Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 4)

Menjadi sebuah pertanyaan, di manakah sejatinya letak niat? Apakah niat itu butuh dilafalkan? Atau apakah niat itu hanya sebatas di dalam hati? Atau apakah niat itu juga dengan lisan sebagai bentuk implementasi dari niat?Niat terletak di hatiPerlu diketahui bahwasanya niat letaknya di hati [1]. Oleh karena itu, dinamakan dengan النِّيَّةُ (niat), yang diambil dari kata النَّوَى (an-nawa) yang artinya biji yang berada di dalam buah. Karena tempatnya di dalam hati, maka niat tidak terlihat dan adanya di dalam diri manusia. Andaikata niat itu tampak atau terlihat, maka tidak bisa dinamakan dengan niat, karena tidak ada faidahnya dalam penggunaan lafal niat jika niat tersebut tampak.Sehingga tidak disyariatkan untuk melafalkan niat atau men-jahr-kannya (mengeraskannya); dan men-jahr-kan niat termasuk dalam kebid’ahan. Bahkan tidak ada satupun keterangan yang datang dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan dari imam yang empat yang mengatakan bahwa niat itu dilafalkan.Perhatikanlah perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di bawah ini,نِيَّةُ الطَّهَارَةِ مِنْ وُضُوءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ، وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْعِبَادَاتِ، لَا تَفْتَقِرُ إِلَى نُطْقِ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ.بَلِ النِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِهِمْ، فَلَوْ لَفَظَ بِلِسَانِهِ غَلَطًا بِخِلَافِ مَا نَوَى فِي قَلْبِهِ، كَانَ الِاعْتِبَارُ بِمَا نَوَى لَا بِمَا لَفَظَ“Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi wajib, maupun tayamum, juga dalam salat, puasa, haji, zakat, kafarat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, tidak memerlukan pengucapan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan para ulama Islam. Hal tersebut dikarenakan letak niat berada di hati, bukan lisan. dan hal ini juga disepakati oleh para ulama. Maka apabila seseorang melafalkan niat dengan lisannya secara keliru, berbeda dengan apa yang ia niatkan di dalam hatinya, yang dijadikan pegangan adalah niat yang ada di hati, bukan lafal yang terucap.” [2]Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang berpendapat bahwa niat itu dilafalkan adalah sebagian ulama yang datang belakangan dari kalangan pengikut Imam Syafi’i rahimahullah. Sebab kekeliruannya adalah karena Imam Syafi’i mengatakan bahwa salat harus disertai dengan “pengucapan” di awalnya. Sedangkan yang dimaksud Imam Syafi’i adalah takbir yang wajib di awal salat, bukan pengucapan niat. [3]Sehingga pendapat “melafalkan niat” dianggap sebagai pendapat yang aneh dan ditolak oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah. Seperti Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, begitupun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [4]Kemudian para ulama berpendapat, apakah disunahkan melafalkan niat secara lirih? [5]Pendapat pertama: Sebagian ulama dari kalangan pengikut Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih, dikarenakan hal tersebut dapat memantapkan niat.Pendapat kedua: Sebagaian ulama dari kalangan Malik dan juga Ahmad, begitupun selain mereka berdua berpendapat bahwa tidak disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih. Karena hal tersebut adalah bid’ah, dan hal tersebut tidak pernah dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Begitupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan satu orang pun dari umatnya untuk melafalkan niat, dan tidak pernah mengajarkannya kepada seorang muslim pun. Padahal, seandainya hal itu merupakan amalan yang masyhur dan disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak akan meninggalkannya, sementara umat Islam melakukannya setiap hari dan setiap malam.Pendapat kedua inilah yang dibenarkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Bahkan beliau berpendapat secara tegas bahwa melafalkan niat merupakan bentuk kekurangan dalam akal dan agama.Beliau rahimahullah menuturkan,أَمَّا فِي الدِّينِ فَلِأَنَّهُ بِدْعَةٌ. وَأَمَّا فِي الْعَقْلِ فَلِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ طَعَامًا، فَيَقُولُ: نَوَيْتُ بِوَضْعِ يَدِي فِي هٰذَا الْإِنَاءِ أَنِّي أُرِيدُ أَنْ آخُذَ مِنْهُ لُقْمَةً، فَأَضَعَهَا فِي فَمِي، فَأَمْضَغَهَا، ثُمَّ أَبْلَعَهَا لِأَشْبَعَ“Adapun kekurangannya dari sisi agama, karena ia adalah perbuatan bid’ah, sedangkan kekurangannya dalam akal, karena perbuatan tersebut seperti seseorang yang hendak makan, lalu berkata, ‘Aku berniat meletakkan tanganku ke dalam bejana ini untuk mengambil sesuap makanan, lalu memasukannya ke mulutku, mengunyahnya, kemudian menelannya agar aku kenyang.” [6]Karenanya, meneladani sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang terbaik dan tidak menyulitkan. Seseorang tidak perlu untuk mengucapkan segala sesuatu yang ingin ia kerjakan, karena sebatas niat di dalam hati itu sudah cukup baginya.Dari pembahasan di atas, terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui tentang masalah niat ini, di antaranya [7]:Pertama: Melafalkan dengan lisan tidak cukup untuk mewujudkan niat di dalam hati.Kedua: Setelah niat terwujud di dalam hati, tidak disyariatkan adanya pelafalan dengan lisan. Bahkan melafalkan niat dengan lisan tidak disyariatkan, karena tidak ada satupun keterangan yang menyebutkan hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun sahabatnya.Adapun pengecualian yang disebutkan oleh sebagian ulama tentang disyariatkannya melafalkan niat dalam ibadah haji saja, maka hal itu bukanlah lafal niat itu sendiri, melainkan lafal talbiyah yang mengandung makna niat.Namun demikian, tidak bisa disimpulkan dari hal tersebut bahwa melafalkan niat menjadi disyariatkan secara umum. Terdapat pengecualian bagi orang yang tertimpa waswas, ketika ia ragu dalam memastikan niat ibadahnya; dalam kondisi seperti ini, dibolehkan baginya melafalkan niat agar niat tersebut menjadi mantap di dalam hatinya.Ketiga: apabila lafal yang diucapkan dengan lisan berbeda dengan apa yang ada di dalam hati, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang ada di dalam hati.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Depok, 7 Rajab 1447/ 27 Desember 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 57.[2] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 230.[3] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[4] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 58.[5] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[6] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[7] Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78–79.Referensi:At-Tharifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq. Shifatu Shalatin Nabi. Riyadh: Maktabah Dār al-Minhāj, cet. ke-7, 1439/ 2018.Ibnu Taimiyah. Majmū‘ al-Fatāwā. Saudi Arabia: Majma‘ al-Malik Fahd, 1425/ 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, cet. ke-1, 1428/ 2007.

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 4)

Menjadi sebuah pertanyaan, di manakah sejatinya letak niat? Apakah niat itu butuh dilafalkan? Atau apakah niat itu hanya sebatas di dalam hati? Atau apakah niat itu juga dengan lisan sebagai bentuk implementasi dari niat?Niat terletak di hatiPerlu diketahui bahwasanya niat letaknya di hati [1]. Oleh karena itu, dinamakan dengan النِّيَّةُ (niat), yang diambil dari kata النَّوَى (an-nawa) yang artinya biji yang berada di dalam buah. Karena tempatnya di dalam hati, maka niat tidak terlihat dan adanya di dalam diri manusia. Andaikata niat itu tampak atau terlihat, maka tidak bisa dinamakan dengan niat, karena tidak ada faidahnya dalam penggunaan lafal niat jika niat tersebut tampak.Sehingga tidak disyariatkan untuk melafalkan niat atau men-jahr-kannya (mengeraskannya); dan men-jahr-kan niat termasuk dalam kebid’ahan. Bahkan tidak ada satupun keterangan yang datang dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan dari imam yang empat yang mengatakan bahwa niat itu dilafalkan.Perhatikanlah perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di bawah ini,نِيَّةُ الطَّهَارَةِ مِنْ وُضُوءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ، وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْعِبَادَاتِ، لَا تَفْتَقِرُ إِلَى نُطْقِ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ.بَلِ النِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِهِمْ، فَلَوْ لَفَظَ بِلِسَانِهِ غَلَطًا بِخِلَافِ مَا نَوَى فِي قَلْبِهِ، كَانَ الِاعْتِبَارُ بِمَا نَوَى لَا بِمَا لَفَظَ“Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi wajib, maupun tayamum, juga dalam salat, puasa, haji, zakat, kafarat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, tidak memerlukan pengucapan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan para ulama Islam. Hal tersebut dikarenakan letak niat berada di hati, bukan lisan. dan hal ini juga disepakati oleh para ulama. Maka apabila seseorang melafalkan niat dengan lisannya secara keliru, berbeda dengan apa yang ia niatkan di dalam hatinya, yang dijadikan pegangan adalah niat yang ada di hati, bukan lafal yang terucap.” [2]Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang berpendapat bahwa niat itu dilafalkan adalah sebagian ulama yang datang belakangan dari kalangan pengikut Imam Syafi’i rahimahullah. Sebab kekeliruannya adalah karena Imam Syafi’i mengatakan bahwa salat harus disertai dengan “pengucapan” di awalnya. Sedangkan yang dimaksud Imam Syafi’i adalah takbir yang wajib di awal salat, bukan pengucapan niat. [3]Sehingga pendapat “melafalkan niat” dianggap sebagai pendapat yang aneh dan ditolak oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah. Seperti Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, begitupun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [4]Kemudian para ulama berpendapat, apakah disunahkan melafalkan niat secara lirih? [5]Pendapat pertama: Sebagian ulama dari kalangan pengikut Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih, dikarenakan hal tersebut dapat memantapkan niat.Pendapat kedua: Sebagaian ulama dari kalangan Malik dan juga Ahmad, begitupun selain mereka berdua berpendapat bahwa tidak disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih. Karena hal tersebut adalah bid’ah, dan hal tersebut tidak pernah dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Begitupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan satu orang pun dari umatnya untuk melafalkan niat, dan tidak pernah mengajarkannya kepada seorang muslim pun. Padahal, seandainya hal itu merupakan amalan yang masyhur dan disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak akan meninggalkannya, sementara umat Islam melakukannya setiap hari dan setiap malam.Pendapat kedua inilah yang dibenarkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Bahkan beliau berpendapat secara tegas bahwa melafalkan niat merupakan bentuk kekurangan dalam akal dan agama.Beliau rahimahullah menuturkan,أَمَّا فِي الدِّينِ فَلِأَنَّهُ بِدْعَةٌ. وَأَمَّا فِي الْعَقْلِ فَلِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ طَعَامًا، فَيَقُولُ: نَوَيْتُ بِوَضْعِ يَدِي فِي هٰذَا الْإِنَاءِ أَنِّي أُرِيدُ أَنْ آخُذَ مِنْهُ لُقْمَةً، فَأَضَعَهَا فِي فَمِي، فَأَمْضَغَهَا، ثُمَّ أَبْلَعَهَا لِأَشْبَعَ“Adapun kekurangannya dari sisi agama, karena ia adalah perbuatan bid’ah, sedangkan kekurangannya dalam akal, karena perbuatan tersebut seperti seseorang yang hendak makan, lalu berkata, ‘Aku berniat meletakkan tanganku ke dalam bejana ini untuk mengambil sesuap makanan, lalu memasukannya ke mulutku, mengunyahnya, kemudian menelannya agar aku kenyang.” [6]Karenanya, meneladani sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang terbaik dan tidak menyulitkan. Seseorang tidak perlu untuk mengucapkan segala sesuatu yang ingin ia kerjakan, karena sebatas niat di dalam hati itu sudah cukup baginya.Dari pembahasan di atas, terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui tentang masalah niat ini, di antaranya [7]:Pertama: Melafalkan dengan lisan tidak cukup untuk mewujudkan niat di dalam hati.Kedua: Setelah niat terwujud di dalam hati, tidak disyariatkan adanya pelafalan dengan lisan. Bahkan melafalkan niat dengan lisan tidak disyariatkan, karena tidak ada satupun keterangan yang menyebutkan hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun sahabatnya.Adapun pengecualian yang disebutkan oleh sebagian ulama tentang disyariatkannya melafalkan niat dalam ibadah haji saja, maka hal itu bukanlah lafal niat itu sendiri, melainkan lafal talbiyah yang mengandung makna niat.Namun demikian, tidak bisa disimpulkan dari hal tersebut bahwa melafalkan niat menjadi disyariatkan secara umum. Terdapat pengecualian bagi orang yang tertimpa waswas, ketika ia ragu dalam memastikan niat ibadahnya; dalam kondisi seperti ini, dibolehkan baginya melafalkan niat agar niat tersebut menjadi mantap di dalam hatinya.Ketiga: apabila lafal yang diucapkan dengan lisan berbeda dengan apa yang ada di dalam hati, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang ada di dalam hati.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Depok, 7 Rajab 1447/ 27 Desember 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 57.[2] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 230.[3] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[4] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 58.[5] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[6] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[7] Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78–79.Referensi:At-Tharifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq. Shifatu Shalatin Nabi. Riyadh: Maktabah Dār al-Minhāj, cet. ke-7, 1439/ 2018.Ibnu Taimiyah. Majmū‘ al-Fatāwā. Saudi Arabia: Majma‘ al-Malik Fahd, 1425/ 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, cet. ke-1, 1428/ 2007.
Menjadi sebuah pertanyaan, di manakah sejatinya letak niat? Apakah niat itu butuh dilafalkan? Atau apakah niat itu hanya sebatas di dalam hati? Atau apakah niat itu juga dengan lisan sebagai bentuk implementasi dari niat?Niat terletak di hatiPerlu diketahui bahwasanya niat letaknya di hati [1]. Oleh karena itu, dinamakan dengan النِّيَّةُ (niat), yang diambil dari kata النَّوَى (an-nawa) yang artinya biji yang berada di dalam buah. Karena tempatnya di dalam hati, maka niat tidak terlihat dan adanya di dalam diri manusia. Andaikata niat itu tampak atau terlihat, maka tidak bisa dinamakan dengan niat, karena tidak ada faidahnya dalam penggunaan lafal niat jika niat tersebut tampak.Sehingga tidak disyariatkan untuk melafalkan niat atau men-jahr-kannya (mengeraskannya); dan men-jahr-kan niat termasuk dalam kebid’ahan. Bahkan tidak ada satupun keterangan yang datang dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan dari imam yang empat yang mengatakan bahwa niat itu dilafalkan.Perhatikanlah perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di bawah ini,نِيَّةُ الطَّهَارَةِ مِنْ وُضُوءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ، وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْعِبَادَاتِ، لَا تَفْتَقِرُ إِلَى نُطْقِ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ.بَلِ النِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِهِمْ، فَلَوْ لَفَظَ بِلِسَانِهِ غَلَطًا بِخِلَافِ مَا نَوَى فِي قَلْبِهِ، كَانَ الِاعْتِبَارُ بِمَا نَوَى لَا بِمَا لَفَظَ“Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi wajib, maupun tayamum, juga dalam salat, puasa, haji, zakat, kafarat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, tidak memerlukan pengucapan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan para ulama Islam. Hal tersebut dikarenakan letak niat berada di hati, bukan lisan. dan hal ini juga disepakati oleh para ulama. Maka apabila seseorang melafalkan niat dengan lisannya secara keliru, berbeda dengan apa yang ia niatkan di dalam hatinya, yang dijadikan pegangan adalah niat yang ada di hati, bukan lafal yang terucap.” [2]Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang berpendapat bahwa niat itu dilafalkan adalah sebagian ulama yang datang belakangan dari kalangan pengikut Imam Syafi’i rahimahullah. Sebab kekeliruannya adalah karena Imam Syafi’i mengatakan bahwa salat harus disertai dengan “pengucapan” di awalnya. Sedangkan yang dimaksud Imam Syafi’i adalah takbir yang wajib di awal salat, bukan pengucapan niat. [3]Sehingga pendapat “melafalkan niat” dianggap sebagai pendapat yang aneh dan ditolak oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah. Seperti Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, begitupun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [4]Kemudian para ulama berpendapat, apakah disunahkan melafalkan niat secara lirih? [5]Pendapat pertama: Sebagian ulama dari kalangan pengikut Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih, dikarenakan hal tersebut dapat memantapkan niat.Pendapat kedua: Sebagaian ulama dari kalangan Malik dan juga Ahmad, begitupun selain mereka berdua berpendapat bahwa tidak disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih. Karena hal tersebut adalah bid’ah, dan hal tersebut tidak pernah dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Begitupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan satu orang pun dari umatnya untuk melafalkan niat, dan tidak pernah mengajarkannya kepada seorang muslim pun. Padahal, seandainya hal itu merupakan amalan yang masyhur dan disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak akan meninggalkannya, sementara umat Islam melakukannya setiap hari dan setiap malam.Pendapat kedua inilah yang dibenarkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Bahkan beliau berpendapat secara tegas bahwa melafalkan niat merupakan bentuk kekurangan dalam akal dan agama.Beliau rahimahullah menuturkan,أَمَّا فِي الدِّينِ فَلِأَنَّهُ بِدْعَةٌ. وَأَمَّا فِي الْعَقْلِ فَلِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ طَعَامًا، فَيَقُولُ: نَوَيْتُ بِوَضْعِ يَدِي فِي هٰذَا الْإِنَاءِ أَنِّي أُرِيدُ أَنْ آخُذَ مِنْهُ لُقْمَةً، فَأَضَعَهَا فِي فَمِي، فَأَمْضَغَهَا، ثُمَّ أَبْلَعَهَا لِأَشْبَعَ“Adapun kekurangannya dari sisi agama, karena ia adalah perbuatan bid’ah, sedangkan kekurangannya dalam akal, karena perbuatan tersebut seperti seseorang yang hendak makan, lalu berkata, ‘Aku berniat meletakkan tanganku ke dalam bejana ini untuk mengambil sesuap makanan, lalu memasukannya ke mulutku, mengunyahnya, kemudian menelannya agar aku kenyang.” [6]Karenanya, meneladani sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang terbaik dan tidak menyulitkan. Seseorang tidak perlu untuk mengucapkan segala sesuatu yang ingin ia kerjakan, karena sebatas niat di dalam hati itu sudah cukup baginya.Dari pembahasan di atas, terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui tentang masalah niat ini, di antaranya [7]:Pertama: Melafalkan dengan lisan tidak cukup untuk mewujudkan niat di dalam hati.Kedua: Setelah niat terwujud di dalam hati, tidak disyariatkan adanya pelafalan dengan lisan. Bahkan melafalkan niat dengan lisan tidak disyariatkan, karena tidak ada satupun keterangan yang menyebutkan hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun sahabatnya.Adapun pengecualian yang disebutkan oleh sebagian ulama tentang disyariatkannya melafalkan niat dalam ibadah haji saja, maka hal itu bukanlah lafal niat itu sendiri, melainkan lafal talbiyah yang mengandung makna niat.Namun demikian, tidak bisa disimpulkan dari hal tersebut bahwa melafalkan niat menjadi disyariatkan secara umum. Terdapat pengecualian bagi orang yang tertimpa waswas, ketika ia ragu dalam memastikan niat ibadahnya; dalam kondisi seperti ini, dibolehkan baginya melafalkan niat agar niat tersebut menjadi mantap di dalam hatinya.Ketiga: apabila lafal yang diucapkan dengan lisan berbeda dengan apa yang ada di dalam hati, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang ada di dalam hati.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Depok, 7 Rajab 1447/ 27 Desember 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 57.[2] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 230.[3] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[4] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 58.[5] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[6] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[7] Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78–79.Referensi:At-Tharifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq. Shifatu Shalatin Nabi. Riyadh: Maktabah Dār al-Minhāj, cet. ke-7, 1439/ 2018.Ibnu Taimiyah. Majmū‘ al-Fatāwā. Saudi Arabia: Majma‘ al-Malik Fahd, 1425/ 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, cet. ke-1, 1428/ 2007.


Menjadi sebuah pertanyaan, di manakah sejatinya letak niat? Apakah niat itu butuh dilafalkan? Atau apakah niat itu hanya sebatas di dalam hati? Atau apakah niat itu juga dengan lisan sebagai bentuk implementasi dari niat?Niat terletak di hatiPerlu diketahui bahwasanya niat letaknya di hati [1]. Oleh karena itu, dinamakan dengan النِّيَّةُ (niat), yang diambil dari kata النَّوَى (an-nawa) yang artinya biji yang berada di dalam buah. Karena tempatnya di dalam hati, maka niat tidak terlihat dan adanya di dalam diri manusia. Andaikata niat itu tampak atau terlihat, maka tidak bisa dinamakan dengan niat, karena tidak ada faidahnya dalam penggunaan lafal niat jika niat tersebut tampak.Sehingga tidak disyariatkan untuk melafalkan niat atau men-jahr-kannya (mengeraskannya); dan men-jahr-kan niat termasuk dalam kebid’ahan. Bahkan tidak ada satupun keterangan yang datang dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan dari imam yang empat yang mengatakan bahwa niat itu dilafalkan.Perhatikanlah perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di bawah ini,نِيَّةُ الطَّهَارَةِ مِنْ وُضُوءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ، وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْعِبَادَاتِ، لَا تَفْتَقِرُ إِلَى نُطْقِ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ.بَلِ النِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِهِمْ، فَلَوْ لَفَظَ بِلِسَانِهِ غَلَطًا بِخِلَافِ مَا نَوَى فِي قَلْبِهِ، كَانَ الِاعْتِبَارُ بِمَا نَوَى لَا بِمَا لَفَظَ“Niat dalam bersuci, baik wudu, mandi wajib, maupun tayamum, juga dalam salat, puasa, haji, zakat, kafarat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, tidak memerlukan pengucapan dengan lisan, berdasarkan kesepakatan para ulama Islam. Hal tersebut dikarenakan letak niat berada di hati, bukan lisan. dan hal ini juga disepakati oleh para ulama. Maka apabila seseorang melafalkan niat dengan lisannya secara keliru, berbeda dengan apa yang ia niatkan di dalam hatinya, yang dijadikan pegangan adalah niat yang ada di hati, bukan lafal yang terucap.” [2]Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang berpendapat bahwa niat itu dilafalkan adalah sebagian ulama yang datang belakangan dari kalangan pengikut Imam Syafi’i rahimahullah. Sebab kekeliruannya adalah karena Imam Syafi’i mengatakan bahwa salat harus disertai dengan “pengucapan” di awalnya. Sedangkan yang dimaksud Imam Syafi’i adalah takbir yang wajib di awal salat, bukan pengucapan niat. [3]Sehingga pendapat “melafalkan niat” dianggap sebagai pendapat yang aneh dan ditolak oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah. Seperti Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, begitupun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [4]Kemudian para ulama berpendapat, apakah disunahkan melafalkan niat secara lirih? [5]Pendapat pertama: Sebagian ulama dari kalangan pengikut Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad berpendapat bahwa disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih, dikarenakan hal tersebut dapat memantapkan niat.Pendapat kedua: Sebagaian ulama dari kalangan Malik dan juga Ahmad, begitupun selain mereka berdua berpendapat bahwa tidak disunahkan untuk melafalkan niat secara lirih. Karena hal tersebut adalah bid’ah, dan hal tersebut tidak pernah dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Begitupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan satu orang pun dari umatnya untuk melafalkan niat, dan tidak pernah mengajarkannya kepada seorang muslim pun. Padahal, seandainya hal itu merupakan amalan yang masyhur dan disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak akan meninggalkannya, sementara umat Islam melakukannya setiap hari dan setiap malam.Pendapat kedua inilah yang dibenarkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Bahkan beliau berpendapat secara tegas bahwa melafalkan niat merupakan bentuk kekurangan dalam akal dan agama.Beliau rahimahullah menuturkan,أَمَّا فِي الدِّينِ فَلِأَنَّهُ بِدْعَةٌ. وَأَمَّا فِي الْعَقْلِ فَلِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ طَعَامًا، فَيَقُولُ: نَوَيْتُ بِوَضْعِ يَدِي فِي هٰذَا الْإِنَاءِ أَنِّي أُرِيدُ أَنْ آخُذَ مِنْهُ لُقْمَةً، فَأَضَعَهَا فِي فَمِي، فَأَمْضَغَهَا، ثُمَّ أَبْلَعَهَا لِأَشْبَعَ“Adapun kekurangannya dari sisi agama, karena ia adalah perbuatan bid’ah, sedangkan kekurangannya dalam akal, karena perbuatan tersebut seperti seseorang yang hendak makan, lalu berkata, ‘Aku berniat meletakkan tanganku ke dalam bejana ini untuk mengambil sesuap makanan, lalu memasukannya ke mulutku, mengunyahnya, kemudian menelannya agar aku kenyang.” [6]Karenanya, meneladani sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang terbaik dan tidak menyulitkan. Seseorang tidak perlu untuk mengucapkan segala sesuatu yang ingin ia kerjakan, karena sebatas niat di dalam hati itu sudah cukup baginya.Dari pembahasan di atas, terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui tentang masalah niat ini, di antaranya [7]:Pertama: Melafalkan dengan lisan tidak cukup untuk mewujudkan niat di dalam hati.Kedua: Setelah niat terwujud di dalam hati, tidak disyariatkan adanya pelafalan dengan lisan. Bahkan melafalkan niat dengan lisan tidak disyariatkan, karena tidak ada satupun keterangan yang menyebutkan hal tersebut datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun sahabatnya.Adapun pengecualian yang disebutkan oleh sebagian ulama tentang disyariatkannya melafalkan niat dalam ibadah haji saja, maka hal itu bukanlah lafal niat itu sendiri, melainkan lafal talbiyah yang mengandung makna niat.Namun demikian, tidak bisa disimpulkan dari hal tersebut bahwa melafalkan niat menjadi disyariatkan secara umum. Terdapat pengecualian bagi orang yang tertimpa waswas, ketika ia ragu dalam memastikan niat ibadahnya; dalam kondisi seperti ini, dibolehkan baginya melafalkan niat agar niat tersebut menjadi mantap di dalam hatinya.Ketiga: apabila lafal yang diucapkan dengan lisan berbeda dengan apa yang ada di dalam hati, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang ada di dalam hati.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Depok, 7 Rajab 1447/ 27 Desember 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 57.[2] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 230.[3] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[4] Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq At-Tharifi, Shifatu Shalatin Nabi, hal. 58.[5] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[6] Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22: 231.[7] Musallam bin Muhammad Ad-Dusary, Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, hal. 78–79.Referensi:At-Tharifi, ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq. Shifatu Shalatin Nabi. Riyadh: Maktabah Dār al-Minhāj, cet. ke-7, 1439/ 2018.Ibnu Taimiyah. Majmū‘ al-Fatāwā. Saudi Arabia: Majma‘ al-Malik Fahd, 1425/ 2004. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, cet. ke-1, 1428/ 2007.

Tempat Pertama Kita Setelah Kematian: Alam Barzakh, Alam yang Begitu Asing

Oleh: Nasher bin Haza Al-Muajil Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berfirman dalam hadis qudsi yang shahih:  ومَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدي عَن نَفْسِ المُؤْمِن، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنَا أكْرَهُ مَسَاءَتَهُ “Tidaklah Aku pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa orang beriman, dia membenci kematian sedangkan Aku membenci hal buruk terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada penutup para nabi, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang beliau: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS. Az-Zumar: 30). Amma ba’du: Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniakan kepada kita agama yang sempurna dan menyeluruh ini, yang setiap kali kamu mendalami suatu pertanyaan, pasti kamu mendapati agama ini punya jawabannya yang masuk akal, mudah diterima, dan adil. Kamu juga akan memahami bahwa orang yang terhalang dari agama ini terjerumus ke dalam banyak pertanyaan, tapi meninggal dunia dan tetap tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di antaranya adalah pertanyaan yang sering kali bergelayut di pikiran kita, yaitu tentang alam barzakh.  Di antara orang-orang yang terhalang dari cahaya agama ini mengatakan: جِئْتُ لا أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ وَلَكِنِّي أَتَيْتُ Aku datang (ke dunia ini) tanpa tahu dari mana, tapi intinya aku ada. وَلَقَدْ أَبْصَرْتُ قُدَّامِي طَرِيقًا فَمَشَيْتُ Aku melihat di depanku ada jalan, maka aku menempuhnya. وَسَأَبْقَى سَائِرًا إِنْ شِئْتُ هَذَا أَوْ أَبَيْتُ Aku akan terus berjalan maju, mau tidak mau. كَيْفَ جِئْتُ كَيْفَ أَبْصَرْتُ طَرِيقِي؟! لستُ أدري Bagaimana aku ada, dan bagaimana aku melihat jalanku?! Aku tidak tahu! (Qasidah Ath-Thalasim, karya Eliya Abu Madhi). Demikian juga yang ditanyakan oleh banyak filsuf besar yang meninggal dunia dan masih menyisakan pertanyaan ini tanpa jawaban, “Mengapa kita diciptakan? Lalu ke mana kita akan pergi?” (Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Plato). Mereka tidak memahami hakikat terbesar, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akan ditanya tentang amalan-amalan kita, dan kita punya tujuan yang abadi, yaitu surga dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak diragukan bahwa akan ada keadilan yang menjadi pondasi langit dan bumi, karena jika tidak, bagaimana dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang zalim dan kejam tidak mendapat balasan setelah sebagian dari mereka mati di atas dipan-dipan mewah! Pasti ada kelanjutan dari kehidupan ini. Meskipun ada tabir yang menutupi salah satu bagian kehidupan, akal sehat tetap membisikkan, “Jangan pergi, karena ada potongan-potongan lain dari kehidupan ini. Sangat tidak masuk akal jika cerita ini hanya berhenti di sini, di dunia ini.” Terdapat tiga alam – sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi Rahimahullah, yaitu alam dunia, alam barzakh, dan alam keabadian. (Kitab Aqidah Ath-Thahawiyah). Sedangkan Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan satu lagi alam, yaitu alam permulaan (sebelum alam dunia). (Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ “Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30). Di sini kita akan membahas tentang alam barzakh yang merupakan alam gaib. Dan manhaj kita – sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah – adalah tidak memberi hukum pada perkara-perkara gaib dengan akal, pendapat, perasaan, mimpi, dan bisikan-bisikan suara, tapi manhaj kita adalah perkara-perkara gaib mengikuti hukum yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengertian barzakh Secara bahasa, kata barzakh berarti pembatas antara dua hal yang mencegah keduanya tercampur. Adapun secara istilah syariat, barzakh berarti alam di antara alam dunia dan akhirat, sebelum Hari Kebangkitan, yang dimulai dari waktu kematian hingga Hari Kebangkitan, sehingga siapa yang telah meninggal dunia, maka dia telah memasuki alam barzakh. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kata “Barzakh” disebutkan dengan maknanya dari sisi bahasa, seperti dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ “Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20). وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا “Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqan: 53). Disebutkan juga dengan maknanya secara syariat, seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ “Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّ القَبْرَ أوَّلُ مَنازِلِ الآخِرَة، فإنْ نَجَا مِنْهُ فما بَعْدَهُ أيْسَرُ مِنْهُ، وإنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فما بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه “Alam kubur merupakan tempat perhentian akhirat yang pertama, apabila seseorang selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih mudah, dan apabila seseorang tidak selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih berat.”  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda: ما رَأيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا والقَبْرُ أفْظَعُ مِنْه “Aku tidak pernah melihat pemandangan apapun melainkan alam kubur lebih menakutkan darinya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Diriwayatkan juga dari Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa mereka berkumpul?’ Lalu ada yang menjawab, ‘Mereka sedang berkumpul untuk menggali liang kubur.’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bergegas berjalan di depan para sahabat hingga sampai di kuburan itu, lalu beliau berlutut di atasnya. Akupun mengambil posisi di hadapan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan. Ternyata beliau menangis hingga tanah menjadi basah oleh air mata beliau. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda, ‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini, hendaklah kalian menyiapkannya!’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keadaan orang Islam dan orang kafir di alam Barzakh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّمَا نَسمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهُ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ “Sesungguhnya jiwa orang beriman menjadi burung yang makan di pepohonan surga, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangkitkannya.” (HR. Ahmad, Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Ibnu Katsir mengatakan, “Hadis ini mengandung isyarat bagi setiap mukmin bahwa rohnya akan berada di surga, bebas terbang di sana dan makan dari buah-buahannya, dapat menyaksikan segala keindahan dan kebahagiaan di dalamnya, dan melihat karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah siapkan baginya.” Ruh orang-orang beriman di alam barzakh tidak disebutkan kecuali dalam hadis tersebut dan hadis tentang ruh orang-orang yang mati syahid akan berada di tembolok-tembolok burung, yaitu hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: أَرْواحُهُمْ في جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ َ تَأْوِي إِلي تِلْكَ القَنَادِيلِ “Arwah mereka di perut burung hijau, di pelita-pelita yang tergantung di Arsy, mereka bebas terbang di surga sesuka hati mereka. Lalu mereka bernaung di pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim). Sedangkan keadaan ruh orang kafir di alam Barzakh sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ “Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam Barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan) ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!’” (QS. Ghafir: 46). Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: العَبْدُ إذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ، وتُوُلِّي وذَهَبَ أصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالهِم، أتَاهُ مَلَكانِ فأقْعَدَاهُ فيَقُولانِ لهُ: ما كُنْتَ تَقُولُ في هَذا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلَّى الله عليْه وسلَّم؟ فيَقُولُ: أشْهَدُ أنَّهُ عَبْد اللَّه ورَسُولُه، فيُقَالُ: انْظُرْ إلى مَقْعَدِك مِن النَّارِ، أبْدَلَكَ اللَّهُ بِه مَقْعَدًا مِن الجَنَّة قالَ النَّبِيُّ صلَّى الله عليْه وسلَّم: فيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وأمَّا الكَافِرُ – أوِ المُنَافِقُ – فيَقُول: لا أدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فيُقَالُ: لا دَرَيْتَ ولا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بمِطْرَقَةٍ مِن حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْهِ، فيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا منْ يلِيه إلَّا الثَّقَلَيْنِ “Apabila seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi – dan ia pasti mendengar suara derap sandal-sandal mereka – maka dua malaikat datang kepadanya. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang orang ini?’ Yakni tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang itu lalu menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah’.  Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari surga’.” Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menambahkan, “Orang itu melihat kedua tempat duduk itu. Sedangkan orang kafir – atau orang munafik – akan menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu sudah tidak mengetahui (kebenaran) tapi tidak juga membaca (Al-Qur’an).’ Kemudian dia dipukul dengan palu-palu yang terbuat dari besi, maka dia berteriak dengan teriakan yang kuat  terdengar oleh mahluk-mahluk yang ada di sekelilingnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari). وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنْهما عَنِ النَّبِيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم أنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبانِ فقَالَ: ((إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة))، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: ((لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا))[متفق عليه]. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah berlalu melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian beliau bersabda: إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena sesuatu yang (dianggap) besar. Adapun salah satunya, maka dia dulu tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan satunya lagi dulu suka menebar namimah (menyebarkan ucapan orang lain untuk tujuan buruk).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setiap belahan itu beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Semoga siksaannya diringankan dari mereka berdua selama pelepah itu belum kering.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apakah amalan akan terputus di alam Barzakh? Di antara nasihat dan wasiat yang sudah biasa kita dengar sejak kecil saat bertakziah adalah ucapan kepada keluarga mayit: Tangisan tidak lagi berguna bagi almarhum, dan bahkan bisa mendatangkan mudharat baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكاءِ الحَيِّ – أو بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ “Sesungguhnya mayit akan diazab karena tangisan orang yang masih hidup – atau tangisan keluarganya atas kematiannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu orang yang bertakziah itu menambahkan: Jika kalian ingin memberi manfaat bagi almarhum, maka doakanlah dia dan bersedekahlah atas namanya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: إلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada syair yang berbunyi: مَثِّلْ لِنَفْسِكَ أَيُّهَا المَغْرُورُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَمُورُ Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu. Berada di Hari Kiamat, ketika langit berguncang sekeras-kerasnya. إِذْ كُوِّرَتْ شَمْسُ النَّهَارِ وَأُدْنِيَتْ حَتَّى عَلَى رَأْسِ العِبَادِ تَسِيرُ Saat matahari digulung dan didekatkan. Di atas kepala para makhluk sambil berjalan. وَإِذَا النُّجُومُ تَسَاقَطَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَبَدَّلَتْ بَعْدَ الضِّيَاءِ كُدُورُ Saat bintang-bintang berjatuhan dan berguguran. Cahayanya berubah menjadi kegelapan. وَإِذَا البِحَارُ تَفَجَّرَتْ مِنْ خَوْفِهَا وَرَأَيْتَهَا مِثْلَ الجَحِيمِ تَفُورُ Saat lautan meluap karena rasa takutnya. Dan kamu melihatnya seperti api yang berkobar. وَإِذَا الجِبَالُ تَقَلَّعَتْ بِأُصُولِهَا فَرَأَيْتَهَا مِثْلَ السَّحَابِ تَسِيرُ Saat pegunungan tercabut dari akarnya. Dan kamu melihatnya seperti awan yang berjalan. وَإِذَا العِشَارُ تَعَطَّلَتْ وَتَخَرَّبَتْ خَلَتِ الدِّيَارُ فَمَا بِهَا مَعْمُورُ Ketika unta-unta bunting ditinggalkan dan bertumbangan. Rumah-rumah kosong tanpa ada satupun yang dihuni. وَإِذَا الجَلِيلُ طَوَى السَّمَا بِيَمِينِهِ طَيَّ السِّجِلِّ كِتَابُهُ المَنْشُورُ Ketika Sang Kuasa menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Seperti kertas yang digulung, dan Kitab-Nya ditebar. وَإِذَا الصَّحَائِفُ نُشِّرَتْ فَتَطَايَرَتْ وَتَهَتَّكَتْ لِلمُؤْمِنِينَ سُتُورُ Saat catatan-catatan amal ditebar dan beterbangan. Dan tabir-tabir diangkat dari orang-orang beriman. وَإِذَا السَّمَاءُ تَكَشَّطَتْ عَنْ أَهْلِهَا وَرَأَيْتَ أَفْلاكَ السَّمَاءِ تَدُورُ Saat langit terpecah belah dari penghuninya. Dan kamu melihat orbit-orbit langit berputar. وَإِذَا الجَحِيمُ تَسَعَّرَتْ نِيرَانُهَا فَلَهَا عَلَى أَهْلِ الذُّنُوبِ زَفِيرُ Saat neraka berkobar apinya. Ia punya hembusan yang tertuju pada para pelaku dosa. وَإِذَا الجِنَانُ تَزَخْرَفَتْ وَتَطَيَّبَتْ لِفَتًى عَلَى طُولِ البَلاءِ صَبُورُ Saat surga dihias dan menjadi harum semerbak. Untuk orang yang selalu sabar atas panjangnya bala. وَإِذَا الجَنِينُ بِأُمِّهِ مُتَعَلِّقٌ يَخْشَى القِصَاصَ وَقَلْبُهُ مَذْعُورُ Saat janin bergantung pada ibunya. Karena takut mendapat balasan dan hatinya ketakutan. هَذَا بِلا ذَنْبٍ يَخَافُ لِهَوْلِهِ كَيْفَ المُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ دُهُورُ؟! Seperti itu keadaan manusia yang tanpa dosa karena takut kengerian Hari Kiamat. Lalu bagaimana dengan orang yang selalu melakukan dosa-dosa bertahun-tahun! Penutup  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kehidupan sebagai tambahan bagi kita dalam segala kebaikan dan kematian sebagai perhentian bagi kita dari segala keburukan, mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, menjadikan amalan terbaik kita adalah penutupnya, hari terbaik kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya, dan ucapan terakhir kita di dunia adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasulullah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/6049/أول-منازلنا-بعد-الموت/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 696 times, 1 visit(s) today Post Views: 571

