثَّلَاثُ قَالَ فَإِنْ هُوَ قَامَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِذَا قَامَ الإِنْسَانُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ تَنْحَلُّ الْعُقْدَةُ الْأُولَى قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ يَعْنِي اسْتَيْقَظَ مِنَ النَّوْمِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ وَإِنْ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْمَوْضِعَ مَوْضِعُ اسْتِجَابَةٍ لِلدُّعَاءِ إِذًا هَذَا هُوَ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقْدَةُ الْأُولَى وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ الْأَمْرُ الثَّانِي قَالَ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِنْ هُوَ قَامَ وَتَوَضَّأَ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّانِيَةُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ إِنْ صَلَّى إِنْ صَلَّى أَيَّ صَلَاةٍ حَتَّى وَلَوْ قَامَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّالِثَةُ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ يَظْهَرُ عَلَى نَفْسِهِ السُّرُورُ وَالْفَرَحُ وَالِاسْتِبْشَارُ لِأَنَّ هَذِهِ الْعُقَدَ قَدْ انْحَلَّتْ عَنْهُ وَإِنْ نَامَ قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَعْنِي إِنْ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يُصَلِّ يَقُومُ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَظْهَرُ عَلَيْهِ أَثَرُ الْفُتُورِ وَالْكَسَلِ وَالثِّقَلِ وَالتَّرَاخِي بِسَبَبِ هَذِهِ الْعُقَدِ الَّتِي يَعْقِدُهَا الشَّيْطَانُ فَهَذَا خَبَرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ مَنْ لَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى بِأَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى الْإِنْسَانِ إِذَا نَامَ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ وَقَدْ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى حَلِّهَا بِأُمُورٍ سَهْلَةٍ بِأَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ وَيَتَوَضَّأَ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ

Rahasia Agar Bangun Pagi dengan Segar dan Semangat Menurut Hadis Nabi – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, sambil membisikkan, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah kembali.’Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan lainnya. Dan apabila ia mendirikan shalat, terlepas ikatan yang terakhir. Sehingga ia bangun dengan segar dan jiwa yang bersemangat. Namun jika tidak demikian, ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas.” Ini adalah kabar dari Nabi yang jujur dan terpercaya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika seseorang tidur, setan mengikatnya dengan tiga ikatan tersebut. Ikatan itu berada di tengkuknya, yakni di bagian belakang kepala, sebanyak tiga ikatan. Ikatan ini tidak kita ketahui hakikatnya seperti apa, tapi kita mengimaninya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya. Ucapan, “Malam masih panjang, maka tidurlah kembali,” bermakna bahwa setan membuat shalat terasa berat bagi manusia, baik Shalat malam maupun Shalat Subuh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan cara melepaskan ketiga ikatan tersebut. Beliau bersabda, “Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan.” Yakni ketika seseorang terbangun dari tidurnya dan berzikir, ikatan yang pertama terlepas. Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa terbangun di malam hari,” yakni terjaga dari tidurnya, lalu ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir, alhamdulillaah, wasubhanallaah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula wa laa quwwata illaa billaah, lalu jika ia berdoa, niscaya doanya dikabulkan. Dan jika ia mendirikan shalat, shalatnya diterima.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa waktu itu merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Dengan demikian, inilah cara pertama untuk melepaskan ikatan yang pertama, yaitu berzikir kepada Allah. Cara kedua, beliau bersabda, “Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan.” Jika ia bangun tidur dan berwudhu, maka terlepas ikatan yang kedua. Cara ketiga, “Apabila ia mendirikan shalat,” yaitu melaksanakan shalat apa pun, meskipun hanya dua rakaat, maka ikatan yang ketiga pun terlepas. Sehingga ia bangun dalam keadaan segar dan jiwanya bersemangat. Pada dirinya tampak rasa bahagia, gembira, dan penuh optimisme, karena ikatan-ikatan tersebut telah terlepas darinya. Namun jika ia kembali tidur, maka ia akan bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Yakni apabila ia tidak berzikir kepada Allah, tidak berwudhu, dan tidak mendirikan shalat, maka ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Padanya tampak tanda-tanda futur, malas, berat, dan kurang bersemangat, akibat ikatan-ikatan yang dipasang setan tersebut. Ini merupakan kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, bahwa setan mengikat manusia dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi tuntunan untuk mengurainya dengan perkara-perkara yang mudah, yaitu berzikir kepada Allah, berwudhu, dan mendirikan shalat sesuai kemampuan. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ هُوَ قَامَ وَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ هَذَا خَبَرٌ مِنَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا نَامَ يَعْقِدُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ عَلَى قَافِيَتِهِ يَعْنِي مُؤَخِّرَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ هَذِهِ الْعُقَدُ لَا نَعْلَمُ حَقِيقَتَهَا لَكِنْ نُؤْمِنُ بِذَلِكَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ بِهَذَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يُثَقِّلُ الصَّلَاةَ عَلَى الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ صَلَاةَ اللَّيْلِ أَوْ حَتَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَا تُحَلُّ بِهِ هَذِهِ الْعُقَدُ الثَّلَاثُ قَالَ فَإِنْ هُوَ قَامَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِذَا قَامَ الإِنْسَانُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ تَنْحَلُّ الْعُقْدَةُ الْأُولَى قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ يَعْنِي اسْتَيْقَظَ مِنَ النَّوْمِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ وَإِنْ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْمَوْضِعَ مَوْضِعُ اسْتِجَابَةٍ لِلدُّعَاءِ إِذًا هَذَا هُوَ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقْدَةُ الْأُولَى وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ الْأَمْرُ الثَّانِي قَالَ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِنْ هُوَ قَامَ وَتَوَضَّأَ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّانِيَةُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ إِنْ صَلَّى إِنْ صَلَّى أَيَّ صَلَاةٍ حَتَّى وَلَوْ قَامَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّالِثَةُ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ يَظْهَرُ عَلَى نَفْسِهِ السُّرُورُ وَالْفَرَحُ وَالِاسْتِبْشَارُ لِأَنَّ هَذِهِ الْعُقَدَ قَدْ انْحَلَّتْ عَنْهُ وَإِنْ نَامَ قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَعْنِي إِنْ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يُصَلِّ يَقُومُ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَظْهَرُ عَلَيْهِ أَثَرُ الْفُتُورِ وَالْكَسَلِ وَالثِّقَلِ وَالتَّرَاخِي بِسَبَبِ هَذِهِ الْعُقَدِ الَّتِي يَعْقِدُهَا الشَّيْطَانُ فَهَذَا خَبَرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ مَنْ لَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى بِأَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى الْإِنْسَانِ إِذَا نَامَ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ وَقَدْ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى حَلِّهَا بِأُمُورٍ سَهْلَةٍ بِأَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ وَيَتَوَضَّأَ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ
Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, sambil membisikkan, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah kembali.’Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan lainnya. Dan apabila ia mendirikan shalat, terlepas ikatan yang terakhir. Sehingga ia bangun dengan segar dan jiwa yang bersemangat. Namun jika tidak demikian, ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas.” Ini adalah kabar dari Nabi yang jujur dan terpercaya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika seseorang tidur, setan mengikatnya dengan tiga ikatan tersebut. Ikatan itu berada di tengkuknya, yakni di bagian belakang kepala, sebanyak tiga ikatan. Ikatan ini tidak kita ketahui hakikatnya seperti apa, tapi kita mengimaninya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya. Ucapan, “Malam masih panjang, maka tidurlah kembali,” bermakna bahwa setan membuat shalat terasa berat bagi manusia, baik Shalat malam maupun Shalat Subuh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan cara melepaskan ketiga ikatan tersebut. Beliau bersabda, “Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan.” Yakni ketika seseorang terbangun dari tidurnya dan berzikir, ikatan yang pertama terlepas. Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa terbangun di malam hari,” yakni terjaga dari tidurnya, lalu ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir, alhamdulillaah, wasubhanallaah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula wa laa quwwata illaa billaah, lalu jika ia berdoa, niscaya doanya dikabulkan. Dan jika ia mendirikan shalat, shalatnya diterima.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa waktu itu merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Dengan demikian, inilah cara pertama untuk melepaskan ikatan yang pertama, yaitu berzikir kepada Allah. Cara kedua, beliau bersabda, “Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan.” Jika ia bangun tidur dan berwudhu, maka terlepas ikatan yang kedua. Cara ketiga, “Apabila ia mendirikan shalat,” yaitu melaksanakan shalat apa pun, meskipun hanya dua rakaat, maka ikatan yang ketiga pun terlepas. Sehingga ia bangun dalam keadaan segar dan jiwanya bersemangat. Pada dirinya tampak rasa bahagia, gembira, dan penuh optimisme, karena ikatan-ikatan tersebut telah terlepas darinya. Namun jika ia kembali tidur, maka ia akan bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Yakni apabila ia tidak berzikir kepada Allah, tidak berwudhu, dan tidak mendirikan shalat, maka ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Padanya tampak tanda-tanda futur, malas, berat, dan kurang bersemangat, akibat ikatan-ikatan yang dipasang setan tersebut. Ini merupakan kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, bahwa setan mengikat manusia dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi tuntunan untuk mengurainya dengan perkara-perkara yang mudah, yaitu berzikir kepada Allah, berwudhu, dan mendirikan shalat sesuai kemampuan. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ هُوَ قَامَ وَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ هَذَا خَبَرٌ مِنَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا نَامَ يَعْقِدُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ عَلَى قَافِيَتِهِ يَعْنِي مُؤَخِّرَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ هَذِهِ الْعُقَدُ لَا نَعْلَمُ حَقِيقَتَهَا لَكِنْ نُؤْمِنُ بِذَلِكَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ بِهَذَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يُثَقِّلُ الصَّلَاةَ عَلَى الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ صَلَاةَ اللَّيْلِ أَوْ حَتَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَا تُحَلُّ بِهِ هَذِهِ الْعُقَدُ الثَّلَاثُ قَالَ فَإِنْ هُوَ قَامَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِذَا قَامَ الإِنْسَانُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ تَنْحَلُّ الْعُقْدَةُ الْأُولَى قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ يَعْنِي اسْتَيْقَظَ مِنَ النَّوْمِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ وَإِنْ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْمَوْضِعَ مَوْضِعُ اسْتِجَابَةٍ لِلدُّعَاءِ إِذًا هَذَا هُوَ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقْدَةُ الْأُولَى وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ الْأَمْرُ الثَّانِي قَالَ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِنْ هُوَ قَامَ وَتَوَضَّأَ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّانِيَةُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ إِنْ صَلَّى إِنْ صَلَّى أَيَّ صَلَاةٍ حَتَّى وَلَوْ قَامَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّالِثَةُ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ يَظْهَرُ عَلَى نَفْسِهِ السُّرُورُ وَالْفَرَحُ وَالِاسْتِبْشَارُ لِأَنَّ هَذِهِ الْعُقَدَ قَدْ انْحَلَّتْ عَنْهُ وَإِنْ نَامَ قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَعْنِي إِنْ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يُصَلِّ يَقُومُ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَظْهَرُ عَلَيْهِ أَثَرُ الْفُتُورِ وَالْكَسَلِ وَالثِّقَلِ وَالتَّرَاخِي بِسَبَبِ هَذِهِ الْعُقَدِ الَّتِي يَعْقِدُهَا الشَّيْطَانُ فَهَذَا خَبَرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ مَنْ لَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى بِأَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى الْإِنْسَانِ إِذَا نَامَ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ وَقَدْ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى حَلِّهَا بِأُمُورٍ سَهْلَةٍ بِأَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ وَيَتَوَضَّأَ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ


Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, sambil membisikkan, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah kembali.’Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan. Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan lainnya. Dan apabila ia mendirikan shalat, terlepas ikatan yang terakhir. Sehingga ia bangun dengan segar dan jiwa yang bersemangat. Namun jika tidak demikian, ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas.” Ini adalah kabar dari Nabi yang jujur dan terpercaya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika seseorang tidur, setan mengikatnya dengan tiga ikatan tersebut. Ikatan itu berada di tengkuknya, yakni di bagian belakang kepala, sebanyak tiga ikatan. Ikatan ini tidak kita ketahui hakikatnya seperti apa, tapi kita mengimaninya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya. Ucapan, “Malam masih panjang, maka tidurlah kembali,” bermakna bahwa setan membuat shalat terasa berat bagi manusia, baik Shalat malam maupun Shalat Subuh. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan cara melepaskan ketiga ikatan tersebut. Beliau bersabda, “Apabila ia bangun lalu berzikir kepada Allah, terlepas satu ikatan.” Yakni ketika seseorang terbangun dari tidurnya dan berzikir, ikatan yang pertama terlepas. Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa terbangun di malam hari,” yakni terjaga dari tidurnya, lalu ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir, alhamdulillaah, wasubhanallaah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula wa laa quwwata illaa billaah, lalu jika ia berdoa, niscaya doanya dikabulkan. Dan jika ia mendirikan shalat, shalatnya diterima.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa waktu itu merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Dengan demikian, inilah cara pertama untuk melepaskan ikatan yang pertama, yaitu berzikir kepada Allah. Cara kedua, beliau bersabda, “Apabila ia berwudhu, terlepas satu ikatan.” Jika ia bangun tidur dan berwudhu, maka terlepas ikatan yang kedua. Cara ketiga, “Apabila ia mendirikan shalat,” yaitu melaksanakan shalat apa pun, meskipun hanya dua rakaat, maka ikatan yang ketiga pun terlepas. Sehingga ia bangun dalam keadaan segar dan jiwanya bersemangat. Pada dirinya tampak rasa bahagia, gembira, dan penuh optimisme, karena ikatan-ikatan tersebut telah terlepas darinya. Namun jika ia kembali tidur, maka ia akan bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Yakni apabila ia tidak berzikir kepada Allah, tidak berwudhu, dan tidak mendirikan shalat, maka ia bangun dengan jiwa yang keruh dan malas. Padanya tampak tanda-tanda futur, malas, berat, dan kurang bersemangat, akibat ikatan-ikatan yang dipasang setan tersebut. Ini merupakan kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, bahwa setan mengikat manusia dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi tuntunan untuk mengurainya dengan perkara-perkara yang mudah, yaitu berzikir kepada Allah, berwudhu, dan mendirikan shalat sesuai kemampuan. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ هُوَ قَامَ وَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ هَذَا خَبَرٌ مِنَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا نَامَ يَعْقِدُ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ عَلَى قَافِيَتِهِ يَعْنِي مُؤَخِّرَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ هَذِهِ الْعُقَدُ لَا نَعْلَمُ حَقِيقَتَهَا لَكِنْ نُؤْمِنُ بِذَلِكَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ بِهَذَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يُثَقِّلُ الصَّلَاةَ عَلَى الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ صَلَاةَ اللَّيْلِ أَوْ حَتَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَا تُحَلُّ بِهِ هَذِهِ الْعُقَدُ الثَّلَاثُ قَالَ فَإِنْ هُوَ قَامَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِذَا قَامَ الإِنْسَانُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ تَنْحَلُّ الْعُقْدَةُ الْأُولَى قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ يَعْنِي اسْتَيْقَظَ مِنَ النَّوْمِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ وَإِنْ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الْمَوْضِعَ مَوْضِعُ اسْتِجَابَةٍ لِلدُّعَاءِ إِذًا هَذَا هُوَ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقْدَةُ الْأُولَى وَهُوَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ الْأَمْرُ الثَّانِي قَالَ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ إِنْ هُوَ قَامَ وَتَوَضَّأَ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّانِيَةُ الْأَمْرُ الثَّالِثُ إِنْ صَلَّى إِنْ صَلَّى أَيَّ صَلَاةٍ حَتَّى وَلَوْ قَامَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ انْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ الثَّالِثَةُ فَقَامَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ يَظْهَرُ عَلَى نَفْسِهِ السُّرُورُ وَالْفَرَحُ وَالِاسْتِبْشَارُ لِأَنَّ هَذِهِ الْعُقَدَ قَدْ انْحَلَّتْ عَنْهُ وَإِنْ نَامَ قَامَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَعْنِي إِنْ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَلَمْ يُصَلِّ يَقُومُ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ يَظْهَرُ عَلَيْهِ أَثَرُ الْفُتُورِ وَالْكَسَلِ وَالثِّقَلِ وَالتَّرَاخِي بِسَبَبِ هَذِهِ الْعُقَدِ الَّتِي يَعْقِدُهَا الشَّيْطَانُ فَهَذَا خَبَرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ مَنْ لَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى بِأَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى الْإِنْسَانِ إِذَا نَامَ هَذِهِ الْعُقَدَ الثَّلَاثَ وَقَدْ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَى حَلِّهَا بِأُمُورٍ سَهْلَةٍ بِأَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ وَيَتَوَضَّأَ وَيُصَلِّي مَا تَيَسَّرَ

