KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU

بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU

بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 81Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015  Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab al-Mabâhits al-‘Aqadiyyah al-Muta’alliqah bi al-Adzkâr karya Ali bin Abdul Hafizh al-Kailany (I/71-85). Post navigation Previous Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHUNext MENJAGA PERASAAN ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 81Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015  Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab al-Mabâhits al-‘Aqadiyyah al-Muta’alliqah bi al-Adzkâr karya Ali bin Abdul Hafizh al-Kailany (I/71-85). Post navigation Previous Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHUNext MENJAGA PERASAAN ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 81Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015  Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab al-Mabâhits al-‘Aqadiyyah al-Muta’alliqah bi al-Adzkâr karya Ali bin Abdul Hafizh al-Kailany (I/71-85). Post navigation Previous Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHUNext MENJAGA PERASAAN ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 81Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015  Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab al-Mabâhits al-‘Aqadiyyah al-Muta’alliqah bi al-Adzkâr karya Ali bin Abdul Hafizh al-Kailany (I/71-85). Post navigation Previous Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHUNext MENJAGA PERASAAN ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENJAGA PERASAAN ANAK

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 57Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stres, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin.Setelah anak lahir, menyusui adalah salah satu cara untuk menjaga perasaan anak. Dengan menyusui, membangun kedekatan antara ibu dan anak yang kemudian memunculkan perasaan tenang dan nyaman bagi anak. Anak dengan usia di bawah satu bulan belum bisa melihat dengan jelas, ada yang mengatakan bahwa anak dalam usia ini baru bisa melihat objek di sekitarnya secara vertikal. Sehingga, dalam fase ini suara-suara yang didengar menjadi suatu hal yang sangat penting. Bagi orang tua, hindari suara membentak. Adapun setelah anak bisa melihat, perlihatkanlah ekspresi yang menyenangkan bagi anak.Dalam memahami emosi anak, perlu diketahui mengenai karakter anak yang berbeda-beda. Ada anak yang cenderung mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bersosialisasi. Ada pula anak yang cenderung sulit beradaptasi dengan hal baru. Jika menangis, maka sulit ditenangkan. Dan ada pula yang berada di antara dua kategori ini.Perlukah orang tua marah?Marah bukan berarti tidak sayang, dan sayang bukan berarti tidak marah. Namun, terlalu sering marah-marah dengan alasan sayang, atau tidak pernah marah dengan alasan sayang juga bukanlah sikap yang bijak. Dalam pengasuhan anak, banyak hal yang mungkin dapat memicu kemarahan orang tua, tinggal bagaimana orang tua bisa menentukan kapan harus marah, dan dengan cara seperti apa.Kita juga tidak mau digitukanPerasaan anak pada dasarnya sama dengan adab kita dalam memperlakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana kita yang tidak suka dibohongi, diancam, diabaikan, diremehkan, tidak suka jika orang lain fokus pada kesalahan kita, padahal banyak hal positif yang sudah diikhtiarkan. Kita juga tidak suka kesalahan kita diungkit-ungkit, tidak suka dihina atau direndahkan. Kita tidak suka jika orang lain marah dengan cara yang berlebihan, tidak suka dituntut berubah secara instan dan tidak suka bila tidak didengar. Kita tidak suka bila semua hal yang kita mau dilarang, dan akan lebih suka jika mendapat penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, dan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Kita tidak suka dicurigai, kita tidak suka dibanding-bandingkan tanpa alasan, kita tidak suka diperlakukan dengan kasar, tentu manusia suka diperlakukan dengan penuh cinta. Begitulah seharusnya kita menjaga perasaan anak kita.Kemudian juga penting memperlakukan anak dengan kacamata usia dan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, bukan dengan kacamata status mereka dalam keluarga, apakah anak pertama, terakhir, tunggal, atau anak kembar. Ketika menggunakan kacamata apakah sulung, atau bungsu, dikhawatirkan misalnya orang tua masih menganggap anak sebagai anak “bungsu” di saat si anak sudah beranjak dewasa.Bagaimana dengan sistem hukuman? Terkadang hukuman ini bertahan tidak lama di anak. Bahkan anak yang cenderung punya agresivitas tinggi ketika mendapatkan hukuman cenderung melawan. Cara terbaik untuk anak jenis ini adalah dengan memberi hadiah. Jika perilaku negatif muncul, orang tua bisa mengabaikan atau mengambil kesenangan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015* Diadaptasi dan diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://andinavika.tumblr.com/post/124989715729/menjaga-perasaan-anak Post navigation Previous PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOANext Adil Terhadap Semua Anak Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENJAGA PERASAAN ANAK

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 57Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stres, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin.Setelah anak lahir, menyusui adalah salah satu cara untuk menjaga perasaan anak. Dengan menyusui, membangun kedekatan antara ibu dan anak yang kemudian memunculkan perasaan tenang dan nyaman bagi anak. Anak dengan usia di bawah satu bulan belum bisa melihat dengan jelas, ada yang mengatakan bahwa anak dalam usia ini baru bisa melihat objek di sekitarnya secara vertikal. Sehingga, dalam fase ini suara-suara yang didengar menjadi suatu hal yang sangat penting. Bagi orang tua, hindari suara membentak. Adapun setelah anak bisa melihat, perlihatkanlah ekspresi yang menyenangkan bagi anak.Dalam memahami emosi anak, perlu diketahui mengenai karakter anak yang berbeda-beda. Ada anak yang cenderung mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bersosialisasi. Ada pula anak yang cenderung sulit beradaptasi dengan hal baru. Jika menangis, maka sulit ditenangkan. Dan ada pula yang berada di antara dua kategori ini.Perlukah orang tua marah?Marah bukan berarti tidak sayang, dan sayang bukan berarti tidak marah. Namun, terlalu sering marah-marah dengan alasan sayang, atau tidak pernah marah dengan alasan sayang juga bukanlah sikap yang bijak. Dalam pengasuhan anak, banyak hal yang mungkin dapat memicu kemarahan orang tua, tinggal bagaimana orang tua bisa menentukan kapan harus marah, dan dengan cara seperti apa.Kita juga tidak mau digitukanPerasaan anak pada dasarnya sama dengan adab kita dalam memperlakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana kita yang tidak suka dibohongi, diancam, diabaikan, diremehkan, tidak suka jika orang lain fokus pada kesalahan kita, padahal banyak hal positif yang sudah diikhtiarkan. Kita juga tidak suka kesalahan kita diungkit-ungkit, tidak suka dihina atau direndahkan. Kita tidak suka jika orang lain marah dengan cara yang berlebihan, tidak suka dituntut berubah secara instan dan tidak suka bila tidak didengar. Kita tidak suka bila semua hal yang kita mau dilarang, dan akan lebih suka jika mendapat penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, dan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Kita tidak suka dicurigai, kita tidak suka dibanding-bandingkan tanpa alasan, kita tidak suka diperlakukan dengan kasar, tentu manusia suka diperlakukan dengan penuh cinta. Begitulah seharusnya kita menjaga perasaan anak kita.Kemudian juga penting memperlakukan anak dengan kacamata usia dan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, bukan dengan kacamata status mereka dalam keluarga, apakah anak pertama, terakhir, tunggal, atau anak kembar. Ketika menggunakan kacamata apakah sulung, atau bungsu, dikhawatirkan misalnya orang tua masih menganggap anak sebagai anak “bungsu” di saat si anak sudah beranjak dewasa.Bagaimana dengan sistem hukuman? Terkadang hukuman ini bertahan tidak lama di anak. Bahkan anak yang cenderung punya agresivitas tinggi ketika mendapatkan hukuman cenderung melawan. Cara terbaik untuk anak jenis ini adalah dengan memberi hadiah. Jika perilaku negatif muncul, orang tua bisa mengabaikan atau mengambil kesenangan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015* Diadaptasi dan diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://andinavika.tumblr.com/post/124989715729/menjaga-perasaan-anak Post navigation Previous PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOANext Adil Terhadap Semua Anak Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 57Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stres, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin.Setelah anak lahir, menyusui adalah salah satu cara untuk menjaga perasaan anak. Dengan menyusui, membangun kedekatan antara ibu dan anak yang kemudian memunculkan perasaan tenang dan nyaman bagi anak. Anak dengan usia di bawah satu bulan belum bisa melihat dengan jelas, ada yang mengatakan bahwa anak dalam usia ini baru bisa melihat objek di sekitarnya secara vertikal. Sehingga, dalam fase ini suara-suara yang didengar menjadi suatu hal yang sangat penting. Bagi orang tua, hindari suara membentak. Adapun setelah anak bisa melihat, perlihatkanlah ekspresi yang menyenangkan bagi anak.Dalam memahami emosi anak, perlu diketahui mengenai karakter anak yang berbeda-beda. Ada anak yang cenderung mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bersosialisasi. Ada pula anak yang cenderung sulit beradaptasi dengan hal baru. Jika menangis, maka sulit ditenangkan. Dan ada pula yang berada di antara dua kategori ini.Perlukah orang tua marah?Marah bukan berarti tidak sayang, dan sayang bukan berarti tidak marah. Namun, terlalu sering marah-marah dengan alasan sayang, atau tidak pernah marah dengan alasan sayang juga bukanlah sikap yang bijak. Dalam pengasuhan anak, banyak hal yang mungkin dapat memicu kemarahan orang tua, tinggal bagaimana orang tua bisa menentukan kapan harus marah, dan dengan cara seperti apa.Kita juga tidak mau digitukanPerasaan anak pada dasarnya sama dengan adab kita dalam memperlakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana kita yang tidak suka dibohongi, diancam, diabaikan, diremehkan, tidak suka jika orang lain fokus pada kesalahan kita, padahal banyak hal positif yang sudah diikhtiarkan. Kita juga tidak suka kesalahan kita diungkit-ungkit, tidak suka dihina atau direndahkan. Kita tidak suka jika orang lain marah dengan cara yang berlebihan, tidak suka dituntut berubah secara instan dan tidak suka bila tidak didengar. Kita tidak suka bila semua hal yang kita mau dilarang, dan akan lebih suka jika mendapat penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, dan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Kita tidak suka dicurigai, kita tidak suka dibanding-bandingkan tanpa alasan, kita tidak suka diperlakukan dengan kasar, tentu manusia suka diperlakukan dengan penuh cinta. Begitulah seharusnya kita menjaga perasaan anak kita.Kemudian juga penting memperlakukan anak dengan kacamata usia dan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, bukan dengan kacamata status mereka dalam keluarga, apakah anak pertama, terakhir, tunggal, atau anak kembar. Ketika menggunakan kacamata apakah sulung, atau bungsu, dikhawatirkan misalnya orang tua masih menganggap anak sebagai anak “bungsu” di saat si anak sudah beranjak dewasa.Bagaimana dengan sistem hukuman? Terkadang hukuman ini bertahan tidak lama di anak. Bahkan anak yang cenderung punya agresivitas tinggi ketika mendapatkan hukuman cenderung melawan. Cara terbaik untuk anak jenis ini adalah dengan memberi hadiah. Jika perilaku negatif muncul, orang tua bisa mengabaikan atau mengambil kesenangan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015* Diadaptasi dan diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://andinavika.tumblr.com/post/124989715729/menjaga-perasaan-anak Post navigation Previous PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOANext Adil Terhadap Semua Anak Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 57Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stres, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin.Setelah anak lahir, menyusui adalah salah satu cara untuk menjaga perasaan anak. Dengan menyusui, membangun kedekatan antara ibu dan anak yang kemudian memunculkan perasaan tenang dan nyaman bagi anak. Anak dengan usia di bawah satu bulan belum bisa melihat dengan jelas, ada yang mengatakan bahwa anak dalam usia ini baru bisa melihat objek di sekitarnya secara vertikal. Sehingga, dalam fase ini suara-suara yang didengar menjadi suatu hal yang sangat penting. Bagi orang tua, hindari suara membentak. Adapun setelah anak bisa melihat, perlihatkanlah ekspresi yang menyenangkan bagi anak.Dalam memahami emosi anak, perlu diketahui mengenai karakter anak yang berbeda-beda. Ada anak yang cenderung mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bersosialisasi. Ada pula anak yang cenderung sulit beradaptasi dengan hal baru. Jika menangis, maka sulit ditenangkan. Dan ada pula yang berada di antara dua kategori ini.Perlukah orang tua marah?Marah bukan berarti tidak sayang, dan sayang bukan berarti tidak marah. Namun, terlalu sering marah-marah dengan alasan sayang, atau tidak pernah marah dengan alasan sayang juga bukanlah sikap yang bijak. Dalam pengasuhan anak, banyak hal yang mungkin dapat memicu kemarahan orang tua, tinggal bagaimana orang tua bisa menentukan kapan harus marah, dan dengan cara seperti apa.Kita juga tidak mau digitukanPerasaan anak pada dasarnya sama dengan adab kita dalam memperlakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana kita yang tidak suka dibohongi, diancam, diabaikan, diremehkan, tidak suka jika orang lain fokus pada kesalahan kita, padahal banyak hal positif yang sudah diikhtiarkan. Kita juga tidak suka kesalahan kita diungkit-ungkit, tidak suka dihina atau direndahkan. Kita tidak suka jika orang lain marah dengan cara yang berlebihan, tidak suka dituntut berubah secara instan dan tidak suka bila tidak didengar. Kita tidak suka bila semua hal yang kita mau dilarang, dan akan lebih suka jika mendapat penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, dan alasan mengapa hal tersebut dilarang. Kita tidak suka dicurigai, kita tidak suka dibanding-bandingkan tanpa alasan, kita tidak suka diperlakukan dengan kasar, tentu manusia suka diperlakukan dengan penuh cinta. Begitulah seharusnya kita menjaga perasaan anak kita.Kemudian juga penting memperlakukan anak dengan kacamata usia dan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, bukan dengan kacamata status mereka dalam keluarga, apakah anak pertama, terakhir, tunggal, atau anak kembar. Ketika menggunakan kacamata apakah sulung, atau bungsu, dikhawatirkan misalnya orang tua masih menganggap anak sebagai anak “bungsu” di saat si anak sudah beranjak dewasa.Bagaimana dengan sistem hukuman? Terkadang hukuman ini bertahan tidak lama di anak. Bahkan anak yang cenderung punya agresivitas tinggi ketika mendapatkan hukuman cenderung melawan. Cara terbaik untuk anak jenis ini adalah dengan memberi hadiah. Jika perilaku negatif muncul, orang tua bisa mengabaikan atau mengambil kesenangan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Syawal 1436 / 10 Agustus 2015* Diadaptasi dan diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://andinavika.tumblr.com/post/124989715729/menjaga-perasaan-anak Post navigation Previous PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOANext Adil Terhadap Semua Anak Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Adil Terhadap Semua Anak

