Rahasia di Balik Dadanya Abu Bakar: Mengapa Amalan Hati Lebih Utama dari Amalan Fisik?

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Keunggulan amalan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat utama beliau, bukanlah terletak pada banyaknya shalat dan puasa, melainkan pada kebaikan hati, kesucian batin, dan ketulusan jiwa mereka, serta kuatnya ikatan hati mereka kepada Allah.Semua itu didasari oleh rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada-Nya, memuliakan-Nya, serta mengharap apa yang ada di sisi-Nya, disertai sikap zuhud terhadap dunia yang fana.” Dalam Al-Musnad diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan yang paling bertakwa hatinya kepada-Nya.” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para muridnya: “Kalian mungkin melakukan shalat dan puasa lebih banyak daripada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka tetap jauh lebih baik daripada kalian.” Mereka bertanya, “Apa sebabnya?” Beliau menjawab, “Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan mereka lebih mendambakan akhirat.” Bakr Al-Muzani rahimahullah berkata: “Abu Bakar tidaklah mengungguli mereka sekadar karena banyaknya puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang bersemayam dengan kokoh di dalam dadanya.”Seorang ulama salaf menjelaskan: “Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya itu adalah rasa cinta kepada Allah dan ketulusan sikap terhadap sesama makhluk-Nya.” Fathimah binti Abdul Malik, istri dari Umar bin Abdul Aziz, pernah ditanya tentang amalan Umar bin Abdul Aziz setelah wafatnya beliau. Ia menjawab: “Demi Allah, ia bukanlah orang yang paling banyak shalatnya, bukan pula yang paling sering berpuasa di antara orang-orang. Namun demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rasa takut kepada Allah melebihi Umar! Pernah ia berzikir kepada Allah di tempat tidurnya, lalu tubuhnya gemetar hebat bagaikan seekor burung kecil karena rasa takut yang sangat, sampai-sampai kami mengira orang-orang akan terbangun esok pagi tanpa seorang khalifah (karena ia wafat akibat takutnya).” Seorang ulama salaf berkata: “Seseorang tidak mencapai derajat yang mulia di sisi kami hanya karena banyak shalat atau puasa, melainkan karena kemurahan jiwa, keselamatan hati, dan ketulusan mereka terhadap umat manusia.” Banyak ulama besar menegaskan bahwa menuntut ilmu itu lebih utama daripada sekadar mengerjakan shalat sunnah. Demikian pula usaha untuk menyucikan hati, itu lebih utama daripada sekadar memperbanyak shalat dan puasa, padahal kondisi hati masih kotor dan penuh kedengkian. Perumpamaan orang yang memperbanyak puasa dan shalat padahal hatinya masih dipenuhi penyakit, bagaikan orang yang menaburkan benih di atas tanah tandus yang penuh duri dan gulma, sehingga tanaman tersebut tidak akan bisa berkembang dengan baik, melainkan akan dirusak dan dihancurkan oleh gulma di tanah tersebut. Ketika tanah itu sudah dibersihkan dari gulmanya, barulah tanaman itu dapat tumbuh subur. ===== قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ أَكْثَرَ تَطَوُّعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَوَاصِّ أَصْحَابِهِ بِكَثْرَةِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ بَلْ بِبِرِّ الْقُلُوبِ وَطَهَارَتِهَا وَسَلَامَتِهَاوَقُوَّةِ تَعَلُّقِهَا بِاللّهِخَشْيَةً لَهُ وَمَحَبَّةً وَإِجْلَالًا وَتَعْظِيمًا وَرَغْبَةً فِيمَا عِنْدَهُ وَزُهْدًا فِيمَا يَفْنَى وَفِي الْمُسْنَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَاأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُكمْ بِاللّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَكْثَرُ صَلَاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيرًا مِنْكُمْ قَالُوا: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا أَزْهَدَ مِنْكُمْ فِي الدُّنْيَا وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ وَقَالَ بَكْرٌ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيحَةُ لِخَلْقِهِ وَسُئِلَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمَلِكِ زَوْجُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ وَفَاتِهِ عَنْ عَمَلِهِ فَقَالَتْ: وَاللهِ مَا كَانَ بِأَكْثَرِ النَّاسِ صَلَاةً وَلَا بِأَكْثَرِهِمْ صِيَامًا وَلَكِنْ وَاللهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَخْوَفَ لِلّهِ مِنْ عُمَرَ لَقَدْ كَانَ يَذْكُرُ اللهَ فِي فِرَاشِهِ فَيَنْتَفِضُ انْتِفَاضَ الْعُصْفُورِ مِنْ شِدَّةِ الْخَوْفِ حَتَّى نَقُولَ: لَيُصْبِحَنَّ النَّاسُ وَلَا خَلِيفَةَ لَهُمْ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ مَا بَلَغَ مَنْ بَلَغَ عِنْدَنَا بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَكِنْ بِسَخَاوَةِ النُّفُوسِ وَسَلَامَةِ الصُّدُورِ وَالنُّصْحِ لِلْأُمَّةِ وَنَصَّ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَلَى أَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ وَكَذَلِكَ الْاِشْتِغَالُ بِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ أَفْضَلُ مِنَ الْاِسْتِكْثَارِ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ غِشِّ الْقُلُوبِ وَدَغَلِهَا وَمَثَلُ مَنْ يَسْتَكْثِرُ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ دَغَلِ الْقَلْبِ وَغِشِّهِ كَمَثَلِ مَنْ بَذَرَ بَذْرًافِي أَرْضِ دَغِلَةٍ كَثِيرَةِ الشَّوْكِ فَلَا يَزْكُو مَا يَنْبُتُ فِيهَا مِنَ الزَّرْعِ بَلْ يَمْحَقُهُ دَغَلُ الْأَرَضِ وَيُفْسِدُهُ فَإِذَ نُظِّفَتِ الْأَرْضُ مِنْ دَغَلِهَا زَكَا

Rahasia di Balik Dadanya Abu Bakar: Mengapa Amalan Hati Lebih Utama dari Amalan Fisik?

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Keunggulan amalan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat utama beliau, bukanlah terletak pada banyaknya shalat dan puasa, melainkan pada kebaikan hati, kesucian batin, dan ketulusan jiwa mereka, serta kuatnya ikatan hati mereka kepada Allah.Semua itu didasari oleh rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada-Nya, memuliakan-Nya, serta mengharap apa yang ada di sisi-Nya, disertai sikap zuhud terhadap dunia yang fana.” Dalam Al-Musnad diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan yang paling bertakwa hatinya kepada-Nya.” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para muridnya: “Kalian mungkin melakukan shalat dan puasa lebih banyak daripada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka tetap jauh lebih baik daripada kalian.” Mereka bertanya, “Apa sebabnya?” Beliau menjawab, “Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan mereka lebih mendambakan akhirat.” Bakr Al-Muzani rahimahullah berkata: “Abu Bakar tidaklah mengungguli mereka sekadar karena banyaknya puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang bersemayam dengan kokoh di dalam dadanya.”Seorang ulama salaf menjelaskan: “Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya itu adalah rasa cinta kepada Allah dan ketulusan sikap terhadap sesama makhluk-Nya.” Fathimah binti Abdul Malik, istri dari Umar bin Abdul Aziz, pernah ditanya tentang amalan Umar bin Abdul Aziz setelah wafatnya beliau. Ia menjawab: “Demi Allah, ia bukanlah orang yang paling banyak shalatnya, bukan pula yang paling sering berpuasa di antara orang-orang. Namun demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rasa takut kepada Allah melebihi Umar! Pernah ia berzikir kepada Allah di tempat tidurnya, lalu tubuhnya gemetar hebat bagaikan seekor burung kecil karena rasa takut yang sangat, sampai-sampai kami mengira orang-orang akan terbangun esok pagi tanpa seorang khalifah (karena ia wafat akibat takutnya).” Seorang ulama salaf berkata: “Seseorang tidak mencapai derajat yang mulia di sisi kami hanya karena banyak shalat atau puasa, melainkan karena kemurahan jiwa, keselamatan hati, dan ketulusan mereka terhadap umat manusia.” Banyak ulama besar menegaskan bahwa menuntut ilmu itu lebih utama daripada sekadar mengerjakan shalat sunnah. Demikian pula usaha untuk menyucikan hati, itu lebih utama daripada sekadar memperbanyak shalat dan puasa, padahal kondisi hati masih kotor dan penuh kedengkian. Perumpamaan orang yang memperbanyak puasa dan shalat padahal hatinya masih dipenuhi penyakit, bagaikan orang yang menaburkan benih di atas tanah tandus yang penuh duri dan gulma, sehingga tanaman tersebut tidak akan bisa berkembang dengan baik, melainkan akan dirusak dan dihancurkan oleh gulma di tanah tersebut. Ketika tanah itu sudah dibersihkan dari gulmanya, barulah tanaman itu dapat tumbuh subur. ===== قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ أَكْثَرَ تَطَوُّعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَوَاصِّ أَصْحَابِهِ بِكَثْرَةِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ بَلْ بِبِرِّ الْقُلُوبِ وَطَهَارَتِهَا وَسَلَامَتِهَاوَقُوَّةِ تَعَلُّقِهَا بِاللّهِخَشْيَةً لَهُ وَمَحَبَّةً وَإِجْلَالًا وَتَعْظِيمًا وَرَغْبَةً فِيمَا عِنْدَهُ وَزُهْدًا فِيمَا يَفْنَى وَفِي الْمُسْنَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَاأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُكمْ بِاللّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَكْثَرُ صَلَاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيرًا مِنْكُمْ قَالُوا: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا أَزْهَدَ مِنْكُمْ فِي الدُّنْيَا وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ وَقَالَ بَكْرٌ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيحَةُ لِخَلْقِهِ وَسُئِلَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمَلِكِ زَوْجُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ وَفَاتِهِ عَنْ عَمَلِهِ فَقَالَتْ: وَاللهِ مَا كَانَ بِأَكْثَرِ النَّاسِ صَلَاةً وَلَا بِأَكْثَرِهِمْ صِيَامًا وَلَكِنْ وَاللهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَخْوَفَ لِلّهِ مِنْ عُمَرَ لَقَدْ كَانَ يَذْكُرُ اللهَ فِي فِرَاشِهِ فَيَنْتَفِضُ انْتِفَاضَ الْعُصْفُورِ مِنْ شِدَّةِ الْخَوْفِ حَتَّى نَقُولَ: لَيُصْبِحَنَّ النَّاسُ وَلَا خَلِيفَةَ لَهُمْ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ مَا بَلَغَ مَنْ بَلَغَ عِنْدَنَا بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَكِنْ بِسَخَاوَةِ النُّفُوسِ وَسَلَامَةِ الصُّدُورِ وَالنُّصْحِ لِلْأُمَّةِ وَنَصَّ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَلَى أَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ وَكَذَلِكَ الْاِشْتِغَالُ بِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ أَفْضَلُ مِنَ الْاِسْتِكْثَارِ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ غِشِّ الْقُلُوبِ وَدَغَلِهَا وَمَثَلُ مَنْ يَسْتَكْثِرُ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ دَغَلِ الْقَلْبِ وَغِشِّهِ كَمَثَلِ مَنْ بَذَرَ بَذْرًافِي أَرْضِ دَغِلَةٍ كَثِيرَةِ الشَّوْكِ فَلَا يَزْكُو مَا يَنْبُتُ فِيهَا مِنَ الزَّرْعِ بَلْ يَمْحَقُهُ دَغَلُ الْأَرَضِ وَيُفْسِدُهُ فَإِذَ نُظِّفَتِ الْأَرْضُ مِنْ دَغَلِهَا زَكَا
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Keunggulan amalan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat utama beliau, bukanlah terletak pada banyaknya shalat dan puasa, melainkan pada kebaikan hati, kesucian batin, dan ketulusan jiwa mereka, serta kuatnya ikatan hati mereka kepada Allah.Semua itu didasari oleh rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada-Nya, memuliakan-Nya, serta mengharap apa yang ada di sisi-Nya, disertai sikap zuhud terhadap dunia yang fana.” Dalam Al-Musnad diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan yang paling bertakwa hatinya kepada-Nya.” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para muridnya: “Kalian mungkin melakukan shalat dan puasa lebih banyak daripada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka tetap jauh lebih baik daripada kalian.” Mereka bertanya, “Apa sebabnya?” Beliau menjawab, “Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan mereka lebih mendambakan akhirat.” Bakr Al-Muzani rahimahullah berkata: “Abu Bakar tidaklah mengungguli mereka sekadar karena banyaknya puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang bersemayam dengan kokoh di dalam dadanya.”Seorang ulama salaf menjelaskan: “Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya itu adalah rasa cinta kepada Allah dan ketulusan sikap terhadap sesama makhluk-Nya.” Fathimah binti Abdul Malik, istri dari Umar bin Abdul Aziz, pernah ditanya tentang amalan Umar bin Abdul Aziz setelah wafatnya beliau. Ia menjawab: “Demi Allah, ia bukanlah orang yang paling banyak shalatnya, bukan pula yang paling sering berpuasa di antara orang-orang. Namun demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rasa takut kepada Allah melebihi Umar! Pernah ia berzikir kepada Allah di tempat tidurnya, lalu tubuhnya gemetar hebat bagaikan seekor burung kecil karena rasa takut yang sangat, sampai-sampai kami mengira orang-orang akan terbangun esok pagi tanpa seorang khalifah (karena ia wafat akibat takutnya).” Seorang ulama salaf berkata: “Seseorang tidak mencapai derajat yang mulia di sisi kami hanya karena banyak shalat atau puasa, melainkan karena kemurahan jiwa, keselamatan hati, dan ketulusan mereka terhadap umat manusia.” Banyak ulama besar menegaskan bahwa menuntut ilmu itu lebih utama daripada sekadar mengerjakan shalat sunnah. Demikian pula usaha untuk menyucikan hati, itu lebih utama daripada sekadar memperbanyak shalat dan puasa, padahal kondisi hati masih kotor dan penuh kedengkian. Perumpamaan orang yang memperbanyak puasa dan shalat padahal hatinya masih dipenuhi penyakit, bagaikan orang yang menaburkan benih di atas tanah tandus yang penuh duri dan gulma, sehingga tanaman tersebut tidak akan bisa berkembang dengan baik, melainkan akan dirusak dan dihancurkan oleh gulma di tanah tersebut. Ketika tanah itu sudah dibersihkan dari gulmanya, barulah tanaman itu dapat tumbuh subur. ===== قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ أَكْثَرَ تَطَوُّعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَوَاصِّ أَصْحَابِهِ بِكَثْرَةِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ بَلْ بِبِرِّ الْقُلُوبِ وَطَهَارَتِهَا وَسَلَامَتِهَاوَقُوَّةِ تَعَلُّقِهَا بِاللّهِخَشْيَةً لَهُ وَمَحَبَّةً وَإِجْلَالًا وَتَعْظِيمًا وَرَغْبَةً فِيمَا عِنْدَهُ وَزُهْدًا فِيمَا يَفْنَى وَفِي الْمُسْنَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَاأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُكمْ بِاللّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَكْثَرُ صَلَاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيرًا مِنْكُمْ قَالُوا: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا أَزْهَدَ مِنْكُمْ فِي الدُّنْيَا وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ وَقَالَ بَكْرٌ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيحَةُ لِخَلْقِهِ وَسُئِلَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمَلِكِ زَوْجُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ وَفَاتِهِ عَنْ عَمَلِهِ فَقَالَتْ: وَاللهِ مَا كَانَ بِأَكْثَرِ النَّاسِ صَلَاةً وَلَا بِأَكْثَرِهِمْ صِيَامًا وَلَكِنْ وَاللهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَخْوَفَ لِلّهِ مِنْ عُمَرَ لَقَدْ كَانَ يَذْكُرُ اللهَ فِي فِرَاشِهِ فَيَنْتَفِضُ انْتِفَاضَ الْعُصْفُورِ مِنْ شِدَّةِ الْخَوْفِ حَتَّى نَقُولَ: لَيُصْبِحَنَّ النَّاسُ وَلَا خَلِيفَةَ لَهُمْ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ مَا بَلَغَ مَنْ بَلَغَ عِنْدَنَا بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَكِنْ بِسَخَاوَةِ النُّفُوسِ وَسَلَامَةِ الصُّدُورِ وَالنُّصْحِ لِلْأُمَّةِ وَنَصَّ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَلَى أَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ وَكَذَلِكَ الْاِشْتِغَالُ بِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ أَفْضَلُ مِنَ الْاِسْتِكْثَارِ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ غِشِّ الْقُلُوبِ وَدَغَلِهَا وَمَثَلُ مَنْ يَسْتَكْثِرُ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ دَغَلِ الْقَلْبِ وَغِشِّهِ كَمَثَلِ مَنْ بَذَرَ بَذْرًافِي أَرْضِ دَغِلَةٍ كَثِيرَةِ الشَّوْكِ فَلَا يَزْكُو مَا يَنْبُتُ فِيهَا مِنَ الزَّرْعِ بَلْ يَمْحَقُهُ دَغَلُ الْأَرَضِ وَيُفْسِدُهُ فَإِذَ نُظِّفَتِ الْأَرْضُ مِنْ دَغَلِهَا زَكَا


Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Keunggulan amalan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat utama beliau, bukanlah terletak pada banyaknya shalat dan puasa, melainkan pada kebaikan hati, kesucian batin, dan ketulusan jiwa mereka, serta kuatnya ikatan hati mereka kepada Allah.Semua itu didasari oleh rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada-Nya, memuliakan-Nya, serta mengharap apa yang ada di sisi-Nya, disertai sikap zuhud terhadap dunia yang fana.” Dalam Al-Musnad diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan yang paling bertakwa hatinya kepada-Nya.” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para muridnya: “Kalian mungkin melakukan shalat dan puasa lebih banyak daripada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka tetap jauh lebih baik daripada kalian.” Mereka bertanya, “Apa sebabnya?” Beliau menjawab, “Karena mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan mereka lebih mendambakan akhirat.” Bakr Al-Muzani rahimahullah berkata: “Abu Bakar tidaklah mengungguli mereka sekadar karena banyaknya puasa dan shalat, melainkan karena sesuatu yang bersemayam dengan kokoh di dalam dadanya.”Seorang ulama salaf menjelaskan: “Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya itu adalah rasa cinta kepada Allah dan ketulusan sikap terhadap sesama makhluk-Nya.” Fathimah binti Abdul Malik, istri dari Umar bin Abdul Aziz, pernah ditanya tentang amalan Umar bin Abdul Aziz setelah wafatnya beliau. Ia menjawab: “Demi Allah, ia bukanlah orang yang paling banyak shalatnya, bukan pula yang paling sering berpuasa di antara orang-orang. Namun demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rasa takut kepada Allah melebihi Umar! Pernah ia berzikir kepada Allah di tempat tidurnya, lalu tubuhnya gemetar hebat bagaikan seekor burung kecil karena rasa takut yang sangat, sampai-sampai kami mengira orang-orang akan terbangun esok pagi tanpa seorang khalifah (karena ia wafat akibat takutnya).” Seorang ulama salaf berkata: “Seseorang tidak mencapai derajat yang mulia di sisi kami hanya karena banyak shalat atau puasa, melainkan karena kemurahan jiwa, keselamatan hati, dan ketulusan mereka terhadap umat manusia.” Banyak ulama besar menegaskan bahwa menuntut ilmu itu lebih utama daripada sekadar mengerjakan shalat sunnah. Demikian pula usaha untuk menyucikan hati, itu lebih utama daripada sekadar memperbanyak shalat dan puasa, padahal kondisi hati masih kotor dan penuh kedengkian. Perumpamaan orang yang memperbanyak puasa dan shalat padahal hatinya masih dipenuhi penyakit, bagaikan orang yang menaburkan benih di atas tanah tandus yang penuh duri dan gulma, sehingga tanaman tersebut tidak akan bisa berkembang dengan baik, melainkan akan dirusak dan dihancurkan oleh gulma di tanah tersebut. Ketika tanah itu sudah dibersihkan dari gulmanya, barulah tanaman itu dapat tumbuh subur. ===== قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ أَكْثَرَ تَطَوُّعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَوَاصِّ أَصْحَابِهِ بِكَثْرَةِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ بَلْ بِبِرِّ الْقُلُوبِ وَطَهَارَتِهَا وَسَلَامَتِهَاوَقُوَّةِ تَعَلُّقِهَا بِاللّهِخَشْيَةً لَهُ وَمَحَبَّةً وَإِجْلَالًا وَتَعْظِيمًا وَرَغْبَةً فِيمَا عِنْدَهُ وَزُهْدًا فِيمَا يَفْنَى وَفِي الْمُسْنَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَاأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُكمْ بِاللّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَكْثَرُ صَلَاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيرًا مِنْكُمْ قَالُوا: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا أَزْهَدَ مِنْكُمْ فِي الدُّنْيَا وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ وَقَالَ بَكْرٌ الْمُزَنِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيحَةُ لِخَلْقِهِ وَسُئِلَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ عَبْدِ الْمَلِكِ زَوْجُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ وَفَاتِهِ عَنْ عَمَلِهِ فَقَالَتْ: وَاللهِ مَا كَانَ بِأَكْثَرِ النَّاسِ صَلَاةً وَلَا بِأَكْثَرِهِمْ صِيَامًا وَلَكِنْ وَاللهِ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَخْوَفَ لِلّهِ مِنْ عُمَرَ لَقَدْ كَانَ يَذْكُرُ اللهَ فِي فِرَاشِهِ فَيَنْتَفِضُ انْتِفَاضَ الْعُصْفُورِ مِنْ شِدَّةِ الْخَوْفِ حَتَّى نَقُولَ: لَيُصْبِحَنَّ النَّاسُ وَلَا خَلِيفَةَ لَهُمْ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ مَا بَلَغَ مَنْ بَلَغَ عِنْدَنَا بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَكِنْ بِسَخَاوَةِ النُّفُوسِ وَسَلَامَةِ الصُّدُورِ وَالنُّصْحِ لِلْأُمَّةِ وَنَصَّ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ عَلَى أَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ وَكَذَلِكَ الْاِشْتِغَالُ بِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ أَفْضَلُ مِنَ الْاِسْتِكْثَارِ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ غِشِّ الْقُلُوبِ وَدَغَلِهَا وَمَثَلُ مَنْ يَسْتَكْثِرُ مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ مَعَ دَغَلِ الْقَلْبِ وَغِشِّهِ كَمَثَلِ مَنْ بَذَرَ بَذْرًافِي أَرْضِ دَغِلَةٍ كَثِيرَةِ الشَّوْكِ فَلَا يَزْكُو مَا يَنْبُتُ فِيهَا مِنَ الزَّرْعِ بَلْ يَمْحَقُهُ دَغَلُ الْأَرَضِ وَيُفْسِدُهُ فَإِذَ نُظِّفَتِ الْأَرْضُ مِنْ دَغَلِهَا زَكَا

Tafsir Surah Al-Buruj: Kisah Ashabul Ukhdud dan Janji Keadilan Allah

Surah Al-Buruj mengajarkan tentang kekuasaan Allah, kerasnya azab-Nya, dan luasnya rahmat-Nya. Kisah Ashabul Ukhdud menjadi bukti nyata bahwa keimanan akan diuji, namun balasan bagi orang beriman sangatlah besar. Di sisi lain, Allah tetap membuka pintu tobat bahkan bagi pelaku kezaliman yang paling berat. Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Langit dan Hari Kiamat 2. Makna Saksi dan yang Disaksikan 3. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian Keimanan 4. Kekejaman terhadap Orang Beriman 5. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada Allah 6. Ancaman bagi Pelaku Kezaliman 7. Balasan Besar bagi Orang Beriman 8. Kerasnya Azab Allah bagi Orang Zalim 9. Allah Maha Pencipta dan Pengampun 10. Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-Nya 11. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan Allah 12. Allah Maha Berkehendak atas Segala Sesuatu 13. Pelajaran dari Fir‘aun dan Tsamud 14. Sikap Orang Kafir yang Terus Mendustakan 15. Al-Qur’an yang Mulia dan Terjaga  Baca juga: Kisah Orang Beriman yang Dibakar Dalam Parit Sumpah Allah dengan Langit dan Hari KiamatAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al-Buruj: 1)Maksudnya, langit yang memiliki tempat-tempat peredaran, yang mencakup posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan sangat teratur. Semua itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, rahmat-Nya, serta luasnya ilmu dan hikmah-Nya.وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ“dan hari yang dijanjikan.” (QS. Al-Buruj: 2)Yaitu hari kiamat, hari yang Allah janjikan untuk mengumpulkan seluruh makhluk. Pada hari itu, yang pertama dan yang terakhir, yang jauh dan yang dekat, semuanya dikumpulkan. Hari itu pasti terjadi dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.Makna Saksi dan yang DisaksikanAllah Ta’ala berfirman,وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ“dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)Ayat ini mencakup semua yang memiliki sifat tersebut: yang melihat dan yang dilihat, yang hadir dan yang dihadiri, yang menyaksikan dan yang disaksikan. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian KeimananAllah Ta’ala berfirman,قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.” (QS. Al-Buruj: 4)Sumpah ini menunjukkan besarnya tanda-tanda kekuasaan Allah, hikmah-Nya, dan rahmat-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menjadi isi sumpah adalah firman ini, yaitu doa kebinasaan bagi para pembuat parit.Yang dimaksud “al-ukhdūd” adalah lubang-lubang yang digali di tanah.Mereka adalah kaum kafir yang memiliki kaum mukmin di tengah mereka. Orang-orang kafir itu memaksa kaum mukmin untuk masuk ke dalam agama mereka, tetapi kaum mukmin menolak. Maka orang-orang kafir menggali parit di tanah, menyalakan api di dalamnya, lalu duduk di sekelilingnya. Mereka menguji kaum mukmin: siapa yang mau mengikuti mereka, dibiarkan hidup; siapa yang tetap beriman, dilemparkan ke dalam api.Ini adalah bentuk permusuhan yang sangat besar terhadap Allah dan orang-orang beriman. Karena itu Allah melaknat mereka, membinasakan mereka, dan mengancam mereka dengan firman-Nya tersebut. Kekejaman terhadap Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ“yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.” (QS. Al-Buruj: 5)Kemudian Allah menjelaskan tentang parit itu:إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ“ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS. Al-Buruj: 6)وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ“sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruj: 7)Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati. Mereka menggabungkan antara kekafiran terhadap ayat-ayat Allah, menentangnya, memusuhi orang beriman, dan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat mengerikan. Bahkan mereka hadir menyaksikan saat orang-orang beriman dilempar ke dalam api.Padahal, mereka tidak membenci kaum mukmin kecuali karena satu hal yang justru merupakan kemuliaan bagi mereka, yaitu karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8)Allah adalah Yang Mahaperkasa yang mengalahkan segala sesuatu, dan Maha Terpuji dalam semua perkataan, sifat, dan perbuatan-Nya. Ancaman bagi Pelaku KezalimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 9)Dialah yang menciptakan dan memiliki semua makhluk, serta mengatur mereka sebagaimana pemilik mengatur miliknya. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat segala sesuatu.Apakah orang-orang yang melampaui batas itu tidak takut kepada Allah Yang Mahakuat? Atau mereka tidak sadar bahwa mereka semua adalah milik Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuasaan kecuali dengan izin-Nya? Atau mereka tidak tahu bahwa Allah meliputi semua amal mereka dan akan membalasnya?Sungguh, orang kafir berada dalam kesesatan, dan orang zalim berada dalam kebodohan dan buta dari jalan yang benar.إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)Allah mengancam mereka, sekaligus membuka pintu tobat bagi mereka.Al-Hasan rahimahullah berkata:اُنْظُرُوا إِلَىٰ هٰذَا الْكَرَمِ وَالْجُودِ، هُمْ قَتَلُوا أَوْلِيَاءَهُ وَأَهْلَ طَاعَتِهِ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ.“Perhatikanlah kemurahan Allah ini, mereka telah membunuh para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya, namun Allah masih mengajak mereka untuk bertobat.” Balasan Besar bagi Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11)Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang zalim, Allah juga menyebutkan balasan bagi orang beriman. Mereka beriman dengan hati dan beramal saleh dengan anggota badan. Bagi mereka surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Itulah keberuntungan besar: mendapatkan rida Allah dan tempat kemuliaan di sisi-Nya. Kerasnya Azab Allah bagi Orang ZalimAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS. Al-Buruj: 12)Maksudnya, hukuman Allah terhadap pelaku kejahatan dan dosa besar sangat kuat dan keras. Allah selalu mengawasi orang-orang zalim, sebagaimana firman-Nya:وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya itu sangat pedih lagi sangat keras.” (QS. Hūd: 102) Allah Maha Pencipta dan PengampunAllah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ“Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).” (QS. Al-Buruj: 13)Artinya, hanya Allah yang menciptakan makhluk dari awal dan menghidupkannya kembali. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu.Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ“Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.“(QS. Al-Buruj: 14)Dialah Yang Maha Pengampun, yang mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang bertobat, dan menghapus kesalahan bagi siapa yang memohon ampun serta kembali kepada-Nya.Dia juga Al-Wadūd, yaitu Dzat yang mencintai hamba-hamba-Nya, dan dicintai oleh mereka dengan cinta yang tidak menyerupai cinta apa pun. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, demikian pula cinta kepada-Nya dalam hati para hamba pilihan tidak dapat disamakan dengan jenis cinta apa pun.Karena itu, cinta kepada Allah adalah dasar ibadah. Cinta ini harus didahulukan dan mengalahkan semua bentuk cinta lainnya. Jika tidak demikian, maka cinta tersebut justru menjadi sebab siksa bagi pemiliknya. Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana firman-Nya:يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 54) Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-NyaCinta (al-mawaddah) adalah cinta yang murni. Di sini terdapat makna yang halus, yaitu ketika Allah menyandingkan sifat “Maha Pengampun” dengan “Maha Pengasih”, menunjukkan bahwa orang yang berdosa jika bertobat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan mencintai mereka.Tidak benar jika dikatakan bahwa dosa mereka hanya diampuni, tetapi tidak kembali mendapatkan cinta Allah.Bahkan Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat, daripada seseorang yang kehilangan tunggangannya di padang tandus yang mematikan—yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya—lalu ia berputus asa dan menunggu kematian. Tiba-tiba tunggangannya kembali kepadanya, lalu ia sangat bergembira. Maka kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu.Segala puji bagi Allah, dengan cinta-Nya yang murni. Betapa agung kebaikan-Nya, betapa banyak karunia-Nya, dan betapa luas pemberian-Nya. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan AllahAllah Ta’ala berfirman,ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ“yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Buruj: 15)Artinya, Dia adalah pemilik ‘Arsy yang agung. Besarnya ‘Arsy sangat luar biasa, sampai-sampai langit, bumi, dan kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy, seperti sebuah cincin kecil yang dilempar di padang luas.Allah menyebut ‘Arsy secara khusus karena keagungannya dan karena ia adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Pada bacaan jar, kata “al-majīd” menjadi sifat bagi ‘Arsy, sedangkan pada bacaan raf‘, ia menjadi sifat bagi Allah. Makna “al-majīd” adalah luas dan agungnya sifat-sifat kesempurnaan. Allah Maha Berkehendak atas Segala SesuatuAllah Ta’ala berfirman,فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah,” maka terjadilah. Tidak ada yang mampu melakukan apa yang diinginkan secara mutlak selain Allah.Adapun makhluk, meskipun menginginkan sesuatu, tetap membutuhkan bantuan dan bisa terhalang. Sedangkan Allah tidak membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Pelajaran dari Fir‘aun dan TsamudAllah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.” (QS. Al-Buruj: 17)Allah kemudian menyebutkan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kebenaran para rasul, yaitu kisah bala tentara.Allah Ta’ala berfirman,فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ“(yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?” (QS. Al-Buruj: 18)Bagaimana mereka mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka. Sikap Orang Kafir yang Terus MendustakanAllah Ta’ala berfirman,بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.” (QS. Al-Buruj: 19)Mereka terus-menerus dalam sikap mendustakan dan keras kepala. Ayat-ayat tidak memberi manfaat bagi mereka, dan nasihat tidak berpengaruh pada mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.” (QS. Al-Buruj: 20)Allah meliputi mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)Ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir, karena mereka berada dalam genggaman dan pengaturan Allah. Al-Qur’an yang Mulia dan TerjagaAllah Ta’ala berfirman,بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 21)Yaitu Al-Qur’an yang agung maknanya, luas kandungannya, dan penuh dengan kebaikan serta ilmu.Allah Ta’ala berfirman,فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ“yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 22)Al-Qur’an itu terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Ia juga terjaga dari gangguan setan. Lauh Mahfuz adalah tempat di mana Allah telah menetapkan segala sesuatu.Ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an, keagungan kedudukannya, dan tingginya derajatnya di sisi Allah. Wallahu a’lam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul ukhdud Azab Allah balasan orang beriman keimanan Kisah dalam Al-Qur'an renungan ayat tafsir Al Buruj tafsir as-sa'di tafsir juz amma tauhid ujian keimanan

