Jurus Rahasia Agar Bisa Menikmati Manisnya Shalat – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

Jurus Rahasia Agar Bisa Menikmati Manisnya Shalat – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ
Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ


Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

Hukum Korupsi Dalam Islam

Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Hukum Korupsi Dalam Islam

Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Fatwa Ulama: Hukum Meninggalkan Puasa Karena Ketidaktahuan

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seorang wanita pernah berbuka (tidak berpuasa) satu atau dua hari pada bulan Ramadan setelah berhentinya haid pada empat tahun pertama sejak ia mencapai usia balig (mulai haid). Hal itu ia lakukan karena tidak mengetahui hukum syariat. Apakah ia berdosa? Apakah ia wajib mengqadha puasa tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Jika seorang wanita sebenarnya mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dengan bertanya, maka ia berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala,فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43; Al-Anbiya: 7)Ketidaktahuannya terhadap hukum syariat tidak dapat diterima berdasarkan kaidah, “Di negeri Islam, alasan tidak tahu terhadap hukum syariat tidak diterima.”Oleh karena itu, ia wajib mengqadha puasa yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari Ramadan dengan sengaja, ketika beliau bersabda, “Berpuasalah satu hari sebagai gantinya.” (HR. Ibnu Majah no. 1671, 1: 534)Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Makanlah itu bersama keluargamu, lalu berpuasalah satu hari, dan mohonlah ampun kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2393, 2: 786)Ia juga boleh—sebagai bentuk kehati-hatian—membayar fidyah karena menunda qadha tersebut, mengikuti sebagian praktik para sahabat رضي الله عنهم.Namun, jika ia tidak mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat karena jauh dari negeri Islam, atau ia tidak mampu mempelajari dan mengetahuinya, maka ketidaktahuan terhadap hukum dapat menjadi alasan yang dimaafkan. Hal ini karena:“Hukum suatu perintah tidak berlaku kecuali setelah sampai pemberitahuannya.”“Tidak ada pembebanan hukum ketika seseorang tidak mengetahui.”Dengan demikian, ia tidak disalahkan atas dosa, karena dosa berkaitan dengan maksud dan niat. Orang yang tidak mengetahui tidak dianggap memiliki pengetahuan ataupun niat terhadap hukum tersebut, sehingga tidak ada dosa baginya. Ia juga tidak wajib mengqadha, kecuali sebagai bentuk kehati-hatian terhadap agamanya. Hal ini karena sebab kewajiban tidak benar-benar berlaku atas dirinya akibat tidak adanya pengetahuan dan karena waktu perintah tersebut telah berlalu.Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Keadaan-keadaan yang menghalangi kewajiban qadha terhadap kewajiban yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar adalah: kekafiran yang tampak, kekafiran yang tersembunyi, kekafiran asal, kekafiran karena murtad, dan ketidaktahuan yang dimaafkan karena tidak sampainya perintah (syariat), atau karena adanya penafsiran (ta’wil) berdasarkan ijtihad atau taklid.” (Majmu’ Fatawa, 22: 23)Ini berbeda dengan orang yang lupa, tertidur, keliru, dan yang semisalnya yang meninggalkan kewajiban yang dibatasi oleh waktu. Dalam kasus mereka, dosa gugur berdasarkan kesepakatan ulama, tetapi mereka tetap wajib mengqadha. Hal ini karena sebelumnya mereka telah mengetahui hukum syariat berupa kewajiban tersebut yang sudah berlaku atas mereka, hanya saja terhalang oleh tidur atau lupa, atau tidak sempurna karena kesalahan—kecuali jika ada dalil khusus yang menggugurkan kewajiban qadha.Dalam masalah puasa, terdapat pengecualian berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa makan karena lupa ketika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ‘alaih)Dalam riwayat lain, “Barang siapa berbuka pada bulan Ramadan karena lupa, maka tidak ada qadha dan tidak ada kafarat atasnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1990, 3: 239)Dan ilmu yang benar hanyalah di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah: segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app

Fatwa Ulama: Hukum Meninggalkan Puasa Karena Ketidaktahuan

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seorang wanita pernah berbuka (tidak berpuasa) satu atau dua hari pada bulan Ramadan setelah berhentinya haid pada empat tahun pertama sejak ia mencapai usia balig (mulai haid). Hal itu ia lakukan karena tidak mengetahui hukum syariat. Apakah ia berdosa? Apakah ia wajib mengqadha puasa tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Jika seorang wanita sebenarnya mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dengan bertanya, maka ia berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala,فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43; Al-Anbiya: 7)Ketidaktahuannya terhadap hukum syariat tidak dapat diterima berdasarkan kaidah, “Di negeri Islam, alasan tidak tahu terhadap hukum syariat tidak diterima.”Oleh karena itu, ia wajib mengqadha puasa yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari Ramadan dengan sengaja, ketika beliau bersabda, “Berpuasalah satu hari sebagai gantinya.” (HR. Ibnu Majah no. 1671, 1: 534)Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Makanlah itu bersama keluargamu, lalu berpuasalah satu hari, dan mohonlah ampun kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2393, 2: 786)Ia juga boleh—sebagai bentuk kehati-hatian—membayar fidyah karena menunda qadha tersebut, mengikuti sebagian praktik para sahabat رضي الله عنهم.Namun, jika ia tidak mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat karena jauh dari negeri Islam, atau ia tidak mampu mempelajari dan mengetahuinya, maka ketidaktahuan terhadap hukum dapat menjadi alasan yang dimaafkan. Hal ini karena:“Hukum suatu perintah tidak berlaku kecuali setelah sampai pemberitahuannya.”“Tidak ada pembebanan hukum ketika seseorang tidak mengetahui.”Dengan demikian, ia tidak disalahkan atas dosa, karena dosa berkaitan dengan maksud dan niat. Orang yang tidak mengetahui tidak dianggap memiliki pengetahuan ataupun niat terhadap hukum tersebut, sehingga tidak ada dosa baginya. Ia juga tidak wajib mengqadha, kecuali sebagai bentuk kehati-hatian terhadap agamanya. Hal ini karena sebab kewajiban tidak benar-benar berlaku atas dirinya akibat tidak adanya pengetahuan dan karena waktu perintah tersebut telah berlalu.Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Keadaan-keadaan yang menghalangi kewajiban qadha terhadap kewajiban yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar adalah: kekafiran yang tampak, kekafiran yang tersembunyi, kekafiran asal, kekafiran karena murtad, dan ketidaktahuan yang dimaafkan karena tidak sampainya perintah (syariat), atau karena adanya penafsiran (ta’wil) berdasarkan ijtihad atau taklid.” (Majmu’ Fatawa, 22: 23)Ini berbeda dengan orang yang lupa, tertidur, keliru, dan yang semisalnya yang meninggalkan kewajiban yang dibatasi oleh waktu. Dalam kasus mereka, dosa gugur berdasarkan kesepakatan ulama, tetapi mereka tetap wajib mengqadha. Hal ini karena sebelumnya mereka telah mengetahui hukum syariat berupa kewajiban tersebut yang sudah berlaku atas mereka, hanya saja terhalang oleh tidur atau lupa, atau tidak sempurna karena kesalahan—kecuali jika ada dalil khusus yang menggugurkan kewajiban qadha.Dalam masalah puasa, terdapat pengecualian berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa makan karena lupa ketika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ‘alaih)Dalam riwayat lain, “Barang siapa berbuka pada bulan Ramadan karena lupa, maka tidak ada qadha dan tidak ada kafarat atasnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1990, 3: 239)Dan ilmu yang benar hanyalah di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah: segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seorang wanita pernah berbuka (tidak berpuasa) satu atau dua hari pada bulan Ramadan setelah berhentinya haid pada empat tahun pertama sejak ia mencapai usia balig (mulai haid). Hal itu ia lakukan karena tidak mengetahui hukum syariat. Apakah ia berdosa? Apakah ia wajib mengqadha puasa tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Jika seorang wanita sebenarnya mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dengan bertanya, maka ia berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala,فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43; Al-Anbiya: 7)Ketidaktahuannya terhadap hukum syariat tidak dapat diterima berdasarkan kaidah, “Di negeri Islam, alasan tidak tahu terhadap hukum syariat tidak diterima.”Oleh karena itu, ia wajib mengqadha puasa yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari Ramadan dengan sengaja, ketika beliau bersabda, “Berpuasalah satu hari sebagai gantinya.” (HR. Ibnu Majah no. 1671, 1: 534)Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Makanlah itu bersama keluargamu, lalu berpuasalah satu hari, dan mohonlah ampun kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2393, 2: 786)Ia juga boleh—sebagai bentuk kehati-hatian—membayar fidyah karena menunda qadha tersebut, mengikuti sebagian praktik para sahabat رضي الله عنهم.Namun, jika ia tidak mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat karena jauh dari negeri Islam, atau ia tidak mampu mempelajari dan mengetahuinya, maka ketidaktahuan terhadap hukum dapat menjadi alasan yang dimaafkan. Hal ini karena:“Hukum suatu perintah tidak berlaku kecuali setelah sampai pemberitahuannya.”“Tidak ada pembebanan hukum ketika seseorang tidak mengetahui.”Dengan demikian, ia tidak disalahkan atas dosa, karena dosa berkaitan dengan maksud dan niat. Orang yang tidak mengetahui tidak dianggap memiliki pengetahuan ataupun niat terhadap hukum tersebut, sehingga tidak ada dosa baginya. Ia juga tidak wajib mengqadha, kecuali sebagai bentuk kehati-hatian terhadap agamanya. Hal ini karena sebab kewajiban tidak benar-benar berlaku atas dirinya akibat tidak adanya pengetahuan dan karena waktu perintah tersebut telah berlalu.Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Keadaan-keadaan yang menghalangi kewajiban qadha terhadap kewajiban yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar adalah: kekafiran yang tampak, kekafiran yang tersembunyi, kekafiran asal, kekafiran karena murtad, dan ketidaktahuan yang dimaafkan karena tidak sampainya perintah (syariat), atau karena adanya penafsiran (ta’wil) berdasarkan ijtihad atau taklid.” (Majmu’ Fatawa, 22: 23)Ini berbeda dengan orang yang lupa, tertidur, keliru, dan yang semisalnya yang meninggalkan kewajiban yang dibatasi oleh waktu. Dalam kasus mereka, dosa gugur berdasarkan kesepakatan ulama, tetapi mereka tetap wajib mengqadha. Hal ini karena sebelumnya mereka telah mengetahui hukum syariat berupa kewajiban tersebut yang sudah berlaku atas mereka, hanya saja terhalang oleh tidur atau lupa, atau tidak sempurna karena kesalahan—kecuali jika ada dalil khusus yang menggugurkan kewajiban qadha.Dalam masalah puasa, terdapat pengecualian berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa makan karena lupa ketika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ‘alaih)Dalam riwayat lain, “Barang siapa berbuka pada bulan Ramadan karena lupa, maka tidak ada qadha dan tidak ada kafarat atasnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1990, 3: 239)Dan ilmu yang benar hanyalah di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah: segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seorang wanita pernah berbuka (tidak berpuasa) satu atau dua hari pada bulan Ramadan setelah berhentinya haid pada empat tahun pertama sejak ia mencapai usia balig (mulai haid). Hal itu ia lakukan karena tidak mengetahui hukum syariat. Apakah ia berdosa? Apakah ia wajib mengqadha puasa tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Jika seorang wanita sebenarnya mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dengan bertanya, maka ia berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala,فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43; Al-Anbiya: 7)Ketidaktahuannya terhadap hukum syariat tidak dapat diterima berdasarkan kaidah, “Di negeri Islam, alasan tidak tahu terhadap hukum syariat tidak diterima.”Oleh karena itu, ia wajib mengqadha puasa yang menjadi tanggungannya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari Ramadan dengan sengaja, ketika beliau bersabda, “Berpuasalah satu hari sebagai gantinya.” (HR. Ibnu Majah no. 1671, 1: 534)Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Makanlah itu bersama keluargamu, lalu berpuasalah satu hari, dan mohonlah ampun kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2393, 2: 786)Ia juga boleh—sebagai bentuk kehati-hatian—membayar fidyah karena menunda qadha tersebut, mengikuti sebagian praktik para sahabat رضي الله عنهم.Namun, jika ia tidak mampu memperoleh ilmu tentang hukum syariat karena jauh dari negeri Islam, atau ia tidak mampu mempelajari dan mengetahuinya, maka ketidaktahuan terhadap hukum dapat menjadi alasan yang dimaafkan. Hal ini karena:“Hukum suatu perintah tidak berlaku kecuali setelah sampai pemberitahuannya.”“Tidak ada pembebanan hukum ketika seseorang tidak mengetahui.”Dengan demikian, ia tidak disalahkan atas dosa, karena dosa berkaitan dengan maksud dan niat. Orang yang tidak mengetahui tidak dianggap memiliki pengetahuan ataupun niat terhadap hukum tersebut, sehingga tidak ada dosa baginya. Ia juga tidak wajib mengqadha, kecuali sebagai bentuk kehati-hatian terhadap agamanya. Hal ini karena sebab kewajiban tidak benar-benar berlaku atas dirinya akibat tidak adanya pengetahuan dan karena waktu perintah tersebut telah berlalu.Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Keadaan-keadaan yang menghalangi kewajiban qadha terhadap kewajiban yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar adalah: kekafiran yang tampak, kekafiran yang tersembunyi, kekafiran asal, kekafiran karena murtad, dan ketidaktahuan yang dimaafkan karena tidak sampainya perintah (syariat), atau karena adanya penafsiran (ta’wil) berdasarkan ijtihad atau taklid.” (Majmu’ Fatawa, 22: 23)Ini berbeda dengan orang yang lupa, tertidur, keliru, dan yang semisalnya yang meninggalkan kewajiban yang dibatasi oleh waktu. Dalam kasus mereka, dosa gugur berdasarkan kesepakatan ulama, tetapi mereka tetap wajib mengqadha. Hal ini karena sebelumnya mereka telah mengetahui hukum syariat berupa kewajiban tersebut yang sudah berlaku atas mereka, hanya saja terhalang oleh tidur atau lupa, atau tidak sempurna karena kesalahan—kecuali jika ada dalil khusus yang menggugurkan kewajiban qadha.Dalam masalah puasa, terdapat pengecualian berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa makan karena lupa ketika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ‘alaih)Dalam riwayat lain, “Barang siapa berbuka pada bulan Ramadan karena lupa, maka tidak ada qadha dan tidak ada kafarat atasnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1990, 3: 239)Dan ilmu yang benar hanyalah di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah: segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app

Ancaman Keras Meninggalkan Shalat Jumat: Hati Bisa Dikunci

Shalat Jumat bukan sekadar ibadah rutin mingguan, tetapi kewajiban besar yang menentukan hidupnya hati seorang muslim. Hadits Nabi ﷺ memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkannya. Ancaman ini bukan main-main, karena berkaitan langsung dengan tertutupnya hati dari kebaikan. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalat[بَاب صَلاَة الجمعة]Bab: Shalat Jumat  Daftar Isi tutup 1. Hadits #445 2. Faedah hadits 3. Nasihat Penutup 3.1. Referensi:  Hadits #445عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar beliau, “Benar-benar hendaklah suatu kaum berhenti dari meninggalkan shalat Jumat, atau Allah akan mengunci hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.”(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 865] Faedah hadits1. Meninggalkan shalat Jumat amat berbahayaHadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Jumat dan betapa kuat kewajibannya. Orang yang meninggalkannya terancam mendapatkan hukuman yang besar, yaitu hati mereka akan dikunci dan ditutup.Akibatnya, ia tidak lagi mengenal kebaikan, tidak mengingkari kemungkaran, tidak memahami kebaikan, serta tidak mendapatkan rahmat dan kelembutan dari Allah. Hatinya tidak disucikan dan tidak dibersihkan, bahkan tetap kotor dan diliputi oleh kegelapan dosa dan maksiat. Kemudian ia termasuk golongan orang-orang yang lalai, yaitu mereka yang melupakan Allah, sehingga Allah pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas tentang wajibnya shalat Jumat dan bahwa ia merupakan kewajiban. Karena ancaman hukuman, peringatan keras, serta penutupan dan penguncian hati hanya terjadi pada dosa-dosa besar.”Maka, siapa saja yang selama ini meremehkan kewajiban yang agung ini hendaknya segera bertaubat dengan taubat yang tulus. Ia harus bersungguh-sungguh menjaga pelaksanaannya, memperhatikannya dengan datang lebih awal, mendengarkan khutbah, serta mengambil manfaat darinya. Dan Allah lebih mengetahui.2. Dianjurkan menggunakan mimbar di masjid agar imam berdiri di atasnya ketika berkhutbah, dan ini merupakan sunnah yang disepakati.3. Shalat Jumat adalah fardhu ‘ain menurut mayoritas ulama.Baca juga: Rincian Hukum Shalat Berjamaah4. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “dikunci hati”. Ada yang mengatakan:Hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan.Tertanamnya kekufuran dalam hati.Tanda yang Allah letakkan di hati sehingga para malaikat mengetahui siapa yang berhak disanjung dan dicela.Baca juga: Hati yang Tertutup: Penyebab, Tanda, dan Bahayanya dalam Islam5. Hadits ini menyerupakan hati yang berpaling dari kebenaran—karena menolak dan enggan menerimanya—dengan hati yang telah dikunci, sehingga kebaikan tidak bisa masuk ke dalamnya. Ini adalah hukuman karena tidak menaati perintah Allah, padahal mudah untuk menghadirinya.6. Hadits ini menunjukkan besarnya dosa meninggalkan shalat Jumat dan meremehkannya. Bahkan, meninggalkannya termasuk sebab utama kehinaan dan kerugian. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang meninggalkan shalat Jumat karena sibuk kerja, perjalanan, atau meremehkannya tanpa alasan yang syar’i. Padahal, ancamannya bukan sekadar dosa biasa, tetapi rusaknya hati secara perlahan. Jangan sampai hati kita tertutup hanya karena kelalaian yang berulang setiap pekan. Segeralah bertaubat dan jadikan shalat Jumat sebagai prioritas utama dalam hidup.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَAllahumma aṣliḥ qulūbanā, waj‘alnā minal-muḥāfiẓīna ‘alaṣ-ṣalawāt, wa lā taj‘alnā minal-ghāfilīn“Ya Allah, perbaikilah hati kami, jadikan kami orang-orang yang menjaga shalat, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.” Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:89-90.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Keempat. 4:7-9. — Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsancaman jumat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat jumat dosa besar dosa meninggalkan shalat fiqih jumat hadits jumat hati dikunci hukum shalat jumat kajian islam meninggalkan jumat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat rumaysho shalat jumat

Ancaman Keras Meninggalkan Shalat Jumat: Hati Bisa Dikunci

Shalat Jumat bukan sekadar ibadah rutin mingguan, tetapi kewajiban besar yang menentukan hidupnya hati seorang muslim. Hadits Nabi ﷺ memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkannya. Ancaman ini bukan main-main, karena berkaitan langsung dengan tertutupnya hati dari kebaikan. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalat[بَاب صَلاَة الجمعة]Bab: Shalat Jumat  Daftar Isi tutup 1. Hadits #445 2. Faedah hadits 3. Nasihat Penutup 3.1. Referensi:  Hadits #445عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar beliau, “Benar-benar hendaklah suatu kaum berhenti dari meninggalkan shalat Jumat, atau Allah akan mengunci hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.”(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 865] Faedah hadits1. Meninggalkan shalat Jumat amat berbahayaHadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Jumat dan betapa kuat kewajibannya. Orang yang meninggalkannya terancam mendapatkan hukuman yang besar, yaitu hati mereka akan dikunci dan ditutup.Akibatnya, ia tidak lagi mengenal kebaikan, tidak mengingkari kemungkaran, tidak memahami kebaikan, serta tidak mendapatkan rahmat dan kelembutan dari Allah. Hatinya tidak disucikan dan tidak dibersihkan, bahkan tetap kotor dan diliputi oleh kegelapan dosa dan maksiat. Kemudian ia termasuk golongan orang-orang yang lalai, yaitu mereka yang melupakan Allah, sehingga Allah pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas tentang wajibnya shalat Jumat dan bahwa ia merupakan kewajiban. Karena ancaman hukuman, peringatan keras, serta penutupan dan penguncian hati hanya terjadi pada dosa-dosa besar.”Maka, siapa saja yang selama ini meremehkan kewajiban yang agung ini hendaknya segera bertaubat dengan taubat yang tulus. Ia harus bersungguh-sungguh menjaga pelaksanaannya, memperhatikannya dengan datang lebih awal, mendengarkan khutbah, serta mengambil manfaat darinya. Dan Allah lebih mengetahui.2. Dianjurkan menggunakan mimbar di masjid agar imam berdiri di atasnya ketika berkhutbah, dan ini merupakan sunnah yang disepakati.3. Shalat Jumat adalah fardhu ‘ain menurut mayoritas ulama.Baca juga: Rincian Hukum Shalat Berjamaah4. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “dikunci hati”. Ada yang mengatakan:Hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan.Tertanamnya kekufuran dalam hati.Tanda yang Allah letakkan di hati sehingga para malaikat mengetahui siapa yang berhak disanjung dan dicela.Baca juga: Hati yang Tertutup: Penyebab, Tanda, dan Bahayanya dalam Islam5. Hadits ini menyerupakan hati yang berpaling dari kebenaran—karena menolak dan enggan menerimanya—dengan hati yang telah dikunci, sehingga kebaikan tidak bisa masuk ke dalamnya. Ini adalah hukuman karena tidak menaati perintah Allah, padahal mudah untuk menghadirinya.6. Hadits ini menunjukkan besarnya dosa meninggalkan shalat Jumat dan meremehkannya. Bahkan, meninggalkannya termasuk sebab utama kehinaan dan kerugian. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang meninggalkan shalat Jumat karena sibuk kerja, perjalanan, atau meremehkannya tanpa alasan yang syar’i. Padahal, ancamannya bukan sekadar dosa biasa, tetapi rusaknya hati secara perlahan. Jangan sampai hati kita tertutup hanya karena kelalaian yang berulang setiap pekan. Segeralah bertaubat dan jadikan shalat Jumat sebagai prioritas utama dalam hidup.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَAllahumma aṣliḥ qulūbanā, waj‘alnā minal-muḥāfiẓīna ‘alaṣ-ṣalawāt, wa lā taj‘alnā minal-ghāfilīn“Ya Allah, perbaikilah hati kami, jadikan kami orang-orang yang menjaga shalat, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.” Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:89-90.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Keempat. 4:7-9. — Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsancaman jumat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat jumat dosa besar dosa meninggalkan shalat fiqih jumat hadits jumat hati dikunci hukum shalat jumat kajian islam meninggalkan jumat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat rumaysho shalat jumat
Shalat Jumat bukan sekadar ibadah rutin mingguan, tetapi kewajiban besar yang menentukan hidupnya hati seorang muslim. Hadits Nabi ﷺ memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkannya. Ancaman ini bukan main-main, karena berkaitan langsung dengan tertutupnya hati dari kebaikan. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalat[بَاب صَلاَة الجمعة]Bab: Shalat Jumat  Daftar Isi tutup 1. Hadits #445 2. Faedah hadits 3. Nasihat Penutup 3.1. Referensi:  Hadits #445عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar beliau, “Benar-benar hendaklah suatu kaum berhenti dari meninggalkan shalat Jumat, atau Allah akan mengunci hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.”(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 865] Faedah hadits1. Meninggalkan shalat Jumat amat berbahayaHadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Jumat dan betapa kuat kewajibannya. Orang yang meninggalkannya terancam mendapatkan hukuman yang besar, yaitu hati mereka akan dikunci dan ditutup.Akibatnya, ia tidak lagi mengenal kebaikan, tidak mengingkari kemungkaran, tidak memahami kebaikan, serta tidak mendapatkan rahmat dan kelembutan dari Allah. Hatinya tidak disucikan dan tidak dibersihkan, bahkan tetap kotor dan diliputi oleh kegelapan dosa dan maksiat. Kemudian ia termasuk golongan orang-orang yang lalai, yaitu mereka yang melupakan Allah, sehingga Allah pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas tentang wajibnya shalat Jumat dan bahwa ia merupakan kewajiban. Karena ancaman hukuman, peringatan keras, serta penutupan dan penguncian hati hanya terjadi pada dosa-dosa besar.”Maka, siapa saja yang selama ini meremehkan kewajiban yang agung ini hendaknya segera bertaubat dengan taubat yang tulus. Ia harus bersungguh-sungguh menjaga pelaksanaannya, memperhatikannya dengan datang lebih awal, mendengarkan khutbah, serta mengambil manfaat darinya. Dan Allah lebih mengetahui.2. Dianjurkan menggunakan mimbar di masjid agar imam berdiri di atasnya ketika berkhutbah, dan ini merupakan sunnah yang disepakati.3. Shalat Jumat adalah fardhu ‘ain menurut mayoritas ulama.Baca juga: Rincian Hukum Shalat Berjamaah4. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “dikunci hati”. Ada yang mengatakan:Hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan.Tertanamnya kekufuran dalam hati.Tanda yang Allah letakkan di hati sehingga para malaikat mengetahui siapa yang berhak disanjung dan dicela.Baca juga: Hati yang Tertutup: Penyebab, Tanda, dan Bahayanya dalam Islam5. Hadits ini menyerupakan hati yang berpaling dari kebenaran—karena menolak dan enggan menerimanya—dengan hati yang telah dikunci, sehingga kebaikan tidak bisa masuk ke dalamnya. Ini adalah hukuman karena tidak menaati perintah Allah, padahal mudah untuk menghadirinya.6. Hadits ini menunjukkan besarnya dosa meninggalkan shalat Jumat dan meremehkannya. Bahkan, meninggalkannya termasuk sebab utama kehinaan dan kerugian. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang meninggalkan shalat Jumat karena sibuk kerja, perjalanan, atau meremehkannya tanpa alasan yang syar’i. Padahal, ancamannya bukan sekadar dosa biasa, tetapi rusaknya hati secara perlahan. Jangan sampai hati kita tertutup hanya karena kelalaian yang berulang setiap pekan. Segeralah bertaubat dan jadikan shalat Jumat sebagai prioritas utama dalam hidup.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَAllahumma aṣliḥ qulūbanā, waj‘alnā minal-muḥāfiẓīna ‘alaṣ-ṣalawāt, wa lā taj‘alnā minal-ghāfilīn“Ya Allah, perbaikilah hati kami, jadikan kami orang-orang yang menjaga shalat, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.” Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:89-90.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Keempat. 4:7-9. — Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsancaman jumat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat jumat dosa besar dosa meninggalkan shalat fiqih jumat hadits jumat hati dikunci hukum shalat jumat kajian islam meninggalkan jumat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat rumaysho shalat jumat


