Dua Hal Penting dalam Hidupmu

Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dua Hal Penting dalam Hidupmu

Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sepanjang Hayat

Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sepanjang Hayat

Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Buku Gratis: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah

Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis

Buku Gratis: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah

Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis
Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis


Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis

Jalan Kemuliaan Umat

Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis

Jalan Kemuliaan Umat

Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis
Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis


Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis

Sederhana, Luar Biasa

Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sederhana, Luar Biasa

Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

2 Sumber Maksiat

2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

2 Sumber Maksiat

2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 4 – Keutamaan Keridhaan Orang Tua

Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 4 – Keutamaan Keridhaan Orang Tua

Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.
Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.


Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.

Karakter Lisan

Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Karakter Lisan

Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ketika Iman Menurun

Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ketika Iman Menurun

Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat

Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat

Setan Punya Sifat Khannas dan Waswas (Tafsir Surat An-Naas)

Setan punya dua sifat yaitu khannas dan waswas. Apa itu?   Allah Ta’ala berfirman, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)   WASWAS DAN KHANNAS Asalnya waswas itu berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Waswas adalah suatu godaan (gangguan) yang masuk dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda, bisa jadi pula tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Waswas ini perbuatan yang terus terjadi berulang dan begitu dekat dengan yang menggoda. Misalnya, waswas itu terjadi karena begitu dekat dengan telinga manusia yang menggoda. Sedangkan khannas adalah sifat dari setan yang sering bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya). Khannas dengan makna bersembunyi (ikhtifaa’) seperti dalam ayat, فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15). Al-khunnas adalah bintang. Bintang disebut dengan khunnas (artinya: bersembunyi) karena bintang itu tampak setelah bersembunyi (tidak terlihat). Pendapat lainnya menyatakan bahwa al-khannas dan al-waswas sama-sama termasuk nama Iblis. Lihat penjelasan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 771-773. Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir. Fungsi dzikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi dzikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan dzikir pada Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ “Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).   Baca Juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Agar Tidak Diganggu Setan, Lakukanlah Amalan-Amalan Ini Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.     Disusun di Darush Sholihin, Senin siang, 27 Dzulhijjah 1441 H (17 Agustus 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsgangguan setan godaan setan keutamaan surat an naas khannas setan surat an naas surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat an naas tafsir surat pendek waswas

Setan Punya Sifat Khannas dan Waswas (Tafsir Surat An-Naas)

Setan punya dua sifat yaitu khannas dan waswas. Apa itu?   Allah Ta’ala berfirman, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)   WASWAS DAN KHANNAS Asalnya waswas itu berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Waswas adalah suatu godaan (gangguan) yang masuk dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda, bisa jadi pula tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Waswas ini perbuatan yang terus terjadi berulang dan begitu dekat dengan yang menggoda. Misalnya, waswas itu terjadi karena begitu dekat dengan telinga manusia yang menggoda. Sedangkan khannas adalah sifat dari setan yang sering bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya). Khannas dengan makna bersembunyi (ikhtifaa’) seperti dalam ayat, فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15). Al-khunnas adalah bintang. Bintang disebut dengan khunnas (artinya: bersembunyi) karena bintang itu tampak setelah bersembunyi (tidak terlihat). Pendapat lainnya menyatakan bahwa al-khannas dan al-waswas sama-sama termasuk nama Iblis. Lihat penjelasan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 771-773. Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir. Fungsi dzikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi dzikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan dzikir pada Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ “Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).   Baca Juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Agar Tidak Diganggu Setan, Lakukanlah Amalan-Amalan Ini Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.     Disusun di Darush Sholihin, Senin siang, 27 Dzulhijjah 1441 H (17 Agustus 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsgangguan setan godaan setan keutamaan surat an naas khannas setan surat an naas surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat an naas tafsir surat pendek waswas
Setan punya dua sifat yaitu khannas dan waswas. Apa itu?   Allah Ta’ala berfirman, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)   WASWAS DAN KHANNAS Asalnya waswas itu berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Waswas adalah suatu godaan (gangguan) yang masuk dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda, bisa jadi pula tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Waswas ini perbuatan yang terus terjadi berulang dan begitu dekat dengan yang menggoda. Misalnya, waswas itu terjadi karena begitu dekat dengan telinga manusia yang menggoda. Sedangkan khannas adalah sifat dari setan yang sering bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya). Khannas dengan makna bersembunyi (ikhtifaa’) seperti dalam ayat, فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15). Al-khunnas adalah bintang. Bintang disebut dengan khunnas (artinya: bersembunyi) karena bintang itu tampak setelah bersembunyi (tidak terlihat). Pendapat lainnya menyatakan bahwa al-khannas dan al-waswas sama-sama termasuk nama Iblis. Lihat penjelasan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 771-773. Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir. Fungsi dzikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi dzikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan dzikir pada Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ “Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).   Baca Juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Agar Tidak Diganggu Setan, Lakukanlah Amalan-Amalan Ini Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.     Disusun di Darush Sholihin, Senin siang, 27 Dzulhijjah 1441 H (17 Agustus 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsgangguan setan godaan setan keutamaan surat an naas khannas setan surat an naas surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat an naas tafsir surat pendek waswas


Setan punya dua sifat yaitu khannas dan waswas. Apa itu?   Allah Ta’ala berfirman, مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)   WASWAS DAN KHANNAS Asalnya waswas itu berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Waswas adalah suatu godaan (gangguan) yang masuk dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda, bisa jadi pula tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Waswas ini perbuatan yang terus terjadi berulang dan begitu dekat dengan yang menggoda. Misalnya, waswas itu terjadi karena begitu dekat dengan telinga manusia yang menggoda. Sedangkan khannas adalah sifat dari setan yang sering bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya). Khannas dengan makna bersembunyi (ikhtifaa’) seperti dalam ayat, فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15). Al-khunnas adalah bintang. Bintang disebut dengan khunnas (artinya: bersembunyi) karena bintang itu tampak setelah bersembunyi (tidak terlihat). Pendapat lainnya menyatakan bahwa al-khannas dan al-waswas sama-sama termasuk nama Iblis. Lihat penjelasan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 771-773. Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir. Fungsi dzikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi dzikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan dzikir pada Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ “Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).   Baca Juga: Isi Surat Umar pada Sahabatnya: Jangan Jadi Kroninya Setan Agar Tidak Diganggu Setan, Lakukanlah Amalan-Amalan Ini Referensi: At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.     Disusun di Darush Sholihin, Senin siang, 27 Dzulhijjah 1441 H (17 Agustus 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsgangguan setan godaan setan keutamaan surat an naas khannas setan surat an naas surat favorit surat pendek tafsir jalalain tafsir surat an naas tafsir surat pendek waswas

