Mengasah Mata Hati

Hati mana yang tak bersedih, saat orang yang sangat disayangi menderita sakit parah. Ayah, ibu, suami, istri, anak atau yang lainnya.Bersedih adalah sesuatu yang manusiawi. Namun benteng keimanan akan menghalangi tumpulnya mata hati akibat kesedihan berlebih.Mukmin sejati tetap bisa berfikir jernih, walau dirundung kesedihan.Saat ujian datang menerpa, dia tetap bisa merasakan kemahabijaksanaan Allah ta’ala. Dia yakin betul bahwa sepahit apapun takdir yang menimpanya, Allah lah yang menetapkannya. Tidak ada takdir Allah yang kosong dari hikmah. Sebab Dialah al-Hakim; Yang Maha Bijaksana.Mukmin hakiki berusaha menggali hikmah di balik musibah. Entah itu hikmah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.Tidak sedikit orang yang bisa menikmati khusyu’nya munajat, justru saat ditimpa musibah. Meresapi indahnya kandungan redaksi doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits. Merasakan kerdilnya kemampuan manusia dan kebutuhan mutlak kepada pertolongan Allah.Berbagai hikmah ukhrawi tadi, lebih mahal dari dunia seisinya.Padahal, selain hikmah ukhrawi, masih ada hikmah duniawi di balik musibah.Dalam kasus sakitnya keluarga tercinta misalnya. Kita bisa mengoreksi gaya hidup selama ini. Pola makan yang kurang sehat. Minimnya olahraga. Kebersihan tempat tinggal.Pendek kata, seberat apapun ujian, jangan pernah melupakan kemahabijaksanaan Allah.Dengan demikian, insyaAllah keimanan tetap terjaga, bahkan akan naik kelas!Kota Gudeg, 9 Muharram 1440 HAbdullah Zaen============ https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Antara Simpati dan SituasiNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mengasah Mata Hati

Hati mana yang tak bersedih, saat orang yang sangat disayangi menderita sakit parah. Ayah, ibu, suami, istri, anak atau yang lainnya.Bersedih adalah sesuatu yang manusiawi. Namun benteng keimanan akan menghalangi tumpulnya mata hati akibat kesedihan berlebih.Mukmin sejati tetap bisa berfikir jernih, walau dirundung kesedihan.Saat ujian datang menerpa, dia tetap bisa merasakan kemahabijaksanaan Allah ta’ala. Dia yakin betul bahwa sepahit apapun takdir yang menimpanya, Allah lah yang menetapkannya. Tidak ada takdir Allah yang kosong dari hikmah. Sebab Dialah al-Hakim; Yang Maha Bijaksana.Mukmin hakiki berusaha menggali hikmah di balik musibah. Entah itu hikmah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.Tidak sedikit orang yang bisa menikmati khusyu’nya munajat, justru saat ditimpa musibah. Meresapi indahnya kandungan redaksi doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits. Merasakan kerdilnya kemampuan manusia dan kebutuhan mutlak kepada pertolongan Allah.Berbagai hikmah ukhrawi tadi, lebih mahal dari dunia seisinya.Padahal, selain hikmah ukhrawi, masih ada hikmah duniawi di balik musibah.Dalam kasus sakitnya keluarga tercinta misalnya. Kita bisa mengoreksi gaya hidup selama ini. Pola makan yang kurang sehat. Minimnya olahraga. Kebersihan tempat tinggal.Pendek kata, seberat apapun ujian, jangan pernah melupakan kemahabijaksanaan Allah.Dengan demikian, insyaAllah keimanan tetap terjaga, bahkan akan naik kelas!Kota Gudeg, 9 Muharram 1440 HAbdullah Zaen============ https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Antara Simpati dan SituasiNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Hati mana yang tak bersedih, saat orang yang sangat disayangi menderita sakit parah. Ayah, ibu, suami, istri, anak atau yang lainnya.Bersedih adalah sesuatu yang manusiawi. Namun benteng keimanan akan menghalangi tumpulnya mata hati akibat kesedihan berlebih.Mukmin sejati tetap bisa berfikir jernih, walau dirundung kesedihan.Saat ujian datang menerpa, dia tetap bisa merasakan kemahabijaksanaan Allah ta’ala. Dia yakin betul bahwa sepahit apapun takdir yang menimpanya, Allah lah yang menetapkannya. Tidak ada takdir Allah yang kosong dari hikmah. Sebab Dialah al-Hakim; Yang Maha Bijaksana.Mukmin hakiki berusaha menggali hikmah di balik musibah. Entah itu hikmah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.Tidak sedikit orang yang bisa menikmati khusyu’nya munajat, justru saat ditimpa musibah. Meresapi indahnya kandungan redaksi doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits. Merasakan kerdilnya kemampuan manusia dan kebutuhan mutlak kepada pertolongan Allah.Berbagai hikmah ukhrawi tadi, lebih mahal dari dunia seisinya.Padahal, selain hikmah ukhrawi, masih ada hikmah duniawi di balik musibah.Dalam kasus sakitnya keluarga tercinta misalnya. Kita bisa mengoreksi gaya hidup selama ini. Pola makan yang kurang sehat. Minimnya olahraga. Kebersihan tempat tinggal.Pendek kata, seberat apapun ujian, jangan pernah melupakan kemahabijaksanaan Allah.Dengan demikian, insyaAllah keimanan tetap terjaga, bahkan akan naik kelas!Kota Gudeg, 9 Muharram 1440 HAbdullah Zaen============ https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Antara Simpati dan SituasiNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Hati mana yang tak bersedih, saat orang yang sangat disayangi menderita sakit parah. Ayah, ibu, suami, istri, anak atau yang lainnya.Bersedih adalah sesuatu yang manusiawi. Namun benteng keimanan akan menghalangi tumpulnya mata hati akibat kesedihan berlebih.Mukmin sejati tetap bisa berfikir jernih, walau dirundung kesedihan.Saat ujian datang menerpa, dia tetap bisa merasakan kemahabijaksanaan Allah ta’ala. Dia yakin betul bahwa sepahit apapun takdir yang menimpanya, Allah lah yang menetapkannya. Tidak ada takdir Allah yang kosong dari hikmah. Sebab Dialah al-Hakim; Yang Maha Bijaksana.Mukmin hakiki berusaha menggali hikmah di balik musibah. Entah itu hikmah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.Tidak sedikit orang yang bisa menikmati khusyu’nya munajat, justru saat ditimpa musibah. Meresapi indahnya kandungan redaksi doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits. Merasakan kerdilnya kemampuan manusia dan kebutuhan mutlak kepada pertolongan Allah.Berbagai hikmah ukhrawi tadi, lebih mahal dari dunia seisinya.Padahal, selain hikmah ukhrawi, masih ada hikmah duniawi di balik musibah.Dalam kasus sakitnya keluarga tercinta misalnya. Kita bisa mengoreksi gaya hidup selama ini. Pola makan yang kurang sehat. Minimnya olahraga. Kebersihan tempat tinggal.Pendek kata, seberat apapun ujian, jangan pernah melupakan kemahabijaksanaan Allah.Dengan demikian, insyaAllah keimanan tetap terjaga, bahkan akan naik kelas!Kota Gudeg, 9 Muharram 1440 HAbdullah Zaen============ https://t.me/ustadzabdullahzaen Post navigation Previous Antara Simpati dan SituasiNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa

Di antara faktor yang menyebabkan terkabulnya doa adalah bertaubat sebelum berdoa. Mengakui kekurangan diri dan menyesali berbagai dosa yang pernah dikerjakan. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,“ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ ““Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Dahulu para nabi dan rasul ‘alahimussalam tidak pernah bosan mengajak ummat mereka untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Sembari menjelaskan buah manis taubat berupa terkabulnya doa, turunnya hujan dan berbagai berkah kebaikan lainnya.Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,“وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang deras atasmu, juga memberikan kekuatan yang berlipat-lipat. Janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa”. QS. Hud (11): 52. Bahkan Nabi Yunus ‘alaihissalam sendiri mempraktekkan adab tersebut, saat beliau dimakan ikan paus. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)“Artinya: “(Ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah. Ia mengira bahwa Kami tidak bisa menekannya. Akhirnya iapun berdoa dalam kegelapan yang sangat (yakni di dalam perut ikan, di dasar lautan dan di malam hari), “Lâ ilâha illâ Anta, subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang bersalah)”. Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari musibah. Demikianlah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiya’ (21): 87-88.Maka jangan heran bila konon dahulu Ummar bin Khatthab pernah memohon hujan kepada Allah. Namun sejak keluar rumah hingga pulang kembali, tidak ada doa yang dibacanya melainkan hanya istighfar. Ternyata Allah turunkan hujan. Masyarakat bertanya kepada beliau, “Barusan engkau tidak kami dengar berdoa meminta hujan?”.Beliau menjawab, “Aku sudah minta hujan dengan melakukan hal yang bisa mendatangkan hujan (yakni membaca istighfar)”. Lalu beliau menukil firman Allah ta’ala, “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit “. QS. Nuh (71): 10-12.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumadal Ula 1439 / 29 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh AllahNext Update Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Februari 2018 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa

Di antara faktor yang menyebabkan terkabulnya doa adalah bertaubat sebelum berdoa. Mengakui kekurangan diri dan menyesali berbagai dosa yang pernah dikerjakan. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,“ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ ““Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Dahulu para nabi dan rasul ‘alahimussalam tidak pernah bosan mengajak ummat mereka untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Sembari menjelaskan buah manis taubat berupa terkabulnya doa, turunnya hujan dan berbagai berkah kebaikan lainnya.Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,“وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang deras atasmu, juga memberikan kekuatan yang berlipat-lipat. Janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa”. QS. Hud (11): 52. Bahkan Nabi Yunus ‘alaihissalam sendiri mempraktekkan adab tersebut, saat beliau dimakan ikan paus. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)“Artinya: “(Ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah. Ia mengira bahwa Kami tidak bisa menekannya. Akhirnya iapun berdoa dalam kegelapan yang sangat (yakni di dalam perut ikan, di dasar lautan dan di malam hari), “Lâ ilâha illâ Anta, subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang bersalah)”. Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari musibah. Demikianlah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiya’ (21): 87-88.Maka jangan heran bila konon dahulu Ummar bin Khatthab pernah memohon hujan kepada Allah. Namun sejak keluar rumah hingga pulang kembali, tidak ada doa yang dibacanya melainkan hanya istighfar. Ternyata Allah turunkan hujan. Masyarakat bertanya kepada beliau, “Barusan engkau tidak kami dengar berdoa meminta hujan?”.Beliau menjawab, “Aku sudah minta hujan dengan melakukan hal yang bisa mendatangkan hujan (yakni membaca istighfar)”. Lalu beliau menukil firman Allah ta’ala, “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit “. QS. Nuh (71): 10-12.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumadal Ula 1439 / 29 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh AllahNext Update Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Februari 2018 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara faktor yang menyebabkan terkabulnya doa adalah bertaubat sebelum berdoa. Mengakui kekurangan diri dan menyesali berbagai dosa yang pernah dikerjakan. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,“ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ ““Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Dahulu para nabi dan rasul ‘alahimussalam tidak pernah bosan mengajak ummat mereka untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Sembari menjelaskan buah manis taubat berupa terkabulnya doa, turunnya hujan dan berbagai berkah kebaikan lainnya.Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,“وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang deras atasmu, juga memberikan kekuatan yang berlipat-lipat. Janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa”. QS. Hud (11): 52. Bahkan Nabi Yunus ‘alaihissalam sendiri mempraktekkan adab tersebut, saat beliau dimakan ikan paus. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)“Artinya: “(Ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah. Ia mengira bahwa Kami tidak bisa menekannya. Akhirnya iapun berdoa dalam kegelapan yang sangat (yakni di dalam perut ikan, di dasar lautan dan di malam hari), “Lâ ilâha illâ Anta, subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang bersalah)”. Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari musibah. Demikianlah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiya’ (21): 87-88.Maka jangan heran bila konon dahulu Ummar bin Khatthab pernah memohon hujan kepada Allah. Namun sejak keluar rumah hingga pulang kembali, tidak ada doa yang dibacanya melainkan hanya istighfar. Ternyata Allah turunkan hujan. Masyarakat bertanya kepada beliau, “Barusan engkau tidak kami dengar berdoa meminta hujan?”.Beliau menjawab, “Aku sudah minta hujan dengan melakukan hal yang bisa mendatangkan hujan (yakni membaca istighfar)”. Lalu beliau menukil firman Allah ta’ala, “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit “. QS. Nuh (71): 10-12.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumadal Ula 1439 / 29 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh AllahNext Update Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Februari 2018 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara faktor yang menyebabkan terkabulnya doa adalah bertaubat sebelum berdoa. Mengakui kekurangan diri dan menyesali berbagai dosa yang pernah dikerjakan. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,“ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ ““Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Dahulu para nabi dan rasul ‘alahimussalam tidak pernah bosan mengajak ummat mereka untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Sembari menjelaskan buah manis taubat berupa terkabulnya doa, turunnya hujan dan berbagai berkah kebaikan lainnya.Nabi Hud ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,“وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang deras atasmu, juga memberikan kekuatan yang berlipat-lipat. Janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa”. QS. Hud (11): 52. Bahkan Nabi Yunus ‘alaihissalam sendiri mempraktekkan adab tersebut, saat beliau dimakan ikan paus. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)“Artinya: “(Ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah. Ia mengira bahwa Kami tidak bisa menekannya. Akhirnya iapun berdoa dalam kegelapan yang sangat (yakni di dalam perut ikan, di dasar lautan dan di malam hari), “Lâ ilâha illâ Anta, subhânaka innî kuntu minazh zhôlimîn (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang bersalah)”. Maka Kami pun mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari musibah. Demikianlah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiya’ (21): 87-88.Maka jangan heran bila konon dahulu Ummar bin Khatthab pernah memohon hujan kepada Allah. Namun sejak keluar rumah hingga pulang kembali, tidak ada doa yang dibacanya melainkan hanya istighfar. Ternyata Allah turunkan hujan. Masyarakat bertanya kepada beliau, “Barusan engkau tidak kami dengar berdoa meminta hujan?”.Beliau menjawab, “Aku sudah minta hujan dengan melakukan hal yang bisa mendatangkan hujan (yakni membaca istighfar)”. Lalu beliau menukil firman Allah ta’ala, “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit “. QS. Nuh (71): 10-12.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumadal Ula 1439 / 29 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh AllahNext Update Pembangunan Masjid Menara Ilmu – Februari 2018 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah

Salah satu hal mulia yang perlu kita hadirkan dalam hati saat berdoa, adalah perasaan butuh terhadap Allah ta’ala. Sebab seluruh makhluk tidak mungkin terlepas dari kebutuhan kepada-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Dialah yang menciptakan mereka. Dialah yang mengatur mereka. Dialah yang memberi rizki pada mereka. Dialah yang menyembuhkan mereka. Dialah yang menghidupkan dan mematikan mereka.Apa yang dikehendaki Allah, pasti terjadi. Sebaliknya, apapun yang tidak dikehendaki-Nya, pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan dan takdir-Nya.“مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“.Artinya: “Apapun rahmat Allah yang Dia anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya. Dan apapun yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana”. QS. Fâthir (35): 2.Seluruh makhluk membutuhkan Allah. Makhluk masih bisa terus hidup, itu karena karunia Allah. Anggota badan mereka begitu kuat untuk menjalani aktivitas, itu karena pemberian Allah. Mereka bisa mendapatkan makanan, rizki, nikmat lahir dan batin, itu karena kebaikan yang Allah beri. Bahkan mereka bisa selamat dari berbagai musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itupun juga karena Allah yang menghilangkannya. Allah-lah yang memberikan mereka petunjuk mengenai berbagai hal sehingga mereka bisa selamat.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“.Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekalipun. Allah asli tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah sampaikan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maksudnya Allah-lah satu-satu-Nya Yang Maha Kaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji dalam apapun yang Dia perbuat dan katakan, juga dalam apa yang Dia takdirkan dan syariatkan”.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,“يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ، إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ، إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ““Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Kuberi hidayah. Maka mintalah hidayah pada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi hidayah. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan kelaparan, kecuali bila Kuberi makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi makan. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan telanjang, kecuali bila Kuberi pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi pakaian. Wahai para hamba-Ku, sungguh kalian berbuat dosa malam dan siang. Sedangkan Aku akan mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi ampunan”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Awwal 1439 / 18 Desember 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah

Salah satu hal mulia yang perlu kita hadirkan dalam hati saat berdoa, adalah perasaan butuh terhadap Allah ta’ala. Sebab seluruh makhluk tidak mungkin terlepas dari kebutuhan kepada-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Dialah yang menciptakan mereka. Dialah yang mengatur mereka. Dialah yang memberi rizki pada mereka. Dialah yang menyembuhkan mereka. Dialah yang menghidupkan dan mematikan mereka.Apa yang dikehendaki Allah, pasti terjadi. Sebaliknya, apapun yang tidak dikehendaki-Nya, pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan dan takdir-Nya.“مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“.Artinya: “Apapun rahmat Allah yang Dia anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya. Dan apapun yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana”. QS. Fâthir (35): 2.Seluruh makhluk membutuhkan Allah. Makhluk masih bisa terus hidup, itu karena karunia Allah. Anggota badan mereka begitu kuat untuk menjalani aktivitas, itu karena pemberian Allah. Mereka bisa mendapatkan makanan, rizki, nikmat lahir dan batin, itu karena kebaikan yang Allah beri. Bahkan mereka bisa selamat dari berbagai musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itupun juga karena Allah yang menghilangkannya. Allah-lah yang memberikan mereka petunjuk mengenai berbagai hal sehingga mereka bisa selamat.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“.Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekalipun. Allah asli tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah sampaikan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maksudnya Allah-lah satu-satu-Nya Yang Maha Kaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji dalam apapun yang Dia perbuat dan katakan, juga dalam apa yang Dia takdirkan dan syariatkan”.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,“يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ، إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ، إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ““Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Kuberi hidayah. Maka mintalah hidayah pada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi hidayah. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan kelaparan, kecuali bila Kuberi makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi makan. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan telanjang, kecuali bila Kuberi pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi pakaian. Wahai para hamba-Ku, sungguh kalian berbuat dosa malam dan siang. Sedangkan Aku akan mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi ampunan”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Awwal 1439 / 18 Desember 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Salah satu hal mulia yang perlu kita hadirkan dalam hati saat berdoa, adalah perasaan butuh terhadap Allah ta’ala. Sebab seluruh makhluk tidak mungkin terlepas dari kebutuhan kepada-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Dialah yang menciptakan mereka. Dialah yang mengatur mereka. Dialah yang memberi rizki pada mereka. Dialah yang menyembuhkan mereka. Dialah yang menghidupkan dan mematikan mereka.Apa yang dikehendaki Allah, pasti terjadi. Sebaliknya, apapun yang tidak dikehendaki-Nya, pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan dan takdir-Nya.“مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“.Artinya: “Apapun rahmat Allah yang Dia anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya. Dan apapun yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana”. QS. Fâthir (35): 2.Seluruh makhluk membutuhkan Allah. Makhluk masih bisa terus hidup, itu karena karunia Allah. Anggota badan mereka begitu kuat untuk menjalani aktivitas, itu karena pemberian Allah. Mereka bisa mendapatkan makanan, rizki, nikmat lahir dan batin, itu karena kebaikan yang Allah beri. Bahkan mereka bisa selamat dari berbagai musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itupun juga karena Allah yang menghilangkannya. Allah-lah yang memberikan mereka petunjuk mengenai berbagai hal sehingga mereka bisa selamat.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“.Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekalipun. Allah asli tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah sampaikan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maksudnya Allah-lah satu-satu-Nya Yang Maha Kaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji dalam apapun yang Dia perbuat dan katakan, juga dalam apa yang Dia takdirkan dan syariatkan”.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,“يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ، إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ، إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ““Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Kuberi hidayah. Maka mintalah hidayah pada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi hidayah. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan kelaparan, kecuali bila Kuberi makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi makan. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan telanjang, kecuali bila Kuberi pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi pakaian. Wahai para hamba-Ku, sungguh kalian berbuat dosa malam dan siang. Sedangkan Aku akan mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi ampunan”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Awwal 1439 / 18 Desember 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Salah satu hal mulia yang perlu kita hadirkan dalam hati saat berdoa, adalah perasaan butuh terhadap Allah ta’ala. Sebab seluruh makhluk tidak mungkin terlepas dari kebutuhan kepada-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Dialah yang menciptakan mereka. Dialah yang mengatur mereka. Dialah yang memberi rizki pada mereka. Dialah yang menyembuhkan mereka. Dialah yang menghidupkan dan mematikan mereka.Apa yang dikehendaki Allah, pasti terjadi. Sebaliknya, apapun yang tidak dikehendaki-Nya, pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan dan takdir-Nya.“مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“.Artinya: “Apapun rahmat Allah yang Dia anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya. Dan apapun yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana”. QS. Fâthir (35): 2.Seluruh makhluk membutuhkan Allah. Makhluk masih bisa terus hidup, itu karena karunia Allah. Anggota badan mereka begitu kuat untuk menjalani aktivitas, itu karena pemberian Allah. Mereka bisa mendapatkan makanan, rizki, nikmat lahir dan batin, itu karena kebaikan yang Allah beri. Bahkan mereka bisa selamat dari berbagai musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itupun juga karena Allah yang menghilangkannya. Allah-lah yang memberikan mereka petunjuk mengenai berbagai hal sehingga mereka bisa selamat.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“.Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekalipun. Allah asli tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah sampaikan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Maksudnya Allah-lah satu-satu-Nya Yang Maha Kaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji dalam apapun yang Dia perbuat dan katakan, juga dalam apa yang Dia takdirkan dan syariatkan”.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,“يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ، إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ، إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ““Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Kuberi hidayah. Maka mintalah hidayah pada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi hidayah. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan kelaparan, kecuali bila Kuberi makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi makan. Wahai para hamba-Ku, kalian semua akan telanjang, kecuali bila Kuberi pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya kalian Kuberi pakaian. Wahai para hamba-Ku, sungguh kalian berbuat dosa malam dan siang. Sedangkan Aku akan mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya kalian akan Kuberi ampunan”. HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Awwal 1439 / 18 Desember 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 129: Taubat Sebelum Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa

Banyak orang mengeluh, “Mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan?!”. Bahkan terkadang hal itu menyeret kepada sikap berprasangka buruk kepada Allah ‘azza wa jalla. Na’udzu billah min dzalik…Padahal seharusnya dalam kondisi demikian, kita berusaha berintrospeksi diri dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.Ketahuilah bahwa doa itu manakala tidak dikabulkan, pemicunya bisa beragam. Antara lain:Isi doanya sendiri yang bermasalah. Misalkan doa tersebut berisi permintaan sesuatu yang tidak disukai Allah.Hati orang yang berdoa itu bermasalah. Seperti orang yang tidak berkonsentrasi saat berdoa. Hatinya melanglang buana kemana-mana.Adanya faktor yang menghalangi terkabulnya doa. Contohnya: mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram, banyak maksiat, dan yang semisal itu.Maka salah satu syarat utama dikabulkannya doa adalah: menghadirkan hati, konsentrasi, khusyu’ dan tidak membiarkan pikiran kesana-kemari saat berdoa. Sebab bila seorang hamba ketika berdoa hatinya tidak konsentrasi, kekuatan doanya akan melemah. Sehingga efeknya pun akan melemah juga. Ibarat sebuah busur panah yang talinya kendor. Saat digunakan, maka anak panahnya tidak bisa melesat kencang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Konsentrasi dalam berdoa artinya, antara lain: berusaha memahami isi doa yang dibaca lisan, meresapi janji Allah mengabulkan doa, menghadirkan perasaan bahwa Allah dekat dan mendengar doa kita.Doa dengan penuh konsentrasi ini akan semakin dahsyat efeknya, apabila bila bertepatan dengan waktu yang mustajab. Seperti: di antara adzan dengan iqamat, di sepertiga malam terakhir, ba’da ashar hari Jumat terlebih menjelang Maghrib dan waktu-waktu mustajab lainnya.Ditambah kita berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga mengawalinya dengan taubat dan istighfar. Lalu doa tersebut diulang berkali-kali. Tidak lupa juga bertawassul dengan asmaul husna. Bila perlu bersedekah terlebih dahulu sebelum berdoa.Doa dengan semua kriteria ini, hampir-hampir tidak mungkin ditolak.Terakhir pilihlah redaksi doa yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Sebab doa-doa tersebut tidak mungkin keliru atau salah.Jangan lupa, iringilah doa dengan usaha maksimal. Semoga Allah berkenan menerima doa-doa kita semua Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus YakinNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa

Banyak orang mengeluh, “Mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan?!”. Bahkan terkadang hal itu menyeret kepada sikap berprasangka buruk kepada Allah ‘azza wa jalla. Na’udzu billah min dzalik…Padahal seharusnya dalam kondisi demikian, kita berusaha berintrospeksi diri dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.Ketahuilah bahwa doa itu manakala tidak dikabulkan, pemicunya bisa beragam. Antara lain:Isi doanya sendiri yang bermasalah. Misalkan doa tersebut berisi permintaan sesuatu yang tidak disukai Allah.Hati orang yang berdoa itu bermasalah. Seperti orang yang tidak berkonsentrasi saat berdoa. Hatinya melanglang buana kemana-mana.Adanya faktor yang menghalangi terkabulnya doa. Contohnya: mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram, banyak maksiat, dan yang semisal itu.Maka salah satu syarat utama dikabulkannya doa adalah: menghadirkan hati, konsentrasi, khusyu’ dan tidak membiarkan pikiran kesana-kemari saat berdoa. Sebab bila seorang hamba ketika berdoa hatinya tidak konsentrasi, kekuatan doanya akan melemah. Sehingga efeknya pun akan melemah juga. Ibarat sebuah busur panah yang talinya kendor. Saat digunakan, maka anak panahnya tidak bisa melesat kencang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Konsentrasi dalam berdoa artinya, antara lain: berusaha memahami isi doa yang dibaca lisan, meresapi janji Allah mengabulkan doa, menghadirkan perasaan bahwa Allah dekat dan mendengar doa kita.Doa dengan penuh konsentrasi ini akan semakin dahsyat efeknya, apabila bila bertepatan dengan waktu yang mustajab. Seperti: di antara adzan dengan iqamat, di sepertiga malam terakhir, ba’da ashar hari Jumat terlebih menjelang Maghrib dan waktu-waktu mustajab lainnya.Ditambah kita berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga mengawalinya dengan taubat dan istighfar. Lalu doa tersebut diulang berkali-kali. Tidak lupa juga bertawassul dengan asmaul husna. Bila perlu bersedekah terlebih dahulu sebelum berdoa.Doa dengan semua kriteria ini, hampir-hampir tidak mungkin ditolak.Terakhir pilihlah redaksi doa yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Sebab doa-doa tersebut tidak mungkin keliru atau salah.Jangan lupa, iringilah doa dengan usaha maksimal. Semoga Allah berkenan menerima doa-doa kita semua Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus YakinNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Banyak orang mengeluh, “Mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan?!”. Bahkan terkadang hal itu menyeret kepada sikap berprasangka buruk kepada Allah ‘azza wa jalla. Na’udzu billah min dzalik…Padahal seharusnya dalam kondisi demikian, kita berusaha berintrospeksi diri dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.Ketahuilah bahwa doa itu manakala tidak dikabulkan, pemicunya bisa beragam. Antara lain:Isi doanya sendiri yang bermasalah. Misalkan doa tersebut berisi permintaan sesuatu yang tidak disukai Allah.Hati orang yang berdoa itu bermasalah. Seperti orang yang tidak berkonsentrasi saat berdoa. Hatinya melanglang buana kemana-mana.Adanya faktor yang menghalangi terkabulnya doa. Contohnya: mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram, banyak maksiat, dan yang semisal itu.Maka salah satu syarat utama dikabulkannya doa adalah: menghadirkan hati, konsentrasi, khusyu’ dan tidak membiarkan pikiran kesana-kemari saat berdoa. Sebab bila seorang hamba ketika berdoa hatinya tidak konsentrasi, kekuatan doanya akan melemah. Sehingga efeknya pun akan melemah juga. Ibarat sebuah busur panah yang talinya kendor. Saat digunakan, maka anak panahnya tidak bisa melesat kencang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Konsentrasi dalam berdoa artinya, antara lain: berusaha memahami isi doa yang dibaca lisan, meresapi janji Allah mengabulkan doa, menghadirkan perasaan bahwa Allah dekat dan mendengar doa kita.Doa dengan penuh konsentrasi ini akan semakin dahsyat efeknya, apabila bila bertepatan dengan waktu yang mustajab. Seperti: di antara adzan dengan iqamat, di sepertiga malam terakhir, ba’da ashar hari Jumat terlebih menjelang Maghrib dan waktu-waktu mustajab lainnya.Ditambah kita berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga mengawalinya dengan taubat dan istighfar. Lalu doa tersebut diulang berkali-kali. Tidak lupa juga bertawassul dengan asmaul husna. Bila perlu bersedekah terlebih dahulu sebelum berdoa.Doa dengan semua kriteria ini, hampir-hampir tidak mungkin ditolak.Terakhir pilihlah redaksi doa yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Sebab doa-doa tersebut tidak mungkin keliru atau salah.Jangan lupa, iringilah doa dengan usaha maksimal. Semoga Allah berkenan menerima doa-doa kita semua Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus YakinNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Banyak orang mengeluh, “Mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan?!”. Bahkan terkadang hal itu menyeret kepada sikap berprasangka buruk kepada Allah ‘azza wa jalla. Na’udzu billah min dzalik…Padahal seharusnya dalam kondisi demikian, kita berusaha berintrospeksi diri dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.Ketahuilah bahwa doa itu manakala tidak dikabulkan, pemicunya bisa beragam. Antara lain:Isi doanya sendiri yang bermasalah. Misalkan doa tersebut berisi permintaan sesuatu yang tidak disukai Allah.Hati orang yang berdoa itu bermasalah. Seperti orang yang tidak berkonsentrasi saat berdoa. Hatinya melanglang buana kemana-mana.Adanya faktor yang menghalangi terkabulnya doa. Contohnya: mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram, banyak maksiat, dan yang semisal itu.Maka salah satu syarat utama dikabulkannya doa adalah: menghadirkan hati, konsentrasi, khusyu’ dan tidak membiarkan pikiran kesana-kemari saat berdoa. Sebab bila seorang hamba ketika berdoa hatinya tidak konsentrasi, kekuatan doanya akan melemah. Sehingga efeknya pun akan melemah juga. Ibarat sebuah busur panah yang talinya kendor. Saat digunakan, maka anak panahnya tidak bisa melesat kencang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Konsentrasi dalam berdoa artinya, antara lain: berusaha memahami isi doa yang dibaca lisan, meresapi janji Allah mengabulkan doa, menghadirkan perasaan bahwa Allah dekat dan mendengar doa kita.Doa dengan penuh konsentrasi ini akan semakin dahsyat efeknya, apabila bila bertepatan dengan waktu yang mustajab. Seperti: di antara adzan dengan iqamat, di sepertiga malam terakhir, ba’da ashar hari Jumat terlebih menjelang Maghrib dan waktu-waktu mustajab lainnya.Ditambah kita berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga mengawalinya dengan taubat dan istighfar. Lalu doa tersebut diulang berkali-kali. Tidak lupa juga bertawassul dengan asmaul husna. Bila perlu bersedekah terlebih dahulu sebelum berdoa.Doa dengan semua kriteria ini, hampir-hampir tidak mungkin ditolak.Terakhir pilihlah redaksi doa yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Sebab doa-doa tersebut tidak mungkin keliru atau salah.Jangan lupa, iringilah doa dengan usaha maksimal. Semoga Allah berkenan menerima doa-doa kita semua Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus YakinNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 128: Kita Butuh Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin

Salah satu kunci sukses dalam berdoa adalah adanya keyakinan dalam hati, bahwa apa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Keyakinan untuk dikabulkan itu muncul sebagai bentuk prasangka baik hamba kepada Allah ta’ala.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Bila hamba berburuk sangka kepada Allah, berarti ia sendiri yang menghendaki takdir buruk untuknya. Sebaliknya jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan menakdirkan hal yang baik untuknya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan para hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Maka berprasangka baiklah saat berdoa, bahwa akan dikabulkan Allah. Berprasangka baiklah saat bertaubat, bahwa akan diterima oleh-Nya. Berprasangka baiklah saat beristighfar, bahwa Allah berkenan untuk mengampuni. Berprasangka baiklah ketika beribadah dengan benar, bahwa Allah berkenan untuk memberikan ganjaran-Nya. Semua itu dalam rangka memegang janji Allah ta’ala. Demikian keterangan dalam kitab al-Mufhim karya Imam al-Qurthubiy rahimahullah.Tidak sekedar keyakinan dalam hati, bahkan dalam pemilihan redaksi doa pun, kita harus menghindari ungkapan di lisan yang mengesankan ketidakyakinan kita pada Allah.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau berkenan”. Namun hendaklah ia serius dalam meminta serta mempertebal harapan. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan sesuatu”. HR. Muslim.Pemakaian ungkapan “Ampunilah aku, jika Engkau berkehendak” dilarang. Karena memberi kesan ketidakseriusan sang pemohon atas keinginannya untuk mendapatkan ampunan Allah.Mulai sekarang tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah dalam setiap berdoa kepada Allah kita yakin doa kita akan terkabul? Ataukah selalu ada perasaan mungkin atau tidak mungkin? Jangan berprasangka Allah tidak mengabulkan doa. Tetapi introspeksi dan perbaikilah diri!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia telah berjanji untuk mengabulkan permintaan kita, dan Dia tidak pernah ingkar janji?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah milik-Nya?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah kepada para hamba-Nya?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Awwal 1439 / 20 November 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin

Salah satu kunci sukses dalam berdoa adalah adanya keyakinan dalam hati, bahwa apa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Keyakinan untuk dikabulkan itu muncul sebagai bentuk prasangka baik hamba kepada Allah ta’ala.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Bila hamba berburuk sangka kepada Allah, berarti ia sendiri yang menghendaki takdir buruk untuknya. Sebaliknya jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan menakdirkan hal yang baik untuknya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan para hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Maka berprasangka baiklah saat berdoa, bahwa akan dikabulkan Allah. Berprasangka baiklah saat bertaubat, bahwa akan diterima oleh-Nya. Berprasangka baiklah saat beristighfar, bahwa Allah berkenan untuk mengampuni. Berprasangka baiklah ketika beribadah dengan benar, bahwa Allah berkenan untuk memberikan ganjaran-Nya. Semua itu dalam rangka memegang janji Allah ta’ala. Demikian keterangan dalam kitab al-Mufhim karya Imam al-Qurthubiy rahimahullah.Tidak sekedar keyakinan dalam hati, bahkan dalam pemilihan redaksi doa pun, kita harus menghindari ungkapan di lisan yang mengesankan ketidakyakinan kita pada Allah.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau berkenan”. Namun hendaklah ia serius dalam meminta serta mempertebal harapan. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan sesuatu”. HR. Muslim.Pemakaian ungkapan “Ampunilah aku, jika Engkau berkehendak” dilarang. Karena memberi kesan ketidakseriusan sang pemohon atas keinginannya untuk mendapatkan ampunan Allah.Mulai sekarang tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah dalam setiap berdoa kepada Allah kita yakin doa kita akan terkabul? Ataukah selalu ada perasaan mungkin atau tidak mungkin? Jangan berprasangka Allah tidak mengabulkan doa. Tetapi introspeksi dan perbaikilah diri!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia telah berjanji untuk mengabulkan permintaan kita, dan Dia tidak pernah ingkar janji?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah milik-Nya?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah kepada para hamba-Nya?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Awwal 1439 / 20 November 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Salah satu kunci sukses dalam berdoa adalah adanya keyakinan dalam hati, bahwa apa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Keyakinan untuk dikabulkan itu muncul sebagai bentuk prasangka baik hamba kepada Allah ta’ala.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Bila hamba berburuk sangka kepada Allah, berarti ia sendiri yang menghendaki takdir buruk untuknya. Sebaliknya jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan menakdirkan hal yang baik untuknya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan para hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Maka berprasangka baiklah saat berdoa, bahwa akan dikabulkan Allah. Berprasangka baiklah saat bertaubat, bahwa akan diterima oleh-Nya. Berprasangka baiklah saat beristighfar, bahwa Allah berkenan untuk mengampuni. Berprasangka baiklah ketika beribadah dengan benar, bahwa Allah berkenan untuk memberikan ganjaran-Nya. Semua itu dalam rangka memegang janji Allah ta’ala. Demikian keterangan dalam kitab al-Mufhim karya Imam al-Qurthubiy rahimahullah.Tidak sekedar keyakinan dalam hati, bahkan dalam pemilihan redaksi doa pun, kita harus menghindari ungkapan di lisan yang mengesankan ketidakyakinan kita pada Allah.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau berkenan”. Namun hendaklah ia serius dalam meminta serta mempertebal harapan. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan sesuatu”. HR. Muslim.Pemakaian ungkapan “Ampunilah aku, jika Engkau berkehendak” dilarang. Karena memberi kesan ketidakseriusan sang pemohon atas keinginannya untuk mendapatkan ampunan Allah.Mulai sekarang tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah dalam setiap berdoa kepada Allah kita yakin doa kita akan terkabul? Ataukah selalu ada perasaan mungkin atau tidak mungkin? Jangan berprasangka Allah tidak mengabulkan doa. Tetapi introspeksi dan perbaikilah diri!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia telah berjanji untuk mengabulkan permintaan kita, dan Dia tidak pernah ingkar janji?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah milik-Nya?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah kepada para hamba-Nya?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Awwal 1439 / 20 November 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Salah satu kunci sukses dalam berdoa adalah adanya keyakinan dalam hati, bahwa apa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ““Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Keyakinan untuk dikabulkan itu muncul sebagai bentuk prasangka baik hamba kepada Allah ta’ala.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Bila hamba berburuk sangka kepada Allah, berarti ia sendiri yang menghendaki takdir buruk untuknya. Sebaliknya jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan menakdirkan hal yang baik untuknya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan para hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Maka berprasangka baiklah saat berdoa, bahwa akan dikabulkan Allah. Berprasangka baiklah saat bertaubat, bahwa akan diterima oleh-Nya. Berprasangka baiklah saat beristighfar, bahwa Allah berkenan untuk mengampuni. Berprasangka baiklah ketika beribadah dengan benar, bahwa Allah berkenan untuk memberikan ganjaran-Nya. Semua itu dalam rangka memegang janji Allah ta’ala. Demikian keterangan dalam kitab al-Mufhim karya Imam al-Qurthubiy rahimahullah.Tidak sekedar keyakinan dalam hati, bahkan dalam pemilihan redaksi doa pun, kita harus menghindari ungkapan di lisan yang mengesankan ketidakyakinan kita pada Allah.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau berkenan”. Namun hendaklah ia serius dalam meminta serta mempertebal harapan. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan sesuatu”. HR. Muslim.Pemakaian ungkapan “Ampunilah aku, jika Engkau berkehendak” dilarang. Karena memberi kesan ketidakseriusan sang pemohon atas keinginannya untuk mendapatkan ampunan Allah.Mulai sekarang tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah dalam setiap berdoa kepada Allah kita yakin doa kita akan terkabul? Ataukah selalu ada perasaan mungkin atau tidak mungkin? Jangan berprasangka Allah tidak mengabulkan doa. Tetapi introspeksi dan perbaikilah diri!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia telah berjanji untuk mengabulkan permintaan kita, dan Dia tidak pernah ingkar janji?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah milik-Nya?!Bagaimana kita tidak yakin pada Allah, sedangkan Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah kepada para hamba-Nya?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Awwal 1439 / 20 November 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam BerdoaNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 127: Konsentrasi Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa

Salah satu etika berdoa adalah tidak tergesa-gesa, tidak bosan menunggu dikabulkannya doa dan tidak gampang putus asa saat berdoa.Dalam hadits sahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Imam Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa dalam hadits di atas terkandung salah satu etika berdoa. Yakni terus menerus meminta dan tidak putus asa menunggu terkabulkannya doa. Sebab etika ini menunjukkan adanya kepatuhan, kepasrahan dan ketergantungan kepada Allah. Hingga sebagian ulama salaf berkata, “Aku lebih mengkhawatirkan terjangkiti malas berdoa, dibanding tidak dikabulkannya doaku”.Bahkan sebagian ulama menjelaskan, bahwa orang yang bosan berdoa lalu meninggalkannya; sejatinya ia telah menuduh Allah pelit. Sebab ia merasa telah maksimal dalam berdoa dan menganggap doanya sudah berhak dikabulkan Allah. Ternyata tidak juga dikabulkan. Berarti Allah pelit dong! Na’udzubillah min dzalik…Padahal manakala seorang berdoa dan belum dikabulkan, bisa jadi pemicunya adalah karena ia belum memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa. Atau dia masih melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa. Pembahasan tentang faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, telah kita kaji pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88-89. Sedangkan kajian tentang sebab-sebab terkabulnya doa, juga telah kita sampaikan pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91-98.Ingatlah bahwa Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Namun, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا”“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal. (1) Akan segera dikabulkan doanya. Atau; (2) akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau; (3) akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Shafar 1439 / 30 Oktober 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan DongengNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa

Salah satu etika berdoa adalah tidak tergesa-gesa, tidak bosan menunggu dikabulkannya doa dan tidak gampang putus asa saat berdoa.Dalam hadits sahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Imam Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa dalam hadits di atas terkandung salah satu etika berdoa. Yakni terus menerus meminta dan tidak putus asa menunggu terkabulkannya doa. Sebab etika ini menunjukkan adanya kepatuhan, kepasrahan dan ketergantungan kepada Allah. Hingga sebagian ulama salaf berkata, “Aku lebih mengkhawatirkan terjangkiti malas berdoa, dibanding tidak dikabulkannya doaku”.Bahkan sebagian ulama menjelaskan, bahwa orang yang bosan berdoa lalu meninggalkannya; sejatinya ia telah menuduh Allah pelit. Sebab ia merasa telah maksimal dalam berdoa dan menganggap doanya sudah berhak dikabulkan Allah. Ternyata tidak juga dikabulkan. Berarti Allah pelit dong! Na’udzubillah min dzalik…Padahal manakala seorang berdoa dan belum dikabulkan, bisa jadi pemicunya adalah karena ia belum memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa. Atau dia masih melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa. Pembahasan tentang faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, telah kita kaji pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88-89. Sedangkan kajian tentang sebab-sebab terkabulnya doa, juga telah kita sampaikan pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91-98.Ingatlah bahwa Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Namun, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا”“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal. (1) Akan segera dikabulkan doanya. Atau; (2) akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau; (3) akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Shafar 1439 / 30 Oktober 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan DongengNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Salah satu etika berdoa adalah tidak tergesa-gesa, tidak bosan menunggu dikabulkannya doa dan tidak gampang putus asa saat berdoa.Dalam hadits sahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Imam Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa dalam hadits di atas terkandung salah satu etika berdoa. Yakni terus menerus meminta dan tidak putus asa menunggu terkabulkannya doa. Sebab etika ini menunjukkan adanya kepatuhan, kepasrahan dan ketergantungan kepada Allah. Hingga sebagian ulama salaf berkata, “Aku lebih mengkhawatirkan terjangkiti malas berdoa, dibanding tidak dikabulkannya doaku”.Bahkan sebagian ulama menjelaskan, bahwa orang yang bosan berdoa lalu meninggalkannya; sejatinya ia telah menuduh Allah pelit. Sebab ia merasa telah maksimal dalam berdoa dan menganggap doanya sudah berhak dikabulkan Allah. Ternyata tidak juga dikabulkan. Berarti Allah pelit dong! Na’udzubillah min dzalik…Padahal manakala seorang berdoa dan belum dikabulkan, bisa jadi pemicunya adalah karena ia belum memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa. Atau dia masih melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa. Pembahasan tentang faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, telah kita kaji pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88-89. Sedangkan kajian tentang sebab-sebab terkabulnya doa, juga telah kita sampaikan pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91-98.Ingatlah bahwa Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Namun, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا”“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal. (1) Akan segera dikabulkan doanya. Atau; (2) akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau; (3) akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Shafar 1439 / 30 Oktober 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan DongengNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Salah satu etika berdoa adalah tidak tergesa-gesa, tidak bosan menunggu dikabulkannya doa dan tidak gampang putus asa saat berdoa.Dalam hadits sahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Imam Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa dalam hadits di atas terkandung salah satu etika berdoa. Yakni terus menerus meminta dan tidak putus asa menunggu terkabulkannya doa. Sebab etika ini menunjukkan adanya kepatuhan, kepasrahan dan ketergantungan kepada Allah. Hingga sebagian ulama salaf berkata, “Aku lebih mengkhawatirkan terjangkiti malas berdoa, dibanding tidak dikabulkannya doaku”.Bahkan sebagian ulama menjelaskan, bahwa orang yang bosan berdoa lalu meninggalkannya; sejatinya ia telah menuduh Allah pelit. Sebab ia merasa telah maksimal dalam berdoa dan menganggap doanya sudah berhak dikabulkan Allah. Ternyata tidak juga dikabulkan. Berarti Allah pelit dong! Na’udzubillah min dzalik…Padahal manakala seorang berdoa dan belum dikabulkan, bisa jadi pemicunya adalah karena ia belum memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa. Atau dia masih melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa. Pembahasan tentang faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, telah kita kaji pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88-89. Sedangkan kajian tentang sebab-sebab terkabulnya doa, juga telah kita sampaikan pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91-98.Ingatlah bahwa Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Namun, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا”“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal. (1) Akan segera dikabulkan doanya. Atau; (2) akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau; (3) akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Shafar 1439 / 30 Oktober 2017 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan DongengNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 126: Berdoa Harus Yakin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan Dongeng

Pada pertemuan sebelumya telah dijelaskan bahwa berdoa itu harus ikhlas tertuju hanya kepada Allah saja. Tidak boleh kepada selain-Nya.Namun ternyata realita berbicara, bahwa masih banyak orang yang tergiur untuk berdoa meminta kepada selain Allah. Mengapa? Salah satu pemicunya adalah karena tidak sedikit di antara mereka termakan berbagai dongeng kosong.Tersebar kisah, bahwa si fulan berdoa meminta di kuburan anu, atau meminta kepada patung anu, ternyata permintaannya terkabul. Berarti berdoa di sana benar-benar telah teruji mustajab. Cerita ini lalu tersebarluas di masyarakat. Sehingga keesokan harinya, berbondong-bondonglah manusia menuju ke tempat tersebut, dengan harapan bisa ikut merasakan hal serupa.Untuk meluruskan fenomena ini, para ulama kita telah menyampaikan hal-hal berikut ini:Pertama: Ajaran Islam telah sempurnaSalah satu karunia terbesar Allah kepada umat ini, bahwa agama mereka telah sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً”Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. QS. Al-Maidah (5): 3.Karena sudah sempurna, maka tidak perlu lagi tambahan. Landasan beribadah dalam agama kita adalah dalil al-Qur’an, Sunnah serta Ijma’. Adapun dongeng maka itu bukanlah landasan kuat dalam beramal.Kedua: Banyak dari cerita tersebut ternyata fiktifRealita membuktikan, bahwa ternyata tidak sedikit di antara cerita-cerita yang beredar di masyarakat itu bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata fiktif. Alias dongeng kosong yang tidak pernah terjadi. Atau bisa jadi aslinya benar, namun sudah dibumbui berbagai macam tambahan, sehingga tidak lagi sesuai dengan aslinya.Alhamdulillah, agama kita sangat memperhatikan dan menghargai kebenaran suatu berita. Tidak setiap berita bisa kita terima. Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6.Ketiga: Terjadinya sesuatu, bukan dalil bahwa sesuatu itu bolehSatu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah, bahwa terjadinya sesuatu itu bukan dalil bahwa sesuatu itu boleh dikerjakan. Sekedar si fulan berdoa kepada selain Allah dan ternyata permintaannya terkabul, tidak bisa dijadikan sebagai dalih bahwa perbuatan dia itu benar. Lalu boleh diikuti dan ditiru.Bukankah banyak orang yang berusaha menyihir temannya, lalu ‘sukses’ dalam upaya sihir dia itu? Sehingga temannya tersihir. Nah, apakah bisa kita katakan bahwa sihir itu boleh, dengan alasan “Buktinya sihir itu manjur”?!. Tentu saja tidak bisa! Jadi, terkabulnya doa orang yang meminta kepada berhala, bukanlah dalil bahwa meminta kepada berhala itu benar! Allah takdirkan itu, bisa jadi sebagai bentuk istidraj (‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung) untuk mereka.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Muharram 1439 / 16 Oktober 2017 Post navigation Previous [VIDEO]: Khusnul Khotimah? (Bukan Jaminan)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 124: Jangan Termakan Dongeng