Shalat Jumat bukan sekadar ibadah rutin mingguan, tetapi kewajiban besar yang menentukan hidupnya hati seorang muslim. Hadits Nabi ﷺ memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkannya. Ancaman ini bukan main-main, karena berkaitan langsung dengan tertutupnya hati dari kebaikan. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalat[بَاب صَلاَة الجمعة]Bab: Shalat Jumat  Daftar Isi tutup 1. Hadits #445 2. Faedah hadits 3. Nasihat Penutup 3.1. Referensi:  Hadits #445عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar beliau, “Benar-benar hendaklah suatu kaum berhenti dari meninggalkan shalat Jumat, atau Allah akan mengunci hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan termasuk orang-orang yang lalai.”(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 865] Faedah hadits1. Meninggalkan shalat Jumat amat berbahayaHadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Jumat dan betapa kuat kewajibannya. Orang yang meninggalkannya terancam mendapatkan hukuman yang besar, yaitu hati mereka akan dikunci dan ditutup.Akibatnya, ia tidak lagi mengenal kebaikan, tidak mengingkari kemungkaran, tidak memahami kebaikan, serta tidak mendapatkan rahmat dan kelembutan dari Allah. Hatinya tidak disucikan dan tidak dibersihkan, bahkan tetap kotor dan diliputi oleh kegelapan dosa dan maksiat. Kemudian ia termasuk golongan orang-orang yang lalai, yaitu mereka yang melupakan Allah, sehingga Allah pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas tentang wajibnya shalat Jumat dan bahwa ia merupakan kewajiban. Karena ancaman hukuman, peringatan keras, serta penutupan dan penguncian hati hanya terjadi pada dosa-dosa besar.”Maka, siapa saja yang selama ini meremehkan kewajiban yang agung ini hendaknya segera bertaubat dengan taubat yang tulus. Ia harus bersungguh-sungguh menjaga pelaksanaannya, memperhatikannya dengan datang lebih awal, mendengarkan khutbah, serta mengambil manfaat darinya. Dan Allah lebih mengetahui.2. Dianjurkan menggunakan mimbar di masjid agar imam berdiri di atasnya ketika berkhutbah, dan ini merupakan sunnah yang disepakati.3. Shalat Jumat adalah fardhu ‘ain menurut mayoritas ulama.Baca juga: Rincian Hukum Shalat Berjamaah4. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “dikunci hati”. Ada yang mengatakan:Hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan.Tertanamnya kekufuran dalam hati.Tanda yang Allah letakkan di hati sehingga para malaikat mengetahui siapa yang berhak disanjung dan dicela.Baca juga: Hati yang Tertutup: Penyebab, Tanda, dan Bahayanya dalam Islam5. Hadits ini menyerupakan hati yang berpaling dari kebenaran—karena menolak dan enggan menerimanya—dengan hati yang telah dikunci, sehingga kebaikan tidak bisa masuk ke dalamnya. Ini adalah hukuman karena tidak menaati perintah Allah, padahal mudah untuk menghadirinya.6. Hadits ini menunjukkan besarnya dosa meninggalkan shalat Jumat dan meremehkannya. Bahkan, meninggalkannya termasuk sebab utama kehinaan dan kerugian. Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang meninggalkan shalat Jumat karena sibuk kerja, perjalanan, atau meremehkannya tanpa alasan yang syar’i. Padahal, ancamannya bukan sekadar dosa biasa, tetapi rusaknya hati secara perlahan. Jangan sampai hati kita tertutup hanya karena kelalaian yang berulang setiap pekan. Segeralah bertaubat dan jadikan shalat Jumat sebagai prioritas utama dalam hidup.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَAllahumma aṣliḥ qulūbanā, waj‘alnā minal-muḥāfiẓīna ‘alaṣ-ṣalawāt, wa lā taj‘alnā minal-ghāfilīn“Ya Allah, perbaikilah hati kami, jadikan kami orang-orang yang menjaga shalat, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.” Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:89-90.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Keempat. 4:7-9. — Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsancaman jumat bulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat jumat dosa besar dosa meninggalkan shalat fiqih jumat hadits jumat hati dikunci hukum shalat jumat kajian islam meninggalkan jumat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat rumaysho shalat jumat

Faedah Penting Puasa Syawal: Qadha, Niat, dan Keutamaannya

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Banyak kaum muslimin ingin mengamalkannya, namun masih bingung dengan hukum, tata cara, dan beberapa permasalahan yang berkaitan dengannya. Tulisan ini merangkum faidah penting agar ibadah ini bisa dilakukan dengan ilmu dan penuh keyakinan.Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)Imam Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah memberikan alasan kenapa sampai puasa enam hari Syawal mendapatkan pahala puasa setahun, “Karena puasa satu bulan Ramadhan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal, itu sama dengan puasa selama dua bulan. Sehingga totalnya adalah berpuasa selama setahun seperti puasa fardhu. Jika tidak, maka tidak ada kekhususan untuk hal itu. Karena ingat satu kebaikan diberi ganjaran dengan sepuluh kebaikan yang semisal.”Mengenai cara puasa Syawal, Imam Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan, “Yang lebih afdhal, puasa Syawal dilakukan muttashil, langsung setelah sehari setelah shalat ied (2 Syawal). Puasa tersebut juga afdhalnya dilakukan mutatabi’ah, yaitu berturut-turut. Walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari 2 Syawal (tidak muttashil), juga tidak dilakukan berturut-turut (tidak mutatabi’ah), tetap dapat ganjaran puasa setahun. Termasuk juga tetap dapat ganjaran puasa Syawal walau tidak berpuasa Ramadhan (misalnya karena di Ramadhan punya udzur sakit), hal ini dikatakan oleh ulama muta’akhirin (ulama belakangan).” (Hasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1: 579-580)Kenapa sampai mengerjakan puasa Syawal dengan segera setelah 1 Syawal lebih afdhal? Imam Ar-Ramli rahimahullah mengatakan, “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idul Fithri lebih afdhal dikarenakan: (1) lebih segera dalam melakukan ibadah, (2) supaya tidak bertemu dengan halangan yang membuat sulit untuk berpuasa.” (Nihayah Al-Muhtaj, 3: 315) Imam Asy-Syirbini rahimahullah Mughni Al-Muhtaj (1: 654) juga menyatakan hal yang sama.  Daftar Isi tutup 1. 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang Berudzur 2. 2. Makna Pahala Seperti Puasa Setahun 3. 3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara Langsung 4. 4. Fidyah bagi Orang Tua Renta 5. 5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang Puasa 6. 6. Izin Suami bagi Istri 7. 7. Hukum dalam Madzhab Maliki 8. 8. Boleh Membatalkan Puasa Sunnah 9. 9. Tidak Harus Berurutan 10. Nasihat Penutup  Baca juga: Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiiyah 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang BerudzurImam Ibnu Hajar dalam Tuhfah menjelaskan bahwa orang yang memiliki uzur sehingga tidak bisa berpuasa enam hari di bulan Syawal, disunnahkan untuk mengqadhanya di bulan lain.2. Makna Pahala Seperti Puasa SetahunMaksud dari lafaz hadits “seperti berpuasa satu tahun penuh” adalah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa wajib selama satu tahun penuh. Ini adalah bentuk keistimewaan puasa di bulan Syawal.Para ulama menjelaskan, jika seseorang berpuasa enam hari di luar bulan Syawal setelah Ramadhan, ia tetap mendapatkan pahala puasa satu tahun. Namun, ia tidak mendapatkan pahala penuh seperti puasa wajib, melainkan pahala sepuluh bulan puasa wajib dan dua bulan puasa sunnah, berdasarkan kaidah bahwa satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan.Dengan demikian, orang yang setiap tahun berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa wajib sepanjang hidupnya.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan dalam Tuhfah Al-Muhtaj (3: 456), “Siapa yang lakukan puasa Ramadhan lalu mengikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa setahun dengan pahala puasa wajib. Namun siapa yang melakukan puasa enam hari di bulan selain Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun namun dengan ganjaran puasa sunnah.”3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara LangsungTidak ditemukan riwayat bahwa Nabi ﷺ berpuasa enam hari di bulan Syawal. Yang ada adalah riwayat berupa anjuran beliau untuk melakukannya (sunnah qauliyyah).Syaikh ‘Allamah Muhammad Al-Ahdal berkata:لَمْ أَقِفْ بَعْدَ التَّتَبُّعِ لِدَوَاوِينِ السُّنَّةِ الْمَشْهُورَةِ عَلَى حَدِيثٍ يُفِيدُ أَنَّهُ ﷺ صَامَهَا، بَلِ الْوَارِدُ هُوَ التَّرْغِيبُ فِي صَوْمِهَا“Aku tidak menemukan, setelah meneliti kitab-kitab hadits yang masyhur, riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukannya. Yang ada hanyalah anjuran untuk berpuasa tersebut.”Hal ini bisa jadi karena beliau khawatir amalan tersebut dianggap wajib oleh umatnya.4. Fidyah bagi Orang Tua RentaOrang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, jika mengeluarkan fidyah sebanyak 36 mud (30 mud untuk Ramadhan dan 6 mud untuk Syawal), maka ia juga mendapatkan pahala seperti puasa satu tahun. Hal ini dinukil oleh Imam At-Tarmasi dari pendapat Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam.5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang PuasaBagi yang memiliki utang puasa Ramadhan dan ingin berpuasa Syawal, urutan terbaik dari sisi kesempurnaan pahala adalah:Pertama, mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, kemudian berpuasa enam hari Syawal.Kedua, berpuasa Syawal terlebih dahulu, lalu mengqadha di bulan lain. Ini berlaku jika qadha’ puasanya disebabkan karena ada uzur seperti sakit atau safar. Adapun jika qadha’nya tanpa ada uzur, tidak boleh menunda qadha; ia harus menunaikan qadha’ dahulu.Ketiga, menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal.Dalam pilihan ketiga, terdapat khilaf dalam madzhab Syafi’i:Pendapat pertama: qadha di bulan Syawal otomatis mendapatkan pahala Syawal walaupun tanpa niat khusus (Imam Ramli).Pendapat kedua: sah menggabungkan niat keduanya jika sama-sama diniatkan (Imam Ibnu Hajar).Pendapat ketiga: tidak sah menggabungkan keduanya karena masing-masing ibadah berdiri sendiri (Syaikh Abdullah Bamakhramah).Untuk keluar dari ikhtilaf ulama, yang lebih hati-hati adalah memisahkan keduanya.6. Izin Suami bagi IstriSeorang istri boleh berpuasa sunnah enam hari Syawal tanpa izin suami. Namun, jika suami melarang, maka ia tidak boleh berpuasa.7. Hukum dalam Madzhab MalikiDalam madzhab Maliki, kemakruhan puasa enam hari Syawal tidak berlaku secara mutlak. Di antara batasannya, jika dilakukan secara berurutan maka dianggap makruh, sedangkan jika dipisah-pisah tetap dihukumi sunnah.Adapun dalam madzhab Syafi’i, hukumnya sunnah secara mutlak.8. Boleh Membatalkan Puasa SunnahPuasa Syawal boleh dibatalkan walaupun tanpa uzur, sebagaimana ibadah sunnah lainnya. Jika dibatalkan karena uzur seperti sakit atau menjamu tamu, maka waktu puasa yang telah dijalani tetap bernilai pahala.9. Tidak Harus BerurutanPuasa enam hari Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan, walaupun yang lebih utama adalah dikerjakan secara berkesinambungan.(Bahasan sembilan poin di atas dikembangkan dari tulisan Ustadz Amru Hamdany hafizhahullah) Nasihat PenutupDi tengah kesibukan setelah Ramadhan, banyak orang mulai melupakan amalan sunnah yang besar pahalanya. Padahal, puasa Syawal adalah kesempatan emas untuk menjaga semangat ibadah tetap hidup. Jangan sampai kita hanya semangat di Ramadhan, lalu melemah setelahnya. Istiqamah dalam amalan, walau sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada amalan besar namun terputus.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik“Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 9 Syawal 1447 H, 27 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara puasa syawal fidyah puasa fikih puasa syawal fiqih puasa hukum puasa syawal keutamaan puasa syawal niat puasa syawal puasa 6 hari syawal puasa qadha puasa sunnah puasa syawal qadha puasa qadha puasa ramadhan ramadhan utang puasa

Faedah Penting Puasa Syawal: Qadha, Niat, dan Keutamaannya

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Banyak kaum muslimin ingin mengamalkannya, namun masih bingung dengan hukum, tata cara, dan beberapa permasalahan yang berkaitan dengannya. Tulisan ini merangkum faidah penting agar ibadah ini bisa dilakukan dengan ilmu dan penuh keyakinan.Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)Imam Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah memberikan alasan kenapa sampai puasa enam hari Syawal mendapatkan pahala puasa setahun, “Karena puasa satu bulan Ramadhan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal, itu sama dengan puasa selama dua bulan. Sehingga totalnya adalah berpuasa selama setahun seperti puasa fardhu. Jika tidak, maka tidak ada kekhususan untuk hal itu. Karena ingat satu kebaikan diberi ganjaran dengan sepuluh kebaikan yang semisal.”Mengenai cara puasa Syawal, Imam Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan, “Yang lebih afdhal, puasa Syawal dilakukan muttashil, langsung setelah sehari setelah shalat ied (2 Syawal). Puasa tersebut juga afdhalnya dilakukan mutatabi’ah, yaitu berturut-turut. Walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari 2 Syawal (tidak muttashil), juga tidak dilakukan berturut-turut (tidak mutatabi’ah), tetap dapat ganjaran puasa setahun. Termasuk juga tetap dapat ganjaran puasa Syawal walau tidak berpuasa Ramadhan (misalnya karena di Ramadhan punya udzur sakit), hal ini dikatakan oleh ulama muta’akhirin (ulama belakangan).” (Hasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1: 579-580)Kenapa sampai mengerjakan puasa Syawal dengan segera setelah 1 Syawal lebih afdhal? Imam Ar-Ramli rahimahullah mengatakan, “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idul Fithri lebih afdhal dikarenakan: (1) lebih segera dalam melakukan ibadah, (2) supaya tidak bertemu dengan halangan yang membuat sulit untuk berpuasa.” (Nihayah Al-Muhtaj, 3: 315) Imam Asy-Syirbini rahimahullah Mughni Al-Muhtaj (1: 654) juga menyatakan hal yang sama.  Daftar Isi tutup 1. 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang Berudzur 2. 2. Makna Pahala Seperti Puasa Setahun 3. 3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara Langsung 4. 4. Fidyah bagi Orang Tua Renta 5. 5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang Puasa 6. 6. Izin Suami bagi Istri 7. 7. Hukum dalam Madzhab Maliki 8. 8. Boleh Membatalkan Puasa Sunnah 9. 9. Tidak Harus Berurutan 10. Nasihat Penutup  Baca juga: Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiiyah 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang BerudzurImam Ibnu Hajar dalam Tuhfah menjelaskan bahwa orang yang memiliki uzur sehingga tidak bisa berpuasa enam hari di bulan Syawal, disunnahkan untuk mengqadhanya di bulan lain.2. Makna Pahala Seperti Puasa SetahunMaksud dari lafaz hadits “seperti berpuasa satu tahun penuh” adalah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa wajib selama satu tahun penuh. Ini adalah bentuk keistimewaan puasa di bulan Syawal.Para ulama menjelaskan, jika seseorang berpuasa enam hari di luar bulan Syawal setelah Ramadhan, ia tetap mendapatkan pahala puasa satu tahun. Namun, ia tidak mendapatkan pahala penuh seperti puasa wajib, melainkan pahala sepuluh bulan puasa wajib dan dua bulan puasa sunnah, berdasarkan kaidah bahwa satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan.Dengan demikian, orang yang setiap tahun berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa wajib sepanjang hidupnya.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan dalam Tuhfah Al-Muhtaj (3: 456), “Siapa yang lakukan puasa Ramadhan lalu mengikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa setahun dengan pahala puasa wajib. Namun siapa yang melakukan puasa enam hari di bulan selain Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun namun dengan ganjaran puasa sunnah.”3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara LangsungTidak ditemukan riwayat bahwa Nabi ﷺ berpuasa enam hari di bulan Syawal. Yang ada adalah riwayat berupa anjuran beliau untuk melakukannya (sunnah qauliyyah).Syaikh ‘Allamah Muhammad Al-Ahdal berkata:لَمْ أَقِفْ بَعْدَ التَّتَبُّعِ لِدَوَاوِينِ السُّنَّةِ الْمَشْهُورَةِ عَلَى حَدِيثٍ يُفِيدُ أَنَّهُ ﷺ صَامَهَا، بَلِ الْوَارِدُ هُوَ التَّرْغِيبُ فِي صَوْمِهَا“Aku tidak menemukan, setelah meneliti kitab-kitab hadits yang masyhur, riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukannya. Yang ada hanyalah anjuran untuk berpuasa tersebut.”Hal ini bisa jadi karena beliau khawatir amalan tersebut dianggap wajib oleh umatnya.4. Fidyah bagi Orang Tua RentaOrang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, jika mengeluarkan fidyah sebanyak 36 mud (30 mud untuk Ramadhan dan 6 mud untuk Syawal), maka ia juga mendapatkan pahala seperti puasa satu tahun. Hal ini dinukil oleh Imam At-Tarmasi dari pendapat Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam.5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang PuasaBagi yang memiliki utang puasa Ramadhan dan ingin berpuasa Syawal, urutan terbaik dari sisi kesempurnaan pahala adalah:Pertama, mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, kemudian berpuasa enam hari Syawal.Kedua, berpuasa Syawal terlebih dahulu, lalu mengqadha di bulan lain. Ini berlaku jika qadha’ puasanya disebabkan karena ada uzur seperti sakit atau safar. Adapun jika qadha’nya tanpa ada uzur, tidak boleh menunda qadha; ia harus menunaikan qadha’ dahulu.Ketiga, menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal.Dalam pilihan ketiga, terdapat khilaf dalam madzhab Syafi’i:Pendapat pertama: qadha di bulan Syawal otomatis mendapatkan pahala Syawal walaupun tanpa niat khusus (Imam Ramli).Pendapat kedua: sah menggabungkan niat keduanya jika sama-sama diniatkan (Imam Ibnu Hajar).Pendapat ketiga: tidak sah menggabungkan keduanya karena masing-masing ibadah berdiri sendiri (Syaikh Abdullah Bamakhramah).Untuk keluar dari ikhtilaf ulama, yang lebih hati-hati adalah memisahkan keduanya.6. Izin Suami bagi IstriSeorang istri boleh berpuasa sunnah enam hari Syawal tanpa izin suami. Namun, jika suami melarang, maka ia tidak boleh berpuasa.7. Hukum dalam Madzhab MalikiDalam madzhab Maliki, kemakruhan puasa enam hari Syawal tidak berlaku secara mutlak. Di antara batasannya, jika dilakukan secara berurutan maka dianggap makruh, sedangkan jika dipisah-pisah tetap dihukumi sunnah.Adapun dalam madzhab Syafi’i, hukumnya sunnah secara mutlak.8. Boleh Membatalkan Puasa SunnahPuasa Syawal boleh dibatalkan walaupun tanpa uzur, sebagaimana ibadah sunnah lainnya. Jika dibatalkan karena uzur seperti sakit atau menjamu tamu, maka waktu puasa yang telah dijalani tetap bernilai pahala.9. Tidak Harus BerurutanPuasa enam hari Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan, walaupun yang lebih utama adalah dikerjakan secara berkesinambungan.(Bahasan sembilan poin di atas dikembangkan dari tulisan Ustadz Amru Hamdany hafizhahullah) Nasihat PenutupDi tengah kesibukan setelah Ramadhan, banyak orang mulai melupakan amalan sunnah yang besar pahalanya. Padahal, puasa Syawal adalah kesempatan emas untuk menjaga semangat ibadah tetap hidup. Jangan sampai kita hanya semangat di Ramadhan, lalu melemah setelahnya. Istiqamah dalam amalan, walau sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada amalan besar namun terputus.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik“Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 9 Syawal 1447 H, 27 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara puasa syawal fidyah puasa fikih puasa syawal fiqih puasa hukum puasa syawal keutamaan puasa syawal niat puasa syawal puasa 6 hari syawal puasa qadha puasa sunnah puasa syawal qadha puasa qadha puasa ramadhan ramadhan utang puasa
Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Banyak kaum muslimin ingin mengamalkannya, namun masih bingung dengan hukum, tata cara, dan beberapa permasalahan yang berkaitan dengannya. Tulisan ini merangkum faidah penting agar ibadah ini bisa dilakukan dengan ilmu dan penuh keyakinan.Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)Imam Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah memberikan alasan kenapa sampai puasa enam hari Syawal mendapatkan pahala puasa setahun, “Karena puasa satu bulan Ramadhan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal, itu sama dengan puasa selama dua bulan. Sehingga totalnya adalah berpuasa selama setahun seperti puasa fardhu. Jika tidak, maka tidak ada kekhususan untuk hal itu. Karena ingat satu kebaikan diberi ganjaran dengan sepuluh kebaikan yang semisal.”Mengenai cara puasa Syawal, Imam Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan, “Yang lebih afdhal, puasa Syawal dilakukan muttashil, langsung setelah sehari setelah shalat ied (2 Syawal). Puasa tersebut juga afdhalnya dilakukan mutatabi’ah, yaitu berturut-turut. Walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari 2 Syawal (tidak muttashil), juga tidak dilakukan berturut-turut (tidak mutatabi’ah), tetap dapat ganjaran puasa setahun. Termasuk juga tetap dapat ganjaran puasa Syawal walau tidak berpuasa Ramadhan (misalnya karena di Ramadhan punya udzur sakit), hal ini dikatakan oleh ulama muta’akhirin (ulama belakangan).” (Hasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1: 579-580)Kenapa sampai mengerjakan puasa Syawal dengan segera setelah 1 Syawal lebih afdhal? Imam Ar-Ramli rahimahullah mengatakan, “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idul Fithri lebih afdhal dikarenakan: (1) lebih segera dalam melakukan ibadah, (2) supaya tidak bertemu dengan halangan yang membuat sulit untuk berpuasa.” (Nihayah Al-Muhtaj, 3: 315) Imam Asy-Syirbini rahimahullah Mughni Al-Muhtaj (1: 654) juga menyatakan hal yang sama.  Daftar Isi tutup 1. 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang Berudzur 2. 2. Makna Pahala Seperti Puasa Setahun 3. 3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara Langsung 4. 4. Fidyah bagi Orang Tua Renta 5. 5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang Puasa 6. 6. Izin Suami bagi Istri 7. 7. Hukum dalam Madzhab Maliki 8. 8. Boleh Membatalkan Puasa Sunnah 9. 9. Tidak Harus Berurutan 10. Nasihat Penutup  Baca juga: Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiiyah 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang BerudzurImam Ibnu Hajar dalam Tuhfah menjelaskan bahwa orang yang memiliki uzur sehingga tidak bisa berpuasa enam hari di bulan Syawal, disunnahkan untuk mengqadhanya di bulan lain.2. Makna Pahala Seperti Puasa SetahunMaksud dari lafaz hadits “seperti berpuasa satu tahun penuh” adalah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa wajib selama satu tahun penuh. Ini adalah bentuk keistimewaan puasa di bulan Syawal.Para ulama menjelaskan, jika seseorang berpuasa enam hari di luar bulan Syawal setelah Ramadhan, ia tetap mendapatkan pahala puasa satu tahun. Namun, ia tidak mendapatkan pahala penuh seperti puasa wajib, melainkan pahala sepuluh bulan puasa wajib dan dua bulan puasa sunnah, berdasarkan kaidah bahwa satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan.Dengan demikian, orang yang setiap tahun berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa wajib sepanjang hidupnya.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan dalam Tuhfah Al-Muhtaj (3: 456), “Siapa yang lakukan puasa Ramadhan lalu mengikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa setahun dengan pahala puasa wajib. Namun siapa yang melakukan puasa enam hari di bulan selain Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun namun dengan ganjaran puasa sunnah.”3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara LangsungTidak ditemukan riwayat bahwa Nabi ﷺ berpuasa enam hari di bulan Syawal. Yang ada adalah riwayat berupa anjuran beliau untuk melakukannya (sunnah qauliyyah).Syaikh ‘Allamah Muhammad Al-Ahdal berkata:لَمْ أَقِفْ بَعْدَ التَّتَبُّعِ لِدَوَاوِينِ السُّنَّةِ الْمَشْهُورَةِ عَلَى حَدِيثٍ يُفِيدُ أَنَّهُ ﷺ صَامَهَا، بَلِ الْوَارِدُ هُوَ التَّرْغِيبُ فِي صَوْمِهَا“Aku tidak menemukan, setelah meneliti kitab-kitab hadits yang masyhur, riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukannya. Yang ada hanyalah anjuran untuk berpuasa tersebut.”Hal ini bisa jadi karena beliau khawatir amalan tersebut dianggap wajib oleh umatnya.4. Fidyah bagi Orang Tua RentaOrang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, jika mengeluarkan fidyah sebanyak 36 mud (30 mud untuk Ramadhan dan 6 mud untuk Syawal), maka ia juga mendapatkan pahala seperti puasa satu tahun. Hal ini dinukil oleh Imam At-Tarmasi dari pendapat Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam.5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang PuasaBagi yang memiliki utang puasa Ramadhan dan ingin berpuasa Syawal, urutan terbaik dari sisi kesempurnaan pahala adalah:Pertama, mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, kemudian berpuasa enam hari Syawal.Kedua, berpuasa Syawal terlebih dahulu, lalu mengqadha di bulan lain. Ini berlaku jika qadha’ puasanya disebabkan karena ada uzur seperti sakit atau safar. Adapun jika qadha’nya tanpa ada uzur, tidak boleh menunda qadha; ia harus menunaikan qadha’ dahulu.Ketiga, menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal.Dalam pilihan ketiga, terdapat khilaf dalam madzhab Syafi’i:Pendapat pertama: qadha di bulan Syawal otomatis mendapatkan pahala Syawal walaupun tanpa niat khusus (Imam Ramli).Pendapat kedua: sah menggabungkan niat keduanya jika sama-sama diniatkan (Imam Ibnu Hajar).Pendapat ketiga: tidak sah menggabungkan keduanya karena masing-masing ibadah berdiri sendiri (Syaikh Abdullah Bamakhramah).Untuk keluar dari ikhtilaf ulama, yang lebih hati-hati adalah memisahkan keduanya.6. Izin Suami bagi IstriSeorang istri boleh berpuasa sunnah enam hari Syawal tanpa izin suami. Namun, jika suami melarang, maka ia tidak boleh berpuasa.7. Hukum dalam Madzhab MalikiDalam madzhab Maliki, kemakruhan puasa enam hari Syawal tidak berlaku secara mutlak. Di antara batasannya, jika dilakukan secara berurutan maka dianggap makruh, sedangkan jika dipisah-pisah tetap dihukumi sunnah.Adapun dalam madzhab Syafi’i, hukumnya sunnah secara mutlak.8. Boleh Membatalkan Puasa SunnahPuasa Syawal boleh dibatalkan walaupun tanpa uzur, sebagaimana ibadah sunnah lainnya. Jika dibatalkan karena uzur seperti sakit atau menjamu tamu, maka waktu puasa yang telah dijalani tetap bernilai pahala.9. Tidak Harus BerurutanPuasa enam hari Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan, walaupun yang lebih utama adalah dikerjakan secara berkesinambungan.(Bahasan sembilan poin di atas dikembangkan dari tulisan Ustadz Amru Hamdany hafizhahullah) Nasihat PenutupDi tengah kesibukan setelah Ramadhan, banyak orang mulai melupakan amalan sunnah yang besar pahalanya. Padahal, puasa Syawal adalah kesempatan emas untuk menjaga semangat ibadah tetap hidup. Jangan sampai kita hanya semangat di Ramadhan, lalu melemah setelahnya. Istiqamah dalam amalan, walau sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada amalan besar namun terputus.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik“Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 9 Syawal 1447 H, 27 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara puasa syawal fidyah puasa fikih puasa syawal fiqih puasa hukum puasa syawal keutamaan puasa syawal niat puasa syawal puasa 6 hari syawal puasa qadha puasa sunnah puasa syawal qadha puasa qadha puasa ramadhan ramadhan utang puasa


Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Banyak kaum muslimin ingin mengamalkannya, namun masih bingung dengan hukum, tata cara, dan beberapa permasalahan yang berkaitan dengannya. Tulisan ini merangkum faidah penting agar ibadah ini bisa dilakukan dengan ilmu dan penuh keyakinan.Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)Imam Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah memberikan alasan kenapa sampai puasa enam hari Syawal mendapatkan pahala puasa setahun, “Karena puasa satu bulan Ramadhan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal, itu sama dengan puasa selama dua bulan. Sehingga totalnya adalah berpuasa selama setahun seperti puasa fardhu. Jika tidak, maka tidak ada kekhususan untuk hal itu. Karena ingat satu kebaikan diberi ganjaran dengan sepuluh kebaikan yang semisal.”Mengenai cara puasa Syawal, Imam Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan, “Yang lebih afdhal, puasa Syawal dilakukan muttashil, langsung setelah sehari setelah shalat ied (2 Syawal). Puasa tersebut juga afdhalnya dilakukan mutatabi’ah, yaitu berturut-turut. Walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari 2 Syawal (tidak muttashil), juga tidak dilakukan berturut-turut (tidak mutatabi’ah), tetap dapat ganjaran puasa setahun. Termasuk juga tetap dapat ganjaran puasa Syawal walau tidak berpuasa Ramadhan (misalnya karena di Ramadhan punya udzur sakit), hal ini dikatakan oleh ulama muta’akhirin (ulama belakangan).” (Hasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1: 579-580)Kenapa sampai mengerjakan puasa Syawal dengan segera setelah 1 Syawal lebih afdhal? Imam Ar-Ramli rahimahullah mengatakan, “Mengerjakan puasa Syawal berturut-turut sehari setelah Idul Fithri lebih afdhal dikarenakan: (1) lebih segera dalam melakukan ibadah, (2) supaya tidak bertemu dengan halangan yang membuat sulit untuk berpuasa.” (Nihayah Al-Muhtaj, 3: 315) Imam Asy-Syirbini rahimahullah Mughni Al-Muhtaj (1: 654) juga menyatakan hal yang sama.  Daftar Isi tutup 1. 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang Berudzur 2. 2. Makna Pahala Seperti Puasa Setahun 3. 3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara Langsung 4. 4. Fidyah bagi Orang Tua Renta 5. 5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang Puasa 6. 6. Izin Suami bagi Istri 7. 7. Hukum dalam Madzhab Maliki 8. 8. Boleh Membatalkan Puasa Sunnah 9. 9. Tidak Harus Berurutan 10. Nasihat Penutup  Baca juga: Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiiyah 1. Mengqadha Puasa Syawal bagi yang BerudzurImam Ibnu Hajar dalam Tuhfah menjelaskan bahwa orang yang memiliki uzur sehingga tidak bisa berpuasa enam hari di bulan Syawal, disunnahkan untuk mengqadhanya di bulan lain.2. Makna Pahala Seperti Puasa SetahunMaksud dari lafaz hadits “seperti berpuasa satu tahun penuh” adalah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa wajib selama satu tahun penuh. Ini adalah bentuk keistimewaan puasa di bulan Syawal.Para ulama menjelaskan, jika seseorang berpuasa enam hari di luar bulan Syawal setelah Ramadhan, ia tetap mendapatkan pahala puasa satu tahun. Namun, ia tidak mendapatkan pahala penuh seperti puasa wajib, melainkan pahala sepuluh bulan puasa wajib dan dua bulan puasa sunnah, berdasarkan kaidah bahwa satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan.Dengan demikian, orang yang setiap tahun berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa wajib sepanjang hidupnya.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan dalam Tuhfah Al-Muhtaj (3: 456), “Siapa yang lakukan puasa Ramadhan lalu mengikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa setahun dengan pahala puasa wajib. Namun siapa yang melakukan puasa enam hari di bulan selain Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun namun dengan ganjaran puasa sunnah.”3. Nabi ﷺ Tidak Tercatat Mengamalkannya Secara LangsungTidak ditemukan riwayat bahwa Nabi ﷺ berpuasa enam hari di bulan Syawal. Yang ada adalah riwayat berupa anjuran beliau untuk melakukannya (sunnah qauliyyah).Syaikh ‘Allamah Muhammad Al-Ahdal berkata:لَمْ أَقِفْ بَعْدَ التَّتَبُّعِ لِدَوَاوِينِ السُّنَّةِ الْمَشْهُورَةِ عَلَى حَدِيثٍ يُفِيدُ أَنَّهُ ﷺ صَامَهَا، بَلِ الْوَارِدُ هُوَ التَّرْغِيبُ فِي صَوْمِهَا“Aku tidak menemukan, setelah meneliti kitab-kitab hadits yang masyhur, riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukannya. Yang ada hanyalah anjuran untuk berpuasa tersebut.”Hal ini bisa jadi karena beliau khawatir amalan tersebut dianggap wajib oleh umatnya.4. Fidyah bagi Orang Tua RentaOrang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, jika mengeluarkan fidyah sebanyak 36 mud (30 mud untuk Ramadhan dan 6 mud untuk Syawal), maka ia juga mendapatkan pahala seperti puasa satu tahun. Hal ini dinukil oleh Imam At-Tarmasi dari pendapat Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam.5. Urutan Terbaik bagi yang Memiliki Utang PuasaBagi yang memiliki utang puasa Ramadhan dan ingin berpuasa Syawal, urutan terbaik dari sisi kesempurnaan pahala adalah:Pertama, mengqadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, kemudian berpuasa enam hari Syawal.Kedua, berpuasa Syawal terlebih dahulu, lalu mengqadha di bulan lain. Ini berlaku jika qadha’ puasanya disebabkan karena ada uzur seperti sakit atau safar. Adapun jika qadha’nya tanpa ada uzur, tidak boleh menunda qadha; ia harus menunaikan qadha’ dahulu.Ketiga, menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal.Dalam pilihan ketiga, terdapat khilaf dalam madzhab Syafi’i:Pendapat pertama: qadha di bulan Syawal otomatis mendapatkan pahala Syawal walaupun tanpa niat khusus (Imam Ramli).Pendapat kedua: sah menggabungkan niat keduanya jika sama-sama diniatkan (Imam Ibnu Hajar).Pendapat ketiga: tidak sah menggabungkan keduanya karena masing-masing ibadah berdiri sendiri (Syaikh Abdullah Bamakhramah).Untuk keluar dari ikhtilaf ulama, yang lebih hati-hati adalah memisahkan keduanya.6. Izin Suami bagi IstriSeorang istri boleh berpuasa sunnah enam hari Syawal tanpa izin suami. Namun, jika suami melarang, maka ia tidak boleh berpuasa.7. Hukum dalam Madzhab MalikiDalam madzhab Maliki, kemakruhan puasa enam hari Syawal tidak berlaku secara mutlak. Di antara batasannya, jika dilakukan secara berurutan maka dianggap makruh, sedangkan jika dipisah-pisah tetap dihukumi sunnah.Adapun dalam madzhab Syafi’i, hukumnya sunnah secara mutlak.8. Boleh Membatalkan Puasa SunnahPuasa Syawal boleh dibatalkan walaupun tanpa uzur, sebagaimana ibadah sunnah lainnya. Jika dibatalkan karena uzur seperti sakit atau menjamu tamu, maka waktu puasa yang telah dijalani tetap bernilai pahala.9. Tidak Harus BerurutanPuasa enam hari Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan, walaupun yang lebih utama adalah dikerjakan secara berkesinambungan.(Bahasan sembilan poin di atas dikembangkan dari tulisan Ustadz Amru Hamdany hafizhahullah) Nasihat PenutupDi tengah kesibukan setelah Ramadhan, banyak orang mulai melupakan amalan sunnah yang besar pahalanya. Padahal, puasa Syawal adalah kesempatan emas untuk menjaga semangat ibadah tetap hidup. Jangan sampai kita hanya semangat di Ramadhan, lalu melemah setelahnya. Istiqamah dalam amalan, walau sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada amalan besar namun terputus.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik“Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 9 Syawal 1447 H, 27 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscara puasa syawal fidyah puasa fikih puasa syawal fiqih puasa hukum puasa syawal keutamaan puasa syawal niat puasa syawal puasa 6 hari syawal puasa qadha puasa sunnah puasa syawal qadha puasa qadha puasa ramadhan ramadhan utang puasa

Tes Akhlak: Ingin Tahu Tabiat Asli Seseorang? Begini Caranya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya selama ia menjadi pembantu beliau. Ia berkata: “Aku menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun, namun beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘Ah!’ kepadaku.” Bahkan sekadar kata “Ah!”—yakni ungkapan kekesalan yang paling ringan—tidak pernah Anas dapati dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Nabi juga tidak pernah menegur: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ atau ‘Mengapa kamu tidak melakukan itu?'” Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang baik dan mulia akhlaknya. Ada sebuah ungkapan: Jika Anda ingin mengetahui akhlak dan tabiat asli seseorang, janganlah menilai dari sikapnya kepada tokoh terpandang atau para pembesar. Namun, lihatlah bagaimana sikapnya terhadap pembantunya. Siapa yang bersikap baik kepada pembantunya,maka itu pertanda bahwa akhlak mulia memang sudah menjadi tabiat aslinya. Sebaliknya, jika ia bersikap buruk kepada pembantu, meski ia tampak baik di hadapan orang lain, maka itu artinya ia bukan benar-benar memiliki akhlak yang mulia. Jadi, apabila Anda mendapati seseorang yang berakhlak mulia terhadap pembantunya, maka sudah pasti sikapnya kepada orang lain akan jauh lebih baik lagi. Apa yang diceritakan Anas ini bukanlah hal yang mengherankan, sebab Allah Ta’ala telah memuji Nabi yang agung ini dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4). Jika Tuhan semesta alam saja memuji beliau demikian, maka tidaklah mengherankan apa yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Cukup sampai di sini pembahasan kita. ===== أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَحْكِي يَعْنِي كَيْفَ يَتَعَامَلُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَعَهُ وَهُوَ خَادِمُهُ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ حَتَّى كَلِمَةُ أُفٍّ أَوْ يَعْنِي أَدْنَى كَلِمَةِ تَضَجُّرٍ مَا وَجَدَهَا مِنَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَلَا قَالَ لِمَ صَنَعْتَ كَذَا؟ أَوْ أَلَا صَنَعْتَ كَذَا؟ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حَسَنَ الْخُلُقِ كَرِيمَ الخُلُقِ وَيَقُولُونَ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ خُلُقَ إِنْسَانٍ وَمَعْدِنَهُ لَا تَنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْوُجَهَاءِ وَلَا مَعَ الرُّؤَسَاءِاُنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْخَدَمِ مَنْ كَانَ حَسَنَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ حَسَنُ الْخُلُقِ بِطَبْعِه أَمَّا إِذَا كَانَ سَيِّئَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ لَكِنَّهُ مَعَ النَّاسِ حَسَنَ التَّعَامُلِ هَذَا مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ مِمَّنْ عِنْدَهُ حُسْنُ الْخُلُقِ وَكَرَمُ الْخُلُقِ فَإِذَا وَجَدْتَ الْإِنْسَانَ كَرِيمَ الْخُلُقِ وَحُسْنَ الْخُلُقِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ سَيَكُونُ حَسَنُ الْخُلُقِ مَعَ غَيْرِهِمْ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَهَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ أَنَسٌ يَعْنِي لَا غَرْوَ فِيهِ وَاللَّهُ تَعَالَى وَصَفَ هَذَا النَّبِيَّ الْعَظِيمَ بِقَوْلِهِ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ إِذَا كَانَ هَذَا وَصْفُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ فَلَا عَجَبَمِمَّا ذَكَرَهُ أَنَسٌ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ هُ وَأَرْضَاهُ وَنَكْتَفِي بِهَذَا الْقَدْرِ

Tes Akhlak: Ingin Tahu Tabiat Asli Seseorang? Begini Caranya! – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya selama ia menjadi pembantu beliau. Ia berkata: “Aku menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun, namun beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘Ah!’ kepadaku.” Bahkan sekadar kata “Ah!”—yakni ungkapan kekesalan yang paling ringan—tidak pernah Anas dapati dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Nabi juga tidak pernah menegur: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ atau ‘Mengapa kamu tidak melakukan itu?'” Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang baik dan mulia akhlaknya. Ada sebuah ungkapan: Jika Anda ingin mengetahui akhlak dan tabiat asli seseorang, janganlah menilai dari sikapnya kepada tokoh terpandang atau para pembesar. Namun, lihatlah bagaimana sikapnya terhadap pembantunya. Siapa yang bersikap baik kepada pembantunya,maka itu pertanda bahwa akhlak mulia memang sudah menjadi tabiat aslinya. Sebaliknya, jika ia bersikap buruk kepada pembantu, meski ia tampak baik di hadapan orang lain, maka itu artinya ia bukan benar-benar memiliki akhlak yang mulia. Jadi, apabila Anda mendapati seseorang yang berakhlak mulia terhadap pembantunya, maka sudah pasti sikapnya kepada orang lain akan jauh lebih baik lagi. Apa yang diceritakan Anas ini bukanlah hal yang mengherankan, sebab Allah Ta’ala telah memuji Nabi yang agung ini dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4). Jika Tuhan semesta alam saja memuji beliau demikian, maka tidaklah mengherankan apa yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Cukup sampai di sini pembahasan kita. ===== أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَحْكِي يَعْنِي كَيْفَ يَتَعَامَلُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَعَهُ وَهُوَ خَادِمُهُ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ حَتَّى كَلِمَةُ أُفٍّ أَوْ يَعْنِي أَدْنَى كَلِمَةِ تَضَجُّرٍ مَا وَجَدَهَا مِنَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَلَا قَالَ لِمَ صَنَعْتَ كَذَا؟ أَوْ أَلَا صَنَعْتَ كَذَا؟ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حَسَنَ الْخُلُقِ كَرِيمَ الخُلُقِ وَيَقُولُونَ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ خُلُقَ إِنْسَانٍ وَمَعْدِنَهُ لَا تَنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْوُجَهَاءِ وَلَا مَعَ الرُّؤَسَاءِاُنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْخَدَمِ مَنْ كَانَ حَسَنَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ حَسَنُ الْخُلُقِ بِطَبْعِه أَمَّا إِذَا كَانَ سَيِّئَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ لَكِنَّهُ مَعَ النَّاسِ حَسَنَ التَّعَامُلِ هَذَا مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ مِمَّنْ عِنْدَهُ حُسْنُ الْخُلُقِ وَكَرَمُ الْخُلُقِ فَإِذَا وَجَدْتَ الْإِنْسَانَ كَرِيمَ الْخُلُقِ وَحُسْنَ الْخُلُقِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ سَيَكُونُ حَسَنُ الْخُلُقِ مَعَ غَيْرِهِمْ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَهَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ أَنَسٌ يَعْنِي لَا غَرْوَ فِيهِ وَاللَّهُ تَعَالَى وَصَفَ هَذَا النَّبِيَّ الْعَظِيمَ بِقَوْلِهِ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ إِذَا كَانَ هَذَا وَصْفُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ فَلَا عَجَبَمِمَّا ذَكَرَهُ أَنَسٌ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ هُ وَأَرْضَاهُ وَنَكْتَفِي بِهَذَا الْقَدْرِ
Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya selama ia menjadi pembantu beliau. Ia berkata: “Aku menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun, namun beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘Ah!’ kepadaku.” Bahkan sekadar kata “Ah!”—yakni ungkapan kekesalan yang paling ringan—tidak pernah Anas dapati dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Nabi juga tidak pernah menegur: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ atau ‘Mengapa kamu tidak melakukan itu?'” Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang baik dan mulia akhlaknya. Ada sebuah ungkapan: Jika Anda ingin mengetahui akhlak dan tabiat asli seseorang, janganlah menilai dari sikapnya kepada tokoh terpandang atau para pembesar. Namun, lihatlah bagaimana sikapnya terhadap pembantunya. Siapa yang bersikap baik kepada pembantunya,maka itu pertanda bahwa akhlak mulia memang sudah menjadi tabiat aslinya. Sebaliknya, jika ia bersikap buruk kepada pembantu, meski ia tampak baik di hadapan orang lain, maka itu artinya ia bukan benar-benar memiliki akhlak yang mulia. Jadi, apabila Anda mendapati seseorang yang berakhlak mulia terhadap pembantunya, maka sudah pasti sikapnya kepada orang lain akan jauh lebih baik lagi. Apa yang diceritakan Anas ini bukanlah hal yang mengherankan, sebab Allah Ta’ala telah memuji Nabi yang agung ini dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4). Jika Tuhan semesta alam saja memuji beliau demikian, maka tidaklah mengherankan apa yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Cukup sampai di sini pembahasan kita. ===== أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَحْكِي يَعْنِي كَيْفَ يَتَعَامَلُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَعَهُ وَهُوَ خَادِمُهُ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ حَتَّى كَلِمَةُ أُفٍّ أَوْ يَعْنِي أَدْنَى كَلِمَةِ تَضَجُّرٍ مَا وَجَدَهَا مِنَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَلَا قَالَ لِمَ صَنَعْتَ كَذَا؟ أَوْ أَلَا صَنَعْتَ كَذَا؟ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حَسَنَ الْخُلُقِ كَرِيمَ الخُلُقِ وَيَقُولُونَ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ خُلُقَ إِنْسَانٍ وَمَعْدِنَهُ لَا تَنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْوُجَهَاءِ وَلَا مَعَ الرُّؤَسَاءِاُنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْخَدَمِ مَنْ كَانَ حَسَنَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ حَسَنُ الْخُلُقِ بِطَبْعِه أَمَّا إِذَا كَانَ سَيِّئَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ لَكِنَّهُ مَعَ النَّاسِ حَسَنَ التَّعَامُلِ هَذَا مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ مِمَّنْ عِنْدَهُ حُسْنُ الْخُلُقِ وَكَرَمُ الْخُلُقِ فَإِذَا وَجَدْتَ الْإِنْسَانَ كَرِيمَ الْخُلُقِ وَحُسْنَ الْخُلُقِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ سَيَكُونُ حَسَنُ الْخُلُقِ مَعَ غَيْرِهِمْ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَهَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ أَنَسٌ يَعْنِي لَا غَرْوَ فِيهِ وَاللَّهُ تَعَالَى وَصَفَ هَذَا النَّبِيَّ الْعَظِيمَ بِقَوْلِهِ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ إِذَا كَانَ هَذَا وَصْفُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ فَلَا عَجَبَمِمَّا ذَكَرَهُ أَنَسٌ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ هُ وَأَرْضَاهُ وَنَكْتَفِي بِهَذَا الْقَدْرِ


Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya selama ia menjadi pembantu beliau. Ia berkata: “Aku menjadi pembantu Nabi selama 10 tahun, namun beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘Ah!’ kepadaku.” Bahkan sekadar kata “Ah!”—yakni ungkapan kekesalan yang paling ringan—tidak pernah Anas dapati dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Nabi juga tidak pernah menegur: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ atau ‘Mengapa kamu tidak melakukan itu?'” Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang baik dan mulia akhlaknya. Ada sebuah ungkapan: Jika Anda ingin mengetahui akhlak dan tabiat asli seseorang, janganlah menilai dari sikapnya kepada tokoh terpandang atau para pembesar. Namun, lihatlah bagaimana sikapnya terhadap pembantunya. Siapa yang bersikap baik kepada pembantunya,maka itu pertanda bahwa akhlak mulia memang sudah menjadi tabiat aslinya. Sebaliknya, jika ia bersikap buruk kepada pembantu, meski ia tampak baik di hadapan orang lain, maka itu artinya ia bukan benar-benar memiliki akhlak yang mulia. Jadi, apabila Anda mendapati seseorang yang berakhlak mulia terhadap pembantunya, maka sudah pasti sikapnya kepada orang lain akan jauh lebih baik lagi. Apa yang diceritakan Anas ini bukanlah hal yang mengherankan, sebab Allah Ta’ala telah memuji Nabi yang agung ini dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4). Jika Tuhan semesta alam saja memuji beliau demikian, maka tidaklah mengherankan apa yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu. Cukup sampai di sini pembahasan kita. ===== أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَحْكِي يَعْنِي كَيْفَ يَتَعَامَلُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَعَهُ وَهُوَ خَادِمُهُ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ حَتَّى كَلِمَةُ أُفٍّ أَوْ يَعْنِي أَدْنَى كَلِمَةِ تَضَجُّرٍ مَا وَجَدَهَا مِنَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَلَا قَالَ لِمَ صَنَعْتَ كَذَا؟ أَوْ أَلَا صَنَعْتَ كَذَا؟ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حَسَنَ الْخُلُقِ كَرِيمَ الخُلُقِ وَيَقُولُونَ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ خُلُقَ إِنْسَانٍ وَمَعْدِنَهُ لَا تَنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْوُجَهَاءِ وَلَا مَعَ الرُّؤَسَاءِاُنْظُرْ لِتَعَامُلِهِ مَعَ الْخَدَمِ مَنْ كَانَ حَسَنَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ حَسَنُ الْخُلُقِ بِطَبْعِه أَمَّا إِذَا كَانَ سَيِّئَ التَّعَامُلِ مَعَ الْخَدَمِ لَكِنَّهُ مَعَ النَّاسِ حَسَنَ التَّعَامُلِ هَذَا مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ مِمَّنْ عِنْدَهُ حُسْنُ الْخُلُقِ وَكَرَمُ الْخُلُقِ فَإِذَا وَجَدْتَ الْإِنْسَانَ كَرِيمَ الْخُلُقِ وَحُسْنَ الْخُلُقِ مَعَ الْخَدَمِ فَمَعْنَى ذَلِكَ سَيَكُونُ حَسَنُ الْخُلُقِ مَعَ غَيْرِهِمْ مِنْ بَابِ أَوْلَى وَهَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ أَنَسٌ يَعْنِي لَا غَرْوَ فِيهِ وَاللَّهُ تَعَالَى وَصَفَ هَذَا النَّبِيَّ الْعَظِيمَ بِقَوْلِهِ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ إِذَا كَانَ هَذَا وَصْفُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَهُ فَلَا عَجَبَمِمَّا ذَكَرَهُ أَنَسٌ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ هُ وَأَرْضَاهُ وَنَكْتَفِي بِهَذَا الْقَدْرِ

Panduan Shalat Saat Sakit: Berdiri, Duduk, atau Berbaring?

Shalat adalah ibadah yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, termasuk saat sakit. Islam memberikan kemudahan sesuai kemampuan hamba tanpa memberatkan. Hadits-hadits berikut menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang tidak mampu melakukannya secara sempurna. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalatبَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِBab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit  Daftar Isi tutup 1. Hadits #442/14 atau #328/62 1.1. Faedah hadits 2. Hadits #443/15 atau #329/63 2.1. Faedah hadits 2.2. Hadits #444/16 atau #301 2.3. Faedah hadits 3. Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang Sakit 3.1. Referensi:  Hadits #442/14 atau #328/62عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي الْنَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلِّ قَائِماً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»، رَوَاهُ الْبُخَارِي.Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan berbaring. Jika tidak mampu, shalatlah dengan isyarat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1117] Faedah hadits1. Hadits ini menunjukkan bahwa orang sakit, jika tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring di atas sisi (miring), dan disunnahkan menghadap kiblat dengan wajahnya.Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Orang sakit shalat dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka di atas sisi, menghadap kiblat. Jika tidak mampu, maka terlentang dengan kedua kaki menghadap kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, sanadnya dhaif).Jika ia mampu memulai shalat dengan berdiri, lalu di tengah shalat ia tidak mampu, maka ia menyempurnakan shalatnya sesuai kemampuannya.2. Hadits ini menunjukkan bahwa pahala (shalat sunnah) bagi orang yang duduk adalah setengah dari pahala orang yang berdiri. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu berdiri namun memilih duduk. Adapun orang yang tidak mampu berdiri (seperti orang sakit), maka ia mendapatkan pahala penuh.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:83-84) Hadits #443/15 atau #329/63عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ الْنَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَرِيضٍ ـ صَلَّى عَلَى وِسَادَةٍ، فَرَمَى بِهَا ـ وَقَالَ: «صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنْ اسْتَطَعْتَ، وَإِلا فَأَوْمِ إِيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ». رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ، وَلَكِنْ صَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang sakit yang shalat di atas bantal, lantas beliau melempar bantal dan bersabda, “Shalatlah di atas tanah bila engkau mampu. Jika tidak, pakailah isyarat dan jadikan isyarat sujudmu lebih rendah dari isyarat rukukmu.”(HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang kuat. Namun, Abu Hatim menganggap hadits ini sahih jika mawquf, jadi perkataan sahabat). [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, 2:306; Ma’rifah As-Sunan wa Al-Atsar, 3:225; Al-Bazzar dalam Mukhtashar Az-Zawaid, 1:275. Hadits ini punya penguat—syahid—dari hadits Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 12:269 dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 8:42. Al-Haitsami mengatakan bahwa perawinya terpercaya, tidak ada perkataan di dalamnya yang mengundang mudarat. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa hadits ini punya berbagai jalan dan penguat—syawahid–. Penilaian bahwa hadits ini hanyalah mawquf, hanya perkataan sahabat, tidaklah mencacatinya. Hadits ini tetap dihukumi marfu’, sedangkan riwayat mawquf menguatkan yang marfu’. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:206-207].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan Dalil Faedah hadits1. Jika orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka janganlah ia menjadikan sesuatu untuk tempat sujudnya, seperti bantal atau kursi di hadapannya.2. Jika orang sakit shalat dengan isyarat (iimaa‘), maka ia membedakan antara rukuk dan sujud. Sujud dibuat lebih rendah daripada rukuk.3. Jika orang sakit mampu berdiri dan rukuk, maka ia shalat dengan duduk. Ia rukuk dan sujud dengan memberi isyarat di mana sujud dijadikan lebih rendah dari rukuk.Jika ia tidak mampu berdiri, maka ia shalat sambil duduk. Ia memberi isyarat untuk rukuk dari posisi berdiri, kemudian memberi isyarat untuk sujud dalam keadaan duduk, lalu ia duduk untuk tasyahud.Allah Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Dan firman-Nya:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (QS. At-Taghābun: 16)Serta sabda Nabi ﷺ: “Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 6858 dan Muslim, no. 1337)4. Hadits ini dan yang sebelumnya menunjukkan bahwa (keringanan) ini berlaku pada shalat sunnah bagi musafir, bukan khusus pada shalat orang sakit saja.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:85-86) Hadits #444/16 atau #301عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعاً. رَوَاهُ النَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan duduk bersila.”(HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [HR. An-Nasai, 3:224; Ibnu Khuzaimah, no. 1238. Hadits ini disahihkan oleh Al-Hakim, 1:275. Imam Adz-Dzahabi tidak berkomentar. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban, 6:256-257. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk Faedah hadits1. Hadits ini menjelaskan bagaimanakah para sahabat mengikuti cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladaninya.2. Jika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri, maka ia shalat dengan duduk sambil duduk bersila. Inilah cara shalat dari orang yang mengerjakan shalat sambil duduk. Orang sakit yang shalat sambil duduk sebenarnya ia boleh shalat dengan cara duduk apa pun. Adapun orang sakit yang shalat dengan duduk, maka pahalanya tidak berkurang, karena ia memiliki uzur.3. Hadits ini menjadi dalil cara duduknya orang yang sakit jika ia shalat sambil duduk, yaitu duduk dengan bersila.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:87-88) Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang SakitDari tiga hadits di atas dapat dirumuskan satu kaidah besar: “Shalat tetap wajib dalam segala kondisi, dan dilaksanakan sesuai kemampuan dengan menjaga perbedaan gerakan semampunya.”Penjelasannya ringkasnya:1. Tidak gugur kewajiban shalatSelama akal masih ada, shalat tetap dikerjakan, meskipun dalam kondisi sakit.2. Dilakukan sesuai kemampuan (bertahap)Berdiri → duduk → berbaring → isyarat, sesuai kemampuan masing-masing.3. Gerakan tetap dibedakan semampunyaJika dengan isyarat, rukuk dan sujud tetap dibedakan (sujud lebih rendah).4. Ada kelonggaran dalam bentuk pelaksanaanCara duduk bebas (dalam hadits disebutkan lebih bagus “bersila”), tanpa memberatkan diri. Baca juga: Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir fiqih shalat hadits shalat keringanan shalat rukuk isyarat shalat berbaring shalat duduk shalat sakit sujud isyarat tata cara shalat sakit

Panduan Shalat Saat Sakit: Berdiri, Duduk, atau Berbaring?

