Dua Kunci Agar Hati Tetap Teguh dalam Iman – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Ma’yuf #nasehatulama

Ini juga, wahai Ahmad, menunjukkan bahwa amal saleh merupakan salah satu sebab keteguhan.“…Andai mereka menjalankan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisa: 66). Inilah sebab-sebab keteguhan, taufik, dan kelurusan (sikap). (Dalam hadis qudsi): “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan kepadanya.” Ini adalah tingkatan orang-orang yang mencukupkan diri dengan yang wajib. “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya…” “Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.” (HR. Bukhari, disampaikan Syaikh secara makna). Inilah tingkatan orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk golongan ini. Perhatikan, apabila seseorang menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunah, Allah akan meluruskan langkahnya dan memberinya taufik. Pendengarannya tidak mendengar kecuali yang baik, dan penglihatannya tidak melihat kecuali yang baik. Tangannya tidak melakukan kecuali yang baik, dan kakinya tidak melangkah kecuali menuju kebaikan. Semua itu sebabnya adalah amal saleh. Para ulama berkata: satu kebaikan melahirkan kebaikan berikutnya. Kebaikan seakan berkata kepada kebaikan lain, “Kemarilah, wahai saudariku.” “Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7). “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka, dan memberi ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17). Ayat-ayat ini menjadi dalil atas perkara besar ini, bahwa amal saleh adalah sebab keteguhan. Apabila ditanya tentang keteguhan dan sebab-sebabnya, maka di antara sebab terbesar—tanpa ragu—adalah doa. Berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan:“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad). Doa ini termasuk doa yang paling sering dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ===== وَفِيهِ أَيْضًا يَا أَحْمَدُ أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِ التَّوْفِيقِ وَأَسْبَابِ السَّدَادِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ المُقْتَصِدِينَ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَيَدَهُ رِجْلَاهُ الْحَدِيثَ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الْمُقَرَّبِيْنَ السَّابِقِيْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْهُمْ انْظُرُوا كَيْفَ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ النَّوَافِلِ أَدَّى الْفَرَائِضَ وَأَكْثَرَ مِنْ نَوَافِلَ سَدَّدَهُ اللَّهُ وَفَّقَهُ اللَّهُ بِسَمْعِهِ فَلَا يَسْمَعُ إِلَّا خَيْرًا بَصَرَهُ لَا يَرَى إِلَّا مَا فِيهِ خَيْرٌ يَدَهُ لَا يَعْمَلُ إِلَّا خَيْرًا رِجْلَهُ لَا يَمْشِي إِلَّا إِلَى خَيْرٍ وَسَبَبُ ذَلِكَ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالْحَسَنَةُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ تُنْتِجُ الْحَسَنَةَ وَالْحَسَنَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ وَالآيَاتُ دَلِيلٌ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكَبِيرَةِ فَإِذَا سُئِلَ عَنِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِهِ قِيلَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ لَا شَكَّ بِالدُّعَاءِ دُعَاءُ اللَّه بِالثَّبَاتِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَكَانَ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dua Kunci Agar Hati Tetap Teguh dalam Iman – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Ma’yuf #nasehatulama

Ini juga, wahai Ahmad, menunjukkan bahwa amal saleh merupakan salah satu sebab keteguhan.“…Andai mereka menjalankan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisa: 66). Inilah sebab-sebab keteguhan, taufik, dan kelurusan (sikap). (Dalam hadis qudsi): “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan kepadanya.” Ini adalah tingkatan orang-orang yang mencukupkan diri dengan yang wajib. “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya…” “Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.” (HR. Bukhari, disampaikan Syaikh secara makna). Inilah tingkatan orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk golongan ini. Perhatikan, apabila seseorang menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunah, Allah akan meluruskan langkahnya dan memberinya taufik. Pendengarannya tidak mendengar kecuali yang baik, dan penglihatannya tidak melihat kecuali yang baik. Tangannya tidak melakukan kecuali yang baik, dan kakinya tidak melangkah kecuali menuju kebaikan. Semua itu sebabnya adalah amal saleh. Para ulama berkata: satu kebaikan melahirkan kebaikan berikutnya. Kebaikan seakan berkata kepada kebaikan lain, “Kemarilah, wahai saudariku.” “Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7). “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka, dan memberi ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17). Ayat-ayat ini menjadi dalil atas perkara besar ini, bahwa amal saleh adalah sebab keteguhan. Apabila ditanya tentang keteguhan dan sebab-sebabnya, maka di antara sebab terbesar—tanpa ragu—adalah doa. Berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan:“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad). Doa ini termasuk doa yang paling sering dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ===== وَفِيهِ أَيْضًا يَا أَحْمَدُ أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِ التَّوْفِيقِ وَأَسْبَابِ السَّدَادِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ المُقْتَصِدِينَ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَيَدَهُ رِجْلَاهُ الْحَدِيثَ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الْمُقَرَّبِيْنَ السَّابِقِيْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْهُمْ انْظُرُوا كَيْفَ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ النَّوَافِلِ أَدَّى الْفَرَائِضَ وَأَكْثَرَ مِنْ نَوَافِلَ سَدَّدَهُ اللَّهُ وَفَّقَهُ اللَّهُ بِسَمْعِهِ فَلَا يَسْمَعُ إِلَّا خَيْرًا بَصَرَهُ لَا يَرَى إِلَّا مَا فِيهِ خَيْرٌ يَدَهُ لَا يَعْمَلُ إِلَّا خَيْرًا رِجْلَهُ لَا يَمْشِي إِلَّا إِلَى خَيْرٍ وَسَبَبُ ذَلِكَ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالْحَسَنَةُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ تُنْتِجُ الْحَسَنَةَ وَالْحَسَنَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ وَالآيَاتُ دَلِيلٌ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكَبِيرَةِ فَإِذَا سُئِلَ عَنِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِهِ قِيلَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ لَا شَكَّ بِالدُّعَاءِ دُعَاءُ اللَّه بِالثَّبَاتِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَكَانَ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ini juga, wahai Ahmad, menunjukkan bahwa amal saleh merupakan salah satu sebab keteguhan.“…Andai mereka menjalankan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisa: 66). Inilah sebab-sebab keteguhan, taufik, dan kelurusan (sikap). (Dalam hadis qudsi): “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan kepadanya.” Ini adalah tingkatan orang-orang yang mencukupkan diri dengan yang wajib. “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya…” “Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.” (HR. Bukhari, disampaikan Syaikh secara makna). Inilah tingkatan orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk golongan ini. Perhatikan, apabila seseorang menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunah, Allah akan meluruskan langkahnya dan memberinya taufik. Pendengarannya tidak mendengar kecuali yang baik, dan penglihatannya tidak melihat kecuali yang baik. Tangannya tidak melakukan kecuali yang baik, dan kakinya tidak melangkah kecuali menuju kebaikan. Semua itu sebabnya adalah amal saleh. Para ulama berkata: satu kebaikan melahirkan kebaikan berikutnya. Kebaikan seakan berkata kepada kebaikan lain, “Kemarilah, wahai saudariku.” “Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7). “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka, dan memberi ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17). Ayat-ayat ini menjadi dalil atas perkara besar ini, bahwa amal saleh adalah sebab keteguhan. Apabila ditanya tentang keteguhan dan sebab-sebabnya, maka di antara sebab terbesar—tanpa ragu—adalah doa. Berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan:“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad). Doa ini termasuk doa yang paling sering dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ===== وَفِيهِ أَيْضًا يَا أَحْمَدُ أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِ التَّوْفِيقِ وَأَسْبَابِ السَّدَادِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ المُقْتَصِدِينَ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَيَدَهُ رِجْلَاهُ الْحَدِيثَ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الْمُقَرَّبِيْنَ السَّابِقِيْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْهُمْ انْظُرُوا كَيْفَ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ النَّوَافِلِ أَدَّى الْفَرَائِضَ وَأَكْثَرَ مِنْ نَوَافِلَ سَدَّدَهُ اللَّهُ وَفَّقَهُ اللَّهُ بِسَمْعِهِ فَلَا يَسْمَعُ إِلَّا خَيْرًا بَصَرَهُ لَا يَرَى إِلَّا مَا فِيهِ خَيْرٌ يَدَهُ لَا يَعْمَلُ إِلَّا خَيْرًا رِجْلَهُ لَا يَمْشِي إِلَّا إِلَى خَيْرٍ وَسَبَبُ ذَلِكَ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالْحَسَنَةُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ تُنْتِجُ الْحَسَنَةَ وَالْحَسَنَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ وَالآيَاتُ دَلِيلٌ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكَبِيرَةِ فَإِذَا سُئِلَ عَنِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِهِ قِيلَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ لَا شَكَّ بِالدُّعَاءِ دُعَاءُ اللَّه بِالثَّبَاتِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَكَانَ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Ini juga, wahai Ahmad, menunjukkan bahwa amal saleh merupakan salah satu sebab keteguhan.“…Andai mereka menjalankan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisa: 66). Inilah sebab-sebab keteguhan, taufik, dan kelurusan (sikap). (Dalam hadis qudsi): “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan kepadanya.” Ini adalah tingkatan orang-orang yang mencukupkan diri dengan yang wajib. “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya…” “Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.” (HR. Bukhari, disampaikan Syaikh secara makna). Inilah tingkatan orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) dan orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk golongan ini. Perhatikan, apabila seseorang menunaikan kewajiban dan memperbanyak amalan sunah, Allah akan meluruskan langkahnya dan memberinya taufik. Pendengarannya tidak mendengar kecuali yang baik, dan penglihatannya tidak melihat kecuali yang baik. Tangannya tidak melakukan kecuali yang baik, dan kakinya tidak melangkah kecuali menuju kebaikan. Semua itu sebabnya adalah amal saleh. Para ulama berkata: satu kebaikan melahirkan kebaikan berikutnya. Kebaikan seakan berkata kepada kebaikan lain, “Kemarilah, wahai saudariku.” “Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7). “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka, dan memberi ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17). Ayat-ayat ini menjadi dalil atas perkara besar ini, bahwa amal saleh adalah sebab keteguhan. Apabila ditanya tentang keteguhan dan sebab-sebabnya, maka di antara sebab terbesar—tanpa ragu—adalah doa. Berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan:“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad). Doa ini termasuk doa yang paling sering dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ===== وَفِيهِ أَيْضًا يَا أَحْمَدُ أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا أَسْبَابِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِ التَّوْفِيقِ وَأَسْبَابِ السَّدَادِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ المُقْتَصِدِينَ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَيَدَهُ رِجْلَاهُ الْحَدِيثَ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الْمُقَرَّبِيْنَ السَّابِقِيْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْهُمْ انْظُرُوا كَيْفَ إِذَا أَكْثَرَ مِنَ النَّوَافِلِ أَدَّى الْفَرَائِضَ وَأَكْثَرَ مِنْ نَوَافِلَ سَدَّدَهُ اللَّهُ وَفَّقَهُ اللَّهُ بِسَمْعِهِ فَلَا يَسْمَعُ إِلَّا خَيْرًا بَصَرَهُ لَا يَرَى إِلَّا مَا فِيهِ خَيْرٌ يَدَهُ لَا يَعْمَلُ إِلَّا خَيْرًا رِجْلَهُ لَا يَمْشِي إِلَّا إِلَى خَيْرٍ وَسَبَبُ ذَلِكَ الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالْحَسَنَةُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ تُنْتِجُ الْحَسَنَةَ وَالْحَسَنَةُ تَقُولُ أُخْتِي أُخْتِي فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ وَالآيَاتُ دَلِيلٌ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكَبِيرَةِ فَإِذَا سُئِلَ عَنِ الثَّبَاتِ وَأَسْبَابِهِ قِيلَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ لَا شَكَّ بِالدُّعَاءِ دُعَاءُ اللَّه بِالثَّبَاتِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَكَانَ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Apakah Inhaler Membatalkan Puasa?

Daftar Isi ToggleKedudukan puasaPembatal puasa yang disepakatiMeninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaTerhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat kedua: Tidak membatalkan puasaTerhukumi seperti kategori makan dan minumTerhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPenggunaan inhaler tidak membatalkan puasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin BazSyekh UtsaiminSyekh Ahmad bin Muḥammad al-KhalilKesimpulanKedudukan puasaPuasa merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjakan setiap Muslim. Bahkan, seseorang yang tidak melakukan berpuasa dituntut untuk mengqadhanya dengan apa yang diwajibkan, baik dengan mengganti puasa di hari lain atau pun membayar fidyah. Seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja karena malas, maka ia melakukan dosa besar. Namun, jika ia tidak berpuasa karena mengingkari kewajiban puasa, maka ia telah kafir. Syekh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri berkata,من ترك صوم رمضان جاحداً لوجوبه كفر، ومن ترك الصوم تهاوناً وكسلاً فلا يكفر وتصح صلاته، لكنه آثم إثماً عظيماً“Barangsiapa yang meninggalkan puasa dengan pengingkaran terhadap kewajibannya, maka dia kafir. Adapun barang siapa yang meninggalkan puasa karena lalai atau malas, maka dia tidak kafir, masih sah salatnya, namun ia berdosa dengan dosa yang sangat besar.” [1]Berpuasa bermakna menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar (subuh) hingga terbenam (magrib). Syekh Abu Hasan ar-Ramli mendefinisikan puasa sebagai,التعبد لله بالإمساك عن المُفَطِّرات من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس“Peribadatan kepada Allah dengan menahan diri dari pembatal-pembatal sejak munculnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.” [2]Pembatal puasa yang disepakatiTermasuk yang harus menjadi concern utama dalam berpuasa setelah mengikhlaskan niat adalah mengetahui pembatal-pembatalnya. Karena definisi puasa itu sendiri adalah menahan diri dari pembatal-pembatalnya. Para ulama salaf (pendahulu) bersepakat atas tiga hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rusyd rahimahullah,أجمعوا على أنه يجب على الصائم الإمساك زمان الصوم عن المطعوم والمشروب والجماع“Para pendahulu bersepakat bahwa seorang Muslim wajib menahan diri pada saat ia berpuasa dari makanan, minuman, dan jimak (bersetubuh).” [3]Meninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaDewasa ini, muncullah pembahasan-pembahasan turunan dari pembatal-pembatal tersebut, sebagai permasalahan-permasalahan kontemporer yang menjadi diskusi dan tidak jarang menjadi perbedaan pendapat antara ulama. Di antaranya adalah apakah penggunaan inhaler bagi yang membutuhkan saat berpuasa dapat membatalkan puasanya?Sebelum membahasnya lebih jauh, kita perlu tahu apa itu inhaler dan bagaimana fungsinya. Dikutip dari Cleveland Clinic, inhaler adalah alat genggam berukuran kecil yang digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui mulut. Inhaler tersedia dalam beberapa jenis, seperti metered-dose, dry powder, dan soft mist inhaler, dan umumnya digunakan untuk terapi asma dan COPD. [4]Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, dengan meninjau dari definisi dan teknis penggunaannya (mengantarkan obat melalui hirupan mulut), bahwa para ulama melakukan takyif fiqh (penggambaran hukum) untuk penggunaan inhaler pada tiga bentuk hukum permasalahan [5]:Terhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pada pembahasan, jika inhaler dihukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan dengan sengaja, para ulama terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat ini merupakan pendapat para ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dari kalangan mazhab Hanafi, Ibnu Abidin berkata,ولو أدخل حلقه الدخان بأي صورة كان الإدخال، حتى لو تبخر بخور فآواه إلى نفسه واشتمه ذاكراً لصومه أفطر لإمكان التحرز عنه“Jika seseorang memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan cara apapun, bahkan jika (asap itu) berasal dari uap dupa lalu ia sengaja menghirupnya, padahal ia ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, maka puasanya batal, karena hal tersebut masih mungkin untuk dihindari.” [6]Dari kalangan mazhab Maliki, ad-Dasuqi berkata,متى وصل دخان البخور أو بخار القدر للحلق وجب القضاء; لأن دخان البخور وبخار كل منهما جسم يتكيف به الدماغ ويتقوى به، أي تحصل له قوة كالتي تحصل له من الأكل“Apabila asap dupa atau uap dari panci sampai ke tenggorokan, maka wajib mengqadha (puasa); karena asap dupa dan uap tersebut masing-masing merupakan sesuatu yang bersifat materi, yang dapat mempengaruhi otak dan menguatkannya, yaitu memberikan kekuatan sebagaimana kekuatan yang diperoleh dari makanan.” [7]Dari kalangan mazhab Hambali, al-Buhuti berkata,ولا يفسد صومه إن طار إلى حلقه ذباب أو غبار طريق أو نخل نحو دقيق أو دخان بلا قصد لعدم إمكان التحرز منه“Puasa seseorang tidak batal apabila lalat, debu jalanan, serbuk halus (seperti tepung), atau asap masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja, karena hal itu tidak mungkin dihindari.” [8] Dapat dipahami bahwa jika dimaksudkan secara sengaja, maka hal tersebut membatalkan. [9]Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasaPendapat tidak batalnya puasa dengan menghirup hal-hal tersebut adalah pendapat ulama mazhab Syafi’i. Dari kalangan Syafi’i, ar-Ramli berkata,ووصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به، وإن تعمَّد فتح فِيه لأجل ذلك وهو ظاهر لما تقرر أنّها ليست عيناً عرفاً إذ المدار هنا عليه“Masuknya asap yang mengandung aroma dupa atau lainnya ke dalam rongga (tubuh) tidak membatalkan puasa, meskipun ia sengaja membuka mulut untuk hal tersebut. Hal ini jelas, karena telah ditetapkan bahwa asap itu secara ‘urf (kebiasaan bahasa) tidak dianggap sebagai benda (‘ain). Dan patokan (dalam masalah ini) memang kembali kepada pengertian ‘urf.” [10]Terhukumi seperti kategori makan dan minumPada pembahasan ini, jika inhaler dimasukkan ke dalam hukum ini, maka ia membatalkan puasa. Karena makan dan minum merupakan pembatal puasa secara konsensus (ijmak). Pendapat ini merupakan pendapat keempat mazhab. [11] Allah berfirman,فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)Terhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPada pembahasan ini, apabila penggunaan inhaler diturunkan hukumnya kepada kategori sisa air kumur (المتبقي من المضمضة), maka tidak membatalkan puasa. Hal ini karena air yang tersisa setelah berkumur termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه), disebabkan sulitnya menghindari sisa air tersebut meskipun telah berhati-hati.Para ulama dari empat mazhab bersepakat bahwa sisa air yang tertinggal setelah berkumur saat berpuasa tidak membatalkan puasa, selama tidak disengaja untuk ditelan. Dengan demikian, jika inhaler dianalogikan pada kategori ini, maka hukum asalnya tidak membatalkan puasa, karena zat yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak disengaja, dan sulit dihindari. [12]Dari kalangan mazhab Hanafi, Imam as-Sarakhsi berkata,ألا ترى أنَّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفَطِّره“Tidakkah engkau melihat bahwa apabila orang yang berpuasa berkumur, maka akan tersisa kelembaban air di dalam mulutnya, lalu kelembaban itu masuk ke tenggorokannya bersama air liurnya, dan tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.” [13]Dari kalangan mazhab Maliki, Imam al-’Abdari berkata,قال ابن القاسم: ويجوز بلع ريقه إذا تمضمض“Ibnu al-Qasim berkata, ‘Dibolehkan bagi orang yang berpuasa menelan air liurnya setelah ia berkumur’.” [14]Dari kalangan mazhab Syafi’i, an-Nawawi berkata,إذا تمضمض الصائم لزمه مَجُّ الماء, ولا يلزمه تنشيف فمه بخرقة ونحوها بلا خلاف“Apabila orang yang berpuasa berkumur, maka ia wajib memuntahkan airnya. Namun, ia tidak diwajibkan untuk mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya. Hal ini disepakati tanpa adanya perbedaan pendapat.” [15]Dari kalangan mazhab Hanbali, al-Buhuti berkata,لو بلع ما بقي من أجزاء الماء بعد المضمضة لم يفسد“Apabila ia menelan sisa-sisa bagian air yang masih tertinggal setelah berkumur, maka puasanya tidak rusak (tidak batal).” [16]Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa penentuan hukum penggunaan inhaler sangat bergantung pada bagaimana ia diturunkan ke dalam takyif fiqh yang digunakan oleh para ulama. Namun perlu dicatat bahwa penggambaran fikih tersebut merupakan pendekatan terhadap persoalan kontemporer yang belum dikenal secara rinci oleh para ulama terdahulu.Oleh karena itu, dalam masalah inhaler yang memiliki karakteristik medis khusus, baik dari sisi tujuan penggunaan, cara kerja, maupun kadar zat yang masuk ke tubuh, diperlukan pendekatan fikih kontemporer dengan mempertimbangkan hakikat medisnya. Atas dasar inilah, banyak ulama kontemporer kemudian mengkaji ulang hukum inhaler dan cenderung berpendapat bahwa penggunaannya tidak membatalkan puasa.Penggunaan inhaler tidak membatalkan puasaBerdasarkan kajian medis dan fikih muqāran yang dilakukan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq al-Kindī, dapat disimpulkan bahwa penggunaan inhaler (بخاخ الربو) bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa. Hal ini ia dasari dengan beberapa pendapat ulama dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah) [17],Pertama,قياس الواصل إلى الجوف من بخاخ الربو على المتبقي من المضمضة والاستنشاق، وذلك بأن الصائم له أن يتمضمض ويستنشق، إجماعاً“Mengkiyaskan (menganalogikan) sesuatu yang sampai ke dalam rongga tubuh dari inhaler dengan sisa air yang tertinggal setelah berkumur dan beristinsyāq (menghirup air ke hidung). Hal itu karena orang yang berpuasa dibolehkan untuk berkumur dan beristinsyāq berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).”Kedua,قياس البخاخ على السواك في جواز استعماله للصائم مع وجود بعض المواد فيه والتي قد عفي عنها؛ لقلتها ولكونها غير مقصودة“Mengqiyaskan inhaler dengan siwak dalam kebolehan menggunakannya bagi orang yang berpuasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa zat (bahan) yang telah dimaafkan (tidak diperhitungkan), karena jumlahnya yang sangat sedikit dan tidak dimaksudkan.”Ketiga,أن ما يحصل من بخاخ الربو لا يعتبر أكلاً أو شربًا في العادة، فلا يحصل به الفطر“Bahwa sesuatu yang dihasilkan dari penggunaan inhaler asma tidak dianggap sebagai makan atau minum menurut kebiasaan (‘urf), sehingga tidak menyebabkan batalnya puasa.”Keempat,أن دخول شيء إلى المعدة من بخاخ الربو ليس قطعيًا فقد“Bahwa masuknya sesuatu ke dalam lambung dari inhaler asma bukanlah sesuatu yang pasti, karena bisa saja masuk dan bisa pula tidak masuk.”Kelima,بخاخ الربو يدخل مع مخرج النفس، لا مخرج الطعام والشراب“Bahwa inhaler asma masuk melalui jalur pernapasan, bukan melalui jalur makanan dan minuman.”Selain itu, kita juga bisa memberikan analogi lainnya bahwa satu tabung inhaler asma hanya berisi sekitar 10 ml cairan yang dibagi menjadi kurang lebih 200 semprotan, sehingga setiap semprotan mengandung zat yang sangat kecil, bahkan kurang dari satu tetes. Sebagian besar obat masuk ke saluran pernapasan, sebagian menempel di tenggorokan, dan hanya sisa yang sangat sedikit yang mungkin sampai ke lambung. Jumlah ini lebih kecil daripada sisa air setelah berkumur, yang secara ijmak dimaafkan dalam puasa. Oleh karena itu, zat yang mungkin masuk ke lambung dari inhaler termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه) dan tidak membatalkan puasa.Baca juga: Pembatal-Pembatal PuasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin Bazس: ما حكم استعمال البخاخ في الفم للصائم نهاراً لمريض الربو ونحوه ؟ج: حكمه الإباحة إذا اضطر إلى ذلك؛ لقول اللّٰه عز وجل: ( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ) ولأنه لا يشبه الأكل والشرب فأشبه سحب الدم للتحليل والإبر غير المغذيةPertanyaan: Apa hukum menggunakan inhaler melalui mulut bagi yang berpuasa ketika sakit asma dan semisalnya?Jawaban: “Hukumnya mubah jika hal tersebut merupakan hal darurat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Allah jelaskan untuk kalian apa yang Ia haramkan, kecuali yang kalian darurat membutuhkannya.” (QS. al-An`am: 119) Karena hal tersebut berbeda dengan makan dan minum, ia lebih mirip dengan pengambilan darah untuk analisis atau suntikan yang tidak bernutrisi, sehingga tidak membatalkan puasa.” [18]Syekh Utsaiminسئل فضيلة الشيخ رحمه اللّٰه تعالى: في بعض الصيدليات بخاخ يستعمله بعض مرضى الربو فهل يجوز للصائم استعماله في نهار رمضان؟فأجاب فضيلته بقوله : استعمال هذا البخاخ جائز للصائم، سواء كان صيامه في رمضان أم في غير رمضان، وذلك لأن هذا البخاخ لا يصل إلى المعدة، وإنما يصل إلى القصبات الهوائية فتنفتح لما فيه من خاصية، ويتنفس الإنسان تنفساً عادياً بعد ذلك ، فليس هو بمعنى الأكل ولا الشرب، ولا أكلاً ولا شرباً يصل إلى المعدة  ومعلوم أن الأصل صحة الصوم حتى يوجد دليل يدل على الفساد من كتاب، أو سنة، أو إجماع، أو قياس صحيحSyekh Utsaimin rahimahullāhu Ta‘ala ditanya, “Di sebagian apotek terdapat alat semprot (inhaler) yang digunakan oleh sebagian penderita asma. Apakah boleh bagi orang yang berpuasa menggunakannya di siang hari Ramadan?”Beliau menjawab, “Penggunaan inhaler ini boleh bagi orang yang berpuasa, baik puasanya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hal ini karena inhaler tersebut tidak sampai ke lambung, melainkan hanya sampai ke saluran pernapasan, sehingga saluran itu terbuka karena sifat obat yang ada di dalamnya, lalu seseorang dapat bernapas secara normal setelah itu. Maka inhaler ini bukan termasuk makan dan minum, dan bukan pula sesuatu yang sampai ke lambung. Telah diketahui bahwa hukum asal puasa adalah sah, sampai ada dalil yang menunjukkan batalnya puasa, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijmak, maupun qiyas yang sahih.” [19]Syekh Ahmad bin Muḥammad al-Khalilالذي يظهر والله أعلم أن بخاخ الربو لا يفطر، فإن ما ذكره القائلون بعدم التفطير وجيه، وقياسهم على المضمضة والسواك قياس صحيح“Yang tampak (bagiku), wallahu a’lam, bahwa inhaler asma tidak membatalkan puasa. Karena alasan yang dikemukakan oleh para ulama yang berpendapat tidak membatalkan adalah pendapat yang kuat, dan qiyas mereka dengan berkumur (المضمضة) dan bersiwak adalah qiyas yang sahih.” [20]KesimpulanSebagai kesimpulan, setelah ditelaah dari sisi medis dan ditimbang dengan kaidah-kaidah fikih yang mu‘tabar, penggunaan inhaler asma pada siang hari Ramadan tidak membatalkan puasa. Zat obat yang disemprotkan melalui inhaler, baik dalam bentuk semprot maupun inhaler serbuk, pada hakikatnya diarahkan menuju saluran pernapasan, bukan ke lambung. Jumlah yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak sengaja, dan secara medis sulit dihindari. Terlebih lagi, penggunaan corong udara atau spacer semakin menguatkan kesimpulan ini karena secara ilmiah membantu obat langsung mencapai paru-paru dan meminimalkan sisa yang tertelan.Berbeda dengan inhaler biasa, penggunaan nebulizer memiliki karakteristik yang tidak sama. Dari sisi medis, nebulizer menggunakan dosis obat yang jauh lebih besar dengan durasi pemakaian yang relatif lama, sehingga peluang masuknya obat ke saluran pencernaan menjadi lebih besar. Selain itu, tekanan uap yang dihasilkan memungkinkan sebagian cairan mencapai tenggorokan dan tertelan. Oleh karena itu, nebulizer tidak dapat diqiyaskan dengan inhaler biasa dan lebih dekat kepada perkara yang membatalkan puasa. [21]Dengan penjelasan ini, diharapkan kaum Muslimin, khususnya penderita asma, dapat merasa tenang dalam menjalankan ibadah puasa. Menggunakan inhaler asma saat dibutuhkan tidak merusak puasa, dan syariat tidak dimaksudkan untuk memberatkan hamba, terlebih dalam kondisi sakit. Adapun bagi yang membutuhkan nebulizer, syariat memberikan keringanan bagi orang sakit untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang menjadikan syariat ini selaras antara ibadah dan penjagaan jiwa. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad Ibrahim at-Tuwaijiri, Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah, hal. 630.[2] Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar ar-Ramli, Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah, hal. 681.[3] Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid, 1: 211.[4] Web Cleveland Clinic, Inhalers.[5] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157-161.[6] Muhammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz Ibn ‘Ābidīn, Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār, 2: 395.[7] Muhammad ‘Arafah ad-Dasūqī, Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr, 1: 525.[8] Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs al-Buhūtī, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 482.[9] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[10] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar-Ramlī (asy-Syāfi‘ī aṣ-Ṣaghīr), Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, 3: 169.[11] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[12] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 158.[13] Imam as-Sarakhsī, Muḥammad bin Aḥmad bin Sahl, al-Mabsūṭ, 3: 142.[14] Imam al-‘Abdarī, Muḥammad bin Yūsuf, at-Tāj wa al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 2: 426.[15] Imam an-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf ad-Dīn, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 6: 338.[16] Imam al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 483.[17] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 163-168.[18] Syekh Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15: 265.[19] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn, 19: 210–211.[20]  Aḥmad bin Muḥammad al-Khalīl, Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah, hal. 50–51.[21] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 173. Daftar Pustakaad-Dasūqī, Muḥammad ‘Arafah. Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr.al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs. (1996). Syarḥ Muntahā al-Irādāt (Cet. ke-2). Beirut: ‘Ālam al-Kutub.al-Khalīl, Aḥmad bin Muḥammad. (2005). Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah. Cet. 1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.al-Kindī, ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib. (2014). al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah: Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah (Cet. 1). Malaysia: Dār al-Ḥaqīqah al-Kauniyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ar-Ramlī, Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Mukhtār. Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn. Riyadh: Dār al-Waṭan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.at-Tuwaijirī, Muḥammad bin Ibrāhīm bin ‘Abdullāh. (2010). Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah (Cet. 11). Riyadh: Dār Aṣdā’ al-Mujtama‘. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Cleveland Clinic. (2025). Inhalers. Diakses pada 5 Februari 2025, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8694-inhalersIbn ‘Ābidīn, Muḥammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz. Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār. Beirut: Dār al-Fikr.Ibn Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Ri’āsat Idārat al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’.Ibn Rusyd, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī. Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid. Beirut: Dār al-Fikr.

Apakah Inhaler Membatalkan Puasa?