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 58Tentu kita ingat tentang kisah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, ketika melihat kencenderungan dan kecintaan yang lebih dari ayahnya kepada Yusuf. Mereka bertipu muslihat, hingga berusaha untuk membunuh dan menghabisi nyawanya, supaya perhatian sang ayah tertumpah kepada mereka. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Antara lain: bahwa orang tua selaku pendidik dituntut berlaku adil terhadap semua anak. Sebab perlakuan kurang adil yang dirasakan anak akan membekas dalam jiwanya, bahkan sampai ia dewasa.Sikap adil orang tua akan mencegah timbulnya kedengkian dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan keharmonisan antar anak-anak. Juga membantu mereka untuk berbakti kepada orang tua dan mendoakan keduanya.Kita wajib berlaku adil pada semua anak dalam setiap masalah lahiriyah seperti nafkah, hingga dalam masalah kasih sayang, semisal pemberian perhatian bahkan ciuman. Walaupun dalam masalah nafkah, faktor usia dan kebutuhan anak juga tetap dijadikan salah satu pertimbangan utama. Adil tidak mesti sama.Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nu’man bin Basyir pernah bercerita di atas mimbar, “Ayahku telah memberiku sebuah hadiah, akan tetapi ‘Amrah binti Rawahah –yakni istrinya– tidak menyetujuinya. Ia berkata, “Aku tidak akan ridha, kecuali setelah engkau menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagai saksi atas hal ini!”. Maka ayahkupun datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, “Saya telah memberikan suatu pemberian kepada anak saya ini. Lalu ‘Amrah menyuruhku agar memintamu menjadi saksi atas hal ini”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu kau beri seperti itu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Maka beliau bersabda,” فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ““Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”.Kemudian ayahku menarik kembali pemberiannya. HR. Bukhari.Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنيِّ لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ““Jika demikian, janganlah engkau jadikan aku sebagai saksi. Sebab aku tidak mau bersaksi atas sebuah kezaliman”. Sedangkan dalam riwayat an-Nasa’i yang dinyatakan sahih oleh al-Albany disebutkan,” أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ “، قَالَ: “بَلَى”، قَالَ: “فَلَا إِذًا ““Bukankah engkau menginginkan semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Basyir menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, berlaku adillah”. Lantas bagaimana dengan rasa cinta dan kecenderungan hati?Bagaimanapun juga orang tua tetap harus berusaha memberikan rasa cinta yang sama. Perhatikanlah, jika salah seorang dari mereka memiliki kelebihan, pasti anak yang lain juga memiliki kelebihan yang berbeda. Letakkanlah kelebihan mereka di hadapan mata, niscaya kekurangan mereka akan tertutupi.Adapun setelah adanya usaha maksimal, insyaAllah tidak berdosa selama tidak berdampak pada perlakuan secara lahiriah. Sebisa mungkin sembunyikan perasaan itu dan berlaku adillah. Selebihnya, masalah hati kita serahkan kepada Allah ta’ala.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Dzulqa’dah 1436 / 31 Agustus 2015 Post navigation Previous MENJAGA PERASAAN ANAKNext Kecupan Kasih Sayang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Adil Terhadap Semua Anak

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 58Tentu kita ingat tentang kisah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, ketika melihat kencenderungan dan kecintaan yang lebih dari ayahnya kepada Yusuf. Mereka bertipu muslihat, hingga berusaha untuk membunuh dan menghabisi nyawanya, supaya perhatian sang ayah tertumpah kepada mereka. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Antara lain: bahwa orang tua selaku pendidik dituntut berlaku adil terhadap semua anak. Sebab perlakuan kurang adil yang dirasakan anak akan membekas dalam jiwanya, bahkan sampai ia dewasa.Sikap adil orang tua akan mencegah timbulnya kedengkian dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan keharmonisan antar anak-anak. Juga membantu mereka untuk berbakti kepada orang tua dan mendoakan keduanya.Kita wajib berlaku adil pada semua anak dalam setiap masalah lahiriyah seperti nafkah, hingga dalam masalah kasih sayang, semisal pemberian perhatian bahkan ciuman. Walaupun dalam masalah nafkah, faktor usia dan kebutuhan anak juga tetap dijadikan salah satu pertimbangan utama. Adil tidak mesti sama.Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nu’man bin Basyir pernah bercerita di atas mimbar, “Ayahku telah memberiku sebuah hadiah, akan tetapi ‘Amrah binti Rawahah –yakni istrinya– tidak menyetujuinya. Ia berkata, “Aku tidak akan ridha, kecuali setelah engkau menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagai saksi atas hal ini!”. Maka ayahkupun datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, “Saya telah memberikan suatu pemberian kepada anak saya ini. Lalu ‘Amrah menyuruhku agar memintamu menjadi saksi atas hal ini”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu kau beri seperti itu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Maka beliau bersabda,” فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ““Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”.Kemudian ayahku menarik kembali pemberiannya. HR. Bukhari.Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنيِّ لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ““Jika demikian, janganlah engkau jadikan aku sebagai saksi. Sebab aku tidak mau bersaksi atas sebuah kezaliman”. Sedangkan dalam riwayat an-Nasa’i yang dinyatakan sahih oleh al-Albany disebutkan,” أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ “، قَالَ: “بَلَى”، قَالَ: “فَلَا إِذًا ““Bukankah engkau menginginkan semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Basyir menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, berlaku adillah”. Lantas bagaimana dengan rasa cinta dan kecenderungan hati?Bagaimanapun juga orang tua tetap harus berusaha memberikan rasa cinta yang sama. Perhatikanlah, jika salah seorang dari mereka memiliki kelebihan, pasti anak yang lain juga memiliki kelebihan yang berbeda. Letakkanlah kelebihan mereka di hadapan mata, niscaya kekurangan mereka akan tertutupi.Adapun setelah adanya usaha maksimal, insyaAllah tidak berdosa selama tidak berdampak pada perlakuan secara lahiriah. Sebisa mungkin sembunyikan perasaan itu dan berlaku adillah. Selebihnya, masalah hati kita serahkan kepada Allah ta’ala.