Keutamaan Berkumpul di Masjid untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Keutamaan Berkumpul di Masjid untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail
Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail


Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Bagaimana Rasulullah Minum?

Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Bagaimana Rasulullah Minum?

Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Kenapa Nabi Melarang Keras Ucapan Ini, Bahkan Pada Hewan? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ

Kenapa Nabi Melarang Keras Ucapan Ini, Bahkan Pada Hewan? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ
Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ


Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa

Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa

Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Zikir Saat Petir: Amalan Salaf yang Jarang Diketahui – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ

Zikir Saat Petir: Amalan Salaf yang Jarang Diketahui – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ
Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ


Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ

Jangan Sok Suci! – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا

Jangan Sok Suci! – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا


“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 2): Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir

Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 2): Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir

Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id

Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah (Bag 1): Pendahuluan dan Sumber Permasalahan

Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.

Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah (Bag 1): Pendahuluan dan Sumber Permasalahan

Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.
Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.


Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 4): Hilangnya Wibawa Ahli Ilmu dan Mulai Pudarnya Kebenaran

Termasuk juga dampak buruk fitnah adalah siapa pun yang terlibat di dalamnya, terutama dari kalangan  ahli ilmu, wibawanya akan turun dan kehormatannya menurun di hadapan manusia. Sebaliknya, siapa yang Allah selamatkan dari fitnah, justru akan Allah angkat derajatnya. Keselamatannya itu menjadi sebab ilmunya semakin bermanfaat bagi banyak orang, dan kebaikan pun terus akan semakin bertambah dengan izin Allah Ta‘ala.Oleh karena itu, Abdullah bin ‘Aun pernah berkata,كان مسلم بن يسار عند الناس أرفع من الحسن – أي البصري – فلما وقعت الفتنة خفّ مسلم فيها وأبطأ عنها الحسن – أي تأخر واعتزل الفتن – فأما مسلم فإنه اتّضع أي عند الناس وأما الحسن فإنه ارتفع“Dahulu, di mata masyarakat, kedudukan Muslim bin Yasar lebih tinggi daripada al-Hasan al-Bashri. Namun ketika fitnah terjadi, Muslim justru terlibat dan masuk ke dalamnya, sedangkan al-Hasan menjauh dan menahan diri darinya. Akibatnya, Muslim pun turun kedudukannya di mata orang-orang, sementara al-Hasan justru semakin tinggi derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 11: 128; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 165; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Muslim bin Yasar yang disebutkan dalam perkataan Abdullah bin ‘Aun ini memang termasuk orang yang terlibat dalam fitnah Ibnul Asy‘ats. Namun setelah fitnah itu berakhir, ia selalu memuji Allah Tabaraka wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya.Muslim bin Yasar berkata,يا أبا قلابة! إني أحمدُ اللهَ إليك أني لم أُرمِ فيها بسهمٍ، ولم أطعَن فيها برمحٍ، ولم أضرِب فيها بسيفٍ“Wahai Abu Qilabah, sungguh aku memuji Allah di hadapanmu karena aku tidak melepaskan satu anak panah pun, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak mengayunkan pedang.”Maksudnya adalah, ‘Aku memang ikut berjalan bersama mereka, tapi aku tidak ikut berperang, tidak memanah, dan tidak menghunuskan pedang.’ Ia mengucapkan hal itu sambil bersyukur kepada Allah. Saat itu, Abu Qilabah rahimahullah hadir bersamanya.Abu Qilabah pun menasihatinya,يا أبا عبد الله! فكيف بمن رآك واقفًا في الصف؟ أنت عالمٌ معروفٌ بين الناس ومكانتك معروفة؛ فكيف بمن رآك بين الصفّين؟ فقال: هذا مسلم بن يسار، والله! ما وقف هذا الموقف إلا وهو على الحق؟! ووقوفك بين الصفّين، وحضورك بنفسك، وقيامك مع هؤلاء، ووجودك نفسه؛ هذا مما يزيد الفتنة“Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana dengan orang-orang yang melihatmu berdiri di barisan mereka? Engkau ini seorang alim yang dikenal luas, kedudukanmu pun sangat dihormati. Lalu bagaimana kesan orang yang melihatmu berada di antara dua barisan itu?” Mereka yang terlibat (seakan) mengatakan, ‘Ini Muslim bin Yasar. Demi Allah, ia tidak mungkin berdiri di posisi ini kecuali karena berada di pihak yang benar!’ Padahal, berdirimu di antara dua barisan, kehadiranmu secara langsung, dan ikut bersama mereka meski tanpa mengangkat senjata pun sudah cukup untuk memperbesar dan menyuburkan fitnah!”Mendengar penjelasan itu, Muslim bin Yasar pun menangis. Setelah kejadian itu, Abu Qilabah berkata,فبكى وبكى حتى خشيتُ أن لم أكن قلتُ له شيئًا“Ia menangis dan terus menangis, sampai aku khawatir seandainya aku tidak menyampaikan nasihat itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat, 7: 187; Khalifah dalam Tarikh-nya, hal. 52; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Dampak buruk fitnah berikutnya adalah perkara menjadi samar dan bercampur; banyak orang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan, orang dibunuh tidak mengetahui sebab ia dibunuh, dan pembunuhnya pun membunuh tanpa mengetahui alasannya. Fitnah semakin berkobar, manusia dilanda kebingungan, jiwa-jiwa manusia mudah berubah-ubah, bahaya semakin membesar, berbagai keburukan mengepung manusia dari segala arah, dan segala urusan menjadi serba samar.Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,إن الفتنة إذا أقبلت شَبَّهَت، وإذا أدبرت تبيَّنت“Sesungguhnya fitnah itu, ketika datang, ia membuat segala sesuatu tampak samar; namun ketika telah berlalu, barulah keadaannya menjadi jelas.” (Tarikh ath-Thabari, 3: 26; penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Artinya, saat fitnah baru muncul dan menerpa manusia, urusannya terlihat begitu samar dan susah diketahui. Tetapi setelah fitnah itu reda dan berlalu, barulah orang-orang menyadari hakikatnya dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah juga mengatakan,إن الفتنة لا تجيء حين تجيء لتهدي الناس، ولكن لتُفَرِّق المؤمن على دينه“Fitnah itu tidaklah datang untuk memberi petunjuk kepada manusia, tetapi sebagai ujian, yaitu menjauhkan seorang mukmin dari agamanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 142; dan Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah, 2: 204)Pelajaran yang bisa diambil dari hal ini dengan melihat dahsyatnya fitnah Al-Masih Dajjal, yaitu di antara fitnah terbesar yang akan menimpa umat manusia di akhir zaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya berbagai hakikat yang sangat jelas dan perkara-perkara yang gamblang, yang membongkar kedustaan dan keburukan Dajjal dan menerangkan hakikatnya. Namun, tetap saja banyak sekali manusia yang mengikutinya, jumlahnya pun hanya Allah yang mengetahuinya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدجال فلينأ عنه“Barang siapa mendengar kemunculan Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya.”Maksudnya, menjauh dari bahayanya dan tidak mendekati tempatnya sama sekali. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah,فوالله! إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه لما يبعث به من الشبهات“Demi Allah! Seseorang benar-benar mendatanginya sedang ia merasa dirinya beriman, tetapi justru ia mengikutinya karena tertipu dengan berbagai syubhat yang disebarkan Dajjal.” (HR. Ahmad no. 19968, Abu Dawud no. 4319, dan al-Hakim, 4: 576 dari hadis ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Syekh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 6301).Disebutkan dalam hadis sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من قاتل تحت راية عمية، يغضب لعصبة أو يدعو إلى عصبة أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية“Siapa saja yang berperang di bawah panji ‘immiyyah’, karena fanatisme golongan, atau menyeru kepada fanatisme, atau membela fanatisme golongan, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah kematian jahiliah.” (HR. Muslim no. 1848, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Yang dimaksud dengan kata ‘immiyyah’ adalah perkara yang kabur, gelap, samar, dan tidak jelas perkaranya, tidak tampak padanya kebenaran dan kebatilan. Inilah hakikat fitnah yang membuat manusia terombang-ambing di dalamnya, situasi menjadi semakin kacau, dan kebenaran semakin pudar di pandangan mereka.Di antara kisah menarik dan penuh hikmah yang berkaitan dengan hal ini adalah cerita sahabat yang mulia, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan,قيل لسعد بن أبي وقاص: ألا تقاتل؟“Sa‘ad bin Abi Waqqash pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang?!’”Yang dimaksud adalah fitnah besar saat terjadinya peperangan antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Sa‘ad bin Abi Waqqash memilih untuk menjauh dan tidak terlibat. Mereka pun berkata kepadanya,ألا تقاتل؟! فإنك من أهل الشورى، وأنت أحق بهذا الأمر من غيرك؟“Mengapa engkau tidak ikut berperang? Bukankah engkau termasuk anggota syura, dan engkau lebih berhak atas urusan ini dibanding yang lain?!”Maka, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjawab,لا أقاتل حتى تأتوني بسيفٍ له عينان ولسان وشفتان يعرف المؤمن من الكافر“Aku tidak akan berperang sampai kalian mendatangkan kepadaku sebilah pedang yang punya dua mata, lidah, dan dua bibir, yang bisa mengenali mana yang beriman dan mana yang kafir.”Maksudnya, ‘Datangkanlah kepadaku pedang yang mampu mengenali siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Jika pedang itu ditebaskan kepada seorang muslim, pedang itu hanya akan terpental dan tidak membunuhnya. Namun, jika ditebaskan kepada orang kafir, barulah pedang itu mampu membunuhnya’.Lalu beliau menegaskan,فقد جاهدت وأنا أعرف الجهاد“Aku pernah berjihad, dan aku benar-benar paham apa itu jihad!” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 20736; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 3: 143; dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah, 1: 135)Maksudnya, ‘Perang semacam ini, yang membuat kaum muslimin saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak akan aku ikuti, kecuali jika kalian bisa memberiku pedang dengan sifat tersebut (sebagaimana yang telah disebutkan).’[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 33-38.

Dampak Buruk Fitnah (Bag. 4): Hilangnya Wibawa Ahli Ilmu dan Mulai Pudarnya Kebenaran

