Tafsir Surat An-Naba’ Ayat 1 – 30 (Bagian Kesatu) – Tafsir Juz ‘Amma

Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…

Tafsir Surat An-Naba’ Ayat 1 – 30 (Bagian Kesatu) – Tafsir Juz ‘Amma

Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…
Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…


Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…

Doa Agar Diteguhkan Hati untuk Istiqamah

Ada doa yang rugi kalau kita tidak hafalkan dan amalkan, karena doa ini adalah doa untuk diberi istiqamah oleh Allah. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1470 وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ )) . َروَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2654]   Dalam riwayat selengkapnya disebutkan, إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)   Faedah Hadits   Hati manusia di antara jari jemari Ar-Rahman, Allah membolak-balikkan sekehendak-Nya. Sudah sepatutnya bagi setiap hamba untuk meminta pertolongan dari Allah untuk mendapatkan hidayah, agar terus istiqamah, dan tidak menyimpang. Manusia tidak boleh menggantungkan urusannya pada dirinya sendiri karena tidak akan bisa selamat. Namun bergantunglah kepada Allah. Jangan bergantung pada diri sendiri untuk urusan hidayah walau sekejap mata, gantungkanlah hal itu pada Allah semata. Seorang hamba mukmin hendaklah menempuh sebab dan cara untuk bisa selamat dengan meminta tolong kepada Allah, karena Allah yang menggenggam segala sesuatu dengan mudah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.   Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah Empat Tanda Istiqamah   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-‘Alamiyyah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara istiqomah istiqamah jalan yang lurus kiat istiqomah riyadhus sholihin tips istiqomah

Doa Agar Diteguhkan Hati untuk Istiqamah

Ada doa yang rugi kalau kita tidak hafalkan dan amalkan, karena doa ini adalah doa untuk diberi istiqamah oleh Allah. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1470 وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ )) . َروَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2654]   Dalam riwayat selengkapnya disebutkan, إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)   Faedah Hadits   Hati manusia di antara jari jemari Ar-Rahman, Allah membolak-balikkan sekehendak-Nya. Sudah sepatutnya bagi setiap hamba untuk meminta pertolongan dari Allah untuk mendapatkan hidayah, agar terus istiqamah, dan tidak menyimpang. Manusia tidak boleh menggantungkan urusannya pada dirinya sendiri karena tidak akan bisa selamat. Namun bergantunglah kepada Allah. Jangan bergantung pada diri sendiri untuk urusan hidayah walau sekejap mata, gantungkanlah hal itu pada Allah semata. Seorang hamba mukmin hendaklah menempuh sebab dan cara untuk bisa selamat dengan meminta tolong kepada Allah, karena Allah yang menggenggam segala sesuatu dengan mudah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.   Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah Empat Tanda Istiqamah   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-‘Alamiyyah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara istiqomah istiqamah jalan yang lurus kiat istiqomah riyadhus sholihin tips istiqomah
Ada doa yang rugi kalau kita tidak hafalkan dan amalkan, karena doa ini adalah doa untuk diberi istiqamah oleh Allah. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1470 وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ )) . َروَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2654]   Dalam riwayat selengkapnya disebutkan, إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)   Faedah Hadits   Hati manusia di antara jari jemari Ar-Rahman, Allah membolak-balikkan sekehendak-Nya. Sudah sepatutnya bagi setiap hamba untuk meminta pertolongan dari Allah untuk mendapatkan hidayah, agar terus istiqamah, dan tidak menyimpang. Manusia tidak boleh menggantungkan urusannya pada dirinya sendiri karena tidak akan bisa selamat. Namun bergantunglah kepada Allah. Jangan bergantung pada diri sendiri untuk urusan hidayah walau sekejap mata, gantungkanlah hal itu pada Allah semata. Seorang hamba mukmin hendaklah menempuh sebab dan cara untuk bisa selamat dengan meminta tolong kepada Allah, karena Allah yang menggenggam segala sesuatu dengan mudah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.   Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah Empat Tanda Istiqamah   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-‘Alamiyyah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara istiqomah istiqamah jalan yang lurus kiat istiqomah riyadhus sholihin tips istiqomah


Ada doa yang rugi kalau kita tidak hafalkan dan amalkan, karena doa ini adalah doa untuk diberi istiqamah oleh Allah. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1470 وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ )) . َروَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK (artinya: Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2654]   Dalam riwayat selengkapnya disebutkan, إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)   Faedah Hadits   Hati manusia di antara jari jemari Ar-Rahman, Allah membolak-balikkan sekehendak-Nya. Sudah sepatutnya bagi setiap hamba untuk meminta pertolongan dari Allah untuk mendapatkan hidayah, agar terus istiqamah, dan tidak menyimpang. Manusia tidak boleh menggantungkan urusannya pada dirinya sendiri karena tidak akan bisa selamat. Namun bergantunglah kepada Allah. Jangan bergantung pada diri sendiri untuk urusan hidayah walau sekejap mata, gantungkanlah hal itu pada Allah semata. Seorang hamba mukmin hendaklah menempuh sebab dan cara untuk bisa selamat dengan meminta tolong kepada Allah, karena Allah yang menggenggam segala sesuatu dengan mudah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.   Baca juga: Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah Empat Tanda Istiqamah   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-‘Alamiyyah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara istiqomah istiqamah jalan yang lurus kiat istiqomah riyadhus sholihin tips istiqomah

Kumpulan Amalan Ringan #16: Membangun Masjid

Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid

Kumpulan Amalan Ringan #16: Membangun Masjid

Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid
Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid


Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid

Tersenyum Tidak Batal Shalat

Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid

Tersenyum Tidak Batal Shalat

Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid
Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1045561624&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: <iframe src="https://www.youtube.com/embed/ypVvWkEXfhs" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe> Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Surat Yasin: Dalil Manusia Akan Dibangkitkan

Kali ini kita akan lihat tafsiran surat Yasin ayat 78-81 yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Allah Ta’ala berfirman, وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80)أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 78-81)   Baca juga: Allah Mencipta Tentu Mampu Membangkitkan   Penjelasan Ayat   Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) disebutkan bahwa manusia lupa akan penciptaannya yang dari setetes mani. Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata tentang ayat “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya”, maksudnya ia lupa pada penciptaannya yang pertama. Padahal tulang yang sudah hancur luluh bisa dihimpun kembali oleh Allah. Tentang ayat “Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk’, Allah yang menciptakan manusia pertama kami, tentu mampu membangkitkannya kembali. Di sini disebut Allah itu ‘Aliim (Maha Mengetahui) yaitu mengetahui secara global, terperinci sebelum dan sesudah penciptaan. Demikian diterangkan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, hlm. 456. Adapun kayu yang dimaksudkan dalam ayat “Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” adalah kayu al-markhu dan al-‘afaar (kedua jenis kayu ini kalau digosok cepat terbakar) atau setiap jenis pohon selain pohon al-‘unnab. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) dan Tafsir Al-Baghawi (3:651). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu membangkitkan manusia karena suatu yang basah (air), api, dan kayu–yang disebutkan dalam ayat—bisa disatukan. Padahal dalam kenyataan air dan api tidak bisa bersatu. Dan api sulit membakar kayu yang keras.   Asbabun Nuzul   Sebab turunnya ayat ini (asbabun nuzul) adalah dari kisah Al-‘Ash bin Wail, ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata kepada beliau, “Apakah kita akan dibangkitkan setelah kita jadi tulang belulang yang telah hancur luluh?” Beliau jawab, “Iya akan tetap dibangkitkan. Allah akan mematikanmu kemudian menghidupkanmu kembali, kemudian memasukkanmu dalam neraka Jahannam.” Maka turunlah ayat “أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ” sampai akhir surat Yasin. (Bughyah Al-Bahits dari Zawaid Musnad Al-Harits, no. 719. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini sebagaimana dalam Shahih Sirah An-Nabawiyyah, 1:201. Lihat At-Tafsir Al-Mawdhu’i, 6:334).   Dalil Manusia Akan Dibangkitkan   Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menyatakan bahwa ada empat dalil yang menujukkan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat:   Pertama: Dalil yang menunjukkan Allah menciptakan langit dan bumi, seperti dalam ayat, أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.” (QS. An-Naba’: 6-12) Inilah yang menunjukkan adanya hari berbangkit karena Allah Ta’ala juga berfirman, لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghafir/ Al-Mukmin: 57)   Kedua: Dalil yang menunjukkan dihidupkannya bumi setelah matinya, seperti pada firman Allah, وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) “Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (QS. An-Naba’: 14-17) Kalau tanah yang mati saja bisa hidup kembali dengan air hujan, maka hari berbangkit pun ada sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)   Ketiga: Dalil yang menunjukkan adanya penciptaan manusia. Allah yang mampu menciptakan manusia tentu mampu untuk mengembalikan dengan menghidupkannya kembali. Hal ini sebagaiaman dalam ayat, قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)   Keempat: Dalil yang menunjukkan Allah membangunkan orang yang mengalami mati sugro (mati kecil yaitu tidur), lalu bangun dari tidurnya. Allah Ta’ala berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّىۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۖوَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ “Dan Allahlah yang menidurkan (mewafatkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’am: 60-61) Jiwa yang bangun lagi dari tidurnya menunjukkan adanya hari berbangkit sebagaimana disebutkan pula dalam ayat, فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”(QS. Al-Baqarah: 73) Karenanya setelah bangun tidur, kita disunnahkan membaca, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ “ALHAMDULLILLAHILLADZI AHYAANAA BADA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSHUR” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari, no. 6325)   Dari empat dalil tersebut kita tambahkan lagi dua dalil dari surat Yasin yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Kelima: Manusia diciptakan dari mani yang hina (yang keluar dari tempat najis) hingga ia tumbuh besar. Seperti ini mau mengingkari dan mendustakan Allah yang Mahamampu untuk membangkitkannya. Makanya Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Keenam: Allah menciptakan api dari kayu yang hijau seperti disebutkan dalam surat Yasin ayat 80.   Faedah dari Ayat   Hari berbangkit itu ada. Boleh berdalil dengan logika dalam berhujah dan berargumen. ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi berkata, “Menghidupkan untuk kedua kalinya lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. Apalagi jika yang membangkitkan itulah yang menciptakan pertama kali, tentu lebih udah.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:423.   Referensi:   At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u ‘Amma.Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Ali Al-Kabir.Abu Bakr Jabi Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Baghawi (Ma’alim At-Tanzil).Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi. Penerbit Dar Thiybah. Tafsir Al-Jalalain. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr As-Suyuthi. Penerbit Darus Salam. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikhul Islam Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi. Penerbit Jaizah Dubbi Ad-Dauliyyah Al-Qur’an Al-Karim. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 6:359.   — Disusun di #darushsholihin, Panggang Gunungkidul, 6 Rajab 1440 H (13 Maret 2019), Rabu sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin hari berbangkit hari kiamat surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Dalil Manusia Akan Dibangkitkan

Kali ini kita akan lihat tafsiran surat Yasin ayat 78-81 yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Allah Ta’ala berfirman, وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80)أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 78-81)   Baca juga: Allah Mencipta Tentu Mampu Membangkitkan   Penjelasan Ayat   Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) disebutkan bahwa manusia lupa akan penciptaannya yang dari setetes mani. Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata tentang ayat “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya”, maksudnya ia lupa pada penciptaannya yang pertama. Padahal tulang yang sudah hancur luluh bisa dihimpun kembali oleh Allah. Tentang ayat “Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk’, Allah yang menciptakan manusia pertama kami, tentu mampu membangkitkannya kembali. Di sini disebut Allah itu ‘Aliim (Maha Mengetahui) yaitu mengetahui secara global, terperinci sebelum dan sesudah penciptaan. Demikian diterangkan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, hlm. 456. Adapun kayu yang dimaksudkan dalam ayat “Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” adalah kayu al-markhu dan al-‘afaar (kedua jenis kayu ini kalau digosok cepat terbakar) atau setiap jenis pohon selain pohon al-‘unnab. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) dan Tafsir Al-Baghawi (3:651). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu membangkitkan manusia karena suatu yang basah (air), api, dan kayu–yang disebutkan dalam ayat—bisa disatukan. Padahal dalam kenyataan air dan api tidak bisa bersatu. Dan api sulit membakar kayu yang keras.   Asbabun Nuzul   Sebab turunnya ayat ini (asbabun nuzul) adalah dari kisah Al-‘Ash bin Wail, ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata kepada beliau, “Apakah kita akan dibangkitkan setelah kita jadi tulang belulang yang telah hancur luluh?” Beliau jawab, “Iya akan tetap dibangkitkan. Allah akan mematikanmu kemudian menghidupkanmu kembali, kemudian memasukkanmu dalam neraka Jahannam.” Maka turunlah ayat “أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ” sampai akhir surat Yasin. (Bughyah Al-Bahits dari Zawaid Musnad Al-Harits, no. 719. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini sebagaimana dalam Shahih Sirah An-Nabawiyyah, 1:201. Lihat At-Tafsir Al-Mawdhu’i, 6:334).   Dalil Manusia Akan Dibangkitkan   Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menyatakan bahwa ada empat dalil yang menujukkan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat:   Pertama: Dalil yang menunjukkan Allah menciptakan langit dan bumi, seperti dalam ayat, أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.” (QS. An-Naba’: 6-12) Inilah yang menunjukkan adanya hari berbangkit karena Allah Ta’ala juga berfirman, لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghafir/ Al-Mukmin: 57)   Kedua: Dalil yang menunjukkan dihidupkannya bumi setelah matinya, seperti pada firman Allah, وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) “Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (QS. An-Naba’: 14-17) Kalau tanah yang mati saja bisa hidup kembali dengan air hujan, maka hari berbangkit pun ada sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)   Ketiga: Dalil yang menunjukkan adanya penciptaan manusia. Allah yang mampu menciptakan manusia tentu mampu untuk mengembalikan dengan menghidupkannya kembali. Hal ini sebagaiaman dalam ayat, قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)   Keempat: Dalil yang menunjukkan Allah membangunkan orang yang mengalami mati sugro (mati kecil yaitu tidur), lalu bangun dari tidurnya. Allah Ta’ala berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّىۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۖوَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ “Dan Allahlah yang menidurkan (mewafatkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’am: 60-61) Jiwa yang bangun lagi dari tidurnya menunjukkan adanya hari berbangkit sebagaimana disebutkan pula dalam ayat, فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”(QS. Al-Baqarah: 73) Karenanya setelah bangun tidur, kita disunnahkan membaca, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ “ALHAMDULLILLAHILLADZI AHYAANAA BADA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSHUR” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari, no. 6325)   Dari empat dalil tersebut kita tambahkan lagi dua dalil dari surat Yasin yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Kelima: Manusia diciptakan dari mani yang hina (yang keluar dari tempat najis) hingga ia tumbuh besar. Seperti ini mau mengingkari dan mendustakan Allah yang Mahamampu untuk membangkitkannya. Makanya Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Keenam: Allah menciptakan api dari kayu yang hijau seperti disebutkan dalam surat Yasin ayat 80.   Faedah dari Ayat   Hari berbangkit itu ada. Boleh berdalil dengan logika dalam berhujah dan berargumen. ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi berkata, “Menghidupkan untuk kedua kalinya lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. Apalagi jika yang membangkitkan itulah yang menciptakan pertama kali, tentu lebih udah.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:423.   Referensi:   At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u ‘Amma.Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Ali Al-Kabir.Abu Bakr Jabi Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Baghawi (Ma’alim At-Tanzil).Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi. Penerbit Dar Thiybah. Tafsir Al-Jalalain. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr As-Suyuthi. Penerbit Darus Salam. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikhul Islam Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi. Penerbit Jaizah Dubbi Ad-Dauliyyah Al-Qur’an Al-Karim. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 6:359.   — Disusun di #darushsholihin, Panggang Gunungkidul, 6 Rajab 1440 H (13 Maret 2019), Rabu sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin hari berbangkit hari kiamat surat yasin tafsir surat yasin
Kali ini kita akan lihat tafsiran surat Yasin ayat 78-81 yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Allah Ta’ala berfirman, وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80)أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 78-81)   Baca juga: Allah Mencipta Tentu Mampu Membangkitkan   Penjelasan Ayat   Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) disebutkan bahwa manusia lupa akan penciptaannya yang dari setetes mani. Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata tentang ayat “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya”, maksudnya ia lupa pada penciptaannya yang pertama. Padahal tulang yang sudah hancur luluh bisa dihimpun kembali oleh Allah. Tentang ayat “Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk’, Allah yang menciptakan manusia pertama kami, tentu mampu membangkitkannya kembali. Di sini disebut Allah itu ‘Aliim (Maha Mengetahui) yaitu mengetahui secara global, terperinci sebelum dan sesudah penciptaan. Demikian diterangkan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, hlm. 456. Adapun kayu yang dimaksudkan dalam ayat “Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” adalah kayu al-markhu dan al-‘afaar (kedua jenis kayu ini kalau digosok cepat terbakar) atau setiap jenis pohon selain pohon al-‘unnab. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) dan Tafsir Al-Baghawi (3:651). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu membangkitkan manusia karena suatu yang basah (air), api, dan kayu–yang disebutkan dalam ayat—bisa disatukan. Padahal dalam kenyataan air dan api tidak bisa bersatu. Dan api sulit membakar kayu yang keras.   Asbabun Nuzul   Sebab turunnya ayat ini (asbabun nuzul) adalah dari kisah Al-‘Ash bin Wail, ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata kepada beliau, “Apakah kita akan dibangkitkan setelah kita jadi tulang belulang yang telah hancur luluh?” Beliau jawab, “Iya akan tetap dibangkitkan. Allah akan mematikanmu kemudian menghidupkanmu kembali, kemudian memasukkanmu dalam neraka Jahannam.” Maka turunlah ayat “أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ” sampai akhir surat Yasin. (Bughyah Al-Bahits dari Zawaid Musnad Al-Harits, no. 719. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini sebagaimana dalam Shahih Sirah An-Nabawiyyah, 1:201. Lihat At-Tafsir Al-Mawdhu’i, 6:334).   Dalil Manusia Akan Dibangkitkan   Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menyatakan bahwa ada empat dalil yang menujukkan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat:   Pertama: Dalil yang menunjukkan Allah menciptakan langit dan bumi, seperti dalam ayat, أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.” (QS. An-Naba’: 6-12) Inilah yang menunjukkan adanya hari berbangkit karena Allah Ta’ala juga berfirman, لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghafir/ Al-Mukmin: 57)   Kedua: Dalil yang menunjukkan dihidupkannya bumi setelah matinya, seperti pada firman Allah, وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) “Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (QS. An-Naba’: 14-17) Kalau tanah yang mati saja bisa hidup kembali dengan air hujan, maka hari berbangkit pun ada sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)   Ketiga: Dalil yang menunjukkan adanya penciptaan manusia. Allah yang mampu menciptakan manusia tentu mampu untuk mengembalikan dengan menghidupkannya kembali. Hal ini sebagaiaman dalam ayat, قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)   Keempat: Dalil yang menunjukkan Allah membangunkan orang yang mengalami mati sugro (mati kecil yaitu tidur), lalu bangun dari tidurnya. Allah Ta’ala berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّىۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۖوَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ “Dan Allahlah yang menidurkan (mewafatkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’am: 60-61) Jiwa yang bangun lagi dari tidurnya menunjukkan adanya hari berbangkit sebagaimana disebutkan pula dalam ayat, فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”(QS. Al-Baqarah: 73) Karenanya setelah bangun tidur, kita disunnahkan membaca, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ “ALHAMDULLILLAHILLADZI AHYAANAA BADA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSHUR” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari, no. 6325)   Dari empat dalil tersebut kita tambahkan lagi dua dalil dari surat Yasin yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Kelima: Manusia diciptakan dari mani yang hina (yang keluar dari tempat najis) hingga ia tumbuh besar. Seperti ini mau mengingkari dan mendustakan Allah yang Mahamampu untuk membangkitkannya. Makanya Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Keenam: Allah menciptakan api dari kayu yang hijau seperti disebutkan dalam surat Yasin ayat 80.   Faedah dari Ayat   Hari berbangkit itu ada. Boleh berdalil dengan logika dalam berhujah dan berargumen. ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi berkata, “Menghidupkan untuk kedua kalinya lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. Apalagi jika yang membangkitkan itulah yang menciptakan pertama kali, tentu lebih udah.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:423.   Referensi:   At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u ‘Amma.Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Ali Al-Kabir.Abu Bakr Jabi Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Baghawi (Ma’alim At-Tanzil).Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi. Penerbit Dar Thiybah. Tafsir Al-Jalalain. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr As-Suyuthi. Penerbit Darus Salam. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikhul Islam Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi. Penerbit Jaizah Dubbi Ad-Dauliyyah Al-Qur’an Al-Karim. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 6:359.   — Disusun di #darushsholihin, Panggang Gunungkidul, 6 Rajab 1440 H (13 Maret 2019), Rabu sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin hari berbangkit hari kiamat surat yasin tafsir surat yasin


