Teks Khotbah Jumat: Meneladani Amanah Nabi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Meneladani Amanah Nabi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُفَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat sekalian,Pertama-tama, khatib mengajak diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah senantiasa kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan ketakwaan inilah, wahai jemaah sekalian, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang kita hadapi dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 2-3)Tema khotbah kita hari ini adalah mengenai amanah, sebuah akhlak agung yang menjadi ciri utama seorang muslim. Allah mengulang pembahasan amanah dalam banyak ayat, dan Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu tanda keimanan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)Ayat ini mencakup semua bentuk amanah, baik itu dalam hal harta, jabatan, janji, pekerjaan, keluarga, hingga waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Apakah harta yang kita miliki bersumber dari sesuatu yang halal? Apakah harta tersebut telah kita pergunakan sebagaimana mestinya? Dalam hal pekerjaan, apakah kita sudah amanah dengan kontrak kerja yang ada? Apakah kita tidak terlambat di dalam menunaikannya? Apakah umur dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita benar-benar telah kita manfaatkan sebaik-baiknya? Ataukah justru lebih banyak diisi dengan hal-hal sia-sia?Sungguh di hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kita akan semua amanah tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسَبَه؟ وفيم أنفَقَه؟ وعن جِسمِه؛ فيمَ أبلاه؟“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, kemana dia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)Sungguh, menjadi pribadi yang bertanggungjawab penuh atas setiap amanah yang berada di pundaknya merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Karena amanah merupakan salah satu ciri keimanan dalam diri seseorang. Allah menyebutkan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun,وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)Allah Ta’ala juga memperingatkan kita semua agar jangan sampai mengkhianati amanah yang telah Allah dan Nabi-Nya berikan kepada kita serta mengkhianati amanah yang telah diberikan orang lain kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul serta mengkhianati amanah-amanah kalian.” (QS. Al-Anfal: 27)Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita semua pastilah memikul amanah, dan kita semua harus bertanggungjawab atas amanah yang kita pikul. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ فالأميرُ الذي على الناسِ راعٍ عليهم وهو مسؤولٌ عنهم والرجلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ وهو مسؤولٌ عنهم والمرأةُ راعيةٌ على بيتِ بعلها وولدِهِ وهي مسؤولةٌ عنهم وعبدُ الرجلِ راعٍ على بيتِ سيدِهِ وهو مسؤولٌ عنهُ ألا فكلُّكم راعٍ وكلُّكم مسؤولٌ عن رعيتِهِ“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menangani urusan umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Mereka yang tidak mau menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dan mengkhianatinya, dikhawatirkan mereka akan terjatuh ke dalam salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَان“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara, ia dusta; bila berjanji, ia menyelisihi; dan bila diberikan kepercayaan, ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Sungguh ini harus menjadi perhatian setiap muslim. Bahwa tindakan khianat terhadap amanah yang ada dapat mengantarkannya kepada perbuatan kemunafikan. Yang telah jelas bagi kita semua bahwa orang-orang munafik akan menempati neraka paling dalam, waliyyadzu billah. Semoga Allah Ta’ala menanamkan kepada kita akhlak amanah, menguatkan kita untuk istikamah di dalam melaksanakannya dan menghindarkan kita dari akhlak tidak terpuji.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Sungguh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah puncak keteladanan dalam amanah. Orang Quraisy memanggil beliau dengan gelar Al-Amîn jauh sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Bahkan ketika semua orang memusuhi beliau, mereka tetap menitipkan barang mereka kepada beliau.Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk tinggal terlebih dahulu di Makkah beberapa hari hanya untuk mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang masih beliau simpan. Padahal mereka adalah musuh yang hendak membunuh beliau. Sungguh, ini adalah bentuk keteladanan nyata yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Jemaah yang dimuliakan Allah, sungguh amanah adalah akhlak yang berat yang harus diperjuangkan dan tidak boleh disepelekan. Bahkan langit dan bumi, dua makhluk Allah yang sangat besar sekalipun, mereka tidak sanggup untuk memikulnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan,الْأَمَانَةُ أَدَاءُ الصلاة وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ وَالْعَدْلُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشَدُّ مِنْ هَذَا كُلِّهِ الْوَدَائِعُ“Amanah (di sini) maksudnya adalah melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, menunaikan haji ke Baitullah, berkata jujur, membayar utang, berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan yang paling berat dari semua itu adalah menjaga titipan.” (Tafsir Al-Baghawi, 6: 380)Begitu beratnya amanah ini, sampai-sampai Ibnu Mas’ud juga mengatakan bahwa yang pertama kali Allah cabut dari umat Islam adalah sifat amanah,أوَّلُ ما تَفْقِدُونَ مِنْ دينِكُمُ الأمَانَةُ وآخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِينِكُمُ الصَّلَاةُ“Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah salat.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam kitabnya, At-Tafsiir Al-Wasiith no. 556)Tidak mengherankan jika kita dapati di zaman sekarang, seorang muslim yang dengan mudahnya menyepelekan amanah yang dipikulnya. Baik itu amanah yang menyangkut hak Allah Ta’ala berupa kewajiban salat dan hal-hal lainnya, ataupun amanah yang menyangkut hak manusia.Betapa banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan salat, tidak jujur dalam bermuamalah, tidak membayar utang, tidak amanah dalam pekerjaan, bahkan tidak amanah dalam keluarganya, waliyaadzu billah.Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan limpahan karunia dari Allah.Sudah sepatutnya bagi kita semua untuk mengoreksi kembali, apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang amanah? Mengerjakan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita. Sebagai kepala keluarga apakah kita sudah menjadi kepala keluarga yang menunaikan hak-hak anggota keluarga kita? Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan kita? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga martabat kaum muslimin dengan menjaga kualitas amanah kita.إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، َللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَBaca juga: Menjalani Kehidupan dengan Tawaduk***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Ternyata Shalat Witir Punya Tiga Level – Kamu di Level Mana? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan NasehatUlama

Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ

Ternyata Shalat Witir Punya Tiga Level – Kamu di Level Mana? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan NasehatUlama

Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ
Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ


Shalat Witir bagi seorang Muslim memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling utama, yaitu melaksanakan Shalat Witir pada sepertiga malam terakhir. Shalat dua rakaat-dua rakaat, lalu mengakhirinya dengan satu rakaat. Tingkatan kedua: melaksanakannya sebelum tidur. Jika ia tidak mampu bangun pada akhir malam, atau khawatir tidak terbangun di akhir malam, maka hendaklah dia melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Inilah yang diwasiatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian Sahabat, seperti Abu Hurairah. Karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sering kali begadang untuk menjaga hafalan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau khawatir tidak terbangun di akhir malam. Sehingga beliau melaksanakan Shalat Witir sebelum tidur. Karenanya, beliau berkata, “Sahabat terkasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga hal kepadaku…” Salah satunya: “…agar aku berwitir sebelum tidur.” Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, karena keteguhannya dan sikap hati-hati, beliau berwitir sebelum tidur sebab khawatir tidak terbangun di akhir malam. Karena di zaman itu mereka tidak punya alarm, jam, atau perangkat semacamnya. Sedangkan Umar bin Khattab mendirikan Shalat Witir di akhir malam. Adapun Abu Bakar mengamalkan yang lebih aman. Mungkin Abu Bakar juga shalat di akhir malam, tapi tanpa berwitir lagi, karena beliau berwitir sebelum tidur sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi, ada sebagian Sahabat yang mendirikan Shalat Witir sebelum tidur. Kemudian jika tingkat pertama dan kedua tidak bisa dia lakukan, dia bisa menerapkan tingkatan ketiga, yaitu mendirikan Shalat Witir, langsung setelah Shalat Isya. Kesimpulannya, Shalat Witir punya tiga tingkatan: Tingkatan pertama, ini yang paling sempurna dan utama, adalah melakukannya pada sepertiga malam terakhir. Tingkatan kedua: sebelum tidur. Tingkatan ketiga: setelah Shalat Isya. Seorang muslim hendaknya selalu bersemangat menjalankan Shalat Witir. Sebab, ini adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya saat safar. Beliau selalu menjaganya, baik ketika mukim maupun dalam perjalanan. Maka setiap muslim wajib berusaha melaksanakannya, meskipun tidak mampu mengerjakannya di akhir malam atau sebelum tidur. Dia tetap dapat melaksanakan Shalat Witir setelah Shalat Isya. ===== تَكُونُ صَلَاةُ الْوَتْرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمُسْلِمِ عَلَى ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَجْعَلَ صَلَاةَ الْوِتْرِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَجْعَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ يَخْشَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ فَيُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ وَهَذَا قَدْ وَصَّى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْهَرُ لِأَجْلِ تَعَاهُدِ مَا حَفِظَهُ مِنْ أَحَادِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَكَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَلِهَذَا قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ وَأَيْضًا وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ حَزْمِهِ وَاحْتِيَاطِهِ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ لِأَنَّهُ يَخْشَى أَلَّا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مُنَبِّهَاتٌ أَوْ سَاعَاتٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ وَكَانَ عُمَرُ يَقُومُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَأَبُو بَكْرٍ أَخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَرُبَّمَا أَنَّهُ يَقُومُ لَكِنَّهُ لَا يُوتِرُ لَكِنْ كَانَ يُوتِرُ احْتِيَاطًا قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَكَانَ إِذًا بَعْضُ الصَّحَابَةِ يُوتِرُ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ فَإِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ لَا هَذَا وَلَا ذَاكَ انْتَقَلَ لِلْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ وَهُوَ أَنْ يُوتِرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَإِذًا الْوِتْرُ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ الدَّرَجَةُ الْأُولَى وَهِيَ الْأَكْمَلُ وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُونَ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ فَإِنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ جِدًّاحَتَّى إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهَا فِي السَّفَرِ كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا سَفَرًا وَحَضَرًا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا حَتَّى لَوْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْوِتْرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ

Pengasuhan yang Keliru dan Efek Kerusakannya terhadap Anak

التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 402 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid

Pengasuhan yang Keliru dan Efek Kerusakannya terhadap Anak

التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 402 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid
التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 402 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 QRIS donasi Yufid


التربية الخاطئة.. وتدمير الأبناء تربية الأبناء من أشد ما يقاسيه الإنسان ويعانيه في واقعنا المعاصر.. ذلك أن العملية التربوية عملية معقدة جدا، ومهمة أيضا جدا.. إذ هي بناء للعقول، وتزكية للنفوس، وتهذيب للأخلاق، وإثراء للعلوم والفهوم، جنبا إلى جنب مع بناء الأبدان والأجسام، فهي عملية بناء متكامل بناء عقدي، وبناء علمي، وبناء خلقي، وبناء نفسي، وبناء جسدي. Pengasuhan anak termasuk perkara yang menjadi beban berat bagi banyak orang pada zaman kita sekarang. Hal ini karena proses pengasuhan merupakan proses yang sangat kompleks dan urgen. Sebab pengasuhan merupakan pembangun akal, pembersih jiwa, pelurus akhlak, dan pembekal ilmu dan wawasan yang berjalan sejajar dengan pembangun jasmani. Ia merupakan proses pembangunan yang menyeluruh, dari sisi akidah, keilmuan, akhlak, mental, dan badan. والتربية في زمننا علم وفن، وإذا لم نحاول أن نتعلم فنون التربية فربما ندمر أبناءنا من غير قصد من خلال ممارسات نمارسها دون انتباه لخطرها وأثرها على الأولاد ـ ولو كان على المدى البعيد ـ فتتراكم في عقولهم ومخيلتهم، وتترك ندبا في نفوسهم، ثم في نهاية الأمر نفاجأ بأن أبناءنا صاروا مشوهين نفسيا وتربويا وأخلاقيا، ومع مرور الوقت تبدأ هذه المشاكل في الظهور، وتحتاج إلى سرعة التدخل في العلاج وإلا ازداد الأمر سوءا، وكانت العاقبة غير محمودة. Pengasuhan pada zaman kita ini menjadi disiplin ilmu tersendiri. Apabila kita tidak berusaha mempelajari keterampilan-keterampilan dalam pengasuhan, bisa jadi kita akan merusak anak-anak kita tanpa disadari melalui kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa mengetahui bahaya dan pengaruhnya terhadap anak-anak, meskipun baru terasa dalam jangka panjang. Pola-pola asuh yang salah itu terus menumpuk dalam akal pikiran mereka dan meninggalkan bekas dalam jiwa mereka, lalu pada akhirnya kita dikejutkan dengan anak-anak kita yang cacat secara mental, pengasuhan, dan akhlak. Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah tersebut akan mulai muncul, dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat, dan jika tidak, maka masalah ini akan semakin memburuk dan akibatnya tidak diharapkan. والحقيقة أن هذه العاهات التربوية والتشوهات النفسية ـ وربما الاختلالات الأخلاقية ـ وراءها أسباب وتصرفات كان مبتداها من البيت وسببها من الوالدين أنفسهما. Pada hakikatnya, cacat-cacat pengasuhan dan gangguan-gangguan mental – mungkin juga kerusakan-kerusakan akhlak – dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan perlakuan-perlakuan yang berawal dari rumah tangga dan orang tua itu sendiri. كيف تدمر أبناءك!!! هناك ممارسات بالفعل تؤدي إلى تدمير الأولاد نفسيا، وانحرافهم أخلاقيا، وتؤدي إلى خلل وعلل في العملية التربوية.. فمن هذه الممارسات: Bagaimana kamu merusak anak-anakmu?! Ada banyak pola asuh yang memang dapat merusak mental anak-anak, menyebabkan penyimpangan akhlak mereka, dan menimbulkan gangguan dan ketidakseimbangan dalam proses pengasuhan. Di antara pola-pola asuh ini adalah: ـ كثرة الصراخ ورفع الصوت: يؤدّي الصراخ الدائم على الأطفال إلى نظرة الطفل السلبية لذاته، وفقدان الثقة بنفسه، وعدم احترام الذات، ويُشعِر الأطفال بأنّ الوالدين ليسا بجانبهم، كما يولّد الصراخ تحديًّا بين الطفل ووالديه، يؤدّي في نهاية المطاف إلى انفصال الطفل عاطفيًّا عن والديه، وبعده الدائم عن محيط وجودهما، مما يساهم في تكسير الروابط العائليّة، والركون إلى الوحدة والعزلة، وربما تطور إلى مشاكل أخرى ككثرة القلق والتوتّر، والاكتئاب. Pertama: Banyak berteriak dan meninggikan suara Teriakan yang selalu dilontarkan ke anak-anak dapat menyebabkan mereka memandang rendah diri mereka, kehilangan kepercayaan diri, dan tidak menghargai diri sendiri, serta membuat mereka merasa orang tua mereka tidak berada di pihak mereka. Teriakan juga akan melahirkan permusuhan antara anak dan kedua orang tuanya. Pada akhirnya itu akan memutus koneksi perasaan antara anak dan kedua orang tua, dan menjauhkannya dari lingkup figur mereka berdua secara berkelanjutan. Ini tentu akan berperan dalam merusak hubungan kekeluargaan, kecondongan pada sikap suka menyendiri, dan bisa jadi akan berlanjut menjadi masalah-masalah lain seperti sering merasa cemas, gelisah, dan stres. ـ الضرب والعنف الجسدي: وهو من أسوأ أساليب التربية وأكثرها انتشارا للأسف، وهو معاقبة الطفل بدنيا بالضرب كلما خالف أو أخطأ، وعواقب هذا الأسلوب سلبية للغالية، فهي إما أن تخلق طفلا كارها لكل من حوله، وعدوانيا كثير الرغبة في الانتقام.. أو طفلا شديد الانطوائية والانعزال عن الآخرين، قليل الثقة جدا بنفسه شديد الخوف من أي محاولة للعمل خوف الفشل، وربما يصبح شخصا شديد القسوة والصرامة شديد العنف مع أبنائه عند كبره، وفي تعاملاته مع الآخرين. Kedua: Pukulan dan kekerasan fisik lainnya Ini merupakan cara pengasuhan yang paling buruk, tetapi sayangnya menjadi cara yang juga paling banyak dipakai, yaitu menghukum anak secara fisik dengan pukulan setiap kali ia melanggar aturan atau berbuat salah. Efek dari cara ini sangat buruk, karena dapat membentuk jiwa anak yang membenci terhadap setiap orang yang di sekelilingnya, agresif, dan pendendam, atau menjadi anak yang minder, suka menyendiri, pesimis terhadap diri sendiri, dan takut mencoba karena takut gagal. Terkadang juga menjadi orang yang sangat keras dan kaku terhadap anak-anaknya kelak di masa depan dan ketika berinteraksi dengan orang lain. ـ السيطرة والتسلط: بإلزام الطفل بالنشاطات والمهام التي حددها الآباء فقط، ومنعه عن القيام بالنشاط الذي يرغب فيه دون مبرر، وفي الغالب يرتبط هذا السلوك التربوي بالعقاب النفسي أو البدني، وربما زاد التسلط فيمنع من نوع الدراسة الذي يرغبه ويرغم على ما كان يتمناه الأب أو كان يتمناه وفشل فيه فيريد أن يعوض فشله في أبنائه. والأطفال الذين تعرضوا لهذا الأسلوب التربوي يغلب عليهم الخوف والخجل، والتبعية والخضوع للآخرين، ويكونون غير قادرين على التفكير والإبداع، ولا حتى إبداء الرأي في المواضيع العامة والمناقشات مع الأصحاب، والنتاج إنسان بلا هوية ولا شخصية. Ketiga: Otoriter dan terlalu dominan Yakni dengan memaksa anak mengikuti kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas yang hanya ditentukan oleh orang tua saja, dan melarang tanpa alasan aktivitas-aktivitas yang disukai anak. Sering kali, pola asuh seperti ini berkaitan kuat dengan hukuman fisik dan non-fisik.  Terkadang sikap otoritatif ini sangat besar, hingga melarang suatu pelajaran yang disukai anak dan memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua atau yang dulu diinginkan orang tua lalu mereka gagal, sehingga mereka ingin mengganti kegagalan itu melalui anak-anak mereka. Anak yang memperoleh pola asuh seperti ini sering kali memiliki kecenderungan penakut, minder, mudah terpengaruh dan tunduk kepada orang lain, tidak mampu berpikir dengan bebas dan kreatif, dan bahkan tidak mampu mengungkapkan pendapat di tempat-tempat umum atau dalam diskusi dengan teman-temannya. Sehingga hasilnya adalah manusia yang tidak berkarakter dan krisis identitas. ـ الشجار الدائم وعدم الاحترام المتبادل بين الزوجين: مع تبادل الصراخ والشتائم ربما، وأحيانا يتطور إلى نوع من الضرب، وهذا له أثر مدمر على الطفل: فهو يؤدي إلى مشاكل نفسية كالقلق والخوف والاكتئاب وفقدان الثقة بالنفس وربما مشاعر الكره نحو أحد والديه إذا رأى أنه مظلوم وهو يكن له محبة كبيرة. ومن الناحية الصحية: يعيش في قلق دائم مما يؤثر على دماغ الطفل ويسهم في تأخر نمو قدراته العقلية، وأحيانا حالات من التبول اللاإرادي نتيجة الخوف أو الهواجس التي تنتج عن وجوده بهذه الأجواء المشحونة. وكذلك يرسخ في عقلية الأطفال أفكارا مغلوطة عن مفهوم الزواج والحياة الأسرية، وهذا سيؤثر على حياتهم العاطفية والاجتماعية في الحال والمستقبل. وهذه المشاكل تؤثر سلبا أيضا على المستوى الدراسي للأطفال، وتؤدي إلى تأخرهم العلمي وتدني مستوى التحصيل، وقد وجد أن أكثر الذين تفلتوا من كراسي الدراسة كانوا يعيشون في أسر غير مستقرة، أو انفصل فيها الأبوان. Keempat: Pertengkaran dan tidak saling menghormati antara suami dan istri Terkadang hal ini juga disertai dengan saling lempar teriakan dan celaan, bahkan terkadang menjurus pada kekerasan fisik. Ini tentu memberi efek destruktif terhadap anak, karena dapat menyebabkan masalah-masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, kehilangan kepercayaan diri, dan terkadang merasa benci kepada salah satu orang tuanya jika ia merasa terzalimi dan memendam rasa cintanya. Dari sisi kesehatan, anak itu akan hidup dalam kegalauan terus-menerus yang akan berpengaruh pada otaknya dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan akal. Terkadang juga diiringi dengan kasus mengompol akibat ketakutan atau kecemasan yang bersumber dari keberadaannya dalam suasana penuh ketegangan tersebut. Kondisi ini juga menanamkan pemahaman-pemahaman keliru pada akal anak tentang konsep pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Tentu ini akan berpengaruh pada kehidupan mereka secara emosional dan sosial di masa kini dan masa depan. Masalah-masalah ini akan berpengaruh negatif juga pada bidang akademik anak, menyebabkan kesenjangan keilmuan, dan penurunan nilai akademiknya. Dan mayoritas orang yang meninggalkan kursi pendidikan adalah mereka yang hidup di keluarga yang tidak kondusif atau terjadi perceraian di antara orang tua mereka. ـ النقد الدائم: وممارسة الألم النفسي بدوام البحث عن الأخطاء، والتركيز على السلبيات دون الإيجابيات، والتقليل من شأنه ومن أفكاره واهتماماته.. وهذا يفقده ثقته بنفسه، وعدم القدرة على القيام بأي تصرف خوفا من توجيه النقد له، وينتج لنا إنسانا مترددا، خائفا، انطوائيا في الغالب قليل التفاعل مع الآخرين. Kelima: Kritik yang berlebihan Termasuk juga kebiasaan memberi luka psikologis dengan mencari-cari kesalahan, fokus kepada hal-hal negatif – alih-alih yang positif, meremehkan pribadinya, pemikirannya, dan ketertarikannya. Ini semua dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu melakukan tugas apa pun karena takut mendapat kritik. Pola asuh ini akan menghasilkan manusia yang plin-plan, minder, dan sering kali rendah hubungan sosialnya dengan orang lain. ـ المقارنة الدائمة بينه وبين الأطفال الآخرين: حيث يظن البعض أن هذا من باب التحفيز لبذل الجهد ومحاولة التفوق، ولكنه في الغالب ما يكون محبطا، ويؤدي إلى زعزعة ثقة الطفل بنفسه، لعدم مراعاة القدرات الفردية والملكات والخصائص بين الأطفال بعضهم وبعض.. وربما يؤدي أيضا إلى الحسد والكراهية لهؤلاء الأطفال الذين يقارنونه بهم، وربما العدائية والعدوانية تجاههم. Keenam: Selalu membandingkan anak dengan anak lain Sebagian orang menganggap ini sebagai bagian dari motivasi agar anak mau mengerahkan usaha dan berjuang untuk lebih berprestasi. Namun, lebih seringnya justru menjadi penurun semangat dan menggoyahkan kepercayaan diri anak tersebut, karena pola asuh seperti ini tidak mengindahkan karakteristik, keterampilan, dan ciri khas antara satu anak dengan anak lain. Bisa jadi, pola asuh ini juga menimbulkan kedengkian dan kebencian terhadap anak-anak yang menjadi pembanding tersebut, atau bahkan permusuhan dan perselisihan terhadap mereka. ـ العناية الزائدة والدلال المفرط: وتلبية جميع الطلبات والرغبات، والقيام عنه بجميع المهام والواجبات.. وعدم المحاسبة على التقصير والأخطاء. وعواقب هذه التربية إنسان غير مسؤول، ضعيف الشخصية أناني اتكالي إلى الغاية، غير قادر على اقتحام المواقف وتحمل المسؤولية. Ketujuh: Berlebihan dalam memanja dan memberi perhatian Juga memenuhi segala permintaan dan keinginan anak, melakukan semua tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan anak, dan tidak memberi hukuman terhadap kelalaian dan kesalahan anak.  Hasil dari pengasuhan seperti ini adalah terbentuk manusia yang tidak bertanggung jawab, memiliki karakter yang lemah, egois, dan sangat bergantung kepada orang lain, serta tidak mampu menghadapi momen-momen genting dan mengemban tanggung jawab. ختاما إن التربية تحتاج إلى الوعي والاهتمام، والملاحظة الدائمة للأخطاء التربوية وما يصاحبها من آثار على الأطفال، ومعالجة ذلك أولا بأول، وتصحيح المسار التربوي؛ ليخرج أبناؤنا على ما نرغب وما نحب وما ينبغي أن يكونوا عليه، نافعين لأنفسهم ولدينهم وأوطانهم، والاستعانة أولا وآخرا بالله تعالى والدعاء بالتوفيق. penutup Pengasuhan membutuhkan kesadaran dan perhatian, pengawasan berkelanjutan terhadap kesalahan-kesalahan pola asuh dan efek-efek negatif yang menyertainya pada anak, menangani itu semua dengan sigap, dan meluruskan pola asuh ke jalan yang benar, agar anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan mereka menjadi sebagaimana yang seharusnya, bermanfaat bagi diri, agama, dan negara mereka. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita memohon pertolongan dan taufik-Nya. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/244546/التربية-الخاطئة-وتدمير-الأبناء Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 402 times, 1 visit(s) today Post Views: 785 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib

Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.

Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib

Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.
Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.


Daftar Isi ToggleMengenal Hasyim (هاشم)Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiKisah penemuan sumur ZamzamPeristiwa pasukan bergajahSetiap Nabi memiliki nasab yang mulia, demikian pula Rasulullah Muhammad ﷺ. Beliau berasal dari garis keturunan yang terhormat di tengah masyarakat Arab. Nenek moyang terdekat beliau adalah ayah, kakek, dan kakek buyut yang juga dikenal karena kemuliaan akhlak serta kedudukan mereka. Pada kesempatan ini, kita akan menelusuri kisah keluarga Rasulullah ﷺ agar kita semakin mengenal betapa agung nasab beliau dan bagaimana keluarga beliau turut berperan dalam masyarakat pada zamannya.Mengenal Hasyim (هاشم)Hasyim mendapat tugas menyediakan air minum (siqāyah) dan jamuan makan (rifādah) bagi jemaah haji. Latar belakang penunjukan Hasyim dapat dilihat pada artikel di tautan ini. Hasyim dikenal sebagai orang kaya dan memiliki kemuliaan yang agung. Ia adalah pelopor penyedia tsarīd (roti yang dicampur kuah daging) kepada jemaah haji di Makkah. Nama aslinya adalah ‘Amr (عمرو). Ia dijuluki Hasyim lantaran aktivitasnya meremahkan roti untuk jamuan jemaah haji. Hasyim juga orang pertama yang menetapkan dua perjalanan dagang kabilah Quraisy, yaitu perjalanan di musim dingin dan musim panas.Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Hasyim hendak bepergian ke Syam sebagai pedagang. Ketika ia singgah di Yatsrib, ia menikahi Salma binti ‘Amr (سلمى بنت عمرو), salah seorang wanita dari Bani ‘Adi bin Najjar (عدي بن النجار) dan menetap di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Syam dalam keadaan istrinya tengah mengandung anaknya. Malangnya, Hasyim kemudian meninggal di Ghaza (غزة). Anaknya tersebut lalu lahir pada tahun 497 M dan diberi nama Syaibah (شيبة), lantaran adanya uban di kepalanya sejak kecil. Syaibah dibesarkan di Yatsrib tanpa sepengetahuan keluarga Hasyim di Makkah. Selain Syaibah, Hasyim juga memiliki tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.Abdul Muththalib (عبد المطلب), sang kakek NabiSepeninggal Hasyim, tugas siyāqah dan rifādah berpindah kepada saudaranya, al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf (المطلب بن عبد مناف). Al-Muthtalib adalah seseorang yang taat dan memiliki keutamaan di antara kaum Quraisy. Ketika Syaibah tumbuh remaja, kabar tersebut sampai kepada al-Muththalib. Ia pun berangkat ke Yatsrib untuk menjemputnya. Saat bertemu dengan Syaibah, ia menangis, memeluknya, dan membawanya ke Makkah. Awalnya, ibu Syaibah enggan melepaskan Syaibah, namun al-Muthtalib berkata, “Syaibah hanya akan pergi ke negeri ayahnya, ke tanah suci Allah.” Akhirnya, ibunya mengizinkan Syaibah untuk pergi. Ketika al-Muththalib sampai ke Makkah dengan membonceng Syaibah, orang-orang menyangka ia adalah budak milik al-Muththalib. Sehingga disebutlah “Abdul Muththalib”. Al-Muththalib membantah mereka dan menyatakan bahwa ia adalah anak dari Hasyim. Syaibah tinggal bersama al-Muththalib sampai dewasa.Tatkala al-Muththalib meninggal, kepemimpinan berpindah kepada Abdul Muththalib. Ia meneruskan tradisi mulia leluhurnya dan mendapatkan kedudukan terhormat di tengah kaumnya melebihi para pendahulunya. Dua peristiwa paling penting pada masa kepemimpinannya adalah penggalian kembali sumur Zamzam dan peristiwa pasukan bergajah.Kisah penemuan sumur ZamzamSuatu ketika, Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam. Posisi sumur Zamzam tergambarkan di dalam mimpinya. Lantas ia segera bangun dan mulai menggali hingga menemukannya. Selain air Zamzam, ia juga menemukan benda-benda peninggalan kabilah Jurhum yang terkubur tatkala mereka diusir dari Makkah.Benda-benda peninggalan tersebut berupa banyak pedang dan baju zirah, serta dua patung rusa dari emas. Pedang-pedang temuan itu lalu dijadikan pintu Ka’bah, dua patung rusa ditempelkan di pintu Ka’bah, dan air Zamzam dibagikan untuk jemaah haji.Ketika sumur Zamzam ditemukan, kaum Quraisy berselisih dengan Abdul Muththalib. Mereka ingin berkongsi terkait air Zamzam ini. Namun, Abdul Muththalib menolak dan menyatakan bahwa ini adalah perkara yang dikhususkan untuknya. Kaum Quraisy tidak menyerah lalu membawa perkara ini kepada seorang dukun wanita dari Bani Sa’d untuk diadili. Di tengah perjalanan ke dukun itu, Allah memperlihatkan tanda yang menegaskan bahwa Zamzam adalah kekhususan Abdul Muththalib. Akhirnya, kaum Quraisy tidak jadi melakukannya. Pada saat itu, Abdul Muththalib bernazar jika ia memiliki sepuluh anak laki-laki dan mereka telah cukup kuat untuk melindungiku, niscaya ia benar-benar akan menyembelih salah satu anaknya itu di Ka’bah.Peristiwa pasukan bergajahPeristiwa pasukan bergajah diawali dengan adanya tokoh bernama Abrahah (أبرهة), seorang wakil Raja Najasyi di Yaman. Ketika Abrahah melihat bahwa bangsa Arab berhaji ke Ka’bah, ia juga mendirikan gereja besar di Shan’a’ (صنعاء). Ia berambisi mengalihkan arah ibadah bangsa Arab dari Ka’bah ke gereja buatannya. Kabar tersebut terdengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah (بني كنانة) dan membuatnya marah. Akhirnya, ia masuk ke gereja pada malam hari lalu mengotori kiblat gereja dengan tinja.Tatkala Abrahah mengetahui kejadian tersebut, ia sangat murka dan bertekad akan menghancurkan Ka’bah. Ia berangkat dengan pasukan besar berjumlah sekitar enam puluh ribu orang serta membawa gajah-gajah besar, termasuk seekor gajah terbesar yang menjadi tunggangannya sendiri. Pasukan tersebut terus bergerak hingga tiba di Wadi Muhassir (وادي محسر), daerah antara Muzdalifah (المزدلفة) dan Mina (منى). Sesampainya di sana, gajah tersebut menderum enggan bergerak menuju Ka’bah. Setiap kali gajah diarahkan ke selain Ka’bah, ia segera bangkit dan berlari. Namun, jika gajah diarahkan menuju Ka’bah, ia kembali menderum tidak bergerak.Di saat itulah Allah mengutus burung berbondong-bondong yang melempari pasukan itu dengan batu dari tanah terbakar sehingga Allah menjadikannya bagaikan dedaunan yang dimakan ulat. Setiap burung membawa tiga buah batu sebesar biji kacang. Pasukan yang terkena batu tersebut pasti anggota badannya terputus dan binasa. Pasukan itu berlarian dan saling bertubrukan di setiap jalan. Adapun Abrahah, Allah menimpakan kepadanya suatu penyakit yang menyebabkan ujung-ujung jarinya rontok. Ia berusaha kembali ke Shan’a’ dalam keadaan sangat lemah bagaikan anak burung dan berakhir dengan dadanya yang terbelah dan jantungnya keluar lalu mati.Pada peristiwa tersebut, orang-orang Quraisy mengungsi ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung karena takut terkena murka pasukan Abrahah. Namun, setelah Allah menurunkan azab kepada pasukan tersebut, mereka kembali ke rumah-rumah mereka dengan aman. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharam, 55 hari sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan akhir Februari atau awal Maret tahun 571 M.Dari kisah Hasyim dan Abdul Muththalib, kita melihat bagaimana Allah menjaga garis keturunan Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Keduanya bukan sekadar tokoh dalam sejarah, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk menyiapkan datangnya Nabi terakhir. Setelah dua sosok agung ini, kisah keluarga Rasulullah ﷺ berlanjut kepada sang ayahanda, Abdullah bin Abdul Muththalib.Baca juga: Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi: Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri dengan perubahan.

