Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Fatwa Ulama: Kewajiban Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Kaum Muslimin

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah boleh seseorang berbuka sebelum adzan karena menganggap adzan belum dikumandangkan tepat sesuai waktu yang sebenarnya?Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’dua:Perlu dibedakan antara puasa Ramadhan (yang bersifat bersama/jamaah) dan puasa wajib atau sunnah yang dilakukan secara individu.Adapun puasa wajib yang dilakukan secara bersama (seperti Ramadhan), maka seorang muslim hendaknya berpuasa dan berbuka bersama masyarakat dan pemimpin mereka, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَPuasa adalah pada hari kalian semua berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.[1]Hadits tersebut menegaskan bahwa puasa, berbuka, dan berkurban harus dilakukan bersama jamaah dan mayoritas kaum muslimin — baik dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, maupun dalam menentukan waktu berbuka (terbenam matahari) dan mulai puasa (terbit fajar). Karena itu, setiap orang harus mengikuti imam dan jamaah dalam masalah ini, dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri-sendiri. Tujuannya agar umat tetap bersatu, barisan tetap rapi, dan terhindar dari pendapat pribadi yang bisa memecah belah. Sebab,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“tangan Allah itu bersama jamaah”.[2]Adapun puasa wajib (selain Ramadhan) dan puasa sunnah yang dilakukan secara pribadi, maka penentuannya kembali kepada masing-masing orang, berdasarkan masuknya waktu Maghrib atau terbitnya fajar, sesuai dengan firman Allah Ta‘ala.وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihi wa sallam:إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ؛ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُJika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.[3]Dan dalam masalah ini masih ada hadits-hadits lain yang mendukungnya.Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari Kiamat.Baca juga:Puasa dan Berhari Raya Bersama PemerintahRenungan Menjelang Idul Fitri***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel muslim.or.idSumber: ferkous.app Catatan Kaki:[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albani dan juga oleh Al-Arna’uth[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Fitan, bab Anjuran untuk tetap bersama jamaah no. 2166, dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8065[3] Hadits ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Puasa, bab “Kapan orang yang berpuasa boleh berbuka?” no. 1954, dan oleh Muslim dalam Kitab Puasa no. 1100, dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ

Kapan Transfer Uang di Masjid Menjadi Haram? Simak Penjelasan Tuntas Syaikh!

https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ
https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ


https://youtu.be/hwTDgWc5ZLQ Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Penanya bertanya: “Apa hukum mentransfer uang melalui m-banking di dalam masjid?” Demi Allah, wahai saudara-saudaraku! Kita sedang berada di zaman yang sangat mengherankan. Banyak orang masuk ke masjid, tapi seolah-olah mereka tidak sedang berada di dalam masjid. Bahkan, saya pernah melihat sendiri, ada orang yang membuka klip-klip video yang ia tonton dari YouTube di dalam masjid. Ia mencari hiburan di antara waktu azan dan iqamah dengan menonton klip-klip film. Video tersebut bukan penjelasan suatu pelajaran atau semacamnya, melainkan murni klip-klip film. Anda juga dapat menyaksikan sebagian orang di masjid sibuk mengikuti berita-berita dunia. Hal ini sama sekali tidak pantas bagi masjid, dan tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin saat berada di dalamnya. Sebagian orang zaman sekarang juga melakukan transaksi keuangan di dalam masjid. Ia menjual, membeli, membayar, hingga mentransfer uang. Semua ini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid tidak dibangun untuk tujuan tersebut, yakni untuk dijadikan tempat melakukan transaksi keuangan, segala transaksi itu dilarang jika dilakukan di dalam masjid. Namun, jika seseorang melakukan transfer uang untuk saudaranya, bukan transaksi keuangan (jual beli), seperti mengirim uang dari rekening pribadi ke saudara atau ibunya, atau ia sekadar mengirim uang pembayaran sedangkan akad transaksinya telah selesai di luar masjid, atau ia sedang menerima barang padahal kesepakatan jual belinya terjadi di luar masjid, maka hal ini tidak bisa kita katakan hukumnya haram. Tetapi, selayaknya masjid dijaga kesuciannya dari hal-hal duniawi semacam itu. Sepatutnya perbuatan itu tidak dilakukan di dalam masjid. Lagipula, waktu seseorang tidaklah sesempit itu, sampai-sampai ia harus melakukan ini semua di dalam masjid. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ مَا حُكْمُ تَحْوِيلِ الْمَالِ لِشَخْصٍ عَبْرَ الْبَنْكِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ نَحْنُ فِي زَمَنٍ عَجِيبٍ النَّاسُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مَا كَأَنَّهُمْ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ حَتَّى رَأَيْتُ مَرَّةً مَنْ يَفْتَحُ مَقَاطِعَ يُشَاهِدُهَا فِي هَذَا الَّذِي يُسَمُّونَهُ الْيُوتِيُوبَ فِي الْمَسْجِدِ يَتَسَلَّى بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِمَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةٍ لَيْسَتْ شَرْحًا لِدَرْسٍ أَوْ كَذَا لَا مَقَاطِعَ تَمْثِيلِيَّةً وَتَرَى يَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَتَبَّعُونَ أَخْبَارَ الدُّنْيَا هَذَا مَا يَلِيقُ بِالْمَسَاجِدِ وَلَا يَلِيقُ بِالْمُؤْمِنِ فِي الْمَسْجِدِ وَبَعْضُ النَّاسِ الْآنَ صَارَ يُجْرِي مُعَامَلَاتِهِ الْمَالِيَّةَ فِي الْمَسْجِدِ فَيَبِيعُ وَيَشْتَرِي وَيَدْفَعُ وَيُحَوِّلُ وَكُلُّ هَذَا لَا يَجُوزُ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا أَنْ تُجْرَى الْمُعَامَلَاتُ الْمَالِيَّةُ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ لَكِنْ إِذَا كَانَ يُحَوِّلُ لِأَخِيهِ لَيْسَتْ مُعَامَلَةً مَالِيَّةً يُحَوِّلُ مِنْ حِسَابِهِ إِلَى أَخِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ أَوْ يَدْفَعُ الثَّمَنَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ وَقَعَتْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ أَوْ يَقْبِضُ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَالْمُعَامَلَةُ كَانَتْ فِي خَارِجِ الْمَسْجِدِ فَهَذَا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ إِنَّهُ حَرَامٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُنَزَّهَ الْمَسْجِدُ عَنْهُ وَمَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِالْإِنسَانِ حَتَّى يُجْرِيَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Khutbah Idulfitri | 8 Kiat Menjadi Hamba yang Sabar dan Bersyukur (Selamat dari Sifat Halu’a)

Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat
Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat


Manusia secara tabiat memiliki sifat mudah gelisah saat susah dan kikir saat senang. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat halu’. Namun, Allah tidak hanya menyebutkan sifat tersebut, tetapi juga memberikan jalan keluar agar seorang hamba menjadi pribadi yang sabar dan bersyukur.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Hakikat Manusia: Sifat Halu’ 3. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’ 3.1. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsisten 3.2. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagi 3.3. Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasan 3.4. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allah 3.5. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diri 3.6. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janji 3.7. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksian 3.8. Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurna 4. Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Ini 5. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan bagi kita ibadah Ramadan dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idulfitri. Hari ini bukan sekadar hari bergembira, tetapi hari untuk menguji apakah kita benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di antara perubahan terbesar yang harus kita raih adalah keluar dari sifat halu’—tidak sabar saat susah dan tidak bersyukur saat senang—menuju sifat orang-orang beriman yang sabar, bersyukur, dan istiqamah dalam ketaatan. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُHakikat Manusia: Sifat Halu’Allah Ta’ala berfirman,۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19)“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)Sifat ini menggambarkan manusia dari sisi tabiat asalnya, yaitu memiliki sifat mudah gelisah dan tidak sabar.إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20)“Apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat gelisah.” (QS. Al-Ma’arij: 20)Sifat “halu’” itu dijelaskan, yaitu ketika seseorang tertimpa keburukan, ia menjadi gelisah. Ia tidak tahan jika terkena kemiskinan, sakit, atau kehilangan sesuatu yang dicintainya, seperti harta, keluarga, atau anak. Dalam keadaan itu, ia tidak menggunakan kesabaran dan tidak ridha terhadap ketetapan Allah.وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)“Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia sangat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 21)Artinya, ia tidak mau menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak bersyukur atas nikmat dan kebaikan Allah. Haluu’ berarti gelisah saat susah, dan kikir saat senang. Pengecualian: Orang yang Selamat dari Halu’إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22)“kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 22)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut.Jika mereka mendapatkan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah dan menafkahkan sebagian dari apa yang Allah berikan.Jika mereka tertimpa kesusahan, mereka bersabar dan mengharapkan pahala. Ciri Pertama: Menjaga Shalat Secara Konsistenالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)“(yaitu) orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)Mereka senantiasa menjaga shalat pada waktunya, dengan memenuhi syarat-syaratnya dan menyempurnakannya. Mereka tidak seperti orang yang meninggalkannya, atau melakukannya hanya sesekali (shalatnya bolong-bolong), atau melakukannya dengan cara yang tidak sempurna. Ciri Kedua: Peduli dengan Harta dan Berbagiوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24)“Dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij: 24)Yaitu bagian dari zakat dan sedekah.لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)“bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij: 25)Yang dimaksud dengan “orang yang meminta” adalah orang yang datang meminta bantuan. Adapun “orang yang tidak mau meminta” adalah orang miskin yang tidak meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia tidak diberi, dan keadaannya pun tidak disadari sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya.” Ciri Ketiga: Beriman kepada Hari Pembalasanوَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26)“Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan.” (QS. Al-Ma’arij: 26)Yaitu mereka beriman kepada apa yang Allah kabarkan dan disampaikan oleh para rasul tentang hari pembalasan dan kebangkitan. Mereka meyakini hal itu dengan penuh keyakinan, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk akhirat dan berusaha untuknya. Membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan para rasul dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab. Ciri Keempat: Takut terhadap Azab Allahوَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ (27)“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 27)Yaitu mereka merasa takut dan khawatir, sehingga mereka meninggalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada azab Allah.إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)“Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya.” (QS. Al-Ma’arij: 28)Artinya, azab itu adalah sesuatu yang harus ditakuti dan diwaspadai. Ciri Kelima: Menjaga Kehormatan Diriوَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29)“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Ma’arij: 29)Maksud ayat ini adalah:Mereka tidak melakukan hubungan intim yang diharamkan, seperti zina, liwath (homoseksual), menyetubuhi dari belakang, atau saat haid, dan semisalnya.Mereka tidak memandang dan menyentuh kemaluan orang lain yang tidak halal.Mereka meninggalkan segala sebab yang mengantarkan pada perbuatan zina.إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30)“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” (QS. Al-Ma’arij: 30)Artinya, mereka tidak tercela jika menyalurkan kebutuhan tersebut kepada istri atau budak yang mereka miliki, pada tempat yang memang diperbolehkan.فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)“Barang siapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 31)Artinya, siapa yang mencari selain istri dan hamba sahaya, maka ia telah melampaui batas dari yang dihalalkan menuju yang diharamkan. Ayat ini menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kawin kontrak ala kaum Syi’ah), karena tidak termasuk istri yang dimaksud dan bukan pula hamba sahaya. Ciri Keenam: Menjaga Amanah dan Janjiوَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32)“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Ma’arij: 32)Mereka menjaga dan bersungguh-sungguh menunaikannya serta menepatinya. Ini mencakup seluruh amanat antara hamba dengan Allah, seperti kewajiban yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan amanat antara hamba dengan manusia, seperti dalam harta dan rahasia. Begitu pula janji, baik janji kepada Allah maupun kepada manusia, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ditunaikan atau dikhianati. Ciri Ketujuh: Jujur dalam Kesaksianوَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33)“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 33)Mereka tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa menambah, mengurangi, atau menyembunyikan. Mereka tidak memihak kepada kerabat atau teman, dan tujuan mereka adalah karena Allah.Allah Ta‘ālā berfirman,وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ“Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135) Ciri Kedelapan: Menjaga Shalat dengan Sempurnaوَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34)“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)Yaitu dengan terus menjaganya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Balasan: Surga bagi Orang yang Memiliki Sifat Iniأُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ (35)“Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (QS. Al-Ma’arij: 35)Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan dimuliakan oleh Allah dengan berbagai kenikmatan yang kekal, yang diinginkan oleh jiwa dan menyenangkan pandangan, dan mereka kekal di dalamnya.Kesimpulannya, Allah menyifati orang-orang yang berbahagia dan baik dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia.Mereka memiliki ibadah badan, seperti shalat dan terus menjaganya; amal hati, seperti rasa takut kepada Allah yang mendorong kepada setiap kebaikan; ibadah harta; keyakinan yang benar; serta akhlak yang luhur.Mereka juga berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bersikap adil, menjaga janji dan rahasia, serta memiliki kehormatan diri yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari segala yang dibenci oleh Allah Ta‘ālā. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa‘asyiral muslimin rahimakumullah, itulah sifat manusia dan jalan keselamatan yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Siapa yang ingin selamat dari sifat gelisah dan kikir, maka perbaikilah shalatnya, kuatkan imannya, dan jaga amanah serta akhlaknya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَىٰ وَالتُّقَىٰ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَىٰ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Naskah ini yang dipakai untuk Khutbah Idulfitri 1447 HRabu sore, 29 Ramadhan 1447 H, 18 Maret 2026@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam halu’ iman akhirat khutbah hari raya khutbah idul fitri renungan ayat renungan quran sabar shalat sifat manusia syukur tafsir al ma’arij Tafsir juz 29 tafsir surah al ma'arij Zakat

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Rahasia Ibadah yang Paling Banyak Pahalanya – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ
https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ


https://youtu.be/Rp92ghldYJw Seseorang yang di tengah menjalankan ibadah puasanya memperbanyak membaca Al-Qur’an serta menadaburi petunjuk-petunjuk di dalamnya, apakah pahalanya setara dengan orang yang lebih banyak menghabiskan waktu puasanya dengan tidur? Keduanya sama-sama sedang berpuasa. Keduanya pun sama-sama telah menunaikan kewajiban. Namun, apakah keduanya mendapatkan nilai pahala yang sama? Terkait hal ini, terdapat sebuah hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau, Al-Wabil Ash-Shayyib. Beliau menyimpulkan sebuah kaidah yang sangat agung dari hadis tersebut mengenai tingkatan keutamaan dan perbandingan pahala dalam suatu amalan. Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya?”Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Lalu ditanyakan, “Siapakah jemaah haji yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” Ditanyakan lagi, “Siapakah jemaah umrah yang paling besar pahalanya?” Beliau kembali menjawab, “Yang paling banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani). Ibnul Qayyim merumuskan sebuah kaidah umum dari hadis ini dengan menyatakan, “Orang yang paling agung pahalanya dalam setiap ketaatan adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah saat menjalaninya.” Orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan adalah mereka yang paling banyak berzikir di dalam amalan tersebut. Maka, orang yang paling agung pahalanya dalam ibadah shalat adalah yang paling banyak zikirnya. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14). Demikian pula dalam ibadah haji, pahala yang paling besar adalah bagi mereka yang paling banyak berzikir selama manasik haji. Beliau menjelaskan bahwa disyariatkannya tawaf di Baitullah, melempar jamrah, serta sai antara Shafa dan Marwah, tujuannya adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah. Semata-mata untuk senantiasa mengingat Allah. Maka orang yang paling besar pahalanya dalam ketaatan-ketaatan tersebut adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah di dalamnya. Demikian pula orang-orang yang berpuasa, yang paling besar pahalanya adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah dalam puasa mereka. Hendaknya seseorang bersemangat untuk memiliki porsi rutin dalam membaca Al-Qur’an, menjaga lisannya agar senantiasa basah dengan zikir kepada Ar-Rahman, serta antusias dalam berdoa, juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu serta mendalami agamanya. Semua ini termasuk bentuk penjagaan terhadap puasa. ===== مَنْ فِي أَثْنَاءِ صِيَامِهِ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّدَبُّرِ فِي هِدَايَاتِهِ هَلْ أَجْرُهُ مُمَاثِلٌ لِمَنْ يُكْثِرُ فِي صِيَامِهِ مِنَ النَّوْمِ؟ هَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا الصَّائِمُ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ وَهَذَا أَدَّى الْفَرْضَ لَكِنْ هَلْ هُمَا سَوَاءٌ فِي الْأَجْرِ؟ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ يُحَسِّنُهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ الْوَابِلِ الصَّيِّبِ وَاسْتَخْلَصَ مِنْهُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُفَاضَلَةِ فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْحُجَّاجِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا قِيلَ: أَيُّ الْعُمَّارِ أَكْثَر أَجْرًا؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ابْنُ الْقَيِّمِ أَخَذَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَاعِدَةً جَامِعَةً قَالَ: أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي كُلِّ طَاعَةٍ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِيهَا فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي وَالْحَجُّ أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِيهِ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا فِي الْحَجِّ قَالَ: إِنَّمَا شُرِعَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ مَاذَا؟ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ فَأَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فِيهَا وَهَكَذَا الصُّوَّامُ، أَعْظَمُهُمْ أَجْرًا فِي صِيَامِهِمْ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ فَيَحْرِصِ الْمَرْءُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وِرْدٌ فِي الْقُرْآنِ وَأَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ الرَّحْمنِ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَى الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وَقْتًا أَيْضًا فِي الْعِلْمِ وَالتَّفَقُّهِ فِي دِينِهِ فَهَذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي حِفْظِ الصِّيَامِ

Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Khutbah Idulfitri | Tanda Amal Diterima Allah dan Penyebab Amal Tertolak

Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima
Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima


Setiap Muslim tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah, terutama setelah menjalani Ramadan dengan puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah. Namun, para ulama menjelaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi apakah amal itu diterima oleh Allah atau justru tertolak. Karena itu, seorang mukmin perlu mengenal tanda-tanda diterimanya amal sekaligus sebab-sebab yang bisa menggugurkannya.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang Bertakwa 3. Diterimanya Amal vs Banyak Beramal 4. Yang Menyebabkan Amalan Tidak Diterima 4.1. Pertama: Tidak beriman kepada Allah 4.2. Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhirat 4.3. Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ 4.4. Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap mereka 4.5. Kelima: Kemunafikan 5. Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail 6. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaاللهُ أَكْبَرُ، (9x)الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُMa’asyiral muslimin hafizhakumullah …Allah Ta’ala memerintahkan shalat Idulfitri dan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian jiwa.قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’laa: 14-15) Allah Hanya Menerima Amal dari Orang yang BertakwaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)Maksud dari ayat ini adalah bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal tertentu—yakni ia melakukannya dengan benar, memenuhi syarat-syaratnya seperti iman, ikhlas, dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka Allah akan menerima amal tersebut darinya. Tidak disyaratkan ia harus bertakwa dalam seluruh aspek hidupnya. Jika ia bertakwa dalam amal tersebut dan melaksanakannya dengan baik, maka Allah akan menerimanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,وَعِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يُتَقَبَّلُ الْعَمَلُ مِمَّنِ اتَّقَى اللَّهَ فِيهِ، فَعَمِلَهُ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِأَمْرِ اللَّهِ، فَمَنْ اتَّقَاهُ فِي عَمَلٍ تَقَبَّلَهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي غَيْرِهِ. وَمَنْ لَمْ يَتَّقِهِ فِيهِ، لَمْ يَتَقَبَّلْهُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مُطِيعًا فِي غَيْرِهِ.“Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah menerima amal dari orang yang bertakwa dalam amal itu, yaitu ia mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan perintah-Nya. Maka siapa yang bertakwa kepada Allah dalam suatu amal, Allah akan menerimanya, meskipun ia melakukan maksiat dalam perkara lain. Siapa yang tidak bertakwa kepada Allah dalam amal itu, Allah tidak akan menerimanya, meskipun ia taat dalam perkara lain.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:322)Jadi, amal yang tidak diterima oleh Allah adalah amal yang dilakukan tanpa takwa kepada-Nya, tanpa ikhlas, dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Manusia tidak tahu amal mana yang diterima dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ia berada antara harap dan takut. Ia berusaha menyempurnakan amalnya, lalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima, karena diterimanya amal adalah semata-mata karunia dari Allah. Ia pun khawatir amalnya ditolak, atau bahkan batal karena ada cacat tersembunyi yang membuatnya tidak diterima.Ada tanda bahwa amal diterima, yaitu ketika amal itu membuahkan ketaatan lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا.“Termasuk balasan dari satu kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”Orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam amal mereka, tetapi tetap menganggap amalnya kecil jika dibandingkan dengan hak Allah atas dirinya. Merasa kecil terhadap amal sendiri dan merendahkan diri adalah tanda bahwa amal diterima.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,عَلَامَةُ قَبُولِ الْعَمَلِ احْتِقَارُهُ وَاسْتِقْلَالُهُ، وَصِغَرُهُ فِي قَلْبِكَ. حَتَّى إِنَّ الْعَارِفَ لَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَقِيبَ طَاعَتِهِ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا.Tanda diterimanya amal adalah jika seseorang menganggap amalnya kecil dan remeh dalam hatinya. Bahkan orang yang mengenal Allah sering beristighfar setelah beramal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, setelah selesai shalat, beristighfar sebanyak tiga kali. (Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, 2:162, Islamweb) Diterimanya Amal vs Banyak BeramalPerhatian para salafus shalih terhadap diterimanya ibadah jauh lebih besar daripada perhatian mereka terhadap pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Maka kegelisahan akan diterimanya amal benar-benar menguasai hati mereka.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tentang firman Allah: ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut…’, apakah maksudnya orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, lalu tetap takut kepada Allah?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,لَا يا ابْنَة أبي بَكْرٍ -أو: يَا ابْنَةَ الصّدِيقِ-، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيخافُ أنْ لا يُقْبَل مِنْهُ“Bukan, wahai putri Abu Bakar (atau: wahai putri Ash-Shiddiq), tetapi ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, lalu ia takut amalnya tidak diterima.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim – dan beliau mensahihkannya –, serta Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian lebih mencemaskan apakah amal kalian diterima, daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al-Ikhlas wa an-Niyyah)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pada malam terakhir bulan Ramadan, berkata: “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalnya, agar kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa pula yang tertolak dan terhalang, agar kita berbelasungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalnya, selamat atasmu! Wahai orang yang ditolak, semoga Allah menghiburmu atas musibah ini!” (Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, juga oleh Ibnu asy-Syajari dan Abu al-Fath al-Maqdisi dalam Amali mereka)Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata,أَدْرَكْتُهُمْ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَإِذَا فَعَلُوهُ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الْهَمُّ؛ أَيُقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا؟“Aku dapati para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam amal saleh, namun setelah melakukannya, mereka justru diliputi kekhawatiran: apakah amal itu diterima atau tidak?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Muhasabah An-Nafs)Coba lihat amalan sebagian ulama salaf yang luar biasa sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُم“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 369)Kegelisahan hati ini pun membuat lisan banyak berdoa agar amal ibadah diterima. Karena lisan adalah penerjemah dari isi hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:فَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنِ الْقَلْبِ اللِّسَانُ“Sesungguhnya yang mengungkapkan isi hati adalah lisan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, ath-Thabarani dalam Musnad asy-Syamiyyin, dan dari jalurnya oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dari hadits Qabisah bin Dzu’aib radhiyallahu ‘anhu)Maka jika seseorang merasakan kegelisahan dalam hati tentang apakah amalnya diterima, ia pun mengekspresikannya dengan doa, memohon kepada Allah agar amalnya diterima. Dan Allah tidak akan menolak siapa pun yang berdoa kepada-Nya.Dari penjelasan ini, kita dapat memahami jawaban atas pertanyaan: mengapa para salaf lebih mencemaskan diterimanya amal, daripada amal itu sendiri.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Yang Menyebabkan Amalan Tidak DiterimaPertama: Tidak beriman kepada AllahInilah penghalang utama yang menyebabkan amal tidak diterima. Jika seorang hamba melakukan berbagai amal kebaikan—seperti shalat, puasa, dan lainnya—namun dalam keadaan musyrik kepada Allah dengan syirik akbar, yaitu mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka seluruh amal salehnya tidak akan memberi manfaat apa pun di sisi Allah.Karena mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik serta para pelakunya merupakan syarat paling agung agar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal dan ucapan lainnya. Tanpa tauhid, seluruh amal akan batal dan sia-sia.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Dalam ayat lain disebutkan,وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)Kedua: Seseorang menginginkan dunia dengan amalnya, bukan akhiratSeorang hamba bisa saja beriman kepada Allah Ta’ala, namun terjatuh dalam syirik tersembunyi, yaitu riya, tanpa ia sadari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya ini, dan menyampaikan bahwa syirik ini lebih samar daripada langkah semut.Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu ‘Ali – seorang laki-laki dari Bani Kahil – ia berkata:Abu Musa Al-Asy‘ari pernah berkhutbah kepada kami, lalu berkata:“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.”Lalu Abdullah bin Hazan dan Qais bin Al-Mudharib berdiri dan berkata:“Demi Allah, engkau harus menjelaskan apa maksudmu tadi, atau kami akan menghadap Umar, baik dengan izin maupun tanpa izin.”Abu Musa menjawab:“Baiklah, aku akan menjelaskannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami dan bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ‘Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih samar daripada langkah semut.’”، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟Lalu ada seseorang yang dikehendaki oleh Allah berkata:“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bisa menjauhinya padahal ia lebih samar daripada langkah semut?” قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُBeliau menjawab:“Katakanlah: Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4:408, juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 716. Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:121, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang riya (pamer dalam ibadah) akan diberikan balasan atas amal baik mereka di dunia. Mereka tidak dizalimi sedikit pun.Artinya: barang siapa yang melakukan amal saleh—seperti puasa, shalat, atau shalat malam—namun tujuannya hanya untuk mendapatkan dunia, bukan mencari rida Allah, maka Allah akan memberinya apa yang ia cari di dunia. Namun amalnya gugur dan sia-sia di sisi Allah, karena niatnya bukan untuk akhirat.Dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat.Ketiga: Usaha dan amalnya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺKetahuilah bahwa salah satu syarat agar amal dan usaha seseorang memberi manfaat di sisi Allah adalah: amal tersebut harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil bid’ah atau perubahan dalam agama.Inilah yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat dalam Surah Al-Isra,وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)Yakni: ia mencarinya melalui jalannya, yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara dalil yang paling jelas bahwa amal yang tidak mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi manfaat di sisi Allah adalah perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَأَمْرُهُ رَدٌّ“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)Keempat: Hak-hak sesama manusia dan kezaliman terhadap merekaDi antara penghalang diterimanya amal adalah kezaliman terhadap orang lain, baik dalam bentuk mengambil hak mereka ataupun merusak kehormatan mereka.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati, dan mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya pada hari Kiamat kalian akan saling bersengketa di hadapan Rabb kalian.” (QS. Az-Zumar: 30–31)Pertengkaran yang dimaksud dalam ayat ini adalah saling menuntut antara sesama manusia atas kezaliman yang terjadi di dunia.Dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Ketika ayat ini turun, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Rasulullah, apakah urusan-urusan yang terjadi antara kami di dunia akan diulang kembali (diadili) pada hari Kiamat, bahkan sampai dosa-dosa kecil?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,نَعَمْ، لَيُكَرَّرَنَّ عَلَيْكُمْ حَتَّى يُؤَدَّى إِلَى كُلِّ ذِي حَقٍّ حَقُّهُ»، قَالَ الزُّبَيْرُ: وَاللَّهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيدٌ.“Ya, semua akan diulang sampai setiap orang yang memiliki hak akan diberi haknya.” Az-Zubair pun berkata: “Demi Allah, sungguh ini adalah perkara yang sangat berat.”Di antara hadits paling terkenal dalam hal ini adalah hadits tentang orang yang bangkrut (muflis). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,((أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟))‘، قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: ((إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ)“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa: telah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lainnya. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581)Kelima: KemunafikanTermasuk penghalang diterimanya amal adalah nifak (kemunafikan). Kata nifak berasal dari nafaq, yaitu lubang atau jalan bawah tanah yang digunakan untuk bersembunyi. Dinamakan demikian karena orang munafik menyembunyikan kekufurannya, sebagaimana dijelaskan oleh Abu ‘Ubaid.Secara syar’i, nifak adalah menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran.Istilah ini adalah istilah khas dalam Islam, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, walaupun akar katanya dikenal dalam bahasa mereka.Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)Dalam ayat ini, Allah memberitakan bahwa orang munafik juga melaksanakan salat dan mengeluarkan zakat, tetapi Allah tidak menerima amal tersebut dari mereka.Demikian pula dalam firman-Nya:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَٰرِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)Di antara sifat orang munafik adalah:Mereka rela melakukan penipuan terhadap Allah dan manusia.Mereka malas saat hendak melaksanakan salat.Mereka berbuat riya (pamer) dalam ibadahnya.Mereka sedikit mengingat Allah.Ini semua adalah sifat tercela dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin untuk menjauhinya.Seorang mukmin tidak boleh bersikap pura-pura, tapi harus jujur dan terbuka.Ia harus shalat dengan semangat, bukan dengan malas dan berat hati.Ia harus menjauhi riya dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata.Ia juga harus banyak mengingat Allah, karena lalai dari zikir adalah tanda kemunafikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa nafkah dan salat orang munafik tidak diterima, dan Allah juga menyebutkan sebabnya, yaitu karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa amal lahiriah saja tidak cukup, selama hati masih menyimpan kekufuran atau tidak ikhlas karena Allah.اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah … Doa agar Amal-Amal Kita Diterima Meneladani Nabi Ibrahim dan IsmailKita berdoa kepada Allah agar amalan-amalan kita diterima di bulan Ramadhan setelah berlalu.رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُRABBANAA TAQABBAL MINNAA, INNAKA ANTAS-SAMII’UL-‘ALIIM. WA TUB ‘ALAINAA, INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-RAHIIM.“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127–128, potongan dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam)Semoga Allah menerima taubat kita.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)قال القُرَظِيُّ: يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلَاعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ العَوْدِ بِالجَنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الإِخْوَانِ.Al-Qurazhi berkata: Taubat nasuha mencakup empat hal:memohon ampun dengan lisan,meninggalkan dosa dengan anggota badan,berniat kuat dalam hati untuk tidak mengulangi, danmenjauhi teman-teman yang buruk.(Tafsir al-Baghawi: 4/430–431)اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُPara jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …Semoga Allah menerima amalan kita semuanya di bulan Ramadhan dan kita diperpanjang umur oleh Allah untuk diperjumpakan dengan bulan Ramadhan berikutnya.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Keduaاَللهُ أَكْبَرُ (7x) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اللّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنا وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنا شِرَارَنا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِTaqobbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.  —– Ini khutbah Idulfitri 1446 H (2025)@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com   Tagsamal diterima amal tertolak Idulfitri ikhlas khutbah hari raya khutbah idul fitri mengikuti sunnah muhasabah diri riya syirik takwa tanda amal diterima

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2)وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Tafsir Surah ‘Abasa: Cara Islam Mengajarkan Kesetaraan Manusia

Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2)وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma
Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2)وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma


Surah ‘Abasa mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang buta datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara pada saat yang sama beliau sedang berbicara dengan seorang tokoh kaya Quraisy. Nabi ﷺ lebih memberi perhatian kepada orang kaya itu dengan harapan ia mendapat hidayah. Melalui ayat-ayat ini, Allah menegur dengan lembut dan mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari petunjuk lebih layak didahulukan daripada orang yang merasa tidak membutuhkan.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari Ilmu 2. Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu? 2.1. Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘Abasa 2.2. Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi Maktum 2.3. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam Dakwah 2.4. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas 3. Al-Qur’an untuk Memberi Peringatan 4. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur? 5. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai! 6. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!  Ketika Nabi ﷺ Bermuka Masam kepada Sahabat yang Tulus Mencari IlmuAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ“karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 2)وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 3)أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ“atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 4)أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup.” (QS. ‘Abasa: 5)فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ“maka kamu melayaninya.” (QS. ‘Abasa: 6)وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa: 7)وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran).” (QS. ‘Abasa: 8)وَهُوَ يَخْشَىٰ“sedang ia takut kepada (Allah).” (QS. ‘Abasa: 9)فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ“maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa: 10)Baca juga: Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam Mengapa Nabi ﷺ Lebih Memperhatikan Tokoh Quraisy Saat Itu?Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan salah seorang tokoh besar Quraisy. Beliau sangat berharap orang tersebut masuk Islam.Ketika beliau sedang berbicara dan berdialog dengannya, datanglah Ibnu Ummi Maktum—seorang sahabat yang telah lebih dahulu masuk Islam. Ia mulai bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu hal dan terus meminta penjelasan.Saat itu Nabi ﷺ berharap Ibnu Ummi Maktum berhenti sejenak agar beliau dapat melanjutkan pembicaraan dengan orang tersebut, karena beliau sangat berharap orang itu mendapatkan hidayah. Maka Nabi ﷺ pun bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum, berpaling darinya, dan kembali memperhatikan orang yang sedang beliau ajak bicara.Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.” Kesaksian Para Sahabat dan Ulama tentang Sebab Turunnya Surah ‘AbasaAl-Hafizh Abu Ya‘la meriwayatkan dalam Musnad-nya:Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma‘mar, dari Qatadah, dari Anas mengenai firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى“Dia bermuka masam dan berpaling.”Disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Nabi pun berpaling darinya, lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.”Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.Qatadah berkata:Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah melihat Ibnu Ummi Maktum pada hari perang Qadisiyah. Ia mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.Abu Ya‘la dan Ibnu Jarir juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Ia berkata: Ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Tunjukkanlah aku jalan yang benar.”Saat itu di sisi Rasulullah ﷺ ada beberapa tokoh besar dari kalangan musyrikin. Nabi pun berpaling darinya dan lebih memperhatikan orang-orang tersebut. Beliau berkata kepada mereka, “Apakah menurut kalian apa yang aku katakan ini salah?”Mereka menjawab, “Tidak.”Maka dalam peristiwa inilah turun ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىAt-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini melalui sanad Sa‘id bin Yahya Al-Umawi dengan sanad yang sama. Ia berkata: Sebagian perawi meriwayatkannya dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ayat “عَبَسَ وَتَوَلَّى” turun tentang Ibnu Ummi Maktum tanpa menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah.Aku (Ibnu Katsir) mengatakan: Demikian pula riwayat tersebut terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’.Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Al-‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa berkata: Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan ‘Utbah bin Rabi‘ah, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Beliau sering menemui mereka dan sangat berharap agar mereka beriman.Tiba-tiba datang seorang lelaki buta bernama ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berjalan mendekati Nabi ﷺ ketika beliau sedang berbicara dengan mereka. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”Nabi ﷺ berpaling darinya, bermuka masam, dan tidak menyukai pembicaraannya saat itu, lalu beliau kembali memusatkan perhatian kepada para tokoh tersebut.Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai berbicara dengan mereka dan hendak pulang kepada keluarganya, Allah menahan sebagian penglihatannya. Kepala beliau pun tertunduk. Lalu Allah menurunkan ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّىأَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىوَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىأَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى“Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya.Tahukah engkau, barangkali ia ingin membersihkan dirinya.Atau ia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat baginya.” Dari Teguran Menjadi Kemuliaan untuk Ibnu Ummi MaktumSetelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ memuliakan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sering menyapanya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau butuhkan? Apakah engkau memerlukan sesuatu?”Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak pergi, beliau juga berkata, “Apakah engkau memiliki kebutuhan yang bisa aku bantu?”Hal itu terjadi setelah Allah menurunkan firman-Nya:أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىوَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى“Adapun orang yang merasa dirinya cukup, engkau justru memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada tanggung jawab atasmu jika ia tidak membersihkan dirinya.”Namun dalam riwayat ini terdapat keanehan dan kemungkaran, dan para ulama telah membicarakan sanadnya.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab.Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, yang disebut dalam ayat:عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىIa biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Salim berkata: Ia adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai orang-orang berkata kepadanya ketika mereka melihat terbitnya fajar, “Sekarang sudah fajar, kumandangkanlah azan.”Demikian pula disebutkan oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf bahwa ayat ini turun tentang Ibnu Ummi Maktum.Yang paling masyhur, namanya adalah ‘Abdullah, dan ada pula yang mengatakan ‘Amr. Pelajaran Besar: Siapa yang Lebih Layak Diprioritaskan dalam DakwahAllah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1)Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah ketika datang seorang laki-laki mukmin yang buta kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan belajar dari beliau.Pada saat yang sama datang pula seorang lelaki kaya. Nabi ﷺ sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada manusia, sehingga beliau lebih condong dan memberi perhatian kepada orang kaya tersebut, sementara beliau berpaling dari orang buta yang miskin itu.Beliau berharap orang kaya tersebut mendapatkan hidayah dan menjadi baik. Maka Allah menegur beliau dengan teguran yang lembut, dengan firman-Nya:“Dia bermuka masam dan berpaling.”Maksudnya, beliau bermuka masam kepada orang buta itu dan memalingkan badannya darinya.أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2)Karena orang buta itu datang kepadanya.وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3)Kemudian Allah menjelaskan manfaat jika memperhatikannya, yaitu:“Dan tahukah engkau, barangkali dia ingin membersihkan dirinya.”Maksudnya, barangkali orang buta itu ingin menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik.أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (4)“Atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu peringatan itu memberi manfaat baginya.”Maksudnya, ia mengingat sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia dapat mengamalkan peringatan tersebut.أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ (5)Di sini terdapat pelajaran yang sangat besar, yaitu tujuan utama diutusnya para rasul, disampaikannya nasihat oleh para pemberi nasihat, dan diingatkannya manusia oleh para pengingat.Memberi perhatian kepada orang yang datang sendiri dalam keadaan membutuhkan ilmu darimu adalah sikap yang lebih pantas dan lebih wajib.Adapun memusatkan perhatian kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta nasihat karena tidak berminat pada kebaikan, sementara orang yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan, maka hal itu tidak pantas dilakukan.Karena jika orang kaya itu tidak mau memperbaiki dirinya, maka engkau tidak menanggung dosa atas keburukan yang ia lakukan.Dari ayat ini dipahami sebuah kaidah yang terkenal:لَا يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُومٌ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ، وَلَا مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهَّمَةٍ“Tidak boleh meninggalkan sesuatu yang jelas demi sesuatu yang masih dugaan, dan tidak boleh meninggalkan kemaslahatan yang nyata demi kemaslahatan yang hanya diperkirakan.”Karena itu, seharusnya seseorang lebih memberi perhatian kepada penuntut ilmu yang benar-benar membutuhkan, sangat memerlukannya, dan memiliki semangat untuk mempelajarinya dibandingkan yang lainnya. Jangan Tinggalkan Kebaikan yang Pasti demi Harapan yang Belum Jelas Berikut tiga contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan saat ini:1. Dalam dakwah dan pengajaranSeorang dai meninggalkan majelis kecil yang serius belajar agama demi mengejar audiens besar yang belum tentu mau mendengar. Padahal orang yang hadir di majelis sudah jelas ingin belajar. Yang tepat adalah tetap memprioritaskan orang yang benar-benar datang untuk menuntut ilmu.2. Dalam mendidik anakOrang tua terlalu sibuk mengejar kesuksesan dunia anak (kursus, prestasi, lomba) tetapi mengabaikan pendidikan agama yang jelas manfaatnya bagi akhirat. Padahal membangun iman dan akhlak anak adalah maslahat yang pasti, sementara prestasi dunia belum tentu membawa kebaikan.3. Dalam ibadahSeseorang meninggalkan shalat berjamaah yang jelas pahalanya demi melakukan aktivitas lain yang belum tentu bernilai ibadah, seperti terlalu lama bermain gawai atau mengejar kesibukan dunia yang tidak mendesak.Intinya, kaidah ini mengajarkan agar tidak meninggalkan kebaikan yang pasti demi sesuatu yang masih sekadar harapan atau dugaan.Baca juga: Cara Dakwah Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an: Dekat, Peduli, dan Penyayang Al-Qur’an untuk Memberi PeringatanAllah Ta’ala berfirman,كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Maksudnya, peringatan ini benar-benar merupakan nasihat dari Allah. Dengan itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya dan menjelaskan dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.Allah Ta’ala berfirman,فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ“maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. ‘Abasa: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Jika hal itu telah jelas, maka siapa saja yang mau, ia akan mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah:وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ“Katakanlah, ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, hendaklah dia kafir.’” (QS. Al-Kahfi: 29)Allah Ta’ala berfirman,فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (QS. ‘Abasa: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan tingginya kedudukannya, yaitu berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan.Allah Ta’ala berfirman,مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۭ“yang ditinggikan lagi disucikan.” (QS. ‘Abasa: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Lembaran itu tinggi kedudukan dan derajatnya, serta disucikan dari segala kekurangan, dan tidak dapat dijangkau oleh tangan-tangan setan ataupun dicuri oleh mereka.Allah Ta’ala berfirman,بِأَيْدِى سَفَرَةٍ“di tangan para penulis (malaikat).” (QS. ‘Abasa: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Yaitu di tangan para malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan para hamba-Nya.Allah Ta’ala berfirman,كِرَامٍۭ بَرَرَةٍ“yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: Mereka adalah malaikat yang banyak kebaikannya, penuh keberkahan, serta hati dan amal mereka sangat baik.Semua ini merupakan penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya. Allah menjadikan para malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada para rasul, dan tidak memberikan jalan bagi setan untuk mengganggunya. Hal ini semestinya mendorong untuk beriman dan menerima Al-Qur’an dengan penuh penerimaan. Namun demikian, manusia tetap saja enggan dan memilih kekafiran. Dari Nutfah hingga Dibangkitkan: Mengapa Manusia Masih Kufur?Allah Ta’ala berfirman:قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (١٧)“Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!” (QS. ‘Abasa: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, manusia sangat kufur terhadap nikmat Allah dan sangat keras penolakannya terhadap kebenaran setelah jelas baginya, padahal ia hanyalah makhluk yang lemah.مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (١٨)“Dari apakah Dia menciptakannya?” (QS. ‘Abasa: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah.مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (١٩)“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian menentukan penciptaannya, menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya.ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠)“Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memudahkan baginya jalan, baik urusan agama maupun dunia, menunjukkan jalan itu, serta mengujinya dengan perintah dan larangan.ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢١)“Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur.” (QS. ‘Abasa: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah memuliakannya dengan dikuburkan, tidak menjadikannya seperti hewan yang bangkainya dibiarkan di permukaan bumi.ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (٢٢)“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Allah akan membangkitkannya setelah mati untuk diberi balasan. Allah semata yang mengatur manusia dan mengubah keadaannya dalam seluruh proses ini, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah Tunjukkan Rezeki, Tapi Kita Lalai!Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ“Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Namun manusia—dengan keadaan seperti ini—tidak menjalankan apa yang Allah perintahkan. Ia belum menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya, bahkan terus berada dalam kekurangan dalam melaksanakan perintah tersebut. فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kemudian Allah mengarahkan manusia untuk memperhatikan dan merenungkan makanannya, bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui berbagai tahapan yang berulang, dan bagaimana Allah memudahkannya untuk mendapatkannya.أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit).” (QS. ‘Abasa: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Artinya, Kami menurunkan hujan ke bumi dengan deras.ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa: 26)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni Kami membelah bumi untuk tumbuhnya tanaman.فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.” (QS. ‘Abasa: 27)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni berbagai jenis makanan yang beragam dan lezat, serta sumber makanan yang baik, mencakup seluruh jenis biji-bijian dengan berbagai macamnya.وَعِنَبًا وَقَضْبًا“anggur dan sayur-sayuran.” (QS. ‘Abasa: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:(Qadb adalah sayuran yang dimakan segar.)وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا“zaitun dan kurma.” (QS. ‘Abasa: 29)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Disebutkan khusus karena banyaknya manfaat dan kegunaannya.وَحَدَآئِقَ غُلْبًا“kebun-kebun (yang) lebat.” (QS. ‘Abasa: 30)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yakni kebun-kebun yang dipenuhi pepohonan yang rimbun.وَفَٰكِهَةً وَأَبًّا“dan buah-buahan serta rumput-rumputan.” (QS. ‘Abasa: 31)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Buah-buahan adalah segala yang dinikmati manusia, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.مَّتَٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ“untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 32)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun rumput-rumputan adalah makanan bagi hewan ternak. Karena itu Allah berfirman bahwa semua itu adalah kenikmatan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian yang Allah ciptakan dan tundukkan untuk kalian.Barang siapa memperhatikan nikmat-nikmat ini, maka hal itu akan mendorongnya untuk bersyukur kepada Rabb-nya, bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya. Hari Paling Menakutkan: Semua Lari, Bahkan dari Orang Tua!Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yaitu ketika datang teriakan hari kiamat, yang karena dahsyatnya membuat telinga menjadi tuli, dan hati menjadi terguncang, karena apa yang disaksikan manusia berupa kengerian dan kebutuhan yang sangat terhadap amal-amal yang telah lalu.Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. ‘Abasa: 34)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Manusia lari dari orang-orang yang paling ia cintai dan paling ia sayangi, yaitu dari saudaranya,Allah Ta’ala berfirman,وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ“dari ibu dan bapaknya.” (QS. ‘Abasa: 35)وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ“dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 36)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Ia lari dari orang-orang yang paling dekat dengannya: saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya, dan anak-anaknya.Allah Ta’ala berfirman,لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya, dan tidak memperhatikan orang lain. Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka.Allah Ta’ala berfirman,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.” (QS. ‘Abasa: 38)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang bahagia, wajah mereka tampak bersinar, terlihat kegembiraan dan kebahagiaan, karena mereka mengetahui keselamatan mereka dan keberhasilan meraih kenikmatan.Allah Ta’ala berfirman,ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ“tertawa dan bergembira ria” (QS. ‘Abasa: 39)وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ“dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.” (QS. ‘Abasa: 40)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Adapun orang-orang yang celaka, wajah mereka pada hari itu tertutup debu.Allah Ta’ala berfirman,تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ“dan ditutup lagi oleh kegelapan.” (QS. ‘Abasa: 41)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Wajah mereka diliputi kegelapan, menjadi hitam dan suram, mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan mengetahui kesengsaraan serta kebinasaan mereka.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ“Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 42)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka adalah orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat-Nya, dan berani melanggar larangan-Nya.Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Malam Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara dakwah Dakwah Nabi dakwah nabi penuh cinta dakwah para nabi kisah dakwah Rasulullah tafsir juz amma

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada di hari kedua di negeri yang ia tuju, dan penduduk negeri tersebut berpuasa dua puluh sembilan hari (29 hari), sementara ia hanya berpuasa dua puluh delapan hari (28 hari)? Apakah ia tetap berpuasa pada hari ketika penduduk negeri tempat ia berada berbuka, ataukah ia berbuka bersama mereka lalu mengqadha sisa puasanya? Lalu bagaimana hukum orang yang mengalami sebaliknya, di mana ia berpuasa di negerinya sehari sebelum negeri yang ia tuju, lalu apa yang harus ia lakukan jika penduduk negeri tersebut berpuasa tiga puluh hari (30 hari)? Apakah ia harus berpuasa tiga puluh satu hari (31 hari)? Mohon berikan penjelasan kepada kami.Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Hukum asalnya, seorang muslim berpuasa dan berbuka bersama jemaah, kebanyakan umat Islam, dan pemimpin mereka di mana pun ia berada, baik bersama penduduk negerinya sendiri maupun bersama penduduk negeri lain. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ“Puasa adalah pada hari kalian semua berpuasa; berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berhari raya; dan Idul Adha adalah pada hari kalian semua berkurban.” [1]Makna tentang wajibnya puasa dan berbuka bersama jemaah dalam hadis inilah yang dijadikan hujah (dalil) oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap Masruq ketika ia enggan berpuasa pada hari Arafah karena khawatir hari tersebut adalah hari Nahr (Idul Adha). Masruq berkata,“Aku menemui Aisyah pada hari Arafah, lalu ia berkata, ‘Berilah minum Masruq dengan sawiq (minuman dari gandum/tepung) dan perbanyaklah campuran manisnya.'” Masruq berkata, “Aku pun berkata, ‘Sungguh, tidak ada yang menghalangiku untuk berpuasa hari ini selain aku khawatir hari ini adalah hari Nahr.’ Maka Aisyah berkata, ‘Hari Nahr adalah pada saat manusia (semua) berkurban, dan hari berbuka (Idul Fitri) adalah pada saat manusia (semua) berbuka’.” [2]Dari penjelasan ini, bisa dipahami bahwa dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjemaah), seperti puasa Ramadan, berbuka puasa, berkurban, dan merayakan hari raya, serta ibadah sejenisnya, pendapat atau keinginan pribadi tidak bisa dijadikan patokan. Mereka tidak boleh melakukannya sendiri-sendiri (menyendiri), dan tidak boleh pula mengikuti jemaah lain selain jemaah (masyarakat) yang ada di tengah-tengah mereka. Sebaliknya, urusan ibadah ini, baik puasa maupun berbuka, harus mengikuti pemimpin (imam) dan jemaah setempat tempat mereka berada.Jika ketentuan ini harus ia ikuti, maka: Apabila ia berbuka (hanya) kurang dari dua puluh sembilan hari bersama negeri tempat ia pindah, maka ia wajib mengqadha setelahnya apa yang kurang dari puasanya. Hal ini karena bulan qamariyah (Hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari dan tidak lebih dari tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا“Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi (tidak menulis dan berhitung). Bulan itu sekian dan sekian (kadang 29 dan kadang 30).” [3]Demikian pula, jika ia telah menyelesaikan puasa tiga puluh hari, lalu ia pindah ke negeri yang penduduknya masih berpuasa sehari atau lebih, maka ia wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam puasanya. Adapun kelebihan puasanya (dari 30 hari) menjadi puasa sunah baginya. Sebagaimana ia juga wajib menyesuaikan diri dengan mereka dalam berbuka dan merayakan Id, demi mewujudkan tujuan syariat dalam mempersatukan umat Islam dan menyatukan mereka dalam melaksanakan syiar-syiar keagamaan, serta menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat memecah belah barisan dan mencerai-beraikan persatuan mereka. Sesungguhnya,يَد اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ“Tangan Allah bersama jemaah.” [4]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-500Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab “Ash-Shaum”, bab “Jika Suatu Kaum Keliru dalam Melihat Hilal” (no. 2324); At-Tirmidzi dalam kitab “Ash-Shaum” (3: 80), bab “Mengenai Bahwa Hari Berbuka adalah Saat Manusia Berbuka dan Hari Kurban adalah Saat Manusia Berkurban” (no. 697); Ibnu Majah dalam kitab “Ash-Shiyam” (1: 531), bab “Mengenai Dua Bulan Hari Raya” (no. 1660), dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shahihah” (1: 45) no. (224), dan juga oleh Al-Arna’uth dalam tahqiq-nya terhadap kitab “Syarh As-Sunnah” karya Al-Baghawi (6: 248).[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no. 8209). Al-Albani menilai sanadnya baik (jayyid) dalam kitabnya “Silsilah Ash-Shahihah” (1/1/442).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab “Ash-Shaum” (4: 126), bab “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kita tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung'” (no. 1913); Muslim dalam kitab “Ash-Shiyam” (7: 192), bab “Wajibnya Puasa Ramadan karena Melihat Hilal dan Berbuka karena Melihat Hilal; dan Apabila Mendung di Awal atau Akhir Bulan, Maka Sempurnakanlah Hitungan Bulan Menjadi Tiga Puluh Hari” (no. 1080); dan Al-Baghawi dalam “Syarh As-Sunnah” (6/228), dari hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab “Al-Fitan”, bab “Mengenai Kewajiban Berpegang Teguh dengan Jemaah” (no. 2166), dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” (no. 8065).

