Untuk Apa Kamu Hidup?

Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi

Untuk Apa Kamu Hidup?

Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi
Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi


Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi

Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id
Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id


Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Betapa Indahnya, Ibadah Pada Saat Aku Tidur di Kasurku

Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan: الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ “Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.” Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan: يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ “Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168) Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah. Contoh yang lain adalah: Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan. Contoh lain adalah: Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas. Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa. Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim. Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa. Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Betapa Indahnya, Ibadah Pada Saat Aku Tidur di Kasurku

Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan: الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ “Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.” Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan: يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ “Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168) Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah. Contoh yang lain adalah: Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan. Contoh lain adalah: Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas. Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa. Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim. Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa. Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan: الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ “Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.” Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan: يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ “Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168) Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah. Contoh yang lain adalah: Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan. Contoh lain adalah: Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas. Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa. Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim. Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa. Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan: الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ “Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.” Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan: يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ “Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168) Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah. Contoh yang lain adalah: Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan. Contoh lain adalah: Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas. Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa. Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim. Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa. Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat

Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat, ketika sudah terlambat pintu taubat itu bagi mereka. Allah berfirman: رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَا نُوْا مُسْلِمِيْنَ “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 2) Dan firman-Nya: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَ مَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 3) Orang-orang kafir itu berangan-angan seandainya mereka diberi kesempatan untuk bisa kembali ke dunia, lalu mereka akan beramal shalih. Allah berfirman: وَلَوْ تَرٰۤى اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَا كِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَاۤ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَا رْجِعْنَا نَعْمَلْ صَا لِحًـا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 12) Namun itu semua hanya angan-angan yang tidak akan pernah terjadi. Lalu Allah menghukum mereka atas kekafiran mereka. Allah berfirman: وَ لَوْ شِئْنَا لَاٰ تَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰٮهَا وَلٰـكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, Pasti akan Aku penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 13) Mereka pun mendapat azab pedih yang abadi (kekal) di dalam neraka jahannam. Allah berfirman: فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ “Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 14) Semoga Allah mewafatkan kita di atas ajaran Islam (tauhid) serta menjaga diri dan keluarga kita dari kekafiran dan azab kekal di neraka jahannam. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua akan bahayanya kekufuran dan kesyirikan. *** Disusun oleh: Ustadz Haris Hermawan, M.A. (Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Quran Syiah, Rejeki Dalam Islam, Tai Ayam, Khutbah Idul Adha Singkat 2015, Banner Donasi, Hadits Tentang Pacaran Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid

Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat

Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat, ketika sudah terlambat pintu taubat itu bagi mereka. Allah berfirman: رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَا نُوْا مُسْلِمِيْنَ “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 2) Dan firman-Nya: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَ مَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 3) Orang-orang kafir itu berangan-angan seandainya mereka diberi kesempatan untuk bisa kembali ke dunia, lalu mereka akan beramal shalih. Allah berfirman: وَلَوْ تَرٰۤى اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَا كِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَاۤ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَا رْجِعْنَا نَعْمَلْ صَا لِحًـا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 12) Namun itu semua hanya angan-angan yang tidak akan pernah terjadi. Lalu Allah menghukum mereka atas kekafiran mereka. Allah berfirman: وَ لَوْ شِئْنَا لَاٰ تَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰٮهَا وَلٰـكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, Pasti akan Aku penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 13) Mereka pun mendapat azab pedih yang abadi (kekal) di dalam neraka jahannam. Allah berfirman: فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ “Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 14) Semoga Allah mewafatkan kita di atas ajaran Islam (tauhid) serta menjaga diri dan keluarga kita dari kekafiran dan azab kekal di neraka jahannam. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua akan bahayanya kekufuran dan kesyirikan. *** Disusun oleh: Ustadz Haris Hermawan, M.A. (Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Quran Syiah, Rejeki Dalam Islam, Tai Ayam, Khutbah Idul Adha Singkat 2015, Banner Donasi, Hadits Tentang Pacaran Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid
Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat, ketika sudah terlambat pintu taubat itu bagi mereka. Allah berfirman: رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَا نُوْا مُسْلِمِيْنَ “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 2) Dan firman-Nya: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَ مَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 3) Orang-orang kafir itu berangan-angan seandainya mereka diberi kesempatan untuk bisa kembali ke dunia, lalu mereka akan beramal shalih. Allah berfirman: وَلَوْ تَرٰۤى اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَا كِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَاۤ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَا رْجِعْنَا نَعْمَلْ صَا لِحًـا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 12) Namun itu semua hanya angan-angan yang tidak akan pernah terjadi. Lalu Allah menghukum mereka atas kekafiran mereka. Allah berfirman: وَ لَوْ شِئْنَا لَاٰ تَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰٮهَا وَلٰـكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, Pasti akan Aku penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 13) Mereka pun mendapat azab pedih yang abadi (kekal) di dalam neraka jahannam. Allah berfirman: فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ “Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 14) Semoga Allah mewafatkan kita di atas ajaran Islam (tauhid) serta menjaga diri dan keluarga kita dari kekafiran dan azab kekal di neraka jahannam. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua akan bahayanya kekufuran dan kesyirikan. *** Disusun oleh: Ustadz Haris Hermawan, M.A. (Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Quran Syiah, Rejeki Dalam Islam, Tai Ayam, Khutbah Idul Adha Singkat 2015, Banner Donasi, Hadits Tentang Pacaran Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 504 QRIS donasi Yufid


Penyesalan Orang-orang Kafir di Akhirat Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat, ketika sudah terlambat pintu taubat itu bagi mereka. Allah berfirman: رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَا نُوْا مُسْلِمِيْنَ “Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 2) Dan firman-Nya: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَ مَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 3) Orang-orang kafir itu berangan-angan seandainya mereka diberi kesempatan untuk bisa kembali ke dunia, lalu mereka akan beramal shalih. Allah berfirman: وَلَوْ تَرٰۤى اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَا كِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَاۤ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَا رْجِعْنَا نَعْمَلْ صَا لِحًـا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 12) Namun itu semua hanya angan-angan yang tidak akan pernah terjadi. Lalu Allah menghukum mereka atas kekafiran mereka. Allah berfirman: وَ لَوْ شِئْنَا لَاٰ تَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰٮهَا وَلٰـكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan perkataan (ketetapan) dari-Ku, Pasti akan Aku penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 13) Mereka pun mendapat azab pedih yang abadi (kekal) di dalam neraka jahannam. Allah berfirman: فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ “Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 14) Semoga Allah mewafatkan kita di atas ajaran Islam (tauhid) serta menjaga diri dan keluarga kita dari kekafiran dan azab kekal di neraka jahannam. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua akan bahayanya kekufuran dan kesyirikan. *** Disusun oleh: Ustadz Haris Hermawan, M.A. (Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Al Quran Syiah, Rejeki Dalam Islam, Tai Ayam, Khutbah Idul Adha Singkat 2015, Banner Donasi, Hadits Tentang Pacaran Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 504 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengutamakan Sholat

إن من توقير الصلاة أن تأتي قبل الإقامة Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Diantara bentuk memuliakan (baca: mengutamakan dan menganggap penting) sholat adalah datang ke masjid sebelum iqamah.” (Shifatus Shofwah 2/558) Sasaran pokok syariat sholat berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki. Rasa cinta untuk sholat berjamaah di masjid adalah sebuah kebaikan yang perlu mendapat apresiasi.  Namun rasa cinta sholat berjamaah di masjid itu bertingkat-tingkat.  Semangat untuk sudah berada di masjid sebelum iqamah berkumandang adalah level orang yang tulen menghormati dan mengutamakan sholat dibandingkan kepentingan lainnya. Menunggu iqamah berkumandang sehingga rajin menjadi makmum masbuk adalah level orang yang kurang menghormati sholat. “Jika kita begitu semangat untuk naik level dalam masalah dunia (kendaraan, jabatan, rumah dll) lantas mengapa sebagian kita merasa nyaman dengan level rendah dalam masalah sholat berjamaah?” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Mengutamakan Sholat

إن من توقير الصلاة أن تأتي قبل الإقامة Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Diantara bentuk memuliakan (baca: mengutamakan dan menganggap penting) sholat adalah datang ke masjid sebelum iqamah.” (Shifatus Shofwah 2/558) Sasaran pokok syariat sholat berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki. Rasa cinta untuk sholat berjamaah di masjid adalah sebuah kebaikan yang perlu mendapat apresiasi.  Namun rasa cinta sholat berjamaah di masjid itu bertingkat-tingkat.  Semangat untuk sudah berada di masjid sebelum iqamah berkumandang adalah level orang yang tulen menghormati dan mengutamakan sholat dibandingkan kepentingan lainnya. Menunggu iqamah berkumandang sehingga rajin menjadi makmum masbuk adalah level orang yang kurang menghormati sholat. “Jika kita begitu semangat untuk naik level dalam masalah dunia (kendaraan, jabatan, rumah dll) lantas mengapa sebagian kita merasa nyaman dengan level rendah dalam masalah sholat berjamaah?” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
إن من توقير الصلاة أن تأتي قبل الإقامة Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Diantara bentuk memuliakan (baca: mengutamakan dan menganggap penting) sholat adalah datang ke masjid sebelum iqamah.” (Shifatus Shofwah 2/558) Sasaran pokok syariat sholat berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki. Rasa cinta untuk sholat berjamaah di masjid adalah sebuah kebaikan yang perlu mendapat apresiasi.  Namun rasa cinta sholat berjamaah di masjid itu bertingkat-tingkat.  Semangat untuk sudah berada di masjid sebelum iqamah berkumandang adalah level orang yang tulen menghormati dan mengutamakan sholat dibandingkan kepentingan lainnya. Menunggu iqamah berkumandang sehingga rajin menjadi makmum masbuk adalah level orang yang kurang menghormati sholat. “Jika kita begitu semangat untuk naik level dalam masalah dunia (kendaraan, jabatan, rumah dll) lantas mengapa sebagian kita merasa nyaman dengan level rendah dalam masalah sholat berjamaah?” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