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.929 video dengan total 6.855.064 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.127 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 938.594.883 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.776 video Total Subscribers: 4.195.319 subscribers Total Tayangan Video: 740.750.278 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video November 2025: 120 video Tayangan Video November 2025: 2.623.388 views Waktu Tayang Video November 2025: 262.695 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.638 Selama bulan November 2025 tim Yufid menyiarkan 119 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.175 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.085.054 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video November 2025: 40 video Tayangan Video November 2025: 148.952 views Waktu Tayang Video November 2025: 8.395 jam Penambahan Subscribers November 2025: +1.297 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 546.005 Total Tayangan Video: 170.761.768 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 1.741.830 views Waktu Tayang Video November 2025: 91.468 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.130 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.018 Total Tayangan Video: 480.932 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video November 2025: 845 views Jam Tayang Video November 2025: 132 Jam Penambahan Subscribers November 2025: 12 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.000 Total Tayangan Video: 3.516.851 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers November 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.813 Postingan Total Pengikut: 1.195.161 followers Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 3.008.262 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +7.963 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.723 Postingan Total Pengikut: 521.330 Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 15.117 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +3.445 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 19 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.165 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.142 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 748 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.312 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan November 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 41 times, 1 visit(s) today Post Views: 437

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.929 video dengan total 6.855.064 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.127 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 938.594.883 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.776 video Total Subscribers: 4.195.319 subscribers Total Tayangan Video: 740.750.278 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video November 2025: 120 video Tayangan Video November 2025: 2.623.388 views Waktu Tayang Video November 2025: 262.695 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.638 Selama bulan November 2025 tim Yufid menyiarkan 119 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.175 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.085.054 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video November 2025: 40 video Tayangan Video November 2025: 148.952 views Waktu Tayang Video November 2025: 8.395 jam Penambahan Subscribers November 2025: +1.297 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 546.005 Total Tayangan Video: 170.761.768 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 1.741.830 views Waktu Tayang Video November 2025: 91.468 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.130 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.018 Total Tayangan Video: 480.932 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video November 2025: 845 views Jam Tayang Video November 2025: 132 Jam Penambahan Subscribers November 2025: 12 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.000 Total Tayangan Video: 3.516.851 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers November 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.813 Postingan Total Pengikut: 1.195.161 followers Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 3.008.262 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +7.963 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.723 Postingan Total Pengikut: 521.330 Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 15.117 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +3.445 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 19 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.165 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.142 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 748 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.312 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan November 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 41 times, 1 visit(s) today Post Views: 437
Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.929 video dengan total 6.855.064 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.127 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 938.594.883 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.776 video Total Subscribers: 4.195.319 subscribers Total Tayangan Video: 740.750.278 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video November 2025: 120 video Tayangan Video November 2025: 2.623.388 views Waktu Tayang Video November 2025: 262.695 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.638 Selama bulan November 2025 tim Yufid menyiarkan 119 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.175 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.085.054 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video November 2025: 40 video Tayangan Video November 2025: 148.952 views Waktu Tayang Video November 2025: 8.395 jam Penambahan Subscribers November 2025: +1.297 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 546.005 Total Tayangan Video: 170.761.768 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 1.741.830 views Waktu Tayang Video November 2025: 91.468 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.130 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.018 Total Tayangan Video: 480.932 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video November 2025: 845 views Jam Tayang Video November 2025: 132 Jam Penambahan Subscribers November 2025: 12 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.000 Total Tayangan Video: 3.516.851 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers November 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.813 Postingan Total Pengikut: 1.195.161 followers Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 3.008.262 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +7.963 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.723 Postingan Total Pengikut: 521.330 Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 15.117 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +3.445 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 19 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.165 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.142 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 748 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.312 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan November 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 41 times, 1 visit(s) today Post Views: 437


Laporan Produksi Yufid Bulan November 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.929 video dengan total 6.855.064 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.127 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 938.594.883 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.776 video Total Subscribers: 4.195.319 subscribers Total Tayangan Video: 740.750.278 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video November 2025: 120 video Tayangan Video November 2025: 2.623.388 views Waktu Tayang Video November 2025: 262.695 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.638 Selama bulan November 2025 tim Yufid menyiarkan 119 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.175 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.085.054 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video November 2025: 40 video Tayangan Video November 2025: 148.952 views Waktu Tayang Video November 2025: 8.395 jam Penambahan Subscribers November 2025: +1.297 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 546.005 Total Tayangan Video: 170.761.768 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 1.741.830 views Waktu Tayang Video November 2025: 91.468 jam Penambahan Subscribers November 2025: +4.130 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.018 Total Tayangan Video: 480.932 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video November 2025: 845 views Jam Tayang Video November 2025: 132 Jam Penambahan Subscribers November 2025: 12 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.000 Total Tayangan Video: 3.516.851 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video November 2025: 0 video Tayangan Video November 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers November 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.813 Postingan Total Pengikut: 1.195.161 followers Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 3.008.262 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +7.963 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.723 Postingan Total Pengikut: 521.330 Konten Bulan November 2025: 57 Views Konten November: 15.117 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers November 2025: +3.445 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 19 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.165 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.142 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 748 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.312 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan November 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan November 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan November 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan November 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan November 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 41 times, 1 visit(s) today Post Views: 437

Kenapa Sedekah Bisa Menolak Musibah? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Sedekah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menolak musibah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala, “Sesungguhnya sedekah punya pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai jenis musibah dari orang yang bersedekah, meskipun orang yang bersedekah tersebut adalah pelaku maksiat, atau bahkan orang kafir. Ini sudah menjadi perkara yang diketahui oleh manusia, baik itu dari kalangan khusus maupun kalangan umum, dan seluruh penghuni bumi mengakuinya, karena mereka telah merasakannya.” Dengan demikian, sedekah dapat menolak musibah dari seseorang. Betapa banyak musibah yang sebab-sebabnya telah lengkap, tapi Allah ‘Azza wa Jalla mencegahnya karena sedekah yang dikeluarkan seseorang. Seseorang pernah menceritakan kepadaku, bahwa ia menaiki sebuah mobil bersama sekelompok pemuda. Ia berkata, “Sebelum aku menaiki mobil tersebut, aku melihat seorang perempuan tua yang miskin. Lalu aku bersedekah kepadanya sebesar sepuluh riyal. Setelah itu kami mengalami kecelakaan yang mengerikan sekali. Orang-orang yang bersamaku ada yang meninggal dunia, dan ada yang lumpuh. Sedangkan aku tidak mengalami keburukan apa pun. Aku pun berkata dalam hati—dan Allah Maha Mengetahui—bahwa sebab keselamatan ini adalah sedekah tersebut.” Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla menghindarkan berbagai macam musibah darinya. Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah Ta’ala menghindarkannya dari keburukan dan musibah. Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama Muslim, hendaklah kamu bersungguh-sungguh dalam memberi, dan memperbanyak sedekah, serta membiasakan diri untuk melakukannya. Karena dengan itu, kamu dapat meraih banyak pahala besar, dan dengan itu, Allah Ta’ala akan mencegah berbagai musibah darimu. ====== لِلصَّدَقَةِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي دَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّ لِلصَّدَقَةِ تَأْثِيرًا عَجِيْبًا فِي دَفْعِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْبَلَاءِ عَنِ الْمُتَصَدِّقِ وَلَوْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ فَاجِرًا بَلْ وَلَوْ كَانَ كَافِرًا وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ عِنْدَ النَّاسِ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ وَأَهْلُ الْأَرْضِ كُلُّهُمْ مُقِرُّونَ بِهِ لِأَنَّهُمْ قَدْ جَرَّبُوهُ فَالصَّدَقَةُ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ عَنْ الْإِنْسَانِ كَمْ مِنْ بَلَاءٍ قَدْ انْعَقَدَتْ أَسْبَابُهُ دَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِصَدَقَةٍ تَصَدَّقَ بِهَا الْإِنْسَانُ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ أَخْبَرَنِي بِأَنَّهُ رَكِبَ مَعَ مَجْمُوعَةِ شَبَابٍ رَكِبُوا سَيَّارَةً يَقُولُ وَقُبَيْلَ أَنْ أَرْكَبَ السَّيَّارَةَ وَجَدْتُ امْرَأَةً فَقِيرَةً كَبِيرَةً فِي السِّنِّ فَتَصَدَّقْتُ عَلَيْهَا بِعَشَرَةِ رِيَالَاتٍ يَقُولُ وَحَصَلَ لَنَا حَادِثٌ شَنِيعٌ جِدًّا وَمَنْ مَعِي مِنْهُمْ مَنْ مَاتَ وَمِنْهُمْ مَنْ أُصِيبَ بِالشَّلَلِ وَأَمَّا أَنَا فَلَمْ أُصَبْ بِأَيِّ سُوءٍ فَقُلْتُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ إِنَّ سَبَبَ ذَلِكَ هُوَ هَذِهِ الصَّدَقَةُ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا عَنْهُ شَرًّا وَبَلَاءً فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْبَذْلِ وَعَلَى الْإِكْثَارِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ بِهَا أُجُورًا عَظِيمَةً وَيَدْفَعُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْكَ بِهَا أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ

Kenapa Sedekah Bisa Menolak Musibah? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Sedekah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menolak musibah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala, “Sesungguhnya sedekah punya pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai jenis musibah dari orang yang bersedekah, meskipun orang yang bersedekah tersebut adalah pelaku maksiat, atau bahkan orang kafir. Ini sudah menjadi perkara yang diketahui oleh manusia, baik itu dari kalangan khusus maupun kalangan umum, dan seluruh penghuni bumi mengakuinya, karena mereka telah merasakannya.” Dengan demikian, sedekah dapat menolak musibah dari seseorang. Betapa banyak musibah yang sebab-sebabnya telah lengkap, tapi Allah ‘Azza wa Jalla mencegahnya karena sedekah yang dikeluarkan seseorang. Seseorang pernah menceritakan kepadaku, bahwa ia menaiki sebuah mobil bersama sekelompok pemuda. Ia berkata, “Sebelum aku menaiki mobil tersebut, aku melihat seorang perempuan tua yang miskin. Lalu aku bersedekah kepadanya sebesar sepuluh riyal. Setelah itu kami mengalami kecelakaan yang mengerikan sekali. Orang-orang yang bersamaku ada yang meninggal dunia, dan ada yang lumpuh. Sedangkan aku tidak mengalami keburukan apa pun. Aku pun berkata dalam hati—dan Allah Maha Mengetahui—bahwa sebab keselamatan ini adalah sedekah tersebut.” Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla menghindarkan berbagai macam musibah darinya. Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah Ta’ala menghindarkannya dari keburukan dan musibah. Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama Muslim, hendaklah kamu bersungguh-sungguh dalam memberi, dan memperbanyak sedekah, serta membiasakan diri untuk melakukannya. Karena dengan itu, kamu dapat meraih banyak pahala besar, dan dengan itu, Allah Ta’ala akan mencegah berbagai musibah darimu. ====== لِلصَّدَقَةِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي دَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّ لِلصَّدَقَةِ تَأْثِيرًا عَجِيْبًا فِي دَفْعِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْبَلَاءِ عَنِ الْمُتَصَدِّقِ وَلَوْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ فَاجِرًا بَلْ وَلَوْ كَانَ كَافِرًا وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ عِنْدَ النَّاسِ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ وَأَهْلُ الْأَرْضِ كُلُّهُمْ مُقِرُّونَ بِهِ لِأَنَّهُمْ قَدْ جَرَّبُوهُ فَالصَّدَقَةُ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ عَنْ الْإِنْسَانِ كَمْ مِنْ بَلَاءٍ قَدْ انْعَقَدَتْ أَسْبَابُهُ دَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِصَدَقَةٍ تَصَدَّقَ بِهَا الْإِنْسَانُ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ أَخْبَرَنِي بِأَنَّهُ رَكِبَ مَعَ مَجْمُوعَةِ شَبَابٍ رَكِبُوا سَيَّارَةً يَقُولُ وَقُبَيْلَ أَنْ أَرْكَبَ السَّيَّارَةَ وَجَدْتُ امْرَأَةً فَقِيرَةً كَبِيرَةً فِي السِّنِّ فَتَصَدَّقْتُ عَلَيْهَا بِعَشَرَةِ رِيَالَاتٍ يَقُولُ وَحَصَلَ لَنَا حَادِثٌ شَنِيعٌ جِدًّا وَمَنْ مَعِي مِنْهُمْ مَنْ مَاتَ وَمِنْهُمْ مَنْ أُصِيبَ بِالشَّلَلِ وَأَمَّا أَنَا فَلَمْ أُصَبْ بِأَيِّ سُوءٍ فَقُلْتُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ إِنَّ سَبَبَ ذَلِكَ هُوَ هَذِهِ الصَّدَقَةُ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا عَنْهُ شَرًّا وَبَلَاءً فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْبَذْلِ وَعَلَى الْإِكْثَارِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ بِهَا أُجُورًا عَظِيمَةً وَيَدْفَعُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْكَ بِهَا أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ
Sedekah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menolak musibah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala, “Sesungguhnya sedekah punya pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai jenis musibah dari orang yang bersedekah, meskipun orang yang bersedekah tersebut adalah pelaku maksiat, atau bahkan orang kafir. Ini sudah menjadi perkara yang diketahui oleh manusia, baik itu dari kalangan khusus maupun kalangan umum, dan seluruh penghuni bumi mengakuinya, karena mereka telah merasakannya.” Dengan demikian, sedekah dapat menolak musibah dari seseorang. Betapa banyak musibah yang sebab-sebabnya telah lengkap, tapi Allah ‘Azza wa Jalla mencegahnya karena sedekah yang dikeluarkan seseorang. Seseorang pernah menceritakan kepadaku, bahwa ia menaiki sebuah mobil bersama sekelompok pemuda. Ia berkata, “Sebelum aku menaiki mobil tersebut, aku melihat seorang perempuan tua yang miskin. Lalu aku bersedekah kepadanya sebesar sepuluh riyal. Setelah itu kami mengalami kecelakaan yang mengerikan sekali. Orang-orang yang bersamaku ada yang meninggal dunia, dan ada yang lumpuh. Sedangkan aku tidak mengalami keburukan apa pun. Aku pun berkata dalam hati—dan Allah Maha Mengetahui—bahwa sebab keselamatan ini adalah sedekah tersebut.” Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla menghindarkan berbagai macam musibah darinya. Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah Ta’ala menghindarkannya dari keburukan dan musibah. Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama Muslim, hendaklah kamu bersungguh-sungguh dalam memberi, dan memperbanyak sedekah, serta membiasakan diri untuk melakukannya. Karena dengan itu, kamu dapat meraih banyak pahala besar, dan dengan itu, Allah Ta’ala akan mencegah berbagai musibah darimu. ====== لِلصَّدَقَةِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي دَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّ لِلصَّدَقَةِ تَأْثِيرًا عَجِيْبًا فِي دَفْعِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْبَلَاءِ عَنِ الْمُتَصَدِّقِ وَلَوْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ فَاجِرًا بَلْ وَلَوْ كَانَ كَافِرًا وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ عِنْدَ النَّاسِ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ وَأَهْلُ الْأَرْضِ كُلُّهُمْ مُقِرُّونَ بِهِ لِأَنَّهُمْ قَدْ جَرَّبُوهُ فَالصَّدَقَةُ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ عَنْ الْإِنْسَانِ كَمْ مِنْ بَلَاءٍ قَدْ انْعَقَدَتْ أَسْبَابُهُ دَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِصَدَقَةٍ تَصَدَّقَ بِهَا الْإِنْسَانُ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ أَخْبَرَنِي بِأَنَّهُ رَكِبَ مَعَ مَجْمُوعَةِ شَبَابٍ رَكِبُوا سَيَّارَةً يَقُولُ وَقُبَيْلَ أَنْ أَرْكَبَ السَّيَّارَةَ وَجَدْتُ امْرَأَةً فَقِيرَةً كَبِيرَةً فِي السِّنِّ فَتَصَدَّقْتُ عَلَيْهَا بِعَشَرَةِ رِيَالَاتٍ يَقُولُ وَحَصَلَ لَنَا حَادِثٌ شَنِيعٌ جِدًّا وَمَنْ مَعِي مِنْهُمْ مَنْ مَاتَ وَمِنْهُمْ مَنْ أُصِيبَ بِالشَّلَلِ وَأَمَّا أَنَا فَلَمْ أُصَبْ بِأَيِّ سُوءٍ فَقُلْتُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ إِنَّ سَبَبَ ذَلِكَ هُوَ هَذِهِ الصَّدَقَةُ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا عَنْهُ شَرًّا وَبَلَاءً فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْبَذْلِ وَعَلَى الْإِكْثَارِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ بِهَا أُجُورًا عَظِيمَةً وَيَدْفَعُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْكَ بِهَا أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ


Sedekah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menolak musibah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala, “Sesungguhnya sedekah punya pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai jenis musibah dari orang yang bersedekah, meskipun orang yang bersedekah tersebut adalah pelaku maksiat, atau bahkan orang kafir. Ini sudah menjadi perkara yang diketahui oleh manusia, baik itu dari kalangan khusus maupun kalangan umum, dan seluruh penghuni bumi mengakuinya, karena mereka telah merasakannya.” Dengan demikian, sedekah dapat menolak musibah dari seseorang. Betapa banyak musibah yang sebab-sebabnya telah lengkap, tapi Allah ‘Azza wa Jalla mencegahnya karena sedekah yang dikeluarkan seseorang. Seseorang pernah menceritakan kepadaku, bahwa ia menaiki sebuah mobil bersama sekelompok pemuda. Ia berkata, “Sebelum aku menaiki mobil tersebut, aku melihat seorang perempuan tua yang miskin. Lalu aku bersedekah kepadanya sebesar sepuluh riyal. Setelah itu kami mengalami kecelakaan yang mengerikan sekali. Orang-orang yang bersamaku ada yang meninggal dunia, dan ada yang lumpuh. Sedangkan aku tidak mengalami keburukan apa pun. Aku pun berkata dalam hati—dan Allah Maha Mengetahui—bahwa sebab keselamatan ini adalah sedekah tersebut.” Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla menghindarkan berbagai macam musibah darinya. Sedekah dengan jumlah yang kecil, tapi dengannya, Allah Ta’ala menghindarkannya dari keburukan dan musibah. Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama Muslim, hendaklah kamu bersungguh-sungguh dalam memberi, dan memperbanyak sedekah, serta membiasakan diri untuk melakukannya. Karena dengan itu, kamu dapat meraih banyak pahala besar, dan dengan itu, Allah Ta’ala akan mencegah berbagai musibah darimu. ====== لِلصَّدَقَةِ أَثَرٌ عَظِيمٌ فِي دَفْعِ الْبَلَاءِ وَكَمَا يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّ لِلصَّدَقَةِ تَأْثِيرًا عَجِيْبًا فِي دَفْعِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْبَلَاءِ عَنِ الْمُتَصَدِّقِ وَلَوْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ فَاجِرًا بَلْ وَلَوْ كَانَ كَافِرًا وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ عِنْدَ النَّاسِ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ وَأَهْلُ الْأَرْضِ كُلُّهُمْ مُقِرُّونَ بِهِ لِأَنَّهُمْ قَدْ جَرَّبُوهُ فَالصَّدَقَةُ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ عَنْ الْإِنْسَانِ كَمْ مِنْ بَلَاءٍ قَدْ انْعَقَدَتْ أَسْبَابُهُ دَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِصَدَقَةٍ تَصَدَّقَ بِهَا الْإِنْسَانُ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ أَخْبَرَنِي بِأَنَّهُ رَكِبَ مَعَ مَجْمُوعَةِ شَبَابٍ رَكِبُوا سَيَّارَةً يَقُولُ وَقُبَيْلَ أَنْ أَرْكَبَ السَّيَّارَةَ وَجَدْتُ امْرَأَةً فَقِيرَةً كَبِيرَةً فِي السِّنِّ فَتَصَدَّقْتُ عَلَيْهَا بِعَشَرَةِ رِيَالَاتٍ يَقُولُ وَحَصَلَ لَنَا حَادِثٌ شَنِيعٌ جِدًّا وَمَنْ مَعِي مِنْهُمْ مَنْ مَاتَ وَمِنْهُمْ مَنْ أُصِيبَ بِالشَّلَلِ وَأَمَّا أَنَا فَلَمْ أُصَبْ بِأَيِّ سُوءٍ فَقُلْتُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ إِنَّ سَبَبَ ذَلِكَ هُوَ هَذِهِ الصَّدَقَةُ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ صَدَقَةٌ بِمَبْلَغٍ يَسِيرٍ دَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا عَنْهُ شَرًّا وَبَلَاءً فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ أَنْ تَحْرِصَ عَلَى الْبَذْلِ وَعَلَى الْإِكْثَارِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّكَ تَكْسِبُ بِهَا أُجُورًا عَظِيمَةً وَيَدْفَعُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْكَ بِهَا أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ

Apa Tujuan Manusia Hidup di Bumi?

Daftar Isi ToggleJalan menuju penghambaan sejatiDunia tempat ujian dan persinggahanAllah melihat hati hamba, bukan rupaMenjadikan hidup bernilaiKebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahDunia hanya perjalanan yang singkatSetiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada satu titik dalam hidupnya di mana ia berhenti sejenak, menatap ke langit, dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Untuk apa aku hidup? Apa makna semua ini?”Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu meninggal. Di antara semua fase itu, manusia sering kali berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh gelombang dunia yang penuh ambisi, keinginan, dan kelelahan yang tak berujung. Banyak yang sibuk membangun dunia, namun lupa bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang sebenarnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjawab pertanyaan besar itu jauh sebelum kita mencarinya. Dalam firman-Nya yang begitu agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Ayat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi jawaban atas hakikat eksistensi manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan kita bukan untuk sekadar hidup dan menikmati dunia. Akan tetapi, ada tujuan besar di balik semua ini, yaitu untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan tunduk kepada-Nya.Namun, betapa banyak manusia yang melupakan tujuan ini. Mereka menukar ibadah dengan kesenangan sesaat, menukar zikir dengan musik dunia, dan menukar kedekatan kepada Allah dengan kejaran terhadap makhluk yang fana.Jalan menuju penghambaan sejatiIbadah (al-‘ibadah) dalam pandangan Islam bukan sekadar sujud dan rukuk. Ia jauh lebih luas, mencakup seluruh aspek kehidupan yang diniatkan karena Allah. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat dalam,العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة“Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.” [1]Artinya, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, menuntut ilmu, menolong sesama, bahkan tersenyum kepada orang lain, semua bisa menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah.Sayangnya, banyak yang mengira ibadah hanyalah rutinitas ritual. Padahal, ibadah sejati adalah pola hidup, cara pandang yang membuat setiap detik hidup menjadi bernilai di sisi Allah. Ia adalah kesadaran penuh bahwa setiap langkah kita dilihat, dicatat, dan akan dimintai pertanggungjawaban.Dunia tempat ujian dan persinggahanKehidupan dunia bukan tempat istirahat, melainkan medan ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“(Dialah Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan soal panjangnya usia atau banyaknya karya, tetapi seberapa baik dan ikhlas amal kita. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan kalimat yang amat dalam,أَحْسَنُ عَمَلًا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ“Yang dimaksud ‘terbaik amalnya’ adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” [2]Ikhlas adalah ketika seseorang beramal hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian manusia. Benar adalah ketika amal itu sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah dua syarat diterimanya amal: ikhlas dan sesuai tuntunan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang, melainkan tempat menahan diri dan berjuang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)Seorang mukmin menahan dirinya dari hawa nafsu yang diharamkan, bukan karena tidak ingin bahagia, tetapi karena ia tahu kebahagiaan sejati menanti di akhirat. Sedangkan orang kafir, tidak memiliki harapan setelah mati, maka seluruh “surga”-nya habis di dunia ini.Allah melihat hati hamba, bukan rupaDi dunia, kemuliaan sering diukur dengan jabatan, kekayaan, dan ketenaran. Namun di sisi Allah, ukuran itu tidak berarti apa-apa tanpa ketakwaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sebuah kisah tentang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan pelajaran mendalam. Ketika para sahabat lain menertawakan betisnya yang kecil dan kurus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan pada hari kiamat daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad)Betapa indah pelajaran ini. Manusia menilai dari rupa, namun Allah menilai dari hati dan amal. Abdullah bin Mas’ud mungkin kecil di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah karena ketaatannya, qiyamullail-nya, langkah-langkahnya menuju masjid, dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu.Menjadikan hidup bernilaiHasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” [3]Kata-kata ini seperti petir bagi hati yang lalai. Setiap hari yang berlalu sejatinya adalah potongan umur yang tidak akan pernah kembali. Berapa banyak hari yang kita habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat? Berapa banyak waktu terbuang hanya untuk kesenangan sementara?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاهُ“Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, di mana ia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, di mana ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Bayangkan hari itu, ketika semua amal kita dibuka di hadapan Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi, tidak ada alasan yang bisa menipu. Hanya amal dan niat yang akan berbicara.Kebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahBanyak manusia mengira kebahagiaan ada pada harta yang melimpah, rumah megah, atau jabatan tinggi. Tetapi kenyataannya, banyak yang bergelimang harta tapi hatinya gundah, banyak yang berkuasa tapi jiwanya hampa.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Ketenangan sejati bukan datang dari luar, tetapi dari dalam dari hati yang mengenal Tuhannya. Setiap sujud, setiap zikir, setiap air mata di sepertiga malam adalah sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan dunia.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله“Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kembali kepada Allah.” [4]Dunia hanya perjalanan yang singkatHidup adalah perjalanan singkat menuju keabadian. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat menanam amal untuk dipanen di akhirat. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Maka, jangan biarkan dunia memperdaya kita. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Jadikan setiap napas sebagai bentuk ibadah, setiap langkah sebagai jalan menuju rida Allah, dan setiap kesulitan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa dengan doa yang indah,اللهمَّ أَصْلِحْ لي دِينِي الذي هو عِصْمَةُ أَمْرِي ، و أَصْلِحْ لي دُنْيايَ التي فيها مَعَاشِي ، و اجعلِ الموتَ رحمةً لي من كلِّ سوءٍ“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang menjadi penjaga urusanku. Dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat kehidupanku. Dan jadikanlah kematian sebagai rahmat bagiku dari setiap keburukan.” (Muttafaqun ‘alaihi)Semoga Allah menjadikan hidup kita penuh keberkahan, waktu kita bernilai ibadah, hati kita selalu terpaut kepada-Nya, dan akhir kehidupan kita ditutup dengan husnul khatimah.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Dua Tujuan Penciptaan Manusia, Apa Saja?***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Kitab Al-Farqu baina ‘Ibadati Ahlil Islam wal Iman wa ‘Ibadati Ahlis Syirki wan Nifaq li Ibni Taimiyah, 2: 4; melalui Maktabah Syamilah.[2] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 176.[3] Hilyatul Awliya’, 2: 148.[4] Madarij As-Salikin, 3: 156.