Daftar Isi ToggleKedudukan puasaPembatal puasa yang disepakatiMeninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaTerhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat kedua: Tidak membatalkan puasaTerhukumi seperti kategori makan dan minumTerhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPenggunaan inhaler tidak membatalkan puasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin BazSyekh UtsaiminSyekh Ahmad bin Muḥammad al-KhalilKesimpulanKedudukan puasaPuasa merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjakan setiap Muslim. Bahkan, seseorang yang tidak melakukan berpuasa dituntut untuk mengqadhanya dengan apa yang diwajibkan, baik dengan mengganti puasa di hari lain atau pun membayar fidyah. Seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja karena malas, maka ia melakukan dosa besar. Namun, jika ia tidak berpuasa karena mengingkari kewajiban puasa, maka ia telah kafir. Syekh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri berkata,من ترك صوم رمضان جاحداً لوجوبه كفر، ومن ترك الصوم تهاوناً وكسلاً فلا يكفر وتصح صلاته، لكنه آثم إثماً عظيماً“Barangsiapa yang meninggalkan puasa dengan pengingkaran terhadap kewajibannya, maka dia kafir. Adapun barang siapa yang meninggalkan puasa karena lalai atau malas, maka dia tidak kafir, masih sah salatnya, namun ia berdosa dengan dosa yang sangat besar.” [1]Berpuasa bermakna menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar (subuh) hingga terbenam (magrib). Syekh Abu Hasan ar-Ramli mendefinisikan puasa sebagai,التعبد لله بالإمساك عن المُفَطِّرات من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس“Peribadatan kepada Allah dengan menahan diri dari pembatal-pembatal sejak munculnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.” [2]Pembatal puasa yang disepakatiTermasuk yang harus menjadi concern utama dalam berpuasa setelah mengikhlaskan niat adalah mengetahui pembatal-pembatalnya. Karena definisi puasa itu sendiri adalah menahan diri dari pembatal-pembatalnya. Para ulama salaf (pendahulu) bersepakat atas tiga hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rusyd rahimahullah,أجمعوا على أنه يجب على الصائم الإمساك زمان الصوم عن المطعوم والمشروب والجماع“Para pendahulu bersepakat bahwa seorang Muslim wajib menahan diri pada saat ia berpuasa dari makanan, minuman, dan jimak (bersetubuh).” [3]Meninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaDewasa ini, muncullah pembahasan-pembahasan turunan dari pembatal-pembatal tersebut, sebagai permasalahan-permasalahan kontemporer yang menjadi diskusi dan tidak jarang menjadi perbedaan pendapat antara ulama. Di antaranya adalah apakah penggunaan inhaler bagi yang membutuhkan saat berpuasa dapat membatalkan puasanya?Sebelum membahasnya lebih jauh, kita perlu tahu apa itu inhaler dan bagaimana fungsinya. Dikutip dari Cleveland Clinic, inhaler adalah alat genggam berukuran kecil yang digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui mulut. Inhaler tersedia dalam beberapa jenis, seperti metered-dose, dry powder, dan soft mist inhaler, dan umumnya digunakan untuk terapi asma dan COPD. [4]Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, dengan meninjau dari definisi dan teknis penggunaannya (mengantarkan obat melalui hirupan mulut), bahwa para ulama melakukan takyif fiqh (penggambaran hukum) untuk penggunaan inhaler pada tiga bentuk hukum permasalahan [5]:Terhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pada pembahasan, jika inhaler dihukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan dengan sengaja, para ulama terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat ini merupakan pendapat para ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dari kalangan mazhab Hanafi, Ibnu Abidin berkata,ولو أدخل حلقه الدخان بأي صورة كان الإدخال، حتى لو تبخر بخور فآواه إلى نفسه واشتمه ذاكراً لصومه أفطر لإمكان التحرز عنه“Jika seseorang memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan cara apapun, bahkan jika (asap itu) berasal dari uap dupa lalu ia sengaja menghirupnya, padahal ia ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, maka puasanya batal, karena hal tersebut masih mungkin untuk dihindari.” [6]Dari kalangan mazhab Maliki, ad-Dasuqi berkata,متى وصل دخان البخور أو بخار القدر للحلق وجب القضاء; لأن دخان البخور وبخار كل منهما جسم يتكيف به الدماغ ويتقوى به، أي تحصل له قوة كالتي تحصل له من الأكل“Apabila asap dupa atau uap dari panci sampai ke tenggorokan, maka wajib mengqadha (puasa); karena asap dupa dan uap tersebut masing-masing merupakan sesuatu yang bersifat materi, yang dapat mempengaruhi otak dan menguatkannya, yaitu memberikan kekuatan sebagaimana kekuatan yang diperoleh dari makanan.” [7]Dari kalangan mazhab Hambali, al-Buhuti berkata,ولا يفسد صومه إن طار إلى حلقه ذباب أو غبار طريق أو نخل نحو دقيق أو دخان بلا قصد لعدم إمكان التحرز منه“Puasa seseorang tidak batal apabila lalat, debu jalanan, serbuk halus (seperti tepung), atau asap masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja, karena hal itu tidak mungkin dihindari.” [8] Dapat dipahami bahwa jika dimaksudkan secara sengaja, maka hal tersebut membatalkan. [9]Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasaPendapat tidak batalnya puasa dengan menghirup hal-hal tersebut adalah pendapat ulama mazhab Syafi’i. Dari kalangan Syafi’i, ar-Ramli berkata,ووصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به، وإن تعمَّد فتح فِيه لأجل ذلك وهو ظاهر لما تقرر أنّها ليست عيناً عرفاً إذ المدار هنا عليه“Masuknya asap yang mengandung aroma dupa atau lainnya ke dalam rongga (tubuh) tidak membatalkan puasa, meskipun ia sengaja membuka mulut untuk hal tersebut. Hal ini jelas, karena telah ditetapkan bahwa asap itu secara ‘urf (kebiasaan bahasa) tidak dianggap sebagai benda (‘ain). Dan patokan (dalam masalah ini) memang kembali kepada pengertian ‘urf.” [10]Terhukumi seperti kategori makan dan minumPada pembahasan ini, jika inhaler dimasukkan ke dalam hukum ini, maka ia membatalkan puasa. Karena makan dan minum merupakan pembatal puasa secara konsensus (ijmak). Pendapat ini merupakan pendapat keempat mazhab. [11] Allah berfirman,فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)Terhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPada pembahasan ini, apabila penggunaan inhaler diturunkan hukumnya kepada kategori sisa air kumur (المتبقي من المضمضة), maka tidak membatalkan puasa. Hal ini karena air yang tersisa setelah berkumur termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه), disebabkan sulitnya menghindari sisa air tersebut meskipun telah berhati-hati.Para ulama dari empat mazhab bersepakat bahwa sisa air yang tertinggal setelah berkumur saat berpuasa tidak membatalkan puasa, selama tidak disengaja untuk ditelan. Dengan demikian, jika inhaler dianalogikan pada kategori ini, maka hukum asalnya tidak membatalkan puasa, karena zat yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak disengaja, dan sulit dihindari. [12]Dari kalangan mazhab Hanafi, Imam as-Sarakhsi berkata,ألا ترى أنَّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفَطِّره“Tidakkah engkau melihat bahwa apabila orang yang berpuasa berkumur, maka akan tersisa kelembaban air di dalam mulutnya, lalu kelembaban itu masuk ke tenggorokannya bersama air liurnya, dan tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.” [13]Dari kalangan mazhab Maliki, Imam al-’Abdari berkata,قال ابن القاسم: ويجوز بلع ريقه إذا تمضمض“Ibnu al-Qasim berkata, ‘Dibolehkan bagi orang yang berpuasa menelan air liurnya setelah ia berkumur’.” [14]Dari kalangan mazhab Syafi’i, an-Nawawi berkata,إذا تمضمض الصائم لزمه مَجُّ الماء, ولا يلزمه تنشيف فمه بخرقة ونحوها بلا خلاف“Apabila orang yang berpuasa berkumur, maka ia wajib memuntahkan airnya. Namun, ia tidak diwajibkan untuk mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya. Hal ini disepakati tanpa adanya perbedaan pendapat.” [15]Dari kalangan mazhab Hanbali, al-Buhuti berkata,لو بلع ما بقي من أجزاء الماء بعد المضمضة لم يفسد“Apabila ia menelan sisa-sisa bagian air yang masih tertinggal setelah berkumur, maka puasanya tidak rusak (tidak batal).” [16]Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa penentuan hukum penggunaan inhaler sangat bergantung pada bagaimana ia diturunkan ke dalam takyif fiqh yang digunakan oleh para ulama. Namun perlu dicatat bahwa penggambaran fikih tersebut merupakan pendekatan terhadap persoalan kontemporer yang belum dikenal secara rinci oleh para ulama terdahulu.Oleh karena itu, dalam masalah inhaler yang memiliki karakteristik medis khusus, baik dari sisi tujuan penggunaan, cara kerja, maupun kadar zat yang masuk ke tubuh, diperlukan pendekatan fikih kontemporer dengan mempertimbangkan hakikat medisnya. Atas dasar inilah, banyak ulama kontemporer kemudian mengkaji ulang hukum inhaler dan cenderung berpendapat bahwa penggunaannya tidak membatalkan puasa.Penggunaan inhaler tidak membatalkan puasaBerdasarkan kajian medis dan fikih muqāran yang dilakukan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq al-Kindī, dapat disimpulkan bahwa penggunaan inhaler (بخاخ الربو) bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa. Hal ini ia dasari dengan beberapa pendapat ulama dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah) [17],Pertama,قياس الواصل إلى الجوف من بخاخ الربو على المتبقي من المضمضة والاستنشاق، وذلك بأن الصائم له أن يتمضمض ويستنشق، إجماعاً“Mengkiyaskan (menganalogikan) sesuatu yang sampai ke dalam rongga tubuh dari inhaler dengan sisa air yang tertinggal setelah berkumur dan beristinsyāq (menghirup air ke hidung). Hal itu karena orang yang berpuasa dibolehkan untuk berkumur dan beristinsyāq berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).”Kedua,قياس البخاخ على السواك في جواز استعماله للصائم مع وجود بعض المواد فيه والتي قد عفي عنها؛ لقلتها ولكونها غير مقصودة“Mengqiyaskan inhaler dengan siwak dalam kebolehan menggunakannya bagi orang yang berpuasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa zat (bahan) yang telah dimaafkan (tidak diperhitungkan), karena jumlahnya yang sangat sedikit dan tidak dimaksudkan.”Ketiga,أن ما يحصل من بخاخ الربو لا يعتبر أكلاً أو شربًا في العادة، فلا يحصل به الفطر“Bahwa sesuatu yang dihasilkan dari penggunaan inhaler asma tidak dianggap sebagai makan atau minum menurut kebiasaan (‘urf), sehingga tidak menyebabkan batalnya puasa.”Keempat,أن دخول شيء إلى المعدة من بخاخ الربو ليس قطعيًا فقد“Bahwa masuknya sesuatu ke dalam lambung dari inhaler asma bukanlah sesuatu yang pasti, karena bisa saja masuk dan bisa pula tidak masuk.”Kelima,بخاخ الربو يدخل مع مخرج النفس، لا مخرج الطعام والشراب“Bahwa inhaler asma masuk melalui jalur pernapasan, bukan melalui jalur makanan dan minuman.”Selain itu, kita juga bisa memberikan analogi lainnya bahwa satu tabung inhaler asma hanya berisi sekitar 10 ml cairan yang dibagi menjadi kurang lebih 200 semprotan, sehingga setiap semprotan mengandung zat yang sangat kecil, bahkan kurang dari satu tetes. Sebagian besar obat masuk ke saluran pernapasan, sebagian menempel di tenggorokan, dan hanya sisa yang sangat sedikit yang mungkin sampai ke lambung. Jumlah ini lebih kecil daripada sisa air setelah berkumur, yang secara ijmak dimaafkan dalam puasa. Oleh karena itu, zat yang mungkin masuk ke lambung dari inhaler termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه) dan tidak membatalkan puasa.Baca juga: Pembatal-Pembatal PuasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin Bazس: ما حكم استعمال البخاخ في الفم للصائم نهاراً لمريض الربو ونحوه ؟ج: حكمه الإباحة إذا اضطر إلى ذلك؛ لقول اللّٰه عز وجل: ( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ) ولأنه لا يشبه الأكل والشرب فأشبه سحب الدم للتحليل والإبر غير المغذيةPertanyaan: Apa hukum menggunakan inhaler melalui mulut bagi yang berpuasa ketika sakit asma dan semisalnya?Jawaban: “Hukumnya mubah jika hal tersebut merupakan hal darurat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Allah jelaskan untuk kalian apa yang Ia haramkan, kecuali yang kalian darurat membutuhkannya.” (QS. al-An`am: 119) Karena hal tersebut berbeda dengan makan dan minum, ia lebih mirip dengan pengambilan darah untuk analisis atau suntikan yang tidak bernutrisi, sehingga tidak membatalkan puasa.” [18]Syekh Utsaiminسئل فضيلة الشيخ رحمه اللّٰه تعالى: في بعض الصيدليات بخاخ يستعمله بعض مرضى الربو فهل يجوز للصائم استعماله في نهار رمضان؟فأجاب فضيلته بقوله : استعمال هذا البخاخ جائز للصائم، سواء كان صيامه في رمضان أم في غير رمضان، وذلك لأن هذا البخاخ لا يصل إلى المعدة، وإنما يصل إلى القصبات الهوائية فتنفتح لما فيه من خاصية، ويتنفس الإنسان تنفساً عادياً بعد ذلك ، فليس هو بمعنى الأكل ولا الشرب، ولا أكلاً ولا شرباً يصل إلى المعدة  ومعلوم أن الأصل صحة الصوم حتى يوجد دليل يدل على الفساد من كتاب، أو سنة، أو إجماع، أو قياس صحيحSyekh Utsaimin rahimahullāhu Ta‘ala ditanya, “Di sebagian apotek terdapat alat semprot (inhaler) yang digunakan oleh sebagian penderita asma. Apakah boleh bagi orang yang berpuasa menggunakannya di siang hari Ramadan?”Beliau menjawab, “Penggunaan inhaler ini boleh bagi orang yang berpuasa, baik puasanya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hal ini karena inhaler tersebut tidak sampai ke lambung, melainkan hanya sampai ke saluran pernapasan, sehingga saluran itu terbuka karena sifat obat yang ada di dalamnya, lalu seseorang dapat bernapas secara normal setelah itu. Maka inhaler ini bukan termasuk makan dan minum, dan bukan pula sesuatu yang sampai ke lambung. Telah diketahui bahwa hukum asal puasa adalah sah, sampai ada dalil yang menunjukkan batalnya puasa, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijmak, maupun qiyas yang sahih.” [19]Syekh Ahmad bin Muḥammad al-Khalilالذي يظهر والله أعلم أن بخاخ الربو لا يفطر، فإن ما ذكره القائلون بعدم التفطير وجيه، وقياسهم على المضمضة والسواك قياس صحيح“Yang tampak (bagiku), wallahu a’lam, bahwa inhaler asma tidak membatalkan puasa. Karena alasan yang dikemukakan oleh para ulama yang berpendapat tidak membatalkan adalah pendapat yang kuat, dan qiyas mereka dengan berkumur (المضمضة) dan bersiwak adalah qiyas yang sahih.” [20]KesimpulanSebagai kesimpulan, setelah ditelaah dari sisi medis dan ditimbang dengan kaidah-kaidah fikih yang mu‘tabar, penggunaan inhaler asma pada siang hari Ramadan tidak membatalkan puasa. Zat obat yang disemprotkan melalui inhaler, baik dalam bentuk semprot maupun inhaler serbuk, pada hakikatnya diarahkan menuju saluran pernapasan, bukan ke lambung. Jumlah yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak sengaja, dan secara medis sulit dihindari. Terlebih lagi, penggunaan corong udara atau spacer semakin menguatkan kesimpulan ini karena secara ilmiah membantu obat langsung mencapai paru-paru dan meminimalkan sisa yang tertelan.Berbeda dengan inhaler biasa, penggunaan nebulizer memiliki karakteristik yang tidak sama. Dari sisi medis, nebulizer menggunakan dosis obat yang jauh lebih besar dengan durasi pemakaian yang relatif lama, sehingga peluang masuknya obat ke saluran pencernaan menjadi lebih besar. Selain itu, tekanan uap yang dihasilkan memungkinkan sebagian cairan mencapai tenggorokan dan tertelan. Oleh karena itu, nebulizer tidak dapat diqiyaskan dengan inhaler biasa dan lebih dekat kepada perkara yang membatalkan puasa. [21]Dengan penjelasan ini, diharapkan kaum Muslimin, khususnya penderita asma, dapat merasa tenang dalam menjalankan ibadah puasa. Menggunakan inhaler asma saat dibutuhkan tidak merusak puasa, dan syariat tidak dimaksudkan untuk memberatkan hamba, terlebih dalam kondisi sakit. Adapun bagi yang membutuhkan nebulizer, syariat memberikan keringanan bagi orang sakit untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang menjadikan syariat ini selaras antara ibadah dan penjagaan jiwa. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad Ibrahim at-Tuwaijiri, Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah, hal. 630.[2] Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar ar-Ramli, Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah, hal. 681.[3] Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid, 1: 211.[4] Web Cleveland Clinic, Inhalers.[5] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157-161.[6] Muhammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz Ibn ‘Ābidīn, Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār, 2: 395.[7] Muhammad ‘Arafah ad-Dasūqī, Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr, 1: 525.[8] Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs al-Buhūtī, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 482.[9] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[10] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar-Ramlī (asy-Syāfi‘ī aṣ-Ṣaghīr), Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, 3: 169.[11] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[12] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 158.[13] Imam as-Sarakhsī, Muḥammad bin Aḥmad bin Sahl, al-Mabsūṭ, 3: 142.[14] Imam al-‘Abdarī, Muḥammad bin Yūsuf, at-Tāj wa al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 2: 426.[15] Imam an-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf ad-Dīn, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 6: 338.[16] Imam al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 483.[17] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 163-168.[18] Syekh Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15: 265.[19] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn, 19: 210–211.[20]  Aḥmad bin Muḥammad al-Khalīl, Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah, hal. 50–51.[21] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 173. Daftar Pustakaad-Dasūqī, Muḥammad ‘Arafah. Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr.al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs. (1996). Syarḥ Muntahā al-Irādāt (Cet. ke-2). Beirut: ‘Ālam al-Kutub.al-Khalīl, Aḥmad bin Muḥammad. (2005). Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah. Cet. 1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.al-Kindī, ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib. (2014). al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah: Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah (Cet. 1). Malaysia: Dār al-Ḥaqīqah al-Kauniyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ar-Ramlī, Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Mukhtār. Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn. Riyadh: Dār al-Waṭan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.at-Tuwaijirī, Muḥammad bin Ibrāhīm bin ‘Abdullāh. (2010). Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah (Cet. 11). Riyadh: Dār Aṣdā’ al-Mujtama‘. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Cleveland Clinic. (2025). Inhalers. Diakses pada 5 Februari 2025, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8694-inhalersIbn ‘Ābidīn, Muḥammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz. Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār. Beirut: Dār al-Fikr.Ibn Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Ri’āsat Idārat al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’.Ibn Rusyd, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī. Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid. Beirut: Dār al-Fikr.
Daftar Isi ToggleKedudukan puasaPembatal puasa yang disepakatiMeninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaTerhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat kedua: Tidak membatalkan puasaTerhukumi seperti kategori makan dan minumTerhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPenggunaan inhaler tidak membatalkan puasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin BazSyekh UtsaiminSyekh Ahmad bin Muḥammad al-KhalilKesimpulanKedudukan puasaPuasa merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjakan setiap Muslim. Bahkan, seseorang yang tidak melakukan berpuasa dituntut untuk mengqadhanya dengan apa yang diwajibkan, baik dengan mengganti puasa di hari lain atau pun membayar fidyah. Seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja karena malas, maka ia melakukan dosa besar. Namun, jika ia tidak berpuasa karena mengingkari kewajiban puasa, maka ia telah kafir. Syekh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri berkata,من ترك صوم رمضان جاحداً لوجوبه كفر، ومن ترك الصوم تهاوناً وكسلاً فلا يكفر وتصح صلاته، لكنه آثم إثماً عظيماً“Barangsiapa yang meninggalkan puasa dengan pengingkaran terhadap kewajibannya, maka dia kafir. Adapun barang siapa yang meninggalkan puasa karena lalai atau malas, maka dia tidak kafir, masih sah salatnya, namun ia berdosa dengan dosa yang sangat besar.” [1]Berpuasa bermakna menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar (subuh) hingga terbenam (magrib). Syekh Abu Hasan ar-Ramli mendefinisikan puasa sebagai,التعبد لله بالإمساك عن المُفَطِّرات من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس“Peribadatan kepada Allah dengan menahan diri dari pembatal-pembatal sejak munculnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.” [2]Pembatal puasa yang disepakatiTermasuk yang harus menjadi concern utama dalam berpuasa setelah mengikhlaskan niat adalah mengetahui pembatal-pembatalnya. Karena definisi puasa itu sendiri adalah menahan diri dari pembatal-pembatalnya. Para ulama salaf (pendahulu) bersepakat atas tiga hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rusyd rahimahullah,أجمعوا على أنه يجب على الصائم الإمساك زمان الصوم عن المطعوم والمشروب والجماع“Para pendahulu bersepakat bahwa seorang Muslim wajib menahan diri pada saat ia berpuasa dari makanan, minuman, dan jimak (bersetubuh).” [3]Meninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaDewasa ini, muncullah pembahasan-pembahasan turunan dari pembatal-pembatal tersebut, sebagai permasalahan-permasalahan kontemporer yang menjadi diskusi dan tidak jarang menjadi perbedaan pendapat antara ulama. Di antaranya adalah apakah penggunaan inhaler bagi yang membutuhkan saat berpuasa dapat membatalkan puasanya?Sebelum membahasnya lebih jauh, kita perlu tahu apa itu inhaler dan bagaimana fungsinya. Dikutip dari Cleveland Clinic, inhaler adalah alat genggam berukuran kecil yang digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui mulut. Inhaler tersedia dalam beberapa jenis, seperti metered-dose, dry powder, dan soft mist inhaler, dan umumnya digunakan untuk terapi asma dan COPD. [4]Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, dengan meninjau dari definisi dan teknis penggunaannya (mengantarkan obat melalui hirupan mulut), bahwa para ulama melakukan takyif fiqh (penggambaran hukum) untuk penggunaan inhaler pada tiga bentuk hukum permasalahan [5]:Terhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pada pembahasan, jika inhaler dihukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan dengan sengaja, para ulama terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat ini merupakan pendapat para ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dari kalangan mazhab Hanafi, Ibnu Abidin berkata,ولو أدخل حلقه الدخان بأي صورة كان الإدخال، حتى لو تبخر بخور فآواه إلى نفسه واشتمه ذاكراً لصومه أفطر لإمكان التحرز عنه“Jika seseorang memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan cara apapun, bahkan jika (asap itu) berasal dari uap dupa lalu ia sengaja menghirupnya, padahal ia ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, maka puasanya batal, karena hal tersebut masih mungkin untuk dihindari.” [6]Dari kalangan mazhab Maliki, ad-Dasuqi berkata,متى وصل دخان البخور أو بخار القدر للحلق وجب القضاء; لأن دخان البخور وبخار كل منهما جسم يتكيف به الدماغ ويتقوى به، أي تحصل له قوة كالتي تحصل له من الأكل“Apabila asap dupa atau uap dari panci sampai ke tenggorokan, maka wajib mengqadha (puasa); karena asap dupa dan uap tersebut masing-masing merupakan sesuatu yang bersifat materi, yang dapat mempengaruhi otak dan menguatkannya, yaitu memberikan kekuatan sebagaimana kekuatan yang diperoleh dari makanan.” [7]Dari kalangan mazhab Hambali, al-Buhuti berkata,ولا يفسد صومه إن طار إلى حلقه ذباب أو غبار طريق أو نخل نحو دقيق أو دخان بلا قصد لعدم إمكان التحرز منه“Puasa seseorang tidak batal apabila lalat, debu jalanan, serbuk halus (seperti tepung), atau asap masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja, karena hal itu tidak mungkin dihindari.” [8] Dapat dipahami bahwa jika dimaksudkan secara sengaja, maka hal tersebut membatalkan. [9]Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasaPendapat tidak batalnya puasa dengan menghirup hal-hal tersebut adalah pendapat ulama mazhab Syafi’i. Dari kalangan Syafi’i, ar-Ramli berkata,ووصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به، وإن تعمَّد فتح فِيه لأجل ذلك وهو ظاهر لما تقرر أنّها ليست عيناً عرفاً إذ المدار هنا عليه“Masuknya asap yang mengandung aroma dupa atau lainnya ke dalam rongga (tubuh) tidak membatalkan puasa, meskipun ia sengaja membuka mulut untuk hal tersebut. Hal ini jelas, karena telah ditetapkan bahwa asap itu secara ‘urf (kebiasaan bahasa) tidak dianggap sebagai benda (‘ain). Dan patokan (dalam masalah ini) memang kembali kepada pengertian ‘urf.” [10]Terhukumi seperti kategori makan dan minumPada pembahasan ini, jika inhaler dimasukkan ke dalam hukum ini, maka ia membatalkan puasa. Karena makan dan minum merupakan pembatal puasa secara konsensus (ijmak). Pendapat ini merupakan pendapat keempat mazhab. [11] Allah berfirman,فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)Terhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPada pembahasan ini, apabila penggunaan inhaler diturunkan hukumnya kepada kategori sisa air kumur (المتبقي من المضمضة), maka tidak membatalkan puasa. Hal ini karena air yang tersisa setelah berkumur termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه), disebabkan sulitnya menghindari sisa air tersebut meskipun telah berhati-hati.Para ulama dari empat mazhab bersepakat bahwa sisa air yang tertinggal setelah berkumur saat berpuasa tidak membatalkan puasa, selama tidak disengaja untuk ditelan. Dengan demikian, jika inhaler dianalogikan pada kategori ini, maka hukum asalnya tidak membatalkan puasa, karena zat yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak disengaja, dan sulit dihindari. [12]Dari kalangan mazhab Hanafi, Imam as-Sarakhsi berkata,ألا ترى أنَّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفَطِّره“Tidakkah engkau melihat bahwa apabila orang yang berpuasa berkumur, maka akan tersisa kelembaban air di dalam mulutnya, lalu kelembaban itu masuk ke tenggorokannya bersama air liurnya, dan tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.” [13]Dari kalangan mazhab Maliki, Imam al-’Abdari berkata,قال ابن القاسم: ويجوز بلع ريقه إذا تمضمض“Ibnu al-Qasim berkata, ‘Dibolehkan bagi orang yang berpuasa menelan air liurnya setelah ia berkumur’.” [14]Dari kalangan mazhab Syafi’i, an-Nawawi berkata,إذا تمضمض الصائم لزمه مَجُّ الماء, ولا يلزمه تنشيف فمه بخرقة ونحوها بلا خلاف“Apabila orang yang berpuasa berkumur, maka ia wajib memuntahkan airnya. Namun, ia tidak diwajibkan untuk mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya. Hal ini disepakati tanpa adanya perbedaan pendapat.” [15]Dari kalangan mazhab Hanbali, al-Buhuti berkata,لو بلع ما بقي من أجزاء الماء بعد المضمضة لم يفسد“Apabila ia menelan sisa-sisa bagian air yang masih tertinggal setelah berkumur, maka puasanya tidak rusak (tidak batal).” [16]Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa penentuan hukum penggunaan inhaler sangat bergantung pada bagaimana ia diturunkan ke dalam takyif fiqh yang digunakan oleh para ulama. Namun perlu dicatat bahwa penggambaran fikih tersebut merupakan pendekatan terhadap persoalan kontemporer yang belum dikenal secara rinci oleh para ulama terdahulu.Oleh karena itu, dalam masalah inhaler yang memiliki karakteristik medis khusus, baik dari sisi tujuan penggunaan, cara kerja, maupun kadar zat yang masuk ke tubuh, diperlukan pendekatan fikih kontemporer dengan mempertimbangkan hakikat medisnya. Atas dasar inilah, banyak ulama kontemporer kemudian mengkaji ulang hukum inhaler dan cenderung berpendapat bahwa penggunaannya tidak membatalkan puasa.Penggunaan inhaler tidak membatalkan puasaBerdasarkan kajian medis dan fikih muqāran yang dilakukan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq al-Kindī, dapat disimpulkan bahwa penggunaan inhaler (بخاخ الربو) bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa. Hal ini ia dasari dengan beberapa pendapat ulama dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah) [17],Pertama,قياس الواصل إلى الجوف من بخاخ الربو على المتبقي من المضمضة والاستنشاق، وذلك بأن الصائم له أن يتمضمض ويستنشق، إجماعاً“Mengkiyaskan (menganalogikan) sesuatu yang sampai ke dalam rongga tubuh dari inhaler dengan sisa air yang tertinggal setelah berkumur dan beristinsyāq (menghirup air ke hidung). Hal itu karena orang yang berpuasa dibolehkan untuk berkumur dan beristinsyāq berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).”Kedua,قياس البخاخ على السواك في جواز استعماله للصائم مع وجود بعض المواد فيه والتي قد عفي عنها؛ لقلتها ولكونها غير مقصودة“Mengqiyaskan inhaler dengan siwak dalam kebolehan menggunakannya bagi orang yang berpuasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa zat (bahan) yang telah dimaafkan (tidak diperhitungkan), karena jumlahnya yang sangat sedikit dan tidak dimaksudkan.”Ketiga,أن ما يحصل من بخاخ الربو لا يعتبر أكلاً أو شربًا في العادة، فلا يحصل به الفطر“Bahwa sesuatu yang dihasilkan dari penggunaan inhaler asma tidak dianggap sebagai makan atau minum menurut kebiasaan (‘urf), sehingga tidak menyebabkan batalnya puasa.”Keempat,أن دخول شيء إلى المعدة من بخاخ الربو ليس قطعيًا فقد“Bahwa masuknya sesuatu ke dalam lambung dari inhaler asma bukanlah sesuatu yang pasti, karena bisa saja masuk dan bisa pula tidak masuk.”Kelima,بخاخ الربو يدخل مع مخرج النفس، لا مخرج الطعام والشراب“Bahwa inhaler asma masuk melalui jalur pernapasan, bukan melalui jalur makanan dan minuman.”Selain itu, kita juga bisa memberikan analogi lainnya bahwa satu tabung inhaler asma hanya berisi sekitar 10 ml cairan yang dibagi menjadi kurang lebih 200 semprotan, sehingga setiap semprotan mengandung zat yang sangat kecil, bahkan kurang dari satu tetes. Sebagian besar obat masuk ke saluran pernapasan, sebagian menempel di tenggorokan, dan hanya sisa yang sangat sedikit yang mungkin sampai ke lambung. Jumlah ini lebih kecil daripada sisa air setelah berkumur, yang secara ijmak dimaafkan dalam puasa. Oleh karena itu, zat yang mungkin masuk ke lambung dari inhaler termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه) dan tidak membatalkan puasa.Baca juga: Pembatal-Pembatal PuasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin Bazس: ما حكم استعمال البخاخ في الفم للصائم نهاراً لمريض الربو ونحوه ؟ج: حكمه الإباحة إذا اضطر إلى ذلك؛ لقول اللّٰه عز وجل: ( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ) ولأنه لا يشبه الأكل والشرب فأشبه سحب الدم للتحليل والإبر غير المغذيةPertanyaan: Apa hukum menggunakan inhaler melalui mulut bagi yang berpuasa ketika sakit asma dan semisalnya?Jawaban: “Hukumnya mubah jika hal tersebut merupakan hal darurat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Allah jelaskan untuk kalian apa yang Ia haramkan, kecuali yang kalian darurat membutuhkannya.” (QS. al-An`am: 119) Karena hal tersebut berbeda dengan makan dan minum, ia lebih mirip dengan pengambilan darah untuk analisis atau suntikan yang tidak bernutrisi, sehingga tidak membatalkan puasa.” [18]Syekh Utsaiminسئل فضيلة الشيخ رحمه اللّٰه تعالى: في بعض الصيدليات بخاخ يستعمله بعض مرضى الربو فهل يجوز للصائم استعماله في نهار رمضان؟فأجاب فضيلته بقوله : استعمال هذا البخاخ جائز للصائم، سواء كان صيامه في رمضان أم في غير رمضان، وذلك لأن هذا البخاخ لا يصل إلى المعدة، وإنما يصل إلى القصبات الهوائية فتنفتح لما فيه من خاصية، ويتنفس الإنسان تنفساً عادياً بعد ذلك ، فليس هو بمعنى الأكل ولا الشرب، ولا أكلاً ولا شرباً يصل إلى المعدة  ومعلوم أن الأصل صحة الصوم حتى يوجد دليل يدل على الفساد من كتاب، أو سنة، أو إجماع، أو قياس صحيحSyekh Utsaimin rahimahullāhu Ta‘ala ditanya, “Di sebagian apotek terdapat alat semprot (inhaler) yang digunakan oleh sebagian penderita asma. Apakah boleh bagi orang yang berpuasa menggunakannya di siang hari Ramadan?”Beliau menjawab, “Penggunaan inhaler ini boleh bagi orang yang berpuasa, baik puasanya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hal ini karena inhaler tersebut tidak sampai ke lambung, melainkan hanya sampai ke saluran pernapasan, sehingga saluran itu terbuka karena sifat obat yang ada di dalamnya, lalu seseorang dapat bernapas secara normal setelah itu. Maka inhaler ini bukan termasuk makan dan minum, dan bukan pula sesuatu yang sampai ke lambung. Telah diketahui bahwa hukum asal puasa adalah sah, sampai ada dalil yang menunjukkan batalnya puasa, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijmak, maupun qiyas yang sahih.” [19]Syekh Ahmad bin Muḥammad al-Khalilالذي يظهر والله أعلم أن بخاخ الربو لا يفطر، فإن ما ذكره القائلون بعدم التفطير وجيه، وقياسهم على المضمضة والسواك قياس صحيح“Yang tampak (bagiku), wallahu a’lam, bahwa inhaler asma tidak membatalkan puasa. Karena alasan yang dikemukakan oleh para ulama yang berpendapat tidak membatalkan adalah pendapat yang kuat, dan qiyas mereka dengan berkumur (المضمضة) dan bersiwak adalah qiyas yang sahih.” [20]KesimpulanSebagai kesimpulan, setelah ditelaah dari sisi medis dan ditimbang dengan kaidah-kaidah fikih yang mu‘tabar, penggunaan inhaler asma pada siang hari Ramadan tidak membatalkan puasa. Zat obat yang disemprotkan melalui inhaler, baik dalam bentuk semprot maupun inhaler serbuk, pada hakikatnya diarahkan menuju saluran pernapasan, bukan ke lambung. Jumlah yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak sengaja, dan secara medis sulit dihindari. Terlebih lagi, penggunaan corong udara atau spacer semakin menguatkan kesimpulan ini karena secara ilmiah membantu obat langsung mencapai paru-paru dan meminimalkan sisa yang tertelan.Berbeda dengan inhaler biasa, penggunaan nebulizer memiliki karakteristik yang tidak sama. Dari sisi medis, nebulizer menggunakan dosis obat yang jauh lebih besar dengan durasi pemakaian yang relatif lama, sehingga peluang masuknya obat ke saluran pencernaan menjadi lebih besar. Selain itu, tekanan uap yang dihasilkan memungkinkan sebagian cairan mencapai tenggorokan dan tertelan. Oleh karena itu, nebulizer tidak dapat diqiyaskan dengan inhaler biasa dan lebih dekat kepada perkara yang membatalkan puasa. [21]Dengan penjelasan ini, diharapkan kaum Muslimin, khususnya penderita asma, dapat merasa tenang dalam menjalankan ibadah puasa. Menggunakan inhaler asma saat dibutuhkan tidak merusak puasa, dan syariat tidak dimaksudkan untuk memberatkan hamba, terlebih dalam kondisi sakit. Adapun bagi yang membutuhkan nebulizer, syariat memberikan keringanan bagi orang sakit untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang menjadikan syariat ini selaras antara ibadah dan penjagaan jiwa. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad Ibrahim at-Tuwaijiri, Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah, hal. 630.[2] Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar ar-Ramli, Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah, hal. 681.[3] Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid, 1: 211.[4] Web Cleveland Clinic, Inhalers.[5] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157-161.[6] Muhammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz Ibn ‘Ābidīn, Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār, 2: 395.[7] Muhammad ‘Arafah ad-Dasūqī, Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr, 1: 525.[8] Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs al-Buhūtī, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 482.[9] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[10] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar-Ramlī (asy-Syāfi‘ī aṣ-Ṣaghīr), Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, 3: 169.[11] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[12] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 158.[13] Imam as-Sarakhsī, Muḥammad bin Aḥmad bin Sahl, al-Mabsūṭ, 3: 142.[14] Imam al-‘Abdarī, Muḥammad bin Yūsuf, at-Tāj wa al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 2: 426.[15] Imam an-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf ad-Dīn, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 6: 338.[16] Imam al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 483.[17] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 163-168.[18] Syekh Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15: 265.[19] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn, 19: 210–211.[20]  Aḥmad bin Muḥammad al-Khalīl, Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah, hal. 50–51.[21] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 173. Daftar Pustakaad-Dasūqī, Muḥammad ‘Arafah. Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr.al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs. (1996). Syarḥ Muntahā al-Irādāt (Cet. ke-2). Beirut: ‘Ālam al-Kutub.al-Khalīl, Aḥmad bin Muḥammad. (2005). Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah. Cet. 1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.al-Kindī, ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib. (2014). al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah: Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah (Cet. 1). Malaysia: Dār al-Ḥaqīqah al-Kauniyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ar-Ramlī, Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Mukhtār. Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn. Riyadh: Dār al-Waṭan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.at-Tuwaijirī, Muḥammad bin Ibrāhīm bin ‘Abdullāh. (2010). Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah (Cet. 11). Riyadh: Dār Aṣdā’ al-Mujtama‘. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Cleveland Clinic. (2025). Inhalers. Diakses pada 5 Februari 2025, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8694-inhalersIbn ‘Ābidīn, Muḥammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz. Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār. Beirut: Dār al-Fikr.Ibn Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Ri’āsat Idārat al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’.Ibn Rusyd, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī. Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid. Beirut: Dār al-Fikr.


Daftar Isi ToggleKedudukan puasaPembatal puasa yang disepakatiMeninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaTerhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat kedua: Tidak membatalkan puasaTerhukumi seperti kategori makan dan minumTerhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPenggunaan inhaler tidak membatalkan puasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin BazSyekh UtsaiminSyekh Ahmad bin Muḥammad al-KhalilKesimpulanKedudukan puasaPuasa merupakan salah satu rukun Islam yang harus dikerjakan setiap Muslim. Bahkan, seseorang yang tidak melakukan berpuasa dituntut untuk mengqadhanya dengan apa yang diwajibkan, baik dengan mengganti puasa di hari lain atau pun membayar fidyah. Seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja karena malas, maka ia melakukan dosa besar. Namun, jika ia tidak berpuasa karena mengingkari kewajiban puasa, maka ia telah kafir. Syekh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri berkata,من ترك صوم رمضان جاحداً لوجوبه كفر، ومن ترك الصوم تهاوناً وكسلاً فلا يكفر وتصح صلاته، لكنه آثم إثماً عظيماً“Barangsiapa yang meninggalkan puasa dengan pengingkaran terhadap kewajibannya, maka dia kafir. Adapun barang siapa yang meninggalkan puasa karena lalai atau malas, maka dia tidak kafir, masih sah salatnya, namun ia berdosa dengan dosa yang sangat besar.” [1]Berpuasa bermakna menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar (subuh) hingga terbenam (magrib). Syekh Abu Hasan ar-Ramli mendefinisikan puasa sebagai,التعبد لله بالإمساك عن المُفَطِّرات من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس“Peribadatan kepada Allah dengan menahan diri dari pembatal-pembatal sejak munculnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.” [2]Pembatal puasa yang disepakatiTermasuk yang harus menjadi concern utama dalam berpuasa setelah mengikhlaskan niat adalah mengetahui pembatal-pembatalnya. Karena definisi puasa itu sendiri adalah menahan diri dari pembatal-pembatalnya. Para ulama salaf (pendahulu) bersepakat atas tiga hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rusyd rahimahullah,أجمعوا على أنه يجب على الصائم الإمساك زمان الصوم عن المطعوم والمشروب والجماع“Para pendahulu bersepakat bahwa seorang Muslim wajib menahan diri pada saat ia berpuasa dari makanan, minuman, dan jimak (bersetubuh).” [3]Meninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasaDewasa ini, muncullah pembahasan-pembahasan turunan dari pembatal-pembatal tersebut, sebagai permasalahan-permasalahan kontemporer yang menjadi diskusi dan tidak jarang menjadi perbedaan pendapat antara ulama. Di antaranya adalah apakah penggunaan inhaler bagi yang membutuhkan saat berpuasa dapat membatalkan puasanya?Sebelum membahasnya lebih jauh, kita perlu tahu apa itu inhaler dan bagaimana fungsinya. Dikutip dari Cleveland Clinic, inhaler adalah alat genggam berukuran kecil yang digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui mulut. Inhaler tersedia dalam beberapa jenis, seperti metered-dose, dry powder, dan soft mist inhaler, dan umumnya digunakan untuk terapi asma dan COPD. [4]Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, dengan meninjau dari definisi dan teknis penggunaannya (mengantarkan obat melalui hirupan mulut), bahwa para ulama melakukan takyif fiqh (penggambaran hukum) untuk penggunaan inhaler pada tiga bentuk hukum permasalahan [5]:Terhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)Pada pembahasan, jika inhaler dihukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan dengan sengaja, para ulama terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Membatalkan puasaPendapat ini merupakan pendapat para ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dari kalangan mazhab Hanafi, Ibnu Abidin berkata,ولو أدخل حلقه الدخان بأي صورة كان الإدخال، حتى لو تبخر بخور فآواه إلى نفسه واشتمه ذاكراً لصومه أفطر لإمكان التحرز عنه“Jika seseorang memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan cara apapun, bahkan jika (asap itu) berasal dari uap dupa lalu ia sengaja menghirupnya, padahal ia ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, maka puasanya batal, karena hal tersebut masih mungkin untuk dihindari.” [6]Dari kalangan mazhab Maliki, ad-Dasuqi berkata,متى وصل دخان البخور أو بخار القدر للحلق وجب القضاء; لأن دخان البخور وبخار كل منهما جسم يتكيف به الدماغ ويتقوى به، أي تحصل له قوة كالتي تحصل له من الأكل“Apabila asap dupa atau uap dari panci sampai ke tenggorokan, maka wajib mengqadha (puasa); karena asap dupa dan uap tersebut masing-masing merupakan sesuatu yang bersifat materi, yang dapat mempengaruhi otak dan menguatkannya, yaitu memberikan kekuatan sebagaimana kekuatan yang diperoleh dari makanan.” [7]Dari kalangan mazhab Hambali, al-Buhuti berkata,ولا يفسد صومه إن طار إلى حلقه ذباب أو غبار طريق أو نخل نحو دقيق أو دخان بلا قصد لعدم إمكان التحرز منه“Puasa seseorang tidak batal apabila lalat, debu jalanan, serbuk halus (seperti tepung), atau asap masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja, karena hal itu tidak mungkin dihindari.” [8] Dapat dipahami bahwa jika dimaksudkan secara sengaja, maka hal tersebut membatalkan. [9]Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasaPendapat tidak batalnya puasa dengan menghirup hal-hal tersebut adalah pendapat ulama mazhab Syafi’i. Dari kalangan Syafi’i, ar-Ramli berkata,ووصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به، وإن تعمَّد فتح فِيه لأجل ذلك وهو ظاهر لما تقرر أنّها ليست عيناً عرفاً إذ المدار هنا عليه“Masuknya asap yang mengandung aroma dupa atau lainnya ke dalam rongga (tubuh) tidak membatalkan puasa, meskipun ia sengaja membuka mulut untuk hal tersebut. Hal ini jelas, karena telah ditetapkan bahwa asap itu secara ‘urf (kebiasaan bahasa) tidak dianggap sebagai benda (‘ain). Dan patokan (dalam masalah ini) memang kembali kepada pengertian ‘urf.” [10]Terhukumi seperti kategori makan dan minumPada pembahasan ini, jika inhaler dimasukkan ke dalam hukum ini, maka ia membatalkan puasa. Karena makan dan minum merupakan pembatal puasa secara konsensus (ijmak). Pendapat ini merupakan pendapat keempat mazhab. [11] Allah berfirman,فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)Terhukumi seperti sisa air yang tertinggal setelah berkumurPada pembahasan ini, apabila penggunaan inhaler diturunkan hukumnya kepada kategori sisa air kumur (المتبقي من المضمضة), maka tidak membatalkan puasa. Hal ini karena air yang tersisa setelah berkumur termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه), disebabkan sulitnya menghindari sisa air tersebut meskipun telah berhati-hati.Para ulama dari empat mazhab bersepakat bahwa sisa air yang tertinggal setelah berkumur saat berpuasa tidak membatalkan puasa, selama tidak disengaja untuk ditelan. Dengan demikian, jika inhaler dianalogikan pada kategori ini, maka hukum asalnya tidak membatalkan puasa, karena zat yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak disengaja, dan sulit dihindari. [12]Dari kalangan mazhab Hanafi, Imam as-Sarakhsi berkata,ألا ترى أنَّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفَطِّره“Tidakkah engkau melihat bahwa apabila orang yang berpuasa berkumur, maka akan tersisa kelembaban air di dalam mulutnya, lalu kelembaban itu masuk ke tenggorokannya bersama air liurnya, dan tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.” [13]Dari kalangan mazhab Maliki, Imam al-’Abdari berkata,قال ابن القاسم: ويجوز بلع ريقه إذا تمضمض“Ibnu al-Qasim berkata, ‘Dibolehkan bagi orang yang berpuasa menelan air liurnya setelah ia berkumur’.” [14]Dari kalangan mazhab Syafi’i, an-Nawawi berkata,إذا تمضمض الصائم لزمه مَجُّ الماء, ولا يلزمه تنشيف فمه بخرقة ونحوها بلا خلاف“Apabila orang yang berpuasa berkumur, maka ia wajib memuntahkan airnya. Namun, ia tidak diwajibkan untuk mengeringkan mulutnya dengan kain atau semisalnya. Hal ini disepakati tanpa adanya perbedaan pendapat.” [15]Dari kalangan mazhab Hanbali, al-Buhuti berkata,لو بلع ما بقي من أجزاء الماء بعد المضمضة لم يفسد“Apabila ia menelan sisa-sisa bagian air yang masih tertinggal setelah berkumur, maka puasanya tidak rusak (tidak batal).” [16]Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa penentuan hukum penggunaan inhaler sangat bergantung pada bagaimana ia diturunkan ke dalam takyif fiqh yang digunakan oleh para ulama. Namun perlu dicatat bahwa penggambaran fikih tersebut merupakan pendekatan terhadap persoalan kontemporer yang belum dikenal secara rinci oleh para ulama terdahulu.Oleh karena itu, dalam masalah inhaler yang memiliki karakteristik medis khusus, baik dari sisi tujuan penggunaan, cara kerja, maupun kadar zat yang masuk ke tubuh, diperlukan pendekatan fikih kontemporer dengan mempertimbangkan hakikat medisnya. Atas dasar inilah, banyak ulama kontemporer kemudian mengkaji ulang hukum inhaler dan cenderung berpendapat bahwa penggunaannya tidak membatalkan puasa.Penggunaan inhaler tidak membatalkan puasaBerdasarkan kajian medis dan fikih muqāran yang dilakukan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq al-Kindī, dapat disimpulkan bahwa penggunaan inhaler (بخاخ الربو) bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa. Hal ini ia dasari dengan beberapa pendapat ulama dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah) [17],Pertama,قياس الواصل إلى الجوف من بخاخ الربو على المتبقي من المضمضة والاستنشاق، وذلك بأن الصائم له أن يتمضمض ويستنشق، إجماعاً“Mengkiyaskan (menganalogikan) sesuatu yang sampai ke dalam rongga tubuh dari inhaler dengan sisa air yang tertinggal setelah berkumur dan beristinsyāq (menghirup air ke hidung). Hal itu karena orang yang berpuasa dibolehkan untuk berkumur dan beristinsyāq berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).”Kedua,قياس البخاخ على السواك في جواز استعماله للصائم مع وجود بعض المواد فيه والتي قد عفي عنها؛ لقلتها ولكونها غير مقصودة“Mengqiyaskan inhaler dengan siwak dalam kebolehan menggunakannya bagi orang yang berpuasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa zat (bahan) yang telah dimaafkan (tidak diperhitungkan), karena jumlahnya yang sangat sedikit dan tidak dimaksudkan.”Ketiga,أن ما يحصل من بخاخ الربو لا يعتبر أكلاً أو شربًا في العادة، فلا يحصل به الفطر“Bahwa sesuatu yang dihasilkan dari penggunaan inhaler asma tidak dianggap sebagai makan atau minum menurut kebiasaan (‘urf), sehingga tidak menyebabkan batalnya puasa.”Keempat,أن دخول شيء إلى المعدة من بخاخ الربو ليس قطعيًا فقد“Bahwa masuknya sesuatu ke dalam lambung dari inhaler asma bukanlah sesuatu yang pasti, karena bisa saja masuk dan bisa pula tidak masuk.”Kelima,بخاخ الربو يدخل مع مخرج النفس، لا مخرج الطعام والشراب“Bahwa inhaler asma masuk melalui jalur pernapasan, bukan melalui jalur makanan dan minuman.”Selain itu, kita juga bisa memberikan analogi lainnya bahwa satu tabung inhaler asma hanya berisi sekitar 10 ml cairan yang dibagi menjadi kurang lebih 200 semprotan, sehingga setiap semprotan mengandung zat yang sangat kecil, bahkan kurang dari satu tetes. Sebagian besar obat masuk ke saluran pernapasan, sebagian menempel di tenggorokan, dan hanya sisa yang sangat sedikit yang mungkin sampai ke lambung. Jumlah ini lebih kecil daripada sisa air setelah berkumur, yang secara ijmak dimaafkan dalam puasa. Oleh karena itu, zat yang mungkin masuk ke lambung dari inhaler termasuk perkara yang dimaafkan (معفو عنه) dan tidak membatalkan puasa.Baca juga: Pembatal-Pembatal PuasaFatwa para ulama kontemporer terkait penggunaan inhalerSyekh Bin Bazس: ما حكم استعمال البخاخ في الفم للصائم نهاراً لمريض الربو ونحوه ؟ج: حكمه الإباحة إذا اضطر إلى ذلك؛ لقول اللّٰه عز وجل: ( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ) ولأنه لا يشبه الأكل والشرب فأشبه سحب الدم للتحليل والإبر غير المغذيةPertanyaan: Apa hukum menggunakan inhaler melalui mulut bagi yang berpuasa ketika sakit asma dan semisalnya?Jawaban: “Hukumnya mubah jika hal tersebut merupakan hal darurat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Allah jelaskan untuk kalian apa yang Ia haramkan, kecuali yang kalian darurat membutuhkannya.” (QS. al-An`am: 119) Karena hal tersebut berbeda dengan makan dan minum, ia lebih mirip dengan pengambilan darah untuk analisis atau suntikan yang tidak bernutrisi, sehingga tidak membatalkan puasa.” [18]Syekh Utsaiminسئل فضيلة الشيخ رحمه اللّٰه تعالى: في بعض الصيدليات بخاخ يستعمله بعض مرضى الربو فهل يجوز للصائم استعماله في نهار رمضان؟فأجاب فضيلته بقوله : استعمال هذا البخاخ جائز للصائم، سواء كان صيامه في رمضان أم في غير رمضان، وذلك لأن هذا البخاخ لا يصل إلى المعدة، وإنما يصل إلى القصبات الهوائية فتنفتح لما فيه من خاصية، ويتنفس الإنسان تنفساً عادياً بعد ذلك ، فليس هو بمعنى الأكل ولا الشرب، ولا أكلاً ولا شرباً يصل إلى المعدة  ومعلوم أن الأصل صحة الصوم حتى يوجد دليل يدل على الفساد من كتاب، أو سنة، أو إجماع، أو قياس صحيحSyekh Utsaimin rahimahullāhu Ta‘ala ditanya, “Di sebagian apotek terdapat alat semprot (inhaler) yang digunakan oleh sebagian penderita asma. Apakah boleh bagi orang yang berpuasa menggunakannya di siang hari Ramadan?”Beliau menjawab, “Penggunaan inhaler ini boleh bagi orang yang berpuasa, baik puasanya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hal ini karena inhaler tersebut tidak sampai ke lambung, melainkan hanya sampai ke saluran pernapasan, sehingga saluran itu terbuka karena sifat obat yang ada di dalamnya, lalu seseorang dapat bernapas secara normal setelah itu. Maka inhaler ini bukan termasuk makan dan minum, dan bukan pula sesuatu yang sampai ke lambung. Telah diketahui bahwa hukum asal puasa adalah sah, sampai ada dalil yang menunjukkan batalnya puasa, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijmak, maupun qiyas yang sahih.” [19]Syekh Ahmad bin Muḥammad al-Khalilالذي يظهر والله أعلم أن بخاخ الربو لا يفطر، فإن ما ذكره القائلون بعدم التفطير وجيه، وقياسهم على المضمضة والسواك قياس صحيح“Yang tampak (bagiku), wallahu a’lam, bahwa inhaler asma tidak membatalkan puasa. Karena alasan yang dikemukakan oleh para ulama yang berpendapat tidak membatalkan adalah pendapat yang kuat, dan qiyas mereka dengan berkumur (المضمضة) dan bersiwak adalah qiyas yang sahih.” [20]KesimpulanSebagai kesimpulan, setelah ditelaah dari sisi medis dan ditimbang dengan kaidah-kaidah fikih yang mu‘tabar, penggunaan inhaler asma pada siang hari Ramadan tidak membatalkan puasa. Zat obat yang disemprotkan melalui inhaler, baik dalam bentuk semprot maupun inhaler serbuk, pada hakikatnya diarahkan menuju saluran pernapasan, bukan ke lambung. Jumlah yang mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak sengaja, dan secara medis sulit dihindari. Terlebih lagi, penggunaan corong udara atau spacer semakin menguatkan kesimpulan ini karena secara ilmiah membantu obat langsung mencapai paru-paru dan meminimalkan sisa yang tertelan.Berbeda dengan inhaler biasa, penggunaan nebulizer memiliki karakteristik yang tidak sama. Dari sisi medis, nebulizer menggunakan dosis obat yang jauh lebih besar dengan durasi pemakaian yang relatif lama, sehingga peluang masuknya obat ke saluran pencernaan menjadi lebih besar. Selain itu, tekanan uap yang dihasilkan memungkinkan sebagian cairan mencapai tenggorokan dan tertelan. Oleh karena itu, nebulizer tidak dapat diqiyaskan dengan inhaler biasa dan lebih dekat kepada perkara yang membatalkan puasa. [21]Dengan penjelasan ini, diharapkan kaum Muslimin, khususnya penderita asma, dapat merasa tenang dalam menjalankan ibadah puasa. Menggunakan inhaler asma saat dibutuhkan tidak merusak puasa, dan syariat tidak dimaksudkan untuk memberatkan hamba, terlebih dalam kondisi sakit. Adapun bagi yang membutuhkan nebulizer, syariat memberikan keringanan bagi orang sakit untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang menjadikan syariat ini selaras antara ibadah dan penjagaan jiwa. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad Ibrahim at-Tuwaijiri, Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah, hal. 630.[2] Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar ar-Ramli, Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah, hal. 681.[3] Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid, 1: 211.[4] Web Cleveland Clinic, Inhalers.[5] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157-161.[6] Muhammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz Ibn ‘Ābidīn, Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār, 2: 395.[7] Muhammad ‘Arafah ad-Dasūqī, Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr, 1: 525.[8] Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs al-Buhūtī, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 482.[9] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[10] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar-Ramlī (asy-Syāfi‘ī aṣ-Ṣaghīr), Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, 3: 169.[11] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.[12] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 158.[13] Imam as-Sarakhsī, Muḥammad bin Aḥmad bin Sahl, al-Mabsūṭ, 3: 142.[14] Imam al-‘Abdarī, Muḥammad bin Yūsuf, at-Tāj wa al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 2: 426.[15] Imam an-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf ad-Dīn, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 6: 338.[16] Imam al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 483.[17] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 163-168.[18] Syekh Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15: 265.[19] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn, 19: 210–211.[20]  Aḥmad bin Muḥammad al-Khalīl, Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah, hal. 50–51.[21] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 173. Daftar Pustakaad-Dasūqī, Muḥammad ‘Arafah. Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr.al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs. (1996). Syarḥ Muntahā al-Irādāt (Cet. ke-2). Beirut: ‘Ālam al-Kutub.al-Khalīl, Aḥmad bin Muḥammad. (2005). Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah. Cet. 1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.al-Kindī, ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib. (2014). al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah: Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah (Cet. 1). Malaysia: Dār al-Ḥaqīqah al-Kauniyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.ar-Ramlī, Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Mukhtār. Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn. Riyadh: Dār al-Waṭan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.at-Tuwaijirī, Muḥammad bin Ibrāhīm bin ‘Abdullāh. (2010). Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah (Cet. 11). Riyadh: Dār Aṣdā’ al-Mujtama‘. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Cleveland Clinic. (2025). Inhalers. Diakses pada 5 Februari 2025, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8694-inhalersIbn ‘Ābidīn, Muḥammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz. Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār. Beirut: Dār al-Fikr.Ibn Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Ri’āsat Idārat al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’.Ibn Rusyd, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī. Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid. Beirut: Dār al-Fikr.

Mengapa Allah Tertawa Saat Hamba-Nya Putus Asa? Inilah Rahasia Pertolongan Allah – Syaikh Shalih Al-Fauzan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang sampai kepada kami, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tertawa atas keputusasaan kalian dan cepatnya pengabulan doa kalian. Ya. Dalam hadis ini juga terdapat penegasan bahwa Allah tertawa karena keputusasaan para makhluk-Nya. Yakni ketika para makhluk—apabila hujan tertahan dan bumi mengalami kekeringan—mereka menjadi putus asa dan hilang harapan, serta menganggap turunnya hujan merupakan hal yang mustahil. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan tersebut, tertawa kepada hamba-hamba-Nya, sementara Allah melihat mereka dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. Allah terus tertawa karena Dia mengetahui jalan keluar mereka sudah dekat. Kemudian Allah menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman bagi mereka serta melimpahkan air yang mencukupi bagi kehidupan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal; maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira. Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” (QS. Ar-Rum: 48–49). Yakni mereka menyerah dan hilang harapan. “Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” “Maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sebelumnya telah mati.” (QS. Ar-Rum: 49–50). Bagaimana Allah menghidupkan kembali bumi setelah sebelumnya mati? Ayat-ayat ini sejalan dengan kandungan hadis tersebut, bahwa para hamba ketika hujan tertahan, mereka diliputi keputusasaan dan kehilangan harapan, sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan itu, karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka sudah sangat dekat. ===== وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزَلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ نَعَمْ وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزَلِ الْمَخْلُوقِيْنَ يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونُ الْخَلْقُ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُوْنَ نُزُولَ الْمَطَرِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمْ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ وَيُوَفِّرُ لَهُمْ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِيْنَ قَانِطِيْنَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ

Mengapa Allah Tertawa Saat Hamba-Nya Putus Asa? Inilah Rahasia Pertolongan Allah – Syaikh Shalih Al-Fauzan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang sampai kepada kami, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tertawa atas keputusasaan kalian dan cepatnya pengabulan doa kalian. Ya. Dalam hadis ini juga terdapat penegasan bahwa Allah tertawa karena keputusasaan para makhluk-Nya. Yakni ketika para makhluk—apabila hujan tertahan dan bumi mengalami kekeringan—mereka menjadi putus asa dan hilang harapan, serta menganggap turunnya hujan merupakan hal yang mustahil. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan tersebut, tertawa kepada hamba-hamba-Nya, sementara Allah melihat mereka dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. Allah terus tertawa karena Dia mengetahui jalan keluar mereka sudah dekat. Kemudian Allah menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman bagi mereka serta melimpahkan air yang mencukupi bagi kehidupan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal; maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira. Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” (QS. Ar-Rum: 48–49). Yakni mereka menyerah dan hilang harapan. “Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” “Maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sebelumnya telah mati.” (QS. Ar-Rum: 49–50). Bagaimana Allah menghidupkan kembali bumi setelah sebelumnya mati? Ayat-ayat ini sejalan dengan kandungan hadis tersebut, bahwa para hamba ketika hujan tertahan, mereka diliputi keputusasaan dan kehilangan harapan, sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan itu, karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka sudah sangat dekat. ===== وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزَلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ نَعَمْ وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزَلِ الْمَخْلُوقِيْنَ يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونُ الْخَلْقُ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُوْنَ نُزُولَ الْمَطَرِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمْ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ وَيُوَفِّرُ لَهُمْ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِيْنَ قَانِطِيْنَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang sampai kepada kami, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tertawa atas keputusasaan kalian dan cepatnya pengabulan doa kalian. Ya. Dalam hadis ini juga terdapat penegasan bahwa Allah tertawa karena keputusasaan para makhluk-Nya. Yakni ketika para makhluk—apabila hujan tertahan dan bumi mengalami kekeringan—mereka menjadi putus asa dan hilang harapan, serta menganggap turunnya hujan merupakan hal yang mustahil. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan tersebut, tertawa kepada hamba-hamba-Nya, sementara Allah melihat mereka dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. Allah terus tertawa karena Dia mengetahui jalan keluar mereka sudah dekat. Kemudian Allah menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman bagi mereka serta melimpahkan air yang mencukupi bagi kehidupan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal; maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira. Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” (QS. Ar-Rum: 48–49). Yakni mereka menyerah dan hilang harapan. “Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” “Maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sebelumnya telah mati.” (QS. Ar-Rum: 49–50). Bagaimana Allah menghidupkan kembali bumi setelah sebelumnya mati? Ayat-ayat ini sejalan dengan kandungan hadis tersebut, bahwa para hamba ketika hujan tertahan, mereka diliputi keputusasaan dan kehilangan harapan, sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan itu, karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka sudah sangat dekat. ===== وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزَلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ نَعَمْ وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزَلِ الْمَخْلُوقِيْنَ يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونُ الْخَلْقُ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُوْنَ نُزُولَ الْمَطَرِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمْ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ وَيُوَفِّرُ لَهُمْ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِيْنَ قَانِطِيْنَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang sampai kepada kami, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tertawa atas keputusasaan kalian dan cepatnya pengabulan doa kalian. Ya. Dalam hadis ini juga terdapat penegasan bahwa Allah tertawa karena keputusasaan para makhluk-Nya. Yakni ketika para makhluk—apabila hujan tertahan dan bumi mengalami kekeringan—mereka menjadi putus asa dan hilang harapan, serta menganggap turunnya hujan merupakan hal yang mustahil. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan tersebut, tertawa kepada hamba-hamba-Nya, sementara Allah melihat mereka dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. Allah terus tertawa karena Dia mengetahui jalan keluar mereka sudah dekat. Kemudian Allah menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman bagi mereka serta melimpahkan air yang mencukupi bagi kehidupan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal; maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira. Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” (QS. Ar-Rum: 48–49). Yakni mereka menyerah dan hilang harapan. “Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” “Maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sebelumnya telah mati.” (QS. Ar-Rum: 49–50). Bagaimana Allah menghidupkan kembali bumi setelah sebelumnya mati? Ayat-ayat ini sejalan dengan kandungan hadis tersebut, bahwa para hamba ketika hujan tertahan, mereka diliputi keputusasaan dan kehilangan harapan, sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan itu, karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka sudah sangat dekat. ===== وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزَلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ نَعَمْ وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزَلِ الْمَخْلُوقِيْنَ يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونُ الْخَلْقُ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُوْنَ نُزُولَ الْمَطَرِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمْ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ وَيُوَفِّرُ لَهُمْ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِيْنَ قَانِطِيْنَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ

Tiga Amalan Penyelamat: Kunci Keselamatan dan Keberhasilan

Oleh: Dr. Abdussalam Hamud Ghalib Kita akan membahas tiga amalan penyelamat yang disebutkan dalam hadis Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam: ثَلَاثُ مُهْلِكَاتٍ، وَثَلَاثُ مُنْجِيَاتٍ، وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ، وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ؛ فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَمَّا الْكَلَّافَرَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. “Tiga perkara yang membinasakan, tiga yang menyelamatkan, tiga yang menghapus dosa, dan tiga yang mengangkat derajat, adapun yang membinasakan adalah: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik secara sembunyi maupun terang-terangan, bersikap hemat ketika miskin dan kaya, serta berlaku adil ketika marah maupun rida, dan yang menghapuskan dosa adalah: menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di saat sulit, dan melangkahkan kaki menuju jamaah, dan yang mengangkat derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani). Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan dengan seluruh jalur dan riwayat-riwayat penguatnya. Hadis Nabi yang mulia ini tidak hanya mengungkap penyakit-penyakit kronis hati, tapi juga menyebutkan obat mujarabnya, karena amalan-amalan penyelamat itu merupakan lawan yang dapat menangani amalan-amalan yang membinasakan, dan perkara yang dapat mengembalikan keseimbangan pada kehidupan manusia. Berikut ini adalah amalan-amalan penyelamat tersebut: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat sendiri atau di keramaian Definisi dan penjelasan: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan asas keimanan dan penghias amal saleh. Dan maksudnya adalah seorang insan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keadaannya, baik itu ketika sedang dalam kesendirian, atau bersama orang lain di keramaian. Rasa takut inilah yang dapat mencegah seseorang dari terjerumus ke dalam dosa dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan. Barang siapa yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri, maka ia tidak akan terbuai dengan amalannya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak tunduk kepada kebakhilannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihatnya. Rasa takut inilah obat manjur untuk penyakit ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan hawa nafsu. Ini juga yang dapat meneguhkan sifat rendah hati dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hati. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Merasa diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Muncul rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sikap dan perilaku seseorang, sehingga ia tetap menjauhi kemaksiatan meskipun sedang berada jauh dari pandangan mata manusia, karena hatinya telah dipenuhi ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan harapan kepada rahmat-Nya. Rendah hati dan pengakuan atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sifat ini menjadikan pemiliknya selalu menganggap setiap keberhasilan dan prestasinya berasal dari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, bukan karena usaha pribadinya, dan sifat ini dapat mencegahnya dari terjerumus ke dalam sifat ujub. Istiqamah/konsisten di atas jalan yang benar: Hal ini dapat menjauhkan seseorang dari menuruti hawa nafsunya, dan mengedepankan hukum Syariat atas segala kepentingan pribadi, karena ia takut tersesat dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perkataan ulama tentangnya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Madarij As-Salikin: “Rasa takut ini merupakan rasa takut yang diiringi dengan ma’rifatullah, karena jika tidak, maka bisa jadi itu hanya rasa takut biasa yang tidak diiringi dengan ma’rifatullah, karena rasa takut ini merupakan hasil dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ini menegaskan bahwa ia bukan hanya rasa takut sementara, tapi hasil dari pengetahuan yang mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan inilah rasa takut yang membuahkan kerendahan hati dan keinsafan. Hemat saat miskin atau kaya Hemat yakni sikap moderat dan pertengahan. Ia merupakan solusi langsung bagi penyakit pelit yang diperturutkan. Seorang mukmin akan berjalan di atas keseimbangan dalam setiap keadaan finansialnya, tidak boros dan mubazir saat dalam keadaan kaya, dan tidak juga putus asa dan berkeluh kesah saat dalam keadaan miskin. Keseimbangan ini akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap harta, menjadikannya bos bagi harta itu, alih-alih sandera, membebaskannya dari ketamakan sifat pelit, dan mengokohkan dalam hatinya sifat rida dan kepuasan. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Pengeluaran yang seimbang: saat dalam keadaan kaya, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari pengeluarannya yang ditujukan ke kebutuhan yang tepat, tanpa bersikap boros atau pelit. Ia bersedekah, berzakat, dan memberi bantuan kepada keluarganya. Menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala: saat dalam keadaan miskin, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari kesabaran dan keridhaannya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak murka atau berkeluh kesah. Ia mengetahui dengan baik bahwa kemiskinan tidak akan mengurangi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Membebaskan diri dari ketamakan: sikap hemat dapat membebaskan hati dari ketamakan dan kerakusan yang menjadi hakikat dari sifat pelit. Sikap hemat membuatnya puas dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi untuknya. Perkataan ulama tentangnya Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din: “Berhemat dalam hidup merupakan jalan hidup orang-orang terdahulu dan belakangan, serta sifat para Nabi dan shiddiqin. Ia merupakan salah satu ciri keimanan dan termasuk sifat orang-orang baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sikap hemat dapat melindungi manusia dari dampak-dampak kemiskinan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama. Adil saat marah atau ridha Adil merupakan puncak dari budi pekerti, tapi untuk menjadi orang yang adil, baik itu ketika ia berada di puncak kemurkaan atau puncak keridhaan, maka ini merupakan bukti kekuatan iman dan kebersihan hati. Ia merupakan obat bagi hawa nafsu yang dituruti, karena kemarahan dapat membutakan hati, dan hawa nafsu bisa menyesatkan akal. Namun, seorang mukmin hakiki akan tetap menerapkan hukum sesuai syariat dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan ketika ia berada dalam kondisi psikologis yang paling berat sekalipun, ia tidak mungkin menzalimi seseorang hanya karena ia marah kepadanya, atau berbuat baik kepada seseorang hanya karena ia mencintainya. Sifat ini membebaskan manusia dari kendali hawa nafsu, menjadikannya lebih mengutamakan kebenaran daripada gejolak jiwa dan mengutamakan keadilan daripada kepentingan pribadi. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Objektif dalam menetapkan hukum: Sifat adil dapat terlihat jelas saat dalam keadaan marah atau rida melalui sikap objektif seseorang bahkan terhadap musuh-musuhnya. Kebenciannya tidak membuatnya menzalimi orang lain dan kecintaannya tidak menggiringnya untuk pilih kasih kepada teman-temannya. Bijak dalam mengambil keputusan: Sifat adil dapat mengokohkan prinsip kebenaran di dalam hati, mencegah manusia dari mengambil keputusan secara terburu-buru atas dasar perasaan atau kemarahan, sehingga sifat ini dapat mendukung keberlangsungan hubungan. Pengambilan keputusan berdasarkan syariat, bukan hawa nafsu: Bersikap adil saat marah ataupun senang merupakan pengaplikasian langsung terhadap sikap tidak menuruti hawa nafsu, karena pelakunya akan menjadikan syariat sebagai penentu keputusan, bukan karena dorongan pribadi. Perkataan ulama tentangnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al-Fatawa: “Sesungguhnya sikap adil itu wajib diterapkan oleh setiap orang terhadap setiap orang dan dalam setiap keadaan. Apabila ada orang yang menyukai seseorang atau justru membencinya, maka ia tetap harus bersikap adil terhadapnya.”  Ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh gugur meski terdapat banyak kepentingan pribadi yang terlibat, dan ini merupakan obat yang manjur untuk menangani hawa nafsu yang diperturutkan. Kesimpulan: hadis ini merupakan metode nabawi untuk membenahi jiwa Hadis Nabi yang mulia ini merupakan metode aplikatif dan komprehensif untuk membersihkan hati dan jiwa, karena tiga amalan yang membinasakan tersebut dapat merusak manusia dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan tiga amalan yang menyelamatkan ini dapat membenahi jiwa dan mendekatkannya kepada Tuhannya. Keselamatan tersembunyi dalam keputusan untuk mengganti sifat pelit kita dengan kedermawanan, hawa nafsu kita dengan jalan kebenaran, kesombongan diri kita dengan ketundukan dan kerendahan hati, dan menghiasi diri dengan rasa takut, sikap moderat, dan keadilan dalam setiap keadaan dan kondisi. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/179209/المنجيات-الثلاث-مفاتيح-النجاة-والفلاح/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 752 times, 1 visit(s) today Post Views: 493

Tiga Amalan Penyelamat: Kunci Keselamatan dan Keberhasilan

Oleh: Dr. Abdussalam Hamud Ghalib Kita akan membahas tiga amalan penyelamat yang disebutkan dalam hadis Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam: ثَلَاثُ مُهْلِكَاتٍ، وَثَلَاثُ مُنْجِيَاتٍ، وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ، وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ؛ فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَمَّا الْكَلَّافَرَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. “Tiga perkara yang membinasakan, tiga yang menyelamatkan, tiga yang menghapus dosa, dan tiga yang mengangkat derajat, adapun yang membinasakan adalah: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik secara sembunyi maupun terang-terangan, bersikap hemat ketika miskin dan kaya, serta berlaku adil ketika marah maupun rida, dan yang menghapuskan dosa adalah: menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di saat sulit, dan melangkahkan kaki menuju jamaah, dan yang mengangkat derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani). Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan dengan seluruh jalur dan riwayat-riwayat penguatnya. Hadis Nabi yang mulia ini tidak hanya mengungkap penyakit-penyakit kronis hati, tapi juga menyebutkan obat mujarabnya, karena amalan-amalan penyelamat itu merupakan lawan yang dapat menangani amalan-amalan yang membinasakan, dan perkara yang dapat mengembalikan keseimbangan pada kehidupan manusia. Berikut ini adalah amalan-amalan penyelamat tersebut: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat sendiri atau di keramaian Definisi dan penjelasan: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan asas keimanan dan penghias amal saleh. Dan maksudnya adalah seorang insan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keadaannya, baik itu ketika sedang dalam kesendirian, atau bersama orang lain di keramaian. Rasa takut inilah yang dapat mencegah seseorang dari terjerumus ke dalam dosa dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan. Barang siapa yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri, maka ia tidak akan terbuai dengan amalannya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak tunduk kepada kebakhilannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihatnya. Rasa takut inilah obat manjur untuk penyakit ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan hawa nafsu. Ini juga yang dapat meneguhkan sifat rendah hati dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hati. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Merasa diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Muncul rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sikap dan perilaku seseorang, sehingga ia tetap menjauhi kemaksiatan meskipun sedang berada jauh dari pandangan mata manusia, karena hatinya telah dipenuhi ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan harapan kepada rahmat-Nya. Rendah hati dan pengakuan atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sifat ini menjadikan pemiliknya selalu menganggap setiap keberhasilan dan prestasinya berasal dari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, bukan karena usaha pribadinya, dan sifat ini dapat mencegahnya dari terjerumus ke dalam sifat ujub. Istiqamah/konsisten di atas jalan yang benar: Hal ini dapat menjauhkan seseorang dari menuruti hawa nafsunya, dan mengedepankan hukum Syariat atas segala kepentingan pribadi, karena ia takut tersesat dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perkataan ulama tentangnya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Madarij As-Salikin: “Rasa takut ini merupakan rasa takut yang diiringi dengan ma’rifatullah, karena jika tidak, maka bisa jadi itu hanya rasa takut biasa yang tidak diiringi dengan ma’rifatullah, karena rasa takut ini merupakan hasil dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ini menegaskan bahwa ia bukan hanya rasa takut sementara, tapi hasil dari pengetahuan yang mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan inilah rasa takut yang membuahkan kerendahan hati dan keinsafan. Hemat saat miskin atau kaya Hemat yakni sikap moderat dan pertengahan. Ia merupakan solusi langsung bagi penyakit pelit yang diperturutkan. Seorang mukmin akan berjalan di atas keseimbangan dalam setiap keadaan finansialnya, tidak boros dan mubazir saat dalam keadaan kaya, dan tidak juga putus asa dan berkeluh kesah saat dalam keadaan miskin. Keseimbangan ini akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap harta, menjadikannya bos bagi harta itu, alih-alih sandera, membebaskannya dari ketamakan sifat pelit, dan mengokohkan dalam hatinya sifat rida dan kepuasan. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Pengeluaran yang seimbang: saat dalam keadaan kaya, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari pengeluarannya yang ditujukan ke kebutuhan yang tepat, tanpa bersikap boros atau pelit. Ia bersedekah, berzakat, dan memberi bantuan kepada keluarganya. Menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala: saat dalam keadaan miskin, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari kesabaran dan keridhaannya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak murka atau berkeluh kesah. Ia mengetahui dengan baik bahwa kemiskinan tidak akan mengurangi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Membebaskan diri dari ketamakan: sikap hemat dapat membebaskan hati dari ketamakan dan kerakusan yang menjadi hakikat dari sifat pelit. Sikap hemat membuatnya puas dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi untuknya. Perkataan ulama tentangnya Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din: “Berhemat dalam hidup merupakan jalan hidup orang-orang terdahulu dan belakangan, serta sifat para Nabi dan shiddiqin. Ia merupakan salah satu ciri keimanan dan termasuk sifat orang-orang baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sikap hemat dapat melindungi manusia dari dampak-dampak kemiskinan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama. Adil saat marah atau ridha Adil merupakan puncak dari budi pekerti, tapi untuk menjadi orang yang adil, baik itu ketika ia berada di puncak kemurkaan atau puncak keridhaan, maka ini merupakan bukti kekuatan iman dan kebersihan hati. Ia merupakan obat bagi hawa nafsu yang dituruti, karena kemarahan dapat membutakan hati, dan hawa nafsu bisa menyesatkan akal. Namun, seorang mukmin hakiki akan tetap menerapkan hukum sesuai syariat dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan ketika ia berada dalam kondisi psikologis yang paling berat sekalipun, ia tidak mungkin menzalimi seseorang hanya karena ia marah kepadanya, atau berbuat baik kepada seseorang hanya karena ia mencintainya. Sifat ini membebaskan manusia dari kendali hawa nafsu, menjadikannya lebih mengutamakan kebenaran daripada gejolak jiwa dan mengutamakan keadilan daripada kepentingan pribadi. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Objektif dalam menetapkan hukum: Sifat adil dapat terlihat jelas saat dalam keadaan marah atau rida melalui sikap objektif seseorang bahkan terhadap musuh-musuhnya. Kebenciannya tidak membuatnya menzalimi orang lain dan kecintaannya tidak menggiringnya untuk pilih kasih kepada teman-temannya. Bijak dalam mengambil keputusan: Sifat adil dapat mengokohkan prinsip kebenaran di dalam hati, mencegah manusia dari mengambil keputusan secara terburu-buru atas dasar perasaan atau kemarahan, sehingga sifat ini dapat mendukung keberlangsungan hubungan. Pengambilan keputusan berdasarkan syariat, bukan hawa nafsu: Bersikap adil saat marah ataupun senang merupakan pengaplikasian langsung terhadap sikap tidak menuruti hawa nafsu, karena pelakunya akan menjadikan syariat sebagai penentu keputusan, bukan karena dorongan pribadi. Perkataan ulama tentangnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al-Fatawa: “Sesungguhnya sikap adil itu wajib diterapkan oleh setiap orang terhadap setiap orang dan dalam setiap keadaan. Apabila ada orang yang menyukai seseorang atau justru membencinya, maka ia tetap harus bersikap adil terhadapnya.”  Ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh gugur meski terdapat banyak kepentingan pribadi yang terlibat, dan ini merupakan obat yang manjur untuk menangani hawa nafsu yang diperturutkan. Kesimpulan: hadis ini merupakan metode nabawi untuk membenahi jiwa Hadis Nabi yang mulia ini merupakan metode aplikatif dan komprehensif untuk membersihkan hati dan jiwa, karena tiga amalan yang membinasakan tersebut dapat merusak manusia dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan tiga amalan yang menyelamatkan ini dapat membenahi jiwa dan mendekatkannya kepada Tuhannya. Keselamatan tersembunyi dalam keputusan untuk mengganti sifat pelit kita dengan kedermawanan, hawa nafsu kita dengan jalan kebenaran, kesombongan diri kita dengan ketundukan dan kerendahan hati, dan menghiasi diri dengan rasa takut, sikap moderat, dan keadilan dalam setiap keadaan dan kondisi. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/179209/المنجيات-الثلاث-مفاتيح-النجاة-والفلاح/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 752 times, 1 visit(s) today Post Views: 493
Oleh: Dr. Abdussalam Hamud Ghalib Kita akan membahas tiga amalan penyelamat yang disebutkan dalam hadis Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam: ثَلَاثُ مُهْلِكَاتٍ، وَثَلَاثُ مُنْجِيَاتٍ، وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ، وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ؛ فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَمَّا الْكَلَّافَرَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. “Tiga perkara yang membinasakan, tiga yang menyelamatkan, tiga yang menghapus dosa, dan tiga yang mengangkat derajat, adapun yang membinasakan adalah: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik secara sembunyi maupun terang-terangan, bersikap hemat ketika miskin dan kaya, serta berlaku adil ketika marah maupun rida, dan yang menghapuskan dosa adalah: menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di saat sulit, dan melangkahkan kaki menuju jamaah, dan yang mengangkat derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani). Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan dengan seluruh jalur dan riwayat-riwayat penguatnya. Hadis Nabi yang mulia ini tidak hanya mengungkap penyakit-penyakit kronis hati, tapi juga menyebutkan obat mujarabnya, karena amalan-amalan penyelamat itu merupakan lawan yang dapat menangani amalan-amalan yang membinasakan, dan perkara yang dapat mengembalikan keseimbangan pada kehidupan manusia. Berikut ini adalah amalan-amalan penyelamat tersebut: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat sendiri atau di keramaian Definisi dan penjelasan: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan asas keimanan dan penghias amal saleh. Dan maksudnya adalah seorang insan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keadaannya, baik itu ketika sedang dalam kesendirian, atau bersama orang lain di keramaian. Rasa takut inilah yang dapat mencegah seseorang dari terjerumus ke dalam dosa dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan. Barang siapa yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri, maka ia tidak akan terbuai dengan amalannya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak tunduk kepada kebakhilannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihatnya. Rasa takut inilah obat manjur untuk penyakit ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan hawa nafsu. Ini juga yang dapat meneguhkan sifat rendah hati dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hati. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Merasa diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Muncul rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sikap dan perilaku seseorang, sehingga ia tetap menjauhi kemaksiatan meskipun sedang berada jauh dari pandangan mata manusia, karena hatinya telah dipenuhi ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan harapan kepada rahmat-Nya. Rendah hati dan pengakuan atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sifat ini menjadikan pemiliknya selalu menganggap setiap keberhasilan dan prestasinya berasal dari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, bukan karena usaha pribadinya, dan sifat ini dapat mencegahnya dari terjerumus ke dalam sifat ujub. Istiqamah/konsisten di atas jalan yang benar: Hal ini dapat menjauhkan seseorang dari menuruti hawa nafsunya, dan mengedepankan hukum Syariat atas segala kepentingan pribadi, karena ia takut tersesat dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perkataan ulama tentangnya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Madarij As-Salikin: “Rasa takut ini merupakan rasa takut yang diiringi dengan ma’rifatullah, karena jika tidak, maka bisa jadi itu hanya rasa takut biasa yang tidak diiringi dengan ma’rifatullah, karena rasa takut ini merupakan hasil dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ini menegaskan bahwa ia bukan hanya rasa takut sementara, tapi hasil dari pengetahuan yang mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan inilah rasa takut yang membuahkan kerendahan hati dan keinsafan. Hemat saat miskin atau kaya Hemat yakni sikap moderat dan pertengahan. Ia merupakan solusi langsung bagi penyakit pelit yang diperturutkan. Seorang mukmin akan berjalan di atas keseimbangan dalam setiap keadaan finansialnya, tidak boros dan mubazir saat dalam keadaan kaya, dan tidak juga putus asa dan berkeluh kesah saat dalam keadaan miskin. Keseimbangan ini akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap harta, menjadikannya bos bagi harta itu, alih-alih sandera, membebaskannya dari ketamakan sifat pelit, dan mengokohkan dalam hatinya sifat rida dan kepuasan. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Pengeluaran yang seimbang: saat dalam keadaan kaya, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari pengeluarannya yang ditujukan ke kebutuhan yang tepat, tanpa bersikap boros atau pelit. Ia bersedekah, berzakat, dan memberi bantuan kepada keluarganya. Menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala: saat dalam keadaan miskin, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari kesabaran dan keridhaannya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak murka atau berkeluh kesah. Ia mengetahui dengan baik bahwa kemiskinan tidak akan mengurangi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Membebaskan diri dari ketamakan: sikap hemat dapat membebaskan hati dari ketamakan dan kerakusan yang menjadi hakikat dari sifat pelit. Sikap hemat membuatnya puas dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi untuknya. Perkataan ulama tentangnya Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din: “Berhemat dalam hidup merupakan jalan hidup orang-orang terdahulu dan belakangan, serta sifat para Nabi dan shiddiqin. Ia merupakan salah satu ciri keimanan dan termasuk sifat orang-orang baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sikap hemat dapat melindungi manusia dari dampak-dampak kemiskinan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama. Adil saat marah atau ridha Adil merupakan puncak dari budi pekerti, tapi untuk menjadi orang yang adil, baik itu ketika ia berada di puncak kemurkaan atau puncak keridhaan, maka ini merupakan bukti kekuatan iman dan kebersihan hati. Ia merupakan obat bagi hawa nafsu yang dituruti, karena kemarahan dapat membutakan hati, dan hawa nafsu bisa menyesatkan akal. Namun, seorang mukmin hakiki akan tetap menerapkan hukum sesuai syariat dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan ketika ia berada dalam kondisi psikologis yang paling berat sekalipun, ia tidak mungkin menzalimi seseorang hanya karena ia marah kepadanya, atau berbuat baik kepada seseorang hanya karena ia mencintainya. Sifat ini membebaskan manusia dari kendali hawa nafsu, menjadikannya lebih mengutamakan kebenaran daripada gejolak jiwa dan mengutamakan keadilan daripada kepentingan pribadi. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Objektif dalam menetapkan hukum: Sifat adil dapat terlihat jelas saat dalam keadaan marah atau rida melalui sikap objektif seseorang bahkan terhadap musuh-musuhnya. Kebenciannya tidak membuatnya menzalimi orang lain dan kecintaannya tidak menggiringnya untuk pilih kasih kepada teman-temannya. Bijak dalam mengambil keputusan: Sifat adil dapat mengokohkan prinsip kebenaran di dalam hati, mencegah manusia dari mengambil keputusan secara terburu-buru atas dasar perasaan atau kemarahan, sehingga sifat ini dapat mendukung keberlangsungan hubungan. Pengambilan keputusan berdasarkan syariat, bukan hawa nafsu: Bersikap adil saat marah ataupun senang merupakan pengaplikasian langsung terhadap sikap tidak menuruti hawa nafsu, karena pelakunya akan menjadikan syariat sebagai penentu keputusan, bukan karena dorongan pribadi. Perkataan ulama tentangnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al-Fatawa: “Sesungguhnya sikap adil itu wajib diterapkan oleh setiap orang terhadap setiap orang dan dalam setiap keadaan. Apabila ada orang yang menyukai seseorang atau justru membencinya, maka ia tetap harus bersikap adil terhadapnya.”  Ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh gugur meski terdapat banyak kepentingan pribadi yang terlibat, dan ini merupakan obat yang manjur untuk menangani hawa nafsu yang diperturutkan. Kesimpulan: hadis ini merupakan metode nabawi untuk membenahi jiwa Hadis Nabi yang mulia ini merupakan metode aplikatif dan komprehensif untuk membersihkan hati dan jiwa, karena tiga amalan yang membinasakan tersebut dapat merusak manusia dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan tiga amalan yang menyelamatkan ini dapat membenahi jiwa dan mendekatkannya kepada Tuhannya. Keselamatan tersembunyi dalam keputusan untuk mengganti sifat pelit kita dengan kedermawanan, hawa nafsu kita dengan jalan kebenaran, kesombongan diri kita dengan ketundukan dan kerendahan hati, dan menghiasi diri dengan rasa takut, sikap moderat, dan keadilan dalam setiap keadaan dan kondisi. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/179209/المنجيات-الثلاث-مفاتيح-النجاة-والفلاح/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 752 times, 1 visit(s) today Post Views: 493


Oleh: Dr. Abdussalam Hamud Ghalib Kita akan membahas tiga amalan penyelamat yang disebutkan dalam hadis Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam: ثَلَاثُ مُهْلِكَاتٍ، وَثَلَاثُ مُنْجِيَاتٍ، وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ، وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ؛ فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَمَّا الْكَلَّافَرَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. “Tiga perkara yang membinasakan, tiga yang menyelamatkan, tiga yang menghapus dosa, dan tiga yang mengangkat derajat, adapun yang membinasakan adalah: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik secara sembunyi maupun terang-terangan, bersikap hemat ketika miskin dan kaya, serta berlaku adil ketika marah maupun rida, dan yang menghapuskan dosa adalah: menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di saat sulit, dan melangkahkan kaki menuju jamaah, dan yang mengangkat derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani). Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan dengan seluruh jalur dan riwayat-riwayat penguatnya. Hadis Nabi yang mulia ini tidak hanya mengungkap penyakit-penyakit kronis hati, tapi juga menyebutkan obat mujarabnya, karena amalan-amalan penyelamat itu merupakan lawan yang dapat menangani amalan-amalan yang membinasakan, dan perkara yang dapat mengembalikan keseimbangan pada kehidupan manusia. Berikut ini adalah amalan-amalan penyelamat tersebut: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat sendiri atau di keramaian Definisi dan penjelasan: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan asas keimanan dan penghias amal saleh. Dan maksudnya adalah seorang insan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keadaannya, baik itu ketika sedang dalam kesendirian, atau bersama orang lain di keramaian. Rasa takut inilah yang dapat mencegah seseorang dari terjerumus ke dalam dosa dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan. Barang siapa yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri, maka ia tidak akan terbuai dengan amalannya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak tunduk kepada kebakhilannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihatnya. Rasa takut inilah obat manjur untuk penyakit ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan hawa nafsu. Ini juga yang dapat meneguhkan sifat rendah hati dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hati. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Merasa diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Muncul rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sikap dan perilaku seseorang, sehingga ia tetap menjauhi kemaksiatan meskipun sedang berada jauh dari pandangan mata manusia, karena hatinya telah dipenuhi ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan harapan kepada rahmat-Nya. Rendah hati dan pengakuan atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sifat ini menjadikan pemiliknya selalu menganggap setiap keberhasilan dan prestasinya berasal dari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, bukan karena usaha pribadinya, dan sifat ini dapat mencegahnya dari terjerumus ke dalam sifat ujub. Istiqamah/konsisten di atas jalan yang benar: Hal ini dapat menjauhkan seseorang dari menuruti hawa nafsunya, dan mengedepankan hukum Syariat atas segala kepentingan pribadi, karena ia takut tersesat dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perkataan ulama tentangnya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Madarij As-Salikin: “Rasa takut ini merupakan rasa takut yang diiringi dengan ma’rifatullah, karena jika tidak, maka bisa jadi itu hanya rasa takut biasa yang tidak diiringi dengan ma’rifatullah, karena rasa takut ini merupakan hasil dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ini menegaskan bahwa ia bukan hanya rasa takut sementara, tapi hasil dari pengetahuan yang mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan inilah rasa takut yang membuahkan kerendahan hati dan keinsafan. Hemat saat miskin atau kaya Hemat yakni sikap moderat dan pertengahan. Ia merupakan solusi langsung bagi penyakit pelit yang diperturutkan. Seorang mukmin akan berjalan di atas keseimbangan dalam setiap keadaan finansialnya, tidak boros dan mubazir saat dalam keadaan kaya, dan tidak juga putus asa dan berkeluh kesah saat dalam keadaan miskin. Keseimbangan ini akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap harta, menjadikannya bos bagi harta itu, alih-alih sandera, membebaskannya dari ketamakan sifat pelit, dan mengokohkan dalam hatinya sifat rida dan kepuasan. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Pengeluaran yang seimbang: saat dalam keadaan kaya, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari pengeluarannya yang ditujukan ke kebutuhan yang tepat, tanpa bersikap boros atau pelit. Ia bersedekah, berzakat, dan memberi bantuan kepada keluarganya. Menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala: saat dalam keadaan miskin, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari kesabaran dan keridhaannya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak murka atau berkeluh kesah. Ia mengetahui dengan baik bahwa kemiskinan tidak akan mengurangi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Membebaskan diri dari ketamakan: sikap hemat dapat membebaskan hati dari ketamakan dan kerakusan yang menjadi hakikat dari sifat pelit. Sikap hemat membuatnya puas dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi untuknya. Perkataan ulama tentangnya Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din: “Berhemat dalam hidup merupakan jalan hidup orang-orang terdahulu dan belakangan, serta sifat para Nabi dan shiddiqin. Ia merupakan salah satu ciri keimanan dan termasuk sifat orang-orang baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sikap hemat dapat melindungi manusia dari dampak-dampak kemiskinan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama. Adil saat marah atau ridha Adil merupakan puncak dari budi pekerti, tapi untuk menjadi orang yang adil, baik itu ketika ia berada di puncak kemurkaan atau puncak keridhaan, maka ini merupakan bukti kekuatan iman dan kebersihan hati. Ia merupakan obat bagi hawa nafsu yang dituruti, karena kemarahan dapat membutakan hati, dan hawa nafsu bisa menyesatkan akal. Namun, seorang mukmin hakiki akan tetap menerapkan hukum sesuai syariat dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan ketika ia berada dalam kondisi psikologis yang paling berat sekalipun, ia tidak mungkin menzalimi seseorang hanya karena ia marah kepadanya, atau berbuat baik kepada seseorang hanya karena ia mencintainya. Sifat ini membebaskan manusia dari kendali hawa nafsu, menjadikannya lebih mengutamakan kebenaran daripada gejolak jiwa dan mengutamakan keadilan daripada kepentingan pribadi. Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya Objektif dalam menetapkan hukum: Sifat adil dapat terlihat jelas saat dalam keadaan marah atau rida melalui sikap objektif seseorang bahkan terhadap musuh-musuhnya. Kebenciannya tidak membuatnya menzalimi orang lain dan kecintaannya tidak menggiringnya untuk pilih kasih kepada teman-temannya. Bijak dalam mengambil keputusan: Sifat adil dapat mengokohkan prinsip kebenaran di dalam hati, mencegah manusia dari mengambil keputusan secara terburu-buru atas dasar perasaan atau kemarahan, sehingga sifat ini dapat mendukung keberlangsungan hubungan. Pengambilan keputusan berdasarkan syariat, bukan hawa nafsu: Bersikap adil saat marah ataupun senang merupakan pengaplikasian langsung terhadap sikap tidak menuruti hawa nafsu, karena pelakunya akan menjadikan syariat sebagai penentu keputusan, bukan karena dorongan pribadi. Perkataan ulama tentangnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al-Fatawa: “Sesungguhnya sikap adil itu wajib diterapkan oleh setiap orang terhadap setiap orang dan dalam setiap keadaan. Apabila ada orang yang menyukai seseorang atau justru membencinya, maka ia tetap harus bersikap adil terhadapnya.”  Ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh gugur meski terdapat banyak kepentingan pribadi yang terlibat, dan ini merupakan obat yang manjur untuk menangani hawa nafsu yang diperturutkan. Kesimpulan: hadis ini merupakan metode nabawi untuk membenahi jiwa Hadis Nabi yang mulia ini merupakan metode aplikatif dan komprehensif untuk membersihkan hati dan jiwa, karena tiga amalan yang membinasakan tersebut dapat merusak manusia dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan tiga amalan yang menyelamatkan ini dapat membenahi jiwa dan mendekatkannya kepada Tuhannya. Keselamatan tersembunyi dalam keputusan untuk mengganti sifat pelit kita dengan kedermawanan, hawa nafsu kita dengan jalan kebenaran, kesombongan diri kita dengan ketundukan dan kerendahan hati, dan menghiasi diri dengan rasa takut, sikap moderat, dan keadilan dalam setiap keadaan dan kondisi. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/179209/المنجيات-الثلاث-مفاتيح-النجاة-والفلاح/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 752 times, 1 visit(s) today Post Views: 493

Teks Khotbah Jumat: Maksiat Menghancurkan Kehormatan

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKemuliaan tergantung level takwaAkibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaKhotbah keduaGelar pelaku maksiat adalah gelar burukKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jemaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menutup aib-aib kita dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Syukurilah nikmat iman itu dengan berpegang teguh kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43)Maka, inilah hakikat ketakwaan yang wajib diwasiatkan di setiap khotbah Jumat. Hendaknya kita semua berpegang teguh dengan Islam hingga kematian menjemput kita. Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Kemuliaan tergantung level takwaPara jemaah rahimakumullah!Ketahuilah bahwa di antara dampak maksiat adalah hancurnya kehormatan seseorang. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan dampak-dampak dari kemaksiatan di dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa (Penyakit dan Obatnya). Salah satu dampak buruk dari maksiat adalah kehormatan seseorang akan hancur di hadapan Allah ﷻ, bahkan di hadapan manusia.Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang bergantung kepada level ketakwaannya. Dan hamba yang paling dekat kepada Allah Al-Aliy adalah hamba yang paling bertakwa. Bukanlah kemuliaan itu pada jabatan yang diampu, apalagi pada nasab yang melekat, tetapi seberapa besar nilai takwa kita di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam potongan surah Al-Hujurat,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ﷻ adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ jelaskan bahwasanya manusia diciptakan Allah ﷻ dengan beragam suku bangsa. Kemudian Allah ﷻ sebutkan yang paling mulia bukanlah dari suku A atau bangsa B, melainkan yang paling bertakwa di antara suku bangsa itu.Imam Mufassir, Ath-Thabari rahimahullah berkata,إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath-Thabari, 21: 386)Hal senada disebutkan rata-rata para mufassirin, bahwa orang yang paling tinggi derajatnya secara hakiki adalah mereka yang paling bertakwa di hadapan Allah ﷻ.Dan memang Allah ﷻ jadikan potensi kemuliaan itu ada pada manusia, Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)Namun, Allah ﷻ lanjutkan ayatnya,ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin: 5)Apa penyebabnya? Karena manusia melakukan kemaksiatan dan pengingkaran kepada Allah ﷻ. Namun, Allah ﷻ berikan solusi agar kita tidak jatuh dari tempat termulia ke dalamnya jurang neraka. Allah ﷻ berfirman,إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 6)Oleh karena itu, ketakwaan menjadi indikator seorang itu mulia atau seorang itu terhina.Akibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِذَا عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ، فَأَسْقَطَهُ مِنْ قُلُوبِ عِبَادِهِ“Jika hamba itu mendurhakai Allah ﷻ dan menyelisihi perintah-Nya, maka jatuhlah dia dalam penilaian Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak hanya menjatuhkan di hadapan-Nya, tetapi juga di hadapan para makhluk-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, Allah ﷻ akan rendahkan pelaku maksiat itu. Dijadikan hubungannya dalam sosial masyarakat serendah derajatnya di hadapan Allah ﷻ karena kemaksiatannya, serta keadaannya sangat buruk sekali.Bahkan kata Ibnul Qayyim rahimahullah,لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَا فَرَحَ لَهُ وَلَا سُرُورَ“Tidak ada penghormatan kepadanya, tidak ada kebahagiaan dan keceriaan pada ahli maksiat itu.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, jatuhnya martabat dan kedudukan melahirkan segala bentuk kegundahan, kegelisahan, juga kesedihan. Tiada kegembiraan dan keceriaan karena kehormatan telah dijatuhkan. Inilah dampak dari maksiat itu. Ingatlah kondisi Firaun! Di mana ia dipuja-puji oleh rakyat yang mendukungnya. Namun, ketika kemaksiatannya memuncak, Allah ﷻ hukum dia dengan kehinaan dan dikekalkan kehinaannya. Maka betapa banyak manusia hingga akhir zaman nanti yang akan mencelanya?!Itulah kemaksiatan!وَأَيْنَ هَذَا الْأَلَمُ مِنْ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ لَوْلَا سُكْرُ الشَّهْوَةِ؟Jika bukan karena dimabuk syahwat, apakah kelezatan maksiat dapat dibandingkan dengan rasa sakit tersebut?!بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهGelar pelaku maksiat adalah gelar burukJemaah rahimakumullah!Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menerangkan dampak maksiat ini, beliau tidak sembarangan menyatakan demikian. Beliau menukilkan firman Allah ﷻ bahwasanya seburuk-buruk sebutan setelah seorang beriman, adalah sebutan bagi orang fasik, Allah ﷻ berfirman,بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ“Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ mengajarkan adab kepada manusia agar tidak saling menyeru dan memanggil dengan gelaran yang buruk. Karena seruan ini adalah seruan yang buruk dan menyerunya adalah kezaliman.Orang yang bermaksiat, otomatis mendapatkan gelaran pelaku maksiat, meskipun tidak diketahui manusia. Namun, gelaran ini ada di sisi Allah ﷻ Al-Alim Al-Khabir, yang mengetahui dan pengetahuan-Nya begitu teliti. Dan jika gelaran manusia yang tiada nilainya di akhirat saja menjadi begitu hina. Apalagi jika gelaran itu Allah ﷻ yang berikan. Tentu gelaran pelaku maksiat sudah cukup membuat kita tidak mau melakukan maksiat.Ingatlah! Barangsiapa yang Allah ﷻ hinakan, maka tiada yang dapat memuliakannya,وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memuliakkannya. Sesungguhnya Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَاللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.و اقمِ الصلاBaca juga: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Maksiat Menghancurkan Kehormatan

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKemuliaan tergantung level takwaAkibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaKhotbah keduaGelar pelaku maksiat adalah gelar burukKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jemaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menutup aib-aib kita dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Syukurilah nikmat iman itu dengan berpegang teguh kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43)Maka, inilah hakikat ketakwaan yang wajib diwasiatkan di setiap khotbah Jumat. Hendaknya kita semua berpegang teguh dengan Islam hingga kematian menjemput kita. Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Kemuliaan tergantung level takwaPara jemaah rahimakumullah!Ketahuilah bahwa di antara dampak maksiat adalah hancurnya kehormatan seseorang. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan dampak-dampak dari kemaksiatan di dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa (Penyakit dan Obatnya). Salah satu dampak buruk dari maksiat adalah kehormatan seseorang akan hancur di hadapan Allah ﷻ, bahkan di hadapan manusia.Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang bergantung kepada level ketakwaannya. Dan hamba yang paling dekat kepada Allah Al-Aliy adalah hamba yang paling bertakwa. Bukanlah kemuliaan itu pada jabatan yang diampu, apalagi pada nasab yang melekat, tetapi seberapa besar nilai takwa kita di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam potongan surah Al-Hujurat,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ﷻ adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ jelaskan bahwasanya manusia diciptakan Allah ﷻ dengan beragam suku bangsa. Kemudian Allah ﷻ sebutkan yang paling mulia bukanlah dari suku A atau bangsa B, melainkan yang paling bertakwa di antara suku bangsa itu.Imam Mufassir, Ath-Thabari rahimahullah berkata,إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath-Thabari, 21: 386)Hal senada disebutkan rata-rata para mufassirin, bahwa orang yang paling tinggi derajatnya secara hakiki adalah mereka yang paling bertakwa di hadapan Allah ﷻ.Dan memang Allah ﷻ jadikan potensi kemuliaan itu ada pada manusia, Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)Namun, Allah ﷻ lanjutkan ayatnya,ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin: 5)Apa penyebabnya? Karena manusia melakukan kemaksiatan dan pengingkaran kepada Allah ﷻ. Namun, Allah ﷻ berikan solusi agar kita tidak jatuh dari tempat termulia ke dalamnya jurang neraka. Allah ﷻ berfirman,إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 6)Oleh karena itu, ketakwaan menjadi indikator seorang itu mulia atau seorang itu terhina.Akibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِذَا عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ، فَأَسْقَطَهُ مِنْ قُلُوبِ عِبَادِهِ“Jika hamba itu mendurhakai Allah ﷻ dan menyelisihi perintah-Nya, maka jatuhlah dia dalam penilaian Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak hanya menjatuhkan di hadapan-Nya, tetapi juga di hadapan para makhluk-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, Allah ﷻ akan rendahkan pelaku maksiat itu. Dijadikan hubungannya dalam sosial masyarakat serendah derajatnya di hadapan Allah ﷻ karena kemaksiatannya, serta keadaannya sangat buruk sekali.Bahkan kata Ibnul Qayyim rahimahullah,لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَا فَرَحَ لَهُ وَلَا سُرُورَ“Tidak ada penghormatan kepadanya, tidak ada kebahagiaan dan keceriaan pada ahli maksiat itu.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, jatuhnya martabat dan kedudukan melahirkan segala bentuk kegundahan, kegelisahan, juga kesedihan. Tiada kegembiraan dan keceriaan karena kehormatan telah dijatuhkan. Inilah dampak dari maksiat itu. Ingatlah kondisi Firaun! Di mana ia dipuja-puji oleh rakyat yang mendukungnya. Namun, ketika kemaksiatannya memuncak, Allah ﷻ hukum dia dengan kehinaan dan dikekalkan kehinaannya. Maka betapa banyak manusia hingga akhir zaman nanti yang akan mencelanya?!Itulah kemaksiatan!وَأَيْنَ هَذَا الْأَلَمُ مِنْ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ لَوْلَا سُكْرُ الشَّهْوَةِ؟Jika bukan karena dimabuk syahwat, apakah kelezatan maksiat dapat dibandingkan dengan rasa sakit tersebut?!بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهGelar pelaku maksiat adalah gelar burukJemaah rahimakumullah!Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menerangkan dampak maksiat ini, beliau tidak sembarangan menyatakan demikian. Beliau menukilkan firman Allah ﷻ bahwasanya seburuk-buruk sebutan setelah seorang beriman, adalah sebutan bagi orang fasik, Allah ﷻ berfirman,بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ“Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ mengajarkan adab kepada manusia agar tidak saling menyeru dan memanggil dengan gelaran yang buruk. Karena seruan ini adalah seruan yang buruk dan menyerunya adalah kezaliman.Orang yang bermaksiat, otomatis mendapatkan gelaran pelaku maksiat, meskipun tidak diketahui manusia. Namun, gelaran ini ada di sisi Allah ﷻ Al-Alim Al-Khabir, yang mengetahui dan pengetahuan-Nya begitu teliti. Dan jika gelaran manusia yang tiada nilainya di akhirat saja menjadi begitu hina. Apalagi jika gelaran itu Allah ﷻ yang berikan. Tentu gelaran pelaku maksiat sudah cukup membuat kita tidak mau melakukan maksiat.Ingatlah! Barangsiapa yang Allah ﷻ hinakan, maka tiada yang dapat memuliakannya,وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memuliakkannya. Sesungguhnya Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَاللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.و اقمِ الصلاBaca juga: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKemuliaan tergantung level takwaAkibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaKhotbah keduaGelar pelaku maksiat adalah gelar burukKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jemaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menutup aib-aib kita dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Syukurilah nikmat iman itu dengan berpegang teguh kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43)Maka, inilah hakikat ketakwaan yang wajib diwasiatkan di setiap khotbah Jumat. Hendaknya kita semua berpegang teguh dengan Islam hingga kematian menjemput kita. Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Kemuliaan tergantung level takwaPara jemaah rahimakumullah!Ketahuilah bahwa di antara dampak maksiat adalah hancurnya kehormatan seseorang. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan dampak-dampak dari kemaksiatan di dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa (Penyakit dan Obatnya). Salah satu dampak buruk dari maksiat adalah kehormatan seseorang akan hancur di hadapan Allah ﷻ, bahkan di hadapan manusia.Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang bergantung kepada level ketakwaannya. Dan hamba yang paling dekat kepada Allah Al-Aliy adalah hamba yang paling bertakwa. Bukanlah kemuliaan itu pada jabatan yang diampu, apalagi pada nasab yang melekat, tetapi seberapa besar nilai takwa kita di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam potongan surah Al-Hujurat,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ﷻ adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ jelaskan bahwasanya manusia diciptakan Allah ﷻ dengan beragam suku bangsa. Kemudian Allah ﷻ sebutkan yang paling mulia bukanlah dari suku A atau bangsa B, melainkan yang paling bertakwa di antara suku bangsa itu.Imam Mufassir, Ath-Thabari rahimahullah berkata,إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath-Thabari, 21: 386)Hal senada disebutkan rata-rata para mufassirin, bahwa orang yang paling tinggi derajatnya secara hakiki adalah mereka yang paling bertakwa di hadapan Allah ﷻ.Dan memang Allah ﷻ jadikan potensi kemuliaan itu ada pada manusia, Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)Namun, Allah ﷻ lanjutkan ayatnya,ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin: 5)Apa penyebabnya? Karena manusia melakukan kemaksiatan dan pengingkaran kepada Allah ﷻ. Namun, Allah ﷻ berikan solusi agar kita tidak jatuh dari tempat termulia ke dalamnya jurang neraka. Allah ﷻ berfirman,إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 6)Oleh karena itu, ketakwaan menjadi indikator seorang itu mulia atau seorang itu terhina.Akibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِذَا عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ، فَأَسْقَطَهُ مِنْ قُلُوبِ عِبَادِهِ“Jika hamba itu mendurhakai Allah ﷻ dan menyelisihi perintah-Nya, maka jatuhlah dia dalam penilaian Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak hanya menjatuhkan di hadapan-Nya, tetapi juga di hadapan para makhluk-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, Allah ﷻ akan rendahkan pelaku maksiat itu. Dijadikan hubungannya dalam sosial masyarakat serendah derajatnya di hadapan Allah ﷻ karena kemaksiatannya, serta keadaannya sangat buruk sekali.Bahkan kata Ibnul Qayyim rahimahullah,لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَا فَرَحَ لَهُ وَلَا سُرُورَ“Tidak ada penghormatan kepadanya, tidak ada kebahagiaan dan keceriaan pada ahli maksiat itu.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, jatuhnya martabat dan kedudukan melahirkan segala bentuk kegundahan, kegelisahan, juga kesedihan. Tiada kegembiraan dan keceriaan karena kehormatan telah dijatuhkan. Inilah dampak dari maksiat itu. Ingatlah kondisi Firaun! Di mana ia dipuja-puji oleh rakyat yang mendukungnya. Namun, ketika kemaksiatannya memuncak, Allah ﷻ hukum dia dengan kehinaan dan dikekalkan kehinaannya. Maka betapa banyak manusia hingga akhir zaman nanti yang akan mencelanya?!Itulah kemaksiatan!وَأَيْنَ هَذَا الْأَلَمُ مِنْ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ لَوْلَا سُكْرُ الشَّهْوَةِ؟Jika bukan karena dimabuk syahwat, apakah kelezatan maksiat dapat dibandingkan dengan rasa sakit tersebut?!بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهGelar pelaku maksiat adalah gelar burukJemaah rahimakumullah!Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menerangkan dampak maksiat ini, beliau tidak sembarangan menyatakan demikian. Beliau menukilkan firman Allah ﷻ bahwasanya seburuk-buruk sebutan setelah seorang beriman, adalah sebutan bagi orang fasik, Allah ﷻ berfirman,بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ“Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ mengajarkan adab kepada manusia agar tidak saling menyeru dan memanggil dengan gelaran yang buruk. Karena seruan ini adalah seruan yang buruk dan menyerunya adalah kezaliman.Orang yang bermaksiat, otomatis mendapatkan gelaran pelaku maksiat, meskipun tidak diketahui manusia. Namun, gelaran ini ada di sisi Allah ﷻ Al-Alim Al-Khabir, yang mengetahui dan pengetahuan-Nya begitu teliti. Dan jika gelaran manusia yang tiada nilainya di akhirat saja menjadi begitu hina. Apalagi jika gelaran itu Allah ﷻ yang berikan. Tentu gelaran pelaku maksiat sudah cukup membuat kita tidak mau melakukan maksiat.Ingatlah! Barangsiapa yang Allah ﷻ hinakan, maka tiada yang dapat memuliakannya,وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memuliakkannya. Sesungguhnya Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَاللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.و اقمِ الصلاBaca juga: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKemuliaan tergantung level takwaAkibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaKhotbah keduaGelar pelaku maksiat adalah gelar burukKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara Jemaah rahimakumullah!Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menutup aib-aib kita dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang beriman. Syukurilah nikmat iman itu dengan berpegang teguh kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43)Maka, inilah hakikat ketakwaan yang wajib diwasiatkan di setiap khotbah Jumat. Hendaknya kita semua berpegang teguh dengan Islam hingga kematian menjemput kita. Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Kemuliaan tergantung level takwaPara jemaah rahimakumullah!Ketahuilah bahwa di antara dampak maksiat adalah hancurnya kehormatan seseorang. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan dampak-dampak dari kemaksiatan di dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa (Penyakit dan Obatnya). Salah satu dampak buruk dari maksiat adalah kehormatan seseorang akan hancur di hadapan Allah ﷻ, bahkan di hadapan manusia.Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang bergantung kepada level ketakwaannya. Dan hamba yang paling dekat kepada Allah Al-Aliy adalah hamba yang paling bertakwa. Bukanlah kemuliaan itu pada jabatan yang diampu, apalagi pada nasab yang melekat, tetapi seberapa besar nilai takwa kita di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman dalam potongan surah Al-Hujurat,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ﷻ adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ jelaskan bahwasanya manusia diciptakan Allah ﷻ dengan beragam suku bangsa. Kemudian Allah ﷻ sebutkan yang paling mulia bukanlah dari suku A atau bangsa B, melainkan yang paling bertakwa di antara suku bangsa itu.Imam Mufassir, Ath-Thabari rahimahullah berkata,إن أكرمكم أيها الناس عند ربكم، أشدّكم اتقاء له بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، لا أعظمكم بيتا ولا أكثركم عشيرة“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath-Thabari, 21: 386)Hal senada disebutkan rata-rata para mufassirin, bahwa orang yang paling tinggi derajatnya secara hakiki adalah mereka yang paling bertakwa di hadapan Allah ﷻ.Dan memang Allah ﷻ jadikan potensi kemuliaan itu ada pada manusia, Allah ﷻ berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)Namun, Allah ﷻ lanjutkan ayatnya,ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (QS. At-Tin: 5)Apa penyebabnya? Karena manusia melakukan kemaksiatan dan pengingkaran kepada Allah ﷻ. Namun, Allah ﷻ berikan solusi agar kita tidak jatuh dari tempat termulia ke dalamnya jurang neraka. Allah ﷻ berfirman,إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin: 6)Oleh karena itu, ketakwaan menjadi indikator seorang itu mulia atau seorang itu terhina.Akibat maksiat adalah direndahkan derajatnyaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِذَا عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ، فَأَسْقَطَهُ مِنْ قُلُوبِ عِبَادِهِ“Jika hamba itu mendurhakai Allah ﷻ dan menyelisihi perintah-Nya, maka jatuhlah dia dalam penilaian Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak hanya menjatuhkan di hadapan-Nya, tetapi juga di hadapan para makhluk-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, Allah ﷻ akan rendahkan pelaku maksiat itu. Dijadikan hubungannya dalam sosial masyarakat serendah derajatnya di hadapan Allah ﷻ karena kemaksiatannya, serta keadaannya sangat buruk sekali.Bahkan kata Ibnul Qayyim rahimahullah,لَا حُرْمَةَ لَهُ وَلَا فَرَحَ لَهُ وَلَا سُرُورَ“Tidak ada penghormatan kepadanya, tidak ada kebahagiaan dan keceriaan pada ahli maksiat itu.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 99; cet. Dar Luluah)Maka, jatuhnya martabat dan kedudukan melahirkan segala bentuk kegundahan, kegelisahan, juga kesedihan. Tiada kegembiraan dan keceriaan karena kehormatan telah dijatuhkan. Inilah dampak dari maksiat itu. Ingatlah kondisi Firaun! Di mana ia dipuja-puji oleh rakyat yang mendukungnya. Namun, ketika kemaksiatannya memuncak, Allah ﷻ hukum dia dengan kehinaan dan dikekalkan kehinaannya. Maka betapa banyak manusia hingga akhir zaman nanti yang akan mencelanya?!Itulah kemaksiatan!وَأَيْنَ هَذَا الْأَلَمُ مِنْ لَذَّةِ الْمَعْصِيَةِ لَوْلَا سُكْرُ الشَّهْوَةِ؟Jika bukan karena dimabuk syahwat, apakah kelezatan maksiat dapat dibandingkan dengan rasa sakit tersebut?!بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهGelar pelaku maksiat adalah gelar burukJemaah rahimakumullah!Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menerangkan dampak maksiat ini, beliau tidak sembarangan menyatakan demikian. Beliau menukilkan firman Allah ﷻ bahwasanya seburuk-buruk sebutan setelah seorang beriman, adalah sebutan bagi orang fasik, Allah ﷻ berfirman,بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ“Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurat: 11)Konteks ayat ini adalah Allah ﷻ mengajarkan adab kepada manusia agar tidak saling menyeru dan memanggil dengan gelaran yang buruk. Karena seruan ini adalah seruan yang buruk dan menyerunya adalah kezaliman.Orang yang bermaksiat, otomatis mendapatkan gelaran pelaku maksiat, meskipun tidak diketahui manusia. Namun, gelaran ini ada di sisi Allah ﷻ Al-Alim Al-Khabir, yang mengetahui dan pengetahuan-Nya begitu teliti. Dan jika gelaran manusia yang tiada nilainya di akhirat saja menjadi begitu hina. Apalagi jika gelaran itu Allah ﷻ yang berikan. Tentu gelaran pelaku maksiat sudah cukup membuat kita tidak mau melakukan maksiat.Ingatlah! Barangsiapa yang Allah ﷻ hinakan, maka tiada yang dapat memuliakannya,وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ“Barangsiapa yang dihinakan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memuliakkannya. Sesungguhnya Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَاللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِو الحمد لله رب العالمينWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.و اقمِ الصلاBaca juga: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Kesalahan Umum dalam Shalat Berjamaah: Mendahului Imam dan Tidak Mengetahui Gerakannya