Kali ini kita akan lihat tafsiran surat Yasin ayat 78-81 yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Allah Ta’ala berfirman, وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80)أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81) “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 78-81)   Baca juga: Allah Mencipta Tentu Mampu Membangkitkan   Penjelasan Ayat   Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) disebutkan bahwa manusia lupa akan penciptaannya yang dari setetes mani. Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata tentang ayat “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya”, maksudnya ia lupa pada penciptaannya yang pertama. Padahal tulang yang sudah hancur luluh bisa dihimpun kembali oleh Allah. Tentang ayat “Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk’, Allah yang menciptakan manusia pertama kami, tentu mampu membangkitkannya kembali. Di sini disebut Allah itu ‘Aliim (Maha Mengetahui) yaitu mengetahui secara global, terperinci sebelum dan sesudah penciptaan. Demikian diterangkan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, hlm. 456. Adapun kayu yang dimaksudkan dalam ayat “Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” adalah kayu al-markhu dan al-‘afaar (kedua jenis kayu ini kalau digosok cepat terbakar) atau setiap jenis pohon selain pohon al-‘unnab. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 456) dan Tafsir Al-Baghawi (3:651). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu membangkitkan manusia karena suatu yang basah (air), api, dan kayu–yang disebutkan dalam ayat—bisa disatukan. Padahal dalam kenyataan air dan api tidak bisa bersatu. Dan api sulit membakar kayu yang keras.   Asbabun Nuzul   Sebab turunnya ayat ini (asbabun nuzul) adalah dari kisah Al-‘Ash bin Wail, ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata kepada beliau, “Apakah kita akan dibangkitkan setelah kita jadi tulang belulang yang telah hancur luluh?” Beliau jawab, “Iya akan tetap dibangkitkan. Allah akan mematikanmu kemudian menghidupkanmu kembali, kemudian memasukkanmu dalam neraka Jahannam.” Maka turunlah ayat “أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ” sampai akhir surat Yasin. (Bughyah Al-Bahits dari Zawaid Musnad Al-Harits, no. 719. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini sebagaimana dalam Shahih Sirah An-Nabawiyyah, 1:201. Lihat At-Tafsir Al-Mawdhu’i, 6:334).   Dalil Manusia Akan Dibangkitkan   Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menyatakan bahwa ada empat dalil yang menujukkan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat:   Pertama: Dalil yang menunjukkan Allah menciptakan langit dan bumi, seperti dalam ayat, أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.” (QS. An-Naba’: 6-12) Inilah yang menunjukkan adanya hari berbangkit karena Allah Ta’ala juga berfirman, لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghafir/ Al-Mukmin: 57)   Kedua: Dalil yang menunjukkan dihidupkannya bumi setelah matinya, seperti pada firman Allah, وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) “Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.” (QS. An-Naba’: 14-17) Kalau tanah yang mati saja bisa hidup kembali dengan air hujan, maka hari berbangkit pun ada sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39)   Ketiga: Dalil yang menunjukkan adanya penciptaan manusia. Allah yang mampu menciptakan manusia tentu mampu untuk mengembalikan dengan menghidupkannya kembali. Hal ini sebagaiaman dalam ayat, قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)   Keempat: Dalil yang menunjukkan Allah membangunkan orang yang mengalami mati sugro (mati kecil yaitu tidur), lalu bangun dari tidurnya. Allah Ta’ala berfirman, وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّىۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۖوَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ “Dan Allahlah yang menidurkan (mewafatkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’am: 60-61) Jiwa yang bangun lagi dari tidurnya menunjukkan adanya hari berbangkit sebagaimana disebutkan pula dalam ayat, فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”(QS. Al-Baqarah: 73) Karenanya setelah bangun tidur, kita disunnahkan membaca, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ “ALHAMDULLILLAHILLADZI AHYAANAA BADA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSHUR” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari, no. 6325)   Dari empat dalil tersebut kita tambahkan lagi dua dalil dari surat Yasin yang menunjukkan adanya hari berbangkit.   Kelima: Manusia diciptakan dari mani yang hina (yang keluar dari tempat najis) hingga ia tumbuh besar. Seperti ini mau mengingkari dan mendustakan Allah yang Mahamampu untuk membangkitkannya. Makanya Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Keenam: Allah menciptakan api dari kayu yang hijau seperti disebutkan dalam surat Yasin ayat 80.   Faedah dari Ayat   Hari berbangkit itu ada. Boleh berdalil dengan logika dalam berhujah dan berargumen. ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi berkata, “Menghidupkan untuk kedua kalinya lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. Apalagi jika yang membangkitkan itulah yang menciptakan pertama kali, tentu lebih udah.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:423.   Referensi:   At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil – Juz-u ‘Amma.Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Ali Al-Kabir.Abu Bakr Jabi Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Baghawi (Ma’alim At-Tanzil).Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi. Penerbit Dar Thiybah. Tafsir Al-Jalalain. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr As-Suyuthi. Penerbit Darus Salam. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikhul Islam Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdussalam As-Sulmi. Penerbit Jaizah Dubbi Ad-Dauliyyah Al-Qur’an Al-Karim. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 6:359.   — Disusun di #darushsholihin, Panggang Gunungkidul, 6 Rajab 1440 H (13 Maret 2019), Rabu sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin hari berbangkit hari kiamat surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-Quran

Sekarang kisah terakhir dakwah ke Thaif, saat itu jin mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Baca juga: Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an Lantas Berdakwah kepada Kaumnya   Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamul lail (shalat malam), maka datang kepadanya sekelompok bangsa jin, mereka mendengarkan dengan seksama bacaan beliau, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka sehingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32) “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32) Ketika perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendekati kota Makkah, berkatalah Zaid bin Haritsah kepadanya, “Bagaimana engkau memasuki Makkah, sementara mereka (orang Quraisy) telah mengusirmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang kamu alami ini, dan sesungguhnya Dia akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.” Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Al-Akhnas bin Syureiq untuk memberikan suaka (perlindungan) kepada beliau, tetapi ia Al-Akhnas meminta maaf, lalu beliau meminta suaka kepada Suhail bin Amr, ia pun meminta maaf. Kemudian beliau meminta suaka kepada Al-Muth’im bin Adi dan dia bersedia memberikan suaka itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap mengingat jasa baik Al-Muth’im ini, sehingga ketika ada permasalahan tentang tawanan perang Badar, beliau mengatakan, لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِىٍّ حَيًّا ، ثُمَّ كَلَّمَنِى فِى هَؤُلاَءِ النَّتْنَى ، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ “Seandainya Al-Muth’im bin Adiy masih hidup, lalu dia membicarakan persoalan tawanan ini kepadaku, niscaya akan aku serahkan urusan mereka kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 3139) Nantikan pembahasan berikutnya tentang pelajaran dari dakwah ke Thaif.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsdakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-Quran

Sekarang kisah terakhir dakwah ke Thaif, saat itu jin mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Baca juga: Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an Lantas Berdakwah kepada Kaumnya   Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamul lail (shalat malam), maka datang kepadanya sekelompok bangsa jin, mereka mendengarkan dengan seksama bacaan beliau, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka sehingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32) “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32) Ketika perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendekati kota Makkah, berkatalah Zaid bin Haritsah kepadanya, “Bagaimana engkau memasuki Makkah, sementara mereka (orang Quraisy) telah mengusirmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang kamu alami ini, dan sesungguhnya Dia akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.” Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Al-Akhnas bin Syureiq untuk memberikan suaka (perlindungan) kepada beliau, tetapi ia Al-Akhnas meminta maaf, lalu beliau meminta suaka kepada Suhail bin Amr, ia pun meminta maaf. Kemudian beliau meminta suaka kepada Al-Muth’im bin Adi dan dia bersedia memberikan suaka itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap mengingat jasa baik Al-Muth’im ini, sehingga ketika ada permasalahan tentang tawanan perang Badar, beliau mengatakan, لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِىٍّ حَيًّا ، ثُمَّ كَلَّمَنِى فِى هَؤُلاَءِ النَّتْنَى ، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ “Seandainya Al-Muth’im bin Adiy masih hidup, lalu dia membicarakan persoalan tawanan ini kepadaku, niscaya akan aku serahkan urusan mereka kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 3139) Nantikan pembahasan berikutnya tentang pelajaran dari dakwah ke Thaif.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsdakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi
Sekarang kisah terakhir dakwah ke Thaif, saat itu jin mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Baca juga: Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an Lantas Berdakwah kepada Kaumnya   Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamul lail (shalat malam), maka datang kepadanya sekelompok bangsa jin, mereka mendengarkan dengan seksama bacaan beliau, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka sehingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32) “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32) Ketika perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendekati kota Makkah, berkatalah Zaid bin Haritsah kepadanya, “Bagaimana engkau memasuki Makkah, sementara mereka (orang Quraisy) telah mengusirmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang kamu alami ini, dan sesungguhnya Dia akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.” Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Al-Akhnas bin Syureiq untuk memberikan suaka (perlindungan) kepada beliau, tetapi ia Al-Akhnas meminta maaf, lalu beliau meminta suaka kepada Suhail bin Amr, ia pun meminta maaf. Kemudian beliau meminta suaka kepada Al-Muth’im bin Adi dan dia bersedia memberikan suaka itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap mengingat jasa baik Al-Muth’im ini, sehingga ketika ada permasalahan tentang tawanan perang Badar, beliau mengatakan, لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِىٍّ حَيًّا ، ثُمَّ كَلَّمَنِى فِى هَؤُلاَءِ النَّتْنَى ، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ “Seandainya Al-Muth’im bin Adiy masih hidup, lalu dia membicarakan persoalan tawanan ini kepadaku, niscaya akan aku serahkan urusan mereka kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 3139) Nantikan pembahasan berikutnya tentang pelajaran dari dakwah ke Thaif.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsdakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi


Sekarang kisah terakhir dakwah ke Thaif, saat itu jin mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Baca juga: Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an Lantas Berdakwah kepada Kaumnya   Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamul lail (shalat malam), maka datang kepadanya sekelompok bangsa jin, mereka mendengarkan dengan seksama bacaan beliau, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka sehingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32) “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32) Ketika perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendekati kota Makkah, berkatalah Zaid bin Haritsah kepadanya, “Bagaimana engkau memasuki Makkah, sementara mereka (orang Quraisy) telah mengusirmu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang kamu alami ini, dan sesungguhnya Dia akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.” Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Al-Akhnas bin Syureiq untuk memberikan suaka (perlindungan) kepada beliau, tetapi ia Al-Akhnas meminta maaf, lalu beliau meminta suaka kepada Suhail bin Amr, ia pun meminta maaf. Kemudian beliau meminta suaka kepada Al-Muth’im bin Adi dan dia bersedia memberikan suaka itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap mengingat jasa baik Al-Muth’im ini, sehingga ketika ada permasalahan tentang tawanan perang Badar, beliau mengatakan, لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِىٍّ حَيًّا ، ثُمَّ كَلَّمَنِى فِى هَؤُلاَءِ النَّتْنَى ، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ “Seandainya Al-Muth’im bin Adiy masih hidup, lalu dia membicarakan persoalan tawanan ini kepadaku, niscaya akan aku serahkan urusan mereka kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 3139) Nantikan pembahasan berikutnya tentang pelajaran dari dakwah ke Thaif.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsdakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi

Muqaddimah Tafsir Juz ‘Amma

Muqaddimahبِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِإنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعدهيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَفَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.lmu tafsir merupakan ilmu yang sangat penting yang dengannya kita mempelajari makna dan kandungan dari firman Allah Subhanallahu wata’ala. Al–Qur’an adalah mukjizat yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, yang merupakan kitabul huda yaitu kitab yang membawa kepada petunjuk. Barang siapa yang ingin mencari petunjuk dari Al Qur’an maka dia akan meraihnya. Al–Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi yang lebih utama adalah untuk diamalkan. Dan seseorang tidak akan bisa mengamalkan Al Quran dengan baik kecuali setelah memahami makna dan tafsir dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata :إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآَنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا“Al–Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang menjadikan bacaannya sebagai amalan”. (Akhlak Ahli Al-Qur’an hal 102 No. 37)Suatu perkara yang menggembirakan menyaksikan orang-orang mulai bersemangat untuk mempelajari dan menekuni bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik. Mereka mempelajari hukum-hukum tajwidnya dan juga makharijul huruf (cara yang benar dalam mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an). Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika hanya mencukupkan diri sekedar mempelajari hukum-hukum tajwid saja tanpa mempelajari kandungan isi dari al-Qur’an itu sendiri. Karena tujuan utama diturunkannya al-Qur’an bukan semata dibaca tetapi membacanya adalah sarana untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.Tidak mungkin seseorang mengamalkan Al–Quran dengan baik kecuali setelah memahami tafsir dan kandungan Al Quran tersebut. Sebagaimana seseorang sulit untuk khusyuk di dalam shalatnya jika tidak memahami apa yang dia baca. Seseorang ketika melantunkan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala di dalam shalatnya, semakin ia memahami kandungan ayat-ayat yang ia baca maka semakin memungkinkan baginya untuk khusyuk. Seseorang yang membaca surat Al-Fatihah kemudian dia membaca terjemahannya –bukan tafsirannya tetapi hanya terjemahannya saja–, maka dia akan merasakan sesuatu yang lain didalam shalatnya.Hal itu bisa terjadi karena dia mengerti terjemah lafdziah (secara lafadz) surat Al-Fatihah. Berbeda dengan seseorang yang melantunkan surat Al-Fatihah dengan membacanya semata tanpa mengetahui terjemahan dari surat tersebut. Berbeda lagi dengan seseorang yang membaca surat Al–Fatihah, selain dia membaca terjemahannya dia juga membaca tafsiran ringkasnya. Seperti apakah maksud firman Allahالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَdan seterusnya maka dia akan lebih khusyuk lagi di dalam shalatnya. Dan berbeda lagi ketika orang itu membaca surat Al-Fatihah disertai dengan mengetahui tafsirannya yang begitu luas –sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka– maka dia akan merasakan kekhusyukan yang lebih lagi.Renungkanlah pernyataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di akhir hayat beliau, dimana beliau berkata :وَنَدِمْتُ عَلَى تَضْيِيْعِ أَكْثَرِ أَوْقَاتِي فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ“Dan aku menyesal karena menghabiskan kebanyakan waktuku pada selain memahami makna-makna (tafsir) al-Qur’an” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 4/519)Padahal beliau banyak sekali menulis tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan penjelasan-penjelasan beliau tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an sangat menakjubkan. Hanya saja memang kebanyakan tulisan beliau adalah tentang aqidah dan fiqh.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Taimiyyah dalam ilmu tafsir :برع فِي تفسير الْقُرْآن، وغاص فِي دقيق معانيه بطبع سيال، وخاطر إِلَى مواقع الإِشكال ميال، واستنبط منه أشياء لَمْ يسبق إِلَيْهَا“Ibnu Taimiyyah unggul dalam tafsir al-Qur’an, beliau menyelami dengan dalam akan makna-makna yang detail dengan insting yang mengalir. Beliau masuk ke dalam makna-makna yang sulit dipahami. Beliau mengeluarkan faidah-faidah dari al-Qur’an yang tidak pernah dikeluarkan oleh orang-orang sebelumnya.” (Mu’jam Syuyukh Adz-Dzhabi sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/496-497)Adz-Dzahabi juga berkata :وَأَمَّا التفسير فَمُسَلَّمٌ إِلَيْهِ. وَلَهُ مِنِ اسْتِحْضاَرِ الآيَاتِ مِنَ الْقُرْآنِ – وَقْتَ إِقَامَةِ الدَّلِيْلِ بِهَا عَلَى الْمَسْأَلَةِ – قُوَّةٌ عَجِيْبَةٌ. وَإِذَا رَآهُ الْمُقْرِئُ تَحَيَّرَ فِيْهِ. وَلِفَرْطِ إِمَامَتِهِ فِي التَّفْسِيْرِ، وَعِظَمِ إِطْلاَعِهِ يُبَيِّنُ خَطْأَ كَثِيْرٍ مِنَ أَقْوَالِ الْمُفَسِّرِيْنَ“Adapun ilmu tafsir maka tidak diragukan lagi akan kehebatan Ibnu Taimiyyah. Beliau memiliki kemampuan menakjubkan dalam hal menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an ketika berdalil untuk suatu permasalahan. Jika seorang qari’ melihat beliau maka dia akan terheran-heran dengan beliau. Karena begitu kuat keimaman beliau dalam tafsir dan begitu luas penelaahan beliau, sampai-sampai beliau menjelaskan kesalahan banyak pendapat para ahli tafsir.” (Tarikh adz-Dzahabi al-Kabir, sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/501)Di akhir hayat beliau -tatkala beliau di penjara- banyak waktu beliau gunakan untuk merenungkan ayat-ayat al-Qur’an. Sepertinya beliau begitu tenggelam dalam kebahagiaan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an sehingga muncullah penyesalan dalam diri beliau tersebut. Penyesalan yang keluar dari seorang yang ahli dan pakar tafsir. Penyesalan ini memberi isyarat dan seruan kepada para ulama -apalagi orang awam- untuk memperhatikan ilmu tafsir.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :فقراءة آيَة بتفكر وتفهم خير من قِرَاءَة ختمة بِغَيْر تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى الى حُصُول الايمان وذوق حلاوة الْقُرْآن وَهَذِه كَانَت عَادَة السّلف يُرَدِّدُ أَحَدُهُمْ الآيةَ إِلى الصَّباح وَقد ثَبت عَن النَّبِي إِنَّهُ قَامَ بِآيَة يُرَدِّدهَا حَتَّى الصَّباح وَهِي قَوْله {إِن تُعَذبهُمْ فَإِنَّهُم عِبَادك وَإِن تغْفر لَهُم فَإنَّك أَنْت الْعَزِيز الْحَكِيم} فقراءة الْقُرْآن بالتفكر هِيَ أَصْلُ صَلَاح الْقلب“Membaca satu ayat dengan perenungan dan pemahaman lebih baik dari membaca al-Qur’an hingga khatam namun tanpa tadabbur dan pemahaman. Hal itu juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mendorong untuk meraih keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Dan inilah kebiasaan para salaf dimana salah seorang dari mereka mengulang-ngulang satu ayat hingga pagi hari. Telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasaya beliau shalat malam dengan mambaca satu ayat, beliau mengulang-ngulanginya hingga subuh, yaitu firman Allah, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Maidah : 118) (HR Ahmad No. 21328 dengan sanad yang hasan). Maka membaca al-Qur’an dengan perenungan adalah pokok dari baiknya hati.” (Miftaah Daaris Sa’aadah hal. 187)Tafsir Juz’ ‘Amma :Juz ‘amma atau juz ke 30, merupakan juz yang sangat penting mengingat juz ‘amma berisi surat-surat yang banyak dihafalkan oleh kaum muslimin, sering dibaca oleh para imam di masjid-masjid. Dan dalam juz ‘amma Allah Subhanallahu wata’ala sering menyebutkan tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah. Seperti al–iman billah (iman kepada Allah), kemudian al–iman bi ar-rusul (beriman kepada rasul-rasul Allah), dan al–iman bi al-yaumi al-akhir (beriman pada hari akhirat). Akan kita dapati tatkala kita membaca surat-surat yang terdapat dalam juz amma, Allah Subhanallahu wata’ala banyak menyinggung ke-3 perkara ini, terutama tentang hari kiamat, tentang hari dibangkitkannya manusia di akhirat kelak. Di samping itu, kebanyakan surat-surat yang terdapat dalam juz ‘amma adalah surat-surat makiyyah, bukan surat-surat madaniyyah.Surat makiyyah atau ayat makiyyah yaitu surat atau ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala sebelum Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berhijrah ke madinah. Adapun surat atau ayat yang diturunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam setelah hijrah ke Madinah disebut surat madaniyah atau ayat madaniyyah, meskipun surat dan ayat tersebut turun di mekkah. Jadi, penamaan surat madaniyyah dan makiyyah meskipun secara sekilas penamaannya ditinjau dari sisi tempat namun pada hakikatnya ditinjau dari sisi waktu bukan dari sisi tempat. Sebagai contoh surat An-Nashr :إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An-Nashr 1-3)Surat ini turun tatkala Nabi di Mekah -yaitu di Mina pada hari-hari tasyriq ketika haji wada’-, akan tetapi surat ini dinamakan dengan surat Madaniyah karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Contoh lain firman Allah :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan nikmatKu atas kalian dan aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS Al-Maidah : 3).Ayat ini turun di padang ‘Arafah (di Mekah) tatkala Nabi haji wada’, akan tetapi ayat ini adalah ayat madaniyah, karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Surat-surat dalam juz ‘amma kebanyakannya adalah surat makiyyah, karenanya kita dapati surat-surat yang ada di juz amma kandungannya terkonsentrasi pada pokok-pokok aqidah dan iman. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena surat-surat tersebut turun kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam tatkala beliau masih di Mekah untuk mendakwahi orang-orang musyirikin arab, dimana mereka mengingkari pokok-pokok keimanan. Berbeda tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah berpindah ke madinah, yang turun kebanyakannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih seperti ayat-ayat zakat, puasa, haji, demikian juga hukum-hukum islam yang lain. Ini semua turun tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah tinggal di madinah. Hal ini dikarenakan kaum muslimin sudah memiliki negara islam sehingga kondisi kaum muslimin lebih stabil dan aqidah mereka juga sudah semakin kuat. Namun bukan berarti Nabi tidak konsentrasi ke Aqidah. Nabi tetap konsentrasi dengan dakwah aqidah sejak dakwah beliau di Mekah hingga akhir hayat beliau di Madinah, hanya saja di Madinah lebih banyak syari’at-syari’at fiqih yang turun.Berbeda tatkala Nabi Shallalahu ‘alaihi wassallam berada dimekah selama 13 tahun, konsentrasi dakwah Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam adalah mengenai perkara aqidah, tidak ada hukum-hukum islam yang turun kecuali shalat. Karena shalat diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mulai diwajibkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berada di mekkah. Adapun hukum-hukum yang lain, diturunkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah di kota madinah. Karenanya kita dapati isi kandungan surat-surat dari juz ‘amma terkonsentrasi pada pembahasan aqidah. Selain untuk mengokohkan aqidah para sahabat, ayat-ayat aqidah yang turun pada saat itu adalah bantahan kepada pemikiran kaum musyirikin arab yang mengingkari adanya hari kiamat. Mereka mengingkari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassallam sebagi seorang rasul sehingga berkonsekuensi mereka juga mengingkari kabar-kabar yang datang dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam diantaranya tentang hari kiamat.Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78…Bersambung insya Allah…