Termasuk juga dampak buruk fitnah adalah siapa pun yang terlibat di dalamnya, terutama dari kalangan  ahli ilmu, wibawanya akan turun dan kehormatannya menurun di hadapan manusia. Sebaliknya, siapa yang Allah selamatkan dari fitnah, justru akan Allah angkat derajatnya. Keselamatannya itu menjadi sebab ilmunya semakin bermanfaat bagi banyak orang, dan kebaikan pun terus akan semakin bertambah dengan izin Allah Ta‘ala.Oleh karena itu, Abdullah bin ‘Aun pernah berkata,كان مسلم بن يسار عند الناس أرفع من الحسن – أي البصري – فلما وقعت الفتنة خفّ مسلم فيها وأبطأ عنها الحسن – أي تأخر واعتزل الفتن – فأما مسلم فإنه اتّضع أي عند الناس وأما الحسن فإنه ارتفع“Dahulu, di mata masyarakat, kedudukan Muslim bin Yasar lebih tinggi daripada al-Hasan al-Bashri. Namun ketika fitnah terjadi, Muslim justru terlibat dan masuk ke dalamnya, sedangkan al-Hasan menjauh dan menahan diri darinya. Akibatnya, Muslim pun turun kedudukannya di mata orang-orang, sementara al-Hasan justru semakin tinggi derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 11: 128; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 165; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Muslim bin Yasar yang disebutkan dalam perkataan Abdullah bin ‘Aun ini memang termasuk orang yang terlibat dalam fitnah Ibnul Asy‘ats. Namun setelah fitnah itu berakhir, ia selalu memuji Allah Tabaraka wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya.Muslim bin Yasar berkata,يا أبا قلابة! إني أحمدُ اللهَ إليك أني لم أُرمِ فيها بسهمٍ، ولم أطعَن فيها برمحٍ، ولم أضرِب فيها بسيفٍ“Wahai Abu Qilabah, sungguh aku memuji Allah di hadapanmu karena aku tidak melepaskan satu anak panah pun, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak mengayunkan pedang.”Maksudnya adalah, ‘Aku memang ikut berjalan bersama mereka, tapi aku tidak ikut berperang, tidak memanah, dan tidak menghunuskan pedang.’ Ia mengucapkan hal itu sambil bersyukur kepada Allah. Saat itu, Abu Qilabah rahimahullah hadir bersamanya.Abu Qilabah pun menasihatinya,يا أبا عبد الله! فكيف بمن رآك واقفًا في الصف؟ أنت عالمٌ معروفٌ بين الناس ومكانتك معروفة؛ فكيف بمن رآك بين الصفّين؟ فقال: هذا مسلم بن يسار، والله! ما وقف هذا الموقف إلا وهو على الحق؟! ووقوفك بين الصفّين، وحضورك بنفسك، وقيامك مع هؤلاء، ووجودك نفسه؛ هذا مما يزيد الفتنة“Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana dengan orang-orang yang melihatmu berdiri di barisan mereka? Engkau ini seorang alim yang dikenal luas, kedudukanmu pun sangat dihormati. Lalu bagaimana kesan orang yang melihatmu berada di antara dua barisan itu?” Mereka yang terlibat (seakan) mengatakan, ‘Ini Muslim bin Yasar. Demi Allah, ia tidak mungkin berdiri di posisi ini kecuali karena berada di pihak yang benar!’ Padahal, berdirimu di antara dua barisan, kehadiranmu secara langsung, dan ikut bersama mereka meski tanpa mengangkat senjata pun sudah cukup untuk memperbesar dan menyuburkan fitnah!”Mendengar penjelasan itu, Muslim bin Yasar pun menangis. Setelah kejadian itu, Abu Qilabah berkata,فبكى وبكى حتى خشيتُ أن لم أكن قلتُ له شيئًا“Ia menangis dan terus menangis, sampai aku khawatir seandainya aku tidak menyampaikan nasihat itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat, 7: 187; Khalifah dalam Tarikh-nya, hal. 52; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Dampak buruk fitnah berikutnya adalah perkara menjadi samar dan bercampur; banyak orang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan, orang dibunuh tidak mengetahui sebab ia dibunuh, dan pembunuhnya pun membunuh tanpa mengetahui alasannya. Fitnah semakin berkobar, manusia dilanda kebingungan, jiwa-jiwa manusia mudah berubah-ubah, bahaya semakin membesar, berbagai keburukan mengepung manusia dari segala arah, dan segala urusan menjadi serba samar.Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,إن الفتنة إذا أقبلت شَبَّهَت، وإذا أدبرت تبيَّنت“Sesungguhnya fitnah itu, ketika datang, ia membuat segala sesuatu tampak samar; namun ketika telah berlalu, barulah keadaannya menjadi jelas.” (Tarikh ath-Thabari, 3: 26; penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Artinya, saat fitnah baru muncul dan menerpa manusia, urusannya terlihat begitu samar dan susah diketahui. Tetapi setelah fitnah itu reda dan berlalu, barulah orang-orang menyadari hakikatnya dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah juga mengatakan,إن الفتنة لا تجيء حين تجيء لتهدي الناس، ولكن لتُفَرِّق المؤمن على دينه“Fitnah itu tidaklah datang untuk memberi petunjuk kepada manusia, tetapi sebagai ujian, yaitu menjauhkan seorang mukmin dari agamanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 142; dan Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah, 2: 204)Pelajaran yang bisa diambil dari hal ini dengan melihat dahsyatnya fitnah Al-Masih Dajjal, yaitu di antara fitnah terbesar yang akan menimpa umat manusia di akhir zaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya berbagai hakikat yang sangat jelas dan perkara-perkara yang gamblang, yang membongkar kedustaan dan keburukan Dajjal dan menerangkan hakikatnya. Namun, tetap saja banyak sekali manusia yang mengikutinya, jumlahnya pun hanya Allah yang mengetahuinya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدجال فلينأ عنه“Barang siapa mendengar kemunculan Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya.”Maksudnya, menjauh dari bahayanya dan tidak mendekati tempatnya sama sekali. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah,فوالله! إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه لما يبعث به من الشبهات“Demi Allah! Seseorang benar-benar mendatanginya sedang ia merasa dirinya beriman, tetapi justru ia mengikutinya karena tertipu dengan berbagai syubhat yang disebarkan Dajjal.” (HR. Ahmad no. 19968, Abu Dawud no. 4319, dan al-Hakim, 4: 576 dari hadis ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Syekh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 6301).Disebutkan dalam hadis sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من قاتل تحت راية عمية، يغضب لعصبة أو يدعو إلى عصبة أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية“Siapa saja yang berperang di bawah panji ‘immiyyah’, karena fanatisme golongan, atau menyeru kepada fanatisme, atau membela fanatisme golongan, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah kematian jahiliah.” (HR. Muslim no. 1848, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Yang dimaksud dengan kata ‘immiyyah’ adalah perkara yang kabur, gelap, samar, dan tidak jelas perkaranya, tidak tampak padanya kebenaran dan kebatilan. Inilah hakikat fitnah yang membuat manusia terombang-ambing di dalamnya, situasi menjadi semakin kacau, dan kebenaran semakin pudar di pandangan mereka.Di antara kisah menarik dan penuh hikmah yang berkaitan dengan hal ini adalah cerita sahabat yang mulia, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan,قيل لسعد بن أبي وقاص: ألا تقاتل؟“Sa‘ad bin Abi Waqqash pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang?!’”Yang dimaksud adalah fitnah besar saat terjadinya peperangan antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Sa‘ad bin Abi Waqqash memilih untuk menjauh dan tidak terlibat. Mereka pun berkata kepadanya,ألا تقاتل؟! فإنك من أهل الشورى، وأنت أحق بهذا الأمر من غيرك؟“Mengapa engkau tidak ikut berperang? Bukankah engkau termasuk anggota syura, dan engkau lebih berhak atas urusan ini dibanding yang lain?!”Maka, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjawab,لا أقاتل حتى تأتوني بسيفٍ له عينان ولسان وشفتان يعرف المؤمن من الكافر“Aku tidak akan berperang sampai kalian mendatangkan kepadaku sebilah pedang yang punya dua mata, lidah, dan dua bibir, yang bisa mengenali mana yang beriman dan mana yang kafir.”Maksudnya, ‘Datangkanlah kepadaku pedang yang mampu mengenali siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Jika pedang itu ditebaskan kepada seorang muslim, pedang itu hanya akan terpental dan tidak membunuhnya. Namun, jika ditebaskan kepada orang kafir, barulah pedang itu mampu membunuhnya’.Lalu beliau menegaskan,فقد جاهدت وأنا أعرف الجهاد“Aku pernah berjihad, dan aku benar-benar paham apa itu jihad!” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 20736; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 3: 143; dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah, 1: 135)Maksudnya, ‘Perang semacam ini, yang membuat kaum muslimin saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak akan aku ikuti, kecuali jika kalian bisa memberiku pedang dengan sifat tersebut (sebagaimana yang telah disebutkan).’[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 33-38.
Termasuk juga dampak buruk fitnah adalah siapa pun yang terlibat di dalamnya, terutama dari kalangan  ahli ilmu, wibawanya akan turun dan kehormatannya menurun di hadapan manusia. Sebaliknya, siapa yang Allah selamatkan dari fitnah, justru akan Allah angkat derajatnya. Keselamatannya itu menjadi sebab ilmunya semakin bermanfaat bagi banyak orang, dan kebaikan pun terus akan semakin bertambah dengan izin Allah Ta‘ala.Oleh karena itu, Abdullah bin ‘Aun pernah berkata,كان مسلم بن يسار عند الناس أرفع من الحسن – أي البصري – فلما وقعت الفتنة خفّ مسلم فيها وأبطأ عنها الحسن – أي تأخر واعتزل الفتن – فأما مسلم فإنه اتّضع أي عند الناس وأما الحسن فإنه ارتفع“Dahulu, di mata masyarakat, kedudukan Muslim bin Yasar lebih tinggi daripada al-Hasan al-Bashri. Namun ketika fitnah terjadi, Muslim justru terlibat dan masuk ke dalamnya, sedangkan al-Hasan menjauh dan menahan diri darinya. Akibatnya, Muslim pun turun kedudukannya di mata orang-orang, sementara al-Hasan justru semakin tinggi derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 11: 128; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 165; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Muslim bin Yasar yang disebutkan dalam perkataan Abdullah bin ‘Aun ini memang termasuk orang yang terlibat dalam fitnah Ibnul Asy‘ats. Namun setelah fitnah itu berakhir, ia selalu memuji Allah Tabaraka wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya.Muslim bin Yasar berkata,يا أبا قلابة! إني أحمدُ اللهَ إليك أني لم أُرمِ فيها بسهمٍ، ولم أطعَن فيها برمحٍ، ولم أضرِب فيها بسيفٍ“Wahai Abu Qilabah, sungguh aku memuji Allah di hadapanmu karena aku tidak melepaskan satu anak panah pun, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak mengayunkan pedang.”Maksudnya adalah, ‘Aku memang ikut berjalan bersama mereka, tapi aku tidak ikut berperang, tidak memanah, dan tidak menghunuskan pedang.’ Ia mengucapkan hal itu sambil bersyukur kepada Allah. Saat itu, Abu Qilabah rahimahullah hadir bersamanya.Abu Qilabah pun menasihatinya,يا أبا عبد الله! فكيف بمن رآك واقفًا في الصف؟ أنت عالمٌ معروفٌ بين الناس ومكانتك معروفة؛ فكيف بمن رآك بين الصفّين؟ فقال: هذا مسلم بن يسار، والله! ما وقف هذا الموقف إلا وهو على الحق؟! ووقوفك بين الصفّين، وحضورك بنفسك، وقيامك مع هؤلاء، ووجودك نفسه؛ هذا مما يزيد الفتنة“Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana dengan orang-orang yang melihatmu berdiri di barisan mereka? Engkau ini seorang alim yang dikenal luas, kedudukanmu pun sangat dihormati. Lalu bagaimana kesan orang yang melihatmu berada di antara dua barisan itu?” Mereka yang terlibat (seakan) mengatakan, ‘Ini Muslim bin Yasar. Demi Allah, ia tidak mungkin berdiri di posisi ini kecuali karena berada di pihak yang benar!’ Padahal, berdirimu di antara dua barisan, kehadiranmu secara langsung, dan ikut bersama mereka meski tanpa mengangkat senjata pun sudah cukup untuk memperbesar dan menyuburkan fitnah!”Mendengar penjelasan itu, Muslim bin Yasar pun menangis. Setelah kejadian itu, Abu Qilabah berkata,فبكى وبكى حتى خشيتُ أن لم أكن قلتُ له شيئًا“Ia menangis dan terus menangis, sampai aku khawatir seandainya aku tidak menyampaikan nasihat itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat, 7: 187; Khalifah dalam Tarikh-nya, hal. 52; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Dampak buruk fitnah berikutnya adalah perkara menjadi samar dan bercampur; banyak orang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan, orang dibunuh tidak mengetahui sebab ia dibunuh, dan pembunuhnya pun membunuh tanpa mengetahui alasannya. Fitnah semakin berkobar, manusia dilanda kebingungan, jiwa-jiwa manusia mudah berubah-ubah, bahaya semakin membesar, berbagai keburukan mengepung manusia dari segala arah, dan segala urusan menjadi serba samar.Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,إن الفتنة إذا أقبلت شَبَّهَت، وإذا أدبرت تبيَّنت“Sesungguhnya fitnah itu, ketika datang, ia membuat segala sesuatu tampak samar; namun ketika telah berlalu, barulah keadaannya menjadi jelas.” (Tarikh ath-Thabari, 3: 26; penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Artinya, saat fitnah baru muncul dan menerpa manusia, urusannya terlihat begitu samar dan susah diketahui. Tetapi setelah fitnah itu reda dan berlalu, barulah orang-orang menyadari hakikatnya dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah juga mengatakan,إن الفتنة لا تجيء حين تجيء لتهدي الناس، ولكن لتُفَرِّق المؤمن على دينه“Fitnah itu tidaklah datang untuk memberi petunjuk kepada manusia, tetapi sebagai ujian, yaitu menjauhkan seorang mukmin dari agamanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 142; dan Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah, 2: 204)Pelajaran yang bisa diambil dari hal ini dengan melihat dahsyatnya fitnah Al-Masih Dajjal, yaitu di antara fitnah terbesar yang akan menimpa umat manusia di akhir zaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya berbagai hakikat yang sangat jelas dan perkara-perkara yang gamblang, yang membongkar kedustaan dan keburukan Dajjal dan menerangkan hakikatnya. Namun, tetap saja banyak sekali manusia yang mengikutinya, jumlahnya pun hanya Allah yang mengetahuinya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدجال فلينأ عنه“Barang siapa mendengar kemunculan Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya.”Maksudnya, menjauh dari bahayanya dan tidak mendekati tempatnya sama sekali. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah,فوالله! إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه لما يبعث به من الشبهات“Demi Allah! Seseorang benar-benar mendatanginya sedang ia merasa dirinya beriman, tetapi justru ia mengikutinya karena tertipu dengan berbagai syubhat yang disebarkan Dajjal.” (HR. Ahmad no. 19968, Abu Dawud no. 4319, dan al-Hakim, 4: 576 dari hadis ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Syekh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 6301).Disebutkan dalam hadis sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من قاتل تحت راية عمية، يغضب لعصبة أو يدعو إلى عصبة أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية“Siapa saja yang berperang di bawah panji ‘immiyyah’, karena fanatisme golongan, atau menyeru kepada fanatisme, atau membela fanatisme golongan, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah kematian jahiliah.” (HR. Muslim no. 1848, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Yang dimaksud dengan kata ‘immiyyah’ adalah perkara yang kabur, gelap, samar, dan tidak jelas perkaranya, tidak tampak padanya kebenaran dan kebatilan. Inilah hakikat fitnah yang membuat manusia terombang-ambing di dalamnya, situasi menjadi semakin kacau, dan kebenaran semakin pudar di pandangan mereka.Di antara kisah menarik dan penuh hikmah yang berkaitan dengan hal ini adalah cerita sahabat yang mulia, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan,قيل لسعد بن أبي وقاص: ألا تقاتل؟“Sa‘ad bin Abi Waqqash pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang?!’”Yang dimaksud adalah fitnah besar saat terjadinya peperangan antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Sa‘ad bin Abi Waqqash memilih untuk menjauh dan tidak terlibat. Mereka pun berkata kepadanya,ألا تقاتل؟! فإنك من أهل الشورى، وأنت أحق بهذا الأمر من غيرك؟“Mengapa engkau tidak ikut berperang? Bukankah engkau termasuk anggota syura, dan engkau lebih berhak atas urusan ini dibanding yang lain?!”Maka, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjawab,لا أقاتل حتى تأتوني بسيفٍ له عينان ولسان وشفتان يعرف المؤمن من الكافر“Aku tidak akan berperang sampai kalian mendatangkan kepadaku sebilah pedang yang punya dua mata, lidah, dan dua bibir, yang bisa mengenali mana yang beriman dan mana yang kafir.”Maksudnya, ‘Datangkanlah kepadaku pedang yang mampu mengenali siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Jika pedang itu ditebaskan kepada seorang muslim, pedang itu hanya akan terpental dan tidak membunuhnya. Namun, jika ditebaskan kepada orang kafir, barulah pedang itu mampu membunuhnya’.Lalu beliau menegaskan,فقد جاهدت وأنا أعرف الجهاد“Aku pernah berjihad, dan aku benar-benar paham apa itu jihad!” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 20736; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 3: 143; dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah, 1: 135)Maksudnya, ‘Perang semacam ini, yang membuat kaum muslimin saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak akan aku ikuti, kecuali jika kalian bisa memberiku pedang dengan sifat tersebut (sebagaimana yang telah disebutkan).’[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 33-38.


Termasuk juga dampak buruk fitnah adalah siapa pun yang terlibat di dalamnya, terutama dari kalangan  ahli ilmu, wibawanya akan turun dan kehormatannya menurun di hadapan manusia. Sebaliknya, siapa yang Allah selamatkan dari fitnah, justru akan Allah angkat derajatnya. Keselamatannya itu menjadi sebab ilmunya semakin bermanfaat bagi banyak orang, dan kebaikan pun terus akan semakin bertambah dengan izin Allah Ta‘ala.Oleh karena itu, Abdullah bin ‘Aun pernah berkata,كان مسلم بن يسار عند الناس أرفع من الحسن – أي البصري – فلما وقعت الفتنة خفّ مسلم فيها وأبطأ عنها الحسن – أي تأخر واعتزل الفتن – فأما مسلم فإنه اتّضع أي عند الناس وأما الحسن فإنه ارتفع“Dahulu, di mata masyarakat, kedudukan Muslim bin Yasar lebih tinggi daripada al-Hasan al-Bashri. Namun ketika fitnah terjadi, Muslim justru terlibat dan masuk ke dalamnya, sedangkan al-Hasan menjauh dan menahan diri darinya. Akibatnya, Muslim pun turun kedudukannya di mata orang-orang, sementara al-Hasan justru semakin tinggi derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 11: 128; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 165; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Muslim bin Yasar yang disebutkan dalam perkataan Abdullah bin ‘Aun ini memang termasuk orang yang terlibat dalam fitnah Ibnul Asy‘ats. Namun setelah fitnah itu berakhir, ia selalu memuji Allah Tabaraka wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya.Muslim bin Yasar berkata,يا أبا قلابة! إني أحمدُ اللهَ إليك أني لم أُرمِ فيها بسهمٍ، ولم أطعَن فيها برمحٍ، ولم أضرِب فيها بسيفٍ“Wahai Abu Qilabah, sungguh aku memuji Allah di hadapanmu karena aku tidak melepaskan satu anak panah pun, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak mengayunkan pedang.”Maksudnya adalah, ‘Aku memang ikut berjalan bersama mereka, tapi aku tidak ikut berperang, tidak memanah, dan tidak menghunuskan pedang.’ Ia mengucapkan hal itu sambil bersyukur kepada Allah. Saat itu, Abu Qilabah rahimahullah hadir bersamanya.Abu Qilabah pun menasihatinya,يا أبا عبد الله! فكيف بمن رآك واقفًا في الصف؟ أنت عالمٌ معروفٌ بين الناس ومكانتك معروفة؛ فكيف بمن رآك بين الصفّين؟ فقال: هذا مسلم بن يسار، والله! ما وقف هذا الموقف إلا وهو على الحق؟! ووقوفك بين الصفّين، وحضورك بنفسك، وقيامك مع هؤلاء، ووجودك نفسه؛ هذا مما يزيد الفتنة“Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana dengan orang-orang yang melihatmu berdiri di barisan mereka? Engkau ini seorang alim yang dikenal luas, kedudukanmu pun sangat dihormati. Lalu bagaimana kesan orang yang melihatmu berada di antara dua barisan itu?” Mereka yang terlibat (seakan) mengatakan, ‘Ini Muslim bin Yasar. Demi Allah, ia tidak mungkin berdiri di posisi ini kecuali karena berada di pihak yang benar!’ Padahal, berdirimu di antara dua barisan, kehadiranmu secara langsung, dan ikut bersama mereka meski tanpa mengangkat senjata pun sudah cukup untuk memperbesar dan menyuburkan fitnah!”Mendengar penjelasan itu, Muslim bin Yasar pun menangis. Setelah kejadian itu, Abu Qilabah berkata,فبكى وبكى حتى خشيتُ أن لم أكن قلتُ له شيئًا“Ia menangis dan terus menangis, sampai aku khawatir seandainya aku tidak menyampaikan nasihat itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat, 7: 187; Khalifah dalam Tarikh-nya, hal. 52; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)Dampak buruk fitnah berikutnya adalah perkara menjadi samar dan bercampur; banyak orang tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan, orang dibunuh tidak mengetahui sebab ia dibunuh, dan pembunuhnya pun membunuh tanpa mengetahui alasannya. Fitnah semakin berkobar, manusia dilanda kebingungan, jiwa-jiwa manusia mudah berubah-ubah, bahaya semakin membesar, berbagai keburukan mengepung manusia dari segala arah, dan segala urusan menjadi serba samar.Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,إن الفتنة إذا أقبلت شَبَّهَت، وإذا أدبرت تبيَّنت“Sesungguhnya fitnah itu, ketika datang, ia membuat segala sesuatu tampak samar; namun ketika telah berlalu, barulah keadaannya menjadi jelas.” (Tarikh ath-Thabari, 3: 26; penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Artinya, saat fitnah baru muncul dan menerpa manusia, urusannya terlihat begitu samar dan susah diketahui. Tetapi setelah fitnah itu reda dan berlalu, barulah orang-orang menyadari hakikatnya dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah juga mengatakan,إن الفتنة لا تجيء حين تجيء لتهدي الناس، ولكن لتُفَرِّق المؤمن على دينه“Fitnah itu tidaklah datang untuk memberi petunjuk kepada manusia, tetapi sebagai ujian, yaitu menjauhkan seorang mukmin dari agamanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 142; dan Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah, 2: 204)Pelajaran yang bisa diambil dari hal ini dengan melihat dahsyatnya fitnah Al-Masih Dajjal, yaitu di antara fitnah terbesar yang akan menimpa umat manusia di akhir zaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya berbagai hakikat yang sangat jelas dan perkara-perkara yang gamblang, yang membongkar kedustaan dan keburukan Dajjal dan menerangkan hakikatnya. Namun, tetap saja banyak sekali manusia yang mengikutinya, jumlahnya pun hanya Allah yang mengetahuinya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدجال فلينأ عنه“Barang siapa mendengar kemunculan Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya.”Maksudnya, menjauh dari bahayanya dan tidak mendekati tempatnya sama sekali. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah,فوالله! إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه لما يبعث به من الشبهات“Demi Allah! Seseorang benar-benar mendatanginya sedang ia merasa dirinya beriman, tetapi justru ia mengikutinya karena tertipu dengan berbagai syubhat yang disebarkan Dajjal.” (HR. Ahmad no. 19968, Abu Dawud no. 4319, dan al-Hakim, 4: 576 dari hadis ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Syekh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 6301).Disebutkan dalam hadis sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من قاتل تحت راية عمية، يغضب لعصبة أو يدعو إلى عصبة أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية“Siapa saja yang berperang di bawah panji ‘immiyyah’, karena fanatisme golongan, atau menyeru kepada fanatisme, atau membela fanatisme golongan, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah kematian jahiliah.” (HR. Muslim no. 1848, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Yang dimaksud dengan kata ‘immiyyah’ adalah perkara yang kabur, gelap, samar, dan tidak jelas perkaranya, tidak tampak padanya kebenaran dan kebatilan. Inilah hakikat fitnah yang membuat manusia terombang-ambing di dalamnya, situasi menjadi semakin kacau, dan kebenaran semakin pudar di pandangan mereka.Di antara kisah menarik dan penuh hikmah yang berkaitan dengan hal ini adalah cerita sahabat yang mulia, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan,قيل لسعد بن أبي وقاص: ألا تقاتل؟“Sa‘ad bin Abi Waqqash pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang?!’”Yang dimaksud adalah fitnah besar saat terjadinya peperangan antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Sa‘ad bin Abi Waqqash memilih untuk menjauh dan tidak terlibat. Mereka pun berkata kepadanya,ألا تقاتل؟! فإنك من أهل الشورى، وأنت أحق بهذا الأمر من غيرك؟“Mengapa engkau tidak ikut berperang? Bukankah engkau termasuk anggota syura, dan engkau lebih berhak atas urusan ini dibanding yang lain?!”Maka, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjawab,لا أقاتل حتى تأتوني بسيفٍ له عينان ولسان وشفتان يعرف المؤمن من الكافر“Aku tidak akan berperang sampai kalian mendatangkan kepadaku sebilah pedang yang punya dua mata, lidah, dan dua bibir, yang bisa mengenali mana yang beriman dan mana yang kafir.”Maksudnya, ‘Datangkanlah kepadaku pedang yang mampu mengenali siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Jika pedang itu ditebaskan kepada seorang muslim, pedang itu hanya akan terpental dan tidak membunuhnya. Namun, jika ditebaskan kepada orang kafir, barulah pedang itu mampu membunuhnya’.Lalu beliau menegaskan,فقد جاهدت وأنا أعرف الجهاد“Aku pernah berjihad, dan aku benar-benar paham apa itu jihad!” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 20736; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 3: 143; dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah, 1: 135)Maksudnya, ‘Perang semacam ini, yang membuat kaum muslimin saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak akan aku ikuti, kecuali jika kalian bisa memberiku pedang dengan sifat tersebut (sebagaimana yang telah disebutkan).’[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5 ***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi: Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 33-38.

Fikih Walimah: Kapan Kita Wajib Menghadiri Undangan Pernikahan?