Shalat berjamaah bukan sekadar berkumpul, tetapi ibadah yang memiliki aturan dan syarat agar sah di sisi Allah. Di antara syarat pentingnya adalah mengetahui shalat imam dan tidak mendahuluinya dalam posisi maupun gerakan. Pembahasan ini menjelaskan secara ringkas dan jelas syarat sah bermakmum dalam shalat berjamaah berdasarkan penjelasan para ulama.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيَجُوزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ، وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ، وَلَا تَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، وَلَا قَارِئٍ بِأُمِّيٍّ. وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، أَجْزَأَهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ. وَإِنْ صَلَّى خَارِجَ الْمَسْجِدِ، وَالْمَأْمُومُ قَرِيبًا مِنْهُ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ، جَازَ.Boleh bagi seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang hampir balig (remaja). Namun tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, dan tidak sah orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik bermakmum kepada orang yang tidak bisa membaca (ummi).Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam, selama ia mengetahui shalat imam tersebut, maka shalatnya sah, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia shalat di luar masjid, sementara makmum berada dekat dengannya, mengetahui shalat imam, dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka hal itu dibolehkan.PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Boleh seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang sudah mumayyiz (remaja). Adapun anak kecil yang belum mumayyiz, maka tidak sah dijadikan imam untuk diikuti. Tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, tidak pula kepada khuntsa musykil (berjenis kelamin tidak jelas), dan tidak sah pula khuntsa musykil bermakmum kepada perempuan atau kepada khuntsa musykil lainnya. Tidak sah pula orang yang pandai membaca Al-Fatihah—yaitu yang membacanya dengan benar—bermakmum kepada orang yang ummi, yaitu orang yang merusak satu huruf atau satu tasydid dalam bacaan Al-Fatihah.Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat sah bermakmum dengan ucapannya: “Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam di masjid tersebut,” maksudnya shalat di dalam masjid, “sedangkan ia mengetahui shalat imam,” yaitu dengan melihat imam secara langsung atau melihat sebagian dari shaf, maka hal itu sudah mencukupi untuk sahnya bermakmum, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia berada di depan imam dengan tumitnya mengungguli imam pada arah kiblat, maka shalatnya tidak sah. Adapun sejajar dengan imam tidak membahayakan, namun disunnahkan bagi makmum untuk sedikit berada di belakang imam. Dengan posisi agak tertinggal ini, makmum tidak dianggap shalat sendirian dari shaf sehingga tidak kehilangan keutamaan shalat berjamaah.Jika imam shalat di dalam masjid sementara makmum berada di luar masjid, dalam keadaan jaraknya dekat dengan imam—yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari sekitar tiga ratus hasta—dan makmum mengetahui shalat imam, serta tidak ada penghalang di antara keduanya, maka sah bermakmum kepadanya. Jarak yang diperhitungkan tersebut dihitung dari batas akhir masjid. Jika imam dan makmum sama-sama berada di luar masjid, baik di tempat terbuka maupun di dalam bangunan, maka syaratnya jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus hasta dan tidak ada penghalang di antara mereka.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Ketahuilah bahwa sahnya bermakmum memiliki beberapa syarat.Syarat pertama adalah mengetahui shalat imam, yaitu mengetahui perbuatan-perbuatan imam yang tampak. Syarat ini wajib ada. Imam Asy-Syafi‘i menegaskannya, dan para ulama dari kalangan pengikutnya sepakat akan hal ini. Pengetahuan tentang shalat imam bisa diperoleh dengan melihat langsung imam atau melihat sebagian shaf, dan bisa pula dengan mendengar suara imam atau mendengar suara orang yang menyampaikan (muballigh).Apabila muballigh itu seorang anak kecil, apakah sudah mencukupi? Syaikh Abu Muhammad dalam kitab Al-Furuq dan Ibnu Al-Ustadz dalam Syarh Al-Wasith mensyaratkan bahwa muballigh harus orang yang tepercaya. Konsekuensinya, menurut pendapat ini, berita dari anak kecil tidak diterima. Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab pada bab adzan menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat berita dari anak kecil diterima dalam perkara yang diketahui melalui penglihatan, seperti penunjukan arah kiblat oleh orang buta dan semisalnya. Ini merupakan sebuah kaidah, dan masalah yang sedang dibahas ini termasuk salah satu cabangnya, bahkan merupakan pembahasan yang baik.Syarat kedua adalah makmum tidak boleh berada di depan imam dalam posisi shalat. Sebab, para sahabat yang bermakmum kepada Nabi ﷺ tidak pernah diriwayatkan bahwa mereka mendahului beliau. Demikian pula orang-orang yang bermakmum kepada para khalifah yang lurus, tidak ada satu pun yang diriwayatkan mendahului imam mereka. Jika makmum berada di depan imam, maka shalatnya batal menurut pendapat yang baru, sebagaimana batalnya shalat jika ia mendahului imam dalam gerakan atau takbiratul ihram. Bahkan mendahului imam dalam posisi tempat berdiri ini lebih parah bentuk penyelisihannya.Jika makmum mendahului imam di tengah-tengah shalat, maka shalatnya juga batal karena adanya penyelisihan. Apabila ia ragu apakah dirinya telah mendahului imam atau tidak, maka pendapat yang sahih adalah shalatnya tetap sah secara mutlak. Hal ini ditegaskan oleh para ulama peneliti dan dinyatakan langsung oleh Imam Asy-Syafi‘i dalam kitab Al-Umm, karena hukum asalnya adalah tidak mendahului imam.Qadhi Husain berpendapat, jika makmum datang dari arah belakang imam, maka shalatnya sah. Namun jika ia datang dari arah depan imam, maka shalatnya tidak sah, dengan berpegang pada hukum asal. Ibnu Ar-Rif‘ah mengatakan bahwa pendapat ini adalah yang paling kuat.Posisi sejajar dengan imam tidak membahayakan, karena tidak termasuk mendahului imam. Ukuran mendahului imam dinilai dari posisi tumit, yaitu bagian belakang kaki. Hal ini berlaku ketika shalat dalam keadaan berdiri. Jika shalat dalam keadaan duduk, maka ukuran yang diperhitungkan adalah pantat. Jika shalat dalam keadaan berbaring, maka ukuran yang diperhitungkan adalah sisi tubuh. Hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi.Semua penjelasan ini berlaku bagi selain orang-orang yang shalat mengelilingi Ka‘bah. Adapun mereka yang shalat melingkar di sekitar Ka‘bah, maka tidak membahayakan apabila makmum lebih dekat ke arah kiblat daripada imam, selama tidak berada tepat di arah depan imam, menurut pendapat yang rajih dan telah dipastikan kebenarannya. Referensi: Matan Abu Syuja’, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar Disusun di perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 19 Rajab 1447 H, 8 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat berjamaah

Kesalahan Umum dalam Shalat Berjamaah: Mendahului Imam dan Tidak Mengetahui Gerakannya

Shalat berjamaah bukan sekadar berkumpul, tetapi ibadah yang memiliki aturan dan syarat agar sah di sisi Allah. Di antara syarat pentingnya adalah mengetahui shalat imam dan tidak mendahuluinya dalam posisi maupun gerakan. Pembahasan ini menjelaskan secara ringkas dan jelas syarat sah bermakmum dalam shalat berjamaah berdasarkan penjelasan para ulama.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيَجُوزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ، وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ، وَلَا تَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، وَلَا قَارِئٍ بِأُمِّيٍّ. وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، أَجْزَأَهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ. وَإِنْ صَلَّى خَارِجَ الْمَسْجِدِ، وَالْمَأْمُومُ قَرِيبًا مِنْهُ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ، جَازَ.Boleh bagi seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang hampir balig (remaja). Namun tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, dan tidak sah orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik bermakmum kepada orang yang tidak bisa membaca (ummi).Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam, selama ia mengetahui shalat imam tersebut, maka shalatnya sah, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia shalat di luar masjid, sementara makmum berada dekat dengannya, mengetahui shalat imam, dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka hal itu dibolehkan.PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Boleh seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang sudah mumayyiz (remaja). Adapun anak kecil yang belum mumayyiz, maka tidak sah dijadikan imam untuk diikuti. Tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, tidak pula kepada khuntsa musykil (berjenis kelamin tidak jelas), dan tidak sah pula khuntsa musykil bermakmum kepada perempuan atau kepada khuntsa musykil lainnya. Tidak sah pula orang yang pandai membaca Al-Fatihah—yaitu yang membacanya dengan benar—bermakmum kepada orang yang ummi, yaitu orang yang merusak satu huruf atau satu tasydid dalam bacaan Al-Fatihah.Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat sah bermakmum dengan ucapannya: “Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam di masjid tersebut,” maksudnya shalat di dalam masjid, “sedangkan ia mengetahui shalat imam,” yaitu dengan melihat imam secara langsung atau melihat sebagian dari shaf, maka hal itu sudah mencukupi untuk sahnya bermakmum, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia berada di depan imam dengan tumitnya mengungguli imam pada arah kiblat, maka shalatnya tidak sah. Adapun sejajar dengan imam tidak membahayakan, namun disunnahkan bagi makmum untuk sedikit berada di belakang imam. Dengan posisi agak tertinggal ini, makmum tidak dianggap shalat sendirian dari shaf sehingga tidak kehilangan keutamaan shalat berjamaah.Jika imam shalat di dalam masjid sementara makmum berada di luar masjid, dalam keadaan jaraknya dekat dengan imam—yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari sekitar tiga ratus hasta—dan makmum mengetahui shalat imam, serta tidak ada penghalang di antara keduanya, maka sah bermakmum kepadanya. Jarak yang diperhitungkan tersebut dihitung dari batas akhir masjid. Jika imam dan makmum sama-sama berada di luar masjid, baik di tempat terbuka maupun di dalam bangunan, maka syaratnya jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus hasta dan tidak ada penghalang di antara mereka.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Ketahuilah bahwa sahnya bermakmum memiliki beberapa syarat.Syarat pertama adalah mengetahui shalat imam, yaitu mengetahui perbuatan-perbuatan imam yang tampak. Syarat ini wajib ada. Imam Asy-Syafi‘i menegaskannya, dan para ulama dari kalangan pengikutnya sepakat akan hal ini. Pengetahuan tentang shalat imam bisa diperoleh dengan melihat langsung imam atau melihat sebagian shaf, dan bisa pula dengan mendengar suara imam atau mendengar suara orang yang menyampaikan (muballigh).Apabila muballigh itu seorang anak kecil, apakah sudah mencukupi? Syaikh Abu Muhammad dalam kitab Al-Furuq dan Ibnu Al-Ustadz dalam Syarh Al-Wasith mensyaratkan bahwa muballigh harus orang yang tepercaya. Konsekuensinya, menurut pendapat ini, berita dari anak kecil tidak diterima. Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab pada bab adzan menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat berita dari anak kecil diterima dalam perkara yang diketahui melalui penglihatan, seperti penunjukan arah kiblat oleh orang buta dan semisalnya. Ini merupakan sebuah kaidah, dan masalah yang sedang dibahas ini termasuk salah satu cabangnya, bahkan merupakan pembahasan yang baik.Syarat kedua adalah makmum tidak boleh berada di depan imam dalam posisi shalat. Sebab, para sahabat yang bermakmum kepada Nabi ﷺ tidak pernah diriwayatkan bahwa mereka mendahului beliau. Demikian pula orang-orang yang bermakmum kepada para khalifah yang lurus, tidak ada satu pun yang diriwayatkan mendahului imam mereka. Jika makmum berada di depan imam, maka shalatnya batal menurut pendapat yang baru, sebagaimana batalnya shalat jika ia mendahului imam dalam gerakan atau takbiratul ihram. Bahkan mendahului imam dalam posisi tempat berdiri ini lebih parah bentuk penyelisihannya.Jika makmum mendahului imam di tengah-tengah shalat, maka shalatnya juga batal karena adanya penyelisihan. Apabila ia ragu apakah dirinya telah mendahului imam atau tidak, maka pendapat yang sahih adalah shalatnya tetap sah secara mutlak. Hal ini ditegaskan oleh para ulama peneliti dan dinyatakan langsung oleh Imam Asy-Syafi‘i dalam kitab Al-Umm, karena hukum asalnya adalah tidak mendahului imam.Qadhi Husain berpendapat, jika makmum datang dari arah belakang imam, maka shalatnya sah. Namun jika ia datang dari arah depan imam, maka shalatnya tidak sah, dengan berpegang pada hukum asal. Ibnu Ar-Rif‘ah mengatakan bahwa pendapat ini adalah yang paling kuat.Posisi sejajar dengan imam tidak membahayakan, karena tidak termasuk mendahului imam. Ukuran mendahului imam dinilai dari posisi tumit, yaitu bagian belakang kaki. Hal ini berlaku ketika shalat dalam keadaan berdiri. Jika shalat dalam keadaan duduk, maka ukuran yang diperhitungkan adalah pantat. Jika shalat dalam keadaan berbaring, maka ukuran yang diperhitungkan adalah sisi tubuh. Hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi.Semua penjelasan ini berlaku bagi selain orang-orang yang shalat mengelilingi Ka‘bah. Adapun mereka yang shalat melingkar di sekitar Ka‘bah, maka tidak membahayakan apabila makmum lebih dekat ke arah kiblat daripada imam, selama tidak berada tepat di arah depan imam, menurut pendapat yang rajih dan telah dipastikan kebenarannya. Referensi: Matan Abu Syuja’, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar Disusun di perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 19 Rajab 1447 H, 8 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat berjamaah
Shalat berjamaah bukan sekadar berkumpul, tetapi ibadah yang memiliki aturan dan syarat agar sah di sisi Allah. Di antara syarat pentingnya adalah mengetahui shalat imam dan tidak mendahuluinya dalam posisi maupun gerakan. Pembahasan ini menjelaskan secara ringkas dan jelas syarat sah bermakmum dalam shalat berjamaah berdasarkan penjelasan para ulama.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيَجُوزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ، وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ، وَلَا تَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، وَلَا قَارِئٍ بِأُمِّيٍّ. وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، أَجْزَأَهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ. وَإِنْ صَلَّى خَارِجَ الْمَسْجِدِ، وَالْمَأْمُومُ قَرِيبًا مِنْهُ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ، جَازَ.Boleh bagi seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang hampir balig (remaja). Namun tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, dan tidak sah orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik bermakmum kepada orang yang tidak bisa membaca (ummi).Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam, selama ia mengetahui shalat imam tersebut, maka shalatnya sah, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia shalat di luar masjid, sementara makmum berada dekat dengannya, mengetahui shalat imam, dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka hal itu dibolehkan.PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Boleh seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang sudah mumayyiz (remaja). Adapun anak kecil yang belum mumayyiz, maka tidak sah dijadikan imam untuk diikuti. Tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, tidak pula kepada khuntsa musykil (berjenis kelamin tidak jelas), dan tidak sah pula khuntsa musykil bermakmum kepada perempuan atau kepada khuntsa musykil lainnya. Tidak sah pula orang yang pandai membaca Al-Fatihah—yaitu yang membacanya dengan benar—bermakmum kepada orang yang ummi, yaitu orang yang merusak satu huruf atau satu tasydid dalam bacaan Al-Fatihah.Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat sah bermakmum dengan ucapannya: “Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam di masjid tersebut,” maksudnya shalat di dalam masjid, “sedangkan ia mengetahui shalat imam,” yaitu dengan melihat imam secara langsung atau melihat sebagian dari shaf, maka hal itu sudah mencukupi untuk sahnya bermakmum, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia berada di depan imam dengan tumitnya mengungguli imam pada arah kiblat, maka shalatnya tidak sah. Adapun sejajar dengan imam tidak membahayakan, namun disunnahkan bagi makmum untuk sedikit berada di belakang imam. Dengan posisi agak tertinggal ini, makmum tidak dianggap shalat sendirian dari shaf sehingga tidak kehilangan keutamaan shalat berjamaah.Jika imam shalat di dalam masjid sementara makmum berada di luar masjid, dalam keadaan jaraknya dekat dengan imam—yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari sekitar tiga ratus hasta—dan makmum mengetahui shalat imam, serta tidak ada penghalang di antara keduanya, maka sah bermakmum kepadanya. Jarak yang diperhitungkan tersebut dihitung dari batas akhir masjid. Jika imam dan makmum sama-sama berada di luar masjid, baik di tempat terbuka maupun di dalam bangunan, maka syaratnya jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus hasta dan tidak ada penghalang di antara mereka.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Ketahuilah bahwa sahnya bermakmum memiliki beberapa syarat.Syarat pertama adalah mengetahui shalat imam, yaitu mengetahui perbuatan-perbuatan imam yang tampak. Syarat ini wajib ada. Imam Asy-Syafi‘i menegaskannya, dan para ulama dari kalangan pengikutnya sepakat akan hal ini. Pengetahuan tentang shalat imam bisa diperoleh dengan melihat langsung imam atau melihat sebagian shaf, dan bisa pula dengan mendengar suara imam atau mendengar suara orang yang menyampaikan (muballigh).Apabila muballigh itu seorang anak kecil, apakah sudah mencukupi? Syaikh Abu Muhammad dalam kitab Al-Furuq dan Ibnu Al-Ustadz dalam Syarh Al-Wasith mensyaratkan bahwa muballigh harus orang yang tepercaya. Konsekuensinya, menurut pendapat ini, berita dari anak kecil tidak diterima. Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab pada bab adzan menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat berita dari anak kecil diterima dalam perkara yang diketahui melalui penglihatan, seperti penunjukan arah kiblat oleh orang buta dan semisalnya. Ini merupakan sebuah kaidah, dan masalah yang sedang dibahas ini termasuk salah satu cabangnya, bahkan merupakan pembahasan yang baik.Syarat kedua adalah makmum tidak boleh berada di depan imam dalam posisi shalat. Sebab, para sahabat yang bermakmum kepada Nabi ﷺ tidak pernah diriwayatkan bahwa mereka mendahului beliau. Demikian pula orang-orang yang bermakmum kepada para khalifah yang lurus, tidak ada satu pun yang diriwayatkan mendahului imam mereka. Jika makmum berada di depan imam, maka shalatnya batal menurut pendapat yang baru, sebagaimana batalnya shalat jika ia mendahului imam dalam gerakan atau takbiratul ihram. Bahkan mendahului imam dalam posisi tempat berdiri ini lebih parah bentuk penyelisihannya.Jika makmum mendahului imam di tengah-tengah shalat, maka shalatnya juga batal karena adanya penyelisihan. Apabila ia ragu apakah dirinya telah mendahului imam atau tidak, maka pendapat yang sahih adalah shalatnya tetap sah secara mutlak. Hal ini ditegaskan oleh para ulama peneliti dan dinyatakan langsung oleh Imam Asy-Syafi‘i dalam kitab Al-Umm, karena hukum asalnya adalah tidak mendahului imam.Qadhi Husain berpendapat, jika makmum datang dari arah belakang imam, maka shalatnya sah. Namun jika ia datang dari arah depan imam, maka shalatnya tidak sah, dengan berpegang pada hukum asal. Ibnu Ar-Rif‘ah mengatakan bahwa pendapat ini adalah yang paling kuat.Posisi sejajar dengan imam tidak membahayakan, karena tidak termasuk mendahului imam. Ukuran mendahului imam dinilai dari posisi tumit, yaitu bagian belakang kaki. Hal ini berlaku ketika shalat dalam keadaan berdiri. Jika shalat dalam keadaan duduk, maka ukuran yang diperhitungkan adalah pantat. Jika shalat dalam keadaan berbaring, maka ukuran yang diperhitungkan adalah sisi tubuh. Hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi.Semua penjelasan ini berlaku bagi selain orang-orang yang shalat mengelilingi Ka‘bah. Adapun mereka yang shalat melingkar di sekitar Ka‘bah, maka tidak membahayakan apabila makmum lebih dekat ke arah kiblat daripada imam, selama tidak berada tepat di arah depan imam, menurut pendapat yang rajih dan telah dipastikan kebenarannya. Referensi: Matan Abu Syuja’, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar Disusun di perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 19 Rajab 1447 H, 8 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat berjamaah


Shalat berjamaah bukan sekadar berkumpul, tetapi ibadah yang memiliki aturan dan syarat agar sah di sisi Allah. Di antara syarat pentingnya adalah mengetahui shalat imam dan tidak mendahuluinya dalam posisi maupun gerakan. Pembahasan ini menjelaskan secara ringkas dan jelas syarat sah bermakmum dalam shalat berjamaah berdasarkan penjelasan para ulama.Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيَجُوزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْحُرُّ بِالْعَبْدِ، وَالْبَالِغُ بِالْمُرَاهِقِ، وَلَا تَصِحُّ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، وَلَا قَارِئٍ بِأُمِّيٍّ. وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، أَجْزَأَهُ مَا لَمْ يَتَقَدَّمْ عَلَيْهِ. وَإِنْ صَلَّى خَارِجَ الْمَسْجِدِ، وَالْمَأْمُومُ قَرِيبًا مِنْهُ، وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ، وَلَا حَائِلَ هُنَاكَ، جَازَ.Boleh bagi seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang hampir balig (remaja). Namun tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, dan tidak sah orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik bermakmum kepada orang yang tidak bisa membaca (ummi).Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam, selama ia mengetahui shalat imam tersebut, maka shalatnya sah, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia shalat di luar masjid, sementara makmum berada dekat dengannya, mengetahui shalat imam, dan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka hal itu dibolehkan.PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Boleh seorang yang merdeka bermakmum kepada seorang budak, dan orang yang sudah balig bermakmum kepada anak yang sudah mumayyiz (remaja). Adapun anak kecil yang belum mumayyiz, maka tidak sah dijadikan imam untuk diikuti. Tidak sah seorang laki-laki bermakmum kepada perempuan, tidak pula kepada khuntsa musykil (berjenis kelamin tidak jelas), dan tidak sah pula khuntsa musykil bermakmum kepada perempuan atau kepada khuntsa musykil lainnya. Tidak sah pula orang yang pandai membaca Al-Fatihah—yaitu yang membacanya dengan benar—bermakmum kepada orang yang ummi, yaitu orang yang merusak satu huruf atau satu tasydid dalam bacaan Al-Fatihah.Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat sah bermakmum dengan ucapannya: “Di mana pun seseorang shalat di dalam masjid dengan mengikuti shalat imam di masjid tersebut,” maksudnya shalat di dalam masjid, “sedangkan ia mengetahui shalat imam,” yaitu dengan melihat imam secara langsung atau melihat sebagian dari shaf, maka hal itu sudah mencukupi untuk sahnya bermakmum, selama ia tidak berada di depan imam. Jika ia berada di depan imam dengan tumitnya mengungguli imam pada arah kiblat, maka shalatnya tidak sah. Adapun sejajar dengan imam tidak membahayakan, namun disunnahkan bagi makmum untuk sedikit berada di belakang imam. Dengan posisi agak tertinggal ini, makmum tidak dianggap shalat sendirian dari shaf sehingga tidak kehilangan keutamaan shalat berjamaah.Jika imam shalat di dalam masjid sementara makmum berada di luar masjid, dalam keadaan jaraknya dekat dengan imam—yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari sekitar tiga ratus hasta—dan makmum mengetahui shalat imam, serta tidak ada penghalang di antara keduanya, maka sah bermakmum kepadanya. Jarak yang diperhitungkan tersebut dihitung dari batas akhir masjid. Jika imam dan makmum sama-sama berada di luar masjid, baik di tempat terbuka maupun di dalam bangunan, maka syaratnya jarak di antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus hasta dan tidak ada penghalang di antara mereka.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Ketahuilah bahwa sahnya bermakmum memiliki beberapa syarat.Syarat pertama adalah mengetahui shalat imam, yaitu mengetahui perbuatan-perbuatan imam yang tampak. Syarat ini wajib ada. Imam Asy-Syafi‘i menegaskannya, dan para ulama dari kalangan pengikutnya sepakat akan hal ini. Pengetahuan tentang shalat imam bisa diperoleh dengan melihat langsung imam atau melihat sebagian shaf, dan bisa pula dengan mendengar suara imam atau mendengar suara orang yang menyampaikan (muballigh).Apabila muballigh itu seorang anak kecil, apakah sudah mencukupi? Syaikh Abu Muhammad dalam kitab Al-Furuq dan Ibnu Al-Ustadz dalam Syarh Al-Wasith mensyaratkan bahwa muballigh harus orang yang tepercaya. Konsekuensinya, menurut pendapat ini, berita dari anak kecil tidak diterima. Namun Imam An-Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab pada bab adzan menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat berita dari anak kecil diterima dalam perkara yang diketahui melalui penglihatan, seperti penunjukan arah kiblat oleh orang buta dan semisalnya. Ini merupakan sebuah kaidah, dan masalah yang sedang dibahas ini termasuk salah satu cabangnya, bahkan merupakan pembahasan yang baik.Syarat kedua adalah makmum tidak boleh berada di depan imam dalam posisi shalat. Sebab, para sahabat yang bermakmum kepada Nabi ﷺ tidak pernah diriwayatkan bahwa mereka mendahului beliau. Demikian pula orang-orang yang bermakmum kepada para khalifah yang lurus, tidak ada satu pun yang diriwayatkan mendahului imam mereka. Jika makmum berada di depan imam, maka shalatnya batal menurut pendapat yang baru, sebagaimana batalnya shalat jika ia mendahului imam dalam gerakan atau takbiratul ihram. Bahkan mendahului imam dalam posisi tempat berdiri ini lebih parah bentuk penyelisihannya.Jika makmum mendahului imam di tengah-tengah shalat, maka shalatnya juga batal karena adanya penyelisihan. Apabila ia ragu apakah dirinya telah mendahului imam atau tidak, maka pendapat yang sahih adalah shalatnya tetap sah secara mutlak. Hal ini ditegaskan oleh para ulama peneliti dan dinyatakan langsung oleh Imam Asy-Syafi‘i dalam kitab Al-Umm, karena hukum asalnya adalah tidak mendahului imam.Qadhi Husain berpendapat, jika makmum datang dari arah belakang imam, maka shalatnya sah. Namun jika ia datang dari arah depan imam, maka shalatnya tidak sah, dengan berpegang pada hukum asal. Ibnu Ar-Rif‘ah mengatakan bahwa pendapat ini adalah yang paling kuat.Posisi sejajar dengan imam tidak membahayakan, karena tidak termasuk mendahului imam. Ukuran mendahului imam dinilai dari posisi tumit, yaitu bagian belakang kaki. Hal ini berlaku ketika shalat dalam keadaan berdiri. Jika shalat dalam keadaan duduk, maka ukuran yang diperhitungkan adalah pantat. Jika shalat dalam keadaan berbaring, maka ukuran yang diperhitungkan adalah sisi tubuh. Hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi.Semua penjelasan ini berlaku bagi selain orang-orang yang shalat mengelilingi Ka‘bah. Adapun mereka yang shalat melingkar di sekitar Ka‘bah, maka tidak membahayakan apabila makmum lebih dekat ke arah kiblat daripada imam, selama tidak berada tepat di arah depan imam, menurut pendapat yang rajih dan telah dipastikan kebenarannya. Referensi: Matan Abu Syuja’, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar Disusun di perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 19 Rajab 1447 H, 8 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan taqrib matan taqrib kitab shalat shalat berjamaah

Mengenal Nafsu dan Perang yang Harus Dimenangkan Setiap Muslim

Daftar Isi TogglePrinsip pertama: Kenali musuhmuPrinsip kedua: Larang, jangan negosiasiPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanMenjadi pemenang sejatiSetiap hari, tanpa disadari, kita terlibat dalam peperangan dahsyat yang menentukan kualitas hidup dan akhirat kita. Bukan perang melawan musuh di luar, tetapi perang melawan musuh dalam selimut: nafsu yang selalu mendorong pada kesenangan sesaat, ego yang membius, dan keinginan liar yang menjauhkan dari ketaatan. Peperangan ini seringkari tak terasa; ia menyelinap lewat godaan untuk terus ‘scroll’ media sosial hingga lupa waktu salat, lewat bisikan untuk menunda-nunda kewajiban, atau lewat rayuan untuk memenuhi syahwat secara haram. Kekalahan dalam perang ini tidak lantas membuat kita terkapar, tetapi ia menggerogoti kekuatan jiwa, mengaburkan fokus, dan pada akhirnya menjerumuskan kita dalam kehidupan yang jauh dari rida Ilahi.Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat nafsu ini,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi sebuah rumus ilahiyah: kesuksesan sejati (berujung surga) hanya bisa digapai dengan menahan dan melarang nafsu dari segala keinginan hina-nya. Tanpa upaya serius untuk melawan dan mengendalikannya, nafsu akan menjadi ‘tuhan’ yang kita sembah, sebagaimana peringatan Allah,أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS. Al-Furqan: 43)Kekalahan dalam peperangan ini bermula dari ketidaktahuan. Kita sering mengira diri kuat, padahal hanya mengikuti arus, mengandalkan semangat sesaat tanpa sistem yang jelas. Untuk itu, kita membutuhkan pedoman operasional dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenangkan perang abadi ini. Berikut adalah tiga prinsip kenabian yang akan mengubah energi kita menjadi disiplin, fokus, dan kekuatan sejati.Prinsip pertama: Kenali musuhmu Nafsu (an-nafs) dalam terminologi Islam adalah substansi dalam diri manusia yang menjadi sumber dorongan, keinginan, dan kecenderungan. Para ulama sering menggambarkannya seperti anak kecil. Dalam sebuah sya’ir dikatakan,“Nafsuku adalah seperti bayi yang menyusu. Jika kau biarkan, ia akan menyusu selamanya; tetapi jika kau sapih, ia akan terputus (dari kebiasaan itu).”Maknanya, jika nafsu dibiarkan tanpa pengawasan dan pendidikan, ia akan terus-menerus menuntut pemenuhan segala keinginan primitifnya tanpa kendali. Ia hanya ingin senang, nyaman, dan terlepas dari beban, sekalipun itu harus mengorbankan kewajiban.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dari dua bahaya besar yang bersumber dari nafsu ini. Dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat (yang diperturutkan) dalam perut kalian dan syahwat pada kemaluan kalian, serta fitnah yang menyesatkan.” [1]Inilah dua ujung tombak kehancuran: mengikuti syahwat dan panjang angan-angan. Mengikuti syahwat akan merusak hati, karena setiap maksiat adalah luka dan noda hitam pada kalbu. Sementara panjang angan-angan akan menunda-nunda perbaikan (tobat dan amal saleh). Kombinasi inilah yang melahirkan pribadi lemah: selalu mencari kenyamanan, mudah berdalih, tidak bertanggung jawab, dan hidup dalam kepuasan sesaat yang semu. Nafsu tidak menginginkan kebaikan kita; ia hanya ingin dipuaskan. Maka, langkah pertama untuk menang adalah mengenali sifat dasar musuh ini.Prinsip kedua: Larang, jangan negosiasi Banyak dari kita yang terjebak dalam ‘negosiasi’ dengan nafsu. “Nanti saja salatnya, habiskan ini dulu.” Atau, “Cuma lihat sekilas, tidak apa-apa.” Ini adalah strategi yang keliru. Allah dalam surah an-Naziat di aras menggunakan kata نَهَى (nahaa) yang bermakna melarang, mencegah, dan menghalangi dengan tegas. Bukan kata yang bermakna mengatur atau menunda. Ini adalah perintah untuk menutup pintu, bukan membukanya sedikit.Setiap kali kita menuruti sebuah impuls, kita sebenarnya sedang melatih nafsu untuk lebih kuat dan kita melemahkan jiwa kita. Sebaliknya, setiap kali kita melarangnya, kita menguatkan ‘otot’ ruhani kita dan memoles hati.Prinsip ini sangat aplikatif. Misal, dalam melawan godaan pornografi, solusinya bukan dengan mengurangi frekuensi atau membuka tab lain untuk pengalihan. Namun, solusinya adalah menghapus, memblokir, dan menjauhkan diri total dari sumber godaan. Dalam konteks menjaga pandangan, bukan berarti melihat sebentar lalu menunduk, tetapi segera memalingkan mata begitu godaan datang.Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya); karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” [2]Kekuatan seorang lelaki sejati diukur dari kemampuannya untuk melarang total dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah, bukan dari kemampuannya menegosiasi batasan.Baca juga: Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa NafsuPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanSalah satu kunci mental yang paling penting adalah menyadari bahwa perjuangan melawan nafsu itu memang berat, dan di situlah letak nilai dan kesuksesannya. Kita sering berfantasi tentang perubahan yang instan dan mudah, padahal jalan menuju Allah dan surga-Nya dipenuhi dengan rintangan. Seorang muallaf pernah mengeluh tentang betapa beratnya menjaga diri dari maksiat di lingkungannya. Jawabannya adalah, “Memang begitulah seharusnya. Itu berat.”Allah menjanjikan pertolongan dan petunjuk-Nya justru bagi mereka yang bersungguh-sungguh berjuang,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)Perjuangan (jihad) di sini mencakup jihad melawan nafsu. Setiap kali kita memilih untuk bangun salat malam meski kantuk menyerang, setiap kali kita menahan amarah meski diprovokasi, setiap kali kita berpuasa sunah untuk meredam syahwat, itulah jihad akbar yang dijanjikan pertolongan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah pulang dari sebuah peperangan,رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ“Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad (melawan) hati atau jihad (melawan) nafsu.” (HR. Al-Baihaqi, dengan sanad dha’if)Prinsip ini mengajarkan kita untuk mencintai proses perjuangan itu sendiri. Merasa lelah karena menahan diri adalah tanda iman sedang bekerja. Kesulitan mencari pasangan yang saleh, beratnya menuntut ilmu, atau pahitnya menjaga lisan, semua itu adalah “kesulitan-kesulitan” yang mengelilingi surga, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keberhasilan sejati sedang menanti di balik setiap rintangan yang kita hadapi dengan sabar dan ikhlas.Menjadi pemenang sejatiPeperangan melawan nafsu adalah takdir dan ujian setiap insan beriman. Kemenangan di dalamnya tidak diukur dengan tidak pernah terjatuh, tetapi dengan konsistensi bangkit, belajar dari kesalahan, dan terus memperkuat benteng pertahanan. Tiga prinsip di atas (mengenali nafsu, melarangnya total, dan menyadari bahwa perjuangan adalah jalan sukses) adalah sistem ilahiyah untuk mencapai kemenangan.Mari kita akhiri dengan merenungi firman Allah yang menjadi penyejuk hati para pejuang,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Perubahan dimulai dari medan perang dalam diri kita sendiri. Dengan mengenal musuh, mengambil sikap tegas, dan bersabar dalam perjuangan, insya Allah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang difirmankan-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu mengendalikan nafsu, dan dengan itu meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Pengaruh Syahwat terhadap Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Disahihkan oleh Syekh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal. 21.[2] HR. Abu Dawud no 2149 (Kitabun Nikah), At-Tirmidzi no. 2777 (Kitabul Adab), dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan gharib.” Dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7953.

Mengenal Nafsu dan Perang yang Harus Dimenangkan Setiap Muslim

Daftar Isi TogglePrinsip pertama: Kenali musuhmuPrinsip kedua: Larang, jangan negosiasiPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanMenjadi pemenang sejatiSetiap hari, tanpa disadari, kita terlibat dalam peperangan dahsyat yang menentukan kualitas hidup dan akhirat kita. Bukan perang melawan musuh di luar, tetapi perang melawan musuh dalam selimut: nafsu yang selalu mendorong pada kesenangan sesaat, ego yang membius, dan keinginan liar yang menjauhkan dari ketaatan. Peperangan ini seringkari tak terasa; ia menyelinap lewat godaan untuk terus ‘scroll’ media sosial hingga lupa waktu salat, lewat bisikan untuk menunda-nunda kewajiban, atau lewat rayuan untuk memenuhi syahwat secara haram. Kekalahan dalam perang ini tidak lantas membuat kita terkapar, tetapi ia menggerogoti kekuatan jiwa, mengaburkan fokus, dan pada akhirnya menjerumuskan kita dalam kehidupan yang jauh dari rida Ilahi.Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat nafsu ini,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi sebuah rumus ilahiyah: kesuksesan sejati (berujung surga) hanya bisa digapai dengan menahan dan melarang nafsu dari segala keinginan hina-nya. Tanpa upaya serius untuk melawan dan mengendalikannya, nafsu akan menjadi ‘tuhan’ yang kita sembah, sebagaimana peringatan Allah,أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS. Al-Furqan: 43)Kekalahan dalam peperangan ini bermula dari ketidaktahuan. Kita sering mengira diri kuat, padahal hanya mengikuti arus, mengandalkan semangat sesaat tanpa sistem yang jelas. Untuk itu, kita membutuhkan pedoman operasional dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenangkan perang abadi ini. Berikut adalah tiga prinsip kenabian yang akan mengubah energi kita menjadi disiplin, fokus, dan kekuatan sejati.Prinsip pertama: Kenali musuhmu Nafsu (an-nafs) dalam terminologi Islam adalah substansi dalam diri manusia yang menjadi sumber dorongan, keinginan, dan kecenderungan. Para ulama sering menggambarkannya seperti anak kecil. Dalam sebuah sya’ir dikatakan,“Nafsuku adalah seperti bayi yang menyusu. Jika kau biarkan, ia akan menyusu selamanya; tetapi jika kau sapih, ia akan terputus (dari kebiasaan itu).”Maknanya, jika nafsu dibiarkan tanpa pengawasan dan pendidikan, ia akan terus-menerus menuntut pemenuhan segala keinginan primitifnya tanpa kendali. Ia hanya ingin senang, nyaman, dan terlepas dari beban, sekalipun itu harus mengorbankan kewajiban.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dari dua bahaya besar yang bersumber dari nafsu ini. Dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat (yang diperturutkan) dalam perut kalian dan syahwat pada kemaluan kalian, serta fitnah yang menyesatkan.” [1]Inilah dua ujung tombak kehancuran: mengikuti syahwat dan panjang angan-angan. Mengikuti syahwat akan merusak hati, karena setiap maksiat adalah luka dan noda hitam pada kalbu. Sementara panjang angan-angan akan menunda-nunda perbaikan (tobat dan amal saleh). Kombinasi inilah yang melahirkan pribadi lemah: selalu mencari kenyamanan, mudah berdalih, tidak bertanggung jawab, dan hidup dalam kepuasan sesaat yang semu. Nafsu tidak menginginkan kebaikan kita; ia hanya ingin dipuaskan. Maka, langkah pertama untuk menang adalah mengenali sifat dasar musuh ini.Prinsip kedua: Larang, jangan negosiasi Banyak dari kita yang terjebak dalam ‘negosiasi’ dengan nafsu. “Nanti saja salatnya, habiskan ini dulu.” Atau, “Cuma lihat sekilas, tidak apa-apa.” Ini adalah strategi yang keliru. Allah dalam surah an-Naziat di aras menggunakan kata نَهَى (nahaa) yang bermakna melarang, mencegah, dan menghalangi dengan tegas. Bukan kata yang bermakna mengatur atau menunda. Ini adalah perintah untuk menutup pintu, bukan membukanya sedikit.Setiap kali kita menuruti sebuah impuls, kita sebenarnya sedang melatih nafsu untuk lebih kuat dan kita melemahkan jiwa kita. Sebaliknya, setiap kali kita melarangnya, kita menguatkan ‘otot’ ruhani kita dan memoles hati.Prinsip ini sangat aplikatif. Misal, dalam melawan godaan pornografi, solusinya bukan dengan mengurangi frekuensi atau membuka tab lain untuk pengalihan. Namun, solusinya adalah menghapus, memblokir, dan menjauhkan diri total dari sumber godaan. Dalam konteks menjaga pandangan, bukan berarti melihat sebentar lalu menunduk, tetapi segera memalingkan mata begitu godaan datang.Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya); karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” [2]Kekuatan seorang lelaki sejati diukur dari kemampuannya untuk melarang total dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah, bukan dari kemampuannya menegosiasi batasan.Baca juga: Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa NafsuPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanSalah satu kunci mental yang paling penting adalah menyadari bahwa perjuangan melawan nafsu itu memang berat, dan di situlah letak nilai dan kesuksesannya. Kita sering berfantasi tentang perubahan yang instan dan mudah, padahal jalan menuju Allah dan surga-Nya dipenuhi dengan rintangan. Seorang muallaf pernah mengeluh tentang betapa beratnya menjaga diri dari maksiat di lingkungannya. Jawabannya adalah, “Memang begitulah seharusnya. Itu berat.”Allah menjanjikan pertolongan dan petunjuk-Nya justru bagi mereka yang bersungguh-sungguh berjuang,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)Perjuangan (jihad) di sini mencakup jihad melawan nafsu. Setiap kali kita memilih untuk bangun salat malam meski kantuk menyerang, setiap kali kita menahan amarah meski diprovokasi, setiap kali kita berpuasa sunah untuk meredam syahwat, itulah jihad akbar yang dijanjikan pertolongan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah pulang dari sebuah peperangan,رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ“Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad (melawan) hati atau jihad (melawan) nafsu.” (HR. Al-Baihaqi, dengan sanad dha’if)Prinsip ini mengajarkan kita untuk mencintai proses perjuangan itu sendiri. Merasa lelah karena menahan diri adalah tanda iman sedang bekerja. Kesulitan mencari pasangan yang saleh, beratnya menuntut ilmu, atau pahitnya menjaga lisan, semua itu adalah “kesulitan-kesulitan” yang mengelilingi surga, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keberhasilan sejati sedang menanti di balik setiap rintangan yang kita hadapi dengan sabar dan ikhlas.Menjadi pemenang sejatiPeperangan melawan nafsu adalah takdir dan ujian setiap insan beriman. Kemenangan di dalamnya tidak diukur dengan tidak pernah terjatuh, tetapi dengan konsistensi bangkit, belajar dari kesalahan, dan terus memperkuat benteng pertahanan. Tiga prinsip di atas (mengenali nafsu, melarangnya total, dan menyadari bahwa perjuangan adalah jalan sukses) adalah sistem ilahiyah untuk mencapai kemenangan.Mari kita akhiri dengan merenungi firman Allah yang menjadi penyejuk hati para pejuang,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Perubahan dimulai dari medan perang dalam diri kita sendiri. Dengan mengenal musuh, mengambil sikap tegas, dan bersabar dalam perjuangan, insya Allah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang difirmankan-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu mengendalikan nafsu, dan dengan itu meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Pengaruh Syahwat terhadap Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Disahihkan oleh Syekh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal. 21.[2] HR. Abu Dawud no 2149 (Kitabun Nikah), At-Tirmidzi no. 2777 (Kitabul Adab), dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan gharib.” Dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7953.
Daftar Isi TogglePrinsip pertama: Kenali musuhmuPrinsip kedua: Larang, jangan negosiasiPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanMenjadi pemenang sejatiSetiap hari, tanpa disadari, kita terlibat dalam peperangan dahsyat yang menentukan kualitas hidup dan akhirat kita. Bukan perang melawan musuh di luar, tetapi perang melawan musuh dalam selimut: nafsu yang selalu mendorong pada kesenangan sesaat, ego yang membius, dan keinginan liar yang menjauhkan dari ketaatan. Peperangan ini seringkari tak terasa; ia menyelinap lewat godaan untuk terus ‘scroll’ media sosial hingga lupa waktu salat, lewat bisikan untuk menunda-nunda kewajiban, atau lewat rayuan untuk memenuhi syahwat secara haram. Kekalahan dalam perang ini tidak lantas membuat kita terkapar, tetapi ia menggerogoti kekuatan jiwa, mengaburkan fokus, dan pada akhirnya menjerumuskan kita dalam kehidupan yang jauh dari rida Ilahi.Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat nafsu ini,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi sebuah rumus ilahiyah: kesuksesan sejati (berujung surga) hanya bisa digapai dengan menahan dan melarang nafsu dari segala keinginan hina-nya. Tanpa upaya serius untuk melawan dan mengendalikannya, nafsu akan menjadi ‘tuhan’ yang kita sembah, sebagaimana peringatan Allah,أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS. Al-Furqan: 43)Kekalahan dalam peperangan ini bermula dari ketidaktahuan. Kita sering mengira diri kuat, padahal hanya mengikuti arus, mengandalkan semangat sesaat tanpa sistem yang jelas. Untuk itu, kita membutuhkan pedoman operasional dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenangkan perang abadi ini. Berikut adalah tiga prinsip kenabian yang akan mengubah energi kita menjadi disiplin, fokus, dan kekuatan sejati.Prinsip pertama: Kenali musuhmu Nafsu (an-nafs) dalam terminologi Islam adalah substansi dalam diri manusia yang menjadi sumber dorongan, keinginan, dan kecenderungan. Para ulama sering menggambarkannya seperti anak kecil. Dalam sebuah sya’ir dikatakan,“Nafsuku adalah seperti bayi yang menyusu. Jika kau biarkan, ia akan menyusu selamanya; tetapi jika kau sapih, ia akan terputus (dari kebiasaan itu).”Maknanya, jika nafsu dibiarkan tanpa pengawasan dan pendidikan, ia akan terus-menerus menuntut pemenuhan segala keinginan primitifnya tanpa kendali. Ia hanya ingin senang, nyaman, dan terlepas dari beban, sekalipun itu harus mengorbankan kewajiban.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dari dua bahaya besar yang bersumber dari nafsu ini. Dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat (yang diperturutkan) dalam perut kalian dan syahwat pada kemaluan kalian, serta fitnah yang menyesatkan.” [1]Inilah dua ujung tombak kehancuran: mengikuti syahwat dan panjang angan-angan. Mengikuti syahwat akan merusak hati, karena setiap maksiat adalah luka dan noda hitam pada kalbu. Sementara panjang angan-angan akan menunda-nunda perbaikan (tobat dan amal saleh). Kombinasi inilah yang melahirkan pribadi lemah: selalu mencari kenyamanan, mudah berdalih, tidak bertanggung jawab, dan hidup dalam kepuasan sesaat yang semu. Nafsu tidak menginginkan kebaikan kita; ia hanya ingin dipuaskan. Maka, langkah pertama untuk menang adalah mengenali sifat dasar musuh ini.Prinsip kedua: Larang, jangan negosiasi Banyak dari kita yang terjebak dalam ‘negosiasi’ dengan nafsu. “Nanti saja salatnya, habiskan ini dulu.” Atau, “Cuma lihat sekilas, tidak apa-apa.” Ini adalah strategi yang keliru. Allah dalam surah an-Naziat di aras menggunakan kata نَهَى (nahaa) yang bermakna melarang, mencegah, dan menghalangi dengan tegas. Bukan kata yang bermakna mengatur atau menunda. Ini adalah perintah untuk menutup pintu, bukan membukanya sedikit.Setiap kali kita menuruti sebuah impuls, kita sebenarnya sedang melatih nafsu untuk lebih kuat dan kita melemahkan jiwa kita. Sebaliknya, setiap kali kita melarangnya, kita menguatkan ‘otot’ ruhani kita dan memoles hati.Prinsip ini sangat aplikatif. Misal, dalam melawan godaan pornografi, solusinya bukan dengan mengurangi frekuensi atau membuka tab lain untuk pengalihan. Namun, solusinya adalah menghapus, memblokir, dan menjauhkan diri total dari sumber godaan. Dalam konteks menjaga pandangan, bukan berarti melihat sebentar lalu menunduk, tetapi segera memalingkan mata begitu godaan datang.Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya); karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” [2]Kekuatan seorang lelaki sejati diukur dari kemampuannya untuk melarang total dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah, bukan dari kemampuannya menegosiasi batasan.Baca juga: Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa NafsuPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanSalah satu kunci mental yang paling penting adalah menyadari bahwa perjuangan melawan nafsu itu memang berat, dan di situlah letak nilai dan kesuksesannya. Kita sering berfantasi tentang perubahan yang instan dan mudah, padahal jalan menuju Allah dan surga-Nya dipenuhi dengan rintangan. Seorang muallaf pernah mengeluh tentang betapa beratnya menjaga diri dari maksiat di lingkungannya. Jawabannya adalah, “Memang begitulah seharusnya. Itu berat.”Allah menjanjikan pertolongan dan petunjuk-Nya justru bagi mereka yang bersungguh-sungguh berjuang,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)Perjuangan (jihad) di sini mencakup jihad melawan nafsu. Setiap kali kita memilih untuk bangun salat malam meski kantuk menyerang, setiap kali kita menahan amarah meski diprovokasi, setiap kali kita berpuasa sunah untuk meredam syahwat, itulah jihad akbar yang dijanjikan pertolongan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah pulang dari sebuah peperangan,رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ“Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad (melawan) hati atau jihad (melawan) nafsu.” (HR. Al-Baihaqi, dengan sanad dha’if)Prinsip ini mengajarkan kita untuk mencintai proses perjuangan itu sendiri. Merasa lelah karena menahan diri adalah tanda iman sedang bekerja. Kesulitan mencari pasangan yang saleh, beratnya menuntut ilmu, atau pahitnya menjaga lisan, semua itu adalah “kesulitan-kesulitan” yang mengelilingi surga, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keberhasilan sejati sedang menanti di balik setiap rintangan yang kita hadapi dengan sabar dan ikhlas.Menjadi pemenang sejatiPeperangan melawan nafsu adalah takdir dan ujian setiap insan beriman. Kemenangan di dalamnya tidak diukur dengan tidak pernah terjatuh, tetapi dengan konsistensi bangkit, belajar dari kesalahan, dan terus memperkuat benteng pertahanan. Tiga prinsip di atas (mengenali nafsu, melarangnya total, dan menyadari bahwa perjuangan adalah jalan sukses) adalah sistem ilahiyah untuk mencapai kemenangan.Mari kita akhiri dengan merenungi firman Allah yang menjadi penyejuk hati para pejuang,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Perubahan dimulai dari medan perang dalam diri kita sendiri. Dengan mengenal musuh, mengambil sikap tegas, dan bersabar dalam perjuangan, insya Allah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang difirmankan-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu mengendalikan nafsu, dan dengan itu meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Pengaruh Syahwat terhadap Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Disahihkan oleh Syekh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal. 21.[2] HR. Abu Dawud no 2149 (Kitabun Nikah), At-Tirmidzi no. 2777 (Kitabul Adab), dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan gharib.” Dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7953.