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Ngeri! Inilah Siksaan Mengerikan Bagi Tukang Hoaks di Alam Barzakh – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ


https://youtu.be/wybMEd9Ivro Musa bin Ismail meriwayatkan kepada kami, dari Jarir, dari Abu Raja’, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat dua orang lelaki datang kepadaku.”Kedua orang itu berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat sedang dirobek mulutnya hingga ke tengkuknya itu adalah seorang pendusta. Ia melakukan suatu kedustaan, lalu kedustaan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai pelosok dunia. Maka ia pun disiksa seperti itu (di alam barzakh) hingga hari kiamat.’” (HR. Bukhari). Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Samurah, yang disebutkan penulis secara lengkap di bagian lain. Rasulullah bersabda: “Ada dua sosok yang mendatangi aku malam ini, lalu mereka berkata: ‘Berangkatlah! Berangkatlah!’” Lalu Nabi menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan dan asing. Di antara yang beliau lihat, sebagaimana sabda beliau: “Aku melihat dua orang yang datang,” yakni dua sosok yang berkata kepada beliau: “Berangkatlah! Berangkatlah!” Lalu beliau melihat seseorang yang mulutnya dirobek. Maksudnya, mulut orang tersebut dirobek dari sudut bibir hingga ke sisi pipinya secara terus-menerus. Kemudian sosok tersebut menjelaskan bahwa itu adalah orang yang sering berbohong, lalu kebohongan itu disebarkan darinya hingga ke penjuru dunia. Yakni, ia sengaja menyebarkan desas-desus atau hoaks di tengah masyarakat. Itulah bentuk hukuman yang ia terima. Bahwa mulutnya akan terus dirobek, hingga robekannya mencapai lubang hidungnya. Ia disiksa seperti itu terus. Setiap kali lukanya sembuh, disiksa lagi seperti itu. Ini adalah ancaman keras bagi orang yang suka menebar hoaks. Dan betapa banyaknya pelaku perbuatan ini pada zaman kita sekarang. Mereka menyebarkan berita bohong di tengah masyarakat. Siapa saja yang berbohong lalu kebohongannya disebarkan hingga ke ufuk dunia, maka ia telah melakukan hal yang sangat keji dan termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hukuman beratnya dalam hadis ini, bahwa ia akan terus menerima siksaan tersebut hingga hari kiamat. ===== حَدَّثَنَا مُوسَى ابْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ قَالَ الَّذِي رَأَيْتَهُ يَشُقُّ شِدْقَيْهِ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ يَكْذِبُ بِالْكِذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ هَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ سَمُرَةَ سَاقَهُ الْمُصَنِّفُ بِطُولِهِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ قَالَ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَ أَتَيَانِ وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَائِبَ وَغَرَائِبَ وَكَانَ مِمَّا رَأَى قَالَ رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِ يَعْنِي هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي قَالَ انْطَلِقِ انْطَلِقْ فَرَأَى رَجُلًا قَالَ يُشَقُّ شِدْقُهُ يَعْنِي يُشَقُّ شِدْقُهُ مِنْ فَمِهِ إِلَى جَانِبِهِ يُشَقُّ شَقًّا ثُمَّ أَخْبَرَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ يَعْنِي يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ هُوَ يُطْلِقُ الشَّائِعَاتِ فِي الْمُجْتَمَعِ فَيَكُونُ هَذَا هُوَ عِقَابُهُ أَنَّهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَنْخِرَيْهِ وَيُفْعَلُ بِهِ هَكَذَا مَا إِنْ يَصِحُّ إِلَّا وَيُعَادُ مَرَّةً أُخْرَى وَهَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي حَقِّ الَّذِينَ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ وَمَا أَكْثَرَهُمْ فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُطْلِقُونَ الشَّائِعَاتِ الْكَاذِبَةَ فِي الْمُجْتَمَعِ فَهَذَا الَّذِي يَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تُحْمَلُ عَنْهُ وَتَبْلُغُ الْآفَاقَ هَذَا قَدْ ارْتَكَبَ أَمْرًا فَظِيعًا وَمِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُقُوبَتِهِ الشَّدِيدَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَأَنَّهُ يَسْتَمِرُّ عَلَى هَذِهِ الْعُقُوبَةِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka.Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs

Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat dan Sebab Padamnya Cahaya Munafik

Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka.Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs
Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka.Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs


Hari kiamat adalah hari ketika iman dan amal tampak nyata, bahkan dalam bentuk cahaya yang menerangi jalan seorang hamba. Orang-orang beriman mendapatkan cahaya sesuai kadar iman, takwa, dan amal mereka, sedangkan orang-orang munafik kehilangan cahaya itu pada saat yang paling genting. Dari ayat-ayat Surah Al-Hadid dan At-Tahrim ini (juz 27 dan 28), kita belajar pentingnya menjaga keikhlasan, menjauhi syahwat, meninggalkan keraguan, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong.  Daftar Isi tutup 1. Cahaya Orang Beriman di Hari Kiamat 2. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat) 3. Cahaya itu Murni Karunia Allah 4. Saat Orang Munafik Kehilangan Cahaya 5. Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang Beriman 5.1. Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamat 6. Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!  Cahaya Orang Beriman di Hari KiamatAllah Ta‘ālā berfirman:يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Ḥadīd: 12)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang beriman yang gemar bersedekah, bahwa pada hari kiamat cahaya mereka berjalan di hadapan mereka di padang mahsyar, sesuai dengan kadar amal mereka.Sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Mas‘ud tentang firman-Nya,يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، قَالَ: عَلَىٰ قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً وَيَطْفَأُ مَرَّةً.“Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, ia berkata: mereka melintasi shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang laki-laki yang berdiri, dan yang paling sedikit cahayanya adalah yang cahayanya berada di ibu jari kakinya, kadang menyala dan kadang padam. (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)Qatadah berkata: disebutkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda,مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَىٰ عَدَنَ أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّىٰ إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ.“Di antara orang-orang beriman ada yang cahayanya menerangi dari Madinah hingga ‘Adn Abyan dan Shan‘a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga di antara mereka ada yang cahayanya hanya menerangi tempat kedua telapak kakinya.”Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah bin Umayyah, ia berkata: sesungguhnya kalian telah dicatat di sisi Allah dengan nama-nama kalian, tanda-tanda kalian, perhiasan kalian, rahasia kalian, dan majelis kalian. Maka ketika hari kiamat tiba, dikatakan: “Wahai fulan, ini adalah cahayamu.” Dan kepada yang lain dikatakan: “Wahai fulan, tidak ada cahaya bagimu.” Lalu ia membaca ayat, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka.”Adh-Dhahhak berkata: setiap orang akan diberi cahaya pada hari kiamat. Ketika mereka sampai di atas shirath, padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang beriman melihat hal itu, mereka merasa takut jika cahaya mereka juga padam sebagaimana padamnya cahaya orang-orang munafik. Maka mereka berkata:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”Al-Hasan berkata tentang firman-Nya, “cahaya mereka bersinar di hadapan mereka”, maksudnya adalah di atas shirath.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abu Darda’ dan Abu Dzar mengabarkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku adalah orang pertama yang diizinkan bersujud pada hari kiamat dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَىٰ أُمَّتِكَ؟Seseorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat dari zaman Nuh hingga umatmu?”قَالَ: «أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ».Beliau menjawab: “Aku mengenali mereka dengan wajah yang bercahaya karena bekas wudhu, yang tidak dimiliki oleh umat lain. Aku mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Aku mengenali mereka dari tanda-tanda di wajah mereka, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang bersinar di hadapan mereka dan pada anak keturunan mereka.”Firman-Nya, “dan di sebelah kanan mereka”, Adh-Dhahhak berkata: yaitu catatan amal mereka berada di tangan kanan mereka, sebagaimana firman Allah, “Barang siapa yang diberikan kitabnya di tangan kanannya.”Firman-Nya, “(dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’”, maksudnya dikatakan kepada mereka: pada hari ini kalian mendapat kabar gembira berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.“Mereka kekal di dalamnya”, yaitu mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya.“Itulah kemenangan yang besar.”Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Allah Ta‘ala menjelaskan tentang keutamaan iman dan kebahagiaan para pemiliknya pada hari kiamat: “(Yaitu) pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.”Artinya, ketika hari kiamat terjadi, matahari digulung, bulan menjadi gelap, dan manusia berada dalam kegelapan, serta shirath dibentangkan di atas neraka Jahannam, maka pada saat itulah engkau melihat orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berjalan dengan cahaya dan catatan amal mereka di tangan kanan, dalam keadaan yang sangat dahsyat dan sulit itu, masing-masing sesuai dengan kadar imannya.Pada saat itu, mereka diberi kabar gembira yang paling agung. Dikatakan kepada mereka:“Pada hari ini ada kabar gembira untuk kalian, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kalian kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”Sungguh, betapa indah kabar gembira ini di dalam hati mereka, dan betapa nikmat bagi jiwa mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan dicintai, serta selamat dari segala keburukan dan hal yang ditakuti. Takwa Menghadirkan Cahaya dan Ampunan (Dua Bagian Rahmat)Allah Ta‘ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥadīd: 28)Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:Ayat ini kemungkinan merupakan seruan kepada Ahli Kitab yang telah beriman kepada Musa dan Isa ‘alaihimas salam, agar mereka mengamalkan konsekuensi dari iman mereka, yaitu dengan bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan maksiat, serta beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yaitu dua bagian pahala: satu pahala atas iman mereka kepada para nabi terdahulu, dan satu pahala atas iman mereka kepada Muhammad ﷺ.Kemungkinan lain, ayat ini bersifat umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang lebih tampak. Allah memerintahkan mereka untuk beriman dan bertakwa, yang mencakup seluruh ajaran agama, baik lahir maupun batin, pokok maupun cabangnya. Jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, Allah akan memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, yang hakikat dan besarnya hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala. Bisa bermakna pahala atas iman dan pahala atas takwa, atau pahala atas melaksanakan perintah dan pahala atas menjauhi larangan, atau makna dua itu menunjukkan pemberian yang berulang-ulang.“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu Allah memberi kalian ilmu, petunjuk, dan cahaya yang kalian gunakan untuk berjalan di tengah kegelapan kebodohan, serta Dia mengampuni dosa-dosa kalian.“Dan Allah memiliki karunia yang besar,” sehingga pahala ini tidaklah dianggap besar bagi Zat Yang memiliki karunia yang agung, yang karunia-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari karunia-Nya walau sekejap mata, bahkan lebih kecil dari itu.Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Telah disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memahami ayat ini tentang orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, sebagaimana disebutkan dalam ayat di surah Al-Qashash, dan sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya‘bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy‘ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِي فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ“Tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali: seorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala; seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala; dan seorang yang mendidik budak wanitanya dengan baik, lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pendapat ini juga disepakati oleh Adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim, dan selain keduanya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Sa‘id bin Jubair berkata: ketika Ahli Kitab membanggakan bahwa mereka mendapatkan pahala dua kali, maka Allah menurunkan ayat ini untuk umat ini:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya, menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan, dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Maksudnya, dua bagian tersebut adalah dua kali lipat. Allah juga menambahkan bagi mereka, “dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan itu kalian berjalan,” yaitu petunjuk yang dengannya seseorang dapat melihat jalan di tengah kebutaan dan kebodohan, serta mengampuni kalian. Allah melebihkan mereka dengan cahaya dan ampunan. Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Jarir.Ayat ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang benar dan yang batil), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)Sa‘id bin ‘Abdul ‘Aziz berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada seorang alim dari kalangan Yahudi: “Berapa kali lipat paling besar pahala kebaikan yang diberikan kepada kalian?” Ia menjawab: “Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi tiga ratus lima puluh kebaikan.” Maka Umar memuji Allah karena Dia telah memberikan kepada kita dua bagian (pahala). Kemudian Sa‘id menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ“Dia akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya.”Sa‘id berkata: dua bagian itu pada hari Jumat seperti itu juga. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Jarir.Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi‘, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَىٰ صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَىٰ قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ؟ أَلَا فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَىٰ غُرُوبِ الشَّمْسِ عَلَىٰ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ؟ أَلَا فَأَنْتُمُ الَّذِينَ عَمِلْتُمْ، فَغَضِبَتِ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ، وَقَالُوا: نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ: هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَإِنَّمَا هُوَ فَضْلِي أُؤْتِيهِ مَنْ أَشَاءُ“Perumpamaan kalian dengan Yahudi dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja. Ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Shubuh hingga tengah hari dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Yahudi bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar dengan upah satu qirath satu qirath?’ Maka orang-orang Nasrani bekerja. Kemudian ia berkata: ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari setelah Ashar hingga terbenam matahari dengan upah dua qirath dua qirath?’ Maka kalianlah yang bekerja. Lalu orang-orang Nasrani dan Yahudi marah dan berkata: ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi mendapatkan upah lebih sedikit.’ Ia berkata: ‘Apakah aku mengurangi sedikit pun dari upah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”Ahmad berkata: hadits ini juga diriwayatkan kepada kami oleh Mu’ammal, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, semisal hadits Nafi‘ darinya.Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Ayyub, dari Nafi‘ dengan sanad tersebut, dan juga dari Qutaibah, dari Al-Laits, dari Nafi‘ dengan lafaz yang semisal.Al-Bukhari juga berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَىٰ أَجْرٍ مَعْلُومٍ، فَعَمِلُوا إِلَىٰ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا: لَا حَاجَةَ لَنَا فِي أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا، وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: لَا تَفْعَلُوا، أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا، فَأَبَوْا وَتَرَكُوا، وَاسْتَأْجَرَ آخَرِينَ بَعْدَهُمْ فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمْ وَلَكُمُ الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنَ الْأَجْرِ، فَعَمِلُوا، حَتَّىٰ إِذَا كَانَ حِينَ صَلَوْا الْعَصْرَ قَالُوا: مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ، وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ، فَقَالَ: أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ؛ فَإِنَّ مَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَأَبَوْا، فَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِ حَتَّىٰ غَابَتِ الشَّمْسُ، فَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا، فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ“Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani seperti seorang laki-laki yang menyewa suatu kaum untuk bekerja sehari penuh sampai malam dengan upah tertentu. Mereka bekerja sampai tengah hari, lalu berkata: ‘Kami tidak butuh upah yang engkau janjikan, dan apa yang kami kerjakan sia-sia.’ Ia berkata: ‘Jangan lakukan itu, selesaikan sisa pekerjaan kalian dan ambil upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi. Lalu ia menyewa orang lain setelah mereka dan berkata: ‘Selesaikan sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah seperti yang aku janjikan kepada mereka.’ Mereka bekerja, hingga ketika waktu Ashar, mereka berkata: ‘Apa yang kami kerjakan sia-sia, dan upah itu untukmu.’ Ia berkata: ‘Selesaikan sisa pekerjaan kalian, karena yang tersisa dari hari itu hanya sedikit.’ Namun mereka menolak. Lalu ia menyewa suatu kaum untuk menyelesaikan sisa hari itu, maka mereka bekerja hingga matahari terbenam, dan mereka mendapatkan upah kedua kelompok sebelumnya secara penuh. Itulah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya ini.”Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Al-Bukhari. Cahaya itu Murni Karunia AllahAllah Ta‘ālā berfirman,﴿نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Taḥrīm: 8)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’”Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, dan selain mereka berkata: ucapan ini diucapkan oleh orang-orang beriman ketika mereka melihat pada hari kiamat cahaya orang-orang munafik telah padam.Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abi Habib, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, bahwa ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ“Akulah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku melihat ke hadapanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kananku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya. Aku melihat ke sebelah kiriku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat lainnya.”Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat?” Beliau menjawab:غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ آثَارِ الطُّهُورِ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ“Mereka memiliki wajah dan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas wudhu, dan tidak ada umat lain yang memiliki hal itu selain mereka. Aku juga mengenali mereka karena mereka menerima catatan amal mereka dengan tangan kanan, aku mengenali mereka dari tanda di wajah mereka akibat sujud, dan aku mengenali mereka dari cahaya yang berjalan di hadapan mereka.”Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Ath-Thalqani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Hassan, dari seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia berkata: aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ pada tahun penaklukan Makkah, lalu aku mendengar beliau berdoa:اللَّهُمَّ لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari kiamat.” Saat Orang Munafik Kehilangan CahayaAllah Ta‘ālā berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Ḥadīd: 13)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas sebagai berikut.Ketika orang-orang munafik melihat cahaya orang-orang beriman yang mereka gunakan untuk berjalan, sementara cahaya mereka sendiri telah padam dan mereka berada dalam kegelapan dalam keadaan bingung, mereka berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.”Maksudnya, berilah kami kesempatan agar kami mendapatkan cahaya yang bisa kami gunakan untuk berjalan, sehingga kami selamat dari azab.Maka dikatakan kepada mereka:ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Maksudnya, jika hal itu mungkin dilakukan. Padahal kenyataannya hal itu tidak mungkin, bahkan termasuk sesuatu yang mustahil.Lalu dipisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik dengan sebuah dinding:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Yaitu sebuah dinding yang kokoh dan benteng yang kuat. Bagian dalam yang menghadap orang-orang beriman berisi rahmat, sedangkan bagian luar yang menghadap orang-orang munafik berisi azab. Lalu orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya sebagai berikut.“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’”Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang apa yang terjadi pada hari kiamat di padang mahsyar berupa berbagai kengerian yang mengguncangkan, gempa yang dahsyat, dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan. Pada hari itu, tidak ada yang selamat kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim bin ‘Amir, ia berkata: kami keluar mengiringi jenazah di pintu Damaskus bersama Abu Umamah Al-Bahili. Setelah beliau menyalati jenazah dan mereka mulai menguburkannya, Abu Umamah berkata:“Wahai manusia, kalian sekarang berada di suatu tempat yang di dalamnya kalian membagi-bagi kebaikan dan keburukan. Kalian hampir akan berpindah darinya menuju tempat lain, yaitu ini”—sambil menunjuk ke kubur—“rumah kesendirian, rumah kegelapan, rumah ulat, dan rumah kesempitan, kecuali yang dilapangkan oleh Allah. Kemudian kalian akan berpindah darinya menuju berbagai tempat pada hari kiamat. Pada sebagian tempat itu, manusia akan diliputi oleh suatu perkara dari Allah, sehingga ada wajah yang menjadi putih dan ada wajah yang menjadi hitam.Kemudian kalian berpindah lagi ke tempat lain, lalu manusia diliputi oleh kegelapan yang sangat. Setelah itu, cahaya dibagikan. Orang beriman diberi cahaya, sedangkan orang kafir dan munafik tidak diberi apa pun. Inilah perumpamaan yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya:أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ“Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, yang diliputi ombak di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada baginya cahaya.” (QS. An-Nur: 40)Maka orang kafir dan munafik tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang beriman, sebagaimana orang buta tidak dapat mengambil manfaat dari cahaya orang yang melihat. Lalu orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman:انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا“Tunggulah kami, agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah cahaya (di sana).”Itulah tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya:يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ“Mereka menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS. An-Nisa: 142)Maka mereka kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak mendapatkan apa pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang beriman, namun telah dipisahkan antara mereka dengan sebuah dinding yang memiliki pintu:بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Sulaim bin ‘Amir berkata: orang munafik terus tertipu hingga cahaya dibagikan, lalu Allah membedakan antara orang beriman dan orang munafik.Ada lagi tambahan dari Ibnu Katsir sebagai berikut.Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Alwiyah Al-Qaththan, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Isa Al-‘Aththar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyir Abu Hudzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: ﴿انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ﴾، وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: ﴿رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا﴾، فَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا“Sesungguhnya Allah memanggil manusia pada hari kiamat dengan nama-nama mereka sebagai bentuk penutupan (aib) dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Adapun di dekat shirath, Allah memberikan kepada setiap orang beriman cahaya, dan kepada setiap orang munafik juga cahaya. Ketika mereka telah berada di atas shirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata: ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’ Dan orang-orang beriman berkata: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.’ Maka pada saat itu, tidak ada seorang pun yang mengingat orang lain.”Firman-Nya:فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ“Maka dipasanglah di antara mereka sebuah dinding yang memiliki pintu. Bagian dalamnya terdapat rahmat, dan bagian luarnya, dari arah itu, terdapat azab.”Al-Hasan dan Qatadah berkata: dinding itu adalah pemisah antara surga dan neraka.‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: itulah yang disebut oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ“Dan di antara keduanya ada batas.” (QS. Al-A‘raf: 46)Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah dan selainnya, dan inilah pendapat yang benar.Baca juga: Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)Pengakuan Orang Munafik, Jawaban Orang BerimanAllah Ta‘ālā berfirman,يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Ḥadīd: 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini sebagai berikut.“Mereka memanggil mereka, ‘Bukankah kami dahulu bersama kalian?’” maksudnya, orang-orang munafik memanggil orang-orang beriman: bukankah kami dahulu bersama kalian di dunia, menghadiri shalat Jumat bersama kalian, shalat berjamaah bersama kalian, wukuf di Arafah bersama kalian, ikut dalam peperangan bersama kalian, dan menjalankan berbagai kewajiban bersama kalian?“Mereka menjawab, ‘Benar,’” yaitu orang-orang beriman menjawab: benar, kalian dahulu bersama kami.“Namun kalian mencelakakan diri kalian sendiri, menunggu-nunggu, ragu-ragu, dan kalian ditipu oleh angan-angan kosong.” Sebagian ulama salaf berkata: maksudnya kalian mencelakakan diri dengan kenikmatan, maksiat, dan syahwat.“Dan kalian menunggu-nunggu,” maksudnya kalian menunda tobat dari waktu ke waktu.Qatadah berkata: “Dan kalian menunggu-nunggu” yaitu terhadap kebenaran dan para pengikutnya. “Dan kalian ragu-ragu,” yaitu terhadap kebangkitan setelah kematian. “Dan kalian ditipu oleh angan-angan,” yaitu kalian berkata: Allah akan mengampuni kami. Ada juga yang mengatakan: kalian tertipu oleh dunia.“Hingga datang ketetapan Allah,” maksudnya kalian terus dalam keadaan itu hingga datang kematian.“Dan setan telah menipu kalian tentang Allah,” maksudnya setan.Qatadah berkata: mereka terus berada dalam tipuan setan, hingga akhirnya Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.Makna ucapan orang-orang beriman kepada orang-orang munafik ini adalah: kalian dahulu bersama kami secara lahiriah, tetapi tanpa niat dan tanpa hati. Kalian berada dalam kebingungan dan keraguan, kalian hanya berbuat untuk dilihat manusia, dan kalian tidak mengingat Allah kecuali sedikit.Mujahid berkata: orang-orang munafik dahulu hidup bersama orang-orang beriman, mereka menikah dengan mereka, bergaul, dan hidup bersama mereka. Namun mereka mati dalam keadaan terpisah. Pada hari kiamat, mereka semua diberi cahaya, tetapi cahaya orang-orang munafik dipadamkan ketika sampai di dekat dinding, lalu dipisahkan antara mereka.Ucapan orang-orang beriman ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang mengabarkan tentang mereka:كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ۝ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ۝ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa: ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab: ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, serta kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’” (QS. Al-Muddatstsir: 38–47)Ucapan itu keluar dari orang-orang beriman sebagai bentuk celaan dan teguran keras kepada mereka. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman:فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ“Maka tidak berguna bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48) Empat sebab padamnya cahaya pada hari kiamatBerdasarkan Al-Hadid ayat 14, sebab tercabutnya cahaya pada hari kiamat dapat diringkas menjadi empat hal:1. Mencelakakan diri dengan maksiat dan syahwat(فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ)2. Menunda tobat dan menunggu-nunggu kebenaran(وَتَرَبَّصْتُمْ)3. Ragu terhadap iman dan hari akhir(وَارْتَبْتُمْ)4. Tertipu oleh angan-angan dan tipuan setan(وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ … وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ) Nasihat Penutup: Jagalah Cahaya Iman!Di zaman sekarang, seseorang bisa tampak dekat dengan agama secara lahiriah, tetapi yang paling menentukan tetaplah keadaan hati di sisi Allah. Banyak orang rajin hadir dalam majelis ilmu, aktif dalam amal, dan terlihat baik di hadapan manusia, namun yang menyelamatkan adalah iman yang jujur dan hati yang bersih. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan ibadah, tetapi perbaikilah juga niat, tobat, keyakinan, dan rasa takut kepada Allah. Semoga Allah menjaga cahaya iman kita, meneguhkan kita di atas kebenaran, dan tidak menjadikan kita termasuk orang yang kehilangan cahaya pada hari kiamat.اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَAllāhumma atmim lanā nūranā, waghfir lanā, wa tsabbit qulūbanā ‘alā ṭā‘atika, waj‘alnā min ‘ibādikal-mukhliṣīn.“Ya Allah, sempurnakanlah cahaya kami, ampunilah kami, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscahaya iman hari akhir hari kiamat iman dan amal munafik nasihat akhirat orang munafik renungan ayat renungan quran rumaysho shirath tafsir Al-Hadid tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir quran takwa tazkiyatun nafs