Muqaddimah Tafsir Juz ‘Amma

Muqaddimahبِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِإنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعدهيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَفَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.lmu tafsir merupakan ilmu yang sangat penting yang dengannya kita mempelajari makna dan kandungan dari firman Allah Subhanallahu wata’ala. Al–Qur’an adalah mukjizat yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, yang merupakan kitabul huda yaitu kitab yang membawa kepada petunjuk. Barang siapa yang ingin mencari petunjuk dari Al Qur’an maka dia akan meraihnya. Al–Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi yang lebih utama adalah untuk diamalkan. Dan seseorang tidak akan bisa mengamalkan Al Quran dengan baik kecuali setelah memahami makna dan tafsir dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata :إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآَنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا“Al–Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang menjadikan bacaannya sebagai amalan”. (Akhlak Ahli Al-Qur’an hal 102 No. 37)Suatu perkara yang menggembirakan menyaksikan orang-orang mulai bersemangat untuk mempelajari dan menekuni bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik. Mereka mempelajari hukum-hukum tajwidnya dan juga makharijul huruf (cara yang benar dalam mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an). Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika hanya mencukupkan diri sekedar mempelajari hukum-hukum tajwid saja tanpa mempelajari kandungan isi dari al-Qur’an itu sendiri. Karena tujuan utama diturunkannya al-Qur’an bukan semata dibaca tetapi membacanya adalah sarana untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.Tidak mungkin seseorang mengamalkan Al–Quran dengan baik kecuali setelah memahami tafsir dan kandungan Al Quran tersebut. Sebagaimana seseorang sulit untuk khusyuk di dalam shalatnya jika tidak memahami apa yang dia baca. Seseorang ketika melantunkan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala di dalam shalatnya, semakin ia memahami kandungan ayat-ayat yang ia baca maka semakin memungkinkan baginya untuk khusyuk. Seseorang yang membaca surat Al-Fatihah kemudian dia membaca terjemahannya –bukan tafsirannya tetapi hanya terjemahannya saja–, maka dia akan merasakan sesuatu yang lain didalam shalatnya.Hal itu bisa terjadi karena dia mengerti terjemah lafdziah (secara lafadz) surat Al-Fatihah. Berbeda dengan seseorang yang melantunkan surat Al-Fatihah dengan membacanya semata tanpa mengetahui terjemahan dari surat tersebut. Berbeda lagi dengan seseorang yang membaca surat Al–Fatihah, selain dia membaca terjemahannya dia juga membaca tafsiran ringkasnya. Seperti apakah maksud firman Allahالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَdan seterusnya maka dia akan lebih khusyuk lagi di dalam shalatnya. Dan berbeda lagi ketika orang itu membaca surat Al-Fatihah disertai dengan mengetahui tafsirannya yang begitu luas –sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka– maka dia akan merasakan kekhusyukan yang lebih lagi.Renungkanlah pernyataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di akhir hayat beliau, dimana beliau berkata :وَنَدِمْتُ عَلَى تَضْيِيْعِ أَكْثَرِ أَوْقَاتِي فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ“Dan aku menyesal karena menghabiskan kebanyakan waktuku pada selain memahami makna-makna (tafsir) al-Qur’an” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 4/519)Padahal beliau banyak sekali menulis tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan penjelasan-penjelasan beliau tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an sangat menakjubkan. Hanya saja memang kebanyakan tulisan beliau adalah tentang aqidah dan fiqh.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Taimiyyah dalam ilmu tafsir :برع فِي تفسير الْقُرْآن، وغاص فِي دقيق معانيه بطبع سيال، وخاطر إِلَى مواقع الإِشكال ميال، واستنبط منه أشياء لَمْ يسبق إِلَيْهَا“Ibnu Taimiyyah unggul dalam tafsir al-Qur’an, beliau menyelami dengan dalam akan makna-makna yang detail dengan insting yang mengalir. Beliau masuk ke dalam makna-makna yang sulit dipahami. Beliau mengeluarkan faidah-faidah dari al-Qur’an yang tidak pernah dikeluarkan oleh orang-orang sebelumnya.” (Mu’jam Syuyukh Adz-Dzhabi sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/496-497)Adz-Dzahabi juga berkata :وَأَمَّا التفسير فَمُسَلَّمٌ إِلَيْهِ. وَلَهُ مِنِ اسْتِحْضاَرِ الآيَاتِ مِنَ الْقُرْآنِ – وَقْتَ إِقَامَةِ الدَّلِيْلِ بِهَا عَلَى الْمَسْأَلَةِ – قُوَّةٌ عَجِيْبَةٌ. وَإِذَا رَآهُ الْمُقْرِئُ تَحَيَّرَ فِيْهِ. وَلِفَرْطِ إِمَامَتِهِ فِي التَّفْسِيْرِ، وَعِظَمِ إِطْلاَعِهِ يُبَيِّنُ خَطْأَ كَثِيْرٍ مِنَ أَقْوَالِ الْمُفَسِّرِيْنَ“Adapun ilmu tafsir maka tidak diragukan lagi akan kehebatan Ibnu Taimiyyah. Beliau memiliki kemampuan menakjubkan dalam hal menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an ketika berdalil untuk suatu permasalahan. Jika seorang qari’ melihat beliau maka dia akan terheran-heran dengan beliau. Karena begitu kuat keimaman beliau dalam tafsir dan begitu luas penelaahan beliau, sampai-sampai beliau menjelaskan kesalahan banyak pendapat para ahli tafsir.” (Tarikh adz-Dzahabi al-Kabir, sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/501)Di akhir hayat beliau -tatkala beliau di penjara- banyak waktu beliau gunakan untuk merenungkan ayat-ayat al-Qur’an. Sepertinya beliau begitu tenggelam dalam kebahagiaan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an sehingga muncullah penyesalan dalam diri beliau tersebut. Penyesalan yang keluar dari seorang yang ahli dan pakar tafsir. Penyesalan ini memberi isyarat dan seruan kepada para ulama -apalagi orang awam- untuk memperhatikan ilmu tafsir.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :فقراءة آيَة بتفكر وتفهم خير من قِرَاءَة ختمة بِغَيْر تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى الى حُصُول الايمان وذوق حلاوة الْقُرْآن وَهَذِه كَانَت عَادَة السّلف يُرَدِّدُ أَحَدُهُمْ الآيةَ إِلى الصَّباح وَقد ثَبت عَن النَّبِي إِنَّهُ قَامَ بِآيَة يُرَدِّدهَا حَتَّى الصَّباح وَهِي قَوْله {إِن تُعَذبهُمْ فَإِنَّهُم عِبَادك وَإِن تغْفر لَهُم فَإنَّك أَنْت الْعَزِيز الْحَكِيم} فقراءة الْقُرْآن بالتفكر هِيَ أَصْلُ صَلَاح الْقلب“Membaca satu ayat dengan perenungan dan pemahaman lebih baik dari membaca al-Qur’an hingga khatam namun tanpa tadabbur dan pemahaman. Hal itu juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mendorong untuk meraih keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Dan inilah kebiasaan para salaf dimana salah seorang dari mereka mengulang-ngulang satu ayat hingga pagi hari. Telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasaya beliau shalat malam dengan mambaca satu ayat, beliau mengulang-ngulanginya hingga subuh, yaitu firman Allah, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Maidah : 118) (HR Ahmad No. 21328 dengan sanad yang hasan). Maka membaca al-Qur’an dengan perenungan adalah pokok dari baiknya hati.” (Miftaah Daaris Sa’aadah hal. 187)Tafsir Juz’ ‘Amma :Juz ‘amma atau juz ke 30, merupakan juz yang sangat penting mengingat juz ‘amma berisi surat-surat yang banyak dihafalkan oleh kaum muslimin, sering dibaca oleh para imam di masjid-masjid. Dan dalam juz ‘amma Allah Subhanallahu wata’ala sering menyebutkan tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah. Seperti al–iman billah (iman kepada Allah), kemudian al–iman bi ar-rusul (beriman kepada rasul-rasul Allah), dan al–iman bi al-yaumi al-akhir (beriman pada hari akhirat). Akan kita dapati tatkala kita membaca surat-surat yang terdapat dalam juz amma, Allah Subhanallahu wata’ala banyak menyinggung ke-3 perkara ini, terutama tentang hari kiamat, tentang hari dibangkitkannya manusia di akhirat kelak. Di samping itu, kebanyakan surat-surat yang terdapat dalam juz ‘amma adalah surat-surat makiyyah, bukan surat-surat madaniyyah.Surat makiyyah atau ayat makiyyah yaitu surat atau ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala sebelum Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berhijrah ke madinah. Adapun surat atau ayat yang diturunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam setelah hijrah ke Madinah disebut surat madaniyah atau ayat madaniyyah, meskipun surat dan ayat tersebut turun di mekkah. Jadi, penamaan surat madaniyyah dan makiyyah meskipun secara sekilas penamaannya ditinjau dari sisi tempat namun pada hakikatnya ditinjau dari sisi waktu bukan dari sisi tempat. Sebagai contoh surat An-Nashr :إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An-Nashr 1-3)Surat ini turun tatkala Nabi di Mekah -yaitu di Mina pada hari-hari tasyriq ketika haji wada’-, akan tetapi surat ini dinamakan dengan surat Madaniyah karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Contoh lain firman Allah :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan nikmatKu atas kalian dan aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS Al-Maidah : 3).Ayat ini turun di padang ‘Arafah (di Mekah) tatkala Nabi haji wada’, akan tetapi ayat ini adalah ayat madaniyah, karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Surat-surat dalam juz ‘amma kebanyakannya adalah surat makiyyah, karenanya kita dapati surat-surat yang ada di juz amma kandungannya terkonsentrasi pada pokok-pokok aqidah dan iman. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena surat-surat tersebut turun kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam tatkala beliau masih di Mekah untuk mendakwahi orang-orang musyirikin arab, dimana mereka mengingkari pokok-pokok keimanan. Berbeda tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah berpindah ke madinah, yang turun kebanyakannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih seperti ayat-ayat zakat, puasa, haji, demikian juga hukum-hukum islam yang lain. Ini semua turun tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah tinggal di madinah. Hal ini dikarenakan kaum muslimin sudah memiliki negara islam sehingga kondisi kaum muslimin lebih stabil dan aqidah mereka juga sudah semakin kuat. Namun bukan berarti Nabi tidak konsentrasi ke Aqidah. Nabi tetap konsentrasi dengan dakwah aqidah sejak dakwah beliau di Mekah hingga akhir hayat beliau di Madinah, hanya saja di Madinah lebih banyak syari’at-syari’at fiqih yang turun.Berbeda tatkala Nabi Shallalahu ‘alaihi wassallam berada dimekah selama 13 tahun, konsentrasi dakwah Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam adalah mengenai perkara aqidah, tidak ada hukum-hukum islam yang turun kecuali shalat. Karena shalat diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mulai diwajibkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berada di mekkah. Adapun hukum-hukum yang lain, diturunkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah di kota madinah. Karenanya kita dapati isi kandungan surat-surat dari juz ‘amma terkonsentrasi pada pembahasan aqidah. Selain untuk mengokohkan aqidah para sahabat, ayat-ayat aqidah yang turun pada saat itu adalah bantahan kepada pemikiran kaum musyirikin arab yang mengingkari adanya hari kiamat. Mereka mengingkari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassallam sebagi seorang rasul sehingga berkonsekuensi mereka juga mengingkari kabar-kabar yang datang dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam diantaranya tentang hari kiamat.Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78…Bersambung insya Allah…
Muqaddimahبِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِإنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعدهيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَفَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.lmu tafsir merupakan ilmu yang sangat penting yang dengannya kita mempelajari makna dan kandungan dari firman Allah Subhanallahu wata’ala. Al–Qur’an adalah mukjizat yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, yang merupakan kitabul huda yaitu kitab yang membawa kepada petunjuk. Barang siapa yang ingin mencari petunjuk dari Al Qur’an maka dia akan meraihnya. Al–Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi yang lebih utama adalah untuk diamalkan. Dan seseorang tidak akan bisa mengamalkan Al Quran dengan baik kecuali setelah memahami makna dan tafsir dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata :إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآَنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا“Al–Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang menjadikan bacaannya sebagai amalan”. (Akhlak Ahli Al-Qur’an hal 102 No. 37)Suatu perkara yang menggembirakan menyaksikan orang-orang mulai bersemangat untuk mempelajari dan menekuni bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik. Mereka mempelajari hukum-hukum tajwidnya dan juga makharijul huruf (cara yang benar dalam mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an). Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika hanya mencukupkan diri sekedar mempelajari hukum-hukum tajwid saja tanpa mempelajari kandungan isi dari al-Qur’an itu sendiri. Karena tujuan utama diturunkannya al-Qur’an bukan semata dibaca tetapi membacanya adalah sarana untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.Tidak mungkin seseorang mengamalkan Al–Quran dengan baik kecuali setelah memahami tafsir dan kandungan Al Quran tersebut. Sebagaimana seseorang sulit untuk khusyuk di dalam shalatnya jika tidak memahami apa yang dia baca. Seseorang ketika melantunkan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala di dalam shalatnya, semakin ia memahami kandungan ayat-ayat yang ia baca maka semakin memungkinkan baginya untuk khusyuk. Seseorang yang membaca surat Al-Fatihah kemudian dia membaca terjemahannya –bukan tafsirannya tetapi hanya terjemahannya saja–, maka dia akan merasakan sesuatu yang lain didalam shalatnya.Hal itu bisa terjadi karena dia mengerti terjemah lafdziah (secara lafadz) surat Al-Fatihah. Berbeda dengan seseorang yang melantunkan surat Al-Fatihah dengan membacanya semata tanpa mengetahui terjemahan dari surat tersebut. Berbeda lagi dengan seseorang yang membaca surat Al–Fatihah, selain dia membaca terjemahannya dia juga membaca tafsiran ringkasnya. Seperti apakah maksud firman Allahالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَdan seterusnya maka dia akan lebih khusyuk lagi di dalam shalatnya. Dan berbeda lagi ketika orang itu membaca surat Al-Fatihah disertai dengan mengetahui tafsirannya yang begitu luas –sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka– maka dia akan merasakan kekhusyukan yang lebih lagi.Renungkanlah pernyataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di akhir hayat beliau, dimana beliau berkata :وَنَدِمْتُ عَلَى تَضْيِيْعِ أَكْثَرِ أَوْقَاتِي فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ“Dan aku menyesal karena menghabiskan kebanyakan waktuku pada selain memahami makna-makna (tafsir) al-Qur’an” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 4/519)Padahal beliau banyak sekali menulis tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan penjelasan-penjelasan beliau tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an sangat menakjubkan. Hanya saja memang kebanyakan tulisan beliau adalah tentang aqidah dan fiqh.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Taimiyyah dalam ilmu tafsir :برع فِي تفسير الْقُرْآن، وغاص فِي دقيق معانيه بطبع سيال، وخاطر إِلَى مواقع الإِشكال ميال، واستنبط منه أشياء لَمْ يسبق إِلَيْهَا“Ibnu Taimiyyah unggul dalam tafsir al-Qur’an, beliau menyelami dengan dalam akan makna-makna yang detail dengan insting yang mengalir. Beliau masuk ke dalam makna-makna yang sulit dipahami. Beliau mengeluarkan faidah-faidah dari al-Qur’an yang tidak pernah dikeluarkan oleh orang-orang sebelumnya.” (Mu’jam Syuyukh Adz-Dzhabi sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/496-497)Adz-Dzahabi juga berkata :وَأَمَّا التفسير فَمُسَلَّمٌ إِلَيْهِ. وَلَهُ مِنِ اسْتِحْضاَرِ الآيَاتِ مِنَ الْقُرْآنِ – وَقْتَ إِقَامَةِ الدَّلِيْلِ بِهَا عَلَى الْمَسْأَلَةِ – قُوَّةٌ عَجِيْبَةٌ. وَإِذَا رَآهُ الْمُقْرِئُ تَحَيَّرَ فِيْهِ. وَلِفَرْطِ إِمَامَتِهِ فِي التَّفْسِيْرِ، وَعِظَمِ إِطْلاَعِهِ يُبَيِّنُ خَطْأَ كَثِيْرٍ مِنَ أَقْوَالِ الْمُفَسِّرِيْنَ“Adapun ilmu tafsir maka tidak diragukan lagi akan kehebatan Ibnu Taimiyyah. Beliau memiliki kemampuan menakjubkan dalam hal menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an ketika berdalil untuk suatu permasalahan. Jika seorang qari’ melihat beliau maka dia akan terheran-heran dengan beliau. Karena begitu kuat keimaman beliau dalam tafsir dan begitu luas penelaahan beliau, sampai-sampai beliau menjelaskan kesalahan banyak pendapat para ahli tafsir.” (Tarikh adz-Dzahabi al-Kabir, sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/501)Di akhir hayat beliau -tatkala beliau di penjara- banyak waktu beliau gunakan untuk merenungkan ayat-ayat al-Qur’an. Sepertinya beliau begitu tenggelam dalam kebahagiaan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an sehingga muncullah penyesalan dalam diri beliau tersebut. Penyesalan yang keluar dari seorang yang ahli dan pakar tafsir. Penyesalan ini memberi isyarat dan seruan kepada para ulama -apalagi orang awam- untuk memperhatikan ilmu tafsir.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :فقراءة آيَة بتفكر وتفهم خير من قِرَاءَة ختمة بِغَيْر تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى الى حُصُول الايمان وذوق حلاوة الْقُرْآن وَهَذِه كَانَت عَادَة السّلف يُرَدِّدُ أَحَدُهُمْ الآيةَ إِلى الصَّباح وَقد ثَبت عَن النَّبِي إِنَّهُ قَامَ بِآيَة يُرَدِّدهَا حَتَّى الصَّباح وَهِي قَوْله {إِن تُعَذبهُمْ فَإِنَّهُم عِبَادك وَإِن تغْفر لَهُم فَإنَّك أَنْت الْعَزِيز الْحَكِيم} فقراءة الْقُرْآن بالتفكر هِيَ أَصْلُ صَلَاح الْقلب“Membaca satu ayat dengan perenungan dan pemahaman lebih baik dari membaca al-Qur’an hingga khatam namun tanpa tadabbur dan pemahaman. Hal itu juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mendorong untuk meraih keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Dan inilah kebiasaan para salaf dimana salah seorang dari mereka mengulang-ngulang satu ayat hingga pagi hari. Telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasaya beliau shalat malam dengan mambaca satu ayat, beliau mengulang-ngulanginya hingga subuh, yaitu firman Allah, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Maidah : 118) (HR Ahmad No. 21328 dengan sanad yang hasan). Maka membaca al-Qur’an dengan perenungan adalah pokok dari baiknya hati.” (Miftaah Daaris Sa’aadah hal. 187)Tafsir Juz’ ‘Amma :Juz ‘amma atau juz ke 30, merupakan juz yang sangat penting mengingat juz ‘amma berisi surat-surat yang banyak dihafalkan oleh kaum muslimin, sering dibaca oleh para imam di masjid-masjid. Dan dalam juz ‘amma Allah Subhanallahu wata’ala sering menyebutkan tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah. Seperti al–iman billah (iman kepada Allah), kemudian al–iman bi ar-rusul (beriman kepada rasul-rasul Allah), dan al–iman bi al-yaumi al-akhir (beriman pada hari akhirat). Akan kita dapati tatkala kita membaca surat-surat yang terdapat dalam juz amma, Allah Subhanallahu wata’ala banyak menyinggung ke-3 perkara ini, terutama tentang hari kiamat, tentang hari dibangkitkannya manusia di akhirat kelak. Di samping itu, kebanyakan surat-surat yang terdapat dalam juz ‘amma adalah surat-surat makiyyah, bukan surat-surat madaniyyah.Surat makiyyah atau ayat makiyyah yaitu surat atau ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala sebelum Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berhijrah ke madinah. Adapun surat atau ayat yang diturunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam setelah hijrah ke Madinah disebut surat madaniyah atau ayat madaniyyah, meskipun surat dan ayat tersebut turun di mekkah. Jadi, penamaan surat madaniyyah dan makiyyah meskipun secara sekilas penamaannya ditinjau dari sisi tempat namun pada hakikatnya ditinjau dari sisi waktu bukan dari sisi tempat. Sebagai contoh surat An-Nashr :إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An-Nashr 1-3)Surat ini turun tatkala Nabi di Mekah -yaitu di Mina pada hari-hari tasyriq ketika haji wada’-, akan tetapi surat ini dinamakan dengan surat Madaniyah karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Contoh lain firman Allah :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan nikmatKu atas kalian dan aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS Al-Maidah : 3).Ayat ini turun di padang ‘Arafah (di Mekah) tatkala Nabi haji wada’, akan tetapi ayat ini adalah ayat madaniyah, karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Surat-surat dalam juz ‘amma kebanyakannya adalah surat makiyyah, karenanya kita dapati surat-surat yang ada di juz amma kandungannya terkonsentrasi pada pokok-pokok aqidah dan iman. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena surat-surat tersebut turun kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam tatkala beliau masih di Mekah untuk mendakwahi orang-orang musyirikin arab, dimana mereka mengingkari pokok-pokok keimanan. Berbeda tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah berpindah ke madinah, yang turun kebanyakannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih seperti ayat-ayat zakat, puasa, haji, demikian juga hukum-hukum islam yang lain. Ini semua turun tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah tinggal di madinah. Hal ini dikarenakan kaum muslimin sudah memiliki negara islam sehingga kondisi kaum muslimin lebih stabil dan aqidah mereka juga sudah semakin kuat. Namun bukan berarti Nabi tidak konsentrasi ke Aqidah. Nabi tetap konsentrasi dengan dakwah aqidah sejak dakwah beliau di Mekah hingga akhir hayat beliau di Madinah, hanya saja di Madinah lebih banyak syari’at-syari’at fiqih yang turun.Berbeda tatkala Nabi Shallalahu ‘alaihi wassallam berada dimekah selama 13 tahun, konsentrasi dakwah Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam adalah mengenai perkara aqidah, tidak ada hukum-hukum islam yang turun kecuali shalat. Karena shalat diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mulai diwajibkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berada di mekkah. Adapun hukum-hukum yang lain, diturunkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah di kota madinah. Karenanya kita dapati isi kandungan surat-surat dari juz ‘amma terkonsentrasi pada pembahasan aqidah. Selain untuk mengokohkan aqidah para sahabat, ayat-ayat aqidah yang turun pada saat itu adalah bantahan kepada pemikiran kaum musyirikin arab yang mengingkari adanya hari kiamat. Mereka mengingkari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassallam sebagi seorang rasul sehingga berkonsekuensi mereka juga mengingkari kabar-kabar yang datang dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam diantaranya tentang hari kiamat.Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78…Bersambung insya Allah…


Muqaddimahبِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِإنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعدهيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَفَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.lmu tafsir merupakan ilmu yang sangat penting yang dengannya kita mempelajari makna dan kandungan dari firman Allah Subhanallahu wata’ala. Al–Qur’an adalah mukjizat yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, yang merupakan kitabul huda yaitu kitab yang membawa kepada petunjuk. Barang siapa yang ingin mencari petunjuk dari Al Qur’an maka dia akan meraihnya. Al–Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi yang lebih utama adalah untuk diamalkan. Dan seseorang tidak akan bisa mengamalkan Al Quran dengan baik kecuali setelah memahami makna dan tafsir dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata :إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآَنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا“Al–Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang menjadikan bacaannya sebagai amalan”. (Akhlak Ahli Al-Qur’an hal 102 No. 37)Suatu perkara yang menggembirakan menyaksikan orang-orang mulai bersemangat untuk mempelajari dan menekuni bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik. Mereka mempelajari hukum-hukum tajwidnya dan juga makharijul huruf (cara yang benar dalam mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an). Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika hanya mencukupkan diri sekedar mempelajari hukum-hukum tajwid saja tanpa mempelajari kandungan isi dari al-Qur’an itu sendiri. Karena tujuan utama diturunkannya al-Qur’an bukan semata dibaca tetapi membacanya adalah sarana untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.Tidak mungkin seseorang mengamalkan Al–Quran dengan baik kecuali setelah memahami tafsir dan kandungan Al Quran tersebut. Sebagaimana seseorang sulit untuk khusyuk di dalam shalatnya jika tidak memahami apa yang dia baca. Seseorang ketika melantunkan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala di dalam shalatnya, semakin ia memahami kandungan ayat-ayat yang ia baca maka semakin memungkinkan baginya untuk khusyuk. Seseorang yang membaca surat Al-Fatihah kemudian dia membaca terjemahannya –bukan tafsirannya tetapi hanya terjemahannya saja–, maka dia akan merasakan sesuatu yang lain didalam shalatnya.Hal itu bisa terjadi karena dia mengerti terjemah lafdziah (secara lafadz) surat Al-Fatihah. Berbeda dengan seseorang yang melantunkan surat Al-Fatihah dengan membacanya semata tanpa mengetahui terjemahan dari surat tersebut. Berbeda lagi dengan seseorang yang membaca surat Al–Fatihah, selain dia membaca terjemahannya dia juga membaca tafsiran ringkasnya. Seperti apakah maksud firman Allahالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَdan seterusnya maka dia akan lebih khusyuk lagi di dalam shalatnya. Dan berbeda lagi ketika orang itu membaca surat Al-Fatihah disertai dengan mengetahui tafsirannya yang begitu luas –sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka– maka dia akan merasakan kekhusyukan yang lebih lagi.Renungkanlah pernyataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di akhir hayat beliau, dimana beliau berkata :وَنَدِمْتُ عَلَى تَضْيِيْعِ أَكْثَرِ أَوْقَاتِي فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ“Dan aku menyesal karena menghabiskan kebanyakan waktuku pada selain memahami makna-makna (tafsir) al-Qur’an” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 4/519)Padahal beliau banyak sekali menulis tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan penjelasan-penjelasan beliau tentang tafsir ayat-ayat al-Qur’an sangat menakjubkan. Hanya saja memang kebanyakan tulisan beliau adalah tentang aqidah dan fiqh.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Taimiyyah dalam ilmu tafsir :برع فِي تفسير الْقُرْآن، وغاص فِي دقيق معانيه بطبع سيال، وخاطر إِلَى مواقع الإِشكال ميال، واستنبط منه أشياء لَمْ يسبق إِلَيْهَا“Ibnu Taimiyyah unggul dalam tafsir al-Qur’an, beliau menyelami dengan dalam akan makna-makna yang detail dengan insting yang mengalir. Beliau masuk ke dalam makna-makna yang sulit dipahami. Beliau mengeluarkan faidah-faidah dari al-Qur’an yang tidak pernah dikeluarkan oleh orang-orang sebelumnya.” (Mu’jam Syuyukh Adz-Dzhabi sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/496-497)Adz-Dzahabi juga berkata :وَأَمَّا التفسير فَمُسَلَّمٌ إِلَيْهِ. وَلَهُ مِنِ اسْتِحْضاَرِ الآيَاتِ مِنَ الْقُرْآنِ – وَقْتَ إِقَامَةِ الدَّلِيْلِ بِهَا عَلَى الْمَسْأَلَةِ – قُوَّةٌ عَجِيْبَةٌ. وَإِذَا رَآهُ الْمُقْرِئُ تَحَيَّرَ فِيْهِ. وَلِفَرْطِ إِمَامَتِهِ فِي التَّفْسِيْرِ، وَعِظَمِ إِطْلاَعِهِ يُبَيِّنُ خَطْأَ كَثِيْرٍ مِنَ أَقْوَالِ الْمُفَسِّرِيْنَ“Adapun ilmu tafsir maka tidak diragukan lagi akan kehebatan Ibnu Taimiyyah. Beliau memiliki kemampuan menakjubkan dalam hal menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an ketika berdalil untuk suatu permasalahan. Jika seorang qari’ melihat beliau maka dia akan terheran-heran dengan beliau. Karena begitu kuat keimaman beliau dalam tafsir dan begitu luas penelaahan beliau, sampai-sampai beliau menjelaskan kesalahan banyak pendapat para ahli tafsir.” (Tarikh adz-Dzahabi al-Kabir, sebagaimana dinukil dalam Dzail Thabaqat al-Hanabilah 4/501)Di akhir hayat beliau -tatkala beliau di penjara- banyak waktu beliau gunakan untuk merenungkan ayat-ayat al-Qur’an. Sepertinya beliau begitu tenggelam dalam kebahagiaan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an sehingga muncullah penyesalan dalam diri beliau tersebut. Penyesalan yang keluar dari seorang yang ahli dan pakar tafsir. Penyesalan ini memberi isyarat dan seruan kepada para ulama -apalagi orang awam- untuk memperhatikan ilmu tafsir.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :فقراءة آيَة بتفكر وتفهم خير من قِرَاءَة ختمة بِغَيْر تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى الى حُصُول الايمان وذوق حلاوة الْقُرْآن وَهَذِه كَانَت عَادَة السّلف يُرَدِّدُ أَحَدُهُمْ الآيةَ إِلى الصَّباح وَقد ثَبت عَن النَّبِي إِنَّهُ قَامَ بِآيَة يُرَدِّدهَا حَتَّى الصَّباح وَهِي قَوْله {إِن تُعَذبهُمْ فَإِنَّهُم عِبَادك وَإِن تغْفر لَهُم فَإنَّك أَنْت الْعَزِيز الْحَكِيم} فقراءة الْقُرْآن بالتفكر هِيَ أَصْلُ صَلَاح الْقلب“Membaca satu ayat dengan perenungan dan pemahaman lebih baik dari membaca al-Qur’an hingga khatam namun tanpa tadabbur dan pemahaman. Hal itu juga lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mendorong untuk meraih keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Dan inilah kebiasaan para salaf dimana salah seorang dari mereka mengulang-ngulang satu ayat hingga pagi hari. Telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasaya beliau shalat malam dengan mambaca satu ayat, beliau mengulang-ngulanginya hingga subuh, yaitu firman Allah, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Maidah : 118) (HR Ahmad No. 21328 dengan sanad yang hasan). Maka membaca al-Qur’an dengan perenungan adalah pokok dari baiknya hati.” (Miftaah Daaris Sa’aadah hal. 187)Tafsir Juz’ ‘Amma :Juz ‘amma atau juz ke 30, merupakan juz yang sangat penting mengingat juz ‘amma berisi surat-surat yang banyak dihafalkan oleh kaum muslimin, sering dibaca oleh para imam di masjid-masjid. Dan dalam juz ‘amma Allah Subhanallahu wata’ala sering menyebutkan tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah. Seperti al–iman billah (iman kepada Allah), kemudian al–iman bi ar-rusul (beriman kepada rasul-rasul Allah), dan al–iman bi al-yaumi al-akhir (beriman pada hari akhirat). Akan kita dapati tatkala kita membaca surat-surat yang terdapat dalam juz amma, Allah Subhanallahu wata’ala banyak menyinggung ke-3 perkara ini, terutama tentang hari kiamat, tentang hari dibangkitkannya manusia di akhirat kelak. Di samping itu, kebanyakan surat-surat yang terdapat dalam juz ‘amma adalah surat-surat makiyyah, bukan surat-surat madaniyyah.Surat makiyyah atau ayat makiyyah yaitu surat atau ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala sebelum Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berhijrah ke madinah. Adapun surat atau ayat yang diturunkan kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam setelah hijrah ke Madinah disebut surat madaniyah atau ayat madaniyyah, meskipun surat dan ayat tersebut turun di mekkah. Jadi, penamaan surat madaniyyah dan makiyyah meskipun secara sekilas penamaannya ditinjau dari sisi tempat namun pada hakikatnya ditinjau dari sisi waktu bukan dari sisi tempat. Sebagai contoh surat An-Nashr :إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An-Nashr 1-3)Surat ini turun tatkala Nabi di Mekah -yaitu di Mina pada hari-hari tasyriq ketika haji wada’-, akan tetapi surat ini dinamakan dengan surat Madaniyah karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Contoh lain firman Allah :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan aku sempurnakan nikmatKu atas kalian dan aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS Al-Maidah : 3).Ayat ini turun di padang ‘Arafah (di Mekah) tatkala Nabi haji wada’, akan tetapi ayat ini adalah ayat madaniyah, karena turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah.Surat-surat dalam juz ‘amma kebanyakannya adalah surat makiyyah, karenanya kita dapati surat-surat yang ada di juz amma kandungannya terkonsentrasi pada pokok-pokok aqidah dan iman. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena surat-surat tersebut turun kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam tatkala beliau masih di Mekah untuk mendakwahi orang-orang musyirikin arab, dimana mereka mengingkari pokok-pokok keimanan. Berbeda tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah berpindah ke madinah, yang turun kebanyakannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih seperti ayat-ayat zakat, puasa, haji, demikian juga hukum-hukum islam yang lain. Ini semua turun tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah tinggal di madinah. Hal ini dikarenakan kaum muslimin sudah memiliki negara islam sehingga kondisi kaum muslimin lebih stabil dan aqidah mereka juga sudah semakin kuat. Namun bukan berarti Nabi tidak konsentrasi ke Aqidah. Nabi tetap konsentrasi dengan dakwah aqidah sejak dakwah beliau di Mekah hingga akhir hayat beliau di Madinah, hanya saja di Madinah lebih banyak syari’at-syari’at fiqih yang turun.Berbeda tatkala Nabi Shallalahu ‘alaihi wassallam berada dimekah selama 13 tahun, konsentrasi dakwah Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam adalah mengenai perkara aqidah, tidak ada hukum-hukum islam yang turun kecuali shalat. Karena shalat diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mulai diwajibkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berada di mekkah. Adapun hukum-hukum yang lain, diturunkan tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam sudah di kota madinah. Karenanya kita dapati isi kandungan surat-surat dari juz ‘amma terkonsentrasi pada pembahasan aqidah. Selain untuk mengokohkan aqidah para sahabat, ayat-ayat aqidah yang turun pada saat itu adalah bantahan kepada pemikiran kaum musyirikin arab yang mengingkari adanya hari kiamat. Mereka mengingkari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassallam sebagi seorang rasul sehingga berkonsekuensi mereka juga mengingkari kabar-kabar yang datang dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam diantaranya tentang hari kiamat.Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78…Bersambung insya Allah…

Dilarang Tidur Setelah Asar?

Hukum Tidur Setelah Asar Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah, من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri. Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112). Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan, لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69). Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan, لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه.. Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar). Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih, الأصل في الأشياء الإباحة Hukum asal perkara duniawi adalah mubah. Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa) Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan, لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها. Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya. (https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر) Sekian. Wallahua’lam bis showab. Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699) **** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Syariah, Doa Mencukur Rambut Kemaluan, Dosa Istri Menolak Ajakan Suami, Tafsir Mimpi Muntah, Nada Membaca Alquran, Perbedaan Amin Aamiin Visited 894 times, 4 visit(s) today Post Views: 383 QRIS donasi Yufid

Dilarang Tidur Setelah Asar?