Tempat Pertama Kita Setelah Kematian: Alam Barzakh, Alam yang Begitu Asing

Oleh: Nasher bin Haza Al-Muajil Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berfirman dalam hadis qudsi yang shahih:  ومَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدي عَن نَفْسِ المُؤْمِن، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنَا أكْرَهُ مَسَاءَتَهُ “Tidaklah Aku pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa orang beriman, dia membenci kematian sedangkan Aku membenci hal buruk terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada penutup para nabi, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang beliau: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS. Az-Zumar: 30). Amma ba’du: Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniakan kepada kita agama yang sempurna dan menyeluruh ini, yang setiap kali kamu mendalami suatu pertanyaan, pasti kamu mendapati agama ini punya jawabannya yang masuk akal, mudah diterima, dan adil. Kamu juga akan memahami bahwa orang yang terhalang dari agama ini terjerumus ke dalam banyak pertanyaan, tapi meninggal dunia dan tetap tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di antaranya adalah pertanyaan yang sering kali bergelayut di pikiran kita, yaitu tentang alam barzakh.  Di antara orang-orang yang terhalang dari cahaya agama ini mengatakan: جِئْتُ لا أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ وَلَكِنِّي أَتَيْتُ Aku datang (ke dunia ini) tanpa tahu dari mana, tapi intinya aku ada. وَلَقَدْ أَبْصَرْتُ قُدَّامِي طَرِيقًا فَمَشَيْتُ Aku melihat di depanku ada jalan, maka aku menempuhnya. وَسَأَبْقَى سَائِرًا إِنْ شِئْتُ هَذَا أَوْ أَبَيْتُ Aku akan terus berjalan maju, mau tidak mau. كَيْفَ جِئْتُ كَيْفَ أَبْصَرْتُ طَرِيقِي؟! لستُ أدري Bagaimana aku ada, dan bagaimana aku melihat jalanku?! Aku tidak tahu! (Qasidah Ath-Thalasim, karya Eliya Abu Madhi). Demikian juga yang ditanyakan oleh banyak filsuf besar yang meninggal dunia dan masih menyisakan pertanyaan ini tanpa jawaban, “Mengapa kita diciptakan? Lalu ke mana kita akan pergi?” (Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Plato). Mereka tidak memahami hakikat terbesar, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akan ditanya tentang amalan-amalan kita, dan kita punya tujuan yang abadi, yaitu surga dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak diragukan bahwa akan ada keadilan yang menjadi pondasi langit dan bumi, karena jika tidak, bagaimana dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang zalim dan kejam tidak mendapat balasan setelah sebagian dari mereka mati di atas dipan-dipan mewah! Pasti ada kelanjutan dari kehidupan ini. Meskipun ada tabir yang menutupi salah satu bagian kehidupan, akal sehat tetap membisikkan, “Jangan pergi, karena ada potongan-potongan lain dari kehidupan ini. Sangat tidak masuk akal jika cerita ini hanya berhenti di sini, di dunia ini.” Terdapat tiga alam – sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi Rahimahullah, yaitu alam dunia, alam barzakh, dan alam keabadian. (Kitab Aqidah Ath-Thahawiyah). Sedangkan Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan satu lagi alam, yaitu alam permulaan (sebelum alam dunia). (Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ “Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30). Di sini kita akan membahas tentang alam barzakh yang merupakan alam gaib. Dan manhaj kita – sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah – adalah tidak memberi hukum pada perkara-perkara gaib dengan akal, pendapat, perasaan, mimpi, dan bisikan-bisikan suara, tapi manhaj kita adalah perkara-perkara gaib mengikuti hukum yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengertian barzakh Secara bahasa, kata barzakh berarti pembatas antara dua hal yang mencegah keduanya tercampur. Adapun secara istilah syariat, barzakh berarti alam di antara alam dunia dan akhirat, sebelum Hari Kebangkitan, yang dimulai dari waktu kematian hingga Hari Kebangkitan, sehingga siapa yang telah meninggal dunia, maka dia telah memasuki alam barzakh. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kata “Barzakh” disebutkan dengan maknanya dari sisi bahasa, seperti dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ “Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20). وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا “Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqan: 53). Disebutkan juga dengan maknanya secara syariat, seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ “Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّ القَبْرَ أوَّلُ مَنازِلِ الآخِرَة، فإنْ نَجَا مِنْهُ فما بَعْدَهُ أيْسَرُ مِنْهُ، وإنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فما بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه “Alam kubur merupakan tempat perhentian akhirat yang pertama, apabila seseorang selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih mudah, dan apabila seseorang tidak selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih berat.”  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda: ما رَأيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا والقَبْرُ أفْظَعُ مِنْه “Aku tidak pernah melihat pemandangan apapun melainkan alam kubur lebih menakutkan darinya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Diriwayatkan juga dari Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa mereka berkumpul?’ Lalu ada yang menjawab, ‘Mereka sedang berkumpul untuk menggali liang kubur.’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bergegas berjalan di depan para sahabat hingga sampai di kuburan itu, lalu beliau berlutut di atasnya. Akupun mengambil posisi di hadapan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan. Ternyata beliau menangis hingga tanah menjadi basah oleh air mata beliau. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda, ‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini, hendaklah kalian menyiapkannya!’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keadaan orang Islam dan orang kafir di alam Barzakh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّمَا نَسمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهُ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ “Sesungguhnya jiwa orang beriman menjadi burung yang makan di pepohonan surga, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangkitkannya.” (HR. Ahmad, Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Ibnu Katsir mengatakan, “Hadis ini mengandung isyarat bagi setiap mukmin bahwa rohnya akan berada di surga, bebas terbang di sana dan makan dari buah-buahannya, dapat menyaksikan segala keindahan dan kebahagiaan di dalamnya, dan melihat karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah siapkan baginya.” Ruh orang-orang beriman di alam barzakh tidak disebutkan kecuali dalam hadis tersebut dan hadis tentang ruh orang-orang yang mati syahid akan berada di tembolok-tembolok burung, yaitu hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: أَرْواحُهُمْ في جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ َ تَأْوِي إِلي تِلْكَ القَنَادِيلِ “Arwah mereka di perut burung hijau, di pelita-pelita yang tergantung di Arsy, mereka bebas terbang di surga sesuka hati mereka. Lalu mereka bernaung di pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim). Sedangkan keadaan ruh orang kafir di alam Barzakh sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ “Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam Barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan) ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!’” (QS. Ghafir: 46). Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: العَبْدُ إذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ، وتُوُلِّي وذَهَبَ أصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالهِم، أتَاهُ مَلَكانِ فأقْعَدَاهُ فيَقُولانِ لهُ: ما كُنْتَ تَقُولُ في هَذا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلَّى الله عليْه وسلَّم؟ فيَقُولُ: أشْهَدُ أنَّهُ عَبْد اللَّه ورَسُولُه، فيُقَالُ: انْظُرْ إلى مَقْعَدِك مِن النَّارِ، أبْدَلَكَ اللَّهُ بِه مَقْعَدًا مِن الجَنَّة قالَ النَّبِيُّ صلَّى الله عليْه وسلَّم: فيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وأمَّا الكَافِرُ – أوِ المُنَافِقُ – فيَقُول: لا أدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فيُقَالُ: لا دَرَيْتَ ولا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بمِطْرَقَةٍ مِن حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْهِ، فيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا منْ يلِيه إلَّا الثَّقَلَيْنِ “Apabila seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi – dan ia pasti mendengar suara derap sandal-sandal mereka – maka dua malaikat datang kepadanya. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang orang ini?’ Yakni tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang itu lalu menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah’.  Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari surga’.” Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menambahkan, “Orang itu melihat kedua tempat duduk itu. Sedangkan orang kafir – atau orang munafik – akan menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu sudah tidak mengetahui (kebenaran) tapi tidak juga membaca (Al-Qur’an).’ Kemudian dia dipukul dengan palu-palu yang terbuat dari besi, maka dia berteriak dengan teriakan yang kuat  terdengar oleh mahluk-mahluk yang ada di sekelilingnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari). وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنْهما عَنِ النَّبِيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم أنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبانِ فقَالَ: ((إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة))، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: ((لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا))[متفق عليه]. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah berlalu melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian beliau bersabda: إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena sesuatu yang (dianggap) besar. Adapun salah satunya, maka dia dulu tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan satunya lagi dulu suka menebar namimah (menyebarkan ucapan orang lain untuk tujuan buruk).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setiap belahan itu beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Semoga siksaannya diringankan dari mereka berdua selama pelepah itu belum kering.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apakah amalan akan terputus di alam Barzakh? Di antara nasihat dan wasiat yang sudah biasa kita dengar sejak kecil saat bertakziah adalah ucapan kepada keluarga mayit: Tangisan tidak lagi berguna bagi almarhum, dan bahkan bisa mendatangkan mudharat baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكاءِ الحَيِّ – أو بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ “Sesungguhnya mayit akan diazab karena tangisan orang yang masih hidup – atau tangisan keluarganya atas kematiannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu orang yang bertakziah itu menambahkan: Jika kalian ingin memberi manfaat bagi almarhum, maka doakanlah dia dan bersedekahlah atas namanya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: إلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada syair yang berbunyi: مَثِّلْ لِنَفْسِكَ أَيُّهَا المَغْرُورُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَمُورُ Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu. Berada di Hari Kiamat, ketika langit berguncang sekeras-kerasnya. إِذْ كُوِّرَتْ شَمْسُ النَّهَارِ وَأُدْنِيَتْ حَتَّى عَلَى رَأْسِ العِبَادِ تَسِيرُ Saat matahari digulung dan didekatkan. Di atas kepala para makhluk sambil berjalan. وَإِذَا النُّجُومُ تَسَاقَطَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَبَدَّلَتْ بَعْدَ الضِّيَاءِ كُدُورُ Saat bintang-bintang berjatuhan dan berguguran. Cahayanya berubah menjadi kegelapan. وَإِذَا البِحَارُ تَفَجَّرَتْ مِنْ خَوْفِهَا وَرَأَيْتَهَا مِثْلَ الجَحِيمِ تَفُورُ Saat lautan meluap karena rasa takutnya. Dan kamu melihatnya seperti api yang berkobar. وَإِذَا الجِبَالُ تَقَلَّعَتْ بِأُصُولِهَا فَرَأَيْتَهَا مِثْلَ السَّحَابِ تَسِيرُ Saat pegunungan tercabut dari akarnya. Dan kamu melihatnya seperti awan yang berjalan. وَإِذَا العِشَارُ تَعَطَّلَتْ وَتَخَرَّبَتْ خَلَتِ الدِّيَارُ فَمَا بِهَا مَعْمُورُ Ketika unta-unta bunting ditinggalkan dan bertumbangan. Rumah-rumah kosong tanpa ada satupun yang dihuni. وَإِذَا الجَلِيلُ طَوَى السَّمَا بِيَمِينِهِ طَيَّ السِّجِلِّ كِتَابُهُ المَنْشُورُ Ketika Sang Kuasa menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Seperti kertas yang digulung, dan Kitab-Nya ditebar. وَإِذَا الصَّحَائِفُ نُشِّرَتْ فَتَطَايَرَتْ وَتَهَتَّكَتْ لِلمُؤْمِنِينَ سُتُورُ Saat catatan-catatan amal ditebar dan beterbangan. Dan tabir-tabir diangkat dari orang-orang beriman. وَإِذَا السَّمَاءُ تَكَشَّطَتْ عَنْ أَهْلِهَا وَرَأَيْتَ أَفْلاكَ السَّمَاءِ تَدُورُ Saat langit terpecah belah dari penghuninya. Dan kamu melihat orbit-orbit langit berputar. وَإِذَا الجَحِيمُ تَسَعَّرَتْ نِيرَانُهَا فَلَهَا عَلَى أَهْلِ الذُّنُوبِ زَفِيرُ Saat neraka berkobar apinya. Ia punya hembusan yang tertuju pada para pelaku dosa. وَإِذَا الجِنَانُ تَزَخْرَفَتْ وَتَطَيَّبَتْ لِفَتًى عَلَى طُولِ البَلاءِ صَبُورُ Saat surga dihias dan menjadi harum semerbak. Untuk orang yang selalu sabar atas panjangnya bala. وَإِذَا الجَنِينُ بِأُمِّهِ مُتَعَلِّقٌ يَخْشَى القِصَاصَ وَقَلْبُهُ مَذْعُورُ Saat janin bergantung pada ibunya. Karena takut mendapat balasan dan hatinya ketakutan. هَذَا بِلا ذَنْبٍ يَخَافُ لِهَوْلِهِ كَيْفَ المُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ دُهُورُ؟! Seperti itu keadaan manusia yang tanpa dosa karena takut kengerian Hari Kiamat. Lalu bagaimana dengan orang yang selalu melakukan dosa-dosa bertahun-tahun! Penutup  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kehidupan sebagai tambahan bagi kita dalam segala kebaikan dan kematian sebagai perhentian bagi kita dari segala keburukan, mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, menjadikan amalan terbaik kita adalah penutupnya, hari terbaik kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya, dan ucapan terakhir kita di dunia adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasulullah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/6049/أول-منازلنا-بعد-الموت/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 696 times, 1 visit(s) today Post Views: 571
Oleh: Nasher bin Haza Al-Muajil Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berfirman dalam hadis qudsi yang shahih:  ومَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدي عَن نَفْسِ المُؤْمِن، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنَا أكْرَهُ مَسَاءَتَهُ “Tidaklah Aku pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa orang beriman, dia membenci kematian sedangkan Aku membenci hal buruk terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada penutup para nabi, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang beliau: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS. Az-Zumar: 30). Amma ba’du: Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniakan kepada kita agama yang sempurna dan menyeluruh ini, yang setiap kali kamu mendalami suatu pertanyaan, pasti kamu mendapati agama ini punya jawabannya yang masuk akal, mudah diterima, dan adil. Kamu juga akan memahami bahwa orang yang terhalang dari agama ini terjerumus ke dalam banyak pertanyaan, tapi meninggal dunia dan tetap tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di antaranya adalah pertanyaan yang sering kali bergelayut di pikiran kita, yaitu tentang alam barzakh.  Di antara orang-orang yang terhalang dari cahaya agama ini mengatakan: جِئْتُ لا أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ وَلَكِنِّي أَتَيْتُ Aku datang (ke dunia ini) tanpa tahu dari mana, tapi intinya aku ada. وَلَقَدْ أَبْصَرْتُ قُدَّامِي طَرِيقًا فَمَشَيْتُ Aku melihat di depanku ada jalan, maka aku menempuhnya. وَسَأَبْقَى سَائِرًا إِنْ شِئْتُ هَذَا أَوْ أَبَيْتُ Aku akan terus berjalan maju, mau tidak mau. كَيْفَ جِئْتُ كَيْفَ أَبْصَرْتُ طَرِيقِي؟! لستُ أدري Bagaimana aku ada, dan bagaimana aku melihat jalanku?! Aku tidak tahu! (Qasidah Ath-Thalasim, karya Eliya Abu Madhi). Demikian juga yang ditanyakan oleh banyak filsuf besar yang meninggal dunia dan masih menyisakan pertanyaan ini tanpa jawaban, “Mengapa kita diciptakan? Lalu ke mana kita akan pergi?” (Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Plato). Mereka tidak memahami hakikat terbesar, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akan ditanya tentang amalan-amalan kita, dan kita punya tujuan yang abadi, yaitu surga dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak diragukan bahwa akan ada keadilan yang menjadi pondasi langit dan bumi, karena jika tidak, bagaimana dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang zalim dan kejam tidak mendapat balasan setelah sebagian dari mereka mati di atas dipan-dipan mewah! Pasti ada kelanjutan dari kehidupan ini. Meskipun ada tabir yang menutupi salah satu bagian kehidupan, akal sehat tetap membisikkan, “Jangan pergi, karena ada potongan-potongan lain dari kehidupan ini. Sangat tidak masuk akal jika cerita ini hanya berhenti di sini, di dunia ini.” Terdapat tiga alam – sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi Rahimahullah, yaitu alam dunia, alam barzakh, dan alam keabadian. (Kitab Aqidah Ath-Thahawiyah). Sedangkan Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan satu lagi alam, yaitu alam permulaan (sebelum alam dunia). (Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ “Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30). Di sini kita akan membahas tentang alam barzakh yang merupakan alam gaib. Dan manhaj kita – sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah – adalah tidak memberi hukum pada perkara-perkara gaib dengan akal, pendapat, perasaan, mimpi, dan bisikan-bisikan suara, tapi manhaj kita adalah perkara-perkara gaib mengikuti hukum yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengertian barzakh Secara bahasa, kata barzakh berarti pembatas antara dua hal yang mencegah keduanya tercampur. Adapun secara istilah syariat, barzakh berarti alam di antara alam dunia dan akhirat, sebelum Hari Kebangkitan, yang dimulai dari waktu kematian hingga Hari Kebangkitan, sehingga siapa yang telah meninggal dunia, maka dia telah memasuki alam barzakh. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kata “Barzakh” disebutkan dengan maknanya dari sisi bahasa, seperti dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ “Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20). وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا “Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqan: 53). Disebutkan juga dengan maknanya secara syariat, seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ “Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّ القَبْرَ أوَّلُ مَنازِلِ الآخِرَة، فإنْ نَجَا مِنْهُ فما بَعْدَهُ أيْسَرُ مِنْهُ، وإنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فما بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه “Alam kubur merupakan tempat perhentian akhirat yang pertama, apabila seseorang selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih mudah, dan apabila seseorang tidak selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih berat.”  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda: ما رَأيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا والقَبْرُ أفْظَعُ مِنْه “Aku tidak pernah melihat pemandangan apapun melainkan alam kubur lebih menakutkan darinya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Diriwayatkan juga dari Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa mereka berkumpul?’ Lalu ada yang menjawab, ‘Mereka sedang berkumpul untuk menggali liang kubur.’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bergegas berjalan di depan para sahabat hingga sampai di kuburan itu, lalu beliau berlutut di atasnya. Akupun mengambil posisi di hadapan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan. Ternyata beliau menangis hingga tanah menjadi basah oleh air mata beliau. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda, ‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini, hendaklah kalian menyiapkannya!’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keadaan orang Islam dan orang kafir di alam Barzakh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّمَا نَسمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهُ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ “Sesungguhnya jiwa orang beriman menjadi burung yang makan di pepohonan surga, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangkitkannya.” (HR. Ahmad, Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Ibnu Katsir mengatakan, “Hadis ini mengandung isyarat bagi setiap mukmin bahwa rohnya akan berada di surga, bebas terbang di sana dan makan dari buah-buahannya, dapat menyaksikan segala keindahan dan kebahagiaan di dalamnya, dan melihat karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah siapkan baginya.” Ruh orang-orang beriman di alam barzakh tidak disebutkan kecuali dalam hadis tersebut dan hadis tentang ruh orang-orang yang mati syahid akan berada di tembolok-tembolok burung, yaitu hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: أَرْواحُهُمْ في جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ َ تَأْوِي إِلي تِلْكَ القَنَادِيلِ “Arwah mereka di perut burung hijau, di pelita-pelita yang tergantung di Arsy, mereka bebas terbang di surga sesuka hati mereka. Lalu mereka bernaung di pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim). Sedangkan keadaan ruh orang kafir di alam Barzakh sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ “Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam Barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan) ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!’” (QS. Ghafir: 46). Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: العَبْدُ إذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ، وتُوُلِّي وذَهَبَ أصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالهِم، أتَاهُ مَلَكانِ فأقْعَدَاهُ فيَقُولانِ لهُ: ما كُنْتَ تَقُولُ في هَذا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلَّى الله عليْه وسلَّم؟ فيَقُولُ: أشْهَدُ أنَّهُ عَبْد اللَّه ورَسُولُه، فيُقَالُ: انْظُرْ إلى مَقْعَدِك مِن النَّارِ، أبْدَلَكَ اللَّهُ بِه مَقْعَدًا مِن الجَنَّة قالَ النَّبِيُّ صلَّى الله عليْه وسلَّم: فيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وأمَّا الكَافِرُ – أوِ المُنَافِقُ – فيَقُول: لا أدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فيُقَالُ: لا دَرَيْتَ ولا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بمِطْرَقَةٍ مِن حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْهِ، فيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا منْ يلِيه إلَّا الثَّقَلَيْنِ “Apabila seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi – dan ia pasti mendengar suara derap sandal-sandal mereka – maka dua malaikat datang kepadanya. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang orang ini?’ Yakni tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang itu lalu menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah’.  Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari surga’.” Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menambahkan, “Orang itu melihat kedua tempat duduk itu. Sedangkan orang kafir – atau orang munafik – akan menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu sudah tidak mengetahui (kebenaran) tapi tidak juga membaca (Al-Qur’an).’ Kemudian dia dipukul dengan palu-palu yang terbuat dari besi, maka dia berteriak dengan teriakan yang kuat  terdengar oleh mahluk-mahluk yang ada di sekelilingnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari). وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنْهما عَنِ النَّبِيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم أنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبانِ فقَالَ: ((إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة))، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: ((لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا))[متفق عليه]. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah berlalu melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian beliau bersabda: إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena sesuatu yang (dianggap) besar. Adapun salah satunya, maka dia dulu tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan satunya lagi dulu suka menebar namimah (menyebarkan ucapan orang lain untuk tujuan buruk).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setiap belahan itu beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Semoga siksaannya diringankan dari mereka berdua selama pelepah itu belum kering.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apakah amalan akan terputus di alam Barzakh? Di antara nasihat dan wasiat yang sudah biasa kita dengar sejak kecil saat bertakziah adalah ucapan kepada keluarga mayit: Tangisan tidak lagi berguna bagi almarhum, dan bahkan bisa mendatangkan mudharat baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكاءِ الحَيِّ – أو بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ “Sesungguhnya mayit akan diazab karena tangisan orang yang masih hidup – atau tangisan keluarganya atas kematiannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu orang yang bertakziah itu menambahkan: Jika kalian ingin memberi manfaat bagi almarhum, maka doakanlah dia dan bersedekahlah atas namanya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: إلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada syair yang berbunyi: مَثِّلْ لِنَفْسِكَ أَيُّهَا المَغْرُورُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَمُورُ Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu. Berada di Hari Kiamat, ketika langit berguncang sekeras-kerasnya. إِذْ كُوِّرَتْ شَمْسُ النَّهَارِ وَأُدْنِيَتْ حَتَّى عَلَى رَأْسِ العِبَادِ تَسِيرُ Saat matahari digulung dan didekatkan. Di atas kepala para makhluk sambil berjalan. وَإِذَا النُّجُومُ تَسَاقَطَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَبَدَّلَتْ بَعْدَ الضِّيَاءِ كُدُورُ Saat bintang-bintang berjatuhan dan berguguran. Cahayanya berubah menjadi kegelapan. وَإِذَا البِحَارُ تَفَجَّرَتْ مِنْ خَوْفِهَا وَرَأَيْتَهَا مِثْلَ الجَحِيمِ تَفُورُ Saat lautan meluap karena rasa takutnya. Dan kamu melihatnya seperti api yang berkobar. وَإِذَا الجِبَالُ تَقَلَّعَتْ بِأُصُولِهَا فَرَأَيْتَهَا مِثْلَ السَّحَابِ تَسِيرُ Saat pegunungan tercabut dari akarnya. Dan kamu melihatnya seperti awan yang berjalan. وَإِذَا العِشَارُ تَعَطَّلَتْ وَتَخَرَّبَتْ خَلَتِ الدِّيَارُ فَمَا بِهَا مَعْمُورُ Ketika unta-unta bunting ditinggalkan dan bertumbangan. Rumah-rumah kosong tanpa ada satupun yang dihuni. وَإِذَا الجَلِيلُ طَوَى السَّمَا بِيَمِينِهِ طَيَّ السِّجِلِّ كِتَابُهُ المَنْشُورُ Ketika Sang Kuasa menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Seperti kertas yang digulung, dan Kitab-Nya ditebar. وَإِذَا الصَّحَائِفُ نُشِّرَتْ فَتَطَايَرَتْ وَتَهَتَّكَتْ لِلمُؤْمِنِينَ سُتُورُ Saat catatan-catatan amal ditebar dan beterbangan. Dan tabir-tabir diangkat dari orang-orang beriman. وَإِذَا السَّمَاءُ تَكَشَّطَتْ عَنْ أَهْلِهَا وَرَأَيْتَ أَفْلاكَ السَّمَاءِ تَدُورُ Saat langit terpecah belah dari penghuninya. Dan kamu melihat orbit-orbit langit berputar. وَإِذَا الجَحِيمُ تَسَعَّرَتْ نِيرَانُهَا فَلَهَا عَلَى أَهْلِ الذُّنُوبِ زَفِيرُ Saat neraka berkobar apinya. Ia punya hembusan yang tertuju pada para pelaku dosa. وَإِذَا الجِنَانُ تَزَخْرَفَتْ وَتَطَيَّبَتْ لِفَتًى عَلَى طُولِ البَلاءِ صَبُورُ Saat surga dihias dan menjadi harum semerbak. Untuk orang yang selalu sabar atas panjangnya bala. وَإِذَا الجَنِينُ بِأُمِّهِ مُتَعَلِّقٌ يَخْشَى القِصَاصَ وَقَلْبُهُ مَذْعُورُ Saat janin bergantung pada ibunya. Karena takut mendapat balasan dan hatinya ketakutan. هَذَا بِلا ذَنْبٍ يَخَافُ لِهَوْلِهِ كَيْفَ المُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ دُهُورُ؟! Seperti itu keadaan manusia yang tanpa dosa karena takut kengerian Hari Kiamat. Lalu bagaimana dengan orang yang selalu melakukan dosa-dosa bertahun-tahun! Penutup  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kehidupan sebagai tambahan bagi kita dalam segala kebaikan dan kematian sebagai perhentian bagi kita dari segala keburukan, mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, menjadikan amalan terbaik kita adalah penutupnya, hari terbaik kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya, dan ucapan terakhir kita di dunia adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasulullah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/6049/أول-منازلنا-بعد-الموت/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 696 times, 1 visit(s) today Post Views: 571


Oleh: Nasher bin Haza Al-Muajil Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berfirman dalam hadis qudsi yang shahih:  ومَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدي عَن نَفْسِ المُؤْمِن، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنَا أكْرَهُ مَسَاءَتَهُ “Tidaklah Aku pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa orang beriman, dia membenci kematian sedangkan Aku membenci hal buruk terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada penutup para nabi, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang beliau: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS. Az-Zumar: 30). Amma ba’du: Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniakan kepada kita agama yang sempurna dan menyeluruh ini, yang setiap kali kamu mendalami suatu pertanyaan, pasti kamu mendapati agama ini punya jawabannya yang masuk akal, mudah diterima, dan adil. Kamu juga akan memahami bahwa orang yang terhalang dari agama ini terjerumus ke dalam banyak pertanyaan, tapi meninggal dunia dan tetap tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di antaranya adalah pertanyaan yang sering kali bergelayut di pikiran kita, yaitu tentang alam barzakh.  Di antara orang-orang yang terhalang dari cahaya agama ini mengatakan: جِئْتُ لا أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ وَلَكِنِّي أَتَيْتُ Aku datang (ke dunia ini) tanpa tahu dari mana, tapi intinya aku ada. وَلَقَدْ أَبْصَرْتُ قُدَّامِي طَرِيقًا فَمَشَيْتُ Aku melihat di depanku ada jalan, maka aku menempuhnya. وَسَأَبْقَى سَائِرًا إِنْ شِئْتُ هَذَا أَوْ أَبَيْتُ Aku akan terus berjalan maju, mau tidak mau. كَيْفَ جِئْتُ كَيْفَ أَبْصَرْتُ طَرِيقِي؟! لستُ أدري Bagaimana aku ada, dan bagaimana aku melihat jalanku?! Aku tidak tahu! (Qasidah Ath-Thalasim, karya Eliya Abu Madhi). Demikian juga yang ditanyakan oleh banyak filsuf besar yang meninggal dunia dan masih menyisakan pertanyaan ini tanpa jawaban, “Mengapa kita diciptakan? Lalu ke mana kita akan pergi?” (Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Plato). Mereka tidak memahami hakikat terbesar, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akan ditanya tentang amalan-amalan kita, dan kita punya tujuan yang abadi, yaitu surga dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak diragukan bahwa akan ada keadilan yang menjadi pondasi langit dan bumi, karena jika tidak, bagaimana dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang zalim dan kejam tidak mendapat balasan setelah sebagian dari mereka mati di atas dipan-dipan mewah! Pasti ada kelanjutan dari kehidupan ini. Meskipun ada tabir yang menutupi salah satu bagian kehidupan, akal sehat tetap membisikkan, “Jangan pergi, karena ada potongan-potongan lain dari kehidupan ini. Sangat tidak masuk akal jika cerita ini hanya berhenti di sini, di dunia ini.” Terdapat tiga alam – sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi Rahimahullah, yaitu alam dunia, alam barzakh, dan alam keabadian. (Kitab Aqidah Ath-Thahawiyah). Sedangkan Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan satu lagi alam, yaitu alam permulaan (sebelum alam dunia). (Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ “Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30). Di sini kita akan membahas tentang alam barzakh yang merupakan alam gaib. Dan manhaj kita – sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah – adalah tidak memberi hukum pada perkara-perkara gaib dengan akal, pendapat, perasaan, mimpi, dan bisikan-bisikan suara, tapi manhaj kita adalah perkara-perkara gaib mengikuti hukum yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengertian barzakh Secara bahasa, kata barzakh berarti pembatas antara dua hal yang mencegah keduanya tercampur. Adapun secara istilah syariat, barzakh berarti alam di antara alam dunia dan akhirat, sebelum Hari Kebangkitan, yang dimulai dari waktu kematian hingga Hari Kebangkitan, sehingga siapa yang telah meninggal dunia, maka dia telah memasuki alam barzakh. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kata “Barzakh” disebutkan dengan maknanya dari sisi bahasa, seperti dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ “Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20). وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا “Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqan: 53). Disebutkan juga dengan maknanya secara syariat, seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ “Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّ القَبْرَ أوَّلُ مَنازِلِ الآخِرَة، فإنْ نَجَا مِنْهُ فما بَعْدَهُ أيْسَرُ مِنْهُ، وإنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فما بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه “Alam kubur merupakan tempat perhentian akhirat yang pertama, apabila seseorang selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih mudah, dan apabila seseorang tidak selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih berat.”  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda: ما رَأيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا والقَبْرُ أفْظَعُ مِنْه “Aku tidak pernah melihat pemandangan apapun melainkan alam kubur lebih menakutkan darinya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Diriwayatkan juga dari Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa mereka berkumpul?’ Lalu ada yang menjawab, ‘Mereka sedang berkumpul untuk menggali liang kubur.’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bergegas berjalan di depan para sahabat hingga sampai di kuburan itu, lalu beliau berlutut di atasnya. Akupun mengambil posisi di hadapan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan. Ternyata beliau menangis hingga tanah menjadi basah oleh air mata beliau. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda, ‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini, hendaklah kalian menyiapkannya!’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keadaan orang Islam dan orang kafir di alam Barzakh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إنَّمَا نَسمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهُ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ “Sesungguhnya jiwa orang beriman menjadi burung yang makan di pepohonan surga, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangkitkannya.” (HR. Ahmad, Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Ibnu Katsir mengatakan, “Hadis ini mengandung isyarat bagi setiap mukmin bahwa rohnya akan berada di surga, bebas terbang di sana dan makan dari buah-buahannya, dapat menyaksikan segala keindahan dan kebahagiaan di dalamnya, dan melihat karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah siapkan baginya.” Ruh orang-orang beriman di alam barzakh tidak disebutkan kecuali dalam hadis tersebut dan hadis tentang ruh orang-orang yang mati syahid akan berada di tembolok-tembolok burung, yaitu hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: أَرْواحُهُمْ في جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ َ تَأْوِي إِلي تِلْكَ القَنَادِيلِ “Arwah mereka di perut burung hijau, di pelita-pelita yang tergantung di Arsy, mereka bebas terbang di surga sesuka hati mereka. Lalu mereka bernaung di pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim). Sedangkan keadaan ruh orang kafir di alam Barzakh sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ “Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam Barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan) ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!’” (QS. Ghafir: 46). Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: العَبْدُ إذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ، وتُوُلِّي وذَهَبَ أصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالهِم، أتَاهُ مَلَكانِ فأقْعَدَاهُ فيَقُولانِ لهُ: ما كُنْتَ تَقُولُ في هَذا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلَّى الله عليْه وسلَّم؟ فيَقُولُ: أشْهَدُ أنَّهُ عَبْد اللَّه ورَسُولُه، فيُقَالُ: انْظُرْ إلى مَقْعَدِك مِن النَّارِ، أبْدَلَكَ اللَّهُ بِه مَقْعَدًا مِن الجَنَّة قالَ النَّبِيُّ صلَّى الله عليْه وسلَّم: فيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وأمَّا الكَافِرُ – أوِ المُنَافِقُ – فيَقُول: لا أدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فيُقَالُ: لا دَرَيْتَ ولا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بمِطْرَقَةٍ مِن حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْهِ، فيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا منْ يلِيه إلَّا الثَّقَلَيْنِ “Apabila seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi – dan ia pasti mendengar suara derap sandal-sandal mereka – maka dua malaikat datang kepadanya. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang orang ini?’ Yakni tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang itu lalu menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah’.  Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari surga’.” Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menambahkan, “Orang itu melihat kedua tempat duduk itu. Sedangkan orang kafir – atau orang munafik – akan menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu sudah tidak mengetahui (kebenaran) tapi tidak juga membaca (Al-Qur’an).’ Kemudian dia dipukul dengan palu-palu yang terbuat dari besi, maka dia berteriak dengan teriakan yang kuat  terdengar oleh mahluk-mahluk yang ada di sekelilingnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari). وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنْهما عَنِ النَّبِيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم أنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبانِ فقَالَ: ((إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة))، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: ((لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا))[متفق عليه]. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah berlalu melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian beliau bersabda: إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena sesuatu yang (dianggap) besar. Adapun salah satunya, maka dia dulu tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan satunya lagi dulu suka menebar namimah (menyebarkan ucapan orang lain untuk tujuan buruk).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setiap belahan itu beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Semoga siksaannya diringankan dari mereka berdua selama pelepah itu belum kering.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apakah amalan akan terputus di alam Barzakh? Di antara nasihat dan wasiat yang sudah biasa kita dengar sejak kecil saat bertakziah adalah ucapan kepada keluarga mayit: Tangisan tidak lagi berguna bagi almarhum, dan bahkan bisa mendatangkan mudharat baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكاءِ الحَيِّ – أو بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ “Sesungguhnya mayit akan diazab karena tangisan orang yang masih hidup – atau tangisan keluarganya atas kematiannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu orang yang bertakziah itu menambahkan: Jika kalian ingin memberi manfaat bagi almarhum, maka doakanlah dia dan bersedekahlah atas namanya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: إلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Ada syair yang berbunyi: مَثِّلْ لِنَفْسِكَ أَيُّهَا المَغْرُورُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَمُورُ Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu. Berada di Hari Kiamat, ketika langit berguncang sekeras-kerasnya. إِذْ كُوِّرَتْ شَمْسُ النَّهَارِ وَأُدْنِيَتْ حَتَّى عَلَى رَأْسِ العِبَادِ تَسِيرُ Saat matahari digulung dan didekatkan. Di atas kepala para makhluk sambil berjalan. وَإِذَا النُّجُومُ تَسَاقَطَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَبَدَّلَتْ بَعْدَ الضِّيَاءِ كُدُورُ Saat bintang-bintang berjatuhan dan berguguran. Cahayanya berubah menjadi kegelapan. وَإِذَا البِحَارُ تَفَجَّرَتْ مِنْ خَوْفِهَا وَرَأَيْتَهَا مِثْلَ الجَحِيمِ تَفُورُ Saat lautan meluap karena rasa takutnya. Dan kamu melihatnya seperti api yang berkobar. وَإِذَا الجِبَالُ تَقَلَّعَتْ بِأُصُولِهَا فَرَأَيْتَهَا مِثْلَ السَّحَابِ تَسِيرُ Saat pegunungan tercabut dari akarnya. Dan kamu melihatnya seperti awan yang berjalan. وَإِذَا العِشَارُ تَعَطَّلَتْ وَتَخَرَّبَتْ خَلَتِ الدِّيَارُ فَمَا بِهَا مَعْمُورُ Ketika unta-unta bunting ditinggalkan dan bertumbangan. Rumah-rumah kosong tanpa ada satupun yang dihuni. وَإِذَا الجَلِيلُ طَوَى السَّمَا بِيَمِينِهِ طَيَّ السِّجِلِّ كِتَابُهُ المَنْشُورُ Ketika Sang Kuasa menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Seperti kertas yang digulung, dan Kitab-Nya ditebar. وَإِذَا الصَّحَائِفُ نُشِّرَتْ فَتَطَايَرَتْ وَتَهَتَّكَتْ لِلمُؤْمِنِينَ سُتُورُ Saat catatan-catatan amal ditebar dan beterbangan. Dan tabir-tabir diangkat dari orang-orang beriman. وَإِذَا السَّمَاءُ تَكَشَّطَتْ عَنْ أَهْلِهَا وَرَأَيْتَ أَفْلاكَ السَّمَاءِ تَدُورُ Saat langit terpecah belah dari penghuninya. Dan kamu melihat orbit-orbit langit berputar. وَإِذَا الجَحِيمُ تَسَعَّرَتْ نِيرَانُهَا فَلَهَا عَلَى أَهْلِ الذُّنُوبِ زَفِيرُ Saat neraka berkobar apinya. Ia punya hembusan yang tertuju pada para pelaku dosa. وَإِذَا الجِنَانُ تَزَخْرَفَتْ وَتَطَيَّبَتْ لِفَتًى عَلَى طُولِ البَلاءِ صَبُورُ Saat surga dihias dan menjadi harum semerbak. Untuk orang yang selalu sabar atas panjangnya bala. وَإِذَا الجَنِينُ بِأُمِّهِ مُتَعَلِّقٌ يَخْشَى القِصَاصَ وَقَلْبُهُ مَذْعُورُ Saat janin bergantung pada ibunya. Karena takut mendapat balasan dan hatinya ketakutan. هَذَا بِلا ذَنْبٍ يَخَافُ لِهَوْلِهِ كَيْفَ المُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ دُهُورُ؟! Seperti itu keadaan manusia yang tanpa dosa karena takut kengerian Hari Kiamat. Lalu bagaimana dengan orang yang selalu melakukan dosa-dosa bertahun-tahun! Penutup  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kehidupan sebagai tambahan bagi kita dalam segala kebaikan dan kematian sebagai perhentian bagi kita dari segala keburukan, mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, menjadikan amalan terbaik kita adalah penutupnya, hari terbaik kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya, dan ucapan terakhir kita di dunia adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasulullah. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/6049/أول-منازلنا-بعد-الموت/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 696 times, 1 visit(s) today Post Views: 571

Jenis-Jenis Dosa dan Penggugur-Penggugurnya

Oleh: Dhiya Safwan Abdul Latif Abdul Aziz Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tabiat memiliki kekurangan. Di antara fitrah penciptaan manusia adalah banyak berbuat salah, dan banyak melakukan dosa dan kemaksiatan. Ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh orang yang berakal, karena tidak pernah ditemukan ada manusia yang hidup tanpa memiliki kekurangan, seperti salah, keliru, lupa, dan jenis-jenis kekurangan lainnya. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِيَ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku kesalahan, kelupaan, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/356 dari Abdullah bin Abbas). Siapa yang mencermati perkara ini, pasti akan mencapai pemahaman bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kesempurnaan mutlak di antara para makhluk-Nya.  Ketika keadaan manusia demikian, maka pastilah ia akan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah punya kekurangan, Dia juga telah mengilhamkan kepada mereka jalan petunjuk dengan mengadakan pertaubatan, istighfar, dan penggugur-penggugur dosa lainnya yang dapat menghapus dosa dan menambal kekurangan. Melalui artikel ini, saya Insyallah akan berusaha menyebutkan jenis-jenis dosa dan kesalahan, dan beberapa penggugurnya.  Dosa dan kemaksiatan terbagi menjadi tiga jenis utama, saya akan menyebutkannya satu persatu disertai dengan penjelasannya Insyallah. Jenis pertama: Dosa yang tidak diampuni Dosa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anggap sebagai dosa terbesar adalah dosa menyekutukan-Nya. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ “Yaitu engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan (sekutu), padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 7520 dari Abdullah bin Mas’ud). Dosa ini tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni bagi orang yang melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya.” (QS. An-Nisa: 48). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72). Selain itu, di antara dosa yang pelakunya tidak akan diampuni apabila ia melakukannya hingga meninggal dunia adalah dosa yang membuat pelakunya kafir terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti orang yang mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menghina syariat dan agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, mereka kekal di dalam azab itu, tidak diringankan azabnya dan tidak pula mereka diberi penangguhan.” (QS. Al-Baqarah: 161-162). Adapun orang yang bertaubat dari dosa-dosa itu, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima taubatnya, dan bahkan memberinya pahala, sebanyak apapun dosa-dosa dan kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Hai Muhammad!): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Jenis kedua: Dosa-dosa besar Inilah dosa jenis kedua yang merupakan dosa-dosa besar dan membinasakan. Di antaranya disebutkan dalam hadis yang ada dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka bertanya: ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita beriman yang terjaga (berzina).” (HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89, dari Abu Hurairah). Dosa-dosa besar ini dan dosa-dosa yang semisalnya tidak sama tingkat kejahatannya dengan dosa jenis pertama, hanya saja Allah mengancam para pelakunya dengan azab pada Hari Kiamat dan mereka berhak mendapat azab neraka. Apabila Allah berkehendak, Dia dapat menjalankan ancaman dan azab-Nya ini sesuai dengan keadilan-Nya, atau memberi ampunan dengan karunia dan kemurahan-Nya. Perlu diketahui bahwa ancaman yang ada dalam dosa-dosa ini bagi orang yang tetap melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat. Adapun orang yang telah bertaubat dan memperbaiki amalannya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun baginya. Jadi, dosa-dosa besar selain syirik atau kafir, apabila pelakunya meninggal dunia tanpa taubat, maka ia berhak mendapatkan azab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat menghendaki baginya azab atau ampunan. Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazabnya, maka ia tidak kekal di dalam neraka, berbeda dengan pelaku dosa jenis pertama yang harus kekal di dalam neraka. Saya akan menyebutkan salah satu bentuk dosa besar yang sangat penting, yaitu yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk, seperti membunuh, merampas harta, menodai kehormatan, dan hak-hak lainnya. Dosa-dosa seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni pelakunya hingga dirinya telah mendapatkan maaf dari para korban dan mengembalikan hak-hak itu kepada pemiliknya. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضٍ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدَرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta penghalalannya (meminta maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada gunanya lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, amal itu akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534, dari Abu Hurairah). Jenis dosa ini termasuk dosa besar yang membutuhkan taubat yang tulus agar pelakunya terbebas dari ancamannya. Dosa-dosa besar membutuhkan taubat khusus berkaitan dengan masing-masing dosa, lain halnya dengan dosa-dosa kecil sebagaimana yang akan dijelaskan. Jenis ketiga: Dosa-dosa kecil Dosa-dosa kecil merupakan dosa-dosa yang kejahatannya lebih ringan daripada dosa-dosa besar, seperti melihat sesuatu yang diharamkan, dan kekeliruan dan kesalahan kecil yang dilakukan seorang muslim semasa hidupnya. Dosa jenis ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni pelakunya tanpa harus bertaubat secara khusus untuk dosa tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan banyak penggugur dosa yang dapat menghapus dosa-dosa ini, dan di sini saya akan menyebutkan beberapa di antaranya yang paling penting. Penggugur dosa-dosa kecil Pertama: Melaksanakan amalan-amalan wajib secara konsisten. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ـ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Salat lima waktu, dari Salat Jumat ke Salat Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara kedua rentang waktu-waktu itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah). Juga disebutkan dalam hadis tentang seorang laki-laki yang mencium wanita asing, lalu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menyampaikan kepada beliau tentang perbuatan itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu menurunkan firman-Nya: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian awal dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114). Kemudian laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “(Tidak), tapi untuk seluruh umatku!” (HR. Al-Bukhari no. 4687, dan Muslim no. 2763, dari Abdullah bin Mas’ud). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari dosa-dosa besar dan amalan-amalan yang membinasakan karena mengharap balasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa kecilnya, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Ketiga: Tertimpa musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus dosa-dosa kecil dari para hamba-Nya dengan musibah-musibah. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang mukmin tertimpa sakit, kepayahan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, dari Abu Hurairah). Secara umum, penggugur dosa-dosa kecil ada banyak, dan ada dalil-dalilnya dalam Kitabullah dan sunah Rasulullah. Saya telah menulis secara terpisah artikel-artikel yang menjelaskan hal ini. Namun, dalam artikel ini saya hanya menyebutkan tiga di antaranya yang menurut saya paling penting. Wallahu A’lam. Di sini, harus diperhatikan juga perkara yang sangat penting, yaitu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kecil dari hamba-hamba-Nya, tidak berarti kita boleh meremehkannya dan dengan mudah melakukannya, karena sikap ini dapat membinasakan pelakunya dan menjerumuskannya ke dalam kehancuran. Sebab, apabila dosa-dosa kecil itu menumpuk, maka akan membinasakan pelakunya juga. Terlebih lagi, ia juga menjadi pembuka jalan bagi seseorang untuk terjerumus ke dalam dosa-dosa besar. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati orang yang mengucapkan syair berikut: خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا وَكَبِيرَهَا ذَاكَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa, baik yang kecil. Maupun yang besar, karena itulah ketakwaan. وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah. Penuh duri, yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat. لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Jangan sekali-kali meremehkan dosa kecil. Karena gunung yang besar terbentuk dari kerikil-kerikil kecil. Lalu saya akan menutup tulisan ini dengan satu faedah penting, bagaimana kita dapat membedakan antara dosa-dosa besar dan kecil? Secara umum, para ulama telah menjelaskan perkara ini secara panjang lebar dan mereka terbagi ke dalam beberapa pendapat. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah telah menjelaskannya secara lengkap di dalam tafsirnya tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Adapun pendapat yang lebih kuat – wallahu A’lam – adalah dosa-dosa besar adalah setiap perbuatan yang ada hukum hadnya di dunia atau ancaman azabnya di akhirat. Sedangkan yang selain itu termasuk dalam lingkup dosa-dosa kecil. Wallahu A’lam. Saya rasa ini merupakan kaidah yang jelas untuk membedakan dan mengenali perkara tersebut.  Dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/138914/أنواع-الذنوب-ومكفراتها/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 817 times, 1 visit(s) today Post Views: 567

Jenis-Jenis Dosa dan Penggugur-Penggugurnya

Oleh: Dhiya Safwan Abdul Latif Abdul Aziz Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tabiat memiliki kekurangan. Di antara fitrah penciptaan manusia adalah banyak berbuat salah, dan banyak melakukan dosa dan kemaksiatan. Ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh orang yang berakal, karena tidak pernah ditemukan ada manusia yang hidup tanpa memiliki kekurangan, seperti salah, keliru, lupa, dan jenis-jenis kekurangan lainnya. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِيَ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku kesalahan, kelupaan, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/356 dari Abdullah bin Abbas). Siapa yang mencermati perkara ini, pasti akan mencapai pemahaman bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kesempurnaan mutlak di antara para makhluk-Nya.  Ketika keadaan manusia demikian, maka pastilah ia akan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah punya kekurangan, Dia juga telah mengilhamkan kepada mereka jalan petunjuk dengan mengadakan pertaubatan, istighfar, dan penggugur-penggugur dosa lainnya yang dapat menghapus dosa dan menambal kekurangan. Melalui artikel ini, saya Insyallah akan berusaha menyebutkan jenis-jenis dosa dan kesalahan, dan beberapa penggugurnya.  Dosa dan kemaksiatan terbagi menjadi tiga jenis utama, saya akan menyebutkannya satu persatu disertai dengan penjelasannya Insyallah. Jenis pertama: Dosa yang tidak diampuni Dosa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anggap sebagai dosa terbesar adalah dosa menyekutukan-Nya. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ “Yaitu engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan (sekutu), padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 7520 dari Abdullah bin Mas’ud). Dosa ini tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni bagi orang yang melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya.” (QS. An-Nisa: 48). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72). Selain itu, di antara dosa yang pelakunya tidak akan diampuni apabila ia melakukannya hingga meninggal dunia adalah dosa yang membuat pelakunya kafir terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti orang yang mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menghina syariat dan agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, mereka kekal di dalam azab itu, tidak diringankan azabnya dan tidak pula mereka diberi penangguhan.” (QS. Al-Baqarah: 161-162). Adapun orang yang bertaubat dari dosa-dosa itu, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima taubatnya, dan bahkan memberinya pahala, sebanyak apapun dosa-dosa dan kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Hai Muhammad!): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Jenis kedua: Dosa-dosa besar Inilah dosa jenis kedua yang merupakan dosa-dosa besar dan membinasakan. Di antaranya disebutkan dalam hadis yang ada dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka bertanya: ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita beriman yang terjaga (berzina).” (HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89, dari Abu Hurairah). Dosa-dosa besar ini dan dosa-dosa yang semisalnya tidak sama tingkat kejahatannya dengan dosa jenis pertama, hanya saja Allah mengancam para pelakunya dengan azab pada Hari Kiamat dan mereka berhak mendapat azab neraka. Apabila Allah berkehendak, Dia dapat menjalankan ancaman dan azab-Nya ini sesuai dengan keadilan-Nya, atau memberi ampunan dengan karunia dan kemurahan-Nya. Perlu diketahui bahwa ancaman yang ada dalam dosa-dosa ini bagi orang yang tetap melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat. Adapun orang yang telah bertaubat dan memperbaiki amalannya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun baginya. Jadi, dosa-dosa besar selain syirik atau kafir, apabila pelakunya meninggal dunia tanpa taubat, maka ia berhak mendapatkan azab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat menghendaki baginya azab atau ampunan. Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazabnya, maka ia tidak kekal di dalam neraka, berbeda dengan pelaku dosa jenis pertama yang harus kekal di dalam neraka. Saya akan menyebutkan salah satu bentuk dosa besar yang sangat penting, yaitu yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk, seperti membunuh, merampas harta, menodai kehormatan, dan hak-hak lainnya. Dosa-dosa seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni pelakunya hingga dirinya telah mendapatkan maaf dari para korban dan mengembalikan hak-hak itu kepada pemiliknya. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضٍ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدَرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta penghalalannya (meminta maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada gunanya lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, amal itu akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534, dari Abu Hurairah). Jenis dosa ini termasuk dosa besar yang membutuhkan taubat yang tulus agar pelakunya terbebas dari ancamannya. Dosa-dosa besar membutuhkan taubat khusus berkaitan dengan masing-masing dosa, lain halnya dengan dosa-dosa kecil sebagaimana yang akan dijelaskan. Jenis ketiga: Dosa-dosa kecil Dosa-dosa kecil merupakan dosa-dosa yang kejahatannya lebih ringan daripada dosa-dosa besar, seperti melihat sesuatu yang diharamkan, dan kekeliruan dan kesalahan kecil yang dilakukan seorang muslim semasa hidupnya. Dosa jenis ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni pelakunya tanpa harus bertaubat secara khusus untuk dosa tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan banyak penggugur dosa yang dapat menghapus dosa-dosa ini, dan di sini saya akan menyebutkan beberapa di antaranya yang paling penting. Penggugur dosa-dosa kecil Pertama: Melaksanakan amalan-amalan wajib secara konsisten. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ـ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Salat lima waktu, dari Salat Jumat ke Salat Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara kedua rentang waktu-waktu itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah). Juga disebutkan dalam hadis tentang seorang laki-laki yang mencium wanita asing, lalu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menyampaikan kepada beliau tentang perbuatan itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu menurunkan firman-Nya: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian awal dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114). Kemudian laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “(Tidak), tapi untuk seluruh umatku!” (HR. Al-Bukhari no. 4687, dan Muslim no. 2763, dari Abdullah bin Mas’ud). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari dosa-dosa besar dan amalan-amalan yang membinasakan karena mengharap balasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa kecilnya, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Ketiga: Tertimpa musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus dosa-dosa kecil dari para hamba-Nya dengan musibah-musibah. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang mukmin tertimpa sakit, kepayahan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, dari Abu Hurairah). Secara umum, penggugur dosa-dosa kecil ada banyak, dan ada dalil-dalilnya dalam Kitabullah dan sunah Rasulullah. Saya telah menulis secara terpisah artikel-artikel yang menjelaskan hal ini. Namun, dalam artikel ini saya hanya menyebutkan tiga di antaranya yang menurut saya paling penting. Wallahu A’lam. Di sini, harus diperhatikan juga perkara yang sangat penting, yaitu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kecil dari hamba-hamba-Nya, tidak berarti kita boleh meremehkannya dan dengan mudah melakukannya, karena sikap ini dapat membinasakan pelakunya dan menjerumuskannya ke dalam kehancuran. Sebab, apabila dosa-dosa kecil itu menumpuk, maka akan membinasakan pelakunya juga. Terlebih lagi, ia juga menjadi pembuka jalan bagi seseorang untuk terjerumus ke dalam dosa-dosa besar. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati orang yang mengucapkan syair berikut: خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا وَكَبِيرَهَا ذَاكَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa, baik yang kecil. Maupun yang besar, karena itulah ketakwaan. وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah. Penuh duri, yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat. لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Jangan sekali-kali meremehkan dosa kecil. Karena gunung yang besar terbentuk dari kerikil-kerikil kecil. Lalu saya akan menutup tulisan ini dengan satu faedah penting, bagaimana kita dapat membedakan antara dosa-dosa besar dan kecil? Secara umum, para ulama telah menjelaskan perkara ini secara panjang lebar dan mereka terbagi ke dalam beberapa pendapat. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah telah menjelaskannya secara lengkap di dalam tafsirnya tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Adapun pendapat yang lebih kuat – wallahu A’lam – adalah dosa-dosa besar adalah setiap perbuatan yang ada hukum hadnya di dunia atau ancaman azabnya di akhirat. Sedangkan yang selain itu termasuk dalam lingkup dosa-dosa kecil. Wallahu A’lam. Saya rasa ini merupakan kaidah yang jelas untuk membedakan dan mengenali perkara tersebut.  Dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/138914/أنواع-الذنوب-ومكفراتها/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 817 times, 1 visit(s) today Post Views: 567
Oleh: Dhiya Safwan Abdul Latif Abdul Aziz Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tabiat memiliki kekurangan. Di antara fitrah penciptaan manusia adalah banyak berbuat salah, dan banyak melakukan dosa dan kemaksiatan. Ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh orang yang berakal, karena tidak pernah ditemukan ada manusia yang hidup tanpa memiliki kekurangan, seperti salah, keliru, lupa, dan jenis-jenis kekurangan lainnya. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِيَ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku kesalahan, kelupaan, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/356 dari Abdullah bin Abbas). Siapa yang mencermati perkara ini, pasti akan mencapai pemahaman bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kesempurnaan mutlak di antara para makhluk-Nya.  Ketika keadaan manusia demikian, maka pastilah ia akan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah punya kekurangan, Dia juga telah mengilhamkan kepada mereka jalan petunjuk dengan mengadakan pertaubatan, istighfar, dan penggugur-penggugur dosa lainnya yang dapat menghapus dosa dan menambal kekurangan. Melalui artikel ini, saya Insyallah akan berusaha menyebutkan jenis-jenis dosa dan kesalahan, dan beberapa penggugurnya.  Dosa dan kemaksiatan terbagi menjadi tiga jenis utama, saya akan menyebutkannya satu persatu disertai dengan penjelasannya Insyallah. Jenis pertama: Dosa yang tidak diampuni Dosa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anggap sebagai dosa terbesar adalah dosa menyekutukan-Nya. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ “Yaitu engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan (sekutu), padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 7520 dari Abdullah bin Mas’ud). Dosa ini tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni bagi orang yang melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya.” (QS. An-Nisa: 48). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72). Selain itu, di antara dosa yang pelakunya tidak akan diampuni apabila ia melakukannya hingga meninggal dunia adalah dosa yang membuat pelakunya kafir terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti orang yang mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menghina syariat dan agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, mereka kekal di dalam azab itu, tidak diringankan azabnya dan tidak pula mereka diberi penangguhan.” (QS. Al-Baqarah: 161-162). Adapun orang yang bertaubat dari dosa-dosa itu, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima taubatnya, dan bahkan memberinya pahala, sebanyak apapun dosa-dosa dan kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Hai Muhammad!): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Jenis kedua: Dosa-dosa besar Inilah dosa jenis kedua yang merupakan dosa-dosa besar dan membinasakan. Di antaranya disebutkan dalam hadis yang ada dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka bertanya: ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita beriman yang terjaga (berzina).” (HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89, dari Abu Hurairah). Dosa-dosa besar ini dan dosa-dosa yang semisalnya tidak sama tingkat kejahatannya dengan dosa jenis pertama, hanya saja Allah mengancam para pelakunya dengan azab pada Hari Kiamat dan mereka berhak mendapat azab neraka. Apabila Allah berkehendak, Dia dapat menjalankan ancaman dan azab-Nya ini sesuai dengan keadilan-Nya, atau memberi ampunan dengan karunia dan kemurahan-Nya. Perlu diketahui bahwa ancaman yang ada dalam dosa-dosa ini bagi orang yang tetap melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat. Adapun orang yang telah bertaubat dan memperbaiki amalannya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun baginya. Jadi, dosa-dosa besar selain syirik atau kafir, apabila pelakunya meninggal dunia tanpa taubat, maka ia berhak mendapatkan azab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat menghendaki baginya azab atau ampunan. Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazabnya, maka ia tidak kekal di dalam neraka, berbeda dengan pelaku dosa jenis pertama yang harus kekal di dalam neraka. Saya akan menyebutkan salah satu bentuk dosa besar yang sangat penting, yaitu yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk, seperti membunuh, merampas harta, menodai kehormatan, dan hak-hak lainnya. Dosa-dosa seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni pelakunya hingga dirinya telah mendapatkan maaf dari para korban dan mengembalikan hak-hak itu kepada pemiliknya. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضٍ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدَرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta penghalalannya (meminta maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada gunanya lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, amal itu akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534, dari Abu Hurairah). Jenis dosa ini termasuk dosa besar yang membutuhkan taubat yang tulus agar pelakunya terbebas dari ancamannya. Dosa-dosa besar membutuhkan taubat khusus berkaitan dengan masing-masing dosa, lain halnya dengan dosa-dosa kecil sebagaimana yang akan dijelaskan. Jenis ketiga: Dosa-dosa kecil Dosa-dosa kecil merupakan dosa-dosa yang kejahatannya lebih ringan daripada dosa-dosa besar, seperti melihat sesuatu yang diharamkan, dan kekeliruan dan kesalahan kecil yang dilakukan seorang muslim semasa hidupnya. Dosa jenis ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni pelakunya tanpa harus bertaubat secara khusus untuk dosa tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan banyak penggugur dosa yang dapat menghapus dosa-dosa ini, dan di sini saya akan menyebutkan beberapa di antaranya yang paling penting. Penggugur dosa-dosa kecil Pertama: Melaksanakan amalan-amalan wajib secara konsisten. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ـ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Salat lima waktu, dari Salat Jumat ke Salat Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara kedua rentang waktu-waktu itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah). Juga disebutkan dalam hadis tentang seorang laki-laki yang mencium wanita asing, lalu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menyampaikan kepada beliau tentang perbuatan itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu menurunkan firman-Nya: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian awal dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114). Kemudian laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “(Tidak), tapi untuk seluruh umatku!” (HR. Al-Bukhari no. 4687, dan Muslim no. 2763, dari Abdullah bin Mas’ud). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari dosa-dosa besar dan amalan-amalan yang membinasakan karena mengharap balasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa kecilnya, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Ketiga: Tertimpa musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus dosa-dosa kecil dari para hamba-Nya dengan musibah-musibah. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang mukmin tertimpa sakit, kepayahan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, dari Abu Hurairah). Secara umum, penggugur dosa-dosa kecil ada banyak, dan ada dalil-dalilnya dalam Kitabullah dan sunah Rasulullah. Saya telah menulis secara terpisah artikel-artikel yang menjelaskan hal ini. Namun, dalam artikel ini saya hanya menyebutkan tiga di antaranya yang menurut saya paling penting. Wallahu A’lam. Di sini, harus diperhatikan juga perkara yang sangat penting, yaitu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kecil dari hamba-hamba-Nya, tidak berarti kita boleh meremehkannya dan dengan mudah melakukannya, karena sikap ini dapat membinasakan pelakunya dan menjerumuskannya ke dalam kehancuran. Sebab, apabila dosa-dosa kecil itu menumpuk, maka akan membinasakan pelakunya juga. Terlebih lagi, ia juga menjadi pembuka jalan bagi seseorang untuk terjerumus ke dalam dosa-dosa besar. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati orang yang mengucapkan syair berikut: خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا وَكَبِيرَهَا ذَاكَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa, baik yang kecil. Maupun yang besar, karena itulah ketakwaan. وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah. Penuh duri, yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat. لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Jangan sekali-kali meremehkan dosa kecil. Karena gunung yang besar terbentuk dari kerikil-kerikil kecil. Lalu saya akan menutup tulisan ini dengan satu faedah penting, bagaimana kita dapat membedakan antara dosa-dosa besar dan kecil? Secara umum, para ulama telah menjelaskan perkara ini secara panjang lebar dan mereka terbagi ke dalam beberapa pendapat. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah telah menjelaskannya secara lengkap di dalam tafsirnya tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Adapun pendapat yang lebih kuat – wallahu A’lam – adalah dosa-dosa besar adalah setiap perbuatan yang ada hukum hadnya di dunia atau ancaman azabnya di akhirat. Sedangkan yang selain itu termasuk dalam lingkup dosa-dosa kecil. Wallahu A’lam. Saya rasa ini merupakan kaidah yang jelas untuk membedakan dan mengenali perkara tersebut.  Dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/138914/أنواع-الذنوب-ومكفراتها/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 817 times, 1 visit(s) today Post Views: 567