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir.Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Rezeki Lapang Bisa Menipu, Rezeki Sempit Bisa Menyelamatkan

Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir.Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup
Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir.Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup


Banyak orang mengira bahwa rezeki yang lapang adalah tanda kemuliaan, dan rezeki yang sempit adalah tanda kehinaan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya dunia yang dimiliki. Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana Allah mengatur rezeki dengan penuh hikmah dan kasih sayang. Ini adalah penenungan ayat dari juz ke-25, surah Az-Zukhruf.  Daftar Isi tutup 1. Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah 2. Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan Sementara 3. Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan Hamba 4. Nasihat Penutup  Dunia Tidak Bernilai di Sisi AllahAllah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS. Az-Zukhruf: 33)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Ayat ini menjelaskan bahwa dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Kalaulah bukan karena kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada para hamba, yang selalu Dia dahulukan, niscaya Allah akan melapangkan dunia dengan sangat luas bagi orang-orang kafir.Bahkan, Allah akan menjadikan atap-atap rumah mereka dari perak, dan juga tangga-tangga dari perak yang mereka gunakan untuk naik ke bagian atas rumah mereka.Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin Kemewahan Dunia Hanya Kesenangan SementaraAllah Ta’ala berfirman,وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ“Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.”  (QS. Az-Zukhruf: 34)وَزُخْرُفًا ۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْءَاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 35)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini.Dan Allah juga akan menjadikan bagi mereka berbagai perhiasan (kemewahan), yaitu menghiasi dunia mereka dengan berbagai bentuk hiasan, serta memberikan apa saja yang mereka inginkan.Namun, Allah menahan semua itu karena rahmat-Nya kepada para hamba. Dia khawatir jika dunia dilapangkan secara berlebihan, manusia akan semakin cepat terjerumus dalam kekufuran dan semakin banyak melakukan maksiat karena terlalu mencintai dunia.Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah terkadang menahan sebagian kenikmatan dunia dari hamba-Nya, baik secara umum maupun khusus, demi kebaikan mereka.Ini juga menunjukkan bahwa dunia tidak bernilai di sisi Allah, bahkan tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk. Semua yang disebutkan itu hanyalah kenikmatan sementara, yang penuh kekurangan, mengganggu, dan pasti akan lenyap.Adapun akhirat di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenikmatan di akhirat itu sempurna dari segala sisi. Di dalam surga terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.Betapa besar perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.Baca juga: Orang Kafir Tidak Diberi Rezeki, Namun? Allah Menahan Dunia Demi Kebaikan HambaKetika menjelaskan ayat berikut ini,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: وَأَهْلُ التَّقْوَى يَرْزُقُهُمْ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُونَ وَلَا يَكُونُ رِزْقُهُمْ بِأَسْبَابِ مُحَرَّمَةٍ وَلَا يَكُونُ خَبِيثًا وَالتَّقِيُّ لَا يُحْرَمُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ الرِّزْقِ Orang-orang yang bertakwa akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Rezeki mereka bukan berasal dari sebab-sebab yang haram, dan bukan pula rezeki yang buruk. Orang yang bertakwa tidak akan dihalangi dari rezeki yang benar-benar ia butuhkan. وَإِنَّمَا يُحْمَى مِنْ فُضُولِ الدُّنْيَا رَحْمَةً بِهِ وَإِحْسَانًا إلَيْهِ؛ فَإِنَّ تَوْسِيعَ الرِّزْقِ قَدْ يَكُونُ مَضَرَّةً عَلَى صَاحِبِهِ وَتَقْدِيرَهُ يَكُونُ رَحْمَةً لِصَاحِبِهِ.Hanya saja, terkadang ia dijauhkan dari kelebihan dunia, sebagai bentuk rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Sebab, dilapangkannya rezeki bisa jadi justru membahayakan pemiliknya, sedangkan disempitkannya rezeki bisa jadi merupakan rahmat bagi dirinya.Allah Ta’ala berfirman:{فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ} {وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ} {كُلًّا}“Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)Maksudnya, persoalannya tidak seperti itu. Tidak setiap orang yang dilapangkan rezekinya berarti dimuliakan, dan tidak setiap orang yang disempitkan rezekinya berarti dihinakan.بَلْ قَدْ يُوَسَّعُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ إمْلَاءً وَاسْتِدْرَاجًا وَقَدْ يُقَدَّرُ عَلَيْهِ رِزْقُهُ حِمَايَةً وَصِيَانَةً لَهُBisa jadi seseorang dilapangkan rezekinya sebagai bentuk penangguhan dan istidraj. Sebaliknya, bisa jadi seseorang disempitkan rezekinya sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan untuk dirinya.وَضِيقُ الرِّزْقِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ قَدْ يَكُونُ لِمَا لَهُ مِنْ ذُنُوبٍ وَخَطَايَاSempitnya rezeki yang dialami seorang hamba yang taat beragama terkadang juga disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahannya.Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf,إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.”Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 16:53)Baca juga: Istidraj: Jebakan Berupa Limpahan Rezeki Karena Bermaksiat Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta dan kemewahan, padahal itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Jangan mudah iri dengan rezeki orang lain, karena bisa jadi itu ujian yang berat baginya. Sebaliknya, jangan pula merasa rendah diri saat rezeki terasa sempit, karena bisa jadi itu bentuk penjagaan dari Allah. Fokuslah memperbaiki takwa dan memperbanyak istighfar, karena di situlah kunci keberkahan hidup.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَAllāhumma-rzuqnā rizqan ṭayyiban mubārakan, wakfinā biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk.Ya Allah, karuniakan kepada kami rezeki yang baik dan penuh berkah, cukupkan kami dengan yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram, dan jadikan kami merasa cukup dengan karunia-Mu dari selain-Mu. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Ibn Taymiyyah, A. ibn T. (2004). Majmū‘ al-fatāwā (A. ibn M. ibn Qāsim, Ed.; M. ibn ‘Abd al-Raḥmān ibn Qāsim, Assisting ed.). Majma‘ al-Malik Fahd li-Ṭibā‘at al-Muṣḥaf al-Sharīf. —– Selasa, 28 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal fajr ath thalaq az zukhruf cinta dunia dunia vs akhirat istidraj istigfar pembuka pintu rezeki renungan ayat renungan quran rezeki tafsir quran takwa ujian hidup