Hukum Tidur Setelah Asar Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah, من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri. Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112). Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan, لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69). Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan, لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه.. Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar). Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih, الأصل في الأشياء الإباحة Hukum asal perkara duniawi adalah mubah. Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa) Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan, لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها. Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya. (https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر) Sekian. Wallahua’lam bis showab. Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699) **** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Syariah, Doa Mencukur Rambut Kemaluan, Dosa Istri Menolak Ajakan Suami, Tafsir Mimpi Muntah, Nada Membaca Alquran, Perbedaan Amin Aamiin Visited 894 times, 4 visit(s) today Post Views: 383 QRIS donasi Yufid
Hukum Tidur Setelah Asar Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah, من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri. Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112). Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan, لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69). Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan, لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه.. Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar). Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih, الأصل في الأشياء الإباحة Hukum asal perkara duniawi adalah mubah. Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa) Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan, لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها. Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya. (https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر) Sekian. Wallahua’lam bis showab. Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699) **** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Syariah, Doa Mencukur Rambut Kemaluan, Dosa Istri Menolak Ajakan Suami, Tafsir Mimpi Muntah, Nada Membaca Alquran, Perbedaan Amin Aamiin Visited 894 times, 4 visit(s) today Post Views: 383 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/622980288&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Tidur Setelah Asar Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah, من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri. Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112). Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan, لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69). Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan, لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه.. Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar). Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih, الأصل في الأشياء الإباحة Hukum asal perkara duniawi adalah mubah. Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa) Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan, لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها. Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya. (https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر) Sekian. Wallahua’lam bis showab. Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699) **** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Arti Syariah, Doa Mencukur Rambut Kemaluan, Dosa Istri Menolak Ajakan Suami, Tafsir Mimpi Muntah, Nada Membaca Alquran, Perbedaan Amin Aamiin Visited 894 times, 4 visit(s) today Post Views: 383 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kumpulan Amalan Ringan #15: Umrah di Bulan Ramadhan

Salah satu amalan ringan lagi bagi mereka yang dilapangkan rezeki adalah berumrah di bulan Ramadhan.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita, “Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?” Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya–ditunggangi suami dan anaknya–. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari, no. 1782 dan Muslim, no. 1256). Dalam lafazh Muslim disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim, no. 1256) Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari, no. 1863). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)   Baca juga: Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar keutamaan umrah keutamaan umrah ramadhan kumpulan amalan ringan pahala umrah ramadhan umrah ramadhan

Kumpulan Amalan Ringan #15: Umrah di Bulan Ramadhan

Salah satu amalan ringan lagi bagi mereka yang dilapangkan rezeki adalah berumrah di bulan Ramadhan.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita, “Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?” Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya–ditunggangi suami dan anaknya–. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari, no. 1782 dan Muslim, no. 1256). Dalam lafazh Muslim disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim, no. 1256) Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari, no. 1863). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)   Baca juga: Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar keutamaan umrah keutamaan umrah ramadhan kumpulan amalan ringan pahala umrah ramadhan umrah ramadhan
Salah satu amalan ringan lagi bagi mereka yang dilapangkan rezeki adalah berumrah di bulan Ramadhan.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita, “Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?” Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya–ditunggangi suami dan anaknya–. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari, no. 1782 dan Muslim, no. 1256). Dalam lafazh Muslim disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim, no. 1256) Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari, no. 1863). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)   Baca juga: Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar keutamaan umrah keutamaan umrah ramadhan kumpulan amalan ringan pahala umrah ramadhan umrah ramadhan


Salah satu amalan ringan lagi bagi mereka yang dilapangkan rezeki adalah berumrah di bulan Ramadhan.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita, “Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?” Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya–ditunggangi suami dan anaknya–. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ “Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari, no. 1782 dan Muslim, no. 1256). Dalam lafazh Muslim disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim, no. 1256) Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan, فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari, no. 1863). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)   Baca juga: Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar keutamaan umrah keutamaan umrah ramadhan kumpulan amalan ringan pahala umrah ramadhan umrah ramadhan

Syarhus Sunnah: Penciptaan Adam #02

Download   Kali ini masih membicarakan penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara yang dipelajari dari Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani adalah Adam memang sudah jadi ketetapan keluar dari surga.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ وَأَسْكَنَهُ جَنَّتَهُ وَقَبْلَ ذَلِكَ لِلْأرْضِ خَلَقَهُ وَنَهَاهُ عَنْ شَجَرَةٍ قَدْ نَفَذَ قَضَاؤُهُ عَلَيْهِ بِأَكْلِهَا ثُمَّ ابْتَلاَهُ بِمَا نَهَاهُ عَنْهُ مِنْهَا ثُمَّ سَلَّطَ عَلَيْهِ عَدُوَّهُ فَأَغْوَاهُ عَلَيْهَا وَجَعَلَ أَكْلَهُ لَهَا إِلَى اْلأَرْضِ سَبَبًا فَمَا وَجَدَ إِلَى تَرْكِ أَكْلِهَا سَبِيْلاً وَلاَ عَنْهُ لَهاَ مَذْهَبًا Kemudian Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan Dia berikan tempat tinggal untuk Adam di surge-Nya. Sebelum itu Allah ciptakan Adam untuk bumi. Dan Allah larang Adam dari suatu pohon. Telah terlaksana ketentuan-Nya untuk Adam bahwasanya ia akan memakannya. Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam. Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).   Baca juga: Penciptaan Adam #01   Sudah Jadi Takdirnya Adam Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).”   Maksudnya adalah sudah jadi takdir secara kauni bahwa Adam memakan pohon yang terlarang. Ada faedah penting yang bisa dipahami dari ini, bahwa qadha’ itu ada dua macam: Qadha’ kauni. Qadha’ syar’i. Qadha’ kauni adalah kehendak Allah pada semua makhluk, dan itu pasti terjadi, tidak ada yang bisa lepas darinya. Namun qadha’ kauni tidaklah menandakan kecintaan dan keridhaan Allah. Dalam qadha’ kauni, ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang bermaksiat. Qadha’ inilah yang dimaksud dalam perkataan Imam Al-Muzani tentang Adam yang memakan pohon khuldi. Hal ini juga yang dimaksud dalam firman Allah, وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117) Qadha’ syar’i adalah ketetapan Allah yang terkait dengan kecintaan dan keridhaan Allah, qadha’ jenis ini dapat dinamakan perintah atau larangan. Allah tidaklah memerintahkan kecuali pada apa yang Alah ridhai dan yang Allah cintai, Allah tidaklah melarang kecuali yang Allah benci. Allah Ta’ala berfirman, ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚإِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)   Allah Sedang Menguji   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam.”   Maksudnya, Allah menguji Adam dengan memakan pohon khuldi yang jelas dilarang. Allah takdirkan pada Adam hingga Adam pun sesat, akhirnya Adam tergoda memakan pohon terlarang karena Iblis menghias-hiasi rayuannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى ، فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ أَنْتَ الَّذِى أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ ، وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَوَجَدْتَهَا كُتِبَ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى قَالَ نَعَمْ . فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى» “Nabi Adam dan Musa pernah bertemu. Musa ketika itu berkata kepada Adam, ‘Engkau yang telah mencelakakan manusia, dan engkau yang telah mengeluarkan mereka dari surga.’ Adam lantas membalas, ‘Engkau telah dipilih oleh Allah denagn risalah-Nya. Allah memilih untukmu pada diri-Nya, Allah turunkan kepadamu Taurat.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam berkata, ‘Engkau mendapatinya ditetapkan untukku sebelum Allah menciptakanku.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam akhirnya mengalahkan Musa dalam debat.” (HR. Bukhari, no. 4736 dan Muslim, no. 2652)   Dikarenakan Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi.”   Allah Ta’ala berfirman, قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۖوَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ “Allah berfirman: ‘Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan’.” (QS. Al-A’raf: 24) Semoga bermanfaat.   Referensi: Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di #darushsholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1440 H, Selasa sore, 12 Maret 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsNabi Adam penciptaan nabi adam sejarah nabi adam syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir

Syarhus Sunnah: Penciptaan Adam #02

Download   Kali ini masih membicarakan penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara yang dipelajari dari Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani adalah Adam memang sudah jadi ketetapan keluar dari surga.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ وَأَسْكَنَهُ جَنَّتَهُ وَقَبْلَ ذَلِكَ لِلْأرْضِ خَلَقَهُ وَنَهَاهُ عَنْ شَجَرَةٍ قَدْ نَفَذَ قَضَاؤُهُ عَلَيْهِ بِأَكْلِهَا ثُمَّ ابْتَلاَهُ بِمَا نَهَاهُ عَنْهُ مِنْهَا ثُمَّ سَلَّطَ عَلَيْهِ عَدُوَّهُ فَأَغْوَاهُ عَلَيْهَا وَجَعَلَ أَكْلَهُ لَهَا إِلَى اْلأَرْضِ سَبَبًا فَمَا وَجَدَ إِلَى تَرْكِ أَكْلِهَا سَبِيْلاً وَلاَ عَنْهُ لَهاَ مَذْهَبًا Kemudian Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan Dia berikan tempat tinggal untuk Adam di surge-Nya. Sebelum itu Allah ciptakan Adam untuk bumi. Dan Allah larang Adam dari suatu pohon. Telah terlaksana ketentuan-Nya untuk Adam bahwasanya ia akan memakannya. Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam. Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).   Baca juga: Penciptaan Adam #01   Sudah Jadi Takdirnya Adam Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).”   Maksudnya adalah sudah jadi takdir secara kauni bahwa Adam memakan pohon yang terlarang. Ada faedah penting yang bisa dipahami dari ini, bahwa qadha’ itu ada dua macam: Qadha’ kauni. Qadha’ syar’i. Qadha’ kauni adalah kehendak Allah pada semua makhluk, dan itu pasti terjadi, tidak ada yang bisa lepas darinya. Namun qadha’ kauni tidaklah menandakan kecintaan dan keridhaan Allah. Dalam qadha’ kauni, ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang bermaksiat. Qadha’ inilah yang dimaksud dalam perkataan Imam Al-Muzani tentang Adam yang memakan pohon khuldi. Hal ini juga yang dimaksud dalam firman Allah, وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117) Qadha’ syar’i adalah ketetapan Allah yang terkait dengan kecintaan dan keridhaan Allah, qadha’ jenis ini dapat dinamakan perintah atau larangan. Allah tidaklah memerintahkan kecuali pada apa yang Alah ridhai dan yang Allah cintai, Allah tidaklah melarang kecuali yang Allah benci. Allah Ta’ala berfirman, ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚإِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)   Allah Sedang Menguji   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam.”   Maksudnya, Allah menguji Adam dengan memakan pohon khuldi yang jelas dilarang. Allah takdirkan pada Adam hingga Adam pun sesat, akhirnya Adam tergoda memakan pohon terlarang karena Iblis menghias-hiasi rayuannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى ، فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ أَنْتَ الَّذِى أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ ، وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَوَجَدْتَهَا كُتِبَ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى قَالَ نَعَمْ . فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى» “Nabi Adam dan Musa pernah bertemu. Musa ketika itu berkata kepada Adam, ‘Engkau yang telah mencelakakan manusia, dan engkau yang telah mengeluarkan mereka dari surga.’ Adam lantas membalas, ‘Engkau telah dipilih oleh Allah denagn risalah-Nya. Allah memilih untukmu pada diri-Nya, Allah turunkan kepadamu Taurat.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam berkata, ‘Engkau mendapatinya ditetapkan untukku sebelum Allah menciptakanku.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam akhirnya mengalahkan Musa dalam debat.” (HR. Bukhari, no. 4736 dan Muslim, no. 2652)   Dikarenakan Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi.”   Allah Ta’ala berfirman, قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۖوَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ “Allah berfirman: ‘Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan’.” (QS. Al-A’raf: 24) Semoga bermanfaat.   Referensi: Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di #darushsholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1440 H, Selasa sore, 12 Maret 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsNabi Adam penciptaan nabi adam sejarah nabi adam syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir
Download   Kali ini masih membicarakan penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara yang dipelajari dari Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani adalah Adam memang sudah jadi ketetapan keluar dari surga.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ وَأَسْكَنَهُ جَنَّتَهُ وَقَبْلَ ذَلِكَ لِلْأرْضِ خَلَقَهُ وَنَهَاهُ عَنْ شَجَرَةٍ قَدْ نَفَذَ قَضَاؤُهُ عَلَيْهِ بِأَكْلِهَا ثُمَّ ابْتَلاَهُ بِمَا نَهَاهُ عَنْهُ مِنْهَا ثُمَّ سَلَّطَ عَلَيْهِ عَدُوَّهُ فَأَغْوَاهُ عَلَيْهَا وَجَعَلَ أَكْلَهُ لَهَا إِلَى اْلأَرْضِ سَبَبًا فَمَا وَجَدَ إِلَى تَرْكِ أَكْلِهَا سَبِيْلاً وَلاَ عَنْهُ لَهاَ مَذْهَبًا Kemudian Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan Dia berikan tempat tinggal untuk Adam di surge-Nya. Sebelum itu Allah ciptakan Adam untuk bumi. Dan Allah larang Adam dari suatu pohon. Telah terlaksana ketentuan-Nya untuk Adam bahwasanya ia akan memakannya. Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam. Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).   Baca juga: Penciptaan Adam #01   Sudah Jadi Takdirnya Adam Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).”   Maksudnya adalah sudah jadi takdir secara kauni bahwa Adam memakan pohon yang terlarang. Ada faedah penting yang bisa dipahami dari ini, bahwa qadha’ itu ada dua macam: Qadha’ kauni. Qadha’ syar’i. Qadha’ kauni adalah kehendak Allah pada semua makhluk, dan itu pasti terjadi, tidak ada yang bisa lepas darinya. Namun qadha’ kauni tidaklah menandakan kecintaan dan keridhaan Allah. Dalam qadha’ kauni, ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang bermaksiat. Qadha’ inilah yang dimaksud dalam perkataan Imam Al-Muzani tentang Adam yang memakan pohon khuldi. Hal ini juga yang dimaksud dalam firman Allah, وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117) Qadha’ syar’i adalah ketetapan Allah yang terkait dengan kecintaan dan keridhaan Allah, qadha’ jenis ini dapat dinamakan perintah atau larangan. Allah tidaklah memerintahkan kecuali pada apa yang Alah ridhai dan yang Allah cintai, Allah tidaklah melarang kecuali yang Allah benci. Allah Ta’ala berfirman, ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚإِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)   Allah Sedang Menguji   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam.”   Maksudnya, Allah menguji Adam dengan memakan pohon khuldi yang jelas dilarang. Allah takdirkan pada Adam hingga Adam pun sesat, akhirnya Adam tergoda memakan pohon terlarang karena Iblis menghias-hiasi rayuannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى ، فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ أَنْتَ الَّذِى أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ ، وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَوَجَدْتَهَا كُتِبَ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى قَالَ نَعَمْ . فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى» “Nabi Adam dan Musa pernah bertemu. Musa ketika itu berkata kepada Adam, ‘Engkau yang telah mencelakakan manusia, dan engkau yang telah mengeluarkan mereka dari surga.’ Adam lantas membalas, ‘Engkau telah dipilih oleh Allah denagn risalah-Nya. Allah memilih untukmu pada diri-Nya, Allah turunkan kepadamu Taurat.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam berkata, ‘Engkau mendapatinya ditetapkan untukku sebelum Allah menciptakanku.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam akhirnya mengalahkan Musa dalam debat.” (HR. Bukhari, no. 4736 dan Muslim, no. 2652)   Dikarenakan Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi.”   Allah Ta’ala berfirman, قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۖوَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ “Allah berfirman: ‘Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan’.” (QS. Al-A’raf: 24) Semoga bermanfaat.   Referensi: Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di #darushsholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1440 H, Selasa sore, 12 Maret 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsNabi Adam penciptaan nabi adam sejarah nabi adam syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir


Download   Kali ini masih membicarakan penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam. Di antara yang dipelajari dari Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani adalah Adam memang sudah jadi ketetapan keluar dari surga.   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ وَأَسْكَنَهُ جَنَّتَهُ وَقَبْلَ ذَلِكَ لِلْأرْضِ خَلَقَهُ وَنَهَاهُ عَنْ شَجَرَةٍ قَدْ نَفَذَ قَضَاؤُهُ عَلَيْهِ بِأَكْلِهَا ثُمَّ ابْتَلاَهُ بِمَا نَهَاهُ عَنْهُ مِنْهَا ثُمَّ سَلَّطَ عَلَيْهِ عَدُوَّهُ فَأَغْوَاهُ عَلَيْهَا وَجَعَلَ أَكْلَهُ لَهَا إِلَى اْلأَرْضِ سَبَبًا فَمَا وَجَدَ إِلَى تَرْكِ أَكْلِهَا سَبِيْلاً وَلاَ عَنْهُ لَهاَ مَذْهَبًا Kemudian Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dan Dia berikan tempat tinggal untuk Adam di surge-Nya. Sebelum itu Allah ciptakan Adam untuk bumi. Dan Allah larang Adam dari suatu pohon. Telah terlaksana ketentuan-Nya untuk Adam bahwasanya ia akan memakannya. Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam. Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).   Baca juga: Penciptaan Adam #01   Sudah Jadi Takdirnya Adam Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi. Tidak ada jalan lain bagi Adam untuk tidak memakannya (pasti terjadi).”   Maksudnya adalah sudah jadi takdir secara kauni bahwa Adam memakan pohon yang terlarang. Ada faedah penting yang bisa dipahami dari ini, bahwa qadha’ itu ada dua macam: Qadha’ kauni. Qadha’ syar’i. Qadha’ kauni adalah kehendak Allah pada semua makhluk, dan itu pasti terjadi, tidak ada yang bisa lepas darinya. Namun qadha’ kauni tidaklah menandakan kecintaan dan keridhaan Allah. Dalam qadha’ kauni, ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang bermaksiat. Qadha’ inilah yang dimaksud dalam perkataan Imam Al-Muzani tentang Adam yang memakan pohon khuldi. Hal ini juga yang dimaksud dalam firman Allah, وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117) Qadha’ syar’i adalah ketetapan Allah yang terkait dengan kecintaan dan keridhaan Allah, qadha’ jenis ini dapat dinamakan perintah atau larangan. Allah tidaklah memerintahkan kecuali pada apa yang Alah ridhai dan yang Allah cintai, Allah tidaklah melarang kecuali yang Allah benci. Allah Ta’ala berfirman, ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚإِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)   Allah Sedang Menguji   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Kemudian Allah mengujinya dengan larangan-Nya. Kemudian Allah jadikan musuhnya menguasainya, hingga menyesatkan Adam.”   Maksudnya, Allah menguji Adam dengan memakan pohon khuldi yang jelas dilarang. Allah takdirkan pada Adam hingga Adam pun sesat, akhirnya Adam tergoda memakan pohon terlarang karena Iblis menghias-hiasi rayuannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى ، فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ أَنْتَ الَّذِى أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ ، وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَوَجَدْتَهَا كُتِبَ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى قَالَ نَعَمْ . فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى» “Nabi Adam dan Musa pernah bertemu. Musa ketika itu berkata kepada Adam, ‘Engkau yang telah mencelakakan manusia, dan engkau yang telah mengeluarkan mereka dari surga.’ Adam lantas membalas, ‘Engkau telah dipilih oleh Allah denagn risalah-Nya. Allah memilih untukmu pada diri-Nya, Allah turunkan kepadamu Taurat.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam berkata, ‘Engkau mendapatinya ditetapkan untukku sebelum Allah menciptakanku.’ Musa menjawab, ‘Iya benar.’ Adam akhirnya mengalahkan Musa dalam debat.” (HR. Bukhari, no. 4736 dan Muslim, no. 2652)   Dikarenakan Memakan Pohon Terlarang   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Dan Allah jadikan perbuatan memakan (bagian dari) pohon itu adalah penyebab (kembalinya) ke bumi.”   Allah Ta’ala berfirman, قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۖوَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ “Allah berfirman: ‘Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan’.” (QS. Al-A’raf: 24) Semoga bermanfaat.   Referensi: Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net. — Diselesaikan di #darushsholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1440 H, Selasa sore, 12 Maret 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com TagsNabi Adam penciptaan nabi adam sejarah nabi adam syarhus sunnah syarhus sunnah tentang takdir