Tafsir Surah Al-Buruj: Kisah Ashabul Ukhdud dan Janji Keadilan Allah

Surah Al-Buruj mengajarkan tentang kekuasaan Allah, kerasnya azab-Nya, dan luasnya rahmat-Nya. Kisah Ashabul Ukhdud menjadi bukti nyata bahwa keimanan akan diuji, namun balasan bagi orang beriman sangatlah besar. Di sisi lain, Allah tetap membuka pintu tobat bahkan bagi pelaku kezaliman yang paling berat. Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Langit dan Hari Kiamat 2. Makna Saksi dan yang Disaksikan 3. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian Keimanan 4. Kekejaman terhadap Orang Beriman 5. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada Allah 6. Ancaman bagi Pelaku Kezaliman 7. Balasan Besar bagi Orang Beriman 8. Kerasnya Azab Allah bagi Orang Zalim 9. Allah Maha Pencipta dan Pengampun 10. Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-Nya 11. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan Allah 12. Allah Maha Berkehendak atas Segala Sesuatu 13. Pelajaran dari Fir‘aun dan Tsamud 14. Sikap Orang Kafir yang Terus Mendustakan 15. Al-Qur’an yang Mulia dan Terjaga  Baca juga: Kisah Orang Beriman yang Dibakar Dalam Parit Sumpah Allah dengan Langit dan Hari KiamatAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al-Buruj: 1)Maksudnya, langit yang memiliki tempat-tempat peredaran, yang mencakup posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan sangat teratur. Semua itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, rahmat-Nya, serta luasnya ilmu dan hikmah-Nya.وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ“dan hari yang dijanjikan.” (QS. Al-Buruj: 2)Yaitu hari kiamat, hari yang Allah janjikan untuk mengumpulkan seluruh makhluk. Pada hari itu, yang pertama dan yang terakhir, yang jauh dan yang dekat, semuanya dikumpulkan. Hari itu pasti terjadi dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.Makna Saksi dan yang DisaksikanAllah Ta’ala berfirman,وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ“dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)Ayat ini mencakup semua yang memiliki sifat tersebut: yang melihat dan yang dilihat, yang hadir dan yang dihadiri, yang menyaksikan dan yang disaksikan. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian KeimananAllah Ta’ala berfirman,قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.” (QS. Al-Buruj: 4)Sumpah ini menunjukkan besarnya tanda-tanda kekuasaan Allah, hikmah-Nya, dan rahmat-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menjadi isi sumpah adalah firman ini, yaitu doa kebinasaan bagi para pembuat parit.Yang dimaksud “al-ukhdūd” adalah lubang-lubang yang digali di tanah.Mereka adalah kaum kafir yang memiliki kaum mukmin di tengah mereka. Orang-orang kafir itu memaksa kaum mukmin untuk masuk ke dalam agama mereka, tetapi kaum mukmin menolak. Maka orang-orang kafir menggali parit di tanah, menyalakan api di dalamnya, lalu duduk di sekelilingnya. Mereka menguji kaum mukmin: siapa yang mau mengikuti mereka, dibiarkan hidup; siapa yang tetap beriman, dilemparkan ke dalam api.Ini adalah bentuk permusuhan yang sangat besar terhadap Allah dan orang-orang beriman. Karena itu Allah melaknat mereka, membinasakan mereka, dan mengancam mereka dengan firman-Nya tersebut. Kekejaman terhadap Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ“yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.” (QS. Al-Buruj: 5)Kemudian Allah menjelaskan tentang parit itu:إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ“ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS. Al-Buruj: 6)وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ“sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruj: 7)Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati. Mereka menggabungkan antara kekafiran terhadap ayat-ayat Allah, menentangnya, memusuhi orang beriman, dan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat mengerikan. Bahkan mereka hadir menyaksikan saat orang-orang beriman dilempar ke dalam api.Padahal, mereka tidak membenci kaum mukmin kecuali karena satu hal yang justru merupakan kemuliaan bagi mereka, yaitu karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8)Allah adalah Yang Mahaperkasa yang mengalahkan segala sesuatu, dan Maha Terpuji dalam semua perkataan, sifat, dan perbuatan-Nya. Ancaman bagi Pelaku KezalimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 9)Dialah yang menciptakan dan memiliki semua makhluk, serta mengatur mereka sebagaimana pemilik mengatur miliknya. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat segala sesuatu.Apakah orang-orang yang melampaui batas itu tidak takut kepada Allah Yang Mahakuat? Atau mereka tidak sadar bahwa mereka semua adalah milik Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuasaan kecuali dengan izin-Nya? Atau mereka tidak tahu bahwa Allah meliputi semua amal mereka dan akan membalasnya?Sungguh, orang kafir berada dalam kesesatan, dan orang zalim berada dalam kebodohan dan buta dari jalan yang benar.إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)Allah mengancam mereka, sekaligus membuka pintu tobat bagi mereka.Al-Hasan rahimahullah berkata:اُنْظُرُوا إِلَىٰ هٰذَا الْكَرَمِ وَالْجُودِ، هُمْ قَتَلُوا أَوْلِيَاءَهُ وَأَهْلَ طَاعَتِهِ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ.“Perhatikanlah kemurahan Allah ini, mereka telah membunuh para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya, namun Allah masih mengajak mereka untuk bertobat.” Balasan Besar bagi Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11)Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang zalim, Allah juga menyebutkan balasan bagi orang beriman. Mereka beriman dengan hati dan beramal saleh dengan anggota badan. Bagi mereka surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Itulah keberuntungan besar: mendapatkan rida Allah dan tempat kemuliaan di sisi-Nya. Kerasnya Azab Allah bagi Orang ZalimAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS. Al-Buruj: 12)Maksudnya, hukuman Allah terhadap pelaku kejahatan dan dosa besar sangat kuat dan keras. Allah selalu mengawasi orang-orang zalim, sebagaimana firman-Nya:وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya itu sangat pedih lagi sangat keras.” (QS. Hūd: 102) Allah Maha Pencipta dan PengampunAllah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ“Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).” (QS. Al-Buruj: 13)Artinya, hanya Allah yang menciptakan makhluk dari awal dan menghidupkannya kembali. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu.Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ“Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.“(QS. Al-Buruj: 14)Dialah Yang Maha Pengampun, yang mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang bertobat, dan menghapus kesalahan bagi siapa yang memohon ampun serta kembali kepada-Nya.Dia juga Al-Wadūd, yaitu Dzat yang mencintai hamba-hamba-Nya, dan dicintai oleh mereka dengan cinta yang tidak menyerupai cinta apa pun. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, demikian pula cinta kepada-Nya dalam hati para hamba pilihan tidak dapat disamakan dengan jenis cinta apa pun.Karena itu, cinta kepada Allah adalah dasar ibadah. Cinta ini harus didahulukan dan mengalahkan semua bentuk cinta lainnya. Jika tidak demikian, maka cinta tersebut justru menjadi sebab siksa bagi pemiliknya. Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana firman-Nya:يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 54) Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-NyaCinta (al-mawaddah) adalah cinta yang murni. Di sini terdapat makna yang halus, yaitu ketika Allah menyandingkan sifat “Maha Pengampun” dengan “Maha Pengasih”, menunjukkan bahwa orang yang berdosa jika bertobat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan mencintai mereka.Tidak benar jika dikatakan bahwa dosa mereka hanya diampuni, tetapi tidak kembali mendapatkan cinta Allah.Bahkan Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat, daripada seseorang yang kehilangan tunggangannya di padang tandus yang mematikan—yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya—lalu ia berputus asa dan menunggu kematian. Tiba-tiba tunggangannya kembali kepadanya, lalu ia sangat bergembira. Maka kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu.Segala puji bagi Allah, dengan cinta-Nya yang murni. Betapa agung kebaikan-Nya, betapa banyak karunia-Nya, dan betapa luas pemberian-Nya. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan AllahAllah Ta’ala berfirman,ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ“yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Buruj: 15)Artinya, Dia adalah pemilik ‘Arsy yang agung. Besarnya ‘Arsy sangat luar biasa, sampai-sampai langit, bumi, dan kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy, seperti sebuah cincin kecil yang dilempar di padang luas.Allah menyebut ‘Arsy secara khusus karena keagungannya dan karena ia adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Pada bacaan jar, kata “al-majīd” menjadi sifat bagi ‘Arsy, sedangkan pada bacaan raf‘, ia menjadi sifat bagi Allah. Makna “al-majīd” adalah luas dan agungnya sifat-sifat kesempurnaan. Allah Maha Berkehendak atas Segala SesuatuAllah Ta’ala berfirman,فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah,” maka terjadilah. Tidak ada yang mampu melakukan apa yang diinginkan secara mutlak selain Allah.Adapun makhluk, meskipun menginginkan sesuatu, tetap membutuhkan bantuan dan bisa terhalang. Sedangkan Allah tidak membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Pelajaran dari Fir‘aun dan TsamudAllah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.” (QS. Al-Buruj: 17)Allah kemudian menyebutkan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kebenaran para rasul, yaitu kisah bala tentara.Allah Ta’ala berfirman,فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ“(yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?” (QS. Al-Buruj: 18)Bagaimana mereka mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka. Sikap Orang Kafir yang Terus MendustakanAllah Ta’ala berfirman,بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.” (QS. Al-Buruj: 19)Mereka terus-menerus dalam sikap mendustakan dan keras kepala. Ayat-ayat tidak memberi manfaat bagi mereka, dan nasihat tidak berpengaruh pada mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.” (QS. Al-Buruj: 20)Allah meliputi mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)Ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir, karena mereka berada dalam genggaman dan pengaturan Allah. Al-Qur’an yang Mulia dan TerjagaAllah Ta’ala berfirman,بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 21)Yaitu Al-Qur’an yang agung maknanya, luas kandungannya, dan penuh dengan kebaikan serta ilmu.Allah Ta’ala berfirman,فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ“yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 22)Al-Qur’an itu terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Ia juga terjaga dari gangguan setan. Lauh Mahfuz adalah tempat di mana Allah telah menetapkan segala sesuatu.Ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an, keagungan kedudukannya, dan tingginya derajatnya di sisi Allah. Wallahu a’lam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul ukhdud Azab Allah balasan orang beriman keimanan Kisah dalam Al-Qur'an renungan ayat tafsir Al Buruj tafsir as-sa'di tafsir juz amma tauhid ujian keimanan
Surah Al-Buruj mengajarkan tentang kekuasaan Allah, kerasnya azab-Nya, dan luasnya rahmat-Nya. Kisah Ashabul Ukhdud menjadi bukti nyata bahwa keimanan akan diuji, namun balasan bagi orang beriman sangatlah besar. Di sisi lain, Allah tetap membuka pintu tobat bahkan bagi pelaku kezaliman yang paling berat. Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Langit dan Hari Kiamat 2. Makna Saksi dan yang Disaksikan 3. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian Keimanan 4. Kekejaman terhadap Orang Beriman 5. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada Allah 6. Ancaman bagi Pelaku Kezaliman 7. Balasan Besar bagi Orang Beriman 8. Kerasnya Azab Allah bagi Orang Zalim 9. Allah Maha Pencipta dan Pengampun 10. Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-Nya 11. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan Allah 12. Allah Maha Berkehendak atas Segala Sesuatu 13. Pelajaran dari Fir‘aun dan Tsamud 14. Sikap Orang Kafir yang Terus Mendustakan 15. Al-Qur’an yang Mulia dan Terjaga  Baca juga: Kisah Orang Beriman yang Dibakar Dalam Parit Sumpah Allah dengan Langit dan Hari KiamatAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al-Buruj: 1)Maksudnya, langit yang memiliki tempat-tempat peredaran, yang mencakup posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan sangat teratur. Semua itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, rahmat-Nya, serta luasnya ilmu dan hikmah-Nya.وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ“dan hari yang dijanjikan.” (QS. Al-Buruj: 2)Yaitu hari kiamat, hari yang Allah janjikan untuk mengumpulkan seluruh makhluk. Pada hari itu, yang pertama dan yang terakhir, yang jauh dan yang dekat, semuanya dikumpulkan. Hari itu pasti terjadi dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.Makna Saksi dan yang DisaksikanAllah Ta’ala berfirman,وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ“dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)Ayat ini mencakup semua yang memiliki sifat tersebut: yang melihat dan yang dilihat, yang hadir dan yang dihadiri, yang menyaksikan dan yang disaksikan. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian KeimananAllah Ta’ala berfirman,قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.” (QS. Al-Buruj: 4)Sumpah ini menunjukkan besarnya tanda-tanda kekuasaan Allah, hikmah-Nya, dan rahmat-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menjadi isi sumpah adalah firman ini, yaitu doa kebinasaan bagi para pembuat parit.Yang dimaksud “al-ukhdūd” adalah lubang-lubang yang digali di tanah.Mereka adalah kaum kafir yang memiliki kaum mukmin di tengah mereka. Orang-orang kafir itu memaksa kaum mukmin untuk masuk ke dalam agama mereka, tetapi kaum mukmin menolak. Maka orang-orang kafir menggali parit di tanah, menyalakan api di dalamnya, lalu duduk di sekelilingnya. Mereka menguji kaum mukmin: siapa yang mau mengikuti mereka, dibiarkan hidup; siapa yang tetap beriman, dilemparkan ke dalam api.Ini adalah bentuk permusuhan yang sangat besar terhadap Allah dan orang-orang beriman. Karena itu Allah melaknat mereka, membinasakan mereka, dan mengancam mereka dengan firman-Nya tersebut. Kekejaman terhadap Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ“yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.” (QS. Al-Buruj: 5)Kemudian Allah menjelaskan tentang parit itu:إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ“ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS. Al-Buruj: 6)وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ“sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruj: 7)Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati. Mereka menggabungkan antara kekafiran terhadap ayat-ayat Allah, menentangnya, memusuhi orang beriman, dan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat mengerikan. Bahkan mereka hadir menyaksikan saat orang-orang beriman dilempar ke dalam api.Padahal, mereka tidak membenci kaum mukmin kecuali karena satu hal yang justru merupakan kemuliaan bagi mereka, yaitu karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8)Allah adalah Yang Mahaperkasa yang mengalahkan segala sesuatu, dan Maha Terpuji dalam semua perkataan, sifat, dan perbuatan-Nya. Ancaman bagi Pelaku KezalimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 9)Dialah yang menciptakan dan memiliki semua makhluk, serta mengatur mereka sebagaimana pemilik mengatur miliknya. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat segala sesuatu.Apakah orang-orang yang melampaui batas itu tidak takut kepada Allah Yang Mahakuat? Atau mereka tidak sadar bahwa mereka semua adalah milik Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuasaan kecuali dengan izin-Nya? Atau mereka tidak tahu bahwa Allah meliputi semua amal mereka dan akan membalasnya?Sungguh, orang kafir berada dalam kesesatan, dan orang zalim berada dalam kebodohan dan buta dari jalan yang benar.إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)Allah mengancam mereka, sekaligus membuka pintu tobat bagi mereka.Al-Hasan rahimahullah berkata:اُنْظُرُوا إِلَىٰ هٰذَا الْكَرَمِ وَالْجُودِ، هُمْ قَتَلُوا أَوْلِيَاءَهُ وَأَهْلَ طَاعَتِهِ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ.“Perhatikanlah kemurahan Allah ini, mereka telah membunuh para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya, namun Allah masih mengajak mereka untuk bertobat.” Balasan Besar bagi Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11)Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang zalim, Allah juga menyebutkan balasan bagi orang beriman. Mereka beriman dengan hati dan beramal saleh dengan anggota badan. Bagi mereka surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Itulah keberuntungan besar: mendapatkan rida Allah dan tempat kemuliaan di sisi-Nya. Kerasnya Azab Allah bagi Orang ZalimAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS. Al-Buruj: 12)Maksudnya, hukuman Allah terhadap pelaku kejahatan dan dosa besar sangat kuat dan keras. Allah selalu mengawasi orang-orang zalim, sebagaimana firman-Nya:وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya itu sangat pedih lagi sangat keras.” (QS. Hūd: 102) Allah Maha Pencipta dan PengampunAllah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ“Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).” (QS. Al-Buruj: 13)Artinya, hanya Allah yang menciptakan makhluk dari awal dan menghidupkannya kembali. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu.Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ“Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.“(QS. Al-Buruj: 14)Dialah Yang Maha Pengampun, yang mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang bertobat, dan menghapus kesalahan bagi siapa yang memohon ampun serta kembali kepada-Nya.Dia juga Al-Wadūd, yaitu Dzat yang mencintai hamba-hamba-Nya, dan dicintai oleh mereka dengan cinta yang tidak menyerupai cinta apa pun. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, demikian pula cinta kepada-Nya dalam hati para hamba pilihan tidak dapat disamakan dengan jenis cinta apa pun.Karena itu, cinta kepada Allah adalah dasar ibadah. Cinta ini harus didahulukan dan mengalahkan semua bentuk cinta lainnya. Jika tidak demikian, maka cinta tersebut justru menjadi sebab siksa bagi pemiliknya. Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana firman-Nya:يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 54) Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-NyaCinta (al-mawaddah) adalah cinta yang murni. Di sini terdapat makna yang halus, yaitu ketika Allah menyandingkan sifat “Maha Pengampun” dengan “Maha Pengasih”, menunjukkan bahwa orang yang berdosa jika bertobat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan mencintai mereka.Tidak benar jika dikatakan bahwa dosa mereka hanya diampuni, tetapi tidak kembali mendapatkan cinta Allah.Bahkan Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat, daripada seseorang yang kehilangan tunggangannya di padang tandus yang mematikan—yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya—lalu ia berputus asa dan menunggu kematian. Tiba-tiba tunggangannya kembali kepadanya, lalu ia sangat bergembira. Maka kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu.Segala puji bagi Allah, dengan cinta-Nya yang murni. Betapa agung kebaikan-Nya, betapa banyak karunia-Nya, dan betapa luas pemberian-Nya. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan AllahAllah Ta’ala berfirman,ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ“yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Buruj: 15)Artinya, Dia adalah pemilik ‘Arsy yang agung. Besarnya ‘Arsy sangat luar biasa, sampai-sampai langit, bumi, dan kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy, seperti sebuah cincin kecil yang dilempar di padang luas.Allah menyebut ‘Arsy secara khusus karena keagungannya dan karena ia adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Pada bacaan jar, kata “al-majīd” menjadi sifat bagi ‘Arsy, sedangkan pada bacaan raf‘, ia menjadi sifat bagi Allah. Makna “al-majīd” adalah luas dan agungnya sifat-sifat kesempurnaan. Allah Maha Berkehendak atas Segala SesuatuAllah Ta’ala berfirman,فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah,” maka terjadilah. Tidak ada yang mampu melakukan apa yang diinginkan secara mutlak selain Allah.Adapun makhluk, meskipun menginginkan sesuatu, tetap membutuhkan bantuan dan bisa terhalang. Sedangkan Allah tidak membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Pelajaran dari Fir‘aun dan TsamudAllah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.” (QS. Al-Buruj: 17)Allah kemudian menyebutkan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kebenaran para rasul, yaitu kisah bala tentara.Allah Ta’ala berfirman,فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ“(yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?” (QS. Al-Buruj: 18)Bagaimana mereka mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka. Sikap Orang Kafir yang Terus MendustakanAllah Ta’ala berfirman,بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.” (QS. Al-Buruj: 19)Mereka terus-menerus dalam sikap mendustakan dan keras kepala. Ayat-ayat tidak memberi manfaat bagi mereka, dan nasihat tidak berpengaruh pada mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.” (QS. Al-Buruj: 20)Allah meliputi mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)Ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir, karena mereka berada dalam genggaman dan pengaturan Allah. Al-Qur’an yang Mulia dan TerjagaAllah Ta’ala berfirman,بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 21)Yaitu Al-Qur’an yang agung maknanya, luas kandungannya, dan penuh dengan kebaikan serta ilmu.Allah Ta’ala berfirman,فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ“yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 22)Al-Qur’an itu terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Ia juga terjaga dari gangguan setan. Lauh Mahfuz adalah tempat di mana Allah telah menetapkan segala sesuatu.Ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an, keagungan kedudukannya, dan tingginya derajatnya di sisi Allah. Wallahu a’lam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul ukhdud Azab Allah balasan orang beriman keimanan Kisah dalam Al-Qur'an renungan ayat tafsir Al Buruj tafsir as-sa'di tafsir juz amma tauhid ujian keimanan


Surah Al-Buruj mengajarkan tentang kekuasaan Allah, kerasnya azab-Nya, dan luasnya rahmat-Nya. Kisah Ashabul Ukhdud menjadi bukti nyata bahwa keimanan akan diuji, namun balasan bagi orang beriman sangatlah besar. Di sisi lain, Allah tetap membuka pintu tobat bahkan bagi pelaku kezaliman yang paling berat. Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Langit dan Hari Kiamat 2. Makna Saksi dan yang Disaksikan 3. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian Keimanan 4. Kekejaman terhadap Orang Beriman 5. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada Allah 6. Ancaman bagi Pelaku Kezaliman 7. Balasan Besar bagi Orang Beriman 8. Kerasnya Azab Allah bagi Orang Zalim 9. Allah Maha Pencipta dan Pengampun 10. Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-Nya 11. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan Allah 12. Allah Maha Berkehendak atas Segala Sesuatu 13. Pelajaran dari Fir‘aun dan Tsamud 14. Sikap Orang Kafir yang Terus Mendustakan 15. Al-Qur’an yang Mulia dan Terjaga  Baca juga: Kisah Orang Beriman yang Dibakar Dalam Parit Sumpah Allah dengan Langit dan Hari KiamatAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al-Buruj: 1)Maksudnya, langit yang memiliki tempat-tempat peredaran, yang mencakup posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan sangat teratur. Semua itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah, rahmat-Nya, serta luasnya ilmu dan hikmah-Nya.وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ“dan hari yang dijanjikan.” (QS. Al-Buruj: 2)Yaitu hari kiamat, hari yang Allah janjikan untuk mengumpulkan seluruh makhluk. Pada hari itu, yang pertama dan yang terakhir, yang jauh dan yang dekat, semuanya dikumpulkan. Hari itu pasti terjadi dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.Makna Saksi dan yang DisaksikanAllah Ta’ala berfirman,وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ“dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)Ayat ini mencakup semua yang memiliki sifat tersebut: yang melihat dan yang dilihat, yang hadir dan yang dihadiri, yang menyaksikan dan yang disaksikan. Kisah Ashabul Ukhdud: Ujian KeimananAllah Ta’ala berfirman,قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.” (QS. Al-Buruj: 4)Sumpah ini menunjukkan besarnya tanda-tanda kekuasaan Allah, hikmah-Nya, dan rahmat-Nya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menjadi isi sumpah adalah firman ini, yaitu doa kebinasaan bagi para pembuat parit.Yang dimaksud “al-ukhdūd” adalah lubang-lubang yang digali di tanah.Mereka adalah kaum kafir yang memiliki kaum mukmin di tengah mereka. Orang-orang kafir itu memaksa kaum mukmin untuk masuk ke dalam agama mereka, tetapi kaum mukmin menolak. Maka orang-orang kafir menggali parit di tanah, menyalakan api di dalamnya, lalu duduk di sekelilingnya. Mereka menguji kaum mukmin: siapa yang mau mengikuti mereka, dibiarkan hidup; siapa yang tetap beriman, dilemparkan ke dalam api.Ini adalah bentuk permusuhan yang sangat besar terhadap Allah dan orang-orang beriman. Karena itu Allah melaknat mereka, membinasakan mereka, dan mengancam mereka dengan firman-Nya tersebut. Kekejaman terhadap Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ“yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.” (QS. Al-Buruj: 5)Kemudian Allah menjelaskan tentang parit itu:إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ“ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS. Al-Buruj: 6)وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ“sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruj: 7)Ini adalah puncak kesombongan dan kerasnya hati. Mereka menggabungkan antara kekafiran terhadap ayat-ayat Allah, menentangnya, memusuhi orang beriman, dan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat mengerikan. Bahkan mereka hadir menyaksikan saat orang-orang beriman dilempar ke dalam api.Padahal, mereka tidak membenci kaum mukmin kecuali karena satu hal yang justru merupakan kemuliaan bagi mereka, yaitu karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Sebab Kebencian: Karena Iman kepada AllahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8)Allah adalah Yang Mahaperkasa yang mengalahkan segala sesuatu, dan Maha Terpuji dalam semua perkataan, sifat, dan perbuatan-Nya. Ancaman bagi Pelaku KezalimanAllah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj: 9)Dialah yang menciptakan dan memiliki semua makhluk, serta mengatur mereka sebagaimana pemilik mengatur miliknya. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat segala sesuatu.Apakah orang-orang yang melampaui batas itu tidak takut kepada Allah Yang Mahakuat? Atau mereka tidak sadar bahwa mereka semua adalah milik Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuasaan kecuali dengan izin-Nya? Atau mereka tidak tahu bahwa Allah meliputi semua amal mereka dan akan membalasnya?Sungguh, orang kafir berada dalam kesesatan, dan orang zalim berada dalam kebodohan dan buta dari jalan yang benar.إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)Allah mengancam mereka, sekaligus membuka pintu tobat bagi mereka.Al-Hasan rahimahullah berkata:اُنْظُرُوا إِلَىٰ هٰذَا الْكَرَمِ وَالْجُودِ، هُمْ قَتَلُوا أَوْلِيَاءَهُ وَأَهْلَ طَاعَتِهِ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ.“Perhatikanlah kemurahan Allah ini, mereka telah membunuh para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya, namun Allah masih mengajak mereka untuk bertobat.” Balasan Besar bagi Orang BerimanAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11)Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang zalim, Allah juga menyebutkan balasan bagi orang beriman. Mereka beriman dengan hati dan beramal saleh dengan anggota badan. Bagi mereka surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Itulah keberuntungan besar: mendapatkan rida Allah dan tempat kemuliaan di sisi-Nya. Kerasnya Azab Allah bagi Orang ZalimAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS. Al-Buruj: 12)Maksudnya, hukuman Allah terhadap pelaku kejahatan dan dosa besar sangat kuat dan keras. Allah selalu mengawasi orang-orang zalim, sebagaimana firman-Nya:وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya itu sangat pedih lagi sangat keras.” (QS. Hūd: 102) Allah Maha Pencipta dan PengampunAllah Ta’ala berfirman,إِنَّهُۥ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ“Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).” (QS. Al-Buruj: 13)Artinya, hanya Allah yang menciptakan makhluk dari awal dan menghidupkannya kembali. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu.Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ“Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.“(QS. Al-Buruj: 14)Dialah Yang Maha Pengampun, yang mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang bertobat, dan menghapus kesalahan bagi siapa yang memohon ampun serta kembali kepada-Nya.Dia juga Al-Wadūd, yaitu Dzat yang mencintai hamba-hamba-Nya, dan dicintai oleh mereka dengan cinta yang tidak menyerupai cinta apa pun. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, demikian pula cinta kepada-Nya dalam hati para hamba pilihan tidak dapat disamakan dengan jenis cinta apa pun.Karena itu, cinta kepada Allah adalah dasar ibadah. Cinta ini harus didahulukan dan mengalahkan semua bentuk cinta lainnya. Jika tidak demikian, maka cinta tersebut justru menjadi sebab siksa bagi pemiliknya. Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana firman-Nya:يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 54) Luasnya Cinta Allah kepada Hamba-NyaCinta (al-mawaddah) adalah cinta yang murni. Di sini terdapat makna yang halus, yaitu ketika Allah menyandingkan sifat “Maha Pengampun” dengan “Maha Pengasih”, menunjukkan bahwa orang yang berdosa jika bertobat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan mencintai mereka.Tidak benar jika dikatakan bahwa dosa mereka hanya diampuni, tetapi tidak kembali mendapatkan cinta Allah.Bahkan Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat, daripada seseorang yang kehilangan tunggangannya di padang tandus yang mematikan—yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya—lalu ia berputus asa dan menunggu kematian. Tiba-tiba tunggangannya kembali kepadanya, lalu ia sangat bergembira. Maka kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya jauh lebih besar daripada itu.Segala puji bagi Allah, dengan cinta-Nya yang murni. Betapa agung kebaikan-Nya, betapa banyak karunia-Nya, dan betapa luas pemberian-Nya. Keagungan ‘Arsy dan Kekuasaan AllahAllah Ta’ala berfirman,ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ“yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Buruj: 15)Artinya, Dia adalah pemilik ‘Arsy yang agung. Besarnya ‘Arsy sangat luar biasa, sampai-sampai langit, bumi, dan kursi jika dibandingkan dengan ‘Arsy, seperti sebuah cincin kecil yang dilempar di padang luas.Allah menyebut ‘Arsy secara khusus karena keagungannya dan karena ia adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Pada bacaan jar, kata “al-majīd” menjadi sifat bagi ‘Arsy, sedangkan pada bacaan raf‘, ia menjadi sifat bagi Allah. Makna “al-majīd” adalah luas dan agungnya sifat-sifat kesempurnaan. Allah Maha Berkehendak atas Segala SesuatuAllah Ta’ala berfirman,فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Buruj: 16)Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah,” maka terjadilah. Tidak ada yang mampu melakukan apa yang diinginkan secara mutlak selain Allah.Adapun makhluk, meskipun menginginkan sesuatu, tetap membutuhkan bantuan dan bisa terhalang. Sedangkan Allah tidak membutuhkan bantuan dan tidak ada yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Pelajaran dari Fir‘aun dan TsamudAllah Ta’ala berfirman,هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.” (QS. Al-Buruj: 17)Allah kemudian menyebutkan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kebenaran para rasul, yaitu kisah bala tentara.Allah Ta’ala berfirman,فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ“(yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?” (QS. Al-Buruj: 18)Bagaimana mereka mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka. Sikap Orang Kafir yang Terus MendustakanAllah Ta’ala berfirman,بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ“Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.” (QS. Al-Buruj: 19)Mereka terus-menerus dalam sikap mendustakan dan keras kepala. Ayat-ayat tidak memberi manfaat bagi mereka, dan nasihat tidak berpengaruh pada mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.” (QS. Al-Buruj: 20)Allah meliputi mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)Ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir, karena mereka berada dalam genggaman dan pengaturan Allah. Al-Qur’an yang Mulia dan TerjagaAllah Ta’ala berfirman,بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 21)Yaitu Al-Qur’an yang agung maknanya, luas kandungannya, dan penuh dengan kebaikan serta ilmu.Allah Ta’ala berfirman,فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ“yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 22)Al-Qur’an itu terjaga dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Ia juga terjaga dari gangguan setan. Lauh Mahfuz adalah tempat di mana Allah telah menetapkan segala sesuatu.Ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an, keagungan kedudukannya, dan tingginya derajatnya di sisi Allah. Wallahu a’lam. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsashabul ukhdud Azab Allah balasan orang beriman keimanan Kisah dalam Al-Qur'an renungan ayat tafsir Al Buruj tafsir as-sa'di tafsir juz amma tauhid ujian keimanan

Bagaimana Islam Memandang Perilaku Homoseksual?