Oleh: Dhiya Safwan Abdul Latif Abdul Aziz Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tabiat memiliki kekurangan. Di antara fitrah penciptaan manusia adalah banyak berbuat salah, dan banyak melakukan dosa dan kemaksiatan. Ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh orang yang berakal, karena tidak pernah ditemukan ada manusia yang hidup tanpa memiliki kekurangan, seperti salah, keliru, lupa, dan jenis-jenis kekurangan lainnya. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِيَ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku kesalahan, kelupaan, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/356 dari Abdullah bin Abbas). Siapa yang mencermati perkara ini, pasti akan mencapai pemahaman bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kesempurnaan mutlak di antara para makhluk-Nya.  Ketika keadaan manusia demikian, maka pastilah ia akan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan fitrah punya kekurangan, Dia juga telah mengilhamkan kepada mereka jalan petunjuk dengan mengadakan pertaubatan, istighfar, dan penggugur-penggugur dosa lainnya yang dapat menghapus dosa dan menambal kekurangan. Melalui artikel ini, saya Insyallah akan berusaha menyebutkan jenis-jenis dosa dan kesalahan, dan beberapa penggugurnya.  Dosa dan kemaksiatan terbagi menjadi tiga jenis utama, saya akan menyebutkannya satu persatu disertai dengan penjelasannya Insyallah. Jenis pertama: Dosa yang tidak diampuni Dosa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anggap sebagai dosa terbesar adalah dosa menyekutukan-Nya. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ “Yaitu engkau menjadikan bagi Allah suatu tandingan (sekutu), padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 7520 dari Abdullah bin Mas’ud). Dosa ini tidak akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ampuni bagi orang yang melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya.” (QS. An-Nisa: 48). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72). Selain itu, di antara dosa yang pelakunya tidak akan diampuni apabila ia melakukannya hingga meninggal dunia adalah dosa yang membuat pelakunya kafir terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti orang yang mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menghina syariat dan agama-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itulah yang mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, mereka kekal di dalam azab itu, tidak diringankan azabnya dan tidak pula mereka diberi penangguhan.” (QS. Al-Baqarah: 161-162). Adapun orang yang bertaubat dari dosa-dosa itu, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima taubatnya, dan bahkan memberinya pahala, sebanyak apapun dosa-dosa dan kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Hai Muhammad!): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Jenis kedua: Dosa-dosa besar Inilah dosa jenis kedua yang merupakan dosa-dosa besar dan membinasakan. Di antaranya disebutkan dalam hadis yang ada dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Mereka bertanya: ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita beriman yang terjaga (berzina).” (HR. Al-Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89, dari Abu Hurairah). Dosa-dosa besar ini dan dosa-dosa yang semisalnya tidak sama tingkat kejahatannya dengan dosa jenis pertama, hanya saja Allah mengancam para pelakunya dengan azab pada Hari Kiamat dan mereka berhak mendapat azab neraka. Apabila Allah berkehendak, Dia dapat menjalankan ancaman dan azab-Nya ini sesuai dengan keadilan-Nya, atau memberi ampunan dengan karunia dan kemurahan-Nya. Perlu diketahui bahwa ancaman yang ada dalam dosa-dosa ini bagi orang yang tetap melakukannya hingga meninggal dunia tanpa sempat bertaubat. Adapun orang yang telah bertaubat dan memperbaiki amalannya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun baginya. Jadi, dosa-dosa besar selain syirik atau kafir, apabila pelakunya meninggal dunia tanpa taubat, maka ia berhak mendapatkan azab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat menghendaki baginya azab atau ampunan. Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazabnya, maka ia tidak kekal di dalam neraka, berbeda dengan pelaku dosa jenis pertama yang harus kekal di dalam neraka. Saya akan menyebutkan salah satu bentuk dosa besar yang sangat penting, yaitu yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk, seperti membunuh, merampas harta, menodai kehormatan, dan hak-hak lainnya. Dosa-dosa seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuni pelakunya hingga dirinya telah mendapatkan maaf dari para korban dan mengembalikan hak-hak itu kepada pemiliknya. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضٍ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدَرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ “Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta penghalalannya (meminta maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada gunanya lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, amal itu akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534, dari Abu Hurairah). Jenis dosa ini termasuk dosa besar yang membutuhkan taubat yang tulus agar pelakunya terbebas dari ancamannya. Dosa-dosa besar membutuhkan taubat khusus berkaitan dengan masing-masing dosa, lain halnya dengan dosa-dosa kecil sebagaimana yang akan dijelaskan. Jenis ketiga: Dosa-dosa kecil Dosa-dosa kecil merupakan dosa-dosa yang kejahatannya lebih ringan daripada dosa-dosa besar, seperti melihat sesuatu yang diharamkan, dan kekeliruan dan kesalahan kecil yang dilakukan seorang muslim semasa hidupnya. Dosa jenis ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni pelakunya tanpa harus bertaubat secara khusus untuk dosa tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan banyak penggugur dosa yang dapat menghapus dosa-dosa ini, dan di sini saya akan menyebutkan beberapa di antaranya yang paling penting. Penggugur dosa-dosa kecil Pertama: Melaksanakan amalan-amalan wajib secara konsisten. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ـ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Salat lima waktu, dari Salat Jumat ke Salat Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara kedua rentang waktu-waktu itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah). Juga disebutkan dalam hadis tentang seorang laki-laki yang mencium wanita asing, lalu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menyampaikan kepada beliau tentang perbuatan itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu menurunkan firman-Nya: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian awal dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114). Kemudian laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untukku?” Beliau menjawab: “(Tidak), tapi untuk seluruh umatku!” (HR. Al-Bukhari no. 4687, dan Muslim no. 2763, dari Abdullah bin Mas’ud). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menghindari dosa-dosa besar dan amalan-amalan yang membinasakan karena mengharap balasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa kecilnya, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Ketiga: Tertimpa musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus dosa-dosa kecil dari para hamba-Nya dengan musibah-musibah. Diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang mukmin tertimpa sakit, kepayahan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, dari Abu Hurairah). Secara umum, penggugur dosa-dosa kecil ada banyak, dan ada dalil-dalilnya dalam Kitabullah dan sunah Rasulullah. Saya telah menulis secara terpisah artikel-artikel yang menjelaskan hal ini. Namun, dalam artikel ini saya hanya menyebutkan tiga di antaranya yang menurut saya paling penting. Wallahu A’lam. Di sini, harus diperhatikan juga perkara yang sangat penting, yaitu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kecil dari hamba-hamba-Nya, tidak berarti kita boleh meremehkannya dan dengan mudah melakukannya, karena sikap ini dapat membinasakan pelakunya dan menjerumuskannya ke dalam kehancuran. Sebab, apabila dosa-dosa kecil itu menumpuk, maka akan membinasakan pelakunya juga. Terlebih lagi, ia juga menjadi pembuka jalan bagi seseorang untuk terjerumus ke dalam dosa-dosa besar. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati orang yang mengucapkan syair berikut: خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا وَكَبِيرَهَا ذَاكَ التُّقَى Tinggalkanlah dosa, baik yang kecil. Maupun yang besar, karena itulah ketakwaan. وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah. Penuh duri, yang selalu berhati-hati terhadap apa yang ia lihat. لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى Jangan sekali-kali meremehkan dosa kecil. Karena gunung yang besar terbentuk dari kerikil-kerikil kecil. Lalu saya akan menutup tulisan ini dengan satu faedah penting, bagaimana kita dapat membedakan antara dosa-dosa besar dan kecil? Secara umum, para ulama telah menjelaskan perkara ini secara panjang lebar dan mereka terbagi ke dalam beberapa pendapat. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah telah menjelaskannya secara lengkap di dalam tafsirnya tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, niscaya Kami hapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Adapun pendapat yang lebih kuat – wallahu A’lam – adalah dosa-dosa besar adalah setiap perbuatan yang ada hukum hadnya di dunia atau ancaman azabnya di akhirat. Sedangkan yang selain itu termasuk dalam lingkup dosa-dosa kecil. Wallahu A’lam. Saya rasa ini merupakan kaidah yang jelas untuk membedakan dan mengenali perkara tersebut.  Dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/138914/أنواع-الذنوب-ومكفراتها/ Sumber artikel PDF 🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat Visited 817 times, 1 visit(s) today Post Views: 567

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 3): Jalan yang Menjanjikan Kebaikan, Namun Berujung Kehancuran

Di antara dampak buruk dan akibat fitnah berikutnya adalah siapa yang masuk ke dalam fitnah tersebut dan terlibat di dalamnya, biasanya akan berakhir dengan kebinasaan dan dampak yang sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya; sebaliknya, ia justru merugi karena tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menelusuri berbagai peristiwa fitnah yang terjadi pada masa-masa sebelum beliau. Beliau mengamatinya dengan teliti, lalu menyampaikan sebuah rangkuman yang begitu indah, ringkas, dan sangat bermanfaat tentang bagaimana akhir dari fitnah-fitnah tersebut dalam kitab beliau, Minhaj as-Sunnah. Beliau rahimahullah berkata,قلّ من خرج على إمام ذي سلطان إلا كان ما تولّد على فعله من الشر أعظم مما تولّد من الخير“Jarang sekali ada orang yang keluar dalam rangka memberontak terhadap seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, kecuali keburukan yang muncul dari perbuatannya itu jauh lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan.”Beliau kemudian menyebutkan banyak contoh fenomena fitnah yang pernah terjadi di masa dahulu, lalu merangkum hasil dan dampaknya dengan ungkapan yang sangat tegas,فلا أقاموا دينًا، ولا أبقوا دنيا“Mereka tidak berhasil menegakkan agama, dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia.” (Minhaj as-Sunnah, 4: 527–528)Maksudnya, orang-orang yang masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut dan ikut memperkeruhnya, pada akhirnya tidak berhasil menegakkan agama dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia. Sebab, ketika fitnah sudah terjadi, maka hasilnya hanyalah huru-hara, pembunuhan, kekacauan merajalela, manusia saling menzalimi, berbagai masalah mulai bermunculan, dan dampak buruk lainnya. Para pencetus fitnah tersebut sama sekali tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya.Telah dipaparkan juga kisah sekelompok orang yang mengabaikan nasihat Imam Ahmad rahimahullah, demikian pula kisah sekelompok orang yang juga mengabaikan nasihat Hasan al-Bashri rahimahullah. Akhirnya, baik pada kelompok yang satu maupun yang lainnya, sama saja, mereka tidak berhasil menegakkan agama. Akhir perjalanan mereka pun sangat tragis, ada yang berujung dipenjara, ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, dan berbagai akhir tragis lainnya. Kondisi seperti ini terus berulang sepanjang sejarah hingga kini.Dalam jilid kedelapan kitab Siyar A‘lam an-Nubala’, pada biografi al-Hakam bin Hisyam ad-Dakhil al-Umawi, seorang penguasa Andalusia, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah panjang yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini secara rinci. Namun, kisah lengkapnya bisa dirujuk dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’ [1]. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memulainya dengan mengatakan,كثرت العلماء بالأندلس في دولته – أي دولة الحكم – حتى قيل: إنه كان بقرطبة أربعة آلاف مُتقلِّس متزيّين بزِيِّ العلماء“Pada masa pemerintahannya, yakni masa al-Hakam, jumlah ulama di Andalusia sangat banyak. Bahkan disebutkan, di Cordoba saja ada sekitar empat ribu orang yang tampil seperti ulama, mengenakan pakaian khas ahli ilmu.”Maksudnya, ketika itu para ulama dan penuntut ilmu sangat banyak, banyak pula yang berpenampilan seperti orang berilmu. Lalu, beliau rahimahullah melanjutkan,فلما أراد الله فناءهم: عزَّ عليهم انتهاك الحكم للحرمات، وائتمروا ليخلعوه، ثم جيَّشوا لقتاله، وجرَت بالأندلس فتنة عظيمة على الإسلام وأهله، فلا قوة إلا بالله“Ketika Allah menghendaki kebinasaan pada mereka, mereka merasa berat melihat al-Hakam yang semakin melampaui batas dengan menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Mereka pun bersepakat untuk menurunkannya, lalu mengerahkan pasukan untuk memeranginya. Akhirnya, pecahlah fitnah besar di Andalusia yang menimpa Islam dan kaum muslimin. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Setelah itu, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyusun kisahnya secara panjang. Di bagian akhirnya disebutkan bahwa banyak dari mereka terbunuh, sebagian melarikan diri, dan sebagian lainnya dipenjara. Semua itu terjadi, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menegakkan agamanya sedikit pun melalui fitnah-fitnah yang dimunculkan dan dikobarkan seperti itu. Maka benarlah kata seorang pepatah,السعيد من اتعظ بغيره“Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.”Bahkan, jumlah orang yang ikut terlibat dalam fitnah itu dan terjun ke dalamnya itu sangatlah banyak, dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam. Mereka berharap seandainya dulu tidak ikut masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut.Hal semacam ini banyak sekali ditemukan di dalam buku-buku sejarah dan biografi para tokoh yang berpengaruh. Kisah tentang orang-orang yang ikut dalam fitnah, lalu di akhir hidupnya menyesali apa yang telah mereka lakukan dahulu.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال“Demikianlah kebanyakan orang-orang terdahulu akhirnya menyesal atas keterlibatan mereka dalam fitnah (peperangan).” (Minhaj as-Sunnah, 4: 316)Lalu, Abu Bakar as-Sijistani rahimahullah juga menuturkan, ketika menyebut para qari’ (ahli Al-Qur’an) yang ikut keluar bersama Ibnu al-Asy‘ats, beliau berkata,لا أعلم أحدًا منهم قُتل إلا قد رغب له عن مصرعه، ولا نجا منهم أحد إلا حمد الله الذي سلَّمه“Aku tidak mengetahui seorang pun dari mereka yang terbunuh kecuali ia sebenarnya tidak rela dengan kematiannya itu. Dan tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka yang terlibat dalam huru-hara itu, kecuali ia memuji Allah karena telah menyelamatkannya.” (Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam Tarikh-nya, hal. 76)Baca juga: Makna Fitnah dalam Al-Quran Di antara kisah yang menarik dan penuh pelajaran dalam pembahasan ini adalah cerita tentang Zubaid bin al-Harits al-Yami. Ia termasuk salah seorang perawi yang hadisnya tercantum dalam Kutubus Sittah dan dikenal juga sebagai salah satu ulama Islam tersohor. Zubaid termasuk orang yang sempat terlibat dalam fitnah Ibnu al-Asy‘ats, namun Allah menyelamatkannya dari fitnah itu dan tidak sampai terbunuh.Muhammad bin Thalhah menceritakan,رَآنِي زَبَيْد مَعَ العُلَاءِ بْنِ عَبْدِ الكَرِيمِ وَنَحْنُ نَضْحَكُ، فَقَالَ: لَوْ شَهِدَتِ الجَمَاجِمُ مَا ضَحِكْتَ“Zubaid pernah melihatku bersama al-‘Ala’ bin ‘Abdul-Karim, dan kami sedang tertawa. Lalu ia berkata, ‘Kalau kamu menyaksikan peristiwa al-Jamajim, niscaya kamu tidak akan tertawa lagi!’”Yang dimaksud dengan al-Jamajim di sini adalah kumpulan tengkorak kaum muslimin, yaitu kepala-kepala mereka yang berguguran disebabkan oleh tangan sesama muslim. Mereka saling membunuh satu sama lain.Kemudian Zubaid berkata,وَلَوَدِدْتُ أَنَّ يَدِي – أَوْ قَالَ: يَمِينِي – قُطِعَتْ مِنَ العَضُدِ وَلَمْ أَكُنْ شَهِدْتُ ذَلِكَ“Sungguh! Sampai-sampai aku berharap tanganku —atau maksudnya, tangan kananku— terpotong dari pangkal bahuku, asalkan aku tidak pernah lagi menyaksikan peristiwa mengerikan dan tragis itu.” (Tarikh Khalifah, hal. 76)Setelah itu, muncul lagi fitnah lain dan Zubaid kembali diajak untuk ikut serta. Namun kali ini ia sudah melihat sendiri dampak dan akibatnya, sehingga ia tersadar dan mengambil sikap. Perhatikan jawaban cerdas, ringan, namun sarat makna yang ia sampaikan, jawaban seseorang yang sudah berpengalaman dan belajar dari kejadian sebelumnya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Manshur bin al-Mu‘tamir sering mendatangi Zubaid. Pada suatu waktu, disebutkan bahwa Ahlul Bait banyak yang terbunuh, lalu Manshur ingin mengajak Zubaid agar ikut keluar bersama Zaid bin ‘Ali, masuk ke dalam fitnah itu.Namun Zubaid rahimahullah menjawab dengan tegas,ما أنا بخارجٍ إلا مع نبيٍّ، وما أنا بواجده“Aku tidak akan ikut keluar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak akan menemukannya lagi.” (Diriwayatkan oleh Ya‘qub bin Sufyan dalam Tarikh-nya, 3: 107; dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 19: 473).Maksudnya, ia tidak akan menemukan seorang nabi pun (setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membantu berjuang bersamanya. Ucapan ini ia ucapkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatannya langsung terhadap dampak buruk yang berasal dari fitnah-fitnah tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Siyar A‘lam an-Nubala’, 8: 253–260.Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 27-32.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 3): Jalan yang Menjanjikan Kebaikan, Namun Berujung Kehancuran

Di antara dampak buruk dan akibat fitnah berikutnya adalah siapa yang masuk ke dalam fitnah tersebut dan terlibat di dalamnya, biasanya akan berakhir dengan kebinasaan dan dampak yang sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya; sebaliknya, ia justru merugi karena tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menelusuri berbagai peristiwa fitnah yang terjadi pada masa-masa sebelum beliau. Beliau mengamatinya dengan teliti, lalu menyampaikan sebuah rangkuman yang begitu indah, ringkas, dan sangat bermanfaat tentang bagaimana akhir dari fitnah-fitnah tersebut dalam kitab beliau, Minhaj as-Sunnah. Beliau rahimahullah berkata,قلّ من خرج على إمام ذي سلطان إلا كان ما تولّد على فعله من الشر أعظم مما تولّد من الخير“Jarang sekali ada orang yang keluar dalam rangka memberontak terhadap seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, kecuali keburukan yang muncul dari perbuatannya itu jauh lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan.”Beliau kemudian menyebutkan banyak contoh fenomena fitnah yang pernah terjadi di masa dahulu, lalu merangkum hasil dan dampaknya dengan ungkapan yang sangat tegas,فلا أقاموا دينًا، ولا أبقوا دنيا“Mereka tidak berhasil menegakkan agama, dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia.” (Minhaj as-Sunnah, 4: 527–528)Maksudnya, orang-orang yang masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut dan ikut memperkeruhnya, pada akhirnya tidak berhasil menegakkan agama dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia. Sebab, ketika fitnah sudah terjadi, maka hasilnya hanyalah huru-hara, pembunuhan, kekacauan merajalela, manusia saling menzalimi, berbagai masalah mulai bermunculan, dan dampak buruk lainnya. Para pencetus fitnah tersebut sama sekali tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya.Telah dipaparkan juga kisah sekelompok orang yang mengabaikan nasihat Imam Ahmad rahimahullah, demikian pula kisah sekelompok orang yang juga mengabaikan nasihat Hasan al-Bashri rahimahullah. Akhirnya, baik pada kelompok yang satu maupun yang lainnya, sama saja, mereka tidak berhasil menegakkan agama. Akhir perjalanan mereka pun sangat tragis, ada yang berujung dipenjara, ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, dan berbagai akhir tragis lainnya. Kondisi seperti ini terus berulang sepanjang sejarah hingga kini.Dalam jilid kedelapan kitab Siyar A‘lam an-Nubala’, pada biografi al-Hakam bin Hisyam ad-Dakhil al-Umawi, seorang penguasa Andalusia, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah panjang yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini secara rinci. Namun, kisah lengkapnya bisa dirujuk dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’ [1]. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memulainya dengan mengatakan,كثرت العلماء بالأندلس في دولته – أي دولة الحكم – حتى قيل: إنه كان بقرطبة أربعة آلاف مُتقلِّس متزيّين بزِيِّ العلماء“Pada masa pemerintahannya, yakni masa al-Hakam, jumlah ulama di Andalusia sangat banyak. Bahkan disebutkan, di Cordoba saja ada sekitar empat ribu orang yang tampil seperti ulama, mengenakan pakaian khas ahli ilmu.”Maksudnya, ketika itu para ulama dan penuntut ilmu sangat banyak, banyak pula yang berpenampilan seperti orang berilmu. Lalu, beliau rahimahullah melanjutkan,فلما أراد الله فناءهم: عزَّ عليهم انتهاك الحكم للحرمات، وائتمروا ليخلعوه، ثم جيَّشوا لقتاله، وجرَت بالأندلس فتنة عظيمة على الإسلام وأهله، فلا قوة إلا بالله“Ketika Allah menghendaki kebinasaan pada mereka, mereka merasa berat melihat al-Hakam yang semakin melampaui batas dengan menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Mereka pun bersepakat untuk menurunkannya, lalu mengerahkan pasukan untuk memeranginya. Akhirnya, pecahlah fitnah besar di Andalusia yang menimpa Islam dan kaum muslimin. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Setelah itu, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyusun kisahnya secara panjang. Di bagian akhirnya disebutkan bahwa banyak dari mereka terbunuh, sebagian melarikan diri, dan sebagian lainnya dipenjara. Semua itu terjadi, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menegakkan agamanya sedikit pun melalui fitnah-fitnah yang dimunculkan dan dikobarkan seperti itu. Maka benarlah kata seorang pepatah,السعيد من اتعظ بغيره“Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.”Bahkan, jumlah orang yang ikut terlibat dalam fitnah itu dan terjun ke dalamnya itu sangatlah banyak, dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam. Mereka berharap seandainya dulu tidak ikut masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut.Hal semacam ini banyak sekali ditemukan di dalam buku-buku sejarah dan biografi para tokoh yang berpengaruh. Kisah tentang orang-orang yang ikut dalam fitnah, lalu di akhir hidupnya menyesali apa yang telah mereka lakukan dahulu.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال“Demikianlah kebanyakan orang-orang terdahulu akhirnya menyesal atas keterlibatan mereka dalam fitnah (peperangan).” (Minhaj as-Sunnah, 4: 316)Lalu, Abu Bakar as-Sijistani rahimahullah juga menuturkan, ketika menyebut para qari’ (ahli Al-Qur’an) yang ikut keluar bersama Ibnu al-Asy‘ats, beliau berkata,لا أعلم أحدًا منهم قُتل إلا قد رغب له عن مصرعه، ولا نجا منهم أحد إلا حمد الله الذي سلَّمه“Aku tidak mengetahui seorang pun dari mereka yang terbunuh kecuali ia sebenarnya tidak rela dengan kematiannya itu. Dan tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka yang terlibat dalam huru-hara itu, kecuali ia memuji Allah karena telah menyelamatkannya.” (Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam Tarikh-nya, hal. 76)Baca juga: Makna Fitnah dalam Al-Quran Di antara kisah yang menarik dan penuh pelajaran dalam pembahasan ini adalah cerita tentang Zubaid bin al-Harits al-Yami. Ia termasuk salah seorang perawi yang hadisnya tercantum dalam Kutubus Sittah dan dikenal juga sebagai salah satu ulama Islam tersohor. Zubaid termasuk orang yang sempat terlibat dalam fitnah Ibnu al-Asy‘ats, namun Allah menyelamatkannya dari fitnah itu dan tidak sampai terbunuh.Muhammad bin Thalhah menceritakan,رَآنِي زَبَيْد مَعَ العُلَاءِ بْنِ عَبْدِ الكَرِيمِ وَنَحْنُ نَضْحَكُ، فَقَالَ: لَوْ شَهِدَتِ الجَمَاجِمُ مَا ضَحِكْتَ“Zubaid pernah melihatku bersama al-‘Ala’ bin ‘Abdul-Karim, dan kami sedang tertawa. Lalu ia berkata, ‘Kalau kamu menyaksikan peristiwa al-Jamajim, niscaya kamu tidak akan tertawa lagi!’”Yang dimaksud dengan al-Jamajim di sini adalah kumpulan tengkorak kaum muslimin, yaitu kepala-kepala mereka yang berguguran disebabkan oleh tangan sesama muslim. Mereka saling membunuh satu sama lain.Kemudian Zubaid berkata,وَلَوَدِدْتُ أَنَّ يَدِي – أَوْ قَالَ: يَمِينِي – قُطِعَتْ مِنَ العَضُدِ وَلَمْ أَكُنْ شَهِدْتُ ذَلِكَ“Sungguh! Sampai-sampai aku berharap tanganku —atau maksudnya, tangan kananku— terpotong dari pangkal bahuku, asalkan aku tidak pernah lagi menyaksikan peristiwa mengerikan dan tragis itu.” (Tarikh Khalifah, hal. 76)Setelah itu, muncul lagi fitnah lain dan Zubaid kembali diajak untuk ikut serta. Namun kali ini ia sudah melihat sendiri dampak dan akibatnya, sehingga ia tersadar dan mengambil sikap. Perhatikan jawaban cerdas, ringan, namun sarat makna yang ia sampaikan, jawaban seseorang yang sudah berpengalaman dan belajar dari kejadian sebelumnya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Manshur bin al-Mu‘tamir sering mendatangi Zubaid. Pada suatu waktu, disebutkan bahwa Ahlul Bait banyak yang terbunuh, lalu Manshur ingin mengajak Zubaid agar ikut keluar bersama Zaid bin ‘Ali, masuk ke dalam fitnah itu.Namun Zubaid rahimahullah menjawab dengan tegas,ما أنا بخارجٍ إلا مع نبيٍّ، وما أنا بواجده“Aku tidak akan ikut keluar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak akan menemukannya lagi.” (Diriwayatkan oleh Ya‘qub bin Sufyan dalam Tarikh-nya, 3: 107; dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 19: 473).Maksudnya, ia tidak akan menemukan seorang nabi pun (setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membantu berjuang bersamanya. Ucapan ini ia ucapkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatannya langsung terhadap dampak buruk yang berasal dari fitnah-fitnah tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Siyar A‘lam an-Nubala’, 8: 253–260.Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 27-32.
Di antara dampak buruk dan akibat fitnah berikutnya adalah siapa yang masuk ke dalam fitnah tersebut dan terlibat di dalamnya, biasanya akan berakhir dengan kebinasaan dan dampak yang sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya; sebaliknya, ia justru merugi karena tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menelusuri berbagai peristiwa fitnah yang terjadi pada masa-masa sebelum beliau. Beliau mengamatinya dengan teliti, lalu menyampaikan sebuah rangkuman yang begitu indah, ringkas, dan sangat bermanfaat tentang bagaimana akhir dari fitnah-fitnah tersebut dalam kitab beliau, Minhaj as-Sunnah. Beliau rahimahullah berkata,قلّ من خرج على إمام ذي سلطان إلا كان ما تولّد على فعله من الشر أعظم مما تولّد من الخير“Jarang sekali ada orang yang keluar dalam rangka memberontak terhadap seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, kecuali keburukan yang muncul dari perbuatannya itu jauh lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan.”Beliau kemudian menyebutkan banyak contoh fenomena fitnah yang pernah terjadi di masa dahulu, lalu merangkum hasil dan dampaknya dengan ungkapan yang sangat tegas,فلا أقاموا دينًا، ولا أبقوا دنيا“Mereka tidak berhasil menegakkan agama, dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia.” (Minhaj as-Sunnah, 4: 527–528)Maksudnya, orang-orang yang masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut dan ikut memperkeruhnya, pada akhirnya tidak berhasil menegakkan agama dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia. Sebab, ketika fitnah sudah terjadi, maka hasilnya hanyalah huru-hara, pembunuhan, kekacauan merajalela, manusia saling menzalimi, berbagai masalah mulai bermunculan, dan dampak buruk lainnya. Para pencetus fitnah tersebut sama sekali tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya.Telah dipaparkan juga kisah sekelompok orang yang mengabaikan nasihat Imam Ahmad rahimahullah, demikian pula kisah sekelompok orang yang juga mengabaikan nasihat Hasan al-Bashri rahimahullah. Akhirnya, baik pada kelompok yang satu maupun yang lainnya, sama saja, mereka tidak berhasil menegakkan agama. Akhir perjalanan mereka pun sangat tragis, ada yang berujung dipenjara, ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, dan berbagai akhir tragis lainnya. Kondisi seperti ini terus berulang sepanjang sejarah hingga kini.Dalam jilid kedelapan kitab Siyar A‘lam an-Nubala’, pada biografi al-Hakam bin Hisyam ad-Dakhil al-Umawi, seorang penguasa Andalusia, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah panjang yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini secara rinci. Namun, kisah lengkapnya bisa dirujuk dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’ [1]. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memulainya dengan mengatakan,كثرت العلماء بالأندلس في دولته – أي دولة الحكم – حتى قيل: إنه كان بقرطبة أربعة آلاف مُتقلِّس متزيّين بزِيِّ العلماء“Pada masa pemerintahannya, yakni masa al-Hakam, jumlah ulama di Andalusia sangat banyak. Bahkan disebutkan, di Cordoba saja ada sekitar empat ribu orang yang tampil seperti ulama, mengenakan pakaian khas ahli ilmu.”Maksudnya, ketika itu para ulama dan penuntut ilmu sangat banyak, banyak pula yang berpenampilan seperti orang berilmu. Lalu, beliau rahimahullah melanjutkan,فلما أراد الله فناءهم: عزَّ عليهم انتهاك الحكم للحرمات، وائتمروا ليخلعوه، ثم جيَّشوا لقتاله، وجرَت بالأندلس فتنة عظيمة على الإسلام وأهله، فلا قوة إلا بالله“Ketika Allah menghendaki kebinasaan pada mereka, mereka merasa berat melihat al-Hakam yang semakin melampaui batas dengan menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Mereka pun bersepakat untuk menurunkannya, lalu mengerahkan pasukan untuk memeranginya. Akhirnya, pecahlah fitnah besar di Andalusia yang menimpa Islam dan kaum muslimin. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Setelah itu, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyusun kisahnya secara panjang. Di bagian akhirnya disebutkan bahwa banyak dari mereka terbunuh, sebagian melarikan diri, dan sebagian lainnya dipenjara. Semua itu terjadi, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menegakkan agamanya sedikit pun melalui fitnah-fitnah yang dimunculkan dan dikobarkan seperti itu. Maka benarlah kata seorang pepatah,السعيد من اتعظ بغيره“Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.”Bahkan, jumlah orang yang ikut terlibat dalam fitnah itu dan terjun ke dalamnya itu sangatlah banyak, dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam. Mereka berharap seandainya dulu tidak ikut masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut.Hal semacam ini banyak sekali ditemukan di dalam buku-buku sejarah dan biografi para tokoh yang berpengaruh. Kisah tentang orang-orang yang ikut dalam fitnah, lalu di akhir hidupnya menyesali apa yang telah mereka lakukan dahulu.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال“Demikianlah kebanyakan orang-orang terdahulu akhirnya menyesal atas keterlibatan mereka dalam fitnah (peperangan).” (Minhaj as-Sunnah, 4: 316)Lalu, Abu Bakar as-Sijistani rahimahullah juga menuturkan, ketika menyebut para qari’ (ahli Al-Qur’an) yang ikut keluar bersama Ibnu al-Asy‘ats, beliau berkata,لا أعلم أحدًا منهم قُتل إلا قد رغب له عن مصرعه، ولا نجا منهم أحد إلا حمد الله الذي سلَّمه“Aku tidak mengetahui seorang pun dari mereka yang terbunuh kecuali ia sebenarnya tidak rela dengan kematiannya itu. Dan tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka yang terlibat dalam huru-hara itu, kecuali ia memuji Allah karena telah menyelamatkannya.” (Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam Tarikh-nya, hal. 76)Baca juga: Makna Fitnah dalam Al-Quran Di antara kisah yang menarik dan penuh pelajaran dalam pembahasan ini adalah cerita tentang Zubaid bin al-Harits al-Yami. Ia termasuk salah seorang perawi yang hadisnya tercantum dalam Kutubus Sittah dan dikenal juga sebagai salah satu ulama Islam tersohor. Zubaid termasuk orang yang sempat terlibat dalam fitnah Ibnu al-Asy‘ats, namun Allah menyelamatkannya dari fitnah itu dan tidak sampai terbunuh.Muhammad bin Thalhah menceritakan,رَآنِي زَبَيْد مَعَ العُلَاءِ بْنِ عَبْدِ الكَرِيمِ وَنَحْنُ نَضْحَكُ، فَقَالَ: لَوْ شَهِدَتِ الجَمَاجِمُ مَا ضَحِكْتَ“Zubaid pernah melihatku bersama al-‘Ala’ bin ‘Abdul-Karim, dan kami sedang tertawa. Lalu ia berkata, ‘Kalau kamu menyaksikan peristiwa al-Jamajim, niscaya kamu tidak akan tertawa lagi!’”Yang dimaksud dengan al-Jamajim di sini adalah kumpulan tengkorak kaum muslimin, yaitu kepala-kepala mereka yang berguguran disebabkan oleh tangan sesama muslim. Mereka saling membunuh satu sama lain.Kemudian Zubaid berkata,وَلَوَدِدْتُ أَنَّ يَدِي – أَوْ قَالَ: يَمِينِي – قُطِعَتْ مِنَ العَضُدِ وَلَمْ أَكُنْ شَهِدْتُ ذَلِكَ“Sungguh! Sampai-sampai aku berharap tanganku —atau maksudnya, tangan kananku— terpotong dari pangkal bahuku, asalkan aku tidak pernah lagi menyaksikan peristiwa mengerikan dan tragis itu.” (Tarikh Khalifah, hal. 76)Setelah itu, muncul lagi fitnah lain dan Zubaid kembali diajak untuk ikut serta. Namun kali ini ia sudah melihat sendiri dampak dan akibatnya, sehingga ia tersadar dan mengambil sikap. Perhatikan jawaban cerdas, ringan, namun sarat makna yang ia sampaikan, jawaban seseorang yang sudah berpengalaman dan belajar dari kejadian sebelumnya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Manshur bin al-Mu‘tamir sering mendatangi Zubaid. Pada suatu waktu, disebutkan bahwa Ahlul Bait banyak yang terbunuh, lalu Manshur ingin mengajak Zubaid agar ikut keluar bersama Zaid bin ‘Ali, masuk ke dalam fitnah itu.Namun Zubaid rahimahullah menjawab dengan tegas,ما أنا بخارجٍ إلا مع نبيٍّ، وما أنا بواجده“Aku tidak akan ikut keluar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak akan menemukannya lagi.” (Diriwayatkan oleh Ya‘qub bin Sufyan dalam Tarikh-nya, 3: 107; dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 19: 473).Maksudnya, ia tidak akan menemukan seorang nabi pun (setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membantu berjuang bersamanya. Ucapan ini ia ucapkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatannya langsung terhadap dampak buruk yang berasal dari fitnah-fitnah tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Siyar A‘lam an-Nubala’, 8: 253–260.Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 27-32.


Di antara dampak buruk dan akibat fitnah berikutnya adalah siapa yang masuk ke dalam fitnah tersebut dan terlibat di dalamnya, biasanya akan berakhir dengan kebinasaan dan dampak yang sangat buruk. Ia tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya; sebaliknya, ia justru merugi karena tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menelusuri berbagai peristiwa fitnah yang terjadi pada masa-masa sebelum beliau. Beliau mengamatinya dengan teliti, lalu menyampaikan sebuah rangkuman yang begitu indah, ringkas, dan sangat bermanfaat tentang bagaimana akhir dari fitnah-fitnah tersebut dalam kitab beliau, Minhaj as-Sunnah. Beliau rahimahullah berkata,قلّ من خرج على إمام ذي سلطان إلا كان ما تولّد على فعله من الشر أعظم مما تولّد من الخير“Jarang sekali ada orang yang keluar dalam rangka memberontak terhadap seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan, kecuali keburukan yang muncul dari perbuatannya itu jauh lebih besar daripada kebaikan yang diharapkan.”Beliau kemudian menyebutkan banyak contoh fenomena fitnah yang pernah terjadi di masa dahulu, lalu merangkum hasil dan dampaknya dengan ungkapan yang sangat tegas,فلا أقاموا دينًا، ولا أبقوا دنيا“Mereka tidak berhasil menegakkan agama, dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia.” (Minhaj as-Sunnah, 4: 527–528)Maksudnya, orang-orang yang masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut dan ikut memperkeruhnya, pada akhirnya tidak berhasil menegakkan agama dan juga tidak mampu menjaga urusan dunia. Sebab, ketika fitnah sudah terjadi, maka hasilnya hanyalah huru-hara, pembunuhan, kekacauan merajalela, manusia saling menzalimi, berbagai masalah mulai bermunculan, dan dampak buruk lainnya. Para pencetus fitnah tersebut sama sekali tidak mendapatkan kebaikan apa pun darinya.Telah dipaparkan juga kisah sekelompok orang yang mengabaikan nasihat Imam Ahmad rahimahullah, demikian pula kisah sekelompok orang yang juga mengabaikan nasihat Hasan al-Bashri rahimahullah. Akhirnya, baik pada kelompok yang satu maupun yang lainnya, sama saja, mereka tidak berhasil menegakkan agama. Akhir perjalanan mereka pun sangat tragis, ada yang berujung dipenjara, ada yang terbunuh, ada yang melarikan diri, dan berbagai akhir tragis lainnya. Kondisi seperti ini terus berulang sepanjang sejarah hingga kini.Dalam jilid kedelapan kitab Siyar A‘lam an-Nubala’, pada biografi al-Hakam bin Hisyam ad-Dakhil al-Umawi, seorang penguasa Andalusia, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah panjang yang tidak memungkinkan untuk disebutkan di sini secara rinci. Namun, kisah lengkapnya bisa dirujuk dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala’ [1]. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memulainya dengan mengatakan,كثرت العلماء بالأندلس في دولته – أي دولة الحكم – حتى قيل: إنه كان بقرطبة أربعة آلاف مُتقلِّس متزيّين بزِيِّ العلماء“Pada masa pemerintahannya, yakni masa al-Hakam, jumlah ulama di Andalusia sangat banyak. Bahkan disebutkan, di Cordoba saja ada sekitar empat ribu orang yang tampil seperti ulama, mengenakan pakaian khas ahli ilmu.”Maksudnya, ketika itu para ulama dan penuntut ilmu sangat banyak, banyak pula yang berpenampilan seperti orang berilmu. Lalu, beliau rahimahullah melanjutkan,فلما أراد الله فناءهم: عزَّ عليهم انتهاك الحكم للحرمات، وائتمروا ليخلعوه، ثم جيَّشوا لقتاله، وجرَت بالأندلس فتنة عظيمة على الإسلام وأهله، فلا قوة إلا بالله“Ketika Allah menghendaki kebinasaan pada mereka, mereka merasa berat melihat al-Hakam yang semakin melampaui batas dengan menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Mereka pun bersepakat untuk menurunkannya, lalu mengerahkan pasukan untuk memeranginya. Akhirnya, pecahlah fitnah besar di Andalusia yang menimpa Islam dan kaum muslimin. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Setelah itu, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyusun kisahnya secara panjang. Di bagian akhirnya disebutkan bahwa banyak dari mereka terbunuh, sebagian melarikan diri, dan sebagian lainnya dipenjara. Semua itu terjadi, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menegakkan agamanya sedikit pun melalui fitnah-fitnah yang dimunculkan dan dikobarkan seperti itu. Maka benarlah kata seorang pepatah,السعيد من اتعظ بغيره“Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain.”Bahkan, jumlah orang yang ikut terlibat dalam fitnah itu dan terjun ke dalamnya itu sangatlah banyak, dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan penyesalan yang sangat mendalam. Mereka berharap seandainya dulu tidak ikut masuk ke dalam fitnah-fitnah tersebut.Hal semacam ini banyak sekali ditemukan di dalam buku-buku sejarah dan biografi para tokoh yang berpengaruh. Kisah tentang orang-orang yang ikut dalam fitnah, lalu di akhir hidupnya menyesali apa yang telah mereka lakukan dahulu.Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال“Demikianlah kebanyakan orang-orang terdahulu akhirnya menyesal atas keterlibatan mereka dalam fitnah (peperangan).” (Minhaj as-Sunnah, 4: 316)Lalu, Abu Bakar as-Sijistani rahimahullah juga menuturkan, ketika menyebut para qari’ (ahli Al-Qur’an) yang ikut keluar bersama Ibnu al-Asy‘ats, beliau berkata,لا أعلم أحدًا منهم قُتل إلا قد رغب له عن مصرعه، ولا نجا منهم أحد إلا حمد الله الذي سلَّمه“Aku tidak mengetahui seorang pun dari mereka yang terbunuh kecuali ia sebenarnya tidak rela dengan kematiannya itu. Dan tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka yang terlibat dalam huru-hara itu, kecuali ia memuji Allah karena telah menyelamatkannya.” (Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam Tarikh-nya, hal. 76)Baca juga: Makna Fitnah dalam Al-Quran Di antara kisah yang menarik dan penuh pelajaran dalam pembahasan ini adalah cerita tentang Zubaid bin al-Harits al-Yami. Ia termasuk salah seorang perawi yang hadisnya tercantum dalam Kutubus Sittah dan dikenal juga sebagai salah satu ulama Islam tersohor. Zubaid termasuk orang yang sempat terlibat dalam fitnah Ibnu al-Asy‘ats, namun Allah menyelamatkannya dari fitnah itu dan tidak sampai terbunuh.Muhammad bin Thalhah menceritakan,رَآنِي زَبَيْد مَعَ العُلَاءِ بْنِ عَبْدِ الكَرِيمِ وَنَحْنُ نَضْحَكُ، فَقَالَ: لَوْ شَهِدَتِ الجَمَاجِمُ مَا ضَحِكْتَ“Zubaid pernah melihatku bersama al-‘Ala’ bin ‘Abdul-Karim, dan kami sedang tertawa. Lalu ia berkata, ‘Kalau kamu menyaksikan peristiwa al-Jamajim, niscaya kamu tidak akan tertawa lagi!’”Yang dimaksud dengan al-Jamajim di sini adalah kumpulan tengkorak kaum muslimin, yaitu kepala-kepala mereka yang berguguran disebabkan oleh tangan sesama muslim. Mereka saling membunuh satu sama lain.Kemudian Zubaid berkata,وَلَوَدِدْتُ أَنَّ يَدِي – أَوْ قَالَ: يَمِينِي – قُطِعَتْ مِنَ العَضُدِ وَلَمْ أَكُنْ شَهِدْتُ ذَلِكَ“Sungguh! Sampai-sampai aku berharap tanganku —atau maksudnya, tangan kananku— terpotong dari pangkal bahuku, asalkan aku tidak pernah lagi menyaksikan peristiwa mengerikan dan tragis itu.” (Tarikh Khalifah, hal. 76)Setelah itu, muncul lagi fitnah lain dan Zubaid kembali diajak untuk ikut serta. Namun kali ini ia sudah melihat sendiri dampak dan akibatnya, sehingga ia tersadar dan mengambil sikap. Perhatikan jawaban cerdas, ringan, namun sarat makna yang ia sampaikan, jawaban seseorang yang sudah berpengalaman dan belajar dari kejadian sebelumnya. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Manshur bin al-Mu‘tamir sering mendatangi Zubaid. Pada suatu waktu, disebutkan bahwa Ahlul Bait banyak yang terbunuh, lalu Manshur ingin mengajak Zubaid agar ikut keluar bersama Zaid bin ‘Ali, masuk ke dalam fitnah itu.Namun Zubaid rahimahullah menjawab dengan tegas,ما أنا بخارجٍ إلا مع نبيٍّ، وما أنا بواجده“Aku tidak akan ikut keluar kecuali bersama seorang nabi, dan aku tidak akan menemukannya lagi.” (Diriwayatkan oleh Ya‘qub bin Sufyan dalam Tarikh-nya, 3: 107; dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 19: 473).Maksudnya, ia tidak akan menemukan seorang nabi pun (setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membantu berjuang bersamanya. Ucapan ini ia ucapkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatannya langsung terhadap dampak buruk yang berasal dari fitnah-fitnah tersebut.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 4 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Siyar A‘lam an-Nubala’, 8: 253–260.Referensi:Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 27-32.

