Saudaraku, Inilah Waktu Hijrahmu

Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.

Saudaraku, Inilah Waktu Hijrahmu

Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.
Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.


Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Hukum Menjual Obat yang Dicurigai akan Digunakan untuk Kejelekan

Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit

Hukum Menjual Obat yang Dicurigai akan Digunakan untuk Kejelekan

Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit
Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit


Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit

Tetap Bersandar kepada Allah setelah Divaksinasi

Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Tetap Bersandar kepada Allah setelah Divaksinasi

Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Syarhus Sunnah: Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Syarhus Sunnah: Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan
Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan


Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 
Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 


Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 

Ibnu Taimiyah dan Lisan Beliau yang Terjaga

Meski banyak orang, baik dari kalangan alim, qadhi, dan amir, yang memusuhi dan memprovokasi agar masyarakat membenci beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berusaha menahan lisan beliau untuk tidak mencela kehormatan mereka dan hanya membalas jika mereka adalah ahli bidah yang menyeru kepada bidah yang mereka lakukan.Oleh karena itu, dalam karya beliau tidak ditemukan umpatan kepada seorang pun kecuali ada alasan tepat yang menuntut hal itu. Misalnya, orang tersebut membuat kedustaan atas diri beliau atau agama. Dalam hal itu, beliau pasti akan melakukan bantahan dan menjelaskan kesalahannya. Di saat yang sama, ulama yang berseberangan pendapat dengan beliau, terkadang begitu gampang menggunakan lisan mereka untuk mencela kehormatan, menuduh niat, dan menyalahkan akidah beliau, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan dan menghalalkan darah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.Ibnu al-Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan,وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه. وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم. وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه“Beberapa sahabat senior beliau (Ibnu Taimiyah) kerap berucap, ‘Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya.’ Saya sama sekali tidak pernah melihat beliau mendoakan musuh agar tertimpa keburukan, bahkan beliau sering mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan.Baca Juga: Buah Manis Menjaga LisanSuatu hari, aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau, sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un). Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut.Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan, pasti aku akan membantu kalian’; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut” (Madaarij as-Salikin, 2: 345).Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah pribadi yang kerap memuji dan menyanjung ulama yang hidup sezaman dengan beliau. Beliau menggelari mereka dengan gelar yang sesuai dengan kedudukan mereka.Beliau Rahimahullah menyifati Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dengan sebutan seorang syekh di masa itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyifati Syekh Jamaluddin al-Maraghi Rahimahullah dengan sosok yang alim, arif, dan syekh di zaman itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Beliau menyebut Tajuddin al-Anbari Rahimahullah sebagai pakar fikih yang utama (Majmu’ al-Fatawa, 2: 246).Ibnu Taimiyah menyanjung Syekh Imaduddin ‘Abdurrahman ibn Abi ash-Shu’r al-Anshariy Rahimahullah sebagai sosok tokoh dan teladan kami (Majmu’ al-Fatawa, 2: 463, 18: 98).Beliau bahkan memuji dan menyanjung Syekh Nashr al-Manbaji, seorang yang terkenal memusuhi beliau. Ibnu Taimiyah Rahimahullah bahkan pernah menulis surat kepada Syekh Nashr al-Manbaji Rahimahullah,مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تَيْمِيَّة: إلَى الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ السَّالِكِ النَّاسِكِ أَبِي الْفَتْحِ نَصْرٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مَا فَتَحَ بِهِ عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ وَنَصَرَهُ عَلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فِي جَهْرِهِ وَإِخْفَائِهِ وَنَهَجَ بِهِ الطَّرِيقَةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ الْمُوَافِقَةَ لِشِرْعَتِهِ“Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada Syekh, al-Arif (yang bijak), al-Qudwah (teladan), as-Salik (penempuh jalan ruhani), an-Nasik (pegiat ibadah), Abu al-Fath Nashr, semoga Allah membukakan batiniah dan lahiriahnya, agar memperoleh berbagai karunia yang dianugerahkan ke hati para wali-Nya. Semoga Allah menolongnya dari setan yang berwujud manusia dan jin, baik di kala ramai maupun bersendiri. Dan semoga Allah menjadikan dirinya sebagai sosok yang menjelaskan kepada umat jalan beragama yang sesuai dengan ajaran Muhammad.”Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialIbnu Taimiyah Rahimahullah melanjutkan,فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَنْعَمَ عَلَى الشَّيْخِ وَأَنْعَمَ بِهِ نِعْمَةً بَاطِنَةً وَظَاهِرَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَجَعَلَ لَهُ عِنْدَ خَاصَّةِ الْمُسْلِمِينَ – الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا – مَنْزِلَةً عَلِيَّةً وَمَوَدَّةً إلَهِيَّةً؛ لِمَا مَنَحَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنْ حُسْنِ الْمَعْرِفَةِ وَالْقَصْدِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak hanya menganugerahkan berbagai kenikmatan batin dan lahir kepada Syekh Nashr, tetapi juga menjadikan beliau sosok yang menebarkan kenikmatan batin dan lahir bagi sesama dalam hal agama maupun dunia. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau kedudukan yang mulia dan kecintaan yang tulus di hati kaum muslimin yang istimewa, yaitu mereka yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Semua itu diperoleh karena makrifah dan niat tulus yang dikaruniakan Allah Ta’ala pada beliau.”Di akhir surat, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendoakan Syekh Nashr dengan ucapan beliau,وأنا أسأل الله العظيم أن يصلح أمر المسلمين عامتهم وخاصتهم ويهديهم إلى ما يقربهم وأن يجعل الشيخ من دعاة الخير الذين قال الله سبحانه فيهم : { ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون}“Saya memohon kepada Allah, Dzat yang Mahaagung, agar memperbaiki setiap urusan kaum muslimin, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mampu mengerjakan segala hal yang bisa mendekatkan hati dan menjadikan Syekh Nashr sebagai sosok penyeru kebaikan seperti yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’” (Majmu’ al-Fatawa, 2: 452-479).Itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Beliau bukanlah sosok yang menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Bukan pula sosok yang gemar mencela kaum muslimin, apalagi karena kesalahan mereka dalam berijtihad. Hati beliau tidak memuat kedengkian kepada musuh, bahkan beliau memuji dan menyanjung mereka. Hal menunjukkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin dan mengakui keunggulan mereka.Maka, sepatutnya bagi orang yang mengaku mencintai Ibnu Taimiyah untuk berhias dengan sifat dan akhlak beliau.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Afiat, Hadits Tentang Malam Lailatul Qadar, Cara Yahudi Menghancurkan Islam, Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, Niat Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