Daftar Isi TogglePrinsip pertama: Kenali musuhmuPrinsip kedua: Larang, jangan negosiasiPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanMenjadi pemenang sejatiSetiap hari, tanpa disadari, kita terlibat dalam peperangan dahsyat yang menentukan kualitas hidup dan akhirat kita. Bukan perang melawan musuh di luar, tetapi perang melawan musuh dalam selimut: nafsu yang selalu mendorong pada kesenangan sesaat, ego yang membius, dan keinginan liar yang menjauhkan dari ketaatan. Peperangan ini seringkari tak terasa; ia menyelinap lewat godaan untuk terus ‘scroll’ media sosial hingga lupa waktu salat, lewat bisikan untuk menunda-nunda kewajiban, atau lewat rayuan untuk memenuhi syahwat secara haram. Kekalahan dalam perang ini tidak lantas membuat kita terkapar, tetapi ia menggerogoti kekuatan jiwa, mengaburkan fokus, dan pada akhirnya menjerumuskan kita dalam kehidupan yang jauh dari rida Ilahi.Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat nafsu ini,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi sebuah rumus ilahiyah: kesuksesan sejati (berujung surga) hanya bisa digapai dengan menahan dan melarang nafsu dari segala keinginan hina-nya. Tanpa upaya serius untuk melawan dan mengendalikannya, nafsu akan menjadi ‘tuhan’ yang kita sembah, sebagaimana peringatan Allah,أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS. Al-Furqan: 43)Kekalahan dalam peperangan ini bermula dari ketidaktahuan. Kita sering mengira diri kuat, padahal hanya mengikuti arus, mengandalkan semangat sesaat tanpa sistem yang jelas. Untuk itu, kita membutuhkan pedoman operasional dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenangkan perang abadi ini. Berikut adalah tiga prinsip kenabian yang akan mengubah energi kita menjadi disiplin, fokus, dan kekuatan sejati.Prinsip pertama: Kenali musuhmu Nafsu (an-nafs) dalam terminologi Islam adalah substansi dalam diri manusia yang menjadi sumber dorongan, keinginan, dan kecenderungan. Para ulama sering menggambarkannya seperti anak kecil. Dalam sebuah sya’ir dikatakan,“Nafsuku adalah seperti bayi yang menyusu. Jika kau biarkan, ia akan menyusu selamanya; tetapi jika kau sapih, ia akan terputus (dari kebiasaan itu).”Maknanya, jika nafsu dibiarkan tanpa pengawasan dan pendidikan, ia akan terus-menerus menuntut pemenuhan segala keinginan primitifnya tanpa kendali. Ia hanya ingin senang, nyaman, dan terlepas dari beban, sekalipun itu harus mengorbankan kewajiban.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dari dua bahaya besar yang bersumber dari nafsu ini. Dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat (yang diperturutkan) dalam perut kalian dan syahwat pada kemaluan kalian, serta fitnah yang menyesatkan.” [1]Inilah dua ujung tombak kehancuran: mengikuti syahwat dan panjang angan-angan. Mengikuti syahwat akan merusak hati, karena setiap maksiat adalah luka dan noda hitam pada kalbu. Sementara panjang angan-angan akan menunda-nunda perbaikan (tobat dan amal saleh). Kombinasi inilah yang melahirkan pribadi lemah: selalu mencari kenyamanan, mudah berdalih, tidak bertanggung jawab, dan hidup dalam kepuasan sesaat yang semu. Nafsu tidak menginginkan kebaikan kita; ia hanya ingin dipuaskan. Maka, langkah pertama untuk menang adalah mengenali sifat dasar musuh ini.Prinsip kedua: Larang, jangan negosiasi Banyak dari kita yang terjebak dalam ‘negosiasi’ dengan nafsu. “Nanti saja salatnya, habiskan ini dulu.” Atau, “Cuma lihat sekilas, tidak apa-apa.” Ini adalah strategi yang keliru. Allah dalam surah an-Naziat di aras menggunakan kata نَهَى (nahaa) yang bermakna melarang, mencegah, dan menghalangi dengan tegas. Bukan kata yang bermakna mengatur atau menunda. Ini adalah perintah untuk menutup pintu, bukan membukanya sedikit.Setiap kali kita menuruti sebuah impuls, kita sebenarnya sedang melatih nafsu untuk lebih kuat dan kita melemahkan jiwa kita. Sebaliknya, setiap kali kita melarangnya, kita menguatkan ‘otot’ ruhani kita dan memoles hati.Prinsip ini sangat aplikatif. Misal, dalam melawan godaan pornografi, solusinya bukan dengan mengurangi frekuensi atau membuka tab lain untuk pengalihan. Namun, solusinya adalah menghapus, memblokir, dan menjauhkan diri total dari sumber godaan. Dalam konteks menjaga pandangan, bukan berarti melihat sebentar lalu menunduk, tetapi segera memalingkan mata begitu godaan datang.Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya); karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” [2]Kekuatan seorang lelaki sejati diukur dari kemampuannya untuk melarang total dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah, bukan dari kemampuannya menegosiasi batasan.Baca juga: Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa NafsuPrinsip ketiga: Perjuangan itu sendiri adalah kesuksesanSalah satu kunci mental yang paling penting adalah menyadari bahwa perjuangan melawan nafsu itu memang berat, dan di situlah letak nilai dan kesuksesannya. Kita sering berfantasi tentang perubahan yang instan dan mudah, padahal jalan menuju Allah dan surga-Nya dipenuhi dengan rintangan. Seorang muallaf pernah mengeluh tentang betapa beratnya menjaga diri dari maksiat di lingkungannya. Jawabannya adalah, “Memang begitulah seharusnya. Itu berat.”Allah menjanjikan pertolongan dan petunjuk-Nya justru bagi mereka yang bersungguh-sungguh berjuang,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)Perjuangan (jihad) di sini mencakup jihad melawan nafsu. Setiap kali kita memilih untuk bangun salat malam meski kantuk menyerang, setiap kali kita menahan amarah meski diprovokasi, setiap kali kita berpuasa sunah untuk meredam syahwat, itulah jihad akbar yang dijanjikan pertolongan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah pulang dari sebuah peperangan,رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ“Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad (melawan) hati atau jihad (melawan) nafsu.” (HR. Al-Baihaqi, dengan sanad dha’if)Prinsip ini mengajarkan kita untuk mencintai proses perjuangan itu sendiri. Merasa lelah karena menahan diri adalah tanda iman sedang bekerja. Kesulitan mencari pasangan yang saleh, beratnya menuntut ilmu, atau pahitnya menjaga lisan, semua itu adalah “kesulitan-kesulitan” yang mengelilingi surga, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keberhasilan sejati sedang menanti di balik setiap rintangan yang kita hadapi dengan sabar dan ikhlas.Menjadi pemenang sejatiPeperangan melawan nafsu adalah takdir dan ujian setiap insan beriman. Kemenangan di dalamnya tidak diukur dengan tidak pernah terjatuh, tetapi dengan konsistensi bangkit, belajar dari kesalahan, dan terus memperkuat benteng pertahanan. Tiga prinsip di atas (mengenali nafsu, melarangnya total, dan menyadari bahwa perjuangan adalah jalan sukses) adalah sistem ilahiyah untuk mencapai kemenangan.Mari kita akhiri dengan merenungi firman Allah yang menjadi penyejuk hati para pejuang,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Perubahan dimulai dari medan perang dalam diri kita sendiri. Dengan mengenal musuh, mengambil sikap tegas, dan bersabar dalam perjuangan, insya Allah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang difirmankan-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu mengendalikan nafsu, dan dengan itu meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.Baca juga: Pengaruh Syahwat terhadap Manusia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Disahihkan oleh Syekh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal. 21.[2] HR. Abu Dawud no 2149 (Kitabun Nikah), At-Tirmidzi no. 2777 (Kitabul Adab), dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan gharib.” Dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7953.

Inilah Cara Tobat yang Benar, Bukan Sekadar Ucapan – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Orang yang benar-benar bertobat adalah orang yang meninggalkan dosa. Jika dosanya berupa meninggalkan kewajiban, maka meninggalkan dosa itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban tersebut. Seperti seseorang yang tidak menunaikan zakat, lalu ia ingin bertobat kepada Allah, maka ia wajib menunaikan zakat yang dahulu belum ia keluarkan. Jika seseorang lalai dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, maka ia wajib berbakti kepada keduanya. Jika ia lalai dalam menjalin silaturahim, maka ia wajib menyambung kembali silaturahim tersebut. Dan jika kemaksiatan itu berupa melakukan perkara yang diharamkan, maka wajib baginya segera meninggalkannya, dan tidak terus melakukannya walau sesaat. Jika dosanya—sebagai contoh—berupa memakan harta riba, maka ia wajib melepaskan diri dari riba, dengan meninggalkannya, menjauhinya, serta mengeluarkan harta yang diperoleh melalui riba. Jika kemaksiatan itu berupa penipuan, kebohongan kepada manusia, dan pengkhianatan amanah, maka ia wajib menghentikan semua perbuatan tersebut. Dan jika ia telah memperoleh harta melalui cara yang diharamkan itu, maka wajib mengembalikannya kepada pemiliknya, atau meminta kehalalan darinya.Jika dosanya berupa gibah, maka wajib menghentikan gibah dan berhenti Mencederai kehormatan orang lain. Adapun jika dia hanya berkata, “Aku bertobat kepada Allah,” tapi tetap melalaikan kewajiban, atau tetap melakukan perkara haram, maka tobat seperti ini tidak diterima. Bahkan, tobat semacam ini menyerupai pelecehan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana bisa kamu bertobat kepada Allah, tapi tetap bermaksiat kepada-Nya?! Seandainya kamu berbuat salah kepada sesama manusia, lalu berkata, “Aku menyesal dan tidak akan mengulanginya,” tapi di dalam niat dan hatimu kamu bertekad untuk mengulanginya, dan kamu benar-benar mengulanginya, tentu ini adalah penghinaan terhadap orang tersebut. Maka bagaimana lagi jika hal itu dilakukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam? Jadi, orang yang benar-benar bertobat adalah yang berhenti dari dosanya. ===== الْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ إِنْ كَانَ الذَّنْبُ تَرْكَ وَاجِبٍ فَالإِقْلَاعُ عَنْهُ بِفِعْلِهِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ شَخْصٌ لَا يُزَكِّي فَأَرَادَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يُخْرِجَ الزَّكَاةَ الَّتِي مَضَتْ وَلَمْ يُؤَدِّهَا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُقَصِّرًا فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِبِرِّهِمَا إِذَا كَانَ مُقَصِّرًا فِي صِلَةِ الرَّحِمِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ مُحَرَّمٍ فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْهُ فَوْرًا وَلَا يَبْقَى فِيهِ وَلَا لَحْظَةً إِذَا كَانَتْ مِنْ أَكْلِ الرِّبَا مَثَلًا فَالْوَاجِبُ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنَ الرِّبَا بِتَرْكِهِ وَالْبُعْدِ عَنْهُ وَإِخْرَاجِ مَا اكْتَسَبَهُ عَنْ طَرِيقِ الرِّبَا إِذَا كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ فِي الْغِشِّ وَالْكَذِبِ عَلَى النَّاسِ وَخِيَانَةِ الْأَمَانَةِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ ذَلِكَ وَإِذَا كَانَ قَدْ اكْتَسَبَ مَالًا عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ الْمُحَرَّمِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ أَوْ يَسْتَحِلَّهُ مِنْهُ إِذَا كَانَتْ غِيْبَةً فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ غِيبَةِ النَّاسِ وَالتَّكَلُّمِ فِي أَعْرَاضِهِمْ أَمَّا أَنْ يَقُولَ إِنَّهُ تَائِبٌ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ أَوْ مُصِرٌّ عَلَى فِعْلِ الْمُحَرَّمِ فَإِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ غَيْرُ مَقْبُوْلَةٍ بَلْ إِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ كَالِاسْتِهْزَاءِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ تَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَنْتَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَتِهِ؟ لَوْ أَنَّكَ تُعَامِلُ بَشَرًا مِنَ النَّاسِ وَتَقُولُ أَنَا تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا نَادِمٌ وَخَلَاصٌ مَا أَعُودُ ثُمَّ فِي نِيَّتِكَ وَفِي قَلْبِكَ أَنَّكَ سَتَعُودُ وَعُدْتَ فَإِنَّ هَذَا سُخْرِيَةٌ بِالرَّجُلِ فَكَيْفَ بِاللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ فَالْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ

Inilah Cara Tobat yang Benar, Bukan Sekadar Ucapan – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

Orang yang benar-benar bertobat adalah orang yang meninggalkan dosa. Jika dosanya berupa meninggalkan kewajiban, maka meninggalkan dosa itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban tersebut. Seperti seseorang yang tidak menunaikan zakat, lalu ia ingin bertobat kepada Allah, maka ia wajib menunaikan zakat yang dahulu belum ia keluarkan. Jika seseorang lalai dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, maka ia wajib berbakti kepada keduanya. Jika ia lalai dalam menjalin silaturahim, maka ia wajib menyambung kembali silaturahim tersebut. Dan jika kemaksiatan itu berupa melakukan perkara yang diharamkan, maka wajib baginya segera meninggalkannya, dan tidak terus melakukannya walau sesaat. Jika dosanya—sebagai contoh—berupa memakan harta riba, maka ia wajib melepaskan diri dari riba, dengan meninggalkannya, menjauhinya, serta mengeluarkan harta yang diperoleh melalui riba. Jika kemaksiatan itu berupa penipuan, kebohongan kepada manusia, dan pengkhianatan amanah, maka ia wajib menghentikan semua perbuatan tersebut. Dan jika ia telah memperoleh harta melalui cara yang diharamkan itu, maka wajib mengembalikannya kepada pemiliknya, atau meminta kehalalan darinya.Jika dosanya berupa gibah, maka wajib menghentikan gibah dan berhenti Mencederai kehormatan orang lain. Adapun jika dia hanya berkata, “Aku bertobat kepada Allah,” tapi tetap melalaikan kewajiban, atau tetap melakukan perkara haram, maka tobat seperti ini tidak diterima. Bahkan, tobat semacam ini menyerupai pelecehan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana bisa kamu bertobat kepada Allah, tapi tetap bermaksiat kepada-Nya?! Seandainya kamu berbuat salah kepada sesama manusia, lalu berkata, “Aku menyesal dan tidak akan mengulanginya,” tapi di dalam niat dan hatimu kamu bertekad untuk mengulanginya, dan kamu benar-benar mengulanginya, tentu ini adalah penghinaan terhadap orang tersebut. Maka bagaimana lagi jika hal itu dilakukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam? Jadi, orang yang benar-benar bertobat adalah yang berhenti dari dosanya. ===== الْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ إِنْ كَانَ الذَّنْبُ تَرْكَ وَاجِبٍ فَالإِقْلَاعُ عَنْهُ بِفِعْلِهِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ شَخْصٌ لَا يُزَكِّي فَأَرَادَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يُخْرِجَ الزَّكَاةَ الَّتِي مَضَتْ وَلَمْ يُؤَدِّهَا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُقَصِّرًا فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِبِرِّهِمَا إِذَا كَانَ مُقَصِّرًا فِي صِلَةِ الرَّحِمِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ مُحَرَّمٍ فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْهُ فَوْرًا وَلَا يَبْقَى فِيهِ وَلَا لَحْظَةً إِذَا كَانَتْ مِنْ أَكْلِ الرِّبَا مَثَلًا فَالْوَاجِبُ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنَ الرِّبَا بِتَرْكِهِ وَالْبُعْدِ عَنْهُ وَإِخْرَاجِ مَا اكْتَسَبَهُ عَنْ طَرِيقِ الرِّبَا إِذَا كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ فِي الْغِشِّ وَالْكَذِبِ عَلَى النَّاسِ وَخِيَانَةِ الْأَمَانَةِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ ذَلِكَ وَإِذَا كَانَ قَدْ اكْتَسَبَ مَالًا عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ الْمُحَرَّمِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ أَوْ يَسْتَحِلَّهُ مِنْهُ إِذَا كَانَتْ غِيْبَةً فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ غِيبَةِ النَّاسِ وَالتَّكَلُّمِ فِي أَعْرَاضِهِمْ أَمَّا أَنْ يَقُولَ إِنَّهُ تَائِبٌ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ أَوْ مُصِرٌّ عَلَى فِعْلِ الْمُحَرَّمِ فَإِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ غَيْرُ مَقْبُوْلَةٍ بَلْ إِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ كَالِاسْتِهْزَاءِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ تَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَنْتَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَتِهِ؟ لَوْ أَنَّكَ تُعَامِلُ بَشَرًا مِنَ النَّاسِ وَتَقُولُ أَنَا تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا نَادِمٌ وَخَلَاصٌ مَا أَعُودُ ثُمَّ فِي نِيَّتِكَ وَفِي قَلْبِكَ أَنَّكَ سَتَعُودُ وَعُدْتَ فَإِنَّ هَذَا سُخْرِيَةٌ بِالرَّجُلِ فَكَيْفَ بِاللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ فَالْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ
Orang yang benar-benar bertobat adalah orang yang meninggalkan dosa. Jika dosanya berupa meninggalkan kewajiban, maka meninggalkan dosa itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban tersebut. Seperti seseorang yang tidak menunaikan zakat, lalu ia ingin bertobat kepada Allah, maka ia wajib menunaikan zakat yang dahulu belum ia keluarkan. Jika seseorang lalai dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, maka ia wajib berbakti kepada keduanya. Jika ia lalai dalam menjalin silaturahim, maka ia wajib menyambung kembali silaturahim tersebut. Dan jika kemaksiatan itu berupa melakukan perkara yang diharamkan, maka wajib baginya segera meninggalkannya, dan tidak terus melakukannya walau sesaat. Jika dosanya—sebagai contoh—berupa memakan harta riba, maka ia wajib melepaskan diri dari riba, dengan meninggalkannya, menjauhinya, serta mengeluarkan harta yang diperoleh melalui riba. Jika kemaksiatan itu berupa penipuan, kebohongan kepada manusia, dan pengkhianatan amanah, maka ia wajib menghentikan semua perbuatan tersebut. Dan jika ia telah memperoleh harta melalui cara yang diharamkan itu, maka wajib mengembalikannya kepada pemiliknya, atau meminta kehalalan darinya.Jika dosanya berupa gibah, maka wajib menghentikan gibah dan berhenti Mencederai kehormatan orang lain. Adapun jika dia hanya berkata, “Aku bertobat kepada Allah,” tapi tetap melalaikan kewajiban, atau tetap melakukan perkara haram, maka tobat seperti ini tidak diterima. Bahkan, tobat semacam ini menyerupai pelecehan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana bisa kamu bertobat kepada Allah, tapi tetap bermaksiat kepada-Nya?! Seandainya kamu berbuat salah kepada sesama manusia, lalu berkata, “Aku menyesal dan tidak akan mengulanginya,” tapi di dalam niat dan hatimu kamu bertekad untuk mengulanginya, dan kamu benar-benar mengulanginya, tentu ini adalah penghinaan terhadap orang tersebut. Maka bagaimana lagi jika hal itu dilakukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam? Jadi, orang yang benar-benar bertobat adalah yang berhenti dari dosanya. ===== الْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ إِنْ كَانَ الذَّنْبُ تَرْكَ وَاجِبٍ فَالإِقْلَاعُ عَنْهُ بِفِعْلِهِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ شَخْصٌ لَا يُزَكِّي فَأَرَادَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يُخْرِجَ الزَّكَاةَ الَّتِي مَضَتْ وَلَمْ يُؤَدِّهَا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُقَصِّرًا فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِبِرِّهِمَا إِذَا كَانَ مُقَصِّرًا فِي صِلَةِ الرَّحِمِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ مُحَرَّمٍ فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْهُ فَوْرًا وَلَا يَبْقَى فِيهِ وَلَا لَحْظَةً إِذَا كَانَتْ مِنْ أَكْلِ الرِّبَا مَثَلًا فَالْوَاجِبُ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنَ الرِّبَا بِتَرْكِهِ وَالْبُعْدِ عَنْهُ وَإِخْرَاجِ مَا اكْتَسَبَهُ عَنْ طَرِيقِ الرِّبَا إِذَا كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ فِي الْغِشِّ وَالْكَذِبِ عَلَى النَّاسِ وَخِيَانَةِ الْأَمَانَةِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ ذَلِكَ وَإِذَا كَانَ قَدْ اكْتَسَبَ مَالًا عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ الْمُحَرَّمِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ أَوْ يَسْتَحِلَّهُ مِنْهُ إِذَا كَانَتْ غِيْبَةً فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ غِيبَةِ النَّاسِ وَالتَّكَلُّمِ فِي أَعْرَاضِهِمْ أَمَّا أَنْ يَقُولَ إِنَّهُ تَائِبٌ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ أَوْ مُصِرٌّ عَلَى فِعْلِ الْمُحَرَّمِ فَإِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ غَيْرُ مَقْبُوْلَةٍ بَلْ إِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ كَالِاسْتِهْزَاءِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ تَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَنْتَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَتِهِ؟ لَوْ أَنَّكَ تُعَامِلُ بَشَرًا مِنَ النَّاسِ وَتَقُولُ أَنَا تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا نَادِمٌ وَخَلَاصٌ مَا أَعُودُ ثُمَّ فِي نِيَّتِكَ وَفِي قَلْبِكَ أَنَّكَ سَتَعُودُ وَعُدْتَ فَإِنَّ هَذَا سُخْرِيَةٌ بِالرَّجُلِ فَكَيْفَ بِاللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ فَالْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ


Orang yang benar-benar bertobat adalah orang yang meninggalkan dosa. Jika dosanya berupa meninggalkan kewajiban, maka meninggalkan dosa itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban tersebut. Seperti seseorang yang tidak menunaikan zakat, lalu ia ingin bertobat kepada Allah, maka ia wajib menunaikan zakat yang dahulu belum ia keluarkan. Jika seseorang lalai dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, maka ia wajib berbakti kepada keduanya. Jika ia lalai dalam menjalin silaturahim, maka ia wajib menyambung kembali silaturahim tersebut. Dan jika kemaksiatan itu berupa melakukan perkara yang diharamkan, maka wajib baginya segera meninggalkannya, dan tidak terus melakukannya walau sesaat. Jika dosanya—sebagai contoh—berupa memakan harta riba, maka ia wajib melepaskan diri dari riba, dengan meninggalkannya, menjauhinya, serta mengeluarkan harta yang diperoleh melalui riba. Jika kemaksiatan itu berupa penipuan, kebohongan kepada manusia, dan pengkhianatan amanah, maka ia wajib menghentikan semua perbuatan tersebut. Dan jika ia telah memperoleh harta melalui cara yang diharamkan itu, maka wajib mengembalikannya kepada pemiliknya, atau meminta kehalalan darinya.Jika dosanya berupa gibah, maka wajib menghentikan gibah dan berhenti Mencederai kehormatan orang lain. Adapun jika dia hanya berkata, “Aku bertobat kepada Allah,” tapi tetap melalaikan kewajiban, atau tetap melakukan perkara haram, maka tobat seperti ini tidak diterima. Bahkan, tobat semacam ini menyerupai pelecehan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Bagaimana bisa kamu bertobat kepada Allah, tapi tetap bermaksiat kepada-Nya?! Seandainya kamu berbuat salah kepada sesama manusia, lalu berkata, “Aku menyesal dan tidak akan mengulanginya,” tapi di dalam niat dan hatimu kamu bertekad untuk mengulanginya, dan kamu benar-benar mengulanginya, tentu ini adalah penghinaan terhadap orang tersebut. Maka bagaimana lagi jika hal itu dilakukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam? Jadi, orang yang benar-benar bertobat adalah yang berhenti dari dosanya. ===== الْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ إِنْ كَانَ الذَّنْبُ تَرْكَ وَاجِبٍ فَالإِقْلَاعُ عَنْهُ بِفِعْلِهِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ شَخْصٌ لَا يُزَكِّي فَأَرَادَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يُخْرِجَ الزَّكَاةَ الَّتِي مَضَتْ وَلَمْ يُؤَدِّهَا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُقَصِّرًا فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِبِرِّهِمَا إِذَا كَانَ مُقَصِّرًا فِي صِلَةِ الرَّحِمِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ مُحَرَّمٍ فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْهُ فَوْرًا وَلَا يَبْقَى فِيهِ وَلَا لَحْظَةً إِذَا كَانَتْ مِنْ أَكْلِ الرِّبَا مَثَلًا فَالْوَاجِبُ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنَ الرِّبَا بِتَرْكِهِ وَالْبُعْدِ عَنْهُ وَإِخْرَاجِ مَا اكْتَسَبَهُ عَنْ طَرِيقِ الرِّبَا إِذَا كَانَتْ الْمَعْصِيَةُ فِي الْغِشِّ وَالْكَذِبِ عَلَى النَّاسِ وَخِيَانَةِ الْأَمَانَةِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ ذَلِكَ وَإِذَا كَانَ قَدْ اكْتَسَبَ مَالًا عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ الْمُحَرَّمِ فَالْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ أَوْ يَسْتَحِلَّهُ مِنْهُ إِذَا كَانَتْ غِيْبَةً فَالْوَاجِبُ أَنْ يُقْلِعَ عَنْ غِيبَةِ النَّاسِ وَالتَّكَلُّمِ فِي أَعْرَاضِهِمْ أَمَّا أَنْ يَقُولَ إِنَّهُ تَائِبٌ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ أَوْ مُصِرٌّ عَلَى فِعْلِ الْمُحَرَّمِ فَإِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ غَيْرُ مَقْبُوْلَةٍ بَلْ إِنَّ هَذِهِ التَّوْبَةَ كَالِاسْتِهْزَاءِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ تَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَنْتَ مُصِرٌّ عَلَى مَعْصِيَتِهِ؟ لَوْ أَنَّكَ تُعَامِلُ بَشَرًا مِنَ النَّاسِ وَتَقُولُ أَنَا تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا نَادِمٌ وَخَلَاصٌ مَا أَعُودُ ثُمَّ فِي نِيَّتِكَ وَفِي قَلْبِكَ أَنَّكَ سَتَعُودُ وَعُدْتَ فَإِنَّ هَذَا سُخْرِيَةٌ بِالرَّجُلِ فَكَيْفَ بِاللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ فَالْإِنْسَانُ التَّائِبُ حَقِيقَةً هُوَ الَّذِي يُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ

Apakah Kamu Malu kepada Allah Saat Sendiri? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” Syaikh menjelaskan, “Ini merupakan kalimat yang mengandung makna yang luas: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.’” Kata (حَيْثُمَا) seperti yang kalian ketahui, termasuk bentuk ungkapan yang menunjukkan makna umum. Bahkan ia diiringi dengan huruf (مَا) sehingga semakin menguatkan makna keumumannya. Artinya, kalimat ini mencakup setiap tempat kamu berada; dalam semua itu, kamu dituntut untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kamu juga dituntut bertakwa dalam setiap keadaan yang kamu alami, baik saat terjaga; dalam kondisi berbaring, duduk, maupun berdiri. Demikian pula, baik ketika kamu berada di masjid maupun di luar masjid. Oleh sebab itu, semakin kuat seseorang merasakan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah. Saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa kisah tentang orang-orang yang mencapai kesempurnaan, yaitu mereka yang benar-benar merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan mereka, dan memiliki rasa malu yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika saya menyebut mereka sebagai “orang-orang sempurna”, bukan berarti apa yang mereka lakukan pasti sanggup dilakukan oleh semua orang, karena hal itu memang berat. Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkatannya dalam ketakwaan, sebagaimana perbedaan mereka dalam ilmu dan iman. Di antara kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan tentang Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menyingkap auratnya dalam keadaan apa pun, kecuali karena keperluan yang memang mengharuskan, seperti ketika buang hajat dan semisalnya. Hal ini karena rasa malu beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan pula bahwa apabila beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau menutup kepalanya karena rasa malu. Ini merupakan salah satu bentuk penghayatan akan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, pada keadaan-keadaan yang biasanya manusia lalai darinya. Demikian pula, terdapat banyak riwayat dari para sahabat—radhiyallahu ‘anhum— tentang sikap mereka dalam urusan-urusan pribadi, seperti ketika tidur di malam hari atau atau kondisi privasi mereka. Semua itu berisi kisah-kisah yang agung dan menakjubkan, yang dapat dibaca dalam kitab-kitab sirah. Syaikh melanjutkan, pada sabda Nabi, “…di mana pun kamu berada”, adalah penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Ada hikmah tersembunyi dalam kalimat ini, bahwa yang membutuhkan ketakwaan itu adalah sang hamba, yakni kamu sendiri yang membutuhkan ketakwaan tersebut. Sebab, ketakwaanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat kembali kepadamu, bukan kepada selainmu. Karena Allah Maha Kaya, tidak memerlukan makhluk-Nya, serta tidak memerlukan amal-amal mereka. Sekiranya seluruh penghuni bumi beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau justru bermaksiat kepada-Nya, sungguh ibadah dan kemaksiatan mereka tidak menambah dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali tidak memerlukan hamba-Nya. Maka ketakwaanmu, amal-amal salehmu, serta penjagaan dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, semuanya kembali untuk kemaslahatan dirimu sendiri. Karena itu, Syaikh menaruh perhatian pada hal ini dan berkata, sebagai penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Saat di keramaian, ketakwaan lebih mudah dilakukan, karena seseorang merasa malu kepada orang lain. Sedangkan saat sendirian, ketakwaan lebih sulit dilakukan, karena saat itu tidak ada yang mengawasimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itulah, rasa malu yang sempurna hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ketika Utsman—menurut adat di zamannya hingga masa yang tidak jauh setelahnya—merasa malu untuk keluar di hadapan manusia dengan kepala terbuka, beliau pun merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membuka kepala saat berada di tempat buang hajat. Jadi, beliau melakukan itu berdasarkan hal tersebut. ===== فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ الشَّيْخُ وَهَذِهِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ حَيْثُمَا كَمَا تَعْلَمُونَ مِنْ صِيَغِ الْعُمُومِ بَلْ قُرِنَتْ بِـ”مَا” فَتَزِيْدُهَا عُمُومًا فَإِنَّهَا تَشْمَلُ فِي كُلِّ مَكَانٍ تَكُونُ فِيهِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُكَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُكَ أَيْضًا فِي كُلِّ حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا فِي يَقَظَتِكَ سَوَاءٌ كُنْتَ مُضْطَجِعًا وَسَوَاءٌ كُنْتَ جَالِسًا أَوْ قَائِمًا وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا فِي مَسْجِدٍ وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ خَارِجَ مَسْجِدٍ وَلِذَا كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مُرَاقِبًا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِ كُلِّهَا كُلَّمَا كَانَ شَأْنُهُ أَعْظَمَ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ بَعْضًا مِنْ أَخْبَارِ الْكُمَّلِ مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ رَاقَبُوا اللَّهَ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِمْ كُلِّهَا وَاسْتَحُوا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَالَ الْحَيَاءِ وَعِنْدَمَا أُعَبَّرُ بِالْكُمَّلِ لَا أَعْنِي أَنَّ مَا فَعَلُوهُ يَسْتَطِيعُهُ كُلُّ النَّاسِ فَإِنَّ فِي ذَلِكَ مَشَقَّةً وَلَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ النَّاسُ فِي التَّقْوَى دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ دَرَجَاتٌ فَمِنْ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَإِنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ يُظْهِرُ عَوْرَتَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَقَضَائِهِا أَيْ كَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَغَيْرِهَا وَذَلِكَ مِنْ حَيَائِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ عَنْهُ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ غَطَّى رَأْسَهُ حَيَاءً وَهَذِهِ مِنْ صُوَرِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي عَادَةً مَا يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا وَكَذَلِكَ أَيْضًا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ فِي خَاصَّةِ أُمُورِهِمْ حِينَمَا يَكُونُونَ فِي هَجْدَةِ لَيْلِهِمْ وَفِي حَالِ سِرِّهِمْ مَا فِيهِ خَبَرٌ عَظِيمٌ وَعَجِيبٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُتُبِ السِّيَرِ قَالَ الشَّيْخُ وَفِي قَوْلِهِ حَيْثُمَا كُنْتَ تَحْقِيْقٌ لِحَاجَتِهِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ هَذِهِ فِيهَا نُكْتَةٌ وَهُوَ أَنَّ التَّقْوَى الْعَبْدُ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُهَا أَنْتَ الَّذِي تَحْتَاجُ التَّقْوَى فَإِنَّ تَقْوَاكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنْفَعُكَ أَنْتَ وَلَا تَنْفَعُ غَيْرَكَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْ الْعِبَادِ غَنِيٌّ عَنْ أَعْمَالِهِمْ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ جَمِيعًا عَبَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَصَوْهُ فَإِنَّ عِبَادَتَهُمْ وَعِصْيَانَهُمْ لَا يَنْقُصُ وَلَا يَزِيدُ فِي مُلْكِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا اللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُسْتَغْنِي عَنِ الْعِبَادِ فَتَقْواكَ وَعَمَلُكَ بِالصَّالِحَاتِ وَانْكَفَافُكَ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ إِنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِكَ وَلِذَلِك الْتَفَتَ الشَّيْخُ لِذَلِكَ فَقَالَ تَحْقِيقٌ لِحَاجَتِهِ أَيْ لِحَاجَةِ الْعَبْدِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ الْعَلَانِيَةُ التَّقْوَى فِيهَا أَسْهَلُ فَإِنَّ الْمَرْءَ يَسْتَحِي مِنَ النَّاسِ وَأَمَّا السِّرُّ التَّقْوَى فِيهَا أَصْعَبُ لِأَنَّ لَا رَقِيبَ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْحَيَاءُ الْكَامِلُ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ عُثْمَانُ لَمَّا كَانَ يَسْتَحِي بِعُرْفِ النَّاسِ فِي زَمَانِهِمْ وَإِلَى عَهْدٍ قَرِيبٍ أَنْ يَخْرُجَ أَمَامَ النَّاسِ كَاشِفَ الرَّأْسِ حَاسِرَهُ فَإِنَّه اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكُونَ حَاسِرَ الرَّأْسِ فِي ذَلِكَ لْمَوْضِعِ فَكَأَنَّهُ أَتَى مِنْ هَذَا الْبَابِ

Apakah Kamu Malu kepada Allah Saat Sendiri? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” Syaikh menjelaskan, “Ini merupakan kalimat yang mengandung makna yang luas: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.’” Kata (حَيْثُمَا) seperti yang kalian ketahui, termasuk bentuk ungkapan yang menunjukkan makna umum. Bahkan ia diiringi dengan huruf (مَا) sehingga semakin menguatkan makna keumumannya. Artinya, kalimat ini mencakup setiap tempat kamu berada; dalam semua itu, kamu dituntut untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kamu juga dituntut bertakwa dalam setiap keadaan yang kamu alami, baik saat terjaga; dalam kondisi berbaring, duduk, maupun berdiri. Demikian pula, baik ketika kamu berada di masjid maupun di luar masjid. Oleh sebab itu, semakin kuat seseorang merasakan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah. Saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa kisah tentang orang-orang yang mencapai kesempurnaan, yaitu mereka yang benar-benar merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan mereka, dan memiliki rasa malu yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika saya menyebut mereka sebagai “orang-orang sempurna”, bukan berarti apa yang mereka lakukan pasti sanggup dilakukan oleh semua orang, karena hal itu memang berat. Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkatannya dalam ketakwaan, sebagaimana perbedaan mereka dalam ilmu dan iman. Di antara kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan tentang Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menyingkap auratnya dalam keadaan apa pun, kecuali karena keperluan yang memang mengharuskan, seperti ketika buang hajat dan semisalnya. Hal ini karena rasa malu beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan pula bahwa apabila beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau menutup kepalanya karena rasa malu. Ini merupakan salah satu bentuk penghayatan akan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, pada keadaan-keadaan yang biasanya manusia lalai darinya. Demikian pula, terdapat banyak riwayat dari para sahabat—radhiyallahu ‘anhum— tentang sikap mereka dalam urusan-urusan pribadi, seperti ketika tidur di malam hari atau atau kondisi privasi mereka. Semua itu berisi kisah-kisah yang agung dan menakjubkan, yang dapat dibaca dalam kitab-kitab sirah. Syaikh melanjutkan, pada sabda Nabi, “…di mana pun kamu berada”, adalah penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Ada hikmah tersembunyi dalam kalimat ini, bahwa yang membutuhkan ketakwaan itu adalah sang hamba, yakni kamu sendiri yang membutuhkan ketakwaan tersebut. Sebab, ketakwaanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat kembali kepadamu, bukan kepada selainmu. Karena Allah Maha Kaya, tidak memerlukan makhluk-Nya, serta tidak memerlukan amal-amal mereka. Sekiranya seluruh penghuni bumi beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau justru bermaksiat kepada-Nya, sungguh ibadah dan kemaksiatan mereka tidak menambah dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali tidak memerlukan hamba-Nya. Maka ketakwaanmu, amal-amal salehmu, serta penjagaan dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, semuanya kembali untuk kemaslahatan dirimu sendiri. Karena itu, Syaikh menaruh perhatian pada hal ini dan berkata, sebagai penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Saat di keramaian, ketakwaan lebih mudah dilakukan, karena seseorang merasa malu kepada orang lain. Sedangkan saat sendirian, ketakwaan lebih sulit dilakukan, karena saat itu tidak ada yang mengawasimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itulah, rasa malu yang sempurna hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ketika Utsman—menurut adat di zamannya hingga masa yang tidak jauh setelahnya—merasa malu untuk keluar di hadapan manusia dengan kepala terbuka, beliau pun merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membuka kepala saat berada di tempat buang hajat. Jadi, beliau melakukan itu berdasarkan hal tersebut. ===== فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ الشَّيْخُ وَهَذِهِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ حَيْثُمَا كَمَا تَعْلَمُونَ مِنْ صِيَغِ الْعُمُومِ بَلْ قُرِنَتْ بِـ”مَا” فَتَزِيْدُهَا عُمُومًا فَإِنَّهَا تَشْمَلُ فِي كُلِّ مَكَانٍ تَكُونُ فِيهِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُكَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُكَ أَيْضًا فِي كُلِّ حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا فِي يَقَظَتِكَ سَوَاءٌ كُنْتَ مُضْطَجِعًا وَسَوَاءٌ كُنْتَ جَالِسًا أَوْ قَائِمًا وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا فِي مَسْجِدٍ وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ خَارِجَ مَسْجِدٍ وَلِذَا كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مُرَاقِبًا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِ كُلِّهَا كُلَّمَا كَانَ شَأْنُهُ أَعْظَمَ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ بَعْضًا مِنْ أَخْبَارِ الْكُمَّلِ مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ رَاقَبُوا اللَّهَ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِمْ كُلِّهَا وَاسْتَحُوا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَالَ الْحَيَاءِ وَعِنْدَمَا أُعَبَّرُ بِالْكُمَّلِ لَا أَعْنِي أَنَّ مَا فَعَلُوهُ يَسْتَطِيعُهُ كُلُّ النَّاسِ فَإِنَّ فِي ذَلِكَ مَشَقَّةً وَلَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ النَّاسُ فِي التَّقْوَى دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ دَرَجَاتٌ فَمِنْ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَإِنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ يُظْهِرُ عَوْرَتَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَقَضَائِهِا أَيْ كَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَغَيْرِهَا وَذَلِكَ مِنْ حَيَائِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ عَنْهُ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ غَطَّى رَأْسَهُ حَيَاءً وَهَذِهِ مِنْ صُوَرِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي عَادَةً مَا يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا وَكَذَلِكَ أَيْضًا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ فِي خَاصَّةِ أُمُورِهِمْ حِينَمَا يَكُونُونَ فِي هَجْدَةِ لَيْلِهِمْ وَفِي حَالِ سِرِّهِمْ مَا فِيهِ خَبَرٌ عَظِيمٌ وَعَجِيبٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُتُبِ السِّيَرِ قَالَ الشَّيْخُ وَفِي قَوْلِهِ حَيْثُمَا كُنْتَ تَحْقِيْقٌ لِحَاجَتِهِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ هَذِهِ فِيهَا نُكْتَةٌ وَهُوَ أَنَّ التَّقْوَى الْعَبْدُ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُهَا أَنْتَ الَّذِي تَحْتَاجُ التَّقْوَى فَإِنَّ تَقْوَاكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنْفَعُكَ أَنْتَ وَلَا تَنْفَعُ غَيْرَكَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْ الْعِبَادِ غَنِيٌّ عَنْ أَعْمَالِهِمْ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ جَمِيعًا عَبَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَصَوْهُ فَإِنَّ عِبَادَتَهُمْ وَعِصْيَانَهُمْ لَا يَنْقُصُ وَلَا يَزِيدُ فِي مُلْكِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا اللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُسْتَغْنِي عَنِ الْعِبَادِ فَتَقْواكَ وَعَمَلُكَ بِالصَّالِحَاتِ وَانْكَفَافُكَ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ إِنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِكَ وَلِذَلِك الْتَفَتَ الشَّيْخُ لِذَلِكَ فَقَالَ تَحْقِيقٌ لِحَاجَتِهِ أَيْ لِحَاجَةِ الْعَبْدِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ الْعَلَانِيَةُ التَّقْوَى فِيهَا أَسْهَلُ فَإِنَّ الْمَرْءَ يَسْتَحِي مِنَ النَّاسِ وَأَمَّا السِّرُّ التَّقْوَى فِيهَا أَصْعَبُ لِأَنَّ لَا رَقِيبَ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْحَيَاءُ الْكَامِلُ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ عُثْمَانُ لَمَّا كَانَ يَسْتَحِي بِعُرْفِ النَّاسِ فِي زَمَانِهِمْ وَإِلَى عَهْدٍ قَرِيبٍ أَنْ يَخْرُجَ أَمَامَ النَّاسِ كَاشِفَ الرَّأْسِ حَاسِرَهُ فَإِنَّه اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكُونَ حَاسِرَ الرَّأْسِ فِي ذَلِكَ لْمَوْضِعِ فَكَأَنَّهُ أَتَى مِنْ هَذَا الْبَابِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” Syaikh menjelaskan, “Ini merupakan kalimat yang mengandung makna yang luas: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.’” Kata (حَيْثُمَا) seperti yang kalian ketahui, termasuk bentuk ungkapan yang menunjukkan makna umum. Bahkan ia diiringi dengan huruf (مَا) sehingga semakin menguatkan makna keumumannya. Artinya, kalimat ini mencakup setiap tempat kamu berada; dalam semua itu, kamu dituntut untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kamu juga dituntut bertakwa dalam setiap keadaan yang kamu alami, baik saat terjaga; dalam kondisi berbaring, duduk, maupun berdiri. Demikian pula, baik ketika kamu berada di masjid maupun di luar masjid. Oleh sebab itu, semakin kuat seseorang merasakan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah. Saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa kisah tentang orang-orang yang mencapai kesempurnaan, yaitu mereka yang benar-benar merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan mereka, dan memiliki rasa malu yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika saya menyebut mereka sebagai “orang-orang sempurna”, bukan berarti apa yang mereka lakukan pasti sanggup dilakukan oleh semua orang, karena hal itu memang berat. Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkatannya dalam ketakwaan, sebagaimana perbedaan mereka dalam ilmu dan iman. Di antara kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan tentang Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menyingkap auratnya dalam keadaan apa pun, kecuali karena keperluan yang memang mengharuskan, seperti ketika buang hajat dan semisalnya. Hal ini karena rasa malu beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan pula bahwa apabila beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau menutup kepalanya karena rasa malu. Ini merupakan salah satu bentuk penghayatan akan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, pada keadaan-keadaan yang biasanya manusia lalai darinya. Demikian pula, terdapat banyak riwayat dari para sahabat—radhiyallahu ‘anhum— tentang sikap mereka dalam urusan-urusan pribadi, seperti ketika tidur di malam hari atau atau kondisi privasi mereka. Semua itu berisi kisah-kisah yang agung dan menakjubkan, yang dapat dibaca dalam kitab-kitab sirah. Syaikh melanjutkan, pada sabda Nabi, “…di mana pun kamu berada”, adalah penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Ada hikmah tersembunyi dalam kalimat ini, bahwa yang membutuhkan ketakwaan itu adalah sang hamba, yakni kamu sendiri yang membutuhkan ketakwaan tersebut. Sebab, ketakwaanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat kembali kepadamu, bukan kepada selainmu. Karena Allah Maha Kaya, tidak memerlukan makhluk-Nya, serta tidak memerlukan amal-amal mereka. Sekiranya seluruh penghuni bumi beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau justru bermaksiat kepada-Nya, sungguh ibadah dan kemaksiatan mereka tidak menambah dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali tidak memerlukan hamba-Nya. Maka ketakwaanmu, amal-amal salehmu, serta penjagaan dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, semuanya kembali untuk kemaslahatan dirimu sendiri. Karena itu, Syaikh menaruh perhatian pada hal ini dan berkata, sebagai penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Saat di keramaian, ketakwaan lebih mudah dilakukan, karena seseorang merasa malu kepada orang lain. Sedangkan saat sendirian, ketakwaan lebih sulit dilakukan, karena saat itu tidak ada yang mengawasimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itulah, rasa malu yang sempurna hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ketika Utsman—menurut adat di zamannya hingga masa yang tidak jauh setelahnya—merasa malu untuk keluar di hadapan manusia dengan kepala terbuka, beliau pun merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membuka kepala saat berada di tempat buang hajat. Jadi, beliau melakukan itu berdasarkan hal tersebut. ===== فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ الشَّيْخُ وَهَذِهِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ حَيْثُمَا كَمَا تَعْلَمُونَ مِنْ صِيَغِ الْعُمُومِ بَلْ قُرِنَتْ بِـ”مَا” فَتَزِيْدُهَا عُمُومًا فَإِنَّهَا تَشْمَلُ فِي كُلِّ مَكَانٍ تَكُونُ فِيهِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُكَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُكَ أَيْضًا فِي كُلِّ حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا فِي يَقَظَتِكَ سَوَاءٌ كُنْتَ مُضْطَجِعًا وَسَوَاءٌ كُنْتَ جَالِسًا أَوْ قَائِمًا وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا فِي مَسْجِدٍ وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ خَارِجَ مَسْجِدٍ وَلِذَا كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مُرَاقِبًا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِ كُلِّهَا كُلَّمَا كَانَ شَأْنُهُ أَعْظَمَ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ بَعْضًا مِنْ أَخْبَارِ الْكُمَّلِ مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ رَاقَبُوا اللَّهَ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِمْ كُلِّهَا وَاسْتَحُوا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَالَ الْحَيَاءِ وَعِنْدَمَا أُعَبَّرُ بِالْكُمَّلِ لَا أَعْنِي أَنَّ مَا فَعَلُوهُ يَسْتَطِيعُهُ كُلُّ النَّاسِ فَإِنَّ فِي ذَلِكَ مَشَقَّةً وَلَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ النَّاسُ فِي التَّقْوَى دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ دَرَجَاتٌ فَمِنْ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَإِنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ يُظْهِرُ عَوْرَتَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَقَضَائِهِا أَيْ كَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَغَيْرِهَا وَذَلِكَ مِنْ حَيَائِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ عَنْهُ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ غَطَّى رَأْسَهُ حَيَاءً وَهَذِهِ مِنْ صُوَرِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي عَادَةً مَا يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا وَكَذَلِكَ أَيْضًا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ فِي خَاصَّةِ أُمُورِهِمْ حِينَمَا يَكُونُونَ فِي هَجْدَةِ لَيْلِهِمْ وَفِي حَالِ سِرِّهِمْ مَا فِيهِ خَبَرٌ عَظِيمٌ وَعَجِيبٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُتُبِ السِّيَرِ قَالَ الشَّيْخُ وَفِي قَوْلِهِ حَيْثُمَا كُنْتَ تَحْقِيْقٌ لِحَاجَتِهِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ هَذِهِ فِيهَا نُكْتَةٌ وَهُوَ أَنَّ التَّقْوَى الْعَبْدُ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُهَا أَنْتَ الَّذِي تَحْتَاجُ التَّقْوَى فَإِنَّ تَقْوَاكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنْفَعُكَ أَنْتَ وَلَا تَنْفَعُ غَيْرَكَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْ الْعِبَادِ غَنِيٌّ عَنْ أَعْمَالِهِمْ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ جَمِيعًا عَبَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَصَوْهُ فَإِنَّ عِبَادَتَهُمْ وَعِصْيَانَهُمْ لَا يَنْقُصُ وَلَا يَزِيدُ فِي مُلْكِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا اللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُسْتَغْنِي عَنِ الْعِبَادِ فَتَقْواكَ وَعَمَلُكَ بِالصَّالِحَاتِ وَانْكَفَافُكَ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ إِنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِكَ وَلِذَلِك الْتَفَتَ الشَّيْخُ لِذَلِكَ فَقَالَ تَحْقِيقٌ لِحَاجَتِهِ أَيْ لِحَاجَةِ الْعَبْدِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ الْعَلَانِيَةُ التَّقْوَى فِيهَا أَسْهَلُ فَإِنَّ الْمَرْءَ يَسْتَحِي مِنَ النَّاسِ وَأَمَّا السِّرُّ التَّقْوَى فِيهَا أَصْعَبُ لِأَنَّ لَا رَقِيبَ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْحَيَاءُ الْكَامِلُ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ عُثْمَانُ لَمَّا كَانَ يَسْتَحِي بِعُرْفِ النَّاسِ فِي زَمَانِهِمْ وَإِلَى عَهْدٍ قَرِيبٍ أَنْ يَخْرُجَ أَمَامَ النَّاسِ كَاشِفَ الرَّأْسِ حَاسِرَهُ فَإِنَّه اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكُونَ حَاسِرَ الرَّأْسِ فِي ذَلِكَ لْمَوْضِعِ فَكَأَنَّهُ أَتَى مِنْ هَذَا الْبَابِ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” Syaikh menjelaskan, “Ini merupakan kalimat yang mengandung makna yang luas: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.’” Kata (حَيْثُمَا) seperti yang kalian ketahui, termasuk bentuk ungkapan yang menunjukkan makna umum. Bahkan ia diiringi dengan huruf (مَا) sehingga semakin menguatkan makna keumumannya. Artinya, kalimat ini mencakup setiap tempat kamu berada; dalam semua itu, kamu dituntut untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kamu juga dituntut bertakwa dalam setiap keadaan yang kamu alami, baik saat terjaga; dalam kondisi berbaring, duduk, maupun berdiri. Demikian pula, baik ketika kamu berada di masjid maupun di luar masjid. Oleh sebab itu, semakin kuat seseorang merasakan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah. Saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa kisah tentang orang-orang yang mencapai kesempurnaan, yaitu mereka yang benar-benar merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan mereka, dan memiliki rasa malu yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika saya menyebut mereka sebagai “orang-orang sempurna”, bukan berarti apa yang mereka lakukan pasti sanggup dilakukan oleh semua orang, karena hal itu memang berat. Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa manusia itu berbeda-beda tingkatannya dalam ketakwaan, sebagaimana perbedaan mereka dalam ilmu dan iman. Di antara kisah tersebut adalah apa yang diriwayatkan tentang Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menyingkap auratnya dalam keadaan apa pun, kecuali karena keperluan yang memang mengharuskan, seperti ketika buang hajat dan semisalnya. Hal ini karena rasa malu beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan pula bahwa apabila beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau menutup kepalanya karena rasa malu. Ini merupakan salah satu bentuk penghayatan akan pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, pada keadaan-keadaan yang biasanya manusia lalai darinya. Demikian pula, terdapat banyak riwayat dari para sahabat—radhiyallahu ‘anhum— tentang sikap mereka dalam urusan-urusan pribadi, seperti ketika tidur di malam hari atau atau kondisi privasi mereka. Semua itu berisi kisah-kisah yang agung dan menakjubkan, yang dapat dibaca dalam kitab-kitab sirah. Syaikh melanjutkan, pada sabda Nabi, “…di mana pun kamu berada”, adalah penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Ada hikmah tersembunyi dalam kalimat ini, bahwa yang membutuhkan ketakwaan itu adalah sang hamba, yakni kamu sendiri yang membutuhkan ketakwaan tersebut. Sebab, ketakwaanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat kembali kepadamu, bukan kepada selainmu. Karena Allah Maha Kaya, tidak memerlukan makhluk-Nya, serta tidak memerlukan amal-amal mereka. Sekiranya seluruh penghuni bumi beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau justru bermaksiat kepada-Nya, sungguh ibadah dan kemaksiatan mereka tidak menambah dan tidak pula mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Allah ‘Azza wa Jalla sama sekali tidak memerlukan hamba-Nya. Maka ketakwaanmu, amal-amal salehmu, serta penjagaan dirimu dari perkara-perkara yang diharamkan, semuanya kembali untuk kemaslahatan dirimu sendiri. Karena itu, Syaikh menaruh perhatian pada hal ini dan berkata, sebagai penegasan betapa penting ketakwaan baginya saat sedang sendiri atau di keramaian. Saat di keramaian, ketakwaan lebih mudah dilakukan, karena seseorang merasa malu kepada orang lain. Sedangkan saat sendirian, ketakwaan lebih sulit dilakukan, karena saat itu tidak ada yang mengawasimu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada saat itulah, rasa malu yang sempurna hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ketika Utsman—menurut adat di zamannya hingga masa yang tidak jauh setelahnya—merasa malu untuk keluar di hadapan manusia dengan kepala terbuka, beliau pun merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membuka kepala saat berada di tempat buang hajat. Jadi, beliau melakukan itu berdasarkan hal tersebut. ===== فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ الشَّيْخُ وَهَذِهِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ حَيْثُمَا كَمَا تَعْلَمُونَ مِنْ صِيَغِ الْعُمُومِ بَلْ قُرِنَتْ بِـ”مَا” فَتَزِيْدُهَا عُمُومًا فَإِنَّهَا تَشْمَلُ فِي كُلِّ مَكَانٍ تَكُونُ فِيهِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُكَ تَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَلْزَمُكَ أَيْضًا فِي كُلِّ حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا فِي يَقَظَتِكَ سَوَاءٌ كُنْتَ مُضْطَجِعًا وَسَوَاءٌ كُنْتَ جَالِسًا أَوْ قَائِمًا وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا فِي مَسْجِدٍ وَفِي الْأَحْوَالِ الَّتِي تَكُونُ خَارِجَ مَسْجِدٍ وَلِذَا كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مُرَاقِبًا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِ كُلِّهَا كُلَّمَا كَانَ شَأْنُهُ أَعْظَمَ وَأَنَا أَذْكُرُ لَكُمْ بَعْضًا مِنْ أَخْبَارِ الْكُمَّلِ مِنَ النَّاسِ الَّذِينَ رَاقَبُوا اللَّهَ وَجَلَّ فِي أَحْوَالِهِمْ كُلِّهَا وَاسْتَحُوا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَالَ الْحَيَاءِ وَعِنْدَمَا أُعَبَّرُ بِالْكُمَّلِ لَا أَعْنِي أَنَّ مَا فَعَلُوهُ يَسْتَطِيعُهُ كُلُّ النَّاسِ فَإِنَّ فِي ذَلِكَ مَشَقَّةً وَلَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ لَكَ النَّاسُ فِي التَّقْوَى دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ دَرَجَاتٌ فَمِنْ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَإِنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يَكُنْ يُظْهِرُ عَوْرَتَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَقَضَائِهِا أَيْ كَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَغَيْرِهَا وَذَلِكَ مِنْ حَيَائِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ عَنْهُ أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ غَطَّى رَأْسَهُ حَيَاءً وَهَذِهِ مِنْ صُوَرِ مُرَاقَبَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي عَادَةً مَا يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهَا وَكَذَلِكَ أَيْضًا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ فِي خَاصَّةِ أُمُورِهِمْ حِينَمَا يَكُونُونَ فِي هَجْدَةِ لَيْلِهِمْ وَفِي حَالِ سِرِّهِمْ مَا فِيهِ خَبَرٌ عَظِيمٌ وَعَجِيبٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُتُبِ السِّيَرِ قَالَ الشَّيْخُ وَفِي قَوْلِهِ حَيْثُمَا كُنْتَ تَحْقِيْقٌ لِحَاجَتِهِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ هَذِهِ فِيهَا نُكْتَةٌ وَهُوَ أَنَّ التَّقْوَى الْعَبْدُ هُوَ الَّذِي يَحْتَاجُهَا أَنْتَ الَّذِي تَحْتَاجُ التَّقْوَى فَإِنَّ تَقْوَاكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنْفَعُكَ أَنْتَ وَلَا تَنْفَعُ غَيْرَكَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْ الْعِبَادِ غَنِيٌّ عَنْ أَعْمَالِهِمْ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ جَمِيعًا عَبَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَصَوْهُ فَإِنَّ عِبَادَتَهُمْ وَعِصْيَانَهُمْ لَا يَنْقُصُ وَلَا يَزِيدُ فِي مُلْكِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا اللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُسْتَغْنِي عَنِ الْعِبَادِ فَتَقْواكَ وَعَمَلُكَ بِالصَّالِحَاتِ وَانْكَفَافُكَ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ إِنَّمَا هُوَ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِكَ وَلِذَلِك الْتَفَتَ الشَّيْخُ لِذَلِكَ فَقَالَ تَحْقِيقٌ لِحَاجَتِهِ أَيْ لِحَاجَةِ الْعَبْدِ إِلَى التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ الْعَلَانِيَةُ التَّقْوَى فِيهَا أَسْهَلُ فَإِنَّ الْمَرْءَ يَسْتَحِي مِنَ النَّاسِ وَأَمَّا السِّرُّ التَّقْوَى فِيهَا أَصْعَبُ لِأَنَّ لَا رَقِيبَ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْحَيَاءُ الْكَامِلُ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ عُثْمَانُ لَمَّا كَانَ يَسْتَحِي بِعُرْفِ النَّاسِ فِي زَمَانِهِمْ وَإِلَى عَهْدٍ قَرِيبٍ أَنْ يَخْرُجَ أَمَامَ النَّاسِ كَاشِفَ الرَّأْسِ حَاسِرَهُ فَإِنَّه اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَكُونَ حَاسِرَ الرَّأْسِ فِي ذَلِكَ لْمَوْضِعِ فَكَأَنَّهُ أَتَى مِنْ هَذَا الْبَابِ