Shalat adalah ibadah yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, termasuk saat sakit. Islam memberikan kemudahan sesuai kemampuan hamba tanpa memberatkan. Hadits-hadits berikut menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang tidak mampu melakukannya secara sempurna. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalatبَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِBab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit  Daftar Isi tutup 1. Hadits #442/14 atau #328/62 1.1. Faedah hadits 2. Hadits #443/15 atau #329/63 2.1. Faedah hadits 2.2. Hadits #444/16 atau #301 2.3. Faedah hadits 3. Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang Sakit 3.1. Referensi:  Hadits #442/14 atau #328/62عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي الْنَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلِّ قَائِماً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»، رَوَاهُ الْبُخَارِي.Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan berbaring. Jika tidak mampu, shalatlah dengan isyarat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1117] Faedah hadits1. Hadits ini menunjukkan bahwa orang sakit, jika tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring di atas sisi (miring), dan disunnahkan menghadap kiblat dengan wajahnya.Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Orang sakit shalat dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka di atas sisi, menghadap kiblat. Jika tidak mampu, maka terlentang dengan kedua kaki menghadap kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, sanadnya dhaif).Jika ia mampu memulai shalat dengan berdiri, lalu di tengah shalat ia tidak mampu, maka ia menyempurnakan shalatnya sesuai kemampuannya.2. Hadits ini menunjukkan bahwa pahala (shalat sunnah) bagi orang yang duduk adalah setengah dari pahala orang yang berdiri. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu berdiri namun memilih duduk. Adapun orang yang tidak mampu berdiri (seperti orang sakit), maka ia mendapatkan pahala penuh.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:83-84) Hadits #443/15 atau #329/63عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ الْنَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَرِيضٍ ـ صَلَّى عَلَى وِسَادَةٍ، فَرَمَى بِهَا ـ وَقَالَ: «صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنْ اسْتَطَعْتَ، وَإِلا فَأَوْمِ إِيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ». رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ، وَلَكِنْ صَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang sakit yang shalat di atas bantal, lantas beliau melempar bantal dan bersabda, “Shalatlah di atas tanah bila engkau mampu. Jika tidak, pakailah isyarat dan jadikan isyarat sujudmu lebih rendah dari isyarat rukukmu.”(HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang kuat. Namun, Abu Hatim menganggap hadits ini sahih jika mawquf, jadi perkataan sahabat). [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, 2:306; Ma’rifah As-Sunan wa Al-Atsar, 3:225; Al-Bazzar dalam Mukhtashar Az-Zawaid, 1:275. Hadits ini punya penguat—syahid—dari hadits Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 12:269 dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 8:42. Al-Haitsami mengatakan bahwa perawinya terpercaya, tidak ada perkataan di dalamnya yang mengundang mudarat. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa hadits ini punya berbagai jalan dan penguat—syawahid–. Penilaian bahwa hadits ini hanyalah mawquf, hanya perkataan sahabat, tidaklah mencacatinya. Hadits ini tetap dihukumi marfu’, sedangkan riwayat mawquf menguatkan yang marfu’. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:206-207].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan Dalil Faedah hadits1. Jika orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka janganlah ia menjadikan sesuatu untuk tempat sujudnya, seperti bantal atau kursi di hadapannya.2. Jika orang sakit shalat dengan isyarat (iimaa‘), maka ia membedakan antara rukuk dan sujud. Sujud dibuat lebih rendah daripada rukuk.3. Jika orang sakit mampu berdiri dan rukuk, maka ia shalat dengan duduk. Ia rukuk dan sujud dengan memberi isyarat di mana sujud dijadikan lebih rendah dari rukuk.Jika ia tidak mampu berdiri, maka ia shalat sambil duduk. Ia memberi isyarat untuk rukuk dari posisi berdiri, kemudian memberi isyarat untuk sujud dalam keadaan duduk, lalu ia duduk untuk tasyahud.Allah Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Dan firman-Nya:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (QS. At-Taghābun: 16)Serta sabda Nabi ﷺ: “Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 6858 dan Muslim, no. 1337)4. Hadits ini dan yang sebelumnya menunjukkan bahwa (keringanan) ini berlaku pada shalat sunnah bagi musafir, bukan khusus pada shalat orang sakit saja.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:85-86) Hadits #444/16 atau #301عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعاً. رَوَاهُ النَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan duduk bersila.”(HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [HR. An-Nasai, 3:224; Ibnu Khuzaimah, no. 1238. Hadits ini disahihkan oleh Al-Hakim, 1:275. Imam Adz-Dzahabi tidak berkomentar. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban, 6:256-257. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk Faedah hadits1. Hadits ini menjelaskan bagaimanakah para sahabat mengikuti cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladaninya.2. Jika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri, maka ia shalat dengan duduk sambil duduk bersila. Inilah cara shalat dari orang yang mengerjakan shalat sambil duduk. Orang sakit yang shalat sambil duduk sebenarnya ia boleh shalat dengan cara duduk apa pun. Adapun orang sakit yang shalat dengan duduk, maka pahalanya tidak berkurang, karena ia memiliki uzur.3. Hadits ini menjadi dalil cara duduknya orang yang sakit jika ia shalat sambil duduk, yaitu duduk dengan bersila.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:87-88) Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang SakitDari tiga hadits di atas dapat dirumuskan satu kaidah besar: “Shalat tetap wajib dalam segala kondisi, dan dilaksanakan sesuai kemampuan dengan menjaga perbedaan gerakan semampunya.”Penjelasannya ringkasnya:1. Tidak gugur kewajiban shalatSelama akal masih ada, shalat tetap dikerjakan, meskipun dalam kondisi sakit.2. Dilakukan sesuai kemampuan (bertahap)Berdiri → duduk → berbaring → isyarat, sesuai kemampuan masing-masing.3. Gerakan tetap dibedakan semampunyaJika dengan isyarat, rukuk dan sujud tetap dibedakan (sujud lebih rendah).4. Ada kelonggaran dalam bentuk pelaksanaanCara duduk bebas (dalam hadits disebutkan lebih bagus “bersila”), tanpa memberatkan diri. Baca juga: Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir fiqih shalat hadits shalat keringanan shalat rukuk isyarat shalat berbaring shalat duduk shalat sakit sujud isyarat tata cara shalat sakit
Shalat adalah ibadah yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, termasuk saat sakit. Islam memberikan kemudahan sesuai kemampuan hamba tanpa memberatkan. Hadits-hadits berikut menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang tidak mampu melakukannya secara sempurna. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalatبَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِBab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit  Daftar Isi tutup 1. Hadits #442/14 atau #328/62 1.1. Faedah hadits 2. Hadits #443/15 atau #329/63 2.1. Faedah hadits 2.2. Hadits #444/16 atau #301 2.3. Faedah hadits 3. Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang Sakit 3.1. Referensi:  Hadits #442/14 atau #328/62عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي الْنَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلِّ قَائِماً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»، رَوَاهُ الْبُخَارِي.Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan berbaring. Jika tidak mampu, shalatlah dengan isyarat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1117] Faedah hadits1. Hadits ini menunjukkan bahwa orang sakit, jika tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring di atas sisi (miring), dan disunnahkan menghadap kiblat dengan wajahnya.Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Orang sakit shalat dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka di atas sisi, menghadap kiblat. Jika tidak mampu, maka terlentang dengan kedua kaki menghadap kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, sanadnya dhaif).Jika ia mampu memulai shalat dengan berdiri, lalu di tengah shalat ia tidak mampu, maka ia menyempurnakan shalatnya sesuai kemampuannya.2. Hadits ini menunjukkan bahwa pahala (shalat sunnah) bagi orang yang duduk adalah setengah dari pahala orang yang berdiri. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu berdiri namun memilih duduk. Adapun orang yang tidak mampu berdiri (seperti orang sakit), maka ia mendapatkan pahala penuh.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:83-84) Hadits #443/15 atau #329/63عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ الْنَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَرِيضٍ ـ صَلَّى عَلَى وِسَادَةٍ، فَرَمَى بِهَا ـ وَقَالَ: «صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنْ اسْتَطَعْتَ، وَإِلا فَأَوْمِ إِيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ». رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ، وَلَكِنْ صَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang sakit yang shalat di atas bantal, lantas beliau melempar bantal dan bersabda, “Shalatlah di atas tanah bila engkau mampu. Jika tidak, pakailah isyarat dan jadikan isyarat sujudmu lebih rendah dari isyarat rukukmu.”(HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang kuat. Namun, Abu Hatim menganggap hadits ini sahih jika mawquf, jadi perkataan sahabat). [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, 2:306; Ma’rifah As-Sunan wa Al-Atsar, 3:225; Al-Bazzar dalam Mukhtashar Az-Zawaid, 1:275. Hadits ini punya penguat—syahid—dari hadits Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 12:269 dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 8:42. Al-Haitsami mengatakan bahwa perawinya terpercaya, tidak ada perkataan di dalamnya yang mengundang mudarat. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa hadits ini punya berbagai jalan dan penguat—syawahid–. Penilaian bahwa hadits ini hanyalah mawquf, hanya perkataan sahabat, tidaklah mencacatinya. Hadits ini tetap dihukumi marfu’, sedangkan riwayat mawquf menguatkan yang marfu’. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:206-207].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan Dalil Faedah hadits1. Jika orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka janganlah ia menjadikan sesuatu untuk tempat sujudnya, seperti bantal atau kursi di hadapannya.2. Jika orang sakit shalat dengan isyarat (iimaa‘), maka ia membedakan antara rukuk dan sujud. Sujud dibuat lebih rendah daripada rukuk.3. Jika orang sakit mampu berdiri dan rukuk, maka ia shalat dengan duduk. Ia rukuk dan sujud dengan memberi isyarat di mana sujud dijadikan lebih rendah dari rukuk.Jika ia tidak mampu berdiri, maka ia shalat sambil duduk. Ia memberi isyarat untuk rukuk dari posisi berdiri, kemudian memberi isyarat untuk sujud dalam keadaan duduk, lalu ia duduk untuk tasyahud.Allah Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Dan firman-Nya:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (QS. At-Taghābun: 16)Serta sabda Nabi ﷺ: “Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 6858 dan Muslim, no. 1337)4. Hadits ini dan yang sebelumnya menunjukkan bahwa (keringanan) ini berlaku pada shalat sunnah bagi musafir, bukan khusus pada shalat orang sakit saja.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:85-86) Hadits #444/16 atau #301عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعاً. رَوَاهُ النَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan duduk bersila.”(HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [HR. An-Nasai, 3:224; Ibnu Khuzaimah, no. 1238. Hadits ini disahihkan oleh Al-Hakim, 1:275. Imam Adz-Dzahabi tidak berkomentar. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban, 6:256-257. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk Faedah hadits1. Hadits ini menjelaskan bagaimanakah para sahabat mengikuti cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladaninya.2. Jika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri, maka ia shalat dengan duduk sambil duduk bersila. Inilah cara shalat dari orang yang mengerjakan shalat sambil duduk. Orang sakit yang shalat sambil duduk sebenarnya ia boleh shalat dengan cara duduk apa pun. Adapun orang sakit yang shalat dengan duduk, maka pahalanya tidak berkurang, karena ia memiliki uzur.3. Hadits ini menjadi dalil cara duduknya orang yang sakit jika ia shalat sambil duduk, yaitu duduk dengan bersila.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:87-88) Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang SakitDari tiga hadits di atas dapat dirumuskan satu kaidah besar: “Shalat tetap wajib dalam segala kondisi, dan dilaksanakan sesuai kemampuan dengan menjaga perbedaan gerakan semampunya.”Penjelasannya ringkasnya:1. Tidak gugur kewajiban shalatSelama akal masih ada, shalat tetap dikerjakan, meskipun dalam kondisi sakit.2. Dilakukan sesuai kemampuan (bertahap)Berdiri → duduk → berbaring → isyarat, sesuai kemampuan masing-masing.3. Gerakan tetap dibedakan semampunyaJika dengan isyarat, rukuk dan sujud tetap dibedakan (sujud lebih rendah).4. Ada kelonggaran dalam bentuk pelaksanaanCara duduk bebas (dalam hadits disebutkan lebih bagus “bersila”), tanpa memberatkan diri. Baca juga: Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir fiqih shalat hadits shalat keringanan shalat rukuk isyarat shalat berbaring shalat duduk shalat sakit sujud isyarat tata cara shalat sakit


Shalat adalah ibadah yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, termasuk saat sakit. Islam memberikan kemudahan sesuai kemampuan hamba tanpa memberatkan. Hadits-hadits berikut menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang tidak mampu melakukannya secara sempurna. Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-AsqalaniKitab Shalatبَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِBab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit  Daftar Isi tutup 1. Hadits #442/14 atau #328/62 1.1. Faedah hadits 2. Hadits #443/15 atau #329/63 2.1. Faedah hadits 2.2. Hadits #444/16 atau #301 2.3. Faedah hadits 3. Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang Sakit 3.1. Referensi:  Hadits #442/14 atau #328/62عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي الْنَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلِّ قَائِماً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»، رَوَاهُ الْبُخَارِي.Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dalam keadaan berbaring. Jika tidak mampu, shalatlah dengan isyarat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1117] Faedah hadits1. Hadits ini menunjukkan bahwa orang sakit, jika tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dengan berbaring di atas sisi (miring), dan disunnahkan menghadap kiblat dengan wajahnya.Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Orang sakit shalat dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu, maka di atas sisi, menghadap kiblat. Jika tidak mampu, maka terlentang dengan kedua kaki menghadap kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, sanadnya dhaif).Jika ia mampu memulai shalat dengan berdiri, lalu di tengah shalat ia tidak mampu, maka ia menyempurnakan shalatnya sesuai kemampuannya.2. Hadits ini menunjukkan bahwa pahala (shalat sunnah) bagi orang yang duduk adalah setengah dari pahala orang yang berdiri. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu berdiri namun memilih duduk. Adapun orang yang tidak mampu berdiri (seperti orang sakit), maka ia mendapatkan pahala penuh.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:83-84) Hadits #443/15 atau #329/63عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ الْنَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَرِيضٍ ـ صَلَّى عَلَى وِسَادَةٍ، فَرَمَى بِهَا ـ وَقَالَ: «صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنْ اسْتَطَعْتَ، وَإِلا فَأَوْمِ إِيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ». رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ، وَلَكِنْ صَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang sakit yang shalat di atas bantal, lantas beliau melempar bantal dan bersabda, “Shalatlah di atas tanah bila engkau mampu. Jika tidak, pakailah isyarat dan jadikan isyarat sujudmu lebih rendah dari isyarat rukukmu.”(HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang kuat. Namun, Abu Hatim menganggap hadits ini sahih jika mawquf, jadi perkataan sahabat). [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, 2:306; Ma’rifah As-Sunan wa Al-Atsar, 3:225; Al-Bazzar dalam Mukhtashar Az-Zawaid, 1:275. Hadits ini punya penguat—syahid—dari hadits Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 12:269 dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 8:42. Al-Haitsami mengatakan bahwa perawinya terpercaya, tidak ada perkataan di dalamnya yang mengundang mudarat. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa hadits ini punya berbagai jalan dan penguat—syawahid–. Penilaian bahwa hadits ini hanyalah mawquf, hanya perkataan sahabat, tidaklah mencacatinya. Hadits ini tetap dihukumi marfu’, sedangkan riwayat mawquf menguatkan yang marfu’. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:206-207].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan Dalil Faedah hadits1. Jika orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka janganlah ia menjadikan sesuatu untuk tempat sujudnya, seperti bantal atau kursi di hadapannya.2. Jika orang sakit shalat dengan isyarat (iimaa‘), maka ia membedakan antara rukuk dan sujud. Sujud dibuat lebih rendah daripada rukuk.3. Jika orang sakit mampu berdiri dan rukuk, maka ia shalat dengan duduk. Ia rukuk dan sujud dengan memberi isyarat di mana sujud dijadikan lebih rendah dari rukuk.Jika ia tidak mampu berdiri, maka ia shalat sambil duduk. Ia memberi isyarat untuk rukuk dari posisi berdiri, kemudian memberi isyarat untuk sujud dalam keadaan duduk, lalu ia duduk untuk tasyahud.Allah Ta’ala berfirman,لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Dan firman-Nya:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.” (QS. At-Taghābun: 16)Serta sabda Nabi ﷺ: “Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 6858 dan Muslim, no. 1337)4. Hadits ini dan yang sebelumnya menunjukkan bahwa (keringanan) ini berlaku pada shalat sunnah bagi musafir, bukan khusus pada shalat orang sakit saja.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:85-86) Hadits #444/16 atau #301عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعاً. رَوَاهُ النَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan duduk bersila.”(HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah) [HR. An-Nasai, 3:224; Ibnu Khuzaimah, no. 1238. Hadits ini disahihkan oleh Al-Hakim, 1:275. Imam Adz-Dzahabi tidak berkomentar. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban, 6:256-257. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih].Baca juga: Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil Duduk Faedah hadits1. Hadits ini menjelaskan bagaimanakah para sahabat mengikuti cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladaninya.2. Jika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri, maka ia shalat dengan duduk sambil duduk bersila. Inilah cara shalat dari orang yang mengerjakan shalat sambil duduk. Orang sakit yang shalat sambil duduk sebenarnya ia boleh shalat dengan cara duduk apa pun. Adapun orang sakit yang shalat dengan duduk, maka pahalanya tidak berkurang, karena ia memiliki uzur.3. Hadits ini menjadi dalil cara duduknya orang yang sakit jika ia shalat sambil duduk, yaitu duduk dengan bersila.(Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah, 2:87-88) Kaidah Ringkas Shalat bagi Orang SakitDari tiga hadits di atas dapat dirumuskan satu kaidah besar: “Shalat tetap wajib dalam segala kondisi, dan dilaksanakan sesuai kemampuan dengan menjaga perbedaan gerakan semampunya.”Penjelasannya ringkasnya:1. Tidak gugur kewajiban shalatSelama akal masih ada, shalat tetap dikerjakan, meskipun dalam kondisi sakit.2. Dilakukan sesuai kemampuan (bertahap)Berdiri → duduk → berbaring → isyarat, sesuai kemampuan masing-masing.3. Gerakan tetap dibedakan semampunyaJika dengan isyarat, rukuk dan sujud tetap dibedakan (sujud lebih rendah).4. Ada kelonggaran dalam bentuk pelaksanaanCara duduk bebas (dalam hadits disebutkan lebih bagus “bersila”), tanpa memberatkan diri. Baca juga: Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat Referensi:Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua.Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. Diselesaikan pada Malam Jumat, 8 Syawal 1447 H, 26 Maret 2026@ Darush Sholihin Panggang GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir fiqih shalat hadits shalat keringanan shalat rukuk isyarat shalat berbaring shalat duduk shalat sakit sujud isyarat tata cara shalat sakit

Kaidah Menjadi Influencer dan Membangun Personal Branding

Daftar Isi ToggleKaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanKaidah kedua: Awas riya’Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiKaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciKaidah keenam: Aib wajib ditutupiKesimpulan kaidahTeladanilah ketawadukanDakwah media sosial dan beragam media kian semarak, sehingga lahir sebuah pekerjaan yang disebut influencer dakwah. Dampak lainnya tidak hanya kian mendekatkan jamaah dengan ilmu, tetapi juga dengan penyerunya. Dakwah tentu sangat butuh dengan kepercayaan objek dakwah terhadap dainya, sebagaimana ini menjadi modal dasar Nabi ﷺ. Namun, di zaman ini, kebaikan profil seseorang itu memiliki cara tersendiri untuk dibentuk dan dikesankan kepada publik. Bidang ini disebut dengan personal branding dan menjadi perhatian banyak orang saat ini. Maka, perlu bagi kita untuk menelaah kaidah-kaidah dalam menjadi influencer yang banyak digandrungi remaja, serta hal yang perlu diperhatikan ketika membangun personal branding.Kaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanNabi ﷺ pernah bersabda,مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa membuat satu sunah yang baik, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu sunah yang buruk, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Sunan Ibnu Majah no. 199)Kita diperintahkan untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita. Tentu menjadi pelopor dan menginspirasi orang lain adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan, sehingga dapat diteladani orang lain. Namun, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa jangan sampai menjadi pelopor keburukan. Bisa jadi ini adalah pintu dosa jariyah bagi kita.Ketika seluruh perbuatan diinformasikan ke ruang publik, maka semuanya lepas dari kendali kita. Baik itu perbuatan baik (mulia), atau juga perbuatan buruk. Maka, berhati-hatilah dari hal ini karena penyebaran (share) hal tersebut tidak dapat kita tahan. Publik tidak punya filter yang sama baiknya untuk menyaring muatan baik maupun buruk.Kaidah kedua: Awas riya’Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulallah? Beliau berkata, “Riya’. Allah Ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepadanya ketika didunia. Lalu lihatlah, apakah kalian menjumpai balasan di sisinya?!'” (HR. Ahmad, 39: 39; no: 2363)Nabi ﷺ pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)Berhati-hatilah atas niat dan maksud kita beramal, sudahkah murni hanya untuk Allah ﷻ? Karena amal yang diterima hanyalah amal yang murni karena Allah ﷻ. Bisa jadi memang amalan kita menginspirasi orang lain atau para follower untuk berbuat baik; tetapi jika niat kita hanya sekadar itu, maka Allah ﷻ akan sia-siakan amalan kita. Ingat! Amalan itu sesuai dengan maksud dan tujuannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Ada seorang wanita, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.’” (HR. Muslim no. 2129)Jangan mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki. Jangan mengesankan diri kita berilmu, padahal kita tidak berilmu. Jangan kesankan kita menghafal sekian juz, beragam mutun, padahal realitanya tidak demikian. Jangan kesankan kita layak dijadikan rujukan ilmu, padahal realitanya tidak. Hal ini yang sering menjangkiti para influencer dakwah yang memiliki media sosial besar. Akhirnya, orang-orang mengira dirinya adalah mufti yang berhak memberikan fatwa, padahal tidaklah demikian.Dampak dari hal ini adalah:Pertama: Jatuh ke dalam berkata-kata tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu. Dan ini sebesar-besarnya dosa menurut Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.Kedua: Tidak mau rujuk dan mengakui kesalahan, karena kadung besar namanya, jadi malu ketika tahu realitanya tidaklah demikian.Ketiga: Malas belajar, karena merasa diri sudah di atas maqam orang kebanyakan, padahal ilmunya tidaklah demikian.Ketahuilah! Mengesankan diri dengan perkara yang sejatinya tidak ada dalam diri kita itu tiada manfaat. Karena kesan manusia pada kita tidak akan menyelamatkan kita di akhirat, justru bisa menjerumuskan. Karena dalam hal tersebut dapat dipastikan ada niat dan tujuan selain Allah ﷻ. Dan niat itu jelas adalah paling minimum syirik kecil, tetapi bisa saja menjadi syirik besar yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ.Kaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaTerdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah; namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526)Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat.” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 892)Baca lebih lanjut:Definisi “Dzul-Wajhain” (Bermuka Dua) yang TercelaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciAllah ﷻ berfirman,فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Dalam Tafsir Al-Muyassar, para ulama menjelaskan, “Jangan menyucikan diri kalian, menyanjung, dan memujinya dengan ketakwaan, karena Dia lebih tahu siapa yang menjaga dirinya dari hukuman-Nya dari hamba-hamba-Nya, lalu tidak berbuat maksiat kepada-Nya.”Kita dilarang untuk mengesankan diri suci dari dosa dan sempurna, sebagaimana yang juga diterangkan dalam beberapa kitab tafsir. Allah ﷻ menjelaskan alasannya karena Allah ﷻ mengetahui dengan detail realita diri kita. Jadi tiada manfaat mengesankan diri hebat, karena sudah pasti kita tidak sempurna. Dan jika manusia memuji seluruhnya, itu semua tidak akan bermanfaat karena satu-satunya penilaian yang bermanfaat adalah penilaian Allah ﷻ.Kaidah keenam: Aib wajib ditutupiJangan karena tidak ingin dikatakan munafik, serta ingin dikesankan jujur dan terbuka, jadi membuka aib yang wajib ditutup. Tidaklah demikian maksud dari orang jujur dalam agama kita. Bahkan, membuka aib itu bisa mendatangkan murka Allah ﷻ dan menghalangi atas pengampunan dosa yang telah Allah ﷻ janjikan.Rasulullah ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendiri). Dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari, kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan.” (HR. Muslim)Apalagi jika sampai berbangga atas dosa yang dilakukan, maka ini dosa yang teramat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)Dalam hadis lain, Allah ﷻ menjadikan perbuatan berbangga dengan maksiat sebagai isyarat dari terjadinya hari kiamat. Dan telah nyata di zaman ini bahwasanya banyak influencer internet yang membanggakan dirinya telah bermaksiat. Bahkan membumbui dengan cerita yang berlebihan. Ini adalah tanda kerusakan yang teramat nyata.Kesimpulan kaidahKesimpulannya, seseorang wajib mencitrakan dirinya baik, tetapi sesuai kadarnya. Bahkan dianjurkan untuk merendahkan sedikit dari level realitanya, inilah yang disebut dengan tawaduk. Mencitrakan diri dengan kebaikan adalah hal baik dan nyata berdampak baik, semisal agar dakwah diterima, dan lain-lain. Namun, perlu berhati-hati agar tidak sampai meninggikan diri melebih levelnya. Bahkan lebih buruk lagi jika berdusta untuk mengesankan diri luar biasa. Bahkan lebih hina lagi jika menjatuhkan orang lain untuk mengesankan diri istimewa.Jadilah orang yang riil, no fake, baik di dunia nyata maupun alam maya. Nabi kita ﷺ memiliki citra baik karena hasil testimoni manusia lainnya. Adapun riwayat yang mana Nabi ﷺ menyebut kebaikan dirinya hanyalah segelintir saja, dan itu dalam rangka tarbiyah. Selebihnya, akhlak dan perbuatan beliau yang berbicara dan dipersaksikan oleh banyak orang, bukan lisan beliau. Beliau diakui kawan maupun lawan, hal ini menunjukkan bahwa pribadi beliau konsisten baik dan riil kebaikannya.Tentu kita hanyalah hamba biasa, yang banyak kekurangan dan alpa, maka tidak layak bagi kita mengesankan kesempurnaan pada profil diri kita. Menjadi pribadi yang riil bukan berarti menzahirkan keburukan aib dan kemaksiatan. Kita tetap diperintahkan untuk menutup aib pribadi. Namun, pembahasan di sini adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang wasatha, di pertengahan, sebagaimana esensi agama kita.Teladanilah ketawadukanPara ulama kita dari zaman sahabat sampai hari ini, terbiasa tawaduk. Mereka seringkali menolak menjawab sebuah pertanyaan dan mengarahkannya kepada orang yang lebih berhak dan lebih berilmu. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang menolak menjawab persoalan yang telah ditujukan kepada Mufti Agung Ibnu Baz rahimahullah di masa itu. Padahal, bisa jadi terdapat faidah-faidah yang beliau berikan, tetapi beliau cukupkan dengan fatwa Syekh Ibnu Baz tersebut. (Referensi: di sini)Sebagian lagi dari mereka tidak mengesankan diri mereka berilmu dengan menyematkan gelar thuwailibul ilmi (penuntut ilmu pemula). Salah satunya yang terkenal mengatakan demikian adalah Syekh Al-Albani rahimahullah, raksasa hadis abad ini. Bahkan sebagian lagi adalah sekelas profesor dalam bidang syariat Islam, menjadi rujukan fatwa dan ilmu, tetapi tetap menyebutkan diri mereka sebagai penuntut ilmu level kecil. Sebagian lagi semangat menuliskan referensi atas tulisan dan ucapannya, karena tidak ingin orang lain mengira ucapan ini datang darinya.Namun, godaan setan selalu naik level mengikuti level orangnya. Bisa jadi kita sudah berusaha memberikan gelar yang mengecilkan diri, tetapi di hati tetap ada rasa ingin dibanggakan orang lain. Sebagian lagi sudah berusaha menuliskan referensi tulisan, tetapi realita di hatinya bukanlah untuk tawaduk, melainkan untuk menunjukkan tingginya level bacaannya. Maka, ini adalah perjuangan sepanjang hayat bagi seorang mukmin untuk melawan riya’ dari setan. Terlebih lagi di zaman media sosial yang membuat semua hal tak lagi menjadi rahasia.Pesan kami bagi para influencer kebaikan, tebarlah kebaikan lillahi Ta’ala. Imbangilah apa yang Anda share dengan memperbanyak amalan sirr (amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain).Baca juga: Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Kaidah Menjadi Influencer dan Membangun Personal Branding