Ibnu Taimiyah dan Lisan Beliau yang Terjaga

Meski banyak orang, baik dari kalangan alim, qadhi, dan amir, yang memusuhi dan memprovokasi agar masyarakat membenci beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berusaha menahan lisan beliau untuk tidak mencela kehormatan mereka dan hanya membalas jika mereka adalah ahli bidah yang menyeru kepada bidah yang mereka lakukan.Oleh karena itu, dalam karya beliau tidak ditemukan umpatan kepada seorang pun kecuali ada alasan tepat yang menuntut hal itu. Misalnya, orang tersebut membuat kedustaan atas diri beliau atau agama. Dalam hal itu, beliau pasti akan melakukan bantahan dan menjelaskan kesalahannya. Di saat yang sama, ulama yang berseberangan pendapat dengan beliau, terkadang begitu gampang menggunakan lisan mereka untuk mencela kehormatan, menuduh niat, dan menyalahkan akidah beliau, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan dan menghalalkan darah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.Ibnu al-Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan,وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه. وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم. وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه“Beberapa sahabat senior beliau (Ibnu Taimiyah) kerap berucap, ‘Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya.’ Saya sama sekali tidak pernah melihat beliau mendoakan musuh agar tertimpa keburukan, bahkan beliau sering mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan.Baca Juga: Buah Manis Menjaga LisanSuatu hari, aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau, sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un). Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut.Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan, pasti aku akan membantu kalian’; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut” (Madaarij as-Salikin, 2: 345).Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah pribadi yang kerap memuji dan menyanjung ulama yang hidup sezaman dengan beliau. Beliau menggelari mereka dengan gelar yang sesuai dengan kedudukan mereka.Beliau Rahimahullah menyifati Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dengan sebutan seorang syekh di masa itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyifati Syekh Jamaluddin al-Maraghi Rahimahullah dengan sosok yang alim, arif, dan syekh di zaman itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Beliau menyebut Tajuddin al-Anbari Rahimahullah sebagai pakar fikih yang utama (Majmu’ al-Fatawa, 2: 246).Ibnu Taimiyah menyanjung Syekh Imaduddin ‘Abdurrahman ibn Abi ash-Shu’r al-Anshariy Rahimahullah sebagai sosok tokoh dan teladan kami (Majmu’ al-Fatawa, 2: 463, 18: 98).Beliau bahkan memuji dan menyanjung Syekh Nashr al-Manbaji, seorang yang terkenal memusuhi beliau. Ibnu Taimiyah Rahimahullah bahkan pernah menulis surat kepada Syekh Nashr al-Manbaji Rahimahullah,مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تَيْمِيَّة: إلَى الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ السَّالِكِ النَّاسِكِ أَبِي الْفَتْحِ نَصْرٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مَا فَتَحَ بِهِ عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ وَنَصَرَهُ عَلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فِي جَهْرِهِ وَإِخْفَائِهِ وَنَهَجَ بِهِ الطَّرِيقَةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ الْمُوَافِقَةَ لِشِرْعَتِهِ“Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada Syekh, al-Arif (yang bijak), al-Qudwah (teladan), as-Salik (penempuh jalan ruhani), an-Nasik (pegiat ibadah), Abu al-Fath Nashr, semoga Allah membukakan batiniah dan lahiriahnya, agar memperoleh berbagai karunia yang dianugerahkan ke hati para wali-Nya. Semoga Allah menolongnya dari setan yang berwujud manusia dan jin, baik di kala ramai maupun bersendiri. Dan semoga Allah menjadikan dirinya sebagai sosok yang menjelaskan kepada umat jalan beragama yang sesuai dengan ajaran Muhammad.”Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialIbnu Taimiyah Rahimahullah melanjutkan,فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَنْعَمَ عَلَى الشَّيْخِ وَأَنْعَمَ بِهِ نِعْمَةً بَاطِنَةً وَظَاهِرَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَجَعَلَ لَهُ عِنْدَ خَاصَّةِ الْمُسْلِمِينَ – الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا – مَنْزِلَةً عَلِيَّةً وَمَوَدَّةً إلَهِيَّةً؛ لِمَا مَنَحَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنْ حُسْنِ الْمَعْرِفَةِ وَالْقَصْدِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak hanya menganugerahkan berbagai kenikmatan batin dan lahir kepada Syekh Nashr, tetapi juga menjadikan beliau sosok yang menebarkan kenikmatan batin dan lahir bagi sesama dalam hal agama maupun dunia. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau kedudukan yang mulia dan kecintaan yang tulus di hati kaum muslimin yang istimewa, yaitu mereka yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Semua itu diperoleh karena makrifah dan niat tulus yang dikaruniakan Allah Ta’ala pada beliau.”Di akhir surat, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendoakan Syekh Nashr dengan ucapan beliau,وأنا أسأل الله العظيم أن يصلح أمر المسلمين عامتهم وخاصتهم ويهديهم إلى ما يقربهم وأن يجعل الشيخ من دعاة الخير الذين قال الله سبحانه فيهم : { ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون}“Saya memohon kepada Allah, Dzat yang Mahaagung, agar memperbaiki setiap urusan kaum muslimin, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mampu mengerjakan segala hal yang bisa mendekatkan hati dan menjadikan Syekh Nashr sebagai sosok penyeru kebaikan seperti yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’” (Majmu’ al-Fatawa, 2: 452-479).Itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Beliau bukanlah sosok yang menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Bukan pula sosok yang gemar mencela kaum muslimin, apalagi karena kesalahan mereka dalam berijtihad. Hati beliau tidak memuat kedengkian kepada musuh, bahkan beliau memuji dan menyanjung mereka. Hal menunjukkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin dan mengakui keunggulan mereka.Maka, sepatutnya bagi orang yang mengaku mencintai Ibnu Taimiyah untuk berhias dengan sifat dan akhlak beliau.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Afiat, Hadits Tentang Malam Lailatul Qadar, Cara Yahudi Menghancurkan Islam, Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, Niat Puasa Tiga Hari Setiap Bulan
Meski banyak orang, baik dari kalangan alim, qadhi, dan amir, yang memusuhi dan memprovokasi agar masyarakat membenci beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berusaha menahan lisan beliau untuk tidak mencela kehormatan mereka dan hanya membalas jika mereka adalah ahli bidah yang menyeru kepada bidah yang mereka lakukan.Oleh karena itu, dalam karya beliau tidak ditemukan umpatan kepada seorang pun kecuali ada alasan tepat yang menuntut hal itu. Misalnya, orang tersebut membuat kedustaan atas diri beliau atau agama. Dalam hal itu, beliau pasti akan melakukan bantahan dan menjelaskan kesalahannya. Di saat yang sama, ulama yang berseberangan pendapat dengan beliau, terkadang begitu gampang menggunakan lisan mereka untuk mencela kehormatan, menuduh niat, dan menyalahkan akidah beliau, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan dan menghalalkan darah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.Ibnu al-Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan,وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه. وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم. وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه“Beberapa sahabat senior beliau (Ibnu Taimiyah) kerap berucap, ‘Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya.’ Saya sama sekali tidak pernah melihat beliau mendoakan musuh agar tertimpa keburukan, bahkan beliau sering mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan.Baca Juga: Buah Manis Menjaga LisanSuatu hari, aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau, sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un). Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut.Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan, pasti aku akan membantu kalian’; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut” (Madaarij as-Salikin, 2: 345).Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah pribadi yang kerap memuji dan menyanjung ulama yang hidup sezaman dengan beliau. Beliau menggelari mereka dengan gelar yang sesuai dengan kedudukan mereka.Beliau Rahimahullah menyifati Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dengan sebutan seorang syekh di masa itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyifati Syekh Jamaluddin al-Maraghi Rahimahullah dengan sosok yang alim, arif, dan syekh di zaman itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Beliau menyebut Tajuddin al-Anbari Rahimahullah sebagai pakar fikih yang utama (Majmu’ al-Fatawa, 2: 246).Ibnu Taimiyah menyanjung Syekh Imaduddin ‘Abdurrahman ibn Abi ash-Shu’r al-Anshariy Rahimahullah sebagai sosok tokoh dan teladan kami (Majmu’ al-Fatawa, 2: 463, 18: 98).Beliau bahkan memuji dan menyanjung Syekh Nashr al-Manbaji, seorang yang terkenal memusuhi beliau. Ibnu Taimiyah Rahimahullah bahkan pernah menulis surat kepada Syekh Nashr al-Manbaji Rahimahullah,مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تَيْمِيَّة: إلَى الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ السَّالِكِ النَّاسِكِ أَبِي الْفَتْحِ نَصْرٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مَا فَتَحَ بِهِ عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ وَنَصَرَهُ عَلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فِي جَهْرِهِ وَإِخْفَائِهِ وَنَهَجَ بِهِ الطَّرِيقَةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ الْمُوَافِقَةَ لِشِرْعَتِهِ“Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada Syekh, al-Arif (yang bijak), al-Qudwah (teladan), as-Salik (penempuh jalan ruhani), an-Nasik (pegiat ibadah), Abu al-Fath Nashr, semoga Allah membukakan batiniah dan lahiriahnya, agar memperoleh berbagai karunia yang dianugerahkan ke hati para wali-Nya. Semoga Allah menolongnya dari setan yang berwujud manusia dan jin, baik di kala ramai maupun bersendiri. Dan semoga Allah menjadikan dirinya sebagai sosok yang menjelaskan kepada umat jalan beragama yang sesuai dengan ajaran Muhammad.”Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialIbnu Taimiyah Rahimahullah melanjutkan,فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَنْعَمَ عَلَى الشَّيْخِ وَأَنْعَمَ بِهِ نِعْمَةً بَاطِنَةً وَظَاهِرَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَجَعَلَ لَهُ عِنْدَ خَاصَّةِ الْمُسْلِمِينَ – الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا – مَنْزِلَةً عَلِيَّةً وَمَوَدَّةً إلَهِيَّةً؛ لِمَا مَنَحَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنْ حُسْنِ الْمَعْرِفَةِ وَالْقَصْدِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak hanya menganugerahkan berbagai kenikmatan batin dan lahir kepada Syekh Nashr, tetapi juga menjadikan beliau sosok yang menebarkan kenikmatan batin dan lahir bagi sesama dalam hal agama maupun dunia. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau kedudukan yang mulia dan kecintaan yang tulus di hati kaum muslimin yang istimewa, yaitu mereka yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Semua itu diperoleh karena makrifah dan niat tulus yang dikaruniakan Allah Ta’ala pada beliau.”Di akhir surat, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendoakan Syekh Nashr dengan ucapan beliau,وأنا أسأل الله العظيم أن يصلح أمر المسلمين عامتهم وخاصتهم ويهديهم إلى ما يقربهم وأن يجعل الشيخ من دعاة الخير الذين قال الله سبحانه فيهم : { ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون}“Saya memohon kepada Allah, Dzat yang Mahaagung, agar memperbaiki setiap urusan kaum muslimin, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mampu mengerjakan segala hal yang bisa mendekatkan hati dan menjadikan Syekh Nashr sebagai sosok penyeru kebaikan seperti yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’” (Majmu’ al-Fatawa, 2: 452-479).Itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Beliau bukanlah sosok yang menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Bukan pula sosok yang gemar mencela kaum muslimin, apalagi karena kesalahan mereka dalam berijtihad. Hati beliau tidak memuat kedengkian kepada musuh, bahkan beliau memuji dan menyanjung mereka. Hal menunjukkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin dan mengakui keunggulan mereka.Maka, sepatutnya bagi orang yang mengaku mencintai Ibnu Taimiyah untuk berhias dengan sifat dan akhlak beliau.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Afiat, Hadits Tentang Malam Lailatul Qadar, Cara Yahudi Menghancurkan Islam, Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, Niat Puasa Tiga Hari Setiap Bulan