Walimah pernikahan merupakan bentuk syukur atas ikatan suci dua insan yang secara hukum asal adalah sunnah muakkadah, namun memenuhi undangannya menjadi wajib bagi setiap Muslim selama tidak ada uzur syar’i. Islam mengatur adab jamuan ini dengan sangat detail, mulai dari syarat-syarat wajibnya hadir hingga batasan dalam menyikapi kemungkaran yang mungkin ada di dalam acara. Memahami ketentuan walimah bukan sekadar soal urusan makan-makan, melainkan tentang menjaga hak sesama Muslim dan memastikan keberkahan dalam setiap jalinan silaturahmi.  Daftar Isi tutup 1. Bab Walimah Pernikahan 2. Hukum Walimah Pernikahan 3. Kadar Minimal Walimah 4. Hukum Memenuhi Undangan Walimah 5. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan Walimah 6. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَالْوَلِيمَةُ عَلَى الْعُرْسِ مُسْتَحَبَّةٌ، وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا وَاجِبَةٌ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.Walimah (jamuan makan) dalam acara pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali bila ada uzur (alasan yang dibenarkan). Bab Walimah PernikahanWalimah pada pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur (alasan yang dibenarkan). Walimah adalah jamuan makan pada acara pernikahan. Kata walīmah berasal dari akar kata al-walm (الوَلْم) yang berarti “mengumpulkan”, karena dalam pernikahan dua insan disatukan dalam ikatan yang suci.Imam Asy-Syafi‘i dan para ulama mazhab Syafi‘iyyah menjelaskan bahwa istilah walīmah secara bahasa bisa digunakan untuk setiap undangan makan yang diadakan karena rasa gembira atas suatu peristiwa baru, seperti pernikahan, khitan, dan selainnya. Namun, penggunaan yang paling populer dan umum ketika disebut tanpa tambahan maksud tertentu adalah untuk pernikahan, sedangkan pada selainnya perlu disebutkan secara khusus.Misalnya:Untuk undangan khitan disebut ‘udzrā’ (أعذار),Untuk kelahiran anak disebut ‘aqīqah (عقيقة),Untuk keselamatan wanita setelah melahirkan disebut khurās (خرس),Untuk menyambut kedatangan musafir disebut naqī‘ah (نقيعة),Untuk syukuran membangun rumah disebut wakīrah (وكيرة),Untuk jamuan dalam musibah disebut waḍīmah (وضيمة),Sedangkan jamuan yang diadakan tanpa sebab tertentu disebut ma’dubah (مأدبة).Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama mazhab kami tidak secara tegas menjelaskan siapa yang seharusnya mengadakan walīmah bagi orang yang baru datang dari perjalanan.” Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ahli bahasa. Al-Azhari meriwayatkan dari Al-Farra’ bahwa naqī‘ah itu adalah jamuan yang dibuat oleh orang yang baru datang dari safar. Sedangkan penulis Al-Muhkam mengatakan, naqī‘ah adalah jamuan yang dibuat untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, dan pendapat inilah yang lebih kuat — wallāhu a‘lam.Imam Al-Halimi juga membahas hal ini dan berkata bahwa disunnahkan bagi musafir yang baru pulang untuk menjamu orang-orang. Beliau bahkan menukil beberapa atsar dari para sahabat dan lainnya yang menunjukkan kebiasaan tersebut, lalu menegaskan bahwa hal ini memang disunnahkan. Ini berbeda dengan pendapat An-Nawawi yang menganggap tidak demikian — wallāhu a‘lam. Hukum Walimah PernikahanApakah walimah pernikahan hukumnya wajib atau tidak?
Ada dua pendapat:Pendapat pertama: Walimah hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika beliau menikah:«أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ»“Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Selain itu, Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan walimah, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan.Pendapat kedua (yang lebih kuat): Walimah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Ini adalah pendapat yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh An-Nawawi, karena Rasulullah ﷺ bersabda:«لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ»
“Tidak ada hak dalam harta seseorang selain zakat.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)Selain itu, walimah merupakan jamuan makan yang tidak terbatas bagi orang-orang miskin saja, sehingga hukumnya menyerupai ibadah kurban — yaitu bentuk syukur, bukan kewajiban. Dengan demikian, hukumnya diqiyaskan dengan jenis jamuan lain yang juga bersifat sunnah.Hadits pertama (“Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing”) dipahami sebagai penegasan anjuran yang sangat kuat, bukan kewajiban.
 Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa walimah merupakan fardhu kifayah, artinya jika sudah dilakukan oleh sebagian orang (misalnya keluarga atau pihak yang mewakili), maka gugurlah kewajiban dari yang lain.Adapun selain walimah pernikahan, seperti walimah khitan atau rumah baru, maka menurut mayoritas ulama hukumnya sunnah dan tidak sekuat anjuran walimah pernikahan. Ada pendapat lain yang mengatakan seluruh jenis walimah hukumnya wajib, namun pendapat ini lemah dan hanya keluar dari qiyas sebagian ulama. Kadar Minimal WalimahUntuk orang yang mampu, batas minimal walimah adalah dengan seekor kambing, karena Rasulullah ﷺ mengadakan swalimah atas pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy radhiyallāhu ‘anhā dengan seekor kambing. Namun, jika walimah dilakukan dengan sesuatu yang lebih sederhana pun sudah dianggap cukup, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan Shafiyyah radhiyallāhu ‘anhā hanya dengan sajian tepung (sawīq) dan kurma. Hukum Memenuhi Undangan WalimahApabila yang diundang adalah ke walimah pernikahan, maka:Jika walimahnya dianggap wajib, maka menjawab undangannya juga wajib.Jika walimahnya sunnah, maka menjawab undangannya tetap wajib menurut pendapat yang paling kuat. Pendapat ini dipilih oleh para ulama Irak, Ar-Ruyani, dan yang lainnya, karena didukung oleh hadits-hadits sahih, di antaranya:مَنْ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَلْيَأْتِهَا»“Barang siapa diundang ke walimah, hendaklah ia datang.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)Dan dalam riwayat lain disebutkan:مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ»
“Barang siapa tidak memenuhi undangan, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Muslim)Adapun untuk undangan selain walimah pernikahan, maka menurut pendapat mazhab Syafi‘i, memenuhi undangannya hukumnya sunnah.Jika kita berpendapat bahwa menjawab undangan walimah itu wajib, maka kewajibannya bersifat fardhu ‘ain (kewajiban individu) menurut pendapat yang paling kuat. Ada juga yang mengatakan fardhu kifayah, namun pendapat ini lebih lemah.Selain itu, kewajiban atau kesunnahan menghadiri undangan itu berlaku dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja’:“إِلَّا مِنْ عُذْرٍ” kecuali ada uzur (alasan yang dibenarkan),
seperti ada halangan syar‘i, kemaksiatan di dalam acara, atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir. KesimpulanWalimah pernikahan hukumnya sunnah muakkadah.Menjawab undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur syar‘i.Walimah lainnya seperti khitan, aqiqah, atau rumah baru hukumnya sunnah biasa, tidak sampai wajib.Minimal walimah cukup dengan hidangan sederhana, bahkan sekadar kurma dan tepung sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan WalimahPertama:
 Hendaknya orang yang mengadakan walimah mengundang secara umum seluruh keluarga besarnya, tetangganya, warga sekitar rumahnya, atau rekan-rekan seprofesinya — baik yang kaya maupun yang miskin.
Apabila ia hanya mengundang orang-orang kaya, maka hal itu tidak sesuai dengan tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda:«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا»
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang dihalangi bagi orang yang ingin datang, dan justru diundang orang yang enggan datang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Kedua:
 Hendaknya undangan itu ditujukan secara khusus — baik dengan diundang langsung oleh tuan rumah, atau dengan mengutus seseorang secara khusus untuk menyampaikan undangan.Namun jika tuan rumah hanya membuka pintu rumahnya dan berkata, “Silakan datang siapa saja yang mau,” atau mengutus orang dengan pesan, “Panggil siapa saja yang ingin datang,” atau berkata kepada seseorang, “Datanglah dan bawa siapa saja yang kamu mau,” maka undangan seperti ini tidak wajib dihadiri, bahkan tidak disunnahkan untuk dihadiri.Ketiga:
 Hendaknya tujuan undangan bukan karena takut kepada orang yang diundang — misalnya karena ia orang zalim, pejabat aniaya, atau para pembantunya, atau karena ia hakim yang menegakkan kezaliman, dan sejenisnya.
Demikian pula tidak boleh mengundang seseorang karena mengharap kedudukan atau bantuannya dalam urusan yang batil, tetapi undangan hendaknya dilakukan semata-mata untuk menjalin kasih sayang dan silaturahmi.Keempat: 
Tidak boleh dalam undangan tersebut terdapat orang yang kehadirannya menimbulkan gangguan bagi tamu lain yang datang, karena tidak pantas bagi mereka untuk duduk bersama.
Jika memang demikian, maka orang yang merasa terganggu berhak untuk tidak hadir.Contohnya, bila seseorang mengundang orang-orang rendahan dan keji (السَّفَلَة), sedangkan yang diundang adalah seorang terpandang.
Yang dimaksud dengan as-safalah (orang-orang rendahan) ialah para pengikut hawa nafsu dan kezaliman, seperti kalangan pasar yang kasar, kaki tangan para penguasa zalim, hakim-hakim suap, para pengemis berpura-pura saleh, dan sebagian orang yang berkedok zuhud namun hanya mencari makanan gratis di setiap acara — mereka adalah seburuk-buruk manusia.Begitu pula, jika seorang penuntut ilmu yang tulus mengundang penuntut ilmu lain yang hanya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, ingin menonjol di hadapan teman-temannya, atau mencari kehormatan palsu, maka tidak wajib baginya menghadiri undangan tersebut.Demikian pula halnya dengan seorang sufi sejati — tidak wajib baginya menghadiri undangan sufi-sufi palsu masa kini yang menghadiri setiap undangan, baik dari orang saleh maupun pendosa, dan yang berzikir atau beribadah dengan alat musik, nyanyian, dan hal-hal yang melalaikan.
Semua hal seperti ini sangat jelas kesalahannya, kecuali bagi orang yang buta hati hingga tak bisa membedakan cahaya bulan.Kelima:
 Tidak boleh ada kemungkaran dalam acara tersebut, seperti minum khamar, musik, nyanyian, atau hiburan yang melalaikan.Jika ada kemungkaran, maka dilihat keadaannya:1. Jika orang yang diundang mampu mengubah dan menolak kemungkaran itu, maka hendaknya ia datang, untuk memenuhi undangan sekaligus menghilangkan kemungkaran.2. Namun jika tidak mampu menolak kemungkaran, maka haram baginya hadir, karena sama saja dengan ridha dan mengakui perbuatan maksiat tersebut.Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa boleh hadir selama ia tidak ikut mendengarkan dan mengingkari dalam hatinya, sebagaimana jika seseorang tinggal di rumah yang di dekatnya ada kemungkaran; ia tidak wajib pindah selama tidak terlibat.Namun Imam An-Nawawi menilai pendapat ini keliru dan salah besar, dan beliau menegaskan agar tidak tertipu dengan keagungan tokoh yang mengucapkannya seperti dalam At-Tanbīh dan sejenisnya — wallāhu a‘lam.Pendapat yang benar adalah:
Jika seseorang tidak tahu bahwa di tempat itu ada kemungkaran, lalu setelah datang ia melihat kemungkaran itu, maka wajib baginya menasihati dan melarang.
Jika mereka tidak mau berhenti, maka ia harus segera keluar.
Apabila tetap duduk di sana, maka haram baginya duduk di tempat itu menurut pendapat yang sahih.Namun jika tidak bisa keluar karena alasan keamanan — misalnya malam hari dan ia takut bahaya di jalan — maka ia boleh tetap duduk, tapi dengan hati yang membenci maksiat itu dan tidak ikut mendengarkan.
Jika ia ikut mendengarkan, maka ia berdosa.Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa duduk dan mendengarkan nyanyian dari penyanyi wanita, maka akan dituangkan timah panas ke dalam kedua telinganya pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad, dihasankan oleh sebagian ulama)Termasuk kemungkaran pula: hamparan sutra, gambar-gambar makhluk bernyawa di dinding, langit-langit, dan pakaian sutra yang dipakai oleh laki-laki — sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki yang menyerupai perempuan.
Mereka ini dilaknat oleh Nabi ﷺ karena meniru-niru kaum wanita.Barang siapa meyakini hal-hal itu halal setelah dijelaskan padanya bahwa semua itu haram, maka ia kafir, karena telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh syariat.
Ia harus diminta bertaubat, dan jika tidak bertaubat, maka ia dihukum mati.Orang yang hadir di tempat seperti itu wajib mengingkari perbuatan maksiat tersebut, dan tidak gugur kewajiban amar ma‘ruf nahi munkar hanya karena ada fuqaha buruk (ulama yang fasik) di sana, sebab mereka merusak syariat.
Begitu pula tidak gugur kewajiban karena ada orang-orang sufi palsu yang jahil, yang mengikuti siapa pun yang bersuara keras, tanpa petunjuk ilmu, dan condong ke setiap arah angin.Keenam:
 Orang yang diundang hanya wajib menghadiri walimah pada hari pertama.
Jika walimah diadakan selama tiga hari, maka tidak wajib menghadiri hari kedua, dan tidak lagi dianjurkan sekuat hari pertama.
Adapun menghadiri pada hari ketiga hukumnya makruh.Ketujuh:
 Yang mengundang harus seorang Muslim.
Jika yang mengundang adalah non-Muslim dzimmi, maka tidak wajib memenuhi undangannya, sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama. Hal ini karena bergaul akrab dengan non-Muslim dzimmi hukumnya makruh, disebabkan najisnya keyakinan mereka, rusaknya perilaku mereka, serta karena di dalamnya terdapat bentuk kasih sayang (muwaddah) terhadap orang kafir.Imam Ar-Rafi‘i berkata bahwa muwaddah seperti ini hukumnya makruh, namun beliau juga menegaskan dalam bab Jizyah bahwa muwaddah kepada orang kafir hukumnya haram, dan ini adalah pendapat yang benar.Dalilnya terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia, yang kalian berikan kasih sayang kepada mereka.”
(QS. Al-Mumtahanah: 1)لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Mujādilah: 22)Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menjalin kasih sayang dengan musuh Allah bukanlah mukmin sejati.Sebagian ulama bahkan memperluas larangan ini hingga mencakup muwaddah (kasih sayang dan kedekatan hati) terhadap orang fasik dari kalangan Muslim, sehingga diharamkan duduk bersama mereka dalam suasana akrab dan bersahabat.Imam Ar-Rafi‘i dan Imam An-Nawawi sama-sama menegaskan hal ini dalam Kitab Asy-Syahādāt.Karena itulah, Sufyān Ats-Tsaurī ketika sedang thawaf di Ka‘bah dan mendengar bahwa Khalifah Hārūn Ar-Rasyīd akan ikut thawaf, beliau langsung berhenti dan pergi, seraya membaca ayat:لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ…Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Abī Warād.
Mereka berpegang pada keumuman lafaz ayat tersebut, dan itulah pendapat yang paling benar — wallāhu a‘lam. KesimpulanWajib memenuhi undangan walimah hanya bila memenuhi syarat-syarat syar‘i di atas.Jika terdapat kemungkaran, niat buruk, diskriminasi, atau sumber dosa, maka tidak wajib bahkan bisa haram menghadirinya.Hari pertama walimah adalah waktu yang utama untuk hadir.Tidak wajib memenuhi undangan dari non-Muslim.Kehadiran dalam walimah harus diniatkan untuk silaturahmi dan mencari ridha Allah, bukan karena kedudukan, ketakutan, atau kepentingan duniawi._____Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang & Wonosari – Kartasura Jawa Tengah, 28 Rajab 1447 H, 16 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscinta dan pernikahan fikih nikah Islam dan pernikahan matan taqrib matan taqrib kitab nikah walimah

Fikih Walimah: Kapan Kita Wajib Menghadiri Undangan Pernikahan?