Pada pertemuan sebelumya telah dijelaskan bahwa berdoa itu harus ikhlas tertuju hanya kepada Allah saja. Tidak boleh kepada selain-Nya.Namun ternyata realita berbicara, bahwa masih banyak orang yang tergiur untuk berdoa meminta kepada selain Allah. Mengapa? Salah satu pemicunya adalah karena tidak sedikit di antara mereka termakan berbagai dongeng kosong.Tersebar kisah, bahwa si fulan berdoa meminta di kuburan anu, atau meminta kepada patung anu, ternyata permintaannya terkabul. Berarti berdoa di sana benar-benar telah teruji mustajab. Cerita ini lalu tersebarluas di masyarakat. Sehingga keesokan harinya, berbondong-bondonglah manusia menuju ke tempat tersebut, dengan harapan bisa ikut merasakan hal serupa.Untuk meluruskan fenomena ini, para ulama kita telah menyampaikan hal-hal berikut ini:Pertama: Ajaran Islam telah sempurnaSalah satu karunia terbesar Allah kepada umat ini, bahwa agama mereka telah sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً”Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. QS. Al-Maidah (5): 3.Karena sudah sempurna, maka tidak perlu lagi tambahan. Landasan beribadah dalam agama kita adalah dalil al-Qur’an, Sunnah serta Ijma’. Adapun dongeng maka itu bukanlah landasan kuat dalam beramal.Kedua: Banyak dari cerita tersebut ternyata fiktifRealita membuktikan, bahwa ternyata tidak sedikit di antara cerita-cerita yang beredar di masyarakat itu bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata fiktif. Alias dongeng kosong yang tidak pernah terjadi. Atau bisa jadi aslinya benar, namun sudah dibumbui berbagai macam tambahan, sehingga tidak lagi sesuai dengan aslinya.Alhamdulillah, agama kita sangat memperhatikan dan menghargai kebenaran suatu berita. Tidak setiap berita bisa kita terima. Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6.Ketiga: Terjadinya sesuatu, bukan dalil bahwa sesuatu itu bolehSatu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah, bahwa terjadinya sesuatu itu bukan dalil bahwa sesuatu itu boleh dikerjakan. Sekedar si fulan berdoa kepada selain Allah dan ternyata permintaannya terkabul, tidak bisa dijadikan sebagai dalih bahwa perbuatan dia itu benar. Lalu boleh diikuti dan ditiru.Bukankah banyak orang yang berusaha menyihir temannya, lalu ‘sukses’ dalam upaya sihir dia itu? Sehingga temannya tersihir. Nah, apakah bisa kita katakan bahwa sihir itu boleh, dengan alasan “Buktinya sihir itu manjur”?!. Tentu saja tidak bisa! Jadi, terkabulnya doa orang yang meminta kepada berhala, bukanlah dalil bahwa meminta kepada berhala itu benar! Allah takdirkan itu, bisa jadi sebagai bentuk istidraj (‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung) untuk mereka.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Muharram 1439 / 16 Oktober 2017 Post navigation Previous [VIDEO]: Khusnul Khotimah? (Bukan Jaminan)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan sebelumya telah dijelaskan bahwa berdoa itu harus ikhlas tertuju hanya kepada Allah saja. Tidak boleh kepada selain-Nya.Namun ternyata realita berbicara, bahwa masih banyak orang yang tergiur untuk berdoa meminta kepada selain Allah. Mengapa? Salah satu pemicunya adalah karena tidak sedikit di antara mereka termakan berbagai dongeng kosong.Tersebar kisah, bahwa si fulan berdoa meminta di kuburan anu, atau meminta kepada patung anu, ternyata permintaannya terkabul. Berarti berdoa di sana benar-benar telah teruji mustajab. Cerita ini lalu tersebarluas di masyarakat. Sehingga keesokan harinya, berbondong-bondonglah manusia menuju ke tempat tersebut, dengan harapan bisa ikut merasakan hal serupa.Untuk meluruskan fenomena ini, para ulama kita telah menyampaikan hal-hal berikut ini:Pertama: Ajaran Islam telah sempurnaSalah satu karunia terbesar Allah kepada umat ini, bahwa agama mereka telah sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً”Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. QS. Al-Maidah (5): 3.Karena sudah sempurna, maka tidak perlu lagi tambahan. Landasan beribadah dalam agama kita adalah dalil al-Qur’an, Sunnah serta Ijma’. Adapun dongeng maka itu bukanlah landasan kuat dalam beramal.Kedua: Banyak dari cerita tersebut ternyata fiktifRealita membuktikan, bahwa ternyata tidak sedikit di antara cerita-cerita yang beredar di masyarakat itu bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata fiktif. Alias dongeng kosong yang tidak pernah terjadi. Atau bisa jadi aslinya benar, namun sudah dibumbui berbagai macam tambahan, sehingga tidak lagi sesuai dengan aslinya.Alhamdulillah, agama kita sangat memperhatikan dan menghargai kebenaran suatu berita. Tidak setiap berita bisa kita terima. Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6.Ketiga: Terjadinya sesuatu, bukan dalil bahwa sesuatu itu bolehSatu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah, bahwa terjadinya sesuatu itu bukan dalil bahwa sesuatu itu boleh dikerjakan. Sekedar si fulan berdoa kepada selain Allah dan ternyata permintaannya terkabul, tidak bisa dijadikan sebagai dalih bahwa perbuatan dia itu benar. Lalu boleh diikuti dan ditiru.Bukankah banyak orang yang berusaha menyihir temannya, lalu ‘sukses’ dalam upaya sihir dia itu? Sehingga temannya tersihir. Nah, apakah bisa kita katakan bahwa sihir itu boleh, dengan alasan “Buktinya sihir itu manjur”?!. Tentu saja tidak bisa! Jadi, terkabulnya doa orang yang meminta kepada berhala, bukanlah dalil bahwa meminta kepada berhala itu benar! Allah takdirkan itu, bisa jadi sebagai bentuk istidraj (‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung) untuk mereka.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Muharram 1439 / 16 Oktober 2017 Post navigation Previous [VIDEO]: Khusnul Khotimah? (Bukan Jaminan)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan sebelumya telah dijelaskan bahwa berdoa itu harus ikhlas tertuju hanya kepada Allah saja. Tidak boleh kepada selain-Nya.Namun ternyata realita berbicara, bahwa masih banyak orang yang tergiur untuk berdoa meminta kepada selain Allah. Mengapa? Salah satu pemicunya adalah karena tidak sedikit di antara mereka termakan berbagai dongeng kosong.Tersebar kisah, bahwa si fulan berdoa meminta di kuburan anu, atau meminta kepada patung anu, ternyata permintaannya terkabul. Berarti berdoa di sana benar-benar telah teruji mustajab. Cerita ini lalu tersebarluas di masyarakat. Sehingga keesokan harinya, berbondong-bondonglah manusia menuju ke tempat tersebut, dengan harapan bisa ikut merasakan hal serupa.Untuk meluruskan fenomena ini, para ulama kita telah menyampaikan hal-hal berikut ini:Pertama: Ajaran Islam telah sempurnaSalah satu karunia terbesar Allah kepada umat ini, bahwa agama mereka telah sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً”Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. QS. Al-Maidah (5): 3.Karena sudah sempurna, maka tidak perlu lagi tambahan. Landasan beribadah dalam agama kita adalah dalil al-Qur’an, Sunnah serta Ijma’. Adapun dongeng maka itu bukanlah landasan kuat dalam beramal.Kedua: Banyak dari cerita tersebut ternyata fiktifRealita membuktikan, bahwa ternyata tidak sedikit di antara cerita-cerita yang beredar di masyarakat itu bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata fiktif. Alias dongeng kosong yang tidak pernah terjadi. Atau bisa jadi aslinya benar, namun sudah dibumbui berbagai macam tambahan, sehingga tidak lagi sesuai dengan aslinya.Alhamdulillah, agama kita sangat memperhatikan dan menghargai kebenaran suatu berita. Tidak setiap berita bisa kita terima. Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6.Ketiga: Terjadinya sesuatu, bukan dalil bahwa sesuatu itu bolehSatu hal yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah, bahwa terjadinya sesuatu itu bukan dalil bahwa sesuatu itu boleh dikerjakan. Sekedar si fulan berdoa kepada selain Allah dan ternyata permintaannya terkabul, tidak bisa dijadikan sebagai dalih bahwa perbuatan dia itu benar. Lalu boleh diikuti dan ditiru.Bukankah banyak orang yang berusaha menyihir temannya, lalu ‘sukses’ dalam upaya sihir dia itu? Sehingga temannya tersihir. Nah, apakah bisa kita katakan bahwa sihir itu boleh, dengan alasan “Buktinya sihir itu manjur”?!. Tentu saja tidak bisa! Jadi, terkabulnya doa orang yang meminta kepada berhala, bukanlah dalil bahwa meminta kepada berhala itu benar! Allah takdirkan itu, bisa jadi sebagai bentuk istidraj (‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung) untuk mereka.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Muharram 1439 / 16 Oktober 2017 Post navigation Previous [VIDEO]: Khusnul Khotimah? (Bukan Jaminan)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 125: Pantang Menyerah Dalam Berdoa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)

Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa hikmah tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Mengakui luasnya ilmu AllahSaat kita berdoa sambil mengangkat tangan, disadari atau tidak, sejatinya kita sedang mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya.Bayangkan, dalam satu waktu yang sama, betapa banyak doa yang dipanjatkan manusia seluruh dunia kepada-Nya! Padahal tempat tinggal mereka berbeda-beda, isi permintaannya dan bahasa yang mereka gunakan juga tidak sama.Seluruhnya di sisi Allah, bagaikan satu suara! Semua bisa dikabulkan Allah dengan sangat teliti. Tidak akan tertukar-tukar antara satu permintaan dengan yang lainnya.Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,“الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} [المجادلة: 1]““Segala puji bagi Allah yang bisa mendengar seluruh suara. Sehingga Allah menurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya”. QS Al-Mujadilah (58): 1.Bandingkan dengan kita yang sangat lemah ini! Andaikan ada dua orang saja yang mengajak kita berbicara dalam waktu yang sama, pasti kita akan kesulitan dan kebingungan untuk memahami keduanya. Padahal mereka berdua menggunakan bahasa yang sama!Keempat: Mengakui bahwa Allah berada di atasManakala kita berdoa mengangkat tangan ke atas, itu berarti pengakuan dari kita bahwa Allah berada di atas. Sebab yang kita tuju dalam berdoa adalah Allah ta’ala, bukan yang lain-Nya.Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) menjelaskan, “Kita melihat seluruh muslimin mengangkat tangan mereka ke arah langit saat berdoa. Karena Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ‘Arsy berada di atas langit. Kalau bukan karena Allah berada di atas ‘Arsy, kaum muslimin tidak akan mengangkat tangan mereka ke arah ‘Arsy. Makanya saat berdoa, mereka tidak mengarahkan tangannya ke bumi (bawah)”.Bila kita meyakini ini, maka kita akan merasa memiliki Dzat tempat kita bergantung dan berkeluh kesah. Merasa bahwa amal salih dan kebajikan kita diangkat kepada-Nya.“إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Artinya: “Kepada-Nyalah akan naik ucapan-ucapan mulia. Dan amal kebajikan akan mengangkatnya”. QS. Fathir (35): 11.Saat kita mengimani bahwa segala perbuatan dan ucapan kita akan dilaporkan kepada Allah, maka kita pun merasa malu untuk melakukan dan mengucapkan keburukan. Sehingga hanya kebaikanlah yang keluar dari lisan kita. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018 Post navigation Previous Mengasah Mata HatiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)

Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa hikmah tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Mengakui luasnya ilmu AllahSaat kita berdoa sambil mengangkat tangan, disadari atau tidak, sejatinya kita sedang mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya.Bayangkan, dalam satu waktu yang sama, betapa banyak doa yang dipanjatkan manusia seluruh dunia kepada-Nya! Padahal tempat tinggal mereka berbeda-beda, isi permintaannya dan bahasa yang mereka gunakan juga tidak sama.Seluruhnya di sisi Allah, bagaikan satu suara! Semua bisa dikabulkan Allah dengan sangat teliti. Tidak akan tertukar-tukar antara satu permintaan dengan yang lainnya.Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,“الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} [المجادلة: 1]““Segala puji bagi Allah yang bisa mendengar seluruh suara. Sehingga Allah menurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya”. QS Al-Mujadilah (58): 1.Bandingkan dengan kita yang sangat lemah ini! Andaikan ada dua orang saja yang mengajak kita berbicara dalam waktu yang sama, pasti kita akan kesulitan dan kebingungan untuk memahami keduanya. Padahal mereka berdua menggunakan bahasa yang sama!Keempat: Mengakui bahwa Allah berada di atasManakala kita berdoa mengangkat tangan ke atas, itu berarti pengakuan dari kita bahwa Allah berada di atas. Sebab yang kita tuju dalam berdoa adalah Allah ta’ala, bukan yang lain-Nya.Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) menjelaskan, “Kita melihat seluruh muslimin mengangkat tangan mereka ke arah langit saat berdoa. Karena Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ‘Arsy berada di atas langit. Kalau bukan karena Allah berada di atas ‘Arsy, kaum muslimin tidak akan mengangkat tangan mereka ke arah ‘Arsy. Makanya saat berdoa, mereka tidak mengarahkan tangannya ke bumi (bawah)”.Bila kita meyakini ini, maka kita akan merasa memiliki Dzat tempat kita bergantung dan berkeluh kesah. Merasa bahwa amal salih dan kebajikan kita diangkat kepada-Nya.“إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Artinya: “Kepada-Nyalah akan naik ucapan-ucapan mulia. Dan amal kebajikan akan mengangkatnya”. QS. Fathir (35): 11.Saat kita mengimani bahwa segala perbuatan dan ucapan kita akan dilaporkan kepada Allah, maka kita pun merasa malu untuk melakukan dan mengucapkan keburukan. Sehingga hanya kebaikanlah yang keluar dari lisan kita. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018 Post navigation Previous Mengasah Mata HatiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa hikmah tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Mengakui luasnya ilmu AllahSaat kita berdoa sambil mengangkat tangan, disadari atau tidak, sejatinya kita sedang mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya.Bayangkan, dalam satu waktu yang sama, betapa banyak doa yang dipanjatkan manusia seluruh dunia kepada-Nya! Padahal tempat tinggal mereka berbeda-beda, isi permintaannya dan bahasa yang mereka gunakan juga tidak sama.Seluruhnya di sisi Allah, bagaikan satu suara! Semua bisa dikabulkan Allah dengan sangat teliti. Tidak akan tertukar-tukar antara satu permintaan dengan yang lainnya.Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,“الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} [المجادلة: 1]““Segala puji bagi Allah yang bisa mendengar seluruh suara. Sehingga Allah menurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya”. QS Al-Mujadilah (58): 1.Bandingkan dengan kita yang sangat lemah ini! Andaikan ada dua orang saja yang mengajak kita berbicara dalam waktu yang sama, pasti kita akan kesulitan dan kebingungan untuk memahami keduanya. Padahal mereka berdua menggunakan bahasa yang sama!Keempat: Mengakui bahwa Allah berada di atasManakala kita berdoa mengangkat tangan ke atas, itu berarti pengakuan dari kita bahwa Allah berada di atas. Sebab yang kita tuju dalam berdoa adalah Allah ta’ala, bukan yang lain-Nya.Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) menjelaskan, “Kita melihat seluruh muslimin mengangkat tangan mereka ke arah langit saat berdoa. Karena Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ‘Arsy berada di atas langit. Kalau bukan karena Allah berada di atas ‘Arsy, kaum muslimin tidak akan mengangkat tangan mereka ke arah ‘Arsy. Makanya saat berdoa, mereka tidak mengarahkan tangannya ke bumi (bawah)”.Bila kita meyakini ini, maka kita akan merasa memiliki Dzat tempat kita bergantung dan berkeluh kesah. Merasa bahwa amal salih dan kebajikan kita diangkat kepada-Nya.“إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Artinya: “Kepada-Nyalah akan naik ucapan-ucapan mulia. Dan amal kebajikan akan mengangkatnya”. QS. Fathir (35): 11.Saat kita mengimani bahwa segala perbuatan dan ucapan kita akan dilaporkan kepada Allah, maka kita pun merasa malu untuk melakukan dan mengucapkan keburukan. Sehingga hanya kebaikanlah yang keluar dari lisan kita. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018 Post navigation Previous Mengasah Mata HatiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Pada pertemuan sebelumnya telah disampaikan beberapa hikmah tersebut. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Mengakui luasnya ilmu AllahSaat kita berdoa sambil mengangkat tangan, disadari atau tidak, sejatinya kita sedang mengakui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya.Bayangkan, dalam satu waktu yang sama, betapa banyak doa yang dipanjatkan manusia seluruh dunia kepada-Nya! Padahal tempat tinggal mereka berbeda-beda, isi permintaannya dan bahasa yang mereka gunakan juga tidak sama.Seluruhnya di sisi Allah, bagaikan satu suara! Semua bisa dikabulkan Allah dengan sangat teliti. Tidak akan tertukar-tukar antara satu permintaan dengan yang lainnya.Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,“الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} [المجادلة: 1]““Segala puji bagi Allah yang bisa mendengar seluruh suara. Sehingga Allah menurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam firman-Nya, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya”. QS Al-Mujadilah (58): 1.Bandingkan dengan kita yang sangat lemah ini! Andaikan ada dua orang saja yang mengajak kita berbicara dalam waktu yang sama, pasti kita akan kesulitan dan kebingungan untuk memahami keduanya. Padahal mereka berdua menggunakan bahasa yang sama!Keempat: Mengakui bahwa Allah berada di atasManakala kita berdoa mengangkat tangan ke atas, itu berarti pengakuan dari kita bahwa Allah berada di atas. Sebab yang kita tuju dalam berdoa adalah Allah ta’ala, bukan yang lain-Nya.Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) menjelaskan, “Kita melihat seluruh muslimin mengangkat tangan mereka ke arah langit saat berdoa. Karena Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ‘Arsy berada di atas langit. Kalau bukan karena Allah berada di atas ‘Arsy, kaum muslimin tidak akan mengangkat tangan mereka ke arah ‘Arsy. Makanya saat berdoa, mereka tidak mengarahkan tangannya ke bumi (bawah)”.Bila kita meyakini ini, maka kita akan merasa memiliki Dzat tempat kita bergantung dan berkeluh kesah. Merasa bahwa amal salih dan kebajikan kita diangkat kepada-Nya.“إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ“Artinya: “Kepada-Nyalah akan naik ucapan-ucapan mulia. Dan amal kebajikan akan mengangkatnya”. QS. Fathir (35): 11.Saat kita mengimani bahwa segala perbuatan dan ucapan kita akan dilaporkan kepada Allah, maka kita pun merasa malu untuk melakukan dan mengucapkan keburukan. Sehingga hanya kebaikanlah yang keluar dari lisan kita. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018 Post navigation Previous Mengasah Mata HatiNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)

Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab meminta izin yang perlu diajarkan pada anak. Berikut kelanjutannya:Keenam: Mengucapkan salam dulu sebelum meminta izin untuk masukRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لَا تَأْذَنُوا لِمَنْ لَمْ يَبْدَأْ بِالسَّلَامِ““Jangan kalian mengizinkan masuk orang yang tidak mengucapkan salam”. HR. Abu Ya’la al-Mushiliy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Ketujuh: Memperkenalkan identitas diriYaitu memperkenalkan diri ketika ditanya, “Siapa?”. Jangan menjawab, “Saya”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi Jabir. Iapun mengetuk pintu. Beliau lalu bertanya, “Siapa?”. Jabir menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, “Saya, saya!”. Seakan beliau tidak berkenan dengan jawaban itu. HR. Bukhari dan Muslim.Sebab jawaban “saya” tersebut tidak menunjukkan identitas diri.Kedelapan: Menundukkan pandangan ketika masukYaitu jangan liar memandang kesana kemari. Adab seperti ini harus ditekankan kepada anak semenjak kecil. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ““Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan dalam rangka untuk menjaga pandangan mata”. HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.Kesembilan: Pulang bila tidak diizinkanKarena Allah ta’ala berfirman,“فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ“Artinya: “Jika kalian tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah masuk sebelum kalian mendapat izin. Jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah”, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. An-Nur (24): 28.Kesepuluh: Dilarang mengintip ke dalam kamar ataupun rumah orang lainAjarkan kepada anak bahwa hukumnya haram mengintip ke dalam rumah ataupun kamar orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ““Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’uts Tsani 1439 / 1 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)Next RINDU ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)

Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab meminta izin yang perlu diajarkan pada anak. Berikut kelanjutannya:Keenam: Mengucapkan salam dulu sebelum meminta izin untuk masukRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لَا تَأْذَنُوا لِمَنْ لَمْ يَبْدَأْ بِالسَّلَامِ““Jangan kalian mengizinkan masuk orang yang tidak mengucapkan salam”. HR. Abu Ya’la al-Mushiliy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Ketujuh: Memperkenalkan identitas diriYaitu memperkenalkan diri ketika ditanya, “Siapa?”. Jangan menjawab, “Saya”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi Jabir. Iapun mengetuk pintu. Beliau lalu bertanya, “Siapa?”. Jabir menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, “Saya, saya!”. Seakan beliau tidak berkenan dengan jawaban itu. HR. Bukhari dan Muslim.Sebab jawaban “saya” tersebut tidak menunjukkan identitas diri.Kedelapan: Menundukkan pandangan ketika masukYaitu jangan liar memandang kesana kemari. Adab seperti ini harus ditekankan kepada anak semenjak kecil. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ““Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan dalam rangka untuk menjaga pandangan mata”. HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.Kesembilan: Pulang bila tidak diizinkanKarena Allah ta’ala berfirman,“فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ“Artinya: “Jika kalian tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah masuk sebelum kalian mendapat izin. Jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah”, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. An-Nur (24): 28.Kesepuluh: Dilarang mengintip ke dalam kamar ataupun rumah orang lainAjarkan kepada anak bahwa hukumnya haram mengintip ke dalam rumah ataupun kamar orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ““Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’uts Tsani 1439 / 1 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)Next RINDU ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab meminta izin yang perlu diajarkan pada anak. Berikut kelanjutannya:Keenam: Mengucapkan salam dulu sebelum meminta izin untuk masukRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لَا تَأْذَنُوا لِمَنْ لَمْ يَبْدَأْ بِالسَّلَامِ““Jangan kalian mengizinkan masuk orang yang tidak mengucapkan salam”. HR. Abu Ya’la al-Mushiliy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Ketujuh: Memperkenalkan identitas diriYaitu memperkenalkan diri ketika ditanya, “Siapa?”. Jangan menjawab, “Saya”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi Jabir. Iapun mengetuk pintu. Beliau lalu bertanya, “Siapa?”. Jabir menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, “Saya, saya!”. Seakan beliau tidak berkenan dengan jawaban itu. HR. Bukhari dan Muslim.Sebab jawaban “saya” tersebut tidak menunjukkan identitas diri.Kedelapan: Menundukkan pandangan ketika masukYaitu jangan liar memandang kesana kemari. Adab seperti ini harus ditekankan kepada anak semenjak kecil. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ““Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan dalam rangka untuk menjaga pandangan mata”. HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.Kesembilan: Pulang bila tidak diizinkanKarena Allah ta’ala berfirman,“فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ“Artinya: “Jika kalian tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah masuk sebelum kalian mendapat izin. Jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah”, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. An-Nur (24): 28.Kesepuluh: Dilarang mengintip ke dalam kamar ataupun rumah orang lainAjarkan kepada anak bahwa hukumnya haram mengintip ke dalam rumah ataupun kamar orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ““Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’uts Tsani 1439 / 1 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)Next RINDU ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan beberapa adab meminta izin yang perlu diajarkan pada anak. Berikut kelanjutannya:Keenam: Mengucapkan salam dulu sebelum meminta izin untuk masukRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“لَا تَأْذَنُوا لِمَنْ لَمْ يَبْدَأْ بِالسَّلَامِ““Jangan kalian mengizinkan masuk orang yang tidak mengucapkan salam”. HR. Abu Ya’la al-Mushiliy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Ketujuh: Memperkenalkan identitas diriYaitu memperkenalkan diri ketika ditanya, “Siapa?”. Jangan menjawab, “Saya”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi Jabir. Iapun mengetuk pintu. Beliau lalu bertanya, “Siapa?”. Jabir menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, “Saya, saya!”. Seakan beliau tidak berkenan dengan jawaban itu. HR. Bukhari dan Muslim.Sebab jawaban “saya” tersebut tidak menunjukkan identitas diri.Kedelapan: Menundukkan pandangan ketika masukYaitu jangan liar memandang kesana kemari. Adab seperti ini harus ditekankan kepada anak semenjak kecil. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ““Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan dalam rangka untuk menjaga pandangan mata”. HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.Kesembilan: Pulang bila tidak diizinkanKarena Allah ta’ala berfirman,“فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ“Artinya: “Jika kalian tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah masuk sebelum kalian mendapat izin. Jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah”, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. An-Nur (24): 28.Kesepuluh: Dilarang mengintip ke dalam kamar ataupun rumah orang lainAjarkan kepada anak bahwa hukumnya haram mengintip ke dalam rumah ataupun kamar orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ““Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’uts Tsani 1439 / 1 Januari 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 136: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 2 (selesai)Next RINDU ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi

Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Post navigation Previous RINDU ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 107: Metode Pembelajaran Anak di Rumah Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi

Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Post navigation Previous RINDU ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 107: Metode Pembelajaran Anak di Rumah Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Post navigation Previous RINDU ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 107: Metode Pembelajaran Anak di Rumah Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Post navigation Previous RINDU ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 107: Metode Pembelajaran Anak di Rumah Bagian 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?