Menjadi Muslim yang Kuat

Daftar Isi ToggleMengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPentingnya memiliki guruMadrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanMenggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatSegala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.Mengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.Baca juga: Hadis: Mukmin yang KuatPentingnya memiliki guru Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanKetiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatMengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.Nabi ﷺ bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. Aamiin.Baca juga: Hati Kuat, Andapun Selamat!***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Menjadi Muslim yang Kuat

Daftar Isi ToggleMengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPentingnya memiliki guruMadrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanMenggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatSegala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.Mengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.Baca juga: Hadis: Mukmin yang KuatPentingnya memiliki guru Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanKetiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatMengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.Nabi ﷺ bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. Aamiin.Baca juga: Hati Kuat, Andapun Selamat!***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPentingnya memiliki guruMadrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanMenggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatSegala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.Mengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.Baca juga: Hadis: Mukmin yang KuatPentingnya memiliki guru Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanKetiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatMengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.Nabi ﷺ bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. Aamiin.Baca juga: Hati Kuat, Andapun Selamat!***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPentingnya memiliki guruMadrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanMenggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatSegala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.Mengambil risiko dengan tawakal kepada AllahPertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.Baca juga: Hadis: Mukmin yang KuatPentingnya memiliki guru Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaanKetiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuatMengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.Nabi ﷺ bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. Aamiin.Baca juga: Hati Kuat, Andapun Selamat!***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Kisah Para Sahabat Nabi: Kaya Harta, Dermawan, dan Mulia Akhlaknya

Harta bukanlah penghalang menuju ketakwaan jika berada di tangan orang yang beriman. Para sahabat Nabi ﷺ membuktikan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan besar menuju pahala ketika digunakan untuk membela agama, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kisah-kisah berikut menampilkan teladan luar biasa tentang bagaimana para sahabat mengelola harta dengan iman, keikhlasan, dan kedermawanan tanpa batas.  Daftar Isi tutup 1. Abu Bakar Ash-Shiddiq 1.1. Abu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela Tauhid 1.2. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak Awal 1.3. “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar” 2. Umar bin Khattab 2.1. Abu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya 3. Utsman bin ‘Affan 3.1. Utsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum Muslimin 3.2. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa Sulit 4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf 4.1. Abdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih Besar 4.2. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang Tulus 4.3. Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺ 4.4. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin Auf 4.5. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan Allah 4.6. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah Wafat 5. Thalhah bin ‘Ubaidillah 5.1. Thalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu Malam 5.2. Thalhah, Dermawan Tanpa Diminta 5.3. Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani Taim 5.4. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang Dimerdekakan 5.5. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan Terpuji 6. ‘Abdullah bin ‘Umar 6.1. Abdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu Majelis 6.2. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi Lagi 6.3. Tidak Pernah Makan Sendirian 6.4. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat Menginginkan 7. Sa’ad bin Mu’adz 7.1. Ahlus Shuffah dan Jamuan Para Sahabat 7.2. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan Lemak 8. Zainab bin Jahsy 8.1. Zainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis Dibagikan 9. Abu Thalhah 9.1. Abu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling Dicintai 10. Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah 10.1. Qais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi Silaturahmi 11. ‘Abdullah bin ‘Abbas 11.1. Majelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah 12. ‘Ubaidillah bin ‘Abbas 12.1. Ubaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap Hari 12.2. Perintis Jamuan Publik dalam Islam  Abu Bakar Ash-ShiddiqAbu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela TauhidDiriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Abu Bakar masuk Islam ketika memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Seluruh harta itu ia infakkan di jalan Allah. Ia memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena iman mereka kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Zanirah, An-Nahdiyyah dan putrinya, seorang budak perempuan dari Bani Al-Mu’ammal, serta Ummu ‘Umais. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak AwalDiriwayatkan pula dari Usamah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya:Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Dari harta itu ia memerdekakan budak dan menanggung kebutuhan kaum muslimin. Hingga ketika ia hijrah ke Madinah, hartanya tersisa lima ribu, dan di Madinah pun ia tetap melakukan hal yang sama.  “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar”Ibnu Majah meriwayatkan—dan hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani—dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما نفَعني مالٌ قطُّ، ما نفَعني مالُ أبي بكرٍ“Tidak ada harta yang memberiku manfaat seperti manfaat harta Abu Bakar.”Mendengar hal itu, Abu Bakar pun menangis seraya berkata, “Bukankah aku dan seluruh hartaku hanyalah untukmu, wahai Rasulullah?” Umar bin KhattabAbu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-NyaAbu Daud meriwayatkan—dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani—dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata,أمَرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدَّق، فوافق ذلك عندي مالًا، فقلتُ: اليوم أسبق أبا بكرٍ إن سبقته يومًا، قال: فجئت بنِصف مالي، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((ما أبقيتَ لأهلك؟))، قلت: مثله، وأتى أبو بكرٍ بكلِّ ما عنده، فقال: ((يا أبا بكرٍ، ما أبقيتَ لأهلك؟))، قال: أبقيتُ لهم اللهَ ورسوله، قلت: لا أسبقه إلى شيءٍ أبدًا!“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu aku sedang memiliki harta. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika suatu hari aku bisa mengalahkannya.’ Maka aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanding dengan yang aku sedekahkan.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan pernah bisa mengalahkannya dalam hal apa pun.’” Utsman bin ‘AffanUtsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum MusliminUtsman radhiyallahu ‘anhu membeli sumur Ruumah, yang sebelumnya dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya kepada kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من يشتري رومة فيجعلَ دلوَه فيها كدِلاءِ المسلمين بخيرٍ له منها في الجنة“Siapa yang membeli sumur Ruumah lalu menjadikan timbanya seperti timba kaum muslimin lainnya, maka ia akan mendapatkan balasan yang lebih baik darinya di surga.”Maka Utsman mendatangi orang Yahudi itu, membeli sumur tersebut, dan menjadikannya untuk kaum muslimin. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa SulitUtsman juga membiayai pasukan pada Perang Tabuk, yang dikenal sebagai pasukan dalam masa sulit. Ia menyumbangkan sembilan ratus lima puluh ekor unta, lalu menyempurnakan jumlahnya menjadi seribu dengan menambahkan lima puluh ekor kuda. ‘Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih BesarAbdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu memberikan santunan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hasil penjualan hartanya sebesar empat puluh ribu. Ia juga mewasiatkan sebuah kebun untuk Ummul Mukminin yang dijual dengan harga empat ratus ribu. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang TulusAl-Miswar bin Makhramah berkata:Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjual sebidang tanah kepada Utsman seharga empat puluh ribu dinar. Harta itu kemudian ia bagikan kepada Bani Zuhrah, kaum muslimin yang fakir, dan istri-istri Nabi. Ia juga mengirimkan sebagian harta tersebut kepada ‘Aisyah melalui aku. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Semoga Allah memberi minum Ibnu ‘Auf dari mata air Salsabil di surga.” Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺAz-Zuhri meriwayatkan:Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurrahman bin ‘Auf bersedekah dengan separuh hartanya, yaitu empat ribu. Kemudian ia bersedekah lagi seribu dinar. Ia juga membiayai lima ratus ekor kuda di jalan Allah, lalu seribu lima ratus kendaraan untuk perjuangan di jalan Allah. Sebagian besar hartanya berasal dari perdagangan. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin AufDari Thalhah bin Abdurrahman bin ‘Auf diriwayatkan bahwa penduduk Madinah bergantung hidup kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Sepertiga dari mereka ia beri pinjaman harta, sepertiga lagi ia lunasi utangnya dengan hartanya, dan sepertiga sisanya ia santuni dan ia jalin silaturahmi dengan mereka. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan AllahDari ‘Urwah bin Az-Zubair diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan lima puluh ribu dinar untuk disedekahkan di jalan Allah Ta‘ala. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah WafatAbu ‘Umar bin ‘Abdul Barr berkata:Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang pedagang yang sangat berhasil. Ia memperoleh harta yang sangat banyak. Ia meninggalkan seribu ekor unta, tiga ribu ekor kambing, dan seratus ekor kuda yang digembalakan di Baqi’. Ia juga memiliki lahan pertanian di daerah Al-Jurf yang diairi dengan dua puluh unta penimba air. Ath-Tha’i berkata: harta warisannya dibagi menjadi enam belas bagian, sehingga bagian setiap istrinya—yang berjumlah empat orang—mencapai delapan puluh ribu dirham.Baca juga: ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang Kaya Raya dan Dermawan Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu MalamDiriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu pernah menjual sebidang tanah miliknya kepada ‘Utsman bin ‘Affan seharga tujuh ratus ribu. Harta itu pun diantarkan kepada Thalhah. Ketika harta tersebut sampai di rumahnya, ia berkata,“Seorang lelaki yang bermalam sementara harta sebanyak ini berada di rumahnya, sedangkan ia tidak tahu apa yang akan datang kepadanya dari ketetapan Allah, sungguh ia telah tertipu terhadap Allah.”Maka malam itu pun ia habiskan dengan membagikan harta tersebut. Utusannya hilir mudik di gang-gang Madinah hingga menjelang subuh, dan tidak tersisa satu dirham pun darinya. Thalhah, Dermawan Tanpa DimintaQabishah bin Jabir berkata,“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberi harta dalam jumlah besar tanpa diminta, selain Thalhah bin ‘Ubaidillah.” Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani TaimMusa bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah memperoleh keuntungan dari Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu. Dari daerah As-Sarah ia mendapatkan keuntungan sepuluh ribu dinar, atau kurang atau lebih dari itu. Dari berbagai properti lainnya ia juga memiliki hasil yang besar. Ia tidak pernah membiarkan seorang pun dari Bani Taim berada dalam kesulitan, kecuali ia mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia menikahkan budak-budak perempuan mereka, menyediakan pembantu bagi orang-orang miskin di antara mereka, melunasi utang orang yang terlilit utang, dan setiap kali hasil panennya datang setiap tahun, ia mengirimkan sepuluh ribu kepada ‘Aisyah. Ia juga pernah melunasi utang Shubaihah At-Taimi sebesar tiga puluh ribu dirham. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang DimerdekakanAs-Sa’ib bin Yazid berkata,“Aku pernah menemani Thalhah bin ‘Ubaidillah dalam perjalanan dan ketika menetap. Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang lebih luas kedermawanannya dalam hal uang, pakaian, dan makanan, dibandingkan Thalhah.”Al-Mada’ini berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah Al-Khuza‘i dijuluki Thalhah Ath-Thalhāt karena ia pernah membeli seratus budak laki-laki, lalu memerdekakan dan menikahkan mereka. Setiap anak yang lahir dari mereka, ia beri nama Thalhah. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan TerpujiMusa bin Thalhah berkata:Mu‘awiyah pernah bertanya kepadanya, “Berapa harta berupa uang tunai yang ditinggalkan Abu Muhammad—semoga Allah merahmatinya?”Ia menjawab, “Ia meninggalkan 2.200.000 dirham dan 200.000 dinar. Setiap tahun ia memperoleh keuntungan dari Irak sebesar seratus ribu, di luar hasilnya dari As-Sarah dan daerah lainnya. Ia juga mencukupi kebutuhan makan keluarganya di Madinah selama setahun dari sebuah kebun di Qanah, yang diairi oleh dua puluh unta penimba air. Dan orang pertama yang menanam gandum di Qanah adalah dirinya.”Maka Mu‘awiyah berkata, “Ia hidup terpuji, dermawan, dan mulia. Semoga Allah merahmatinya.”Baca juga: Thalhah bin ‘Ubaidillah yang Dermawan ‘Abdullah bin ‘UmarAbdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu MajelisAbdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat banyak bersedekah. Bahkan terkadang dalam satu majelis ia bersedekah hingga tiga puluh ribu. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi LagiNafi‘ meriwayatkan:Ibnu ‘Umar pernah didatangi dengan uang lebih dari dua puluh ribu. Ia tidak bangkit dari majelisnya hingga seluruh uang itu ia bagikan, bahkan ia menambahkannya. Ia terus memberi hingga tidak tersisa sedikit pun dari harta yang ada padanya. Lalu datanglah seseorang yang biasa ia beri, maka Ibnu ‘Umar meminjam dari sebagian orang yang sebelumnya telah ia beri, kemudian memberikannya lagi! Tidak Pernah Makan SendirianNafi‘ juga meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar hampir tidak pernah makan malam sendirian. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat MenginginkanNafi‘ berkata:Jika Ibnu ‘Umar merasa kagum terhadap sesuatu dari hartanya, ia akan mendekatkannya kepada Rabb-nya. Suatu kali ia sangat menginginkan ikan. Ikan itu pun dibakar dan dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba datang seorang peminta-minta, maka ia memerintahkan agar ikan tersebut diberikan kepadanya. Sa’ad bin Mu’adzAhlus Shuffah dan Jamuan Para SahabatIbnu Sirin berkata:Jika tiba waktu malam, para Ahlus Shuffah pergi bersama-sama; ada yang membawa satu orang, ada yang dua orang, dan ada yang membawa sekelompok orang. Adapun Sa‘ad bin Mu‘adz, ia membawa delapan puluh orang. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan LemakAd-Daraquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Asykhiya’*, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Penyeru Sa‘ad bin Mu‘adz biasa menyeru dari tempat tinggi di Madinah, “Siapa yang ingin lemak dan daging, hendaklah datang kepada Sa‘d.”Dan Sa‘ad berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kemuliaan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan, dan tidak ada perbuatan tanpa harta. Ya Allah, sedikit harta tidak memperbaiki diriku, dan aku pun tidak sanggup hidup dengan harta yang sedikit.” Zainab bin JahsyZainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis DibagikanDari Barzah binti Rafi‘ah, ia berkata:Ketika pembagian tunjangan keluar, ‘Umar mengirimkan jatah Zainab binti Jahsy. Ketika harta itu dimasukkan ke rumahnya, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni ‘Umar. Saudari-saudariku yang lain lebih mampu membagi harta ini daripadaku.”Mereka berkata, “Semua ini untukmu.”Ia berkata, “Subhanallah!”Lalu ia berkata, “Tuangkan semuanya dan tutupi dengan kain.”Kemudian ia berkata kepadaku, “Masukkan tanganmu, ambil segenggam, lalu berikan kepada Bani Fulan dan Bani Fulan,” dari kerabat dan anak-anak yatimnya.Hingga tersisa sedikit di bawah kain. Barzah berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu wahai Ummul Mukminin. Demi Allah, kami juga memiliki hak dari harta ini.”Zainab berkata, “Kalau begitu, ambillah yang ada di bawah kain.”Ternyata kami dapati di bawahnya sebanyak delapan puluh lima dirham. Abu ThalhahAbu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling DicintaiAl-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata:Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’, yang menghadap ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa masuk ke kebun itu dan minum airnya yang segar.Ketika turun ayat:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)Abu Thalhah pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,“Sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ﴾dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku berharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Tempatkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan yang engkau kehendaki.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau memberikannya kepada kerabatmu.”Maka Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.Baca juga: Wakaf Ahli atau Dzurri, Contoh dari Abu Thalhah Qais bin Sa’ad bin ‘UbadahQais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi SilaturahmiQais bin Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah sakit. Ia merasa heran karena saudara-saudaranya lama tidak menjenguknya. Dikatakan kepadanya, “Mereka malu karena memiliki utang kepadamu.”Maka ia berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara dari saling berkunjung.”Lalu ia memerintahkan penyeru untuk mengumumkan, “Siapa pun yang memiliki utang kepada Qais bin Sa‘ad, maka ia telah bebas darinya.”Maka menjelang sore, tangga rumahnya sampai rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. ‘Abdullah bin ‘AbbasMajelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah‘Atha’ berkata:Aku tidak pernah melihat sebuah majelis yang lebih mulia daripada majelis Ibnu ‘Abbas: paling banyak ilmunya, dan paling besar hidangan makanannya. Para ahli Al-Qur’an ada di sisinya, para ahli nahwu, para penyair, dan para ahli fikih pun ada di sisinya. Semuanya bertanya kepadanya, dan ia melayani mereka dalam keluasan yang luar biasa. ‘Ubaidillah bin ‘AbbasUbaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap HariDari Aban bin ‘Utsman, ia berkata:Seorang laki-laki hendak menyusahkan ‘Ubaidullah bin ‘Abbas. Ia mendatangi para tokoh Quraisy dan berkata, “Ubaidullah mengundang kalian makan siang hari ini.”Mereka pun datang hingga memenuhi rumahnya.‘Ubaidullah berkata, “Ada apa ini?”Maka disampaikan kepadanya apa yang terjadi. Ia pun memerintahkan untuk membeli buah-buahan, memerintahkan sebagian orang untuk memasak dan membuat roti. Buah-buahan dihidangkan kepada mereka, dan sebelum mereka selesai, meja-meja makan pun telah dihidangkan. Mereka pun makan hingga kenyang dan pergi.Lalu ‘Ubaidullah berkata kepada para pengelolanya, “Apakah hidangan seperti ini tersedia bagi kita setiap hari?”Mereka menjawab, “Ya.”Ia berkata, “Kalau begitu, hendaklah mereka makan siang di rumah kita setiap hari.” Perintis Jamuan Publik dalam IslamAl-Mada’ini berkata:Orang pertama yang memberi makan buka puasa kepada tetangganya di dalam Islam adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia juga orang pertama yang menggelar hidangan di jalan. Jika makanan keluar dari rumahnya, tidak ada yang kembali lagi. Jika ia tidak menemukan orang yang memakannya, ia tinggalkan makanan itu di jalan agar siapa pun bisa memanfaatkannya.Baca juga: Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Sumber rujukan: Alukah.Net —- Ditulis pada perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Nurul Ashri Deresan, 6 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita sahabat nabi kisah sahabat nabi sahabat nabi sahabat nabi yang kaya raya

Kisah Para Sahabat Nabi: Kaya Harta, Dermawan, dan Mulia Akhlaknya

Harta bukanlah penghalang menuju ketakwaan jika berada di tangan orang yang beriman. Para sahabat Nabi ﷺ membuktikan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan besar menuju pahala ketika digunakan untuk membela agama, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kisah-kisah berikut menampilkan teladan luar biasa tentang bagaimana para sahabat mengelola harta dengan iman, keikhlasan, dan kedermawanan tanpa batas.  Daftar Isi tutup 1. Abu Bakar Ash-Shiddiq 1.1. Abu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela Tauhid 1.2. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak Awal 1.3. “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar” 2. Umar bin Khattab 2.1. Abu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya 3. Utsman bin ‘Affan 3.1. Utsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum Muslimin 3.2. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa Sulit 4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf 4.1. Abdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih Besar 4.2. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang Tulus 4.3. Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺ 4.4. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin Auf 4.5. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan Allah 4.6. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah Wafat 5. Thalhah bin ‘Ubaidillah 5.1. Thalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu Malam 5.2. Thalhah, Dermawan Tanpa Diminta 5.3. Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani Taim 5.4. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang Dimerdekakan 5.5. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan Terpuji 6. ‘Abdullah bin ‘Umar 6.1. Abdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu Majelis 6.2. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi Lagi 6.3. Tidak Pernah Makan Sendirian 6.4. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat Menginginkan 7. Sa’ad bin Mu’adz 7.1. Ahlus Shuffah dan Jamuan Para Sahabat 7.2. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan Lemak 8. Zainab bin Jahsy 8.1. Zainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis Dibagikan 9. Abu Thalhah 9.1. Abu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling Dicintai 10. Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah 10.1. Qais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi Silaturahmi 11. ‘Abdullah bin ‘Abbas 11.1. Majelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah 12. ‘Ubaidillah bin ‘Abbas 12.1. Ubaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap Hari 12.2. Perintis Jamuan Publik dalam Islam  Abu Bakar Ash-ShiddiqAbu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela TauhidDiriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Abu Bakar masuk Islam ketika memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Seluruh harta itu ia infakkan di jalan Allah. Ia memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena iman mereka kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Zanirah, An-Nahdiyyah dan putrinya, seorang budak perempuan dari Bani Al-Mu’ammal, serta Ummu ‘Umais. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak AwalDiriwayatkan pula dari Usamah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya:Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Dari harta itu ia memerdekakan budak dan menanggung kebutuhan kaum muslimin. Hingga ketika ia hijrah ke Madinah, hartanya tersisa lima ribu, dan di Madinah pun ia tetap melakukan hal yang sama.  “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar”Ibnu Majah meriwayatkan—dan hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani—dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما نفَعني مالٌ قطُّ، ما نفَعني مالُ أبي بكرٍ“Tidak ada harta yang memberiku manfaat seperti manfaat harta Abu Bakar.”Mendengar hal itu, Abu Bakar pun menangis seraya berkata, “Bukankah aku dan seluruh hartaku hanyalah untukmu, wahai Rasulullah?” Umar bin KhattabAbu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-NyaAbu Daud meriwayatkan—dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani—dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata,أمَرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدَّق، فوافق ذلك عندي مالًا، فقلتُ: اليوم أسبق أبا بكرٍ إن سبقته يومًا، قال: فجئت بنِصف مالي، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((ما أبقيتَ لأهلك؟))، قلت: مثله، وأتى أبو بكرٍ بكلِّ ما عنده، فقال: ((يا أبا بكرٍ، ما أبقيتَ لأهلك؟))، قال: أبقيتُ لهم اللهَ ورسوله، قلت: لا أسبقه إلى شيءٍ أبدًا!“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu aku sedang memiliki harta. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika suatu hari aku bisa mengalahkannya.’ Maka aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanding dengan yang aku sedekahkan.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan pernah bisa mengalahkannya dalam hal apa pun.’” Utsman bin ‘AffanUtsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum MusliminUtsman radhiyallahu ‘anhu membeli sumur Ruumah, yang sebelumnya dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya kepada kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من يشتري رومة فيجعلَ دلوَه فيها كدِلاءِ المسلمين بخيرٍ له منها في الجنة“Siapa yang membeli sumur Ruumah lalu menjadikan timbanya seperti timba kaum muslimin lainnya, maka ia akan mendapatkan balasan yang lebih baik darinya di surga.”Maka Utsman mendatangi orang Yahudi itu, membeli sumur tersebut, dan menjadikannya untuk kaum muslimin. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa SulitUtsman juga membiayai pasukan pada Perang Tabuk, yang dikenal sebagai pasukan dalam masa sulit. Ia menyumbangkan sembilan ratus lima puluh ekor unta, lalu menyempurnakan jumlahnya menjadi seribu dengan menambahkan lima puluh ekor kuda. ‘Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih BesarAbdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu memberikan santunan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hasil penjualan hartanya sebesar empat puluh ribu. Ia juga mewasiatkan sebuah kebun untuk Ummul Mukminin yang dijual dengan harga empat ratus ribu. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang TulusAl-Miswar bin Makhramah berkata:Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjual sebidang tanah kepada Utsman seharga empat puluh ribu dinar. Harta itu kemudian ia bagikan kepada Bani Zuhrah, kaum muslimin yang fakir, dan istri-istri Nabi. Ia juga mengirimkan sebagian harta tersebut kepada ‘Aisyah melalui aku. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Semoga Allah memberi minum Ibnu ‘Auf dari mata air Salsabil di surga.” Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺAz-Zuhri meriwayatkan:Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurrahman bin ‘Auf bersedekah dengan separuh hartanya, yaitu empat ribu. Kemudian ia bersedekah lagi seribu dinar. Ia juga membiayai lima ratus ekor kuda di jalan Allah, lalu seribu lima ratus kendaraan untuk perjuangan di jalan Allah. Sebagian besar hartanya berasal dari perdagangan. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin AufDari Thalhah bin Abdurrahman bin ‘Auf diriwayatkan bahwa penduduk Madinah bergantung hidup kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Sepertiga dari mereka ia beri pinjaman harta, sepertiga lagi ia lunasi utangnya dengan hartanya, dan sepertiga sisanya ia santuni dan ia jalin silaturahmi dengan mereka. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan AllahDari ‘Urwah bin Az-Zubair diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan lima puluh ribu dinar untuk disedekahkan di jalan Allah Ta‘ala. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah WafatAbu ‘Umar bin ‘Abdul Barr berkata:Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang pedagang yang sangat berhasil. Ia memperoleh harta yang sangat banyak. Ia meninggalkan seribu ekor unta, tiga ribu ekor kambing, dan seratus ekor kuda yang digembalakan di Baqi’. Ia juga memiliki lahan pertanian di daerah Al-Jurf yang diairi dengan dua puluh unta penimba air. Ath-Tha’i berkata: harta warisannya dibagi menjadi enam belas bagian, sehingga bagian setiap istrinya—yang berjumlah empat orang—mencapai delapan puluh ribu dirham.Baca juga: ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang Kaya Raya dan Dermawan Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu MalamDiriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu pernah menjual sebidang tanah miliknya kepada ‘Utsman bin ‘Affan seharga tujuh ratus ribu. Harta itu pun diantarkan kepada Thalhah. Ketika harta tersebut sampai di rumahnya, ia berkata,“Seorang lelaki yang bermalam sementara harta sebanyak ini berada di rumahnya, sedangkan ia tidak tahu apa yang akan datang kepadanya dari ketetapan Allah, sungguh ia telah tertipu terhadap Allah.”Maka malam itu pun ia habiskan dengan membagikan harta tersebut. Utusannya hilir mudik di gang-gang Madinah hingga menjelang subuh, dan tidak tersisa satu dirham pun darinya. Thalhah, Dermawan Tanpa DimintaQabishah bin Jabir berkata,“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberi harta dalam jumlah besar tanpa diminta, selain Thalhah bin ‘Ubaidillah.” Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani TaimMusa bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah memperoleh keuntungan dari Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu. Dari daerah As-Sarah ia mendapatkan keuntungan sepuluh ribu dinar, atau kurang atau lebih dari itu. Dari berbagai properti lainnya ia juga memiliki hasil yang besar. Ia tidak pernah membiarkan seorang pun dari Bani Taim berada dalam kesulitan, kecuali ia mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia menikahkan budak-budak perempuan mereka, menyediakan pembantu bagi orang-orang miskin di antara mereka, melunasi utang orang yang terlilit utang, dan setiap kali hasil panennya datang setiap tahun, ia mengirimkan sepuluh ribu kepada ‘Aisyah. Ia juga pernah melunasi utang Shubaihah At-Taimi sebesar tiga puluh ribu dirham. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang DimerdekakanAs-Sa’ib bin Yazid berkata,“Aku pernah menemani Thalhah bin ‘Ubaidillah dalam perjalanan dan ketika menetap. Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang lebih luas kedermawanannya dalam hal uang, pakaian, dan makanan, dibandingkan Thalhah.”Al-Mada’ini berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah Al-Khuza‘i dijuluki Thalhah Ath-Thalhāt karena ia pernah membeli seratus budak laki-laki, lalu memerdekakan dan menikahkan mereka. Setiap anak yang lahir dari mereka, ia beri nama Thalhah. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan TerpujiMusa bin Thalhah berkata:Mu‘awiyah pernah bertanya kepadanya, “Berapa harta berupa uang tunai yang ditinggalkan Abu Muhammad—semoga Allah merahmatinya?”Ia menjawab, “Ia meninggalkan 2.200.000 dirham dan 200.000 dinar. Setiap tahun ia memperoleh keuntungan dari Irak sebesar seratus ribu, di luar hasilnya dari As-Sarah dan daerah lainnya. Ia juga mencukupi kebutuhan makan keluarganya di Madinah selama setahun dari sebuah kebun di Qanah, yang diairi oleh dua puluh unta penimba air. Dan orang pertama yang menanam gandum di Qanah adalah dirinya.”Maka Mu‘awiyah berkata, “Ia hidup terpuji, dermawan, dan mulia. Semoga Allah merahmatinya.”Baca juga: Thalhah bin ‘Ubaidillah yang Dermawan ‘Abdullah bin ‘UmarAbdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu MajelisAbdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat banyak bersedekah. Bahkan terkadang dalam satu majelis ia bersedekah hingga tiga puluh ribu. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi LagiNafi‘ meriwayatkan:Ibnu ‘Umar pernah didatangi dengan uang lebih dari dua puluh ribu. Ia tidak bangkit dari majelisnya hingga seluruh uang itu ia bagikan, bahkan ia menambahkannya. Ia terus memberi hingga tidak tersisa sedikit pun dari harta yang ada padanya. Lalu datanglah seseorang yang biasa ia beri, maka Ibnu ‘Umar meminjam dari sebagian orang yang sebelumnya telah ia beri, kemudian memberikannya lagi! Tidak Pernah Makan SendirianNafi‘ juga meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar hampir tidak pernah makan malam sendirian. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat MenginginkanNafi‘ berkata:Jika Ibnu ‘Umar merasa kagum terhadap sesuatu dari hartanya, ia akan mendekatkannya kepada Rabb-nya. Suatu kali ia sangat menginginkan ikan. Ikan itu pun dibakar dan dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba datang seorang peminta-minta, maka ia memerintahkan agar ikan tersebut diberikan kepadanya. Sa’ad bin Mu’adzAhlus Shuffah dan Jamuan Para SahabatIbnu Sirin berkata:Jika tiba waktu malam, para Ahlus Shuffah pergi bersama-sama; ada yang membawa satu orang, ada yang dua orang, dan ada yang membawa sekelompok orang. Adapun Sa‘ad bin Mu‘adz, ia membawa delapan puluh orang. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan LemakAd-Daraquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Asykhiya’*, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Penyeru Sa‘ad bin Mu‘adz biasa menyeru dari tempat tinggi di Madinah, “Siapa yang ingin lemak dan daging, hendaklah datang kepada Sa‘d.”Dan Sa‘ad berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kemuliaan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan, dan tidak ada perbuatan tanpa harta. Ya Allah, sedikit harta tidak memperbaiki diriku, dan aku pun tidak sanggup hidup dengan harta yang sedikit.” Zainab bin JahsyZainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis DibagikanDari Barzah binti Rafi‘ah, ia berkata:Ketika pembagian tunjangan keluar, ‘Umar mengirimkan jatah Zainab binti Jahsy. Ketika harta itu dimasukkan ke rumahnya, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni ‘Umar. Saudari-saudariku yang lain lebih mampu membagi harta ini daripadaku.”Mereka berkata, “Semua ini untukmu.”Ia berkata, “Subhanallah!”Lalu ia berkata, “Tuangkan semuanya dan tutupi dengan kain.”Kemudian ia berkata kepadaku, “Masukkan tanganmu, ambil segenggam, lalu berikan kepada Bani Fulan dan Bani Fulan,” dari kerabat dan anak-anak yatimnya.Hingga tersisa sedikit di bawah kain. Barzah berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu wahai Ummul Mukminin. Demi Allah, kami juga memiliki hak dari harta ini.”Zainab berkata, “Kalau begitu, ambillah yang ada di bawah kain.”Ternyata kami dapati di bawahnya sebanyak delapan puluh lima dirham. Abu ThalhahAbu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling DicintaiAl-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata:Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’, yang menghadap ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa masuk ke kebun itu dan minum airnya yang segar.Ketika turun ayat:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)Abu Thalhah pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,“Sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ﴾dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku berharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Tempatkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan yang engkau kehendaki.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau memberikannya kepada kerabatmu.”Maka Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.Baca juga: Wakaf Ahli atau Dzurri, Contoh dari Abu Thalhah Qais bin Sa’ad bin ‘UbadahQais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi SilaturahmiQais bin Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah sakit. Ia merasa heran karena saudara-saudaranya lama tidak menjenguknya. Dikatakan kepadanya, “Mereka malu karena memiliki utang kepadamu.”Maka ia berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara dari saling berkunjung.”Lalu ia memerintahkan penyeru untuk mengumumkan, “Siapa pun yang memiliki utang kepada Qais bin Sa‘ad, maka ia telah bebas darinya.”Maka menjelang sore, tangga rumahnya sampai rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. ‘Abdullah bin ‘AbbasMajelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah‘Atha’ berkata:Aku tidak pernah melihat sebuah majelis yang lebih mulia daripada majelis Ibnu ‘Abbas: paling banyak ilmunya, dan paling besar hidangan makanannya. Para ahli Al-Qur’an ada di sisinya, para ahli nahwu, para penyair, dan para ahli fikih pun ada di sisinya. Semuanya bertanya kepadanya, dan ia melayani mereka dalam keluasan yang luar biasa. ‘Ubaidillah bin ‘AbbasUbaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap HariDari Aban bin ‘Utsman, ia berkata:Seorang laki-laki hendak menyusahkan ‘Ubaidullah bin ‘Abbas. Ia mendatangi para tokoh Quraisy dan berkata, “Ubaidullah mengundang kalian makan siang hari ini.”Mereka pun datang hingga memenuhi rumahnya.‘Ubaidullah berkata, “Ada apa ini?”Maka disampaikan kepadanya apa yang terjadi. Ia pun memerintahkan untuk membeli buah-buahan, memerintahkan sebagian orang untuk memasak dan membuat roti. Buah-buahan dihidangkan kepada mereka, dan sebelum mereka selesai, meja-meja makan pun telah dihidangkan. Mereka pun makan hingga kenyang dan pergi.Lalu ‘Ubaidullah berkata kepada para pengelolanya, “Apakah hidangan seperti ini tersedia bagi kita setiap hari?”Mereka menjawab, “Ya.”Ia berkata, “Kalau begitu, hendaklah mereka makan siang di rumah kita setiap hari.” Perintis Jamuan Publik dalam IslamAl-Mada’ini berkata:Orang pertama yang memberi makan buka puasa kepada tetangganya di dalam Islam adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia juga orang pertama yang menggelar hidangan di jalan. Jika makanan keluar dari rumahnya, tidak ada yang kembali lagi. Jika ia tidak menemukan orang yang memakannya, ia tinggalkan makanan itu di jalan agar siapa pun bisa memanfaatkannya.Baca juga: Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Sumber rujukan: Alukah.Net —- Ditulis pada perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Nurul Ashri Deresan, 6 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita sahabat nabi kisah sahabat nabi sahabat nabi sahabat nabi yang kaya raya
Harta bukanlah penghalang menuju ketakwaan jika berada di tangan orang yang beriman. Para sahabat Nabi ﷺ membuktikan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan besar menuju pahala ketika digunakan untuk membela agama, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kisah-kisah berikut menampilkan teladan luar biasa tentang bagaimana para sahabat mengelola harta dengan iman, keikhlasan, dan kedermawanan tanpa batas.  Daftar Isi tutup 1. Abu Bakar Ash-Shiddiq 1.1. Abu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela Tauhid 1.2. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak Awal 1.3. “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar” 2. Umar bin Khattab 2.1. Abu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya 3. Utsman bin ‘Affan 3.1. Utsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum Muslimin 3.2. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa Sulit 4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf 4.1. Abdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih Besar 4.2. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang Tulus 4.3. Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺ 4.4. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin Auf 4.5. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan Allah 4.6. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah Wafat 5. Thalhah bin ‘Ubaidillah 5.1. Thalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu Malam 5.2. Thalhah, Dermawan Tanpa Diminta 5.3. Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani Taim 5.4. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang Dimerdekakan 5.5. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan Terpuji 6. ‘Abdullah bin ‘Umar 6.1. Abdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu Majelis 6.2. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi Lagi 6.3. Tidak Pernah Makan Sendirian 6.4. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat Menginginkan 7. Sa’ad bin Mu’adz 7.1. Ahlus Shuffah dan Jamuan Para Sahabat 7.2. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan Lemak 8. Zainab bin Jahsy 8.1. Zainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis Dibagikan 9. Abu Thalhah 9.1. Abu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling Dicintai 10. Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah 10.1. Qais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi Silaturahmi 11. ‘Abdullah bin ‘Abbas 11.1. Majelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah 12. ‘Ubaidillah bin ‘Abbas 12.1. Ubaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap Hari 12.2. Perintis Jamuan Publik dalam Islam  Abu Bakar Ash-ShiddiqAbu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela TauhidDiriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Abu Bakar masuk Islam ketika memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Seluruh harta itu ia infakkan di jalan Allah. Ia memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena iman mereka kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Zanirah, An-Nahdiyyah dan putrinya, seorang budak perempuan dari Bani Al-Mu’ammal, serta Ummu ‘Umais. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak AwalDiriwayatkan pula dari Usamah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya:Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Dari harta itu ia memerdekakan budak dan menanggung kebutuhan kaum muslimin. Hingga ketika ia hijrah ke Madinah, hartanya tersisa lima ribu, dan di Madinah pun ia tetap melakukan hal yang sama.  “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar”Ibnu Majah meriwayatkan—dan hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani—dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما نفَعني مالٌ قطُّ، ما نفَعني مالُ أبي بكرٍ“Tidak ada harta yang memberiku manfaat seperti manfaat harta Abu Bakar.”Mendengar hal itu, Abu Bakar pun menangis seraya berkata, “Bukankah aku dan seluruh hartaku hanyalah untukmu, wahai Rasulullah?” Umar bin KhattabAbu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-NyaAbu Daud meriwayatkan—dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani—dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata,أمَرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدَّق، فوافق ذلك عندي مالًا، فقلتُ: اليوم أسبق أبا بكرٍ إن سبقته يومًا، قال: فجئت بنِصف مالي، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((ما أبقيتَ لأهلك؟))، قلت: مثله، وأتى أبو بكرٍ بكلِّ ما عنده، فقال: ((يا أبا بكرٍ، ما أبقيتَ لأهلك؟))، قال: أبقيتُ لهم اللهَ ورسوله، قلت: لا أسبقه إلى شيءٍ أبدًا!“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu aku sedang memiliki harta. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika suatu hari aku bisa mengalahkannya.’ Maka aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanding dengan yang aku sedekahkan.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan pernah bisa mengalahkannya dalam hal apa pun.’” Utsman bin ‘AffanUtsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum MusliminUtsman radhiyallahu ‘anhu membeli sumur Ruumah, yang sebelumnya dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya kepada kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من يشتري رومة فيجعلَ دلوَه فيها كدِلاءِ المسلمين بخيرٍ له منها في الجنة“Siapa yang membeli sumur Ruumah lalu menjadikan timbanya seperti timba kaum muslimin lainnya, maka ia akan mendapatkan balasan yang lebih baik darinya di surga.”Maka Utsman mendatangi orang Yahudi itu, membeli sumur tersebut, dan menjadikannya untuk kaum muslimin. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa SulitUtsman juga membiayai pasukan pada Perang Tabuk, yang dikenal sebagai pasukan dalam masa sulit. Ia menyumbangkan sembilan ratus lima puluh ekor unta, lalu menyempurnakan jumlahnya menjadi seribu dengan menambahkan lima puluh ekor kuda. ‘Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih BesarAbdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu memberikan santunan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hasil penjualan hartanya sebesar empat puluh ribu. Ia juga mewasiatkan sebuah kebun untuk Ummul Mukminin yang dijual dengan harga empat ratus ribu. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang TulusAl-Miswar bin Makhramah berkata:Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjual sebidang tanah kepada Utsman seharga empat puluh ribu dinar. Harta itu kemudian ia bagikan kepada Bani Zuhrah, kaum muslimin yang fakir, dan istri-istri Nabi. Ia juga mengirimkan sebagian harta tersebut kepada ‘Aisyah melalui aku. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Semoga Allah memberi minum Ibnu ‘Auf dari mata air Salsabil di surga.” Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺAz-Zuhri meriwayatkan:Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurrahman bin ‘Auf bersedekah dengan separuh hartanya, yaitu empat ribu. Kemudian ia bersedekah lagi seribu dinar. Ia juga membiayai lima ratus ekor kuda di jalan Allah, lalu seribu lima ratus kendaraan untuk perjuangan di jalan Allah. Sebagian besar hartanya berasal dari perdagangan. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin AufDari Thalhah bin Abdurrahman bin ‘Auf diriwayatkan bahwa penduduk Madinah bergantung hidup kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Sepertiga dari mereka ia beri pinjaman harta, sepertiga lagi ia lunasi utangnya dengan hartanya, dan sepertiga sisanya ia santuni dan ia jalin silaturahmi dengan mereka. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan AllahDari ‘Urwah bin Az-Zubair diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan lima puluh ribu dinar untuk disedekahkan di jalan Allah Ta‘ala. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah WafatAbu ‘Umar bin ‘Abdul Barr berkata:Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang pedagang yang sangat berhasil. Ia memperoleh harta yang sangat banyak. Ia meninggalkan seribu ekor unta, tiga ribu ekor kambing, dan seratus ekor kuda yang digembalakan di Baqi’. Ia juga memiliki lahan pertanian di daerah Al-Jurf yang diairi dengan dua puluh unta penimba air. Ath-Tha’i berkata: harta warisannya dibagi menjadi enam belas bagian, sehingga bagian setiap istrinya—yang berjumlah empat orang—mencapai delapan puluh ribu dirham.Baca juga: ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang Kaya Raya dan Dermawan Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu MalamDiriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu pernah menjual sebidang tanah miliknya kepada ‘Utsman bin ‘Affan seharga tujuh ratus ribu. Harta itu pun diantarkan kepada Thalhah. Ketika harta tersebut sampai di rumahnya, ia berkata,“Seorang lelaki yang bermalam sementara harta sebanyak ini berada di rumahnya, sedangkan ia tidak tahu apa yang akan datang kepadanya dari ketetapan Allah, sungguh ia telah tertipu terhadap Allah.”Maka malam itu pun ia habiskan dengan membagikan harta tersebut. Utusannya hilir mudik di gang-gang Madinah hingga menjelang subuh, dan tidak tersisa satu dirham pun darinya. Thalhah, Dermawan Tanpa DimintaQabishah bin Jabir berkata,“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberi harta dalam jumlah besar tanpa diminta, selain Thalhah bin ‘Ubaidillah.” Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani TaimMusa bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah memperoleh keuntungan dari Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu. Dari daerah As-Sarah ia mendapatkan keuntungan sepuluh ribu dinar, atau kurang atau lebih dari itu. Dari berbagai properti lainnya ia juga memiliki hasil yang besar. Ia tidak pernah membiarkan seorang pun dari Bani Taim berada dalam kesulitan, kecuali ia mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia menikahkan budak-budak perempuan mereka, menyediakan pembantu bagi orang-orang miskin di antara mereka, melunasi utang orang yang terlilit utang, dan setiap kali hasil panennya datang setiap tahun, ia mengirimkan sepuluh ribu kepada ‘Aisyah. Ia juga pernah melunasi utang Shubaihah At-Taimi sebesar tiga puluh ribu dirham. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang DimerdekakanAs-Sa’ib bin Yazid berkata,“Aku pernah menemani Thalhah bin ‘Ubaidillah dalam perjalanan dan ketika menetap. Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang lebih luas kedermawanannya dalam hal uang, pakaian, dan makanan, dibandingkan Thalhah.”Al-Mada’ini berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah Al-Khuza‘i dijuluki Thalhah Ath-Thalhāt karena ia pernah membeli seratus budak laki-laki, lalu memerdekakan dan menikahkan mereka. Setiap anak yang lahir dari mereka, ia beri nama Thalhah. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan TerpujiMusa bin Thalhah berkata:Mu‘awiyah pernah bertanya kepadanya, “Berapa harta berupa uang tunai yang ditinggalkan Abu Muhammad—semoga Allah merahmatinya?”Ia menjawab, “Ia meninggalkan 2.200.000 dirham dan 200.000 dinar. Setiap tahun ia memperoleh keuntungan dari Irak sebesar seratus ribu, di luar hasilnya dari As-Sarah dan daerah lainnya. Ia juga mencukupi kebutuhan makan keluarganya di Madinah selama setahun dari sebuah kebun di Qanah, yang diairi oleh dua puluh unta penimba air. Dan orang pertama yang menanam gandum di Qanah adalah dirinya.”Maka Mu‘awiyah berkata, “Ia hidup terpuji, dermawan, dan mulia. Semoga Allah merahmatinya.”Baca juga: Thalhah bin ‘Ubaidillah yang Dermawan ‘Abdullah bin ‘UmarAbdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu MajelisAbdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat banyak bersedekah. Bahkan terkadang dalam satu majelis ia bersedekah hingga tiga puluh ribu. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi LagiNafi‘ meriwayatkan:Ibnu ‘Umar pernah didatangi dengan uang lebih dari dua puluh ribu. Ia tidak bangkit dari majelisnya hingga seluruh uang itu ia bagikan, bahkan ia menambahkannya. Ia terus memberi hingga tidak tersisa sedikit pun dari harta yang ada padanya. Lalu datanglah seseorang yang biasa ia beri, maka Ibnu ‘Umar meminjam dari sebagian orang yang sebelumnya telah ia beri, kemudian memberikannya lagi! Tidak Pernah Makan SendirianNafi‘ juga meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar hampir tidak pernah makan malam sendirian. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat MenginginkanNafi‘ berkata:Jika Ibnu ‘Umar merasa kagum terhadap sesuatu dari hartanya, ia akan mendekatkannya kepada Rabb-nya. Suatu kali ia sangat menginginkan ikan. Ikan itu pun dibakar dan dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba datang seorang peminta-minta, maka ia memerintahkan agar ikan tersebut diberikan kepadanya. Sa’ad bin Mu’adzAhlus Shuffah dan Jamuan Para SahabatIbnu Sirin berkata:Jika tiba waktu malam, para Ahlus Shuffah pergi bersama-sama; ada yang membawa satu orang, ada yang dua orang, dan ada yang membawa sekelompok orang. Adapun Sa‘ad bin Mu‘adz, ia membawa delapan puluh orang. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan LemakAd-Daraquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Asykhiya’*, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Penyeru Sa‘ad bin Mu‘adz biasa menyeru dari tempat tinggi di Madinah, “Siapa yang ingin lemak dan daging, hendaklah datang kepada Sa‘d.”Dan Sa‘ad berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kemuliaan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan, dan tidak ada perbuatan tanpa harta. Ya Allah, sedikit harta tidak memperbaiki diriku, dan aku pun tidak sanggup hidup dengan harta yang sedikit.” Zainab bin JahsyZainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis DibagikanDari Barzah binti Rafi‘ah, ia berkata:Ketika pembagian tunjangan keluar, ‘Umar mengirimkan jatah Zainab binti Jahsy. Ketika harta itu dimasukkan ke rumahnya, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni ‘Umar. Saudari-saudariku yang lain lebih mampu membagi harta ini daripadaku.”Mereka berkata, “Semua ini untukmu.”Ia berkata, “Subhanallah!”Lalu ia berkata, “Tuangkan semuanya dan tutupi dengan kain.”Kemudian ia berkata kepadaku, “Masukkan tanganmu, ambil segenggam, lalu berikan kepada Bani Fulan dan Bani Fulan,” dari kerabat dan anak-anak yatimnya.Hingga tersisa sedikit di bawah kain. Barzah berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu wahai Ummul Mukminin. Demi Allah, kami juga memiliki hak dari harta ini.”Zainab berkata, “Kalau begitu, ambillah yang ada di bawah kain.”Ternyata kami dapati di bawahnya sebanyak delapan puluh lima dirham. Abu ThalhahAbu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling DicintaiAl-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata:Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’, yang menghadap ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa masuk ke kebun itu dan minum airnya yang segar.Ketika turun ayat:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)Abu Thalhah pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,“Sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ﴾dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku berharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Tempatkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan yang engkau kehendaki.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau memberikannya kepada kerabatmu.”Maka Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.Baca juga: Wakaf Ahli atau Dzurri, Contoh dari Abu Thalhah Qais bin Sa’ad bin ‘UbadahQais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi SilaturahmiQais bin Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah sakit. Ia merasa heran karena saudara-saudaranya lama tidak menjenguknya. Dikatakan kepadanya, “Mereka malu karena memiliki utang kepadamu.”Maka ia berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara dari saling berkunjung.”Lalu ia memerintahkan penyeru untuk mengumumkan, “Siapa pun yang memiliki utang kepada Qais bin Sa‘ad, maka ia telah bebas darinya.”Maka menjelang sore, tangga rumahnya sampai rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. ‘Abdullah bin ‘AbbasMajelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah‘Atha’ berkata:Aku tidak pernah melihat sebuah majelis yang lebih mulia daripada majelis Ibnu ‘Abbas: paling banyak ilmunya, dan paling besar hidangan makanannya. Para ahli Al-Qur’an ada di sisinya, para ahli nahwu, para penyair, dan para ahli fikih pun ada di sisinya. Semuanya bertanya kepadanya, dan ia melayani mereka dalam keluasan yang luar biasa. ‘Ubaidillah bin ‘AbbasUbaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap HariDari Aban bin ‘Utsman, ia berkata:Seorang laki-laki hendak menyusahkan ‘Ubaidullah bin ‘Abbas. Ia mendatangi para tokoh Quraisy dan berkata, “Ubaidullah mengundang kalian makan siang hari ini.”Mereka pun datang hingga memenuhi rumahnya.‘Ubaidullah berkata, “Ada apa ini?”Maka disampaikan kepadanya apa yang terjadi. Ia pun memerintahkan untuk membeli buah-buahan, memerintahkan sebagian orang untuk memasak dan membuat roti. Buah-buahan dihidangkan kepada mereka, dan sebelum mereka selesai, meja-meja makan pun telah dihidangkan. Mereka pun makan hingga kenyang dan pergi.Lalu ‘Ubaidullah berkata kepada para pengelolanya, “Apakah hidangan seperti ini tersedia bagi kita setiap hari?”Mereka menjawab, “Ya.”Ia berkata, “Kalau begitu, hendaklah mereka makan siang di rumah kita setiap hari.” Perintis Jamuan Publik dalam IslamAl-Mada’ini berkata:Orang pertama yang memberi makan buka puasa kepada tetangganya di dalam Islam adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia juga orang pertama yang menggelar hidangan di jalan. Jika makanan keluar dari rumahnya, tidak ada yang kembali lagi. Jika ia tidak menemukan orang yang memakannya, ia tinggalkan makanan itu di jalan agar siapa pun bisa memanfaatkannya.Baca juga: Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Sumber rujukan: Alukah.Net —- Ditulis pada perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Nurul Ashri Deresan, 6 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita sahabat nabi kisah sahabat nabi sahabat nabi sahabat nabi yang kaya raya