Keyakinan Tentang Hari Pembalasan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Salah satu pokok aqidah Islam yang harus selalu ditanamkan dalam diri adalah keyakinan tentang hari pembalasan atau hari akhir. Sebagaimana dalam surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadi penguasa hari pembalasan/maliki yaumid diin.Yang dimaksud “yaumud diin” adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitabnya Min Kunuz al Qur’an al-Karim. (Lihat dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 1/151)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud yaumud diin adalah hari pembalasan yaitu hari kiamat. Ia disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itulah hamba dibalas atas segala amal perbuatan mereka. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 51)Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan yaumud diin itu adalah hari penghisaban dan pembalasan atas amal-amal. (Lihat Ma’anil Fatihah wa Qisharil Mufashshal, hal. 9)Kata ad-diin di dalam bahasa arab bisa bermakna al-jazaa’ wal hisaab; pembalasan dan penghitungan. (Lihat It-haf Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 341)Urgensi Iman kepada Hari AkhirDi dalam ‘maaliki yaumid diin’ terkandung iman kepada hari akhir dan iman terhadap pembalasan atas amal-amal, dan bahwasanya yang akan memberikan balasan atas amal-amal itu adalah Allah ‘azza wa jalla. Oleh sebab itu, faidah yang bisa dipetik dari sini adalah dorongan untuk beramal dalam rangka menghadapi hari tersebut. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 57)Iman kepada hari akhir merupakan salah satu di antara keenam rukun iman. Sebagaimana kehidupan kita di alam dunia adalah benar maka demikian pula adanya hari akhir adalah benar dan pasti akan terjadi. Allah berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Mu’minun : 115) (Lihat Ahkam minal Qur’anil Karim, 1/27-28 karya Syaikh Utsaimin)Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah mengimani tentang azab kubur. Allah berfirman,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat .” (QS. Ibrahim : 27). Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat ini lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun berkaitan dengan azab kubur.” (Lihat Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab hal. 47)Di dalam hadits dikisahkan, bahwa ketika seorang mukmin berada di alam kubur maka dia pun didudukkan lalu dia pun didatangi oleh malaikat -yang bertanya kepadanya- kemudian dia pun bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah maksud dari ayat,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman, dst.” (QS. Ibrahim : 27) (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 48)Dalam hadits lain diceritakan, bahwa ketika itu datanglah dua malaikat dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ dia menjawab, “Rabbku adalah Allah.” Mereka juga bertanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Agamaku Islam.” Lalu mereka juga bertanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian?’ maka dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kamu ketahui?’ dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49)Baca Juga: Ciri Khas Umat Muhammad pada Hari Kiamat: Ghurrah dan Tahjiil (Bag. 1)Keadaan Orang Kafir di Alam KuburAdapun orang kafir maka dua malaikat pun datang bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ lalu dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika dia ditanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika ditanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian?’ dia mengatakan, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Kemudian ada penyeru dari langit yang menyatakan, ‘Orang ini telah berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan sematkanlah untuknya ‘pakaian’ dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju neraka’. Maka seketika itulah datang hawa panas yang membakar dari neraka dan disempitkanlah kuburnya sampai-sampai tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempat-tempatnya. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49-50)  Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa Allah menciptakan untuk orang kafir itu seorang yang buta, bisu dan tuli seraya membawa sebuah palu. Seandainya palu itu dipakai untuk memukul sebuah gunung niscaya ia akan hancur menjadi debu. Maka ‘orang’ itu memukulnya sehingga dia berubah menjadi debu. Kemudian Allah memulihkan keadaannya seperti semula. Kemudian dia dipukul lagi maka dia pun menjerit dengan sekeras-kerasnya sehingga bisa didengar oleh segala makhluk selain manusia dan jin. Kemudian dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 51)  Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, bahwa orang kafir dan munafik ketika ditanyakan kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai lelaki ini -Muhammad-?’ maka dia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku sekedar mengucapkan apa yang telah diucapkan oleh orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Kamu tidaklah mengikuti orang-orang itu, walaupun kamu ikut mengucapkan apa yang mereka ucapkan.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 53)Setiap orang kelak akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Orang mukmin dibangkitkan di atas keimanan sedangkan orang munafik dibangkitkan di atas kemunafikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 58)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk bagian keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai berbagai kejadian setelah kematian. Maka mereka mengimani fitnah kubur, azab kubur dan nikmat yang ada di dalamnya.” (Lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 101)Yang dimaksud dengan fitnah/ujian di alam kubur itu adalah pertanyaan ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’. Ketiga pokok inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam risalahnya yang terkenal yaitu al-Ushul ats-Tsalatsah. Di dalamnya beliau menjelaskan tentang mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102) Kaum Mu’tazilah telah mengingkari azab kubur dan nikmat kubur. Padahal, dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah telah membantah pemahaman mereka itu. Diantara dalil tentang azab kubur di dalam al-Qur’an adalah kisah diazabnya Fir’aun beserta para pengikutnya. Allah berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Neraka itu ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Dan pada hari kiamat nanti masukkanlah para pengikut Fir’aun itu ke dalam azab yang paling keras.” (QS. Ghafir : 46). Baca Juga: Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?Selain itu masih ada banyak dalil yang lain. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102-103) Barangsiapa tidak mengimani dibangkitkannya jasad-jasad manusia kelak pada hari kiamat setelah kematian mereka maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah berfirman,زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Orang-orang kafir itu mengira bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakalah : Sekali-kali tidak, demi Rabbku. Benar-benar kalian akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian dengan apa-apa yang telah kalian kerjakan. Dan itu semuanya adalah sangat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7) (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 105)Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id