Daftar Isi ToggleKaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanKaidah kedua: Awas riya’Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiKaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciKaidah keenam: Aib wajib ditutupiKesimpulan kaidahTeladanilah ketawadukanDakwah media sosial dan beragam media kian semarak, sehingga lahir sebuah pekerjaan yang disebut influencer dakwah. Dampak lainnya tidak hanya kian mendekatkan jamaah dengan ilmu, tetapi juga dengan penyerunya. Dakwah tentu sangat butuh dengan kepercayaan objek dakwah terhadap dainya, sebagaimana ini menjadi modal dasar Nabi ﷺ. Namun, di zaman ini, kebaikan profil seseorang itu memiliki cara tersendiri untuk dibentuk dan dikesankan kepada publik. Bidang ini disebut dengan personal branding dan menjadi perhatian banyak orang saat ini. Maka, perlu bagi kita untuk menelaah kaidah-kaidah dalam menjadi influencer yang banyak digandrungi remaja, serta hal yang perlu diperhatikan ketika membangun personal branding.Kaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanNabi ﷺ pernah bersabda,مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa membuat satu sunah yang baik, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu sunah yang buruk, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Sunan Ibnu Majah no. 199)Kita diperintahkan untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita. Tentu menjadi pelopor dan menginspirasi orang lain adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan, sehingga dapat diteladani orang lain. Namun, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa jangan sampai menjadi pelopor keburukan. Bisa jadi ini adalah pintu dosa jariyah bagi kita.Ketika seluruh perbuatan diinformasikan ke ruang publik, maka semuanya lepas dari kendali kita. Baik itu perbuatan baik (mulia), atau juga perbuatan buruk. Maka, berhati-hatilah dari hal ini karena penyebaran (share) hal tersebut tidak dapat kita tahan. Publik tidak punya filter yang sama baiknya untuk menyaring muatan baik maupun buruk.Kaidah kedua: Awas riya’Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulallah? Beliau berkata, “Riya’. Allah Ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepadanya ketika didunia. Lalu lihatlah, apakah kalian menjumpai balasan di sisinya?!'” (HR. Ahmad, 39: 39; no: 2363)Nabi ﷺ pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)Berhati-hatilah atas niat dan maksud kita beramal, sudahkah murni hanya untuk Allah ﷻ? Karena amal yang diterima hanyalah amal yang murni karena Allah ﷻ. Bisa jadi memang amalan kita menginspirasi orang lain atau para follower untuk berbuat baik; tetapi jika niat kita hanya sekadar itu, maka Allah ﷻ akan sia-siakan amalan kita. Ingat! Amalan itu sesuai dengan maksud dan tujuannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Ada seorang wanita, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.’” (HR. Muslim no. 2129)Jangan mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki. Jangan mengesankan diri kita berilmu, padahal kita tidak berilmu. Jangan kesankan kita menghafal sekian juz, beragam mutun, padahal realitanya tidak demikian. Jangan kesankan kita layak dijadikan rujukan ilmu, padahal realitanya tidak. Hal ini yang sering menjangkiti para influencer dakwah yang memiliki media sosial besar. Akhirnya, orang-orang mengira dirinya adalah mufti yang berhak memberikan fatwa, padahal tidaklah demikian.Dampak dari hal ini adalah:Pertama: Jatuh ke dalam berkata-kata tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu. Dan ini sebesar-besarnya dosa menurut Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.Kedua: Tidak mau rujuk dan mengakui kesalahan, karena kadung besar namanya, jadi malu ketika tahu realitanya tidaklah demikian.Ketiga: Malas belajar, karena merasa diri sudah di atas maqam orang kebanyakan, padahal ilmunya tidaklah demikian.Ketahuilah! Mengesankan diri dengan perkara yang sejatinya tidak ada dalam diri kita itu tiada manfaat. Karena kesan manusia pada kita tidak akan menyelamatkan kita di akhirat, justru bisa menjerumuskan. Karena dalam hal tersebut dapat dipastikan ada niat dan tujuan selain Allah ﷻ. Dan niat itu jelas adalah paling minimum syirik kecil, tetapi bisa saja menjadi syirik besar yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ.Kaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaTerdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah; namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526)Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat.” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 892)Baca lebih lanjut:Definisi “Dzul-Wajhain” (Bermuka Dua) yang TercelaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciAllah ﷻ berfirman,فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Dalam Tafsir Al-Muyassar, para ulama menjelaskan, “Jangan menyucikan diri kalian, menyanjung, dan memujinya dengan ketakwaan, karena Dia lebih tahu siapa yang menjaga dirinya dari hukuman-Nya dari hamba-hamba-Nya, lalu tidak berbuat maksiat kepada-Nya.”Kita dilarang untuk mengesankan diri suci dari dosa dan sempurna, sebagaimana yang juga diterangkan dalam beberapa kitab tafsir. Allah ﷻ menjelaskan alasannya karena Allah ﷻ mengetahui dengan detail realita diri kita. Jadi tiada manfaat mengesankan diri hebat, karena sudah pasti kita tidak sempurna. Dan jika manusia memuji seluruhnya, itu semua tidak akan bermanfaat karena satu-satunya penilaian yang bermanfaat adalah penilaian Allah ﷻ.Kaidah keenam: Aib wajib ditutupiJangan karena tidak ingin dikatakan munafik, serta ingin dikesankan jujur dan terbuka, jadi membuka aib yang wajib ditutup. Tidaklah demikian maksud dari orang jujur dalam agama kita. Bahkan, membuka aib itu bisa mendatangkan murka Allah ﷻ dan menghalangi atas pengampunan dosa yang telah Allah ﷻ janjikan.Rasulullah ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendiri). Dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari, kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan.” (HR. Muslim)Apalagi jika sampai berbangga atas dosa yang dilakukan, maka ini dosa yang teramat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)Dalam hadis lain, Allah ﷻ menjadikan perbuatan berbangga dengan maksiat sebagai isyarat dari terjadinya hari kiamat. Dan telah nyata di zaman ini bahwasanya banyak influencer internet yang membanggakan dirinya telah bermaksiat. Bahkan membumbui dengan cerita yang berlebihan. Ini adalah tanda kerusakan yang teramat nyata.Kesimpulan kaidahKesimpulannya, seseorang wajib mencitrakan dirinya baik, tetapi sesuai kadarnya. Bahkan dianjurkan untuk merendahkan sedikit dari level realitanya, inilah yang disebut dengan tawaduk. Mencitrakan diri dengan kebaikan adalah hal baik dan nyata berdampak baik, semisal agar dakwah diterima, dan lain-lain. Namun, perlu berhati-hati agar tidak sampai meninggikan diri melebih levelnya. Bahkan lebih buruk lagi jika berdusta untuk mengesankan diri luar biasa. Bahkan lebih hina lagi jika menjatuhkan orang lain untuk mengesankan diri istimewa.Jadilah orang yang riil, no fake, baik di dunia nyata maupun alam maya. Nabi kita ﷺ memiliki citra baik karena hasil testimoni manusia lainnya. Adapun riwayat yang mana Nabi ﷺ menyebut kebaikan dirinya hanyalah segelintir saja, dan itu dalam rangka tarbiyah. Selebihnya, akhlak dan perbuatan beliau yang berbicara dan dipersaksikan oleh banyak orang, bukan lisan beliau. Beliau diakui kawan maupun lawan, hal ini menunjukkan bahwa pribadi beliau konsisten baik dan riil kebaikannya.Tentu kita hanyalah hamba biasa, yang banyak kekurangan dan alpa, maka tidak layak bagi kita mengesankan kesempurnaan pada profil diri kita. Menjadi pribadi yang riil bukan berarti menzahirkan keburukan aib dan kemaksiatan. Kita tetap diperintahkan untuk menutup aib pribadi. Namun, pembahasan di sini adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang wasatha, di pertengahan, sebagaimana esensi agama kita.Teladanilah ketawadukanPara ulama kita dari zaman sahabat sampai hari ini, terbiasa tawaduk. Mereka seringkali menolak menjawab sebuah pertanyaan dan mengarahkannya kepada orang yang lebih berhak dan lebih berilmu. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang menolak menjawab persoalan yang telah ditujukan kepada Mufti Agung Ibnu Baz rahimahullah di masa itu. Padahal, bisa jadi terdapat faidah-faidah yang beliau berikan, tetapi beliau cukupkan dengan fatwa Syekh Ibnu Baz tersebut. (Referensi: di sini)Sebagian lagi dari mereka tidak mengesankan diri mereka berilmu dengan menyematkan gelar thuwailibul ilmi (penuntut ilmu pemula). Salah satunya yang terkenal mengatakan demikian adalah Syekh Al-Albani rahimahullah, raksasa hadis abad ini. Bahkan sebagian lagi adalah sekelas profesor dalam bidang syariat Islam, menjadi rujukan fatwa dan ilmu, tetapi tetap menyebutkan diri mereka sebagai penuntut ilmu level kecil. Sebagian lagi semangat menuliskan referensi atas tulisan dan ucapannya, karena tidak ingin orang lain mengira ucapan ini datang darinya.Namun, godaan setan selalu naik level mengikuti level orangnya. Bisa jadi kita sudah berusaha memberikan gelar yang mengecilkan diri, tetapi di hati tetap ada rasa ingin dibanggakan orang lain. Sebagian lagi sudah berusaha menuliskan referensi tulisan, tetapi realita di hatinya bukanlah untuk tawaduk, melainkan untuk menunjukkan tingginya level bacaannya. Maka, ini adalah perjuangan sepanjang hayat bagi seorang mukmin untuk melawan riya’ dari setan. Terlebih lagi di zaman media sosial yang membuat semua hal tak lagi menjadi rahasia.Pesan kami bagi para influencer kebaikan, tebarlah kebaikan lillahi Ta’ala. Imbangilah apa yang Anda share dengan memperbanyak amalan sirr (amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain).Baca juga: Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanKaidah kedua: Awas riya’Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiKaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciKaidah keenam: Aib wajib ditutupiKesimpulan kaidahTeladanilah ketawadukanDakwah media sosial dan beragam media kian semarak, sehingga lahir sebuah pekerjaan yang disebut influencer dakwah. Dampak lainnya tidak hanya kian mendekatkan jamaah dengan ilmu, tetapi juga dengan penyerunya. Dakwah tentu sangat butuh dengan kepercayaan objek dakwah terhadap dainya, sebagaimana ini menjadi modal dasar Nabi ﷺ. Namun, di zaman ini, kebaikan profil seseorang itu memiliki cara tersendiri untuk dibentuk dan dikesankan kepada publik. Bidang ini disebut dengan personal branding dan menjadi perhatian banyak orang saat ini. Maka, perlu bagi kita untuk menelaah kaidah-kaidah dalam menjadi influencer yang banyak digandrungi remaja, serta hal yang perlu diperhatikan ketika membangun personal branding.Kaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanNabi ﷺ pernah bersabda,مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa membuat satu sunah yang baik, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu sunah yang buruk, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Sunan Ibnu Majah no. 199)Kita diperintahkan untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita. Tentu menjadi pelopor dan menginspirasi orang lain adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan, sehingga dapat diteladani orang lain. Namun, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa jangan sampai menjadi pelopor keburukan. Bisa jadi ini adalah pintu dosa jariyah bagi kita.Ketika seluruh perbuatan diinformasikan ke ruang publik, maka semuanya lepas dari kendali kita. Baik itu perbuatan baik (mulia), atau juga perbuatan buruk. Maka, berhati-hatilah dari hal ini karena penyebaran (share) hal tersebut tidak dapat kita tahan. Publik tidak punya filter yang sama baiknya untuk menyaring muatan baik maupun buruk.Kaidah kedua: Awas riya’Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulallah? Beliau berkata, “Riya’. Allah Ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepadanya ketika didunia. Lalu lihatlah, apakah kalian menjumpai balasan di sisinya?!'” (HR. Ahmad, 39: 39; no: 2363)Nabi ﷺ pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)Berhati-hatilah atas niat dan maksud kita beramal, sudahkah murni hanya untuk Allah ﷻ? Karena amal yang diterima hanyalah amal yang murni karena Allah ﷻ. Bisa jadi memang amalan kita menginspirasi orang lain atau para follower untuk berbuat baik; tetapi jika niat kita hanya sekadar itu, maka Allah ﷻ akan sia-siakan amalan kita. Ingat! Amalan itu sesuai dengan maksud dan tujuannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Ada seorang wanita, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.’” (HR. Muslim no. 2129)Jangan mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki. Jangan mengesankan diri kita berilmu, padahal kita tidak berilmu. Jangan kesankan kita menghafal sekian juz, beragam mutun, padahal realitanya tidak demikian. Jangan kesankan kita layak dijadikan rujukan ilmu, padahal realitanya tidak. Hal ini yang sering menjangkiti para influencer dakwah yang memiliki media sosial besar. Akhirnya, orang-orang mengira dirinya adalah mufti yang berhak memberikan fatwa, padahal tidaklah demikian.Dampak dari hal ini adalah:Pertama: Jatuh ke dalam berkata-kata tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu. Dan ini sebesar-besarnya dosa menurut Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.Kedua: Tidak mau rujuk dan mengakui kesalahan, karena kadung besar namanya, jadi malu ketika tahu realitanya tidaklah demikian.Ketiga: Malas belajar, karena merasa diri sudah di atas maqam orang kebanyakan, padahal ilmunya tidaklah demikian.Ketahuilah! Mengesankan diri dengan perkara yang sejatinya tidak ada dalam diri kita itu tiada manfaat. Karena kesan manusia pada kita tidak akan menyelamatkan kita di akhirat, justru bisa menjerumuskan. Karena dalam hal tersebut dapat dipastikan ada niat dan tujuan selain Allah ﷻ. Dan niat itu jelas adalah paling minimum syirik kecil, tetapi bisa saja menjadi syirik besar yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ.Kaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaTerdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah; namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526)Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat.” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 892)Baca lebih lanjut:Definisi “Dzul-Wajhain” (Bermuka Dua) yang TercelaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciAllah ﷻ berfirman,فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Dalam Tafsir Al-Muyassar, para ulama menjelaskan, “Jangan menyucikan diri kalian, menyanjung, dan memujinya dengan ketakwaan, karena Dia lebih tahu siapa yang menjaga dirinya dari hukuman-Nya dari hamba-hamba-Nya, lalu tidak berbuat maksiat kepada-Nya.”Kita dilarang untuk mengesankan diri suci dari dosa dan sempurna, sebagaimana yang juga diterangkan dalam beberapa kitab tafsir. Allah ﷻ menjelaskan alasannya karena Allah ﷻ mengetahui dengan detail realita diri kita. Jadi tiada manfaat mengesankan diri hebat, karena sudah pasti kita tidak sempurna. Dan jika manusia memuji seluruhnya, itu semua tidak akan bermanfaat karena satu-satunya penilaian yang bermanfaat adalah penilaian Allah ﷻ.Kaidah keenam: Aib wajib ditutupiJangan karena tidak ingin dikatakan munafik, serta ingin dikesankan jujur dan terbuka, jadi membuka aib yang wajib ditutup. Tidaklah demikian maksud dari orang jujur dalam agama kita. Bahkan, membuka aib itu bisa mendatangkan murka Allah ﷻ dan menghalangi atas pengampunan dosa yang telah Allah ﷻ janjikan.Rasulullah ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendiri). Dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari, kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan.” (HR. Muslim)Apalagi jika sampai berbangga atas dosa yang dilakukan, maka ini dosa yang teramat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)Dalam hadis lain, Allah ﷻ menjadikan perbuatan berbangga dengan maksiat sebagai isyarat dari terjadinya hari kiamat. Dan telah nyata di zaman ini bahwasanya banyak influencer internet yang membanggakan dirinya telah bermaksiat. Bahkan membumbui dengan cerita yang berlebihan. Ini adalah tanda kerusakan yang teramat nyata.Kesimpulan kaidahKesimpulannya, seseorang wajib mencitrakan dirinya baik, tetapi sesuai kadarnya. Bahkan dianjurkan untuk merendahkan sedikit dari level realitanya, inilah yang disebut dengan tawaduk. Mencitrakan diri dengan kebaikan adalah hal baik dan nyata berdampak baik, semisal agar dakwah diterima, dan lain-lain. Namun, perlu berhati-hati agar tidak sampai meninggikan diri melebih levelnya. Bahkan lebih buruk lagi jika berdusta untuk mengesankan diri luar biasa. Bahkan lebih hina lagi jika menjatuhkan orang lain untuk mengesankan diri istimewa.Jadilah orang yang riil, no fake, baik di dunia nyata maupun alam maya. Nabi kita ﷺ memiliki citra baik karena hasil testimoni manusia lainnya. Adapun riwayat yang mana Nabi ﷺ menyebut kebaikan dirinya hanyalah segelintir saja, dan itu dalam rangka tarbiyah. Selebihnya, akhlak dan perbuatan beliau yang berbicara dan dipersaksikan oleh banyak orang, bukan lisan beliau. Beliau diakui kawan maupun lawan, hal ini menunjukkan bahwa pribadi beliau konsisten baik dan riil kebaikannya.Tentu kita hanyalah hamba biasa, yang banyak kekurangan dan alpa, maka tidak layak bagi kita mengesankan kesempurnaan pada profil diri kita. Menjadi pribadi yang riil bukan berarti menzahirkan keburukan aib dan kemaksiatan. Kita tetap diperintahkan untuk menutup aib pribadi. Namun, pembahasan di sini adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang wasatha, di pertengahan, sebagaimana esensi agama kita.Teladanilah ketawadukanPara ulama kita dari zaman sahabat sampai hari ini, terbiasa tawaduk. Mereka seringkali menolak menjawab sebuah pertanyaan dan mengarahkannya kepada orang yang lebih berhak dan lebih berilmu. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang menolak menjawab persoalan yang telah ditujukan kepada Mufti Agung Ibnu Baz rahimahullah di masa itu. Padahal, bisa jadi terdapat faidah-faidah yang beliau berikan, tetapi beliau cukupkan dengan fatwa Syekh Ibnu Baz tersebut. (Referensi: di sini)Sebagian lagi dari mereka tidak mengesankan diri mereka berilmu dengan menyematkan gelar thuwailibul ilmi (penuntut ilmu pemula). Salah satunya yang terkenal mengatakan demikian adalah Syekh Al-Albani rahimahullah, raksasa hadis abad ini. Bahkan sebagian lagi adalah sekelas profesor dalam bidang syariat Islam, menjadi rujukan fatwa dan ilmu, tetapi tetap menyebutkan diri mereka sebagai penuntut ilmu level kecil. Sebagian lagi semangat menuliskan referensi atas tulisan dan ucapannya, karena tidak ingin orang lain mengira ucapan ini datang darinya.Namun, godaan setan selalu naik level mengikuti level orangnya. Bisa jadi kita sudah berusaha memberikan gelar yang mengecilkan diri, tetapi di hati tetap ada rasa ingin dibanggakan orang lain. Sebagian lagi sudah berusaha menuliskan referensi tulisan, tetapi realita di hatinya bukanlah untuk tawaduk, melainkan untuk menunjukkan tingginya level bacaannya. Maka, ini adalah perjuangan sepanjang hayat bagi seorang mukmin untuk melawan riya’ dari setan. Terlebih lagi di zaman media sosial yang membuat semua hal tak lagi menjadi rahasia.Pesan kami bagi para influencer kebaikan, tebarlah kebaikan lillahi Ta’ala. Imbangilah apa yang Anda share dengan memperbanyak amalan sirr (amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain).Baca juga: Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanKaidah kedua: Awas riya’Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiKaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaKaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciKaidah keenam: Aib wajib ditutupiKesimpulan kaidahTeladanilah ketawadukanDakwah media sosial dan beragam media kian semarak, sehingga lahir sebuah pekerjaan yang disebut influencer dakwah. Dampak lainnya tidak hanya kian mendekatkan jamaah dengan ilmu, tetapi juga dengan penyerunya. Dakwah tentu sangat butuh dengan kepercayaan objek dakwah terhadap dainya, sebagaimana ini menjadi modal dasar Nabi ﷺ. Namun, di zaman ini, kebaikan profil seseorang itu memiliki cara tersendiri untuk dibentuk dan dikesankan kepada publik. Bidang ini disebut dengan personal branding dan menjadi perhatian banyak orang saat ini. Maka, perlu bagi kita untuk menelaah kaidah-kaidah dalam menjadi influencer yang banyak digandrungi remaja, serta hal yang perlu diperhatikan ketika membangun personal branding.Kaidah pertama: Jadilah pelopor kebaikan, hati-hati dari menjadi pelopor keburukanNabi ﷺ pernah bersabda,مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا“Barangsiapa membuat satu sunah yang baik, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat satu sunah yang buruk, kemudian sunah tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Sunan Ibnu Majah no. 199)Kita diperintahkan untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita. Tentu menjadi pelopor dan menginspirasi orang lain adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan, sehingga dapat diteladani orang lain. Namun, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa jangan sampai menjadi pelopor keburukan. Bisa jadi ini adalah pintu dosa jariyah bagi kita.Ketika seluruh perbuatan diinformasikan ke ruang publik, maka semuanya lepas dari kendali kita. Baik itu perbuatan baik (mulia), atau juga perbuatan buruk. Maka, berhati-hatilah dari hal ini karena penyebaran (share) hal tersebut tidak dapat kita tahan. Publik tidak punya filter yang sama baiknya untuk menyaring muatan baik maupun buruk.Kaidah kedua: Awas riya’Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً“Sesungguhnya tidak ada yang paling aku khawatirkan atas kalian daripada syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulallah? Beliau berkata, “Riya’. Allah Ta’ala kelak akan berkata pada hari kiamat apabila manusia telah menerima balasan selaras amalannya masing-masing, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepadanya ketika didunia. Lalu lihatlah, apakah kalian menjumpai balasan di sisinya?!'” (HR. Ahmad, 39: 39; no: 2363)Nabi ﷺ pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)Berhati-hatilah atas niat dan maksud kita beramal, sudahkah murni hanya untuk Allah ﷻ? Karena amal yang diterima hanyalah amal yang murni karena Allah ﷻ. Bisa jadi memang amalan kita menginspirasi orang lain atau para follower untuk berbuat baik; tetapi jika niat kita hanya sekadar itu, maka Allah ﷻ akan sia-siakan amalan kita. Ingat! Amalan itu sesuai dengan maksud dan tujuannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.Kaidah ketiga: Jangan mengesankan memiliki apa yang tidak kita milikiAisyah radhiyallahu ‘anha berkata,أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Ada seorang wanita, ia berkata, ”Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.’” (HR. Muslim no. 2129)Jangan mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki. Jangan mengesankan diri kita berilmu, padahal kita tidak berilmu. Jangan kesankan kita menghafal sekian juz, beragam mutun, padahal realitanya tidak demikian. Jangan kesankan kita layak dijadikan rujukan ilmu, padahal realitanya tidak. Hal ini yang sering menjangkiti para influencer dakwah yang memiliki media sosial besar. Akhirnya, orang-orang mengira dirinya adalah mufti yang berhak memberikan fatwa, padahal tidaklah demikian.Dampak dari hal ini adalah:Pertama: Jatuh ke dalam berkata-kata tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu. Dan ini sebesar-besarnya dosa menurut Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin.Kedua: Tidak mau rujuk dan mengakui kesalahan, karena kadung besar namanya, jadi malu ketika tahu realitanya tidaklah demikian.Ketiga: Malas belajar, karena merasa diri sudah di atas maqam orang kebanyakan, padahal ilmunya tidaklah demikian.Ketahuilah! Mengesankan diri dengan perkara yang sejatinya tidak ada dalam diri kita itu tiada manfaat. Karena kesan manusia pada kita tidak akan menyelamatkan kita di akhirat, justru bisa menjerumuskan. Karena dalam hal tersebut dapat dipastikan ada niat dan tujuan selain Allah ﷻ. Dan niat itu jelas adalah paling minimum syirik kecil, tetapi bisa saja menjadi syirik besar yang mengundang kemurkaan Allah ﷻ.Kaidah keempat: Jangan sampai bermuka duaTerdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah; namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526)Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat.” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 892)Baca lebih lanjut:Definisi “Dzul-Wajhain” (Bermuka Dua) yang Tercela<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Definisi &#8220;Dzul-Wajhain&#8221; (Bermuka Dua) yang Tercela&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/72029-definisi-dzul-wajhain-bermuka-dua-yang-tercela.html/embed#?secret=AYHXCgJ83c#?secret=XlQMCkyQ0b" data-secret="XlQMCkyQ0b" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Kaidah kelima: Jangan mengklaim diri suciAllah ﷻ berfirman,فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Dalam Tafsir Al-Muyassar, para ulama menjelaskan, “Jangan menyucikan diri kalian, menyanjung, dan memujinya dengan ketakwaan, karena Dia lebih tahu siapa yang menjaga dirinya dari hukuman-Nya dari hamba-hamba-Nya, lalu tidak berbuat maksiat kepada-Nya.”Kita dilarang untuk mengesankan diri suci dari dosa dan sempurna, sebagaimana yang juga diterangkan dalam beberapa kitab tafsir. Allah ﷻ menjelaskan alasannya karena Allah ﷻ mengetahui dengan detail realita diri kita. Jadi tiada manfaat mengesankan diri hebat, karena sudah pasti kita tidak sempurna. Dan jika manusia memuji seluruhnya, itu semua tidak akan bermanfaat karena satu-satunya penilaian yang bermanfaat adalah penilaian Allah ﷻ.Kaidah keenam: Aib wajib ditutupiJangan karena tidak ingin dikatakan munafik, serta ingin dikesankan jujur dan terbuka, jadi membuka aib yang wajib ditutup. Tidaklah demikian maksud dari orang jujur dalam agama kita. Bahkan, membuka aib itu bisa mendatangkan murka Allah ﷻ dan menghalangi atas pengampunan dosa yang telah Allah ﷻ janjikan.Rasulullah ﷺ bersabda,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendiri). Dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari, kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan.” (HR. Muslim)Apalagi jika sampai berbangga atas dosa yang dilakukan, maka ini dosa yang teramat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)Dalam hadis lain, Allah ﷻ menjadikan perbuatan berbangga dengan maksiat sebagai isyarat dari terjadinya hari kiamat. Dan telah nyata di zaman ini bahwasanya banyak influencer internet yang membanggakan dirinya telah bermaksiat. Bahkan membumbui dengan cerita yang berlebihan. Ini adalah tanda kerusakan yang teramat nyata.Kesimpulan kaidahKesimpulannya, seseorang wajib mencitrakan dirinya baik, tetapi sesuai kadarnya. Bahkan dianjurkan untuk merendahkan sedikit dari level realitanya, inilah yang disebut dengan tawaduk. Mencitrakan diri dengan kebaikan adalah hal baik dan nyata berdampak baik, semisal agar dakwah diterima, dan lain-lain. Namun, perlu berhati-hati agar tidak sampai meninggikan diri melebih levelnya. Bahkan lebih buruk lagi jika berdusta untuk mengesankan diri luar biasa. Bahkan lebih hina lagi jika menjatuhkan orang lain untuk mengesankan diri istimewa.Jadilah orang yang riil, no fake, baik di dunia nyata maupun alam maya. Nabi kita ﷺ memiliki citra baik karena hasil testimoni manusia lainnya. Adapun riwayat yang mana Nabi ﷺ menyebut kebaikan dirinya hanyalah segelintir saja, dan itu dalam rangka tarbiyah. Selebihnya, akhlak dan perbuatan beliau yang berbicara dan dipersaksikan oleh banyak orang, bukan lisan beliau. Beliau diakui kawan maupun lawan, hal ini menunjukkan bahwa pribadi beliau konsisten baik dan riil kebaikannya.Tentu kita hanyalah hamba biasa, yang banyak kekurangan dan alpa, maka tidak layak bagi kita mengesankan kesempurnaan pada profil diri kita. Menjadi pribadi yang riil bukan berarti menzahirkan keburukan aib dan kemaksiatan. Kita tetap diperintahkan untuk menutup aib pribadi. Namun, pembahasan di sini adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang wasatha, di pertengahan, sebagaimana esensi agama kita.Teladanilah ketawadukanPara ulama kita dari zaman sahabat sampai hari ini, terbiasa tawaduk. Mereka seringkali menolak menjawab sebuah pertanyaan dan mengarahkannya kepada orang yang lebih berhak dan lebih berilmu. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang menolak menjawab persoalan yang telah ditujukan kepada Mufti Agung Ibnu Baz rahimahullah di masa itu. Padahal, bisa jadi terdapat faidah-faidah yang beliau berikan, tetapi beliau cukupkan dengan fatwa Syekh Ibnu Baz tersebut. (Referensi: di sini)Sebagian lagi dari mereka tidak mengesankan diri mereka berilmu dengan menyematkan gelar thuwailibul ilmi (penuntut ilmu pemula). Salah satunya yang terkenal mengatakan demikian adalah Syekh Al-Albani rahimahullah, raksasa hadis abad ini. Bahkan sebagian lagi adalah sekelas profesor dalam bidang syariat Islam, menjadi rujukan fatwa dan ilmu, tetapi tetap menyebutkan diri mereka sebagai penuntut ilmu level kecil. Sebagian lagi semangat menuliskan referensi atas tulisan dan ucapannya, karena tidak ingin orang lain mengira ucapan ini datang darinya.Namun, godaan setan selalu naik level mengikuti level orangnya. Bisa jadi kita sudah berusaha memberikan gelar yang mengecilkan diri, tetapi di hati tetap ada rasa ingin dibanggakan orang lain. Sebagian lagi sudah berusaha menuliskan referensi tulisan, tetapi realita di hatinya bukanlah untuk tawaduk, melainkan untuk menunjukkan tingginya level bacaannya. Maka, ini adalah perjuangan sepanjang hayat bagi seorang mukmin untuk melawan riya’ dari setan. Terlebih lagi di zaman media sosial yang membuat semua hal tak lagi menjadi rahasia.Pesan kami bagi para influencer kebaikan, tebarlah kebaikan lillahi Ta’ala. Imbangilah apa yang Anda share dengan memperbanyak amalan sirr (amalan rahasia yang tidak diketahui orang lain).Baca juga: Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Dihina di Medsos? Lakukan Jurus “Berpaling” Ini Agar Hati Tetap Tenang – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam menghadapi gangguan, kita mengenal tingkatan “berpaling dari orang-orang bodoh”, serta tingkatan “membalas keburukan dengan kebaikan”. Jika Anda mampu, gapailah tingkatan membalas keburukan dengan kebaikan. Contohnya, jika ada orang yang mencela atau memaki Anda, balaslah dengan ucapan: “Semoga Allah memaafkan Anda, mengampuni Anda, dan membalas Anda dengan kebaikan.” Inilah cara membalas keburukan dengan kebaikan. Namun, jika Anda belum mampu sampai ke tingkatan tersebut, minimal berpalinglah darinya. Cukup tinggalkan dan jangan hiraukan dia. Hal serupa juga berlaku dalam interaksi di media sosial. Terkadang kita menjumpai orang-orang yang bersikap bodoh dan kurang akal, maka jangan terpancing untuk menanggapinya. Jangan tanggapi, lebih baik berpaling saja. Sikap “berpaling” di zaman sekarang ini contoh nyatanya apa? Yaitu memblokir. Cukup blokir dia, maka Anda pun akan merasa tenang. Ini termasuk bentuk sikap berpaling dari orang-orang yang kurang akal. Adapun jika Anda meladeninya dalam perdebatan atau keributan, maka Anda telah menurunkan derajat akhlak Anda ke tingkat akhlaknya. Seperti yang telah saya katakan, orang-orang tidak lagi dapat membedakan antara dirimu dan dirinya. Jika Anda terus berdebat dan cekcok dengan orang yang kurang akal, pada akhirnya orang-orang tidak dapat membedakan dirimu dengan dirinya. ===== فَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَصِلَ إِلَى دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ مِثْلُ هَذَا الَّذِي يَسُبُّكَ وَيَشْتِمُكَ تَقُولُ عَفَا اللَّهُ عَنْكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا تَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعِ الْوُصُولَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ تُعْرِضَ عَنْهُ أَعْرِضْ عَنْهُ وَاتْرُكْهُ وَمِثْلُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ قَدْ يُوجَدُ بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُمْ شَيْئًا مِنْ الْحُمْقِ وَالسَّفَهِ فَهُنَا لَا يُجَارِيهِمُ الْإِنْسَانُ لَا يُجَارِيهِمْ يُعْرِضُ عَنْهُمْ الْإِعْرَاضُ يَعْنِي فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُمَثِّلُ مَاذَا؟ مِثْلُ الْحَذْرِ تَحْذَرُهُ وَتَسْتَرِيحُ مِنْهُ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ فَأَمَّا أَنْ تَدْخُلَ مَعَهُ فِي نِقَاشٍ تَدْخُلُ مَعَهُ فِي إِشْكَالَاتٍفَإِنَّكَ تُنْزِلُ أَخْلَاقَكَ إِلَى مُسْتَوَى أَخْلَ اقِهِ وَكَمَا ذَكَرْتُ يَعْنِي أَنَّ النَّاسَ لَنْ تُفَرِّقَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ إِذَا تَخَاصَمْتَ وَجَادَلْتَ الْأَحْمَقَ فِي النِّهَايَةِ النَّاسُ مَا تُفَرِّقُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