Rahasia Besar Pengabulan Doa di 2 Waktu Emas Terkabulnya Doa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Di antara waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa adalah ketika sujud. Sujud merupakan salah satu keadaan yang di dalamnya harapan akan dikabulkannya doa sangat besar. Seorang Mukmin, kapan pun ia berdoa kepada Rabb-nya, tentu berharap agar doanya dikabulkan. Namun, ada waktu-waktu yang besar harapan doa itu akan dikabulkan. Di antara waktu itu adalah ketika sujud. Sehingga apabila seorang Mukmin menghimpun dua keadaan: ketika sujud dan pada akhir malam, maka ia telah menghimpun dua sebab besar bagi pengabulan doa. Oleh sebab itu, seorang Mukmin tidak selayaknya menghalangi dirinya dari Shalat Malam, dan shalat di akhir malam, meskipun hanya Shalat Witir, karena dengan itu, ia dapat meraih banyak pahala besar, sekaligus menghimpun dua sebab agung pengabulan doa. Salah seorang guruku pernah bercerita kepadaku, bahwa tidaklah ada suatu perkara yang membuatnya gelisah, melainkan beliau memohon kepada Allah dalam sujudnya di akhir malam. Beliau berkata, “Tidaklah aku memohon sesuatu kepada Allah, melainkan aku melihatnya dikabulkan.” Maka, sujud termasuk keadaan yang sangat besar harapan pengabulan doa di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sangat pantas doa itu dikabulkan bagi kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih. Baik, jika ditanyakan: “Dalam sabda Nabi: ‘Maka sungguh-sungguhlah dalam berdoa.’ Mengapa perintah dalam kalimat ini tidak membuat ini menjadi wajib hukumnya?” Para ulama menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyertakan alasan dengan sabda beliau, “Karena sangat pantas untuk dikabulkan bagi kalian.” Ini merupakan faedah yang kembali kepada orang yang berdoa itu sendiri, sehingga perintah tersebut beralih makna menjadi anjuran (sunnah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.” (HR. Muslim). Karena pada saat itu, ia meletakkan dahinya di atas tanah semata-mata karena Allah. Manusia tidak boleh meletakkan dahinya kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pada keadaan itulah, ia berada dalam kondisi paling dekat dengan Allah. Karena itu, “Perbanyaklah doa.” Perbanyaklah doa, karena saat itu merupakan keadaan yang sangat diharapkan pengabulannya. ===== مِنْ مَوَاطِنِ اسْتِحْبَابِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ السُّجُودُ وَهُوَ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ الْمُؤْمِنُ حَيْثُمَا دَعَا رَبَّهُ يَرْجُو أَنْ يُجِيبَهُ رَبُّهُ لَكِنْ هُنَاكَ مَوَاطِنُ يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَمِنْهَا السُّجُودُ فَإِذَا جَمَعَ الْمُؤْمِنُ بَيْنَ السُّجُودِ وَكَوْنِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ جَمَعَ بَيْنَ سَبَبَيْنِ عَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُ لَا يَحْرِمُ نَفْسَهُ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالصَّلاةِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ أَنْ يَقُومَ يُوتِرَ فَإِنَّهُ يُحَصِّلُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ اجْتِمَاعِ هَذَيْنِ السَّبَبَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ ذَكَرَ لِي أَحَدُ مَشَايِخِي أَنَّهُ مَا أَهَمَّهُ أَمْرٌ إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهَ فِي سُجُودِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ فَمَا سَأَلْتُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا رَأَيْتُهُ فَالسُّجُودُ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَالْحَدِيثُ عِنْدَ مُسْلِمٍ فِي الصَّحِيحِ طَيِّبٌ يُقَالُ هَذَا أَمْرٌ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ لِمَاذَا لَا يَدُلُّ الْأَمْرُ هُنَا عَلَى الْوُجُوبِ؟ قَالَ الْعُلَمَاءُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ فَقَمِنٌ أَيْ حَقِيقٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ فَهِيَ فَائِدَةٌ تَرْجِعُ إِلَيْهِ تَرْجِعُ إِلَى الدَّاعِي وَهَذَا يَصْرِفُهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ لِأَنَّهُ يَضَعُ جَبِينَهُ عَلَى الْأَرْضِ لِلَّهِ الْإِنْسَانُ مَا يَضَعُ جَبِينَهُ إِلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْحَالِ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ أَكْثِرُوا الدُّعَاءَ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْإِجَابَةِ

Rahasia Besar Pengabulan Doa di 2 Waktu Emas Terkabulnya Doa – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Di antara waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa adalah ketika sujud. Sujud merupakan salah satu keadaan yang di dalamnya harapan akan dikabulkannya doa sangat besar. Seorang Mukmin, kapan pun ia berdoa kepada Rabb-nya, tentu berharap agar doanya dikabulkan. Namun, ada waktu-waktu yang besar harapan doa itu akan dikabulkan. Di antara waktu itu adalah ketika sujud. Sehingga apabila seorang Mukmin menghimpun dua keadaan: ketika sujud dan pada akhir malam, maka ia telah menghimpun dua sebab besar bagi pengabulan doa. Oleh sebab itu, seorang Mukmin tidak selayaknya menghalangi dirinya dari Shalat Malam, dan shalat di akhir malam, meskipun hanya Shalat Witir, karena dengan itu, ia dapat meraih banyak pahala besar, sekaligus menghimpun dua sebab agung pengabulan doa. Salah seorang guruku pernah bercerita kepadaku, bahwa tidaklah ada suatu perkara yang membuatnya gelisah, melainkan beliau memohon kepada Allah dalam sujudnya di akhir malam. Beliau berkata, “Tidaklah aku memohon sesuatu kepada Allah, melainkan aku melihatnya dikabulkan.” Maka, sujud termasuk keadaan yang sangat besar harapan pengabulan doa di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sangat pantas doa itu dikabulkan bagi kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih. Baik, jika ditanyakan: “Dalam sabda Nabi: ‘Maka sungguh-sungguhlah dalam berdoa.’ Mengapa perintah dalam kalimat ini tidak membuat ini menjadi wajib hukumnya?” Para ulama menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyertakan alasan dengan sabda beliau, “Karena sangat pantas untuk dikabulkan bagi kalian.” Ini merupakan faedah yang kembali kepada orang yang berdoa itu sendiri, sehingga perintah tersebut beralih makna menjadi anjuran (sunnah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.” (HR. Muslim). Karena pada saat itu, ia meletakkan dahinya di atas tanah semata-mata karena Allah. Manusia tidak boleh meletakkan dahinya kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pada keadaan itulah, ia berada dalam kondisi paling dekat dengan Allah. Karena itu, “Perbanyaklah doa.” Perbanyaklah doa, karena saat itu merupakan keadaan yang sangat diharapkan pengabulannya. ===== مِنْ مَوَاطِنِ اسْتِحْبَابِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ السُّجُودُ وَهُوَ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ الْمُؤْمِنُ حَيْثُمَا دَعَا رَبَّهُ يَرْجُو أَنْ يُجِيبَهُ رَبُّهُ لَكِنْ هُنَاكَ مَوَاطِنُ يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَمِنْهَا السُّجُودُ فَإِذَا جَمَعَ الْمُؤْمِنُ بَيْنَ السُّجُودِ وَكَوْنِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ جَمَعَ بَيْنَ سَبَبَيْنِ عَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُ لَا يَحْرِمُ نَفْسَهُ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالصَّلاةِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ أَنْ يَقُومَ يُوتِرَ فَإِنَّهُ يُحَصِّلُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ اجْتِمَاعِ هَذَيْنِ السَّبَبَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ ذَكَرَ لِي أَحَدُ مَشَايِخِي أَنَّهُ مَا أَهَمَّهُ أَمْرٌ إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهَ فِي سُجُودِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ فَمَا سَأَلْتُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا رَأَيْتُهُ فَالسُّجُودُ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَالْحَدِيثُ عِنْدَ مُسْلِمٍ فِي الصَّحِيحِ طَيِّبٌ يُقَالُ هَذَا أَمْرٌ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ لِمَاذَا لَا يَدُلُّ الْأَمْرُ هُنَا عَلَى الْوُجُوبِ؟ قَالَ الْعُلَمَاءُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ فَقَمِنٌ أَيْ حَقِيقٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ فَهِيَ فَائِدَةٌ تَرْجِعُ إِلَيْهِ تَرْجِعُ إِلَى الدَّاعِي وَهَذَا يَصْرِفُهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ لِأَنَّهُ يَضَعُ جَبِينَهُ عَلَى الْأَرْضِ لِلَّهِ الْإِنْسَانُ مَا يَضَعُ جَبِينَهُ إِلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْحَالِ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ أَكْثِرُوا الدُّعَاءَ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْإِجَابَةِ
Di antara waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa adalah ketika sujud. Sujud merupakan salah satu keadaan yang di dalamnya harapan akan dikabulkannya doa sangat besar. Seorang Mukmin, kapan pun ia berdoa kepada Rabb-nya, tentu berharap agar doanya dikabulkan. Namun, ada waktu-waktu yang besar harapan doa itu akan dikabulkan. Di antara waktu itu adalah ketika sujud. Sehingga apabila seorang Mukmin menghimpun dua keadaan: ketika sujud dan pada akhir malam, maka ia telah menghimpun dua sebab besar bagi pengabulan doa. Oleh sebab itu, seorang Mukmin tidak selayaknya menghalangi dirinya dari Shalat Malam, dan shalat di akhir malam, meskipun hanya Shalat Witir, karena dengan itu, ia dapat meraih banyak pahala besar, sekaligus menghimpun dua sebab agung pengabulan doa. Salah seorang guruku pernah bercerita kepadaku, bahwa tidaklah ada suatu perkara yang membuatnya gelisah, melainkan beliau memohon kepada Allah dalam sujudnya di akhir malam. Beliau berkata, “Tidaklah aku memohon sesuatu kepada Allah, melainkan aku melihatnya dikabulkan.” Maka, sujud termasuk keadaan yang sangat besar harapan pengabulan doa di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sangat pantas doa itu dikabulkan bagi kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih. Baik, jika ditanyakan: “Dalam sabda Nabi: ‘Maka sungguh-sungguhlah dalam berdoa.’ Mengapa perintah dalam kalimat ini tidak membuat ini menjadi wajib hukumnya?” Para ulama menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyertakan alasan dengan sabda beliau, “Karena sangat pantas untuk dikabulkan bagi kalian.” Ini merupakan faedah yang kembali kepada orang yang berdoa itu sendiri, sehingga perintah tersebut beralih makna menjadi anjuran (sunnah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.” (HR. Muslim). Karena pada saat itu, ia meletakkan dahinya di atas tanah semata-mata karena Allah. Manusia tidak boleh meletakkan dahinya kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pada keadaan itulah, ia berada dalam kondisi paling dekat dengan Allah. Karena itu, “Perbanyaklah doa.” Perbanyaklah doa, karena saat itu merupakan keadaan yang sangat diharapkan pengabulannya. ===== مِنْ مَوَاطِنِ اسْتِحْبَابِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ السُّجُودُ وَهُوَ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ الْمُؤْمِنُ حَيْثُمَا دَعَا رَبَّهُ يَرْجُو أَنْ يُجِيبَهُ رَبُّهُ لَكِنْ هُنَاكَ مَوَاطِنُ يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَمِنْهَا السُّجُودُ فَإِذَا جَمَعَ الْمُؤْمِنُ بَيْنَ السُّجُودِ وَكَوْنِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ جَمَعَ بَيْنَ سَبَبَيْنِ عَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُ لَا يَحْرِمُ نَفْسَهُ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالصَّلاةِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ أَنْ يَقُومَ يُوتِرَ فَإِنَّهُ يُحَصِّلُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ اجْتِمَاعِ هَذَيْنِ السَّبَبَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ ذَكَرَ لِي أَحَدُ مَشَايِخِي أَنَّهُ مَا أَهَمَّهُ أَمْرٌ إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهَ فِي سُجُودِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ فَمَا سَأَلْتُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا رَأَيْتُهُ فَالسُّجُودُ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَالْحَدِيثُ عِنْدَ مُسْلِمٍ فِي الصَّحِيحِ طَيِّبٌ يُقَالُ هَذَا أَمْرٌ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ لِمَاذَا لَا يَدُلُّ الْأَمْرُ هُنَا عَلَى الْوُجُوبِ؟ قَالَ الْعُلَمَاءُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ فَقَمِنٌ أَيْ حَقِيقٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ فَهِيَ فَائِدَةٌ تَرْجِعُ إِلَيْهِ تَرْجِعُ إِلَى الدَّاعِي وَهَذَا يَصْرِفُهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ لِأَنَّهُ يَضَعُ جَبِينَهُ عَلَى الْأَرْضِ لِلَّهِ الْإِنْسَانُ مَا يَضَعُ جَبِينَهُ إِلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْحَالِ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ أَكْثِرُوا الدُّعَاءَ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْإِجَابَةِ


Di antara waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa adalah ketika sujud. Sujud merupakan salah satu keadaan yang di dalamnya harapan akan dikabulkannya doa sangat besar. Seorang Mukmin, kapan pun ia berdoa kepada Rabb-nya, tentu berharap agar doanya dikabulkan. Namun, ada waktu-waktu yang besar harapan doa itu akan dikabulkan. Di antara waktu itu adalah ketika sujud. Sehingga apabila seorang Mukmin menghimpun dua keadaan: ketika sujud dan pada akhir malam, maka ia telah menghimpun dua sebab besar bagi pengabulan doa. Oleh sebab itu, seorang Mukmin tidak selayaknya menghalangi dirinya dari Shalat Malam, dan shalat di akhir malam, meskipun hanya Shalat Witir, karena dengan itu, ia dapat meraih banyak pahala besar, sekaligus menghimpun dua sebab agung pengabulan doa. Salah seorang guruku pernah bercerita kepadaku, bahwa tidaklah ada suatu perkara yang membuatnya gelisah, melainkan beliau memohon kepada Allah dalam sujudnya di akhir malam. Beliau berkata, “Tidaklah aku memohon sesuatu kepada Allah, melainkan aku melihatnya dikabulkan.” Maka, sujud termasuk keadaan yang sangat besar harapan pengabulan doa di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sangat pantas doa itu dikabulkan bagi kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ash-Shahih. Baik, jika ditanyakan: “Dalam sabda Nabi: ‘Maka sungguh-sungguhlah dalam berdoa.’ Mengapa perintah dalam kalimat ini tidak membuat ini menjadi wajib hukumnya?” Para ulama menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyertakan alasan dengan sabda beliau, “Karena sangat pantas untuk dikabulkan bagi kalian.” Ini merupakan faedah yang kembali kepada orang yang berdoa itu sendiri, sehingga perintah tersebut beralih makna menjadi anjuran (sunnah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.” (HR. Muslim). Karena pada saat itu, ia meletakkan dahinya di atas tanah semata-mata karena Allah. Manusia tidak boleh meletakkan dahinya kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pada keadaan itulah, ia berada dalam kondisi paling dekat dengan Allah. Karena itu, “Perbanyaklah doa.” Perbanyaklah doa, karena saat itu merupakan keadaan yang sangat diharapkan pengabulannya. ===== مِنْ مَوَاطِنِ اسْتِحْبَابِ كَثْرَةِ الدُّعَاءِ السُّجُودُ وَهُوَ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ الْمُؤْمِنُ حَيْثُمَا دَعَا رَبَّهُ يَرْجُو أَنْ يُجِيبَهُ رَبُّهُ لَكِنْ هُنَاكَ مَوَاطِنُ يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَمِنْهَا السُّجُودُ فَإِذَا جَمَعَ الْمُؤْمِنُ بَيْنَ السُّجُودِ وَكَوْنِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ جَمَعَ بَيْنَ سَبَبَيْنِ عَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُ لَا يَحْرِمُ نَفْسَهُ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالصَّلاةِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ أَنْ يَقُومَ يُوتِرَ فَإِنَّهُ يُحَصِّلُ أُجُورًا عَظِيمَةً مَعَ اجْتِمَاعِ هَذَيْنِ السَّبَبَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَقَدْ ذَكَرَ لِي أَحَدُ مَشَايِخِي أَنَّهُ مَا أَهَمَّهُ أَمْرٌ إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهَ فِي سُجُودِهِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ فَمَا سَأَلْتُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا رَأَيْتُهُ فَالسُّجُودُ مِنَ الْمَوَاطِنِ الَّتِي يَعْظُمُ فِيهَا رَجَاءُ الْإِجَابَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ وَالْحَدِيثُ عِنْدَ مُسْلِمٍ فِي الصَّحِيحِ طَيِّبٌ يُقَالُ هَذَا أَمْرٌ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ لِمَاذَا لَا يَدُلُّ الْأَمْرُ هُنَا عَلَى الْوُجُوبِ؟ قَالَ الْعُلَمَاءُ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ فَقَمِنٌ أَيْ حَقِيقٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ فَهِيَ فَائِدَةٌ تَرْجِعُ إِلَيْهِ تَرْجِعُ إِلَى الدَّاعِي وَهَذَا يَصْرِفُهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ لِأَنَّهُ يَضَعُ جَبِينَهُ عَلَى الْأَرْضِ لِلَّهِ الْإِنْسَانُ مَا يَضَعُ جَبِينَهُ إِلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَيَكُونُ أَقْرَبَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْحَالِ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ أَكْثِرُوا الدُّعَاءَ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْإِجَابَةِ

Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas Kaki

Hari Kiamat adalah hari yang begitu dahsyat hingga seluruh perhatian manusia tersedot pada keselamatan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, namun tanpa ada satu pun yang saling memperhatikan. Gambaran ini menegaskan betapa beratnya hisab pada hari itu, sekaligus menunjukkan tingginya rasa malu dan kesucian iman para sahabat, khususnya para wanita di masa Rasulullah ﷺ. Hadits 411 dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab “Al-Khauf”١٦/٤١١-وعن عائشةَ، رضي اللَّه عنها، قَالَتْ: سمعتُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يقول: “يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلاً”قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّه الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيعاً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ،؟ قَالَ:”يَا عَائِشَةُ الأَمرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُم ذلكَ”. وفي روايةٍ:”الأَمْرُ أَهَمُّ مِن أَن يَنْظُرَ بَعضُهُمْ إِلى بَعْضٍ”متفقٌ عَلَيهِ. “غُرلاً”بضَمِّ الغَيْنِ المعجمة, أي: غير مختونين.Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah para lelaki dan perempuan semuanya (dikumpulkan bersama) sehingga mereka saling melihat satu sama lain?”Beliau menjawab,
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka memikirkan hal itu.”Dalam riwayat lain disebutkan,
“Perkaranya jauh lebih penting daripada sekadar saling memandang satu sama lain.” Hadis ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).Kata “ghurlan” dengan dhammah pada huruf ghain, maksudnya: belum dikhitan. [HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859] Penjelasan Lafaz (Gharib Hadits)* حُفَاةً: orang-orang yang tidak memakai alas kaki, tidak mengenakan sandal atau sepatu.* عُرَاةً: orang-orang yang tidak mengenakan pakaian di tubuh mereka. Faedah HaditsPertama: Hadits ini menjelaskan dahsyatnya keadaan pada hari Kiamat, dan bahwa manusia tidak lagi disibukkan dengan melihat orang lain, karena setiap orang sibuk dengan hisab dan amalnya sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)Kedua: Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari Kiamat, bahwa mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki, baik laki-laki maupun perempuan, namun tidak ada perhatian satu sama lain, karena kedahsyatan hari tersebut membuat setiap orang hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.Ketiga: Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan terjatuh ke dalam maksiat kecuali ketika berada dalam kondisi lalai dan jauh dari penjagaan Allah. Seandainya seseorang mengingat betapa besar nikmat dan penjagaan Allah, atau memikirkan ancaman dan hukuman-Nya, serta menyadari kewajibannya untuk mengingat, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.Karena itu, penduduk padang mahsyar akan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak saling memandang satu sama lain.Keempat: Penjelasan ini juga menunjukkan betapa kuatnya rasa malu para wanita pada masa Rasulullah ﷺ. ‘Aisyah merasa sangat terguncang rasa malunya ketika mendengar bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Ia khawatir sebagian mereka akan saling melihat.Sikap ini sejalan dengan kisah wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan, yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta beliau mendoakan agar Allah menyembuhkannya. Ia takut auratnya tersingkap ketika kambuh, sehingga ia lebih memilih bersabar daripada kehilangan rasa malunya.Hal yang serupa juga tampak pada Ummu Salamah, istri Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita beriman untuk menjulurkan pakaian mereka ke bawah, Ummu Salamah khawatir hal itu menyebabkan aurat mereka tersingkap. Rasulullah ﷺ kemudian menegaskan bahwa pakaian itu boleh dijulurkan hingga satu hasta.Semua ini menunjukkan betapa tingginya rasa malu para istri Nabi, para wanita beriman, dan wanita-wanita generasi salaf yang saleh. Oleh sebab itu, masyarakat generasi awal Islam merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, kekuatan iman, dan ketakwaan.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:483-484. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat kiamat riyadhus sholihin

Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas Kaki

Hari Kiamat adalah hari yang begitu dahsyat hingga seluruh perhatian manusia tersedot pada keselamatan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, namun tanpa ada satu pun yang saling memperhatikan. Gambaran ini menegaskan betapa beratnya hisab pada hari itu, sekaligus menunjukkan tingginya rasa malu dan kesucian iman para sahabat, khususnya para wanita di masa Rasulullah ﷺ. Hadits 411 dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab “Al-Khauf”١٦/٤١١-وعن عائشةَ، رضي اللَّه عنها، قَالَتْ: سمعتُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يقول: “يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلاً”قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّه الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيعاً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ،؟ قَالَ:”يَا عَائِشَةُ الأَمرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُم ذلكَ”. وفي روايةٍ:”الأَمْرُ أَهَمُّ مِن أَن يَنْظُرَ بَعضُهُمْ إِلى بَعْضٍ”متفقٌ عَلَيهِ. “غُرلاً”بضَمِّ الغَيْنِ المعجمة, أي: غير مختونين.Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah para lelaki dan perempuan semuanya (dikumpulkan bersama) sehingga mereka saling melihat satu sama lain?”Beliau menjawab,
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka memikirkan hal itu.”Dalam riwayat lain disebutkan,
“Perkaranya jauh lebih penting daripada sekadar saling memandang satu sama lain.” Hadis ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).Kata “ghurlan” dengan dhammah pada huruf ghain, maksudnya: belum dikhitan. [HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859] Penjelasan Lafaz (Gharib Hadits)* حُفَاةً: orang-orang yang tidak memakai alas kaki, tidak mengenakan sandal atau sepatu.* عُرَاةً: orang-orang yang tidak mengenakan pakaian di tubuh mereka. Faedah HaditsPertama: Hadits ini menjelaskan dahsyatnya keadaan pada hari Kiamat, dan bahwa manusia tidak lagi disibukkan dengan melihat orang lain, karena setiap orang sibuk dengan hisab dan amalnya sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)Kedua: Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari Kiamat, bahwa mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki, baik laki-laki maupun perempuan, namun tidak ada perhatian satu sama lain, karena kedahsyatan hari tersebut membuat setiap orang hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.Ketiga: Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan terjatuh ke dalam maksiat kecuali ketika berada dalam kondisi lalai dan jauh dari penjagaan Allah. Seandainya seseorang mengingat betapa besar nikmat dan penjagaan Allah, atau memikirkan ancaman dan hukuman-Nya, serta menyadari kewajibannya untuk mengingat, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.Karena itu, penduduk padang mahsyar akan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak saling memandang satu sama lain.Keempat: Penjelasan ini juga menunjukkan betapa kuatnya rasa malu para wanita pada masa Rasulullah ﷺ. ‘Aisyah merasa sangat terguncang rasa malunya ketika mendengar bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Ia khawatir sebagian mereka akan saling melihat.Sikap ini sejalan dengan kisah wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan, yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta beliau mendoakan agar Allah menyembuhkannya. Ia takut auratnya tersingkap ketika kambuh, sehingga ia lebih memilih bersabar daripada kehilangan rasa malunya.Hal yang serupa juga tampak pada Ummu Salamah, istri Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita beriman untuk menjulurkan pakaian mereka ke bawah, Ummu Salamah khawatir hal itu menyebabkan aurat mereka tersingkap. Rasulullah ﷺ kemudian menegaskan bahwa pakaian itu boleh dijulurkan hingga satu hasta.Semua ini menunjukkan betapa tingginya rasa malu para istri Nabi, para wanita beriman, dan wanita-wanita generasi salaf yang saleh. Oleh sebab itu, masyarakat generasi awal Islam merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, kekuatan iman, dan ketakwaan.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:483-484. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat kiamat riyadhus sholihin
Hari Kiamat adalah hari yang begitu dahsyat hingga seluruh perhatian manusia tersedot pada keselamatan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, namun tanpa ada satu pun yang saling memperhatikan. Gambaran ini menegaskan betapa beratnya hisab pada hari itu, sekaligus menunjukkan tingginya rasa malu dan kesucian iman para sahabat, khususnya para wanita di masa Rasulullah ﷺ. Hadits 411 dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab “Al-Khauf”١٦/٤١١-وعن عائشةَ، رضي اللَّه عنها، قَالَتْ: سمعتُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يقول: “يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلاً”قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّه الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيعاً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ،؟ قَالَ:”يَا عَائِشَةُ الأَمرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُم ذلكَ”. وفي روايةٍ:”الأَمْرُ أَهَمُّ مِن أَن يَنْظُرَ بَعضُهُمْ إِلى بَعْضٍ”متفقٌ عَلَيهِ. “غُرلاً”بضَمِّ الغَيْنِ المعجمة, أي: غير مختونين.Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah para lelaki dan perempuan semuanya (dikumpulkan bersama) sehingga mereka saling melihat satu sama lain?”Beliau menjawab,
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka memikirkan hal itu.”Dalam riwayat lain disebutkan,
“Perkaranya jauh lebih penting daripada sekadar saling memandang satu sama lain.” Hadis ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).Kata “ghurlan” dengan dhammah pada huruf ghain, maksudnya: belum dikhitan. [HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859] Penjelasan Lafaz (Gharib Hadits)* حُفَاةً: orang-orang yang tidak memakai alas kaki, tidak mengenakan sandal atau sepatu.* عُرَاةً: orang-orang yang tidak mengenakan pakaian di tubuh mereka. Faedah HaditsPertama: Hadits ini menjelaskan dahsyatnya keadaan pada hari Kiamat, dan bahwa manusia tidak lagi disibukkan dengan melihat orang lain, karena setiap orang sibuk dengan hisab dan amalnya sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)Kedua: Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari Kiamat, bahwa mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki, baik laki-laki maupun perempuan, namun tidak ada perhatian satu sama lain, karena kedahsyatan hari tersebut membuat setiap orang hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.Ketiga: Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan terjatuh ke dalam maksiat kecuali ketika berada dalam kondisi lalai dan jauh dari penjagaan Allah. Seandainya seseorang mengingat betapa besar nikmat dan penjagaan Allah, atau memikirkan ancaman dan hukuman-Nya, serta menyadari kewajibannya untuk mengingat, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.Karena itu, penduduk padang mahsyar akan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak saling memandang satu sama lain.Keempat: Penjelasan ini juga menunjukkan betapa kuatnya rasa malu para wanita pada masa Rasulullah ﷺ. ‘Aisyah merasa sangat terguncang rasa malunya ketika mendengar bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Ia khawatir sebagian mereka akan saling melihat.Sikap ini sejalan dengan kisah wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan, yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta beliau mendoakan agar Allah menyembuhkannya. Ia takut auratnya tersingkap ketika kambuh, sehingga ia lebih memilih bersabar daripada kehilangan rasa malunya.Hal yang serupa juga tampak pada Ummu Salamah, istri Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita beriman untuk menjulurkan pakaian mereka ke bawah, Ummu Salamah khawatir hal itu menyebabkan aurat mereka tersingkap. Rasulullah ﷺ kemudian menegaskan bahwa pakaian itu boleh dijulurkan hingga satu hasta.Semua ini menunjukkan betapa tingginya rasa malu para istri Nabi, para wanita beriman, dan wanita-wanita generasi salaf yang saleh. Oleh sebab itu, masyarakat generasi awal Islam merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, kekuatan iman, dan ketakwaan.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:483-484. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat kiamat riyadhus sholihin


Hari Kiamat adalah hari yang begitu dahsyat hingga seluruh perhatian manusia tersedot pada keselamatan dirinya sendiri. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, namun tanpa ada satu pun yang saling memperhatikan. Gambaran ini menegaskan betapa beratnya hisab pada hari itu, sekaligus menunjukkan tingginya rasa malu dan kesucian iman para sahabat, khususnya para wanita di masa Rasulullah ﷺ. Hadits 411 dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah, Bab “Al-Khauf”١٦/٤١١-وعن عائشةَ، رضي اللَّه عنها، قَالَتْ: سمعتُ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يقول: “يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُراةً غُرْلاً”قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّه الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيعاً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ،؟ قَالَ:”يَا عَائِشَةُ الأَمرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُم ذلكَ”. وفي روايةٍ:”الأَمْرُ أَهَمُّ مِن أَن يَنْظُرَ بَعضُهُمْ إِلى بَعْضٍ”متفقٌ عَلَيهِ. “غُرلاً”بضَمِّ الغَيْنِ المعجمة, أي: غير مختونين.Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah para lelaki dan perempuan semuanya (dikumpulkan bersama) sehingga mereka saling melihat satu sama lain?”Beliau menjawab,
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka memikirkan hal itu.”Dalam riwayat lain disebutkan,
“Perkaranya jauh lebih penting daripada sekadar saling memandang satu sama lain.” Hadis ini disepakati keshahihannya (muttafaq ‘alaih).Kata “ghurlan” dengan dhammah pada huruf ghain, maksudnya: belum dikhitan. [HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859] Penjelasan Lafaz (Gharib Hadits)* حُفَاةً: orang-orang yang tidak memakai alas kaki, tidak mengenakan sandal atau sepatu.* عُرَاةً: orang-orang yang tidak mengenakan pakaian di tubuh mereka. Faedah HaditsPertama: Hadits ini menjelaskan dahsyatnya keadaan pada hari Kiamat, dan bahwa manusia tidak lagi disibukkan dengan melihat orang lain, karena setiap orang sibuk dengan hisab dan amalnya sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ﴾
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”
(QS. ‘Abasa: 34–37)Kedua: Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari Kiamat, bahwa mereka dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki, baik laki-laki maupun perempuan, namun tidak ada perhatian satu sama lain, karena kedahsyatan hari tersebut membuat setiap orang hanya sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.Ketiga: Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia tidak akan terjatuh ke dalam maksiat kecuali ketika berada dalam kondisi lalai dan jauh dari penjagaan Allah. Seandainya seseorang mengingat betapa besar nikmat dan penjagaan Allah, atau memikirkan ancaman dan hukuman-Nya, serta menyadari kewajibannya untuk mengingat, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, tentu ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.Karena itu, penduduk padang mahsyar akan terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak saling memandang satu sama lain.Keempat: Penjelasan ini juga menunjukkan betapa kuatnya rasa malu para wanita pada masa Rasulullah ﷺ. ‘Aisyah merasa sangat terguncang rasa malunya ketika mendengar bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, baik laki-laki maupun perempuan. Ia khawatir sebagian mereka akan saling melihat.Sikap ini sejalan dengan kisah wanita berkulit hitam yang menderita penyakit ayan, yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta beliau mendoakan agar Allah menyembuhkannya. Ia takut auratnya tersingkap ketika kambuh, sehingga ia lebih memilih bersabar daripada kehilangan rasa malunya.Hal yang serupa juga tampak pada Ummu Salamah, istri Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita beriman untuk menjulurkan pakaian mereka ke bawah, Ummu Salamah khawatir hal itu menyebabkan aurat mereka tersingkap. Rasulullah ﷺ kemudian menegaskan bahwa pakaian itu boleh dijulurkan hingga satu hasta.Semua ini menunjukkan betapa tingginya rasa malu para istri Nabi, para wanita beriman, dan wanita-wanita generasi salaf yang saleh. Oleh sebab itu, masyarakat generasi awal Islam merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kesucian, kekuatan iman, dan ketakwaan.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:483-484. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshari kiamat kiamat riyadhus sholihin

Istri Merelakan Mahar Setelah Akad, Bolehkah?

Daftar Isi ToggleMahar: Hak penuh istri setelah akadRida yang dianggap syar‘iHak tidak gugur dengan rasa sungkanSetelah akad nikah ditunaikan, doa dipanjatkan, dan prosesi resmi selesai, terkadang muncul ungkapan yang terdengar mulia dan penuh pengorbanan, “Maharnya tidak perlu diberikan semua, aku relakan”; atau: “Tidak apa-apa, anggap saja sedekah.” Ungkapan semacam ini kerap disambut dengan kelegaan. Sebagian suami menerimanya sebagai tanda keikhlasan. Sebagian lingkungan bahkan memujinya sebagai cermin kesalehan seorang istri. Namun, fikih tidak berhenti pada kesan baik dan narasi yang tampak indah. Syariat tidak hanya menilai ucapan, tetapi juga kondisi batin dan konteks yang melatarinya. Sebab dalam Islam, tidak setiap kerelaan yang diucapkan itu otomatis mencerminkan keridaan yang benar-benar bebas dari tekanan. Karena dalam Islam, tidak semua yang tampak ikhlas benar-benar bebas dari tekanan.Mahar: Hak penuh istri setelah akadAllah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian darinya kepada kalian, maka makanlah dengan nikmat dan baik.” (QS. An-Nisā’: 4)Ayat ini sering dijadikan dalil kebolehan istri merelakan mahar, dan memang benar secara fikih. Namun para ulama menekankan satu kata kunci: طِبْنَ نَفْسًا — kerelaan yang murni dari hati.Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Jika seorang istri menyerahkan sebagian maharnya tanpa paksaan, tanpa rasa takut, dan tanpa tekanan, maka halal bagi suami menerimanya.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 239)Sedangkan Al-Qurṭubī rahimahullāh menambahkan catatan penting, “Apabila kerelaan itu muncul karena rasa malu, tekanan, atau takut menyakiti suami, maka hukumnya tidak murni dan tidak selayaknya diambil.” (Tafsīr Al-Qurṭubī, 5: 99)Di sinilah fikih menjadi sangat manusiawi. Ia tidak hanya melihat ucapan, tapi kondisi jiwa.Rida yang dianggap syar‘iDalam ushul fikih, ada prinsip penting,الرِّضَا الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا هُوَ الرِّضَا الْخَالِي مِنَ الْإِكْرَاهِ“Kerelaan yang diakui syariat adalah kerelaan yang bebas dari paksaan.”Tekanan itu tidak selalu berupa ancaman; kadang bentuknya adalah rasa tidak enak, sungkan pada mertua, takut dianggap tidak qana‘ah, posisi ekonomi yang timpang. Secara lahiriah ia berkata “ikhlas”, tapi batinnya sedang menekan diri sendiri.Hak tidak gugur dengan rasa sungkanUlama menyebutkan kaidah,لَا يَسْقُطُ الْحَقُّ بِالْحَيَاءِ“Hak tidak gugur hanya karena rasa malu.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 94)Jika seorang istri merelakan mahar karena sungkan, tekanan budaya, atau takut konflik, maka secara fikih, hak itu tetap melekat dan suami tidak selayaknya merasa halal dengan mudah.Syekh Wahbah Az-Zuḥailī rahimahullāh menulis, “Tidak dibenarkan bagi suami mengambil pengguguran mahar kecuali dengan keyakinan bahwa istri benar-benar rida, bukan karena tekanan emosional atau sosial.” (Al-Fiqh Al-Islāmī wa Adillatuh, 7: 256)Syekh Ṣāliḥ Al-Fauzān hafidzahullāh juga menegaskan, “Kesalehan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa besar ia menggugurkan haknya, tapi dari ketakwaannya kepada Allah.” (Al-Muntaqā min Fatāwā Al-Fauzān, 3: 238)Islam tidak melarang istri bersedekah, tetapi Islam lebih dulu memastikan ia tidak dizalimi, karena mahar adalah hak, sedangkan hak adalah amanah, amanah tidak gugur dengan rasa sungkan. Maka suami yang bertakwa bukan yang berkata, “Alhamdulillah, istri saya nggak nuntut.” Tapi, suami yang bertakwa adalah suami yang berkata, “Ini hakmu, meski kamu rela, aku tetap ingin menunaikannya.” Sebab, rumah tangga yang sehat itu dibangun bukan di atas pengorbanan sepihak, tapi di atas keadilan yang dijaga sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Mahar***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id

Istri Merelakan Mahar Setelah Akad, Bolehkah?

Daftar Isi ToggleMahar: Hak penuh istri setelah akadRida yang dianggap syar‘iHak tidak gugur dengan rasa sungkanSetelah akad nikah ditunaikan, doa dipanjatkan, dan prosesi resmi selesai, terkadang muncul ungkapan yang terdengar mulia dan penuh pengorbanan, “Maharnya tidak perlu diberikan semua, aku relakan”; atau: “Tidak apa-apa, anggap saja sedekah.” Ungkapan semacam ini kerap disambut dengan kelegaan. Sebagian suami menerimanya sebagai tanda keikhlasan. Sebagian lingkungan bahkan memujinya sebagai cermin kesalehan seorang istri. Namun, fikih tidak berhenti pada kesan baik dan narasi yang tampak indah. Syariat tidak hanya menilai ucapan, tetapi juga kondisi batin dan konteks yang melatarinya. Sebab dalam Islam, tidak setiap kerelaan yang diucapkan itu otomatis mencerminkan keridaan yang benar-benar bebas dari tekanan. Karena dalam Islam, tidak semua yang tampak ikhlas benar-benar bebas dari tekanan.Mahar: Hak penuh istri setelah akadAllah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian darinya kepada kalian, maka makanlah dengan nikmat dan baik.” (QS. An-Nisā’: 4)Ayat ini sering dijadikan dalil kebolehan istri merelakan mahar, dan memang benar secara fikih. Namun para ulama menekankan satu kata kunci: طِبْنَ نَفْسًا — kerelaan yang murni dari hati.Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Jika seorang istri menyerahkan sebagian maharnya tanpa paksaan, tanpa rasa takut, dan tanpa tekanan, maka halal bagi suami menerimanya.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 239)Sedangkan Al-Qurṭubī rahimahullāh menambahkan catatan penting, “Apabila kerelaan itu muncul karena rasa malu, tekanan, atau takut menyakiti suami, maka hukumnya tidak murni dan tidak selayaknya diambil.” (Tafsīr Al-Qurṭubī, 5: 99)Di sinilah fikih menjadi sangat manusiawi. Ia tidak hanya melihat ucapan, tapi kondisi jiwa.Rida yang dianggap syar‘iDalam ushul fikih, ada prinsip penting,الرِّضَا الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا هُوَ الرِّضَا الْخَالِي مِنَ الْإِكْرَاهِ“Kerelaan yang diakui syariat adalah kerelaan yang bebas dari paksaan.”Tekanan itu tidak selalu berupa ancaman; kadang bentuknya adalah rasa tidak enak, sungkan pada mertua, takut dianggap tidak qana‘ah, posisi ekonomi yang timpang. Secara lahiriah ia berkata “ikhlas”, tapi batinnya sedang menekan diri sendiri.Hak tidak gugur dengan rasa sungkanUlama menyebutkan kaidah,لَا يَسْقُطُ الْحَقُّ بِالْحَيَاءِ“Hak tidak gugur hanya karena rasa malu.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 94)Jika seorang istri merelakan mahar karena sungkan, tekanan budaya, atau takut konflik, maka secara fikih, hak itu tetap melekat dan suami tidak selayaknya merasa halal dengan mudah.Syekh Wahbah Az-Zuḥailī rahimahullāh menulis, “Tidak dibenarkan bagi suami mengambil pengguguran mahar kecuali dengan keyakinan bahwa istri benar-benar rida, bukan karena tekanan emosional atau sosial.” (Al-Fiqh Al-Islāmī wa Adillatuh, 7: 256)Syekh Ṣāliḥ Al-Fauzān hafidzahullāh juga menegaskan, “Kesalehan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa besar ia menggugurkan haknya, tapi dari ketakwaannya kepada Allah.” (Al-Muntaqā min Fatāwā Al-Fauzān, 3: 238)Islam tidak melarang istri bersedekah, tetapi Islam lebih dulu memastikan ia tidak dizalimi, karena mahar adalah hak, sedangkan hak adalah amanah, amanah tidak gugur dengan rasa sungkan. Maka suami yang bertakwa bukan yang berkata, “Alhamdulillah, istri saya nggak nuntut.” Tapi, suami yang bertakwa adalah suami yang berkata, “Ini hakmu, meski kamu rela, aku tetap ingin menunaikannya.” Sebab, rumah tangga yang sehat itu dibangun bukan di atas pengorbanan sepihak, tapi di atas keadilan yang dijaga sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Mahar***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMahar: Hak penuh istri setelah akadRida yang dianggap syar‘iHak tidak gugur dengan rasa sungkanSetelah akad nikah ditunaikan, doa dipanjatkan, dan prosesi resmi selesai, terkadang muncul ungkapan yang terdengar mulia dan penuh pengorbanan, “Maharnya tidak perlu diberikan semua, aku relakan”; atau: “Tidak apa-apa, anggap saja sedekah.” Ungkapan semacam ini kerap disambut dengan kelegaan. Sebagian suami menerimanya sebagai tanda keikhlasan. Sebagian lingkungan bahkan memujinya sebagai cermin kesalehan seorang istri. Namun, fikih tidak berhenti pada kesan baik dan narasi yang tampak indah. Syariat tidak hanya menilai ucapan, tetapi juga kondisi batin dan konteks yang melatarinya. Sebab dalam Islam, tidak setiap kerelaan yang diucapkan itu otomatis mencerminkan keridaan yang benar-benar bebas dari tekanan. Karena dalam Islam, tidak semua yang tampak ikhlas benar-benar bebas dari tekanan.Mahar: Hak penuh istri setelah akadAllah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian darinya kepada kalian, maka makanlah dengan nikmat dan baik.” (QS. An-Nisā’: 4)Ayat ini sering dijadikan dalil kebolehan istri merelakan mahar, dan memang benar secara fikih. Namun para ulama menekankan satu kata kunci: طِبْنَ نَفْسًا — kerelaan yang murni dari hati.Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Jika seorang istri menyerahkan sebagian maharnya tanpa paksaan, tanpa rasa takut, dan tanpa tekanan, maka halal bagi suami menerimanya.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 239)Sedangkan Al-Qurṭubī rahimahullāh menambahkan catatan penting, “Apabila kerelaan itu muncul karena rasa malu, tekanan, atau takut menyakiti suami, maka hukumnya tidak murni dan tidak selayaknya diambil.” (Tafsīr Al-Qurṭubī, 5: 99)Di sinilah fikih menjadi sangat manusiawi. Ia tidak hanya melihat ucapan, tapi kondisi jiwa.Rida yang dianggap syar‘iDalam ushul fikih, ada prinsip penting,الرِّضَا الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا هُوَ الرِّضَا الْخَالِي مِنَ الْإِكْرَاهِ“Kerelaan yang diakui syariat adalah kerelaan yang bebas dari paksaan.”Tekanan itu tidak selalu berupa ancaman; kadang bentuknya adalah rasa tidak enak, sungkan pada mertua, takut dianggap tidak qana‘ah, posisi ekonomi yang timpang. Secara lahiriah ia berkata “ikhlas”, tapi batinnya sedang menekan diri sendiri.Hak tidak gugur dengan rasa sungkanUlama menyebutkan kaidah,لَا يَسْقُطُ الْحَقُّ بِالْحَيَاءِ“Hak tidak gugur hanya karena rasa malu.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 94)Jika seorang istri merelakan mahar karena sungkan, tekanan budaya, atau takut konflik, maka secara fikih, hak itu tetap melekat dan suami tidak selayaknya merasa halal dengan mudah.Syekh Wahbah Az-Zuḥailī rahimahullāh menulis, “Tidak dibenarkan bagi suami mengambil pengguguran mahar kecuali dengan keyakinan bahwa istri benar-benar rida, bukan karena tekanan emosional atau sosial.” (Al-Fiqh Al-Islāmī wa Adillatuh, 7: 256)Syekh Ṣāliḥ Al-Fauzān hafidzahullāh juga menegaskan, “Kesalehan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa besar ia menggugurkan haknya, tapi dari ketakwaannya kepada Allah.” (Al-Muntaqā min Fatāwā Al-Fauzān, 3: 238)Islam tidak melarang istri bersedekah, tetapi Islam lebih dulu memastikan ia tidak dizalimi, karena mahar adalah hak, sedangkan hak adalah amanah, amanah tidak gugur dengan rasa sungkan. Maka suami yang bertakwa bukan yang berkata, “Alhamdulillah, istri saya nggak nuntut.” Tapi, suami yang bertakwa adalah suami yang berkata, “Ini hakmu, meski kamu rela, aku tetap ingin menunaikannya.” Sebab, rumah tangga yang sehat itu dibangun bukan di atas pengorbanan sepihak, tapi di atas keadilan yang dijaga sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Mahar***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMahar: Hak penuh istri setelah akadRida yang dianggap syar‘iHak tidak gugur dengan rasa sungkanSetelah akad nikah ditunaikan, doa dipanjatkan, dan prosesi resmi selesai, terkadang muncul ungkapan yang terdengar mulia dan penuh pengorbanan, “Maharnya tidak perlu diberikan semua, aku relakan”; atau: “Tidak apa-apa, anggap saja sedekah.” Ungkapan semacam ini kerap disambut dengan kelegaan. Sebagian suami menerimanya sebagai tanda keikhlasan. Sebagian lingkungan bahkan memujinya sebagai cermin kesalehan seorang istri. Namun, fikih tidak berhenti pada kesan baik dan narasi yang tampak indah. Syariat tidak hanya menilai ucapan, tetapi juga kondisi batin dan konteks yang melatarinya. Sebab dalam Islam, tidak setiap kerelaan yang diucapkan itu otomatis mencerminkan keridaan yang benar-benar bebas dari tekanan. Karena dalam Islam, tidak semua yang tampak ikhlas benar-benar bebas dari tekanan.Mahar: Hak penuh istri setelah akadAllah Ta’ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا“Berikanlah mahar kepada para wanita sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian darinya kepada kalian, maka makanlah dengan nikmat dan baik.” (QS. An-Nisā’: 4)Ayat ini sering dijadikan dalil kebolehan istri merelakan mahar, dan memang benar secara fikih. Namun para ulama menekankan satu kata kunci: طِبْنَ نَفْسًا — kerelaan yang murni dari hati.Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan, “Jika seorang istri menyerahkan sebagian maharnya tanpa paksaan, tanpa rasa takut, dan tanpa tekanan, maka halal bagi suami menerimanya.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 239)Sedangkan Al-Qurṭubī rahimahullāh menambahkan catatan penting, “Apabila kerelaan itu muncul karena rasa malu, tekanan, atau takut menyakiti suami, maka hukumnya tidak murni dan tidak selayaknya diambil.” (Tafsīr Al-Qurṭubī, 5: 99)Di sinilah fikih menjadi sangat manusiawi. Ia tidak hanya melihat ucapan, tapi kondisi jiwa.Rida yang dianggap syar‘iDalam ushul fikih, ada prinsip penting,الرِّضَا الْمُعْتَبَرُ شَرْعًا هُوَ الرِّضَا الْخَالِي مِنَ الْإِكْرَاهِ“Kerelaan yang diakui syariat adalah kerelaan yang bebas dari paksaan.”Tekanan itu tidak selalu berupa ancaman; kadang bentuknya adalah rasa tidak enak, sungkan pada mertua, takut dianggap tidak qana‘ah, posisi ekonomi yang timpang. Secara lahiriah ia berkata “ikhlas”, tapi batinnya sedang menekan diri sendiri.Hak tidak gugur dengan rasa sungkanUlama menyebutkan kaidah,لَا يَسْقُطُ الْحَقُّ بِالْحَيَاءِ“Hak tidak gugur hanya karena rasa malu.” (Al-Asybah wan-Naẓā’ir oleh As-Suyūṭī, hal. 94)Jika seorang istri merelakan mahar karena sungkan, tekanan budaya, atau takut konflik, maka secara fikih, hak itu tetap melekat dan suami tidak selayaknya merasa halal dengan mudah.Syekh Wahbah Az-Zuḥailī rahimahullāh menulis, “Tidak dibenarkan bagi suami mengambil pengguguran mahar kecuali dengan keyakinan bahwa istri benar-benar rida, bukan karena tekanan emosional atau sosial.” (Al-Fiqh Al-Islāmī wa Adillatuh, 7: 256)Syekh Ṣāliḥ Al-Fauzān hafidzahullāh juga menegaskan, “Kesalehan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa besar ia menggugurkan haknya, tapi dari ketakwaannya kepada Allah.” (Al-Muntaqā min Fatāwā Al-Fauzān, 3: 238)Islam tidak melarang istri bersedekah, tetapi Islam lebih dulu memastikan ia tidak dizalimi, karena mahar adalah hak, sedangkan hak adalah amanah, amanah tidak gugur dengan rasa sungkan. Maka suami yang bertakwa bukan yang berkata, “Alhamdulillah, istri saya nggak nuntut.” Tapi, suami yang bertakwa adalah suami yang berkata, “Ini hakmu, meski kamu rela, aku tetap ingin menunaikannya.” Sebab, rumah tangga yang sehat itu dibangun bukan di atas pengorbanan sepihak, tapi di atas keadilan yang dijaga sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.Baca juga: Mahar***Penulis: Junaidi Abu Isa Artikel Muslim.or.id

