Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84Pada kesempatan lalu kita telah membahas berbagai keutamaan doa yang tersirat di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam: Doa adalah ibadahNabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Bahkan doa adalah ibadah paling afdhal. Dalam sebuah hadits disebutkan,“لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ”“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Ibn Hibban menilai hadits ini sahih.Jadi, doa adalah salah satu ibadah termulia dan paling tinggi kedudukannya dalam Islam. Sebab doa adalah inti dan ruhnya ibadah. Di dalam doa, seorang hamba menunjukkan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya yang sangat terhadap Allah ta’ala.Kemudian doa itu senantiasa diiringi dengan ketergantungan (tawakkal) hamba kepada Allah, juga permintaan tolong kepada-Nya. Perasaan butuh terhadap Allah dan kepercayaan kepada-Nya adalah inti dari ibadah.Lalu, perlu diketahui bahwa ibadah itu akan semakin semakin sempurna dan semakin mulia, manakala saat mengerjakannya hati bisa khusyu’ dan meresapinya. Dalam hal ini, doa sangat membantu untuk mencapai hal itu. Sebab kebutuhan mendesak seseorang akan mendorongnya untuk khusyu’ dalam berdoa. Orang yang tidak berdoa akan dimurkai AllahRasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,” مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ، غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ ““Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan murka padanya”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Syaikh al-Albany menilai hadits ini hasan.Hadits ini menunjukkan betapa Allah mencintai doa serta mencintai orang-orang yang mau berdoa kepada-Nya. Karena itulah Allah murka terhadap mereka yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Sebab sangat mungkin keengganan itu bersumber dari kesombongan dia. Allah ta’ala berfirman,Artinya: “Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku; niscaya akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Dzulhijjah 1436 / 12 Oktober 2015 Disingkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr (II/12-18). Post navigation Previous Dialog Ukhrawi {Khotbah Jum’at}Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)

Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)

Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada kesempatan lalu kita telah mengawali pembahasan tentang beberapa keutamaan doa yang termaktub dalam hadits-hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Berikut kelanjutannya: Doa adalah ibadah yang sangat ringanRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلَامِ، وَإِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ“Manusia yang paling pelit adalah yang pelit memberi salam. Dan manusia yang paling lemah adalah yang lemah tidak berdoa”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa adalah sebuah ibadah yang amat ringan. Dalam menjalankannya tidak memerlukan energi besar. Setelah mengerjakannya pun, seorang hamba tidak merasa capai dan lelah. Selain itu juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Sehingga orang yang tidak mampu berdoa, tentu untuk menjalankan ibadah lainnya lebih tidak mampu lagi. Doa bisa merubah takdirNabi kita shallallahu’alaihiwasallam menuturkan,” إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ ““Seseorang itu terhalang dari rizki akibat dosa yang ia lakukan. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang bisa menambah umur melainkan perbuatan baik”. HR. Ahmad dari Tsauban radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Para ulama telah menjelaskan makna hadits di atas. Bahwa doa seorang hamba adalah bagian dari takdir Allah juga. Terkadang Allah menakdirkan hal A bagi seorang hamba bila ia tidak berdoa. Namun selain itu Allah juga menakdirkan hal B bila ia berdoa. Misalnya ada seorang hamba yang ditakdirkan bila ia tidak berdoa, maka anak-anaknya akan nakal. Namun di balik itu Allah menakdirkan ‘skenario’ lain, bahwa bila ia rajin berdoa, maka anak-anaknya akan salih dan salihah.Keterangan di atas menunjukkan bahwa doa itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kebaikan kita di dunia maupun akhirat. Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa saya tidak perlu berdoa dan meminta kepada Allah. Cukup bagi saya bergantung dengan takdir Allah saja. Mengapa keliru? Sebab Allah ta’ala sendirilah yang menjadikan doa sebagai salah satu sebab terbesar untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.Jadi, kebutuhan seorang muslim terhadap doa amatlah besar. Ia tidak mungkin lepas dari ibadah yang mulia ini, dalam segala urusannya. Seorang ulama telah memberikan perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan betapa butuhnya seorang hamba terhadap doa. Muwarriq rahimahullah bertutur,“Permisalan mukmin itu seperti seorang yang terapung di tengah lautan di atas sebatang kayu. Lalu ia berdoa, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Ia berharap Allah menyelamatkannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau az-Zuhd.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Muharram 1437 / 26 Oktober 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 84 (KEUTAMAAN DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah merasa senang manakala para manusia berdoa pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkannya, padahal Dia tidaklah membutuhkan mereka. Ini menunjukkan betapa baik dan sayangnya Allah kepada para hamba-Nya.Allah senang manakala kita meminta pada-Nya segala kebutuhan yang kita inginkan. Entah itu yang bersifat duniawi, seperti sandang, pangan, papan dan yang semisal. Maupun yang bersifat ukhrawi, seperti hidayah, ampunan, taufiq, surga dan yang serupa. Semua permintaan tersebut dijanjikan-Nya untuk dikabulkan.Ini menjelaskan juga pada kita betapa sempurnanya kekuasaan Allah dan betapa tidak terbatasnya kekayaan Allah. Bahwa kekayaan-Nya tidak akan pernah berkurang apalagi habis, saat memberikan seluruh permintaan para hamba-Nya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]”يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ”[/arabic-font]“Tangan Allah penuh (dengan karunia). Pemberian-Nya tidak akan mengurangi karunia tersebut. Dia selalu memberi malam dan siang. Tahukah kalian, bahwa apa yang Allah berikan (kepada para makhluk-Nya) sejak diciptakannya langit dan bumi, itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Sungguh benar firman Allah ta’ala,[arabic-font]”مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”[/arabic-font]Artinya: “Apa yang kalian miliki akan habis. Sedangkan apa yang dimiliki Allah pasti abadi”. QS. An-Nahl (16): 96.Jadi, kita semua sangat membutuhkan Allah dalam segala kebutuhan dan keperluan kita. Tidak mungkin kita lepas dari bantuan-Nya, walaupun hanya sekejap mata sekalipun. Bagaimana mungkin, sedangkan setiap detik kita harus bernafas, juga darah dalam tubuh kita harus selalu mengalir lancar? Dan itu semua yang membantu adalah Allah ta’ala…Maka sangat wajar, bila Allah ta’ala mengingatkan,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)”[/arabic-font]Artinya: “Wahai manusia, kalian selalu membutuhkan Allah. Akan tetapi Allah Maha Kaya (sama sekali tidak membutuhkan ketaatan para hamba-Nya) dan Maha Terpuji. Jika Allah menghendaki kalian lenyap, maka kalian dilenyapkan, kemudian kalian diganti dengan makhluk yang baru. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah”. QS. Fathir (35): 15-17.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Muharram 1437 / 9 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 85 KEUTAMAAN DOA Bag-4 (terakhir)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara hal yang menunjukkan keutamaan doa, bahwa Allah mengajak para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Firman-Nya,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ” [/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Itulah janji Allah. Dan tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, “Realita berbicara bahwa terkadang kita sudah berdoa, namun ternyata tidak atau belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bagaimana ini?”.Jawabannya ada dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,[arabic-font]”مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1437 / 23 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 86 (HAMBA BUTUH DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.Bercanda yuk dengan anak-anak kita…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 87 (ALLAH BERJANJI KABULKAN DOA)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH*Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan pada kita salah satu kiat menumbuhkan kasih sayang dengan sesama dalam sabdanya,[arabic-font]”تَهَادُوا تَحَابُّوا”.[/arabic-font]“Salinglah kalian memberi hadiah; niscaya akan tumbuh kasih sayang di antara kalian”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.Anas bin Malik radhiyallahu’anhui berpesan,[arabic-font]”يَا بُنَيَّ! تَبَادَلُوْا بَيْنَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوَدُّ لِمَا بَيْنَكُمْ”.[/arabic-font]“Wahai anakku, salinglah bertukar pemberian sesama kalian, niscaya hal itu akan lebih mempererat kasih sayang di antara kalian”. Diriwayatkan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Albany.Pesan di atas bersifat umum. Pemberian hadiah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap jiwa manusia secara umum. Namun pengaruhnya terhadap jiwa anak akan jauh lebih besar. Ini merupakan salah satu trik termanjur untuk membina perasaan anak, menggerakkan dan mengarahkannya.Berikut ini contoh nyata praktek Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,[arabic-font]كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»، قَالَ: ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ[/arabic-font]“Orang-orang ketika mendapati pohon pertama kali berbuah, mereka memetik dan membawanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setelah mengambilnya, beliau berdoa, “Ya Allah berkahilah untuk kami buah kami. Berkahilah untuk kami Madinah kami. Berkahilah untuk kami sha’ dan mud (takaran) kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan Nabi-Mu, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan Nabi-Mu. Sungguh beliau pernah berdoa padamu untuk kota Mekah, sedangkan aku sekarang berdoa pada-Mu untuk kota Madinah mirip seperti doa beliau untuk kota Mekah, bahkan aku memohon dua kali lipatnya”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihwasallam memanggil anak yang paling kecil, lalu memberikan padanya buah tersebut”. HR. Muslim.Dalam kisah lain, Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Telah datang kiriman beberapa hadiah dari raja Najasyi. Di antaranya terdapat selendang khas Habasyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengambilnya dengan tongkat atau jari beliau dan berpaling darinya. Lalu beliau memanggil Umamah bin Abu al-‘Ash dan bersabda, “Pakailah ini wahai putriku”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Muharram 1437 / 2 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 138-140). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mainan Itu Bernama Dunia

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mainan Itu Bernama Dunia

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nasi Telah Menjadi Bubur

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nasi Telah Menjadi Bubur

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a

Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a

Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next