Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 1 – Keutamaan Silaturahmi

Sumber gambar: unsplashKitabul Jami’ Bab 2 – Hadis 1 Keutamaan SilaturahmiOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  .أخرجه البخاريDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari)Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotivasi kita untuk menyambung silaturahim. Dari hadits ini kita tahu bahwa ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjarannya di akhirat saja, tetapi juga di dunia, contohnya menyambung silaturahim.Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturahim menurut hadits ini adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Rasululllah ﷺ mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.” Ini adalah motivasi dari Nabi ﷺ yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.Oleh karenanya, pendapat yang rajih (terkuat) di antara pendapat para ulama, bahwasanya barangsiapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh ﷻ, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’, kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka hal itu tidak mengapa. Karena Rasululllah ﷺ sendiri mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barangsiapa yang mau.” Artinya “barangsiapa yang berminat dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung silaturahim.”Pembaca yang dirahmati Allāh ﷻ. Terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam memahami makna  kalimat dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur. Namun, secara umum ada 2 pendapat yang kuat, yaitu sebaga berikut.Pendapat pertama menyatakan bahwa maknanya adalah makna majasi/kiasan. Hal itu karena rezeki dan umur sudah tercatat di catatan taqdir, sehingga tidak mungkin di ubah-ubah lagi. Menurut pendapat ini, maksud dilapangkan rezeki adalah rezekinya diberkahi Allāh ﷻ. Jadi, meskipun  secara kuantitas rezekinya tetap, namun Allāh menjadikan keberkahan pada rezekinya sehingga rezekinya banyak bermanfaat, membawa faidah, dan digunakan untuk beramal sholih serta untuk hal-hal yang dicintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, rezekinya membawa banyak kemanfaatan terhadap dunia dan akhiratnya.Demikian pula halnya dengan maksud dipanjangkan umur, yaitu umurnya tidak berubah sesuai dengan yang ditakdirkan, tetapi Allāh memberkahi umurnya sehingga umurnya itu banyak gunakan untuk kebaikan dan beribadah serta dihindarkan kesia-siaan dan dari sakit yang mengganggu keberkahan umurnya. Dengan demikian waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang. Bukankah sering kita dapati ada orang yang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya? Dengan demikian sebagian umurnya hilang sia-sia dan jauh dari keberkahan.Pendapat yang kedua menyatakan bahwa maknanya adalah makna hakiki. Artinya Allah benar-benar memanjangkan umurnya dan melapangkan rezekinya disebabkan oleh menyambung silaturahim yang ia lakukan.Pendapat kedua ini berpijak pada apa yang telah kita ketahui bersama bahwa Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa mengubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh ﷻ: يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d Ayat: 39)Menurut pendapat kedua ini, yang dihapuskan oleh Allah adalah catatan yang berada di tangan malaikat. Bisa jadi Allāh ﷻ telah memerintahkan kepada malaikat untuk mencatat umur hamba sepanjang -misalnya- 60 tahun. Karena hamba tersebut selalu menyambung silaturahim, maka Allāh ﷻ menyuruh malaikat untuk mengubah catatannya sehingga umur hamba tersebut menjadi 70 tahun. Sehingga, umur hamba tersebut benar-benar bertambah selama 10 tahun disebabkan oleh amalannya menyambung silaturahim.Namun, Perubahan jatah umur dari 60 tahun menjadi 70 tahun itu sebenarnya tidak mengubah takdir. Karena apa yang terjadi pada hamba tersebut, mulai dari amalan silaturahimya sampai pertambahan umurnya, sebenarnya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Dengan demikian, tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah. Seakan-akan yang tertulis di Lauhul Mahfuzh adalah: Malaikat mencatat awalnya umur si hamba adalah 60 tahun, kemudian karena dia beramal shalih maka Allāh perintahkan agar umurnya ditambah menjadi 70 tahun. Jadi proses perubahan catatan malaikat sudah tertulis di Lauhul Mahfuuzh dan tidak ada perubahan sama sekali.Hal yang sama juga berlaku pada rezekinya. Rezeki yang tadinya dicatat sejumlah tertentu oleh malaikat, kemudian ditambah atas perintah Allāh ﷻ karena hamba tersebut bersilaturahim. Namun semua itu sudah tercatata di Lauhul Mahfuzh.Wallahu a’lam bish-shawwab, dalam hal ini penulis lebih condong dengan pendapat yang kedua. Karena berdasarkan kenyataan yang ada, silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rezeki. Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemudian rezekinya ditambah-tambah oleh Allāh  ﷻ. Dan ini benar-benar bisa dirasakan secara nyata. Demikian juga betapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit. Barangkali seharusnya dia celaka tapi kemudian dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  ﷻ sehingga bertambah umurnya.Semoga Allāh ﷻ memberkahi harta dan umur kita serta semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahim.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 1 – Keutamaan Silaturahmi

Sumber gambar: unsplashKitabul Jami’ Bab 2 – Hadis 1 Keutamaan SilaturahmiOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  .أخرجه البخاريDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari)Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotivasi kita untuk menyambung silaturahim. Dari hadits ini kita tahu bahwa ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjarannya di akhirat saja, tetapi juga di dunia, contohnya menyambung silaturahim.Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturahim menurut hadits ini adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Rasululllah ﷺ mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.” Ini adalah motivasi dari Nabi ﷺ yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.Oleh karenanya, pendapat yang rajih (terkuat) di antara pendapat para ulama, bahwasanya barangsiapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh ﷻ, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’, kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka hal itu tidak mengapa. Karena Rasululllah ﷺ sendiri mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barangsiapa yang mau.” Artinya “barangsiapa yang berminat dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung silaturahim.”Pembaca yang dirahmati Allāh ﷻ. Terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam memahami makna  kalimat dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur. Namun, secara umum ada 2 pendapat yang kuat, yaitu sebaga berikut.Pendapat pertama menyatakan bahwa maknanya adalah makna majasi/kiasan. Hal itu karena rezeki dan umur sudah tercatat di catatan taqdir, sehingga tidak mungkin di ubah-ubah lagi. Menurut pendapat ini, maksud dilapangkan rezeki adalah rezekinya diberkahi Allāh ﷻ. Jadi, meskipun  secara kuantitas rezekinya tetap, namun Allāh menjadikan keberkahan pada rezekinya sehingga rezekinya banyak bermanfaat, membawa faidah, dan digunakan untuk beramal sholih serta untuk hal-hal yang dicintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, rezekinya membawa banyak kemanfaatan terhadap dunia dan akhiratnya.Demikian pula halnya dengan maksud dipanjangkan umur, yaitu umurnya tidak berubah sesuai dengan yang ditakdirkan, tetapi Allāh memberkahi umurnya sehingga umurnya itu banyak gunakan untuk kebaikan dan beribadah serta dihindarkan kesia-siaan dan dari sakit yang mengganggu keberkahan umurnya. Dengan demikian waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang. Bukankah sering kita dapati ada orang yang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya? Dengan demikian sebagian umurnya hilang sia-sia dan jauh dari keberkahan.Pendapat yang kedua menyatakan bahwa maknanya adalah makna hakiki. Artinya Allah benar-benar memanjangkan umurnya dan melapangkan rezekinya disebabkan oleh menyambung silaturahim yang ia lakukan.Pendapat kedua ini berpijak pada apa yang telah kita ketahui bersama bahwa Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa mengubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh ﷻ: يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d Ayat: 39)Menurut pendapat kedua ini, yang dihapuskan oleh Allah adalah catatan yang berada di tangan malaikat. Bisa jadi Allāh ﷻ telah memerintahkan kepada malaikat untuk mencatat umur hamba sepanjang -misalnya- 60 tahun. Karena hamba tersebut selalu menyambung silaturahim, maka Allāh ﷻ menyuruh malaikat untuk mengubah catatannya sehingga umur hamba tersebut menjadi 70 tahun. Sehingga, umur hamba tersebut benar-benar bertambah selama 10 tahun disebabkan oleh amalannya menyambung silaturahim.Namun, Perubahan jatah umur dari 60 tahun menjadi 70 tahun itu sebenarnya tidak mengubah takdir. Karena apa yang terjadi pada hamba tersebut, mulai dari amalan silaturahimya sampai pertambahan umurnya, sebenarnya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Dengan demikian, tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah. Seakan-akan yang tertulis di Lauhul Mahfuzh adalah: Malaikat mencatat awalnya umur si hamba adalah 60 tahun, kemudian karena dia beramal shalih maka Allāh perintahkan agar umurnya ditambah menjadi 70 tahun. Jadi proses perubahan catatan malaikat sudah tertulis di Lauhul Mahfuuzh dan tidak ada perubahan sama sekali.Hal yang sama juga berlaku pada rezekinya. Rezeki yang tadinya dicatat sejumlah tertentu oleh malaikat, kemudian ditambah atas perintah Allāh ﷻ karena hamba tersebut bersilaturahim. Namun semua itu sudah tercatata di Lauhul Mahfuzh.Wallahu a’lam bish-shawwab, dalam hal ini penulis lebih condong dengan pendapat yang kedua. Karena berdasarkan kenyataan yang ada, silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rezeki. Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemudian rezekinya ditambah-tambah oleh Allāh  ﷻ. Dan ini benar-benar bisa dirasakan secara nyata. Demikian juga betapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit. Barangkali seharusnya dia celaka tapi kemudian dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  ﷻ sehingga bertambah umurnya.Semoga Allāh ﷻ memberkahi harta dan umur kita serta semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahim.
Sumber gambar: unsplashKitabul Jami’ Bab 2 – Hadis 1 Keutamaan SilaturahmiOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  .أخرجه البخاريDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari)Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotivasi kita untuk menyambung silaturahim. Dari hadits ini kita tahu bahwa ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjarannya di akhirat saja, tetapi juga di dunia, contohnya menyambung silaturahim.Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturahim menurut hadits ini adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Rasululllah ﷺ mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.” Ini adalah motivasi dari Nabi ﷺ yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.Oleh karenanya, pendapat yang rajih (terkuat) di antara pendapat para ulama, bahwasanya barangsiapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh ﷻ, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’, kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka hal itu tidak mengapa. Karena Rasululllah ﷺ sendiri mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barangsiapa yang mau.” Artinya “barangsiapa yang berminat dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung silaturahim.”Pembaca yang dirahmati Allāh ﷻ. Terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam memahami makna  kalimat dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur. Namun, secara umum ada 2 pendapat yang kuat, yaitu sebaga berikut.Pendapat pertama menyatakan bahwa maknanya adalah makna majasi/kiasan. Hal itu karena rezeki dan umur sudah tercatat di catatan taqdir, sehingga tidak mungkin di ubah-ubah lagi. Menurut pendapat ini, maksud dilapangkan rezeki adalah rezekinya diberkahi Allāh ﷻ. Jadi, meskipun  secara kuantitas rezekinya tetap, namun Allāh menjadikan keberkahan pada rezekinya sehingga rezekinya banyak bermanfaat, membawa faidah, dan digunakan untuk beramal sholih serta untuk hal-hal yang dicintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, rezekinya membawa banyak kemanfaatan terhadap dunia dan akhiratnya.Demikian pula halnya dengan maksud dipanjangkan umur, yaitu umurnya tidak berubah sesuai dengan yang ditakdirkan, tetapi Allāh memberkahi umurnya sehingga umurnya itu banyak gunakan untuk kebaikan dan beribadah serta dihindarkan kesia-siaan dan dari sakit yang mengganggu keberkahan umurnya. Dengan demikian waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang. Bukankah sering kita dapati ada orang yang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya? Dengan demikian sebagian umurnya hilang sia-sia dan jauh dari keberkahan.Pendapat yang kedua menyatakan bahwa maknanya adalah makna hakiki. Artinya Allah benar-benar memanjangkan umurnya dan melapangkan rezekinya disebabkan oleh menyambung silaturahim yang ia lakukan.Pendapat kedua ini berpijak pada apa yang telah kita ketahui bersama bahwa Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa mengubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh ﷻ: يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d Ayat: 39)Menurut pendapat kedua ini, yang dihapuskan oleh Allah adalah catatan yang berada di tangan malaikat. Bisa jadi Allāh ﷻ telah memerintahkan kepada malaikat untuk mencatat umur hamba sepanjang -misalnya- 60 tahun. Karena hamba tersebut selalu menyambung silaturahim, maka Allāh ﷻ menyuruh malaikat untuk mengubah catatannya sehingga umur hamba tersebut menjadi 70 tahun. Sehingga, umur hamba tersebut benar-benar bertambah selama 10 tahun disebabkan oleh amalannya menyambung silaturahim.Namun, Perubahan jatah umur dari 60 tahun menjadi 70 tahun itu sebenarnya tidak mengubah takdir. Karena apa yang terjadi pada hamba tersebut, mulai dari amalan silaturahimya sampai pertambahan umurnya, sebenarnya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Dengan demikian, tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah. Seakan-akan yang tertulis di Lauhul Mahfuzh adalah: Malaikat mencatat awalnya umur si hamba adalah 60 tahun, kemudian karena dia beramal shalih maka Allāh perintahkan agar umurnya ditambah menjadi 70 tahun. Jadi proses perubahan catatan malaikat sudah tertulis di Lauhul Mahfuuzh dan tidak ada perubahan sama sekali.Hal yang sama juga berlaku pada rezekinya. Rezeki yang tadinya dicatat sejumlah tertentu oleh malaikat, kemudian ditambah atas perintah Allāh ﷻ karena hamba tersebut bersilaturahim. Namun semua itu sudah tercatata di Lauhul Mahfuzh.Wallahu a’lam bish-shawwab, dalam hal ini penulis lebih condong dengan pendapat yang kedua. Karena berdasarkan kenyataan yang ada, silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rezeki. Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemudian rezekinya ditambah-tambah oleh Allāh  ﷻ. Dan ini benar-benar bisa dirasakan secara nyata. Demikian juga betapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit. Barangkali seharusnya dia celaka tapi kemudian dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  ﷻ sehingga bertambah umurnya.Semoga Allāh ﷻ memberkahi harta dan umur kita serta semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahim.


Sumber gambar: unsplashKitabul Jami’ Bab 2 – Hadis 1 Keutamaan SilaturahmiOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  .أخرجه البخاريDari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari)Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotivasi kita untuk menyambung silaturahim. Dari hadits ini kita tahu bahwa ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjarannya di akhirat saja, tetapi juga di dunia, contohnya menyambung silaturahim.Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturahim menurut hadits ini adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Rasululllah ﷺ mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.” Ini adalah motivasi dari Nabi ﷺ yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.Oleh karenanya, pendapat yang rajih (terkuat) di antara pendapat para ulama, bahwasanya barangsiapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh ﷻ, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’, kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka hal itu tidak mengapa. Karena Rasululllah ﷺ sendiri mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barangsiapa yang mau.” Artinya “barangsiapa yang berminat dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung silaturahim.”Pembaca yang dirahmati Allāh ﷻ. Terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam memahami makna  kalimat dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur. Namun, secara umum ada 2 pendapat yang kuat, yaitu sebaga berikut.Pendapat pertama menyatakan bahwa maknanya adalah makna majasi/kiasan. Hal itu karena rezeki dan umur sudah tercatat di catatan taqdir, sehingga tidak mungkin di ubah-ubah lagi. Menurut pendapat ini, maksud dilapangkan rezeki adalah rezekinya diberkahi Allāh ﷻ. Jadi, meskipun  secara kuantitas rezekinya tetap, namun Allāh menjadikan keberkahan pada rezekinya sehingga rezekinya banyak bermanfaat, membawa faidah, dan digunakan untuk beramal sholih serta untuk hal-hal yang dicintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, rezekinya membawa banyak kemanfaatan terhadap dunia dan akhiratnya.Demikian pula halnya dengan maksud dipanjangkan umur, yaitu umurnya tidak berubah sesuai dengan yang ditakdirkan, tetapi Allāh memberkahi umurnya sehingga umurnya itu banyak gunakan untuk kebaikan dan beribadah serta dihindarkan kesia-siaan dan dari sakit yang mengganggu keberkahan umurnya. Dengan demikian waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang. Bukankah sering kita dapati ada orang yang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya? Dengan demikian sebagian umurnya hilang sia-sia dan jauh dari keberkahan.Pendapat yang kedua menyatakan bahwa maknanya adalah makna hakiki. Artinya Allah benar-benar memanjangkan umurnya dan melapangkan rezekinya disebabkan oleh menyambung silaturahim yang ia lakukan.Pendapat kedua ini berpijak pada apa yang telah kita ketahui bersama bahwa Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa mengubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh ﷻ: يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d Ayat: 39)Menurut pendapat kedua ini, yang dihapuskan oleh Allah adalah catatan yang berada di tangan malaikat. Bisa jadi Allāh ﷻ telah memerintahkan kepada malaikat untuk mencatat umur hamba sepanjang -misalnya- 60 tahun. Karena hamba tersebut selalu menyambung silaturahim, maka Allāh ﷻ menyuruh malaikat untuk mengubah catatannya sehingga umur hamba tersebut menjadi 70 tahun. Sehingga, umur hamba tersebut benar-benar bertambah selama 10 tahun disebabkan oleh amalannya menyambung silaturahim.Namun, Perubahan jatah umur dari 60 tahun menjadi 70 tahun itu sebenarnya tidak mengubah takdir. Karena apa yang terjadi pada hamba tersebut, mulai dari amalan silaturahimya sampai pertambahan umurnya, sebenarnya sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Dengan demikian, tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah. Seakan-akan yang tertulis di Lauhul Mahfuzh adalah: Malaikat mencatat awalnya umur si hamba adalah 60 tahun, kemudian karena dia beramal shalih maka Allāh perintahkan agar umurnya ditambah menjadi 70 tahun. Jadi proses perubahan catatan malaikat sudah tertulis di Lauhul Mahfuuzh dan tidak ada perubahan sama sekali.Hal yang sama juga berlaku pada rezekinya. Rezeki yang tadinya dicatat sejumlah tertentu oleh malaikat, kemudian ditambah atas perintah Allāh ﷻ karena hamba tersebut bersilaturahim. Namun semua itu sudah tercatata di Lauhul Mahfuzh.Wallahu a’lam bish-shawwab, dalam hal ini penulis lebih condong dengan pendapat yang kedua. Karena berdasarkan kenyataan yang ada, silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rezeki. Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemudian rezekinya ditambah-tambah oleh Allāh  ﷻ. Dan ini benar-benar bisa dirasakan secara nyata. Demikian juga betapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit. Barangkali seharusnya dia celaka tapi kemudian dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  ﷻ sehingga bertambah umurnya.Semoga Allāh ﷻ memberkahi harta dan umur kita serta semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahim.

Menjadi Istri yang Menyenangkan Hati Suami

Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami. Wanita yang paling baikMarilah kita renungkan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Maksud, “tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya”, misalnya sang suami tidak suka melihat istri memakai baju jenis tertentu, padahal baju tersebut sangat disukai oleh sang istri. Maka seorang istri shalihah akan mendahulukan keinginan suami daripada selera dirinya sendiri. Inilah karakter wanita (istri) yang terbaik, yaitu dia berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali dia bersama dengan suami. Demikian pula, perhatian dan fokus utama seorang istri adalah berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. Baca Juga: Wahai Suami, Istri Itu Penuh dengan Misteri (Bag. 1)Berdandan di luar rumah, acak-acakan di dalam rumahDi antara perkara yang memprihatinkan adalah banyak dari istri yang tidaklah berdandan dan berhias, kecuali karena hendak keluar rumah. Entah karena hendak berbelanja atau hendak mengikuti acara pertemuan di luar rumah, atau sejenisnya. Adapun jika berkaitan dengan hak suami ketika suami di rumah, dia pun menemui suaminya dengan baju ala kadarnya, bau yang tidak enak, rambut yang kusut dan acak-acakan, dan dalam kondisi-kondisi jelek lainnya. Sehingga sang suami pun akhirnya tidak berselera terhadap sang istri. Namun, begitu sang istri hendak keluar rumah, tiba-tiba dia berdandan dan berhias dengan penampilan terbaiknya. Bagaimana hati seorang suami akan dipenuhi kecintaan terhadap istri jika sang istri bersikap demikian? Lebih-lebih jika sang istri tidak mau taat kepada sang suami, banyak bermuka masam, sering marah-marah, atau banyak berkeluh kesah di hadapan suami. Wahai para istri, perhatikanlah hal ini …Pelajaran dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuJabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ نَهَى رَسُولُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga (istrinya) pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)An-Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang datang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada istri. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, tidak termasuk dalam larangan ini. (Fathul Bari, 9: 252, Syarh Shahih Muslim 13: 73)Diriwayatkan juga dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safar di malam hari, janganlah langsung (tiba-tiba)  mendatangi istrinya di waktu malam. (Agar istri) masih bisa mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya.“ (HR. Muslim no. 715)Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan hendaknya para suami yang safar keluar kota, tidak tiba-tiba pulang ke rumah dan menemui istri di malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (ketika jaman dulu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang). Mengapa demikian? Agar para istri memiliki waktu untuk mencukur bulu kemaluan dan juga menyisir rambutnya. Artinya, agar para istri bisa berdandan dan menemui suami dalam kondisi terbaiknya.Dengan kata lain, kita dapati bagaimanakah kehidupan shahabiyah (sahabat Rasulullah yang perempuan) ketika itu. Yaitu, mereka sangat memperhatikan dan merawat kondisi dirinya ketika sang suami ada di rumah (tidak safar). Sedangkan ketika sang suami safar dalam jangka waktu agak lama, mereka tidak menyisir rambutnya atau tidak merawat dirinya secara umum. Karena mereka tahu, mereka mempercantik dirinya itu hanyalah dalam rangka menyenangkan hati suami, sedangkan saat ini, sang suami sedang tidak di rumah.Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah larangan tersebut, yaitu agar para istri mempersiapkan kedatangan suami dengan membersihkan diri, berdandan, mencukur bulu kemaluan, dan juga membersihkan rumah. Baca Juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri?Pelajaran dari hadits ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaMembersihkan dan menata rumah ini bisa kita ambil pelajaran dari hadits yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘amha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar dan aku memasang gorden di sisi rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup. Ketika melihat gorden tersebut, beliau mencabutnya, seraya bersabda,يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ“Wahai ‘Aisyah, orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” ‘Aisyah berkata, فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ“Aku pun memotongnya dan kain itu aku buat satu bantal atau dua bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107)Mengapa ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memasang korden tersebut? Hal ini karena beliau ingin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati rumah yang indah karena diberi hiasan. Faidah dari hadits-hadits tersebut adalah hendaknya seorang wanita membersihkan, mempersiapkan, dan menghias rumah. Sebagaimana dia juga berusaha merawat, membersihkan dan menghias dirinya sendiri di hadapan suami. Inilah yang kita dapatkan dari syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 13 Dzulqa’dah 1441/ 4 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Shifaat Az-Zaujatish Shaalihaat, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, hal. 23-27.

Menjadi Istri yang Menyenangkan Hati Suami

Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami. Wanita yang paling baikMarilah kita renungkan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Maksud, “tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya”, misalnya sang suami tidak suka melihat istri memakai baju jenis tertentu, padahal baju tersebut sangat disukai oleh sang istri. Maka seorang istri shalihah akan mendahulukan keinginan suami daripada selera dirinya sendiri. Inilah karakter wanita (istri) yang terbaik, yaitu dia berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali dia bersama dengan suami. Demikian pula, perhatian dan fokus utama seorang istri adalah berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. Baca Juga: Wahai Suami, Istri Itu Penuh dengan Misteri (Bag. 1)Berdandan di luar rumah, acak-acakan di dalam rumahDi antara perkara yang memprihatinkan adalah banyak dari istri yang tidaklah berdandan dan berhias, kecuali karena hendak keluar rumah. Entah karena hendak berbelanja atau hendak mengikuti acara pertemuan di luar rumah, atau sejenisnya. Adapun jika berkaitan dengan hak suami ketika suami di rumah, dia pun menemui suaminya dengan baju ala kadarnya, bau yang tidak enak, rambut yang kusut dan acak-acakan, dan dalam kondisi-kondisi jelek lainnya. Sehingga sang suami pun akhirnya tidak berselera terhadap sang istri. Namun, begitu sang istri hendak keluar rumah, tiba-tiba dia berdandan dan berhias dengan penampilan terbaiknya. Bagaimana hati seorang suami akan dipenuhi kecintaan terhadap istri jika sang istri bersikap demikian? Lebih-lebih jika sang istri tidak mau taat kepada sang suami, banyak bermuka masam, sering marah-marah, atau banyak berkeluh kesah di hadapan suami. Wahai para istri, perhatikanlah hal ini …Pelajaran dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuJabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ نَهَى رَسُولُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga (istrinya) pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)An-Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang datang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada istri. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, tidak termasuk dalam larangan ini. (Fathul Bari, 9: 252, Syarh Shahih Muslim 13: 73)Diriwayatkan juga dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safar di malam hari, janganlah langsung (tiba-tiba)  mendatangi istrinya di waktu malam. (Agar istri) masih bisa mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya.“ (HR. Muslim no. 715)Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan hendaknya para suami yang safar keluar kota, tidak tiba-tiba pulang ke rumah dan menemui istri di malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (ketika jaman dulu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang). Mengapa demikian? Agar para istri memiliki waktu untuk mencukur bulu kemaluan dan juga menyisir rambutnya. Artinya, agar para istri bisa berdandan dan menemui suami dalam kondisi terbaiknya.Dengan kata lain, kita dapati bagaimanakah kehidupan shahabiyah (sahabat Rasulullah yang perempuan) ketika itu. Yaitu, mereka sangat memperhatikan dan merawat kondisi dirinya ketika sang suami ada di rumah (tidak safar). Sedangkan ketika sang suami safar dalam jangka waktu agak lama, mereka tidak menyisir rambutnya atau tidak merawat dirinya secara umum. Karena mereka tahu, mereka mempercantik dirinya itu hanyalah dalam rangka menyenangkan hati suami, sedangkan saat ini, sang suami sedang tidak di rumah.Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah larangan tersebut, yaitu agar para istri mempersiapkan kedatangan suami dengan membersihkan diri, berdandan, mencukur bulu kemaluan, dan juga membersihkan rumah. Baca Juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri?Pelajaran dari hadits ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaMembersihkan dan menata rumah ini bisa kita ambil pelajaran dari hadits yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘amha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar dan aku memasang gorden di sisi rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup. Ketika melihat gorden tersebut, beliau mencabutnya, seraya bersabda,يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ“Wahai ‘Aisyah, orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” ‘Aisyah berkata, فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ“Aku pun memotongnya dan kain itu aku buat satu bantal atau dua bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107)Mengapa ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memasang korden tersebut? Hal ini karena beliau ingin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati rumah yang indah karena diberi hiasan. Faidah dari hadits-hadits tersebut adalah hendaknya seorang wanita membersihkan, mempersiapkan, dan menghias rumah. Sebagaimana dia juga berusaha merawat, membersihkan dan menghias dirinya sendiri di hadapan suami. Inilah yang kita dapatkan dari syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 13 Dzulqa’dah 1441/ 4 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Shifaat Az-Zaujatish Shaalihaat, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, hal. 23-27.
Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami. Wanita yang paling baikMarilah kita renungkan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Maksud, “tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya”, misalnya sang suami tidak suka melihat istri memakai baju jenis tertentu, padahal baju tersebut sangat disukai oleh sang istri. Maka seorang istri shalihah akan mendahulukan keinginan suami daripada selera dirinya sendiri. Inilah karakter wanita (istri) yang terbaik, yaitu dia berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali dia bersama dengan suami. Demikian pula, perhatian dan fokus utama seorang istri adalah berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. Baca Juga: Wahai Suami, Istri Itu Penuh dengan Misteri (Bag. 1)Berdandan di luar rumah, acak-acakan di dalam rumahDi antara perkara yang memprihatinkan adalah banyak dari istri yang tidaklah berdandan dan berhias, kecuali karena hendak keluar rumah. Entah karena hendak berbelanja atau hendak mengikuti acara pertemuan di luar rumah, atau sejenisnya. Adapun jika berkaitan dengan hak suami ketika suami di rumah, dia pun menemui suaminya dengan baju ala kadarnya, bau yang tidak enak, rambut yang kusut dan acak-acakan, dan dalam kondisi-kondisi jelek lainnya. Sehingga sang suami pun akhirnya tidak berselera terhadap sang istri. Namun, begitu sang istri hendak keluar rumah, tiba-tiba dia berdandan dan berhias dengan penampilan terbaiknya. Bagaimana hati seorang suami akan dipenuhi kecintaan terhadap istri jika sang istri bersikap demikian? Lebih-lebih jika sang istri tidak mau taat kepada sang suami, banyak bermuka masam, sering marah-marah, atau banyak berkeluh kesah di hadapan suami. Wahai para istri, perhatikanlah hal ini …Pelajaran dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuJabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ نَهَى رَسُولُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga (istrinya) pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)An-Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang datang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada istri. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, tidak termasuk dalam larangan ini. (Fathul Bari, 9: 252, Syarh Shahih Muslim 13: 73)Diriwayatkan juga dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safar di malam hari, janganlah langsung (tiba-tiba)  mendatangi istrinya di waktu malam. (Agar istri) masih bisa mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya.“ (HR. Muslim no. 715)Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan hendaknya para suami yang safar keluar kota, tidak tiba-tiba pulang ke rumah dan menemui istri di malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (ketika jaman dulu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang). Mengapa demikian? Agar para istri memiliki waktu untuk mencukur bulu kemaluan dan juga menyisir rambutnya. Artinya, agar para istri bisa berdandan dan menemui suami dalam kondisi terbaiknya.Dengan kata lain, kita dapati bagaimanakah kehidupan shahabiyah (sahabat Rasulullah yang perempuan) ketika itu. Yaitu, mereka sangat memperhatikan dan merawat kondisi dirinya ketika sang suami ada di rumah (tidak safar). Sedangkan ketika sang suami safar dalam jangka waktu agak lama, mereka tidak menyisir rambutnya atau tidak merawat dirinya secara umum. Karena mereka tahu, mereka mempercantik dirinya itu hanyalah dalam rangka menyenangkan hati suami, sedangkan saat ini, sang suami sedang tidak di rumah.Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah larangan tersebut, yaitu agar para istri mempersiapkan kedatangan suami dengan membersihkan diri, berdandan, mencukur bulu kemaluan, dan juga membersihkan rumah. Baca Juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri?Pelajaran dari hadits ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaMembersihkan dan menata rumah ini bisa kita ambil pelajaran dari hadits yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘amha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar dan aku memasang gorden di sisi rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup. Ketika melihat gorden tersebut, beliau mencabutnya, seraya bersabda,يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ“Wahai ‘Aisyah, orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” ‘Aisyah berkata, فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ“Aku pun memotongnya dan kain itu aku buat satu bantal atau dua bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107)Mengapa ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memasang korden tersebut? Hal ini karena beliau ingin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati rumah yang indah karena diberi hiasan. Faidah dari hadits-hadits tersebut adalah hendaknya seorang wanita membersihkan, mempersiapkan, dan menghias rumah. Sebagaimana dia juga berusaha merawat, membersihkan dan menghias dirinya sendiri di hadapan suami. Inilah yang kita dapatkan dari syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 13 Dzulqa’dah 1441/ 4 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Shifaat Az-Zaujatish Shaalihaat, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, hal. 23-27.


Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami. Wanita yang paling baikMarilah kita renungkan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Maksud, “tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya”, misalnya sang suami tidak suka melihat istri memakai baju jenis tertentu, padahal baju tersebut sangat disukai oleh sang istri. Maka seorang istri shalihah akan mendahulukan keinginan suami daripada selera dirinya sendiri. Inilah karakter wanita (istri) yang terbaik, yaitu dia berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali dia bersama dengan suami. Demikian pula, perhatian dan fokus utama seorang istri adalah berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. Baca Juga: Wahai Suami, Istri Itu Penuh dengan Misteri (Bag. 1)Berdandan di luar rumah, acak-acakan di dalam rumahDi antara perkara yang memprihatinkan adalah banyak dari istri yang tidaklah berdandan dan berhias, kecuali karena hendak keluar rumah. Entah karena hendak berbelanja atau hendak mengikuti acara pertemuan di luar rumah, atau sejenisnya. Adapun jika berkaitan dengan hak suami ketika suami di rumah, dia pun menemui suaminya dengan baju ala kadarnya, bau yang tidak enak, rambut yang kusut dan acak-acakan, dan dalam kondisi-kondisi jelek lainnya. Sehingga sang suami pun akhirnya tidak berselera terhadap sang istri. Namun, begitu sang istri hendak keluar rumah, tiba-tiba dia berdandan dan berhias dengan penampilan terbaiknya. Bagaimana hati seorang suami akan dipenuhi kecintaan terhadap istri jika sang istri bersikap demikian? Lebih-lebih jika sang istri tidak mau taat kepada sang suami, banyak bermuka masam, sering marah-marah, atau banyak berkeluh kesah di hadapan suami. Wahai para istri, perhatikanlah hal ini …Pelajaran dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuJabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ نَهَى رَسُولُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga (istrinya) pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)An-Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang datang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada istri. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, tidak termasuk dalam larangan ini. (Fathul Bari, 9: 252, Syarh Shahih Muslim 13: 73)Diriwayatkan juga dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safar di malam hari, janganlah langsung (tiba-tiba)  mendatangi istrinya di waktu malam. (Agar istri) masih bisa mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya.“ (HR. Muslim no. 715)Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan hendaknya para suami yang safar keluar kota, tidak tiba-tiba pulang ke rumah dan menemui istri di malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (ketika jaman dulu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang). Mengapa demikian? Agar para istri memiliki waktu untuk mencukur bulu kemaluan dan juga menyisir rambutnya. Artinya, agar para istri bisa berdandan dan menemui suami dalam kondisi terbaiknya.Dengan kata lain, kita dapati bagaimanakah kehidupan shahabiyah (sahabat Rasulullah yang perempuan) ketika itu. Yaitu, mereka sangat memperhatikan dan merawat kondisi dirinya ketika sang suami ada di rumah (tidak safar). Sedangkan ketika sang suami safar dalam jangka waktu agak lama, mereka tidak menyisir rambutnya atau tidak merawat dirinya secara umum. Karena mereka tahu, mereka mempercantik dirinya itu hanyalah dalam rangka menyenangkan hati suami, sedangkan saat ini, sang suami sedang tidak di rumah.Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah larangan tersebut, yaitu agar para istri mempersiapkan kedatangan suami dengan membersihkan diri, berdandan, mencukur bulu kemaluan, dan juga membersihkan rumah. Baca Juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri?Pelajaran dari hadits ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaMembersihkan dan menata rumah ini bisa kita ambil pelajaran dari hadits yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘amha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar dan aku memasang gorden di sisi rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup. Ketika melihat gorden tersebut, beliau mencabutnya, seraya bersabda,يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ“Wahai ‘Aisyah, orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” ‘Aisyah berkata, فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ“Aku pun memotongnya dan kain itu aku buat satu bantal atau dua bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107)Mengapa ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memasang korden tersebut? Hal ini karena beliau ingin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati rumah yang indah karena diberi hiasan. Faidah dari hadits-hadits tersebut adalah hendaknya seorang wanita membersihkan, mempersiapkan, dan menghias rumah. Sebagaimana dia juga berusaha merawat, membersihkan dan menghias dirinya sendiri di hadapan suami. Inilah yang kita dapatkan dari syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 13 Dzulqa’dah 1441/ 4 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Shifaat Az-Zaujatish Shaalihaat, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, hal. 23-27.

Inilah Manfaat Dzikir yang Luar Biasa (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #50)

Inilah manfaat dzikir yang luar biasa. Coba deh kaji keutamaannya dari hadits jaami’ al-‘ulum wa al-hikam ini. Daftar Isi tutup 1. Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab 1.1. Faedah hadits 1.2. Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. 1.2.1. Referensi: Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab الحَدِيْثُ الخَمْسُوْنَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ : أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ ، فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا ، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جاَمِعٌ ؟ قال : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – )) خَرَّجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ بِهَذَا اللَّفْظِ . Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam (amalan sunnah) itu amat banyak yang mesti kami jalankan. Maka mana yang mesti kami pegang (setelah menunaikan yang wajib, pen.)?” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah (maksudnya: terus meneruslah berdzikir kepada Allah, pen).” (HR. Ahmad dengan lafazh seperti ini) [HR. Ahmad, 4:188; Tirmidzi, no. 3375; Ibnu Majah, no. 3793; Ibnu Hibban, no. 2317; Al-Hakim, 1:495. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat pula penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, 9:305]. Baca Juga: Kunci Rezeki itu Tawakal kepada Allah (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #49) Faedah hadits Pertama: Para sahabat begitu bersemangat dalam bertanya berkaitan dengan urusan agama mereka. Kedua: Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42) وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737) Yang dimaksud banyak berdzikir di sini adalah berdzikir ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring, termasuk pula dalam keadaan suci dan berhadats. Ketiga: Para ulama menghitung dzikir dengan jarinya. Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari 40.000 kali. Ini selain Al-Qur’an yang beliau baca. Ketika ia meninggal dunia, ia diletakkan di atas ranjangnya untuk dimandikan, maka isyarat jari yang ia gunakan untuk menghitung dzikir masih terlihat. Ada yang bertanya pada ‘Umair bin Hani, bahwa ia tak pernah kelihatan lelah untuk berdzikir. Ketika ditanya berapa jumlah bacaan tasbih beliau, ia jawab bahwa 100.000 kali tasbih dan itu dihitung dengan jari jemari. Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi, no. 3583; Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir). Keempat: Jika seseorang telah benar-benar mengenal Allah, ia akan berdzikir tanpa ada beban sama sekali. Kelima: Berdzikir adalah kelezatan bagi orang-orang benar-benar mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28) Keenam: Ada keutamaan berdzikir saat orang-orang itu lalai. Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Ketujuh: Allah telah mewajibkan pada kaum muslimin untuk berdzikir kepada Allah pada siang dan malam dengan mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya. Dari shalat lima waktu itu ada shalat rawatib (qabliyah dan bakdiyah), di mana shalat rawatib itu berfungsi sebagai penutup kekurangan atau sebagai tambahan dari yang wajib. Kedelapan: Antara shalat Isya dan shalat Shubuh ada shalat malam dan shalat witir. Antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur ada shalat Dhuha. Kesembilan: Dzikir dengan lisan disunnahkan setiap waktu dan ada yang dianjurkan pada waktu tertentu seperti: Dzikir bakda shalat wajib. Dzikir pagi dan petang pada bakda shubuh dan bakda ashar (yang tidak ada shalat sunnah setelah dua shalat tersebut). Dzikir sebelum tidur, dianjurkan berwudhu sebelumnya. Dzikir setelah bangun tidur. Beristighfar pada waktu sahur. Dzikir ketika makan, minum, dan mengambil pakaian. Dzikir ketika bersin. Dzikir ketika melihat yang lain terkena musibah. Dzikir ketika masuk pasar. Dzikir ketika mendengar suara ayam berkokok pada malam hari. Dzikir ketika mendengar petir. Dzikir ketika turun hujan. Dzikir ketika turun musibah. Dzikir ketika safar. Dzikir ketika meminta perlindungan saat marah. Doa istikharah kepada Allah ketika memilih sesuatu yang belum nampak kebaikannya. Taubat dan istighfar atas dosa kecil dan dosa besar. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa yang menjaga dzikir pada waktu-waktu tadi, dialah yang disebut orang yang rajin berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:529) Mayoritas bahasan di atas diambil dari Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam pada bahasan hadits ke-50.   Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.  Baca Juga: Manfaat Dzikir Pagi Petang untuk Melindungi Keluarga dan Harta Manfaat Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya Referensi: Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayhan & Darus Salam.   Selesai disusun Jumat sore, 3 Dzulhijjah 1441 H, 24 Juli 2020 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bacaan dzikir ringan Dzikir dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang dzikir ringan dzikir setelah shalat dzikir shalat dzikir sore hadits arbain jamiul ulum wal hikam keutamaan dzikir majelis dzikir

Inilah Manfaat Dzikir yang Luar Biasa (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #50)

Inilah manfaat dzikir yang luar biasa. Coba deh kaji keutamaannya dari hadits jaami’ al-‘ulum wa al-hikam ini. Daftar Isi tutup 1. Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab 1.1. Faedah hadits 1.2. Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. 1.2.1. Referensi: Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab الحَدِيْثُ الخَمْسُوْنَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ : أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ ، فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا ، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جاَمِعٌ ؟ قال : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – )) خَرَّجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ بِهَذَا اللَّفْظِ . Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam (amalan sunnah) itu amat banyak yang mesti kami jalankan. Maka mana yang mesti kami pegang (setelah menunaikan yang wajib, pen.)?” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah (maksudnya: terus meneruslah berdzikir kepada Allah, pen).” (HR. Ahmad dengan lafazh seperti ini) [HR. Ahmad, 4:188; Tirmidzi, no. 3375; Ibnu Majah, no. 3793; Ibnu Hibban, no. 2317; Al-Hakim, 1:495. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat pula penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, 9:305]. Baca Juga: Kunci Rezeki itu Tawakal kepada Allah (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #49) Faedah hadits Pertama: Para sahabat begitu bersemangat dalam bertanya berkaitan dengan urusan agama mereka. Kedua: Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42) وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737) Yang dimaksud banyak berdzikir di sini adalah berdzikir ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring, termasuk pula dalam keadaan suci dan berhadats. Ketiga: Para ulama menghitung dzikir dengan jarinya. Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari 40.000 kali. Ini selain Al-Qur’an yang beliau baca. Ketika ia meninggal dunia, ia diletakkan di atas ranjangnya untuk dimandikan, maka isyarat jari yang ia gunakan untuk menghitung dzikir masih terlihat. Ada yang bertanya pada ‘Umair bin Hani, bahwa ia tak pernah kelihatan lelah untuk berdzikir. Ketika ditanya berapa jumlah bacaan tasbih beliau, ia jawab bahwa 100.000 kali tasbih dan itu dihitung dengan jari jemari. Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi, no. 3583; Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir). Keempat: Jika seseorang telah benar-benar mengenal Allah, ia akan berdzikir tanpa ada beban sama sekali. Kelima: Berdzikir adalah kelezatan bagi orang-orang benar-benar mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28) Keenam: Ada keutamaan berdzikir saat orang-orang itu lalai. Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Ketujuh: Allah telah mewajibkan pada kaum muslimin untuk berdzikir kepada Allah pada siang dan malam dengan mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya. Dari shalat lima waktu itu ada shalat rawatib (qabliyah dan bakdiyah), di mana shalat rawatib itu berfungsi sebagai penutup kekurangan atau sebagai tambahan dari yang wajib. Kedelapan: Antara shalat Isya dan shalat Shubuh ada shalat malam dan shalat witir. Antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur ada shalat Dhuha. Kesembilan: Dzikir dengan lisan disunnahkan setiap waktu dan ada yang dianjurkan pada waktu tertentu seperti: Dzikir bakda shalat wajib. Dzikir pagi dan petang pada bakda shubuh dan bakda ashar (yang tidak ada shalat sunnah setelah dua shalat tersebut). Dzikir sebelum tidur, dianjurkan berwudhu sebelumnya. Dzikir setelah bangun tidur. Beristighfar pada waktu sahur. Dzikir ketika makan, minum, dan mengambil pakaian. Dzikir ketika bersin. Dzikir ketika melihat yang lain terkena musibah. Dzikir ketika masuk pasar. Dzikir ketika mendengar suara ayam berkokok pada malam hari. Dzikir ketika mendengar petir. Dzikir ketika turun hujan. Dzikir ketika turun musibah. Dzikir ketika safar. Dzikir ketika meminta perlindungan saat marah. Doa istikharah kepada Allah ketika memilih sesuatu yang belum nampak kebaikannya. Taubat dan istighfar atas dosa kecil dan dosa besar. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa yang menjaga dzikir pada waktu-waktu tadi, dialah yang disebut orang yang rajin berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:529) Mayoritas bahasan di atas diambil dari Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam pada bahasan hadits ke-50.   Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.  Baca Juga: Manfaat Dzikir Pagi Petang untuk Melindungi Keluarga dan Harta Manfaat Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya Referensi: Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayhan & Darus Salam.   Selesai disusun Jumat sore, 3 Dzulhijjah 1441 H, 24 Juli 2020 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bacaan dzikir ringan Dzikir dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang dzikir ringan dzikir setelah shalat dzikir shalat dzikir sore hadits arbain jamiul ulum wal hikam keutamaan dzikir majelis dzikir
Inilah manfaat dzikir yang luar biasa. Coba deh kaji keutamaannya dari hadits jaami’ al-‘ulum wa al-hikam ini. Daftar Isi tutup 1. Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab 1.1. Faedah hadits 1.2. Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. 1.2.1. Referensi: Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab الحَدِيْثُ الخَمْسُوْنَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ : أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ ، فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا ، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جاَمِعٌ ؟ قال : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – )) خَرَّجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ بِهَذَا اللَّفْظِ . Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam (amalan sunnah) itu amat banyak yang mesti kami jalankan. Maka mana yang mesti kami pegang (setelah menunaikan yang wajib, pen.)?” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah (maksudnya: terus meneruslah berdzikir kepada Allah, pen).” (HR. Ahmad dengan lafazh seperti ini) [HR. Ahmad, 4:188; Tirmidzi, no. 3375; Ibnu Majah, no. 3793; Ibnu Hibban, no. 2317; Al-Hakim, 1:495. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat pula penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, 9:305]. Baca Juga: Kunci Rezeki itu Tawakal kepada Allah (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #49) Faedah hadits Pertama: Para sahabat begitu bersemangat dalam bertanya berkaitan dengan urusan agama mereka. Kedua: Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42) وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737) Yang dimaksud banyak berdzikir di sini adalah berdzikir ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring, termasuk pula dalam keadaan suci dan berhadats. Ketiga: Para ulama menghitung dzikir dengan jarinya. Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari 40.000 kali. Ini selain Al-Qur’an yang beliau baca. Ketika ia meninggal dunia, ia diletakkan di atas ranjangnya untuk dimandikan, maka isyarat jari yang ia gunakan untuk menghitung dzikir masih terlihat. Ada yang bertanya pada ‘Umair bin Hani, bahwa ia tak pernah kelihatan lelah untuk berdzikir. Ketika ditanya berapa jumlah bacaan tasbih beliau, ia jawab bahwa 100.000 kali tasbih dan itu dihitung dengan jari jemari. Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi, no. 3583; Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir). Keempat: Jika seseorang telah benar-benar mengenal Allah, ia akan berdzikir tanpa ada beban sama sekali. Kelima: Berdzikir adalah kelezatan bagi orang-orang benar-benar mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28) Keenam: Ada keutamaan berdzikir saat orang-orang itu lalai. Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Ketujuh: Allah telah mewajibkan pada kaum muslimin untuk berdzikir kepada Allah pada siang dan malam dengan mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya. Dari shalat lima waktu itu ada shalat rawatib (qabliyah dan bakdiyah), di mana shalat rawatib itu berfungsi sebagai penutup kekurangan atau sebagai tambahan dari yang wajib. Kedelapan: Antara shalat Isya dan shalat Shubuh ada shalat malam dan shalat witir. Antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur ada shalat Dhuha. Kesembilan: Dzikir dengan lisan disunnahkan setiap waktu dan ada yang dianjurkan pada waktu tertentu seperti: Dzikir bakda shalat wajib. Dzikir pagi dan petang pada bakda shubuh dan bakda ashar (yang tidak ada shalat sunnah setelah dua shalat tersebut). Dzikir sebelum tidur, dianjurkan berwudhu sebelumnya. Dzikir setelah bangun tidur. Beristighfar pada waktu sahur. Dzikir ketika makan, minum, dan mengambil pakaian. Dzikir ketika bersin. Dzikir ketika melihat yang lain terkena musibah. Dzikir ketika masuk pasar. Dzikir ketika mendengar suara ayam berkokok pada malam hari. Dzikir ketika mendengar petir. Dzikir ketika turun hujan. Dzikir ketika turun musibah. Dzikir ketika safar. Dzikir ketika meminta perlindungan saat marah. Doa istikharah kepada Allah ketika memilih sesuatu yang belum nampak kebaikannya. Taubat dan istighfar atas dosa kecil dan dosa besar. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa yang menjaga dzikir pada waktu-waktu tadi, dialah yang disebut orang yang rajin berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:529) Mayoritas bahasan di atas diambil dari Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam pada bahasan hadits ke-50.   Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.  Baca Juga: Manfaat Dzikir Pagi Petang untuk Melindungi Keluarga dan Harta Manfaat Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya Referensi: Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayhan & Darus Salam.   Selesai disusun Jumat sore, 3 Dzulhijjah 1441 H, 24 Juli 2020 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bacaan dzikir ringan Dzikir dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang dzikir ringan dzikir setelah shalat dzikir shalat dzikir sore hadits arbain jamiul ulum wal hikam keutamaan dzikir majelis dzikir


Inilah manfaat dzikir yang luar biasa. Coba deh kaji keutamaannya dari hadits jaami’ al-‘ulum wa al-hikam ini. Daftar Isi tutup 1. Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab 1.1. Faedah hadits 1.2. Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. 1.2.1. Referensi: Hadits Ke-50 dari Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab الحَدِيْثُ الخَمْسُوْنَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ : أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ ، فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا ، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جاَمِعٌ ؟ قال : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – )) خَرَّجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ بِهَذَا اللَّفْظِ . Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam (amalan sunnah) itu amat banyak yang mesti kami jalankan. Maka mana yang mesti kami pegang (setelah menunaikan yang wajib, pen.)?” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah (maksudnya: terus meneruslah berdzikir kepada Allah, pen).” (HR. Ahmad dengan lafazh seperti ini) [HR. Ahmad, 4:188; Tirmidzi, no. 3375; Ibnu Majah, no. 3793; Ibnu Hibban, no. 2317; Al-Hakim, 1:495. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat pula penjelasan hadits ini dalam Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, 9:305]. Baca Juga: Kunci Rezeki itu Tawakal kepada Allah (Hadits Jamiul Ulum wal Hikam #49) Faedah hadits Pertama: Para sahabat begitu bersemangat dalam bertanya berkaitan dengan urusan agama mereka. Kedua: Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir. Allah juga memuji orang yang banyak berdzikir tersebut. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42) وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737) Yang dimaksud banyak berdzikir di sini adalah berdzikir ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring, termasuk pula dalam keadaan suci dan berhadats. Ketiga: Para ulama menghitung dzikir dengan jarinya. Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari 40.000 kali. Ini selain Al-Qur’an yang beliau baca. Ketika ia meninggal dunia, ia diletakkan di atas ranjangnya untuk dimandikan, maka isyarat jari yang ia gunakan untuk menghitung dzikir masih terlihat. Ada yang bertanya pada ‘Umair bin Hani, bahwa ia tak pernah kelihatan lelah untuk berdzikir. Ketika ditanya berapa jumlah bacaan tasbih beliau, ia jawab bahwa 100.000 kali tasbih dan itu dihitung dengan jari jemari. Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi, no. 3583; Abu Daud, no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al-Hafizh Abu Thahir). Keempat: Jika seseorang telah benar-benar mengenal Allah, ia akan berdzikir tanpa ada beban sama sekali. Kelima: Berdzikir adalah kelezatan bagi orang-orang benar-benar mengenal Allah. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28) Keenam: Ada keutamaan berdzikir saat orang-orang itu lalai. Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Ketujuh: Allah telah mewajibkan pada kaum muslimin untuk berdzikir kepada Allah pada siang dan malam dengan mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya. Dari shalat lima waktu itu ada shalat rawatib (qabliyah dan bakdiyah), di mana shalat rawatib itu berfungsi sebagai penutup kekurangan atau sebagai tambahan dari yang wajib. Kedelapan: Antara shalat Isya dan shalat Shubuh ada shalat malam dan shalat witir. Antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur ada shalat Dhuha. Kesembilan: Dzikir dengan lisan disunnahkan setiap waktu dan ada yang dianjurkan pada waktu tertentu seperti: Dzikir bakda shalat wajib. Dzikir pagi dan petang pada bakda shubuh dan bakda ashar (yang tidak ada shalat sunnah setelah dua shalat tersebut). Dzikir sebelum tidur, dianjurkan berwudhu sebelumnya. Dzikir setelah bangun tidur. Beristighfar pada waktu sahur. Dzikir ketika makan, minum, dan mengambil pakaian. Dzikir ketika bersin. Dzikir ketika melihat yang lain terkena musibah. Dzikir ketika masuk pasar. Dzikir ketika mendengar suara ayam berkokok pada malam hari. Dzikir ketika mendengar petir. Dzikir ketika turun hujan. Dzikir ketika turun musibah. Dzikir ketika safar. Dzikir ketika meminta perlindungan saat marah. Doa istikharah kepada Allah ketika memilih sesuatu yang belum nampak kebaikannya. Taubat dan istighfar atas dosa kecil dan dosa besar. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Siapa yang menjaga dzikir pada waktu-waktu tadi, dialah yang disebut orang yang rajin berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:529) Mayoritas bahasan di atas diambil dari Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam pada bahasan hadits ke-50.   Tulisan ini jadi bahasan terakhir kajian Hadits Arbain dan Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.   Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.  Baca Juga: Manfaat Dzikir Pagi Petang untuk Melindungi Keluarga dan Harta Manfaat Dzikir Petang Ini untuk Mendapatkan Perlindungan dari Bahaya Referensi: Fath Al-Qawi Al-Matin fii Syarh Al-Arba’in wa Tatimmah Al-Khamsiin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayhan & Darus Salam.   Selesai disusun Jumat sore, 3 Dzulhijjah 1441 H, 24 Juli 2020 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bacaan dzikir ringan Dzikir dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang dzikir ringan dzikir setelah shalat dzikir shalat dzikir sore hadits arbain jamiul ulum wal hikam keutamaan dzikir majelis dzikir

Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan

Salah satu motivasi bagi mereka yang ingin menikah adalah janji Allah kepada mereka yang menikah untuk menjaga kehormatan. Di zaman ini fitnah syahwat begitu besar dengan adanya internet , sosial media dan pergaulan yang sudah tidak sesuai fitrah manusia. Menikah adalah salah satu solusi untuk menjaga kehormatan diri dan mencegah terjerumus dalam perzinahan. Oleh karena itu menikah menyempurnakan setengah agama, yaitu terlindungi dari fitnah syahwat dan zina karena ia sudah menyalurkannya kepada yang halal, seorang wanita yang ia cintai yaitu istrinya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” [HR. Al Baihaqi, As Silsilah Ash Shahihah no. 625]Al-Qurthubi menjelaskan maksud hadits,“Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ [Tafsir al-Qurthubi, 9/327]Allah berjanji akan menolong dan membantu orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ “Ada tiga golongan, Allah mewajibkan atas Dzatnya untuk membantunya: (yaitu) Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri dan budak yang berusaha membeli dirinya sendiri hingga menjadi orang merdeka “. [HR. Ahmad & at-Tirmidzi] Dan kita tentu yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janjinya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 7).Bagi para pemuda dan jomblo, apabila ingin menikah janganlah ragu-ragu. Hendaknya luruskan niat menikah dan sebelum mengambil keputusan hendaknya berdiskusi serta musyawarah dahulu dengan orang tua, ustadz dan teman-teman yang dahulu punya pengalaman yang sama, yaitu ingin segera menikah untuk menjaga kehormatan.Misalnya anda sedang kuliah dan ingin menikah, anda bisa melakukan diskusi dan musyawarah dengan orang tua dan ustadz. Diskusikan dengan mereka yang punya pengalaman menikah ketika akan kuliah, bisa jadi keadaan dan pengalaman setiap orang berbeda-beda. Insyaallah semua ada solusi apabila bisa didiskusikan dan dimusywarahkan baik-baik. Apabila kita sudah musyawarah dan berazam kuat, hendaknya kita lakukan dan kemudian bertawakkal kepada Allah setelah berusaha dan menempuh sebab.Allah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ “Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [QS. Ali ‘Imran: 159]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Memajang Foto Dalam Islam, Tuntunan Sholat Nabi, Hadits Tentang Malam Hari, Wujud Asli Jin, Jawaban Salam Untuk Non Muslim

Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan

Salah satu motivasi bagi mereka yang ingin menikah adalah janji Allah kepada mereka yang menikah untuk menjaga kehormatan. Di zaman ini fitnah syahwat begitu besar dengan adanya internet , sosial media dan pergaulan yang sudah tidak sesuai fitrah manusia. Menikah adalah salah satu solusi untuk menjaga kehormatan diri dan mencegah terjerumus dalam perzinahan. Oleh karena itu menikah menyempurnakan setengah agama, yaitu terlindungi dari fitnah syahwat dan zina karena ia sudah menyalurkannya kepada yang halal, seorang wanita yang ia cintai yaitu istrinya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” [HR. Al Baihaqi, As Silsilah Ash Shahihah no. 625]Al-Qurthubi menjelaskan maksud hadits,“Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ [Tafsir al-Qurthubi, 9/327]Allah berjanji akan menolong dan membantu orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ “Ada tiga golongan, Allah mewajibkan atas Dzatnya untuk membantunya: (yaitu) Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri dan budak yang berusaha membeli dirinya sendiri hingga menjadi orang merdeka “. [HR. Ahmad & at-Tirmidzi] Dan kita tentu yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janjinya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 7).Bagi para pemuda dan jomblo, apabila ingin menikah janganlah ragu-ragu. Hendaknya luruskan niat menikah dan sebelum mengambil keputusan hendaknya berdiskusi serta musyawarah dahulu dengan orang tua, ustadz dan teman-teman yang dahulu punya pengalaman yang sama, yaitu ingin segera menikah untuk menjaga kehormatan.Misalnya anda sedang kuliah dan ingin menikah, anda bisa melakukan diskusi dan musyawarah dengan orang tua dan ustadz. Diskusikan dengan mereka yang punya pengalaman menikah ketika akan kuliah, bisa jadi keadaan dan pengalaman setiap orang berbeda-beda. Insyaallah semua ada solusi apabila bisa didiskusikan dan dimusywarahkan baik-baik. Apabila kita sudah musyawarah dan berazam kuat, hendaknya kita lakukan dan kemudian bertawakkal kepada Allah setelah berusaha dan menempuh sebab.Allah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ “Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [QS. Ali ‘Imran: 159]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Memajang Foto Dalam Islam, Tuntunan Sholat Nabi, Hadits Tentang Malam Hari, Wujud Asli Jin, Jawaban Salam Untuk Non Muslim
Salah satu motivasi bagi mereka yang ingin menikah adalah janji Allah kepada mereka yang menikah untuk menjaga kehormatan. Di zaman ini fitnah syahwat begitu besar dengan adanya internet , sosial media dan pergaulan yang sudah tidak sesuai fitrah manusia. Menikah adalah salah satu solusi untuk menjaga kehormatan diri dan mencegah terjerumus dalam perzinahan. Oleh karena itu menikah menyempurnakan setengah agama, yaitu terlindungi dari fitnah syahwat dan zina karena ia sudah menyalurkannya kepada yang halal, seorang wanita yang ia cintai yaitu istrinya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” [HR. Al Baihaqi, As Silsilah Ash Shahihah no. 625]Al-Qurthubi menjelaskan maksud hadits,“Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ [Tafsir al-Qurthubi, 9/327]Allah berjanji akan menolong dan membantu orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ “Ada tiga golongan, Allah mewajibkan atas Dzatnya untuk membantunya: (yaitu) Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri dan budak yang berusaha membeli dirinya sendiri hingga menjadi orang merdeka “. [HR. Ahmad & at-Tirmidzi] Dan kita tentu yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janjinya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 7).Bagi para pemuda dan jomblo, apabila ingin menikah janganlah ragu-ragu. Hendaknya luruskan niat menikah dan sebelum mengambil keputusan hendaknya berdiskusi serta musyawarah dahulu dengan orang tua, ustadz dan teman-teman yang dahulu punya pengalaman yang sama, yaitu ingin segera menikah untuk menjaga kehormatan.Misalnya anda sedang kuliah dan ingin menikah, anda bisa melakukan diskusi dan musyawarah dengan orang tua dan ustadz. Diskusikan dengan mereka yang punya pengalaman menikah ketika akan kuliah, bisa jadi keadaan dan pengalaman setiap orang berbeda-beda. Insyaallah semua ada solusi apabila bisa didiskusikan dan dimusywarahkan baik-baik. Apabila kita sudah musyawarah dan berazam kuat, hendaknya kita lakukan dan kemudian bertawakkal kepada Allah setelah berusaha dan menempuh sebab.Allah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ “Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [QS. Ali ‘Imran: 159]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Memajang Foto Dalam Islam, Tuntunan Sholat Nabi, Hadits Tentang Malam Hari, Wujud Asli Jin, Jawaban Salam Untuk Non Muslim