إن من توقير الصلاة أن تأتي قبل الإقامة Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Diantara bentuk memuliakan (baca: mengutamakan dan menganggap penting) sholat adalah datang ke masjid sebelum iqamah.” (Shifatus Shofwah 2/558) Sasaran pokok syariat sholat berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki. Rasa cinta untuk sholat berjamaah di masjid adalah sebuah kebaikan yang perlu mendapat apresiasi.  Namun rasa cinta sholat berjamaah di masjid itu bertingkat-tingkat.  Semangat untuk sudah berada di masjid sebelum iqamah berkumandang adalah level orang yang tulen menghormati dan mengutamakan sholat dibandingkan kepentingan lainnya. Menunggu iqamah berkumandang sehingga rajin menjadi makmum masbuk adalah level orang yang kurang menghormati sholat. “Jika kita begitu semangat untuk naik level dalam masalah dunia (kendaraan, jabatan, rumah dll) lantas mengapa sebagian kita merasa nyaman dengan level rendah dalam masalah sholat berjamaah?” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Nasehat Dari Segelas Air

Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau.  Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau: “Ada apa wahai Abu Said?” Jawaban beliau: ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga: “Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50) (Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah) Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya.  Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya.  Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih.  Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini.  Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Nasehat Dari Segelas Air

Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau.  Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau: “Ada apa wahai Abu Said?” Jawaban beliau: ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga: “Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50) (Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah) Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya.  Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya.  Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih.  Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini.  Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau.  Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau: “Ada apa wahai Abu Said?” Jawaban beliau: ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga: “Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50) (Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah) Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya.  Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya.  Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih.  Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini.  Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau.  Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau: “Ada apa wahai Abu Said?” Jawaban beliau: ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga: “Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50) (Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah) Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya.  Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya.  Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih.  Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini.  Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Orang Yang Patut Dikasihani

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ “Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)  Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani:  Pertama: Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya. Kedua: Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala. Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati.  Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll.  Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita.  Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca.  Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll.  Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat.  Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu.  Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Orang Yang Patut Dikasihani

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ “Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)  Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani:  Pertama: Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya. Kedua: Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala. Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati.  Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll.  Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita.  Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca.  Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll.  Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat.  Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu.  Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Abdullah bin Mas’ud mengatakan: إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ “Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)  Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani:  Pertama: Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya. Kedua: Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala. Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati.  Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll.  Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita.  Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca.  Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll.  Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat.  Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu.  Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Abdullah bin Mas’ud mengatakan: إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ “Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)  Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani:  Pertama: Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya. Kedua: Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala. Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati.  Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll.  Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita.  Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca.  Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll.  Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat.  Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu.  Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Pendengar Yang Baik

‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ “Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/86) Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali. Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah: Kita dengarkan sambil mainan gadget.  Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya.  Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain.  Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya. Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia.  Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita.  Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk. Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Pendengar Yang Baik

‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ “Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/86) Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali. Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah: Kita dengarkan sambil mainan gadget.  Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya.  Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain.  Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya. Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia.  Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita.  Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk. Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ “Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/86) Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali. Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah: Kita dengarkan sambil mainan gadget.  Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya.  Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain.  Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya. Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia.  Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita.  Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk. Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ “Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/86) Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali. Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah: Kita dengarkan sambil mainan gadget.  Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya.  Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain.  Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya. Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia.  Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita.  Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk. Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Tidak Boleh Melakukan Tipu Daya untuk Menghindari Pembayaran Zakat

Jika kita memiliki harta yang sudah melebihi nishab tetapi belum tercapai haul-nya, maka tidak boleh bagi kita untuk dengan sengaja mengurangi harta kita tersebut agar kita bisa menghindari pembayaran zakatnya.Misalnya, jika seseorang memiliki harta yang wajib dizakati seperti uang tunai dan tabungan yang sudah melebihi nishab-nya, maka tidak boleh baginya untuk dengan sengaja menggunakan sebagian uangnya tersebut sehingga jumlahnya sekarang menjadi kurang dari nishab, dalam rangka agar dia tidak perlu membayar zakat atasnya.Dia bisa saja menggunakan sebagian uangnya itu untuk membeli harta jenis lainnya yang juga wajib dizakati, seperti binatang ternak (kambing, sapi, dan unta), atau harta yang tidak dizakati, seperti kendaraan atau telepon seluler yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan untuk dijual lagi sebagai barang dagangan). Tidak peduli bagaimana dia menggunakan uangnya tersebut, selama ada niat untuk menghindari pembayaran zakat, maka ini adalah perbuatan yang terlarang secara syari’at.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ * وَلَا يَسْتَثْنُونَ * فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ * فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak menyisihkan (hak faqir miskin). Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”Baca Juga: Bagaimana Hukum Pajak dalam Islam?Dari serangkaian ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum para pemilik kebun tersebut karena mereka tidak mau menunaikan hak kaum faqir miskin dari sebagian hasil panen mereka. Demikian pula, jika kita dengan sengaja mengurangi harta kita hingga di bawah nishab karena tidak mau untuk membayar zakatnya, maka ini adalah perbuatan yang tercela dan haram secara syari’at.Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menulis kepada beliau apa yang diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai zakat,ولا يُجمَع بين متفرِّق، ولا يُفرَّق بين مجتمِع، خشيةَ الصدقة.“Hendaknya harta yang terpisah itu tidak digabungkan, atau harta yang tergabung itu tidak dipisahkan, karena ingin menghindari zakat.”Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa tidak boleh untuk melakukan hilah (tipu daya) agar kita terhindar dari kewajiban membayar zakat. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia tetap wajib untuk membayar zakat tersebut, karena di antara kaidah syari’at mengenai masalah tipu daya adalah bahwa pelaku tipu daya itu dihukum dengan ditetapkan baginya suatu ketetapan yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang buruk tersebut.Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitab fenomenal beliau I’lamul-Muwaqqi’in ‘an Rabbil-’Alamin berkata,وكذلك إذا كان في يده نصاب فباعه أو وهبه قبل الحول، ثم استردَّه، قال أرباب الحيل: تسقط عنه الزكاة، بل لو ادَّعى ذلك لم يأخذ العامل زكاته، وهذه حيلة محرَّمة باطلة، ولا يُسقِط ذلك عنه فرضَ الله الذي فرضه وأوعد بالعقوبة الشديدة مَنْ ضيَّعه وأهمله، فلو جاز إبطاله بالحيلة التي هي مكر وخداع لم يكن في إيجابه والوعيد على تركه فائدة.وقد استقرت سنة الله في خلقه شرعا وقدرا على معاقبة العبد بنقيض قصده، كما حرم القاتلُ الميراثَ، وورَّث المطلَّقةَ في مرض الموت، وكذلك الفارُّ من الزكاة لا يُسقِطها عنه فراره ولا يُعَان على قصده الباطل فيتم مقصوده ويسقط مقصود الرب تعالى، وكذلك عامة الحيل إنما يساعد فيها المتحيِّل على بلوغ غرضه ويُبطِل غرض الشارع.“Demikian pula jika dia memiliki harta yang sudah mencapai nishab kemudian dia menjualnya atau menghadiahkannya kepada orang lain sebelum haulnya, kemudian memintanya kembali dari orang tersebut, maka orang yang melakukan tipu daya ini akan berkata bahwa zakat tidak wajib atasnya, dan jika dia mengucapkan klaim ini maka ‘amil zakat tidak akan mengambil zakatnya, maka ini adalah hilah (tipu daya) yang haram dan bathil. Perbuatannya ini tidak menggugurkan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan telah Allah ancam orang yang melalaikannya dan meremehkannya dengan hukuman yang berat. Jika menggugurkan kewajiban zakat dengan cara melakukan tipu daya itu dibolehkan, yang ini merupakan perbuatan makar dan kecurangan, maka tidak ada faidah ketika syari’at mewajibkannya dan memberikan ancaman hukuman bagi orang yang meninggalkannya.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama LainnyaTelah tetap Sunnatullah pada makhluk-Nya baik secara syar’iy maupun qadariy tentang menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang tersebut. Sebagaimana diharamkan harta warisan bagi orang yang membunuh, dan perempuan yang ditalak oleh suaminya ketika suaminya tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya itu tetap mendapatkan harta warisannya, maka demikian pula orang yang hendak lari dari kewajiban membayar zakat, perbuatannya ini tidaklah menggugurkan kewajibannya tersebut. Maksud dan tujuannya yang bathil itu tidak akan didukung oleh syari’at sehingga membuat maksudnya itu bisa tercapai dan gugurlah maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, seluruh tipu daya itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan maksud si pelaku dan menggugurkan maksud syari’at.”Syaikh Mushthafa ar-Ruhaibaniy rahimahullah dalam kitab beliau Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha berkata,ولم تسقط الزكاة بإخراج عن ملكه ببيع أو إبدال بأنقص من النصاب، لقوله تعالى: {إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ} الآيات، فعاقبهم تعالى بذلك لفرارهم من الزكاة، ولأنه قصد به إسقاط حق غيره، فلم يسقط، كالمطلق في مرض موته.“Kewajiban zakat itu tidak gugur ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya dengan cara menjualnya atau menukarnya dengan harta yang lebih sedikit dari nishab, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, …” maka Allah Ta’ala menghukum mereka karena mereka ingin menghindari pembayaran zakat, dan karena dia bertujuan untuk menggugurkan hak orang lain, sehingga hak orang lain tersebut tetap tidak gugur, sebagaimana seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya.”Dari penjelasan para ulama’ di atas, kita simpulkan beberapa faidah penting berikut:Pertama: Haram bagi kita untuk melakukan perbuatan hilah (tipu daya) untuk menghindari kewajiban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syari’at-Nya.Kedua: Jika perbuatan tipu daya untuk menghindari kewajiban seperti ini dibolehkan, maka apa gunanya ada kewajiban tersebut dalam syari’at? Apa gunanya ada ancaman dari syari’at untuk orang-orang yang melalaikan dan meremehkan kewajiban tersebut?Baca Juga: Riba dalam Koperasi Simpan PinjamKetiga: Konsekuensi bagi orang yang melakukan tipu daya itu ada dua: Dia berdosa karena perbuatan tipu dayanya itu adalah perbuatan yang haram. Kewajiban yang ingin dia hindari tersebut tetap wajib dan tetap tidak gugur untuknya. Ini yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas dengan redaksi: Allah menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang bathil tersebut. Keempat: Bahwa syari’at Islam memiliki maqashid (maksud-maksud) di balik setiap ketetapannya. Melakukan tipu daya untuk menghindari ketetapan syari’at itu sama saja dengan menggugurkan maksud dari syari’at dalam ketetapannya tersebut. Padahal, maksud dari syari’at dalam setiap hukum dan ketetapannya adalah untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan madharat bagi setiap individu muslim, bagi kaum muslimin secara umum, dan bahkan bagi seluruh manusia dan seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini!Kelima: Contoh tipu daya yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas adalah: Orang yang membunuh kerabatnya karena ingin cepat mendapatkan harta warisan dari kerabatnya tersebut. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga pelakunya berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tidak akan mendapatkan harta warisan dari kerabatnya yang telah dibunuh olehnya tersebut. Seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya, dengan tujuan agar istrinya tidak mendapatkan harta warisan darinya. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga suami tersebut berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu sang istri tetap berhak atas harta warisan darinya. Kita simpulkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tipu daya untuk menghindari pembayaran zakat atas hartanya, maka dia telah berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tetap wajib membayar zakatnya tersebut walaupun sekarang hartanya sudah kurang dari nishab. Jika dia melakukan perbuatan tipu daya ini pada setiap tahunnya, maka pada setiap tahun itu pulalah dia tetap wajib untuk membayar zakat atas hartanya.Terakhir, kami hendak menekankan di sini bahwa apakah suatu perbuatan merupakan tipu daya atau tidak itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”Oleh karena itu, jika kita melakukan sebuah transaksi yang efeknya bisa membuat kita tidak wajib lagi membayar zakat ketika haulnya sudah tiba, karena ada suatu keperluan atau hajat tertentu, tanpa ada niatan untuk menghindari pembayaran zakat tersebut, maka ini tidak mengapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta kita, dan semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh-Nya untuk menjalankan syari’at dengan ridha’ dan penuh keikhlasan, hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Baca Juga:@ Dago, Bandung, 23 Muharram 1442 HPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: Muslim.or.id@almaaduuriy / andylatief.net🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33