Sajak adalah karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat. Biasanya sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa. Baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan.Aslinya bersajak secara global diperbolehkan dalam Islam. Selama tujuan dan isinya tidak melanggar aturan agama, serta tidak berlebihan.Namun bersajak dalam doa termasuk sesuatu yang seharusnya dihindari.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,“حَدِّثِ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ، فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ، وَلاَ تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا القُرْآنَ، وَلاَ أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي القَوْمَ وَهُمْ فِي حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ، فَانْظُرِ السَّجْعَ مِنَ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ، فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ يَعْنِي لاَ يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ الِاجْتِنَابَ“.“Sampaikan kajian untuk masyarakat sekali sepekan. Bila tidak, sampaikan dua kali sepekan. Kalau engkau ingin lebih, sampaikan tiga kali. Jangan engkau bikin orang bosan dengan al-Qur’an. Tidak seyogyanya engkau mendatangi sekelompok orang yang sedang ngobrol, lalu tiba-tiba engkau memotong obrolan mereka dengan nasehat. Sebab itu akan membuat mereka jenuh. Namun hendaknya diamlah dahulu. Jika mereka memintamu, baru sampaikan nasehat. Sehingga mereka menyimak dengan semangat. Lihat doa yang bersajak lalu jauhilah. Sebab yang kuketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya menjauhi hal tersebut”. HR. Bukhari.Bersajak dalam berdoa terlarang sebab bisa mengganggu keikhlasan dan kekhusyu’an doa. Karena konsentrasinya tertuju kepada susunan sajak tersebut. Padahal salah satu faktor terpenting pendukung terkabulnya doa adalah ikhlas dan khusyu’.Dalam kitab Tafsirnya, Imam al-Qurthubiy rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan, “Sebagian orang membaca doa yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dia lebih memilih redaksi doa yang berbait-bait. Kalimat yang bersajak-sajak. Dia temukan di buku-buku yang tidak berdalil dan tidak memiliki landasan. Dia jadikan doa-doa tersebut sebagai bacaan rutinnya. Lalu dia tinggalkan doa-doa yang biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini semua menghalangi terkabulnya doa.Kecuali bila sajak dalam berdoa itu terjadi tanpa disengaja dan tidak berlebihan. Ini tidak mengapa. Demikian keterangan yang disampaikan as-Saffariniy rahimahullah (w. 1188 H).Contohnya adalah doa-doa bersajak yang ada dalam hadits. Sebab sajak yang ada di dalamnya tidak secara sengaja dijadikan sebagai tujuan utama. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah (w. 852 H).Semisal doa berikut;“اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا““Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari hati yang tidak khusyu’. Dari nafsu yang tidak pernah puas. Serta dari doa yang tidak dikabulkan”. HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018 Post navigation Previous Makmur Luar DalamNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?