Salah satu motivasi bagi mereka yang ingin menikah adalah janji Allah kepada mereka yang menikah untuk menjaga kehormatan. Di zaman ini fitnah syahwat begitu besar dengan adanya internet , sosial media dan pergaulan yang sudah tidak sesuai fitrah manusia. Menikah adalah salah satu solusi untuk menjaga kehormatan diri dan mencegah terjerumus dalam perzinahan. Oleh karena itu menikah menyempurnakan setengah agama, yaitu terlindungi dari fitnah syahwat dan zina karena ia sudah menyalurkannya kepada yang halal, seorang wanita yang ia cintai yaitu istrinya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” [HR. Al Baihaqi, As Silsilah Ash Shahihah no. 625]Al-Qurthubi menjelaskan maksud hadits,“Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ [Tafsir al-Qurthubi, 9/327]Allah berjanji akan menolong dan membantu orang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ الْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ “Ada tiga golongan, Allah mewajibkan atas Dzatnya untuk membantunya: (yaitu) Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri dan budak yang berusaha membeli dirinya sendiri hingga menjadi orang merdeka “. [HR. Ahmad & at-Tirmidzi] Dan kita tentu yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janjinya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 7).Bagi para pemuda dan jomblo, apabila ingin menikah janganlah ragu-ragu. Hendaknya luruskan niat menikah dan sebelum mengambil keputusan hendaknya berdiskusi serta musyawarah dahulu dengan orang tua, ustadz dan teman-teman yang dahulu punya pengalaman yang sama, yaitu ingin segera menikah untuk menjaga kehormatan.Misalnya anda sedang kuliah dan ingin menikah, anda bisa melakukan diskusi dan musyawarah dengan orang tua dan ustadz. Diskusikan dengan mereka yang punya pengalaman menikah ketika akan kuliah, bisa jadi keadaan dan pengalaman setiap orang berbeda-beda. Insyaallah semua ada solusi apabila bisa didiskusikan dan dimusywarahkan baik-baik. Apabila kita sudah musyawarah dan berazam kuat, hendaknya kita lakukan dan kemudian bertawakkal kepada Allah setelah berusaha dan menempuh sebab.Allah Ta’ala berfirman,وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ “Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [QS. Ali ‘Imran: 159]Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat@Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Memajang Foto Dalam Islam, Tuntunan Sholat Nabi, Hadits Tentang Malam Hari, Wujud Asli Jin, Jawaban Salam Untuk Non Muslim

Berdoa Antara Adzan dan Iqamah

Salah waktu terkabulnya doa adalah berdoa di antara adzan dan iqamah. Hal ini, wallahu Ta’ala a’lam, karena kemuliaan waktu tersebut. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim bersegera untuk hadir ke masjid dan berdoa di antara adzan dan iqamah. Dia memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala, dan berharap bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doanya. Karena siapa saja yang diberikan taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk berdoa, berarti Allah Ta’ala menghendaki untuk mengabulkan doa tersebut.Hal ini karena Allah Ta’ala mengatakan,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu).” (HR. Ahmad no. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Dalam riwayat yang lain disebutkan,الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi no. 212 dan 3595, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz,لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud no. 521, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Terkabulnya doa ini tentu saja jika terpenuhi syarat-syarat berdoa dan juga mengamalkan adab-adab ketika berdoa. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,ومن الأوقات التي يُرجى فيها قبولُ الدعاء ما بين الأذان والإقامة لِمَا ثبت عن أنس بن مالك رضي الله عنه“Di antara waktu yang diharapkan terkabulnya adalah waktu yang terletak di antara adzan dan iqamah. Hal ini berdasarkan hadits valid yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … “ kemudian beliau pun menyebutkan hadits di atas. (Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar, 2: 102)Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin memperhatikan hal ini dan tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berfaidah ketika sedang menunggu iqamat. Misalnya, justru ngobrol di luar masjid dan aktivitas sia-sia lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 11 Dzulqa’dah 1441/ 2 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Agama Tanpa Ilmu, Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab, Ayat Tentang Marah, Wanita Sombong Dalam Islam, Bacaan Setelah Ruku

Berdoa Antara Adzan dan Iqamah

Salah waktu terkabulnya doa adalah berdoa di antara adzan dan iqamah. Hal ini, wallahu Ta’ala a’lam, karena kemuliaan waktu tersebut. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim bersegera untuk hadir ke masjid dan berdoa di antara adzan dan iqamah. Dia memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala, dan berharap bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doanya. Karena siapa saja yang diberikan taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk berdoa, berarti Allah Ta’ala menghendaki untuk mengabulkan doa tersebut.Hal ini karena Allah Ta’ala mengatakan,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu).” (HR. Ahmad no. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Dalam riwayat yang lain disebutkan,الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi no. 212 dan 3595, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz,لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud no. 521, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Terkabulnya doa ini tentu saja jika terpenuhi syarat-syarat berdoa dan juga mengamalkan adab-adab ketika berdoa. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,ومن الأوقات التي يُرجى فيها قبولُ الدعاء ما بين الأذان والإقامة لِمَا ثبت عن أنس بن مالك رضي الله عنه“Di antara waktu yang diharapkan terkabulnya adalah waktu yang terletak di antara adzan dan iqamah. Hal ini berdasarkan hadits valid yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … “ kemudian beliau pun menyebutkan hadits di atas. (Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar, 2: 102)Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin memperhatikan hal ini dan tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berfaidah ketika sedang menunggu iqamat. Misalnya, justru ngobrol di luar masjid dan aktivitas sia-sia lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 11 Dzulqa’dah 1441/ 2 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Agama Tanpa Ilmu, Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab, Ayat Tentang Marah, Wanita Sombong Dalam Islam, Bacaan Setelah Ruku
Salah waktu terkabulnya doa adalah berdoa di antara adzan dan iqamah. Hal ini, wallahu Ta’ala a’lam, karena kemuliaan waktu tersebut. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim bersegera untuk hadir ke masjid dan berdoa di antara adzan dan iqamah. Dia memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala, dan berharap bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doanya. Karena siapa saja yang diberikan taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk berdoa, berarti Allah Ta’ala menghendaki untuk mengabulkan doa tersebut.Hal ini karena Allah Ta’ala mengatakan,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu).” (HR. Ahmad no. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Dalam riwayat yang lain disebutkan,الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi no. 212 dan 3595, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz,لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud no. 521, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Terkabulnya doa ini tentu saja jika terpenuhi syarat-syarat berdoa dan juga mengamalkan adab-adab ketika berdoa. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,ومن الأوقات التي يُرجى فيها قبولُ الدعاء ما بين الأذان والإقامة لِمَا ثبت عن أنس بن مالك رضي الله عنه“Di antara waktu yang diharapkan terkabulnya adalah waktu yang terletak di antara adzan dan iqamah. Hal ini berdasarkan hadits valid yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … “ kemudian beliau pun menyebutkan hadits di atas. (Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar, 2: 102)Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin memperhatikan hal ini dan tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berfaidah ketika sedang menunggu iqamat. Misalnya, justru ngobrol di luar masjid dan aktivitas sia-sia lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 11 Dzulqa’dah 1441/ 2 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Agama Tanpa Ilmu, Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab, Ayat Tentang Marah, Wanita Sombong Dalam Islam, Bacaan Setelah Ruku


Salah waktu terkabulnya doa adalah berdoa di antara adzan dan iqamah. Hal ini, wallahu Ta’ala a’lam, karena kemuliaan waktu tersebut. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim bersegera untuk hadir ke masjid dan berdoa di antara adzan dan iqamah. Dia memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala, dan berharap bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doanya. Karena siapa saja yang diberikan taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala untuk berdoa, berarti Allah Ta’ala menghendaki untuk mengabulkan doa tersebut.Hal ini karena Allah Ta’ala mengatakan,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu).” (HR. Ahmad no. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Dalam riwayat yang lain disebutkan,الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi no. 212 dan 3595, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz,لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ“Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud no. 521, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)Terkabulnya doa ini tentu saja jika terpenuhi syarat-syarat berdoa dan juga mengamalkan adab-adab ketika berdoa. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,ومن الأوقات التي يُرجى فيها قبولُ الدعاء ما بين الأذان والإقامة لِمَا ثبت عن أنس بن مالك رضي الله عنه“Di antara waktu yang diharapkan terkabulnya adalah waktu yang terletak di antara adzan dan iqamah. Hal ini berdasarkan hadits valid yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … “ kemudian beliau pun menyebutkan hadits di atas. (Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar, 2: 102)Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin memperhatikan hal ini dan tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berfaidah ketika sedang menunggu iqamat. Misalnya, justru ngobrol di luar masjid dan aktivitas sia-sia lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 11 Dzulqa’dah 1441/ 2 Juli 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Agama Tanpa Ilmu, Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab, Ayat Tentang Marah, Wanita Sombong Dalam Islam, Bacaan Setelah Ruku

Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad

Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad? Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam. Daftar Isi tutup 1. PENGERTIAN HASAD 2. LARANGAN HASAD 3. SIFAT MANUSIA SAAT HASAD 4. TINGKATAN HASAD 5. CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD 6. SEBAB TERJADINYA HASAD PENGERTIAN HASAD Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368. Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah, الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720) Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).   LARANGAN HASAD Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ». “Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)   SIFAT MANUSIA SAAT HASAD Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan. Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu: Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela. Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa. Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama. Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun. يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” (QS. Al-Qasas: 79) Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ. “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.” (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815) Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia. Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263.   TINGKATAN HASAD 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 32) 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama. 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816) Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Ini adalah ringkasan dari Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah.   CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD Pertama: Bertawakal kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kedua: Bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120) Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad. Dari hadits Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, “Kami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, ‘Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku lantas bertanya, “Apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab, قُلْ (هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ ‘Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.’” (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Benteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 726) Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu. Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Ya’qub pada putranya Nabi Yusuf ‘alaihimas salam, قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.” (QS. Yusuf: 5) Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk, « الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفُلْ ثَلاَثًا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ » “Mimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.” (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu) Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia. Ibnul Qayyim rahimahullah secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 727-728. Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ , إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 99-100) Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, ۞ ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadi sunnatullah: لَوْ بَغَى جَبَلٌ عَلَى جَبَلٍ جَعَل َالبَاغِي مِنْهُمَا دَكًّا Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ, وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ , وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 34-36). Juga dalam ayat, أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qasas: 54) Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri saat perang Uhud malah berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ “Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk: أَحَدُهَا عَفْوُهُ عَنْهُمْ وَالثَّانِي اِسْتِغْفَارُهُ لَهُمْ الثَّالِثُ اِعْتِذَارُهُ عَنْهُمْ بِأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ الرَّابِعُ اِسْتِعْطَافُهُ لَهُمْ بِإِضَافَتِهِمْ إِلَيْهِ Memaafkan. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya. Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa. Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا “‘Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ‘ain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ‘ain), maka mandilah.” (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini). Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah. Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat. Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi yaitu At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.   SEBAB TERJADINYA HASAD Permusuhan dan kebencian. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Pelit membagi kebaikan pada orang lain. Lemahnya iman. Kesombongan. Tidak ingin dikalahkan yang lain. Takut disaingi. Takut diejek orang lain. Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi di kitab At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753. Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad. Baca Juga: Pandangan Hasad Lewat Gambar Hasad Sesama Ustadz — Selesai disusun di Darush Sholihin, Rabu siang, 1 Dzulhijjah 1441 H (22 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdengki hasad iri hati surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek

Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad

Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad? Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam. Daftar Isi tutup 1. PENGERTIAN HASAD 2. LARANGAN HASAD 3. SIFAT MANUSIA SAAT HASAD 4. TINGKATAN HASAD 5. CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD 6. SEBAB TERJADINYA HASAD PENGERTIAN HASAD Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368. Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah, الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720) Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).   LARANGAN HASAD Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ». “Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)   SIFAT MANUSIA SAAT HASAD Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan. Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu: Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela. Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa. Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama. Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun. يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” (QS. Al-Qasas: 79) Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ. “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.” (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815) Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia. Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263.   TINGKATAN HASAD 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 32) 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama. 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816) Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Ini adalah ringkasan dari Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah.   CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD Pertama: Bertawakal kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kedua: Bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120) Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad. Dari hadits Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, “Kami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, ‘Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku lantas bertanya, “Apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab, قُلْ (هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ ‘Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.’” (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Benteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 726) Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu. Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Ya’qub pada putranya Nabi Yusuf ‘alaihimas salam, قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.” (QS. Yusuf: 5) Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk, « الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفُلْ ثَلاَثًا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ » “Mimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.” (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu) Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia. Ibnul Qayyim rahimahullah secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 727-728. Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ , إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 99-100) Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, ۞ ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadi sunnatullah: لَوْ بَغَى جَبَلٌ عَلَى جَبَلٍ جَعَل َالبَاغِي مِنْهُمَا دَكًّا Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ, وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ , وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 34-36). Juga dalam ayat, أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qasas: 54) Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri saat perang Uhud malah berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ “Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk: أَحَدُهَا عَفْوُهُ عَنْهُمْ وَالثَّانِي اِسْتِغْفَارُهُ لَهُمْ الثَّالِثُ اِعْتِذَارُهُ عَنْهُمْ بِأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ الرَّابِعُ اِسْتِعْطَافُهُ لَهُمْ بِإِضَافَتِهِمْ إِلَيْهِ Memaafkan. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya. Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa. Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا “‘Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ‘ain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ‘ain), maka mandilah.” (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini). Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah. Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat. Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi yaitu At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.   SEBAB TERJADINYA HASAD Permusuhan dan kebencian. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Pelit membagi kebaikan pada orang lain. Lemahnya iman. Kesombongan. Tidak ingin dikalahkan yang lain. Takut disaingi. Takut diejek orang lain. Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi di kitab At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753. Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad. Baca Juga: Pandangan Hasad Lewat Gambar Hasad Sesama Ustadz — Selesai disusun di Darush Sholihin, Rabu siang, 1 Dzulhijjah 1441 H (22 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdengki hasad iri hati surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek
Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad? Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam. Daftar Isi tutup 1. PENGERTIAN HASAD 2. LARANGAN HASAD 3. SIFAT MANUSIA SAAT HASAD 4. TINGKATAN HASAD 5. CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD 6. SEBAB TERJADINYA HASAD PENGERTIAN HASAD Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368. Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah, الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720) Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).   LARANGAN HASAD Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ». “Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)   SIFAT MANUSIA SAAT HASAD Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan. Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu: Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela. Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa. Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama. Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun. يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” (QS. Al-Qasas: 79) Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ. “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.” (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815) Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia. Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263.   TINGKATAN HASAD 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 32) 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama. 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816) Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Ini adalah ringkasan dari Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah.   CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD Pertama: Bertawakal kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kedua: Bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120) Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad. Dari hadits Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, “Kami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, ‘Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku lantas bertanya, “Apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab, قُلْ (هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ ‘Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.’” (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Benteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 726) Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu. Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Ya’qub pada putranya Nabi Yusuf ‘alaihimas salam, قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.” (QS. Yusuf: 5) Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk, « الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفُلْ ثَلاَثًا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ » “Mimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.” (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu) Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia. Ibnul Qayyim rahimahullah secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 727-728. Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ , إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 99-100) Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, ۞ ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadi sunnatullah: لَوْ بَغَى جَبَلٌ عَلَى جَبَلٍ جَعَل َالبَاغِي مِنْهُمَا دَكًّا Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ, وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ , وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 34-36). Juga dalam ayat, أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qasas: 54) Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri saat perang Uhud malah berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ “Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk: أَحَدُهَا عَفْوُهُ عَنْهُمْ وَالثَّانِي اِسْتِغْفَارُهُ لَهُمْ الثَّالِثُ اِعْتِذَارُهُ عَنْهُمْ بِأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ الرَّابِعُ اِسْتِعْطَافُهُ لَهُمْ بِإِضَافَتِهِمْ إِلَيْهِ Memaafkan. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya. Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa. Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا “‘Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ‘ain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ‘ain), maka mandilah.” (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini). Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah. Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat. Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi yaitu At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.   SEBAB TERJADINYA HASAD Permusuhan dan kebencian. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Pelit membagi kebaikan pada orang lain. Lemahnya iman. Kesombongan. Tidak ingin dikalahkan yang lain. Takut disaingi. Takut diejek orang lain. Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi di kitab At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753. Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad. Baca Juga: Pandangan Hasad Lewat Gambar Hasad Sesama Ustadz — Selesai disusun di Darush Sholihin, Rabu siang, 1 Dzulhijjah 1441 H (22 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdengki hasad iri hati surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek


Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad? Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Baiknya bahasan ini dikaji lebih mendalam. Daftar Isi tutup 1. PENGERTIAN HASAD 2. LARANGAN HASAD 3. SIFAT MANUSIA SAAT HASAD 4. TINGKATAN HASAD 5. CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD 6. SEBAB TERJADINYA HASAD PENGERTIAN HASAD Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368. Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah, الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720) Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).   LARANGAN HASAD Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ». “Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)   SIFAT MANUSIA SAAT HASAD Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan. Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu: Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela. Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa. Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama. Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun. يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” (QS. Al-Qasas: 79) Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ. “Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.” (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815) Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia. Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263.   TINGKATAN HASAD 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 32) 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama. 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816) Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Ini adalah ringkasan dari Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah.   CARA MENGHADAPI DAMPAK JELEK ORANG YANG HASAD Pertama: Bertawakal kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Kedua: Bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120) Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad. Dari hadits Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, “Kami pernah keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, ‘Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku lantas bertanya, “Apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab, قُلْ (هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ ‘Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu.’” (HR. Tirmidzi, no. 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Benteng yang paling kuat untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meminta perlindungan kepada Allah Rabb semesta alam.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 726) Keempat: Jangan beritahu orang yang hasad tentang nikmatmu. Coba ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Ya’qub pada putranya Nabi Yusuf ‘alaihimas salam, قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.” (QS. Yusuf: 5) Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang mimpi baik dan mimpi buruk, « الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفُلْ ثَلاَثًا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ » “Mimpi yang baik itu dari Allah. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang disenangi, janganlah menceritakannya selain pada orang yang menyukai saja. Namun, jika bermimpi yang tidak disukai, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan juga dari kejahatan setan. Kemudian, meludahlah sebanyak tiga kali dan jangan menceritakan hal tadi kepada seorang pun. Karena mimpi tersebut tidak akan memudaratkan orang yang bermimpi tadi.” (HR. Bukhari, no. 7044 dan Muslim, no. 2261, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu) Kelima: Jangan ambil peduli dengan orang yang hasad, sibukkan diri dan tidak banyak memikirkan dia. Ibnul Qayyim rahimahullah secara ringkas mengatakan bahwa jika ada yang hasad pada kita, tidak usah dipedulikan, tidak perlu takut, dan hati kita tidak usah memikirkan dia. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 727-728. Keenam: Menghadap dan ikhlas kepada Allah, dengan menyibukkan hati untuk mencintai, rida, dan bertaubat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ , إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 99-100) Ketujuh: Tabah (sabar) dalam menghadapi orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, ۞ ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj: 60). Jika Allah benar-benar memberikan jaminan, padahal ia telah membalas sesuai dengan haknya. Bagaimana lagi jika seseorang yang tidak membalas sama sekali, berarti ia bersabar, ia terus dizalimi dan ia mau bersabar. Bukankah kita tahu sendiri bahwa hukuman bagi orang yang bertindak zalim dan memutus silaturahim itu lebih cepat mendapatkan hukuman. Ingatlah bahwa sudah jadi sunnatullah: لَوْ بَغَى جَبَلٌ عَلَى جَبَلٍ جَعَل َالبَاغِي مِنْهُمَا دَكًّا Jika satu gunung menzalimi gunung yang lain, salah satu yang zalim nantinya akan rata dengan tanah. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kedelapan: Berbuat baik pada orang yang hasad. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ, وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ , وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 34-36). Juga dalam ayat, أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qasas: 54) Lihat pula bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri saat perang Uhud malah berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ “Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan dalam empat bentuk: أَحَدُهَا عَفْوُهُ عَنْهُمْ وَالثَّانِي اِسْتِغْفَارُهُ لَهُمْ الثَّالِثُ اِعْتِذَارُهُ عَنْهُمْ بِأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ الرَّابِعُ اِسْتِعْطَافُهُ لَهُمْ بِإِضَافَتِهِمْ إِلَيْهِ Memaafkan. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka tetap menyatakan itu kaumnya. Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid. Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa. Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena hasad. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا “‘Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ‘ain terjadi dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ‘ain), maka mandilah.” (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini). Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah. Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat. Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi yaitu At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.   SEBAB TERJADINYA HASAD Permusuhan dan kebencian. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Pelit membagi kebaikan pada orang lain. Lemahnya iman. Kesombongan. Tidak ingin dikalahkan yang lain. Takut disaingi. Takut diejek orang lain. Sebab-sebab di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi di kitab At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 752-753. Semoga bahasan hasad ini bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat hasad. Baca Juga: Pandangan Hasad Lewat Gambar Hasad Sesama Ustadz — Selesai disusun di Darush Sholihin, Rabu siang, 1 Dzulhijjah 1441 H (22 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdengki hasad iri hati surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek

Bolehkah Menerima Hadiah dari Pelaku Riba?

Fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-Soal:Bolehkah menerima hadiah dari orang yang kita ketahui dia bermuamalah dengan riba?Jawab:Iya, hal itu diperbolehkan. Dibolehkan bagi seseorang untuk menerima hadiah dari orang yang bermuamalah riba. Dan boleh pula berjual-beli dengannya. Dan boleh juga menerima undangannya. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun menerima hadiah dari orang Yahudi. Dan juga beliau membeli barang dari orang Yahudi. Maka beliau bermuamalah dengan mereka.Kecuali, jika kita tahu pasti bahwa andaikan kita menjauh darinya, tidak mau berjual-beli dengannya, tidak mau menerima hadiahnya, kemudian dia akan meninggalkan riba, maka ketika itu seharusnya demikianlah yang dilakukan. Yaitu, jangan berjual-beli dengannya, jangan menerima hadiahnya, karena ini adalah bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=aLCrQ-8ZcvYPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Gerhana, Syarat Tobat Nasuha, Al Quran Tentang Hijab, Hukum Mewarnai Rambut Yang Belum Beruban, Doa Ibadah Umroh

Bolehkah Menerima Hadiah dari Pelaku Riba?

Fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-Soal:Bolehkah menerima hadiah dari orang yang kita ketahui dia bermuamalah dengan riba?Jawab:Iya, hal itu diperbolehkan. Dibolehkan bagi seseorang untuk menerima hadiah dari orang yang bermuamalah riba. Dan boleh pula berjual-beli dengannya. Dan boleh juga menerima undangannya. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun menerima hadiah dari orang Yahudi. Dan juga beliau membeli barang dari orang Yahudi. Maka beliau bermuamalah dengan mereka.Kecuali, jika kita tahu pasti bahwa andaikan kita menjauh darinya, tidak mau berjual-beli dengannya, tidak mau menerima hadiahnya, kemudian dia akan meninggalkan riba, maka ketika itu seharusnya demikianlah yang dilakukan. Yaitu, jangan berjual-beli dengannya, jangan menerima hadiahnya, karena ini adalah bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=aLCrQ-8ZcvYPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Gerhana, Syarat Tobat Nasuha, Al Quran Tentang Hijab, Hukum Mewarnai Rambut Yang Belum Beruban, Doa Ibadah Umroh
Fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-Soal:Bolehkah menerima hadiah dari orang yang kita ketahui dia bermuamalah dengan riba?Jawab:Iya, hal itu diperbolehkan. Dibolehkan bagi seseorang untuk menerima hadiah dari orang yang bermuamalah riba. Dan boleh pula berjual-beli dengannya. Dan boleh juga menerima undangannya. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun menerima hadiah dari orang Yahudi. Dan juga beliau membeli barang dari orang Yahudi. Maka beliau bermuamalah dengan mereka.Kecuali, jika kita tahu pasti bahwa andaikan kita menjauh darinya, tidak mau berjual-beli dengannya, tidak mau menerima hadiahnya, kemudian dia akan meninggalkan riba, maka ketika itu seharusnya demikianlah yang dilakukan. Yaitu, jangan berjual-beli dengannya, jangan menerima hadiahnya, karena ini adalah bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=aLCrQ-8ZcvYPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Gerhana, Syarat Tobat Nasuha, Al Quran Tentang Hijab, Hukum Mewarnai Rambut Yang Belum Beruban, Doa Ibadah Umroh


Fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-Soal:Bolehkah menerima hadiah dari orang yang kita ketahui dia bermuamalah dengan riba?Jawab:Iya, hal itu diperbolehkan. Dibolehkan bagi seseorang untuk menerima hadiah dari orang yang bermuamalah riba. Dan boleh pula berjual-beli dengannya. Dan boleh juga menerima undangannya. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun menerima hadiah dari orang Yahudi. Dan juga beliau membeli barang dari orang Yahudi. Maka beliau bermuamalah dengan mereka.Kecuali, jika kita tahu pasti bahwa andaikan kita menjauh darinya, tidak mau berjual-beli dengannya, tidak mau menerima hadiahnya, kemudian dia akan meninggalkan riba, maka ketika itu seharusnya demikianlah yang dilakukan. Yaitu, jangan berjual-beli dengannya, jangan menerima hadiahnya, karena ini adalah bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=aLCrQ-8ZcvYPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Gerhana, Syarat Tobat Nasuha, Al Quran Tentang Hijab, Hukum Mewarnai Rambut Yang Belum Beruban, Doa Ibadah Umroh

Menengok Agungnya Muatan Kitab Tauhid

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Alhamdulillah; segala puji bagi Allah yang dengan rahmat dan petunjuk-Nya umat manusia bisa mengenali kebenaran dan mengikutinya. Salah satu nikmat agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah nikmat ilmu agama; yang dengan ilmu ini seorang bisa memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Di antara buku atau kitab yang sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum ataupun para penimba ilmu secara khusus adalah sebuah kitab karya ulama besar di masanya; Kitab Tauhid buah pena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (wafat 1206 H).Bagi para pencari ilmu Islam, kitab ini tidak asing. Karena ia sarat dengan faidah dan pelajaran berharga dalam perkara yang paling mendasar yaitu aqidah tauhid. Kitab yang mengupas keyakinan tentang keesaan Allah dan berisi pedoman ilmiah untuk mewujudkan makna penghambaan dengan sebenarnya kepada Rabb penguasa alam semesta. Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSebagaimana kita ketahui bersama bahwa memurnikan ibadah kepada Allah merupakan kewajiban terbesar yang Allah tetapkan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)Kitab Tauhid ini memiliki keistimewaan, diantaranya: Pada setiap bab penulis membawakan dalil untuk setiap perkara Dalil yang beliau bawakan itu berupa ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau juga membawakan perkataan para ulama terdahulu dari kalangan sahabat dan sesudahnya Kitab ini memaparkan tauhid ibadah dengan sangat rinci dan syirik juga dengan rinci Di akhir setiap bab beliau membawakan berbagai petikan faidah yang penuh makna Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaSaking berharganya kitab ini, kita dapati para ulama dari masa ke masa semenjak kitab ini tersebar pun berlomba-lomba untuk menggali faidah dan menuai hikmah darinya. Di antara yang bisa kita lihat sangat perhatian dalam menjelaskan kandungan kitab ini adalah :Pertama; cucu beliau yang bernama Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah dalam kitabnya Taisir al-’Aziz al-Hamid yang boleh dikatakan sebagai kitab pertama yang menjabarkan kandungan Kitab Tauhid ini dengan sangat detil dan sarat dengan dalil dan kaidah ilmiah. Akan tetapi, beliau wafat terbunuh sebelum menyelesaikan penjelasan Kitab Tauhid tersebut.Kedua; cucu beliau yang lain yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid. Beliau merangkum dan menata ulang penjelasan dari Taisir al-’Aziz al-Hamid lalu beliau sempurnakan. Sehingga jadilah kitab ini termasuk kitab syarah paling bagus yang direkomendasikan oleh ulama, sebagaimana direkomendasikan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.Salah satu dalil yang dibawakan dalam bagian awal Kitab Tauhid adalah firman Allah,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)Ketika menerangkan kandungan ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda.” (Lihat Fat-hul Majid, hal. 20)Kemudian, apabila kita cermati kandungan setiap bab yang ada di dalam Kitab Tauhid ini, maka kita akan bisa menemukan penjelasan ilmiah mengenai tauhid ibadah dengan sangat sistematis. Misalnya, di beberapa bab awal kitab ini kita akan menjumpai pemaparan dalil-dalil dengan runut yang menjadi pondasi dan pijakan utama dalam memahami aqidah tauhid dan lawannya yaitu syirik.Untuk bisa menyelami keagungan makna dan keluasan faidah setiap bab, Pembaca bisa menyimak penjelasan yang sangat apik dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) dalam kitab ringkas beliau yang berjudul al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid; yang ini secara khusus mengupas kandungan judul bab yang dibawakan dalam Kitab Tauhid. Di antara pembahasan yang sangat berharga dalam kitab beliau adalah penjelasan tentang keutamaan tauhid dalam kalimat-kalimat yang ringkas tetapi sarat akan makna; dan seandainya digali faidah dan dalil yang mendasarinya tentu akan semakin besar manfaat yang bisa diraih darinya … Dan di antara para ulama masa kini yang sangat perhatian kepada Kitab Tauhid ini adalah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Hal ini terbukti dengan terbitnya dua buah karya beliau:– al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid– I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab at-TauhidPerbedaannya adalah; kitab yang pertama memang sengaja beliau tulis untuk mengurai kandungan dalil-dalil yang disebutkan dalam Kitab Tauhid secara ringkas. Adapun kitab yang kedua pada asalnya adalah rekaman ceramah pelajaran beliau ketika mengkaji secara luas kandungan Kitab Tauhid yang kemudian ditranskrip lalu diterbitkan dalam 2 juz tebal.Salah satu contoh pemahaman yang dalam terhadap tauhid adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini. Beliau berkata, “ … Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim … ” (Lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)Baca Juga: Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek KafirPada bagian awal kitab Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (Lihat Ia’nat al-Mustafid [1/17])       Contoh lain yang menunjukkan kedalaman ilmu beliau : Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka tidak akan bisa mengenali nilai kesehatan kecuali orang yang sudah merasakan sakit. Tidak akan bisa mengenali nilai cahaya kecuali orang yang berada dalam kegelapan. Tidak mengenali nilai penting air kecuali orang yang merasakan kehausan. Dan demikianlah adanya. Tidak akan bisa mengenali nilai makanan kecuali orang yang mengalami kelaparan. Tidak bisa mengenali nilai keamanan kecuali orang yang tercekam dalam ketakutan. Apabila demikian maka tidaklah bisa mengenali nilai penting tauhid, keutamaan tauhid dan perealisasian tauhid kecuali orang yang mengenali syirik dan perkara-perkara jahiliyah supaya dia bisa menjauhinya dan menjaga dirinya agar tetap berada di atas tauhid …” (Lihat I’anatul Mustafid, 1/127-128)   Selain itu, Syaikh Shalih al-Fauzan pun telah mengkaji kitab Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan yang juga mengupas kandungan Kitab Tauhid. Rekaman kajian itu pun kini telah terbit dalam bentuk buku berjudul at-Taliq al-Mukhtashar al-Mubin ‘ala Qurrati ‘Uyun al-Muwahhidin. Kitab ini merupakan hasil transkrip dan olahan penimba ilmu muslimah bernama Hanan binti Ali al-Yamani dan mendapat rekomendasi Syaikh Shalih al-Fauzan.  Di antara kitab syarah yang juga sering dijadikan sebagai rujukan dalam memetik faidah dari Kitab Tauhid ini adalah buku karya salah satu keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang masih hidup di masa ini yang menjabat sebagai menteri agama Arab Saudi yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah; kitab syarah itu berjudul at-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid.Demikian pula salah satu rujukan penting dalam mengupas kandungan Kitab Tauhid adalah al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Kitab ini pun pada asalnya adalah rekaman kajian yang kemudian ditranskrip dan disusun ulang oleh para murid beliau. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa metode penjelasan Syaikh al-Utsaimin sangat ilmiah dan sarat dengan dalil serta menggunakan bahasa/ungkapan yang mudah dicerna; terutama bagi orang yang bisa membaca kitab ulama yang berbahasa arab.  Di antara contoh kedalaman pemahaman beliau dalam hal tauhid ini adalah penjelasan beliau berikut ini. Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “ … Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu, maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa dan tidak ada ruhnya sama sekali … ” (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)Syaikh al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Di antara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Pencipta dan Penguasa alam semesta]- tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik ibadah!!” (Lihat al-Qaul al-Mufid [1/8])Di akhir pembahasan ini, izinkan kami menyampaikan nasihat penting dari salah satu murid Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa manusia itu bermacam-macam. Bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib mempelajari tauhid. Atau mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tetapi tidak secara rinci maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya. Atau mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci maka mereka tetap butuh senantiasa diingatkan tentang tauhid serta terus mempelajari dan tidak berhenti darinya. Jangan berdalih dengan kalimat, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau, “Isu seputar tauhid sudah habis, jadi kita pindah saja kepada isu yang lain.” Tidak demikian! Sebab, tauhid tidak bisa ditinggalkan menuju selainnya. Akan tetapi tauhid harus senantiasa dibawa bersama yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara (Lihat video ceramah beliau al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.net)Demikian sedikit kumpulan catatan dan beberapa nukilan dari para ulama semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, SSi.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Selemah Lemahnya Iman, Syirik Asghar, Ibadah Menurut Istilah, Hadist Idul Fitri, Larangan Mencabut Uban Menurut Islam

Menengok Agungnya Muatan Kitab Tauhid

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Alhamdulillah; segala puji bagi Allah yang dengan rahmat dan petunjuk-Nya umat manusia bisa mengenali kebenaran dan mengikutinya. Salah satu nikmat agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah nikmat ilmu agama; yang dengan ilmu ini seorang bisa memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Di antara buku atau kitab yang sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum ataupun para penimba ilmu secara khusus adalah sebuah kitab karya ulama besar di masanya; Kitab Tauhid buah pena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (wafat 1206 H).Bagi para pencari ilmu Islam, kitab ini tidak asing. Karena ia sarat dengan faidah dan pelajaran berharga dalam perkara yang paling mendasar yaitu aqidah tauhid. Kitab yang mengupas keyakinan tentang keesaan Allah dan berisi pedoman ilmiah untuk mewujudkan makna penghambaan dengan sebenarnya kepada Rabb penguasa alam semesta. Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSebagaimana kita ketahui bersama bahwa memurnikan ibadah kepada Allah merupakan kewajiban terbesar yang Allah tetapkan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)Kitab Tauhid ini memiliki keistimewaan, diantaranya: Pada setiap bab penulis membawakan dalil untuk setiap perkara Dalil yang beliau bawakan itu berupa ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau juga membawakan perkataan para ulama terdahulu dari kalangan sahabat dan sesudahnya Kitab ini memaparkan tauhid ibadah dengan sangat rinci dan syirik juga dengan rinci Di akhir setiap bab beliau membawakan berbagai petikan faidah yang penuh makna Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaSaking berharganya kitab ini, kita dapati para ulama dari masa ke masa semenjak kitab ini tersebar pun berlomba-lomba untuk menggali faidah dan menuai hikmah darinya. Di antara yang bisa kita lihat sangat perhatian dalam menjelaskan kandungan kitab ini adalah :Pertama; cucu beliau yang bernama Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah dalam kitabnya Taisir al-’Aziz al-Hamid yang boleh dikatakan sebagai kitab pertama yang menjabarkan kandungan Kitab Tauhid ini dengan sangat detil dan sarat dengan dalil dan kaidah ilmiah. Akan tetapi, beliau wafat terbunuh sebelum menyelesaikan penjelasan Kitab Tauhid tersebut.Kedua; cucu beliau yang lain yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid. Beliau merangkum dan menata ulang penjelasan dari Taisir al-’Aziz al-Hamid lalu beliau sempurnakan. Sehingga jadilah kitab ini termasuk kitab syarah paling bagus yang direkomendasikan oleh ulama, sebagaimana direkomendasikan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.Salah satu dalil yang dibawakan dalam bagian awal Kitab Tauhid adalah firman Allah,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)Ketika menerangkan kandungan ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda.” (Lihat Fat-hul Majid, hal. 20)Kemudian, apabila kita cermati kandungan setiap bab yang ada di dalam Kitab Tauhid ini, maka kita akan bisa menemukan penjelasan ilmiah mengenai tauhid ibadah dengan sangat sistematis. Misalnya, di beberapa bab awal kitab ini kita akan menjumpai pemaparan dalil-dalil dengan runut yang menjadi pondasi dan pijakan utama dalam memahami aqidah tauhid dan lawannya yaitu syirik.Untuk bisa menyelami keagungan makna dan keluasan faidah setiap bab, Pembaca bisa menyimak penjelasan yang sangat apik dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) dalam kitab ringkas beliau yang berjudul al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid; yang ini secara khusus mengupas kandungan judul bab yang dibawakan dalam Kitab Tauhid. Di antara pembahasan yang sangat berharga dalam kitab beliau adalah penjelasan tentang keutamaan tauhid dalam kalimat-kalimat yang ringkas tetapi sarat akan makna; dan seandainya digali faidah dan dalil yang mendasarinya tentu akan semakin besar manfaat yang bisa diraih darinya … Dan di antara para ulama masa kini yang sangat perhatian kepada Kitab Tauhid ini adalah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Hal ini terbukti dengan terbitnya dua buah karya beliau:– al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid– I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab at-TauhidPerbedaannya adalah; kitab yang pertama memang sengaja beliau tulis untuk mengurai kandungan dalil-dalil yang disebutkan dalam Kitab Tauhid secara ringkas. Adapun kitab yang kedua pada asalnya adalah rekaman ceramah pelajaran beliau ketika mengkaji secara luas kandungan Kitab Tauhid yang kemudian ditranskrip lalu diterbitkan dalam 2 juz tebal.Salah satu contoh pemahaman yang dalam terhadap tauhid adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini. Beliau berkata, “ … Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim … ” (Lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)Baca Juga: Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek KafirPada bagian awal kitab Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (Lihat Ia’nat al-Mustafid [1/17])       Contoh lain yang menunjukkan kedalaman ilmu beliau : Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka tidak akan bisa mengenali nilai kesehatan kecuali orang yang sudah merasakan sakit. Tidak akan bisa mengenali nilai cahaya kecuali orang yang berada dalam kegelapan. Tidak mengenali nilai penting air kecuali orang yang merasakan kehausan. Dan demikianlah adanya. Tidak akan bisa mengenali nilai makanan kecuali orang yang mengalami kelaparan. Tidak bisa mengenali nilai keamanan kecuali orang yang tercekam dalam ketakutan. Apabila demikian maka tidaklah bisa mengenali nilai penting tauhid, keutamaan tauhid dan perealisasian tauhid kecuali orang yang mengenali syirik dan perkara-perkara jahiliyah supaya dia bisa menjauhinya dan menjaga dirinya agar tetap berada di atas tauhid …” (Lihat I’anatul Mustafid, 1/127-128)   Selain itu, Syaikh Shalih al-Fauzan pun telah mengkaji kitab Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan yang juga mengupas kandungan Kitab Tauhid. Rekaman kajian itu pun kini telah terbit dalam bentuk buku berjudul at-Taliq al-Mukhtashar al-Mubin ‘ala Qurrati ‘Uyun al-Muwahhidin. Kitab ini merupakan hasil transkrip dan olahan penimba ilmu muslimah bernama Hanan binti Ali al-Yamani dan mendapat rekomendasi Syaikh Shalih al-Fauzan.  Di antara kitab syarah yang juga sering dijadikan sebagai rujukan dalam memetik faidah dari Kitab Tauhid ini adalah buku karya salah satu keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang masih hidup di masa ini yang menjabat sebagai menteri agama Arab Saudi yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah; kitab syarah itu berjudul at-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid.Demikian pula salah satu rujukan penting dalam mengupas kandungan Kitab Tauhid adalah al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Kitab ini pun pada asalnya adalah rekaman kajian yang kemudian ditranskrip dan disusun ulang oleh para murid beliau. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa metode penjelasan Syaikh al-Utsaimin sangat ilmiah dan sarat dengan dalil serta menggunakan bahasa/ungkapan yang mudah dicerna; terutama bagi orang yang bisa membaca kitab ulama yang berbahasa arab.  Di antara contoh kedalaman pemahaman beliau dalam hal tauhid ini adalah penjelasan beliau berikut ini. Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “ … Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu, maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa dan tidak ada ruhnya sama sekali … ” (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)Syaikh al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Di antara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Pencipta dan Penguasa alam semesta]- tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik ibadah!!” (Lihat al-Qaul al-Mufid [1/8])Di akhir pembahasan ini, izinkan kami menyampaikan nasihat penting dari salah satu murid Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa manusia itu bermacam-macam. Bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib mempelajari tauhid. Atau mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tetapi tidak secara rinci maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya. Atau mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci maka mereka tetap butuh senantiasa diingatkan tentang tauhid serta terus mempelajari dan tidak berhenti darinya. Jangan berdalih dengan kalimat, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau, “Isu seputar tauhid sudah habis, jadi kita pindah saja kepada isu yang lain.” Tidak demikian! Sebab, tauhid tidak bisa ditinggalkan menuju selainnya. Akan tetapi tauhid harus senantiasa dibawa bersama yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara (Lihat video ceramah beliau al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.net)Demikian sedikit kumpulan catatan dan beberapa nukilan dari para ulama semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, SSi.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Selemah Lemahnya Iman, Syirik Asghar, Ibadah Menurut Istilah, Hadist Idul Fitri, Larangan Mencabut Uban Menurut Islam
Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Alhamdulillah; segala puji bagi Allah yang dengan rahmat dan petunjuk-Nya umat manusia bisa mengenali kebenaran dan mengikutinya. Salah satu nikmat agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah nikmat ilmu agama; yang dengan ilmu ini seorang bisa memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Di antara buku atau kitab yang sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum ataupun para penimba ilmu secara khusus adalah sebuah kitab karya ulama besar di masanya; Kitab Tauhid buah pena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (wafat 1206 H).Bagi para pencari ilmu Islam, kitab ini tidak asing. Karena ia sarat dengan faidah dan pelajaran berharga dalam perkara yang paling mendasar yaitu aqidah tauhid. Kitab yang mengupas keyakinan tentang keesaan Allah dan berisi pedoman ilmiah untuk mewujudkan makna penghambaan dengan sebenarnya kepada Rabb penguasa alam semesta. Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSebagaimana kita ketahui bersama bahwa memurnikan ibadah kepada Allah merupakan kewajiban terbesar yang Allah tetapkan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)Kitab Tauhid ini memiliki keistimewaan, diantaranya: Pada setiap bab penulis membawakan dalil untuk setiap perkara Dalil yang beliau bawakan itu berupa ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau juga membawakan perkataan para ulama terdahulu dari kalangan sahabat dan sesudahnya Kitab ini memaparkan tauhid ibadah dengan sangat rinci dan syirik juga dengan rinci Di akhir setiap bab beliau membawakan berbagai petikan faidah yang penuh makna Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaSaking berharganya kitab ini, kita dapati para ulama dari masa ke masa semenjak kitab ini tersebar pun berlomba-lomba untuk menggali faidah dan menuai hikmah darinya. Di antara yang bisa kita lihat sangat perhatian dalam menjelaskan kandungan kitab ini adalah :Pertama; cucu beliau yang bernama Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah dalam kitabnya Taisir al-’Aziz al-Hamid yang boleh dikatakan sebagai kitab pertama yang menjabarkan kandungan Kitab Tauhid ini dengan sangat detil dan sarat dengan dalil dan kaidah ilmiah. Akan tetapi, beliau wafat terbunuh sebelum menyelesaikan penjelasan Kitab Tauhid tersebut.Kedua; cucu beliau yang lain yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid. Beliau merangkum dan menata ulang penjelasan dari Taisir al-’Aziz al-Hamid lalu beliau sempurnakan. Sehingga jadilah kitab ini termasuk kitab syarah paling bagus yang direkomendasikan oleh ulama, sebagaimana direkomendasikan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.Salah satu dalil yang dibawakan dalam bagian awal Kitab Tauhid adalah firman Allah,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)Ketika menerangkan kandungan ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda.” (Lihat Fat-hul Majid, hal. 20)Kemudian, apabila kita cermati kandungan setiap bab yang ada di dalam Kitab Tauhid ini, maka kita akan bisa menemukan penjelasan ilmiah mengenai tauhid ibadah dengan sangat sistematis. Misalnya, di beberapa bab awal kitab ini kita akan menjumpai pemaparan dalil-dalil dengan runut yang menjadi pondasi dan pijakan utama dalam memahami aqidah tauhid dan lawannya yaitu syirik.Untuk bisa menyelami keagungan makna dan keluasan faidah setiap bab, Pembaca bisa menyimak penjelasan yang sangat apik dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) dalam kitab ringkas beliau yang berjudul al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid; yang ini secara khusus mengupas kandungan judul bab yang dibawakan dalam Kitab Tauhid. Di antara pembahasan yang sangat berharga dalam kitab beliau adalah penjelasan tentang keutamaan tauhid dalam kalimat-kalimat yang ringkas tetapi sarat akan makna; dan seandainya digali faidah dan dalil yang mendasarinya tentu akan semakin besar manfaat yang bisa diraih darinya … Dan di antara para ulama masa kini yang sangat perhatian kepada Kitab Tauhid ini adalah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Hal ini terbukti dengan terbitnya dua buah karya beliau:– al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid– I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab at-TauhidPerbedaannya adalah; kitab yang pertama memang sengaja beliau tulis untuk mengurai kandungan dalil-dalil yang disebutkan dalam Kitab Tauhid secara ringkas. Adapun kitab yang kedua pada asalnya adalah rekaman ceramah pelajaran beliau ketika mengkaji secara luas kandungan Kitab Tauhid yang kemudian ditranskrip lalu diterbitkan dalam 2 juz tebal.Salah satu contoh pemahaman yang dalam terhadap tauhid adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini. Beliau berkata, “ … Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim … ” (Lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)Baca Juga: Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek KafirPada bagian awal kitab Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (Lihat Ia’nat al-Mustafid [1/17])       Contoh lain yang menunjukkan kedalaman ilmu beliau : Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka tidak akan bisa mengenali nilai kesehatan kecuali orang yang sudah merasakan sakit. Tidak akan bisa mengenali nilai cahaya kecuali orang yang berada dalam kegelapan. Tidak mengenali nilai penting air kecuali orang yang merasakan kehausan. Dan demikianlah adanya. Tidak akan bisa mengenali nilai makanan kecuali orang yang mengalami kelaparan. Tidak bisa mengenali nilai keamanan kecuali orang yang tercekam dalam ketakutan. Apabila demikian maka tidaklah bisa mengenali nilai penting tauhid, keutamaan tauhid dan perealisasian tauhid kecuali orang yang mengenali syirik dan perkara-perkara jahiliyah supaya dia bisa menjauhinya dan menjaga dirinya agar tetap berada di atas tauhid …” (Lihat I’anatul Mustafid, 1/127-128)   Selain itu, Syaikh Shalih al-Fauzan pun telah mengkaji kitab Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan yang juga mengupas kandungan Kitab Tauhid. Rekaman kajian itu pun kini telah terbit dalam bentuk buku berjudul at-Taliq al-Mukhtashar al-Mubin ‘ala Qurrati ‘Uyun al-Muwahhidin. Kitab ini merupakan hasil transkrip dan olahan penimba ilmu muslimah bernama Hanan binti Ali al-Yamani dan mendapat rekomendasi Syaikh Shalih al-Fauzan.  Di antara kitab syarah yang juga sering dijadikan sebagai rujukan dalam memetik faidah dari Kitab Tauhid ini adalah buku karya salah satu keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang masih hidup di masa ini yang menjabat sebagai menteri agama Arab Saudi yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah; kitab syarah itu berjudul at-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid.Demikian pula salah satu rujukan penting dalam mengupas kandungan Kitab Tauhid adalah al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Kitab ini pun pada asalnya adalah rekaman kajian yang kemudian ditranskrip dan disusun ulang oleh para murid beliau. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa metode penjelasan Syaikh al-Utsaimin sangat ilmiah dan sarat dengan dalil serta menggunakan bahasa/ungkapan yang mudah dicerna; terutama bagi orang yang bisa membaca kitab ulama yang berbahasa arab.  Di antara contoh kedalaman pemahaman beliau dalam hal tauhid ini adalah penjelasan beliau berikut ini. Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “ … Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu, maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa dan tidak ada ruhnya sama sekali … ” (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)Syaikh al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Di antara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Pencipta dan Penguasa alam semesta]- tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik ibadah!!” (Lihat al-Qaul al-Mufid [1/8])Di akhir pembahasan ini, izinkan kami menyampaikan nasihat penting dari salah satu murid Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa manusia itu bermacam-macam. Bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib mempelajari tauhid. Atau mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tetapi tidak secara rinci maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya. Atau mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci maka mereka tetap butuh senantiasa diingatkan tentang tauhid serta terus mempelajari dan tidak berhenti darinya. Jangan berdalih dengan kalimat, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau, “Isu seputar tauhid sudah habis, jadi kita pindah saja kepada isu yang lain.” Tidak demikian! Sebab, tauhid tidak bisa ditinggalkan menuju selainnya. Akan tetapi tauhid harus senantiasa dibawa bersama yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara (Lihat video ceramah beliau al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.net)Demikian sedikit kumpulan catatan dan beberapa nukilan dari para ulama semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, SSi.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Selemah Lemahnya Iman, Syirik Asghar, Ibadah Menurut Istilah, Hadist Idul Fitri, Larangan Mencabut Uban Menurut Islam


Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.Alhamdulillah; segala puji bagi Allah yang dengan rahmat dan petunjuk-Nya umat manusia bisa mengenali kebenaran dan mengikutinya. Salah satu nikmat agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah nikmat ilmu agama; yang dengan ilmu ini seorang bisa memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Di antara buku atau kitab yang sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum ataupun para penimba ilmu secara khusus adalah sebuah kitab karya ulama besar di masanya; Kitab Tauhid buah pena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (wafat 1206 H).Bagi para pencari ilmu Islam, kitab ini tidak asing. Karena ia sarat dengan faidah dan pelajaran berharga dalam perkara yang paling mendasar yaitu aqidah tauhid. Kitab yang mengupas keyakinan tentang keesaan Allah dan berisi pedoman ilmiah untuk mewujudkan makna penghambaan dengan sebenarnya kepada Rabb penguasa alam semesta. Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSebagaimana kita ketahui bersama bahwa memurnikan ibadah kepada Allah merupakan kewajiban terbesar yang Allah tetapkan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21)Kitab Tauhid ini memiliki keistimewaan, diantaranya: Pada setiap bab penulis membawakan dalil untuk setiap perkara Dalil yang beliau bawakan itu berupa ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau juga membawakan perkataan para ulama terdahulu dari kalangan sahabat dan sesudahnya Kitab ini memaparkan tauhid ibadah dengan sangat rinci dan syirik juga dengan rinci Di akhir setiap bab beliau membawakan berbagai petikan faidah yang penuh makna Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaSaking berharganya kitab ini, kita dapati para ulama dari masa ke masa semenjak kitab ini tersebar pun berlomba-lomba untuk menggali faidah dan menuai hikmah darinya. Di antara yang bisa kita lihat sangat perhatian dalam menjelaskan kandungan kitab ini adalah :Pertama; cucu beliau yang bernama Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah dalam kitabnya Taisir al-’Aziz al-Hamid yang boleh dikatakan sebagai kitab pertama yang menjabarkan kandungan Kitab Tauhid ini dengan sangat detil dan sarat dengan dalil dan kaidah ilmiah. Akan tetapi, beliau wafat terbunuh sebelum menyelesaikan penjelasan Kitab Tauhid tersebut.Kedua; cucu beliau yang lain yaitu Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid. Beliau merangkum dan menata ulang penjelasan dari Taisir al-’Aziz al-Hamid lalu beliau sempurnakan. Sehingga jadilah kitab ini termasuk kitab syarah paling bagus yang direkomendasikan oleh ulama, sebagaimana direkomendasikan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.Salah satu dalil yang dibawakan dalam bagian awal Kitab Tauhid adalah firman Allah,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)Ketika menerangkan kandungan ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda.” (Lihat Fat-hul Majid, hal. 20)Kemudian, apabila kita cermati kandungan setiap bab yang ada di dalam Kitab Tauhid ini, maka kita akan bisa menemukan penjelasan ilmiah mengenai tauhid ibadah dengan sangat sistematis. Misalnya, di beberapa bab awal kitab ini kita akan menjumpai pemaparan dalil-dalil dengan runut yang menjadi pondasi dan pijakan utama dalam memahami aqidah tauhid dan lawannya yaitu syirik.Untuk bisa menyelami keagungan makna dan keluasan faidah setiap bab, Pembaca bisa menyimak penjelasan yang sangat apik dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) dalam kitab ringkas beliau yang berjudul al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid; yang ini secara khusus mengupas kandungan judul bab yang dibawakan dalam Kitab Tauhid. Di antara pembahasan yang sangat berharga dalam kitab beliau adalah penjelasan tentang keutamaan tauhid dalam kalimat-kalimat yang ringkas tetapi sarat akan makna; dan seandainya digali faidah dan dalil yang mendasarinya tentu akan semakin besar manfaat yang bisa diraih darinya … Dan di antara para ulama masa kini yang sangat perhatian kepada Kitab Tauhid ini adalah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Hal ini terbukti dengan terbitnya dua buah karya beliau:– al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid– I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab at-TauhidPerbedaannya adalah; kitab yang pertama memang sengaja beliau tulis untuk mengurai kandungan dalil-dalil yang disebutkan dalam Kitab Tauhid secara ringkas. Adapun kitab yang kedua pada asalnya adalah rekaman ceramah pelajaran beliau ketika mengkaji secara luas kandungan Kitab Tauhid yang kemudian ditranskrip lalu diterbitkan dalam 2 juz tebal.Salah satu contoh pemahaman yang dalam terhadap tauhid adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini. Beliau berkata, “ … Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu, maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim … ” (Lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)Baca Juga: Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek KafirPada bagian awal kitab Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (Lihat Ia’nat al-Mustafid [1/17])       Contoh lain yang menunjukkan kedalaman ilmu beliau : Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka tidak akan bisa mengenali nilai kesehatan kecuali orang yang sudah merasakan sakit. Tidak akan bisa mengenali nilai cahaya kecuali orang yang berada dalam kegelapan. Tidak mengenali nilai penting air kecuali orang yang merasakan kehausan. Dan demikianlah adanya. Tidak akan bisa mengenali nilai makanan kecuali orang yang mengalami kelaparan. Tidak bisa mengenali nilai keamanan kecuali orang yang tercekam dalam ketakutan. Apabila demikian maka tidaklah bisa mengenali nilai penting tauhid, keutamaan tauhid dan perealisasian tauhid kecuali orang yang mengenali syirik dan perkara-perkara jahiliyah supaya dia bisa menjauhinya dan menjaga dirinya agar tetap berada di atas tauhid …” (Lihat I’anatul Mustafid, 1/127-128)   Selain itu, Syaikh Shalih al-Fauzan pun telah mengkaji kitab Qurratu ‘Uyun al-Muwahhidin karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan yang juga mengupas kandungan Kitab Tauhid. Rekaman kajian itu pun kini telah terbit dalam bentuk buku berjudul at-Taliq al-Mukhtashar al-Mubin ‘ala Qurrati ‘Uyun al-Muwahhidin. Kitab ini merupakan hasil transkrip dan olahan penimba ilmu muslimah bernama Hanan binti Ali al-Yamani dan mendapat rekomendasi Syaikh Shalih al-Fauzan.  Di antara kitab syarah yang juga sering dijadikan sebagai rujukan dalam memetik faidah dari Kitab Tauhid ini adalah buku karya salah satu keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang masih hidup di masa ini yang menjabat sebagai menteri agama Arab Saudi yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah; kitab syarah itu berjudul at-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid.Demikian pula salah satu rujukan penting dalam mengupas kandungan Kitab Tauhid adalah al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Kitab ini pun pada asalnya adalah rekaman kajian yang kemudian ditranskrip dan disusun ulang oleh para murid beliau. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa metode penjelasan Syaikh al-Utsaimin sangat ilmiah dan sarat dengan dalil serta menggunakan bahasa/ungkapan yang mudah dicerna; terutama bagi orang yang bisa membaca kitab ulama yang berbahasa arab.  Di antara contoh kedalaman pemahaman beliau dalam hal tauhid ini adalah penjelasan beliau berikut ini. Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “ … Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu, maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa dan tidak ada ruhnya sama sekali … ” (Lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)Syaikh al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Di antara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Pencipta dan Penguasa alam semesta]- tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik ibadah!!” (Lihat al-Qaul al-Mufid [1/8])Di akhir pembahasan ini, izinkan kami menyampaikan nasihat penting dari salah satu murid Syaikh al-Albani rahimahullah yaitu Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa manusia itu bermacam-macam. Bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib mempelajari tauhid. Atau mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tetapi tidak secara rinci maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya. Atau mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci maka mereka tetap butuh senantiasa diingatkan tentang tauhid serta terus mempelajari dan tidak berhenti darinya. Jangan berdalih dengan kalimat, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau, “Isu seputar tauhid sudah habis, jadi kita pindah saja kepada isu yang lain.” Tidak demikian! Sebab, tauhid tidak bisa ditinggalkan menuju selainnya. Akan tetapi tauhid harus senantiasa dibawa bersama yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara (Lihat video ceramah beliau al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.net)Demikian sedikit kumpulan catatan dan beberapa nukilan dari para ulama semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, SSi.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Selemah Lemahnya Iman, Syirik Asghar, Ibadah Menurut Istilah, Hadist Idul Fitri, Larangan Mencabut Uban Menurut Islam

Bahaya Mempercayai Teori Konspirasi dalam Masalah Kesehatan

Teori konspirasi itu semacam teori yang berusaha menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari suatu peristiwa adalah “rahasia”, atau direncanakan secara diam-diam oleh sekelompok orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk membahayakan kelompok lainnya (minoritas). Ini definisi yang paling mendekati dari teori konspirasi, karena memang belum ada definisi baku secara ilmiah. Teori konspirasi ini umumnya muncul dari misinformasi atau berita palsu yang tersebar di masyarakat. Sehingga kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.Contohnya, sebagian orang percaya bahwa virus HIV itu tidak ada, dan tidak menyebabkan AIDS. Pemanasan global (global warming) itu hanya “tipu-tipuan” semata. Vaksin atau makanan yang dimodifikasi secara genetik itu tidak aman, dan sederet kepercayaan konspirasi lainnya. Dalam artikel singkat ini, kami akan menyebutkan tiga contoh teori konspirasi yang menyasar bidang kesehatan, dan dampaknya baik secara individu, komunitas maupun dalam skala yang lebih luas yaitu skala negara.Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah vaksinTeori konspirasi merupakan salah satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh sebagian orang yang menolak vaksinasi (gerakan anti-vaksin atau anti-vaccine movement). Tidak hanya oleh para penolak vaksin di dalam negeri (Indonesia), tetapi juga di luar negeri. Kondisi ini pun sama, baik di negeri non-muslim maupun di negeri muslim, sebagian dari mereka sangat percaya adanya konspirasi ini. Suatu penelitian yang menganalisis website-website anti-vaksin di luar negeri bahkan menemukan suatu fenomena bahwa teori konspirasi ini merupakan salah satu bahan utama mengkampanyekan pemikiran mereka. Bagi mereka, “informasi sebenarnya” tentang apa itu vaksin dan kandungannya telah “disembunyikan” oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, mereka tidak percaya lagi dengan badan-badan kesehatan resmi di dunia, semacam WHO, CDC, FDA, atau kalau di dalam negeri, mereka tidak percaya dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Mereka percaya bahwa vaksin hanya semata-mata dibuat dan diprogramkan untuk mencari untung (profit dan bisnis), atau hanya akal-akalan dokter (tenaga kesehatan) dan perusahaan vaksin. Selain itu, jika ada reaksi efek samping vaksin (KIPI), maka yang diuntungkan tetap saja dokter. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin itu sama dengan racun dan sengaja disusupi virus HIV.Jangan heran jika ada dokter yang menolak vaksinasi, para penggemar teori konspirasi vaksin akan mendukung dokter tersebut, menyebutnya sebagai “dokter pemberani” dan “penyuara kebenaran”. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin adalah sengaja dibuat untuk membuat menjadi mandul (infertil), dan seterusnya.Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi vaksin?Kita jumpai adanya penurunan cakupan vaksinasi di daerah-daerah yang angka penolakan vaksin semakin tinggi. Sekali lagi, konspirasi ini adalah masalah umum di semua negara, tidak hanya di negara muslim. Jadilah saat ini, dengan adanya penurunan cakupan angka vaksinasi, di sebagian negara tersebut terjadi wabah atau peningkatan kasus penyakit akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya, wabah campak yang sempat melanda Amerika dan negara-negara di Eropa akibat penurunan cakupan vaksinasi campak. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan, seolah kita dipaksa kembali lagi ke era sebelum ditemukannya vaksin, di mana wabah terjadi di mana-mana. Dalam skala nasional, teori konspirasi vaksin pernah melanda Nigeria, di mana pemerintah di sana percaya bahwa vaksin polio sengaja disusupi oleh virus HIV dan hormon penyebab kemandulan. Sehingga mereka pun sempat menghentikan program vaksinasi polio nasional pada akhir tahun 2003. Akibatnya, Nigeria saat itu menjadi salah satu dari tiga negara yang paling banyak melaporkan penderita polio, ketika banyak negara lain di dunia sudah bebas dari infeksi virus polio.Baca JUga: Menerapkan Cek-Ricek dalam Menyikapi Konspirasi Wabah Covid 19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDSVirus HIV dan juga penyakit yang ditimbulkannya (yaitu AIDS) telah lama menjadi sasaran dari teori konspirasi. Sebagian orang menganggap bahwa virus HIV/AIDS itu tidak ada, virus HIV/AIDS “sengaja diciptakan” untuk tujuan tertentu. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa obat-obatan untuk HIV (dikenal dalam istilah medis dengan anti-retroviral therapy atau ART), itu hanyalah “racun” yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh.Di Amerika Serikat, sentimen ini makin parah dengan adanya isu rasisme. Sebagian orang berkulit hitam percaya bahwa virus HIV ini adalah ciptaan pemerintah federal AS atau CIA untuk mengurangi populasi mereka di AS. Kelompok lain yang merasa minoritas, yaitu mereka yang memiliki orientasi seksual gay, mereka percaya bahwa virus HIV memang sengaja diciptakan untuk “membunuh” mereka. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa obat untuk HIV itu sebenarnya sudah ada, tetapi “disembunyikan” terutama untuk orang miskin. Obat medis untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri. Orang yang mau menjalani pengobatan HIV itu ibarat kelinci percobaan pemerintah. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS?Di komunitas-komunitas berisiko tinggi HIV/AIDS (misalnya yang memiliki perilaku seksual berisiko) namun mereka termakan oleh isu-isu teori konspirasi, menyebabkan keengganan mereka untuk melakukan tes HIV (apakah mereka positif ataukah tidak), karena mereka percaya kalau HIV itu tidak ada. Mereka juga tidak mau melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus HIV. Ini bahaya mempercayai teori konspirasi dalam skala individu (komunitas).Dalam skala nasional (negara), pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun percaya dengan isu-isu konspirasi HIV ini. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV di dunia ketika itu.Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar secara medis (ART) kepada rakyatnya. Dia justru percaya bahwa vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV; dan menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat HIV/AIDS dan lebih dari 35.000 bayi baru lahir terinfeksi virus HIV. Padahal, kalau ibu hamil mendapatkan obat ART standar, hal itu akan meminimalisir kemungkinan penularan ke janin yang dikandung.Baca JUga: Penjelasan Ulama Seputar Konspirasi Wabah Covid19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah pandemi COVID-19Di masa pandemi COVID-19 ini, sebagian orang, termasuk di Indonesia, lagi-lagi termakan oleh teori konspirasi. Mereka percaya bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 (penyebab penyakit COVID-19) itu adalah buatan pemerintah Cina untuk kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi. Lalu sebagian lagi percaya bahwa virus SARS-CoV-2 itu tidak ada, atau penyakitnya hanya ringan dan bisa sembuh sendiri.Sebagian lagi memfitnah tenaga medis dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini hanyalah akal-akalan tenaga medis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap penderita yang dirawat. Mereka akan mendapatkan uang sekian juta dari setiap pasien “yang dipaksa dicatat sebagai pasien COVID-19”. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah COVID-19?Dampaknya bisa kita lihat bahwa merasa “mendapatkan rasa aman palsu” (false sense security). Akhirnya, mereka pun membahayakan orang-orang di sekitarnya karena mereka tidak mau melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker, meminimalisir aktivitas keluar rumah, menghindari kerumuman massa, dan sebagainya. Sebagian lagi menolak upaya tes, baik dengan rapid test maupun swab PCR. Dampaknya pun bisa kita lihat, yaitu upaya pengendalian pandemi ini yang makin sulit.KesimpulanTeori konspirasi ini pada dasarnya mudah untuk dibuat dan disebarkan, namun sangat sulit dibendung, apalagi di zaman internet dan media sosial yang semakin luas penggunaannya saat ini. Mempercayai teori konspirasi dalam masalah kesehatan ternyata berdampak negatif terhadap upaya pengendalian, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 22 Syawal 1441/ 14 Juni 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi: Andersen KG, Rambaut A, Lipkin WI, Holmes EC, Garry RF. The proximal origin of SARS-CoV-2. Nat Med 2020; 26(4): 450-452. Bogart LM dan Thorburn S. Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218. Bogart, et al. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116. Goertzel T. Conspiracy theories in science. EMBO Reports 2010; 11(7): 493-499. Goncalves-Sa J. In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias. Nat Med 2020; 26(3): 305. Jolley D, Douglas KM. The effects of anti-vaccine conspiracy theories on vaccination intentions. PLoS One 2014; 9(2): e89177. Kata A. A postmodern Pandora’s box: anti-vaccination misinformation on the internet. Vaccine 2010; 28(7): 1709-1716. Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm-an overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30(25): 3778-3789. Mian A, Khan S. Coronavirus: the spread of misinformation. BMC Med 2020; 18(1): 89.