Penjelasan Mudah & Ringkas Tentang Waktu Shalat Malam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ

Penjelasan Mudah & Ringkas Tentang Waktu Shalat Malam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ
Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ


Telah kita ketahui bahwa Shalat Malam, selain Shalat Fardhu dan Shalat Sunnah Rawatib, terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah shalat yang dikerjakan di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini merupakan sunnah yang bisa dikerjakan sesekali. Yakni seorang mukmin mendirikan shalat setelah selesai Shalat Maghrib beberapa rakaat yang mencakup seluruh waktu antara Maghrib dan Isya, atau sebagian waktunya, antara Maghrib dan Isya. Mengerjakan shalat ini sesekali termasuk sunnah yang shahih, yang diriwayatkan dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan secara shahih pula bahwa para Sahabat dan generasi salaf biasa melaksanakannya. Adapun jenis kedua adalah Shalat Qiyamul Lail, dan termasuk di dalamnya Shalat Witir. Yaitu seorang mukmin laki-laki atau perempuan mendirikan shalat di antara waktu setelah Shalat Isya hingga azan Subuh. Permulaan waktu shalat ini adalah setelah Shalat Isya. Maka, siapa yang telah melaksanakan Shalat Isya, waktu Qiyamul Lail baginya telah dimulai. Bahkan jika ia menjamak Shalat Isya dengan Shalat Maghrib, selama ia memang termasuk orang yang diperbolehkan menjamak, maka waktu Qiyamul Lail dan Witir tetap berlaku baginya. Waktu tersebut berlangsung hingga muazin mengumandangkan azan Subuh, azan yang menjadi tanda berhentinya makan dan minum bagi orang yang berpuasa, yaitu saat fajar shadiq muncul. Inilah yang dijelaskan oleh As-Sunnah: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir waktu Subuh tiba, maka hendaklah ia menyempurnakannya dengan Shalat Witir, meskipun hanya satu rakaat.” Dahulu, sebagian salaf tetap mengerjakan Shalat Witir meskipun azan Subuh telah berkumandang. Namun, berdasarkan dalil yang paling kuat—dan Allah lebih mengetahui—dari As-Sunnah, bahwa waktu Qiyamul Lail, termasuk Witir, berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Selain itu, shalat Qiyamul Lail memiliki waktu qadha (menggantinya karena waktunya telah berlalu) bagi orang yang terlewat mendirikannya di malam hari. Waktu qadha tersebut adalah antara saat matahari telah naik setinggi tombak hingga tiba waktu Shalat Zhuhur. Inilah waktu untuk mengqadha Shalat Qiyamul Lail. Qiyamul Lail merupakan ibadah yang mulia, besar sekali pahalanya, sangat agung pengaruhnya, serta hasil dan faedahnya penuh berkah. Ia ditegaskan dalam Kitabullah, dan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui amalan beliau, karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten mengerjakan Qiyamul Lail, baik ketika sedang mukim atau safar, dalam keadaan sehat maupun sakit. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Shalat Malam juga ditegaskan melalui lisan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. ====== قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي اللَّيْلِ غَيْرَ الْفَرِيضَةِ وَغَيْرَ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ نَوْعَانِ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُفْعَلُ أَحْيَانًا أَنْ يُصَلِّيَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكَعَاتٍ يَسْتَوْعِبُ بِهَا مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ أَوْ بَعْضَ الْوَقْتِ مِمَّا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ هَذِهِ فِعْلُهَا أَحْيَانًا سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالسَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهَا وَأَنَّ النَّوْعَ الثَّانِي هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَمِنْهُ الْوِتْرُ وَهُوَ أَنْ يُصَلِّي الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُؤْمِنَةُ مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَذَانِ الْفَجْرِ فَأَوَّلُ وَقْتِ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ فَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ وَقْتُ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي حَقِّهِ حَتَّى لَوْ كَانَ قَدْ صَلَّاهَا جَمْعًا مَعَ الْمَغْرِبِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فَإِنَّ وَقْتَ الْقِيَامِ وَالْوِتْرِ يَدْخُلُ فِي حَقِّهِ إِلَى أَنْ يُؤَذِّنَ الْمُؤَذِّنُ لِلْفَجْرِ الْأَذَانُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ الْإِمْسَاكُ لِلصَّائِمِ إِذَا طَلَعَ الفَجْرُ الصَّادِقُ هَذَا الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ السُّنَّةُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الْفَجْرَ فَلْيُوتِرْ وَلَوْ بِرَكْعَةٍ وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يُوتِرُونَ وَلَوْ أَذَّنَ الْفَجْر إِلَّا أَنَّ الَّذِي يَظْهَرُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ دَلَالَاتِ السُّنَّةِ أَنَّ وَقْتَ قِيَامِ اللَّيْلِ بِمَا فِيهِ الْوِتْرُ يَنْتَهِي بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْقِيَامَ لِلَّيْلِ لَهُ وَقْتُ قَضَاءٍ لِمَنْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مَا بَيْنَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَيْدَ رُمْحٍ إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ فَهَذَا وَقْتُ قَضَاءِ قِيَامِ اللَّيْلِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ عِبَادَةٌ شَرِيفَةٌ كَبِيرَةٌ أُجُورُهَا عَظِيمَةٌ ثِمَارُهَا مُبَارَكَةٌ عَوَائِدُهِا وَفَوَائِدُهَا ثَبَتَتْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَبِسُنَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِعْلِيَّةِ حَيْثُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَاظِبُ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ حَضَرًا وَسَفَرًاصَحِيحًا وَمَرِيضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَتَتْ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْلِيَّةِ

Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.

Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.
Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.


Daftar Isi ToggleTeladan abadi dari hati yang tulusFaidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanKeikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratAmal tersembunyi lebih berat di timbanganDoa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahMeneladani Uwais di zaman modernBerbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiMenjaga keikhlasan dalam beramalHidup sederhana dan tawadukMendahulukan rida Allah di atas rida manusiaPelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuDi antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.Teladan abadi dari hati yang tulusUwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.Faidah dari kisah Uwais Al-QarniBerbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaanUwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.Allah Ta’ala berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling beratUwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Amal tersembunyi lebih berat di timbanganUwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)Meneladani Uwais di zaman modernMenjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hatiDi tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.Menjaga keikhlasan dalam beramalDunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.Hidup sederhana dan tawadukKesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.Mendahulukan rida Allah di atas rida manusiaDi era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktuKisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 32.

Dalam Hal Apa Kita Menghabiskan Umur?

أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 278 times, 1 visit(s) today Post Views: 667 QRIS donasi Yufid

Dalam Hal Apa Kita Menghabiskan Umur?

أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 278 times, 1 visit(s) today Post Views: 667 QRIS donasi Yufid
أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 278 times, 1 visit(s) today Post Views: 667 QRIS donasi Yufid


أين تفنى أعمارنا؟! Oleh: Tsamir Abdul Ghani Faiq Sabainah ثامر عبدالغني فائق سباعنه قال الرسول صلى الله عليه وسلم: ((لا تزول قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عمره فيم أفناه؟ وجسمه فيم أبلاه؟ وعلمه فيم عمل فيه؟ ومالُه فيم اكتسبَه وفيم أنفقه؟)). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara: umurnya dalam hal apa ia habiskan? Badannya dalam hal apa ia pakai? Ilmunya mana yang telah ia amalkan? Dan hartanya dari mana ia dapatkan dan ia belanjakan?” عمرنا فيم أفنيناه؟ كيف قضيناه وكيف مضى؟ عمرنا وعملنا في هذا العمر كيف كان؟ كيف انقضت سنو العمر؟ سواء قصر هذا العمر أم طال؛ قال تعالى: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾ [آل عمران: 185]. Dalam hal apa kita habiskan umur kita? Bagaimana kita menggunakannya? Bagaimana umur kita berlalu? Bagaimana dulu umur kita dan amalan kita semasa hidup? Bagaimana tahun-tahun umur kita berlalu, baik itu panjang maupun singkat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185). حقيقة واقعه لا يُنكرها عاقل، الكل سيموت، الذكر والأنثى، الغني والفقير، الحر والعبد، العالم والجاهل، الكل سيَفنى عمره، ويُغادر هذه الحياة الدنيا، الكل سيموت ولن يُخلَّد أحد، الجميع سيذوق طعم الموت، لكن الموت ليس النهاية؛ إنما هو انتقال من محطة إلى محطة أخرى، ومِن مرحلة إلى مرحلة، فالدنيا دار عمل، والآخرة دار جزاء وحساب، وسنُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وكيف انقضى؟ وأين كان؟ وفي أي عمل فنيَ وانتهى؟ Sebuah kenyataan yang tidak akan ada orang berakal yang menyangkalnya, bahwa semua orang pasti akan mati, baik itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, merdeka atau budak, orang berilmu atau bodoh, kelak semua akan habis umurnya dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Semua pasti akan meninggal dunia, tidak akan ada yang hidup kekal. Semua akan mencicipi rasa kematian. Namun, kematian bukanlah akhir segalanya, tapi ia hanyalah perpindahan dari satu perhentian menuju perhentian lain, dari satu tahap menuju tahap lain. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan. Kita semua akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, bagaimana ia habis? Di mana dihabiskan? Dan dalam amalan apa ia habis? ماذا قدمتُ في سني عمري؟ قال تعالى: ﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾ [الكهف: 110] العمل الصالح هو المطلوب، العمل الصالح النافع لا حدود له، ويَشمل جميع مجالات الحياة في النفس، في الأسرة، في الوظيفة، والعمل الصالح يشمل العبادة والأخلاق والمعاملات بين الناس؛ يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: ((يتبع الميت ثلاثة: أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد، يرجع أهله وماله، ويبقى عمله)). Apa yang Telah Saya Perbuat dalam Tahun-Tahun Umurku? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Amal saleh merupakan tuntutan. Amal saleh yang bermanfaat tidak ada batasnya, mencakup setiap sektor kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, maupun pekerjaan. Amal saleh melingkupi ibadah, akhlak, dan interaksi sesama manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ “Ada tiga perkara yang mengantar mayit (ke kuburannya): keluarganya, hartanya, dan amalannya. Kemudian dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalannya akan tetap bersamanya.”  يرجع المال والأراضي والبيوت والممتلكات التي قضينا أعمارنا في جمعها، تَرجع ويبقى العمل. يبقى العمل، سواء كان صالحًا أم طالحًا، عمل خير أو شر، عملًا للدنيا أو للآخرة، فقط يبقى العمل الذي قضينا أعمارنا الفانية في هذا العمل؛ قال تعالى في سورة الزلزلة: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ [الزلزلة: 7، 8]. Akan kembali pulang harta, tanah, dan segala harta benda yang dulu ia habiskan umurnya untuk mengumpulkannya, semua kembali dan hanya tersisa amalan yang menemaninya. Yang tetap bersamanya hanyalah amal perbuatan, baik itu amalan saleh atau buruk, perbuatan baik atau buruk, amalan untuk dunia atau untuk akhirat. Hanya amalan yang tersisa, yang dulu kita habiskan umur kita untuk mengerjakannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zalzalah: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). العمر الذي أفنيناه في العمل سيُجنى يوم الحساب، وتوزن هذه الأعمال، وسيكون هذا العمل هو الأساسَ للنجاة في الآخرة، والفوز برضوان الله تعالى في جنة عرضها السماوات والأرض، وفي المقابل العمل الفاسد والضار الذي يقود صاحبه إلى جهنم وبئس المصير. Umur yang dulu kita habiskan untuk mengerjakan amalan itu akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Perhitungan, dan amalan-amalan itu akan ditimbang. Amalan-amalan itu akan menjadi dasar penentu keselamatan di akhirat, dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga yang seluas langit dan bumi. Di sisi lain, amal keburukan akan menggiring pelakunya menuju neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. أعمارنا فيمَ أفنيناها؟! في كل السنين التي مضت، كم حفظتَ من القرآن الكريم؟ عمرنا سيفنى فكم مرةً ختمنا القرآن الكريم؟ كم من إنسان دعوناه للصلاة والصلاح؟ كم من ليلة قمناها في سبيل الله؟ كم من تسبيحة أو دعاء أو ذكر لله في كل أيام عمرنا الماضي؟ Dalam hal apa kita habiskan umur kita?!  Dalam setiap tahun yang berlalu, berapa ayat Al-Qur’an Al-Karim yang telah kita hafal?  Umur kita yang pasti akan habis ini, berapa kali kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya? Berapa orang yang telah kita ajak untuk melaksanakan salat dan mengamalkan amal saleh?  Berapa malam yang telah kita pakai untuk berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?  Berapa tasbih, doa, dan zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah kita lantunkan di hari-hari dalam umur kita yang telah berlalu? لا تنتظر الغد… لا تنتظر الصباح… لا تنتظر الصحَّة… لا تنتظر المال… أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنكِبَي عبدالله بن عمر رضي الله عنهما فقال: ((كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل))، وكان ابن عمر يقول: “إذا أمسيتَ فلا تَنتظِر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك” فإذا كنا لا نضمن أعمارنا بين صباح ومساء، فكيف بنا أن نضمن عمرنا لسنوات؟! Janganlah menunggu hari esok! Janganlah menunggu datang pagi! Janganlah menunggu sehat! Janganlah menunggu ada uang! Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menarik kedua pundak Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, lalu bersabda: “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir!”  Ibnu Umar juga pernah berkata: “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu pagi! Dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore! Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu!” Apabila kita tidak dapat menjamin umur kita antara pagi dan sore, bagaimana kita dapat menjamin umur kita hingga bertahun-tahun?! سيأتي اليوم الذي نُسأل فيه عن أعمارنا فيم أفنيناها؟ كيف مضت وانتهت… بعمل نافع أو عمل ضار؟ وبضدِّها تتميَّز الأشياء، فالخير يُقابله الشرُّ، والعدل يُقابله الظلم، والصلاح يقابله الفساد، والكرم يقابله البخل، والصدق يُقابله الكذب، والفضيلة تقابلها الرذيلة، ورضا الله يقابله غضبه، وعليك أن تختار أي الخيارين تختار، وفي أي الطريقين ستسير، وأين ستمضي؟ هل ستختار درب الخير والعطاء وستُفني عمرك بالخير والإصلاح وكسب الحسنات؟ أو ستقضيه في السر وكسب السيئات؟ قال تعالى: ﴿ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾ [يس: 54]. Akan datang hari ketika kita ditanya tentang umur kita, kita gunakan untuk apa? Bagaimana ia berlalu dan dihabiskan? Apakah dengan amal kebaikan atau keburukan? Segala hal akan tampak dengan kebalikannya. Kebaikan adalah lawan keburukan, keadilan lawannya kezaliman, perbaikan lawannya perusakan, kemurahan hati lawannya kebakhilan, kejujuran lawannya kedustaan, kemuliaan lawannya kehinaan, dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lawannya kemurkaan-Nya, dan dua hal itu kamu dapat memilih mana yang kamu inginkan? Jalan mana yang ingin kamu tapaki, dan di mana kamu akan berlalu? Apakah kamu ingin memilih jalan kebaikan dan pengabdian, dan menghabiskan umurmu dalam kebajikan, perbaikan, dan untuk mendapatkan pahala? Atau justru kamu ingin menghabiskannya dalam keburukan dan mendapatkan dosa-dosa? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin: 54). اليوم الخيار لك، وعليك أن تَختار كيف سيَفنى عمرُك، وتذكَّر دائمًا أنك ستُسأل يوم القيامة عن هذا العمر، وأين قضيته؟ وماذا فعلتَ فيه؟ وكيف مضى؟ Hari ini, pilihannya ada di tanganmu, dan kamu harus memilih bagaimana akan menghabiskan umur. Namun, harus selalu kamu perhatikan bahwa kamu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang umur ini, di mana kamu menghabiskannya? Apa saja yang kamu perbuat di dalamnya? Dan bagaimana umur itu berlalu? Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/102517/أين-تفنى-أعمارنا؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 278 times, 1 visit(s) today Post Views: 667 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Rahasia Amalan agar Bisa Bersama Nabi di Surga – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Dalam hadis riwayat Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, ia dulu menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, ia datang membawa air wudhu untuk beliau. Lalu Nabi bersabda, “Mintalah sesuatu kepadaku!” Tapi apa yang ia minta? Lihatlah betapa tinggi harapannya, saudara-saudara! Ia bisa saja berkata, “Berilah aku ini dan itu,” dari kenikmatan dunia. Namun ia justru berkata, “Aku minta agar aku bersamamu di surga.” Inilah pembersamaan yang dirindukan dan diusahakan oleh orang-orang yang mendapat taufik, saudara-saudara! Nabi tidak memberinya jawaban khusus untuk dirinya sendiri, karena dalam Islam tidak ada keistimewaan pribadi. Beliau justru memberinya jawaban yang berlaku untuknya dan semua orang. Apa itu? “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.” Inilah salah satu sebab terbesar untuk dapat membersamai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang baik lagi saleh yang disebutkan dalam ayat ini. Namun, karunia ini semata-mata berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang demikian itu adalah karunia dari Allah…” (QS. An-Nisa: 70), Karena karunia ini datang dari Allah, maka ia pasti agung, karena dari Allah, maka ia pasti terjamin, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Katsir. Ayat ini juga mengandung isyarat: “…maka mintalah karunia itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Sebab, karunia ini murni berasal dari kemurahan dan anugerah-Nya, Subhanahu wa bihamdihi. “…dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 70) Ungkapan ini mengandung makna ketakjuban, seakan-akan bermakna: “Betapa Maha Mengetahui Tuhan kita ‘Azza wa Jalla!” Cukuplah Dia yang mengetahui para hamba-Nya. Siapa yang berhak mendapatkannya? Mengapa, saudara-saudara? Karena karunia itu diberikan oleh Allah kepada orang yang bahkan tidak layak menerimanya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka, dengan karunia, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang, juga orang tua kami, orang tua kalian, dan seluruh umat Muslim. ===== وَفِي حَدِيثِ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ وَكَانَ يَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ بِوَضُوئِهِ فَقَالَ سَلْنِي فَمَاذَا سَأَلَ؟ شُوفُوا الْهِمَمَ يَا إِخْوَانُ كَانَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُولَ أَعْطِنِي مِنْ كَذَا وَكَذَا وَكَذَا مِنْ حُطَامِ الدُّنْيَا فَقَالَ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ هَذِهِ الرِّفْقَةُ الَّتِي يَتَسَامَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ يَا إِخْوَانُ وَيَسْعَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ مَا أَعْطَاهُ الرَّسُولُ جَوَابًا خَاصًّا لِأَنَّ الْإِسْلَامَ مَا فِيهِ خُصُوصِيَّاتٌ أَعْطَاهُ جَوَابًا لَهُ وَلِغَيْرِهِ مَا هُوَ؟ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رِفْقَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ الْأَخْيَارِ الصَّالِحِينَ فِي هَذِهِ الآيَةِ وَلَكِنَّ الْفَضْلَ فَضْلُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ عَظِيمٌ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ مَضْمُونٌ كَمَا قَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ كَثِيْرٍ وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنْ اُطْلُبُوا ذَلِكَ الْفَضْلَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ فَضْلٌ مَحْضُ فَضْلِهِ وَمِنَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا هَذِهِ الصِّيغَةُ فِيهَا مَعْنَى التَّعَجُّبِ كَأَنَّ مَعْنَاهَا مَا أَعْلَمَ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ كَفَى بِهِ عَلِيمًا بِعِبَادِهِ وَمَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ الْفَضْلَ مِمَّنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِفَضْلِكَ وُجُودِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَوَالِدِينَا وَوَالِدَيْكُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ

Rahasia Amalan agar Bisa Bersama Nabi di Surga – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Dalam hadis riwayat Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, ia dulu menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, ia datang membawa air wudhu untuk beliau. Lalu Nabi bersabda, “Mintalah sesuatu kepadaku!” Tapi apa yang ia minta? Lihatlah betapa tinggi harapannya, saudara-saudara! Ia bisa saja berkata, “Berilah aku ini dan itu,” dari kenikmatan dunia. Namun ia justru berkata, “Aku minta agar aku bersamamu di surga.” Inilah pembersamaan yang dirindukan dan diusahakan oleh orang-orang yang mendapat taufik, saudara-saudara! Nabi tidak memberinya jawaban khusus untuk dirinya sendiri, karena dalam Islam tidak ada keistimewaan pribadi. Beliau justru memberinya jawaban yang berlaku untuknya dan semua orang. Apa itu? “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.” Inilah salah satu sebab terbesar untuk dapat membersamai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang baik lagi saleh yang disebutkan dalam ayat ini. Namun, karunia ini semata-mata berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang demikian itu adalah karunia dari Allah…” (QS. An-Nisa: 70), Karena karunia ini datang dari Allah, maka ia pasti agung, karena dari Allah, maka ia pasti terjamin, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Katsir. Ayat ini juga mengandung isyarat: “…maka mintalah karunia itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Sebab, karunia ini murni berasal dari kemurahan dan anugerah-Nya, Subhanahu wa bihamdihi. “…dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 70) Ungkapan ini mengandung makna ketakjuban, seakan-akan bermakna: “Betapa Maha Mengetahui Tuhan kita ‘Azza wa Jalla!” Cukuplah Dia yang mengetahui para hamba-Nya. Siapa yang berhak mendapatkannya? Mengapa, saudara-saudara? Karena karunia itu diberikan oleh Allah kepada orang yang bahkan tidak layak menerimanya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka, dengan karunia, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang, juga orang tua kami, orang tua kalian, dan seluruh umat Muslim. ===== وَفِي حَدِيثِ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ وَكَانَ يَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ بِوَضُوئِهِ فَقَالَ سَلْنِي فَمَاذَا سَأَلَ؟ شُوفُوا الْهِمَمَ يَا إِخْوَانُ كَانَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُولَ أَعْطِنِي مِنْ كَذَا وَكَذَا وَكَذَا مِنْ حُطَامِ الدُّنْيَا فَقَالَ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ هَذِهِ الرِّفْقَةُ الَّتِي يَتَسَامَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ يَا إِخْوَانُ وَيَسْعَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ مَا أَعْطَاهُ الرَّسُولُ جَوَابًا خَاصًّا لِأَنَّ الْإِسْلَامَ مَا فِيهِ خُصُوصِيَّاتٌ أَعْطَاهُ جَوَابًا لَهُ وَلِغَيْرِهِ مَا هُوَ؟ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رِفْقَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ الْأَخْيَارِ الصَّالِحِينَ فِي هَذِهِ الآيَةِ وَلَكِنَّ الْفَضْلَ فَضْلُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ عَظِيمٌ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ مَضْمُونٌ كَمَا قَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ كَثِيْرٍ وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنْ اُطْلُبُوا ذَلِكَ الْفَضْلَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ فَضْلٌ مَحْضُ فَضْلِهِ وَمِنَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا هَذِهِ الصِّيغَةُ فِيهَا مَعْنَى التَّعَجُّبِ كَأَنَّ مَعْنَاهَا مَا أَعْلَمَ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ كَفَى بِهِ عَلِيمًا بِعِبَادِهِ وَمَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ الْفَضْلَ مِمَّنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِفَضْلِكَ وُجُودِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَوَالِدِينَا وَوَالِدَيْكُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ
Dalam hadis riwayat Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, ia dulu menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, ia datang membawa air wudhu untuk beliau. Lalu Nabi bersabda, “Mintalah sesuatu kepadaku!” Tapi apa yang ia minta? Lihatlah betapa tinggi harapannya, saudara-saudara! Ia bisa saja berkata, “Berilah aku ini dan itu,” dari kenikmatan dunia. Namun ia justru berkata, “Aku minta agar aku bersamamu di surga.” Inilah pembersamaan yang dirindukan dan diusahakan oleh orang-orang yang mendapat taufik, saudara-saudara! Nabi tidak memberinya jawaban khusus untuk dirinya sendiri, karena dalam Islam tidak ada keistimewaan pribadi. Beliau justru memberinya jawaban yang berlaku untuknya dan semua orang. Apa itu? “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.” Inilah salah satu sebab terbesar untuk dapat membersamai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang baik lagi saleh yang disebutkan dalam ayat ini. Namun, karunia ini semata-mata berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang demikian itu adalah karunia dari Allah…” (QS. An-Nisa: 70), Karena karunia ini datang dari Allah, maka ia pasti agung, karena dari Allah, maka ia pasti terjamin, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Katsir. Ayat ini juga mengandung isyarat: “…maka mintalah karunia itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Sebab, karunia ini murni berasal dari kemurahan dan anugerah-Nya, Subhanahu wa bihamdihi. “…dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 70) Ungkapan ini mengandung makna ketakjuban, seakan-akan bermakna: “Betapa Maha Mengetahui Tuhan kita ‘Azza wa Jalla!” Cukuplah Dia yang mengetahui para hamba-Nya. Siapa yang berhak mendapatkannya? Mengapa, saudara-saudara? Karena karunia itu diberikan oleh Allah kepada orang yang bahkan tidak layak menerimanya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka, dengan karunia, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang, juga orang tua kami, orang tua kalian, dan seluruh umat Muslim. ===== وَفِي حَدِيثِ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ وَكَانَ يَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ بِوَضُوئِهِ فَقَالَ سَلْنِي فَمَاذَا سَأَلَ؟ شُوفُوا الْهِمَمَ يَا إِخْوَانُ كَانَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُولَ أَعْطِنِي مِنْ كَذَا وَكَذَا وَكَذَا مِنْ حُطَامِ الدُّنْيَا فَقَالَ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ هَذِهِ الرِّفْقَةُ الَّتِي يَتَسَامَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ يَا إِخْوَانُ وَيَسْعَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ مَا أَعْطَاهُ الرَّسُولُ جَوَابًا خَاصًّا لِأَنَّ الْإِسْلَامَ مَا فِيهِ خُصُوصِيَّاتٌ أَعْطَاهُ جَوَابًا لَهُ وَلِغَيْرِهِ مَا هُوَ؟ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رِفْقَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ الْأَخْيَارِ الصَّالِحِينَ فِي هَذِهِ الآيَةِ وَلَكِنَّ الْفَضْلَ فَضْلُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ عَظِيمٌ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ مَضْمُونٌ كَمَا قَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ كَثِيْرٍ وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنْ اُطْلُبُوا ذَلِكَ الْفَضْلَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ فَضْلٌ مَحْضُ فَضْلِهِ وَمِنَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا هَذِهِ الصِّيغَةُ فِيهَا مَعْنَى التَّعَجُّبِ كَأَنَّ مَعْنَاهَا مَا أَعْلَمَ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ كَفَى بِهِ عَلِيمًا بِعِبَادِهِ وَمَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ الْفَضْلَ مِمَّنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِفَضْلِكَ وُجُودِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَوَالِدِينَا وَوَالِدَيْكُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ


Dalam hadis riwayat Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, ia dulu menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, ia datang membawa air wudhu untuk beliau. Lalu Nabi bersabda, “Mintalah sesuatu kepadaku!” Tapi apa yang ia minta? Lihatlah betapa tinggi harapannya, saudara-saudara! Ia bisa saja berkata, “Berilah aku ini dan itu,” dari kenikmatan dunia. Namun ia justru berkata, “Aku minta agar aku bersamamu di surga.” Inilah pembersamaan yang dirindukan dan diusahakan oleh orang-orang yang mendapat taufik, saudara-saudara! Nabi tidak memberinya jawaban khusus untuk dirinya sendiri, karena dalam Islam tidak ada keistimewaan pribadi. Beliau justru memberinya jawaban yang berlaku untuknya dan semua orang. Apa itu? “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.” Inilah salah satu sebab terbesar untuk dapat membersamai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang baik lagi saleh yang disebutkan dalam ayat ini. Namun, karunia ini semata-mata berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang demikian itu adalah karunia dari Allah…” (QS. An-Nisa: 70), Karena karunia ini datang dari Allah, maka ia pasti agung, karena dari Allah, maka ia pasti terjamin, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Katsir. Ayat ini juga mengandung isyarat: “…maka mintalah karunia itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Sebab, karunia ini murni berasal dari kemurahan dan anugerah-Nya, Subhanahu wa bihamdihi. “…dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 70) Ungkapan ini mengandung makna ketakjuban, seakan-akan bermakna: “Betapa Maha Mengetahui Tuhan kita ‘Azza wa Jalla!” Cukuplah Dia yang mengetahui para hamba-Nya. Siapa yang berhak mendapatkannya? Mengapa, saudara-saudara? Karena karunia itu diberikan oleh Allah kepada orang yang bahkan tidak layak menerimanya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka, dengan karunia, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang, juga orang tua kami, orang tua kalian, dan seluruh umat Muslim. ===== وَفِي حَدِيثِ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ وَكَانَ يَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ بِوَضُوئِهِ فَقَالَ سَلْنِي فَمَاذَا سَأَلَ؟ شُوفُوا الْهِمَمَ يَا إِخْوَانُ كَانَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُولَ أَعْطِنِي مِنْ كَذَا وَكَذَا وَكَذَا مِنْ حُطَامِ الدُّنْيَا فَقَالَ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ هَذِهِ الرِّفْقَةُ الَّتِي يَتَسَامَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ يَا إِخْوَانُ وَيَسْعَى إِلَيْهَا الْمُوَفَّقُونَ مَا أَعْطَاهُ الرَّسُولُ جَوَابًا خَاصًّا لِأَنَّ الْإِسْلَامَ مَا فِيهِ خُصُوصِيَّاتٌ أَعْطَاهُ جَوَابًا لَهُ وَلِغَيْرِهِ مَا هُوَ؟ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رِفْقَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ الْأَخْيَارِ الصَّالِحِينَ فِي هَذِهِ الآيَةِ وَلَكِنَّ الْفَضْلَ فَضْلُ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ عَظِيمٌ وَإِذْ كَانَ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ مَضْمُونٌ كَمَا قَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ كَثِيْرٍ وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنْ اُطْلُبُوا ذَلِكَ الْفَضْلَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ فَضْلٌ مَحْضُ فَضْلِهِ وَمِنَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا هَذِهِ الصِّيغَةُ فِيهَا مَعْنَى التَّعَجُّبِ كَأَنَّ مَعْنَاهَا مَا أَعْلَمَ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ كَفَى بِهِ عَلِيمًا بِعِبَادِهِ وَمَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِيشْ يَا إِخْوَانُ؟ الْفَضْلَ مِمَّنْ لَا يَسْتَحِقُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْهُمْ بِفَضْلِكَ وُجُودِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَوَالِدِينَا وَوَالِدَيْكُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ

Bagaimana Cara Berhenti Merokok?