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Dzulqa’dah 1436 / 31 Agustus 2015 Post navigation Previous MENJAGA PERASAAN ANAKNext Kecupan Kasih Sayang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 58Tentu kita ingat tentang kisah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, ketika melihat kencenderungan dan kecintaan yang lebih dari ayahnya kepada Yusuf. Mereka bertipu muslihat, hingga berusaha untuk membunuh dan menghabisi nyawanya, supaya perhatian sang ayah tertumpah kepada mereka. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Antara lain: bahwa orang tua selaku pendidik dituntut berlaku adil terhadap semua anak. Sebab perlakuan kurang adil yang dirasakan anak akan membekas dalam jiwanya, bahkan sampai ia dewasa.Sikap adil orang tua akan mencegah timbulnya kedengkian dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan keharmonisan antar anak-anak. Juga membantu mereka untuk berbakti kepada orang tua dan mendoakan keduanya.Kita wajib berlaku adil pada semua anak dalam setiap masalah lahiriyah seperti nafkah, hingga dalam masalah kasih sayang, semisal pemberian perhatian bahkan ciuman. Walaupun dalam masalah nafkah, faktor usia dan kebutuhan anak juga tetap dijadikan salah satu pertimbangan utama. Adil tidak mesti sama.Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nu’man bin Basyir pernah bercerita di atas mimbar, “Ayahku telah memberiku sebuah hadiah, akan tetapi ‘Amrah binti Rawahah –yakni istrinya– tidak menyetujuinya. Ia berkata, “Aku tidak akan ridha, kecuali setelah engkau menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagai saksi atas hal ini!”. Maka ayahkupun datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, “Saya telah memberikan suatu pemberian kepada anak saya ini. Lalu ‘Amrah menyuruhku agar memintamu menjadi saksi atas hal ini”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu kau beri seperti itu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Maka beliau bersabda,” فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ““Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”.Kemudian ayahku menarik kembali pemberiannya. HR. Bukhari.Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنيِّ لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ““Jika demikian, janganlah engkau jadikan aku sebagai saksi. Sebab aku tidak mau bersaksi atas sebuah kezaliman”. Sedangkan dalam riwayat an-Nasa’i yang dinyatakan sahih oleh al-Albany disebutkan,” أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ “، قَالَ: “بَلَى”، قَالَ: “فَلَا إِذًا ““Bukankah engkau menginginkan semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Basyir menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, berlaku adillah”. Lantas bagaimana dengan rasa cinta dan kecenderungan hati?Bagaimanapun juga orang tua tetap harus berusaha memberikan rasa cinta yang sama. Perhatikanlah, jika salah seorang dari mereka memiliki kelebihan, pasti anak yang lain juga memiliki kelebihan yang berbeda. Letakkanlah kelebihan mereka di hadapan mata, niscaya kekurangan mereka akan tertutupi.Adapun setelah adanya usaha maksimal, insyaAllah tidak berdosa selama tidak berdampak pada perlakuan secara lahiriah. Sebisa mungkin sembunyikan perasaan itu dan berlaku adillah. Selebihnya, masalah hati kita serahkan kepada Allah ta’ala.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Dzulqa’dah 1436 / 31 Agustus 2015 Post navigation Previous MENJAGA PERASAAN ANAKNext Kecupan Kasih Sayang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 58Tentu kita ingat tentang kisah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, ketika melihat kencenderungan dan kecintaan yang lebih dari ayahnya kepada Yusuf. Mereka bertipu muslihat, hingga berusaha untuk membunuh dan menghabisi nyawanya, supaya perhatian sang ayah tertumpah kepada mereka. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Antara lain: bahwa orang tua selaku pendidik dituntut berlaku adil terhadap semua anak. Sebab perlakuan kurang adil yang dirasakan anak akan membekas dalam jiwanya, bahkan sampai ia dewasa.Sikap adil orang tua akan mencegah timbulnya kedengkian dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan keharmonisan antar anak-anak. Juga membantu mereka untuk berbakti kepada orang tua dan mendoakan keduanya.Kita wajib berlaku adil pada semua anak dalam setiap masalah lahiriyah seperti nafkah, hingga dalam masalah kasih sayang, semisal pemberian perhatian bahkan ciuman. Walaupun dalam masalah nafkah, faktor usia dan kebutuhan anak juga tetap dijadikan salah satu pertimbangan utama. Adil tidak mesti sama.Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nu’man bin Basyir pernah bercerita di atas mimbar, “Ayahku telah memberiku sebuah hadiah, akan tetapi ‘Amrah binti Rawahah –yakni istrinya– tidak menyetujuinya. Ia berkata, “Aku tidak akan ridha, kecuali setelah engkau menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagai saksi atas hal ini!”. Maka ayahkupun datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, “Saya telah memberikan suatu pemberian kepada anak saya ini. Lalu ‘Amrah menyuruhku agar memintamu menjadi saksi atas hal ini”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu kau beri seperti itu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Maka beliau bersabda,” فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ““Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”.Kemudian ayahku menarik kembali pemberiannya. HR. Bukhari.Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنيِّ لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ““Jika demikian, janganlah engkau jadikan aku sebagai saksi. Sebab aku tidak mau bersaksi atas sebuah kezaliman”. Sedangkan dalam riwayat an-Nasa’i yang dinyatakan sahih oleh al-Albany disebutkan,” أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ “، قَالَ: “بَلَى”، قَالَ: “فَلَا إِذًا ““Bukankah engkau menginginkan semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Basyir menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, berlaku adillah”. Lantas bagaimana dengan rasa cinta dan kecenderungan hati?Bagaimanapun juga orang tua tetap harus berusaha memberikan rasa cinta yang sama. Perhatikanlah, jika salah seorang dari mereka memiliki kelebihan, pasti anak yang lain juga memiliki kelebihan yang berbeda. Letakkanlah kelebihan mereka di hadapan mata, niscaya kekurangan mereka akan tertutupi.Adapun setelah adanya usaha maksimal, insyaAllah tidak berdosa selama tidak berdampak pada perlakuan secara lahiriah. Sebisa mungkin sembunyikan perasaan itu dan berlaku adillah. Selebihnya, masalah hati kita serahkan kepada Allah ta’ala.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Dzulqa’dah 1436 / 31 Agustus 2015 Post navigation Previous MENJAGA PERASAAN ANAKNext Kecupan Kasih Sayang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kecupan Kasih Sayang