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Nasihat Menyentuh Syaikh Utsaimin Agar Shalat Khusyuk – Syaikh Utsaimin #NasehatUlama

https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ
https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ


https://youtu.be/7z7zbVsr7sg Wahai saudaraku! Ketika Anda berdiri untuk shalat, Anda akan merasakan pergulatan batin dengan dirimu sendiri. Sebuah pergulatan, nafsu Anda membisikkan: “Cepatlah! Cepatlah! Cepatlah!” Namun, janganlah Anda ikuti! Katakanlah: “Aku sadar bahwa aku tidak akan meraih manfaat dari duniaku kecuali pada saat shalat ini!” Dengan amalan ini! Jika Anda menghadirkan perasaan ini, bahwa Anda tidak akan memetik manfaat dari hidupmu ini kecuali dengan amalan shalat dan yang semisalnya. Apakah Anda akan lari darinya seperti menghindari singa, atau justru merasa tenang? Jawablah, wahai jemaah! Tentu Anda merasa tenang! Wahai saudaraku, renungkanlah ini! Saat Anda bertakbir “Allahu Akbar!”, nafsu Anda kembali berbisik: “Ayo, cepat! Selesaikan segera!” Pada saat itu, katakanlah pada diri Anda: “Tenanglah! Tenanglah!” “Tenanglah, karena aku tidak memiliki bekal dari hidupku kecuali amalan ini.” “Tidak ada yang berguna bagiku di alam kubur, saat kematianku, maupun pada hari kiamat kelak kecuali amalan ini.” Tenanglah, wahai saudaraku! Ingatlah ketika Anda sedang shalat, kepada siapa Anda sedang bermunajat? Kepada siapa Anda bermunajat, wahai saudaraku? Anda sedang bermunajat kepada Zat yang paling Anda cintai, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Tidakkah Anda tahu bahwa saat Anda mengucap: “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,” Allah Ta’ala menjawab dari atas langit yang tujuh: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ar-Rohmaaanir rohiim,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Maaliki yaumiddiin,” Dia berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Ini semua adalah kebenaran yang nyata! Tidakkah Anda tahu saat Anda membaca: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah berfirman: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, terbagi menjadi dua bagian.” Tidakkah Anda tahu, saat Anda membaca: “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” Apakah Anda menemukan kebaikan yang lebih banyak dari ini? Bagaimana mungkin Anda lari dari berdiri di hadapan Zat yang sedang mengajak Anda bicara, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segalanya? Wahai saudaraku, kenalilah diri Anda! Kenalilah hakikat diri Anda, dan untuk tujuan apa Anda diciptakan? Demi Allah, sekiranya kita benar-benar merasakan hal ini, niscaya segala ibadah akan terasa ringan, dan seluruh dunia ini pasti akan terasa tidak berharga bagi kita. “Seandainya dunia ini senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Tuhan tidak akan memberi minum darinya kepada orang kafir.” “Namun demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi-Nya daripada kepakan sayap nyamuk itu.” Demikianlah yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan sungguh benar apa yang beliau katakan. ===== فَأَنْتَ يَا أَخِي عِنْدَمَا تَقُومُ تُصَلِّي تَجِدُ عِرَاكًا مَعَ نَفْسِكَ مُصَارَعَةً نَفْسُكَ تَقُولُ: عَجِّلْ عَجِّلْ عَجِّلْ لَكِنْ لَا تُطِعْهَا قُلْ: أَنَا أَعْلَمُ أَنِّي لَا أَنْتَفِعُ مِنْ دُنْيَايَ إِلَّا فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ وَبِهَذَا الْعَمَلِ وَإِذَا شَعَرْتَ هَذَا الشُّعُورَ وَأَنَّكَ لَنْ تَنْتَفِعَ مِنْ حَيَاتِكَ إِلَّا بِهَذَا وَأَمْثَالِهِ هَلْ تَفِرُّ مِنْهُ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ أَوْ تَطْمَئِنُّ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ تَطْمَئِنُّ يَا أَخِي، فَكِّرْ فِي هَذَا عِنْدَمَا تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ تَجِدُ شَيْئًا فِي نَفْسِكَ يَلَا مَشِ مَشِ قُلْ يَا أَخِي هَوْنًا هَوْنًا هَوْنًا مَا لِي مِنْ حَيَاتِي إِلَّا هَذَا مَا يَنْفَعُنِي فِي قَبْرِي وَلَا عِنْدَ مَوْتِي وَلَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَذَا اطْمَئِنَّ يَا أَخِي ثُمَّ اذْكُرْ وَأَنْتَ فِي صَلَاتِكَ مَنْ تُنَاجِي مَنْ تُنَاجِي يَا أَخِي تُنَاجِي أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْكَ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ قَالَ حَمِدَنِي عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي كُلُّ هَذَا حَقٌّ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ اللهُ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ قَالَ اللهُ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ هَلْ تَجِدُ خَيْرًا أَكْثَرَ مِنْ هَذَا؟ كَيْفَ تَفِرُّ مِنْ أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ يُنَاجِيكَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَا أَخِي اعْرِفْ نَفْسَكَ اعْرِفْ نَفْسَكَ وَلِمَاذَا خُلِقْتَ وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَشْعُرُ هَذَا الشُّعُورَ لَهَانَتْ عَلَيْنَا الْعِبَادَاتُ وَلَا رَخُصَتْ عَلَيْنَا الدُّنْيَا كُلُّهَا لَوْ سَاوَتِ الدُّنْيَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ لَمْ يَسْقِ مِنْهَا الرَّبُّ ذَا الْكُفْرَانِ لَكِنَّهَا وَاللهِ أَحْقَرُ عِنْدَهُ مِنْ ذَا الْجَنَاحِ الْقَاصِدِ الطَّيَرَانِ هَكَذَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَصَدَقَ

Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam

Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah.Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa

Ibnu Ummi Maktum: Sahabat Nabi yang Buta tetapi Tetap Berjuang untuk Islam

Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah.Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa
Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah.Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa


Di antara sahabat Nabi ﷺ terdapat sosok yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki iman yang luar biasa kuat. Ia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang buta tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk berjuang di jalan Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muazin Nabi yang Tunanetra 2. Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi Maktum 3. Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar” 4. Semangat Jihad Meski Memiliki Keterbatasan 5. Nasihat Penutup Ibnu Ummi Maktum diperselisihkan mengenai nama aslinya. Penduduk Madinah mengatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham bin Rawahah Al-Qurasyi Al-‘Amiri.Adapun penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Ibunya bernama Ummu Maktum, yaitu ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum bin Yaqazhah Al-Makhzumiyyah. Ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan berhijrah. Muazin Nabi yang TunanetraIa adalah seorang tunanetra dan menjadi muazin Rasulullah ﷺ bersama Bilal, Sa‘d Al-Qurazh, dan Abu Mahdzurah—yang menjadi muazin di Makkah.Ibnu Ummi Maktum berhijrah tidak lama setelah Perang Badar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa‘d. Nabi ﷺ sangat menghormatinya dan pernah menunjuknya sebagai pengganti beliau di Madinah, sehingga ia memimpin salat bagi orang-orang yang tinggal di sana.Asy-Sya‘bi mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk ‘Amr bin Ummi Maktum untuk memimpin manusia sebagai imam, padahal ia seorang yang buta. Hal itu disebut terjadi pada Perang Tabuk. Namun riwayat yang lebih kuat menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi ﷺ sebenarnya menunjuk ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau di Madinah.Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ dua kali menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan pula dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, bahwa Nabi ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah pada Perang Badar. Namun riwayat ini bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Hal ini juga bertentangan dengan hadis dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, yang mengatakan:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair, kemudian setelah itu datang ‘Amr bin Ummi Maktum. Mereka berdua lalu mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Dalam riwayat lain, Syu‘bah dari Abu Ishaq, dari Al-Bara’, ia berkata:Orang pertama yang datang kepada kami adalah Mush‘ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum, lalu keduanya mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia.Diriwayatkan pula oleh Hammad bin Salamah, dari Abu Zhalal, ia berkata:Aku pernah berada di sisi Anas bin Malik, lalu ia bertanya kepadaku, “Kapan penglihatanmu hilang?” Aku menjawab, “Ketika aku masih kecil.” Maka ia berkata:Suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ, sementara di sisi beliau ada Ibnu Ummi Maktum. Jibril bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak aku masih kecil.”Lalu Jibril berkata, “Allah berfirman:Jika Aku mengambil sesuatu yang sangat dicintai dari hamba-Ku (yaitu penglihatannya), maka Aku tidak menemukan balasan yang layak baginya selain surga.”‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:Ibnu Ummi Maktum adalah muazin Rasulullah ﷺ, padahal ia seorang yang buta.Diriwayatkan oleh Hajjaj bin Arthah, dari seorang syekh, dari sebagian muazin Rasulullah ﷺ, ia berkata:Bilal biasa mengumandangkan azan, sedangkan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan iqamah. Kadang-kadang Ibnu Ummi Maktum yang azan dan Bilal yang iqamah. Namun sanad riwayat ini lemah.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.”Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan azan sampai ada yang mengatakan kepadanya, “Sudah pagi, sudah pagi.” Turunnya Surah ‘Abasa karena Ibnu Ummi MaktumUrwah berkata:Suatu ketika Nabi ﷺ sedang bersama beberapa tokoh Quraisy, di antaranya Utbah bin Rabi‘ah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada beliau. Nabi ﷺ berpaling darinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–2)Al-Waqidi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Nuh, dari Muhammad bin Sahl bin Abi Hatsmah, ia berkata:Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah. Ia mengumpulkan manusia untuk salat dan berkhutbah di dekat mimbar, dengan posisi mimbar di sebelah kirinya.Yunus bin Abi Ishaq meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah bin Ma‘qal, ia berkata:Ibnu Ummi Maktum pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi di Madinah yang dahulu bersikap baik kepadanya, tetapi kemudian wanita itu mencela Nabi ﷺ. Maka Ibnu Ummi Maktum memukulnya hingga wanita itu meninggal. Perkara itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ. Ibnu Ummi Maktum berkata:“Demi Allah, dahulu ia memang baik kepadaku, tetapi ia telah menyakiti aku karena Allah dan Rasul-Nya.”Maka Nabi ﷺ bersabda:“Semoga Allah menjauhkannya. Darahnya tidak dituntut.”Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara’, ia berkata:Ketika turun ayat:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ“Tidaklah sama orang-orang yang duduk (tidak ikut berjihad)…” Turunnya Ayat “Ghairu Ulī ad-Dharar”Nabi ﷺ memanggil Zaid dan memerintahkannya menulis ayat itu. Zaid datang membawa sepotong tulang bahu untuk menuliskannya. Lalu datang Ibnu Ummi Maktum, mengadukan kebutaannya. Maka turunlah tambahan ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ“kecuali orang-orang yang memiliki uzur.”Tsabit Al-Bunani meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa Ibnu Ummi Maktum pernah berdoa:“Wahai Rabbku, turunkanlah alasan pembebasanku.”Lalu turun ayat:غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِSetelah itu ia tetap ingin ikut berjihad dan berkata:“Amanahkan kepadaku panji perang. Aku ini buta, sehingga tidak bisa melarikan diri. Tempatkan aku di antara dua barisan.”Abdurrahman bin Abi Az-Zinad meriwayatkan dari ayahnya, dari Kharijah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata:Aku berada di samping Nabi ﷺ ketika wahyu turun kepada beliau. Saat itu paha beliau menekan pahaku dan aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat darinya. Setelah wahyu selesai, beliau bersabda:“Tulislah.”Lalu aku menulis pada tulang bahu:لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَKemudian ‘Amr bin Ummi Maktum berdiri dan berkata:“Bagaimana dengan orang yang tidak mampu?”Belum selesai ucapannya, wahyu kembali turun kepada Nabi ﷺ. Setelah selesai, beliau bersabda:“Tulislah:”غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِZaid berkata:Ayat itu diturunkan secara khusus sebagai tambahan, seakan-akan aku masih melihat tempat penyisipannya pada tulang bahu yang retak itu. Semangat Jihad Meski Memiliki KeterbatasanIbnu Abi ‘Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum pada Perang Qadisiyah membawa bendera hitam, dan ia mengenakan baju perang.Dalam riwayat Abu Hilal, dari Qatadah, dari Anas disebutkan:Abdullah bin Zaidah, yaitu Ibnu Ummi Maktum, ikut berperang pada hari Qadisiyah dengan mengenakan baju perang yang kuat dan lengkap.Al-Waqidi berkata:Ibnu Ummi Maktum ikut dalam Perang Qadisiyah dengan membawa panji. Setelah itu ia kembali ke Madinah dan wafat di sana. Tidak ada lagi berita tentangnya setelah masa Umar.Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia gugur sebagai syahid dalam Perang Qadisiyah.Hadis darinya diriwayatkan secara mursal oleh Abdurrahman bin Abi Laila dan juga oleh Abu Razin Al-Asadi serta yang lainnya.Adapun Perang Qadisiyah adalah peperangan besar yang terjadi di Irak. Pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Sa‘d bin Abi Waqqash, sedangkan pasukan Persia dipimpin oleh Rustam, Dzu Al-Hajib, dan Jalinus.Abu Wa’il berkata:Jumlah pasukan kaum Muslimin sekitar lebih dari tujuh ribu orang, sedangkan musuh berjumlah empat puluh ribu, bahkan ada yang mengatakan enam puluh ribu orang, dan mereka membawa tujuh puluh ekor gajah.Al-Mada’ini mengatakan:Pertempuran berlangsung selama tiga hari, pada akhir bulan Syawal tahun 15 H. Dalam perang itu Rustam terbunuh, lalu pasukan Persia mengalami kekalahan dan melarikan diri. Nasihat PenutupKisah Ibnu Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari kondisi fisiknya, tetapi dari keimanan dan kesungguhannya dalam mencari hidayah. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki tubuh sehat dan kesempatan luas, tetapi justru lalai dari ilmu dan ibadah.Semoga kisah sahabat mulia ini mendorong kita untuk lebih semangat dalam menuntut ilmu, beribadah, dan berjuang untuk agama Allah sesuai kemampuan kita.اللهم ارزقنا حب الإيمان، وثبت قلوبنا على طاعتك، واجعلنا من عبادك الصالحين.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada iman, teguhkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.” Sumber rujukan: Siyar A’lam An-Nubala’ dari Islamweb —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsIbnu Ummi Maktum jihad sahabat Nabi kisah inspiratif sahabat kisah sahabat nabi muazin Rasulullah perang Qadisiyah sahabat nabi sahabat tunanetra sejarah sahabat tafsir surah Abasa

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleRindu yang bernilai ibadahAmanah didahulukan daripada keinginan pribadiBekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikKesabaran menahan rinduJangan bandingkan diri dengan orang lainMenjadikan momen ini sebagai muhasabahSolusi praktis mengobati rinduSetiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.Rindu yang bernilai ibadahIslam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.Allah Azza wa Jalla berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.Amanah didahulukan daripada keinginan pribadiIslam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaanSebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang AgungSilaturahim tidak selalu dengan hadir fisikMemang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.Kesabaran menahan rinduMenahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.Jangan bandingkan diri dengan orang lainDi era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.Menjadikan momen ini sebagai muhasabahTidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.Gunakan momen ini untuk:Memperbanyak doa.Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.Merenungi perjalanan hidup.Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Solusi praktis mengobati rinduBeberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.Perbanyak zikir dan doa.Allah Azza wa Jalla berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam. Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia. Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.Tidak mudik bukan tanda kurang cinta. Tidak pulang bukan berarti kurang bakti. Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana. Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita. Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.Wallahu Ta‘ala A‘lam.Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)

Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir

Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an dan Dakwah Rasulullah ﷺ kepada Mereka (Tafsir Surah Al-Ahqaf: 29-32)

Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir
Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir


Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan betapa agungnya kalam Allah hingga mampu menggugah hati makhluk yang tidak terlihat oleh manusia. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga beriman, lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada tauhid dan memperingatkan dari kesesatan. Ayat-ayat dalam Surah Al-Ahqaf ini mengajarkan bahwa siapa pun yang jujur mencari kebenaran, akan ditunjuki kepada jalan yang lurus. Baca juga:Kisah Jin Mendengar Al-Quran Lantas Berdakwah pada KaumnyaFaedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranKumpulan Artikel Dakwah Nabi ke Thaif   Daftar Isi tutup 1. 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok Jin 1.1. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺ 1.2. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah: 2. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’an 3. 3. Seruan Jin agar Kaumnya Beriman 3.1. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga? 4. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan Allah 5. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’an 6. Nasihat Penutup 1. Al-Qur’an Didengar oleh Sekelompok JinAllah Ta’ala berfirman,وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓا۟ أَنصِتُوا۟ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا۟ إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat 29:Imam Ahmad berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amr, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah, dari Az-Zubair mengenai firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu beberapa golongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.”Ia berkata: Peristiwa itu terjadi di Nakhlah, ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan salat Isya terakhir. Mengenai firman Allah:كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا “hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)Sufyan menjelaskan bahwa kata اللبد berarti sebagian mereka saling menumpuk di atas yang lain, seperti sesuatu yang saling bertumpuk.Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nanti akan disebutkan pula riwayat dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa jumlah mereka adalah tujuh jin dari daerah Nashibin.Imam Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami. Awal Mula Jin Datang Mendengar Bacaan Nabi ﷺAl-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Ubaid Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ismail Al-Qadhi menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Abu Awanah dari Abu Bisyir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Rasulullah ﷺ tidak pernah membaca Al-Qur’an secara khusus kepada para jin dan tidak pula melihat mereka. Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ berangkat bersama beberapa sahabat menuju pasar ‘Ukaz.Saat itu para setan telah terhalang dari berita langit, dan mereka dilempari dengan bintang-bintang. Maka para setan kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya, “Apa yang terjadi dengan kalian?”Mereka menjawab, “Kami terhalang dari berita langit dan dilempari dengan bintang-bintang.”Kaum mereka berkata, “Tidaklah sesuatu menghalangi kalian dari berita langit kecuali karena ada peristiwa baru yang terjadi. Maka pergilah kalian ke seluruh penjuru bumi, ke timur dan ke barat, dan carilah apa yang menyebabkan kalian terhalang dari berita langit.”Maka mereka pun pergi menyusuri seluruh penjuru bumi untuk mencari penyebab hal tersebut. Sekelompok jin yang menuju arah Tihamah kemudian sampai kepada Rasulullah ﷺ di Nakhlah. Ketika itu beliau sedang dalam perjalanan menuju pasar ‘Ukaz dan sedang shalat Subuh bersama para sahabatnya.Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Lalu mereka berkata, “Inilah, demi Allah, yang telah menghalangi kalian dari berita langit.”Ketika mereka kembali kepada kaum mereka, mereka berkata:يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا“Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.”Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat:قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an).” (QS. Al-Jin: 1)Sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi adalah ucapan para jin tersebut.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musaddad dengan redaksi yang serupa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Syaiban bin Farrukh dari Abu Awanah dengan sanad yang sama. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab tafsir dari hadis Abu Awanah. Imam Ahmad juga berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata:Dahulu para jin dapat mencuri dengar wahyu. Mereka mendengar satu kalimat lalu menambahkan sepuluh kalimat ke dalamnya. Apa yang mereka dengar itu benar, tetapi tambahan mereka adalah kebatilan. Pada masa itu bintang-bintang belum digunakan untuk melempar mereka.Namun ketika Rasulullah ﷺ diutus, setiap jin yang mencoba duduk di tempatnya untuk mencuri dengar akan dilempari dengan meteor yang membakarnya jika mengenainya.Mereka pun mengadukan hal itu kepada Iblis. Iblis berkata, “Ini pasti karena suatu peristiwa baru telah terjadi.”Ia kemudian menyebarkan bala tentaranya. Ternyata mereka menemukan Nabi ﷺ sedang shalat di antara dua gunung di Nakhlah. Mereka pun datang kepada Iblis dan memberitahukan hal itu.Iblis berkata, “Inilah peristiwa baru yang terjadi di bumi.”Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam kitab tafsir mereka melalui jalur Israil. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.Demikian pula riwayat ini diriwayatkan oleh Ayyub dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Begitu juga diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang yang serupa.Al-Hasan Al-Bashri juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui kedatangan mereka sampai Allah menurunkan wahyu yang mengabarkan tentang mereka.Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dari Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi kisah keluarnya Rasulullah ﷺ menuju Thaif dan mengajak mereka kepada Allah, namun mereka menolaknya. Ia menyebutkan kisah tersebut secara panjang, termasuk doa Nabi yang indah:“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya kemampuanku…”Ia berkata: Setelah kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ bermalam di Nakhlah. Pada malam itu beliau membaca Al-Qur’an, lalu para jin dari Nashibin mendengarkannya.Riwayat ini benar, tetapi pernyataan bahwa para jin mendengarkan pada malam tersebut masih perlu ditinjau. Sebab para jin telah mendengarkan Al-Qur’an pada awal masa turunnya wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan sebelumnya.Adapun perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif terjadi setelah wafatnya pamannya, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Wallahu a‘lam.Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Masih Kisah Dakwah ke Thaif, Ketika Jin Mendengar Al-QuranAbu Bakar bin Abi Syaibah berkata: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim, dari Zir, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Sekelompok jin turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an di lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah dan dengarkan.”Jumlah mereka sembilan jin, salah satunya bernama Zawba‘ah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, ‘Diamlah dan dengarkan.’ Ketika bacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.”Sampai firman-Nya:ضَلَالٍ مُبِينٍ“dalam kesesatan yang nyata.”Riwayat ini, bersama riwayat pertama dari Ibnu Abbas, menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada peristiwa ini tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka hanya mendengarkan bacaan beliau, lalu kembali kepada kaum mereka. Setelah itu mereka datang kepada beliau secara bergelombang, satu kaum setelah kaum yang lain, dan satu rombongan setelah rombongan yang lain, sebagaimana nanti akan datang riwayat-riwayat dan atsar-atsar tentang hal itu pada tempatnya, insyaallah. Hanya kepada-Nya tempat bergantung.Adapun riwayat yang dibawakan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qudamah Ubaidullah bin Sa‘id As-Sarkhasi, dari Abu Usamah Hammad bin Usamah, dari Mis‘ar bin Kidam, dari Ma‘n bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada Masruq, “Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ pada malam ketika para jin mendengarkan Al-Qur’an?” Ia menjawab, “Ayahmu telah menceritakan kepadaku, maksudnya Ibnu Mas‘ud, bahwa yang memberitahu beliau tentang mereka adalah sebuah pohon.”Mungkin hal itu terjadi pada peristiwa pertama, sehingga penetapan ini didahulukan atas penafian Ibnu Abbas. Mungkin juga itu terjadi pada salah satu peristiwa yang datang kemudian. Wallahu a‘lam. Bisa juga terjadi pada peristiwa pertama, tetapi beliau tidak mengetahui kehadiran mereka saat mereka sedang mendengarkan, sampai pohon itu memberitahu beliau, maksudnya mengabarkan kepada beliau bahwa mereka sedang mendengarkan. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata: Apa yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma itu adalah tentang pertama kali jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mengetahui keadaan beliau. Pada saat itu beliau tidak membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan tidak pula melihat mereka. Setelah itu, barulah utusan jin datang kepada beliau, lalu beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.Berikut riwayat tentang hal itu:Imam Ahmad berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Dawud menceritakan kepada kami dari Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Dawud, dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Alqamah, ia berkata:Aku bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud, “Apakah ada salah seorang dari kalian yang menemani Rasulullah ﷺ pada malam jin?”Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya. Akan tetapi, pada suatu malam di Makkah kami kehilangan beliau. Kami berkata, ‘Apakah beliau dibunuh? Atau dibawa terbang? Apa yang telah terjadi padanya?’ Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika menjelang pagi, atau saat waktu sahur, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah,’ lalu mereka menyebutkan apa yang mereka alami.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan jin. Lalu aku mendatangi mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Lalu beliau pergi bersama kami dan memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.Asy-Sya‘bi berkata: Mereka bertanya kepada beliau tentang bekal. Amir berkata: Mereka bertanya di Makkah, dan mereka adalah jin dari Jazirah. Maka beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian. Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin.”Demikian pula Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya dari Ali bin Hujr, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dengan riwayat yang semisal.Muslim juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Abdul A‘la menceritakan kepada kami, Dawud, yaitu Ibnu Abi Hind, dari Amir, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Alqamah, “Apakah Ibnu Mas‘ud pernah hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin?”‘Alqamah menjawab, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas‘ud: Apakah ada seseorang dari kalian yang hadir bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin? Ia menjawab: Tidak. Akan tetapi, pada suatu malam kami bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami kehilangan beliau. Kami mencarinya di lembah-lembah dan celah-celah gunung. Kami berkata: Apakah beliau dibawa terbang? Atau dibunuh? Maka kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum. Ketika pagi tiba, ternyata beliau datang dari arah Hira’. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kami kehilanganmu lalu kami mencarimu, tetapi kami tidak menemukanmu, dan kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum.”Beliau bersabda, “Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Ia berkata: Lalu beliau pergi bersama kami, memperlihatkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka. Mereka meminta bekal, lalu beliau bersabda, “Setiap tulang yang disebut nama Allah padanya, akan sampai ke tangan kalian dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan atau kotoran kering adalah makanan bagi hewan tunggangan kalian.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian.”Jalur lain dari Ibnu Mas‘ud:Abu Ja‘far bin Jarir berkata: Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepadaku, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, bahwa Ibnu Mas‘ud berkata:Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam aku bermalam membaca Al-Qur’an kepada jin seperempat bagian di Al-Hajun.”Jalur lain, disebutkan bahwa Ibnu Mas‘ud bersama beliau pada malam jin:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepadaku, pamanku Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Abu Utsman bin Sunnah Al-Khuza‘i, seorang dari penduduk Syam, bahwa Abdullah bin Mas‘ud berkata:Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya ketika beliau berada di Makkah, “Siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan jin malam ini, maka ikutlah.”Maka tidak ada seorang pun yang hadir selain aku. Kami pun berangkat. Ketika kami sampai di dataran tinggi Makkah, beliau membuat garis dengan kakinya untukku, lalu menyuruhku duduk di dalamnya. Kemudian beliau pergi dan berdiri, lalu mulai membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba sekumpulan hitam yang banyak menutup pandanganku terhadap beliau, hingga aku tidak lagi mendengar suara beliau. Setelah itu mereka mulai terpecah seperti potongan awan yang pergi, hingga tersisa beberapa kelompok saja. Rasulullah ﷺ selesai menjelang Subuh, lalu pergi untuk buang hajat. Setelah itu beliau datang kepadaku dan bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rombongan tadi?”Aku menjawab, “Mereka itulah, wahai Rasulullah.”Lalu beliau memberi mereka tulang dan kotoran hewan sebagai bekal, kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan kotoran hewan atau tulang.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dari Abu Zur‘ah Wahbullah bin Rasyid, dari Yunus bin Yazid Al-Ayli, dengannya. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dalam Ad-Dalā’il dari hadis Abdullah bin Shalih, juru tulis Al-Laits, dari Al-Laits, dari Yunus, dengannya.Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dari Jarir, dari Qabus bin Abi Zhabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.Al-Hafizh Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya melalui jalur Musa bin Ubaidah, dari Sa‘id bin Al-Harits, dari Abu Al-Mu‘alla, dari Ibnu Mas‘ud, dan ia menyebutkan yang semisal.Jalur lain:Abu Nu‘aim berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku: Affan dan Ikrimah berkata: Mu‘tamir menceritakan kepada kami. Ayahku berkata: Abu Tamimah menceritakan kepadaku, dari Amr, mungkin ia berkata Al-Bakali, bahwa Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku mengikuti beliau. Maka kami berangkat hingga sampai di suatu tempat. Beliau membuat garis untukku, lalu bersabda, “Tetaplah berada di tengah garis ini, jangan keluar darinya. Jika engkau keluar darinya, engkau akan binasa.”Lalu ia menyebutkan hadis itu dengan panjang, dan di dalamnya terdapat keanehan yang sangat.Jalur lain:Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdil A‘la menceritakan kepada kami, Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Amr bin Ghailan Ats-Tsaqafi, bahwa ia berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Telah diceritakan bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin?”Ia menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana peristiwanya?”Lalu ia menceritakan hadits itu seluruhnya, dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat garis untuknya, seraya bersabda, “Jangan tinggalkan tempat ini.”Ia menyebutkan bahwa sesuatu seperti pusaran hitam menutupi Rasulullah ﷺ. Ia merasa sangat takut sampai tiga kali. Ketika hampir Subuh, Nabi ﷺ datang kepadaku dan bertanya, “Apakah engkau tidur?”Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Bahkan beberapa kali aku ingin meminta pertolongan orang-orang, sampai aku mendengarmu memukul mereka dengan tongkatmu sambil berkata: ‘Duduklah kalian.’”Beliau bersabda, “Kalau engkau keluar, aku tidak merasa aman kalau sebagian dari mereka akan menculikmu.”Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau melihat sesuatu?”Aku menjawab, “Ya, aku melihat laki-laki berkulit hitam, mengenakan pakaian putih.”Beliau bersabda, “Mereka itu jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, dan aku memberi mereka setiap tulang kering, atau kotoran hewan, atau tahi sebagai bekal.”Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa manfaat semua itu bagi mereka?”Beliau menjawab, “Mereka tidak mendapatkan satu tulang pun kecuali akan mendapati dagingnya masih ada di atasnya sebagaimana pada hari saat dimakan, dan mereka tidak mendapatkan kotoran hewan pun kecuali akan mendapati biji-bijiannya masih ada sebagaimana pada hari saat dimakan. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian bersuci setelah buang hajat dengan tulang, kotoran hewan, atau tahi.”Jalur lain:Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami dan Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Yahya bin Manshur Al-Qadhi mengabarkan kepada kami, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Bausyanji menceritakan kepada kami, Ruh bin Shalah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali bin Rabah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ mengajakku dan bersabda, “Sesungguhnya sekelompok jin, lima belas orang, saudara-saudara dan sepupu-sepupu, akan datang kepadaku malam ini, lalu aku akan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”Maka aku pun berangkat bersama beliau ke tempat yang beliau kehendaki. Beliau membuat garis untukku dan mendudukkanku di dalamnya, lalu berkata kepadaku, “Jangan keluar dari sini.”Aku tetap berada di tempat itu sampai Rasulullah ﷺ datang kepadaku menjelang sahur. Di tangan beliau ada tulang kering dan kotoran hitam yang sudah hangus, lalu beliau berkata kepadaku, “Jika engkau pergi buang hajat, janganlah engkau beristinja dengan salah satu dari benda-benda ini.”Ketika pagi tiba aku berkata, “Akan aku cari tahu sejauh pengetahuanku tentang tempat Rasulullah ﷺ tadi.” Lalu aku pergi dan melihat tempat peristirahatan enam puluh unta.Jalur lain:Al-Baihaqi berkata: Abu Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Al-Ashamm mengabarkan kepada kami, Al-Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dari Al-Mustamir bin Ar-Rayyan, dari Abu Al-Jauza’, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin hingga beliau sampai di Al-Hajun. Lalu beliau membuat garis untukku, kemudian maju menemui mereka. Mereka pun berdesakan di sekitar beliau. Lalu pemimpin mereka yang disebut Wardan berkata, “Aku akan menjauhkan mereka darimu.”Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Fazārah Al-‘Absi, Abu Zaid, budak Amr bin Huraith, menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Ketika malam jin, Nabi ﷺ berkata kepadaku, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Aku tidak membawa air, tetapi aku membawa wadah berisi nabidz.”Maka Nabi bersabda, “Kurma yang baik dan air yang suci.”Lalu beliau berwudhu dengannya.Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadis Abu Zaid.Jalur lain:Ahmad berkata: Yahya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah mengabarkan kepada kami, dari Qais bin Al-Hajjaj, dari Hanasy Ash-Shan‘ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ pada malam jin. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah, apakah engkau membawa air?”Ia menjawab, “Aku membawa nabidz di dalam wadah.”Maka beliau bersabda, “Tuangkanlah kepadaku.”Lalu beliau berwudu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abdullah, ini minuman dan sekaligus alat bersuci.”Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur ini. Ad-Daraquthni juga membawakannya dari jalur lain, dari Ibnu Mas‘ud.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku dari Mīnā’, dari Abdullah, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Setelah beliau selesai, beliau menarik napas panjang. Maka aku bertanya, “Apa gerangan yang terjadi padamu?