Harta bukanlah penghalang menuju ketakwaan jika berada di tangan orang yang beriman. Para sahabat Nabi ﷺ membuktikan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan besar menuju pahala ketika digunakan untuk membela agama, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kisah-kisah berikut menampilkan teladan luar biasa tentang bagaimana para sahabat mengelola harta dengan iman, keikhlasan, dan kedermawanan tanpa batas.  Daftar Isi tutup 1. Abu Bakar Ash-Shiddiq 1.1. Abu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela Tauhid 1.2. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak Awal 1.3. “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar” 2. Umar bin Khattab 2.1. Abu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya 3. Utsman bin ‘Affan 3.1. Utsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum Muslimin 3.2. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa Sulit 4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf 4.1. Abdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih Besar 4.2. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang Tulus 4.3. Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺ 4.4. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin Auf 4.5. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan Allah 4.6. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah Wafat 5. Thalhah bin ‘Ubaidillah 5.1. Thalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu Malam 5.2. Thalhah, Dermawan Tanpa Diminta 5.3. Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani Taim 5.4. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang Dimerdekakan 5.5. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan Terpuji 6. ‘Abdullah bin ‘Umar 6.1. Abdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu Majelis 6.2. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi Lagi 6.3. Tidak Pernah Makan Sendirian 6.4. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat Menginginkan 7. Sa’ad bin Mu’adz 7.1. Ahlus Shuffah dan Jamuan Para Sahabat 7.2. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan Lemak 8. Zainab bin Jahsy 8.1. Zainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis Dibagikan 9. Abu Thalhah 9.1. Abu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling Dicintai 10. Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah 10.1. Qais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi Silaturahmi 11. ‘Abdullah bin ‘Abbas 11.1. Majelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah 12. ‘Ubaidillah bin ‘Abbas 12.1. Ubaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap Hari 12.2. Perintis Jamuan Publik dalam Islam  Abu Bakar Ash-ShiddiqAbu Bakar ash-Shiddiq: Harta 40 Ribu yang Habis untuk Membela TauhidDiriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Abu Bakar masuk Islam ketika memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Seluruh harta itu ia infakkan di jalan Allah. Ia memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena iman mereka kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Zanirah, An-Nahdiyyah dan putrinya, seorang budak perempuan dari Bani Al-Mu’ammal, serta Ummu ‘Umais. Abu Bakar Sang Pedagang: Kekayaan yang Menopang Dakwah Sejak AwalDiriwayatkan pula dari Usamah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya:Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu. Dari harta itu ia memerdekakan budak dan menanggung kebutuhan kaum muslimin. Hingga ketika ia hijrah ke Madinah, hartanya tersisa lima ribu, dan di Madinah pun ia tetap melakukan hal yang sama.  “Tidak Ada Harta yang Lebih Bermanfaat dari Harta Abu Bakar”Ibnu Majah meriwayatkan—dan hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani—dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما نفَعني مالٌ قطُّ، ما نفَعني مالُ أبي بكرٍ“Tidak ada harta yang memberiku manfaat seperti manfaat harta Abu Bakar.”Mendengar hal itu, Abu Bakar pun menangis seraya berkata, “Bukankah aku dan seluruh hartaku hanyalah untukmu, wahai Rasulullah?” Umar bin KhattabAbu Bakar vs Umar: Ketika Semua Harta Diserahkan kepada Allah dan Rasul-NyaAbu Daud meriwayatkan—dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani—dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata:Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata,أمَرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدَّق، فوافق ذلك عندي مالًا، فقلتُ: اليوم أسبق أبا بكرٍ إن سبقته يومًا، قال: فجئت بنِصف مالي، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((ما أبقيتَ لأهلك؟))، قلت: مثله، وأتى أبو بكرٍ بكلِّ ما عنده، فقال: ((يا أبا بكرٍ، ما أبقيتَ لأهلك؟))، قال: أبقيتُ لهم اللهَ ورسوله، قلت: لا أسبقه إلى شيءٍ أبدًا!“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu aku sedang memiliki harta. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika suatu hari aku bisa mengalahkannya.’ Maka aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanding dengan yang aku sedekahkan.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan pernah bisa mengalahkannya dalam hal apa pun.’” Utsman bin ‘AffanUtsman bin Affan dan Sumur Ruumah: Air Gratis untuk Kaum MusliminUtsman radhiyallahu ‘anhu membeli sumur Ruumah, yang sebelumnya dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya kepada kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من يشتري رومة فيجعلَ دلوَه فيها كدِلاءِ المسلمين بخيرٍ له منها في الجنة“Siapa yang membeli sumur Ruumah lalu menjadikan timbanya seperti timba kaum muslimin lainnya, maka ia akan mendapatkan balasan yang lebih baik darinya di surga.”Maka Utsman mendatangi orang Yahudi itu, membeli sumur tersebut, dan menjadikannya untuk kaum muslimin. Utsman dan Perang Tabuk: Seribu Kendaraan untuk Pasukan dalam Masa SulitUtsman juga membiayai pasukan pada Perang Tabuk, yang dikenal sebagai pasukan dalam masa sulit. Ia menyumbangkan sembilan ratus lima puluh ekor unta, lalu menyempurnakan jumlahnya menjadi seribu dengan menambahkan lima puluh ekor kuda. ‘Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin Auf: Kekayaan Besar, Derma Lebih BesarAbdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu memberikan santunan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hasil penjualan hartanya sebesar empat puluh ribu. Ia juga mewasiatkan sebuah kebun untuk Ummul Mukminin yang dijual dengan harga empat ratus ribu. “Salsabil untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf”: Doa Aisyah atas Infak yang TulusAl-Miswar bin Makhramah berkata:Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjual sebidang tanah kepada Utsman seharga empat puluh ribu dinar. Harta itu kemudian ia bagikan kepada Bani Zuhrah, kaum muslimin yang fakir, dan istri-istri Nabi. Ia juga mengirimkan sebagian harta tersebut kepada ‘Aisyah melalui aku. Maka ‘Aisyah pun berkata, “Semoga Allah memberi minum Ibnu ‘Auf dari mata air Salsabil di surga.” Separuh Harta di Jalan Allah: Derma Abdurrahman di Masa Nabi ﷺAz-Zuhri meriwayatkan:Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurrahman bin ‘Auf bersedekah dengan separuh hartanya, yaitu empat ribu. Kemudian ia bersedekah lagi seribu dinar. Ia juga membiayai lima ratus ekor kuda di jalan Allah, lalu seribu lima ratus kendaraan untuk perjuangan di jalan Allah. Sebagian besar hartanya berasal dari perdagangan. Penduduk Madinah Bergantung pada Abdurrahman bin AufDari Thalhah bin Abdurrahman bin ‘Auf diriwayatkan bahwa penduduk Madinah bergantung hidup kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Sepertiga dari mereka ia beri pinjaman harta, sepertiga lagi ia lunasi utangnya dengan hartanya, dan sepertiga sisanya ia santuni dan ia jalin silaturahmi dengan mereka. Wasiat Terakhir Abdurrahman bin Auf: 50 Ribu Dinar untuk Jalan AllahDari ‘Urwah bin Az-Zubair diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan lima puluh ribu dinar untuk disedekahkan di jalan Allah Ta‘ala. Kekayaan Abdurrahman bin Auf Setelah WafatAbu ‘Umar bin ‘Abdul Barr berkata:Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang pedagang yang sangat berhasil. Ia memperoleh harta yang sangat banyak. Ia meninggalkan seribu ekor unta, tiga ribu ekor kambing, dan seratus ekor kuda yang digembalakan di Baqi’. Ia juga memiliki lahan pertanian di daerah Al-Jurf yang diairi dengan dua puluh unta penimba air. Ath-Tha’i berkata: harta warisannya dibagi menjadi enam belas bagian, sehingga bagian setiap istrinya—yang berjumlah empat orang—mencapai delapan puluh ribu dirham.Baca juga: ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang Kaya Raya dan Dermawan Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin Ubaidillah: 700 Ribu yang Habis dalam Satu MalamDiriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu pernah menjual sebidang tanah miliknya kepada ‘Utsman bin ‘Affan seharga tujuh ratus ribu. Harta itu pun diantarkan kepada Thalhah. Ketika harta tersebut sampai di rumahnya, ia berkata,“Seorang lelaki yang bermalam sementara harta sebanyak ini berada di rumahnya, sedangkan ia tidak tahu apa yang akan datang kepadanya dari ketetapan Allah, sungguh ia telah tertipu terhadap Allah.”Maka malam itu pun ia habiskan dengan membagikan harta tersebut. Utusannya hilir mudik di gang-gang Madinah hingga menjelang subuh, dan tidak tersisa satu dirham pun darinya. Thalhah, Dermawan Tanpa DimintaQabishah bin Jabir berkata,“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberi harta dalam jumlah besar tanpa diminta, selain Thalhah bin ‘Ubaidillah.” Thalhah dan Tanggung Jawab Sosial Bani TaimMusa bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah memperoleh keuntungan dari Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu. Dari daerah As-Sarah ia mendapatkan keuntungan sepuluh ribu dinar, atau kurang atau lebih dari itu. Dari berbagai properti lainnya ia juga memiliki hasil yang besar. Ia tidak pernah membiarkan seorang pun dari Bani Taim berada dalam kesulitan, kecuali ia mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia menikahkan budak-budak perempuan mereka, menyediakan pembantu bagi orang-orang miskin di antara mereka, melunasi utang orang yang terlilit utang, dan setiap kali hasil panennya datang setiap tahun, ia mengirimkan sepuluh ribu kepada ‘Aisyah. Ia juga pernah melunasi utang Shubaihah At-Taimi sebesar tiga puluh ribu dirham. Julukan “Thalhah Ath-Thalhāt”: Seratus Budak yang DimerdekakanAs-Sa’ib bin Yazid berkata,“Aku pernah menemani Thalhah bin ‘Ubaidillah dalam perjalanan dan ketika menetap. Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang lebih luas kedermawanannya dalam hal uang, pakaian, dan makanan, dibandingkan Thalhah.”Al-Mada’ini berkata:Thalhah bin ‘Ubaidillah Al-Khuza‘i dijuluki Thalhah Ath-Thalhāt karena ia pernah membeli seratus budak laki-laki, lalu memerdekakan dan menikahkan mereka. Setiap anak yang lahir dari mereka, ia beri nama Thalhah. Harta Thalhah Menurut Mu‘awiyah: Kaya, Mulia, dan TerpujiMusa bin Thalhah berkata:Mu‘awiyah pernah bertanya kepadanya, “Berapa harta berupa uang tunai yang ditinggalkan Abu Muhammad—semoga Allah merahmatinya?”Ia menjawab, “Ia meninggalkan 2.200.000 dirham dan 200.000 dinar. Setiap tahun ia memperoleh keuntungan dari Irak sebesar seratus ribu, di luar hasilnya dari As-Sarah dan daerah lainnya. Ia juga mencukupi kebutuhan makan keluarganya di Madinah selama setahun dari sebuah kebun di Qanah, yang diairi oleh dua puluh unta penimba air. Dan orang pertama yang menanam gandum di Qanah adalah dirinya.”Maka Mu‘awiyah berkata, “Ia hidup terpuji, dermawan, dan mulia. Semoga Allah merahmatinya.”Baca juga: Thalhah bin ‘Ubaidillah yang Dermawan ‘Abdullah bin ‘UmarAbdullah bin Umar: Bersedekah Puluhan Ribu dalam Satu MajelisAbdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dikenal sangat banyak bersedekah. Bahkan terkadang dalam satu majelis ia bersedekah hingga tiga puluh ribu. Memberi Hingga Harus Berutang untuk Memberi LagiNafi‘ meriwayatkan:Ibnu ‘Umar pernah didatangi dengan uang lebih dari dua puluh ribu. Ia tidak bangkit dari majelisnya hingga seluruh uang itu ia bagikan, bahkan ia menambahkannya. Ia terus memberi hingga tidak tersisa sedikit pun dari harta yang ada padanya. Lalu datanglah seseorang yang biasa ia beri, maka Ibnu ‘Umar meminjam dari sebagian orang yang sebelumnya telah ia beri, kemudian memberikannya lagi! Tidak Pernah Makan SendirianNafi‘ juga meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar hampir tidak pernah makan malam sendirian. Ikan yang Disedekahkan Saat Sangat MenginginkanNafi‘ berkata:Jika Ibnu ‘Umar merasa kagum terhadap sesuatu dari hartanya, ia akan mendekatkannya kepada Rabb-nya. Suatu kali ia sangat menginginkan ikan. Ikan itu pun dibakar dan dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba datang seorang peminta-minta, maka ia memerintahkan agar ikan tersebut diberikan kepadanya. Sa’ad bin Mu’adzAhlus Shuffah dan Jamuan Para SahabatIbnu Sirin berkata:Jika tiba waktu malam, para Ahlus Shuffah pergi bersama-sama; ada yang membawa satu orang, ada yang dua orang, dan ada yang membawa sekelompok orang. Adapun Sa‘ad bin Mu‘adz, ia membawa delapan puluh orang. Sa‘d bin Mu‘adz: Seruan Terbuka untuk Daging dan LemakAd-Daraquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Asykhiya’*, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata:Penyeru Sa‘ad bin Mu‘adz biasa menyeru dari tempat tinggi di Madinah, “Siapa yang ingin lemak dan daging, hendaklah datang kepada Sa‘d.”Dan Sa‘ad berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kemuliaan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan, dan tidak ada perbuatan tanpa harta. Ya Allah, sedikit harta tidak memperbaiki diriku, dan aku pun tidak sanggup hidup dengan harta yang sedikit.” Zainab bin JahsyZainab binti Jahsy: Harta Datang, Habis DibagikanDari Barzah binti Rafi‘ah, ia berkata:Ketika pembagian tunjangan keluar, ‘Umar mengirimkan jatah Zainab binti Jahsy. Ketika harta itu dimasukkan ke rumahnya, ia berkata, “Semoga Allah mengampuni ‘Umar. Saudari-saudariku yang lain lebih mampu membagi harta ini daripadaku.”Mereka berkata, “Semua ini untukmu.”Ia berkata, “Subhanallah!”Lalu ia berkata, “Tuangkan semuanya dan tutupi dengan kain.”Kemudian ia berkata kepadaku, “Masukkan tanganmu, ambil segenggam, lalu berikan kepada Bani Fulan dan Bani Fulan,” dari kerabat dan anak-anak yatimnya.Hingga tersisa sedikit di bawah kain. Barzah berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu wahai Ummul Mukminin. Demi Allah, kami juga memiliki hak dari harta ini.”Zainab berkata, “Kalau begitu, ambillah yang ada di bawah kain.”Ternyata kami dapati di bawahnya sebanyak delapan puluh lima dirham. Abu ThalhahAbu Thalhah dan Kebun Bairuha’: Sedekah dari Harta Paling DicintaiAl-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata:Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’, yang menghadap ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa masuk ke kebun itu dan minum airnya yang segar.Ketika turun ayat:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)Abu Thalhah pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,“Sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya:﴿ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ﴾dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku berharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Tempatkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan yang engkau kehendaki.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan aku berpendapat agar engkau memberikannya kepada kerabatmu.”Maka Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.Baca juga: Wakaf Ahli atau Dzurri, Contoh dari Abu Thalhah Qais bin Sa’ad bin ‘UbadahQais bin Sa‘ad: Menghapus Utang Demi SilaturahmiQais bin Sa‘ad bin ‘Ubadah pernah sakit. Ia merasa heran karena saudara-saudaranya lama tidak menjenguknya. Dikatakan kepadanya, “Mereka malu karena memiliki utang kepadamu.”Maka ia berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara dari saling berkunjung.”Lalu ia memerintahkan penyeru untuk mengumumkan, “Siapa pun yang memiliki utang kepada Qais bin Sa‘ad, maka ia telah bebas darinya.”Maka menjelang sore, tangga rumahnya sampai rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. ‘Abdullah bin ‘AbbasMajelis Ibnu Abbas: Ilmu Luas, Hidangan Melimpah‘Atha’ berkata:Aku tidak pernah melihat sebuah majelis yang lebih mulia daripada majelis Ibnu ‘Abbas: paling banyak ilmunya, dan paling besar hidangan makanannya. Para ahli Al-Qur’an ada di sisinya, para ahli nahwu, para penyair, dan para ahli fikih pun ada di sisinya. Semuanya bertanya kepadanya, dan ia melayani mereka dalam keluasan yang luar biasa. ‘Ubaidillah bin ‘AbbasUbaidullah bin Abbas: Rumah Terbuka untuk Tamu Setiap HariDari Aban bin ‘Utsman, ia berkata:Seorang laki-laki hendak menyusahkan ‘Ubaidullah bin ‘Abbas. Ia mendatangi para tokoh Quraisy dan berkata, “Ubaidullah mengundang kalian makan siang hari ini.”Mereka pun datang hingga memenuhi rumahnya.‘Ubaidullah berkata, “Ada apa ini?”Maka disampaikan kepadanya apa yang terjadi. Ia pun memerintahkan untuk membeli buah-buahan, memerintahkan sebagian orang untuk memasak dan membuat roti. Buah-buahan dihidangkan kepada mereka, dan sebelum mereka selesai, meja-meja makan pun telah dihidangkan. Mereka pun makan hingga kenyang dan pergi.Lalu ‘Ubaidullah berkata kepada para pengelolanya, “Apakah hidangan seperti ini tersedia bagi kita setiap hari?”Mereka menjawab, “Ya.”Ia berkata, “Kalau begitu, hendaklah mereka makan siang di rumah kita setiap hari.” Perintis Jamuan Publik dalam IslamAl-Mada’ini berkata:Orang pertama yang memberi makan buka puasa kepada tetangganya di dalam Islam adalah ‘Ubaidullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia juga orang pertama yang menggelar hidangan di jalan. Jika makanan keluar dari rumahnya, tidak ada yang kembali lagi. Jika ia tidak menemukan orang yang memakannya, ia tinggalkan makanan itu di jalan agar siapa pun bisa memanfaatkannya.Baca juga: Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Sumber rujukan: Alukah.Net —- Ditulis pada perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Nurul Ashri Deresan, 6 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerita sahabat nabi kisah sahabat nabi sahabat nabi sahabat nabi yang kaya raya

Hukum Jual Voucher Belanja atau Saldo E-Wallet dengan Uang Tunai yang Lebih Murah

Daftar Isi ToggleKonsep voucher dan saldo di fikih muamalahMasalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherPrinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahJual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaJual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaPraktik diskon yang mengandung ketidakpastianNasihat untuk praktik muamalah modernKesimpulanDi era digital, praktik jual beli voucher belanja atau saldo e-wallet dengan tunai di bawah nilai nominalnya semakin marak. Misalnya, seseorang menjual saldo e-wallet Rp100.000 hanya dengan harga Rp95.000, atau voucher belanja seharga Rp200.000 dijual seharga Rp180.000. Transaksi semacam ini sering dianggap “jualan biasa” oleh banyak orang karena ada persetujuan kedua pihak. Namun dari sudut fikih muamalah, apakah jual beli seperti ini sah? Atau justru mengandung unsur yang dilarang syariat?Konsep voucher dan saldo di fikih muamalahDalam fikih kontemporer, voucher belanja atau saldo e-wallet dipahami sebagai barang atau manfaat yang bernilai dan bisa diperdagangkan. Dalam fatwa IslamQA disebutkan bahwa voucher, hadiah, atau gift card adalah produk yang berdiri sendiri, bukan uang dalam arti konvensional, namun hak guna atas barang/jasa tertentu yang diwadahi oleh penerbitnya. Setelah voucher itu dibeli, pemilik boleh menjual atau memberikannya kepada orang lain (seperti menjual barang biasa) selama sesuai persetujuan kedua pihak. [1]Namun perlu dicatat: ini berlaku sebagai jual beli biasa, bukan sebagai penukaran nilai uang dengan nilai uang lebih tinggi atau lebih rendah yang berulang-ulang secara sistematis.Masalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherSalah satu masalah utama dalam voucher atau penukaran diskon yang melibatkan biaya tertentu adalah unsur gharar (ketidakpastian). Dalam transaksi yang melibatkan ketidakjelasan hasil, syariat sangat berhati-hati. Nabi ﷺ bersabda,نهى رسول الله ﷺ عن بيع الغرر“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar.” (HR. Muslim no. 1513)Para ulama kontemporer mencontohkan ini pada fatwa Lajnah Ad-Da’imah bahwa mengeluarkan atau menjual kartu voucher diskon berbayar tidak boleh jika pembeli membayar sejumlah tertentu namun tidak pasti hasilnya atau manfaatnya bagi mereka. Misalnya, membeli diskon tahunan tanpa kepastian benefit yang konkret. Karena pembeli membayar di muka dan belum pasti dirinya mendapat nilai manfaat secara nyata, ini termasuk gharar yang dilarang. [2]Dengan kata lain, sekadar jual saldo e-wallet dengan diskon pun harus dilihat aspek kepastian manfaatnya. Jika tidak jelas apa yang akan ia dapatkan oleh pihak pembeli, atau jika manfaatnya bergantung pada kondisi yang tidak pasti, transaksinya bisa jatuh dalam larangan gharar.Prinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahDalam ushul fikih berlaku kaidah penting,الضرر يزال“Bahaya harus dihilangkan.”الأصل في المعاملات الإباحة ما لم يرد دليل التحريم“Hukum asal dalam muamalah adalah mubah (boleh), selama tidak ada nash yang menetapkan haram.”Akan tetapi, hadis yang melarang gharar dan prinsip maqāṣid syarī‘ah yang mengutamakan keadilan dan kepastian dalam transaksi menempatkan syarat bahwa transaksi harus jelas, tanpa unsur penipuan, ketidakpastian, atau eksploitasi terhadap pihak yang kurang memahami risiko. Jika penjual voucher atau saldo melakukan praktik yang merugikan pembeli karena ketidakjelasan manfaat, hal itu menyalahi maqāṣid syarī‘ah.Jual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaBerdasarkan konteks di atas, ada dua skenario utama:Jual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaJika seseorang menjual voucher atau saldo e-wallet yang ia miliki sendiri, dengan kesepakatan transparan dan tanpa syarat-syarat tersembunyi, maka secara umum jual beli itu sah seperti jual beli barang biasa, selama tidak ada penipuan. Nilai jual ditentukan dengan persetujuan kedua pihak. Ini sejalan dengan prinsip jual beli dalam Islam: saling rida atas harga dan barang. [3]Praktik diskon yang mengandung ketidakpastianNamun, jika voucher atau saldo itu dijual dengan harga diskon yang bergantung pada kondisi tertentu (misalnya bonus, cashback terkait sistem/platform), dan pembeli tidak tahu persis apa yang akan dia dapatkan, maka ada potensi gharar dalam transaksi tersebut. Fatwa ulama menegaskan bahwa kartu diskon berbayar atau semacam promosi yang tidak pasti hasilnya hukumnya tidak boleh karena pembeli membayar tanpa kepastian manfaat. [4]Nasihat untuk praktik muamalah modernDalam konteks muamalah digital dan barter manfaat, kita harus selalu merujuk pada prinsip syariat:Transaksi harus jelas rukun dan syaratnya;Tidak ada unsur penipuan atau ketidakpastian yang signifikan (gharar fahish);Tidak menjerat pihak yang lemah pemahaman pasar atau kondisi ekonomi.Para ulama kontemporer menekankan kehati-hatian dalam transaksi digital yang kompleks, terutama yang melibatkan produk virtual seperti voucher atau saldo digital karena pada banyak kasus, bentuknya bisa mirip jual beli yang sah, tetapi nyawa hukum berubah karena adanya unsur ketidakjelasan manfaat bagi pembeli.KesimpulanPertama: Menjual voucher belanja atau saldo e-wallet milik sendiri itu diperbolehkan secara syariat seperti jual beli barang lain, dengan persetujuan kedua belah pihak. [5]Kedua: Namun, jika transaksi itu memuat ketidakpastian manfaat atau syarat tersembunyi, maka bisa termasuk gharar yang dilarang. [6]Ketiga: Prinsip syariat menegaskan bahwa muamalah harus bersih dari unsur penipuan, ketidakjelasan, dan eksploitasi, demi menjaga keadilan dan kepastian hak setiap pihak.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[2] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[3] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[4] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[5] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[6] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com

Hukum Jual Voucher Belanja atau Saldo E-Wallet dengan Uang Tunai yang Lebih Murah

Daftar Isi ToggleKonsep voucher dan saldo di fikih muamalahMasalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherPrinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahJual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaJual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaPraktik diskon yang mengandung ketidakpastianNasihat untuk praktik muamalah modernKesimpulanDi era digital, praktik jual beli voucher belanja atau saldo e-wallet dengan tunai di bawah nilai nominalnya semakin marak. Misalnya, seseorang menjual saldo e-wallet Rp100.000 hanya dengan harga Rp95.000, atau voucher belanja seharga Rp200.000 dijual seharga Rp180.000. Transaksi semacam ini sering dianggap “jualan biasa” oleh banyak orang karena ada persetujuan kedua pihak. Namun dari sudut fikih muamalah, apakah jual beli seperti ini sah? Atau justru mengandung unsur yang dilarang syariat?Konsep voucher dan saldo di fikih muamalahDalam fikih kontemporer, voucher belanja atau saldo e-wallet dipahami sebagai barang atau manfaat yang bernilai dan bisa diperdagangkan. Dalam fatwa IslamQA disebutkan bahwa voucher, hadiah, atau gift card adalah produk yang berdiri sendiri, bukan uang dalam arti konvensional, namun hak guna atas barang/jasa tertentu yang diwadahi oleh penerbitnya. Setelah voucher itu dibeli, pemilik boleh menjual atau memberikannya kepada orang lain (seperti menjual barang biasa) selama sesuai persetujuan kedua pihak. [1]Namun perlu dicatat: ini berlaku sebagai jual beli biasa, bukan sebagai penukaran nilai uang dengan nilai uang lebih tinggi atau lebih rendah yang berulang-ulang secara sistematis.Masalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherSalah satu masalah utama dalam voucher atau penukaran diskon yang melibatkan biaya tertentu adalah unsur gharar (ketidakpastian). Dalam transaksi yang melibatkan ketidakjelasan hasil, syariat sangat berhati-hati. Nabi ﷺ bersabda,نهى رسول الله ﷺ عن بيع الغرر“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar.” (HR. Muslim no. 1513)Para ulama kontemporer mencontohkan ini pada fatwa Lajnah Ad-Da’imah bahwa mengeluarkan atau menjual kartu voucher diskon berbayar tidak boleh jika pembeli membayar sejumlah tertentu namun tidak pasti hasilnya atau manfaatnya bagi mereka. Misalnya, membeli diskon tahunan tanpa kepastian benefit yang konkret. Karena pembeli membayar di muka dan belum pasti dirinya mendapat nilai manfaat secara nyata, ini termasuk gharar yang dilarang. [2]Dengan kata lain, sekadar jual saldo e-wallet dengan diskon pun harus dilihat aspek kepastian manfaatnya. Jika tidak jelas apa yang akan ia dapatkan oleh pihak pembeli, atau jika manfaatnya bergantung pada kondisi yang tidak pasti, transaksinya bisa jatuh dalam larangan gharar.Prinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahDalam ushul fikih berlaku kaidah penting,الضرر يزال“Bahaya harus dihilangkan.”الأصل في المعاملات الإباحة ما لم يرد دليل التحريم“Hukum asal dalam muamalah adalah mubah (boleh), selama tidak ada nash yang menetapkan haram.”Akan tetapi, hadis yang melarang gharar dan prinsip maqāṣid syarī‘ah yang mengutamakan keadilan dan kepastian dalam transaksi menempatkan syarat bahwa transaksi harus jelas, tanpa unsur penipuan, ketidakpastian, atau eksploitasi terhadap pihak yang kurang memahami risiko. Jika penjual voucher atau saldo melakukan praktik yang merugikan pembeli karena ketidakjelasan manfaat, hal itu menyalahi maqāṣid syarī‘ah.Jual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaBerdasarkan konteks di atas, ada dua skenario utama:Jual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaJika seseorang menjual voucher atau saldo e-wallet yang ia miliki sendiri, dengan kesepakatan transparan dan tanpa syarat-syarat tersembunyi, maka secara umum jual beli itu sah seperti jual beli barang biasa, selama tidak ada penipuan. Nilai jual ditentukan dengan persetujuan kedua pihak. Ini sejalan dengan prinsip jual beli dalam Islam: saling rida atas harga dan barang. [3]Praktik diskon yang mengandung ketidakpastianNamun, jika voucher atau saldo itu dijual dengan harga diskon yang bergantung pada kondisi tertentu (misalnya bonus, cashback terkait sistem/platform), dan pembeli tidak tahu persis apa yang akan dia dapatkan, maka ada potensi gharar dalam transaksi tersebut. Fatwa ulama menegaskan bahwa kartu diskon berbayar atau semacam promosi yang tidak pasti hasilnya hukumnya tidak boleh karena pembeli membayar tanpa kepastian manfaat. [4]Nasihat untuk praktik muamalah modernDalam konteks muamalah digital dan barter manfaat, kita harus selalu merujuk pada prinsip syariat:Transaksi harus jelas rukun dan syaratnya;Tidak ada unsur penipuan atau ketidakpastian yang signifikan (gharar fahish);Tidak menjerat pihak yang lemah pemahaman pasar atau kondisi ekonomi.Para ulama kontemporer menekankan kehati-hatian dalam transaksi digital yang kompleks, terutama yang melibatkan produk virtual seperti voucher atau saldo digital karena pada banyak kasus, bentuknya bisa mirip jual beli yang sah, tetapi nyawa hukum berubah karena adanya unsur ketidakjelasan manfaat bagi pembeli.KesimpulanPertama: Menjual voucher belanja atau saldo e-wallet milik sendiri itu diperbolehkan secara syariat seperti jual beli barang lain, dengan persetujuan kedua belah pihak. [5]Kedua: Namun, jika transaksi itu memuat ketidakpastian manfaat atau syarat tersembunyi, maka bisa termasuk gharar yang dilarang. [6]Ketiga: Prinsip syariat menegaskan bahwa muamalah harus bersih dari unsur penipuan, ketidakjelasan, dan eksploitasi, demi menjaga keadilan dan kepastian hak setiap pihak.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[2] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[3] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[4] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[5] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[6] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com
Daftar Isi ToggleKonsep voucher dan saldo di fikih muamalahMasalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherPrinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahJual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaJual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaPraktik diskon yang mengandung ketidakpastianNasihat untuk praktik muamalah modernKesimpulanDi era digital, praktik jual beli voucher belanja atau saldo e-wallet dengan tunai di bawah nilai nominalnya semakin marak. Misalnya, seseorang menjual saldo e-wallet Rp100.000 hanya dengan harga Rp95.000, atau voucher belanja seharga Rp200.000 dijual seharga Rp180.000. Transaksi semacam ini sering dianggap “jualan biasa” oleh banyak orang karena ada persetujuan kedua pihak. Namun dari sudut fikih muamalah, apakah jual beli seperti ini sah? Atau justru mengandung unsur yang dilarang syariat?Konsep voucher dan saldo di fikih muamalahDalam fikih kontemporer, voucher belanja atau saldo e-wallet dipahami sebagai barang atau manfaat yang bernilai dan bisa diperdagangkan. Dalam fatwa IslamQA disebutkan bahwa voucher, hadiah, atau gift card adalah produk yang berdiri sendiri, bukan uang dalam arti konvensional, namun hak guna atas barang/jasa tertentu yang diwadahi oleh penerbitnya. Setelah voucher itu dibeli, pemilik boleh menjual atau memberikannya kepada orang lain (seperti menjual barang biasa) selama sesuai persetujuan kedua pihak. [1]Namun perlu dicatat: ini berlaku sebagai jual beli biasa, bukan sebagai penukaran nilai uang dengan nilai uang lebih tinggi atau lebih rendah yang berulang-ulang secara sistematis.Masalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherSalah satu masalah utama dalam voucher atau penukaran diskon yang melibatkan biaya tertentu adalah unsur gharar (ketidakpastian). Dalam transaksi yang melibatkan ketidakjelasan hasil, syariat sangat berhati-hati. Nabi ﷺ bersabda,نهى رسول الله ﷺ عن بيع الغرر“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar.” (HR. Muslim no. 1513)Para ulama kontemporer mencontohkan ini pada fatwa Lajnah Ad-Da’imah bahwa mengeluarkan atau menjual kartu voucher diskon berbayar tidak boleh jika pembeli membayar sejumlah tertentu namun tidak pasti hasilnya atau manfaatnya bagi mereka. Misalnya, membeli diskon tahunan tanpa kepastian benefit yang konkret. Karena pembeli membayar di muka dan belum pasti dirinya mendapat nilai manfaat secara nyata, ini termasuk gharar yang dilarang. [2]Dengan kata lain, sekadar jual saldo e-wallet dengan diskon pun harus dilihat aspek kepastian manfaatnya. Jika tidak jelas apa yang akan ia dapatkan oleh pihak pembeli, atau jika manfaatnya bergantung pada kondisi yang tidak pasti, transaksinya bisa jatuh dalam larangan gharar.Prinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahDalam ushul fikih berlaku kaidah penting,الضرر يزال“Bahaya harus dihilangkan.”الأصل في المعاملات الإباحة ما لم يرد دليل التحريم“Hukum asal dalam muamalah adalah mubah (boleh), selama tidak ada nash yang menetapkan haram.”Akan tetapi, hadis yang melarang gharar dan prinsip maqāṣid syarī‘ah yang mengutamakan keadilan dan kepastian dalam transaksi menempatkan syarat bahwa transaksi harus jelas, tanpa unsur penipuan, ketidakpastian, atau eksploitasi terhadap pihak yang kurang memahami risiko. Jika penjual voucher atau saldo melakukan praktik yang merugikan pembeli karena ketidakjelasan manfaat, hal itu menyalahi maqāṣid syarī‘ah.Jual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaBerdasarkan konteks di atas, ada dua skenario utama:Jual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaJika seseorang menjual voucher atau saldo e-wallet yang ia miliki sendiri, dengan kesepakatan transparan dan tanpa syarat-syarat tersembunyi, maka secara umum jual beli itu sah seperti jual beli barang biasa, selama tidak ada penipuan. Nilai jual ditentukan dengan persetujuan kedua pihak. Ini sejalan dengan prinsip jual beli dalam Islam: saling rida atas harga dan barang. [3]Praktik diskon yang mengandung ketidakpastianNamun, jika voucher atau saldo itu dijual dengan harga diskon yang bergantung pada kondisi tertentu (misalnya bonus, cashback terkait sistem/platform), dan pembeli tidak tahu persis apa yang akan dia dapatkan, maka ada potensi gharar dalam transaksi tersebut. Fatwa ulama menegaskan bahwa kartu diskon berbayar atau semacam promosi yang tidak pasti hasilnya hukumnya tidak boleh karena pembeli membayar tanpa kepastian manfaat. [4]Nasihat untuk praktik muamalah modernDalam konteks muamalah digital dan barter manfaat, kita harus selalu merujuk pada prinsip syariat:Transaksi harus jelas rukun dan syaratnya;Tidak ada unsur penipuan atau ketidakpastian yang signifikan (gharar fahish);Tidak menjerat pihak yang lemah pemahaman pasar atau kondisi ekonomi.Para ulama kontemporer menekankan kehati-hatian dalam transaksi digital yang kompleks, terutama yang melibatkan produk virtual seperti voucher atau saldo digital karena pada banyak kasus, bentuknya bisa mirip jual beli yang sah, tetapi nyawa hukum berubah karena adanya unsur ketidakjelasan manfaat bagi pembeli.KesimpulanPertama: Menjual voucher belanja atau saldo e-wallet milik sendiri itu diperbolehkan secara syariat seperti jual beli barang lain, dengan persetujuan kedua belah pihak. [5]Kedua: Namun, jika transaksi itu memuat ketidakpastian manfaat atau syarat tersembunyi, maka bisa termasuk gharar yang dilarang. [6]Ketiga: Prinsip syariat menegaskan bahwa muamalah harus bersih dari unsur penipuan, ketidakjelasan, dan eksploitasi, demi menjaga keadilan dan kepastian hak setiap pihak.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[2] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[3] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[4] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[5] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[6] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com