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 59Kecupan atau ciuman mempunyai pengaruh yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak. Demikian juga ia memiliki peran yang sangat besar dalam menenangkan gejolak amarahnya. Di samping itu, akan lahir pula rasa keterikatan yang erat dalam mengokohkan hubungan cinta antara orang tua dengan anaknya. Ini merupakan bukti dan tanda kasih sayang dari hati sanubari kepada anak, serta wujud nyata dari sikap rendah hati dari yang tua kepada yang muda. Kecupan merupakan cahaya benderang yang akan menerangi hati si anak, akan melapangkan dadanya, serta menambah hangatnya hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dan yang jelas, ia merupakan sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam bergaul dengan anak-anak.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya, “Apakah engkau mencium putra-putrimu?”. Beliau menjawab, “Ya”. Mereka berkomentar, “Adapun kami, demi Allah kami tidak pernah mencium anak-anak kami”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda,“أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ”“Aku tak bisa berbuat banyak untukmu bilamana Allah ta’ala mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”. HR. Bukhari dan Muslim.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertutur, “Suatu saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata,“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ”“Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. HR. Bukhari dan Muslim.Jadi, kasih sayang terhadap anak adalah merupakan salah satu sifat menonjol Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam. Selain itu kasih sayang juga merupakan salah satu sebab meraih surga dan keridhaan Allah.Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, “Suatu hari seorang wanita datang menemui Aisyah radhiyallahu’anha dengan membawa kedua anaknya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanitu itu memberikan kurma tersebut kepada kedua anaknya. Masing-masing satu butir. Sedangkan satu butir lagi untuk dirinya. Setelah kedua anaknya memakan kurma tersebut, mereka kembali memandang ibunya. Si ibu paham bahwa mereka masih menginginkan kurma itu. Akhirnya ia membelah satu butir kurma tersebut dan memberikan kepada kedua anaknya, masing-masing separoh. Tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan Aisyah pun menceritakan kejadian tadi kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang membuatmu heran? Ketahuilah bahwa Allah telah mengasihi wanita itu disebabkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albani.Di antara potret kasih sayang Rasul shallallahu’alaihiwasallam, penuturan beliau,“إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَاوَزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وُجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ”“Terkadang saat shalat aku sudah berniat untuk melamakannya. Namun ternyata kemudian aku mendengar tangisan bayi, sehingga akupun mempercepat shalatku. Karena aku sadar betul betapa tidak tenangnya sang ibu karena tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Dzulhijjah 1436 / 21 September 2015 Post navigation Previous Adil Terhadap Semua AnakNext Berikan Sambutan Hangat Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kecupan Kasih Sayang

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 59Kecupan atau ciuman mempunyai pengaruh yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak. Demikian juga ia memiliki peran yang sangat besar dalam menenangkan gejolak amarahnya. Di samping itu, akan lahir pula rasa keterikatan yang erat dalam mengokohkan hubungan cinta antara orang tua dengan anaknya. Ini merupakan bukti dan tanda kasih sayang dari hati sanubari kepada anak, serta wujud nyata dari sikap rendah hati dari yang tua kepada yang muda. Kecupan merupakan cahaya benderang yang akan menerangi hati si anak, akan melapangkan dadanya, serta menambah hangatnya hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dan yang jelas, ia merupakan sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam bergaul dengan anak-anak.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya, “Apakah engkau mencium putra-putrimu?”. Beliau menjawab, “Ya”. Mereka berkomentar, “Adapun kami, demi Allah kami tidak pernah mencium anak-anak kami”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda,“أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ”“Aku tak bisa berbuat banyak untukmu bilamana Allah ta’ala mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”. HR. Bukhari dan Muslim.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertutur, “Suatu saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata,“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ”“Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. HR. Bukhari dan Muslim.Jadi, kasih sayang terhadap anak adalah merupakan salah satu sifat menonjol Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam. Selain itu kasih sayang juga merupakan salah satu sebab meraih surga dan keridhaan Allah.Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, “Suatu hari seorang wanita datang menemui Aisyah radhiyallahu’anha dengan membawa kedua anaknya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanitu itu memberikan kurma tersebut kepada kedua anaknya. Masing-masing satu butir. Sedangkan satu butir lagi untuk dirinya. Setelah kedua anaknya memakan kurma tersebut, mereka kembali memandang ibunya. Si ibu paham bahwa mereka masih menginginkan kurma itu. Akhirnya ia membelah satu butir kurma tersebut dan memberikan kepada kedua anaknya, masing-masing separoh. Tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan Aisyah pun menceritakan kejadian tadi kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang membuatmu heran? Ketahuilah bahwa Allah telah mengasihi wanita itu disebabkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albani.Di antara potret kasih sayang Rasul shallallahu’alaihiwasallam, penuturan beliau,“إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَاوَزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وُجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ”“Terkadang saat shalat aku sudah berniat untuk melamakannya. Namun ternyata kemudian aku mendengar tangisan bayi, sehingga akupun mempercepat shalatku. Karena aku sadar betul betapa tidak tenangnya sang ibu karena tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Dzulhijjah 1436 / 21 September 2015 Post navigation Previous Adil Terhadap Semua AnakNext Berikan Sambutan Hangat Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 59Kecupan atau ciuman mempunyai pengaruh yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak. Demikian juga ia memiliki peran yang sangat besar dalam menenangkan gejolak amarahnya. Di samping itu, akan lahir pula rasa keterikatan yang erat dalam mengokohkan hubungan cinta antara orang tua dengan anaknya. Ini merupakan bukti dan tanda kasih sayang dari hati sanubari kepada anak, serta wujud nyata dari sikap rendah hati dari yang tua kepada yang muda. Kecupan merupakan cahaya benderang yang akan menerangi hati si anak, akan melapangkan dadanya, serta menambah hangatnya hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dan yang jelas, ia merupakan sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam bergaul dengan anak-anak.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya, “Apakah engkau mencium putra-putrimu?”. Beliau menjawab, “Ya”. Mereka berkomentar, “Adapun kami, demi Allah kami tidak pernah mencium anak-anak kami”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda,“أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ”“Aku tak bisa berbuat banyak untukmu bilamana Allah ta’ala mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”. HR. Bukhari dan Muslim.