Dihina di Medsos? Lakukan Jurus “Berpaling” Ini Agar Hati Tetap Tenang – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Dalam menghadapi gangguan, kita mengenal tingkatan “berpaling dari orang-orang bodoh”, serta tingkatan “membalas keburukan dengan kebaikan”. Jika Anda mampu, gapailah tingkatan membalas keburukan dengan kebaikan. Contohnya, jika ada orang yang mencela atau memaki Anda, balaslah dengan ucapan: “Semoga Allah memaafkan Anda, mengampuni Anda, dan membalas Anda dengan kebaikan.” Inilah cara membalas keburukan dengan kebaikan. Namun, jika Anda belum mampu sampai ke tingkatan tersebut, minimal berpalinglah darinya. Cukup tinggalkan dan jangan hiraukan dia. Hal serupa juga berlaku dalam interaksi di media sosial. Terkadang kita menjumpai orang-orang yang bersikap bodoh dan kurang akal, maka jangan terpancing untuk menanggapinya. Jangan tanggapi, lebih baik berpaling saja. Sikap “berpaling” di zaman sekarang ini contoh nyatanya apa? Yaitu memblokir. Cukup blokir dia, maka Anda pun akan merasa tenang. Ini termasuk bentuk sikap berpaling dari orang-orang yang kurang akal. Adapun jika Anda meladeninya dalam perdebatan atau keributan, maka Anda telah menurunkan derajat akhlak Anda ke tingkat akhlaknya. Seperti yang telah saya katakan, orang-orang tidak lagi dapat membedakan antara dirimu dan dirinya. Jika Anda terus berdebat dan cekcok dengan orang yang kurang akal, pada akhirnya orang-orang tidak dapat membedakan dirimu dengan dirinya. ===== فَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَصِلَ إِلَى دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ مِثْلُ هَذَا الَّذِي يَسُبُّكَ وَيَشْتِمُكَ تَقُولُ عَفَا اللَّهُ عَنْكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا تَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعِ الْوُصُولَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ تُعْرِضَ عَنْهُ أَعْرِضْ عَنْهُ وَاتْرُكْهُ وَمِثْلُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ قَدْ يُوجَدُ بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُمْ شَيْئًا مِنْ الْحُمْقِ وَالسَّفَهِ فَهُنَا لَا يُجَارِيهِمُ الْإِنْسَانُ لَا يُجَارِيهِمْ يُعْرِضُ عَنْهُمْ الْإِعْرَاضُ يَعْنِي فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُمَثِّلُ مَاذَا؟ مِثْلُ الْحَذْرِ تَحْذَرُهُ وَتَسْتَرِيحُ مِنْهُ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ فَأَمَّا أَنْ تَدْخُلَ مَعَهُ فِي نِقَاشٍ تَدْخُلُ مَعَهُ فِي إِشْكَالَاتٍفَإِنَّكَ تُنْزِلُ أَخْلَاقَكَ إِلَى مُسْتَوَى أَخْلَ اقِهِ وَكَمَا ذَكَرْتُ يَعْنِي أَنَّ النَّاسَ لَنْ تُفَرِّقَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ إِذَا تَخَاصَمْتَ وَجَادَلْتَ الْأَحْمَقَ فِي النِّهَايَةِ النَّاسُ مَا تُفَرِّقُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
Dalam menghadapi gangguan, kita mengenal tingkatan “berpaling dari orang-orang bodoh”, serta tingkatan “membalas keburukan dengan kebaikan”. Jika Anda mampu, gapailah tingkatan membalas keburukan dengan kebaikan. Contohnya, jika ada orang yang mencela atau memaki Anda, balaslah dengan ucapan: “Semoga Allah memaafkan Anda, mengampuni Anda, dan membalas Anda dengan kebaikan.” Inilah cara membalas keburukan dengan kebaikan. Namun, jika Anda belum mampu sampai ke tingkatan tersebut, minimal berpalinglah darinya. Cukup tinggalkan dan jangan hiraukan dia. Hal serupa juga berlaku dalam interaksi di media sosial. Terkadang kita menjumpai orang-orang yang bersikap bodoh dan kurang akal, maka jangan terpancing untuk menanggapinya. Jangan tanggapi, lebih baik berpaling saja. Sikap “berpaling” di zaman sekarang ini contoh nyatanya apa? Yaitu memblokir. Cukup blokir dia, maka Anda pun akan merasa tenang. Ini termasuk bentuk sikap berpaling dari orang-orang yang kurang akal. Adapun jika Anda meladeninya dalam perdebatan atau keributan, maka Anda telah menurunkan derajat akhlak Anda ke tingkat akhlaknya. Seperti yang telah saya katakan, orang-orang tidak lagi dapat membedakan antara dirimu dan dirinya. Jika Anda terus berdebat dan cekcok dengan orang yang kurang akal, pada akhirnya orang-orang tidak dapat membedakan dirimu dengan dirinya. ===== فَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَصِلَ إِلَى دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ مِثْلُ هَذَا الَّذِي يَسُبُّكَ وَيَشْتِمُكَ تَقُولُ عَفَا اللَّهُ عَنْكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا تَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعِ الْوُصُولَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ تُعْرِضَ عَنْهُ أَعْرِضْ عَنْهُ وَاتْرُكْهُ وَمِثْلُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ قَدْ يُوجَدُ بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُمْ شَيْئًا مِنْ الْحُمْقِ وَالسَّفَهِ فَهُنَا لَا يُجَارِيهِمُ الْإِنْسَانُ لَا يُجَارِيهِمْ يُعْرِضُ عَنْهُمْ الْإِعْرَاضُ يَعْنِي فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُمَثِّلُ مَاذَا؟ مِثْلُ الْحَذْرِ تَحْذَرُهُ وَتَسْتَرِيحُ مِنْهُ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ فَأَمَّا أَنْ تَدْخُلَ مَعَهُ فِي نِقَاشٍ تَدْخُلُ مَعَهُ فِي إِشْكَالَاتٍفَإِنَّكَ تُنْزِلُ أَخْلَاقَكَ إِلَى مُسْتَوَى أَخْلَ اقِهِ وَكَمَا ذَكَرْتُ يَعْنِي أَنَّ النَّاسَ لَنْ تُفَرِّقَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ إِذَا تَخَاصَمْتَ وَجَادَلْتَ الْأَحْمَقَ فِي النِّهَايَةِ النَّاسُ مَا تُفَرِّقُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ


Dalam menghadapi gangguan, kita mengenal tingkatan “berpaling dari orang-orang bodoh”, serta tingkatan “membalas keburukan dengan kebaikan”. Jika Anda mampu, gapailah tingkatan membalas keburukan dengan kebaikan. Contohnya, jika ada orang yang mencela atau memaki Anda, balaslah dengan ucapan: “Semoga Allah memaafkan Anda, mengampuni Anda, dan membalas Anda dengan kebaikan.” Inilah cara membalas keburukan dengan kebaikan. Namun, jika Anda belum mampu sampai ke tingkatan tersebut, minimal berpalinglah darinya. Cukup tinggalkan dan jangan hiraukan dia. Hal serupa juga berlaku dalam interaksi di media sosial. Terkadang kita menjumpai orang-orang yang bersikap bodoh dan kurang akal, maka jangan terpancing untuk menanggapinya. Jangan tanggapi, lebih baik berpaling saja. Sikap “berpaling” di zaman sekarang ini contoh nyatanya apa? Yaitu memblokir. Cukup blokir dia, maka Anda pun akan merasa tenang. Ini termasuk bentuk sikap berpaling dari orang-orang yang kurang akal. Adapun jika Anda meladeninya dalam perdebatan atau keributan, maka Anda telah menurunkan derajat akhlak Anda ke tingkat akhlaknya. Seperti yang telah saya katakan, orang-orang tidak lagi dapat membedakan antara dirimu dan dirinya. Jika Anda terus berdebat dan cekcok dengan orang yang kurang akal, pada akhirnya orang-orang tidak dapat membedakan dirimu dengan dirinya. ===== فَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَعِنْدَنَا مَرْتَبَةُ دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَصِلَ إِلَى دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ مِثْلُ هَذَا الَّذِي يَسُبُّكَ وَيَشْتِمُكَ تَقُولُ عَفَا اللَّهُ عَنْكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا تَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعِ الْوُصُولَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ تُعْرِضَ عَنْهُ أَعْرِضْ عَنْهُ وَاتْرُكْهُ وَمِثْلُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الِاجْتِمَاعِيِّ قَدْ يُوجَدُ بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَهُمْ شَيْئًا مِنْ الْحُمْقِ وَالسَّفَهِ فَهُنَا لَا يُجَارِيهِمُ الْإِنْسَانُ لَا يُجَارِيهِمْ يُعْرِضُ عَنْهُمْ الْإِعْرَاضُ يَعْنِي فِي وَقْتِنَا الْحَاضِرِ يُمَثِّلُ مَاذَا؟ مِثْلُ الْحَذْرِ تَحْذَرُهُ وَتَسْتَرِيحُ مِنْهُ هَذَا نَوْعٌ مِنَ الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ فَأَمَّا أَنْ تَدْخُلَ مَعَهُ فِي نِقَاشٍ تَدْخُلُ مَعَهُ فِي إِشْكَالَاتٍفَإِنَّكَ تُنْزِلُ أَخْلَاقَكَ إِلَى مُسْتَوَى أَخْلَ اقِهِ وَكَمَا ذَكَرْتُ يَعْنِي أَنَّ النَّاسَ لَنْ تُفَرِّقَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ إِذَا تَخَاصَمْتَ وَجَادَلْتَ الْأَحْمَقَ فِي النِّهَايَةِ النَّاسُ مَا تُفَرِّقُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

Perbedaan Antara Nabidz dan Khamr

Daftar Isi ToggleHukum minuman nabidzApa itu khamr?Keharaman khamrPerbedaan nabidz dan khamrKesimpulanAllah menjadikan bumi sebagai tempat mencari rezeki. Manusia dapat menjadikan apa yang ada di bumi menjadi rezekinya untuk menopang kebutuhan peribadatannya di dunia. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qasas: 77)Bahkan, Allah juga menjadikan bumi ini mudah untuk diambil rezekinya. Maka, manusia diperintahkan untuk berikhtiar mencari rezeki tersebut. Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah (untuk dijelajahi). Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintahkan mencari dan memakan rezeki Allah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan rezeki dan rezeki Allah? Para ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud dengan rezeki. Apakah rezeki hanya berupa hal yang halal ataukah juga dapat berupa hal yang haram. Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan definisi rezeki dengan,الرزق هو تمكين الحيوان من الانتفاع بالشيء، والحظر على غيره؛ أن يمنعه من الانتفاع به“Rezeki adalah yang dapat diambil manfaatnya oleh yang bernyawa, serta dilarang untuk selain dirinya mengambil manfaat.” [1]Dari definisi tersebut, didapatkan bahwa rezeki adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan seseorang yang memilikinya, namun tidak diperkenankan bagi orang lain yang tidak memilikinya. Hal ini berkaitan dengan hal yang halal dan yang haram. Oleh karena itu, Allah memberikan batasan halal dan haram. Allah hanya mengizinkan kita mengambil rezeki yang halal saja. Di antaranya adalah makanan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi dengan makanan yang halal dan baik.” (QS. al-Baqarah: 168)Ayat ini menegaskan bahwa kita diizinkan mengkonsumsi apa yang ada dari bumi, selama itu halal dan baik untuk kita.Allah mengizinkan manusia untuk memanfaatkan rezeki-rezeki yang Allah halalkan. Bentuk pemanfaatan tersebut bermacam-macam. Makan dan minum termasuk bagian dari pemanfaatan rezeki Allah. Namun, pemanfaatan itu terbatas hanya perkara-perkara yang halal saja.Hukum minuman nabidz Seorang muslim harus memperhatikan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman yang ia konsumsi haruslah makanan yang halal dan baik. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak makan dengan sembarangan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai makanan dan minuman favorit atau yang biasa dimakan. Di antara yang diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkonsumsinya adalah minuman nabidz yang umurnya tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dari jalur Muslim,انَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُنْبَذُ له الزَّبِيبُ في السِّقَاءِ، فَيَشْرَبُهُ يَومَهُ، وَالْغَدَ، وَبَعْدَ الغَدِ، فَإِذَا كانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ، فإنْ فَضَلَ شيءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan rendaman kurma kering (nabidz) di dalam kantong air. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya. Jika sudah masuk sore hari ketiga, beliau tetap meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Namun jika masih ada sisa setelah itu, beliau membuangnya.” [2]Sebelum membahas faidah yang terkandung dalam hadis ini, kita harus tahu dulu, apa itu nabidz. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam at-Thib an-Nabawi menjelaskan,هُوَ مَا يُطْرَحُ فِيهِ تَمْرٌ يُحَلِّيهِ، وَهُوَ يَدْخُلُ فِي الْغِذَاءِ وَالشَّرَابِ، وَلَهُ نَفْعٌ عَظِيمٌ فِي زِيَادَةِ الْقُوَّةِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ“Air yang diberi kurma sehingga rasanya menjadi manis. Minuman ini termasuk makanan sekaligus minuman, karena mengandung unsur gizi dan bisa mengenyangkan. Ia juga memiliki manfaat yang besar dalam menambah tenaga dan membantu menjaga kesehatan tubuh.” [3]Secara bahasa, nabidz juga dapat disebut rendaman sari buah yang didiamkan beberapa hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Utsman al-Khamis dalam Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at,النبيذ هو ما يلقى ويترك، فكل عصير أو لبن ترك مدة يقال له نبيذ“Nabidz adalah yang didiamkan dan ditinggalkan. Maka, setiap sari buah/sirup atau susu yang dibiarkan beberapa waktu disebut nabidz” [4]Dari hadis tersebut, para ulama menyebutkan beberapa faidah penting terkait minuman nabidz. Di antaranya adalah bahwa nabidz pada asalnya merupakan minuman yang halal selama belum mengalami perubahan yang menjadikannya memabukkan. Hal ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminumnya.Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya meminum nabidz tersebut tidak lebih dari tiga hari. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan yang dapat menyebabkan timbulnya sifat memabukkan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَلَمْ يَكُنْ يَشْرَبُهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ خَوْفًا مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى الْإِسْكَارِ“Nabi tidak meminumnya setelah 3 hari karena ditakutkan nabidz ini mempunyai potensi memabukkan.” [5]Oleh karena itu, ketika minuman tersebut telah melewati batas waktu yang dikhawatirkan terjadi fermentasi yang kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk membuangnya. Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menghindari sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang diharamkan.Bahkan, terdapat hadis yang menjelaskan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam perkara ini. Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُنْبَذُ لهُ في تَوْرٍ مِن حجارةٍ، فيشربُهُ مِن يومِهِ، ومِنَ الغَدِ، وبَعدَ الغَدِ إلى نِصفِ النَّهارِ، ثُمَّ يأمُرُ أنْ يُهْراقَ، وإمَّا أنْ يشربَهُ بعضُ الخَدَمِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan nabidz dalam sebuah wadah dari batu. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya hingga sekitar pertengahan siang. Setelah itu, beliau memerintahkan agar minuman tersebut dibuang. Terkadang juga diberikan kepada sebagian pelayan untuk diminum.” [6]Hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah menjelaskan sikap kehati-hatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu yang berpotensi memabukkan. Dalam banyak riwayat dan penjelasan ulama dijelaskan bahwa nabidz umumnya mulai berubah dan berpotensi memabukkan setelah melewati tiga hari. Namun dalam riwayat Jabir, Nabi tidak lagi meminumnya ketika telah masuk siang pada hari ketiga. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian beliau agar minuman tersebut tidak sampai berubah menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak MabukApa itu khamr?Untuk memahami pembagian nabidz secara tepat, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan khamr dalam syariat Islam. Sebab, sebagian orang mengira bahwa nabidz termasuk khamr, padahal keduanya tidak selalu sama.Secara definisi, khamr telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وكُلُّ مُسْكِرٍ حَرامٌ، ومَن شَرِبَ الخَمْرَ في الدُّنْيا فَماتَ وهو يُدْمِنُها لَمْ يَتُبْ، لَمْ يَشْرَبْها في الآخِرَةِ“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Setiap yang memabukkan hukumnya haram. Barangsiapa yang meminum khamr di dunia dan mati, kemudian ia tidak bertobat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat.” [7]Hadis ini merupakan kaidah dasar penentuan definisi khamr. Setiap yang memabukkan dan difungsikan untuk memabukkan adalah khamr. Pembatasan khamr bukan hanya pada wine atau minuman beralkohol, melainkan setiap yang dapat menghilangkan akal pikiran.Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah,أن الخمر هو المادة التي تغطي العقل بالسكر، فكل مادة حصل بها الإسكار فهي خمر محرمة، وإن لم تسم خمر“Yang dimaksud dengan khamr adalah segala zat yang menutup atau menghilangkan fungsi akal karena efek memabukkan. Maka, segala sesuatu yang menimbulkan mabuk termasuk khamr dan hukumnya haram, meskipun tidak disebut dengan nama khamr.” [8]Oleh karena itu, nabidz yang lama rendamannya lebih dari tiga hari karena dikhawatirkan memabukkan, maka hal tersebut bisa disebut khamr.Keharaman khamrIslam adalah agama kemaslahatan. Syariat-syariat yang Islam atur adalah untuk memberikan kemaslahatan untuk pribadinya dan lingkungannya. Sebaliknya, apa yang Islam larang pastilah memiliki kemudaratan. Di antara yang Islam haramkan adalah khamr.Khamr sendiri diharamkan oleh Islam karena khamr memiliki mudarat yang sangat besar. Allah berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Allah juga mensifatinya dengan sebuah hal tersebut merupakan amalan setan dan menjijikkan. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, pesugihan, dan undian sangatlah menjijikkan serta merupakan amalan setan. Maka jauhilah, agar kalian beruntung.” (QS. al-Maidah: 90)Nabi Muhammad juga menyebutkan,أتاني جِبْرِيلُ عليه السلامُ فقال: يا محمَّدُ، إنَّ اللهَ لعَنَ الخمرَ، وعاصِرَها، ومعتصِرَها، وشاربَها، وحاملَها، والمحمولةَ إليه، وبائعَها، ومبتاعَها، وساقيَها، ومستقاها“Jibril ‘alaihis salam datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamr: orang yang memerasnya, yang meminta agar diperas untuknya, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan kepadanya, yang menjualnya, yang membelinya, yang menuangkannya, dan yang memintanya untuk dituangkan.’” [9]Islam dengan tegas menjadikan khamr sebagai minuman yang haram untuk dikonsumsi. Bukan hanya konsumsinya saja yang Islam larang, melainkan seluruh yang berkaitan dengan khamr.Oleh karena itu, Nabi Muhammad menghindari nabidz yang sangat berpotensi memabukkan karena itu akan dihukumi sebagai khamr.Perbedaan nabidz dan khamrMaka, tidak semua khamr dihasilkan dari nabidz dan tidak semua nabidz adalah khamr. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Jahiz,ان النبيذ غير الخمر. والشارع حرم الخمر فقط ولم يحرم النبيذ“Sesungguhnya nabidz tidak selalu khamr. Islam mengharamkan khamr dan tidak langsung mengharamkan nabidz.” [10]Nabidz yang berpotensi memabukkan, maka hukumnya akan menjadi khamr. Umumnya orang-orang dahulu menjadikan khamr dari perendaman kurma selama lebih dari 3 hari. Jika nabidz memabukkan, maka ia termasuk khamr.KesimpulanPertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindari meminum nabidz pada hari keempat karena minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan dan fermentasi yang dapat menimbulkan sifat memabukkan. Apabila minuman tersebut telah memabukkan, maka ia termasuk khamr yang diharamkan. Hal ini berdasarkan kaidah yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ“Apa saja yang jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) [11]Kedua, nabidz pada asalnya adalah minuman yang halal, yaitu air yang direndam dengan kurma, kismis, atau buah lainnya selama belum berubah menjadi minuman yang memabukkan.Ketiga, praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hanya meminum nabidz hingga hari ketiga menunjukkan sikap kehati-hatian beliau dalam menjauhi sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang haram.Keempat, tidak semua nabidz adalah khamr; tetapi setiap nabidz yang telah memabukkan, maka hukumnya berubah menjadi khamr yang diharamkan dalam syariat Islam.Baca juga: Tahapan-Tahapan Larangan Khamr dalam Al-Qur’an***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad bin ‘Ali bin Adam al-Ityubi al-Walawi, al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj, 41: 377.[2] Muslim, Shahih Muslim, no. 2004.[3] Ibn al-Qayyim, ath-Tibb an-Nabawi, hal. 176.[4] Ustman al-Khamis, Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at, hal. 32.[5] Ibn al-Qayyim, ath-Thibb an-Nabawi, hal. 176.[6] Shu‘ayb al-Arna’ut, Takhrij Sharh as-Sunnah, no. 3023.[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5575; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2003 (Muttafaq ‘alaih).[8] Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 22: 105.[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3674, Ibnu Majah no. 3380, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 5716; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[10] Al-Jahiz, ar-Rasa’il al-Adabiyyah, hal. 50.[11] An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, no. 5623; dinilai hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Daftar PustakaAl-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan an-Nasa’i. Maktabah Syamilah.Al-Arna’ut, Shu‘ayb. Takhrij Sharh as-Sunnah. Maktabah Syamilah.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.Al-Ityubi al-Walawi, Muhammad bin Ali bin Adam. al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi. Al-Jahiz,Abu Utsman Amr bin Bahr. ar-Rasa’il al-Adabiyyah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1423 H.Al-Khamis, Utsman. Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at. Maktabah Syamilah.Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Riyadh: Riasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Maktabah Syamilah.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Maktabah Syamilah.Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. ath-Tibb an-Nabawi. Maktabah Syamilah.