Walimah pernikahan merupakan bentuk syukur atas ikatan suci dua insan yang secara hukum asal adalah sunnah muakkadah, namun memenuhi undangannya menjadi wajib bagi setiap Muslim selama tidak ada uzur syar’i. Islam mengatur adab jamuan ini dengan sangat detail, mulai dari syarat-syarat wajibnya hadir hingga batasan dalam menyikapi kemungkaran yang mungkin ada di dalam acara. Memahami ketentuan walimah bukan sekadar soal urusan makan-makan, melainkan tentang menjaga hak sesama Muslim dan memastikan keberkahan dalam setiap jalinan silaturahmi.  Daftar Isi tutup 1. Bab Walimah Pernikahan 2. Hukum Walimah Pernikahan 3. Kadar Minimal Walimah 4. Hukum Memenuhi Undangan Walimah 5. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan Walimah 6. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَالْوَلِيمَةُ عَلَى الْعُرْسِ مُسْتَحَبَّةٌ، وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا وَاجِبَةٌ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.Walimah (jamuan makan) dalam acara pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali bila ada uzur (alasan yang dibenarkan). Bab Walimah PernikahanWalimah pada pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur (alasan yang dibenarkan). Walimah adalah jamuan makan pada acara pernikahan. Kata walīmah berasal dari akar kata al-walm (الوَلْم) yang berarti “mengumpulkan”, karena dalam pernikahan dua insan disatukan dalam ikatan yang suci.Imam Asy-Syafi‘i dan para ulama mazhab Syafi‘iyyah menjelaskan bahwa istilah walīmah secara bahasa bisa digunakan untuk setiap undangan makan yang diadakan karena rasa gembira atas suatu peristiwa baru, seperti pernikahan, khitan, dan selainnya. Namun, penggunaan yang paling populer dan umum ketika disebut tanpa tambahan maksud tertentu adalah untuk pernikahan, sedangkan pada selainnya perlu disebutkan secara khusus.Misalnya:Untuk undangan khitan disebut ‘udzrā’ (أعذار),Untuk kelahiran anak disebut ‘aqīqah (عقيقة),Untuk keselamatan wanita setelah melahirkan disebut khurās (خرس),Untuk menyambut kedatangan musafir disebut naqī‘ah (نقيعة),Untuk syukuran membangun rumah disebut wakīrah (وكيرة),Untuk jamuan dalam musibah disebut waḍīmah (وضيمة),Sedangkan jamuan yang diadakan tanpa sebab tertentu disebut ma’dubah (مأدبة).Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama mazhab kami tidak secara tegas menjelaskan siapa yang seharusnya mengadakan walīmah bagi orang yang baru datang dari perjalanan.” Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ahli bahasa. Al-Azhari meriwayatkan dari Al-Farra’ bahwa naqī‘ah itu adalah jamuan yang dibuat oleh orang yang baru datang dari safar. Sedangkan penulis Al-Muhkam mengatakan, naqī‘ah adalah jamuan yang dibuat untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, dan pendapat inilah yang lebih kuat — wallāhu a‘lam.Imam Al-Halimi juga membahas hal ini dan berkata bahwa disunnahkan bagi musafir yang baru pulang untuk menjamu orang-orang. Beliau bahkan menukil beberapa atsar dari para sahabat dan lainnya yang menunjukkan kebiasaan tersebut, lalu menegaskan bahwa hal ini memang disunnahkan. Ini berbeda dengan pendapat An-Nawawi yang menganggap tidak demikian — wallāhu a‘lam. Hukum Walimah PernikahanApakah walimah pernikahan hukumnya wajib atau tidak?
Ada dua pendapat:Pendapat pertama: Walimah hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika beliau menikah:«أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ»“Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Selain itu, Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan walimah, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan.Pendapat kedua (yang lebih kuat): Walimah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Ini adalah pendapat yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh An-Nawawi, karena Rasulullah ﷺ bersabda:«لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ»
“Tidak ada hak dalam harta seseorang selain zakat.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)Selain itu, walimah merupakan jamuan makan yang tidak terbatas bagi orang-orang miskin saja, sehingga hukumnya menyerupai ibadah kurban — yaitu bentuk syukur, bukan kewajiban. Dengan demikian, hukumnya diqiyaskan dengan jenis jamuan lain yang juga bersifat sunnah.Hadits pertama (“Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing”) dipahami sebagai penegasan anjuran yang sangat kuat, bukan kewajiban.
 Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa walimah merupakan fardhu kifayah, artinya jika sudah dilakukan oleh sebagian orang (misalnya keluarga atau pihak yang mewakili), maka gugurlah kewajiban dari yang lain.Adapun selain walimah pernikahan, seperti walimah khitan atau rumah baru, maka menurut mayoritas ulama hukumnya sunnah dan tidak sekuat anjuran walimah pernikahan. Ada pendapat lain yang mengatakan seluruh jenis walimah hukumnya wajib, namun pendapat ini lemah dan hanya keluar dari qiyas sebagian ulama. Kadar Minimal WalimahUntuk orang yang mampu, batas minimal walimah adalah dengan seekor kambing, karena Rasulullah ﷺ mengadakan swalimah atas pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy radhiyallāhu ‘anhā dengan seekor kambing. Namun, jika walimah dilakukan dengan sesuatu yang lebih sederhana pun sudah dianggap cukup, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan Shafiyyah radhiyallāhu ‘anhā hanya dengan sajian tepung (sawīq) dan kurma. Hukum Memenuhi Undangan WalimahApabila yang diundang adalah ke walimah pernikahan, maka:Jika walimahnya dianggap wajib, maka menjawab undangannya juga wajib.Jika walimahnya sunnah, maka menjawab undangannya tetap wajib menurut pendapat yang paling kuat. Pendapat ini dipilih oleh para ulama Irak, Ar-Ruyani, dan yang lainnya, karena didukung oleh hadits-hadits sahih, di antaranya:مَنْ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَلْيَأْتِهَا»“Barang siapa diundang ke walimah, hendaklah ia datang.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)Dan dalam riwayat lain disebutkan:مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ»
“Barang siapa tidak memenuhi undangan, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Muslim)Adapun untuk undangan selain walimah pernikahan, maka menurut pendapat mazhab Syafi‘i, memenuhi undangannya hukumnya sunnah.Jika kita berpendapat bahwa menjawab undangan walimah itu wajib, maka kewajibannya bersifat fardhu ‘ain (kewajiban individu) menurut pendapat yang paling kuat. Ada juga yang mengatakan fardhu kifayah, namun pendapat ini lebih lemah.Selain itu, kewajiban atau kesunnahan menghadiri undangan itu berlaku dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja’:“إِلَّا مِنْ عُذْرٍ” kecuali ada uzur (alasan yang dibenarkan),
seperti ada halangan syar‘i, kemaksiatan di dalam acara, atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir. KesimpulanWalimah pernikahan hukumnya sunnah muakkadah.Menjawab undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur syar‘i.Walimah lainnya seperti khitan, aqiqah, atau rumah baru hukumnya sunnah biasa, tidak sampai wajib.Minimal walimah cukup dengan hidangan sederhana, bahkan sekadar kurma dan tepung sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan WalimahPertama:
 Hendaknya orang yang mengadakan walimah mengundang secara umum seluruh keluarga besarnya, tetangganya, warga sekitar rumahnya, atau rekan-rekan seprofesinya — baik yang kaya maupun yang miskin.
Apabila ia hanya mengundang orang-orang kaya, maka hal itu tidak sesuai dengan tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda:«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا»
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang dihalangi bagi orang yang ingin datang, dan justru diundang orang yang enggan datang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Kedua:
 Hendaknya undangan itu ditujukan secara khusus — baik dengan diundang langsung oleh tuan rumah, atau dengan mengutus seseorang secara khusus untuk menyampaikan undangan.Namun jika tuan rumah hanya membuka pintu rumahnya dan berkata, “Silakan datang siapa saja yang mau,” atau mengutus orang dengan pesan, “Panggil siapa saja yang ingin datang,” atau berkata kepada seseorang, “Datanglah dan bawa siapa saja yang kamu mau,” maka undangan seperti ini tidak wajib dihadiri, bahkan tidak disunnahkan untuk dihadiri.Ketiga:
 Hendaknya tujuan undangan bukan karena takut kepada orang yang diundang — misalnya karena ia orang zalim, pejabat aniaya, atau para pembantunya, atau karena ia hakim yang menegakkan kezaliman, dan sejenisnya.
Demikian pula tidak boleh mengundang seseorang karena mengharap kedudukan atau bantuannya dalam urusan yang batil, tetapi undangan hendaknya dilakukan semata-mata untuk menjalin kasih sayang dan silaturahmi.Keempat: 
Tidak boleh dalam undangan tersebut terdapat orang yang kehadirannya menimbulkan gangguan bagi tamu lain yang datang, karena tidak pantas bagi mereka untuk duduk bersama.
Jika memang demikian, maka orang yang merasa terganggu berhak untuk tidak hadir.Contohnya, bila seseorang mengundang orang-orang rendahan dan keji (السَّفَلَة), sedangkan yang diundang adalah seorang terpandang.
Yang dimaksud dengan as-safalah (orang-orang rendahan) ialah para pengikut hawa nafsu dan kezaliman, seperti kalangan pasar yang kasar, kaki tangan para penguasa zalim, hakim-hakim suap, para pengemis berpura-pura saleh, dan sebagian orang yang berkedok zuhud namun hanya mencari makanan gratis di setiap acara — mereka adalah seburuk-buruk manusia.Begitu pula, jika seorang penuntut ilmu yang tulus mengundang penuntut ilmu lain yang hanya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, ingin menonjol di hadapan teman-temannya, atau mencari kehormatan palsu, maka tidak wajib baginya menghadiri undangan tersebut.Demikian pula halnya dengan seorang sufi sejati — tidak wajib baginya menghadiri undangan sufi-sufi palsu masa kini yang menghadiri setiap undangan, baik dari orang saleh maupun pendosa, dan yang berzikir atau beribadah dengan alat musik, nyanyian, dan hal-hal yang melalaikan.
Semua hal seperti ini sangat jelas kesalahannya, kecuali bagi orang yang buta hati hingga tak bisa membedakan cahaya bulan.Kelima:
 Tidak boleh ada kemungkaran dalam acara tersebut, seperti minum khamar, musik, nyanyian, atau hiburan yang melalaikan.Jika ada kemungkaran, maka dilihat keadaannya:1. Jika orang yang diundang mampu mengubah dan menolak kemungkaran itu, maka hendaknya ia datang, untuk memenuhi undangan sekaligus menghilangkan kemungkaran.2. Namun jika tidak mampu menolak kemungkaran, maka haram baginya hadir, karena sama saja dengan ridha dan mengakui perbuatan maksiat tersebut.Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa boleh hadir selama ia tidak ikut mendengarkan dan mengingkari dalam hatinya, sebagaimana jika seseorang tinggal di rumah yang di dekatnya ada kemungkaran; ia tidak wajib pindah selama tidak terlibat.Namun Imam An-Nawawi menilai pendapat ini keliru dan salah besar, dan beliau menegaskan agar tidak tertipu dengan keagungan tokoh yang mengucapkannya seperti dalam At-Tanbīh dan sejenisnya — wallāhu a‘lam.Pendapat yang benar adalah:
Jika seseorang tidak tahu bahwa di tempat itu ada kemungkaran, lalu setelah datang ia melihat kemungkaran itu, maka wajib baginya menasihati dan melarang.
Jika mereka tidak mau berhenti, maka ia harus segera keluar.
Apabila tetap duduk di sana, maka haram baginya duduk di tempat itu menurut pendapat yang sahih.Namun jika tidak bisa keluar karena alasan keamanan — misalnya malam hari dan ia takut bahaya di jalan — maka ia boleh tetap duduk, tapi dengan hati yang membenci maksiat itu dan tidak ikut mendengarkan.
Jika ia ikut mendengarkan, maka ia berdosa.Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa duduk dan mendengarkan nyanyian dari penyanyi wanita, maka akan dituangkan timah panas ke dalam kedua telinganya pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad, dihasankan oleh sebagian ulama)Termasuk kemungkaran pula: hamparan sutra, gambar-gambar makhluk bernyawa di dinding, langit-langit, dan pakaian sutra yang dipakai oleh laki-laki — sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki yang menyerupai perempuan.
Mereka ini dilaknat oleh Nabi ﷺ karena meniru-niru kaum wanita.Barang siapa meyakini hal-hal itu halal setelah dijelaskan padanya bahwa semua itu haram, maka ia kafir, karena telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh syariat.
Ia harus diminta bertaubat, dan jika tidak bertaubat, maka ia dihukum mati.Orang yang hadir di tempat seperti itu wajib mengingkari perbuatan maksiat tersebut, dan tidak gugur kewajiban amar ma‘ruf nahi munkar hanya karena ada fuqaha buruk (ulama yang fasik) di sana, sebab mereka merusak syariat.
Begitu pula tidak gugur kewajiban karena ada orang-orang sufi palsu yang jahil, yang mengikuti siapa pun yang bersuara keras, tanpa petunjuk ilmu, dan condong ke setiap arah angin.Keenam:
 Orang yang diundang hanya wajib menghadiri walimah pada hari pertama.
Jika walimah diadakan selama tiga hari, maka tidak wajib menghadiri hari kedua, dan tidak lagi dianjurkan sekuat hari pertama.
Adapun menghadiri pada hari ketiga hukumnya makruh.Ketujuh:
 Yang mengundang harus seorang Muslim.
Jika yang mengundang adalah non-Muslim dzimmi, maka tidak wajib memenuhi undangannya, sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama. Hal ini karena bergaul akrab dengan non-Muslim dzimmi hukumnya makruh, disebabkan najisnya keyakinan mereka, rusaknya perilaku mereka, serta karena di dalamnya terdapat bentuk kasih sayang (muwaddah) terhadap orang kafir.Imam Ar-Rafi‘i berkata bahwa muwaddah seperti ini hukumnya makruh, namun beliau juga menegaskan dalam bab Jizyah bahwa muwaddah kepada orang kafir hukumnya haram, dan ini adalah pendapat yang benar.Dalilnya terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia, yang kalian berikan kasih sayang kepada mereka.”
(QS. Al-Mumtahanah: 1)لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Mujādilah: 22)Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menjalin kasih sayang dengan musuh Allah bukanlah mukmin sejati.Sebagian ulama bahkan memperluas larangan ini hingga mencakup muwaddah (kasih sayang dan kedekatan hati) terhadap orang fasik dari kalangan Muslim, sehingga diharamkan duduk bersama mereka dalam suasana akrab dan bersahabat.Imam Ar-Rafi‘i dan Imam An-Nawawi sama-sama menegaskan hal ini dalam Kitab Asy-Syahādāt.Karena itulah, Sufyān Ats-Tsaurī ketika sedang thawaf di Ka‘bah dan mendengar bahwa Khalifah Hārūn Ar-Rasyīd akan ikut thawaf, beliau langsung berhenti dan pergi, seraya membaca ayat:لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ…Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Abī Warād.
Mereka berpegang pada keumuman lafaz ayat tersebut, dan itulah pendapat yang paling benar — wallāhu a‘lam. KesimpulanWajib memenuhi undangan walimah hanya bila memenuhi syarat-syarat syar‘i di atas.Jika terdapat kemungkaran, niat buruk, diskriminasi, atau sumber dosa, maka tidak wajib bahkan bisa haram menghadirinya.Hari pertama walimah adalah waktu yang utama untuk hadir.Tidak wajib memenuhi undangan dari non-Muslim.Kehadiran dalam walimah harus diniatkan untuk silaturahmi dan mencari ridha Allah, bukan karena kedudukan, ketakutan, atau kepentingan duniawi._____Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang & Wonosari – Kartasura Jawa Tengah, 28 Rajab 1447 H, 16 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscinta dan pernikahan fikih nikah Islam dan pernikahan matan taqrib matan taqrib kitab nikah walimah
Walimah pernikahan merupakan bentuk syukur atas ikatan suci dua insan yang secara hukum asal adalah sunnah muakkadah, namun memenuhi undangannya menjadi wajib bagi setiap Muslim selama tidak ada uzur syar’i. Islam mengatur adab jamuan ini dengan sangat detail, mulai dari syarat-syarat wajibnya hadir hingga batasan dalam menyikapi kemungkaran yang mungkin ada di dalam acara. Memahami ketentuan walimah bukan sekadar soal urusan makan-makan, melainkan tentang menjaga hak sesama Muslim dan memastikan keberkahan dalam setiap jalinan silaturahmi.  Daftar Isi tutup 1. Bab Walimah Pernikahan 2. Hukum Walimah Pernikahan 3. Kadar Minimal Walimah 4. Hukum Memenuhi Undangan Walimah 5. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan Walimah 6. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَالْوَلِيمَةُ عَلَى الْعُرْسِ مُسْتَحَبَّةٌ، وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا وَاجِبَةٌ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.Walimah (jamuan makan) dalam acara pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali bila ada uzur (alasan yang dibenarkan). Bab Walimah PernikahanWalimah pada pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur (alasan yang dibenarkan). Walimah adalah jamuan makan pada acara pernikahan. Kata walīmah berasal dari akar kata al-walm (الوَلْم) yang berarti “mengumpulkan”, karena dalam pernikahan dua insan disatukan dalam ikatan yang suci.Imam Asy-Syafi‘i dan para ulama mazhab Syafi‘iyyah menjelaskan bahwa istilah walīmah secara bahasa bisa digunakan untuk setiap undangan makan yang diadakan karena rasa gembira atas suatu peristiwa baru, seperti pernikahan, khitan, dan selainnya. Namun, penggunaan yang paling populer dan umum ketika disebut tanpa tambahan maksud tertentu adalah untuk pernikahan, sedangkan pada selainnya perlu disebutkan secara khusus.Misalnya:Untuk undangan khitan disebut ‘udzrā’ (أعذار),Untuk kelahiran anak disebut ‘aqīqah (عقيقة),Untuk keselamatan wanita setelah melahirkan disebut khurās (خرس),Untuk menyambut kedatangan musafir disebut naqī‘ah (نقيعة),Untuk syukuran membangun rumah disebut wakīrah (وكيرة),Untuk jamuan dalam musibah disebut waḍīmah (وضيمة),Sedangkan jamuan yang diadakan tanpa sebab tertentu disebut ma’dubah (مأدبة).Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama mazhab kami tidak secara tegas menjelaskan siapa yang seharusnya mengadakan walīmah bagi orang yang baru datang dari perjalanan.” Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ahli bahasa. Al-Azhari meriwayatkan dari Al-Farra’ bahwa naqī‘ah itu adalah jamuan yang dibuat oleh orang yang baru datang dari safar. Sedangkan penulis Al-Muhkam mengatakan, naqī‘ah adalah jamuan yang dibuat untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, dan pendapat inilah yang lebih kuat — wallāhu a‘lam.Imam Al-Halimi juga membahas hal ini dan berkata bahwa disunnahkan bagi musafir yang baru pulang untuk menjamu orang-orang. Beliau bahkan menukil beberapa atsar dari para sahabat dan lainnya yang menunjukkan kebiasaan tersebut, lalu menegaskan bahwa hal ini memang disunnahkan. Ini berbeda dengan pendapat An-Nawawi yang menganggap tidak demikian — wallāhu a‘lam. Hukum Walimah PernikahanApakah walimah pernikahan hukumnya wajib atau tidak?
Ada dua pendapat:Pendapat pertama: Walimah hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika beliau menikah:«أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ»“Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Selain itu, Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan walimah, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan.Pendapat kedua (yang lebih kuat): Walimah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Ini adalah pendapat yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh An-Nawawi, karena Rasulullah ﷺ bersabda:«لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ»
“Tidak ada hak dalam harta seseorang selain zakat.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)Selain itu, walimah merupakan jamuan makan yang tidak terbatas bagi orang-orang miskin saja, sehingga hukumnya menyerupai ibadah kurban — yaitu bentuk syukur, bukan kewajiban. Dengan demikian, hukumnya diqiyaskan dengan jenis jamuan lain yang juga bersifat sunnah.Hadits pertama (“Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing”) dipahami sebagai penegasan anjuran yang sangat kuat, bukan kewajiban.
 Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa walimah merupakan fardhu kifayah, artinya jika sudah dilakukan oleh sebagian orang (misalnya keluarga atau pihak yang mewakili), maka gugurlah kewajiban dari yang lain.Adapun selain walimah pernikahan, seperti walimah khitan atau rumah baru, maka menurut mayoritas ulama hukumnya sunnah dan tidak sekuat anjuran walimah pernikahan. Ada pendapat lain yang mengatakan seluruh jenis walimah hukumnya wajib, namun pendapat ini lemah dan hanya keluar dari qiyas sebagian ulama. Kadar Minimal WalimahUntuk orang yang mampu, batas minimal walimah adalah dengan seekor kambing, karena Rasulullah ﷺ mengadakan swalimah atas pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy radhiyallāhu ‘anhā dengan seekor kambing. Namun, jika walimah dilakukan dengan sesuatu yang lebih sederhana pun sudah dianggap cukup, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan Shafiyyah radhiyallāhu ‘anhā hanya dengan sajian tepung (sawīq) dan kurma. Hukum Memenuhi Undangan WalimahApabila yang diundang adalah ke walimah pernikahan, maka:Jika walimahnya dianggap wajib, maka menjawab undangannya juga wajib.Jika walimahnya sunnah, maka menjawab undangannya tetap wajib menurut pendapat yang paling kuat. Pendapat ini dipilih oleh para ulama Irak, Ar-Ruyani, dan yang lainnya, karena didukung oleh hadits-hadits sahih, di antaranya:مَنْ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَلْيَأْتِهَا»“Barang siapa diundang ke walimah, hendaklah ia datang.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)Dan dalam riwayat lain disebutkan:مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ»
“Barang siapa tidak memenuhi undangan, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Muslim)Adapun untuk undangan selain walimah pernikahan, maka menurut pendapat mazhab Syafi‘i, memenuhi undangannya hukumnya sunnah.Jika kita berpendapat bahwa menjawab undangan walimah itu wajib, maka kewajibannya bersifat fardhu ‘ain (kewajiban individu) menurut pendapat yang paling kuat. Ada juga yang mengatakan fardhu kifayah, namun pendapat ini lebih lemah.Selain itu, kewajiban atau kesunnahan menghadiri undangan itu berlaku dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja’:“إِلَّا مِنْ عُذْرٍ” kecuali ada uzur (alasan yang dibenarkan),
seperti ada halangan syar‘i, kemaksiatan di dalam acara, atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir. KesimpulanWalimah pernikahan hukumnya sunnah muakkadah.Menjawab undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur syar‘i.Walimah lainnya seperti khitan, aqiqah, atau rumah baru hukumnya sunnah biasa, tidak sampai wajib.Minimal walimah cukup dengan hidangan sederhana, bahkan sekadar kurma dan tepung sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan WalimahPertama:
 Hendaknya orang yang mengadakan walimah mengundang secara umum seluruh keluarga besarnya, tetangganya, warga sekitar rumahnya, atau rekan-rekan seprofesinya — baik yang kaya maupun yang miskin.
Apabila ia hanya mengundang orang-orang kaya, maka hal itu tidak sesuai dengan tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda:«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا»
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang dihalangi bagi orang yang ingin datang, dan justru diundang orang yang enggan datang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Kedua:
 Hendaknya undangan itu ditujukan secara khusus — baik dengan diundang langsung oleh tuan rumah, atau dengan mengutus seseorang secara khusus untuk menyampaikan undangan.Namun jika tuan rumah hanya membuka pintu rumahnya dan berkata, “Silakan datang siapa saja yang mau,” atau mengutus orang dengan pesan, “Panggil siapa saja yang ingin datang,” atau berkata kepada seseorang, “Datanglah dan bawa siapa saja yang kamu mau,” maka undangan seperti ini tidak wajib dihadiri, bahkan tidak disunnahkan untuk dihadiri.Ketiga:
 Hendaknya tujuan undangan bukan karena takut kepada orang yang diundang — misalnya karena ia orang zalim, pejabat aniaya, atau para pembantunya, atau karena ia hakim yang menegakkan kezaliman, dan sejenisnya.
Demikian pula tidak boleh mengundang seseorang karena mengharap kedudukan atau bantuannya dalam urusan yang batil, tetapi undangan hendaknya dilakukan semata-mata untuk menjalin kasih sayang dan silaturahmi.Keempat: 
Tidak boleh dalam undangan tersebut terdapat orang yang kehadirannya menimbulkan gangguan bagi tamu lain yang datang, karena tidak pantas bagi mereka untuk duduk bersama.
Jika memang demikian, maka orang yang merasa terganggu berhak untuk tidak hadir.Contohnya, bila seseorang mengundang orang-orang rendahan dan keji (السَّفَلَة), sedangkan yang diundang adalah seorang terpandang.
Yang dimaksud dengan as-safalah (orang-orang rendahan) ialah para pengikut hawa nafsu dan kezaliman, seperti kalangan pasar yang kasar, kaki tangan para penguasa zalim, hakim-hakim suap, para pengemis berpura-pura saleh, dan sebagian orang yang berkedok zuhud namun hanya mencari makanan gratis di setiap acara — mereka adalah seburuk-buruk manusia.Begitu pula, jika seorang penuntut ilmu yang tulus mengundang penuntut ilmu lain yang hanya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, ingin menonjol di hadapan teman-temannya, atau mencari kehormatan palsu, maka tidak wajib baginya menghadiri undangan tersebut.Demikian pula halnya dengan seorang sufi sejati — tidak wajib baginya menghadiri undangan sufi-sufi palsu masa kini yang menghadiri setiap undangan, baik dari orang saleh maupun pendosa, dan yang berzikir atau beribadah dengan alat musik, nyanyian, dan hal-hal yang melalaikan.
Semua hal seperti ini sangat jelas kesalahannya, kecuali bagi orang yang buta hati hingga tak bisa membedakan cahaya bulan.Kelima:
 Tidak boleh ada kemungkaran dalam acara tersebut, seperti minum khamar, musik, nyanyian, atau hiburan yang melalaikan.Jika ada kemungkaran, maka dilihat keadaannya:1. Jika orang yang diundang mampu mengubah dan menolak kemungkaran itu, maka hendaknya ia datang, untuk memenuhi undangan sekaligus menghilangkan kemungkaran.2. Namun jika tidak mampu menolak kemungkaran, maka haram baginya hadir, karena sama saja dengan ridha dan mengakui perbuatan maksiat tersebut.Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa boleh hadir selama ia tidak ikut mendengarkan dan mengingkari dalam hatinya, sebagaimana jika seseorang tinggal di rumah yang di dekatnya ada kemungkaran; ia tidak wajib pindah selama tidak terlibat.Namun Imam An-Nawawi menilai pendapat ini keliru dan salah besar, dan beliau menegaskan agar tidak tertipu dengan keagungan tokoh yang mengucapkannya seperti dalam At-Tanbīh dan sejenisnya — wallāhu a‘lam.Pendapat yang benar adalah:
Jika seseorang tidak tahu bahwa di tempat itu ada kemungkaran, lalu setelah datang ia melihat kemungkaran itu, maka wajib baginya menasihati dan melarang.
Jika mereka tidak mau berhenti, maka ia harus segera keluar.
Apabila tetap duduk di sana, maka haram baginya duduk di tempat itu menurut pendapat yang sahih.Namun jika tidak bisa keluar karena alasan keamanan — misalnya malam hari dan ia takut bahaya di jalan — maka ia boleh tetap duduk, tapi dengan hati yang membenci maksiat itu dan tidak ikut mendengarkan.
Jika ia ikut mendengarkan, maka ia berdosa.Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa duduk dan mendengarkan nyanyian dari penyanyi wanita, maka akan dituangkan timah panas ke dalam kedua telinganya pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad, dihasankan oleh sebagian ulama)Termasuk kemungkaran pula: hamparan sutra, gambar-gambar makhluk bernyawa di dinding, langit-langit, dan pakaian sutra yang dipakai oleh laki-laki — sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki yang menyerupai perempuan.
Mereka ini dilaknat oleh Nabi ﷺ karena meniru-niru kaum wanita.Barang siapa meyakini hal-hal itu halal setelah dijelaskan padanya bahwa semua itu haram, maka ia kafir, karena telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh syariat.
Ia harus diminta bertaubat, dan jika tidak bertaubat, maka ia dihukum mati.Orang yang hadir di tempat seperti itu wajib mengingkari perbuatan maksiat tersebut, dan tidak gugur kewajiban amar ma‘ruf nahi munkar hanya karena ada fuqaha buruk (ulama yang fasik) di sana, sebab mereka merusak syariat.
Begitu pula tidak gugur kewajiban karena ada orang-orang sufi palsu yang jahil, yang mengikuti siapa pun yang bersuara keras, tanpa petunjuk ilmu, dan condong ke setiap arah angin.Keenam:
 Orang yang diundang hanya wajib menghadiri walimah pada hari pertama.
Jika walimah diadakan selama tiga hari, maka tidak wajib menghadiri hari kedua, dan tidak lagi dianjurkan sekuat hari pertama.
Adapun menghadiri pada hari ketiga hukumnya makruh.Ketujuh:
 Yang mengundang harus seorang Muslim.
Jika yang mengundang adalah non-Muslim dzimmi, maka tidak wajib memenuhi undangannya, sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama. Hal ini karena bergaul akrab dengan non-Muslim dzimmi hukumnya makruh, disebabkan najisnya keyakinan mereka, rusaknya perilaku mereka, serta karena di dalamnya terdapat bentuk kasih sayang (muwaddah) terhadap orang kafir.Imam Ar-Rafi‘i berkata bahwa muwaddah seperti ini hukumnya makruh, namun beliau juga menegaskan dalam bab Jizyah bahwa muwaddah kepada orang kafir hukumnya haram, dan ini adalah pendapat yang benar.Dalilnya terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia, yang kalian berikan kasih sayang kepada mereka.”
(QS. Al-Mumtahanah: 1)لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Mujādilah: 22)Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menjalin kasih sayang dengan musuh Allah bukanlah mukmin sejati.Sebagian ulama bahkan memperluas larangan ini hingga mencakup muwaddah (kasih sayang dan kedekatan hati) terhadap orang fasik dari kalangan Muslim, sehingga diharamkan duduk bersama mereka dalam suasana akrab dan bersahabat.Imam Ar-Rafi‘i dan Imam An-Nawawi sama-sama menegaskan hal ini dalam Kitab Asy-Syahādāt.Karena itulah, Sufyān Ats-Tsaurī ketika sedang thawaf di Ka‘bah dan mendengar bahwa Khalifah Hārūn Ar-Rasyīd akan ikut thawaf, beliau langsung berhenti dan pergi, seraya membaca ayat:لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ…Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Abī Warād.
Mereka berpegang pada keumuman lafaz ayat tersebut, dan itulah pendapat yang paling benar — wallāhu a‘lam. KesimpulanWajib memenuhi undangan walimah hanya bila memenuhi syarat-syarat syar‘i di atas.Jika terdapat kemungkaran, niat buruk, diskriminasi, atau sumber dosa, maka tidak wajib bahkan bisa haram menghadirinya.Hari pertama walimah adalah waktu yang utama untuk hadir.Tidak wajib memenuhi undangan dari non-Muslim.Kehadiran dalam walimah harus diniatkan untuk silaturahmi dan mencari ridha Allah, bukan karena kedudukan, ketakutan, atau kepentingan duniawi._____Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang & Wonosari – Kartasura Jawa Tengah, 28 Rajab 1447 H, 16 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscinta dan pernikahan fikih nikah Islam dan pernikahan matan taqrib matan taqrib kitab nikah walimah