Takut kepada Allah dan Bersegera Beramal: Pelajaran dari Hadits Man Khāfa Adlaja

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang benar-benar takut kepada Allah akan bersegera dalam ketaatan, karena jalan menuju surga tidak ditempuh dengan kelalaian dan penundaan. Hadits “Man khāfa adlaja” menggambarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal, sehingga hanya bisa diraih dengan kesungguhan, pengorbanan, dan amal yang terus-menerus. Tulisan ini membahas makna hadits tersebut, penilaian para ulama terhadap derajatnya, serta pelajaran penting agar seorang hamba tidak menunda taubat dan kebaikan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #410 dari Riyadhus Sholihin 2. Penilaian Hadits 3. Penjelasan Kosakata 4. Pelajaran Hadits  Hadits #410 dari Riyadhus SholihinDari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ“Barang siapa merasa takut, ia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits hasan. [HR. Tirmidzi, no. 2450; hasan lighairihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly].Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: Kata adlaja dibaca dengan mensukunkan huruf dāl. Maknanya adalah: berjalan pada awal malam. Yang dimaksud di sini adalah bersungguh-sungguh dan bersegera dalam ketaatan. Dan Allah Maha Mengetahui.  Penilaian HaditsHadits ini dinilai hasan karena adanya penguat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2450) dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan ar-Rahawi yang dinilai lemah.Hadits ini memiliki yahid (penguat), diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim (8/377) dan al-Hakim (4/308), melalui jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari ath-Thufail bin Ubay bin Ka‘b, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu menyebutkan hadits tersebut.Aku berkata: Dalam sanadnya terdapat kelemahan dari sisi ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. Akan tetapi, haditsnya ditulis dan dicatat, dan ia bukan perawi yang ditinggalkan. Para ahli hadits tidak sepakat untuk melemahkannya secara mutlak. Bahkan at-Tirmidzi berkata dalam as-Sunan (1/9): “Ia adalah seorang yang jujur.” Sebagian ulama telah membicarakannya terkait riwayat-riwayat sebelum hafalannya kuat.Aku mendengar Muhammad bin Isma‘il (al-Bukhari) berkata: Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, dan al-Humaidi berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan haditsnya tergolong mendekati hasan.Ibnu ‘Abdil Barr juga menguatkannya, rahimahullāh.Abu Hatim berkata: “Ia lembek dalam hadits, tidak kuat, dan tidak dijadikan hujjah dengan haditsnya, meskipun haditsnya ditulis.”Karena itu, hadits ini memiliki penguat yang dapat dijadikan sandaran, dan tidak dianggap dengan pendapat orang yang melemahkannya secara berlebihan.Dengan demikian, secara keseluruhan hadits ini hasan karena adanya penguat.Penjelasan Kosakataخَافَ: merasa takut akan kematian.بَلَغَ الْمَنْزِلَ: sampai ke rumah, yaitu tempat yang aman.السِّلْعَةُ: barang dagangan.غَالِيَةٌ: bernilai tinggi, sangat mahal. Pelajaran Hadits Hadits ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap ketaatan dan bersegera untuk keluar dari maksiat.Orang yang lalai dari taubat dan tidak memahami hakikat dirinya serta akibat akhir yang nantinya diperoleh, ia akan terputus dari Allah, kebingungan, dan sesat.Hendaklah melakukan pengorbanan dan pengeluaran (harta, tenaga, dan amal) demi meraih surga. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:482-483. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Mina Jalan Kaliurang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsharap dan takut riyadhus sholihin takut takut Allah takut pada Allah

Takut kepada Allah dan Bersegera Beramal: Pelajaran dari Hadits Man Khāfa Adlaja

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang benar-benar takut kepada Allah akan bersegera dalam ketaatan, karena jalan menuju surga tidak ditempuh dengan kelalaian dan penundaan. Hadits “Man khāfa adlaja” menggambarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal, sehingga hanya bisa diraih dengan kesungguhan, pengorbanan, dan amal yang terus-menerus. Tulisan ini membahas makna hadits tersebut, penilaian para ulama terhadap derajatnya, serta pelajaran penting agar seorang hamba tidak menunda taubat dan kebaikan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #410 dari Riyadhus Sholihin 2. Penilaian Hadits 3. Penjelasan Kosakata 4. Pelajaran Hadits  Hadits #410 dari Riyadhus SholihinDari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ“Barang siapa merasa takut, ia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits hasan. [HR. Tirmidzi, no. 2450; hasan lighairihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly].Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: Kata adlaja dibaca dengan mensukunkan huruf dāl. Maknanya adalah: berjalan pada awal malam. Yang dimaksud di sini adalah bersungguh-sungguh dan bersegera dalam ketaatan. Dan Allah Maha Mengetahui.  Penilaian HaditsHadits ini dinilai hasan karena adanya penguat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2450) dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan ar-Rahawi yang dinilai lemah.Hadits ini memiliki yahid (penguat), diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim (8/377) dan al-Hakim (4/308), melalui jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari ath-Thufail bin Ubay bin Ka‘b, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu menyebutkan hadits tersebut.Aku berkata: Dalam sanadnya terdapat kelemahan dari sisi ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. Akan tetapi, haditsnya ditulis dan dicatat, dan ia bukan perawi yang ditinggalkan. Para ahli hadits tidak sepakat untuk melemahkannya secara mutlak. Bahkan at-Tirmidzi berkata dalam as-Sunan (1/9): “Ia adalah seorang yang jujur.” Sebagian ulama telah membicarakannya terkait riwayat-riwayat sebelum hafalannya kuat.Aku mendengar Muhammad bin Isma‘il (al-Bukhari) berkata: Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, dan al-Humaidi berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan haditsnya tergolong mendekati hasan.Ibnu ‘Abdil Barr juga menguatkannya, rahimahullāh.Abu Hatim berkata: “Ia lembek dalam hadits, tidak kuat, dan tidak dijadikan hujjah dengan haditsnya, meskipun haditsnya ditulis.”Karena itu, hadits ini memiliki penguat yang dapat dijadikan sandaran, dan tidak dianggap dengan pendapat orang yang melemahkannya secara berlebihan.Dengan demikian, secara keseluruhan hadits ini hasan karena adanya penguat.Penjelasan Kosakataخَافَ: merasa takut akan kematian.بَلَغَ الْمَنْزِلَ: sampai ke rumah, yaitu tempat yang aman.السِّلْعَةُ: barang dagangan.غَالِيَةٌ: bernilai tinggi, sangat mahal. Pelajaran Hadits Hadits ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap ketaatan dan bersegera untuk keluar dari maksiat.Orang yang lalai dari taubat dan tidak memahami hakikat dirinya serta akibat akhir yang nantinya diperoleh, ia akan terputus dari Allah, kebingungan, dan sesat.Hendaklah melakukan pengorbanan dan pengeluaran (harta, tenaga, dan amal) demi meraih surga. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:482-483. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Mina Jalan Kaliurang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsharap dan takut riyadhus sholihin takut takut Allah takut pada Allah
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang benar-benar takut kepada Allah akan bersegera dalam ketaatan, karena jalan menuju surga tidak ditempuh dengan kelalaian dan penundaan. Hadits “Man khāfa adlaja” menggambarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal, sehingga hanya bisa diraih dengan kesungguhan, pengorbanan, dan amal yang terus-menerus. Tulisan ini membahas makna hadits tersebut, penilaian para ulama terhadap derajatnya, serta pelajaran penting agar seorang hamba tidak menunda taubat dan kebaikan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #410 dari Riyadhus Sholihin 2. Penilaian Hadits 3. Penjelasan Kosakata 4. Pelajaran Hadits  Hadits #410 dari Riyadhus SholihinDari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ“Barang siapa merasa takut, ia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits hasan. [HR. Tirmidzi, no. 2450; hasan lighairihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly].Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: Kata adlaja dibaca dengan mensukunkan huruf dāl. Maknanya adalah: berjalan pada awal malam. Yang dimaksud di sini adalah bersungguh-sungguh dan bersegera dalam ketaatan. Dan Allah Maha Mengetahui.  Penilaian HaditsHadits ini dinilai hasan karena adanya penguat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2450) dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan ar-Rahawi yang dinilai lemah.Hadits ini memiliki yahid (penguat), diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim (8/377) dan al-Hakim (4/308), melalui jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari ath-Thufail bin Ubay bin Ka‘b, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu menyebutkan hadits tersebut.Aku berkata: Dalam sanadnya terdapat kelemahan dari sisi ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. Akan tetapi, haditsnya ditulis dan dicatat, dan ia bukan perawi yang ditinggalkan. Para ahli hadits tidak sepakat untuk melemahkannya secara mutlak. Bahkan at-Tirmidzi berkata dalam as-Sunan (1/9): “Ia adalah seorang yang jujur.” Sebagian ulama telah membicarakannya terkait riwayat-riwayat sebelum hafalannya kuat.Aku mendengar Muhammad bin Isma‘il (al-Bukhari) berkata: Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, dan al-Humaidi berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan haditsnya tergolong mendekati hasan.Ibnu ‘Abdil Barr juga menguatkannya, rahimahullāh.Abu Hatim berkata: “Ia lembek dalam hadits, tidak kuat, dan tidak dijadikan hujjah dengan haditsnya, meskipun haditsnya ditulis.”Karena itu, hadits ini memiliki penguat yang dapat dijadikan sandaran, dan tidak dianggap dengan pendapat orang yang melemahkannya secara berlebihan.Dengan demikian, secara keseluruhan hadits ini hasan karena adanya penguat.Penjelasan Kosakataخَافَ: merasa takut akan kematian.بَلَغَ الْمَنْزِلَ: sampai ke rumah, yaitu tempat yang aman.السِّلْعَةُ: barang dagangan.غَالِيَةٌ: bernilai tinggi, sangat mahal. Pelajaran Hadits Hadits ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap ketaatan dan bersegera untuk keluar dari maksiat.Orang yang lalai dari taubat dan tidak memahami hakikat dirinya serta akibat akhir yang nantinya diperoleh, ia akan terputus dari Allah, kebingungan, dan sesat.Hendaklah melakukan pengorbanan dan pengeluaran (harta, tenaga, dan amal) demi meraih surga. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:482-483. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Mina Jalan Kaliurang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsharap dan takut riyadhus sholihin takut takut Allah takut pada Allah


Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang benar-benar takut kepada Allah akan bersegera dalam ketaatan, karena jalan menuju surga tidak ditempuh dengan kelalaian dan penundaan. Hadits “Man khāfa adlaja” menggambarkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal, sehingga hanya bisa diraih dengan kesungguhan, pengorbanan, dan amal yang terus-menerus. Tulisan ini membahas makna hadits tersebut, penilaian para ulama terhadap derajatnya, serta pelajaran penting agar seorang hamba tidak menunda taubat dan kebaikan.  Daftar Isi tutup 1. Hadits #410 dari Riyadhus Sholihin 2. Penilaian Hadits 3. Penjelasan Kosakata 4. Pelajaran Hadits  Hadits #410 dari Riyadhus SholihinDari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ“Barang siapa merasa takut, ia akan berangkat lebih awal. Dan barang siapa berangkat lebih awal, ia akan sampai ke tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadits hasan. [HR. Tirmidzi, no. 2450; hasan lighairihi kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly].Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: Kata adlaja dibaca dengan mensukunkan huruf dāl. Maknanya adalah: berjalan pada awal malam. Yang dimaksud di sini adalah bersungguh-sungguh dan bersegera dalam ketaatan. Dan Allah Maha Mengetahui.  Penilaian HaditsHadits ini dinilai hasan karena adanya penguat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2450) dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Yazid bin Sinan ar-Rahawi yang dinilai lemah.Hadits ini memiliki yahid (penguat), diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim (8/377) dan al-Hakim (4/308), melalui jalur ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari ath-Thufail bin Ubay bin Ka‘b, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, lalu menyebutkan hadits tersebut.Aku berkata: Dalam sanadnya terdapat kelemahan dari sisi ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil. Akan tetapi, haditsnya ditulis dan dicatat, dan ia bukan perawi yang ditinggalkan. Para ahli hadits tidak sepakat untuk melemahkannya secara mutlak. Bahkan at-Tirmidzi berkata dalam as-Sunan (1/9): “Ia adalah seorang yang jujur.” Sebagian ulama telah membicarakannya terkait riwayat-riwayat sebelum hafalannya kuat.Aku mendengar Muhammad bin Isma‘il (al-Bukhari) berkata: Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim, dan al-Humaidi berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dan haditsnya tergolong mendekati hasan.Ibnu ‘Abdil Barr juga menguatkannya, rahimahullāh.Abu Hatim berkata: “Ia lembek dalam hadits, tidak kuat, dan tidak dijadikan hujjah dengan haditsnya, meskipun haditsnya ditulis.”Karena itu, hadits ini memiliki penguat yang dapat dijadikan sandaran, dan tidak dianggap dengan pendapat orang yang melemahkannya secara berlebihan.Dengan demikian, secara keseluruhan hadits ini hasan karena adanya penguat.Penjelasan Kosakataخَافَ: merasa takut akan kematian.بَلَغَ الْمَنْزِلَ: sampai ke rumah, yaitu tempat yang aman.السِّلْعَةُ: barang dagangan.غَالِيَةٌ: bernilai tinggi, sangat mahal. Pelajaran Hadits Hadits ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap ketaatan dan bersegera untuk keluar dari maksiat.Orang yang lalai dari taubat dan tidak memahami hakikat dirinya serta akibat akhir yang nantinya diperoleh, ia akan terputus dari Allah, kebingungan, dan sesat.Hendaklah melakukan pengorbanan dan pengeluaran (harta, tenaga, dan amal) demi meraih surga. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, 1:482-483. —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Mina Jalan Kaliurang, 24 Rajab 1447 H, 13 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsharap dan takut riyadhus sholihin takut takut Allah takut pada Allah

Cara Paling Mudah Dapat Pahala atau Dosa Lewat Media Sosial – Syaikh Sa’ad Al Khatslan #nasehatulama

Media sosial memiliki kebaikan yang sangat besar, laksana gunung-gunung. Sekaligus punya banyak keburukan besar laksana gunung-gunung pula. Ia bagaikan pisau bermata dua. Apabila seorang insan dapat memanfaatkannya dengan baik, dia akan meraup banyak kebaikan yang besar. Sebaliknya, apabila dia menggunakannya dengan cara yang salah, dia akan mendapat banyak dosa karenanya. Apabila seseorang berada di media sosial ini, ia tidak menulis kecuali yang baik, dan tidak mengucapkan kecuali yang baik, maka dengan itu dia akan meraup banyak kebaikan besar. Bisa jadi pula media sosial menjadi sarana untuk menguatkan silaturahim, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran darinya. Demikian pula, media sosial dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan para tetangga, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran. Termasuk di antaranya adalah bergabung dalam grup keluarga, grup tetangga, atau kelompok orang-orang yang memiliki hak atas dirinya. Maka seseorang masuk ke dalam grup tersebut dengan niat yang baik, lalu berinteraksi dengan memberi salam, sapaan, dan membagikan konten yang bermanfaat. Semua itu bernilai pahala bagi seseorang. Jika grup tersebut adalah grup keluarga, maka itu termasuk silaturahim. Jika grup tersebut adalah grup tetangga, maka hal itu termasuk berbuat baik kepada tetangga, Dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Seorang insan dapat meraup banyak kebaikan berkat media-media sosial ini. Sebaliknya, jika seseorang menyalahgunakan media sosial ini, maka ia dapat menanggung dosa dan beban kesalahan yang besar karenanya. Sebagai contoh, dia menulis perkataan yang diharamkan, atau melanggar kehormatan orang lain, dengan kedustaan, gibah, adu domba, ejekan, tuduhan keji, dan semisalnya. Sesungguhnya hak-hak sesama manusia memiliki kedudukan yang sangat besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah sesuatu yang haram dilanggar …sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang mati syahid—yang menyerahkan dirinya kepada Allah—diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, kecuali dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia, karena hak itu tetap menjadi milik pemiliknya. Demikian juga dengan postingan. Jika seorang Muslim membagikan konten yang bermanfaat, ia akan memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim).Beliau juga bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim). Namun, jika ia membagikan konten yang buruk, maka ia menanggung dosanya sesuai dengan jumlah orang yang menyaksikannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosanya, dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat.” Media-media sosial adalah pisau bermata dua. Maka hendaknya kita menggunakannya untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Serta menghindari penggunaannya untuk hal yang dapat menjadi sebab dicatatnya dosa dan kesalahan yang sejatinya tidak membawa manfaat bagi kita. ===== وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَهَا حَسَنَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ وَلَهَا سَيِّئَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ كَذَلِكَ فَهِيَ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ إِنْ أَحْسَنَ الْإِنْسَانُ الْإِفَادَةَ مِنْهَا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَإِنْ أَسَاءَ اسْتِخْدَامَهَا كَسَبَ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَسَيِّئَاتٍ فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ فِي هَذِهِ الْوَسَائِلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَا يَكْتُبُ إِلَّا خَيْرًا وَلَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَرُبَّمَا أَيْضًا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ تَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ صِلَةِ الرَّحِمِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَتَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ الصِّلَةِ بِالْجِيرَانِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَمِنْ ذَلِكَ الدُّخُولُ فِي المَجْمُوعَاتِ لِذَوِي الْأَرْحَامِ أَوْ الْجِيرَانِ أَوْ لِمَنْ لَهُمْ عَلَى الْإِنْسَانِ حَقٌّ فَيَدْخُلُ الْإِنْسَانُ بِهَذِهِ النِّيَّةِ الْحَسَنَةِ وَيُشَارِكُهُمْ بِالسَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ وَإِرْسَالِ الْمَقَاطِعِ النَّافِعَةِ هَذَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ الْأَرْحَامِ يَدْخُلُ فِي صِلَةِ الرَّحِمِ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ جِيرَانٍ يَدْخُلُ فِي الْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَقَدْ يَكْسِبُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهَا بِسَبَبِ هَذِهِ الْوَسَائِلِ حَسَنَاتٍ كَثِيرَةً وَفِي الْمُقَابِلِ إِذَا أَسَاءَ الْإِنْسَانُ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ فَقَدْ يَكْسِبُ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَأَوْزَارًا عَظِيمَةً وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكْتُبَ كَلَامًا مُحَرَّمًا أَوْ أَنْ يَقَعَ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ بِالْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالسُّخْرِيَةِ وَالْقَذْفِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّ حُقُوقَ الْعِبَادِ أَمْرُهَا عَظِيمٌ جِدًّا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا وَالشَّهِيدُ الَّذِي بَاعَ نَفْسَهُ لِلَّهِ تُحَطُّ عَنْهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ إِلَّا مَا كَانَ مُتَعَلِّقًا بِحُقُوقِ الْعِبَادِ فَتَبْقَى لِأَصْحَابِهَا كَذَلِكَ أَيْضًا النَّشْرُ إِنْ نَشَرَ الْمُسْلِمُ مَقَاطِعَ نَافِعَةً مُفِيدَةً أُثِيبَ عَلَيْهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَقَالَ مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ وَإِنْ نَشَرَ مَقَاطِعَ سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا بِعَدَدِ الْمُشَاهِدِيْنَ لَهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَوَسَائِلُ التَّوَاصُلِ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَسْتَخْدِمَهَا فِي الْخَيْرِ وَفِيمَا هُوَ نَافِعٌ وَمُفِيدٌ وَأَنْ نَبْتَعِدَ عَنِ اسْتِخْدَامِهَا فِيمَا يَكُونُ سَبَبًا لِكِتَابَةِ ذُنُوبٍ وَسَيِّئَاتٍ نَحْنُ فِي غِنًى عَنْهَا

Cara Paling Mudah Dapat Pahala atau Dosa Lewat Media Sosial – Syaikh Sa’ad Al Khatslan #nasehatulama

Media sosial memiliki kebaikan yang sangat besar, laksana gunung-gunung. Sekaligus punya banyak keburukan besar laksana gunung-gunung pula. Ia bagaikan pisau bermata dua. Apabila seorang insan dapat memanfaatkannya dengan baik, dia akan meraup banyak kebaikan yang besar. Sebaliknya, apabila dia menggunakannya dengan cara yang salah, dia akan mendapat banyak dosa karenanya. Apabila seseorang berada di media sosial ini, ia tidak menulis kecuali yang baik, dan tidak mengucapkan kecuali yang baik, maka dengan itu dia akan meraup banyak kebaikan besar. Bisa jadi pula media sosial menjadi sarana untuk menguatkan silaturahim, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran darinya. Demikian pula, media sosial dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan para tetangga, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran. Termasuk di antaranya adalah bergabung dalam grup keluarga, grup tetangga, atau kelompok orang-orang yang memiliki hak atas dirinya. Maka seseorang masuk ke dalam grup tersebut dengan niat yang baik, lalu berinteraksi dengan memberi salam, sapaan, dan membagikan konten yang bermanfaat. Semua itu bernilai pahala bagi seseorang. Jika grup tersebut adalah grup keluarga, maka itu termasuk silaturahim. Jika grup tersebut adalah grup tetangga, maka hal itu termasuk berbuat baik kepada tetangga, Dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Seorang insan dapat meraup banyak kebaikan berkat media-media sosial ini. Sebaliknya, jika seseorang menyalahgunakan media sosial ini, maka ia dapat menanggung dosa dan beban kesalahan yang besar karenanya. Sebagai contoh, dia menulis perkataan yang diharamkan, atau melanggar kehormatan orang lain, dengan kedustaan, gibah, adu domba, ejekan, tuduhan keji, dan semisalnya. Sesungguhnya hak-hak sesama manusia memiliki kedudukan yang sangat besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah sesuatu yang haram dilanggar …sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang mati syahid—yang menyerahkan dirinya kepada Allah—diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, kecuali dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia, karena hak itu tetap menjadi milik pemiliknya. Demikian juga dengan postingan. Jika seorang Muslim membagikan konten yang bermanfaat, ia akan memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim).Beliau juga bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim). Namun, jika ia membagikan konten yang buruk, maka ia menanggung dosanya sesuai dengan jumlah orang yang menyaksikannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosanya, dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat.” Media-media sosial adalah pisau bermata dua. Maka hendaknya kita menggunakannya untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Serta menghindari penggunaannya untuk hal yang dapat menjadi sebab dicatatnya dosa dan kesalahan yang sejatinya tidak membawa manfaat bagi kita. ===== وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَهَا حَسَنَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ وَلَهَا سَيِّئَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ كَذَلِكَ فَهِيَ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ إِنْ أَحْسَنَ الْإِنْسَانُ الْإِفَادَةَ مِنْهَا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَإِنْ أَسَاءَ اسْتِخْدَامَهَا كَسَبَ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَسَيِّئَاتٍ فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ فِي هَذِهِ الْوَسَائِلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَا يَكْتُبُ إِلَّا خَيْرًا وَلَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَرُبَّمَا أَيْضًا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ تَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ صِلَةِ الرَّحِمِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَتَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ الصِّلَةِ بِالْجِيرَانِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَمِنْ ذَلِكَ الدُّخُولُ فِي المَجْمُوعَاتِ لِذَوِي الْأَرْحَامِ أَوْ الْجِيرَانِ أَوْ لِمَنْ لَهُمْ عَلَى الْإِنْسَانِ حَقٌّ فَيَدْخُلُ الْإِنْسَانُ بِهَذِهِ النِّيَّةِ الْحَسَنَةِ وَيُشَارِكُهُمْ بِالسَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ وَإِرْسَالِ الْمَقَاطِعِ النَّافِعَةِ هَذَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ الْأَرْحَامِ يَدْخُلُ فِي صِلَةِ الرَّحِمِ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ جِيرَانٍ يَدْخُلُ فِي الْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَقَدْ يَكْسِبُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهَا بِسَبَبِ هَذِهِ الْوَسَائِلِ حَسَنَاتٍ كَثِيرَةً وَفِي الْمُقَابِلِ إِذَا أَسَاءَ الْإِنْسَانُ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ فَقَدْ يَكْسِبُ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَأَوْزَارًا عَظِيمَةً وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكْتُبَ كَلَامًا مُحَرَّمًا أَوْ أَنْ يَقَعَ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ بِالْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالسُّخْرِيَةِ وَالْقَذْفِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّ حُقُوقَ الْعِبَادِ أَمْرُهَا عَظِيمٌ جِدًّا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا وَالشَّهِيدُ الَّذِي بَاعَ نَفْسَهُ لِلَّهِ تُحَطُّ عَنْهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ إِلَّا مَا كَانَ مُتَعَلِّقًا بِحُقُوقِ الْعِبَادِ فَتَبْقَى لِأَصْحَابِهَا كَذَلِكَ أَيْضًا النَّشْرُ إِنْ نَشَرَ الْمُسْلِمُ مَقَاطِعَ نَافِعَةً مُفِيدَةً أُثِيبَ عَلَيْهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَقَالَ مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ وَإِنْ نَشَرَ مَقَاطِعَ سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا بِعَدَدِ الْمُشَاهِدِيْنَ لَهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَوَسَائِلُ التَّوَاصُلِ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَسْتَخْدِمَهَا فِي الْخَيْرِ وَفِيمَا هُوَ نَافِعٌ وَمُفِيدٌ وَأَنْ نَبْتَعِدَ عَنِ اسْتِخْدَامِهَا فِيمَا يَكُونُ سَبَبًا لِكِتَابَةِ ذُنُوبٍ وَسَيِّئَاتٍ نَحْنُ فِي غِنًى عَنْهَا
Media sosial memiliki kebaikan yang sangat besar, laksana gunung-gunung. Sekaligus punya banyak keburukan besar laksana gunung-gunung pula. Ia bagaikan pisau bermata dua. Apabila seorang insan dapat memanfaatkannya dengan baik, dia akan meraup banyak kebaikan yang besar. Sebaliknya, apabila dia menggunakannya dengan cara yang salah, dia akan mendapat banyak dosa karenanya. Apabila seseorang berada di media sosial ini, ia tidak menulis kecuali yang baik, dan tidak mengucapkan kecuali yang baik, maka dengan itu dia akan meraup banyak kebaikan besar. Bisa jadi pula media sosial menjadi sarana untuk menguatkan silaturahim, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran darinya. Demikian pula, media sosial dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan para tetangga, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran. Termasuk di antaranya adalah bergabung dalam grup keluarga, grup tetangga, atau kelompok orang-orang yang memiliki hak atas dirinya. Maka seseorang masuk ke dalam grup tersebut dengan niat yang baik, lalu berinteraksi dengan memberi salam, sapaan, dan membagikan konten yang bermanfaat. Semua itu bernilai pahala bagi seseorang. Jika grup tersebut adalah grup keluarga, maka itu termasuk silaturahim. Jika grup tersebut adalah grup tetangga, maka hal itu termasuk berbuat baik kepada tetangga, Dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Seorang insan dapat meraup banyak kebaikan berkat media-media sosial ini. Sebaliknya, jika seseorang menyalahgunakan media sosial ini, maka ia dapat menanggung dosa dan beban kesalahan yang besar karenanya. Sebagai contoh, dia menulis perkataan yang diharamkan, atau melanggar kehormatan orang lain, dengan kedustaan, gibah, adu domba, ejekan, tuduhan keji, dan semisalnya. Sesungguhnya hak-hak sesama manusia memiliki kedudukan yang sangat besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah sesuatu yang haram dilanggar …sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang mati syahid—yang menyerahkan dirinya kepada Allah—diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, kecuali dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia, karena hak itu tetap menjadi milik pemiliknya. Demikian juga dengan postingan. Jika seorang Muslim membagikan konten yang bermanfaat, ia akan memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim).Beliau juga bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim). Namun, jika ia membagikan konten yang buruk, maka ia menanggung dosanya sesuai dengan jumlah orang yang menyaksikannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosanya, dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat.” Media-media sosial adalah pisau bermata dua. Maka hendaknya kita menggunakannya untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Serta menghindari penggunaannya untuk hal yang dapat menjadi sebab dicatatnya dosa dan kesalahan yang sejatinya tidak membawa manfaat bagi kita. ===== وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَهَا حَسَنَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ وَلَهَا سَيِّئَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ كَذَلِكَ فَهِيَ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ إِنْ أَحْسَنَ الْإِنْسَانُ الْإِفَادَةَ مِنْهَا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَإِنْ أَسَاءَ اسْتِخْدَامَهَا كَسَبَ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَسَيِّئَاتٍ فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ فِي هَذِهِ الْوَسَائِلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَا يَكْتُبُ إِلَّا خَيْرًا وَلَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَرُبَّمَا أَيْضًا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ تَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ صِلَةِ الرَّحِمِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَتَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ الصِّلَةِ بِالْجِيرَانِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَمِنْ ذَلِكَ الدُّخُولُ فِي المَجْمُوعَاتِ لِذَوِي الْأَرْحَامِ أَوْ الْجِيرَانِ أَوْ لِمَنْ لَهُمْ عَلَى الْإِنْسَانِ حَقٌّ فَيَدْخُلُ الْإِنْسَانُ بِهَذِهِ النِّيَّةِ الْحَسَنَةِ وَيُشَارِكُهُمْ بِالسَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ وَإِرْسَالِ الْمَقَاطِعِ النَّافِعَةِ هَذَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ الْأَرْحَامِ يَدْخُلُ فِي صِلَةِ الرَّحِمِ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ جِيرَانٍ يَدْخُلُ فِي الْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَقَدْ يَكْسِبُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهَا بِسَبَبِ هَذِهِ الْوَسَائِلِ حَسَنَاتٍ كَثِيرَةً وَفِي الْمُقَابِلِ إِذَا أَسَاءَ الْإِنْسَانُ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ فَقَدْ يَكْسِبُ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَأَوْزَارًا عَظِيمَةً وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكْتُبَ كَلَامًا مُحَرَّمًا أَوْ أَنْ يَقَعَ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ بِالْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالسُّخْرِيَةِ وَالْقَذْفِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّ حُقُوقَ الْعِبَادِ أَمْرُهَا عَظِيمٌ جِدًّا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا وَالشَّهِيدُ الَّذِي بَاعَ نَفْسَهُ لِلَّهِ تُحَطُّ عَنْهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ إِلَّا مَا كَانَ مُتَعَلِّقًا بِحُقُوقِ الْعِبَادِ فَتَبْقَى لِأَصْحَابِهَا كَذَلِكَ أَيْضًا النَّشْرُ إِنْ نَشَرَ الْمُسْلِمُ مَقَاطِعَ نَافِعَةً مُفِيدَةً أُثِيبَ عَلَيْهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَقَالَ مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ وَإِنْ نَشَرَ مَقَاطِعَ سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا بِعَدَدِ الْمُشَاهِدِيْنَ لَهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَوَسَائِلُ التَّوَاصُلِ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَسْتَخْدِمَهَا فِي الْخَيْرِ وَفِيمَا هُوَ نَافِعٌ وَمُفِيدٌ وَأَنْ نَبْتَعِدَ عَنِ اسْتِخْدَامِهَا فِيمَا يَكُونُ سَبَبًا لِكِتَابَةِ ذُنُوبٍ وَسَيِّئَاتٍ نَحْنُ فِي غِنًى عَنْهَا


Media sosial memiliki kebaikan yang sangat besar, laksana gunung-gunung. Sekaligus punya banyak keburukan besar laksana gunung-gunung pula. Ia bagaikan pisau bermata dua. Apabila seorang insan dapat memanfaatkannya dengan baik, dia akan meraup banyak kebaikan yang besar. Sebaliknya, apabila dia menggunakannya dengan cara yang salah, dia akan mendapat banyak dosa karenanya. Apabila seseorang berada di media sosial ini, ia tidak menulis kecuali yang baik, dan tidak mengucapkan kecuali yang baik, maka dengan itu dia akan meraup banyak kebaikan besar. Bisa jadi pula media sosial menjadi sarana untuk menguatkan silaturahim, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran darinya. Demikian pula, media sosial dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan para tetangga, sehingga ia memperoleh pahala dan ganjaran. Termasuk di antaranya adalah bergabung dalam grup keluarga, grup tetangga, atau kelompok orang-orang yang memiliki hak atas dirinya. Maka seseorang masuk ke dalam grup tersebut dengan niat yang baik, lalu berinteraksi dengan memberi salam, sapaan, dan membagikan konten yang bermanfaat. Semua itu bernilai pahala bagi seseorang. Jika grup tersebut adalah grup keluarga, maka itu termasuk silaturahim. Jika grup tersebut adalah grup tetangga, maka hal itu termasuk berbuat baik kepada tetangga, Dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Seorang insan dapat meraup banyak kebaikan berkat media-media sosial ini. Sebaliknya, jika seseorang menyalahgunakan media sosial ini, maka ia dapat menanggung dosa dan beban kesalahan yang besar karenanya. Sebagai contoh, dia menulis perkataan yang diharamkan, atau melanggar kehormatan orang lain, dengan kedustaan, gibah, adu domba, ejekan, tuduhan keji, dan semisalnya. Sesungguhnya hak-hak sesama manusia memiliki kedudukan yang sangat besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah sesuatu yang haram dilanggar …sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang mati syahid—yang menyerahkan dirinya kepada Allah—diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, kecuali dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia, karena hak itu tetap menjadi milik pemiliknya. Demikian juga dengan postingan. Jika seorang Muslim membagikan konten yang bermanfaat, ia akan memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim).Beliau juga bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim). Namun, jika ia membagikan konten yang buruk, maka ia menanggung dosanya sesuai dengan jumlah orang yang menyaksikannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosanya, dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat.” Media-media sosial adalah pisau bermata dua. Maka hendaknya kita menggunakannya untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Serta menghindari penggunaannya untuk hal yang dapat menjadi sebab dicatatnya dosa dan kesalahan yang sejatinya tidak membawa manfaat bagi kita. ===== وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَهَا حَسَنَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ وَلَهَا سَيِّئَاتٌ عَظِيمَةٌ أَمْثَالَ الْجِبَالِ كَذَلِكَ فَهِيَ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ إِنْ أَحْسَنَ الْإِنْسَانُ الْإِفَادَةَ مِنْهَا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَإِنْ أَسَاءَ اسْتِخْدَامَهَا كَسَبَ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَسَيِّئَاتٍ فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ فِي هَذِهِ الْوَسَائِلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ لَا يَكْتُبُ إِلَّا خَيْرًا وَلَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَإِنَّهُ يَكْسِبُ بِذَلِكَ حَسَنَاتٍ عَظِيمَةً وَرُبَّمَا أَيْضًا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ تَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ صِلَةِ الرَّحِمِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَتَكُونُ سَبَبًا لِتَعْزِيزِ الصِّلَةِ بِالْجِيرَانِ فَيَكْسِبُ بِهَا أَجْرًا وَثَوَابًا وَمِنْ ذَلِكَ الدُّخُولُ فِي المَجْمُوعَاتِ لِذَوِي الْأَرْحَامِ أَوْ الْجِيرَانِ أَوْ لِمَنْ لَهُمْ عَلَى الْإِنْسَانِ حَقٌّ فَيَدْخُلُ الْإِنْسَانُ بِهَذِهِ النِّيَّةِ الْحَسَنَةِ وَيُشَارِكُهُمْ بِالسَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ وَإِرْسَالِ الْمَقَاطِعِ النَّافِعَةِ هَذَا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ الْأَرْحَامِ يَدْخُلُ فِي صِلَةِ الرَّحِمِ إِنْ كَانَتِ الْمَجْمُوعَةُ مَجْمُوعَةَ جِيرَانٍ يَدْخُلُ فِي الْإِحْسَانِ إِلَى الْجِيرَانِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَقَدْ يَكْسِبُ الْإِنْسَانُ بِسَبَبِهَا بِسَبَبِ هَذِهِ الْوَسَائِلِ حَسَنَاتٍ كَثِيرَةً وَفِي الْمُقَابِلِ إِذَا أَسَاءَ الْإِنْسَانُ اسْتِخْدَامَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ فَقَدْ يَكْسِبُ بِسَبَبِهَا ذَنُوبًا وَأَوْزَارًا عَظِيمَةً وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكْتُبَ كَلَامًا مُحَرَّمًا أَوْ أَنْ يَقَعَ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ بِالْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالسُّخْرِيَةِ وَالْقَذْفِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّ حُقُوقَ الْعِبَادِ أَمْرُهَا عَظِيمٌ جِدًّا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا وَالشَّهِيدُ الَّذِي بَاعَ نَفْسَهُ لِلَّهِ تُحَطُّ عَنْهُ جَمِيعُ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ إِلَّا مَا كَانَ مُتَعَلِّقًا بِحُقُوقِ الْعِبَادِ فَتَبْقَى لِأَصْحَابِهَا كَذَلِكَ أَيْضًا النَّشْرُ إِنْ نَشَرَ الْمُسْلِمُ مَقَاطِعَ نَافِعَةً مُفِيدَةً أُثِيبَ عَلَيْهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ وَقَالَ مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ وَإِنْ نَشَرَ مَقَاطِعَ سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا بِعَدَدِ الْمُشَاهِدِيْنَ لَهَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَوَسَائِلُ التَّوَاصُلِ سِلَاحٌ ذُو حَدَّيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ نَسْتَخْدِمَهَا فِي الْخَيْرِ وَفِيمَا هُوَ نَافِعٌ وَمُفِيدٌ وَأَنْ نَبْتَعِدَ عَنِ اسْتِخْدَامِهَا فِيمَا يَكُونُ سَبَبًا لِكِتَابَةِ ذُنُوبٍ وَسَيِّئَاتٍ نَحْنُ فِي غِنًى عَنْهَا

4 Perintah Besar dalam Al-Qur’an Ini Penentu Keberuntungan Hidup – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga…” (QS. Ali Imran: 200). Allah memerintahkan orang-orang beriman sesuai dengan konsekuensi keimanan mereka, dan karena kemuliaan iman yang mereka miliki, dengan perintah-perintah ini, bahkan bukan hanya tiga, melainkan empat: “Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200). Yang dimaksud dengan bersabar (الصبر) adalah bersabar dalam menjauhi kemaksiatan. Sedangkan menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus-menerus melakukannya. Sementara takwa (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. “…dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Maka bersabarlah kalian dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Janganlah kalian melakukannya! Hindarilah itu dan jangan mendekatinya! Sebagaimana diketahui bahwa bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan tidak mungkin terwujud kecuali ketika hawa nafsu mengajak untuk melakukan maksiat itu. Adapun orang yang tidak tebersit dalam pikirannya untuk berbuat maksiat, maka tidak dapat dikatakan bahwa orang itu bersabar dalam meninggalkannya. Namun, apabila hawa nafsumu mengajak untuk berbuat maksiat, maka bersabarlah! Bersabar dan tahanlah nafsumu! Adapun menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah kesabaran dalam ketaatan. Karena dalam menjalankan ketaatan berkaitan dengan dua perkara: Pertama, pelaksanaan yang menuntut kesungguhan dari diri seseorang, sehingga ia harus memaksa dirinya untuk menjalankannya. Kedua, adanya rasa berat yang dirasakan oleh jiwa. Karena melaksanakan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan, terasa berat bagi jiwa yang condong pada keburukan. Oleh karena itu, bersabar dalam menjalankan ketaatan lebih utama daripada bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Maka dari itu Allah Ta‘ala berfirman, “dan kuatkanlah kesabaranmu.” Seakan-akan ada orang yang memaksamu untuk bersabar. Sebagaimana seseorang harus bersabar menghadapi musuh dalam peperangan dan jihad. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus konsisten di atasnya. Karena itu, dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, bahwa beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat berikutnya setelah mendirikan shalat, itulah ribath, itulah ribath (bersiap siaga)!” Karena dalam amal-amal itu terdapat konsistensi dalam ketaatan dan banyak melaksanakannya. Adapun ketakwaan (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. Sebab takwa adalah melakukan segala hal yang melindungi diri dari azab Allah. Dan itu terwujud dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, penyebutan perintah takwa setelah perintah-perintah sebelumnya termasuk dalam kaidah mengaitkan perkara yang umum dengan perkara yang khusus. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa melaksanakan empat perintah ini merupakan sebab keberuntungan, sebagaimana firman-Nya, “agar kamu beruntung.” Al-falah (keberuntungan) adalah kata yang memiliki makna luas, yang berporos pada dua perkara: yaitu tercapainya apa yang diharapkan dan keselamatan dari apa yang ditakuti. Maka siapa saja yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan meraih apa yang diinginkannya dan selamat dari apa yang ditakutkannya. ===== يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا فَأَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ بِمُقْتَضَى إِيْمَانِهِمْ وَبِشَرفِ إِيْمَانِهِمْ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الثَّلَاثَةِ بَلْ الأَرْبَعَةِ اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَالصَّبْرُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَالْمُصَابَرَةُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْمُرَابَطَةُ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَتَتَابُعُ الْخَيْرِ وَالتَّقْوَى تَعُمُّ ذَلِكَ كُلَّهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَاصْبِرُوا عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ لَا تَفْعَلُوهَا تَجَنَّبُوهَا وَلَا تَقْرَبُوهَا وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الصَّبْرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا حَيْثُ دَعَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ أَمَّا الْإِنْسَانُ الَّذِي لَمْ تَطْرَأْ عَلَى بَالِهِ الْمَعْصِيَةُ فَلَا يُقَالُ إِنَّهُ صَبَرَ عَنْهَا وَلَكِنْ إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ فَاصْبِرْ وَاحْبِسْ النَّفْسَ وَأَمَّا الْمُصَابَرَةُ فَهُوَ عَلَى الطَّاعَةِ لِأَنَّ الطَّاعَةَ فِيهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ فِعْلٌ يَتَكَلَّفُ بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُلْزِمُ نَفْسَهُ بِهِ وَالثَّانِي ثِقَلٌ عَلَى النَّفْسِ لِأَنَّ فِعْلَ الطَّاعَةِ كَتَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ثَقِيلٌ عَلَى النُّفُوسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ هَذَا كَانَ الصَّبْرُ عَلَى الطَّاعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّبْرِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى صَابِرُوا كَأَنَّ أَحَدًا يُصَابِرُكَ كَمَا يُصَابِرُ الْإِنْسَانُ عَدُوَّهُ فِي الْقِتَالِ وَالْجِهَادِ وَأَمَّا الْمُرَابَطَةُ فَهِيَ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَالِاسْتِمْرَارُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَى إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ لِأَنَّ فِيهِ اسْتِمْرَارًا فِي الطَّاعَةِ وَكَثْرَةً لِفِعْلِهَا وَأَمَّا التَّقْوَى فَهِيَ تَشْمَلُ ذَلِكَ كُلَّهُ لِأَنَّ التَّقْوَى اتِّخَاذُ مَا يَقِي مِنْ عِقَابِ اللَّهِ وَهَذَا يَكُونُ بِفِعْلِ الْأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي وَعَلَى هَذَا فَعَطْفُهَا عَلَى مَا سَبَقَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ ثُمَّ بَيَّنَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ الْقِيَامَ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الْأَرْبَعَةِ سَبَبٌ لِلْفَلَاحِ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَالْفَلَاحُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ تَدُورُ عَلَى شَيْئَيْنِ عَلَى حُصُولِ الْمَطْلُوبِ وَالنَّجَاةِ مِنَ الْمَرْهُوبِ فَمَنِ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَصَلَ لَهُ مَطْلُوبُهُ وَنَجَا مِنْ مَرْهُوبِهِ