Bahaya Mempercayai Teori Konspirasi dalam Masalah Kesehatan

Teori konspirasi itu semacam teori yang berusaha menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari suatu peristiwa adalah “rahasia”, atau direncanakan secara diam-diam oleh sekelompok orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk membahayakan kelompok lainnya (minoritas). Ini definisi yang paling mendekati dari teori konspirasi, karena memang belum ada definisi baku secara ilmiah. Teori konspirasi ini umumnya muncul dari misinformasi atau berita palsu yang tersebar di masyarakat. Sehingga kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.Contohnya, sebagian orang percaya bahwa virus HIV itu tidak ada, dan tidak menyebabkan AIDS. Pemanasan global (global warming) itu hanya “tipu-tipuan” semata. Vaksin atau makanan yang dimodifikasi secara genetik itu tidak aman, dan sederet kepercayaan konspirasi lainnya. Dalam artikel singkat ini, kami akan menyebutkan tiga contoh teori konspirasi yang menyasar bidang kesehatan, dan dampaknya baik secara individu, komunitas maupun dalam skala yang lebih luas yaitu skala negara.Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah vaksinTeori konspirasi merupakan salah satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh sebagian orang yang menolak vaksinasi (gerakan anti-vaksin atau anti-vaccine movement). Tidak hanya oleh para penolak vaksin di dalam negeri (Indonesia), tetapi juga di luar negeri. Kondisi ini pun sama, baik di negeri non-muslim maupun di negeri muslim, sebagian dari mereka sangat percaya adanya konspirasi ini. Suatu penelitian yang menganalisis website-website anti-vaksin di luar negeri bahkan menemukan suatu fenomena bahwa teori konspirasi ini merupakan salah satu bahan utama mengkampanyekan pemikiran mereka. Bagi mereka, “informasi sebenarnya” tentang apa itu vaksin dan kandungannya telah “disembunyikan” oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, mereka tidak percaya lagi dengan badan-badan kesehatan resmi di dunia, semacam WHO, CDC, FDA, atau kalau di dalam negeri, mereka tidak percaya dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Mereka percaya bahwa vaksin hanya semata-mata dibuat dan diprogramkan untuk mencari untung (profit dan bisnis), atau hanya akal-akalan dokter (tenaga kesehatan) dan perusahaan vaksin. Selain itu, jika ada reaksi efek samping vaksin (KIPI), maka yang diuntungkan tetap saja dokter. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin itu sama dengan racun dan sengaja disusupi virus HIV.Jangan heran jika ada dokter yang menolak vaksinasi, para penggemar teori konspirasi vaksin akan mendukung dokter tersebut, menyebutnya sebagai “dokter pemberani” dan “penyuara kebenaran”. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin adalah sengaja dibuat untuk membuat menjadi mandul (infertil), dan seterusnya.Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi vaksin?Kita jumpai adanya penurunan cakupan vaksinasi di daerah-daerah yang angka penolakan vaksin semakin tinggi. Sekali lagi, konspirasi ini adalah masalah umum di semua negara, tidak hanya di negara muslim. Jadilah saat ini, dengan adanya penurunan cakupan angka vaksinasi, di sebagian negara tersebut terjadi wabah atau peningkatan kasus penyakit akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya, wabah campak yang sempat melanda Amerika dan negara-negara di Eropa akibat penurunan cakupan vaksinasi campak. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan, seolah kita dipaksa kembali lagi ke era sebelum ditemukannya vaksin, di mana wabah terjadi di mana-mana. Dalam skala nasional, teori konspirasi vaksin pernah melanda Nigeria, di mana pemerintah di sana percaya bahwa vaksin polio sengaja disusupi oleh virus HIV dan hormon penyebab kemandulan. Sehingga mereka pun sempat menghentikan program vaksinasi polio nasional pada akhir tahun 2003. Akibatnya, Nigeria saat itu menjadi salah satu dari tiga negara yang paling banyak melaporkan penderita polio, ketika banyak negara lain di dunia sudah bebas dari infeksi virus polio.Baca JUga: Menerapkan Cek-Ricek dalam Menyikapi Konspirasi Wabah Covid 19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDSVirus HIV dan juga penyakit yang ditimbulkannya (yaitu AIDS) telah lama menjadi sasaran dari teori konspirasi. Sebagian orang menganggap bahwa virus HIV/AIDS itu tidak ada, virus HIV/AIDS “sengaja diciptakan” untuk tujuan tertentu. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa obat-obatan untuk HIV (dikenal dalam istilah medis dengan anti-retroviral therapy atau ART), itu hanyalah “racun” yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh.Di Amerika Serikat, sentimen ini makin parah dengan adanya isu rasisme. Sebagian orang berkulit hitam percaya bahwa virus HIV ini adalah ciptaan pemerintah federal AS atau CIA untuk mengurangi populasi mereka di AS. Kelompok lain yang merasa minoritas, yaitu mereka yang memiliki orientasi seksual gay, mereka percaya bahwa virus HIV memang sengaja diciptakan untuk “membunuh” mereka. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa obat untuk HIV itu sebenarnya sudah ada, tetapi “disembunyikan” terutama untuk orang miskin. Obat medis untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri. Orang yang mau menjalani pengobatan HIV itu ibarat kelinci percobaan pemerintah. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS?Di komunitas-komunitas berisiko tinggi HIV/AIDS (misalnya yang memiliki perilaku seksual berisiko) namun mereka termakan oleh isu-isu teori konspirasi, menyebabkan keengganan mereka untuk melakukan tes HIV (apakah mereka positif ataukah tidak), karena mereka percaya kalau HIV itu tidak ada. Mereka juga tidak mau melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus HIV. Ini bahaya mempercayai teori konspirasi dalam skala individu (komunitas).Dalam skala nasional (negara), pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun percaya dengan isu-isu konspirasi HIV ini. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV di dunia ketika itu.Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar secara medis (ART) kepada rakyatnya. Dia justru percaya bahwa vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV; dan menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat HIV/AIDS dan lebih dari 35.000 bayi baru lahir terinfeksi virus HIV. Padahal, kalau ibu hamil mendapatkan obat ART standar, hal itu akan meminimalisir kemungkinan penularan ke janin yang dikandung.Baca JUga: Penjelasan Ulama Seputar Konspirasi Wabah Covid19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah pandemi COVID-19Di masa pandemi COVID-19 ini, sebagian orang, termasuk di Indonesia, lagi-lagi termakan oleh teori konspirasi. Mereka percaya bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 (penyebab penyakit COVID-19) itu adalah buatan pemerintah Cina untuk kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi. Lalu sebagian lagi percaya bahwa virus SARS-CoV-2 itu tidak ada, atau penyakitnya hanya ringan dan bisa sembuh sendiri.Sebagian lagi memfitnah tenaga medis dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini hanyalah akal-akalan tenaga medis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap penderita yang dirawat. Mereka akan mendapatkan uang sekian juta dari setiap pasien “yang dipaksa dicatat sebagai pasien COVID-19”. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah COVID-19?Dampaknya bisa kita lihat bahwa merasa “mendapatkan rasa aman palsu” (false sense security). Akhirnya, mereka pun membahayakan orang-orang di sekitarnya karena mereka tidak mau melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker, meminimalisir aktivitas keluar rumah, menghindari kerumuman massa, dan sebagainya. Sebagian lagi menolak upaya tes, baik dengan rapid test maupun swab PCR. Dampaknya pun bisa kita lihat, yaitu upaya pengendalian pandemi ini yang makin sulit.KesimpulanTeori konspirasi ini pada dasarnya mudah untuk dibuat dan disebarkan, namun sangat sulit dibendung, apalagi di zaman internet dan media sosial yang semakin luas penggunaannya saat ini. Mempercayai teori konspirasi dalam masalah kesehatan ternyata berdampak negatif terhadap upaya pengendalian, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 22 Syawal 1441/ 14 Juni 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi: Andersen KG, Rambaut A, Lipkin WI, Holmes EC, Garry RF. The proximal origin of SARS-CoV-2. Nat Med 2020; 26(4): 450-452. Bogart LM dan Thorburn S. Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218. Bogart, et al. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116. Goertzel T. Conspiracy theories in science. EMBO Reports 2010; 11(7): 493-499. Goncalves-Sa J. In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias. Nat Med 2020; 26(3): 305. Jolley D, Douglas KM. The effects of anti-vaccine conspiracy theories on vaccination intentions. PLoS One 2014; 9(2): e89177. Kata A. A postmodern Pandora’s box: anti-vaccination misinformation on the internet. Vaccine 2010; 28(7): 1709-1716. Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm-an overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30(25): 3778-3789. Mian A, Khan S. Coronavirus: the spread of misinformation. BMC Med 2020; 18(1): 89.
Teori konspirasi itu semacam teori yang berusaha menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari suatu peristiwa adalah “rahasia”, atau direncanakan secara diam-diam oleh sekelompok orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk membahayakan kelompok lainnya (minoritas). Ini definisi yang paling mendekati dari teori konspirasi, karena memang belum ada definisi baku secara ilmiah. Teori konspirasi ini umumnya muncul dari misinformasi atau berita palsu yang tersebar di masyarakat. Sehingga kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.Contohnya, sebagian orang percaya bahwa virus HIV itu tidak ada, dan tidak menyebabkan AIDS. Pemanasan global (global warming) itu hanya “tipu-tipuan” semata. Vaksin atau makanan yang dimodifikasi secara genetik itu tidak aman, dan sederet kepercayaan konspirasi lainnya. Dalam artikel singkat ini, kami akan menyebutkan tiga contoh teori konspirasi yang menyasar bidang kesehatan, dan dampaknya baik secara individu, komunitas maupun dalam skala yang lebih luas yaitu skala negara.Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah vaksinTeori konspirasi merupakan salah satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh sebagian orang yang menolak vaksinasi (gerakan anti-vaksin atau anti-vaccine movement). Tidak hanya oleh para penolak vaksin di dalam negeri (Indonesia), tetapi juga di luar negeri. Kondisi ini pun sama, baik di negeri non-muslim maupun di negeri muslim, sebagian dari mereka sangat percaya adanya konspirasi ini. Suatu penelitian yang menganalisis website-website anti-vaksin di luar negeri bahkan menemukan suatu fenomena bahwa teori konspirasi ini merupakan salah satu bahan utama mengkampanyekan pemikiran mereka. Bagi mereka, “informasi sebenarnya” tentang apa itu vaksin dan kandungannya telah “disembunyikan” oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, mereka tidak percaya lagi dengan badan-badan kesehatan resmi di dunia, semacam WHO, CDC, FDA, atau kalau di dalam negeri, mereka tidak percaya dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Mereka percaya bahwa vaksin hanya semata-mata dibuat dan diprogramkan untuk mencari untung (profit dan bisnis), atau hanya akal-akalan dokter (tenaga kesehatan) dan perusahaan vaksin. Selain itu, jika ada reaksi efek samping vaksin (KIPI), maka yang diuntungkan tetap saja dokter. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin itu sama dengan racun dan sengaja disusupi virus HIV.Jangan heran jika ada dokter yang menolak vaksinasi, para penggemar teori konspirasi vaksin akan mendukung dokter tersebut, menyebutnya sebagai “dokter pemberani” dan “penyuara kebenaran”. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin adalah sengaja dibuat untuk membuat menjadi mandul (infertil), dan seterusnya.Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi vaksin?Kita jumpai adanya penurunan cakupan vaksinasi di daerah-daerah yang angka penolakan vaksin semakin tinggi. Sekali lagi, konspirasi ini adalah masalah umum di semua negara, tidak hanya di negara muslim. Jadilah saat ini, dengan adanya penurunan cakupan angka vaksinasi, di sebagian negara tersebut terjadi wabah atau peningkatan kasus penyakit akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya, wabah campak yang sempat melanda Amerika dan negara-negara di Eropa akibat penurunan cakupan vaksinasi campak. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan, seolah kita dipaksa kembali lagi ke era sebelum ditemukannya vaksin, di mana wabah terjadi di mana-mana. Dalam skala nasional, teori konspirasi vaksin pernah melanda Nigeria, di mana pemerintah di sana percaya bahwa vaksin polio sengaja disusupi oleh virus HIV dan hormon penyebab kemandulan. Sehingga mereka pun sempat menghentikan program vaksinasi polio nasional pada akhir tahun 2003. Akibatnya, Nigeria saat itu menjadi salah satu dari tiga negara yang paling banyak melaporkan penderita polio, ketika banyak negara lain di dunia sudah bebas dari infeksi virus polio.Baca JUga: Menerapkan Cek-Ricek dalam Menyikapi Konspirasi Wabah Covid 19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDSVirus HIV dan juga penyakit yang ditimbulkannya (yaitu AIDS) telah lama menjadi sasaran dari teori konspirasi. Sebagian orang menganggap bahwa virus HIV/AIDS itu tidak ada, virus HIV/AIDS “sengaja diciptakan” untuk tujuan tertentu. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa obat-obatan untuk HIV (dikenal dalam istilah medis dengan anti-retroviral therapy atau ART), itu hanyalah “racun” yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh.Di Amerika Serikat, sentimen ini makin parah dengan adanya isu rasisme. Sebagian orang berkulit hitam percaya bahwa virus HIV ini adalah ciptaan pemerintah federal AS atau CIA untuk mengurangi populasi mereka di AS. Kelompok lain yang merasa minoritas, yaitu mereka yang memiliki orientasi seksual gay, mereka percaya bahwa virus HIV memang sengaja diciptakan untuk “membunuh” mereka. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa obat untuk HIV itu sebenarnya sudah ada, tetapi “disembunyikan” terutama untuk orang miskin. Obat medis untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri. Orang yang mau menjalani pengobatan HIV itu ibarat kelinci percobaan pemerintah. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS?Di komunitas-komunitas berisiko tinggi HIV/AIDS (misalnya yang memiliki perilaku seksual berisiko) namun mereka termakan oleh isu-isu teori konspirasi, menyebabkan keengganan mereka untuk melakukan tes HIV (apakah mereka positif ataukah tidak), karena mereka percaya kalau HIV itu tidak ada. Mereka juga tidak mau melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus HIV. Ini bahaya mempercayai teori konspirasi dalam skala individu (komunitas).Dalam skala nasional (negara), pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun percaya dengan isu-isu konspirasi HIV ini. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV di dunia ketika itu.Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar secara medis (ART) kepada rakyatnya. Dia justru percaya bahwa vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV; dan menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat HIV/AIDS dan lebih dari 35.000 bayi baru lahir terinfeksi virus HIV. Padahal, kalau ibu hamil mendapatkan obat ART standar, hal itu akan meminimalisir kemungkinan penularan ke janin yang dikandung.Baca JUga: Penjelasan Ulama Seputar Konspirasi Wabah Covid19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah pandemi COVID-19Di masa pandemi COVID-19 ini, sebagian orang, termasuk di Indonesia, lagi-lagi termakan oleh teori konspirasi. Mereka percaya bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 (penyebab penyakit COVID-19) itu adalah buatan pemerintah Cina untuk kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi. Lalu sebagian lagi percaya bahwa virus SARS-CoV-2 itu tidak ada, atau penyakitnya hanya ringan dan bisa sembuh sendiri.Sebagian lagi memfitnah tenaga medis dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini hanyalah akal-akalan tenaga medis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap penderita yang dirawat. Mereka akan mendapatkan uang sekian juta dari setiap pasien “yang dipaksa dicatat sebagai pasien COVID-19”. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah COVID-19?Dampaknya bisa kita lihat bahwa merasa “mendapatkan rasa aman palsu” (false sense security). Akhirnya, mereka pun membahayakan orang-orang di sekitarnya karena mereka tidak mau melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker, meminimalisir aktivitas keluar rumah, menghindari kerumuman massa, dan sebagainya. Sebagian lagi menolak upaya tes, baik dengan rapid test maupun swab PCR. Dampaknya pun bisa kita lihat, yaitu upaya pengendalian pandemi ini yang makin sulit.KesimpulanTeori konspirasi ini pada dasarnya mudah untuk dibuat dan disebarkan, namun sangat sulit dibendung, apalagi di zaman internet dan media sosial yang semakin luas penggunaannya saat ini. Mempercayai teori konspirasi dalam masalah kesehatan ternyata berdampak negatif terhadap upaya pengendalian, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 22 Syawal 1441/ 14 Juni 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi: Andersen KG, Rambaut A, Lipkin WI, Holmes EC, Garry RF. The proximal origin of SARS-CoV-2. Nat Med 2020; 26(4): 450-452. Bogart LM dan Thorburn S. Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218. Bogart, et al. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116. Goertzel T. Conspiracy theories in science. EMBO Reports 2010; 11(7): 493-499. Goncalves-Sa J. In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias. Nat Med 2020; 26(3): 305. Jolley D, Douglas KM. The effects of anti-vaccine conspiracy theories on vaccination intentions. PLoS One 2014; 9(2): e89177. Kata A. A postmodern Pandora’s box: anti-vaccination misinformation on the internet. Vaccine 2010; 28(7): 1709-1716. Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm-an overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30(25): 3778-3789. Mian A, Khan S. Coronavirus: the spread of misinformation. BMC Med 2020; 18(1): 89.


Teori konspirasi itu semacam teori yang berusaha menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari suatu peristiwa adalah “rahasia”, atau direncanakan secara diam-diam oleh sekelompok orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan untuk membahayakan kelompok lainnya (minoritas). Ini definisi yang paling mendekati dari teori konspirasi, karena memang belum ada definisi baku secara ilmiah. Teori konspirasi ini umumnya muncul dari misinformasi atau berita palsu yang tersebar di masyarakat. Sehingga kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.Contohnya, sebagian orang percaya bahwa virus HIV itu tidak ada, dan tidak menyebabkan AIDS. Pemanasan global (global warming) itu hanya “tipu-tipuan” semata. Vaksin atau makanan yang dimodifikasi secara genetik itu tidak aman, dan sederet kepercayaan konspirasi lainnya. Dalam artikel singkat ini, kami akan menyebutkan tiga contoh teori konspirasi yang menyasar bidang kesehatan, dan dampaknya baik secara individu, komunitas maupun dalam skala yang lebih luas yaitu skala negara.Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah vaksinTeori konspirasi merupakan salah satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh sebagian orang yang menolak vaksinasi (gerakan anti-vaksin atau anti-vaccine movement). Tidak hanya oleh para penolak vaksin di dalam negeri (Indonesia), tetapi juga di luar negeri. Kondisi ini pun sama, baik di negeri non-muslim maupun di negeri muslim, sebagian dari mereka sangat percaya adanya konspirasi ini. Suatu penelitian yang menganalisis website-website anti-vaksin di luar negeri bahkan menemukan suatu fenomena bahwa teori konspirasi ini merupakan salah satu bahan utama mengkampanyekan pemikiran mereka. Bagi mereka, “informasi sebenarnya” tentang apa itu vaksin dan kandungannya telah “disembunyikan” oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, mereka tidak percaya lagi dengan badan-badan kesehatan resmi di dunia, semacam WHO, CDC, FDA, atau kalau di dalam negeri, mereka tidak percaya dengan Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Mereka percaya bahwa vaksin hanya semata-mata dibuat dan diprogramkan untuk mencari untung (profit dan bisnis), atau hanya akal-akalan dokter (tenaga kesehatan) dan perusahaan vaksin. Selain itu, jika ada reaksi efek samping vaksin (KIPI), maka yang diuntungkan tetap saja dokter. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin itu sama dengan racun dan sengaja disusupi virus HIV.Jangan heran jika ada dokter yang menolak vaksinasi, para penggemar teori konspirasi vaksin akan mendukung dokter tersebut, menyebutnya sebagai “dokter pemberani” dan “penyuara kebenaran”. Sebagian lagi percaya bahwa vaksin adalah sengaja dibuat untuk membuat menjadi mandul (infertil), dan seterusnya.Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi vaksin?Kita jumpai adanya penurunan cakupan vaksinasi di daerah-daerah yang angka penolakan vaksin semakin tinggi. Sekali lagi, konspirasi ini adalah masalah umum di semua negara, tidak hanya di negara muslim. Jadilah saat ini, dengan adanya penurunan cakupan angka vaksinasi, di sebagian negara tersebut terjadi wabah atau peningkatan kasus penyakit akibat penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya, wabah campak yang sempat melanda Amerika dan negara-negara di Eropa akibat penurunan cakupan vaksinasi campak. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan, seolah kita dipaksa kembali lagi ke era sebelum ditemukannya vaksin, di mana wabah terjadi di mana-mana. Dalam skala nasional, teori konspirasi vaksin pernah melanda Nigeria, di mana pemerintah di sana percaya bahwa vaksin polio sengaja disusupi oleh virus HIV dan hormon penyebab kemandulan. Sehingga mereka pun sempat menghentikan program vaksinasi polio nasional pada akhir tahun 2003. Akibatnya, Nigeria saat itu menjadi salah satu dari tiga negara yang paling banyak melaporkan penderita polio, ketika banyak negara lain di dunia sudah bebas dari infeksi virus polio.Baca JUga: Menerapkan Cek-Ricek dalam Menyikapi Konspirasi Wabah Covid 19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDSVirus HIV dan juga penyakit yang ditimbulkannya (yaitu AIDS) telah lama menjadi sasaran dari teori konspirasi. Sebagian orang menganggap bahwa virus HIV/AIDS itu tidak ada, virus HIV/AIDS “sengaja diciptakan” untuk tujuan tertentu. Lebih dari itu, mereka percaya bahwa obat-obatan untuk HIV (dikenal dalam istilah medis dengan anti-retroviral therapy atau ART), itu hanyalah “racun” yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh.Di Amerika Serikat, sentimen ini makin parah dengan adanya isu rasisme. Sebagian orang berkulit hitam percaya bahwa virus HIV ini adalah ciptaan pemerintah federal AS atau CIA untuk mengurangi populasi mereka di AS. Kelompok lain yang merasa minoritas, yaitu mereka yang memiliki orientasi seksual gay, mereka percaya bahwa virus HIV memang sengaja diciptakan untuk “membunuh” mereka. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, sebagian penduduk AS keturunan Afrika percaya bahwa obat untuk HIV itu sebenarnya sudah ada, tetapi “disembunyikan” terutama untuk orang miskin. Obat medis untuk HIV saat ini sebenarnya menyebabkan HIV itu sendiri. Orang yang mau menjalani pengobatan HIV itu ibarat kelinci percobaan pemerintah. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah HIV/AIDS?Di komunitas-komunitas berisiko tinggi HIV/AIDS (misalnya yang memiliki perilaku seksual berisiko) namun mereka termakan oleh isu-isu teori konspirasi, menyebabkan keengganan mereka untuk melakukan tes HIV (apakah mereka positif ataukah tidak), karena mereka percaya kalau HIV itu tidak ada. Mereka juga tidak mau melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus HIV. Ini bahaya mempercayai teori konspirasi dalam skala individu (komunitas).Dalam skala nasional (negara), pemerintah Afrika Selatan di bawah Presiden Thabo Mbeki pun percaya dengan isu-isu konspirasi HIV ini. Padahal, Afrika Selatan adalah salah satu negara yang paling parah terkena wabah HIV di dunia ketika itu.Akibat pengaruh isu konspirasi, pemerintah Afrika Selatan kemudian tidak menyediakan obat-obat HIV standar secara medis (ART) kepada rakyatnya. Dia justru percaya bahwa vitamin, jus lemon, dan bawang putih sebagai obat alternatif untuk HIV; dan menolak dana bantuan internasional untuk mengatasi wabah HIV di negaranya. Selama kurun waktu tahun 2000-2005, diperkirakan lebih dari 330.000 warga Afrika Selatan meninggal akibat HIV/AIDS dan lebih dari 35.000 bayi baru lahir terinfeksi virus HIV. Padahal, kalau ibu hamil mendapatkan obat ART standar, hal itu akan meminimalisir kemungkinan penularan ke janin yang dikandung.Baca JUga: Penjelasan Ulama Seputar Konspirasi Wabah Covid19Percaya dengan teori konspirasi dalam masalah pandemi COVID-19Di masa pandemi COVID-19 ini, sebagian orang, termasuk di Indonesia, lagi-lagi termakan oleh teori konspirasi. Mereka percaya bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 (penyebab penyakit COVID-19) itu adalah buatan pemerintah Cina untuk kepentingan bisnis, politik, dan ekonomi. Lalu sebagian lagi percaya bahwa virus SARS-CoV-2 itu tidak ada, atau penyakitnya hanya ringan dan bisa sembuh sendiri.Sebagian lagi memfitnah tenaga medis dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini hanyalah akal-akalan tenaga medis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap penderita yang dirawat. Mereka akan mendapatkan uang sekian juta dari setiap pasien “yang dipaksa dicatat sebagai pasien COVID-19”. Lalu, apa bahaya mempercayai teori konspirasi dalam masalah COVID-19?Dampaknya bisa kita lihat bahwa merasa “mendapatkan rasa aman palsu” (false sense security). Akhirnya, mereka pun membahayakan orang-orang di sekitarnya karena mereka tidak mau melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker, meminimalisir aktivitas keluar rumah, menghindari kerumuman massa, dan sebagainya. Sebagian lagi menolak upaya tes, baik dengan rapid test maupun swab PCR. Dampaknya pun bisa kita lihat, yaitu upaya pengendalian pandemi ini yang makin sulit.KesimpulanTeori konspirasi ini pada dasarnya mudah untuk dibuat dan disebarkan, namun sangat sulit dibendung, apalagi di zaman internet dan media sosial yang semakin luas penggunaannya saat ini. Mempercayai teori konspirasi dalam masalah kesehatan ternyata berdampak negatif terhadap upaya pengendalian, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 22 Syawal 1441/ 14 Juni 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi: Andersen KG, Rambaut A, Lipkin WI, Holmes EC, Garry RF. The proximal origin of SARS-CoV-2. Nat Med 2020; 26(4): 450-452. Bogart LM dan Thorburn S. Are HIV/AIDS conspiracy beliefs a barrier to HIV prevention among Africans Americans? J Acquir Immune Defic Syndr 2005; 38(2): 213-218. Bogart, et al. Endorsement of a genocidal HIV conspiracy as a barrier to HIV testing in South Africa. J Acquir Immune Defic Syndr 2008; 49(1): 115-116. Goertzel T. Conspiracy theories in science. EMBO Reports 2010; 11(7): 493-499. Goncalves-Sa J. In the fight against the new coronavirus outbreak, we must also struggle with human bias. Nat Med 2020; 26(3): 305. Jolley D, Douglas KM. The effects of anti-vaccine conspiracy theories on vaccination intentions. PLoS One 2014; 9(2): e89177. Kata A. A postmodern Pandora’s box: anti-vaccination misinformation on the internet. Vaccine 2010; 28(7): 1709-1716. Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm-an overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30(25): 3778-3789. Mian A, Khan S. Coronavirus: the spread of misinformation. BMC Med 2020; 18(1): 89.

Siapa yang Menafkahi Orang Tua?

Orang tua adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik bagi seorang anak. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. Allahul musta’an.Siapa yang wajib menafkahi orang tua?Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah ta’ala berfirman:الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisaa’: 34).Kewajiban nafkah dari ayah kepada ibu tentunya sesuai kemampuan ayah. Seandainya ayah sudah tua dan hanya bisa memberi penghasilan yang sedikit, maka sekadar itulah yang wajib baginya. Allah ta’ala berfirman:لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).Maka selama ayah masih mampu memberi nafkah kepada dirinya sendiri dan kepada ibu, dalam kondisi ini tidak ada orang lain yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.Baca Juga: Apakah Anak Wajib Membayar Hutang Orang Tua?Namun jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, atau tidak memiliki penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?Kaidahnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah ta’ala berfirman:وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian” (QS. Al Baqarah: 233).Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan ayat “dan ahli waris pun berkewajiban demikian”, beliau berkata :فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu” (Tafsir As Sa’di).Dan ahli waris yang berkewajiban adalah yang paling dekat posisinya dari ayah dan ibu. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nahi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).Baca Juga: Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?Untuk memahami ahli waris mana yang posisinya paling dekat, maka kita pahami dahulu bahwa pengelompokkan ahli waris dibagi berdasarkan 2 sisi : Jihhah (arah), urutannya: bunuwwah (anak, dan terus ke bawah) ubuwwah (ayah, dan terus ke atas) ukhuwah (saudara, dan terus ke samping) umuwwah (ibu, dan terus ke atas) Darajah, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi “anak” lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada “cucu”.  Menentukan ahli waris yang terdekat adalah dengan melihat urutan jihhah dahulu, lalu ketika ada 2 jenis ahli waris yang jihhah-nya sama, maka dilihat dari sisi darajah. Misalnya:Ayah dan ibu miskin, misalnya ahli waris yang ada adalah anak, cucu, dan saudara kandung. Anak dan cucu urutan jihhah-nya lebih tinggi (bunuwwah) dari saudara kandung (ukhuwwah). Kemudian anak dan cucu memiliki jihhah yang sama, namun anak lebih dekat kepada ayah-ibu daripada cucu. Sehingga yang wajib menafkahi adalah anak. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan ubuwwah (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).Jika dari kalangan ubuwwah tidak ada maka dari kalangan ukhuwwah (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.Baca Juga: Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang TuaWajibnya berbakti kepada orang tuaKetika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berusaha berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).Maka hendaknya jangan menunggu jatuhnya kewajiban untuk menafkahi, namun hendaknya bersegera memberikan segala kebaikan yang dimampui kepada orang tua. Karena orang tualah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan paling maksimal dari kita. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ“Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim no. 2551)Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada orang tua. Namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga. Siapa yang bersegera dan berusaha terdepan, akan memasukinya. Sedangkan yang berlambat-lambat atau menyia-nyiakan, bisa jadi akan terluput dari pintu tersebut. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Siapa yang Menafkahi Orang Tua?

Orang tua adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik bagi seorang anak. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. Allahul musta’an.Siapa yang wajib menafkahi orang tua?Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah ta’ala berfirman:الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisaa’: 34).Kewajiban nafkah dari ayah kepada ibu tentunya sesuai kemampuan ayah. Seandainya ayah sudah tua dan hanya bisa memberi penghasilan yang sedikit, maka sekadar itulah yang wajib baginya. Allah ta’ala berfirman:لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).Maka selama ayah masih mampu memberi nafkah kepada dirinya sendiri dan kepada ibu, dalam kondisi ini tidak ada orang lain yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.Baca Juga: Apakah Anak Wajib Membayar Hutang Orang Tua?Namun jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, atau tidak memiliki penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?Kaidahnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah ta’ala berfirman:وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian” (QS. Al Baqarah: 233).Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan ayat “dan ahli waris pun berkewajiban demikian”, beliau berkata :فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu” (Tafsir As Sa’di).Dan ahli waris yang berkewajiban adalah yang paling dekat posisinya dari ayah dan ibu. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nahi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).Baca Juga: Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?Untuk memahami ahli waris mana yang posisinya paling dekat, maka kita pahami dahulu bahwa pengelompokkan ahli waris dibagi berdasarkan 2 sisi : Jihhah (arah), urutannya: bunuwwah (anak, dan terus ke bawah) ubuwwah (ayah, dan terus ke atas) ukhuwah (saudara, dan terus ke samping) umuwwah (ibu, dan terus ke atas) Darajah, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi “anak” lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada “cucu”.  Menentukan ahli waris yang terdekat adalah dengan melihat urutan jihhah dahulu, lalu ketika ada 2 jenis ahli waris yang jihhah-nya sama, maka dilihat dari sisi darajah. Misalnya:Ayah dan ibu miskin, misalnya ahli waris yang ada adalah anak, cucu, dan saudara kandung. Anak dan cucu urutan jihhah-nya lebih tinggi (bunuwwah) dari saudara kandung (ukhuwwah). Kemudian anak dan cucu memiliki jihhah yang sama, namun anak lebih dekat kepada ayah-ibu daripada cucu. Sehingga yang wajib menafkahi adalah anak. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan ubuwwah (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).Jika dari kalangan ubuwwah tidak ada maka dari kalangan ukhuwwah (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.Baca Juga: Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang TuaWajibnya berbakti kepada orang tuaKetika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berusaha berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).Maka hendaknya jangan menunggu jatuhnya kewajiban untuk menafkahi, namun hendaknya bersegera memberikan segala kebaikan yang dimampui kepada orang tua. Karena orang tualah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan paling maksimal dari kita. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ“Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim no. 2551)Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada orang tua. Namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga. Siapa yang bersegera dan berusaha terdepan, akan memasukinya. Sedangkan yang berlambat-lambat atau menyia-nyiakan, bisa jadi akan terluput dari pintu tersebut. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Orang tua adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik bagi seorang anak. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. Allahul musta’an.Siapa yang wajib menafkahi orang tua?Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah ta’ala berfirman:الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisaa’: 34).Kewajiban nafkah dari ayah kepada ibu tentunya sesuai kemampuan ayah. Seandainya ayah sudah tua dan hanya bisa memberi penghasilan yang sedikit, maka sekadar itulah yang wajib baginya. Allah ta’ala berfirman:لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).Maka selama ayah masih mampu memberi nafkah kepada dirinya sendiri dan kepada ibu, dalam kondisi ini tidak ada orang lain yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.Baca Juga: Apakah Anak Wajib Membayar Hutang Orang Tua?Namun jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, atau tidak memiliki penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?Kaidahnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah ta’ala berfirman:وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian” (QS. Al Baqarah: 233).Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan ayat “dan ahli waris pun berkewajiban demikian”, beliau berkata :فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu” (Tafsir As Sa’di).Dan ahli waris yang berkewajiban adalah yang paling dekat posisinya dari ayah dan ibu. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nahi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).Baca Juga: Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?Untuk memahami ahli waris mana yang posisinya paling dekat, maka kita pahami dahulu bahwa pengelompokkan ahli waris dibagi berdasarkan 2 sisi : Jihhah (arah), urutannya: bunuwwah (anak, dan terus ke bawah) ubuwwah (ayah, dan terus ke atas) ukhuwah (saudara, dan terus ke samping) umuwwah (ibu, dan terus ke atas) Darajah, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi “anak” lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada “cucu”.  Menentukan ahli waris yang terdekat adalah dengan melihat urutan jihhah dahulu, lalu ketika ada 2 jenis ahli waris yang jihhah-nya sama, maka dilihat dari sisi darajah. Misalnya:Ayah dan ibu miskin, misalnya ahli waris yang ada adalah anak, cucu, dan saudara kandung. Anak dan cucu urutan jihhah-nya lebih tinggi (bunuwwah) dari saudara kandung (ukhuwwah). Kemudian anak dan cucu memiliki jihhah yang sama, namun anak lebih dekat kepada ayah-ibu daripada cucu. Sehingga yang wajib menafkahi adalah anak. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan ubuwwah (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).Jika dari kalangan ubuwwah tidak ada maka dari kalangan ukhuwwah (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.Baca Juga: Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang TuaWajibnya berbakti kepada orang tuaKetika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berusaha berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).Maka hendaknya jangan menunggu jatuhnya kewajiban untuk menafkahi, namun hendaknya bersegera memberikan segala kebaikan yang dimampui kepada orang tua. Karena orang tualah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan paling maksimal dari kita. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ“Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim no. 2551)Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada orang tua. Namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga. Siapa yang bersegera dan berusaha terdepan, akan memasukinya. Sedangkan yang berlambat-lambat atau menyia-nyiakan, bisa jadi akan terluput dari pintu tersebut. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Orang tua adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik bagi seorang anak. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. Allahul musta’an.Siapa yang wajib menafkahi orang tua?Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah ta’ala berfirman:الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisaa’: 34).Kewajiban nafkah dari ayah kepada ibu tentunya sesuai kemampuan ayah. Seandainya ayah sudah tua dan hanya bisa memberi penghasilan yang sedikit, maka sekadar itulah yang wajib baginya. Allah ta’ala berfirman:لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).Maka selama ayah masih mampu memberi nafkah kepada dirinya sendiri dan kepada ibu, dalam kondisi ini tidak ada orang lain yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.Baca Juga: Apakah Anak Wajib Membayar Hutang Orang Tua?Namun jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, atau tidak memiliki penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?Kaidahnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah ta’ala berfirman:وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian” (QS. Al Baqarah: 233).Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan ayat “dan ahli waris pun berkewajiban demikian”, beliau berkata :فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu” (Tafsir As Sa’di).Dan ahli waris yang berkewajiban adalah yang paling dekat posisinya dari ayah dan ibu. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nahi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya” (HR. Muslim no. 997).Baca Juga: Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?Untuk memahami ahli waris mana yang posisinya paling dekat, maka kita pahami dahulu bahwa pengelompokkan ahli waris dibagi berdasarkan 2 sisi : Jihhah (arah), urutannya: bunuwwah (anak, dan terus ke bawah) ubuwwah (ayah, dan terus ke atas) ukhuwah (saudara, dan terus ke samping) umuwwah (ibu, dan terus ke atas) Darajah, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi “anak” lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada “cucu”.  Menentukan ahli waris yang terdekat adalah dengan melihat urutan jihhah dahulu, lalu ketika ada 2 jenis ahli waris yang jihhah-nya sama, maka dilihat dari sisi darajah. Misalnya:Ayah dan ibu miskin, misalnya ahli waris yang ada adalah anak, cucu, dan saudara kandung. Anak dan cucu urutan jihhah-nya lebih tinggi (bunuwwah) dari saudara kandung (ukhuwwah). Kemudian anak dan cucu memiliki jihhah yang sama, namun anak lebih dekat kepada ayah-ibu daripada cucu. Sehingga yang wajib menafkahi adalah anak. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan ubuwwah (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).Jika dari kalangan ubuwwah tidak ada maka dari kalangan ukhuwwah (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.Baca Juga: Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang TuaWajibnya berbakti kepada orang tuaKetika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berusaha berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. dari Abu Ibni Malik dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42-43).Maka hendaknya jangan menunggu jatuhnya kewajiban untuk menafkahi, namun hendaknya bersegera memberikan segala kebaikan yang dimampui kepada orang tua. Karena orang tualah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan paling maksimal dari kita. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ“Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim no. 2551)Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada orang tua. Namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga. Siapa yang bersegera dan berusaha terdepan, akan memasukinya. Sedangkan yang berlambat-lambat atau menyia-nyiakan, bisa jadi akan terluput dari pintu tersebut. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Kitabul Jami’ Bab 2 – Muqadimah Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)

Sumber gambar: UnsplashKitabul Jami’ Muqadimah Bab 2 Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAMUQADIMAHBismillahirrahmānirrahīm, alhamdulillāh wash-shalātu was-salāmu ‘ala Rasūlillāh.Pembaca yang dirahmati Allah, bab kedua dari kitābul jāmi’ adalah bab “Al-Birr wa Ash-Shilah” (berbuat kebaikan dan menyambung silaturahim).Sebelum kita membahas hadits-hadits yang berkaitan dengan silaturahim, maka ada beberapa hal yang perlu diingatkan.Yang pertama, ada perbedaan antara al-birru (berbakti) dan as-shilah (menyambung silaturahmi). Berbakti kedudukannya lebih tinggi daripada silaturahmi, berbakti berkaitan dengan berbuat baik kepada kedua orangtua, adapun silaturahmi berkaitan dengan berbuat baik kepada kerabat selain kedua orang tua. Karenanya orang yang tidak berbakti dinamakan  anak yang durhaka (العَاقُّ), adapun orang yang tidak menyambung silaturahmi dinamakan “pemutus silaturahmi” (القَاطِعُ).Yang dimaksud dengan berbakti adalah berbakti kepada kedua orang tua kandung, adapun kepada kakek dan nenek maka juga dinamakan berbakti akan tetapi kedudukannya dibawah berbakti kepada kedua orangtua kandung. Tatkala Allah menyebutkan tentang kedua orangtua maka Allah menyebutkan tentang kedua orang tua kandung. Allah berfirman:وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“ (QS Al-Isroo’ 23-24)Firman Allah (Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut) dan (sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil) menunjukan bahwa yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orangtua adalah kedua orangtua langsung yang telah merawat kita tatkala kita kecil.Yang kedua, banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah silaturahim. Mereka mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Misalnya, ketika seseorang hendak mengunjungi saudara, teman, atau ustadznya dia mengatakan, “Kita akan silaturahim kepada ustadz,” atau, “Kita akan silaturahim ke rumah teman.” Padahal dimaksud adalah ziarah (berkunjung). Sedangkan silaturahim adalah menyambung kekerabatan. Sudah jelas bahwa kita dengan teman atau ustadz tidak ada hubungan kekerabatan. Jadi istilah yang benar seharusnya. “kita menziarahi ustadz atau teman.”Mengapa demikian? Karena Allāh dan syari’at memang membedakan antara “silaturahim” (menyambung kekerabatan) dan “ziyāratul ikhwān” (mengunjungi teman). Antara silaturahim dengan ziarah berbeda, pahalanya pun berbeda. Masing-masing memiliki kedudukan, akan tetapi silaturahim memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sekedar ziarah.Namun demikianlah yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Sebagian besar orang mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Padahal itu adalah istilah yang tidak tepat dan harus diperbaiki. Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziarah/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Silaturahim mendatangkan pahala-pahala yang istimewa. Di antara pahala silaturahim adalah seperti disebutkan dalam firman Allāh ﷻ:وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Ini menunjukkan silaturahim merupakan salah satu amalan yang luar biasa, yang dapat menyebabkan seseorang bisa masuk surga.Selain ayat di atas, ada banyak sekali hadits yang menyebutkan  tentang keutamaan menyambung silaturahim dengan ibu, ayah, bibi, dan kerabat-kerabat lain secara umum.Oleh karenanya, jangan disamakan antara “silaturahim” dengan “ziyāratul ikhwān atau akhwāt”. Yang ketiga, “apa makna ar-rahim (kerabat)?” dan “kepada siapa kita harus bersilaturahim?Kerabat bisa diklasifikasikan menjadi tiga berikut ini.Kerabat dari ashhār (keluarga istri). Termasuk di dalam-nya adalah  ipar, mertua, dan sebagainya.Kerabat sepersusuan, seperti saudara sepersusuan, kakak se-persusuan, ayah sepersusuan, dan sebagainya.Kerabat dari nasab, yaitu kerabat yang memiliki hubungan darah, misalnya saudara kandung, saudara satu kakek, dan sebagainya.Lalu, di antara tiga jenis kerabat ini, manakah yang harus disambung tali kekerabatannya (silaturahim)?Yang dimaksud dengan silaturahim adalah yang menyambung hubungan karena nasab atau hubungan darah, yaitu yang ketiga.Menyambung hubungan dengan kerabat istri tidak dinamakan silaturahim, meskipun hal itu juga termasuk perbuatan baik yang dianjurkan sebagai bagian dari berbuat baik kepada manusia secara umum, terlebih bagi yang punya hubungan kekerabatan dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada mertua atau ipar tidak dinamakan silaturahim. Meskipun kita juga berharap mudah-mudahan kita mendapat pahala silaturahim karena kita membantu istri kita untuk bersilaturahim dengan ayah dan ibunya.Berkaitan dengan saudara sepersusuan, Rasulullah ﷺ bersabda,يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari dan Muslim)Yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan pernikahan, yaitu yang menjadi mahram karena nasab (hubungan darah) dan juga berkaitan dengan persusuan, karena orang yang sepersusuan bisa menjadi mahram. Akan tetapi,  Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan,يَجِبُ مِنَ الرَّضَاعَ مَا يَجِبُ مِنَ النَّسَبِ“Yang wajib berlaku pada nasab juga berlaku pada sepersusuan.” Seandainya Nabi ﷺ berkata demikian, berarti kita wajib juga bersilaturahim kepada saudara sepersusuan. Namun ternyata Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan demikian.Dengan demikian, maka kita kembali kepada hukum umum, yaitu kita berusaha berbuat baik kepada seluruh manusia, terlebih lagi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan sepersusuan dengan kita. Namun hal itu tidak dinamakan silaturahim dan ayat serta hadits di atas bukan termasuk dari ayat dan hadits yang memerintahkan silaturahim.Jadi kesimpulannya, yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan karena nasab atau darah.Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah seluruh orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita wajib kita sambung silaturrahīm? Maka dalam hal ini ada 3 pendapat di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut.Pendapat PertamaMenurut pendapat ini, yang wajib untuk disambung silaturrahīm adalah kerabat-kerabat yang memiliki hubungan mahram dengan kita, baik mahram dari sisi laki-laki maupun perempuan. Contohnya:Orang tua; ayah merupakan mahram bagi putrinya dan ibu merupakan mahram dari putranya.Saudara laki-laki dan saudara perempuan, baik sekandung, seayah dan seibu/seayah.Kakek dan nenek.Cucu.Al-a’mām (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari bapak.Al-ammāt (Bibi-bibi yang merupakan saudari-saudari pe-rempuan dari bapak).Akhwāl (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari ibu).Khālāt (bibi-bibi, yang merupakan saudari-saudari perempuan dari ibu).Ini merupakan pendapat yang masyhur dari Hanafiyah dan Malikiyyah,. Mereka berdalil dengan suatu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا ، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا“Tidak boleh seseorang (tatkala berpoligami kemudian dia) menggabungkan antara seorang wanita dengan tantenya (saudari dari bapaknya) atau dia menikah sekaligus dengan bibi wanita tersebut (saudari dari ibunya).” Hal ini dilarang oleh Nabi ﷺ karena bisa memutuskan silaturrahīm antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya. Kita tahu, hubungan antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya adalah hubungan mahram. Dari sini, mereka (para ulama)  mengatakan, “Yang wajib disambung silaturahim adalah yang memiliki hubungan mahram.”Kelaziman dari pendapat ini adalah berarti kalau sepupu tidak wajib kita sambung silaturrahīm karena dia bukan mahram. Ini pendapat yang agak kuat, karena bagaimana kita (laki-laki) menyambung silaturrahīm dengan sepupu perempuan sementara dia bukan mahram, bagaimana kita (laki-laki) mau mengobrol dengan dia sementara bukan mahram. Akan tetapi menyambung silaturahmi dengan sepupu hukumnya adalah mustahab dan tidak wajib. Karena manyambung silaturahmi dengan sepupu tidak selues dan sebebas menyambung silaturahmi dengan kerabat yang mahram.Oleh karena itu, kita perlu mengenal dan perlu pembahasan khusus tentang mahram ini.Pendapat KeduaMenurut pendapat kedua, yang dimaksud rahīm yang wajib kita sambung yaitu ahli waris.Ini merupakan pendapat sebagian fuqaha seperti pendapat Al-Qadhi’iyyāt dari madzhab Maliki dan An-Nawawi dari madzhab Syafi’iyyah.Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ: أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَRasūlullāh ﷺ tatkala ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasūlullāh, siapakah yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Maka jawaban Nabi ﷺ, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang paling dekat denganmu yang paling dekat denganmu.” (HR. Muslim)Para ulama yang berpegang dengan pendapat ini memahami bahwa kalimat “ibu dan ayah” merupakan termasuk ahli waris kita. Sedangkan kalimat “yang paling dekat denganmu” adalah yang paling dekat dari sisi ahli waris.Namun pendapat ini terbantahkan (kurang kuat) karena 2 sebab, yaitu:Sebab pertama, Sabda Nabi ﷺ dengan lafadz “yang lebih dekat dengan engkau” tidak dapat hanya difahami sebagai ahli waris saja, akan tetapi lebih tepat jika dibawa kepada makna umum, yaitu “yang paling dekat sisi kekerabatannya/nasabnya denganmu.”Nabi tidak menyebutkan bahwa “yang paling dekat” adalah ahli waris, sehingga tidak boleh kita khususkan sesuatu yang umum.Sebab kedua, pendapat ini melazimkan kita untuk tidak perlu menyambung silaturrahīm dengan bibi atau tante, terutama dengan bibi dari pihak ibu, karena bibi bukan ahli waris kita. Padahal dalam hadits Rasūlullāh ﷺ mengatakan,الخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ“Bibi saudari perempuan ibu adalah kedudukannya seperti ibu.” (HR. Bukhari Muslim)Menurut hadits ini, wajib bagi kita untuk menyambung silaturrahīm dan berbuat baik kepada bibi sebagaimana berbuat baik kepada ibu, meskipun bibi bukan termasuk ahli waris.Oleh karena itu, pendapat yang ke-2 ini adalah pendapat yang kurang kuat. Pendapat KetigaMenurut pendapat ini, seluruh kerabat wajib kita sambung silaturrahīm. Semakin dekat maka semakin wajib, semakin jauh maka semakin berkurang kewajibannya. Tetapi pada asalnya wajib menyambung silaturrahīm kepada seluruh kerabat.Pendapat ini juga kurang kuat. Pendapat ini mengandung konsekwensi bahwa kita wajib berhubungan baik (silaturrahīm) dengan seluruh manusia. Karena pada dasarnya nashab seluruh manusia akan kembali kepada Nabi Adam, karena kita seluruhnya adalah keturunan Nabi Adam dan ibunda Hawa. Jika demikian, maka seluruh nashab wajib kita sambung silaturahim, sehingga kita harus bersilaturahim dengan seluruh manusia.Oleh karenanya, Allāhu a’lam bish-shawāb, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Bahwasanya yang wajib kita sambung silaturrahīm adalah yang merupakan mahram kita, dan yang selainnya hukumnya sunnah.Para mahram inilah yang wajib kita senantiasa kita hubungi dan berbuat baik dengan mereka, entah dengan bertelepon, berkirim surat dan pesan, berkunjung, dan berbagi kebaikan kepada mereka. Adapun selain mereka adalah nomor dua alias sunnah, seperti saudara sepersusuan, saudara istri, dan kerabat-kerabat yang jauh yang bukan mahram.Allāhu a’lam bish-shwāb, ini adalah khilaf para ulama agar kita tahu dengan jelas mana yang lebih utama kita sambung silaturrahīm dan mana yang tingkatan kedua (kurang utama). Jangan sampai kita lebih mementingkan yang sunnah (kurang utama) dan meninggalkan yang wajib (utama).Di antara hal yang sering ditanyakan adalah, “Apakah wajib bagi kita untuk berbuat baik kepada mertua sebagaimana berbuat baik kepada ibu kandung?”Maka jawabannya adalah, “Tidak wajib.”Barangsiapa yang sengaja berbuat baik kepada mertua sama dengan berbuat baik kepada ibunya, maka dia telah menyakiti hati ibunya. Ibunya (yang telah mengandung dan merawatnya saat kecil) akan merasa sedih tatkala dia disamakan dengan mertuanya. Sudah semestinya, ibu ditempatkan lebih tinggi daripada mertua.Berbut baik kepada mertua tidak termasuk silaturrahīm karena tidak ada hubungan rahim. Jika seorang suami berbuat baik kepada mertua maka hal itu dapat membantu istri berbuat baik kepada orang tuanya, sehingga istri akan mendapat pahala silaturrahīm. Tetapi dari sisi suami, kewajiban kepada mertua tidak sama dengan kewajiban kepada ibu kandung. Bahkan keduanya sangat berbeda. Kepada mertua bukan silaturrahīm, adapun ibu adalah silaturrahīm yang nomor satu.Hal ini perlu dicamkan bagi pasangan suami istri agar istri tidak menuntut perlakuan yang sama dari suaminya antara  kepada ibunya dan kepada ibu suaminya. Hal ini tentu tidak boleh. Suami yang baik tentu akan berusaha berbuat baik kepada mertuanya dan membantu istrinya agar bisa bersilaturrahīm dengan ayah dan ibunya sementara ibunya sendiri tetap dinomorsatukan. Wallāhu a’lam bishshawāb.Peringatan:Pertama : Hukum berbakti kepada kedua orang tua yang kafir dan fasikIbnu Hazm berkata :وَاتَّفَقُوا أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ فَرْضٌ“Para ulama sepakat bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib” (Marotibul Ijmaa’ hal 157)Para ulama tatkala menjelaskan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua mereka tidak membeda-bedakan antara orang tua yang ta’at atau fasik atau kafir. Karena meskipun mereka kafir atau fasik mereka tetap memiliki jasa yang besar dan hak yang besar yang harus dibalas dan ditunaikan.Bahkan sebagian ulama menyatakan secara tegas bahwa kewajiban berbakti mencakup kedua orang tua yang fasik maupun kafir.Ibnu Abi Zaid Al-Qoirawani (ulama bermadzhab Malikiah yang wafat tahun 386 H) berkata :وَمِنَ الْفَرَائِضِ بِرُّ الوَالِدَيْنِ وَإِنْ كَانَا فَاسِقَيْنِ وَإِنْ كَانَا مُشْرِكَيْنِ“Dan diantara kewajiban adalah berbakti kepada kedua orangtua meskipun keduanya fasiq dan meskipun keduanya musyrik” (Risalah Ibni Abi Zaid AL-Qoirawani hal 153)Allah berfirmanوَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman : 14-15)Konteks kedua ayat ini sangat tegas bahwa sejak awal Allah tidak membedakan antara orangtua yang muslim ataupun orang yang kafir/musyrik. Bahkan dzohir ayat ini pembicaraannya tentang orang tua yang musyrik, karenanya Allah berfirman (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu).Al-Baghowi berkata :وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا أَيْ: بِالْمَعْرُوفِ، وَهُوَ الْبِرُّ وَالصِّلَةُ وَالْعِشْرَةُ الْجَمِيلَةُ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu berbakti, menyembung silaturahmi, dan pergaulan yang baik” (Tafsir Al-Baghowi 6/288)Ibnu ‘Athiyyah berkataوقوله وَصاحِبْهُما فِي الدُّنْيا مَعْرُوفاً يَعْنِي الأَبَوَيْنِ الْكَافِرَيْنِ أَيْ صِلْهُمَا بِالْمَالِ وَادْعُهُمَا بِرِفْقٍ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu kedua orangtua yang kafir, yaitu sambunglah silaturahmi dengan memberi harta kepada mereka berdua dan dakwahilah mereka berdua dengan kelembutan” (Al-Muharror al-Wajiiz fi Tafsiir al-Kitaab al-‘Aziiz 4/349)Asmaa’ binti Abi Bakar berkata :قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: «نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ»“Ibuku datang kepadaku dan ia dalam kondisi musyrik di masa perjanjian Rasulullah (al-Hudaibiyah/perjanjian damai dengan kaum kafir Quraisy), maka akupun bertanya kepada Rasulullah, aku berkata, “Dia ingin berbuat baik, apakah aku menyambung silaturahmi dengan ibuku (yang musyrik)?”. Nabi berkata, “Iya, sambung silaturahmi dengan ibumu” (HR Al-Bukhari No. 2620 dan Muslim No. 1003)Bahkan sebagian ulama dari madzhab Al-Malikiyah menyatakan tetap taat kepada kedua orang tua meskipun mereka hendak melakukan kesyirikan atau kemaksiatan yang menurut agama mereka adalah kebaikan.Ahmad bin Ghonim Al-Azhari Al-Maliki berkata :فَيَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَصِّلَ أَبَاهُ الْكَافِرَ إلَى كَنِيسَتِهِ إنْ طَلَبَ مِنْهُ ذَلِكَ وَعَجَزَ عَنْ الْوُصُولِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ عَمًى كَمَا قَالَهُ ابْنُ قَاسِمٍ، كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَدْفَعَ لَهُمَا مَا يُنْفِقَانِهِ فِي أَعْيَادِهِمَا لَا مَا يَصْرِفَانِهِ فِي نَحْوِ الْكَنِيسَةِ أَوْ يَدْفَعَانِهِ لِلْقِسِّيسِ“Maka wajib bagi sang anak yang muslim untuk mengantarkan ayahnya yang kafir ke gerejanya jika sang ayah meminta untuk mengantarnya dan sang aya tidak mampu untuk berangkat sendiri, misalnya karena buta. Hal ini sebagaimana pendapat Ibnu Qosim. Sebagaimana wajib juga atas sang anak untuk memberikan harta bagi kedua orang tuanya (yang kafir) apa yang mereka butuhkan dalam perayaan mereka. Akan tetapi bukan untuk yang mereka sumbangkan ke gereja atau kepada pendeta” (Al-Fawaakih Ad-Dawaani ‘ala Risaalah Ibni Abi Zaid al-Qoirawaani 2/290)Thohir bin ‘Aasyuur berkata :قَالَ فُقَهَاؤُنَا: إِذَا أَنْفَقَ الْوَلَدُ عَلَى أَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ وَكَانَ عَادَتُهُمَا شُرْبَ الْخَمْرِ اشْتَرَى لَهُمَا الْخَمْرَ لِأَنَّ شُرْبَ الْخَمْرِ لَيْسَ بِمُنْكَرٍ لِلْكَافِرِ، فَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مُنْكَرًا فِي الدِّينَيْنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُشَايِعَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ عَلَيْهِ“Berkata para ahli fikih kami (yaitu bermadzhab Malikiyah-pent): Jika sang anak menanggung kedua orang tuanya yang kafir dan miskin, dan ternyata kebiasaan kedua orangtuanya adalah minum khomr maka hendaknya sang anak membelikan khomr kepada keduanya, karena minum khomr bukanlah perkara yang mungkar bagi orang kafir[1]. Jika suatu perbuatan dipandang kemungkaran menurut kedua agama (agama Islam dan agama kedua orangtuanya yang musyrik-pent) maka tidak boleh seorang muslim membantu kedua orangtuanya untuk melakukannya” (At-Tahriir wa at-Tanwiir 21/161)Namun pendapat ini tidak disepakati oleh seluruh ulama Malikiyah, karenanya Asyhab (Juga ulama dari madzhab Malikiyah) berkata, “Sang anak tidak boleh melakukan itu semua” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/442). Pendapat Asyhab ini tentu lebih hati-hati dan lebih kuat. Namun dengan mengetahui ada pendapat ulama Malikiyah yang lain kita mengetahui bagaimana penekanan para ulama terhadap berbakti kepada orang tua meskipun kafir.Abdul Wahhab berkataوَالأَبَوَانِ الْكَافِرَانِ كَالْمُسْلِمَيْنِ إِلاَّ أَنَّ بِرَّهُمَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ“Dan kedua orangtua yang kafir sama seperti kedua orangtua muslim, hanya saja berbakti kepada keduanya terputus dengan meninggalnya keduanya” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/441)Jika kepada orangtua yang kafir saja wajib untuk berbakti kepadanya apalagi jika orangtua hanya sekedar fasiq.Kedua : Hukum menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir dan fasik.Telah lalu penyebutan beberapa dalil tentang disyari’atkannya menyambung silaturahmi dengan kerabat yang kafir, seperti hadits Asmaa’ yang didatangi oleh ibunya yang musyrik, demikian juga kisah Umar yang memberikan hadiah baju sutra kepada saudara laki-lakinya yang musyrik. Berikut ini dalil-dalil yang lain yang menunjuka akan disyari’atkannya menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir.Pertama : Firman Allah :النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًاNabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (QS Al-Ahzaab : 6)Firman Allah (kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu) umum mencakup saudara kerabat muslim maupun selain muslim menurut pendapat yang kuat. Makna ayat ini bahwasanya kerabat-kerabat yang kafir tidaklah mendapat warisan dari kaum muslimin akan tetapi jika seorang muslim memberi wasiat untuk memberikan sebagian harta waris kepada kerabat kafir maka diperbolehkan. Dan ini adalah pendapat Al-Hasan, Qotadah, ‘Athoo’, ‘Ikrimah dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Athiyyah dan diikuti oleh al-Qurthubi dan Abu Hayyan al-Andalusi[2]Qotadah berkata tentang ayat di atas :لِلْقَرَابَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ وَصِيَّةٌ، وَلَا مِيرَاثَ لَهُمْ“Kerabat yang musyrik (boleh) mendapatkan wasiat dan tidak ada harta warisan bagi mereka” (Tafsir At-Thobari 19/19)Kedua : Firman Allahكُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَDiwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqoroh : 180)Ayat ini menunjukkan tentang disyari’atkannya memberi washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kepada kerabat (baik muslim maupun non muslim). Akan tetapi ayat ini dikhususkan dengan ayat-ayat waris, sehingga jadilah kedua orangtua termasuk ahli warits (sehingga tidak berhak mendapatkan washiat) kecuali kedua orangtua kafir maka boleh mendapatkan washiat, demikian juga kerabat yang merupakan ahli warits tidak berhak lagi mendapatkan washiat kecuali kerabat yang bukan ahli warits dan juga kerabat kafir maka boleh mendapatkan washiat harta menurut pendapat yang kuat.At-Tsa’alabi (wafat tahun 427 H) menyampaikan pendapat sebagian ulama :كانت الوصيّة للوالدين والأقربين، فرضا واجبا على من مات، وله مال حتّى نزلت آية المواريث في سورة النّساء. فنسخت الوصيّة للوالدين والأقربين الذين يرثون، وبقي فرض الوصيّة للأقرباء الذين لا يرثون والوالدين الذين لا يرثان بكفر أو رق على من كان له مال… هذا قول ابن عبّاس وطاوس وقتادة والحسن ومسلم بن يسار والعلاء بن زياد والربيع وابن زيد.“Awalnya washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kerabat adalah wajib bagi orang yang meninggal yang memiliki harta, hingga turunlah ayat warisan di surat an-Nisaa’, maka ayat inipun memansukh-kan washiat kepada kedua orangtua dan kerabat yang merupakan ahli warits. Dan sisa kewajiban -bagi orang yang punya harta- untuk berwashiat kepada kerabat yang bukan ahli warits dan juga kedua orang tua yang bukan ahli waris karena kekafiran atau perbudakan…dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Thowus, Qotadah, al-Hasan, Muslim bin Yasar, al-‘Alaa bin Ziyad, Ar-Robii’, dan Ibnu Zaid” (Al-Kasyf wa al-Bayaan an Tafsiir al-Qur’an 2/57)Ketiga : Abu Hurairoh berkata :لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ}، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا، فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ، فَقَالَ: «يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا»Tatkala turun firman Allah (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah memanggil kaum Quraiys, maka merekapun berkumpul, lalu Nabi menyeru mereka dengan mengumumkan dan mengkhususkan, maka beliau berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkan diri kalian dari api neraka !. Wahai bagi Murroh bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdil Muttholib, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai Fathimah selamatkanlah dirimu dari neraka !. Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan kepada kalian sesuatupun dari Allah sama sekali, hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya” (HR Muslim No. 204)An-Nawawi mengomentari sabda Nabi (hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya):سَأَصِلُهَا شُبِّهَتْ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ بِالْحَرَارَةِ وَوَصْلُهَا بِإِطْفَاءِ الْحَرَارَةِ بِبُرُودَةٍ“Maknanya : “Aku akan menyambung rahim kalian”. Memutuskan silaturahmi disamakan dengan panas dan menyambung silaturahmi disamakan dengan memadamkan panas tersebut dengan sesuatu yang dingin (yaitu air)” (Al-Minhaj Syarh Muslim 3/81)أَنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ: ” إِنَّ آلَ أَبِي لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ المُؤْمِنِينَـ، وَلَكِنْ لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلاَهَا»‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Nabi berkata dengan keras -tanpa bisik-bisik- , “Sesungguhnya keluarga ayahku bukanlah wali-waliku (penolongku), sesungguhnya hanyalah para penolongku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih, akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya” (HR Al-Bukhari No. 5990)Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya bani fulan bukanlah wali-waliku”. Hal ini dikarenakan mereka kafir. Dan yang wajib atas seorang mukmin untuk berlepas diri loyalitas kepada orang-orang kafir sebagaimana firman Allahقَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja (QS Al-Mumtahanah :4)Maka Rasulullah berlepas diri dari mereka padahal mereka adalah kerabat beliau. Beliau bersabda (akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya). Yaitu akan memberikan kepada mereka hak mereka untuk disilaturahmi meskipun mereka kafir. Ini menunjukan bahwa kerabat memiliki hak untuk disambung silaturahmi meskipun ia kafir, akan tetapi ia tidak memiliki hak loyalitas, maka tidaklah loyal kepadanya dan tidaklah ia ditolong karena kebatilan yang ada padanya” (Syarh Riyad as-Sholihin 3/199)Dari sini jumhur ulama berpendapat bahwa menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir (apalagi yang hanya fasiq) hukumnya adalah mustahab namun tidak sampai pada derajat wajib kecuali kedua orang tua kafir atau fasiq maka hukumnya tetap wajib berdasarkan dalil-dalil yang khusus akan hal itu. (Al-Muslim wa Huquq al-Akhorin hal 36).Terlebih lagi jika seseorang meniatkan menyambung silaturahmi dengan kerabat kafir /fasik dalam rangka mendakwahi mereka. Ibnu Hajar berkata :أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ الْكَافِرِ يَنْبَغِي تَقْيِيدُهَا بِمَا إِذَا آنَسَ مِنْهُ رُجُوعًا عَنِ الْكُفْرِ أَوْ رَجَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ صُلْبِهِ مُسْلِمٌ كَمَا فِي الصُّورَةِ الَّتِي اسْتُدِلَّ بِهَا وَهِيَ دُعَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقُرَيْشٍ بِالْخِصْبِ وَعُلِّلَ بِنَحْوِ ذَلِكَ فَيَحْتَاجُ مَنْ يَتَرَخَّصُ فِي صِلَةِ رَحِمِهِ الْكَافِرِ أَنْ يَقْصِدَ إِلَى شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir hendaknya dikhususkan dengan jika dirasakan bahwa kerabat kafir tersebut akan sadar dari kekafirannya atau diharapkan akan keluar dari keturunannya seorang mulsim sebagaimana dalam bentuk (dalam hadits di atas-pen) yang dijadikan dalil, yaitu Nabi mendakwahi Quraisy di al-Khosb dan dijelaskan sebabnya seperti demikian. Maka soerang yang membolehkan untuk menyambung silaturahmi kerabat kafir hendaknya memerlukan untuk berniat sesuatu yang semodel ini” (Fathul Baari 10/422)Dari sini kita ketahui bahwasanya jika seseorang memutuskan silaturahmi dengan kerabat yang kafir atau fasik (yang menampakan kemaksiatannya) maka tidak dikatakan bahwa ia adalah pemutus silaturahmi yang mendapatkan ancaman yang berat. Wallahu a’lam.____________________________________Footnote:[1] Diantara dalil yang dijadikan hujjah akan hal ini adalah hadits Ibnu Umar, beliau berkata :أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لا خَلاقَ لَهُ فِي الآخِرَةِ ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ (اسم البائع) مَا قُلْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًاBahwasanya Umar bin al-Khotthob melihat hullah sutra (baju sepasang) yang dijual di pintu mesjid. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah seandainya engkau membeli baju ini lalu engkau memakainya pada hari jum’at dan untuk menyambut tamu jika mereka datang menemuimu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang memakai baju ini adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat”. Kemudian datang buat Nabi beberapa baju dari sutra, lalu beliau memberikan sepasang baju kepada Umar. Maka Umarpun berkata, “Wahai Rasulullah engkau memberikan aku baju ini, padahal engkau berkata tentang baju sutra yang dijual oleh ‘Uthorid (nama penjual) apa yang telah engkau katakan”. Rasulullah berkata, “Aku tidak memberikan baju ini kepadamu buat engkau pakai”. Maka Umarpun memberikan baju tersebut kepada saudaranya yang musyrik di Mekah” (HR Al-Bukhari No. 837)Hadits ini menunjukkan Umar menghadiahkan pakaian sutra yang haram dipakai oleh seorang lelaki muslim kepada saudaranya lelaki yang musyrik di Mekah. Berarti boleh bersilaturahmi dengan memberikan perkara yang haram namun dipandang halal oleh kerabat kafir.Namun pendapat ini kurang kuat, karena tidak ada nash yang tegas bahwa Umar memberikan baju tersebut untuk dipakai oleh saudara lelakinya yang kafir. Bisa jadi Umar memberikannya untuk dijual atau dimanfaatkan atau dirubah menjadi pakaian wanita.Adapun dalil-dalil yang menunjukan pengharaman memberikan benda yang haram kepada orang tua dan kerabat yang kafir -meskipun di mata mereka adalah halal- sebagai berikut :Pertama : Allah melarang untuk saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2)Kedua : Menurut pendapat yang kuat bahwasanya أَنَّ الكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَة yaitu orang-orang kafir juga diperintahkan untuk mengerjakan cabang-cabang syair’at, hanya saja tidak bisa sah dari mereka kecuali setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu (menjalankan ushul/pokok syari’at)Ketiga : Sabda Nabi :لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Pencipta” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah No. 179)[2] Adapun Ibnu Jarir at-Thobari maka beliau memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan أَوْلِيَائِكُمْ  (saudara-saudaramu) adalah hanya khusus kerabat yang beriman dan tidak mencakup kerabat yang kafir. Menurut Ibnu Jarir Allah menamakan kerbat dalam ayat ini dengan “wali-walimu” sementara saudara yang kafir terputuslah perwaliannya. (Tafsir at-Thobari 19/20) Namun pernyataan Ibnu Jarir ini dikritiki dengan pernyataan al-Hasan bahwasanya perwalian ada dua, ada perwalian agama dan ada perwalian nasab. Yang terputus adalah perwalian agama adapun perwalian karena nasab tidaklah terputuskan dengan kekafiran. Hasan al-Bashri berkata tentang ayat di atas :إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَكَ ذُو قَرَابَةٍ لَيْسَ عَلَى دِينِكَ فَتُوصِي لَهُ بِالشَّيْءِ مِنْ مَالِكَ , فَهُوَ وَلِيُّكَ فِي النَّسَبِ , وَلَيْسَ وَلِيُّكَ فِي الدِّينِ“Kecuali jika engkau memiliki kerabat non muslim maka engkau memberi wasiat kepadanya untuk diberikan sebagian hartamu kepadanya. Kerabatmu tersebut adalah walimu dalam nasabmu dan bukan pada agamamu” (Tafsir Abdurrozzaq 3/32).