Walimah pernikahan merupakan bentuk syukur atas ikatan suci dua insan yang secara hukum asal adalah sunnah muakkadah, namun memenuhi undangannya menjadi wajib bagi setiap Muslim selama tidak ada uzur syar’i. Islam mengatur adab jamuan ini dengan sangat detail, mulai dari syarat-syarat wajibnya hadir hingga batasan dalam menyikapi kemungkaran yang mungkin ada di dalam acara. Memahami ketentuan walimah bukan sekadar soal urusan makan-makan, melainkan tentang menjaga hak sesama Muslim dan memastikan keberkahan dalam setiap jalinan silaturahmi.  Daftar Isi tutup 1. Bab Walimah Pernikahan 2. Hukum Walimah Pernikahan 3. Kadar Minimal Walimah 4. Hukum Memenuhi Undangan Walimah 5. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan Walimah 6. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَالْوَلِيمَةُ عَلَى الْعُرْسِ مُسْتَحَبَّةٌ، وَالْإِجَابَةُ إِلَيْهَا وَاجِبَةٌ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.Walimah (jamuan makan) dalam acara pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali bila ada uzur (alasan yang dibenarkan). Bab Walimah PernikahanWalimah pada pernikahan hukumnya sunnah (dianjurkan), sedangkan memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur (alasan yang dibenarkan). Walimah adalah jamuan makan pada acara pernikahan. Kata walīmah berasal dari akar kata al-walm (الوَلْم) yang berarti “mengumpulkan”, karena dalam pernikahan dua insan disatukan dalam ikatan yang suci.Imam Asy-Syafi‘i dan para ulama mazhab Syafi‘iyyah menjelaskan bahwa istilah walīmah secara bahasa bisa digunakan untuk setiap undangan makan yang diadakan karena rasa gembira atas suatu peristiwa baru, seperti pernikahan, khitan, dan selainnya. Namun, penggunaan yang paling populer dan umum ketika disebut tanpa tambahan maksud tertentu adalah untuk pernikahan, sedangkan pada selainnya perlu disebutkan secara khusus.Misalnya:Untuk undangan khitan disebut ‘udzrā’ (أعذار),Untuk kelahiran anak disebut ‘aqīqah (عقيقة),Untuk keselamatan wanita setelah melahirkan disebut khurās (خرس),Untuk menyambut kedatangan musafir disebut naqī‘ah (نقيعة),Untuk syukuran membangun rumah disebut wakīrah (وكيرة),Untuk jamuan dalam musibah disebut waḍīmah (وضيمة),Sedangkan jamuan yang diadakan tanpa sebab tertentu disebut ma’dubah (مأدبة).Imam An-Nawawi berkata: “Para ulama mazhab kami tidak secara tegas menjelaskan siapa yang seharusnya mengadakan walīmah bagi orang yang baru datang dari perjalanan.” Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ahli bahasa. Al-Azhari meriwayatkan dari Al-Farra’ bahwa naqī‘ah itu adalah jamuan yang dibuat oleh orang yang baru datang dari safar. Sedangkan penulis Al-Muhkam mengatakan, naqī‘ah adalah jamuan yang dibuat untuk menyambut orang yang datang dari perjalanan, dan pendapat inilah yang lebih kuat — wallāhu a‘lam.Imam Al-Halimi juga membahas hal ini dan berkata bahwa disunnahkan bagi musafir yang baru pulang untuk menjamu orang-orang. Beliau bahkan menukil beberapa atsar dari para sahabat dan lainnya yang menunjukkan kebiasaan tersebut, lalu menegaskan bahwa hal ini memang disunnahkan. Ini berbeda dengan pendapat An-Nawawi yang menganggap tidak demikian — wallāhu a‘lam. Hukum Walimah PernikahanApakah walimah pernikahan hukumnya wajib atau tidak?
Ada dua pendapat:Pendapat pertama: Walimah hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika beliau menikah:«أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ»“Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Selain itu, Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan walimah, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan.Pendapat kedua (yang lebih kuat): Walimah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Ini adalah pendapat yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh An-Nawawi, karena Rasulullah ﷺ bersabda:«لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ»
“Tidak ada hak dalam harta seseorang selain zakat.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)Selain itu, walimah merupakan jamuan makan yang tidak terbatas bagi orang-orang miskin saja, sehingga hukumnya menyerupai ibadah kurban — yaitu bentuk syukur, bukan kewajiban. Dengan demikian, hukumnya diqiyaskan dengan jenis jamuan lain yang juga bersifat sunnah.Hadits pertama (“Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing”) dipahami sebagai penegasan anjuran yang sangat kuat, bukan kewajiban.
 Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa walimah merupakan fardhu kifayah, artinya jika sudah dilakukan oleh sebagian orang (misalnya keluarga atau pihak yang mewakili), maka gugurlah kewajiban dari yang lain.Adapun selain walimah pernikahan, seperti walimah khitan atau rumah baru, maka menurut mayoritas ulama hukumnya sunnah dan tidak sekuat anjuran walimah pernikahan. Ada pendapat lain yang mengatakan seluruh jenis walimah hukumnya wajib, namun pendapat ini lemah dan hanya keluar dari qiyas sebagian ulama. Kadar Minimal WalimahUntuk orang yang mampu, batas minimal walimah adalah dengan seekor kambing, karena Rasulullah ﷺ mengadakan swalimah atas pernikahannya dengan Zainab binti Jahsy radhiyallāhu ‘anhā dengan seekor kambing. Namun, jika walimah dilakukan dengan sesuatu yang lebih sederhana pun sudah dianggap cukup, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah mengadakan walimah untuk pernikahannya dengan Shafiyyah radhiyallāhu ‘anhā hanya dengan sajian tepung (sawīq) dan kurma. Hukum Memenuhi Undangan WalimahApabila yang diundang adalah ke walimah pernikahan, maka:Jika walimahnya dianggap wajib, maka menjawab undangannya juga wajib.Jika walimahnya sunnah, maka menjawab undangannya tetap wajib menurut pendapat yang paling kuat. Pendapat ini dipilih oleh para ulama Irak, Ar-Ruyani, dan yang lainnya, karena didukung oleh hadits-hadits sahih, di antaranya:مَنْ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَلْيَأْتِهَا»“Barang siapa diundang ke walimah, hendaklah ia datang.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)Dan dalam riwayat lain disebutkan:مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ»
“Barang siapa tidak memenuhi undangan, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Muslim)Adapun untuk undangan selain walimah pernikahan, maka menurut pendapat mazhab Syafi‘i, memenuhi undangannya hukumnya sunnah.Jika kita berpendapat bahwa menjawab undangan walimah itu wajib, maka kewajibannya bersifat fardhu ‘ain (kewajiban individu) menurut pendapat yang paling kuat. Ada juga yang mengatakan fardhu kifayah, namun pendapat ini lebih lemah.Selain itu, kewajiban atau kesunnahan menghadiri undangan itu berlaku dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja’:“إِلَّا مِنْ عُذْرٍ” kecuali ada uzur (alasan yang dibenarkan),
seperti ada halangan syar‘i, kemaksiatan di dalam acara, atau kondisi yang tidak memungkinkan untuk hadir. KesimpulanWalimah pernikahan hukumnya sunnah muakkadah.Menjawab undangan walimah hukumnya wajib, kecuali jika ada uzur syar‘i.Walimah lainnya seperti khitan, aqiqah, atau rumah baru hukumnya sunnah biasa, tidak sampai wajib.Minimal walimah cukup dengan hidangan sederhana, bahkan sekadar kurma dan tepung sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ. Syarat-Syarat Wajibnya Memenuhi Undangan WalimahPertama:
 Hendaknya orang yang mengadakan walimah mengundang secara umum seluruh keluarga besarnya, tetangganya, warga sekitar rumahnya, atau rekan-rekan seprofesinya — baik yang kaya maupun yang miskin.
Apabila ia hanya mengundang orang-orang kaya, maka hal itu tidak sesuai dengan tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda:«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا»
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang dihalangi bagi orang yang ingin datang, dan justru diundang orang yang enggan datang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)Kedua:
 Hendaknya undangan itu ditujukan secara khusus — baik dengan diundang langsung oleh tuan rumah, atau dengan mengutus seseorang secara khusus untuk menyampaikan undangan.Namun jika tuan rumah hanya membuka pintu rumahnya dan berkata, “Silakan datang siapa saja yang mau,” atau mengutus orang dengan pesan, “Panggil siapa saja yang ingin datang,” atau berkata kepada seseorang, “Datanglah dan bawa siapa saja yang kamu mau,” maka undangan seperti ini tidak wajib dihadiri, bahkan tidak disunnahkan untuk dihadiri.Ketiga:
 Hendaknya tujuan undangan bukan karena takut kepada orang yang diundang — misalnya karena ia orang zalim, pejabat aniaya, atau para pembantunya, atau karena ia hakim yang menegakkan kezaliman, dan sejenisnya.
Demikian pula tidak boleh mengundang seseorang karena mengharap kedudukan atau bantuannya dalam urusan yang batil, tetapi undangan hendaknya dilakukan semata-mata untuk menjalin kasih sayang dan silaturahmi.Keempat: 
Tidak boleh dalam undangan tersebut terdapat orang yang kehadirannya menimbulkan gangguan bagi tamu lain yang datang, karena tidak pantas bagi mereka untuk duduk bersama.
Jika memang demikian, maka orang yang merasa terganggu berhak untuk tidak hadir.Contohnya, bila seseorang mengundang orang-orang rendahan dan keji (السَّفَلَة), sedangkan yang diundang adalah seorang terpandang.
Yang dimaksud dengan as-safalah (orang-orang rendahan) ialah para pengikut hawa nafsu dan kezaliman, seperti kalangan pasar yang kasar, kaki tangan para penguasa zalim, hakim-hakim suap, para pengemis berpura-pura saleh, dan sebagian orang yang berkedok zuhud namun hanya mencari makanan gratis di setiap acara — mereka adalah seburuk-buruk manusia.Begitu pula, jika seorang penuntut ilmu yang tulus mengundang penuntut ilmu lain yang hanya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, ingin menonjol di hadapan teman-temannya, atau mencari kehormatan palsu, maka tidak wajib baginya menghadiri undangan tersebut.Demikian pula halnya dengan seorang sufi sejati — tidak wajib baginya menghadiri undangan sufi-sufi palsu masa kini yang menghadiri setiap undangan, baik dari orang saleh maupun pendosa, dan yang berzikir atau beribadah dengan alat musik, nyanyian, dan hal-hal yang melalaikan.
Semua hal seperti ini sangat jelas kesalahannya, kecuali bagi orang yang buta hati hingga tak bisa membedakan cahaya bulan.Kelima:
 Tidak boleh ada kemungkaran dalam acara tersebut, seperti minum khamar, musik, nyanyian, atau hiburan yang melalaikan.Jika ada kemungkaran, maka dilihat keadaannya:1. Jika orang yang diundang mampu mengubah dan menolak kemungkaran itu, maka hendaknya ia datang, untuk memenuhi undangan sekaligus menghilangkan kemungkaran.2. Namun jika tidak mampu menolak kemungkaran, maka haram baginya hadir, karena sama saja dengan ridha dan mengakui perbuatan maksiat tersebut.Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa boleh hadir selama ia tidak ikut mendengarkan dan mengingkari dalam hatinya, sebagaimana jika seseorang tinggal di rumah yang di dekatnya ada kemungkaran; ia tidak wajib pindah selama tidak terlibat.Namun Imam An-Nawawi menilai pendapat ini keliru dan salah besar, dan beliau menegaskan agar tidak tertipu dengan keagungan tokoh yang mengucapkannya seperti dalam At-Tanbīh dan sejenisnya — wallāhu a‘lam.Pendapat yang benar adalah:
Jika seseorang tidak tahu bahwa di tempat itu ada kemungkaran, lalu setelah datang ia melihat kemungkaran itu, maka wajib baginya menasihati dan melarang.
Jika mereka tidak mau berhenti, maka ia harus segera keluar.
Apabila tetap duduk di sana, maka haram baginya duduk di tempat itu menurut pendapat yang sahih.Namun jika tidak bisa keluar karena alasan keamanan — misalnya malam hari dan ia takut bahaya di jalan — maka ia boleh tetap duduk, tapi dengan hati yang membenci maksiat itu dan tidak ikut mendengarkan.
Jika ia ikut mendengarkan, maka ia berdosa.Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa duduk dan mendengarkan nyanyian dari penyanyi wanita, maka akan dituangkan timah panas ke dalam kedua telinganya pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad, dihasankan oleh sebagian ulama)Termasuk kemungkaran pula: hamparan sutra, gambar-gambar makhluk bernyawa di dinding, langit-langit, dan pakaian sutra yang dipakai oleh laki-laki — sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki yang menyerupai perempuan.
Mereka ini dilaknat oleh Nabi ﷺ karena meniru-niru kaum wanita.Barang siapa meyakini hal-hal itu halal setelah dijelaskan padanya bahwa semua itu haram, maka ia kafir, karena telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh syariat.
Ia harus diminta bertaubat, dan jika tidak bertaubat, maka ia dihukum mati.Orang yang hadir di tempat seperti itu wajib mengingkari perbuatan maksiat tersebut, dan tidak gugur kewajiban amar ma‘ruf nahi munkar hanya karena ada fuqaha buruk (ulama yang fasik) di sana, sebab mereka merusak syariat.
Begitu pula tidak gugur kewajiban karena ada orang-orang sufi palsu yang jahil, yang mengikuti siapa pun yang bersuara keras, tanpa petunjuk ilmu, dan condong ke setiap arah angin.Keenam:
 Orang yang diundang hanya wajib menghadiri walimah pada hari pertama.
Jika walimah diadakan selama tiga hari, maka tidak wajib menghadiri hari kedua, dan tidak lagi dianjurkan sekuat hari pertama.
Adapun menghadiri pada hari ketiga hukumnya makruh.Ketujuh:
 Yang mengundang harus seorang Muslim.
Jika yang mengundang adalah non-Muslim dzimmi, maka tidak wajib memenuhi undangannya, sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama. Hal ini karena bergaul akrab dengan non-Muslim dzimmi hukumnya makruh, disebabkan najisnya keyakinan mereka, rusaknya perilaku mereka, serta karena di dalamnya terdapat bentuk kasih sayang (muwaddah) terhadap orang kafir.Imam Ar-Rafi‘i berkata bahwa muwaddah seperti ini hukumnya makruh, namun beliau juga menegaskan dalam bab Jizyah bahwa muwaddah kepada orang kafir hukumnya haram, dan ini adalah pendapat yang benar.Dalilnya terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia, yang kalian berikan kasih sayang kepada mereka.”
(QS. Al-Mumtahanah: 1)لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Mujādilah: 22)Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menjalin kasih sayang dengan musuh Allah bukanlah mukmin sejati.Sebagian ulama bahkan memperluas larangan ini hingga mencakup muwaddah (kasih sayang dan kedekatan hati) terhadap orang fasik dari kalangan Muslim, sehingga diharamkan duduk bersama mereka dalam suasana akrab dan bersahabat.Imam Ar-Rafi‘i dan Imam An-Nawawi sama-sama menegaskan hal ini dalam Kitab Asy-Syahādāt.Karena itulah, Sufyān Ats-Tsaurī ketika sedang thawaf di Ka‘bah dan mendengar bahwa Khalifah Hārūn Ar-Rasyīd akan ikut thawaf, beliau langsung berhenti dan pergi, seraya membaca ayat:لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ…Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Abī Warād.
Mereka berpegang pada keumuman lafaz ayat tersebut, dan itulah pendapat yang paling benar — wallāhu a‘lam. KesimpulanWajib memenuhi undangan walimah hanya bila memenuhi syarat-syarat syar‘i di atas.Jika terdapat kemungkaran, niat buruk, diskriminasi, atau sumber dosa, maka tidak wajib bahkan bisa haram menghadirinya.Hari pertama walimah adalah waktu yang utama untuk hadir.Tidak wajib memenuhi undangan dari non-Muslim.Kehadiran dalam walimah harus diniatkan untuk silaturahmi dan mencari ridha Allah, bukan karena kedudukan, ketakutan, atau kepentingan duniawi._____Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang & Wonosari – Kartasura Jawa Tengah, 28 Rajab 1447 H, 16 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscinta dan pernikahan fikih nikah Islam dan pernikahan matan taqrib matan taqrib kitab nikah walimah