Apa Tujuan Manusia Hidup di Bumi?

Daftar Isi ToggleJalan menuju penghambaan sejatiDunia tempat ujian dan persinggahanAllah melihat hati hamba, bukan rupaMenjadikan hidup bernilaiKebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahDunia hanya perjalanan yang singkatSetiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada satu titik dalam hidupnya di mana ia berhenti sejenak, menatap ke langit, dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Untuk apa aku hidup? Apa makna semua ini?”Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu meninggal. Di antara semua fase itu, manusia sering kali berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh gelombang dunia yang penuh ambisi, keinginan, dan kelelahan yang tak berujung. Banyak yang sibuk membangun dunia, namun lupa bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang sebenarnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjawab pertanyaan besar itu jauh sebelum kita mencarinya. Dalam firman-Nya yang begitu agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Ayat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi jawaban atas hakikat eksistensi manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan kita bukan untuk sekadar hidup dan menikmati dunia. Akan tetapi, ada tujuan besar di balik semua ini, yaitu untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan tunduk kepada-Nya.Namun, betapa banyak manusia yang melupakan tujuan ini. Mereka menukar ibadah dengan kesenangan sesaat, menukar zikir dengan musik dunia, dan menukar kedekatan kepada Allah dengan kejaran terhadap makhluk yang fana.Jalan menuju penghambaan sejatiIbadah (al-‘ibadah) dalam pandangan Islam bukan sekadar sujud dan rukuk. Ia jauh lebih luas, mencakup seluruh aspek kehidupan yang diniatkan karena Allah. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat dalam,العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة“Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.” [1]Artinya, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, menuntut ilmu, menolong sesama, bahkan tersenyum kepada orang lain, semua bisa menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah.Sayangnya, banyak yang mengira ibadah hanyalah rutinitas ritual. Padahal, ibadah sejati adalah pola hidup, cara pandang yang membuat setiap detik hidup menjadi bernilai di sisi Allah. Ia adalah kesadaran penuh bahwa setiap langkah kita dilihat, dicatat, dan akan dimintai pertanggungjawaban.Dunia tempat ujian dan persinggahanKehidupan dunia bukan tempat istirahat, melainkan medan ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“(Dialah Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan soal panjangnya usia atau banyaknya karya, tetapi seberapa baik dan ikhlas amal kita. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan kalimat yang amat dalam,أَحْسَنُ عَمَلًا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ“Yang dimaksud ‘terbaik amalnya’ adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” [2]Ikhlas adalah ketika seseorang beramal hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian manusia. Benar adalah ketika amal itu sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah dua syarat diterimanya amal: ikhlas dan sesuai tuntunan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang, melainkan tempat menahan diri dan berjuang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)Seorang mukmin menahan dirinya dari hawa nafsu yang diharamkan, bukan karena tidak ingin bahagia, tetapi karena ia tahu kebahagiaan sejati menanti di akhirat. Sedangkan orang kafir, tidak memiliki harapan setelah mati, maka seluruh “surga”-nya habis di dunia ini.Allah melihat hati hamba, bukan rupaDi dunia, kemuliaan sering diukur dengan jabatan, kekayaan, dan ketenaran. Namun di sisi Allah, ukuran itu tidak berarti apa-apa tanpa ketakwaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sebuah kisah tentang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan pelajaran mendalam. Ketika para sahabat lain menertawakan betisnya yang kecil dan kurus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan pada hari kiamat daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad)Betapa indah pelajaran ini. Manusia menilai dari rupa, namun Allah menilai dari hati dan amal. Abdullah bin Mas’ud mungkin kecil di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah karena ketaatannya, qiyamullail-nya, langkah-langkahnya menuju masjid, dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu.Menjadikan hidup bernilaiHasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” [3]Kata-kata ini seperti petir bagi hati yang lalai. Setiap hari yang berlalu sejatinya adalah potongan umur yang tidak akan pernah kembali. Berapa banyak hari yang kita habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat? Berapa banyak waktu terbuang hanya untuk kesenangan sementara?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاهُ“Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, di mana ia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, di mana ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Bayangkan hari itu, ketika semua amal kita dibuka di hadapan Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi, tidak ada alasan yang bisa menipu. Hanya amal dan niat yang akan berbicara.Kebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahBanyak manusia mengira kebahagiaan ada pada harta yang melimpah, rumah megah, atau jabatan tinggi. Tetapi kenyataannya, banyak yang bergelimang harta tapi hatinya gundah, banyak yang berkuasa tapi jiwanya hampa.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Ketenangan sejati bukan datang dari luar, tetapi dari dalam dari hati yang mengenal Tuhannya. Setiap sujud, setiap zikir, setiap air mata di sepertiga malam adalah sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan dunia.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله“Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kembali kepada Allah.” [4]Dunia hanya perjalanan yang singkatHidup adalah perjalanan singkat menuju keabadian. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat menanam amal untuk dipanen di akhirat. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Maka, jangan biarkan dunia memperdaya kita. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Jadikan setiap napas sebagai bentuk ibadah, setiap langkah sebagai jalan menuju rida Allah, dan setiap kesulitan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa dengan doa yang indah,اللهمَّ أَصْلِحْ لي دِينِي الذي هو عِصْمَةُ أَمْرِي ، و أَصْلِحْ لي دُنْيايَ التي فيها مَعَاشِي ، و اجعلِ الموتَ رحمةً لي من كلِّ سوءٍ“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang menjadi penjaga urusanku. Dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat kehidupanku. Dan jadikanlah kematian sebagai rahmat bagiku dari setiap keburukan.” (Muttafaqun ‘alaihi)Semoga Allah menjadikan hidup kita penuh keberkahan, waktu kita bernilai ibadah, hati kita selalu terpaut kepada-Nya, dan akhir kehidupan kita ditutup dengan husnul khatimah.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Dua Tujuan Penciptaan Manusia, Apa Saja?***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Kitab Al-Farqu baina ‘Ibadati Ahlil Islam wal Iman wa ‘Ibadati Ahlis Syirki wan Nifaq li Ibni Taimiyah, 2: 4; melalui Maktabah Syamilah.[2] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 176.[3] Hilyatul Awliya’, 2: 148.[4] Madarij As-Salikin, 3: 156.
Daftar Isi ToggleJalan menuju penghambaan sejatiDunia tempat ujian dan persinggahanAllah melihat hati hamba, bukan rupaMenjadikan hidup bernilaiKebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahDunia hanya perjalanan yang singkatSetiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada satu titik dalam hidupnya di mana ia berhenti sejenak, menatap ke langit, dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Untuk apa aku hidup? Apa makna semua ini?”Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu meninggal. Di antara semua fase itu, manusia sering kali berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh gelombang dunia yang penuh ambisi, keinginan, dan kelelahan yang tak berujung. Banyak yang sibuk membangun dunia, namun lupa bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang sebenarnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjawab pertanyaan besar itu jauh sebelum kita mencarinya. Dalam firman-Nya yang begitu agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Ayat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi jawaban atas hakikat eksistensi manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan kita bukan untuk sekadar hidup dan menikmati dunia. Akan tetapi, ada tujuan besar di balik semua ini, yaitu untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan tunduk kepada-Nya.Namun, betapa banyak manusia yang melupakan tujuan ini. Mereka menukar ibadah dengan kesenangan sesaat, menukar zikir dengan musik dunia, dan menukar kedekatan kepada Allah dengan kejaran terhadap makhluk yang fana.Jalan menuju penghambaan sejatiIbadah (al-‘ibadah) dalam pandangan Islam bukan sekadar sujud dan rukuk. Ia jauh lebih luas, mencakup seluruh aspek kehidupan yang diniatkan karena Allah. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat dalam,العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة“Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.” [1]Artinya, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, menuntut ilmu, menolong sesama, bahkan tersenyum kepada orang lain, semua bisa menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah.Sayangnya, banyak yang mengira ibadah hanyalah rutinitas ritual. Padahal, ibadah sejati adalah pola hidup, cara pandang yang membuat setiap detik hidup menjadi bernilai di sisi Allah. Ia adalah kesadaran penuh bahwa setiap langkah kita dilihat, dicatat, dan akan dimintai pertanggungjawaban.Dunia tempat ujian dan persinggahanKehidupan dunia bukan tempat istirahat, melainkan medan ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“(Dialah Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan soal panjangnya usia atau banyaknya karya, tetapi seberapa baik dan ikhlas amal kita. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan kalimat yang amat dalam,أَحْسَنُ عَمَلًا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ“Yang dimaksud ‘terbaik amalnya’ adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” [2]Ikhlas adalah ketika seseorang beramal hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian manusia. Benar adalah ketika amal itu sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah dua syarat diterimanya amal: ikhlas dan sesuai tuntunan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang, melainkan tempat menahan diri dan berjuang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)Seorang mukmin menahan dirinya dari hawa nafsu yang diharamkan, bukan karena tidak ingin bahagia, tetapi karena ia tahu kebahagiaan sejati menanti di akhirat. Sedangkan orang kafir, tidak memiliki harapan setelah mati, maka seluruh “surga”-nya habis di dunia ini.Allah melihat hati hamba, bukan rupaDi dunia, kemuliaan sering diukur dengan jabatan, kekayaan, dan ketenaran. Namun di sisi Allah, ukuran itu tidak berarti apa-apa tanpa ketakwaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sebuah kisah tentang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan pelajaran mendalam. Ketika para sahabat lain menertawakan betisnya yang kecil dan kurus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan pada hari kiamat daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad)Betapa indah pelajaran ini. Manusia menilai dari rupa, namun Allah menilai dari hati dan amal. Abdullah bin Mas’ud mungkin kecil di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah karena ketaatannya, qiyamullail-nya, langkah-langkahnya menuju masjid, dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu.Menjadikan hidup bernilaiHasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” [3]Kata-kata ini seperti petir bagi hati yang lalai. Setiap hari yang berlalu sejatinya adalah potongan umur yang tidak akan pernah kembali. Berapa banyak hari yang kita habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat? Berapa banyak waktu terbuang hanya untuk kesenangan sementara?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاهُ“Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, di mana ia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, di mana ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Bayangkan hari itu, ketika semua amal kita dibuka di hadapan Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi, tidak ada alasan yang bisa menipu. Hanya amal dan niat yang akan berbicara.Kebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahBanyak manusia mengira kebahagiaan ada pada harta yang melimpah, rumah megah, atau jabatan tinggi. Tetapi kenyataannya, banyak yang bergelimang harta tapi hatinya gundah, banyak yang berkuasa tapi jiwanya hampa.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Ketenangan sejati bukan datang dari luar, tetapi dari dalam dari hati yang mengenal Tuhannya. Setiap sujud, setiap zikir, setiap air mata di sepertiga malam adalah sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan dunia.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله“Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kembali kepada Allah.” [4]Dunia hanya perjalanan yang singkatHidup adalah perjalanan singkat menuju keabadian. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat menanam amal untuk dipanen di akhirat. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Maka, jangan biarkan dunia memperdaya kita. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Jadikan setiap napas sebagai bentuk ibadah, setiap langkah sebagai jalan menuju rida Allah, dan setiap kesulitan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa dengan doa yang indah,اللهمَّ أَصْلِحْ لي دِينِي الذي هو عِصْمَةُ أَمْرِي ، و أَصْلِحْ لي دُنْيايَ التي فيها مَعَاشِي ، و اجعلِ الموتَ رحمةً لي من كلِّ سوءٍ“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang menjadi penjaga urusanku. Dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat kehidupanku. Dan jadikanlah kematian sebagai rahmat bagiku dari setiap keburukan.” (Muttafaqun ‘alaihi)Semoga Allah menjadikan hidup kita penuh keberkahan, waktu kita bernilai ibadah, hati kita selalu terpaut kepada-Nya, dan akhir kehidupan kita ditutup dengan husnul khatimah.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Dua Tujuan Penciptaan Manusia, Apa Saja?***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Kitab Al-Farqu baina ‘Ibadati Ahlil Islam wal Iman wa ‘Ibadati Ahlis Syirki wan Nifaq li Ibni Taimiyah, 2: 4; melalui Maktabah Syamilah.[2] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 176.[3] Hilyatul Awliya’, 2: 148.[4] Madarij As-Salikin, 3: 156.