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertutur, “Suatu saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata,“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ”“Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. HR. Bukhari dan Muslim.Jadi, kasih sayang terhadap anak adalah merupakan salah satu sifat menonjol Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam. Selain itu kasih sayang juga merupakan salah satu sebab meraih surga dan keridhaan Allah.Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, “Suatu hari seorang wanita datang menemui Aisyah radhiyallahu’anha dengan membawa kedua anaknya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanitu itu memberikan kurma tersebut kepada kedua anaknya. Masing-masing satu butir. Sedangkan satu butir lagi untuk dirinya. Setelah kedua anaknya memakan kurma tersebut, mereka kembali memandang ibunya. Si ibu paham bahwa mereka masih menginginkan kurma itu. Akhirnya ia membelah satu butir kurma tersebut dan memberikan kepada kedua anaknya, masing-masing separoh. Tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan Aisyah pun menceritakan kejadian tadi kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang membuatmu heran? Ketahuilah bahwa Allah telah mengasihi wanita itu disebabkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albani.Di antara potret kasih sayang Rasul shallallahu’alaihiwasallam, penuturan beliau,“إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَاوَزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وُجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ”“Terkadang saat shalat aku sudah berniat untuk melamakannya. Namun ternyata kemudian aku mendengar tangisan bayi, sehingga akupun mempercepat shalatku. Karena aku sadar betul betapa tidak tenangnya sang ibu karena tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Dzulhijjah 1436 / 21 September 2015 Post navigation Previous Adil Terhadap Semua AnakNext Berikan Sambutan Hangat Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 59Kecupan atau ciuman mempunyai pengaruh yang sangat efektif dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak. Demikian juga ia memiliki peran yang sangat besar dalam menenangkan gejolak amarahnya. Di samping itu, akan lahir pula rasa keterikatan yang erat dalam mengokohkan hubungan cinta antara orang tua dengan anaknya. Ini merupakan bukti dan tanda kasih sayang dari hati sanubari kepada anak, serta wujud nyata dari sikap rendah hati dari yang tua kepada yang muda. Kecupan merupakan cahaya benderang yang akan menerangi hati si anak, akan melapangkan dadanya, serta menambah hangatnya hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Dan yang jelas, ia merupakan sunnah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam bergaul dengan anak-anak.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya, “Apakah engkau mencium putra-putrimu?”. Beliau menjawab, “Ya”. Mereka berkomentar, “Adapun kami, demi Allah kami tidak pernah mencium anak-anak kami”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda,“أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ”“Aku tak bisa berbuat banyak untukmu bilamana Allah ta’ala mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”. HR. Bukhari dan Muslim.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertutur, “Suatu saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata,“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ”“Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. HR. Bukhari dan Muslim.Jadi, kasih sayang terhadap anak adalah merupakan salah satu sifat menonjol Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam. Selain itu kasih sayang juga merupakan salah satu sebab meraih surga dan keridhaan Allah.Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, “Suatu hari seorang wanita datang menemui Aisyah radhiyallahu’anha dengan membawa kedua anaknya. Lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanitu itu memberikan kurma tersebut kepada kedua anaknya. Masing-masing satu butir. Sedangkan satu butir lagi untuk dirinya. Setelah kedua anaknya memakan kurma tersebut, mereka kembali memandang ibunya. Si ibu paham bahwa mereka masih menginginkan kurma itu. Akhirnya ia membelah satu butir kurma tersebut dan memberikan kepada kedua anaknya, masing-masing separoh. Tidak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan Aisyah pun menceritakan kejadian tadi kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang membuatmu heran? Ketahuilah bahwa Allah telah mengasihi wanita itu disebabkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albani.Di antara potret kasih sayang Rasul shallallahu’alaihiwasallam, penuturan beliau,“إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَاوَزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وُجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ”“Terkadang saat shalat aku sudah berniat untuk melamakannya. Namun ternyata kemudian aku mendengar tangisan bayi, sehingga akupun mempercepat shalatku. Karena aku sadar betul betapa tidak tenangnya sang ibu karena tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Dzulhijjah 1436 / 21 September 2015 Post navigation Previous Adil Terhadap Semua AnakNext Berikan Sambutan Hangat Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berikan Sambutan Hangat

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berikan Sambutan Hangat

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 60Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Dan anak yang berjiwa gembira akan lebih berpeluang menjadi anak yang bisa berkarya dan berinovasi. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang dengan jiwa yang senantiasa bergembira.Tak selamanya anak akan selalu merasa riang gembira. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengasuh anak agar tetap bergembira mutlak dilakukan. Menggembirakan anak tidak harus dengan membelikan anak mainan yang bagus dan banyak. Bukan pula dengan senantiasa memanjakan anak dan menuruti segala kemauan anak. Kalau menggembirakan anak dengan cara seperti ini maka nantinya anak malah manjadi pribadi yang tidak mandiri dan mudah putus asa.Kita sebagai orang tua bisa melakukan cara-cara sederhana, namun anak akan bisa merasakan bahagia dan gembira. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan inilah yang membuat anak akan merasa tenang juga nyaman. Rasa nyaman dan tenang inilah yang akan memicu anak untuk senantiasa bersikap riang gembira.Di antara langkah sederhana untuk menggembirakan hati anak adalah dengan memberikan sambutan dengan baik kepada anak.Kita perlu menyambut kehadiran anak dengan baik. Bukan hanya orang tua saja yang ingin disambut. Anak juga ingin disambut oleh orang tuanya. Misalnya ketika anak baru pulang dari sekolah. Sempatkanlah waktu untuk menunggu dan menyambut anak di depan pintu. Berikan sambutan hangat dan berilah senyuman. Tanyakan kepadanya bagaimana kabar dan keadaan anak ketika di sekolah. Apabila ada waktu bisa juga dengan menyambutnya dengan menyiapkan makanan kesukaannya. Rasa perhatian yang tulus inilah yang nantinya akan membuat hati anak untuk tetap bergembira karena orang tuanya peduli kepadanya.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا قَالَ فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.“Apabila Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali dari sebuah perjalanan jauh, maka beliau langsung menemui anak-anak kecil dari keluarga beliau. Suatu hari aku dan al-Hasan atau al-Husain dibawa untuk menemui beliau. Maka beliau pun menumpakkan salah satu kami di depan beliau dan satu lagi di belakang beliau, hingga kami memasuki kota Madinah sambil menaiki tunggangan beliau”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Dzulhijjah 1436 / 5 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/02/tips-dan-cara-agar-anak-tetap-gembira.html dan Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 136). Post navigation Previous Kecupan Kasih SayangNext Keutamaan Do’a Bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag-1