Kitabul Jami’ Bab 2 – Muqadimah Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)

Sumber gambar: UnsplashKitabul Jami’ Muqadimah Bab 2 Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAMUQADIMAHBismillahirrahmānirrahīm, alhamdulillāh wash-shalātu was-salāmu ‘ala Rasūlillāh.Pembaca yang dirahmati Allah, bab kedua dari kitābul jāmi’ adalah bab “Al-Birr wa Ash-Shilah” (berbuat kebaikan dan menyambung silaturahim).Sebelum kita membahas hadits-hadits yang berkaitan dengan silaturahim, maka ada beberapa hal yang perlu diingatkan.Yang pertama, ada perbedaan antara al-birru (berbakti) dan as-shilah (menyambung silaturahmi). Berbakti kedudukannya lebih tinggi daripada silaturahmi, berbakti berkaitan dengan berbuat baik kepada kedua orangtua, adapun silaturahmi berkaitan dengan berbuat baik kepada kerabat selain kedua orang tua. Karenanya orang yang tidak berbakti dinamakan  anak yang durhaka (العَاقُّ), adapun orang yang tidak menyambung silaturahmi dinamakan “pemutus silaturahmi” (القَاطِعُ).Yang dimaksud dengan berbakti adalah berbakti kepada kedua orang tua kandung, adapun kepada kakek dan nenek maka juga dinamakan berbakti akan tetapi kedudukannya dibawah berbakti kepada kedua orangtua kandung. Tatkala Allah menyebutkan tentang kedua orangtua maka Allah menyebutkan tentang kedua orang tua kandung. Allah berfirman:وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“ (QS Al-Isroo’ 23-24)Firman Allah (Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut) dan (sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil) menunjukan bahwa yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orangtua adalah kedua orangtua langsung yang telah merawat kita tatkala kita kecil.Yang kedua, banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah silaturahim. Mereka mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Misalnya, ketika seseorang hendak mengunjungi saudara, teman, atau ustadznya dia mengatakan, “Kita akan silaturahim kepada ustadz,” atau, “Kita akan silaturahim ke rumah teman.” Padahal dimaksud adalah ziarah (berkunjung). Sedangkan silaturahim adalah menyambung kekerabatan. Sudah jelas bahwa kita dengan teman atau ustadz tidak ada hubungan kekerabatan. Jadi istilah yang benar seharusnya. “kita menziarahi ustadz atau teman.”Mengapa demikian? Karena Allāh dan syari’at memang membedakan antara “silaturahim” (menyambung kekerabatan) dan “ziyāratul ikhwān” (mengunjungi teman). Antara silaturahim dengan ziarah berbeda, pahalanya pun berbeda. Masing-masing memiliki kedudukan, akan tetapi silaturahim memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sekedar ziarah.Namun demikianlah yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Sebagian besar orang mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Padahal itu adalah istilah yang tidak tepat dan harus diperbaiki. Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziarah/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Silaturahim mendatangkan pahala-pahala yang istimewa. Di antara pahala silaturahim adalah seperti disebutkan dalam firman Allāh ﷻ:وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Ini menunjukkan silaturahim merupakan salah satu amalan yang luar biasa, yang dapat menyebabkan seseorang bisa masuk surga.Selain ayat di atas, ada banyak sekali hadits yang menyebutkan  tentang keutamaan menyambung silaturahim dengan ibu, ayah, bibi, dan kerabat-kerabat lain secara umum.Oleh karenanya, jangan disamakan antara “silaturahim” dengan “ziyāratul ikhwān atau akhwāt”. Yang ketiga, “apa makna ar-rahim (kerabat)?” dan “kepada siapa kita harus bersilaturahim?Kerabat bisa diklasifikasikan menjadi tiga berikut ini.Kerabat dari ashhār (keluarga istri). Termasuk di dalam-nya adalah  ipar, mertua, dan sebagainya.Kerabat sepersusuan, seperti saudara sepersusuan, kakak se-persusuan, ayah sepersusuan, dan sebagainya.Kerabat dari nasab, yaitu kerabat yang memiliki hubungan darah, misalnya saudara kandung, saudara satu kakek, dan sebagainya.Lalu, di antara tiga jenis kerabat ini, manakah yang harus disambung tali kekerabatannya (silaturahim)?Yang dimaksud dengan silaturahim adalah yang menyambung hubungan karena nasab atau hubungan darah, yaitu yang ketiga.Menyambung hubungan dengan kerabat istri tidak dinamakan silaturahim, meskipun hal itu juga termasuk perbuatan baik yang dianjurkan sebagai bagian dari berbuat baik kepada manusia secara umum, terlebih bagi yang punya hubungan kekerabatan dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada mertua atau ipar tidak dinamakan silaturahim. Meskipun kita juga berharap mudah-mudahan kita mendapat pahala silaturahim karena kita membantu istri kita untuk bersilaturahim dengan ayah dan ibunya.Berkaitan dengan saudara sepersusuan, Rasulullah ﷺ bersabda,يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari dan Muslim)Yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan pernikahan, yaitu yang menjadi mahram karena nasab (hubungan darah) dan juga berkaitan dengan persusuan, karena orang yang sepersusuan bisa menjadi mahram. Akan tetapi,  Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan,يَجِبُ مِنَ الرَّضَاعَ مَا يَجِبُ مِنَ النَّسَبِ“Yang wajib berlaku pada nasab juga berlaku pada sepersusuan.” Seandainya Nabi ﷺ berkata demikian, berarti kita wajib juga bersilaturahim kepada saudara sepersusuan. Namun ternyata Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan demikian.Dengan demikian, maka kita kembali kepada hukum umum, yaitu kita berusaha berbuat baik kepada seluruh manusia, terlebih lagi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan sepersusuan dengan kita. Namun hal itu tidak dinamakan silaturahim dan ayat serta hadits di atas bukan termasuk dari ayat dan hadits yang memerintahkan silaturahim.Jadi kesimpulannya, yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan karena nasab atau darah.Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah seluruh orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita wajib kita sambung silaturrahīm? Maka dalam hal ini ada 3 pendapat di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut.Pendapat PertamaMenurut pendapat ini, yang wajib untuk disambung silaturrahīm adalah kerabat-kerabat yang memiliki hubungan mahram dengan kita, baik mahram dari sisi laki-laki maupun perempuan. Contohnya:Orang tua; ayah merupakan mahram bagi putrinya dan ibu merupakan mahram dari putranya.Saudara laki-laki dan saudara perempuan, baik sekandung, seayah dan seibu/seayah.Kakek dan nenek.Cucu.Al-a’mām (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari bapak.Al-ammāt (Bibi-bibi yang merupakan saudari-saudari pe-rempuan dari bapak).Akhwāl (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari ibu).Khālāt (bibi-bibi, yang merupakan saudari-saudari perempuan dari ibu).Ini merupakan pendapat yang masyhur dari Hanafiyah dan Malikiyyah,. Mereka berdalil dengan suatu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا ، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا“Tidak boleh seseorang (tatkala berpoligami kemudian dia) menggabungkan antara seorang wanita dengan tantenya (saudari dari bapaknya) atau dia menikah sekaligus dengan bibi wanita tersebut (saudari dari ibunya).” Hal ini dilarang oleh Nabi ﷺ karena bisa memutuskan silaturrahīm antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya. Kita tahu, hubungan antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya adalah hubungan mahram. Dari sini, mereka (para ulama)  mengatakan, “Yang wajib disambung silaturahim adalah yang memiliki hubungan mahram.”Kelaziman dari pendapat ini adalah berarti kalau sepupu tidak wajib kita sambung silaturrahīm karena dia bukan mahram. Ini pendapat yang agak kuat, karena bagaimana kita (laki-laki) menyambung silaturrahīm dengan sepupu perempuan sementara dia bukan mahram, bagaimana kita (laki-laki) mau mengobrol dengan dia sementara bukan mahram. Akan tetapi menyambung silaturahmi dengan sepupu hukumnya adalah mustahab dan tidak wajib. Karena manyambung silaturahmi dengan sepupu tidak selues dan sebebas menyambung silaturahmi dengan kerabat yang mahram.Oleh karena itu, kita perlu mengenal dan perlu pembahasan khusus tentang mahram ini.Pendapat KeduaMenurut pendapat kedua, yang dimaksud rahīm yang wajib kita sambung yaitu ahli waris.Ini merupakan pendapat sebagian fuqaha seperti pendapat Al-Qadhi’iyyāt dari madzhab Maliki dan An-Nawawi dari madzhab Syafi’iyyah.Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ: أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَRasūlullāh ﷺ tatkala ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasūlullāh, siapakah yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Maka jawaban Nabi ﷺ, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang paling dekat denganmu yang paling dekat denganmu.” (HR. Muslim)Para ulama yang berpegang dengan pendapat ini memahami bahwa kalimat “ibu dan ayah” merupakan termasuk ahli waris kita. Sedangkan kalimat “yang paling dekat denganmu” adalah yang paling dekat dari sisi ahli waris.Namun pendapat ini terbantahkan (kurang kuat) karena 2 sebab, yaitu:Sebab pertama, Sabda Nabi ﷺ dengan lafadz “yang lebih dekat dengan engkau” tidak dapat hanya difahami sebagai ahli waris saja, akan tetapi lebih tepat jika dibawa kepada makna umum, yaitu “yang paling dekat sisi kekerabatannya/nasabnya denganmu.”Nabi tidak menyebutkan bahwa “yang paling dekat” adalah ahli waris, sehingga tidak boleh kita khususkan sesuatu yang umum.Sebab kedua, pendapat ini melazimkan kita untuk tidak perlu menyambung silaturrahīm dengan bibi atau tante, terutama dengan bibi dari pihak ibu, karena bibi bukan ahli waris kita. Padahal dalam hadits Rasūlullāh ﷺ mengatakan,الخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ“Bibi saudari perempuan ibu adalah kedudukannya seperti ibu.” (HR. Bukhari Muslim)Menurut hadits ini, wajib bagi kita untuk menyambung silaturrahīm dan berbuat baik kepada bibi sebagaimana berbuat baik kepada ibu, meskipun bibi bukan termasuk ahli waris.Oleh karena itu, pendapat yang ke-2 ini adalah pendapat yang kurang kuat. Pendapat KetigaMenurut pendapat ini, seluruh kerabat wajib kita sambung silaturrahīm. Semakin dekat maka semakin wajib, semakin jauh maka semakin berkurang kewajibannya. Tetapi pada asalnya wajib menyambung silaturrahīm kepada seluruh kerabat.Pendapat ini juga kurang kuat. Pendapat ini mengandung konsekwensi bahwa kita wajib berhubungan baik (silaturrahīm) dengan seluruh manusia. Karena pada dasarnya nashab seluruh manusia akan kembali kepada Nabi Adam, karena kita seluruhnya adalah keturunan Nabi Adam dan ibunda Hawa. Jika demikian, maka seluruh nashab wajib kita sambung silaturahim, sehingga kita harus bersilaturahim dengan seluruh manusia.Oleh karenanya, Allāhu a’lam bish-shawāb, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Bahwasanya yang wajib kita sambung silaturrahīm adalah yang merupakan mahram kita, dan yang selainnya hukumnya sunnah.Para mahram inilah yang wajib kita senantiasa kita hubungi dan berbuat baik dengan mereka, entah dengan bertelepon, berkirim surat dan pesan, berkunjung, dan berbagi kebaikan kepada mereka. Adapun selain mereka adalah nomor dua alias sunnah, seperti saudara sepersusuan, saudara istri, dan kerabat-kerabat yang jauh yang bukan mahram.Allāhu a’lam bish-shwāb, ini adalah khilaf para ulama agar kita tahu dengan jelas mana yang lebih utama kita sambung silaturrahīm dan mana yang tingkatan kedua (kurang utama). Jangan sampai kita lebih mementingkan yang sunnah (kurang utama) dan meninggalkan yang wajib (utama).Di antara hal yang sering ditanyakan adalah, “Apakah wajib bagi kita untuk berbuat baik kepada mertua sebagaimana berbuat baik kepada ibu kandung?”Maka jawabannya adalah, “Tidak wajib.”Barangsiapa yang sengaja berbuat baik kepada mertua sama dengan berbuat baik kepada ibunya, maka dia telah menyakiti hati ibunya. Ibunya (yang telah mengandung dan merawatnya saat kecil) akan merasa sedih tatkala dia disamakan dengan mertuanya. Sudah semestinya, ibu ditempatkan lebih tinggi daripada mertua.Berbut baik kepada mertua tidak termasuk silaturrahīm karena tidak ada hubungan rahim. Jika seorang suami berbuat baik kepada mertua maka hal itu dapat membantu istri berbuat baik kepada orang tuanya, sehingga istri akan mendapat pahala silaturrahīm. Tetapi dari sisi suami, kewajiban kepada mertua tidak sama dengan kewajiban kepada ibu kandung. Bahkan keduanya sangat berbeda. Kepada mertua bukan silaturrahīm, adapun ibu adalah silaturrahīm yang nomor satu.Hal ini perlu dicamkan bagi pasangan suami istri agar istri tidak menuntut perlakuan yang sama dari suaminya antara  kepada ibunya dan kepada ibu suaminya. Hal ini tentu tidak boleh. Suami yang baik tentu akan berusaha berbuat baik kepada mertuanya dan membantu istrinya agar bisa bersilaturrahīm dengan ayah dan ibunya sementara ibunya sendiri tetap dinomorsatukan. Wallāhu a’lam bishshawāb.Peringatan:Pertama : Hukum berbakti kepada kedua orang tua yang kafir dan fasikIbnu Hazm berkata :وَاتَّفَقُوا أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ فَرْضٌ“Para ulama sepakat bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib” (Marotibul Ijmaa’ hal 157)Para ulama tatkala menjelaskan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua mereka tidak membeda-bedakan antara orang tua yang ta’at atau fasik atau kafir. Karena meskipun mereka kafir atau fasik mereka tetap memiliki jasa yang besar dan hak yang besar yang harus dibalas dan ditunaikan.Bahkan sebagian ulama menyatakan secara tegas bahwa kewajiban berbakti mencakup kedua orang tua yang fasik maupun kafir.Ibnu Abi Zaid Al-Qoirawani (ulama bermadzhab Malikiah yang wafat tahun 386 H) berkata :وَمِنَ الْفَرَائِضِ بِرُّ الوَالِدَيْنِ وَإِنْ كَانَا فَاسِقَيْنِ وَإِنْ كَانَا مُشْرِكَيْنِ“Dan diantara kewajiban adalah berbakti kepada kedua orangtua meskipun keduanya fasiq dan meskipun keduanya musyrik” (Risalah Ibni Abi Zaid AL-Qoirawani hal 153)Allah berfirmanوَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman : 14-15)Konteks kedua ayat ini sangat tegas bahwa sejak awal Allah tidak membedakan antara orangtua yang muslim ataupun orang yang kafir/musyrik. Bahkan dzohir ayat ini pembicaraannya tentang orang tua yang musyrik, karenanya Allah berfirman (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu).Al-Baghowi berkata :وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا أَيْ: بِالْمَعْرُوفِ، وَهُوَ الْبِرُّ وَالصِّلَةُ وَالْعِشْرَةُ الْجَمِيلَةُ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu berbakti, menyembung silaturahmi, dan pergaulan yang baik” (Tafsir Al-Baghowi 6/288)Ibnu ‘Athiyyah berkataوقوله وَصاحِبْهُما فِي الدُّنْيا مَعْرُوفاً يَعْنِي الأَبَوَيْنِ الْكَافِرَيْنِ أَيْ صِلْهُمَا بِالْمَالِ وَادْعُهُمَا بِرِفْقٍ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu kedua orangtua yang kafir, yaitu sambunglah silaturahmi dengan memberi harta kepada mereka berdua dan dakwahilah mereka berdua dengan kelembutan” (Al-Muharror al-Wajiiz fi Tafsiir al-Kitaab al-‘Aziiz 4/349)Asmaa’ binti Abi Bakar berkata :قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: «نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ»“Ibuku datang kepadaku dan ia dalam kondisi musyrik di masa perjanjian Rasulullah (al-Hudaibiyah/perjanjian damai dengan kaum kafir Quraisy), maka akupun bertanya kepada Rasulullah, aku berkata, “Dia ingin berbuat baik, apakah aku menyambung silaturahmi dengan ibuku (yang musyrik)?”. Nabi berkata, “Iya, sambung silaturahmi dengan ibumu” (HR Al-Bukhari No. 2620 dan Muslim No. 1003)Bahkan sebagian ulama dari madzhab Al-Malikiyah menyatakan tetap taat kepada kedua orang tua meskipun mereka hendak melakukan kesyirikan atau kemaksiatan yang menurut agama mereka adalah kebaikan.Ahmad bin Ghonim Al-Azhari Al-Maliki berkata :فَيَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَصِّلَ أَبَاهُ الْكَافِرَ إلَى كَنِيسَتِهِ إنْ طَلَبَ مِنْهُ ذَلِكَ وَعَجَزَ عَنْ الْوُصُولِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ عَمًى كَمَا قَالَهُ ابْنُ قَاسِمٍ، كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَدْفَعَ لَهُمَا مَا يُنْفِقَانِهِ فِي أَعْيَادِهِمَا لَا مَا يَصْرِفَانِهِ فِي نَحْوِ الْكَنِيسَةِ أَوْ يَدْفَعَانِهِ لِلْقِسِّيسِ“Maka wajib bagi sang anak yang muslim untuk mengantarkan ayahnya yang kafir ke gerejanya jika sang ayah meminta untuk mengantarnya dan sang aya tidak mampu untuk berangkat sendiri, misalnya karena buta. Hal ini sebagaimana pendapat Ibnu Qosim. Sebagaimana wajib juga atas sang anak untuk memberikan harta bagi kedua orang tuanya (yang kafir) apa yang mereka butuhkan dalam perayaan mereka. Akan tetapi bukan untuk yang mereka sumbangkan ke gereja atau kepada pendeta” (Al-Fawaakih Ad-Dawaani ‘ala Risaalah Ibni Abi Zaid al-Qoirawaani 2/290)Thohir bin ‘Aasyuur berkata :قَالَ فُقَهَاؤُنَا: إِذَا أَنْفَقَ الْوَلَدُ عَلَى أَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ وَكَانَ عَادَتُهُمَا شُرْبَ الْخَمْرِ اشْتَرَى لَهُمَا الْخَمْرَ لِأَنَّ شُرْبَ الْخَمْرِ لَيْسَ بِمُنْكَرٍ لِلْكَافِرِ، فَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مُنْكَرًا فِي الدِّينَيْنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُشَايِعَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ عَلَيْهِ“Berkata para ahli fikih kami (yaitu bermadzhab Malikiyah-pent): Jika sang anak menanggung kedua orang tuanya yang kafir dan miskin, dan ternyata kebiasaan kedua orangtuanya adalah minum khomr maka hendaknya sang anak membelikan khomr kepada keduanya, karena minum khomr bukanlah perkara yang mungkar bagi orang kafir[1]. Jika suatu perbuatan dipandang kemungkaran menurut kedua agama (agama Islam dan agama kedua orangtuanya yang musyrik-pent) maka tidak boleh seorang muslim membantu kedua orangtuanya untuk melakukannya” (At-Tahriir wa at-Tanwiir 21/161)Namun pendapat ini tidak disepakati oleh seluruh ulama Malikiyah, karenanya Asyhab (Juga ulama dari madzhab Malikiyah) berkata, “Sang anak tidak boleh melakukan itu semua” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/442). Pendapat Asyhab ini tentu lebih hati-hati dan lebih kuat. Namun dengan mengetahui ada pendapat ulama Malikiyah yang lain kita mengetahui bagaimana penekanan para ulama terhadap berbakti kepada orang tua meskipun kafir.Abdul Wahhab berkataوَالأَبَوَانِ الْكَافِرَانِ كَالْمُسْلِمَيْنِ إِلاَّ أَنَّ بِرَّهُمَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ“Dan kedua orangtua yang kafir sama seperti kedua orangtua muslim, hanya saja berbakti kepada keduanya terputus dengan meninggalnya keduanya” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/441)Jika kepada orangtua yang kafir saja wajib untuk berbakti kepadanya apalagi jika orangtua hanya sekedar fasiq.Kedua : Hukum menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir dan fasik.Telah lalu penyebutan beberapa dalil tentang disyari’atkannya menyambung silaturahmi dengan kerabat yang kafir, seperti hadits Asmaa’ yang didatangi oleh ibunya yang musyrik, demikian juga kisah Umar yang memberikan hadiah baju sutra kepada saudara laki-lakinya yang musyrik. Berikut ini dalil-dalil yang lain yang menunjuka akan disyari’atkannya menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir.Pertama : Firman Allah :النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًاNabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (QS Al-Ahzaab : 6)Firman Allah (kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu) umum mencakup saudara kerabat muslim maupun selain muslim menurut pendapat yang kuat. Makna ayat ini bahwasanya kerabat-kerabat yang kafir tidaklah mendapat warisan dari kaum muslimin akan tetapi jika seorang muslim memberi wasiat untuk memberikan sebagian harta waris kepada kerabat kafir maka diperbolehkan. Dan ini adalah pendapat Al-Hasan, Qotadah, ‘Athoo’, ‘Ikrimah dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Athiyyah dan diikuti oleh al-Qurthubi dan Abu Hayyan al-Andalusi[2]Qotadah berkata tentang ayat di atas :لِلْقَرَابَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ وَصِيَّةٌ، وَلَا مِيرَاثَ لَهُمْ“Kerabat yang musyrik (boleh) mendapatkan wasiat dan tidak ada harta warisan bagi mereka” (Tafsir At-Thobari 19/19)Kedua : Firman Allahكُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَDiwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqoroh : 180)Ayat ini menunjukkan tentang disyari’atkannya memberi washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kepada kerabat (baik muslim maupun non muslim). Akan tetapi ayat ini dikhususkan dengan ayat-ayat waris, sehingga jadilah kedua orangtua termasuk ahli warits (sehingga tidak berhak mendapatkan washiat) kecuali kedua orangtua kafir maka boleh mendapatkan washiat, demikian juga kerabat yang merupakan ahli warits tidak berhak lagi mendapatkan washiat kecuali kerabat yang bukan ahli warits dan juga kerabat kafir maka boleh mendapatkan washiat harta menurut pendapat yang kuat.At-Tsa’alabi (wafat tahun 427 H) menyampaikan pendapat sebagian ulama :كانت الوصيّة للوالدين والأقربين، فرضا واجبا على من مات، وله مال حتّى نزلت آية المواريث في سورة النّساء. فنسخت الوصيّة للوالدين والأقربين الذين يرثون، وبقي فرض الوصيّة للأقرباء الذين لا يرثون والوالدين الذين لا يرثان بكفر أو رق على من كان له مال… هذا قول ابن عبّاس وطاوس وقتادة والحسن ومسلم بن يسار والعلاء بن زياد والربيع وابن زيد.“Awalnya washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kerabat adalah wajib bagi orang yang meninggal yang memiliki harta, hingga turunlah ayat warisan di surat an-Nisaa’, maka ayat inipun memansukh-kan washiat kepada kedua orangtua dan kerabat yang merupakan ahli warits. Dan sisa kewajiban -bagi orang yang punya harta- untuk berwashiat kepada kerabat yang bukan ahli warits dan juga kedua orang tua yang bukan ahli waris karena kekafiran atau perbudakan…dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Thowus, Qotadah, al-Hasan, Muslim bin Yasar, al-‘Alaa bin Ziyad, Ar-Robii’, dan Ibnu Zaid” (Al-Kasyf wa al-Bayaan an Tafsiir al-Qur’an 2/57)Ketiga : Abu Hurairoh berkata :لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ}، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا، فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ، فَقَالَ: «يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا»Tatkala turun firman Allah (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah memanggil kaum Quraiys, maka merekapun berkumpul, lalu Nabi menyeru mereka dengan mengumumkan dan mengkhususkan, maka beliau berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkan diri kalian dari api neraka !. Wahai bagi Murroh bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdil Muttholib, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai Fathimah selamatkanlah dirimu dari neraka !. Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan kepada kalian sesuatupun dari Allah sama sekali, hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya” (HR Muslim No. 204)An-Nawawi mengomentari sabda Nabi (hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya):سَأَصِلُهَا شُبِّهَتْ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ بِالْحَرَارَةِ وَوَصْلُهَا بِإِطْفَاءِ الْحَرَارَةِ بِبُرُودَةٍ“Maknanya : “Aku akan menyambung rahim kalian”. Memutuskan silaturahmi disamakan dengan panas dan menyambung silaturahmi disamakan dengan memadamkan panas tersebut dengan sesuatu yang dingin (yaitu air)” (Al-Minhaj Syarh Muslim 3/81)أَنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ: ” إِنَّ آلَ أَبِي لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ المُؤْمِنِينَـ، وَلَكِنْ لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلاَهَا»‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Nabi berkata dengan keras -tanpa bisik-bisik- , “Sesungguhnya keluarga ayahku bukanlah wali-waliku (penolongku), sesungguhnya hanyalah para penolongku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih, akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya” (HR Al-Bukhari No. 5990)Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya bani fulan bukanlah wali-waliku”. Hal ini dikarenakan mereka kafir. Dan yang wajib atas seorang mukmin untuk berlepas diri loyalitas kepada orang-orang kafir sebagaimana firman Allahقَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja (QS Al-Mumtahanah :4)Maka Rasulullah berlepas diri dari mereka padahal mereka adalah kerabat beliau. Beliau bersabda (akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya). Yaitu akan memberikan kepada mereka hak mereka untuk disilaturahmi meskipun mereka kafir. Ini menunjukan bahwa kerabat memiliki hak untuk disambung silaturahmi meskipun ia kafir, akan tetapi ia tidak memiliki hak loyalitas, maka tidaklah loyal kepadanya dan tidaklah ia ditolong karena kebatilan yang ada padanya” (Syarh Riyad as-Sholihin 3/199)Dari sini jumhur ulama berpendapat bahwa menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir (apalagi yang hanya fasiq) hukumnya adalah mustahab namun tidak sampai pada derajat wajib kecuali kedua orang tua kafir atau fasiq maka hukumnya tetap wajib berdasarkan dalil-dalil yang khusus akan hal itu. (Al-Muslim wa Huquq al-Akhorin hal 36).Terlebih lagi jika seseorang meniatkan menyambung silaturahmi dengan kerabat kafir /fasik dalam rangka mendakwahi mereka. Ibnu Hajar berkata :أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ الْكَافِرِ يَنْبَغِي تَقْيِيدُهَا بِمَا إِذَا آنَسَ مِنْهُ رُجُوعًا عَنِ الْكُفْرِ أَوْ رَجَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ صُلْبِهِ مُسْلِمٌ كَمَا فِي الصُّورَةِ الَّتِي اسْتُدِلَّ بِهَا وَهِيَ دُعَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقُرَيْشٍ بِالْخِصْبِ وَعُلِّلَ بِنَحْوِ ذَلِكَ فَيَحْتَاجُ مَنْ يَتَرَخَّصُ فِي صِلَةِ رَحِمِهِ الْكَافِرِ أَنْ يَقْصِدَ إِلَى شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir hendaknya dikhususkan dengan jika dirasakan bahwa kerabat kafir tersebut akan sadar dari kekafirannya atau diharapkan akan keluar dari keturunannya seorang mulsim sebagaimana dalam bentuk (dalam hadits di atas-pen) yang dijadikan dalil, yaitu Nabi mendakwahi Quraisy di al-Khosb dan dijelaskan sebabnya seperti demikian. Maka soerang yang membolehkan untuk menyambung silaturahmi kerabat kafir hendaknya memerlukan untuk berniat sesuatu yang semodel ini” (Fathul Baari 10/422)Dari sini kita ketahui bahwasanya jika seseorang memutuskan silaturahmi dengan kerabat yang kafir atau fasik (yang menampakan kemaksiatannya) maka tidak dikatakan bahwa ia adalah pemutus silaturahmi yang mendapatkan ancaman yang berat. Wallahu a’lam.____________________________________Footnote:[1] Diantara dalil yang dijadikan hujjah akan hal ini adalah hadits Ibnu Umar, beliau berkata :أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لا خَلاقَ لَهُ فِي الآخِرَةِ ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ (اسم البائع) مَا قُلْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًاBahwasanya Umar bin al-Khotthob melihat hullah sutra (baju sepasang) yang dijual di pintu mesjid. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah seandainya engkau membeli baju ini lalu engkau memakainya pada hari jum’at dan untuk menyambut tamu jika mereka datang menemuimu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang memakai baju ini adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat”. Kemudian datang buat Nabi beberapa baju dari sutra, lalu beliau memberikan sepasang baju kepada Umar. Maka Umarpun berkata, “Wahai Rasulullah engkau memberikan aku baju ini, padahal engkau berkata tentang baju sutra yang dijual oleh ‘Uthorid (nama penjual) apa yang telah engkau katakan”. Rasulullah berkata, “Aku tidak memberikan baju ini kepadamu buat engkau pakai”. Maka Umarpun memberikan baju tersebut kepada saudaranya yang musyrik di Mekah” (HR Al-Bukhari No. 837)Hadits ini menunjukkan Umar menghadiahkan pakaian sutra yang haram dipakai oleh seorang lelaki muslim kepada saudaranya lelaki yang musyrik di Mekah. Berarti boleh bersilaturahmi dengan memberikan perkara yang haram namun dipandang halal oleh kerabat kafir.Namun pendapat ini kurang kuat, karena tidak ada nash yang tegas bahwa Umar memberikan baju tersebut untuk dipakai oleh saudara lelakinya yang kafir. Bisa jadi Umar memberikannya untuk dijual atau dimanfaatkan atau dirubah menjadi pakaian wanita.Adapun dalil-dalil yang menunjukan pengharaman memberikan benda yang haram kepada orang tua dan kerabat yang kafir -meskipun di mata mereka adalah halal- sebagai berikut :Pertama : Allah melarang untuk saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2)Kedua : Menurut pendapat yang kuat bahwasanya أَنَّ الكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَة yaitu orang-orang kafir juga diperintahkan untuk mengerjakan cabang-cabang syair’at, hanya saja tidak bisa sah dari mereka kecuali setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu (menjalankan ushul/pokok syari’at)Ketiga : Sabda Nabi :لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Pencipta” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah No. 179)[2] Adapun Ibnu Jarir at-Thobari maka beliau memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan أَوْلِيَائِكُمْ  (saudara-saudaramu) adalah hanya khusus kerabat yang beriman dan tidak mencakup kerabat yang kafir. Menurut Ibnu Jarir Allah menamakan kerbat dalam ayat ini dengan “wali-walimu” sementara saudara yang kafir terputuslah perwaliannya. (Tafsir at-Thobari 19/20) Namun pernyataan Ibnu Jarir ini dikritiki dengan pernyataan al-Hasan bahwasanya perwalian ada dua, ada perwalian agama dan ada perwalian nasab. Yang terputus adalah perwalian agama adapun perwalian karena nasab tidaklah terputuskan dengan kekafiran. Hasan al-Bashri berkata tentang ayat di atas :إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَكَ ذُو قَرَابَةٍ لَيْسَ عَلَى دِينِكَ فَتُوصِي لَهُ بِالشَّيْءِ مِنْ مَالِكَ , فَهُوَ وَلِيُّكَ فِي النَّسَبِ , وَلَيْسَ وَلِيُّكَ فِي الدِّينِ“Kecuali jika engkau memiliki kerabat non muslim maka engkau memberi wasiat kepadanya untuk diberikan sebagian hartamu kepadanya. Kerabatmu tersebut adalah walimu dalam nasabmu dan bukan pada agamamu” (Tafsir Abdurrozzaq 3/32).
Sumber gambar: UnsplashKitabul Jami’ Muqadimah Bab 2 Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAMUQADIMAHBismillahirrahmānirrahīm, alhamdulillāh wash-shalātu was-salāmu ‘ala Rasūlillāh.Pembaca yang dirahmati Allah, bab kedua dari kitābul jāmi’ adalah bab “Al-Birr wa Ash-Shilah” (berbuat kebaikan dan menyambung silaturahim).Sebelum kita membahas hadits-hadits yang berkaitan dengan silaturahim, maka ada beberapa hal yang perlu diingatkan.Yang pertama, ada perbedaan antara al-birru (berbakti) dan as-shilah (menyambung silaturahmi). Berbakti kedudukannya lebih tinggi daripada silaturahmi, berbakti berkaitan dengan berbuat baik kepada kedua orangtua, adapun silaturahmi berkaitan dengan berbuat baik kepada kerabat selain kedua orang tua. Karenanya orang yang tidak berbakti dinamakan  anak yang durhaka (العَاقُّ), adapun orang yang tidak menyambung silaturahmi dinamakan “pemutus silaturahmi” (القَاطِعُ).Yang dimaksud dengan berbakti adalah berbakti kepada kedua orang tua kandung, adapun kepada kakek dan nenek maka juga dinamakan berbakti akan tetapi kedudukannya dibawah berbakti kepada kedua orangtua kandung. Tatkala Allah menyebutkan tentang kedua orangtua maka Allah menyebutkan tentang kedua orang tua kandung. Allah berfirman:وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“ (QS Al-Isroo’ 23-24)Firman Allah (Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut) dan (sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil) menunjukan bahwa yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orangtua adalah kedua orangtua langsung yang telah merawat kita tatkala kita kecil.Yang kedua, banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah silaturahim. Mereka mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Misalnya, ketika seseorang hendak mengunjungi saudara, teman, atau ustadznya dia mengatakan, “Kita akan silaturahim kepada ustadz,” atau, “Kita akan silaturahim ke rumah teman.” Padahal dimaksud adalah ziarah (berkunjung). Sedangkan silaturahim adalah menyambung kekerabatan. Sudah jelas bahwa kita dengan teman atau ustadz tidak ada hubungan kekerabatan. Jadi istilah yang benar seharusnya. “kita menziarahi ustadz atau teman.”Mengapa demikian? Karena Allāh dan syari’at memang membedakan antara “silaturahim” (menyambung kekerabatan) dan “ziyāratul ikhwān” (mengunjungi teman). Antara silaturahim dengan ziarah berbeda, pahalanya pun berbeda. Masing-masing memiliki kedudukan, akan tetapi silaturahim memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sekedar ziarah.Namun demikianlah yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Sebagian besar orang mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Padahal itu adalah istilah yang tidak tepat dan harus diperbaiki. Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziarah/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Silaturahim mendatangkan pahala-pahala yang istimewa. Di antara pahala silaturahim adalah seperti disebutkan dalam firman Allāh ﷻ:وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Ini menunjukkan silaturahim merupakan salah satu amalan yang luar biasa, yang dapat menyebabkan seseorang bisa masuk surga.Selain ayat di atas, ada banyak sekali hadits yang menyebutkan  tentang keutamaan menyambung silaturahim dengan ibu, ayah, bibi, dan kerabat-kerabat lain secara umum.Oleh karenanya, jangan disamakan antara “silaturahim” dengan “ziyāratul ikhwān atau akhwāt”. Yang ketiga, “apa makna ar-rahim (kerabat)?” dan “kepada siapa kita harus bersilaturahim?Kerabat bisa diklasifikasikan menjadi tiga berikut ini.Kerabat dari ashhār (keluarga istri). Termasuk di dalam-nya adalah  ipar, mertua, dan sebagainya.Kerabat sepersusuan, seperti saudara sepersusuan, kakak se-persusuan, ayah sepersusuan, dan sebagainya.Kerabat dari nasab, yaitu kerabat yang memiliki hubungan darah, misalnya saudara kandung, saudara satu kakek, dan sebagainya.Lalu, di antara tiga jenis kerabat ini, manakah yang harus disambung tali kekerabatannya (silaturahim)?Yang dimaksud dengan silaturahim adalah yang menyambung hubungan karena nasab atau hubungan darah, yaitu yang ketiga.Menyambung hubungan dengan kerabat istri tidak dinamakan silaturahim, meskipun hal itu juga termasuk perbuatan baik yang dianjurkan sebagai bagian dari berbuat baik kepada manusia secara umum, terlebih bagi yang punya hubungan kekerabatan dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada mertua atau ipar tidak dinamakan silaturahim. Meskipun kita juga berharap mudah-mudahan kita mendapat pahala silaturahim karena kita membantu istri kita untuk bersilaturahim dengan ayah dan ibunya.Berkaitan dengan saudara sepersusuan, Rasulullah ﷺ bersabda,يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari dan Muslim)Yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan pernikahan, yaitu yang menjadi mahram karena nasab (hubungan darah) dan juga berkaitan dengan persusuan, karena orang yang sepersusuan bisa menjadi mahram. Akan tetapi,  Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan,يَجِبُ مِنَ الرَّضَاعَ مَا يَجِبُ مِنَ النَّسَبِ“Yang wajib berlaku pada nasab juga berlaku pada sepersusuan.” Seandainya Nabi ﷺ berkata demikian, berarti kita wajib juga bersilaturahim kepada saudara sepersusuan. Namun ternyata Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan demikian.Dengan demikian, maka kita kembali kepada hukum umum, yaitu kita berusaha berbuat baik kepada seluruh manusia, terlebih lagi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan sepersusuan dengan kita. Namun hal itu tidak dinamakan silaturahim dan ayat serta hadits di atas bukan termasuk dari ayat dan hadits yang memerintahkan silaturahim.Jadi kesimpulannya, yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan karena nasab atau darah.Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah seluruh orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita wajib kita sambung silaturrahīm? Maka dalam hal ini ada 3 pendapat di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut.Pendapat PertamaMenurut pendapat ini, yang wajib untuk disambung silaturrahīm adalah kerabat-kerabat yang memiliki hubungan mahram dengan kita, baik mahram dari sisi laki-laki maupun perempuan. Contohnya:Orang tua; ayah merupakan mahram bagi putrinya dan ibu merupakan mahram dari putranya.Saudara laki-laki dan saudara perempuan, baik sekandung, seayah dan seibu/seayah.Kakek dan nenek.Cucu.Al-a’mām (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari bapak.Al-ammāt (Bibi-bibi yang merupakan saudari-saudari pe-rempuan dari bapak).Akhwāl (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari ibu).Khālāt (bibi-bibi, yang merupakan saudari-saudari perempuan dari ibu).Ini merupakan pendapat yang masyhur dari Hanafiyah dan Malikiyyah,. Mereka berdalil dengan suatu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا ، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا“Tidak boleh seseorang (tatkala berpoligami kemudian dia) menggabungkan antara seorang wanita dengan tantenya (saudari dari bapaknya) atau dia menikah sekaligus dengan bibi wanita tersebut (saudari dari ibunya).” Hal ini dilarang oleh Nabi ﷺ karena bisa memutuskan silaturrahīm antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya. Kita tahu, hubungan antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya adalah hubungan mahram. Dari sini, mereka (para ulama)  mengatakan, “Yang wajib disambung silaturahim adalah yang memiliki hubungan mahram.”Kelaziman dari pendapat ini adalah berarti kalau sepupu tidak wajib kita sambung silaturrahīm karena dia bukan mahram. Ini pendapat yang agak kuat, karena bagaimana kita (laki-laki) menyambung silaturrahīm dengan sepupu perempuan sementara dia bukan mahram, bagaimana kita (laki-laki) mau mengobrol dengan dia sementara bukan mahram. Akan tetapi menyambung silaturahmi dengan sepupu hukumnya adalah mustahab dan tidak wajib. Karena manyambung silaturahmi dengan sepupu tidak selues dan sebebas menyambung silaturahmi dengan kerabat yang mahram.Oleh karena itu, kita perlu mengenal dan perlu pembahasan khusus tentang mahram ini.Pendapat KeduaMenurut pendapat kedua, yang dimaksud rahīm yang wajib kita sambung yaitu ahli waris.Ini merupakan pendapat sebagian fuqaha seperti pendapat Al-Qadhi’iyyāt dari madzhab Maliki dan An-Nawawi dari madzhab Syafi’iyyah.Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ: أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَRasūlullāh ﷺ tatkala ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasūlullāh, siapakah yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Maka jawaban Nabi ﷺ, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang paling dekat denganmu yang paling dekat denganmu.” (HR. Muslim)Para ulama yang berpegang dengan pendapat ini memahami bahwa kalimat “ibu dan ayah” merupakan termasuk ahli waris kita. Sedangkan kalimat “yang paling dekat denganmu” adalah yang paling dekat dari sisi ahli waris.Namun pendapat ini terbantahkan (kurang kuat) karena 2 sebab, yaitu:Sebab pertama, Sabda Nabi ﷺ dengan lafadz “yang lebih dekat dengan engkau” tidak dapat hanya difahami sebagai ahli waris saja, akan tetapi lebih tepat jika dibawa kepada makna umum, yaitu “yang paling dekat sisi kekerabatannya/nasabnya denganmu.”Nabi tidak menyebutkan bahwa “yang paling dekat” adalah ahli waris, sehingga tidak boleh kita khususkan sesuatu yang umum.Sebab kedua, pendapat ini melazimkan kita untuk tidak perlu menyambung silaturrahīm dengan bibi atau tante, terutama dengan bibi dari pihak ibu, karena bibi bukan ahli waris kita. Padahal dalam hadits Rasūlullāh ﷺ mengatakan,الخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ“Bibi saudari perempuan ibu adalah kedudukannya seperti ibu.” (HR. Bukhari Muslim)Menurut hadits ini, wajib bagi kita untuk menyambung silaturrahīm dan berbuat baik kepada bibi sebagaimana berbuat baik kepada ibu, meskipun bibi bukan termasuk ahli waris.Oleh karena itu, pendapat yang ke-2 ini adalah pendapat yang kurang kuat. Pendapat KetigaMenurut pendapat ini, seluruh kerabat wajib kita sambung silaturrahīm. Semakin dekat maka semakin wajib, semakin jauh maka semakin berkurang kewajibannya. Tetapi pada asalnya wajib menyambung silaturrahīm kepada seluruh kerabat.Pendapat ini juga kurang kuat. Pendapat ini mengandung konsekwensi bahwa kita wajib berhubungan baik (silaturrahīm) dengan seluruh manusia. Karena pada dasarnya nashab seluruh manusia akan kembali kepada Nabi Adam, karena kita seluruhnya adalah keturunan Nabi Adam dan ibunda Hawa. Jika demikian, maka seluruh nashab wajib kita sambung silaturahim, sehingga kita harus bersilaturahim dengan seluruh manusia.Oleh karenanya, Allāhu a’lam bish-shawāb, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Bahwasanya yang wajib kita sambung silaturrahīm adalah yang merupakan mahram kita, dan yang selainnya hukumnya sunnah.Para mahram inilah yang wajib kita senantiasa kita hubungi dan berbuat baik dengan mereka, entah dengan bertelepon, berkirim surat dan pesan, berkunjung, dan berbagi kebaikan kepada mereka. Adapun selain mereka adalah nomor dua alias sunnah, seperti saudara sepersusuan, saudara istri, dan kerabat-kerabat yang jauh yang bukan mahram.Allāhu a’lam bish-shwāb, ini adalah khilaf para ulama agar kita tahu dengan jelas mana yang lebih utama kita sambung silaturrahīm dan mana yang tingkatan kedua (kurang utama). Jangan sampai kita lebih mementingkan yang sunnah (kurang utama) dan meninggalkan yang wajib (utama).Di antara hal yang sering ditanyakan adalah, “Apakah wajib bagi kita untuk berbuat baik kepada mertua sebagaimana berbuat baik kepada ibu kandung?”Maka jawabannya adalah, “Tidak wajib.”Barangsiapa yang sengaja berbuat baik kepada mertua sama dengan berbuat baik kepada ibunya, maka dia telah menyakiti hati ibunya. Ibunya (yang telah mengandung dan merawatnya saat kecil) akan merasa sedih tatkala dia disamakan dengan mertuanya. Sudah semestinya, ibu ditempatkan lebih tinggi daripada mertua.Berbut baik kepada mertua tidak termasuk silaturrahīm karena tidak ada hubungan rahim. Jika seorang suami berbuat baik kepada mertua maka hal itu dapat membantu istri berbuat baik kepada orang tuanya, sehingga istri akan mendapat pahala silaturrahīm. Tetapi dari sisi suami, kewajiban kepada mertua tidak sama dengan kewajiban kepada ibu kandung. Bahkan keduanya sangat berbeda. Kepada mertua bukan silaturrahīm, adapun ibu adalah silaturrahīm yang nomor satu.Hal ini perlu dicamkan bagi pasangan suami istri agar istri tidak menuntut perlakuan yang sama dari suaminya antara  kepada ibunya dan kepada ibu suaminya. Hal ini tentu tidak boleh. Suami yang baik tentu akan berusaha berbuat baik kepada mertuanya dan membantu istrinya agar bisa bersilaturrahīm dengan ayah dan ibunya sementara ibunya sendiri tetap dinomorsatukan. Wallāhu a’lam bishshawāb.Peringatan:Pertama : Hukum berbakti kepada kedua orang tua yang kafir dan fasikIbnu Hazm berkata :وَاتَّفَقُوا أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ فَرْضٌ“Para ulama sepakat bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib” (Marotibul Ijmaa’ hal 157)Para ulama tatkala menjelaskan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua mereka tidak membeda-bedakan antara orang tua yang ta’at atau fasik atau kafir. Karena meskipun mereka kafir atau fasik mereka tetap memiliki jasa yang besar dan hak yang besar yang harus dibalas dan ditunaikan.Bahkan sebagian ulama menyatakan secara tegas bahwa kewajiban berbakti mencakup kedua orang tua yang fasik maupun kafir.Ibnu Abi Zaid Al-Qoirawani (ulama bermadzhab Malikiah yang wafat tahun 386 H) berkata :وَمِنَ الْفَرَائِضِ بِرُّ الوَالِدَيْنِ وَإِنْ كَانَا فَاسِقَيْنِ وَإِنْ كَانَا مُشْرِكَيْنِ“Dan diantara kewajiban adalah berbakti kepada kedua orangtua meskipun keduanya fasiq dan meskipun keduanya musyrik” (Risalah Ibni Abi Zaid AL-Qoirawani hal 153)Allah berfirmanوَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman : 14-15)Konteks kedua ayat ini sangat tegas bahwa sejak awal Allah tidak membedakan antara orangtua yang muslim ataupun orang yang kafir/musyrik. Bahkan dzohir ayat ini pembicaraannya tentang orang tua yang musyrik, karenanya Allah berfirman (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu).Al-Baghowi berkata :وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا أَيْ: بِالْمَعْرُوفِ، وَهُوَ الْبِرُّ وَالصِّلَةُ وَالْعِشْرَةُ الْجَمِيلَةُ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu berbakti, menyembung silaturahmi, dan pergaulan yang baik” (Tafsir Al-Baghowi 6/288)Ibnu ‘Athiyyah berkataوقوله وَصاحِبْهُما فِي الدُّنْيا مَعْرُوفاً يَعْنِي الأَبَوَيْنِ الْكَافِرَيْنِ أَيْ صِلْهُمَا بِالْمَالِ وَادْعُهُمَا بِرِفْقٍ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu kedua orangtua yang kafir, yaitu sambunglah silaturahmi dengan memberi harta kepada mereka berdua dan dakwahilah mereka berdua dengan kelembutan” (Al-Muharror al-Wajiiz fi Tafsiir al-Kitaab al-‘Aziiz 4/349)Asmaa’ binti Abi Bakar berkata :قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: «نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ»“Ibuku datang kepadaku dan ia dalam kondisi musyrik di masa perjanjian Rasulullah (al-Hudaibiyah/perjanjian damai dengan kaum kafir Quraisy), maka akupun bertanya kepada Rasulullah, aku berkata, “Dia ingin berbuat baik, apakah aku menyambung silaturahmi dengan ibuku (yang musyrik)?”. Nabi berkata, “Iya, sambung silaturahmi dengan ibumu” (HR Al-Bukhari No. 2620 dan Muslim No. 1003)Bahkan sebagian ulama dari madzhab Al-Malikiyah menyatakan tetap taat kepada kedua orang tua meskipun mereka hendak melakukan kesyirikan atau kemaksiatan yang menurut agama mereka adalah kebaikan.Ahmad bin Ghonim Al-Azhari Al-Maliki berkata :فَيَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَصِّلَ أَبَاهُ الْكَافِرَ إلَى كَنِيسَتِهِ إنْ طَلَبَ مِنْهُ ذَلِكَ وَعَجَزَ عَنْ الْوُصُولِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ عَمًى كَمَا قَالَهُ ابْنُ قَاسِمٍ، كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَدْفَعَ لَهُمَا مَا يُنْفِقَانِهِ فِي أَعْيَادِهِمَا لَا مَا يَصْرِفَانِهِ فِي نَحْوِ الْكَنِيسَةِ أَوْ يَدْفَعَانِهِ لِلْقِسِّيسِ“Maka wajib bagi sang anak yang muslim untuk mengantarkan ayahnya yang kafir ke gerejanya jika sang ayah meminta untuk mengantarnya dan sang aya tidak mampu untuk berangkat sendiri, misalnya karena buta. Hal ini sebagaimana pendapat Ibnu Qosim. Sebagaimana wajib juga atas sang anak untuk memberikan harta bagi kedua orang tuanya (yang kafir) apa yang mereka butuhkan dalam perayaan mereka. Akan tetapi bukan untuk yang mereka sumbangkan ke gereja atau kepada pendeta” (Al-Fawaakih Ad-Dawaani ‘ala Risaalah Ibni Abi Zaid al-Qoirawaani 2/290)Thohir bin ‘Aasyuur berkata :قَالَ فُقَهَاؤُنَا: إِذَا أَنْفَقَ الْوَلَدُ عَلَى أَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ وَكَانَ عَادَتُهُمَا شُرْبَ الْخَمْرِ اشْتَرَى لَهُمَا الْخَمْرَ لِأَنَّ شُرْبَ الْخَمْرِ لَيْسَ بِمُنْكَرٍ لِلْكَافِرِ، فَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مُنْكَرًا فِي الدِّينَيْنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُشَايِعَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ عَلَيْهِ“Berkata para ahli fikih kami (yaitu bermadzhab Malikiyah-pent): Jika sang anak menanggung kedua orang tuanya yang kafir dan miskin, dan ternyata kebiasaan kedua orangtuanya adalah minum khomr maka hendaknya sang anak membelikan khomr kepada keduanya, karena minum khomr bukanlah perkara yang mungkar bagi orang kafir[1]. Jika suatu perbuatan dipandang kemungkaran menurut kedua agama (agama Islam dan agama kedua orangtuanya yang musyrik-pent) maka tidak boleh seorang muslim membantu kedua orangtuanya untuk melakukannya” (At-Tahriir wa at-Tanwiir 21/161)Namun pendapat ini tidak disepakati oleh seluruh ulama Malikiyah, karenanya Asyhab (Juga ulama dari madzhab Malikiyah) berkata, “Sang anak tidak boleh melakukan itu semua” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/442). Pendapat Asyhab ini tentu lebih hati-hati dan lebih kuat. Namun dengan mengetahui ada pendapat ulama Malikiyah yang lain kita mengetahui bagaimana penekanan para ulama terhadap berbakti kepada orang tua meskipun kafir.Abdul Wahhab berkataوَالأَبَوَانِ الْكَافِرَانِ كَالْمُسْلِمَيْنِ إِلاَّ أَنَّ بِرَّهُمَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ“Dan kedua orangtua yang kafir sama seperti kedua orangtua muslim, hanya saja berbakti kepada keduanya terputus dengan meninggalnya keduanya” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/441)Jika kepada orangtua yang kafir saja wajib untuk berbakti kepadanya apalagi jika orangtua hanya sekedar fasiq.Kedua : Hukum menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir dan fasik.Telah lalu penyebutan beberapa dalil tentang disyari’atkannya menyambung silaturahmi dengan kerabat yang kafir, seperti hadits Asmaa’ yang didatangi oleh ibunya yang musyrik, demikian juga kisah Umar yang memberikan hadiah baju sutra kepada saudara laki-lakinya yang musyrik. Berikut ini dalil-dalil yang lain yang menunjuka akan disyari’atkannya menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir.Pertama : Firman Allah :النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًاNabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (QS Al-Ahzaab : 6)Firman Allah (kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu) umum mencakup saudara kerabat muslim maupun selain muslim menurut pendapat yang kuat. Makna ayat ini bahwasanya kerabat-kerabat yang kafir tidaklah mendapat warisan dari kaum muslimin akan tetapi jika seorang muslim memberi wasiat untuk memberikan sebagian harta waris kepada kerabat kafir maka diperbolehkan. Dan ini adalah pendapat Al-Hasan, Qotadah, ‘Athoo’, ‘Ikrimah dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Athiyyah dan diikuti oleh al-Qurthubi dan Abu Hayyan al-Andalusi[2]Qotadah berkata tentang ayat di atas :لِلْقَرَابَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ وَصِيَّةٌ، وَلَا مِيرَاثَ لَهُمْ“Kerabat yang musyrik (boleh) mendapatkan wasiat dan tidak ada harta warisan bagi mereka” (Tafsir At-Thobari 19/19)Kedua : Firman Allahكُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَDiwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqoroh : 180)Ayat ini menunjukkan tentang disyari’atkannya memberi washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kepada kerabat (baik muslim maupun non muslim). Akan tetapi ayat ini dikhususkan dengan ayat-ayat waris, sehingga jadilah kedua orangtua termasuk ahli warits (sehingga tidak berhak mendapatkan washiat) kecuali kedua orangtua kafir maka boleh mendapatkan washiat, demikian juga kerabat yang merupakan ahli warits tidak berhak lagi mendapatkan washiat kecuali kerabat yang bukan ahli warits dan juga kerabat kafir maka boleh mendapatkan washiat harta menurut pendapat yang kuat.At-Tsa’alabi (wafat tahun 427 H) menyampaikan pendapat sebagian ulama :كانت الوصيّة للوالدين والأقربين، فرضا واجبا على من مات، وله مال حتّى نزلت آية المواريث في سورة النّساء. فنسخت الوصيّة للوالدين والأقربين الذين يرثون، وبقي فرض الوصيّة للأقرباء الذين لا يرثون والوالدين الذين لا يرثان بكفر أو رق على من كان له مال… هذا قول ابن عبّاس وطاوس وقتادة والحسن ومسلم بن يسار والعلاء بن زياد والربيع وابن زيد.“Awalnya washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kerabat adalah wajib bagi orang yang meninggal yang memiliki harta, hingga turunlah ayat warisan di surat an-Nisaa’, maka ayat inipun memansukh-kan washiat kepada kedua orangtua dan kerabat yang merupakan ahli warits. Dan sisa kewajiban -bagi orang yang punya harta- untuk berwashiat kepada kerabat yang bukan ahli warits dan juga kedua orang tua yang bukan ahli waris karena kekafiran atau perbudakan…dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Thowus, Qotadah, al-Hasan, Muslim bin Yasar, al-‘Alaa bin Ziyad, Ar-Robii’, dan Ibnu Zaid” (Al-Kasyf wa al-Bayaan an Tafsiir al-Qur’an 2/57)Ketiga : Abu Hurairoh berkata :لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ}، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا، فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ، فَقَالَ: «يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا»Tatkala turun firman Allah (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah memanggil kaum Quraiys, maka merekapun berkumpul, lalu Nabi menyeru mereka dengan mengumumkan dan mengkhususkan, maka beliau berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkan diri kalian dari api neraka !. Wahai bagi Murroh bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdil Muttholib, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai Fathimah selamatkanlah dirimu dari neraka !. Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan kepada kalian sesuatupun dari Allah sama sekali, hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya” (HR Muslim No. 204)An-Nawawi mengomentari sabda Nabi (hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya):سَأَصِلُهَا شُبِّهَتْ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ بِالْحَرَارَةِ وَوَصْلُهَا بِإِطْفَاءِ الْحَرَارَةِ بِبُرُودَةٍ“Maknanya : “Aku akan menyambung rahim kalian”. Memutuskan silaturahmi disamakan dengan panas dan menyambung silaturahmi disamakan dengan memadamkan panas tersebut dengan sesuatu yang dingin (yaitu air)” (Al-Minhaj Syarh Muslim 3/81)أَنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ: ” إِنَّ آلَ أَبِي لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ المُؤْمِنِينَـ، وَلَكِنْ لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلاَهَا»‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Nabi berkata dengan keras -tanpa bisik-bisik- , “Sesungguhnya keluarga ayahku bukanlah wali-waliku (penolongku), sesungguhnya hanyalah para penolongku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih, akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya” (HR Al-Bukhari No. 5990)Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya bani fulan bukanlah wali-waliku”. Hal ini dikarenakan mereka kafir. Dan yang wajib atas seorang mukmin untuk berlepas diri loyalitas kepada orang-orang kafir sebagaimana firman Allahقَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja (QS Al-Mumtahanah :4)Maka Rasulullah berlepas diri dari mereka padahal mereka adalah kerabat beliau. Beliau bersabda (akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya). Yaitu akan memberikan kepada mereka hak mereka untuk disilaturahmi meskipun mereka kafir. Ini menunjukan bahwa kerabat memiliki hak untuk disambung silaturahmi meskipun ia kafir, akan tetapi ia tidak memiliki hak loyalitas, maka tidaklah loyal kepadanya dan tidaklah ia ditolong karena kebatilan yang ada padanya” (Syarh Riyad as-Sholihin 3/199)Dari sini jumhur ulama berpendapat bahwa menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir (apalagi yang hanya fasiq) hukumnya adalah mustahab namun tidak sampai pada derajat wajib kecuali kedua orang tua kafir atau fasiq maka hukumnya tetap wajib berdasarkan dalil-dalil yang khusus akan hal itu. (Al-Muslim wa Huquq al-Akhorin hal 36).Terlebih lagi jika seseorang meniatkan menyambung silaturahmi dengan kerabat kafir /fasik dalam rangka mendakwahi mereka. Ibnu Hajar berkata :أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ الْكَافِرِ يَنْبَغِي تَقْيِيدُهَا بِمَا إِذَا آنَسَ مِنْهُ رُجُوعًا عَنِ الْكُفْرِ أَوْ رَجَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ صُلْبِهِ مُسْلِمٌ كَمَا فِي الصُّورَةِ الَّتِي اسْتُدِلَّ بِهَا وَهِيَ دُعَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقُرَيْشٍ بِالْخِصْبِ وَعُلِّلَ بِنَحْوِ ذَلِكَ فَيَحْتَاجُ مَنْ يَتَرَخَّصُ فِي صِلَةِ رَحِمِهِ الْكَافِرِ أَنْ يَقْصِدَ إِلَى شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir hendaknya dikhususkan dengan jika dirasakan bahwa kerabat kafir tersebut akan sadar dari kekafirannya atau diharapkan akan keluar dari keturunannya seorang mulsim sebagaimana dalam bentuk (dalam hadits di atas-pen) yang dijadikan dalil, yaitu Nabi mendakwahi Quraisy di al-Khosb dan dijelaskan sebabnya seperti demikian. Maka soerang yang membolehkan untuk menyambung silaturahmi kerabat kafir hendaknya memerlukan untuk berniat sesuatu yang semodel ini” (Fathul Baari 10/422)Dari sini kita ketahui bahwasanya jika seseorang memutuskan silaturahmi dengan kerabat yang kafir atau fasik (yang menampakan kemaksiatannya) maka tidak dikatakan bahwa ia adalah pemutus silaturahmi yang mendapatkan ancaman yang berat. Wallahu a’lam.____________________________________Footnote:[1] Diantara dalil yang dijadikan hujjah akan hal ini adalah hadits Ibnu Umar, beliau berkata :أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لا خَلاقَ لَهُ فِي الآخِرَةِ ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ (اسم البائع) مَا قُلْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًاBahwasanya Umar bin al-Khotthob melihat hullah sutra (baju sepasang) yang dijual di pintu mesjid. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah seandainya engkau membeli baju ini lalu engkau memakainya pada hari jum’at dan untuk menyambut tamu jika mereka datang menemuimu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang memakai baju ini adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat”. Kemudian datang buat Nabi beberapa baju dari sutra, lalu beliau memberikan sepasang baju kepada Umar. Maka Umarpun berkata, “Wahai Rasulullah engkau memberikan aku baju ini, padahal engkau berkata tentang baju sutra yang dijual oleh ‘Uthorid (nama penjual) apa yang telah engkau katakan”. Rasulullah berkata, “Aku tidak memberikan baju ini kepadamu buat engkau pakai”. Maka Umarpun memberikan baju tersebut kepada saudaranya yang musyrik di Mekah” (HR Al-Bukhari No. 837)Hadits ini menunjukkan Umar menghadiahkan pakaian sutra yang haram dipakai oleh seorang lelaki muslim kepada saudaranya lelaki yang musyrik di Mekah. Berarti boleh bersilaturahmi dengan memberikan perkara yang haram namun dipandang halal oleh kerabat kafir.Namun pendapat ini kurang kuat, karena tidak ada nash yang tegas bahwa Umar memberikan baju tersebut untuk dipakai oleh saudara lelakinya yang kafir. Bisa jadi Umar memberikannya untuk dijual atau dimanfaatkan atau dirubah menjadi pakaian wanita.Adapun dalil-dalil yang menunjukan pengharaman memberikan benda yang haram kepada orang tua dan kerabat yang kafir -meskipun di mata mereka adalah halal- sebagai berikut :Pertama : Allah melarang untuk saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2)Kedua : Menurut pendapat yang kuat bahwasanya أَنَّ الكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَة yaitu orang-orang kafir juga diperintahkan untuk mengerjakan cabang-cabang syair’at, hanya saja tidak bisa sah dari mereka kecuali setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu (menjalankan ushul/pokok syari’at)Ketiga : Sabda Nabi :لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Pencipta” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah No. 179)[2] Adapun Ibnu Jarir at-Thobari maka beliau memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan أَوْلِيَائِكُمْ  (saudara-saudaramu) adalah hanya khusus kerabat yang beriman dan tidak mencakup kerabat yang kafir. Menurut Ibnu Jarir Allah menamakan kerbat dalam ayat ini dengan “wali-walimu” sementara saudara yang kafir terputuslah perwaliannya. (Tafsir at-Thobari 19/20) Namun pernyataan Ibnu Jarir ini dikritiki dengan pernyataan al-Hasan bahwasanya perwalian ada dua, ada perwalian agama dan ada perwalian nasab. Yang terputus adalah perwalian agama adapun perwalian karena nasab tidaklah terputuskan dengan kekafiran. Hasan al-Bashri berkata tentang ayat di atas :إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَكَ ذُو قَرَابَةٍ لَيْسَ عَلَى دِينِكَ فَتُوصِي لَهُ بِالشَّيْءِ مِنْ مَالِكَ , فَهُوَ وَلِيُّكَ فِي النَّسَبِ , وَلَيْسَ وَلِيُّكَ فِي الدِّينِ“Kecuali jika engkau memiliki kerabat non muslim maka engkau memberi wasiat kepadanya untuk diberikan sebagian hartamu kepadanya. Kerabatmu tersebut adalah walimu dalam nasabmu dan bukan pada agamamu” (Tafsir Abdurrozzaq 3/32).