كيف تترك التدخين؟ Oleh: Hamd bin Bakr Al-‘Ilyan حمد بن بكر العليان أخي الشاب، التدخين إحْدى وسائل الاعتداء على جسدِك باتِّفاق الأطبَّاء، وهو مِن العادات التي انتشرتْ في المجتمع رغمَ ضررها البالِغ عليه، والسيجارة التي يتناولها المدخنون تُصنَع من نبات يُقال له: (التبغ)، وهو مادة مُرَّة الطَّعْم مخدِّرة، تحتوي على مواد سامة، وقد قُدِّمت لبعض الكلاب والقِطَط، فعافتها واستَقْذَرَتْها، والدخان الذي يتطايَر من السيجارة به أنواع من السُّموم الفتَّاكة، تؤثِّر في جِسْم المدخن، كلها توجد في الدُّخَان الذي تتناوله، فبعضها يسبب تخريشًا في الجلد، والآخر يسبِّب البُصاق، والسُّعال، وظهور اللَّوْن الأصفر عند المدخن، وقد أُجريت تَجارِبُ للتخلص من هذه السموم، ولكنَّها باءتْ بالفشل، والآن نذكر أضرار التدخين: Wahai saudaraku, generasi muda! Merokok merupakan salah satu cara merusak tubuhmu yang disepakati seluruh dokter. Merokok adalah salah satu kebiasaan yang banyak tersebar di masyarakat meskipun mengandung banyak bahaya. Rokok yang dikonsumsi oleh perokok berasal dari tanaman yang bernama tembakau, yang merupakan bahan yang pahit dan membuat candu, mengandung banyak senyawa beracun. Bahkan anjing dan kucing pun enggan memakannya ketika dihidangkan kepadanya karena merasa jijik terhadapnya.  Asap yang keluar dari rokok mengandung banyak racun mematikan yang dapat berpengaruh negatif terhadap tubuh perokok. Semuanya terdapat dalam rokok yang kamu konsumsi. Sebagiannya dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, dan senyawa lain dapat meningkatkan produksi ludah, menyebabkan batuk, dan menimbulkan warna kuning pada tubuh perokok. Terdapat banyak penelitian untuk menghilangkan racun-racun tersebut, tapi belum ada yang membuahkan hasil yang positif. Sekarang mari kita bahas beberapa bahaya merokok: أولاً: أضرار التدخين الصِّحيَّة: في الحقيقة أنَّ التدخين يُعتبر أَلَدَّ أعداء الصِّحة، وسنذكر بعضَ الأضرار التي يُسَبِّبها التدخينُ على صِحَّة الإنسان، تاركين الكيفيَّة، والحالات الشاذَّة: 1- السموم التي ذكرْناها تفتك بالأغشية الرقيقة، الملتَفَّة حولَ الأوتار الصوتية، فيُسبِّب ذلك البحَّةَ عند المدخن. 2- يسبِّب التدخين ضِيقًا في التنفُّس؛ بسبب خراب الأكياس الهوائية في الرِّئتين، ويُسَبِّب آلام الحلْق. 3- يُضعِف حاسَّةَ الشم والذوق، والنظر والقدرة على تمييز الألوان. 4- يَزيد من عدد نبضات القلْب، فينتج عن ذلك السكْتةُ القلبية. 5- تتكدَّس السُّموم في الكبد، فيشعر المدخِّن بالتعَب والإرهاق لأيِّ مجهود؛ لأنَّ الكبد لا يستطيع حجزَ السموم بهذه الكثرة. 6- ارتفاع في ضغْط الدم، وتَصَلُّب الشرايين، الذي يؤدِّي إلى موت الفَجْأَة. 7- أثبت أحدُ الأطبَّاء أنَّ التدخين هو سببٌ مباشر لسرطان الرِّئة، وذلك بأن أحضر عددًا من الفئران، ووَضَع على جلدها محلولَ دخان السيجارة، فظهر بعد خمسة عشر يومًا ورمُ سرطان، وكذلك سرطان الرِّئة يندر بيْن غير المدخنين، وقد مات بهذا المرض في عام 1963م في بريطانيا 25 ألف شخص، وفي أمريكا 41 ألف شخص. 8- كثره السُّعال عند المدخنين، والتدخين يسبِّب كذلك توقفًا في نموِّ الجسم. 9- التدخين مُفَتِّرٌ للأعصاب والمخ؛ لأنَّه يُحدِث انتعاشًا وقتيًّا فيها، فيظن المدخن أنَّه يشعر بالراحة عندَ التدخين. 10- المدخِّن لا يستطيع القيامَ بأيِّ نشاط رياضي، وإنْ قام به فهو مهْزُوز. Pertama: Bahaya rokok dari sisi kesehatan badan Sebenarnya rokok termasuk musuh kesehatan yang paling bandel. Kami akan sebutkan beberapa bahaya yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan manusia secara umum – dengan mengabaikan faktor gaya merokok dan kasus-kasus pengecualian tertentu –:  Racun-racun yang telah kami sebutkan itu dapat membahayakan selaput tipis yang menyelimuti pita suara, sehingga menimbulkan suara serak pada perokok. Rokok menyebabkan sesak nafas karena kerusakan kantong udara di paru-paru, dan menimbulkan sakit tenggorokan. Menurunkan sensitivitas indra penciuman, perasa, dan penglihatan, serta kemampuan membedakan warna. Meningkatkan detak jantung, sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Racun-racun itu akan menumpuk dalam hati, sehingga perokok akan merasa letih dan lelah meski karena kerja ringan, karena hati tidak mampu menyaring racun dalam jumlah sebanyak itu. Meningkatkan tekanan darah dan mengeraskan pembuluh-pembuluh darah yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Seorang dokter membuktikan bahwa merokok merupakan sebab langsung dari kanker paru-paru. Dokter itu melakukan percobaan pada sejumlah tikus dan meletakkan di kulitnya larutan asap rokok. Setelah 15 hari, timbul benjolan kanker pada tikus-tikus tersebut. Kanker paru-paru juga jarang terjadi pada selain perokok. Jumlah kematian akibat penyakit ini pada tahun 1963 di Inggris sebanyak 25 ribu jiwa, sedangkan di Amerika 41 ribu jiwa. Sering batuk dialami oleh para perokok. Rokok juga dapat menghentikan pertumbuhan badan. Rokok dapat memperberat kerja saraf dan otak, karena rokok dapat memberi rangsangan temporer, sehingga perokok akan merasakan ketenangan sementara ketika merokok. Perokok tidak dapat melakukan olahraga dengan baik. Saat berolahraga, ia akan cepat lelah. ثانيًا: أضرار التدخين النفسيَّة: 1- هبوط مستوى الذَّكاء. 2- حب التَّسَلُّط عند المدخن. 3- المزاج العصبي، والقلق، والشرُود. 4- ملامِح شخصية المُدَخِّن غير متميزة، بل متذبذبة (إمَّعة). Kedua: Bahaya rokok dari sisi mental Menurunkan tingkat kecerdasan. Suka bersikap sewenang-wenang. Mudah marah, gelisah, dan galau. Air muka perokok tidak bagus, dan sering ragu. ثالثًا: أضرار اجتماعيَّة واقتصاديَّة: 1- وُجِدَ أنَّ ما يصرفه 60 مليون مدخن في أمريكا، يساوي 4 مليارات دولار في العام… (فكِّر). 2- يسبِّب معظمَ الحرائق بسبب تحرُّك بقايا السجائر. 3- أنَّ إنفاق المال فيه إسرافٌ وتبذير في معصية الله. 4- كون رائحتِه تؤذي الناسَ الذين لا يستعملونه وتضايقهم. Ketiga: Bahaya rokok dari sisi ekonomi dan sosial Diketahui bahwa uang yang dibelanjakan 60 juta perokok di Amerika mencapai 4 miliar dolar dalam satu tahun. Menjadi penyebab mayoritas kebakaran karena sulutan api dari puntung rokok. Membeli rokok merupakan bentuk pemborosan dan pembelanjaan harta dalam kemaksiatan. Bau rokok mengganggu orang lain yang tidak merokok. كيف تترك التدخين: وبعد أن اقتنعتَ بأضرار التدخين على نفسِك ومجتمعك، أرجو أن تعزمَ على ترْكه، والابتعاد عنه، وسؤالك الآن: كيف أتركه؟ والجواب: اتَّبع الخُطواتِ التالية، والله يوفقك: 1- تعرَّفْ على أضراره، واقتنعْ بها، وابدأ بالتفكير في ترْكه، وشُدَّ العزم على ذلك، مع التوكُّل على الله. 2- اعملْ قائمة يوميَّة بمساوئه على نفسك، وعلى أصدقائك، وأولادك وجيرانك. 3- ابتعِد قدْرَ الإمكان عن المدخنين ورائحة التدخين، وحاوِل البقاءَ في الهواء الطَّلْق، واشتغلْ بالأمور النافعة. 4- إذا أدركت – أيها المسلم – مضارَّ الدخان، وتحققتَ حُرمته، فعليك بما يلي: كراهته لله، ترْكه لله، اجتنب مجالسة مَن يدخنه. 5- استعمِل سواكًا أو علكًا إذا وجدتَ في نفسك حنينًا إلى التدخين، والسِّواك أنفعُ من غيره. 6- قلِّل من شُرْب القهْوة والشاي، وأَكْثِرْ من تناول الفاكهة، والغذاء الجيِّد الخالي من التوابل. 7- تناول يوميًّا بعدَ الإفطار كأسًا من عصير الليمون، أو العِنَب، أو البرتقال؛ لأنَّه يُخَفِّف من شدَّة الرغبة في التدخين. 8- واعلم أنَّ مَن ترك شيئًا لله، عوَّضه الله خيرًا منه، عاجِلاً وآجلاً. Bagaimana cara berhenti merokok? Setelah kamu menerima realitas tentang bahaya-bahaya rokok terhadap diri dan masyarakatmu, saya berharap kamu dapat bertekad untuk berhenti merokok dan menjauhinya. Lalu pertanyaanmu sekarang, bagaimana saya dapat meninggalkannya? Jawabannya adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberimu taufik: Ketahui bahaya-bahayanya dan yakini itu. Lalu mulailah berpikir untuk meninggalkannya dan bulatkanlah tekad disertai dengan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulislah setiap hari daftar keburukan-keburukan rokok terhadap dirimu, teman-temanmu, anak-anakmu, dan para tetanggamu. Menghindarlah sebisa mungkin dari para perokok dan bau rokok. Berusahalah untuk senantiasa berada di lingkungan yang berudara segar dan sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika kamu telah mengetahui bahaya-bahaya rokok dan meyakini keharamannya, maka hendaklah kamu menjalankan hal-hal berikut: Membenci rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meninggalkan rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari interaksi dengan perokok. Gunakanlah siwak atau permen karet ketika merasa ingin merokok. Namun, menggunakan siwak lebih baik daripada yang lain. Kurangilah konsumsi kopi dan teh! Perbanyaklah memakan buah-buahan dan makanan sehat yang tidak menggunakan rempah. Minumlah setiap hari setelah sarapan satu gelas jus lemon, anggur, atau jeruk, karena itu akan mengurangi dorongan kuat untuk merokok. Ketahuilah bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan memberi ganti baginya sesuatu yang lebih baik, baik itu dalam waktu cepat maupun lambat. ملاحظات: 1- التدخين عادة، والعادة تتغيَّر كما هو معروف. 2- ترْك التدخين ليس مستحيلاً، بل هو من أبسط الأشياء، فما عليك إلا اتِّباع طريقةٍ ناجحة ومجرَّبة، ولا تتركه ثم تعود إليه، ولا تخَفْ من شيء أبدًا إذا عزمتَ على تركه. 3- استنبَطَ علماءُ الشريعة الإسلامية، وفقهاء الأمة حُرمةَ التدخين، واتَّفقوا على ذلك؛ لأنَّه – كما رأيتَ – مُضرٌّ بالصحة، مُنفِّق للمال، مفتِّر للأعصاب، ذو رائحة كريهة. 4- قبل أن تشتريَ الدخان وتشربه، فكِّرْ: هل هو حرام أو حلال؟ وهل هو نافع أو ضار؟ وهل هو طيِّب أو خبيث؟ فسوف تجده حرامًا ضارًّا خبيثًا. 5- إذا ثبت أنَّ الدخان محرَّم، فيحرم بيعُه وشراؤه، وثمنه؛ لأنَّ الله إذا حرَّم شيئًا، حرَّم ثمنَه. وفَّقَ الله الجميع لترْكه، وترْك كلِّ محرَّم. Catatan: Merokok merupakan kebiasaan, dan setiap kebiasaan dapat diubah, sebagaimana yang kita ketahui bersama. Berhenti merokok bukan hal yang mustahil. Justru itu adalah hal paling mudah. Kamu tidak lain hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang telah teruji. Jangan Cuma berhenti merokok sejenak lalu kembali kambuh. Jangan takut terhadap apa pun jika kamu telah bertekad untuk meninggalkannya. Para ulama syariat Islam dan ahli fiqih telah menyimpulkan dan menyepakati keharaman rokok, karena rokok – sebagaimana yang kamu ketahui – berbahaya bagi badan, menghabiskan harta, melemahkan saraf, dan memiliki aroma tidak sedap. Sebelum kamu membeli dan mengonsumsi rokok, pikirkanlah terlebih dahulu, apakah itu haram atau halal? Apakah itu bermanfaat atau berbahaya? Apakah itu baik atau buruk? Niscaya kamu akan simpulkan bahwa rokok itu haram, berbahaya, dan buruk. Jika telah ditegaskan bahwa rokok itu haram, maka diharamkan pula jual belinya dan uang pembayarannya, karena jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka juga mengharamkan uang yang dibayarkan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufik kepada semua perokok untuk berhenti merokok dan meninggalkan segala perkara haram. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/177168/كيف-تترك-التدخين؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 678 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Berhenti Merokok?

كيف تترك التدخين؟ Oleh: Hamd bin Bakr Al-‘Ilyan حمد بن بكر العليان أخي الشاب، التدخين إحْدى وسائل الاعتداء على جسدِك باتِّفاق الأطبَّاء، وهو مِن العادات التي انتشرتْ في المجتمع رغمَ ضررها البالِغ عليه، والسيجارة التي يتناولها المدخنون تُصنَع من نبات يُقال له: (التبغ)، وهو مادة مُرَّة الطَّعْم مخدِّرة، تحتوي على مواد سامة، وقد قُدِّمت لبعض الكلاب والقِطَط، فعافتها واستَقْذَرَتْها، والدخان الذي يتطايَر من السيجارة به أنواع من السُّموم الفتَّاكة، تؤثِّر في جِسْم المدخن، كلها توجد في الدُّخَان الذي تتناوله، فبعضها يسبب تخريشًا في الجلد، والآخر يسبِّب البُصاق، والسُّعال، وظهور اللَّوْن الأصفر عند المدخن، وقد أُجريت تَجارِبُ للتخلص من هذه السموم، ولكنَّها باءتْ بالفشل، والآن نذكر أضرار التدخين: Wahai saudaraku, generasi muda! Merokok merupakan salah satu cara merusak tubuhmu yang disepakati seluruh dokter. Merokok adalah salah satu kebiasaan yang banyak tersebar di masyarakat meskipun mengandung banyak bahaya. Rokok yang dikonsumsi oleh perokok berasal dari tanaman yang bernama tembakau, yang merupakan bahan yang pahit dan membuat candu, mengandung banyak senyawa beracun. Bahkan anjing dan kucing pun enggan memakannya ketika dihidangkan kepadanya karena merasa jijik terhadapnya.  Asap yang keluar dari rokok mengandung banyak racun mematikan yang dapat berpengaruh negatif terhadap tubuh perokok. Semuanya terdapat dalam rokok yang kamu konsumsi. Sebagiannya dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, dan senyawa lain dapat meningkatkan produksi ludah, menyebabkan batuk, dan menimbulkan warna kuning pada tubuh perokok. Terdapat banyak penelitian untuk menghilangkan racun-racun tersebut, tapi belum ada yang membuahkan hasil yang positif. Sekarang mari kita bahas beberapa bahaya merokok: أولاً: أضرار التدخين الصِّحيَّة: في الحقيقة أنَّ التدخين يُعتبر أَلَدَّ أعداء الصِّحة، وسنذكر بعضَ الأضرار التي يُسَبِّبها التدخينُ على صِحَّة الإنسان، تاركين الكيفيَّة، والحالات الشاذَّة: 1- السموم التي ذكرْناها تفتك بالأغشية الرقيقة، الملتَفَّة حولَ الأوتار الصوتية، فيُسبِّب ذلك البحَّةَ عند المدخن. 2- يسبِّب التدخين ضِيقًا في التنفُّس؛ بسبب خراب الأكياس الهوائية في الرِّئتين، ويُسَبِّب آلام الحلْق. 3- يُضعِف حاسَّةَ الشم والذوق، والنظر والقدرة على تمييز الألوان. 4- يَزيد من عدد نبضات القلْب، فينتج عن ذلك السكْتةُ القلبية. 5- تتكدَّس السُّموم في الكبد، فيشعر المدخِّن بالتعَب والإرهاق لأيِّ مجهود؛ لأنَّ الكبد لا يستطيع حجزَ السموم بهذه الكثرة. 6- ارتفاع في ضغْط الدم، وتَصَلُّب الشرايين، الذي يؤدِّي إلى موت الفَجْأَة. 7- أثبت أحدُ الأطبَّاء أنَّ التدخين هو سببٌ مباشر لسرطان الرِّئة، وذلك بأن أحضر عددًا من الفئران، ووَضَع على جلدها محلولَ دخان السيجارة، فظهر بعد خمسة عشر يومًا ورمُ سرطان، وكذلك سرطان الرِّئة يندر بيْن غير المدخنين، وقد مات بهذا المرض في عام 1963م في بريطانيا 25 ألف شخص، وفي أمريكا 41 ألف شخص. 8- كثره السُّعال عند المدخنين، والتدخين يسبِّب كذلك توقفًا في نموِّ الجسم. 9- التدخين مُفَتِّرٌ للأعصاب والمخ؛ لأنَّه يُحدِث انتعاشًا وقتيًّا فيها، فيظن المدخن أنَّه يشعر بالراحة عندَ التدخين. 10- المدخِّن لا يستطيع القيامَ بأيِّ نشاط رياضي، وإنْ قام به فهو مهْزُوز. Pertama: Bahaya rokok dari sisi kesehatan badan Sebenarnya rokok termasuk musuh kesehatan yang paling bandel. Kami akan sebutkan beberapa bahaya yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan manusia secara umum – dengan mengabaikan faktor gaya merokok dan kasus-kasus pengecualian tertentu –:  Racun-racun yang telah kami sebutkan itu dapat membahayakan selaput tipis yang menyelimuti pita suara, sehingga menimbulkan suara serak pada perokok. Rokok menyebabkan sesak nafas karena kerusakan kantong udara di paru-paru, dan menimbulkan sakit tenggorokan. Menurunkan sensitivitas indra penciuman, perasa, dan penglihatan, serta kemampuan membedakan warna. Meningkatkan detak jantung, sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Racun-racun itu akan menumpuk dalam hati, sehingga perokok akan merasa letih dan lelah meski karena kerja ringan, karena hati tidak mampu menyaring racun dalam jumlah sebanyak itu. Meningkatkan tekanan darah dan mengeraskan pembuluh-pembuluh darah yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Seorang dokter membuktikan bahwa merokok merupakan sebab langsung dari kanker paru-paru. Dokter itu melakukan percobaan pada sejumlah tikus dan meletakkan di kulitnya larutan asap rokok. Setelah 15 hari, timbul benjolan kanker pada tikus-tikus tersebut. Kanker paru-paru juga jarang terjadi pada selain perokok. Jumlah kematian akibat penyakit ini pada tahun 1963 di Inggris sebanyak 25 ribu jiwa, sedangkan di Amerika 41 ribu jiwa. Sering batuk dialami oleh para perokok. Rokok juga dapat menghentikan pertumbuhan badan. Rokok dapat memperberat kerja saraf dan otak, karena rokok dapat memberi rangsangan temporer, sehingga perokok akan merasakan ketenangan sementara ketika merokok. Perokok tidak dapat melakukan olahraga dengan baik. Saat berolahraga, ia akan cepat lelah. ثانيًا: أضرار التدخين النفسيَّة: 1- هبوط مستوى الذَّكاء. 2- حب التَّسَلُّط عند المدخن. 3- المزاج العصبي، والقلق، والشرُود. 4- ملامِح شخصية المُدَخِّن غير متميزة، بل متذبذبة (إمَّعة). Kedua: Bahaya rokok dari sisi mental Menurunkan tingkat kecerdasan. Suka bersikap sewenang-wenang. Mudah marah, gelisah, dan galau. Air muka perokok tidak bagus, dan sering ragu. ثالثًا: أضرار اجتماعيَّة واقتصاديَّة: 1- وُجِدَ أنَّ ما يصرفه 60 مليون مدخن في أمريكا، يساوي 4 مليارات دولار في العام… (فكِّر). 2- يسبِّب معظمَ الحرائق بسبب تحرُّك بقايا السجائر. 3- أنَّ إنفاق المال فيه إسرافٌ وتبذير في معصية الله. 4- كون رائحتِه تؤذي الناسَ الذين لا يستعملونه وتضايقهم. Ketiga: Bahaya rokok dari sisi ekonomi dan sosial Diketahui bahwa uang yang dibelanjakan 60 juta perokok di Amerika mencapai 4 miliar dolar dalam satu tahun. Menjadi penyebab mayoritas kebakaran karena sulutan api dari puntung rokok. Membeli rokok merupakan bentuk pemborosan dan pembelanjaan harta dalam kemaksiatan. Bau rokok mengganggu orang lain yang tidak merokok. كيف تترك التدخين: وبعد أن اقتنعتَ بأضرار التدخين على نفسِك ومجتمعك، أرجو أن تعزمَ على ترْكه، والابتعاد عنه، وسؤالك الآن: كيف أتركه؟ والجواب: اتَّبع الخُطواتِ التالية، والله يوفقك: 1- تعرَّفْ على أضراره، واقتنعْ بها، وابدأ بالتفكير في ترْكه، وشُدَّ العزم على ذلك، مع التوكُّل على الله. 2- اعملْ قائمة يوميَّة بمساوئه على نفسك، وعلى أصدقائك، وأولادك وجيرانك. 3- ابتعِد قدْرَ الإمكان عن المدخنين ورائحة التدخين، وحاوِل البقاءَ في الهواء الطَّلْق، واشتغلْ بالأمور النافعة. 4- إذا أدركت – أيها المسلم – مضارَّ الدخان، وتحققتَ حُرمته، فعليك بما يلي: كراهته لله، ترْكه لله، اجتنب مجالسة مَن يدخنه. 5- استعمِل سواكًا أو علكًا إذا وجدتَ في نفسك حنينًا إلى التدخين، والسِّواك أنفعُ من غيره. 6- قلِّل من شُرْب القهْوة والشاي، وأَكْثِرْ من تناول الفاكهة، والغذاء الجيِّد الخالي من التوابل. 7- تناول يوميًّا بعدَ الإفطار كأسًا من عصير الليمون، أو العِنَب، أو البرتقال؛ لأنَّه يُخَفِّف من شدَّة الرغبة في التدخين. 8- واعلم أنَّ مَن ترك شيئًا لله، عوَّضه الله خيرًا منه، عاجِلاً وآجلاً. Bagaimana cara berhenti merokok? Setelah kamu menerima realitas tentang bahaya-bahaya rokok terhadap diri dan masyarakatmu, saya berharap kamu dapat bertekad untuk berhenti merokok dan menjauhinya. Lalu pertanyaanmu sekarang, bagaimana saya dapat meninggalkannya? Jawabannya adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberimu taufik: Ketahui bahaya-bahayanya dan yakini itu. Lalu mulailah berpikir untuk meninggalkannya dan bulatkanlah tekad disertai dengan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulislah setiap hari daftar keburukan-keburukan rokok terhadap dirimu, teman-temanmu, anak-anakmu, dan para tetanggamu. Menghindarlah sebisa mungkin dari para perokok dan bau rokok. Berusahalah untuk senantiasa berada di lingkungan yang berudara segar dan sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika kamu telah mengetahui bahaya-bahaya rokok dan meyakini keharamannya, maka hendaklah kamu menjalankan hal-hal berikut: Membenci rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meninggalkan rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari interaksi dengan perokok. Gunakanlah siwak atau permen karet ketika merasa ingin merokok. Namun, menggunakan siwak lebih baik daripada yang lain. Kurangilah konsumsi kopi dan teh! Perbanyaklah memakan buah-buahan dan makanan sehat yang tidak menggunakan rempah. Minumlah setiap hari setelah sarapan satu gelas jus lemon, anggur, atau jeruk, karena itu akan mengurangi dorongan kuat untuk merokok. Ketahuilah bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan memberi ganti baginya sesuatu yang lebih baik, baik itu dalam waktu cepat maupun lambat. ملاحظات: 1- التدخين عادة، والعادة تتغيَّر كما هو معروف. 2- ترْك التدخين ليس مستحيلاً، بل هو من أبسط الأشياء، فما عليك إلا اتِّباع طريقةٍ ناجحة ومجرَّبة، ولا تتركه ثم تعود إليه، ولا تخَفْ من شيء أبدًا إذا عزمتَ على تركه. 3- استنبَطَ علماءُ الشريعة الإسلامية، وفقهاء الأمة حُرمةَ التدخين، واتَّفقوا على ذلك؛ لأنَّه – كما رأيتَ – مُضرٌّ بالصحة، مُنفِّق للمال، مفتِّر للأعصاب، ذو رائحة كريهة. 4- قبل أن تشتريَ الدخان وتشربه، فكِّرْ: هل هو حرام أو حلال؟ وهل هو نافع أو ضار؟ وهل هو طيِّب أو خبيث؟ فسوف تجده حرامًا ضارًّا خبيثًا. 5- إذا ثبت أنَّ الدخان محرَّم، فيحرم بيعُه وشراؤه، وثمنه؛ لأنَّ الله إذا حرَّم شيئًا، حرَّم ثمنَه. وفَّقَ الله الجميع لترْكه، وترْك كلِّ محرَّم. Catatan: Merokok merupakan kebiasaan, dan setiap kebiasaan dapat diubah, sebagaimana yang kita ketahui bersama. Berhenti merokok bukan hal yang mustahil. Justru itu adalah hal paling mudah. Kamu tidak lain hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang telah teruji. Jangan Cuma berhenti merokok sejenak lalu kembali kambuh. Jangan takut terhadap apa pun jika kamu telah bertekad untuk meninggalkannya. Para ulama syariat Islam dan ahli fiqih telah menyimpulkan dan menyepakati keharaman rokok, karena rokok – sebagaimana yang kamu ketahui – berbahaya bagi badan, menghabiskan harta, melemahkan saraf, dan memiliki aroma tidak sedap. Sebelum kamu membeli dan mengonsumsi rokok, pikirkanlah terlebih dahulu, apakah itu haram atau halal? Apakah itu bermanfaat atau berbahaya? Apakah itu baik atau buruk? Niscaya kamu akan simpulkan bahwa rokok itu haram, berbahaya, dan buruk. Jika telah ditegaskan bahwa rokok itu haram, maka diharamkan pula jual belinya dan uang pembayarannya, karena jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka juga mengharamkan uang yang dibayarkan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufik kepada semua perokok untuk berhenti merokok dan meninggalkan segala perkara haram. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/177168/كيف-تترك-التدخين؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 678 QRIS donasi Yufid
كيف تترك التدخين؟ Oleh: Hamd bin Bakr Al-‘Ilyan حمد بن بكر العليان أخي الشاب، التدخين إحْدى وسائل الاعتداء على جسدِك باتِّفاق الأطبَّاء، وهو مِن العادات التي انتشرتْ في المجتمع رغمَ ضررها البالِغ عليه، والسيجارة التي يتناولها المدخنون تُصنَع من نبات يُقال له: (التبغ)، وهو مادة مُرَّة الطَّعْم مخدِّرة، تحتوي على مواد سامة، وقد قُدِّمت لبعض الكلاب والقِطَط، فعافتها واستَقْذَرَتْها، والدخان الذي يتطايَر من السيجارة به أنواع من السُّموم الفتَّاكة، تؤثِّر في جِسْم المدخن، كلها توجد في الدُّخَان الذي تتناوله، فبعضها يسبب تخريشًا في الجلد، والآخر يسبِّب البُصاق، والسُّعال، وظهور اللَّوْن الأصفر عند المدخن، وقد أُجريت تَجارِبُ للتخلص من هذه السموم، ولكنَّها باءتْ بالفشل، والآن نذكر أضرار التدخين: Wahai saudaraku, generasi muda! Merokok merupakan salah satu cara merusak tubuhmu yang disepakati seluruh dokter. Merokok adalah salah satu kebiasaan yang banyak tersebar di masyarakat meskipun mengandung banyak bahaya. Rokok yang dikonsumsi oleh perokok berasal dari tanaman yang bernama tembakau, yang merupakan bahan yang pahit dan membuat candu, mengandung banyak senyawa beracun. Bahkan anjing dan kucing pun enggan memakannya ketika dihidangkan kepadanya karena merasa jijik terhadapnya.  Asap yang keluar dari rokok mengandung banyak racun mematikan yang dapat berpengaruh negatif terhadap tubuh perokok. Semuanya terdapat dalam rokok yang kamu konsumsi. Sebagiannya dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, dan senyawa lain dapat meningkatkan produksi ludah, menyebabkan batuk, dan menimbulkan warna kuning pada tubuh perokok. Terdapat banyak penelitian untuk menghilangkan racun-racun tersebut, tapi belum ada yang membuahkan hasil yang positif. Sekarang mari kita bahas beberapa bahaya merokok: أولاً: أضرار التدخين الصِّحيَّة: في الحقيقة أنَّ التدخين يُعتبر أَلَدَّ أعداء الصِّحة، وسنذكر بعضَ الأضرار التي يُسَبِّبها التدخينُ على صِحَّة الإنسان، تاركين الكيفيَّة، والحالات الشاذَّة: 1- السموم التي ذكرْناها تفتك بالأغشية الرقيقة، الملتَفَّة حولَ الأوتار الصوتية، فيُسبِّب ذلك البحَّةَ عند المدخن. 2- يسبِّب التدخين ضِيقًا في التنفُّس؛ بسبب خراب الأكياس الهوائية في الرِّئتين، ويُسَبِّب آلام الحلْق. 3- يُضعِف حاسَّةَ الشم والذوق، والنظر والقدرة على تمييز الألوان. 4- يَزيد من عدد نبضات القلْب، فينتج عن ذلك السكْتةُ القلبية. 5- تتكدَّس السُّموم في الكبد، فيشعر المدخِّن بالتعَب والإرهاق لأيِّ مجهود؛ لأنَّ الكبد لا يستطيع حجزَ السموم بهذه الكثرة. 6- ارتفاع في ضغْط الدم، وتَصَلُّب الشرايين، الذي يؤدِّي إلى موت الفَجْأَة. 7- أثبت أحدُ الأطبَّاء أنَّ التدخين هو سببٌ مباشر لسرطان الرِّئة، وذلك بأن أحضر عددًا من الفئران، ووَضَع على جلدها محلولَ دخان السيجارة، فظهر بعد خمسة عشر يومًا ورمُ سرطان، وكذلك سرطان الرِّئة يندر بيْن غير المدخنين، وقد مات بهذا المرض في عام 1963م في بريطانيا 25 ألف شخص، وفي أمريكا 41 ألف شخص. 8- كثره السُّعال عند المدخنين، والتدخين يسبِّب كذلك توقفًا في نموِّ الجسم. 9- التدخين مُفَتِّرٌ للأعصاب والمخ؛ لأنَّه يُحدِث انتعاشًا وقتيًّا فيها، فيظن المدخن أنَّه يشعر بالراحة عندَ التدخين. 10- المدخِّن لا يستطيع القيامَ بأيِّ نشاط رياضي، وإنْ قام به فهو مهْزُوز. Pertama: Bahaya rokok dari sisi kesehatan badan Sebenarnya rokok termasuk musuh kesehatan yang paling bandel. Kami akan sebutkan beberapa bahaya yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan manusia secara umum – dengan mengabaikan faktor gaya merokok dan kasus-kasus pengecualian tertentu –:  Racun-racun yang telah kami sebutkan itu dapat membahayakan selaput tipis yang menyelimuti pita suara, sehingga menimbulkan suara serak pada perokok. Rokok menyebabkan sesak nafas karena kerusakan kantong udara di paru-paru, dan menimbulkan sakit tenggorokan. Menurunkan sensitivitas indra penciuman, perasa, dan penglihatan, serta kemampuan membedakan warna. Meningkatkan detak jantung, sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Racun-racun itu akan menumpuk dalam hati, sehingga perokok akan merasa letih dan lelah meski karena kerja ringan, karena hati tidak mampu menyaring racun dalam jumlah sebanyak itu. Meningkatkan tekanan darah dan mengeraskan pembuluh-pembuluh darah yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Seorang dokter membuktikan bahwa merokok merupakan sebab langsung dari kanker paru-paru. Dokter itu melakukan percobaan pada sejumlah tikus dan meletakkan di kulitnya larutan asap rokok. Setelah 15 hari, timbul benjolan kanker pada tikus-tikus tersebut. Kanker paru-paru juga jarang terjadi pada selain perokok. Jumlah kematian akibat penyakit ini pada tahun 1963 di Inggris sebanyak 25 ribu jiwa, sedangkan di Amerika 41 ribu jiwa. Sering batuk dialami oleh para perokok. Rokok juga dapat menghentikan pertumbuhan badan. Rokok dapat memperberat kerja saraf dan otak, karena rokok dapat memberi rangsangan temporer, sehingga perokok akan merasakan ketenangan sementara ketika merokok. Perokok tidak dapat melakukan olahraga dengan baik. Saat berolahraga, ia akan cepat lelah. ثانيًا: أضرار التدخين النفسيَّة: 1- هبوط مستوى الذَّكاء. 2- حب التَّسَلُّط عند المدخن. 3- المزاج العصبي، والقلق، والشرُود. 4- ملامِح شخصية المُدَخِّن غير متميزة، بل متذبذبة (إمَّعة). Kedua: Bahaya rokok dari sisi mental Menurunkan tingkat kecerdasan. Suka bersikap sewenang-wenang. Mudah marah, gelisah, dan galau. Air muka perokok tidak bagus, dan sering ragu. ثالثًا: أضرار اجتماعيَّة واقتصاديَّة: 1- وُجِدَ أنَّ ما يصرفه 60 مليون مدخن في أمريكا، يساوي 4 مليارات دولار في العام… (فكِّر). 2- يسبِّب معظمَ الحرائق بسبب تحرُّك بقايا السجائر. 3- أنَّ إنفاق المال فيه إسرافٌ وتبذير في معصية الله. 4- كون رائحتِه تؤذي الناسَ الذين لا يستعملونه وتضايقهم. Ketiga: Bahaya rokok dari sisi ekonomi dan sosial Diketahui bahwa uang yang dibelanjakan 60 juta perokok di Amerika mencapai 4 miliar dolar dalam satu tahun. Menjadi penyebab mayoritas kebakaran karena sulutan api dari puntung rokok. Membeli rokok merupakan bentuk pemborosan dan pembelanjaan harta dalam kemaksiatan. Bau rokok mengganggu orang lain yang tidak merokok. كيف تترك التدخين: وبعد أن اقتنعتَ بأضرار التدخين على نفسِك ومجتمعك، أرجو أن تعزمَ على ترْكه، والابتعاد عنه، وسؤالك الآن: كيف أتركه؟ والجواب: اتَّبع الخُطواتِ التالية، والله يوفقك: 1- تعرَّفْ على أضراره، واقتنعْ بها، وابدأ بالتفكير في ترْكه، وشُدَّ العزم على ذلك، مع التوكُّل على الله. 2- اعملْ قائمة يوميَّة بمساوئه على نفسك، وعلى أصدقائك، وأولادك وجيرانك. 3- ابتعِد قدْرَ الإمكان عن المدخنين ورائحة التدخين، وحاوِل البقاءَ في الهواء الطَّلْق، واشتغلْ بالأمور النافعة. 4- إذا أدركت – أيها المسلم – مضارَّ الدخان، وتحققتَ حُرمته، فعليك بما يلي: كراهته لله، ترْكه لله، اجتنب مجالسة مَن يدخنه. 5- استعمِل سواكًا أو علكًا إذا وجدتَ في نفسك حنينًا إلى التدخين، والسِّواك أنفعُ من غيره. 6- قلِّل من شُرْب القهْوة والشاي، وأَكْثِرْ من تناول الفاكهة، والغذاء الجيِّد الخالي من التوابل. 7- تناول يوميًّا بعدَ الإفطار كأسًا من عصير الليمون، أو العِنَب، أو البرتقال؛ لأنَّه يُخَفِّف من شدَّة الرغبة في التدخين. 8- واعلم أنَّ مَن ترك شيئًا لله، عوَّضه الله خيرًا منه، عاجِلاً وآجلاً. Bagaimana cara berhenti merokok? Setelah kamu menerima realitas tentang bahaya-bahaya rokok terhadap diri dan masyarakatmu, saya berharap kamu dapat bertekad untuk berhenti merokok dan menjauhinya. Lalu pertanyaanmu sekarang, bagaimana saya dapat meninggalkannya? Jawabannya adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberimu taufik: Ketahui bahaya-bahayanya dan yakini itu. Lalu mulailah berpikir untuk meninggalkannya dan bulatkanlah tekad disertai dengan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulislah setiap hari daftar keburukan-keburukan rokok terhadap dirimu, teman-temanmu, anak-anakmu, dan para tetanggamu. Menghindarlah sebisa mungkin dari para perokok dan bau rokok. Berusahalah untuk senantiasa berada di lingkungan yang berudara segar dan sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika kamu telah mengetahui bahaya-bahaya rokok dan meyakini keharamannya, maka hendaklah kamu menjalankan hal-hal berikut: Membenci rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meninggalkan rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari interaksi dengan perokok. Gunakanlah siwak atau permen karet ketika merasa ingin merokok. Namun, menggunakan siwak lebih baik daripada yang lain. Kurangilah konsumsi kopi dan teh! Perbanyaklah memakan buah-buahan dan makanan sehat yang tidak menggunakan rempah. Minumlah setiap hari setelah sarapan satu gelas jus lemon, anggur, atau jeruk, karena itu akan mengurangi dorongan kuat untuk merokok. Ketahuilah bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan memberi ganti baginya sesuatu yang lebih baik, baik itu dalam waktu cepat maupun lambat. ملاحظات: 1- التدخين عادة، والعادة تتغيَّر كما هو معروف. 2- ترْك التدخين ليس مستحيلاً، بل هو من أبسط الأشياء، فما عليك إلا اتِّباع طريقةٍ ناجحة ومجرَّبة، ولا تتركه ثم تعود إليه، ولا تخَفْ من شيء أبدًا إذا عزمتَ على تركه. 3- استنبَطَ علماءُ الشريعة الإسلامية، وفقهاء الأمة حُرمةَ التدخين، واتَّفقوا على ذلك؛ لأنَّه – كما رأيتَ – مُضرٌّ بالصحة، مُنفِّق للمال، مفتِّر للأعصاب، ذو رائحة كريهة. 4- قبل أن تشتريَ الدخان وتشربه، فكِّرْ: هل هو حرام أو حلال؟ وهل هو نافع أو ضار؟ وهل هو طيِّب أو خبيث؟ فسوف تجده حرامًا ضارًّا خبيثًا. 5- إذا ثبت أنَّ الدخان محرَّم، فيحرم بيعُه وشراؤه، وثمنه؛ لأنَّ الله إذا حرَّم شيئًا، حرَّم ثمنَه. وفَّقَ الله الجميع لترْكه، وترْك كلِّ محرَّم. Catatan: Merokok merupakan kebiasaan, dan setiap kebiasaan dapat diubah, sebagaimana yang kita ketahui bersama. Berhenti merokok bukan hal yang mustahil. Justru itu adalah hal paling mudah. Kamu tidak lain hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang telah teruji. Jangan Cuma berhenti merokok sejenak lalu kembali kambuh. Jangan takut terhadap apa pun jika kamu telah bertekad untuk meninggalkannya. Para ulama syariat Islam dan ahli fiqih telah menyimpulkan dan menyepakati keharaman rokok, karena rokok – sebagaimana yang kamu ketahui – berbahaya bagi badan, menghabiskan harta, melemahkan saraf, dan memiliki aroma tidak sedap. Sebelum kamu membeli dan mengonsumsi rokok, pikirkanlah terlebih dahulu, apakah itu haram atau halal? Apakah itu bermanfaat atau berbahaya? Apakah itu baik atau buruk? Niscaya kamu akan simpulkan bahwa rokok itu haram, berbahaya, dan buruk. Jika telah ditegaskan bahwa rokok itu haram, maka diharamkan pula jual belinya dan uang pembayarannya, karena jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka juga mengharamkan uang yang dibayarkan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufik kepada semua perokok untuk berhenti merokok dan meninggalkan segala perkara haram. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/177168/كيف-تترك-التدخين؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 678 QRIS donasi Yufid