Sajak adalah karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat. Biasanya sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa. Baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan.Aslinya bersajak secara global diperbolehkan dalam Islam. Selama tujuan dan isinya tidak melanggar aturan agama, serta tidak berlebihan.Namun bersajak dalam doa termasuk sesuatu yang seharusnya dihindari.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,“حَدِّثِ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ، فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ، وَلاَ تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا القُرْآنَ، وَلاَ أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي القَوْمَ وَهُمْ فِي حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ، فَانْظُرِ السَّجْعَ مِنَ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ، فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ يَعْنِي لاَ يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ الِاجْتِنَابَ“.“Sampaikan kajian untuk masyarakat sekali sepekan. Bila tidak, sampaikan dua kali sepekan. Kalau engkau ingin lebih, sampaikan tiga kali. Jangan engkau bikin orang bosan dengan al-Qur’an. Tidak seyogyanya engkau mendatangi sekelompok orang yang sedang ngobrol, lalu tiba-tiba engkau memotong obrolan mereka dengan nasehat. Sebab itu akan membuat mereka jenuh. Namun hendaknya diamlah dahulu. Jika mereka memintamu, baru sampaikan nasehat. Sehingga mereka menyimak dengan semangat. Lihat doa yang bersajak lalu jauhilah. Sebab yang kuketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya menjauhi hal tersebut”. HR. Bukhari.Bersajak dalam berdoa terlarang sebab bisa mengganggu keikhlasan dan kekhusyu’an doa. Karena konsentrasinya tertuju kepada susunan sajak tersebut. Padahal salah satu faktor terpenting pendukung terkabulnya doa adalah ikhlas dan khusyu’.Dalam kitab Tafsirnya, Imam al-Qurthubiy rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan, “Sebagian orang membaca doa yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dia lebih memilih redaksi doa yang berbait-bait. Kalimat yang bersajak-sajak. Dia temukan di buku-buku yang tidak berdalil dan tidak memiliki landasan. Dia jadikan doa-doa tersebut sebagai bacaan rutinnya. Lalu dia tinggalkan doa-doa yang biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini semua menghalangi terkabulnya doa.Kecuali bila sajak dalam berdoa itu terjadi tanpa disengaja dan tidak berlebihan. Ini tidak mengapa. Demikian keterangan yang disampaikan as-Saffariniy rahimahullah (w. 1188 H).Contohnya adalah doa-doa bersajak yang ada dalam hadits. Sebab sajak yang ada di dalamnya tidak secara sengaja dijadikan sebagai tujuan utama. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah (w. 852 H).Semisal doa berikut;“اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا““Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari hati yang tidak khusyu’. Dari nafsu yang tidak pernah puas. Serta dari doa yang tidak dikabulkan”. HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018 Post navigation Previous Makmur Luar DalamNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sajak adalah karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat. Biasanya sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa. Baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan.Aslinya bersajak secara global diperbolehkan dalam Islam. Selama tujuan dan isinya tidak melanggar aturan agama, serta tidak berlebihan.Namun bersajak dalam doa termasuk sesuatu yang seharusnya dihindari.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,“حَدِّثِ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ، فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ، وَلاَ تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا القُرْآنَ، وَلاَ أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي القَوْمَ وَهُمْ فِي حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ، فَانْظُرِ السَّجْعَ مِنَ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ، فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ يَعْنِي لاَ يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ الِاجْتِنَابَ“.“Sampaikan kajian untuk masyarakat sekali sepekan. Bila tidak, sampaikan dua kali sepekan. Kalau engkau ingin lebih, sampaikan tiga kali. Jangan engkau bikin orang bosan dengan al-Qur’an. Tidak seyogyanya engkau mendatangi sekelompok orang yang sedang ngobrol, lalu tiba-tiba engkau memotong obrolan mereka dengan nasehat. Sebab itu akan membuat mereka jenuh. Namun hendaknya diamlah dahulu. Jika mereka memintamu, baru sampaikan nasehat. Sehingga mereka menyimak dengan semangat. Lihat doa yang bersajak lalu jauhilah. Sebab yang kuketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya menjauhi hal tersebut”. HR. Bukhari.Bersajak dalam berdoa terlarang sebab bisa mengganggu keikhlasan dan kekhusyu’an doa. Karena konsentrasinya tertuju kepada susunan sajak tersebut. Padahal salah satu faktor terpenting pendukung terkabulnya doa adalah ikhlas dan khusyu’.Dalam kitab Tafsirnya, Imam al-Qurthubiy rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan, “Sebagian orang membaca doa yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dia lebih memilih redaksi doa yang berbait-bait. Kalimat yang bersajak-sajak. Dia temukan di buku-buku yang tidak berdalil dan tidak memiliki landasan. Dia jadikan doa-doa tersebut sebagai bacaan rutinnya. Lalu dia tinggalkan doa-doa yang biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini semua menghalangi terkabulnya doa.Kecuali bila sajak dalam berdoa itu terjadi tanpa disengaja dan tidak berlebihan. Ini tidak mengapa. Demikian keterangan yang disampaikan as-Saffariniy rahimahullah (w. 1188 H).Contohnya adalah doa-doa bersajak yang ada dalam hadits. Sebab sajak yang ada di dalamnya tidak secara sengaja dijadikan sebagai tujuan utama. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah (w. 852 H).Semisal doa berikut;“اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا““Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari hati yang tidak khusyu’. Dari nafsu yang tidak pernah puas. Serta dari doa yang tidak dikabulkan”. HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018 Post navigation Previous Makmur Luar DalamNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sajak adalah karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat. Biasanya sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa. Baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan.Aslinya bersajak secara global diperbolehkan dalam Islam. Selama tujuan dan isinya tidak melanggar aturan agama, serta tidak berlebihan.Namun bersajak dalam doa termasuk sesuatu yang seharusnya dihindari.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,“حَدِّثِ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ، فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ، وَلاَ تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا القُرْآنَ، وَلاَ أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي القَوْمَ وَهُمْ فِي حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ، فَانْظُرِ السَّجْعَ مِنَ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ، فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ يَعْنِي لاَ يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ الِاجْتِنَابَ“.“Sampaikan kajian untuk masyarakat sekali sepekan. Bila tidak, sampaikan dua kali sepekan. Kalau engkau ingin lebih, sampaikan tiga kali. Jangan engkau bikin orang bosan dengan al-Qur’an. Tidak seyogyanya engkau mendatangi sekelompok orang yang sedang ngobrol, lalu tiba-tiba engkau memotong obrolan mereka dengan nasehat. Sebab itu akan membuat mereka jenuh. Namun hendaknya diamlah dahulu. Jika mereka memintamu, baru sampaikan nasehat. Sehingga mereka menyimak dengan semangat. Lihat doa yang bersajak lalu jauhilah. Sebab yang kuketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya menjauhi hal tersebut”. HR. Bukhari.Bersajak dalam berdoa terlarang sebab bisa mengganggu keikhlasan dan kekhusyu’an doa. Karena konsentrasinya tertuju kepada susunan sajak tersebut. Padahal salah satu faktor terpenting pendukung terkabulnya doa adalah ikhlas dan khusyu’.Dalam kitab Tafsirnya, Imam al-Qurthubiy rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan, “Sebagian orang membaca doa yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dia lebih memilih redaksi doa yang berbait-bait. Kalimat yang bersajak-sajak. Dia temukan di buku-buku yang tidak berdalil dan tidak memiliki landasan. Dia jadikan doa-doa tersebut sebagai bacaan rutinnya. Lalu dia tinggalkan doa-doa yang biasa dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini semua menghalangi terkabulnya doa.Kecuali bila sajak dalam berdoa itu terjadi tanpa disengaja dan tidak berlebihan. Ini tidak mengapa. Demikian keterangan yang disampaikan as-Saffariniy rahimahullah (w. 1188 H).Contohnya adalah doa-doa bersajak yang ada dalam hadits. Sebab sajak yang ada di dalamnya tidak secara sengaja dijadikan sebagai tujuan utama. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah (w. 852 H).Semisal doa berikut;“اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا““Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari hati yang tidak khusyu’. Dari nafsu yang tidak pernah puas. Serta dari doa yang tidak dikabulkan”. HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018 Post navigation Previous Makmur Luar DalamNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 112METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-6 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Kelima: Metode PembiasaanPembiasaan adalah bagian penting pendidikan anak. Anak yang sejak dalam kandungan terbiasa dengan perilaku baik ayah dan ibunya, cenderung akan mudah memahami apa yang baik dan gampang untuk mengerjakannya. Contohnya ketika dibiasakan mendengarkan bacaan al-Qur’an, ia akan cenderung mudah menghafal Qur’an di setiap fase pertumbuhannya. Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengkondisikan buah hati mereka dalam pendidikan yang berdimensi pembiasaan secara konsisten.Sebaliknya, anak yang terbiasa mendengar lagu, ia akan mudah untuk bisa menyanyi. Dan anak yang terbiasa menonton adegan kekerasan di dalam film, juga potensial menjadi agresif memukul teman-temannya.Contoh lain: anak-anak perempuan bila sejak kecil dibiasakan menggunakan jilbab, insyaAllah akan memudahkannya kelak memahami dan mengamalkan syariat menutup aurat.Sekarang, ketika kita saksikan seorang wanita dengan begitu mudahnya keluar rumah tanpa jilbab, hampir bisa dipastikan karena masa kecilnya tidak terbiasa menggunakan jilbab. Ditambah kala dewasa, masih belum memahami konsep wajibnya memakai jilbab.Dengan demikian, maka kebiasaan positif harus diupayakan. Ingat, kebiasaan bisa membangun dan menentukan masa depan. Orang sukses dan orang gagal, seringkali ditentukan oleh kebiasaan.Oleh karena itu, penting kita memahami mengapa sholat harus lima kali dalam 24 jam sepanjang hayat, dan mengapa dzikir harus diamalkan sebanyak-banyaknya. Membaca al-Qur’an mesti berulang-ulang, bahkan dihafal dan dibaca di berbagai tempat dan aktivitas. Salah satu maknanya adalah pembiasaan.Karena anak adalah peniru ulung dalam kehidupan, maka pembiasaan baik yang ditanamkan kepada buah hati, mesti dibarengi dengan keteladanan dari kedua orang tua. Tidak mungkin anak akan rajin membaca al-Qur’an, jika orang tuanya tidak memberikan keteladanan membaca al-Qur’an secara ajeg.Demikian pula, tidak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi menonton sinetron.Seperti dalam hal sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat saat usianya telah mencapai sepuluh tahun”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk tentang pentingnya pembiasaan anak melakukan kebaikan. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.Jika anak telah dibiasakan sejak umur 7 tahun melakukan shalat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah, sehingga perlu dievaluasi. Tidak kemudian serta-merta anak dihajar. Pemicu perilaku buruk ini adalah karena memahami teks hadits secara parsial.Pekerjaan rumah orang tua berikutnya setelah pembiasaan, adalah berusaha memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum?Jika sudah saatnya, maka hendaklah mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya. Yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik. Sehingga anak menjadi paham, kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan di dalam kehidupannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Sya’ban 1439 / 30 April 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 112METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-6 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Kelima: Metode PembiasaanPembiasaan adalah bagian penting pendidikan anak. Anak yang sejak dalam kandungan terbiasa dengan perilaku baik ayah dan ibunya, cenderung akan mudah memahami apa yang baik dan gampang untuk mengerjakannya. Contohnya ketika dibiasakan mendengarkan bacaan al-Qur’an, ia akan cenderung mudah menghafal Qur’an di setiap fase pertumbuhannya. Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengkondisikan buah hati mereka dalam pendidikan yang berdimensi pembiasaan secara konsisten.Sebaliknya, anak yang terbiasa mendengar lagu, ia akan mudah untuk bisa menyanyi. Dan anak yang terbiasa menonton adegan kekerasan di dalam film, juga potensial menjadi agresif memukul teman-temannya.Contoh lain: anak-anak perempuan bila sejak kecil dibiasakan menggunakan jilbab, insyaAllah akan memudahkannya kelak memahami dan mengamalkan syariat menutup aurat.Sekarang, ketika kita saksikan seorang wanita dengan begitu mudahnya keluar rumah tanpa jilbab, hampir bisa dipastikan karena masa kecilnya tidak terbiasa menggunakan jilbab. Ditambah kala dewasa, masih belum memahami konsep wajibnya memakai jilbab.Dengan demikian, maka kebiasaan positif harus diupayakan. Ingat, kebiasaan bisa membangun dan menentukan masa depan. Orang sukses dan orang gagal, seringkali ditentukan oleh kebiasaan.Oleh karena itu, penting kita memahami mengapa sholat harus lima kali dalam 24 jam sepanjang hayat, dan mengapa dzikir harus diamalkan sebanyak-banyaknya. Membaca al-Qur’an mesti berulang-ulang, bahkan dihafal dan dibaca di berbagai tempat dan aktivitas. Salah satu maknanya adalah pembiasaan.Karena anak adalah peniru ulung dalam kehidupan, maka pembiasaan baik yang ditanamkan kepada buah hati, mesti dibarengi dengan keteladanan dari kedua orang tua. Tidak mungkin anak akan rajin membaca al-Qur’an, jika orang tuanya tidak memberikan keteladanan membaca al-Qur’an secara ajeg.Demikian pula, tidak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi menonton sinetron.Seperti dalam hal sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat saat usianya telah mencapai sepuluh tahun”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk tentang pentingnya pembiasaan anak melakukan kebaikan. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.Jika anak telah dibiasakan sejak umur 7 tahun melakukan shalat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah, sehingga perlu dievaluasi. Tidak kemudian serta-merta anak dihajar. Pemicu perilaku buruk ini adalah karena memahami teks hadits secara parsial.Pekerjaan rumah orang tua berikutnya setelah pembiasaan, adalah berusaha memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum?Jika sudah saatnya, maka hendaklah mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya. Yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik. Sehingga anak menjadi paham, kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan di dalam kehidupannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Sya’ban 1439 / 30 April 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 112METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-6 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Kelima: Metode PembiasaanPembiasaan adalah bagian penting pendidikan anak. Anak yang sejak dalam kandungan terbiasa dengan perilaku baik ayah dan ibunya, cenderung akan mudah memahami apa yang baik dan gampang untuk mengerjakannya. Contohnya ketika dibiasakan mendengarkan bacaan al-Qur’an, ia akan cenderung mudah menghafal Qur’an di setiap fase pertumbuhannya. Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengkondisikan buah hati mereka dalam pendidikan yang berdimensi pembiasaan secara konsisten.Sebaliknya, anak yang terbiasa mendengar lagu, ia akan mudah untuk bisa menyanyi. Dan anak yang terbiasa menonton adegan kekerasan di dalam film, juga potensial menjadi agresif memukul teman-temannya.Contoh lain: anak-anak perempuan bila sejak kecil dibiasakan menggunakan jilbab, insyaAllah akan memudahkannya kelak memahami dan mengamalkan syariat menutup aurat.Sekarang, ketika kita saksikan seorang wanita dengan begitu mudahnya keluar rumah tanpa jilbab, hampir bisa dipastikan karena masa kecilnya tidak terbiasa menggunakan jilbab. Ditambah kala dewasa, masih belum memahami konsep wajibnya memakai jilbab.Dengan demikian, maka kebiasaan positif harus diupayakan. Ingat, kebiasaan bisa membangun dan menentukan masa depan. Orang sukses dan orang gagal, seringkali ditentukan oleh kebiasaan.Oleh karena itu, penting kita memahami mengapa sholat harus lima kali dalam 24 jam sepanjang hayat, dan mengapa dzikir harus diamalkan sebanyak-banyaknya. Membaca al-Qur’an mesti berulang-ulang, bahkan dihafal dan dibaca di berbagai tempat dan aktivitas. Salah satu maknanya adalah pembiasaan.Karena anak adalah peniru ulung dalam kehidupan, maka pembiasaan baik yang ditanamkan kepada buah hati, mesti dibarengi dengan keteladanan dari kedua orang tua. Tidak mungkin anak akan rajin membaca al-Qur’an, jika orang tuanya tidak memberikan keteladanan membaca al-Qur’an secara ajeg.Demikian pula, tidak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi menonton sinetron.Seperti dalam hal sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat saat usianya telah mencapai sepuluh tahun”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk tentang pentingnya pembiasaan anak melakukan kebaikan. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.Jika anak telah dibiasakan sejak umur 7 tahun melakukan shalat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah, sehingga perlu dievaluasi. Tidak kemudian serta-merta anak dihajar. Pemicu perilaku buruk ini adalah karena memahami teks hadits secara parsial.Pekerjaan rumah orang tua berikutnya setelah pembiasaan, adalah berusaha memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum?Jika sudah saatnya, maka hendaklah mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya. Yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik. Sehingga anak menjadi paham, kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan di dalam kehidupannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Sya’ban 1439 / 30 April 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 112METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-6 Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Kelima: Metode PembiasaanPembiasaan adalah bagian penting pendidikan anak. Anak yang sejak dalam kandungan terbiasa dengan perilaku baik ayah dan ibunya, cenderung akan mudah memahami apa yang baik dan gampang untuk mengerjakannya. Contohnya ketika dibiasakan mendengarkan bacaan al-Qur’an, ia akan cenderung mudah menghafal Qur’an di setiap fase pertumbuhannya. Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengkondisikan buah hati mereka dalam pendidikan yang berdimensi pembiasaan secara konsisten.Sebaliknya, anak yang terbiasa mendengar lagu, ia akan mudah untuk bisa menyanyi. Dan anak yang terbiasa menonton adegan kekerasan di dalam film, juga potensial menjadi agresif memukul teman-temannya.Contoh lain: anak-anak perempuan bila sejak kecil dibiasakan menggunakan jilbab, insyaAllah akan memudahkannya kelak memahami dan mengamalkan syariat menutup aurat.Sekarang, ketika kita saksikan seorang wanita dengan begitu mudahnya keluar rumah tanpa jilbab, hampir bisa dipastikan karena masa kecilnya tidak terbiasa menggunakan jilbab. Ditambah kala dewasa, masih belum memahami konsep wajibnya memakai jilbab.Dengan demikian, maka kebiasaan positif harus diupayakan. Ingat, kebiasaan bisa membangun dan menentukan masa depan. Orang sukses dan orang gagal, seringkali ditentukan oleh kebiasaan.Oleh karena itu, penting kita memahami mengapa sholat harus lima kali dalam 24 jam sepanjang hayat, dan mengapa dzikir harus diamalkan sebanyak-banyaknya. Membaca al-Qur’an mesti berulang-ulang, bahkan dihafal dan dibaca di berbagai tempat dan aktivitas. Salah satu maknanya adalah pembiasaan.Karena anak adalah peniru ulung dalam kehidupan, maka pembiasaan baik yang ditanamkan kepada buah hati, mesti dibarengi dengan keteladanan dari kedua orang tua. Tidak mungkin anak akan rajin membaca al-Qur’an, jika orang tuanya tidak memberikan keteladanan membaca al-Qur’an secara ajeg.Demikian pula, tidak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi menonton sinetron.Seperti dalam hal sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat saat usianya telah mencapai sepuluh tahun”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk tentang pentingnya pembiasaan anak melakukan kebaikan. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.Jika anak telah dibiasakan sejak umur 7 tahun melakukan shalat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah, sehingga perlu dievaluasi. Tidak kemudian serta-merta anak dihajar. Pemicu perilaku buruk ini adalah karena memahami teks hadits secara parsial.Pekerjaan rumah orang tua berikutnya setelah pembiasaan, adalah berusaha memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum?Jika sudah saatnya, maka hendaklah mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya. Yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik. Sehingga anak menjadi paham, kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan di dalam kehidupannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Sya’ban 1439 / 30 April 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 140: BOLEHKAH BERSAJAK DALAM DOA?Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN

Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN

Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next