Sumber gambar: UnsplashKitabul Jami’ Muqadimah Bab 2 Berbakti dan Menyambung Silaturahmi (البِرُّ وَالصِّلَةُ)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MAMUQADIMAHBismillahirrahmānirrahīm, alhamdulillāh wash-shalātu was-salāmu ‘ala Rasūlillāh.Pembaca yang dirahmati Allah, bab kedua dari kitābul jāmi’ adalah bab “Al-Birr wa Ash-Shilah” (berbuat kebaikan dan menyambung silaturahim).Sebelum kita membahas hadits-hadits yang berkaitan dengan silaturahim, maka ada beberapa hal yang perlu diingatkan.Yang pertama, ada perbedaan antara al-birru (berbakti) dan as-shilah (menyambung silaturahmi). Berbakti kedudukannya lebih tinggi daripada silaturahmi, berbakti berkaitan dengan berbuat baik kepada kedua orangtua, adapun silaturahmi berkaitan dengan berbuat baik kepada kerabat selain kedua orang tua. Karenanya orang yang tidak berbakti dinamakan  anak yang durhaka (العَاقُّ), adapun orang yang tidak menyambung silaturahmi dinamakan “pemutus silaturahmi” (القَاطِعُ).Yang dimaksud dengan berbakti adalah berbakti kepada kedua orang tua kandung, adapun kepada kakek dan nenek maka juga dinamakan berbakti akan tetapi kedudukannya dibawah berbakti kepada kedua orangtua kandung. Tatkala Allah menyebutkan tentang kedua orangtua maka Allah menyebutkan tentang kedua orang tua kandung. Allah berfirman:وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“ (QS Al-Isroo’ 23-24)Firman Allah (Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut) dan (sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil) menunjukan bahwa yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orangtua adalah kedua orangtua langsung yang telah merawat kita tatkala kita kecil.Yang kedua, banyak orang yang salah dalam menggunakan istilah silaturahim. Mereka mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Misalnya, ketika seseorang hendak mengunjungi saudara, teman, atau ustadznya dia mengatakan, “Kita akan silaturahim kepada ustadz,” atau, “Kita akan silaturahim ke rumah teman.” Padahal dimaksud adalah ziarah (berkunjung). Sedangkan silaturahim adalah menyambung kekerabatan. Sudah jelas bahwa kita dengan teman atau ustadz tidak ada hubungan kekerabatan. Jadi istilah yang benar seharusnya. “kita menziarahi ustadz atau teman.”Mengapa demikian? Karena Allāh dan syari’at memang membedakan antara “silaturahim” (menyambung kekerabatan) dan “ziyāratul ikhwān” (mengunjungi teman). Antara silaturahim dengan ziarah berbeda, pahalanya pun berbeda. Masing-masing memiliki kedudukan, akan tetapi silaturahim memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sekedar ziarah.Namun demikianlah yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Sebagian besar orang mengganti istilah ziarah dengan silaturahim. Padahal itu adalah istilah yang tidak tepat dan harus diperbaiki. Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziarah/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Silaturahim mendatangkan pahala-pahala yang istimewa. Di antara pahala silaturahim adalah seperti disebutkan dalam firman Allāh ﷻ:وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Ini menunjukkan silaturahim merupakan salah satu amalan yang luar biasa, yang dapat menyebabkan seseorang bisa masuk surga.Selain ayat di atas, ada banyak sekali hadits yang menyebutkan  tentang keutamaan menyambung silaturahim dengan ibu, ayah, bibi, dan kerabat-kerabat lain secara umum.Oleh karenanya, jangan disamakan antara “silaturahim” dengan “ziyāratul ikhwān atau akhwāt”. Yang ketiga, “apa makna ar-rahim (kerabat)?” dan “kepada siapa kita harus bersilaturahim?Kerabat bisa diklasifikasikan menjadi tiga berikut ini.Kerabat dari ashhār (keluarga istri). Termasuk di dalam-nya adalah  ipar, mertua, dan sebagainya.Kerabat sepersusuan, seperti saudara sepersusuan, kakak se-persusuan, ayah sepersusuan, dan sebagainya.Kerabat dari nasab, yaitu kerabat yang memiliki hubungan darah, misalnya saudara kandung, saudara satu kakek, dan sebagainya.Lalu, di antara tiga jenis kerabat ini, manakah yang harus disambung tali kekerabatannya (silaturahim)?Yang dimaksud dengan silaturahim adalah yang menyambung hubungan karena nasab atau hubungan darah, yaitu yang ketiga.Menyambung hubungan dengan kerabat istri tidak dinamakan silaturahim, meskipun hal itu juga termasuk perbuatan baik yang dianjurkan sebagai bagian dari berbuat baik kepada manusia secara umum, terlebih bagi yang punya hubungan kekerabatan dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada mertua atau ipar tidak dinamakan silaturahim. Meskipun kita juga berharap mudah-mudahan kita mendapat pahala silaturahim karena kita membantu istri kita untuk bersilaturahim dengan ayah dan ibunya.Berkaitan dengan saudara sepersusuan, Rasulullah ﷺ bersabda,يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari dan Muslim)Yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan pernikahan, yaitu yang menjadi mahram karena nasab (hubungan darah) dan juga berkaitan dengan persusuan, karena orang yang sepersusuan bisa menjadi mahram. Akan tetapi,  Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan,يَجِبُ مِنَ الرَّضَاعَ مَا يَجِبُ مِنَ النَّسَبِ“Yang wajib berlaku pada nasab juga berlaku pada sepersusuan.” Seandainya Nabi ﷺ berkata demikian, berarti kita wajib juga bersilaturahim kepada saudara sepersusuan. Namun ternyata Rasulullāh ﷺ tidak mengatakan demikian.Dengan demikian, maka kita kembali kepada hukum umum, yaitu kita berusaha berbuat baik kepada seluruh manusia, terlebih lagi kepada orang-orang yang mempunyai hubungan sepersusuan dengan kita. Namun hal itu tidak dinamakan silaturahim dan ayat serta hadits di atas bukan termasuk dari ayat dan hadits yang memerintahkan silaturahim.Jadi kesimpulannya, yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan karena nasab atau darah.Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah seluruh orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita wajib kita sambung silaturrahīm? Maka dalam hal ini ada 3 pendapat di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut.Pendapat PertamaMenurut pendapat ini, yang wajib untuk disambung silaturrahīm adalah kerabat-kerabat yang memiliki hubungan mahram dengan kita, baik mahram dari sisi laki-laki maupun perempuan. Contohnya:Orang tua; ayah merupakan mahram bagi putrinya dan ibu merupakan mahram dari putranya.Saudara laki-laki dan saudara perempuan, baik sekandung, seayah dan seibu/seayah.Kakek dan nenek.Cucu.Al-a’mām (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari bapak.Al-ammāt (Bibi-bibi yang merupakan saudari-saudari pe-rempuan dari bapak).Akhwāl (Paman-paman yang merupakan saudara-saudara laki-laki dari ibu).Khālāt (bibi-bibi, yang merupakan saudari-saudari perempuan dari ibu).Ini merupakan pendapat yang masyhur dari Hanafiyah dan Malikiyyah,. Mereka berdalil dengan suatu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا ، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا“Tidak boleh seseorang (tatkala berpoligami kemudian dia) menggabungkan antara seorang wanita dengan tantenya (saudari dari bapaknya) atau dia menikah sekaligus dengan bibi wanita tersebut (saudari dari ibunya).” Hal ini dilarang oleh Nabi ﷺ karena bisa memutuskan silaturrahīm antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya. Kita tahu, hubungan antara seorang wanita dengan tantenya atau bibinya adalah hubungan mahram. Dari sini, mereka (para ulama)  mengatakan, “Yang wajib disambung silaturahim adalah yang memiliki hubungan mahram.”Kelaziman dari pendapat ini adalah berarti kalau sepupu tidak wajib kita sambung silaturrahīm karena dia bukan mahram. Ini pendapat yang agak kuat, karena bagaimana kita (laki-laki) menyambung silaturrahīm dengan sepupu perempuan sementara dia bukan mahram, bagaimana kita (laki-laki) mau mengobrol dengan dia sementara bukan mahram. Akan tetapi menyambung silaturahmi dengan sepupu hukumnya adalah mustahab dan tidak wajib. Karena manyambung silaturahmi dengan sepupu tidak selues dan sebebas menyambung silaturahmi dengan kerabat yang mahram.Oleh karena itu, kita perlu mengenal dan perlu pembahasan khusus tentang mahram ini.Pendapat KeduaMenurut pendapat kedua, yang dimaksud rahīm yang wajib kita sambung yaitu ahli waris.Ini merupakan pendapat sebagian fuqaha seperti pendapat Al-Qadhi’iyyāt dari madzhab Maliki dan An-Nawawi dari madzhab Syafi’iyyah.Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ: أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَRasūlullāh ﷺ tatkala ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasūlullāh, siapakah yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Maka jawaban Nabi ﷺ, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang paling dekat denganmu yang paling dekat denganmu.” (HR. Muslim)Para ulama yang berpegang dengan pendapat ini memahami bahwa kalimat “ibu dan ayah” merupakan termasuk ahli waris kita. Sedangkan kalimat “yang paling dekat denganmu” adalah yang paling dekat dari sisi ahli waris.Namun pendapat ini terbantahkan (kurang kuat) karena 2 sebab, yaitu:Sebab pertama, Sabda Nabi ﷺ dengan lafadz “yang lebih dekat dengan engkau” tidak dapat hanya difahami sebagai ahli waris saja, akan tetapi lebih tepat jika dibawa kepada makna umum, yaitu “yang paling dekat sisi kekerabatannya/nasabnya denganmu.”Nabi tidak menyebutkan bahwa “yang paling dekat” adalah ahli waris, sehingga tidak boleh kita khususkan sesuatu yang umum.Sebab kedua, pendapat ini melazimkan kita untuk tidak perlu menyambung silaturrahīm dengan bibi atau tante, terutama dengan bibi dari pihak ibu, karena bibi bukan ahli waris kita. Padahal dalam hadits Rasūlullāh ﷺ mengatakan,الخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ“Bibi saudari perempuan ibu adalah kedudukannya seperti ibu.” (HR. Bukhari Muslim)Menurut hadits ini, wajib bagi kita untuk menyambung silaturrahīm dan berbuat baik kepada bibi sebagaimana berbuat baik kepada ibu, meskipun bibi bukan termasuk ahli waris.Oleh karena itu, pendapat yang ke-2 ini adalah pendapat yang kurang kuat. Pendapat KetigaMenurut pendapat ini, seluruh kerabat wajib kita sambung silaturrahīm. Semakin dekat maka semakin wajib, semakin jauh maka semakin berkurang kewajibannya. Tetapi pada asalnya wajib menyambung silaturrahīm kepada seluruh kerabat.Pendapat ini juga kurang kuat. Pendapat ini mengandung konsekwensi bahwa kita wajib berhubungan baik (silaturrahīm) dengan seluruh manusia. Karena pada dasarnya nashab seluruh manusia akan kembali kepada Nabi Adam, karena kita seluruhnya adalah keturunan Nabi Adam dan ibunda Hawa. Jika demikian, maka seluruh nashab wajib kita sambung silaturahim, sehingga kita harus bersilaturahim dengan seluruh manusia.Oleh karenanya, Allāhu a’lam bish-shawāb, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Bahwasanya yang wajib kita sambung silaturrahīm adalah yang merupakan mahram kita, dan yang selainnya hukumnya sunnah.Para mahram inilah yang wajib kita senantiasa kita hubungi dan berbuat baik dengan mereka, entah dengan bertelepon, berkirim surat dan pesan, berkunjung, dan berbagi kebaikan kepada mereka. Adapun selain mereka adalah nomor dua alias sunnah, seperti saudara sepersusuan, saudara istri, dan kerabat-kerabat yang jauh yang bukan mahram.Allāhu a’lam bish-shwāb, ini adalah khilaf para ulama agar kita tahu dengan jelas mana yang lebih utama kita sambung silaturrahīm dan mana yang tingkatan kedua (kurang utama). Jangan sampai kita lebih mementingkan yang sunnah (kurang utama) dan meninggalkan yang wajib (utama).Di antara hal yang sering ditanyakan adalah, “Apakah wajib bagi kita untuk berbuat baik kepada mertua sebagaimana berbuat baik kepada ibu kandung?”Maka jawabannya adalah, “Tidak wajib.”Barangsiapa yang sengaja berbuat baik kepada mertua sama dengan berbuat baik kepada ibunya, maka dia telah menyakiti hati ibunya. Ibunya (yang telah mengandung dan merawatnya saat kecil) akan merasa sedih tatkala dia disamakan dengan mertuanya. Sudah semestinya, ibu ditempatkan lebih tinggi daripada mertua.Berbut baik kepada mertua tidak termasuk silaturrahīm karena tidak ada hubungan rahim. Jika seorang suami berbuat baik kepada mertua maka hal itu dapat membantu istri berbuat baik kepada orang tuanya, sehingga istri akan mendapat pahala silaturrahīm. Tetapi dari sisi suami, kewajiban kepada mertua tidak sama dengan kewajiban kepada ibu kandung. Bahkan keduanya sangat berbeda. Kepada mertua bukan silaturrahīm, adapun ibu adalah silaturrahīm yang nomor satu.Hal ini perlu dicamkan bagi pasangan suami istri agar istri tidak menuntut perlakuan yang sama dari suaminya antara  kepada ibunya dan kepada ibu suaminya. Hal ini tentu tidak boleh. Suami yang baik tentu akan berusaha berbuat baik kepada mertuanya dan membantu istrinya agar bisa bersilaturrahīm dengan ayah dan ibunya sementara ibunya sendiri tetap dinomorsatukan. Wallāhu a’lam bishshawāb.Peringatan:Pertama : Hukum berbakti kepada kedua orang tua yang kafir dan fasikIbnu Hazm berkata :وَاتَّفَقُوا أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ فَرْضٌ“Para ulama sepakat bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib” (Marotibul Ijmaa’ hal 157)Para ulama tatkala menjelaskan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua mereka tidak membeda-bedakan antara orang tua yang ta’at atau fasik atau kafir. Karena meskipun mereka kafir atau fasik mereka tetap memiliki jasa yang besar dan hak yang besar yang harus dibalas dan ditunaikan.Bahkan sebagian ulama menyatakan secara tegas bahwa kewajiban berbakti mencakup kedua orang tua yang fasik maupun kafir.Ibnu Abi Zaid Al-Qoirawani (ulama bermadzhab Malikiah yang wafat tahun 386 H) berkata :وَمِنَ الْفَرَائِضِ بِرُّ الوَالِدَيْنِ وَإِنْ كَانَا فَاسِقَيْنِ وَإِنْ كَانَا مُشْرِكَيْنِ“Dan diantara kewajiban adalah berbakti kepada kedua orangtua meskipun keduanya fasiq dan meskipun keduanya musyrik” (Risalah Ibni Abi Zaid AL-Qoirawani hal 153)Allah berfirmanوَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman : 14-15)Konteks kedua ayat ini sangat tegas bahwa sejak awal Allah tidak membedakan antara orangtua yang muslim ataupun orang yang kafir/musyrik. Bahkan dzohir ayat ini pembicaraannya tentang orang tua yang musyrik, karenanya Allah berfirman (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu).Al-Baghowi berkata :وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا أَيْ: بِالْمَعْرُوفِ، وَهُوَ الْبِرُّ وَالصِّلَةُ وَالْعِشْرَةُ الْجَمِيلَةُ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu berbakti, menyembung silaturahmi, dan pergaulan yang baik” (Tafsir Al-Baghowi 6/288)Ibnu ‘Athiyyah berkataوقوله وَصاحِبْهُما فِي الدُّنْيا مَعْرُوفاً يَعْنِي الأَبَوَيْنِ الْكَافِرَيْنِ أَيْ صِلْهُمَا بِالْمَالِ وَادْعُهُمَا بِرِفْقٍ“Firman Allah (Dan pergaulilah kedua orang -yang musyrik tersebut- dengan yang baik), yaitu kedua orangtua yang kafir, yaitu sambunglah silaturahmi dengan memberi harta kepada mereka berdua dan dakwahilah mereka berdua dengan kelembutan” (Al-Muharror al-Wajiiz fi Tafsiir al-Kitaab al-‘Aziiz 4/349)Asmaa’ binti Abi Bakar berkata :قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: «نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ»“Ibuku datang kepadaku dan ia dalam kondisi musyrik di masa perjanjian Rasulullah (al-Hudaibiyah/perjanjian damai dengan kaum kafir Quraisy), maka akupun bertanya kepada Rasulullah, aku berkata, “Dia ingin berbuat baik, apakah aku menyambung silaturahmi dengan ibuku (yang musyrik)?”. Nabi berkata, “Iya, sambung silaturahmi dengan ibumu” (HR Al-Bukhari No. 2620 dan Muslim No. 1003)Bahkan sebagian ulama dari madzhab Al-Malikiyah menyatakan tetap taat kepada kedua orang tua meskipun mereka hendak melakukan kesyirikan atau kemaksiatan yang menurut agama mereka adalah kebaikan.Ahmad bin Ghonim Al-Azhari Al-Maliki berkata :فَيَجِبُ عَلَى الْوَلَدِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَصِّلَ أَبَاهُ الْكَافِرَ إلَى كَنِيسَتِهِ إنْ طَلَبَ مِنْهُ ذَلِكَ وَعَجَزَ عَنْ الْوُصُولِ بِنَفْسِهِ لِنَحْوِ عَمًى كَمَا قَالَهُ ابْنُ قَاسِمٍ، كَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَدْفَعَ لَهُمَا مَا يُنْفِقَانِهِ فِي أَعْيَادِهِمَا لَا مَا يَصْرِفَانِهِ فِي نَحْوِ الْكَنِيسَةِ أَوْ يَدْفَعَانِهِ لِلْقِسِّيسِ“Maka wajib bagi sang anak yang muslim untuk mengantarkan ayahnya yang kafir ke gerejanya jika sang ayah meminta untuk mengantarnya dan sang aya tidak mampu untuk berangkat sendiri, misalnya karena buta. Hal ini sebagaimana pendapat Ibnu Qosim. Sebagaimana wajib juga atas sang anak untuk memberikan harta bagi kedua orang tuanya (yang kafir) apa yang mereka butuhkan dalam perayaan mereka. Akan tetapi bukan untuk yang mereka sumbangkan ke gereja atau kepada pendeta” (Al-Fawaakih Ad-Dawaani ‘ala Risaalah Ibni Abi Zaid al-Qoirawaani 2/290)Thohir bin ‘Aasyuur berkata :قَالَ فُقَهَاؤُنَا: إِذَا أَنْفَقَ الْوَلَدُ عَلَى أَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ الْفَقِيرَيْنِ وَكَانَ عَادَتُهُمَا شُرْبَ الْخَمْرِ اشْتَرَى لَهُمَا الْخَمْرَ لِأَنَّ شُرْبَ الْخَمْرِ لَيْسَ بِمُنْكَرٍ لِلْكَافِرِ، فَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مُنْكَرًا فِي الدِّينَيْنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُشَايِعَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ عَلَيْهِ“Berkata para ahli fikih kami (yaitu bermadzhab Malikiyah-pent): Jika sang anak menanggung kedua orang tuanya yang kafir dan miskin, dan ternyata kebiasaan kedua orangtuanya adalah minum khomr maka hendaknya sang anak membelikan khomr kepada keduanya, karena minum khomr bukanlah perkara yang mungkar bagi orang kafir[1]. Jika suatu perbuatan dipandang kemungkaran menurut kedua agama (agama Islam dan agama kedua orangtuanya yang musyrik-pent) maka tidak boleh seorang muslim membantu kedua orangtuanya untuk melakukannya” (At-Tahriir wa at-Tanwiir 21/161)Namun pendapat ini tidak disepakati oleh seluruh ulama Malikiyah, karenanya Asyhab (Juga ulama dari madzhab Malikiyah) berkata, “Sang anak tidak boleh melakukan itu semua” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/442). Pendapat Asyhab ini tentu lebih hati-hati dan lebih kuat. Namun dengan mengetahui ada pendapat ulama Malikiyah yang lain kita mengetahui bagaimana penekanan para ulama terhadap berbakti kepada orang tua meskipun kafir.Abdul Wahhab berkataوَالأَبَوَانِ الْكَافِرَانِ كَالْمُسْلِمَيْنِ إِلاَّ أَنَّ بِرَّهُمَا يَنْقَطِعُ بِالْمَوْتِ“Dan kedua orangtua yang kafir sama seperti kedua orangtua muslim, hanya saja berbakti kepada keduanya terputus dengan meninggalnya keduanya” (Syarah Ibnu Naajii at-Tanukhiy ‘ala matn al-Risalah li Ibni Abi Zaid al-Qoirawani 2/441)Jika kepada orangtua yang kafir saja wajib untuk berbakti kepadanya apalagi jika orangtua hanya sekedar fasiq.Kedua : Hukum menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir dan fasik.Telah lalu penyebutan beberapa dalil tentang disyari’atkannya menyambung silaturahmi dengan kerabat yang kafir, seperti hadits Asmaa’ yang didatangi oleh ibunya yang musyrik, demikian juga kisah Umar yang memberikan hadiah baju sutra kepada saudara laki-lakinya yang musyrik. Berikut ini dalil-dalil yang lain yang menunjuka akan disyari’atkannya menyambung silaturahmi kepada kerabat yang kafir.Pertama : Firman Allah :النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًاNabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (QS Al-Ahzaab : 6)Firman Allah (kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu) umum mencakup saudara kerabat muslim maupun selain muslim menurut pendapat yang kuat. Makna ayat ini bahwasanya kerabat-kerabat yang kafir tidaklah mendapat warisan dari kaum muslimin akan tetapi jika seorang muslim memberi wasiat untuk memberikan sebagian harta waris kepada kerabat kafir maka diperbolehkan. Dan ini adalah pendapat Al-Hasan, Qotadah, ‘Athoo’, ‘Ikrimah dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Athiyyah dan diikuti oleh al-Qurthubi dan Abu Hayyan al-Andalusi[2]Qotadah berkata tentang ayat di atas :لِلْقَرَابَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ وَصِيَّةٌ، وَلَا مِيرَاثَ لَهُمْ“Kerabat yang musyrik (boleh) mendapatkan wasiat dan tidak ada harta warisan bagi mereka” (Tafsir At-Thobari 19/19)Kedua : Firman Allahكُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَDiwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqoroh : 180)Ayat ini menunjukkan tentang disyari’atkannya memberi washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kepada kerabat (baik muslim maupun non muslim). Akan tetapi ayat ini dikhususkan dengan ayat-ayat waris, sehingga jadilah kedua orangtua termasuk ahli warits (sehingga tidak berhak mendapatkan washiat) kecuali kedua orangtua kafir maka boleh mendapatkan washiat, demikian juga kerabat yang merupakan ahli warits tidak berhak lagi mendapatkan washiat kecuali kerabat yang bukan ahli warits dan juga kerabat kafir maka boleh mendapatkan washiat harta menurut pendapat yang kuat.At-Tsa’alabi (wafat tahun 427 H) menyampaikan pendapat sebagian ulama :كانت الوصيّة للوالدين والأقربين، فرضا واجبا على من مات، وله مال حتّى نزلت آية المواريث في سورة النّساء. فنسخت الوصيّة للوالدين والأقربين الذين يرثون، وبقي فرض الوصيّة للأقرباء الذين لا يرثون والوالدين الذين لا يرثان بكفر أو رق على من كان له مال… هذا قول ابن عبّاس وطاوس وقتادة والحسن ومسلم بن يسار والعلاء بن زياد والربيع وابن زيد.“Awalnya washiat (harta) kepada kedua orangtua dan kerabat adalah wajib bagi orang yang meninggal yang memiliki harta, hingga turunlah ayat warisan di surat an-Nisaa’, maka ayat inipun memansukh-kan washiat kepada kedua orangtua dan kerabat yang merupakan ahli warits. Dan sisa kewajiban -bagi orang yang punya harta- untuk berwashiat kepada kerabat yang bukan ahli warits dan juga kedua orang tua yang bukan ahli waris karena kekafiran atau perbudakan…dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Thowus, Qotadah, al-Hasan, Muslim bin Yasar, al-‘Alaa bin Ziyad, Ar-Robii’, dan Ibnu Zaid” (Al-Kasyf wa al-Bayaan an Tafsiir al-Qur’an 2/57)Ketiga : Abu Hurairoh berkata :لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ}، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا، فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ، فَقَالَ: «يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا»Tatkala turun firman Allah (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah memanggil kaum Quraiys, maka merekapun berkumpul, lalu Nabi menyeru mereka dengan mengumumkan dan mengkhususkan, maka beliau berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkan diri kalian dari api neraka !. Wahai bagi Murroh bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai bani Abdil Muttholib, selamatkanlah diri kalian dari neraka !. Wahai Fathimah selamatkanlah dirimu dari neraka !. Sesungguhnya aku tidak bisa memberikan kepada kalian sesuatupun dari Allah sama sekali, hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya” (HR Muslim No. 204)An-Nawawi mengomentari sabda Nabi (hanya saja kalian memiliki rahim yang aku akan membasahinya dengan airnya):سَأَصِلُهَا شُبِّهَتْ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ بِالْحَرَارَةِ وَوَصْلُهَا بِإِطْفَاءِ الْحَرَارَةِ بِبُرُودَةٍ“Maknanya : “Aku akan menyambung rahim kalian”. Memutuskan silaturahmi disamakan dengan panas dan menyambung silaturahmi disamakan dengan memadamkan panas tersebut dengan sesuatu yang dingin (yaitu air)” (Al-Minhaj Syarh Muslim 3/81)أَنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ: ” إِنَّ آلَ أَبِي لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ المُؤْمِنِينَـ، وَلَكِنْ لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلاَهَا»‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Nabi berkata dengan keras -tanpa bisik-bisik- , “Sesungguhnya keluarga ayahku bukanlah wali-waliku (penolongku), sesungguhnya hanyalah para penolongku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih, akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya” (HR Al-Bukhari No. 5990)Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya bani fulan bukanlah wali-waliku”. Hal ini dikarenakan mereka kafir. Dan yang wajib atas seorang mukmin untuk berlepas diri loyalitas kepada orang-orang kafir sebagaimana firman Allahقَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja (QS Al-Mumtahanah :4)Maka Rasulullah berlepas diri dari mereka padahal mereka adalah kerabat beliau. Beliau bersabda (akan tetapi mereka memiliki hubungan rahim (kekerabatan) yang akan aku basahi dengan airnya). Yaitu akan memberikan kepada mereka hak mereka untuk disilaturahmi meskipun mereka kafir. Ini menunjukan bahwa kerabat memiliki hak untuk disambung silaturahmi meskipun ia kafir, akan tetapi ia tidak memiliki hak loyalitas, maka tidaklah loyal kepadanya dan tidaklah ia ditolong karena kebatilan yang ada padanya” (Syarh Riyad as-Sholihin 3/199)Dari sini jumhur ulama berpendapat bahwa menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir (apalagi yang hanya fasiq) hukumnya adalah mustahab namun tidak sampai pada derajat wajib kecuali kedua orang tua kafir atau fasiq maka hukumnya tetap wajib berdasarkan dalil-dalil yang khusus akan hal itu. (Al-Muslim wa Huquq al-Akhorin hal 36).Terlebih lagi jika seseorang meniatkan menyambung silaturahmi dengan kerabat kafir /fasik dalam rangka mendakwahi mereka. Ibnu Hajar berkata :أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ الْكَافِرِ يَنْبَغِي تَقْيِيدُهَا بِمَا إِذَا آنَسَ مِنْهُ رُجُوعًا عَنِ الْكُفْرِ أَوْ رَجَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ صُلْبِهِ مُسْلِمٌ كَمَا فِي الصُّورَةِ الَّتِي اسْتُدِلَّ بِهَا وَهِيَ دُعَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقُرَيْشٍ بِالْخِصْبِ وَعُلِّلَ بِنَحْوِ ذَلِكَ فَيَحْتَاجُ مَنْ يَتَرَخَّصُ فِي صِلَةِ رَحِمِهِ الْكَافِرِ أَنْ يَقْصِدَ إِلَى شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ“Sesungguhnya menyambung silaturahmi kepada kerabat kafir hendaknya dikhususkan dengan jika dirasakan bahwa kerabat kafir tersebut akan sadar dari kekafirannya atau diharapkan akan keluar dari keturunannya seorang mulsim sebagaimana dalam bentuk (dalam hadits di atas-pen) yang dijadikan dalil, yaitu Nabi mendakwahi Quraisy di al-Khosb dan dijelaskan sebabnya seperti demikian. Maka soerang yang membolehkan untuk menyambung silaturahmi kerabat kafir hendaknya memerlukan untuk berniat sesuatu yang semodel ini” (Fathul Baari 10/422)Dari sini kita ketahui bahwasanya jika seseorang memutuskan silaturahmi dengan kerabat yang kafir atau fasik (yang menampakan kemaksiatannya) maka tidak dikatakan bahwa ia adalah pemutus silaturahmi yang mendapatkan ancaman yang berat. Wallahu a’lam.____________________________________Footnote:[1] Diantara dalil yang dijadikan hujjah akan hal ini adalah hadits Ibnu Umar, beliau berkata :أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لا خَلاقَ لَهُ فِي الآخِرَةِ ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ (اسم البائع) مَا قُلْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًاBahwasanya Umar bin al-Khotthob melihat hullah sutra (baju sepasang) yang dijual di pintu mesjid. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah seandainya engkau membeli baju ini lalu engkau memakainya pada hari jum’at dan untuk menyambut tamu jika mereka datang menemuimu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang memakai baju ini adalah orang-orang yang tidak mendapat bagian di akhirat”. Kemudian datang buat Nabi beberapa baju dari sutra, lalu beliau memberikan sepasang baju kepada Umar. Maka Umarpun berkata, “Wahai Rasulullah engkau memberikan aku baju ini, padahal engkau berkata tentang baju sutra yang dijual oleh ‘Uthorid (nama penjual) apa yang telah engkau katakan”. Rasulullah berkata, “Aku tidak memberikan baju ini kepadamu buat engkau pakai”. Maka Umarpun memberikan baju tersebut kepada saudaranya yang musyrik di Mekah” (HR Al-Bukhari No. 837)Hadits ini menunjukkan Umar menghadiahkan pakaian sutra yang haram dipakai oleh seorang lelaki muslim kepada saudaranya lelaki yang musyrik di Mekah. Berarti boleh bersilaturahmi dengan memberikan perkara yang haram namun dipandang halal oleh kerabat kafir.Namun pendapat ini kurang kuat, karena tidak ada nash yang tegas bahwa Umar memberikan baju tersebut untuk dipakai oleh saudara lelakinya yang kafir. Bisa jadi Umar memberikannya untuk dijual atau dimanfaatkan atau dirubah menjadi pakaian wanita.Adapun dalil-dalil yang menunjukan pengharaman memberikan benda yang haram kepada orang tua dan kerabat yang kafir -meskipun di mata mereka adalah halal- sebagai berikut :Pertama : Allah melarang untuk saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah : 2)Kedua : Menurut pendapat yang kuat bahwasanya أَنَّ الكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَة yaitu orang-orang kafir juga diperintahkan untuk mengerjakan cabang-cabang syair’at, hanya saja tidak bisa sah dari mereka kecuali setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu (menjalankan ushul/pokok syari’at)Ketiga : Sabda Nabi :لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Pencipta” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah No. 179)[2] Adapun Ibnu Jarir at-Thobari maka beliau memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan أَوْلِيَائِكُمْ  (saudara-saudaramu) adalah hanya khusus kerabat yang beriman dan tidak mencakup kerabat yang kafir. Menurut Ibnu Jarir Allah menamakan kerbat dalam ayat ini dengan “wali-walimu” sementara saudara yang kafir terputuslah perwaliannya. (Tafsir at-Thobari 19/20) Namun pernyataan Ibnu Jarir ini dikritiki dengan pernyataan al-Hasan bahwasanya perwalian ada dua, ada perwalian agama dan ada perwalian nasab. Yang terputus adalah perwalian agama adapun perwalian karena nasab tidaklah terputuskan dengan kekafiran. Hasan al-Bashri berkata tentang ayat di atas :إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَكَ ذُو قَرَابَةٍ لَيْسَ عَلَى دِينِكَ فَتُوصِي لَهُ بِالشَّيْءِ مِنْ مَالِكَ , فَهُوَ وَلِيُّكَ فِي النَّسَبِ , وَلَيْسَ وَلِيُّكَ فِي الدِّينِ“Kecuali jika engkau memiliki kerabat non muslim maka engkau memberi wasiat kepadanya untuk diberikan sebagian hartamu kepadanya. Kerabatmu tersebut adalah walimu dalam nasabmu dan bukan pada agamamu” (Tafsir Abdurrozzaq 3/32).

Ayat Al Qur’an Tentang Cadar

Wanita Muslimah disyariatkan untuk menutup wajah mereka di depan lelaki ajnabi (non-mahram). Atau dengan kata lain, disyariatkan bagi mereka untuk memakai cadar. Ini adalah hal yang ada dan diajarkan dalam Islam. Para ulama 4 madzhab menyatakan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah perkara yang dianjurkan, atau bahkan sebagian ulama berpendapat hal ini diwajibkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah.Dalam kesempatan ini akan kami sampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an yang menjadi dasar disyariatkannya menutup wajah bagi wanita.Dalil 1Allah Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).Imam Ath Thabari rahimahullah menjelaskan:ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة“Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.“[1] Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita. Dalil 2Allah Ta’ala berfirman:وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab: 53).As Sa’di rahimahullah menjelaskan:يكون بينكم وبينهن ستر، يستر عن النظر، لعدم الحاجة إليه. فصار النظر إليهن ممنوعًا بكل حال“Maksudnya, hendaknya antara engkau (lelaki) dan para istri Nabi ada penghalang yang menghalangi pandangan. Karena tidak ada kebutuhan untuk memandangnya. Maka dari sini, lelaki memandang wanita (yang bukan mahram) hukumnya terlarang dalam keadaan apapun.” [2] Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Kharrasyi dalam kitab “Waqafat Ma’a Man Yara Jawaza Kasyfil Wajhi” (15) mengatakan:هذه الآية يتفق العلماء على أنها تدل على وجوب الحجاب وتغطية الوجه“Para ulama sepakat bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban memakai hijab dan menutup wajah (wanita)”Terlepas dari adanya khilaf ulama mengenai khithab ayat ini dan juga mengenai hukum cadar, namun jelas dalam ayat ini terdapat wajh (sisi pendalilan) akan disyariatkannya cadar. Dalil 3Allah Ta’ala berfirman:وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ“Dan hendaklah mereka (para wanita) menjulurkan kain jilbab ke dada mereka” (QS. An Nuur: 31).Dalam Shahih Bukhari, disebutkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha, beliau mengatakan:لمَّا نزلت ْهذه الآيةُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } . أخذْنَ أزُرَهنَّ فشَقَقْنَها من قِبَلِ الحَوَاشِي ، فاخْتَمَرْنَ بها“Ketika turun ayat :وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّpara wanita shahabiyah mengambil kain-kain mereka, kemudian mereka merobeknya dari ujung-ujungnya dan ber-khimar dengannya.” [3] Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah -ulama besar madzhab Syafi’i– menjelaskan perkataan Aisyah radhiallahu’anha ini:قَوْلُهُ فَاخْتَمَرْنَ أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيَهُ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ“Perkataan beliau [ber-khimar dengannya], maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundah yang kiri.”[4] Maka menurut penjelasan Ibnu Hajar, para sahabiyah memahami ayat di atas sebagai perintah untuk menutup tubuh mereka termasuk wajah. Dalil 4Allah Ta’ala berfirman:وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An Nur: 31).Para ulama khilaf dalam memaknai ayat إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya). Namun Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu memaknai ayat ini bahwa wanita tidak boleh menampakkan kecuali pakaiannya saja.عن عبد الله، أنه قال: (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) : قال: هي الثياب“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata tentang ayat: [dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya], maksudnya: kecuali pakaiannya“[5] Demikian juga penafsiran dari Ibrahim An Nakha’i dan Al Hasan Al Bashri rahimahumullah.Maka ayat ini pun menujukkan bahwa wajah pun ditutup oleh pakaian. Dalil 5Allah Ta’ala berfirman:وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nur: 60).Ibnu Katsir menjelaskan:قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيرهم“Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat [tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya adalah jilbab mereka atau rida‘ mereka. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Ibnu Jubair, Abusy Sya’tsa, Ibrahim An Nakha’i, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan selain mereka”. [6] Kebanyakan ulama salaf memaknai “jilbab” sebagai kain yang menutupi bagian atas termasuk wajah. Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai makna jilbab,قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” [7] Said bin Jubair menjelaskan makna ayat ini:“أن يضعن من ثيابهن ” وهو الجلباب من فوق الخمار فلا بأس أن يضعن عند غريب أو غيره بعد أن يكون عليها خمار صفيق“[tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya jilbab mereka yang ada di atas khimar. Maka tidak mengapa dilepas di depan orang asing atau selainnya, jika mereka mengenakan khimar yang tebal.”[8] Maka ayat ini memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepaskan kain atasan mereka yang menutupi wajah dan dada mereka. Namun mereka tetap memakai khimar.Maka mafhumnya, wanita yang belum menopause diperintahkan untuk terus mengenakan jilbab di depan lelaki non-mahram. Dan “jilbab” di sini maknanya kain atasan yang menutupi kepala, wajah dan dada.Sehingga dalam ayat ini ada isyarat diperintahkannya wanita menutup wajahnya.Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an Al Karim tentang disyariatkannya menutup wajah bagi wanita, berdasarkan penafsiran para ulama Islam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id Baca Juga: Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi? Benarkah Cadar Budaya Arab? Catatan kaki:

Ayat Al Qur’an Tentang Cadar

Wanita Muslimah disyariatkan untuk menutup wajah mereka di depan lelaki ajnabi (non-mahram). Atau dengan kata lain, disyariatkan bagi mereka untuk memakai cadar. Ini adalah hal yang ada dan diajarkan dalam Islam. Para ulama 4 madzhab menyatakan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah perkara yang dianjurkan, atau bahkan sebagian ulama berpendapat hal ini diwajibkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah.Dalam kesempatan ini akan kami sampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an yang menjadi dasar disyariatkannya menutup wajah bagi wanita.Dalil 1Allah Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).Imam Ath Thabari rahimahullah menjelaskan:ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة“Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.“[1] Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita. Dalil 2Allah Ta’ala berfirman:وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab: 53).As Sa’di rahimahullah menjelaskan:يكون بينكم وبينهن ستر، يستر عن النظر، لعدم الحاجة إليه. فصار النظر إليهن ممنوعًا بكل حال“Maksudnya, hendaknya antara engkau (lelaki) dan para istri Nabi ada penghalang yang menghalangi pandangan. Karena tidak ada kebutuhan untuk memandangnya. Maka dari sini, lelaki memandang wanita (yang bukan mahram) hukumnya terlarang dalam keadaan apapun.” [2] Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Kharrasyi dalam kitab “Waqafat Ma’a Man Yara Jawaza Kasyfil Wajhi” (15) mengatakan:هذه الآية يتفق العلماء على أنها تدل على وجوب الحجاب وتغطية الوجه“Para ulama sepakat bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban memakai hijab dan menutup wajah (wanita)”Terlepas dari adanya khilaf ulama mengenai khithab ayat ini dan juga mengenai hukum cadar, namun jelas dalam ayat ini terdapat wajh (sisi pendalilan) akan disyariatkannya cadar. Dalil 3Allah Ta’ala berfirman:وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ“Dan hendaklah mereka (para wanita) menjulurkan kain jilbab ke dada mereka” (QS. An Nuur: 31).Dalam Shahih Bukhari, disebutkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha, beliau mengatakan:لمَّا نزلت ْهذه الآيةُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } . أخذْنَ أزُرَهنَّ فشَقَقْنَها من قِبَلِ الحَوَاشِي ، فاخْتَمَرْنَ بها“Ketika turun ayat :وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّpara wanita shahabiyah mengambil kain-kain mereka, kemudian mereka merobeknya dari ujung-ujungnya dan ber-khimar dengannya.” [3] Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah -ulama besar madzhab Syafi’i– menjelaskan perkataan Aisyah radhiallahu’anha ini:قَوْلُهُ فَاخْتَمَرْنَ أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيَهُ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ“Perkataan beliau [ber-khimar dengannya], maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundah yang kiri.”[4] Maka menurut penjelasan Ibnu Hajar, para sahabiyah memahami ayat di atas sebagai perintah untuk menutup tubuh mereka termasuk wajah. Dalil 4Allah Ta’ala berfirman:وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An Nur: 31).Para ulama khilaf dalam memaknai ayat إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya). Namun Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu memaknai ayat ini bahwa wanita tidak boleh menampakkan kecuali pakaiannya saja.عن عبد الله، أنه قال: (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) : قال: هي الثياب“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata tentang ayat: [dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya], maksudnya: kecuali pakaiannya“[5] Demikian juga penafsiran dari Ibrahim An Nakha’i dan Al Hasan Al Bashri rahimahumullah.Maka ayat ini pun menujukkan bahwa wajah pun ditutup oleh pakaian. Dalil 5Allah Ta’ala berfirman:وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nur: 60).Ibnu Katsir menjelaskan:قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيرهم“Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat [tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya adalah jilbab mereka atau rida‘ mereka. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Ibnu Jubair, Abusy Sya’tsa, Ibrahim An Nakha’i, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan selain mereka”. [6] Kebanyakan ulama salaf memaknai “jilbab” sebagai kain yang menutupi bagian atas termasuk wajah. Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai makna jilbab,قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” [7] Said bin Jubair menjelaskan makna ayat ini:“أن يضعن من ثيابهن ” وهو الجلباب من فوق الخمار فلا بأس أن يضعن عند غريب أو غيره بعد أن يكون عليها خمار صفيق“[tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya jilbab mereka yang ada di atas khimar. Maka tidak mengapa dilepas di depan orang asing atau selainnya, jika mereka mengenakan khimar yang tebal.”[8] Maka ayat ini memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepaskan kain atasan mereka yang menutupi wajah dan dada mereka. Namun mereka tetap memakai khimar.Maka mafhumnya, wanita yang belum menopause diperintahkan untuk terus mengenakan jilbab di depan lelaki non-mahram. Dan “jilbab” di sini maknanya kain atasan yang menutupi kepala, wajah dan dada.Sehingga dalam ayat ini ada isyarat diperintahkannya wanita menutup wajahnya.Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an Al Karim tentang disyariatkannya menutup wajah bagi wanita, berdasarkan penafsiran para ulama Islam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id Baca Juga: Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi? Benarkah Cadar Budaya Arab? Catatan kaki:
Wanita Muslimah disyariatkan untuk menutup wajah mereka di depan lelaki ajnabi (non-mahram). Atau dengan kata lain, disyariatkan bagi mereka untuk memakai cadar. Ini adalah hal yang ada dan diajarkan dalam Islam. Para ulama 4 madzhab menyatakan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah perkara yang dianjurkan, atau bahkan sebagian ulama berpendapat hal ini diwajibkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah.Dalam kesempatan ini akan kami sampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an yang menjadi dasar disyariatkannya menutup wajah bagi wanita.Dalil 1Allah Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).Imam Ath Thabari rahimahullah menjelaskan:ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة“Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.“[1] Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita. Dalil 2Allah Ta’ala berfirman:وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab: 53).As Sa’di rahimahullah menjelaskan:يكون بينكم وبينهن ستر، يستر عن النظر، لعدم الحاجة إليه. فصار النظر إليهن ممنوعًا بكل حال“Maksudnya, hendaknya antara engkau (lelaki) dan para istri Nabi ada penghalang yang menghalangi pandangan. Karena tidak ada kebutuhan untuk memandangnya. Maka dari sini, lelaki memandang wanita (yang bukan mahram) hukumnya terlarang dalam keadaan apapun.” [2] Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Kharrasyi dalam kitab “Waqafat Ma’a Man Yara Jawaza Kasyfil Wajhi” (15) mengatakan:هذه الآية يتفق العلماء على أنها تدل على وجوب الحجاب وتغطية الوجه“Para ulama sepakat bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban memakai hijab dan menutup wajah (wanita)”Terlepas dari adanya khilaf ulama mengenai khithab ayat ini dan juga mengenai hukum cadar, namun jelas dalam ayat ini terdapat wajh (sisi pendalilan) akan disyariatkannya cadar. Dalil 3Allah Ta’ala berfirman:وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ“Dan hendaklah mereka (para wanita) menjulurkan kain jilbab ke dada mereka” (QS. An Nuur: 31).Dalam Shahih Bukhari, disebutkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha, beliau mengatakan:لمَّا نزلت ْهذه الآيةُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } . أخذْنَ أزُرَهنَّ فشَقَقْنَها من قِبَلِ الحَوَاشِي ، فاخْتَمَرْنَ بها“Ketika turun ayat :وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّpara wanita shahabiyah mengambil kain-kain mereka, kemudian mereka merobeknya dari ujung-ujungnya dan ber-khimar dengannya.” [3] Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah -ulama besar madzhab Syafi’i– menjelaskan perkataan Aisyah radhiallahu’anha ini:قَوْلُهُ فَاخْتَمَرْنَ أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيَهُ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ“Perkataan beliau [ber-khimar dengannya], maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundah yang kiri.”[4] Maka menurut penjelasan Ibnu Hajar, para sahabiyah memahami ayat di atas sebagai perintah untuk menutup tubuh mereka termasuk wajah. Dalil 4Allah Ta’ala berfirman:وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An Nur: 31).Para ulama khilaf dalam memaknai ayat إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya). Namun Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu memaknai ayat ini bahwa wanita tidak boleh menampakkan kecuali pakaiannya saja.عن عبد الله، أنه قال: (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) : قال: هي الثياب“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata tentang ayat: [dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya], maksudnya: kecuali pakaiannya“[5] Demikian juga penafsiran dari Ibrahim An Nakha’i dan Al Hasan Al Bashri rahimahumullah.Maka ayat ini pun menujukkan bahwa wajah pun ditutup oleh pakaian. Dalil 5Allah Ta’ala berfirman:وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nur: 60).Ibnu Katsir menjelaskan:قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيرهم“Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat [tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya adalah jilbab mereka atau rida‘ mereka. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Ibnu Jubair, Abusy Sya’tsa, Ibrahim An Nakha’i, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan selain mereka”. [6] Kebanyakan ulama salaf memaknai “jilbab” sebagai kain yang menutupi bagian atas termasuk wajah. Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai makna jilbab,قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” [7] Said bin Jubair menjelaskan makna ayat ini:“أن يضعن من ثيابهن ” وهو الجلباب من فوق الخمار فلا بأس أن يضعن عند غريب أو غيره بعد أن يكون عليها خمار صفيق“[tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya jilbab mereka yang ada di atas khimar. Maka tidak mengapa dilepas di depan orang asing atau selainnya, jika mereka mengenakan khimar yang tebal.”[8] Maka ayat ini memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepaskan kain atasan mereka yang menutupi wajah dan dada mereka. Namun mereka tetap memakai khimar.Maka mafhumnya, wanita yang belum menopause diperintahkan untuk terus mengenakan jilbab di depan lelaki non-mahram. Dan “jilbab” di sini maknanya kain atasan yang menutupi kepala, wajah dan dada.Sehingga dalam ayat ini ada isyarat diperintahkannya wanita menutup wajahnya.Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an Al Karim tentang disyariatkannya menutup wajah bagi wanita, berdasarkan penafsiran para ulama Islam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id Baca Juga: Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi? Benarkah Cadar Budaya Arab? Catatan kaki:


Wanita Muslimah disyariatkan untuk menutup wajah mereka di depan lelaki ajnabi (non-mahram). Atau dengan kata lain, disyariatkan bagi mereka untuk memakai cadar. Ini adalah hal yang ada dan diajarkan dalam Islam. Para ulama 4 madzhab menyatakan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah perkara yang dianjurkan, atau bahkan sebagian ulama berpendapat hal ini diwajibkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah.Dalam kesempatan ini akan kami sampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an yang menjadi dasar disyariatkannya menutup wajah bagi wanita.Dalil 1Allah Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).Imam Ath Thabari rahimahullah menjelaskan:ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة“Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.“[1] Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita. Dalil 2Allah Ta’ala berfirman:وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab: 53).As Sa’di rahimahullah menjelaskan:يكون بينكم وبينهن ستر، يستر عن النظر، لعدم الحاجة إليه. فصار النظر إليهن ممنوعًا بكل حال“Maksudnya, hendaknya antara engkau (lelaki) dan para istri Nabi ada penghalang yang menghalangi pandangan. Karena tidak ada kebutuhan untuk memandangnya. Maka dari sini, lelaki memandang wanita (yang bukan mahram) hukumnya terlarang dalam keadaan apapun.” [2] Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Kharrasyi dalam kitab “Waqafat Ma’a Man Yara Jawaza Kasyfil Wajhi” (15) mengatakan:هذه الآية يتفق العلماء على أنها تدل على وجوب الحجاب وتغطية الوجه“Para ulama sepakat bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban memakai hijab dan menutup wajah (wanita)”Terlepas dari adanya khilaf ulama mengenai khithab ayat ini dan juga mengenai hukum cadar, namun jelas dalam ayat ini terdapat wajh (sisi pendalilan) akan disyariatkannya cadar. Dalil 3Allah Ta’ala berfirman:وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ“Dan hendaklah mereka (para wanita) menjulurkan kain jilbab ke dada mereka” (QS. An Nuur: 31).Dalam Shahih Bukhari, disebutkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha, beliau mengatakan:لمَّا نزلت ْهذه الآيةُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } . أخذْنَ أزُرَهنَّ فشَقَقْنَها من قِبَلِ الحَوَاشِي ، فاخْتَمَرْنَ بها“Ketika turun ayat :وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّpara wanita shahabiyah mengambil kain-kain mereka, kemudian mereka merobeknya dari ujung-ujungnya dan ber-khimar dengannya.” [3] Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah -ulama besar madzhab Syafi’i– menjelaskan perkataan Aisyah radhiallahu’anha ini:قَوْلُهُ فَاخْتَمَرْنَ أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيَهُ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ“Perkataan beliau [ber-khimar dengannya], maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundah yang kiri.”[4] Maka menurut penjelasan Ibnu Hajar, para sahabiyah memahami ayat di atas sebagai perintah untuk menutup tubuh mereka termasuk wajah. Dalil 4Allah Ta’ala berfirman:وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An Nur: 31).Para ulama khilaf dalam memaknai ayat إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (kecuali yang (biasa) nampak daripadanya). Namun Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu memaknai ayat ini bahwa wanita tidak boleh menampakkan kecuali pakaiannya saja.عن عبد الله، أنه قال: (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) : قال: هي الثياب“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata tentang ayat: [dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya], maksudnya: kecuali pakaiannya“[5] Demikian juga penafsiran dari Ibrahim An Nakha’i dan Al Hasan Al Bashri rahimahumullah.Maka ayat ini pun menujukkan bahwa wajah pun ditutup oleh pakaian. Dalil 5Allah Ta’ala berfirman:وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nur: 60).Ibnu Katsir menjelaskan:قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيرهم“Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat [tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya adalah jilbab mereka atau rida‘ mereka. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Ibnu Jubair, Abusy Sya’tsa, Ibrahim An Nakha’i, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan selain mereka”. [6] Kebanyakan ulama salaf memaknai “jilbab” sebagai kain yang menutupi bagian atas termasuk wajah. Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai makna jilbab,قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” [7] Said bin Jubair menjelaskan makna ayat ini:“أن يضعن من ثيابهن ” وهو الجلباب من فوق الخمار فلا بأس أن يضعن عند غريب أو غيره بعد أن يكون عليها خمار صفيق“[tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka] maksudnya jilbab mereka yang ada di atas khimar. Maka tidak mengapa dilepas di depan orang asing atau selainnya, jika mereka mengenakan khimar yang tebal.”[8] Maka ayat ini memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepaskan kain atasan mereka yang menutupi wajah dan dada mereka. Namun mereka tetap memakai khimar.Maka mafhumnya, wanita yang belum menopause diperintahkan untuk terus mengenakan jilbab di depan lelaki non-mahram. Dan “jilbab” di sini maknanya kain atasan yang menutupi kepala, wajah dan dada.Sehingga dalam ayat ini ada isyarat diperintahkannya wanita menutup wajahnya.Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an Al Karim tentang disyariatkannya menutup wajah bagi wanita, berdasarkan penafsiran para ulama Islam. Semoga bermanfaat.***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id Baca Juga: Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi? Benarkah Cadar Budaya Arab? Catatan kaki:

Bahaya Sihir, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

Inilah bahaya sihir, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Bahasan ini adalah kelanjutan dari tafsir surat Al-Falaq. Daftar Isi tutup 1. DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR 1.1. KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? 1.2. HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID 1.3. APA ITU SIHIR? 1.4. SIHIR DAN MACAMNYA 1.5. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? 1.6. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI 1.7. CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR 1.7.1. 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. 1.7.2. 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. 1.8. TUKANG SIHIR BERTAUBAT 1.9. CARA MENCEGAH SIHIR 1.10. DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, { وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ } السَّوَاحِرُ تَنْفُثُ { فِى العُقَدِ } الَّتِي تَعْقِدُهَا فِي الخَيْطِ تَنْفُخُ فِيْهَا بِشَيْءٍ تَقُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ رِيْقٍ . وَقَالَ الزَّمَخْشَرِي مَعَهُ كَبَنَاتِ لَبِيْدَ المَذْكُوْرِ . “(dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus), yaitu tukang-tukang sihir wanita yang menghembuskan sihirnya (pada buhul-buhul), yang dibuat pada pintalan, kemudian pintalan yang berbuhul itu ditiup dengan memakai mantra-mantra tanpa ludah. Zamakhsyari mengatakan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh anak-anak perempuan Labid yang telah disebutkan di atas.” Yang dimaksud dengan kejahatan di sini adalah kejahatan sihir. Karena sihir itu yang dihembuskan pada benang-benang (pintalan), di mana ditiupkan pada setiap pintalan tadi. Sedangkan “naftsu” adalah tiupan dari mulut tanpa ludah. “Naftsu” inilah aktivitas tukang sihir. Sihir itu berdampak jelek pada orang yang disihir. Sihir juga meminta pertolongan pada ruh-ruh jahat. Orang bisa saja terkena sihir. Itu terjadi dengan izin Allah, walau tidak Allah sukai perbuatan tersebut. Artinya secara izin Allah yang kauni qadari itu terjadi, tetapi tidak secara izin Allah yang syari. Perbuatan sihir yang jelas adalah perbuatan yang tidak benar, walau itu bisa terjadi dengan izin Allah.   KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? Sebagian ulama seperti juga Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa tukang sihir dalam ayat ini dimaksudkan untuk tukang sihir perempuan. Karena pendapat seperti ini menyatakan bahwa yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah putri-putri Labid bin Al-A’sham. Ini yang menjadi argumen dari Abu ‘Ubaidah dan yang semisal dengannya. Ini tidaklah tepat karena yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Labid bin Al-A’sham, bukan putri-putrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim. Sehingga yang dimaksud an-naffaatsaat adalah ruh atau sukma yang menyihir, bukan yang dimaksud adalah tukang sihir perempuan. Karena pengaruh sihir itu dari ruh jahatnya. Itulah kenapa disebut dengan lafaz muannats(perempuan), bukan lafaz mudzakkar (laki-laki). Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 704-705.   HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID Ghasiq (gelap malam) dan haasid (orang yang hasad) dalam bentuk nakirah (tanpa alif laam) karena gelap malam tidak semuanya jelek; begitu pula hasad itu tidak semua jelek, karena ada hasad yang terpuji (disebut ghibtoh, yaitu ingin berlomba dengan yang lain dalam kebaikan). An-naffaatsat (tukang sihir, dengan bentuk makrifah, ada alif lam), artinya sihir semuanya itu berdampak jelek. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 705.   APA ITU SIHIR? Sihir itu sesuau yang samar dan halus sebabnya. Adapun pengertian secara istilah, sihir ada dua pengertian: 1- Mantra atau jimat yang digunakan oleh tukang sihir sebagai bentuk pengabdian pada setan untuk mencelakai orang yang hendak disihir. 2- Obat yang berpengaruh di badan, akal, dan pikiran orang yang disihir. Inilah yang disebut dengan shorf dan ‘athof (obat yang membuat orang lain tertarik atau benci). (Lihat Al-Mukhtashar fi Al-‘Aqidah karya Syaikh Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 131) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sihir adalah mantra-mantra yang dibacakan oleh tukang sihir untuk memudaratkan atau membahayakan orang lain. Di antara pengaruh sihir yaitu ada yang sampai terbunuh, jatuh sakit, atau gila. Ada juga yang pengaruhnya sampai seseorang begitu cinta pada yang lain atau ada yang pengaruhnya hingga benci pada yang lain. Intinya, sihir ada berbagai macam. Namun, semuanya itu diharamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berlepas diri dari sihir atau meminta untuk orang lain disihir.” Demikian dijelaskan oleh Syaikh dari penjelasan beliau terhadap kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi, 6:573, terbitan Darul Wathan.   SIHIR DAN MACAMNYA Tentang nyatanya sihir ditunjukkan pada firman Allah, وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al Falaq: 4). Meminta perlindungan pada Allah–Sang Khaliq–dari sihir di sini menunjukkan bahwa hakikatnya sihir itu ada. Begitu juga firman Allah Ta’ala, فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102). Sesuatu yang dipelajari itu menunjukkan bahwa sihir itu ada. Jadi sihir hakikatnya memang ada. Sebagaimana juga ada riwayat dalam Shahih Bukhari yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir di mana beliau seakan-akan melakukan sesuatu, tetapi kenyataannya tidak. Ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwa sihir itu hanyalah tipuan pandangan, tidak ada hakikatnya. Inilah yang dipahami oleh kaum Mu’tazilah–para pengagum akal–. Mereka berdalil dengan firman Allah mengenai sihirnya Nabi Musa ‘alaihis salam, قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى “Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66). Namun, yang benar sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sihir itu ada, ada hakikatnya. Sihir pertama, sihir yang bisa membuat orang lain jatuh sakit, bahkan bisa mematikan yang lain. Sihir kedua, sihir yang hanya menipu pandangan, seperti pada dunia sulap yang kita sering perhatikan di layar kaca. Sihir seperti ini menipu pandangan, seakan-akan si pesulap masuk api padahal tidak, seakan-akan ia menikam dirinya sendiri padahal hanyalah mengelabui. Jika dipahami demikian, maka kita dapat mengompromikan berbagai macam dalil tentang sihir. Namun, perlu dipahami bahwa sihir atau sulap tidaklah bisa merubah bentuk suatu benda, misal batu atau besi diubah menjadi emas. Jika memang bisa demikian tentu saja tukang sihir seperti ini akan menjadi orang terkaya di jagad raya.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? Apakah tukang sihir itu dihukumi kafir? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Pendapat pertama, tukang sihir itu kafir. Inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102). Dalil ini yang menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir. Pendapat kedua, kalau sifat sihirnya ada unsur kekafiran, maka tukang sihir tersebut kafir. Jika tidak demikian, maka tidaklah kafir. Sebagaimana ada riwayat dari ‘Aisyah bahwa ia tidak membunuh tukang sihir dari budak wanita. Riwayat ini disebutkan oleh ‘Abdurrozaq, Al Baihaqi, dan Ibnu Hazm dengan sanad yang shahih. Tidak membunuh tukang sihir di sini menunjukkan tidak kafirnya. Karena hukum asalnya, Islam seseorang tetap ada. Rincian paling bagus mengenai hukum sihir adalah: 1- Sihir yang dihukumi kafir yaitu jika ada di dalamnya meminta pertolongan pada setan. Karena ketika itu tukang sihir melakukan amalan sebagai bentuk pengabdian atau ibadah pada setan. 2- Sihir yang dihukumi dosa besar yaitu sihir dengan bantuan obat atau ramuan.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI Antara kafirnya tukang sihir dan hukum membunuhnya adalah masalah yang berbeda. Mengenai hukuman mati untuk tukang sihir, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, tukang sihir dihukum mati. Pendapat kedua, tidak dihukum mati kecuali jika melakukan sihir sampai derajat kekafiran. Inilah pendapat Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jami’nya. Pendapat yang lebih tepat, tukang sihir itu dihukum mati secara mutlak, baik bentuk sihirnya dihukumi kafir atau hanya dosa besar. Ada beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini. Dari Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Tirmidzi, no. 1460, yang tepat hadits ini mawquf, hanya perkataan Jundub sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad yang shahih). Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Bajalah bin ‘Abadah, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah menulis surah dan memerintahkan membunuh setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan. Bajalah berkata, “Kami telah membunuh tiga tukang sihir.” Namun perkataan “setiap tukang sihir” terdapat dalam Musnad Imam Ahmad, bukan dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh. Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatho’nya. Imam Ahmad sampai berkata, “Ada tiga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpendapat bahwa tukang sihir itu dihukum mati.” Pendapat yang mengatakan tukang sihir dihukum mati, itulah yang lebih tepat. Wallahu a’lam.   CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR Ada dua cara yang dilakukan dalam mengobati sihir, santet, kena guna-guna, atau penyebutan semisalnya: 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. Seperti ini dibolehkan berdasarkan keumuman dalil yang membolehkan ruqyah. Di antara dalilnya adalah, عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ » Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy, ia berkata, “Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Coba tunjukkan padaku ruqyah yang kalian lakukan. Ruqyah boleh saja selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”  (HR. Muslim, no. 2200). Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ “Tidak ada ruqyah kecuali pada penyakit karena mata hasad (dengki) atau karena sengatan binatang.” (HR. Abu Daud no. 3884 dan Tirmidzi no. 2057. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara kedua ini. Namun, yang lebih tepat adalah tidak mengobati sihir dengan sihir. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah (penulis kitab Taisir Al-‘Azizil Hamid) dan jadi pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam). Di antara dalilnya adalah: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النُّشْرَةِ فَقَالَ « هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ » Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang nusyrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu termasuk amalan setan.” (HR. Abu Daud, no. 3868 dan Ahmad, 3:294, juga dikeluarkan oleh Bukhari dalam Tarikh Kabir, 7:53. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Yang dimaksud nusyrah yang terlarang di sini adalah mantra-mantra yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti dengan menggunakan jimat-jimat. Itu termasuk amalan setan. Nusyroh yang dimaksud bukanlah dengan membacakan surah ta’awudzat (surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq dan surah An-Naas) atau dengan menggunakan ramuan yang mubah. (Lihat Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 2:846) Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Yang namanya sihir di dalamnya jin mengabdi pada tukang sihir dengan syarat tukang sihir tersebut berbuat syirik kepada Allah selamanya. Begitu pula menghilangkan sihir juga harus menghilangkan sebab sihir tersebut. Sihir tersebut bisa terjadi karena pengabdian setan jin kepada tukang sihir. Nah, inilah yang perlu diatasi. Kalau sihir diatasi dengan sihir, maka mesti tukang sihir kedua juga meminta bantuan pada jin yang lain untuk mengatasi sihri yang pertama.” (At-Tamhid, hlm. 349).   TUKANG SIHIR BERTAUBAT Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama, taubat tukang sihir tidaklah diterima. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali. Kalau demikian, ia tetap dikenai hukuman mati–saat diterapkan hukum Islam–. Itulah hukum secara lahiriyah. Adapun di batin, itu adalah urusan dia dengan Allah. Jika memang taubatnya benar-benar jujur, moga Allah maafkan. Bila ternyata dusta, maka ia dihukumi secara lahiriyah. Pendapat kedua, taubat tukang sihir diterima. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Begitu pula dalam hadits, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا “Sesungguhnya Allah -‘azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di siang hari. Dia pun membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di malam hari. Taubat terus diterima sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya (arah barat).” (HR. Muslim, no. 2759). Dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537 dan Ibnu Majah, no. 4253. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalil yang menyebutkan bahwa taubat setiap orang diterima amatlah banyak. Namun tentu saja bisa dikatakan taubatnya diterima jika memang ada bukti bahwa ia jujur dalam taubatnya.   CARA MENCEGAH SIHIR Sebagaimana disebutkan oleh mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, ada beberapa sebab seseorang bisa mudah terkena sihir: 1- Lalai dari mengingat Allah 2- Tidak mau perhatian pada ketaatan (ibadah) 3- Tidak mau perhatian pada dzikir-dzikir syar’i (seperti dzikir pagi, dzikir petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk kamar mandi, -pen) Sedangkan orang yang senantiasa berdzikir, rajin ibadah dan perhatian dengan dzikir-dzikir yang ada dasarnya, maka asalnya ia selamat dari gangguan sihir. Orang yang istiqamah menjalankan hal-hal tersebut akan selamat dari penguasaan setan. Beda halnya dengan yang gemar maksiat dan lalai dari mengingat Allah, sangat rentan sekali mendapatkan gangguan dan was-was setan. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 3:298) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36). Kalau orang Arab menyebut “ya’syu a’in”, maksudnya adalah pandangan melemah atau pandangan menjadi kabur. Sehingga maksud “ya’syu ‘an dzikrir rohman”, yaitu pandangannya tertutup dari Al Quran, artinya tidak mau memperhatikan Al Qur’an. Akibat dari berpaling dari Al-Qur’an, akhirnya dijadikan setan tidak berpisah darinya. Lihat bahasan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir dan Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yang dimaksud dengan ayat di atas adalah yang lalai dari Al-Qur’an Al-‘Azhim, itulah dzikir Ar-Rahman. Al-Qur’an tersebut itulah wujud kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Siapa yang menerima dzikir yang mulia ini, berarti ia telah menerima karunia yang besar, ia benar-benar telah beruntung. Adapun yang berpaling dari Al-Qur’an, bahkan menolaknya, dialah yang berhak mendapatkan kerugian dan tidak ada lagi kebahagiaan setelah itu selamanya. Akibat buruk pula bagi yang berpaling dari Al-Qur’an adalah akan senantiasa ditemani oleh setan, lalu setan akan menjerumuskan dalam maksiat. Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 813. Kesimpulannya, siapa yang lalai dari Al Qur’an, lalai dari dzikir, lalai dari shalat dan ibadah, maka akan mudah diganggu setan. Sedangkan sihir itu berasal dari setan.   DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “’AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHONIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6:212). Baca Juga: Saat Nabi Disihir Seorang Yahudi dan Cara Mengatasinya (Asbabun Nuzul Surat Al-Falaq dan An-Naas) Allah itu Rabb Al-Falaq, Yang Menguasai Shubuh — Selesai disusun di Darush Sholihin, Jumat siang, 26 Dzulqa’dah 1441 H (17 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskejahatan malam malam siang shubuh surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek

Bahaya Sihir, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

Inilah bahaya sihir, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Bahasan ini adalah kelanjutan dari tafsir surat Al-Falaq. Daftar Isi tutup 1. DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR 1.1. KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? 1.2. HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID 1.3. APA ITU SIHIR? 1.4. SIHIR DAN MACAMNYA 1.5. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? 1.6. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI 1.7. CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR 1.7.1. 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. 1.7.2. 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. 1.8. TUKANG SIHIR BERTAUBAT 1.9. CARA MENCEGAH SIHIR 1.10. DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, { وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ } السَّوَاحِرُ تَنْفُثُ { فِى العُقَدِ } الَّتِي تَعْقِدُهَا فِي الخَيْطِ تَنْفُخُ فِيْهَا بِشَيْءٍ تَقُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ رِيْقٍ . وَقَالَ الزَّمَخْشَرِي مَعَهُ كَبَنَاتِ لَبِيْدَ المَذْكُوْرِ . “(dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus), yaitu tukang-tukang sihir wanita yang menghembuskan sihirnya (pada buhul-buhul), yang dibuat pada pintalan, kemudian pintalan yang berbuhul itu ditiup dengan memakai mantra-mantra tanpa ludah. Zamakhsyari mengatakan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh anak-anak perempuan Labid yang telah disebutkan di atas.” Yang dimaksud dengan kejahatan di sini adalah kejahatan sihir. Karena sihir itu yang dihembuskan pada benang-benang (pintalan), di mana ditiupkan pada setiap pintalan tadi. Sedangkan “naftsu” adalah tiupan dari mulut tanpa ludah. “Naftsu” inilah aktivitas tukang sihir. Sihir itu berdampak jelek pada orang yang disihir. Sihir juga meminta pertolongan pada ruh-ruh jahat. Orang bisa saja terkena sihir. Itu terjadi dengan izin Allah, walau tidak Allah sukai perbuatan tersebut. Artinya secara izin Allah yang kauni qadari itu terjadi, tetapi tidak secara izin Allah yang syari. Perbuatan sihir yang jelas adalah perbuatan yang tidak benar, walau itu bisa terjadi dengan izin Allah.   KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? Sebagian ulama seperti juga Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa tukang sihir dalam ayat ini dimaksudkan untuk tukang sihir perempuan. Karena pendapat seperti ini menyatakan bahwa yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah putri-putri Labid bin Al-A’sham. Ini yang menjadi argumen dari Abu ‘Ubaidah dan yang semisal dengannya. Ini tidaklah tepat karena yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Labid bin Al-A’sham, bukan putri-putrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim. Sehingga yang dimaksud an-naffaatsaat adalah ruh atau sukma yang menyihir, bukan yang dimaksud adalah tukang sihir perempuan. Karena pengaruh sihir itu dari ruh jahatnya. Itulah kenapa disebut dengan lafaz muannats(perempuan), bukan lafaz mudzakkar (laki-laki). Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 704-705.   HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID Ghasiq (gelap malam) dan haasid (orang yang hasad) dalam bentuk nakirah (tanpa alif laam) karena gelap malam tidak semuanya jelek; begitu pula hasad itu tidak semua jelek, karena ada hasad yang terpuji (disebut ghibtoh, yaitu ingin berlomba dengan yang lain dalam kebaikan). An-naffaatsat (tukang sihir, dengan bentuk makrifah, ada alif lam), artinya sihir semuanya itu berdampak jelek. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 705.   APA ITU SIHIR? Sihir itu sesuau yang samar dan halus sebabnya. Adapun pengertian secara istilah, sihir ada dua pengertian: 1- Mantra atau jimat yang digunakan oleh tukang sihir sebagai bentuk pengabdian pada setan untuk mencelakai orang yang hendak disihir. 2- Obat yang berpengaruh di badan, akal, dan pikiran orang yang disihir. Inilah yang disebut dengan shorf dan ‘athof (obat yang membuat orang lain tertarik atau benci). (Lihat Al-Mukhtashar fi Al-‘Aqidah karya Syaikh Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 131) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sihir adalah mantra-mantra yang dibacakan oleh tukang sihir untuk memudaratkan atau membahayakan orang lain. Di antara pengaruh sihir yaitu ada yang sampai terbunuh, jatuh sakit, atau gila. Ada juga yang pengaruhnya sampai seseorang begitu cinta pada yang lain atau ada yang pengaruhnya hingga benci pada yang lain. Intinya, sihir ada berbagai macam. Namun, semuanya itu diharamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berlepas diri dari sihir atau meminta untuk orang lain disihir.” Demikian dijelaskan oleh Syaikh dari penjelasan beliau terhadap kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi, 6:573, terbitan Darul Wathan.   SIHIR DAN MACAMNYA Tentang nyatanya sihir ditunjukkan pada firman Allah, وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al Falaq: 4). Meminta perlindungan pada Allah–Sang Khaliq–dari sihir di sini menunjukkan bahwa hakikatnya sihir itu ada. Begitu juga firman Allah Ta’ala, فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102). Sesuatu yang dipelajari itu menunjukkan bahwa sihir itu ada. Jadi sihir hakikatnya memang ada. Sebagaimana juga ada riwayat dalam Shahih Bukhari yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir di mana beliau seakan-akan melakukan sesuatu, tetapi kenyataannya tidak. Ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwa sihir itu hanyalah tipuan pandangan, tidak ada hakikatnya. Inilah yang dipahami oleh kaum Mu’tazilah–para pengagum akal–. Mereka berdalil dengan firman Allah mengenai sihirnya Nabi Musa ‘alaihis salam, قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى “Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66). Namun, yang benar sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sihir itu ada, ada hakikatnya. Sihir pertama, sihir yang bisa membuat orang lain jatuh sakit, bahkan bisa mematikan yang lain. Sihir kedua, sihir yang hanya menipu pandangan, seperti pada dunia sulap yang kita sering perhatikan di layar kaca. Sihir seperti ini menipu pandangan, seakan-akan si pesulap masuk api padahal tidak, seakan-akan ia menikam dirinya sendiri padahal hanyalah mengelabui. Jika dipahami demikian, maka kita dapat mengompromikan berbagai macam dalil tentang sihir. Namun, perlu dipahami bahwa sihir atau sulap tidaklah bisa merubah bentuk suatu benda, misal batu atau besi diubah menjadi emas. Jika memang bisa demikian tentu saja tukang sihir seperti ini akan menjadi orang terkaya di jagad raya.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? Apakah tukang sihir itu dihukumi kafir? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Pendapat pertama, tukang sihir itu kafir. Inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102). Dalil ini yang menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir. Pendapat kedua, kalau sifat sihirnya ada unsur kekafiran, maka tukang sihir tersebut kafir. Jika tidak demikian, maka tidaklah kafir. Sebagaimana ada riwayat dari ‘Aisyah bahwa ia tidak membunuh tukang sihir dari budak wanita. Riwayat ini disebutkan oleh ‘Abdurrozaq, Al Baihaqi, dan Ibnu Hazm dengan sanad yang shahih. Tidak membunuh tukang sihir di sini menunjukkan tidak kafirnya. Karena hukum asalnya, Islam seseorang tetap ada. Rincian paling bagus mengenai hukum sihir adalah: 1- Sihir yang dihukumi kafir yaitu jika ada di dalamnya meminta pertolongan pada setan. Karena ketika itu tukang sihir melakukan amalan sebagai bentuk pengabdian atau ibadah pada setan. 2- Sihir yang dihukumi dosa besar yaitu sihir dengan bantuan obat atau ramuan.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI Antara kafirnya tukang sihir dan hukum membunuhnya adalah masalah yang berbeda. Mengenai hukuman mati untuk tukang sihir, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, tukang sihir dihukum mati. Pendapat kedua, tidak dihukum mati kecuali jika melakukan sihir sampai derajat kekafiran. Inilah pendapat Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jami’nya. Pendapat yang lebih tepat, tukang sihir itu dihukum mati secara mutlak, baik bentuk sihirnya dihukumi kafir atau hanya dosa besar. Ada beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini. Dari Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Tirmidzi, no. 1460, yang tepat hadits ini mawquf, hanya perkataan Jundub sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad yang shahih). Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Bajalah bin ‘Abadah, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah menulis surah dan memerintahkan membunuh setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan. Bajalah berkata, “Kami telah membunuh tiga tukang sihir.” Namun perkataan “setiap tukang sihir” terdapat dalam Musnad Imam Ahmad, bukan dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh. Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatho’nya. Imam Ahmad sampai berkata, “Ada tiga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpendapat bahwa tukang sihir itu dihukum mati.” Pendapat yang mengatakan tukang sihir dihukum mati, itulah yang lebih tepat. Wallahu a’lam.   CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR Ada dua cara yang dilakukan dalam mengobati sihir, santet, kena guna-guna, atau penyebutan semisalnya: 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. Seperti ini dibolehkan berdasarkan keumuman dalil yang membolehkan ruqyah. Di antara dalilnya adalah, عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ » Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy, ia berkata, “Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Coba tunjukkan padaku ruqyah yang kalian lakukan. Ruqyah boleh saja selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”  (HR. Muslim, no. 2200). Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ “Tidak ada ruqyah kecuali pada penyakit karena mata hasad (dengki) atau karena sengatan binatang.” (HR. Abu Daud no. 3884 dan Tirmidzi no. 2057. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara kedua ini. Namun, yang lebih tepat adalah tidak mengobati sihir dengan sihir. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah (penulis kitab Taisir Al-‘Azizil Hamid) dan jadi pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam). Di antara dalilnya adalah: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النُّشْرَةِ فَقَالَ « هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ » Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang nusyrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu termasuk amalan setan.” (HR. Abu Daud, no. 3868 dan Ahmad, 3:294, juga dikeluarkan oleh Bukhari dalam Tarikh Kabir, 7:53. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Yang dimaksud nusyrah yang terlarang di sini adalah mantra-mantra yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti dengan menggunakan jimat-jimat. Itu termasuk amalan setan. Nusyroh yang dimaksud bukanlah dengan membacakan surah ta’awudzat (surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq dan surah An-Naas) atau dengan menggunakan ramuan yang mubah. (Lihat Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 2:846) Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Yang namanya sihir di dalamnya jin mengabdi pada tukang sihir dengan syarat tukang sihir tersebut berbuat syirik kepada Allah selamanya. Begitu pula menghilangkan sihir juga harus menghilangkan sebab sihir tersebut. Sihir tersebut bisa terjadi karena pengabdian setan jin kepada tukang sihir. Nah, inilah yang perlu diatasi. Kalau sihir diatasi dengan sihir, maka mesti tukang sihir kedua juga meminta bantuan pada jin yang lain untuk mengatasi sihri yang pertama.” (At-Tamhid, hlm. 349).   TUKANG SIHIR BERTAUBAT Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama, taubat tukang sihir tidaklah diterima. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali. Kalau demikian, ia tetap dikenai hukuman mati–saat diterapkan hukum Islam–. Itulah hukum secara lahiriyah. Adapun di batin, itu adalah urusan dia dengan Allah. Jika memang taubatnya benar-benar jujur, moga Allah maafkan. Bila ternyata dusta, maka ia dihukumi secara lahiriyah. Pendapat kedua, taubat tukang sihir diterima. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Begitu pula dalam hadits, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا “Sesungguhnya Allah -‘azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di siang hari. Dia pun membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di malam hari. Taubat terus diterima sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya (arah barat).” (HR. Muslim, no. 2759). Dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537 dan Ibnu Majah, no. 4253. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalil yang menyebutkan bahwa taubat setiap orang diterima amatlah banyak. Namun tentu saja bisa dikatakan taubatnya diterima jika memang ada bukti bahwa ia jujur dalam taubatnya.   CARA MENCEGAH SIHIR Sebagaimana disebutkan oleh mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, ada beberapa sebab seseorang bisa mudah terkena sihir: 1- Lalai dari mengingat Allah 2- Tidak mau perhatian pada ketaatan (ibadah) 3- Tidak mau perhatian pada dzikir-dzikir syar’i (seperti dzikir pagi, dzikir petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk kamar mandi, -pen) Sedangkan orang yang senantiasa berdzikir, rajin ibadah dan perhatian dengan dzikir-dzikir yang ada dasarnya, maka asalnya ia selamat dari gangguan sihir. Orang yang istiqamah menjalankan hal-hal tersebut akan selamat dari penguasaan setan. Beda halnya dengan yang gemar maksiat dan lalai dari mengingat Allah, sangat rentan sekali mendapatkan gangguan dan was-was setan. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 3:298) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36). Kalau orang Arab menyebut “ya’syu a’in”, maksudnya adalah pandangan melemah atau pandangan menjadi kabur. Sehingga maksud “ya’syu ‘an dzikrir rohman”, yaitu pandangannya tertutup dari Al Quran, artinya tidak mau memperhatikan Al Qur’an. Akibat dari berpaling dari Al-Qur’an, akhirnya dijadikan setan tidak berpisah darinya. Lihat bahasan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir dan Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yang dimaksud dengan ayat di atas adalah yang lalai dari Al-Qur’an Al-‘Azhim, itulah dzikir Ar-Rahman. Al-Qur’an tersebut itulah wujud kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Siapa yang menerima dzikir yang mulia ini, berarti ia telah menerima karunia yang besar, ia benar-benar telah beruntung. Adapun yang berpaling dari Al-Qur’an, bahkan menolaknya, dialah yang berhak mendapatkan kerugian dan tidak ada lagi kebahagiaan setelah itu selamanya. Akibat buruk pula bagi yang berpaling dari Al-Qur’an adalah akan senantiasa ditemani oleh setan, lalu setan akan menjerumuskan dalam maksiat. Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 813. Kesimpulannya, siapa yang lalai dari Al Qur’an, lalai dari dzikir, lalai dari shalat dan ibadah, maka akan mudah diganggu setan. Sedangkan sihir itu berasal dari setan.   DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “’AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHONIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6:212). Baca Juga: Saat Nabi Disihir Seorang Yahudi dan Cara Mengatasinya (Asbabun Nuzul Surat Al-Falaq dan An-Naas) Allah itu Rabb Al-Falaq, Yang Menguasai Shubuh — Selesai disusun di Darush Sholihin, Jumat siang, 26 Dzulqa’dah 1441 H (17 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskejahatan malam malam siang shubuh surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek
Inilah bahaya sihir, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Bahasan ini adalah kelanjutan dari tafsir surat Al-Falaq. Daftar Isi tutup 1. DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR 1.1. KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? 1.2. HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID 1.3. APA ITU SIHIR? 1.4. SIHIR DAN MACAMNYA 1.5. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? 1.6. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI 1.7. CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR 1.7.1. 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. 1.7.2. 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. 1.8. TUKANG SIHIR BERTAUBAT 1.9. CARA MENCEGAH SIHIR 1.10. DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, { وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ } السَّوَاحِرُ تَنْفُثُ { فِى العُقَدِ } الَّتِي تَعْقِدُهَا فِي الخَيْطِ تَنْفُخُ فِيْهَا بِشَيْءٍ تَقُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ رِيْقٍ . وَقَالَ الزَّمَخْشَرِي مَعَهُ كَبَنَاتِ لَبِيْدَ المَذْكُوْرِ . “(dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus), yaitu tukang-tukang sihir wanita yang menghembuskan sihirnya (pada buhul-buhul), yang dibuat pada pintalan, kemudian pintalan yang berbuhul itu ditiup dengan memakai mantra-mantra tanpa ludah. Zamakhsyari mengatakan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh anak-anak perempuan Labid yang telah disebutkan di atas.” Yang dimaksud dengan kejahatan di sini adalah kejahatan sihir. Karena sihir itu yang dihembuskan pada benang-benang (pintalan), di mana ditiupkan pada setiap pintalan tadi. Sedangkan “naftsu” adalah tiupan dari mulut tanpa ludah. “Naftsu” inilah aktivitas tukang sihir. Sihir itu berdampak jelek pada orang yang disihir. Sihir juga meminta pertolongan pada ruh-ruh jahat. Orang bisa saja terkena sihir. Itu terjadi dengan izin Allah, walau tidak Allah sukai perbuatan tersebut. Artinya secara izin Allah yang kauni qadari itu terjadi, tetapi tidak secara izin Allah yang syari. Perbuatan sihir yang jelas adalah perbuatan yang tidak benar, walau itu bisa terjadi dengan izin Allah.   KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? Sebagian ulama seperti juga Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa tukang sihir dalam ayat ini dimaksudkan untuk tukang sihir perempuan. Karena pendapat seperti ini menyatakan bahwa yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah putri-putri Labid bin Al-A’sham. Ini yang menjadi argumen dari Abu ‘Ubaidah dan yang semisal dengannya. Ini tidaklah tepat karena yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Labid bin Al-A’sham, bukan putri-putrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim. Sehingga yang dimaksud an-naffaatsaat adalah ruh atau sukma yang menyihir, bukan yang dimaksud adalah tukang sihir perempuan. Karena pengaruh sihir itu dari ruh jahatnya. Itulah kenapa disebut dengan lafaz muannats(perempuan), bukan lafaz mudzakkar (laki-laki). Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 704-705.   HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID Ghasiq (gelap malam) dan haasid (orang yang hasad) dalam bentuk nakirah (tanpa alif laam) karena gelap malam tidak semuanya jelek; begitu pula hasad itu tidak semua jelek, karena ada hasad yang terpuji (disebut ghibtoh, yaitu ingin berlomba dengan yang lain dalam kebaikan). An-naffaatsat (tukang sihir, dengan bentuk makrifah, ada alif lam), artinya sihir semuanya itu berdampak jelek. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 705.   APA ITU SIHIR? Sihir itu sesuau yang samar dan halus sebabnya. Adapun pengertian secara istilah, sihir ada dua pengertian: 1- Mantra atau jimat yang digunakan oleh tukang sihir sebagai bentuk pengabdian pada setan untuk mencelakai orang yang hendak disihir. 2- Obat yang berpengaruh di badan, akal, dan pikiran orang yang disihir. Inilah yang disebut dengan shorf dan ‘athof (obat yang membuat orang lain tertarik atau benci). (Lihat Al-Mukhtashar fi Al-‘Aqidah karya Syaikh Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 131) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sihir adalah mantra-mantra yang dibacakan oleh tukang sihir untuk memudaratkan atau membahayakan orang lain. Di antara pengaruh sihir yaitu ada yang sampai terbunuh, jatuh sakit, atau gila. Ada juga yang pengaruhnya sampai seseorang begitu cinta pada yang lain atau ada yang pengaruhnya hingga benci pada yang lain. Intinya, sihir ada berbagai macam. Namun, semuanya itu diharamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berlepas diri dari sihir atau meminta untuk orang lain disihir.” Demikian dijelaskan oleh Syaikh dari penjelasan beliau terhadap kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi, 6:573, terbitan Darul Wathan.   SIHIR DAN MACAMNYA Tentang nyatanya sihir ditunjukkan pada firman Allah, وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al Falaq: 4). Meminta perlindungan pada Allah–Sang Khaliq–dari sihir di sini menunjukkan bahwa hakikatnya sihir itu ada. Begitu juga firman Allah Ta’ala, فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102). Sesuatu yang dipelajari itu menunjukkan bahwa sihir itu ada. Jadi sihir hakikatnya memang ada. Sebagaimana juga ada riwayat dalam Shahih Bukhari yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir di mana beliau seakan-akan melakukan sesuatu, tetapi kenyataannya tidak. Ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwa sihir itu hanyalah tipuan pandangan, tidak ada hakikatnya. Inilah yang dipahami oleh kaum Mu’tazilah–para pengagum akal–. Mereka berdalil dengan firman Allah mengenai sihirnya Nabi Musa ‘alaihis salam, قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى “Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66). Namun, yang benar sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sihir itu ada, ada hakikatnya. Sihir pertama, sihir yang bisa membuat orang lain jatuh sakit, bahkan bisa mematikan yang lain. Sihir kedua, sihir yang hanya menipu pandangan, seperti pada dunia sulap yang kita sering perhatikan di layar kaca. Sihir seperti ini menipu pandangan, seakan-akan si pesulap masuk api padahal tidak, seakan-akan ia menikam dirinya sendiri padahal hanyalah mengelabui. Jika dipahami demikian, maka kita dapat mengompromikan berbagai macam dalil tentang sihir. Namun, perlu dipahami bahwa sihir atau sulap tidaklah bisa merubah bentuk suatu benda, misal batu atau besi diubah menjadi emas. Jika memang bisa demikian tentu saja tukang sihir seperti ini akan menjadi orang terkaya di jagad raya.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? Apakah tukang sihir itu dihukumi kafir? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Pendapat pertama, tukang sihir itu kafir. Inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102). Dalil ini yang menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir. Pendapat kedua, kalau sifat sihirnya ada unsur kekafiran, maka tukang sihir tersebut kafir. Jika tidak demikian, maka tidaklah kafir. Sebagaimana ada riwayat dari ‘Aisyah bahwa ia tidak membunuh tukang sihir dari budak wanita. Riwayat ini disebutkan oleh ‘Abdurrozaq, Al Baihaqi, dan Ibnu Hazm dengan sanad yang shahih. Tidak membunuh tukang sihir di sini menunjukkan tidak kafirnya. Karena hukum asalnya, Islam seseorang tetap ada. Rincian paling bagus mengenai hukum sihir adalah: 1- Sihir yang dihukumi kafir yaitu jika ada di dalamnya meminta pertolongan pada setan. Karena ketika itu tukang sihir melakukan amalan sebagai bentuk pengabdian atau ibadah pada setan. 2- Sihir yang dihukumi dosa besar yaitu sihir dengan bantuan obat atau ramuan.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI Antara kafirnya tukang sihir dan hukum membunuhnya adalah masalah yang berbeda. Mengenai hukuman mati untuk tukang sihir, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, tukang sihir dihukum mati. Pendapat kedua, tidak dihukum mati kecuali jika melakukan sihir sampai derajat kekafiran. Inilah pendapat Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jami’nya. Pendapat yang lebih tepat, tukang sihir itu dihukum mati secara mutlak, baik bentuk sihirnya dihukumi kafir atau hanya dosa besar. Ada beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini. Dari Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Tirmidzi, no. 1460, yang tepat hadits ini mawquf, hanya perkataan Jundub sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad yang shahih). Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Bajalah bin ‘Abadah, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah menulis surah dan memerintahkan membunuh setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan. Bajalah berkata, “Kami telah membunuh tiga tukang sihir.” Namun perkataan “setiap tukang sihir” terdapat dalam Musnad Imam Ahmad, bukan dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh. Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatho’nya. Imam Ahmad sampai berkata, “Ada tiga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpendapat bahwa tukang sihir itu dihukum mati.” Pendapat yang mengatakan tukang sihir dihukum mati, itulah yang lebih tepat. Wallahu a’lam.   CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR Ada dua cara yang dilakukan dalam mengobati sihir, santet, kena guna-guna, atau penyebutan semisalnya: 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. Seperti ini dibolehkan berdasarkan keumuman dalil yang membolehkan ruqyah. Di antara dalilnya adalah, عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ » Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy, ia berkata, “Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Coba tunjukkan padaku ruqyah yang kalian lakukan. Ruqyah boleh saja selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”  (HR. Muslim, no. 2200). Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ “Tidak ada ruqyah kecuali pada penyakit karena mata hasad (dengki) atau karena sengatan binatang.” (HR. Abu Daud no. 3884 dan Tirmidzi no. 2057. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara kedua ini. Namun, yang lebih tepat adalah tidak mengobati sihir dengan sihir. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah (penulis kitab Taisir Al-‘Azizil Hamid) dan jadi pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam). Di antara dalilnya adalah: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النُّشْرَةِ فَقَالَ « هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ » Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang nusyrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu termasuk amalan setan.” (HR. Abu Daud, no. 3868 dan Ahmad, 3:294, juga dikeluarkan oleh Bukhari dalam Tarikh Kabir, 7:53. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Yang dimaksud nusyrah yang terlarang di sini adalah mantra-mantra yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti dengan menggunakan jimat-jimat. Itu termasuk amalan setan. Nusyroh yang dimaksud bukanlah dengan membacakan surah ta’awudzat (surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq dan surah An-Naas) atau dengan menggunakan ramuan yang mubah. (Lihat Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 2:846) Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Yang namanya sihir di dalamnya jin mengabdi pada tukang sihir dengan syarat tukang sihir tersebut berbuat syirik kepada Allah selamanya. Begitu pula menghilangkan sihir juga harus menghilangkan sebab sihir tersebut. Sihir tersebut bisa terjadi karena pengabdian setan jin kepada tukang sihir. Nah, inilah yang perlu diatasi. Kalau sihir diatasi dengan sihir, maka mesti tukang sihir kedua juga meminta bantuan pada jin yang lain untuk mengatasi sihri yang pertama.” (At-Tamhid, hlm. 349).   TUKANG SIHIR BERTAUBAT Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama, taubat tukang sihir tidaklah diterima. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali. Kalau demikian, ia tetap dikenai hukuman mati–saat diterapkan hukum Islam–. Itulah hukum secara lahiriyah. Adapun di batin, itu adalah urusan dia dengan Allah. Jika memang taubatnya benar-benar jujur, moga Allah maafkan. Bila ternyata dusta, maka ia dihukumi secara lahiriyah. Pendapat kedua, taubat tukang sihir diterima. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Begitu pula dalam hadits, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا “Sesungguhnya Allah -‘azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di siang hari. Dia pun membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di malam hari. Taubat terus diterima sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya (arah barat).” (HR. Muslim, no. 2759). Dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537 dan Ibnu Majah, no. 4253. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalil yang menyebutkan bahwa taubat setiap orang diterima amatlah banyak. Namun tentu saja bisa dikatakan taubatnya diterima jika memang ada bukti bahwa ia jujur dalam taubatnya.   CARA MENCEGAH SIHIR Sebagaimana disebutkan oleh mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, ada beberapa sebab seseorang bisa mudah terkena sihir: 1- Lalai dari mengingat Allah 2- Tidak mau perhatian pada ketaatan (ibadah) 3- Tidak mau perhatian pada dzikir-dzikir syar’i (seperti dzikir pagi, dzikir petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk kamar mandi, -pen) Sedangkan orang yang senantiasa berdzikir, rajin ibadah dan perhatian dengan dzikir-dzikir yang ada dasarnya, maka asalnya ia selamat dari gangguan sihir. Orang yang istiqamah menjalankan hal-hal tersebut akan selamat dari penguasaan setan. Beda halnya dengan yang gemar maksiat dan lalai dari mengingat Allah, sangat rentan sekali mendapatkan gangguan dan was-was setan. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 3:298) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36). Kalau orang Arab menyebut “ya’syu a’in”, maksudnya adalah pandangan melemah atau pandangan menjadi kabur. Sehingga maksud “ya’syu ‘an dzikrir rohman”, yaitu pandangannya tertutup dari Al Quran, artinya tidak mau memperhatikan Al Qur’an. Akibat dari berpaling dari Al-Qur’an, akhirnya dijadikan setan tidak berpisah darinya. Lihat bahasan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir dan Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yang dimaksud dengan ayat di atas adalah yang lalai dari Al-Qur’an Al-‘Azhim, itulah dzikir Ar-Rahman. Al-Qur’an tersebut itulah wujud kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Siapa yang menerima dzikir yang mulia ini, berarti ia telah menerima karunia yang besar, ia benar-benar telah beruntung. Adapun yang berpaling dari Al-Qur’an, bahkan menolaknya, dialah yang berhak mendapatkan kerugian dan tidak ada lagi kebahagiaan setelah itu selamanya. Akibat buruk pula bagi yang berpaling dari Al-Qur’an adalah akan senantiasa ditemani oleh setan, lalu setan akan menjerumuskan dalam maksiat. Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 813. Kesimpulannya, siapa yang lalai dari Al Qur’an, lalai dari dzikir, lalai dari shalat dan ibadah, maka akan mudah diganggu setan. Sedangkan sihir itu berasal dari setan.   DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “’AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHONIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6:212). Baca Juga: Saat Nabi Disihir Seorang Yahudi dan Cara Mengatasinya (Asbabun Nuzul Surat Al-Falaq dan An-Naas) Allah itu Rabb Al-Falaq, Yang Menguasai Shubuh — Selesai disusun di Darush Sholihin, Jumat siang, 26 Dzulqa’dah 1441 H (17 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskejahatan malam malam siang shubuh surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek


Inilah bahaya sihir, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Bahasan ini adalah kelanjutan dari tafsir surat Al-Falaq. Daftar Isi tutup 1. DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR 1.1. KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? 1.2. HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID 1.3. APA ITU SIHIR? 1.4. SIHIR DAN MACAMNYA 1.5. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? 1.6. BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI 1.7. CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR 1.7.1. 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. 1.7.2. 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. 1.8. TUKANG SIHIR BERTAUBAT 1.9. CARA MENCEGAH SIHIR 1.10. DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET DALAM SURAH AL-FALAQ DIAJARKAN BERLINDUNG DARI KEJAHATAN TUKANG SIHIR Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, { وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ } السَّوَاحِرُ تَنْفُثُ { فِى العُقَدِ } الَّتِي تَعْقِدُهَا فِي الخَيْطِ تَنْفُخُ فِيْهَا بِشَيْءٍ تَقُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ رِيْقٍ . وَقَالَ الزَّمَخْشَرِي مَعَهُ كَبَنَاتِ لَبِيْدَ المَذْكُوْرِ . “(dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus), yaitu tukang-tukang sihir wanita yang menghembuskan sihirnya (pada buhul-buhul), yang dibuat pada pintalan, kemudian pintalan yang berbuhul itu ditiup dengan memakai mantra-mantra tanpa ludah. Zamakhsyari mengatakan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh anak-anak perempuan Labid yang telah disebutkan di atas.” Yang dimaksud dengan kejahatan di sini adalah kejahatan sihir. Karena sihir itu yang dihembuskan pada benang-benang (pintalan), di mana ditiupkan pada setiap pintalan tadi. Sedangkan “naftsu” adalah tiupan dari mulut tanpa ludah. “Naftsu” inilah aktivitas tukang sihir. Sihir itu berdampak jelek pada orang yang disihir. Sihir juga meminta pertolongan pada ruh-ruh jahat. Orang bisa saja terkena sihir. Itu terjadi dengan izin Allah, walau tidak Allah sukai perbuatan tersebut. Artinya secara izin Allah yang kauni qadari itu terjadi, tetapi tidak secara izin Allah yang syari. Perbuatan sihir yang jelas adalah perbuatan yang tidak benar, walau itu bisa terjadi dengan izin Allah.   KENAPA DALAM AYAT DISEBUT TUKANG SIHIR PEREMPUAN? Sebagian ulama seperti juga Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa tukang sihir dalam ayat ini dimaksudkan untuk tukang sihir perempuan. Karena pendapat seperti ini menyatakan bahwa yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah putri-putri Labid bin Al-A’sham. Ini yang menjadi argumen dari Abu ‘Ubaidah dan yang semisal dengannya. Ini tidaklah tepat karena yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Labid bin Al-A’sham, bukan putri-putrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim. Sehingga yang dimaksud an-naffaatsaat adalah ruh atau sukma yang menyihir, bukan yang dimaksud adalah tukang sihir perempuan. Karena pengaruh sihir itu dari ruh jahatnya. Itulah kenapa disebut dengan lafaz muannats(perempuan), bukan lafaz mudzakkar (laki-laki). Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 704-705.   HIKMAH DARI GHASIQ, AN-NAFFAATSAAT, DAN HAASID Ghasiq (gelap malam) dan haasid (orang yang hasad) dalam bentuk nakirah (tanpa alif laam) karena gelap malam tidak semuanya jelek; begitu pula hasad itu tidak semua jelek, karena ada hasad yang terpuji (disebut ghibtoh, yaitu ingin berlomba dengan yang lain dalam kebaikan). An-naffaatsat (tukang sihir, dengan bentuk makrifah, ada alif lam), artinya sihir semuanya itu berdampak jelek. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 705.   APA ITU SIHIR? Sihir itu sesuau yang samar dan halus sebabnya. Adapun pengertian secara istilah, sihir ada dua pengertian: 1- Mantra atau jimat yang digunakan oleh tukang sihir sebagai bentuk pengabdian pada setan untuk mencelakai orang yang hendak disihir. 2- Obat yang berpengaruh di badan, akal, dan pikiran orang yang disihir. Inilah yang disebut dengan shorf dan ‘athof (obat yang membuat orang lain tertarik atau benci). (Lihat Al-Mukhtashar fi Al-‘Aqidah karya Syaikh Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 131) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sihir adalah mantra-mantra yang dibacakan oleh tukang sihir untuk memudaratkan atau membahayakan orang lain. Di antara pengaruh sihir yaitu ada yang sampai terbunuh, jatuh sakit, atau gila. Ada juga yang pengaruhnya sampai seseorang begitu cinta pada yang lain atau ada yang pengaruhnya hingga benci pada yang lain. Intinya, sihir ada berbagai macam. Namun, semuanya itu diharamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berlepas diri dari sihir atau meminta untuk orang lain disihir.” Demikian dijelaskan oleh Syaikh dari penjelasan beliau terhadap kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi, 6:573, terbitan Darul Wathan.   SIHIR DAN MACAMNYA Tentang nyatanya sihir ditunjukkan pada firman Allah, وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al Falaq: 4). Meminta perlindungan pada Allah–Sang Khaliq–dari sihir di sini menunjukkan bahwa hakikatnya sihir itu ada. Begitu juga firman Allah Ta’ala, فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102). Sesuatu yang dipelajari itu menunjukkan bahwa sihir itu ada. Jadi sihir hakikatnya memang ada. Sebagaimana juga ada riwayat dalam Shahih Bukhari yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir di mana beliau seakan-akan melakukan sesuatu, tetapi kenyataannya tidak. Ada pendapat yang lain yang mengatakan bahwa sihir itu hanyalah tipuan pandangan, tidak ada hakikatnya. Inilah yang dipahami oleh kaum Mu’tazilah–para pengagum akal–. Mereka berdalil dengan firman Allah mengenai sihirnya Nabi Musa ‘alaihis salam, قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى “Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan.” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66). Namun, yang benar sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sihir itu ada, ada hakikatnya. Sihir pertama, sihir yang bisa membuat orang lain jatuh sakit, bahkan bisa mematikan yang lain. Sihir kedua, sihir yang hanya menipu pandangan, seperti pada dunia sulap yang kita sering perhatikan di layar kaca. Sihir seperti ini menipu pandangan, seakan-akan si pesulap masuk api padahal tidak, seakan-akan ia menikam dirinya sendiri padahal hanyalah mengelabui. Jika dipahami demikian, maka kita dapat mengompromikan berbagai macam dalil tentang sihir. Namun, perlu dipahami bahwa sihir atau sulap tidaklah bisa merubah bentuk suatu benda, misal batu atau besi diubah menjadi emas. Jika memang bisa demikian tentu saja tukang sihir seperti ini akan menjadi orang terkaya di jagad raya.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR ITU KAFIR? Apakah tukang sihir itu dihukumi kafir? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Pendapat pertama, tukang sihir itu kafir. Inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ “Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102). Dalil ini yang menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir. Pendapat kedua, kalau sifat sihirnya ada unsur kekafiran, maka tukang sihir tersebut kafir. Jika tidak demikian, maka tidaklah kafir. Sebagaimana ada riwayat dari ‘Aisyah bahwa ia tidak membunuh tukang sihir dari budak wanita. Riwayat ini disebutkan oleh ‘Abdurrozaq, Al Baihaqi, dan Ibnu Hazm dengan sanad yang shahih. Tidak membunuh tukang sihir di sini menunjukkan tidak kafirnya. Karena hukum asalnya, Islam seseorang tetap ada. Rincian paling bagus mengenai hukum sihir adalah: 1- Sihir yang dihukumi kafir yaitu jika ada di dalamnya meminta pertolongan pada setan. Karena ketika itu tukang sihir melakukan amalan sebagai bentuk pengabdian atau ibadah pada setan. 2- Sihir yang dihukumi dosa besar yaitu sihir dengan bantuan obat atau ramuan.   BAHAYA SIHIR: TUKANG SIHIR KENA HUKUMAN MATI Antara kafirnya tukang sihir dan hukum membunuhnya adalah masalah yang berbeda. Mengenai hukuman mati untuk tukang sihir, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, tukang sihir dihukum mati. Pendapat kedua, tidak dihukum mati kecuali jika melakukan sihir sampai derajat kekafiran. Inilah pendapat Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jami’nya. Pendapat yang lebih tepat, tukang sihir itu dihukum mati secara mutlak, baik bentuk sihirnya dihukumi kafir atau hanya dosa besar. Ada beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini. Dari Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ “Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Tirmidzi, no. 1460, yang tepat hadits ini mawquf, hanya perkataan Jundub sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad yang shahih). Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Bajalah bin ‘Abadah, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah menulis surah dan memerintahkan membunuh setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan. Bajalah berkata, “Kami telah membunuh tiga tukang sihir.” Namun perkataan “setiap tukang sihir” terdapat dalam Musnad Imam Ahmad, bukan dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh. Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatho’nya. Imam Ahmad sampai berkata, “Ada tiga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpendapat bahwa tukang sihir itu dihukum mati.” Pendapat yang mengatakan tukang sihir dihukum mati, itulah yang lebih tepat. Wallahu a’lam.   CARA MENGOBATI ATAU MENGATASI SIHIR Ada dua cara yang dilakukan dalam mengobati sihir, santet, kena guna-guna, atau penyebutan semisalnya: 1- Dengan membacakan Al-Qur’an, do’a atau dzikir yang mubah. Seperti ini dibolehkan berdasarkan keumuman dalil yang membolehkan ruqyah. Di antara dalilnya adalah, عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ » Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy, ia berkata, “Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Coba tunjukkan padaku ruqyah yang kalian lakukan. Ruqyah boleh saja selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”  (HR. Muslim, no. 2200). Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ “Tidak ada ruqyah kecuali pada penyakit karena mata hasad (dengki) atau karena sengatan binatang.” (HR. Abu Daud no. 3884 dan Tirmidzi no. 2057. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). 2- Mengobati sihir dengan sihir yang semisal. Para ulama berselisih pendapat mengenai cara kedua ini. Namun, yang lebih tepat adalah tidak mengobati sihir dengan sihir. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah (penulis kitab Taisir Al-‘Azizil Hamid) dan jadi pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam). Di antara dalilnya adalah: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النُّشْرَةِ فَقَالَ « هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ » Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang nusyrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu termasuk amalan setan.” (HR. Abu Daud, no. 3868 dan Ahmad, 3:294, juga dikeluarkan oleh Bukhari dalam Tarikh Kabir, 7:53. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Yang dimaksud nusyrah yang terlarang di sini adalah mantra-mantra yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah seperti dengan menggunakan jimat-jimat. Itu termasuk amalan setan. Nusyroh yang dimaksud bukanlah dengan membacakan surah ta’awudzat (surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq dan surah An-Naas) atau dengan menggunakan ramuan yang mubah. (Lihat Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 2:846) Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Yang namanya sihir di dalamnya jin mengabdi pada tukang sihir dengan syarat tukang sihir tersebut berbuat syirik kepada Allah selamanya. Begitu pula menghilangkan sihir juga harus menghilangkan sebab sihir tersebut. Sihir tersebut bisa terjadi karena pengabdian setan jin kepada tukang sihir. Nah, inilah yang perlu diatasi. Kalau sihir diatasi dengan sihir, maka mesti tukang sihir kedua juga meminta bantuan pada jin yang lain untuk mengatasi sihri yang pertama.” (At-Tamhid, hlm. 349).   TUKANG SIHIR BERTAUBAT Ada dua pendapat dari para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama, taubat tukang sihir tidaklah diterima. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali. Kalau demikian, ia tetap dikenai hukuman mati–saat diterapkan hukum Islam–. Itulah hukum secara lahiriyah. Adapun di batin, itu adalah urusan dia dengan Allah. Jika memang taubatnya benar-benar jujur, moga Allah maafkan. Bila ternyata dusta, maka ia dihukumi secara lahiriyah. Pendapat kedua, taubat tukang sihir diterima. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53). Begitu pula dalam hadits, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا “Sesungguhnya Allah -‘azza wa jalla- membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di siang hari. Dia pun membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari yang berbuat dosa di malam hari. Taubat terus diterima sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya (arah barat).” (HR. Muslim, no. 2759). Dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ “Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, no. 3537 dan Ibnu Majah, no. 4253. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalil yang menyebutkan bahwa taubat setiap orang diterima amatlah banyak. Namun tentu saja bisa dikatakan taubatnya diterima jika memang ada bukti bahwa ia jujur dalam taubatnya.   CARA MENCEGAH SIHIR Sebagaimana disebutkan oleh mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, ada beberapa sebab seseorang bisa mudah terkena sihir: 1- Lalai dari mengingat Allah 2- Tidak mau perhatian pada ketaatan (ibadah) 3- Tidak mau perhatian pada dzikir-dzikir syar’i (seperti dzikir pagi, dzikir petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk kamar mandi, -pen) Sedangkan orang yang senantiasa berdzikir, rajin ibadah dan perhatian dengan dzikir-dzikir yang ada dasarnya, maka asalnya ia selamat dari gangguan sihir. Orang yang istiqamah menjalankan hal-hal tersebut akan selamat dari penguasaan setan. Beda halnya dengan yang gemar maksiat dan lalai dari mengingat Allah, sangat rentan sekali mendapatkan gangguan dan was-was setan. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 3:298) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36). Kalau orang Arab menyebut “ya’syu a’in”, maksudnya adalah pandangan melemah atau pandangan menjadi kabur. Sehingga maksud “ya’syu ‘an dzikrir rohman”, yaitu pandangannya tertutup dari Al Quran, artinya tidak mau memperhatikan Al Qur’an. Akibat dari berpaling dari Al-Qur’an, akhirnya dijadikan setan tidak berpisah darinya. Lihat bahasan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir dan Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yang dimaksud dengan ayat di atas adalah yang lalai dari Al-Qur’an Al-‘Azhim, itulah dzikir Ar-Rahman. Al-Qur’an tersebut itulah wujud kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Siapa yang menerima dzikir yang mulia ini, berarti ia telah menerima karunia yang besar, ia benar-benar telah beruntung. Adapun yang berpaling dari Al-Qur’an, bahkan menolaknya, dialah yang berhak mendapatkan kerugian dan tidak ada lagi kebahagiaan setelah itu selamanya. Akibat buruk pula bagi yang berpaling dari Al-Qur’an adalah akan senantiasa ditemani oleh setan, lalu setan akan menjerumuskan dalam maksiat. Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 813. Kesimpulannya, siapa yang lalai dari Al Qur’an, lalai dari dzikir, lalai dari shalat dan ibadah, maka akan mudah diganggu setan. Sedangkan sihir itu berasal dari setan.   DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI SIHIR DAN SANTET Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ “’AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAITHONIN WA HAAMMATIN WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMATIN (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371). Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dulu bapak kalian yaitu Nabi Isma’il dan Ishaq meminta perlindungan pada Allah dengan do’a tersebut. Yang dimaksud dengan berlindung dengan kalimat Allah adalah Al-Qur’an, ada pula yang menyatakan nama dan sifat Allah. Kalimat Allah sendiri disifatkan dengan sempurna karena tak mungkin dalam nama Allah terdapat sifat kekurangan dan aib seperti pada kalam manusia. Juga ada ulama yang mengatakan bahwa maksud sempurna adalah bermanfaat, terjaga dari kekurangan dan sudah mencukupi. Sedangkan hammah yang dimaksud dalam doa tersebut adalah kita berlindung dari segala sesuatu yang beracun yang bisa mematikan. Adapun yang terakhir adalah meminta perlindungan dari ‘ain yang buruk, maksudnya ‘ain yang apabila mengenai seseorang bisa berdampaik buruk. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At-Tirmidzi, 6:212). Baca Juga: Saat Nabi Disihir Seorang Yahudi dan Cara Mengatasinya (Asbabun Nuzul Surat Al-Falaq dan An-Naas) Allah itu Rabb Al-Falaq, Yang Menguasai Shubuh — Selesai disusun di Darush Sholihin, Jumat siang, 26 Dzulqa’dah 1441 H (17 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskejahatan malam malam siang shubuh surat al falaq surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat al falaq tafsir surat pendek