كيف تترك التدخين؟ Oleh: Hamd bin Bakr Al-‘Ilyan حمد بن بكر العليان أخي الشاب، التدخين إحْدى وسائل الاعتداء على جسدِك باتِّفاق الأطبَّاء، وهو مِن العادات التي انتشرتْ في المجتمع رغمَ ضررها البالِغ عليه، والسيجارة التي يتناولها المدخنون تُصنَع من نبات يُقال له: (التبغ)، وهو مادة مُرَّة الطَّعْم مخدِّرة، تحتوي على مواد سامة، وقد قُدِّمت لبعض الكلاب والقِطَط، فعافتها واستَقْذَرَتْها، والدخان الذي يتطايَر من السيجارة به أنواع من السُّموم الفتَّاكة، تؤثِّر في جِسْم المدخن، كلها توجد في الدُّخَان الذي تتناوله، فبعضها يسبب تخريشًا في الجلد، والآخر يسبِّب البُصاق، والسُّعال، وظهور اللَّوْن الأصفر عند المدخن، وقد أُجريت تَجارِبُ للتخلص من هذه السموم، ولكنَّها باءتْ بالفشل، والآن نذكر أضرار التدخين: Wahai saudaraku, generasi muda! Merokok merupakan salah satu cara merusak tubuhmu yang disepakati seluruh dokter. Merokok adalah salah satu kebiasaan yang banyak tersebar di masyarakat meskipun mengandung banyak bahaya. Rokok yang dikonsumsi oleh perokok berasal dari tanaman yang bernama tembakau, yang merupakan bahan yang pahit dan membuat candu, mengandung banyak senyawa beracun. Bahkan anjing dan kucing pun enggan memakannya ketika dihidangkan kepadanya karena merasa jijik terhadapnya.  Asap yang keluar dari rokok mengandung banyak racun mematikan yang dapat berpengaruh negatif terhadap tubuh perokok. Semuanya terdapat dalam rokok yang kamu konsumsi. Sebagiannya dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, dan senyawa lain dapat meningkatkan produksi ludah, menyebabkan batuk, dan menimbulkan warna kuning pada tubuh perokok. Terdapat banyak penelitian untuk menghilangkan racun-racun tersebut, tapi belum ada yang membuahkan hasil yang positif. Sekarang mari kita bahas beberapa bahaya merokok: أولاً: أضرار التدخين الصِّحيَّة: في الحقيقة أنَّ التدخين يُعتبر أَلَدَّ أعداء الصِّحة، وسنذكر بعضَ الأضرار التي يُسَبِّبها التدخينُ على صِحَّة الإنسان، تاركين الكيفيَّة، والحالات الشاذَّة: 1- السموم التي ذكرْناها تفتك بالأغشية الرقيقة، الملتَفَّة حولَ الأوتار الصوتية، فيُسبِّب ذلك البحَّةَ عند المدخن. 2- يسبِّب التدخين ضِيقًا في التنفُّس؛ بسبب خراب الأكياس الهوائية في الرِّئتين، ويُسَبِّب آلام الحلْق. 3- يُضعِف حاسَّةَ الشم والذوق، والنظر والقدرة على تمييز الألوان. 4- يَزيد من عدد نبضات القلْب، فينتج عن ذلك السكْتةُ القلبية. 5- تتكدَّس السُّموم في الكبد، فيشعر المدخِّن بالتعَب والإرهاق لأيِّ مجهود؛ لأنَّ الكبد لا يستطيع حجزَ السموم بهذه الكثرة. 6- ارتفاع في ضغْط الدم، وتَصَلُّب الشرايين، الذي يؤدِّي إلى موت الفَجْأَة. 7- أثبت أحدُ الأطبَّاء أنَّ التدخين هو سببٌ مباشر لسرطان الرِّئة، وذلك بأن أحضر عددًا من الفئران، ووَضَع على جلدها محلولَ دخان السيجارة، فظهر بعد خمسة عشر يومًا ورمُ سرطان، وكذلك سرطان الرِّئة يندر بيْن غير المدخنين، وقد مات بهذا المرض في عام 1963م في بريطانيا 25 ألف شخص، وفي أمريكا 41 ألف شخص. 8- كثره السُّعال عند المدخنين، والتدخين يسبِّب كذلك توقفًا في نموِّ الجسم. 9- التدخين مُفَتِّرٌ للأعصاب والمخ؛ لأنَّه يُحدِث انتعاشًا وقتيًّا فيها، فيظن المدخن أنَّه يشعر بالراحة عندَ التدخين. 10- المدخِّن لا يستطيع القيامَ بأيِّ نشاط رياضي، وإنْ قام به فهو مهْزُوز. Pertama: Bahaya rokok dari sisi kesehatan badan Sebenarnya rokok termasuk musuh kesehatan yang paling bandel. Kami akan sebutkan beberapa bahaya yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan manusia secara umum – dengan mengabaikan faktor gaya merokok dan kasus-kasus pengecualian tertentu –:  Racun-racun yang telah kami sebutkan itu dapat membahayakan selaput tipis yang menyelimuti pita suara, sehingga menimbulkan suara serak pada perokok. Rokok menyebabkan sesak nafas karena kerusakan kantong udara di paru-paru, dan menimbulkan sakit tenggorokan. Menurunkan sensitivitas indra penciuman, perasa, dan penglihatan, serta kemampuan membedakan warna. Meningkatkan detak jantung, sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Racun-racun itu akan menumpuk dalam hati, sehingga perokok akan merasa letih dan lelah meski karena kerja ringan, karena hati tidak mampu menyaring racun dalam jumlah sebanyak itu. Meningkatkan tekanan darah dan mengeraskan pembuluh-pembuluh darah yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Seorang dokter membuktikan bahwa merokok merupakan sebab langsung dari kanker paru-paru. Dokter itu melakukan percobaan pada sejumlah tikus dan meletakkan di kulitnya larutan asap rokok. Setelah 15 hari, timbul benjolan kanker pada tikus-tikus tersebut. Kanker paru-paru juga jarang terjadi pada selain perokok. Jumlah kematian akibat penyakit ini pada tahun 1963 di Inggris sebanyak 25 ribu jiwa, sedangkan di Amerika 41 ribu jiwa. Sering batuk dialami oleh para perokok. Rokok juga dapat menghentikan pertumbuhan badan. Rokok dapat memperberat kerja saraf dan otak, karena rokok dapat memberi rangsangan temporer, sehingga perokok akan merasakan ketenangan sementara ketika merokok. Perokok tidak dapat melakukan olahraga dengan baik. Saat berolahraga, ia akan cepat lelah. ثانيًا: أضرار التدخين النفسيَّة: 1- هبوط مستوى الذَّكاء. 2- حب التَّسَلُّط عند المدخن. 3- المزاج العصبي، والقلق، والشرُود. 4- ملامِح شخصية المُدَخِّن غير متميزة، بل متذبذبة (إمَّعة). Kedua: Bahaya rokok dari sisi mental Menurunkan tingkat kecerdasan. Suka bersikap sewenang-wenang. Mudah marah, gelisah, dan galau. Air muka perokok tidak bagus, dan sering ragu. ثالثًا: أضرار اجتماعيَّة واقتصاديَّة: 1- وُجِدَ أنَّ ما يصرفه 60 مليون مدخن في أمريكا، يساوي 4 مليارات دولار في العام… (فكِّر). 2- يسبِّب معظمَ الحرائق بسبب تحرُّك بقايا السجائر. 3- أنَّ إنفاق المال فيه إسرافٌ وتبذير في معصية الله. 4- كون رائحتِه تؤذي الناسَ الذين لا يستعملونه وتضايقهم. Ketiga: Bahaya rokok dari sisi ekonomi dan sosial Diketahui bahwa uang yang dibelanjakan 60 juta perokok di Amerika mencapai 4 miliar dolar dalam satu tahun. Menjadi penyebab mayoritas kebakaran karena sulutan api dari puntung rokok. Membeli rokok merupakan bentuk pemborosan dan pembelanjaan harta dalam kemaksiatan. Bau rokok mengganggu orang lain yang tidak merokok. كيف تترك التدخين: وبعد أن اقتنعتَ بأضرار التدخين على نفسِك ومجتمعك، أرجو أن تعزمَ على ترْكه، والابتعاد عنه، وسؤالك الآن: كيف أتركه؟ والجواب: اتَّبع الخُطواتِ التالية، والله يوفقك: 1- تعرَّفْ على أضراره، واقتنعْ بها، وابدأ بالتفكير في ترْكه، وشُدَّ العزم على ذلك، مع التوكُّل على الله. 2- اعملْ قائمة يوميَّة بمساوئه على نفسك، وعلى أصدقائك، وأولادك وجيرانك. 3- ابتعِد قدْرَ الإمكان عن المدخنين ورائحة التدخين، وحاوِل البقاءَ في الهواء الطَّلْق، واشتغلْ بالأمور النافعة. 4- إذا أدركت – أيها المسلم – مضارَّ الدخان، وتحققتَ حُرمته، فعليك بما يلي: كراهته لله، ترْكه لله، اجتنب مجالسة مَن يدخنه. 5- استعمِل سواكًا أو علكًا إذا وجدتَ في نفسك حنينًا إلى التدخين، والسِّواك أنفعُ من غيره. 6- قلِّل من شُرْب القهْوة والشاي، وأَكْثِرْ من تناول الفاكهة، والغذاء الجيِّد الخالي من التوابل. 7- تناول يوميًّا بعدَ الإفطار كأسًا من عصير الليمون، أو العِنَب، أو البرتقال؛ لأنَّه يُخَفِّف من شدَّة الرغبة في التدخين. 8- واعلم أنَّ مَن ترك شيئًا لله، عوَّضه الله خيرًا منه، عاجِلاً وآجلاً. Bagaimana cara berhenti merokok? Setelah kamu menerima realitas tentang bahaya-bahaya rokok terhadap diri dan masyarakatmu, saya berharap kamu dapat bertekad untuk berhenti merokok dan menjauhinya. Lalu pertanyaanmu sekarang, bagaimana saya dapat meninggalkannya? Jawabannya adalah dengan mengikuti langkah-langkah berikut, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberimu taufik: Ketahui bahaya-bahayanya dan yakini itu. Lalu mulailah berpikir untuk meninggalkannya dan bulatkanlah tekad disertai dengan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulislah setiap hari daftar keburukan-keburukan rokok terhadap dirimu, teman-temanmu, anak-anakmu, dan para tetanggamu. Menghindarlah sebisa mungkin dari para perokok dan bau rokok. Berusahalah untuk senantiasa berada di lingkungan yang berudara segar dan sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika kamu telah mengetahui bahaya-bahaya rokok dan meyakini keharamannya, maka hendaklah kamu menjalankan hal-hal berikut: Membenci rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meninggalkan rokok karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari interaksi dengan perokok. Gunakanlah siwak atau permen karet ketika merasa ingin merokok. Namun, menggunakan siwak lebih baik daripada yang lain. Kurangilah konsumsi kopi dan teh! Perbanyaklah memakan buah-buahan dan makanan sehat yang tidak menggunakan rempah. Minumlah setiap hari setelah sarapan satu gelas jus lemon, anggur, atau jeruk, karena itu akan mengurangi dorongan kuat untuk merokok. Ketahuilah bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan memberi ganti baginya sesuatu yang lebih baik, baik itu dalam waktu cepat maupun lambat. ملاحظات: 1- التدخين عادة، والعادة تتغيَّر كما هو معروف. 2- ترْك التدخين ليس مستحيلاً، بل هو من أبسط الأشياء، فما عليك إلا اتِّباع طريقةٍ ناجحة ومجرَّبة، ولا تتركه ثم تعود إليه، ولا تخَفْ من شيء أبدًا إذا عزمتَ على تركه. 3- استنبَطَ علماءُ الشريعة الإسلامية، وفقهاء الأمة حُرمةَ التدخين، واتَّفقوا على ذلك؛ لأنَّه – كما رأيتَ – مُضرٌّ بالصحة، مُنفِّق للمال، مفتِّر للأعصاب، ذو رائحة كريهة. 4- قبل أن تشتريَ الدخان وتشربه، فكِّرْ: هل هو حرام أو حلال؟ وهل هو نافع أو ضار؟ وهل هو طيِّب أو خبيث؟ فسوف تجده حرامًا ضارًّا خبيثًا. 5- إذا ثبت أنَّ الدخان محرَّم، فيحرم بيعُه وشراؤه، وثمنه؛ لأنَّ الله إذا حرَّم شيئًا، حرَّم ثمنَه. وفَّقَ الله الجميع لترْكه، وترْك كلِّ محرَّم. Catatan: Merokok merupakan kebiasaan, dan setiap kebiasaan dapat diubah, sebagaimana yang kita ketahui bersama. Berhenti merokok bukan hal yang mustahil. Justru itu adalah hal paling mudah. Kamu tidak lain hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang telah teruji. Jangan Cuma berhenti merokok sejenak lalu kembali kambuh. Jangan takut terhadap apa pun jika kamu telah bertekad untuk meninggalkannya. Para ulama syariat Islam dan ahli fiqih telah menyimpulkan dan menyepakati keharaman rokok, karena rokok – sebagaimana yang kamu ketahui – berbahaya bagi badan, menghabiskan harta, melemahkan saraf, dan memiliki aroma tidak sedap. Sebelum kamu membeli dan mengonsumsi rokok, pikirkanlah terlebih dahulu, apakah itu haram atau halal? Apakah itu bermanfaat atau berbahaya? Apakah itu baik atau buruk? Niscaya kamu akan simpulkan bahwa rokok itu haram, berbahaya, dan buruk. Jika telah ditegaskan bahwa rokok itu haram, maka diharamkan pula jual belinya dan uang pembayarannya, karena jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka juga mengharamkan uang yang dibayarkan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taufik kepada semua perokok untuk berhenti merokok dan meninggalkan segala perkara haram. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/177168/كيف-تترك-التدخين؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Jidat Hitam Rumaysho, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Innalillahiwainnailaihirojiun Yang Benar, Doa Awal Tahun & Akhir Tahun Hijriah, Surat Pendek Bacaan Sholat Visited 146 times, 1 visit(s) today Post Views: 678 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fikih Riba (Bag. 2): Hukum Riba dalam Islam

Pada seri sebelumnya, kita telah membahas tentang definisi riba. Mengetahui hukum riba itu sendiri tentunya tidak kalah penting, agar suatu hal yang mungkin masih samar-samar bagi sebagian kaum muslimin akan jelas terlihat antara yang halal dan haram.Manfaatnya, ketika halal, maka dapat (boleh) dikerjakan; dan ketika haram, maka dijauhi. Sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang telah mengetahui hukum riba itu sendiri, namun masih sulit untuk meninggalkannya. “Kalau tidak makan riba, keluarga saya mau makan apa?” “Saya tau riba itu haram, tapi apakah Anda bisa memberi saya makan?” Dan statement-statement yang lainnya.Barangkali hal itu berangkat dari pengetahuan tentang riba yang masih sebatas kulitnya saja, atau hanya desas-desus semata yang terdengar dari sebagian orang yang menyampaikan. Sehingga dengan terpaksa statement tersebut harus keluar.Hukum riba dalam IslamPerlu diketahui bahwa ahli fikih bersepakat bahwa hukum riba adalah haram. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni,الرِّبَا عَلَى ضَرْبَيْنِ: رِبَا الفَضْل وَرِبَا النَّسِيْئَة وَأَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى تَحْرِيْمِهِمَا“Riba ada dua jenis: riba fadhl dan riba nasi’ah, dan ahli ilmu (para ulama) telah bersepakat akan keharaman keduanya.”Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak pernah menantang perang kepada seseorang kecuali bagi mereka yang terus-menerus bermuamalah dengan riba setelah datangnya peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَالِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Ibnu Katsir dalam tafsirnya membawakan tentang sebab turunnya ayat di atas. Yaitu, ayat ini turun kepada Bani ‘Amr bin ‘Umair dari Tsaqif dan Bani Al-Mughirah dari Bani Makhzum. Di antara kedua suku tersebut dahulu terdapat transaksi riba jahiliah. Ketika Islam datang dan mereka masuk Islam, Tsaqif pun menuntut agar dapat mengambil (sisa riba) tersebut dari mereka (Bani Al-Mughirah). (Tafsir Ibnu Katsir surah Al-Baqarah ayat 278-279)Kemudian mereka pun bermusyawarah, Bani Al-Mughirah berkata, “Kami tidak akan membayar riba di dalam Islam.” Maka ‘Attab bin Asid (wakil gubernur Mekkah) menuliskan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat di atas.Mereka berkata, “Kami semua bertobat kepada Allah, dan kami tinggalkan sisa-sisa dari riba.” Mereka pun meninggalkan seluruhnya.Sehingga ini merupakan ancaman yang begitu keras bagi orang-orang yang terus berkelanjutan dalam riba, tenggelam dalam riba, dan terus menikmatinya setelah datangnya peringatan. Yaitu, tantangan perang dari Allah Ta’ala secara langsung.Bahkan terdapat atsar dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, beliau berkata,يُقَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِآكِلِ الرِّبَا: خُذْ سِلَاحَكَ لِلْحَرْبِ. ثُمَّ قَرَأَ: ﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾“Dikatakan pada hari kiamat kelak kepada orang-orang yang mengharamkan riba, ‘Ambillah senjatamu untuk berperang (dengan Allah).’ Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)Tidak cukup sampai di situ, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa riba termasuk dari tujuh hal yang membinasakan. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اجتَنِبوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ. قيل: يا رَسولَ اللهِ، وما هُنَّ؟ قال: الشِّركُ باللهِ، والسِّحرُ، وقَتْلُ النَّفسِ التي حرَّم اللهُ إلَّا بالحَقِّ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليَتيمِ، والتوَلِّي يومَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ الغافِلاتِ المُؤمِناتِ“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Apa saja, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita baik-baik (suci), yang lalai (dari tuduhan), lagi beriman (dengan tuduhan zina).” (Muttafaqun ‘alaih)Bahkan riba termasuk dari dosa besar yang paling besar. Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الربا ثلاثةٌ وسبعونَ بابًا ، وأيسرُها مثلُ أنْ ينكِحَ الرجلُ أمَّهُ ، و إِنَّ أربى الرِّبا عرضُ الرجلِ المسلمِ“Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling besar (paling keji) adalah (merusak) kehormatan diri seorang Muslim.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Bahkan tidak tanggung-tanggung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan para pemakan riba dan orang-orang yang ikut serta dan membantu dalam transaksi riba dengan doa agar mereka dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, لَعَنَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقالَ: هُمْ سَوَاءٌ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, yang menulisnya, dan kedua saksinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka semua sama.” (HR. Muslim)Demikianlah di antara dalil yang menjelaskan tentang haramnya riba dengan sejelas-jelasnya. Disertai dengan ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang masih memakan riba, padahal ilmu telah sampai kepadanya.Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dan keluarga kita dari memakan harta yang haram, dan juga semoga Allah menjauhkan kita semua dari riba. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Depok, 22 Jumadal Ula 1447/ 12 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Muamalat Al-Maaliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamur Al-Muthiriy dan Tafsir Ibnu Katsir.

Fikih Riba (Bag. 2): Hukum Riba dalam Islam

Pada seri sebelumnya, kita telah membahas tentang definisi riba. Mengetahui hukum riba itu sendiri tentunya tidak kalah penting, agar suatu hal yang mungkin masih samar-samar bagi sebagian kaum muslimin akan jelas terlihat antara yang halal dan haram.Manfaatnya, ketika halal, maka dapat (boleh) dikerjakan; dan ketika haram, maka dijauhi. Sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang telah mengetahui hukum riba itu sendiri, namun masih sulit untuk meninggalkannya. “Kalau tidak makan riba, keluarga saya mau makan apa?” “Saya tau riba itu haram, tapi apakah Anda bisa memberi saya makan?” Dan statement-statement yang lainnya.Barangkali hal itu berangkat dari pengetahuan tentang riba yang masih sebatas kulitnya saja, atau hanya desas-desus semata yang terdengar dari sebagian orang yang menyampaikan. Sehingga dengan terpaksa statement tersebut harus keluar.Hukum riba dalam IslamPerlu diketahui bahwa ahli fikih bersepakat bahwa hukum riba adalah haram. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni,الرِّبَا عَلَى ضَرْبَيْنِ: رِبَا الفَضْل وَرِبَا النَّسِيْئَة وَأَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى تَحْرِيْمِهِمَا“Riba ada dua jenis: riba fadhl dan riba nasi’ah, dan ahli ilmu (para ulama) telah bersepakat akan keharaman keduanya.”Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak pernah menantang perang kepada seseorang kecuali bagi mereka yang terus-menerus bermuamalah dengan riba setelah datangnya peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَالِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Ibnu Katsir dalam tafsirnya membawakan tentang sebab turunnya ayat di atas. Yaitu, ayat ini turun kepada Bani ‘Amr bin ‘Umair dari Tsaqif dan Bani Al-Mughirah dari Bani Makhzum. Di antara kedua suku tersebut dahulu terdapat transaksi riba jahiliah. Ketika Islam datang dan mereka masuk Islam, Tsaqif pun menuntut agar dapat mengambil (sisa riba) tersebut dari mereka (Bani Al-Mughirah). (Tafsir Ibnu Katsir surah Al-Baqarah ayat 278-279)Kemudian mereka pun bermusyawarah, Bani Al-Mughirah berkata, “Kami tidak akan membayar riba di dalam Islam.” Maka ‘Attab bin Asid (wakil gubernur Mekkah) menuliskan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat di atas.Mereka berkata, “Kami semua bertobat kepada Allah, dan kami tinggalkan sisa-sisa dari riba.” Mereka pun meninggalkan seluruhnya.Sehingga ini merupakan ancaman yang begitu keras bagi orang-orang yang terus berkelanjutan dalam riba, tenggelam dalam riba, dan terus menikmatinya setelah datangnya peringatan. Yaitu, tantangan perang dari Allah Ta’ala secara langsung.Bahkan terdapat atsar dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, beliau berkata,يُقَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِآكِلِ الرِّبَا: خُذْ سِلَاحَكَ لِلْحَرْبِ. ثُمَّ قَرَأَ: ﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾“Dikatakan pada hari kiamat kelak kepada orang-orang yang mengharamkan riba, ‘Ambillah senjatamu untuk berperang (dengan Allah).’ Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)Tidak cukup sampai di situ, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa riba termasuk dari tujuh hal yang membinasakan. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اجتَنِبوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ. قيل: يا رَسولَ اللهِ، وما هُنَّ؟ قال: الشِّركُ باللهِ، والسِّحرُ، وقَتْلُ النَّفسِ التي حرَّم اللهُ إلَّا بالحَقِّ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليَتيمِ، والتوَلِّي يومَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ الغافِلاتِ المُؤمِناتِ“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Apa saja, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita baik-baik (suci), yang lalai (dari tuduhan), lagi beriman (dengan tuduhan zina).” (Muttafaqun ‘alaih)Bahkan riba termasuk dari dosa besar yang paling besar. Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الربا ثلاثةٌ وسبعونَ بابًا ، وأيسرُها مثلُ أنْ ينكِحَ الرجلُ أمَّهُ ، و إِنَّ أربى الرِّبا عرضُ الرجلِ المسلمِ“Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling besar (paling keji) adalah (merusak) kehormatan diri seorang Muslim.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Bahkan tidak tanggung-tanggung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan para pemakan riba dan orang-orang yang ikut serta dan membantu dalam transaksi riba dengan doa agar mereka dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, لَعَنَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقالَ: هُمْ سَوَاءٌ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, yang menulisnya, dan kedua saksinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka semua sama.” (HR. Muslim)Demikianlah di antara dalil yang menjelaskan tentang haramnya riba dengan sejelas-jelasnya. Disertai dengan ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang masih memakan riba, padahal ilmu telah sampai kepadanya.Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dan keluarga kita dari memakan harta yang haram, dan juga semoga Allah menjauhkan kita semua dari riba. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Depok, 22 Jumadal Ula 1447/ 12 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Muamalat Al-Maaliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamur Al-Muthiriy dan Tafsir Ibnu Katsir.
Pada seri sebelumnya, kita telah membahas tentang definisi riba. Mengetahui hukum riba itu sendiri tentunya tidak kalah penting, agar suatu hal yang mungkin masih samar-samar bagi sebagian kaum muslimin akan jelas terlihat antara yang halal dan haram.Manfaatnya, ketika halal, maka dapat (boleh) dikerjakan; dan ketika haram, maka dijauhi. Sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang telah mengetahui hukum riba itu sendiri, namun masih sulit untuk meninggalkannya. “Kalau tidak makan riba, keluarga saya mau makan apa?” “Saya tau riba itu haram, tapi apakah Anda bisa memberi saya makan?” Dan statement-statement yang lainnya.Barangkali hal itu berangkat dari pengetahuan tentang riba yang masih sebatas kulitnya saja, atau hanya desas-desus semata yang terdengar dari sebagian orang yang menyampaikan. Sehingga dengan terpaksa statement tersebut harus keluar.Hukum riba dalam IslamPerlu diketahui bahwa ahli fikih bersepakat bahwa hukum riba adalah haram. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni,الرِّبَا عَلَى ضَرْبَيْنِ: رِبَا الفَضْل وَرِبَا النَّسِيْئَة وَأَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى تَحْرِيْمِهِمَا“Riba ada dua jenis: riba fadhl dan riba nasi’ah, dan ahli ilmu (para ulama) telah bersepakat akan keharaman keduanya.”Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak pernah menantang perang kepada seseorang kecuali bagi mereka yang terus-menerus bermuamalah dengan riba setelah datangnya peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَالِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Ibnu Katsir dalam tafsirnya membawakan tentang sebab turunnya ayat di atas. Yaitu, ayat ini turun kepada Bani ‘Amr bin ‘Umair dari Tsaqif dan Bani Al-Mughirah dari Bani Makhzum. Di antara kedua suku tersebut dahulu terdapat transaksi riba jahiliah. Ketika Islam datang dan mereka masuk Islam, Tsaqif pun menuntut agar dapat mengambil (sisa riba) tersebut dari mereka (Bani Al-Mughirah). (Tafsir Ibnu Katsir surah Al-Baqarah ayat 278-279)Kemudian mereka pun bermusyawarah, Bani Al-Mughirah berkata, “Kami tidak akan membayar riba di dalam Islam.” Maka ‘Attab bin Asid (wakil gubernur Mekkah) menuliskan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat di atas.Mereka berkata, “Kami semua bertobat kepada Allah, dan kami tinggalkan sisa-sisa dari riba.” Mereka pun meninggalkan seluruhnya.Sehingga ini merupakan ancaman yang begitu keras bagi orang-orang yang terus berkelanjutan dalam riba, tenggelam dalam riba, dan terus menikmatinya setelah datangnya peringatan. Yaitu, tantangan perang dari Allah Ta’ala secara langsung.Bahkan terdapat atsar dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, beliau berkata,يُقَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِآكِلِ الرِّبَا: خُذْ سِلَاحَكَ لِلْحَرْبِ. ثُمَّ قَرَأَ: ﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾“Dikatakan pada hari kiamat kelak kepada orang-orang yang mengharamkan riba, ‘Ambillah senjatamu untuk berperang (dengan Allah).’ Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)Tidak cukup sampai di situ, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa riba termasuk dari tujuh hal yang membinasakan. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اجتَنِبوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ. قيل: يا رَسولَ اللهِ، وما هُنَّ؟ قال: الشِّركُ باللهِ، والسِّحرُ، وقَتْلُ النَّفسِ التي حرَّم اللهُ إلَّا بالحَقِّ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليَتيمِ، والتوَلِّي يومَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ الغافِلاتِ المُؤمِناتِ“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Apa saja, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita baik-baik (suci), yang lalai (dari tuduhan), lagi beriman (dengan tuduhan zina).” (Muttafaqun ‘alaih)Bahkan riba termasuk dari dosa besar yang paling besar. Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الربا ثلاثةٌ وسبعونَ بابًا ، وأيسرُها مثلُ أنْ ينكِحَ الرجلُ أمَّهُ ، و إِنَّ أربى الرِّبا عرضُ الرجلِ المسلمِ“Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling besar (paling keji) adalah (merusak) kehormatan diri seorang Muslim.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Bahkan tidak tanggung-tanggung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan para pemakan riba dan orang-orang yang ikut serta dan membantu dalam transaksi riba dengan doa agar mereka dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, لَعَنَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقالَ: هُمْ سَوَاءٌ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, yang menulisnya, dan kedua saksinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka semua sama.” (HR. Muslim)Demikianlah di antara dalil yang menjelaskan tentang haramnya riba dengan sejelas-jelasnya. Disertai dengan ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang masih memakan riba, padahal ilmu telah sampai kepadanya.Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dan keluarga kita dari memakan harta yang haram, dan juga semoga Allah menjauhkan kita semua dari riba. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Depok, 22 Jumadal Ula 1447/ 12 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Muamalat Al-Maaliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamur Al-Muthiriy dan Tafsir Ibnu Katsir.


Pada seri sebelumnya, kita telah membahas tentang definisi riba. Mengetahui hukum riba itu sendiri tentunya tidak kalah penting, agar suatu hal yang mungkin masih samar-samar bagi sebagian kaum muslimin akan jelas terlihat antara yang halal dan haram.Manfaatnya, ketika halal, maka dapat (boleh) dikerjakan; dan ketika haram, maka dijauhi. Sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang telah mengetahui hukum riba itu sendiri, namun masih sulit untuk meninggalkannya. “Kalau tidak makan riba, keluarga saya mau makan apa?” “Saya tau riba itu haram, tapi apakah Anda bisa memberi saya makan?” Dan statement-statement yang lainnya.Barangkali hal itu berangkat dari pengetahuan tentang riba yang masih sebatas kulitnya saja, atau hanya desas-desus semata yang terdengar dari sebagian orang yang menyampaikan. Sehingga dengan terpaksa statement tersebut harus keluar.Hukum riba dalam IslamPerlu diketahui bahwa ahli fikih bersepakat bahwa hukum riba adalah haram. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni,الرِّبَا عَلَى ضَرْبَيْنِ: رِبَا الفَضْل وَرِبَا النَّسِيْئَة وَأَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى تَحْرِيْمِهِمَا“Riba ada dua jenis: riba fadhl dan riba nasi’ah, dan ahli ilmu (para ulama) telah bersepakat akan keharaman keduanya.”Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak pernah menantang perang kepada seseorang kecuali bagi mereka yang terus-menerus bermuamalah dengan riba setelah datangnya peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَالِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Ibnu Katsir dalam tafsirnya membawakan tentang sebab turunnya ayat di atas. Yaitu, ayat ini turun kepada Bani ‘Amr bin ‘Umair dari Tsaqif dan Bani Al-Mughirah dari Bani Makhzum. Di antara kedua suku tersebut dahulu terdapat transaksi riba jahiliah. Ketika Islam datang dan mereka masuk Islam, Tsaqif pun menuntut agar dapat mengambil (sisa riba) tersebut dari mereka (Bani Al-Mughirah). (Tafsir Ibnu Katsir surah Al-Baqarah ayat 278-279)Kemudian mereka pun bermusyawarah, Bani Al-Mughirah berkata, “Kami tidak akan membayar riba di dalam Islam.” Maka ‘Attab bin Asid (wakil gubernur Mekkah) menuliskan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat di atas.Mereka berkata, “Kami semua bertobat kepada Allah, dan kami tinggalkan sisa-sisa dari riba.” Mereka pun meninggalkan seluruhnya.Sehingga ini merupakan ancaman yang begitu keras bagi orang-orang yang terus berkelanjutan dalam riba, tenggelam dalam riba, dan terus menikmatinya setelah datangnya peringatan. Yaitu, tantangan perang dari Allah Ta’ala secara langsung.Bahkan terdapat atsar dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, beliau berkata,يُقَالُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِآكِلِ الرِّبَا: خُذْ سِلَاحَكَ لِلْحَرْبِ. ثُمَّ قَرَأَ: ﴿فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾“Dikatakan pada hari kiamat kelak kepada orang-orang yang mengharamkan riba, ‘Ambillah senjatamu untuk berperang (dengan Allah).’ Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan firman Allah Ta’ala, ‘Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)Tidak cukup sampai di situ, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa riba termasuk dari tujuh hal yang membinasakan. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اجتَنِبوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ. قيل: يا رَسولَ اللهِ، وما هُنَّ؟ قال: الشِّركُ باللهِ، والسِّحرُ، وقَتْلُ النَّفسِ التي حرَّم اللهُ إلَّا بالحَقِّ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليَتيمِ، والتوَلِّي يومَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَناتِ الغافِلاتِ المُؤمِناتِ“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Apa saja, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita baik-baik (suci), yang lalai (dari tuduhan), lagi beriman (dengan tuduhan zina).” (Muttafaqun ‘alaih)Bahkan riba termasuk dari dosa besar yang paling besar. Dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الربا ثلاثةٌ وسبعونَ بابًا ، وأيسرُها مثلُ أنْ ينكِحَ الرجلُ أمَّهُ ، و إِنَّ أربى الرِّبا عرضُ الرجلِ المسلمِ“Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling besar (paling keji) adalah (merusak) kehormatan diri seorang Muslim.” (HR. Al-Hakim dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Bahkan tidak tanggung-tanggung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan para pemakan riba dan orang-orang yang ikut serta dan membantu dalam transaksi riba dengan doa agar mereka dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, لَعَنَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقالَ: هُمْ سَوَاءٌ.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, yang menulisnya, dan kedua saksinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka semua sama.” (HR. Muslim)Demikianlah di antara dalil yang menjelaskan tentang haramnya riba dengan sejelas-jelasnya. Disertai dengan ancaman dan hukuman bagi orang-orang yang masih memakan riba, padahal ilmu telah sampai kepadanya.Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dan keluarga kita dari memakan harta yang haram, dan juga semoga Allah menjauhkan kita semua dari riba. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 1 Lanjut ke bagian 3***Depok, 22 Jumadal Ula 1447/ 12 November 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Muamalat Al-Maaliyah Al-Muyassar, karya Dr. Abdurrahman bin Hamur Al-Muthiriy dan Tafsir Ibnu Katsir.