4 Perintah Besar dalam Al-Qur’an Ini Penentu Keberuntungan Hidup – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga…” (QS. Ali Imran: 200). Allah memerintahkan orang-orang beriman sesuai dengan konsekuensi keimanan mereka, dan karena kemuliaan iman yang mereka miliki, dengan perintah-perintah ini, bahkan bukan hanya tiga, melainkan empat: “Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200). Yang dimaksud dengan bersabar (الصبر) adalah bersabar dalam menjauhi kemaksiatan. Sedangkan menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus-menerus melakukannya. Sementara takwa (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. “…dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Maka bersabarlah kalian dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Janganlah kalian melakukannya! Hindarilah itu dan jangan mendekatinya! Sebagaimana diketahui bahwa bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan tidak mungkin terwujud kecuali ketika hawa nafsu mengajak untuk melakukan maksiat itu. Adapun orang yang tidak tebersit dalam pikirannya untuk berbuat maksiat, maka tidak dapat dikatakan bahwa orang itu bersabar dalam meninggalkannya. Namun, apabila hawa nafsumu mengajak untuk berbuat maksiat, maka bersabarlah! Bersabar dan tahanlah nafsumu! Adapun menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah kesabaran dalam ketaatan. Karena dalam menjalankan ketaatan berkaitan dengan dua perkara: Pertama, pelaksanaan yang menuntut kesungguhan dari diri seseorang, sehingga ia harus memaksa dirinya untuk menjalankannya. Kedua, adanya rasa berat yang dirasakan oleh jiwa. Karena melaksanakan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan, terasa berat bagi jiwa yang condong pada keburukan. Oleh karena itu, bersabar dalam menjalankan ketaatan lebih utama daripada bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Maka dari itu Allah Ta‘ala berfirman, “dan kuatkanlah kesabaranmu.” Seakan-akan ada orang yang memaksamu untuk bersabar. Sebagaimana seseorang harus bersabar menghadapi musuh dalam peperangan dan jihad. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus konsisten di atasnya. Karena itu, dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, bahwa beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat berikutnya setelah mendirikan shalat, itulah ribath, itulah ribath (bersiap siaga)!” Karena dalam amal-amal itu terdapat konsistensi dalam ketaatan dan banyak melaksanakannya. Adapun ketakwaan (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. Sebab takwa adalah melakukan segala hal yang melindungi diri dari azab Allah. Dan itu terwujud dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, penyebutan perintah takwa setelah perintah-perintah sebelumnya termasuk dalam kaidah mengaitkan perkara yang umum dengan perkara yang khusus. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa melaksanakan empat perintah ini merupakan sebab keberuntungan, sebagaimana firman-Nya, “agar kamu beruntung.” Al-falah (keberuntungan) adalah kata yang memiliki makna luas, yang berporos pada dua perkara: yaitu tercapainya apa yang diharapkan dan keselamatan dari apa yang ditakuti. Maka siapa saja yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan meraih apa yang diinginkannya dan selamat dari apa yang ditakutkannya. ===== يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا فَأَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ بِمُقْتَضَى إِيْمَانِهِمْ وَبِشَرفِ إِيْمَانِهِمْ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الثَّلَاثَةِ بَلْ الأَرْبَعَةِ اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَالصَّبْرُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَالْمُصَابَرَةُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْمُرَابَطَةُ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَتَتَابُعُ الْخَيْرِ وَالتَّقْوَى تَعُمُّ ذَلِكَ كُلَّهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَاصْبِرُوا عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ لَا تَفْعَلُوهَا تَجَنَّبُوهَا وَلَا تَقْرَبُوهَا وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الصَّبْرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا حَيْثُ دَعَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ أَمَّا الْإِنْسَانُ الَّذِي لَمْ تَطْرَأْ عَلَى بَالِهِ الْمَعْصِيَةُ فَلَا يُقَالُ إِنَّهُ صَبَرَ عَنْهَا وَلَكِنْ إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ فَاصْبِرْ وَاحْبِسْ النَّفْسَ وَأَمَّا الْمُصَابَرَةُ فَهُوَ عَلَى الطَّاعَةِ لِأَنَّ الطَّاعَةَ فِيهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ فِعْلٌ يَتَكَلَّفُ بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُلْزِمُ نَفْسَهُ بِهِ وَالثَّانِي ثِقَلٌ عَلَى النَّفْسِ لِأَنَّ فِعْلَ الطَّاعَةِ كَتَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ثَقِيلٌ عَلَى النُّفُوسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ هَذَا كَانَ الصَّبْرُ عَلَى الطَّاعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّبْرِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى صَابِرُوا كَأَنَّ أَحَدًا يُصَابِرُكَ كَمَا يُصَابِرُ الْإِنْسَانُ عَدُوَّهُ فِي الْقِتَالِ وَالْجِهَادِ وَأَمَّا الْمُرَابَطَةُ فَهِيَ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَالِاسْتِمْرَارُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَى إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ لِأَنَّ فِيهِ اسْتِمْرَارًا فِي الطَّاعَةِ وَكَثْرَةً لِفِعْلِهَا وَأَمَّا التَّقْوَى فَهِيَ تَشْمَلُ ذَلِكَ كُلَّهُ لِأَنَّ التَّقْوَى اتِّخَاذُ مَا يَقِي مِنْ عِقَابِ اللَّهِ وَهَذَا يَكُونُ بِفِعْلِ الْأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي وَعَلَى هَذَا فَعَطْفُهَا عَلَى مَا سَبَقَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ ثُمَّ بَيَّنَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ الْقِيَامَ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الْأَرْبَعَةِ سَبَبٌ لِلْفَلَاحِ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَالْفَلَاحُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ تَدُورُ عَلَى شَيْئَيْنِ عَلَى حُصُولِ الْمَطْلُوبِ وَالنَّجَاةِ مِنَ الْمَرْهُوبِ فَمَنِ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَصَلَ لَهُ مَطْلُوبُهُ وَنَجَا مِنْ مَرْهُوبِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga…” (QS. Ali Imran: 200). Allah memerintahkan orang-orang beriman sesuai dengan konsekuensi keimanan mereka, dan karena kemuliaan iman yang mereka miliki, dengan perintah-perintah ini, bahkan bukan hanya tiga, melainkan empat: “Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200). Yang dimaksud dengan bersabar (الصبر) adalah bersabar dalam menjauhi kemaksiatan. Sedangkan menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus-menerus melakukannya. Sementara takwa (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. “…dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Maka bersabarlah kalian dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Janganlah kalian melakukannya! Hindarilah itu dan jangan mendekatinya! Sebagaimana diketahui bahwa bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan tidak mungkin terwujud kecuali ketika hawa nafsu mengajak untuk melakukan maksiat itu. Adapun orang yang tidak tebersit dalam pikirannya untuk berbuat maksiat, maka tidak dapat dikatakan bahwa orang itu bersabar dalam meninggalkannya. Namun, apabila hawa nafsumu mengajak untuk berbuat maksiat, maka bersabarlah! Bersabar dan tahanlah nafsumu! Adapun menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah kesabaran dalam ketaatan. Karena dalam menjalankan ketaatan berkaitan dengan dua perkara: Pertama, pelaksanaan yang menuntut kesungguhan dari diri seseorang, sehingga ia harus memaksa dirinya untuk menjalankannya. Kedua, adanya rasa berat yang dirasakan oleh jiwa. Karena melaksanakan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan, terasa berat bagi jiwa yang condong pada keburukan. Oleh karena itu, bersabar dalam menjalankan ketaatan lebih utama daripada bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Maka dari itu Allah Ta‘ala berfirman, “dan kuatkanlah kesabaranmu.” Seakan-akan ada orang yang memaksamu untuk bersabar. Sebagaimana seseorang harus bersabar menghadapi musuh dalam peperangan dan jihad. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus konsisten di atasnya. Karena itu, dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, bahwa beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat berikutnya setelah mendirikan shalat, itulah ribath, itulah ribath (bersiap siaga)!” Karena dalam amal-amal itu terdapat konsistensi dalam ketaatan dan banyak melaksanakannya. Adapun ketakwaan (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. Sebab takwa adalah melakukan segala hal yang melindungi diri dari azab Allah. Dan itu terwujud dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, penyebutan perintah takwa setelah perintah-perintah sebelumnya termasuk dalam kaidah mengaitkan perkara yang umum dengan perkara yang khusus. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa melaksanakan empat perintah ini merupakan sebab keberuntungan, sebagaimana firman-Nya, “agar kamu beruntung.” Al-falah (keberuntungan) adalah kata yang memiliki makna luas, yang berporos pada dua perkara: yaitu tercapainya apa yang diharapkan dan keselamatan dari apa yang ditakuti. Maka siapa saja yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan meraih apa yang diinginkannya dan selamat dari apa yang ditakutkannya. ===== يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا فَأَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ بِمُقْتَضَى إِيْمَانِهِمْ وَبِشَرفِ إِيْمَانِهِمْ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الثَّلَاثَةِ بَلْ الأَرْبَعَةِ اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَالصَّبْرُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَالْمُصَابَرَةُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْمُرَابَطَةُ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَتَتَابُعُ الْخَيْرِ وَالتَّقْوَى تَعُمُّ ذَلِكَ كُلَّهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَاصْبِرُوا عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ لَا تَفْعَلُوهَا تَجَنَّبُوهَا وَلَا تَقْرَبُوهَا وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الصَّبْرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا حَيْثُ دَعَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ أَمَّا الْإِنْسَانُ الَّذِي لَمْ تَطْرَأْ عَلَى بَالِهِ الْمَعْصِيَةُ فَلَا يُقَالُ إِنَّهُ صَبَرَ عَنْهَا وَلَكِنْ إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ فَاصْبِرْ وَاحْبِسْ النَّفْسَ وَأَمَّا الْمُصَابَرَةُ فَهُوَ عَلَى الطَّاعَةِ لِأَنَّ الطَّاعَةَ فِيهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ فِعْلٌ يَتَكَلَّفُ بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُلْزِمُ نَفْسَهُ بِهِ وَالثَّانِي ثِقَلٌ عَلَى النَّفْسِ لِأَنَّ فِعْلَ الطَّاعَةِ كَتَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ثَقِيلٌ عَلَى النُّفُوسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ هَذَا كَانَ الصَّبْرُ عَلَى الطَّاعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّبْرِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى صَابِرُوا كَأَنَّ أَحَدًا يُصَابِرُكَ كَمَا يُصَابِرُ الْإِنْسَانُ عَدُوَّهُ فِي الْقِتَالِ وَالْجِهَادِ وَأَمَّا الْمُرَابَطَةُ فَهِيَ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَالِاسْتِمْرَارُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَى إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ لِأَنَّ فِيهِ اسْتِمْرَارًا فِي الطَّاعَةِ وَكَثْرَةً لِفِعْلِهَا وَأَمَّا التَّقْوَى فَهِيَ تَشْمَلُ ذَلِكَ كُلَّهُ لِأَنَّ التَّقْوَى اتِّخَاذُ مَا يَقِي مِنْ عِقَابِ اللَّهِ وَهَذَا يَكُونُ بِفِعْلِ الْأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي وَعَلَى هَذَا فَعَطْفُهَا عَلَى مَا سَبَقَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ ثُمَّ بَيَّنَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ الْقِيَامَ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الْأَرْبَعَةِ سَبَبٌ لِلْفَلَاحِ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَالْفَلَاحُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ تَدُورُ عَلَى شَيْئَيْنِ عَلَى حُصُولِ الْمَطْلُوبِ وَالنَّجَاةِ مِنَ الْمَرْهُوبِ فَمَنِ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَصَلَ لَهُ مَطْلُوبُهُ وَنَجَا مِنْ مَرْهُوبِهِ


“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga…” (QS. Ali Imran: 200). Allah memerintahkan orang-orang beriman sesuai dengan konsekuensi keimanan mereka, dan karena kemuliaan iman yang mereka miliki, dengan perintah-perintah ini, bahkan bukan hanya tiga, melainkan empat: “Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200). Yang dimaksud dengan bersabar (الصبر) adalah bersabar dalam menjauhi kemaksiatan. Sedangkan menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus-menerus melakukannya. Sementara takwa (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. “…dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Maka bersabarlah kalian dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Janganlah kalian melakukannya! Hindarilah itu dan jangan mendekatinya! Sebagaimana diketahui bahwa bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan tidak mungkin terwujud kecuali ketika hawa nafsu mengajak untuk melakukan maksiat itu. Adapun orang yang tidak tebersit dalam pikirannya untuk berbuat maksiat, maka tidak dapat dikatakan bahwa orang itu bersabar dalam meninggalkannya. Namun, apabila hawa nafsumu mengajak untuk berbuat maksiat, maka bersabarlah! Bersabar dan tahanlah nafsumu! Adapun menguatkan kesabaran (المصابرة) adalah kesabaran dalam ketaatan. Karena dalam menjalankan ketaatan berkaitan dengan dua perkara: Pertama, pelaksanaan yang menuntut kesungguhan dari diri seseorang, sehingga ia harus memaksa dirinya untuk menjalankannya. Kedua, adanya rasa berat yang dirasakan oleh jiwa. Karena melaksanakan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan, terasa berat bagi jiwa yang condong pada keburukan. Oleh karena itu, bersabar dalam menjalankan ketaatan lebih utama daripada bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Maka dari itu Allah Ta‘ala berfirman, “dan kuatkanlah kesabaranmu.” Seakan-akan ada orang yang memaksamu untuk bersabar. Sebagaimana seseorang harus bersabar menghadapi musuh dalam peperangan dan jihad. Adapun bersiap siaga (المرابطة) adalah memperbanyak kebaikan dan terus konsisten di atasnya. Karena itu, dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan, bahwa beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu shalat berikutnya setelah mendirikan shalat, itulah ribath, itulah ribath (bersiap siaga)!” Karena dalam amal-amal itu terdapat konsistensi dalam ketaatan dan banyak melaksanakannya. Adapun ketakwaan (التَّقْوَى) mencakup seluruh perintah tersebut. Sebab takwa adalah melakukan segala hal yang melindungi diri dari azab Allah. Dan itu terwujud dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, penyebutan perintah takwa setelah perintah-perintah sebelumnya termasuk dalam kaidah mengaitkan perkara yang umum dengan perkara yang khusus. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa melaksanakan empat perintah ini merupakan sebab keberuntungan, sebagaimana firman-Nya, “agar kamu beruntung.” Al-falah (keberuntungan) adalah kata yang memiliki makna luas, yang berporos pada dua perkara: yaitu tercapainya apa yang diharapkan dan keselamatan dari apa yang ditakuti. Maka siapa saja yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan meraih apa yang diinginkannya dan selamat dari apa yang ditakutkannya. ===== يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا فَأَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ بِمُقْتَضَى إِيْمَانِهِمْ وَبِشَرفِ إِيْمَانِهِمْ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الثَّلَاثَةِ بَلْ الأَرْبَعَةِ اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَالصَّبْرُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَالْمُصَابَرَةُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْمُرَابَطَةُ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَتَتَابُعُ الْخَيْرِ وَالتَّقْوَى تَعُمُّ ذَلِكَ كُلَّهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ فَاصْبِرُوا عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ لَا تَفْعَلُوهَا تَجَنَّبُوهَا وَلَا تَقْرَبُوهَا وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الصَّبْرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ لَا يَكُونُ إِلَّا حَيْثُ دَعَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ أَمَّا الْإِنْسَانُ الَّذِي لَمْ تَطْرَأْ عَلَى بَالِهِ الْمَعْصِيَةُ فَلَا يُقَالُ إِنَّهُ صَبَرَ عَنْهَا وَلَكِنْ إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ فَاصْبِرْ وَاحْبِسْ النَّفْسَ وَأَمَّا الْمُصَابَرَةُ فَهُوَ عَلَى الطَّاعَةِ لِأَنَّ الطَّاعَةَ فِيهَا أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ فِعْلٌ يَتَكَلَّفُ بِهِ الْإِنْسَانُ وَيُلْزِمُ نَفْسَهُ بِهِ وَالثَّانِي ثِقَلٌ عَلَى النَّفْسِ لِأَنَّ فِعْلَ الطَّاعَةِ كَتَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ثَقِيلٌ عَلَى النُّفُوسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ هَذَا كَانَ الصَّبْرُ عَلَى الطَّاعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّبْرِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى صَابِرُوا كَأَنَّ أَحَدًا يُصَابِرُكَ كَمَا يُصَابِرُ الْإِنْسَانُ عَدُوَّهُ فِي الْقِتَالِ وَالْجِهَادِ وَأَمَّا الْمُرَابَطَةُ فَهِيَ كَثْرَةُ الْخَيْرِ وَالِاسْتِمْرَارُ عَلَيْهِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَى إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ لِأَنَّ فِيهِ اسْتِمْرَارًا فِي الطَّاعَةِ وَكَثْرَةً لِفِعْلِهَا وَأَمَّا التَّقْوَى فَهِيَ تَشْمَلُ ذَلِكَ كُلَّهُ لِأَنَّ التَّقْوَى اتِّخَاذُ مَا يَقِي مِنْ عِقَابِ اللَّهِ وَهَذَا يَكُونُ بِفِعْلِ الْأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي وَعَلَى هَذَا فَعَطْفُهَا عَلَى مَا سَبَقَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ ثُمَّ بَيَّنَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ الْقِيَامَ بِهَذِهِ الْأَوَامِرِ الْأَرْبَعَةِ سَبَبٌ لِلْفَلَاحِ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَالْفَلَاحُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ تَدُورُ عَلَى شَيْئَيْنِ عَلَى حُصُولِ الْمَطْلُوبِ وَالنَّجَاةِ مِنَ الْمَرْهُوبِ فَمَنِ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَصَلَ لَهُ مَطْلُوبُهُ وَنَجَا مِنْ مَرْهُوبِهِ

Mengenal Nama Allah “Al-Kariim” dan “Al-Akram”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramKandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramMakna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramMakna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaBeriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahMendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahKeyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahKesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahAllah Tabāraka wa Ta‘ālā memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramNama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta‘ālā,فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]Dan firman-Nya,وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)Dan firman-Nya Ta’ala,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramUntuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramKata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah bentuk tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang memiliki dua makna pokok:(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan dalam salah satu akhlak. … (2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ“Sesuatu disebut karuma apabila ia bernilai tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahAl-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, yaitu Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, karena keagungan-Nya sama sekali tidak bergantung kepada siapa pun.” [6]Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِbeliau berkata,الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berkata tentang makna nama-nama Allah yang serupa,الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل “Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaPenetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahSeorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahDi antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Keyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahDi antara bentuk kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)Dalam riwayat Muslim ditambahkan,وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ“Dan Allah menghapusnya. Tidaklah binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.” (HR. Muslim no. 131)Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahSebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan dunia yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.[7] Ibid, 8: 342.[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.[9] Ibid, hal. 946.[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.

Mengenal Nama Allah “Al-Kariim” dan “Al-Akram”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramKandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramMakna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramMakna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaBeriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahMendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahKeyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahKesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahAllah Tabāraka wa Ta‘ālā memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramNama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta‘ālā,فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]Dan firman-Nya,وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)Dan firman-Nya Ta’ala,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramUntuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramKata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah bentuk tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang memiliki dua makna pokok:(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan dalam salah satu akhlak. … (2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ“Sesuatu disebut karuma apabila ia bernilai tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahAl-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, yaitu Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, karena keagungan-Nya sama sekali tidak bergantung kepada siapa pun.” [6]Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِbeliau berkata,الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berkata tentang makna nama-nama Allah yang serupa,الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل “Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaPenetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahSeorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahDi antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Keyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahDi antara bentuk kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)Dalam riwayat Muslim ditambahkan,وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ“Dan Allah menghapusnya. Tidaklah binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.” (HR. Muslim no. 131)Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahSebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan dunia yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.[7] Ibid, 8: 342.[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.[9] Ibid, hal. 946.[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramKandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramMakna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramMakna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaBeriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahMendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahKeyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahKesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahAllah Tabāraka wa Ta‘ālā memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramNama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta‘ālā,فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]Dan firman-Nya,وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)Dan firman-Nya Ta’ala,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramUntuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramKata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah bentuk tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang memiliki dua makna pokok:(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan dalam salah satu akhlak. … (2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ“Sesuatu disebut karuma apabila ia bernilai tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahAl-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, yaitu Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, karena keagungan-Nya sama sekali tidak bergantung kepada siapa pun.” [6]Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِbeliau berkata,الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berkata tentang makna nama-nama Allah yang serupa,الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل “Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaPenetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahSeorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahDi antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Keyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahDi antara bentuk kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)Dalam riwayat Muslim ditambahkan,وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ“Dan Allah menghapusnya. Tidaklah binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.” (HR. Muslim no. 131)Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahSebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan dunia yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.[7] Ibid, 8: 342.[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.[9] Ibid, hal. 946.[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramKandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramMakna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramMakna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaBeriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahMendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahKeyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahKesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahAllah Tabāraka wa Ta‘ālā memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramNama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta‘ālā,فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]Dan firman-Nya,وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ“Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)Dan firman-Nya Ta’ala,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ“Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-AkramUntuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-AkramKata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah bentuk tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang memiliki dua makna pokok:(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan dalam salah satu akhlak. … (2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ“Sesuatu disebut karuma apabila ia bernilai tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks AllahAl-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, yaitu Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, karena keagungan-Nya sama sekali tidak bergantung kepada siapa pun.” [6]Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِbeliau berkata,الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berkata tentang makna nama-nama Allah yang serupa,الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل “Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hambaPenetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama AllahSeorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha PemurahDi antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Keyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan AllahDi antara bentuk kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)Dalam riwayat Muslim ditambahkan,وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ“Dan Allah menghapusnya. Tidaklah binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.” (HR. Muslim no. 131)Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi AllahSebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan dunia yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.[7] Ibid, 8: 342.[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.[9] Ibid, hal. 946.[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.

Mahar Nikah dalam Islam: Tinjauan Fikih Mazhab Syafi‘i

Mahar merupakan hak wajib bagi wanita dalam pernikahan dan termasuk syariat yang dijaga dengan penuh kehormatan dalam Islam. Tulisan ini membahas hukum, kedudukan, dan tata cara penetapan mahar menurut fikih mazhab Syafi‘i berdasarkan Matan Taqrib dan penjelasan para ulama. Dengan memahami pembahasan ini, diharapkan kaum muslimin dapat melangsungkan akad nikah dengan lebih ilmiah, adil, dan terhindar dari perselisihan di kemudian hari.  Daftar Isi tutup 1. Makna Ṣadāq (Mahar) 2. Dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah 3. Hukum dan Hikmah Penyebutan Mahar 4. Dalil Al-Qur’an 5. Contoh Kasus Nikah Tanpa Mahar 6. Konsekuensi Nikah Tanpa Mahar 7. Tiga Cara Penetapan Mahar 8. Berapa Besar Mahar? 9. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَةُ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ، فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ صَحَّ الْعَقْدُ، وَوَجَبَ الْمَهْرُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
أَنْ يَفْرِضَهُ الزَّوْجُ عَلَى نَفْسِهِ،
أَوْ يَفْرِضَهُ الْحَاكِمُ،
أَوْ يَدْخُلَ بِهَا، فَيَجِبَ مَهْرُ الْمِثْلِ.
وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ وَلَا لِأَكْثَرِهِ حَدٌّ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ،
وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ بِهَا نِصْفُ الْمَهْرِ.Disunnahkan untuk menyebutkan mahar dalam akad nikah.
 Apabila mahar tidak disebutkan, akad nikah tetap sah. Namun, mahar tetap menjadi kewajiban dengan tiga sebab:Suami menetapkannya sendiri (setelah akad).Hakim menetapkannya (bila terjadi perselisihan).Telah terjadi hubungan suami istri (dukhūl), maka wajib diberikan mahr al-mitsl (mahar yang sepadan dengan wanita sejenisnya).Tidak ada batas minimal maupun maksimal untuk jumlah mahar.
 Diperbolehkan pula menikah dengan mahar berupa manfaat tertentu yang diketahui (misalnya mengajarkan Al-Qur’an atau keterampilan).Apabila terjadi perceraian sebelum hubungan badan, maka mahar yang telah ditetapkan gugur setengahnya.  Makna Ṣadāq (Mahar)Kata “ṣadāq” — dengan membuka atau memecahkan huruf “ṣād” (صَداق) — adalah sebutan bagi harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan karena akad nikah atau karena hubungan badan.Mahar memiliki beberapa nama:* Ṣadāq, Nuḥlah, Farīḍah, dan Ajr — ini disebutkan dalam Al-Qur’an.* Mahr, ‘Aqīlah, dan ‘Uqr — ini disebutkan dalam as-Sunnah.Istilah “ṣadāq” berasal dari kata ṣidq (الصدق) yang berarti keteguhan dan kekuatan, karena mahar adalah kompensasi yang paling kuat kedudukannya; ia tidak gugur hanya karena kesepakatan untuk menghapusnya. Dasar dari Al-Qur’an dan As-SunnahAllah Ta‘ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisā’: 4)Kata “نِحْلَةً (niḥlah)” bermakna pemberian dengan kerelaan hati. 
Disebut demikian karena wanita pun menikmati suaminya sebagaimana suami menikmati dirinya, bahkan mungkin lebih, sehingga ia seakan menerima mahar tanpa memberikan imbalan yang sepadan.Dari As-Sunnah, terdapat sabda Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang ingin menikah namun tidak memiliki harta:«الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ»
“Carilah mahar, sekalipun hanya berupa cincin dari besi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)Ketika sahabat itu tidak menemukannya, Rasulullah ﷺ bersabda:«زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ»
“Aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) berupa hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim) Hukum dan Hikmah Penyebutan MaharDari sini dipahami bahwa disunnahkan tidak melangsungkan akad nikah tanpa penyebutan mahar, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah menikahkan seseorang kecuali dengan mahar yang disebutkan secara jelas.Hal ini juga lebih mencegah terjadinya perselisihan di kemudian hari.Dari penjelasan para ulama Syafi‘iyyah, termasuk perkataan asy-Syaikh (Imam asy-Syirazi), dapat disimpulkan bahwa: Mahar bukan rukun dalam akad nikah.Para ulama mazhab Syafi‘i menegaskan: “Mahar tidak termasuk rukun nikah, berbeda dengan akad jual beli.”Karena dalam jual beli, penyebutan harga adalah rukun, sedangkan dalam nikah, tujuan utama adalah kenikmatan dan kebersamaan antara suami-istri, bukan semata pertukaran harta.
Oleh sebab itu, nikah tetap sah walau mahar tidak disebutkan — berbeda dengan jual beli yang tanpa harga menjadi batal. Dalil Al-Qur’anHal ini diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala,لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً
“Tidak ada dosa atas kalian jika menceraikan wanita sebelum kalian menyentuh mereka (berhubungan badan) atau sebelum kalian menentukan mahar untuk mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 236)Ayat ini menunjukkan bahwa akad nikah tetap sah walaupun tanpa penyebutan mahar, dan mahar baru ditetapkan kemudian.
Inilah yang disebut dengan istilah “at-tafrīḍ”, yakni nikah tanpa penentuan mahar di awal. Contoh Kasus Nikah Tanpa MaharBentuknya seperti seorang perempuan baligh dan berakal, baik gadis maupun janda, berkata kepada walinya: “Nikahkan aku tanpa mahar,”
atau,
“Nikahkan aku dengan syarat aku tidak memiliki mahar.”Lalu wali menikahkannya dengan meniadakan mahar, atau diam saja, maka akadnya sah.
 Demikian pula bila seorang tuan menikahkan budaknya dengan berkata: “Aku nikahkan engkau dengannya tanpa mahar,”
atau ia diam, maka akadnya tetap sah, karena tuan adalah pihak yang berhak atas mahar budaknya. Konsekuensi Nikah Tanpa MaharJika akad telah sah, maka menurut pendapat al-jadīd al-aẓhar (pendapat kuat Imam asy-Syafi‘i), mahar tidak wajib hanya dengan akad semata.Sebab, mahar adalah hak wanita, sehingga jika ia rela tanpa mahar, maka mahar tidak ditetapkan.
Jika mahar seharusnya wajib karena akad, maka seharusnya ia terbagi dua ketika terjadi talak sebelum dukhūl — namun hal itu tidak terjadi.Menurut pendapat yang kuat, wanita memiliki hak untuk menuntut agar suaminya menetapkan mahar sebelum terjadi hubungan badan, karena nikah tanpa mahar hanya khusus untuk Nabi ﷺ.Oleh karena itu, seorang wanita harus berhati-hati dan memastikan kejelasan mahar sebelum menyerahkan dirinya. Tiga Cara Penetapan MaharPertama: Ditetapkan oleh HakimYakni, bila suami enggan menetapkan mahar, atau terjadi perselisihan antara keduanya mengenai jumlah yang pantas, maka hakim menetapkan mahar mitsil sesuai nilai yang berlaku di daerah itu, tunai, tanpa melebihi atau mengurangi kadar yang sepadan.Perbedaan kecil yang muncul karena ijtihad masih dapat ditoleransi.
Hakim harus mengetahui kadar mahar mitsil yang lazim.
Dan ketika hakim telah menetapkannya, putusan tersebut mengikat tanpa memerlukan persetujuan kedua pihak, karena keputusan hakim bersifat mengikat (ḥukm), bukan kesepakatan (riḍā). Kedua: Ditetapkan oleh Kedua MempelaiApabila suami-istri sepakat menetapkan mahar dan mengetahui kadar mahar mitsil, maka kesepakatan itu sah.
Namun bila mereka tidak tahu kadar mahar mitsil, lalu menentukan sendiri jumlah tertentu, maka menurut jumhur ulama pendapat yang lebih kuat menyatakan sah, baik jumlah itu setara, lebih sedikit, atau lebih banyak dari mahar mitsil.
Sama halnya apakah mahar itu berupa uang tunai, barang, atau manfaat tertentu, dan baik dibayar langsung atau ditunda, semuanya sah.Karena penetapan mahar setelah akad diposisikan sama seperti mahar yang disebutkan saat akad.
Oleh sebab itu, bila suami menceraikan istrinya sebelum dukhūl, maka mahar yang telah disepakati itu dibagi dua, sebagaimana mahar yang disebutkan dalam akad. Ketiga: Telah Terjadi Hubungan Badan (Dukhūl)Apabila suami telah berhubungan dengan istrinya sebelum mahar ditetapkan oleh hakim atau disepakati berdua, maka wajib diberikan mahar mitsil.
Karena berhubungan tanpa mahar hanyalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan karena kehormatan tubuh wanita adalah hak Allah, maka tidak boleh dianggap seperti “pemberian sukarela” (ibāhah).Dalam hal ini, yang menjadi acuan adalah mahar sepadan (mahr al-mitsl) pada waktu akad, bukan waktu dukhūl — menurut pendapat yang paling sahih sebagaimana disebutkan dalam al-Muḥarrar dan al-Minhāj.Namun sebagian ulama, seperti dalam ar-Raudhah, menilai bahwa yang wajib adalah mahar tertinggi antara waktu akad dan waktu dukhūl, karena nilai kehormatan meningkat seiring waktu. Berapa Besar Mahar?“Tidak ada batasan minimal dan maksimal untuk mahar. Dan dibolehkan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan mahar berupa suatu manfaat yang telah diketahui.”Tidak ada batasan mahar, baik dari sisi paling sedikit maupun paling banyak.كل مَا جَازَ أَن يكون ثمنا من عين أَو مَنْفَعَة جَازَ جعله صَدَاقاBahkan, setiap hal yang sah dijadikan sebagai harga—baik berupa benda (‘ain) maupun manfaat—maka sah pula dijadikan sebagai mahar.Abu Tsaur berpendapat bahwa mahar ditentukan sebesar lima dirham, sedangkan Abu Hanifah berpendapat sepuluh dirham. Penentuan jumlah ini, jika memang ada dalil sunnah yang menetapkannya maka diterima, tetapi jika tidak, maka itu hanyalah penetapan berdasarkan pendapat semata.Dalam sunnah yang mulia terdapat dalil yang menguatkan pendapat kami. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang hendak menikah, “Carilah (mahar), walaupun hanya cincin dari besi.” Hadits ini cukup panjang, dan di bagian akhirnya Nabi ﷺ bersabda, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Qur’an.”Hadits ini menjadi dalil bolehnya mahar yang sangat sedikit, sekaligus bolehnya menjadikan manfaat sebagai mahar.Dalam hadits ‘Amir bin Rabi‘ah disebutkan bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Apakah engkau rela terhadap dirimu dan hartamu hanya dengan sepasang sandal?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ pun membolehkannya.Aku katakan: dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap pendapat Abu Hanifah perlu ada peninjauan, karena bisa jadi sepasang sandal tersebut saat itu senilai sepuluh dirham. Namun dalil yang lebih kuat untuk membantah pendapat tersebut adalah sabda Nabi ﷺ, “Tunaikanlah al-‘alā’iq.” Ketika ditanya, “Apakah yang dimaksud al-‘alā’iq?” beliau menjawab, “Apa saja yang disepakati dan diridhai oleh kedua keluarga.”Dengan qiyas dapat dikatakan bahwa mahar tidak memiliki batasan tertentu, karena mahar adalah pengganti atas manfaat seorang perempuan, sehingga tidak ditentukan jumlahnya, sebagaimana upah. Pembahasan ini berlaku pada perempuan yang sudah cakap bertindak (rushd), dan juga pada tuan dari budak perempuan. Adapun wali, apabila menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya (yang tidak cakap bertindak), maka ia tidak boleh menurunkan mahar di bawah mahar yang sepadan dengannya. Namun, disunnahkan agar mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, demi keluar dari perbedaan pendapat Abu Hanifah. Dan juga disunnahkan agar mahar tidak melebihi mahar istri-istri Rasulullah ﷺ, yaitu lima ratus dirham.Jika engkau bertanya: bukankah Ummu Habibah—istri Nabi ﷺ—mahar yang diberikan kepadanya adalah empat ratus dinar?Maka jawabannya: jumlah tersebut berasal dari perbuatan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu, yang memberikannya dari hartanya sendiri sebagai bentuk pemuliaan kepada pemimpin manusia seluruhnya, Nabi ﷺ. Adapun Nabi ﷺ sendiri yang melakukan akad dan membayarnya. Apa yang dilakukan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu berjalan sesuai dengan akhlak para raja, sebagai bentuk kebaikan dan kemurahan hati. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul“Dan gugurlah setengah mahar dengan sebab talak sebelum terjadi hubungan suami istri.” Ketahuilah bahwa seorang perempuan memiliki hak atas mahar dengan akad nikah yang sah atau dengan penetapan mahar, karena akad nikah adalah akad yang menjadikan seseorang berhak atas suatu imbalan. Imbalan tersebut adalah hak untuk mengambil manfaat dari kemaluan (hubungan suami istri) beserta konsekuensinya. Karena itu, dengan akad nikah perempuan berhak atas imbalan (mahar), sebagaimana dalam akad jual beli. Hal ini berlaku apabila penetapan mahar itu sah. Jika penetapan mahar tidak sah, maka yang wajib adalah mahar mitsil (mahar yang sepadan).Kemudian, mahar menjadi tetap (pasti wajib sepenuhnya) melalui dua jalan.Pertama, dengan terjadinya hubungan badan, meskipun hubungan tersebut haram, seperti hubungan badan saat haid atau dalam keadaan ihram. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ﴾“Bagaimana mungkin kalian mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bercampur dengan sebagian yang lain?”Ayat ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan afḍā adalah jima‘ (hubungan badan), dan ketetapan ini sudah berlaku hanya dengan satu kali hubungan.Kedua, mahar menjadi tetap dengan wafatnya salah satu dari kedua pasangan, meskipun wafat itu terjadi sebelum hubungan badan. Sebab, dengan kematian, akad telah berakhir, sehingga posisinya seperti manfaat akad yang telah ditunaikan, sebagaimana akad sewa.Dikecualikan dari ketentuan kematian ini adalah apabila seorang tuan membunuh budak perempuannya yang telah ia nikahi. Dalam hal ini, menurut mazhab, mahar budak tersebut gugur.Apabila tidak terjadi hubungan badan dan tidak pula kematian, lalu terjadi perpisahan sebelum hubungan badan, maka diperinci sebagai berikut.Jika perpisahan itu berasal dari pihak perempuan, seperti ia membatalkan nikah karena cacat pada suami, atau ia menyusui istri suaminya yang lain yang masih kecil sehingga terjadi pengharaman, dan semisalnya, atau nikah dibatalkan karena cacat pada dirinya, maka seluruh mahar gugur.Namun, jika perpisahan itu bukan karena sebab dari pihak perempuan dan bukan pula karena sebab dari pihak suami, maka mahar dibagi dua. Contohnya: suami menjatuhkan talak dengan kehendaknya sendiri, atau suami menyerahkan hak talak kepada istri lalu istri menggunakannya, atau suami menggantungkan talak dengan suatu syarat seperti masuk rumah, lalu istri memenuhinya, atau suami melakukan khulu‘. Setiap perpisahan yang terjadi tanpa sebab dari pihak perempuan, maka mahar menjadi setengah.Dalil pembagian ini adalah firman Allah Ta‘ala:﴿وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka (wajib bagi kalian) setengah dari mahar yang telah kalian tentukan.”Dari sisi makna, hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan. Padahal, menurut qiyas murni, seharusnya seluruh mahar gugur, karena batalnya akad sebelum penyerahan objek akad menuntut gugurnya seluruh imbalan, sebagaimana dalam jual beli dan sewa.Alasan pertama, bahwa istri pada hakikatnya telah menyerahkan dirinya kepada suami sejak akad nikah, karena berbagai bentuk tindakan yang boleh dilakukan suami telah sah sejak akad, tanpa menunggu penyerahan fisik. Dari sisi ini, suami telah mengambil sebagian manfaat, sehingga sebagian imbalan menjadi tetap. Namun, karena tujuan utama belum terwujud, maka sebagian lainnya gugur.Alasan kedua, jika kita menetapkan gugurnya seluruh mahar, maka kita harus mewajibkan pemberian mut‘ah. Padahal, mempertahankan sebagian kewajiban yang telah ada lebih utama daripada menetapkan kewajiban baru yang sebelumnya tidak wajib.Setelah memahami hal ini, kapan suami berhak atas setengah mahar? Pendapat yang sahih menyatakan bahwa setengah mahar kembali kepada suami dengan terjadinya talak itu sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Yaitu, bagi kalian setengah dari apa yang telah kalian tetapkan.”Maknanya seperti firman Allah:﴿وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ﴾“Dan bagi kalian setengah dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.”Pendapat kedua menyatakan bahwa dengan perpisahan itu, suami memiliki hak memilih untuk mengambil kembali setengah mahar atau meninggalkannya, seperti hak syuf‘ah.Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami tidak berhak mengambilnya kecuali dengan putusan hakim.Menurut pendapat yang sahih, apabila terjadi penambahan nilai pada mahar setelah talak, maka suami berhak atas setengahnya, baik penambahan itu bersifat menyatu maupun terpisah. Jika terjadi pengurangan pada mahar, misalnya karena istri melakukan perbuatan yang merusaknya, lalu suami menuntut pengembalian setengah mahar dan istri menolak, maka ia wajib menanggung nilai kekurangannya. Jika seluruh mahar rusak dalam kondisi ini, maka istri wajib menanggungnya.Jika tidak terdapat unsur kesengajaan dari pihak istri, maka terdapat dua pendapat.Pendapat pertama—yang merupakan zahir nash dan dipegang oleh ulama Irak serta Ar-Ruyani—menyatakan bahwa istri tetap menanggung nilai kekurangan, dan jika rusak seluruhnya ia wajib menggantinya, karena mahar tersebut berada di tangannya sebagai barang yang diterima dalam transaksi tukar-menukar, sehingga serupa dengan barang jualan di tangan pembeli setelah pembatalan akad.Dalam Al-Umm terdapat nash yang memberi isyarat bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi. Pendapat ini dipegang oleh ulama Marwazah, karena mahar itu berada di tangan istri tanpa unsur kesengajaan, sehingga menyerupai barang titipan. Dalam Ar-Raudhah tidak ditegaskan pendapat yang sahih, sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Kabir, namun Ar-Rafi‘i dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir lebih menguatkan pendapat pertama.Berdasarkan pendapat pertama yang dianggap sahih, apabila suami berkata, “Kerusakan terjadi setelah talak, maka engkau wajib menanggungnya,” dan istri berkata, “Kerusakan itu terjadi sebelum talak, maka tidak ada tanggungan atasku,” maka ada dua pendapat tentang siapa yang dibenarkan. Pendapat yang lebih sahih adalah membenarkan perkataan istri, karena asalnya adalah bebasnya tanggungan.Apabila seluruh mahar kembali kepada suami karena pembatalan akad, lalu mahar itu rusak di tangan istri, maka istri wajib menanggungnya, sebagaimana dalam jual beli yang batal karena pembatalan atau cacat.Adapun maksud ucapan “gugur setengah mahar” adalah gugur dalam bentuk utang. Jika mahar itu berupa utang dalam tanggungan suami, maka setengahnya gugur hanya dengan terjadinya talak, menurut pendapat yang sahih. Menurut pendapat kedua, jika suami telah menyerahkan mahar yang masih menjadi utang itu dan barangnya masih ada, maka apakah istri boleh mengembalikan setengahnya dari harta lain—karena akad tidak terkait dengan benda tertentu—atau justru hak suami telah melekat pada benda tersebut karena telah ditentukan dengan penyerahan, sehingga ia menyerupai mahar yang sejak awal telah ditentukan bendanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah pendapat kedua.Dan Allah Maha Mengetahui. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar  —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Yogyakarta, 22 Rajab 1447 H, 11 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbesar mahar nikah mahar nikah mas kawin matan taqrib matan taqrib kitab nikah