Keyakinan Tentang Hari Pembalasan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Salah satu pokok aqidah Islam yang harus selalu ditanamkan dalam diri adalah keyakinan tentang hari pembalasan atau hari akhir. Sebagaimana dalam surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadi penguasa hari pembalasan/maliki yaumid diin.Yang dimaksud “yaumud diin” adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitabnya Min Kunuz al Qur’an al-Karim. (Lihat dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 1/151)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud yaumud diin adalah hari pembalasan yaitu hari kiamat. Ia disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itulah hamba dibalas atas segala amal perbuatan mereka. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 51)Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan yaumud diin itu adalah hari penghisaban dan pembalasan atas amal-amal. (Lihat Ma’anil Fatihah wa Qisharil Mufashshal, hal. 9)Kata ad-diin di dalam bahasa arab bisa bermakna al-jazaa’ wal hisaab; pembalasan dan penghitungan. (Lihat It-haf Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 341)Urgensi Iman kepada Hari AkhirDi dalam ‘maaliki yaumid diin’ terkandung iman kepada hari akhir dan iman terhadap pembalasan atas amal-amal, dan bahwasanya yang akan memberikan balasan atas amal-amal itu adalah Allah ‘azza wa jalla. Oleh sebab itu, faidah yang bisa dipetik dari sini adalah dorongan untuk beramal dalam rangka menghadapi hari tersebut. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 57)Iman kepada hari akhir merupakan salah satu di antara keenam rukun iman. Sebagaimana kehidupan kita di alam dunia adalah benar maka demikian pula adanya hari akhir adalah benar dan pasti akan terjadi. Allah berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Mu’minun : 115) (Lihat Ahkam minal Qur’anil Karim, 1/27-28 karya Syaikh Utsaimin)Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah mengimani tentang azab kubur. Allah berfirman,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat .” (QS. Ibrahim : 27). Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat ini lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun berkaitan dengan azab kubur.” (Lihat Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab hal. 47)Di dalam hadits dikisahkan, bahwa ketika seorang mukmin berada di alam kubur maka dia pun didudukkan lalu dia pun didatangi oleh malaikat -yang bertanya kepadanya- kemudian dia pun bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah maksud dari ayat,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman, dst.” (QS. Ibrahim : 27) (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 48)Dalam hadits lain diceritakan, bahwa ketika itu datanglah dua malaikat dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ dia menjawab, “Rabbku adalah Allah.” Mereka juga bertanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Agamaku Islam.” Lalu mereka juga bertanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian?’ maka dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kamu ketahui?’ dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49)Baca Juga: Ciri Khas Umat Muhammad pada Hari Kiamat: Ghurrah dan Tahjiil (Bag. 1)Keadaan Orang Kafir di Alam KuburAdapun orang kafir maka dua malaikat pun datang bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ lalu dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika dia ditanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika ditanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian?’ dia mengatakan, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Kemudian ada penyeru dari langit yang menyatakan, ‘Orang ini telah berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan sematkanlah untuknya ‘pakaian’ dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju neraka’. Maka seketika itulah datang hawa panas yang membakar dari neraka dan disempitkanlah kuburnya sampai-sampai tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempat-tempatnya. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49-50)  Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa Allah menciptakan untuk orang kafir itu seorang yang buta, bisu dan tuli seraya membawa sebuah palu. Seandainya palu itu dipakai untuk memukul sebuah gunung niscaya ia akan hancur menjadi debu. Maka ‘orang’ itu memukulnya sehingga dia berubah menjadi debu. Kemudian Allah memulihkan keadaannya seperti semula. Kemudian dia dipukul lagi maka dia pun menjerit dengan sekeras-kerasnya sehingga bisa didengar oleh segala makhluk selain manusia dan jin. Kemudian dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 51)  Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, bahwa orang kafir dan munafik ketika ditanyakan kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai lelaki ini -Muhammad-?’ maka dia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku sekedar mengucapkan apa yang telah diucapkan oleh orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Kamu tidaklah mengikuti orang-orang itu, walaupun kamu ikut mengucapkan apa yang mereka ucapkan.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 53)Setiap orang kelak akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Orang mukmin dibangkitkan di atas keimanan sedangkan orang munafik dibangkitkan di atas kemunafikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 58)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk bagian keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai berbagai kejadian setelah kematian. Maka mereka mengimani fitnah kubur, azab kubur dan nikmat yang ada di dalamnya.” (Lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 101)Yang dimaksud dengan fitnah/ujian di alam kubur itu adalah pertanyaan ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’. Ketiga pokok inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam risalahnya yang terkenal yaitu al-Ushul ats-Tsalatsah. Di dalamnya beliau menjelaskan tentang mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102) Kaum Mu’tazilah telah mengingkari azab kubur dan nikmat kubur. Padahal, dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah telah membantah pemahaman mereka itu. Diantara dalil tentang azab kubur di dalam al-Qur’an adalah kisah diazabnya Fir’aun beserta para pengikutnya. Allah berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Neraka itu ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Dan pada hari kiamat nanti masukkanlah para pengikut Fir’aun itu ke dalam azab yang paling keras.” (QS. Ghafir : 46). Baca Juga: Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?Selain itu masih ada banyak dalil yang lain. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102-103) Barangsiapa tidak mengimani dibangkitkannya jasad-jasad manusia kelak pada hari kiamat setelah kematian mereka maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah berfirman,زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Orang-orang kafir itu mengira bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakalah : Sekali-kali tidak, demi Rabbku. Benar-benar kalian akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian dengan apa-apa yang telah kalian kerjakan. Dan itu semuanya adalah sangat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7) (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 105)Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id
Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Salah satu pokok aqidah Islam yang harus selalu ditanamkan dalam diri adalah keyakinan tentang hari pembalasan atau hari akhir. Sebagaimana dalam surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadi penguasa hari pembalasan/maliki yaumid diin.Yang dimaksud “yaumud diin” adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitabnya Min Kunuz al Qur’an al-Karim. (Lihat dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 1/151)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud yaumud diin adalah hari pembalasan yaitu hari kiamat. Ia disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itulah hamba dibalas atas segala amal perbuatan mereka. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 51)Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan yaumud diin itu adalah hari penghisaban dan pembalasan atas amal-amal. (Lihat Ma’anil Fatihah wa Qisharil Mufashshal, hal. 9)Kata ad-diin di dalam bahasa arab bisa bermakna al-jazaa’ wal hisaab; pembalasan dan penghitungan. (Lihat It-haf Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 341)Urgensi Iman kepada Hari AkhirDi dalam ‘maaliki yaumid diin’ terkandung iman kepada hari akhir dan iman terhadap pembalasan atas amal-amal, dan bahwasanya yang akan memberikan balasan atas amal-amal itu adalah Allah ‘azza wa jalla. Oleh sebab itu, faidah yang bisa dipetik dari sini adalah dorongan untuk beramal dalam rangka menghadapi hari tersebut. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 57)Iman kepada hari akhir merupakan salah satu di antara keenam rukun iman. Sebagaimana kehidupan kita di alam dunia adalah benar maka demikian pula adanya hari akhir adalah benar dan pasti akan terjadi. Allah berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Mu’minun : 115) (Lihat Ahkam minal Qur’anil Karim, 1/27-28 karya Syaikh Utsaimin)Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah mengimani tentang azab kubur. Allah berfirman,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat .” (QS. Ibrahim : 27). Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat ini lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun berkaitan dengan azab kubur.” (Lihat Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab hal. 47)Di dalam hadits dikisahkan, bahwa ketika seorang mukmin berada di alam kubur maka dia pun didudukkan lalu dia pun didatangi oleh malaikat -yang bertanya kepadanya- kemudian dia pun bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah maksud dari ayat,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman, dst.” (QS. Ibrahim : 27) (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 48)Dalam hadits lain diceritakan, bahwa ketika itu datanglah dua malaikat dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ dia menjawab, “Rabbku adalah Allah.” Mereka juga bertanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Agamaku Islam.” Lalu mereka juga bertanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian?’ maka dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kamu ketahui?’ dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49)Baca Juga: Ciri Khas Umat Muhammad pada Hari Kiamat: Ghurrah dan Tahjiil (Bag. 1)Keadaan Orang Kafir di Alam KuburAdapun orang kafir maka dua malaikat pun datang bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ lalu dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika dia ditanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika ditanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian?’ dia mengatakan, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Kemudian ada penyeru dari langit yang menyatakan, ‘Orang ini telah berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan sematkanlah untuknya ‘pakaian’ dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju neraka’. Maka seketika itulah datang hawa panas yang membakar dari neraka dan disempitkanlah kuburnya sampai-sampai tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempat-tempatnya. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49-50)  Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa Allah menciptakan untuk orang kafir itu seorang yang buta, bisu dan tuli seraya membawa sebuah palu. Seandainya palu itu dipakai untuk memukul sebuah gunung niscaya ia akan hancur menjadi debu. Maka ‘orang’ itu memukulnya sehingga dia berubah menjadi debu. Kemudian Allah memulihkan keadaannya seperti semula. Kemudian dia dipukul lagi maka dia pun menjerit dengan sekeras-kerasnya sehingga bisa didengar oleh segala makhluk selain manusia dan jin. Kemudian dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 51)  Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, bahwa orang kafir dan munafik ketika ditanyakan kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai lelaki ini -Muhammad-?’ maka dia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku sekedar mengucapkan apa yang telah diucapkan oleh orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Kamu tidaklah mengikuti orang-orang itu, walaupun kamu ikut mengucapkan apa yang mereka ucapkan.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 53)Setiap orang kelak akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Orang mukmin dibangkitkan di atas keimanan sedangkan orang munafik dibangkitkan di atas kemunafikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 58)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk bagian keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai berbagai kejadian setelah kematian. Maka mereka mengimani fitnah kubur, azab kubur dan nikmat yang ada di dalamnya.” (Lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 101)Yang dimaksud dengan fitnah/ujian di alam kubur itu adalah pertanyaan ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’. Ketiga pokok inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam risalahnya yang terkenal yaitu al-Ushul ats-Tsalatsah. Di dalamnya beliau menjelaskan tentang mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102) Kaum Mu’tazilah telah mengingkari azab kubur dan nikmat kubur. Padahal, dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah telah membantah pemahaman mereka itu. Diantara dalil tentang azab kubur di dalam al-Qur’an adalah kisah diazabnya Fir’aun beserta para pengikutnya. Allah berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Neraka itu ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Dan pada hari kiamat nanti masukkanlah para pengikut Fir’aun itu ke dalam azab yang paling keras.” (QS. Ghafir : 46). Baca Juga: Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?Selain itu masih ada banyak dalil yang lain. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102-103) Barangsiapa tidak mengimani dibangkitkannya jasad-jasad manusia kelak pada hari kiamat setelah kematian mereka maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah berfirman,زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Orang-orang kafir itu mengira bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakalah : Sekali-kali tidak, demi Rabbku. Benar-benar kalian akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian dengan apa-apa yang telah kalian kerjakan. Dan itu semuanya adalah sangat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7) (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 105)Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id


Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Salah satu pokok aqidah Islam yang harus selalu ditanamkan dalam diri adalah keyakinan tentang hari pembalasan atau hari akhir. Sebagaimana dalam surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadi penguasa hari pembalasan/maliki yaumid diin.Yang dimaksud “yaumud diin” adalah hari pembalasan dan hisab/penghitungan. Demikian keterangan dari Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitabnya Min Kunuz al Qur’an al-Karim. (Lihat dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 1/151)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud yaumud diin adalah hari pembalasan yaitu hari kiamat. Ia disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itulah hamba dibalas atas segala amal perbuatan mereka. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 51)Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan yaumud diin itu adalah hari penghisaban dan pembalasan atas amal-amal. (Lihat Ma’anil Fatihah wa Qisharil Mufashshal, hal. 9)Kata ad-diin di dalam bahasa arab bisa bermakna al-jazaa’ wal hisaab; pembalasan dan penghitungan. (Lihat It-haf Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 341)Urgensi Iman kepada Hari AkhirDi dalam ‘maaliki yaumid diin’ terkandung iman kepada hari akhir dan iman terhadap pembalasan atas amal-amal, dan bahwasanya yang akan memberikan balasan atas amal-amal itu adalah Allah ‘azza wa jalla. Oleh sebab itu, faidah yang bisa dipetik dari sini adalah dorongan untuk beramal dalam rangka menghadapi hari tersebut. (Lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 57)Iman kepada hari akhir merupakan salah satu di antara keenam rukun iman. Sebagaimana kehidupan kita di alam dunia adalah benar maka demikian pula adanya hari akhir adalah benar dan pasti akan terjadi. Allah berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ“Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Mu’minun : 115) (Lihat Ahkam minal Qur’anil Karim, 1/27-28 karya Syaikh Utsaimin)Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah mengimani tentang azab kubur. Allah berfirman,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat .” (QS. Ibrahim : 27). Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Bara’ bin Azib radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat ini lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun berkaitan dengan azab kubur.” (Lihat Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab hal. 47)Di dalam hadits dikisahkan, bahwa ketika seorang mukmin berada di alam kubur maka dia pun didudukkan lalu dia pun didatangi oleh malaikat -yang bertanya kepadanya- kemudian dia pun bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah maksud dari ayat,يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ“Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman, dst.” (QS. Ibrahim : 27) (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 48)Dalam hadits lain diceritakan, bahwa ketika itu datanglah dua malaikat dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ dia menjawab, “Rabbku adalah Allah.” Mereka juga bertanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Agamaku Islam.” Lalu mereka juga bertanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian?’ maka dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kamu ketahui?’ dia menjawab, “Aku membaca Kitabullah maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49)Baca Juga: Ciri Khas Umat Muhammad pada Hari Kiamat: Ghurrah dan Tahjiil (Bag. 1)Keadaan Orang Kafir di Alam KuburAdapun orang kafir maka dua malaikat pun datang bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ lalu dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika dia ditanya, ‘Apa agamamu?’ dia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Ketika ditanya, ‘Siapakah lelaki yang diutus kepada kalian?’ dia mengatakan, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Kemudian ada penyeru dari langit yang menyatakan, ‘Orang ini telah berdusta, maka gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan sematkanlah untuknya ‘pakaian’ dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu menuju neraka’. Maka seketika itulah datang hawa panas yang membakar dari neraka dan disempitkanlah kuburnya sampai-sampai tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempat-tempatnya. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 49-50)  Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa Allah menciptakan untuk orang kafir itu seorang yang buta, bisu dan tuli seraya membawa sebuah palu. Seandainya palu itu dipakai untuk memukul sebuah gunung niscaya ia akan hancur menjadi debu. Maka ‘orang’ itu memukulnya sehingga dia berubah menjadi debu. Kemudian Allah memulihkan keadaannya seperti semula. Kemudian dia dipukul lagi maka dia pun menjerit dengan sekeras-kerasnya sehingga bisa didengar oleh segala makhluk selain manusia dan jin. Kemudian dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka dan dibentangkan untuknya hamparan dari neraka. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 51)  Dalam hadits lain riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan, bahwa orang kafir dan munafik ketika ditanyakan kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai lelaki ini -Muhammad-?’ maka dia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku sekedar mengucapkan apa yang telah diucapkan oleh orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Kamu tidaklah mengikuti orang-orang itu, walaupun kamu ikut mengucapkan apa yang mereka ucapkan.” (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 53)Setiap orang kelak akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal. Orang mukmin dibangkitkan di atas keimanan sedangkan orang munafik dibangkitkan di atas kemunafikannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir radhiyallahu’anhu. (Lihat Ahwal al-Qubur, hal. 58)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk bagian keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai berbagai kejadian setelah kematian. Maka mereka mengimani fitnah kubur, azab kubur dan nikmat yang ada di dalamnya.” (Lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh ar-Rajihi, hal. 101)Yang dimaksud dengan fitnah/ujian di alam kubur itu adalah pertanyaan ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’. Ketiga pokok inilah yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam risalahnya yang terkenal yaitu al-Ushul ats-Tsalatsah. Di dalamnya beliau menjelaskan tentang mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102) Kaum Mu’tazilah telah mengingkari azab kubur dan nikmat kubur. Padahal, dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah telah membantah pemahaman mereka itu. Diantara dalil tentang azab kubur di dalam al-Qur’an adalah kisah diazabnya Fir’aun beserta para pengikutnya. Allah berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Neraka itu ditampakkan kepada mereka setiap pagi dan petang. Dan pada hari kiamat nanti masukkanlah para pengikut Fir’aun itu ke dalam azab yang paling keras.” (QS. Ghafir : 46). Baca Juga: Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?Selain itu masih ada banyak dalil yang lain. (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 102-103) Barangsiapa tidak mengimani dibangkitkannya jasad-jasad manusia kelak pada hari kiamat setelah kematian mereka maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah berfirman,زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Orang-orang kafir itu mengira bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakalah : Sekali-kali tidak, demi Rabbku. Benar-benar kalian akan dibangkitkan kemudian akan dikabarkan kepada kalian dengan apa-apa yang telah kalian kerjakan. Dan itu semuanya adalah sangat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7) (Lihat Syarh al-Wasithiyah, hal. 105)Baca Juga:Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id