Bulughul Maram tentang Pembatal Wudhu (Bahas Tuntas)

Apa saja yang termasuk pembatal wudhu? Ada juga barangkali yang dianggap pembatal wudhu, tetapi sejatinya tidak jadi pembatal wudhu. Daftar Isi buka 1. KITAB BERSUCI 2. BAB PEMBATAL WUDHU 3. TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 3.1. HADITS KE-67 3.2. Faedah hadits 4. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU 4.1. HADITS KE-68 4.2. Faedah hadits 5. PENJELASAN HUKUM MADZI 5.1. HADITS KE-69 5.2. Faedah hadits 6. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 6.1. HADITS KE-70 6.2. Faedah hadits 7. RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI 7.1. HADITS KE-71 7.2. Faedah hadits 7.2.1. Syakk dan waswasah 7.2.2. Sebab-sebab munculnya waswasah: 7.2.3. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: 7.2.4. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: 8. MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK 8.1. HADITS KE-72 8.2. HADITS KE-73 8.3. Faedah hadits 9. BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI 9.1. HADITS KE-74 9.2. Faedah hadits 10. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? 10.1. HADITS KE-75 11. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH 11.1. HADITS KE-76 11.2. Faedah hadits 12. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN 12.1. HADITS KE-77 12.2. Faedah hadits 13. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU 13.1. HADITS KE-78 13.2. Faedah hadits 14. KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU 14.1. HADITS KE-79 14.2. Faedah hadits 15. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU 15.1. HADITS KE-80 15.2. HADITS KE-81 15.3. FAEDAH HADITS 16. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK 16.1. HADITS KE-82 16.2. HADITS KE-83 16.3. HADITS KE-84 16.4. HADITS KE-85 16.5. Faedah hadits 16.5.1. REFERENSI Kitab Bulughul Maram كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ بَابُ نَوَاقِضِ اَلْوُضُوءِ KITAB BERSUCI BAB PEMBATAL WUDHU TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-67 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ( قَالَ: { كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ ( -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ, ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman beliau masih hidup menunggu waktu ‘Isya, sampai kepala mereka terangguk-angguk karena kantuk, kemudian mereka shalat, dan tidak berwudhu.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Daruquthni mensahihkannya dan hadits ini berasal dari riwayat Muslim) [HR. Abu Daud, no. 200; Ad-Daruquthni, 1:131. Hadits ini asalnya ada dalam riwayat Muslim, no. 376 dan 125. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Tirmidzi, no. 78. Ibnu Hajar membawakan hadits Abu Daud karena lebih jelas dibanding hadits riwayat Muslim. Hadits ini sahih sebagaimana disahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:280-281]. Faedah hadits Tidur ringan tidaklah membatalkan wudhu. Tidur berat yang membuat hilang rasa membatalkan wudhu. Tidur yang membatalkan ini tidak melihat pada cara tidur yaitu berbaring, duduk bersandar, atau tidak bersandar. Jadi, jika tidurnya itu masih merasakan sesuatu termasuk merasakan kalau batal ataukah tidak, tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-68 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ ( فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ, أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ? قَالَ: “لَا. إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ, وَلَيْسَ بِحَيْضٍ, فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ, ثُمَّ صَلِّي } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ وَلِلْبُخَارِيِّ: { ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ } وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إِلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدً ا Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah istihadhah dan tidak pernah suci, bolehkah aku meninggalkan shalat?’ Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Tidak boleh, itu hanya penyakit (‘irqun) dan bukan darah haidh. Apabila waktu haidhmu datang, tinggalkanlah shalat, dan apabila haidh itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (maksudnya: mandi), lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 228 dan Muslim, no. 333] Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Kemudian berwudhulah pada setiap hendak melaksanakan shalat.” Imam Muslim memberi isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Al-Bukhari. Faedah hadits Istihadhah adalah darah yang keluar selain pada waktu normal. Darah istihadhah itu mengakibatkan hadats, sehingga dihukumi membatalkan wudhu. Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan itu membatalkan wudhu kecuali mani. Untuk wanita istihadhah dan yang berhadats terus menerus (seperti yang punya penyakit kencing terus menerus, keluar kentut terus menerus, atau buang hajat terus menerus), maka hendaklah berwudhu setiap kali shalat. Lalu untuk shalat yang diketahui batas waktunya seperti shalat lima waktu disyaratkan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat. Sedangkan untuk shalat Dhuha yang panjang batas waktunya, maka ia berwudhu setiap kali hendak shalat. Darah haidh dan istihadhah itu najis. Bahkan menurut kebanyakan ulama, darah secara keseluruhan itu najis. Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (21:25) disebutkan bahwa para fuqaha sepakat, darah itu dihukumi haram dan najis, darah tersebut tidak boleh dimakan, dan tidak boleh dimanfaatkan. Para ulama hanya berbeda pendapat pada darah yang sedikit. Tentang kadar sedikit pun, mereka berselisih pendapat. PENJELASAN HUKUM MADZI HADITS KE-69 وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً, فَأَمَرْتُ اَلْمِقْدَادَ بْنَ اَلْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ ? فَقَالَ: “فِيهِ اَلْوُضُوءُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku adalah seseorang yang sering keluar madzi. Aku pun meminta Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalahku ini. Al-Miqdad pun bertanya pada beliau.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah ia berwudhu jika keluar madzi.” (Muttafaqun ‘alaih, lafazh hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari) [HR. Bukhari, no. 132, 178, 269 dan Muslim, no. 303] Faedah hadits Madzi adalah cairan yang encer (tidak kental) keluar setelah syahwat tanpa memancar dan tidak terasa ketika keluar. Boleh mewakilkan untuk bertanya dan meminta fatwa pada orang lain karena ada uzur seperti malu. Yang mewakilkan tentu saja orang yang terpercaya dalam pemahaman, hafalan, dan agamanya karena ia membawa soal dan kembali menyampaikan jawaban. ‘Ali enggan bertanya langsung pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karena istri ‘Ali adalah Fatimah, putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka termasuk adab dan berbuat baik dengan kerabat, hendaklah suami tidak menceritakan perihal hubungan intim dan mukadimahnya sedangkan di saat bicara ada ayah, saudara, putra, atau kerabat dari istri. Padahal dalam hadits disebutkan tentang bertanya mengenai hukum syari. Maka selain masalah syari, benar-benar harus dipertimbangkan. Madzi itu najis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi, lalu beliau memerintahkan untuk berwudhu. Hukum najis madzi ini sama dengan hukum najis air kencing. Namun, madzi yang sedikit dimaafkan karena sulitnya untuk dihindari. Keluarnya madzi membatalkan wudhu. Namun, keluar madzi tidak diperintahkan untuk mandi junub, cukup berwudhu saja. Hendaklah madzi dihilangkan dengan air seperti kita istinja’ (cebok), tidak dengan istijmar, yaitu menghilangkan dengan batu. Madzi yang terkena pakaian ada keringanan cukup diperciki saja, tanpa mesti dicuci karena sulitnya menghindarkan diri dari madzi. Namun, yang lebih aman itu dicuci sebagaimana pendapat jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan ada pendapat dalam madzhab Imam Ahmad). Yang dilakukan ketika keluar madzi adalah: (a) menghilangkan najisnya pada kemaluan dengan dicuci, (b) memerciki pakaian yang terkena madzi, tetapi lebih baik pakaian tersebut dicuci (sebagaimana pendapat kebanyakan ulama), (c) cukup berwudhu, tanpa mandi junub. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-70 وَعَنْ عَائِشَةَ, رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ, ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَضَعَّفَهُاَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri beliau kemudian beliau pergi shalat tanpa mengulangi wudhunya lagi. (HR. Ahmad dan didhaifkan oleh Al-Bukhari) [HR. Ahmad, 42:479; Abu Daud, no. 179; Tirmidzi, no. 86, Ibnu Majah, 1:168. Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini. Namun, ulama belakangan mensahihkan hadits ini seperti Ibnu Jarir, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu At-Turkumani, Az-Zi’la’i, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa mencium dan menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah. Pendapat ini memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Thawus, Al-Hasan, dan Masruq. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak. Inilah pendapat yang dianut oleh madzhab Syafii dan pendapat Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah tentang pembatal wudhu, أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ “atau menyentuh perempuan.” (QS. Al Ma-idah: 6). Mereka menafsirkan kalimat “lamastumun nisaa’” dengan menyentuh perempuan. Sebagian ulama menafsirkan ayat ini dengan jimak, bukan sekadar menyentuh. Ada juga pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika dengan syahwat, membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tanpa syahwat, tidak membatalkan wudhu. Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan Safinatun Najah. Wallahu a’lam. Pilihan batal ini lebih hati-hati dan terhindar dari perselisihan ulama, mencari aman dari perselisihan itu sunnah.  Baca juga: Dalil Lengkap Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu   RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI HADITS KE-71 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian merasa mendapati sesuatu di perutnya (ususnya), ia lantas ragu-ragu, apakah keluar sesuatu ataukah tidak, hendaklah ia tidak keluar dari masjid (untuk mengulangi wudhu) sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 326] Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang itu ragu-ragu dalam keadaan berhadats, ia tidak harus berwudhu. Ia tetap shalat dalam keadaan kondisi yakin suci. Ia boleh batalkan jika yakin keluar hadats, bisa jadi dengan mendengar suara atau mencium bau. Hadits ini jadi kaedah penting “al-yaqinu laa yazuulu bisy syakk”, artinya keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. Hendaklah tidak memperhatikan waswas, di mana setan berusaha menggoda lewat jalan ini. Setan menggoda agar bersuci, shalat, dan ibadah kita menjadi rusak. Keluar kentut itu membatalkan wudhu. Syakk dan waswasah Bedakan antara syakk dan waswasah. Syakk merupakan kebimbangan antara terjadi atau tidaknya sesuatu yang kemungkinan keduanya seimbang, dan merupakan keyakinan keseimbangan yang sama kuat antara keduanya, tak ada kelebihan yang satu atas yang lain. Sedangkan waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Lain hal dengan syakkyang dilandasi suatu keyakinan dasar. Sebab-sebab munculnya waswasah: Minimnya ilmu syari, yaitu pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ajaran para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka. Lemahnya iman. Setan itu hanya mampu menguasai ahli maksiat, bukan menguasai orang yang kuat imannya. Lalai dari mengingat Allah. Dzikir itu mampu mengusir setan dan gangguan-gangguannya. Kelemahan akal. Yang memiliki akal sempurna akan selamat dari waswasah, dengan karunia Allah. Tidak bergaul dengan orang-orang yang memiliki ilmu dan iman sempurna. Tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: Lama dalam melakukan istinjak, wudhu, atau mandi. Mengulang-ulang wudhu, thaharah, atau shalat, berlebih-lebihan dalam menggunakan air untuk bersuci dan mengulangi ibadah-ibadah ini karena menganggapnya tidak sah. Mengulang-ulang huruf dalam melafalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an, doa-doa shalat, dan lainnya. Mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bisikan yang terkait dengan hal akidah. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: Menuntut ilmu syariat (mendalami ilmu agama). Memperkuat keimanan dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan ibadah-ibadah sunnah. Senantiasa ingat pada Allah di segala kondisi. Bergaul dengan orang saleh dan orang-orang yang dapat memberi manfaat. Mengetahui bahwa kebenaran itu hanya dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengakui bahwa waswasah adalah kebatilan yang paling batil. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Tidak lama-lama berada di dalam kamar mandi atau WC melebihi kebutuhan. Karena jamban dan WC adalah tempat setan dan ruh-ruh yang jahat. Memercikkan air pada kemaluan setelah istinjak dan celana untuk mengantisipasi waswasah dari jiwa. Bisa seseorang yakin telah melakukan thaharah (baik wudhu atau lainnya), kemudian ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadats kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian bila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya.   Baca juga: Kiat Shalat Khusyuk, Menjauhi Waswas MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK HADITS KE-72 وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْقَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ, أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ? فَقَالَ اَلنَّبِيُّ – صلى اللهعليه وسلم – “لَا, إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُحِبَّان َ وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ. Dari Thalq bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah menyentuh kemaluanku atau ada yang berkata bahwa ia menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia mesti mengulangi wudhunya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, itu sama saja dengan menyentuh anggota tubuhmu yang lain.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnul Madini berkata bahwa hadits ini lebih bagus dari hadits Busrah). [HR. Abu Daud, no. 182, 183; Tirmidzi, no. 85; An-Nasai, 1:101; Ibnu Majah, no. 483; Ibnu Majah, no. 1119. Hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:308]. HADITS KE-73 وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ” – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ وَقَالَ اَلْبُخَارِيُّ: هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا اَلْبَابِ. Dari Busrah binti Shafwan radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini paling sahih dalam bab ini). [HR. Abu Daud, no. 181; An-Nasai, 1:100; Ahmad, 45:265; Malik, 1:42; Ibnu Hibban, no. 1112; Tirmidzi, no. 83; Ibnu Majah, no. 479. Hadits ini hasan sahih menurut Imam Tirmidzi. Hadits ini adalah hadits yang paling sahih dalam bab ini]. Faedah hadits Ulama Syafiiyah menyatakan bahwa menyentuh kemaluan termasuk juga dubur membatalkan wudhu. Namun, kompromi yang paling bagus adalah ada dalam dua pendapat ulama: Menyentuh kemaluan hanya disunnahkan untuk berwudhu, bukan wajib. Menyentuh kemaluan dengan syahwat barulah membatalkan wudhu.   BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI HADITS KE-74 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: – مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ, أَوْ قَلْسٌ, أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ, ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ, وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَه وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang muntah (qai’), mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah saat mual (qalsun), atau keluar madzi, hendaklah ia keluar, lalu berwudhu, lalu meneruskan sisa shalatnya. Namun selama itu ia tidak berbicara.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah. Imam Ahmad dan lainnya mendhaifkannya). [HR. Ibnu Majah, no. 1221. Sanad hadits ini dhaif sebagaimana didhaifkan oleh Al-Bushiri. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:316] Qalsun adalah sesuatu yang keluar dari perut ke mulut saat mual berupa makanan atau minuman, bisa jadi dimuntahkan dan bisa jadi masuk lagi dalam perut, jika mulut penuh atau tidak sampai mulut. Sedangkan qai’ itu memuntahkan makanan atau minuman yang berasal dari perut lewat mulut. Jadi, qai’ itu qalas yang tak mungkin tertahan lagi. Faedah hadits Menurut sebagian pendapat ulama, segala najis yang keluar dari selain dua jalan itu menjadi pembatal wudhu, seperti qai’ (muntah), qalsun (muntah karena mual), dan mimisan. Ini menjadi pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun, yang tepat, hal-hal tadi tidak termasuk pembatal wudhu. Inilah yang jadi pendapat Imam Syafii, Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syaukani, Syaikh As-Sa’di, dan Syaikh Ibnu Baz. Alasan tidak batal karena tidak ada dalil jelas mengenai batalnya. Sedangkan hadits yang dibicarakan kali ini adalah dhaif (lemah). Muntah dan mimisan itu najis. Ibnu Taimiyyah berkata jika keluar mimisan dan muntah, afdalnya tetap berwudhu, itu disunnahkan. Keluar madzi mengharuskan untuk berwudhu sebagaimana keterangan hadits-hadits lainnya tentang hal ini. Jika ada yang keluar madzi, kentut, dan semacamnya saat shalat, shalatnya batal dan harus mengulangi shalat dari awal setelah bersuci. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? HADITS KE-75 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; – أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ? قَالَ: إِنْ شِئْتَ قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ? قَالَ: نَعَمْ – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau menjawab, “Iya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 360] Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging kambing tidak membatalkan wudhu. Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging unta itu membatalkan wudhu. Inilah yang dipilih oleh Imam Ahmad, pendapat sebagian sahabat, dan Ibnul Qayyim. Imam Nawawi dari kalangan Syafiiyah memilih juga pendapat ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Inilah dalil yang paling kuat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu, walaupun pendapat ini sejatinya menyelisihi jumhur atau kebanyakan ulama.” Ulama yang menyatakan tidak batal wudhu dari kalangan jumhur beralasan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidaklah berwudhu lagi karena memakan masakan yang dipanggang api, di dalamnya termasuk daging unta. Daging unta itu dimakan tidak bisa dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak. Haditsnya dari Jabir ini dinilai: (1) mudh-tharib, masuk golongan hadits dhaif; (2) hadits ini kalau pun sahih tidak bisa dijadikan dali karena daging unta tidaklah jadi sebab, namun ada makna khusus yaitu karena dipanggang; (3) hadits Jabir bin ‘Abdillah ini umum, sedangkan hadits Jabir bin Samurah yang menunjukkan batalnya wudhu itu khusus. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH HADITS KE-76 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – – مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَه وَقَالَ أَحْمَدُ: لَا يَصِحُّ فِي هَذَا اَلْبَابِ شَيْءٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi. Siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dan Tirmidzi menghasankannya. Imam Ahmad menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam bab ini). [HR. Ahmad, 13:118; Tirmidzi, no. 993; Ibnu Hibban, 3:435; Abu Daud, no. 3162; Ibnu Majah, no. 1463. Imam Nawawi mengkritisi penilaian hasan dari Tirmidzi. Hadits ini intinya ada perselisihan tentang kesahihahnnya, apakah sampai derajat marfu’ hingga Nabi ataukah mawquf hanya perkataan Abu Hurairah. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:326-327]. Faedah hadits Menurut mayoritas ulama (Imam Ahmad dan Syafii), siapa saja yang memandikan jenazah disunnahkan baginya untuk mandi, tetapi tidak wajib. Ada kaedah: Jika hadits itu dhaif, lalu teksnya menunjukkan wajib atau menunjukkan akan haram, dibawa hukum masalah itu menjadi mustahab (sunnah) atau makruh dalam hal larangan. Ini dilakukan dalam rangka kehati-hatian. Namun, hukum tersebut tidak menjadi hukum wajib ataukah haram. Demikian kata Ibnu Muflih Al-Hambali. Tidak wajib berwudhu bagi yang memandikan jenazah. Siapa yang membawa atau memikul jenazah disunnahkan untuk berwudhu, tetapi tidak wajib. Namun, bagi yang mau memperbarui wudhu, dipersilakan. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN HADITS KE-77 وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ; – أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلىالله عليه وسلم – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ – رَوَاهُ مَالِكٌمُرْسَلاً, وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَهُوَ مَعْلُولٌ. Dari ‘Abdullah bin Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan, “Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Malik secara mursal. An-Nasai dan Ibnu Majah menyambungkannya, namun hadits ini ma’lul). [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:199, namun hadits ini ma’lul, ada cacat ringan]. Yammasa dalam hadits ini artinya menyentuh tanpa penghalang. Thahir atau yang bersuci di sini ada beberapa makna: Suci secara maknawi, artinya suci dari syirik. Suci secara hissi, artinya suci dari najis. Suci dari hadat besar dan hadats kecil, yaitu dengan mandi atau berwudhu. Thahir bisa dibawa maknanya kepada orang yang bersuci dengan berwudhu. Faedah hadits Menyentuh mushaf Al-Qur’an harus dalam keadaan bersuci. Inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabiin, bahkan jadi pendapat empat ulama madzhab. Yang menyelisihi hal ini hanyalah Daud Az-Zahiri. Menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an juga harus dalam keadaan berwudhu karena “yats-butu tab’an, maa laa yats-butu istiqlalan”, yaitu ketika jadi pengikut tentu berbeda ketika berdiri sendiri. Beli Al-Qur’an berarti satu kesatuan dengan isi dan covernya, tidak bisa terpisah. Berarti hukum menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an sama seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an itu sendiri, yakni harus dalam keadaan berwudhu. Bagi yang batal wudhu, kalau mau menyentuh mushaf Al-Qur’an, hendaklah mengulangi wudhunya. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU HADITS KE-78 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdzikir setiap keadaan (setiap waktu).” (HR. Muslim. Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq, tanpa sanad) [HR. Muslim, no. 373] Faedah hadits Dzikir yang disebutkan dalam hadits adalah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar, dan membaca Al-Qur’an. Dzikir itu bersifat umum, tidak hanya membaca Al-Qur’an. Namun, dzikir juga mencakup lainnya. Adapun perbedaan dzikir dan tilawah Al-Qur’an adalah memakai patokan ‘urf (kebiasaan). Berdzikir itu tidak disyaratkan harus bersuci. Berdzikir boleh setiap saat, baik dalam keadaan suci, berhadats, maupun junub. Jika wudhu kita batal, masih dibolehkan untuk berdzikir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali ‘Imran ketika bangun malam sebelum beliau berwudhu. Imam Bukhari membuatkan judul bab untuk hadits ini, “Bab: Membaca Al-Qur’an ketika masih berhadats dan keadaan semacamnya”. Membaca Al-Qur’an saat junub tidak boleh. Saat buang air kecil, saat buang air besar, sedang berjimak dimakruhkan untuk berdzikir dengan lisan. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Maksud hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mayoritas aktivitasnya dalam keadaan berdzikir yaitu ketika bersuci, ketika berhadats, ketika berdiri maupun duduk. Berdzikir dengan hati boleh dalam setiap keadaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terus berdzikir dengan hatinya, ketika beliau sadar atau tertidur. Dimakruhkan berdzikir kepada Allah ketika buang hajat, termasuk juga dalam hal menjawab salam saat buang hajat. Yang sebaiknya dilakukan adalah menunggu sampai menunaikan hajat barulah menjawab salam. Namun, menjawab salam lebih afdal lagi setelah bersuci. Berdzikir dalam keadaan bersuci tetap lebih afdal.   Catatan: Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang membaca Al-Qur’an sedikit pun kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Abul Hasan Al-Mawardi menyatakan bahwa haramnya membaca Al-Qur’an bagi orang yang junub sudah masyhur di kalangan para sahabat Nabi, sampai hal ini tidak samar lagi bagi mereka baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.” (Al-Hawi Al-Kabir, 1:148) Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari empat madzhab dan lainnya, orang junub dilarang membaca Al-Qur’an sebagaimana ada hadits yang mendukung hal ini.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 17:12) KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-79 وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – اِحْتَجَمَ وَصَلَّى, وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَلَيَّنَهُ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam lalu shalat, kemudian beliau tidak mengulangi wudhu.” (HR. Ad-Daruquthni dan menganggap perawinya layyin). [HR. Ad-Daruquthni, 1:151; Al-Baihaqi dalam sunannya, 1:141 dan Al-Khilafiyaat, 2:318. Layyin adalah istilah untuk perawi yang dijarh (dikritik) dalam hal hafalannya, ia tidak dianggap ‘adil (terpercaya). Hadits ini secara sanad itu dhaif, tetapi dari segi makna boleh diamalkan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulughl Al-Maram, 1:344-345]. Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Setiap darah yang keluar dari tubuh selain dari dua jalan tidaklah membatalkan wudhu, seperti mimisan, darah dari gusi, baik darahnya dalam jumlah banyak ataukah sedikit. Hadits inilah yang menguatkan pembahasan pada hadits ke-74 sebelumnya. Darah itu najis. Namun, kalau darah keluar dari selain dua jalan, tidaklah membatalkan wudhu. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-80 وَعَنْ مُعَاوِيَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- – الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ, فَإِذَا نَامَتْ اَلْعَيْنَانِ اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ – وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ – وَهَذِهِ اَلزِّيَادَةُ فِي هَذَا اَلْحَدِيثِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ دُونَ قَوْلِهِ: – اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – وَفِي كِلَا الْإِسْنَادَيْنِ ضَعْف ٌ Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mata itu pengikat dubur. Apabila tidur dua mata, terlepaslah pengikat itu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani) [HR. Ahmad, 28:92; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 19:372, no. 875. Sanad hadits ini dhaif. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:347]. Ditambahkan, “Barangsiapa tidur, hendaklah ia berwudhu.” Tambahan dalam hadits ini adalah riwayat Abu Daud dari hadits ‘Ali selain dari perkataan, “Terlepaslah ikatan itu.” (Kedua sanad ini terdapat kelemahan). [HR. Abu Daud, no. 203. Hadits dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz].   HADITS KE-81 وَلِأَبِي دَاوُدَ أَيْضًا, عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: – إِنَّمَا اَلْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَمُضْطَجِعًا – وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ أَيْضًا Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Tidak wajib wudhu melainkan bagi orang yang tidur dengan keadaan miring (berbaring pada lambungnya).” Dalam sanad hadits ini ada perawi yang dhaif. [HR. Abu Daud, no. 202] [Hadits ini dhaif secara sanad dan matan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:350-351]. FAEDAH HADITS Tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya. Tidur itu menjadi mazhannah lin naqhd. Artinya, jika tidur masih dalam keadaan sadar, tidaklah membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tidur dalam keadaan tidak sadar (tidak merasakan sesuatu yang keluar), hendaklah mengulangi wudhu karena sejatinya ia itu tidur. Hadits yang menyebutkan tidur berbaring pada lambung (tidur menyamping) itulah yang membatalkan wudhu adalah hadits dhaif secarasanad dan matan. Konsekuensi dari hadits lemah ini adalah siapa saja yang tidur menyamping, wajib berwudhu. Lalu yang tidur dalam keadaan ghoiru mudhthoji’ (tidak menyamping) berarti tidak batal wudhunya. Kedua makna ini tidaklah tepat. Tidur berat yang sudah hilang kesadaran membatalkan wudhu. Tidur ringan yang masih ada kesadaran tidak membatalkan wudhu. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK HADITS KE-82 وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ, فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ, وَلَمْ يُحْدِثْ, فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّار ُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat lalu meniup lewat duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu, janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bazzar) [HR. Al-Bazzar, 171, sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauazan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. HADITS KE-83 وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْد ٍ Asal hadits ini ada di shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. [HR. Bukhari, no. 137 dan Muslim, no. 361] HADITS KE-84 وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah semisal itu pula. [HR. Muslim, no. 362. Ini adalah hadits ke-5 dalam pembahasan pembatal wudhu, atau hadits ke-71 dari Bulugh Al-Maram]. HADITS KE-85 وَلِلْحَاكِمِ. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: – إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ, فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ, فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ – Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan hadits dari Abu Sa’id secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Jika salah seorang di antara kalian didatangi setan, setan berkata: ‘Sungguh, engkau itu berhadats.’ Ucapkanlah, ‘Engkau dusta’.” [HR. Al-Hakim, 1:134, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1029 dan Tirmidzi, no. 396. Hadits ini hasan li ghairihi sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. Faedah hadits Hadits Ibnu ‘Abbas dan setelahnya menjadi isyarat bahwa orang yang telah bersuci jika ragu mengenai wudhunya, apakah wudhu tersebut sudah batal ataukah tidak, asalnya wudhu tersebut tidaklah batal. Ia shalat dalam keadaan suci seperti itu, tidak perlu mengulang wudhu sampai ia yakin kalau ia dalam keadaan berhadats yaitu dengan mendengar suara atau mencium bau. Setan itu benar-benar musuh manusia. Solusi mengatasi waswas adalah tidak menerima waswas tersebut dan tidak memperhatikannya. Ada tambahan dari hadits Abu Hurairah: (a) ragu-ragu dalam bersuci adalah dari setan, (b) tempat ragu-ragu ini dimunculkan dari bawah (dubur), (c) solusi mengatasi suatu yang tidak yakin ini adalah mengatakan setan itu berdusta. REFERENSI Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tahqiq Ar-Raghabaat bi At-Taqasim wa At-Tasyjiiraat li Thalabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Kamis siang, 25 Dzulqa’dah 1441 H (16 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan download PDF Bulughul Maram Thaharah, Tentang Pembatal Wudhu:   Download Tagsair wudhu bersuci bulughul maram bulughul maram thaharah cara wudhu pembatal wudhu sifat wudhu nabi tata cara wudhu wudhu

Bulughul Maram tentang Pembatal Wudhu (Bahas Tuntas)