Perbedaan Antara Nabidz dan Khamr

Daftar Isi ToggleHukum minuman nabidzApa itu khamr?Keharaman khamrPerbedaan nabidz dan khamrKesimpulanAllah menjadikan bumi sebagai tempat mencari rezeki. Manusia dapat menjadikan apa yang ada di bumi menjadi rezekinya untuk menopang kebutuhan peribadatannya di dunia. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qasas: 77)Bahkan, Allah juga menjadikan bumi ini mudah untuk diambil rezekinya. Maka, manusia diperintahkan untuk berikhtiar mencari rezeki tersebut. Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah (untuk dijelajahi). Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintahkan mencari dan memakan rezeki Allah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan rezeki dan rezeki Allah? Para ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud dengan rezeki. Apakah rezeki hanya berupa hal yang halal ataukah juga dapat berupa hal yang haram. Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan definisi rezeki dengan,الرزق هو تمكين الحيوان من الانتفاع بالشيء، والحظر على غيره؛ أن يمنعه من الانتفاع به“Rezeki adalah yang dapat diambil manfaatnya oleh yang bernyawa, serta dilarang untuk selain dirinya mengambil manfaat.” [1]Dari definisi tersebut, didapatkan bahwa rezeki adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan seseorang yang memilikinya, namun tidak diperkenankan bagi orang lain yang tidak memilikinya. Hal ini berkaitan dengan hal yang halal dan yang haram. Oleh karena itu, Allah memberikan batasan halal dan haram. Allah hanya mengizinkan kita mengambil rezeki yang halal saja. Di antaranya adalah makanan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi dengan makanan yang halal dan baik.” (QS. al-Baqarah: 168)Ayat ini menegaskan bahwa kita diizinkan mengkonsumsi apa yang ada dari bumi, selama itu halal dan baik untuk kita.Allah mengizinkan manusia untuk memanfaatkan rezeki-rezeki yang Allah halalkan. Bentuk pemanfaatan tersebut bermacam-macam. Makan dan minum termasuk bagian dari pemanfaatan rezeki Allah. Namun, pemanfaatan itu terbatas hanya perkara-perkara yang halal saja.Hukum minuman nabidz Seorang muslim harus memperhatikan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman yang ia konsumsi haruslah makanan yang halal dan baik. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak makan dengan sembarangan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai makanan dan minuman favorit atau yang biasa dimakan. Di antara yang diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkonsumsinya adalah minuman nabidz yang umurnya tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dari jalur Muslim,انَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُنْبَذُ له الزَّبِيبُ في السِّقَاءِ، فَيَشْرَبُهُ يَومَهُ، وَالْغَدَ، وَبَعْدَ الغَدِ، فَإِذَا كانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ، فإنْ فَضَلَ شيءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan rendaman kurma kering (nabidz) di dalam kantong air. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya. Jika sudah masuk sore hari ketiga, beliau tetap meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Namun jika masih ada sisa setelah itu, beliau membuangnya.” [2]Sebelum membahas faidah yang terkandung dalam hadis ini, kita harus tahu dulu, apa itu nabidz. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam at-Thib an-Nabawi menjelaskan,هُوَ مَا يُطْرَحُ فِيهِ تَمْرٌ يُحَلِّيهِ، وَهُوَ يَدْخُلُ فِي الْغِذَاءِ وَالشَّرَابِ، وَلَهُ نَفْعٌ عَظِيمٌ فِي زِيَادَةِ الْقُوَّةِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ“Air yang diberi kurma sehingga rasanya menjadi manis. Minuman ini termasuk makanan sekaligus minuman, karena mengandung unsur gizi dan bisa mengenyangkan. Ia juga memiliki manfaat yang besar dalam menambah tenaga dan membantu menjaga kesehatan tubuh.” [3]Secara bahasa, nabidz juga dapat disebut rendaman sari buah yang didiamkan beberapa hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Utsman al-Khamis dalam Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at,النبيذ هو ما يلقى ويترك، فكل عصير أو لبن ترك مدة يقال له نبيذ“Nabidz adalah yang didiamkan dan ditinggalkan. Maka, setiap sari buah/sirup atau susu yang dibiarkan beberapa waktu disebut nabidz” [4]Dari hadis tersebut, para ulama menyebutkan beberapa faidah penting terkait minuman nabidz. Di antaranya adalah bahwa nabidz pada asalnya merupakan minuman yang halal selama belum mengalami perubahan yang menjadikannya memabukkan. Hal ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminumnya.Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya meminum nabidz tersebut tidak lebih dari tiga hari. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan yang dapat menyebabkan timbulnya sifat memabukkan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَلَمْ يَكُنْ يَشْرَبُهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ خَوْفًا مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى الْإِسْكَارِ“Nabi tidak meminumnya setelah 3 hari karena ditakutkan nabidz ini mempunyai potensi memabukkan.” [5]Oleh karena itu, ketika minuman tersebut telah melewati batas waktu yang dikhawatirkan terjadi fermentasi yang kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk membuangnya. Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menghindari sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang diharamkan.Bahkan, terdapat hadis yang menjelaskan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam perkara ini. Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُنْبَذُ لهُ في تَوْرٍ مِن حجارةٍ، فيشربُهُ مِن يومِهِ، ومِنَ الغَدِ، وبَعدَ الغَدِ إلى نِصفِ النَّهارِ، ثُمَّ يأمُرُ أنْ يُهْراقَ، وإمَّا أنْ يشربَهُ بعضُ الخَدَمِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan nabidz dalam sebuah wadah dari batu. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya hingga sekitar pertengahan siang. Setelah itu, beliau memerintahkan agar minuman tersebut dibuang. Terkadang juga diberikan kepada sebagian pelayan untuk diminum.” [6]Hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah menjelaskan sikap kehati-hatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu yang berpotensi memabukkan. Dalam banyak riwayat dan penjelasan ulama dijelaskan bahwa nabidz umumnya mulai berubah dan berpotensi memabukkan setelah melewati tiga hari. Namun dalam riwayat Jabir, Nabi tidak lagi meminumnya ketika telah masuk siang pada hari ketiga. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian beliau agar minuman tersebut tidak sampai berubah menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak MabukApa itu khamr?Untuk memahami pembagian nabidz secara tepat, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan khamr dalam syariat Islam. Sebab, sebagian orang mengira bahwa nabidz termasuk khamr, padahal keduanya tidak selalu sama.Secara definisi, khamr telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وكُلُّ مُسْكِرٍ حَرامٌ، ومَن شَرِبَ الخَمْرَ في الدُّنْيا فَماتَ وهو يُدْمِنُها لَمْ يَتُبْ، لَمْ يَشْرَبْها في الآخِرَةِ“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Setiap yang memabukkan hukumnya haram. Barangsiapa yang meminum khamr di dunia dan mati, kemudian ia tidak bertobat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat.” [7]Hadis ini merupakan kaidah dasar penentuan definisi khamr. Setiap yang memabukkan dan difungsikan untuk memabukkan adalah khamr. Pembatasan khamr bukan hanya pada wine atau minuman beralkohol, melainkan setiap yang dapat menghilangkan akal pikiran.Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah,أن الخمر هو المادة التي تغطي العقل بالسكر، فكل مادة حصل بها الإسكار فهي خمر محرمة، وإن لم تسم خمر“Yang dimaksud dengan khamr adalah segala zat yang menutup atau menghilangkan fungsi akal karena efek memabukkan. Maka, segala sesuatu yang menimbulkan mabuk termasuk khamr dan hukumnya haram, meskipun tidak disebut dengan nama khamr.” [8]Oleh karena itu, nabidz yang lama rendamannya lebih dari tiga hari karena dikhawatirkan memabukkan, maka hal tersebut bisa disebut khamr.Keharaman khamrIslam adalah agama kemaslahatan. Syariat-syariat yang Islam atur adalah untuk memberikan kemaslahatan untuk pribadinya dan lingkungannya. Sebaliknya, apa yang Islam larang pastilah memiliki kemudaratan. Di antara yang Islam haramkan adalah khamr.Khamr sendiri diharamkan oleh Islam karena khamr memiliki mudarat yang sangat besar. Allah berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Allah juga mensifatinya dengan sebuah hal tersebut merupakan amalan setan dan menjijikkan. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, pesugihan, dan undian sangatlah menjijikkan serta merupakan amalan setan. Maka jauhilah, agar kalian beruntung.” (QS. al-Maidah: 90)Nabi Muhammad juga menyebutkan,أتاني جِبْرِيلُ عليه السلامُ فقال: يا محمَّدُ، إنَّ اللهَ لعَنَ الخمرَ، وعاصِرَها، ومعتصِرَها، وشاربَها، وحاملَها، والمحمولةَ إليه، وبائعَها، ومبتاعَها، وساقيَها، ومستقاها“Jibril ‘alaihis salam datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamr: orang yang memerasnya, yang meminta agar diperas untuknya, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan kepadanya, yang menjualnya, yang membelinya, yang menuangkannya, dan yang memintanya untuk dituangkan.’” [9]Islam dengan tegas menjadikan khamr sebagai minuman yang haram untuk dikonsumsi. Bukan hanya konsumsinya saja yang Islam larang, melainkan seluruh yang berkaitan dengan khamr.Oleh karena itu, Nabi Muhammad menghindari nabidz yang sangat berpotensi memabukkan karena itu akan dihukumi sebagai khamr.Perbedaan nabidz dan khamrMaka, tidak semua khamr dihasilkan dari nabidz dan tidak semua nabidz adalah khamr. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Jahiz,ان النبيذ غير الخمر. والشارع حرم الخمر فقط ولم يحرم النبيذ“Sesungguhnya nabidz tidak selalu khamr. Islam mengharamkan khamr dan tidak langsung mengharamkan nabidz.” [10]Nabidz yang berpotensi memabukkan, maka hukumnya akan menjadi khamr. Umumnya orang-orang dahulu menjadikan khamr dari perendaman kurma selama lebih dari 3 hari. Jika nabidz memabukkan, maka ia termasuk khamr.KesimpulanPertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindari meminum nabidz pada hari keempat karena minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan dan fermentasi yang dapat menimbulkan sifat memabukkan. Apabila minuman tersebut telah memabukkan, maka ia termasuk khamr yang diharamkan. Hal ini berdasarkan kaidah yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ“Apa saja yang jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) [11]Kedua, nabidz pada asalnya adalah minuman yang halal, yaitu air yang direndam dengan kurma, kismis, atau buah lainnya selama belum berubah menjadi minuman yang memabukkan.Ketiga, praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hanya meminum nabidz hingga hari ketiga menunjukkan sikap kehati-hatian beliau dalam menjauhi sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang haram.Keempat, tidak semua nabidz adalah khamr; tetapi setiap nabidz yang telah memabukkan, maka hukumnya berubah menjadi khamr yang diharamkan dalam syariat Islam.Baca juga: Tahapan-Tahapan Larangan Khamr dalam Al-Qur’an***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad bin ‘Ali bin Adam al-Ityubi al-Walawi, al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj, 41: 377.[2] Muslim, Shahih Muslim, no. 2004.[3] Ibn al-Qayyim, ath-Tibb an-Nabawi, hal. 176.[4] Ustman al-Khamis, Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at, hal. 32.[5] Ibn al-Qayyim, ath-Thibb an-Nabawi, hal. 176.[6] Shu‘ayb al-Arna’ut, Takhrij Sharh as-Sunnah, no. 3023.[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5575; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2003 (Muttafaq ‘alaih).[8] Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 22: 105.[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3674, Ibnu Majah no. 3380, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 5716; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[10] Al-Jahiz, ar-Rasa’il al-Adabiyyah, hal. 50.[11] An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, no. 5623; dinilai hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Daftar PustakaAl-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan an-Nasa’i. Maktabah Syamilah.Al-Arna’ut, Shu‘ayb. Takhrij Sharh as-Sunnah. Maktabah Syamilah.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.Al-Ityubi al-Walawi, Muhammad bin Ali bin Adam. al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi. Al-Jahiz,Abu Utsman Amr bin Bahr. ar-Rasa’il al-Adabiyyah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1423 H.Al-Khamis, Utsman. Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at. Maktabah Syamilah.Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Riyadh: Riasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Maktabah Syamilah.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Maktabah Syamilah.Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. ath-Tibb an-Nabawi. Maktabah Syamilah.
Daftar Isi ToggleHukum minuman nabidzApa itu khamr?Keharaman khamrPerbedaan nabidz dan khamrKesimpulanAllah menjadikan bumi sebagai tempat mencari rezeki. Manusia dapat menjadikan apa yang ada di bumi menjadi rezekinya untuk menopang kebutuhan peribadatannya di dunia. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qasas: 77)Bahkan, Allah juga menjadikan bumi ini mudah untuk diambil rezekinya. Maka, manusia diperintahkan untuk berikhtiar mencari rezeki tersebut. Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah (untuk dijelajahi). Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintahkan mencari dan memakan rezeki Allah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan rezeki dan rezeki Allah? Para ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud dengan rezeki. Apakah rezeki hanya berupa hal yang halal ataukah juga dapat berupa hal yang haram. Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan definisi rezeki dengan,الرزق هو تمكين الحيوان من الانتفاع بالشيء، والحظر على غيره؛ أن يمنعه من الانتفاع به“Rezeki adalah yang dapat diambil manfaatnya oleh yang bernyawa, serta dilarang untuk selain dirinya mengambil manfaat.” [1]Dari definisi tersebut, didapatkan bahwa rezeki adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan seseorang yang memilikinya, namun tidak diperkenankan bagi orang lain yang tidak memilikinya. Hal ini berkaitan dengan hal yang halal dan yang haram. Oleh karena itu, Allah memberikan batasan halal dan haram. Allah hanya mengizinkan kita mengambil rezeki yang halal saja. Di antaranya adalah makanan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi dengan makanan yang halal dan baik.” (QS. al-Baqarah: 168)Ayat ini menegaskan bahwa kita diizinkan mengkonsumsi apa yang ada dari bumi, selama itu halal dan baik untuk kita.Allah mengizinkan manusia untuk memanfaatkan rezeki-rezeki yang Allah halalkan. Bentuk pemanfaatan tersebut bermacam-macam. Makan dan minum termasuk bagian dari pemanfaatan rezeki Allah. Namun, pemanfaatan itu terbatas hanya perkara-perkara yang halal saja.Hukum minuman nabidz Seorang muslim harus memperhatikan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman yang ia konsumsi haruslah makanan yang halal dan baik. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak makan dengan sembarangan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai makanan dan minuman favorit atau yang biasa dimakan. Di antara yang diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkonsumsinya adalah minuman nabidz yang umurnya tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dari jalur Muslim,انَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُنْبَذُ له الزَّبِيبُ في السِّقَاءِ، فَيَشْرَبُهُ يَومَهُ، وَالْغَدَ، وَبَعْدَ الغَدِ، فَإِذَا كانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ، فإنْ فَضَلَ شيءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan rendaman kurma kering (nabidz) di dalam kantong air. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya. Jika sudah masuk sore hari ketiga, beliau tetap meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Namun jika masih ada sisa setelah itu, beliau membuangnya.” [2]Sebelum membahas faidah yang terkandung dalam hadis ini, kita harus tahu dulu, apa itu nabidz. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam at-Thib an-Nabawi menjelaskan,هُوَ مَا يُطْرَحُ فِيهِ تَمْرٌ يُحَلِّيهِ، وَهُوَ يَدْخُلُ فِي الْغِذَاءِ وَالشَّرَابِ، وَلَهُ نَفْعٌ عَظِيمٌ فِي زِيَادَةِ الْقُوَّةِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ“Air yang diberi kurma sehingga rasanya menjadi manis. Minuman ini termasuk makanan sekaligus minuman, karena mengandung unsur gizi dan bisa mengenyangkan. Ia juga memiliki manfaat yang besar dalam menambah tenaga dan membantu menjaga kesehatan tubuh.” [3]Secara bahasa, nabidz juga dapat disebut rendaman sari buah yang didiamkan beberapa hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Utsman al-Khamis dalam Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at,النبيذ هو ما يلقى ويترك، فكل عصير أو لبن ترك مدة يقال له نبيذ“Nabidz adalah yang didiamkan dan ditinggalkan. Maka, setiap sari buah/sirup atau susu yang dibiarkan beberapa waktu disebut nabidz” [4]Dari hadis tersebut, para ulama menyebutkan beberapa faidah penting terkait minuman nabidz. Di antaranya adalah bahwa nabidz pada asalnya merupakan minuman yang halal selama belum mengalami perubahan yang menjadikannya memabukkan. Hal ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminumnya.Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya meminum nabidz tersebut tidak lebih dari tiga hari. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan yang dapat menyebabkan timbulnya sifat memabukkan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَلَمْ يَكُنْ يَشْرَبُهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ خَوْفًا مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى الْإِسْكَارِ“Nabi tidak meminumnya setelah 3 hari karena ditakutkan nabidz ini mempunyai potensi memabukkan.” [5]Oleh karena itu, ketika minuman tersebut telah melewati batas waktu yang dikhawatirkan terjadi fermentasi yang kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk membuangnya. Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menghindari sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang diharamkan.Bahkan, terdapat hadis yang menjelaskan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam perkara ini. Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُنْبَذُ لهُ في تَوْرٍ مِن حجارةٍ، فيشربُهُ مِن يومِهِ، ومِنَ الغَدِ، وبَعدَ الغَدِ إلى نِصفِ النَّهارِ، ثُمَّ يأمُرُ أنْ يُهْراقَ، وإمَّا أنْ يشربَهُ بعضُ الخَدَمِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan nabidz dalam sebuah wadah dari batu. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya hingga sekitar pertengahan siang. Setelah itu, beliau memerintahkan agar minuman tersebut dibuang. Terkadang juga diberikan kepada sebagian pelayan untuk diminum.” [6]Hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah menjelaskan sikap kehati-hatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu yang berpotensi memabukkan. Dalam banyak riwayat dan penjelasan ulama dijelaskan bahwa nabidz umumnya mulai berubah dan berpotensi memabukkan setelah melewati tiga hari. Namun dalam riwayat Jabir, Nabi tidak lagi meminumnya ketika telah masuk siang pada hari ketiga. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian beliau agar minuman tersebut tidak sampai berubah menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak MabukApa itu khamr?Untuk memahami pembagian nabidz secara tepat, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan khamr dalam syariat Islam. Sebab, sebagian orang mengira bahwa nabidz termasuk khamr, padahal keduanya tidak selalu sama.Secara definisi, khamr telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وكُلُّ مُسْكِرٍ حَرامٌ، ومَن شَرِبَ الخَمْرَ في الدُّنْيا فَماتَ وهو يُدْمِنُها لَمْ يَتُبْ، لَمْ يَشْرَبْها في الآخِرَةِ“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Setiap yang memabukkan hukumnya haram. Barangsiapa yang meminum khamr di dunia dan mati, kemudian ia tidak bertobat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat.” [7]Hadis ini merupakan kaidah dasar penentuan definisi khamr. Setiap yang memabukkan dan difungsikan untuk memabukkan adalah khamr. Pembatasan khamr bukan hanya pada wine atau minuman beralkohol, melainkan setiap yang dapat menghilangkan akal pikiran.Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah,أن الخمر هو المادة التي تغطي العقل بالسكر، فكل مادة حصل بها الإسكار فهي خمر محرمة، وإن لم تسم خمر“Yang dimaksud dengan khamr adalah segala zat yang menutup atau menghilangkan fungsi akal karena efek memabukkan. Maka, segala sesuatu yang menimbulkan mabuk termasuk khamr dan hukumnya haram, meskipun tidak disebut dengan nama khamr.” [8]Oleh karena itu, nabidz yang lama rendamannya lebih dari tiga hari karena dikhawatirkan memabukkan, maka hal tersebut bisa disebut khamr.Keharaman khamrIslam adalah agama kemaslahatan. Syariat-syariat yang Islam atur adalah untuk memberikan kemaslahatan untuk pribadinya dan lingkungannya. Sebaliknya, apa yang Islam larang pastilah memiliki kemudaratan. Di antara yang Islam haramkan adalah khamr.Khamr sendiri diharamkan oleh Islam karena khamr memiliki mudarat yang sangat besar. Allah berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Allah juga mensifatinya dengan sebuah hal tersebut merupakan amalan setan dan menjijikkan. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, pesugihan, dan undian sangatlah menjijikkan serta merupakan amalan setan. Maka jauhilah, agar kalian beruntung.” (QS. al-Maidah: 90)Nabi Muhammad juga menyebutkan,أتاني جِبْرِيلُ عليه السلامُ فقال: يا محمَّدُ، إنَّ اللهَ لعَنَ الخمرَ، وعاصِرَها، ومعتصِرَها، وشاربَها، وحاملَها، والمحمولةَ إليه، وبائعَها، ومبتاعَها، وساقيَها، ومستقاها“Jibril ‘alaihis salam datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamr: orang yang memerasnya, yang meminta agar diperas untuknya, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan kepadanya, yang menjualnya, yang membelinya, yang menuangkannya, dan yang memintanya untuk dituangkan.’” [9]Islam dengan tegas menjadikan khamr sebagai minuman yang haram untuk dikonsumsi. Bukan hanya konsumsinya saja yang Islam larang, melainkan seluruh yang berkaitan dengan khamr.Oleh karena itu, Nabi Muhammad menghindari nabidz yang sangat berpotensi memabukkan karena itu akan dihukumi sebagai khamr.Perbedaan nabidz dan khamrMaka, tidak semua khamr dihasilkan dari nabidz dan tidak semua nabidz adalah khamr. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Jahiz,ان النبيذ غير الخمر. والشارع حرم الخمر فقط ولم يحرم النبيذ“Sesungguhnya nabidz tidak selalu khamr. Islam mengharamkan khamr dan tidak langsung mengharamkan nabidz.” [10]Nabidz yang berpotensi memabukkan, maka hukumnya akan menjadi khamr. Umumnya orang-orang dahulu menjadikan khamr dari perendaman kurma selama lebih dari 3 hari. Jika nabidz memabukkan, maka ia termasuk khamr.KesimpulanPertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindari meminum nabidz pada hari keempat karena minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan dan fermentasi yang dapat menimbulkan sifat memabukkan. Apabila minuman tersebut telah memabukkan, maka ia termasuk khamr yang diharamkan. Hal ini berdasarkan kaidah yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ“Apa saja yang jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) [11]Kedua, nabidz pada asalnya adalah minuman yang halal, yaitu air yang direndam dengan kurma, kismis, atau buah lainnya selama belum berubah menjadi minuman yang memabukkan.Ketiga, praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hanya meminum nabidz hingga hari ketiga menunjukkan sikap kehati-hatian beliau dalam menjauhi sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang haram.Keempat, tidak semua nabidz adalah khamr; tetapi setiap nabidz yang telah memabukkan, maka hukumnya berubah menjadi khamr yang diharamkan dalam syariat Islam.Baca juga: Tahapan-Tahapan Larangan Khamr dalam Al-Qur’an***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad bin ‘Ali bin Adam al-Ityubi al-Walawi, al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj, 41: 377.[2] Muslim, Shahih Muslim, no. 2004.[3] Ibn al-Qayyim, ath-Tibb an-Nabawi, hal. 176.[4] Ustman al-Khamis, Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at, hal. 32.[5] Ibn al-Qayyim, ath-Thibb an-Nabawi, hal. 176.[6] Shu‘ayb al-Arna’ut, Takhrij Sharh as-Sunnah, no. 3023.[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5575; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2003 (Muttafaq ‘alaih).[8] Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 22: 105.[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3674, Ibnu Majah no. 3380, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 5716; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[10] Al-Jahiz, ar-Rasa’il al-Adabiyyah, hal. 50.[11] An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, no. 5623; dinilai hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Daftar PustakaAl-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan an-Nasa’i. Maktabah Syamilah.Al-Arna’ut, Shu‘ayb. Takhrij Sharh as-Sunnah. Maktabah Syamilah.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.Al-Ityubi al-Walawi, Muhammad bin Ali bin Adam. al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi. Al-Jahiz,Abu Utsman Amr bin Bahr. ar-Rasa’il al-Adabiyyah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1423 H.Al-Khamis, Utsman. Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at. Maktabah Syamilah.Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Riyadh: Riasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Maktabah Syamilah.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Maktabah Syamilah.Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. ath-Tibb an-Nabawi. Maktabah Syamilah.