Alam Barzakh (Alam Kubur) – Serial Menuju Akhirat #2

Ilustrasi @kuburan baqi' madinahAlam Barzakh (Alam Kubur)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Setelah seseorang meninggal dunia, maka seseorang akan masuk pada alam barzakh. Dalam bahasa Arab, barzakh artinya perantara. Yaitu perantara antara alam dunia dengan alam akhirat. Alam barzakh termasuk bagian dari alam akhirat, sehingga maksud yang benar adalah alam barzakh merupakan alam di antara alam dunia dengan alam setelah hari kebangkitan.Fase ini sering disebut sebagai alam kubur karena kebanyakan orang dikubur setelah meninggal dunia. Padahal asalnya seseorang yang meninggal dunia telah masuk ke alam barzakh meskipun dia tidak dikubur. Dan dalil yang paling kuat yang menunjukkan akan hal ini adalah kisah fir’aun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Fir’aun dan bala tentaranya yang meninggal di laut merah, banyak dari mereka jasadnya tidak dikubur. Bahkan jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia tidak memperhatikan dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)Maka meskipun jasad Fir’aun dan bala tentaranya diselamatkan dan tidak dikubur, namun mereka saat ini sedang disiksa oleh Allah ﷻ dengan siksa kubur. Allah ﷻ berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)“Mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Ghafir : 46)Dalam ayat ini dsiebutkan bahwa Fir’aun dan kaumnya akan diberikan siksa yang lebih pedih. Maka saat ini mereka sedang diadzab di alam barzakh, meskipun jasad mereka tidak dikubur. Oleh karenanya siapapun yang meninggal dunia dan dalam model apapun, maka dia akan masuk dalam suatu alam bernama alam barzakh. Sehingga tidak ada dalam islam istilah ruh yang bergentayangan.Ketika berada di alam barzakh, seseorang akan mengalami fitnah kubur. Dari fitnah kubur tersebut, jika seseorang selamat darinya, maka dia akan merasakan nikmat kubur. Akan tetapi jika seseorang gagal dalam fitnah kubur tersebut, maka dia akan merasakan azab kubur.Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Semua orang yang meninggal akan ditanya oleh malaikat, kecuali orang yang mati syahid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً} سنن النسائي (4/ 99{(“Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang yang mati syahid?” Rasulullah menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya (ketika berjihad) sebagai ujian baginya.” (HR. An-Nasa’i 4/99 no. 2053)Maka adapun orang mukminin secara umum akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Adapun pertanyaan tersebut adalah tentang siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Dan ketika itu seseorang tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan hafalan, melainkan dengan keimanan.Oleh karena itu hendaknya seseorang meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan para malaikat kelak di alam barzakh. Karena Allah ﷻ telah berfirman,يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)Di antara ucapan yang Allah kokohkan dari orang-orang beriman dalam ayat ini adalah ucapan tatkala menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Allah akan mengokohkan orang beriman untuk menjawab dengan jawaban bahwa Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.Oleh karenanya jawaban yang akan diberikan kepada malaikat kelak bukan berdasarkan hafalan. Jika pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan hafalan, maka semua orang akan bisa menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban yang sesuai, bahkan orang kafir sekalipun. Akan tetapi seseorang di alam barzakh hanya mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan keimanan karena saking dahsyat dan mengerikannya malaikat Munkar dan Nakir. Sehingga mereka ketakutan dan tidak bisa menjawab dengan hafalan-hafalan mereka.Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa tatkala malaikat telah bertanya kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik dengan tiga pertanyaan, mereka tidak bisa menjawab. Dalam hadits disebutkan,وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: لَهُ مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي} سنن أبي داود (4/ 240{(“Dan saat itu datanglah kedua malaikat seraya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Rabbmu?” ia menjawab, “Hah, hah, hah, aku tidak tahu.” Maka malaikat bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” Malaikat bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian?” ia menjawab, “Hah, hah, saya tidak tahu.” (HR. Abu Daud 4/240 no. 4753)Oleh karenanya yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah keimanan. Maka jika keimanan seseorang bisa menawab pertanyaan malaikat, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, maka akan mendapatkan azab kubur.Alam kubur adalah alam khusus yang tersendiri dan tidak bisa kita qiyaskan dengan alam lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya alam tidur, alam nyata yang saat ini kita rasakan, alam barzakh, dan alam akhirat. Maka dari setiap alam tersebut tidak bisa diqiyaskan dengan alam lainnya karena memiliki spesifik dan ciri yang berbeda dari masing-masin alam lainnya. Tidak perlu kita jauh menjelaskan tentang alam kubur, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu menjelaskan secara ilmiah tentang alam tidur. Akan tetapi ternyata seseorang terkadang bisa merasakan hal-hal yang luar biasa tatkala dia tidur. Terkadang seseorang bangun dalam keadaan ketakutan, terkadang bangun dengan wajah berseri-seri, terkadang mimpi indah, dan terkadang mimpi buruk. Hal-hal seperti itu sering dilalui seseorang tatkala tidur, sampai-sampai sebagian mengira bahwa itu adalah alam nyata, padahal yang mereka alami hanya di alam tidur.Oleh karenanya banyak seseorang salah dalam memahami alam barzakh karena mencoba menqiyaskan antara alam barzakh dan alam nyata. Dan tentunya hal tersebut adalah kesalahan yang fatal karena alam yang satu dengan alam yang lainnya tidak dapat diqiyaskan. Sebagai contoh, Nabi ﷺ menjelaskan siksaan bagi sebagian orang di alam barzakh. Dalam sebuah hadits yang panjang Nabi ﷺ menceritakan bahwa beliau bermimpi dan dihampiri oleh dua orang laki-laki. Beliau kemudian di bawa ke sebuah tempat  yang disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri, dan yang satunya lagi sedang duduk, yang ditangannya ada besi yang tajam. Kemudian besi tersebut dimasukkan kedalam salah satu sisi mulut orang tersebut hingga menembus lehernya. Jika telah selesai dan sembuh di sisi mulut tersebut, maka pindah lagi pada sisi mulut yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.Dan itu terus mereka lakukan sampai hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah pendusta. Dia berbicara dengan satu kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.”Kemudian dalam mimpi tersebut Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berdiri memegang batu besar di atas orang lain yang sedang berbaring, kemudian batu tersebut digunakan untuk menghancurkan kepala orang yang berbaring tersebut. maka tatkala kepala orang tersebut telah hancur, maka diambilnya batu tersebut dan ketika kepalanya telah utuh, maka dilemparkan kembali dengan batu hingga hancur kembali. Dan itu terjadi terus menerus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Alquran, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan telanjang dan dibakar dalam sebuah tanur (sebuah tungku) yang bagian atasnya besar dan bagian bawahnya sempit dengan api. Ketika tubuh mereka sampai pada bagian atas, api tersebut dihentikan sampai tubuh mereka kembali berada pada bagian bawah tungku Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ“Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berada di tengah-tengah sungai darah yang di tepi sungai telah ada orang yang siap melemparinya dengan batu, jika orang tersebut hendak keluar dari sungai. Ketika orang tersebut berusaha untuk keluar dari sungai tersebut, maka dilemparkan batu kea rah mulutnya, sehingga dia kembali ke tempatnya semula. Hal tersebut terjadi begitu terus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا }صحيح البخاري (2/ 101{(“Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari 2/101 no. 1386)Kejadian yang diceritakan Nabi ﷺ di atas adalah kejadian di alam barzakh. Sehingga tidak bisa alam tersebut dengan diqiyaskan dengan alam yang lain. Dan saya ingatkan bahwa Ibnu Rajab al-Hambali pernah mewasiatkan kita untuk banyak berkhalwat dengan Allah ﷻ, yang salah satu caranya adalah dengan i’tikaf, dimana kita membaca Alquran dan shalat malam sendiri. Memang benar seseorang berbahagia tatkala berkumpul bersama keluarga atau sahabat-sahabatnya, akan tetapi perlu untuk dilatih agar seseorang bisa berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah ﷻ. Karena dengan memperbanyak i’tikaf akan melatih diri kita untuk melalui kesendirian di alam barzakh yang sangat panjang. Dan ketahuilah bahwa keberadaan seseorang di alam barzakh jauh lebih lama dibandingkan kehidupan seseorang di dunia. Dan tatkala seseorang telah meninggal dunia, tidak ada lagi keluarga maupun sahabat yang menemaninya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan,يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ} صحيح البخاري (8/ 107{(“Tiga perkara yang akan mengiringi mayat. Dua perkara akan kembali dan yang satu akan menyertainya. Perkara yang akan mengirinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, dan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514)Tatkala kita meninggal dunia, keluarga kita pasti akan menangis dan sedih. Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mau menemani kita di kubur. Oleh karenanya kita akan sendirian di alam barzakh. Oleh karenanya jika kita tidak terbiasa untuk berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah, maka kita akan repot tatkala telah berada di alam barzakh. Maka seseorang hendaknya berusaha melatih diri untuk berbahagia ketika sendiri dalam ibadahnya kepada Allah ﷻ.Inilah fase alam barzakh yang seseorang akan menanti lebih lama sampai datangnya hari kiamat. Dan di alam barzakh ini hanya akan diberikan antara dua hal kepada seseorang, jika dia tidak diberikan nikmat, maka pasti dia akan merasakan azab.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Alam Barzakh (Alam Kubur) – Serial Menuju Akhirat #2