Dunia Tak Seindah yang Kau Kira: Cara Pandangmu Terhadap Dunia Akan Berubah -Syaikh Saad Al Khatslan

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jangan sekali-kali engkau mengarahkan pandangan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan …kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131) Maksudnya, janganlah engkau memandang kepada para pencinta dunia dan kenikmatan yang diberikan kepada mereka, seperti kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan selainnya. Karena semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan bunga, pada akhirnya, pasti layu, mengering, dan lenyap. Ia adalah bagian dari pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya sebagai bunga—indah dalam penampilan dan keelokannya, bahkan juga harum aromanya jika ia memiliki aroma. Namun, ia sangat cepat layu. Demikian pula dunia, ia seperti bunga yang cepat sekali layu. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita bagian dan kenikmatan di akhirat. Dalam ayat ini, Allah melarang kita memandang kenikmatan yang dimiliki para pencinta dunia, serta perhiasan kehidupan dunia. “Dan janganlah engkau mengarahkan pandangan kedua matamu…” maksudnya: jangan menggantungkan hati, “…kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka…” yakni kepada para pencinta dunia dan kesenangan dunia yang mereka miliki, berupa kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Mengapa? Allah berfirman: “Sebagai bunga kehidupan dunia.” Artinya, semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan akhir dari bunga adalah layu, gugur, dan kering. Ia merupakan bagian pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya bunga kehidupan dunia. Ia memang indah pada keelokannya, bentuknya, kilau tampilannya, dan aromanya, tapi bunga sangat cepat layu dan binasa. Demikian juga dunia. Maka seorang Muslim hendaklah tidak terpaut hatinya dengan dunia dan nikmat-nikmatnya, karena ia akan lenyap, dan bahkan cepat sekali lenyapnya. Apabila Allah Ta’ala mengaruniakan suatu kenikmatan dunia, hendaklah ia menjadikan dunia berada di tangannya, bukan di hatinya. Apabila ia meletakkan dunia di tangannya, maka itu tidak akan mempengaruhi agamanya. Namun, jika ia meletakkan dunia di hatinya, maka tidak diragukan lagi hal itu akan memengaruhi agamanya. Karena itulah, sebagian Sahabat Nabi termasuk orang-orang yang kaya, bahkan di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga, terdapat sejumlah orang yang kaya. Di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, dan selain mereka dari kalangan Sahabat yang kaya. Namun, dunia tidak memengaruhi agama mereka. Tidak memengaruhi ketakwaan, sikap warak, dan keterikatan hati mereka dengan akhirat. Allah menghimpun agama dan dunia bagi mereka. Hal itu karena mereka meletakkan dunia di tangan mereka, bukan di hati mereka. Adapun musibah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang menggantungkan dirinya kepada dunia, dan menjadikan dunia berada di dalam hatinya, lalu terfitnah olehnya. Sehingga dunialah yang mengendalikannya. Bahkan bisa jadi hal itu mengorbankan banyak urusan agamanya. Padahal dunia itu cepat sekali lenyap, ia seperti bunga, yang segera rontok, layu, dan hilang. Karena itulah Allah berfirman, “…sebagai bunga kehidupan dunia agar Kami menguji mereka dengannya.” ===== قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَيْ لَا تَنْظُرْ إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنَ النَّعِيمِ وَالْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَكُلُّ هَذَا زَهْرَةُ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ آخِرُ مَآلِهَا الذُّبُولُ وَالْيُبْسُ وَالزَّوَالُ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةٌ وَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي رَوْنَقِهَا وَجَمَالِهَا وَرِيحِهَا إِذَا كَانَتْ ذَاتَ رِيحٍ لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا زَهْرَةٌ تَذْبُلُ سَرِيعًا نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ لَنَا حَظًّا وَنَصِيبًا فِي الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ نَهَى رَبُّنَا سُبْحَانَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى مَتَاعِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَزَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ يَعْنِي لَا تَتَعَلَّقْ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ يَعْنِي إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنْ مُتَعِ الدُّنْيَا مِنْ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِمَاذَا؟ قَال زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَعْنِي أَنَّ هَذَا كُلَّهُ زَهْرَةٌ زَهْرَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ مَآلُهَا لِلذَّبُولِ وَالزَّوَالِ وَالْيُبْسِ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرَةِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي جَمَالِهَا وَفِي شَكْلِهَا وَفِي رَوْنَقِهَا وَفِي رَائِحَتِهَا لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَسَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِالدُّنْيَا وَمُتعِهَا فَإِنَّهَا زَائِلَةٌ بَلْ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَإِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا فَلْيَجْعَلِ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِهِ إِذَا جَعَلَ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى دِينِهِ لَكِنْ إِذَا كَانَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ فَإِنَّهَا تُؤَثِّرُ وَلَا شَكَّ عَلَى دِينِهِ وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ بَلْ حَتَّى مِنَ الْعَشرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ كَانَ عَدَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ وَمِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرُ بْنِ عَوَامٍّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَثْرِيَاءِ الصَّحَابَةِ وَلَكِنْ لَمْ تُؤَثِّرِ الدُّنْيَا عَلَى الدِّيْنِ بِالنِّسْبَةِ لَهُمْ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى تَقْوَاهُمْ وَلَا عَلَى وَرَعِهِمْ وَلَا عَلَى تَعَلُّقِهِمْ بِالْآخِرَةِ فَجَمَعَ اللَّهُ لَهُمْ مَا بَيْنَ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا الدُّنْيَا فِي أَيْدِيهِمْ وَلَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ وَالْمُصِيبَةُ عِنْدَمَا يَتَعَلَّقُ الْإِنْسَانُ بِالدُّنْيَا وَيَجْعَلُ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَيَفْتَتِنُ بِهَا فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي تُسَيِّرُهُ وَرُبَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى حِسَابِ كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِ دِينِهِ وَالدُّنْيَا سَرِيعَةُ الزَّوَالِ هِيَ كَالزَّهْرَةِ سُرْعَانَ مَا تَذْهَبُ وَتَزُولُ وَتَذْبُلُ وَلِهَذَا قَالَ سُبْحَانَهُ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

Dunia Tak Seindah yang Kau Kira: Cara Pandangmu Terhadap Dunia Akan Berubah -Syaikh Saad Al Khatslan