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 27): Fi‘il Mudhori’ Mu‘tal Akhir

Daftar Isi TogglePendahuluanPengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirHukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)KesimpulanPendahuluanPembahasan ini merupakan kelanjutan dari bab i‘rab yang menggunakan tanda cabang (bukan tanda asli seperti dhammah, fathah, atau kasrah). Setelah sebelumnya dibahas al-amtsilah al-khomsah, kini kita akan membahas bentuk fi‘il  lainnya yang juga di-i‘rab dengan tanda cabang, yaitu fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir (kata kerja mudhori’) (sekarang/akan datang) yang diakhiri huruf illat (huruf cacat), seperti alif, waw, atau yaa’.Pengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirIbnu Hisyam mengatakan, fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat. Ketika fi‘il tersebut dalam keadaan majzum, maka huruf illat di akhirnya dihapus. Beliau memberi contoh:لَمْ يَغْزُ“Belum berperang.” وَلَمْ يَخْشَ“Belum takut.”وَلَمْ يَرْمِ“Dan belum melempar.”Fi‘il  jenis ini merupakan bab ketujuh dalam kategori kata yang tidak di-i‘rab dengan tanda asli, tetapi menggunakan tanda cabang.Pembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirFi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir terbagi menjadi tiga macam berdasarkan huruf akhirnya:Pertama, yang diakhiri huruf waw, seperti:يَدْعُو“Ia berdoa.”Kedua, yang diakhiri huruf alif, seperti:يَخْشَى“Ia takut.”Ketiga, yang diakhiri huruf yaa’, seperti:يَرْمِي“Ia melempar.”Hukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir akan marfu’ apabila tidak didahului oleh amil nashab (huruf yang menyebabkan nashab) atau amil jazm (huruf yang menyebabkan jazm). Tanda rafa’-nya adalah dhammah muqaddarah (dhammah yang dikira-kira), yang tidak tampak karena ada penghalang pada huruf akhirnya.Contohnya adalah:يَنْهَى الإِسْلَامُ عَنِ الْكَذِبِ“Islam melarang berbohong.”Kata يَنْهَى  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada uzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Contoh lainnya adalah:اَلْمُؤْمِنُ يَدْعُو إِلَى الإِسْلَامِ بِأَخْلَاقِهِ“Orang mukmin menyeru kepada Islam dengan akhlaknya.”Kata يَدْعُو  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas waw, karena harakat tidak tampak disebabkan tsiql (beratnya pengucapan).Demikian pula:اَلْعَاقِلُ يَهْتَدِي بِنُصْحِ الْمُجَرِّبِينَ“Orang yang berakal mendapat petunjuk dengan nasihat orang berpengalaman.”Kata يَهْتَدِي juga marfu’ dengan dhammah muqaddarah di atas yaa’. Faktor yang mengahalangi harakat dhommah pada akhir kata tersebut adalah tsiql (beratnya pengucapan).Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Fi‘il  mudhori’ menjadi manshub apabila didahului oleh huruf nashab seperti لَنْ (lan).Tanda nashab-nya adalah fathah muqaddarah (fathah yang dikira-kira) bila berakhir dengan alif, dan fathah dzahirah (fathah tampak) bila berakhir dengan waw atau yaa’.Pertama, fi‘il yang diakhiri alif (fathah muqaddarah):لَنْ يَسْعَى الْعَاقِلُ فِيمَا يَضُرُّهُ“Orang berakal tidak akan berusaha dalam hal yang merugikannya.”Kata يَسْعَى manshub dengan fathah muqaddarah di atas huruf alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada udzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Kedua, fi‘il yang diakhiri waw (fathah dzahirah):لَنْ يَدْعُوَ الْمُؤْمِنُ إِلَّا رَبَّهُ“Orang mukmin tidak akan berdoa kecuali kepada Rabnya.”Kata يَدْعُوَ manshub karena didahului lan, dengan tanda fathah dzahirah (dimunculkan).Ketiga, fi‘il yang diakhiri yaa’ (fathah dzahirah):لَنْ يَرْتَقِيَ الْحَسُودُ“Orang yang iri tidak akan naik derajat.”Kata يَرْتَقِيَ manshub dengan tanda fathah dzahirah.Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)Apabila fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir didahului oleh huruf jazm, seperti لَمْ (lam) atau لَا النَّاهِيَة (laa nahiyah), maka tanda jazm-nya adalah hazf harf al-‘illah (dihapusnya huruf illat di akhir kata).Contohnya:لَا تَنْسَ وَعْدَكَ“Janganlah engkau lupa janjimu.”Kata تَنْسَ adalah fi‘il  mudhori’ majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus alif di akhir kata). Asalnya ada huruf alif pada akhir kata tersebut. Disebabkan didahului huruf laa nahiyah.Contoh lain:لَا تَدْعُ غَيْرَ اللّٰهِ“Jangan berdoa kepada selain Allah.”Kata تَدْعُ majzum dengan dihapus huruf waw di akhirnya.Dan juga:لَمْ يَهْتَدِ النَّاسُ إِلَّا بِهٰذَا الدِّينِ“Manusia tidak mendapat petunjuk kecuali dengan agama ini.”Kata يَهْتَدِ majzum dengan menghapus huruf yaa’ di akhirnya.KesimpulanFi‘il mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat (alif, waw, atau yaa’).Pertama, marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah;Kedua, manshub dengan tanda fathah muqaddarah (jika diakhiri alif) atau fathah dzahirah (jika diakhiri waw/yaa’);Ketiga, majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus huruf illat di akhir kata).Fi‘il jenis ini tidak di-i‘rab dengan tanda asli sebagaimana fi‘il lain pada umumnya. Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan bentuk kata sangat bergantung pada huruf terakhir dan posisi gramatikalnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 26***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 27): Fi‘il Mudhori’ Mu‘tal Akhir

Daftar Isi TogglePendahuluanPengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirHukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)KesimpulanPendahuluanPembahasan ini merupakan kelanjutan dari bab i‘rab yang menggunakan tanda cabang (bukan tanda asli seperti dhammah, fathah, atau kasrah). Setelah sebelumnya dibahas al-amtsilah al-khomsah, kini kita akan membahas bentuk fi‘il  lainnya yang juga di-i‘rab dengan tanda cabang, yaitu fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir (kata kerja mudhori’) (sekarang/akan datang) yang diakhiri huruf illat (huruf cacat), seperti alif, waw, atau yaa’.Pengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirIbnu Hisyam mengatakan, fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat. Ketika fi‘il tersebut dalam keadaan majzum, maka huruf illat di akhirnya dihapus. Beliau memberi contoh:لَمْ يَغْزُ“Belum berperang.” وَلَمْ يَخْشَ“Belum takut.”وَلَمْ يَرْمِ“Dan belum melempar.”Fi‘il  jenis ini merupakan bab ketujuh dalam kategori kata yang tidak di-i‘rab dengan tanda asli, tetapi menggunakan tanda cabang.Pembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirFi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir terbagi menjadi tiga macam berdasarkan huruf akhirnya:Pertama, yang diakhiri huruf waw, seperti:يَدْعُو“Ia berdoa.”Kedua, yang diakhiri huruf alif, seperti:يَخْشَى“Ia takut.”Ketiga, yang diakhiri huruf yaa’, seperti:يَرْمِي“Ia melempar.”Hukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir akan marfu’ apabila tidak didahului oleh amil nashab (huruf yang menyebabkan nashab) atau amil jazm (huruf yang menyebabkan jazm). Tanda rafa’-nya adalah dhammah muqaddarah (dhammah yang dikira-kira), yang tidak tampak karena ada penghalang pada huruf akhirnya.Contohnya adalah:يَنْهَى الإِسْلَامُ عَنِ الْكَذِبِ“Islam melarang berbohong.”Kata يَنْهَى  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada uzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Contoh lainnya adalah:اَلْمُؤْمِنُ يَدْعُو إِلَى الإِسْلَامِ بِأَخْلَاقِهِ“Orang mukmin menyeru kepada Islam dengan akhlaknya.”Kata يَدْعُو  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas waw, karena harakat tidak tampak disebabkan tsiql (beratnya pengucapan).Demikian pula:اَلْعَاقِلُ يَهْتَدِي بِنُصْحِ الْمُجَرِّبِينَ“Orang yang berakal mendapat petunjuk dengan nasihat orang berpengalaman.”Kata يَهْتَدِي juga marfu’ dengan dhammah muqaddarah di atas yaa’. Faktor yang mengahalangi harakat dhommah pada akhir kata tersebut adalah tsiql (beratnya pengucapan).Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Fi‘il  mudhori’ menjadi manshub apabila didahului oleh huruf nashab seperti لَنْ (lan).Tanda nashab-nya adalah fathah muqaddarah (fathah yang dikira-kira) bila berakhir dengan alif, dan fathah dzahirah (fathah tampak) bila berakhir dengan waw atau yaa’.Pertama, fi‘il yang diakhiri alif (fathah muqaddarah):لَنْ يَسْعَى الْعَاقِلُ فِيمَا يَضُرُّهُ“Orang berakal tidak akan berusaha dalam hal yang merugikannya.”Kata يَسْعَى manshub dengan fathah muqaddarah di atas huruf alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada udzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Kedua, fi‘il yang diakhiri waw (fathah dzahirah):لَنْ يَدْعُوَ الْمُؤْمِنُ إِلَّا رَبَّهُ“Orang mukmin tidak akan berdoa kecuali kepada Rabnya.”Kata يَدْعُوَ manshub karena didahului lan, dengan tanda fathah dzahirah (dimunculkan).Ketiga, fi‘il yang diakhiri yaa’ (fathah dzahirah):لَنْ يَرْتَقِيَ الْحَسُودُ“Orang yang iri tidak akan naik derajat.”Kata يَرْتَقِيَ manshub dengan tanda fathah dzahirah.Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)Apabila fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir didahului oleh huruf jazm, seperti لَمْ (lam) atau لَا النَّاهِيَة (laa nahiyah), maka tanda jazm-nya adalah hazf harf al-‘illah (dihapusnya huruf illat di akhir kata).Contohnya:لَا تَنْسَ وَعْدَكَ“Janganlah engkau lupa janjimu.”Kata تَنْسَ adalah fi‘il  mudhori’ majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus alif di akhir kata). Asalnya ada huruf alif pada akhir kata tersebut. Disebabkan didahului huruf laa nahiyah.Contoh lain:لَا تَدْعُ غَيْرَ اللّٰهِ“Jangan berdoa kepada selain Allah.”Kata تَدْعُ majzum dengan dihapus huruf waw di akhirnya.Dan juga:لَمْ يَهْتَدِ النَّاسُ إِلَّا بِهٰذَا الدِّينِ“Manusia tidak mendapat petunjuk kecuali dengan agama ini.”Kata يَهْتَدِ majzum dengan menghapus huruf yaa’ di akhirnya.KesimpulanFi‘il mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat (alif, waw, atau yaa’).Pertama, marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah;Kedua, manshub dengan tanda fathah muqaddarah (jika diakhiri alif) atau fathah dzahirah (jika diakhiri waw/yaa’);Ketiga, majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus huruf illat di akhir kata).Fi‘il jenis ini tidak di-i‘rab dengan tanda asli sebagaimana fi‘il lain pada umumnya. Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan bentuk kata sangat bergantung pada huruf terakhir dan posisi gramatikalnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 26***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePendahuluanPengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirHukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)KesimpulanPendahuluanPembahasan ini merupakan kelanjutan dari bab i‘rab yang menggunakan tanda cabang (bukan tanda asli seperti dhammah, fathah, atau kasrah). Setelah sebelumnya dibahas al-amtsilah al-khomsah, kini kita akan membahas bentuk fi‘il  lainnya yang juga di-i‘rab dengan tanda cabang, yaitu fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir (kata kerja mudhori’) (sekarang/akan datang) yang diakhiri huruf illat (huruf cacat), seperti alif, waw, atau yaa’.Pengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirIbnu Hisyam mengatakan, fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat. Ketika fi‘il tersebut dalam keadaan majzum, maka huruf illat di akhirnya dihapus. Beliau memberi contoh:لَمْ يَغْزُ“Belum berperang.” وَلَمْ يَخْشَ“Belum takut.”وَلَمْ يَرْمِ“Dan belum melempar.”Fi‘il  jenis ini merupakan bab ketujuh dalam kategori kata yang tidak di-i‘rab dengan tanda asli, tetapi menggunakan tanda cabang.Pembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirFi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir terbagi menjadi tiga macam berdasarkan huruf akhirnya:Pertama, yang diakhiri huruf waw, seperti:يَدْعُو“Ia berdoa.”Kedua, yang diakhiri huruf alif, seperti:يَخْشَى“Ia takut.”Ketiga, yang diakhiri huruf yaa’, seperti:يَرْمِي“Ia melempar.”Hukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir akan marfu’ apabila tidak didahului oleh amil nashab (huruf yang menyebabkan nashab) atau amil jazm (huruf yang menyebabkan jazm). Tanda rafa’-nya adalah dhammah muqaddarah (dhammah yang dikira-kira), yang tidak tampak karena ada penghalang pada huruf akhirnya.Contohnya adalah:يَنْهَى الإِسْلَامُ عَنِ الْكَذِبِ“Islam melarang berbohong.”Kata يَنْهَى  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada uzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Contoh lainnya adalah:اَلْمُؤْمِنُ يَدْعُو إِلَى الإِسْلَامِ بِأَخْلَاقِهِ“Orang mukmin menyeru kepada Islam dengan akhlaknya.”Kata يَدْعُو  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas waw, karena harakat tidak tampak disebabkan tsiql (beratnya pengucapan).Demikian pula:اَلْعَاقِلُ يَهْتَدِي بِنُصْحِ الْمُجَرِّبِينَ“Orang yang berakal mendapat petunjuk dengan nasihat orang berpengalaman.”Kata يَهْتَدِي juga marfu’ dengan dhammah muqaddarah di atas yaa’. Faktor yang mengahalangi harakat dhommah pada akhir kata tersebut adalah tsiql (beratnya pengucapan).Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Fi‘il  mudhori’ menjadi manshub apabila didahului oleh huruf nashab seperti لَنْ (lan).Tanda nashab-nya adalah fathah muqaddarah (fathah yang dikira-kira) bila berakhir dengan alif, dan fathah dzahirah (fathah tampak) bila berakhir dengan waw atau yaa’.Pertama, fi‘il yang diakhiri alif (fathah muqaddarah):لَنْ يَسْعَى الْعَاقِلُ فِيمَا يَضُرُّهُ“Orang berakal tidak akan berusaha dalam hal yang merugikannya.”Kata يَسْعَى manshub dengan fathah muqaddarah di atas huruf alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada udzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Kedua, fi‘il yang diakhiri waw (fathah dzahirah):لَنْ يَدْعُوَ الْمُؤْمِنُ إِلَّا رَبَّهُ“Orang mukmin tidak akan berdoa kecuali kepada Rabnya.”Kata يَدْعُوَ manshub karena didahului lan, dengan tanda fathah dzahirah (dimunculkan).Ketiga, fi‘il yang diakhiri yaa’ (fathah dzahirah):لَنْ يَرْتَقِيَ الْحَسُودُ“Orang yang iri tidak akan naik derajat.”Kata يَرْتَقِيَ manshub dengan tanda fathah dzahirah.Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)Apabila fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir didahului oleh huruf jazm, seperti لَمْ (lam) atau لَا النَّاهِيَة (laa nahiyah), maka tanda jazm-nya adalah hazf harf al-‘illah (dihapusnya huruf illat di akhir kata).Contohnya:لَا تَنْسَ وَعْدَكَ“Janganlah engkau lupa janjimu.”Kata تَنْسَ adalah fi‘il  mudhori’ majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus alif di akhir kata). Asalnya ada huruf alif pada akhir kata tersebut. Disebabkan didahului huruf laa nahiyah.Contoh lain:لَا تَدْعُ غَيْرَ اللّٰهِ“Jangan berdoa kepada selain Allah.”Kata تَدْعُ majzum dengan dihapus huruf waw di akhirnya.Dan juga:لَمْ يَهْتَدِ النَّاسُ إِلَّا بِهٰذَا الدِّينِ“Manusia tidak mendapat petunjuk kecuali dengan agama ini.”Kata يَهْتَدِ majzum dengan menghapus huruf yaa’ di akhirnya.KesimpulanFi‘il mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat (alif, waw, atau yaa’).Pertama, marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah;Kedua, manshub dengan tanda fathah muqaddarah (jika diakhiri alif) atau fathah dzahirah (jika diakhiri waw/yaa’);Ketiga, majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus huruf illat di akhir kata).Fi‘il jenis ini tidak di-i‘rab dengan tanda asli sebagaimana fi‘il lain pada umumnya. Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan bentuk kata sangat bergantung pada huruf terakhir dan posisi gramatikalnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 26***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePendahuluanPengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirHukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)KesimpulanPendahuluanPembahasan ini merupakan kelanjutan dari bab i‘rab yang menggunakan tanda cabang (bukan tanda asli seperti dhammah, fathah, atau kasrah). Setelah sebelumnya dibahas al-amtsilah al-khomsah, kini kita akan membahas bentuk fi‘il  lainnya yang juga di-i‘rab dengan tanda cabang, yaitu fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir (kata kerja mudhori’) (sekarang/akan datang) yang diakhiri huruf illat (huruf cacat), seperti alif, waw, atau yaa’.Pengertian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirIbnu Hisyam mengatakan, fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat. Ketika fi‘il tersebut dalam keadaan majzum, maka huruf illat di akhirnya dihapus. Beliau memberi contoh:لَمْ يَغْزُ“Belum berperang.” وَلَمْ يَخْشَ“Belum takut.”وَلَمْ يَرْمِ“Dan belum melempar.”Fi‘il  jenis ini merupakan bab ketujuh dalam kategori kata yang tidak di-i‘rab dengan tanda asli, tetapi menggunakan tanda cabang.Pembagian fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirFi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir terbagi menjadi tiga macam berdasarkan huruf akhirnya:Pertama, yang diakhiri huruf waw, seperti:يَدْعُو“Ia berdoa.”Kedua, yang diakhiri huruf alif, seperti:يَخْشَى“Ia takut.”Ketiga, yang diakhiri huruf yaa’, seperti:يَرْمِي“Ia melempar.”Hukum i‘rab fi‘il mudhori’ mu‘tal akhirPertama, fi‘il mudhori’ marfu’ (مرفوع)Fi‘il mudhori’ mu‘tal akhir akan marfu’ apabila tidak didahului oleh amil nashab (huruf yang menyebabkan nashab) atau amil jazm (huruf yang menyebabkan jazm). Tanda rafa’-nya adalah dhammah muqaddarah (dhammah yang dikira-kira), yang tidak tampak karena ada penghalang pada huruf akhirnya.Contohnya adalah:يَنْهَى الإِسْلَامُ عَنِ الْكَذِبِ“Islam melarang berbohong.”Kata يَنْهَى  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada uzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Contoh lainnya adalah:اَلْمُؤْمِنُ يَدْعُو إِلَى الإِسْلَامِ بِأَخْلَاقِهِ“Orang mukmin menyeru kepada Islam dengan akhlaknya.”Kata يَدْعُو  marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah di atas waw, karena harakat tidak tampak disebabkan tsiql (beratnya pengucapan).Demikian pula:اَلْعَاقِلُ يَهْتَدِي بِنُصْحِ الْمُجَرِّبِينَ“Orang yang berakal mendapat petunjuk dengan nasihat orang berpengalaman.”Kata يَهْتَدِي juga marfu’ dengan dhammah muqaddarah di atas yaa’. Faktor yang mengahalangi harakat dhommah pada akhir kata tersebut adalah tsiql (beratnya pengucapan).Kedua, fi‘il mudhori’ manshub (منصوب)Fi‘il  mudhori’ menjadi manshub apabila didahului oleh huruf nashab seperti لَنْ (lan).Tanda nashab-nya adalah fathah muqaddarah (fathah yang dikira-kira) bila berakhir dengan alif, dan fathah dzahirah (fathah tampak) bila berakhir dengan waw atau yaa’.Pertama, fi‘il yang diakhiri alif (fathah muqaddarah):لَنْ يَسْعَى الْعَاقِلُ فِيمَا يَضُرُّهُ“Orang berakal tidak akan berusaha dalam hal yang merugikannya.”Kata يَسْعَى manshub dengan fathah muqaddarah di atas huruf alif. Alasan yang menyebabkan huruf terakhir tidak diberi harakat dikarenakan ada udzur, yaitu alif di akhir tidak bisa menerima harakat.Kedua, fi‘il yang diakhiri waw (fathah dzahirah):لَنْ يَدْعُوَ الْمُؤْمِنُ إِلَّا رَبَّهُ“Orang mukmin tidak akan berdoa kecuali kepada Rabnya.”Kata يَدْعُوَ manshub karena didahului lan, dengan tanda fathah dzahirah (dimunculkan).Ketiga, fi‘il yang diakhiri yaa’ (fathah dzahirah):لَنْ يَرْتَقِيَ الْحَسُودُ“Orang yang iri tidak akan naik derajat.”Kata يَرْتَقِيَ manshub dengan tanda fathah dzahirah.Ketiga, fi‘il mudhori’ majzum (مجزوم)Apabila fi‘il  mudhori’ mu‘tal akhir didahului oleh huruf jazm, seperti لَمْ (lam) atau لَا النَّاهِيَة (laa nahiyah), maka tanda jazm-nya adalah hazf harf al-‘illah (dihapusnya huruf illat di akhir kata).Contohnya:لَا تَنْسَ وَعْدَكَ“Janganlah engkau lupa janjimu.”Kata تَنْسَ adalah fi‘il  mudhori’ majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus alif di akhir kata). Asalnya ada huruf alif pada akhir kata tersebut. Disebabkan didahului huruf laa nahiyah.Contoh lain:لَا تَدْعُ غَيْرَ اللّٰهِ“Jangan berdoa kepada selain Allah.”Kata تَدْعُ majzum dengan dihapus huruf waw di akhirnya.Dan juga:لَمْ يَهْتَدِ النَّاسُ إِلَّا بِهٰذَا الدِّينِ“Manusia tidak mendapat petunjuk kecuali dengan agama ini.”Kata يَهْتَدِ majzum dengan menghapus huruf yaa’ di akhirnya.KesimpulanFi‘il mudhori’ mu‘tal akhir adalah fi‘il mudhori’ yang huruf akhirnya termasuk huruf illat (alif, waw, atau yaa’).Pertama, marfu’ dengan tanda dhammah muqaddarah;Kedua, manshub dengan tanda fathah muqaddarah (jika diakhiri alif) atau fathah dzahirah (jika diakhiri waw/yaa’);Ketiga, majzum dengan tanda hazf harf al-‘illah (menghapus huruf illat di akhir kata).Fi‘il jenis ini tidak di-i‘rab dengan tanda asli sebagaimana fi‘il lain pada umumnya. Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan bentuk kata sangat bergantung pada huruf terakhir dan posisi gramatikalnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 26***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Imam Ahmad Sering Baca Doa Ini agar Tak Pernah Minta-Minta kepada Manusia – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Suatu faedah dari doa Imam Ahmad.Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hambal, berkata: “Dulu aku sering mendengar ayahku berdoa di akhir shalatnya: ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.’” Ini adalah doa agung yang sering dibaca oleh Imam Ahmad. “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” Orang muslim—alhamdulillah—dilindungi oleh Allah Ta’ala dari bersujud kepada selain-Nya. Maka, hendaklah seorang muslim juga menjaga wajahnya agar tidak meminta-minta kepada selain Allah. Bahkan jika ia memerlukan sesuatu, tetap menghindari meminta kepada manusia. Karena meminta-minta mengandung kehinaan. Tangan di atas—yaitu tangan yang memberi—lebih baik daripada tangan di bawah—yaitu tangan yang menerima. Oleh sebab itu, beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaiat kepada beliau untuk tidak meminta apa pun kepada manusia. Bahkan ketika cambuk salah seorang dari mereka terjatuh, ia turun sendiri dari tunggangannya untuk mengambilnya, tanpa meminta seorang pun mengambilkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.” Alangkah baiknya jika seorang muslim menjadikan hal ini sebagai prinsip hidupnya: tidak meminta apa pun kepada manusia, melainkan bersandar kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala, tanpa meminta apa pun kepada makhluk. Hendaklah seseorang menumbuhkan rasa kehormatan diri dalam jiwanya. Ada sebagian orang yang punya penyakit suka meminta-minta kepada orang lain, bahkan terkadang ia sebenarnya kaya atau kondisinya lapang, namun tetap saja meminta harta orang lain. Meminta-minta harta manusia adalah perbuatan yang tercela. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak kekayaannya, maka sesungguhnya ia meminta bara api; terserah, sedikit atau banyak yang ia ambil.” Oleh sebab itu, doa ini sangat agung, selayaknya bagi setiap muslim untuk menjaganya: “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” ===== فَائِدَةٌ مِنْ أَدْعِيَةِ الإِمَامِ أَحْمَدَ قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ كُنْتُ أَسْمَعُ أَبِي كَثِيرًا يَقُولُ فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ كَانَ يَدْعُو بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ كَثِيرًا اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ فَالْمُسْلِمُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ صَانَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي كَذَلِكَ أَنْ يَصُونَ الْمُسْلِمُ وَجْهَهُ عَنْ أَنْ يَسْأَلَ غَيْرَ اللَّهِ حَتَّى لَوْ احْتَاجَ لَا يَسْأَلُ غَيْرَهُ إِنَّ السُّؤَالَ فِيهِ ذِلَّةٌ وَالْيَدُ الْعُلْيَا وَهِيَ الْمُعْطِيَةُ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَهِيَ الْآخِذَةُ وَلِهَذَا بَايَعَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَايَعُوهُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا فَكَانَ سَوْطُ أَحَدِهِمْ يَسْقُطُ فَيَنْزِلُ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَيَأْخُذُهُ وَلَا يَطْلُبُ مِنْ أَحَدٍ أَنْ يُنَاوِلَهُ إِيَّاهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ الْمُسْلِمُ هَذَا مَبْدَأً لَهُ فِي الْحَيَاةِ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَلْجَأُ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَنْبَغِي أَنْ يُرْبِيَ الْإِنْسَانُ مَعَانِيَ الْعِزَّةِ فِي نَفْسِهِ بَعْضُ النَّاسِ مُبْتَلًى مُبْتَلًى بِسُؤَالِ غَيْرِهِ وَرُبَّمَا يَكُونُ غَنِيًّا أَوْ أَحْوَالُهُ مَيْسُورَةً وَمَعَ ذَلِكَ تَجِدُهُ يَسْأَلُ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ فَسُؤَالُ النَّاسِ أَمْوَالَهُمْ مَذْمُومٌ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ سَأَلَ أَمْوَالَ النَّاسِ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ وَلِهَذَا فَهَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ

Imam Ahmad Sering Baca Doa Ini agar Tak Pernah Minta-Minta kepada Manusia – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Suatu faedah dari doa Imam Ahmad.Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hambal, berkata: “Dulu aku sering mendengar ayahku berdoa di akhir shalatnya: ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.’” Ini adalah doa agung yang sering dibaca oleh Imam Ahmad. “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” Orang muslim—alhamdulillah—dilindungi oleh Allah Ta’ala dari bersujud kepada selain-Nya. Maka, hendaklah seorang muslim juga menjaga wajahnya agar tidak meminta-minta kepada selain Allah. Bahkan jika ia memerlukan sesuatu, tetap menghindari meminta kepada manusia. Karena meminta-minta mengandung kehinaan. Tangan di atas—yaitu tangan yang memberi—lebih baik daripada tangan di bawah—yaitu tangan yang menerima. Oleh sebab itu, beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaiat kepada beliau untuk tidak meminta apa pun kepada manusia. Bahkan ketika cambuk salah seorang dari mereka terjatuh, ia turun sendiri dari tunggangannya untuk mengambilnya, tanpa meminta seorang pun mengambilkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.” Alangkah baiknya jika seorang muslim menjadikan hal ini sebagai prinsip hidupnya: tidak meminta apa pun kepada manusia, melainkan bersandar kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala, tanpa meminta apa pun kepada makhluk. Hendaklah seseorang menumbuhkan rasa kehormatan diri dalam jiwanya. Ada sebagian orang yang punya penyakit suka meminta-minta kepada orang lain, bahkan terkadang ia sebenarnya kaya atau kondisinya lapang, namun tetap saja meminta harta orang lain. Meminta-minta harta manusia adalah perbuatan yang tercela. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak kekayaannya, maka sesungguhnya ia meminta bara api; terserah, sedikit atau banyak yang ia ambil.” Oleh sebab itu, doa ini sangat agung, selayaknya bagi setiap muslim untuk menjaganya: “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” ===== فَائِدَةٌ مِنْ أَدْعِيَةِ الإِمَامِ أَحْمَدَ قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ كُنْتُ أَسْمَعُ أَبِي كَثِيرًا يَقُولُ فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ كَانَ يَدْعُو بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ كَثِيرًا اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ فَالْمُسْلِمُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ صَانَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي كَذَلِكَ أَنْ يَصُونَ الْمُسْلِمُ وَجْهَهُ عَنْ أَنْ يَسْأَلَ غَيْرَ اللَّهِ حَتَّى لَوْ احْتَاجَ لَا يَسْأَلُ غَيْرَهُ إِنَّ السُّؤَالَ فِيهِ ذِلَّةٌ وَالْيَدُ الْعُلْيَا وَهِيَ الْمُعْطِيَةُ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَهِيَ الْآخِذَةُ وَلِهَذَا بَايَعَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَايَعُوهُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا فَكَانَ سَوْطُ أَحَدِهِمْ يَسْقُطُ فَيَنْزِلُ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَيَأْخُذُهُ وَلَا يَطْلُبُ مِنْ أَحَدٍ أَنْ يُنَاوِلَهُ إِيَّاهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ الْمُسْلِمُ هَذَا مَبْدَأً لَهُ فِي الْحَيَاةِ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَلْجَأُ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَنْبَغِي أَنْ يُرْبِيَ الْإِنْسَانُ مَعَانِيَ الْعِزَّةِ فِي نَفْسِهِ بَعْضُ النَّاسِ مُبْتَلًى مُبْتَلًى بِسُؤَالِ غَيْرِهِ وَرُبَّمَا يَكُونُ غَنِيًّا أَوْ أَحْوَالُهُ مَيْسُورَةً وَمَعَ ذَلِكَ تَجِدُهُ يَسْأَلُ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ فَسُؤَالُ النَّاسِ أَمْوَالَهُمْ مَذْمُومٌ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ سَأَلَ أَمْوَالَ النَّاسِ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ وَلِهَذَا فَهَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ
Suatu faedah dari doa Imam Ahmad.Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hambal, berkata: “Dulu aku sering mendengar ayahku berdoa di akhir shalatnya: ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.’” Ini adalah doa agung yang sering dibaca oleh Imam Ahmad. “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” Orang muslim—alhamdulillah—dilindungi oleh Allah Ta’ala dari bersujud kepada selain-Nya. Maka, hendaklah seorang muslim juga menjaga wajahnya agar tidak meminta-minta kepada selain Allah. Bahkan jika ia memerlukan sesuatu, tetap menghindari meminta kepada manusia. Karena meminta-minta mengandung kehinaan. Tangan di atas—yaitu tangan yang memberi—lebih baik daripada tangan di bawah—yaitu tangan yang menerima. Oleh sebab itu, beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaiat kepada beliau untuk tidak meminta apa pun kepada manusia. Bahkan ketika cambuk salah seorang dari mereka terjatuh, ia turun sendiri dari tunggangannya untuk mengambilnya, tanpa meminta seorang pun mengambilkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.” Alangkah baiknya jika seorang muslim menjadikan hal ini sebagai prinsip hidupnya: tidak meminta apa pun kepada manusia, melainkan bersandar kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala, tanpa meminta apa pun kepada makhluk. Hendaklah seseorang menumbuhkan rasa kehormatan diri dalam jiwanya. Ada sebagian orang yang punya penyakit suka meminta-minta kepada orang lain, bahkan terkadang ia sebenarnya kaya atau kondisinya lapang, namun tetap saja meminta harta orang lain. Meminta-minta harta manusia adalah perbuatan yang tercela. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak kekayaannya, maka sesungguhnya ia meminta bara api; terserah, sedikit atau banyak yang ia ambil.” Oleh sebab itu, doa ini sangat agung, selayaknya bagi setiap muslim untuk menjaganya: “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” ===== فَائِدَةٌ مِنْ أَدْعِيَةِ الإِمَامِ أَحْمَدَ قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ كُنْتُ أَسْمَعُ أَبِي كَثِيرًا يَقُولُ فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ كَانَ يَدْعُو بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ كَثِيرًا اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ فَالْمُسْلِمُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ صَانَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي كَذَلِكَ أَنْ يَصُونَ الْمُسْلِمُ وَجْهَهُ عَنْ أَنْ يَسْأَلَ غَيْرَ اللَّهِ حَتَّى لَوْ احْتَاجَ لَا يَسْأَلُ غَيْرَهُ إِنَّ السُّؤَالَ فِيهِ ذِلَّةٌ وَالْيَدُ الْعُلْيَا وَهِيَ الْمُعْطِيَةُ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَهِيَ الْآخِذَةُ وَلِهَذَا بَايَعَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَايَعُوهُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا فَكَانَ سَوْطُ أَحَدِهِمْ يَسْقُطُ فَيَنْزِلُ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَيَأْخُذُهُ وَلَا يَطْلُبُ مِنْ أَحَدٍ أَنْ يُنَاوِلَهُ إِيَّاهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ الْمُسْلِمُ هَذَا مَبْدَأً لَهُ فِي الْحَيَاةِ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَلْجَأُ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَنْبَغِي أَنْ يُرْبِيَ الْإِنْسَانُ مَعَانِيَ الْعِزَّةِ فِي نَفْسِهِ بَعْضُ النَّاسِ مُبْتَلًى مُبْتَلًى بِسُؤَالِ غَيْرِهِ وَرُبَّمَا يَكُونُ غَنِيًّا أَوْ أَحْوَالُهُ مَيْسُورَةً وَمَعَ ذَلِكَ تَجِدُهُ يَسْأَلُ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ فَسُؤَالُ النَّاسِ أَمْوَالَهُمْ مَذْمُومٌ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ سَأَلَ أَمْوَالَ النَّاسِ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ وَلِهَذَا فَهَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ


Suatu faedah dari doa Imam Ahmad.Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hambal, berkata: “Dulu aku sering mendengar ayahku berdoa di akhir shalatnya: ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.’” Ini adalah doa agung yang sering dibaca oleh Imam Ahmad. “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” Orang muslim—alhamdulillah—dilindungi oleh Allah Ta’ala dari bersujud kepada selain-Nya. Maka, hendaklah seorang muslim juga menjaga wajahnya agar tidak meminta-minta kepada selain Allah. Bahkan jika ia memerlukan sesuatu, tetap menghindari meminta kepada manusia. Karena meminta-minta mengandung kehinaan. Tangan di atas—yaitu tangan yang memberi—lebih baik daripada tangan di bawah—yaitu tangan yang menerima. Oleh sebab itu, beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaiat kepada beliau untuk tidak meminta apa pun kepada manusia. Bahkan ketika cambuk salah seorang dari mereka terjatuh, ia turun sendiri dari tunggangannya untuk mengambilnya, tanpa meminta seorang pun mengambilkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.” Alangkah baiknya jika seorang muslim menjadikan hal ini sebagai prinsip hidupnya: tidak meminta apa pun kepada manusia, melainkan bersandar kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala, tanpa meminta apa pun kepada makhluk. Hendaklah seseorang menumbuhkan rasa kehormatan diri dalam jiwanya. Ada sebagian orang yang punya penyakit suka meminta-minta kepada orang lain, bahkan terkadang ia sebenarnya kaya atau kondisinya lapang, namun tetap saja meminta harta orang lain. Meminta-minta harta manusia adalah perbuatan yang tercela. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa meminta harta manusia untuk memperbanyak kekayaannya, maka sesungguhnya ia meminta bara api; terserah, sedikit atau banyak yang ia ambil.” Oleh sebab itu, doa ini sangat agung, selayaknya bagi setiap muslim untuk menjaganya: “Ya Allah, sebagaimana Engkau melindungi wajahku dari bersujud kepada selain Engkau, maka lindungi pula wajahku dari meminta-minta kepada selain Engkau.” ===== فَائِدَةٌ مِنْ أَدْعِيَةِ الإِمَامِ أَحْمَدَ قَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ كُنْتُ أَسْمَعُ أَبِي كَثِيرًا يَقُولُ فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ هَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ كَانَ يَدْعُو بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَدُ كَثِيرًا اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ فَالْمُسْلِمُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ صَانَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي كَذَلِكَ أَنْ يَصُونَ الْمُسْلِمُ وَجْهَهُ عَنْ أَنْ يَسْأَلَ غَيْرَ اللَّهِ حَتَّى لَوْ احْتَاجَ لَا يَسْأَلُ غَيْرَهُ إِنَّ السُّؤَالَ فِيهِ ذِلَّةٌ وَالْيَدُ الْعُلْيَا وَهِيَ الْمُعْطِيَةُ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَهِيَ الْآخِذَةُ وَلِهَذَا بَايَعَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَايَعُوهُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا فَكَانَ سَوْطُ أَحَدِهِمْ يَسْقُطُ فَيَنْزِلُ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَيَأْخُذُهُ وَلَا يَطْلُبُ مِنْ أَحَدٍ أَنْ يُنَاوِلَهُ إِيَّاهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ الْمُسْلِمُ هَذَا مَبْدَأً لَهُ فِي الْحَيَاةِ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَلْجَأُ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا يَنْبَغِي أَنْ يُرْبِيَ الْإِنْسَانُ مَعَانِيَ الْعِزَّةِ فِي نَفْسِهِ بَعْضُ النَّاسِ مُبْتَلًى مُبْتَلًى بِسُؤَالِ غَيْرِهِ وَرُبَّمَا يَكُونُ غَنِيًّا أَوْ أَحْوَالُهُ مَيْسُورَةً وَمَعَ ذَلِكَ تَجِدُهُ يَسْأَلُ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ فَسُؤَالُ النَّاسِ أَمْوَالَهُمْ مَذْمُومٌ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ سَأَلَ أَمْوَالَ النَّاسِ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ وَلِهَذَا فَهَذَا الدُّعَاءُ دُعَاءٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ اللَّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِي عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ فَصُنْ وَجْهِي عَنِ الْمَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ

Kedudukan Mulia Abu Hurairah dan Bantahan Terhadap Para Pencelanya

Daftar Isi ToggleProfil ringkas Abu HurairahKedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaBantahan terhadap para pencela Abu HurairahKesimpulanAbu Hurairah adalah sahabat yang meriwayatkan hadis paling banyak. Ada lebih dari 5000 hadis yang tersebar di Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan banyak kitab-kitab hadis lainnya. Posisi Abu Hurairah sebagai perawi hadis memiliki kedudukan yang penting. Beliau adalah sahabat yang sudah diakui keagungan budi pekertinya oleh para ulama sejak dahulu hingga sekarang. Berbagai celaan dan tuduhan dilontarkan kepada beliau untuk merendahkan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Namun demikian, berbagai celaan dan tuduhan tersebut tidak berdasar dan sudah dijelaskan oleh para ulama mengenai bantahan terhadap syubhat-syubhat terkait pribadi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Profil ringkas Abu Hurairah Para ulama ahli sejarah berbeda  pendapat tentang nama asli Abu Hurairah. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Pendapat lain menyatakan, namanya adalah Abdusy Syams. Ada lagi yang menyebut namanya adalah Abdu ‘Amr. Sementara ulama yang lain merincinya, di masa jahiliyah namanya Abdusy Syams; dan di masa Islam menjadi ‘Abdullah. Terdapat pula beberapa pendapat yang lain. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pendapat yang paling masyhur menyebutkan namanya adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy. Nama pada masa jahiliyah adalah Abdusy Syams bin Shakhr, kemudian Rasulullah mengubah namanya menjadi ‘Abdurrahman. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengaruh besar pada kepribadian Abu Hurairah. Sejak datang ke Madinah hingga Nabi wafat, Abu Hurairah selalu mengiringi Nabi. Wajar beliau menjadi salah seorang penghafal hadis yang paling banyak di tengah para sahabat. Dalam kondisi apapun, Abu Hurairah selalu bersama Nabi, baik saat kelaparan atau saat kenyang. Di mana ada Rasulullah, di situ ada Abu Hurairah. Jadi, walaupun kebersamaannya singkat dengan Rasulullah, Abu Hurairah mampu mencapai tingkatakan yang tidak dicapai oleh sahabat lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada beliau,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ“Wahai Abu Hurairah, jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau akan jadi seorang yang paling taat. Jadilah seorang yang qanaah (merasa cukup), niscaya engkau akan jadi seorang yang paling bersyukur. Apa yang engkau suka mendapatkannya, sukai juga untuk orang lain, niscaya engkau menjadi seorang beriman yang sejati. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau jadi muslim sejati. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217, shahih)Rasulullah pernah memuji Abu Hurairah yang gemar bertanya. Suatu hari, Abu Hurairah bertanya tentang syafaat, kemudian Rasulullah memujinya, karena ia adalah orang yang pertama kali bertanya tentang syafaat. Hal ini disebutkan dalam hadis,وعنه -أيضًا- أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ”.“Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena kulihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang berbahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari no. 6201)Setidaknya, ada empat faktor yang menjadikan Abu Hurairah menjadi orang yang memiliki hafalan kuat:Beliau aktif dalam majelis Rasul sampai akhir hayat beliau, dan selalu meluangkan waktu untuk Rasul.Beliau giat dalam mencari ilmu, sampai Rasulullah berdoa untuknya agar tidak mudah lupa.Beliau belajar kepada sahabat senior dalam segala bidang, khususnya hadis, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, ‘Aisyah, dan para sahabat lainnya.Abu Hurairah hidup sampai 47 tahun setelah Nabi wafat, hal ini yang menjadikannya banyak hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh generasi sahabat. (Ahmad Khoirur Rozikin, 2018)Setelah Rasulullah wafat, Abu Hurairah menjadi rujukan bagi para sahabat lainnya yang ingin bertanya tentang hadis. Tentu saja ini karena semasa hidup Rasulullah, Abu Hurairah bergairah ingin mendalami hadis Nabi dengan bertanya kepada sumber aslinya, yaitu Rasulullah sendiri. Abu Hurairah wafat di usia 78 tahun, pada tahun 57 H. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Kedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaAl-Hakim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit dan menanyakan sesuatu kepadanya, dan dia berkata, “Abu Hurairah ada di dekatmu.”Suatu hari, ketika saya sedang duduk bersama Abu Hurairah dan si fulan di masjid, kami berdoa kepada Allah dan berzikir mengingat Rabb kami. Rasulullah keluar kepada kami sampai beliau duduk bersama kami, namun kami tetap diam, lalu beliau berkata, “Kembalilah ke tempatmu tadi.”Zaid berkata, “Maka aku dan sahabatku berdoa di belakang Abu Hurairah, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan doa-doa kami.” Kemudian Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang diminta kedua sahabatku ini, dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak akan terlupakan.”Rasulullah bersabda, “Amin.” Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan kami juga memohon Tuhan atas ilmu yang tidak akan terlupakan.“ Nabi pun menjawab, “Permintaanmu telah didahului oleh Abu Hurairah Ad-Dausy.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3: 508)Di antara pujian kepada beliau adalah pujian dari kalangan para sahabat Nabi sendiri. Thalhah bin ‘Ubaidilah berkata, “Aku tidak meragukan bahwa Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak aku dengar dari beliau.“ Ibnu ‘Umar berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih berilmu dengan hadis yang beliau sampaikan.” (As-Siba’i)Ibnu Hajar menyebutkan banyak para ulama, baik sejak masa sahabat maupun sesudahnya, yang memberikan pujian kepada Abu Hurariah, di antaranya adalah:Al-Amsha berkata dari hadis Abu Shalih bahwa dia berkata, “Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang paling banyak hafalannya.“Asy-Syafi’i berkata, “Abu Hurairah mempunyai ingatan yang paling baik terhadap siapapun yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Al-Bukhari berkata, “Sekitar delapan ratus ulama meriwayatkan darinya, dan dia memiliki ingatan terbaik dari orang-orang yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Abu Nua’im berkata, “Beliau adalah sahabat yang paling mengetahui berita Rasulullah, dan Rasulullah mendoakan Abu Hurairah agar dia disayangi oleh orang-orang yang beriman.“ (Al-‘Asqalani, 1415 H)As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu: Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, Anas bin Malik, dan ‘Aisyah. Adapun sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara mereka adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis sebanyak 5374 hadis, yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim sebanyak 325 hadis, diriwayatkan oleh Bukhari saja sebanyak 93 hadis, dan diriwayatkan oleh Muslim saja sebanyak 189 hadis. Terdapat lebih dari 800 orang yang meriwayatkan hadis dari beliau dan beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadis. (As-Suyuthi, 1431 H)Di antara seluruh para sahabat, Abu Hurairah adalah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Hal ini dilatarbelakangi hal-hal sebagai berikut:Abu Hurairah tidak malu untuk bertanya dan mengemukakan persoalan yang dihadapinya kepada Nabi.Abu Hurairah terus menerus berada dekat dengan Nabi, bahkan selama Nabi mengunjungi istri-istri dan sahabat-sahabatnya.Abu Hurairah termasuk orang yang memiliki daya ingat yang baik, seperti sering terdapat pada orang-orang Badui yang buta huruf.Nabi telah melindungi Abu Hurairah dari lupa, yaitu berkat doa Nabi kepada beliau.Abu Hurairah pernah berdoa untuk mendapatkan ilmu yang tidak akan dilupakannya, dan Nabi mengamininya.Abu Hurairah mengoleksi hadis untuk disebarkan, sementara sahabat lain hanya untuk memperbincangkannya ketika ada keperluan saja.Abu Hurairah juga meriwayatkan hadiṡ Nabi dari sahabat-sahabat yang lain. (Solikhudin & Khamim, 2021)Bantahan terhadap para pencela Abu HurairahMenurut para ahli sejarah muslim, tidak ada sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi lebih banyak dari Abu Hurairah. Hal demikian menimbulkan pertanyaan tentang seberapa hebat Abu Hurairah sehingga dapat melakukan pekerjaan demikian dahsyatnya. Maka menjadi wajar apabila serangan-serangan terhadapnya pun dilancarkan oleh musuh musuh Islam sejak zaman dahulu hingga zaman ini.Di antara mereka mempertanyakan tentang keabsahan hadis dari Abu Hurairah karena beliau hanya sebentar membersamai Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam. Padahal banyak sahabat lain yang lebih lama bersama Nabi, namun tidak meriwayatkan hadis sebanyak Abu Hurairah. Hal ini bisa kita jawab sebagai berikut:Meskipun singkat, beliau senantiasa membersamai Rasulullah, tidak sibuk dengan hal lain sebagaimana orang-orang pada umumnya.Tidak adanya banyak riwayat dari para sahabat lain yang lebih lama mendampingi Rasulullah, di antara penyebabnya adalah karena sebagian dari mereka meninggal dunia lebih dulu; sebagian dari mereka meninggal dunia pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagian lagi meninggal tak lama setelahnya; sebagian dari mereka sedikit yang meriwayatkan dan tidak berbicara kecuali diminta; dan ada di antara mereka menjadi khalifah seperti Ubayy bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, dan lain-lain radhiyallahu ‘anhum.Beliau tidak membatasai hadisnya dari apa yang didengar dari Nabi, namun beliau juga menyampaikan apa yang didengar dari selain Nabi.Doa Nabi kepada beliau sehingga beliau memliki hafalan yang kuat. (Sulaiman, 2007)Di antara syubhat lainnya, mereka mengatakan Abu Hurairah tidak pernah menulis hadis, bahkan dia menyandarkan riwayatnya dari ingatannya saja. Bantahannya, bahwa hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Abu Hurairah sendiri, karena ini merupakan perbuatan setiap perawi hadis dari kalangan sahabat, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hanya beliau sendiri yang mempunyai lembaran yang yang dia gunakan untuk menulis hadis. Oleh karena itu, merupakan hal yang sudah dimaklumi dan diketahui bagi para peneliti hadis bahwa mayoritas sahabat pada saat itu meriwayatkan hadis dari hafalan mereka.Ada pula yang meragukan kredibilitas Abu Hurairah karena menganggap bahwa nama dan silsilah beliau tidak jelas. Mereka mengatakan bahwa Abu Hurairah tidak diketahui silsilahnya, sehingga orang berbeda pendapat mengenai namanya dan nama ayahnya, yang menunjukkan tidak jelasnya nasab beliau. Bantahan terhadap syubhat ini:Sejak kapan perbedaan nama seseorang akan mempermalukan atau meniadakan keadilannya? Cukuplah kita mengenal beliau dari nama panggilannya, sebagaimana kita mengenal Abu Bakar, Abu Ubaidah, Abu Dujana al-Ansari, dan Abu Darda yang terkenal dengan nama panggilannya, sedangkan nama aslinya tidak diketahui oleh banyak orang.Kita belum pernah mendengar bahwa silsilah dan nasab mengunggulkan atau melemahkan pemiliknya dalam perbandingan ilmiah.Abu Hurairah terkenal dengan nama panggilannya sejak kecil, dan semua orang mengenalnya dengan nama itu, lalu apa masalahnya jika dia dikenal dengan nama panggilannya dan namanya berbeda?!Perbedaan nama merupakan hal yang wajar, tidak hanya pada diri Abu Hurairah saja, melainkan pada setiap orang yang sejak kecil sudah mengenal nama panggilannya.Para ahli ilmu lebih banyak berbeda pendapat mengenai nama dan silsilah pada orang lain selain Abu Hurairah, dan mereka tidak melihat ada cacat atau kecacatan pada diri mereka karenanya. (Al-Khatib)KesimpulanAbu Hurairah merupakan salah satu sahabat mulia yang paling banyak meriwayatkan hadis. Nabi pernah memuji dan mendoakannya secara khusus. Para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama sesudahnya banyak memberikan pujian kepada beliau yang menunjukkan keutamaan dan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Berbagai syubhat dilontarkan untuk merendahkan kredibilitas Abu Hurairah oleh kaum orientalis dan musuh-musuh Islam. Namun para ulama sudah membantah berbagai celaan dan tuduhan yang keliru kepada Abu Hurairah tersebut.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penyusun: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Ahmad Khoirur Rozikin. (2018). Analisis Kritis terhadap Isu Negatif Abu Hurarirah dan Ibnu Abbas dalam Israiliyyat. Al Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, 1: 27-47.Al-‘Asqalani, A. (1415 H). Al-Ishaabah fii Tamyiizi ash-Shahabah. Beirut: Daarul Kutub ‘Ilmiyyah.Al-Khatiib, M. ‘. (n.d.). Abu Hurairah Raawiyatul Islam. Maktabah Wahbah 1982.As-Siba’i, M. (n.d.). As-Sunnatu wa Makanatuhaa fii at Tasyrii’ al-Islamy. Maktabah al-Islamy.As-Suyuuthi, J. (1431 H). Tadriibur Raawy fii Syarhi Taqrribu An Nawawy. Beirut: Daar Ibnul Jauzy.Solikhudin, M., & Khamim, K. (2021). Kontroversi dan Kritik Terhadap Hadis Riwayat Abu Hurairah. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 9(1): 1-16.Sulaiman, H. (2007). Abu Hurairah Shaahibu Rasulillah. Kuwait: Maktabah Al-Kuwait Al-Wathaniyyah.

Kedudukan Mulia Abu Hurairah dan Bantahan Terhadap Para Pencelanya

Daftar Isi ToggleProfil ringkas Abu HurairahKedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaBantahan terhadap para pencela Abu HurairahKesimpulanAbu Hurairah adalah sahabat yang meriwayatkan hadis paling banyak. Ada lebih dari 5000 hadis yang tersebar di Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan banyak kitab-kitab hadis lainnya. Posisi Abu Hurairah sebagai perawi hadis memiliki kedudukan yang penting. Beliau adalah sahabat yang sudah diakui keagungan budi pekertinya oleh para ulama sejak dahulu hingga sekarang. Berbagai celaan dan tuduhan dilontarkan kepada beliau untuk merendahkan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Namun demikian, berbagai celaan dan tuduhan tersebut tidak berdasar dan sudah dijelaskan oleh para ulama mengenai bantahan terhadap syubhat-syubhat terkait pribadi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Profil ringkas Abu Hurairah Para ulama ahli sejarah berbeda  pendapat tentang nama asli Abu Hurairah. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Pendapat lain menyatakan, namanya adalah Abdusy Syams. Ada lagi yang menyebut namanya adalah Abdu ‘Amr. Sementara ulama yang lain merincinya, di masa jahiliyah namanya Abdusy Syams; dan di masa Islam menjadi ‘Abdullah. Terdapat pula beberapa pendapat yang lain. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pendapat yang paling masyhur menyebutkan namanya adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy. Nama pada masa jahiliyah adalah Abdusy Syams bin Shakhr, kemudian Rasulullah mengubah namanya menjadi ‘Abdurrahman. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengaruh besar pada kepribadian Abu Hurairah. Sejak datang ke Madinah hingga Nabi wafat, Abu Hurairah selalu mengiringi Nabi. Wajar beliau menjadi salah seorang penghafal hadis yang paling banyak di tengah para sahabat. Dalam kondisi apapun, Abu Hurairah selalu bersama Nabi, baik saat kelaparan atau saat kenyang. Di mana ada Rasulullah, di situ ada Abu Hurairah. Jadi, walaupun kebersamaannya singkat dengan Rasulullah, Abu Hurairah mampu mencapai tingkatakan yang tidak dicapai oleh sahabat lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada beliau,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ“Wahai Abu Hurairah, jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau akan jadi seorang yang paling taat. Jadilah seorang yang qanaah (merasa cukup), niscaya engkau akan jadi seorang yang paling bersyukur. Apa yang engkau suka mendapatkannya, sukai juga untuk orang lain, niscaya engkau menjadi seorang beriman yang sejati. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau jadi muslim sejati. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217, shahih)Rasulullah pernah memuji Abu Hurairah yang gemar bertanya. Suatu hari, Abu Hurairah bertanya tentang syafaat, kemudian Rasulullah memujinya, karena ia adalah orang yang pertama kali bertanya tentang syafaat. Hal ini disebutkan dalam hadis,وعنه -أيضًا- أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ”.“Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena kulihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang berbahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari no. 6201)Setidaknya, ada empat faktor yang menjadikan Abu Hurairah menjadi orang yang memiliki hafalan kuat:Beliau aktif dalam majelis Rasul sampai akhir hayat beliau, dan selalu meluangkan waktu untuk Rasul.Beliau giat dalam mencari ilmu, sampai Rasulullah berdoa untuknya agar tidak mudah lupa.Beliau belajar kepada sahabat senior dalam segala bidang, khususnya hadis, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, ‘Aisyah, dan para sahabat lainnya.Abu Hurairah hidup sampai 47 tahun setelah Nabi wafat, hal ini yang menjadikannya banyak hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh generasi sahabat. (Ahmad Khoirur Rozikin, 2018)Setelah Rasulullah wafat, Abu Hurairah menjadi rujukan bagi para sahabat lainnya yang ingin bertanya tentang hadis. Tentu saja ini karena semasa hidup Rasulullah, Abu Hurairah bergairah ingin mendalami hadis Nabi dengan bertanya kepada sumber aslinya, yaitu Rasulullah sendiri. Abu Hurairah wafat di usia 78 tahun, pada tahun 57 H. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Kedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaAl-Hakim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit dan menanyakan sesuatu kepadanya, dan dia berkata, “Abu Hurairah ada di dekatmu.”Suatu hari, ketika saya sedang duduk bersama Abu Hurairah dan si fulan di masjid, kami berdoa kepada Allah dan berzikir mengingat Rabb kami. Rasulullah keluar kepada kami sampai beliau duduk bersama kami, namun kami tetap diam, lalu beliau berkata, “Kembalilah ke tempatmu tadi.”Zaid berkata, “Maka aku dan sahabatku berdoa di belakang Abu Hurairah, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan doa-doa kami.” Kemudian Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang diminta kedua sahabatku ini, dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak akan terlupakan.”Rasulullah bersabda, “Amin.” Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan kami juga memohon Tuhan atas ilmu yang tidak akan terlupakan.“ Nabi pun menjawab, “Permintaanmu telah didahului oleh Abu Hurairah Ad-Dausy.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3: 508)Di antara pujian kepada beliau adalah pujian dari kalangan para sahabat Nabi sendiri. Thalhah bin ‘Ubaidilah berkata, “Aku tidak meragukan bahwa Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak aku dengar dari beliau.“ Ibnu ‘Umar berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih berilmu dengan hadis yang beliau sampaikan.” (As-Siba’i)Ibnu Hajar menyebutkan banyak para ulama, baik sejak masa sahabat maupun sesudahnya, yang memberikan pujian kepada Abu Hurariah, di antaranya adalah:Al-Amsha berkata dari hadis Abu Shalih bahwa dia berkata, “Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang paling banyak hafalannya.“Asy-Syafi’i berkata, “Abu Hurairah mempunyai ingatan yang paling baik terhadap siapapun yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Al-Bukhari berkata, “Sekitar delapan ratus ulama meriwayatkan darinya, dan dia memiliki ingatan terbaik dari orang-orang yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Abu Nua’im berkata, “Beliau adalah sahabat yang paling mengetahui berita Rasulullah, dan Rasulullah mendoakan Abu Hurairah agar dia disayangi oleh orang-orang yang beriman.“ (Al-‘Asqalani, 1415 H)As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu: Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, Anas bin Malik, dan ‘Aisyah. Adapun sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara mereka adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis sebanyak 5374 hadis, yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim sebanyak 325 hadis, diriwayatkan oleh Bukhari saja sebanyak 93 hadis, dan diriwayatkan oleh Muslim saja sebanyak 189 hadis. Terdapat lebih dari 800 orang yang meriwayatkan hadis dari beliau dan beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadis. (As-Suyuthi, 1431 H)Di antara seluruh para sahabat, Abu Hurairah adalah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Hal ini dilatarbelakangi hal-hal sebagai berikut:Abu Hurairah tidak malu untuk bertanya dan mengemukakan persoalan yang dihadapinya kepada Nabi.Abu Hurairah terus menerus berada dekat dengan Nabi, bahkan selama Nabi mengunjungi istri-istri dan sahabat-sahabatnya.Abu Hurairah termasuk orang yang memiliki daya ingat yang baik, seperti sering terdapat pada orang-orang Badui yang buta huruf.Nabi telah melindungi Abu Hurairah dari lupa, yaitu berkat doa Nabi kepada beliau.Abu Hurairah pernah berdoa untuk mendapatkan ilmu yang tidak akan dilupakannya, dan Nabi mengamininya.Abu Hurairah mengoleksi hadis untuk disebarkan, sementara sahabat lain hanya untuk memperbincangkannya ketika ada keperluan saja.Abu Hurairah juga meriwayatkan hadiṡ Nabi dari sahabat-sahabat yang lain. (Solikhudin & Khamim, 2021)Bantahan terhadap para pencela Abu HurairahMenurut para ahli sejarah muslim, tidak ada sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi lebih banyak dari Abu Hurairah. Hal demikian menimbulkan pertanyaan tentang seberapa hebat Abu Hurairah sehingga dapat melakukan pekerjaan demikian dahsyatnya. Maka menjadi wajar apabila serangan-serangan terhadapnya pun dilancarkan oleh musuh musuh Islam sejak zaman dahulu hingga zaman ini.Di antara mereka mempertanyakan tentang keabsahan hadis dari Abu Hurairah karena beliau hanya sebentar membersamai Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam. Padahal banyak sahabat lain yang lebih lama bersama Nabi, namun tidak meriwayatkan hadis sebanyak Abu Hurairah. Hal ini bisa kita jawab sebagai berikut:Meskipun singkat, beliau senantiasa membersamai Rasulullah, tidak sibuk dengan hal lain sebagaimana orang-orang pada umumnya.Tidak adanya banyak riwayat dari para sahabat lain yang lebih lama mendampingi Rasulullah, di antara penyebabnya adalah karena sebagian dari mereka meninggal dunia lebih dulu; sebagian dari mereka meninggal dunia pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagian lagi meninggal tak lama setelahnya; sebagian dari mereka sedikit yang meriwayatkan dan tidak berbicara kecuali diminta; dan ada di antara mereka menjadi khalifah seperti Ubayy bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, dan lain-lain radhiyallahu ‘anhum.Beliau tidak membatasai hadisnya dari apa yang didengar dari Nabi, namun beliau juga menyampaikan apa yang didengar dari selain Nabi.Doa Nabi kepada beliau sehingga beliau memliki hafalan yang kuat. (Sulaiman, 2007)Di antara syubhat lainnya, mereka mengatakan Abu Hurairah tidak pernah menulis hadis, bahkan dia menyandarkan riwayatnya dari ingatannya saja. Bantahannya, bahwa hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Abu Hurairah sendiri, karena ini merupakan perbuatan setiap perawi hadis dari kalangan sahabat, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hanya beliau sendiri yang mempunyai lembaran yang yang dia gunakan untuk menulis hadis. Oleh karena itu, merupakan hal yang sudah dimaklumi dan diketahui bagi para peneliti hadis bahwa mayoritas sahabat pada saat itu meriwayatkan hadis dari hafalan mereka.Ada pula yang meragukan kredibilitas Abu Hurairah karena menganggap bahwa nama dan silsilah beliau tidak jelas. Mereka mengatakan bahwa Abu Hurairah tidak diketahui silsilahnya, sehingga orang berbeda pendapat mengenai namanya dan nama ayahnya, yang menunjukkan tidak jelasnya nasab beliau. Bantahan terhadap syubhat ini:Sejak kapan perbedaan nama seseorang akan mempermalukan atau meniadakan keadilannya? Cukuplah kita mengenal beliau dari nama panggilannya, sebagaimana kita mengenal Abu Bakar, Abu Ubaidah, Abu Dujana al-Ansari, dan Abu Darda yang terkenal dengan nama panggilannya, sedangkan nama aslinya tidak diketahui oleh banyak orang.Kita belum pernah mendengar bahwa silsilah dan nasab mengunggulkan atau melemahkan pemiliknya dalam perbandingan ilmiah.Abu Hurairah terkenal dengan nama panggilannya sejak kecil, dan semua orang mengenalnya dengan nama itu, lalu apa masalahnya jika dia dikenal dengan nama panggilannya dan namanya berbeda?!Perbedaan nama merupakan hal yang wajar, tidak hanya pada diri Abu Hurairah saja, melainkan pada setiap orang yang sejak kecil sudah mengenal nama panggilannya.Para ahli ilmu lebih banyak berbeda pendapat mengenai nama dan silsilah pada orang lain selain Abu Hurairah, dan mereka tidak melihat ada cacat atau kecacatan pada diri mereka karenanya. (Al-Khatib)KesimpulanAbu Hurairah merupakan salah satu sahabat mulia yang paling banyak meriwayatkan hadis. Nabi pernah memuji dan mendoakannya secara khusus. Para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama sesudahnya banyak memberikan pujian kepada beliau yang menunjukkan keutamaan dan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Berbagai syubhat dilontarkan untuk merendahkan kredibilitas Abu Hurairah oleh kaum orientalis dan musuh-musuh Islam. Namun para ulama sudah membantah berbagai celaan dan tuduhan yang keliru kepada Abu Hurairah tersebut.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penyusun: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Ahmad Khoirur Rozikin. (2018). Analisis Kritis terhadap Isu Negatif Abu Hurarirah dan Ibnu Abbas dalam Israiliyyat. Al Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, 1: 27-47.Al-‘Asqalani, A. (1415 H). Al-Ishaabah fii Tamyiizi ash-Shahabah. Beirut: Daarul Kutub ‘Ilmiyyah.Al-Khatiib, M. ‘. (n.d.). Abu Hurairah Raawiyatul Islam. Maktabah Wahbah 1982.As-Siba’i, M. (n.d.). As-Sunnatu wa Makanatuhaa fii at Tasyrii’ al-Islamy. Maktabah al-Islamy.As-Suyuuthi, J. (1431 H). Tadriibur Raawy fii Syarhi Taqrribu An Nawawy. Beirut: Daar Ibnul Jauzy.Solikhudin, M., & Khamim, K. (2021). Kontroversi dan Kritik Terhadap Hadis Riwayat Abu Hurairah. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 9(1): 1-16.Sulaiman, H. (2007). Abu Hurairah Shaahibu Rasulillah. Kuwait: Maktabah Al-Kuwait Al-Wathaniyyah.
Daftar Isi ToggleProfil ringkas Abu HurairahKedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaBantahan terhadap para pencela Abu HurairahKesimpulanAbu Hurairah adalah sahabat yang meriwayatkan hadis paling banyak. Ada lebih dari 5000 hadis yang tersebar di Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan banyak kitab-kitab hadis lainnya. Posisi Abu Hurairah sebagai perawi hadis memiliki kedudukan yang penting. Beliau adalah sahabat yang sudah diakui keagungan budi pekertinya oleh para ulama sejak dahulu hingga sekarang. Berbagai celaan dan tuduhan dilontarkan kepada beliau untuk merendahkan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Namun demikian, berbagai celaan dan tuduhan tersebut tidak berdasar dan sudah dijelaskan oleh para ulama mengenai bantahan terhadap syubhat-syubhat terkait pribadi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Profil ringkas Abu Hurairah Para ulama ahli sejarah berbeda  pendapat tentang nama asli Abu Hurairah. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Pendapat lain menyatakan, namanya adalah Abdusy Syams. Ada lagi yang menyebut namanya adalah Abdu ‘Amr. Sementara ulama yang lain merincinya, di masa jahiliyah namanya Abdusy Syams; dan di masa Islam menjadi ‘Abdullah. Terdapat pula beberapa pendapat yang lain. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pendapat yang paling masyhur menyebutkan namanya adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy. Nama pada masa jahiliyah adalah Abdusy Syams bin Shakhr, kemudian Rasulullah mengubah namanya menjadi ‘Abdurrahman. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengaruh besar pada kepribadian Abu Hurairah. Sejak datang ke Madinah hingga Nabi wafat, Abu Hurairah selalu mengiringi Nabi. Wajar beliau menjadi salah seorang penghafal hadis yang paling banyak di tengah para sahabat. Dalam kondisi apapun, Abu Hurairah selalu bersama Nabi, baik saat kelaparan atau saat kenyang. Di mana ada Rasulullah, di situ ada Abu Hurairah. Jadi, walaupun kebersamaannya singkat dengan Rasulullah, Abu Hurairah mampu mencapai tingkatakan yang tidak dicapai oleh sahabat lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada beliau,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ“Wahai Abu Hurairah, jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau akan jadi seorang yang paling taat. Jadilah seorang yang qanaah (merasa cukup), niscaya engkau akan jadi seorang yang paling bersyukur. Apa yang engkau suka mendapatkannya, sukai juga untuk orang lain, niscaya engkau menjadi seorang beriman yang sejati. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau jadi muslim sejati. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217, shahih)Rasulullah pernah memuji Abu Hurairah yang gemar bertanya. Suatu hari, Abu Hurairah bertanya tentang syafaat, kemudian Rasulullah memujinya, karena ia adalah orang yang pertama kali bertanya tentang syafaat. Hal ini disebutkan dalam hadis,وعنه -أيضًا- أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ”.“Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena kulihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang berbahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari no. 6201)Setidaknya, ada empat faktor yang menjadikan Abu Hurairah menjadi orang yang memiliki hafalan kuat:Beliau aktif dalam majelis Rasul sampai akhir hayat beliau, dan selalu meluangkan waktu untuk Rasul.Beliau giat dalam mencari ilmu, sampai Rasulullah berdoa untuknya agar tidak mudah lupa.Beliau belajar kepada sahabat senior dalam segala bidang, khususnya hadis, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, ‘Aisyah, dan para sahabat lainnya.Abu Hurairah hidup sampai 47 tahun setelah Nabi wafat, hal ini yang menjadikannya banyak hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh generasi sahabat. (Ahmad Khoirur Rozikin, 2018)Setelah Rasulullah wafat, Abu Hurairah menjadi rujukan bagi para sahabat lainnya yang ingin bertanya tentang hadis. Tentu saja ini karena semasa hidup Rasulullah, Abu Hurairah bergairah ingin mendalami hadis Nabi dengan bertanya kepada sumber aslinya, yaitu Rasulullah sendiri. Abu Hurairah wafat di usia 78 tahun, pada tahun 57 H. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Kedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaAl-Hakim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit dan menanyakan sesuatu kepadanya, dan dia berkata, “Abu Hurairah ada di dekatmu.”Suatu hari, ketika saya sedang duduk bersama Abu Hurairah dan si fulan di masjid, kami berdoa kepada Allah dan berzikir mengingat Rabb kami. Rasulullah keluar kepada kami sampai beliau duduk bersama kami, namun kami tetap diam, lalu beliau berkata, “Kembalilah ke tempatmu tadi.”Zaid berkata, “Maka aku dan sahabatku berdoa di belakang Abu Hurairah, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan doa-doa kami.” Kemudian Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang diminta kedua sahabatku ini, dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak akan terlupakan.”Rasulullah bersabda, “Amin.” Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan kami juga memohon Tuhan atas ilmu yang tidak akan terlupakan.“ Nabi pun menjawab, “Permintaanmu telah didahului oleh Abu Hurairah Ad-Dausy.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3: 508)Di antara pujian kepada beliau adalah pujian dari kalangan para sahabat Nabi sendiri. Thalhah bin ‘Ubaidilah berkata, “Aku tidak meragukan bahwa Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak aku dengar dari beliau.“ Ibnu ‘Umar berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih berilmu dengan hadis yang beliau sampaikan.” (As-Siba’i)Ibnu Hajar menyebutkan banyak para ulama, baik sejak masa sahabat maupun sesudahnya, yang memberikan pujian kepada Abu Hurariah, di antaranya adalah:Al-Amsha berkata dari hadis Abu Shalih bahwa dia berkata, “Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang paling banyak hafalannya.“Asy-Syafi’i berkata, “Abu Hurairah mempunyai ingatan yang paling baik terhadap siapapun yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Al-Bukhari berkata, “Sekitar delapan ratus ulama meriwayatkan darinya, dan dia memiliki ingatan terbaik dari orang-orang yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Abu Nua’im berkata, “Beliau adalah sahabat yang paling mengetahui berita Rasulullah, dan Rasulullah mendoakan Abu Hurairah agar dia disayangi oleh orang-orang yang beriman.“ (Al-‘Asqalani, 1415 H)As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu: Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, Anas bin Malik, dan ‘Aisyah. Adapun sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara mereka adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis sebanyak 5374 hadis, yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim sebanyak 325 hadis, diriwayatkan oleh Bukhari saja sebanyak 93 hadis, dan diriwayatkan oleh Muslim saja sebanyak 189 hadis. Terdapat lebih dari 800 orang yang meriwayatkan hadis dari beliau dan beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadis. (As-Suyuthi, 1431 H)Di antara seluruh para sahabat, Abu Hurairah adalah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Hal ini dilatarbelakangi hal-hal sebagai berikut:Abu Hurairah tidak malu untuk bertanya dan mengemukakan persoalan yang dihadapinya kepada Nabi.Abu Hurairah terus menerus berada dekat dengan Nabi, bahkan selama Nabi mengunjungi istri-istri dan sahabat-sahabatnya.Abu Hurairah termasuk orang yang memiliki daya ingat yang baik, seperti sering terdapat pada orang-orang Badui yang buta huruf.Nabi telah melindungi Abu Hurairah dari lupa, yaitu berkat doa Nabi kepada beliau.Abu Hurairah pernah berdoa untuk mendapatkan ilmu yang tidak akan dilupakannya, dan Nabi mengamininya.Abu Hurairah mengoleksi hadis untuk disebarkan, sementara sahabat lain hanya untuk memperbincangkannya ketika ada keperluan saja.Abu Hurairah juga meriwayatkan hadiṡ Nabi dari sahabat-sahabat yang lain. (Solikhudin & Khamim, 2021)Bantahan terhadap para pencela Abu HurairahMenurut para ahli sejarah muslim, tidak ada sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi lebih banyak dari Abu Hurairah. Hal demikian menimbulkan pertanyaan tentang seberapa hebat Abu Hurairah sehingga dapat melakukan pekerjaan demikian dahsyatnya. Maka menjadi wajar apabila serangan-serangan terhadapnya pun dilancarkan oleh musuh musuh Islam sejak zaman dahulu hingga zaman ini.Di antara mereka mempertanyakan tentang keabsahan hadis dari Abu Hurairah karena beliau hanya sebentar membersamai Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam. Padahal banyak sahabat lain yang lebih lama bersama Nabi, namun tidak meriwayatkan hadis sebanyak Abu Hurairah. Hal ini bisa kita jawab sebagai berikut:Meskipun singkat, beliau senantiasa membersamai Rasulullah, tidak sibuk dengan hal lain sebagaimana orang-orang pada umumnya.Tidak adanya banyak riwayat dari para sahabat lain yang lebih lama mendampingi Rasulullah, di antara penyebabnya adalah karena sebagian dari mereka meninggal dunia lebih dulu; sebagian dari mereka meninggal dunia pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagian lagi meninggal tak lama setelahnya; sebagian dari mereka sedikit yang meriwayatkan dan tidak berbicara kecuali diminta; dan ada di antara mereka menjadi khalifah seperti Ubayy bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, dan lain-lain radhiyallahu ‘anhum.Beliau tidak membatasai hadisnya dari apa yang didengar dari Nabi, namun beliau juga menyampaikan apa yang didengar dari selain Nabi.Doa Nabi kepada beliau sehingga beliau memliki hafalan yang kuat. (Sulaiman, 2007)Di antara syubhat lainnya, mereka mengatakan Abu Hurairah tidak pernah menulis hadis, bahkan dia menyandarkan riwayatnya dari ingatannya saja. Bantahannya, bahwa hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Abu Hurairah sendiri, karena ini merupakan perbuatan setiap perawi hadis dari kalangan sahabat, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hanya beliau sendiri yang mempunyai lembaran yang yang dia gunakan untuk menulis hadis. Oleh karena itu, merupakan hal yang sudah dimaklumi dan diketahui bagi para peneliti hadis bahwa mayoritas sahabat pada saat itu meriwayatkan hadis dari hafalan mereka.Ada pula yang meragukan kredibilitas Abu Hurairah karena menganggap bahwa nama dan silsilah beliau tidak jelas. Mereka mengatakan bahwa Abu Hurairah tidak diketahui silsilahnya, sehingga orang berbeda pendapat mengenai namanya dan nama ayahnya, yang menunjukkan tidak jelasnya nasab beliau. Bantahan terhadap syubhat ini:Sejak kapan perbedaan nama seseorang akan mempermalukan atau meniadakan keadilannya? Cukuplah kita mengenal beliau dari nama panggilannya, sebagaimana kita mengenal Abu Bakar, Abu Ubaidah, Abu Dujana al-Ansari, dan Abu Darda yang terkenal dengan nama panggilannya, sedangkan nama aslinya tidak diketahui oleh banyak orang.Kita belum pernah mendengar bahwa silsilah dan nasab mengunggulkan atau melemahkan pemiliknya dalam perbandingan ilmiah.Abu Hurairah terkenal dengan nama panggilannya sejak kecil, dan semua orang mengenalnya dengan nama itu, lalu apa masalahnya jika dia dikenal dengan nama panggilannya dan namanya berbeda?!Perbedaan nama merupakan hal yang wajar, tidak hanya pada diri Abu Hurairah saja, melainkan pada setiap orang yang sejak kecil sudah mengenal nama panggilannya.Para ahli ilmu lebih banyak berbeda pendapat mengenai nama dan silsilah pada orang lain selain Abu Hurairah, dan mereka tidak melihat ada cacat atau kecacatan pada diri mereka karenanya. (Al-Khatib)KesimpulanAbu Hurairah merupakan salah satu sahabat mulia yang paling banyak meriwayatkan hadis. Nabi pernah memuji dan mendoakannya secara khusus. Para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama sesudahnya banyak memberikan pujian kepada beliau yang menunjukkan keutamaan dan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Berbagai syubhat dilontarkan untuk merendahkan kredibilitas Abu Hurairah oleh kaum orientalis dan musuh-musuh Islam. Namun para ulama sudah membantah berbagai celaan dan tuduhan yang keliru kepada Abu Hurairah tersebut.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penyusun: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Ahmad Khoirur Rozikin. (2018). Analisis Kritis terhadap Isu Negatif Abu Hurarirah dan Ibnu Abbas dalam Israiliyyat. Al Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, 1: 27-47.Al-‘Asqalani, A. (1415 H). Al-Ishaabah fii Tamyiizi ash-Shahabah. Beirut: Daarul Kutub ‘Ilmiyyah.Al-Khatiib, M. ‘. (n.d.). Abu Hurairah Raawiyatul Islam. Maktabah Wahbah 1982.As-Siba’i, M. (n.d.). As-Sunnatu wa Makanatuhaa fii at Tasyrii’ al-Islamy. Maktabah al-Islamy.As-Suyuuthi, J. (1431 H). Tadriibur Raawy fii Syarhi Taqrribu An Nawawy. Beirut: Daar Ibnul Jauzy.Solikhudin, M., & Khamim, K. (2021). Kontroversi dan Kritik Terhadap Hadis Riwayat Abu Hurairah. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 9(1): 1-16.Sulaiman, H. (2007). Abu Hurairah Shaahibu Rasulillah. Kuwait: Maktabah Al-Kuwait Al-Wathaniyyah.