Ilustrasi @kuburan baqi' madinahAlam Barzakh (Alam Kubur)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Setelah seseorang meninggal dunia, maka seseorang akan masuk pada alam barzakh. Dalam bahasa Arab, barzakh artinya perantara. Yaitu perantara antara alam dunia dengan alam akhirat. Alam barzakh termasuk bagian dari alam akhirat, sehingga maksud yang benar adalah alam barzakh merupakan alam di antara alam dunia dengan alam setelah hari kebangkitan.Fase ini sering disebut sebagai alam kubur karena kebanyakan orang dikubur setelah meninggal dunia. Padahal asalnya seseorang yang meninggal dunia telah masuk ke alam barzakh meskipun dia tidak dikubur. Dan dalil yang paling kuat yang menunjukkan akan hal ini adalah kisah fir’aun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Fir’aun dan bala tentaranya yang meninggal di laut merah, banyak dari mereka jasadnya tidak dikubur. Bahkan jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia tidak memperhatikan dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)Maka meskipun jasad Fir’aun dan bala tentaranya diselamatkan dan tidak dikubur, namun mereka saat ini sedang disiksa oleh Allah ﷻ dengan siksa kubur. Allah ﷻ berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)“Mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Ghafir : 46)Dalam ayat ini dsiebutkan bahwa Fir’aun dan kaumnya akan diberikan siksa yang lebih pedih. Maka saat ini mereka sedang diadzab di alam barzakh, meskipun jasad mereka tidak dikubur. Oleh karenanya siapapun yang meninggal dunia dan dalam model apapun, maka dia akan masuk dalam suatu alam bernama alam barzakh. Sehingga tidak ada dalam islam istilah ruh yang bergentayangan.Ketika berada di alam barzakh, seseorang akan mengalami fitnah kubur. Dari fitnah kubur tersebut, jika seseorang selamat darinya, maka dia akan merasakan nikmat kubur. Akan tetapi jika seseorang gagal dalam fitnah kubur tersebut, maka dia akan merasakan azab kubur.Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Semua orang yang meninggal akan ditanya oleh malaikat, kecuali orang yang mati syahid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً} سنن النسائي (4/ 99{(“Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang yang mati syahid?” Rasulullah menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya (ketika berjihad) sebagai ujian baginya.” (HR. An-Nasa’i 4/99 no. 2053)Maka adapun orang mukminin secara umum akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Adapun pertanyaan tersebut adalah tentang siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Dan ketika itu seseorang tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan hafalan, melainkan dengan keimanan.Oleh karena itu hendaknya seseorang meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan para malaikat kelak di alam barzakh. Karena Allah ﷻ telah berfirman,يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)Di antara ucapan yang Allah kokohkan dari orang-orang beriman dalam ayat ini adalah ucapan tatkala menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Allah akan mengokohkan orang beriman untuk menjawab dengan jawaban bahwa Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.Oleh karenanya jawaban yang akan diberikan kepada malaikat kelak bukan berdasarkan hafalan. Jika pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan hafalan, maka semua orang akan bisa menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban yang sesuai, bahkan orang kafir sekalipun. Akan tetapi seseorang di alam barzakh hanya mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan keimanan karena saking dahsyat dan mengerikannya malaikat Munkar dan Nakir. Sehingga mereka ketakutan dan tidak bisa menjawab dengan hafalan-hafalan mereka.Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa tatkala malaikat telah bertanya kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik dengan tiga pertanyaan, mereka tidak bisa menjawab. Dalam hadits disebutkan,وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: لَهُ مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي} سنن أبي داود (4/ 240{(“Dan saat itu datanglah kedua malaikat seraya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Rabbmu?” ia menjawab, “Hah, hah, hah, aku tidak tahu.” Maka malaikat bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” Malaikat bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian?” ia menjawab, “Hah, hah, saya tidak tahu.” (HR. Abu Daud 4/240 no. 4753)Oleh karenanya yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah keimanan. Maka jika keimanan seseorang bisa menawab pertanyaan malaikat, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, maka akan mendapatkan azab kubur.Alam kubur adalah alam khusus yang tersendiri dan tidak bisa kita qiyaskan dengan alam lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya alam tidur, alam nyata yang saat ini kita rasakan, alam barzakh, dan alam akhirat. Maka dari setiap alam tersebut tidak bisa diqiyaskan dengan alam lainnya karena memiliki spesifik dan ciri yang berbeda dari masing-masin alam lainnya. Tidak perlu kita jauh menjelaskan tentang alam kubur, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu menjelaskan secara ilmiah tentang alam tidur. Akan tetapi ternyata seseorang terkadang bisa merasakan hal-hal yang luar biasa tatkala dia tidur. Terkadang seseorang bangun dalam keadaan ketakutan, terkadang bangun dengan wajah berseri-seri, terkadang mimpi indah, dan terkadang mimpi buruk. Hal-hal seperti itu sering dilalui seseorang tatkala tidur, sampai-sampai sebagian mengira bahwa itu adalah alam nyata, padahal yang mereka alami hanya di alam tidur.Oleh karenanya banyak seseorang salah dalam memahami alam barzakh karena mencoba menqiyaskan antara alam barzakh dan alam nyata. Dan tentunya hal tersebut adalah kesalahan yang fatal karena alam yang satu dengan alam yang lainnya tidak dapat diqiyaskan. Sebagai contoh, Nabi ﷺ menjelaskan siksaan bagi sebagian orang di alam barzakh. Dalam sebuah hadits yang panjang Nabi ﷺ menceritakan bahwa beliau bermimpi dan dihampiri oleh dua orang laki-laki. Beliau kemudian di bawa ke sebuah tempat  yang disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri, dan yang satunya lagi sedang duduk, yang ditangannya ada besi yang tajam. Kemudian besi tersebut dimasukkan kedalam salah satu sisi mulut orang tersebut hingga menembus lehernya. Jika telah selesai dan sembuh di sisi mulut tersebut, maka pindah lagi pada sisi mulut yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.Dan itu terus mereka lakukan sampai hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah pendusta. Dia berbicara dengan satu kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.”Kemudian dalam mimpi tersebut Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berdiri memegang batu besar di atas orang lain yang sedang berbaring, kemudian batu tersebut digunakan untuk menghancurkan kepala orang yang berbaring tersebut. maka tatkala kepala orang tersebut telah hancur, maka diambilnya batu tersebut dan ketika kepalanya telah utuh, maka dilemparkan kembali dengan batu hingga hancur kembali. Dan itu terjadi terus menerus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Alquran, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan telanjang dan dibakar dalam sebuah tanur (sebuah tungku) yang bagian atasnya besar dan bagian bawahnya sempit dengan api. Ketika tubuh mereka sampai pada bagian atas, api tersebut dihentikan sampai tubuh mereka kembali berada pada bagian bawah tungku Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ“Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berada di tengah-tengah sungai darah yang di tepi sungai telah ada orang yang siap melemparinya dengan batu, jika orang tersebut hendak keluar dari sungai. Ketika orang tersebut berusaha untuk keluar dari sungai tersebut, maka dilemparkan batu kea rah mulutnya, sehingga dia kembali ke tempatnya semula. Hal tersebut terjadi begitu terus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا }صحيح البخاري (2/ 101{(“Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari 2/101 no. 1386)Kejadian yang diceritakan Nabi ﷺ di atas adalah kejadian di alam barzakh. Sehingga tidak bisa alam tersebut dengan diqiyaskan dengan alam yang lain. Dan saya ingatkan bahwa Ibnu Rajab al-Hambali pernah mewasiatkan kita untuk banyak berkhalwat dengan Allah ﷻ, yang salah satu caranya adalah dengan i’tikaf, dimana kita membaca Alquran dan shalat malam sendiri. Memang benar seseorang berbahagia tatkala berkumpul bersama keluarga atau sahabat-sahabatnya, akan tetapi perlu untuk dilatih agar seseorang bisa berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah ﷻ. Karena dengan memperbanyak i’tikaf akan melatih diri kita untuk melalui kesendirian di alam barzakh yang sangat panjang. Dan ketahuilah bahwa keberadaan seseorang di alam barzakh jauh lebih lama dibandingkan kehidupan seseorang di dunia. Dan tatkala seseorang telah meninggal dunia, tidak ada lagi keluarga maupun sahabat yang menemaninya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan,يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ} صحيح البخاري (8/ 107{(“Tiga perkara yang akan mengiringi mayat. Dua perkara akan kembali dan yang satu akan menyertainya. Perkara yang akan mengirinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, dan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514)Tatkala kita meninggal dunia, keluarga kita pasti akan menangis dan sedih. Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mau menemani kita di kubur. Oleh karenanya kita akan sendirian di alam barzakh. Oleh karenanya jika kita tidak terbiasa untuk berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah, maka kita akan repot tatkala telah berada di alam barzakh. Maka seseorang hendaknya berusaha melatih diri untuk berbahagia ketika sendiri dalam ibadahnya kepada Allah ﷻ.Inilah fase alam barzakh yang seseorang akan menanti lebih lama sampai datangnya hari kiamat. Dan di alam barzakh ini hanya akan diberikan antara dua hal kepada seseorang, jika dia tidak diberikan nikmat, maka pasti dia akan merasakan azab.