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag-1

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama Islam. Sehingga banyak sekali dalil dari Kitab dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan doa, dengan redaksi yang begitu beragam. Mulai dari perintah dan motivasi untuk berdoa, peringatan keras bagi orang yang enggan berdoa, keterangan tentang pahala doa, hingga pujian untuk kaum mukminin yang rajin berdoa.Bahkan al-Qur’an itu dibuka dan ditutup dengan doa. Surat al-Fatihah sebagai pembuka al-Qur’an mengandung doa permohonan hidayah ke jalan yang lurus. Sedangkan surat an-Nas sebagai penutup al-Qur’an mengandung doa permohonan perlindungan kepada Allah dari keburukan gangguan setan. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya doa. Sebab doa merupakan ruh dan intinya ibadah.Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menamakan doa sebagai ibadah. Di antaranya:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَArtinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Doa merupakan pondasi ibadah, ia pertanda kerendahan, ketundukan dan kebutuhan seorang hamba kepada Rabbnya. Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah memotivasi para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Antara lain dalam firman-Nya,ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ()وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَArtinya: “Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. QS. Al-A’raf (7): 55-56.Masih dalam rangka menyemangati para hamba-Nya untuk berdoa, Allah ta’ala menjelaskan bahwa diri-Nya dekat dengan mereka, mengabulkan permohonan dan keinginan mereka. Allah berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَArtinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka meraih kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Dia juga berfirman,أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَArtinya: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, juga menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada sesembahan lain selain Allah? Sungguh sangat sedikit sekali manusia yang mau mengingat Allah”. QS. An-Naml (27): 62.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Dzulqa’dah 1436 / 7 September 2015 Post navigation Previous Berikan Sambutan HangatNext Keutamaan Do’a Bag 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag 2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keutamaan Do’a Bag 2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 83Di antara keutamaan doa yang bisa disimpulkan dari ayat-ayat al-Qur’an, adalah bahwa kerutinan seorang hamba dalam berdoa merupakan pertanda tingginya makrifat dia kepada Allah, juga tanda kuatnya hubungan dia dengan-Nya. Karena itu kita dapati para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling terdepan dalam memperbanyak doa dengan sempurna di segala kondisi dan kesempatan. Allah berfirman,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَArtinya: “Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 90.Berikut ini beberapa contoh doa para nabi. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doa kami. Wahai Rabb kami ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (amalan)”. QS. Ibrahim (14): 39-41.Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam,وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)Artinya: “(Ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Rabbnya, “(Wahai Rabbku), sungguh aku telah ditimpa penyakit parah, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang taat”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 83-84.Doa Nabi Yunus ‘alaihissalam,فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)Artinya: “Pada kegelapan malam dalam perut ikan di tengah laut Yunus berdoa, “Sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”. QS. Al-Anbiyâ’ (21): 87-88.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Dzulhijjah 1436 / 28 September 2015 Disringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/9-10). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag-1Next Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at} Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 11 Dzulhijjah 1436 / 25 September 2015 KHUTBAH PERTAMA:إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak.Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah…Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah kisah teladan bagi setiap rumah tangga muslim dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Serentetan ujian bergulir tiada henti dalam kehidupan beliau. Namun semua itu tidak menjadikan bahtera rumah tangganya goncang, bahkan justru semakin bertambah kuat dan kokoh perkasa.Sekian puluh tahun lamanya keluarga Ibrahim menanti kehadiran sang buah hati. Telah banyak linangan air mata dalam doanya untuk dikaruniai seorang putra sebagai penerus perjuangannya. Ketika sang buah hati telah hadir dan merekah dalam hatinya, ternyata Allah berhendak menguji keimanan Nabi-Nya.Allah berfirman,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Siapapun pasti akan merasa berduka ketika buah hatinya sakit dan terluka. Apalagi anak semata wayang yang sekian puluh tahun dinanti kehadirannya diperintahkan untuk disembelih, sebagai bukti keimanannya. Meski demikian, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi yang dialaminya adalah wahyu dari Allah. Bukan sekedar halusinasi atau bisikan setan. Akhirnya beliaupun bertekad melaksanakan perintah Allah tersebut bersama anaknya.Sidang Jum’at yang kami hormati…Setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, maka segera beliau kabarkan kepada Ismail putranya tercinta seraya meminta pendapatnya.Ketika mendengar hal tersebut adalah wahyu Allah yang disampaikan pada ayahnya tercinta, maka ia tidak lagi berpikir panjang memberikan jawaban untuk melaksanakan perintah Allah. Isma’il yang masih belia itu dengan tegas mengatakan pada ayahnya,“Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan[1], bahwa dengan tulus dan tabah sang anak berkata,يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ…“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ…“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu. Aku khawatir akan mengurangi pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ…“Tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku, agar terasa lebih ringan bagiku. Karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ… وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ…“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali, maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka bawalah.”Maka saat itu, dengan penuh haru Ibrahim menjawab,نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى…“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Sudah begitu banyak tulisan, ceramah dan pengajian yang mengupas berbagai pelajaran berharga dari kisah keteladanan di atas. Namun ada satu poin yang setahu kami belum banyak dibahas. Yakni adanya dialog dan diskusi antara orang tua dan anak dalam menjelaskan perintah-perintah agama. Sebuah kebiasaan yang sering diabaikan dalam kehidupan keluarga kita.