Daftar Isi ToggleProfil ringkas Abu HurairahKedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaBantahan terhadap para pencela Abu HurairahKesimpulanAbu Hurairah adalah sahabat yang meriwayatkan hadis paling banyak. Ada lebih dari 5000 hadis yang tersebar di Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan banyak kitab-kitab hadis lainnya. Posisi Abu Hurairah sebagai perawi hadis memiliki kedudukan yang penting. Beliau adalah sahabat yang sudah diakui keagungan budi pekertinya oleh para ulama sejak dahulu hingga sekarang. Berbagai celaan dan tuduhan dilontarkan kepada beliau untuk merendahkan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Namun demikian, berbagai celaan dan tuduhan tersebut tidak berdasar dan sudah dijelaskan oleh para ulama mengenai bantahan terhadap syubhat-syubhat terkait pribadi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Profil ringkas Abu Hurairah Para ulama ahli sejarah berbeda  pendapat tentang nama asli Abu Hurairah. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Pendapat lain menyatakan, namanya adalah Abdusy Syams. Ada lagi yang menyebut namanya adalah Abdu ‘Amr. Sementara ulama yang lain merincinya, di masa jahiliyah namanya Abdusy Syams; dan di masa Islam menjadi ‘Abdullah. Terdapat pula beberapa pendapat yang lain. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pendapat yang paling masyhur menyebutkan namanya adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy. Nama pada masa jahiliyah adalah Abdusy Syams bin Shakhr, kemudian Rasulullah mengubah namanya menjadi ‘Abdurrahman. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengaruh besar pada kepribadian Abu Hurairah. Sejak datang ke Madinah hingga Nabi wafat, Abu Hurairah selalu mengiringi Nabi. Wajar beliau menjadi salah seorang penghafal hadis yang paling banyak di tengah para sahabat. Dalam kondisi apapun, Abu Hurairah selalu bersama Nabi, baik saat kelaparan atau saat kenyang. Di mana ada Rasulullah, di situ ada Abu Hurairah. Jadi, walaupun kebersamaannya singkat dengan Rasulullah, Abu Hurairah mampu mencapai tingkatakan yang tidak dicapai oleh sahabat lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada beliau,يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ“Wahai Abu Hurairah, jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau akan jadi seorang yang paling taat. Jadilah seorang yang qanaah (merasa cukup), niscaya engkau akan jadi seorang yang paling bersyukur. Apa yang engkau suka mendapatkannya, sukai juga untuk orang lain, niscaya engkau menjadi seorang beriman yang sejati. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau jadi muslim sejati. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217, shahih)Rasulullah pernah memuji Abu Hurairah yang gemar bertanya. Suatu hari, Abu Hurairah bertanya tentang syafaat, kemudian Rasulullah memujinya, karena ia adalah orang yang pertama kali bertanya tentang syafaat. Hal ini disebutkan dalam hadis,وعنه -أيضًا- أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ”.“Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena kulihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang berbahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari no. 6201)Setidaknya, ada empat faktor yang menjadikan Abu Hurairah menjadi orang yang memiliki hafalan kuat:Beliau aktif dalam majelis Rasul sampai akhir hayat beliau, dan selalu meluangkan waktu untuk Rasul.Beliau giat dalam mencari ilmu, sampai Rasulullah berdoa untuknya agar tidak mudah lupa.Beliau belajar kepada sahabat senior dalam segala bidang, khususnya hadis, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, ‘Aisyah, dan para sahabat lainnya.Abu Hurairah hidup sampai 47 tahun setelah Nabi wafat, hal ini yang menjadikannya banyak hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh generasi sahabat. (Ahmad Khoirur Rozikin, 2018)Setelah Rasulullah wafat, Abu Hurairah menjadi rujukan bagi para sahabat lainnya yang ingin bertanya tentang hadis. Tentu saja ini karena semasa hidup Rasulullah, Abu Hurairah bergairah ingin mendalami hadis Nabi dengan bertanya kepada sumber aslinya, yaitu Rasulullah sendiri. Abu Hurairah wafat di usia 78 tahun, pada tahun 57 H. (Al-‘Asqalani, 1415 H)Kedudukan dan keistimewaan Abu Hurairah menurut para ulamaAl-Hakim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit dan menanyakan sesuatu kepadanya, dan dia berkata, “Abu Hurairah ada di dekatmu.”Suatu hari, ketika saya sedang duduk bersama Abu Hurairah dan si fulan di masjid, kami berdoa kepada Allah dan berzikir mengingat Rabb kami. Rasulullah keluar kepada kami sampai beliau duduk bersama kami, namun kami tetap diam, lalu beliau berkata, “Kembalilah ke tempatmu tadi.”Zaid berkata, “Maka aku dan sahabatku berdoa di belakang Abu Hurairah, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan doa-doa kami.” Kemudian Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang diminta kedua sahabatku ini, dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak akan terlupakan.”Rasulullah bersabda, “Amin.” Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, dan kami juga memohon Tuhan atas ilmu yang tidak akan terlupakan.“ Nabi pun menjawab, “Permintaanmu telah didahului oleh Abu Hurairah Ad-Dausy.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3: 508)Di antara pujian kepada beliau adalah pujian dari kalangan para sahabat Nabi sendiri. Thalhah bin ‘Ubaidilah berkata, “Aku tidak meragukan bahwa Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak aku dengar dari beliau.“ Ibnu ‘Umar berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih berilmu dengan hadis yang beliau sampaikan.” (As-Siba’i)Ibnu Hajar menyebutkan banyak para ulama, baik sejak masa sahabat maupun sesudahnya, yang memberikan pujian kepada Abu Hurariah, di antaranya adalah:Al-Amsha berkata dari hadis Abu Shalih bahwa dia berkata, “Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang paling banyak hafalannya.“Asy-Syafi’i berkata, “Abu Hurairah mempunyai ingatan yang paling baik terhadap siapapun yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Al-Bukhari berkata, “Sekitar delapan ratus ulama meriwayatkan darinya, dan dia memiliki ingatan terbaik dari orang-orang yang meriwayatkan hadis pada masanya.“Abu Nua’im berkata, “Beliau adalah sahabat yang paling mengetahui berita Rasulullah, dan Rasulullah mendoakan Abu Hurairah agar dia disayangi oleh orang-orang yang beriman.“ (Al-‘Asqalani, 1415 H)As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat 6 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu: Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, Anas bin Malik, dan ‘Aisyah. Adapun sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara mereka adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis sebanyak 5374 hadis, yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim sebanyak 325 hadis, diriwayatkan oleh Bukhari saja sebanyak 93 hadis, dan diriwayatkan oleh Muslim saja sebanyak 189 hadis. Terdapat lebih dari 800 orang yang meriwayatkan hadis dari beliau dan beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadis. (As-Suyuthi, 1431 H)Di antara seluruh para sahabat, Abu Hurairah adalah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Hal ini dilatarbelakangi hal-hal sebagai berikut:Abu Hurairah tidak malu untuk bertanya dan mengemukakan persoalan yang dihadapinya kepada Nabi.Abu Hurairah terus menerus berada dekat dengan Nabi, bahkan selama Nabi mengunjungi istri-istri dan sahabat-sahabatnya.Abu Hurairah termasuk orang yang memiliki daya ingat yang baik, seperti sering terdapat pada orang-orang Badui yang buta huruf.Nabi telah melindungi Abu Hurairah dari lupa, yaitu berkat doa Nabi kepada beliau.Abu Hurairah pernah berdoa untuk mendapatkan ilmu yang tidak akan dilupakannya, dan Nabi mengamininya.Abu Hurairah mengoleksi hadis untuk disebarkan, sementara sahabat lain hanya untuk memperbincangkannya ketika ada keperluan saja.Abu Hurairah juga meriwayatkan hadiṡ Nabi dari sahabat-sahabat yang lain. (Solikhudin & Khamim, 2021)Bantahan terhadap para pencela Abu HurairahMenurut para ahli sejarah muslim, tidak ada sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi lebih banyak dari Abu Hurairah. Hal demikian menimbulkan pertanyaan tentang seberapa hebat Abu Hurairah sehingga dapat melakukan pekerjaan demikian dahsyatnya. Maka menjadi wajar apabila serangan-serangan terhadapnya pun dilancarkan oleh musuh musuh Islam sejak zaman dahulu hingga zaman ini.Di antara mereka mempertanyakan tentang keabsahan hadis dari Abu Hurairah karena beliau hanya sebentar membersamai Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam. Padahal banyak sahabat lain yang lebih lama bersama Nabi, namun tidak meriwayatkan hadis sebanyak Abu Hurairah. Hal ini bisa kita jawab sebagai berikut:Meskipun singkat, beliau senantiasa membersamai Rasulullah, tidak sibuk dengan hal lain sebagaimana orang-orang pada umumnya.Tidak adanya banyak riwayat dari para sahabat lain yang lebih lama mendampingi Rasulullah, di antara penyebabnya adalah karena sebagian dari mereka meninggal dunia lebih dulu; sebagian dari mereka meninggal dunia pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagian lagi meninggal tak lama setelahnya; sebagian dari mereka sedikit yang meriwayatkan dan tidak berbicara kecuali diminta; dan ada di antara mereka menjadi khalifah seperti Ubayy bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudri, dan lain-lain radhiyallahu ‘anhum.Beliau tidak membatasai hadisnya dari apa yang didengar dari Nabi, namun beliau juga menyampaikan apa yang didengar dari selain Nabi.Doa Nabi kepada beliau sehingga beliau memliki hafalan yang kuat. (Sulaiman, 2007)Di antara syubhat lainnya, mereka mengatakan Abu Hurairah tidak pernah menulis hadis, bahkan dia menyandarkan riwayatnya dari ingatannya saja. Bantahannya, bahwa hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Abu Hurairah sendiri, karena ini merupakan perbuatan setiap perawi hadis dari kalangan sahabat, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hanya beliau sendiri yang mempunyai lembaran yang yang dia gunakan untuk menulis hadis. Oleh karena itu, merupakan hal yang sudah dimaklumi dan diketahui bagi para peneliti hadis bahwa mayoritas sahabat pada saat itu meriwayatkan hadis dari hafalan mereka.Ada pula yang meragukan kredibilitas Abu Hurairah karena menganggap bahwa nama dan silsilah beliau tidak jelas. Mereka mengatakan bahwa Abu Hurairah tidak diketahui silsilahnya, sehingga orang berbeda pendapat mengenai namanya dan nama ayahnya, yang menunjukkan tidak jelasnya nasab beliau. Bantahan terhadap syubhat ini:Sejak kapan perbedaan nama seseorang akan mempermalukan atau meniadakan keadilannya? Cukuplah kita mengenal beliau dari nama panggilannya, sebagaimana kita mengenal Abu Bakar, Abu Ubaidah, Abu Dujana al-Ansari, dan Abu Darda yang terkenal dengan nama panggilannya, sedangkan nama aslinya tidak diketahui oleh banyak orang.Kita belum pernah mendengar bahwa silsilah dan nasab mengunggulkan atau melemahkan pemiliknya dalam perbandingan ilmiah.Abu Hurairah terkenal dengan nama panggilannya sejak kecil, dan semua orang mengenalnya dengan nama itu, lalu apa masalahnya jika dia dikenal dengan nama panggilannya dan namanya berbeda?!Perbedaan nama merupakan hal yang wajar, tidak hanya pada diri Abu Hurairah saja, melainkan pada setiap orang yang sejak kecil sudah mengenal nama panggilannya.Para ahli ilmu lebih banyak berbeda pendapat mengenai nama dan silsilah pada orang lain selain Abu Hurairah, dan mereka tidak melihat ada cacat atau kecacatan pada diri mereka karenanya. (Al-Khatib)KesimpulanAbu Hurairah merupakan salah satu sahabat mulia yang paling banyak meriwayatkan hadis. Nabi pernah memuji dan mendoakannya secara khusus. Para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama sesudahnya banyak memberikan pujian kepada beliau yang menunjukkan keutamaan dan kredibilitas beliau dalam ilmu hadis. Berbagai syubhat dilontarkan untuk merendahkan kredibilitas Abu Hurairah oleh kaum orientalis dan musuh-musuh Islam. Namun para ulama sudah membantah berbagai celaan dan tuduhan yang keliru kepada Abu Hurairah tersebut.Baca juga: Biografi Imam Asy-Syaukani***Penyusun: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Ahmad Khoirur Rozikin. (2018). Analisis Kritis terhadap Isu Negatif Abu Hurarirah dan Ibnu Abbas dalam Israiliyyat. Al Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, 1: 27-47.Al-‘Asqalani, A. (1415 H). Al-Ishaabah fii Tamyiizi ash-Shahabah. Beirut: Daarul Kutub ‘Ilmiyyah.Al-Khatiib, M. ‘. (n.d.). Abu Hurairah Raawiyatul Islam. Maktabah Wahbah 1982.As-Siba’i, M. (n.d.). As-Sunnatu wa Makanatuhaa fii at Tasyrii’ al-Islamy. Maktabah al-Islamy.As-Suyuuthi, J. (1431 H). Tadriibur Raawy fii Syarhi Taqrribu An Nawawy. Beirut: Daar Ibnul Jauzy.Solikhudin, M., & Khamim, K. (2021). Kontroversi dan Kritik Terhadap Hadis Riwayat Abu Hurairah. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 9(1): 1-16.Sulaiman, H. (2007). Abu Hurairah Shaahibu Rasulillah. Kuwait: Maktabah Al-Kuwait Al-Wathaniyyah.

Perbedaan Setan dan Iblis: Makna Bahasa, Makna Istilah, dan Penjelasan Ulama

Pembahasan tentang syaitan (setan) dan Iblis sering kali bercampur dalam benak sebagian orang, padahal keduanya memiliki perbedaan makna yang penting dalam kajian Islam. Memahami asal-usul bahasa dan definisi istilah membantu kita mengerti hakikat musuh terbesar manusia. Tulisan ini merangkum penjelasan ulama tentang makna syaitan (setan) dan Iblis, baik secara bahasa maupun secara istilah.  Daftar Isi tutup 1. Makna Bahasa Syaitan dan Iblis 2. Syaitan dan Iblis dalam Istilah 3. Iblis Apakah Termasuk Malaikat? 4. Kesimpulan Makna Bahasa Syaitan dan IblisPara ulama berbeda pendapat mengenai makna kata syaitan dari sisi bahasa, berdasarkan perbedaan dalam menelusuri asal kata (isytiqaq) dan apakah huruf nun pada kata tersebut merupakan huruf asli atau tambahan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَطَنَ) yang berarti “jauh dari kebenaran.” Dari akar kata ini muncul ungkapan syathanahu yasythunuhu syathnan yang berarti “menyelisihi arah dan niatnya.”Disebutkan pula syathat ad-dar: rumah itu menjauh. Asy-syâthin berarti “yang jahat.” Tasyaythana ar-rajul: seseorang menjadi seperti setan dan melakukan perbuatannya. Dari sini muncul kata asy-syaythanah, yaitu sifat umum yang menggambarkan seluruh bentuk penyimpangan dan penyesatan.Berdasarkan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola (فِعْيَال) dan huruf nun di dalamnya adalah huruf asli.Sementara kelompok ulama lain berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَاطَ) yang bermakna “terbakar oleh kemarahan.” Dari akar ini muncul bentuk syâtha yasyîthu dan tasyayatha: ketika seseorang tersambar api lalu terbakar atau binasa.Dengan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola فَعْلان dan huruf nun di situ dianggap sebagai huruf tambahan. Pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa syaitan berasal dari kata (شطن). Hal ini karena makna tersebut lebih dekat dengan sifat dan perbuatan setan yang bertujuan menjauhkan manusia dari amal kebaikan dan mengikuti kebenaran.Sebab menurunkan kata syaitan dari akar syathana, yang bermakna “jauh dari kebaikan dan condong dari kebenaran,” lebih sesuai dengan hakikat perbuatannya daripada menisbahkannya kepada akar syâtha yang bermakna “terbakar.” Karena pekerjaan setan adalah menjauhkan manusia dari kebenaran, maka yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan kebaikan adalah sesuatu yang memang jauh darinya.Dan ketika kita sedang membahas definisi syaitan secara bahasa, kita juga perlu mengetahui definisi Iblis secara bahasa, sebab sebagian orang mengira bahwa Iblis dan syaitan memiliki makna yang sama. Karena itu, harus dibedakan dari sisi bahasa.• Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa kata Iblis berasal dari kata أَبْلَسَ الرَّجُل: ketika seseorang terputus (dalam argumentasi) dan tidak memiliki alasan.Ablasa ar-rajul: ia terhenti;Ablasa: ia diam;Ablisa min rahmatillah: ia putus asa dari rahmat Allah.Al-iblâs adalah kesedihan yang muncul karena tekanan dan kesulitan yang berat.Orang Arab menggunakan kata-kata ini, seperti ungkapan:Naqatun miblâs: unta yang tidak bersuara karena takut.Fulan ablasa: seseorang yang terdiam karena ketakutan yang sangat.• Al-Qur’an juga menggunakan makna-makna bahasa ini untuk kata ablasa. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ ﴾“Pada hari ketika kiamat terjadi, para pendosa menjadi putus asa.” (QS. Ar-Rūm: 12)Dan firman-Nya:﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾“Ketika mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka semua pintu (kesenangan). Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka menjadi putus asa.” (QS. Al-An‘ām: 44)• Kelompok ulama lain berpendapat bahwa Iblis adalah nama asing (non-Arab) dan tidak bisa ditashrif (tidak menerima tanwin dan tidak bisa dimasuki huruf alif-lam).• Dan ada sekelompok peneliti yang mengatakan bahwa kata Iblis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata Diabolos, lalu mengalami perubahan dan penyesuaian hingga menjadi bentuk seperti itu.Meskipun ada pendapat-pendapat tersebut, kata Iblis tetap merupakan kata yang berakar dari bahasa Arab. Al-Qur’an, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, menggunakannya berdasarkan makna bahasa Arab. Mengatakan bahwa kata ini bukan Arab adalah klaim yang tidak tepat sasaran dan tidak memiliki bukti. Maka kita tegaskan bahwa kata ini berakar dari bahasa Arab, berasal dari kata ablesa ar-rajul yang berarti “terputus.”Inilah makna syaitan dan Iblis dari sisi bahasa. Syaitan dan Iblis dalam IstilahKata syaitan secara istilah digunakan untuk menyebut: setiap makhluk yang durhaka dan membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun hewan.Berdasarkan definisi ini, konsep syaitan menjadi sebuah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang menempuh jalan kejahatan dan kesesatan. Banyak orang yang kita lihat dan melihat kita, berinteraksi dengan kita dan kita dengan mereka—secara lahir mereka adalah manusia, namun pada hakikatnya dengan perilaku, pikiran, tipu daya, dan akhlak mereka, mereka termasuk golongan para setan durhaka. Bahkan terkadang, tipu daya mereka lebih berbahaya daripada tipu daya Iblis sendiri.Adapun Iblis, ia adalah nama bagi makhluk tertentu yang diciptakan Allah dari api. Allah memasukkannya ke dalam barisan malaikat dan ia menjalankan tugasnya sesuai kehendak Allah. Namun ia kemudian menentang kemuliaan dan keagungan Rabb-nya, menyombongkan diri untuk taat kepada-Nya, dan durhaka kepada Tuhannya. Maka Allah mengusirnya dari rahmat-Nya dan dari tugasnya, lalu ia turun ke bumi, dan sifat kesetanan menjadi ciri dirinya.Iblis memiliki keturunan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:﴿ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي ﴾“Pantaskah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku?” (QS. Al-Kahf: 50)Iblis adalah bagian dari bangsa jin, yang Allah ciptakan dari api yang sangat panas. Ia dan kelompoknya dapat melihat kita, sementara kita tidak dapat melihat mereka. Ia telah keluar dari ketaatan kepada Rabb-nya, dan ia merupakan pemimpin para setan serta para pembangkang. Bentuk jamaknya adalah abâlis dan abâlisah.[9]Dengan demikian, Iblis adalah nama khusus (nama diri) bagi makhluk pembangkang tersebut, sedangkan syaitan adalah sifat bagi dirinya dan makhluk lain. Iblis Apakah Termasuk Malaikat?Ada satu masalah penting terkait hal ini: yaitu adanya nash-nash yang menyebut bahwa Iblis berasal dari malaikat—seperti firman Allah Ta’ala:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” (QS. Thaha: 116)Dan nash-nash lain yang menyebut bahwa ia berasal dari jin—seperti firman Allah:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahf: 50)Lalu bagaimana Iblis bisa disebut sebagai malaikat sekaligus jin? Dan bagaimana kaitannya dengan istilah syaitan?Saya katakan: Iblis termasuk kelompok malaikat karena ia diperintahkan sujud bersama mereka, namun ia berasal dari jin sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Tidak ada yang aneh ketika kita mengetahui bahwa Iblis berada di tengah-tengah para malaikat, tetapi bukan dari jenis mereka; ia berasal dari bangsa jin. Jin adalah makhluk yang Allah ciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya.Maka Iblis termasuk malaikat dalam hal ketaatannya dan ibadahnya pada awalnya, tetapi termasuk jin dari sisi nasab dan asal penciptaan.Jika hal ini sudah jelas, maka tidak perlu ada perdebatan panjang yang ditimbulkan sebagian ulama mengenai persoalan ini, karena tidak ada faedah di baliknya.Syaitan adalah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang melakukan perbuatan Iblis. Allah memberikan sifat ini kepada Iblis sehingga sifat tersebut melekat kuat padanya, hingga manusia menyangka bahwa kata syaitan hanya khusus untuk dirinya.Namun ayat-ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis bukan satu-satunya syaitan, dan bahwa syaitan adalah sifat bagi Iblis. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ … فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat-nikmat (yang) banyak kekhususanNya di mana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Iblis membisikkan kepadanya supaya dikeluarkannya dari apa yang sebelumnya ia berada di dalamnya. Dan Kami berfirman: ‘Turunlah kamu, (sebagai) musuh satu terhadap yang lain. Dan bagi kamu di bumi tempat tinggal dan manfaat sampai waktu yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 34–36)Jika kita melihat frasa:﴿ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Maka syaitan membuat keduanya tergelincir,”maka jelas bahwa yang dimaksud adalah Iblis, dengan tipu daya, rayuan, dan bisikannya.Hal serupa juga terdapat dalam Surah Thaha. Setelah Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam dan Iblis menolak karena kesombongannya, Allah memperingatkan Adam agar menjadikannya musuh agar ia tidak mengeluarkannya dari surga.Allah berfirman:﴿ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى ﴾“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS. Thaha: 120)Maka Iblis adalah pembisik itu, dan Iblis adalah syaitan. Namun ia bukan satu-satunya syaitan. Ada banyak syaitan dari kalangan manusia dan jin yang mengikuti jalannya, meniru perilakunya, dan menempuh jalan kesesatan yang ia ajarkan.Maka pada titik ini jelaslah hubungan antara Iblis dan syaitan. KesimpulanDari sisi bahasa, syaitan (setan) bermakna makhluk yang jauh dari kebenaran, sementara Iblis bermakna makhluk yang putus asa, terdiam, dan terputus dari rahmat Allah.Secara istilah, syaitan (setan) adalah sifat yang dapat dimiliki makhluk mana pun—baik manusia, jin, atau hewan—yang bersikap durhaka dan menempuh jalan kejahatan. Adapun Iblis adalah nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah untuk sujud kepada Adam, ia berasal dari golongan jin tetapi semula berada di tengah para malaikat karena ketaatannya.Perbedaan antara syaitan (setan) dan Iblis sangat jelas: Iblis adalah individu tertentu, sedangkan syaitan adalah sifat dan jalan hidup yang dapat diikuti oleh banyak makhluk.Dengan memahami hal ini, kita mengerti bahwa musuh manusia bukan hanya Iblis, melainkan semua makhluk yang mengikuti jalannya.Semoga tulisan ini bermanfaat. Referensi:Ad-Duri, S. S. A. (2016). الشيطان في اللغة والاصطلاح. Alukah.https://www.alukah.net/sharia/0/106568/الشيطان-في-اللغة-والاصطلاح/Ditulis di Sekar Kedhaton Jogja, 28 Jumadilawal 1447 HPenyusun: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakidah ahlus sunnah aqidah islam artikel rumaysho bahasa arab iblis iblis dalam istilah jin dan malaikat makna iblis makna setan makna syaitan perbedaan syaitan dan iblis setan syaitan syaitan dalam istilah tafsir al-qur’an