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Ilustrasi @kuburan baqi' madinahAlam Barzakh (Alam Kubur)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Setelah seseorang meninggal dunia, maka seseorang akan masuk pada alam barzakh. Dalam bahasa Arab, barzakh artinya perantara. Yaitu perantara antara alam dunia dengan alam akhirat. Alam barzakh termasuk bagian dari alam akhirat, sehingga maksud yang benar adalah alam barzakh merupakan alam di antara alam dunia dengan alam setelah hari kebangkitan.Fase ini sering disebut sebagai alam kubur karena kebanyakan orang dikubur setelah meninggal dunia. Padahal asalnya seseorang yang meninggal dunia telah masuk ke alam barzakh meskipun dia tidak dikubur. Dan dalil yang paling kuat yang menunjukkan akan hal ini adalah kisah fir’aun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Fir’aun dan bala tentaranya yang meninggal di laut merah, banyak dari mereka jasadnya tidak dikubur. Bahkan jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia tidak memperhatikan dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)Maka meskipun jasad Fir’aun dan bala tentaranya diselamatkan dan tidak dikubur, namun mereka saat ini sedang disiksa oleh Allah ﷻ dengan siksa kubur. Allah ﷻ berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)“Mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Ghafir : 46)Dalam ayat ini dsiebutkan bahwa Fir’aun dan kaumnya akan diberikan siksa yang lebih pedih. Maka saat ini mereka sedang diadzab di alam barzakh, meskipun jasad mereka tidak dikubur. Oleh karenanya siapapun yang meninggal dunia dan dalam model apapun, maka dia akan masuk dalam suatu alam bernama alam barzakh. Sehingga tidak ada dalam islam istilah ruh yang bergentayangan.Ketika berada di alam barzakh, seseorang akan mengalami fitnah kubur. Dari fitnah kubur tersebut, jika seseorang selamat darinya, maka dia akan merasakan nikmat kubur. Akan tetapi jika seseorang gagal dalam fitnah kubur tersebut, maka dia akan merasakan azab kubur.Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Semua orang yang meninggal akan ditanya oleh malaikat, kecuali orang yang mati syahid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً} سنن النسائي (4/ 99{(“Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang yang mati syahid?” Rasulullah menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya (ketika berjihad) sebagai ujian baginya.” (HR. An-Nasa’i 4/99 no. 2053)Maka adapun orang mukminin secara umum akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Adapun pertanyaan tersebut adalah tentang siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Dan ketika itu seseorang tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan hafalan, melainkan dengan keimanan.Oleh karena itu hendaknya seseorang meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan para malaikat kelak di alam barzakh. Karena Allah ﷻ telah berfirman,يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)Di antara ucapan yang Allah kokohkan dari orang-orang beriman dalam ayat ini adalah ucapan tatkala menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Allah akan mengokohkan orang beriman untuk menjawab dengan jawaban bahwa Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.Oleh karenanya jawaban yang akan diberikan kepada malaikat kelak bukan berdasarkan hafalan. Jika pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan hafalan, maka semua orang akan bisa menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban yang sesuai, bahkan orang kafir sekalipun. Akan tetapi seseorang di alam barzakh hanya mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan keimanan karena saking dahsyat dan mengerikannya malaikat Munkar dan Nakir. Sehingga mereka ketakutan dan tidak bisa menjawab dengan hafalan-hafalan mereka.Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa tatkala malaikat telah bertanya kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik dengan tiga pertanyaan, mereka tidak bisa menjawab. Dalam hadits disebutkan,وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: لَهُ مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي} سنن أبي داود (4/ 240{(“Dan saat itu datanglah kedua malaikat seraya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Rabbmu?” ia menjawab, “Hah, hah, hah, aku tidak tahu.” Maka malaikat bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” Malaikat bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian?” ia menjawab, “Hah, hah, saya tidak tahu.” (HR. Abu Daud 4/240 no. 4753)Oleh karenanya yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah keimanan. Maka jika keimanan seseorang bisa menawab pertanyaan malaikat, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, maka akan mendapatkan azab kubur.Alam kubur adalah alam khusus yang tersendiri dan tidak bisa kita qiyaskan dengan alam lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya alam tidur, alam nyata yang saat ini kita rasakan, alam barzakh, dan alam akhirat. Maka dari setiap alam tersebut tidak bisa diqiyaskan dengan alam lainnya karena memiliki spesifik dan ciri yang berbeda dari masing-masin alam lainnya. Tidak perlu kita jauh menjelaskan tentang alam kubur, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu menjelaskan secara ilmiah tentang alam tidur. Akan tetapi ternyata seseorang terkadang bisa merasakan hal-hal yang luar biasa tatkala dia tidur. Terkadang seseorang bangun dalam keadaan ketakutan, terkadang bangun dengan wajah berseri-seri, terkadang mimpi indah, dan terkadang mimpi buruk. Hal-hal seperti itu sering dilalui seseorang tatkala tidur, sampai-sampai sebagian mengira bahwa itu adalah alam nyata, padahal yang mereka alami hanya di alam tidur.Oleh karenanya banyak seseorang salah dalam memahami alam barzakh karena mencoba menqiyaskan antara alam barzakh dan alam nyata. Dan tentunya hal tersebut adalah kesalahan yang fatal karena alam yang satu dengan alam yang lainnya tidak dapat diqiyaskan. Sebagai contoh, Nabi ﷺ menjelaskan siksaan bagi sebagian orang di alam barzakh. Dalam sebuah hadits yang panjang Nabi ﷺ menceritakan bahwa beliau bermimpi dan dihampiri oleh dua orang laki-laki. Beliau kemudian di bawa ke sebuah tempat  yang disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri, dan yang satunya lagi sedang duduk, yang ditangannya ada besi yang tajam. Kemudian besi tersebut dimasukkan kedalam salah satu sisi mulut orang tersebut hingga menembus lehernya. Jika telah selesai dan sembuh di sisi mulut tersebut, maka pindah lagi pada sisi mulut yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.Dan itu terus mereka lakukan sampai hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah pendusta. Dia berbicara dengan satu kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.”Kemudian dalam mimpi tersebut Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berdiri memegang batu besar di atas orang lain yang sedang berbaring, kemudian batu tersebut digunakan untuk menghancurkan kepala orang yang berbaring tersebut. maka tatkala kepala orang tersebut telah hancur, maka diambilnya batu tersebut dan ketika kepalanya telah utuh, maka dilemparkan kembali dengan batu hingga hancur kembali. Dan itu terjadi terus menerus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Alquran, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan telanjang dan dibakar dalam sebuah tanur (sebuah tungku) yang bagian atasnya besar dan bagian bawahnya sempit dengan api. Ketika tubuh mereka sampai pada bagian atas, api tersebut dihentikan sampai tubuh mereka kembali berada pada bagian bawah tungku Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ“Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berada di tengah-tengah sungai darah yang di tepi sungai telah ada orang yang siap melemparinya dengan batu, jika orang tersebut hendak keluar dari sungai. Ketika orang tersebut berusaha untuk keluar dari sungai tersebut, maka dilemparkan batu kea rah mulutnya, sehingga dia kembali ke tempatnya semula. Hal tersebut terjadi begitu terus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا }صحيح البخاري (2/ 101{(“Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari 2/101 no. 1386)Kejadian yang diceritakan Nabi ﷺ di atas adalah kejadian di alam barzakh. Sehingga tidak bisa alam tersebut dengan diqiyaskan dengan alam yang lain. Dan saya ingatkan bahwa Ibnu Rajab al-Hambali pernah mewasiatkan kita untuk banyak berkhalwat dengan Allah ﷻ, yang salah satu caranya adalah dengan i’tikaf, dimana kita membaca Alquran dan shalat malam sendiri. Memang benar seseorang berbahagia tatkala berkumpul bersama keluarga atau sahabat-sahabatnya, akan tetapi perlu untuk dilatih agar seseorang bisa berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah ﷻ. Karena dengan memperbanyak i’tikaf akan melatih diri kita untuk melalui kesendirian di alam barzakh yang sangat panjang. Dan ketahuilah bahwa keberadaan seseorang di alam barzakh jauh lebih lama dibandingkan kehidupan seseorang di dunia. Dan tatkala seseorang telah meninggal dunia, tidak ada lagi keluarga maupun sahabat yang menemaninya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan,يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ} صحيح البخاري (8/ 107{(“Tiga perkara yang akan mengiringi mayat. Dua perkara akan kembali dan yang satu akan menyertainya. Perkara yang akan mengirinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, dan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514)Tatkala kita meninggal dunia, keluarga kita pasti akan menangis dan sedih. Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mau menemani kita di kubur. Oleh karenanya kita akan sendirian di alam barzakh. Oleh karenanya jika kita tidak terbiasa untuk berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah, maka kita akan repot tatkala telah berada di alam barzakh. Maka seseorang hendaknya berusaha melatih diri untuk berbahagia ketika sendiri dalam ibadahnya kepada Allah ﷻ.Inilah fase alam barzakh yang seseorang akan menanti lebih lama sampai datangnya hari kiamat. Dan di alam barzakh ini hanya akan diberikan antara dua hal kepada seseorang, jika dia tidak diberikan nikmat, maka pasti dia akan merasakan azab.