Mahar Nikah dalam Islam: Tinjauan Fikih Mazhab Syafi‘i

Mahar merupakan hak wajib bagi wanita dalam pernikahan dan termasuk syariat yang dijaga dengan penuh kehormatan dalam Islam. Tulisan ini membahas hukum, kedudukan, dan tata cara penetapan mahar menurut fikih mazhab Syafi‘i berdasarkan Matan Taqrib dan penjelasan para ulama. Dengan memahami pembahasan ini, diharapkan kaum muslimin dapat melangsungkan akad nikah dengan lebih ilmiah, adil, dan terhindar dari perselisihan di kemudian hari.  Daftar Isi tutup 1. Makna Ṣadāq (Mahar) 2. Dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah 3. Hukum dan Hikmah Penyebutan Mahar 4. Dalil Al-Qur’an 5. Contoh Kasus Nikah Tanpa Mahar 6. Konsekuensi Nikah Tanpa Mahar 7. Tiga Cara Penetapan Mahar 8. Berapa Besar Mahar? 9. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَةُ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ، فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ صَحَّ الْعَقْدُ، وَوَجَبَ الْمَهْرُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
أَنْ يَفْرِضَهُ الزَّوْجُ عَلَى نَفْسِهِ،
أَوْ يَفْرِضَهُ الْحَاكِمُ،
أَوْ يَدْخُلَ بِهَا، فَيَجِبَ مَهْرُ الْمِثْلِ.
وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ وَلَا لِأَكْثَرِهِ حَدٌّ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ،
وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ بِهَا نِصْفُ الْمَهْرِ.Disunnahkan untuk menyebutkan mahar dalam akad nikah.
 Apabila mahar tidak disebutkan, akad nikah tetap sah. Namun, mahar tetap menjadi kewajiban dengan tiga sebab:Suami menetapkannya sendiri (setelah akad).Hakim menetapkannya (bila terjadi perselisihan).Telah terjadi hubungan suami istri (dukhūl), maka wajib diberikan mahr al-mitsl (mahar yang sepadan dengan wanita sejenisnya).Tidak ada batas minimal maupun maksimal untuk jumlah mahar.
 Diperbolehkan pula menikah dengan mahar berupa manfaat tertentu yang diketahui (misalnya mengajarkan Al-Qur’an atau keterampilan).Apabila terjadi perceraian sebelum hubungan badan, maka mahar yang telah ditetapkan gugur setengahnya.  Makna Ṣadāq (Mahar)Kata “ṣadāq” — dengan membuka atau memecahkan huruf “ṣād” (صَداق) — adalah sebutan bagi harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan karena akad nikah atau karena hubungan badan.Mahar memiliki beberapa nama:* Ṣadāq, Nuḥlah, Farīḍah, dan Ajr — ini disebutkan dalam Al-Qur’an.* Mahr, ‘Aqīlah, dan ‘Uqr — ini disebutkan dalam as-Sunnah.Istilah “ṣadāq” berasal dari kata ṣidq (الصدق) yang berarti keteguhan dan kekuatan, karena mahar adalah kompensasi yang paling kuat kedudukannya; ia tidak gugur hanya karena kesepakatan untuk menghapusnya. Dasar dari Al-Qur’an dan As-SunnahAllah Ta‘ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisā’: 4)Kata “نِحْلَةً (niḥlah)” bermakna pemberian dengan kerelaan hati. 
Disebut demikian karena wanita pun menikmati suaminya sebagaimana suami menikmati dirinya, bahkan mungkin lebih, sehingga ia seakan menerima mahar tanpa memberikan imbalan yang sepadan.Dari As-Sunnah, terdapat sabda Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang ingin menikah namun tidak memiliki harta:«الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ»
“Carilah mahar, sekalipun hanya berupa cincin dari besi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)Ketika sahabat itu tidak menemukannya, Rasulullah ﷺ bersabda:«زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ»
“Aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) berupa hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim) Hukum dan Hikmah Penyebutan MaharDari sini dipahami bahwa disunnahkan tidak melangsungkan akad nikah tanpa penyebutan mahar, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah menikahkan seseorang kecuali dengan mahar yang disebutkan secara jelas.Hal ini juga lebih mencegah terjadinya perselisihan di kemudian hari.Dari penjelasan para ulama Syafi‘iyyah, termasuk perkataan asy-Syaikh (Imam asy-Syirazi), dapat disimpulkan bahwa: Mahar bukan rukun dalam akad nikah.Para ulama mazhab Syafi‘i menegaskan: “Mahar tidak termasuk rukun nikah, berbeda dengan akad jual beli.”Karena dalam jual beli, penyebutan harga adalah rukun, sedangkan dalam nikah, tujuan utama adalah kenikmatan dan kebersamaan antara suami-istri, bukan semata pertukaran harta.
Oleh sebab itu, nikah tetap sah walau mahar tidak disebutkan — berbeda dengan jual beli yang tanpa harga menjadi batal. Dalil Al-Qur’anHal ini diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala,لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً
“Tidak ada dosa atas kalian jika menceraikan wanita sebelum kalian menyentuh mereka (berhubungan badan) atau sebelum kalian menentukan mahar untuk mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 236)Ayat ini menunjukkan bahwa akad nikah tetap sah walaupun tanpa penyebutan mahar, dan mahar baru ditetapkan kemudian.
Inilah yang disebut dengan istilah “at-tafrīḍ”, yakni nikah tanpa penentuan mahar di awal. Contoh Kasus Nikah Tanpa MaharBentuknya seperti seorang perempuan baligh dan berakal, baik gadis maupun janda, berkata kepada walinya: “Nikahkan aku tanpa mahar,”
atau,
“Nikahkan aku dengan syarat aku tidak memiliki mahar.”Lalu wali menikahkannya dengan meniadakan mahar, atau diam saja, maka akadnya sah.
 Demikian pula bila seorang tuan menikahkan budaknya dengan berkata: “Aku nikahkan engkau dengannya tanpa mahar,”
atau ia diam, maka akadnya tetap sah, karena tuan adalah pihak yang berhak atas mahar budaknya. Konsekuensi Nikah Tanpa MaharJika akad telah sah, maka menurut pendapat al-jadīd al-aẓhar (pendapat kuat Imam asy-Syafi‘i), mahar tidak wajib hanya dengan akad semata.Sebab, mahar adalah hak wanita, sehingga jika ia rela tanpa mahar, maka mahar tidak ditetapkan.
Jika mahar seharusnya wajib karena akad, maka seharusnya ia terbagi dua ketika terjadi talak sebelum dukhūl — namun hal itu tidak terjadi.Menurut pendapat yang kuat, wanita memiliki hak untuk menuntut agar suaminya menetapkan mahar sebelum terjadi hubungan badan, karena nikah tanpa mahar hanya khusus untuk Nabi ﷺ.Oleh karena itu, seorang wanita harus berhati-hati dan memastikan kejelasan mahar sebelum menyerahkan dirinya. Tiga Cara Penetapan MaharPertama: Ditetapkan oleh HakimYakni, bila suami enggan menetapkan mahar, atau terjadi perselisihan antara keduanya mengenai jumlah yang pantas, maka hakim menetapkan mahar mitsil sesuai nilai yang berlaku di daerah itu, tunai, tanpa melebihi atau mengurangi kadar yang sepadan.Perbedaan kecil yang muncul karena ijtihad masih dapat ditoleransi.
Hakim harus mengetahui kadar mahar mitsil yang lazim.
Dan ketika hakim telah menetapkannya, putusan tersebut mengikat tanpa memerlukan persetujuan kedua pihak, karena keputusan hakim bersifat mengikat (ḥukm), bukan kesepakatan (riḍā). Kedua: Ditetapkan oleh Kedua MempelaiApabila suami-istri sepakat menetapkan mahar dan mengetahui kadar mahar mitsil, maka kesepakatan itu sah.
Namun bila mereka tidak tahu kadar mahar mitsil, lalu menentukan sendiri jumlah tertentu, maka menurut jumhur ulama pendapat yang lebih kuat menyatakan sah, baik jumlah itu setara, lebih sedikit, atau lebih banyak dari mahar mitsil.
Sama halnya apakah mahar itu berupa uang tunai, barang, atau manfaat tertentu, dan baik dibayar langsung atau ditunda, semuanya sah.Karena penetapan mahar setelah akad diposisikan sama seperti mahar yang disebutkan saat akad.
Oleh sebab itu, bila suami menceraikan istrinya sebelum dukhūl, maka mahar yang telah disepakati itu dibagi dua, sebagaimana mahar yang disebutkan dalam akad. Ketiga: Telah Terjadi Hubungan Badan (Dukhūl)Apabila suami telah berhubungan dengan istrinya sebelum mahar ditetapkan oleh hakim atau disepakati berdua, maka wajib diberikan mahar mitsil.
Karena berhubungan tanpa mahar hanyalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan karena kehormatan tubuh wanita adalah hak Allah, maka tidak boleh dianggap seperti “pemberian sukarela” (ibāhah).Dalam hal ini, yang menjadi acuan adalah mahar sepadan (mahr al-mitsl) pada waktu akad, bukan waktu dukhūl — menurut pendapat yang paling sahih sebagaimana disebutkan dalam al-Muḥarrar dan al-Minhāj.Namun sebagian ulama, seperti dalam ar-Raudhah, menilai bahwa yang wajib adalah mahar tertinggi antara waktu akad dan waktu dukhūl, karena nilai kehormatan meningkat seiring waktu. Berapa Besar Mahar?“Tidak ada batasan minimal dan maksimal untuk mahar. Dan dibolehkan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan mahar berupa suatu manfaat yang telah diketahui.”Tidak ada batasan mahar, baik dari sisi paling sedikit maupun paling banyak.كل مَا جَازَ أَن يكون ثمنا من عين أَو مَنْفَعَة جَازَ جعله صَدَاقاBahkan, setiap hal yang sah dijadikan sebagai harga—baik berupa benda (‘ain) maupun manfaat—maka sah pula dijadikan sebagai mahar.Abu Tsaur berpendapat bahwa mahar ditentukan sebesar lima dirham, sedangkan Abu Hanifah berpendapat sepuluh dirham. Penentuan jumlah ini, jika memang ada dalil sunnah yang menetapkannya maka diterima, tetapi jika tidak, maka itu hanyalah penetapan berdasarkan pendapat semata.Dalam sunnah yang mulia terdapat dalil yang menguatkan pendapat kami. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang hendak menikah, “Carilah (mahar), walaupun hanya cincin dari besi.” Hadits ini cukup panjang, dan di bagian akhirnya Nabi ﷺ bersabda, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Qur’an.”Hadits ini menjadi dalil bolehnya mahar yang sangat sedikit, sekaligus bolehnya menjadikan manfaat sebagai mahar.Dalam hadits ‘Amir bin Rabi‘ah disebutkan bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Apakah engkau rela terhadap dirimu dan hartamu hanya dengan sepasang sandal?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ pun membolehkannya.Aku katakan: dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap pendapat Abu Hanifah perlu ada peninjauan, karena bisa jadi sepasang sandal tersebut saat itu senilai sepuluh dirham. Namun dalil yang lebih kuat untuk membantah pendapat tersebut adalah sabda Nabi ﷺ, “Tunaikanlah al-‘alā’iq.” Ketika ditanya, “Apakah yang dimaksud al-‘alā’iq?” beliau menjawab, “Apa saja yang disepakati dan diridhai oleh kedua keluarga.”Dengan qiyas dapat dikatakan bahwa mahar tidak memiliki batasan tertentu, karena mahar adalah pengganti atas manfaat seorang perempuan, sehingga tidak ditentukan jumlahnya, sebagaimana upah. Pembahasan ini berlaku pada perempuan yang sudah cakap bertindak (rushd), dan juga pada tuan dari budak perempuan. Adapun wali, apabila menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya (yang tidak cakap bertindak), maka ia tidak boleh menurunkan mahar di bawah mahar yang sepadan dengannya. Namun, disunnahkan agar mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, demi keluar dari perbedaan pendapat Abu Hanifah. Dan juga disunnahkan agar mahar tidak melebihi mahar istri-istri Rasulullah ﷺ, yaitu lima ratus dirham.Jika engkau bertanya: bukankah Ummu Habibah—istri Nabi ﷺ—mahar yang diberikan kepadanya adalah empat ratus dinar?Maka jawabannya: jumlah tersebut berasal dari perbuatan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu, yang memberikannya dari hartanya sendiri sebagai bentuk pemuliaan kepada pemimpin manusia seluruhnya, Nabi ﷺ. Adapun Nabi ﷺ sendiri yang melakukan akad dan membayarnya. Apa yang dilakukan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu berjalan sesuai dengan akhlak para raja, sebagai bentuk kebaikan dan kemurahan hati. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul“Dan gugurlah setengah mahar dengan sebab talak sebelum terjadi hubungan suami istri.” Ketahuilah bahwa seorang perempuan memiliki hak atas mahar dengan akad nikah yang sah atau dengan penetapan mahar, karena akad nikah adalah akad yang menjadikan seseorang berhak atas suatu imbalan. Imbalan tersebut adalah hak untuk mengambil manfaat dari kemaluan (hubungan suami istri) beserta konsekuensinya. Karena itu, dengan akad nikah perempuan berhak atas imbalan (mahar), sebagaimana dalam akad jual beli. Hal ini berlaku apabila penetapan mahar itu sah. Jika penetapan mahar tidak sah, maka yang wajib adalah mahar mitsil (mahar yang sepadan).Kemudian, mahar menjadi tetap (pasti wajib sepenuhnya) melalui dua jalan.Pertama, dengan terjadinya hubungan badan, meskipun hubungan tersebut haram, seperti hubungan badan saat haid atau dalam keadaan ihram. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ﴾“Bagaimana mungkin kalian mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bercampur dengan sebagian yang lain?”Ayat ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan afḍā adalah jima‘ (hubungan badan), dan ketetapan ini sudah berlaku hanya dengan satu kali hubungan.Kedua, mahar menjadi tetap dengan wafatnya salah satu dari kedua pasangan, meskipun wafat itu terjadi sebelum hubungan badan. Sebab, dengan kematian, akad telah berakhir, sehingga posisinya seperti manfaat akad yang telah ditunaikan, sebagaimana akad sewa.Dikecualikan dari ketentuan kematian ini adalah apabila seorang tuan membunuh budak perempuannya yang telah ia nikahi. Dalam hal ini, menurut mazhab, mahar budak tersebut gugur.Apabila tidak terjadi hubungan badan dan tidak pula kematian, lalu terjadi perpisahan sebelum hubungan badan, maka diperinci sebagai berikut.Jika perpisahan itu berasal dari pihak perempuan, seperti ia membatalkan nikah karena cacat pada suami, atau ia menyusui istri suaminya yang lain yang masih kecil sehingga terjadi pengharaman, dan semisalnya, atau nikah dibatalkan karena cacat pada dirinya, maka seluruh mahar gugur.Namun, jika perpisahan itu bukan karena sebab dari pihak perempuan dan bukan pula karena sebab dari pihak suami, maka mahar dibagi dua. Contohnya: suami menjatuhkan talak dengan kehendaknya sendiri, atau suami menyerahkan hak talak kepada istri lalu istri menggunakannya, atau suami menggantungkan talak dengan suatu syarat seperti masuk rumah, lalu istri memenuhinya, atau suami melakukan khulu‘. Setiap perpisahan yang terjadi tanpa sebab dari pihak perempuan, maka mahar menjadi setengah.Dalil pembagian ini adalah firman Allah Ta‘ala:﴿وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka (wajib bagi kalian) setengah dari mahar yang telah kalian tentukan.”Dari sisi makna, hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan. Padahal, menurut qiyas murni, seharusnya seluruh mahar gugur, karena batalnya akad sebelum penyerahan objek akad menuntut gugurnya seluruh imbalan, sebagaimana dalam jual beli dan sewa.Alasan pertama, bahwa istri pada hakikatnya telah menyerahkan dirinya kepada suami sejak akad nikah, karena berbagai bentuk tindakan yang boleh dilakukan suami telah sah sejak akad, tanpa menunggu penyerahan fisik. Dari sisi ini, suami telah mengambil sebagian manfaat, sehingga sebagian imbalan menjadi tetap. Namun, karena tujuan utama belum terwujud, maka sebagian lainnya gugur.Alasan kedua, jika kita menetapkan gugurnya seluruh mahar, maka kita harus mewajibkan pemberian mut‘ah. Padahal, mempertahankan sebagian kewajiban yang telah ada lebih utama daripada menetapkan kewajiban baru yang sebelumnya tidak wajib.Setelah memahami hal ini, kapan suami berhak atas setengah mahar? Pendapat yang sahih menyatakan bahwa setengah mahar kembali kepada suami dengan terjadinya talak itu sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Yaitu, bagi kalian setengah dari apa yang telah kalian tetapkan.”Maknanya seperti firman Allah:﴿وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ﴾“Dan bagi kalian setengah dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.”Pendapat kedua menyatakan bahwa dengan perpisahan itu, suami memiliki hak memilih untuk mengambil kembali setengah mahar atau meninggalkannya, seperti hak syuf‘ah.Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami tidak berhak mengambilnya kecuali dengan putusan hakim.Menurut pendapat yang sahih, apabila terjadi penambahan nilai pada mahar setelah talak, maka suami berhak atas setengahnya, baik penambahan itu bersifat menyatu maupun terpisah. Jika terjadi pengurangan pada mahar, misalnya karena istri melakukan perbuatan yang merusaknya, lalu suami menuntut pengembalian setengah mahar dan istri menolak, maka ia wajib menanggung nilai kekurangannya. Jika seluruh mahar rusak dalam kondisi ini, maka istri wajib menanggungnya.Jika tidak terdapat unsur kesengajaan dari pihak istri, maka terdapat dua pendapat.Pendapat pertama—yang merupakan zahir nash dan dipegang oleh ulama Irak serta Ar-Ruyani—menyatakan bahwa istri tetap menanggung nilai kekurangan, dan jika rusak seluruhnya ia wajib menggantinya, karena mahar tersebut berada di tangannya sebagai barang yang diterima dalam transaksi tukar-menukar, sehingga serupa dengan barang jualan di tangan pembeli setelah pembatalan akad.Dalam Al-Umm terdapat nash yang memberi isyarat bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi. Pendapat ini dipegang oleh ulama Marwazah, karena mahar itu berada di tangan istri tanpa unsur kesengajaan, sehingga menyerupai barang titipan. Dalam Ar-Raudhah tidak ditegaskan pendapat yang sahih, sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Kabir, namun Ar-Rafi‘i dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir lebih menguatkan pendapat pertama.Berdasarkan pendapat pertama yang dianggap sahih, apabila suami berkata, “Kerusakan terjadi setelah talak, maka engkau wajib menanggungnya,” dan istri berkata, “Kerusakan itu terjadi sebelum talak, maka tidak ada tanggungan atasku,” maka ada dua pendapat tentang siapa yang dibenarkan. Pendapat yang lebih sahih adalah membenarkan perkataan istri, karena asalnya adalah bebasnya tanggungan.Apabila seluruh mahar kembali kepada suami karena pembatalan akad, lalu mahar itu rusak di tangan istri, maka istri wajib menanggungnya, sebagaimana dalam jual beli yang batal karena pembatalan atau cacat.Adapun maksud ucapan “gugur setengah mahar” adalah gugur dalam bentuk utang. Jika mahar itu berupa utang dalam tanggungan suami, maka setengahnya gugur hanya dengan terjadinya talak, menurut pendapat yang sahih. Menurut pendapat kedua, jika suami telah menyerahkan mahar yang masih menjadi utang itu dan barangnya masih ada, maka apakah istri boleh mengembalikan setengahnya dari harta lain—karena akad tidak terkait dengan benda tertentu—atau justru hak suami telah melekat pada benda tersebut karena telah ditentukan dengan penyerahan, sehingga ia menyerupai mahar yang sejak awal telah ditentukan bendanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah pendapat kedua.Dan Allah Maha Mengetahui. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar  —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Yogyakarta, 22 Rajab 1447 H, 11 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbesar mahar nikah mahar nikah mas kawin matan taqrib matan taqrib kitab nikah
Mahar merupakan hak wajib bagi wanita dalam pernikahan dan termasuk syariat yang dijaga dengan penuh kehormatan dalam Islam. Tulisan ini membahas hukum, kedudukan, dan tata cara penetapan mahar menurut fikih mazhab Syafi‘i berdasarkan Matan Taqrib dan penjelasan para ulama. Dengan memahami pembahasan ini, diharapkan kaum muslimin dapat melangsungkan akad nikah dengan lebih ilmiah, adil, dan terhindar dari perselisihan di kemudian hari.  Daftar Isi tutup 1. Makna Ṣadāq (Mahar) 2. Dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah 3. Hukum dan Hikmah Penyebutan Mahar 4. Dalil Al-Qur’an 5. Contoh Kasus Nikah Tanpa Mahar 6. Konsekuensi Nikah Tanpa Mahar 7. Tiga Cara Penetapan Mahar 8. Berapa Besar Mahar? 9. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَةُ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ، فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ صَحَّ الْعَقْدُ، وَوَجَبَ الْمَهْرُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
أَنْ يَفْرِضَهُ الزَّوْجُ عَلَى نَفْسِهِ،
أَوْ يَفْرِضَهُ الْحَاكِمُ،
أَوْ يَدْخُلَ بِهَا، فَيَجِبَ مَهْرُ الْمِثْلِ.
وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ وَلَا لِأَكْثَرِهِ حَدٌّ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ،
وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ بِهَا نِصْفُ الْمَهْرِ.Disunnahkan untuk menyebutkan mahar dalam akad nikah.
 Apabila mahar tidak disebutkan, akad nikah tetap sah. Namun, mahar tetap menjadi kewajiban dengan tiga sebab:Suami menetapkannya sendiri (setelah akad).Hakim menetapkannya (bila terjadi perselisihan).Telah terjadi hubungan suami istri (dukhūl), maka wajib diberikan mahr al-mitsl (mahar yang sepadan dengan wanita sejenisnya).Tidak ada batas minimal maupun maksimal untuk jumlah mahar.
 Diperbolehkan pula menikah dengan mahar berupa manfaat tertentu yang diketahui (misalnya mengajarkan Al-Qur’an atau keterampilan).Apabila terjadi perceraian sebelum hubungan badan, maka mahar yang telah ditetapkan gugur setengahnya.  Makna Ṣadāq (Mahar)Kata “ṣadāq” — dengan membuka atau memecahkan huruf “ṣād” (صَداق) — adalah sebutan bagi harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan karena akad nikah atau karena hubungan badan.Mahar memiliki beberapa nama:* Ṣadāq, Nuḥlah, Farīḍah, dan Ajr — ini disebutkan dalam Al-Qur’an.* Mahr, ‘Aqīlah, dan ‘Uqr — ini disebutkan dalam as-Sunnah.Istilah “ṣadāq” berasal dari kata ṣidq (الصدق) yang berarti keteguhan dan kekuatan, karena mahar adalah kompensasi yang paling kuat kedudukannya; ia tidak gugur hanya karena kesepakatan untuk menghapusnya. Dasar dari Al-Qur’an dan As-SunnahAllah Ta‘ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisā’: 4)Kata “نِحْلَةً (niḥlah)” bermakna pemberian dengan kerelaan hati. 
Disebut demikian karena wanita pun menikmati suaminya sebagaimana suami menikmati dirinya, bahkan mungkin lebih, sehingga ia seakan menerima mahar tanpa memberikan imbalan yang sepadan.Dari As-Sunnah, terdapat sabda Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang ingin menikah namun tidak memiliki harta:«الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ»
“Carilah mahar, sekalipun hanya berupa cincin dari besi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)Ketika sahabat itu tidak menemukannya, Rasulullah ﷺ bersabda:«زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ»
“Aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) berupa hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim) Hukum dan Hikmah Penyebutan MaharDari sini dipahami bahwa disunnahkan tidak melangsungkan akad nikah tanpa penyebutan mahar, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah menikahkan seseorang kecuali dengan mahar yang disebutkan secara jelas.Hal ini juga lebih mencegah terjadinya perselisihan di kemudian hari.Dari penjelasan para ulama Syafi‘iyyah, termasuk perkataan asy-Syaikh (Imam asy-Syirazi), dapat disimpulkan bahwa: Mahar bukan rukun dalam akad nikah.Para ulama mazhab Syafi‘i menegaskan: “Mahar tidak termasuk rukun nikah, berbeda dengan akad jual beli.”Karena dalam jual beli, penyebutan harga adalah rukun, sedangkan dalam nikah, tujuan utama adalah kenikmatan dan kebersamaan antara suami-istri, bukan semata pertukaran harta.
Oleh sebab itu, nikah tetap sah walau mahar tidak disebutkan — berbeda dengan jual beli yang tanpa harga menjadi batal. Dalil Al-Qur’anHal ini diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala,لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً
“Tidak ada dosa atas kalian jika menceraikan wanita sebelum kalian menyentuh mereka (berhubungan badan) atau sebelum kalian menentukan mahar untuk mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 236)Ayat ini menunjukkan bahwa akad nikah tetap sah walaupun tanpa penyebutan mahar, dan mahar baru ditetapkan kemudian.
Inilah yang disebut dengan istilah “at-tafrīḍ”, yakni nikah tanpa penentuan mahar di awal. Contoh Kasus Nikah Tanpa MaharBentuknya seperti seorang perempuan baligh dan berakal, baik gadis maupun janda, berkata kepada walinya: “Nikahkan aku tanpa mahar,”
atau,
“Nikahkan aku dengan syarat aku tidak memiliki mahar.”Lalu wali menikahkannya dengan meniadakan mahar, atau diam saja, maka akadnya sah.
 Demikian pula bila seorang tuan menikahkan budaknya dengan berkata: “Aku nikahkan engkau dengannya tanpa mahar,”
atau ia diam, maka akadnya tetap sah, karena tuan adalah pihak yang berhak atas mahar budaknya. Konsekuensi Nikah Tanpa MaharJika akad telah sah, maka menurut pendapat al-jadīd al-aẓhar (pendapat kuat Imam asy-Syafi‘i), mahar tidak wajib hanya dengan akad semata.Sebab, mahar adalah hak wanita, sehingga jika ia rela tanpa mahar, maka mahar tidak ditetapkan.
Jika mahar seharusnya wajib karena akad, maka seharusnya ia terbagi dua ketika terjadi talak sebelum dukhūl — namun hal itu tidak terjadi.Menurut pendapat yang kuat, wanita memiliki hak untuk menuntut agar suaminya menetapkan mahar sebelum terjadi hubungan badan, karena nikah tanpa mahar hanya khusus untuk Nabi ﷺ.Oleh karena itu, seorang wanita harus berhati-hati dan memastikan kejelasan mahar sebelum menyerahkan dirinya. Tiga Cara Penetapan MaharPertama: Ditetapkan oleh HakimYakni, bila suami enggan menetapkan mahar, atau terjadi perselisihan antara keduanya mengenai jumlah yang pantas, maka hakim menetapkan mahar mitsil sesuai nilai yang berlaku di daerah itu, tunai, tanpa melebihi atau mengurangi kadar yang sepadan.Perbedaan kecil yang muncul karena ijtihad masih dapat ditoleransi.
Hakim harus mengetahui kadar mahar mitsil yang lazim.
Dan ketika hakim telah menetapkannya, putusan tersebut mengikat tanpa memerlukan persetujuan kedua pihak, karena keputusan hakim bersifat mengikat (ḥukm), bukan kesepakatan (riḍā). Kedua: Ditetapkan oleh Kedua MempelaiApabila suami-istri sepakat menetapkan mahar dan mengetahui kadar mahar mitsil, maka kesepakatan itu sah.
Namun bila mereka tidak tahu kadar mahar mitsil, lalu menentukan sendiri jumlah tertentu, maka menurut jumhur ulama pendapat yang lebih kuat menyatakan sah, baik jumlah itu setara, lebih sedikit, atau lebih banyak dari mahar mitsil.
Sama halnya apakah mahar itu berupa uang tunai, barang, atau manfaat tertentu, dan baik dibayar langsung atau ditunda, semuanya sah.Karena penetapan mahar setelah akad diposisikan sama seperti mahar yang disebutkan saat akad.
Oleh sebab itu, bila suami menceraikan istrinya sebelum dukhūl, maka mahar yang telah disepakati itu dibagi dua, sebagaimana mahar yang disebutkan dalam akad. Ketiga: Telah Terjadi Hubungan Badan (Dukhūl)Apabila suami telah berhubungan dengan istrinya sebelum mahar ditetapkan oleh hakim atau disepakati berdua, maka wajib diberikan mahar mitsil.
Karena berhubungan tanpa mahar hanyalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan karena kehormatan tubuh wanita adalah hak Allah, maka tidak boleh dianggap seperti “pemberian sukarela” (ibāhah).Dalam hal ini, yang menjadi acuan adalah mahar sepadan (mahr al-mitsl) pada waktu akad, bukan waktu dukhūl — menurut pendapat yang paling sahih sebagaimana disebutkan dalam al-Muḥarrar dan al-Minhāj.Namun sebagian ulama, seperti dalam ar-Raudhah, menilai bahwa yang wajib adalah mahar tertinggi antara waktu akad dan waktu dukhūl, karena nilai kehormatan meningkat seiring waktu. Berapa Besar Mahar?“Tidak ada batasan minimal dan maksimal untuk mahar. Dan dibolehkan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan mahar berupa suatu manfaat yang telah diketahui.”Tidak ada batasan mahar, baik dari sisi paling sedikit maupun paling banyak.كل مَا جَازَ أَن يكون ثمنا من عين أَو مَنْفَعَة جَازَ جعله صَدَاقاBahkan, setiap hal yang sah dijadikan sebagai harga—baik berupa benda (‘ain) maupun manfaat—maka sah pula dijadikan sebagai mahar.Abu Tsaur berpendapat bahwa mahar ditentukan sebesar lima dirham, sedangkan Abu Hanifah berpendapat sepuluh dirham. Penentuan jumlah ini, jika memang ada dalil sunnah yang menetapkannya maka diterima, tetapi jika tidak, maka itu hanyalah penetapan berdasarkan pendapat semata.Dalam sunnah yang mulia terdapat dalil yang menguatkan pendapat kami. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang hendak menikah, “Carilah (mahar), walaupun hanya cincin dari besi.” Hadits ini cukup panjang, dan di bagian akhirnya Nabi ﷺ bersabda, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Qur’an.”Hadits ini menjadi dalil bolehnya mahar yang sangat sedikit, sekaligus bolehnya menjadikan manfaat sebagai mahar.Dalam hadits ‘Amir bin Rabi‘ah disebutkan bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Apakah engkau rela terhadap dirimu dan hartamu hanya dengan sepasang sandal?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ pun membolehkannya.Aku katakan: dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap pendapat Abu Hanifah perlu ada peninjauan, karena bisa jadi sepasang sandal tersebut saat itu senilai sepuluh dirham. Namun dalil yang lebih kuat untuk membantah pendapat tersebut adalah sabda Nabi ﷺ, “Tunaikanlah al-‘alā’iq.” Ketika ditanya, “Apakah yang dimaksud al-‘alā’iq?” beliau menjawab, “Apa saja yang disepakati dan diridhai oleh kedua keluarga.”Dengan qiyas dapat dikatakan bahwa mahar tidak memiliki batasan tertentu, karena mahar adalah pengganti atas manfaat seorang perempuan, sehingga tidak ditentukan jumlahnya, sebagaimana upah. Pembahasan ini berlaku pada perempuan yang sudah cakap bertindak (rushd), dan juga pada tuan dari budak perempuan. Adapun wali, apabila menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya (yang tidak cakap bertindak), maka ia tidak boleh menurunkan mahar di bawah mahar yang sepadan dengannya. Namun, disunnahkan agar mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, demi keluar dari perbedaan pendapat Abu Hanifah. Dan juga disunnahkan agar mahar tidak melebihi mahar istri-istri Rasulullah ﷺ, yaitu lima ratus dirham.Jika engkau bertanya: bukankah Ummu Habibah—istri Nabi ﷺ—mahar yang diberikan kepadanya adalah empat ratus dinar?Maka jawabannya: jumlah tersebut berasal dari perbuatan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu, yang memberikannya dari hartanya sendiri sebagai bentuk pemuliaan kepada pemimpin manusia seluruhnya, Nabi ﷺ. Adapun Nabi ﷺ sendiri yang melakukan akad dan membayarnya. Apa yang dilakukan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu berjalan sesuai dengan akhlak para raja, sebagai bentuk kebaikan dan kemurahan hati. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul“Dan gugurlah setengah mahar dengan sebab talak sebelum terjadi hubungan suami istri.” Ketahuilah bahwa seorang perempuan memiliki hak atas mahar dengan akad nikah yang sah atau dengan penetapan mahar, karena akad nikah adalah akad yang menjadikan seseorang berhak atas suatu imbalan. Imbalan tersebut adalah hak untuk mengambil manfaat dari kemaluan (hubungan suami istri) beserta konsekuensinya. Karena itu, dengan akad nikah perempuan berhak atas imbalan (mahar), sebagaimana dalam akad jual beli. Hal ini berlaku apabila penetapan mahar itu sah. Jika penetapan mahar tidak sah, maka yang wajib adalah mahar mitsil (mahar yang sepadan).Kemudian, mahar menjadi tetap (pasti wajib sepenuhnya) melalui dua jalan.Pertama, dengan terjadinya hubungan badan, meskipun hubungan tersebut haram, seperti hubungan badan saat haid atau dalam keadaan ihram. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ﴾“Bagaimana mungkin kalian mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bercampur dengan sebagian yang lain?”Ayat ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan afḍā adalah jima‘ (hubungan badan), dan ketetapan ini sudah berlaku hanya dengan satu kali hubungan.Kedua, mahar menjadi tetap dengan wafatnya salah satu dari kedua pasangan, meskipun wafat itu terjadi sebelum hubungan badan. Sebab, dengan kematian, akad telah berakhir, sehingga posisinya seperti manfaat akad yang telah ditunaikan, sebagaimana akad sewa.Dikecualikan dari ketentuan kematian ini adalah apabila seorang tuan membunuh budak perempuannya yang telah ia nikahi. Dalam hal ini, menurut mazhab, mahar budak tersebut gugur.Apabila tidak terjadi hubungan badan dan tidak pula kematian, lalu terjadi perpisahan sebelum hubungan badan, maka diperinci sebagai berikut.Jika perpisahan itu berasal dari pihak perempuan, seperti ia membatalkan nikah karena cacat pada suami, atau ia menyusui istri suaminya yang lain yang masih kecil sehingga terjadi pengharaman, dan semisalnya, atau nikah dibatalkan karena cacat pada dirinya, maka seluruh mahar gugur.Namun, jika perpisahan itu bukan karena sebab dari pihak perempuan dan bukan pula karena sebab dari pihak suami, maka mahar dibagi dua. Contohnya: suami menjatuhkan talak dengan kehendaknya sendiri, atau suami menyerahkan hak talak kepada istri lalu istri menggunakannya, atau suami menggantungkan talak dengan suatu syarat seperti masuk rumah, lalu istri memenuhinya, atau suami melakukan khulu‘. Setiap perpisahan yang terjadi tanpa sebab dari pihak perempuan, maka mahar menjadi setengah.Dalil pembagian ini adalah firman Allah Ta‘ala:﴿وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka (wajib bagi kalian) setengah dari mahar yang telah kalian tentukan.”Dari sisi makna, hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan. Padahal, menurut qiyas murni, seharusnya seluruh mahar gugur, karena batalnya akad sebelum penyerahan objek akad menuntut gugurnya seluruh imbalan, sebagaimana dalam jual beli dan sewa.Alasan pertama, bahwa istri pada hakikatnya telah menyerahkan dirinya kepada suami sejak akad nikah, karena berbagai bentuk tindakan yang boleh dilakukan suami telah sah sejak akad, tanpa menunggu penyerahan fisik. Dari sisi ini, suami telah mengambil sebagian manfaat, sehingga sebagian imbalan menjadi tetap. Namun, karena tujuan utama belum terwujud, maka sebagian lainnya gugur.Alasan kedua, jika kita menetapkan gugurnya seluruh mahar, maka kita harus mewajibkan pemberian mut‘ah. Padahal, mempertahankan sebagian kewajiban yang telah ada lebih utama daripada menetapkan kewajiban baru yang sebelumnya tidak wajib.Setelah memahami hal ini, kapan suami berhak atas setengah mahar? Pendapat yang sahih menyatakan bahwa setengah mahar kembali kepada suami dengan terjadinya talak itu sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Yaitu, bagi kalian setengah dari apa yang telah kalian tetapkan.”Maknanya seperti firman Allah:﴿وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ﴾“Dan bagi kalian setengah dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.”Pendapat kedua menyatakan bahwa dengan perpisahan itu, suami memiliki hak memilih untuk mengambil kembali setengah mahar atau meninggalkannya, seperti hak syuf‘ah.Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami tidak berhak mengambilnya kecuali dengan putusan hakim.Menurut pendapat yang sahih, apabila terjadi penambahan nilai pada mahar setelah talak, maka suami berhak atas setengahnya, baik penambahan itu bersifat menyatu maupun terpisah. Jika terjadi pengurangan pada mahar, misalnya karena istri melakukan perbuatan yang merusaknya, lalu suami menuntut pengembalian setengah mahar dan istri menolak, maka ia wajib menanggung nilai kekurangannya. Jika seluruh mahar rusak dalam kondisi ini, maka istri wajib menanggungnya.Jika tidak terdapat unsur kesengajaan dari pihak istri, maka terdapat dua pendapat.Pendapat pertama—yang merupakan zahir nash dan dipegang oleh ulama Irak serta Ar-Ruyani—menyatakan bahwa istri tetap menanggung nilai kekurangan, dan jika rusak seluruhnya ia wajib menggantinya, karena mahar tersebut berada di tangannya sebagai barang yang diterima dalam transaksi tukar-menukar, sehingga serupa dengan barang jualan di tangan pembeli setelah pembatalan akad.Dalam Al-Umm terdapat nash yang memberi isyarat bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi. Pendapat ini dipegang oleh ulama Marwazah, karena mahar itu berada di tangan istri tanpa unsur kesengajaan, sehingga menyerupai barang titipan. Dalam Ar-Raudhah tidak ditegaskan pendapat yang sahih, sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Kabir, namun Ar-Rafi‘i dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir lebih menguatkan pendapat pertama.Berdasarkan pendapat pertama yang dianggap sahih, apabila suami berkata, “Kerusakan terjadi setelah talak, maka engkau wajib menanggungnya,” dan istri berkata, “Kerusakan itu terjadi sebelum talak, maka tidak ada tanggungan atasku,” maka ada dua pendapat tentang siapa yang dibenarkan. Pendapat yang lebih sahih adalah membenarkan perkataan istri, karena asalnya adalah bebasnya tanggungan.Apabila seluruh mahar kembali kepada suami karena pembatalan akad, lalu mahar itu rusak di tangan istri, maka istri wajib menanggungnya, sebagaimana dalam jual beli yang batal karena pembatalan atau cacat.Adapun maksud ucapan “gugur setengah mahar” adalah gugur dalam bentuk utang. Jika mahar itu berupa utang dalam tanggungan suami, maka setengahnya gugur hanya dengan terjadinya talak, menurut pendapat yang sahih. Menurut pendapat kedua, jika suami telah menyerahkan mahar yang masih menjadi utang itu dan barangnya masih ada, maka apakah istri boleh mengembalikan setengahnya dari harta lain—karena akad tidak terkait dengan benda tertentu—atau justru hak suami telah melekat pada benda tersebut karena telah ditentukan dengan penyerahan, sehingga ia menyerupai mahar yang sejak awal telah ditentukan bendanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah pendapat kedua.Dan Allah Maha Mengetahui. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar  —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Yogyakarta, 22 Rajab 1447 H, 11 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbesar mahar nikah mahar nikah mas kawin matan taqrib matan taqrib kitab nikah


Mahar merupakan hak wajib bagi wanita dalam pernikahan dan termasuk syariat yang dijaga dengan penuh kehormatan dalam Islam. Tulisan ini membahas hukum, kedudukan, dan tata cara penetapan mahar menurut fikih mazhab Syafi‘i berdasarkan Matan Taqrib dan penjelasan para ulama. Dengan memahami pembahasan ini, diharapkan kaum muslimin dapat melangsungkan akad nikah dengan lebih ilmiah, adil, dan terhindar dari perselisihan di kemudian hari.  Daftar Isi tutup 1. Makna Ṣadāq (Mahar) 2. Dasar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah 3. Hukum dan Hikmah Penyebutan Mahar 4. Dalil Al-Qur’an 5. Contoh Kasus Nikah Tanpa Mahar 6. Konsekuensi Nikah Tanpa Mahar 7. Tiga Cara Penetapan Mahar 8. Berapa Besar Mahar? 9. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata:وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَةُ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ، فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ صَحَّ الْعَقْدُ، وَوَجَبَ الْمَهْرُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
أَنْ يَفْرِضَهُ الزَّوْجُ عَلَى نَفْسِهِ،
أَوْ يَفْرِضَهُ الْحَاكِمُ،
أَوْ يَدْخُلَ بِهَا، فَيَجِبَ مَهْرُ الْمِثْلِ.
وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ وَلَا لِأَكْثَرِهِ حَدٌّ،
وَيَجُوزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ،
وَيَسْقُطُ بِالطَّلَاقِ قَبْلَ الدُّخُولِ بِهَا نِصْفُ الْمَهْرِ.Disunnahkan untuk menyebutkan mahar dalam akad nikah.
 Apabila mahar tidak disebutkan, akad nikah tetap sah. Namun, mahar tetap menjadi kewajiban dengan tiga sebab:Suami menetapkannya sendiri (setelah akad).Hakim menetapkannya (bila terjadi perselisihan).Telah terjadi hubungan suami istri (dukhūl), maka wajib diberikan mahr al-mitsl (mahar yang sepadan dengan wanita sejenisnya).Tidak ada batas minimal maupun maksimal untuk jumlah mahar.
 Diperbolehkan pula menikah dengan mahar berupa manfaat tertentu yang diketahui (misalnya mengajarkan Al-Qur’an atau keterampilan).Apabila terjadi perceraian sebelum hubungan badan, maka mahar yang telah ditetapkan gugur setengahnya.  Makna Ṣadāq (Mahar)Kata “ṣadāq” — dengan membuka atau memecahkan huruf “ṣād” (صَداق) — adalah sebutan bagi harta yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan karena akad nikah atau karena hubungan badan.Mahar memiliki beberapa nama:* Ṣadāq, Nuḥlah, Farīḍah, dan Ajr — ini disebutkan dalam Al-Qur’an.* Mahr, ‘Aqīlah, dan ‘Uqr — ini disebutkan dalam as-Sunnah.Istilah “ṣadāq” berasal dari kata ṣidq (الصدق) yang berarti keteguhan dan kekuatan, karena mahar adalah kompensasi yang paling kuat kedudukannya; ia tidak gugur hanya karena kesepakatan untuk menghapusnya. Dasar dari Al-Qur’an dan As-SunnahAllah Ta‘ala berfirman,وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
(QS. An-Nisā’: 4)Kata “نِحْلَةً (niḥlah)” bermakna pemberian dengan kerelaan hati. 
Disebut demikian karena wanita pun menikmati suaminya sebagaimana suami menikmati dirinya, bahkan mungkin lebih, sehingga ia seakan menerima mahar tanpa memberikan imbalan yang sepadan.Dari As-Sunnah, terdapat sabda Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang ingin menikah namun tidak memiliki harta:«الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ»
“Carilah mahar, sekalipun hanya berupa cincin dari besi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)Ketika sahabat itu tidak menemukannya, Rasulullah ﷺ bersabda:«زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ»
“Aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) berupa hafalan Al-Qur’an yang engkau miliki.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim) Hukum dan Hikmah Penyebutan MaharDari sini dipahami bahwa disunnahkan tidak melangsungkan akad nikah tanpa penyebutan mahar, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah menikahkan seseorang kecuali dengan mahar yang disebutkan secara jelas.Hal ini juga lebih mencegah terjadinya perselisihan di kemudian hari.Dari penjelasan para ulama Syafi‘iyyah, termasuk perkataan asy-Syaikh (Imam asy-Syirazi), dapat disimpulkan bahwa: Mahar bukan rukun dalam akad nikah.Para ulama mazhab Syafi‘i menegaskan: “Mahar tidak termasuk rukun nikah, berbeda dengan akad jual beli.”Karena dalam jual beli, penyebutan harga adalah rukun, sedangkan dalam nikah, tujuan utama adalah kenikmatan dan kebersamaan antara suami-istri, bukan semata pertukaran harta.
Oleh sebab itu, nikah tetap sah walau mahar tidak disebutkan — berbeda dengan jual beli yang tanpa harga menjadi batal. Dalil Al-Qur’anHal ini diperkuat oleh firman Allah Ta‘ala,لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً
“Tidak ada dosa atas kalian jika menceraikan wanita sebelum kalian menyentuh mereka (berhubungan badan) atau sebelum kalian menentukan mahar untuk mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 236)Ayat ini menunjukkan bahwa akad nikah tetap sah walaupun tanpa penyebutan mahar, dan mahar baru ditetapkan kemudian.
Inilah yang disebut dengan istilah “at-tafrīḍ”, yakni nikah tanpa penentuan mahar di awal. Contoh Kasus Nikah Tanpa MaharBentuknya seperti seorang perempuan baligh dan berakal, baik gadis maupun janda, berkata kepada walinya: “Nikahkan aku tanpa mahar,”
atau,
“Nikahkan aku dengan syarat aku tidak memiliki mahar.”Lalu wali menikahkannya dengan meniadakan mahar, atau diam saja, maka akadnya sah.
 Demikian pula bila seorang tuan menikahkan budaknya dengan berkata: “Aku nikahkan engkau dengannya tanpa mahar,”
atau ia diam, maka akadnya tetap sah, karena tuan adalah pihak yang berhak atas mahar budaknya. Konsekuensi Nikah Tanpa MaharJika akad telah sah, maka menurut pendapat al-jadīd al-aẓhar (pendapat kuat Imam asy-Syafi‘i), mahar tidak wajib hanya dengan akad semata.Sebab, mahar adalah hak wanita, sehingga jika ia rela tanpa mahar, maka mahar tidak ditetapkan.
Jika mahar seharusnya wajib karena akad, maka seharusnya ia terbagi dua ketika terjadi talak sebelum dukhūl — namun hal itu tidak terjadi.Menurut pendapat yang kuat, wanita memiliki hak untuk menuntut agar suaminya menetapkan mahar sebelum terjadi hubungan badan, karena nikah tanpa mahar hanya khusus untuk Nabi ﷺ.Oleh karena itu, seorang wanita harus berhati-hati dan memastikan kejelasan mahar sebelum menyerahkan dirinya. Tiga Cara Penetapan MaharPertama: Ditetapkan oleh HakimYakni, bila suami enggan menetapkan mahar, atau terjadi perselisihan antara keduanya mengenai jumlah yang pantas, maka hakim menetapkan mahar mitsil sesuai nilai yang berlaku di daerah itu, tunai, tanpa melebihi atau mengurangi kadar yang sepadan.Perbedaan kecil yang muncul karena ijtihad masih dapat ditoleransi.
Hakim harus mengetahui kadar mahar mitsil yang lazim.
Dan ketika hakim telah menetapkannya, putusan tersebut mengikat tanpa memerlukan persetujuan kedua pihak, karena keputusan hakim bersifat mengikat (ḥukm), bukan kesepakatan (riḍā). Kedua: Ditetapkan oleh Kedua MempelaiApabila suami-istri sepakat menetapkan mahar dan mengetahui kadar mahar mitsil, maka kesepakatan itu sah.
Namun bila mereka tidak tahu kadar mahar mitsil, lalu menentukan sendiri jumlah tertentu, maka menurut jumhur ulama pendapat yang lebih kuat menyatakan sah, baik jumlah itu setara, lebih sedikit, atau lebih banyak dari mahar mitsil.
Sama halnya apakah mahar itu berupa uang tunai, barang, atau manfaat tertentu, dan baik dibayar langsung atau ditunda, semuanya sah.Karena penetapan mahar setelah akad diposisikan sama seperti mahar yang disebutkan saat akad.
Oleh sebab itu, bila suami menceraikan istrinya sebelum dukhūl, maka mahar yang telah disepakati itu dibagi dua, sebagaimana mahar yang disebutkan dalam akad. Ketiga: Telah Terjadi Hubungan Badan (Dukhūl)Apabila suami telah berhubungan dengan istrinya sebelum mahar ditetapkan oleh hakim atau disepakati berdua, maka wajib diberikan mahar mitsil.
Karena berhubungan tanpa mahar hanyalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan karena kehormatan tubuh wanita adalah hak Allah, maka tidak boleh dianggap seperti “pemberian sukarela” (ibāhah).Dalam hal ini, yang menjadi acuan adalah mahar sepadan (mahr al-mitsl) pada waktu akad, bukan waktu dukhūl — menurut pendapat yang paling sahih sebagaimana disebutkan dalam al-Muḥarrar dan al-Minhāj.Namun sebagian ulama, seperti dalam ar-Raudhah, menilai bahwa yang wajib adalah mahar tertinggi antara waktu akad dan waktu dukhūl, karena nilai kehormatan meningkat seiring waktu. Berapa Besar Mahar?“Tidak ada batasan minimal dan maksimal untuk mahar. Dan dibolehkan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan mahar berupa suatu manfaat yang telah diketahui.”Tidak ada batasan mahar, baik dari sisi paling sedikit maupun paling banyak.كل مَا جَازَ أَن يكون ثمنا من عين أَو مَنْفَعَة جَازَ جعله صَدَاقاBahkan, setiap hal yang sah dijadikan sebagai harga—baik berupa benda (‘ain) maupun manfaat—maka sah pula dijadikan sebagai mahar.Abu Tsaur berpendapat bahwa mahar ditentukan sebesar lima dirham, sedangkan Abu Hanifah berpendapat sepuluh dirham. Penentuan jumlah ini, jika memang ada dalil sunnah yang menetapkannya maka diterima, tetapi jika tidak, maka itu hanyalah penetapan berdasarkan pendapat semata.Dalam sunnah yang mulia terdapat dalil yang menguatkan pendapat kami. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang hendak menikah, “Carilah (mahar), walaupun hanya cincin dari besi.” Hadits ini cukup panjang, dan di bagian akhirnya Nabi ﷺ bersabda, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Qur’an.”Hadits ini menjadi dalil bolehnya mahar yang sangat sedikit, sekaligus bolehnya menjadikan manfaat sebagai mahar.Dalam hadits ‘Amir bin Rabi‘ah disebutkan bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Apakah engkau rela terhadap dirimu dan hartamu hanya dengan sepasang sandal?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ pun membolehkannya.Aku katakan: dalam menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap pendapat Abu Hanifah perlu ada peninjauan, karena bisa jadi sepasang sandal tersebut saat itu senilai sepuluh dirham. Namun dalil yang lebih kuat untuk membantah pendapat tersebut adalah sabda Nabi ﷺ, “Tunaikanlah al-‘alā’iq.” Ketika ditanya, “Apakah yang dimaksud al-‘alā’iq?” beliau menjawab, “Apa saja yang disepakati dan diridhai oleh kedua keluarga.”Dengan qiyas dapat dikatakan bahwa mahar tidak memiliki batasan tertentu, karena mahar adalah pengganti atas manfaat seorang perempuan, sehingga tidak ditentukan jumlahnya, sebagaimana upah. Pembahasan ini berlaku pada perempuan yang sudah cakap bertindak (rushd), dan juga pada tuan dari budak perempuan. Adapun wali, apabila menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya (yang tidak cakap bertindak), maka ia tidak boleh menurunkan mahar di bawah mahar yang sepadan dengannya. Namun, disunnahkan agar mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, demi keluar dari perbedaan pendapat Abu Hanifah. Dan juga disunnahkan agar mahar tidak melebihi mahar istri-istri Rasulullah ﷺ, yaitu lima ratus dirham.Jika engkau bertanya: bukankah Ummu Habibah—istri Nabi ﷺ—mahar yang diberikan kepadanya adalah empat ratus dinar?Maka jawabannya: jumlah tersebut berasal dari perbuatan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu, yang memberikannya dari hartanya sendiri sebagai bentuk pemuliaan kepada pemimpin manusia seluruhnya, Nabi ﷺ. Adapun Nabi ﷺ sendiri yang melakukan akad dan membayarnya. Apa yang dilakukan An-Najasyi radhiyallahu ‘anhu berjalan sesuai dengan akhlak para raja, sebagai bentuk kebaikan dan kemurahan hati. Mahar Ketika Talak Sebelum Dukhul“Dan gugurlah setengah mahar dengan sebab talak sebelum terjadi hubungan suami istri.” Ketahuilah bahwa seorang perempuan memiliki hak atas mahar dengan akad nikah yang sah atau dengan penetapan mahar, karena akad nikah adalah akad yang menjadikan seseorang berhak atas suatu imbalan. Imbalan tersebut adalah hak untuk mengambil manfaat dari kemaluan (hubungan suami istri) beserta konsekuensinya. Karena itu, dengan akad nikah perempuan berhak atas imbalan (mahar), sebagaimana dalam akad jual beli. Hal ini berlaku apabila penetapan mahar itu sah. Jika penetapan mahar tidak sah, maka yang wajib adalah mahar mitsil (mahar yang sepadan).Kemudian, mahar menjadi tetap (pasti wajib sepenuhnya) melalui dua jalan.Pertama, dengan terjadinya hubungan badan, meskipun hubungan tersebut haram, seperti hubungan badan saat haid atau dalam keadaan ihram. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ﴾“Bagaimana mungkin kalian mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bercampur dengan sebagian yang lain?”Ayat ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan afḍā adalah jima‘ (hubungan badan), dan ketetapan ini sudah berlaku hanya dengan satu kali hubungan.Kedua, mahar menjadi tetap dengan wafatnya salah satu dari kedua pasangan, meskipun wafat itu terjadi sebelum hubungan badan. Sebab, dengan kematian, akad telah berakhir, sehingga posisinya seperti manfaat akad yang telah ditunaikan, sebagaimana akad sewa.Dikecualikan dari ketentuan kematian ini adalah apabila seorang tuan membunuh budak perempuannya yang telah ia nikahi. Dalam hal ini, menurut mazhab, mahar budak tersebut gugur.Apabila tidak terjadi hubungan badan dan tidak pula kematian, lalu terjadi perpisahan sebelum hubungan badan, maka diperinci sebagai berikut.Jika perpisahan itu berasal dari pihak perempuan, seperti ia membatalkan nikah karena cacat pada suami, atau ia menyusui istri suaminya yang lain yang masih kecil sehingga terjadi pengharaman, dan semisalnya, atau nikah dibatalkan karena cacat pada dirinya, maka seluruh mahar gugur.Namun, jika perpisahan itu bukan karena sebab dari pihak perempuan dan bukan pula karena sebab dari pihak suami, maka mahar dibagi dua. Contohnya: suami menjatuhkan talak dengan kehendaknya sendiri, atau suami menyerahkan hak talak kepada istri lalu istri menggunakannya, atau suami menggantungkan talak dengan suatu syarat seperti masuk rumah, lalu istri memenuhinya, atau suami melakukan khulu‘. Setiap perpisahan yang terjadi tanpa sebab dari pihak perempuan, maka mahar menjadi setengah.Dalil pembagian ini adalah firman Allah Ta‘ala:﴿وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka (wajib bagi kalian) setengah dari mahar yang telah kalian tentukan.”Dari sisi makna, hal ini dapat dijelaskan dengan dua alasan. Padahal, menurut qiyas murni, seharusnya seluruh mahar gugur, karena batalnya akad sebelum penyerahan objek akad menuntut gugurnya seluruh imbalan, sebagaimana dalam jual beli dan sewa.Alasan pertama, bahwa istri pada hakikatnya telah menyerahkan dirinya kepada suami sejak akad nikah, karena berbagai bentuk tindakan yang boleh dilakukan suami telah sah sejak akad, tanpa menunggu penyerahan fisik. Dari sisi ini, suami telah mengambil sebagian manfaat, sehingga sebagian imbalan menjadi tetap. Namun, karena tujuan utama belum terwujud, maka sebagian lainnya gugur.Alasan kedua, jika kita menetapkan gugurnya seluruh mahar, maka kita harus mewajibkan pemberian mut‘ah. Padahal, mempertahankan sebagian kewajiban yang telah ada lebih utama daripada menetapkan kewajiban baru yang sebelumnya tidak wajib.Setelah memahami hal ini, kapan suami berhak atas setengah mahar? Pendapat yang sahih menyatakan bahwa setengah mahar kembali kepada suami dengan terjadinya talak itu sendiri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:﴿فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ﴾“Yaitu, bagi kalian setengah dari apa yang telah kalian tetapkan.”Maknanya seperti firman Allah:﴿وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ﴾“Dan bagi kalian setengah dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.”Pendapat kedua menyatakan bahwa dengan perpisahan itu, suami memiliki hak memilih untuk mengambil kembali setengah mahar atau meninggalkannya, seperti hak syuf‘ah.Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami tidak berhak mengambilnya kecuali dengan putusan hakim.Menurut pendapat yang sahih, apabila terjadi penambahan nilai pada mahar setelah talak, maka suami berhak atas setengahnya, baik penambahan itu bersifat menyatu maupun terpisah. Jika terjadi pengurangan pada mahar, misalnya karena istri melakukan perbuatan yang merusaknya, lalu suami menuntut pengembalian setengah mahar dan istri menolak, maka ia wajib menanggung nilai kekurangannya. Jika seluruh mahar rusak dalam kondisi ini, maka istri wajib menanggungnya.Jika tidak terdapat unsur kesengajaan dari pihak istri, maka terdapat dua pendapat.Pendapat pertama—yang merupakan zahir nash dan dipegang oleh ulama Irak serta Ar-Ruyani—menyatakan bahwa istri tetap menanggung nilai kekurangan, dan jika rusak seluruhnya ia wajib menggantinya, karena mahar tersebut berada di tangannya sebagai barang yang diterima dalam transaksi tukar-menukar, sehingga serupa dengan barang jualan di tangan pembeli setelah pembatalan akad.Dalam Al-Umm terdapat nash yang memberi isyarat bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi. Pendapat ini dipegang oleh ulama Marwazah, karena mahar itu berada di tangan istri tanpa unsur kesengajaan, sehingga menyerupai barang titipan. Dalam Ar-Raudhah tidak ditegaskan pendapat yang sahih, sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Kabir, namun Ar-Rafi‘i dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir lebih menguatkan pendapat pertama.Berdasarkan pendapat pertama yang dianggap sahih, apabila suami berkata, “Kerusakan terjadi setelah talak, maka engkau wajib menanggungnya,” dan istri berkata, “Kerusakan itu terjadi sebelum talak, maka tidak ada tanggungan atasku,” maka ada dua pendapat tentang siapa yang dibenarkan. Pendapat yang lebih sahih adalah membenarkan perkataan istri, karena asalnya adalah bebasnya tanggungan.Apabila seluruh mahar kembali kepada suami karena pembatalan akad, lalu mahar itu rusak di tangan istri, maka istri wajib menanggungnya, sebagaimana dalam jual beli yang batal karena pembatalan atau cacat.Adapun maksud ucapan “gugur setengah mahar” adalah gugur dalam bentuk utang. Jika mahar itu berupa utang dalam tanggungan suami, maka setengahnya gugur hanya dengan terjadinya talak, menurut pendapat yang sahih. Menurut pendapat kedua, jika suami telah menyerahkan mahar yang masih menjadi utang itu dan barangnya masih ada, maka apakah istri boleh mengembalikan setengahnya dari harta lain—karena akad tidak terkait dengan benda tertentu—atau justru hak suami telah melekat pada benda tersebut karena telah ditentukan dengan penyerahan, sehingga ia menyerupai mahar yang sejak awal telah ditentukan bendanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah pendapat kedua.Dan Allah Maha Mengetahui. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar  —– Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Yogyakarta, 22 Rajab 1447 H, 11 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbesar mahar nikah mahar nikah mas kawin matan taqrib matan taqrib kitab nikah