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Beginilah aku melihatnya dalam Musnad secara ringkas. Al-Hafizh Abu Nu‘aim meriwayatkannya dalam kitab Dalā’il An-Nubuwwah, lalu berkata: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dan Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Mina’, dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata:Aku bersama Rasulullah ﷺ pada malam kedatangan utusan jin. Beliau menarik napas panjang. Aku bertanya,“Ada apa denganmu wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Abu Bakar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Ada apa denganmu? Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku, wahai Ibnu Mas‘ud.”Aku berkata, “Tunjuklah seorang pengganti.”Beliau bertanya, “Siapa?”Aku menjawab, “Umar.”Beliau diam. Setelah beberapa saat beliau kembali menarik napas panjang. Aku bertanya, “Apa yang terjadi?”Beliau bersabda, “Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”Aku berkata, “Kalau begitu tunjuklah pengganti.”Beliau bersabda, “Siapa?”Aku menjawab, “Ali bin Abi Thalib.”Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka menaatinya, niscaya mereka semua akan masuk surga.”Ini adalah hadits yang sangat asing, dan lebih layak untuk dinilai tidak terjaga. Kalau pun dianggap sahih, maka yang tampak peristiwa ini terjadi setelah kedatangan mereka kepada beliau di Madinah, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Sebab pada waktu itu, di akhir masa dakwah, ketika Makkah telah dibebaskan, manusia dan jin pun masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Lalu turun surah:إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًاSurah inilah yang memberitahukan dekatnya wafat beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, dan Umar bin Al-Khaththab juga sependapat dengannya. Nanti akan datang hadis tentang hal itu saat menafsirkan surah tersebut. Wallahu a‘lam.Abu Nu‘aim juga meriwayatkannya dari Ath-Thabarani, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, dari Ali bin Al-Husain bin Abi Burdah, dari Yahya bin Sa‘id Al-Aslami, dari Harb bin Shabih, dari Sa‘id bin Maslamah, dari Abu Murrah Ash-Shan‘ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas‘ud, lalu menyebutkannya serta menyebut kisah penunjukan pengganti. Ini sanad yang asing dan redaksi yang ganjil.Jalur lain:Imam Ahmad berkata: Abu Sa‘id menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Abu Rafi‘, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran di sekelilingnya. Sebagian mereka tampak seperti kumpulan lebah hitam. Beliau berkata kepadaku, “Jangan tinggalkan tempatmu.”Lalu beliau membacakan Kitab Allah kepada mereka. Ketika beliau melihat Az-Zuth, beliau berkata, “Mereka seperti هؤلاء.”Nabi ﷺ berkata, “Apakah engkau membawa air?”Aku menjawab, “Tidak.”Beliau bertanya, “Apakah engkau membawa nabidz?”Aku menjawab, “Ya.”Maka beliau berwudu dengannya.Jalur lain yang mursal:Ibnu Abi Hatim berkata: Abu Abdullah Azh-Zhahrani menceritakan kepada kami, Hafsh bin Umar Al-‘Adani mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Aban menceritakan kepada kami, dari Ikrimah tentang firman Allah Ta‘ala:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّIa berkata: Mereka berjumlah dua belas ribu, datang dari Jazirah Al-Maushil. Nabi ﷺ berkata kepada Ibnu Mas‘ud, “Tunggulah aku sampai aku kembali kepadamu.” Lalu beliau membuat garis untuknya dan berkata, “Jangan pergi dari tempatmu sampai aku datang.” Ketika Ibnu Mas‘ud mulai merasa takut kepada mereka, ia hampir saja pergi. Namun ia teringat ucapan Rasulullah ﷺ, maka ia tetap di tempatnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bertemu lagi sampai hari kiamat.” Jalur lain yang juga mursal:Sa‘id bin Abi ‘Arubah berkata, dari Qatadah, tentang firman Allah:وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّDisebutkan kepada kami bahwa mereka diarahkan kepada beliau dari Nainawa. Nabi Allah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin. Siapa di antara kalian yang akan ikut bersamaku?”Mereka menunduk diam. Beliau mengulangi ajakan itu, namun mereka tetap menunduk. Ketika beliau mengulanginya untuk ketiga kali, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah urusan yang sangat berat.” Maka Ibnu Mas‘ud, saudara Hudzail itu, ikut bersama beliau.Nabi ﷺ masuk ke sebuah celah gunung yang disebut Syi‘b Al-Hajun, lalu membuat garis untuknya, juga membuat garis untuk Ibnu Mas‘ud agar dengan itu ia tetap di tempatnya. Aku mulai ketakutan dan melihat sesuatu seperti burung nasar berjalan di sisi-sisinya. Aku juga mendengar suara gaduh yang sangat keras, sampai aku takut terhadap Nabi Allah ﷺ. Kemudian beliau membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, suara gaduh apa yang aku dengar itu?”Beliau menjawab, “Mereka sedang berselisih tentang seorang yang terbunuh, lalu diputuskan perkara di antara mereka dengan benar.”Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.Semua jalur riwayat ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ memang sengaja mendatangi jin, lalu membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta menetapkan melalui lisan beliau syariat yang mereka butuhkan saat itu.Bisa jadi pertama kali mereka mendengar beliau membaca Al-Qur’an, beliau tidak menyadari kehadiran mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Setelah itu mereka datang kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas‘ud. Adapun Ibnu Mas‘ud, ia tidak berada bersama Rasulullah ﷺ ketika beliau berbicara langsung dengan jin dan mengajak mereka. Ia hanya berada jauh dari beliau, dan tidak ada seorang pun yang keluar bersama Nabi ﷺ selain dia. Meski demikian, ia pun tidak menyaksikan langsung peristiwa pembicaraan itu. Inilah cara Al-Baihaqi memahami riwayat-riwayat tersebut.Bisa juga terjadi bahwa pertama kali beliau keluar menemui mereka, tidak ada Ibnu Mas‘ud dan tidak pula orang lain bersama beliau, sebagaimana tampak dari riwayat pertama melalui jalur Imam Ahmad, dan riwayat itu juga ada dalam Muslim. Setelah itu beliau keluar lagi bersama Ibnu Mas‘ud pada malam yang lain. Wallahu a‘lam.Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsir قُلْ أُوحِيَ, dari hadis Ibnu Juraij, ia berkata: Abdul Aziz bin Umar berkata:Adapun jin yang bertemu beliau di Nakhlah adalah jin dari Nainawa, sedangkan jin yang bertemu beliau di Makkah adalah jin dari Nashibin.Al-Baihaqi memahami ucapan, “Kami melewati malam terburuk yang pernah dilalui suatu kaum,” bahwa ucapan itu berasal dari selain Ibnu Mas‘ud, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui keluarnya beliau ﷺ menemui jin. Ini mungkin, tetapi agak jauh. Wallahu a‘lam.Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata: Abu Amr Muhammad bin Abdullah Al-Adib mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al-Isma‘ili mengabarkan kepada kami, Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepadaku, Suwaid bin Sa‘id menceritakan kepada kami, Amr bin Yahya menceritakan kepada kami, dari kakeknya Sa‘id bin Amr, ia berkata:Abu Hurairah biasa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan membawa wadah air untuk wudu dan keperluan beliau. Pada suatu hari beliau menjumpainya dan bertanya, “Siapa ini?”Ia menjawab, “Aku, Abu Hurairah.”Beliau bersabda, “Bawakan kepadaku batu-batu untuk aku pakai bersuci, dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.”Maka aku datang membawa batu-batu di ujung bajuku, lalu meletakkannya di samping beliau. Setelah beliau selesai dan bangkit, aku mengikuti beliau lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tulang dan kotoran hewan tidak boleh?”Beliau menjawab, “Telah datang kepadaku utusan jin Nashibin. Mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati satu tulang ataupun kotoran hewan kecuali mereka mendapatinya sebagai makanan.”Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Musa bin Ismail, dari Amr bin Yahya, dengan sanad yang hampir sama. Ini menunjukkan, bersama riwayat-riwayat sebelumnya, bahwa mereka memang datang lagi kepada beliau setelah itu. Dan nanti akan kami sebutkan apa yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang kali.Penjelasan dari Ibnu Katsir mengenai kisah-kisah terkait yang dibahas ini masih berlanjut. Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah:1. Allah pernah menghadapkan sekelompok jin kepada Rasulullah ﷺ agar mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang beliau baca di Nakhlah.2. Pada peristiwa pertama itu, para jin mendengar bacaan Al-Qur’an, terdiam untuk menyimak, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.3. Mereka langsung mengakui bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang menakjubkan, memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka pun beriman.4. Sebab awal kedatangan mereka adalah karena para setan telah dihalangi dari berita langit dan dilempari bintang-bintang pijar, sehingga mereka mencari penyebabnya.5. Ketika mereka menemukan Nabi ﷺ sedang salat dan membaca Al-Qur’an, mereka sadar bahwa inilah peristiwa besar yang telah mengubah keadaan langit.6. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pada awalnya tidak selalu mengetahui kehadiran mereka, namun setelah itu para jin datang lagi kepada beliau dalam beberapa kesempatan.7. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, Rasulullah ﷺ sengaja mendatangi mereka, membacakan Al-Qur’an, mengajak mereka kepada Allah, dan mengajarkan hukum-hukum yang mereka perlukan.8. Di antara ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka ialah bahwa tulang dan kotoran hewan menjadi bekal bagi jin, sehingga manusia dilarang beristinja dengan keduanya.9. Perbedaan jumlah jin dalam berbagai riwayat, seperti tujuh, sembilan, lima belas, atau lebih banyak dari itu, menunjukkan bahwa kedatangan mereka kemungkinan terjadi berulang kali.10. Inti seluruh bahasan ini adalah bahwa jin juga mendengar dakwah Nabi ﷺ, beriman kepada Al-Qur’an, kembali mengingatkan kaumnya, dan dari kalangan mereka ada pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari jenis jin. 2. Jin Mengakui Kebenaran Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30)Kemudian Allah menjelaskan isi peringatan yang disampaikan para jin kepada kaumnya. Allah mengabarkan ucapan mereka:قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“Mereka berkata: Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan memberi petunjuk kepada kebenaran.”Mereka tidak menyebut Isa, karena Isa ‘alaihissalam diturunkan kepadanya Injil yang berisi nasihat-nasihat, pelunakan hati, dan hanya sedikit hukum halal dan haram. Pada hakikatnya, Injil itu seperti penyempurna bagi syariat Taurat. Karena itu, yang menjadi pokok adalah Taurat. Itulah sebabnya mereka berkata, “diturunkan setelah Musa.”Demikian pula yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya kisah turunnya Jibril ‘alaihissalam kepada beliau untuk pertama kalinya. Waraqah berkata, “Sungguh, sungguh, ini adalah Namus yang dahulu datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda pada masa itu.”Firman mereka:مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ“yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya,”maksudnya, kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya kepada para nabi.Ucapan mereka:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” maksudnya dalam masalah keyakinan dan berita.Dan ucapan mereka:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” maksudnya dalam amalan.Sebab Al-Qur’an mencakup dua perkara: berita dan tuntunan. Beritanya adalah benar, dan tuntunannya adalah adil. Sebagaimana firman Allah:وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا“Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.” (QS. Al-An‘am: 115)Dan firman-Nya:هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah: 33)Yang dimaksud dengan petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan agama yang benar adalah amal saleh.Demikian pula ucapan para jin:يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ“memberi petunjuk kepada kebenaran,” yaitu dalam keyakinan-keyakinan.Dan:وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ“dan kepada jalan yang lurus,” yaitu dalam amalan-amalan. 3. Seruan Jin agar Kaumnya BerimanAllah Ta’ala berfirman,يَٰقَوْمَنَآ أَجِيبُوا۟ دَاعِىَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 31)Dalam ayat disebutkan,يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ“Wahai kaum kami, penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah,”menunjukkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Beliau mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan kepada mereka surah yang di dalamnya terdapat seruan kepada kedua golongan tersebut, berisi kewajiban, janji, dan ancaman bagi mereka, yaitu Surah Ar-Rahman. Karena itu mereka berkata:أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ“Penuhilah seruan orang yang mengajak kepada Allah dan berimanlah kepadanya.”Firman-Nya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian.”Ada yang mengatakan bahwa kata min di sini hanya sebagai tambahan, tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, karena penggunaan tambahan seperti itu dalam kalimat yang bersifat penetapan jarang terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata min tetap pada makna asalnya, yaitu menunjukkan sebagian. Apakah Jin Mukmin Masuk Surga?Firman-Nya:وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan melindungi kalian dari azab yang pedih,”maksudnya Allah akan menjaga kalian dari azab-Nya yang menyakitkan.Sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Menurut mereka, balasan bagi jin yang saleh hanyalah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Mereka berpendapat demikian karena dalam ayat ini disebutkan balasan berupa pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, tanpa menyebutkan surga.Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jin yang beriman tidak masuk surga karena mereka berasal dari keturunan Iblis, sedangkan keturunan Iblis tidak masuk surga.Namun pendapat yang benar adalah bahwa jin yang beriman akan masuk surga sebagaimana manusia yang beriman. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama dari kalangan salaf.Sebagian ulama berdalil dengan firman Allah:لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌ“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 74)Namun dalil yang lebih kuat adalah firman Allah:وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya disediakan dua surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46–47)Dalam ayat ini Allah memberikan nikmat kepada dua golongan, yaitu manusia dan jin, dengan menyebutkan bahwa balasan bagi orang yang berbuat baik di antara mereka adalah surga. Para jin bahkan menjawab ayat ini dengan ucapan syukur yang lebih jelas daripada manusia, yaitu:“Kami tidak mendustakan satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu.”Tidak mungkin Allah menyebutkan suatu balasan kepada mereka jika balasan itu tidak akan mereka peroleh.Selain itu, jika Allah menghukum orang kafir dari kalangan jin dengan neraka, yang merupakan bentuk keadilan, maka lebih pantas lagi jika Allah memberi balasan surga kepada jin yang beriman, yang merupakan bentuk karunia.Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)Dan ayat-ayat lain yang serupa.Surga juga masih memiliki kelebihan tempat hingga Allah menciptakan makhluk baru untuk mengisinya. Maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh tidak akan memasukinya.Adapun balasan yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu pengampunan dosa dan perlindungan dari azab, pada hakikatnya mengandung makna masuk surga. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat: surga atau neraka. Siapa yang diselamatkan dari neraka pasti akan masuk surga.Tidak ada dalil yang jelas dari syariat yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak masuk surga. Jika ada dalil yang sahih, tentu akan diterima.Nabi Nuh juga berkata kepada kaumnya:يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى“Agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang dite          ntukan.” (QS. Nuh: 4)Padahal tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang beriman dari kaum Nabi Nuh masuk surga. Demikian pula halnya dengan jin yang beriman.Ada pula beberapa pendapat lain yang aneh. Misalnya pendapat Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa jin tidak masuk ke bagian utama surga, tetapi berada di sekitar dan di pinggirannya.Ada juga yang mengatakan bahwa di surga manusia dapat melihat jin, tetapi jin tidak dapat melihat manusia, kebalikan dari keadaan mereka di dunia.Ada pula yang mengatakan bahwa jin tidak makan dan tidak minum di surga, tetapi hanya diberi ilham untuk bertasbih, bertahmid, dan mensucikan Allah sebagai pengganti makanan dan minuman, sebagaimana malaikat.Namun semua pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan dan tidak memiliki dalil yang jelas. 4. Ancaman bagi yang Menolak Seruan AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِىَ ٱللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-Ahqaf: 32)“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (32)Kemudian Allah mengabarkan ucapan para jin itu:وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ“Dan barang siapa tidak memenuhi seruan orang yang mengajak kepada Allah, maka ia tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi.”Maksudnya, kekuasaan Allah meliputi dan menguasai dirinya sepenuhnya.Firman-Nya:وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ“Dan tidak ada baginya pelindung selain Dia.”Artinya, tidak ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah.Firman-Nya:أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ“Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”Ini adalah bentuk ancaman dan peringatan keras. Para jin itu mengajak kaumnya dengan dua cara sekaligus: memberikan harapan dan memberikan peringatan. Karena itu, dakwah mereka memberi pengaruh pada banyak dari kaumnya, hingga mereka datang kepada Rasulullah ﷺ secara berkelompok demi berkelompok, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pelajaran Dakwah dari Kisah Jin dalam Al-Qur’anKetika mendengar Al-Qur’an, para jin langsung diam dan menyimak dengan penuh perhatian. Ini mengajarkan adab ketika mendengar ayat Allah: berhenti dari kesibukan dan fokus mendengarkan.Mereka tidak menunda menerima kebenaran. Begitu memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, mereka langsung beriman tanpa banyak keraguan.Hidayah tidak mereka simpan untuk diri sendiri. Setelah beriman, mereka segera kembali kepada kaumnya untuk mengajak kepada kebenaran.Dakwah yang mereka lakukan memadukan dua cara: memberi harapan berupa ampunan dan keselamatan, serta memberi peringatan tentang azab bagi yang menolak.Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua makhluk yang dibebani syariat, baik manusia maupun jin.Kisah ini menjadi teguran bagi manusia. Jika jin yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa langsung beriman dan berdakwah, maka manusia yang sering mendengar Al-Qur’an seharusnya lebih cepat menerima dan mengamalkannya. Nasihat PenutupDi zaman ini, banyak manusia justru lebih keras hatinya daripada jin yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jin itu ketika mendengar ayat Allah langsung diam, menyimak, beriman, lalu bergerak menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Adapun kita, Al-Qur’an begitu dekat, kajian begitu mudah diakses, mushaf begitu mudah dibuka, tetapi sering kali hati tetap lalai, telinga tidak sungguh-sungguh mendengar, dan hidup belum berubah.Karena itu, jangan sampai kita kalah dari jin dalam menyambut hidayah. Jika mereka yang baru sekali mendengar Al-Qur’an bisa tersentuh lalu beriman, maka kita yang setiap hari mendengar ayat-ayat Allah seharusnya lebih layak untuk tunduk, memperbaiki iman, dan segera memenuhi seruan Rasulullah ﷺ.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِقُرَّائِنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, dan penuntun kami menuju kebenaran serta jalan yang lurus. Ampunilah kami, para pembaca tulisan ini, dan seluruh kaum muslimin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Senin, 27 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdakwah Nabi kepada jin hidayah Al-Qur’an jin beriman jin mendengar Al Quran kisah jin dalam Islam pelajaran tauhid renungan ayat renungan quran rumaysho Surah Al-Ahqaf tafsir Al-Ahqaf tafsir Ibnu Katsir
Prev     Next