Meski banyak orang, baik dari kalangan alim, qadhi, dan amir, yang memusuhi dan memprovokasi agar masyarakat membenci beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berusaha menahan lisan beliau untuk tidak mencela kehormatan mereka dan hanya membalas jika mereka adalah ahli bidah yang menyeru kepada bidah yang mereka lakukan.Oleh karena itu, dalam karya beliau tidak ditemukan umpatan kepada seorang pun kecuali ada alasan tepat yang menuntut hal itu. Misalnya, orang tersebut membuat kedustaan atas diri beliau atau agama. Dalam hal itu, beliau pasti akan melakukan bantahan dan menjelaskan kesalahannya. Di saat yang sama, ulama yang berseberangan pendapat dengan beliau, terkadang begitu gampang menggunakan lisan mereka untuk mencela kehormatan, menuduh niat, dan menyalahkan akidah beliau, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan dan menghalalkan darah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.Ibnu al-Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan,وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه. وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم. وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه“Beberapa sahabat senior beliau (Ibnu Taimiyah) kerap berucap, ‘Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya.’ Saya sama sekali tidak pernah melihat beliau mendoakan musuh agar tertimpa keburukan, bahkan beliau sering mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan.Baca Juga: Buah Manis Menjaga LisanSuatu hari, aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau, sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un). Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut.Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan, pasti aku akan membantu kalian’; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut” (Madaarij as-Salikin, 2: 345).Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah pribadi yang kerap memuji dan menyanjung ulama yang hidup sezaman dengan beliau. Beliau menggelari mereka dengan gelar yang sesuai dengan kedudukan mereka.Beliau Rahimahullah menyifati Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dengan sebutan seorang syekh di masa itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyifati Syekh Jamaluddin al-Maraghi Rahimahullah dengan sosok yang alim, arif, dan syekh di zaman itu (Majmu’ al-Fatawa, 2: 244).Beliau menyebut Tajuddin al-Anbari Rahimahullah sebagai pakar fikih yang utama (Majmu’ al-Fatawa, 2: 246).Ibnu Taimiyah menyanjung Syekh Imaduddin ‘Abdurrahman ibn Abi ash-Shu’r al-Anshariy Rahimahullah sebagai sosok tokoh dan teladan kami (Majmu’ al-Fatawa, 2: 463, 18: 98).Beliau bahkan memuji dan menyanjung Syekh Nashr al-Manbaji, seorang yang terkenal memusuhi beliau. Ibnu Taimiyah Rahimahullah bahkan pernah menulis surat kepada Syekh Nashr al-Manbaji Rahimahullah,مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تَيْمِيَّة: إلَى الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ السَّالِكِ النَّاسِكِ أَبِي الْفَتْحِ نَصْرٍ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مَا فَتَحَ بِهِ عَلَى قُلُوبِ أَوْلِيَائِهِ وَنَصَرَهُ عَلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ فِي جَهْرِهِ وَإِخْفَائِهِ وَنَهَجَ بِهِ الطَّرِيقَةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ الْمُوَافِقَةَ لِشِرْعَتِهِ“Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada Syekh, al-Arif (yang bijak), al-Qudwah (teladan), as-Salik (penempuh jalan ruhani), an-Nasik (pegiat ibadah), Abu al-Fath Nashr, semoga Allah membukakan batiniah dan lahiriahnya, agar memperoleh berbagai karunia yang dianugerahkan ke hati para wali-Nya. Semoga Allah menolongnya dari setan yang berwujud manusia dan jin, baik di kala ramai maupun bersendiri. Dan semoga Allah menjadikan dirinya sebagai sosok yang menjelaskan kepada umat jalan beragama yang sesuai dengan ajaran Muhammad.”Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialIbnu Taimiyah Rahimahullah melanjutkan,فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَنْعَمَ عَلَى الشَّيْخِ وَأَنْعَمَ بِهِ نِعْمَةً بَاطِنَةً وَظَاهِرَةً فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَجَعَلَ لَهُ عِنْدَ خَاصَّةِ الْمُسْلِمِينَ – الَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا – مَنْزِلَةً عَلِيَّةً وَمَوَدَّةً إلَهِيَّةً؛ لِمَا مَنَحَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ مِنْ حُسْنِ الْمَعْرِفَةِ وَالْقَصْدِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak hanya menganugerahkan berbagai kenikmatan batin dan lahir kepada Syekh Nashr, tetapi juga menjadikan beliau sosok yang menebarkan kenikmatan batin dan lahir bagi sesama dalam hal agama maupun dunia. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau kedudukan yang mulia dan kecintaan yang tulus di hati kaum muslimin yang istimewa, yaitu mereka yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Semua itu diperoleh karena makrifah dan niat tulus yang dikaruniakan Allah Ta’ala pada beliau.”Di akhir surat, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendoakan Syekh Nashr dengan ucapan beliau,وأنا أسأل الله العظيم أن يصلح أمر المسلمين عامتهم وخاصتهم ويهديهم إلى ما يقربهم وأن يجعل الشيخ من دعاة الخير الذين قال الله سبحانه فيهم : { ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون}“Saya memohon kepada Allah, Dzat yang Mahaagung, agar memperbaiki setiap urusan kaum muslimin, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mampu mengerjakan segala hal yang bisa mendekatkan hati dan menjadikan Syekh Nashr sebagai sosok penyeru kebaikan seperti yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, ‘Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’” (Majmu’ al-Fatawa, 2: 452-479).Itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Beliau bukanlah sosok yang menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Bukan pula sosok yang gemar mencela kaum muslimin, apalagi karena kesalahan mereka dalam berijtihad. Hati beliau tidak memuat kedengkian kepada musuh, bahkan beliau memuji dan menyanjung mereka. Hal menunjukkan keutamaan mereka kepada kaum muslimin dan mengakui keunggulan mereka.Maka, sepatutnya bagi orang yang mengaku mencintai Ibnu Taimiyah untuk berhias dengan sifat dan akhlak beliau.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Afiat, Hadits Tentang Malam Lailatul Qadar, Cara Yahudi Menghancurkan Islam, Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw, Niat Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’duHadis KeduaDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhentilah dari pikiran tersebut” (HR. Muslim).PenjelasanApabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab  oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.Allah Ta’ala berfirman.إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:*) Jika ada waswas,“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.Kesimpulan dari hadis keduaPertama, pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah was-was dari setan yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.Kedua, resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “berhenti” yang telah dijelaskan di atas.Baca Juga: Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya [Bersambung] Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’duHadis KeduaDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhentilah dari pikiran tersebut” (HR. Muslim).PenjelasanApabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab  oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.Allah Ta’ala berfirman.إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:*) Jika ada waswas,“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.Kesimpulan dari hadis keduaPertama, pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah was-was dari setan yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.Kedua, resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “berhenti” yang telah dijelaskan di atas.Baca Juga: Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya [Bersambung] Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’duHadis KeduaDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhentilah dari pikiran tersebut” (HR. Muslim).PenjelasanApabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab  oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.Allah Ta’ala berfirman.إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:*) Jika ada waswas,“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.Kesimpulan dari hadis keduaPertama, pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah was-was dari setan yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.Kedua, resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “berhenti” yang telah dijelaskan di atas.Baca Juga: Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya [Bersambung] Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’duHadis KeduaDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhentilah dari pikiran tersebut” (HR. Muslim).PenjelasanApabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab  oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.Allah Ta’ala berfirman.إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:*) Jika ada waswas,“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.Kesimpulan dari hadis keduaPertama, pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah was-was dari setan yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.Kedua, resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “berhenti” yang telah dijelaskan di atas.Baca Juga: Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya [Bersambung] Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat

Menjadi kewajiban kita untuk tidak berputus asa ketika berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Meskipun kita melihat terdapat berbagai jenis kerusakan di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun, kebatilan haruslah dilawan dengan kebenaran (al-haq). Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً“Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong” (QS. Al-Furqan [25]: 31).Orang-orang yang menyimpang akan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dan menyembunyikan kebenaran dari kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin pun buta, manakah kebenaran dan manakah kebatilan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menjanjikan,وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk (hidayah).”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk menyesatkan kalian.وَنَصِيراً“dan Penolong.”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk merintangi dari jalan kebenaran.Oleh karena itu, kita tidak boleh berputus asa. Kita hendaknya terus membesarkan jiwa dan berusaha, karena sesungguhnya akhir yang baik itu akan bersama dengan orang-orang yang bertakwa.Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi yang luar biasa dan juga harapan yang tinggi ketika berdakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh melihat ke depan, bahkan ketika beliau mendapatkan penolakan dan gangguan luar biasa dari kaumnya. Yaitu pada hari ketika beliau pulang dari Thaif, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi penduduk Thaif untuk menuju Allah Ta’ala, namun mereka menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah selengkapnya adalah sebagaimana hadis berikut ini.Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa Al-‘Aqabah. Saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku, namun dia tidak mau memenuhi keinginanku. Hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu Ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku. Ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku, lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu.” Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, “Wahai Muhammad.” Dia berkata, “Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini.”Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (HR. Bukhari no. 3231).Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bersabar dan berusaha, terus memupuk harapan, bahwa masyarakat kaum muslimin akan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 27 Jumadil Ula 1442/11 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, hal. 54-55.🔍 Muslim Or, Pengertian Hadits Ahad, Bacaan Untuk Dzikir, Sifat Sifat Orang Munafik, Keramik Kuburan

Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat

Menjadi kewajiban kita untuk tidak berputus asa ketika berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Meskipun kita melihat terdapat berbagai jenis kerusakan di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun, kebatilan haruslah dilawan dengan kebenaran (al-haq). Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً“Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong” (QS. Al-Furqan [25]: 31).Orang-orang yang menyimpang akan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dan menyembunyikan kebenaran dari kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin pun buta, manakah kebenaran dan manakah kebatilan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menjanjikan,وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk (hidayah).”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk menyesatkan kalian.وَنَصِيراً“dan Penolong.”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk merintangi dari jalan kebenaran.Oleh karena itu, kita tidak boleh berputus asa. Kita hendaknya terus membesarkan jiwa dan berusaha, karena sesungguhnya akhir yang baik itu akan bersama dengan orang-orang yang bertakwa.Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi yang luar biasa dan juga harapan yang tinggi ketika berdakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh melihat ke depan, bahkan ketika beliau mendapatkan penolakan dan gangguan luar biasa dari kaumnya. Yaitu pada hari ketika beliau pulang dari Thaif, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi penduduk Thaif untuk menuju Allah Ta’ala, namun mereka menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah selengkapnya adalah sebagaimana hadis berikut ini.Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa Al-‘Aqabah. Saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku, namun dia tidak mau memenuhi keinginanku. Hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu Ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku. Ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku, lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu.” Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, “Wahai Muhammad.” Dia berkata, “Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini.”Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (HR. Bukhari no. 3231).Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bersabar dan berusaha, terus memupuk harapan, bahwa masyarakat kaum muslimin akan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 27 Jumadil Ula 1442/11 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, hal. 54-55.🔍 Muslim Or, Pengertian Hadits Ahad, Bacaan Untuk Dzikir, Sifat Sifat Orang Munafik, Keramik Kuburan
Menjadi kewajiban kita untuk tidak berputus asa ketika berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Meskipun kita melihat terdapat berbagai jenis kerusakan di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun, kebatilan haruslah dilawan dengan kebenaran (al-haq). Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً“Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong” (QS. Al-Furqan [25]: 31).Orang-orang yang menyimpang akan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dan menyembunyikan kebenaran dari kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin pun buta, manakah kebenaran dan manakah kebatilan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menjanjikan,وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk (hidayah).”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk menyesatkan kalian.وَنَصِيراً“dan Penolong.”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk merintangi dari jalan kebenaran.Oleh karena itu, kita tidak boleh berputus asa. Kita hendaknya terus membesarkan jiwa dan berusaha, karena sesungguhnya akhir yang baik itu akan bersama dengan orang-orang yang bertakwa.Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi yang luar biasa dan juga harapan yang tinggi ketika berdakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh melihat ke depan, bahkan ketika beliau mendapatkan penolakan dan gangguan luar biasa dari kaumnya. Yaitu pada hari ketika beliau pulang dari Thaif, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi penduduk Thaif untuk menuju Allah Ta’ala, namun mereka menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah selengkapnya adalah sebagaimana hadis berikut ini.Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa Al-‘Aqabah. Saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku, namun dia tidak mau memenuhi keinginanku. Hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu Ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku. Ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku, lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu.” Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, “Wahai Muhammad.” Dia berkata, “Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini.”Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (HR. Bukhari no. 3231).Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bersabar dan berusaha, terus memupuk harapan, bahwa masyarakat kaum muslimin akan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 27 Jumadil Ula 1442/11 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, hal. 54-55.🔍 Muslim Or, Pengertian Hadits Ahad, Bacaan Untuk Dzikir, Sifat Sifat Orang Munafik, Keramik Kuburan


Menjadi kewajiban kita untuk tidak berputus asa ketika berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Meskipun kita melihat terdapat berbagai jenis kerusakan di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun, kebatilan haruslah dilawan dengan kebenaran (al-haq). Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً“Dan seperti itulah, telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong” (QS. Al-Furqan [25]: 31).Orang-orang yang menyimpang akan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia dan menyembunyikan kebenaran dari kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin pun buta, manakah kebenaran dan manakah kebatilan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menjanjikan,وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk (hidayah).”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk menyesatkan kalian.وَنَصِيراً“dan Penolong.”Yaitu, ketika musuh-musuh para Nabi berusaha untuk merintangi dari jalan kebenaran.Oleh karena itu, kita tidak boleh berputus asa. Kita hendaknya terus membesarkan jiwa dan berusaha, karena sesungguhnya akhir yang baik itu akan bersama dengan orang-orang yang bertakwa.Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi yang luar biasa dan juga harapan yang tinggi ketika berdakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh melihat ke depan, bahkan ketika beliau mendapatkan penolakan dan gangguan luar biasa dari kaumnya. Yaitu pada hari ketika beliau pulang dari Thaif, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi penduduk Thaif untuk menuju Allah Ta’ala, namun mereka menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah selengkapnya adalah sebagaimana hadis berikut ini.Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa Al-‘Aqabah. Saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal agar membantuku, namun dia tidak mau memenuhi keinginanku. Hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu Ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku. Ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku, lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu.” Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, “Wahai Muhammad.” Dia berkata, “Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini.”Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (HR. Bukhari no. 3231).Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bersabar dan berusaha, terus memupuk harapan, bahwa masyarakat kaum muslimin akan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Wallahu Ta’ala a’alam.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 27 Jumadil Ula 1442/11 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, hal. 54-55.🔍 Muslim Or, Pengertian Hadits Ahad, Bacaan Untuk Dzikir, Sifat Sifat Orang Munafik, Keramik Kuburan

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 11): Menjaga Marwah Ilmu

Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabBismillahOrang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’” (QS. Al-Maidah: 4).Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah Ta’ala saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi mengutip nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah,من لم يصن العلم لم يصنه العلم“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.Wahb bin Munabbih Rahimahullah mengatakan,لا يكون البطال من الحكماء“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”Baca Juga:Adab Murid terhadap Guru: Mendengarkan Penjelasan Beliau dengan AntusiasBagaimana cara menjaga marwah ilmu?Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:Pertama, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah.Kedua, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,التخلية قبل التحلية“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.Dalil perintah menjaga marwah ilmuImam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (muru-ah) dalam Alquran?”“Ada …” jawab Imam Sufyan Rahimahullah, Ada di firman Allah Ta’ala,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”  (QS. Al-A’raf: 199).ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 33).Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadiMencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.Baca Juga:60 Adab Dalam Menuntut Ilmu [Bersambung]Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 11): Menjaga Marwah Ilmu

Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabBismillahOrang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’” (QS. Al-Maidah: 4).Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah Ta’ala saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi mengutip nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah,من لم يصن العلم لم يصنه العلم“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.Wahb bin Munabbih Rahimahullah mengatakan,لا يكون البطال من الحكماء“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”Baca Juga:Adab Murid terhadap Guru: Mendengarkan Penjelasan Beliau dengan AntusiasBagaimana cara menjaga marwah ilmu?Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:Pertama, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah.Kedua, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,التخلية قبل التحلية“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.Dalil perintah menjaga marwah ilmuImam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (muru-ah) dalam Alquran?”“Ada …” jawab Imam Sufyan Rahimahullah, Ada di firman Allah Ta’ala,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”  (QS. Al-A’raf: 199).ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 33).Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadiMencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.Baca Juga:60 Adab Dalam Menuntut Ilmu [Bersambung]Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri
Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabBismillahOrang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’” (QS. Al-Maidah: 4).Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah Ta’ala saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi mengutip nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah,من لم يصن العلم لم يصنه العلم“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.Wahb bin Munabbih Rahimahullah mengatakan,لا يكون البطال من الحكماء“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”Baca Juga:Adab Murid terhadap Guru: Mendengarkan Penjelasan Beliau dengan AntusiasBagaimana cara menjaga marwah ilmu?Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:Pertama, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah.Kedua, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,التخلية قبل التحلية“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.Dalil perintah menjaga marwah ilmuImam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (muru-ah) dalam Alquran?”“Ada …” jawab Imam Sufyan Rahimahullah, Ada di firman Allah Ta’ala,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”  (QS. Al-A’raf: 199).ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 33).Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadiMencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.Baca Juga:60 Adab Dalam Menuntut Ilmu [Bersambung]Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri


Baca pembahasan sebelumnya Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa BeradabBismillahOrang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’” (QS. Al-Maidah: 4).Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah Ta’ala saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi mengutip nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah,من لم يصن العلم لم يصنه العلم“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.Wahb bin Munabbih Rahimahullah mengatakan,لا يكون البطال من الحكماء“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”Baca Juga:Adab Murid terhadap Guru: Mendengarkan Penjelasan Beliau dengan AntusiasBagaimana cara menjaga marwah ilmu?Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:Pertama, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah.Kedua, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,التخلية قبل التحلية“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.Dalil perintah menjaga marwah ilmuImam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (muru-ah) dalam Alquran?”“Ada …” jawab Imam Sufyan Rahimahullah, Ada di firman Allah Ta’ala,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”  (QS. Al-A’raf: 199).ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 33).Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadiMencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.Baca Juga:60 Adab Dalam Menuntut Ilmu [Bersambung]Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id 🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri

Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam Shalat (Bag. 1)

Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.Pengertian khusyukKhusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.Baca Juga: Kiat-Kiat Meraih salat Khusyuk (Bag. 1)Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftahKetika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.“Nama-Mu penuh keberkahan”; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.“Maha tinggi Engkau”; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.Baca Juga: Hadirkan Perasaan Ini Ketika Sholat, Membantu Anda Lebih KhusyukRenungan ketika membaca doa taawuz Ketika seorang hamba mengucapkan,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.Renungan ketika membaca surat Al-FatihahKetika seorang hamba mengucapkan,الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,حَمِدَنِي عَبْدِي“Hamba-Ku memujiku.”Ketika seorang hamba mengucapkan,الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)Ketika seorang hamba mengucapkan,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,مَجَّدَنِي عَبْدِيAllah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,عَبْدِي“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali (HR. Muslim no. 395).Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya” (QS. Ar-Ruum [30]: 26).Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman [55]: 29).Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.Lalu dia pun membaca,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan” (QS. Al-Fatihah [1]: 4).Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-istiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.Kemudian sampailah dia dengan ayat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’ala “Ar-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.Kemudian seseorang mengucapkan,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Jumadil akhir 1442/ 17 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhDArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri

Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam Shalat (Bag. 1)

Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.Pengertian khusyukKhusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.Baca Juga: Kiat-Kiat Meraih salat Khusyuk (Bag. 1)Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftahKetika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.“Nama-Mu penuh keberkahan”; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.“Maha tinggi Engkau”; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.Baca Juga: Hadirkan Perasaan Ini Ketika Sholat, Membantu Anda Lebih KhusyukRenungan ketika membaca doa taawuz Ketika seorang hamba mengucapkan,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.Renungan ketika membaca surat Al-FatihahKetika seorang hamba mengucapkan,الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,حَمِدَنِي عَبْدِي“Hamba-Ku memujiku.”Ketika seorang hamba mengucapkan,الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)Ketika seorang hamba mengucapkan,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,مَجَّدَنِي عَبْدِيAllah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,عَبْدِي“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali (HR. Muslim no. 395).Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya” (QS. Ar-Ruum [30]: 26).Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman [55]: 29).Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.Lalu dia pun membaca,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan” (QS. Al-Fatihah [1]: 4).Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-istiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.Kemudian sampailah dia dengan ayat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’ala “Ar-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.Kemudian seseorang mengucapkan,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Jumadil akhir 1442/ 17 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhDArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri
Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.Pengertian khusyukKhusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.Baca Juga: Kiat-Kiat Meraih salat Khusyuk (Bag. 1)Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftahKetika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.“Nama-Mu penuh keberkahan”; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.“Maha tinggi Engkau”; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.Baca Juga: Hadirkan Perasaan Ini Ketika Sholat, Membantu Anda Lebih KhusyukRenungan ketika membaca doa taawuz Ketika seorang hamba mengucapkan,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.Renungan ketika membaca surat Al-FatihahKetika seorang hamba mengucapkan,الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,حَمِدَنِي عَبْدِي“Hamba-Ku memujiku.”Ketika seorang hamba mengucapkan,الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)Ketika seorang hamba mengucapkan,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,مَجَّدَنِي عَبْدِيAllah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,عَبْدِي“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali (HR. Muslim no. 395).Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya” (QS. Ar-Ruum [30]: 26).Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman [55]: 29).Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.Lalu dia pun membaca,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan” (QS. Al-Fatihah [1]: 4).Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-istiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.Kemudian sampailah dia dengan ayat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’ala “Ar-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.Kemudian seseorang mengucapkan,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Jumadil akhir 1442/ 17 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhDArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri


Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyuk dalam salat.Pengertian khusyukKhusyuk adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (zikir dan doa) dan juga gerakan dalam salat, sejak awal hingga akhir salat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan salat. Inilah ruh dan inti salat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah salat. Inilah salat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Salat yang tidak diiringi dengan khusyuk dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika salat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyuk dalam salat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Alquran dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan salat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.Baca Juga: Kiat-Kiat Meraih salat Khusyuk (Bag. 1)Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftahKetika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.“Nama-Mu penuh keberkahan”; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.“Maha tinggi Engkau”; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.Baca Juga: Hadirkan Perasaan Ini Ketika Sholat, Membantu Anda Lebih KhusyukRenungan ketika membaca doa taawuz Ketika seorang hamba mengucapkan,أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.Renungan ketika membaca surat Al-FatihahKetika seorang hamba mengucapkan,الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,حَمِدَنِي عَبْدِي“Hamba-Ku memujiku.”Ketika seorang hamba mengucapkan,الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي“Hamba-Ku menyanjungku.” (Sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)Ketika seorang hamba mengucapkan,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,مَجَّدَنِي عَبْدِيAllah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,عَبْدِي“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali (HR. Muslim no. 395).Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadis di atas.Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya” (QS. Ar-Ruum [30]: 26).Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.Allah Ta’ala berfirman,يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman [55]: 29).Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (salat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.Lalu dia pun membaca,مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ“Yang menguasai hari pembalasan” (QS. Al-Fatihah [1]: 4).Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang ber-istiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.Kemudian sampailah dia dengan ayat,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’ala “Ar-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.Kemudian seseorang mengucapkan,اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan salat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan salat, dan juga bentuk mengikuti sunah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syiar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 4 Jumadil akhir 1442/ 17 Januari 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhDArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 89-94, karya Syekh  ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Manhaj, Pakaian Menurut Syariat Islam, Agar Dicintai Allah, Pajak Dalam Perspektif Islam, Cara Memilih Calon Istri

Dianjurkan Sedekah Subuh?

Dianjurkan Sedekah Subuh? Sekarang sedang marak gerakan sedekah subuh. Bentuknya adalah seseorang menyerahkan sedekah saat hendak shalat subuh. Bisa tepat di waktu adzan memasukkan uang ke kotak infak di rumah atau saat ke masjid ketika shalat subuh. Apakah ini dibenarkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bersedekah termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai burhan (bukti). Karena sedekah merupakan bukti iman seseorang terhadap adanya hari kiamat. Dalam hadis dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ Shalat adalah cahaya, sedekah itu burhan, dan sabar itu sinar. (HR. Muslim 556 & Ahmad 22902) Dalil-dalil tentang sedekah yang kami ketahui, berisi motivasi untuk bersedekah, dan itu bersifat umum, artinya tidak menyebutkan waktu khusus untuk bersedekah. Bagaimana dengan sedekah subuh? Kami tidak menjumpai satupun dalil dalam al-Quran maupun hadis yang menyebutkan istilah ‘sedekah subuh’. Lalu apakah ada anjuran untuk bersedekah di waktu subuh? Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk bersegera dalam bersedekah. Hadisnya menyatakan, بَاكِرُوا بِالصَّدَقَةِ، فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ “Segeralah untuk bersedekah sepagi mungkin, karena bencana tidak bisa melangkahi sedekah.” Hadis ini secara makna menunjukkan anjuran untuk mensegerakan sedekah. Bisa juga dipahami sebagai anjuran untuk bersedekah sepagi mungkin. Hanya saja, hadis ini statusnya sangat lemah. Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath dan statusnya dhaif jiddan (lemah sekali). Ada perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i dan dia pemalsu hadis. (al-Maudhu’at, 2/153). Kemudian ada hadis shahih yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا Setiap datang waktu pagi yang dialami para hamba, ada 2 malaikat yang turun, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Sementara yang satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir.” (HR. Bukhari 1442 & Muslim 2383). Hanya saja hadis ini tidak menunjukkan anjuran untuk mengkhususkan sedekah di waktu subuh. Hadis ini hanya menyebutkan bahwa ada 2 malaikat yang berdoa di waktu pagi, bagi orang yang bersedekah di hari itu. Sehingga tidak hanya berlaku bagi orang yang sedekah di waktu subuh. Dan terdapat riwayat yang lain bahwa ada 2 malaikat yang berdoa dengan kalimat yang sama saat matahari terbenam. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَا آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا Tidaklah matahari terbenam kecuali diutus 2 malaikat yang mengiringinya. Malaikat itu berdoa, didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq. Dan berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir harta.” (HR. Ahmad 21721 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Kesimpulannya, anjuran untuk bersedekah berlaku umum, tidak hanya di waktu subuh. Sehingga kita bisa bersedekah kapanpun, di manapun. Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Ramadhan Sesuai Sunnah, Arti Mimpi Sholat Jumat, Hakikat Jodoh Menurut Islam, Puasa Syawal Rumaysho, Tidak Betah Tinggal Dirumah Mertua, Doa Sebelum Makan Sesuai Sunnah Visited 714 times, 2 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid

Dianjurkan Sedekah Subuh?