Tidak Boleh Melakukan Tipu Daya untuk Menghindari Pembayaran Zakat

Jika kita memiliki harta yang sudah melebihi nishab tetapi belum tercapai haul-nya, maka tidak boleh bagi kita untuk dengan sengaja mengurangi harta kita tersebut agar kita bisa menghindari pembayaran zakatnya.Misalnya, jika seseorang memiliki harta yang wajib dizakati seperti uang tunai dan tabungan yang sudah melebihi nishab-nya, maka tidak boleh baginya untuk dengan sengaja menggunakan sebagian uangnya tersebut sehingga jumlahnya sekarang menjadi kurang dari nishab, dalam rangka agar dia tidak perlu membayar zakat atasnya.Dia bisa saja menggunakan sebagian uangnya itu untuk membeli harta jenis lainnya yang juga wajib dizakati, seperti binatang ternak (kambing, sapi, dan unta), atau harta yang tidak dizakati, seperti kendaraan atau telepon seluler yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan untuk dijual lagi sebagai barang dagangan). Tidak peduli bagaimana dia menggunakan uangnya tersebut, selama ada niat untuk menghindari pembayaran zakat, maka ini adalah perbuatan yang terlarang secara syari’at.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ * وَلَا يَسْتَثْنُونَ * فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ * فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak menyisihkan (hak faqir miskin). Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”Baca Juga: Bagaimana Hukum Pajak dalam Islam?Dari serangkaian ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum para pemilik kebun tersebut karena mereka tidak mau menunaikan hak kaum faqir miskin dari sebagian hasil panen mereka. Demikian pula, jika kita dengan sengaja mengurangi harta kita hingga di bawah nishab karena tidak mau untuk membayar zakatnya, maka ini adalah perbuatan yang tercela dan haram secara syari’at.Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menulis kepada beliau apa yang diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai zakat,ولا يُجمَع بين متفرِّق، ولا يُفرَّق بين مجتمِع، خشيةَ الصدقة.“Hendaknya harta yang terpisah itu tidak digabungkan, atau harta yang tergabung itu tidak dipisahkan, karena ingin menghindari zakat.”Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa tidak boleh untuk melakukan hilah (tipu daya) agar kita terhindar dari kewajiban membayar zakat. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia tetap wajib untuk membayar zakat tersebut, karena di antara kaidah syari’at mengenai masalah tipu daya adalah bahwa pelaku tipu daya itu dihukum dengan ditetapkan baginya suatu ketetapan yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang buruk tersebut.Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitab fenomenal beliau I’lamul-Muwaqqi’in ‘an Rabbil-’Alamin berkata,وكذلك إذا كان في يده نصاب فباعه أو وهبه قبل الحول، ثم استردَّه، قال أرباب الحيل: تسقط عنه الزكاة، بل لو ادَّعى ذلك لم يأخذ العامل زكاته، وهذه حيلة محرَّمة باطلة، ولا يُسقِط ذلك عنه فرضَ الله الذي فرضه وأوعد بالعقوبة الشديدة مَنْ ضيَّعه وأهمله، فلو جاز إبطاله بالحيلة التي هي مكر وخداع لم يكن في إيجابه والوعيد على تركه فائدة.وقد استقرت سنة الله في خلقه شرعا وقدرا على معاقبة العبد بنقيض قصده، كما حرم القاتلُ الميراثَ، وورَّث المطلَّقةَ في مرض الموت، وكذلك الفارُّ من الزكاة لا يُسقِطها عنه فراره ولا يُعَان على قصده الباطل فيتم مقصوده ويسقط مقصود الرب تعالى، وكذلك عامة الحيل إنما يساعد فيها المتحيِّل على بلوغ غرضه ويُبطِل غرض الشارع.“Demikian pula jika dia memiliki harta yang sudah mencapai nishab kemudian dia menjualnya atau menghadiahkannya kepada orang lain sebelum haulnya, kemudian memintanya kembali dari orang tersebut, maka orang yang melakukan tipu daya ini akan berkata bahwa zakat tidak wajib atasnya, dan jika dia mengucapkan klaim ini maka ‘amil zakat tidak akan mengambil zakatnya, maka ini adalah hilah (tipu daya) yang haram dan bathil. Perbuatannya ini tidak menggugurkan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan telah Allah ancam orang yang melalaikannya dan meremehkannya dengan hukuman yang berat. Jika menggugurkan kewajiban zakat dengan cara melakukan tipu daya itu dibolehkan, yang ini merupakan perbuatan makar dan kecurangan, maka tidak ada faidah ketika syari’at mewajibkannya dan memberikan ancaman hukuman bagi orang yang meninggalkannya.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama LainnyaTelah tetap Sunnatullah pada makhluk-Nya baik secara syar’iy maupun qadariy tentang menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang tersebut. Sebagaimana diharamkan harta warisan bagi orang yang membunuh, dan perempuan yang ditalak oleh suaminya ketika suaminya tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya itu tetap mendapatkan harta warisannya, maka demikian pula orang yang hendak lari dari kewajiban membayar zakat, perbuatannya ini tidaklah menggugurkan kewajibannya tersebut. Maksud dan tujuannya yang bathil itu tidak akan didukung oleh syari’at sehingga membuat maksudnya itu bisa tercapai dan gugurlah maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, seluruh tipu daya itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan maksud si pelaku dan menggugurkan maksud syari’at.”Syaikh Mushthafa ar-Ruhaibaniy rahimahullah dalam kitab beliau Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha berkata,ولم تسقط الزكاة بإخراج عن ملكه ببيع أو إبدال بأنقص من النصاب، لقوله تعالى: {إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ} الآيات، فعاقبهم تعالى بذلك لفرارهم من الزكاة، ولأنه قصد به إسقاط حق غيره، فلم يسقط، كالمطلق في مرض موته.“Kewajiban zakat itu tidak gugur ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya dengan cara menjualnya atau menukarnya dengan harta yang lebih sedikit dari nishab, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, …” maka Allah Ta’ala menghukum mereka karena mereka ingin menghindari pembayaran zakat, dan karena dia bertujuan untuk menggugurkan hak orang lain, sehingga hak orang lain tersebut tetap tidak gugur, sebagaimana seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya.”Dari penjelasan para ulama’ di atas, kita simpulkan beberapa faidah penting berikut:Pertama: Haram bagi kita untuk melakukan perbuatan hilah (tipu daya) untuk menghindari kewajiban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syari’at-Nya.Kedua: Jika perbuatan tipu daya untuk menghindari kewajiban seperti ini dibolehkan, maka apa gunanya ada kewajiban tersebut dalam syari’at? Apa gunanya ada ancaman dari syari’at untuk orang-orang yang melalaikan dan meremehkan kewajiban tersebut?Baca Juga: Riba dalam Koperasi Simpan PinjamKetiga: Konsekuensi bagi orang yang melakukan tipu daya itu ada dua: Dia berdosa karena perbuatan tipu dayanya itu adalah perbuatan yang haram. Kewajiban yang ingin dia hindari tersebut tetap wajib dan tetap tidak gugur untuknya. Ini yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas dengan redaksi: Allah menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang bathil tersebut. Keempat: Bahwa syari’at Islam memiliki maqashid (maksud-maksud) di balik setiap ketetapannya. Melakukan tipu daya untuk menghindari ketetapan syari’at itu sama saja dengan menggugurkan maksud dari syari’at dalam ketetapannya tersebut. Padahal, maksud dari syari’at dalam setiap hukum dan ketetapannya adalah untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan madharat bagi setiap individu muslim, bagi kaum muslimin secara umum, dan bahkan bagi seluruh manusia dan seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini!Kelima: Contoh tipu daya yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas adalah: Orang yang membunuh kerabatnya karena ingin cepat mendapatkan harta warisan dari kerabatnya tersebut. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga pelakunya berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tidak akan mendapatkan harta warisan dari kerabatnya yang telah dibunuh olehnya tersebut. Seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya, dengan tujuan agar istrinya tidak mendapatkan harta warisan darinya. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga suami tersebut berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu sang istri tetap berhak atas harta warisan darinya. Kita simpulkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tipu daya untuk menghindari pembayaran zakat atas hartanya, maka dia telah berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tetap wajib membayar zakatnya tersebut walaupun sekarang hartanya sudah kurang dari nishab. Jika dia melakukan perbuatan tipu daya ini pada setiap tahunnya, maka pada setiap tahun itu pulalah dia tetap wajib untuk membayar zakat atas hartanya.Terakhir, kami hendak menekankan di sini bahwa apakah suatu perbuatan merupakan tipu daya atau tidak itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”Oleh karena itu, jika kita melakukan sebuah transaksi yang efeknya bisa membuat kita tidak wajib lagi membayar zakat ketika haulnya sudah tiba, karena ada suatu keperluan atau hajat tertentu, tanpa ada niatan untuk menghindari pembayaran zakat tersebut, maka ini tidak mengapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta kita, dan semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh-Nya untuk menjalankan syari’at dengan ridha’ dan penuh keikhlasan, hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Baca Juga:@ Dago, Bandung, 23 Muharram 1442 HPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: Muslim.or.id@almaaduuriy / andylatief.net🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33