Daftar Isi ToggleJalan menuju penghambaan sejatiDunia tempat ujian dan persinggahanAllah melihat hati hamba, bukan rupaMenjadikan hidup bernilaiKebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahDunia hanya perjalanan yang singkatSetiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada satu titik dalam hidupnya di mana ia berhenti sejenak, menatap ke langit, dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Untuk apa aku hidup? Apa makna semua ini?”Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu meninggal. Di antara semua fase itu, manusia sering kali berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh gelombang dunia yang penuh ambisi, keinginan, dan kelelahan yang tak berujung. Banyak yang sibuk membangun dunia, namun lupa bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang sebenarnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjawab pertanyaan besar itu jauh sebelum kita mencarinya. Dalam firman-Nya yang begitu agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Ayat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi jawaban atas hakikat eksistensi manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan kita bukan untuk sekadar hidup dan menikmati dunia. Akan tetapi, ada tujuan besar di balik semua ini, yaitu untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan tunduk kepada-Nya.Namun, betapa banyak manusia yang melupakan tujuan ini. Mereka menukar ibadah dengan kesenangan sesaat, menukar zikir dengan musik dunia, dan menukar kedekatan kepada Allah dengan kejaran terhadap makhluk yang fana.Jalan menuju penghambaan sejatiIbadah (al-‘ibadah) dalam pandangan Islam bukan sekadar sujud dan rukuk. Ia jauh lebih luas, mencakup seluruh aspek kehidupan yang diniatkan karena Allah. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat dalam,العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة“Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.” [1]Artinya, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, menuntut ilmu, menolong sesama, bahkan tersenyum kepada orang lain, semua bisa menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah.Sayangnya, banyak yang mengira ibadah hanyalah rutinitas ritual. Padahal, ibadah sejati adalah pola hidup, cara pandang yang membuat setiap detik hidup menjadi bernilai di sisi Allah. Ia adalah kesadaran penuh bahwa setiap langkah kita dilihat, dicatat, dan akan dimintai pertanggungjawaban.Dunia tempat ujian dan persinggahanKehidupan dunia bukan tempat istirahat, melainkan medan ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“(Dialah Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan soal panjangnya usia atau banyaknya karya, tetapi seberapa baik dan ikhlas amal kita. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan kalimat yang amat dalam,أَحْسَنُ عَمَلًا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ“Yang dimaksud ‘terbaik amalnya’ adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” [2]Ikhlas adalah ketika seseorang beramal hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian manusia. Benar adalah ketika amal itu sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah dua syarat diterimanya amal: ikhlas dan sesuai tuntunan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang, melainkan tempat menahan diri dan berjuang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)Seorang mukmin menahan dirinya dari hawa nafsu yang diharamkan, bukan karena tidak ingin bahagia, tetapi karena ia tahu kebahagiaan sejati menanti di akhirat. Sedangkan orang kafir, tidak memiliki harapan setelah mati, maka seluruh “surga”-nya habis di dunia ini.Allah melihat hati hamba, bukan rupaDi dunia, kemuliaan sering diukur dengan jabatan, kekayaan, dan ketenaran. Namun di sisi Allah, ukuran itu tidak berarti apa-apa tanpa ketakwaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Sebuah kisah tentang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan pelajaran mendalam. Ketika para sahabat lain menertawakan betisnya yang kecil dan kurus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan pada hari kiamat daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad)Betapa indah pelajaran ini. Manusia menilai dari rupa, namun Allah menilai dari hati dan amal. Abdullah bin Mas’ud mungkin kecil di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah karena ketaatannya, qiyamullail-nya, langkah-langkahnya menuju masjid, dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu.Menjadikan hidup bernilaiHasan Al-Bashri rahimahullah berkata,يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” [3]Kata-kata ini seperti petir bagi hati yang lalai. Setiap hari yang berlalu sejatinya adalah potongan umur yang tidak akan pernah kembali. Berapa banyak hari yang kita habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat? Berapa banyak waktu terbuang hanya untuk kesenangan sementara?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاهُ“Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, di mana ia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, di mana ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)Bayangkan hari itu, ketika semua amal kita dibuka di hadapan Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi, tidak ada alasan yang bisa menipu. Hanya amal dan niat yang akan berbicara.Kebahagiaan sejati adalah dekat dengan AllahBanyak manusia mengira kebahagiaan ada pada harta yang melimpah, rumah megah, atau jabatan tinggi. Tetapi kenyataannya, banyak yang bergelimang harta tapi hatinya gundah, banyak yang berkuasa tapi jiwanya hampa.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Ketenangan sejati bukan datang dari luar, tetapi dari dalam dari hati yang mengenal Tuhannya. Setiap sujud, setiap zikir, setiap air mata di sepertiga malam adalah sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan dunia.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله“Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan kembali kepada Allah.” [4]Dunia hanya perjalanan yang singkatHidup adalah perjalanan singkat menuju keabadian. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat menanam amal untuk dipanen di akhirat. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Maka, jangan biarkan dunia memperdaya kita. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Jadikan setiap napas sebagai bentuk ibadah, setiap langkah sebagai jalan menuju rida Allah, dan setiap kesulitan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya.Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa dengan doa yang indah,اللهمَّ أَصْلِحْ لي دِينِي الذي هو عِصْمَةُ أَمْرِي ، و أَصْلِحْ لي دُنْيايَ التي فيها مَعَاشِي ، و اجعلِ الموتَ رحمةً لي من كلِّ سوءٍ“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang menjadi penjaga urusanku. Dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat kehidupanku. Dan jadikanlah kematian sebagai rahmat bagiku dari setiap keburukan.” (Muttafaqun ‘alaihi)Semoga Allah menjadikan hidup kita penuh keberkahan, waktu kita bernilai ibadah, hati kita selalu terpaut kepada-Nya, dan akhir kehidupan kita ditutup dengan husnul khatimah.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Dua Tujuan Penciptaan Manusia, Apa Saja?***Penulis: Gazzetta Raka Putra SetyawanArtikel Muslimah.or.id Catatan kaki:[1] Syarh Kitab Al-Farqu baina ‘Ibadati Ahlil Islam wal Iman wa ‘Ibadati Ahlis Syirki wan Nifaq li Ibni Taimiyah, 2: 4; melalui Maktabah Syamilah.[2] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 176.[3] Hilyatul Awliya’, 2: 148.[4] Madarij As-Salikin, 3: 156.