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Ilustrasi @kuburan baqi' madinahAlam Barzakh (Alam Kubur)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Setelah seseorang meninggal dunia, maka seseorang akan masuk pada alam barzakh. Dalam bahasa Arab, barzakh artinya perantara. Yaitu perantara antara alam dunia dengan alam akhirat. Alam barzakh termasuk bagian dari alam akhirat, sehingga maksud yang benar adalah alam barzakh merupakan alam di antara alam dunia dengan alam setelah hari kebangkitan.Fase ini sering disebut sebagai alam kubur karena kebanyakan orang dikubur setelah meninggal dunia. Padahal asalnya seseorang yang meninggal dunia telah masuk ke alam barzakh meskipun dia tidak dikubur. Dan dalil yang paling kuat yang menunjukkan akan hal ini adalah kisah fir’aun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Fir’aun dan bala tentaranya yang meninggal di laut merah, banyak dari mereka jasadnya tidak dikubur. Bahkan jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia tidak memperhatikan dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92)Maka meskipun jasad Fir’aun dan bala tentaranya diselamatkan dan tidak dikubur, namun mereka saat ini sedang disiksa oleh Allah ﷻ dengan siksa kubur. Allah ﷻ berfirman,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)“Mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Ghafir : 46)Dalam ayat ini dsiebutkan bahwa Fir’aun dan kaumnya akan diberikan siksa yang lebih pedih. Maka saat ini mereka sedang diadzab di alam barzakh, meskipun jasad mereka tidak dikubur. Oleh karenanya siapapun yang meninggal dunia dan dalam model apapun, maka dia akan masuk dalam suatu alam bernama alam barzakh. Sehingga tidak ada dalam islam istilah ruh yang bergentayangan.Ketika berada di alam barzakh, seseorang akan mengalami fitnah kubur. Dari fitnah kubur tersebut, jika seseorang selamat darinya, maka dia akan merasakan nikmat kubur. Akan tetapi jika seseorang gagal dalam fitnah kubur tersebut, maka dia akan merasakan azab kubur.Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Semua orang yang meninggal akan ditanya oleh malaikat, kecuali orang yang mati syahid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً} سنن النسائي (4/ 99{(“Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang yang mati syahid?” Rasulullah menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya (ketika berjihad) sebagai ujian baginya.” (HR. An-Nasa’i 4/99 no. 2053)Maka adapun orang mukminin secara umum akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir. Adapun pertanyaan tersebut adalah tentang siapa tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Dan ketika itu seseorang tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan hafalan, melainkan dengan keimanan.Oleh karena itu hendaknya seseorang meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam menjawab pertanyaan para malaikat kelak di alam barzakh. Karena Allah ﷻ telah berfirman,يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)Di antara ucapan yang Allah kokohkan dari orang-orang beriman dalam ayat ini adalah ucapan tatkala menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Allah akan mengokohkan orang beriman untuk menjawab dengan jawaban bahwa Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ﷺ.Oleh karenanya jawaban yang akan diberikan kepada malaikat kelak bukan berdasarkan hafalan. Jika pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan hafalan, maka semua orang akan bisa menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban yang sesuai, bahkan orang kafir sekalipun. Akan tetapi seseorang di alam barzakh hanya mampu menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan keimanan karena saking dahsyat dan mengerikannya malaikat Munkar dan Nakir. Sehingga mereka ketakutan dan tidak bisa menjawab dengan hafalan-hafalan mereka.Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa tatkala malaikat telah bertanya kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik dengan tiga pertanyaan, mereka tidak bisa menjawab. Dalam hadits disebutkan,وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: لَهُ مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي} سنن أبي داود (4/ 240{(“Dan saat itu datanglah kedua malaikat seraya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Rabbmu?” ia menjawab, “Hah, hah, hah, aku tidak tahu.” Maka malaikat bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu.” Malaikat bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian?” ia menjawab, “Hah, hah, saya tidak tahu.” (HR. Abu Daud 4/240 no. 4753)Oleh karenanya yang menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah keimanan. Maka jika keimanan seseorang bisa menawab pertanyaan malaikat, maka dia akan mendapatkan nikmat kubur. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, maka akan mendapatkan azab kubur.Alam kubur adalah alam khusus yang tersendiri dan tidak bisa kita qiyaskan dengan alam lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam hidup ini ada yang namanya alam tidur, alam nyata yang saat ini kita rasakan, alam barzakh, dan alam akhirat. Maka dari setiap alam tersebut tidak bisa diqiyaskan dengan alam lainnya karena memiliki spesifik dan ciri yang berbeda dari masing-masin alam lainnya. Tidak perlu kita jauh menjelaskan tentang alam kubur, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu menjelaskan secara ilmiah tentang alam tidur. Akan tetapi ternyata seseorang terkadang bisa merasakan hal-hal yang luar biasa tatkala dia tidur. Terkadang seseorang bangun dalam keadaan ketakutan, terkadang bangun dengan wajah berseri-seri, terkadang mimpi indah, dan terkadang mimpi buruk. Hal-hal seperti itu sering dilalui seseorang tatkala tidur, sampai-sampai sebagian mengira bahwa itu adalah alam nyata, padahal yang mereka alami hanya di alam tidur.Oleh karenanya banyak seseorang salah dalam memahami alam barzakh karena mencoba menqiyaskan antara alam barzakh dan alam nyata. Dan tentunya hal tersebut adalah kesalahan yang fatal karena alam yang satu dengan alam yang lainnya tidak dapat diqiyaskan. Sebagai contoh, Nabi ﷺ menjelaskan siksaan bagi sebagian orang di alam barzakh. Dalam sebuah hadits yang panjang Nabi ﷺ menceritakan bahwa beliau bermimpi dan dihampiri oleh dua orang laki-laki. Beliau kemudian di bawa ke sebuah tempat  yang disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri, dan yang satunya lagi sedang duduk, yang ditangannya ada besi yang tajam. Kemudian besi tersebut dimasukkan kedalam salah satu sisi mulut orang tersebut hingga menembus lehernya. Jika telah selesai dan sembuh di sisi mulut tersebut, maka pindah lagi pada sisi mulut yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.Dan itu terus mereka lakukan sampai hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah pendusta. Dia berbicara dengan satu kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.”Kemudian dalam mimpi tersebut Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berdiri memegang batu besar di atas orang lain yang sedang berbaring, kemudian batu tersebut digunakan untuk menghancurkan kepala orang yang berbaring tersebut. maka tatkala kepala orang tersebut telah hancur, maka diambilnya batu tersebut dan ketika kepalanya telah utuh, maka dilemparkan kembali dengan batu hingga hancur kembali. Dan itu terjadi terus menerus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang tersebut, maka dikatakan kepada beliau,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ“Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Alquran, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan telanjang dan dibakar dalam sebuah tanur (sebuah tungku) yang bagian atasnya besar dan bagian bawahnya sempit dengan api. Ketika tubuh mereka sampai pada bagian atas, api tersebut dihentikan sampai tubuh mereka kembali berada pada bagian bawah tungku Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ“Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina.”Kemudian Nabi ﷺ juga diperlihatkan seseorang yang berada di tengah-tengah sungai darah yang di tepi sungai telah ada orang yang siap melemparinya dengan batu, jika orang tersebut hendak keluar dari sungai. Ketika orang tersebut berusaha untuk keluar dari sungai tersebut, maka dilemparkan batu kea rah mulutnya, sehingga dia kembali ke tempatnya semula. Hal tersebut terjadi begitu terus hingga hari kiamat. Maka tatkala Nabi ﷺ bertanya tentang siapa orang-orang tersebut, orang-orang yang membawanya berkata,وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا }صحيح البخاري (2/ 101{(“Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Bukhari 2/101 no. 1386)Kejadian yang diceritakan Nabi ﷺ di atas adalah kejadian di alam barzakh. Sehingga tidak bisa alam tersebut dengan diqiyaskan dengan alam yang lain. Dan saya ingatkan bahwa Ibnu Rajab al-Hambali pernah mewasiatkan kita untuk banyak berkhalwat dengan Allah ﷻ, yang salah satu caranya adalah dengan i’tikaf, dimana kita membaca Alquran dan shalat malam sendiri. Memang benar seseorang berbahagia tatkala berkumpul bersama keluarga atau sahabat-sahabatnya, akan tetapi perlu untuk dilatih agar seseorang bisa berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah ﷻ. Karena dengan memperbanyak i’tikaf akan melatih diri kita untuk melalui kesendirian di alam barzakh yang sangat panjang. Dan ketahuilah bahwa keberadaan seseorang di alam barzakh jauh lebih lama dibandingkan kehidupan seseorang di dunia. Dan tatkala seseorang telah meninggal dunia, tidak ada lagi keluarga maupun sahabat yang menemaninya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan,يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ} صحيح البخاري (8/ 107{(“Tiga perkara yang akan mengiringi mayat. Dua perkara akan kembali dan yang satu akan menyertainya. Perkara yang akan mengirinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, dan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514)Tatkala kita meninggal dunia, keluarga kita pasti akan menangis dan sedih. Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang mau menemani kita di kubur. Oleh karenanya kita akan sendirian di alam barzakh. Oleh karenanya jika kita tidak terbiasa untuk berbahagia ketika berkhalwat dengan Allah, maka kita akan repot tatkala telah berada di alam barzakh. Maka seseorang hendaknya berusaha melatih diri untuk berbahagia ketika sendiri dalam ibadahnya kepada Allah ﷻ.Inilah fase alam barzakh yang seseorang akan menanti lebih lama sampai datangnya hari kiamat. Dan di alam barzakh ini hanya akan diberikan antara dua hal kepada seseorang, jika dia tidak diberikan nikmat, maka pasti dia akan merasakan azab.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Masuk Surga Sambil Tertawa