Apa saja yang termasuk pembatal wudhu? Ada juga barangkali yang dianggap pembatal wudhu, tetapi sejatinya tidak jadi pembatal wudhu. Daftar Isi buka 1. KITAB BERSUCI 2. BAB PEMBATAL WUDHU 3. TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 3.1. HADITS KE-67 3.2. Faedah hadits 4. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU 4.1. HADITS KE-68 4.2. Faedah hadits 5. PENJELASAN HUKUM MADZI 5.1. HADITS KE-69 5.2. Faedah hadits 6. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 6.1. HADITS KE-70 6.2. Faedah hadits 7. RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI 7.1. HADITS KE-71 7.2. Faedah hadits 7.2.1. Syakk dan waswasah 7.2.2. Sebab-sebab munculnya waswasah: 7.2.3. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: 7.2.4. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: 8. MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK 8.1. HADITS KE-72 8.2. HADITS KE-73 8.3. Faedah hadits 9. BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI 9.1. HADITS KE-74 9.2. Faedah hadits 10. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? 10.1. HADITS KE-75 11. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH 11.1. HADITS KE-76 11.2. Faedah hadits 12. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN 12.1. HADITS KE-77 12.2. Faedah hadits 13. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU 13.1. HADITS KE-78 13.2. Faedah hadits 14. KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU 14.1. HADITS KE-79 14.2. Faedah hadits 15. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU 15.1. HADITS KE-80 15.2. HADITS KE-81 15.3. FAEDAH HADITS 16. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK 16.1. HADITS KE-82 16.2. HADITS KE-83 16.3. HADITS KE-84 16.4. HADITS KE-85 16.5. Faedah hadits 16.5.1. REFERENSI Kitab Bulughul Maram كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ بَابُ نَوَاقِضِ اَلْوُضُوءِ KITAB BERSUCI BAB PEMBATAL WUDHU TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-67 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ( قَالَ: { كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ ( -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ, ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman beliau masih hidup menunggu waktu ‘Isya, sampai kepala mereka terangguk-angguk karena kantuk, kemudian mereka shalat, dan tidak berwudhu.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Daruquthni mensahihkannya dan hadits ini berasal dari riwayat Muslim) [HR. Abu Daud, no. 200; Ad-Daruquthni, 1:131. Hadits ini asalnya ada dalam riwayat Muslim, no. 376 dan 125. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Tirmidzi, no. 78. Ibnu Hajar membawakan hadits Abu Daud karena lebih jelas dibanding hadits riwayat Muslim. Hadits ini sahih sebagaimana disahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:280-281]. Faedah hadits Tidur ringan tidaklah membatalkan wudhu. Tidur berat yang membuat hilang rasa membatalkan wudhu. Tidur yang membatalkan ini tidak melihat pada cara tidur yaitu berbaring, duduk bersandar, atau tidak bersandar. Jadi, jika tidurnya itu masih merasakan sesuatu termasuk merasakan kalau batal ataukah tidak, tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-68 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ ( فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ, أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ? قَالَ: “لَا. إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ, وَلَيْسَ بِحَيْضٍ, فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ, ثُمَّ صَلِّي } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ وَلِلْبُخَارِيِّ: { ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ } وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إِلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدً ا Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah istihadhah dan tidak pernah suci, bolehkah aku meninggalkan shalat?’ Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Tidak boleh, itu hanya penyakit (‘irqun) dan bukan darah haidh. Apabila waktu haidhmu datang, tinggalkanlah shalat, dan apabila haidh itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (maksudnya: mandi), lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 228 dan Muslim, no. 333] Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Kemudian berwudhulah pada setiap hendak melaksanakan shalat.” Imam Muslim memberi isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Al-Bukhari. Faedah hadits Istihadhah adalah darah yang keluar selain pada waktu normal. Darah istihadhah itu mengakibatkan hadats, sehingga dihukumi membatalkan wudhu. Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan itu membatalkan wudhu kecuali mani. Untuk wanita istihadhah dan yang berhadats terus menerus (seperti yang punya penyakit kencing terus menerus, keluar kentut terus menerus, atau buang hajat terus menerus), maka hendaklah berwudhu setiap kali shalat. Lalu untuk shalat yang diketahui batas waktunya seperti shalat lima waktu disyaratkan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat. Sedangkan untuk shalat Dhuha yang panjang batas waktunya, maka ia berwudhu setiap kali hendak shalat. Darah haidh dan istihadhah itu najis. Bahkan menurut kebanyakan ulama, darah secara keseluruhan itu najis. Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (21:25) disebutkan bahwa para fuqaha sepakat, darah itu dihukumi haram dan najis, darah tersebut tidak boleh dimakan, dan tidak boleh dimanfaatkan. Para ulama hanya berbeda pendapat pada darah yang sedikit. Tentang kadar sedikit pun, mereka berselisih pendapat. PENJELASAN HUKUM MADZI HADITS KE-69 وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً, فَأَمَرْتُ اَلْمِقْدَادَ بْنَ اَلْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ ? فَقَالَ: “فِيهِ اَلْوُضُوءُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku adalah seseorang yang sering keluar madzi. Aku pun meminta Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalahku ini. Al-Miqdad pun bertanya pada beliau.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah ia berwudhu jika keluar madzi.” (Muttafaqun ‘alaih, lafazh hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari) [HR. Bukhari, no. 132, 178, 269 dan Muslim, no. 303] Faedah hadits Madzi adalah cairan yang encer (tidak kental) keluar setelah syahwat tanpa memancar dan tidak terasa ketika keluar. Boleh mewakilkan untuk bertanya dan meminta fatwa pada orang lain karena ada uzur seperti malu. Yang mewakilkan tentu saja orang yang terpercaya dalam pemahaman, hafalan, dan agamanya karena ia membawa soal dan kembali menyampaikan jawaban. ‘Ali enggan bertanya langsung pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karena istri ‘Ali adalah Fatimah, putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka termasuk adab dan berbuat baik dengan kerabat, hendaklah suami tidak menceritakan perihal hubungan intim dan mukadimahnya sedangkan di saat bicara ada ayah, saudara, putra, atau kerabat dari istri. Padahal dalam hadits disebutkan tentang bertanya mengenai hukum syari. Maka selain masalah syari, benar-benar harus dipertimbangkan. Madzi itu najis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi, lalu beliau memerintahkan untuk berwudhu. Hukum najis madzi ini sama dengan hukum najis air kencing. Namun, madzi yang sedikit dimaafkan karena sulitnya untuk dihindari. Keluarnya madzi membatalkan wudhu. Namun, keluar madzi tidak diperintahkan untuk mandi junub, cukup berwudhu saja. Hendaklah madzi dihilangkan dengan air seperti kita istinja’ (cebok), tidak dengan istijmar, yaitu menghilangkan dengan batu. Madzi yang terkena pakaian ada keringanan cukup diperciki saja, tanpa mesti dicuci karena sulitnya menghindarkan diri dari madzi. Namun, yang lebih aman itu dicuci sebagaimana pendapat jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan ada pendapat dalam madzhab Imam Ahmad). Yang dilakukan ketika keluar madzi adalah: (a) menghilangkan najisnya pada kemaluan dengan dicuci, (b) memerciki pakaian yang terkena madzi, tetapi lebih baik pakaian tersebut dicuci (sebagaimana pendapat kebanyakan ulama), (c) cukup berwudhu, tanpa mandi junub. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-70 وَعَنْ عَائِشَةَ, رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ, ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَضَعَّفَهُاَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri beliau kemudian beliau pergi shalat tanpa mengulangi wudhunya lagi. (HR. Ahmad dan didhaifkan oleh Al-Bukhari) [HR. Ahmad, 42:479; Abu Daud, no. 179; Tirmidzi, no. 86, Ibnu Majah, 1:168. Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini. Namun, ulama belakangan mensahihkan hadits ini seperti Ibnu Jarir, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu At-Turkumani, Az-Zi’la’i, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa mencium dan menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah. Pendapat ini memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Thawus, Al-Hasan, dan Masruq. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak. Inilah pendapat yang dianut oleh madzhab Syafii dan pendapat Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah tentang pembatal wudhu, أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ “atau menyentuh perempuan.” (QS. Al Ma-idah: 6). Mereka menafsirkan kalimat “lamastumun nisaa’” dengan menyentuh perempuan. Sebagian ulama menafsirkan ayat ini dengan jimak, bukan sekadar menyentuh. Ada juga pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika dengan syahwat, membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tanpa syahwat, tidak membatalkan wudhu. Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan Safinatun Najah. Wallahu a’lam. Pilihan batal ini lebih hati-hati dan terhindar dari perselisihan ulama, mencari aman dari perselisihan itu sunnah.  Baca juga: Dalil Lengkap Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu   RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI HADITS KE-71 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian merasa mendapati sesuatu di perutnya (ususnya), ia lantas ragu-ragu, apakah keluar sesuatu ataukah tidak, hendaklah ia tidak keluar dari masjid (untuk mengulangi wudhu) sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 326] Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang itu ragu-ragu dalam keadaan berhadats, ia tidak harus berwudhu. Ia tetap shalat dalam keadaan kondisi yakin suci. Ia boleh batalkan jika yakin keluar hadats, bisa jadi dengan mendengar suara atau mencium bau. Hadits ini jadi kaedah penting “al-yaqinu laa yazuulu bisy syakk”, artinya keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. Hendaklah tidak memperhatikan waswas, di mana setan berusaha menggoda lewat jalan ini. Setan menggoda agar bersuci, shalat, dan ibadah kita menjadi rusak. Keluar kentut itu membatalkan wudhu. Syakk dan waswasah Bedakan antara syakk dan waswasah. Syakk merupakan kebimbangan antara terjadi atau tidaknya sesuatu yang kemungkinan keduanya seimbang, dan merupakan keyakinan keseimbangan yang sama kuat antara keduanya, tak ada kelebihan yang satu atas yang lain. Sedangkan waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Lain hal dengan syakkyang dilandasi suatu keyakinan dasar. Sebab-sebab munculnya waswasah: Minimnya ilmu syari, yaitu pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ajaran para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka. Lemahnya iman. Setan itu hanya mampu menguasai ahli maksiat, bukan menguasai orang yang kuat imannya. Lalai dari mengingat Allah. Dzikir itu mampu mengusir setan dan gangguan-gangguannya. Kelemahan akal. Yang memiliki akal sempurna akan selamat dari waswasah, dengan karunia Allah. Tidak bergaul dengan orang-orang yang memiliki ilmu dan iman sempurna. Tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: Lama dalam melakukan istinjak, wudhu, atau mandi. Mengulang-ulang wudhu, thaharah, atau shalat, berlebih-lebihan dalam menggunakan air untuk bersuci dan mengulangi ibadah-ibadah ini karena menganggapnya tidak sah. Mengulang-ulang huruf dalam melafalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an, doa-doa shalat, dan lainnya. Mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bisikan yang terkait dengan hal akidah. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: Menuntut ilmu syariat (mendalami ilmu agama). Memperkuat keimanan dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan ibadah-ibadah sunnah. Senantiasa ingat pada Allah di segala kondisi. Bergaul dengan orang saleh dan orang-orang yang dapat memberi manfaat. Mengetahui bahwa kebenaran itu hanya dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengakui bahwa waswasah adalah kebatilan yang paling batil. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Tidak lama-lama berada di dalam kamar mandi atau WC melebihi kebutuhan. Karena jamban dan WC adalah tempat setan dan ruh-ruh yang jahat. Memercikkan air pada kemaluan setelah istinjak dan celana untuk mengantisipasi waswasah dari jiwa. Bisa seseorang yakin telah melakukan thaharah (baik wudhu atau lainnya), kemudian ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadats kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian bila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya.   Baca juga: Kiat Shalat Khusyuk, Menjauhi Waswas MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK HADITS KE-72 وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْقَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ, أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ? فَقَالَ اَلنَّبِيُّ – صلى اللهعليه وسلم – “لَا, إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُحِبَّان َ وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ. Dari Thalq bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah menyentuh kemaluanku atau ada yang berkata bahwa ia menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia mesti mengulangi wudhunya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, itu sama saja dengan menyentuh anggota tubuhmu yang lain.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnul Madini berkata bahwa hadits ini lebih bagus dari hadits Busrah). [HR. Abu Daud, no. 182, 183; Tirmidzi, no. 85; An-Nasai, 1:101; Ibnu Majah, no. 483; Ibnu Majah, no. 1119. Hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:308]. HADITS KE-73 وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ” – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ وَقَالَ اَلْبُخَارِيُّ: هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا اَلْبَابِ. Dari Busrah binti Shafwan radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini paling sahih dalam bab ini). [HR. Abu Daud, no. 181; An-Nasai, 1:100; Ahmad, 45:265; Malik, 1:42; Ibnu Hibban, no. 1112; Tirmidzi, no. 83; Ibnu Majah, no. 479. Hadits ini hasan sahih menurut Imam Tirmidzi. Hadits ini adalah hadits yang paling sahih dalam bab ini]. Faedah hadits Ulama Syafiiyah menyatakan bahwa menyentuh kemaluan termasuk juga dubur membatalkan wudhu. Namun, kompromi yang paling bagus adalah ada dalam dua pendapat ulama: Menyentuh kemaluan hanya disunnahkan untuk berwudhu, bukan wajib. Menyentuh kemaluan dengan syahwat barulah membatalkan wudhu.   BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI HADITS KE-74 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: – مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ, أَوْ قَلْسٌ, أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ, ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ, وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَه وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang muntah (qai’), mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah saat mual (qalsun), atau keluar madzi, hendaklah ia keluar, lalu berwudhu, lalu meneruskan sisa shalatnya. Namun selama itu ia tidak berbicara.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah. Imam Ahmad dan lainnya mendhaifkannya). [HR. Ibnu Majah, no. 1221. Sanad hadits ini dhaif sebagaimana didhaifkan oleh Al-Bushiri. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:316] Qalsun adalah sesuatu yang keluar dari perut ke mulut saat mual berupa makanan atau minuman, bisa jadi dimuntahkan dan bisa jadi masuk lagi dalam perut, jika mulut penuh atau tidak sampai mulut. Sedangkan qai’ itu memuntahkan makanan atau minuman yang berasal dari perut lewat mulut. Jadi, qai’ itu qalas yang tak mungkin tertahan lagi. Faedah hadits Menurut sebagian pendapat ulama, segala najis yang keluar dari selain dua jalan itu menjadi pembatal wudhu, seperti qai’ (muntah), qalsun (muntah karena mual), dan mimisan. Ini menjadi pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun, yang tepat, hal-hal tadi tidak termasuk pembatal wudhu. Inilah yang jadi pendapat Imam Syafii, Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syaukani, Syaikh As-Sa’di, dan Syaikh Ibnu Baz. Alasan tidak batal karena tidak ada dalil jelas mengenai batalnya. Sedangkan hadits yang dibicarakan kali ini adalah dhaif (lemah). Muntah dan mimisan itu najis. Ibnu Taimiyyah berkata jika keluar mimisan dan muntah, afdalnya tetap berwudhu, itu disunnahkan. Keluar madzi mengharuskan untuk berwudhu sebagaimana keterangan hadits-hadits lainnya tentang hal ini. Jika ada yang keluar madzi, kentut, dan semacamnya saat shalat, shalatnya batal dan harus mengulangi shalat dari awal setelah bersuci. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? HADITS KE-75 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; – أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ? قَالَ: إِنْ شِئْتَ قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ? قَالَ: نَعَمْ – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau menjawab, “Iya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 360] Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging kambing tidak membatalkan wudhu. Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging unta itu membatalkan wudhu. Inilah yang dipilih oleh Imam Ahmad, pendapat sebagian sahabat, dan Ibnul Qayyim. Imam Nawawi dari kalangan Syafiiyah memilih juga pendapat ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Inilah dalil yang paling kuat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu, walaupun pendapat ini sejatinya menyelisihi jumhur atau kebanyakan ulama.” Ulama yang menyatakan tidak batal wudhu dari kalangan jumhur beralasan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidaklah berwudhu lagi karena memakan masakan yang dipanggang api, di dalamnya termasuk daging unta. Daging unta itu dimakan tidak bisa dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak. Haditsnya dari Jabir ini dinilai: (1) mudh-tharib, masuk golongan hadits dhaif; (2) hadits ini kalau pun sahih tidak bisa dijadikan dali karena daging unta tidaklah jadi sebab, namun ada makna khusus yaitu karena dipanggang; (3) hadits Jabir bin ‘Abdillah ini umum, sedangkan hadits Jabir bin Samurah yang menunjukkan batalnya wudhu itu khusus. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH HADITS KE-76 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – – مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَه وَقَالَ أَحْمَدُ: لَا يَصِحُّ فِي هَذَا اَلْبَابِ شَيْءٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi. Siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dan Tirmidzi menghasankannya. Imam Ahmad menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam bab ini). [HR. Ahmad, 13:118; Tirmidzi, no. 993; Ibnu Hibban, 3:435; Abu Daud, no. 3162; Ibnu Majah, no. 1463. Imam Nawawi mengkritisi penilaian hasan dari Tirmidzi. Hadits ini intinya ada perselisihan tentang kesahihahnnya, apakah sampai derajat marfu’ hingga Nabi ataukah mawquf hanya perkataan Abu Hurairah. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:326-327]. Faedah hadits Menurut mayoritas ulama (Imam Ahmad dan Syafii), siapa saja yang memandikan jenazah disunnahkan baginya untuk mandi, tetapi tidak wajib. Ada kaedah: Jika hadits itu dhaif, lalu teksnya menunjukkan wajib atau menunjukkan akan haram, dibawa hukum masalah itu menjadi mustahab (sunnah) atau makruh dalam hal larangan. Ini dilakukan dalam rangka kehati-hatian. Namun, hukum tersebut tidak menjadi hukum wajib ataukah haram. Demikian kata Ibnu Muflih Al-Hambali. Tidak wajib berwudhu bagi yang memandikan jenazah. Siapa yang membawa atau memikul jenazah disunnahkan untuk berwudhu, tetapi tidak wajib. Namun, bagi yang mau memperbarui wudhu, dipersilakan. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN HADITS KE-77 وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ; – أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلىالله عليه وسلم – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ – رَوَاهُ مَالِكٌمُرْسَلاً, وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَهُوَ مَعْلُولٌ. Dari ‘Abdullah bin Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan, “Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Malik secara mursal. An-Nasai dan Ibnu Majah menyambungkannya, namun hadits ini ma’lul). [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:199, namun hadits ini ma’lul, ada cacat ringan]. Yammasa dalam hadits ini artinya menyentuh tanpa penghalang. Thahir atau yang bersuci di sini ada beberapa makna: Suci secara maknawi, artinya suci dari syirik. Suci secara hissi, artinya suci dari najis. Suci dari hadat besar dan hadats kecil, yaitu dengan mandi atau berwudhu. Thahir bisa dibawa maknanya kepada orang yang bersuci dengan berwudhu. Faedah hadits Menyentuh mushaf Al-Qur’an harus dalam keadaan bersuci. Inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabiin, bahkan jadi pendapat empat ulama madzhab. Yang menyelisihi hal ini hanyalah Daud Az-Zahiri. Menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an juga harus dalam keadaan berwudhu karena “yats-butu tab’an, maa laa yats-butu istiqlalan”, yaitu ketika jadi pengikut tentu berbeda ketika berdiri sendiri. Beli Al-Qur’an berarti satu kesatuan dengan isi dan covernya, tidak bisa terpisah. Berarti hukum menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an sama seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an itu sendiri, yakni harus dalam keadaan berwudhu. Bagi yang batal wudhu, kalau mau menyentuh mushaf Al-Qur’an, hendaklah mengulangi wudhunya. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU HADITS KE-78 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdzikir setiap keadaan (setiap waktu).” (HR. Muslim. Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq, tanpa sanad) [HR. Muslim, no. 373] Faedah hadits Dzikir yang disebutkan dalam hadits adalah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar, dan membaca Al-Qur’an. Dzikir itu bersifat umum, tidak hanya membaca Al-Qur’an. Namun, dzikir juga mencakup lainnya. Adapun perbedaan dzikir dan tilawah Al-Qur’an adalah memakai patokan ‘urf (kebiasaan). Berdzikir itu tidak disyaratkan harus bersuci. Berdzikir boleh setiap saat, baik dalam keadaan suci, berhadats, maupun junub. Jika wudhu kita batal, masih dibolehkan untuk berdzikir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali ‘Imran ketika bangun malam sebelum beliau berwudhu. Imam Bukhari membuatkan judul bab untuk hadits ini, “Bab: Membaca Al-Qur’an ketika masih berhadats dan keadaan semacamnya”. Membaca Al-Qur’an saat junub tidak boleh. Saat buang air kecil, saat buang air besar, sedang berjimak dimakruhkan untuk berdzikir dengan lisan. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Maksud hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mayoritas aktivitasnya dalam keadaan berdzikir yaitu ketika bersuci, ketika berhadats, ketika berdiri maupun duduk. Berdzikir dengan hati boleh dalam setiap keadaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terus berdzikir dengan hatinya, ketika beliau sadar atau tertidur. Dimakruhkan berdzikir kepada Allah ketika buang hajat, termasuk juga dalam hal menjawab salam saat buang hajat. Yang sebaiknya dilakukan adalah menunggu sampai menunaikan hajat barulah menjawab salam. Namun, menjawab salam lebih afdal lagi setelah bersuci. Berdzikir dalam keadaan bersuci tetap lebih afdal.   Catatan: Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang membaca Al-Qur’an sedikit pun kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Abul Hasan Al-Mawardi menyatakan bahwa haramnya membaca Al-Qur’an bagi orang yang junub sudah masyhur di kalangan para sahabat Nabi, sampai hal ini tidak samar lagi bagi mereka baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.” (Al-Hawi Al-Kabir, 1:148) Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari empat madzhab dan lainnya, orang junub dilarang membaca Al-Qur’an sebagaimana ada hadits yang mendukung hal ini.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 17:12) KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-79 وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – اِحْتَجَمَ وَصَلَّى, وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَلَيَّنَهُ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam lalu shalat, kemudian beliau tidak mengulangi wudhu.” (HR. Ad-Daruquthni dan menganggap perawinya layyin). [HR. Ad-Daruquthni, 1:151; Al-Baihaqi dalam sunannya, 1:141 dan Al-Khilafiyaat, 2:318. Layyin adalah istilah untuk perawi yang dijarh (dikritik) dalam hal hafalannya, ia tidak dianggap ‘adil (terpercaya). Hadits ini secara sanad itu dhaif, tetapi dari segi makna boleh diamalkan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulughl Al-Maram, 1:344-345]. Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Setiap darah yang keluar dari tubuh selain dari dua jalan tidaklah membatalkan wudhu, seperti mimisan, darah dari gusi, baik darahnya dalam jumlah banyak ataukah sedikit. Hadits inilah yang menguatkan pembahasan pada hadits ke-74 sebelumnya. Darah itu najis. Namun, kalau darah keluar dari selain dua jalan, tidaklah membatalkan wudhu. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-80 وَعَنْ مُعَاوِيَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- – الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ, فَإِذَا نَامَتْ اَلْعَيْنَانِ اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ – وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ – وَهَذِهِ اَلزِّيَادَةُ فِي هَذَا اَلْحَدِيثِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ دُونَ قَوْلِهِ: – اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – وَفِي كِلَا الْإِسْنَادَيْنِ ضَعْف ٌ Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mata itu pengikat dubur. Apabila tidur dua mata, terlepaslah pengikat itu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani) [HR. Ahmad, 28:92; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 19:372, no. 875. Sanad hadits ini dhaif. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:347]. Ditambahkan, “Barangsiapa tidur, hendaklah ia berwudhu.” Tambahan dalam hadits ini adalah riwayat Abu Daud dari hadits ‘Ali selain dari perkataan, “Terlepaslah ikatan itu.” (Kedua sanad ini terdapat kelemahan). [HR. Abu Daud, no. 203. Hadits dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz].   HADITS KE-81 وَلِأَبِي دَاوُدَ أَيْضًا, عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: – إِنَّمَا اَلْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَمُضْطَجِعًا – وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ أَيْضًا Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Tidak wajib wudhu melainkan bagi orang yang tidur dengan keadaan miring (berbaring pada lambungnya).” Dalam sanad hadits ini ada perawi yang dhaif. [HR. Abu Daud, no. 202] [Hadits ini dhaif secara sanad dan matan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:350-351]. FAEDAH HADITS Tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya. Tidur itu menjadi mazhannah lin naqhd. Artinya, jika tidur masih dalam keadaan sadar, tidaklah membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tidur dalam keadaan tidak sadar (tidak merasakan sesuatu yang keluar), hendaklah mengulangi wudhu karena sejatinya ia itu tidur. Hadits yang menyebutkan tidur berbaring pada lambung (tidur menyamping) itulah yang membatalkan wudhu adalah hadits dhaif secarasanad dan matan. Konsekuensi dari hadits lemah ini adalah siapa saja yang tidur menyamping, wajib berwudhu. Lalu yang tidur dalam keadaan ghoiru mudhthoji’ (tidak menyamping) berarti tidak batal wudhunya. Kedua makna ini tidaklah tepat. Tidur berat yang sudah hilang kesadaran membatalkan wudhu. Tidur ringan yang masih ada kesadaran tidak membatalkan wudhu. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK HADITS KE-82 وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ, فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ, وَلَمْ يُحْدِثْ, فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّار ُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat lalu meniup lewat duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu, janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bazzar) [HR. Al-Bazzar, 171, sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauazan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. HADITS KE-83 وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْد ٍ Asal hadits ini ada di shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. [HR. Bukhari, no. 137 dan Muslim, no. 361] HADITS KE-84 وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah semisal itu pula. [HR. Muslim, no. 362. Ini adalah hadits ke-5 dalam pembahasan pembatal wudhu, atau hadits ke-71 dari Bulugh Al-Maram]. HADITS KE-85 وَلِلْحَاكِمِ. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: – إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ, فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ, فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ – Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan hadits dari Abu Sa’id secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Jika salah seorang di antara kalian didatangi setan, setan berkata: ‘Sungguh, engkau itu berhadats.’ Ucapkanlah, ‘Engkau dusta’.” [HR. Al-Hakim, 1:134, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1029 dan Tirmidzi, no. 396. Hadits ini hasan li ghairihi sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. Faedah hadits Hadits Ibnu ‘Abbas dan setelahnya menjadi isyarat bahwa orang yang telah bersuci jika ragu mengenai wudhunya, apakah wudhu tersebut sudah batal ataukah tidak, asalnya wudhu tersebut tidaklah batal. Ia shalat dalam keadaan suci seperti itu, tidak perlu mengulang wudhu sampai ia yakin kalau ia dalam keadaan berhadats yaitu dengan mendengar suara atau mencium bau. Setan itu benar-benar musuh manusia. Solusi mengatasi waswas adalah tidak menerima waswas tersebut dan tidak memperhatikannya. Ada tambahan dari hadits Abu Hurairah: (a) ragu-ragu dalam bersuci adalah dari setan, (b) tempat ragu-ragu ini dimunculkan dari bawah (dubur), (c) solusi mengatasi suatu yang tidak yakin ini adalah mengatakan setan itu berdusta. REFERENSI Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tahqiq Ar-Raghabaat bi At-Taqasim wa At-Tasyjiiraat li Thalabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Kamis siang, 25 Dzulqa’dah 1441 H (16 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan download PDF Bulughul Maram Thaharah, Tentang Pembatal Wudhu:   Download Tagsair wudhu bersuci bulughul maram bulughul maram thaharah cara wudhu pembatal wudhu sifat wudhu nabi tata cara wudhu wudhu
Apa saja yang termasuk pembatal wudhu? Ada juga barangkali yang dianggap pembatal wudhu, tetapi sejatinya tidak jadi pembatal wudhu. Daftar Isi buka 1. KITAB BERSUCI 2. BAB PEMBATAL WUDHU 3. TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 3.1. HADITS KE-67 3.2. Faedah hadits 4. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU 4.1. HADITS KE-68 4.2. Faedah hadits 5. PENJELASAN HUKUM MADZI 5.1. HADITS KE-69 5.2. Faedah hadits 6. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 6.1. HADITS KE-70 6.2. Faedah hadits 7. RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI 7.1. HADITS KE-71 7.2. Faedah hadits 7.2.1. Syakk dan waswasah 7.2.2. Sebab-sebab munculnya waswasah: 7.2.3. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: 7.2.4. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: 8. MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK 8.1. HADITS KE-72 8.2. HADITS KE-73 8.3. Faedah hadits 9. BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI 9.1. HADITS KE-74 9.2. Faedah hadits 10. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? 10.1. HADITS KE-75 11. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH 11.1. HADITS KE-76 11.2. Faedah hadits 12. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN 12.1. HADITS KE-77 12.2. Faedah hadits 13. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU 13.1. HADITS KE-78 13.2. Faedah hadits 14. KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU 14.1. HADITS KE-79 14.2. Faedah hadits 15. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU 15.1. HADITS KE-80 15.2. HADITS KE-81 15.3. FAEDAH HADITS 16. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK 16.1. HADITS KE-82 16.2. HADITS KE-83 16.3. HADITS KE-84 16.4. HADITS KE-85 16.5. Faedah hadits 16.5.1. REFERENSI Kitab Bulughul Maram كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ بَابُ نَوَاقِضِ اَلْوُضُوءِ KITAB BERSUCI BAB PEMBATAL WUDHU TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-67 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ( قَالَ: { كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ ( -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ, ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman beliau masih hidup menunggu waktu ‘Isya, sampai kepala mereka terangguk-angguk karena kantuk, kemudian mereka shalat, dan tidak berwudhu.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Daruquthni mensahihkannya dan hadits ini berasal dari riwayat Muslim) [HR. Abu Daud, no. 200; Ad-Daruquthni, 1:131. Hadits ini asalnya ada dalam riwayat Muslim, no. 376 dan 125. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Tirmidzi, no. 78. Ibnu Hajar membawakan hadits Abu Daud karena lebih jelas dibanding hadits riwayat Muslim. Hadits ini sahih sebagaimana disahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:280-281]. Faedah hadits Tidur ringan tidaklah membatalkan wudhu. Tidur berat yang membuat hilang rasa membatalkan wudhu. Tidur yang membatalkan ini tidak melihat pada cara tidur yaitu berbaring, duduk bersandar, atau tidak bersandar. Jadi, jika tidurnya itu masih merasakan sesuatu termasuk merasakan kalau batal ataukah tidak, tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-68 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ ( فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ, أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ? قَالَ: “لَا. إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ, وَلَيْسَ بِحَيْضٍ, فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ, ثُمَّ صَلِّي } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ وَلِلْبُخَارِيِّ: { ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ } وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إِلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدً ا Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah istihadhah dan tidak pernah suci, bolehkah aku meninggalkan shalat?’ Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Tidak boleh, itu hanya penyakit (‘irqun) dan bukan darah haidh. Apabila waktu haidhmu datang, tinggalkanlah shalat, dan apabila haidh itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (maksudnya: mandi), lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 228 dan Muslim, no. 333] Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Kemudian berwudhulah pada setiap hendak melaksanakan shalat.” Imam Muslim memberi isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Al-Bukhari. Faedah hadits Istihadhah adalah darah yang keluar selain pada waktu normal. Darah istihadhah itu mengakibatkan hadats, sehingga dihukumi membatalkan wudhu. Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan itu membatalkan wudhu kecuali mani. Untuk wanita istihadhah dan yang berhadats terus menerus (seperti yang punya penyakit kencing terus menerus, keluar kentut terus menerus, atau buang hajat terus menerus), maka hendaklah berwudhu setiap kali shalat. Lalu untuk shalat yang diketahui batas waktunya seperti shalat lima waktu disyaratkan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat. Sedangkan untuk shalat Dhuha yang panjang batas waktunya, maka ia berwudhu setiap kali hendak shalat. Darah haidh dan istihadhah itu najis. Bahkan menurut kebanyakan ulama, darah secara keseluruhan itu najis. Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (21:25) disebutkan bahwa para fuqaha sepakat, darah itu dihukumi haram dan najis, darah tersebut tidak boleh dimakan, dan tidak boleh dimanfaatkan. Para ulama hanya berbeda pendapat pada darah yang sedikit. Tentang kadar sedikit pun, mereka berselisih pendapat. PENJELASAN HUKUM MADZI HADITS KE-69 وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً, فَأَمَرْتُ اَلْمِقْدَادَ بْنَ اَلْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ ? فَقَالَ: “فِيهِ اَلْوُضُوءُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku adalah seseorang yang sering keluar madzi. Aku pun meminta Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalahku ini. Al-Miqdad pun bertanya pada beliau.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah ia berwudhu jika keluar madzi.” (Muttafaqun ‘alaih, lafazh hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari) [HR. Bukhari, no. 132, 178, 269 dan Muslim, no. 303] Faedah hadits Madzi adalah cairan yang encer (tidak kental) keluar setelah syahwat tanpa memancar dan tidak terasa ketika keluar. Boleh mewakilkan untuk bertanya dan meminta fatwa pada orang lain karena ada uzur seperti malu. Yang mewakilkan tentu saja orang yang terpercaya dalam pemahaman, hafalan, dan agamanya karena ia membawa soal dan kembali menyampaikan jawaban. ‘Ali enggan bertanya langsung pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karena istri ‘Ali adalah Fatimah, putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka termasuk adab dan berbuat baik dengan kerabat, hendaklah suami tidak menceritakan perihal hubungan intim dan mukadimahnya sedangkan di saat bicara ada ayah, saudara, putra, atau kerabat dari istri. Padahal dalam hadits disebutkan tentang bertanya mengenai hukum syari. Maka selain masalah syari, benar-benar harus dipertimbangkan. Madzi itu najis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi, lalu beliau memerintahkan untuk berwudhu. Hukum najis madzi ini sama dengan hukum najis air kencing. Namun, madzi yang sedikit dimaafkan karena sulitnya untuk dihindari. Keluarnya madzi membatalkan wudhu. Namun, keluar madzi tidak diperintahkan untuk mandi junub, cukup berwudhu saja. Hendaklah madzi dihilangkan dengan air seperti kita istinja’ (cebok), tidak dengan istijmar, yaitu menghilangkan dengan batu. Madzi yang terkena pakaian ada keringanan cukup diperciki saja, tanpa mesti dicuci karena sulitnya menghindarkan diri dari madzi. Namun, yang lebih aman itu dicuci sebagaimana pendapat jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan ada pendapat dalam madzhab Imam Ahmad). Yang dilakukan ketika keluar madzi adalah: (a) menghilangkan najisnya pada kemaluan dengan dicuci, (b) memerciki pakaian yang terkena madzi, tetapi lebih baik pakaian tersebut dicuci (sebagaimana pendapat kebanyakan ulama), (c) cukup berwudhu, tanpa mandi junub. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-70 وَعَنْ عَائِشَةَ, رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ, ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَضَعَّفَهُاَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri beliau kemudian beliau pergi shalat tanpa mengulangi wudhunya lagi. (HR. Ahmad dan didhaifkan oleh Al-Bukhari) [HR. Ahmad, 42:479; Abu Daud, no. 179; Tirmidzi, no. 86, Ibnu Majah, 1:168. Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini. Namun, ulama belakangan mensahihkan hadits ini seperti Ibnu Jarir, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu At-Turkumani, Az-Zi’la’i, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa mencium dan menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah. Pendapat ini memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Thawus, Al-Hasan, dan Masruq. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak. Inilah pendapat yang dianut oleh madzhab Syafii dan pendapat Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah tentang pembatal wudhu, أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ “atau menyentuh perempuan.” (QS. Al Ma-idah: 6). Mereka menafsirkan kalimat “lamastumun nisaa’” dengan menyentuh perempuan. Sebagian ulama menafsirkan ayat ini dengan jimak, bukan sekadar menyentuh. Ada juga pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika dengan syahwat, membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tanpa syahwat, tidak membatalkan wudhu. Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan Safinatun Najah. Wallahu a’lam. Pilihan batal ini lebih hati-hati dan terhindar dari perselisihan ulama, mencari aman dari perselisihan itu sunnah.  Baca juga: Dalil Lengkap Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu   RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI HADITS KE-71 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian merasa mendapati sesuatu di perutnya (ususnya), ia lantas ragu-ragu, apakah keluar sesuatu ataukah tidak, hendaklah ia tidak keluar dari masjid (untuk mengulangi wudhu) sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 326] Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang itu ragu-ragu dalam keadaan berhadats, ia tidak harus berwudhu. Ia tetap shalat dalam keadaan kondisi yakin suci. Ia boleh batalkan jika yakin keluar hadats, bisa jadi dengan mendengar suara atau mencium bau. Hadits ini jadi kaedah penting “al-yaqinu laa yazuulu bisy syakk”, artinya keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. Hendaklah tidak memperhatikan waswas, di mana setan berusaha menggoda lewat jalan ini. Setan menggoda agar bersuci, shalat, dan ibadah kita menjadi rusak. Keluar kentut itu membatalkan wudhu. Syakk dan waswasah Bedakan antara syakk dan waswasah. Syakk merupakan kebimbangan antara terjadi atau tidaknya sesuatu yang kemungkinan keduanya seimbang, dan merupakan keyakinan keseimbangan yang sama kuat antara keduanya, tak ada kelebihan yang satu atas yang lain. Sedangkan waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Lain hal dengan syakkyang dilandasi suatu keyakinan dasar. Sebab-sebab munculnya waswasah: Minimnya ilmu syari, yaitu pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ajaran para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka. Lemahnya iman. Setan itu hanya mampu menguasai ahli maksiat, bukan menguasai orang yang kuat imannya. Lalai dari mengingat Allah. Dzikir itu mampu mengusir setan dan gangguan-gangguannya. Kelemahan akal. Yang memiliki akal sempurna akan selamat dari waswasah, dengan karunia Allah. Tidak bergaul dengan orang-orang yang memiliki ilmu dan iman sempurna. Tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: Lama dalam melakukan istinjak, wudhu, atau mandi. Mengulang-ulang wudhu, thaharah, atau shalat, berlebih-lebihan dalam menggunakan air untuk bersuci dan mengulangi ibadah-ibadah ini karena menganggapnya tidak sah. Mengulang-ulang huruf dalam melafalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an, doa-doa shalat, dan lainnya. Mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bisikan yang terkait dengan hal akidah. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: Menuntut ilmu syariat (mendalami ilmu agama). Memperkuat keimanan dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan ibadah-ibadah sunnah. Senantiasa ingat pada Allah di segala kondisi. Bergaul dengan orang saleh dan orang-orang yang dapat memberi manfaat. Mengetahui bahwa kebenaran itu hanya dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengakui bahwa waswasah adalah kebatilan yang paling batil. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Tidak lama-lama berada di dalam kamar mandi atau WC melebihi kebutuhan. Karena jamban dan WC adalah tempat setan dan ruh-ruh yang jahat. Memercikkan air pada kemaluan setelah istinjak dan celana untuk mengantisipasi waswasah dari jiwa. Bisa seseorang yakin telah melakukan thaharah (baik wudhu atau lainnya), kemudian ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadats kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian bila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya.   Baca juga: Kiat Shalat Khusyuk, Menjauhi Waswas MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK HADITS KE-72 وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْقَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ, أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ? فَقَالَ اَلنَّبِيُّ – صلى اللهعليه وسلم – “لَا, إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُحِبَّان َ وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ. Dari Thalq bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah menyentuh kemaluanku atau ada yang berkata bahwa ia menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia mesti mengulangi wudhunya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, itu sama saja dengan menyentuh anggota tubuhmu yang lain.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnul Madini berkata bahwa hadits ini lebih bagus dari hadits Busrah). [HR. Abu Daud, no. 182, 183; Tirmidzi, no. 85; An-Nasai, 1:101; Ibnu Majah, no. 483; Ibnu Majah, no. 1119. Hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:308]. HADITS KE-73 وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ” – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ وَقَالَ اَلْبُخَارِيُّ: هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا اَلْبَابِ. Dari Busrah binti Shafwan radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini paling sahih dalam bab ini). [HR. Abu Daud, no. 181; An-Nasai, 1:100; Ahmad, 45:265; Malik, 1:42; Ibnu Hibban, no. 1112; Tirmidzi, no. 83; Ibnu Majah, no. 479. Hadits ini hasan sahih menurut Imam Tirmidzi. Hadits ini adalah hadits yang paling sahih dalam bab ini]. Faedah hadits Ulama Syafiiyah menyatakan bahwa menyentuh kemaluan termasuk juga dubur membatalkan wudhu. Namun, kompromi yang paling bagus adalah ada dalam dua pendapat ulama: Menyentuh kemaluan hanya disunnahkan untuk berwudhu, bukan wajib. Menyentuh kemaluan dengan syahwat barulah membatalkan wudhu.   BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI HADITS KE-74 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: – مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ, أَوْ قَلْسٌ, أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ, ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ, وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَه وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang muntah (qai’), mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah saat mual (qalsun), atau keluar madzi, hendaklah ia keluar, lalu berwudhu, lalu meneruskan sisa shalatnya. Namun selama itu ia tidak berbicara.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah. Imam Ahmad dan lainnya mendhaifkannya). [HR. Ibnu Majah, no. 1221. Sanad hadits ini dhaif sebagaimana didhaifkan oleh Al-Bushiri. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:316] Qalsun adalah sesuatu yang keluar dari perut ke mulut saat mual berupa makanan atau minuman, bisa jadi dimuntahkan dan bisa jadi masuk lagi dalam perut, jika mulut penuh atau tidak sampai mulut. Sedangkan qai’ itu memuntahkan makanan atau minuman yang berasal dari perut lewat mulut. Jadi, qai’ itu qalas yang tak mungkin tertahan lagi. Faedah hadits Menurut sebagian pendapat ulama, segala najis yang keluar dari selain dua jalan itu menjadi pembatal wudhu, seperti qai’ (muntah), qalsun (muntah karena mual), dan mimisan. Ini menjadi pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun, yang tepat, hal-hal tadi tidak termasuk pembatal wudhu. Inilah yang jadi pendapat Imam Syafii, Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syaukani, Syaikh As-Sa’di, dan Syaikh Ibnu Baz. Alasan tidak batal karena tidak ada dalil jelas mengenai batalnya. Sedangkan hadits yang dibicarakan kali ini adalah dhaif (lemah). Muntah dan mimisan itu najis. Ibnu Taimiyyah berkata jika keluar mimisan dan muntah, afdalnya tetap berwudhu, itu disunnahkan. Keluar madzi mengharuskan untuk berwudhu sebagaimana keterangan hadits-hadits lainnya tentang hal ini. Jika ada yang keluar madzi, kentut, dan semacamnya saat shalat, shalatnya batal dan harus mengulangi shalat dari awal setelah bersuci. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? HADITS KE-75 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; – أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ? قَالَ: إِنْ شِئْتَ قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ? قَالَ: نَعَمْ – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau menjawab, “Iya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 360] Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging kambing tidak membatalkan wudhu. Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging unta itu membatalkan wudhu. Inilah yang dipilih oleh Imam Ahmad, pendapat sebagian sahabat, dan Ibnul Qayyim. Imam Nawawi dari kalangan Syafiiyah memilih juga pendapat ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Inilah dalil yang paling kuat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu, walaupun pendapat ini sejatinya menyelisihi jumhur atau kebanyakan ulama.” Ulama yang menyatakan tidak batal wudhu dari kalangan jumhur beralasan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidaklah berwudhu lagi karena memakan masakan yang dipanggang api, di dalamnya termasuk daging unta. Daging unta itu dimakan tidak bisa dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak. Haditsnya dari Jabir ini dinilai: (1) mudh-tharib, masuk golongan hadits dhaif; (2) hadits ini kalau pun sahih tidak bisa dijadikan dali karena daging unta tidaklah jadi sebab, namun ada makna khusus yaitu karena dipanggang; (3) hadits Jabir bin ‘Abdillah ini umum, sedangkan hadits Jabir bin Samurah yang menunjukkan batalnya wudhu itu khusus. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH HADITS KE-76 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – – مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَه وَقَالَ أَحْمَدُ: لَا يَصِحُّ فِي هَذَا اَلْبَابِ شَيْءٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi. Siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dan Tirmidzi menghasankannya. Imam Ahmad menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam bab ini). [HR. Ahmad, 13:118; Tirmidzi, no. 993; Ibnu Hibban, 3:435; Abu Daud, no. 3162; Ibnu Majah, no. 1463. Imam Nawawi mengkritisi penilaian hasan dari Tirmidzi. Hadits ini intinya ada perselisihan tentang kesahihahnnya, apakah sampai derajat marfu’ hingga Nabi ataukah mawquf hanya perkataan Abu Hurairah. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:326-327]. Faedah hadits Menurut mayoritas ulama (Imam Ahmad dan Syafii), siapa saja yang memandikan jenazah disunnahkan baginya untuk mandi, tetapi tidak wajib. Ada kaedah: Jika hadits itu dhaif, lalu teksnya menunjukkan wajib atau menunjukkan akan haram, dibawa hukum masalah itu menjadi mustahab (sunnah) atau makruh dalam hal larangan. Ini dilakukan dalam rangka kehati-hatian. Namun, hukum tersebut tidak menjadi hukum wajib ataukah haram. Demikian kata Ibnu Muflih Al-Hambali. Tidak wajib berwudhu bagi yang memandikan jenazah. Siapa yang membawa atau memikul jenazah disunnahkan untuk berwudhu, tetapi tidak wajib. Namun, bagi yang mau memperbarui wudhu, dipersilakan. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN HADITS KE-77 وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ; – أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلىالله عليه وسلم – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ – رَوَاهُ مَالِكٌمُرْسَلاً, وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَهُوَ مَعْلُولٌ. Dari ‘Abdullah bin Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan, “Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Malik secara mursal. An-Nasai dan Ibnu Majah menyambungkannya, namun hadits ini ma’lul). [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:199, namun hadits ini ma’lul, ada cacat ringan]. Yammasa dalam hadits ini artinya menyentuh tanpa penghalang. Thahir atau yang bersuci di sini ada beberapa makna: Suci secara maknawi, artinya suci dari syirik. Suci secara hissi, artinya suci dari najis. Suci dari hadat besar dan hadats kecil, yaitu dengan mandi atau berwudhu. Thahir bisa dibawa maknanya kepada orang yang bersuci dengan berwudhu. Faedah hadits Menyentuh mushaf Al-Qur’an harus dalam keadaan bersuci. Inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabiin, bahkan jadi pendapat empat ulama madzhab. Yang menyelisihi hal ini hanyalah Daud Az-Zahiri. Menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an juga harus dalam keadaan berwudhu karena “yats-butu tab’an, maa laa yats-butu istiqlalan”, yaitu ketika jadi pengikut tentu berbeda ketika berdiri sendiri. Beli Al-Qur’an berarti satu kesatuan dengan isi dan covernya, tidak bisa terpisah. Berarti hukum menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an sama seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an itu sendiri, yakni harus dalam keadaan berwudhu. Bagi yang batal wudhu, kalau mau menyentuh mushaf Al-Qur’an, hendaklah mengulangi wudhunya. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU HADITS KE-78 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdzikir setiap keadaan (setiap waktu).” (HR. Muslim. Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq, tanpa sanad) [HR. Muslim, no. 373] Faedah hadits Dzikir yang disebutkan dalam hadits adalah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar, dan membaca Al-Qur’an. Dzikir itu bersifat umum, tidak hanya membaca Al-Qur’an. Namun, dzikir juga mencakup lainnya. Adapun perbedaan dzikir dan tilawah Al-Qur’an adalah memakai patokan ‘urf (kebiasaan). Berdzikir itu tidak disyaratkan harus bersuci. Berdzikir boleh setiap saat, baik dalam keadaan suci, berhadats, maupun junub. Jika wudhu kita batal, masih dibolehkan untuk berdzikir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali ‘Imran ketika bangun malam sebelum beliau berwudhu. Imam Bukhari membuatkan judul bab untuk hadits ini, “Bab: Membaca Al-Qur’an ketika masih berhadats dan keadaan semacamnya”. Membaca Al-Qur’an saat junub tidak boleh. Saat buang air kecil, saat buang air besar, sedang berjimak dimakruhkan untuk berdzikir dengan lisan. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Maksud hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mayoritas aktivitasnya dalam keadaan berdzikir yaitu ketika bersuci, ketika berhadats, ketika berdiri maupun duduk. Berdzikir dengan hati boleh dalam setiap keadaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terus berdzikir dengan hatinya, ketika beliau sadar atau tertidur. Dimakruhkan berdzikir kepada Allah ketika buang hajat, termasuk juga dalam hal menjawab salam saat buang hajat. Yang sebaiknya dilakukan adalah menunggu sampai menunaikan hajat barulah menjawab salam. Namun, menjawab salam lebih afdal lagi setelah bersuci. Berdzikir dalam keadaan bersuci tetap lebih afdal.   Catatan: Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang membaca Al-Qur’an sedikit pun kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Abul Hasan Al-Mawardi menyatakan bahwa haramnya membaca Al-Qur’an bagi orang yang junub sudah masyhur di kalangan para sahabat Nabi, sampai hal ini tidak samar lagi bagi mereka baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.” (Al-Hawi Al-Kabir, 1:148) Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari empat madzhab dan lainnya, orang junub dilarang membaca Al-Qur’an sebagaimana ada hadits yang mendukung hal ini.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 17:12) KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-79 وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – اِحْتَجَمَ وَصَلَّى, وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَلَيَّنَهُ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam lalu shalat, kemudian beliau tidak mengulangi wudhu.” (HR. Ad-Daruquthni dan menganggap perawinya layyin). [HR. Ad-Daruquthni, 1:151; Al-Baihaqi dalam sunannya, 1:141 dan Al-Khilafiyaat, 2:318. Layyin adalah istilah untuk perawi yang dijarh (dikritik) dalam hal hafalannya, ia tidak dianggap ‘adil (terpercaya). Hadits ini secara sanad itu dhaif, tetapi dari segi makna boleh diamalkan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulughl Al-Maram, 1:344-345]. Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Setiap darah yang keluar dari tubuh selain dari dua jalan tidaklah membatalkan wudhu, seperti mimisan, darah dari gusi, baik darahnya dalam jumlah banyak ataukah sedikit. Hadits inilah yang menguatkan pembahasan pada hadits ke-74 sebelumnya. Darah itu najis. Namun, kalau darah keluar dari selain dua jalan, tidaklah membatalkan wudhu. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-80 وَعَنْ مُعَاوِيَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- – الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ, فَإِذَا نَامَتْ اَلْعَيْنَانِ اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ – وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ – وَهَذِهِ اَلزِّيَادَةُ فِي هَذَا اَلْحَدِيثِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ دُونَ قَوْلِهِ: – اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – وَفِي كِلَا الْإِسْنَادَيْنِ ضَعْف ٌ Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mata itu pengikat dubur. Apabila tidur dua mata, terlepaslah pengikat itu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani) [HR. Ahmad, 28:92; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 19:372, no. 875. Sanad hadits ini dhaif. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:347]. Ditambahkan, “Barangsiapa tidur, hendaklah ia berwudhu.” Tambahan dalam hadits ini adalah riwayat Abu Daud dari hadits ‘Ali selain dari perkataan, “Terlepaslah ikatan itu.” (Kedua sanad ini terdapat kelemahan). [HR. Abu Daud, no. 203. Hadits dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz].   HADITS KE-81 وَلِأَبِي دَاوُدَ أَيْضًا, عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: – إِنَّمَا اَلْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَمُضْطَجِعًا – وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ أَيْضًا Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Tidak wajib wudhu melainkan bagi orang yang tidur dengan keadaan miring (berbaring pada lambungnya).” Dalam sanad hadits ini ada perawi yang dhaif. [HR. Abu Daud, no. 202] [Hadits ini dhaif secara sanad dan matan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:350-351]. FAEDAH HADITS Tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya. Tidur itu menjadi mazhannah lin naqhd. Artinya, jika tidur masih dalam keadaan sadar, tidaklah membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tidur dalam keadaan tidak sadar (tidak merasakan sesuatu yang keluar), hendaklah mengulangi wudhu karena sejatinya ia itu tidur. Hadits yang menyebutkan tidur berbaring pada lambung (tidur menyamping) itulah yang membatalkan wudhu adalah hadits dhaif secarasanad dan matan. Konsekuensi dari hadits lemah ini adalah siapa saja yang tidur menyamping, wajib berwudhu. Lalu yang tidur dalam keadaan ghoiru mudhthoji’ (tidak menyamping) berarti tidak batal wudhunya. Kedua makna ini tidaklah tepat. Tidur berat yang sudah hilang kesadaran membatalkan wudhu. Tidur ringan yang masih ada kesadaran tidak membatalkan wudhu. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK HADITS KE-82 وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ, فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ, وَلَمْ يُحْدِثْ, فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّار ُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat lalu meniup lewat duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu, janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bazzar) [HR. Al-Bazzar, 171, sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauazan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. HADITS KE-83 وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْد ٍ Asal hadits ini ada di shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. [HR. Bukhari, no. 137 dan Muslim, no. 361] HADITS KE-84 وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah semisal itu pula. [HR. Muslim, no. 362. Ini adalah hadits ke-5 dalam pembahasan pembatal wudhu, atau hadits ke-71 dari Bulugh Al-Maram]. HADITS KE-85 وَلِلْحَاكِمِ. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: – إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ, فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ, فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ – Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan hadits dari Abu Sa’id secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Jika salah seorang di antara kalian didatangi setan, setan berkata: ‘Sungguh, engkau itu berhadats.’ Ucapkanlah, ‘Engkau dusta’.” [HR. Al-Hakim, 1:134, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1029 dan Tirmidzi, no. 396. Hadits ini hasan li ghairihi sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. Faedah hadits Hadits Ibnu ‘Abbas dan setelahnya menjadi isyarat bahwa orang yang telah bersuci jika ragu mengenai wudhunya, apakah wudhu tersebut sudah batal ataukah tidak, asalnya wudhu tersebut tidaklah batal. Ia shalat dalam keadaan suci seperti itu, tidak perlu mengulang wudhu sampai ia yakin kalau ia dalam keadaan berhadats yaitu dengan mendengar suara atau mencium bau. Setan itu benar-benar musuh manusia. Solusi mengatasi waswas adalah tidak menerima waswas tersebut dan tidak memperhatikannya. Ada tambahan dari hadits Abu Hurairah: (a) ragu-ragu dalam bersuci adalah dari setan, (b) tempat ragu-ragu ini dimunculkan dari bawah (dubur), (c) solusi mengatasi suatu yang tidak yakin ini adalah mengatakan setan itu berdusta. REFERENSI Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tahqiq Ar-Raghabaat bi At-Taqasim wa At-Tasyjiiraat li Thalabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Kamis siang, 25 Dzulqa’dah 1441 H (16 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan download PDF Bulughul Maram Thaharah, Tentang Pembatal Wudhu:   Download Tagsair wudhu bersuci bulughul maram bulughul maram thaharah cara wudhu pembatal wudhu sifat wudhu nabi tata cara wudhu wudhu


Apa saja yang termasuk pembatal wudhu? Ada juga barangkali yang dianggap pembatal wudhu, tetapi sejatinya tidak jadi pembatal wudhu. Daftar Isi buka 1. KITAB BERSUCI 2. BAB PEMBATAL WUDHU 3. TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 3.1. HADITS KE-67 3.2. Faedah hadits 4. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU 4.1. HADITS KE-68 4.2. Faedah hadits 5. PENJELASAN HUKUM MADZI 5.1. HADITS KE-69 5.2. Faedah hadits 6. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU 6.1. HADITS KE-70 6.2. Faedah hadits 7. RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI 7.1. HADITS KE-71 7.2. Faedah hadits 7.2.1. Syakk dan waswasah 7.2.2. Sebab-sebab munculnya waswasah: 7.2.3. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: 7.2.4. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: 8. MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK 8.1. HADITS KE-72 8.2. HADITS KE-73 8.3. Faedah hadits 9. BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI 9.1. HADITS KE-74 9.2. Faedah hadits 10. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? 10.1. HADITS KE-75 11. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH 11.1. HADITS KE-76 11.2. Faedah hadits 12. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN 12.1. HADITS KE-77 12.2. Faedah hadits 13. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU 13.1. HADITS KE-78 13.2. Faedah hadits 14. KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU 14.1. HADITS KE-79 14.2. Faedah hadits 15. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU 15.1. HADITS KE-80 15.2. HADITS KE-81 15.3. FAEDAH HADITS 16. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK 16.1. HADITS KE-82 16.2. HADITS KE-83 16.3. HADITS KE-84 16.4. HADITS KE-85 16.5. Faedah hadits 16.5.1. REFERENSI Kitab Bulughul Maram كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ بَابُ نَوَاقِضِ اَلْوُضُوءِ KITAB BERSUCI BAB PEMBATAL WUDHU TIDUR YANG SEBENTAR TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-67 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ( قَالَ: { كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ ( -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ, ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zaman beliau masih hidup menunggu waktu ‘Isya, sampai kepala mereka terangguk-angguk karena kantuk, kemudian mereka shalat, dan tidak berwudhu.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Daruquthni mensahihkannya dan hadits ini berasal dari riwayat Muslim) [HR. Abu Daud, no. 200; Ad-Daruquthni, 1:131. Hadits ini asalnya ada dalam riwayat Muslim, no. 376 dan 125. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Tirmidzi, no. 78. Ibnu Hajar membawakan hadits Abu Daud karena lebih jelas dibanding hadits riwayat Muslim. Hadits ini sahih sebagaimana disahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:280-281]. Faedah hadits Tidur ringan tidaklah membatalkan wudhu. Tidur berat yang membuat hilang rasa membatalkan wudhu. Tidur yang membatalkan ini tidak melihat pada cara tidur yaitu berbaring, duduk bersandar, atau tidak bersandar. Jadi, jika tidurnya itu masih merasakan sesuatu termasuk merasakan kalau batal ataukah tidak, tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. KELUARNYA DARAH ISTIHADHAH ITU MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-68 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: { جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ ( فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ, أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ? قَالَ: “لَا. إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ, وَلَيْسَ بِحَيْضٍ, فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ, ثُمَّ صَلِّي } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ وَلِلْبُخَارِيِّ: { ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ } وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إِلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدً ا Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Fatimah binti Abi Hubaisy datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah istihadhah dan tidak pernah suci, bolehkah aku meninggalkan shalat?’ Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Tidak boleh, itu hanya penyakit (‘irqun) dan bukan darah haidh. Apabila waktu haidhmu datang, tinggalkanlah shalat, dan apabila haidh itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (maksudnya: mandi), lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 228 dan Muslim, no. 333] Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Kemudian berwudhulah pada setiap hendak melaksanakan shalat.” Imam Muslim memberi isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Al-Bukhari. Faedah hadits Istihadhah adalah darah yang keluar selain pada waktu normal. Darah istihadhah itu mengakibatkan hadats, sehingga dihukumi membatalkan wudhu. Segala sesuatu yang keluar dari dua jalan itu membatalkan wudhu kecuali mani. Untuk wanita istihadhah dan yang berhadats terus menerus (seperti yang punya penyakit kencing terus menerus, keluar kentut terus menerus, atau buang hajat terus menerus), maka hendaklah berwudhu setiap kali shalat. Lalu untuk shalat yang diketahui batas waktunya seperti shalat lima waktu disyaratkan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat. Sedangkan untuk shalat Dhuha yang panjang batas waktunya, maka ia berwudhu setiap kali hendak shalat. Darah haidh dan istihadhah itu najis. Bahkan menurut kebanyakan ulama, darah secara keseluruhan itu najis. Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (21:25) disebutkan bahwa para fuqaha sepakat, darah itu dihukumi haram dan najis, darah tersebut tidak boleh dimakan, dan tidak boleh dimanfaatkan. Para ulama hanya berbeda pendapat pada darah yang sedikit. Tentang kadar sedikit pun, mereka berselisih pendapat. PENJELASAN HUKUM MADZI HADITS KE-69 وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: – كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً, فَأَمَرْتُ اَلْمِقْدَادَ بْنَ اَلْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ ? فَقَالَ: “فِيهِ اَلْوُضُوءُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku adalah seseorang yang sering keluar madzi. Aku pun meminta Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalahku ini. Al-Miqdad pun bertanya pada beliau.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah ia berwudhu jika keluar madzi.” (Muttafaqun ‘alaih, lafazh hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari) [HR. Bukhari, no. 132, 178, 269 dan Muslim, no. 303] Faedah hadits Madzi adalah cairan yang encer (tidak kental) keluar setelah syahwat tanpa memancar dan tidak terasa ketika keluar. Boleh mewakilkan untuk bertanya dan meminta fatwa pada orang lain karena ada uzur seperti malu. Yang mewakilkan tentu saja orang yang terpercaya dalam pemahaman, hafalan, dan agamanya karena ia membawa soal dan kembali menyampaikan jawaban. ‘Ali enggan bertanya langsung pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karena istri ‘Ali adalah Fatimah, putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka termasuk adab dan berbuat baik dengan kerabat, hendaklah suami tidak menceritakan perihal hubungan intim dan mukadimahnya sedangkan di saat bicara ada ayah, saudara, putra, atau kerabat dari istri. Padahal dalam hadits disebutkan tentang bertanya mengenai hukum syari. Maka selain masalah syari, benar-benar harus dipertimbangkan. Madzi itu najis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi, lalu beliau memerintahkan untuk berwudhu. Hukum najis madzi ini sama dengan hukum najis air kencing. Namun, madzi yang sedikit dimaafkan karena sulitnya untuk dihindari. Keluarnya madzi membatalkan wudhu. Namun, keluar madzi tidak diperintahkan untuk mandi junub, cukup berwudhu saja. Hendaklah madzi dihilangkan dengan air seperti kita istinja’ (cebok), tidak dengan istijmar, yaitu menghilangkan dengan batu. Madzi yang terkena pakaian ada keringanan cukup diperciki saja, tanpa mesti dicuci karena sulitnya menghindarkan diri dari madzi. Namun, yang lebih aman itu dicuci sebagaimana pendapat jumhur ulama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan ada pendapat dalam madzhab Imam Ahmad). Yang dilakukan ketika keluar madzi adalah: (a) menghilangkan najisnya pada kemaluan dengan dicuci, (b) memerciki pakaian yang terkena madzi, tetapi lebih baik pakaian tersebut dicuci (sebagaimana pendapat kebanyakan ulama), (c) cukup berwudhu, tanpa mandi junub. MENCIUM DAN MENYENTUH ISTRI TIDAK MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-70 وَعَنْ عَائِشَةَ, رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ, ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَضَعَّفَهُاَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istri beliau kemudian beliau pergi shalat tanpa mengulangi wudhunya lagi. (HR. Ahmad dan didhaifkan oleh Al-Bukhari) [HR. Ahmad, 42:479; Abu Daud, no. 179; Tirmidzi, no. 86, Ibnu Majah, 1:168. Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini. Namun, ulama belakangan mensahihkan hadits ini seperti Ibnu Jarir, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Katsir, Ibnu At-Turkumani, Az-Zi’la’i, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa mencium dan menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah. Pendapat ini memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, Thawus, Al-Hasan, dan Masruq. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Ada juga pendapat yang lain yang menyatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak. Inilah pendapat yang dianut oleh madzhab Syafii dan pendapat Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah tentang pembatal wudhu, أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ “atau menyentuh perempuan.” (QS. Al Ma-idah: 6). Mereka menafsirkan kalimat “lamastumun nisaa’” dengan menyentuh perempuan. Sebagian ulama menafsirkan ayat ini dengan jimak, bukan sekadar menyentuh. Ada juga pendapat ketiga yang menyatakan bahwa jika dengan syahwat, membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tanpa syahwat, tidak membatalkan wudhu. Bagi ulama yang menyatakan wudhu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, syaratnya adalah: (1) bersentuhan kulit, (2) bersentuhan laki-laki dan perempuan, (3) sama-sama dewasa, (4) dengan yang bukan mahram, (5) tanpa ada pembatas atau penghalang. Demikian pernyataan Syaikh Salim Al-Hadrami dalam matan Safinatun Najah. Wallahu a’lam. Pilihan batal ini lebih hati-hati dan terhindar dari perselisihan ulama, mencari aman dari perselisihan itu sunnah.  Baca juga: Dalil Lengkap Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu   RAGU-RAGU APAKAH HADATS ATAUKAH TIDAK, PADAHAL YAKIN MASIH DALAM KEADAAN SUCI HADITS KE-71 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian merasa mendapati sesuatu di perutnya (ususnya), ia lantas ragu-ragu, apakah keluar sesuatu ataukah tidak, hendaklah ia tidak keluar dari masjid (untuk mengulangi wudhu) sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 326] Faedah hadits Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang itu ragu-ragu dalam keadaan berhadats, ia tidak harus berwudhu. Ia tetap shalat dalam keadaan kondisi yakin suci. Ia boleh batalkan jika yakin keluar hadats, bisa jadi dengan mendengar suara atau mencium bau. Hadits ini jadi kaedah penting “al-yaqinu laa yazuulu bisy syakk”, artinya keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. Hendaklah tidak memperhatikan waswas, di mana setan berusaha menggoda lewat jalan ini. Setan menggoda agar bersuci, shalat, dan ibadah kita menjadi rusak. Keluar kentut itu membatalkan wudhu. Syakk dan waswasah Bedakan antara syakk dan waswasah. Syakk merupakan kebimbangan antara terjadi atau tidaknya sesuatu yang kemungkinan keduanya seimbang, dan merupakan keyakinan keseimbangan yang sama kuat antara keduanya, tak ada kelebihan yang satu atas yang lain. Sedangkan waswasah adalah bisikan jiwa dan setan yang tidak dilandaskan pada keyakinan dasar. Lain hal dengan syakkyang dilandasi suatu keyakinan dasar. Sebab-sebab munculnya waswasah: Minimnya ilmu syari, yaitu pengetahuan tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ajaran para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka. Lemahnya iman. Setan itu hanya mampu menguasai ahli maksiat, bukan menguasai orang yang kuat imannya. Lalai dari mengingat Allah. Dzikir itu mampu mengusir setan dan gangguan-gangguannya. Kelemahan akal. Yang memiliki akal sempurna akan selamat dari waswasah, dengan karunia Allah. Tidak bergaul dengan orang-orang yang memiliki ilmu dan iman sempurna. Tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gejala-gelaja waswasah pada orang yang mengidapnya adalah: Lama dalam melakukan istinjak, wudhu, atau mandi. Mengulang-ulang wudhu, thaharah, atau shalat, berlebih-lebihan dalam menggunakan air untuk bersuci dan mengulangi ibadah-ibadah ini karena menganggapnya tidak sah. Mengulang-ulang huruf dalam melafalkan bacaan-bacaan Al-Qur’an, doa-doa shalat, dan lainnya. Mengganti baju karena menyangkanya terkena najis. Bisikan yang terkait dengan hal akidah. Mengobati waswasah dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut: Menuntut ilmu syariat (mendalami ilmu agama). Memperkuat keimanan dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan ibadah-ibadah sunnah. Senantiasa ingat pada Allah di segala kondisi. Bergaul dengan orang saleh dan orang-orang yang dapat memberi manfaat. Mengetahui bahwa kebenaran itu hanya dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengakui bahwa waswasah adalah kebatilan yang paling batil. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Tidak lama-lama berada di dalam kamar mandi atau WC melebihi kebutuhan. Karena jamban dan WC adalah tempat setan dan ruh-ruh yang jahat. Memercikkan air pada kemaluan setelah istinjak dan celana untuk mengantisipasi waswasah dari jiwa. Bisa seseorang yakin telah melakukan thaharah (baik wudhu atau lainnya), kemudian ragu telah berhadats ataukah belum, ia boleh shalat dengan thaharahnya itu. Sebab, ia dalam keadaan suci. Sebaliknya bila ia yakin telah berhadats kemudian ragu telah bersuci ataukah belum, ia tidak perlu mempedulikan keraguan itu, kecuali bila ia yakin telah bersuci. Kemudian bila banyak keraguan yang muncul, maka ia tidak perlu mempedulikannya.   Baca juga: Kiat Shalat Khusyuk, Menjauhi Waswas MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU ATAUKAH TIDAK HADITS KE-72 وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْقَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ, أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ? فَقَالَ اَلنَّبِيُّ – صلى اللهعليه وسلم – “لَا, إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُحِبَّان َ وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ. Dari Thalq bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah menyentuh kemaluanku atau ada yang berkata bahwa ia menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia mesti mengulangi wudhunya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, itu sama saja dengan menyentuh anggota tubuhmu yang lain.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnul Madini berkata bahwa hadits ini lebih bagus dari hadits Busrah). [HR. Abu Daud, no. 182, 183; Tirmidzi, no. 85; An-Nasai, 1:101; Ibnu Majah, no. 483; Ibnu Majah, no. 1119. Hadits ini sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:308]. HADITS KE-73 وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ” – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ وَقَالَ اَلْبُخَارِيُّ: هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا اَلْبَابِ. Dari Busrah binti Shafwan radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (Dikeluarkan oleh yang lima, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini paling sahih dalam bab ini). [HR. Abu Daud, no. 181; An-Nasai, 1:100; Ahmad, 45:265; Malik, 1:42; Ibnu Hibban, no. 1112; Tirmidzi, no. 83; Ibnu Majah, no. 479. Hadits ini hasan sahih menurut Imam Tirmidzi. Hadits ini adalah hadits yang paling sahih dalam bab ini]. Faedah hadits Ulama Syafiiyah menyatakan bahwa menyentuh kemaluan termasuk juga dubur membatalkan wudhu. Namun, kompromi yang paling bagus adalah ada dalam dua pendapat ulama: Menyentuh kemaluan hanya disunnahkan untuk berwudhu, bukan wajib. Menyentuh kemaluan dengan syahwat barulah membatalkan wudhu.   BATALKAH WUDHU KARENA MIMISAN, MENGELUARKAN DAHAK, DAN KELUAR MADZI HADITS KE-74 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: – مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ, أَوْ قَلْسٌ, أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ, ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ, وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَه وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang muntah (qai’), mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah saat mual (qalsun), atau keluar madzi, hendaklah ia keluar, lalu berwudhu, lalu meneruskan sisa shalatnya. Namun selama itu ia tidak berbicara.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah. Imam Ahmad dan lainnya mendhaifkannya). [HR. Ibnu Majah, no. 1221. Sanad hadits ini dhaif sebagaimana didhaifkan oleh Al-Bushiri. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:316] Qalsun adalah sesuatu yang keluar dari perut ke mulut saat mual berupa makanan atau minuman, bisa jadi dimuntahkan dan bisa jadi masuk lagi dalam perut, jika mulut penuh atau tidak sampai mulut. Sedangkan qai’ itu memuntahkan makanan atau minuman yang berasal dari perut lewat mulut. Jadi, qai’ itu qalas yang tak mungkin tertahan lagi. Faedah hadits Menurut sebagian pendapat ulama, segala najis yang keluar dari selain dua jalan itu menjadi pembatal wudhu, seperti qai’ (muntah), qalsun (muntah karena mual), dan mimisan. Ini menjadi pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun, yang tepat, hal-hal tadi tidak termasuk pembatal wudhu. Inilah yang jadi pendapat Imam Syafii, Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syaukani, Syaikh As-Sa’di, dan Syaikh Ibnu Baz. Alasan tidak batal karena tidak ada dalil jelas mengenai batalnya. Sedangkan hadits yang dibicarakan kali ini adalah dhaif (lemah). Muntah dan mimisan itu najis. Ibnu Taimiyyah berkata jika keluar mimisan dan muntah, afdalnya tetap berwudhu, itu disunnahkan. Keluar madzi mengharuskan untuk berwudhu sebagaimana keterangan hadits-hadits lainnya tentang hal ini. Jika ada yang keluar madzi, kentut, dan semacamnya saat shalat, shalatnya batal dan harus mengulangi shalat dari awal setelah bersuci. APAKAH WUDHU BATAL KARENA MAKAN DAGING UNTA? HADITS KE-75 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; – أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ? قَالَ: إِنْ شِئْتَ قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ? قَالَ: نَعَمْ – أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku harus berwudhu setelah makan daging kambing?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau mau.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau menjawab, “Iya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 360] Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging kambing tidak membatalkan wudhu. Hadits ini jadi dalil bahwa makan daging unta itu membatalkan wudhu. Inilah yang dipilih oleh Imam Ahmad, pendapat sebagian sahabat, dan Ibnul Qayyim. Imam Nawawi dari kalangan Syafiiyah memilih juga pendapat ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Inilah dalil yang paling kuat bahwa makan daging unta membatalkan wudhu, walaupun pendapat ini sejatinya menyelisihi jumhur atau kebanyakan ulama.” Ulama yang menyatakan tidak batal wudhu dari kalangan jumhur beralasan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidaklah berwudhu lagi karena memakan masakan yang dipanggang api, di dalamnya termasuk daging unta. Daging unta itu dimakan tidak bisa dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak. Haditsnya dari Jabir ini dinilai: (1) mudh-tharib, masuk golongan hadits dhaif; (2) hadits ini kalau pun sahih tidak bisa dijadikan dali karena daging unta tidaklah jadi sebab, namun ada makna khusus yaitu karena dipanggang; (3) hadits Jabir bin ‘Abdillah ini umum, sedangkan hadits Jabir bin Samurah yang menunjukkan batalnya wudhu itu khusus. MANDI BAGI YANG MEMANDIKAN JENAZAH DAN WUDHU BAGI YANG MEMIKUL JENAZAH HADITS KE-76 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليهوسلم – – مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَه وَقَالَ أَحْمَدُ: لَا يَصِحُّ فِي هَذَا اَلْبَابِ شَيْءٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi. Siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dan Tirmidzi menghasankannya. Imam Ahmad menyatakan bahwa tidak ada hadits sahih dalam bab ini). [HR. Ahmad, 13:118; Tirmidzi, no. 993; Ibnu Hibban, 3:435; Abu Daud, no. 3162; Ibnu Majah, no. 1463. Imam Nawawi mengkritisi penilaian hasan dari Tirmidzi. Hadits ini intinya ada perselisihan tentang kesahihahnnya, apakah sampai derajat marfu’ hingga Nabi ataukah mawquf hanya perkataan Abu Hurairah. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:326-327]. Faedah hadits Menurut mayoritas ulama (Imam Ahmad dan Syafii), siapa saja yang memandikan jenazah disunnahkan baginya untuk mandi, tetapi tidak wajib. Ada kaedah: Jika hadits itu dhaif, lalu teksnya menunjukkan wajib atau menunjukkan akan haram, dibawa hukum masalah itu menjadi mustahab (sunnah) atau makruh dalam hal larangan. Ini dilakukan dalam rangka kehati-hatian. Namun, hukum tersebut tidak menjadi hukum wajib ataukah haram. Demikian kata Ibnu Muflih Al-Hambali. Tidak wajib berwudhu bagi yang memandikan jenazah. Siapa yang membawa atau memikul jenazah disunnahkan untuk berwudhu, tetapi tidak wajib. Namun, bagi yang mau memperbarui wudhu, dipersilakan. DISYARATKAN BERWUDHU KETIKA MENYENTUH MUSHAF AL-QUR’AN HADITS KE-77 وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ; – أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ – صلىالله عليه وسلم – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ – رَوَاهُ مَالِكٌمُرْسَلاً, وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَهُوَ مَعْلُولٌ. Dari ‘Abdullah bin Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan, “Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Malik secara mursal. An-Nasai dan Ibnu Majah menyambungkannya, namun hadits ini ma’lul). [HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 1:199, namun hadits ini ma’lul, ada cacat ringan]. Yammasa dalam hadits ini artinya menyentuh tanpa penghalang. Thahir atau yang bersuci di sini ada beberapa makna: Suci secara maknawi, artinya suci dari syirik. Suci secara hissi, artinya suci dari najis. Suci dari hadat besar dan hadats kecil, yaitu dengan mandi atau berwudhu. Thahir bisa dibawa maknanya kepada orang yang bersuci dengan berwudhu. Faedah hadits Menyentuh mushaf Al-Qur’an harus dalam keadaan bersuci. Inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabiin, bahkan jadi pendapat empat ulama madzhab. Yang menyelisihi hal ini hanyalah Daud Az-Zahiri. Menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an juga harus dalam keadaan berwudhu karena “yats-butu tab’an, maa laa yats-butu istiqlalan”, yaitu ketika jadi pengikut tentu berbeda ketika berdiri sendiri. Beli Al-Qur’an berarti satu kesatuan dengan isi dan covernya, tidak bisa terpisah. Berarti hukum menyentuh tulisan, pinggiran, dan sampul Al-Qur’an sama seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an itu sendiri, yakni harus dalam keadaan berwudhu. Bagi yang batal wudhu, kalau mau menyentuh mushaf Al-Qur’an, hendaklah mengulangi wudhunya. BERDZIKIR TIDAK DISYARATKAN BERWUDHU HADITS KE-78 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيّ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdzikir setiap keadaan (setiap waktu).” (HR. Muslim. Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq, tanpa sanad) [HR. Muslim, no. 373] Faedah hadits Dzikir yang disebutkan dalam hadits adalah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar, dan membaca Al-Qur’an. Dzikir itu bersifat umum, tidak hanya membaca Al-Qur’an. Namun, dzikir juga mencakup lainnya. Adapun perbedaan dzikir dan tilawah Al-Qur’an adalah memakai patokan ‘urf (kebiasaan). Berdzikir itu tidak disyaratkan harus bersuci. Berdzikir boleh setiap saat, baik dalam keadaan suci, berhadats, maupun junub. Jika wudhu kita batal, masih dibolehkan untuk berdzikir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali ‘Imran ketika bangun malam sebelum beliau berwudhu. Imam Bukhari membuatkan judul bab untuk hadits ini, “Bab: Membaca Al-Qur’an ketika masih berhadats dan keadaan semacamnya”. Membaca Al-Qur’an saat junub tidak boleh. Saat buang air kecil, saat buang air besar, sedang berjimak dimakruhkan untuk berdzikir dengan lisan. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Maksud hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mayoritas aktivitasnya dalam keadaan berdzikir yaitu ketika bersuci, ketika berhadats, ketika berdiri maupun duduk. Berdzikir dengan hati boleh dalam setiap keadaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri terus berdzikir dengan hatinya, ketika beliau sadar atau tertidur. Dimakruhkan berdzikir kepada Allah ketika buang hajat, termasuk juga dalam hal menjawab salam saat buang hajat. Yang sebaiknya dilakukan adalah menunggu sampai menunaikan hajat barulah menjawab salam. Namun, menjawab salam lebih afdal lagi setelah bersuci. Berdzikir dalam keadaan bersuci tetap lebih afdal.   Catatan: Para ulama empat madzhab sepakat bahwa haram bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an. Dalil pendukungnya adalah hadits berikut dari ‘Ali bin Abi Thalib, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ لا يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جُنُبًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang membaca Al-Qur’an sedikit pun kecuali dalam keadaan junub.” (HR. Ibnu Hibban, 3:79; Abu Ya’la dalam musnadnya, 1:400. Husain Salim Asad menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Abul Hasan Al-Mawardi menyatakan bahwa haramnya membaca Al-Qur’an bagi orang yang junub sudah masyhur di kalangan para sahabat Nabi, sampai hal ini tidak samar lagi bagi mereka baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.” (Al-Hawi Al-Kabir, 1:148) Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari empat madzhab dan lainnya, orang junub dilarang membaca Al-Qur’an sebagaimana ada hadits yang mendukung hal ini.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 17:12) KELUAR DARAH DARI SELAIN DUA JALAN TIDAKLAH MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-79 وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – اِحْتَجَمَ وَصَلَّى, وَلَمْ يَتَوَضَّأْ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَلَيَّنَهُ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam lalu shalat, kemudian beliau tidak mengulangi wudhu.” (HR. Ad-Daruquthni dan menganggap perawinya layyin). [HR. Ad-Daruquthni, 1:151; Al-Baihaqi dalam sunannya, 1:141 dan Al-Khilafiyaat, 2:318. Layyin adalah istilah untuk perawi yang dijarh (dikritik) dalam hal hafalannya, ia tidak dianggap ‘adil (terpercaya). Hadits ini secara sanad itu dhaif, tetapi dari segi makna boleh diamalkan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulughl Al-Maram, 1:344-345]. Faedah hadits Hadits ini jadi dalil bahwa berbekam itu tidak membatalkan wudhu. Setiap darah yang keluar dari tubuh selain dari dua jalan tidaklah membatalkan wudhu, seperti mimisan, darah dari gusi, baik darahnya dalam jumlah banyak ataukah sedikit. Hadits inilah yang menguatkan pembahasan pada hadits ke-74 sebelumnya. Darah itu najis. Namun, kalau darah keluar dari selain dua jalan, tidaklah membatalkan wudhu. TIDUR ITU BISA JADI SANGKAAN KUAT MEMBATALKAN WUDHU HADITS KE-80 وَعَنْ مُعَاوِيَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- – الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ, فَإِذَا نَامَتْ اَلْعَيْنَانِ اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ – وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ – وَهَذِهِ اَلزِّيَادَةُ فِي هَذَا اَلْحَدِيثِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ دُونَ قَوْلِهِ: – اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ – وَفِي كِلَا الْإِسْنَادَيْنِ ضَعْف ٌ Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mata itu pengikat dubur. Apabila tidur dua mata, terlepaslah pengikat itu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani) [HR. Ahmad, 28:92; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 19:372, no. 875. Sanad hadits ini dhaif. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:347]. Ditambahkan, “Barangsiapa tidur, hendaklah ia berwudhu.” Tambahan dalam hadits ini adalah riwayat Abu Daud dari hadits ‘Ali selain dari perkataan, “Terlepaslah ikatan itu.” (Kedua sanad ini terdapat kelemahan). [HR. Abu Daud, no. 203. Hadits dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz].   HADITS KE-81 وَلِأَبِي دَاوُدَ أَيْضًا, عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: – إِنَّمَا اَلْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَمُضْطَجِعًا – وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ أَيْضًا Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Tidak wajib wudhu melainkan bagi orang yang tidur dengan keadaan miring (berbaring pada lambungnya).” Dalam sanad hadits ini ada perawi yang dhaif. [HR. Abu Daud, no. 202] [Hadits ini dhaif secara sanad dan matan. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:350-351]. FAEDAH HADITS Tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya. Tidur itu menjadi mazhannah lin naqhd. Artinya, jika tidur masih dalam keadaan sadar, tidaklah membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika tidur dalam keadaan tidak sadar (tidak merasakan sesuatu yang keluar), hendaklah mengulangi wudhu karena sejatinya ia itu tidur. Hadits yang menyebutkan tidur berbaring pada lambung (tidur menyamping) itulah yang membatalkan wudhu adalah hadits dhaif secarasanad dan matan. Konsekuensi dari hadits lemah ini adalah siapa saja yang tidur menyamping, wajib berwudhu. Lalu yang tidur dalam keadaan ghoiru mudhthoji’ (tidak menyamping) berarti tidak batal wudhunya. Kedua makna ini tidaklah tepat. Tidur berat yang sudah hilang kesadaran membatalkan wudhu. Tidur ringan yang masih ada kesadaran tidak membatalkan wudhu. INGAT, SETAN MENGGODA KITA APAKAH WUDHU MASIH ADA ATAUKAH TIDAK HADITS KE-82 وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ, فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ, وَلَمْ يُحْدِثْ, فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّار ُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat lalu meniup lewat duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu, janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bazzar) [HR. Al-Bazzar, 171, sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauazan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. HADITS KE-83 وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْد ٍ Asal hadits ini ada di shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. [HR. Bukhari, no. 137 dan Muslim, no. 361] HADITS KE-84 وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah semisal itu pula. [HR. Muslim, no. 362. Ini adalah hadits ke-5 dalam pembahasan pembatal wudhu, atau hadits ke-71 dari Bulugh Al-Maram]. HADITS KE-85 وَلِلْحَاكِمِ. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: – إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ, فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ, فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ – Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan hadits dari Abu Sa’id secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Jika salah seorang di antara kalian didatangi setan, setan berkata: ‘Sungguh, engkau itu berhadats.’ Ucapkanlah, ‘Engkau dusta’.” [HR. Al-Hakim, 1:134, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1029 dan Tirmidzi, no. 396. Hadits ini hasan li ghairihi sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:352-353]. Faedah hadits Hadits Ibnu ‘Abbas dan setelahnya menjadi isyarat bahwa orang yang telah bersuci jika ragu mengenai wudhunya, apakah wudhu tersebut sudah batal ataukah tidak, asalnya wudhu tersebut tidaklah batal. Ia shalat dalam keadaan suci seperti itu, tidak perlu mengulang wudhu sampai ia yakin kalau ia dalam keadaan berhadats yaitu dengan mendengar suara atau mencium bau. Setan itu benar-benar musuh manusia. Solusi mengatasi waswas adalah tidak menerima waswas tersebut dan tidak memperhatikannya. Ada tambahan dari hadits Abu Hurairah: (a) ragu-ragu dalam bersuci adalah dari setan, (b) tempat ragu-ragu ini dimunculkan dari bawah (dubur), (c) solusi mengatasi suatu yang tidak yakin ini adalah mengatakan setan itu berdusta. REFERENSI Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tahqiq Ar-Raghabaat bi At-Taqasim wa At-Tasyjiiraat li Thalabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Kamis siang, 25 Dzulqa’dah 1441 H (16 Juli 2020) Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan download PDF Bulughul Maram Thaharah, Tentang Pembatal Wudhu:   Download Tagsair wudhu bersuci bulughul maram bulughul maram thaharah cara wudhu pembatal wudhu sifat wudhu nabi tata cara wudhu wudhu
Prev     Next