Jika kita memiliki harta yang sudah melebihi nishab tetapi belum tercapai haul-nya, maka tidak boleh bagi kita untuk dengan sengaja mengurangi harta kita tersebut agar kita bisa menghindari pembayaran zakatnya.Misalnya, jika seseorang memiliki harta yang wajib dizakati seperti uang tunai dan tabungan yang sudah melebihi nishab-nya, maka tidak boleh baginya untuk dengan sengaja menggunakan sebagian uangnya tersebut sehingga jumlahnya sekarang menjadi kurang dari nishab, dalam rangka agar dia tidak perlu membayar zakat atasnya.Dia bisa saja menggunakan sebagian uangnya itu untuk membeli harta jenis lainnya yang juga wajib dizakati, seperti binatang ternak (kambing, sapi, dan unta), atau harta yang tidak dizakati, seperti kendaraan atau telepon seluler yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan untuk dijual lagi sebagai barang dagangan). Tidak peduli bagaimana dia menggunakan uangnya tersebut, selama ada niat untuk menghindari pembayaran zakat, maka ini adalah perbuatan yang terlarang secara syari’at.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ * وَلَا يَسْتَثْنُونَ * فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ * فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak menyisihkan (hak faqir miskin). Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”Baca Juga: Bagaimana Hukum Pajak dalam Islam?Dari serangkaian ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum para pemilik kebun tersebut karena mereka tidak mau menunaikan hak kaum faqir miskin dari sebagian hasil panen mereka. Demikian pula, jika kita dengan sengaja mengurangi harta kita hingga di bawah nishab karena tidak mau untuk membayar zakatnya, maka ini adalah perbuatan yang tercela dan haram secara syari’at.Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menulis kepada beliau apa yang diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai zakat,ولا يُجمَع بين متفرِّق، ولا يُفرَّق بين مجتمِع، خشيةَ الصدقة.“Hendaknya harta yang terpisah itu tidak digabungkan, atau harta yang tergabung itu tidak dipisahkan, karena ingin menghindari zakat.”Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa tidak boleh untuk melakukan hilah (tipu daya) agar kita terhindar dari kewajiban membayar zakat. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia tetap wajib untuk membayar zakat tersebut, karena di antara kaidah syari’at mengenai masalah tipu daya adalah bahwa pelaku tipu daya itu dihukum dengan ditetapkan baginya suatu ketetapan yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang buruk tersebut.Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitab fenomenal beliau I’lamul-Muwaqqi’in ‘an Rabbil-’Alamin berkata,وكذلك إذا كان في يده نصاب فباعه أو وهبه قبل الحول، ثم استردَّه، قال أرباب الحيل: تسقط عنه الزكاة، بل لو ادَّعى ذلك لم يأخذ العامل زكاته، وهذه حيلة محرَّمة باطلة، ولا يُسقِط ذلك عنه فرضَ الله الذي فرضه وأوعد بالعقوبة الشديدة مَنْ ضيَّعه وأهمله، فلو جاز إبطاله بالحيلة التي هي مكر وخداع لم يكن في إيجابه والوعيد على تركه فائدة.وقد استقرت سنة الله في خلقه شرعا وقدرا على معاقبة العبد بنقيض قصده، كما حرم القاتلُ الميراثَ، وورَّث المطلَّقةَ في مرض الموت، وكذلك الفارُّ من الزكاة لا يُسقِطها عنه فراره ولا يُعَان على قصده الباطل فيتم مقصوده ويسقط مقصود الرب تعالى، وكذلك عامة الحيل إنما يساعد فيها المتحيِّل على بلوغ غرضه ويُبطِل غرض الشارع.“Demikian pula jika dia memiliki harta yang sudah mencapai nishab kemudian dia menjualnya atau menghadiahkannya kepada orang lain sebelum haulnya, kemudian memintanya kembali dari orang tersebut, maka orang yang melakukan tipu daya ini akan berkata bahwa zakat tidak wajib atasnya, dan jika dia mengucapkan klaim ini maka ‘amil zakat tidak akan mengambil zakatnya, maka ini adalah hilah (tipu daya) yang haram dan bathil. Perbuatannya ini tidak menggugurkan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan telah Allah ancam orang yang melalaikannya dan meremehkannya dengan hukuman yang berat. Jika menggugurkan kewajiban zakat dengan cara melakukan tipu daya itu dibolehkan, yang ini merupakan perbuatan makar dan kecurangan, maka tidak ada faidah ketika syari’at mewajibkannya dan memberikan ancaman hukuman bagi orang yang meninggalkannya.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama LainnyaTelah tetap Sunnatullah pada makhluk-Nya baik secara syar’iy maupun qadariy tentang menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang tersebut. Sebagaimana diharamkan harta warisan bagi orang yang membunuh, dan perempuan yang ditalak oleh suaminya ketika suaminya tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya itu tetap mendapatkan harta warisannya, maka demikian pula orang yang hendak lari dari kewajiban membayar zakat, perbuatannya ini tidaklah menggugurkan kewajibannya tersebut. Maksud dan tujuannya yang bathil itu tidak akan didukung oleh syari’at sehingga membuat maksudnya itu bisa tercapai dan gugurlah maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, seluruh tipu daya itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan maksud si pelaku dan menggugurkan maksud syari’at.”Syaikh Mushthafa ar-Ruhaibaniy rahimahullah dalam kitab beliau Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha berkata,ولم تسقط الزكاة بإخراج عن ملكه ببيع أو إبدال بأنقص من النصاب، لقوله تعالى: {إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ} الآيات، فعاقبهم تعالى بذلك لفرارهم من الزكاة، ولأنه قصد به إسقاط حق غيره، فلم يسقط، كالمطلق في مرض موته.“Kewajiban zakat itu tidak gugur ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya dengan cara menjualnya atau menukarnya dengan harta yang lebih sedikit dari nishab, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, …” maka Allah Ta’ala menghukum mereka karena mereka ingin menghindari pembayaran zakat, dan karena dia bertujuan untuk menggugurkan hak orang lain, sehingga hak orang lain tersebut tetap tidak gugur, sebagaimana seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya.”Dari penjelasan para ulama’ di atas, kita simpulkan beberapa faidah penting berikut:Pertama: Haram bagi kita untuk melakukan perbuatan hilah (tipu daya) untuk menghindari kewajiban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syari’at-Nya.Kedua: Jika perbuatan tipu daya untuk menghindari kewajiban seperti ini dibolehkan, maka apa gunanya ada kewajiban tersebut dalam syari’at? Apa gunanya ada ancaman dari syari’at untuk orang-orang yang melalaikan dan meremehkan kewajiban tersebut?Baca Juga: Riba dalam Koperasi Simpan PinjamKetiga: Konsekuensi bagi orang yang melakukan tipu daya itu ada dua: Dia berdosa karena perbuatan tipu dayanya itu adalah perbuatan yang haram. Kewajiban yang ingin dia hindari tersebut tetap wajib dan tetap tidak gugur untuknya. Ini yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas dengan redaksi: Allah menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang bathil tersebut. Keempat: Bahwa syari’at Islam memiliki maqashid (maksud-maksud) di balik setiap ketetapannya. Melakukan tipu daya untuk menghindari ketetapan syari’at itu sama saja dengan menggugurkan maksud dari syari’at dalam ketetapannya tersebut. Padahal, maksud dari syari’at dalam setiap hukum dan ketetapannya adalah untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan madharat bagi setiap individu muslim, bagi kaum muslimin secara umum, dan bahkan bagi seluruh manusia dan seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini!Kelima: Contoh tipu daya yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas adalah: Orang yang membunuh kerabatnya karena ingin cepat mendapatkan harta warisan dari kerabatnya tersebut. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga pelakunya berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tidak akan mendapatkan harta warisan dari kerabatnya yang telah dibunuh olehnya tersebut. Seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya, dengan tujuan agar istrinya tidak mendapatkan harta warisan darinya. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga suami tersebut berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu sang istri tetap berhak atas harta warisan darinya. Kita simpulkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tipu daya untuk menghindari pembayaran zakat atas hartanya, maka dia telah berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tetap wajib membayar zakatnya tersebut walaupun sekarang hartanya sudah kurang dari nishab. Jika dia melakukan perbuatan tipu daya ini pada setiap tahunnya, maka pada setiap tahun itu pulalah dia tetap wajib untuk membayar zakat atas hartanya.Terakhir, kami hendak menekankan di sini bahwa apakah suatu perbuatan merupakan tipu daya atau tidak itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”Oleh karena itu, jika kita melakukan sebuah transaksi yang efeknya bisa membuat kita tidak wajib lagi membayar zakat ketika haulnya sudah tiba, karena ada suatu keperluan atau hajat tertentu, tanpa ada niatan untuk menghindari pembayaran zakat tersebut, maka ini tidak mengapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta kita, dan semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh-Nya untuk menjalankan syari’at dengan ridha’ dan penuh keikhlasan, hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Baca Juga:@ Dago, Bandung, 23 Muharram 1442 HPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: Muslim.or.id@almaaduuriy / andylatief.net🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33