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 1): Dialog Mukmin dan Kafir Dalam Merespon Nikmat Dunia

Daftar Isi ToggleGambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirTakjub dengan dunia dan ketertipuanAllah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirAllah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.Takjub dengan dunia dan ketertipuanAkan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.Allah ﷻ berfirman,وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 1): Dialog Mukmin dan Kafir Dalam Merespon Nikmat Dunia

Daftar Isi ToggleGambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirTakjub dengan dunia dan ketertipuanAllah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirAllah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.Takjub dengan dunia dan ketertipuanAkan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.Allah ﷻ berfirman,وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34
Daftar Isi ToggleGambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirTakjub dengan dunia dan ketertipuanAllah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirAllah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.Takjub dengan dunia dan ketertipuanAkan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.Allah ﷻ berfirman,وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34


Daftar Isi ToggleGambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirTakjub dengan dunia dan ketertipuanAllah ﷻ mendidik hamba-Nya dengan berbagai cara dalam Al-Quran, salah satunya dengan permisalan, kisah, serta dialog penuh hikmah. Semua metode ini memiliki efek yang berbeda serta menjadikan suasana yang tidak monoton. Sehingga para pembaca Al-Quran menjadi terus bersemangat menggali hikmah di dalamnya. Salah satu potongan dialog yang dapat menjadi pelajaran ini terkandung dalam surah Al-Kahfi yang setiap pekan dianjurkan untuk dibaca. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)Di dalam QS. Al-Kahf: 32–44 kita akan mendapatkan beberapa mutiara hikmah yang bertebaran. Rangkaian ayat ini berisi tentang dialog dua orang laki-laki, satunya kafir dan lainnya mukmin. Lelaki kafir ini memiliki harta melimpah berupa dua kebun anggur beserta pohon-pohon kurma. Ia merasa bahwa seluruh harta kekayaannya datang atas sebabnya, bukan karena pemberian Allah ﷻ. Lalu terjadi dialog dengan seorang temannya lelaki mukmin yang membahas nikmat dunia yang telah Allah ﷻ berikan kepada lelaki kafir ini.Gambaran kenikmatan pemilik kebun kafir dan cita-cita orang fajirAllah ﷻ membuka kisah ini dengan perintah untuk mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemilik kebun anggur. Dalam firman-Nya, Allah ﷻ menggambarkan terlebih dahulu betapa kaya dan nikmatnya harta kekayaan lelaki kafir tersebut. Allah ﷻ berfirman,وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. Al-Kahf: 32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 33)Gambaran tata letak kebunnya menunjukkan keluasan lahan yang dimilikinya serta ragam produk kebunnya. Kebun itu disifatkan terus membuahkan hasil yang melimpah. Di tengah-tengah kebun itu dialiri sungai yang mengairi perkebunannya. Betapa gambaran nikmat tiada tara bagi seorang pemilik kebun, yang menunjukkan kemakmurannya.Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan bahwa tidak hanya mempunyai kekayaan yang besar, tetapi juga pengikut yang lebih kuat. Allah ﷻ sebutkan perkataan sombong orang kafir itu kepada temannya yang mukmin dalam firman-Nya,وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahf: 34)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا” adalah banyaknya pembantu dan anak-anak. Beliau menukilkan perkataan Qatadah rahimahullah yang menjelaskan maksud ucapan ini,تِلْكَ -وَاللَّهِ-أُمْنِيَةُ الْفَاجِرِ: كَثْرَةُ الْمَالِ وَعِزَّةُ النَّفَرِ“Hal itu, demi Allah, adalah hal yang diharap-harapkan oleh orang fajir, yakni; banyaknya harta dan pengikut yang kuat.” [1]Terambil pelajaran dari situ bahwasanya bercita-cita dunia semata adalah ciri-ciri dari orang fajir. Jika ia terus berharap memperbanyak kapital yang dimilikinya sendiri, serta mengidamkan followers yang hebat-hebat, maka ini adalah orientasi orang yang lalai. Sungguh, itu semua nantinya tidak akan membantunya sama sekali, sebagaimana yang nantinya akan disebutkan di ayat selanjutnya.Takjub dengan dunia dan ketertipuanAkan tetapi, pemilik kebun kafir ini menganggap bahwa semua nikmat ini karena dirinya, bukan pemberian Allah ﷻ. Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan tindak-tanduk orang kafir itu,وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا“Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa maksud “zalim” di situ adalah lelaki itu memasuki kebunnya dalam keadaan sombong dan membangkang kepada Allah ﷻ. Ia tak mengakui bahwa nikmat di dunia ini fana dan tak kekal. Ia pun mengingkari bahwa apa yang dimilikinya semua akan dihisab di hari kebangkitan. Hal ini diucapkannya pula dalam ucapan yang penuh kepongahan.Orang itu terperdaya dengan nikmat yang Allah ﷻ bentangkan untuknya. Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan ia terperdaya menurut Ibnu Katsir, yakni,وَذَلِكَ لِقِلَّةِ عَقْلِهِ، وَضَعْفِ يَقِينِهِ بِاللَّهِ، وَإِعْجَابِهِ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَكُفْرِهِ بِالْآخِرَةِ“Hal ini dikarenakan (1) kurangnya akal, (2) lemahnya keyakinan terhadap Allah, (3) takjub dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, (4) mengingkari hari kiamat.”Maka, kita dapat mengambil pelajaran bahwa agar tidak terperdaya dunia, kita harus menguatkan empat hal yang menjadi kebalikan dari sebab lelaki kafir itu tertipu dengan hartanya. Seorang mukmin hendaknya:1) Mempertajam akalnya dengan ilmu;2) Menguatkan keyakinan kepada Allah ﷻ dengan mempelajari dan mengenalnya;3) Zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama;4) Meyakini sepenuhnya bahwa hari kiamat akan tegak serta hisabnya akan berat.Allah ﷻ berfirman,وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahf: 36)Lelaki kafir itu mengira bahwa hari kiamat tidak benar-benar terjadi. Ia merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Ia mengira bahwa kekayaannya adalah anugerah dan kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepadanya di dunia. Bahkan ia mengira bahwa Allah ﷻ telah memberikan kemuliaan bagi dirinya karena telah diberikan porsi kenikmatan di dunia.Keyakinan bahwa ia justru mendapatkan kemuliaan dari Allah ﷻ dibangun di atas pengandaian jika Allah ﷻ benar-benar yang memberikan nikmat, serta keyakinan seandainya hari akhir benar-benar ada. Ungkapan ini menunjukkan penentangan keras dan penekanan terhadap hal yang lebih fundamental lagi bahwa dirinya tak percaya sama sekali dengan konsep hari akhirat dan Allah ﷻ sebagai pemberi rezeki. Andai pun hal ini benar, ia pun berkeyakinan bahwa ia akan mendapatkan kedudukan yang baik atau yang lebih baik karena Allah ﷻ telah memuliakannya.Ibnu Katsir menerangkan kalimat ini dengan lebih detail,وَلَئِنْ كَانَ مَعَادٌ وَرَجْعَةٌ وَمَرَدٌّ إِلَى اللَّهِ، ليكونَنّ لِي هُنَاكَ أَحْسَنَ مِنْ هَذَا لِأَنِّي مُحظى عِنْدَ رَبِّي، وَلَوْلَا كَرَامَتِي عَلَيْهِ مَا أَعْطَانِي هَذَا“Seandainya benar ada hari kebangkitan dan kembali kepada Allah, niscaya nanti di sana lebih baik bagiku daripada yang ini, karena sesungguhnya aku adalah orang yang dimuliakan oleh Tuhanku. Dan kalau bukan karena kemuliaanku di sisi-Nya, niscaya Dia tidak akan memberikan semua ini kepadaku.”Sebagaimana ucapan ini diucapkan pula oleh orang-orang yang tertipu dengan dunia seperti dalam potongan beberapa ayat berikut,وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.” (QS. Fussilat: 50)أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لأوتَيَنَّ مَالا وَوَلَدًا“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77)Maka, sikap hal ini bukan lagi hal yang aneh untuk kita ketahui. Memanglah kelaziman orang kafir, zalim, dan fajir tidak akan pernah sadar bahwa dirinya dalam kesalahan. Justru malah mengira bahwa dirinya adalah orang yang mulia karena nikmat Allah ﷻ yang dibuka kepadanya di dunia yang fana ini.Bahkan mereka mengira bahwasanya nikmat yang dibuka di dunia ini adalah representasi atas kedudukannya di akhirat. Inilah yang disebut dengan istidraj, ketertipuan yang membuat seseorang terus tersungkur ke dalam jurang kesesatan. Allah ﷻ telah membantah persangkaan ini dalam QS. Al-Fajr: 15-17,فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي – كَلَّا“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak demikian …” (QS. Al-Fajr: 15-17)Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga menjelaskan orang yang tertipu dengan nikmat Allah ﷻ dengan permisalan pemilik kebun juga. Allah ﷻ sebutkan hal ini dalam QS. Al-Qalam: 17–33. Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari ketertipuan atas nikmat Allah ﷻ yang banyak ini.Kisah ini juga mengandung pelajaran bagaimana seorang muslim berargumentasi dengan orang kafir dalam masalah ketuhanan. Tema teologi dalam realita modern menjadi hal yang sangat lumrah diperbincangkan anak muda. Oleh karena itu, penting sekali bagi kaum muslimin untuk menyimak metode dialog yang tersirat dalam ayat-ayat Allah ﷻ berikut ini di bagian tulisan selanjutnya.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://tafsir.app/ibn-katheer/18/34

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleAntara niat dan perbuatanKeadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanKeadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatPerbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatMasih dalam pembahasan tentang niat, pembahasan kali ini tidak kalah pentingnya dengan pembahasan-pembahasan niat sebelumnya. Mengingat niat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sebuah perbuatan maupun amalan seorang hamba.Baca artikel sebelumnya: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)Antara niat dan perbuatanDalam kaitan antara niat dan perbuatan, terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatan;Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niat.Masing-masing dari dua keadaan ini memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Penjelasannya sebagai berikut:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanMaksudnya adalah seseorang hanya berniat dalam hati, namun belum sampai melakukan perbuatan atau mengucapkannya dengan lisan. Dengan demikian, niat tersebut tidak terwujud dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada konsekuensi hukum duniawi yang berlaku.Contohnya:– Jika ada seseorang yang berniat di dalam hati untuk menceraikan istrinya, namun tidak sampai mengucapkan lafaz talak atau yang semisalnya; maka dalam hal ini, tidak jatuh talak. Karena talak di sini hanya sebatas niat saja, dan belum sampai pada ucapan.– Jika ada seseorang yang berniat untuk mewakafkan sesuatu, namun tidak ada darinya perbuatan dan ucapan yang membuktikan hal tersebut. Dalam hal ini, wakaf pun tidak berlaku karena hanya sebatas niat saja alias tidak sah dan belum sah sampai seseorang merealisasikannya dengan perbuatan maupun ucapan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتي عَمَّا حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ بهِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memaafkan untuk umatku, tentang apa yang terlintas dalam hati mereka, selama belum diwujudkan dalam bentuk perbuatan, atau diucapkan dengan lisan.” (HR. Bukhari)Sehingga yang hanya sebatas “terlintas” dan belum dilakukan atau diucapkan, tidak berlaku konsekuensi hukum duniawi. Adapun konsekuensi hukum akhirat berupa pahala atau dosa, adakalanya niat berpengaruh padanya, kendati tidak ada perbuatan ataupun ucapan menyertai niat tersebut. Terkait dengan ini, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui tentang apa yang terlintas di hati hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Āli ‘Imrān: 29)Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatKeadaan kedua ini adalah kebalikan dari keadaan pertama, yaitu adanya perbuatan yang dilakukan tanpa disertai niat, namun tetap menimbulkan konsekuensi hukum.Keadaan kedua ini terbagi menjadi dua pembahasan:Perbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatJenis perbuatan ini terbagi menjadi beberapa bentuk:– Pertama: Kewajiban-kewajiban yang dengan mengerjakannya sudah cukup untuk mewujudkan kemasalahatannya. Seperti, mengembalikan barang yang dicuri, mengembalikan utang, dan lainnya. Dalam hal ini, suatu hukum dapat ditetapkan hanya dengan perbuatannya saja dan tidak butuh niat.– Kedua: Perbuatan-perbuatan yang jika disyaratkan adanya niat, justru akan mengantarkan kepada daur (sirkularitas) atau perputaran yang tidak berujung. Contohnya seperti niat itu sendiri. Karena jika niat harus diniatkan lagi, maka akan terjadi perputaran tanpa akhir.– Ketiga: Perbuatan-perbuatan nyata dan jelas yang hanya memiliki satu makna saja, baik hal itu itu berupa perbuatan atau ucapan. Dalam hal ini pun, konsekuensi hukum berlaku padanya tanpa melihat niat pelakunya.Contohnya:– Seseorang yang menjual sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya jual barang ini kepadamu.”– Atau dia mewasiatkan sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Dalam hal ini, jual beli tersebut sah dan wasiatnya pun berlaku, kendati orang tersebut tidak berniat untuk menjual atau berwasiat. Sehingga tidak perlu akan adanya niat dalam hal ini. Ketika dia sudah mengatakan atau sudah berbuat, maka perbuatannya atau ucapannya akan mengeluarkan konsekuensi hukum berupa sahnya jual beli dan berjalannya wasiat tersebut.Sama halnya jika ada seseorang yang mengatakan kepada temannya dengan lafaz yang jelas, “Wahai pezina!” Yang padahal temannya itu tidak berzina sama sekali, maka berlaku padanya hukum qadzaf (menuduh seseorang berzina) berupa delapan puluh kali cambukan, tanpa mempertimbangkan niat penuduh.– Keempat: Perbuatan atau amal ketaatan yang tidak serupa dan samar dengan amal ketaatan yang lainnya. Artinya, amal yang asalnya ibadah murni, seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir mengingat Allah Ta’ala. Jika dalam mengerjakannya tidak ada riya, maka cukup dikatakan sebagai amal ketaatan dengan mengerjakannya saja.– Kelima: Meninggalkan kemaksiatan, baik berupa hal-hal yang haram maupun makruh. Seperti meninggalkan zina dan meninggalkan riya. Sejatinya, cukup dikatakan meninggalkan perbuatan yang haram dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan itu dan tidak perlu akan adanya niat.Namun, berbeda halnya jika berbicara tentang pahala. Jika ingin memperoleh pahala dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan, maka butuh adanya niat. Tanpa adanya niat, dosa-dosa akan gugur dengan meninggalkannya, namun tidak mendapatkan pahala.– Keenam: Perbuatan-perbuatan yang mubah. Sesungguhnya tidak diperlukan niat pada perbuatan-perbuatan yang mubah. Seperti halnya makan, minum, dan lain sebagainya. Namun, niat dapat mengubahnya menjadi bernilai.Baca juga: Faedah Penting Menata NiatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatHal ini mencakup segala perbuatan yang tidak tegas maksud dan tujuannya. Artinya, perbuatan tersebut memiliki beberapa kemungkinan makna, sehingga mengandung beberapa kemungkinan maksud.Perbuatan seperti ini harus ditangguhkan dan tidak boleh langsung dihukumi sampai benar-benar jelas niat dari pelaku.Contohnya:Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Pergilah kamu kepada keluargamu.” Ucapan ini tidak serta-merta dianggap sebagai talak, karena mengandung beberapa kemungkinan makna:Bisa jadi tujuannya adalah benar-benar talak;Suami hanya memerintahkan istrinya saja untuk pergi berkunjung kepada keluarganya;Bisa juga suami memerintahkan istrinya untuk menjauh darinya sampai hilang amarah dari suaminya.Oleh karena itu, hukum perbuatan ini ditangguhkan hingga niatnya jelas.Untuk memudahkan dalam memahami pembahasan di atas, berikut ringkasannya dalam bentuk tabel:KeadaanJenisPenjelasan singkatContohKonsekuensi hukum duniawi1. Niat tanpa perbuatan—Niat hanya dalam hati, belum diwujudkan dengan ucapan atau perbuatanBerniat menceraikan istri, tetapi tidak mengucapkan talakTidak ada konsekuensi hukum (tidak jatuh talak)Berniat wakaf, tetapi tidak ada ikrar atau perbuatan.Wakaf tidak sah2.Perbuatan tanpa niatA. Berlaku walau tanpa niat1. Kewajiban yang maslahatnya tercapai dengan perbuatan.Mengembalikan barang curian, membayar utang.Hukum tetap berlaku walau tanpa niat.2. Perbuatan yang jika disyaratkan niat akan menimbulkan daur (pengulangan yang tidak berujung)Mensyaratkan niat dalam berniat.Tidak perlu berniat untuk niat.3. Perbuatan/lafaz yang tegas dan bermakna tunggal.“Saya jual barang ini kepadamu.”Jual beli sah walau tanpa niat, karena tidak ada kemungkinan lain.“Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Wasiat berlaku walau tanpa niat.Menuduh zina dengan lafaz jelas.Berlaku hukum qadzaf walau tanpa niat.4. Amal ibadah murni dan tidak samarMembaca Al-Qur’an, zikir (tanpa riya); jika ada riya, maka perlu adanya niat.Termasuk amal ketaatan walau tanpa niat.5. Meninggalkan kemaksiatanTidak berzina, tidak riya.Gugur dosa.Jika disertai niat:Mendapatkan pahala6. Perbuatan mubahMakan, minum, tidurSah tanpa niatJika disertai niatBernilai ibadahB. Tidak berlaku kecuali dengan niatPerbuatan atau ucapan yang bermakna ganda“Pergilah kamu kepada keluargamu”Ditangguhkan sampai jelas niat dari yang mengucapkan (suami); jika maksudnya talak, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2  LANJUT KE BAGIAN 4***Depok, 3 Rajab 1447/ 23 Desember 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:– Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary (dengan sedikit perubahan).– dan beberapa referensi lainnya.

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleAntara niat dan perbuatanKeadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanKeadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatPerbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatMasih dalam pembahasan tentang niat, pembahasan kali ini tidak kalah pentingnya dengan pembahasan-pembahasan niat sebelumnya. Mengingat niat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sebuah perbuatan maupun amalan seorang hamba.Baca artikel sebelumnya: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)Antara niat dan perbuatanDalam kaitan antara niat dan perbuatan, terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatan;Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niat.Masing-masing dari dua keadaan ini memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Penjelasannya sebagai berikut:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanMaksudnya adalah seseorang hanya berniat dalam hati, namun belum sampai melakukan perbuatan atau mengucapkannya dengan lisan. Dengan demikian, niat tersebut tidak terwujud dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada konsekuensi hukum duniawi yang berlaku.Contohnya:– Jika ada seseorang yang berniat di dalam hati untuk menceraikan istrinya, namun tidak sampai mengucapkan lafaz talak atau yang semisalnya; maka dalam hal ini, tidak jatuh talak. Karena talak di sini hanya sebatas niat saja, dan belum sampai pada ucapan.– Jika ada seseorang yang berniat untuk mewakafkan sesuatu, namun tidak ada darinya perbuatan dan ucapan yang membuktikan hal tersebut. Dalam hal ini, wakaf pun tidak berlaku karena hanya sebatas niat saja alias tidak sah dan belum sah sampai seseorang merealisasikannya dengan perbuatan maupun ucapan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتي عَمَّا حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ بهِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memaafkan untuk umatku, tentang apa yang terlintas dalam hati mereka, selama belum diwujudkan dalam bentuk perbuatan, atau diucapkan dengan lisan.” (HR. Bukhari)Sehingga yang hanya sebatas “terlintas” dan belum dilakukan atau diucapkan, tidak berlaku konsekuensi hukum duniawi. Adapun konsekuensi hukum akhirat berupa pahala atau dosa, adakalanya niat berpengaruh padanya, kendati tidak ada perbuatan ataupun ucapan menyertai niat tersebut. Terkait dengan ini, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui tentang apa yang terlintas di hati hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Āli ‘Imrān: 29)Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatKeadaan kedua ini adalah kebalikan dari keadaan pertama, yaitu adanya perbuatan yang dilakukan tanpa disertai niat, namun tetap menimbulkan konsekuensi hukum.Keadaan kedua ini terbagi menjadi dua pembahasan:Perbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatJenis perbuatan ini terbagi menjadi beberapa bentuk:– Pertama: Kewajiban-kewajiban yang dengan mengerjakannya sudah cukup untuk mewujudkan kemasalahatannya. Seperti, mengembalikan barang yang dicuri, mengembalikan utang, dan lainnya. Dalam hal ini, suatu hukum dapat ditetapkan hanya dengan perbuatannya saja dan tidak butuh niat.– Kedua: Perbuatan-perbuatan yang jika disyaratkan adanya niat, justru akan mengantarkan kepada daur (sirkularitas) atau perputaran yang tidak berujung. Contohnya seperti niat itu sendiri. Karena jika niat harus diniatkan lagi, maka akan terjadi perputaran tanpa akhir.– Ketiga: Perbuatan-perbuatan nyata dan jelas yang hanya memiliki satu makna saja, baik hal itu itu berupa perbuatan atau ucapan. Dalam hal ini pun, konsekuensi hukum berlaku padanya tanpa melihat niat pelakunya.Contohnya:– Seseorang yang menjual sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya jual barang ini kepadamu.”– Atau dia mewasiatkan sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Dalam hal ini, jual beli tersebut sah dan wasiatnya pun berlaku, kendati orang tersebut tidak berniat untuk menjual atau berwasiat. Sehingga tidak perlu akan adanya niat dalam hal ini. Ketika dia sudah mengatakan atau sudah berbuat, maka perbuatannya atau ucapannya akan mengeluarkan konsekuensi hukum berupa sahnya jual beli dan berjalannya wasiat tersebut.Sama halnya jika ada seseorang yang mengatakan kepada temannya dengan lafaz yang jelas, “Wahai pezina!” Yang padahal temannya itu tidak berzina sama sekali, maka berlaku padanya hukum qadzaf (menuduh seseorang berzina) berupa delapan puluh kali cambukan, tanpa mempertimbangkan niat penuduh.– Keempat: Perbuatan atau amal ketaatan yang tidak serupa dan samar dengan amal ketaatan yang lainnya. Artinya, amal yang asalnya ibadah murni, seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir mengingat Allah Ta’ala. Jika dalam mengerjakannya tidak ada riya, maka cukup dikatakan sebagai amal ketaatan dengan mengerjakannya saja.– Kelima: Meninggalkan kemaksiatan, baik berupa hal-hal yang haram maupun makruh. Seperti meninggalkan zina dan meninggalkan riya. Sejatinya, cukup dikatakan meninggalkan perbuatan yang haram dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan itu dan tidak perlu akan adanya niat.Namun, berbeda halnya jika berbicara tentang pahala. Jika ingin memperoleh pahala dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan, maka butuh adanya niat. Tanpa adanya niat, dosa-dosa akan gugur dengan meninggalkannya, namun tidak mendapatkan pahala.– Keenam: Perbuatan-perbuatan yang mubah. Sesungguhnya tidak diperlukan niat pada perbuatan-perbuatan yang mubah. Seperti halnya makan, minum, dan lain sebagainya. Namun, niat dapat mengubahnya menjadi bernilai.Baca juga: Faedah Penting Menata NiatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatHal ini mencakup segala perbuatan yang tidak tegas maksud dan tujuannya. Artinya, perbuatan tersebut memiliki beberapa kemungkinan makna, sehingga mengandung beberapa kemungkinan maksud.Perbuatan seperti ini harus ditangguhkan dan tidak boleh langsung dihukumi sampai benar-benar jelas niat dari pelaku.Contohnya:Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Pergilah kamu kepada keluargamu.” Ucapan ini tidak serta-merta dianggap sebagai talak, karena mengandung beberapa kemungkinan makna:Bisa jadi tujuannya adalah benar-benar talak;Suami hanya memerintahkan istrinya saja untuk pergi berkunjung kepada keluarganya;Bisa juga suami memerintahkan istrinya untuk menjauh darinya sampai hilang amarah dari suaminya.Oleh karena itu, hukum perbuatan ini ditangguhkan hingga niatnya jelas.Untuk memudahkan dalam memahami pembahasan di atas, berikut ringkasannya dalam bentuk tabel:KeadaanJenisPenjelasan singkatContohKonsekuensi hukum duniawi1. Niat tanpa perbuatan—Niat hanya dalam hati, belum diwujudkan dengan ucapan atau perbuatanBerniat menceraikan istri, tetapi tidak mengucapkan talakTidak ada konsekuensi hukum (tidak jatuh talak)Berniat wakaf, tetapi tidak ada ikrar atau perbuatan.Wakaf tidak sah2.Perbuatan tanpa niatA. Berlaku walau tanpa niat1. Kewajiban yang maslahatnya tercapai dengan perbuatan.Mengembalikan barang curian, membayar utang.Hukum tetap berlaku walau tanpa niat.2. Perbuatan yang jika disyaratkan niat akan menimbulkan daur (pengulangan yang tidak berujung)Mensyaratkan niat dalam berniat.Tidak perlu berniat untuk niat.3. Perbuatan/lafaz yang tegas dan bermakna tunggal.“Saya jual barang ini kepadamu.”Jual beli sah walau tanpa niat, karena tidak ada kemungkinan lain.“Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Wasiat berlaku walau tanpa niat.Menuduh zina dengan lafaz jelas.Berlaku hukum qadzaf walau tanpa niat.4. Amal ibadah murni dan tidak samarMembaca Al-Qur’an, zikir (tanpa riya); jika ada riya, maka perlu adanya niat.Termasuk amal ketaatan walau tanpa niat.5. Meninggalkan kemaksiatanTidak berzina, tidak riya.Gugur dosa.Jika disertai niat:Mendapatkan pahala6. Perbuatan mubahMakan, minum, tidurSah tanpa niatJika disertai niatBernilai ibadahB. Tidak berlaku kecuali dengan niatPerbuatan atau ucapan yang bermakna ganda“Pergilah kamu kepada keluargamu”Ditangguhkan sampai jelas niat dari yang mengucapkan (suami); jika maksudnya talak, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2  LANJUT KE BAGIAN 4***Depok, 3 Rajab 1447/ 23 Desember 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:– Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary (dengan sedikit perubahan).– dan beberapa referensi lainnya.
Daftar Isi ToggleAntara niat dan perbuatanKeadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanKeadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatPerbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatMasih dalam pembahasan tentang niat, pembahasan kali ini tidak kalah pentingnya dengan pembahasan-pembahasan niat sebelumnya. Mengingat niat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sebuah perbuatan maupun amalan seorang hamba.Baca artikel sebelumnya: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)Antara niat dan perbuatanDalam kaitan antara niat dan perbuatan, terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatan;Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niat.Masing-masing dari dua keadaan ini memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Penjelasannya sebagai berikut:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanMaksudnya adalah seseorang hanya berniat dalam hati, namun belum sampai melakukan perbuatan atau mengucapkannya dengan lisan. Dengan demikian, niat tersebut tidak terwujud dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada konsekuensi hukum duniawi yang berlaku.Contohnya:– Jika ada seseorang yang berniat di dalam hati untuk menceraikan istrinya, namun tidak sampai mengucapkan lafaz talak atau yang semisalnya; maka dalam hal ini, tidak jatuh talak. Karena talak di sini hanya sebatas niat saja, dan belum sampai pada ucapan.– Jika ada seseorang yang berniat untuk mewakafkan sesuatu, namun tidak ada darinya perbuatan dan ucapan yang membuktikan hal tersebut. Dalam hal ini, wakaf pun tidak berlaku karena hanya sebatas niat saja alias tidak sah dan belum sah sampai seseorang merealisasikannya dengan perbuatan maupun ucapan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتي عَمَّا حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ بهِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memaafkan untuk umatku, tentang apa yang terlintas dalam hati mereka, selama belum diwujudkan dalam bentuk perbuatan, atau diucapkan dengan lisan.” (HR. Bukhari)Sehingga yang hanya sebatas “terlintas” dan belum dilakukan atau diucapkan, tidak berlaku konsekuensi hukum duniawi. Adapun konsekuensi hukum akhirat berupa pahala atau dosa, adakalanya niat berpengaruh padanya, kendati tidak ada perbuatan ataupun ucapan menyertai niat tersebut. Terkait dengan ini, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui tentang apa yang terlintas di hati hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Āli ‘Imrān: 29)Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatKeadaan kedua ini adalah kebalikan dari keadaan pertama, yaitu adanya perbuatan yang dilakukan tanpa disertai niat, namun tetap menimbulkan konsekuensi hukum.Keadaan kedua ini terbagi menjadi dua pembahasan:Perbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatJenis perbuatan ini terbagi menjadi beberapa bentuk:– Pertama: Kewajiban-kewajiban yang dengan mengerjakannya sudah cukup untuk mewujudkan kemasalahatannya. Seperti, mengembalikan barang yang dicuri, mengembalikan utang, dan lainnya. Dalam hal ini, suatu hukum dapat ditetapkan hanya dengan perbuatannya saja dan tidak butuh niat.– Kedua: Perbuatan-perbuatan yang jika disyaratkan adanya niat, justru akan mengantarkan kepada daur (sirkularitas) atau perputaran yang tidak berujung. Contohnya seperti niat itu sendiri. Karena jika niat harus diniatkan lagi, maka akan terjadi perputaran tanpa akhir.– Ketiga: Perbuatan-perbuatan nyata dan jelas yang hanya memiliki satu makna saja, baik hal itu itu berupa perbuatan atau ucapan. Dalam hal ini pun, konsekuensi hukum berlaku padanya tanpa melihat niat pelakunya.Contohnya:– Seseorang yang menjual sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya jual barang ini kepadamu.”– Atau dia mewasiatkan sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Dalam hal ini, jual beli tersebut sah dan wasiatnya pun berlaku, kendati orang tersebut tidak berniat untuk menjual atau berwasiat. Sehingga tidak perlu akan adanya niat dalam hal ini. Ketika dia sudah mengatakan atau sudah berbuat, maka perbuatannya atau ucapannya akan mengeluarkan konsekuensi hukum berupa sahnya jual beli dan berjalannya wasiat tersebut.Sama halnya jika ada seseorang yang mengatakan kepada temannya dengan lafaz yang jelas, “Wahai pezina!” Yang padahal temannya itu tidak berzina sama sekali, maka berlaku padanya hukum qadzaf (menuduh seseorang berzina) berupa delapan puluh kali cambukan, tanpa mempertimbangkan niat penuduh.– Keempat: Perbuatan atau amal ketaatan yang tidak serupa dan samar dengan amal ketaatan yang lainnya. Artinya, amal yang asalnya ibadah murni, seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir mengingat Allah Ta’ala. Jika dalam mengerjakannya tidak ada riya, maka cukup dikatakan sebagai amal ketaatan dengan mengerjakannya saja.– Kelima: Meninggalkan kemaksiatan, baik berupa hal-hal yang haram maupun makruh. Seperti meninggalkan zina dan meninggalkan riya. Sejatinya, cukup dikatakan meninggalkan perbuatan yang haram dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan itu dan tidak perlu akan adanya niat.Namun, berbeda halnya jika berbicara tentang pahala. Jika ingin memperoleh pahala dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan, maka butuh adanya niat. Tanpa adanya niat, dosa-dosa akan gugur dengan meninggalkannya, namun tidak mendapatkan pahala.– Keenam: Perbuatan-perbuatan yang mubah. Sesungguhnya tidak diperlukan niat pada perbuatan-perbuatan yang mubah. Seperti halnya makan, minum, dan lain sebagainya. Namun, niat dapat mengubahnya menjadi bernilai.Baca juga: Faedah Penting Menata NiatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatHal ini mencakup segala perbuatan yang tidak tegas maksud dan tujuannya. Artinya, perbuatan tersebut memiliki beberapa kemungkinan makna, sehingga mengandung beberapa kemungkinan maksud.Perbuatan seperti ini harus ditangguhkan dan tidak boleh langsung dihukumi sampai benar-benar jelas niat dari pelaku.Contohnya:Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Pergilah kamu kepada keluargamu.” Ucapan ini tidak serta-merta dianggap sebagai talak, karena mengandung beberapa kemungkinan makna:Bisa jadi tujuannya adalah benar-benar talak;Suami hanya memerintahkan istrinya saja untuk pergi berkunjung kepada keluarganya;Bisa juga suami memerintahkan istrinya untuk menjauh darinya sampai hilang amarah dari suaminya.Oleh karena itu, hukum perbuatan ini ditangguhkan hingga niatnya jelas.Untuk memudahkan dalam memahami pembahasan di atas, berikut ringkasannya dalam bentuk tabel:KeadaanJenisPenjelasan singkatContohKonsekuensi hukum duniawi1. Niat tanpa perbuatan—Niat hanya dalam hati, belum diwujudkan dengan ucapan atau perbuatanBerniat menceraikan istri, tetapi tidak mengucapkan talakTidak ada konsekuensi hukum (tidak jatuh talak)Berniat wakaf, tetapi tidak ada ikrar atau perbuatan.Wakaf tidak sah2.Perbuatan tanpa niatA. Berlaku walau tanpa niat1. Kewajiban yang maslahatnya tercapai dengan perbuatan.Mengembalikan barang curian, membayar utang.Hukum tetap berlaku walau tanpa niat.2. Perbuatan yang jika disyaratkan niat akan menimbulkan daur (pengulangan yang tidak berujung)Mensyaratkan niat dalam berniat.Tidak perlu berniat untuk niat.3. Perbuatan/lafaz yang tegas dan bermakna tunggal.“Saya jual barang ini kepadamu.”Jual beli sah walau tanpa niat, karena tidak ada kemungkinan lain.“Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Wasiat berlaku walau tanpa niat.Menuduh zina dengan lafaz jelas.Berlaku hukum qadzaf walau tanpa niat.4. Amal ibadah murni dan tidak samarMembaca Al-Qur’an, zikir (tanpa riya); jika ada riya, maka perlu adanya niat.Termasuk amal ketaatan walau tanpa niat.5. Meninggalkan kemaksiatanTidak berzina, tidak riya.Gugur dosa.Jika disertai niat:Mendapatkan pahala6. Perbuatan mubahMakan, minum, tidurSah tanpa niatJika disertai niatBernilai ibadahB. Tidak berlaku kecuali dengan niatPerbuatan atau ucapan yang bermakna ganda“Pergilah kamu kepada keluargamu”Ditangguhkan sampai jelas niat dari yang mengucapkan (suami); jika maksudnya talak, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2  LANJUT KE BAGIAN 4***Depok, 3 Rajab 1447/ 23 Desember 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:– Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary (dengan sedikit perubahan).– dan beberapa referensi lainnya.


Daftar Isi ToggleAntara niat dan perbuatanKeadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanKeadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatPerbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatMasih dalam pembahasan tentang niat, pembahasan kali ini tidak kalah pentingnya dengan pembahasan-pembahasan niat sebelumnya. Mengingat niat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sebuah perbuatan maupun amalan seorang hamba.Baca artikel sebelumnya: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 2)Antara niat dan perbuatanDalam kaitan antara niat dan perbuatan, terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatan;Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niat.Masing-masing dari dua keadaan ini memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Penjelasannya sebagai berikut:Keadaan pertama: Niat yang tidak menyertai perbuatanMaksudnya adalah seseorang hanya berniat dalam hati, namun belum sampai melakukan perbuatan atau mengucapkannya dengan lisan. Dengan demikian, niat tersebut tidak terwujud dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada konsekuensi hukum duniawi yang berlaku.Contohnya:– Jika ada seseorang yang berniat di dalam hati untuk menceraikan istrinya, namun tidak sampai mengucapkan lafaz talak atau yang semisalnya; maka dalam hal ini, tidak jatuh talak. Karena talak di sini hanya sebatas niat saja, dan belum sampai pada ucapan.– Jika ada seseorang yang berniat untuk mewakafkan sesuatu, namun tidak ada darinya perbuatan dan ucapan yang membuktikan hal tersebut. Dalam hal ini, wakaf pun tidak berlaku karena hanya sebatas niat saja alias tidak sah dan belum sah sampai seseorang merealisasikannya dengan perbuatan maupun ucapan.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لِأُمَّتي عَمَّا حَدَّثَتْ به أَنْفُسَهَا، ما لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ بهِ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memaafkan untuk umatku, tentang apa yang terlintas dalam hati mereka, selama belum diwujudkan dalam bentuk perbuatan, atau diucapkan dengan lisan.” (HR. Bukhari)Sehingga yang hanya sebatas “terlintas” dan belum dilakukan atau diucapkan, tidak berlaku konsekuensi hukum duniawi. Adapun konsekuensi hukum akhirat berupa pahala atau dosa, adakalanya niat berpengaruh padanya, kendati tidak ada perbuatan ataupun ucapan menyertai niat tersebut. Terkait dengan ini, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui tentang apa yang terlintas di hati hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Āli ‘Imrān: 29)Keadaan kedua: Perbuatan yang tidak dilandasi niatKeadaan kedua ini adalah kebalikan dari keadaan pertama, yaitu adanya perbuatan yang dilakukan tanpa disertai niat, namun tetap menimbulkan konsekuensi hukum.Keadaan kedua ini terbagi menjadi dua pembahasan:Perbuatan yang tetap berlaku hukumnya, walaupun tanpa niatJenis perbuatan ini terbagi menjadi beberapa bentuk:– Pertama: Kewajiban-kewajiban yang dengan mengerjakannya sudah cukup untuk mewujudkan kemasalahatannya. Seperti, mengembalikan barang yang dicuri, mengembalikan utang, dan lainnya. Dalam hal ini, suatu hukum dapat ditetapkan hanya dengan perbuatannya saja dan tidak butuh niat.– Kedua: Perbuatan-perbuatan yang jika disyaratkan adanya niat, justru akan mengantarkan kepada daur (sirkularitas) atau perputaran yang tidak berujung. Contohnya seperti niat itu sendiri. Karena jika niat harus diniatkan lagi, maka akan terjadi perputaran tanpa akhir.– Ketiga: Perbuatan-perbuatan nyata dan jelas yang hanya memiliki satu makna saja, baik hal itu itu berupa perbuatan atau ucapan. Dalam hal ini pun, konsekuensi hukum berlaku padanya tanpa melihat niat pelakunya.Contohnya:– Seseorang yang menjual sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya jual barang ini kepadamu.”– Atau dia mewasiatkan sesuatu kepada orang lain dengan mengatakan, “Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Dalam hal ini, jual beli tersebut sah dan wasiatnya pun berlaku, kendati orang tersebut tidak berniat untuk menjual atau berwasiat. Sehingga tidak perlu akan adanya niat dalam hal ini. Ketika dia sudah mengatakan atau sudah berbuat, maka perbuatannya atau ucapannya akan mengeluarkan konsekuensi hukum berupa sahnya jual beli dan berjalannya wasiat tersebut.Sama halnya jika ada seseorang yang mengatakan kepada temannya dengan lafaz yang jelas, “Wahai pezina!” Yang padahal temannya itu tidak berzina sama sekali, maka berlaku padanya hukum qadzaf (menuduh seseorang berzina) berupa delapan puluh kali cambukan, tanpa mempertimbangkan niat penuduh.– Keempat: Perbuatan atau amal ketaatan yang tidak serupa dan samar dengan amal ketaatan yang lainnya. Artinya, amal yang asalnya ibadah murni, seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir mengingat Allah Ta’ala. Jika dalam mengerjakannya tidak ada riya, maka cukup dikatakan sebagai amal ketaatan dengan mengerjakannya saja.– Kelima: Meninggalkan kemaksiatan, baik berupa hal-hal yang haram maupun makruh. Seperti meninggalkan zina dan meninggalkan riya. Sejatinya, cukup dikatakan meninggalkan perbuatan yang haram dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan itu dan tidak perlu akan adanya niat.Namun, berbeda halnya jika berbicara tentang pahala. Jika ingin memperoleh pahala dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan, maka butuh adanya niat. Tanpa adanya niat, dosa-dosa akan gugur dengan meninggalkannya, namun tidak mendapatkan pahala.– Keenam: Perbuatan-perbuatan yang mubah. Sesungguhnya tidak diperlukan niat pada perbuatan-perbuatan yang mubah. Seperti halnya makan, minum, dan lain sebagainya. Namun, niat dapat mengubahnya menjadi bernilai.Baca juga: Faedah Penting Menata NiatPerbuatan yang tidak berlaku hukumnya kecuali setelah perbuatan itu disertai dengan niatHal ini mencakup segala perbuatan yang tidak tegas maksud dan tujuannya. Artinya, perbuatan tersebut memiliki beberapa kemungkinan makna, sehingga mengandung beberapa kemungkinan maksud.Perbuatan seperti ini harus ditangguhkan dan tidak boleh langsung dihukumi sampai benar-benar jelas niat dari pelaku.Contohnya:Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Pergilah kamu kepada keluargamu.” Ucapan ini tidak serta-merta dianggap sebagai talak, karena mengandung beberapa kemungkinan makna:Bisa jadi tujuannya adalah benar-benar talak;Suami hanya memerintahkan istrinya saja untuk pergi berkunjung kepada keluarganya;Bisa juga suami memerintahkan istrinya untuk menjauh darinya sampai hilang amarah dari suaminya.Oleh karena itu, hukum perbuatan ini ditangguhkan hingga niatnya jelas.Untuk memudahkan dalam memahami pembahasan di atas, berikut ringkasannya dalam bentuk tabel:KeadaanJenisPenjelasan singkatContohKonsekuensi hukum duniawi1. Niat tanpa perbuatan—Niat hanya dalam hati, belum diwujudkan dengan ucapan atau perbuatanBerniat menceraikan istri, tetapi tidak mengucapkan talakTidak ada konsekuensi hukum (tidak jatuh talak)Berniat wakaf, tetapi tidak ada ikrar atau perbuatan.Wakaf tidak sah2.Perbuatan tanpa niatA. Berlaku walau tanpa niat1. Kewajiban yang maslahatnya tercapai dengan perbuatan.Mengembalikan barang curian, membayar utang.Hukum tetap berlaku walau tanpa niat.2. Perbuatan yang jika disyaratkan niat akan menimbulkan daur (pengulangan yang tidak berujung)Mensyaratkan niat dalam berniat.Tidak perlu berniat untuk niat.3. Perbuatan/lafaz yang tegas dan bermakna tunggal.“Saya jual barang ini kepadamu.”Jual beli sah walau tanpa niat, karena tidak ada kemungkinan lain.“Saya wasiatkan ini kepada fulan.”Wasiat berlaku walau tanpa niat.Menuduh zina dengan lafaz jelas.Berlaku hukum qadzaf walau tanpa niat.4. Amal ibadah murni dan tidak samarMembaca Al-Qur’an, zikir (tanpa riya); jika ada riya, maka perlu adanya niat.Termasuk amal ketaatan walau tanpa niat.5. Meninggalkan kemaksiatanTidak berzina, tidak riya.Gugur dosa.Jika disertai niat:Mendapatkan pahala6. Perbuatan mubahMakan, minum, tidurSah tanpa niatJika disertai niatBernilai ibadahB. Tidak berlaku kecuali dengan niatPerbuatan atau ucapan yang bermakna ganda“Pergilah kamu kepada keluargamu”Ditangguhkan sampai jelas niat dari yang mengucapkan (suami); jika maksudnya talak, maka jatuh talak. Jika tidak, maka tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 2  LANJUT KE BAGIAN 4***Depok, 3 Rajab 1447/ 23 Desember 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:– Al-Mumti’ fil Qawa’id Al-Fiqhiyyah, karya Prof. Dr. Musallam bin Muhammad Ad-Dusary (dengan sedikit perubahan).– dan beberapa referensi lainnya.
Prev     Next