Dianjurkan Sedekah Subuh? Sekarang sedang marak gerakan sedekah subuh. Bentuknya adalah seseorang menyerahkan sedekah saat hendak shalat subuh. Bisa tepat di waktu adzan memasukkan uang ke kotak infak di rumah atau saat ke masjid ketika shalat subuh. Apakah ini dibenarkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bersedekah termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai burhan (bukti). Karena sedekah merupakan bukti iman seseorang terhadap adanya hari kiamat. Dalam hadis dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ Shalat adalah cahaya, sedekah itu burhan, dan sabar itu sinar. (HR. Muslim 556 & Ahmad 22902) Dalil-dalil tentang sedekah yang kami ketahui, berisi motivasi untuk bersedekah, dan itu bersifat umum, artinya tidak menyebutkan waktu khusus untuk bersedekah. Bagaimana dengan sedekah subuh? Kami tidak menjumpai satupun dalil dalam al-Quran maupun hadis yang menyebutkan istilah ‘sedekah subuh’. Lalu apakah ada anjuran untuk bersedekah di waktu subuh? Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk bersegera dalam bersedekah. Hadisnya menyatakan, بَاكِرُوا بِالصَّدَقَةِ، فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ “Segeralah untuk bersedekah sepagi mungkin, karena bencana tidak bisa melangkahi sedekah.” Hadis ini secara makna menunjukkan anjuran untuk mensegerakan sedekah. Bisa juga dipahami sebagai anjuran untuk bersedekah sepagi mungkin. Hanya saja, hadis ini statusnya sangat lemah. Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath dan statusnya dhaif jiddan (lemah sekali). Ada perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i dan dia pemalsu hadis. (al-Maudhu’at, 2/153). Kemudian ada hadis shahih yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا Setiap datang waktu pagi yang dialami para hamba, ada 2 malaikat yang turun, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Sementara yang satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir.” (HR. Bukhari 1442 & Muslim 2383). Hanya saja hadis ini tidak menunjukkan anjuran untuk mengkhususkan sedekah di waktu subuh. Hadis ini hanya menyebutkan bahwa ada 2 malaikat yang berdoa di waktu pagi, bagi orang yang bersedekah di hari itu. Sehingga tidak hanya berlaku bagi orang yang sedekah di waktu subuh. Dan terdapat riwayat yang lain bahwa ada 2 malaikat yang berdoa dengan kalimat yang sama saat matahari terbenam. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَا آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا Tidaklah matahari terbenam kecuali diutus 2 malaikat yang mengiringinya. Malaikat itu berdoa, didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq. Dan berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir harta.” (HR. Ahmad 21721 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Kesimpulannya, anjuran untuk bersedekah berlaku umum, tidak hanya di waktu subuh. Sehingga kita bisa bersedekah kapanpun, di manapun. Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Ramadhan Sesuai Sunnah, Arti Mimpi Sholat Jumat, Hakikat Jodoh Menurut Islam, Puasa Syawal Rumaysho, Tidak Betah Tinggal Dirumah Mertua, Doa Sebelum Makan Sesuai Sunnah Visited 714 times, 2 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid
Dianjurkan Sedekah Subuh? Sekarang sedang marak gerakan sedekah subuh. Bentuknya adalah seseorang menyerahkan sedekah saat hendak shalat subuh. Bisa tepat di waktu adzan memasukkan uang ke kotak infak di rumah atau saat ke masjid ketika shalat subuh. Apakah ini dibenarkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bersedekah termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai burhan (bukti). Karena sedekah merupakan bukti iman seseorang terhadap adanya hari kiamat. Dalam hadis dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ Shalat adalah cahaya, sedekah itu burhan, dan sabar itu sinar. (HR. Muslim 556 & Ahmad 22902) Dalil-dalil tentang sedekah yang kami ketahui, berisi motivasi untuk bersedekah, dan itu bersifat umum, artinya tidak menyebutkan waktu khusus untuk bersedekah. Bagaimana dengan sedekah subuh? Kami tidak menjumpai satupun dalil dalam al-Quran maupun hadis yang menyebutkan istilah ‘sedekah subuh’. Lalu apakah ada anjuran untuk bersedekah di waktu subuh? Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk bersegera dalam bersedekah. Hadisnya menyatakan, بَاكِرُوا بِالصَّدَقَةِ، فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ “Segeralah untuk bersedekah sepagi mungkin, karena bencana tidak bisa melangkahi sedekah.” Hadis ini secara makna menunjukkan anjuran untuk mensegerakan sedekah. Bisa juga dipahami sebagai anjuran untuk bersedekah sepagi mungkin. Hanya saja, hadis ini statusnya sangat lemah. Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath dan statusnya dhaif jiddan (lemah sekali). Ada perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i dan dia pemalsu hadis. (al-Maudhu’at, 2/153). Kemudian ada hadis shahih yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا Setiap datang waktu pagi yang dialami para hamba, ada 2 malaikat yang turun, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Sementara yang satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir.” (HR. Bukhari 1442 & Muslim 2383). Hanya saja hadis ini tidak menunjukkan anjuran untuk mengkhususkan sedekah di waktu subuh. Hadis ini hanya menyebutkan bahwa ada 2 malaikat yang berdoa di waktu pagi, bagi orang yang bersedekah di hari itu. Sehingga tidak hanya berlaku bagi orang yang sedekah di waktu subuh. Dan terdapat riwayat yang lain bahwa ada 2 malaikat yang berdoa dengan kalimat yang sama saat matahari terbenam. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَا آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا Tidaklah matahari terbenam kecuali diutus 2 malaikat yang mengiringinya. Malaikat itu berdoa, didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq. Dan berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir harta.” (HR. Ahmad 21721 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Kesimpulannya, anjuran untuk bersedekah berlaku umum, tidak hanya di waktu subuh. Sehingga kita bisa bersedekah kapanpun, di manapun. Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Ramadhan Sesuai Sunnah, Arti Mimpi Sholat Jumat, Hakikat Jodoh Menurut Islam, Puasa Syawal Rumaysho, Tidak Betah Tinggal Dirumah Mertua, Doa Sebelum Makan Sesuai Sunnah Visited 714 times, 2 visit(s) today Post Views: 351 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1036837264&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Dianjurkan Sedekah Subuh? Sekarang sedang marak gerakan sedekah subuh. Bentuknya adalah seseorang menyerahkan sedekah saat hendak shalat subuh. Bisa tepat di waktu adzan memasukkan uang ke kotak infak di rumah atau saat ke masjid ketika shalat subuh. Apakah ini dibenarkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bersedekah termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai burhan (bukti). Karena sedekah merupakan bukti iman seseorang terhadap adanya hari kiamat. Dalam hadis dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ Shalat adalah cahaya, sedekah itu burhan, dan sabar itu sinar. (HR. Muslim 556 & Ahmad 22902) Dalil-dalil tentang sedekah yang kami ketahui, berisi motivasi untuk bersedekah, dan itu bersifat umum, artinya tidak menyebutkan waktu khusus untuk bersedekah. Bagaimana dengan sedekah subuh? Kami tidak menjumpai satupun dalil dalam al-Quran maupun hadis yang menyebutkan istilah ‘sedekah subuh’. Lalu apakah ada anjuran untuk bersedekah di waktu subuh? Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk bersegera dalam bersedekah. Hadisnya menyatakan, بَاكِرُوا بِالصَّدَقَةِ، فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ “Segeralah untuk bersedekah sepagi mungkin, karena bencana tidak bisa melangkahi sedekah.” Hadis ini secara makna menunjukkan anjuran untuk mensegerakan sedekah. Bisa juga dipahami sebagai anjuran untuk bersedekah sepagi mungkin. Hanya saja, hadis ini statusnya sangat lemah. Hadis ini diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath dan statusnya dhaif jiddan (lemah sekali). Ada perawi yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i dan dia pemalsu hadis. (al-Maudhu’at, 2/153). Kemudian ada hadis shahih yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا Setiap datang waktu pagi yang dialami para hamba, ada 2 malaikat yang turun, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Sementara yang satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir.” (HR. Bukhari 1442 & Muslim 2383). Hanya saja hadis ini tidak menunjukkan anjuran untuk mengkhususkan sedekah di waktu subuh. Hadis ini hanya menyebutkan bahwa ada 2 malaikat yang berdoa di waktu pagi, bagi orang yang bersedekah di hari itu. Sehingga tidak hanya berlaku bagi orang yang sedekah di waktu subuh. Dan terdapat riwayat yang lain bahwa ada 2 malaikat yang berdoa dengan kalimat yang sama saat matahari terbenam. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَا آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا Tidaklah matahari terbenam kecuali diutus 2 malaikat yang mengiringinya. Malaikat itu berdoa, didengar oleh seluruh penduduk bumi kecuali jin dan manusia: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq. Dan berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir harta.” (HR. Ahmad 21721 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Kesimpulannya, anjuran untuk bersedekah berlaku umum, tidak hanya di waktu subuh. Sehingga kita bisa bersedekah kapanpun, di manapun. Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menyambut Ramadhan Sesuai Sunnah, Arti Mimpi Sholat Jumat, Hakikat Jodoh Menurut Islam, Puasa Syawal Rumaysho, Tidak Betah Tinggal Dirumah Mertua, Doa Sebelum Makan Sesuai Sunnah Visited 714 times, 2 visit(s) today Post Views: 351 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad

Inilah pekerjaan terbaik menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa itu? Daftar Isi tutup 1. Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ 2. Faedah hadits 3. Pekerjaan dengan tangan sendiri 4. Jual beli yang mabrur 5. Pekerjaan yang paling diberkahi Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ. Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim) [HR. Al-Bazzar, 9:183; Al-Hakim, 2:10; Ahmad, 4:141. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya].   Faedah hadits Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).   Pekerjaan dengan tangan sendiri Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan, مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam. Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9. Baca Juga: Kerja Dong, Jangan Jadi Pengangguran Jual beli yang mabrur Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhah Al-‘Allam (6:9) menjelaskan bahwa jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, terlepas dari jual beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan.   Pekerjaan yang paling diberkahi Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al-Mawardi rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafii berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, bercocok tanam itu lebih baik. Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya yaitu bercocok tanam termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani itu tinggi, dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung. Menurut penulis Tawdhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik adalah disesuaikan pada keadaan setiap orang. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan, tidak ada penipuan, serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja. Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 3:101. Kita diperintahkan untuk terus semangat dalam hal yang manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, no. 2664) Sebenarnya semua pekerjaan sangat dibutuhkan, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya.” (HR. Bukhari, no. 2446 dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa) Semoga kita mendapatkan pekerjaan terbaik yang penuh berkah. Baca Juga: Mencari Pekerjaan yang Halal 6 Tips Mencari Kerja Referensi Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Cetakan Tahun 1425 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Albassam. Penerbit Darul Atsar.   — Diselesaikan pada malam Sabtu, 17 Jumadal Akhirah 1442 H, 29 Januari 2021 di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar fikih muamalat bulughul maram kitabul buyu halal haram harta haram mengemis pekerjaan pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik petani

Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad

Inilah pekerjaan terbaik menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa itu? Daftar Isi tutup 1. Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ 2. Faedah hadits 3. Pekerjaan dengan tangan sendiri 4. Jual beli yang mabrur 5. Pekerjaan yang paling diberkahi Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ. Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim) [HR. Al-Bazzar, 9:183; Al-Hakim, 2:10; Ahmad, 4:141. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya].   Faedah hadits Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).   Pekerjaan dengan tangan sendiri Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan, مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam. Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9. Baca Juga: Kerja Dong, Jangan Jadi Pengangguran Jual beli yang mabrur Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhah Al-‘Allam (6:9) menjelaskan bahwa jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, terlepas dari jual beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan.   Pekerjaan yang paling diberkahi Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al-Mawardi rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafii berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, bercocok tanam itu lebih baik. Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya yaitu bercocok tanam termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani itu tinggi, dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung. Menurut penulis Tawdhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik adalah disesuaikan pada keadaan setiap orang. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan, tidak ada penipuan, serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja. Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 3:101. Kita diperintahkan untuk terus semangat dalam hal yang manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, no. 2664) Sebenarnya semua pekerjaan sangat dibutuhkan, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya.” (HR. Bukhari, no. 2446 dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa) Semoga kita mendapatkan pekerjaan terbaik yang penuh berkah. Baca Juga: Mencari Pekerjaan yang Halal 6 Tips Mencari Kerja Referensi Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Cetakan Tahun 1425 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Albassam. Penerbit Darul Atsar.   — Diselesaikan pada malam Sabtu, 17 Jumadal Akhirah 1442 H, 29 Januari 2021 di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar fikih muamalat bulughul maram kitabul buyu halal haram harta haram mengemis pekerjaan pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik petani
Inilah pekerjaan terbaik menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa itu? Daftar Isi tutup 1. Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ 2. Faedah hadits 3. Pekerjaan dengan tangan sendiri 4. Jual beli yang mabrur 5. Pekerjaan yang paling diberkahi Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ. Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim) [HR. Al-Bazzar, 9:183; Al-Hakim, 2:10; Ahmad, 4:141. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya].   Faedah hadits Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).   Pekerjaan dengan tangan sendiri Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan, مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam. Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9. Baca Juga: Kerja Dong, Jangan Jadi Pengangguran Jual beli yang mabrur Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhah Al-‘Allam (6:9) menjelaskan bahwa jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, terlepas dari jual beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan.   Pekerjaan yang paling diberkahi Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al-Mawardi rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafii berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, bercocok tanam itu lebih baik. Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya yaitu bercocok tanam termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani itu tinggi, dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung. Menurut penulis Tawdhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik adalah disesuaikan pada keadaan setiap orang. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan, tidak ada penipuan, serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja. Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 3:101. Kita diperintahkan untuk terus semangat dalam hal yang manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, no. 2664) Sebenarnya semua pekerjaan sangat dibutuhkan, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya.” (HR. Bukhari, no. 2446 dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa) Semoga kita mendapatkan pekerjaan terbaik yang penuh berkah. Baca Juga: Mencari Pekerjaan yang Halal 6 Tips Mencari Kerja Referensi Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Cetakan Tahun 1425 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Albassam. Penerbit Darul Atsar.   — Diselesaikan pada malam Sabtu, 17 Jumadal Akhirah 1442 H, 29 Januari 2021 di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar fikih muamalat bulughul maram kitabul buyu halal haram harta haram mengemis pekerjaan pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik petani


Inilah pekerjaan terbaik menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa itu? Daftar Isi tutup 1. Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ 2. Faedah hadits 3. Pekerjaan dengan tangan sendiri 4. Jual beli yang mabrur 5. Pekerjaan yang paling diberkahi Hadits #782 dari Bulughul Maram Kitab Al-Buyu’ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ. Dari Rifa’ah bin Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai mata pencaharian yang halal? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya dan setiap jual beli yang diberkahi.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim) [HR. Al-Bazzar, 9:183; Al-Hakim, 2:10; Ahmad, 4:141. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya].   Faedah hadits Kita disuruh kerja, itulah yang namanya tawakal. Sahabat Nabi itu sangat semangat mencari kerja yang halal, bukan mencari kerja yang banyak penghasilannya. Pekerjaan seseorang dengan tangannya adalah pekerjaan yang paling asal, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan pekerjaan dengan tangan, lalu jual beli yang mabrur. Apa pekerjaan yang paling utama (paling bagus)? Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan katakan bahwa pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang sesuai dengan keadaan setiap orang, dan saling mendukung antara mukmin yang satu dan lainnya. Bekerja lebih utama dari meminta-minta (mengemis).   Pekerjaan dengan tangan sendiri Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan, مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam. Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9. Baca Juga: Kerja Dong, Jangan Jadi Pengangguran Jual beli yang mabrur Mata pencaharian yang disebutkan kedua yang terbaik adalah jual beli yang mabrur. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud jual beli yang mabrur adalah jual beli yang tidak ada sumpah dusta sekadar untuk melariskan dagangan, begitu pula yang selamat dari tindak penipuan. (Subul As-Salam, 5:8) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhah Al-‘Allam (6:9) menjelaskan bahwa jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli, terlepas dari jual beli yang bermasalah, dibangun di atas kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan.   Pekerjaan yang paling diberkahi Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Imam Al-Mawardi rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafii berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah bercocok tanam karena tawakalnya lebih tinggi. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa yang paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, bercocok tanam itu lebih baik. Ada tiga alasan yang melatarbelakanginya yaitu bercocok tanam termasuk pekerjaan dengan tangan, tawakal seorang petani itu tinggi, dan kemanfaatannya untuk orang banyak, termasuk pula manfaat untuk binatang dan burung. Menurut penulis Tawdhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Bassam, pekerjaan terbaik adalah disesuaikan pada keadaan setiap orang. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan haruslah berisi kebaikan, tidak ada penipuan, serta menjalani kewajiban yang mesti diperhatikan ketika bekerja. Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 3:101. Kita diperintahkan untuk terus semangat dalam hal yang manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau malas.” (HR. Muslim, no. 2664) Sebenarnya semua pekerjaan sangat dibutuhkan, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya.” (HR. Bukhari, no. 2446 dan Muslim, no. 2585, dari Abu Musa) Semoga kita mendapatkan pekerjaan terbaik yang penuh berkah. Baca Juga: Mencari Pekerjaan yang Halal 6 Tips Mencari Kerja Referensi Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tawdhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Cetakan Tahun 1425 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Albassam. Penerbit Darul Atsar.   — Diselesaikan pada malam Sabtu, 17 Jumadal Akhirah 1442 H, 29 Januari 2021 di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar fikih muamalat bulughul maram kitabul buyu halal haram harta haram mengemis pekerjaan pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik petani

Disembelih Ulang karena Tidak Mati

Disembelih Ulang karena Tidak Mati Mau tanya, ini ada ayam yang dipotong, dan urat2 sudah putus, tapi sampai setengah hari belum mati, kemudian dipotong oleh orang yang berbeda, kemudian baru mati. Apakah dagingnya termasuk bangkai atau halal dimakan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kemampuan seseorang berbeda-beda dalam menyembelih. Demikian pula kondisi binatang juga berbeda-beda. Kondisi inilah yang menyebabkan perbedaan tingkat kecepatan kematian hewan sembelihan. Dalam Hasyiyah ad-Dasuqi terhadap as-Syarh al-Kabir – kitab madzhab Malikiyah – dinyatakan, وسئل ابن القاسم وابن وهب عن شاة وضعت للذبح فذبحت وسال دمها فلم يتحرك منها شيء هل تؤكل قالا نعم تؤكل إذا كانت حين تذبح حية فإن من الناس من يكون ثقيل اليد عند الذبح حتى لا تتحرك الذبيحة وآخر يذبح فتقوم الذبيحة تمشي Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb pernah ditanya tentang kambing yang disembelih, saat disembelih dan darah mengalir, lalu tidak  bergerak sama sekali. Apakah boleh dimakan? Kedua ulama itu mengatakan, Boleh dimakan, selama saat disembelih kambing itu masih hidup. Karena ada sebagian orang yang tangannya kuat saat menyembelih, sehingga hewan sembelihannya tidak bergerak. Ada juga yang menyembelih, lalu hewannya berdiri dan berjalan. (Hasyiyah ad-Dasuqi, 2/112) Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb keduanya termasuk muridnya Imam Malik. Keterangan di atas menunjukkan bahwa kasus hewan disembelih namun tidak langsung mati termasuk kejadian yang sudah lazim di masa silam. Dan kasus seperti yang anda tanyakan, pernah disampaikan ke dewan fatwa Syabakah Islamiyah. Jawaban yang disampaikan fatwa Syabakah Islamiyah, فإذا كنت قد قمت بالذكاة المطلوبة شرعا فإن الدجاجة تعتبر مذكاة ذكاة شرعية، وبقاؤها حية أو وقوفها بعض الوقت لا يؤثر على صحة ذكاتها، وإعادة ذبحها لا يؤثر في صحة ذكاتها أيضا Jika anda sudah melakukan penyembelihan yang sesuai syariat, maka ayam itu statusnya hewan sembelihan yang sah secara syar’i. Sementara bertahan hidup atau tidak mati-mati selama beberapa waktu, tidak mempengaruhi keabsahan sembelihan. Sementara mengulang sembelihan, juga tidak mempengaruhi keabsahan penyembelihan. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/170617/ Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Ustadz Menjawab, Batal Wudhu Suami Istri, Ilmu Ghaib Dalam Islam, Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, Dosa Suami Tidak Menafkahi Istri, Amin Ya Rob Visited 479 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid

Disembelih Ulang karena Tidak Mati

Disembelih Ulang karena Tidak Mati Mau tanya, ini ada ayam yang dipotong, dan urat2 sudah putus, tapi sampai setengah hari belum mati, kemudian dipotong oleh orang yang berbeda, kemudian baru mati. Apakah dagingnya termasuk bangkai atau halal dimakan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kemampuan seseorang berbeda-beda dalam menyembelih. Demikian pula kondisi binatang juga berbeda-beda. Kondisi inilah yang menyebabkan perbedaan tingkat kecepatan kematian hewan sembelihan. Dalam Hasyiyah ad-Dasuqi terhadap as-Syarh al-Kabir – kitab madzhab Malikiyah – dinyatakan, وسئل ابن القاسم وابن وهب عن شاة وضعت للذبح فذبحت وسال دمها فلم يتحرك منها شيء هل تؤكل قالا نعم تؤكل إذا كانت حين تذبح حية فإن من الناس من يكون ثقيل اليد عند الذبح حتى لا تتحرك الذبيحة وآخر يذبح فتقوم الذبيحة تمشي Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb pernah ditanya tentang kambing yang disembelih, saat disembelih dan darah mengalir, lalu tidak  bergerak sama sekali. Apakah boleh dimakan? Kedua ulama itu mengatakan, Boleh dimakan, selama saat disembelih kambing itu masih hidup. Karena ada sebagian orang yang tangannya kuat saat menyembelih, sehingga hewan sembelihannya tidak bergerak. Ada juga yang menyembelih, lalu hewannya berdiri dan berjalan. (Hasyiyah ad-Dasuqi, 2/112) Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb keduanya termasuk muridnya Imam Malik. Keterangan di atas menunjukkan bahwa kasus hewan disembelih namun tidak langsung mati termasuk kejadian yang sudah lazim di masa silam. Dan kasus seperti yang anda tanyakan, pernah disampaikan ke dewan fatwa Syabakah Islamiyah. Jawaban yang disampaikan fatwa Syabakah Islamiyah, فإذا كنت قد قمت بالذكاة المطلوبة شرعا فإن الدجاجة تعتبر مذكاة ذكاة شرعية، وبقاؤها حية أو وقوفها بعض الوقت لا يؤثر على صحة ذكاتها، وإعادة ذبحها لا يؤثر في صحة ذكاتها أيضا Jika anda sudah melakukan penyembelihan yang sesuai syariat, maka ayam itu statusnya hewan sembelihan yang sah secara syar’i. Sementara bertahan hidup atau tidak mati-mati selama beberapa waktu, tidak mempengaruhi keabsahan sembelihan. Sementara mengulang sembelihan, juga tidak mempengaruhi keabsahan penyembelihan. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/170617/ Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Ustadz Menjawab, Batal Wudhu Suami Istri, Ilmu Ghaib Dalam Islam, Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, Dosa Suami Tidak Menafkahi Istri, Amin Ya Rob Visited 479 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid
Disembelih Ulang karena Tidak Mati Mau tanya, ini ada ayam yang dipotong, dan urat2 sudah putus, tapi sampai setengah hari belum mati, kemudian dipotong oleh orang yang berbeda, kemudian baru mati. Apakah dagingnya termasuk bangkai atau halal dimakan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kemampuan seseorang berbeda-beda dalam menyembelih. Demikian pula kondisi binatang juga berbeda-beda. Kondisi inilah yang menyebabkan perbedaan tingkat kecepatan kematian hewan sembelihan. Dalam Hasyiyah ad-Dasuqi terhadap as-Syarh al-Kabir – kitab madzhab Malikiyah – dinyatakan, وسئل ابن القاسم وابن وهب عن شاة وضعت للذبح فذبحت وسال دمها فلم يتحرك منها شيء هل تؤكل قالا نعم تؤكل إذا كانت حين تذبح حية فإن من الناس من يكون ثقيل اليد عند الذبح حتى لا تتحرك الذبيحة وآخر يذبح فتقوم الذبيحة تمشي Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb pernah ditanya tentang kambing yang disembelih, saat disembelih dan darah mengalir, lalu tidak  bergerak sama sekali. Apakah boleh dimakan? Kedua ulama itu mengatakan, Boleh dimakan, selama saat disembelih kambing itu masih hidup. Karena ada sebagian orang yang tangannya kuat saat menyembelih, sehingga hewan sembelihannya tidak bergerak. Ada juga yang menyembelih, lalu hewannya berdiri dan berjalan. (Hasyiyah ad-Dasuqi, 2/112) Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb keduanya termasuk muridnya Imam Malik. Keterangan di atas menunjukkan bahwa kasus hewan disembelih namun tidak langsung mati termasuk kejadian yang sudah lazim di masa silam. Dan kasus seperti yang anda tanyakan, pernah disampaikan ke dewan fatwa Syabakah Islamiyah. Jawaban yang disampaikan fatwa Syabakah Islamiyah, فإذا كنت قد قمت بالذكاة المطلوبة شرعا فإن الدجاجة تعتبر مذكاة ذكاة شرعية، وبقاؤها حية أو وقوفها بعض الوقت لا يؤثر على صحة ذكاتها، وإعادة ذبحها لا يؤثر في صحة ذكاتها أيضا Jika anda sudah melakukan penyembelihan yang sesuai syariat, maka ayam itu statusnya hewan sembelihan yang sah secara syar’i. Sementara bertahan hidup atau tidak mati-mati selama beberapa waktu, tidak mempengaruhi keabsahan sembelihan. Sementara mengulang sembelihan, juga tidak mempengaruhi keabsahan penyembelihan. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/170617/ Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Ustadz Menjawab, Batal Wudhu Suami Istri, Ilmu Ghaib Dalam Islam, Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, Dosa Suami Tidak Menafkahi Istri, Amin Ya Rob Visited 479 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1036858993&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Disembelih Ulang karena Tidak Mati Mau tanya, ini ada ayam yang dipotong, dan urat2 sudah putus, tapi sampai setengah hari belum mati, kemudian dipotong oleh orang yang berbeda, kemudian baru mati. Apakah dagingnya termasuk bangkai atau halal dimakan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kemampuan seseorang berbeda-beda dalam menyembelih. Demikian pula kondisi binatang juga berbeda-beda. Kondisi inilah yang menyebabkan perbedaan tingkat kecepatan kematian hewan sembelihan. Dalam Hasyiyah ad-Dasuqi terhadap as-Syarh al-Kabir – kitab madzhab Malikiyah – dinyatakan, وسئل ابن القاسم وابن وهب عن شاة وضعت للذبح فذبحت وسال دمها فلم يتحرك منها شيء هل تؤكل قالا نعم تؤكل إذا كانت حين تذبح حية فإن من الناس من يكون ثقيل اليد عند الذبح حتى لا تتحرك الذبيحة وآخر يذبح فتقوم الذبيحة تمشي Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb pernah ditanya tentang kambing yang disembelih, saat disembelih dan darah mengalir, lalu tidak  bergerak sama sekali. Apakah boleh dimakan? Kedua ulama itu mengatakan, Boleh dimakan, selama saat disembelih kambing itu masih hidup. Karena ada sebagian orang yang tangannya kuat saat menyembelih, sehingga hewan sembelihannya tidak bergerak. Ada juga yang menyembelih, lalu hewannya berdiri dan berjalan. (Hasyiyah ad-Dasuqi, 2/112) Ibnul Qosim dan Ibnu Wahb keduanya termasuk muridnya Imam Malik. Keterangan di atas menunjukkan bahwa kasus hewan disembelih namun tidak langsung mati termasuk kejadian yang sudah lazim di masa silam. Dan kasus seperti yang anda tanyakan, pernah disampaikan ke dewan fatwa Syabakah Islamiyah. Jawaban yang disampaikan fatwa Syabakah Islamiyah, فإذا كنت قد قمت بالذكاة المطلوبة شرعا فإن الدجاجة تعتبر مذكاة ذكاة شرعية، وبقاؤها حية أو وقوفها بعض الوقت لا يؤثر على صحة ذكاتها، وإعادة ذبحها لا يؤثر في صحة ذكاتها أيضا Jika anda sudah melakukan penyembelihan yang sesuai syariat, maka ayam itu statusnya hewan sembelihan yang sah secara syar’i. Sementara bertahan hidup atau tidak mati-mati selama beberapa waktu, tidak mempengaruhi keabsahan sembelihan. Sementara mengulang sembelihan, juga tidak mempengaruhi keabsahan penyembelihan. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/170617/ Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Ustadz Menjawab, Batal Wudhu Suami Istri, Ilmu Ghaib Dalam Islam, Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, Dosa Suami Tidak Menafkahi Istri, Amin Ya Rob Visited 479 times, 1 visit(s) today Post Views: 428 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next