Daftar Isi ToggleFitrah manusia dalam pandangan IslamHomoseksual dalam pandangan IslamHukuman terhadap pelaku homoseksualDampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatMerusak fitrah dan tatanan keluargaMembuka pintu kerusakan sosialMengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatBagaimana sikap seorang muslim?Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?PenutupPembaca yang semoga dirahmati Allah, agama Islam adalah agama yang sempurna karena telah menjelaskan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya adalah fitrah dan kecenderungan seksual seseorang dengan lawan jenisnya. Di antara fenomena yang terjadi belakangan ini adalah munculnya kembali kaum Nabi Luth atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di tengah-tengah masyarakat. Para ulama ahlussunnah wal jama’ah telah mengkaji hal ini berdasarakan dalil Al-Qur’an maupun As-Sunah di kitab-kitab mereka.Oleh karenanya, tulisan ini ditujukan untuk membahas hukum dan dampak dari perilaku menyimpang ini (liwath) dengan pembahasan yang ringkas tetapi ilmiah dari sudut pandang agama Islam.Fitrah manusia dalam pandangan IslamAgama Islam telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu suka dengan lawan jenis. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 49)Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan,وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45)Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam kondisi asalnya yang memiliki kecenderungan alami yang lurus, yaitu ketertarikan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya; dan tentunya melalui pernikahan yang sah.Homoseksual dalam pandangan IslamPerilaku homoseksual atau suka sesama jenis (liwath) adalah perbuatan dosa dan maksiat, bahkan termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana dikisahkan secara jelas di dalam kisah Nabi Luth ‘alaihissalam di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan kepada perempuan; bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan homoseksual adalah perbuatan fahisyah atau perbuatan yang sangat keji, bahkan termasuk israf, yaitu perbuatan melampaui batas karena telah keluar dari fitrah yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan.Dikarenakan saking beratnya dosa ini, karena perbuatan melampaui batas tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla turunkan azab yang sangat berat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)Para ulama menegaskan bahwa kerasnya azab yang telah Allah ‘Azza wa Jalla timpakan kepada kaum Sodom menunjukkan besarnya dosa tersebut, bahkan dikatakan dosanya lebih besar dan lebih parah daripada zina.Disebutkan dalam kitab al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah: Para fuqaha sepakat bahwa liwath itu haram, karena termasuk perbuatan keji yang paling berat. Allah Ta‘ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya yang mulia dan mengecam pelakunya sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut.Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan TakdirHukuman terhadap pelaku homoseksualSebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad no. 2915; dinyatakan sahih oleh para ulama)Dan di riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Abu Dawud no. 4462, Tirmidzi no. 1456; dinilai sahih oleh sebagian ulama)Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk salah satu dosa besar. Para ulama memang berbeda pendapat dalam rincian hukumannya, tetapi mereka sepakat bahwa homoseksual adalah perbuatan haram dan dosa besar, bahkan Allah dan Rasul-Nya melaknat perbuatan mereka.Dampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatDari pemaparan tersebut, dalam pandangan syariat Islam, larangan melakukan homoseksual bukan semata karena aspek moral saja, tetapi juga karena dapat menimbulkan dampak-dampak berikut:Merusak fitrah dan tatanan keluargaIslam sangatlah menjaga keutuhan fitrah seorang hamba, termasuk menjaga agar tetap adanya keturunan (hifzhun nasl). Perilaku sesama jenis justru bisa mencegah adanya keturunan dan juga merusak sistem tatanan dalam keluarga.Membuka pintu kerusakan sosialKaum Nabi Luth bukan hanya melakukan homoseksual, tetapi juga merusak moral masyarakat secara luas.Mengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatNamun, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan berbuat zalim, persekusi, atau kekerasan tanpa hak. Penegakan hukum adalah wewenang pemerintah yang sah dan memiliki otoritas, bukan individu atau ormas tertentu.Bagaimana sikap seorang muslim?Sikap yang benar sesuai dengan syariat Islam adalah:Meyakini keharaman perbuatan tersebut berdasarkan dalil yang sahih.Tidak membenarkan atau melegalkannya.Tetap berbuat adil dan tidak menzalimi pelaku secara individu.Mendoakan agar pelaku diberi hidayah dan bertobat.Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?Selama pelakunya mau bertobat sebelum ajal menjemput dan terpenuhi beberapa syarat berikut:Menyesali perbuatannya.Berhenti dari melakukan perbuatan tersebut.Bertekad untuk tidak mengulanginya.Jika dosa berkaitan dengan hak korban, maka harus disertai pengembalian hak tersebut;maka masih ada kesempatan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Dan di ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)PenutupAgama Islam memandang perilaku homoseksual adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an, As-Sunah, serta ijmak ulama. Kisah kaum Nabi Luth menjadi peringatan keras tentang akibat dan dampak dari penyimpangan tersebut.Namun, Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ia membedakan antara perbuatan dan pelaku. Setiap manusia berpotensi salah, tetapi pintu tobat selalu terbuka. Seorang muslim dituntut untuk tetap menjaga akidah dan prinsip syariat, sekaligus menampilkan akhlak yang adil dan penuh hikmah dalam memandang pelaku dan dosanya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kaum muslimin agar tetap di atas fitrah yang lurus dan memberikan hidayah kepada siapa saja yang mencari kebenaran.Wallahu a’lam bishawaab.Baca juga: Bagaimana Bermuamalah dengan Kaum LGBT***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Bagaimana Islam Memandang Perilaku Homoseksual?

Daftar Isi ToggleFitrah manusia dalam pandangan IslamHomoseksual dalam pandangan IslamHukuman terhadap pelaku homoseksualDampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatMerusak fitrah dan tatanan keluargaMembuka pintu kerusakan sosialMengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatBagaimana sikap seorang muslim?Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?PenutupPembaca yang semoga dirahmati Allah, agama Islam adalah agama yang sempurna karena telah menjelaskan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya adalah fitrah dan kecenderungan seksual seseorang dengan lawan jenisnya. Di antara fenomena yang terjadi belakangan ini adalah munculnya kembali kaum Nabi Luth atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di tengah-tengah masyarakat. Para ulama ahlussunnah wal jama’ah telah mengkaji hal ini berdasarakan dalil Al-Qur’an maupun As-Sunah di kitab-kitab mereka.Oleh karenanya, tulisan ini ditujukan untuk membahas hukum dan dampak dari perilaku menyimpang ini (liwath) dengan pembahasan yang ringkas tetapi ilmiah dari sudut pandang agama Islam.Fitrah manusia dalam pandangan IslamAgama Islam telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu suka dengan lawan jenis. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 49)Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan,وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45)Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam kondisi asalnya yang memiliki kecenderungan alami yang lurus, yaitu ketertarikan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya; dan tentunya melalui pernikahan yang sah.Homoseksual dalam pandangan IslamPerilaku homoseksual atau suka sesama jenis (liwath) adalah perbuatan dosa dan maksiat, bahkan termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana dikisahkan secara jelas di dalam kisah Nabi Luth ‘alaihissalam di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan kepada perempuan; bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan homoseksual adalah perbuatan fahisyah atau perbuatan yang sangat keji, bahkan termasuk israf, yaitu perbuatan melampaui batas karena telah keluar dari fitrah yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan.Dikarenakan saking beratnya dosa ini, karena perbuatan melampaui batas tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla turunkan azab yang sangat berat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)Para ulama menegaskan bahwa kerasnya azab yang telah Allah ‘Azza wa Jalla timpakan kepada kaum Sodom menunjukkan besarnya dosa tersebut, bahkan dikatakan dosanya lebih besar dan lebih parah daripada zina.Disebutkan dalam kitab al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah: Para fuqaha sepakat bahwa liwath itu haram, karena termasuk perbuatan keji yang paling berat. Allah Ta‘ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya yang mulia dan mengecam pelakunya sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut.Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan TakdirHukuman terhadap pelaku homoseksualSebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad no. 2915; dinyatakan sahih oleh para ulama)Dan di riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Abu Dawud no. 4462, Tirmidzi no. 1456; dinilai sahih oleh sebagian ulama)Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk salah satu dosa besar. Para ulama memang berbeda pendapat dalam rincian hukumannya, tetapi mereka sepakat bahwa homoseksual adalah perbuatan haram dan dosa besar, bahkan Allah dan Rasul-Nya melaknat perbuatan mereka.Dampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatDari pemaparan tersebut, dalam pandangan syariat Islam, larangan melakukan homoseksual bukan semata karena aspek moral saja, tetapi juga karena dapat menimbulkan dampak-dampak berikut:Merusak fitrah dan tatanan keluargaIslam sangatlah menjaga keutuhan fitrah seorang hamba, termasuk menjaga agar tetap adanya keturunan (hifzhun nasl). Perilaku sesama jenis justru bisa mencegah adanya keturunan dan juga merusak sistem tatanan dalam keluarga.Membuka pintu kerusakan sosialKaum Nabi Luth bukan hanya melakukan homoseksual, tetapi juga merusak moral masyarakat secara luas.Mengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatNamun, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan berbuat zalim, persekusi, atau kekerasan tanpa hak. Penegakan hukum adalah wewenang pemerintah yang sah dan memiliki otoritas, bukan individu atau ormas tertentu.Bagaimana sikap seorang muslim?Sikap yang benar sesuai dengan syariat Islam adalah:Meyakini keharaman perbuatan tersebut berdasarkan dalil yang sahih.Tidak membenarkan atau melegalkannya.Tetap berbuat adil dan tidak menzalimi pelaku secara individu.Mendoakan agar pelaku diberi hidayah dan bertobat.Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?Selama pelakunya mau bertobat sebelum ajal menjemput dan terpenuhi beberapa syarat berikut:Menyesali perbuatannya.Berhenti dari melakukan perbuatan tersebut.Bertekad untuk tidak mengulanginya.Jika dosa berkaitan dengan hak korban, maka harus disertai pengembalian hak tersebut;maka masih ada kesempatan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Dan di ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)PenutupAgama Islam memandang perilaku homoseksual adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an, As-Sunah, serta ijmak ulama. Kisah kaum Nabi Luth menjadi peringatan keras tentang akibat dan dampak dari penyimpangan tersebut.Namun, Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ia membedakan antara perbuatan dan pelaku. Setiap manusia berpotensi salah, tetapi pintu tobat selalu terbuka. Seorang muslim dituntut untuk tetap menjaga akidah dan prinsip syariat, sekaligus menampilkan akhlak yang adil dan penuh hikmah dalam memandang pelaku dan dosanya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kaum muslimin agar tetap di atas fitrah yang lurus dan memberikan hidayah kepada siapa saja yang mencari kebenaran.Wallahu a’lam bishawaab.Baca juga: Bagaimana Bermuamalah dengan Kaum LGBT***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleFitrah manusia dalam pandangan IslamHomoseksual dalam pandangan IslamHukuman terhadap pelaku homoseksualDampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatMerusak fitrah dan tatanan keluargaMembuka pintu kerusakan sosialMengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatBagaimana sikap seorang muslim?Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?PenutupPembaca yang semoga dirahmati Allah, agama Islam adalah agama yang sempurna karena telah menjelaskan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya adalah fitrah dan kecenderungan seksual seseorang dengan lawan jenisnya. Di antara fenomena yang terjadi belakangan ini adalah munculnya kembali kaum Nabi Luth atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di tengah-tengah masyarakat. Para ulama ahlussunnah wal jama’ah telah mengkaji hal ini berdasarakan dalil Al-Qur’an maupun As-Sunah di kitab-kitab mereka.Oleh karenanya, tulisan ini ditujukan untuk membahas hukum dan dampak dari perilaku menyimpang ini (liwath) dengan pembahasan yang ringkas tetapi ilmiah dari sudut pandang agama Islam.Fitrah manusia dalam pandangan IslamAgama Islam telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu suka dengan lawan jenis. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 49)Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan,وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45)Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam kondisi asalnya yang memiliki kecenderungan alami yang lurus, yaitu ketertarikan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya; dan tentunya melalui pernikahan yang sah.Homoseksual dalam pandangan IslamPerilaku homoseksual atau suka sesama jenis (liwath) adalah perbuatan dosa dan maksiat, bahkan termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana dikisahkan secara jelas di dalam kisah Nabi Luth ‘alaihissalam di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan kepada perempuan; bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan homoseksual adalah perbuatan fahisyah atau perbuatan yang sangat keji, bahkan termasuk israf, yaitu perbuatan melampaui batas karena telah keluar dari fitrah yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan.Dikarenakan saking beratnya dosa ini, karena perbuatan melampaui batas tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla turunkan azab yang sangat berat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)Para ulama menegaskan bahwa kerasnya azab yang telah Allah ‘Azza wa Jalla timpakan kepada kaum Sodom menunjukkan besarnya dosa tersebut, bahkan dikatakan dosanya lebih besar dan lebih parah daripada zina.Disebutkan dalam kitab al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah: Para fuqaha sepakat bahwa liwath itu haram, karena termasuk perbuatan keji yang paling berat. Allah Ta‘ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya yang mulia dan mengecam pelakunya sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut.Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan TakdirHukuman terhadap pelaku homoseksualSebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad no. 2915; dinyatakan sahih oleh para ulama)Dan di riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Abu Dawud no. 4462, Tirmidzi no. 1456; dinilai sahih oleh sebagian ulama)Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk salah satu dosa besar. Para ulama memang berbeda pendapat dalam rincian hukumannya, tetapi mereka sepakat bahwa homoseksual adalah perbuatan haram dan dosa besar, bahkan Allah dan Rasul-Nya melaknat perbuatan mereka.Dampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatDari pemaparan tersebut, dalam pandangan syariat Islam, larangan melakukan homoseksual bukan semata karena aspek moral saja, tetapi juga karena dapat menimbulkan dampak-dampak berikut:Merusak fitrah dan tatanan keluargaIslam sangatlah menjaga keutuhan fitrah seorang hamba, termasuk menjaga agar tetap adanya keturunan (hifzhun nasl). Perilaku sesama jenis justru bisa mencegah adanya keturunan dan juga merusak sistem tatanan dalam keluarga.Membuka pintu kerusakan sosialKaum Nabi Luth bukan hanya melakukan homoseksual, tetapi juga merusak moral masyarakat secara luas.Mengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatNamun, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan berbuat zalim, persekusi, atau kekerasan tanpa hak. Penegakan hukum adalah wewenang pemerintah yang sah dan memiliki otoritas, bukan individu atau ormas tertentu.Bagaimana sikap seorang muslim?Sikap yang benar sesuai dengan syariat Islam adalah:Meyakini keharaman perbuatan tersebut berdasarkan dalil yang sahih.Tidak membenarkan atau melegalkannya.Tetap berbuat adil dan tidak menzalimi pelaku secara individu.Mendoakan agar pelaku diberi hidayah dan bertobat.Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?Selama pelakunya mau bertobat sebelum ajal menjemput dan terpenuhi beberapa syarat berikut:Menyesali perbuatannya.Berhenti dari melakukan perbuatan tersebut.Bertekad untuk tidak mengulanginya.Jika dosa berkaitan dengan hak korban, maka harus disertai pengembalian hak tersebut;maka masih ada kesempatan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Dan di ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)PenutupAgama Islam memandang perilaku homoseksual adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an, As-Sunah, serta ijmak ulama. Kisah kaum Nabi Luth menjadi peringatan keras tentang akibat dan dampak dari penyimpangan tersebut.Namun, Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ia membedakan antara perbuatan dan pelaku. Setiap manusia berpotensi salah, tetapi pintu tobat selalu terbuka. Seorang muslim dituntut untuk tetap menjaga akidah dan prinsip syariat, sekaligus menampilkan akhlak yang adil dan penuh hikmah dalam memandang pelaku dan dosanya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kaum muslimin agar tetap di atas fitrah yang lurus dan memberikan hidayah kepada siapa saja yang mencari kebenaran.Wallahu a’lam bishawaab.Baca juga: Bagaimana Bermuamalah dengan Kaum LGBT***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleFitrah manusia dalam pandangan IslamHomoseksual dalam pandangan IslamHukuman terhadap pelaku homoseksualDampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatMerusak fitrah dan tatanan keluargaMembuka pintu kerusakan sosialMengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatBagaimana sikap seorang muslim?Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?PenutupPembaca yang semoga dirahmati Allah, agama Islam adalah agama yang sempurna karena telah menjelaskan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya adalah fitrah dan kecenderungan seksual seseorang dengan lawan jenisnya. Di antara fenomena yang terjadi belakangan ini adalah munculnya kembali kaum Nabi Luth atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di tengah-tengah masyarakat. Para ulama ahlussunnah wal jama’ah telah mengkaji hal ini berdasarakan dalil Al-Qur’an maupun As-Sunah di kitab-kitab mereka.Oleh karenanya, tulisan ini ditujukan untuk membahas hukum dan dampak dari perilaku menyimpang ini (liwath) dengan pembahasan yang ringkas tetapi ilmiah dari sudut pandang agama Islam.Fitrah manusia dalam pandangan IslamAgama Islam telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu suka dengan lawan jenis. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 49)Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan,وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45)Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam kondisi asalnya yang memiliki kecenderungan alami yang lurus, yaitu ketertarikan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya; dan tentunya melalui pernikahan yang sah.Homoseksual dalam pandangan IslamPerilaku homoseksual atau suka sesama jenis (liwath) adalah perbuatan dosa dan maksiat, bahkan termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana dikisahkan secara jelas di dalam kisah Nabi Luth ‘alaihissalam di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan kepada perempuan; bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan homoseksual adalah perbuatan fahisyah atau perbuatan yang sangat keji, bahkan termasuk israf, yaitu perbuatan melampaui batas karena telah keluar dari fitrah yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan.Dikarenakan saking beratnya dosa ini, karena perbuatan melampaui batas tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla turunkan azab yang sangat berat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)Para ulama menegaskan bahwa kerasnya azab yang telah Allah ‘Azza wa Jalla timpakan kepada kaum Sodom menunjukkan besarnya dosa tersebut, bahkan dikatakan dosanya lebih besar dan lebih parah daripada zina.Disebutkan dalam kitab al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah: Para fuqaha sepakat bahwa liwath itu haram, karena termasuk perbuatan keji yang paling berat. Allah Ta‘ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya yang mulia dan mengecam pelakunya sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut.Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan TakdirHukuman terhadap pelaku homoseksualSebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad no. 2915; dinyatakan sahih oleh para ulama)Dan di riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Abu Dawud no. 4462, Tirmidzi no. 1456; dinilai sahih oleh sebagian ulama)Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk salah satu dosa besar. Para ulama memang berbeda pendapat dalam rincian hukumannya, tetapi mereka sepakat bahwa homoseksual adalah perbuatan haram dan dosa besar, bahkan Allah dan Rasul-Nya melaknat perbuatan mereka.Dampak perilaku homoseksual terhadap individu dan masyarakatDari pemaparan tersebut, dalam pandangan syariat Islam, larangan melakukan homoseksual bukan semata karena aspek moral saja, tetapi juga karena dapat menimbulkan dampak-dampak berikut:Merusak fitrah dan tatanan keluargaIslam sangatlah menjaga keutuhan fitrah seorang hamba, termasuk menjaga agar tetap adanya keturunan (hifzhun nasl). Perilaku sesama jenis justru bisa mencegah adanya keturunan dan juga merusak sistem tatanan dalam keluarga.Membuka pintu kerusakan sosialKaum Nabi Luth bukan hanya melakukan homoseksual, tetapi juga merusak moral masyarakat secara luas.Mengundang murka Allah jika dilegalkan dan dinormalisasi di masyarakatNamun, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan berbuat zalim, persekusi, atau kekerasan tanpa hak. Penegakan hukum adalah wewenang pemerintah yang sah dan memiliki otoritas, bukan individu atau ormas tertentu.Bagaimana sikap seorang muslim?Sikap yang benar sesuai dengan syariat Islam adalah:Meyakini keharaman perbuatan tersebut berdasarkan dalil yang sahih.Tidak membenarkan atau melegalkannya.Tetap berbuat adil dan tidak menzalimi pelaku secara individu.Mendoakan agar pelaku diberi hidayah dan bertobat.Apakah pintu tobat masih terbuka untuk pelaku?Selama pelakunya mau bertobat sebelum ajal menjemput dan terpenuhi beberapa syarat berikut:Menyesali perbuatannya.Berhenti dari melakukan perbuatan tersebut.Bertekad untuk tidak mengulanginya.Jika dosa berkaitan dengan hak korban, maka harus disertai pengembalian hak tersebut;maka masih ada kesempatan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Dan di ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla juga menegaskan,إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)PenutupAgama Islam memandang perilaku homoseksual adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an, As-Sunah, serta ijmak ulama. Kisah kaum Nabi Luth menjadi peringatan keras tentang akibat dan dampak dari penyimpangan tersebut.Namun, Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ia membedakan antara perbuatan dan pelaku. Setiap manusia berpotensi salah, tetapi pintu tobat selalu terbuka. Seorang muslim dituntut untuk tetap menjaga akidah dan prinsip syariat, sekaligus menampilkan akhlak yang adil dan penuh hikmah dalam memandang pelaku dan dosanya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kaum muslimin agar tetap di atas fitrah yang lurus dan memberikan hidayah kepada siapa saja yang mencari kebenaran.Wallahu a’lam bishawaab.Baca juga: Bagaimana Bermuamalah dengan Kaum LGBT***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Kaidah Fikih: Pengaruh Niat dalam Sumpah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususTentang kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatMakna kaidahContoh dari penerapan kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraPembahasan masih berlanjut di antara cabang dari kaidah kubra yang berbicara tentang masalah niat. Setelah sebelumnya membahas kaitan niat dalam akad, pembahasan kali ini membahas kaitan niat dengan sumpah. Yaitu, seberapa pengaruh niat seseorang dalam sumpah.Di antara yang diatur dalam syariat Islam adalah hal yang berkaitan dengan sumpah. Seseorang tidak bisa sembarangan bersumpah; terlebih jika ia melanggar sumpahnya, maka harus ada kaffarat (tebusan) yang dikeluarkan atau ditunaikan. Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat tentang masalah sumpah,لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡٓ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوۡبُكُمۡ​ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ حَلِيۡمٌ‏“Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡۤ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الۡاَيۡمَانَ​ ۚ فَكَفَّارَتُهٗۤ اِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيۡنَ مِنۡ اَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُوۡنَ اَهۡلِيۡكُمۡ اَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ اَوۡ تَحۡرِيۡرُ رَقَبَةٍ​ ؕ فَمَنۡ لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ​ ؕ ذٰ لِكَ كَفَّارَةُ اَيۡمَانِكُمۡ اِذَا حَلَفۡتُمۡ​ ؕ وَاحۡفَظُوۡۤا اَيۡمَانَكُمۡ​ ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)Jika seseorang melanggar sumpahnya, maka wajib baginya untuk menunaikan kaffarat. Penunaian kaffarat tentunya harus sesuai dengan urutan yang Allah tentukan pada ayat di atas.Kemudian Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk membebaskan diri dari sumpah. Allah Ta’ala berfirman,قَدۡ فَرَضَ اللّٰهُ لَـكُمۡ تَحِلَّةَ اَيۡمَانِكُمۡ​ وَاللّٰهُ مَوۡلٰٮكُمۡ​ وَهُوَ الۡعَلِيۡمُ الۡحَكِيۡمُ‏“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Tahrim: 2)Jika sumpah itu terucap dalam rangka melakukan perbuatan buruk dan meniadakan perbuatan baik, atau jika seseorang melihat ternyata sumpahnya bukanlah sumpah yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membatalkan sumpah tersebut dan membayar kaffarat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ“Jika engkau bersumpah terhadap suatu perkara, lalu engkau melihat ada hal lain yang lebih baik daripadanya, maka lakukanlah hal yang lebih baik itu, dan bayarlah kaffarat (tebusan) atas sumpahmu.” (Mutaffaqun ‘alaih)Dari nash-nash di atas dapat diketahui bahwasanya syariat Islam mengatur sedemikian rupa tentang masalah sumpah dan seseorang tidak boleh sembarangan dalam bersumpah, yang pada kemudian hari ia akan melanggar sumpahnya.Nah, yang perlu diketahui pula bahwa dalam masalah sumpah ini terdapat permasalahan niat. Dalam sumpah, tentunya ada niat yang terbesit oleh orang yang mengucapkannya. Niat dalam sumpah telah dibahas oleh para ulama dalam kaidah fikih, dikategorikan sebagai kaidah cabang dari kaidah kubra tentang masalah niat.Kaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususSekilas kalimat di atas sedikit sulit untuk dicerna sebelum melihat contoh real dari kaidah tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum dan membuat umum lafaz yang khusus.” Tentang kaidahPada kaidah tentang sumpah ini setidaknya terdapat dua bagian,Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatHal ini disepakati oleh para ulama mazhab. Artinya, menurut para ulama mazhab, mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat itu mungkin terjadi. Kendati ada sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian dari mazhab Syafi’i yang memandang bahwa hal ini tidak berlaku di hadapan hakim dan dianggap melanggar sumpah.Menurut mereka (sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i), mengkhususkan lafaz sumpah yang umum hanya berlaku di hadapan Allah Ta’ala saja, tidak berlaku di hadapan hakim ataupun qadhi. Sehingga di hadapan hakim, ia tetap dianggap melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat.Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatPada hal ini, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab. Adapun mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian mazhab Hanafi, mereka berpendapat akan berlakunya hal ini. Yaitu, niat dapat membuat umum dari lafaz sumpah yang khusus sebagaimana pada poin pertama.Adapun pendapat sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanafi, mereka berpendapat bahwa lafaz yang khusus tidak dapat dibuat menjadi umum.Baca juga: Segala Sesuatu Tergantung TujuannyaMakna kaidahNiat seseorang yang bersumpah memiliki pengaruh besar dalam masalah sumpah, dilihat dari sisi jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang umum, kemudian di dalam hatinya berniat untuk mengkhususkannya, maka niat tersebut dapat mengkhususkan sumpahnya dan dihukumi sumpahnya tergantung dari yang ia niatkan dalam hatinya.Sebaliknya, jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang khusus, kemudian di dalam hatinya berniat untuk menjadikan sumpahnya bertujuan umum, maka niatnya dapat membuat sumpah yang tadinya khusus menjadi umum.Contoh dari penerapan kaidahDengan memahami dengan seksama terkait contoh-contoh yang diberikan, pemahaman tentang kaidah ini akan lebih mudah.Contoh pada kaidah ini dibagi menjadi dua bagian sebagaimana pembagian di atas.Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat– A bersumpah untuk tidak mengajak bicara satu orangpun, namun di dalam hati ia berniat untuk tidak mengajak bicara B saja.Pada contoh ini, ia tidak melanggar sumpahnya jika ia mengajak bicara selain dari B. Karena sumpah yang tadinya umum untuk seluruh orang, ia khususkan di dalam hati dengan niatnya hanya untuk B saja.“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Contoh lainya,– A bersumpah untuk tidak memakan daging apapun, namun di dalam hatinya ia mengkhususkan sumpahnya dengan memaksudkan dari sumpahnya itu hanya daging unta saja.Kemudian di waktu lain, A memakan daging kambing. Pertanyaannya, apakah A melanggar sumpahnya? Jawabannya tidak. Ia tidak melanggar sumpahnya dan tidak perlu untuk membayar kaffarat. Karena walaupun niatnya umum “tidak memakan daging apapun”, pada contoh di atas A, mengkhususkan hanya daging unta saja. Sehingga sumpahnya menjadi khusus karena sebab niatnya.Kaidahnya,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niat– A bersumpah untuk tidak meminum air milik B ketika ia haus, namun di dalam hatinya ia berniat untuk tidak mengambil manfaat apapun dari B.Jika berpatokan dengan pendapat mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian Hanafi, A dianggap melanggar sumpahnya jika sedikit saja A mengambil manfaat dari B. Misalnya, A tidak sengaja memakan kue yang ada di rumah B. Dalam hal ini, A melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat sumpahnya.Adapun jika berpatokan dengan pendapat mazhab Syafi’i dan sebagian Hanafi, A tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika minum air milik B ketika haus. Tidak pula dianggap melanggar sumpah jika A memperoleh manfaat dari B, misalnya dengan memakan kuenya B, menggunakan bajunya B, dan lainnya. Karena menurut pendapat ini, niat pada sumpah tidak dapat menjadikan umum lafaz yang khusus.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaitan kaidah ini dengan kaidah kubra adalah memberikan pelajaran bahwasanya niat sangat berpengaruh dalam lafaz sumpah. Dari segi niat dapat mengkhususkan sumpah yang umum dan dapat menjadikan umum lafaz yang khusus. Hal ini sangat berkaitan dengan kaidah kubra, yaitu segala hukum dan perbuatan mukallaf dihukumi tergantung dari niat dan tujuannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 9 Ramadan 1447/ 26 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Kaidah Fikih: Pengaruh Niat dalam Sumpah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususTentang kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatMakna kaidahContoh dari penerapan kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraPembahasan masih berlanjut di antara cabang dari kaidah kubra yang berbicara tentang masalah niat. Setelah sebelumnya membahas kaitan niat dalam akad, pembahasan kali ini membahas kaitan niat dengan sumpah. Yaitu, seberapa pengaruh niat seseorang dalam sumpah.Di antara yang diatur dalam syariat Islam adalah hal yang berkaitan dengan sumpah. Seseorang tidak bisa sembarangan bersumpah; terlebih jika ia melanggar sumpahnya, maka harus ada kaffarat (tebusan) yang dikeluarkan atau ditunaikan. Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat tentang masalah sumpah,لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡٓ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوۡبُكُمۡ​ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ حَلِيۡمٌ‏“Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡۤ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الۡاَيۡمَانَ​ ۚ فَكَفَّارَتُهٗۤ اِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيۡنَ مِنۡ اَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُوۡنَ اَهۡلِيۡكُمۡ اَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ اَوۡ تَحۡرِيۡرُ رَقَبَةٍ​ ؕ فَمَنۡ لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ​ ؕ ذٰ لِكَ كَفَّارَةُ اَيۡمَانِكُمۡ اِذَا حَلَفۡتُمۡ​ ؕ وَاحۡفَظُوۡۤا اَيۡمَانَكُمۡ​ ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)Jika seseorang melanggar sumpahnya, maka wajib baginya untuk menunaikan kaffarat. Penunaian kaffarat tentunya harus sesuai dengan urutan yang Allah tentukan pada ayat di atas.Kemudian Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk membebaskan diri dari sumpah. Allah Ta’ala berfirman,قَدۡ فَرَضَ اللّٰهُ لَـكُمۡ تَحِلَّةَ اَيۡمَانِكُمۡ​ وَاللّٰهُ مَوۡلٰٮكُمۡ​ وَهُوَ الۡعَلِيۡمُ الۡحَكِيۡمُ‏“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Tahrim: 2)Jika sumpah itu terucap dalam rangka melakukan perbuatan buruk dan meniadakan perbuatan baik, atau jika seseorang melihat ternyata sumpahnya bukanlah sumpah yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membatalkan sumpah tersebut dan membayar kaffarat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ“Jika engkau bersumpah terhadap suatu perkara, lalu engkau melihat ada hal lain yang lebih baik daripadanya, maka lakukanlah hal yang lebih baik itu, dan bayarlah kaffarat (tebusan) atas sumpahmu.” (Mutaffaqun ‘alaih)Dari nash-nash di atas dapat diketahui bahwasanya syariat Islam mengatur sedemikian rupa tentang masalah sumpah dan seseorang tidak boleh sembarangan dalam bersumpah, yang pada kemudian hari ia akan melanggar sumpahnya.Nah, yang perlu diketahui pula bahwa dalam masalah sumpah ini terdapat permasalahan niat. Dalam sumpah, tentunya ada niat yang terbesit oleh orang yang mengucapkannya. Niat dalam sumpah telah dibahas oleh para ulama dalam kaidah fikih, dikategorikan sebagai kaidah cabang dari kaidah kubra tentang masalah niat.Kaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususSekilas kalimat di atas sedikit sulit untuk dicerna sebelum melihat contoh real dari kaidah tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum dan membuat umum lafaz yang khusus.” Tentang kaidahPada kaidah tentang sumpah ini setidaknya terdapat dua bagian,Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatHal ini disepakati oleh para ulama mazhab. Artinya, menurut para ulama mazhab, mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat itu mungkin terjadi. Kendati ada sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian dari mazhab Syafi’i yang memandang bahwa hal ini tidak berlaku di hadapan hakim dan dianggap melanggar sumpah.Menurut mereka (sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i), mengkhususkan lafaz sumpah yang umum hanya berlaku di hadapan Allah Ta’ala saja, tidak berlaku di hadapan hakim ataupun qadhi. Sehingga di hadapan hakim, ia tetap dianggap melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat.Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatPada hal ini, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab. Adapun mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian mazhab Hanafi, mereka berpendapat akan berlakunya hal ini. Yaitu, niat dapat membuat umum dari lafaz sumpah yang khusus sebagaimana pada poin pertama.Adapun pendapat sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanafi, mereka berpendapat bahwa lafaz yang khusus tidak dapat dibuat menjadi umum.Baca juga: Segala Sesuatu Tergantung TujuannyaMakna kaidahNiat seseorang yang bersumpah memiliki pengaruh besar dalam masalah sumpah, dilihat dari sisi jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang umum, kemudian di dalam hatinya berniat untuk mengkhususkannya, maka niat tersebut dapat mengkhususkan sumpahnya dan dihukumi sumpahnya tergantung dari yang ia niatkan dalam hatinya.Sebaliknya, jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang khusus, kemudian di dalam hatinya berniat untuk menjadikan sumpahnya bertujuan umum, maka niatnya dapat membuat sumpah yang tadinya khusus menjadi umum.Contoh dari penerapan kaidahDengan memahami dengan seksama terkait contoh-contoh yang diberikan, pemahaman tentang kaidah ini akan lebih mudah.Contoh pada kaidah ini dibagi menjadi dua bagian sebagaimana pembagian di atas.Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat– A bersumpah untuk tidak mengajak bicara satu orangpun, namun di dalam hati ia berniat untuk tidak mengajak bicara B saja.Pada contoh ini, ia tidak melanggar sumpahnya jika ia mengajak bicara selain dari B. Karena sumpah yang tadinya umum untuk seluruh orang, ia khususkan di dalam hati dengan niatnya hanya untuk B saja.“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Contoh lainya,– A bersumpah untuk tidak memakan daging apapun, namun di dalam hatinya ia mengkhususkan sumpahnya dengan memaksudkan dari sumpahnya itu hanya daging unta saja.Kemudian di waktu lain, A memakan daging kambing. Pertanyaannya, apakah A melanggar sumpahnya? Jawabannya tidak. Ia tidak melanggar sumpahnya dan tidak perlu untuk membayar kaffarat. Karena walaupun niatnya umum “tidak memakan daging apapun”, pada contoh di atas A, mengkhususkan hanya daging unta saja. Sehingga sumpahnya menjadi khusus karena sebab niatnya.Kaidahnya,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niat– A bersumpah untuk tidak meminum air milik B ketika ia haus, namun di dalam hatinya ia berniat untuk tidak mengambil manfaat apapun dari B.Jika berpatokan dengan pendapat mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian Hanafi, A dianggap melanggar sumpahnya jika sedikit saja A mengambil manfaat dari B. Misalnya, A tidak sengaja memakan kue yang ada di rumah B. Dalam hal ini, A melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat sumpahnya.Adapun jika berpatokan dengan pendapat mazhab Syafi’i dan sebagian Hanafi, A tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika minum air milik B ketika haus. Tidak pula dianggap melanggar sumpah jika A memperoleh manfaat dari B, misalnya dengan memakan kuenya B, menggunakan bajunya B, dan lainnya. Karena menurut pendapat ini, niat pada sumpah tidak dapat menjadikan umum lafaz yang khusus.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaitan kaidah ini dengan kaidah kubra adalah memberikan pelajaran bahwasanya niat sangat berpengaruh dalam lafaz sumpah. Dari segi niat dapat mengkhususkan sumpah yang umum dan dapat menjadikan umum lafaz yang khusus. Hal ini sangat berkaitan dengan kaidah kubra, yaitu segala hukum dan perbuatan mukallaf dihukumi tergantung dari niat dan tujuannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 9 Ramadan 1447/ 26 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.
Daftar Isi ToggleKaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususTentang kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatMakna kaidahContoh dari penerapan kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraPembahasan masih berlanjut di antara cabang dari kaidah kubra yang berbicara tentang masalah niat. Setelah sebelumnya membahas kaitan niat dalam akad, pembahasan kali ini membahas kaitan niat dengan sumpah. Yaitu, seberapa pengaruh niat seseorang dalam sumpah.Di antara yang diatur dalam syariat Islam adalah hal yang berkaitan dengan sumpah. Seseorang tidak bisa sembarangan bersumpah; terlebih jika ia melanggar sumpahnya, maka harus ada kaffarat (tebusan) yang dikeluarkan atau ditunaikan. Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat tentang masalah sumpah,لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡٓ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوۡبُكُمۡ​ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ حَلِيۡمٌ‏“Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡۤ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الۡاَيۡمَانَ​ ۚ فَكَفَّارَتُهٗۤ اِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيۡنَ مِنۡ اَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُوۡنَ اَهۡلِيۡكُمۡ اَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ اَوۡ تَحۡرِيۡرُ رَقَبَةٍ​ ؕ فَمَنۡ لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ​ ؕ ذٰ لِكَ كَفَّارَةُ اَيۡمَانِكُمۡ اِذَا حَلَفۡتُمۡ​ ؕ وَاحۡفَظُوۡۤا اَيۡمَانَكُمۡ​ ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)Jika seseorang melanggar sumpahnya, maka wajib baginya untuk menunaikan kaffarat. Penunaian kaffarat tentunya harus sesuai dengan urutan yang Allah tentukan pada ayat di atas.Kemudian Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk membebaskan diri dari sumpah. Allah Ta’ala berfirman,قَدۡ فَرَضَ اللّٰهُ لَـكُمۡ تَحِلَّةَ اَيۡمَانِكُمۡ​ وَاللّٰهُ مَوۡلٰٮكُمۡ​ وَهُوَ الۡعَلِيۡمُ الۡحَكِيۡمُ‏“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Tahrim: 2)Jika sumpah itu terucap dalam rangka melakukan perbuatan buruk dan meniadakan perbuatan baik, atau jika seseorang melihat ternyata sumpahnya bukanlah sumpah yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membatalkan sumpah tersebut dan membayar kaffarat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ“Jika engkau bersumpah terhadap suatu perkara, lalu engkau melihat ada hal lain yang lebih baik daripadanya, maka lakukanlah hal yang lebih baik itu, dan bayarlah kaffarat (tebusan) atas sumpahmu.” (Mutaffaqun ‘alaih)Dari nash-nash di atas dapat diketahui bahwasanya syariat Islam mengatur sedemikian rupa tentang masalah sumpah dan seseorang tidak boleh sembarangan dalam bersumpah, yang pada kemudian hari ia akan melanggar sumpahnya.Nah, yang perlu diketahui pula bahwa dalam masalah sumpah ini terdapat permasalahan niat. Dalam sumpah, tentunya ada niat yang terbesit oleh orang yang mengucapkannya. Niat dalam sumpah telah dibahas oleh para ulama dalam kaidah fikih, dikategorikan sebagai kaidah cabang dari kaidah kubra tentang masalah niat.Kaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususSekilas kalimat di atas sedikit sulit untuk dicerna sebelum melihat contoh real dari kaidah tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum dan membuat umum lafaz yang khusus.” Tentang kaidahPada kaidah tentang sumpah ini setidaknya terdapat dua bagian,Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatHal ini disepakati oleh para ulama mazhab. Artinya, menurut para ulama mazhab, mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat itu mungkin terjadi. Kendati ada sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian dari mazhab Syafi’i yang memandang bahwa hal ini tidak berlaku di hadapan hakim dan dianggap melanggar sumpah.Menurut mereka (sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i), mengkhususkan lafaz sumpah yang umum hanya berlaku di hadapan Allah Ta’ala saja, tidak berlaku di hadapan hakim ataupun qadhi. Sehingga di hadapan hakim, ia tetap dianggap melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat.Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatPada hal ini, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab. Adapun mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian mazhab Hanafi, mereka berpendapat akan berlakunya hal ini. Yaitu, niat dapat membuat umum dari lafaz sumpah yang khusus sebagaimana pada poin pertama.Adapun pendapat sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanafi, mereka berpendapat bahwa lafaz yang khusus tidak dapat dibuat menjadi umum.Baca juga: Segala Sesuatu Tergantung TujuannyaMakna kaidahNiat seseorang yang bersumpah memiliki pengaruh besar dalam masalah sumpah, dilihat dari sisi jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang umum, kemudian di dalam hatinya berniat untuk mengkhususkannya, maka niat tersebut dapat mengkhususkan sumpahnya dan dihukumi sumpahnya tergantung dari yang ia niatkan dalam hatinya.Sebaliknya, jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang khusus, kemudian di dalam hatinya berniat untuk menjadikan sumpahnya bertujuan umum, maka niatnya dapat membuat sumpah yang tadinya khusus menjadi umum.Contoh dari penerapan kaidahDengan memahami dengan seksama terkait contoh-contoh yang diberikan, pemahaman tentang kaidah ini akan lebih mudah.Contoh pada kaidah ini dibagi menjadi dua bagian sebagaimana pembagian di atas.Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat– A bersumpah untuk tidak mengajak bicara satu orangpun, namun di dalam hati ia berniat untuk tidak mengajak bicara B saja.Pada contoh ini, ia tidak melanggar sumpahnya jika ia mengajak bicara selain dari B. Karena sumpah yang tadinya umum untuk seluruh orang, ia khususkan di dalam hati dengan niatnya hanya untuk B saja.“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Contoh lainya,– A bersumpah untuk tidak memakan daging apapun, namun di dalam hatinya ia mengkhususkan sumpahnya dengan memaksudkan dari sumpahnya itu hanya daging unta saja.Kemudian di waktu lain, A memakan daging kambing. Pertanyaannya, apakah A melanggar sumpahnya? Jawabannya tidak. Ia tidak melanggar sumpahnya dan tidak perlu untuk membayar kaffarat. Karena walaupun niatnya umum “tidak memakan daging apapun”, pada contoh di atas A, mengkhususkan hanya daging unta saja. Sehingga sumpahnya menjadi khusus karena sebab niatnya.Kaidahnya,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niat– A bersumpah untuk tidak meminum air milik B ketika ia haus, namun di dalam hatinya ia berniat untuk tidak mengambil manfaat apapun dari B.Jika berpatokan dengan pendapat mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian Hanafi, A dianggap melanggar sumpahnya jika sedikit saja A mengambil manfaat dari B. Misalnya, A tidak sengaja memakan kue yang ada di rumah B. Dalam hal ini, A melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat sumpahnya.Adapun jika berpatokan dengan pendapat mazhab Syafi’i dan sebagian Hanafi, A tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika minum air milik B ketika haus. Tidak pula dianggap melanggar sumpah jika A memperoleh manfaat dari B, misalnya dengan memakan kuenya B, menggunakan bajunya B, dan lainnya. Karena menurut pendapat ini, niat pada sumpah tidak dapat menjadikan umum lafaz yang khusus.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaitan kaidah ini dengan kaidah kubra adalah memberikan pelajaran bahwasanya niat sangat berpengaruh dalam lafaz sumpah. Dari segi niat dapat mengkhususkan sumpah yang umum dan dapat menjadikan umum lafaz yang khusus. Hal ini sangat berkaitan dengan kaidah kubra, yaitu segala hukum dan perbuatan mukallaf dihukumi tergantung dari niat dan tujuannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 9 Ramadan 1447/ 26 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.