“Kalau anak-anak dulu ditengoki aja udah takut. Kalau anak sekarang, capek mulut awak becakap mereka tak peduli”. Begitu komentar seorang ayah terhadap perilaku anak-anaknya. Apa yang dia ucapkan agaknya mewakili pernyataan para orang tua. Memang saat ini banyak orang tua bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anaknya. Seringkali apa yang disampaikan orang tua tidak diindahkan anak-anaknya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Ketika kenakalan remaja meningkat, menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru cara komunikasi Nabi Ibrahim dengan putranya ‘alaihimassalam. Karena memang seni berkomunikasi apik tersebut direkam dengan rapi di dalam al-Qur’an.Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati…Jika diper­hatikan, keluarga Nabi Ib­rahim merupakan salah satu profil keluarga ideal yang dikisahkan dalam al-Quran.Tentu banyak poin yang dapat dipetik dari kisah perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Demi mensukseskan proses komunikasi antara orang tua dan putra-putrinya.Di anta­ranya:Poin Pertama: Faktor Keteladanan Nabi Ibrahim Sebagai Suami dan Ayah.Dalam keluarganya, Nabi Ibrahim adalah kepala keluarga. Beliau membina keluar­ganya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Allah ta’ala.Sebagai suami, Ibrahim berlaku adil kepada istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar, taat kepada Nabi Ibrahim. Kepatuhan istri terse­but tentu tidak terlepas dari kemuliaan pribadi dan keta­atan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ta’ala.Hal ini mengajarkan kepa­da kita bahwa jika ingin ditaati oleh istri, seorang suami harus mampu menam­pilkan dirinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, berkepribadian luhur, cinta pada keluarga dan berperilaku sesuai dengan tuntunan agama.Akan sulit bagi seorang suami yang menginginkan istrinya taat dan shalehah, sementara suami sendiri memiliki akhlak yang buruk. Akan sia-sia jika suami lebih menginginkan istrinya beru­bah ke arah yang lebih baik, sementara pribadi sang sua­mi tersebut tidak pula mampu mengubah kebiasaan-kebia­saan buruk yang ia lakukan. Sejatinya, ubahlah diri sendiri, maka Allah akan memper­mu­dah jalannya untuk mengubah orang-orang yang dipimpinnya, termasuk istri dan anak-anaknya.Adapun sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tampil menjadi pendidik yang penuh kasih sayang dan menjadi teladan.Ibrahim membawa Ismail untuk membangun Ka’bah lalu tinggal di sekitarnya [QS. Ibrahim (14): 37]. Nabi Ibrahim memberi contoh secara lang­sung bagaimana cara beri­badah kepada Allah, bukan sekedar nasihat.Upaya ini seharusnya kita teladani, dengan konsisten menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita; bukan sekedar menceritakan contoh kebaikan saja.Poin Kedua: Adanya Dialog Kasih SayangPerhati­kanlah isi dialog di awal khutbah ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.Dalam dialog yang dike­mu­kakan al-Quran di atas, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan padanya untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna­kannya ketika menyeru buah hatinya: “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang­gi­lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai. Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya dan kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un­tuk kebaikan yang mengun­tungkan secara lahiriah, keti­ka diajak untuk mengor­bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Namun, tentu kita berhak untuk bertanya, upaya lain apa yang dilakukan oleh Ibrahim sehingga putranya bisa setaat itu?Inilah pembahasan poin berikutnya:Poin Ketiga: Untaian DoaSeluruh kesuksesan proses pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim, semua itu tidak terlepas dari doa, usaha dan ketela­danan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Al-Quran me­nga­­badikan doa Nabi Ibrahim, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ”Artinya: “Wahai Rabbku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih”. QS. Ash-Shaffat (37): 100.Hal ini mengajarkan kepa­da kita agar senantiasa ber­doa untuk memperoleh anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah amanah. Namun ia bisa juga menjadi fitnah [QS. Al-Anfal (8): 28]. Karena itu, berdoa dan berlindunglah kepada Allah agar kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak yang shalih dan shalihah sehingga ia tidak men­jadi fitnah yang merugi­kan.Poin Keempat: Memilih Ibu yang BaikDoa itu juga harus diiringi de­ngan usaha. Usaha itu bisa berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Hâjar adalah sosok wanita yang dihiasi keimanan yang teguh, akhlak yang mulia, taat bera­gama dan patuh pada suami­nya.Usaha seperti inilah yang diajarkan dalam al-Quran.Banyak orang di zaman ini dalam memilih pasangan terlalu silau dengan penampilan luar dan mengabaikan inner beauty (kecantikan dalam) seseorang.Padahal Allah menegaskan bahwa seorang budak yang beriman jauh lebih berharga dari pada seseorang yang musyrik, mes­ki­pun menarik hati.“ وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ “Artinya: “Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu ” QS. Al-Baqarah (2): 221.Karena itu, jika mengi­nginkan anak yang shaleh, mulailah dari memilih jodoh. Jika istri yang dipilih biasa mengabaikan perintah Allah, bagaimana mungkin ia akan mampu mendidik anak yang shaleh. Bukankah ibu merupa­kan guru pertama bagi seorang anak?بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. -=- KHUTBAH KEDUA:الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلاَمِ، وَوَفَّقَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِياَمِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْبَدْءِ وَالْخِتَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ؛Sidang Jum’at yang kami hormati…Banyak dari kita sudah berpuluh tahun mengarungi kehidupan berumah tangga. Suka dan duka sudah kita lalui. Namun, pernahkah kita mendiskusi tentang rencana akhirat bersama istri dan anak-anak kita? Ataukah hari-hari kita hanya dihabiskan untuk membicarakan target-target duniawi semata. Bisnis, rumah, kendaraan, sawah, sarjana dan yang semisalnya?Pernahkah kita meluangkan waktu untuk memperbincangkan rencana masuk surga bersama keluarga dan jalan untuk mensukseskan rencana prestisius tersebut?Sejauh mana kita memperhatikan ibadah, terutama shalat wajib lima waktu pasangan dan putra-putri kita? Ataukah kita acuh tak acuh manakala sampai usia dewasa mereka belum juga menunaikannya?Pernahkan kita bertanya sudah berapa surat al-Quran yang anak-anak kita sudah hafal? Di mana itu semua bisa menjelma menjadi mahkota kebesaran dan jubah kebanggaan kelak di hari kiamat.Pernahkah kita menumbuhkan kegemaran berpuasa sunnah pada buah hati kita, setelah mendidik mereka untuk berpuasa Ramadhan?Sejauh mana kita mengawasi tutur kata yang keluar dari lisan mereka? Pantaskah? Kotorkah?Mari masing-masing dari kita menjawab berbagai pertanyaan di atas dan juga pertanyaan-pertanyaan lain sekarang, saat masih hidup di dunia ini. Mungkin upaya itu bisa membantu kita untuk mempersiapkan jawaban yang tepat, bila kelak ternyata kita dihadang dengan pertanyaan-pertanyaan itu di hari kiamat di hadapan Allah ta’ala…هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة* Diramu dari berbagai sumber. [1] Lihat: Tafsir al-Baghawi (VII/ 48) dan Tafsir al-Qurthubi (XVIII/ 69). Post navigation Previous Keutamaan Do’a Bag 2Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next