Perbedaan Setan dan Iblis: Makna Bahasa, Makna Istilah, dan Penjelasan Ulama

Pembahasan tentang syaitan (setan) dan Iblis sering kali bercampur dalam benak sebagian orang, padahal keduanya memiliki perbedaan makna yang penting dalam kajian Islam. Memahami asal-usul bahasa dan definisi istilah membantu kita mengerti hakikat musuh terbesar manusia. Tulisan ini merangkum penjelasan ulama tentang makna syaitan (setan) dan Iblis, baik secara bahasa maupun secara istilah.  Daftar Isi tutup 1. Makna Bahasa Syaitan dan Iblis 2. Syaitan dan Iblis dalam Istilah 3. Iblis Apakah Termasuk Malaikat? 4. Kesimpulan Makna Bahasa Syaitan dan IblisPara ulama berbeda pendapat mengenai makna kata syaitan dari sisi bahasa, berdasarkan perbedaan dalam menelusuri asal kata (isytiqaq) dan apakah huruf nun pada kata tersebut merupakan huruf asli atau tambahan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَطَنَ) yang berarti “jauh dari kebenaran.” Dari akar kata ini muncul ungkapan syathanahu yasythunuhu syathnan yang berarti “menyelisihi arah dan niatnya.”Disebutkan pula syathat ad-dar: rumah itu menjauh. Asy-syâthin berarti “yang jahat.” Tasyaythana ar-rajul: seseorang menjadi seperti setan dan melakukan perbuatannya. Dari sini muncul kata asy-syaythanah, yaitu sifat umum yang menggambarkan seluruh bentuk penyimpangan dan penyesatan.Berdasarkan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola (فِعْيَال) dan huruf nun di dalamnya adalah huruf asli.Sementara kelompok ulama lain berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَاطَ) yang bermakna “terbakar oleh kemarahan.” Dari akar ini muncul bentuk syâtha yasyîthu dan tasyayatha: ketika seseorang tersambar api lalu terbakar atau binasa.Dengan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola فَعْلان dan huruf nun di situ dianggap sebagai huruf tambahan. Pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa syaitan berasal dari kata (شطن). Hal ini karena makna tersebut lebih dekat dengan sifat dan perbuatan setan yang bertujuan menjauhkan manusia dari amal kebaikan dan mengikuti kebenaran.Sebab menurunkan kata syaitan dari akar syathana, yang bermakna “jauh dari kebaikan dan condong dari kebenaran,” lebih sesuai dengan hakikat perbuatannya daripada menisbahkannya kepada akar syâtha yang bermakna “terbakar.” Karena pekerjaan setan adalah menjauhkan manusia dari kebenaran, maka yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan kebaikan adalah sesuatu yang memang jauh darinya.Dan ketika kita sedang membahas definisi syaitan secara bahasa, kita juga perlu mengetahui definisi Iblis secara bahasa, sebab sebagian orang mengira bahwa Iblis dan syaitan memiliki makna yang sama. Karena itu, harus dibedakan dari sisi bahasa.• Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa kata Iblis berasal dari kata أَبْلَسَ الرَّجُل: ketika seseorang terputus (dalam argumentasi) dan tidak memiliki alasan.Ablasa ar-rajul: ia terhenti;Ablasa: ia diam;Ablisa min rahmatillah: ia putus asa dari rahmat Allah.Al-iblâs adalah kesedihan yang muncul karena tekanan dan kesulitan yang berat.Orang Arab menggunakan kata-kata ini, seperti ungkapan:Naqatun miblâs: unta yang tidak bersuara karena takut.Fulan ablasa: seseorang yang terdiam karena ketakutan yang sangat.• Al-Qur’an juga menggunakan makna-makna bahasa ini untuk kata ablasa. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ ﴾“Pada hari ketika kiamat terjadi, para pendosa menjadi putus asa.” (QS. Ar-Rūm: 12)Dan firman-Nya:﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾“Ketika mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka semua pintu (kesenangan). Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka menjadi putus asa.” (QS. Al-An‘ām: 44)• Kelompok ulama lain berpendapat bahwa Iblis adalah nama asing (non-Arab) dan tidak bisa ditashrif (tidak menerima tanwin dan tidak bisa dimasuki huruf alif-lam).• Dan ada sekelompok peneliti yang mengatakan bahwa kata Iblis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata Diabolos, lalu mengalami perubahan dan penyesuaian hingga menjadi bentuk seperti itu.Meskipun ada pendapat-pendapat tersebut, kata Iblis tetap merupakan kata yang berakar dari bahasa Arab. Al-Qur’an, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, menggunakannya berdasarkan makna bahasa Arab. Mengatakan bahwa kata ini bukan Arab adalah klaim yang tidak tepat sasaran dan tidak memiliki bukti. Maka kita tegaskan bahwa kata ini berakar dari bahasa Arab, berasal dari kata ablesa ar-rajul yang berarti “terputus.”Inilah makna syaitan dan Iblis dari sisi bahasa. Syaitan dan Iblis dalam IstilahKata syaitan secara istilah digunakan untuk menyebut: setiap makhluk yang durhaka dan membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun hewan.Berdasarkan definisi ini, konsep syaitan menjadi sebuah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang menempuh jalan kejahatan dan kesesatan. Banyak orang yang kita lihat dan melihat kita, berinteraksi dengan kita dan kita dengan mereka—secara lahir mereka adalah manusia, namun pada hakikatnya dengan perilaku, pikiran, tipu daya, dan akhlak mereka, mereka termasuk golongan para setan durhaka. Bahkan terkadang, tipu daya mereka lebih berbahaya daripada tipu daya Iblis sendiri.Adapun Iblis, ia adalah nama bagi makhluk tertentu yang diciptakan Allah dari api. Allah memasukkannya ke dalam barisan malaikat dan ia menjalankan tugasnya sesuai kehendak Allah. Namun ia kemudian menentang kemuliaan dan keagungan Rabb-nya, menyombongkan diri untuk taat kepada-Nya, dan durhaka kepada Tuhannya. Maka Allah mengusirnya dari rahmat-Nya dan dari tugasnya, lalu ia turun ke bumi, dan sifat kesetanan menjadi ciri dirinya.Iblis memiliki keturunan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:﴿ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي ﴾“Pantaskah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku?” (QS. Al-Kahf: 50)Iblis adalah bagian dari bangsa jin, yang Allah ciptakan dari api yang sangat panas. Ia dan kelompoknya dapat melihat kita, sementara kita tidak dapat melihat mereka. Ia telah keluar dari ketaatan kepada Rabb-nya, dan ia merupakan pemimpin para setan serta para pembangkang. Bentuk jamaknya adalah abâlis dan abâlisah.[9]Dengan demikian, Iblis adalah nama khusus (nama diri) bagi makhluk pembangkang tersebut, sedangkan syaitan adalah sifat bagi dirinya dan makhluk lain. Iblis Apakah Termasuk Malaikat?Ada satu masalah penting terkait hal ini: yaitu adanya nash-nash yang menyebut bahwa Iblis berasal dari malaikat—seperti firman Allah Ta’ala:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” (QS. Thaha: 116)Dan nash-nash lain yang menyebut bahwa ia berasal dari jin—seperti firman Allah:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahf: 50)Lalu bagaimana Iblis bisa disebut sebagai malaikat sekaligus jin? Dan bagaimana kaitannya dengan istilah syaitan?Saya katakan: Iblis termasuk kelompok malaikat karena ia diperintahkan sujud bersama mereka, namun ia berasal dari jin sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Tidak ada yang aneh ketika kita mengetahui bahwa Iblis berada di tengah-tengah para malaikat, tetapi bukan dari jenis mereka; ia berasal dari bangsa jin. Jin adalah makhluk yang Allah ciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya.Maka Iblis termasuk malaikat dalam hal ketaatannya dan ibadahnya pada awalnya, tetapi termasuk jin dari sisi nasab dan asal penciptaan.Jika hal ini sudah jelas, maka tidak perlu ada perdebatan panjang yang ditimbulkan sebagian ulama mengenai persoalan ini, karena tidak ada faedah di baliknya.Syaitan adalah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang melakukan perbuatan Iblis. Allah memberikan sifat ini kepada Iblis sehingga sifat tersebut melekat kuat padanya, hingga manusia menyangka bahwa kata syaitan hanya khusus untuk dirinya.Namun ayat-ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis bukan satu-satunya syaitan, dan bahwa syaitan adalah sifat bagi Iblis. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ … فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat-nikmat (yang) banyak kekhususanNya di mana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Iblis membisikkan kepadanya supaya dikeluarkannya dari apa yang sebelumnya ia berada di dalamnya. Dan Kami berfirman: ‘Turunlah kamu, (sebagai) musuh satu terhadap yang lain. Dan bagi kamu di bumi tempat tinggal dan manfaat sampai waktu yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 34–36)Jika kita melihat frasa:﴿ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Maka syaitan membuat keduanya tergelincir,”maka jelas bahwa yang dimaksud adalah Iblis, dengan tipu daya, rayuan, dan bisikannya.Hal serupa juga terdapat dalam Surah Thaha. Setelah Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam dan Iblis menolak karena kesombongannya, Allah memperingatkan Adam agar menjadikannya musuh agar ia tidak mengeluarkannya dari surga.Allah berfirman:﴿ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى ﴾“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS. Thaha: 120)Maka Iblis adalah pembisik itu, dan Iblis adalah syaitan. Namun ia bukan satu-satunya syaitan. Ada banyak syaitan dari kalangan manusia dan jin yang mengikuti jalannya, meniru perilakunya, dan menempuh jalan kesesatan yang ia ajarkan.Maka pada titik ini jelaslah hubungan antara Iblis dan syaitan. KesimpulanDari sisi bahasa, syaitan (setan) bermakna makhluk yang jauh dari kebenaran, sementara Iblis bermakna makhluk yang putus asa, terdiam, dan terputus dari rahmat Allah.Secara istilah, syaitan (setan) adalah sifat yang dapat dimiliki makhluk mana pun—baik manusia, jin, atau hewan—yang bersikap durhaka dan menempuh jalan kejahatan. Adapun Iblis adalah nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah untuk sujud kepada Adam, ia berasal dari golongan jin tetapi semula berada di tengah para malaikat karena ketaatannya.Perbedaan antara syaitan (setan) dan Iblis sangat jelas: Iblis adalah individu tertentu, sedangkan syaitan adalah sifat dan jalan hidup yang dapat diikuti oleh banyak makhluk.Dengan memahami hal ini, kita mengerti bahwa musuh manusia bukan hanya Iblis, melainkan semua makhluk yang mengikuti jalannya.Semoga tulisan ini bermanfaat. Referensi:Ad-Duri, S. S. A. (2016). الشيطان في اللغة والاصطلاح. Alukah.https://www.alukah.net/sharia/0/106568/الشيطان-في-اللغة-والاصطلاح/Ditulis di Sekar Kedhaton Jogja, 28 Jumadilawal 1447 HPenyusun: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakidah ahlus sunnah aqidah islam artikel rumaysho bahasa arab iblis iblis dalam istilah jin dan malaikat makna iblis makna setan makna syaitan perbedaan syaitan dan iblis setan syaitan syaitan dalam istilah tafsir al-qur’an
Pembahasan tentang syaitan (setan) dan Iblis sering kali bercampur dalam benak sebagian orang, padahal keduanya memiliki perbedaan makna yang penting dalam kajian Islam. Memahami asal-usul bahasa dan definisi istilah membantu kita mengerti hakikat musuh terbesar manusia. Tulisan ini merangkum penjelasan ulama tentang makna syaitan (setan) dan Iblis, baik secara bahasa maupun secara istilah.  Daftar Isi tutup 1. Makna Bahasa Syaitan dan Iblis 2. Syaitan dan Iblis dalam Istilah 3. Iblis Apakah Termasuk Malaikat? 4. Kesimpulan Makna Bahasa Syaitan dan IblisPara ulama berbeda pendapat mengenai makna kata syaitan dari sisi bahasa, berdasarkan perbedaan dalam menelusuri asal kata (isytiqaq) dan apakah huruf nun pada kata tersebut merupakan huruf asli atau tambahan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَطَنَ) yang berarti “jauh dari kebenaran.” Dari akar kata ini muncul ungkapan syathanahu yasythunuhu syathnan yang berarti “menyelisihi arah dan niatnya.”Disebutkan pula syathat ad-dar: rumah itu menjauh. Asy-syâthin berarti “yang jahat.” Tasyaythana ar-rajul: seseorang menjadi seperti setan dan melakukan perbuatannya. Dari sini muncul kata asy-syaythanah, yaitu sifat umum yang menggambarkan seluruh bentuk penyimpangan dan penyesatan.Berdasarkan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola (فِعْيَال) dan huruf nun di dalamnya adalah huruf asli.Sementara kelompok ulama lain berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَاطَ) yang bermakna “terbakar oleh kemarahan.” Dari akar ini muncul bentuk syâtha yasyîthu dan tasyayatha: ketika seseorang tersambar api lalu terbakar atau binasa.Dengan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola فَعْلان dan huruf nun di situ dianggap sebagai huruf tambahan. Pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa syaitan berasal dari kata (شطن). Hal ini karena makna tersebut lebih dekat dengan sifat dan perbuatan setan yang bertujuan menjauhkan manusia dari amal kebaikan dan mengikuti kebenaran.Sebab menurunkan kata syaitan dari akar syathana, yang bermakna “jauh dari kebaikan dan condong dari kebenaran,” lebih sesuai dengan hakikat perbuatannya daripada menisbahkannya kepada akar syâtha yang bermakna “terbakar.” Karena pekerjaan setan adalah menjauhkan manusia dari kebenaran, maka yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan kebaikan adalah sesuatu yang memang jauh darinya.Dan ketika kita sedang membahas definisi syaitan secara bahasa, kita juga perlu mengetahui definisi Iblis secara bahasa, sebab sebagian orang mengira bahwa Iblis dan syaitan memiliki makna yang sama. Karena itu, harus dibedakan dari sisi bahasa.• Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa kata Iblis berasal dari kata أَبْلَسَ الرَّجُل: ketika seseorang terputus (dalam argumentasi) dan tidak memiliki alasan.Ablasa ar-rajul: ia terhenti;Ablasa: ia diam;Ablisa min rahmatillah: ia putus asa dari rahmat Allah.Al-iblâs adalah kesedihan yang muncul karena tekanan dan kesulitan yang berat.Orang Arab menggunakan kata-kata ini, seperti ungkapan:Naqatun miblâs: unta yang tidak bersuara karena takut.Fulan ablasa: seseorang yang terdiam karena ketakutan yang sangat.• Al-Qur’an juga menggunakan makna-makna bahasa ini untuk kata ablasa. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ ﴾“Pada hari ketika kiamat terjadi, para pendosa menjadi putus asa.” (QS. Ar-Rūm: 12)Dan firman-Nya:﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾“Ketika mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka semua pintu (kesenangan). Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka menjadi putus asa.” (QS. Al-An‘ām: 44)• Kelompok ulama lain berpendapat bahwa Iblis adalah nama asing (non-Arab) dan tidak bisa ditashrif (tidak menerima tanwin dan tidak bisa dimasuki huruf alif-lam).• Dan ada sekelompok peneliti yang mengatakan bahwa kata Iblis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata Diabolos, lalu mengalami perubahan dan penyesuaian hingga menjadi bentuk seperti itu.Meskipun ada pendapat-pendapat tersebut, kata Iblis tetap merupakan kata yang berakar dari bahasa Arab. Al-Qur’an, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, menggunakannya berdasarkan makna bahasa Arab. Mengatakan bahwa kata ini bukan Arab adalah klaim yang tidak tepat sasaran dan tidak memiliki bukti. Maka kita tegaskan bahwa kata ini berakar dari bahasa Arab, berasal dari kata ablesa ar-rajul yang berarti “terputus.”Inilah makna syaitan dan Iblis dari sisi bahasa. Syaitan dan Iblis dalam IstilahKata syaitan secara istilah digunakan untuk menyebut: setiap makhluk yang durhaka dan membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun hewan.Berdasarkan definisi ini, konsep syaitan menjadi sebuah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang menempuh jalan kejahatan dan kesesatan. Banyak orang yang kita lihat dan melihat kita, berinteraksi dengan kita dan kita dengan mereka—secara lahir mereka adalah manusia, namun pada hakikatnya dengan perilaku, pikiran, tipu daya, dan akhlak mereka, mereka termasuk golongan para setan durhaka. Bahkan terkadang, tipu daya mereka lebih berbahaya daripada tipu daya Iblis sendiri.Adapun Iblis, ia adalah nama bagi makhluk tertentu yang diciptakan Allah dari api. Allah memasukkannya ke dalam barisan malaikat dan ia menjalankan tugasnya sesuai kehendak Allah. Namun ia kemudian menentang kemuliaan dan keagungan Rabb-nya, menyombongkan diri untuk taat kepada-Nya, dan durhaka kepada Tuhannya. Maka Allah mengusirnya dari rahmat-Nya dan dari tugasnya, lalu ia turun ke bumi, dan sifat kesetanan menjadi ciri dirinya.Iblis memiliki keturunan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:﴿ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي ﴾“Pantaskah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku?” (QS. Al-Kahf: 50)Iblis adalah bagian dari bangsa jin, yang Allah ciptakan dari api yang sangat panas. Ia dan kelompoknya dapat melihat kita, sementara kita tidak dapat melihat mereka. Ia telah keluar dari ketaatan kepada Rabb-nya, dan ia merupakan pemimpin para setan serta para pembangkang. Bentuk jamaknya adalah abâlis dan abâlisah.[9]Dengan demikian, Iblis adalah nama khusus (nama diri) bagi makhluk pembangkang tersebut, sedangkan syaitan adalah sifat bagi dirinya dan makhluk lain. Iblis Apakah Termasuk Malaikat?Ada satu masalah penting terkait hal ini: yaitu adanya nash-nash yang menyebut bahwa Iblis berasal dari malaikat—seperti firman Allah Ta’ala:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” (QS. Thaha: 116)Dan nash-nash lain yang menyebut bahwa ia berasal dari jin—seperti firman Allah:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahf: 50)Lalu bagaimana Iblis bisa disebut sebagai malaikat sekaligus jin? Dan bagaimana kaitannya dengan istilah syaitan?Saya katakan: Iblis termasuk kelompok malaikat karena ia diperintahkan sujud bersama mereka, namun ia berasal dari jin sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Tidak ada yang aneh ketika kita mengetahui bahwa Iblis berada di tengah-tengah para malaikat, tetapi bukan dari jenis mereka; ia berasal dari bangsa jin. Jin adalah makhluk yang Allah ciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya.Maka Iblis termasuk malaikat dalam hal ketaatannya dan ibadahnya pada awalnya, tetapi termasuk jin dari sisi nasab dan asal penciptaan.Jika hal ini sudah jelas, maka tidak perlu ada perdebatan panjang yang ditimbulkan sebagian ulama mengenai persoalan ini, karena tidak ada faedah di baliknya.Syaitan adalah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang melakukan perbuatan Iblis. Allah memberikan sifat ini kepada Iblis sehingga sifat tersebut melekat kuat padanya, hingga manusia menyangka bahwa kata syaitan hanya khusus untuk dirinya.Namun ayat-ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis bukan satu-satunya syaitan, dan bahwa syaitan adalah sifat bagi Iblis. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ … فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat-nikmat (yang) banyak kekhususanNya di mana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Iblis membisikkan kepadanya supaya dikeluarkannya dari apa yang sebelumnya ia berada di dalamnya. Dan Kami berfirman: ‘Turunlah kamu, (sebagai) musuh satu terhadap yang lain. Dan bagi kamu di bumi tempat tinggal dan manfaat sampai waktu yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 34–36)Jika kita melihat frasa:﴿ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Maka syaitan membuat keduanya tergelincir,”maka jelas bahwa yang dimaksud adalah Iblis, dengan tipu daya, rayuan, dan bisikannya.Hal serupa juga terdapat dalam Surah Thaha. Setelah Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam dan Iblis menolak karena kesombongannya, Allah memperingatkan Adam agar menjadikannya musuh agar ia tidak mengeluarkannya dari surga.Allah berfirman:﴿ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى ﴾“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS. Thaha: 120)Maka Iblis adalah pembisik itu, dan Iblis adalah syaitan. Namun ia bukan satu-satunya syaitan. Ada banyak syaitan dari kalangan manusia dan jin yang mengikuti jalannya, meniru perilakunya, dan menempuh jalan kesesatan yang ia ajarkan.Maka pada titik ini jelaslah hubungan antara Iblis dan syaitan. KesimpulanDari sisi bahasa, syaitan (setan) bermakna makhluk yang jauh dari kebenaran, sementara Iblis bermakna makhluk yang putus asa, terdiam, dan terputus dari rahmat Allah.Secara istilah, syaitan (setan) adalah sifat yang dapat dimiliki makhluk mana pun—baik manusia, jin, atau hewan—yang bersikap durhaka dan menempuh jalan kejahatan. Adapun Iblis adalah nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah untuk sujud kepada Adam, ia berasal dari golongan jin tetapi semula berada di tengah para malaikat karena ketaatannya.Perbedaan antara syaitan (setan) dan Iblis sangat jelas: Iblis adalah individu tertentu, sedangkan syaitan adalah sifat dan jalan hidup yang dapat diikuti oleh banyak makhluk.Dengan memahami hal ini, kita mengerti bahwa musuh manusia bukan hanya Iblis, melainkan semua makhluk yang mengikuti jalannya.Semoga tulisan ini bermanfaat. Referensi:Ad-Duri, S. S. A. (2016). الشيطان في اللغة والاصطلاح. Alukah.https://www.alukah.net/sharia/0/106568/الشيطان-في-اللغة-والاصطلاح/Ditulis di Sekar Kedhaton Jogja, 28 Jumadilawal 1447 HPenyusun: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakidah ahlus sunnah aqidah islam artikel rumaysho bahasa arab iblis iblis dalam istilah jin dan malaikat makna iblis makna setan makna syaitan perbedaan syaitan dan iblis setan syaitan syaitan dalam istilah tafsir al-qur’an


Pembahasan tentang syaitan (setan) dan Iblis sering kali bercampur dalam benak sebagian orang, padahal keduanya memiliki perbedaan makna yang penting dalam kajian Islam. Memahami asal-usul bahasa dan definisi istilah membantu kita mengerti hakikat musuh terbesar manusia. Tulisan ini merangkum penjelasan ulama tentang makna syaitan (setan) dan Iblis, baik secara bahasa maupun secara istilah.  Daftar Isi tutup 1. Makna Bahasa Syaitan dan Iblis 2. Syaitan dan Iblis dalam Istilah 3. Iblis Apakah Termasuk Malaikat? 4. Kesimpulan Makna Bahasa Syaitan dan IblisPara ulama berbeda pendapat mengenai makna kata syaitan dari sisi bahasa, berdasarkan perbedaan dalam menelusuri asal kata (isytiqaq) dan apakah huruf nun pada kata tersebut merupakan huruf asli atau tambahan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَطَنَ) yang berarti “jauh dari kebenaran.” Dari akar kata ini muncul ungkapan syathanahu yasythunuhu syathnan yang berarti “menyelisihi arah dan niatnya.”Disebutkan pula syathat ad-dar: rumah itu menjauh. Asy-syâthin berarti “yang jahat.” Tasyaythana ar-rajul: seseorang menjadi seperti setan dan melakukan perbuatannya. Dari sini muncul kata asy-syaythanah, yaitu sifat umum yang menggambarkan seluruh bentuk penyimpangan dan penyesatan.Berdasarkan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola (فِعْيَال) dan huruf nun di dalamnya adalah huruf asli.Sementara kelompok ulama lain berpendapat bahwa kata syaitan berasal dari akar kata (شَاطَ) yang bermakna “terbakar oleh kemarahan.” Dari akar ini muncul bentuk syâtha yasyîthu dan tasyayatha: ketika seseorang tersambar api lalu terbakar atau binasa.Dengan akar kata ini, kata syaitan berada pada pola فَعْلان dan huruf nun di situ dianggap sebagai huruf tambahan. Pendapat pertama lebih kuat, yaitu bahwa syaitan berasal dari kata (شطن). Hal ini karena makna tersebut lebih dekat dengan sifat dan perbuatan setan yang bertujuan menjauhkan manusia dari amal kebaikan dan mengikuti kebenaran.Sebab menurunkan kata syaitan dari akar syathana, yang bermakna “jauh dari kebaikan dan condong dari kebenaran,” lebih sesuai dengan hakikat perbuatannya daripada menisbahkannya kepada akar syâtha yang bermakna “terbakar.” Karena pekerjaan setan adalah menjauhkan manusia dari kebenaran, maka yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan kebaikan adalah sesuatu yang memang jauh darinya.Dan ketika kita sedang membahas definisi syaitan secara bahasa, kita juga perlu mengetahui definisi Iblis secara bahasa, sebab sebagian orang mengira bahwa Iblis dan syaitan memiliki makna yang sama. Karena itu, harus dibedakan dari sisi bahasa.• Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa kata Iblis berasal dari kata أَبْلَسَ الرَّجُل: ketika seseorang terputus (dalam argumentasi) dan tidak memiliki alasan.Ablasa ar-rajul: ia terhenti;Ablasa: ia diam;Ablisa min rahmatillah: ia putus asa dari rahmat Allah.Al-iblâs adalah kesedihan yang muncul karena tekanan dan kesulitan yang berat.Orang Arab menggunakan kata-kata ini, seperti ungkapan:Naqatun miblâs: unta yang tidak bersuara karena takut.Fulan ablasa: seseorang yang terdiam karena ketakutan yang sangat.• Al-Qur’an juga menggunakan makna-makna bahasa ini untuk kata ablasa. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ ﴾“Pada hari ketika kiamat terjadi, para pendosa menjadi putus asa.” (QS. Ar-Rūm: 12)Dan firman-Nya:﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾“Ketika mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka semua pintu (kesenangan). Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka menjadi putus asa.” (QS. Al-An‘ām: 44)• Kelompok ulama lain berpendapat bahwa Iblis adalah nama asing (non-Arab) dan tidak bisa ditashrif (tidak menerima tanwin dan tidak bisa dimasuki huruf alif-lam).• Dan ada sekelompok peneliti yang mengatakan bahwa kata Iblis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata Diabolos, lalu mengalami perubahan dan penyesuaian hingga menjadi bentuk seperti itu.Meskipun ada pendapat-pendapat tersebut, kata Iblis tetap merupakan kata yang berakar dari bahasa Arab. Al-Qur’an, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, menggunakannya berdasarkan makna bahasa Arab. Mengatakan bahwa kata ini bukan Arab adalah klaim yang tidak tepat sasaran dan tidak memiliki bukti. Maka kita tegaskan bahwa kata ini berakar dari bahasa Arab, berasal dari kata ablesa ar-rajul yang berarti “terputus.”Inilah makna syaitan dan Iblis dari sisi bahasa. Syaitan dan Iblis dalam IstilahKata syaitan secara istilah digunakan untuk menyebut: setiap makhluk yang durhaka dan membangkang, baik dari kalangan jin, manusia, maupun hewan.Berdasarkan definisi ini, konsep syaitan menjadi sebuah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang menempuh jalan kejahatan dan kesesatan. Banyak orang yang kita lihat dan melihat kita, berinteraksi dengan kita dan kita dengan mereka—secara lahir mereka adalah manusia, namun pada hakikatnya dengan perilaku, pikiran, tipu daya, dan akhlak mereka, mereka termasuk golongan para setan durhaka. Bahkan terkadang, tipu daya mereka lebih berbahaya daripada tipu daya Iblis sendiri.Adapun Iblis, ia adalah nama bagi makhluk tertentu yang diciptakan Allah dari api. Allah memasukkannya ke dalam barisan malaikat dan ia menjalankan tugasnya sesuai kehendak Allah. Namun ia kemudian menentang kemuliaan dan keagungan Rabb-nya, menyombongkan diri untuk taat kepada-Nya, dan durhaka kepada Tuhannya. Maka Allah mengusirnya dari rahmat-Nya dan dari tugasnya, lalu ia turun ke bumi, dan sifat kesetanan menjadi ciri dirinya.Iblis memiliki keturunan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:﴿ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي ﴾“Pantaskah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku?” (QS. Al-Kahf: 50)Iblis adalah bagian dari bangsa jin, yang Allah ciptakan dari api yang sangat panas. Ia dan kelompoknya dapat melihat kita, sementara kita tidak dapat melihat mereka. Ia telah keluar dari ketaatan kepada Rabb-nya, dan ia merupakan pemimpin para setan serta para pembangkang. Bentuk jamaknya adalah abâlis dan abâlisah.[9]Dengan demikian, Iblis adalah nama khusus (nama diri) bagi makhluk pembangkang tersebut, sedangkan syaitan adalah sifat bagi dirinya dan makhluk lain. Iblis Apakah Termasuk Malaikat?Ada satu masalah penting terkait hal ini: yaitu adanya nash-nash yang menyebut bahwa Iblis berasal dari malaikat—seperti firman Allah Ta’ala:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” (QS. Thaha: 116)Dan nash-nash lain yang menyebut bahwa ia berasal dari jin—seperti firman Allah:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahf: 50)Lalu bagaimana Iblis bisa disebut sebagai malaikat sekaligus jin? Dan bagaimana kaitannya dengan istilah syaitan?Saya katakan: Iblis termasuk kelompok malaikat karena ia diperintahkan sujud bersama mereka, namun ia berasal dari jin sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Tidak ada yang aneh ketika kita mengetahui bahwa Iblis berada di tengah-tengah para malaikat, tetapi bukan dari jenis mereka; ia berasal dari bangsa jin. Jin adalah makhluk yang Allah ciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya.Maka Iblis termasuk malaikat dalam hal ketaatannya dan ibadahnya pada awalnya, tetapi termasuk jin dari sisi nasab dan asal penciptaan.Jika hal ini sudah jelas, maka tidak perlu ada perdebatan panjang yang ditimbulkan sebagian ulama mengenai persoalan ini, karena tidak ada faedah di baliknya.Syaitan adalah sifat yang dapat disandang oleh siapa saja yang melakukan perbuatan Iblis. Allah memberikan sifat ini kepada Iblis sehingga sifat tersebut melekat kuat padanya, hingga manusia menyangka bahwa kata syaitan hanya khusus untuk dirinya.Namun ayat-ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis bukan satu-satunya syaitan, dan bahwa syaitan adalah sifat bagi Iblis. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ … فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat-nikmat (yang) banyak kekhususanNya di mana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Iblis membisikkan kepadanya supaya dikeluarkannya dari apa yang sebelumnya ia berada di dalamnya. Dan Kami berfirman: ‘Turunlah kamu, (sebagai) musuh satu terhadap yang lain. Dan bagi kamu di bumi tempat tinggal dan manfaat sampai waktu yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 34–36)Jika kita melihat frasa:﴿ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾“Maka syaitan membuat keduanya tergelincir,”maka jelas bahwa yang dimaksud adalah Iblis, dengan tipu daya, rayuan, dan bisikannya.Hal serupa juga terdapat dalam Surah Thaha. Setelah Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam dan Iblis menolak karena kesombongannya, Allah memperingatkan Adam agar menjadikannya musuh agar ia tidak mengeluarkannya dari surga.Allah berfirman:﴿ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى ﴾“Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS. Thaha: 120)Maka Iblis adalah pembisik itu, dan Iblis adalah syaitan. Namun ia bukan satu-satunya syaitan. Ada banyak syaitan dari kalangan manusia dan jin yang mengikuti jalannya, meniru perilakunya, dan menempuh jalan kesesatan yang ia ajarkan.Maka pada titik ini jelaslah hubungan antara Iblis dan syaitan. KesimpulanDari sisi bahasa, syaitan (setan) bermakna makhluk yang jauh dari kebenaran, sementara Iblis bermakna makhluk yang putus asa, terdiam, dan terputus dari rahmat Allah.Secara istilah, syaitan (setan) adalah sifat yang dapat dimiliki makhluk mana pun—baik manusia, jin, atau hewan—yang bersikap durhaka dan menempuh jalan kejahatan. Adapun Iblis adalah nama khusus bagi makhluk pertama yang membangkang perintah Allah untuk sujud kepada Adam, ia berasal dari golongan jin tetapi semula berada di tengah para malaikat karena ketaatannya.Perbedaan antara syaitan (setan) dan Iblis sangat jelas: Iblis adalah individu tertentu, sedangkan syaitan adalah sifat dan jalan hidup yang dapat diikuti oleh banyak makhluk.Dengan memahami hal ini, kita mengerti bahwa musuh manusia bukan hanya Iblis, melainkan semua makhluk yang mengikuti jalannya.Semoga tulisan ini bermanfaat. Referensi:Ad-Duri, S. S. A. (2016). الشيطان في اللغة والاصطلاح. Alukah.https://www.alukah.net/sharia/0/106568/الشيطان-في-اللغة-والاصطلاح/Ditulis di Sekar Kedhaton Jogja, 28 Jumadilawal 1447 HPenyusun: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakidah ahlus sunnah aqidah islam artikel rumaysho bahasa arab iblis iblis dalam istilah jin dan malaikat makna iblis makna setan makna syaitan perbedaan syaitan dan iblis setan syaitan syaitan dalam istilah tafsir al-qur’an
Prev     Next