Jika kita memiliki harta yang sudah melebihi nishab tetapi belum tercapai haul-nya, maka tidak boleh bagi kita untuk dengan sengaja mengurangi harta kita tersebut agar kita bisa menghindari pembayaran zakatnya.Misalnya, jika seseorang memiliki harta yang wajib dizakati seperti uang tunai dan tabungan yang sudah melebihi nishab-nya, maka tidak boleh baginya untuk dengan sengaja menggunakan sebagian uangnya tersebut sehingga jumlahnya sekarang menjadi kurang dari nishab, dalam rangka agar dia tidak perlu membayar zakat atasnya.Dia bisa saja menggunakan sebagian uangnya itu untuk membeli harta jenis lainnya yang juga wajib dizakati, seperti binatang ternak (kambing, sapi, dan unta), atau harta yang tidak dizakati, seperti kendaraan atau telepon seluler yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan untuk dijual lagi sebagai barang dagangan). Tidak peduli bagaimana dia menggunakan uangnya tersebut, selama ada niat untuk menghindari pembayaran zakat, maka ini adalah perbuatan yang terlarang secara syari’at.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ * وَلَا يَسْتَثْنُونَ * فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ * فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak menyisihkan (hak faqir miskin). Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”Baca Juga: Bagaimana Hukum Pajak dalam Islam?Dari serangkaian ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum para pemilik kebun tersebut karena mereka tidak mau menunaikan hak kaum faqir miskin dari sebagian hasil panen mereka. Demikian pula, jika kita dengan sengaja mengurangi harta kita hingga di bawah nishab karena tidak mau untuk membayar zakatnya, maka ini adalah perbuatan yang tercela dan haram secara syari’at.Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menulis kepada beliau apa yang diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai zakat,ولا يُجمَع بين متفرِّق، ولا يُفرَّق بين مجتمِع، خشيةَ الصدقة.“Hendaknya harta yang terpisah itu tidak digabungkan, atau harta yang tergabung itu tidak dipisahkan, karena ingin menghindari zakat.”Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa tidak boleh untuk melakukan hilah (tipu daya) agar kita terhindar dari kewajiban membayar zakat. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia tetap wajib untuk membayar zakat tersebut, karena di antara kaidah syari’at mengenai masalah tipu daya adalah bahwa pelaku tipu daya itu dihukum dengan ditetapkan baginya suatu ketetapan yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang buruk tersebut.Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitab fenomenal beliau I’lamul-Muwaqqi’in ‘an Rabbil-’Alamin berkata,وكذلك إذا كان في يده نصاب فباعه أو وهبه قبل الحول، ثم استردَّه، قال أرباب الحيل: تسقط عنه الزكاة، بل لو ادَّعى ذلك لم يأخذ العامل زكاته، وهذه حيلة محرَّمة باطلة، ولا يُسقِط ذلك عنه فرضَ الله الذي فرضه وأوعد بالعقوبة الشديدة مَنْ ضيَّعه وأهمله، فلو جاز إبطاله بالحيلة التي هي مكر وخداع لم يكن في إيجابه والوعيد على تركه فائدة.وقد استقرت سنة الله في خلقه شرعا وقدرا على معاقبة العبد بنقيض قصده، كما حرم القاتلُ الميراثَ، وورَّث المطلَّقةَ في مرض الموت، وكذلك الفارُّ من الزكاة لا يُسقِطها عنه فراره ولا يُعَان على قصده الباطل فيتم مقصوده ويسقط مقصود الرب تعالى، وكذلك عامة الحيل إنما يساعد فيها المتحيِّل على بلوغ غرضه ويُبطِل غرض الشارع.“Demikian pula jika dia memiliki harta yang sudah mencapai nishab kemudian dia menjualnya atau menghadiahkannya kepada orang lain sebelum haulnya, kemudian memintanya kembali dari orang tersebut, maka orang yang melakukan tipu daya ini akan berkata bahwa zakat tidak wajib atasnya, dan jika dia mengucapkan klaim ini maka ‘amil zakat tidak akan mengambil zakatnya, maka ini adalah hilah (tipu daya) yang haram dan bathil. Perbuatannya ini tidak menggugurkan kewajiban yang telah Allah tetapkan dan telah Allah ancam orang yang melalaikannya dan meremehkannya dengan hukuman yang berat. Jika menggugurkan kewajiban zakat dengan cara melakukan tipu daya itu dibolehkan, yang ini merupakan perbuatan makar dan kecurangan, maka tidak ada faidah ketika syari’at mewajibkannya dan memberikan ancaman hukuman bagi orang yang meninggalkannya.Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama LainnyaTelah tetap Sunnatullah pada makhluk-Nya baik secara syar’iy maupun qadariy tentang menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang tersebut. Sebagaimana diharamkan harta warisan bagi orang yang membunuh, dan perempuan yang ditalak oleh suaminya ketika suaminya tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya itu tetap mendapatkan harta warisannya, maka demikian pula orang yang hendak lari dari kewajiban membayar zakat, perbuatannya ini tidaklah menggugurkan kewajibannya tersebut. Maksud dan tujuannya yang bathil itu tidak akan didukung oleh syari’at sehingga membuat maksudnya itu bisa tercapai dan gugurlah maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula, seluruh tipu daya itu dilakukan dalam rangka untuk mewujudkan maksud si pelaku dan menggugurkan maksud syari’at.”Syaikh Mushthafa ar-Ruhaibaniy rahimahullah dalam kitab beliau Mathalibu Ulin-Nuha fiy Syarhi Ghayatil-Muntaha berkata,ولم تسقط الزكاة بإخراج عن ملكه ببيع أو إبدال بأنقص من النصاب، لقوله تعالى: {إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ} الآيات، فعاقبهم تعالى بذلك لفرارهم من الزكاة، ولأنه قصد به إسقاط حق غيره، فلم يسقط، كالمطلق في مرض موته.“Kewajiban zakat itu tidak gugur ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya dengan cara menjualnya atau menukarnya dengan harta yang lebih sedikit dari nishab, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, …” maka Allah Ta’ala menghukum mereka karena mereka ingin menghindari pembayaran zakat, dan karena dia bertujuan untuk menggugurkan hak orang lain, sehingga hak orang lain tersebut tetap tidak gugur, sebagaimana seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya.”Dari penjelasan para ulama’ di atas, kita simpulkan beberapa faidah penting berikut:Pertama: Haram bagi kita untuk melakukan perbuatan hilah (tipu daya) untuk menghindari kewajiban yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syari’at-Nya.Kedua: Jika perbuatan tipu daya untuk menghindari kewajiban seperti ini dibolehkan, maka apa gunanya ada kewajiban tersebut dalam syari’at? Apa gunanya ada ancaman dari syari’at untuk orang-orang yang melalaikan dan meremehkan kewajiban tersebut?Baca Juga: Riba dalam Koperasi Simpan PinjamKetiga: Konsekuensi bagi orang yang melakukan tipu daya itu ada dua: Dia berdosa karena perbuatan tipu dayanya itu adalah perbuatan yang haram. Kewajiban yang ingin dia hindari tersebut tetap wajib dan tetap tidak gugur untuknya. Ini yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas dengan redaksi: Allah menghukum seseorang dengan menetapkan sesuatu yang yang bertentangan dengan maksud dan tujuannya yang bathil tersebut. Keempat: Bahwa syari’at Islam memiliki maqashid (maksud-maksud) di balik setiap ketetapannya. Melakukan tipu daya untuk menghindari ketetapan syari’at itu sama saja dengan menggugurkan maksud dari syari’at dalam ketetapannya tersebut. Padahal, maksud dari syari’at dalam setiap hukum dan ketetapannya adalah untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan madharat bagi setiap individu muslim, bagi kaum muslimin secara umum, dan bahkan bagi seluruh manusia dan seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini!Kelima: Contoh tipu daya yang disebutkan dalam nukilan penjelasan para ulama’ di atas adalah: Orang yang membunuh kerabatnya karena ingin cepat mendapatkan harta warisan dari kerabatnya tersebut. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga pelakunya berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tidak akan mendapatkan harta warisan dari kerabatnya yang telah dibunuh olehnya tersebut. Seorang suami yang mentalak istrinya ketika si suami tersebut sedang sakit parah dan sudah mendekati ajalnya, dengan tujuan agar istrinya tidak mendapatkan harta warisan darinya. Ini adalah perbuatan tipu daya, sehingga suami tersebut berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu sang istri tetap berhak atas harta warisan darinya. Kita simpulkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tipu daya untuk menghindari pembayaran zakat atas hartanya, maka dia telah berdosa, dan dia dihukum dengan hukuman yaitu tetap wajib membayar zakatnya tersebut walaupun sekarang hartanya sudah kurang dari nishab. Jika dia melakukan perbuatan tipu daya ini pada setiap tahunnya, maka pada setiap tahun itu pulalah dia tetap wajib untuk membayar zakat atas hartanya.Terakhir, kami hendak menekankan di sini bahwa apakah suatu perbuatan merupakan tipu daya atau tidak itu tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”Oleh karena itu, jika kita melakukan sebuah transaksi yang efeknya bisa membuat kita tidak wajib lagi membayar zakat ketika haulnya sudah tiba, karena ada suatu keperluan atau hajat tertentu, tanpa ada niatan untuk menghindari pembayaran zakat tersebut, maka ini tidak mengapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta kita, dan semoga kita senantiasa diberikan taufiq oleh-Nya untuk menjalankan syari’at dengan ridha’ dan penuh keikhlasan, hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Baca Juga:@ Dago, Bandung, 23 Muharram 1442 HPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: Muslim.or.id@almaaduuriy / andylatief.net🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33