Daftar Isi ToggleHukum minuman nabidzApa itu khamr?Keharaman khamrPerbedaan nabidz dan khamrKesimpulanAllah menjadikan bumi sebagai tempat mencari rezeki. Manusia dapat menjadikan apa yang ada di bumi menjadi rezekinya untuk menopang kebutuhan peribadatannya di dunia. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qasas: 77)Bahkan, Allah juga menjadikan bumi ini mudah untuk diambil rezekinya. Maka, manusia diperintahkan untuk berikhtiar mencari rezeki tersebut. Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ“Dia-lah yang menjadikan bumi ini mudah (untuk dijelajahi). Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintahkan mencari dan memakan rezeki Allah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan rezeki dan rezeki Allah? Para ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud dengan rezeki. Apakah rezeki hanya berupa hal yang halal ataukah juga dapat berupa hal yang haram. Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan definisi rezeki dengan,الرزق هو تمكين الحيوان من الانتفاع بالشيء، والحظر على غيره؛ أن يمنعه من الانتفاع به“Rezeki adalah yang dapat diambil manfaatnya oleh yang bernyawa, serta dilarang untuk selain dirinya mengambil manfaat.” [1]Dari definisi tersebut, didapatkan bahwa rezeki adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan seseorang yang memilikinya, namun tidak diperkenankan bagi orang lain yang tidak memilikinya. Hal ini berkaitan dengan hal yang halal dan yang haram. Oleh karena itu, Allah memberikan batasan halal dan haram. Allah hanya mengizinkan kita mengambil rezeki yang halal saja. Di antaranya adalah makanan. Allah berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi dengan makanan yang halal dan baik.” (QS. al-Baqarah: 168)Ayat ini menegaskan bahwa kita diizinkan mengkonsumsi apa yang ada dari bumi, selama itu halal dan baik untuk kita.Allah mengizinkan manusia untuk memanfaatkan rezeki-rezeki yang Allah halalkan. Bentuk pemanfaatan tersebut bermacam-macam. Makan dan minum termasuk bagian dari pemanfaatan rezeki Allah. Namun, pemanfaatan itu terbatas hanya perkara-perkara yang halal saja.Hukum minuman nabidz Seorang muslim harus memperhatikan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman yang ia konsumsi haruslah makanan yang halal dan baik. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak makan dengan sembarangan.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai makanan dan minuman favorit atau yang biasa dimakan. Di antara yang diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkonsumsinya adalah minuman nabidz yang umurnya tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dari jalur Muslim,انَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُنْبَذُ له الزَّبِيبُ في السِّقَاءِ، فَيَشْرَبُهُ يَومَهُ، وَالْغَدَ، وَبَعْدَ الغَدِ، فَإِذَا كانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ، فإنْ فَضَلَ شيءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan rendaman kurma kering (nabidz) di dalam kantong air. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya. Jika sudah masuk sore hari ketiga, beliau tetap meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Namun jika masih ada sisa setelah itu, beliau membuangnya.” [2]Sebelum membahas faidah yang terkandung dalam hadis ini, kita harus tahu dulu, apa itu nabidz. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam at-Thib an-Nabawi menjelaskan,هُوَ مَا يُطْرَحُ فِيهِ تَمْرٌ يُحَلِّيهِ، وَهُوَ يَدْخُلُ فِي الْغِذَاءِ وَالشَّرَابِ، وَلَهُ نَفْعٌ عَظِيمٌ فِي زِيَادَةِ الْقُوَّةِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ“Air yang diberi kurma sehingga rasanya menjadi manis. Minuman ini termasuk makanan sekaligus minuman, karena mengandung unsur gizi dan bisa mengenyangkan. Ia juga memiliki manfaat yang besar dalam menambah tenaga dan membantu menjaga kesehatan tubuh.” [3]Secara bahasa, nabidz juga dapat disebut rendaman sari buah yang didiamkan beberapa hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Utsman al-Khamis dalam Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at,النبيذ هو ما يلقى ويترك، فكل عصير أو لبن ترك مدة يقال له نبيذ“Nabidz adalah yang didiamkan dan ditinggalkan. Maka, setiap sari buah/sirup atau susu yang dibiarkan beberapa waktu disebut nabidz” [4]Dari hadis tersebut, para ulama menyebutkan beberapa faidah penting terkait minuman nabidz. Di antaranya adalah bahwa nabidz pada asalnya merupakan minuman yang halal selama belum mengalami perubahan yang menjadikannya memabukkan. Hal ini karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminumnya.Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya meminum nabidz tersebut tidak lebih dari tiga hari. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan yang dapat menyebabkan timbulnya sifat memabukkan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,وَلَمْ يَكُنْ يَشْرَبُهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ خَوْفًا مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى الْإِسْكَارِ“Nabi tidak meminumnya setelah 3 hari karena ditakutkan nabidz ini mempunyai potensi memabukkan.” [5]Oleh karena itu, ketika minuman tersebut telah melewati batas waktu yang dikhawatirkan terjadi fermentasi yang kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk membuangnya. Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menghindari sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang diharamkan.Bahkan, terdapat hadis yang menjelaskan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam perkara ini. Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُنْبَذُ لهُ في تَوْرٍ مِن حجارةٍ، فيشربُهُ مِن يومِهِ، ومِنَ الغَدِ، وبَعدَ الغَدِ إلى نِصفِ النَّهارِ، ثُمَّ يأمُرُ أنْ يُهْراقَ، وإمَّا أنْ يشربَهُ بعضُ الخَدَمِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan nabidz dalam sebuah wadah dari batu. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya hingga sekitar pertengahan siang. Setelah itu, beliau memerintahkan agar minuman tersebut dibuang. Terkadang juga diberikan kepada sebagian pelayan untuk diminum.” [6]Hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah menjelaskan sikap kehati-hatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu yang berpotensi memabukkan. Dalam banyak riwayat dan penjelasan ulama dijelaskan bahwa nabidz umumnya mulai berubah dan berpotensi memabukkan setelah melewati tiga hari. Namun dalam riwayat Jabir, Nabi tidak lagi meminumnya ketika telah masuk siang pada hari ketiga. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian beliau agar minuman tersebut tidak sampai berubah menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan.Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak MabukApa itu khamr?Untuk memahami pembagian nabidz secara tepat, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan khamr dalam syariat Islam. Sebab, sebagian orang mengira bahwa nabidz termasuk khamr, padahal keduanya tidak selalu sama.Secara definisi, khamr telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وكُلُّ مُسْكِرٍ حَرامٌ، ومَن شَرِبَ الخَمْرَ في الدُّنْيا فَماتَ وهو يُدْمِنُها لَمْ يَتُبْ، لَمْ يَشْرَبْها في الآخِرَةِ“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Setiap yang memabukkan hukumnya haram. Barangsiapa yang meminum khamr di dunia dan mati, kemudian ia tidak bertobat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat.” [7]Hadis ini merupakan kaidah dasar penentuan definisi khamr. Setiap yang memabukkan dan difungsikan untuk memabukkan adalah khamr. Pembatasan khamr bukan hanya pada wine atau minuman beralkohol, melainkan setiap yang dapat menghilangkan akal pikiran.Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah,أن الخمر هو المادة التي تغطي العقل بالسكر، فكل مادة حصل بها الإسكار فهي خمر محرمة، وإن لم تسم خمر“Yang dimaksud dengan khamr adalah segala zat yang menutup atau menghilangkan fungsi akal karena efek memabukkan. Maka, segala sesuatu yang menimbulkan mabuk termasuk khamr dan hukumnya haram, meskipun tidak disebut dengan nama khamr.” [8]Oleh karena itu, nabidz yang lama rendamannya lebih dari tiga hari karena dikhawatirkan memabukkan, maka hal tersebut bisa disebut khamr.Keharaman khamrIslam adalah agama kemaslahatan. Syariat-syariat yang Islam atur adalah untuk memberikan kemaslahatan untuk pribadinya dan lingkungannya. Sebaliknya, apa yang Islam larang pastilah memiliki kemudaratan. Di antara yang Islam haramkan adalah khamr.Khamr sendiri diharamkan oleh Islam karena khamr memiliki mudarat yang sangat besar. Allah berfirman,يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)Allah juga mensifatinya dengan sebuah hal tersebut merupakan amalan setan dan menjijikkan. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, pesugihan, dan undian sangatlah menjijikkan serta merupakan amalan setan. Maka jauhilah, agar kalian beruntung.” (QS. al-Maidah: 90)Nabi Muhammad juga menyebutkan,أتاني جِبْرِيلُ عليه السلامُ فقال: يا محمَّدُ، إنَّ اللهَ لعَنَ الخمرَ، وعاصِرَها، ومعتصِرَها، وشاربَها، وحاملَها، والمحمولةَ إليه، وبائعَها، ومبتاعَها، وساقيَها، ومستقاها“Jibril ‘alaihis salam datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamr: orang yang memerasnya, yang meminta agar diperas untuknya, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan kepadanya, yang menjualnya, yang membelinya, yang menuangkannya, dan yang memintanya untuk dituangkan.’” [9]Islam dengan tegas menjadikan khamr sebagai minuman yang haram untuk dikonsumsi. Bukan hanya konsumsinya saja yang Islam larang, melainkan seluruh yang berkaitan dengan khamr.Oleh karena itu, Nabi Muhammad menghindari nabidz yang sangat berpotensi memabukkan karena itu akan dihukumi sebagai khamr.Perbedaan nabidz dan khamrMaka, tidak semua khamr dihasilkan dari nabidz dan tidak semua nabidz adalah khamr. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Jahiz,ان النبيذ غير الخمر. والشارع حرم الخمر فقط ولم يحرم النبيذ“Sesungguhnya nabidz tidak selalu khamr. Islam mengharamkan khamr dan tidak langsung mengharamkan nabidz.” [10]Nabidz yang berpotensi memabukkan, maka hukumnya akan menjadi khamr. Umumnya orang-orang dahulu menjadikan khamr dari perendaman kurma selama lebih dari 3 hari. Jika nabidz memabukkan, maka ia termasuk khamr.KesimpulanPertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindari meminum nabidz pada hari keempat karena minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan dan fermentasi yang dapat menimbulkan sifat memabukkan. Apabila minuman tersebut telah memabukkan, maka ia termasuk khamr yang diharamkan. Hal ini berdasarkan kaidah yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ“Apa saja yang jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) [11]Kedua, nabidz pada asalnya adalah minuman yang halal, yaitu air yang direndam dengan kurma, kismis, atau buah lainnya selama belum berubah menjadi minuman yang memabukkan.Ketiga, praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hanya meminum nabidz hingga hari ketiga menunjukkan sikap kehati-hatian beliau dalam menjauhi sesuatu yang dapat mengantarkan kepada perkara yang haram.Keempat, tidak semua nabidz adalah khamr; tetapi setiap nabidz yang telah memabukkan, maka hukumnya berubah menjadi khamr yang diharamkan dalam syariat Islam.Baca juga: Tahapan-Tahapan Larangan Khamr dalam Al-Qur’an***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Muhammad bin ‘Ali bin Adam al-Ityubi al-Walawi, al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj, 41: 377.[2] Muslim, Shahih Muslim, no. 2004.[3] Ibn al-Qayyim, ath-Tibb an-Nabawi, hal. 176.[4] Ustman al-Khamis, Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at, hal. 32.[5] Ibn al-Qayyim, ath-Thibb an-Nabawi, hal. 176.[6] Shu‘ayb al-Arna’ut, Takhrij Sharh as-Sunnah, no. 3023.[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5575; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2003 (Muttafaq ‘alaih).[8] Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 22: 105.[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3674, Ibnu Majah no. 3380, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 5716; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[10] Al-Jahiz, ar-Rasa’il al-Adabiyyah, hal. 50.[11] An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, no. 5623; dinilai hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i. Daftar PustakaAl-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan an-Nasa’i. Maktabah Syamilah.Al-Arna’ut, Shu‘ayb. Takhrij Sharh as-Sunnah. Maktabah Syamilah.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.Al-Ityubi al-Walawi, Muhammad bin Ali bin Adam. al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi. Al-Jahiz,Abu Utsman Amr bin Bahr. ar-Rasa’il al-Adabiyyah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1423 H.Al-Khamis, Utsman. Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at. Maktabah Syamilah.Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Riyadh: Riasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta.Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Maktabah Syamilah.Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Maktabah Syamilah.Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. ath-Tibb an-Nabawi. Maktabah Syamilah.

Nasihat Penting untuk Imam & Makmum: Perhatikan Rukun Ini Agar Shalat Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

YT: https://youtu.be/g-JJi4YJ28Q Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ====== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ

Nasihat Penting untuk Imam & Makmum: Perhatikan Rukun Ini Agar Shalat Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

YT: https://youtu.be/g-JJi4YJ28Q Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ====== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ
YT: https://youtu.be/g-JJi4YJ28Q Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ====== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ


YT: https://youtu.be/g-JJi4YJ28Q Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ====== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ

Nasihat Penting untuk Imam & Makmum: Perhatikan Rukun Ini Agar Shalat Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ===== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ

Nasihat Penting untuk Imam & Makmum: Perhatikan Rukun Ini Agar Shalat Sah – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ===== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ
Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ===== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ


Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini? Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya. Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits. Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat. Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi. Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya. ===== شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 2): Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal?

Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad karena beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan.Namun, Umar رضي الله عنه bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Nafi’ meriwayatkan,كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,“Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” (HR. Muslim)Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.Dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,“Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR. Muslim)Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berdasarkan interaksi dan kejadian yang menimpa Ibnu Sayyad bersama Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 2): Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal?

Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad karena beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan.Namun, Umar رضي الله عنه bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Nafi’ meriwayatkan,كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,“Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” (HR. Muslim)Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.Dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,“Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR. Muslim)Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berdasarkan interaksi dan kejadian yang menimpa Ibnu Sayyad bersama Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad karena beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan.Namun, Umar رضي الله عنه bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Nafi’ meriwayatkan,كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,“Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” (HR. Muslim)Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.Dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,“Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR. Muslim)Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berdasarkan interaksi dan kejadian yang menimpa Ibnu Sayyad bersama Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad karena beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan.Namun, Umar رضي الله عنه bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Nafi’ meriwayatkan,كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,“Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” (HR. Muslim)Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.Dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,“Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR. Muslim)Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berdasarkan interaksi dan kejadian yang menimpa Ibnu Sayyad bersama Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Sering Salah Paham! Inilah Makna Sebenarnya “Seseorang Bersama yang Dicintainya”

Makna hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”, sebagaimana telah kita bahas pada pelajaran sebelumnya, adalah ia akan dihimpun dalam golongan mereka dan dikum pulkan bersama mereka. Bahwa ia akan berada dalam kelompok mereka dan dibersamakan dengan mereka. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: “Aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mencintai Abu Bakar dan Umar.” Namun, muncul sebuah persoalan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama. Yaitu, apakah maksud dari “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya” berarti ia akan menempati derajat yang sama di surga kelak? Sehingga, barang siapa yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berada di derajat yang sama dengan beliau? Dan barang siapa yang mencintai Abu Bakar serta Umar akan berada di derajat yang sama dengan mereka berdua? Jawabannya adalah tidak. Bukan itu maksudnya. Sebab, penduduk surga itu memiliki derajat yang bertingkat-tingkat. Jarak antara dua derajat saja sejauh jarak antara langit dan bumi. Sekadar rasa cinta tidak lantas menyebabkan seseorang diangkat dari kedudukannya menuju derajat yang sangat tinggi, yaitu derajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta derajat Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi, maksudnya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga. Oleh karena itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata saat menjawab persoalan ini: “Dengan pemahaman ini, gugurlah bantahan yang menyatakan bahwa kedudukan mereka itu berbeda-beda. Lalu bagaimana mungkin terwujud ‘kebersamaan’ dalam hadits: ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya’?” Maka, sebagai jawaban atas persoalan tersebut, dapat dikatakan: Sesungguhnya kebersamaan itu terwujud hanya dengan sekadar berkumpul dalam suatu hal. Bahwa kebersamaan terwujud cukup dengan adanya kesamaan dalam suatu perkara tertentu, dan tidak mengharuskan kesamaan dalam segala hal. Maka, apabila telah ditetapkan bahwa semuanya masuk ke dalam surga, telah terwujudlah ‘kebersamaan’ tersebut, meskipun tingkat derajat mereka berbeda-beda. Ini adalah jawaban atas permasalahan ini. Atas dasar itu, makna seseorang bersama orang yang dicintainya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga, dan tidak mengharuskan ia berada di derajat yang sama persis. Ia berada di surga bersama mereka, yakni dibangkitkan dalam golongan mereka dan ditempatkan di surga bersama-sama, meskipun berbeda tingkatannya. Hadits ini harus dipahami dengan pemahaman yang benar. Sebab, sebagian penceramah terkadang menyampaikan hadits ini dan menyebutkan keutamaan cinta, lalu mengira maksudnya adalah mereka akan menempati satu derajat yang sama di surga. Hal ini tidak benar. Bukan itu maksudnya. Maksud yang benar adalah mereka semua akan sama-sama menghuni surga, tapi derajat mereka berbeda-beda. ===== وَمَعْنَى الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي الدَّرْسِ السَّابِقِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ وَلِهَذَا رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ فَأَنَا أُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُحِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنْ يَرِدُ عَلَى هَذَا إِشْكَالٌ ذَكَرَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ هَلِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ أَنَّهُ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ فِي الْجَنَّةِ فَمَنْ أَحَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِمَا؟ الْجَوَابُ لَا لَيْسَ هَذَا الْمَقْصُود لِأَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ وَمَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمُجَرَّدُ الْمَحَبَّةِ لَا تَقْتَضِي رَفْعَهُ مِنْ دَرَجَتِهِ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ الْعَلِيَّةِ دَرَجَةِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَدَرَجَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ يُجِيبُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ قَالَ وَبِهَذَا يَنْدَفِعُ إِيرَادُ أَنَّ مَنَازِلَهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ فَكَيْفَ تَصِحُّ الْمَعِيَّةُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ؟ فَيُقَالُ يَعْنِي فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ مَاوَلَا تَلْزَمُ فِي جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ فَإِذَا اتَّفَقَ أَنَّ الْجَمِيعَ دَخَلُوا الْجَنَّةَ صَدَقَتِ الْمَعِيَّةُ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الدَّرَجَاتُ هَذَا هُوَ الْجَوَابُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَعْنِي أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِ الدَّرَجَةِ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ مَعَهُمْ يَعْنِي يُحْشَرُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَيُلْحَقُ بِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانُوا مُتَفَاوِتِينَ فِي الدَّرَجَاتِ فَلَا بُدَّ أَنْ يُفْهَمَ هَذَا الْحَدِيثُ الْفَهْمَ الصَّحِيحَ لِأَنَّ بَعْضَ الْوُعَّاظِ قَدْ يَذْكُرُ هَذَا الْحَدِيثَ وَيَذْكُرُ فَضْلَ الْمَحَبَّةِ ثُمَّ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ الْمَقْصُودَ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْجَنَّةِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لَيْسَ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ فِي الْجَنَّةِ لَكِنْ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ

Sering Salah Paham! Inilah Makna Sebenarnya “Seseorang Bersama yang Dicintainya”

Makna hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”, sebagaimana telah kita bahas pada pelajaran sebelumnya, adalah ia akan dihimpun dalam golongan mereka dan dikum pulkan bersama mereka. Bahwa ia akan berada dalam kelompok mereka dan dibersamakan dengan mereka. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: “Aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mencintai Abu Bakar dan Umar.” Namun, muncul sebuah persoalan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama. Yaitu, apakah maksud dari “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya” berarti ia akan menempati derajat yang sama di surga kelak? Sehingga, barang siapa yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berada di derajat yang sama dengan beliau? Dan barang siapa yang mencintai Abu Bakar serta Umar akan berada di derajat yang sama dengan mereka berdua? Jawabannya adalah tidak. Bukan itu maksudnya. Sebab, penduduk surga itu memiliki derajat yang bertingkat-tingkat. Jarak antara dua derajat saja sejauh jarak antara langit dan bumi. Sekadar rasa cinta tidak lantas menyebabkan seseorang diangkat dari kedudukannya menuju derajat yang sangat tinggi, yaitu derajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta derajat Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi, maksudnya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga. Oleh karena itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata saat menjawab persoalan ini: “Dengan pemahaman ini, gugurlah bantahan yang menyatakan bahwa kedudukan mereka itu berbeda-beda. Lalu bagaimana mungkin terwujud ‘kebersamaan’ dalam hadits: ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya’?” Maka, sebagai jawaban atas persoalan tersebut, dapat dikatakan: Sesungguhnya kebersamaan itu terwujud hanya dengan sekadar berkumpul dalam suatu hal. Bahwa kebersamaan terwujud cukup dengan adanya kesamaan dalam suatu perkara tertentu, dan tidak mengharuskan kesamaan dalam segala hal. Maka, apabila telah ditetapkan bahwa semuanya masuk ke dalam surga, telah terwujudlah ‘kebersamaan’ tersebut, meskipun tingkat derajat mereka berbeda-beda. Ini adalah jawaban atas permasalahan ini. Atas dasar itu, makna seseorang bersama orang yang dicintainya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga, dan tidak mengharuskan ia berada di derajat yang sama persis. Ia berada di surga bersama mereka, yakni dibangkitkan dalam golongan mereka dan ditempatkan di surga bersama-sama, meskipun berbeda tingkatannya. Hadits ini harus dipahami dengan pemahaman yang benar. Sebab, sebagian penceramah terkadang menyampaikan hadits ini dan menyebutkan keutamaan cinta, lalu mengira maksudnya adalah mereka akan menempati satu derajat yang sama di surga. Hal ini tidak benar. Bukan itu maksudnya. Maksud yang benar adalah mereka semua akan sama-sama menghuni surga, tapi derajat mereka berbeda-beda. ===== وَمَعْنَى الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي الدَّرْسِ السَّابِقِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ وَلِهَذَا رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ فَأَنَا أُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُحِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنْ يَرِدُ عَلَى هَذَا إِشْكَالٌ ذَكَرَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ هَلِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ أَنَّهُ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ فِي الْجَنَّةِ فَمَنْ أَحَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِمَا؟ الْجَوَابُ لَا لَيْسَ هَذَا الْمَقْصُود لِأَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ وَمَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمُجَرَّدُ الْمَحَبَّةِ لَا تَقْتَضِي رَفْعَهُ مِنْ دَرَجَتِهِ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ الْعَلِيَّةِ دَرَجَةِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَدَرَجَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ يُجِيبُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ قَالَ وَبِهَذَا يَنْدَفِعُ إِيرَادُ أَنَّ مَنَازِلَهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ فَكَيْفَ تَصِحُّ الْمَعِيَّةُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ؟ فَيُقَالُ يَعْنِي فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ مَاوَلَا تَلْزَمُ فِي جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ فَإِذَا اتَّفَقَ أَنَّ الْجَمِيعَ دَخَلُوا الْجَنَّةَ صَدَقَتِ الْمَعِيَّةُ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الدَّرَجَاتُ هَذَا هُوَ الْجَوَابُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَعْنِي أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِ الدَّرَجَةِ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ مَعَهُمْ يَعْنِي يُحْشَرُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَيُلْحَقُ بِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانُوا مُتَفَاوِتِينَ فِي الدَّرَجَاتِ فَلَا بُدَّ أَنْ يُفْهَمَ هَذَا الْحَدِيثُ الْفَهْمَ الصَّحِيحَ لِأَنَّ بَعْضَ الْوُعَّاظِ قَدْ يَذْكُرُ هَذَا الْحَدِيثَ وَيَذْكُرُ فَضْلَ الْمَحَبَّةِ ثُمَّ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ الْمَقْصُودَ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْجَنَّةِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لَيْسَ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ فِي الْجَنَّةِ لَكِنْ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ
Makna hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”, sebagaimana telah kita bahas pada pelajaran sebelumnya, adalah ia akan dihimpun dalam golongan mereka dan dikum pulkan bersama mereka. Bahwa ia akan berada dalam kelompok mereka dan dibersamakan dengan mereka. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: “Aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mencintai Abu Bakar dan Umar.” Namun, muncul sebuah persoalan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama. Yaitu, apakah maksud dari “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya” berarti ia akan menempati derajat yang sama di surga kelak? Sehingga, barang siapa yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berada di derajat yang sama dengan beliau? Dan barang siapa yang mencintai Abu Bakar serta Umar akan berada di derajat yang sama dengan mereka berdua? Jawabannya adalah tidak. Bukan itu maksudnya. Sebab, penduduk surga itu memiliki derajat yang bertingkat-tingkat. Jarak antara dua derajat saja sejauh jarak antara langit dan bumi. Sekadar rasa cinta tidak lantas menyebabkan seseorang diangkat dari kedudukannya menuju derajat yang sangat tinggi, yaitu derajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta derajat Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi, maksudnya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga. Oleh karena itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata saat menjawab persoalan ini: “Dengan pemahaman ini, gugurlah bantahan yang menyatakan bahwa kedudukan mereka itu berbeda-beda. Lalu bagaimana mungkin terwujud ‘kebersamaan’ dalam hadits: ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya’?” Maka, sebagai jawaban atas persoalan tersebut, dapat dikatakan: Sesungguhnya kebersamaan itu terwujud hanya dengan sekadar berkumpul dalam suatu hal. Bahwa kebersamaan terwujud cukup dengan adanya kesamaan dalam suatu perkara tertentu, dan tidak mengharuskan kesamaan dalam segala hal. Maka, apabila telah ditetapkan bahwa semuanya masuk ke dalam surga, telah terwujudlah ‘kebersamaan’ tersebut, meskipun tingkat derajat mereka berbeda-beda. Ini adalah jawaban atas permasalahan ini. Atas dasar itu, makna seseorang bersama orang yang dicintainya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga, dan tidak mengharuskan ia berada di derajat yang sama persis. Ia berada di surga bersama mereka, yakni dibangkitkan dalam golongan mereka dan ditempatkan di surga bersama-sama, meskipun berbeda tingkatannya. Hadits ini harus dipahami dengan pemahaman yang benar. Sebab, sebagian penceramah terkadang menyampaikan hadits ini dan menyebutkan keutamaan cinta, lalu mengira maksudnya adalah mereka akan menempati satu derajat yang sama di surga. Hal ini tidak benar. Bukan itu maksudnya. Maksud yang benar adalah mereka semua akan sama-sama menghuni surga, tapi derajat mereka berbeda-beda. ===== وَمَعْنَى الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي الدَّرْسِ السَّابِقِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ وَلِهَذَا رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ فَأَنَا أُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُحِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنْ يَرِدُ عَلَى هَذَا إِشْكَالٌ ذَكَرَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ هَلِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ أَنَّهُ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ فِي الْجَنَّةِ فَمَنْ أَحَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِمَا؟ الْجَوَابُ لَا لَيْسَ هَذَا الْمَقْصُود لِأَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ وَمَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمُجَرَّدُ الْمَحَبَّةِ لَا تَقْتَضِي رَفْعَهُ مِنْ دَرَجَتِهِ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ الْعَلِيَّةِ دَرَجَةِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَدَرَجَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ يُجِيبُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ قَالَ وَبِهَذَا يَنْدَفِعُ إِيرَادُ أَنَّ مَنَازِلَهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ فَكَيْفَ تَصِحُّ الْمَعِيَّةُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ؟ فَيُقَالُ يَعْنِي فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ مَاوَلَا تَلْزَمُ فِي جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ فَإِذَا اتَّفَقَ أَنَّ الْجَمِيعَ دَخَلُوا الْجَنَّةَ صَدَقَتِ الْمَعِيَّةُ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الدَّرَجَاتُ هَذَا هُوَ الْجَوَابُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَعْنِي أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِ الدَّرَجَةِ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ مَعَهُمْ يَعْنِي يُحْشَرُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَيُلْحَقُ بِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانُوا مُتَفَاوِتِينَ فِي الدَّرَجَاتِ فَلَا بُدَّ أَنْ يُفْهَمَ هَذَا الْحَدِيثُ الْفَهْمَ الصَّحِيحَ لِأَنَّ بَعْضَ الْوُعَّاظِ قَدْ يَذْكُرُ هَذَا الْحَدِيثَ وَيَذْكُرُ فَضْلَ الْمَحَبَّةِ ثُمَّ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ الْمَقْصُودَ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْجَنَّةِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لَيْسَ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ فِي الْجَنَّةِ لَكِنْ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ


Makna hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”, sebagaimana telah kita bahas pada pelajaran sebelumnya, adalah ia akan dihimpun dalam golongan mereka dan dikum pulkan bersama mereka. Bahwa ia akan berada dalam kelompok mereka dan dibersamakan dengan mereka. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: “Aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mencintai Abu Bakar dan Umar.” Namun, muncul sebuah persoalan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama. Yaitu, apakah maksud dari “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya” berarti ia akan menempati derajat yang sama di surga kelak? Sehingga, barang siapa yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berada di derajat yang sama dengan beliau? Dan barang siapa yang mencintai Abu Bakar serta Umar akan berada di derajat yang sama dengan mereka berdua? Jawabannya adalah tidak. Bukan itu maksudnya. Sebab, penduduk surga itu memiliki derajat yang bertingkat-tingkat. Jarak antara dua derajat saja sejauh jarak antara langit dan bumi. Sekadar rasa cinta tidak lantas menyebabkan seseorang diangkat dari kedudukannya menuju derajat yang sangat tinggi, yaitu derajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta derajat Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi, maksudnya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga. Oleh karena itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata saat menjawab persoalan ini: “Dengan pemahaman ini, gugurlah bantahan yang menyatakan bahwa kedudukan mereka itu berbeda-beda. Lalu bagaimana mungkin terwujud ‘kebersamaan’ dalam hadits: ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya’?” Maka, sebagai jawaban atas persoalan tersebut, dapat dikatakan: Sesungguhnya kebersamaan itu terwujud hanya dengan sekadar berkumpul dalam suatu hal. Bahwa kebersamaan terwujud cukup dengan adanya kesamaan dalam suatu perkara tertentu, dan tidak mengharuskan kesamaan dalam segala hal. Maka, apabila telah ditetapkan bahwa semuanya masuk ke dalam surga, telah terwujudlah ‘kebersamaan’ tersebut, meskipun tingkat derajat mereka berbeda-beda. Ini adalah jawaban atas permasalahan ini. Atas dasar itu, makna seseorang bersama orang yang dicintainya adalah ia akan sama-sama berada di dalam surga, dan tidak mengharuskan ia berada di derajat yang sama persis. Ia berada di surga bersama mereka, yakni dibangkitkan dalam golongan mereka dan ditempatkan di surga bersama-sama, meskipun berbeda tingkatannya. Hadits ini harus dipahami dengan pemahaman yang benar. Sebab, sebagian penceramah terkadang menyampaikan hadits ini dan menyebutkan keutamaan cinta, lalu mengira maksudnya adalah mereka akan menempati satu derajat yang sama di surga. Hal ini tidak benar. Bukan itu maksudnya. Maksud yang benar adalah mereka semua akan sama-sama menghuni surga, tapi derajat mereka berbeda-beda. ===== وَمَعْنَى الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي الدَّرْسِ السَّابِقِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ أَنَّهُ يَكُونُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَمُلْحَقًا بِهِمْ وَلِهَذَا رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ فَأَنَا أُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُحِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنْ يَرِدُ عَلَى هَذَا إِشْكَالٌ ذَكَرَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ هَلِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ أَنَّهُ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ فِي الْجَنَّةِ فَمَنْ أَحَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَكُونُ فِي مَنْزِلَتِهِمَا؟ الْجَوَابُ لَا لَيْسَ هَذَا الْمَقْصُود لِأَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ وَمَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمُجَرَّدُ الْمَحَبَّةِ لَا تَقْتَضِي رَفْعَهُ مِنْ دَرَجَتِهِ إِلَى هَذِهِ الدَّرَجَةِ الْعَلِيَّةِ دَرَجَةِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَدَرَجَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَلَكِنِ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ يُجِيبُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ قَالَ وَبِهَذَا يَنْدَفِعُ إِيرَادُ أَنَّ مَنَازِلَهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ فَكَيْفَ تَصِحُّ الْمَعِيَّةُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ؟ فَيُقَالُ يَعْنِي فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ إِنَّ الْمَعِيَّةَ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ الِاجْتِمَاعِ فِي شَيْءٍ مَاوَلَا تَلْزَمُ فِي جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ فَإِذَا اتَّفَقَ أَنَّ الْجَمِيعَ دَخَلُوا الْجَنَّةَ صَدَقَتِ الْمَعِيَّةُ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الدَّرَجَاتُ هَذَا هُوَ الْجَوَابُ عَنْ هَذَا الْإِشْكَالِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَعْنِي أَنَّهُ يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِ الدَّرَجَةِ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْجَنَّةِ مَعَهُمْ يَعْنِي يُحْشَرُ فِي زُمْرَتِهِمْ وَيُلْحَقُ بِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانُوا مُتَفَاوِتِينَ فِي الدَّرَجَاتِ فَلَا بُدَّ أَنْ يُفْهَمَ هَذَا الْحَدِيثُ الْفَهْمَ الصَّحِيحَ لِأَنَّ بَعْضَ الْوُعَّاظِ قَدْ يَذْكُرُ هَذَا الْحَدِيثَ وَيَذْكُرُ فَضْلَ الْمَحَبَّةِ ثُمَّ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ الْمَقْصُودَ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْجَنَّةِ وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لَيْسَ هَذَا هُوَ الْمَقْصُودُ وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ فِي الْجَنَّةِ لَكِنْ دَرَجَاتُهُمْ مُتَفَاوِتَةٌ
Prev     Next