Daftar Isi ToggleKaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususTentang kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatMakna kaidahContoh dari penerapan kaidahPertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatKedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatKaitan kaidah ini dengan kaidah kubraPembahasan masih berlanjut di antara cabang dari kaidah kubra yang berbicara tentang masalah niat. Setelah sebelumnya membahas kaitan niat dalam akad, pembahasan kali ini membahas kaitan niat dengan sumpah. Yaitu, seberapa pengaruh niat seseorang dalam sumpah.Di antara yang diatur dalam syariat Islam adalah hal yang berkaitan dengan sumpah. Seseorang tidak bisa sembarangan bersumpah; terlebih jika ia melanggar sumpahnya, maka harus ada kaffarat (tebusan) yang dikeluarkan atau ditunaikan. Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat tentang masalah sumpah,لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡٓ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا كَسَبَتۡ قُلُوۡبُكُمۡ​ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ حَلِيۡمٌ‏“Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغۡوِ فِىۡۤ اَيۡمَانِكُمۡ وَلٰـكِنۡ يُّؤَاخِذُكُمۡ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الۡاَيۡمَانَ​ ۚ فَكَفَّارَتُهٗۤ اِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيۡنَ مِنۡ اَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُوۡنَ اَهۡلِيۡكُمۡ اَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ اَوۡ تَحۡرِيۡرُ رَقَبَةٍ​ ؕ فَمَنۡ لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ​ ؕ ذٰ لِكَ كَفَّارَةُ اَيۡمَانِكُمۡ اِذَا حَلَفۡتُمۡ​ ؕ وَاحۡفَظُوۡۤا اَيۡمَانَكُمۡ​ ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)Jika seseorang melanggar sumpahnya, maka wajib baginya untuk menunaikan kaffarat. Penunaian kaffarat tentunya harus sesuai dengan urutan yang Allah tentukan pada ayat di atas.Kemudian Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk membebaskan diri dari sumpah. Allah Ta’ala berfirman,قَدۡ فَرَضَ اللّٰهُ لَـكُمۡ تَحِلَّةَ اَيۡمَانِكُمۡ​ وَاللّٰهُ مَوۡلٰٮكُمۡ​ وَهُوَ الۡعَلِيۡمُ الۡحَكِيۡمُ‏“Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Tahrim: 2)Jika sumpah itu terucap dalam rangka melakukan perbuatan buruk dan meniadakan perbuatan baik, atau jika seseorang melihat ternyata sumpahnya bukanlah sumpah yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membatalkan sumpah tersebut dan membayar kaffarat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ“Jika engkau bersumpah terhadap suatu perkara, lalu engkau melihat ada hal lain yang lebih baik daripadanya, maka lakukanlah hal yang lebih baik itu, dan bayarlah kaffarat (tebusan) atas sumpahmu.” (Mutaffaqun ‘alaih)Dari nash-nash di atas dapat diketahui bahwasanya syariat Islam mengatur sedemikian rupa tentang masalah sumpah dan seseorang tidak boleh sembarangan dalam bersumpah, yang pada kemudian hari ia akan melanggar sumpahnya.Nah, yang perlu diketahui pula bahwa dalam masalah sumpah ini terdapat permasalahan niat. Dalam sumpah, tentunya ada niat yang terbesit oleh orang yang mengucapkannya. Niat dalam sumpah telah dibahas oleh para ulama dalam kaidah fikih, dikategorikan sebagai kaidah cabang dari kaidah kubra tentang masalah niat.Kaidah fikih: Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz yang umum dan membuat umum lafaz yang khususSekilas kalimat di atas sedikit sulit untuk dicerna sebelum melihat contoh real dari kaidah tersebut. Kaidah tersebut berbunyi,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum dan membuat umum lafaz yang khusus.” Tentang kaidahPada kaidah tentang sumpah ini setidaknya terdapat dua bagian,Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niatHal ini disepakati oleh para ulama mazhab. Artinya, menurut para ulama mazhab, mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat itu mungkin terjadi. Kendati ada sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian dari mazhab Syafi’i yang memandang bahwa hal ini tidak berlaku di hadapan hakim dan dianggap melanggar sumpah.Menurut mereka (sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i), mengkhususkan lafaz sumpah yang umum hanya berlaku di hadapan Allah Ta’ala saja, tidak berlaku di hadapan hakim ataupun qadhi. Sehingga di hadapan hakim, ia tetap dianggap melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat.Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niatPada hal ini, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab. Adapun mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian mazhab Hanafi, mereka berpendapat akan berlakunya hal ini. Yaitu, niat dapat membuat umum dari lafaz sumpah yang khusus sebagaimana pada poin pertama.Adapun pendapat sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanafi, mereka berpendapat bahwa lafaz yang khusus tidak dapat dibuat menjadi umum.Baca juga: Segala Sesuatu Tergantung TujuannyaMakna kaidahNiat seseorang yang bersumpah memiliki pengaruh besar dalam masalah sumpah, dilihat dari sisi jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang umum, kemudian di dalam hatinya berniat untuk mengkhususkannya, maka niat tersebut dapat mengkhususkan sumpahnya dan dihukumi sumpahnya tergantung dari yang ia niatkan dalam hatinya.Sebaliknya, jika seseorang bersumpah dengan lafaz yang khusus, kemudian di dalam hatinya berniat untuk menjadikan sumpahnya bertujuan umum, maka niatnya dapat membuat sumpah yang tadinya khusus menjadi umum.Contoh dari penerapan kaidahDengan memahami dengan seksama terkait contoh-contoh yang diberikan, pemahaman tentang kaidah ini akan lebih mudah.Contoh pada kaidah ini dibagi menjadi dua bagian sebagaimana pembagian di atas.Pertama: Mengkhususkan lafaz sumpah yang umum dengan niat– A bersumpah untuk tidak mengajak bicara satu orangpun, namun di dalam hati ia berniat untuk tidak mengajak bicara B saja.Pada contoh ini, ia tidak melanggar sumpahnya jika ia mengajak bicara selain dari B. Karena sumpah yang tadinya umum untuk seluruh orang, ia khususkan di dalam hati dengan niatnya hanya untuk B saja.“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Contoh lainya,– A bersumpah untuk tidak memakan daging apapun, namun di dalam hatinya ia mengkhususkan sumpahnya dengan memaksudkan dari sumpahnya itu hanya daging unta saja.Kemudian di waktu lain, A memakan daging kambing. Pertanyaannya, apakah A melanggar sumpahnya? Jawabannya tidak. Ia tidak melanggar sumpahnya dan tidak perlu untuk membayar kaffarat. Karena walaupun niatnya umum “tidak memakan daging apapun”, pada contoh di atas A, mengkhususkan hanya daging unta saja. Sehingga sumpahnya menjadi khusus karena sebab niatnya.Kaidahnya,اَلنِّيَّةُ فِي الْيَمِينِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ“Niat dalam sumpah dapat mengkhususkan lafaz (ucapan) yang umum.” Kedua: Membuat umum lafaz sumpah yang khusus dengan niat– A bersumpah untuk tidak meminum air milik B ketika ia haus, namun di dalam hatinya ia berniat untuk tidak mengambil manfaat apapun dari B.Jika berpatokan dengan pendapat mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian Hanafi, A dianggap melanggar sumpahnya jika sedikit saja A mengambil manfaat dari B. Misalnya, A tidak sengaja memakan kue yang ada di rumah B. Dalam hal ini, A melanggar sumpahnya dan wajib membayar kaffarat sumpahnya.Adapun jika berpatokan dengan pendapat mazhab Syafi’i dan sebagian Hanafi, A tidak dianggap melanggar sumpah kecuali jika minum air milik B ketika haus. Tidak pula dianggap melanggar sumpah jika A memperoleh manfaat dari B, misalnya dengan memakan kuenya B, menggunakan bajunya B, dan lainnya. Karena menurut pendapat ini, niat pada sumpah tidak dapat menjadikan umum lafaz yang khusus.Kaitan kaidah ini dengan kaidah kubraKaitan kaidah ini dengan kaidah kubra adalah memberikan pelajaran bahwasanya niat sangat berpengaruh dalam lafaz sumpah. Dari segi niat dapat mengkhususkan sumpah yang umum dan dapat menjadikan umum lafaz yang khusus. Hal ini sangat berkaitan dengan kaidah kubra, yaitu segala hukum dan perbuatan mukallaf dihukumi tergantung dari niat dan tujuannya.Wallahu a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Depok, 9 Ramadan 1447/ 26 Februari 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Bolehkah Puasa Syawal di Bulan Zulkaidah? Begini Cara Qadha Puasa Syawal – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Pertanyaan kedua, berkaitan dengan puasa Syawal, apakah disyaratkan harus dikerjakan 6 hari berturut-turut? Tidak wajib berurutan dalam berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Seseorang diperbolehkan mengerjakannya secara selang-seling (terpisah). Boleh juga berpuasa Syawal menyesuaikan kondisinya, seperti yang disebutkan oleh penanya, misalnya setiap Jumat dan Sabtu, hal itu tidak mengapa, atau misalnya berpuasa setiap Senin dan Kamis, atau setiap Senin saja. Bisa juga dikerjakan pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah). Dalam hal ini cukup longgar. Yang terpenting, ia berpuasa 6 hari di bulan Syawal, dan ia bebas memilih yang paling sesuai baginya dalam berpuasa tersebut. Selagi kita membahas puasa Syawal, apakah puasa ini hanya terikat pada bulan Syawal? Yakni bagi orang yang waktunya terbatas karena suatu alasan, baik itu karena kelalaian, lupa, ataupun karena keadaan mendesak lainnya, apakah disyariatkan baginya untuk mengqadha puasa tersebut setelah Syawal berakhir, seperti pada bulan Zulkaidah? Bagi orang yang tidak memiliki uzur syar’i, maka ia harus berpuasa di bulan Syawal. Ia tidak boleh berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal…” “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal.” (HR. Muslim) Di sini Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyebutkan bulan Syawal secara eksplisit. Namun, bagi orang yang punya uzur seperti orang yang sakit sehingga tidak memungkinkan baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal, atau wanita yang sedang nifas, dan baru selesai dari nifasnya di akhir Syawal sehingga tidak sempat berpuasa Syawal, maka boleh baginya untuk berpuasa Syawal di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini dipilih Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, dan beberapa ulama peneliti lainnya. Hal ini dikarenakan amalan sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seorang muslim, apabila terlewat waktunya, disyariatkan untuk diqadha (diganti pada lain waktu). Terdapat riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak sempat berpuasa pada akhir bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sudah selesai Idul Fitri, maka berpuasalah…” Maksudnya adalah orang itu terbiasa berpuasa pada akhir bulan, tapi ia tidak berpuasa pada akhir bulan Sya’ban, karena ada larangan Nabi ‘alaihis shalatu was salam untuk mendahului Ramadan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam memerintahkannya untuk mengganti puasa tersebut setelah Ramadan usai. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang terbiasa mengamalkan suatu sunnah, ia disyariatkan untuk mengqadhanya, termasuk berpuasa 6 hari Syawal. Apabila ia tidak sempat berpuasa karena uzur, maka ia disyariatkan untuk berpuasa di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. ===== السُّؤَالُ الثَّانِي بِالنِّسْبَةِ لِصِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ مُتَتَابِعَةً؟ لَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَفَرِّقَةً وَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا حَسَبَ ظُرُوفِهِ مِثْلُ مَا ذَكَرَ أَخِي السَّائِلُ كُلُّ جُمُعَةٍ وَسَبْتٍ مَثَلًا يَصُومُهَا لَا بَأْسَ أَوْ يَصُومُهَا مَثَلًا الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ أَوْ يَصُومُهَا الإِثْنَيْنِ وَالإِثْنَيْنِ أَوْ يَصُومُهَا أَيَّامَ الْبِيضِ الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ الْمُهِمّ أَنَّهُ يَصُومُ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَيَخْتَارُ الطَّرِيقَةَ الْمُنَاسِبَةَ لَهُ فِي صِيَامِهَا مَا دَامَ الْحَدِيثُ عَنْ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ هِيَ مُرْتَبِطَةٌ فَقَطْ بِشَوَّالٍ بِمَعْنَى مَنْ ضَاقَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِأَيِّ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ سَوَاءٌ كَانَ تَقْصِيرًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ كَانَ لِظَرْفٍ مَا هَلْ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِيمَا بَعْدَ شَوَّالٍ مِثْلَ ذِي الْقَعْدَةِ؟ أَمَّا مَنْ كَانَ لَيْسَ مَعْذُورًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَيْس لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِي غَيْرِ شَهْرِ شَوَّالٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَنَصَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَهْرٍ شَوَّالٍ لَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْذُورًا كَأَنْ يَكُونَ مَثَلًا مَرِيضًا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَوْ مَثَلًا امْرَأَةٌ نُفَسَاءُ وَلَمْ تَطْهُرْ إِلَّا فِي آخِرِ شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَهَذَا اخْتَارَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِي وَالشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمِيْنَ وَجَمْعٌ مِنْ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَلِكَ لِأَنَّ السُّنَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْمُسْلِمُ إِذَا فَاتَتْ شُرِعَ لَهُ قَضَاؤُهَا وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَصُمْ شِرَارَ شَهْرِ شَعْبَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ يَصُومُ آخِرَ الشَّهْرِ لَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ آخِرَ شَهْرِ شَعْبَانَ لِمَا بَلَغَهُ نَهْيُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ تَقَدُّمِ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنْ يَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ مَنِ اعْتَادَ سُنَّةً شُرِعَ لَهُ أَنْ يَقْضِيَهَا وَمِنْ ذَلِكَ سِتٌّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ صِيَامُهَا لِعُذْرٍ شُرِعَ صِيَامُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ

Bolehkah Puasa Syawal di Bulan Zulkaidah? Begini Cara Qadha Puasa Syawal – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Pertanyaan kedua, berkaitan dengan puasa Syawal, apakah disyaratkan harus dikerjakan 6 hari berturut-turut? Tidak wajib berurutan dalam berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Seseorang diperbolehkan mengerjakannya secara selang-seling (terpisah). Boleh juga berpuasa Syawal menyesuaikan kondisinya, seperti yang disebutkan oleh penanya, misalnya setiap Jumat dan Sabtu, hal itu tidak mengapa, atau misalnya berpuasa setiap Senin dan Kamis, atau setiap Senin saja. Bisa juga dikerjakan pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah). Dalam hal ini cukup longgar. Yang terpenting, ia berpuasa 6 hari di bulan Syawal, dan ia bebas memilih yang paling sesuai baginya dalam berpuasa tersebut. Selagi kita membahas puasa Syawal, apakah puasa ini hanya terikat pada bulan Syawal? Yakni bagi orang yang waktunya terbatas karena suatu alasan, baik itu karena kelalaian, lupa, ataupun karena keadaan mendesak lainnya, apakah disyariatkan baginya untuk mengqadha puasa tersebut setelah Syawal berakhir, seperti pada bulan Zulkaidah? Bagi orang yang tidak memiliki uzur syar’i, maka ia harus berpuasa di bulan Syawal. Ia tidak boleh berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal…” “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal.” (HR. Muslim) Di sini Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyebutkan bulan Syawal secara eksplisit. Namun, bagi orang yang punya uzur seperti orang yang sakit sehingga tidak memungkinkan baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal, atau wanita yang sedang nifas, dan baru selesai dari nifasnya di akhir Syawal sehingga tidak sempat berpuasa Syawal, maka boleh baginya untuk berpuasa Syawal di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini dipilih Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, dan beberapa ulama peneliti lainnya. Hal ini dikarenakan amalan sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seorang muslim, apabila terlewat waktunya, disyariatkan untuk diqadha (diganti pada lain waktu). Terdapat riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak sempat berpuasa pada akhir bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sudah selesai Idul Fitri, maka berpuasalah…” Maksudnya adalah orang itu terbiasa berpuasa pada akhir bulan, tapi ia tidak berpuasa pada akhir bulan Sya’ban, karena ada larangan Nabi ‘alaihis shalatu was salam untuk mendahului Ramadan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam memerintahkannya untuk mengganti puasa tersebut setelah Ramadan usai. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang terbiasa mengamalkan suatu sunnah, ia disyariatkan untuk mengqadhanya, termasuk berpuasa 6 hari Syawal. Apabila ia tidak sempat berpuasa karena uzur, maka ia disyariatkan untuk berpuasa di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. ===== السُّؤَالُ الثَّانِي بِالنِّسْبَةِ لِصِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ مُتَتَابِعَةً؟ لَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَفَرِّقَةً وَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا حَسَبَ ظُرُوفِهِ مِثْلُ مَا ذَكَرَ أَخِي السَّائِلُ كُلُّ جُمُعَةٍ وَسَبْتٍ مَثَلًا يَصُومُهَا لَا بَأْسَ أَوْ يَصُومُهَا مَثَلًا الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ أَوْ يَصُومُهَا الإِثْنَيْنِ وَالإِثْنَيْنِ أَوْ يَصُومُهَا أَيَّامَ الْبِيضِ الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ الْمُهِمّ أَنَّهُ يَصُومُ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَيَخْتَارُ الطَّرِيقَةَ الْمُنَاسِبَةَ لَهُ فِي صِيَامِهَا مَا دَامَ الْحَدِيثُ عَنْ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ هِيَ مُرْتَبِطَةٌ فَقَطْ بِشَوَّالٍ بِمَعْنَى مَنْ ضَاقَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِأَيِّ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ سَوَاءٌ كَانَ تَقْصِيرًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ كَانَ لِظَرْفٍ مَا هَلْ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِيمَا بَعْدَ شَوَّالٍ مِثْلَ ذِي الْقَعْدَةِ؟ أَمَّا مَنْ كَانَ لَيْسَ مَعْذُورًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَيْس لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِي غَيْرِ شَهْرِ شَوَّالٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَنَصَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَهْرٍ شَوَّالٍ لَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْذُورًا كَأَنْ يَكُونَ مَثَلًا مَرِيضًا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَوْ مَثَلًا امْرَأَةٌ نُفَسَاءُ وَلَمْ تَطْهُرْ إِلَّا فِي آخِرِ شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَهَذَا اخْتَارَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِي وَالشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمِيْنَ وَجَمْعٌ مِنْ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَلِكَ لِأَنَّ السُّنَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْمُسْلِمُ إِذَا فَاتَتْ شُرِعَ لَهُ قَضَاؤُهَا وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَصُمْ شِرَارَ شَهْرِ شَعْبَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ يَصُومُ آخِرَ الشَّهْرِ لَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ آخِرَ شَهْرِ شَعْبَانَ لِمَا بَلَغَهُ نَهْيُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ تَقَدُّمِ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنْ يَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ مَنِ اعْتَادَ سُنَّةً شُرِعَ لَهُ أَنْ يَقْضِيَهَا وَمِنْ ذَلِكَ سِتٌّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ صِيَامُهَا لِعُذْرٍ شُرِعَ صِيَامُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ
Pertanyaan kedua, berkaitan dengan puasa Syawal, apakah disyaratkan harus dikerjakan 6 hari berturut-turut? Tidak wajib berurutan dalam berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Seseorang diperbolehkan mengerjakannya secara selang-seling (terpisah). Boleh juga berpuasa Syawal menyesuaikan kondisinya, seperti yang disebutkan oleh penanya, misalnya setiap Jumat dan Sabtu, hal itu tidak mengapa, atau misalnya berpuasa setiap Senin dan Kamis, atau setiap Senin saja. Bisa juga dikerjakan pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah). Dalam hal ini cukup longgar. Yang terpenting, ia berpuasa 6 hari di bulan Syawal, dan ia bebas memilih yang paling sesuai baginya dalam berpuasa tersebut. Selagi kita membahas puasa Syawal, apakah puasa ini hanya terikat pada bulan Syawal? Yakni bagi orang yang waktunya terbatas karena suatu alasan, baik itu karena kelalaian, lupa, ataupun karena keadaan mendesak lainnya, apakah disyariatkan baginya untuk mengqadha puasa tersebut setelah Syawal berakhir, seperti pada bulan Zulkaidah? Bagi orang yang tidak memiliki uzur syar’i, maka ia harus berpuasa di bulan Syawal. Ia tidak boleh berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal…” “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal.” (HR. Muslim) Di sini Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyebutkan bulan Syawal secara eksplisit. Namun, bagi orang yang punya uzur seperti orang yang sakit sehingga tidak memungkinkan baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal, atau wanita yang sedang nifas, dan baru selesai dari nifasnya di akhir Syawal sehingga tidak sempat berpuasa Syawal, maka boleh baginya untuk berpuasa Syawal di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini dipilih Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, dan beberapa ulama peneliti lainnya. Hal ini dikarenakan amalan sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seorang muslim, apabila terlewat waktunya, disyariatkan untuk diqadha (diganti pada lain waktu). Terdapat riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak sempat berpuasa pada akhir bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sudah selesai Idul Fitri, maka berpuasalah…” Maksudnya adalah orang itu terbiasa berpuasa pada akhir bulan, tapi ia tidak berpuasa pada akhir bulan Sya’ban, karena ada larangan Nabi ‘alaihis shalatu was salam untuk mendahului Ramadan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam memerintahkannya untuk mengganti puasa tersebut setelah Ramadan usai. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang terbiasa mengamalkan suatu sunnah, ia disyariatkan untuk mengqadhanya, termasuk berpuasa 6 hari Syawal. Apabila ia tidak sempat berpuasa karena uzur, maka ia disyariatkan untuk berpuasa di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. ===== السُّؤَالُ الثَّانِي بِالنِّسْبَةِ لِصِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ مُتَتَابِعَةً؟ لَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَفَرِّقَةً وَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا حَسَبَ ظُرُوفِهِ مِثْلُ مَا ذَكَرَ أَخِي السَّائِلُ كُلُّ جُمُعَةٍ وَسَبْتٍ مَثَلًا يَصُومُهَا لَا بَأْسَ أَوْ يَصُومُهَا مَثَلًا الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ أَوْ يَصُومُهَا الإِثْنَيْنِ وَالإِثْنَيْنِ أَوْ يَصُومُهَا أَيَّامَ الْبِيضِ الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ الْمُهِمّ أَنَّهُ يَصُومُ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَيَخْتَارُ الطَّرِيقَةَ الْمُنَاسِبَةَ لَهُ فِي صِيَامِهَا مَا دَامَ الْحَدِيثُ عَنْ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ هِيَ مُرْتَبِطَةٌ فَقَطْ بِشَوَّالٍ بِمَعْنَى مَنْ ضَاقَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِأَيِّ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ سَوَاءٌ كَانَ تَقْصِيرًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ كَانَ لِظَرْفٍ مَا هَلْ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِيمَا بَعْدَ شَوَّالٍ مِثْلَ ذِي الْقَعْدَةِ؟ أَمَّا مَنْ كَانَ لَيْسَ مَعْذُورًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَيْس لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِي غَيْرِ شَهْرِ شَوَّالٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَنَصَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَهْرٍ شَوَّالٍ لَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْذُورًا كَأَنْ يَكُونَ مَثَلًا مَرِيضًا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَوْ مَثَلًا امْرَأَةٌ نُفَسَاءُ وَلَمْ تَطْهُرْ إِلَّا فِي آخِرِ شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَهَذَا اخْتَارَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِي وَالشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمِيْنَ وَجَمْعٌ مِنْ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَلِكَ لِأَنَّ السُّنَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْمُسْلِمُ إِذَا فَاتَتْ شُرِعَ لَهُ قَضَاؤُهَا وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَصُمْ شِرَارَ شَهْرِ شَعْبَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ يَصُومُ آخِرَ الشَّهْرِ لَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ آخِرَ شَهْرِ شَعْبَانَ لِمَا بَلَغَهُ نَهْيُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ تَقَدُّمِ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنْ يَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ مَنِ اعْتَادَ سُنَّةً شُرِعَ لَهُ أَنْ يَقْضِيَهَا وَمِنْ ذَلِكَ سِتٌّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ صِيَامُهَا لِعُذْرٍ شُرِعَ صِيَامُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ


Pertanyaan kedua, berkaitan dengan puasa Syawal, apakah disyaratkan harus dikerjakan 6 hari berturut-turut? Tidak wajib berurutan dalam berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Seseorang diperbolehkan mengerjakannya secara selang-seling (terpisah). Boleh juga berpuasa Syawal menyesuaikan kondisinya, seperti yang disebutkan oleh penanya, misalnya setiap Jumat dan Sabtu, hal itu tidak mengapa, atau misalnya berpuasa setiap Senin dan Kamis, atau setiap Senin saja. Bisa juga dikerjakan pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah). Dalam hal ini cukup longgar. Yang terpenting, ia berpuasa 6 hari di bulan Syawal, dan ia bebas memilih yang paling sesuai baginya dalam berpuasa tersebut. Selagi kita membahas puasa Syawal, apakah puasa ini hanya terikat pada bulan Syawal? Yakni bagi orang yang waktunya terbatas karena suatu alasan, baik itu karena kelalaian, lupa, ataupun karena keadaan mendesak lainnya, apakah disyariatkan baginya untuk mengqadha puasa tersebut setelah Syawal berakhir, seperti pada bulan Zulkaidah? Bagi orang yang tidak memiliki uzur syar’i, maka ia harus berpuasa di bulan Syawal. Ia tidak boleh berpuasa Syawal di luar bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal…” “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan 6 hari di bulan Syawal.” (HR. Muslim) Di sini Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyebutkan bulan Syawal secara eksplisit. Namun, bagi orang yang punya uzur seperti orang yang sakit sehingga tidak memungkinkan baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal, atau wanita yang sedang nifas, dan baru selesai dari nifasnya di akhir Syawal sehingga tidak sempat berpuasa Syawal, maka boleh baginya untuk berpuasa Syawal di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini dipilih Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, dan beberapa ulama peneliti lainnya. Hal ini dikarenakan amalan sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seorang muslim, apabila terlewat waktunya, disyariatkan untuk diqadha (diganti pada lain waktu). Terdapat riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak sempat berpuasa pada akhir bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sudah selesai Idul Fitri, maka berpuasalah…” Maksudnya adalah orang itu terbiasa berpuasa pada akhir bulan, tapi ia tidak berpuasa pada akhir bulan Sya’ban, karena ada larangan Nabi ‘alaihis shalatu was salam untuk mendahului Ramadan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam memerintahkannya untuk mengganti puasa tersebut setelah Ramadan usai. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang terbiasa mengamalkan suatu sunnah, ia disyariatkan untuk mengqadhanya, termasuk berpuasa 6 hari Syawal. Apabila ia tidak sempat berpuasa karena uzur, maka ia disyariatkan untuk berpuasa di bulan Zulkaidah, menurut pendapat yang lebih kuat. ===== السُّؤَالُ الثَّانِي بِالنِّسْبَةِ لِصِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ مُتَتَابِعَةً؟ لَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ فَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَفَرِّقَةً وَلَهُ أَنْ يَصُومَهَا حَسَبَ ظُرُوفِهِ مِثْلُ مَا ذَكَرَ أَخِي السَّائِلُ كُلُّ جُمُعَةٍ وَسَبْتٍ مَثَلًا يَصُومُهَا لَا بَأْسَ أَوْ يَصُومُهَا مَثَلًا الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ أَوْ يَصُومُهَا الإِثْنَيْنِ وَالإِثْنَيْنِ أَوْ يَصُومُهَا أَيَّامَ الْبِيضِ الْأَمْرُ فِي هَذَا وَاسِعٌ الْمُهِمّ أَنَّهُ يَصُومُ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَيَخْتَارُ الطَّرِيقَةَ الْمُنَاسِبَةَ لَهُ فِي صِيَامِهَا مَا دَامَ الْحَدِيثُ عَنْ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ هَلْ هِيَ مُرْتَبِطَةٌ فَقَطْ بِشَوَّالٍ بِمَعْنَى مَنْ ضَاقَ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِأَيِّ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ سَوَاءٌ كَانَ تَقْصِيرًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ كَانَ لِظَرْفٍ مَا هَلْ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِيمَا بَعْدَ شَوَّالٍ مِثْلَ ذِي الْقَعْدَةِ؟ أَمَّا مَنْ كَانَ لَيْسَ مَعْذُورًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَيْس لَهُ أَنْ يَصُومَهَا فِي غَيْرِ شَهْرِ شَوَّالٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَنَصَّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى شَهْرٍ شَوَّالٍ لَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْذُورًا كَأَنْ يَكُونَ مَثَلًا مَرِيضًا وَلَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَوْ مَثَلًا امْرَأَةٌ نُفَسَاءُ وَلَمْ تَطْهُرْ إِلَّا فِي آخِرِ شَهْرِ شَوَّالٍ وَلَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْ صِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَصُومَهَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ وَهَذَا اخْتَارَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِي وَالشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عُثَيْمِيْنَ وَجَمْعٌ مِنْ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَلِكَ لِأَنَّ السُّنَّةَ الَّتِي اعْتَادَهَا الْمُسْلِمُ إِذَا فَاتَتْ شُرِعَ لَهُ قَضَاؤُهَا وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَصُمْ شِرَارَ شَهْرِ شَعْبَانَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَانَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ يَصُومُ آخِرَ الشَّهْرِ لَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ آخِرَ شَهْرِ شَعْبَانَ لِمَا بَلَغَهُ نَهْيُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنْ تَقَدُّمِ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنْ يَقْضِي هَذِهِ الْأَيَّامَ بَعْدَ رَمَضَانَ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ مَنِ اعْتَادَ سُنَّةً شُرِعَ لَهُ أَنْ يَقْضِيَهَا وَمِنْ ذَلِكَ سِتٌّ مِنْ شَوَّالٍ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ صِيَامُهَا لِعُذْرٍ شُرِعَ صِيَامُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ

14 Cara Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah yang Benar dan Menyelamatkan

Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu amal hati yang paling agung dan menjadi tanda hidupnya iman dalam dada seorang hamba. Ia bukan sekadar rasa cemas, tetapi dorongan kuat untuk menjauhi dosa dan mendekat kepada ketaatan. Dalam Islam, rasa takut ini berjalan seiring dengan cinta dan harapan kepada Allah, sehingga membentuk keseimbangan dalam ibadah seorang mukmin.  Daftar Isi tutup 1. 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya 2. 2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanya 3. 3. Bertakwa kepada Allah Ta‘ala 4. 4. Mengagungkan larangan-larangan Allah 5. 5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya: 6. 6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada Allah 7. 7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada Allah 8. 8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancaman 9. 9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hina 10. 10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiat 11. 11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besar 12. 12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa: 13. 13. Memperbanyak zikir kepada Allah 14. 14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobat 15. Nasihat Penutup 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanyaAllah Ta‘ala berfirman,قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 107–109)Allah Ta’ala berfirman pula,أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanyaDari Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dengan ringan seperti ini.” (HR. Bukhari, no. 6308)3. Bertakwa kepada Allah Ta‘alaYaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran serta hal-hal yang diharamkan. Hal ini akan menanamkan rasa takut dalam hati, menghidupkannya setelah mati, serta menyibukkan hati dengan mencintai Allah, mencari keridaan-Nya, dan takut terhadap murka-Nya.4. Mengagungkan larangan-larangan AllahIbnu Qayyim rahimahullah berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ الصَّادِقُ: مَا حَالَ بَيْنَ صَاحِبِهِ وَبَيْنَ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا تَجَاوَزَ ذَلِكَ خِيفَ مِنْهُ الْيَأْسُ وَالْقُنُوطُ“Rasa takut yang terpuji dan benar adalah yang mampu menghalangi seseorang dari melanggar larangan Allah. Jika rasa takut itu melewati batas tersebut, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan pada keputusasaan dan berputus asa.”Abu ‘Utsman berkata:صِدْقُ الْخَوْفِ: هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الْآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا“Rasa takut yang benar adalah sikap wara‘, yaitu meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ“Rasa takut yang terpuji adalah yang mampu menahanmu dari melanggar larangan Allah.”5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya:Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْلَمَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا. وَنُقْصَانُ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ إِنَّمَا هُوَ لِنُقْصَانِ مَعْرِفَةِ الْعَبْدِ بِهِ، فَأَعْرَفُ النَّاسِ أَخْشَاهُمْ لِلَّهِ، وَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ اشْتَدَّ حَيَاؤُهُ مِنْهُ وَخَوْفُهُ لَهُ وَحُبُّهُ لَهُ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ مَعْرِفَةً ازْدَادَ حَيَاءً وَخَوْفًا وَحُبًّا“Semakin seorang hamba mengenal Allah, maka semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ibnu Mas‘ūd berkata: ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda ilmu.’ Berkurangnya rasa takut kepada Allah hanyalah karena kurangnya pengenalan seorang hamba kepada-Nya. Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Siapa yang mengenal Allah, maka akan semakin besar rasa malunya kepada-Nya, rasa takutnya, dan cintanya kepada-Nya. Semakin bertambah pengenalannya, semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cintanya.”6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada AllahAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfāl: 2)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke dalam ambingnya. Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmidzi no. 1633, An-Nasa’i no. 3108; dinyatakan sahih oleh Al-Albani).Dari beliau juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada AllahYaitu dengan melihat bagaimana mereka mencapai kedudukan tersebut melalui iman, amal saleh, qiyamul lail, puasa di siang hari, dan menangis karena takut kepada Allah.Al-Ghazali rahimahullah berkata,مَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ فِيهَا التَّخْوِيفُ وَالتَّحْذِيرُ، وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ“Mengenal kisah para nabi dan sahabat mengandung peringatan dan rasa takut. Itu menjadi sebab tumbuhnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak langsung berpengaruh saat ini, maka akan berpengaruh pada akhirnya.”Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata,مَنْ عَلِمَ عَظَمَةَ الْإِلَهِ زَادَ وَجَلُهُ، وَمَنْ خَافَ نِقَمَ رَبِّهِ حَسُنَ عَمَلُهُ، فَالْخَوْفُ يَسْتَخْرِجُ دَاءَ الْبَطَالَةِ وَيَشْفِيهِ، وَهُوَ نِعْمَ الْمُؤَدِّبُ لِلْمُؤْمِنِ وَيَكْفِيهِ. قَالَ الْحَسَنُ: صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا“Siapa yang mengetahui keagungan Allah, maka akan bertambah rasa takutnya. Siapa yang takut terhadap hukuman Rabb-nya, maka akan baik amalnya. Rasa takut itu mampu mengeluarkan penyakit malas dan menyembuhkannya. Ia adalah pendidik terbaik bagi seorang mukmin dan sudah cukup baginya.Al-Hasan berkata,صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا‘Aku pernah bersama suatu kaum yang mereka lebih takut amal kebaikan mereka ditolak, daripada kalian takut akan disiksa karena dosa-dosa kalian.’”8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancamanYaitu dengan memperhatikan ayat-ayat yang berisi ancaman, gambaran tentang neraka, keadaan para penghuninya, serta penderitaan, kesengsaraan, dan azab yang terus-menerus mereka rasakan.9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hinaHendaknya seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah dan hina. Jika Allah menghendaki, Dia bisa segera menghukumnya. Maka orang yang menyadari hal ini seharusnya selalu merasa takut kepada Rabb-nya.Al-Ghazali rahimahullah berkata,الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْعَالَمِينَ لَمْ يُبَالِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ، وَتَارَةً يَكُونُ لِكَثْرَةِ الْجِنَايَةِ مِنَ الْعَبْدِ بِمُقَارَفَةِ الْمَعَاصِي، وَتَارَةً يَكُونُ بِهِمَا جَمِيعًا، وَبِحَسَبِ مَعْرِفَتِهِ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَمَعْرِفَتِهِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتِغْنَائِهِ؛ فَأَخْوَفُ النَّاسِ لِرَبِّهِ أَعْرَفُهُمْ بِنَفْسِهِ وَبِرَبِّهِ“Rasa takut kepada Allah Ta‘ala terkadang muncul karena mengenal Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya, bahwa jika Dia membinasakan seluruh makhluk, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Terkadang rasa takut itu muncul karena banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang pula muncul karena kedua hal tersebut sekaligus. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya dan keagungan Allah serta kemandirian-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya. Oleh karena itu, orang yang paling takut kepada Rabb-nya adalah yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya.”10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiatYaitu memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang telah diazab oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Ke mana mereka sekarang? Bagaimana kondisi mereka setelah azab datang secara tiba-tiba? Allah Ta‘ala berfirman:وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا“Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam: 98)11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besarYaitu hari ketika manusia berada dalam kesulitan yang sangat dahsyat.Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2)Dan Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hūd: 103)12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa:Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu—salah seorang yang mudah menangis—ia berkata:وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga air mata pun bercucuran dan hati menjadi takut.” (HR. Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)13. Memperbanyak zikir kepada AllahBanyak berzikir akan menghadirkan dalam hati keagungan Allah, kebesaran-Nya, pengawasan-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan rasa malu kepada-Nya. Semua itu akan melahirkan rasa takut kepada-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan takut akan terhalang dari kebaikan-Nya.14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobatIbnu Qayyim rahimahullah berkata,يَنْشَأُ – يَعْنِي الْخَوْفَ – مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ: أَحَدُهَا: مَعْرِفَتُهُ بِالْجِنَايَةِ وَقُبْحِهَا. “Rasa takut—maksudnya—muncul dari tiga hal:Pertama, mengetahui dosa dan keburukannya.وَالثَّانِي: تَصْدِيقُ الْوَعِيدِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَتَّبَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ عُقُوبَتَهَا. Kedua, membenarkan ancaman, bahwa Allah menetapkan hukuman atas maksiat.وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ لَعَلَّهُ يُمْنَعُ مِنَ التَّوْبَةِ، وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِذَا ارْتَكَبَ الذَّنْبَ.Ketiga, tidak tahu apakah ia akan diberi kesempatan untuk bertobat atau justru dihalangi darinya ketika melakukan dosa.فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ يَتِمُّ لَهُ الْخَوْفُ، وَبِحَسَبِ قُوَّتِهَا وَضَعْفِهَا تَكُونُ قُوَّةُ الْخَوْفِ وَضَعْفُهُ. Dengan tiga hal ini, sempurnalah rasa takut. Kuat dan lemahnya rasa takut tergantung pada kuat atau lemahnya tiga hal tersebut.فَإِنَّ الْحَامِلَ عَلَى الذَّنْبِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَدَمَ عِلْمِهِ بِقُبْحِهِ، وَإِمَّا عَدَمَ عِلْمِهِ بِسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَجْتَمِعَ لَهُ الْأَمْرَانِ لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ اتِّكَالُهُ عَلَى التَّوْبَةِ، وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ ذُنُوبِ أَهْلِ الْإِيمَانِ. Pendorong seseorang melakukan dosa biasanya karena tidak mengetahui buruknya dosa itu, atau tidak mengetahui akibat buruknya, atau keduanya diketahui tetapi ia bergantung pada harapan untuk bertobat—dan ini yang paling banyak terjadi pada orang beriman.فَإِذَا عَلِمَ قُبْحَ الذَّنْبِ، وَعَلِمَ سُوءَ مَغَبَّتِهِ، وَخَافَ أَنْ لَا يُفْتَحَ لَهُ بَابُ التَّوْبَةِ، بَلْ يُمْنَعُهَا وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا: اشْتَدَّ خَوْفُهُ. هَذَا قَبْلَ الذَّنْبِ؛ فَإِذَا عَمِلَهُ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ.Jika seseorang mengetahui buruknya dosa, mengetahui akibatnya yang jelek, dan takut tidak diberi kesempatan untuk bertobat—bahkan dihalangi darinya—maka akan semakin kuat rasa takutnya. Ini sebelum melakukan dosa; jika sudah melakukannya, maka rasa takutnya akan lebih besar lagi.وَبِالْجُمْلَةِ فَمَنْ اسْتَقَرَّ فِي قَلْبِهِ ذِكْرُ الدَّارِ الْآخِرَةِ وَجَزَائِهَا، وَذِكْرُ الْمَعْصِيَةِ وَالتَّوَعُّدِ عَلَيْهَا، وَعَدَمُ الْوُثُوقِ بِإِتْيَانِهِ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ: هَاجَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا لَا يَمْلِكُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَنْجُوKesimpulannya, siapa yang dalam hatinya tertanam ingatan tentang akhirat dan balasannya, ingatan tentang dosa dan ancaman atasnya, serta tidak merasa yakin bisa melakukan tobat yang sungguh-sungguh, maka akan bangkit dalam hatinya rasa takut yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak akan hilang darinya hingga ia selamat.” (Thariq Al-Hijratain, hlm. 283) Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia merasa aman dari dosa karena terlalu berharap pada ampunan tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya—terlalu takut hingga putus asa dari rahmat-Nya. Padahal, hati yang selamat adalah hati yang memadukan antara cinta, harapan, dan rasa takut kepada Allah secara seimbang.Rasa takut yang benar akan menjauhkan kita dari maksiat yang sering dianggap ringan: dosa digital, pandangan haram, lalai dari dzikir, hingga meremehkan kewajiban. Jika rasa takut ini hidup, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya, bahkan dalam kesendirian.Maka jangan biarkan hati kita mati tanpa rasa takut kepada Allah. Bangkitkan ia dengan ilmu, dzikir, dan renungan akhirat.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًاAllāhummaj‘alnā minal-ladzīna yakhāfūnaka fis-sirri wal-‘alan, warzuqnā qulūban khāsyi‘ah, wa a‘mālan shāliḥah, wa taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan tobat yang sungguh-sungguh.” Referensi:Islamqa.Com, Fatwa no. 220547 —– Sabtu, 21 Maret 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara meningkatkan iman cinta kepada Allah dosa dan taubat harap dan takut hati khusyuk ilmu tauhid khauf dalam Islam nasihat Islami tadabbur al-quran takut Allah takut kepada Allah takut pada Allah tazkiyatun nafs