Kenapa Shalat Tanpa Wudhu Harus Diulang, Tapi Shalat dengan Najis Tidak? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ

Kenapa Shalat Tanpa Wudhu Harus Diulang, Tapi Shalat dengan Najis Tidak? – Syaikh Sa’ad Al-Khotslan

Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ
Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ


Mu’adz berkata—berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan—bahwa dari dirinya keluar cairan madzi. Namun cairan itu menempel pada pakaiannya hingga keesokan harinya, dan ia pun shalat dengan pakaian tersebut. Bagaimana hukum shalatnya? Shalatnya tetap sah. Sebab, orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badan atau pakaiannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahui keberadaannya, dan ia baru mengetahui atau teringat setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah. Dalilnya adalah hadis riwayat Abu Said dalam kisah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama para Sahabat. Di tengah-tengah shalat, beliau melepaskan kedua sandalnya. Setelah shalat selesai, beliau bersabda, “Jibril memberitahuku bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan shalat beliau, tapi hanya melepas sandalnya dan melanjutkan shalat. Padahal pada awal shalat yang beliau kerjakan, terdapat najis di sandal beliau. Ini menunjukkan bahwa adanya najis apabila seseorang tidak mengetahui keberadaannya, atau lupa keberadaannya, itu tidak mempengaruhi sahnya shalat. Perkara ini berbeda dengan orang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu karena lupa. Dalam kasus ini, orang itu harus mengulangi shalatnya. Adapun jika seseorang melaksanakan shalat, sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Perbedaan antara dua kasus ini adalah bahwa bersuci (sebelum shalat) termasuk dalam kategori melaksanakan perintah. Setiap perkara yang termasuk melaksanakan perintah, tidak gugur tanggung jawabnya karena ketidaktahuan maupun kelupaan. Adapun menghindari najis termasuk dalam kategori tidak melakukan hal yang terlarang. Setiap perkara yang termasuk pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan atau kelupaan. Kaidah ini berlaku dalam seluruh bab ibadah. Barang siapa melaksanakan shalat tanpa wudhu karena lupa, maka kami katakan, “Berwudhulah dan ulangi shalatmu!” Sedangkan orang yang melaksanakan shalat, sementara pada badannya terdapat najis, karena lupa atau tidak mengetahuinya, maka kami katakan, “Shalatmu sah.” Sebab, yang pertama termasuk meninggalkan perintah, sedangkan yang kedua termasuk melakukan larangan. Pada perkara pelanggaran larangan, seseorang diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Kaidah ini berlaku pada seluruh ibadah, tidak terbatas pada shalat saja. Sebagai contoh dalam puasa, apabila seseorang berpuasa tanpa berniat sejak malam hari, karena tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan atau sebab lainnya, maka ia diperintahkan untuk mengqadha (mengganti) puasanya, meskipun ia dalam keadaan tidak mengetahui atau lupa. Sebaliknya, apabila seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Demikian pula dalam ibadah haji. Apabila seorang laki-laki menutup kepalanya ketika berihram karena lupa, atau memakai wewangian karena lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka tidak ada kewajiban apa pun atas dirinya. Namun apabila ia meninggalkan lempar jumrah, meskipun karena tidak mengetahui hukumnya, maka ia wajib membayar dam. Dengan demikian, ini merupakan kaidah yang berlaku secara konsisten di kalangan para ulama, bahwa setiap perkara yang termasuk meninggalkan perintah, tidak diberi uzur karena ketidaktahuan maupun kelupaan, sedangkan perkara yang termasuk melakukan larangan, diberi uzur karena ketidaktahuan dan kelupaan. Berdasarkan kaidah ini, kami katakan kepada saudara penanya, shalat Anda sah dan tidak ada kewajiban apa pun atas Anda. ===== قَالَ مُعَاذٌ حَسَبَ مَا ذَكَرَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهُ مَذِيٌّ لَكِنَّهُ بَقِيَ عَلَى مَلَابِسِهِ إِلَى الْيَوْمِ الثَّانِي وَصَلَّى بِهِ فَمَا حُكْمُ ذَلِكَ؟ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ مَنْ صَلَّى وَعَلَى بَدَنِهِ أَوْ عَلَى لِبَاسِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا لَهَا أَوْ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَتَذَكَّرْ إِلَّا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ وَيَدُلُّ لِذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا صَلَّى بِأَصْحَابِهِ وَفِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي بِأَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا وَلَمْ يَقْطَعِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَلَاتَهُ وَإِنَّمَا خَلَعَ نَعْلَيْهِ وَأَكْمَلَ مَعَ أَنَّ أَوَّلَ صَلَاتِهِ قَدْ صَلَّى وَفِي نَعْلَيْهِ الْقَذَرُ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ وُجُودَ النَّجَاسَةِ إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِوُجُودِهَا أَوْ نَاسِيًا لَهَا أَنَّ هَذَا لَا يَضُرُّ وَهَذَا يَخْتَلِفُ عَنْ مَنْ صَلَّى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ نَاسِيًا فَهُنَا نَأْمُرُهُ بِالْإِعَادَةِ أَمَّا إِذَا صَلَّى وَعَلَى لِبَاسِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ أَنَّ الطَّهَارَةَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ بَيْنَمَا اجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ مِنْ بَابِ يَعْنِي عَدَمَ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ فَهَذَا يُعْذَرُ فِيهِ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي أَبْوَابِ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِ الْوُضُوءِ نَاسِيًا نَقُولُ أَعِدْ تَوَضَّأْ وَصَلِّ صَلَّى وَعَلَيْهِ نَجَاسَةٌ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ لِأَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ وَهَذَا مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ مَا كَانَ مِنْ بَابِ تَرْكِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ هَذَا فِي الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا لَيْسَ فَقَطْ الصَّلَاةِ يَعْنِي مَثَلًا فِي الصِّيَامِ لَوْ أَنَّهُ صَامَ وَلَمْ يُبَيِّتِ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَعْلَمْ بِدُخُولِ رَمَضَانَ مَثَلًا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فَنَأْمُرُهُ بِالْقَضَاءِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَاسِيًا بَيْنَمَا لَوْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا صَوْمُهُ صَحِيحٌ هَكَذَا أَيْضًا فِي الْحَجِّ لَوْ غَطَّى رَأْسَهُ نَاسِيًا إِذَا كَانَ رَجُلًا أَثْنَاءَ الْإِحْرَامِ أَوْ تَطَيَّبَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا نَقُولُ لَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ لَكِنْ لَوْ أَنَّهُ مَثَلًا تَرَكَ رَمْيَ الْجِمَارِ حَتَّى وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا فَنَقُولُ عَلَيْكَ دَمٌ فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَا كَانَ مِنْ بَابِ فِعْلِ الْمَأْمُورِ لَا يُعْذَرُ فِيهِ الْمُسْلِمُ بِالْجَهْلِ وَلَا بِالنِّسْيَانِ وَمَا كَانَ مِنْ بَابِ ارْتِكَابِ الْمَحْظُورِ يُعْذَرُ فِيهِ بِالْجَهْلِ وَالنِّسْيَانِ وَبِنَاءً عَلَى هَذَا نَقُولُ الْأَخُ السَّائِلُ الْكَرِيمُ صَلَاتُكَ صَحِيحَةٌ وَلَا شَيْءَ عَلَيْكَ
Prev     Next