Daftar Isi ToggleKonsep voucher dan saldo di fikih muamalahMasalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherPrinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahJual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaJual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaPraktik diskon yang mengandung ketidakpastianNasihat untuk praktik muamalah modernKesimpulanDi era digital, praktik jual beli voucher belanja atau saldo e-wallet dengan tunai di bawah nilai nominalnya semakin marak. Misalnya, seseorang menjual saldo e-wallet Rp100.000 hanya dengan harga Rp95.000, atau voucher belanja seharga Rp200.000 dijual seharga Rp180.000. Transaksi semacam ini sering dianggap “jualan biasa” oleh banyak orang karena ada persetujuan kedua pihak. Namun dari sudut fikih muamalah, apakah jual beli seperti ini sah? Atau justru mengandung unsur yang dilarang syariat?Konsep voucher dan saldo di fikih muamalahDalam fikih kontemporer, voucher belanja atau saldo e-wallet dipahami sebagai barang atau manfaat yang bernilai dan bisa diperdagangkan. Dalam fatwa IslamQA disebutkan bahwa voucher, hadiah, atau gift card adalah produk yang berdiri sendiri, bukan uang dalam arti konvensional, namun hak guna atas barang/jasa tertentu yang diwadahi oleh penerbitnya. Setelah voucher itu dibeli, pemilik boleh menjual atau memberikannya kepada orang lain (seperti menjual barang biasa) selama sesuai persetujuan kedua pihak. [1]Namun perlu dicatat: ini berlaku sebagai jual beli biasa, bukan sebagai penukaran nilai uang dengan nilai uang lebih tinggi atau lebih rendah yang berulang-ulang secara sistematis.Masalah ketidakjelasan (gharar) dalam diskon voucherSalah satu masalah utama dalam voucher atau penukaran diskon yang melibatkan biaya tertentu adalah unsur gharar (ketidakpastian). Dalam transaksi yang melibatkan ketidakjelasan hasil, syariat sangat berhati-hati. Nabi ﷺ bersabda,نهى رسول الله ﷺ عن بيع الغرر“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar.” (HR. Muslim no. 1513)Para ulama kontemporer mencontohkan ini pada fatwa Lajnah Ad-Da’imah bahwa mengeluarkan atau menjual kartu voucher diskon berbayar tidak boleh jika pembeli membayar sejumlah tertentu namun tidak pasti hasilnya atau manfaatnya bagi mereka. Misalnya, membeli diskon tahunan tanpa kepastian benefit yang konkret. Karena pembeli membayar di muka dan belum pasti dirinya mendapat nilai manfaat secara nyata, ini termasuk gharar yang dilarang. [2]Dengan kata lain, sekadar jual saldo e-wallet dengan diskon pun harus dilihat aspek kepastian manfaatnya. Jika tidak jelas apa yang akan ia dapatkan oleh pihak pembeli, atau jika manfaatnya bergantung pada kondisi yang tidak pasti, transaksinya bisa jatuh dalam larangan gharar.Prinsip fikih: Ijmak ulama dan maqāṣid asy-syarī‘ahDalam ushul fikih berlaku kaidah penting,الضرر يزال“Bahaya harus dihilangkan.”الأصل في المعاملات الإباحة ما لم يرد دليل التحريم“Hukum asal dalam muamalah adalah mubah (boleh), selama tidak ada nash yang menetapkan haram.”Akan tetapi, hadis yang melarang gharar dan prinsip maqāṣid syarī‘ah yang mengutamakan keadilan dan kepastian dalam transaksi menempatkan syarat bahwa transaksi harus jelas, tanpa unsur penipuan, ketidakpastian, atau eksploitasi terhadap pihak yang kurang memahami risiko. Jika penjual voucher atau saldo melakukan praktik yang merugikan pembeli karena ketidakjelasan manfaat, hal itu menyalahi maqāṣid syarī‘ah.Jual voucher lebih murah: Aspek halal dan tidaknyaBerdasarkan konteks di atas, ada dua skenario utama:Jual voucher (saldo) yang jelas dan pasti nilainyaJika seseorang menjual voucher atau saldo e-wallet yang ia miliki sendiri, dengan kesepakatan transparan dan tanpa syarat-syarat tersembunyi, maka secara umum jual beli itu sah seperti jual beli barang biasa, selama tidak ada penipuan. Nilai jual ditentukan dengan persetujuan kedua pihak. Ini sejalan dengan prinsip jual beli dalam Islam: saling rida atas harga dan barang. [3]Praktik diskon yang mengandung ketidakpastianNamun, jika voucher atau saldo itu dijual dengan harga diskon yang bergantung pada kondisi tertentu (misalnya bonus, cashback terkait sistem/platform), dan pembeli tidak tahu persis apa yang akan dia dapatkan, maka ada potensi gharar dalam transaksi tersebut. Fatwa ulama menegaskan bahwa kartu diskon berbayar atau semacam promosi yang tidak pasti hasilnya hukumnya tidak boleh karena pembeli membayar tanpa kepastian manfaat. [4]Nasihat untuk praktik muamalah modernDalam konteks muamalah digital dan barter manfaat, kita harus selalu merujuk pada prinsip syariat:Transaksi harus jelas rukun dan syaratnya;Tidak ada unsur penipuan atau ketidakpastian yang signifikan (gharar fahish);Tidak menjerat pihak yang lemah pemahaman pasar atau kondisi ekonomi.Para ulama kontemporer menekankan kehati-hatian dalam transaksi digital yang kompleks, terutama yang melibatkan produk virtual seperti voucher atau saldo digital karena pada banyak kasus, bentuknya bisa mirip jual beli yang sah, tetapi nyawa hukum berubah karena adanya unsur ketidakjelasan manfaat bagi pembeli.KesimpulanPertama: Menjual voucher belanja atau saldo e-wallet milik sendiri itu diperbolehkan secara syariat seperti jual beli barang lain, dengan persetujuan kedua belah pihak. [5]Kedua: Namun, jika transaksi itu memuat ketidakpastian manfaat atau syarat tersembunyi, maka bisa termasuk gharar yang dilarang. [6]Ketiga: Prinsip syariat menegaskan bahwa muamalah harus bersih dari unsur penipuan, ketidakjelasan, dan eksploitasi, demi menjaga keadilan dan kepastian hak setiap pihak.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[2] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[3] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[4] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com[5] https://islamqa.org/hanafi/islamicportal/118036/purchasing-gift-vouchers-cheaper-than-their-value/?utm_source=chatgpt.com[6] https://islamqa.info/en/answers/121759/are-discount-coupons-permissible-in-islam?utm_source=chatgpt.com

Menunda Shalat Sengaja: Dosa Besar yang Sering Diremehkan – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan kedua tentang orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis. Menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis, termasuk dosa besar. Allah Ta’ala telah mengancam orang yang melakukannya melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah mereka menunda shalat hingga waktunya habis. Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalat, akan tetapi mereka lalai dari shalatnya, yaitu dengan menundanya hingga keluar dari waktunya. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengancam mereka dengan al-wail (kecelakaan). Menunda shalat hingga habis waktunya dengan sengaja, menurut para ulama, termasuk dosa besar. Karena itu, siapa pun yang terjatuh dalam perbuatan ini wajib bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya ia punya perhatian besar pada shalat, pasti tidak akan menundanya hingga waktunya habis. Sebenarnya ia hanya perlu meningkatkan perhatiannya saja. Meningkatkan perhatiannya terhadap shalat. Jika perhatian terhadap shalat ditingkatkan, maka ia tidak akan lagi menundanya. Terlebih lagi, waktu-waktu shalat sebenarnya cukup panjang. Waktu Shalat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbit matahari, dan itu tidak kurang dari satu jam. Waktu Shalat Zhuhur juga lapang, bahkan bisa mencapai tiga jam atau lebih, yakni sejak matahari tergelincir ke barat hingga masuk waktu ashar. Adapun Shalat Ashar, waktu utamanya hingga matahari mulai menguning, dan waktu daruratnya hingga matahari terbenam. Seluruh rentang itu merupakan waktu Shalat Ashar. Shalat Maghrib juga waktunya tidak kurang dari satu jam. Sedangkan shalat Isya waktunya hingga pertengahan malam. Artinya, waktu-waktu shalat pada dasarnya cukup longgar. Lalu mengapa telat seperti ini? Mengapa ditunda hingga waktunya habis? Ini menunjukkan lemahnya perhatian orang itu. Kaum laki-laki wajib mendirikan shalat berjamaah di masjid. Adapun kaum perempuan, hendaknya melaksanakan shalat pada waktunya. Tidak boleh diakhirkan hingga keluar dari waktunya. Apabila seseorang ingin menjaga shalatnya, maka ia harus punya perhatian terhadapnya. Faktor pertama untuk menjaga pelaksanaan shalat, tentu perhatian yang besar terhadapnya. Adapun jika shalat hanya selingan dan perhatian terakhirnya, maka penundaan itulah yang akan terjadi. Apabila shalat tidak menjadi perhatian terbesarnya, ia pasti akan menunda-nundanya. Hari ini ditunda, hari berikutnya terasa berat, dan pada hari lainnya muncul berbagai alasan. Namun, apabila tingkat perhatiannya terhadap shalat benar-benar tinggi, tentu ia tidak akan menunda-nundanya. “Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45). ===== سُؤَالُهَا الثَّانِي تَسْأَلُ عَمَّنْ يُؤَخِّرُ الصَّلَوَاتِ عَمْدًا إِلَى خُرُوجِ وَقْتِهَا تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ كَمَا جَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَسَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوَّلًا بِالْمُصَلِّيْنَ وَصَفَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِالْمُصَلِّيْنَ هُمْ يُصَلُّوْنَ وَلَكِنَّهُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَتَوَعَّدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَيْلِ وَتَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا عَمْدًا مَعْدُودٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْكَبَائِرِ فَعَلَى مَنْ يَقَعُ مِنْهُ ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ إِذَا اهْتَمَّ بِالصَّلَاةِ لَنْ يُؤَخِّرَ عَنْ وَقْتِهَا إِذًا بَسْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ عِنْدَهُ فَقَطْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اهْتَمَّ بِهَا فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا خَاصَّةً أَنَّ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ وَاسِعَةٌ يَعْنِي وَقْتُ الْفَجْرِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الظُّهْرُ مُتَّسِعٌ قَدْ يَصِلُ إِلَى ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَوْ تَزِيدُ يَعْنِي مِنَ الزَّوَالِ إِلَى أَذَانِ الْعَصْرِ الْعَصْرُ الْوَقْتُ الِاخْتِيَارِيُّ اصْفِرَارُ الشَّمْسِ وَالضَّرُورَةُ لِغُرُوبِ الشَّمْسِ هَذَا وَقْتُ الْعَصْرِ كُلُّهَا الْمَغْرِبُ كَذَلِكَ يَعْنِي يَصِلُ لِمَا لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الْعِشَاءُ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ يَعْنِي أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ مُتَّسِعَةٌ فَلِمَاذَا هَذَا التَّأْخِيرُ؟ لِمَاذَا يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ هَذَا يَدُلُّ عَلَى قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ الرِّجَالُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَّا النِّسَاءُ فَعَلَيْهِنَّ أَنْ يُصَلِّينَ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَهْتَمَّ بِهَا أَوَّلُ سَبَبٍ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّلَوَاتِ الِاهْتِمَامُ بِهَا أَمَّا إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْهَامِشِ هِيَ آخِرُ اهْتِمَامَاتِهِ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ مِنْهُ التَّأْخِيرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ الصَّلَاةُ هِيَ أَكْبَرُ هَمِّهِ سَيُؤَخِّرُهَا يَوْمًا يُؤَخِّرُهَا وَيَوْمًا يَتَثَاقَلُ فِيهَا وَيَوْمًا كَذَا لَكِنْ لَوْ كَانَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ كَبِيرٌ فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا أَبَدًا وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Menunda Shalat Sengaja: Dosa Besar yang Sering Diremehkan – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan kedua tentang orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis. Menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis, termasuk dosa besar. Allah Ta’ala telah mengancam orang yang melakukannya melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah mereka menunda shalat hingga waktunya habis. Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalat, akan tetapi mereka lalai dari shalatnya, yaitu dengan menundanya hingga keluar dari waktunya. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengancam mereka dengan al-wail (kecelakaan). Menunda shalat hingga habis waktunya dengan sengaja, menurut para ulama, termasuk dosa besar. Karena itu, siapa pun yang terjatuh dalam perbuatan ini wajib bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya ia punya perhatian besar pada shalat, pasti tidak akan menundanya hingga waktunya habis. Sebenarnya ia hanya perlu meningkatkan perhatiannya saja. Meningkatkan perhatiannya terhadap shalat. Jika perhatian terhadap shalat ditingkatkan, maka ia tidak akan lagi menundanya. Terlebih lagi, waktu-waktu shalat sebenarnya cukup panjang. Waktu Shalat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbit matahari, dan itu tidak kurang dari satu jam. Waktu Shalat Zhuhur juga lapang, bahkan bisa mencapai tiga jam atau lebih, yakni sejak matahari tergelincir ke barat hingga masuk waktu ashar. Adapun Shalat Ashar, waktu utamanya hingga matahari mulai menguning, dan waktu daruratnya hingga matahari terbenam. Seluruh rentang itu merupakan waktu Shalat Ashar. Shalat Maghrib juga waktunya tidak kurang dari satu jam. Sedangkan shalat Isya waktunya hingga pertengahan malam. Artinya, waktu-waktu shalat pada dasarnya cukup longgar. Lalu mengapa telat seperti ini? Mengapa ditunda hingga waktunya habis? Ini menunjukkan lemahnya perhatian orang itu. Kaum laki-laki wajib mendirikan shalat berjamaah di masjid. Adapun kaum perempuan, hendaknya melaksanakan shalat pada waktunya. Tidak boleh diakhirkan hingga keluar dari waktunya. Apabila seseorang ingin menjaga shalatnya, maka ia harus punya perhatian terhadapnya. Faktor pertama untuk menjaga pelaksanaan shalat, tentu perhatian yang besar terhadapnya. Adapun jika shalat hanya selingan dan perhatian terakhirnya, maka penundaan itulah yang akan terjadi. Apabila shalat tidak menjadi perhatian terbesarnya, ia pasti akan menunda-nundanya. Hari ini ditunda, hari berikutnya terasa berat, dan pada hari lainnya muncul berbagai alasan. Namun, apabila tingkat perhatiannya terhadap shalat benar-benar tinggi, tentu ia tidak akan menunda-nundanya. “Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45). ===== سُؤَالُهَا الثَّانِي تَسْأَلُ عَمَّنْ يُؤَخِّرُ الصَّلَوَاتِ عَمْدًا إِلَى خُرُوجِ وَقْتِهَا تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ كَمَا جَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَسَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوَّلًا بِالْمُصَلِّيْنَ وَصَفَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِالْمُصَلِّيْنَ هُمْ يُصَلُّوْنَ وَلَكِنَّهُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَتَوَعَّدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَيْلِ وَتَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا عَمْدًا مَعْدُودٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْكَبَائِرِ فَعَلَى مَنْ يَقَعُ مِنْهُ ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ إِذَا اهْتَمَّ بِالصَّلَاةِ لَنْ يُؤَخِّرَ عَنْ وَقْتِهَا إِذًا بَسْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ عِنْدَهُ فَقَطْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اهْتَمَّ بِهَا فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا خَاصَّةً أَنَّ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ وَاسِعَةٌ يَعْنِي وَقْتُ الْفَجْرِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الظُّهْرُ مُتَّسِعٌ قَدْ يَصِلُ إِلَى ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَوْ تَزِيدُ يَعْنِي مِنَ الزَّوَالِ إِلَى أَذَانِ الْعَصْرِ الْعَصْرُ الْوَقْتُ الِاخْتِيَارِيُّ اصْفِرَارُ الشَّمْسِ وَالضَّرُورَةُ لِغُرُوبِ الشَّمْسِ هَذَا وَقْتُ الْعَصْرِ كُلُّهَا الْمَغْرِبُ كَذَلِكَ يَعْنِي يَصِلُ لِمَا لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الْعِشَاءُ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ يَعْنِي أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ مُتَّسِعَةٌ فَلِمَاذَا هَذَا التَّأْخِيرُ؟ لِمَاذَا يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ هَذَا يَدُلُّ عَلَى قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ الرِّجَالُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَّا النِّسَاءُ فَعَلَيْهِنَّ أَنْ يُصَلِّينَ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَهْتَمَّ بِهَا أَوَّلُ سَبَبٍ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّلَوَاتِ الِاهْتِمَامُ بِهَا أَمَّا إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْهَامِشِ هِيَ آخِرُ اهْتِمَامَاتِهِ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ مِنْهُ التَّأْخِيرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ الصَّلَاةُ هِيَ أَكْبَرُ هَمِّهِ سَيُؤَخِّرُهَا يَوْمًا يُؤَخِّرُهَا وَيَوْمًا يَتَثَاقَلُ فِيهَا وَيَوْمًا كَذَا لَكِنْ لَوْ كَانَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ كَبِيرٌ فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا أَبَدًا وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Pertanyaan kedua tentang orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis. Menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis, termasuk dosa besar. Allah Ta’ala telah mengancam orang yang melakukannya melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah mereka menunda shalat hingga waktunya habis. Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalat, akan tetapi mereka lalai dari shalatnya, yaitu dengan menundanya hingga keluar dari waktunya. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengancam mereka dengan al-wail (kecelakaan). Menunda shalat hingga habis waktunya dengan sengaja, menurut para ulama, termasuk dosa besar. Karena itu, siapa pun yang terjatuh dalam perbuatan ini wajib bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya ia punya perhatian besar pada shalat, pasti tidak akan menundanya hingga waktunya habis. Sebenarnya ia hanya perlu meningkatkan perhatiannya saja. Meningkatkan perhatiannya terhadap shalat. Jika perhatian terhadap shalat ditingkatkan, maka ia tidak akan lagi menundanya. Terlebih lagi, waktu-waktu shalat sebenarnya cukup panjang. Waktu Shalat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbit matahari, dan itu tidak kurang dari satu jam. Waktu Shalat Zhuhur juga lapang, bahkan bisa mencapai tiga jam atau lebih, yakni sejak matahari tergelincir ke barat hingga masuk waktu ashar. Adapun Shalat Ashar, waktu utamanya hingga matahari mulai menguning, dan waktu daruratnya hingga matahari terbenam. Seluruh rentang itu merupakan waktu Shalat Ashar. Shalat Maghrib juga waktunya tidak kurang dari satu jam. Sedangkan shalat Isya waktunya hingga pertengahan malam. Artinya, waktu-waktu shalat pada dasarnya cukup longgar. Lalu mengapa telat seperti ini? Mengapa ditunda hingga waktunya habis? Ini menunjukkan lemahnya perhatian orang itu. Kaum laki-laki wajib mendirikan shalat berjamaah di masjid. Adapun kaum perempuan, hendaknya melaksanakan shalat pada waktunya. Tidak boleh diakhirkan hingga keluar dari waktunya. Apabila seseorang ingin menjaga shalatnya, maka ia harus punya perhatian terhadapnya. Faktor pertama untuk menjaga pelaksanaan shalat, tentu perhatian yang besar terhadapnya. Adapun jika shalat hanya selingan dan perhatian terakhirnya, maka penundaan itulah yang akan terjadi. Apabila shalat tidak menjadi perhatian terbesarnya, ia pasti akan menunda-nundanya. Hari ini ditunda, hari berikutnya terasa berat, dan pada hari lainnya muncul berbagai alasan. Namun, apabila tingkat perhatiannya terhadap shalat benar-benar tinggi, tentu ia tidak akan menunda-nundanya. “Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45). ===== سُؤَالُهَا الثَّانِي تَسْأَلُ عَمَّنْ يُؤَخِّرُ الصَّلَوَاتِ عَمْدًا إِلَى خُرُوجِ وَقْتِهَا تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ كَمَا جَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَسَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوَّلًا بِالْمُصَلِّيْنَ وَصَفَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِالْمُصَلِّيْنَ هُمْ يُصَلُّوْنَ وَلَكِنَّهُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَتَوَعَّدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَيْلِ وَتَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا عَمْدًا مَعْدُودٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْكَبَائِرِ فَعَلَى مَنْ يَقَعُ مِنْهُ ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ إِذَا اهْتَمَّ بِالصَّلَاةِ لَنْ يُؤَخِّرَ عَنْ وَقْتِهَا إِذًا بَسْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ عِنْدَهُ فَقَطْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اهْتَمَّ بِهَا فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا خَاصَّةً أَنَّ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ وَاسِعَةٌ يَعْنِي وَقْتُ الْفَجْرِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الظُّهْرُ مُتَّسِعٌ قَدْ يَصِلُ إِلَى ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَوْ تَزِيدُ يَعْنِي مِنَ الزَّوَالِ إِلَى أَذَانِ الْعَصْرِ الْعَصْرُ الْوَقْتُ الِاخْتِيَارِيُّ اصْفِرَارُ الشَّمْسِ وَالضَّرُورَةُ لِغُرُوبِ الشَّمْسِ هَذَا وَقْتُ الْعَصْرِ كُلُّهَا الْمَغْرِبُ كَذَلِكَ يَعْنِي يَصِلُ لِمَا لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الْعِشَاءُ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ يَعْنِي أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ مُتَّسِعَةٌ فَلِمَاذَا هَذَا التَّأْخِيرُ؟ لِمَاذَا يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ هَذَا يَدُلُّ عَلَى قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ الرِّجَالُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَّا النِّسَاءُ فَعَلَيْهِنَّ أَنْ يُصَلِّينَ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَهْتَمَّ بِهَا أَوَّلُ سَبَبٍ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّلَوَاتِ الِاهْتِمَامُ بِهَا أَمَّا إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْهَامِشِ هِيَ آخِرُ اهْتِمَامَاتِهِ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ مِنْهُ التَّأْخِيرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ الصَّلَاةُ هِيَ أَكْبَرُ هَمِّهِ سَيُؤَخِّرُهَا يَوْمًا يُؤَخِّرُهَا وَيَوْمًا يَتَثَاقَلُ فِيهَا وَيَوْمًا كَذَا لَكِنْ لَوْ كَانَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ كَبِيرٌ فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا أَبَدًا وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ


Pertanyaan kedua tentang orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis. Menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis, termasuk dosa besar. Allah Ta’ala telah mengancam orang yang melakukannya melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah mereka menunda shalat hingga waktunya habis. Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalat, akan tetapi mereka lalai dari shalatnya, yaitu dengan menundanya hingga keluar dari waktunya. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengancam mereka dengan al-wail (kecelakaan). Menunda shalat hingga habis waktunya dengan sengaja, menurut para ulama, termasuk dosa besar. Karena itu, siapa pun yang terjatuh dalam perbuatan ini wajib bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya ia punya perhatian besar pada shalat, pasti tidak akan menundanya hingga waktunya habis. Sebenarnya ia hanya perlu meningkatkan perhatiannya saja. Meningkatkan perhatiannya terhadap shalat. Jika perhatian terhadap shalat ditingkatkan, maka ia tidak akan lagi menundanya. Terlebih lagi, waktu-waktu shalat sebenarnya cukup panjang. Waktu Shalat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbit matahari, dan itu tidak kurang dari satu jam. Waktu Shalat Zhuhur juga lapang, bahkan bisa mencapai tiga jam atau lebih, yakni sejak matahari tergelincir ke barat hingga masuk waktu ashar. Adapun Shalat Ashar, waktu utamanya hingga matahari mulai menguning, dan waktu daruratnya hingga matahari terbenam. Seluruh rentang itu merupakan waktu Shalat Ashar. Shalat Maghrib juga waktunya tidak kurang dari satu jam. Sedangkan shalat Isya waktunya hingga pertengahan malam. Artinya, waktu-waktu shalat pada dasarnya cukup longgar. Lalu mengapa telat seperti ini? Mengapa ditunda hingga waktunya habis? Ini menunjukkan lemahnya perhatian orang itu. Kaum laki-laki wajib mendirikan shalat berjamaah di masjid. Adapun kaum perempuan, hendaknya melaksanakan shalat pada waktunya. Tidak boleh diakhirkan hingga keluar dari waktunya. Apabila seseorang ingin menjaga shalatnya, maka ia harus punya perhatian terhadapnya. Faktor pertama untuk menjaga pelaksanaan shalat, tentu perhatian yang besar terhadapnya. Adapun jika shalat hanya selingan dan perhatian terakhirnya, maka penundaan itulah yang akan terjadi. Apabila shalat tidak menjadi perhatian terbesarnya, ia pasti akan menunda-nundanya. Hari ini ditunda, hari berikutnya terasa berat, dan pada hari lainnya muncul berbagai alasan. Namun, apabila tingkat perhatiannya terhadap shalat benar-benar tinggi, tentu ia tidak akan menunda-nundanya. “Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45). ===== سُؤَالُهَا الثَّانِي تَسْأَلُ عَمَّنْ يُؤَخِّرُ الصَّلَوَاتِ عَمْدًا إِلَى خُرُوجِ وَقْتِهَا تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ كَمَا جَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَسَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوَّلًا بِالْمُصَلِّيْنَ وَصَفَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِالْمُصَلِّيْنَ هُمْ يُصَلُّوْنَ وَلَكِنَّهُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَتَوَعَّدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَيْلِ وَتَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا عَمْدًا مَعْدُودٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْكَبَائِرِ فَعَلَى مَنْ يَقَعُ مِنْهُ ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ إِذَا اهْتَمَّ بِالصَّلَاةِ لَنْ يُؤَخِّرَ عَنْ وَقْتِهَا إِذًا بَسْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ عِنْدَهُ فَقَطْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اهْتَمَّ بِهَا فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا خَاصَّةً أَنَّ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ وَاسِعَةٌ يَعْنِي وَقْتُ الْفَجْرِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الظُّهْرُ مُتَّسِعٌ قَدْ يَصِلُ إِلَى ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَوْ تَزِيدُ يَعْنِي مِنَ الزَّوَالِ إِلَى أَذَانِ الْعَصْرِ الْعَصْرُ الْوَقْتُ الِاخْتِيَارِيُّ اصْفِرَارُ الشَّمْسِ وَالضَّرُورَةُ لِغُرُوبِ الشَّمْسِ هَذَا وَقْتُ الْعَصْرِ كُلُّهَا الْمَغْرِبُ كَذَلِكَ يَعْنِي يَصِلُ لِمَا لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الْعِشَاءُ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ يَعْنِي أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ مُتَّسِعَةٌ فَلِمَاذَا هَذَا التَّأْخِيرُ؟ لِمَاذَا يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ هَذَا يَدُلُّ عَلَى قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ الرِّجَالُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَّا النِّسَاءُ فَعَلَيْهِنَّ أَنْ يُصَلِّينَ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَهْتَمَّ بِهَا أَوَّلُ سَبَبٍ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّلَوَاتِ الِاهْتِمَامُ بِهَا أَمَّا إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْهَامِشِ هِيَ آخِرُ اهْتِمَامَاتِهِ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ مِنْهُ التَّأْخِيرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ الصَّلَاةُ هِيَ أَكْبَرُ هَمِّهِ سَيُؤَخِّرُهَا يَوْمًا يُؤَخِّرُهَا وَيَوْمًا يَتَثَاقَلُ فِيهَا وَيَوْمًا كَذَا لَكِنْ لَوْ كَانَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ كَبِيرٌ فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا أَبَدًا وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Israfil Sang Peniup Sangkakala dan Dahsyatnya Hari Kiamat

Bagaimana mungkin seorang mukmin bisa benar-benar merasa tenang, sementara malaikat peniup sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya dan menunggu perintah Allah? Pertanyaan ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan penuh kasih dari Nabi ﷺ agar hati manusia tidak lalai. Kisah tentang malaikat Israfil dan tiupan sangkakala ini mengajak kita menata ulang rasa aman, harapan, dan kesiapan menghadapi akhir kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits no. 409 dari Riyadhus Sholihin 2. Faedah Hadits 3. Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat Malam 4. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala? 5. Peniupan Sangkakala Tiga Kali 6. Penutup  Hadits no. 409 dari Riyadhus SholihinHadits yang membahas ini disebutkan dalam kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Hadits no. 409, Bab Al-Khaufوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْعَمُ، وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ، مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ؟» فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالَ لَهُمْ: «قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ. «الْقَرْنُ»: هُوَ الصُّورُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ﴾،
كَذَا فَسَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda,“Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang dan bersenang-senang, sementara malaikat pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya, menajamkan pendengarannya, menunggu kapan ia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia pun meniupnya?”Ucapan Nabi ﷺ tersebut terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ.
 Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Ucapkanlah: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung).”Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini sebagai hadis hasan.Adapun yang dimaksud dengan “al-qarn”, yaitu sangkakala, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan ditiuplah sangkakala.” Makna ini demikianlah yang ditafsirkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.(HR. Tirmidzi, no. 2431; Ahmad, 3:7; sanad hadits ini dhaif. Kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, 1:481 bahwa hadits ini shahih lighairihi, sahih dilihat dari jalur lain). Faedah HaditsDi antara tugas para malaikat adalah meniup sangkakala, karena yang meniup sangkakala itu adalah seorang malaikat.Para malaikat tidak bertindak kecuali dengan perintah Allah. Oleh karena itu, malaikat pemilik sangkakala menundukkan pendengarannya, menunggu perintah dari Allah.Rasa takut terhadap terjadinya hari Kiamat.Dorongan untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta‘ala semata, bergantung kepada-Nya, dan bersegera melakukan amal saleh.Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ terhadap umatnya, serta rasa takut beliau jika hari Kiamat terjadi atas mereka. Namun beliau telah mengetahui bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali di atas manusia-manusia yang paling buruk.Barang siapa yang dikhawatirkan akan tertimpa sesuatu, lalu ia mengucapkan, “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL(Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung)”, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya. Bahkan ia akan kembali dengan nikmat dari Allah, tanpa ditimpa keburukan sedikit pun.(Diambil dari Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly) Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat MalamDari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ“Apabila Rasulullah ﷺ bangun di malam hari, beliau memulai shalatnya dengan doa:
 ‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil;
Pencipta langit dan bumi;
Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan yang tampak …’”Bacaan lengkapnya:اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ“ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIRIS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.).” (HR. Muslim, no. 770)Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata tentang mereka: “Para pembesar malaikat adalah tiga malaikat ini: Jibril, Mikail, dan Israfil.”Bahasan ini diambil dari Dorar.Net. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala?Di kalangan para ulama telah dikenal luas bahwa Israfil adalah malaikat yang meniup sangkakala. Bahkan sebagian ulama menukil adanya ijmak (kesepakatan) tentang hal ini. Namun demikian, penetapan tersebut tidak didukung oleh hadis yang sahih.Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Israfil termasuk salah satu malaikat pemikul ‘Arsy. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, akan tetapi hal tersebut juga tidak ditetapkan oleh dalil hadis yang sahih.Al-Hulaimi rahimahullah berkata: “Apabila tanda-tanda (kiamat) telah berakhir, dan telah datang waktu ketika Allah Ta‘ala menghendaki mematikan seluruh makhluk hidup dari para penghuni langit, lautan, dan bumi, maka Allah memerintahkan Israfil—yang merupakan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga Lauhul Mahfuz—untuk meniup sangkakala.”Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Di antara para pemuka malaikat adalah Israfil ‘alaihis salam. Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, dan dialah yang meniup sangkakala.”Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang Israfil ‘alaihis salam: “Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy yang besar-besar, dan ia diberi tugas untuk meniup sangkakala.” Mengenai malaikat pemikul ‘Arsy dibicarakan dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ“Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah pemikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud, no. 4727. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).Bahasan ini diambil dari Dorar.Net.Kesimpulannya, Israfil adalah malaikat peniup sangkakala, pemikul ‘Arsy, dan penjaga Lauhul Mahfuzh. Peniupan Sangkakala Tiga KaliIbnu Katsir rahimahullah berarti ada tiga kali tiupan sangkakala yaitu tiupan untuk menakut-nakuti (nafkhah al-faz’), lalu tiupan untuk mematikan yang hidup (nafkhah ash-sha’aq), lalu tiupan untuk membangkitkan pada hari kiamat (nafkhah al-ba’ts). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:345-346)Dalil yang menyatakan tiupan pertama untuk mengagetkan adalah firman Allah dalam ayat,مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ“Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.” (QS. Yasin: 49) Tiupan kedua dan ketiga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdirimenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68) Adapun dalil yang membicarakan tiupan ketiga saja adalah firman Allah,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)Baca juga: Tugas-Tugas Malaikat dan Malaikat Peniup Sangkakala PenutupSeluruh dalil dan keterangan para ulama menunjukkan bahwa peniupan sangkakala adalah perkara besar yang pasti terjadi, dan malaikat Israfil telah bersiap menunggu perintah Rabb-nya. Kesadaran akan dekatnya peristiwa ini seharusnya tidak membuat seorang mukmin putus asa, tetapi justru mendorongnya untuk bergantung penuh kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan menenangkan hati dengan tawakal. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan satu kalimat agung sebagai pegangan menghadapi segala ketakutan: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL.Ya Allah, cukupkanlah Engkau sebagai sandaran hidup kami. Jadikan kami hamba-hamba yang siap bertemu dengan-Mu dalam keadaan iman, taubat, dan husnul khatimah. Lindungilah kami dari kelalaian, kuatkan kami dengan tawakal, dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Āmīn. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Imogiri, 17 Rajab 1447 H, 5 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberiman kepada malaikat iman kepada malaikat malaikat malaikat israfil malaikat peniup sangkakala rukun iman tugas malaikat

Israfil Sang Peniup Sangkakala dan Dahsyatnya Hari Kiamat

Bagaimana mungkin seorang mukmin bisa benar-benar merasa tenang, sementara malaikat peniup sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya dan menunggu perintah Allah? Pertanyaan ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan penuh kasih dari Nabi ﷺ agar hati manusia tidak lalai. Kisah tentang malaikat Israfil dan tiupan sangkakala ini mengajak kita menata ulang rasa aman, harapan, dan kesiapan menghadapi akhir kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits no. 409 dari Riyadhus Sholihin 2. Faedah Hadits 3. Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat Malam 4. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala? 5. Peniupan Sangkakala Tiga Kali 6. Penutup  Hadits no. 409 dari Riyadhus SholihinHadits yang membahas ini disebutkan dalam kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Hadits no. 409, Bab Al-Khaufوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْعَمُ، وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ، مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ؟» فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالَ لَهُمْ: «قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ. «الْقَرْنُ»: هُوَ الصُّورُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ﴾،
كَذَا فَسَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda,“Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang dan bersenang-senang, sementara malaikat pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya, menajamkan pendengarannya, menunggu kapan ia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia pun meniupnya?”Ucapan Nabi ﷺ tersebut terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ.
 Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Ucapkanlah: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung).”Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini sebagai hadis hasan.Adapun yang dimaksud dengan “al-qarn”, yaitu sangkakala, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan ditiuplah sangkakala.” Makna ini demikianlah yang ditafsirkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.(HR. Tirmidzi, no. 2431; Ahmad, 3:7; sanad hadits ini dhaif. Kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, 1:481 bahwa hadits ini shahih lighairihi, sahih dilihat dari jalur lain). Faedah HaditsDi antara tugas para malaikat adalah meniup sangkakala, karena yang meniup sangkakala itu adalah seorang malaikat.Para malaikat tidak bertindak kecuali dengan perintah Allah. Oleh karena itu, malaikat pemilik sangkakala menundukkan pendengarannya, menunggu perintah dari Allah.Rasa takut terhadap terjadinya hari Kiamat.Dorongan untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta‘ala semata, bergantung kepada-Nya, dan bersegera melakukan amal saleh.Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ terhadap umatnya, serta rasa takut beliau jika hari Kiamat terjadi atas mereka. Namun beliau telah mengetahui bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali di atas manusia-manusia yang paling buruk.Barang siapa yang dikhawatirkan akan tertimpa sesuatu, lalu ia mengucapkan, “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL(Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung)”, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya. Bahkan ia akan kembali dengan nikmat dari Allah, tanpa ditimpa keburukan sedikit pun.(Diambil dari Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly) Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat MalamDari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ“Apabila Rasulullah ﷺ bangun di malam hari, beliau memulai shalatnya dengan doa:
 ‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil;
Pencipta langit dan bumi;
Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan yang tampak …’”Bacaan lengkapnya:اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ“ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIRIS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.).” (HR. Muslim, no. 770)Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata tentang mereka: “Para pembesar malaikat adalah tiga malaikat ini: Jibril, Mikail, dan Israfil.”Bahasan ini diambil dari Dorar.Net. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala?Di kalangan para ulama telah dikenal luas bahwa Israfil adalah malaikat yang meniup sangkakala. Bahkan sebagian ulama menukil adanya ijmak (kesepakatan) tentang hal ini. Namun demikian, penetapan tersebut tidak didukung oleh hadis yang sahih.Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Israfil termasuk salah satu malaikat pemikul ‘Arsy. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, akan tetapi hal tersebut juga tidak ditetapkan oleh dalil hadis yang sahih.Al-Hulaimi rahimahullah berkata: “Apabila tanda-tanda (kiamat) telah berakhir, dan telah datang waktu ketika Allah Ta‘ala menghendaki mematikan seluruh makhluk hidup dari para penghuni langit, lautan, dan bumi, maka Allah memerintahkan Israfil—yang merupakan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga Lauhul Mahfuz—untuk meniup sangkakala.”Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Di antara para pemuka malaikat adalah Israfil ‘alaihis salam. Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, dan dialah yang meniup sangkakala.”Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang Israfil ‘alaihis salam: “Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy yang besar-besar, dan ia diberi tugas untuk meniup sangkakala.” Mengenai malaikat pemikul ‘Arsy dibicarakan dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ“Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah pemikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud, no. 4727. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).Bahasan ini diambil dari Dorar.Net.Kesimpulannya, Israfil adalah malaikat peniup sangkakala, pemikul ‘Arsy, dan penjaga Lauhul Mahfuzh. Peniupan Sangkakala Tiga KaliIbnu Katsir rahimahullah berarti ada tiga kali tiupan sangkakala yaitu tiupan untuk menakut-nakuti (nafkhah al-faz’), lalu tiupan untuk mematikan yang hidup (nafkhah ash-sha’aq), lalu tiupan untuk membangkitkan pada hari kiamat (nafkhah al-ba’ts). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:345-346)Dalil yang menyatakan tiupan pertama untuk mengagetkan adalah firman Allah dalam ayat,مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ“Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.” (QS. Yasin: 49) Tiupan kedua dan ketiga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdirimenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68) Adapun dalil yang membicarakan tiupan ketiga saja adalah firman Allah,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)Baca juga: Tugas-Tugas Malaikat dan Malaikat Peniup Sangkakala PenutupSeluruh dalil dan keterangan para ulama menunjukkan bahwa peniupan sangkakala adalah perkara besar yang pasti terjadi, dan malaikat Israfil telah bersiap menunggu perintah Rabb-nya. Kesadaran akan dekatnya peristiwa ini seharusnya tidak membuat seorang mukmin putus asa, tetapi justru mendorongnya untuk bergantung penuh kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan menenangkan hati dengan tawakal. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan satu kalimat agung sebagai pegangan menghadapi segala ketakutan: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL.Ya Allah, cukupkanlah Engkau sebagai sandaran hidup kami. Jadikan kami hamba-hamba yang siap bertemu dengan-Mu dalam keadaan iman, taubat, dan husnul khatimah. Lindungilah kami dari kelalaian, kuatkan kami dengan tawakal, dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Āmīn. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Imogiri, 17 Rajab 1447 H, 5 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberiman kepada malaikat iman kepada malaikat malaikat malaikat israfil malaikat peniup sangkakala rukun iman tugas malaikat
Bagaimana mungkin seorang mukmin bisa benar-benar merasa tenang, sementara malaikat peniup sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya dan menunggu perintah Allah? Pertanyaan ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan penuh kasih dari Nabi ﷺ agar hati manusia tidak lalai. Kisah tentang malaikat Israfil dan tiupan sangkakala ini mengajak kita menata ulang rasa aman, harapan, dan kesiapan menghadapi akhir kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits no. 409 dari Riyadhus Sholihin 2. Faedah Hadits 3. Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat Malam 4. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala? 5. Peniupan Sangkakala Tiga Kali 6. Penutup  Hadits no. 409 dari Riyadhus SholihinHadits yang membahas ini disebutkan dalam kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Hadits no. 409, Bab Al-Khaufوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْعَمُ، وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ، مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ؟» فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالَ لَهُمْ: «قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ. «الْقَرْنُ»: هُوَ الصُّورُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ﴾،
كَذَا فَسَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda,“Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang dan bersenang-senang, sementara malaikat pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya, menajamkan pendengarannya, menunggu kapan ia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia pun meniupnya?”Ucapan Nabi ﷺ tersebut terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ.
 Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Ucapkanlah: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung).”Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini sebagai hadis hasan.Adapun yang dimaksud dengan “al-qarn”, yaitu sangkakala, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan ditiuplah sangkakala.” Makna ini demikianlah yang ditafsirkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.(HR. Tirmidzi, no. 2431; Ahmad, 3:7; sanad hadits ini dhaif. Kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, 1:481 bahwa hadits ini shahih lighairihi, sahih dilihat dari jalur lain). Faedah HaditsDi antara tugas para malaikat adalah meniup sangkakala, karena yang meniup sangkakala itu adalah seorang malaikat.Para malaikat tidak bertindak kecuali dengan perintah Allah. Oleh karena itu, malaikat pemilik sangkakala menundukkan pendengarannya, menunggu perintah dari Allah.Rasa takut terhadap terjadinya hari Kiamat.Dorongan untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta‘ala semata, bergantung kepada-Nya, dan bersegera melakukan amal saleh.Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ terhadap umatnya, serta rasa takut beliau jika hari Kiamat terjadi atas mereka. Namun beliau telah mengetahui bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali di atas manusia-manusia yang paling buruk.Barang siapa yang dikhawatirkan akan tertimpa sesuatu, lalu ia mengucapkan, “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL(Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung)”, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya. Bahkan ia akan kembali dengan nikmat dari Allah, tanpa ditimpa keburukan sedikit pun.(Diambil dari Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly) Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat MalamDari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ“Apabila Rasulullah ﷺ bangun di malam hari, beliau memulai shalatnya dengan doa:
 ‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil;
Pencipta langit dan bumi;
Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan yang tampak …’”Bacaan lengkapnya:اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ“ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIRIS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.).” (HR. Muslim, no. 770)Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata tentang mereka: “Para pembesar malaikat adalah tiga malaikat ini: Jibril, Mikail, dan Israfil.”Bahasan ini diambil dari Dorar.Net. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala?Di kalangan para ulama telah dikenal luas bahwa Israfil adalah malaikat yang meniup sangkakala. Bahkan sebagian ulama menukil adanya ijmak (kesepakatan) tentang hal ini. Namun demikian, penetapan tersebut tidak didukung oleh hadis yang sahih.Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Israfil termasuk salah satu malaikat pemikul ‘Arsy. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, akan tetapi hal tersebut juga tidak ditetapkan oleh dalil hadis yang sahih.Al-Hulaimi rahimahullah berkata: “Apabila tanda-tanda (kiamat) telah berakhir, dan telah datang waktu ketika Allah Ta‘ala menghendaki mematikan seluruh makhluk hidup dari para penghuni langit, lautan, dan bumi, maka Allah memerintahkan Israfil—yang merupakan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga Lauhul Mahfuz—untuk meniup sangkakala.”Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Di antara para pemuka malaikat adalah Israfil ‘alaihis salam. Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, dan dialah yang meniup sangkakala.”Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang Israfil ‘alaihis salam: “Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy yang besar-besar, dan ia diberi tugas untuk meniup sangkakala.” Mengenai malaikat pemikul ‘Arsy dibicarakan dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ“Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah pemikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud, no. 4727. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).Bahasan ini diambil dari Dorar.Net.Kesimpulannya, Israfil adalah malaikat peniup sangkakala, pemikul ‘Arsy, dan penjaga Lauhul Mahfuzh. Peniupan Sangkakala Tiga KaliIbnu Katsir rahimahullah berarti ada tiga kali tiupan sangkakala yaitu tiupan untuk menakut-nakuti (nafkhah al-faz’), lalu tiupan untuk mematikan yang hidup (nafkhah ash-sha’aq), lalu tiupan untuk membangkitkan pada hari kiamat (nafkhah al-ba’ts). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:345-346)Dalil yang menyatakan tiupan pertama untuk mengagetkan adalah firman Allah dalam ayat,مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ“Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.” (QS. Yasin: 49) Tiupan kedua dan ketiga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdirimenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68) Adapun dalil yang membicarakan tiupan ketiga saja adalah firman Allah,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)Baca juga: Tugas-Tugas Malaikat dan Malaikat Peniup Sangkakala PenutupSeluruh dalil dan keterangan para ulama menunjukkan bahwa peniupan sangkakala adalah perkara besar yang pasti terjadi, dan malaikat Israfil telah bersiap menunggu perintah Rabb-nya. Kesadaran akan dekatnya peristiwa ini seharusnya tidak membuat seorang mukmin putus asa, tetapi justru mendorongnya untuk bergantung penuh kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan menenangkan hati dengan tawakal. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan satu kalimat agung sebagai pegangan menghadapi segala ketakutan: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL.Ya Allah, cukupkanlah Engkau sebagai sandaran hidup kami. Jadikan kami hamba-hamba yang siap bertemu dengan-Mu dalam keadaan iman, taubat, dan husnul khatimah. Lindungilah kami dari kelalaian, kuatkan kami dengan tawakal, dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Āmīn. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Imogiri, 17 Rajab 1447 H, 5 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberiman kepada malaikat iman kepada malaikat malaikat malaikat israfil malaikat peniup sangkakala rukun iman tugas malaikat


Bagaimana mungkin seorang mukmin bisa benar-benar merasa tenang, sementara malaikat peniup sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya dan menunggu perintah Allah? Pertanyaan ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan penuh kasih dari Nabi ﷺ agar hati manusia tidak lalai. Kisah tentang malaikat Israfil dan tiupan sangkakala ini mengajak kita menata ulang rasa aman, harapan, dan kesiapan menghadapi akhir kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits no. 409 dari Riyadhus Sholihin 2. Faedah Hadits 3. Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat Malam 4. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala? 5. Peniupan Sangkakala Tiga Kali 6. Penutup  Hadits no. 409 dari Riyadhus SholihinHadits yang membahas ini disebutkan dalam kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Hadits no. 409, Bab Al-Khaufوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْعَمُ، وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ، مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ؟» فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالَ لَهُمْ: «قُولُوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ. «الْقَرْنُ»: هُوَ الصُّورُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ﴾،
كَذَا فَسَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda,“Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang dan bersenang-senang, sementara malaikat pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakala ke mulutnya, menajamkan pendengarannya, menunggu kapan ia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia pun meniupnya?”Ucapan Nabi ﷺ tersebut terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ.
 Lalu beliau bersabda kepada mereka, “Ucapkanlah: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung).”Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini sebagai hadis hasan.Adapun yang dimaksud dengan “al-qarn”, yaitu sangkakala, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan ditiuplah sangkakala.” Makna ini demikianlah yang ditafsirkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.(HR. Tirmidzi, no. 2431; Ahmad, 3:7; sanad hadits ini dhaif. Kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, 1:481 bahwa hadits ini shahih lighairihi, sahih dilihat dari jalur lain). Faedah HaditsDi antara tugas para malaikat adalah meniup sangkakala, karena yang meniup sangkakala itu adalah seorang malaikat.Para malaikat tidak bertindak kecuali dengan perintah Allah. Oleh karena itu, malaikat pemilik sangkakala menundukkan pendengarannya, menunggu perintah dari Allah.Rasa takut terhadap terjadinya hari Kiamat.Dorongan untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta‘ala semata, bergantung kepada-Nya, dan bersegera melakukan amal saleh.Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ terhadap umatnya, serta rasa takut beliau jika hari Kiamat terjadi atas mereka. Namun beliau telah mengetahui bahwa Kiamat tidak akan terjadi kecuali di atas manusia-manusia yang paling buruk.Barang siapa yang dikhawatirkan akan tertimpa sesuatu, lalu ia mengucapkan, “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL(Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung)”, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya. Bahkan ia akan kembali dengan nikmat dari Allah, tanpa ditimpa keburukan sedikit pun.(Diambil dari Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaly) Penyebutan Tiga Pemimpin Malaikat dalam Doa Iftitah Shalat MalamDari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ“Apabila Rasulullah ﷺ bangun di malam hari, beliau memulai shalatnya dengan doa:
 ‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil;
Pencipta langit dan bumi;
Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan yang tampak …’”Bacaan lengkapnya:اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ“ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIRIS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.).” (HR. Muslim, no. 770)Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata tentang mereka: “Para pembesar malaikat adalah tiga malaikat ini: Jibril, Mikail, dan Israfil.”Bahasan ini diambil dari Dorar.Net. Israfil Apakah Malaikat Peniup Sangkakala?Di kalangan para ulama telah dikenal luas bahwa Israfil adalah malaikat yang meniup sangkakala. Bahkan sebagian ulama menukil adanya ijmak (kesepakatan) tentang hal ini. Namun demikian, penetapan tersebut tidak didukung oleh hadis yang sahih.Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Israfil termasuk salah satu malaikat pemikul ‘Arsy. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, akan tetapi hal tersebut juga tidak ditetapkan oleh dalil hadis yang sahih.Al-Hulaimi rahimahullah berkata: “Apabila tanda-tanda (kiamat) telah berakhir, dan telah datang waktu ketika Allah Ta‘ala menghendaki mematikan seluruh makhluk hidup dari para penghuni langit, lautan, dan bumi, maka Allah memerintahkan Israfil—yang merupakan salah satu malaikat pemikul ‘Arsy dan penjaga Lauhul Mahfuz—untuk meniup sangkakala.”Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Di antara para pemuka malaikat adalah Israfil ‘alaihis salam. Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy, dan dialah yang meniup sangkakala.”Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang Israfil ‘alaihis salam: “Ia adalah salah satu malaikat pemikul ‘Arsy yang besar-besar, dan ia diberi tugas untuk meniup sangkakala.” Mengenai malaikat pemikul ‘Arsy dibicarakan dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ“Aku diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah pemikul ‘Arsy, yaitu antara daging telinga dengan pundaknya sejauh tujuh ratus tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud, no. 4727. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).Bahasan ini diambil dari Dorar.Net.Kesimpulannya, Israfil adalah malaikat peniup sangkakala, pemikul ‘Arsy, dan penjaga Lauhul Mahfuzh. Peniupan Sangkakala Tiga KaliIbnu Katsir rahimahullah berarti ada tiga kali tiupan sangkakala yaitu tiupan untuk menakut-nakuti (nafkhah al-faz’), lalu tiupan untuk mematikan yang hidup (nafkhah ash-sha’aq), lalu tiupan untuk membangkitkan pada hari kiamat (nafkhah al-ba’ts). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:345-346)Dalil yang menyatakan tiupan pertama untuk mengagetkan adalah firman Allah dalam ayat,مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ“Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.” (QS. Yasin: 49) Tiupan kedua dan ketiga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdirimenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68) Adapun dalil yang membicarakan tiupan ketiga saja adalah firman Allah,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yasin: 51)Baca juga: Tugas-Tugas Malaikat dan Malaikat Peniup Sangkakala PenutupSeluruh dalil dan keterangan para ulama menunjukkan bahwa peniupan sangkakala adalah perkara besar yang pasti terjadi, dan malaikat Israfil telah bersiap menunggu perintah Rabb-nya. Kesadaran akan dekatnya peristiwa ini seharusnya tidak membuat seorang mukmin putus asa, tetapi justru mendorongnya untuk bergantung penuh kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan menenangkan hati dengan tawakal. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan satu kalimat agung sebagai pegangan menghadapi segala ketakutan: HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL.Ya Allah, cukupkanlah Engkau sebagai sandaran hidup kami. Jadikan kami hamba-hamba yang siap bertemu dengan-Mu dalam keadaan iman, taubat, dan husnul khatimah. Lindungilah kami dari kelalaian, kuatkan kami dengan tawakal, dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Āmīn. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Imogiri, 17 Rajab 1447 H, 5 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsberiman kepada malaikat iman kepada malaikat malaikat malaikat israfil malaikat peniup sangkakala rukun iman tugas malaikat
Prev     Next