14 Cara Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah yang Benar dan Menyelamatkan

Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu amal hati yang paling agung dan menjadi tanda hidupnya iman dalam dada seorang hamba. Ia bukan sekadar rasa cemas, tetapi dorongan kuat untuk menjauhi dosa dan mendekat kepada ketaatan. Dalam Islam, rasa takut ini berjalan seiring dengan cinta dan harapan kepada Allah, sehingga membentuk keseimbangan dalam ibadah seorang mukmin.  Daftar Isi tutup 1. 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya 2. 2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanya 3. 3. Bertakwa kepada Allah Ta‘ala 4. 4. Mengagungkan larangan-larangan Allah 5. 5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya: 6. 6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada Allah 7. 7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada Allah 8. 8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancaman 9. 9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hina 10. 10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiat 11. 11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besar 12. 12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa: 13. 13. Memperbanyak zikir kepada Allah 14. 14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobat 15. Nasihat Penutup 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanyaAllah Ta‘ala berfirman,قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 107–109)Allah Ta’ala berfirman pula,أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanyaDari Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dengan ringan seperti ini.” (HR. Bukhari, no. 6308)3. Bertakwa kepada Allah Ta‘alaYaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran serta hal-hal yang diharamkan. Hal ini akan menanamkan rasa takut dalam hati, menghidupkannya setelah mati, serta menyibukkan hati dengan mencintai Allah, mencari keridaan-Nya, dan takut terhadap murka-Nya.4. Mengagungkan larangan-larangan AllahIbnu Qayyim rahimahullah berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ الصَّادِقُ: مَا حَالَ بَيْنَ صَاحِبِهِ وَبَيْنَ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا تَجَاوَزَ ذَلِكَ خِيفَ مِنْهُ الْيَأْسُ وَالْقُنُوطُ“Rasa takut yang terpuji dan benar adalah yang mampu menghalangi seseorang dari melanggar larangan Allah. Jika rasa takut itu melewati batas tersebut, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan pada keputusasaan dan berputus asa.”Abu ‘Utsman berkata:صِدْقُ الْخَوْفِ: هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الْآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا“Rasa takut yang benar adalah sikap wara‘, yaitu meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ“Rasa takut yang terpuji adalah yang mampu menahanmu dari melanggar larangan Allah.”5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya:Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْلَمَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا. وَنُقْصَانُ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ إِنَّمَا هُوَ لِنُقْصَانِ مَعْرِفَةِ الْعَبْدِ بِهِ، فَأَعْرَفُ النَّاسِ أَخْشَاهُمْ لِلَّهِ، وَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ اشْتَدَّ حَيَاؤُهُ مِنْهُ وَخَوْفُهُ لَهُ وَحُبُّهُ لَهُ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ مَعْرِفَةً ازْدَادَ حَيَاءً وَخَوْفًا وَحُبًّا“Semakin seorang hamba mengenal Allah, maka semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ibnu Mas‘ūd berkata: ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda ilmu.’ Berkurangnya rasa takut kepada Allah hanyalah karena kurangnya pengenalan seorang hamba kepada-Nya. Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Siapa yang mengenal Allah, maka akan semakin besar rasa malunya kepada-Nya, rasa takutnya, dan cintanya kepada-Nya. Semakin bertambah pengenalannya, semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cintanya.”6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada AllahAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfāl: 2)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke dalam ambingnya. Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmidzi no. 1633, An-Nasa’i no. 3108; dinyatakan sahih oleh Al-Albani).Dari beliau juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada AllahYaitu dengan melihat bagaimana mereka mencapai kedudukan tersebut melalui iman, amal saleh, qiyamul lail, puasa di siang hari, dan menangis karena takut kepada Allah.Al-Ghazali rahimahullah berkata,مَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ فِيهَا التَّخْوِيفُ وَالتَّحْذِيرُ، وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ“Mengenal kisah para nabi dan sahabat mengandung peringatan dan rasa takut. Itu menjadi sebab tumbuhnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak langsung berpengaruh saat ini, maka akan berpengaruh pada akhirnya.”Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata,مَنْ عَلِمَ عَظَمَةَ الْإِلَهِ زَادَ وَجَلُهُ، وَمَنْ خَافَ نِقَمَ رَبِّهِ حَسُنَ عَمَلُهُ، فَالْخَوْفُ يَسْتَخْرِجُ دَاءَ الْبَطَالَةِ وَيَشْفِيهِ، وَهُوَ نِعْمَ الْمُؤَدِّبُ لِلْمُؤْمِنِ وَيَكْفِيهِ. قَالَ الْحَسَنُ: صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا“Siapa yang mengetahui keagungan Allah, maka akan bertambah rasa takutnya. Siapa yang takut terhadap hukuman Rabb-nya, maka akan baik amalnya. Rasa takut itu mampu mengeluarkan penyakit malas dan menyembuhkannya. Ia adalah pendidik terbaik bagi seorang mukmin dan sudah cukup baginya.Al-Hasan berkata,صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا‘Aku pernah bersama suatu kaum yang mereka lebih takut amal kebaikan mereka ditolak, daripada kalian takut akan disiksa karena dosa-dosa kalian.’”8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancamanYaitu dengan memperhatikan ayat-ayat yang berisi ancaman, gambaran tentang neraka, keadaan para penghuninya, serta penderitaan, kesengsaraan, dan azab yang terus-menerus mereka rasakan.9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hinaHendaknya seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah dan hina. Jika Allah menghendaki, Dia bisa segera menghukumnya. Maka orang yang menyadari hal ini seharusnya selalu merasa takut kepada Rabb-nya.Al-Ghazali rahimahullah berkata,الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْعَالَمِينَ لَمْ يُبَالِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ، وَتَارَةً يَكُونُ لِكَثْرَةِ الْجِنَايَةِ مِنَ الْعَبْدِ بِمُقَارَفَةِ الْمَعَاصِي، وَتَارَةً يَكُونُ بِهِمَا جَمِيعًا، وَبِحَسَبِ مَعْرِفَتِهِ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَمَعْرِفَتِهِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتِغْنَائِهِ؛ فَأَخْوَفُ النَّاسِ لِرَبِّهِ أَعْرَفُهُمْ بِنَفْسِهِ وَبِرَبِّهِ“Rasa takut kepada Allah Ta‘ala terkadang muncul karena mengenal Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya, bahwa jika Dia membinasakan seluruh makhluk, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Terkadang rasa takut itu muncul karena banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang pula muncul karena kedua hal tersebut sekaligus. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya dan keagungan Allah serta kemandirian-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya. Oleh karena itu, orang yang paling takut kepada Rabb-nya adalah yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya.”10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiatYaitu memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang telah diazab oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Ke mana mereka sekarang? Bagaimana kondisi mereka setelah azab datang secara tiba-tiba? Allah Ta‘ala berfirman:وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا“Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam: 98)11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besarYaitu hari ketika manusia berada dalam kesulitan yang sangat dahsyat.Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2)Dan Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hūd: 103)12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa:Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu—salah seorang yang mudah menangis—ia berkata:وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga air mata pun bercucuran dan hati menjadi takut.” (HR. Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)13. Memperbanyak zikir kepada AllahBanyak berzikir akan menghadirkan dalam hati keagungan Allah, kebesaran-Nya, pengawasan-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan rasa malu kepada-Nya. Semua itu akan melahirkan rasa takut kepada-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan takut akan terhalang dari kebaikan-Nya.14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobatIbnu Qayyim rahimahullah berkata,يَنْشَأُ – يَعْنِي الْخَوْفَ – مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ: أَحَدُهَا: مَعْرِفَتُهُ بِالْجِنَايَةِ وَقُبْحِهَا. “Rasa takut—maksudnya—muncul dari tiga hal:Pertama, mengetahui dosa dan keburukannya.وَالثَّانِي: تَصْدِيقُ الْوَعِيدِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَتَّبَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ عُقُوبَتَهَا. Kedua, membenarkan ancaman, bahwa Allah menetapkan hukuman atas maksiat.وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ لَعَلَّهُ يُمْنَعُ مِنَ التَّوْبَةِ، وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِذَا ارْتَكَبَ الذَّنْبَ.Ketiga, tidak tahu apakah ia akan diberi kesempatan untuk bertobat atau justru dihalangi darinya ketika melakukan dosa.فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ يَتِمُّ لَهُ الْخَوْفُ، وَبِحَسَبِ قُوَّتِهَا وَضَعْفِهَا تَكُونُ قُوَّةُ الْخَوْفِ وَضَعْفُهُ. Dengan tiga hal ini, sempurnalah rasa takut. Kuat dan lemahnya rasa takut tergantung pada kuat atau lemahnya tiga hal tersebut.فَإِنَّ الْحَامِلَ عَلَى الذَّنْبِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَدَمَ عِلْمِهِ بِقُبْحِهِ، وَإِمَّا عَدَمَ عِلْمِهِ بِسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَجْتَمِعَ لَهُ الْأَمْرَانِ لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ اتِّكَالُهُ عَلَى التَّوْبَةِ، وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ ذُنُوبِ أَهْلِ الْإِيمَانِ. Pendorong seseorang melakukan dosa biasanya karena tidak mengetahui buruknya dosa itu, atau tidak mengetahui akibat buruknya, atau keduanya diketahui tetapi ia bergantung pada harapan untuk bertobat—dan ini yang paling banyak terjadi pada orang beriman.فَإِذَا عَلِمَ قُبْحَ الذَّنْبِ، وَعَلِمَ سُوءَ مَغَبَّتِهِ، وَخَافَ أَنْ لَا يُفْتَحَ لَهُ بَابُ التَّوْبَةِ، بَلْ يُمْنَعُهَا وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا: اشْتَدَّ خَوْفُهُ. هَذَا قَبْلَ الذَّنْبِ؛ فَإِذَا عَمِلَهُ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ.Jika seseorang mengetahui buruknya dosa, mengetahui akibatnya yang jelek, dan takut tidak diberi kesempatan untuk bertobat—bahkan dihalangi darinya—maka akan semakin kuat rasa takutnya. Ini sebelum melakukan dosa; jika sudah melakukannya, maka rasa takutnya akan lebih besar lagi.وَبِالْجُمْلَةِ فَمَنْ اسْتَقَرَّ فِي قَلْبِهِ ذِكْرُ الدَّارِ الْآخِرَةِ وَجَزَائِهَا، وَذِكْرُ الْمَعْصِيَةِ وَالتَّوَعُّدِ عَلَيْهَا، وَعَدَمُ الْوُثُوقِ بِإِتْيَانِهِ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ: هَاجَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا لَا يَمْلِكُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَنْجُوKesimpulannya, siapa yang dalam hatinya tertanam ingatan tentang akhirat dan balasannya, ingatan tentang dosa dan ancaman atasnya, serta tidak merasa yakin bisa melakukan tobat yang sungguh-sungguh, maka akan bangkit dalam hatinya rasa takut yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak akan hilang darinya hingga ia selamat.” (Thariq Al-Hijratain, hlm. 283) Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia merasa aman dari dosa karena terlalu berharap pada ampunan tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya—terlalu takut hingga putus asa dari rahmat-Nya. Padahal, hati yang selamat adalah hati yang memadukan antara cinta, harapan, dan rasa takut kepada Allah secara seimbang.Rasa takut yang benar akan menjauhkan kita dari maksiat yang sering dianggap ringan: dosa digital, pandangan haram, lalai dari dzikir, hingga meremehkan kewajiban. Jika rasa takut ini hidup, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya, bahkan dalam kesendirian.Maka jangan biarkan hati kita mati tanpa rasa takut kepada Allah. Bangkitkan ia dengan ilmu, dzikir, dan renungan akhirat.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًاAllāhummaj‘alnā minal-ladzīna yakhāfūnaka fis-sirri wal-‘alan, warzuqnā qulūban khāsyi‘ah, wa a‘mālan shāliḥah, wa taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan tobat yang sungguh-sungguh.” Referensi:Islamqa.Com, Fatwa no. 220547 —– Sabtu, 21 Maret 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara meningkatkan iman cinta kepada Allah dosa dan taubat harap dan takut hati khusyuk ilmu tauhid khauf dalam Islam nasihat Islami tadabbur al-quran takut Allah takut kepada Allah takut pada Allah tazkiyatun nafs
Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu amal hati yang paling agung dan menjadi tanda hidupnya iman dalam dada seorang hamba. Ia bukan sekadar rasa cemas, tetapi dorongan kuat untuk menjauhi dosa dan mendekat kepada ketaatan. Dalam Islam, rasa takut ini berjalan seiring dengan cinta dan harapan kepada Allah, sehingga membentuk keseimbangan dalam ibadah seorang mukmin.  Daftar Isi tutup 1. 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya 2. 2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanya 3. 3. Bertakwa kepada Allah Ta‘ala 4. 4. Mengagungkan larangan-larangan Allah 5. 5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya: 6. 6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada Allah 7. 7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada Allah 8. 8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancaman 9. 9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hina 10. 10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiat 11. 11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besar 12. 12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa: 13. 13. Memperbanyak zikir kepada Allah 14. 14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobat 15. Nasihat Penutup 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanyaAllah Ta‘ala berfirman,قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 107–109)Allah Ta’ala berfirman pula,أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanyaDari Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dengan ringan seperti ini.” (HR. Bukhari, no. 6308)3. Bertakwa kepada Allah Ta‘alaYaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran serta hal-hal yang diharamkan. Hal ini akan menanamkan rasa takut dalam hati, menghidupkannya setelah mati, serta menyibukkan hati dengan mencintai Allah, mencari keridaan-Nya, dan takut terhadap murka-Nya.4. Mengagungkan larangan-larangan AllahIbnu Qayyim rahimahullah berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ الصَّادِقُ: مَا حَالَ بَيْنَ صَاحِبِهِ وَبَيْنَ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا تَجَاوَزَ ذَلِكَ خِيفَ مِنْهُ الْيَأْسُ وَالْقُنُوطُ“Rasa takut yang terpuji dan benar adalah yang mampu menghalangi seseorang dari melanggar larangan Allah. Jika rasa takut itu melewati batas tersebut, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan pada keputusasaan dan berputus asa.”Abu ‘Utsman berkata:صِدْقُ الْخَوْفِ: هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الْآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا“Rasa takut yang benar adalah sikap wara‘, yaitu meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ“Rasa takut yang terpuji adalah yang mampu menahanmu dari melanggar larangan Allah.”5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya:Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْلَمَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا. وَنُقْصَانُ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ إِنَّمَا هُوَ لِنُقْصَانِ مَعْرِفَةِ الْعَبْدِ بِهِ، فَأَعْرَفُ النَّاسِ أَخْشَاهُمْ لِلَّهِ، وَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ اشْتَدَّ حَيَاؤُهُ مِنْهُ وَخَوْفُهُ لَهُ وَحُبُّهُ لَهُ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ مَعْرِفَةً ازْدَادَ حَيَاءً وَخَوْفًا وَحُبًّا“Semakin seorang hamba mengenal Allah, maka semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ibnu Mas‘ūd berkata: ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda ilmu.’ Berkurangnya rasa takut kepada Allah hanyalah karena kurangnya pengenalan seorang hamba kepada-Nya. Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Siapa yang mengenal Allah, maka akan semakin besar rasa malunya kepada-Nya, rasa takutnya, dan cintanya kepada-Nya. Semakin bertambah pengenalannya, semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cintanya.”6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada AllahAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfāl: 2)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke dalam ambingnya. Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmidzi no. 1633, An-Nasa’i no. 3108; dinyatakan sahih oleh Al-Albani).Dari beliau juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada AllahYaitu dengan melihat bagaimana mereka mencapai kedudukan tersebut melalui iman, amal saleh, qiyamul lail, puasa di siang hari, dan menangis karena takut kepada Allah.Al-Ghazali rahimahullah berkata,مَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ فِيهَا التَّخْوِيفُ وَالتَّحْذِيرُ، وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ“Mengenal kisah para nabi dan sahabat mengandung peringatan dan rasa takut. Itu menjadi sebab tumbuhnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak langsung berpengaruh saat ini, maka akan berpengaruh pada akhirnya.”Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata,مَنْ عَلِمَ عَظَمَةَ الْإِلَهِ زَادَ وَجَلُهُ، وَمَنْ خَافَ نِقَمَ رَبِّهِ حَسُنَ عَمَلُهُ، فَالْخَوْفُ يَسْتَخْرِجُ دَاءَ الْبَطَالَةِ وَيَشْفِيهِ، وَهُوَ نِعْمَ الْمُؤَدِّبُ لِلْمُؤْمِنِ وَيَكْفِيهِ. قَالَ الْحَسَنُ: صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا“Siapa yang mengetahui keagungan Allah, maka akan bertambah rasa takutnya. Siapa yang takut terhadap hukuman Rabb-nya, maka akan baik amalnya. Rasa takut itu mampu mengeluarkan penyakit malas dan menyembuhkannya. Ia adalah pendidik terbaik bagi seorang mukmin dan sudah cukup baginya.Al-Hasan berkata,صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا‘Aku pernah bersama suatu kaum yang mereka lebih takut amal kebaikan mereka ditolak, daripada kalian takut akan disiksa karena dosa-dosa kalian.’”8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancamanYaitu dengan memperhatikan ayat-ayat yang berisi ancaman, gambaran tentang neraka, keadaan para penghuninya, serta penderitaan, kesengsaraan, dan azab yang terus-menerus mereka rasakan.9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hinaHendaknya seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah dan hina. Jika Allah menghendaki, Dia bisa segera menghukumnya. Maka orang yang menyadari hal ini seharusnya selalu merasa takut kepada Rabb-nya.Al-Ghazali rahimahullah berkata,الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْعَالَمِينَ لَمْ يُبَالِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ، وَتَارَةً يَكُونُ لِكَثْرَةِ الْجِنَايَةِ مِنَ الْعَبْدِ بِمُقَارَفَةِ الْمَعَاصِي، وَتَارَةً يَكُونُ بِهِمَا جَمِيعًا، وَبِحَسَبِ مَعْرِفَتِهِ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَمَعْرِفَتِهِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتِغْنَائِهِ؛ فَأَخْوَفُ النَّاسِ لِرَبِّهِ أَعْرَفُهُمْ بِنَفْسِهِ وَبِرَبِّهِ“Rasa takut kepada Allah Ta‘ala terkadang muncul karena mengenal Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya, bahwa jika Dia membinasakan seluruh makhluk, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Terkadang rasa takut itu muncul karena banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang pula muncul karena kedua hal tersebut sekaligus. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya dan keagungan Allah serta kemandirian-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya. Oleh karena itu, orang yang paling takut kepada Rabb-nya adalah yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya.”10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiatYaitu memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang telah diazab oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Ke mana mereka sekarang? Bagaimana kondisi mereka setelah azab datang secara tiba-tiba? Allah Ta‘ala berfirman:وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا“Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam: 98)11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besarYaitu hari ketika manusia berada dalam kesulitan yang sangat dahsyat.Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2)Dan Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hūd: 103)12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa:Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu—salah seorang yang mudah menangis—ia berkata:وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga air mata pun bercucuran dan hati menjadi takut.” (HR. Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)13. Memperbanyak zikir kepada AllahBanyak berzikir akan menghadirkan dalam hati keagungan Allah, kebesaran-Nya, pengawasan-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan rasa malu kepada-Nya. Semua itu akan melahirkan rasa takut kepada-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan takut akan terhalang dari kebaikan-Nya.14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobatIbnu Qayyim rahimahullah berkata,يَنْشَأُ – يَعْنِي الْخَوْفَ – مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ: أَحَدُهَا: مَعْرِفَتُهُ بِالْجِنَايَةِ وَقُبْحِهَا. “Rasa takut—maksudnya—muncul dari tiga hal:Pertama, mengetahui dosa dan keburukannya.وَالثَّانِي: تَصْدِيقُ الْوَعِيدِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَتَّبَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ عُقُوبَتَهَا. Kedua, membenarkan ancaman, bahwa Allah menetapkan hukuman atas maksiat.وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ لَعَلَّهُ يُمْنَعُ مِنَ التَّوْبَةِ، وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِذَا ارْتَكَبَ الذَّنْبَ.Ketiga, tidak tahu apakah ia akan diberi kesempatan untuk bertobat atau justru dihalangi darinya ketika melakukan dosa.فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ يَتِمُّ لَهُ الْخَوْفُ، وَبِحَسَبِ قُوَّتِهَا وَضَعْفِهَا تَكُونُ قُوَّةُ الْخَوْفِ وَضَعْفُهُ. Dengan tiga hal ini, sempurnalah rasa takut. Kuat dan lemahnya rasa takut tergantung pada kuat atau lemahnya tiga hal tersebut.فَإِنَّ الْحَامِلَ عَلَى الذَّنْبِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَدَمَ عِلْمِهِ بِقُبْحِهِ، وَإِمَّا عَدَمَ عِلْمِهِ بِسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَجْتَمِعَ لَهُ الْأَمْرَانِ لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ اتِّكَالُهُ عَلَى التَّوْبَةِ، وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ ذُنُوبِ أَهْلِ الْإِيمَانِ. Pendorong seseorang melakukan dosa biasanya karena tidak mengetahui buruknya dosa itu, atau tidak mengetahui akibat buruknya, atau keduanya diketahui tetapi ia bergantung pada harapan untuk bertobat—dan ini yang paling banyak terjadi pada orang beriman.فَإِذَا عَلِمَ قُبْحَ الذَّنْبِ، وَعَلِمَ سُوءَ مَغَبَّتِهِ، وَخَافَ أَنْ لَا يُفْتَحَ لَهُ بَابُ التَّوْبَةِ، بَلْ يُمْنَعُهَا وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا: اشْتَدَّ خَوْفُهُ. هَذَا قَبْلَ الذَّنْبِ؛ فَإِذَا عَمِلَهُ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ.Jika seseorang mengetahui buruknya dosa, mengetahui akibatnya yang jelek, dan takut tidak diberi kesempatan untuk bertobat—bahkan dihalangi darinya—maka akan semakin kuat rasa takutnya. Ini sebelum melakukan dosa; jika sudah melakukannya, maka rasa takutnya akan lebih besar lagi.وَبِالْجُمْلَةِ فَمَنْ اسْتَقَرَّ فِي قَلْبِهِ ذِكْرُ الدَّارِ الْآخِرَةِ وَجَزَائِهَا، وَذِكْرُ الْمَعْصِيَةِ وَالتَّوَعُّدِ عَلَيْهَا، وَعَدَمُ الْوُثُوقِ بِإِتْيَانِهِ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ: هَاجَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا لَا يَمْلِكُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَنْجُوKesimpulannya, siapa yang dalam hatinya tertanam ingatan tentang akhirat dan balasannya, ingatan tentang dosa dan ancaman atasnya, serta tidak merasa yakin bisa melakukan tobat yang sungguh-sungguh, maka akan bangkit dalam hatinya rasa takut yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak akan hilang darinya hingga ia selamat.” (Thariq Al-Hijratain, hlm. 283) Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia merasa aman dari dosa karena terlalu berharap pada ampunan tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya—terlalu takut hingga putus asa dari rahmat-Nya. Padahal, hati yang selamat adalah hati yang memadukan antara cinta, harapan, dan rasa takut kepada Allah secara seimbang.Rasa takut yang benar akan menjauhkan kita dari maksiat yang sering dianggap ringan: dosa digital, pandangan haram, lalai dari dzikir, hingga meremehkan kewajiban. Jika rasa takut ini hidup, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya, bahkan dalam kesendirian.Maka jangan biarkan hati kita mati tanpa rasa takut kepada Allah. Bangkitkan ia dengan ilmu, dzikir, dan renungan akhirat.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًاAllāhummaj‘alnā minal-ladzīna yakhāfūnaka fis-sirri wal-‘alan, warzuqnā qulūban khāsyi‘ah, wa a‘mālan shāliḥah, wa taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan tobat yang sungguh-sungguh.” Referensi:Islamqa.Com, Fatwa no. 220547 —– Sabtu, 21 Maret 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara meningkatkan iman cinta kepada Allah dosa dan taubat harap dan takut hati khusyuk ilmu tauhid khauf dalam Islam nasihat Islami tadabbur al-quran takut Allah takut kepada Allah takut pada Allah tazkiyatun nafs


Rasa takut kepada Allah (khauf) adalah salah satu amal hati yang paling agung dan menjadi tanda hidupnya iman dalam dada seorang hamba. Ia bukan sekadar rasa cemas, tetapi dorongan kuat untuk menjauhi dosa dan mendekat kepada ketaatan. Dalam Islam, rasa takut ini berjalan seiring dengan cinta dan harapan kepada Allah, sehingga membentuk keseimbangan dalam ibadah seorang mukmin.  Daftar Isi tutup 1. 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya 2. 2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanya 3. 3. Bertakwa kepada Allah Ta‘ala 4. 4. Mengagungkan larangan-larangan Allah 5. 5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya: 6. 6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada Allah 7. 7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada Allah 8. 8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancaman 9. 9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hina 10. 10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiat 11. 11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besar 12. 12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa: 13. 13. Memperbanyak zikir kepada Allah 14. 14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobat 15. Nasihat Penutup 1. Membaca Al-Qur’an dan mentadabburi maknanyaAllah Ta‘ala berfirman,قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 107–109)Allah Ta’ala berfirman pula,أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)2. Menyadari besarnya dosa dan bahayanyaDari Ibnu Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang duduk di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dengan ringan seperti ini.” (HR. Bukhari, no. 6308)3. Bertakwa kepada Allah Ta‘alaYaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran serta hal-hal yang diharamkan. Hal ini akan menanamkan rasa takut dalam hati, menghidupkannya setelah mati, serta menyibukkan hati dengan mencintai Allah, mencari keridaan-Nya, dan takut terhadap murka-Nya.4. Mengagungkan larangan-larangan AllahIbnu Qayyim rahimahullah berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ الصَّادِقُ: مَا حَالَ بَيْنَ صَاحِبِهِ وَبَيْنَ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا تَجَاوَزَ ذَلِكَ خِيفَ مِنْهُ الْيَأْسُ وَالْقُنُوطُ“Rasa takut yang terpuji dan benar adalah yang mampu menghalangi seseorang dari melanggar larangan Allah. Jika rasa takut itu melewati batas tersebut, maka dikhawatirkan akan menjerumuskan pada keputusasaan dan berputus asa.”Abu ‘Utsman berkata:صِدْقُ الْخَوْفِ: هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الْآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا“Rasa takut yang benar adalah sikap wara‘, yaitu meninggalkan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—berkata:الْخَوْفُ الْمَحْمُودُ مَا حَجَزَكَ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ“Rasa takut yang terpuji adalah yang mampu menahanmu dari melanggar larangan Allah.”5. Mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya:Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:كُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ بِاللَّهِ أَعْلَمَ، كَانَ لَهُ أَخْوَفَ. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: كَفَى بِخَشْيَةِ اللَّهِ عِلْمًا. وَنُقْصَانُ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ إِنَّمَا هُوَ لِنُقْصَانِ مَعْرِفَةِ الْعَبْدِ بِهِ، فَأَعْرَفُ النَّاسِ أَخْشَاهُمْ لِلَّهِ، وَمَنْ عَرَفَ اللَّهَ اشْتَدَّ حَيَاؤُهُ مِنْهُ وَخَوْفُهُ لَهُ وَحُبُّهُ لَهُ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ مَعْرِفَةً ازْدَادَ حَيَاءً وَخَوْفًا وَحُبًّا“Semakin seorang hamba mengenal Allah, maka semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ibnu Mas‘ūd berkata: ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda ilmu.’ Berkurangnya rasa takut kepada Allah hanyalah karena kurangnya pengenalan seorang hamba kepada-Nya. Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Siapa yang mengenal Allah, maka akan semakin besar rasa malunya kepada-Nya, rasa takutnya, dan cintanya kepada-Nya. Semakin bertambah pengenalannya, semakin bertambah pula rasa malu, takut, dan cintanya.”6. Mengetahui keutamaan orang-orang yang takut kepada AllahAllah Ta‘ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfāl: 2)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ، وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke dalam ambingnya. Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam.” (HR. Tirmidzi no. 1633, An-Nasa’i no. 3108; dinyatakan sahih oleh Al-Albani).Dari beliau juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)7. Merenungkan keadaan orang-orang yang takut kepada AllahYaitu dengan melihat bagaimana mereka mencapai kedudukan tersebut melalui iman, amal saleh, qiyamul lail, puasa di siang hari, dan menangis karena takut kepada Allah.Al-Ghazali rahimahullah berkata,مَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ فِيهَا التَّخْوِيفُ وَالتَّحْذِيرُ، وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ“Mengenal kisah para nabi dan sahabat mengandung peringatan dan rasa takut. Itu menjadi sebab tumbuhnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak langsung berpengaruh saat ini, maka akan berpengaruh pada akhirnya.”Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata,مَنْ عَلِمَ عَظَمَةَ الْإِلَهِ زَادَ وَجَلُهُ، وَمَنْ خَافَ نِقَمَ رَبِّهِ حَسُنَ عَمَلُهُ، فَالْخَوْفُ يَسْتَخْرِجُ دَاءَ الْبَطَالَةِ وَيَشْفِيهِ، وَهُوَ نِعْمَ الْمُؤَدِّبُ لِلْمُؤْمِنِ وَيَكْفِيهِ. قَالَ الْحَسَنُ: صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا“Siapa yang mengetahui keagungan Allah, maka akan bertambah rasa takutnya. Siapa yang takut terhadap hukuman Rabb-nya, maka akan baik amalnya. Rasa takut itu mampu mengeluarkan penyakit malas dan menyembuhkannya. Ia adalah pendidik terbaik bagi seorang mukmin dan sudah cukup baginya.Al-Hasan berkata,صَحِبْتُ أَقْوَامًا كَانُوا لِحَسَنَاتِهِمْ أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ أَخْوَفَ مِنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ أَنْ تُعَذَّبُوا بِهَا‘Aku pernah bersama suatu kaum yang mereka lebih takut amal kebaikan mereka ditolak, daripada kalian takut akan disiksa karena dosa-dosa kalian.’”8. Merenungkan ayat-ayat tentang azab dan ancamanYaitu dengan memperhatikan ayat-ayat yang berisi ancaman, gambaran tentang neraka, keadaan para penghuninya, serta penderitaan, kesengsaraan, dan azab yang terus-menerus mereka rasakan.9. Menyadari kedudukan diri yang lemah dan hinaHendaknya seseorang mengetahui bahwa dirinya lemah dan hina. Jika Allah menghendaki, Dia bisa segera menghukumnya. Maka orang yang menyadari hal ini seharusnya selalu merasa takut kepada Rabb-nya.Al-Ghazali rahimahullah berkata,الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَارَةً يَكُونُ لِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْعَالَمِينَ لَمْ يُبَالِ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مَانِعٌ، وَتَارَةً يَكُونُ لِكَثْرَةِ الْجِنَايَةِ مِنَ الْعَبْدِ بِمُقَارَفَةِ الْمَعَاصِي، وَتَارَةً يَكُونُ بِهِمَا جَمِيعًا، وَبِحَسَبِ مَعْرِفَتِهِ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَمَعْرِفَتِهِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتِغْنَائِهِ؛ فَأَخْوَفُ النَّاسِ لِرَبِّهِ أَعْرَفُهُمْ بِنَفْسِهِ وَبِرَبِّهِ“Rasa takut kepada Allah Ta‘ala terkadang muncul karena mengenal Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya, bahwa jika Dia membinasakan seluruh makhluk, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Terkadang rasa takut itu muncul karena banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Terkadang pula muncul karena kedua hal tersebut sekaligus. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya dan keagungan Allah serta kemandirian-Nya, maka semakin besar pula rasa takutnya. Oleh karena itu, orang yang paling takut kepada Rabb-nya adalah yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya.”10. Merenungkan keadaan orang-orang zalim dan pelaku maksiatYaitu memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang telah diazab oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Ke mana mereka sekarang? Bagaimana kondisi mereka setelah azab datang secara tiba-tiba? Allah Ta‘ala berfirman:وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا“Dan berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam: 98)11. Merenungkan keadaan manusia pada hari ketakutan yang besarYaitu hari ketika manusia berada dalam kesulitan yang sangat dahsyat.Allah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya, semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan seperti mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2)Dan Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (QS. Hūd: 103)12. Mendengarkan nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan jiwa:Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu—salah seorang yang mudah menangis—ia berkata:وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga air mata pun bercucuran dan hati menjadi takut.” (HR. Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)13. Memperbanyak zikir kepada AllahBanyak berzikir akan menghadirkan dalam hati keagungan Allah, kebesaran-Nya, pengawasan-Nya, kecintaan kepada-Nya, dan rasa malu kepada-Nya. Semua itu akan melahirkan rasa takut kepada-Nya, takut terhadap azab-Nya, dan takut akan terhalang dari kebaikan-Nya.14. Takut akan datangnya hukuman secara tiba-tiba dan tidak diberi kesempatan untuk bertobatIbnu Qayyim rahimahullah berkata,يَنْشَأُ – يَعْنِي الْخَوْفَ – مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ: أَحَدُهَا: مَعْرِفَتُهُ بِالْجِنَايَةِ وَقُبْحِهَا. “Rasa takut—maksudnya—muncul dari tiga hal:Pertama, mengetahui dosa dan keburukannya.وَالثَّانِي: تَصْدِيقُ الْوَعِيدِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَتَّبَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ عُقُوبَتَهَا. Kedua, membenarkan ancaman, bahwa Allah menetapkan hukuman atas maksiat.وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ لَعَلَّهُ يُمْنَعُ مِنَ التَّوْبَةِ، وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِذَا ارْتَكَبَ الذَّنْبَ.Ketiga, tidak tahu apakah ia akan diberi kesempatan untuk bertobat atau justru dihalangi darinya ketika melakukan dosa.فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ يَتِمُّ لَهُ الْخَوْفُ، وَبِحَسَبِ قُوَّتِهَا وَضَعْفِهَا تَكُونُ قُوَّةُ الْخَوْفِ وَضَعْفُهُ. Dengan tiga hal ini, sempurnalah rasa takut. Kuat dan lemahnya rasa takut tergantung pada kuat atau lemahnya tiga hal tersebut.فَإِنَّ الْحَامِلَ عَلَى الذَّنْبِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَدَمَ عِلْمِهِ بِقُبْحِهِ، وَإِمَّا عَدَمَ عِلْمِهِ بِسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَجْتَمِعَ لَهُ الْأَمْرَانِ لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ اتِّكَالُهُ عَلَى التَّوْبَةِ، وَهُوَ الْغَالِبُ مِنْ ذُنُوبِ أَهْلِ الْإِيمَانِ. Pendorong seseorang melakukan dosa biasanya karena tidak mengetahui buruknya dosa itu, atau tidak mengetahui akibat buruknya, atau keduanya diketahui tetapi ia bergantung pada harapan untuk bertobat—dan ini yang paling banyak terjadi pada orang beriman.فَإِذَا عَلِمَ قُبْحَ الذَّنْبِ، وَعَلِمَ سُوءَ مَغَبَّتِهِ، وَخَافَ أَنْ لَا يُفْتَحَ لَهُ بَابُ التَّوْبَةِ، بَلْ يُمْنَعُهَا وَيُحَالُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا: اشْتَدَّ خَوْفُهُ. هَذَا قَبْلَ الذَّنْبِ؛ فَإِذَا عَمِلَهُ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ.Jika seseorang mengetahui buruknya dosa, mengetahui akibatnya yang jelek, dan takut tidak diberi kesempatan untuk bertobat—bahkan dihalangi darinya—maka akan semakin kuat rasa takutnya. Ini sebelum melakukan dosa; jika sudah melakukannya, maka rasa takutnya akan lebih besar lagi.وَبِالْجُمْلَةِ فَمَنْ اسْتَقَرَّ فِي قَلْبِهِ ذِكْرُ الدَّارِ الْآخِرَةِ وَجَزَائِهَا، وَذِكْرُ الْمَعْصِيَةِ وَالتَّوَعُّدِ عَلَيْهَا، وَعَدَمُ الْوُثُوقِ بِإِتْيَانِهِ بِالتَّوْبَةِ النَّصُوحِ: هَاجَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَوْفِ مَا لَا يَمْلِكُهُ وَلَا يُفَارِقُهُ حَتَّى يَنْجُوKesimpulannya, siapa yang dalam hatinya tertanam ingatan tentang akhirat dan balasannya, ingatan tentang dosa dan ancaman atasnya, serta tidak merasa yakin bisa melakukan tobat yang sungguh-sungguh, maka akan bangkit dalam hatinya rasa takut yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak akan hilang darinya hingga ia selamat.” (Thariq Al-Hijratain, hlm. 283) Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia merasa aman dari dosa karena terlalu berharap pada ampunan tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Ada pula yang sebaliknya—terlalu takut hingga putus asa dari rahmat-Nya. Padahal, hati yang selamat adalah hati yang memadukan antara cinta, harapan, dan rasa takut kepada Allah secara seimbang.Rasa takut yang benar akan menjauhkan kita dari maksiat yang sering dianggap ringan: dosa digital, pandangan haram, lalai dari dzikir, hingga meremehkan kewajiban. Jika rasa takut ini hidup, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya, bahkan dalam kesendirian.Maka jangan biarkan hati kita mati tanpa rasa takut kepada Allah. Bangkitkan ia dengan ilmu, dzikir, dan renungan akhirat.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًاAllāhummaj‘alnā minal-ladzīna yakhāfūnaka fis-sirri wal-‘alan, warzuqnā qulūban khāsyi‘ah, wa a‘mālan shāliḥah, wa taubatan naṣūḥā.“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan tobat yang sungguh-sungguh.” Referensi:Islamqa.Com, Fatwa no. 220547 —– Sabtu, 21 Maret 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara meningkatkan iman cinta kepada Allah dosa dan taubat harap dan takut hati khusyuk ilmu tauhid khauf dalam Islam nasihat Islami tadabbur al-quran takut Allah takut kepada Allah takut pada Allah tazkiyatun nafs

Obat Hati Ketika Dicela

Daftar Isi ToggleCelaan terhadap RasulullahDijuluki mudzammam (yang tercela)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDua obat hati ketika dicelaBertasbih dan bertahmid (berzikir)SalatPenutupDicela merupakan hal yang menyakitkan, terutama jika kita dicela bukan karena keburukan kita, bukan pula karena kita berbuat kesalahan. Terkadang kita dicela sekedar karena kebencian orang lain, dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan, bahkan terkadang kita dicela ketika berusaha berbuat kebaikan. Hal tersebut memang sangat menyakiti hati kita. Lalu, adakah obat hati ketika dicela?Ketika hati kita merasa sakit tatkala dicela, ternyata ada orang yang mengalami celaan yang luar biasa dari para pembencinya. Siapakah dia? Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendakwahkan Islam di Makkah, banyak orang Quraisy yang menentang dan berbuat jahat kepada Rasulullah. Di antara mereka terus-menerus menyakiti Rasulullah dengan mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut tentunya menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi yang ingin beliau harapkan dalam berdakwah tentunya kebaikan bagi yang didakwahi. Ketika celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut sangat menyakiti hati Rasulullah, ternyata Allah menurunkan ayat yang menghibur Rasulullah yang menjadi obat hati ketika dicela.Allah berfirman dalam surah Al-Hijir ayat 97,وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ“Kami sungguh sangat mengetahui bahwa dadamu terasa sesak karena apa yang mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 97-99)Ketika Hati Rasulullah tersakiti akibat celaan kaum Quraisy, Allah turunkan ayat tersebut sebagai hiburan dan memberikan solusi untuk dada Rasulullah yang terasa sesak. Apa itu? Bukan membalas celaan, bukan juga kabur dari ujian, tapi bertasbih memuji Allah dan bersujud (salat). Dua hal tersebut lah obat hati ketika dicela yang Allah resepkan kepada Rasulullah.Celaan terhadap RasulullahSudah menjadi bagian dari ketetapan Allah bahwa para Nabi dan orang-orang saleh merupakan orang-orang yang paling berat ujiannya. Oleh karena itu, Rasulullah mengalami banyak ujian, di antaranya celaan-celaan yang dilontarkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah.Di antara celaan kaum Quraisy terhadap Rasulullah adalah:Dijuluki mudzammam (yang tercela)Di antara celaan kaum Quraisy adalah menjuluki Rasulullah sebagai mudzammam, yang artinya adalah orang yang tercela. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا تَعْجَبُونَ كيفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ ولَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا ويَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وأنا مُحَمَّدٌ“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah memalingkan dariku cacian dan laknat kaum Quraisy? Mereka mencaci ‘mudhammam’ (orang yang tercela) dan melaknat ‘mudhammam’, padahal aku adalah Muhammad (orang yang terpuji).” (HR. Bukhari)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDi antara celaan kaum Quraisy adalah menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dan orang gila. Hal tersebut sebagaimana tuduhan-tuduhan para penentang Rasul sebelumnya; mereka menjuluki para Rasul dan Nabi sebelumnya juga dengan julukan demikian untuk merendahkan dan menolak dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman,كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ“Demikianlah setiap kali ada seorang Rasul yang datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “Dia itu adalah penyihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)Dua obat hati ketika dicelaDi antara cara mengobati hati kita yang tersakiti ketika dicela adalah sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat 97-99, yaitu bertasbih (berzikir) dan bersujud (salat). Lalu, mengapa kedua hal tersebut bisa mengobati hati yang sakit ketika dicela?Bertasbih dan bertahmid (berzikir)Obat hati ketika dicela yang pertama adalah bertasbih dan bertahmid. Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Adh-Dhahak menyatakan bahwa maksud dari firman Allah, يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ  adalah mengucapkan, سبحان الله وبحمده (‘SUBHANALLAHU WABIHAMDIH’).Mengapa berzikir bisa mengobati hati ketika dicela? Dalam menafsirkan ayat ke-98 dari surah Al-Hijr, At-Thabari menyampaikan bahwa hal tersebut karena ketika kita menghadapi perkara yang kita benci dari orang-orang yang mencela kita, segeralah mengadu kepada Allah dengan memuji-Nya, dan mendirikan salat; niscaya Allah akan mencukupkan bagimu apa yang menyusahkanmu dari hal tersebut.Ingat, zikir juga merupakan salah satu kunci tentramnya hati sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Zikir juga merupakan amalan yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan ketika kesusahan dan musibah melanda. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengobati hati ketika dicela adalah dengan berzikir dengan menyucikan nama Allah dan memuji-Nya. Ketika kita mengetahui kebesaran dan kuasa-Nya, niscaya masalah kita akan menjadi kecil.SalatObat hati ketika dicela yang selanjutnya adalah salat. Ketika membahas firman Allah Ta’ala, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ, para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah mendirikan salat. Adapun bertasbih dan memuji Allah adalah permulaan untuk melaksanakan salat dan salat adalah puncak dari amal kita untuk menyucikan dan memuji Allah.Salat merupakan ibadah yang posisi seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta’ala. Salat merupakan kondisi yang paling utama untuk kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Dengan salat juga, Allah akan cukupkan urusan kita di hari tersebut, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ يا ابنَ آدمَ لاَ تعجزني من أربعِ رَكعاتٍ في أوَّلِ نَهارِكَ أَكفِكَ آخرَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah (enggan) untuk beribadah kepada-Ku dengan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu itu.'” (HR. Abu Dawud)Salat juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengalami perkara yang menyedihkan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا حزَبه أمرٌ صلَّى“Dahulu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu perkara yang menyedihkan (berat), beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud)PenutupItulah dua obat hati ketika dicela yang bisa kita amalkan yang Allah ajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada surah Al-Hijr ayat ke-97-99; yaitu bertasbih dan bertahmid, lalu mengerjakan salat.Mari kita contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah, agar hati kita bisa lebih lapang ketika dicela, juga bisa jadi ajang untuk introspesksi dan perbaikan diri. Karena kita bukan Rasul yang ketika melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Bisa jadi alasan kita dicela adalah kejelekan pribadi kita, tapi kita tidak pernah menyadari***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Obat Hati Ketika Dicela