Paling Hebat Dalam Ibadah

Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah.  Jawaban beliau,  رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ “Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (Shifah ash-Shofwah 2/665) Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah. Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa.  Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah. Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan.  Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih. Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Paling Hebat Dalam Ibadah

Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah.  Jawaban beliau,  رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ “Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (Shifah ash-Shofwah 2/665) Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah. Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa.  Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah. Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan.  Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih. Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah.  Jawaban beliau,  رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ “Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (Shifah ash-Shofwah 2/665) Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah. Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa.  Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah. Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan.  Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih. Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah.  Jawaban beliau,  رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ “Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (Shifah ash-Shofwah 2/665) Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah. Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa.  Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah. Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan.  Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih. Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Obat Amarah

Nabi bersabda,  إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ   “Jika kalian emosi dan marah diam saja.” (HR Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma) Kiat penting untuk mengendalikan amarah adalah diam, tidak ngomong dan tidak nulis. Orang yang sedang marah jika berbicara atau menulis itu dikendalikan oleh amarahnya, bukan oleh akal dan dirinya. Saat marah orang itu sering lepas kendali ketika berbicara.  Saat marah sering keluar kata-kata yang nantinya disesali semisal cacian yang sangat kasar, menjatuhkan talak atau minta cerai.  Oleh karena itu sikap tepat saat emosi adalah diam, tidak ngomong dan tidak pegang HP. Saat marah melanda, jangan telpon, jangan kirim chat WA dll. Insya Allah dengan demikian kita tidak akan menyesali ucapan dan tulisan yang yang terlontar ketika itu. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi orang yang pandai mengendalikan diri ketika emosi dan marah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Obat Amarah

Nabi bersabda,  إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ   “Jika kalian emosi dan marah diam saja.” (HR Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma) Kiat penting untuk mengendalikan amarah adalah diam, tidak ngomong dan tidak nulis. Orang yang sedang marah jika berbicara atau menulis itu dikendalikan oleh amarahnya, bukan oleh akal dan dirinya. Saat marah orang itu sering lepas kendali ketika berbicara.  Saat marah sering keluar kata-kata yang nantinya disesali semisal cacian yang sangat kasar, menjatuhkan talak atau minta cerai.  Oleh karena itu sikap tepat saat emosi adalah diam, tidak ngomong dan tidak pegang HP. Saat marah melanda, jangan telpon, jangan kirim chat WA dll. Insya Allah dengan demikian kita tidak akan menyesali ucapan dan tulisan yang yang terlontar ketika itu. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi orang yang pandai mengendalikan diri ketika emosi dan marah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Nabi bersabda,  إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ   “Jika kalian emosi dan marah diam saja.” (HR Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma) Kiat penting untuk mengendalikan amarah adalah diam, tidak ngomong dan tidak nulis. Orang yang sedang marah jika berbicara atau menulis itu dikendalikan oleh amarahnya, bukan oleh akal dan dirinya. Saat marah orang itu sering lepas kendali ketika berbicara.  Saat marah sering keluar kata-kata yang nantinya disesali semisal cacian yang sangat kasar, menjatuhkan talak atau minta cerai.  Oleh karena itu sikap tepat saat emosi adalah diam, tidak ngomong dan tidak pegang HP. Saat marah melanda, jangan telpon, jangan kirim chat WA dll. Insya Allah dengan demikian kita tidak akan menyesali ucapan dan tulisan yang yang terlontar ketika itu. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi orang yang pandai mengendalikan diri ketika emosi dan marah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Nabi bersabda,  إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ   “Jika kalian emosi dan marah diam saja.” (HR Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma) Kiat penting untuk mengendalikan amarah adalah diam, tidak ngomong dan tidak nulis. Orang yang sedang marah jika berbicara atau menulis itu dikendalikan oleh amarahnya, bukan oleh akal dan dirinya. Saat marah orang itu sering lepas kendali ketika berbicara.  Saat marah sering keluar kata-kata yang nantinya disesali semisal cacian yang sangat kasar, menjatuhkan talak atau minta cerai.  Oleh karena itu sikap tepat saat emosi adalah diam, tidak ngomong dan tidak pegang HP. Saat marah melanda, jangan telpon, jangan kirim chat WA dll. Insya Allah dengan demikian kita tidak akan menyesali ucapan dan tulisan yang yang terlontar ketika itu. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi orang yang pandai mengendalikan diri ketika emosi dan marah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sebab-Sebab Menuju Persatuan Umat

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Apa sebab-sebab dan sarana persatuan umat?Jawaban:Sebab-sebab persatuan umat di antaranya:Pertama, memurnikan aqidah, yaitu aqidah yang selamat (terbebas) dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Sesungguhnya, aqidah yang lurus (shahih) itulah yang menyatukan hati manusia dan menghilangkan saling dengki di antara mereka. Berbeda halnya jika aqidah tersebut bermacam-macam dan (akibatnya) sesembahan pun bermacam-macam. Maka setiap (penganut) aqidah (tertentu) akan mengistimewakan (mengunggulkan) aqidah mereka dan sesembahan mereka, dan menilai batil aqidah yang lain. Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuaOleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)Oleh karena itu, bangsa Arab di jaman jahiliyyah itu berpecah belah dan menjadi lemah di muka bumi. Ketika Islam datang, dan luruslah aqidah mereka, mereka pun bersatu dan bersatu pula negeri mereka. Kedua, mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendegar dan taat (kepada penguasa), meskipun dia adalah seorang budak dari Habaysah (Ethiopia). Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan yang lainnya, hadits shahih)Ketiga, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menyelesaikan dan menghentikan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)Baca Juga: Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah NegarDan tidak merujuk kepada pendapat seseorang atau adat kebiasaan mereka.Keempat, melakukan perdamaian (perbaikan) di antara sesama, yaitu ketika terjadi perselisihan di antara person tertentu atau di antara suku (kabilah) tertentu. Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal [8]: 1)Kelima, memerangi pemberontak dan khawarij, yang ingin memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan duri yang mengancam persatuan dan merusak keamanan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)Oleh karena itu, amirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi pemberontak dan Khawarij, dan hal itu dihitung sebagai salah satu keutamaan beliau, semoga Allah Ta’ala meridhainya.Baca Juga:***@FK UGM, 21 Muharram 1442/ 9 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 213-214(penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33