Sebab Kenakalan pada Anak #02

Download   Apa saja sebab kenakalan pada anak? Kali ini lanjutan bahasannya.   Baca juga: Sebab Kenakalan pada Anak #01   Kelima: Percekcokan orang tua   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah berlangsungnya suasana ketidakharmonisan antara bapak dan ibu pada saat mereka bertemu dan berkumpul. Seorang anak tatkala membuka kedua matanya lantas menemukan pertengkaran kedua orang tuanya, maka anak akan lari dari rumah yang ia anggap membosankan. Ia akhirnya mencari teman bergaul yang menghilangkan keresahannya. Ia pun banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Seandainya teman-temannya adalah anak-anak nakal, secara perlahana anak tersebut pun menjadi nakal, bahkan bisa terus bertambah parah.” Karenanya sebelum menikah, Islam sudah mengajarkan pentingnya memilih pasangan yang baik agamanya, bukan sekadar mampu bekerja dan mencari nafkah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6) Adh-Dhahak dan Maqatil mengenai ayat di atas berkata, حَقُّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (HR. Ath-Thabari, dengan sanad shahih dari jalur Said bin Abi ‘Urubah, dari Qatadah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:321).   Baca juga: 5 Tips Rumah Tangga Bahagia   Keenam: Perceraian yang dibarengi dengan kemiskinan   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Faktor mendasar lainnya yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah terjadinya perceraian orang tua. Akibat yang ditimbulkan adalah terpisahnya anak dan anak jadi tersia-siakan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa anak tatkala telah membuka mata untuk memandang dunia kemudian ia mendapati seorang ibu yang seharusnya mengasuhnya dan seorang ayah yang seharusnya menjaga dan memenuhi kebutuhannya tidak sebagaimana yang ia harapkan maka akan mendorong anak melakukan kejahatan. Ia akan cenderung untuk bertindak kerusakan dan penyimpangan. Lebih parah lagi ketika seorang ibu yang telah bercerai tadi menikah lagi dengan orang lain, maka anak-anak (kebanyakan yang terjadi) akan tersia-siakan. Timbul permasalahan yang lain saat seorang ibu itu jatuh miskin setelah dicerai. Keadaan ini akan memaksanya  untuk bekerja di luar rumah, sehingga ia akan meninggalkan rumah dan membiarkan anak-anaknya yang masih kecil bermain di jalanan dan terancam setiap harinya. Apa yang bisa diharapkan nantinya dari seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, dan tanpa tanggungjawab seorang ayah? Dan apa jadinya jika anak tumbuh tanpa asuhan, penjagaan, dan tanggungjawab seorang ibu? Hasilnya, kita dapati mereka tersia-siakan dan terlunta-lunta. Dari situlah kemudian mereka terjerumus dalam perilaku jahat dan menyimpang kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah, dan sangat jumlah mereka itu sedikit.”   Baca juga: Jangan Ceraikan Aku!   Catatan: Anak tidak dipisah dari ibunya عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan). عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، يَقُوْلُ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى مَتَى ؟ قَالَ : « حَتَّى يَبْلُغَ الغُلاَمُ ، وَتَحِيْضَ الجَارِيَةُ» Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al-Hakim dalam Mustadroknya. Al-Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).   Baca juga: Meninggalkan Anak di Pondok Ketika Kecil   Mencegah terjadinya perceraian, pahamilah hak dan kewajiban suami istri   Istri taat pada suami secara baik. Karena istri perlu sadari bahwa sepintar dan sekaya apa pun dia, suami tetaplah pemimpin baginya di dalam rumah. Dalam ayat disebutkan, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34) Apa sebab sampai laki-laki dikatakan sebagai pemimpin? Sebab pertama, karena laki-laki telah dilebihkan dari perempuan. Dilebihkan di sini dalam beberapa hal: Dalam masalah kepemimpinan hanya laki-laki yang berhak. Kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada laki-laki. Ibadah-ibadah dipimpin oleh laki-laki seperti ibadah jihad, shalat ‘ied, dan shalat Jumat. Dalam hal berpikir dan kesabaran, laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Sebab kedua, karena laki-laki yang bertanggungjawab memberikan nafkah kepada para istri.   Baca juga: Manajeman Masalah Rumah Tangga   Istri menjaga diri dan menjaga harta suami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai, no. 3231 dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Istri tidak menolak ajakan suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang (baca: untuk berhubungan intim), lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 5193 dan Muslim, no. 1436).   Suami wajib memberi nafkah dengan baik pada istri dan anak. Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7). Dari Mu’awiyah Al-Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Jangan terus melihat kekurangan pasangan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim no. 1469)   Perlakukan istri dengan baik. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى “Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9:484. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Tidak saling suuzhan (berburuk sangka). Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim, no. 715). Hadits semacam ini kata Al-Muhallab adalah dalil yang menunjukkan terlarang mencari-cari kesalahan dan kelengahan istri karena ini adalah bagian dari fitnah dan termasuk berburuk sangka padanya (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibni Baththal).   Referensi: Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Cetakan ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.   — Diselesaikan di Gamping Jogja, 4 Rajab 1440 H (11 Maret 2019) Disusun Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsanak nakal keluarga pendidikan anak

Sebab Kenakalan pada Anak #02

Download   Apa saja sebab kenakalan pada anak? Kali ini lanjutan bahasannya.   Baca juga: Sebab Kenakalan pada Anak #01   Kelima: Percekcokan orang tua   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah berlangsungnya suasana ketidakharmonisan antara bapak dan ibu pada saat mereka bertemu dan berkumpul. Seorang anak tatkala membuka kedua matanya lantas menemukan pertengkaran kedua orang tuanya, maka anak akan lari dari rumah yang ia anggap membosankan. Ia akhirnya mencari teman bergaul yang menghilangkan keresahannya. Ia pun banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Seandainya teman-temannya adalah anak-anak nakal, secara perlahana anak tersebut pun menjadi nakal, bahkan bisa terus bertambah parah.” Karenanya sebelum menikah, Islam sudah mengajarkan pentingnya memilih pasangan yang baik agamanya, bukan sekadar mampu bekerja dan mencari nafkah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6) Adh-Dhahak dan Maqatil mengenai ayat di atas berkata, حَقُّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (HR. Ath-Thabari, dengan sanad shahih dari jalur Said bin Abi ‘Urubah, dari Qatadah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:321).   Baca juga: 5 Tips Rumah Tangga Bahagia   Keenam: Perceraian yang dibarengi dengan kemiskinan   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Faktor mendasar lainnya yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah terjadinya perceraian orang tua. Akibat yang ditimbulkan adalah terpisahnya anak dan anak jadi tersia-siakan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa anak tatkala telah membuka mata untuk memandang dunia kemudian ia mendapati seorang ibu yang seharusnya mengasuhnya dan seorang ayah yang seharusnya menjaga dan memenuhi kebutuhannya tidak sebagaimana yang ia harapkan maka akan mendorong anak melakukan kejahatan. Ia akan cenderung untuk bertindak kerusakan dan penyimpangan. Lebih parah lagi ketika seorang ibu yang telah bercerai tadi menikah lagi dengan orang lain, maka anak-anak (kebanyakan yang terjadi) akan tersia-siakan. Timbul permasalahan yang lain saat seorang ibu itu jatuh miskin setelah dicerai. Keadaan ini akan memaksanya  untuk bekerja di luar rumah, sehingga ia akan meninggalkan rumah dan membiarkan anak-anaknya yang masih kecil bermain di jalanan dan terancam setiap harinya. Apa yang bisa diharapkan nantinya dari seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, dan tanpa tanggungjawab seorang ayah? Dan apa jadinya jika anak tumbuh tanpa asuhan, penjagaan, dan tanggungjawab seorang ibu? Hasilnya, kita dapati mereka tersia-siakan dan terlunta-lunta. Dari situlah kemudian mereka terjerumus dalam perilaku jahat dan menyimpang kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah, dan sangat jumlah mereka itu sedikit.”   Baca juga: Jangan Ceraikan Aku!   Catatan: Anak tidak dipisah dari ibunya عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan). عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، يَقُوْلُ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى مَتَى ؟ قَالَ : « حَتَّى يَبْلُغَ الغُلاَمُ ، وَتَحِيْضَ الجَارِيَةُ» Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al-Hakim dalam Mustadroknya. Al-Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).   Baca juga: Meninggalkan Anak di Pondok Ketika Kecil   Mencegah terjadinya perceraian, pahamilah hak dan kewajiban suami istri   Istri taat pada suami secara baik. Karena istri perlu sadari bahwa sepintar dan sekaya apa pun dia, suami tetaplah pemimpin baginya di dalam rumah. Dalam ayat disebutkan, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34) Apa sebab sampai laki-laki dikatakan sebagai pemimpin? Sebab pertama, karena laki-laki telah dilebihkan dari perempuan. Dilebihkan di sini dalam beberapa hal: Dalam masalah kepemimpinan hanya laki-laki yang berhak. Kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada laki-laki. Ibadah-ibadah dipimpin oleh laki-laki seperti ibadah jihad, shalat ‘ied, dan shalat Jumat. Dalam hal berpikir dan kesabaran, laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Sebab kedua, karena laki-laki yang bertanggungjawab memberikan nafkah kepada para istri.   Baca juga: Manajeman Masalah Rumah Tangga   Istri menjaga diri dan menjaga harta suami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai, no. 3231 dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Istri tidak menolak ajakan suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang (baca: untuk berhubungan intim), lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 5193 dan Muslim, no. 1436).   Suami wajib memberi nafkah dengan baik pada istri dan anak. Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7). Dari Mu’awiyah Al-Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Jangan terus melihat kekurangan pasangan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim no. 1469)   Perlakukan istri dengan baik. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى “Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9:484. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Tidak saling suuzhan (berburuk sangka). Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim, no. 715). Hadits semacam ini kata Al-Muhallab adalah dalil yang menunjukkan terlarang mencari-cari kesalahan dan kelengahan istri karena ini adalah bagian dari fitnah dan termasuk berburuk sangka padanya (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibni Baththal).   Referensi: Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Cetakan ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.   — Diselesaikan di Gamping Jogja, 4 Rajab 1440 H (11 Maret 2019) Disusun Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsanak nakal keluarga pendidikan anak
Download   Apa saja sebab kenakalan pada anak? Kali ini lanjutan bahasannya.   Baca juga: Sebab Kenakalan pada Anak #01   Kelima: Percekcokan orang tua   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah berlangsungnya suasana ketidakharmonisan antara bapak dan ibu pada saat mereka bertemu dan berkumpul. Seorang anak tatkala membuka kedua matanya lantas menemukan pertengkaran kedua orang tuanya, maka anak akan lari dari rumah yang ia anggap membosankan. Ia akhirnya mencari teman bergaul yang menghilangkan keresahannya. Ia pun banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Seandainya teman-temannya adalah anak-anak nakal, secara perlahana anak tersebut pun menjadi nakal, bahkan bisa terus bertambah parah.” Karenanya sebelum menikah, Islam sudah mengajarkan pentingnya memilih pasangan yang baik agamanya, bukan sekadar mampu bekerja dan mencari nafkah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6) Adh-Dhahak dan Maqatil mengenai ayat di atas berkata, حَقُّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (HR. Ath-Thabari, dengan sanad shahih dari jalur Said bin Abi ‘Urubah, dari Qatadah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:321).   Baca juga: 5 Tips Rumah Tangga Bahagia   Keenam: Perceraian yang dibarengi dengan kemiskinan   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Faktor mendasar lainnya yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah terjadinya perceraian orang tua. Akibat yang ditimbulkan adalah terpisahnya anak dan anak jadi tersia-siakan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa anak tatkala telah membuka mata untuk memandang dunia kemudian ia mendapati seorang ibu yang seharusnya mengasuhnya dan seorang ayah yang seharusnya menjaga dan memenuhi kebutuhannya tidak sebagaimana yang ia harapkan maka akan mendorong anak melakukan kejahatan. Ia akan cenderung untuk bertindak kerusakan dan penyimpangan. Lebih parah lagi ketika seorang ibu yang telah bercerai tadi menikah lagi dengan orang lain, maka anak-anak (kebanyakan yang terjadi) akan tersia-siakan. Timbul permasalahan yang lain saat seorang ibu itu jatuh miskin setelah dicerai. Keadaan ini akan memaksanya  untuk bekerja di luar rumah, sehingga ia akan meninggalkan rumah dan membiarkan anak-anaknya yang masih kecil bermain di jalanan dan terancam setiap harinya. Apa yang bisa diharapkan nantinya dari seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, dan tanpa tanggungjawab seorang ayah? Dan apa jadinya jika anak tumbuh tanpa asuhan, penjagaan, dan tanggungjawab seorang ibu? Hasilnya, kita dapati mereka tersia-siakan dan terlunta-lunta. Dari situlah kemudian mereka terjerumus dalam perilaku jahat dan menyimpang kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah, dan sangat jumlah mereka itu sedikit.”   Baca juga: Jangan Ceraikan Aku!   Catatan: Anak tidak dipisah dari ibunya عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan). عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، يَقُوْلُ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى مَتَى ؟ قَالَ : « حَتَّى يَبْلُغَ الغُلاَمُ ، وَتَحِيْضَ الجَارِيَةُ» Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al-Hakim dalam Mustadroknya. Al-Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).   Baca juga: Meninggalkan Anak di Pondok Ketika Kecil   Mencegah terjadinya perceraian, pahamilah hak dan kewajiban suami istri   Istri taat pada suami secara baik. Karena istri perlu sadari bahwa sepintar dan sekaya apa pun dia, suami tetaplah pemimpin baginya di dalam rumah. Dalam ayat disebutkan, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34) Apa sebab sampai laki-laki dikatakan sebagai pemimpin? Sebab pertama, karena laki-laki telah dilebihkan dari perempuan. Dilebihkan di sini dalam beberapa hal: Dalam masalah kepemimpinan hanya laki-laki yang berhak. Kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada laki-laki. Ibadah-ibadah dipimpin oleh laki-laki seperti ibadah jihad, shalat ‘ied, dan shalat Jumat. Dalam hal berpikir dan kesabaran, laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Sebab kedua, karena laki-laki yang bertanggungjawab memberikan nafkah kepada para istri.   Baca juga: Manajeman Masalah Rumah Tangga   Istri menjaga diri dan menjaga harta suami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai, no. 3231 dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Istri tidak menolak ajakan suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang (baca: untuk berhubungan intim), lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 5193 dan Muslim, no. 1436).   Suami wajib memberi nafkah dengan baik pada istri dan anak. Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7). Dari Mu’awiyah Al-Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Jangan terus melihat kekurangan pasangan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim no. 1469)   Perlakukan istri dengan baik. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى “Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9:484. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Tidak saling suuzhan (berburuk sangka). Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim, no. 715). Hadits semacam ini kata Al-Muhallab adalah dalil yang menunjukkan terlarang mencari-cari kesalahan dan kelengahan istri karena ini adalah bagian dari fitnah dan termasuk berburuk sangka padanya (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibni Baththal).   Referensi: Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Cetakan ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.   — Diselesaikan di Gamping Jogja, 4 Rajab 1440 H (11 Maret 2019) Disusun Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsanak nakal keluarga pendidikan anak


Download   Apa saja sebab kenakalan pada anak? Kali ini lanjutan bahasannya.   Baca juga: Sebab Kenakalan pada Anak #01   Kelima: Percekcokan orang tua   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah berlangsungnya suasana ketidakharmonisan antara bapak dan ibu pada saat mereka bertemu dan berkumpul. Seorang anak tatkala membuka kedua matanya lantas menemukan pertengkaran kedua orang tuanya, maka anak akan lari dari rumah yang ia anggap membosankan. Ia akhirnya mencari teman bergaul yang menghilangkan keresahannya. Ia pun banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Seandainya teman-temannya adalah anak-anak nakal, secara perlahana anak tersebut pun menjadi nakal, bahkan bisa terus bertambah parah.” Karenanya sebelum menikah, Islam sudah mengajarkan pentingnya memilih pasangan yang baik agamanya, bukan sekadar mampu bekerja dan mencari nafkah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6) Adh-Dhahak dan Maqatil mengenai ayat di atas berkata, حَقُّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengajari keluarganya, termasuk kerabat, sampai pada hamba sahaya laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (HR. Ath-Thabari, dengan sanad shahih dari jalur Said bin Abi ‘Urubah, dari Qatadah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:321).   Baca juga: 5 Tips Rumah Tangga Bahagia   Keenam: Perceraian yang dibarengi dengan kemiskinan   Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “Faktor mendasar lainnya yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah terjadinya perceraian orang tua. Akibat yang ditimbulkan adalah terpisahnya anak dan anak jadi tersia-siakan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa anak tatkala telah membuka mata untuk memandang dunia kemudian ia mendapati seorang ibu yang seharusnya mengasuhnya dan seorang ayah yang seharusnya menjaga dan memenuhi kebutuhannya tidak sebagaimana yang ia harapkan maka akan mendorong anak melakukan kejahatan. Ia akan cenderung untuk bertindak kerusakan dan penyimpangan. Lebih parah lagi ketika seorang ibu yang telah bercerai tadi menikah lagi dengan orang lain, maka anak-anak (kebanyakan yang terjadi) akan tersia-siakan. Timbul permasalahan yang lain saat seorang ibu itu jatuh miskin setelah dicerai. Keadaan ini akan memaksanya  untuk bekerja di luar rumah, sehingga ia akan meninggalkan rumah dan membiarkan anak-anaknya yang masih kecil bermain di jalanan dan terancam setiap harinya. Apa yang bisa diharapkan nantinya dari seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, dan tanpa tanggungjawab seorang ayah? Dan apa jadinya jika anak tumbuh tanpa asuhan, penjagaan, dan tanggungjawab seorang ibu? Hasilnya, kita dapati mereka tersia-siakan dan terlunta-lunta. Dari situlah kemudian mereka terjerumus dalam perilaku jahat dan menyimpang kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah, dan sangat jumlah mereka itu sedikit.”   Baca juga: Jangan Ceraikan Aku!   Catatan: Anak tidak dipisah dari ibunya عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan). عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، يَقُوْلُ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى مَتَى ؟ قَالَ : « حَتَّى يَبْلُغَ الغُلاَمُ ، وَتَحِيْضَ الجَارِيَةُ» Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al-Hakim dalam Mustadroknya. Al-Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).   Baca juga: Meninggalkan Anak di Pondok Ketika Kecil   Mencegah terjadinya perceraian, pahamilah hak dan kewajiban suami istri   Istri taat pada suami secara baik. Karena istri perlu sadari bahwa sepintar dan sekaya apa pun dia, suami tetaplah pemimpin baginya di dalam rumah. Dalam ayat disebutkan, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34) Apa sebab sampai laki-laki dikatakan sebagai pemimpin? Sebab pertama, karena laki-laki telah dilebihkan dari perempuan. Dilebihkan di sini dalam beberapa hal: Dalam masalah kepemimpinan hanya laki-laki yang berhak. Kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada laki-laki. Ibadah-ibadah dipimpin oleh laki-laki seperti ibadah jihad, shalat ‘ied, dan shalat Jumat. Dalam hal berpikir dan kesabaran, laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Sebab kedua, karena laki-laki yang bertanggungjawab memberikan nafkah kepada para istri.   Baca juga: Manajeman Masalah Rumah Tangga   Istri menjaga diri dan menjaga harta suami. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai, no. 3231 dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Istri tidak menolak ajakan suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang (baca: untuk berhubungan intim), lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 5193 dan Muslim, no. 1436).   Suami wajib memberi nafkah dengan baik pada istri dan anak. Allah Ta’ala berfirman, لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7). Dari Mu’awiyah Al-Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).   Jangan terus melihat kekurangan pasangan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim no. 1469)   Perlakukan istri dengan baik. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى “Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9:484. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Tidak saling suuzhan (berburuk sangka). Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim, no. 715). Hadits semacam ini kata Al-Muhallab adalah dalil yang menunjukkan terlarang mencari-cari kesalahan dan kelengahan istri karena ini adalah bagian dari fitnah dan termasuk berburuk sangka padanya (Lihat Syarh Al-Bukhari karya Ibni Baththal).   Referensi: Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Cetakan ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.   — Diselesaikan di Gamping Jogja, 4 Rajab 1440 H (11 Maret 2019) Disusun Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsanak nakal keluarga pendidikan anak

Kumpulan Amalan Ringan #14: Umrah ke Umrah dan Haji Mabrur

Amalan berikutnya terasa ringan dilakukan bagi yang dimudahkan rezeki dan diberi taufik oleh Allah yaitu amalan haji dan umrah.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat.” Al-Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2:408) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9:118-119)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji amalan ringan amalan ringan berpahala besar haji keutamaan haji keutamaan umrah kumpulan amalan ringan manasik haji umrah wajib umrah

Kumpulan Amalan Ringan #14: Umrah ke Umrah dan Haji Mabrur

Amalan berikutnya terasa ringan dilakukan bagi yang dimudahkan rezeki dan diberi taufik oleh Allah yaitu amalan haji dan umrah.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat.” Al-Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2:408) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9:118-119)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji amalan ringan amalan ringan berpahala besar haji keutamaan haji keutamaan umrah kumpulan amalan ringan manasik haji umrah wajib umrah
Amalan berikutnya terasa ringan dilakukan bagi yang dimudahkan rezeki dan diberi taufik oleh Allah yaitu amalan haji dan umrah.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat.” Al-Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2:408) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9:118-119)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji amalan ringan amalan ringan berpahala besar haji keutamaan haji keutamaan umrah kumpulan amalan ringan manasik haji umrah wajib umrah


Amalan berikutnya terasa ringan dilakukan bagi yang dimudahkan rezeki dan diberi taufik oleh Allah yaitu amalan haji dan umrah.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari, no. 1773 dan Muslim, no. 1349) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat.” Al-Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2:408) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9:118-119)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsajakan berhaji amalan ringan amalan ringan berpahala besar haji keutamaan haji keutamaan umrah kumpulan amalan ringan manasik haji umrah wajib umrah