Daftar Isi ToggleCelaan terhadap RasulullahDijuluki mudzammam (yang tercela)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDua obat hati ketika dicelaBertasbih dan bertahmid (berzikir)SalatPenutupDicela merupakan hal yang menyakitkan, terutama jika kita dicela bukan karena keburukan kita, bukan pula karena kita berbuat kesalahan. Terkadang kita dicela sekedar karena kebencian orang lain, dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan, bahkan terkadang kita dicela ketika berusaha berbuat kebaikan. Hal tersebut memang sangat menyakiti hati kita. Lalu, adakah obat hati ketika dicela?Ketika hati kita merasa sakit tatkala dicela, ternyata ada orang yang mengalami celaan yang luar biasa dari para pembencinya. Siapakah dia? Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendakwahkan Islam di Makkah, banyak orang Quraisy yang menentang dan berbuat jahat kepada Rasulullah. Di antara mereka terus-menerus menyakiti Rasulullah dengan mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut tentunya menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi yang ingin beliau harapkan dalam berdakwah tentunya kebaikan bagi yang didakwahi. Ketika celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut sangat menyakiti hati Rasulullah, ternyata Allah menurunkan ayat yang menghibur Rasulullah yang menjadi obat hati ketika dicela.Allah berfirman dalam surah Al-Hijir ayat 97,وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ“Kami sungguh sangat mengetahui bahwa dadamu terasa sesak karena apa yang mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 97-99)Ketika Hati Rasulullah tersakiti akibat celaan kaum Quraisy, Allah turunkan ayat tersebut sebagai hiburan dan memberikan solusi untuk dada Rasulullah yang terasa sesak. Apa itu? Bukan membalas celaan, bukan juga kabur dari ujian, tapi bertasbih memuji Allah dan bersujud (salat). Dua hal tersebut lah obat hati ketika dicela yang Allah resepkan kepada Rasulullah.Celaan terhadap RasulullahSudah menjadi bagian dari ketetapan Allah bahwa para Nabi dan orang-orang saleh merupakan orang-orang yang paling berat ujiannya. Oleh karena itu, Rasulullah mengalami banyak ujian, di antaranya celaan-celaan yang dilontarkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah.Di antara celaan kaum Quraisy terhadap Rasulullah adalah:Dijuluki mudzammam (yang tercela)Di antara celaan kaum Quraisy adalah menjuluki Rasulullah sebagai mudzammam, yang artinya adalah orang yang tercela. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا تَعْجَبُونَ كيفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ ولَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا ويَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وأنا مُحَمَّدٌ“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah memalingkan dariku cacian dan laknat kaum Quraisy? Mereka mencaci ‘mudhammam’ (orang yang tercela) dan melaknat ‘mudhammam’, padahal aku adalah Muhammad (orang yang terpuji).” (HR. Bukhari)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDi antara celaan kaum Quraisy adalah menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dan orang gila. Hal tersebut sebagaimana tuduhan-tuduhan para penentang Rasul sebelumnya; mereka menjuluki para Rasul dan Nabi sebelumnya juga dengan julukan demikian untuk merendahkan dan menolak dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman,كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ“Demikianlah setiap kali ada seorang Rasul yang datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “Dia itu adalah penyihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)Dua obat hati ketika dicelaDi antara cara mengobati hati kita yang tersakiti ketika dicela adalah sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat 97-99, yaitu bertasbih (berzikir) dan bersujud (salat). Lalu, mengapa kedua hal tersebut bisa mengobati hati yang sakit ketika dicela?Bertasbih dan bertahmid (berzikir)Obat hati ketika dicela yang pertama adalah bertasbih dan bertahmid. Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Adh-Dhahak menyatakan bahwa maksud dari firman Allah, يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ  adalah mengucapkan, سبحان الله وبحمده (‘SUBHANALLAHU WABIHAMDIH’).Mengapa berzikir bisa mengobati hati ketika dicela? Dalam menafsirkan ayat ke-98 dari surah Al-Hijr, At-Thabari menyampaikan bahwa hal tersebut karena ketika kita menghadapi perkara yang kita benci dari orang-orang yang mencela kita, segeralah mengadu kepada Allah dengan memuji-Nya, dan mendirikan salat; niscaya Allah akan mencukupkan bagimu apa yang menyusahkanmu dari hal tersebut.Ingat, zikir juga merupakan salah satu kunci tentramnya hati sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Zikir juga merupakan amalan yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan ketika kesusahan dan musibah melanda. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengobati hati ketika dicela adalah dengan berzikir dengan menyucikan nama Allah dan memuji-Nya. Ketika kita mengetahui kebesaran dan kuasa-Nya, niscaya masalah kita akan menjadi kecil.SalatObat hati ketika dicela yang selanjutnya adalah salat. Ketika membahas firman Allah Ta’ala, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ, para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah mendirikan salat. Adapun bertasbih dan memuji Allah adalah permulaan untuk melaksanakan salat dan salat adalah puncak dari amal kita untuk menyucikan dan memuji Allah.Salat merupakan ibadah yang posisi seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta’ala. Salat merupakan kondisi yang paling utama untuk kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Dengan salat juga, Allah akan cukupkan urusan kita di hari tersebut, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ يا ابنَ آدمَ لاَ تعجزني من أربعِ رَكعاتٍ في أوَّلِ نَهارِكَ أَكفِكَ آخرَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah (enggan) untuk beribadah kepada-Ku dengan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu itu.'” (HR. Abu Dawud)Salat juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengalami perkara yang menyedihkan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا حزَبه أمرٌ صلَّى“Dahulu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu perkara yang menyedihkan (berat), beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud)PenutupItulah dua obat hati ketika dicela yang bisa kita amalkan yang Allah ajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada surah Al-Hijr ayat ke-97-99; yaitu bertasbih dan bertahmid, lalu mengerjakan salat.Mari kita contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah, agar hati kita bisa lebih lapang ketika dicela, juga bisa jadi ajang untuk introspesksi dan perbaikan diri. Karena kita bukan Rasul yang ketika melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Bisa jadi alasan kita dicela adalah kejelekan pribadi kita, tapi kita tidak pernah menyadari***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleCelaan terhadap RasulullahDijuluki mudzammam (yang tercela)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDua obat hati ketika dicelaBertasbih dan bertahmid (berzikir)SalatPenutupDicela merupakan hal yang menyakitkan, terutama jika kita dicela bukan karena keburukan kita, bukan pula karena kita berbuat kesalahan. Terkadang kita dicela sekedar karena kebencian orang lain, dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan, bahkan terkadang kita dicela ketika berusaha berbuat kebaikan. Hal tersebut memang sangat menyakiti hati kita. Lalu, adakah obat hati ketika dicela?Ketika hati kita merasa sakit tatkala dicela, ternyata ada orang yang mengalami celaan yang luar biasa dari para pembencinya. Siapakah dia? Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendakwahkan Islam di Makkah, banyak orang Quraisy yang menentang dan berbuat jahat kepada Rasulullah. Di antara mereka terus-menerus menyakiti Rasulullah dengan mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut tentunya menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi yang ingin beliau harapkan dalam berdakwah tentunya kebaikan bagi yang didakwahi. Ketika celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut sangat menyakiti hati Rasulullah, ternyata Allah menurunkan ayat yang menghibur Rasulullah yang menjadi obat hati ketika dicela.Allah berfirman dalam surah Al-Hijir ayat 97,وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ“Kami sungguh sangat mengetahui bahwa dadamu terasa sesak karena apa yang mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 97-99)Ketika Hati Rasulullah tersakiti akibat celaan kaum Quraisy, Allah turunkan ayat tersebut sebagai hiburan dan memberikan solusi untuk dada Rasulullah yang terasa sesak. Apa itu? Bukan membalas celaan, bukan juga kabur dari ujian, tapi bertasbih memuji Allah dan bersujud (salat). Dua hal tersebut lah obat hati ketika dicela yang Allah resepkan kepada Rasulullah.Celaan terhadap RasulullahSudah menjadi bagian dari ketetapan Allah bahwa para Nabi dan orang-orang saleh merupakan orang-orang yang paling berat ujiannya. Oleh karena itu, Rasulullah mengalami banyak ujian, di antaranya celaan-celaan yang dilontarkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah.Di antara celaan kaum Quraisy terhadap Rasulullah adalah:Dijuluki mudzammam (yang tercela)Di antara celaan kaum Quraisy adalah menjuluki Rasulullah sebagai mudzammam, yang artinya adalah orang yang tercela. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا تَعْجَبُونَ كيفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ ولَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا ويَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وأنا مُحَمَّدٌ“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah memalingkan dariku cacian dan laknat kaum Quraisy? Mereka mencaci ‘mudhammam’ (orang yang tercela) dan melaknat ‘mudhammam’, padahal aku adalah Muhammad (orang yang terpuji).” (HR. Bukhari)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDi antara celaan kaum Quraisy adalah menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dan orang gila. Hal tersebut sebagaimana tuduhan-tuduhan para penentang Rasul sebelumnya; mereka menjuluki para Rasul dan Nabi sebelumnya juga dengan julukan demikian untuk merendahkan dan menolak dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman,كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ“Demikianlah setiap kali ada seorang Rasul yang datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “Dia itu adalah penyihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)Dua obat hati ketika dicelaDi antara cara mengobati hati kita yang tersakiti ketika dicela adalah sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat 97-99, yaitu bertasbih (berzikir) dan bersujud (salat). Lalu, mengapa kedua hal tersebut bisa mengobati hati yang sakit ketika dicela?Bertasbih dan bertahmid (berzikir)Obat hati ketika dicela yang pertama adalah bertasbih dan bertahmid. Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Adh-Dhahak menyatakan bahwa maksud dari firman Allah, يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ  adalah mengucapkan, سبحان الله وبحمده (‘SUBHANALLAHU WABIHAMDIH’).Mengapa berzikir bisa mengobati hati ketika dicela? Dalam menafsirkan ayat ke-98 dari surah Al-Hijr, At-Thabari menyampaikan bahwa hal tersebut karena ketika kita menghadapi perkara yang kita benci dari orang-orang yang mencela kita, segeralah mengadu kepada Allah dengan memuji-Nya, dan mendirikan salat; niscaya Allah akan mencukupkan bagimu apa yang menyusahkanmu dari hal tersebut.Ingat, zikir juga merupakan salah satu kunci tentramnya hati sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Zikir juga merupakan amalan yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan ketika kesusahan dan musibah melanda. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengobati hati ketika dicela adalah dengan berzikir dengan menyucikan nama Allah dan memuji-Nya. Ketika kita mengetahui kebesaran dan kuasa-Nya, niscaya masalah kita akan menjadi kecil.SalatObat hati ketika dicela yang selanjutnya adalah salat. Ketika membahas firman Allah Ta’ala, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ, para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah mendirikan salat. Adapun bertasbih dan memuji Allah adalah permulaan untuk melaksanakan salat dan salat adalah puncak dari amal kita untuk menyucikan dan memuji Allah.Salat merupakan ibadah yang posisi seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta’ala. Salat merupakan kondisi yang paling utama untuk kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Dengan salat juga, Allah akan cukupkan urusan kita di hari tersebut, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ يا ابنَ آدمَ لاَ تعجزني من أربعِ رَكعاتٍ في أوَّلِ نَهارِكَ أَكفِكَ آخرَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah (enggan) untuk beribadah kepada-Ku dengan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu itu.'” (HR. Abu Dawud)Salat juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengalami perkara yang menyedihkan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا حزَبه أمرٌ صلَّى“Dahulu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu perkara yang menyedihkan (berat), beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud)PenutupItulah dua obat hati ketika dicela yang bisa kita amalkan yang Allah ajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada surah Al-Hijr ayat ke-97-99; yaitu bertasbih dan bertahmid, lalu mengerjakan salat.Mari kita contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah, agar hati kita bisa lebih lapang ketika dicela, juga bisa jadi ajang untuk introspesksi dan perbaikan diri. Karena kita bukan Rasul yang ketika melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Bisa jadi alasan kita dicela adalah kejelekan pribadi kita, tapi kita tidak pernah menyadari***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleCelaan terhadap RasulullahDijuluki mudzammam (yang tercela)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDua obat hati ketika dicelaBertasbih dan bertahmid (berzikir)SalatPenutupDicela merupakan hal yang menyakitkan, terutama jika kita dicela bukan karena keburukan kita, bukan pula karena kita berbuat kesalahan. Terkadang kita dicela sekedar karena kebencian orang lain, dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan, bahkan terkadang kita dicela ketika berusaha berbuat kebaikan. Hal tersebut memang sangat menyakiti hati kita. Lalu, adakah obat hati ketika dicela?Ketika hati kita merasa sakit tatkala dicela, ternyata ada orang yang mengalami celaan yang luar biasa dari para pembencinya. Siapakah dia? Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendakwahkan Islam di Makkah, banyak orang Quraisy yang menentang dan berbuat jahat kepada Rasulullah. Di antara mereka terus-menerus menyakiti Rasulullah dengan mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut tentunya menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi yang ingin beliau harapkan dalam berdakwah tentunya kebaikan bagi yang didakwahi. Ketika celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut sangat menyakiti hati Rasulullah, ternyata Allah menurunkan ayat yang menghibur Rasulullah yang menjadi obat hati ketika dicela.Allah berfirman dalam surah Al-Hijir ayat 97,وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ“Kami sungguh sangat mengetahui bahwa dadamu terasa sesak karena apa yang mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 97-99)Ketika Hati Rasulullah tersakiti akibat celaan kaum Quraisy, Allah turunkan ayat tersebut sebagai hiburan dan memberikan solusi untuk dada Rasulullah yang terasa sesak. Apa itu? Bukan membalas celaan, bukan juga kabur dari ujian, tapi bertasbih memuji Allah dan bersujud (salat). Dua hal tersebut lah obat hati ketika dicela yang Allah resepkan kepada Rasulullah.Celaan terhadap RasulullahSudah menjadi bagian dari ketetapan Allah bahwa para Nabi dan orang-orang saleh merupakan orang-orang yang paling berat ujiannya. Oleh karena itu, Rasulullah mengalami banyak ujian, di antaranya celaan-celaan yang dilontarkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah.Di antara celaan kaum Quraisy terhadap Rasulullah adalah:Dijuluki mudzammam (yang tercela)Di antara celaan kaum Quraisy adalah menjuluki Rasulullah sebagai mudzammam, yang artinya adalah orang yang tercela. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا تَعْجَبُونَ كيفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ ولَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا ويَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وأنا مُحَمَّدٌ“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah memalingkan dariku cacian dan laknat kaum Quraisy? Mereka mencaci ‘mudhammam’ (orang yang tercela) dan melaknat ‘mudhammam’, padahal aku adalah Muhammad (orang yang terpuji).” (HR. Bukhari)Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gilaDi antara celaan kaum Quraisy adalah menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dan orang gila. Hal tersebut sebagaimana tuduhan-tuduhan para penentang Rasul sebelumnya; mereka menjuluki para Rasul dan Nabi sebelumnya juga dengan julukan demikian untuk merendahkan dan menolak dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman,كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ“Demikianlah setiap kali ada seorang Rasul yang datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “Dia itu adalah penyihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)Dua obat hati ketika dicelaDi antara cara mengobati hati kita yang tersakiti ketika dicela adalah sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat 97-99, yaitu bertasbih (berzikir) dan bersujud (salat). Lalu, mengapa kedua hal tersebut bisa mengobati hati yang sakit ketika dicela?Bertasbih dan bertahmid (berzikir)Obat hati ketika dicela yang pertama adalah bertasbih dan bertahmid. Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Adh-Dhahak menyatakan bahwa maksud dari firman Allah, يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ  adalah mengucapkan, سبحان الله وبحمده (‘SUBHANALLAHU WABIHAMDIH’).Mengapa berzikir bisa mengobati hati ketika dicela? Dalam menafsirkan ayat ke-98 dari surah Al-Hijr, At-Thabari menyampaikan bahwa hal tersebut karena ketika kita menghadapi perkara yang kita benci dari orang-orang yang mencela kita, segeralah mengadu kepada Allah dengan memuji-Nya, dan mendirikan salat; niscaya Allah akan mencukupkan bagimu apa yang menyusahkanmu dari hal tersebut.Ingat, zikir juga merupakan salah satu kunci tentramnya hati sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Zikir juga merupakan amalan yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan ketika kesusahan dan musibah melanda. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengobati hati ketika dicela adalah dengan berzikir dengan menyucikan nama Allah dan memuji-Nya. Ketika kita mengetahui kebesaran dan kuasa-Nya, niscaya masalah kita akan menjadi kecil.SalatObat hati ketika dicela yang selanjutnya adalah salat. Ketika membahas firman Allah Ta’ala, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ, para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat tersebut adalah mendirikan salat. Adapun bertasbih dan memuji Allah adalah permulaan untuk melaksanakan salat dan salat adalah puncak dari amal kita untuk menyucikan dan memuji Allah.Salat merupakan ibadah yang posisi seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta’ala. Salat merupakan kondisi yang paling utama untuk kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Dengan salat juga, Allah akan cukupkan urusan kita di hari tersebut, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,يقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ يا ابنَ آدمَ لاَ تعجزني من أربعِ رَكعاتٍ في أوَّلِ نَهارِكَ أَكفِكَ آخرَهُ“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah (enggan) untuk beribadah kepada-Ku dengan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu itu.'” (HR. Abu Dawud)Salat juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengalami perkara yang menyedihkan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا حزَبه أمرٌ صلَّى“Dahulu, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu perkara yang menyedihkan (berat), beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud)PenutupItulah dua obat hati ketika dicela yang bisa kita amalkan yang Allah ajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada surah Al-Hijr ayat ke-97-99; yaitu bertasbih dan bertahmid, lalu mengerjakan salat.Mari kita contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah, agar hati kita bisa lebih lapang ketika dicela, juga bisa jadi ajang untuk introspesksi dan perbaikan diri. Karena kita bukan Rasul yang ketika melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Bisa jadi alasan kita dicela adalah kejelekan pribadi kita, tapi kita tidak pernah menyadari***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Tafsir Surah Asy-Syams: Jalan Sukses dan Jalan Kehancuran Jiwa

Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا“dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs

Tafsir Surah Asy-Syams: Jalan Sukses dan Jalan Kehancuran Jiwa

Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا“dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs
Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا“dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs


Surah Asy-Syams mengajarkan bahwa manusia berada di antara dua jalan: menyucikan jiwa atau mengotorinya. Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang agung untuk menunjukkan pentingnya perkara ini. Siapa yang menjaga jiwanya akan beruntung, sedangkan yang merusaknya akan binasa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Tsamud.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan Malam 2. Sumpah dengan Langit dan Bumi 3. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-Buruk 4. Keberuntungan Orang yang Mensucikan Jiwa 5. Kerugian Orang yang Mengotori Jiwa 6. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi Shalih 7. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang Sempurna 8. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Matahari, Bulan, Siang, dan MalamAllah Ta’ala berfirman,وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)Maksudnya adalah cahaya matahari dan manfaat yang terpancar darinya.وَٱلْقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا“dan bulan apabila mengiringinya.” (QS. Asy-Syams: 2)Maksudnya, bulan mengikuti matahari dalam peredaran dan cahayanya.وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا“dan siang apabila menampakkannya.” (QS. Asy-Syams: 3)Maksudnya, siang hari menampakkan apa yang ada di permukaan bumi dan menjadikannya jelas.وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰهَا“dan malam apabila menutupinya.” (QS. Asy-Syams: 4)Maksudnya, malam menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap.Pergantian antara gelap dan terang, antara matahari dan bulan, yang berlangsung secara teratur dan sempurna untuk kemaslahatan manusia, adalah bukti terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan semua sesembahan selain-Nya adalah batil. Sumpah dengan Langit dan BumiAllah Ta’ala berfirman,وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا“dan langit serta pembinaannya.” (QS. Asy-Syams: 5)Maknanya bisa: Allah bersumpah dengan langit dan Penciptanya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta‘ala; atau bersumpah dengan langit dan bangunannya yang sangat sempurna dan rapi.وَٱلْأَرْضِ وَمَا طَحَىٰهَا“dan bumi serta penghamparannya.” (QS. Asy-Syams: 6)Maksudnya, bumi dibentangkan dan diluaskan, sehingga makhluk dapat memanfaatkannya dengan berbagai cara. Penciptaan Jiwa dan Ilham Baik-BurukAllah Ta’ala berfirman,وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya).” (QS. Asy-Syams: 7)Maknanya bisa mencakup seluruh jiwa makhluk hidup, dan bisa juga khusus jiwa manusia yang dibebani syariat. Jiwa adalah tanda kebesaran Allah yang agung. Ia sangat halus, cepat berubah, berpindah, dan dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti keinginan, niat, cinta, dan benci. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah seperti benda mati yang tidak memiliki manfaat. Penyempurnaannya dalam bentuk seperti ini adalah tanda kebesaran Allah.فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8) Keberuntungan Orang yang Mensucikan JiwaAllah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Maksudnya, orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, menyucikannya dari kekurangan, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh. Kerugian Orang yang Mengotori JiwaAllah Ta’ala berfirman,وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)Maksudnya, orang yang merendahkan jiwanya yang mulia dengan mengotorinya melalui akhlak buruk, dosa, dan meninggalkan hal-hal yang dapat menyempurnakan dan mengembangkannya, serta melakukan hal-hal yang merusak dan menghinakannya. Kedustaan Kaum Tsamud dan Peringatan Nabi ShalihAllah Ta’ala berfirman,كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَىٰهَآ“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas.” (QS. Asy-Syams: 11)Maksudnya, mereka mendustakan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, serta pembangkangan mereka terhadap para rasul Allah.إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشْقَىٰهَا“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (QS. Asy-Syams: 12)Maksudnya, orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu Qadar bin Salif, yang menyembelih unta itu ketika mereka telah sepakat dan memerintahkannya, lalu ia pun melaksanakan perintah tersebut.فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقْيَٰهَا“lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (QS. Asy-Syams: 13)Maksudnya, Nabi Shalih ‘alaihis salam memperingatkan mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah itu, yang Allah jadikan sebagai tanda yang besar bagi kalian. Jangan kalian balas nikmat Allah—berupa air susunya—dengan menyembelihnya.” Namun mereka tetap mendustakan Nabi Shalih. Azab bagi Tsamud dan Kekuasaan Allah yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمْ فَسَوَّىٰهَا“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14)Maksudnya, mereka benar-benar menyembelih unta tersebut, lalu Allah menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh karena dosa mereka. Allah mengirimkan suara keras dari atas dan gempa dari bawah, hingga mereka menjadi mayat yang bergelimpangan, tidak ada yang bisa bergerak atau menjawab. Makna “menyamaratakan” adalah bahwa Allah menyamaratakan azab kepada seluruh mereka.وَلَا يَخَافُ عُقْبَٰهَا“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” (QS. Asy-Syams: 15)Maksudnya, Allah tidak takut terhadap akibat dari tindakan-Nya. Bagaimana mungkin Dia takut, padahal Dia Maha Menguasai, tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan dan syariat-Nya.Selesai, segala puji bagi Allah.Baca juga: Kisah Kaum Tsamud: Peradaban yang Hilang Karena Azab Allah Nasihat PenutupHari ini, banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lalai memperbaiki jiwa. Padahal, kebahagiaan sejati bukan pada harta dan kedudukan, tetapi pada hati yang bersih dan dekat dengan Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang merusak jiwa dengan dosa dan kesombongan. Ambillah pelajaran dari kisah Tsamud sebelum datang penyesalan yang tidak berguna.اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَاهْدِنَا لِلتَّقْوَىAllāhumma zakkī nufūsanā wa ṭahhir qulūbanā wahdinā lit-taqwā.“Ya Allah, sucikanlah jiwa kami, bersihkanlah hati kami, dan tunjukilah kami kepada ketakwaan.”  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa dan maksiat kajian islam khutbah jumat kisah Tsamud Nabi Shalih penyucian jiwa renungan ayat renungan quran rumaysho tafsir Asy-Syams tafsir juz amma tafsir surah asy syams tazkiyatun nafs

Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Fikih Riba (Bag. 10): Memahami ‘Illat dalam Riba (1)

Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).


Daftar Isi ToggleKesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat riba‘Illat riba pada emas dan perakPendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranPendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Pendapat terkuat‘Illat sejatinya adalah sebuah “alasan” atau motif di balik penetapan suatu hukum. Dengan memahami ‘illat, akan terlihat bagaimana para ulama dalam menetapkan suatu hukum tidaklah serta merta ditetapkan begitu saja. Akan tetapi, dengan ditimbang dan dilihat terlebih dahulu dari sisi ‘illat nya, kemudian bisa ditentukan hukum setelahnya, apakah termasuk dari kategori riba atau bukan termasuk dari riba.Oleh karena itu, riba tidak sesederhana yang dibayangkan. Riba bukan hanya persoalan pinjam meminjam, utang piutang, bukan hanya bicara soal bunga tambahan dari sebuah pinjaman. Menukar dua buah emas dengan karat yang berbeda pun bisa masuk dalam kategori riba, atau menukar dua jenis kurma dengan kualitas yang berbeda juga termasuk riba.Secara garis besar, pembahasan kali ini akan membahas tentang ‘illat riba yang ada pada enam komoditas ribawi. Dengan mengetahui ‘illat riba, nantinya dapat dipahami mengapa para ulama mengkategorikan suatu barang tertentu termasuk dari komoditas ribawi.Kesepakatan dan perbedaan para ulama dalam menentukan ‘illat ribaSebelum lebih jauh, pada hal ini terdapat landasan yang harus dipahami; yaitu, para ulama sepakat bahwa ‘illat pada emas dan perak hanyalah satu saja (sama) dan ‘illat pada empat komoditas ribawi lainnya pun hanya satu saja (sama). Namun, mereka berselisih dalam menentukan kedua ‘illat tersebut.Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,وَاتَّفَقَ الْمُعَلِّلُونَ ‌عَلَى ‌أَنَّ ‌عِلَّةَ ‌الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَاحِدَةٌ، وَعِلَّةَ الْأَعْيَانِ الْأَرْبَعَةِ وَاحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا“Para (ulama) ahli ‘illat telah bersepakat bahwa ‘illat (penyebab hukum) pada emas dan perak adalah satu (sama), dan ‘illat pada empat jenis benda lainnya (gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam) juga satu (sama). Namun kemudian, mereka berbeda pendapat mengenai apa sebenarnya masing-masing ‘illat tersebut.” [1]Dari perkataan Ibnu Qudamah di atas dapat dipahami:– Para ulama sepakat bahwa emas dan perak berada dalam satu “kotak” yang sama. Segala ketentuan yang berlaku pada emas, berlaku pula pada perak, dan sebaliknya. Dikarenakan ‘illat keduanya dianggap serupa.– Para ulama sepakat bahwa gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam berada dalam satu “kotak” yang sama. Dikarenakan ‘illat pada keempat komoditas tersebut dianggap serupa.– Perbedaan para ulama terletak dalam menentukan ‘illat pada masing-masing “kotak” tersebut. Sehingga terdapat dua kotak yang masing-masing berbeda pada ‘illat-nya. Emas dan perak berada pada satu kotak, keempat komoditas sisanya berada di kotak yang lain.‘Illat riba pada emas dan perakPara ulama dalam menentukan ‘illat riba pada emas dan perak berselisih setidaknya pada tiga pendapat [2]:Pendapat pertama: ‘Illat pada emas dan perak adalah timbangan (al-wazn) dan kesamaan jenis (al-jins)Ini merupakan pendapat dari mazhab Hanafi dan Hanbali. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma,اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: «لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّا نَشْتَرِي الصَّاعَ بِالصَّاعَيْنِ مِنَ الْجَمْعِ»، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا تَفْعَلُوا، وَلَكِنْ مِثْلًا بِمِثْلٍ، أَوْ بِيعُوا هَذَا وَاشْتَرُوا بِثَمَنِهِ مِنْ هَذَا، وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan seseorang dari Khaibar, lalu orang itu datang membawa kurma berkualitas tinggi (janib). Rasulullah kemudian bertanya, ‘Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami menukar satu sha’ (kurma ini) dengan dua sha’ kurma campuran (jam’).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian lakukan itu! Akan tetapi, (tukarlah) kurma yang serupa dengan serupa, atau juallah kurma ini (yang rendah kualitasnya), lalu belilah dengan hasil penjualannya kurma yang itu (kualitas tinggi). Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” (HR. Muslim no.1593)Sisi pendalilan dari hadis ini:Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Menunjukkan bahwasanya riba berlaku pada setiap barang yang ditimbang dari jenis yang sama, seperti: besi, timah, emas, perak, daging, gula, dan segala jenis yang ditimbang.Konsekuensi dari pendapat ini:– Jika dikatakan ‘illat pada emas dan perak adalah timbangan, maka segala barang yang ditimbang masuk dalam kategori komoditas ribawi.– Konsekuensi berikutya, jika jenisnya sama (misal: besi dengan besi), maka harus sama beratnya, tidak boleh ada selisih berat dan harus tunai.– Jika jenisnya berbeda tapi ‘illat-nya sama (misal: besi dengan timah), maka: boleh berbeda beratnya, tetapi harus dilakukan serah terima secara langsung di tempat (taqabudh).Sanggahan terhadap sisi pendalilan di atas:– Ucapan, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang.” Adalah ucapan dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. [3]– Lafaz hadis di atas bersifat umum yang maksud dan tujuannya tidak tampak secara zahirnya; maka sejatinya, hadis tersebut diarahkan kepada emas dan perak karena memang itulah maksudnya.Sehingga maksudnya adalah, “Begitu pula dengan barang yang ditimbang saat menjual emas dan perak.” Hal ini dalam rangka menggabungkan antara hadis ini dengan hadis ‘Ubadah dan lainnya, yaitu: tidak sah menjual emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali dengan timbangan berat yang sama agar tercapai keselarasan yang diisyaratkan dalam hadis-hadis tersebut. [4]Sanggahan untuk pendapat ini:Berikut ini adalah sanggahan dari pendapat yang mengatakan ‘illat emas dan perak adalah al-wazn (timbangan) dan al-jins (kesamaan jenis).– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak tidak ada keselasaran yang kuat. Karena sejatinya, ia tidak berlaku pada setiap jenis barang yang ditimbang. Sehingga, menjadikan timbangan sebagai ‘illat dalam hal ini bukanlah penetapan hukum berdasarkan suatu sifat yang layak menjadi faktor yang mempengaruhi hukum.– Menjadikan barang yang ditimbang sebagai ‘illat pada emas dan perak juga lemah, karena hal ini tidak berlaku secara konsisten pada semua barang yang ditimbang. Terdapat ijmak (kesepakatan ulama) tentang bolehnya akad salam seperti menukarkan emas atau perak dengan barang-barang yang ditimbang secara tempo, seperti akad salam pada besi, timah, atau semisalnya. Demikian pula bolehnya menjual besi dan sejenisnya dengan pembayaran dirham (perak) secara tempo.Hal ini menunjukkan bahwa timbangan bukanlah ‘illat-nya. Karena jika berat benar-benar menjadi ‘illat, tentu tidak akan dibolehkan adanya nasa’ (penundaan) atau akad salam pada barang-barang yang ditimbang dan harus diberikan secara tunai.Pendapat kedua: ‘Illat pada emas dan perak adalah dominasi fungsi alat tukar atau pembayaranYakni: emas dan perak secara umum merupakan jenis alat tukar atau pembayaran. Ini merupakan ‘illat yang terbatas, yang tidak melampaui keduanya (emas dan perak), hanya sebatas pada penggunaan emas dan perak dalam fungsi alat tukar atau pembayaran. Pendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian riwayat dari mazhab Hanbali.Alasan dari pendapat ini:Bahwasanya emas dan perak adalah dua substansi dari barang berharga yang digunakan untuk menakar nilai harta. Melalui keduanya, seseorang dapat memperoleh segala sesuatu. Emas dan perak umumnya digunakan sebagai “harga” dalam transaksi jual beli, juga menjadi standar dalam menilai barang-barang yang rusak, dan digunakan sebagai diyat (ganti rugi pidana). Keduanya laku (diterima) di seluruh kalangan manusia; karena adanya karakteristik dan keistimewaan yang dianggap hanya ada pada keduanya.Namun, jika dianggap demikian, maka ‘illat-nya hanya terkurung pada keduanya saja dan tidak dapat mencakup barang yang lain. Artinya, mata uang, uang logam, uang kertas, atau yang sejenisnya tidak berlaku “hukum riba” padanya. Mengingat penggunaan ‘illat pada emas dan perak hanya ada pada penggunaan keduanya sebatas alat tukar saja. Adapun mata uang atau yang sejenisnya, maka tidak berlaku “hukum riba” padanya, karena alat tukar hanya terbatas pada emas dan perak saja.Sanggahan untuk pendapat ini:– Penetapan ‘illat ini terbantahkan secara penggunaannya dan juga secara kebalikannya. Dapat terbantahkan dari sisi penggunaannya seperti pada uang logam selain emas dan perak, karena uang logam pun merupakan alat tukar (terdapat harga dan nominal) padanya. Namun, menurut pendapat ini, tidak terdapat “hukum riba” padanya. Mengapa? Karena menurut pendapat ini alat tukar hanya sebatas pada emas dan perak saja.Begitu pula dapat terbantahkan dari sisi kebalikannya, contohnya pada bejana-bejana dari emas. Menurut pendapat ini, bejana emas berlaku riba, padahal bejana tersebut bukan alat tukar menurut mereka.– Bahwasanya hikmah pada pengharaman riba di antaranya adalah disebabkan kezaliman, dan hal itu tidak hanya terbatas pada emas dan perak saja. Hal itu juga mencakup yang lainnya selain dari emas dan perak sebagai alat tukar, seperti uang logam atau uang kertas. Maka, sebagaimana unsur kezaliman (riba) sangat diperhatikan pada emas dan perak, alat-alat tukar selain emas dan perak pun tentunya harus diperhatikan pula.Sehingga membatasi ‘illat emas dan perak hanya sebatas alat tukar saja tentu akan meniadakan hukum-hukum lainnya yang seharusnya berlaku “hukum riba” padanya.Pendapat ketiga: ‘Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah secara mutlak (fungsi sebagai alat tukar)Artinya, segala sesuatu yang berfungsi sebagai harga (alat tukar), maka hukum riba berlaku padanya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, juga merupakan pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Berdasarkan pendapat ini, maka hukum tersebut tidak terbatas pada emas dan perak, tetapi meluas kepada uang logam selain emas dan perak, uang kertas, serta segala sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai harga.Mereka berdalil dengan dua hal:– Bahwa hikmah diharamkannya riba pada mata uang adalah menjaga kestabilan mata uang itu sendiri dan mempertahankan kedudukannya sebagai standar dalam transaksi. Mata uang harus menjadi standar ukuran nilai dalam muamalah, sehingga nilainya tetap stabil dan terjaga, tidak naik dan turun sebagaimana barang dagangan.Apabila mata uang dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan, maka ia tidak lagi berfungsi sebagai standar nilai. Hal itu akan menimbulkan kekacauan dalam transaksi, karena manusia tidak lagi memiliki harga yang dijadikan patokan dalam jual beli. Bahkan seluruh barang akan menjadi komoditas yang nilainya naik turun secara tidak teratur (fluktuatif).Akibatnya, penilaian harga tidak lagi dapat dilakukan dengan standar yang stabil, karena tidak adanya ukuran yang pasti. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang merusak mata uang yang berlaku di tengah kaum muslimin.– Penyebutan secara khusus emas dan perak (dalam dalil) termasuk dalam kategori penyebutan yang mewakili hal serupa lainnya. Sebab, tidak ada sifat khusus yang membedakan keduanya dari yang lain, kecuali keduanya merupakan standar dalam transaksi pada zaman kenabian.Sifat ini (sebagai alat tukar) terdapat pada segala sesuatu yang dijadikan manusia sebagai mata uang. Ketika mata uang tersebut telah beredar luas dan menjadi standar penilaian harga, maka berlaku padanya hukum-hukum yang berlaku pada emas dan perak dalam hal riba.Hal ini dikarenakan mata uang tersebut memiliki makna dan menjalankan fungsi yang sama dengan emas dan perak. Selain itu, kezaliman yang menjadi alasan diharamkannya riba pada emas dan perak juga dapat terjadi pada segala sesuatu yang menggantikan posisi keduanya.Pendapat terkuatPendapat yang kuat dan juga dirajihkan oleh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musayqih adalah pendapat yang ketiga, yaitu “’Illat pada emas dan perak adalah tsamaniyyah”, yang berarti fungsi sebagai alat tukar secara mutlak.Sehingga di antara konsekuensi pendapat ini, segala macam bentuk alat tukar dan bagaimanapun perubahannya, maka ia tetap terkena hukum sebagaimana hukum emas dan perak. Baik dari segi tukar menukarnya, dan praktik-praktik lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 9***Depok, 14 Ramadan 1447/ 3 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mughni, 4: 5.[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Al-Mughni (4: 5-6), Fiqhul Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Muyassar (hal. 139-142), Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 175-179), dan Syarah Ar-Raudhul Murbi’ (6: 456-460).[3] As-Sunan Al-Kubra, 5: 469.[4] Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzzab, 9: 393-394.Referensi:– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Tafsir Surah Al-Balad: Jalan Sulit Menuju Kebahagiaan Sejati

Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma

Tafsir Surah Al-Balad: Jalan Sulit Menuju Kebahagiaan Sejati

Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma
Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma


Surah Al-Balad mengajarkan bahwa kehidupan manusia penuh dengan ujian dan kesulitan. Namun, Allah juga menunjukkan jalan keluar menuju kebahagiaan melalui iman dan amal saleh. Siapa yang memilih jalan tersebut akan selamat, sedangkan yang mengikuti hawa nafsu akan berakhir dalam penyesalan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Kota Mekah 2. Asal Usul Manusia dan Hakikat Kehidupan 3. Kesombongan Manusia dan Tipu Daya Harta 4. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk Hidup 5. Jalan Terjal yang Tidak Ditempuh 6. Amal-Amal yang Mengantarkan Keselamatan 7. Iman, Sabar, dan Kasih Sayang 8. Golongan Kanan: Tanda Kebahagiaan 9. Golongan Kiri dan Azab yang Mengurung 10. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Kota MekahAllah Ta’ala berfirman,لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah).” (QS. Al-Balad: 1)Allah bersumpah dengan negeri yang aman ini, yaitu Mekah, negeri yang paling utama secara mutlak, terlebih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya.وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ“dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.” (QS. Al-Balad: 2) Asal Usul Manusia dan Hakikat KehidupanAllah Ta’ala berfirman,وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“dan demi bapak dan anaknya.”  (QS. Al-Balad: 3)Maksudnya adalah Adam dan keturunannya.لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)Yang menjadi isi sumpah ini adalah firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”Maknanya bisa jadi bahwa manusia menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika semua makhluk dibangkitkan. Karena itu, seharusnya manusia berusaha melakukan amal yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan tersebut dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan yang abadi.Jika tidak, maka ia akan terus menghadapi azab yang berat selama-lamanya.Makna lain, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan seimbang, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan usaha yang berat. Namun, ia tidak bersyukur atas nikmat besar ini, bahkan justru sombong dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezalimannya, ia mengira bahwa keadaan ini akan terus berlangsung dan kekuasaannya tidak akan hilang.Baca juga: Dunia ini Negeri Ujian dan Kesulitan Kesombongan Manusia dan Tipu Daya HartaAllah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5)Apakah ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Lalu ia pun berbuat melampaui batas dan membanggakan harta yang ia habiskan untuk memenuhi hawa nafsunya.يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.”  (QS. Al-Balad: 6)Ia berkata, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yaitu harta yang sangat banyak, bertumpuk-tumpuk.Allah menyebut pengeluaran untuk syahwat dan kemaksiatan sebagai “kehancuran”, karena orang yang menginfakkan hartanya untuk itu tidak mendapatkan manfaat dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak memperoleh dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan berkurangnya harta.Berbeda dengan orang yang menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang ia keluarkan.أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”  (QS. Al-Balad: 7)Allah berfirman sebagai ancaman bagi orang yang membanggakan hartanya untuk syahwat: apakah ia mengira bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak akan menghisabnya atas perkara kecil maupun besar?Padahal Allah telah melihatnya, mencatat amal-amalnya, dan menugaskan malaikat pencatat yang mulia untuk mencatat setiap perbuatannya, baik atau buruk. Nikmat Besar: Indra dan Petunjuk HidupAllah Ta’ala berfirman,أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (QS. Al-Balad: 8)Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: bukankah Kami telah memberinya dua mata.وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“lidah dan dua buah bibir.”  (QS. Al-Balad: 9)Serta lidah dan dua bibir, untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan berbagai manfaat penting lainnya. Ini semua adalah nikmat dunia.وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)Kemudian Allah menyebut nikmat dalam agama: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepadanya petunjuk dari kesesatan, serta jalan yang lurus dari jalan yang menyimpang.Nikmat-nikmat yang besar ini seharusnya membuat seorang hamba menunaikan hak-hak Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun manusia tidak melakukan hal itu. Jalan Terjal yang Tidak DitempuhAllah Ta’ala berfirman,فَلَا ٱقْتَحَمَ ٱلْعَقَبَةَ“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.”  (QS. Al-Balad: 11)Artinya, ia tidak menempuh jalan itu dan tidak melaluinya, karena ia mengikuti hawa nafsunya.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsuوَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْعَقَبَةُ“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?”  (QS. Al-Balad: 12) Amal-Amal yang Mengantarkan KeselamatanAllah Ta’ala berfirman,فَكُّ رَقَبَةٍ“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)Jalan yang sukar itu adalah membebaskan budak, yaitu memerdekakannya atau membantu agar ia bisa membayar tebusannya. Bahkan lebih utama lagi adalah membebaskan tawanan muslim dari tangan orang kafir.أَوْ إِطْعَٰمٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)Yaitu pada masa kelaparan yang sangat berat, dengan memberi makan kepada orang yang sangat membutuhkan.يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” (QS. Al-Balad: 15)Yaitu anak yatim yang sekaligus miskin dan memiliki hubungan kekerabatan.أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“atau kepada orang miskin yang sangat fakir.”  (QS. Al-Balad: 16)Yaitu orang miskin yang sangat membutuhkan hingga seolah-olah menempel di tanah karena kemiskinannya. Iman, Sabar, dan Kasih SayangAllah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ“Dan dia (juga) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS. Al-Balad: 17)Yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka terhadap apa yang wajib diimani, serta beramal saleh dengan anggota badan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang wajib maupun yang sunnah. Mereka saling berpesan untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan, dengan saling mendorong untuk menjalankannya dengan lapang dada dan hati yang tenang.Mereka juga saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk, dengan membantu yang membutuhkan, mengajarkan yang tidak tahu, memenuhi kebutuhan mereka dalam berbagai hal, serta menolong mereka dalam urusan agama dan dunia. Mereka mencintai untuk orang lain apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk orang lain apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri. Golongan Kanan: Tanda KebahagiaanAllah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”  (QS. Al-Balad: 18)Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dan diberi taufik oleh Allah untuk menempuh jalan yang sukar itu. Mereka adalah golongan kanan, karena mereka telah menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia, serta meninggalkan apa yang dilarang. Ini adalah tanda dan ciri kebahagiaan. Golongan Kiri dan Azab yang MengurungAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.”  (QS. Al-Balad: 19)Yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, meninggalkan semua hal tersebut, tidak beriman kepada Allah, tidak beramal saleh, dan tidak menyayangi hamba-hamba-Nya. Mereka itulah golongan kiri.عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌۢ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”  (QS. Al-Balad: 20)Yaitu neraka yang tertutup rapat atas mereka, dengan pintu-pintu yang terkunci dan tiang-tiang yang dipanjangkan dari belakangnya, sehingga tidak dapat terbuka, dan mereka berada dalam kesempitan, kesedihan, dan penderitaan. Segala puji bagi Allah. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan harta dan kesenangan, hingga lupa bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan. Padahal, jalan menuju keselamatan memang tidak mudah, tetapi itulah jalan yang diridhai Allah. Jangan sampai nikmat yang diberikan justru digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Mari kita biasakan hidup dengan iman, sabar, dan peduli terhadap sesama.اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَصْحَابِ الْمَيْمَنَةِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma ihdinā aṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, waj‘alnā min aṣḥābil-maymanah, warzuqnā al-ikhlāṣa waṣ-ṣabra war-raḥmah.Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikanlah kami termasuk golongan kanan, dan karuniakan kepada kami keikhlasan, kesabaran, serta kasih sayang.Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Jumat, 1 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh harta dalam Islam iman dan sabar jalan menuju surga kehidupan dunia ujian renungan ayat sedekah dalam Islam surah Al-Balad tafsir Al-Balad tafsir as-sa'di tafsir juz amma

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Witir Cuma Satu Rakaat, Sah atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ
https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ


https://youtu.be/iAZjDtGq0ko Berkaitan dengan orang yang mengerjakan Shalat Witir hanya satu rakaat, apakah kita katakan bahwa tindakannya itu sesuai dengan yang disyariatkan? Atau pendapat yang benar adalah minimal dilakukan sebanyak tiga rakaat? Shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), dan batasan minimalnya satu rakaat. Jadi, orang yang mengerjakannya satu rakaat, berarti telah menunaikan batas minimal dari Shalat Witir. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda: “Shalat Witir itu satu rakaat pada akhir malam.” (HR. Muslim). Ini menjadi dalil bahwa jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Namun, hendaknya seorang muslim bersemangat untuk mendirikan Shalat Witir tidak kurang dari 3 rakaat. Jika ia menambahnya menjadi 5, 7, 9, atau 11 rakaat, maka ini jauh lebih sempurna dan lebih utama. Shalat Malam tidak memiliki batasan maksimal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat Malam itu dua rakaat dua rakaat kemudian jika salah seorang dari kalian khawatir waktu subuh segera tiba, hendaklah ia menutupnya dengan witir satu rakaat.” (HR. Bukhari & Muslim). ===== بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ هَلْ هَذَا نَقُولُ إِنَّهُ فَعَلَ مَشْرُوعًا أَوْ أَنَّ الصَّحِيحَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ أَقَلِّ شَيْءٍ الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ فَمَنْ أَتَى بِرَكْعَةٍ فَقَدْ أَتَى بِالْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْوِتْرِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَقَلَّهُ رَكْعَةٌ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ تَسْمُوَ نَفْسُ الْمُسْلِمِ يَعْنِي أَلَّا تَقِلَّ عَنْ ثَلَاثٍ وَإِنْ زَادَهَا وَجَعَلَهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا أَوْ إِحْدَى عَشْرَةَ كَانَ هَذَا أَكْمَلَ وَأَفْضَلَ وَصَلَاةُ اللَّيْلِ لَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَحْدُودٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan.وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Tafsir Surah Al-Lail: Jalan Menuju Kemudahan atau Kesulitan

Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan.وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah
Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan.وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah


Surah Al-Lail menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan di dua arah yang sangat berbeda: menuju kemudahan atau menuju kesulitan. Perbedaan ini ditentukan oleh iman, amal, dan tujuan hidup seseorang. Siapa yang memilih kebaikan akan dimudahkan menuju kebaikan, dan siapa yang memilih keburukan akan dimudahkan menuju keburukan.  Daftar Isi tutup 1. Sumpah Allah dengan Malam dan Siang 2. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan 3. Usaha Manusia yang Berbeda-Beda 4. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan Kebaikan 5. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih Kebaikan 6. Ciri Orang yang Memilih Jalan Keburukan 7. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan Sendiri 8. Takdir dan Kemudahan Beramal 9. Harta Tidak Berguna Tanpa Amal 10. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan Akhirat 11. Ancaman Neraka bagi Orang yang Celaka 12. Sifat Orang Bertakwa yang Selamat 13. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari Manusia 14. Nasihat Penutup  Sumpah Allah dengan Malam dan SiangAllah Ta’ala berfirman,وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. Firman-Nya, “demi malam apabila menutupi”, maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya, dan manusia beristirahat dari keletihan serta kepayahan.وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ“dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan demi siang ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka. Hikmah Penciptaan Laki-Laki dan PerempuanAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ“dan penciptaan laki-laki dan perempuan.” (QS. Al-Lail: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Firman-Nya, “dan (demi) yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki kelangsungannya, pasangan laki-laki dan perempuan, agar jenis tersebut tetap lestari dan tidak punah. Allah juga menautkan keduanya dengan dorongan syahwat, serta menjadikan masing-masing sesuai dan saling melengkapi. Maka Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta. Usaha Manusia yang Berbeda-BedaAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ“sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Ini adalah isi sumpah tersebut, yaitu bahwa usaha kalian, wahai manusia yang dibebani syariat, benar-benar berbeda dengan perbedaan yang besar. Hal ini tergantung pada jenis amal yang dilakukan, banyak atau sedikitnya, serta kesungguhan dalam melaksanakannya. Juga tergantung pada tujuan dari amal tersebut: apakah ditujukan untuk mencari wajah Allah Yang Mahatinggi dan kekal, sehingga amal itu pun kekal dan pelakunya mendapatkan manfaat darinya; ataukah tujuannya sesuatu yang fana dan akan lenyap, sehingga amal itu pun menjadi sia-sia dan hilang bersama hilangnya tujuan tersebut. Ciri Orang yang Dimudahkan ke Jalan KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.” (QS. Al-Lail: 5)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beramal dan menyebutkan amalan mereka. Adapun orang yang memberi, yaitu menunaikan apa yang diperintahkan berupa ibadah harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, dan berbagai bentuk infak di jalan kebaikan. Juga ibadah badan seperti shalat, puasa, dan yang semisalnya. Serta ibadah yang menggabungkan keduanya, seperti haji dan umrah. Dan ia bertakwa, yaitu meninggalkan apa yang dilarang berupa berbagai macam perbuatan haram dan maksiat.وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ“dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga).” (QS. Al-Lail: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu membenarkan kalimat lā ilāha illallāh dan apa yang dikandungnya, berupa seluruh keyakinan agama, serta apa yang menjadi konsekuensinya berupa balasan di akhirat. Jalan Mudah bagi Orang yang Memilih KebaikanAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ“maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, Kami akan memudahkan urusannya, menjadikannya dimudahkan untuk melakukan setiap kebaikan, dan dimudahkan untuk meninggalkan setiap keburukan. Karena ia telah menempuh sebab-sebab kemudahan, maka Allah pun memudahkan baginya hal tersebut.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dari ayat disimpulkan perkataan salaf berikut.وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا.Sebagian ulama salaf mengatakan: di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan di antara balasan keburukan adalah keburukan setelahnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir) Ciri Orang yang Memilih Jalan KeburukanAllah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.” (QS. Al-Lail: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang kikir terhadap apa yang diperintahkan, sehingga ia meninggalkan infak yang wajib maupun yang dianjurkan, dan jiwanya tidak mau menunaikan kewajiban kepada Allah. Ia juga merasa tidak membutuhkan Allah, sehingga meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak merasa dirinya sangat bergantung kepada Rabb-nya, padahal tidak ada keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai yang dicintai dan disembah, yang menjadi tujuan dan tempat bergantung.وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ“serta mendustakan pahala terbaik.” (QS. Al-Lail: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu mendustakan apa yang Allah wajibkan untuk diimani oleh para hamba berupa keyakinan yang benar. Dimudahkan ke Jalan Sulit karena Pilihan SendiriAllah Ta’ala berfirman,فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ“maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, menuju keadaan yang sulit dan sifat-sifat yang buruk. Ia akan dimudahkan untuk melakukan keburukan di mana pun berada, dan diserahkan kepada perbuatan maksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan surah Al-Lail ayat 10 sebagai berikut.“maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Artinya, menuju jalan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ“Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaan, dan Kami biarkan mereka dalam kesesatan mereka meraba-raba.” (QS. Al-An‘am: 110)Ayat-ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang yang menginginkan kebaikan dengan memberikan taufik kepadanya, dan membalas orang yang menginginkan keburukan dengan membiarkannya (tidak diberi taufik). Semua itu terjadi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Hadits-hadits yang menunjukkan makna ini juga banyak. Takdir dan Kemudahan BeramalDi antaranya riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Al-‘Aththaf bin Khalid, telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, dari Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, dari ayahnya, ia berkata: aku mendengar ayahku menyebutkan bahwa ayahnya mendengar Abu Bakar berkata:Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sesuatu yang baru dimulai?”Beliau bersabda:بَلْ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ“Bahkan berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan.”Aku bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita beramal, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda:كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu:Imam Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A‘mash, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman As-Sulami, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi‘ Al-Gharqad dalam suatu pemakaman. Lalu beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja (kepada takdir)?”Beliau bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk (jalan) yang ia diciptakan untuknya.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Sementara orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7)sampai firman-Nya:لِلْعُسْرَىٰ“(ke jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 10)Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘ dari Al-A‘mash dengan makna yang serupa.Kemudian diriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Manshur, dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi‘ Al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, kemudian duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Di tangan beliau ada tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepala dan menggoreskan tongkatnya ke tanah. Kemudian beliau bersabda:مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ – أَوْ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ – إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلَّا قَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً“Tidak ada seorang pun di antara kalian—atau tidak ada satu jiwa pun—kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia celaka atau bahagia.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja dan meninggalkan amal? Jika kami termasuk orang yang bahagia, kami akan menuju kepada kebahagiaan, dan jika kami termasuk orang yang celaka, kami akan menuju kepada kecelakaan.”Beliau bersabda:أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang bahagia. Dan adapun orang-orang yang celaka, mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka.”Kemudian beliau membaca:فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (pahala) yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya ke jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5–7) Harta Tidak Berguna Tanpa AmalAllah Ta’ala berfirman,وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Dan tidaklah berguna baginya harta yang membuatnya melampaui batas, yang membuatnya merasa cukup, serta yang ia tahan (tidak ia infakkan), ketika ia telah binasa dan mati. Karena yang menyertainya hanyalah amal salehnya. Adapun hartanya yang tidak ia keluarkan kewajibannya, maka itu akan menjadi bencana baginya, karena ia tidak menyiapkan apa pun darinya untuk akhirat. Petunjuk dan Kepemilikan Allah atas Dunia dan AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, jalan petunjuk yang lurus itu berada di bawah penjelasan dan bimbingan Kami. Jalan tersebut mengantarkan kepada Allah dan mendekatkan kepada keridaan-Nya. Adapun kesesatan adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pelakunya kecuali kepada azab yang berat.وَإِنَّ لَنَا لَلْءَاخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (QS. Al-Lail: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, keduanya—akhirat dan dunia—adalah milik Allah dalam kekuasaan dan pengaturan, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Maka hendaklah orang yang menginginkan sesuatu memohon hanya kepada-Nya, dan memutuskan harapannya dari makhluk. Ancaman Neraka bagi Orang yang CelakaAllah Ta’ala berfirman,فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu neraka yang berkobar dan menyala dengan dahsyat.لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى“Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (QS. Al-Lail: 15)ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ“yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (QS. Al-Lail: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari perintah. Sifat Orang Bertakwa yang SelamatAllah Ta’ala berfirman,وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (QS. Al-Lail: 17)ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ“yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Yaitu orang yang memberikan hartanya dengan tujuan menyucikan dirinya dan membersihkannya dari dosa dan kekurangan, dengan mengharap wajah Allah Ta‘ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak sunnah menyebabkan ditinggalkannya kewajiban, seperti membayar utang, menafkahi yang wajib, dan semisalnya, maka hal itu tidak disyariatkan. Bahkan pemberiannya tertolak menurut banyak ulama, karena seseorang tidak dianggap menyucikan diri dengan melakukan amalan sunnah yang menyebabkan ia meninggalkan kewajiban. Ikhlas dan Tidak Mengharap Balasan dari ManusiaAllah Ta’ala berfirman,وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (QS. Al-Lail: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Artinya, tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki jasa atau nikmat atas orang yang paling bertakwa ini yang harus ia balas, kecuali ia telah membalasnya. Bahkan mungkin ia masih memiliki keutamaan atas manusia. Dengan demikian, ia menjadi hamba yang murni hanya untuk Allah, karena ia sepenuhnya tunduk kepada kebaikan-Nya saja.Adapun orang yang masih memiliki utang budi kepada manusia yang belum ia balas, maka pasti ia akan melakukan sesuatu untuk mereka yang dapat mengurangi keikhlasannya.Ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—bahkan disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau—karena tidak ada seorang pun yang memiliki jasa kepadanya yang belum ia balas, bahkan termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali nikmat kerasulan yang tidak mungkin dibalas, yaitu nikmat berupa dakwah kepada agama Islam, pengajaran petunjuk, dan agama yang benar. Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki karunia atas setiap manusia, suatu karunia yang tidak mungkin dibalas atau disamai. Namun ayat ini juga mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, yaitu tidak ada lagi hak manusia yang tersisa atas dirinya, sehingga amalnya menjadi murni hanya untuk Allah Ta‘ala.إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ“tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut.Orang yang paling bertakwa ini akan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa berbagai kemuliaan dan pahala. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mengejar kemudahan dunia, tetapi lupa bahwa kemudahan sejati adalah dimudahkan dalam ketaatan. Hati yang condong pada kebaikan akan semakin mudah melakukan kebaikan, sedangkan hati yang terbiasa dengan maksiat akan semakin berat kembali kepada kebenaran. Karena itu, jagalah niat, luruskan tujuan, dan biasakan diri dengan amal saleh sekecil apa pun. Jangan menunda kebaikan, karena setiap langkah kecil bisa membuka pintu kemudahan yang besar.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًاALLĀHUMMA INNĀ NAS’ALUKA AN TAJ‘ALA KULLA QAḌĀ’IN QAḌAYTAHU LANĀ KHAYRĀ“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar setiap ketetapan yang Engkau tetapkan untuk kami menjadi kebaikan bagi kami.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Kamis, 30 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal shalih jalan kebaikan jalan keburukan juz amma keikhlasan renungan ayat renungan quran surah al lail tafsir al lail tafsir as-sa'di tafsir Ibnu Katsir tafsir juz amma takdir dan usaha taufik dan hidayah

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Lupa Bayar Zakat Fitrah Sampai Lebaran Usai? Jangan Panik, Ini Solusinya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ
https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ


https://youtu.be/PYSUhanYzFs Apabila seseorang lupa menunaikan Zakat Fitrah hingga batas waktunya berlalu, apakah ia dimaafkan karena lupa? Dan apakah ia wajib mengqadhanya? Ya, ia wajib mengqadhanya (membayarnya) seketika saat ia teringat. Kapan pun ia teringat tentang Zakat Fitrah itu, ia harus segera mengqadhanya. Bahkan jika ia teringat setelah hari raya, Zakat fitrah yang telah terlewat waktunya harus tetap diqadha. Sebagai contoh, jika seseorang lupa membayar Zakat Fitrah pada tahun lalu, dan baru teringat sekarang, ia baru teringat bahwa ia belum menunaikan Zakat Fitrah tersebut, maka ia wajib membayar Zakat Fitrah tersebut sekarang juga, dan ia dimaafkan atas kelalaiannya tersebut. ===== إِذَا نَسِيَ إِخْرَاجَ زَكَاةِ الْفِطْرِ بَعْدَ وَقْتِهَا هَلْ يُعْذَرُ بِالنِّسْيَانِ؟ وَهَلْ يَقْضِي؟ نَعَمْ يَقْضِي مِنْ حِينِ الذِّكْرِ مَتَى مَا تَذَكَّرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ قَضَاهَا حَتَّى لَوْ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ يَوْمِ الْعِيْدِفَزَكَاةُ الفِطْرِ إِذَا فَاتَتْ تُقْضَى مَثَلًا لَوْ أَنَّ شَخْصًا نَسِيَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنَ الْعَامِ الْمَاضِي وَتَذَكَّرَهَا الْآنَ تَذَكَّرَ الْآنَ أَنَّهُ لَمْ يُخْرِجْ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَيُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ الْآنَ وَهُوَ مَعْذُورٌ بِالنِّسْيَانِ

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .
Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .


Daftar Isi ToggleRiwayat hadisPertama, hadis MakhulKedua, hadis Ibnu JuraijBerdoa pada saat melihat KakbahKesimpulanMengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa umrah menjadi kewajiban bagi muslim yang mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja yang dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.Di antara yang menjadi pembahasan belakangan ini adalah hadis tentang doa ketika melihat Kakbah. Bagaimana derajat hadis tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab hal ini, kita perlu terlebih dahulu mengetahui lafaz hadis yang sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz yang paling masyhur adalah diambil dari hadis,كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang yang memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji atau berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]Doa ini sering disebut sebagai doa yang dibaca ketika pertama kali melihat Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah yang dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah doa ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat hadis ini?Riwayat hadisPertama, hadis Makhul Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari Makhul, bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Kakbah, beliau membaca,اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّاRiwayat ini dha’if karena dua sebab:Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk hadis mursal, dan hadis mursal adalah bagian dari hadis dha’if.Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, yaitu “seorang laki-laki dari penduduk Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.Kedua, hadis Ibnu Juraij Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk hadis mu’dhal, yaitu hadis yang gugur dua perawi atau lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan hadis mu’dhal termasuk hadis dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis al-Habir,وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.Berdoa pada saat melihat KakbahLalu, setelah mengetahui bahwa doa melihat Kakbah mempunyai derajat yang mursal dan mu’dhal atau dha’if yang tidak bisa menjadi sebuah rujukan, bagaimana dengan hukum berdoa ketika melihat Kakbah?Berdoa pada saat melihat Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam hadis yang panjang diceritakan bahwa,فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah dan berdoa dengan doa apa saja yang beliau kehendaki.” [8]Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang berdoa ketika melihat Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil adanya doa khusus ketika pertama kali melihat Kakbah.Namun, dari hadis ini dapat diambil faidah penting bahwa berdoa ketika melihat Kakbah secara umum adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi yang memiliki peluang besar untuk dikabulkannya doa.Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء“Seseorang boleh berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan akan mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebutkan dalam Syarh Fath al-Majid,ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به“Tidak ada doa-doa khusus yang harus dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang doa ketika pertama kali melihat Kakbah, namun sanad hadis tersebut lemah. Oleh karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan doa sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan doa yang ia rasa paling ia perlukan.” [10]Kesimpulan Pertama, doa yang populer dibaca ketika melihat Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat yang menyebutkan doa tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, yang keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), bahkan sebagian jalurnya mengandung perawi yang lemah dan tertuduh. Oleh karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berdoa ketika melihat Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa ketika melihat Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali melihat Kakbah, hadis ini menunjukkan bolehnya berdoa secara umum. Maka, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu atau meyakini adanya tuntunan khusus dalam momen tersebut.Ketiga, apabila seseorang ingin membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i karena maknanya yang baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, yang berbunyi,اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّاmaka hal itu tidak mengapa. Namun, yang perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut merupakan sunah khusus ketika melihat Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau memiliki keutamaan tertentu yang tidak didasarkan pada dalil yang sahih.Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.Daftar Pustaka Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .
Prev     Next