Sebab-Sebab Menuju Persatuan Umat

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Apa sebab-sebab dan sarana persatuan umat?Jawaban:Sebab-sebab persatuan umat di antaranya:Pertama, memurnikan aqidah, yaitu aqidah yang selamat (terbebas) dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Sesungguhnya, aqidah yang lurus (shahih) itulah yang menyatukan hati manusia dan menghilangkan saling dengki di antara mereka. Berbeda halnya jika aqidah tersebut bermacam-macam dan (akibatnya) sesembahan pun bermacam-macam. Maka setiap (penganut) aqidah (tertentu) akan mengistimewakan (mengunggulkan) aqidah mereka dan sesembahan mereka, dan menilai batil aqidah yang lain. Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuaOleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)Oleh karena itu, bangsa Arab di jaman jahiliyyah itu berpecah belah dan menjadi lemah di muka bumi. Ketika Islam datang, dan luruslah aqidah mereka, mereka pun bersatu dan bersatu pula negeri mereka. Kedua, mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendegar dan taat (kepada penguasa), meskipun dia adalah seorang budak dari Habaysah (Ethiopia). Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan yang lainnya, hadits shahih)Ketiga, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menyelesaikan dan menghentikan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)Baca Juga: Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah NegarDan tidak merujuk kepada pendapat seseorang atau adat kebiasaan mereka.Keempat, melakukan perdamaian (perbaikan) di antara sesama, yaitu ketika terjadi perselisihan di antara person tertentu atau di antara suku (kabilah) tertentu. Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal [8]: 1)Kelima, memerangi pemberontak dan khawarij, yang ingin memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan duri yang mengancam persatuan dan merusak keamanan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)Oleh karena itu, amirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi pemberontak dan Khawarij, dan hal itu dihitung sebagai salah satu keutamaan beliau, semoga Allah Ta’ala meridhainya.Baca Juga:***@FK UGM, 21 Muharram 1442/ 9 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 213-214(penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33
Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Apa sebab-sebab dan sarana persatuan umat?Jawaban:Sebab-sebab persatuan umat di antaranya:Pertama, memurnikan aqidah, yaitu aqidah yang selamat (terbebas) dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Sesungguhnya, aqidah yang lurus (shahih) itulah yang menyatukan hati manusia dan menghilangkan saling dengki di antara mereka. Berbeda halnya jika aqidah tersebut bermacam-macam dan (akibatnya) sesembahan pun bermacam-macam. Maka setiap (penganut) aqidah (tertentu) akan mengistimewakan (mengunggulkan) aqidah mereka dan sesembahan mereka, dan menilai batil aqidah yang lain. Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuaOleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)Oleh karena itu, bangsa Arab di jaman jahiliyyah itu berpecah belah dan menjadi lemah di muka bumi. Ketika Islam datang, dan luruslah aqidah mereka, mereka pun bersatu dan bersatu pula negeri mereka. Kedua, mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendegar dan taat (kepada penguasa), meskipun dia adalah seorang budak dari Habaysah (Ethiopia). Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan yang lainnya, hadits shahih)Ketiga, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menyelesaikan dan menghentikan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)Baca Juga: Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah NegarDan tidak merujuk kepada pendapat seseorang atau adat kebiasaan mereka.Keempat, melakukan perdamaian (perbaikan) di antara sesama, yaitu ketika terjadi perselisihan di antara person tertentu atau di antara suku (kabilah) tertentu. Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal [8]: 1)Kelima, memerangi pemberontak dan khawarij, yang ingin memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan duri yang mengancam persatuan dan merusak keamanan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)Oleh karena itu, amirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi pemberontak dan Khawarij, dan hal itu dihitung sebagai salah satu keutamaan beliau, semoga Allah Ta’ala meridhainya.Baca Juga:***@FK UGM, 21 Muharram 1442/ 9 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 213-214(penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33


Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Apa sebab-sebab dan sarana persatuan umat?Jawaban:Sebab-sebab persatuan umat di antaranya:Pertama, memurnikan aqidah, yaitu aqidah yang selamat (terbebas) dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Sesungguhnya, aqidah yang lurus (shahih) itulah yang menyatukan hati manusia dan menghilangkan saling dengki di antara mereka. Berbeda halnya jika aqidah tersebut bermacam-macam dan (akibatnya) sesembahan pun bermacam-macam. Maka setiap (penganut) aqidah (tertentu) akan mengistimewakan (mengunggulkan) aqidah mereka dan sesembahan mereka, dan menilai batil aqidah yang lain. Baca Juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan PersatuaOleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)Oleh karena itu, bangsa Arab di jaman jahiliyyah itu berpecah belah dan menjadi lemah di muka bumi. Ketika Islam datang, dan luruslah aqidah mereka, mereka pun bersatu dan bersatu pula negeri mereka. Kedua, mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendegar dan taat (kepada penguasa), meskipun dia adalah seorang budak dari Habaysah (Ethiopia). Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” (HR. Tirmidzi no. 2676 dan yang lainnya, hadits shahih)Ketiga, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menyelesaikan dan menghentikan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)Baca Juga: Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah NegarDan tidak merujuk kepada pendapat seseorang atau adat kebiasaan mereka.Keempat, melakukan perdamaian (perbaikan) di antara sesama, yaitu ketika terjadi perselisihan di antara person tertentu atau di antara suku (kabilah) tertentu. Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal [8]: 1)Kelima, memerangi pemberontak dan khawarij, yang ingin memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan duri yang mengancam persatuan dan merusak keamanan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)Oleh karena itu, amirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi pemberontak dan Khawarij, dan hal itu dihitung sebagai salah satu keutamaan beliau, semoga Allah Ta’ala meridhainya.Baca Juga:***@FK UGM, 21 Muharram 1442/ 9 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 213-214(penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tawakal Adalah, Wanita Penggoda Laki Laki, Ayat Tentang Wanita Sholehah, Doa Untuk Anak Yang Baru Lahir Salafi, Ayat 33

Bacaan Saat Menyembelih Kurban

Bacaan Saat Menyembelih Kurban Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustad bagaimana bacaan saat penyembelihan kurban? Dari: Bpk. Asof Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Bacaan yang disunnahkan saat menyembelih kurban adalah بسم الله ، والله أكبر ، اللهم هذا منك ولك ، هذا عني اللهم تقبل من فلان وآل فلان Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘annii Allahumma taqobbal min (sebutkan nama) wa aali (sebutkan nama pengkurban). “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari Engkau dan untuk Engkau. Dan ini ibadah kurbanku. Ya Allah terimalah kurban ini dari… dan keluarga….” Bacaan di atas diucapkan jika yang menyembelih adalah si pengkurban sendiri. Jika yang menyembelih orang lain atau seorang mengkurbankan orang lain, maka kata yang bercetak tebal: – ‘annii diganti ‘an.…(sebutkan nama pengkurban) Misal yang berkurban adalah Pak Prasetyo dan beliau menyembelih sendiri, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Prasetyo. Allahumma taqobbal min Prasetyo wa aali Prasetyo. Jika Pak Prasetyo menyembelihkan kurban atau mengkurbankan orang lain, misalnya Pak Slamet, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Slamet. Allahumma taqobbal min Slamet wa aali Slamet. Doa inilah yang dibaca oleh tukang jagal kurban atau yang mewakili sembelihan pengkurban. Dari semua kalimat doa di atas, terbagi menjadi dua: yang wajib dibaca adalah bismillah saja. Adapun selebihnya, hukumnya sunnah. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, والواجب من هذا هو التسمية ، وما زاد على ذلك فهو مستحب وليس بواجب . Dari doa di atas, yang wajib dibaca adalah bacaan basmalah. Adapun bacaan selebihnya, hukumnya dianjurkan, bukan wajib. Dalil doa di atas adalah hadis-hadis di bawah ini: – Hadis Anas bin Malik Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kurban yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangan beliau. Saat menyembelih beliau ucapkan bismillah dan bertakbir, lalu beliau letakkan kaki beliau pada leher kambing sembelihan.” (HR. Bukhori dan Muslim) – Hadis Aisyah Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membeli seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam dan matanya hitam. Lalu hewan tersebut didatangkan kepada beliau untuk beliau kurbankan. Beliau berkata kepada Aisyah, “Ya Aisyah, ambilkan pisau itu.” Kemudian beliau berkata, “Asahkan dengan batu.” Maka Aisyah melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan beliau mengambil kambing jantan tersebut, lalu beliau membaringkannya, untuk kemudian beliau menyembelihnya, seraya membaca: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ “Bismillaah, Allaahumma taqobbal min Muhammadin wa Aali Muhammadin, wa min ummati Muhammadin.” “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim) – Hadis Jabir bin Abdillah Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan, شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي “Aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di lapangan tempat shalat (musholla). Setelah selesai khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. Tirmidzi, no. 1521, dinilai Shahih oleh Syekh Albani, dalam Shahih Tirmidzi) Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal, اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138 dan 1152) Kalimat doa “Ya Allah ini dari-Mu”, adalah hewan kurban ini adalah rizki dari Engkau yang telah sampai kepada kami. Kemudian, “Untuk-Mu..” maknanya, aku kurbankan ikhlas untuk Engkau. (Syarh al-Mumthi’, 7/492) Rujukan: https://islamqa.info/amp/ar/answers/36733 Dijawab: Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh thehumairo.com dan Pengajar di PP Hamalatul Quran Bantul) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Shalawat Yang Benar, Tingkatan Nafsu Dalam Islam, Bangsa Quraisy, Cara Mendapatkan Restu Orang Tua Menurut Islam, Niat Puasa Sunat, Puasa Setelah Ramadhan Visited 42 times, 3 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid

Bacaan Saat Menyembelih Kurban

Bacaan Saat Menyembelih Kurban Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustad bagaimana bacaan saat penyembelihan kurban? Dari: Bpk. Asof Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Bacaan yang disunnahkan saat menyembelih kurban adalah بسم الله ، والله أكبر ، اللهم هذا منك ولك ، هذا عني اللهم تقبل من فلان وآل فلان Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘annii Allahumma taqobbal min (sebutkan nama) wa aali (sebutkan nama pengkurban). “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari Engkau dan untuk Engkau. Dan ini ibadah kurbanku. Ya Allah terimalah kurban ini dari… dan keluarga….” Bacaan di atas diucapkan jika yang menyembelih adalah si pengkurban sendiri. Jika yang menyembelih orang lain atau seorang mengkurbankan orang lain, maka kata yang bercetak tebal: – ‘annii diganti ‘an.…(sebutkan nama pengkurban) Misal yang berkurban adalah Pak Prasetyo dan beliau menyembelih sendiri, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Prasetyo. Allahumma taqobbal min Prasetyo wa aali Prasetyo. Jika Pak Prasetyo menyembelihkan kurban atau mengkurbankan orang lain, misalnya Pak Slamet, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Slamet. Allahumma taqobbal min Slamet wa aali Slamet. Doa inilah yang dibaca oleh tukang jagal kurban atau yang mewakili sembelihan pengkurban. Dari semua kalimat doa di atas, terbagi menjadi dua: yang wajib dibaca adalah bismillah saja. Adapun selebihnya, hukumnya sunnah. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, والواجب من هذا هو التسمية ، وما زاد على ذلك فهو مستحب وليس بواجب . Dari doa di atas, yang wajib dibaca adalah bacaan basmalah. Adapun bacaan selebihnya, hukumnya dianjurkan, bukan wajib. Dalil doa di atas adalah hadis-hadis di bawah ini: – Hadis Anas bin Malik Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kurban yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangan beliau. Saat menyembelih beliau ucapkan bismillah dan bertakbir, lalu beliau letakkan kaki beliau pada leher kambing sembelihan.” (HR. Bukhori dan Muslim) – Hadis Aisyah Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membeli seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam dan matanya hitam. Lalu hewan tersebut didatangkan kepada beliau untuk beliau kurbankan. Beliau berkata kepada Aisyah, “Ya Aisyah, ambilkan pisau itu.” Kemudian beliau berkata, “Asahkan dengan batu.” Maka Aisyah melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan beliau mengambil kambing jantan tersebut, lalu beliau membaringkannya, untuk kemudian beliau menyembelihnya, seraya membaca: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ “Bismillaah, Allaahumma taqobbal min Muhammadin wa Aali Muhammadin, wa min ummati Muhammadin.” “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim) – Hadis Jabir bin Abdillah Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan, شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي “Aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di lapangan tempat shalat (musholla). Setelah selesai khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. Tirmidzi, no. 1521, dinilai Shahih oleh Syekh Albani, dalam Shahih Tirmidzi) Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal, اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138 dan 1152) Kalimat doa “Ya Allah ini dari-Mu”, adalah hewan kurban ini adalah rizki dari Engkau yang telah sampai kepada kami. Kemudian, “Untuk-Mu..” maknanya, aku kurbankan ikhlas untuk Engkau. (Syarh al-Mumthi’, 7/492) Rujukan: https://islamqa.info/amp/ar/answers/36733 Dijawab: Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh thehumairo.com dan Pengajar di PP Hamalatul Quran Bantul) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Shalawat Yang Benar, Tingkatan Nafsu Dalam Islam, Bangsa Quraisy, Cara Mendapatkan Restu Orang Tua Menurut Islam, Niat Puasa Sunat, Puasa Setelah Ramadhan Visited 42 times, 3 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid
Bacaan Saat Menyembelih Kurban Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustad bagaimana bacaan saat penyembelihan kurban? Dari: Bpk. Asof Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Bacaan yang disunnahkan saat menyembelih kurban adalah بسم الله ، والله أكبر ، اللهم هذا منك ولك ، هذا عني اللهم تقبل من فلان وآل فلان Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘annii Allahumma taqobbal min (sebutkan nama) wa aali (sebutkan nama pengkurban). “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari Engkau dan untuk Engkau. Dan ini ibadah kurbanku. Ya Allah terimalah kurban ini dari… dan keluarga….” Bacaan di atas diucapkan jika yang menyembelih adalah si pengkurban sendiri. Jika yang menyembelih orang lain atau seorang mengkurbankan orang lain, maka kata yang bercetak tebal: – ‘annii diganti ‘an.…(sebutkan nama pengkurban) Misal yang berkurban adalah Pak Prasetyo dan beliau menyembelih sendiri, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Prasetyo. Allahumma taqobbal min Prasetyo wa aali Prasetyo. Jika Pak Prasetyo menyembelihkan kurban atau mengkurbankan orang lain, misalnya Pak Slamet, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Slamet. Allahumma taqobbal min Slamet wa aali Slamet. Doa inilah yang dibaca oleh tukang jagal kurban atau yang mewakili sembelihan pengkurban. Dari semua kalimat doa di atas, terbagi menjadi dua: yang wajib dibaca adalah bismillah saja. Adapun selebihnya, hukumnya sunnah. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, والواجب من هذا هو التسمية ، وما زاد على ذلك فهو مستحب وليس بواجب . Dari doa di atas, yang wajib dibaca adalah bacaan basmalah. Adapun bacaan selebihnya, hukumnya dianjurkan, bukan wajib. Dalil doa di atas adalah hadis-hadis di bawah ini: – Hadis Anas bin Malik Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kurban yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangan beliau. Saat menyembelih beliau ucapkan bismillah dan bertakbir, lalu beliau letakkan kaki beliau pada leher kambing sembelihan.” (HR. Bukhori dan Muslim) – Hadis Aisyah Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membeli seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam dan matanya hitam. Lalu hewan tersebut didatangkan kepada beliau untuk beliau kurbankan. Beliau berkata kepada Aisyah, “Ya Aisyah, ambilkan pisau itu.” Kemudian beliau berkata, “Asahkan dengan batu.” Maka Aisyah melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan beliau mengambil kambing jantan tersebut, lalu beliau membaringkannya, untuk kemudian beliau menyembelihnya, seraya membaca: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ “Bismillaah, Allaahumma taqobbal min Muhammadin wa Aali Muhammadin, wa min ummati Muhammadin.” “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim) – Hadis Jabir bin Abdillah Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan, شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي “Aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di lapangan tempat shalat (musholla). Setelah selesai khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. Tirmidzi, no. 1521, dinilai Shahih oleh Syekh Albani, dalam Shahih Tirmidzi) Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal, اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138 dan 1152) Kalimat doa “Ya Allah ini dari-Mu”, adalah hewan kurban ini adalah rizki dari Engkau yang telah sampai kepada kami. Kemudian, “Untuk-Mu..” maknanya, aku kurbankan ikhlas untuk Engkau. (Syarh al-Mumthi’, 7/492) Rujukan: https://islamqa.info/amp/ar/answers/36733 Dijawab: Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh thehumairo.com dan Pengajar di PP Hamalatul Quran Bantul) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Shalawat Yang Benar, Tingkatan Nafsu Dalam Islam, Bangsa Quraisy, Cara Mendapatkan Restu Orang Tua Menurut Islam, Niat Puasa Sunat, Puasa Setelah Ramadhan Visited 42 times, 3 visit(s) today Post Views: 507 QRIS donasi Yufid


Bacaan Saat Menyembelih Kurban Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustad bagaimana bacaan saat penyembelihan kurban? Dari: Bpk. Asof Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Bacaan yang disunnahkan saat menyembelih kurban adalah بسم الله ، والله أكبر ، اللهم هذا منك ولك ، هذا عني اللهم تقبل من فلان وآل فلان Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘annii Allahumma taqobbal min (sebutkan nama) wa aali (sebutkan nama pengkurban). “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari Engkau dan untuk Engkau. Dan ini ibadah kurbanku. Ya Allah terimalah kurban ini dari… dan keluarga….” Bacaan di atas diucapkan jika yang menyembelih adalah si pengkurban sendiri. Jika yang menyembelih orang lain atau seorang mengkurbankan orang lain, maka kata yang bercetak tebal: – ‘annii diganti ‘an.…(sebutkan nama pengkurban) Misal yang berkurban adalah Pak Prasetyo dan beliau menyembelih sendiri, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Prasetyo. Allahumma taqobbal min Prasetyo wa aali Prasetyo. Jika Pak Prasetyo menyembelihkan kurban atau mengkurbankan orang lain, misalnya Pak Slamet, maka doanya: Bismillah walloohuakbar, allahumma haadza Minka wa laka, hadza ‘an Slamet. Allahumma taqobbal min Slamet wa aali Slamet. Doa inilah yang dibaca oleh tukang jagal kurban atau yang mewakili sembelihan pengkurban. Dari semua kalimat doa di atas, terbagi menjadi dua: yang wajib dibaca adalah bismillah saja. Adapun selebihnya, hukumnya sunnah. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, والواجب من هذا هو التسمية ، وما زاد على ذلك فهو مستحب وليس بواجب . Dari doa di atas, yang wajib dibaca adalah bacaan basmalah. Adapun bacaan selebihnya, hukumnya dianjurkan, bukan wajib. Dalil doa di atas adalah hadis-hadis di bawah ini: – Hadis Anas bin Malik Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kurban yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangan beliau. Saat menyembelih beliau ucapkan bismillah dan bertakbir, lalu beliau letakkan kaki beliau pada leher kambing sembelihan.” (HR. Bukhori dan Muslim) – Hadis Aisyah Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membeli seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam dan matanya hitam. Lalu hewan tersebut didatangkan kepada beliau untuk beliau kurbankan. Beliau berkata kepada Aisyah, “Ya Aisyah, ambilkan pisau itu.” Kemudian beliau berkata, “Asahkan dengan batu.” Maka Aisyah melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan beliau mengambil kambing jantan tersebut, lalu beliau membaringkannya, untuk kemudian beliau menyembelihnya, seraya membaca: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ “Bismillaah, Allaahumma taqobbal min Muhammadin wa Aali Muhammadin, wa min ummati Muhammadin.” “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim) – Hadis Jabir bin Abdillah Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan, شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي “Aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di lapangan tempat shalat (musholla). Setelah selesai khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. Tirmidzi, no. 1521, dinilai Shahih oleh Syekh Albani, dalam Shahih Tirmidzi) Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal, اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138 dan 1152) Kalimat doa “Ya Allah ini dari-Mu”, adalah hewan kurban ini adalah rizki dari Engkau yang telah sampai kepada kami. Kemudian, “Untuk-Mu..” maknanya, aku kurbankan ikhlas untuk Engkau. (Syarh al-Mumthi’, 7/492) Rujukan: https://islamqa.info/amp/ar/answers/36733 Dijawab: Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh thehumairo.com dan Pengajar di PP Hamalatul Quran Bantul) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Shalawat Yang Benar, Tingkatan Nafsu Dalam Islam, Bangsa Quraisy, Cara Mendapatkan Restu Orang Tua Menurut Islam, Niat Puasa Sunat, Puasa Setelah Ramadhan Visited 42 times, 3 visit(s) today Post Views: 507 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next