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jangan sekali-kali engkau mengarahkan pandangan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan …kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131) Maksudnya, janganlah engkau memandang kepada para pencinta dunia dan kenikmatan yang diberikan kepada mereka, seperti kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan selainnya. Karena semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan bunga, pada akhirnya, pasti layu, mengering, dan lenyap. Ia adalah bagian dari pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya sebagai bunga—indah dalam penampilan dan keelokannya, bahkan juga harum aromanya jika ia memiliki aroma. Namun, ia sangat cepat layu. Demikian pula dunia, ia seperti bunga yang cepat sekali layu. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita bagian dan kenikmatan di akhirat. Dalam ayat ini, Allah melarang kita memandang kenikmatan yang dimiliki para pencinta dunia, serta perhiasan kehidupan dunia. “Dan janganlah engkau mengarahkan pandangan kedua matamu…” maksudnya: jangan menggantungkan hati, “…kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka…” yakni kepada para pencinta dunia dan kesenangan dunia yang mereka miliki, berupa kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Mengapa? Allah berfirman: “Sebagai bunga kehidupan dunia.” Artinya, semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan akhir dari bunga adalah layu, gugur, dan kering. Ia merupakan bagian pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya bunga kehidupan dunia. Ia memang indah pada keelokannya, bentuknya, kilau tampilannya, dan aromanya, tapi bunga sangat cepat layu dan binasa. Demikian juga dunia. Maka seorang Muslim hendaklah tidak terpaut hatinya dengan dunia dan nikmat-nikmatnya, karena ia akan lenyap, dan bahkan cepat sekali lenyapnya. Apabila Allah Ta’ala mengaruniakan suatu kenikmatan dunia, hendaklah ia menjadikan dunia berada di tangannya, bukan di hatinya. Apabila ia meletakkan dunia di tangannya, maka itu tidak akan mempengaruhi agamanya. Namun, jika ia meletakkan dunia di hatinya, maka tidak diragukan lagi hal itu akan memengaruhi agamanya. Karena itulah, sebagian Sahabat Nabi termasuk orang-orang yang kaya, bahkan di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga, terdapat sejumlah orang yang kaya. Di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, dan selain mereka dari kalangan Sahabat yang kaya. Namun, dunia tidak memengaruhi agama mereka. Tidak memengaruhi ketakwaan, sikap warak, dan keterikatan hati mereka dengan akhirat. Allah menghimpun agama dan dunia bagi mereka. Hal itu karena mereka meletakkan dunia di tangan mereka, bukan di hati mereka. Adapun musibah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang menggantungkan dirinya kepada dunia, dan menjadikan dunia berada di dalam hatinya, lalu terfitnah olehnya. Sehingga dunialah yang mengendalikannya. Bahkan bisa jadi hal itu mengorbankan banyak urusan agamanya. Padahal dunia itu cepat sekali lenyap, ia seperti bunga, yang segera rontok, layu, dan hilang. Karena itulah Allah berfirman, “…sebagai bunga kehidupan dunia agar Kami menguji mereka dengannya.” ===== قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَيْ لَا تَنْظُرْ إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنَ النَّعِيمِ وَالْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَكُلُّ هَذَا زَهْرَةُ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ آخِرُ مَآلِهَا الذُّبُولُ وَالْيُبْسُ وَالزَّوَالُ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةٌ وَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي رَوْنَقِهَا وَجَمَالِهَا وَرِيحِهَا إِذَا كَانَتْ ذَاتَ رِيحٍ لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا زَهْرَةٌ تَذْبُلُ سَرِيعًا نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ لَنَا حَظًّا وَنَصِيبًا فِي الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ نَهَى رَبُّنَا سُبْحَانَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى مَتَاعِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَزَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ يَعْنِي لَا تَتَعَلَّقْ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ يَعْنِي إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنْ مُتَعِ الدُّنْيَا مِنْ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِمَاذَا؟ قَال زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَعْنِي أَنَّ هَذَا كُلَّهُ زَهْرَةٌ زَهْرَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ مَآلُهَا لِلذَّبُولِ وَالزَّوَالِ وَالْيُبْسِ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرَةِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي جَمَالِهَا وَفِي شَكْلِهَا وَفِي رَوْنَقِهَا وَفِي رَائِحَتِهَا لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَسَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِالدُّنْيَا وَمُتعِهَا فَإِنَّهَا زَائِلَةٌ بَلْ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَإِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا فَلْيَجْعَلِ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِهِ إِذَا جَعَلَ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى دِينِهِ لَكِنْ إِذَا كَانَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ فَإِنَّهَا تُؤَثِّرُ وَلَا شَكَّ عَلَى دِينِهِ وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ بَلْ حَتَّى مِنَ الْعَشرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ كَانَ عَدَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ وَمِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرُ بْنِ عَوَامٍّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَثْرِيَاءِ الصَّحَابَةِ وَلَكِنْ لَمْ تُؤَثِّرِ الدُّنْيَا عَلَى الدِّيْنِ بِالنِّسْبَةِ لَهُمْ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى تَقْوَاهُمْ وَلَا عَلَى وَرَعِهِمْ وَلَا عَلَى تَعَلُّقِهِمْ بِالْآخِرَةِ فَجَمَعَ اللَّهُ لَهُمْ مَا بَيْنَ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا الدُّنْيَا فِي أَيْدِيهِمْ وَلَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ وَالْمُصِيبَةُ عِنْدَمَا يَتَعَلَّقُ الْإِنْسَانُ بِالدُّنْيَا وَيَجْعَلُ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَيَفْتَتِنُ بِهَا فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي تُسَيِّرُهُ وَرُبَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى حِسَابِ كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِ دِينِهِ وَالدُّنْيَا سَرِيعَةُ الزَّوَالِ هِيَ كَالزَّهْرَةِ سُرْعَانَ مَا تَذْهَبُ وَتَزُولُ وَتَذْبُلُ وَلِهَذَا قَالَ سُبْحَانَهُ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
Allah Ta’ala berfirman, “Dan jangan sekali-kali engkau mengarahkan pandangan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan …kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131) Maksudnya, janganlah engkau memandang kepada para pencinta dunia dan kenikmatan yang diberikan kepada mereka, seperti kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan selainnya. Karena semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan bunga, pada akhirnya, pasti layu, mengering, dan lenyap. Ia adalah bagian dari pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya sebagai bunga—indah dalam penampilan dan keelokannya, bahkan juga harum aromanya jika ia memiliki aroma. Namun, ia sangat cepat layu. Demikian pula dunia, ia seperti bunga yang cepat sekali layu. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita bagian dan kenikmatan di akhirat. Dalam ayat ini, Allah melarang kita memandang kenikmatan yang dimiliki para pencinta dunia, serta perhiasan kehidupan dunia. “Dan janganlah engkau mengarahkan pandangan kedua matamu…” maksudnya: jangan menggantungkan hati, “…kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka…” yakni kepada para pencinta dunia dan kesenangan dunia yang mereka miliki, berupa kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Mengapa? Allah berfirman: “Sebagai bunga kehidupan dunia.” Artinya, semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan akhir dari bunga adalah layu, gugur, dan kering. Ia merupakan bagian pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya bunga kehidupan dunia. Ia memang indah pada keelokannya, bentuknya, kilau tampilannya, dan aromanya, tapi bunga sangat cepat layu dan binasa. Demikian juga dunia. Maka seorang Muslim hendaklah tidak terpaut hatinya dengan dunia dan nikmat-nikmatnya, karena ia akan lenyap, dan bahkan cepat sekali lenyapnya. Apabila Allah Ta’ala mengaruniakan suatu kenikmatan dunia, hendaklah ia menjadikan dunia berada di tangannya, bukan di hatinya. Apabila ia meletakkan dunia di tangannya, maka itu tidak akan mempengaruhi agamanya. Namun, jika ia meletakkan dunia di hatinya, maka tidak diragukan lagi hal itu akan memengaruhi agamanya. Karena itulah, sebagian Sahabat Nabi termasuk orang-orang yang kaya, bahkan di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga, terdapat sejumlah orang yang kaya. Di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, dan selain mereka dari kalangan Sahabat yang kaya. Namun, dunia tidak memengaruhi agama mereka. Tidak memengaruhi ketakwaan, sikap warak, dan keterikatan hati mereka dengan akhirat. Allah menghimpun agama dan dunia bagi mereka. Hal itu karena mereka meletakkan dunia di tangan mereka, bukan di hati mereka. Adapun musibah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang menggantungkan dirinya kepada dunia, dan menjadikan dunia berada di dalam hatinya, lalu terfitnah olehnya. Sehingga dunialah yang mengendalikannya. Bahkan bisa jadi hal itu mengorbankan banyak urusan agamanya. Padahal dunia itu cepat sekali lenyap, ia seperti bunga, yang segera rontok, layu, dan hilang. Karena itulah Allah berfirman, “…sebagai bunga kehidupan dunia agar Kami menguji mereka dengannya.” ===== قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَيْ لَا تَنْظُرْ إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنَ النَّعِيمِ وَالْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَكُلُّ هَذَا زَهْرَةُ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ آخِرُ مَآلِهَا الذُّبُولُ وَالْيُبْسُ وَالزَّوَالُ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةٌ وَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي رَوْنَقِهَا وَجَمَالِهَا وَرِيحِهَا إِذَا كَانَتْ ذَاتَ رِيحٍ لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا زَهْرَةٌ تَذْبُلُ سَرِيعًا نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ لَنَا حَظًّا وَنَصِيبًا فِي الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ نَهَى رَبُّنَا سُبْحَانَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى مَتَاعِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَزَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ يَعْنِي لَا تَتَعَلَّقْ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ يَعْنِي إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنْ مُتَعِ الدُّنْيَا مِنْ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِمَاذَا؟ قَال زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَعْنِي أَنَّ هَذَا كُلَّهُ زَهْرَةٌ زَهْرَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ مَآلُهَا لِلذَّبُولِ وَالزَّوَالِ وَالْيُبْسِ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرَةِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي جَمَالِهَا وَفِي شَكْلِهَا وَفِي رَوْنَقِهَا وَفِي رَائِحَتِهَا لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَسَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِالدُّنْيَا وَمُتعِهَا فَإِنَّهَا زَائِلَةٌ بَلْ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَإِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا فَلْيَجْعَلِ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِهِ إِذَا جَعَلَ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى دِينِهِ لَكِنْ إِذَا كَانَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ فَإِنَّهَا تُؤَثِّرُ وَلَا شَكَّ عَلَى دِينِهِ وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ بَلْ حَتَّى مِنَ الْعَشرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ كَانَ عَدَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ وَمِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرُ بْنِ عَوَامٍّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَثْرِيَاءِ الصَّحَابَةِ وَلَكِنْ لَمْ تُؤَثِّرِ الدُّنْيَا عَلَى الدِّيْنِ بِالنِّسْبَةِ لَهُمْ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى تَقْوَاهُمْ وَلَا عَلَى وَرَعِهِمْ وَلَا عَلَى تَعَلُّقِهِمْ بِالْآخِرَةِ فَجَمَعَ اللَّهُ لَهُمْ مَا بَيْنَ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا الدُّنْيَا فِي أَيْدِيهِمْ وَلَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ وَالْمُصِيبَةُ عِنْدَمَا يَتَعَلَّقُ الْإِنْسَانُ بِالدُّنْيَا وَيَجْعَلُ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَيَفْتَتِنُ بِهَا فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي تُسَيِّرُهُ وَرُبَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى حِسَابِ كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِ دِينِهِ وَالدُّنْيَا سَرِيعَةُ الزَّوَالِ هِيَ كَالزَّهْرَةِ سُرْعَانَ مَا تَذْهَبُ وَتَزُولُ وَتَذْبُلُ وَلِهَذَا قَالَ سُبْحَانَهُ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ


Allah Ta’ala berfirman, “Dan jangan sekali-kali engkau mengarahkan pandangan kedua matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan …kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131) Maksudnya, janganlah engkau memandang kepada para pencinta dunia dan kenikmatan yang diberikan kepada mereka, seperti kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan selainnya. Karena semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan bunga, pada akhirnya, pasti layu, mengering, dan lenyap. Ia adalah bagian dari pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya sebagai bunga—indah dalam penampilan dan keelokannya, bahkan juga harum aromanya jika ia memiliki aroma. Namun, ia sangat cepat layu. Demikian pula dunia, ia seperti bunga yang cepat sekali layu. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita bagian dan kenikmatan di akhirat. Dalam ayat ini, Allah melarang kita memandang kenikmatan yang dimiliki para pencinta dunia, serta perhiasan kehidupan dunia. “Dan janganlah engkau mengarahkan pandangan kedua matamu…” maksudnya: jangan menggantungkan hati, “…kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka…” yakni kepada para pencinta dunia dan kesenangan dunia yang mereka miliki, berupa kendaraan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Mengapa? Allah berfirman: “Sebagai bunga kehidupan dunia.” Artinya, semua itu hanyalah bunga kehidupan dunia. Sedangkan akhir dari bunga adalah layu, gugur, dan kering. Ia merupakan bagian pohon yang paling cepat layu dan gugur. Karena itulah Allah menyebutnya bunga kehidupan dunia. Ia memang indah pada keelokannya, bentuknya, kilau tampilannya, dan aromanya, tapi bunga sangat cepat layu dan binasa. Demikian juga dunia. Maka seorang Muslim hendaklah tidak terpaut hatinya dengan dunia dan nikmat-nikmatnya, karena ia akan lenyap, dan bahkan cepat sekali lenyapnya. Apabila Allah Ta’ala mengaruniakan suatu kenikmatan dunia, hendaklah ia menjadikan dunia berada di tangannya, bukan di hatinya. Apabila ia meletakkan dunia di tangannya, maka itu tidak akan mempengaruhi agamanya. Namun, jika ia meletakkan dunia di hatinya, maka tidak diragukan lagi hal itu akan memengaruhi agamanya. Karena itulah, sebagian Sahabat Nabi termasuk orang-orang yang kaya, bahkan di antara sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga, terdapat sejumlah orang yang kaya. Di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, dan selain mereka dari kalangan Sahabat yang kaya. Namun, dunia tidak memengaruhi agama mereka. Tidak memengaruhi ketakwaan, sikap warak, dan keterikatan hati mereka dengan akhirat. Allah menghimpun agama dan dunia bagi mereka. Hal itu karena mereka meletakkan dunia di tangan mereka, bukan di hati mereka. Adapun musibah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang menggantungkan dirinya kepada dunia, dan menjadikan dunia berada di dalam hatinya, lalu terfitnah olehnya. Sehingga dunialah yang mengendalikannya. Bahkan bisa jadi hal itu mengorbankan banyak urusan agamanya. Padahal dunia itu cepat sekali lenyap, ia seperti bunga, yang segera rontok, layu, dan hilang. Karena itulah Allah berfirman, “…sebagai bunga kehidupan dunia agar Kami menguji mereka dengannya.” ===== قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَيْ لَا تَنْظُرْ إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنَ النَّعِيمِ وَالْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَكُلُّ هَذَا زَهْرَةُ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ آخِرُ مَآلِهَا الذُّبُولُ وَالْيُبْسُ وَالزَّوَالُ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةٌ وَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي رَوْنَقِهَا وَجَمَالِهَا وَرِيحِهَا إِذَا كَانَتْ ذَاتَ رِيحٍ لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا زَهْرَةٌ تَذْبُلُ سَرِيعًا نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ لَنَا حَظًّا وَنَصِيبًا فِي الْآخِرَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ نَهَى رَبُّنَا سُبْحَانَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى مَتَاعِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَزَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ يَعْنِي لَا تَتَعَلَّقْ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ يَعْنِي إِلَى أَهْلِ الدُّنْيَا وَمَا مُتِّعُوا بِهِ مِنْ مُتَعِ الدُّنْيَا مِنْ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِمَاذَا؟ قَال زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَعْنِي أَنَّ هَذَا كُلَّهُ زَهْرَةٌ زَهْرَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالزَّهْرَةُ مَآلُهَا لِلذَّبُولِ وَالزَّوَالِ وَالْيُبْسِ وَهِيَ أَسْرَعُ أَوْرَاقِ الشَّجَرَةِ ذُبُوْلًا وَزَوَالًا وَلِهَذَا قَالَ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَهِيَ زَهْرَةٌ حَسَنَةٌ فِي جَمَالِهَا وَفِي شَكْلِهَا وَفِي رَوْنَقِهَا وَفِي رَائِحَتِهَا لَكِنَّهَا سَرِيعَةُ الذُّبُولِ وَسَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَهَكَذَا الدُّنْيَا فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِالدُّنْيَا وَمُتعِهَا فَإِنَّهَا زَائِلَةٌ بَلْ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ وَإِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا فَلْيَجْعَلِ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِهِ إِذَا جَعَلَ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى دِينِهِ لَكِنْ إِذَا كَانَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ فَإِنَّهَا تُؤَثِّرُ وَلَا شَكَّ عَلَى دِينِهِ وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ بَلْ حَتَّى مِنَ الْعَشرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ كَانَ عَدَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الْأَثْرِيَاءِ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ وَمِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرُ بْنِ عَوَامٍّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَثْرِيَاءِ الصَّحَابَةِ وَلَكِنْ لَمْ تُؤَثِّرِ الدُّنْيَا عَلَى الدِّيْنِ بِالنِّسْبَةِ لَهُمْ لَمْ تُؤَثِّرْ عَلَى تَقْوَاهُمْ وَلَا عَلَى وَرَعِهِمْ وَلَا عَلَى تَعَلُّقِهِمْ بِالْآخِرَةِ فَجَمَعَ اللَّهُ لَهُمْ مَا بَيْنَ الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا الدُّنْيَا فِي أَيْدِيهِمْ وَلَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ وَالْمُصِيبَةُ عِنْدَمَا يَتَعَلَّقُ الْإِنْسَانُ بِالدُّنْيَا وَيَجْعَلُ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَيَفْتَتِنُ بِهَا فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي تُسَيِّرُهُ وَرُبَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى حِسَابِ كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِ دِينِهِ وَالدُّنْيَا سَرِيعَةُ الزَّوَالِ هِيَ كَالزَّهْرَةِ سُرْعَانَ مَا تَذْهَبُ وَتَزُولُ وَتَذْبُلُ وَلِهَذَا قَالَ سُبْحَانَهُ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