Masuk Surga Sambil Tertawa Abu Darda’, seorang sahabat Nabi mengatakan,  إِنَّ الذين أَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ بِذِكْرِ اللَّهِ    يَدْخُلُ أحدهم الجنة وهو يَضْحَكُ “Orang yang lidahnya basah dengan dzikir mengingat Allah akan masuk surga sambil tertawa.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad  730) Dzikir mengingat Allah adalah amal yang mengantarkan ke surga, bahkan masuk surga sambil tertawa gembira.  Lidah itu “basah” dengan dzikir manakala kita adalah orang yang rajin berdzikir.  “Tolak ukur rajin berdzikir adalah orang yang selalu membaca bacaan dzikir atau doa yang dituntunkan dari bangun tidur sampai tidur lagi.” Orang yang rajin berdzikir itu semestinya bibirnya kering karena berdzikir meski demikian bibir semisal ini hakekatnya adalah bibir yang basah. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Masuk Surga Sambil Tertawa

Masuk Surga Sambil Tertawa Abu Darda’, seorang sahabat Nabi mengatakan,  إِنَّ الذين أَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ بِذِكْرِ اللَّهِ    يَدْخُلُ أحدهم الجنة وهو يَضْحَكُ “Orang yang lidahnya basah dengan dzikir mengingat Allah akan masuk surga sambil tertawa.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad  730) Dzikir mengingat Allah adalah amal yang mengantarkan ke surga, bahkan masuk surga sambil tertawa gembira.  Lidah itu “basah” dengan dzikir manakala kita adalah orang yang rajin berdzikir.  “Tolak ukur rajin berdzikir adalah orang yang selalu membaca bacaan dzikir atau doa yang dituntunkan dari bangun tidur sampai tidur lagi.” Orang yang rajin berdzikir itu semestinya bibirnya kering karena berdzikir meski demikian bibir semisal ini hakekatnya adalah bibir yang basah. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Masuk Surga Sambil Tertawa Abu Darda’, seorang sahabat Nabi mengatakan,  إِنَّ الذين أَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ بِذِكْرِ اللَّهِ    يَدْخُلُ أحدهم الجنة وهو يَضْحَكُ “Orang yang lidahnya basah dengan dzikir mengingat Allah akan masuk surga sambil tertawa.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad  730) Dzikir mengingat Allah adalah amal yang mengantarkan ke surga, bahkan masuk surga sambil tertawa gembira.  Lidah itu “basah” dengan dzikir manakala kita adalah orang yang rajin berdzikir.  “Tolak ukur rajin berdzikir adalah orang yang selalu membaca bacaan dzikir atau doa yang dituntunkan dari bangun tidur sampai tidur lagi.” Orang yang rajin berdzikir itu semestinya bibirnya kering karena berdzikir meski demikian bibir semisal ini hakekatnya adalah bibir yang basah. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Masuk Surga Sambil Tertawa Abu Darda’, seorang sahabat Nabi mengatakan,  إِنَّ الذين أَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ بِذِكْرِ اللَّهِ    يَدْخُلُ أحدهم الجنة وهو يَضْحَكُ “Orang yang lidahnya basah dengan dzikir mengingat Allah akan masuk surga sambil tertawa.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad  730) Dzikir mengingat Allah adalah amal yang mengantarkan ke surga, bahkan masuk surga sambil tertawa gembira.  Lidah itu “basah” dengan dzikir manakala kita adalah orang yang rajin berdzikir.  “Tolak ukur rajin berdzikir adalah orang yang selalu membaca bacaan dzikir atau doa yang dituntunkan dari bangun tidur sampai tidur lagi.” Orang yang rajin berdzikir itu semestinya bibirnya kering karena berdzikir meski demikian bibir semisal ini hakekatnya adalah bibir yang basah. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Prev     Next