Hukum Makmum Masbuq Langsung Mengikuti Imam tanpa Takbiratul Ihram

Di antara kesalahan yang kita jumpai berkaitan dengan makmum masbuq dan mereka menjumpai imam -misalnya- dalam keadaan ruku’ atau sujud adalah mereka langsung menyusul gerakan imam tanpa melakukan takbiratul ihram terlebih dahulu. Ini adalah sebuah kesalahan karena shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan bagian dari rukun shalat.Bisa jadi hal ini juga karena mereka salah paham terhadap sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘amhu, beliau menceritakan,“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara gaduh orang-orang. Ketika selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَا شَأْنُكُمْ؟“Ada apa dengan kalian tadi?”Para sahabat menjawab,اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ“Kami terburu-buru untuk shalat.” (karena terlambat, pent.)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا“Jangan kalian lakukan. Jika kalian datang menuju shalat, datangilah (berjalanlah) dengan tenang. Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam, pent.), maka ikutilah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 602)Baca Juga: Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?Yang mereka pahami dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam), maka ikutilah” adalah “jika imam ruku’, maka kita langsung ruku’” atau “jika imam sujud, maka kita langsung sujud” dan demikian seterusnya.Pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, karena suatu hadits tentunya dipahami berdasarkan pemahaman terhadap dalil-dalil yang lainnya.Dalil dari hadits lainnya menunjukkan bahwa shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat.Di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang keliru (salah) dalam shalatnya,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, bertakbirlah … “ (HR. Bukhari no. 793)Dalam riwayat yang lain,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ“Kunci shalat adalah bersuci, dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.” (HR. Abu Dawud no. 61 dan Tirmidzi no. 3, dinilai shahih oleh Al-Albani)Baca Juga: Imam Dan Makmum Shalat Berbeda NiatKesimpulan, jika kita terlambat shalat berjamaah, dan imam sudah dalam posisi ruku’, sujud atau posisi yang lainnya, maka hendaknya kita berjalan memasuki masjid dengan tenang, tidak boleh berjalan cepat yang membuat suara gaduh. Setelah berada di shaf jamaah, takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan dalam posisi masih tegak berdiri, setelah itu baru menyusul gerakan (posisi) imam.Kesalahan: Takbiratul ihram dalam posisi setengah membungkuk karena hendak ruku’ atau sujudTakbiratul ihram tersebut harus dalam posisi tegak berdiri, bukan setengah membungkuk atau bahkan sambil ruku’ atau yang lainnya karena terburu-buru untuk ruku’ atau sujud. Ini adalah di antara kesalahan yang umum kita jumpai di masjid-masjid kaum muslimin.Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ومن أخطاء المسبوقين في صلاة الجماعة : أن ينشغل عن تكبيرة الإحرام في القيام ، طمعاً في إدراك الركوع مع الإمام ، لكي يلحق الركعة ، فيأتي بالتكبيرة وهو نازل للركوع“Di antara kesalahan makmum masbuq dalam shalat jama’ah adalah: dia terlalu cepat melakukan takbiratul ihram ketika berdiri, karena ingin mendapati ruku’ bersama imam sehingga bisa mendapatkan hitungan satu raka’at bersama imam. Sehingga dia pun takbiratul ihram dalam keadaan mulai merunduk untuk ruku’.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 255)Beliau hafidzahullahu Ta’ala kemudian menjelaskan,وقد صرّح جمهور الفقهاء على وجوب الإتيان بتكبيرة الإحرام في القيام“Mayoritas ulama fiqh telah menjelaskan bahwa mengerjakan takbiratul ihram dalam posisi tegak berdiri itu hukumnya wajib.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 256)Baca Juga: Bagaimana Duduknya Makmum Masbuk Ketika Imam Tasyahud Akhir?Apakah perlu bersedekap terlebih dahulu sebelum ruku’ atau sujud? Setelah takbiratul ihram, apakah perlu bersedekap (meletakkan kedua tangan di dada) terlebih dahulu lalu langsung menyusul ruku’ atau sujud?Berdiri setelah takbiratul ihram dan juga bersedekap dimaksudkan untuk membaca surat Al-Fatihah. Ketika kita mendapati imam sudah ruku’ atau sujud, maka setelah takbiratul ihram tidak ada kewajiban berdiri, sehingga otomatis tidak perlu bersedekap.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,أن الفاتحة تسقط عمن أدرك الإمام راكعاً، لأنه لم يدرك القيام الذي هو محل القراءة لكنها لا تسقط عنه في بقية الركعات.“(Membaca) surat Al-Fatihah itu gugur bagi orang-orang (yang datang terlambat) yang mendapati imam dalam keadaan ruku’. Hal ini karena dia tidak mendapati posisi berdiri yang merupakan tempat untuk membaca (Al-Fatihah). Akan tetapi, (membaca Al-Fatihah) ini tidak gugur darinya di rakaat sisanya.” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 98)Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ولا داعي لما يفعله بعض المصلّين من وضع اليد اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام و قبل النزول للركوع ، إذ وضع اليدين حال القراءة ، ولا قراءة في هذه الحالة“Tidak ada kebutuhan (tidak perlu) untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram dan sebelum turun menuju ruku’, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang shalat. Hal ini karena meletakkan dua tangan (di dada) adalah posisi yang diperuntukkan dalam rangka membaca (Al-Fatihah). Sedangkan dalam kondisi tersebut, dia tidak membaca Al-Fatihah (karena langsung ruku’, pent.).” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257)Baca Juga: Kesalahan-Kesalahan Makmum Dalam ShalatApakah setelah takbiratul ihram, perlu takbir lagi untuk ruku’ atau sujud?Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu Ta’ala ditanya, “Jika seorang makmum datang dalam kondisi imam sedang berada dalam posisi ruku’, apakah dia bertakbir takbiratul ihram ataukah bertakbir untuk ruku’ (takbir intiqal)?Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,الأولى و الأحوط أن يكبر التكبيرتين : إحداهما : تكبيرة الإحرام ، وهي ركن ، ولا بدّ أن يأتي بها وهو قائم . والثّانية : تكبيرة الركوع ، يأتي بها حين هويه إلى الركوع فإن خاف فوت الركعة ، أجزأته تكبيرةُ الإحرام في أصح قولي العلماء ، لأنهما عبادتان اجتمعتا في وقت واحد ، فأجزأت الكبرى عن الصغرى ، وتجزىء هذه الركعة عند أكثر العلماء“Yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah dia bertakbir dua kali, takbir pertama adalah takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat, dan harus dikerjakan dalam posisi tegak berdiri. Takbir kedua adalah takbir untuk ruku’ (takbir intiqal), yang dia kerjakan dalam posisi merunduk menuju ruku’.Apabila dia khawatir tertinggal raka’at (dengan dua kali takbir, pent.), maka dia cukup takbiratul ihram menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini. Karena dua takbir ini adalah ibadah yang terkumpul dalam satu waktu, sehingga takbir yang lebih besar (yaitu takbiratul ihram) sudah mencukupi dari takbir yang kecil (yaitu takbir untuk ruku’). Dan raka’at tersebut dianggap mencukupi (sah) oleh mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 55) [1]Baca Juga: Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat Fikih I’tidal Dalam Shalat [Selesai]***@Rumah Lendah, 21 Jumadil akhir 1440/ 26 Februari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dikutip dari Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah

Hukum Makmum Masbuq Langsung Mengikuti Imam tanpa Takbiratul Ihram

Di antara kesalahan yang kita jumpai berkaitan dengan makmum masbuq dan mereka menjumpai imam -misalnya- dalam keadaan ruku’ atau sujud adalah mereka langsung menyusul gerakan imam tanpa melakukan takbiratul ihram terlebih dahulu. Ini adalah sebuah kesalahan karena shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan bagian dari rukun shalat.Bisa jadi hal ini juga karena mereka salah paham terhadap sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘amhu, beliau menceritakan,“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara gaduh orang-orang. Ketika selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَا شَأْنُكُمْ؟“Ada apa dengan kalian tadi?”Para sahabat menjawab,اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ“Kami terburu-buru untuk shalat.” (karena terlambat, pent.)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا“Jangan kalian lakukan. Jika kalian datang menuju shalat, datangilah (berjalanlah) dengan tenang. Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam, pent.), maka ikutilah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 602)Baca Juga: Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?Yang mereka pahami dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam), maka ikutilah” adalah “jika imam ruku’, maka kita langsung ruku’” atau “jika imam sujud, maka kita langsung sujud” dan demikian seterusnya.Pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, karena suatu hadits tentunya dipahami berdasarkan pemahaman terhadap dalil-dalil yang lainnya.Dalil dari hadits lainnya menunjukkan bahwa shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat.Di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang keliru (salah) dalam shalatnya,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, bertakbirlah … “ (HR. Bukhari no. 793)Dalam riwayat yang lain,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ“Kunci shalat adalah bersuci, dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.” (HR. Abu Dawud no. 61 dan Tirmidzi no. 3, dinilai shahih oleh Al-Albani)Baca Juga: Imam Dan Makmum Shalat Berbeda NiatKesimpulan, jika kita terlambat shalat berjamaah, dan imam sudah dalam posisi ruku’, sujud atau posisi yang lainnya, maka hendaknya kita berjalan memasuki masjid dengan tenang, tidak boleh berjalan cepat yang membuat suara gaduh. Setelah berada di shaf jamaah, takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan dalam posisi masih tegak berdiri, setelah itu baru menyusul gerakan (posisi) imam.Kesalahan: Takbiratul ihram dalam posisi setengah membungkuk karena hendak ruku’ atau sujudTakbiratul ihram tersebut harus dalam posisi tegak berdiri, bukan setengah membungkuk atau bahkan sambil ruku’ atau yang lainnya karena terburu-buru untuk ruku’ atau sujud. Ini adalah di antara kesalahan yang umum kita jumpai di masjid-masjid kaum muslimin.Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ومن أخطاء المسبوقين في صلاة الجماعة : أن ينشغل عن تكبيرة الإحرام في القيام ، طمعاً في إدراك الركوع مع الإمام ، لكي يلحق الركعة ، فيأتي بالتكبيرة وهو نازل للركوع“Di antara kesalahan makmum masbuq dalam shalat jama’ah adalah: dia terlalu cepat melakukan takbiratul ihram ketika berdiri, karena ingin mendapati ruku’ bersama imam sehingga bisa mendapatkan hitungan satu raka’at bersama imam. Sehingga dia pun takbiratul ihram dalam keadaan mulai merunduk untuk ruku’.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 255)Beliau hafidzahullahu Ta’ala kemudian menjelaskan,وقد صرّح جمهور الفقهاء على وجوب الإتيان بتكبيرة الإحرام في القيام“Mayoritas ulama fiqh telah menjelaskan bahwa mengerjakan takbiratul ihram dalam posisi tegak berdiri itu hukumnya wajib.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 256)Baca Juga: Bagaimana Duduknya Makmum Masbuk Ketika Imam Tasyahud Akhir?Apakah perlu bersedekap terlebih dahulu sebelum ruku’ atau sujud? Setelah takbiratul ihram, apakah perlu bersedekap (meletakkan kedua tangan di dada) terlebih dahulu lalu langsung menyusul ruku’ atau sujud?Berdiri setelah takbiratul ihram dan juga bersedekap dimaksudkan untuk membaca surat Al-Fatihah. Ketika kita mendapati imam sudah ruku’ atau sujud, maka setelah takbiratul ihram tidak ada kewajiban berdiri, sehingga otomatis tidak perlu bersedekap.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,أن الفاتحة تسقط عمن أدرك الإمام راكعاً، لأنه لم يدرك القيام الذي هو محل القراءة لكنها لا تسقط عنه في بقية الركعات.“(Membaca) surat Al-Fatihah itu gugur bagi orang-orang (yang datang terlambat) yang mendapati imam dalam keadaan ruku’. Hal ini karena dia tidak mendapati posisi berdiri yang merupakan tempat untuk membaca (Al-Fatihah). Akan tetapi, (membaca Al-Fatihah) ini tidak gugur darinya di rakaat sisanya.” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 98)Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ولا داعي لما يفعله بعض المصلّين من وضع اليد اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام و قبل النزول للركوع ، إذ وضع اليدين حال القراءة ، ولا قراءة في هذه الحالة“Tidak ada kebutuhan (tidak perlu) untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram dan sebelum turun menuju ruku’, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang shalat. Hal ini karena meletakkan dua tangan (di dada) adalah posisi yang diperuntukkan dalam rangka membaca (Al-Fatihah). Sedangkan dalam kondisi tersebut, dia tidak membaca Al-Fatihah (karena langsung ruku’, pent.).” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257)Baca Juga: Kesalahan-Kesalahan Makmum Dalam ShalatApakah setelah takbiratul ihram, perlu takbir lagi untuk ruku’ atau sujud?Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu Ta’ala ditanya, “Jika seorang makmum datang dalam kondisi imam sedang berada dalam posisi ruku’, apakah dia bertakbir takbiratul ihram ataukah bertakbir untuk ruku’ (takbir intiqal)?Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,الأولى و الأحوط أن يكبر التكبيرتين : إحداهما : تكبيرة الإحرام ، وهي ركن ، ولا بدّ أن يأتي بها وهو قائم . والثّانية : تكبيرة الركوع ، يأتي بها حين هويه إلى الركوع فإن خاف فوت الركعة ، أجزأته تكبيرةُ الإحرام في أصح قولي العلماء ، لأنهما عبادتان اجتمعتا في وقت واحد ، فأجزأت الكبرى عن الصغرى ، وتجزىء هذه الركعة عند أكثر العلماء“Yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah dia bertakbir dua kali, takbir pertama adalah takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat, dan harus dikerjakan dalam posisi tegak berdiri. Takbir kedua adalah takbir untuk ruku’ (takbir intiqal), yang dia kerjakan dalam posisi merunduk menuju ruku’.Apabila dia khawatir tertinggal raka’at (dengan dua kali takbir, pent.), maka dia cukup takbiratul ihram menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini. Karena dua takbir ini adalah ibadah yang terkumpul dalam satu waktu, sehingga takbir yang lebih besar (yaitu takbiratul ihram) sudah mencukupi dari takbir yang kecil (yaitu takbir untuk ruku’). Dan raka’at tersebut dianggap mencukupi (sah) oleh mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 55) [1]Baca Juga: Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat Fikih I’tidal Dalam Shalat [Selesai]***@Rumah Lendah, 21 Jumadil akhir 1440/ 26 Februari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dikutip dari Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah
Di antara kesalahan yang kita jumpai berkaitan dengan makmum masbuq dan mereka menjumpai imam -misalnya- dalam keadaan ruku’ atau sujud adalah mereka langsung menyusul gerakan imam tanpa melakukan takbiratul ihram terlebih dahulu. Ini adalah sebuah kesalahan karena shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan bagian dari rukun shalat.Bisa jadi hal ini juga karena mereka salah paham terhadap sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘amhu, beliau menceritakan,“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara gaduh orang-orang. Ketika selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَا شَأْنُكُمْ؟“Ada apa dengan kalian tadi?”Para sahabat menjawab,اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ“Kami terburu-buru untuk shalat.” (karena terlambat, pent.)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا“Jangan kalian lakukan. Jika kalian datang menuju shalat, datangilah (berjalanlah) dengan tenang. Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam, pent.), maka ikutilah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 602)Baca Juga: Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?Yang mereka pahami dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam), maka ikutilah” adalah “jika imam ruku’, maka kita langsung ruku’” atau “jika imam sujud, maka kita langsung sujud” dan demikian seterusnya.Pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, karena suatu hadits tentunya dipahami berdasarkan pemahaman terhadap dalil-dalil yang lainnya.Dalil dari hadits lainnya menunjukkan bahwa shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat.Di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang keliru (salah) dalam shalatnya,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, bertakbirlah … “ (HR. Bukhari no. 793)Dalam riwayat yang lain,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ“Kunci shalat adalah bersuci, dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.” (HR. Abu Dawud no. 61 dan Tirmidzi no. 3, dinilai shahih oleh Al-Albani)Baca Juga: Imam Dan Makmum Shalat Berbeda NiatKesimpulan, jika kita terlambat shalat berjamaah, dan imam sudah dalam posisi ruku’, sujud atau posisi yang lainnya, maka hendaknya kita berjalan memasuki masjid dengan tenang, tidak boleh berjalan cepat yang membuat suara gaduh. Setelah berada di shaf jamaah, takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan dalam posisi masih tegak berdiri, setelah itu baru menyusul gerakan (posisi) imam.Kesalahan: Takbiratul ihram dalam posisi setengah membungkuk karena hendak ruku’ atau sujudTakbiratul ihram tersebut harus dalam posisi tegak berdiri, bukan setengah membungkuk atau bahkan sambil ruku’ atau yang lainnya karena terburu-buru untuk ruku’ atau sujud. Ini adalah di antara kesalahan yang umum kita jumpai di masjid-masjid kaum muslimin.Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ومن أخطاء المسبوقين في صلاة الجماعة : أن ينشغل عن تكبيرة الإحرام في القيام ، طمعاً في إدراك الركوع مع الإمام ، لكي يلحق الركعة ، فيأتي بالتكبيرة وهو نازل للركوع“Di antara kesalahan makmum masbuq dalam shalat jama’ah adalah: dia terlalu cepat melakukan takbiratul ihram ketika berdiri, karena ingin mendapati ruku’ bersama imam sehingga bisa mendapatkan hitungan satu raka’at bersama imam. Sehingga dia pun takbiratul ihram dalam keadaan mulai merunduk untuk ruku’.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 255)Beliau hafidzahullahu Ta’ala kemudian menjelaskan,وقد صرّح جمهور الفقهاء على وجوب الإتيان بتكبيرة الإحرام في القيام“Mayoritas ulama fiqh telah menjelaskan bahwa mengerjakan takbiratul ihram dalam posisi tegak berdiri itu hukumnya wajib.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 256)Baca Juga: Bagaimana Duduknya Makmum Masbuk Ketika Imam Tasyahud Akhir?Apakah perlu bersedekap terlebih dahulu sebelum ruku’ atau sujud? Setelah takbiratul ihram, apakah perlu bersedekap (meletakkan kedua tangan di dada) terlebih dahulu lalu langsung menyusul ruku’ atau sujud?Berdiri setelah takbiratul ihram dan juga bersedekap dimaksudkan untuk membaca surat Al-Fatihah. Ketika kita mendapati imam sudah ruku’ atau sujud, maka setelah takbiratul ihram tidak ada kewajiban berdiri, sehingga otomatis tidak perlu bersedekap.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,أن الفاتحة تسقط عمن أدرك الإمام راكعاً، لأنه لم يدرك القيام الذي هو محل القراءة لكنها لا تسقط عنه في بقية الركعات.“(Membaca) surat Al-Fatihah itu gugur bagi orang-orang (yang datang terlambat) yang mendapati imam dalam keadaan ruku’. Hal ini karena dia tidak mendapati posisi berdiri yang merupakan tempat untuk membaca (Al-Fatihah). Akan tetapi, (membaca Al-Fatihah) ini tidak gugur darinya di rakaat sisanya.” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 98)Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ولا داعي لما يفعله بعض المصلّين من وضع اليد اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام و قبل النزول للركوع ، إذ وضع اليدين حال القراءة ، ولا قراءة في هذه الحالة“Tidak ada kebutuhan (tidak perlu) untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram dan sebelum turun menuju ruku’, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang shalat. Hal ini karena meletakkan dua tangan (di dada) adalah posisi yang diperuntukkan dalam rangka membaca (Al-Fatihah). Sedangkan dalam kondisi tersebut, dia tidak membaca Al-Fatihah (karena langsung ruku’, pent.).” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257)Baca Juga: Kesalahan-Kesalahan Makmum Dalam ShalatApakah setelah takbiratul ihram, perlu takbir lagi untuk ruku’ atau sujud?Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu Ta’ala ditanya, “Jika seorang makmum datang dalam kondisi imam sedang berada dalam posisi ruku’, apakah dia bertakbir takbiratul ihram ataukah bertakbir untuk ruku’ (takbir intiqal)?Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,الأولى و الأحوط أن يكبر التكبيرتين : إحداهما : تكبيرة الإحرام ، وهي ركن ، ولا بدّ أن يأتي بها وهو قائم . والثّانية : تكبيرة الركوع ، يأتي بها حين هويه إلى الركوع فإن خاف فوت الركعة ، أجزأته تكبيرةُ الإحرام في أصح قولي العلماء ، لأنهما عبادتان اجتمعتا في وقت واحد ، فأجزأت الكبرى عن الصغرى ، وتجزىء هذه الركعة عند أكثر العلماء“Yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah dia bertakbir dua kali, takbir pertama adalah takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat, dan harus dikerjakan dalam posisi tegak berdiri. Takbir kedua adalah takbir untuk ruku’ (takbir intiqal), yang dia kerjakan dalam posisi merunduk menuju ruku’.Apabila dia khawatir tertinggal raka’at (dengan dua kali takbir, pent.), maka dia cukup takbiratul ihram menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini. Karena dua takbir ini adalah ibadah yang terkumpul dalam satu waktu, sehingga takbir yang lebih besar (yaitu takbiratul ihram) sudah mencukupi dari takbir yang kecil (yaitu takbir untuk ruku’). Dan raka’at tersebut dianggap mencukupi (sah) oleh mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 55) [1]Baca Juga: Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat Fikih I’tidal Dalam Shalat [Selesai]***@Rumah Lendah, 21 Jumadil akhir 1440/ 26 Februari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dikutip dari Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah


Di antara kesalahan yang kita jumpai berkaitan dengan makmum masbuq dan mereka menjumpai imam -misalnya- dalam keadaan ruku’ atau sujud adalah mereka langsung menyusul gerakan imam tanpa melakukan takbiratul ihram terlebih dahulu. Ini adalah sebuah kesalahan karena shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan bagian dari rukun shalat.Bisa jadi hal ini juga karena mereka salah paham terhadap sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘amhu, beliau menceritakan,“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara gaduh orang-orang. Ketika selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,مَا شَأْنُكُمْ؟“Ada apa dengan kalian tadi?”Para sahabat menjawab,اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ“Kami terburu-buru untuk shalat.” (karena terlambat, pent.)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا“Jangan kalian lakukan. Jika kalian datang menuju shalat, datangilah (berjalanlah) dengan tenang. Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam, pent.), maka ikutilah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 602)Baca Juga: Kapan Makmum Mengucapkan Aamiin?Yang mereka pahami dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam), maka ikutilah” adalah “jika imam ruku’, maka kita langsung ruku’” atau “jika imam sujud, maka kita langsung sujud” dan demikian seterusnya.Pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, karena suatu hadits tentunya dipahami berdasarkan pemahaman terhadap dalil-dalil yang lainnya.Dalil dari hadits lainnya menunjukkan bahwa shalat dimulai dari takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat.Di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang keliru (salah) dalam shalatnya,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, bertakbirlah … “ (HR. Bukhari no. 793)Dalam riwayat yang lain,إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ“Jika Engkau berdiri mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat dan bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ“Kunci shalat adalah bersuci, dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam.” (HR. Abu Dawud no. 61 dan Tirmidzi no. 3, dinilai shahih oleh Al-Albani)Baca Juga: Imam Dan Makmum Shalat Berbeda NiatKesimpulan, jika kita terlambat shalat berjamaah, dan imam sudah dalam posisi ruku’, sujud atau posisi yang lainnya, maka hendaknya kita berjalan memasuki masjid dengan tenang, tidak boleh berjalan cepat yang membuat suara gaduh. Setelah berada di shaf jamaah, takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan dalam posisi masih tegak berdiri, setelah itu baru menyusul gerakan (posisi) imam.Kesalahan: Takbiratul ihram dalam posisi setengah membungkuk karena hendak ruku’ atau sujudTakbiratul ihram tersebut harus dalam posisi tegak berdiri, bukan setengah membungkuk atau bahkan sambil ruku’ atau yang lainnya karena terburu-buru untuk ruku’ atau sujud. Ini adalah di antara kesalahan yang umum kita jumpai di masjid-masjid kaum muslimin.Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ومن أخطاء المسبوقين في صلاة الجماعة : أن ينشغل عن تكبيرة الإحرام في القيام ، طمعاً في إدراك الركوع مع الإمام ، لكي يلحق الركعة ، فيأتي بالتكبيرة وهو نازل للركوع“Di antara kesalahan makmum masbuq dalam shalat jama’ah adalah: dia terlalu cepat melakukan takbiratul ihram ketika berdiri, karena ingin mendapati ruku’ bersama imam sehingga bisa mendapatkan hitungan satu raka’at bersama imam. Sehingga dia pun takbiratul ihram dalam keadaan mulai merunduk untuk ruku’.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 255)Beliau hafidzahullahu Ta’ala kemudian menjelaskan,وقد صرّح جمهور الفقهاء على وجوب الإتيان بتكبيرة الإحرام في القيام“Mayoritas ulama fiqh telah menjelaskan bahwa mengerjakan takbiratul ihram dalam posisi tegak berdiri itu hukumnya wajib.” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 256)Baca Juga: Bagaimana Duduknya Makmum Masbuk Ketika Imam Tasyahud Akhir?Apakah perlu bersedekap terlebih dahulu sebelum ruku’ atau sujud? Setelah takbiratul ihram, apakah perlu bersedekap (meletakkan kedua tangan di dada) terlebih dahulu lalu langsung menyusul ruku’ atau sujud?Berdiri setelah takbiratul ihram dan juga bersedekap dimaksudkan untuk membaca surat Al-Fatihah. Ketika kita mendapati imam sudah ruku’ atau sujud, maka setelah takbiratul ihram tidak ada kewajiban berdiri, sehingga otomatis tidak perlu bersedekap.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,أن الفاتحة تسقط عمن أدرك الإمام راكعاً، لأنه لم يدرك القيام الذي هو محل القراءة لكنها لا تسقط عنه في بقية الركعات.“(Membaca) surat Al-Fatihah itu gugur bagi orang-orang (yang datang terlambat) yang mendapati imam dalam keadaan ruku’. Hal ini karena dia tidak mendapati posisi berdiri yang merupakan tempat untuk membaca (Al-Fatihah). Akan tetapi, (membaca Al-Fatihah) ini tidak gugur darinya di rakaat sisanya.” (Majmu’ Fataawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 98)Syaikh Masyhur Hasan Salman hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,ولا داعي لما يفعله بعض المصلّين من وضع اليد اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام و قبل النزول للركوع ، إذ وضع اليدين حال القراءة ، ولا قراءة في هذه الحالة“Tidak ada kebutuhan (tidak perlu) untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram dan sebelum turun menuju ruku’, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang shalat. Hal ini karena meletakkan dua tangan (di dada) adalah posisi yang diperuntukkan dalam rangka membaca (Al-Fatihah). Sedangkan dalam kondisi tersebut, dia tidak membaca Al-Fatihah (karena langsung ruku’, pent.).” (Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257)Baca Juga: Kesalahan-Kesalahan Makmum Dalam ShalatApakah setelah takbiratul ihram, perlu takbir lagi untuk ruku’ atau sujud?Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu Ta’ala ditanya, “Jika seorang makmum datang dalam kondisi imam sedang berada dalam posisi ruku’, apakah dia bertakbir takbiratul ihram ataukah bertakbir untuk ruku’ (takbir intiqal)?Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,الأولى و الأحوط أن يكبر التكبيرتين : إحداهما : تكبيرة الإحرام ، وهي ركن ، ولا بدّ أن يأتي بها وهو قائم . والثّانية : تكبيرة الركوع ، يأتي بها حين هويه إلى الركوع فإن خاف فوت الركعة ، أجزأته تكبيرةُ الإحرام في أصح قولي العلماء ، لأنهما عبادتان اجتمعتا في وقت واحد ، فأجزأت الكبرى عن الصغرى ، وتجزىء هذه الركعة عند أكثر العلماء“Yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah dia bertakbir dua kali, takbir pertama adalah takbiratul ihram yang merupakan rukun shalat, dan harus dikerjakan dalam posisi tegak berdiri. Takbir kedua adalah takbir untuk ruku’ (takbir intiqal), yang dia kerjakan dalam posisi merunduk menuju ruku’.Apabila dia khawatir tertinggal raka’at (dengan dua kali takbir, pent.), maka dia cukup takbiratul ihram menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini. Karena dua takbir ini adalah ibadah yang terkumpul dalam satu waktu, sehingga takbir yang lebih besar (yaitu takbiratul ihram) sudah mencukupi dari takbir yang kecil (yaitu takbir untuk ruku’). Dan raka’at tersebut dianggap mencukupi (sah) oleh mayoritas ulama.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 55) [1]Baca Juga: Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat Fikih I’tidal Dalam Shalat [Selesai]***@Rumah Lendah, 21 Jumadil akhir 1440/ 26 Februari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Dikutip dari Al-Qaulul Mubiin fi Akhta’i Al-Mushallin, hal. 257.🔍 Musik Dalam Islam, Thaghut Dalam Al Quran, Pandangan Adalah, Islam Media Com, Surat Yasin Fadillah

Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)

Ketika disebutkan kata “doa”, biasanya hanya muncul dalam benak seseorang bahwa maksud dari kata “doa” tersebut adalah permintaan kepada Allah Ta’ala yang disampaikan oleh seorang hamba agar keinginannya terwujud atau agar terhindar dari mara bahaya. Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa semua jenis ibadah yang kita lakukan, baik shalat, zakat, puasa ataupun haji, semuanya juga tercakup dalam pengertian “doa”.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanDoa permintaan (doa masalah) dan doa ibadahPerlu diketahui bahwa terdapat dua jenis doa yang digunakan dalam istilah syariat.Pertama, doa masalah (دعاء المسألة) atau doa permintaan. Maksudnya, seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan ucapan lisannya, meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan kebaikan yang dia inginkan atau agar terhindar dari suatu keburukan (bahaya). Inilah pengertian doa yang banyak dipahami oleh kaum muslimin.Kedua, doa ibadah (دعاء العبادة). Maksudnya, semua jenis ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa. Buktinya, kalau kita bertanya kepada seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, “Apa tujuanmu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menunaikan hak-hak Allah Ta’ala?”Niscaya orang beriman akan menjawab, “Aku bermaksud dengan ibadah tersebut agar mendapatkan ridha Allah Ta’ala, meraih pahala, selamat atau terbebas dari hukuman-Nya.” Sehingga pada hakikatnya, seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala juga sedang meminta kepada Allah Ta’ala, yaitu meminta agar ibadah tersebut diterima, mendapatkan pahala, dan agar diampuni dosa-dosanya, meskipun dia tidak mengucapkan permintaan tersebut dengan lisannya.Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Lafadz “doa” dalam Al-Qur’an yang mencakup doa masalah dan doa ibadahKita jumpai banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata “doa”, dan mencakup kedua jenis doa tersebut sekaligus, tidak hanya doa masalah saja. Misalnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apa pun yang lain.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 117)وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)Dan juga firman Allah Ta’ala,وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)Maka lafadz “doa” dalam semua ayat di atas mencakup doa masalah dan doa ibadah. Maksudnya, siapa saja yang meminta agar dipenuhi hajat atau kebutuhannya kepada selain Allah Ta’ala, dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu memenuhi permintaan tersebut kecuali Allah Ta’ala semata, maka dia adalah seorang musyrik kafir. Ini adalah doa masalah. Demikian pula orang yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping beribadah menyembah Allah Ta’ala, dia juga seorang musyrik kafir. Yang ke dua ini adalah doa ibadah.Oleh karena itu, lafadz “doa” dalam ayat-ayat di atas kami terjemahkan dengan “menyembah” atau “beribadah”, agar mencakup dua makna doa tersebut sekaligus. Karena seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut, sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam seri berikutnya dari tulisan ini.Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba Sebab-Sebab Terkabulnya Doa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 3 Jumadil Awwal 1440/ 9 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Bumi Bulat Atau Datar Menurut Islam, Arti Manhaj, Segitiga Bermuda Dajjal, Hadist Fitnah, Hadits 10 Hari Pertama Ramadhan

Memahami Pengertian Doa Permintaan dan Doa Ibadah (Bag. 1)

Ketika disebutkan kata “doa”, biasanya hanya muncul dalam benak seseorang bahwa maksud dari kata “doa” tersebut adalah permintaan kepada Allah Ta’ala yang disampaikan oleh seorang hamba agar keinginannya terwujud atau agar terhindar dari mara bahaya. Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa semua jenis ibadah yang kita lakukan, baik shalat, zakat, puasa ataupun haji, semuanya juga tercakup dalam pengertian “doa”.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanDoa permintaan (doa masalah) dan doa ibadahPerlu diketahui bahwa terdapat dua jenis doa yang digunakan dalam istilah syariat.Pertama, doa masalah (دعاء المسألة) atau doa permintaan. Maksudnya, seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan ucapan lisannya, meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan kebaikan yang dia inginkan atau agar terhindar dari suatu keburukan (bahaya). Inilah pengertian doa yang banyak dipahami oleh kaum muslimin.Kedua, doa ibadah (دعاء العبادة). Maksudnya, semua jenis ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa. Buktinya, kalau kita bertanya kepada seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, “Apa tujuanmu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menunaikan hak-hak Allah Ta’ala?”Niscaya orang beriman akan menjawab, “Aku bermaksud dengan ibadah tersebut agar mendapatkan ridha Allah Ta’ala, meraih pahala, selamat atau terbebas dari hukuman-Nya.” Sehingga pada hakikatnya, seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala juga sedang meminta kepada Allah Ta’ala, yaitu meminta agar ibadah tersebut diterima, mendapatkan pahala, dan agar diampuni dosa-dosanya, meskipun dia tidak mengucapkan permintaan tersebut dengan lisannya.Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Lafadz “doa” dalam Al-Qur’an yang mencakup doa masalah dan doa ibadahKita jumpai banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata “doa”, dan mencakup kedua jenis doa tersebut sekaligus, tidak hanya doa masalah saja. Misalnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apa pun yang lain.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 117)وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)Dan juga firman Allah Ta’ala,وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)Maka lafadz “doa” dalam semua ayat di atas mencakup doa masalah dan doa ibadah. Maksudnya, siapa saja yang meminta agar dipenuhi hajat atau kebutuhannya kepada selain Allah Ta’ala, dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu memenuhi permintaan tersebut kecuali Allah Ta’ala semata, maka dia adalah seorang musyrik kafir. Ini adalah doa masalah. Demikian pula orang yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping beribadah menyembah Allah Ta’ala, dia juga seorang musyrik kafir. Yang ke dua ini adalah doa ibadah.Oleh karena itu, lafadz “doa” dalam ayat-ayat di atas kami terjemahkan dengan “menyembah” atau “beribadah”, agar mencakup dua makna doa tersebut sekaligus. Karena seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut, sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam seri berikutnya dari tulisan ini.Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba Sebab-Sebab Terkabulnya Doa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 3 Jumadil Awwal 1440/ 9 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Bumi Bulat Atau Datar Menurut Islam, Arti Manhaj, Segitiga Bermuda Dajjal, Hadist Fitnah, Hadits 10 Hari Pertama Ramadhan
Ketika disebutkan kata “doa”, biasanya hanya muncul dalam benak seseorang bahwa maksud dari kata “doa” tersebut adalah permintaan kepada Allah Ta’ala yang disampaikan oleh seorang hamba agar keinginannya terwujud atau agar terhindar dari mara bahaya. Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa semua jenis ibadah yang kita lakukan, baik shalat, zakat, puasa ataupun haji, semuanya juga tercakup dalam pengertian “doa”.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanDoa permintaan (doa masalah) dan doa ibadahPerlu diketahui bahwa terdapat dua jenis doa yang digunakan dalam istilah syariat.Pertama, doa masalah (دعاء المسألة) atau doa permintaan. Maksudnya, seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan ucapan lisannya, meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan kebaikan yang dia inginkan atau agar terhindar dari suatu keburukan (bahaya). Inilah pengertian doa yang banyak dipahami oleh kaum muslimin.Kedua, doa ibadah (دعاء العبادة). Maksudnya, semua jenis ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa. Buktinya, kalau kita bertanya kepada seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, “Apa tujuanmu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menunaikan hak-hak Allah Ta’ala?”Niscaya orang beriman akan menjawab, “Aku bermaksud dengan ibadah tersebut agar mendapatkan ridha Allah Ta’ala, meraih pahala, selamat atau terbebas dari hukuman-Nya.” Sehingga pada hakikatnya, seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala juga sedang meminta kepada Allah Ta’ala, yaitu meminta agar ibadah tersebut diterima, mendapatkan pahala, dan agar diampuni dosa-dosanya, meskipun dia tidak mengucapkan permintaan tersebut dengan lisannya.Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Lafadz “doa” dalam Al-Qur’an yang mencakup doa masalah dan doa ibadahKita jumpai banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata “doa”, dan mencakup kedua jenis doa tersebut sekaligus, tidak hanya doa masalah saja. Misalnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apa pun yang lain.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 117)وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)Dan juga firman Allah Ta’ala,وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)Maka lafadz “doa” dalam semua ayat di atas mencakup doa masalah dan doa ibadah. Maksudnya, siapa saja yang meminta agar dipenuhi hajat atau kebutuhannya kepada selain Allah Ta’ala, dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu memenuhi permintaan tersebut kecuali Allah Ta’ala semata, maka dia adalah seorang musyrik kafir. Ini adalah doa masalah. Demikian pula orang yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping beribadah menyembah Allah Ta’ala, dia juga seorang musyrik kafir. Yang ke dua ini adalah doa ibadah.Oleh karena itu, lafadz “doa” dalam ayat-ayat di atas kami terjemahkan dengan “menyembah” atau “beribadah”, agar mencakup dua makna doa tersebut sekaligus. Karena seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut, sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam seri berikutnya dari tulisan ini.Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba Sebab-Sebab Terkabulnya Doa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 3 Jumadil Awwal 1440/ 9 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Bumi Bulat Atau Datar Menurut Islam, Arti Manhaj, Segitiga Bermuda Dajjal, Hadist Fitnah, Hadits 10 Hari Pertama Ramadhan


Ketika disebutkan kata “doa”, biasanya hanya muncul dalam benak seseorang bahwa maksud dari kata “doa” tersebut adalah permintaan kepada Allah Ta’ala yang disampaikan oleh seorang hamba agar keinginannya terwujud atau agar terhindar dari mara bahaya. Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa semua jenis ibadah yang kita lakukan, baik shalat, zakat, puasa ataupun haji, semuanya juga tercakup dalam pengertian “doa”.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanDoa permintaan (doa masalah) dan doa ibadahPerlu diketahui bahwa terdapat dua jenis doa yang digunakan dalam istilah syariat.Pertama, doa masalah (دعاء المسألة) atau doa permintaan. Maksudnya, seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan ucapan lisannya, meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan kebaikan yang dia inginkan atau agar terhindar dari suatu keburukan (bahaya). Inilah pengertian doa yang banyak dipahami oleh kaum muslimin.Kedua, doa ibadah (دعاء العبادة). Maksudnya, semua jenis ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa. Buktinya, kalau kita bertanya kepada seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, “Apa tujuanmu mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menunaikan hak-hak Allah Ta’ala?”Niscaya orang beriman akan menjawab, “Aku bermaksud dengan ibadah tersebut agar mendapatkan ridha Allah Ta’ala, meraih pahala, selamat atau terbebas dari hukuman-Nya.” Sehingga pada hakikatnya, seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala juga sedang meminta kepada Allah Ta’ala, yaitu meminta agar ibadah tersebut diterima, mendapatkan pahala, dan agar diampuni dosa-dosanya, meskipun dia tidak mengucapkan permintaan tersebut dengan lisannya.Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Lafadz “doa” dalam Al-Qur’an yang mencakup doa masalah dan doa ibadahKita jumpai banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata “doa”, dan mencakup kedua jenis doa tersebut sekaligus, tidak hanya doa masalah saja. Misalnya, Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apa pun yang lain.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 117)وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin [72]: 18)Dan juga firman Allah Ta’ala,وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus [10]: 106)Maka lafadz “doa” dalam semua ayat di atas mencakup doa masalah dan doa ibadah. Maksudnya, siapa saja yang meminta agar dipenuhi hajat atau kebutuhannya kepada selain Allah Ta’ala, dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu memenuhi permintaan tersebut kecuali Allah Ta’ala semata, maka dia adalah seorang musyrik kafir. Ini adalah doa masalah. Demikian pula orang yang beribadah kepada selain Allah Ta’ala, di samping beribadah menyembah Allah Ta’ala, dia juga seorang musyrik kafir. Yang ke dua ini adalah doa ibadah.Oleh karena itu, lafadz “doa” dalam ayat-ayat di atas kami terjemahkan dengan “menyembah” atau “beribadah”, agar mencakup dua makna doa tersebut sekaligus. Karena seseorang yang berdoa dengan doa masalah, pada hakikatnya dia juga sedang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan berdoa tersebut, sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam seri berikutnya dari tulisan ini.Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba Sebab-Sebab Terkabulnya Doa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 3 Jumadil Awwal 1440/ 9 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Bumi Bulat Atau Datar Menurut Islam, Arti Manhaj, Segitiga Bermuda Dajjal, Hadist Fitnah, Hadits 10 Hari Pertama Ramadhan
Prev     Next