Rahasia Besar Surat Al Kafirun yang Dibaca Sebelum Tidur – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Dalam sejumlah riwayat hadis yang dibawakan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i disebutkan,bahwa Naufal radhiyallahu ‘anhu pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengajarinya zikir yang dibaca sebelum tidur. Untuk mengajarinya zikir yang hendaknya dibaca sebelum tidur. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarinya. Nabi bersabda, “Bacalah: Qul yaa ayyuhal kaafiruun…” Maksudnya, bacalah seluruh surat Al-Kafirun, bukan hanya satu ayat: Qul yaa ayyuhal kaafiruun saja. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan sabdanya, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni hingga akhir surat. “Karena sesungguhnya surat ini merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.” Yakni dalam surat itu terdapat penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Sebab tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan dua unsur: penetapan dan penafian. Harus ada penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Adapun maksud dan rahasia dari amalan ini adalah, bahwa apabila seseorang membaca surat Al-Kafirun sampai selesai, maka ia tidur dalam keadaan bertauhid. Bisa jadi ruhnya akan dicabut ketika ia sedang tidur. Dengan demikian ia termasuk orang yang ucapan terakhirnya di dunia adalah kalimat “Laa ilaaha illallaah”. Karena kandungan surat ini bermakna “Laa ilaaha illallaah.” Itulah sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni tidurlah dalam keadaan bertauhiddan berlepas diri dari kesyirikan. Sehingga orang yang mengamalkannya dapat meraih keutamaan zikir ini dan keutamaan yang kita sebutkan tadi, yaitu kemungkinan ruhnya dicabut saat tidur, sehingga ia wafat dalam keadaan bertauhid, dan termasuk orang yang akhir ucapannya di dunia adalah “Laa ilaaha illallaah.” ===== فِي رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ أَنَّ نَوْفَلَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ طَلَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَقَالَ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ أَيْ اقْرَأْ السُّورَةَ وَلَيْسَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ فَقَطْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَلِذَلِكَ قَالَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا عَلَى خَاتِمَةِ السُّورَةِ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ أَيْ أَنَّ فِيهَا إِثْبَاتَ التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةَ مِنَ الشِّرْكِ وَالتَّوْحِيدُ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ إِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ وَنَفْيِ الشِّرْكِ وَالْمَقْصُودُ وَالسِّرُّ هُنَا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَرَأَ سُورَةَ الْكَافِرُونَ كَامِلَةً فَإِنَّهُ يَنَامُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَقَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ مِمَّنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ بِمَعْنَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا أَيْ نَمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ لِيَنَالَ الْإِنْسَانُ فَضْلَ الذِّكْرِ وَلِمَا أَشَرْنَا إِلَيْهِ مِنْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ قَدْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَيَكُونُ دَاخِلًا فِي مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Rahasia Besar Surat Al Kafirun yang Dibaca Sebelum Tidur – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Dalam sejumlah riwayat hadis yang dibawakan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i disebutkan,bahwa Naufal radhiyallahu ‘anhu pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengajarinya zikir yang dibaca sebelum tidur. Untuk mengajarinya zikir yang hendaknya dibaca sebelum tidur. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarinya. Nabi bersabda, “Bacalah: Qul yaa ayyuhal kaafiruun…” Maksudnya, bacalah seluruh surat Al-Kafirun, bukan hanya satu ayat: Qul yaa ayyuhal kaafiruun saja. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan sabdanya, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni hingga akhir surat. “Karena sesungguhnya surat ini merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.” Yakni dalam surat itu terdapat penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Sebab tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan dua unsur: penetapan dan penafian. Harus ada penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Adapun maksud dan rahasia dari amalan ini adalah, bahwa apabila seseorang membaca surat Al-Kafirun sampai selesai, maka ia tidur dalam keadaan bertauhid. Bisa jadi ruhnya akan dicabut ketika ia sedang tidur. Dengan demikian ia termasuk orang yang ucapan terakhirnya di dunia adalah kalimat “Laa ilaaha illallaah”. Karena kandungan surat ini bermakna “Laa ilaaha illallaah.” Itulah sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni tidurlah dalam keadaan bertauhiddan berlepas diri dari kesyirikan. Sehingga orang yang mengamalkannya dapat meraih keutamaan zikir ini dan keutamaan yang kita sebutkan tadi, yaitu kemungkinan ruhnya dicabut saat tidur, sehingga ia wafat dalam keadaan bertauhid, dan termasuk orang yang akhir ucapannya di dunia adalah “Laa ilaaha illallaah.” ===== فِي رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ أَنَّ نَوْفَلَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ طَلَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَقَالَ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ أَيْ اقْرَأْ السُّورَةَ وَلَيْسَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ فَقَطْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَلِذَلِكَ قَالَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا عَلَى خَاتِمَةِ السُّورَةِ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ أَيْ أَنَّ فِيهَا إِثْبَاتَ التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةَ مِنَ الشِّرْكِ وَالتَّوْحِيدُ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ إِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ وَنَفْيِ الشِّرْكِ وَالْمَقْصُودُ وَالسِّرُّ هُنَا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَرَأَ سُورَةَ الْكَافِرُونَ كَامِلَةً فَإِنَّهُ يَنَامُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَقَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ مِمَّنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ بِمَعْنَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا أَيْ نَمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ لِيَنَالَ الْإِنْسَانُ فَضْلَ الذِّكْرِ وَلِمَا أَشَرْنَا إِلَيْهِ مِنْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ قَدْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَيَكُونُ دَاخِلًا فِي مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Dalam sejumlah riwayat hadis yang dibawakan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i disebutkan,bahwa Naufal radhiyallahu ‘anhu pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengajarinya zikir yang dibaca sebelum tidur. Untuk mengajarinya zikir yang hendaknya dibaca sebelum tidur. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarinya. Nabi bersabda, “Bacalah: Qul yaa ayyuhal kaafiruun…” Maksudnya, bacalah seluruh surat Al-Kafirun, bukan hanya satu ayat: Qul yaa ayyuhal kaafiruun saja. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan sabdanya, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni hingga akhir surat. “Karena sesungguhnya surat ini merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.” Yakni dalam surat itu terdapat penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Sebab tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan dua unsur: penetapan dan penafian. Harus ada penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Adapun maksud dan rahasia dari amalan ini adalah, bahwa apabila seseorang membaca surat Al-Kafirun sampai selesai, maka ia tidur dalam keadaan bertauhid. Bisa jadi ruhnya akan dicabut ketika ia sedang tidur. Dengan demikian ia termasuk orang yang ucapan terakhirnya di dunia adalah kalimat “Laa ilaaha illallaah”. Karena kandungan surat ini bermakna “Laa ilaaha illallaah.” Itulah sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni tidurlah dalam keadaan bertauhiddan berlepas diri dari kesyirikan. Sehingga orang yang mengamalkannya dapat meraih keutamaan zikir ini dan keutamaan yang kita sebutkan tadi, yaitu kemungkinan ruhnya dicabut saat tidur, sehingga ia wafat dalam keadaan bertauhid, dan termasuk orang yang akhir ucapannya di dunia adalah “Laa ilaaha illallaah.” ===== فِي رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ أَنَّ نَوْفَلَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ طَلَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَقَالَ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ أَيْ اقْرَأْ السُّورَةَ وَلَيْسَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ فَقَطْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَلِذَلِكَ قَالَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا عَلَى خَاتِمَةِ السُّورَةِ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ أَيْ أَنَّ فِيهَا إِثْبَاتَ التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةَ مِنَ الشِّرْكِ وَالتَّوْحِيدُ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ إِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ وَنَفْيِ الشِّرْكِ وَالْمَقْصُودُ وَالسِّرُّ هُنَا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَرَأَ سُورَةَ الْكَافِرُونَ كَامِلَةً فَإِنَّهُ يَنَامُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَقَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ مِمَّنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ بِمَعْنَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا أَيْ نَمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ لِيَنَالَ الْإِنْسَانُ فَضْلَ الذِّكْرِ وَلِمَا أَشَرْنَا إِلَيْهِ مِنْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ قَدْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَيَكُونُ دَاخِلًا فِي مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ


Dalam sejumlah riwayat hadis yang dibawakan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i disebutkan,bahwa Naufal radhiyallahu ‘anhu pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mengajarinya zikir yang dibaca sebelum tidur. Untuk mengajarinya zikir yang hendaknya dibaca sebelum tidur. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarinya. Nabi bersabda, “Bacalah: Qul yaa ayyuhal kaafiruun…” Maksudnya, bacalah seluruh surat Al-Kafirun, bukan hanya satu ayat: Qul yaa ayyuhal kaafiruun saja. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan sabdanya, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni hingga akhir surat. “Karena sesungguhnya surat ini merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.” Yakni dalam surat itu terdapat penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Sebab tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan dua unsur: penetapan dan penafian. Harus ada penetapan tauhid dan penafian kesyirikan. Adapun maksud dan rahasia dari amalan ini adalah, bahwa apabila seseorang membaca surat Al-Kafirun sampai selesai, maka ia tidur dalam keadaan bertauhid. Bisa jadi ruhnya akan dicabut ketika ia sedang tidur. Dengan demikian ia termasuk orang yang ucapan terakhirnya di dunia adalah kalimat “Laa ilaaha illallaah”. Karena kandungan surat ini bermakna “Laa ilaaha illallaah.” Itulah sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu tidurlah setelah membacanya hingga selesai.” Yakni tidurlah dalam keadaan bertauhiddan berlepas diri dari kesyirikan. Sehingga orang yang mengamalkannya dapat meraih keutamaan zikir ini dan keutamaan yang kita sebutkan tadi, yaitu kemungkinan ruhnya dicabut saat tidur, sehingga ia wafat dalam keadaan bertauhid, dan termasuk orang yang akhir ucapannya di dunia adalah “Laa ilaaha illallaah.” ===== فِي رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ أَنَّ نَوْفَلَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ طَلَبَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ أَنْ يُعَلِّمَهُ مَا يَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِهِ فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَقَالَ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ أَيْ اقْرَأْ السُّورَةَ وَلَيْسَ هَذِهِ الْجُمْلَةَ فَقَطْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَلِذَلِكَ قَالَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا عَلَى خَاتِمَةِ السُّورَةِ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ أَيْ أَنَّ فِيهَا إِثْبَاتَ التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةَ مِنَ الشِّرْكِ وَالتَّوْحِيدُ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ نَفْيٍ وَإِثْبَاتٍ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ إِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ وَنَفْيِ الشِّرْكِ وَالْمَقْصُودُ وَالسِّرُّ هُنَا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَرَأَ سُورَةَ الْكَافِرُونَ كَامِلَةً فَإِنَّهُ يَنَامُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَقَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ مِمَّنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لِأَنَّ هَذِهِ السُّورَةَ بِمَعْنَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا أَيْ نَمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ لِيَنَالَ الْإِنْسَانُ فَضْلَ الذِّكْرِ وَلِمَا أَشَرْنَا إِلَيْهِ مِنْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ تُقْبَضُ رُوحُهُ وَهُوَ نَائِمٌ فَيَكُونُ قَدْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَيَكُونُ دَاخِلًا فِي مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah? Tulus atau Modus?

Daftar Isi ToggleAwasi hati sesering mungkinJujur kepada diri sendiriSudah kita ketahui bersama bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni seperti salat, berpuasa, atau menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni aktivitas duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, karyawan yang meniatkan aktivitas kerjanya untuk menafkahi keluarga, atau berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.Sekali lagi, aktivitas dunia dapat menjadi bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.Awasi hati sesering mungkinBoleh jadi saat kita pergi ke kantor di pagi hari, niat kita masih tulus untuk menafkahi keluarga sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: ingin mengalokasikan gaji bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sungguh setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan tersebut.” [1]Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka amal kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, karena hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, bahkan Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]Baca juga: Mengenal Fungsi NiatJujur kepada diri sendiriBoleh jadi kita mengklaim bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila dunia saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal kenyataan itu, karena hanya mau mendengar hal yang kita sukai. Kita hanya ingin melakukan hal yang diinginkan, namun enggan menerima konsekuensi dari jalan yang telah dipilih.Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada dunia itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berkata kepada kita, “Aku lihat kamu selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat kamu salat, doa, atau baca Al-Quran.”Mendengar hal itu, hati kecil kita sebenarnya terketuk ingin berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, karena lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap defensif dengan menyerang balik bertubi-tubi sebagai bentuk pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih fokus merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya kamu mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah aktivitas dunia juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya hak yang harus dipenuhi dengan istirahat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala, وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh kewajiban agama saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika ingin menjadikan aktivitas dunianya sebagai ibadah, lantas bagaimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi kewajiban syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa aktivitas dunia bisa menjadi ibadah, namun ia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan masih banyak lagi.Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, bagaimana lagi dengan menjadikan aktivitas duniawi sebagai ibadah? Memang benar bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta dunia sehingga sampai hati untuk menjadikan ajaran agama sebagai pembenaran terselubung akan kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Tirmidzi no. 2140.

Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah? Tulus atau Modus?

Daftar Isi ToggleAwasi hati sesering mungkinJujur kepada diri sendiriSudah kita ketahui bersama bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni seperti salat, berpuasa, atau menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni aktivitas duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, karyawan yang meniatkan aktivitas kerjanya untuk menafkahi keluarga, atau berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.Sekali lagi, aktivitas dunia dapat menjadi bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.Awasi hati sesering mungkinBoleh jadi saat kita pergi ke kantor di pagi hari, niat kita masih tulus untuk menafkahi keluarga sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: ingin mengalokasikan gaji bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sungguh setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan tersebut.” [1]Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka amal kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, karena hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, bahkan Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]Baca juga: Mengenal Fungsi NiatJujur kepada diri sendiriBoleh jadi kita mengklaim bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila dunia saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal kenyataan itu, karena hanya mau mendengar hal yang kita sukai. Kita hanya ingin melakukan hal yang diinginkan, namun enggan menerima konsekuensi dari jalan yang telah dipilih.Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada dunia itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berkata kepada kita, “Aku lihat kamu selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat kamu salat, doa, atau baca Al-Quran.”Mendengar hal itu, hati kecil kita sebenarnya terketuk ingin berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, karena lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap defensif dengan menyerang balik bertubi-tubi sebagai bentuk pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih fokus merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya kamu mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah aktivitas dunia juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya hak yang harus dipenuhi dengan istirahat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala, وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh kewajiban agama saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika ingin menjadikan aktivitas dunianya sebagai ibadah, lantas bagaimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi kewajiban syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa aktivitas dunia bisa menjadi ibadah, namun ia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan masih banyak lagi.Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, bagaimana lagi dengan menjadikan aktivitas duniawi sebagai ibadah? Memang benar bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta dunia sehingga sampai hati untuk menjadikan ajaran agama sebagai pembenaran terselubung akan kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Tirmidzi no. 2140.
Daftar Isi ToggleAwasi hati sesering mungkinJujur kepada diri sendiriSudah kita ketahui bersama bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni seperti salat, berpuasa, atau menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni aktivitas duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, karyawan yang meniatkan aktivitas kerjanya untuk menafkahi keluarga, atau berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.Sekali lagi, aktivitas dunia dapat menjadi bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.Awasi hati sesering mungkinBoleh jadi saat kita pergi ke kantor di pagi hari, niat kita masih tulus untuk menafkahi keluarga sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: ingin mengalokasikan gaji bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sungguh setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan tersebut.” [1]Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka amal kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, karena hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, bahkan Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]Baca juga: Mengenal Fungsi NiatJujur kepada diri sendiriBoleh jadi kita mengklaim bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila dunia saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal kenyataan itu, karena hanya mau mendengar hal yang kita sukai. Kita hanya ingin melakukan hal yang diinginkan, namun enggan menerima konsekuensi dari jalan yang telah dipilih.Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada dunia itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berkata kepada kita, “Aku lihat kamu selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat kamu salat, doa, atau baca Al-Quran.”Mendengar hal itu, hati kecil kita sebenarnya terketuk ingin berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, karena lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap defensif dengan menyerang balik bertubi-tubi sebagai bentuk pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih fokus merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya kamu mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah aktivitas dunia juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya hak yang harus dipenuhi dengan istirahat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala, وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh kewajiban agama saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika ingin menjadikan aktivitas dunianya sebagai ibadah, lantas bagaimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi kewajiban syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa aktivitas dunia bisa menjadi ibadah, namun ia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan masih banyak lagi.Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, bagaimana lagi dengan menjadikan aktivitas duniawi sebagai ibadah? Memang benar bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta dunia sehingga sampai hati untuk menjadikan ajaran agama sebagai pembenaran terselubung akan kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Tirmidzi no. 2140.


Daftar Isi ToggleAwasi hati sesering mungkinJujur kepada diri sendiriSudah kita ketahui bersama bahwa ada dua macam ibadah. Ada ibadah mahdhah, yaitu ibadah murni seperti salat, berpuasa, atau menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah ghairu mahdhah, yakni aktivitas duniawi yang bisa berbuah pahala ketika kita meniatkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Misalnya, karyawan yang meniatkan aktivitas kerjanya untuk menafkahi keluarga, atau berolahraga sebagai ikhtiar sehat untuk menunjang ibadah lainnya.Sekali lagi, aktivitas dunia dapat menjadi bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, perlu kita perhatikan dua catatan berikut sebelum kita merasa, apalagi mengklaim, bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.Awasi hati sesering mungkinBoleh jadi saat kita pergi ke kantor di pagi hari, niat kita masih tulus untuk menafkahi keluarga sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sayangnya, memasuki waktu sore, secara tidak sadar niat kita sudah berubah: ingin mengalokasikan gaji bulan ini sekadar untuk biaya konsumsi dan membeli gadget flagship keluaran terbaru. Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Sungguh setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sungguh setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan tersebut.” [1]Amal itu tergantung pada niatnya, dan niat itu letaknya di hati. Ketika niat kita sudah bergeser sekadar untuk menikmati dunia, maka amal kita sudah tidak lagi ternilai sebagai ibadah. Awasi terus hati kita sesering mungkin, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal, karena hati itu rawan terbolak-balik. Karenanya, bahkan Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia terbaik pun senantiasa berdoa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [2]Baca juga: Mengenal Fungsi NiatJujur kepada diri sendiriBoleh jadi kita mengklaim bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala, namun hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya kita memang sedang gila dunia saja, tetapi kita tidak merasa nyaman dengan realitas tersebut. Kita menyangkal kenyataan itu, karena hanya mau mendengar hal yang kita sukai. Kita hanya ingin melakukan hal yang diinginkan, namun enggan menerima konsekuensi dari jalan yang telah dipilih.Alhasil, agar bisa nyaman dengan diri sendiri, kita memilih untuk membohongi hati nurani dengan mencari pembenaran, dengan mengatakan bahwa aktivitas duniawi kita adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Sejatinya, kita sepenuhnya sadar bahwa klaim tersebut hanyalah justifikasi belaka.Terlebih jika yang menyadarkan kecanduan kita kepada dunia itu adalah orang lain. Saat asyik-asyiknya dimabuk dunia, datang orang lain berkata kepada kita, “Aku lihat kamu selama ini sibuk kerja, istirahat, main. Aku nggak pernah lihat kamu salat, doa, atau baca Al-Quran.”Mendengar hal itu, hati kecil kita sebenarnya terketuk ingin berkata, “Kamu benar, terima kasih nasihatnya. Semoga Allah memberi hidayah kepadaku.” Tetapi, karena lebih memilih menipu diri sendiri, kita justru memasang sikap defensif dengan menyerang balik bertubi-tubi sebagai bentuk pertahanan terbaik. Apabila dalam nasihat itu terdapat kekeliruan dalam penyampaiannya, kita langsung memusatkan perhatian untuk menyerang kesalahan itu, alih-alih fokus merenungi isi nasihat dan mengucap syukur atas niat baiknya. Bahkan, terkadang kita rela menyisihkan waktu untuk mengingat-ingat kekurangan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesan yang disampaikan, semata untuk membantah nasihatnya.Kita mengatakan, “Kamu tau apa tentangku, memangnya kamu mengawasiku 24 jam setiap harinya? Lagipula, bukankah aktivitas dunia juga bisa menjadi ibadah? Bukankah selain ada hablum minallah, juga ada hablum minannas? Bukankah tubuh ini juga punya hak yang harus dipenuhi dengan istirahat dan rehat sejenak?” Padahal, sekali lagi, kondisi kita tidak sebaik itu. Kita hanya sedang tertipu oleh gemerlap dunia, tidak lain dan tidak bukan.Demikianlah kondisi kita yang persis seperti firman Allah Ta’ala, وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا“Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)Kemudian, mari kita uraikan. Apabila seorang yang memenuhi seluruh kewajiban agama saja tetap mungkin bergeser niatnya ketika ingin menjadikan aktivitas dunianya sebagai ibadah, lantas bagaimana lagi dengan orang yang tidak berkomitmen memenuhi kewajiban syariat? Kerap kita jumpai orang yang bolak-balik mengatakan bahwa aktivitas dunia bisa menjadi ibadah, namun ia tidak mendirikan salat, enggan bersedekah dan menunaikan zakat, tidak mau menutup aurat, tidak pernah mengaji, dan masih banyak lagi.Apabila yang jelas-jelas merupakan ibadah murni saja enggan ditunaikan, bagaimana lagi dengan menjadikan aktivitas duniawi sebagai ibadah? Memang benar bahwa yang demikian tetap mungkin terjadi. Hanya saja, agar tidak terkesan memvonis, silakan pembaca sekalian bertanya secara objektif pada diri sendiri: seberapa besar kemungkinannya?Mungkin kita perlu menyendiri sejenak, untuk merenungi diri sendiri yang begitu cinta dunia sehingga sampai hati untuk menjadikan ajaran agama sebagai pembenaran terselubung akan kecanduan terhadap dunia. Selamat bermuhasabah, semoga Allah memberi hidayah kejujuran kepada kita semua.Baca juga: Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Tirmidzi no. 2140.
Prev     Next